Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DENDAM DI PUNCAK SINGGALANG

SATU

Hari itu hari ketiga di bulan kedelapan merupakan hari besar bagi penduduk Pagaralam dan sekitarnya. Suara talempong, rabab dan saluang terdengar tiada putusputusnya.
Sejak pagi halaman rumah gadang tempat kediaman Datuk Gampo Alam telah dipenuhi oleh para tetamu yang berdatangan dari berbagai penjuru.
Di barisan kursi sebelah depan, dinaungi oleh payung-payung besar berwarna warni duduklah sang Datuk didampingi keempat istrinya di sebelah kiri sedang di sebelah kanan duduk seorang pemuda tampan kemenakan Datuk Gampo Alam, bernama Andana.

Begitu banyaknya tamu yang datang hingga di antara mereka ada yang tidak kebagian tempat duduk. Namun semuanya dengan senang hati tegak di sekeliling halaman menunggu dimulainya acara perhelatan besar itu.

Perhelatan besar ini diadakan sebgaai ungkapan rasa syukur atas kembalinya sang kemenakan setelah beberapa tahu menghilang di negeri orang. Pada kesempatan yang sama perhelatan ini juga sebagai ungkapan rasa duka cita dalam mengenang berpulangnya Datuk Bandaro Sati, ayah dari Andana dan kakak dari Daruk Gampo Alam. Sesuai dengan berita yang telah didengar orang dari mulut ke mulut, Datuk Bandaro Sati mati dibunuh orang di sekitar Ngarai Sianok beberapa waktu lalu. Siapa pembunuhnya masih belum diketahui. Sementara itu jenazah Datuk Bandaro Sati telah dimakamkan di puncak gunung Singgalang di mana berdiam kakak perempuan almarhum bernama Uning Ramalah. Kabarnya perempuan yang sudah tua ini merupakan seorang nenek sakti mandraguna yang mempunyai pantangan membunuh.

Itu sebabnya dia tidak turun gunung guna menuntut balas atas kematian adiknya.

Andana selain tampan dan bertubuh kekar diketahui orang sebagai seorang pandeka (pendekar) berilmu silat tinggi, memiliki tenaga dalam tinggi dan kesaktian yang sulit dicari tandingannya.

Belakangan tersiar kabar bahwa konon pemuda itu telah dijuluki orang sebagai Harimau Singgalang.

Di belakang deretan kursi yang diduduki Datuk Gampo Alam dan keluarganya, duduk orang-orang terpandang yang datang dari Pagaruyung dan Batusangkar serta Bukittinggi. Bahkan ada yang datang dari pesisir Pariaman.

Tumenggung Rajo Langit, tokoh besar di Pagaruyung sebenarnya juga diundang tetapi tidak kelihatan hadir. Mungkin ada sangkut pautnya dengan dua kejadian di Pagaralam beberapa waktu lalu antara Tumenggung Rajo Langit dan orang-orangnya di satu pihak dengan Andana dan Pendekar 212 Wiro Sableng di lain pihak.

Di antara orang banyak yang tegak mengelilingi halan rumah gadang kelihatan seorang pemuda mengenakan saluak (kopiah khas Minang), berpakaian bagus berwarna biru. Dia tegak sambil rangkapkan kedua tangan di depan dada.

Memandang berkeliling. Jika pandangannya bertemu dengan Andana maka diapun tersenyu lebar dan mengacungkan jari jempolnya. Orang-orang di sekitar tempat dia berdiri terheran-heran melihat pemuda ini. Mereka tidak mengenali siapa dia. Dan anehnya pemuda ini memiliki potongan badan serta wajah yang mirip dengan Andana kemenakan Datuk Gampo Alam itu.

"Tak mungkin saudaranya Andana," kata seorang tamu setengah berbisik.

"Setahu waden si Andana itu tak punya kakak tak punya adik...." (waden = aku)

Sementara itu di salah satu bagian rumah gadang, Bunga sedang didandani oleh seorang juru solek. Di ruangan sebelah yang dipisahkan dengan batas sehelai hordeng terletak brebagai perlengakapan untuk menari termasuk seperangkat carano berisi sirih yang akan dipersembahkan pada Andana selaku tamu kehormatan dalam perhelatan itu.

Sewaktu juru rias tengah membentuk dan mempertebal alis mata Bunga, tak sengaja gadis ini mengerling ke arah ruangan sebelah. Dia melihat seorang perempuan tinggi besar mengenakan baju kurung kuning dan berselendang melangkah mendekati cerana berisi susunan daun sirih yang sudah diisi gambir dan kapur. Karena tidak pernah melihat perempuan sebesar dan setinggi itu sebelumnya, diam-diam Bunga memperhatikan terus orang ini. Dalam hati dia merasa aneh mengapa justru orang-orang di sekitarnya seolah tidak memperhatikan perempuan tinggi besar ini?

Dari dalam sehelai sapu tangan orang itu mengeluarkan sebuah botol kecil. Isi botol kecil ini berbentuk cairan, ditebarkan di atas sirih. Tampak asap tipis mengepul.

Lalu orang ini cepat-cepat meninggalkan tempat itu tanpa bunga sempat melihat wajahnya.

Selesai didandani dengan penuh rasa ingin tahu Bunga pergi ke ruangan sebelah. Diperhatikannya tiga susunan sirih yang ada di atas cerana. Warnanya yang seharusnya hijau segar telah berubah agak kehitaman. Bunga mendekatkan hidungnya ke susunan sirih itu. Gadis ini merasa hidungnya seperti hendak tanggal. Dia batukbatuk berulang kali. Wajahnya tampak agak pucat. Racun kala hutan..... kata Bunga dalam hati. Mengapa perempuan tinggi besar tak dikenal tadi meracuni daun-daun sirih itu? Siapa yang hendak diracuninya? Andana? Pasti Andana karena sesuai kebiasaan sirih itu nanti akan dipersembahkan pada pemuda tersebut.

Andana akan mengunyahnya! Apa yang harus dilakukannya? Membuang semua sirih itu lalu menggantikannya dengan yang baru? Tak ada jalan lain. Memang hanya itu yang segera dan harus dilakukannya. Karena kalau Andana sampai mengunyah dan memakan daun sirih persembahan yang telah disiram dengan racun kala hutan itu maka nyawanya tidak akan tertolong lagi. Racun kala hutan adalah racun paling jahat yang tidak ada obat pemusnahnya.

Seorang perempuan separuh baya muncul dari balik hordeng. "Bunga, saatmu keluar. Lekas bawa cerana dan turun ke bawah. Para penari lainnya sudah menunggu."

Dengan agak gugup gadis itu berdiri lalu mengambil cerana di atas meja.

Bersamaan dengan itu dia cepat mengambil selembar daun sirih yang masih segar dari atas meja, lalu diberinya gambir dan kapur sirih dan dilipatnya. Sebelum diletakkan di atas cerana Bunga mengambil lagi sehelai daun sirih. Daun kedua ini dipergunakan sabagai alas untuk meletakkan daun sirih yang tadi dilipatnya.

Meskipun sirih yang satu itu terlindung dari racun yang sudah melekat pada sirih-sirih lainnya namun hati Bunga tetap saja merasa kawatir kalau-kalau racun kala hutan bisa merambas menembus daun sirih yang dijadikan alas.

"Hai cepatlah Bunga! Apa yang kau lakukan itu?!" tegur perempuan tadi.

"Saya segera turun, Etek...." kata Bunga pula. (Etek = panggilan terhadap perempuan lebih tua dan biasanya telah bersuami).

Perhelatan besar dan meriah itu dibuka dengan sambutan pendek yang tak lupa dibumbui dengan pepatah pepitih di samping memuji-muji Datuk Gampo Alam dan kemenakannya.

Selesai sambutan perhelatan dilanjutkan dengan pergelaran Tari Piring. Tarian ini dibawakan oleh dua pasang muda mudi diiringi bunyi-bunyian. Masing-masing penari membawa sebuah piring kaca di tangan kiri kanan. Mereka menari meliuk-liuk

terkadang bergerak cepat menghnetak-hentak. Kemudian keempat menari bergerak mengelilingi tumpukan pecahan kaca yang ditebarkan di atas tanah. Pada puncaknya keempar penari itu menari dengan menjejakkan kaki mereka di atas pecahan kaca tersebut. Kemudain mereka menari sambil bergulingan beberapa kali di atas kaca!

Setelah Tari Piring selesai masuklah rombongan debus memperlihatkan kebolehan mereka dalam ilmu kebal. Ada yang menusuk perut dan dadanya dengan berbagai senjata tajam. Mulai dari pisau sampai keris dan golok bahkan tombak. Ada pula yang mencelupkan kedua tangannya dalam minyak mendidih kemudian membasuh wajahnya dengan minyak panas itu. Seorang perempuan memperlihatkan kemampuannya memakan kaca dan minum air mendidih. Pertunjukan diakhiri dengan pergaan seorang lelaki muda melompat-lompat dia atas paku sambil memotongmotong lidahnya dengan sebilah pisau. Pertunjukan debus ini disaksikan orang banyak dengan perasaan berdebar. Orang-orang perempuan acap kali terpaksa memalingkan muka mereka karena ngeri.

Pertunjukan puncak adalah penampilan rombongan muda mudi membawakan Tari Gelombang. Di sebelah depan bergerak sembilan orang pemuda berpakaian galembong dan destar hitam. Di sebelah belakang bergerak lima orang penari perempuan yang kesemuanya adalah gadis-gadis cantik berbaju kurung berkain songket. Rambut mereka dihias dengan sunting berwarna kuning emas. Yang paling cantik di antara semua gadis penari itu adalah yang di depan sebelah tengah. Dia memakai tengkuluk tanduk kerbau di atas kepalanya serta membawa cerana berisi sirih. Gadis ini tentu saja adalah Bunga.

Sejak rombongan penari muncul sepasang mata Datuk Gampo Alam boleh dikatakan tidak berkesip dari memperhatikan wajah dan tubuh Bunga. Duduknya tampak tidak tenang. Lehernya berulang kali disentakkan. Tenggorokannya tampak turun naik beberapa kali kelihatan dia membasahi bibirnya dengan ujung lidah.

Sesekali dia memandang berkeliling seperti mencari-cari seseorang. Zainab istri tua sang Datuk sampai berkata "Dari tadi saya perhatikan Datuk seperti gelisah, Siapa yang Datuk cari.... ?"

Datuk Gampo Alam tidak menjawab. Dia memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya membentur sosok Pendekar 212 Wiro Sableng yang tegak di tepi halaman di antara orang banyak.

Datuk Gampo alam berpaling pada Andana. "Itu pemuda sahabatmu bernama Wiro....?"

"Betul Paman..."

"Perlu apa dia berada di sini?"

"Dia orang asing di sini. Perhelatan ini tentu saja sangat menarik perhatiannya.

Sebagai seorang sahabat apa salahnya dia berada di sini menonton pesta. Saya yang mengundangnya datang."

"Dari mana dia dapat saluak dan pakaian bagus itu?" tanya Datuk Gampo Alam lagi.

"Saya yang meminjamkannya," jawab Andana.

Tampang Datuk Gampo Alam tampak berkerut dan masam. Dia memandang berkeliling. Orang yang dicarinya akhirnya dilihatnya juga. Palindih. Sang Datuk memberi isyarat agar Palindih mendekatinya. Begitu Palindih sampai di hadapannya Datuk Gampo Alam segera berbisik. "Gadis yang membawa cerana itu, siapa dia?"

Astaga sudah bangkit pula gatal urang gaek ini! Kata Palindih dalam hati.

"Namanya Bunga," memberi tahu Palindih juga dengan berbisik. Lelaki ini melihat harapan mencari untung. Untuk urusan beginian dia pasti akan mendapat upah atau hadiah besar.

"Agaknya Datuk berhasrat ?" tanya Palindih kembali berbisik.

"Hemmm...." Datuk Gampo Alam usap-usap dagunya. Kedua matanya tak lepas dari memandang wajah dan gerakan tubuh Bunga yang tengah menari. Lehernya disentak-sentakkan berulang kali. "Nama bagus, orangnya cantik secantik bidadari...."

kata Datuk Gampo Alam agak keras diluar sadar. Tiba-tiba saja satu cubitan menyambar pahanya hinga sang Datuk terlonjak di tempat duduknya.

Yang mencubit adalah Rukiah, istri Datuk Gampo Alam yang paling muda dan duduk tepat di samping sang Datuk.

"Di saat-saat seperti ini sepantasnya Datuk menjaga mata dan mulut!" hardik Rukiah tapi dengan suara sangat perlahan.

"Ah kau orang perempuan mau tahu saja urusan lelaki!" kata Datuk Gampo Alam dengan muka cemberut.

Rukiah tak kalah cemberutnya malah dengan membelalakkan mata pada Palindih dia berkata "Pergi kau dari sini! Berani kau menjadi comblang, kusuruh potong burung tekukurmu!"

Palindih memandang pada Datuk Gampo Alam. Dia ragu sesaat. Akhirnya Datuk berkata, "Sudah, pergi sajalah. Aku hanya sekedar bertanya, tak ada maksud apa-apa. Lekas pergi Palindih. Kalau tidak habis aku bengkak-bengkak. Ada kalajengking betina di sini! Aduah....!" Paha Datuk Gampo Alam kembali disambar cubitan. Sakit dan pedas bukan main.

"Ada apa Mamak....." tanya Andana terheran-heran.

"Tak ada apa-apa. Si Rukiah sudah tak sabar mau segera bersantap siang makan besar! Dasar perempuan urusan perut saja yang diingatnya!" jawab Datuk Gamp Alam berdusta.

Para pemuda yang menarikan Tari Gelombang yang berada di sebelah depan bersibak ke kiri dan ke kanan memberi jalan pada gadis pembawa cerana. Dengan lemah gemulai Bunga maju ke arah Andana selangkah demi selangkah. Kalau Andana mengagumi kepandaian gadis itu menari, maka sebaliknya saat itu Bunga berada dalam keadaan bingung serta takut. Kalau dia bergerak lebih dekat dan memberi tahu bahaya yang mengancam pada si pemuda, jelas Datuk Gampo Alam dan orang-orang di sekitarnya akan mendengar.

Maka sebisa-bisa yang dilakukan Bunga adalah membuat gerakan-gerakan berupa isyarat tangan dan goyangan kepala agar Andana bangkit berdiri lalu melangkah menghampirinya. Hal ini sebenarnya tidak pernah kejadian karena seharusnya sang penarilah yang menghaturkan dan mempersembahkan sirih persembahan kepada orang yang dihormati. Namun agaknya Bunga tak punya jalan atau cara lain.

Sambil terus menari Bunga menggoyangkan kepalanya ke belakang. Kedua matanya menatap lurus pada pemuda itu. Lalu tangan kanannya digerak-gerakkan agar lebih jelas bagi Andana akan isyarat yang diberikannya. Mula-mula Andana tidak memperhatikan. Namun setelah berulang kali Bunga membuat gerakan yang sama dan menatap padanya, pemuda ini mulai menduga-duga agaknya ada sesuatu yang hendak disampaikan gadis ini lewat isyarat goyangan kepala, tatapan mata dan gerakan tanagn itu.



DUADatuk Gampo Alam yang duduk di sebelah Andana dan banyak orang lainnya juga sama merasa heran mengapa gadis pembawa sirih persembahan itu belum juga bergerak maju mendekati tamu kehormatan guna memberikan persembahan sekapur sirih. Bunga jadi tambah bingung. Keringat mengucur di kening dan kuduknya.

Andana sendiri perlahan-lahan mulai menangkap isyarat yang dibuat Bunga. Namun hatinya masih meragu. Dia melirik pada Datuk Gampo Alam. Tampaknya sang Paman mulai mencium adanya sesuatu yang tidak beres. Andana kemudian memandang ke jurusan di mana sahabatnya Wiro Sableng berdiri. Sebenarnya Wiropun berharap Andana melihat kepadanya karena sejak tadi dia sudah maklum ada sesuatu. Dia ingin pula memberikan isyarat pada Andana agar mengikuti apa yang diinginkan Bunga di balik isyarat yang diberikannya. Bagitu Andana memandang ke padanya, Wiro serta merta menengadahkan telapak tangan kanannya lalu menggerakgerakkan tangan itu ke atas. Sehabis membuat gerakan itu Wiro susul dengan gerakan tudingan ibu jari berulang kali.

Akhirnya Andana menangkap juga apa maksud Bunga dengan isyarat goyangan kepala serta gerakan tangan. Perlahan-lahan pemuda ini berdiri. Datuk Gampo Alam hendak menegur tapi sang kemenakan sudah melangkah mendekati penari yang membawa cerana berisi sirih persembahan. Bunga cepat menyongsong.

Cerana dipegangnya dengan kedua tangannya. Kedua kakinya ditekuk sedikit dan kepalanya ditengadahkan. Dia memandang tersenyum pada si pemuda. Gemas sekali Datuk Gampo Alam melihat apa yang dilakukan Bunga itu. Rasa cemburu membakar dadanya.

"Ambil sirih paling atas. Yang lainnya mengandung racun!" bisik Bunga seraya mengangsurkan cerana lebih tinggi.

Andana tentu saja terkesiap kaget mendengat bisikan gadis itu. Namun dia cepat menguasai keadaan. Wajahnya yang tadi tampak berubah dihiasnya dengan senyum yang dibalas pula dengan senyum oleh Bunga. Pemuda ini ulurkan tangannya ke arah cerana. Sesuai dengan apa yang tadi dibisikkan Bunga dia mengambil lipatan sirih segar hijau yang paling atas yang terletak begitu rupa di atas selembar daun sirih.

Sepintas dia dapat melihat bagaimana sirih-sirih lainnya berwarna aneh, hijau kehitaman.

Dengan sirih di tangan kanannya Andana melangkah mundur, kembali ke tempat duduknya.

"Makanlah sirih persembahan itu, Andana. Sengaja diberikan bukan saja sebagai penghormatan tapi juga sebagai ungakapan syukur bahwa kau akhirnya kembali ke Pagaralam dengan selamat." Yang berkata adalah Datuk Gampo Alam dengan senyum aneh bermain di mulutnya.

Andana memperhatikan sejenak sirih di tangannya.

"Apa lagi yang kau tunggu Andana? Makanlah...."

Andana menganggukkan kepalanya. Tanpa ragu-ragu sirih itu dimasukkannya ke dalam mulutnya. Perlahan-lahan mulai dikunyahnya. Dia berpaling pada Datuk Gampo Alam. Sang Paman dilihatnya angguk-anggukkan kepala dan masih tersenyum.

Orang banyak bertepuk tangan dan ada yang bersorak sorai. Sementara itu muda mudi yang menarikan Tari Gelombang tampak terus melenggang meliuk-liuk mengikuti alunan tetabuhan. Datuk Gampo Alam yang tidak habis-habisnya memperhatikan Bunga berkata pada istri mudanya "Rukiah, aku lihat tadi mulut penari pembawa cerana itu bergerak seperti mengatakn sesuatu. Kau dengar apa yang diucapkannya?'

"Mana mungkin telinga saya mendengar. Suara talempong keras sekali. Suara gendang tak kalah kerasnya. Gadis itu mungkin suka pada kemenakan Datuk.

Barangkali mereka sudah saling kenal sebelumnya. Lagi pula perduli apa saya akan segala yang diucapkannya?"

Datuk Gampo Alam terdiam. Ingatannya melayang pada beberapa kejadian di masa lalu. Hemmmm.... dulu kedua anak ini memang pernah digunjingkan orang.

Pernah terlihat bercinta-cintaan di tengah jalan. Kalau begini aku harus bertindak cepat!

Datuk Gampo Alam berpaling ke samping. Dilihatnya kemenakannya itu mengunyah sirih dengan tenang. Sementara itu di atas rumah gadang sepi karena semua orang turun ke bawah untuk melihat dari dekat keramaian itu. Seorang perempuan tinggi besar berbaju kurung kuning dengan selendang yang hampir menutupi seluruh wajah hingga mata kanannya seja yang kelihatan, mengintai dari balik jendela. Anehnya mata orang ini besar dan merah tidak pantas untuk mata seorang wanita. Satu kali angin bertiup agak kencang. Selendang yang menutupi wajah itu tersingkap lebar hingga kelihatanlah begian besar wajah perempuan ini.

Astaga! Wajah ini ternyata wajah seorang lelaki yang menyeramkan. Mata kirinya buta picak. Kumis dan cambang baeuknya meranggas kasar! Tangan kanannya yang memegang pinggiran selendang tampak merah kehitaman seperti pernah terbakar.

Orang yang menyamar sebagai perempuan inilah tadi yang telah mengguyurkan racun kala hutan di atas daun-daun sirih dalam cerana. Wajahnya yang angker tampak tegang sewaktu menyaksikan bagaimana Andana masih tetap duduk dengan tenang di kursinya, malah beberapa kali melayangkan senyum pada penari pembawa cerana.

Apa yang terjadi. Orang di balik jendela bertanya pada diri sendiri. Jelas dia sudah memakan sirih beracun itu. Mengapa masih belum mati terjengkang?! Apa benar dia memiliki kesaktian luar biasa hingga tak mempan racun? Celaka!

Orang ini pergunakan kedua tangannya untuk memegang selendang. Dengan bergegas dia segera meninggalkan tempat itu.

Di bawah rumah gerak gerik orang yang tadi mengintai di balik jendela ternyata sempat terlihat oleh Andana. Dia berbisik pada Datuk Gampo Alam.

"Mamak, ada seseorang di atas rumah gadang. Gerak geriknya mencurigakan.

Saya akan coba menyelidik dan mengejar!" (Mamak di sini artinya Paman)

Datuk Gampo Alam menoleh ke arah rumah gadang. Dia masih sempat melihat punggung orang yang dikatakan Andana itu. Sesaat parasnya berubah. Lalu cepat dia berkata. "Tetap saja di sini Andana. Tak ada yang perlu dikawatirkan. Orang berbaju kurung kuning tadi kurasa pastilah salah satu dari juru masak. Lupakan hal itu Andana. Tak sedap pula makan kita nanti."

Hati Andana tetap tidak tentram. Dia tidak pernah melihat perempuan dengan ukuran badan sebesar dan setinggi orang tadi. Maka diapun berpaling ke arah Wiro berdiri. Namun sahabatnya itu dilihatnya tak ada lagi di situ.

Kemana pula sahabatku orang Jawa itu? Pikir Andana.

Dari tempatnya berdiri Wiro Sableng dapat melihat orang yang ada di jendela rumah gadang. Walau wajahnya tidak jelas karena terus-terusan ditutup dengan selendang namun bentuk tubuhnya yang tinggi besar menarik perhatian murid Eyang Sinto Gendeng ini.

Bukan main! Kata Wiro dalam hati. Baru kali ini aku melihat perempuan begini besar dan tinggi. Gerak geriknya terasa aneh. Sebaiknya aku menyelidik ke atas rumah sana. Siapa tahu nasibku mujur. Bertemu perawan cantik..... Selagi dia berpikir seperti itu, perempuan berbaju kurung kuning di jendela rumah sudah lenyap.

Tanpa pikir panjang lagi Pendekar 212 segera tinggalkan tempat itu, menyeruak di antara orang banyak. Dia terpaksa mengambil jalan berputar untuk dapat sampai ke tangga di sisi kiri rumah gadang. Ketika Wiro sampai di dekat bangunan lumbung padi, perempuan berbaju kurung kuning itu dilihatnya menuruni anak tangga terakhir lalu berkelebat ke arah barisan pohon-pohon pisang.

Cepat sekali langkah perempuan itu. Eh, malah dia sekarang berlari.

Nah.....nah, dia berpaling ke arahku. Tak jelas wajahnya. Tapi astaga! Mengapa dia melepas kain panjangnya.

Dua mata Wiro membesar ketika melihat di balik kain panjang yang dibuka olrh perempuan tinggi besar itu sambil berlari ternyata dia mengenakan celana galembong hitam. Kedua kakinya kini terlihat jelas.Besar berbulu dan dililiti gelang akar bahar!

Laki-laki! Ternyata dia laki-laki! Eh, banci atau bagaimana?! Janganjangan.... Kalau dia bukan orang jahat apa perlunya menyelinap ke atas rumah gadang, menyamar seperti perempuan!

Wiro berteriak. Tahu kalau dirinya sudah terlihat dan dikejar orang "perempuan" berbaju kurung kuning itu mempercepat larinya. Wiro segera mengejar.

Yang dikejar lenyap di jalan kecil menurun. Lalu terdengar suara kuda digebrak orang ke arah Timur.

Sialan! Gerutu Wiro. Dia memandang berkeliling, mencari-cari kalau-kalau ada kuda di sekitar situ. Pendekar ini hanya bisa banting-banting kaki karena tak seekor kudapun yang kelihatan. Tiba-tiba telinganya menangkap derap kaki kuda.

Yang satu ini justru mendatangi ke arahnya. Wiro cepat menyongsong. Seorang lelaki tua muncul di atas punggung seekor kuda. Orang ini berpakaian dan berdestar putih.

Di tangan kirinya dia memegang sebuah saluang. Kedua mata Wiro jadi terbelalak ketika dia mengenali orang ini (Saluang = suling khas Minang terbuat dari bambu)

Astaga! Si kakek ini adalah orang tua aneh berilmu tinggi yang dulu menghadang jalanku sewaktu bersama Andana. Dia mencelakai diriku hingga selangkangan celanaku robek besar. Lalu kutelanjangi dirinya, kurampas celananya!

Sesaat Wiro agak bimbang. Tapi dia perlu kuda tunggangan orang tua itu.

Dlam keadaan seperti itu si orang tua hentikan kudanya. Kedua matanya menatap tajam ke arah Pendekar 212. Suling di tangan kanan dimelintangkan di depan dada.

Ah, pasti dia marah sekali padaku!

"Pencuri calana! Hari ini kita bertemu lagi! Mana celanaku yang kau rampas tempo hari?!" orang tua itu membentak.

"Sabar, tenang....."

"Sabar! Tenang! Enak betul cakapmu! Kau telanjangi diriku! Kau permalukan aku! Apa sekarang kau hendak menelanjangi aku lagi huh?! Apa kau kira kini aku bisa sabar dan tenang melihat tampangmu?!"

"Saya minta maaf atas kejadian tempo hari! Saya terpaksa melakukannya.

Itupun gara-gara kau membuat robek celanaku...."

"Apapun alasanmu kau tetap maling perampas calana! Dan kau tidak bisa mengembalikan celana itu!"

"Akan aku kembalikan nanti. Aku berjanji!"

Orang tua di atas kuda tertawa sinis. Dia keluarkan suara mendengus lalu berkata. "Kulihat kau berpakai dan mengenakan saluak bagus! Hemmm.... Pasti hasil rampasan pula! Siapa pula yang telah kau telanjangi? Kali ini pasti tidak tanggungtanggung.

Kau rampas seluruh pakaiannya! Kau telanjangi orang sampai bugil!"

"Orang tua dengar...."

"Kau yang harus mendengar padaku! Bukan aku!" hardik si orang tua. "Dan kali ini aku tidak Cuma bicara dengan mulut ! Tapi juga dengan ini !"

Wiro hendak menggaruk kepalanya karena tak tahu mau bicara apa lagi.

Selain itu dia merasa sangat risau karena orang yang dikejarnya tentu sudah semakin jauh. Di hadapannya saat itu sehabis berkata begitu si orang tua lantas ayunkan suling bambunya ke arah kepala Pendekar 212.

Wuuuttt!!

"Pecah kepalamu!" teriak si orang tua.

Wiro berseru keras. Tengkuknya menjadi dingin sewaktu suling bambu di tangan orang tua itu memapas topi kain songket di kepalanya. Padahal dia sudah merunduk dengan gerakan cepat. Topi itu mental dan robek menjadi beberapa potongan!

Ketika orang tua itu membelikkan kudanya dan kembali hendak menghantamkan suling bambunya Pendekar 212 membuat gerakan aneh. Dia menyusup ke bawah perut kuda tunggangan lawan. Tadi dia telah memperhatikan kalau kuda itu adalah seekor kuda jantan. Begitu berada di bawah perut kuda murid Sinto Gendeng ini dengan cepat menyodok biji kemaluan binatang itu. Tidak terlalu keras tapi cukup membuat kuda ini meringkik tinggi, emngangkat kedua kaki depannya ke atas setelah itu menghentak-hentakkan kedua kaki belakangnya!

"Kurang ajar! Kau apakan kudaku!" teriak si orang tua kaget dan cepat berusaha mengimbangi diri. Namun terlambat. Kuda yang kesakitan itu kembali melejangkan kaki belakangnya. Tak ampun lagi penunggangnya terperosok ke samping lalu jatuh ke tanah. Di saat yang sama dengan kecepata kilat Wiro melompat ke atas punggung kuda lalu menggebrak binatang ini hingga dalam sakitnya menghambur lebih kencang dari selama ini bisa dilakukannya.

Pendekar 212 hanya senyum-senyum mendengar di belakangnya orang tua itu memaki panjang pendek. Lalu dia mendengar ada suara pepohonan tumbang dan semak belukar rambas di belakangnya. Pasti orang tua itu telah melepaskan satu pukulan sakti. Wiro menelungkup serata mungkin di atas punggung kuda.

Sekeluarnya dari jalan kecil yang berkelok-kelok Wiro sampai ke sebuah lembah kecil menurun. Sesaat dia dapat melihat keadaan di depannya. Di kejauhan dia melihat seorang penunggang kuda berbaju kuning.

Jarakku begitu jauh. Tak mungkin mengejarnya jika terus menempuh jalan kecil ini pikir Wiro. Di sebelah kanannya ada sebuah hutan kecil. Jika dia memasuki hutan itu mungkin dia masih mampu memotong jalan orang yang dikejarnya. Tanpa berpikir panjang lagi Wiro segera memasuki hutan itu. Tak lama kemudian dia berhasil mencapai lereng lembah. Di satu tempat dia berhenti. Orang yang dikejarnya tidak kelihatan tapi telinganya lapat-lapat dapat menangkap suara derap kaki kuda di arah Selatan lembah. Secepat kilat Wiro mengerahkan kudanya ke jurusan itu. Namun anehnya suara derap kuda yang dikejarnya lenyap dengan tiba-tiba.

Tak mungkin orang itu lenyap begitu saja. Wiro memandang berkeliling. Eh!

Di sebelah sana dia melihat sehelai pakaian berwarna kuning menyangsang di antara semak belukar. Wiro segera mendatangi. Dipegangnya ujung pakaian itu. Ini baju kurung si manusia banci itu! Pasti dia beraa di sekitar sini! Wiro memandang berkeliling. Sunyi, tak ada suara tak ada gerakan.

Tiba-tiba suara tawa bergelak menggeledek di belakang Pendekar 212 sampai sang pendekar tergagau karena terkejut.

"Orang asing! Berani kau mengejarku?! Ini ada hadiah untukmu! Keparat!" Wiro berpaling dengan cepat.

Saat itu pula dua buah pisau terbang melesat ke arahnya. Satu mengarah ke dada, satunya mengarah perut!

"Banci edan!" teriak Wiro marah. Dia tidak sempat melihat jelas orang yang menyerangnya dengan dua bilah pisau terbang itu. Sambil melompat turun dari kuda Wiro lepaskan pukulan "Tameng Sakti Menerpa Hujan".

Pisau yang mengarah dada mencelat mental, patah dua. Salah satu patahannya menancap di sebatang pohon. Pisau kedua siap dibikin mental oleh pukulan sakti itu namun tiba-tiba terjadi hal luar biasa. Pisau satu ini membuat gerakan aneh. Meliuk

ke kiri dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ular!

"Ha....ha....ha....!" Orang di depan sana tertawa bergelak lalu berkelebat lenyap.

"Kurang ajar!" damprat Wiro. Dia cepat menyingkir sambil lepaskan lagi satu pukulan sakti ke arah pisau yang kini berubah menjadi ular dan mematuk secepat setan berkelebat! Bagaimanapun cepatnya Wiro menghindar, serangan tak terduga itu tak dapat dielakkannya. Ular mematuk dan menancap di bahu kirinya! Sehabis mematuk binatang jejadian ini menggelepar lalu jatuh ke tanah, berubah menjadi bubuk hitam yang mengepulkan asap.

Pendekar 212 cepat menotok beberapa bagian tubuhnya begitu dia merasa ada hawa panas menjalar. Selain panas bahunya seperti ditusuk puluhan jarum.

Dirobeknya bajung pada bagian bahu kiri. Dengan tangan kanannya dia memencet bagian bahu sekitar patukan ular. Darah mengucur keluar. Bukan berwarna merah tetapi hitam! Paras sang pendekar menjadi pucat! Cepat-cepat dia keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212 dari balik pakaian merahnya. Setelah merapal satu mantera pendek dalam keadaan tubuh panas dingin salah satu mata kapak ditempelkannya pada luka bekas patukan ular di bahu kirinya.

Wiro menjerit keras sewaktu asap kelabu mengepul keluar dari bahu yang ditempel senjata mustika sakti itu. Sekujur tubuhnya laksana dirajam. Sesaat mata kapak yang tadinya berwarna putih perak menyilaukan berubah manjadi sangat hitam lalu perlahan-lahan puith kembali ke warna asalnya. Ketika senjata itu diangkat dari bahunya darah hitam masih mengucur terus malah tambah banyak.

Celaka! Racun jahat sekali. Lukaku tak mau berhenti ! Murid Sinto Gendeng jadi bingung dan takut. Namun sesaat kemudian hawa panas yang menyungkup tubuhnya mulai reda. Darah yang tersedot keluar oleh kekuatan Kapak Maut Naga Geni 212 perlahan-lahan tampak berubah dari hitam menjadi merah segar.

Murid Eyang Snito Gendeng menarik nafas lega. Dia terduduk di tanah. Dia baru saja selamat dari satu racun maha jahat. Ketika dia teringat pada orang tadi serta merta Wiro melompat bangkit. Dia memandang berkeliling.

Bagaimanapun saktinya manusia tadi tak mungkin dia lenyap amblas ke dalam bumi! Pikir Wiro. Lalu bagaimana dia bisa raib begitu rupa?! Pendekar ini segera memeriksa semak belukan di tempat itu. Hemmmm..... ini rahasianya! Kata Wiro. Di balik serumpunan semak belukar lebat, di belakang dua pokok keladi hutan berdaun lebar tampak sebuah lobang besar. Dengan membungkuk Wiro memasuki lobang itu. Hati-hati dia bergerak maju. Kapak Naga Geni 212 tetap berada dalam genggamannya. Baru berjalan sekitar sepuluh langkah, lobang itu bercabang dua.

Setelah meragu sejenak Wiro memasuki lobang sebelah kanan. Sepuluh lobang lagi bergerak ke dapan kembali lobang itu bercabang. Kini bukan Cuma dua tapi tiga.

Wiro memandang berkeliling. Keadaan di tempat itu semakin gelap. Bau busuk menusuk hidung. Sadar akan bahaya tak terduga yang mungkin bisa membokongnya sewaktu-waktu secara tidak terduga murid Eyang Sinto Gendeng akhirnya memutar tubuh, keluar dari lobang itu.

Di belakangnya mendadak terdengar suara tawa bergelak. Lalu satu suara mengejek. "Orang asing! Ternyata nyalimu rendah! Kalau jiwamu pengecut mengapa berani merantau sejauh ini? Ha...ha...ha...!"

"Bangsat!" maki Wiro. Bagitu keluar dari lobang dengan penuh kemarahan murid Sinto Gendeng ini menghantamkan pukulan "dewa topan menggusur gunung" kearah lobang itu tiga kali berturut-turut. Lembah itu laksana mau amblas ke perut bumi. Bukit kecil di mana lobang tadi berada longsor dengan suara bergemuruh.

Lobang jalan masuk tertimbun tanah tak kelihatan lagi.

Wiro memasukkan Kapak Mau Naga Geni 212 ke balik pakaiannya. Manusia banci! Aku mau lihat apa kau bisa keluar hidup-hidup dari dalam lobang celaka itu!

Habis berkata begitu Pendekar 212 segera tinggalkan tempat itu dengan berjalan kaki karena kuda si orang tua yang tadi dirampasnya tak ada lagi di tempat itu. Meskipun dirinya telah selamat dari racun ular yang sangat jahat tadi namun saat itu dia merasa tubuhnya lemas sekali.

Hanya beberapa saat Wiro teinggalkan tempat itu satu bayangan putih berkelebat. Orang ini memandang berkeliling. Sambil gelengkan kepala dia berkata.

Pukulan "dewa topan menggusur gunung." Hemm.... anak itu rupanya masih terus mengamalkan ilmu kesktian itu. Kekuatan tenaga dalamnya sudah jauh lebih tinggi.

Gunung Merapipun bisa dibobolnya! Orang ini yang ternyata seorang tua usap mukanya beberapa kali. Tiba-tiba dia membuat gerakan menarik pada bagian belakang kepalanya. Selembar topeng tipis dan rambut palsu tanggal dari kepalanya.

Astaga! Di balik topeng itu kelihatan wajahnya yang asli. Cekung hanya tinggal kulit pembalut tulang. Rambut putih di kepalanya tampak jarang. Tapi kumis dan janggutnya kelihatan tebal seputih kapas.

Ketika Wiro sampai ke tempat perhelatan kembali tidak mudah baginya menemui Andana karena saat itu Andana sedang bercakap-cakap dengan Datuk Gampo Alam dana keduanya berada dalam rumah gadang tengah makan. Kali ini Andana berlaku cerdik. Setiap gulai atau ikan dan daging yang dimakan sang Datuk itu pula yang diambilnya. Paling tidak dia berusaha menghindari akan diracuni orang untuk kedua kalinya.

Ketika Atun, datang membawakan minuman tambahan untuk Andana, pembantu itu membisikkan sesuatu padanya.

"Eh, kenapa kau jadi makan terburu-buru Andana?" tanya Datuk Gampo Alam ketika dilihatnya kemenakannya itu menyuap dan mengunyah makanannya lebih cepat dari sebelumnya.

"Perut saya tiba-tiba saja tidak enak. Mungkin saya masuk angin karena kurang tidur malam tadi.... Paman, izinkan saya ke belakang dulu...." Andana membasuh tangan kanannya lalu cepat-cepat dia meninggalkan tempat itu menuju ke pancuran di belakang rumah gadang. Namun di satu tempat dia membelok ke jurusan lain, melangkah cepat hingga akhirnya sampai di balik barisan pohon-pohon pisang tak jauh dari lumbung padi.

Di situ menunggu Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Ada apa Wiro? Mengapa kau meminta aku datang kemari. Eh, pakainmu robek di bahu. Kulihat mukamu agak pucat....."

Dengan cepat Wiro menceritakan apa yang telah dialaminya.

"Saya memang sudah curiga melihat orang itu waktu dia muncul di jendela rumah gadang. Tapi saya tak mungkin melakukan sesuatu. Ternyata kau bertindak cepat. Kau sempat melihat wajahnya? Yang penting kau benar-benar sudah aman dari racun jahat itu?"

"Saya aman, tak usah kawatir. Mengapa tampang orang itu saya hanya sempat melihatnya sekilas sebelum dia menyelinap masuk ke dalam lobang. Orangnya berkumis dan berewokan. Salah satu matanya kalau aku tak salah ingat yang sebelah kiri buta....."

Andana berpikir-pikir. Lalu pemuda ini gelengkan kepala. "Kau tahu, sekitar tiga tahu aku meninggalkan Pagaralam. Orang jahat datang dan pergi berganti-ganti.

Aku tak tahu siapa yang satu ini. Ilmunya tak bisa dibuat main. Nanti akan kutanyakan pada Datuk. Aku merasa yakin ini masih pekerjaannya Tumenggung Rajo Langit...."

Wiro usap-usap dagunya lalu berkata. "Untuk sementara sebaiknya kejadian ini dirahasiakan antara kita berdua....."

"Hem.... Kelihatannya kau kurang percaya pada Pamanku Datuk Gampo Alam?"

"Saya tidak mengatakan begitu, sahabat." Jawab Wiro. "Tapi coba kau pikirkan sendiri dalam-dalam."

"Aku harus meninggalkan tempat ini sekarang...."

"Kau harus makan dulu. Gulai kambing, rendang pedas menunggumu...."

Wiro tertawa. "Seleraku jadi hilang dengan kejadian ini," katanya.

Ketika Pendekar 212 meninggalkan tempat itu, di sebuah jendela dekat anjungan rumah gadang Datuk Gampo Alam yang sempat menyaksikan pertemuan antara kemenakannya dengan Wiro bergerak menjauhi jendela. Lehernya disentaksentakkan dua kali lalu dia kembali ke tempat duduknya semula. Menggulung sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.



TIGAPalindih masuk ke dalam rumah itu sambil tersenyum-senyum. Sesaat dia memandang pada Mamak Rabiah dan Bunga. Lalu bungkusan yang dibawanya diletakkannya di atas meja.

"Apa itu Palindih?" tanya Mak Rabiah.

"Hadiah dari Datuk Gampo Alam buat anak Etek,,Bunga. Cita halus dari negeri Cina, kain songket berbenang emas dari Palembang, sehelai selendang sutera lalu sejumlah uang! Besar nian rejeki abak Etek."

Mamak Rabiah sesaat saling pandang dengan Bunga.

"Kami tidak meminta. Mengapa Datuk memberikan?" tanya Mamak Rabiah pula.

"Itu tandanya beliau puas. Datuk memuji kepandaian Bunga menari. Bukan itu saja, kecantikan anak Etek itupun disebut-sebutnya terus menerus."

"Kalau Datuk Gampo Alam memberikan dengan ikhlas, kami menerima dengan ikhlas pula. Sampaikan ucapan terima kasih kami pada Datuk...." Mamak Rabiah mengira Palindih akan segera pergi namun lelaki itu masih tegak di hadapannya. Mamak Rabiah lalu membuka bungkus yang dibawa Palindih. Di situ memang ada cita, kain songket serta sehelai selendang dan uang dalam kantong kain.

"Banyak sekali uang yang diberikan Datuk Gampo Alam. Kau ambillah sebagian Palindih." Mamak Rabiah mengangsurkan sejumlah uang pada pembantu Datuk Gampo Alam itu.

"Ah tak usahlah Etek. Saya menolong juga dengan ikhlas....." katanya tapi kedua matanya melirik ke tangan kanan Mamak Rubiah.

"Ambillah...."

"Etek ini ada-ada saja," kata Palindih. Lalu diambilnya juga uang dan dimasukkan ke dalam sakunya. "Etek Rabiah, ketahuilah selain disuruh menyampaikan hadiah ini, saya juga membawa pesan dari Datuk Gampo Alam."

"Pesan apa geranagn?" tanya Mamak Rabiah pula.

"Datuk mengundang Etek datang ke rumahnya sore ini juga setelah ba'dal Asar. Kalau Etek suka kita bisa pergi bersama-sama.

"Datukmu mengundang saya datang ke rumah gadang? Agak aneh kedengarannya Palindih. Baru sekali ini kejadain begini. Apa gerangan maksudanya?"

tanya Mamak Rabiah pula seraya memandang pada Bunga.

"Saya tidak tahu Etek. Tentu maksud baik semata. Karena itu jangan ditolak undangannya."

Mamak Rabiah berpikir sejenak lalu berkata. "Kau pergilah lebih dahulu. Biar aku menyusul sendiri kemudian." Kata perempuan itu seraya membetulkan letak selendangnya.

Begitu Palindih pergi Mamak Rabiah cepat menutupkan pintu lalu dia tegak bersandar pada daun pintu seraya memejamkan matanya.

Bunga segera mendekati perempuan ini. "Ada apa Mak? Mamak kurang sehat?"

Tanpa membuka matanya perempuan itu menjawab. "Mamak rasa telah membuat kesalahan besar anakku. Menyetujuimu menjadi gadis penari pembawa sirih persembahan itu...."

"Kalau begitu Mamak tak usah saja datang...." kata Bunga tanpa mau bertanya apa yang membuat Mamak Rabiah berkata begitu.

"Kalau tidak datang salah pula nanti....." jawab Mamak Rabiah lalu menarik nafas panjang.

Datuk Gampo Alam menyambut kedatangan Mamak Rabiah dengan tawa lebar penuh gembira. Perempuan itu dibawanya ke anjungan rumah gadang lalu mereka duduk berhadap-hadapan.

"Istri-istri Datuk kemana....?" tanya Mamak Rabiah ketika melihat hanya sang Datuk saja sebagai tuan rumah yang menemaninya hingga mau tak mau dia merasa kikuk.

"Mereka sibuk semua Mak Rabiah. Terima kasih kau mau datang....."

"Datuk, saya dan Bunga mengucapkan terima kasih atas pemberian Datuk tadi siang...."

"Ah, itu hanya hadiah kecil saja. Tak usah disebut-sebut," kata Datuk Gampo Alam. Setelah menyentakkan lehernya beberapa kali sang Datuk berkata. "Aku tak pernah tahu kalau kau menyimpan burung bagus luar biasa di sangkar emas...."

"Saya tidak paham maksud Datuk..."

Lelaki itu tertawa lebar. "Maksudku anakmu yang cantik dan pandai menari itu. Bunga..... Betul itu namanya?"

"Bunga gadis buruk, keturunan orang tak punya. Maklum saja gadis kampung.

Apa yang Datuk kagumi?"

Datuk Gampo Alam kembali tertawa dan menyentak-nyentakkan lehernya.

"Kau pandai merendah Rabiah. Kalau Bunga tak jadi penari siang tadi tak pernah aku tahu bahwa ada seorang bidadari di Pagaralam ini!" Mamak Rabiah terdiam.

Datuk Gampo Alam menggeser duduknya. Dengar Rabiah, gadis secantik Bunga tidak pantas tinggal di rumahmu yang sekarang....."

"Mengapa Datuk berkata begitu? Lalu kemana kami hendak pergi? Kami orang miskin....."

"Aku punya beberapa rumah di Pagaralam ini, juga di Pagaruyung. Kau boleh memilih mana yang kau suka. Atau di sini di rumah gadang ini. Masih ada satu kamar tersisa....."

Berdebarlah dada Mamak Rabiah mendengar kata-kata Datuk Gampo Alam itu. Sudah terbayang olehnya kini apa tujuan laki-laki ini menyuruhnya datang.

"Rabiah.... Kau faham maksudku bukan?"

"Maafkan, saya tidak mengerti Daruk." Jawab Rubiah dan dadanya tambah menggemuruh. Mukanya tampak memucat.

"Begini, maksudku anakmu itu. Aku ingin mengambilnya jadi istri...."

Ya Tuhan, benar rupanya dugaanku! Kata Mamak Rabiah dalam hati.

"Datuk, saya...."

"Kau setuju? Bagus!"

"Maksud saya bukan begitu Datuk. Bunga masih kecil. Belum pantas bersuami. Lagi pula, maakan saya Datuk. Bukankah Datuk sudah punya empat orang istri? Agama dan adat tidak mengijinkan lebih dari itu...."

Datuk Gampo Alam tertawa lebar. "Kalau itu yang kau takutkan, setiap saat aku bisa menceraikan salah seorang dari istriku. Kau sebut saja yang mana. Empat kurang satu ditambah satu kan empat juga jadinya. Ha....ha.....ha.....!"

Mamak Rubiah tundukkan kepala. Dadanya seperti siap untuk meledak.

"Datuk, saya kurang sehat. Izinkan saya pulang....."

"Tentu, tentu. Palindih akan saya suruh mengantar dengan kereta....."

"Terima kasih. Saya masih mampu berjalan."

"Baik kalau begitu.Tapi dengar. Besok Jum'at. Pagi-pagi sekali kau harus datang memberikan jawaban. Dan kau tahu jawaban apa yang aku ingin bukan?"

Rabiah tidak menyahut. Dituruninya tangga rumah besar bergonjong itu dengan langkah gontai sempoyongan. Dunia seperti berputar di matanya. Dalam hatinya dia berseru pada Yang Kuasa. Tuhan, beri saya kekuatan. Sampaikan langkah saya ke rumah. Yang lebih penting janganlah semua ini terjadi menurut keinginan manusia yang satu itu......

Begitu Bunga membukakan pintu, Mamak Rabiah langsung memeluk dan menciumi anak itu. Kedua matanya basah.

Mamak, ada apakah? Tanya Bunga heran seraya membimbing perempuan itu duduk ke sebuah tempat tidur kayu.

Nasib kita memang belum lepas dari sengsara Nak. Datuk Gampo alam....." Mamak Rabiah tak dapat meneruskan kata-katanya.

"Datuk Gampo Alam? Mengapa dia Amak?"

"Tak sampai hati Mamak mengatakannya padamu Bunga."

"Saya sudah bisa menduga walau Mamak tak mau mengatakannya. Tua bangka tak tahu diuntung itu pasti meminta saya jadi istrinya. Bukan begitu Mak?"

Mamak Rabiah mengangguk dan tangisnya mengeras.

"Apa yang Mamak katakan padanya?"

"Tidak ada. Mamak tidak mengatakan apa-apa. Tapi dia meminta Mamak datang lagi memberi kabar. Besok hari Jum'at pagi."

Bunga berdiri, melangkah ke meja dimana masih terletak bungkusan hadiah dari Datuk Gampo Alam.

"Jadi itu sebabnya dia memberi hadiah sebanyak ini! Tua bangka gila! Tak sudi aku menerima pemberiannya ini!" Bunga lalu melemparkan bungkusan itu ke dinding. Bunga sendiri seprti tak kuasa lagi berdiri, jatuh berlutut dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Lalu terdengar isak tangisnya.



EMPATDi rumah gadang sesaat setelah Mamak Rabiah pergi, Rukiah istri termuda Daruk Gampo Alam keluar dari balik pintu. Dia melangkah menemui suaminya dengan muka cemberut.

"Eh, termakan nasi basi atau kacang busuk sampai mukamu asam seperti itu Rukiah! Atau ada hantu gunung Sitoli merasuk ke dalam tubuhmu!"

Rukiah tersenyum pencong. "Saya sudah dengar semua pembiacaraan Datuk dengan Mamak Rabiah tadi...."

Tampang Datuk Gampo Alam berubah. Merah membesi. "Perempuan kurang ajar! Jadi berani kau mencuri dengar pembicaraanku! Setan kau!" Datuk Gampo Alam sentakkan lehernya sempai empat kali sedang kedua matanya memandang membeliak pada istri mudanya itu. Kalau saja yang ada di hadapannya itu bukan Rukiah yang memang sangat disayanginya tetapi salah satu dari tiga istrinya yang lain, pasti sang Datuk sudah menjambak rambutnya.

"Bukan saya yang setan!" menjawab Rukiah dengan beraninya. "Tapi Datuk!"

Ucapan itu membuat Datuk Gampo Alam bergeletar selurh tubuhnya. "Ku tampar mulutmu nanti Rukiah!" mengancam sang Datuk.

Sang istri muda tenang-tenang saja. Malah menyahuti. "Saya sudah bicara dengan kakak-kakak di sini. Kalau Datuk memang mau mengawini Bunga, silahkan.

Datuk boleh menceraikan salah satu dari kami berempat. Tapi saya minta Datuk menceraikan saya!"

"Aha! Kau cemburu Rukiah!" kata Datuk sambil tertawa. Diantara keempat istrinya Rukiah sebagai istri muda tentu saja merupakan istri yang paling disayanginya. "Aku tidak akan menceraikan mu apapun yang terjadi!"

"Kalau Datuk tidak mau menceraikan saya, biar saya yang minta cerai dan pergi dari sini! Kami semua tidak suka Datuk mengambil gadis itu sebagai istri. Gadis yang pantas jadi anak Datuk itu akan bernasib buruk dan menderita batin seperti kami-kami di sini!"

"Perempuan setan! Cakapmu benar-benar membuatku marah! Menyingkir dari hadapanku!" kata Datuk Gampo Alam setengah berteriak lalu menyentakkan lehernya.

"Jadi Datuk tetap mau mengawini Bunga?" tanya Rukiah dengan beraninya.

"Setan manapun tak bisa menghalangiku!" jawab Datuk Gampo Alam.

"Kalau begitu saya minta cerai sekarang juga!"

Plaak!

Tamparan Datuk Gampo Alam membuat Rukiah terpekik. Perempuan muda ini hampir terjatuh nanar. Sambil pegangi pipinya menahan sakit dia berkata. "Lakilaki gila! Umur hanya tinggal sejengkal dari liang kubur masih saja ingin kawin!

Kambing tua tidak tahu diri. Kerjanya melahap daun muda saja!"

Datuk Gampo Alam menyentakkan lehernya beberapa kali. Pipinya yang cekung tampak menggembung sampai ke rahang.

"Perempuan tak tahu diuntung! Kau minta cerai! Baik! Kujatuhkan talak satu padamu! Sekarang angkat kaki dari rumah gadang ini!"

"Talak satu?! Huh! Kenapa Cuma talak satu? Kenapa tidak sekalian talak tiga?!" sentak Rukiah.

"Kalau itu maumu Baik! Kujatuhkan talag tiga! Nah, puas kau sekarang? Ayo cepat lindang dari rumahku ini!" Suata Datuk Gampo Alam demikian kerasnya hingga terdengar oleh orang-orang yang ada di halaman, termasuk Andana. (lindang = angkat kaki). Kau datang ke sini hanya membawa sehelai pakaian buruk lekat di badan! Kalau kau pergi jangan harap akan kuperbolehkan membawa lebih dari pada baju yang melekat di tubuhmu itu!"

"Saya tidak tamak harta! Saya tidak akan membawa apa-apa kecuali pakaian ini!" jawab Rukiah. Lalu ditanggalkannya cincin, gelang dan kalung emasnya.

Perhiasan ini kemudian dilemparkannya ke muka Datuk Gampo Alam hingga sang Datuk tersurut kaget tapi juga marah sekali. Sebelum dia sempat menyemprotkan caci maki atau melayangkan tangannya, Rukiah sudah melangkah ke pintu lalu menuruni tangga rumah gadang dengan cepat. Di halaman rumah gadang Andana detang menyongsongnya.

"Saya mendengar suara ribut-ribut tadi. Kini saya lihat Etek seperti terburuburu.

Etek mau kemana?" Sambil bertanya Andana memperhatikan wajah istri

Pamannya yang usidanya jauh lebih muda dari dirinya. "Astaga, ada apa pipi Etek kelihatan merah?"

Rukiah coba tersenyum. "Andana, jika kau punya kesempatan aku harap kau mau menemuiku di simpang tiga jalan ke sawah. Ada sesuatu yang sangat penting ingin kukatakan." Setelah berkata begitu Rukiah cepat-cepat berlalu.

Sementara itu dari atas rumah Datuk Gampo Alam menuruni tangga dengan cepat. "Apa yang dikatakan perempuan setan itu padamu?!" tanya Datuk Gampo Alam pada Andana.

"Tidak begitu jelas. Dia bicara terburu-buru. Katanya dia mau pergi....."

"Pergi kemana?!" tanya sang Datuk lagi.

"Saya tidak tahu Paman. Dia hanya bicara sebentar lalu cepat-cepat pergi."

Andana diam sejenak sambil mengusap-usap dagunya. "Mamak, saya sudah menginap malam tadi di rumah gadang. Saya sudah pula menerima kehormatan besar yaitu sebgai penerima sirih persembahan. Samua itu tidak mungkin terjadi kalau bukan Paman yang mempersiapkan dan mengaturnya. Saya mengucapkan ribuan terima kasih Paman. Tiba saatnya hari ini saya minta diri. Mulai hari ini saya akan tinggal di surau."

"Kau tidak berbasa-basi, Andana?" Pemuda itu menggeleng.

"Bagaimana kalau Tumenggung Rajo Langit mengirimkan orang-orangnya untuk menangkapmu. Kau tidak takut? Jika kau tidak ada di dekatku, aku tak bisa melindungimu."

"Saya tidak takut pada siapapun Paman. Kecuali pada Yang Satu di atas sana," jawab Andana sambil menunjuk ke langit. "Lagi pula sebelumnya Tumenggung itu memang sudah mengirim orang-orangnya untuk menangkap saya.

Tuhan masih melindungi saya. Pemuda sahabat saya yang menghajar habis semua monyet-monyet Tumenggung Rajo Langit. Tumenggung itu sendiri kalau tidak cepatcepat lari pasti babak belur untuk kedua kalinya....."

"Untuk kedua kalinya katamu? Jadi sebelumnya dia pernah menghajar Rajo Langit?'

"Betul. Waktu tua bangka itu mencoba mengganggu anak gadis orang..."

Eh, jangan-jangan anak ini menyindirku, pikir Datuk Gampo Alam.

"Andana, pemuda kawanmu yang bernama Wiro itu, apa dia memang seorang pendekar berkepandaian tinggi?" bertanya Datuk Gampo Alam.

Yang ditanya mengangguk. "Bagi saya kalau seorang bisa menghadapi lebih dari tiga orang lawan hanya dengan tangan kosong, apalagi lawan bersenjata pula, dia sudah saya anggap sebagai seorang pendeka besar...."

Datuk Gampo Alam terdiam. Dalam hati dia berkata. Orang Jawa ini jelas akan membuatku susah dan rencanaku berantakan. Kalau tidak diambil tindakan dari sekarang urusan bisa tidak karuan. Lalu anak yang di hadapanku ini sendiri sampai dimana pula kehebatannya. Dia sempat berguru dengan Datuk Alis Merah.

"Andana aku yakin kau bisa menghadapi semua kesukaran ini. Sekalipun tanpa pertolongan sahabatmu bernama Wiro itu. Kabarnya kau sudah diberi orang gelar Harimau Singgalang."

Andana coba tersenyum dan berkata. "Itu hanya cakap gurau orang saja Paman. Mana berani saya memakai gelar sehebat itu...."

"Jadi, kau sungguhan hendak pergi?"

Andana mengangguk.

Datuk Gampo Alam menyentakkan lehernya dua kali. "Baiklah, aku tak bisa melarang. Namun sebelum pergi naiklah dulu ke atas. Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan denganmu."

"Perihal apakah Paman?" tanya Andana.

"Perihal rumah gadang dan segala isinya. Aku bermaksud menjualnya."

Terkejut Andana mendengar kata-kata Pamannya itu. Dengan perasaan tidak enak dia menaiki tangga mengikuti Datuk Gampo Alam naik ke atas rumah gadang.

Begitu sampai di atas rumah gadang Datuk Gampo Alam masuk ke dalam kamarnya. Ketika keluar dia membawa segulung kertas. Setelah duduk di hadapan kemenakannya dibukanya gulungan kertas itu seraya berkata. "Andana ini adalah Surat Wasiat peninggalan Ayahmu. Isinya bisa kau lihat sendiri nanti. Sekarang biar kubacakan dulu."

Surat Wasit. Hari Kamis hari ke dua belas bulan Muharram. Saya Datuk Bandaro Sati, dengan ini berwasiat. Jika terjadi sesuatu apa dengan diri saya yang menyebabkan kematian saya, maka semua harta kekayaan yang tertinggal termasuk rumah gadang yang di Pagaralam dan segala harta pusaka yang ada di dalamnya, ternak dan sawah ladang akan saya wariskan pada dan menjadi hak syah Datuk Gampo Alam, satu-satunya adik kandung saya. Segala urusan selanjutnya dialah yang bertanggung jawab penuh untuk menentukan. Tertanda Datuk Bandaro Sati.

Mengetahui Penguasa di Pagaruyung Tumenggung Rajo Langit.

Sehabis membacakan Surat Wasiat itu Datuk Gampo Alam menatap wajah kemenakannya. Anak ini kelihatan tenang saja membatin sang Datuk. Tak ada perubahan pada air mukanya. Datuk Gampo Alam akhirnya menyerahkan Surat Wasiat itu pada Andana. "Kau baca sendirilah," katanya.

Andana membaca Surat Wasiat itu. Sesaat kemudian diserahkannya kembali pada pamannya.

"Kau tidak akan mengatakan atau menanyakan sesuatu Andana?"

"Memang ada Paman," jawab si pemuda. "Pertama kapan Surat Wasiat itu Paman terima dari almarhum Ayahanda?"

"Beberapa waktu lalu. Kalau aku tak salah ingat hanya sekitar tida empat minggu sebelum dia meninggal. Itulah, seperti yang aku katakan tempo hari. Dia seolah-olah sudah mendapat firasat. Membuat Surat Wasiat ini lalu memberikannya padaku. Bisa kufahami. Kau tak ada di Pagaralam, entah berada dimana. Lalu kakak kami Uning Ramalah seperti kau ketahui tidak mau mengurusi hal-hal seperti ini lagi."

"Paman, pengetahuan saya sangat dangkal tentang hal-hal yang menyangkut warisan. Tetapi ada sesuatu yang saya ketahui dengan jelas sekali."

"Hemmm, apakah itu Andana?" tanya Datuk Gampo Alam sambil menyentakkan lehernya dua kali.

"Warisan yang ditinggalkan Ayah saya bukanlah termasuk Pusaka Tinggi.

Yaitu pusaka turun temurun dari nenek moyang kita yang tidak boleh dijual atau dibagi-bagikan. Tetapi tetap akan menjadi pusaka untuk bisa dimanfaatkan oleh keturunan sedarah sedaging. Contoh Pusaka Tinggi itu ialah rumah gadang yang di Batusangkar. Tetapi rumah gadang yang ini adalah Pusaka Rendah. Rumah dan segala isinya adalah milik Ayahanda langsung. Hasil pencaharian dan pembeliannya sendiri.

Dari keringatnya sendiri. Bukan harta turun temurun. Dengan kata lain sebagai anak kandung satu-satunya maka sayalah yang secara syah menerimanya sebagai warisan, wajib menjaga dan memeliharanya. Secara hukum dan secara adat Surat Wasiat itu adalah keliru..... Mungkin yang dimaksudkan Ayahanda adalah rumah gadang pusaka keluarga di Batusangkar."

"Mana mungkin keliru Andana. Di sini jelas disebutkan rumah gadang di Pagaralam. Rumah gadang dimana aku dan kau saat ini duduk berhadap-hadapan.

Jelas di sini dikatakan aku yang ditunjuknya sebagai pewaris dengan segala isi di dalamnya."

"Paman , saya yakin ada sesuatu yang keliru....." kata Andana lagi.

Datuk Gampo Alam tersenyum. "Andana, kau lihat sendiri tanda tangan Tumenggung Rajo Langit yang mengesahkan SuratWasiat ini. Apakah kau ingin mengatakan aku memalsukan dan membuat-buat Surat Warisan ini?"

"Saya tidak mengatakan begitu Paman. Jangan Paman salah sangka. Apa yang saya maksudkan cukup jelas. Semua harta pusaka milik Ayah adalah hasil pembelian ayah dari keringatnya sendiri. Bukan berasal dai kakek atau nenek moyangnya. Bukan berasal dari pusaka turun-temurun.Hanya itu saja yang ingin saya katakan. Apa artinya terserah Paman untuk mengkajinya."

"Ah, aku mengerti sekarang! Jelas kau tidak suka rumah dan harta Ayahmu diberikan kepadaku! Walau jelas-jelas di dalam Surat Wasiat ini Ayahmu mengatakan begitu. Jelas dan ikhlas. Ada saksinya pula. Saksi bukan orang sembarangan. Tapi seorang berpangkat. Seorang Tumenggung penguasa negeri!" Datuk Gampo Alam menyentakkan lehernya dulu baru meneruskan. "Andana, jika aku pikir-pikir mengapa Ayahmu membuat Surat Waisat begini rupa pasti ada sebab musababnya.

Mungkin ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya atas dirimu hingga Surat Wasiat ini ditujukannya padaku bukan padamu. Mungkin kau dianggapnya melakukan satu kesalahan besar karena telah meninggalkan Pagaralam sampai bertahun-tahun tanpa kabar berita. Ini rupanya sangat menyakitkan hatinya...."

"Paman biar saya katakan terus terang sekarang. Saya kembali ke Pagaralam ini mengikuti pesan Ayahanda yang saya terima secara gaib. Pesan beliau selamatkan rumah gadang dan harta pusaka di dalamnya....."

"Aneh sekali kedengarannya," kata Datuk Gampo Alam sambil memandang ke halaman lewat pintu rumah gadang.

"Betul Paman, memang aneh kedengarannya kalau tidak melihat sendiri. Tapi kejadian itu saya alami sendiri, disaksikan oleh guru saya Datuk Alis Merah. Waktu itu kami berada di dekat air terjun kecil di kawasan tempat kediaman Datuk Alis Merah. Ayah tiba-tiba saja muncul dikawal oleh seekor harimau besar. Ayah tegak di atas batu. Berpakaian hijau yang penuh lubang-lubang bekas tusukan. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Saat itulah Ayah memberi tahu agar saya segera pulang ke Pagaralam. Rumah gadang dalam bahaya....."

Untuk beberapa lamanya Datuk Gampo Alam berdiam diri. Terbayang kembali olehnya kejadian di Ngarai Sianok. Ketika dia bersama Hantu Mata Picak mengeroyok Datuk Bandaro Sati lalu membunuh kakanknya itu dengan cara menikamnya bertubi-tubi dengan keris miliknya sendiri yaitu Keris Tuanku Ameh Nan Sabatang. Anak ini mengatakan keris sakti bertuah itu tak ada padanya. Dia berdusta. Keris itu kutemukan di bawah bantal dalam kamarnya. Kalau dia banyak ulah dengan senjata itu pula akan kuhabiskan riwayatnya!

"Paman, saya minta diri. Kalau memang Paman yakin Ayah benar-benar mewariskan rumah gadang beserta isinya, termasuk sawah ladang dan ternak peliharaan, berbahagialah Datuk. Saya tidak akan mengungkit atau menuntut. Saya malah berterima kasih Paman mau merawat rumah serta semua peninggalan Ayah...."

Mulutnya berkata begitu tapi siapa tahu isi hatinya, pikir Datuk Gampo Alam.

"Begini sajalah Andana. Urusanku akan terlalu banyak nanti. Bagaimana kalau semua sawah ladang dan ternak kuberikan saja padamu."

"Terima kasih Paman. Ketahuilah, saya datang ke Pagaralam ini bukan untuk mendapatkan segala macam harta warisan. Tujuan saya Cuma satu....."

Andana bangkit dari duduknya. Sebelum menuruni tangga diteruskanna dulu ucapannya yang tergantung tadi. "Tujuan saya ke Pagaralam ini adalah mencari pembunuh Ayah saya. Dan saya yakin saya akan menemukan orangnya!"

Tampang Datuk Gampo Alam berubah. Andana tidak lagi memperdulikan Pamannya itu. Dibalikkannya tubuhnya lalu dia menuruni tangga rumah gadang dengan cepat. Dari jendela Datuk Gampo Alam dapat melihat kemenakannya itu menunggangi kuda ke arah Timur yaitu arah yang ditempuh Rukiah waktu pergi tadi.

Sang Datuk menyentakkan lehernya lalu berteriak memanggil tiga orang pengawalnya. "Ikuti dan selidiki kemana perginya anak itu. Laporkan padaku apa yang kau ketahui!"



LIMASimpang tiga itu terletak di kaki bukit kecil yang menurun. Tak jauh dari sana terbentang daerah pesawahan. Sore itu suasana di sekitar tempat itu tampak sepi.

Sesekali terdengar kicau burung. Ketika Andana sampai di simpang tiga itu dia tidak melihat Rukiah atau siapapun di situ.

Jangan-jangan perempuan itu mendustaiku. Pikir Andana. Baru saja dia berpikir begitu telinganya menangkap detak suara roda. Dari balik pepohonan dan semak belukar muncul sebuah pedati ditarik dua ekor sapi..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.159.113.182
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia