Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang Koruptor

Dua lelaki berpakaian coklat tua mengapit lelaki separuh baya menuju kamar tidur berkuota 5 orang tetapi sesak di jejali penghuni tiga kali lebih banyak dari kapasitas standar sebenarnya, saat salah satu dari lelaki berseragam membuka grendel-grendel pengaman yang mengamankan penghuni kamar, kepala lelaki setengah baya itu tegak, menoleh ke arah ruangan di sudut deret bangunan tempat aku berdiri, tersenyum lalu menganggukkan kepala kepadaku sebelum menghilang di balik jeruji.

Segurat senyum menghiasi sudut wajahku membalas senyuman dari lelaki itu, tapi aku tahu dia tidak melihatnya, karena serombongan lelaki berpakaian coklat melintas di antara jangkauan pandang kami memecah situasi melodrama yang bila di telenovela korea biasanya dapat jatah scene 10 detikan lebih karena di slow motion dan sudut pengambilan sudut gambar bisa lebih dari 8 titik. Karena moment itu sungguh berkesan, bermakna dan sarat penafsiran.

“Ayah, aku bangga padamu.” Hanya kata itu yang mampu menggumam di bibirku mewakili gejolak yang muncul sporadis.

Aku membalikkan badan, karena sosok yang tadi tersenyum dan tak lain adalah ayahku sendiri tersebut sudah tidak terlihat karena blok tahanan tertutup gelapnya bayangan dinding tinggi lembaga permasyarakatan. Aku berjalan keluar, mengarah ke gerbang besar pembatas bui dengan dunia luar, dunia kita, dunia kebebasan.

Segerombolan pewarta menyambutku, beberapa ku kenal baik, beberapa lagi baru pertama ku lihat termasuk 3 lelaki yang membawa kamera plus microphone berlabel televisi.

“Apa langkah keluarga besar anda menyikapi pengakuan mengejutkan di persidangan tadi..?”
serbuan pertanyaan di mulai..
“apakah ada bocoran mengenai siapa saja yang terlibat?”
“Bagaimana bila massa pendukung dari orang-orang yang di sebutkan namanya itu tidak terima..?”
“Seandainya..”
“Apabila…”
“…”

Aku tak menjawab, hanya tersenyum dan terus berjalan menerobos kerumunan yang haus informasi itu menuju vespa tua satu-satunya sisa dari kekayaan orang tuaku yang tidak ikut di sita KPK, entah karena mereka menilai secara taksiran vespa uzur ini tidak layak dan tidak punya nilai jual atau mereka tahu sejarah keberadaan vespa itu yang di era awal reformasi mengawal sepak terjang aktivis terkenal yang kini tersandung.

***

Aku masih ingat sekali, saat ayah menghilang selama 2 minggu sebelum presiden yang ku anggap tidak akan pernah terganti itu lengser, aku masih es-em-pe saat itu. Dua hari setelah gedung kura-kura raksasa hijau di senayan sepi dan lepas dari pendudukan pemuda dan mahasiswa ayah kembali. Kepalanya berbalut perban dan wajahnya terlihat lelah dengan memar di sana-sini. Aku berlari memeluknya saat sosok lusuh itu muncul di depan pintu rumah.

“Ayah tidak apa-apa?” serbuku di sela tangis

Dia tersenyum dan berkata “Jangan cengeng.. inilah resiko dari perjuangan, ayah mau makan dan bersih-bersih dulu, tolong panas-kan vespa ayah, masih banyak yang harus ayah kerjakan.”

Ayah melepaskan pelukannya sembari melanjutkan,

“kalau om Subur datang, suruh tunggu dan suruh ibumu buatkan kopi.” Ayah langsung berlalu ke ruang dalam di sambut histeris dan ledakan tangis ibu. Aku termangu di tempat ku berdiri merasakan sensasi haru sekaligus bangga yang begitu berbeda.

Vespa ini intim mengawal ayah, di awal-awal sepak terjangnya di dunia kami yang baru. Vespa ini kemana-mana membawa pesan-pesan pergerakan dan niat mulia membenahi republik ini. Ayah dan vespanya adalah legenda sebuah perjuangan politik mazhab reformasi yang kemudian bertransformasi menjadi kenyataan sekarang ini.

Selain vespa, ada satu sosok lagi yang ikut berperan, sosok itu adalah om Subur, lelaki yang biasa ku buatkan kopi kental, sosok ambisius dan guru politik serta starter pergerakan di mana ayah menjadi salah satu pilar.

“akan jalan di tempat dan bahkan berhenti di sini bila agenda ini tidak dilanjutkan, kawan-kawan di Jakarta berencana masuk ke parlemen, berada di luar sistem tidak banyak kontribusi positifnya bagi perubahan yang kita perjuangkan, berakhirnya orde baru hanya awal, pemilu di depan mata, orang-orang pergerakan harus masuk ke sistem agar maksimal.” Sayup-sayup suara bersemangat om Subur menyentuh gendang telingaku yang sedang belajar di kamar tidur, beberapa bulan setelah itu

Aku menghentikan aktifitas dan ikut mendengarkan diam-diam obrolan om Subur, Ayah, dan beberapa temannya di ruang tamu.

“Drafnya sudah siap, orang-orang kita pun sudah setuju kita bergabung ke partai ini, pembentukan DPD tinggal menunggu hari, kamu di butuhkan di sini.” Seorang lagi bersuara.

“Sebagai apa? Dan seberapa efektif peran saya di dalam?” Ayah bersuara

“Sebagai Ketua, kami teman-teman mahasiswa mendukung, karena itu kami ke sini.”

“Tidak adakah jalan lain selain masuk ke sistem?” ayah bertanya ragu

“Inilah kesempatan kita untuk berbuat, bukan hanya sebagai penyuara dan pengkritik sistem dan koar-koar di media dan di setiap aksi, berharap ini itu, tapi relevansinya apa? suara kita di tampung saja, tidak ada perubahan, sistem dan birokrasi mengganjal setiap keputusan. Kita akan semakin tua kawan, kita tidak bisa bergerak dari satu aksi ke aksi, tindakan nyata harus di ambil, dari pada kita yang meminta keputusan lebik baik kita yang membuat keputusan. Dan sarana menuju ke sana telah siap dan matang.”

Lama suasana hening, sebuah kalimat menghentikan diskusi

“Baik, beri saya waktu 2 hari utuk memikirkannya.”

Dan semuanya pun di mulai. Mendapatkan suara terbanyak di pemilu legislatif pertama era reformasi mengantarkan Ayah menduduki posis teratas di jajaran legislatif kota tempat ku di besarkan.

Om Subur tidak seberuntung ayahku, mandek di legislatif dia mengambil langkah startegis menembus eksekutif. Benturan hebat di lingkaran lama mendorong nya bersama beberapa kologa sejawat menerapkan kesempatan yang diberikan undang-undang otonomi dengan membentuk daerah tingkat dua baru. Kabupatenku ini. Ayahku juga terlibat dengan kapasitas dan kemampuan aksesnya di tingkat lobi dan pansus pemekaran.

Aku kembali ingat saat om Subur berkata di suatu malam.

“Satu-satunya jalan agar korupsi dan birokrasi njelimet di negeri ini musnah adalah menghentikan segala bentuk gratifikasi, termasuk pungutan saat masuk CPNS, nota fiktif, dan fee-fee proyek di cut off sejak awal, tradisi sehat itu mesti di mulai, dan itu harus bersumber dari pemegang kekuasaan. Pemimpin. Aku menginginkan posisi itu. Karena itu visiku. Kau, dukung aku di dewan.” Singkat padat jelas langsung menohok, serbu om Subur.

Aku tidak mendengar jawaban dari ayahku. Hanya desah nafas panjang tanpa iya dan tidak. Aku mengartikan itu adalah iya.

Dan dugaanku benar adanya, sepak terjang kedua partner itu semakin menggila. Dalam proses nya bukan hanya terjadi pergeseran prinsip dan pandangan, lebih jauh makin mengarah kepada Transkulturasi paradigma dalam pelaksanaannya, aku melihat ayah sedikit tidak nyaman dalam pelaksanaan karena sering terjadi friksi antara kebijakan dan pandangan, terutama bila dikaitkan dengan nurani.

“Inilah konsekwensi sebuah perang kawan, selalu ada korban. Seorang Mao Tze Dong mengorbankan ratusan ribu rakyat China lama untuk membentuk China baru, China yang sekarang, China yang gemilang. Kita tidak mesti mengorbankan sesuatu yang se-ekstrim itu, hanya sedikit mengesampingkan pandangan politik pribadi demi kepentingan yang lebih besar bijak dibutuhkan dalam masa transisi ini.”

“Tapi prinsip yang satu itu yang membawa kita hingga ke level ini, cita-cita pergerakan menghapus semua tradisi korupsi, kolusi dan nepotisme. KA-KA-EN, tiga huruf itulah yang menjadi akar dari gerakan reformasi, amanat itu masih menjadi acuan, bukan malah meleburkan diri”. Sanggah ayah.

“Dengan bertahan dengan prinsip itu, kita tidak akan pernah keluar dari kotak, apa yang dapat kita lakukan bila pemerintah pusat meng-anaktiri-kan kita, kabupaten kita. Tangga birokrasi hingga ke kementerian memaksa kita mengikuti tradisi ini. Bukan berarti kita sependapat, namun keluar dari jalur terlalu ekstrim akan melemparkan kita keluar dari jalan besar, kita sedang membangun daerah ini. Berikan apa yang semestinya masyarakat dapatkan, masyarakat butuh pembangunan di segala sektor, dan itu butuh biaya besar, untuk sementara kita hanya bisa mengandalkan pos-pos anggaran dari pusat, bila tidak kita ambil, kita akan tertinggal. Idealis boleh-boleh saja, tapi jangan lupakan ada perut yang juga mesti di isi makanan, dan masyarakat kita juga berperut, dari petani, buruh, pegawai, semuanya berperut. Dan sejatinya perut merekalah yang kita fikirkan, kita perjuangkan.”

“Juga perut penyokong mu, kuperhatikan perutnya jauh lebih besar dari perut rakyat-rakyat jelata-mu”. Nada sindiran tergambar jelas dari suara ayah.

“Naif kau berkata begitu, jangan lupakan kuasanya lah yang menyelamatkan kau dahulu, hingga kau masih bernapas dan tidak tinggal nama seperti rekan-rekan kita yang lain”.

“Mereka berkorban untuk apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka dan kita yakini, ingin aku berada di antara salah satu dari mereka”. desis ayah

“Tidak cukup hanya dengan menjadi martir, era itu telah habis, buka matamu, perjuangan kita jauh lebih berat saat ini, itu faktanya, kita sudah coba dengan berada di luar, tidak banyak membantu, sekarang kita sudah berada di dalam, cobalah untuk beradaptasi dan kita selesaikan apa yang sudah kita mulai, setidaknya sampai periode berikutnya, minimal kita berdua tau makna dari balas budi”.

“atau, kosakata itu sudah tidak ada lagi di kamusmu?” lanjut om Subur
“balas budi?”

“ya, kecuali kau bukan laki-laki!”.

Ayah selalu terdiam dengan dasar-dasar logika sosial om Subur. Begitupun kali ini. Lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya menjawab.
“Baiklah, kuikuti maumu. Sekali lagi setelah banyak kali yang kuikuti, terserah kau bilang ini idealis, tapi pada dasarnya ini adalah prinsip!, prinsip yang membuat kau dan aku bisa berada di tataran ini. Muak aku mengikuti kehendak politikus-politikus itu, karena kau yang meminta, sekali lagi aku pasang dada. Dan hutang budi itu lunas!”

Ku dengar om Subur tertawa, “Apa kau lupa kalau engkaupun sekarang seorang politikus? Di mana bumi di pijak di situ langit di junjung kawan, ha ha.. sudahlah, aku atur semuanya besok, tiap paket ke komisi dan banggar kuserahkan kepadamu, mekanismenya bagaimana ku kembalikan kepadamu, aku tau kau punya cara sendiri mengalokasikannya bagaimana.. Aku pamit dulu. Salam ke orang rumahmu dan si Derto”.

***

Gedung pengadilan itu masih ramai, aku tidak berhenti hanya melewatinya, sekelompok kecil massa yang di luar gedung melihat ke arah vespa dan menyadari siapa penunggangnya, beberapa berteriak selebihnya mengumpat, namun tak ku gubris, tangan kiriku menurunkan perseneling sehingga suara mesin mendengung kaget sebelum menderu dengan kecepatan lebih.

Di depanku berdiri rumah mewah bergaya mediterania dengan pilar-pilar besar menopang struktur bangunan 3 lantai di atasnya. Itu rumah Om Subur, lengkapnya plus title H.M. Subur Abadi SH.MM, Bupati terpilih Kabupaten Muara Baru. Rumah itu ramai, terutama setelah apa yang terjadi tadi di ruang pengadilan.

Ayah memilih membacakan sendiri hak yang diberikan hukum perundang-undangan negeri ini kepada seorang terdakwa sepertinya. Dalam pleidoi yang bisa dikatakan bukan merupakan suatu pembelaan, namun nyata sebuah pengakuan.

“Perang terhadap korupsi, kolusi dan Nepotisme adalah perang kita bersama, setiap langkah keputusan strategis dalam ruang ketata negaraan kita tidak lepas dari mekanisme struktural yang mengikat, baik dalam system kelembagaan maupun tradisi kelembagaan. Reformasi emosional yang tidak tersistem membawa banyak sisa-sisa persoalan, dalam melegitiminasi terkadang kita mesti mengikuti tradisi”.

“Saya Abdi Mahardika menyatakan bahwa hal yang di dakwakan kepada saya, tidak sepenuhnya benar, namun saya mengakui bahwa ada sejumlah paket dana yang di bagiakan oleh saya sendiri kepada sejumlah orang demi memuluskan pengesahan anggaran dan itu saya sadari hal tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum, apapun alasannya!”.

Ruang sidang bergemuruh, hakim ketua terpaksa menggebrak meja sidang dengan palunya untuk menenangkan massa.

“Saya hormati hak hukum yang diberikan kepada saya untuk membela diri, namun biarkan saya menunaikan kewajiban saya untuk bertanggung jawab kepada masyarakat atas amanah mereka yang saya lencengkan secara kesatria, inilah hutang budi saya yang sesungguhnya”. Ayah lantas menyebutkan beberapa nama.

Ruang sidang makin heboh, arah pengakuan tersebut sudah sangat jelas mencuil kekuasaan eksekutif dan lingkaran di sekitarnya. Ayah segera di amankan sementara massa kian beringas.

***

Dua hari yang lalu aku menjenguk ayah di tahanan, mengantarkan sambal taucho kesukaannya dan stok sigaret kretek buatan Surabaya satu slop.

“Derto, masih ingat apa yang almarhum kakekmu pesankan dulu saat kamu ketahuan mencuri telur bebek nya?”, Tanya ayah sambil menyalakan sebatang sigaret

“Hahaha.. ingat yah, waktu bulan puasa itu kan?”

“iya..”

“haha.. bagaimana bisa lupa. Kata per kata bahkan” Sahutku sambil tergelak, mengingat telur-telur malang tersebut aku barter dengan mercon cabe untuk dinyalakan waktu tarawih.

“Ayah ingin dengar setiap katanya dari mulutmu”. Pinta ayah sambil tersenyum.

“baiklah..” jawabku sambil pasang gaya menirukan kakek

“Derto, Lelaki itu bukan seseorang yang terus mencari perlawanan dan pembenaran atas apa yang dia lakukan, walaupun kesempatan akan pembenaran itu ada. Berani menyatakan diri salah dan meminta maaf jauh lebih terhormat dan lebih laki-laki..” aku terdiam di akhir kalimat mencoba menerka maksud di balik pertanyaan ayah tadi,

“maafkan ayah atas semuanya”. Ayah menatapku dalam, tampak bias air mata dalam tatapannya

“Dan izinkan ayah kembali menjadi laki-laki”.

***

Air Rambai, Akhir April 2013 04.45

“Malaikat pun dapat berubah menjadi iblis bila terlalu lama berada di dalam neraka”.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.18.114
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia