Perjuangan Tanpa Pandang Bulu

Memulai hari baru dengan sebuah senyum yang tersimpul dari bibir mungilnya. Tidak salah lagi senyuman yang ikhlas dari lubuk hatinya terpancarkan lagi setelah sepekan dia terbelenggu oleh perasaan bersalahnya kepada orang-orang terkasihnya. Asih, dialah yang memulai pagi hari ini dengan senyum itu berangkat menuju sekolahnya tercinta, untuk mengisi kembali amunisinya demi meraih cita-citanya. Dia sekarang telah duduk dibangku kelas tiga SMP Kusuma Bangsa, itu berarti sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah tercintanya untuk ke tingkatan yang lebih atas lagi yakni SMA.

Asih, remaja yang lugu dan patuh pada orangtuanya serta sayang dengan adik-adiknya. Namun, nasibnya tak seberuntung teman-temannya, dia terlahir dari keluarga yang sederhana bahkan semenjak ayahnya tak lagi bekerja di pabrik konveksi yang tak jauh dari rumahnya dan sekarang bekerja serabutan, dia harus membantu ibunya berjualan makanan demi tetap mengebulnya dapur mereka dan lancarnya sekolahnya juga adik pertamanya, Bimo. Tetapi dia tak pernah merasa malu ataupun mengeluh walaupun teman-temannya sering mengejeknya.

Asih merasa bersalah bukan karena mengecewakan orangtuanya yang tak mau lagi berjualan melainkan ia belum mampu memberikan hasil yang memuaskan selama latihan ujian yang diselenggarakan di sekolah terutama pada latihan ujian di tingkat Provinsi yang kata gurunya nilai yang diperoleh dari latihan ujian tersebut dapat menjadi gambaran bagaimana nilai asli yang akan diperoleh nantinya seperti pada tahun-tahun sebelumnya perkiraan itu tidak jauh beda. Hal inilah membuatnya sempat terjatuh dalam lubang kepesimisan.

Sebelum Asih meninggalkan rumah menuju sekolah setelah berpamitan, tiba-tiba ibunya menghentikan langkah Asih.
“Bentar nak, apa kamu yakin dengan keadaanmu sekarang?”, tanya ibu menyelidik.
“Tenang saja Bu. Lihat! Aku tidak apa-apa kan?”, kata Asih sambil menunjukkan ekspresi senangnya untuk meyakinkan ibunya.
“Tapi nak, Ibu tetap merasa kurang yakin. Apa gak sebaiknya kamu gak usah berjualan dulu supaya kamu lebih fokus belajarnya? Nanti biar Ibu saja yang berjualan”, kata Ibu menasihati.
“Tidak usah Bu, percayalah padaku. Asih minta maaf telah membuat ibu khawatir seperti ini. Kali ini akan Asih buktikan pada Ibu kalo putri Ibu ini bisa”. jelas Asih pada ibunya.
“Baiklah nak, Ibu dan Ayah di sini akan senantiasa mendoakanmu dan mendukungmu”, kata Ibu.
“Terimakasih Bu. Asih pamit. Assalamualaikum.”, kata Asih sambil melempar senyum pada ibunya.
“Walaikumussalam warrahmatullah. Sukses anakku!”, jawab Ibu setengah berteriak untuk menyemangati Asih yang berjalan menuju sekolah.

Tak berapa lama Asih pun sampai di depan gerbang, setelah menempuh perjalanannya dengan berjalan kaki. Sebelum dia benar-benar masuk di kawasan sekolahnya, dia menyempatkan diri untuk berikrar dalam hati untuk kali ini dia tak ingin menyia-nyiakan waktunya yang tersisa dan menyia-nyiakan kepercayaan orangtuanya sebelum Ujian Nasional benar berlangsung.
Setelah dirasa puas sambil meghirup udara pagi yang masih kaya akan oksigen dia pun melangkahkan kaki masuk ke kawasan sekolah.
“Selamat Pagi, Pak!”, sapa Asih kepada kedua satpam sekolahnya yang sedang ada di pos.
“Pagi juga, Sih!”, jawab kedua satpam dengan tersenyum.
Di sekolah memang Asih terkenal sebagai seorang teman yang baik dan mudah bergaul dari kacamata teman-temannya sedangkan sebagai seorang murid, dia adalah murid yang rajin dan berprestasi. Namun, keadaan itu tak membuatnya terlepas dari teman-temannya yang iri padanya tapi hal itu tak membuatnya menjadi tidak percaya diri atau malah pesimis.

Dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya yang berada disamping lapangan basket, tetapi saat dia tengah melewati lapangan basket, tiba-tiba bola melayang cukup kencang dari tendangan salah satu pemain tepat mengenai kepala Asih. Seketika Asih pun hilang keseimbangan kemudian terjatuhlah. Terkadang lapangan basket sekolahnya dapat beralih fungsi menjadi lapangan futsal. Pagi itu pun beberapa anak laki-laki seangkatannya tengah asyik bermain bola sebelum masuk waktu pendalaman materi. Pendalaman materi itu sudah merupakan program umum dari sekolah bagi siswa kelas tiga yang hendak menghadapi UN dengan harapan hasil yang diperoleh nantinya lebih maksimal.

Melihat Asih yang tergeletak, spontan anak-anak yang bermain sepakbola dan beberapa teman yang menonton futsal itu tadi menolong Asih.
“Aduh, siapa sih yang gak bisa nendang?”, gerutu Asih kesal sambil mengusap-ngusap kepalanya tapi ia tidak ingin menyalahkan temannya yang telah berbuat salah padanya karena dia merasa mungkin salahnya juga karena tidak menyadari kalau lapangannya sedang ada yang memakai.
“Kamu gakpapa? Ada yang sakit gak?”, tanya salah seorang temannya.
“Gakpapa kok, cuman agak sakit di sebelah sini.”, jawab Asih sambil menunjukkan kepalanya yang sakit.

Melihat ada kerumunan orang, Lissa yang dari kelas pun heran, dia pun segera menghampiri kerumunan itu. Tak disangka terlihat sahabatnya tengah kesakitan. Dia pun cemas dan segera menolong Asih.
“Ada apa ini? Kok kamu bisa kayak gini? Siapa yang berani giniin kamu?”, tanya Lissa menggebu-nggebu.
“Aku gakpapa kok Lis, kamu tenang, sekarang mending kamu bantuin aku bawain jualanku ini. Untung saja gak kenapa-napa kalo rusak bisa hari ini aku gak jualan.”, kata Asih menenangkan Lissa dengan menggenggam pergelangan tangan Lissa.
“Malah ngurusin jualanmu. Yaudah, nanti aku ambilin obat dari UKS ya. Kita sekarang ke kelas aja bentar lagi juga masuk. Awas nanti ya kalo aku tau sapa yang bikin bonyok Asih akan aku bikin perhitungan sama dia”, jelas Lissa dengan sedikit kesal.

Lissa pun membantu Asih dengan dibantu juga oleh beberapa teman lainnya. Sampai di kelas Asih mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya atas bantuan mereka. Dimata Asih, Lissa adalah sesosok sahabat yang berarti sekali baginya karena dia selalu menjadi pelindung baginya dari keisengan teman-temannya dan terkadang juga bisa sebagai kakak bagi Asih, memang terkadang Lissa terlihat sedikit keras tapi itu hanya dia tujukan kepada orang-orang yang suka mengambil hak-hak orang lain ataupun yang suka berbuat jahat kepada orang lain. Sifat Lissalah yang membuat orang-orang segan terhadapnya bahkan guru yang bertindak sewenang-wenang pun bisa dibuat mati kutu oleh Lissa. Lissa tak pernah memakai fisik kalau tidak benar-benar terdesak.

Oleh karena itu, Lissa sering dikirim setiap ada lomba debat ataupun lomba-lomba yang bertemakan kemanusiaan. Dan tidak mengecewakan dia selalu meraih juara dalam setiap perlombaan yang dia ikuti. Lain halnya dengan Asih dia lebih berbakat dalam bidang keilmuan dan seni, mereka berdua sama-sama hebatnya. Walaupun Asih dan Lissa berbeda tetapi mereka saling melengkapi, mereka telah lama bersama dari kecil, hanya saja kondisi ekonomi keluarga Lissa lebih tercukupi dibanding Asih. Tetap hal itu tidak membuat persahabatan mereka pupus begitu saja. Lissa adalah orang yang manis dan pintar sehingga wajar saja banyak orang yang mengaguminya tapi karena sifatnya yang tidak begitu menghiraukan perasaan seseorang terhadapnya yang membuat Lissa susah untuk ditaklukan hatinya oleh seorang laki-laki sampai saat ini.

Setelah Asih mendapat pengobatan dari Lissa, terdengar bunyi bel masuk untuk pendalaman materi atau lebih sering disingkat PM. Ditengah pendalaman materi, sesekali mereka berbincang.
“Gimana dah mendingan kan?”, tanya Lissa.
“Udah kok, malahan udah gak terasa tadi juga gak begitu keras kok kenanya”, jawab Asih menjelaskan.
“Ya tapi tetep aja sakit kan? Gak bisa dibiarin hal kayak gini, ya untungnya kamu gakpapa kalo seumpama kamu tadi terus pingsan bakalan makin panjang urusannya. Awas kalo nanti aku tau siapa yang nendang bola tadi, aku suruh dia minta maaf ke kamu sampai kamu mau maafin dia terus janji buat lebih hati-hati lagi”, jelas Lissa pada Asih.
“Gak perlu, lagian salahku juga tadi yang gak sadar kalo lagi buat futsal. Udahlah lupain aja mending kita fokus aja buat ujian yang tinggal mengitung hari”, jawab Asih.
“Okedeh kalo itu maumu. Eh iya, ngomong-ngomong ini dah tinggal 49 hari lagi kita bener-bener UN, jadi inget drama korea yang tempo hari udah tamat aku tonton. Judulnya 49 hari, seru gak kalo kira-kira aku bikin 49 hari kita? Itung-itung buat bahan tulisanku”, tanya Lissa dengan semangat. “Tapi aku bakalan warnai hari-hariku itu dengan cerita-cerita indah menjalani UN bukan sebaliknya terus itu lebih asyik kalo sama kamu, gimana? Setuju gak?”, lanjutnya.
“Aku dukung aja ide-idemu yang terkadang gak tau dari mana datangnya”, jawab Asih dengan nada yang menyindir.
“Iih kok kamu bilang gitu sih. Tapi okedeh, makasi supportnya”, jawab Lissa dengan memeluk erat Asih. Teman-teman di belakang mereka pun melihat tingkah laku mereka dengan keheranan. Tetapi mereka tak menghiraukannya.

Suasana kelas pun kembali serius, murid-murid pun fokus mendengarkan penjelasan guru dan mengikuti pelajaran dengan baik sampai waktu istirahat tiba.
Murid-murid pun dengan sigap keluar untuk menikmati waktu istirahatnya yang dirasa sangat berarti dimasa-masa harus dihadapkan dengan soal-soal dan materi seperti ini. Asih dan Lissa pun bukan pergi ke kantin melainkan menjajakan jualannya Asih ke kelas-kelas terlebih dahulu. Ketika sampai di kelas 9A yang ada di pojok lorong terkuaklah kembali insiden pagi hari tadi.
“Kamu gakpapa kan, Sih? Maaf tadi aku gak liat kalo ada kamu disitu jadi aku terlalu semangat menendangnya.”, kata Arsad.
“Gakpapa kok, santai aja hanya saja aku sedikit kesal tadi pada orang yang menendang bola sembarangan, untuk itu aku juga minta maaf”, kata Asih.
“Oh begitu baiklah, berarti sekarang kita gak marahan lagi ya? Makasih juga atas pemberian maafmu. Oh ya ngomong-ngomong kamu jual apa?”, tanya Arsad pada Asih dengan perasaan lega.
Namun, sebelum sempat menjawab pertanyaan Arsad, Lissa pun sudah menghampiri mereka dan memberitahu info yang baru saja didapatkannya.
“Eh Sih, ini dia orang yang tadi nendang bolanya gak bener sampe kena kepala kamu tuh. Makanya kalo maen ati-ati dong!”, jelas Lissa bersulut-sulut sambil menunjuk ke arah Arsad.
“Iya Lis, aku udah tau. Lagian dia juga dah minta maaf ke aku kok. Aku juga udah minta maaf padanya, terus sekarang kita gak punya masalah lagi. Yaudah yuk mending kita keluar, bentar lagi juga mau bel”, jawab Asih malu dihadapan Arsad melihat tingkah Lissa yang terlihat masih kesal. Untuk itu Asih mengajak Lissa keluar supaya tidak terjadi hal yang tak diharapkannya.

Asih dan Lissa pun keluar dari kelas 9A sedangkan Arsad belum sempat mendapat jawaban dari Asih, mereka sudah keluar. Tetapi Arsad pun masih ingin mendapat jawaban dari Asih yang tertunda itu.
“Tapi Sih, dia harus dikasih pelajaran juga, aku belum puas mengeluarkan kejengkelanku padanya. Setelah aku tau kalo dia yang bikin kamu kayak gini makin sebel aku, kamu tau kan dia kayak gimana, sombongnya minta ampun mentang-mentang banyak fansnya gitu.”, jelas Lissa dengan kesal.
“Iya aku tau tapi kenapa sih harus diperpanjang lagian aku sama dia udah gak ada masalah. Udah inget katanya kamu mau bikin 49 hari kita berwarna terang kan? Masa cuman gara-gara kamu kesel sama dia terus ngrusak planning kita?”, kata Asih sambil menenagkan Lissa.
“Betul juga. Ayo kita bikin hari-hari kita yang tersisa ini lebih bewarna. Dan jangan lupa sama tujuan kita selama ini lulus dengan hasil yang memuaskan dan bersih”, kata Lissa kembali bersemangat.

Sejak hari itulah Asih memulai hari-harinya dengan lebih semangat dan jarang sekali dia memperlihatkan wajah murungnya lagi, ia telah bertekad untuk tidak lagi berlarut-larut dalam penyesalan karena semua itu tidak lepas dari usaha yang telah ia lakukan dan ridho Allah SWT. Dia selalu mengingat kata-kata dari guru mengajinya bahwa ‘Allah memberi ujian kepada hambanya tidak lain adalah untuk mengangkat derajat hambanya tersebut’ Untuk itu Asih tidak akan lagi berprasangka buruk kepada siapapun bahkan dia lebih percaya diri sekarang.

Tak lupa hari-hari menuju UN, Asih jalani dengan senyuman yang selalu merekah dari bibirnya. Lambat laun dia telah mampu membagi waktu dengan baik, dia tetap membantu ibunya berjualan tapi hal itu tidak menggannggu proses belajarnya. Ia lewati hari demi hari bersama Lissa sementara Asih mewarnai harinya dengan lebih banyak belajar soal dan membuat target-target yang ingin diraihnya lain halnya dengan Lissa, sahabatnya ini tetap menjalankan obsesinya yakni membuat karya tulisnya ’49 Days’ versi dirinya, memang Lissa punya cita-cita sampingan sebagai penulis selain sebagai anggota DPR yang bisa menyalurkan aspirasi rakyatnya kelak.

Sampai H-7 menuju UN tiba, saat itu Asih dan Lissa tengah serius belajar di perpustakaan seusai pulang sekolah. Arsad yang datang dari arah pintu masuk, menghampiri mereka.
“Permisi, apa aku boleh gabung sama kalian? Tempat lainnya penuh?”, tanya Arsad pada mereka.
Lissa pun merasa tidak senang dengan kehadiran Arsad, dia pun balik bertanya, “Eh mau ngapain kesini? Penuh gimana tuh meja deket penjaga perpus masih kosong?”
“Iya tapi disana kurang terang, lagian aku juga ingin belajar bersama kalian. Ada soal-soal yang ingin aku tanyakan, nih?”, jelas Arsad pada Lissa.
“Tapi ya tetep saja…”, kata Lissa, saat ia tengah bicara tiba-tiba Asih pun memotongnya.
“Sudahlah Lis, maksud dia baik kok lagian kita kan harus berbagi dengan orang lain, dia kan juga punya hak disini. Kamu lupa dengan misimu?”, tanya Asih menyudutkan.
“Baiklah, kamu boleh duduk disini asalkan kamu gak bikin kami gak bisa belajar. Awas kau!”, jelas Lissa sedikit mengancam.
“Siap boss!”, jawab Arsad dengan sikap hormat.

Diskusi pun berjalan dengan sendirinya. Mereka terlihat menikmati waktu belajar hari itu, tak ada hal-hal yang dikhawatirkan Lissa tadi terjadi. Sampai perpustakaan mau tutup pun mereka masih asyik membahas soal-soal yang masih perlu mereka pelajari. Sehingga penjaga perpustakaan pun sedikit ketus menyuruh mereka segera mengakhiri belajar bersama waktu itu karena hari semakin larut. Akhirnya mereka pun mau tak mau harus mengakhirinya sampai disitu dan mereka membuat jadwal untuk melakukan belajar bersama lagi sampai UN pun tiba.
“Yaudah, sampai jumpa besok ya. Oh ya makasih banyak untuk hari ini. Kalian memang baik, tak seperti sangkaan temen-temen lain. Eh iya makasih juga ya Lis, dah ngijinin aku gabung sama kalian. Entahlah kalo tadi aku gak minta ajar sama kalian, bisa mati berdiri aku dirumah karna gak tau cara nyelesain soal-soal tadi, kalo di tempat les lebih sering aku gunakan untuk tidur jadi ya percuma saja”, jelas Arsad panjang dan lebar.
“Iya sama-sama. Sori tadi aku sempet emosi sama kamu. Okelah kamu boleh gabung sama kita kapanpun kamu mau dengan syarat kamu bener-bener mau belajar bukan yang lain”, terang Lissa.
Akhirnya mereka pun berpisah di depan gerbang, pulang ke rumah masing-masing dengan saling melempar senyum. Mereka menjalani sepekan menuju UN dengan belajar bersama secara kondusif, dari situlah keakraban Asih dan Lissa dengan Arsad terjalin, sekarang Lissa pun perlahan-lahan menghilangkan prasangka buruknya terhadap Arsad dan mulai melihat sisi baik dari teman lelakinya itu.

Sampai saat yang ditunggu pun tiba. Ujian Nasional sekarang sudah di depan mata, mereka harus berperang melawan kepesimisan diri mereka masing-masing dan maju ke medan perang dengan segala amunisi yang telah mereka siapkan jauh-jauh hari. Asih tak lupa sebelum berangkat ke sekolah tadi meminta doa restu kepada orangtuanya terutama ibunya dan juga meminta doa dari adik-adiknya. Di sekolah pun semua guru dan karyawan beserta murid sebelumnya telah menyelenggarakan doa bersama dan sebelum UN dimulai, kepala sekolah menyempatkan untuk memberikan pidatonya.
Sebelum Asih dan Lissa memasuki ruang ujian, Arsad menghampiri mereka dan memberikan semangat kepada mereka begitu juga sebaliknya. Akhirnya mereka pun harus berjuang secara mandiri untuk menaklukkan UNnya kali ini.

Tak terasa empat hari Ujian Nasional telah mereka lewati, saat bunyi bel selesai ujian terdengar pada mata pelajaran terakhir, di tengah lapangan terdengar sorak-sorai dari murid-murid kelas tiga SMP yang meluapkan ekspresi kelegaannya telah menyelesaikan tugas akhirnya di SMP. Asih dan Lissa pun turut serta dalam keramaian tersebut.
Hari demi hari seusai UN pun mereka lewati sambil berharap-harap cemas akan hasil yang akan mereka peroleh. Setelah UN selesai, murid-murid kelas tiga dibebastugaskan hanya saja mereka tetap datang ke sekolah untuk mendapat info-info terbaru. Sedangkan Asih dan Lissa pun mengalami perbincangan yang cukup serius untuk menentukan SMA yang ingin mereka masuki. Ternyata Asih harus menerima kenyataan yang tak pernah dia harapkan, Lissa berencana untuk melanjutkan sekolahnya di luar kota karena mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Mendengar cerita Lissa tak bisa dipungkiri Asih pun meneteskan air mata karena dia harus berpisah dengan sahabat karibnya. Selama ini mereka selalu bersama dimana pun mereka berada.

Semenjak hari dimana Lissa menceritakan kenyataan pahit pada Asih, mereka jadi jarang bertemu sekarang. Itu bukan karena mereka sedang berselisih melainkan Lissa dan keluarganya sedang sibuk mempersiapkan kepindahannya. Dan Asih pun sibuk mengurus beasiswa yang dia dapatkan dari sebuah lembaga yang memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi.

Setelah menunggu kurang lebih sebulan, hari pengumuman kelulusan pun tiba. Semua murid kelas tiga ditempatkan di lapangan dengan harap-harap cemas. Sementara wali murid berada di aula untuk menerima hasil UN anaknya, satu per satu wali murid keluar dari aula menghampiri anaknya dan memperlihatkan hasil yang anaknya peroleh. Sebelumnya telah diumumkan terlebih dahulu kalau di SMP Kusuma Bangsa semua siswa lulus dan nilai tertinggi di sekolah hanya saja belum disebutkan siapa pemilik nilai tertinggi tersebut.

Di lapangan tersebut terlihat pemandangan yang penuh dengan macam-macam perasaan yang terekspresikan, ada yang menangis, senang, kalem, kecewa, dan sebagainya. Arsad pun telah memperoleh hasilnya, dia berbagi suka pada teman-temannya yang memperoleh hasil yang maksimal atas usaha mereka. Sedangkan, di sudut lapangan basket Lissa dan Asih masih dengan wajah tegang dan sedari tadi terus berkomat-kamit membaca doa menanti orangtuanya menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil yang didapatkannya.

Arsad pun menghampiri Asih dan Lissa. Dia pun mengucapkan rasa terimakasihnya pada kedua sahabat ini yang telah membantunya berhasil meraih hasil yang bagus di UN itu. Dan, Arsad berharap hubungan diantara mereka masih dapat berjalan baik walaupun mereka sudah tidak akan satu sekolah lagi. Di tengah perbincangan hangat itu, terlihat orangtua Asih dan Lissa datang menghampiri mereka. Saat itu suasana menjadi terasa tegang kala Asih dan Lissa harus membuka sendiri hasil usaha mereka. Dan dengan perasaan yang campur aduk mereka berdua membuka amplop putih itu bersama-sama, tak lupa mereka mengucap bacaan basmallah dan pelan-pelan mereka membuka surat yang ada di dalamnya. Tiba-tiba perubahan ekspresi mereka terlihat dari wajahnya dan spontan mereka bersujud syukur. Yah, tak salah lagi mereka lulus dengan nilai terbaik yang mereka peroleh. Seketika, Lissa memeluk Asih tetapi disitu tangis kebahagiaan pun pecah. Mereka saling memeluk erat, sedangkan orangtua mereka dan Arsad hanya dapat memandang dengan wajah penuh senyuman.
Ditengah pelukan mereka, Asih setengah berbisik dan menahan isak tangisnya, “Lis, akhirnya aku dapat membuktikan pada diriku sendiri kalo aku masih mampu membanggakan orang-orang terkasihku. Alhamdulillah atas izin Allah Ta‘ala aku mampu menjadi yang terbaik. Aku tak menyangka dapat mematahkan anggapan orang-orang terhadapku selama ini. Terimakasih Lissa, sekali lagi terimakasih Lis atas bantuanmu padaku”, lanjutnya.
Disitu pun Lissa paham dengan maksud Asih, dia pun semakin erat memeluk Asih. Lissa pun lantas mengucapkan selamat pada Asih begitu pun Arsad dan teman-teman lainnya yang entah siapa yang mengomando, mereka datang mengerumini Asih. Asihlah peraih nilai tertinggi di sekolahnya itu berarti dia berhak mendapatkan beasiswa dari sekolahnya yang telah Kepala Sekolah janjikan sewaktu berpidato sebelum UN lalu. Namun, Lissa juga masuk dalam 5 besar peraih nilai UN terbaik dia pun juga mendapatkan hadiah pula ditambah ia juga mendapatkan hadiah dari lomba debatnya ditingkat provinsi lalu. Asih dan Lissa saling memberikan selamat dan kenang-kenangan terakhir baginya sebelum mereka akan jarang untuk betatap muka. Disitu pulalah mereka saling berjanji untuk tetap bertanya kabar melalui surat dan tidak akan melupakan kenangan indah yang mereka alami dan juga 49 hari yang mereka buat. Untuk itu karya tulis yang Lissa buatlah menjadi kenang-kenangan terakhir sebelum berpisah sedangkan Asih memberikan sebuah album foto yang dia buat sendiri yang isinya foto-foto dari mereka kecil dulu sampai sekarang.

Tak lupa Asih mengucapkan rasa terimakasihnya pada para guru dan karyawan yang selama ini telah berperan banyak dalam kesuksesan yang Asih raih saat ini. Asih pun menghampiri ibunya dengan wajah berseri-seri kemudian memeluk dan mencium pipi kanan ibunya.
“Terimakasih Bu, atas kepercayaan dan doa yang tiada pernah terputus untukku selama ini”, kata Asih dengan memeluk Ibunya.
“Sama-sama nak, Ayah pasti bangga mengetahui hal ini dan Ibu bangga sekali padamu. Semoga adikmu kelak juga dapat dimudahkan jalannya juga”, jawab ibunya.
“Iya Bu, Amin”, jawab Asih dengan senyum yang tersimpul dari bibirnya.
Hari pengumuman kelulusan itu sekaligus menjadi hari terakhir Asih bertatap muka dengan sahabat tercintanya, Lissa. Dan sejak itulah harapan baru di keluarga Asih terlahir kembali. Asih mampu melanjutkan sekolahnya ke SMA yang dia cita-citakan dengan beasiswa satu tahun penuh yang dia peroleh dari sebuah lembaga ditambah beasiswa dari SMPnya itu sehingga mampu meringankan tanggungan orangtuanya.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.121.93
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia