Sepenggal Lorosae

“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka.
“Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!” sambutku spontan, sembari mempersilahkan masuk.
“Oh terima kasih, kukira kau sudah tak kenal kami lagi, bagaimana dengan bahasa Indonesiaku?” canda om Alfredo.
“Sangat baik tapi perlu latihan lagi.” sahutku dan suara tawa kamipun meledak.

Om Alfredo, aku mengenalnya semenjak masa kanak-kanak di bumi Timor Lorosae. Seorang penduduk berdarah campuran porto tetun yang pernah bertetangga denganku. Bertahun-tahun kami hidup damai berdampingan, apalagi setelah Timor Lorosae diakui menjadi bagian integral Republik Indonesia dengan nama propinsi Timor Timur. Namun sayang sekali kedamaian tersebut tak berlangsung lama. Bermula ketika dimumkannya hasil referendum nasib Timor Timur yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah Indonesia. Sungguh mencengangkan!, kubu pro kemerdekaan telah dimenangkan mutlak oleh UNAMET yaitu lembaga bentukan PBB yang bertugas mengawal proses referendum di propinsi ke-27 itu. Referendum terdiri dari dua opsi yaitu pro kemerdekaan dan pro otonomi.

Saat itu 4 September 1999, Sabtu Pahing tepat pukul 09.15 waktu Indonesia Timur. Massapun mengamuk, benturan-benturan fisik berskala besarpun terjadi antara warga pro otonomi dan pro kemerdekaan yang diiringi perusakan, pembakaran dan penjarahan massal. Asap kebakaran mengepul di mana-mana. Kerusuhanpun merebak hingga ke seluru penjuru. Tak ayal lagi sebagian besar sarana dan prasarana bangunan milik masyarakat maupun pemerintah hancur total dan korban jiwapun berjatuhan. Warga pro otonomi yang selama 23 tahun berintegrasi dengan Indonesia, membawa bukti-bukti kuat tentang kecurangan UNAMET dalam membantu warga pro kemerdekaan. Anggota UNAMET yang mayoritas warga Australia dituntut dan diancam agar tidak meninggalkan lokasi mereka di 13 kabupaten di seluruh wilayah Timor Timur. Apapun alasannya, nyatanya dunia internasional dibawah pimpinan Amerika Serikat dan sekutunya sangat menekan pemerintah kami. Australiapun sangat berambisi memposisikan dirinya sebagai polisi Asia.

Kami benar-benar tidak siap menghadapi kekecewaan ini, kami semua merasa dikhianati oleh pihak asing. Siapa sangka bahwa hasil referendum yang jelas-jelas diwarnai kecurangan sistematis tersebut tak pernah diinvestigasi oleh pihak-pihak yang terkait baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Semua bungkam sejuta bahasa. Padahal bukti-bukti tersebut tercatat secara kronologis, yaitu dari mulai berdatangannya polisi Australia yang tak ingin dicampuri oleh pihak Indonesia. Mereka berdalih agar dapat bekerja independen. Rupanya ini hanyalah siasat undercover operasi intelijen. Kegiatan-kegiatan spionase menjadi pemandangan sehari-hari. Hasutan, bujuk rayu serta iming-iming mereka lontarkan pada warga pro otonomi bahkan tak jarang berakhir dengan intimidasi dan kekerasan. Sekali lagi tak satupun anggota Komnas HAM dalam dan luar negeri berteriak. Terkuak setelah hasil referendum, banyak ditemukan kertas suara pro kemerdekaan luar biasa banyaknya dan kertas suara pro otonomi banyak yang dirusak serta masih sangat banyak kecurangan dalam bentuk lain.

Detik itu pula, kami yang telah lama mendiami Timor Timur dan mencintai tanah kelahiran kami dipaksa untuk meninggalkannya, mengungsi keluar wilayah Timor Timur secepatnya. Dengan pengawalan tentara dan polisi banyak di antara kami mengungsi hanya dengan pakaian melekat di tubuh, meninggalkan rumah dan harta benda. Banyak juga dari kami menghancurkan atau membakar harta bendanya daripada dijarah dan dinikmati oleh kelompok pro kemerdekaan. Rumah-rumah warga pro otonomi telah dikuasai secara beringas dengan berbagai ancaman, ditambah dengan kehadiran sekelompok tentara Timor Falintil bersenjata lengkap yang keluar dari persembunyian menambah suasana makin mencekam. Bukan hanya harta benda yang menjadi jarahan tetapi juga harkat dan martabat manusia. Kami menjadi sasaran amukan warga pro kemerdekaan. Banyak pula keluarga harus rela kehilangan anggotanya dan terpisah, bahkan turut menjadi korban jiwa selama kerusuhan terjadi. Begitu pula diriku, kulepas kedua orang tuaku mengungsi. Aku berusaha mengejar keduanya yang bergegas menaiki truk tentara.

“Berlakulah sebagai prajurit profesional!” Ayah segera pergi dengan langkah pasti menuju ke arah truk tanpa menoleh lagi. Hanya suara tangisan pilu para pengungsi termasuk ibuku. Rengekan bayi-bayi dan anak-anak yang belum mengerti politik sangat menyayat hati siapa saja.

Aku mengenal almarhum ayahku sangat dekat. Seorang mantan Marinir yang banyak malang melintang bertugas di medan tempur. Beliau termasuk sosok prajurit yang loyalitasnya tidak diragukan!, begitu mendapat perintah pindah dinas ke Timor Lorosae, dengan lapang dada hal itu diterima. Di bumi Lorosae aku lahir, tanah tumpah darahku yang tak terlupakan.

“Aku turut berduka cita atas wafatnya ayahmu.” Terpancar rasa kedukaan yang mendalam di wajah om Alfredo, setelah dia mengetahui kabar itu dari kerabatnya.
Om Alfredo, sempat membuat diriku terguncang dan marah serta kecewa, hingga tak pernah melupakan peristiwa yang membuatku memandang dunia ini dari banyak sisi. Saat itu aku dan para tentara yang lain mempersiapkan kendaraan pengungsi menuju perbatasan. Di tengah-tengah penjagaan tentara Australia dan Timor Falintil, mataku melihat seorang pria akrab dengan mereka, sungguh sukar dipercaya!. Belakangan kuketahui ternyata dia adalah salah seorang tokoh klandestin bekas Tropaz, salah satu unit tentara Timor Portugis, nama lain Timor Timur sebelum integrasi. Setiba di Indonesia kuceritakan hal ini pada ayah.
“Dia punya cara perjuangan sendiri.”
“Tapi ini pengkhianatan!”
“Siapa yang dikhianati, apa kau merasa dirugikan?”
Aku terdiam menebak-nebak jalan pikiran beliau.
“Suatu saat kau akan tahu, dia memiliki jalan sendiri, begitu pula kau dan aku, sama-sama memiliki kepentingan, mempercayai apa yang kita yakini.”

Aku belum bisa menerima kenyataan, bahkan di saat-saat kekacauan terjadi. Ternyata banyak warga pribumi Timor yang semula pro otonomi berbalik menjadi pro kemerdekaan, apakah ini yang disebut perjuangan? atau mungkinkah hanya sekedar mencari selamat dan aman?
“Sudah biasa hal seperti itu, mengatasnamakan perjuangan, tugas tentara adalah berperang demi perintah tapi tidak memerangi umat manusia! Kapan berperang dan kapan berdamai kau harus tahu itu!” jelas ayah seakan membaca jalan pikiranku.

Setelahnya aku tak pernah membicarakan hal itu lagi. Ayahku adalah keturunan trah tulen menak Sumedang, hanya karena intrik klasik dalam keluarga ningrat, ayah harus rela meninggalkan tanah kelahirannya dan menjadi orang kebanyakan. Mendaftar sebagai prajurit rendahan yang dimasa itu hanya pantas untuk kalangan rakyat jelata. Namun beliau merasa nyaman dengan kehidupan barunya, yang tidak pernah dijumpai semasa hidup dalam kungkungan tata cara keraton. Seorang prajurit sejati, yang berpesan tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena memang bukan itu yang beliau cari. Perjuangan hanya demi bangsa dan negara bukan untuk yang lain, apalagi hanya mengukir nama sendiri.!
“Oh Ibu dan kakak adikmu?” Dia mencoba berbicara ringan.
“Semua baik, ibu dan adikku Silvia Singorejo menetap di Amsterdam.”
“Oh gadis bule itu!”.
Silvia Singorejo, sebenarnya bukan adik kandungku. Ayah mendapatinya sewaktu masih bayi lemah di hamparan rumput tanah lapang. Entah dibuang atau akibat korban kekerasan dari pihak-pihak yang bertikai di masa itu. Meskipun dia bayi porto yang bisa saja anak dari musuh tetapi ayah dan ibu tidak mempedulikannya. Bagai anak kandung mereka membesarkannya. Bagiku kearifan ayah melebihi jenderal bintang lima. Dengan welas asih ibu merawat dan menjaganya.
“Keluarga sehatkah?” tanyanya menyelidik setelah melihat bingkai foto yang tergantung di dinding. Foto kedua putriku bersama diriku.
“It’s over.”
“ehm,.. I’m so sorry.”

Rumah tanggaku bubar hanya karena aku dan isteri berbeda paham. Aku hanyalah seorang tentara rendahan, sementara mantan isteriku adalah seorang pengusaha keturunan Arab-Jawa. Selalu ada saja kesalahpahaman karena istri kental dengan pengaruh budaya Barat yang diperoleh saat kuliah S2 di Jerman. Menurutku budaya Barat yang hanya mengejar materi kurang cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Suatu hari dia menginginkan diriku meneruskan usaha sarang burung walet abinya. Maaf aku lebih mencintai diriku seperti saat ini, menjalani kehidupan sebagai seorang tentara yang sederhana. Sempat terlintas dalam anganku bahwa bisa saja berbisnis sembari bekerja tapi bagaimana mungkin akan menjadi profesional jika ditengah-tengah rutinitas pekerjaan, yang melulu muncul dalam benakku adalah segebok pundi-pundi rupiah? bahkan Euro?!. Profesionalkah? Alangkah kasihan rakyat yang telah memberi amanah kepada tentara semacam itu. Profil tentara yang ideal menurut anggapanku sederhana dan bersahaja.

Lima tahun rumah tanggaku bertahan, kedua buah cinta kami yaitu Sekar Arum Jagad dan Lintang Pamungkas berada dalam pengasuhan mantan istriku, Vierra Kharami. Sebenarnya dia adalah ibu yang baik tetapi pandangan dan prinsip kami sudah tidak mungkin berjalan dalam satu rel! Aku tidak pernah menyesal karena aku meyakini ini adalah jalan hidup, banyak orang menganggap diriku bodoh, tapi hanya Tuhanlah yang tahu.

Jalan hidup tiap orang berbeda, kalau ada sebagian tentara hidup bergelimang kemewahan, mungkin memang itu nasib yang harus mereka peroleh, nasib seorang manusia. Demi mengabdi pada negara kujauhkan diri dari kemewahan. Kutelan mentah-mentah dogma dan indoktrinasi secara total, terutama tentang perilaku berorganisasi, karena disinilah letak keteraturan manajemen organisasi. Apa jadinya kalau seorang bawahan kurang ajar terhadap atasan hanya karena sang atasan adalah kawan dekat apalagi sanak famili, tentu ini pelecehan terhadap institusi. Profesi harus dijunjung tinggi, adil terhadap siapa saja, tidak ada kawan dekat apalagi sanak famili yang harus kita lindungi ketika melakukan kesalahan. Stick and Carrot, titik!.

Aku anak bangsa yang berjanji dalam hati akan mengawal tegaknya kedaulatan negara ini, sejarah membuktikan bahwa bangsa yang besar akan runtuh hanya dengan infiltrasi budaya dari luar secara sistematis, bukan dengan peperangan besar. Diawali dari hal-hal kecil yang remeh seperti pemberian nama anak cucu kita! Mengapa sekarang nama-nama bangsa Indonesia yang asli telah punah? Apakah nama “Jihan” atau “Maria” terdengar lebih merdu daripada nama “Lestari”?. Itulah sebabnya kedua anakku masing-masing satu tahun baru kunamai ciri khas Indonesia. Sangat disayangkan pula bahwa “kebaya” yang merupakan identitas nasional pakaian wanita Indonesia harus berganti dengan “cadar” atau pakaian Eropa. Negara-negara benua Amerika saja yang lantang menobatkan dirinya menjadi bangsa baru, namun penduduknya mengakui keanekaragaman warisan Eropa! Mengapa di Amerika bisa mempertahankan budaya negara-negara Eropa? Sedangkan kita? Dari nama-nama mereka kecuali warga kulit hitam, masih bisa diketahui kalau mereka imigran bekas bangsa Eropa. Sungguh aku malu bangsaku! padahal Sutasoma berabad-abad yang lampau telah menyebut “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Keanekaragaman budaya adalah hal yang biasa dalam kehidupan bernegara. Mengapa kita harus menyeragamkan semua itu? Mudah-mudahan bangsa ini segera disadarkan dari kemerosotan moral, setidaknya cita-cita mengembalikan identitas bangsa dimulai dari hal yang paling kecil! Mimpi luar biasa dari seorang prajurit biasa, tapi aku akan selalu bermimpi meski hanya seorang diri.

Putra Angkasa namaku! Nama sakral yang memiliki legenda tersendiri. Tigapuluh Tujuh tahun yang silam di pagi buta ketika ibu hendak melahirkanku ke rumah bidan, ayah yang mengantar dan mengemudikan mobil melihat burung rajawali terbang membelah angkasa. Atas saran beliau nama itu diberikan. Putra Angkasa yang telah membuat udara berdetak.
“Oh my God, kau masih menyimpan foto kita semasa perjuangan dulu?!” tatapan tajam mata Sonia beradu denganku. Sedari tadi dia asyik memandangi jajaran bingkai foto di pojok ruang tamu yang banyak bercerita tentang keindahan bumi Lorosae.
Sonia Dora, sepuluh tahun aku mengenalmu hingga negara Timor Leste terbentuk kitapun harus terpisah jauh.

“You’re always keep on my mind,” meluncur deras begitu saja dari bibirku, sebentuk kalimat yang tidak pernah kuucapkan sebelumnya, sehari sebelum propinsi Timor Timur diserahkan ke UNTAET. Di tengah-tengah kekacauan dan tidak ada keteraturan tatanan, aku berhasil menemukanmu dengan semboyan reguler, alternatif dan emergensi. Mendapatkan dirimu di senja itu.
“Suatu hari nanti, kalau Tuhan memberikan umur panjang semoga kita dipertemukan lagi!” pintamu.
“I must go!, aku akan merindukanmu.”

Timor Timur selamat tinggal! Iring-iringan kendaraan pasukan melewati jalan perbatasan menuju Atambua. “Invasi Road” begitu jurnalis barat menyebut jalan itu. Jalan yang dibangun oleh Tentara dan Polisi sekaligus menandai program ABRI Masuk Desa. Infiltrasi dan eksfiltrasi selama perang berlangsung juga melalui jalan itu. Dari sana pulalah “The Blue Jeans Soldier” memulai aksinya dan selalu meninggalkan untold story bagi generasi berikutnya. Operasi Seroja lebih mendekati operasi intelijen terpadu daripada operasi militer. Prestasi, pangkat dan jabatan serta kisah-kisah heroik diperoleh sebagian orang sementara banyak orang harus meratapi kegetiran nasib.

Pagi hari 30 September 1999, Kamis Pon jam 9 tepat Waktu Indonesia belahan Timur, Provinsi Timor Timur dipaksa lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Lepas karena campur tangan negara-negara besar yang secara sistematis menekan pemerintahan kami baik dari segi ekonomi, politik dan militer. Dengan teganya mereka memboikot perdagangan dan embargo alutsista militer di saat-saat negaraku sedang mengalami krisis multidimensi yang melelahkan. Di kancah internasional, mereka tak henti-hentinya berkampanye tentang status Timor Lorosae. Perang Psikologispun berlangsung. Ironisnya dari dalam negeripun sekelompok orang yang mengaku cerdik cendekia ikut menyuarakan kemerdekaan bagi provinsi termuda itu. Ada apa dengan kalian? Mana jiwa ksatria? Rupanya mereka memilih berperan sebagai Gunawan Wibisana yang dengan tega mengorbankan wilayah tanah air diacak-acak oleh agresor. Mengapa tidak memilih menjadi Kumbakarna? “Baik buruk ini adalah negaraku, setiap ada ancaman asing akan kuhadapi!”.

Ibu pertiwi sedang menangis, setelah terjungkalnya rezim otoriter akibat krisis moneter 1997, setiap saat negeri ini selalu diwarnai guncangan aksi-aksi demonstrasi anarkis yang tak berujung pangkal, provokasi-provokasi dari LSM yang didanai pihak asing, pemberitaan media informasi yang tak berimbang sampai aksi-aksi mahasiswa yang ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu bahkan rongrongan gerakan separatis di beberapa daerah atau konflik horisontal bernuansa SARA semakin menambah lemah negeriku. Kejahatan tradisional dan kejahatan modernpun muncul berdampingan tanpa ada penegakan hukum yang dapat memberi efek jera. Para pemimpin yang seharusnya menjadi suri tauladan tidak dindahkan lagi oleh rakyat. Tentara dan Polisi yang mengawal jalannya reformasi justru dihujat dan dicaci. Euforia yang kebablasan!

Dan yang hampir sukar di nalar, berkembang isu bahwa di perairan Selandia Baru sejumlah pasukan tempur multinasional bersiap-siap memasuki wilayah Indonesia jika nasib Timor-Timur benar-benar berlarut. Fakta akan selalu berkata jujur, bahwa sudah terlalu banyak bangsa Indonesia berkorban demi sejengkal tanahnya, begitu banyak harta, jiwa dan raga yang telah diserahkan. Putra-putri terbaik bangsa berguguran demi semangat nasionalisme menjaga keutuhan Timor Lorosae setelah disyahkannya Deklarasi Balibo yang dimotori oleh Amerika Serikat berdasar ketakutannya terhadap komunis di Pasifik. Lepasnya Timor-Timur adalah suatu pelajaran yang sangat berharga, bahwa negeri ini secara Geopolitik dan ekonomi sangat diperhitungkan oleh kekuatan asing. Bangsaku yang besar, negeriku yang sentosa sering kudengar saat dongeng menjelang tidur.

Timor Lorosae selamat berpisah semoga kebersamaan selama ini akan menjadi kenangan yang terindah dalam perjalanan bangsa Indonesia, sampai jumpa di lain waktu. Hati nuranimu akan selalu berkata jujur bahwa kami telah merawat dan membesarkanmu dengan sekuat tenaga meskipun kelak sejarah yang kau tulis dapat saja bertutur lain.

Dari pemberitaan televisi terlihat mantan para pelaku perang dari kedua belah pihak saling bersalaman bahkan berangkulan mesra bak kawan lama padahal dulunya mereka saling bermusuhan. Perang telah usai! Tidak ada lagi pahlawan dan pengkhianat. Takkan ada lagi sebutan pejuang dan pemberontak!

Air mata para mantan pejuang Seroja dan keluarganya bercucuran! Mungkinkah terharu, kecewa ataupun marah? Entahlah, sebuah resiko yang harus dijalani. Kakak sulungku seorang guru harus kehilangan anak dan istrinya karena teror orang tak dikenal selama integrasi. Kakak kedua mendapat penghargaan Kopral Anumerta. Berkat pengorbanannya sang Komandan mendapat promosi jabatan. Perang untuk siapa? Jawaban jujur tentu beraneka ragam.

Pantulan cahaya bulan yang menerangi rerumputan, seakan-akan memantul padaku. Kulirik Sonia di samping sedang termangu menatap kerlap-kerlip lampu taman kota. Tiada kata-kata yang perlu kami perbincangkan lagi, bibir kami membisu mungkin hanya hati yang bicara. Malam bertambah temaram! Perlahan kuberanjak dari bangku taman. Kugerakkan tanganku untuk kesekian kalinya mendorong kursi rodamu, persis ketika kita masih di bumi Lorosae. Terima kasih Tuhan…, walaupun kami lahir dan tumbuh dalam lingkungan berbeda, tetapi lewat kasih-Mu kami bisa bersahabat tanpa ada prasangka suku, agama, ras dan golongan. Kursi roda pemberian ayah ketika kau divonis lumpuh menyiratkan pesan bahwa kami tidak akan pernah terpedaya oleh kotak-kotak golongan yang telah diciptakan oleh manusia. Seringkali kita terjebak dalam sekat “Siapa Aku Siapa Dirimu”, sehingga membentengi serta menghalangi kita sebagai khalifah di muka bumi untuk berbuat baik kepada sesama tanpa pamrih.

Kilauan bintang-bintang di angkasa raya ikut menyaksikan kami menyusuri jalan sepanjang taman, sungguh gagah dan menawannya kalian, bertengger di ketinggian dan takkan ada yang bisa menjamahnya. Ingin kupetik salah satu, akan tetapi kalian semakin meninggi hingga semakin sulit kugapai. Seandainya kalian bisa bersuara mungkin saat ini sedang menertawaiku, menertawai apa yang sedang kupikirkan. Pungguk merindukan bulan dan bintang. Kopral Putra Angkasa Nata Negara trah terakhir Sumedang Larang.

“Mengapa kau memilih mendaftar tamtama? Mengapa tidak mendaftar perwira?”
“Tidak!”
“Kau takut menjadi pemimpin?”
“Pemimpin adalah panutan bagi bawahan segala tindak-tanduk adalah cermin bagi bawahan!”
“Lantas?”
“Aku akan lebih siap menjadi tamtama dan memimpin diriku sendiri!”

Dialog itu terngiang kembali, dibawah guyuran hujan deras di teras depan rumah, dua pemuda Ramos Matanruak dan Putra Angkasa. Ramos sahabatku, pemuda polos lagipula sederhana itu kini menjadi jenderal militer Timor Leste yang disegani sekaligus dihormati.

“Adigang, adigung, adiguna takkan pernah ada dalam kamusku Putra Angkasa!” Kubaca pesan singkatmu di ponsel, hmm … mungkin Sonia telah memberikan pin dan nomerku padanya. Adigang, adigung, adiguna sebuah filosofi jawa yang dulu pernah kuperkenalkan padanya. Jika seseorang telah mencapai kesuksesan kadang-kadang dapat tergelincir merasa tinggi, merasa terhormat dan merasa dapat berbuat apa saja. Ironisnya di antara mereka dulu banyak yang berasal dari keluarga kere alias miskin, makanya ada sindiran “Kere munggah Bale”. Orang miskin yang naik kasta dan tak tahu diri pula.
“Itu khan hanya untuk pria?” tukas Sonia setelah menguping pembicaraan kami.
“Oke.. khusus wanita Adigunawati saja!” kataku tak mau kalah. “Adigunawati sudah mencakup adigang, adigung dan itu lebih dahsyat ketika yang bersangkutan menjadi isteri pejabat alias bisa berbuat semaunya atas restu suami!”
“huuuu..!” kompaknya paduan suara saudara kakak beradik itu. Kebetulan atau tidak, setelahnya kilat dan guntur menggelegar.

Langit hitam nun jauh di atas sana, banyak bintang bertaburan namun yang bersinar hanyalah satu. Malam inipun aku masih mengantongi sepucuk surat darimu beberapa hari yang lalu. Sonia… 13 tahun sudah kita tak pernah bertemu, dan adalah hal yang tak pernah kuduga bahwasannya dengan kehendak Tuhan saat ini kita dipertemukan.
“Selamat jalan Om dan Sonia”. Sepenggal kata dariku malam ini juga, setiba mengantarnya di lobby hotel. Sampai jumpa lagi entah kapan. Terlalu banyak kenangan di bumi Lorosae dan takkan begitu saja terhapus dalam memoriku. Saat-saat bersama suka dan duka dengan orang-orang yang penuh kasih, juga dengan mantan pejuang-pejuang integrasi dari berbagai kalangan yang kini terlupakan. Salam Mahidi, Mati Hidup Demi Indonesia.

Sekian

Untuk para generasi muda jangan sekali-kali melupakan sejarah.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.134.32
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia