Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

DENGAN mengubah diri menjadi asap, Bunga si gadis alam roh, berhasil menyelinap masuk ke dalam bukit batu markas barisan manusia pocong lewat sebuah celah sehalus rambut. Suara genta mendadak menggema mengguncang seantero tempat. Menyadari bahwa kemunculannya telah diketahui penghuni 113 Lorong Kematian, dia harus bertindak cepat. Bau setanggi mendadak memenuhi ruangan. Lalu satu suara halus mengiang di telinga Bunga.

"Roh dari alam gaib. Kau datang membawa bencana. Terima kematianmu sebelum kau menimbulkan malapetaka!"

Bunga tidak tinggal diam. Dia segera menyahuti suara yang datang dari jauh itu.

"Bencana ada dalam hatimu. Malapetaka ada dalam benakmu! Aku datang membawa kebaikan.

Aku akan bertindak sebagai juru nikahmu. Untuk melepas kau agar bisa kembali bebas ke alam asal.

Dunia bukan tempat tinggalmu. Di dalam lorong ada manusia jahat memperalat dirimu!"

"Ahai! Pandai sekali kau mengeluarkan ucapan.

Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai! Aku mau lihat apakah kau masih bisa berkata-kata sesudah aku menjatuhkan kematian kedua padamu!"

Bunga terkesiap mendengar ucapan dari kejauhan itu. Bukan perihal kematian kedua atas dirinya, tapi kata-kata menyangkut diri Yang Mulia. "Apakah mahluk bernama Sang Ratu itu telah bercinta dengan Ketua Barisan Manusia Pocong? Apakah Sang Ketua telah menggauli dirinya? Celaka kalau hal itu sampai terjadi!

Berarti dia telah menguasai ilmu kesaktian luar biasa dahsyatnya!"

Bunga tak sempat berpikir lebih jauh. Dari arah lorong di depannya bertiup serangkum angin.

Menyusul muncul cahaya kuning menggidikkan.

Bunga cepat rapatkan dua telapak tangan di atas kepala. Mulut terkancing rapat, Sepasang mata menatap tajam ke arah cahaya kuning yang datang menyambar. "Roh alam gaib, aku mewakili semua roh dari alammu. Berikan seluruh kekuatan dan kesaktianmu padaku! Hancurkan pintu itu!"

Bunga gerakkan tangan kanan ke depan.

Sejenis bubuk menebar di udara. Bau harum setanggi semakin santar di tempat itu. Dari jauh mendadak terdengar suara pekikan.

Sosok bunga laksana kilat berubah menjadi asap dan melesat ke atas. Di ujung lorong kemudian terdengar satu teriakan keras.

"Jangan! Aahh!"

Ada satu kekuatan berusaha mencegah tapi terlambat. Cahaya kuning berkiblat. Cahaya maut yang seharusnya menghantam Bunga, lolos lalu melabrak dinding batu. Tebaran setanggi yang melayang di udara berubah menjadi percikan bunga api terang benderang.

Bumm! Byaarr!

Satu letusan keras berdentum mengguncang bukit batu. Dinding batu di depan sana hancur berantakan. Sebuah lobang berbentuk pintu empat persegi panjang terpentang.

Bunga kembali membentuk ujud nyatanya.

Gadis dari alam roh ini tertawa panjang lalu berseru. "Terima kasih! Kau telah membukakan pintu untuk calon suamimu!"

Satu pekikan dahsyat dan panjang menggelegar di kejauhan. Begitu suara pekikan sirna, tiba-tiba terdengar suara genta bergema tujuh kali berturut-turut. Terguncang ke kiri dan ke kanan, Bunga lari ke arah pintu.

"Wiro, cepat!"

Di bawah sana di dasar jurang, Wiro, Gondoruwo Patah Hati, Naga Kuning dan Jatilandak baru saja keluar dari dalam telaga. Melihat Bunga muncul dan berteriak, keempatnya segera menaiki tangga batu menuju ke atas dan sampai di satu ruangan beratap dan berdinding batu tapi berlantai tanah keras. Bukan pekerjaan mudah menaiki tangga terjal itu sementara bukit batu digoncang oleh suara genta.

"Cepat, ikuti aku!" kata Bunga begitu keempat orang tersebut sampai di hadapannya. Di kejauhan genta terdengar berdentang lagi tujuh kali berturut-turut. Kawasan 113 Lorong Kematian seperti diguncang gempa. Ada kekuatan dahsyat ingin melampiaskan kemarahannya. Bahaya besar mengancam Bunga dan empat orang yang telah menerobos masuk ke dalam bukit batu di mana terletak 113 Lorong Kematian, markas barisan manusia pocong.

Masuk sejauh belasan tombak menyelusuri lorong yang masih harum oleh bau setanggi, di kiri kanan muncul dua cabang lorong. Wiro dan Naga Kuning yang berada di sebelah depan tahan lari masing-masing.

"Lurus!" teriak Bunga yang berada di belakang Naga Kuning.

Wiro dan Naga Kuning, diikuti Gondoruwo Patah Hati dan Jatilandak segera menggebrak lurus ke depam. Baru bergerak sepuluh langkah tiba-tiba dari arah berlawanan terdengar suara menderu dahsyat disusul kiblatnya cahaya kuning datang menyapu.

"Awas!" seru Pendekar 212.

"Jatuhkan diri ke tanah!" teriak Bunga. Sebelumnya dia telah melihat keganasan cahaya kuning itu. Dia khawatir tak seorangpun akan sanggup menghadapinya. Karena itu dia memperingatkan agar semua orang jatuhkan diri ke lantai lorong. Bunga sendiri sehabis berteriak melesat ke atas, tempelkan tubuh sama rata dengan atap lorong.

Wuuuttt! Wussss!

Ketika cahaya kuning menderu di atas punggung mereka, Wiro, Gondoruwo Patah Hati, Naga Kuning, dan Jatilandak merasa seperti disambar api. Untuk beberapa lamanya mereka hanya mampu menelungkup di lantai lorong sebelum tersentak oleh suara benda runtuh jauh dibelakang sana. Yaitu suara hancurnya salah satu bagian dinding bukit batu akibat hantaman cahaya kuning tadi.

"Gila! Hampir leleh tubuhku!" ucap Naga Kuning sambil usap-usap rambutnya yang jabrik.

"Makanya anak kecil jangan berani-beranian di depan." Kata Gondoruwo Patah Hati. "Sini, di belakangku saja!" Lalu si bocah ditarik ke belakangnya.

Naga Kuning menggerutu lalu meledek. "Bilang saja kau takut, mau dekat-dekat aku."

"Huh!" Gondoruwo Patah Hati yang sebenarnya adalah kekasih Naga Kuning pencongkan mulut.

Seperti yang diketahui, ujud sebenarnya Naga Kuning adalah seorang kakek yang biasa disebut dengan nama Kiai Paus Samudera Biru dan bernama asli Gunung. Sementara Gondoruwo Patah Hati yang perwujudannya sehari-hari adalah seorang nenek berwajah jelek dan angker sebenarnya adalah seorang perempuan cantik bernama Ning Intan Lestari dan merupakan puteri angkat dari seorang kakek sakti yang dianggap setengah dewa yaitu Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Ikuti aku," Bunga berkata lalu berjalan cepat mendahului di sebelah depan. Bau setanggi masih tercium di dalam lorong. Di depan sana lorong yang mereka tempuh bercabang ke kanan. Bunga hentikan langkah. Tangan kanan diangkat memberi tanda agar semua orang berhenti. Mendadak dari balik lorong sebelah kanan terdengar suara orang tertawa bergelak. Di lain saat muncullah sosok seorang manusia pocong. Mahluk ini keluarkan ucapan.

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua seorang yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

Semua orang hentikan langkah. Naga Kuning justru maju ke depan. Dia pelototi sosok manusia berjubah dan bertutup kepala serba putih itu.

"Wow! Jadi ini mahluknya yang bernama manusia pocong. Ternyata cuma seorang lelaki yang bercinta dengan Yang Mulia Ketua. Tidak sangka kalau kau cuma budak nafsu seorang lelaki yang doyan sesama jenis!" Habis berkata

begitu Naga Kuning lalu tertawa tergelak-gelak.

Sepasang mata di balik dua lobang kecil kain penutup kepala pancarkan sinar amarah. Tenggorokan keluarkan suara menggembor. Dada menggembung. "Bocah tolol, kau dan kawan-kawanmu akan mampus mengenaskan. Kau akan kubuat paling sengsara!"

"Sombongnya!" ejek Naga Kuning lalu putar tubuh dan songgengkan pantat.

Marah sekali, manusia pocong bergerak dan tendangkan kaki kanan. Pendekar 212 Wiro Sableng yang sudah tidak sabaran cepat menarik Naga Kuning lalu melompat ke hadapan manusia pocong. Tangan kanannya sudah dialiri tenaga dalam tinggi siap melepas pukulan maut.

"Mahluk edan! Jangan banyak bicara di hadapan kami! Lekas antarkan kami ke tempat kalian mengurung para tokoh dan perempuanperempuan hamil. Atau tubuhmu kubuat gosong saat ini juga!"

Manusia pocong sambuti ancaman Wiro dengan rangkapkan dua tangan di depan dada lalu berkata. "Pendekar 212 Wiro Sableng! Kedatanganmu dan kawan-kawan memang sudah lama ditunggu. Aku bisa saja mendapatkan pahala, menggiring kalian ke hadapan Yang Mulia Ketua.

Tapi aku ingin membuat pahala yang lebih besar!

Membunuh empat temanmu ini dan membawamu hidup-hidup ke hadapan Yang Mulia Ketua!"

"Kalau begitu apa yang kau tunggu?!" bentak Pendekar 212 sambil perlahan-lahan angkat tangan kanan ke atas. Sebatas siku ke bawah tangan itu telah berubah warna menjadi putih keperakan.

"Kau hendak melepas Pukulan Sinar Matahari yang tersohor itu?" ucap manusia pocong dengan suara mengejek.

Wiro terkesiap karena orang kenali ilmu kesaktiannya. "Di sini bukan tempatnya untuk memamerkan kehebatan. Karena kalian tak lebih dari sampah yang siap untuk digusur dan dimasukkan ke dalam keranjang sampah!"

"Puah!" Naga Kuning semburkan ludah. Gondoruwo Patah Hati dekati bocah ini, merunduk dan berbisik. "Aku seperti mengenali suara mahluk celaka ini. Kau ingat sesuatu?" Naga Kuning menggeleng.

Tiba-tiba manusia pocong di depan sana berteriak.

"Dengar! Kematian sudah jadi takdir kalian semua! Sebelum mati kalian harus menyerahkan semua ilmu kepandaian kalian pada Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Namun aku bisa memberikan sedikit kenyamanan pada kalian agar mampus seperti nyenyaknya orang tidur. Syaratnya, nenek berpakaian serba hitam berambut kelabu itu harus mau ikut aku hidup-hidup!"

Semua orang jadi terkejut mendengar ucapan manusia pocong itu. Terutama Gondoruwo Patah Hati. Si nenek maju ke hadapan manusia pocong, memandang lekat-lekat seolah mau menembus kain penutup kepala. Dia perhatikan sepasang mata yang berkilat namun tetap saja dia belum dapat menduga pasti siapa adanya mahluk itu dan mengapa justru inginkan dirinya.

"Mahluk salah urus! Kalau kau inginkan diriku katakan siapa kau sebenamya!" hardik si nenek.

Manusia pocong jawab hardikan orang dengan tertawa panjang. "Siapa diriku itulah yang aku tidak tahu. Tapi percayalah, kau tidak akan kecewa bila ikut bersamaku. Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya..."

"Setan alas kentut busuk! Kalau tidak mau menerangkan diri sekarang lekas buka topengmu!"

Laksana kilat tangan kanan Gondoruwo Patah Hati yang berkuku hitam melesat ke atas hendak menarik lepas kain penutup kepala manusia pocong.

Manusia pocong tertawa pendek. Geser dua kaki dan hentakkah kepala ke belakang. Sambaran tangan si nenek luput. Saking kesalnya Gondoruwo Patah Hati segera menerjang. Tangan kanan yang berkuku panjang kembali berkelebat.

Kuku-kuku berwarna hitam setengah jalan berubah menjadi merah menyala. Inilah ilmu Kuku Api, salah satu dari sekian banyak ilmu kesaktian yang dimiliki si nenek. Kali ini serangannya bukan untuk menarik lepas kain penutup kepala, tapi membeset ke arah dada. Jika serangan ini menemui sasaran, daging dan tulang dada manusia pocong bisa jebol. Bahkan jantungnya bisa dibeset hancur atau dibetot lepas.

"Ilmu Kuku Api. Jurus Lima Cakar Langit!"

teriak manusia pocong sambil melompat mundur.

Untuk kedua kalinya dia berhasil lolos dari serangan si nenek. Sebenarnya bukan kecepatan lompatan mundur ini yang menyelamatkan diri nya, melainkan satu gelombang angin keras yang tiba-tiba menghantam ke arah Gondoruwo Patah Hati. Tubuh si nenek terpental dua langkah.

Ketika berdiri sosok Gondoruwo Patah Hati masih tergontai goyang dan wajah angkernya berubah pucat.

"Jahanam, dia mengenali ilmu kesaktian dan jurus seranganku," Gondoruwo Patah Hati memaki dalam hati.

"Intan, kau tak apa-apa?" Tanya Naga Kuning penuh khawatir.

"Ada satu kekuatan luar biasa datang dari dalam lorong membentengi mahluk celaka ini!" jawab Gondoruwo Patah Hati.

"Mahluk dari alam roh yang ada di dalam lorong yang mengirimkan kekuatan gaib membantu manusia pocong," kata Bunga memberi tahu.

Anggota Barisan Manusia Pocong umbar tawa lalu berkata. "Kalau sudah tahu ada kekuatan yang tidak bisa kalian tembus, mengapa tidak segera saja bunuh diri serahkan nyawa. Kecuali nenek satu itu! Aku tak bakal melepaskannya!" Naga Kuning tak dapat menahan diri lagi.

Sekali tubuhnya bergerak selarik sinar biru melesat dari tangan kanannya. Sebelum tubuhnya sampai ke hadapan manusia pocong, sinar biru itu telah menyambar ke arah kepala orang.

"Aha! Aku sudah lama mendengar kehebatan jurus Naga Murka Merobek Langit!" seru manusia pocong menyebut jurus serangan yang dilancarkan Naga Kuning. "ternyata jurus ini tidak ada apa-apanya!"

Sekali ini si manusia pocong kecele. Walau dia berhasil selamatkan diri dari jurus Naga Murka Merobek Langit namun dia tidak mengira dan tidak melihat kalau di saat yang sama tangan kiri Naga Kuning ikut bergerak. Sesaat tangan ini akan mendarat di kening sebelah kanan manusia pocong, tiba-tiba ada cahaya kuning menyambar dari ujung lorong, mengarah pada bocah rambut jabrik itu.

Naga Kuning tidak menyangka bakal mendapat serangan begitu rupa berseru kaget, terlambat selamatkan diri. Bunga cepat mengeruk setanggi di dalam kantong putih di balik baju kebaya panjangnya. Secepat kilat setanggi ditebarkan ke arah sambaran cahaya kuning.

Bummm!

Taarrr... tarr!

2LEDAKAN dahsyat disertai letusan menebar bunga api memercik di udara. Tiga orang berkaparan di tanah, yaitu Naga Kuning, Bunga, dan Gondoruwo Patah Hati. Wiro jatuh terduduk sementara Jatilandak yang berdiri agak jauh terbanting ke dinding.

Manusia pocong keluarkan tawa mengejek.

"Manusia-manusia geblek! Ajal sudah di depan mata masih saja berlaku tolol!"

Bunga dan Gondoruwo Patah Hati cepat bergerak bangkit. Wiro menyusul dan Jatilandak menjauh dari dinding. Hanya Naga Kuning yang masih terkapar di tanah. Namun saat itu terjadi keanehan atas dirinya. Sosok dan wajah bocahnya telah berubah menjadi seorang kakek berjubah biru dan berambut putih panjang menjulai. Inilah sosok asli Naga Kuning yaitu seorang kakek usia 120 tahun. Perlahan-lahan si kakek bangkit berdiri lalu melangkah ke arah manusia pocong.

"Ha... ha!" seru manusia pocong. "Naga Kuning!

Rupanya kau inginkan mati dalam ujud aslimu sebagai Kiai Paus Samudera Biru! Aku siap membantumu mencari jalan ke akhirat sekarang juga!"

Sementara Naga Kuning heran mahluk di hadapannya tahu riwayat dirinya, si manusia pocong kebutkan dua lengan jubah. Dua larik angin keras menderu ke arah Kiai Paus Samudera Biru. Serangan ini ternyata hanyalah satu tipuan belaka, karena begitu lawan mengelak, manusia pocong lesatkan tubuh ke depan sambil sekaligus hantamkan jotosan tangan kanan ke batok kepala Kiai Paus Biru. Ketika Kiai Paus Biru balas menggebrak menangkis serangan lawan dengan tangan kiri sementara tangan kanan laksana kilat menyusup ke dada lawan, tiba-tiba ada kekuatan lain datang dari belakang manusia pocong.

"Kiai! Cepat menyingkir!" teriak Bunga.

Tapi terlambat. Dua lengan sudah beradu.

Manusia pocong menjerit keras dan terpental empat langkah. Kiai Paus Samudera Biru mengeluh tinggi. Tubuhnya terlontar ke belakang hampir satu tombak pertanda dia kalah tenaga luar maupun tenaga dalam. Kalah kesaktian!

Gondoruwo Patah Hati berseru tegang. Tak percaya dia kalau kekasihnya itu bisa dihantam lawan begitu rupa. Sebelum si kakek jatuh terjengkang di tanah, nenek ini cepat merangkul pinggangnya.

"Gunung..." Gondoruwo Patah Hati sebut nama asli Naga Kuning.

"Aku tidak apa-apa," ucap Kiai Paus Samudera Biru. Mukanya pucat dan ada keringat memercik di keningnya. Dada turun naik sedang nafas menyengal. Ketika si nenek memperhatikan lengan jubah kiri kekasihnya itu ternyata ada bagian berwarna hitam hangus akibat benturan dengan lengan manusia pocong. Cepat-cepat Gondoruwo Patah Hati membawa Kiai Paus Samudera Biru ke tempat yang lebih aman.

"Gunung, kau tunggu di sini. Aku akan habisi bangsat yang mencelakai dirimu itu!"

"Nek, biar aku menunggui kakek ini," kata Jatilandak.

"Hati-hati Intan. Ada kekuatan gaib dan dahsyat yang membantu manusia pocong itu." Kiai Paus Samudera Biru mengingatkan dan perlahanlahan ujudnya kembali ke bentuk Naga Kuning, seorang bocah berambut jabrik berpakaian serba hitam. Walau kini pakaiannya bukan lagi sehelai jubah, namun pada lengan kiri baju hitam anak itu juga terlihat ada bagian yang hangus.

"Perduli setan! Akan kupecahkan kepalanya!" jawab si nenek lalu melompat ke hadapan manusia pocong.

"Ah, seorang kekasih ingin menolong kekasih!

Sungguh setia dan luar biasa budimu. Sekarang kau mau memukulku? Silahkan! Aku tidak akan melawan! Kalau kau sudah puas menghajarku aku tetap berharap bisa dapatkan dirimu!" Manusia pocong berkata sambil maju satu langkah seolah menyerahkan diri untuk dihantam.

Wiro dan Bunga saling pandang sesaat. Lalu murid Sinto Gendeng ini berbisik "Bunga, ada yang tidak beres. Tidak masuk akal mahluk keparat itu mau serahkan diri dihantam begitu saja tanpa melawan. Ini satu tipuan. Si nenek bisa terjebak mati konyol. Aku harus melakukan sesuatu." Wiro berkata sambil tangannya siap mengambil kantong kain berisi setanggi yang diberikan Bunga.

Gadis dari alam roh ini cepat berkata. "Aku tahu apa yang ada di benakmu! Biar aku yang mengerjakan. Kau awasi nenek itu."

Begitu selesai berucap sosok Bunga berubah menjadi seperti bayang-bayang dan melesat ke atas melewati kepala Gondoruwo Patah Hati.

Ketika lewat di atas kepala manusia pocong, mahluk ini berusaha memukul, namun dia seperti menghantam asap. Di lain kejap Bunga telah berada di lorong di sebelah belakangnya. "Apa yang hendak dilakukan setan perempuan itu?"

pikir manusia pocong. Namun perhatiannya segera kembali pada Gondoruwo Patah Hati yang kini tegak dekat sekali di hadapannya. Sesaat padangan mata si manusia pocong mengeluarkan cahaya dan dadanya berdebar.

"Tunggu apa lagi? Kenapa tidak segera memukul?"

Ditantang begitu rupa, apalagi setelah kekasihnya dicederai, Gondoruwo Patah Hati keluarkan suara mendengus. Tanpa banyak bicara lagi tangan kanan dihantamkan ke dada manusia pocong. Tangan si nenek saat itu telah berubah biru dan keras seperti batu.



"Pukulan Batu Naroko," ucap Pendekar 212 Wiro Sableng. Dia pernah melihat orang lain mengeluarkan ilmu ini, malah menghadapinya sendiri. Yaitu ketika terlibat dalam perkelahian hidup mati melawan seorang pemuda bernama Damar Wulung alias Adisaka yang adalah seorang murid Gondoruwo Patah Hati sendiri. (Baca: Wiro Sableng — Senandung Kematian) Kalau saja Wiro tidak memiliki ilmu Pukulan Harimau Dewa yang didapatnya dari Datuk Rao Basaluang Ameh, dalam kejadian itu kemungkinan sudah tamat riwayatnya. Paling tidak hancur luluh tangan kanannya sampai ke siku. Konon Damar Wulung alias Adisaka mendapat ilmu pukulan sakti itu dengan cara mencuri, tidak diajarkan atau diwariskan oleh Gondoruwo Patah Hati. Kalau sang murid sudah demikian luar biasa tingkat kehebatan dalam penggunaan ilmu pukulan sakti itu, dapat dibayangkan betapa dahsyatnya jika itu dilakukan oleh pemiliknya sendiri. Dan pukulan inilah yang dihantamkan si nenek pada manusia pocong di hadapannya.

Manusia pocong yang hendak dihajar berdiri tenang, tidak bergerak, tidak berkesip. Ada satu keyakinan dalam dirinya bahwa pukulan lawan tidak akan menciderainya. Malah dia ulurkan kepala sedikit dan keluarkan ucapan berbisik.

"Intan, aku tidak ingin kau celaka. Lekas tarik pulang pukulanmu!"

Si nenek heran tapi tidak perdulikan ucapan orang yang merupakan satu keanehan. Malah dia perhebat aliran tenaga dalam ke tangan kanan.

Wuuuttt!

Pukulan Batu Naroko menderu ke arah dada manusia pocong. Seperti yang diduga Wiro dan Bunga pada saat yang bersamaan ketika tangan Gondoruwo Patah Hati mulai bergerak, dari ujung lorong menderu angin dahsyat disertai berkiblatnya cahaya kuning.

Tangan kanan Bunga bergerak menebar setanggi. Tangan kiri melempar tiga buah benda kuning yang bukan lain adalah tiga kuntum kembang kenanga.

Bummm!

Blaarr... tarr... tarr!

Seperti kejadian sebelumnya, begitu tebaran setanggi bersentuhan dengan cahaya kuning, dentuman dahsyat menggelegar disertai kerlapan bunga api menyilaukan mata. Dua kembang kenanga hancur berantakan, satunya lolos dan melesat lenyap ke arah ujung lorong.

Ketika dentuman mengguncang seantero tempat. Wiro cepat menarik Gondoruwo Patah Hati ke belakang sambil berbisik. "Tahan dulu seranganmu, nek!"

Di sebelah depan manusia pocong sesaat terkesiap menyadari apa yang terjadi. Kekuatan gaib yang tadi membentengi dan melipatgandakan kekuatan yang dimilikinya tidak muncul karena keburu dihadang oleh Bunga. Saat itu, walau sanggup mementahkan kekuatan gaib yang dahsyat, tak urung Bunga tergontai-gontai sambil pegangi dada. Walau cuma sebentar dan kemudian sirna, di sudut bibir gadis alam roh ini kelihatan cairan kental, bukan darah merah tapi cairan berwarna biru.

Wiro tepuk bahu Gondoruwo Patah Hati dan berkata. "Sekarang Nek!"

Gondoruwo Patah Hati berpaling pada sang pendekar. "Sekarang?"

Wiro kedipkan mata dan anggukkan kepala. Si nenek menyeringai.

Tahu gelagat kalau dirinya bakal diserang, si manusia pocong segera mendahului. Tangannya kiri kanan naik ka atas lalu menghantam dalam gerakan menggunting. Yang diarah adalah batang leher si nenek. Inilah jurus serangan yang disebut Gunting Iblis. Gondoruwo Patah Hati tertawa pendek. Lengan kiri melesat ke atas menangkis kemplangan tangan kanan lawan. Kini kedua orang itu sama-sama mengerahkan kehebatan ilmu milik sendiri.

Kraak!

Manusia pocong menjerit keras ketika benturan dua tangan membuat tulang lengan kanannya patah. Selain itu bentrokan yang hebat menyebabkan tubuhnya terputar hingga pukulan tangan kiri hanya mengenai angin. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu untuk selamatkan diri, Pukulan Batu Naroko sudah mendarat di dadanya!

Jeritan manusia pocong tertahan oleh darah yang menyembur keluar dari mulutnya. Tubuh terpental ke dinding dan tertegun di sana seolah menempel. Di balik kain penutup kepala sepasang matanya mendelik mencelet. Mulut menganga dan lidah terjulur. Noda darah membasahi kain penutup kepala dan leher pakaian sementara bagian dada jubah putihnya tampak bolong hangus biru mengerikan. Asap mengepul dari dada yang kena hantaman Pukulan Batu Naroko.

Di kejauhan suara genta menggema bertalutalu disertai suara aneh seperti raungan anjing di malam buta. Lorong batu bergetar hebat. Manusia pocong batuk-batuk beberapa kali lalu jatuh tergelimpang. Ketika tubuhnya tertelungkup di tanah, bagian punggungnya kelihatan bolong.

Ternyata Pukulan Batu Naroko tembus dari dada sampai ke punggung!

Naga Kuning tinggalkan Jatilandak yang menungguinya. Melompat ke arah sosok manusia pocong. Dengan kaki kirinya dia balikkan tubuh tanpa nyawa yang tertelungkup itu. Lalu ditariknya kain putih yang menutupi kepala.

Begitu kepala dan wajah tersingkap, walau mata mencelet dan lidah terjulur, siapa dirinya masih bisa dikenali. Gondoruwo Patah Hati tersurut dua langkah. Wiro dan Naga Kuning sama-sama keluarkan suara tercekat. Manusia pocong ternyata adalah seorang kakek berambut, berkumis, dan berjanggut putih. Diduga sudah jadi mayat ternyata megap-megap masih hidup.

Malah masih bisa keluarkan ucapan walau terpatah-patah dan kelu.

"Intan, aku ber... bahagia mati di tangan... mu.

Sam... pai ka... panpun aku tetap men... cintaimu.

Ak... aku akan me... nunggumu di pintu akhirat..."

"Manusia keparat! Kalau kau mau ke akhirat silahkan jalan duluan!" Makian keras keluar dari mulut Naga Kuning. Marah sekali, bocah ini tendang kepala manusia pocong hingga remuk dan tubuhnya mental menghantam dinding lorong lalu terkapar di tanah. Kini nyawanya benar-benar putus sudah!

Bunga yang telah pulih keadaannya dekati Wiro dan berbisik. "Siapa adanya manusia pocong itu?"

"Namanya Rana Suwarte. Dia pernah jadi kaki tangan Kerajaan yang hendak menangkap diriku.

Setahuku di masa muda dia tergila-gila pada si nenek. Tapi kalah saing dengan bocah konyol berambut jabrik itu. Antara mereka sampai pernah terjadi perkelahian. Rana Suwarte menghindar ketika tahu siapa adanya Naga Kuning. Dia menyadari ilmu kesaktiannya tak akan mampu menghadapi bocah itu. Tadi dia berani menantang karena ada kekuatan sakti luar biasa yang menolongnya. Kalau kau tidak menghadang kekuatan itu niscaya si nenek tamat riwayatnya. Paling tidak celaka berat."

"Heran," Jatilandak berkata sambil melihat ke arah mayat Rana Suwarte. "Jika dia seorang tokoh rimba persilatan, apa lagi alat Kerajaan, mengapa sampai jadi anggota barisan manusia pocong?"

"Mungkin dia mendapat imbalan besar. Mungkin juga merupakan salah satu korban penculikan. Yang jelas aku merasa otaknya tidak bekerja wajar." Menjawab Bunga. Gadis dari alam roh ini menarik nafas dalam. "Masalah cinta tak pernah habis-habisnya di dunia ini. Membuat banyak manusia menemui ajal dalam penasaran bahkan kesesatan." Gadis dari alam roh itu berucap perlahan. Dia ingat akan nasib dirinya yang berkenaan seperti itu, mati dibunuh karena cinta sesat. (Baca: Wiro Sableng — Misteri Dewi Bunga Mayat)

"Wiro, kita harus segera keluar dari sini. Kita harus menemui calon istrimu."

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu...?" ucap Wiro sambil garuk-garuk kepala.

Bunga tersenyum lalu mengangguk. "Ikuti aku," katanya dan siap memimpin rombongan itu masuk makin jauh ke dalam perut bukit markas Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian.

Namun Jatilandak mendahului.

"Biar aku yang di depan," kata pemuda berkulit kuning kepala botak dari negeri 1200 silam itu.

Sebelum Bunga membantah, pemuda itu lalu goyangkan tubuh. Asap mengepul. Serta merta ujudnya berubah menjadi sosok seekor landak besar. Namun sewaktu bicara suaranya tetap seperti manusia.

"Aku tidak merendahkan kemampuan para sahabat di sini, termasuk Bunga. Namun dengan ujud seperti ini aku memiliki penciuman dan pendengaran lebih tajam dari kalian." Jatilandak lalu berlari cepat di sepanjang lorong.

Wiro pandangi sosok Jatilandak. sebenarnya dia ingin sekali bertanya pada pemuda ini di mana beradanya Bidadari Angin Timur. Namun karena masih ada ganjalan dia memutuskan untuk tidak melakukan hal itu. Seperti diketahui antara Pendekar 212, Jatilandak, dan Bidadari Angin Timur telah terjadi satu ganjalan besar. Dimulai ketika Wiro memergoki Bidadari Angin Timur dianggapnya bermesraan dengan Jatilandak. (Baca: Wiro Sableng — Bendera Darah).



3RUANG Bendera Darah di dalam 113 Lorong Kematian. Sebuah bendera besar berlumur darah setengah kering menancap di dinding batu. Inilah bendera yang merupakan salah satu benda sakral milik Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian, disebut Induk Bendera Darah.

Bau amis darah yang menebar dari bendera besar ini tidak mampu ditindih oleh bau kemenyan dari pendupaan yang terletak di empat sudut ruangan.

Di kursi batu di tengah ruangan duduk satu sosok tinggi besar, kepala tegak, sepasang mata di balik kain penutup kepala putih menatap tak berkesip ke arah dinding di depannya di mana terdapat sebuah pintu rahasia. Tanpa berpaling pada manusia pocong yang berdiri tak bergerak di sampingnya, yang juga memiliki perawakan tinggi kokoh, orang yang duduk di atas kursi batu berkata.

"Wakil Ketua, anak buahmu bekerja lambat!

Kalau mereka datang apa aku perlu mengepruk kepala mereka sampai hancur?"

"Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Salah seorang dari mereka baru saja melakukan tugas pengintaian..."

"Tugas pegintaian? Kita sudah tahu siapa saja yang berhasil menyelinap masuk ke dalam lewat telaga di dasar jurang lalu masuk ke bagian belakang lorong lewat tangga seratus undak! Kau memberi tahu telah menyiapkan sambutan hingga semua akan berlangsung sesuai rencana. Menurut keteranganmu mereka adalah Pendekar 212, seorang nenek berpakaian hitam, lalu seorang bocah lelaki berambut jabrik, dan seekor landak besar! Aku mengharapkan Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur muncul bersama mereka.

Ternyata tidak! Padahal aku ingin dua gadis cantik itu dapat kau ringkus lalu ikut menyaksikan kematian Pendekar 212! Mengapa masih ada yang diberi tugas mengintai?"

"Yang Mulia Ketua, keadaan mendadak berubah..."

"Apa maksudmu?" Tanya Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian.

"Seperti rencana, kita ingin menjebak mereka masuk lewat pintu lorong sebelah depan. Ternyata mereka bisa tembus lewat jalan rahasia di bukit sebelah belakang."

"Aku tidak perduli mereka mau masuk dari mana. Yang penting sekarang mereka sudah masuk ke dalam lorong kematian dan bakal menemui ajal mengenaskan di tempat ini! Dan Partai Bendera Darah akan menjadi satu-satunya partai yang berkuasa di rimba persilatan negeri ini!"

Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong membungkuk dalam-dalam. "Hanya perintah yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan!" Manusia pocong ini membungkuk sekali lagi lalu teruskan ucapannya. "Namun Yang Mulia, perlu saya beritahu. Keadaan berubah. Ada sesuatu yang tidak terduga. Pendekar 212 dan kawan-kawannya masuk ke dalam lorong ditemani seorang mahluk aneh."

"Jangankan satu orang, seribu mahluk aneh akan menemui ajalnya di dalam lorong ini! Apa yang kau takutkan?"

"Saya bukannya takut Yang Mulia..."

Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian angkat tangan kirinya. "Ada yang datang," katanya. Lalu dia menekan sebuah tonjolan batu di ujung lengan kanan kursi batu yang didudukinya. Terdengar suara desiran halus.

Secara aneh bagian dinding di seberang sana bergerak turun ke bawah membentuk sebuah pintu besar. Seorang Satria Pocong berdiri di ambang pintu, memanggul sosok seorang manusia pocong.

"Lemparkan orang itu dan pergi dari sini!"

Satria Pocong segera lakukan apa yang diperintahkan Yang Mulia Ketua. Orang yang dipanggul dilempar ke dalam Ruang Bendera Darah, menggelinding di lantai dan berhenti tepat di depan kursi batu. Dinding yang tadi turun kini bergerak naik kembali.

"Buka kain penutup kepalanya!"

Wakil Ketua dekati sosok manusia pocong lalu tarik lepas kain putih yang menutupi kepalanya.

Kelihatan satu wajah tua dengan rambut, kumis, dan janggut putih menjulai dada. Dua mata dalam keadaan terpejam.

"Tua bangka konyol! Jangan berpura-pura tidur!" Yang Mulia Ketua memaki marah. Bangkit dari kursinya lalu tendang tubuh orang tua itu hingga mencelat, terduduk di lantai tersandar ke dinding. Sesaat sepasang mata masih terpejam.

Lalu mulut terbuka menguap lebar.

"Aahhhh. Enak-enak tidur, siapa yang membangunkan? Padahal baru mimpi mau menunggangi perempuan cantik. Ha... ha... ha! Eh, masih malam atau sudah siang?" Orang tua itu menggeliat dan jilat-jilat bibirnya sendiri dengan ujung lidah.

Plaakk! Plaaakk!

Dua tamparan Yang Mulia Ketua mendarat di pipi kiri kanan si orang tua itu hingga tubuhnya terguncang dan melosoh ke lantai.

"Bukannya diberi tuak malah dihajar dengan tamparan. Mana bumbung tuakku..."

Wakil Ketua jambak rambut putih orang tua itu hingga kembali terduduk di lantai. Pipi kirinya kelihatan bengkak akibat tamparan. Di sudut bibir sebelah kanan ada lelehan darah.

"Dewa Tuak! Kau harus menjawab pertanyaan Yang Mulia Ketua! Setelah itu nyawamu tak ada artinya lagi!"

Tanpa membuka mata si kakek yang adalah Dewa Tuak sahuti ucapan orang. "Bagaimana kalau aku mati dulu baru menjawab pertanyaan?

Ha... ha... ha!"

"Tua bangka jahanam! Kau minta mampus lebih cepat!" Teriak Wakil Ketua. Kaki kanannya diangkat. Siap ditendangkan ke kepala Dewa Tuak dengan kekuatan tenaga dalam penuh.

Yang Mulia Ketua angkat tangan kiri memberi isyarat agar wakilnya tidak segera membunuh kakek itu.

Perlahan-lahan Dewa Tuak buka kedua matanya. Sesaat dia menatap ke arah depan ke arah Yang Mulia Ketua, lalu pejamkan mata kembali. Dua tangan diangkat ke depan mulut, kepala didongakkan. Lalu, glukk... glukkk... glukk, tenggorokannya turun naik dan keluarkan suara seperti orang sungguhan minum tuak yang mengucur dari bumbung.

Kali ini Wakil Ketua tidak dapat lagi menahan kesabarannya.

"Tua bangka setan alas! Berani berlaku kurang ajar di hadapan Yang Mulia Ketua!"

Plaakkk!

Tamparan Wakil Ketua ke muka Dewa Tuak membuat orang tua ini terjerembab ke lantai tapi cepat dijambak kembali dan disandarkan ke dinding. Darah meleleh dari sudut bibir kiri kanan. Tak kelihatan ringis kesakitan. Dewa Tuak perlahan-lahan buka lagi dua matanya. Memandang berkeliling.

"He... he. Berada di mana aku ini? Ada bendera besar, ada dua manusia pocong, bau kemenyan, bau anyir... Huek! Kuburan? Neraka atau kawasan comberan?"

Di balik kain penutup kepala, rahang Yang Mulia Ketua menggembung. Tangan mengepal kencang. Saat itu ingin sekali dia memukul pecah batok kepala si kakek.

"Dewa Tuak, katakan di mana kau menyembunyikan gadis yang bernama Anggini, muridmu itu!"

Dewa Tuak menatap sosok Yang Mulia Ketua.

Lalu menguap lebar-lebar. "Ngantuk. Aku masih ngantuk. Disuguhi pertanyaan. Pertanyaan itu lagi! Itu lagi!" Dewa Tuak lalu jilat lelehan darah di sudut bibirnya. "Aku sudah bilang aku tidak punya murid. Anggini... Huh, siapa dia? Tikus atau meong...?"

Sang Ketua berpaling kepada wakilnya lalu bertanya. "Aku melihat keanehan. Dia masih ingat pada tuak minuman kesayangannya. Apakah minuman pencuci otak yang kita cekoki itu benarbenar telah berhasil memusnahkan ingatan dan daya pikirnya?"

"Saya rasa begitu," jawab Wakil Ketua. "Saya menyuruh orang memberinya tambah dua cangkir lagi. Enam cangkir semuanya."

"Kalau begitu tak ada guna ditanyai lagi. Bawa dia ke halaman Rumah Tanpa Dosa sekarang juga.

Minta Yang Mulia Sri Paduka Ratu menyedot seluruh tenaga dalam dan ilmu kesaktiannya sebelum Pendekar 212 dan penyusup lainnya masuk lebih jauh di dalam lorong! Anggota kita saat ini hanya tinggal empat orang. Satu-satunya andalan kita adalah Yang Mulia Sri Paduka Ratu, mahluk sakti pemilik nyawa kedua dengan selangit ilmu kesaktian."

Wakil Ketua membungkuk, tidak mengeluarkan ucapan apa-apa. Karena dalam benaknya sendiri saat itu ada satu pikiran lain.

Yang Mulia Ketua melangkah ke kursi batu di tengah ruangan. Jari tangan menekan tonjolan batu di lengan kursi. Dinding batu bergerak turun ke bawah.

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!" Wakil Ketua berucap, lalu menyarungkan kain putih ke kepala Dewa Tuak lalu membawa kakek itu keluar dari Ruang Bendera Darah. Lewat sebuah pintu rahasia lainnya yang tembus ke sebuah lorong di mana terdapat beberapa buah kamar. Yang Mulia Ketua tinggalkan Ruang Bendera Darah. Di dalam kamar, di atas sebuah ranjang telah menunggu seorang perempuan muda dalam keadaan hamil hampir delapan bulan. Begitu melihat kemunculan Yang Mulia Ketua perempuan ini segera turun dari atas ranjang, bungkukkan badan seraya berkata.

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

Habis berkata begitu perempuan hamil itu tanggalkan seluruh pakaiannya lalu naik kembali ke atas ranjang. Dua tangan direntang ke atas, dua kaki direnggang.

Yang Mulia Ketua tanggalkan kain penutup kepala. Ketika melirik wajah tampan itu, perempuan hamil di atas ranjang kembali keluarkan ucapan. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai. Saya siap melayani Yang Mulia Ketua."

Yang Mulia Ketua tanggalkan jubah putihnya.

Namun belum kesampaian tiba-tiba matanya melihat tombolan batu merah di dinding kiri kamar mengeluarkan cahaya. "Tanda bahaya! Apa yang terjadi?" membatin Yang Mulia Ketua dengan mata mendelik menahan nafsu sekaligus menahan amarah. Dia cepat mengenakan kembali jubah dan kain penutup kepala lalu keluar dari kamar.

Ketika pintu dibuka seorang manusia pocong berdiri di ambang pintu, membungkuk dalam-dalam seraya berucap. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan..."

"Satria Pocong! Kau mengganggu kesenanganku! Cepat katakan ada apa!" Membentak Yang Mulia Ketua.

"Yang Mulia Ketua, mohon maafmu. Saya melapor. Satria Pocong bernama Rana Suwarte menemui ajal di tangan musuh yang masuk dari bagian belakang lorong..."

"Keparat! Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Saya..."

"Sudah! Jangan banyak mulut! Hadang mereka semua. Habisi semuanya kecuali Pendekar 212 Wiro Sableng. Yang Mulia Sri Paduka Ratu akan kuminta membantumu!"

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan!"

4RATU Duyung dan Setan Ngompol berdiri di tepi jurang. "Kita menghadapi jalan buntu," kata si kakek sambil usap-usap perutnya.

"Bagaimana kalau kita kembali dan masuk melalui mulut lorong di sebelah selatan?"

"Selain membuang waktu kita mungkin tak mampu menembus sampai ke sarang penguasa lorong," jawab Ratu Duyung. "Ada satu hal yang aku pikirkan."

"Apa?" Tanya Setan Ngompol sambil mengusap bagian bawah perut.

"Menurut Bidadari Angin Timur, Wiro didorong seorang nenek cebol masuk ke dalam jurang.

Sayang aku lupa menanyakan ciri-ciri nenek cebol itu. Aku punya dugaan... tapi, sudahlah. Waktu kupantau melalui cermin sakti, Wiro ternyata masih hidup dan menaiki tangga batu bersama Naga Kuning, Gondoruwo Patah Hati, dan Jatilandak. Di dasar jurang ada telaga. Itulah yang menyelamatkan Wiro dari kematian."

"Jatilandak, Gondoruwo Patah Hati, serta Naga Kuning. Mereka tidak didorong nenek cebol masuk ke dalam jurang. Tapi bagaimana bisa berada bersama-sama Wiro? Pasti ada jalan masuk lain ke dalam lorong..."

"Kau betul," jawab Ratu Duyung. "Waktu aku memantau ke arah telaga lewat cermin aku melihat ada lobang besar di salah satu dinding batu yang mengelilingi telaga. Di luar lobang ada sungai mengalir. Aku yakin Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati datang lewat sungai, masuk ke telaga melalui lobang di dinding.

Mengenai Jatilandak, ini yang jadi pertanyaan.

Tapi... dia bukan manusia biasa. Dia mahluk dari alam lain. Dia punya banyak ilmu untuk berbuat apa saja." Ratu Duyung diam sebentar baru meneruskan ucapannya. "Saat ini Wiro dan yang lain mungkin telah menemui jalan masuk ke dalam markas mahluk yang disebut manusia pocong itu. Kita harus segera menyusul mereka."

Dua tangan Setan Ngompol langsung menekan bagian bawah perut menahan kencing. Mulut dipencongkan. "Tadi kita mendengar suara-suara aneh. Seperti suara lonceng raksasa. Tanah bergetar. Lalu ada suara jeritan-jeritan. Suara raungan serta letusan-letusan hebat..."

"Kau takut? Bilang saja begitu!" Potong Ratu Duyung.

"Siapa bilang aku takut!" jawab Setan Ngompol.

"Yang aku pikirkan bagaimana caranya kita ikut masuk ke dalam lorong kematian menyusul teman-teman. Dengan cara tepat tapi aman."

"Gampang saja." Jawab Ratu Duyung enteng sambil senyum-senyum.

"Enak saja kau bicara. Gampang bagaimana?" Tanya si kakek biang kencing penasaran.

"Melompat ke dalam jurang!"

Serrrr!

Air kencing Setan Ngompol langsung terpancar!

Ketika Ratu Duyung melangkah mendekati, si kakek cepat bergerak mundur.

"Ratu Duyung, jangan kau berani macammacam!" mengancam Setan Ngompol.

"Siapa macam-macam. Aku justru mau jadikan kau satu macam!" Habis berkata begitu Ratu Duyung sambar lengan kiri Setan Ngompol lalu secepat kilat melompat ke arah jurang. Si kakek menjerit keras ketika tubuhnya melayang jatuh ke dalam jurang di sela-sela ranting dan cabang pohon. Pakaian robek-robek. Kencingnya muncrat habis-habisan. Sementara Setan Ngompol takut setengah mati, Ratu Duyung tertawa cekikikan.

Saat itu gadis cantik bermata biru ini masih mencekal lengan kiri Setan Ngompol. Entah saking takut entah memang punya niat nakal, tiba-tiba kakek ini gelungkan tangan kanannya. Dua kaki dikembang lalu disilang ke tubuh Ratu Duyung.

Keadaan Setan Ngompol saat itu tidak ubahnya seperti tengah digendong belakang oleh Ratu Duyung.

"Kakek kurang ajar! Apa yang kau lakukan ini!" Teriak Ratu Duyung.

Setan Ngompol tertawa tergelak-gelak.

"Kau membuat aku ketakutan setengah mati!

Tapi saat ini aku senang. Kapan lagi ada kesempatan memelukmu seperti ini!" Lalu serrr! Air kencing si kakek mengguyur hangat punggung Ratu Duyung membuat gadis ini berteriak marah.

Tangan kirinya dijambakan ke tengkuk baju Setan Ngompol. Sementara tubuhnya melayang ke bawah, Ratu Duyung membuat gerakan jungkir balik. Tengkuk baju dihentakkan keras. Bersamaan dengan itu tangan kanan melepas cekalan di lengan kiri. Tak ampun Setan Ngompol terpelanting ke bawah. Byuurrr!

Setan Ngompol kecebur dalam telaga, Ratu Duyung menyusul sesaat kemudian. sebenarnya dia mampu membuat gerakan melesat ke arah tepi telaga. Tapi gadis ini memilih menceburkan diri lebih dulu ke dalam air telaga untuk membersihkan tubuh dan pakaiannya dari kencing Setan Ngompol.

Ketika Setan Ngompol muncul megap-megap di permukaan air, dilihatnya Ratu Duyung berdiri di tepi telaga, tak jauh dari sebuah perahu kayu, bertolak pinggang, unjukkan raut wajah marah.

Kakek ini meledek lambaikan tangan seraya berseru. "Kapan-kapan kalau mau lompat lagi ke dalam telaga, jangan lupa mengajak aku! Ha ha ha...!"

Clepp!

Suara tawa Setan Ngompol mendadak lenyap.

Di atas sana terdengar suara genta yang membuat seantero telaga bergetar hebat. Sosok Ratu Duyung tergontai-gontai. Lalu ada suara letusanletusan dan jerit pekik.

"Suara genta!" ucap Ratu Duyung. Dia ingat.

"Rumah putih di dalam cermin!" Gadis ini ingat lagi. "Aku harus cepat ke sana. Aku punya firasat bahaya besar mengancam para sahabat yang sudah masuk ke dalam lorong!" Tanpa menunggu lebih lama Ratu Duyung putar tubuh lalu melesat ke arah tangga batu di dinding telaga.

"Hai! Kau mau ke mana? Tunggu!" teriak Setan Ngompol. Cepat-cepat dia berenang ke tepi telaga.

Ketika keluar dari dalam air, ternyata celana luarnya yang memang longgar dan kini menjadi berat karena basah kuyup oleh air, telah merosot sampai ke paha!

Dan di balik celana luar itu si kakek tidak punya celana dalam!

"Kakek sial!" maki Ratu Duyung yang tak sengaja melihat perabotan Setan Ngompol yang tersingkap polos!

***Wakil Ketua berlari cepat sepanjang lorong.

Sosok Dewa Tuak ada di atas bahu kirinya. Di satu tempat di mana lorong bercabang dua, untuk pergi ke rumah putih yang merupakan pusat kekuatan gaib luar biasa, seharusnya dia membelok ke kanan. Tapi manusia pocong ini justru mengambil arah memasuki lorong sebelah kiri. Di satu tempat Wakil Ketua hentikan langkah. Telapak tangan kanan ditekankan pada salah satu bagian dinding batu. Dinding bergeser ke samping.

Menjorok ke dalam ada sebuah pintu besi berwarna merah. Dewa Tuak diturunkan lalu didudukkan di lantai antara dinding batu dan pintu merah. Wakil Ketua menutup kembali bagian dinding batu yang terbuka lalu menekan alat

rahasia lain untuk membuka pintu merah. Begitu pintu terbuka dia cepat menyelinap masuk. Di sebelah dalam ternyata ada sebuah ruangan tidur.

Di atas sebuah ranjang terbaring sosok seorang gadis berpakaian ringkas warna ungu. Rambut panjang acak-acakan tapi justru membuat wajahnya tambah cantik. Wakil Ketua mendekati ranjang lalu berkata pada gadis yang terbaring dalam keadaan tertotok. "Gurumu ada di luar. Aku diperintahkan Yang Mulia Ketua untuk membunuhnya! Jika kau mau menuruti kemauanku, aku akan menyelamatkannya. Permintaanku cuma satu. Jika semua persoalan di tempat ini selesai, kau harus sedia jadi istriku!"

"Mahluk setan jahanam busuk!" teriak gadis di atas ranjang. Rupanya hanya tubuhnya yang ditotok sementara jalan suara dibiarkan terbuka.

"Aku sudah minta agar kau segera membunuhku!

Siapa sudi jadi istri mahluk setan sepertimu! Tapi sebelum aku mati di tanganmu tunjukkan kejantananmu! Buka kain penutup kepalamu. Perlihatkan siapa dirimu sebenarnya!"

Wakil Ketua keluarkan suara mendecak. "Gadis keras kepala. Kalau kau memang ingin mati mudah saja bagiku melakukannya. Tapi sebelum mati sesuai dengan permintaanmu aku akan tunjukkan kejantananku padamu."

Wakil Ketua naik ke atas ranjang lalu menarik turun celana si gadis. Pakaian dalamnya tersibak.

Si gadis menjerit keras. Penuh nafsu Wakil Ketua menarik lagi celana luar si gadis. Namun sebelum celana itu merosot sampai ke bawah pinggul tibatiba ada bayangan berkelebat, dan, bukkk! Satu tendangan menghantam pinggang Wakil Ketua.

Tendangan itu tidak berapa kencang. Tubuh Wakil Ketua hanya tergontai-gontai. Ketika berpaling dia dapatkan Dewa Tuak berdiri di depannya, terbungkuk-bungkuk lalu tengadahkan kepala dan tertawa mengekeh.

"Guru!" seru gadis di atas ranjang. Kaget juga marah melihat wajah gurunya yang bengkak.

"Siapa yang mencideraimu?"

Dewa Tuak cuma lambaikan tangan, berpaling pada Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong.

"Mahluk keparat! Jadi kau yang punya pekerjaan!

Menculik muridku Anggini. menyekapnya di tempat ini! Berpura-pura sibuk mencari. Kini kau hendak berbuat bejat atas dirinya! Jahanam betul!

Tanganku sudah gatal mau mematahkan batang lehermu! Tapi biar aku melepas dahaga dulu.

Setelah itu aku akan menemui pimpinanmu, memberi tahu apa yang telah kau lakukan!"

Si kakek dongakkan kepala. Dua tangan dinaikkan di atas mulut. Lalu, glukk... glukk... gluk... Dewa Tuak seperti orang yang betul-betul tengah minum tuak.

Di atas ranjang gadis yang memang Anggini, murid Dewa Tuak adanya menarik nafas dalam.

"Tendangannya tadi tidak membuat cidera. Sikapnya menunjukkan kelainan. Pasti guru sudah dicekok dengan obat terkutuk itu." Membatin sang murid.

"Tua bangka setan alas!" teriak Wakil Ketua marah. Dia sama sekali tidak menyangka kakek yang telah dicekok dengan minuman pencuci otak itu masih mampu melancarkan serangan.

sebenarnya ilmu kepandaian dan kesaktian Dewa Tuak memang masih ada di dalam dirinya namun pengaruh obat membuat sekujur badannya lemas.

Dia tidak mampu mengalirkan tenaga dalam, tidak dapat mengeluarkan kesaktian. Bahkan tenaga luarnya waktu menendang tadi lemah sekali.

"Dewa Tuak! Aku ingin cepat-cepat membawamu ke hadapan Yang Mulia Sri Paduka Ratu! Tapi sebelum kau mampus aku ingin kau menyaksikan apa yang akan aku lakukan terhadap muridmu!"

Wakil Ketua melompat ke arah Dewa Tuak.

Sarangkan satu jotosan ke perut kakek itu hingga Dewa Tuak terlipat ke depan, lalu roboh di lantai ruangan, mengeluh tinggi. Mata melotot ke arah ranjang. Mulut komat-kamit tapi tak mampu keluarkan suara.

"Jahanam pengecut! Beraninya hanya pada orang tua yang tidak berdaya!" Anggini memaki marah.

Wakil Ketua menyeringai di balik kain putih penutup kepala lalu melompat ke atas ranjang.

Dengan gelegak nafsu serta amarah dia kembali menarik turun celana luar dan pakaian dalam Anggini.

Pada saat itulah tiba-tiba menggema suara genta. Ruangan tidur bergetar hebat. Di luar ada teriakan-teriakan keras. Ada suara orang-orang lari melewati lorong di depan kamar.

Wakil Ketua tekap telinga kanannya. Di antara suara genta mengiang suara perempuan. Tidak jelas, namun Wakil Ketua sudah maklum siapa yang bicara. Dalam hati dia memaki. "Jahanam!

Mengapa setiap aku hendak melakukan hal ini selalu ada suara mengganggu! Mengapa jika Ketua yang berbuat tidak terjadi apa-apa! Mungkin karena dia memegang batu keramat itu? Aksara Batu Bernyawa!"

Di kejauhan suara genta semakin menjadi-jadi.

"Suara genta sekali ini tidak seperti biasanya.

Ada sesuatu yang tidak beres di luar sana!" Wakil Ketua berpaling ke arah ranjang. Hatinya bimbang. Akhirnya dia buka pintu besi merah, jambak rambut putih si kakek.

"Manusia pocong terkutuk! Kalau kau membunuh guruku aku bersumpah memenggal kepala, menguliti dan mencincang tubuhmu!"

"Ckk... ckkk... ckkk!" Wakil Ketua berdecak leletkan lidah lalu tertawa bergelak. "Jangan bicara tolol! Kau tak akan mampu membebaskan diri!

Tidak ada satu orangpun yang akan menolongmu!

Aku menginginkan kau jadi istriku! Itu satu kehormatan luar biasa bagimu! Tapi kau justru malah memilih mati! Apa sulitnya bagiku?

Kunikmati tubuhmu lalu kuhabisi nyawamu! Dan aku akan mengajak serta gurumu ikut bersamamu ke alam kematian! Ha... ha... ha!"

"Di alam kematian aku akan menyaksikan dirimu jadi kemasukan setan" gadis ini menjerit keras.

Wakil Ketua yang hendak menutup pintu merah hentikan gerakan lalu melangkah ke arah ranjang. Sepasang matanya memandang berkilat ke arah bagian bawah tubuh Anggini. Tiba-tiba dia ulurkan tangan. Menarik lepas selendang ungu yang tergelung di pinggang si gadis lalu memasukkannya ke balik jubah putih.

"Mahluk pocong keparat! Kembalikan selendang itu!"

Wakil Ketua membungkuk, membuat gerakan seperti hendak mengembalikan selendang. Namun yang dilakukannya adalah melampiaskan nafsu binatangnya. Menciumi wajah dan dada Anggini. Lalu mulutnya berucap.

"Kekasihmu pemuda sableng itu akan mati berdiri jika mengetahui apa yang nanti aku lakukan padamu. Kalau saja kematiannya tidak lebih dahulu dari kematianmu!"

"Mahluk setan! Aku ingin sekali melihat muka anjingmu! Ada permusuhan apa antara kau dan Wiro hingga memperlakukan diriku seperti ini?"

Wakil Ketua dongakkan kepala lalu tertawa perlahan. Setelah keluarkan suara berdecak dia berkata.

"Tunggu saja. Kelak kau bakal menyaksikan wajahku! Aku tidak kalah ganteng dari pemuda edan itu! Kau benar-benar akan menyesal sampai di alam kematian karena menolak kujadikan istri!"

5JATILANDAK yang membentuk diri menjadi seekor landak raksasa berlari sepanjang lorong yang bergetar akibat hantaman suara genta dari arah Rumah Putih kawasan 113 Lorong Kematian. Di sebelah belakang menyusul Wiro, Bunga, Gondoruwo Patah Hati, dan Naga Kuning.

Kalau yang lain-lain merasa sakit kuping mereka dan berlari terhuyung-huyung, Jatilandak tidak terpengaruh oleh suara genta itu. Larinya malah dipercepat. Empat kaki berkuku panjang serta duri-duri tebal lancip di tubuh sama sekali tidak mengeluarkan suara bergemerisik. Sepuluh langkah di depan sana, lorong bercabang dua.

Jatilandak hentikan lari. Angkat kepala lalu meng hirup udara dalam-dalam. Dua bola mata coklat pekat bergerak ke kiri dan ke kanan. Duri panjang tebal dan runcing yang menutupi tubuh berjingkrak.

"Aku mencium ada bahaya di lorong kiri dan lorong kanan. Bahaya di lorong kanan lebih dahsyat. Aku dan para sahabat harus bergerak memasuki lorong kiri."

Setelah mengambil keputusan begitu rupa Jatilandak memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya lalu mendahului bergerak memasuki lorong sebelah kiri. Baru dua langkah memasuki lorong sebelah kiri tiba-tiba belasan bendera merah disertai cipratan air berbau busuk berkelebat di udara "Bendera Darah! Awas!" teriak Jatilandak.

Secepat kilat dia melompat ke udara, duri yang menutupi tubuhnya bergerak ke depan membentuk tameng. Mulut keluarkan suara melengking lalu meniup. Di sebelah belakang Wiro lepaskan pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan.

Bunga melesat ke atas, dua tangan didorongkan. Dua gelombang angin menderu.

Luar biasa! Walau dihantam tiupan angin sakti dari mulut Jatilandak, didera pukulan berkekuatan tenaga dalam tinggi yang dilepas Wiro dan Bunga, hanya sembilan Bendera Darah yang menyerang ganas sanggup dirontokkan. Tiga lainnya tembus. Yang pertama berhasil menyusup di sela duri-duri lalu menancap di bahu kiri Jatilandak. Jatilandak terbanting ke tanah.

mengerang sebentar lalu patahkan gagang Bendera Darah dengan cara menggigitnya.

Bendera Darah Kedua walau agak goyang berhasil menyusup dan menyambar di atas kepala Gondoruwo Patah Hati, menyerempet luka kulit kepalanya. Cairan merah darah membasahi sebagian rambut. Seujung kuku saja gagang bendera menyambar ke bawah niscaya menancap di kening si nenek!

"Jahanam kurang ajar! Siapa yang punya pekerjaan! Lekas unjukkan diri!" Teriak Gondoruwo Patah Hati sambil kibaskan rambut. Sementara di belakang, Naga Kuning meringis karena Bendera Darah ketiga menancap di lengan baju sebelah kanan, menyerempet melukai daging bahunya cukup dalam. Untung tidak sampai menancap.

Dari arah tikungan lorong di sebelah depan membahana suara tawa bergelak. Di lain saat muncul sosok seorang manusia pocong. Tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan diletakkan di depan dada.

"Sayang hanya diberi wewenang membunuh tiga di antara kalian! Padahal tanganku sudah gatal untuk mengorek jantungmu!" Manusia pocong satu ini tutup ucapannya sambil tudingkan telunjuk tangan kiri tepat-tepat ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang berdiri sekitar tujuh langkah di hadapannya.

"Kunyuk, jejadian setan putih!" bentak murid Sinto Gendeng tapi mukanya tidak unjukkan hawa marah malah menyeringai dan sambil garuk-garuk kepala. "Aku kepingin tahu, mau melihat ilmu apa yang kau miliki hingga bisa-bisanya mengorek jantungku? Ha... ha... ha! Kalau ilmu mengorek yang aku punya cuma ilmu mengorek kuping!"

Lalu Wiro masukkan kelingking kirinya ke telinga kiri dan digoyang-goyang. Mulut dipencongkan dan mata dimerem-melekkan.

"Dasar otak miring! Siap mampus masih mau guyonan!" Maki manusia pocong.

"Hai! Tunggu! Aku rasa-rasanya mengenal suaramu!" Wiro berseru.

"Pemuda sinting! Jangan banyak mulut!

Menghindar kalau tidak mau kubunuh sekalian bersama tiga temanmu!"

"Sombongnya! Ayo perlihatkan ilmu korek kupingmu!" kata Wiro mengejek lalu menerjang ke depan sambil lepaskan jotosan Kepala Naga Menyusup Awan. Gerakan tangan sang pendekar perlahan saja seperti penari. Namun tahu-tahu kepalan tangan kanan itu telah melesat ke bawah dagu manusia pocong!

"Mampus kau!" teriak Naga Kuning yang sudah merasa pasti mahluk serba putih tidak sanggup mengelak.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Sosok manusia pocong seperti terangkat ke atas. Begitu dagunya selamat dari pukulan Kepala Naga Menyusup Awan, kaki kanannya tiba-tiba melesat ke depan. Wiro berkelit ke samping. Tendangan lawan hanya lewat seujung kuku dari depan perutnya. Dengan geram Wiro balas menyerang. Juga dengan gerakan menendang. Yang jadi sasaran adalah kaki kiri manusia pocong sementara kaki kanan masih berada di udara. Seperti serangan pukulan ke dagu tadi, hampir tendangan Wiro akan menemui sasaran mendadak tubuh manusia pocong terangkat ke atas. Begitu melayang turun dia menyerbu dengan dua tangan kosong sekaligus.

Seperti sepasang pedang atau golok, dua tangan itu membeset, menusuk, dan membacok.

Traangg!

Serangan tangan kiri manusia pocong dalam gerakan membacok ke arah kepala Wiro meleset, menghantam dinding batu, mengeluarkan suara berdentang seolah yang beradu dengan dinding itu adalah sebilah senjata tajam, bukan tangan manusia! Dan luar biasanya lagi dinding batu yang terkena hantaman tangan kelihatan benarbenar pecah gompal berantakan!

"Gila!" ucap murid Sinto Gendeng, mata melotot. "Tangannya seperti golok betulan! Kalau tidak segera dihabisi aku bisa konyol!"

Tidak menunggu lebih lama Pendekar 212 segera menyerbu manusia pocong dengan jurusjurus mematikan yang dipadu dengan pukulanpukulan sakti mengandung tenaga dalam tinggi.

Namun seperti ditahan satu tembok kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan, semua serangan Wiro tidak satupun mampu menyentuh lawan.

Malah dua tangan manusia pocong itu berkelebat semakin ganas dan mengeluarkan suara deru angin luar biasa keras. Wiro terdesak hebat. Kalau sampai kepala kena hantam pasti terbelah. Kalau leher yang kena sasaran niscaya kuntung putus laksana ditebas golok atau pedang!

Bunga memperhatikan tanpa berkesip. Dua kali tadi dia melihat ada cahaya kuning sangat tipis yang menyelubungi sosok putih manusia pocong.

Yaitu ketika dua kali Wiro hampir berhasil menjotos dagu dan menendang kaki kirinya. Lalu setiap melancarkan serangan, cahaya kuning tipis berubah lebih jelas. Dari sekian banyak pasang mata yang ada di tempat itu, hanya Bunga sendiri yang mampu melihat keberadaan cahaya kuning.

Ketika mereka berhadapan dengan Rana Suwarte, Bunga tidak melihat ada lapisan cahaya kuning seperti ini. Itu sebabnya walau cukup sulit namun akhirnya Rana Suwarte berhasil juga ditamatkan riwayatnya dengan Pukulan Batu Naroko oleh Gondoruwo Patah Hati. Agak aneh. Apakah mahluk luar biasa pengirim kekuatan gaib itu memiliki ketentuan sendiri untuk menentukan jenis perlindungan yang diberikan. Dari apa yang dilihatnya, yaitu sejak memasuki gunung batu di bagian belakang 113 Lorong Kematian, Bunga maklum kalau kehebatan tenaga pelindung berbeda untuk manusia pocong satu dengan manusia pocong lainnya. Mengapa?

"Tingkat ilmu silat dan kesaktian manusia pocong satu ini mungkin tidak seberapa. Cahaya kuning tipis. Itulah kekuatan gaib luar biasa yang melindunginya dari jauh. Bukan cuma melindungi. Sekaligus memberikan kekuatan sakti untuk membunuh lawan! Luar biasa berbahaya!"

Bunga bergerak cepat ke samping Pendekar 212. "Wiro, hati-hati. Mahluk ini mendapat lindungan dan kekuatan dari alam gaib. Tahan serangan. Aku akan coba menahan kekuatan pelindungnya. Kalau aku berteriak memberi tanda, baru hantam!"

Bunga renggangkan dua kaki. Tubuh dibungkukkan sambil dua tangan diangkat datar di depan dada. Dua telapak terkembang. Ketika jarijari tangan kiri kanan dijentikkan, pada masingmasing tangan kelihatan sekuntum bunga kenanga kuning. Begitu dua tangan didorong dan kaki kanan dihentakkan ke lantai, hawa aneh bergeletar di lantai ruangan, menyengat ke arah sepasang kaki manusia pocong. Di balik kain penutup kepala mahluk ini mengerenyit menahan sakit. Tubuhnya terlonjak. Cahaya kuning yang membungkus sekujur tubuhnya kelihatan meredup. Sekali lagi Bunga hentakkan kaki kanannya.

Si manusia pocong terdorong satu langkah ke belakang. Cahaya kuning lenyap.

Di kejauhan sayup-sayup ada suara menggerung panjang lalu caci maki penuh amarah.

Menyusul suara menderu. Ada gelombang angin dengan deras menuju ke tempat itu.

"Wiro! Cepat hantam!" Bunga gadis dari alam roh berteriak memberi tanda.

Pendekar 212 Wiro Sableng berteriak tak kalah kerasnya. Tubuh melesat ke depan. Tangan kanan melancarkan pukulan Tangan Dewa Menghantam Batu Karang. Ini adalah ilmu pukulan jurus kedua yang diwarisi Wiro dari Datuk Rao Basaluang Ameh. (Baca: Wiro Sableng — Delapan Sabda Dewa).

Bukkk!

Selagi manusia pocong berusaha mengimbangi diri, pukulan sakti yang dilepaskan Wiro mendarat telak di pertengahan dadanya. Kesaktian pukulan ini satu tingkat di atas pukulan Batu Naroko milik Gondoruwo Patah Hati yang telah menewaskan Rana Suwarte. Jangankan dada manusia, tembok baja sekalipun tidak akan mampu menahan kehebatan pukulan Tangan Dewa Menghantam Batu Karang itu. Manusia pocong terpental empat langkah, terjengkang di tanah.

"Tamat riwayatmu!" ucap Naga Kuning.

Bersamaan dengan itu dari arah belakang manusia pocong, suara gelombang angin semakin deras. Lalu tampak cahaya kuning berkiblat. Hawa panas memenuhi seantero tempat.

"Semua tiarap!" teriak Bunga. Dua kembang kenanga di tangan kiri kanan dilemparkan ke arah cahaya kuning. Dari balik pakaian dia mengambil setanggi lalu melemparkan ke udara.

Buuummmm!

Blaarrr!

Taarr! Taarr! Taarr!

Dentuman dahsyat, goncangan keras serta letusan-letusan yang disertai percikan bunga api berkiblat dalam ruangan. Tempat itu laksana diguncang gempa. Angin kuning panas menyambar ganas. Semua orang merasa punggung masing-masing terbakar melepuh. Untuk beberapa lama mereka menelungkup tak bergerak. Wiro angkat kepala. Berpaling ke belakang. Bunga, gadis dari alam roh duduk tersandar di dinding batu. Ada lelehan cairan berwarna biru di salah satu sudut bibirnya. Mukanya yang putih lebih pucat dari biasanya.

6BUNGA!" seru Wiro ketika melihat keadaan gadis dari alam roh itu. Dia cepat berdiri.

Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati ikut mendatangi. Hanya Jatilandak yang masih tak bergerak di tempatnya. Karena berada di sebelah depan, sapuan angin panas bercahaya kuning menyapu–nya lebih dulu dan lebih keras.

Membuat separuh dari duri-duri yang menutupi tubuhnya terpang–gang hangus dan untuk beberapa lama kelihatan membara merah!

Wiro usap lelehan cairan biru di sudut bibir Bunga. Gadis alam roh ini pegang lengan si pemuda. Matanya menatap mesra ke dalam mata Wiro. Senyum menyeruak di bibir.

"Terima kasih, Wiro. Aku tak apa-apa..."

"Lelehan cairan biru. Kau terluka di dalam." Kata Wiro pula.

Bunga mengangguk. "Dalam waktu beberapa saat luka dalamku akan sembuh sendiri. Kau tak usah mengkhawatirkan diriku. Justru aku mengkhawatirkan dirimu dan para sahabat. Lorong Kematian agaknya benar-benar akan menjadi timbungan kuburan bagi kita semua kalau kita tidak bertindak cepat. Kita harus segera menemukan mahluk yang disebut Sri Paduka Ratu itu..."

"Yang akan kau nikahkan dengan diriku!" ujar Wiro pula.

"Kodrat menentukan itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri kita semua serta malapetaka besar rimba persilatan."

"Aku punya firasat..." kata Wiro pula sambil menggaruk kepala.

"Firasat apa?" Tanya Bunga.

"Ya, ya. Katakan firasat apa?" Naga Kuning menimpali.

"Baik atau buruk?" ikut bersuara Gondoruwo Patah Hati.

"Buruk. Agaknya diriku yang jadi sasaran utama. Aku bakal menemui ajal paling sengsara, paling mengenaskan..."

"Jangan berkata seperti itu!" tukas Gondoruwo Patah Hati. "Kami teman-temanmu, masa akan hanya berpangku tangan."

"Aku tahu. Tapi..." Ucapan murid Sinto Gendeng terputus.

Dalam keadaan begitu rupa mendadak terdengar suara tawa bergelak! Semua orang memandang ke depan.

"Astaga gila! Aku kira sudah mampus dia!" ucap Naga Kuning seraya berdiri. Yang lain-lain ikut bergerak bangkit.

Di depan sana sosok manusia pocong yang tadi tergeletak di tanah kelihatan bergerak bangkit, perlahan-lahan berdiri. Di balik kain penutup kepala, mulutnya kemudian berucap.

"Nyawaku dilindungi nyawa kedua. Tidak satupun dari kalian bisa membuatku mati!"

"Setan alas, takabur sekali!" maki Naga Kuning.

"Apa aku boleh ikut minta perlindungan nyawa kedua?" Jatilandak yang sejak tadi diam tak bergerak maupun bersuara tiba-tiba keluarkan kata-kata. Begitu ucapannya selesai, tubuhnya digoyang keras. Duri-duri yang masih bersisa di tubuhnya dikibas.

Sett! Settt! Settt!

Duapuluh bulu landak tebal, kuat, dan runcing melesat ke arah duapuluh bagian tubuh manusia pocong. Yang diserang cepat menyingkir sambil lepaskan pukulan tangan kosong. Hebat! Tak satupun duri landak yang seolah berubah menjadi senjata rahasia itu sanggup menyentuh tubuh manusia pocong. Tiga dari sekian banyak bulu landak yang dibikin mental menancap di dinding batu.

Walau selamat dari serangan bulu landak, namun manusia pocong ini sempat dibikin kaget, kelabakan selamatkan diri. Tadi dia menyangka binatang landak itu telah meregang nyawa. Pada saat inilah justru Jatilandak melesat di udara, menyerang ke arah manusia pocong. Mahluk dari lorong kematian terlambat mengelak. Empat kaki Jatilandak mencengkeram di bahu dan dada.

Mulut dengan deretan gigi panjang lancip menancap di batang lehernya! Kain penutup kepala yang menjuntai sampai ke leher bawah kelihatan berwarna merah!

Tiba-tiba ada suara genta menggema keras di kejauhan. Lalu dari arah belakang menderu dan berkiblat cahaya kuning.

Jatilandak yang sudah siap untuk merobek leher manusia pocong dengan gigitan mautnya angkat kepala sedikit dan menjawab. "Kawankawan!

Aku siap mati bersama mahluk iblis ini!"

Jatilandak lalu merobek leher manusia pocong dengan gigitan ganas.

"Jangan tolol!" teriak Bunga "Cahaya kuning itu akan melindungi dan memberi kekuatan pada musuhmu! Kau sendiri bisa terpanggang gosong!"

Jatilandak menduga gigitannya pada leher manusia pocong akan menewaskan mahluk itu.

Didahului suara menggembor keras dia melompat dari tubuh manusia pocong. Cahaya kuning menyapu. Sosok manusia pocong yang tadi sudah menghuyung sambil pegangi luka menganga di lehernya, kini berdiri tegap kembali. Malah mampu melangkah ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Ternyata cahaya kuning itu menjadi sumber kekuatan dan penolong bagi dirinya.

Sebaliknya malapetaka bagi Wiro dan kawankawan.

Namun gerakan si manusia pocong tertahan ketika tiba-tiba ada suara mengiang di telinganya.

"Satria Pocong, lekas kembali ke markas. Kau sudah bertindak dan keluarkan ucapan terlalu jauh. Yang harus kau bunuh adalah tiga orang itu.

Tapi kau justru memusatkan tangan maut pada Pendekar 212 Wiro Sableng! Otakmu sudah dicuci!

Mengapa dendam masih menguasai dirimu? Ingat tugas utamamu! Juga jangan kau berani menyentuh pemuda itu. Nyawanya tegas-tegas bagian Yang Mulia Ketua! Segera kembali ke markas!

Datang langsung ke Rumah Putih! Tenagamu dibutuhkan di tempat itu!"

Manusia pocong tundukkan kepala sedikit lalu lantangkan ucapan. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang wajib dilaksanakan!" Setelah keluarkan ucapan tadi dia maju satu langkah mendekati Wiro. "Kalian semua tidak satupun yang bakal selamat!"

Manusia pocong palingkan tubuh. Tangan kanan menggapai ke arah cahaya kuning yang ada di atas kepalanya, seperti menangkap sebuah bola kecil. Lalu tangan kanan itu dihantamkan ke arah Wiro dan kawan-kawan. Untuk kesekian kalinya keempat orang yang mendapat serangan menjadi kalang kabut selamatkan diri. Begitu terhindar dari serangan cahaya kuning yang ganas, Wiro dan kawan-kawan dapatkan si manusia pocong tak ada lagi di tempat itu.

Jatilandak hendak mengejar ke ujung lorong tapi cepat dicegah oleh Bunga.

"Aneh!" kata Jatilandak. "Aku rasa aku sudah mengoyak lehernya lebih dari setengah! Darah jelas mengucur! Mengapa dia masih bisa hidup?"

"Mahluk itu mendapat perlindungan dan kekuatan dari mahluk alam gaib yang ada di dalam Lorong Kematian. Kita harus mampu menghancurkan pusat kekuatan mereka!" menjelaskan Bunga.

"Lalu apa maksudnya dengan kata-kata nyawa kedua?" ujar Wiro pula.

"Itulah biang segala bencana yang diperalat oleh Ketua Barisan Manusia Pocong. Kita akan saksikan sendiri nanti." Jawab Bunga lalu dia memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan.

Namun belum sampai melangkah tiga tindak mendadak di belakang ada suara angin berkelebat.

Begitu berpaling, kelihatan sosok tinggi besar seorang manusia pocong. Dari bentuk tubuhnya yang tinggi besar jelas dia bukan manusia pocong yang tadi.

Manusia pocong bertubuh tinggi ini sama sekali tidak keluarkan ucapan. Sepasang mata di balik kain penutup kepala memandang ke arah Pendekar 212. Tiba-tiba dalam kecepatan luar biasa dia kibaskan lengan jubah sebelah kiri tiga kali berturut-turut.

Dess... dess... desss!

Buntalan asap berwarna putih kekuningan serta-merta memenuhi tempat itu.

"Asap beracun! Tutup jalan pernafasan!" teriak Bunga. Gadis dari alam roh ini melesat ke udara.

Menghantam ke arah manusia pocong yang menebar asap beracun.

Wuttt! Braakk!

7PUKULAN sakti Bunga hanya menghancurkan dinding batu. Sementara manusia pocong sudah lenyap entah ke mana. Bunga berpaling ke arah Wiro, Gondoruwo Patah Hati, dan Naga Kuning. Wajah mereka tampak pucat.

Dengan cepat satu persatu ketiga orang itu ditotoknya di bagian pangkal leher sehingga untuk beberapa saat mereka mengalami sulit bernafas.

Ini adalah untuk menghindari menghirup hawa beracun yang sangat berbahaya itu. Ketika hendak menotok Jatilandak, Bunga jadi bingung. Seluruh leher Jatilandak tertutup duri tebal dan rapat.

"Balikkan tubuhmu! Aku akan menotok bagian leher sebelah bawah!"

Sepasang mata Jatilandak menatap sayu ke arah gadis alam roh.

"Lekas!" Bunga berusaha membalikkan tubuh Jatilandak dengan kedua tangannya. Tapi pemuda dari negeri 1200 tahun silam yang berada dalam perujudan seekor landak itu gelengkan kepala.

"Terima kasih kau mau berbaik hati menolongku. Sayang sudah terlambat..."

"Terlambat bagaimana?" Tanya Naga Kuning sambil membungkuk lalu mendorong tubuh Jatilandak. Ternyata tubuh itu berat sekali. Seolah batu ratusan kati!

"Aku telah menghirup hawa beracun itu," menerangkan Jatilandak. Mata semakin kuyu dan empat kakinya terentang lunglai di tanah.

"Kita semua memang sempat menghirup. Tapi kadarnya cuma sedikit. Kita masih bisa selamat.

Gerakkan kepalamu ke samping biar aku bisa melihat lehermu!" Bunga siap untuk menotok.

Namun lagi-lagi jawaban Jatilandak terdengar memelas.

"Kalian dan aku berbeda. Asap beracun itu mengandung belerang. Aku tidak boleh bersentuhan dengan belerang dalam bentuk apapun.

Kawan-kawan, pergilah. Tinggalkan aku di sini.

Aku akan menemui jalanku sendiri. Pergilah, aku doakan agar kalian berhasil menghancurkan markas manusia pocong itu. Hati-hati."

Semua orang terkejut. Wiro tercekat dan ingat riwayat hidup Jatilandak semasa di Negeri Latanahsilam. Pemuda yang terlahir dari perkawinan yang tidak direstui oleh para Peri ini dibuang ke sebuah pulau. Di pulau ini dia dipelihara oleh seseorang yang memiliki tubuh penuh sisik bernama Tringgiling Liang Batu. Sebelum kedatangan Jatilandak, Tringgiling Liang Batu telah memelihara sepasang landak. Baik Tringgiling Liang Batu maupun dua landak peliharaannya sangat tidak tahan terhadap belerang.

Jangankan sampai tersentuh, mencium baunya saja bisa mengakibatkan kematian! Keberpantangan terhadap belerang ini ternyata juga diwarisi dan diindap oleh Jatilandak. Bahaya racun belerang yang mematikan itulah kini tengah dihadapi pemuda dari Negeri Latanahsilam ini. (Baca: Wiro Sableng —Hantu Jatilandak).

"Kami tidak akan pergi tanpa kau!" kata Bunga, sementara Wiro tegak tertegun.

"Betul. Kita datang bersama pergi harus bersama." Kata Naga Kuning sambil melintangkan di atas dada bumbung bambu milik Dewa Tuak yang masih terus dibawanya lalu melirik pada Wiro yang sejak tadi bersikap diam saja.

"Jangan risaukan diriku. Kalian lekas pergi sebelum terlambat..." kata Jatilandak.

Tiba-tiba di kejauhan lagi-lagi genta membahana. Tempat itu kembali berguncang bergeletar.

Lapat-lapat seperti ada suara orang menyanyi yang diakhiri dengan tawa panjang menggidikkan.

"Kita tidak bisa menunggu lebih lama," berkata Bunga seraya menatap ke arah Jatilandak.

Pemuda yang berujud landak ini berkedip sayu matanya tanda mengerti. Bunga berpaling pada Wiro, Gondoruwo Patah Hati, dan Naga Kuning.

"Kalau memang tak ada jalan lain kita terpaksa harus meninggalkannya..." si nenek terpaksa berkata perlahan.

Bunga tidak berlama-lama lagi. Gadis dari alam roh ini segera berkelebat ke jurusan lenyapnya manusia pocong yang tadi dirobek lehernya oleh Jatilandak. Naga Kuning menyusul, lalu Wiro, dan di belakang sekali Gondoruwo Patah Hati. Sementara berlari Wiro merasa hatinya galau. Kalau dia ingat apa yang telah terjadi dia tak mau perduli.

Tapi kalau menyadari bahwa dia memiliki jiwa kesatria, kebimbangan menggalau sanubarinya.

Sementara itu totokan yang tadi dilakukan Bunga masih menguasai Wiro, Naga Kuning, dan Gondoruwo Patah Hati. Nafas dan dada yang sesak membuat mereka tak mampu berlari cepat.

Menjelang sebuah tikungan rasa sesak turun kebawah, membuat perut membuncah mulas seperti terdesak buang air besar.

"Celaka! Aku mau berak!" kata Naga Kuning sambil pegangi perut. Mukanya kelihatan merah.

Butir-butir keringat memercik di keningnya. Si nenek Gondoruwo Patah Hati kalang kabut. Dia juga mengalami hal yang sama. Demikian pula dengan Wiro. Bunga yang telah menghentikan larinya memperhatikan sambil senyum-senyum.

"Enaknya saja kau mesem-mesem!" ucap Gondoruwo Patah Hati.

"Sudah! Berak saja barengan di sini!" kata Naga Kuning. Bocah berambut jabrik ini siap dodorkan celana ke bawah.

Tiba-tiba secara aneh, rasa mulas di perut ketiga orang itu lenyap, berpindah naik ke atas.

Ada hawa panas di dada. Rasa seperti tercekik.

Lalu, hueekkk...! Wiro, Naga Kuning, dan Gondoruwo Patah Hati sama-sama semburkan muntah berupa cairan berwarna kekuning-kuningan. Bersamaan dengan itu rasa sesak hilang, jalan pernafasan sesaat masih megap-megap lalu kembali berubah wajar. Ketiga orang itu terduduk di tanah.

Muka merah basah oleh keringat.

"Edan." Naga Kuning masih bisa keluarkan suara. "Untung cuma muntah barengan. Kalau sampai berak barengan!"

Gondoruwo Patah Hati jambak rambut Naga Kuning tapi sambil tawa cekikikan. Bunga memberi isyarat agar mereka segera meneruskan masuk ke dalam lorong.

Wiro yang ingatannya masih terpaut pada Jatilandak berkata. "Kalian pergilah duluan. Aku segera menyusul."

"Memangnya kau mau ke mana?" Tanya Bunga heran.

"Jangan-jangan sembunyi mau berak!" kata Naga Kuning pula.

"Jatilandak..." ucap Pendekar 212.

"Jatilandak? Apa yang ada di pikiranmu, Wiro?" Bertanya Bunga.

"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

"Aahhh..." Gadis dari alam roh menghela nafas.

Menatap ke sepasang mata Pendekar 212 dia seperti bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran dan hati pemuda ini.

"Sebenarnya, bukankah dia sendiri yang minta ditinggalkan? Dia menyadari keadaan," kata Naga Kuning pula.

"Aku..." Wiro mengusap dagu, tidak teruskan ucapannya.

"Ada sesuatu yang hendak kau lakukan?" Tanya Gondoruwo Patah Hati.

Wiro tidak menjawab. Malah mendorong Naga Kuning ke samping lalu lari ke arah tadi dia dan rombongan datang. Ketika sampai di tempat Jatilandak tergeletak, Wiro terkejut. Sosok yang tadinya berbentuk landak kini telah berubah menjadi sosok manusia berkulit kuning, tertelungkup mengenaskan di tanah. Pakaian coklatnya hancur hangus, menyembulkan punggung yang terpanggang merah.

Dua tangan dan dua kaki pemuda itu terbentang di lantai. Sepasang mata tertutup. Wiro tidak dapat memastikan apakah Jatilandak masih hidup. Namun kemudian dari sela bibir Jatilandak yang terbuka dia mendengar suara erangan halus.

Mendengar langkah kaki orang mendatangi lalu berdiri di dekatnya, pemuda dari negeri 1200 tahun silam ini perlahan-lahan buka sepasang matanya.

"Wiro, kenapa kau kembali?" Suara Jatilandak perlahan sekali.

"Kami tidak bisa meninggalkan kau sendirian di sini."

"Lalu..."

Wiro membungkuk. Membuat empat kali totokan, satu di belakang kepala, tiga di bagian tubuh Jatilandak. Sesaat kemudian pemuda dari Latanahsilam itu sudah berada di bahu kirinya lalu dibawa lari kembali ke arah lorong dari mana tadi mereka datang.

"Wiro, aku berterima kasih kau punya maksud menolong diriku. Tapi menolong orang yang segera akan menemui kematian tidak ada gunanya. Lebih baik kau segera bergabung dengan para sahabat.

Mereka lebih membutuhkan dirimu. Kau tak mungkin membawa aku ke mana kau pergi..."

"Kau betul. Tapi aku bisa mencarikan tempat yang lebih baik dan lebih aman bagimu."

Wiro membawa Jatilandak ke telaga di dasar jurang. Susah payah dia menuruni tangga terjal di dinding batu. Jatilandak dibaringkan di tepi telaga.

"Untuk sementara kau aman di sini. Aku harus pergi. Kalau semua urusan dengan mahluk setan itu selesai, kami akan kembali menemuimu di sini."

Jatilandak ulurkan tangan memegang lengan kiri Pendekar 212 erat-erat.

"Aku sangat berterima kasih. Hatimu seputih kapas, budimu semurni emas. Wiro, aku tidak akan bertahan lama. Aku tidak ingin mati dengan meninggalkan duga dan sangka yang menjadi beban berat dalam perjalananku ke alam lain. Aku ingin kau tahu. Antara aku dan Bidadari Angin Timur tidak ada apa-apa. Tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Budinya setinggi langit, sejuk hatinya sedalam lautan. Aku sangat menghormatinya..."

Wiro terdiam sesaat lalu berdiri.

"Wiro, gadis itu mencintai dirimu setulus hatinya...," Jatilandak lepaskan pegangannya di tangan Wiro.

Pendekar 212 garuk kepala, menatap wajah Jatilandak sesaat lalu pandangannya membentur ujung patahan gagang kayu Bendera Darah yang masih menancap di bahu kiri pemuda berkulit kuning itu. Wiro ingat apa yang telah dilakukan Eyang Sinto Gendeng ketika keluarkan Kapak Naga Geni 212. Salah satu mata kapak ditempelkan ke patahan kayu gagang bendera. Wiro kerahkan tenaga dalam. Kapak Naga Geni 212 pancarkan cahaya menyilaukan disertai hawa panas.

Cessss!

Jatilandak mengernyit menahan sakit. Daging bahunya mengepulkan asap. Gagang Bendera Darah serta merta berubah hitam, hangus gosong menjadi bubuk.

Wiro berbalik lalu tinggalkan tempat itu. Dia terharu mendengar ucapan Jatilandak tadi. Namun semua itu tidak dapat melenyapkan ganjalan yang ada di dalam hatinya. Ganjalan yang seolaholah telah menyatu menjadi batu. Sulit untuk dipupus.

Di belakang sana terdengar suara Jatilandak berucap perlahan.

"Wiro, terima kasih. Aku mendoakan keselamatan bagimu dan kawan-kawan..."

***Di dalam lorong, Naga Kuning tampak seperti orang bingung. Sebentar-sebentar dia usap bagian bawah perutnya. Bibir digigit-gigit. Dia memandang berkeliling, melirik pada Gondoruwo Patah Hati dan Bunga. "Kalau saja keduanya laki-laki aku tidak malu-malu melakukannya di sini," kata si bocah dalam hati.

"Intan," Naga Kuning menyebut nama asli si nenek.

"Kau mau ke mana?" Tanya Gondoruwo Patah Hati yang sejak tadi memperhatikan Naga Kuning.

"Aku mau menyusul Wiro. Aku khawatir kalau dia pergi sendirian..."

"Hai..."

Naga Kuning tidak perdulikan seruan Gondoruwo Patah Hati. Langsung saja bocah ini berlari cepat ke arah lorong yang tadi ditempuh Wiro sewaktu membawa Jatilandak. Di satu tikungan dia hentikan lari. Nafas mengengah.

"Gila, aku tidak tahan lagi. Betul-betul kebelet!

Sudah, di sini rasanya bisa kulakukan. Tak ada yang melihat," Lalu anak ini dodorkan celana hitamnya ke bawah. Tapi dia bingung sendiri. "Ah, apa langsung saja di sini? Kalau tempat ini banyak mahluk halusnya bagaimana? Bisa kapiran aku kalau sampai anuku dipencet." Dia melirik pada bumbung bambu yang tersembul di kepitan tangan kiri. "Baiknya kumasukkan dalam bumbung ini saja. Nanti kalau ada kesempatan baru aku buang..."

Naga Kuning ambil bumbung bambu kosong, dekatkan ke bagian bawah perutnya lalu, seerrr!

Bocah ini pancarkan air kencingnya ke dalam bumbung bambu. Selesai kencing dia menarik nafas lega. Dari balik pakaian dia keluarkan sehelai sapu tangan butut lalu disumpalkan ke ujung bambu.

8BANGUNAN serba putih yang dikenal dengan nama Rumah Tanpa Dosa memancarkan cahaya berkilau terkena sinar terik sang surya. Suara bahana genta baru saja lenyap.

Kesunyian membungkus delapan penjuru angin sampai ke lembah kecil yang terletak tak jauh di sebelah utara Rumah Tanpa Dosa.

Sambil memanggul tubuh Dewa Tuak, Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian berlari cepat melewati rumah tua berbentuk panggung beratap ijuk hitam. Lampion kain putih di bawah atap bangunan membersit keluar bau busuk antara amis dan bau bangkai.

Selewatnya, sebuah lembah kecil yang lebih banyak tertutup batu daripada tetumbuhan, Wakil Ketua akhirnya sampai di halaman satu rumah panggung serba putih, mulai dari atap ijuk sampai tiang-tiang penyanggah bangunan serta tangga setengah lingkaran. Sebuah genta besar tergantung di bawah atap ijuk putih. Tali genta menjulai ke bawah, hampir menyentuh tanah. Dua buah benda yaitu dua kuntum kembang kenanga menancap di atas pintu putih. Kayu di sekitar dua kembang itu kelihatan hangus menghitam, terdapatlah dua kembang kenanga yang dilempar Bunga sewaktu berusaha menahan serangan kekuatan gaib yang dilepas Sri Paduka Ratu dari Rumah Tanpa Dosa.

"Sial, Yang Mulia Ketua selalu memberi perintah berubah-ubah dan mendadak. Kalau saja dia tidak menyuruh aku menebar hawa beracun di lorong, urusanku sudah selesai dari tadi. Segala rencana jadi tak karuan. Aku harus bertindak cepat!"

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu! Aku Wakil Ketua datang menjalankan perintah Yang Mulia Ketua.

Lekas keluar dan laksanakan perintah!" Suara keras seruan Wakil Ketua menggema panjang lalu lenyap. Tak ada gerakan, tak ada jawaban dari dalam Rumah Tanpa Dosa.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu! Kita tidak punya waktu banyak! Para penyusup sudah berada di dalam lorong sebelah selatan!" Wakil Ketua berteriak lagi.

"Wakil Ketua! Aku tidak tuli! Mengapa berteriak tidak karuan seolah kau lebih kuasa dari Yang Mulia Ketua?" Tiba-tiba ada suara perempuan dari dalam bangunan putih, mendesing keras seolah sambaran angin.

"Perempuan keparat! Kau akan rasakan bagianmu nanti! Kau akan menyembah di kakiku sebelum tubuhmu kembali ke alam bangkai busuk!" Wakil Ketua memaki dalam hati.

Tidak sabaran Wakil Ketua menarik tali genta tiga kali berturut-turut. Suara keras menggelegar.

Tanah bergeletar. Rumah Tanpa Dosa mengeluarkan suara berderik. Wakil Ketua terhuyunghuyung dan cepat kerahkan tenaga sebelum tubuhnya terbanting ke tanah.

Ketika suara genta berhenti, dari dalam Rumah Tanpa Dosa terdengar suara perempuan tertawa.

Pintu putih di ujung atas tangga setengah lingkaran terbuka. Sesaat kemudian muncul satu sosok putih, melangkah dalam gerakan kaku.

Sosok putih ini mengenakan kain penutup kepala yang pada bagian atas melingkar sebuah mahkota kecil berwarna hijau. Jubah putih yang menutupi tubuh begitu tipis menerawang hingga bentuk aurat di sebelah dalam nyaris jelas. Ada satu kejanggalan. Jubah putih itu robek di bagian perut. Di sebelah belakang, di bawah kain penutup kepala menjulai rambut panjang hitam sampai sepinggang.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu," Wakil Ketua berseru. "Yang Mulia Ketua minta kau menyedot tenaga dalam dan kesaktian kakek ini! Harap kau lakukan dengan cepat!"

Habis berkata begitu Wakil Ketua turunkan tubuh Dewa Tuak dari panggulannya. Si kakek, dalam keadaan lemah tegak terhuyung, dua tangan terkulai lunglai, dua lutut agak tertekuk dan sepasang mata terpejam.

Sepasang mata di balik dua lobang pada kain penutup kepala bermahkota menatap tak berkesip ke arah Wakil Ketua dan kakek yang tegak di sampingnya.

"Wakil Ketua, kau menunjukkan perilaku sangat setia dalam menjalankan perintah Yang Mulia Ketua. Tapi kau tidak bisa menipu diriku!"

Wakil Ketua terkejut. "Perasaanku jadi tidak enak. Apa dia mengetahui semua rencanaku?

Berbahaya. Aku benar-benar harus bertindak cepat. Mudah-mudahan Ketua masih sibuk dalam melampiaskan nafsu bejatnya."

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu, apa maksud Yang Mulia dengan ucapan tadi?" Wakil Ketua ajukan pertanyaan.

"Berapa kali aku menegur agar kau tidak berbuat cabul di tempat ini?"

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu, saya tidak mengerti..."

Sang Ratu yang masih berdiri di ujung atas tangga putih tertawa panjang.

"Kau menculik dan menyekap seorang gadis.

Punya maksud hendak mencabulinya. Apakah kau tidak takut mendapat hukuman berat?"

Ucapan sang Ratu kembali membuat Wakil Ketua terkejut. "Bagaimana dia bisa tahu aku menculik dan menyekap gadis itu?"

"Sri Paduka Ratu, jangan kau percaya pada segala kabar angin. Tugasku banyak. Mana ada waktu untuk segala urusan culik menculik, sekap menyekap."

Sosok putih di depan pintu tertawa panjang.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Kau rupanya selalu memperhatikan gerak-gerikku. Padahal yang berbuat cabul di tempat ini bukan cuma aku..."

Yang Mulia Sri Paduka Ratu kembali tertawa.

"Apakah engkau hendak mengatakan Yang Mulia Ketua juga melakukan perbuatan cabul tapi mengapa aku tidak memperdulikan dan tidak menegur? Beraninya kau punya pikiran dan keluarkan ucapan seperti itu. Apa tidak khawatir Yang Mulia Ketua mendengar?"

"Perempuan setan!" maki Wakil Ketua tapi diam-diam hatinya kecut juga. Dia memandang berputar ke arah kejauhan. Belum kelihatan tanda-tanda Yang Mulia Ketua akan segera muncul.

Di atas tangga Yang Mulia Sri Paduka Ratu kembali membuka mulut.

"Kau lupa pada ucapan kesetiaan bahwa hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan!"

Dalam hati Wakil Ketua kembali memaki. Lalu dia berkata dengan suara keras. "Kehadiranku di sini bukan untuk mendengar segala bicara panjang lebar. Aku membawa tugas dari Yang Mulia Ketua. Kau diperintahkan untuk menyedot tenaga dalam dan kesaktian kakek ini! Laksanakan saja tugasmu! Jangan banyak bicara!"

Sri Paduka Ratu tertawa panjang. Sekali kakinya digerakkan, seperti terbang tubuhnya melayang ke bawah dan tegak di halaman Rumah Tanpa Dosa, terpisah lima langkah di hadapan Dewa Tuak dan Wakil Ketua.

"Aku mencium bau aneh di tubuh kakek ini.

Wakil Ketua, harap kau menerangkan siapa dia adanya."

Wakil Ketua tanggalkan kain putih penutup kepala orang yang tegak terbungkuk di sampingnya. Kelihatan satu wajah tua berambut putih dengan sepasang mata dalam keadaan terpejam.

"Julukannya Dewa Tuak. Kuberitahupun kau tidak tahu apa-apa!" jawab Wakil Ketua pula.

Yang Mulia Sri Paduka Ratu menyeringai lalu melangkah mendekati Dewa Tuak yang masih berdiri terhuyung-huyung. Tiba-tiba kakek ini buka matanya yang sejak tadi terpejam. Begitu melihat siapa yang berdiri di depannya, dua

matanya langsung dikedap-kedipkan.

"Aku harap tidak bermimpi. Tidak menduga bakal bertemu seorang manusia pocong betina di tempat ini! Ada mahkota di kepalamu! Ha... ha... ha! Kau pasti bukan mahluk sembarangan.

Sayang wajahmu tertutup kain putih. Tapi aku yakin pasti wajahmu secantik bidadari. Ha... ha... ha!"

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Lekas laksanakan tugasmu! Cepat sedot tenaga dalam dan kesaktiannya!" Wakil Ketua sudah tidak sabaran.

"Eh, apa?" Dewa Tuak angkat kepalanya sedikit. Tangan kiri digelungkan di belakang daun telinga kiri. Lagaknya seperti orang mau mendengar lebih jelas. "Kalau mau menyedot jangan tenaga dalam dan kesaktianku. Aku rela memberikan bagian tubuhku yang lain untuk disedot! Kau pasti merasa enak! Aku juga enak!

Sama-sama enaklah kita! Ha... ha... ha!"

"Tua bangka kurang ajar!" Sri Paduka Ratu memaki marah. Tangan kanan diangkat ke atas.

Telapak membuka, lima jari menekuk seperti mencengkeram. Cahaya kuning kemudian muncul di lima jari. Ketika tangan itu diputar ke kanan lalu disusul dengan gerakan seperti membetot, Dewa Tuak menjerit keras. Tubuhnya yang tadi membungkuk bergoncang keras. Dari mulutnya menyembur darah segar!

"Ratu! Jangan berlaku tolol! Kau mau membunuh kakek ini sebelum melaksanakan perintah Yang Mulia Ketua?" berteriak Wakil Ketua.

"Diam!" bentak Sang Ratu. "Aku tahu apa yang aku lakukan!"

Lalu Sri Paduka Ratu pegang kuat-kuat bahu kanan Dewa Tuak dengan tangan kiri sementara telapak tangan diletakkan di atas batok kepala si kakek.

Kasihan Dewa Tuak. Bukan saja seluruh tenaga dalam serta kesaktiannya akan tersedot masuk ke dalam tubuh Sri Paduka Ratu, tapi nyawanyapun tidak akan tertolong.

Begitu Sri Paduka Ratu meletakkan telapak tangan kanan di atas kepala Dewa Tuak, Wakil Ketua cepat beranjak dan kini dia sengaja tegak di samping sang Ratu, sedikit ke belakang, terpisah kurang dari dua langkah. Dua jari tangannya yang sebagian tertutup di balik lengan jubah, diamdiam bergerak lurus dalam sikap siap untuk menotok. Siapa yang akan ditotoknya? Jelas bukan Dewa Tuak!

9TANGAN kanan Sri Paduka Ratu yang berada di atas ubun-ubun kepala Dewa Tuak tampak ber–getar pertanda dia mulai melakukan penyedotan tenaga dalam dan kesaktian si kakek. Sangat cepat getaran menjalar ke tubuh korban.

Dess! Dess! Dess!

Asap tipis kelabu mengepul dari batok kepala si kakek. Kalau sewaktu menyedot tenaga dalam dan kesaktian Hantu Muka Dua kelihatan ada cahaya biru di kaki mahluk dari Latanahsilam itu dan terus menjalar ke atas, maka pada diri Dewa Tuak yang kelihatan adalah cahaya putih. Ini pertanda bahwa tenaga dalam dan kesaktian yang dimilikinya adalah murni dari golongan putih.

Pada saat sangat genting, yaitu ketika cahaya putih di kaki Dewa Tuak kelihatan mulai bergerak naik ke atas, tiba-tiba empat bayangan berkelebat dari arah utara halaman Rumah Tanpa Dosa.

Menyusul seruan nyaring suara perempuan.

"Mahluk alam roh! Hentikan perbuatan terkutukmu!"

Bersamaan dengan itu empat gelombang angin menderu ke arah Yang Mulia Sri Paduka Ratu, membuatnya terkejut, menjerit keras. Cepat dia tarik tangan kanannya dari atas kepala Dewa Tuak lalu melompat mundur. Walau semua gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat namun empat gelombang angin masih sempat menyerempetnya. Untuk kedua kalinya sang Ratu menjerit keras. Kali ini bukan jeritan kaget, tapi Jeritan penuh marah.

Empat gelombang angin yang menghantam tubuhnya berasal dari pukulan tangan kosong jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi serta ilmu kesaktian bukan sembarangan.

Blaar! Blaar! Blaar! Blaar!

Jangankan tubuh manusia, tembok batu sekalipun pasti ambruk berkeping-keping. Tetapi luar biasa, Sri Paduka Ratu hanya tergontaigontai.

Itupun cuma seketika. Apa yang terjadi?

Sesaat sebelum empat pukulan sakti jarak jauh menghantam, serangkum cahaya kuning muncul melindungi dirinya mulai dari kepala sampai kaki.

Hantaman empat angin pukulan sakti hanya menimbulkan suara dentangan aneh.

"Jahanam berani mati! Siapa kalian?" Yang Mulia Sri Paduka Ratu berteriak marah. Dua tangan di balik jubah putih dipukulkan ke depan.

"Lekas menyingkir!" Seseorang berteriak.

"Selamatkan Dewa Tuak!" Ada suara lain ikut berseru.

Wutttt! Wuttt!

Dua larik angin dahsyat memancarkan cahaya kuning panas berkiblat. Namun empat orang yang hendak dijadikan bangkai gosong tak ada lagi di tempat semula. Bahkan Dewa Tuak yang tadi ada di dekat mereka ikut lenyap! Dua gelombang angin kuning menderu jauh memapas udara kosong lalu menghantam pinggiran lembah. Bebatuan di tubir lembah sebelah atas hancur bertaburan, berubah menjadi bara menyala. Tanah dan pasir beterbangan ke udara.

Memandang berkeliling, dua belas langkah di sebelah kiri, Sri Paduka Ratu melihat Dewa Tuak berada dalam gendongan seorang pemuda berambut gondrong. Sepasang mata Sri Paduka Ratu menyipit, kening mengerenyit. Saat itu si pemuda tengah menurunkan kakek yang digendongnya ke tanah. Dewa Tuak tegak terbungkuk sambil pegangi dadanya yang mendenyut sakit. Noda darah membasahi bagian depan jubah putih yang dikenakannya. Sepasang mata si kakek berputar.

Pandangannya berhenti pada sosok Naga Kuning yang tegak sambil memegang bumbung bambu.

Dua bola mata si kakek membesar. Mulut menganga, tenggorokan turun naik.

"Bocah! Bumbung bambu itu! Kau dapat di mana? Rasa-rasanya. Ah, aku jadi haus!" Si kakek lalu duduk menjelepok di tanah. Kepala didongakkan. Dua tangan diangkat ke atas. Menggantung di udara. Satu di atas kening, satu di dekat mulut.

Kalau sudah begitu biasanya tenggorokan si kakek akan mengeluarkan suara gluk, gluk, gluk, seperti melahap minuman benaran. Tapi sekali ini hal itu tidak terjadi. Malah perlahan-lahan dia turunkan dua tangan. "Apa nikmatnya minum bohongan terus-terusan," kata si kakek perlahan lalu berpaling pada Naga Kuning, menatap ke arah bumbung bambu. "Bocah jabrik! Berikan bumbung bambu itu padaku!"

Naga Kuning jadi bingung.

Gondoruwo Patah Hati berkata, "Lekas serahkan. Mengapa kau diam saja?"

"Aku..."

"Kakek itu seperti kurang waras. Siapa tahu kalau memegang bumbung bambu ingatannya kembali pulih. Kita butuh dia. Sebentar lagi tempat ini bakal jadi ajang sabung nyawa."

"Tapi, Nek. Kau, kau tidak tahu..."

Tidak sabaran Gondoruwo Patah Hati rampas bumbung bambu dari tangan Naga Kuning. Saat itu dia merasakan kalau dalam tabung ada cairan.

"Eh, setahuku waktu kau temukan bumbung ini kosong. Mengapa sekarang ada cairannya? Ada kain penyumpal?" si nenek menatap Naga Kuning.

"Sudah, kalau kau ingin menyerahkannya pada Dewa Tuak. Serahkan saja..." kata Naga Kuning pula. Lalu dalam hati bocah konyol ini berkata "Gila! Kalau di luar sadar Dewa Tuak sampai menenggak isi bumbung itu dan satu ketika dia tahu apa sebenarnya isinya, aku bisa celaka..."

Dewa Tuak tertawa penuh gembira ketika menyambuti bumbung bambu yang diserahkan Gondoruwo Patah Hati. Untuk beberapa lamanya bumbung itu diletakkan di pangkuan dan diusapusap.

Wiro yang berdiri di sebelah Bunga berbisik, "Manusia pocong betina itu, luar biasa sekali. Dia mampu menahan empat hantaman kita sekaligus!

Agaknya benar ucapan orang di luaran. Sekali masuk ke dalam lorong kematian, tidak ada jalan keluar hidup-hidup."

"Wiro, apa kau sudah mati semangat?"

Wiro terdiam. Matanya memperhatikan robekan di perut jubah putih Yang Mulia Sri Paduka Ratu.

"Bunga, kau lihat robekan di bagian perut manusia pocong itu? Hantu Muka Dua tidak bohong. Ketika bertemu mahluk pocong ini dia melihat sesuatu di dalam perutnya, berusaha mengambil tapi hanya sanggup menggapai robek jubahnya..."

"Tadi aku sempat mencoba melihat tembus.

Memang ada sesuatu di dalam perutnya. Tapi aku cuma melihat samar. Sewaktu aku paksakan mataku terasa sangat perih. Sebelum satu kekuatan hebat melabrakku aku hentikan melihat tembus..."

"Coba aku periksa," kata Wiro pula. Lalu dia kerahkan Ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung.

"Wiro, jangan! Kau bisa celaka!" mengingatkan Bunga. Tapi terlambat, Wiro telah keburu mengerahkan ilmu melihat tembus pandang ke dalam perut Sri Paduka Ratu.

"Bunga, aku... aku bisa melihat lebih jelas. Itu gulungan Pedang Naga... Ah!" Satu kekuatan tak terlihat tiba-tiba muncul menerpa Pendekar 212.

Wiro terjajar lalu terjengkang di tanah. Kepala bergetar sakit seperti mau rengkah! Mata terasa sangat perih. Dia coba menggosok. Ketika matanya dibuka kembali dia tersentak kaget. Dia hanya melihat kegelapan. "Celaka! Aku tak bisa melihat apa-apa! Buta! Aku buta!"

Yang Mulia Sri Paduka Ratu tertawa panjang.

Bunga cepat dekati Wiro. Mengusap kedua matanya dengan tangan kiri. "Cepat berdiri. Kau hanya buta sementara. Kerahkan hawa sakti pada dua matamu. Sesaat lagi penglihatanmu akan pulih!"

Apa yang dikatakan Bunga benar adanya.

Hanya selang beberapa ketika setelah dia mengerahkan tenaga dalam dan aliran hawa sakti pada kedua matanya, dia sudah mampu melihat seperti semula. "Gila..." ucap Wiro sambil mengusap keningnya yang keringatan.

"Bunga, kita menghadapi satu kekuatan yang sulit ditandingi..."

"Aku sudah tahu jauh sebelumnya. Aku sudah bilang padamu. Kekuatan alam gaib itu berpusat di rumah putih. Di dalam rumah putih penghuninya adalah manusia pocong perempuan ini.

Seperti diriku dia datang dari alam roh. Namun dia datang dibekali kesesatan. Dialah sumber dan pusat segala kekuatan ilmu kesaktian di tempat ini. Tapi dia berada di bawah kendali seseorang.

Hampir pasti si pengendali adalah Ketua Barisan Manusia Pocong. Selain itu ingat, kita harus menemukan satu batu pipih hitam. Dugaanku benda itu berada di tangan penguasa lorong kematian. Jika batu tidak berhasil dirampas, kejahatan yang sama dapat terulang kembali."

"Mana dia sang ketua. Aku belum melihat batang hidungnya..."

"Mungkin dia tidak akan pernah muncul. Dia cukup mengendalikan Sang Ratu untuk menghabisi kita. Sebelum itu terjadi kita harus sanggup menghancurkan kekuatannya. Kekuatan itu hanya bisa dihancurkan jika kau menikahi manusia pocong yang disebut Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Kita tak punya waktu banyak. Ikuti aku!"

Bunga lalu menarik tangan Wiro, melangkah ke hadapan Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Wakil Ketua yang berada di dekat tempat itu cepat menghadang. Sepasang mata berkilat pada Wiro Sableng.

Wiro balas memperhatikan. Dari potongan tubuh orang ini Wiro segera tahu kalau dia adalah manusia pocong yang muncul menebar asap beracun di dalam lorong. Wiro cepat alirkan tenaga dalam ke tangan kanan. Pukulan Sinar Matahari disiapkan.

Manusia pocong di hadapan Wiro tertawa perlahan. "Kalaupun kau punya sepuluh tangan dan menghantamkan sepuluh pukulan Sinar Matahari sekaligus, kau tak akan mampu mengalahkanku. Sayang nyawamu sudah ada yang punya. Kalau tidak, saat ini kepalamu tidak ada lagi di atas leher!"

"Omongan hebat! Tapi siapa percaya ucapan manusia jelek macam kau. Yang hanya berani melepas hawa beracun lalu kabur! Aku menduga ilmumu hanya secetek comberan. Tapi bermulut besar karena mendapat lindungan dan andalan ilmu kesaktian dari pocong betina ini."

Di balik kain putih penutup kepala, rahang manusia pocong menggembung. Nafasnya mendengus. Tubuh bergeletar. Lima jari tangan kiri kanan ditekuk sampai mengeluarkan suara berkeretek.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu, lekas pergi kerumah panggung beratap ijuk hitam! Jangan keluar kalau tidak ada yang memberi perintah.

Monyet-monyet kesasar ini serahkan padaku."

"Wakil Ketua, beraninya kau memerintah diriku? Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan!"

"Perintah itu berasal dari Yang Mulia Ketua! Apa kau berani membantah?"

"Ha... ha! Monyet berjubah putih ini Wakil Ketua rupanya!" Tiba-tiba Wiro berseru.

"Oala!" menimpali Gondoruwo Patah Hati yang tegak di samping Dawa Tuak. Si kakek masih saja mengusap-usap bumbung bambu di pangkuannya. "Wakil sudah muncul! Ketuanya mana?"

"Mungkin lagi berak!" menyahuti Naga Kuning lalu tertawa cekikikan.

"Ckkk... cekk... cekkk!" Wakil Ketua berdecak leletkan lidah. "Luar biasa beraninya kalian berbicara! Apakah cukup berani menghadapi kematian?"

"Ckk... ckkk... ckkk!" Naga Kuning balas berdecak. "Bagaimana kalau kita mati barengan?!"

"Bocah jahanam! Kau akan kubunuh duluan!" teriak Wakil Ketua.

"Mati barengan boleh saja," ujar Wiro. "Tapi mahluk setan ini harus lebih dulu menunjukkan di mana perempuan-perempuan muda itu disekap.

Di mana Anggini, Wulan Srindi, Kakek Segala Tahu!"

Wakil Ketua yang sudah tidak dapat menahan kesabarannya karena diamuk amarah mendorong bahu Yang Mulia Sri Paduka Ratu. "Tunggu apa lagi? Lekas pergi ke rumah panggung ijuk hitam! Itu perintah Yang Mulia Ketua!"

"Rumah busuk itu! Tempat para bayi dan ibunya mati dibunuh! Mengapa aku harus ke sana?" Tanya Yang Mulia Sri Paduka Ratu.

"Tempat kediamanku adalah rumah putih ini. Rumah Tanpa Dosa!"

"Sri Paduka Ratu! Jangan kau berani menolak perintah Yang Mulia Ketua."

Tapi Yang Mulia Sri Paduka Ratu tidak perdulikan bentakan Wakil Ketua. Sekali berkelebat tubuhnya melayang mengikuti tangga putih setengah lingkaran. Secara aneh pintu putih terbuka.

Sosok Sri Paduka Ratu lenyap ke dalam rumah putih. Pintu putih tertutup kembali.

Sesaat sebelum Sri Paduka Ratu masuk ke dalam Rumah Tanpa Dosa, Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian keluarkan suitan nyaring dua kali berturut-turut. Tak selang berapa lama, tiga manusia pocong berkelebat di tempat itu. Salah seorang di antara mereka kelihatan robek kain penutup kepalanya di bagian leher dan ada noda darah di jubah.

"Pocong bangsat satu itu yang menyerang kita di dalam lorong. Yang dikoyak lehernya oleh Jatilandak..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.211.108.8
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia