Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : EMPAT BEREWOK DARI GOA SANGGRENG

Di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya.

Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran. Tiba-tiba sekali suara siulan aneh ini terhenti! Sebagai gantinya mengumandangkan suara tertawa mengekeh di seantero bukit.

Pemuda berpakaian putih yang ada di puncak bukit saat itu memandang ke samping. Sebelum jelas telinganya menangkap suara tertawa tadi sejenis cairan harum telah melesat ke arahnya. Kalau saja dia tidak cepat-cepat melompat ke belakang pastilah sebagian mukanya kena disambar cairan itu. Cairan yang tak mengenai si pemuda baju putih rambut gondrong ini menghatam pohon besar. Bukan olah-olah hebatnya semburan cairan aneh tadi itu!....

Si pemuda sendiri kejutnya bukan kepalang. Baru saja setengah harian berjalan tahutahu sudah ada orang lain yang inginkan nyawanya! Dia memandang ke arah datangnya semburan cairan aneh tadi. Baru saja dia palingkan kepala mendadak dari atas menderulah ratusan tetes cairan tadi laksana air hujan yang deras ditiup badai!

Pemuda itu berseru nyaring dan hantamkan tangan kanannya ke atas. Ratusan tetes cairan itu muncrat kembali ke atas dan ratusan lagi menyibak ke samping. Daun-daun pohon tembus berlubang-lubang sedang batang-batang kayu seperti kena tusukan paku! Gelak mengekeh menggema lagi di seantero puncak bukit. Anehnya si pemuda belum juga dapat mencari dengan matanya, manusia yang telah mengeluarkan suara tertawa itu. Padahal jelas dekat sekali kedengarannya. Hatinya penasaran sekali. Sambil garuk kepala dia memandang berkeliling. Kedua matanya kemudian tertuju lekat-lekat pada sebatang pohon raksasa yang tinggi menjulang ke langit, mungkin lebih dari tiga puluh meter tingginya. Suara tertawa itu datang dari atas pohon tapi orangnya masih tak kelihatan. Mungkin tertutup oleh daun-daun pohon yang lebarlebar dan lebat.

"Manusia di atas pohon!," bentak pemuda itu:

"Kalau berani buka urusan, berani unjuk diri!" Sehabis berkata begitu pemuda itu pukulkan telapak tangan kanannya ke atas. Serangkum angin yang dahsyatnya laksana topan melanda pohon raksasa itu. Ranting dan cabang berpatahan. Daun-daun berguguran. Hampir sekejapan mata saja maka pohon raksasa yang menjulang ke langit itu sudah menjadi ranggas gundul! Dan di puncak batang pohon yang masih utuh kelihatanlah duduk seorang laki-laki tua berselempang kain putih. Karena tingginya pohon itu tampangnya tak kentara betul. Tapi jenggotnya yang panjang sampai ke dada dilihat jelas berkibar-kibar ditiup angin gersang dari pedataran. Pada pangkuannya ada sebuah bumbung bambu yang panjangnya sekira satu meter. Bumbung bambu seperti itu masih ada satu iagi tergantung di belakang punggungnya. Dan kedua bumbung bambu itu berisi tuak murni yang harum sekali dan lezat rasanya. Tuak itulah tadi yang telah disemburkannya kepada pemuda yang di bawah pohon! Pukulan tangan kosong si pemuda yang telah meluruhkan cabang-cabang dan daun-daun pohon mau tak mau akan membuat mental si orang tua berjanggut putih diatap pohon. Sekurangkurangnya akan membuat terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi anehnya saat itu si janggut putih tetap saja duduk enak-enak berpangku kaki di puncak pohon yang gundul itu, bahkan sambil meneguk tuaknya dan tertawa-tawa, seakan-akan tak ada terjadi apa-apa! Bukan main geramnya pemuda itu. Tapi untuk bertindak gegabah dia tidak mau. Manusia tua di puncak pohon tinggi berjanggut putih dengan dua buah bumbung tuak itu pernah diceritakan oleh gurunya waktu dia masih di puncak Gunung Gede. Dia adalah seorang pendekar sakti dari empat puluh tahun yang lalu jarang memperlihatkan diri dan dia adalah golongan persilatan putih, artinya yang mempergunakan ilmu silat dan kesaktian untuk maksudmaksud baik. Tapi mengapa tadi dia telah mempergunakan tuaknya untuk menyerang adalah tidak dimengerti si pemuda rambut gondrong.

"Orang tua!" seru si pemuda. Bibirnya bergetar tanda ucapannya disertai tenaga dalam agar dapat sampai ke puncak pohon raksasa yang tingginya lebih dari tiga puluh meter.

"Kalau aku tidak salah lihat bukankah hari ini aku berhadapan dengan seorang tokoh terkenal di dunia persilatan yang digelari Dewa Tuak?" Orang tua di puncak pohon elus jenggotnya sebentar, teguk tuak lalu tertawa lagi macam tadi.

"Orang muda! Matamu sangat tajam dapat mengenali aku yang sudah delapan puluh tahun ini! Tapi apakah kau mau terima undanganku untuk datang ke puncak pohon ini dan meneguk tuak harum dari Kahyangan bersamaku?" Begitulah. Dewa Tuak menamakan tuaknya dari

"kahyangan". Memang soal rasa dan harumnya tuak itu sukar dicari tandingan. Si pemuda tersenyum.

"Orang tua, kau baik sekali. Hari ini aku ada keperluan mendesak. Mungkin di lain kali aku bisa terima undanganmu.... Terima kasih atas kebaikanmu dan sungguh senang rasanya dapat kenal dengan seorang tokoh persilatan yang selama ini namanya dikenal di delapan penjuru angini"

"Ah, kau keliwat memuji, orang muda," jawab Dewa Tuak pula.

"Aku sudah lihat kau sejak dari ujung pedataran gersang sana. Kutunggu kau sampai kesini. Tapi sampai di hadapanku kau menolak undanganku. Mungkin tuakku ini kurang baik? Tidak harum.. .?" Si pemuda berpikir sebentar. Agaknya tak menjadi halangan kalau dia menerima undangan Dewa Tuak dan bicara-bicara dengan orang tua itu di puncak pohon. Mulutnya dikatup rapat-rapat, kedua tangan mengembang ke samping dan kedua kaki menghenjot bumi maka laksana seekor elang melayanglah pemuda itu ke puncak pohon. Puncak pohon itu selebar meja bundar luasnya. Meski tidak beranting dan bercabang serta tak berdaun lagi namun ditempat setinggi itu sejuk juga rasanya.

"Aku terima undanganmu. Dewa Tuak," kata si pemuda seraya duduk disatu bagian yang menonjol bekas patahan cabang pohon.

"He... he... he...," Dewa Tuak girang sekali.

"Memang tak ada ruginya menerima undanganku orang muda. Tuak enak, tempat duduk bagus. Seantero daerah sini bisa kau tihat dengan jelas!" Memang ketika duduk di atas pohon itu si pemuda dapat melihat pemandangan indah sejauh mata memandang. Dewa Tuak segera ambil salah satu bumbung tuaknya dan memberikannya pada tamunya.

"Kau biasa minum tuak, anak muda?". Si pemuda itu menjawab.

"Pernah juga". Padahal seumur hidupnya baru hari itu dia melihat dan membual serta akan merasakan minuman yang bernama tuak itu. Disambutinya bumbung bambu itu dari tangan Dewa Tuak sementara Dewa Tuak mengambil bumbung yang satu lagi dia masih juga berpura-pura menikmati pemandangan sekelilingnya.

"Ayo orang muda, silahkan minum!". Dewa Tuak memperbasakan:

"Kau harus tahu, tuakku tuak murni. Kalau belum biasa nanti kau bisa mabuk atau pusing dan menggelinding dari pohon ini!" Si pemuda tertawa. Ditempelkannya bibimya ke tepi bumbung bambu. Sedikit saja tuak itu menjalari tenggorokannya maka seluruh badannya menjadi hangat, pemandangannya menjadi jernih sedang pikirannya terasa tenang!

"Bagaimana rasanya?".

"Tuakmu betul-betul bagus sekali, orang tua. Tak salah kalau kau namakan tuak dari kahyangan!" Dewa Tuak tertawa senang.

"Kau ini datang dari mana, anak muda?".

"Barusan dari Jatiwalu...".

"Jatiwalu kampung jelek. Banyak rampok...," kata Dewa Tuak pula.

"Dan rampoknya orang situ-situ juga" Si pemuda berpikir kalau Dewa Tuak tahu apa yang terjadi di Jatiwalu kenapa dia tidak turun tangan? Dewa Tuak agaknya maklum apa yang terpikir oleh si pemuda. Lantas dia berkata:

"Aku malas dan bosan dengan urusan-urusan tengik macam begituan. Karenanya kubiarkan saja apa yang terjadi di kampung itu. Orang kampung sana agaknya tidak mau perduli dengan nasib mereka. Lebih senang ditindas. Nanti keadaan di sana akan baik sendirinya..." Dewa Tuak meneguk tuaknya kembali. Setelah diam beberapa lamanya bertanyalah si pemuda:

"Dewa Tuak, apakah pohon besar ini tempat kediamanmu?"

"Kenapa kau tanya begitu?"

"Karena kalau betul berarti aku yang muda telah turun tangan semena-mena membuat pohon ini jadi gundul begini! Dan aku harus haturkan maaf kepadamu... !" Dewa Tuak tertawa mengekeh sampai tuaknya berlelehan di tepi mulut.

"Aku senang pada pemuda macammu. Tak percuma satu tahun aku duduk di sini menunggu. Kau cocok buat jodoh muridku!" Dewa Tuak meneguk tuaknya lagi tapi sambil meneguk matanya melirik pada si pemuda. Akan tetapi si pemuda tentu saja kagetnya tiada terkira, mendengar ucapan DewaTuak itu. Mukanya merah karena jengah. Rupanya dunia ini terlalu banyak manusia-manusia aneh, pikirnya. Diteguknya sedikit lagi tuak harum dalam bumbung. Kemudian bumbung bambu itu diserahkannya kepada pemiliknya kembali.

"Dahagaku sudah lepas Dewa Tuak. Tuakmu enak sekali. Aku ucapkan terima kasih dan sekarang aku minta diri untuk meneruskan perjalanan.,.."

"Ah, orang muda, matahari masih belum bergeser, angin masih sejuk dan pemandangan indah masih banyak yang belum kau lihat. Kenapa musti kesusu?". Si pemuda tersenyum.

"Kurasa sudah cukup. Di lain hari jika ada kesempatan aku yang muda ini pasti akan membalas undangan serta suguhan tuakmu yang enak itu...". Dewa Tuak letakkan kedua bumbung tuaknya di pungggung. Ditepuknya bahu pemuda itu.

"Kau tak boleh pergi anak muda. Kau musti ketemu dulu dengan muridku. Kau berjodoh dengan dia! Mari kita turun!". Dewa Tuak menarik lengan si pemuda dan keduanya loncat turun ke tanah laksana dua ekor burung rajawali. Tapi sampai di tanah si pemuda segera lepaskan tangannya yang dipegang dengan halus. Dia menjura hormat:

"Lain kali kita bertemu lagi, Dewa Tuak. Terima kasih atas suguhanmu!" Tapi baru saja si pemuda berlalu beberapa tombak, tubuhnya sudah terhenti dan tertarik ke belakang kembali. Seutas benang sutera halus telah melilit pinggangnya. Ternyata Dewa Tuaklah yang empunya benang itu dan menariknya.

"Anak muda, aku sudah bilang kenapa buru-buru. Kau belum ketemu dengan muridku... Mari..." Kalau bukan berhadapan dengan Dewa Tuak mungkin si pemuda sudah keluarkan semprotan memaki. Namun saat itu dengan menahan hati berkatalah si pemuda:

"Dewa tuak, kita baru saja berkenalan hari ini. Manusia bodoh dan jelek macam aku ini mana pantas dijodohkan dengan seorang murid pendekar besar macam kau! Masih banyak lain orang yang lebih pantas!" Pemuda itu hendak berlalu lagi tapi benang sutera halus itu masih juga meliliti pinggangnya. Meneliti sutera halus itu si pemuda bukan tak mampu untuk memutuskannya. Tapi dia khawatir itu akan membuat Dewa Tuak tidak bersenang hati. Sementara itu didengarnya Dewa Tuak mengeluarkan Suara suitan aneh. Sesosok bayangan ungu muncui di hadapan pemuda itu dan nyatanya adalah seorang gadis berpakaian ungu dan berpita ungu. Metihat paras gadis ini mau tak mau pemuda rambut gondrong itu tertarik juga.

"Orang muda? Kau lihat sendiri. Muridku toh tidak jelek?! Bagaimana...?" Paras si pemuda jengah sekali. Gadis baju ungu lebih lagi. Ditundukkannya kepalanya sampai dagu dan dadanya hampir menempel.

"Muridmu memang cantik Dewa Tuak," kata si pemuda.

"Tapi tampangku yang terlalu buruk sehingga tidak cocok! Sebaiknya cari pemuda yang dia sukai sendiri. Dewa Tuak. Selamat tinggal!" Habis berkata demikian si pemuda sentil benang sutera yang melilit pinggangnya. Benang itu putus!

"Pemuda geblek! Dikasih perawan malahan kabur!," maki Dewa Tuak. Dia berseru:

"Hai pemuda! Tunggu dulu! Kau masih belum terangkan nama!". Orang tua ini keluarkan segulung tali rotan dan dilemparkannya ke arah pinggang pemuda yang tengah larikan diri. Si pemuda yang tahu dirinya hendak dilibat kembali pukulkan telapak tangan kanannya ke belakang. Sesiur angin kencang menderu deras, menahan lontaran tali rotan, terus menyambar ke arah si orang tua. Dewa Tuak terpaksa loncatkan diri ke atas karena maklum angin yang datang menyambar itu bukan angin biasa. Sambaran angin memberantakkan semak-belukar rendah kemudian menghantam pohon kayu besar.

"Krak" Tak ampun lagi pohon raksasa itu tumbang patah dua dengan suara berisiknya hampir terdengar di seluruh lereng bukit. Dewa Tuak geleng-gelengkan kepalanya.

"Sayang... sayang...," katanya.

"Sayang aku tak dapatkan itu pemuda...". Ketika dia memasukkan tali rotannya ke balik pakaiannya, orang tua ini terkejut. Pada bagian pohon besar yang masih berdiri di tanah tapi akar-akarnya hampir berserabutan ke luar, kelihatan tertera tiga buah angka 212. Dewa Tuak memandang pada gadis baju ungu disampingnya lalu memandang lagi pada tiga buah angka dibatang pohon dan leletkan lidah kemudian merenung. Tiga deretan angka itu telah menggemparkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tiga deretan angka yang berarti maut bagi kaum persilatan itu golongan hitam! Apakah kini angka 212 itu telah muncui kembali?! Dunia persilatan pasti akan gempar seperti masa dua puluh tahun yang lalu! Tapi yang menjadi tanda tanya besar di kepala Dewa Tuak saat itu ialah siapa adanya pemuda gagah tadi. Apakah dia muridnya Eyang Sinto Gendeng? Kalau betul berarti munculnya kembali seorang tokoh gagah dengan gelar:

"Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212..."! Dewa Tuak palingkan kepala pada anak muridnya.

"Anggini! Kau telah lihat kehebatan itu pemuda. Kau musti cari dan kejar dia! Musti dapat! Kalau tidak dapat jangan kembali kepertapaan..."

"Tapi guru..."

"Tidak ada tapi-tapian. Anggini! Kejar pemuda itu. Kau ... dengan jalan apa pun musti bisa ambil dia jadi kawan hidupmu karena dia akan menguasai dunia persilatan dalam waktu yang singkat!" Anggini si gadis baju ungu berdiri termanggu.

"Tunggu apa lagi?" tanya gurunya. Gadis ini tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan segera meninggalkan tempat itu ke jurusan lenyapnya si pemuda yang telah menerakan angka 212 pada batang pohon!

– == 0O0 == -- Sang surya sudah lama bergeser ke ufuk barat. Warnanya yang tadi demikian terik menyilaukan kini memudar merah kekuningan seperti tiada sanggup menahan diinya dirampas oleh kedatangan sore. Sore yang akan dirampas oleh senja dan senja yang akan bertekuk lutut di pintu malam. Jalan yang ditempuh pemuda itu semakin sukar. Berliku dan menanjak. Di kiri kanan senantiasa mengapit batu karang putih yang tiada berubah dari zaman ke zaman atas kerasnya. Mendadak dari puncak batu karang di sebelah timur melengking suara suitan aneh yang menusuk sepasang gendang-gendang telinga si pemuda. Dengan waspada pemuda ini putar kepala dan mendongak ke atas. Puncak karang itu tingginya sekira dua puluh lima tombak. Curam dan terjal sukar didaki. Tapi mata si pemuda yang tajam dapat melihat bekas cungkilan-cungkilan pada sepanjang lereng karang mulai dari bawah sampai ke atas. Cungkilan-cungkilan itu merupakan tangga penolong. Meski demikian, jangan harap manusia biasa bisa mempergunakannya. Sekali tergelincir tubuh akan amblas ke bawah, ditunggu oleh unggukan batu karang runcing!

Suara suitan aneh itu terdengar lagi lebih keras dan nyaring dari yang pertama. Dan sesaat mata si pemuda berputar kembali ke puncak batu karang itu dia terkejut melihat kemunculan seorang tua bermuka brewok yang kaki kanan dan tangan kanannya buntung. Anggota badan yang buntung ini disambung dengan kayu. Pada ujung kayu dari lengan menancap sebuah benda berbentuk arit yang bergemerlap ditimpa sinar matahari di ambang sore itu! Di tangan kirinya ada sebuah tongkat biru dari besi murni. Karena puncak karang di mana manusia berewok ini berdiri tinggi sekali maka si pemuda tak dapat mengenali dengan jelas potongan muka orang ini, apalagi tertutup berewok. Hanya samar-samar bisa dilihatnya bahwa manusia ini adalah seorang tua yang bertampang angker. Melihat kepada berewok yang memenuhi mukanya keraslah hati si pemuda bahwa dia sudah dekat ketempat tujuannya. Mungkin juga sudah sampai. Dipandang tajam-tajam demikian rupa, si muka angker berewok juga memandang pada si pemuda secara tajam menyorot. Tapi sebegitu jauh tidak buka suara. Si pemuda yang menjadi tak sabar lambaikan tangan dan menjura hormat sedikit.

"Orang tua, aku yang muda ini mau tanya apakah ini jalannya ke Gua Sanggreng?!". Orang yang ditanya kerutkan kening.

"Bocah gondrong, apakah kau yang dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...?!". Pemuda yang berada di bawah batu karang terkejut sekali. Siapakah orang tua berewok bermuka angker ini? Apakah guru atau kakak seperguruannya Bergola Wungu yaitu musuh yang telah mengundangnya untuk datang ke Gua Sanggreng?.

"Aku merasa tak ada orang yang menjuluk demikian, orang tua...!," menyahuti si pemuda yang tak lain dari Wiro Sableng adanya. . Si muka berewok masih memandang menyorot pada pemuda itu. Memang adalah tak dapat dipercayanya kalau pemuda ini adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karena angka 212 telah menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun yang lalu. Tapi ciriciri yang diterangkan muridnya tentang pemuda ini cocok betul. Akhirnya si berewok bersuit lagi. Kali ini suara suitannya lain dari dua kali tadi. Dan sesaat kemudian muncullah sosok tubuh berpakaian hitam. Orang ini mukanya juga berewok dan Wiro dapat mengenalinya sebagai orang yang dulu telah menantangnya yaitu Bergola Wungu! Kini dia yakin bahwa si kaki buntung itu punya sangkut-paut erat dengan Bergola Wungu. Dari bawah dilihatnya kedua orang itu bercakap-cakap sedang si buntung sekali-kali menunjuk-nunjuk dengan tongkat birunya ke arah Wiro. Tiba-tiba mengumandanglah tawa bergelak dari si kaki buntung. Daerah sekitar situ seperti dirobek oleh suara tertawanya. Sambil tertawa diketuk-ketukkannya tongkat di tangan kirinya ke atas batu karang. Batu karang itu bergetar dan bagian yang kena ketuk lebur menjadi pasir! Kemudian kedua mata orang tua buntung itu kembali memandang tajam pada Wiro Sableng.

"Kalau kau bukan Pendekar 212 palsu pastilah kau muridnya si Sinto Gendeng...: Ah, kiranya kau tak ubah seperti bocah-bocah ingusan lainnya. Tak ubah seperti gurumu sendiri! Bego dan keblinger...!"

"Jaga mulutmu, orang tua!," bentak Wiro marah karena gurunya dimaki. Tapi diamdiam dia juga heran kalau si muka berewok yang satu ini tahu nama gurunya. Melihat kepada umur mungkin kira-kira dia seumur dengan Eyang Sinto Gendeng. Berewok buntung itu tertawa lagi. Tongkatnya diketuk-ketukkannya lagi.

"Muridku Bergola Wungu bicara terlalu hebat tentang kau. Tapi setelah berhadapan muka nyatanya kau hanya kosong melompong! Tadinya mendengar kematian tiga muridku aku ingin mengajaknya bertempur sampai seratus jurus. Hendak kupecahkan kepalanya dengan tongkat biru besi murni ini! Tapi nyatanya dia adalah seorang bocah pitit, masih pantas ngempeng! Pakai baju pun belum becus! Pendekar potongan macammu ini sekali aku ayunkan tongkat saja pasti sudah kelojotan!" Panas hati Wiro Sableng tiada terkirakan. Darah mudanya menggeru dalam pembuluhnya.

"Orang tua!," serunya.

"Bicaramu terlalu sombong! Apakah kau tahu bahwa semut itu sanggup mengalahkan gajah? Apakah kau juga tahu bahwa manusia itu bisa terpeleset oleh sebutir batu kecil berlumut...?!" Si berewok kaki buntung tertawa dingin.

"Barangkali kau belum tahu kebalikan ucapanmu itu, orang muda! Tahukah kau bahwa semut itu sekali dipijak oleh gajah akan mejret amblas ke dalam tanah?! Tahukah kau kerikil kecil itu kalau ditendang akan mental jauh tiada daya?" Wiro Sableng keluarkan suara mendengus dari hidung.

"Kadangkala manusia keliwat pintar jadi bicara terbalik-balik macam kau!," sahutnya.

"Tapi tak apa... aku tak ada urusan dengan kau. Biar aku bicara dengan Bergola Wungu!". Si orang tua tertawa berkekeh.

"Jangan sebut soal tak ada urusan, geblek! Muridku mati tiga orang..."

"Bukan aku yang bunuh...!".

"Tapi kau turut bertanggung jawab!" Menukas Bergola Wungu.

"Buset!," kata Wiro."Di depan hidung gurumu kau bisa buka bacot keras Bergola! Aku sudah datang untuk menerima tantanganmu!" Bergola Wungu tertawa mengejek.

"Ini bukan Gua Sanggreng, Wiro! Bukan di sini ajalmu harus kau pasrahkan!"

"Keren betul kau Bergola! Manusia kalau sudah lupa nasib memang persis macam kau! Kau tahu bahwa kau dulu anak kampung Jatiwalu kentut?! Yang sekarang punya sedikit ilmu lantas jadi kepala rampok! Tapi lantas menantang aku dengan lari kepada gurunya? Kalau aku jadi kau lebih baik terjun dari atas puncak karang itu ke bawah, mampus bunuh diri!" Merah muka Bergola Wungu sampai ke telinga dan ke kuduk. Mulutnya terkatup rapat. Gerahamnya bergemeletakkan. Namun tak ada suara jawaban dari dia. Maka berkatalah si berewok tua kaki buntung.

"Bocah 212, karena kau bicara begitu congkak tentu kau punya sedikit ilmu yang diandalkan. Aku yang sudah tua ingin sekali bertukar pengalaman!". Wiro Sableng tertawa-tawa.

"Kau yang sebenarnya congkak orang tua! Apakah umurmu yang sudah bangkotan itu masih belum cukup puas untuk melakukan pertempuran? Tapi kalau kau berkeras hati mau iseng-iseng tukar pengalaman katamu, aku yang muda tidak keberatan...." Wiro gosok-gosokkan telapak tangannya satu sama lain

"Tapi aku ingin tahu nama dan siapa kau lebih dahulu.:..". Si orang tua kembali tertawa macam tadi yang menggetarkan seantero daerah batu karang itu.

"Aku adalah penghuni Gua Sanggreng yang sudah empat puluh tahun malang melintang dalam rimba persilatan! Kau dengar itu bocah? Dan kalau kau perlu tahu namaku... akulah yang bernama Bladra Wikuyana Angin Topan Dari Barat!".

Tentu saja Wiro Sableng terkejut mendengar nama asli serta nama julukan si berewok kaki buntung itu karena dari gurunya dia mengenai bahwa Angin Topan Dari Barat adalah satu tokoh persilatan sakti yang memimpin sebuah perguruan di Jawa Barat, yang namanya cukup tenar tapi dicurigai adalah kaki tangan golongan hitam (golongan jahat). Namun demikian pemuda ini sama sekali tidak unjukkan paras kecut. Malah dia tertawa bergelak:

"Julukanmu hebat juga, orang tua! Tapi setahuku angin itu hanyalah satu benda kosong belaka dan berbau busuk bila ke luar dari pantat!" Bladra Wikuyana bersuit marah.

"Bocah setan! Kau berani kurang ajar terhadap Angin Topan Dari Barat! Terima ini...!".

"Wuuuuuutt"! Tongkat birunya disapukan ke bawah! –

– == 0O0 == -- Angin sedahsyat topan melanda Pendekar 212. Pemuda ini balas dengan hantaman tangan ke udara mengirimkan putaran lengan yang mengandung serangkum angin puyuh! Hal yang hebat sekali terjadilah. Dua pukulan angin yang sama mengeluarkan suara mengaung itu begitu bentrokkan menimbulkan letupan udara yang kerasnya bukan kepalang. Bukit-bukit dan puncakpuncak, karang bergetar. Semak-belukar dan pohon-pohon rambas ke tanah. Pukulan angin puyuh Wiro Sableng telah membuyarkan pukulan angin topan dari tongkat Bladra Wikuyana. Namun demikian Wiro Sableng masih kena juga diterpa kipratan angin pukulan lawan sehingga sesaat tubuhnya menjadi limbung huyung! Bladra Wikuyana terbeliak kaget. Hantaman tongkat birunya tadi telah mempergunakan hampir sepertiga bagian tenaga dalamnya. Dia sudah memastikan kalau tidak mampus pastilah sekurang-kurangnya pemuda itu kelojotan muntah darah! Tapi kepastiannya itu tidak berkenyataan. Di bawahnya Wiro Sableng ditihatnya masih berdiri utuh! Maka berserulah Bladra Wikuyana:

"Orang muda! Ilmumu cukup bagus untuk diandalkan! Aku tunggu kau di Perguruan Gua Sanggreng!" Habis berkata begitu manusia ini menarik lengan Bergola Wungu. Sekejapan saja guru dan murid itu lenyap dari pemandangan Wiro Sableng. Si pemuda garuk kepala.

"Tongkat itu hebat sekali!," katanya dalam hati. Tapi dia tak menunggu lebih lama. Segera dia lompatkan diri ke atas puncak karang yang tingginya puluhan tombak itu. Puncak karang itu ternyata licin sekali. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah kakinya akan tergelincir! Wiro memandang berkeliling mencari jejak ke mana larinya kedua orang tadi. Matanya yang tajam segera menangkap bayangan Bladra Wikuyana dan muridnya di balik karang sebelah Timur. Tanpa buang waktu Pendekar 212 segera lompat ke karang yang terdekat. Laksana seekor rajawali demikianlah dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu lenyap di sebuah jurang batu karang yang dalam sekali! Wiro berdiri di tepi jurang batu itu, memandang ke bawah. Untuk melompat turun tidak mungkin. Jurang itu dalamnya lebih dari seratus tombak. Berarti tidak mungkin pula Bladra Wikuyana dan Bergola Wungu lenyap turun ke jurang batu itu. Tapi tiba-tiba Wiro melihat sebuah tangga tali yang kuat di tepi jurang sebelah Selatan. Segera dia menuju ke sana dan memeriksa tangga tali itu. Dia berpikir sebentar, kemudian dengan cepat menuruni tangga tali. Bagian bawah jurang batu itu hampir merupakan pedataran batu yang sedikit sekali tetumbuhannya. Penuh waspada Pendekar 212 segera memeriksa keadaan. Tiba-tiba menggema suara suitan dari arah Utara yang dibalas pula oleh suara suitan dari arah barat. Wiro segera menuju ke Barat! Sementara itu di atas jurang, sesosok tubuh yang sudah sejak lama menguntit Wiro Sableng hentikan langkahnya dekat tangga tali, tak berani terus ikut menuruni tangga tali itu. Wiro berdiri di balik sebuah batu karang berbentuk pilar. Sekurang-kurangnya batu karang itu bisa menjadi tameng baginya dari musuh yang menyerang dengan diam-diam. Dari balik batu berbentuk pilar ini dia memandang ke muka. Tepat di antara dua batang kayu besar yang sangat rendah maka beberapa puluh tombak di mukanya dilihatnya sebuah gua besar. Kemudian didengarnya lagi suara suitan. Kali ini dari sebelah belakangnya. Suitan ini disambut oleh suitan yang menggema ke luar dari dalam gua. Pemuda ini menunggu dengan tidak sabar. Ke mana perginya kedua orang tadi? Apakah masuk ke dalam gua itu? Dan apakah gua Itu yang bernama Gua Sanggreng? Lalu apakah saat itu dia sudah berada di Perguruan Gua Sanggreng? Tiba-tiba terdengar suara suitan yang lebih hebat dari suitan-suitan tadi. Dan Wiro melihat dari mulut gua ke luar dua lusin manusia, semuanya laki-laki, ada yang berewokan ada yang tidak dan semuanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat pinggang kain putih. Pada pinggang masing-masing tersisip sebatang tongkat biru yang sama bentuknya dengan milik Bladra Wikuyana. Keduapuluh empat orang itu membentuk dua barisan panjang mulai dari mulut gua sampai ke pelataran batu. Tak lama kemudian muncullah Bladra Wikuyana diiringi oleh Bergola Wungu.

"Pendekar Kapak Naga Geni 212 tak usah sembunyi di balik pilar! Keluarlah!," seru Bladra Wikuyana. Pemuda itu segera ke luar dari balik tiang batu karang dan berdiri waspada di ujung pelataran.

"Angin Topan Dari Barat! Sandiwara atau tari-tarian apakah yang akan kau pertunjukkan kepadaku?!" Bladra Wikuyana tertawa hambar.

"Dasar manusia tolol! Ajal sudah di depan mata masih juga mau jadi badut! Tahukah kau bahwa siapa-siapa yang sudah masuk ke mari berarti tak ada lagi jalan keluar! Berarti mampus di sini?!". Wiro Sableng menyengir. Katanya:

"Kalau begitu kalian semua di sini juga samasama ikut mampus dengan aku!". Kembali Bladra Wikuyana tertawa hambar. Ditepukkannya kedua tangannya.

"Turunkan tangga tali," perintahnya. Dua orang anak murid Perguruan Gua Sanggreng segera melaksanakan tugas itu.

Bladra Wikuyana berkemik.

"Tangga tali telah diturunkan berarti umurmu semakin singkat. Tapi ada syarat jika kau kepingin hidup terus..."

"Apa?" tanya Wiro Sableng kepingin tahu.

"Berlutut minta ampun di hadapanku dan bergabung denganku!". Wiro Sableng tertawa meledak.

"Muridmu Bergola Wungu menantang aku datang kemari untuk bertempur! Tahutahu kini diajak bergabung, disuruh berlutut malah! Enak betul bikin aturan...!"

"Kalau begitu kau datang ke sini betul-betul untuk antarkan jiwa!" kata Bladra Wikuyana pula. Habis berkata begini dia bertepuk tangan satu kali.

"Bereskan dia dengan gebrakan enam tongkat merenggut nyawa!" bentak Bladra Wikuyana dengan geram sekali. Maka enam orang muridnya segera melompat mengurung Pendekar 212 dengan tongkat di tangan.

"Ketahuilah:.." kata Bladra Wikuyana pula.

"Yang akan kalian hajar itu adalah seorang bocah yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mulai!" Bladra Wikuyana bersuit keras. Keenam muridnya juga bersuit keras dan dengan serentak menyerang Wiro Sableng! Enam larik sinar biru mengambang di udara kian ke mari dalam gerakan yang sangat tak menentu, mengeluarkan suara bersiuran dan kesemuanya menyerang pendekar bertangan kosong itu. Wiro lompat ke udara dan berteriak:

"Angin Topan Dari Barat! Kerapa anak muridmu yang tak ada sangkut paut dengan aku kau suruh.maju? Apa kau tidak punya nyali?!". Biadra Wikuyana menyahut dengan membentak:

"Kalau kau ada urusan dengan salah seorang di sini berarti kau berurusan dengan Perguruan Gua Sanggreng...!" Saat itu keenam murid Perguruan Gua Sanggreng melompat pula ke udara dan menyerang Wiro Sableng dengan sebat. Tapi dengan pergunakan jurus: Belut Menyusup Tanah, maka Pendekar 212 yang diserang oleh mereka telah berdiri di pelataran batu kembali. Maka bentrokkanlah enam tongkat biru itu di udara!

"Tolol," makl Bladra Wikuyana pada murid-murudnya:

"Aku beri kesempatan tiga jurus lagi pada kalian! Kalau tak berhasil merubuhkan bangsat itu kalian musti mundur dan terima hukuman!". Ternyata gebrakan enam tongkat merebut nyawa yang dikeluarkan enam murid Perguruan Gua Sanggreng tadi tidak mampu merubuhkan Pendekar 212. Kini karena takut terima hukuman dari guru mereka, keenamnya segera putar tongkat dengan sebat dan lancarkan enam tusukan pada enam bagian tubuh Wiro Sableng!

"Ciaaat!" Bentakan dahsyat menggema dan menggetarkan jurang batu itu. Bulu-bulu tengkuk anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng meremang, bukan saja oleh kedahsyatan bentakan tadi tapi juga menyaksikan bagaimana enam kawan mereka kini berdiri kaku tegang di tengah pelataran karena tubuh masing-masing sudah kena ditotok lawan. Sedang Pendekar 212 berdiri saat itu berdiri tenang-tenang bahkan bersiul-siul! Rasa tak percaya membuat Bladra Wikuyana buka matanya lebar-lebar. Dan hatinya merutuk. Tiba-tiba dicabutnya tongkat birunya dari pinggang dan disapukannya ke muka. Keenam tubuh muridnya berpelantingan laksana daun kering tapi sekaiigus angin topan dashyat yang keluar dari tongkat ampuh itu telah melepaskan keenamnya dari totokan! Kemudian Pemimpin atau Ketua Perguruan Gua Sanggreng itu berkata pada Bergola Wungu:

"Kau majulah, pimpin semua muridku yang ada di sini! Bentuk-lingkaran pasang surut!". Mendengar ini Bergola Wungu segera melangkah ke muka seraya cabut golok panjang dan bersuit keras tiga kali berturut-turut. Maka dua puluh empat manusia berpakaian hitam-hitam dengan tongkat di tangan di bawah pimpinan Bergola Wungu yang memegang golok panjang segera membentuk dua lapis lingkaran yang disebut lingkaran pasang surut, mengurung Wiro Sableng di tengah-tengah. Gilanya, yang mau diserang malah tetap berdiri tenang-tenang, kemak kemik dan sambil bersiul-siul. Tiba-tiba Bergola Wungu bersuit nyaring. Maka berputarlah barisan lingkaran yang sebelah dalam ke kiri sedang barisan lingkaran sebelah luar berputar ke kanan. Mula-mula lambat pelahan kemudian makin lama makin kencang, makin kencang sampai tubuh kedua puluh empat. manusia berpakaian hitam itu tidak jelas iagi, hanya merupakan bayang-bayang. Debu yang menutupi pelataran menggebu ke atas dan sambil berputar-putar itu Bergola Wungu dan kawankawannya tiada henti berteriak melengking-lengking. Karena putaran dua barisan lingkaran itu makin cepat dan saling berlawanan serta diiringi lengking pekik hiruk pikuk yang memekakkan dan mengacaukan pikiran lambat laun kedua pandangan mata Pendekar 212 menjadi berkunang. Kepalanya terasa pusing. Dia tertegun beberapa jurus lamanya. Dan dua baris lingkaran itu kini kelihatan semakin menciut mendekatinya! Bergola Wungu melihat lawan muiai terpengaruh dengan bentakan lantang menyerbu dan tebaskan goloknya ke kepala lawan yang terkurung ditengah lingkaran. Serangan ini datangnya secara pengecut yaitu dari belakang! Dan Wiro Sableng dalam tertegunnya itu masih juga bersiul-siul seperti orang lupa diri!

– == 0O0 == -- Dia hanya merasakan datangnya sambaran angin dari arah belakang. Lalu cepat-cepat menggeser kaki ke muka, bergerak ke samping dan sambil bungkukkan diri balikkan badan! Golok panjang Bergola Wungu lewat satu setengah jengkal di atas kepalanya, mengibarkan rambutnya yang gondrong!

"Dasar pengecut! Sudah main keroyok menyerang dari belakang!," bentak Wiro Sableng. Kedua tangannya bergerak ke muka untuk merampas golok lawan. Namun hampir hal itu terlaksana, tahu-tahu dua belas ujung tongkat menderu menyerang kedua lengannya.

"Sialan!" maki Pendekar 212 dan terpaksa tarik pulang tangannya sambil hantamkan kaki membabat ke arah beberapa orang pengeroyok dari barisan sebelah muka. Mereka yang diserang tendangan kaki anehnya tidak melakukan sesuatu apa, tapi tiba-tiba dari belakang menyeruak kawan-kawan mereka dari barisan kedua, dan menangkis tendangan Wiro Sableng. Sejurus kemudian barisan muka kembali menyerang dengan dua belas tongkat biru mengarah pada dua belas bagian tubuh Wiro Sableng! Sementara itu dari atas laksana alap-alap golok Bergola Wungu kembati membabat! Ini lah kehebatannya lingkaran pasang surut! Ciptaan Bladra Wikuyana! Dua tahun dia melatih murid-muridnya untuk betul-betul memahami jurus tersebut. Meski belum begitu sempurna tapi hasilnya tidak mengecewakan! Sambil senyumsenyum dia berdiri menunggu saat di mana matanya akan menyaksikan tubuh Wiro Sableng terpancung belasan senjata muridnya, telinganya bakal mendengar pekik kematian pemuda itu! Tapi tiada kelihatan, Pendekar 212 terpancung meregang nyawa di tengah pelataran itu! Tiada terdengar pekik kematian Wiro Sableng! Dengan kecepatan luar biasa yang tiada terlihat oleh mata Bladra Wikuyana maka tahu-tahu Wiro Sableng sudah berada di luar serangan anakanak muridnya, berdiri dengan tenang dan kembali bersiul-siul! Sebenamya pemuda bermata tajam ini sudah dapat melihat di mana letak kelemahan barisan lingkaran pasang surut yang mengeroyoknya saat itu. Dengan merobohkan dua atau tiga orang pengeroyok dari salah satu barisan maka pastilah lingkaran pasang surut itu akan menjadi kacau balau! Bisa juga sebagian atau seluruh pengeroyoknya ditumpasnya dengan hantaman pukulan angin puyuh atau dinding angin berhembus tindih menindih! Tapi ini pemuda inginkan cara lain yang lebih disukainya sendiri. Maka berserulah Pendekar 212.

"Angin Topan Dari Barat! Apakah kau pernah iihat manusia dipakai jadi senjata untuk menyerang manusia...?!"

"Bocah gila! Jangan banyak bacot! Nyawamu sudah di depan hidung! Anak-anak ciutkan lingkaran dalam sepertiga jurus!," teriak Bladra Wikuyana dengan penasaran sekali. Siulan Pendekar 212 tiba-tiba lenyap berganti dengan suara tertawa aneh yang menegakkan bulu tengkuk. Tubuhnya berkelebat tak kelihatan. Dan tiba-tiba pula Bergola Wungu merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram erat sekali. Dicobanya untuk meronta dan menendang tapi cengkeraman itu laksana japitan besi tak mungkin untuk di1epaskan. Sementara itu tubuhnya menjadi limbung dan terasa terangkat ke atas! Dicobanya membabatkan goloknya! Terdengar satu pekikan! Pekikan kawannya sendiri yang, kemudian roboh mandi darah! Sesudah itu Bergola Wungu tak tahu apa-apa lagi! Wiro Sableng dengan tertawanya yang aneh memegang erat-erat kedua pergelangan kaki Bergola Wungu lalu memutar tubuh manusia itu laksana kitiran! Pekik jerit serta seruan-seruan tertahan terdengar di mana-mana! Barisan lingkaran pasang surut hancur berantakan. Beberapa orang yang masih tak mau menyingkir dan terpukau oleh kedahsyatan itu terpaksa dihantam kitiran dari tubuh Bergola Wungu! Belasan anak murid Perguruan Gua Sanggreng bergeletakan di pelataran batu karang dalam keadaan tubuh luka-luka parah tanpa nyawa. Suara erangan terdengar tiada hentinya. Yang masih hidup yaitu sekira sembilan orang menyingkir jauh-jauh ke dinding batu karang. Suara tertawa Pendekar 212 berhenti.

"Angin Topan Dari Barat! Ini terima bangkai muridmu!". Tubuh Bergola Wungu yang tadi dibuat menjadi kitiran untuk melabrak kawan-kawannya sendiri melesat ke arah Bladra Wikuyana. Orang tua ini lambaikan tangan kirinya dan tubuh Bergola Wungu terpelanting ke dinding samping. Tentu saja sudah tanpa nyawa lagi karena sudah sejak tadi kepalanya nyenyar macam pepaya busuk! Bau anyirnya darah yang mengantarkan regangan-regangan nyawa manusia menyesak lobang hidung. Wiro Sableng meludah ke tanah. Dan memandang pada Angin Topan Dari Barat.

"Angin Topan Dari Barat! Murid-muridmu menemui kematian dengan cara yang tentu kau tidak senangi! Dan mereka mati tanpa ada sangkut-paut kesalahan apa-apa terhadapku! Kau yang tanggung-jawab semuanya kalau malaekat maut tertanya di liang kubur!"

"Pemuda iblis!" bentak Bladra Wikuyana.

"Tak usah banyak bacot! Terimalah kematianmu dalam tiga jurus!". Tampang manusia ini kelihatan membesi dan tambah angker. Dia melangkah ringan ke hadapan Wiro Sableng dan cabut tongkat birunya! Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar biru melanda Pendekar 212. Pemuda ini egoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu tangan kanan Bladra Wikuyana yang disambung -dengan kayu dan ujungnya mempunyai senjata berbentuk Arit!

"Heyyaaa!". Pendekar 212 membentak keras. Empat dinding jurang tergetar hebat. Tubuhnya lenyap dan sambil jatuhkan diri berjongkok pemuda ini hantamkan tangannya ke muka lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah! Tapi tongkat biru Bladra Wikuyana sungguh hebat! Pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkan Pendekar 212 mempergunakan sebahagian tenaga dalamnya namun sambaran angin tongkat biru membuat angin pukulan Pendekar 212 tersibak ke samping dan menghantam dinding karang! Dinding karang itu retak-retak pecah! Kepingan-kepingan karang menghambur ke udara berpelantingan! Wiro Sableng penasaran sekali. Tenaga dalamnya dilipat-gandakan sampai tangannya tergetar hebat namun tetap pukulan Kunyuk Melempar Buah yang dilancarkannya masih sanggup disapu oleh angin tongkat biru lawan!

"Edan!" maki pemuda ini dalam hati. Dia menjerit setinggi langit dan berkelebat lagi. Kini Pendekar 212 keluarkan jurus Orang Gila Mengebut Lalat! Kedua tangannya kiri kanan memukul kian kemari dan mengeluarkan angin keras laksana badai! Untuk dua jurus lamanya Bladra Wikuyana terdesak hebat bahkan kepepet ke dinding jurang sebelah Timur. Anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng yang ada di jurusan ini terpaksa menyingkir kecuali kalau mau mampus terkena sambaran-sambaran angin dahsyat kedua manusia sakti yang bertempur itu! Angin Topan Dari Barat mengeluh dalam hati! Puluhan tahun hidup di dunia persilatan baru hari ini menghadapi lawan yang tangguhnya bukan olah-olah! Dan gilanya lawan itu adalah anak muda hijau yang baru berumur tujuh belas tahun! Orang tua ini kertakkan gerahamnya. Dari tenggorokkannya keluar suitan kencang. Dengan serta merta permainan tongkat dan jurus-jurus silatnya berubah. Tongkat biru di tangan kirinya menderu dan mencurah taksana hujan badai, laksana menjadi ratusan banyaknya! Wiro Sableng terkejut sekali melihat keganasan serangan tawan ini! Cepat dia lompat tiga tombak ke udara.

"Ho-ho! Mau kabur hah?!" bental Bladra Wikuyana. Dan segera manusia ini susul melompat.

"Angin Topan Dari Barat!," seru Pendekar 212.

"Antara kita sebenarnya tak ada permusuhan yang berarti...". Bladra Wikuyana tertawa buruk.

"Ketika nyawa sudah di tenggorokan kau baru ribut-ribut segata permusuhan yang tak berarti! Sudah kepepet-mulai bicara rendah diri! Sebaiknya sebut nama Tuhanmu sebentar tagi roh busuk manusia yang mengaku bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 akan minggat ke neraka!" Bladra Wikuyana menyerang lagi dengan ganas membuat Wiro Sableng kembali terpaksa lompatkan diri tiga tombak ke belakang.

"Kalau kau yang tua tetap berkeras kepata maka sambutlah pukulanku ini!" Bladra Wikuyana terbeliak kaget ketika melihat tangan kanan Wiro Sableng berwarna sangat putih sedang kuku-kuku jarinya memerah menyilaukan!

"Pukulan Sinar Matahari!" teriaknya dengan keras. Sekaligus dia menyerukan pada murid-muridnya untuk mencari perlindungan sedang seturuh tenaga dalamnya dialirkannya ke tongkat biru! Selarik sinar putih yang menyilaukan mata melesat ke depan. Bladra Wikuyana lompat ke udara sampai tujuh tombak dan sapukan tongkatnya ke bawah! Dua angin keras beradu hebat. Bladra Wikuyana berseru keras. Tongkatnya hampir terlepas mental sedang tangan kirinya tergetar hebat! Tiada nyana tenaga dalam lawan yang muda belia itu lebih tinggi beberapa tingkat dari padanya. Dengan jungkir balik di udara jago tua ini jauhkan diri untuk atur jatan nafas serta darahnya dengan cepat! Ketika bola matanya berputar memandang berkeliling terkejutlah ia! Seluruh sisa anak muridnya yang tadi masih hidup menggeletak bergelimpangan dipelataran batu karang itu. Tubuh mereka semuanya termasuk yang sudah menemui ajal lebih dahulu di tangan Wiro Sableng mengepulkan asap dan udara dalam jurang itu kini pengap bau daging manusia yang hangus! Ketika Pendekar 212 lepaskan pukulan sinar matahari tadi. Bladra Wikuyana berhasil mengelakkannya. Angin pukulan menghantam dinding karang di sebelah tenggara. Bukan saja dinding karang itu menjadi pecah tapi juga hancur berantakan. Bagian atasnya longsor ke bawah sedang pukulan Sinar Matahari memantul dua kali berturut-turut di dinding karang. Hawa panas angin pukulan ini telah melabrak sisa-sisa anak murid Bladra Wikuyana sehingga tubuh mereka tersambar hangus dan menggeletak mati di situ juga! .Dan sementara itu di tepi jurang sebelah atas, sesosok tubuh berpakaian ungu menyaksikan apa yang terjadi di dalam jurang batu karang itu dengan mulut menganga dan mata terbeliak sedang bulu kuduk merinding.... Kembali ke dalam jurang. Air muka Bladra Wikuyana kelihatan kelam membeku. Tubuhnya laksana patung berdiri di tengah pelataran. Cambang bawuk atau berewoknya kelihatan meranggas kaku sedang sepasang matanya menjadi merah angker.

"Pendekar 212!" desis Bladra Wikuyana.

"Detik ini jangan harap nyawamu akan selamat...!" Tongkat birunya diacungkan ke muka lurus-lurus dan kini tongkat itu berubah menjadi hitam legam. Sinar hitam yang memancar dari senjata ampuh Itu menggidikkan sekali...

"Bersiaplah untuk minggat ke neraka!" teriak Bladra Wikuyana. Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tongkat dan serangannya kini luar biasa ganasnya! Sambil menyerang itu Bladra Wikuyana tiada hentinya bersuit-suit aneh, menggetarkan telinga dan raga! Wiro Sableng begitu merasakan tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih sangat terasa lamban ditindih oleh sinar pukulan Angin Hitam yang ke luar dari tongkat lawan.

"Breet"! Tersirap darah Pendekar 212. Nyawanya serasa iepas! Ujung tongkat lawan telah merobek pakaiannya di bagian dada. Angin tongkat membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak! Pendekar ini berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan pertempuran!

– == 0O0 == -- "Ho ho.... Mau merat ke mana?!" tanya Bladra Wikuyana.

"Aku sudah bilang, sekali masuk ke sini musti lepas nyawa di sini!" Wiro Sableng tak berikan sahutan. Kalau saja ada sepuluh manusia jahat sesakti Bladra Wikuyana ini di atas jagat pastilah dunia akan tenggelam dalam kekalutan pikirnya. Ketika lawan menyerang kembali Pendekar 212 sambut dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Untuk beberapa ketika lamanya serangan tongkat Bladra Wikuyana terbendung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wiro Sableng untuk melompat ke udara, menukik kembali dan lancarkan pukulan Kunyuk Melempar Buah. Dentuman yang dahsyat terdengar. Wiro terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena pukulannya kena disapu aliran angin hitam tongkat lawan. Pemuda ini kepepet ke dinding jurang sebelah Timur! Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. Dalam merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Wiro lompat ke samping. Tongkat menghantam dinding karang sampai hancur berantakan! Ketika Bladra Wikuyana balikkan tubuh siap untuk menyerang kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya yang merah memandang tak berkedip pada senjata berbentuk kapak bermata dua yang ada di tangan lawannya. Bergidik juga Angin Topan Dari Barat melihat senjata tersebut. Dua puluh tahun yang silam dia pernah saksikan sendiri kehebatan Kapak Maut Naga Geni 212. Kini apakah sanggup dia menghadapinya?!

"Angin Topan Dari Barat," Pendekar 212 buka mulut.

"Baiknya kau lekas-lekas minta tobat atas kejahatanmu selama ini. Sebentar lagi tentu sudah tak keburu.... !" Angin Topan Dari Barat atau Bladra Wikuyana tindih rasa jerihnya dengan tertawa bergelak. Tahu akan kehebatan senjata di tangan lawan maka dia segera menyerang lebih dahulu! Sinar hitam bergulung-gulung ke arah Pendekar 212. Pemuda ini sambut serangan lawan dengan pergunakan jurus: Orang Gila Mengebut Lalat. Kapak Naga Geni 212 di tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan, mengeluarkan suara berdengung macam suara ribuan tawon! Terkejutnya Bladra Wikuyana bukan kepalang ketika merasa bagaimana kini tongkat saktinya tak dapat lagi bergerak leluasa, tertindih, terbendung dan terpukul angin kapak bermata dua di tangan lawan! Bladra Wikuyana percepat permainan tongkatnya dan menyerang dengan jurus-jurus lihay mematikan. Namun tetap saja tak dapat ke luar dari tindihan senjata lawan. Dan kini sesudah bertempur di jurus yang kesembilan puluh delapan maka mulailah jago tua ini terdesak hebat! Diam-diam Bladra Wlikuyana cucurkan keringat dingin. Ditahannya sedapatdapatnya serangan senjata lawan. Satu kali tongkatnya beradu dan tak ampun ujung tongkat terbabat puntung! Bladra Wikuyana tak berani lagi bentrokan senjata! Matanya kini liar mencari kesempatan untuk kabur. Dia menggeram karena telah menyuruh murid-muridnya menurunkan tangga gantung karena tangga dari tali itulah satu-satunya jalan untuk kabur ke luar jurang batu karang! Karena pikirannya bercabang dua, satu memikir jalan untuk lari, kedua memusatkan pada serangan lawan maka pertahanan Bladra Wikuyana sering-sering melompong. Hal ini bukan tak dilihat oleh Pendekar 212, kalau saja dia mau maka sudah sejak tadi dia melabrak manusia berewok bertangan dan kaki buntung itu. Dari mulut Pendekar 212 mulai terdengar siulan membawakan lagu tak menentu!

Sambil kirimkan bacokan ke pinggang, Wiro Sableng putar gagang kapak. Kedua mata kapak membuat setengah lingkaran, salah satu dari padanya memapas pergelangan tangan kanan Bladra Wikuyana yang terbuat dari kayu! Tangan palsu yang ujungnya berbentuk arit itu kutung dan lepas! Mental ke udara! Bladra Wikuyana melompat ke belakang. Mukanya pucat pasi. Dia mengerang karena aliran aneh yang berhawa panas dari senjata lawan merembes melalui kutungan tangan kayu ke dalam tubuhnya!

"Cuma lengan kayumu saja. Angin Topan Dari Barat! Kenapa musti pucat macam mayat?" Wiro Sableng tertawa gelak-gelak.

"Sekarang aku minta kaki kayumu!" Habis berkata begitu. Wiro Sableng bersiul dan melompat ke muka. Kapaknya membabat ke kepala Bladra Wikuyana. Jago tua ini yang tak berani lakukan bentrokan senjata cepat-cepat melompat berkelit dan lancarkan serangan balasan dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin hebat. Namun dengan Kapak Naga Geni 212 di tangan, segala pukulan tangan kosong bagaimanapun hebatnya dari manusia berewok yang bergelar Angin Topan Dari Barat itu tiada artinya lagi! Kapak Naga Geni 212 membacok ke bahu, berbalik merambas pinggang, menderu lagi ke kepala membuat tokoh silat tua dan berpengalaman luas itu menjadi sangat sibuk. Dan ketika tiba-tiba sekali senjata lawan membabat ke bawah, dia tak punya kesempatan lagi untuk mengelak! Untuk kedua kalinya mata kapak membabat anggota badannya yaitu kaki kayu Bladra Wikuyana sebelah kanan! Meski huyung-huyung tapi laki-laki ini masih sempat lompatkan diri ke luar dari kalangan pertempuran. Mukanya pucat sekali dan keningnya penuh keringat! Di dalam dadanya menggelegak rasa benci, dendam dan nafsu untuk membunuh! Dengan tahan tubuhnya pada ujung tongkat, Bladra Wikuyana pejamkan mata. Mulutnya komat kamit.

"Ilmu apa yang kau mau keluarkan Angin Topan Dari Barat? Sebaiknya dengar omonganku! Aku yang muda ini masih mau kasih ampun kepada kau jika kau berjanji untuk bertobat dan hidup di jalan yang benar, tidak lagi berbuat kejahatan tapi mempergunakan iimumu buat menolong sesama manusia. Bagaimana...?!" Bladra Wikuyana buka sepasang matanya sedikit. Mulutnya berkemik mengejek.

"Jangan kira kau sudah menang bocah hijau! Aku masih jauh dari kalah! Lihat mukaku bocah hijau... lihat mukaku....

" Mata Wiro Sableng menyipit. Ketika diperhatikannya tampang Bladra Wikuyana terkejutlah dia. Kepala tokoh silat itu kini rnenjadi enam dan berwarna hitam, gigi-giginya merupakan caling-caling yang mengerikan, bola-bola matanya besar sedang lidahnya panjang menjulai sampai ke dada. Dari dua belas mata yang ada di enam kepala itu memancar sinar hijau.

"Ah... ilmu siluman macam begini hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil!" ejek Wiro Sabteng. Disapukannya Kapak Naga Geni 212 ke muka. Angin deras membuat Bladra Wikuyana terpelanting tapi muka silumannya masih juga seperti tadi malah semakin menyeramkan. Tiba-tiba dengan menggereng keras laksana harimau terluka menerjanglah tokoh silat itu didahului oleh dua belas sinar hijau yang ke luar dari mata silumannya!

"Tua bangka geblek! Dikasih ampun malah keluarkan Ilmu yang bukan-bukan!" rutuk Wiro Sableng. Ditunggunya beberapa detik. Sesaat kemudian berkiblatlah kapak mautnya dari atas ke bawah! Angin Topan Dari Barat terkapar di pelataran batu karang tanpa berkutik, juga tanpa menjerit. Kepalanya sampai ke dada terbelah dua. Darah membanjir! Tamatlah riwayat tokoh silat dari golongan hitam itu yang selama hidupnya telah menebar benih kejahatan dan mendidik manusia-manusia untuk disesatkan! Wiro Sableng garuk rambut gondrongnya dan meludah. Jijik juga dia melihat darah yang membanjir dari tubuh Bladra Wikuyana. Dipandangnya Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan kanannya. Mata kapak itu berlumuran darah. Pemuda ini goleng-goleng kepala.

"Kapak hebat... kapak hebat...." katanya. Kemudian sekali hembus saja maka noda darah pada mata kapak pun lenyaplah! Senjata sakti pemberian Eyang Sinto Gendeng itu segera dimasukkannya ke balik pinggang kembali. Selama setengah jam Wiro Sableng memasuki dan menggeledah isi Gua Sanggreng. Di sini ditemuinya banyak sekali persediaan makanan dan uang serta barang-barang perhiasan. Menurut pikiran Wiro uang serta perhiasan itu mungkin sekali hasil rampokan yang ditimbun menjadi milik Perguruan Gua Sanggreng. Wiro mengambil sejumlah uang dan perhiasan sekedar bekal di perjalanan. Kemudian pemuda ini duduk di sebuah kursi besar dan menikmati makanan yang ada di dalam gua itu. Waktu dia ke luar dari gua dilihatnya langit sudah sangat merah kekuningan tanda matahari hampir tenggelam. Pemuda ini segera mencari tangga tali. Tangga tali itu kemudian dilemparkannya pada patok runcing batu karang di tepi jurang sebelah atas dan mulailah pendekar ini menaiki anak tangga demi anak tangga menuju ke atas. Dari atas sebelum berlalu dilayangkannya pandangannya untuk terakhir kali ke dalam jurang batu. Duapuluh enam mayat bergelimpangan di mana-mana. Pemuda ini garuk dan golenggoleng kepala. Dan mulailah dia melangkah sepembawa kakinya. Malam tiba nanti entah di mana dia akan berada. Suara siulannya mengumandang di belantara batu-batu karang. Sambil terus berjalan. bernyanyilah pendekar ini: Langit merah angin silir.... Surya tenggelam di ufuk Barat.... Malam yang datang tentu dingin dan gelap.... Berjalan seorang diri memang tidak enak.... Tapi selalu diikuti orang lain juga tidak enak.... Nyanyian ini tiada menentu nadanya dan diulang-ulang sampai beberapa kali. Akhirnya disatu penurunan curam Pendekar 212 hentikan nyanyiannya dan duduk di sebuah unggukan batu. Sambil tertawa-tawa berkatalah dia:

"Manusia yang ikuti aku kenapa sembunyi di belakang batu? Coba ke luar unjukkan jidat, apa betul manusia atau hantu...?" Wiro memandang pada celah batu karang yang tadi dilewatinya. Suasana hening saja.

"Ah, manusia di belakang batu tentu seorang pemalu," katanya.

"Biarlah aku sendiri yang lihat tampangnya!"

Habis berkata begitu Wiro Sableng hantamkan tangan kanannya ke arah celah batu. Sebagian lagi terguling ke bawah. Dan dari balik batu terdengar seruan tertahan!

Apa yang tidak diduga oleh Pendekar 212 ternyata bahwa penguntitnya sejak dari jurang Gua Sanggreng tadi adalah seorang gadis!

– == 0O0 == -- "Aha... Nyatanya seorang gadis molek! Pantas malu-malu unjukkan diri...!" kata Wiro Sableng pula dengan tertawa lebar melihat kepada pakaian ungu yang dikenakan gadis itu segera pemuda ini mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid Dewa Tuak.

"Gadis molek, ada apa kau menguntit aku sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana...?" bertanya Wiro.

Anggini, si gadis baju ungu, tak memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Wiro Sableng tertawa lagi dan berkata: "Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik .... "

"Saudara... a...aku..." Anggini gugup sekali. Apa yang harus dikatakannya pada pemuda itu?

"Apakah gurumu si Dewa Tuak itu juga ikut bersamamu saat ini?

Barangkali juga kalian hendak menjebakku...?"

"Saudara dengarlah..." kata Anggini pula.

"Aku sebenarnya tidak mau dengan semuanya ini..."

"Semuanya ini apa...?" potong Wiro Sableng.

Anggini menggigit bibir.

"Gurumu bersamamu?"

"Tidak...."

"Gurumu yang menyuruh untuk menguntit aku?"

Gadis itu anggukkan kepala.

"Perlu apa gurumu menyuruh demikian?"

Kembali Anggini menggigit bibir.

"Apa dia belum puas dengan sedikit pertempuran siang tadi...?"

Anggini tetap membungkam. Ya, bagaimana dia harus mengatakan pada si pemuda bahwa gurunya menyuruhnya mengejar untuk kemudian berusaha menjadi kawan hidup pemuda itu? Bagaimana dia harus terangkan semua itu! Ingin dia menangis dan lari dari hadapan pemuda itu. Tapi kepada Dewa Tuak gadis ini takut sekali!

Pendekar 212 kerutkan kening. Mendadak mukanya menjadi merah, semerah langit yang disaputi sinar sang surya yang mau tenggelam di saat itu. Dia ingat akan ucapan Dewa Tuak yang mengatakan bahwa dirinya cocok untuk jadi jodoh muridnya!

Pendekar muda ini melirik pada gadis baju ungu. Anggini berparas bujur telur dan molek. Kulitnya kuning dan potongan tubuhnya sedap dipandang mata. Tapi urusan jodoh mana ini pemuda berpikir sampai di situ. Tak ada ingatannya sampai sejauh itu.

Bahkan kewajiban berat yang dipikulkan gurunya ke pundaknya, hutang nyawa dendam seribu karat terhadap Suranyali alias Mahesa Birawa sampai hari ini masih belum lunas! Masih belum dilaksanakannya!

Wiro Sableng berdiri dari duduknya. Dipandanginya gadis baju ungu itu seketika lalu mengumandanglah gelak tawanya.

"Saudari... apakah penguntitan ini ada sangkut pautnya dengan ucapan gurumu si Dewa Tuak?"

Paras Anggini semakin merah.

"Tadi aku sudah bilang... sebenarnya aku tak senang dengan semua ini. Tapi guru memaksaku..."

"Memaksa bagaimana?!"

"Katanya aku harus mengejarmu sampai dapat. Kalau tak berhasil tak usah kembali kepertapaan. Katanya lagi aku harus... harus..." Anggini tak dapat meneruskan ucapannya.

"Kurasa gurumu itu sudah sinting! Sekurang-kurangnya seperempat sinting!"

Meski Anggini memang tak suka menjalankan apa yang diperintahkan Dewa Tuak namun mendengar nama gurunya dicaci demikian rupa gadis ini jadi marah.

"Jangan hina guruku, saudara!" bentaknya. Wiro Sableng garuk kepala.

"Ah... guru dan murid sama saja gebleknya!" kata ini pemuda.

"Kalau gurumu suruh kau makan beling dan minum racun, apakah kau juga akan ikuti ucapannya itu...?!"

"Guruku tidak segila itu!" bentak si gadis.

"Aku memang tidak bilang gurumu gila, tapi sinting!" menukasi Wiro Sableng.

"Sekali lagi kau berani menghina guruku, kutampar mulutmu!" ancam Anggini. Wiro Sableng keluarkan suara bersiul!

"Gurumu memang sinting!" katanya lagi. Anggini telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ketinggian kesaktian Pendekar 212 waktu terjadi pertempuran di jurang Sanggreng beberapa saat yang lalu. Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa gurunya sekali pun belum tentu akan dapat mengalahkan pemuda itu dengan mudah. Namun saat itu kegemasannya tak dapat ditahan lagi. Tangan kanannya bergerak cepat. Sebaliknya Wiro Sableng malah angsurkan pipi ke muka!

"Plaak!" Tamparan mendarat di pipi Wiro Sableng. Pendekar muda ini tertawa.

"Betapa lembutnya jari-jarimu mengelus pipiku..," katanya dengan pejamkan mata.

"Ayo, tamparlah sekali lagi... dua kali lagi... tiga kali lagi... sesuka hatimulah...!" Wiro menunggu tapi tamparan berikutnya tak datang dan pemuda ini bukakan kedua matanya ‘kembali. Dilihatnya Anggini berdiri dengan hidung kembang kempis menahan geram yang menyesaki dadanya. Pendekar 212 tertawa.

"Kenapa tidak mau tampar?" tanyanya sinis. Karena digemasi terus-terusan Anggini jadi penasaran sekali. Segera dibukanya selendang ungu yang melilit di pinggangnya yang berpinggul besar.

"Eh... saudari kau ini apa mau buka pakaian di depanku?" tanya Wiro Sableng sambil kedip-kedipkan mata dengan ceriwis.

"Pemuda rendah terima selendangku ini!" bentak Anggini. Tangan kanannya bergerak. Ujung selendang berputar pelahan dan lamban ke arah kepala Wiro Sableng. Selendang terbuat dari kain yang halus. Bila benda itu bergerak lamban berarti benda itu dialiri oleh aliran tenaga halus. Dan Wiro tahu bahwa kadangkala tenaga halus lebih berbahaya daripada tenaga kasar yang di luarnya kelihatan hebat. Pemuda ini tak mau menyambuti liuk liku selendang itu. Dia menggeser kedua kaki dan menjauhkan kepalanya. Masih tertawa dia mengejek:

"Saudari, tarianmu bagus sekali! Apakah ini juga dari gurumu kau pelajari?!" Dugaan Pendekar 212 memang tepat. Kalau sekiranya dia mencoba memapasi selendang yang meliuk-liuk itu maka dengan satu sentakan cepat Anggini akan menarik selendang dan melesatkan ujungnya ke mata si pemuda. Ini pun sebenarnya belum ketentuan Wiro Sableng akan kena dihajar begitu saja. Tapi demikianlah kenyataannya bahwa kadangkala ilmu halus dan lembut harus dihadapi dengan kehalusan dan kelembutan pula. Melihat si pemuda geser kaki menjauh tapi masih dengan sikap mengejek maka kini Anggini rubah permainan selendangnya. Laksana seekor naga selendang ungu itu meliuk dan mematuk kian ke mari. Dan kini barulah Wiro menghadapinya dengan kekasaran pula.

"Saudari, permainan selendangmu patut dikagumi!" memuji Pendekar 212.

"Tapi tak cukup pasal kalau kau sampai menyerangku begini rupa. Aku..." Ucapan Wiro Sableng terpotong oleh bentakan Anggini.

"Tutup mulut pemuda ceriwis! Lihat selendang!" Ujung selendang ungu dengan sangat tiba-tiba mematuk ke arah mata kiri Wiro Sableng. Ganda tertawa pemuda ini tundukkan kepala untuk mengelak. Sejak tadi meski dia menghadapi serangan-serangan lawan dengan cara kasar tapi sesungguhnya Pendekar 212 terus-terusan mengambil sikap mengelak. Tapi pada saat Wiro Sableng mengelak, pada detik itu pula ujung selendang dengan sangat cepat turun dan melibat leher! Setengah libatan Pendekar 212 cepat-cepat pergunakan tangan kiri untuk rnengibaskan selendang ujung tapi ini tak bisa dilakukannya karena serentak dengan itu Anggini kirim satu tusukan dua ujung jari tangan kiri ke dada kiri Wiro Sableng. Hebat sekali serangan ini sehingga kalau dilihat dari atas maka serentakan dengan serangan selendangnya tadi, maka sepasang serangan Anggini tak ubahnya seperti sebuah gunting besar yang hendak menggerus tubuh dan leher si pemuda!

"Ah... ah... bagus, bagus sekali saudari! Tak percuma kau jadi murid si Dewa Tuak!" memuji Wiro Sableng. Tangan kirinya terpaksa dipalangkan untuk menunggu tusukan jari tangan lawan. Anggini yang tahu bahwa tenaga dalam pemuda itu jauh lebih tinggi darinya batalkan serangan sebaliknya tangan kanannya siap menyentakkan selendang ungu yang ujungnya telah melibat setengah leher Wiro Sableng. Pendekar 212 cepat angsurkan lehernya ke muka untuk mengendurkan selendang sehingga kalaupun detik itu disentak, sentakan itu tak akan mencelakainya. Kemudian dengan tangan kanannya, cepat sekali disampoknya bagian tengah selendang! Anggini sama sekali tak dapat melihat cepatnya tangan kanan lawan yang menyampoki senjatanya. Dia hanya tahu tiba-tiba saja bagaimana selendangnya menjadi menegang dan tertarik ke muka! Sesaat mengetahui bahwa selendangnya kena terpegang lawan terkejutlah gadis ini, tapi juga penasaran sekali. Dibetotnya selendang itu namun mana Wiro Sableng mau lepaskan, malahan sebaliknya pemuda ini tarik selendang tersebut sehingga tubuh Anggini sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah ikut tertarik ke hadapannya. Anggini memaki dalam hati.

"Sambut paku perakku, rnanusia rendah!" bentak gadis itu. Sekali dia gerakkan tangan kirinya maka selusin benda yang besarnya setengah jengkal, berbentuk paku dan berwarna putih perak mendesing ke arah Wiro Sableng. Karena jarak mereka terpisah dekat sekali maka dua belas senjata rahasia ini sangat berbahaya bagi keselamatan si pemuda. Anggini sendiri tiba-tiba merasa menyesal melepaskan senjata rahasia itu karena kawatir si pemuda tak dapat berkelit atau memapakinya, karena bukankah gurunya telah berpesan bahwa pemuda itu adalah cocok bakal jadi jodohnya...?! Sebaliknya yang diserang tenang-tenang saja. Bahkan sambil bersiul dilambaikannya tangan kirinya. Delapan paku perak luruh ke tanah sedang yang empat lagi dielakkan dengan berkelit sedikit ke samping. Kalau tadi dia merasa menyesal menyerang pemuda itu dengan senjata rahasianya maka kini setelah si pemuda berhasil selamatkan diri, kembali Anggini menjadi penasaran. Dia memekik keras, lompat ke atas dan kirimkan dua tendangan jarak dekat susul rnenyusul.

"Ah, tak sangka gadis molek begini galak sekali!" kata Wiro Sableng pula. Dia melompat ke samping. Membuat gerakan satu putaran, dan sebelum Anggini turun ke tanah, kedua kaki gadis itu sudah terlibat selendangnya sendiri! Membuatnya berdiri dengan terhuyung-huyung tak bisa melangkah!

Wiro tertawa gelak-gelak.

"Ayo, kenapa berhenti galaknya?" tanyanya mengejek.

Karena sampai saat ini Anggini masih memegang ujung yang lain dari selendangnya maka dengan cepat dia dapat membukanya kembali. Paras gadis ini merah sekali. Matanya menyorot memandang kepada Wiro Sableng, sebaliknya Pendekar 212 dengan ceriwis mengedip-ngedipkan matanya!

"Senjata apa lagi yang bakal kau keluarkan?!" tanya Wiro.

"Lepaskan selendangku!" teriak Anggini.

Wiro hanya tertawa.

"Lepaskan!" teriak gadis itu lagi. Dicobanya menyentakkan selendang itu tapi Wiro memegangnya erat sekali. Kalau ditariknya keras pasti selendang kain itu akan robek.

Kesal dan gemas akhirnya dengan menghentakkan kaki Anggini lepaskan selendangnya, putar tubuh dan lari ke balik sebuah batu besar. Di sini menangislah gadis itu.

"Heh... kenapa jadi nangis?" tanya Wiro ketika dia melangkah dan datang di balik batu besar. Pemuda ini jadi garuk-garuk kepala. Lalu katanya: "Saudari, lihat, hari sudah senja.

Sebaliknya kau kembalilah ke tempat gurumu! Kalau tidak pasti kau akan sesat di malam yang gelap nanti!"

"Aku tak mau kembali! Tak bisa kembali ke pertapaan!" jawab Anggini di antara tangis sesungguhnya.

"Kenapa tak mau? Kenapa tak bisa?"

"Guruku akan marah!"

"Marah kenapa?" tanya Wiro tagi.

"Sudah... sudah! Kau tidak tahu!" Dan tangis Anggini semakin mengeras.

"Lalu kalau kau tak mau kembali ke tempat gurumu, apa kau bakal nginap di sini?!"

"Tak usah perdulikan aku! Biar aku mau malang mau melintang tak usah ambil pusing! Pergi dari sini kau...!" Anggini menyeka mata dan pipinya.

"Tak perlu bicara keras macam begitu, Saudari. Antara kita tak ada permusuhan. Ini semua adalah gara-gara gurumu yang berotak sinting itu!"

"Jangan hinakan guruku!" hardik Anggini.

"Kau seorang murid yang baik. Patuh terhadap guru dan juga hormati Tapi sayang kau juga turut-turutan bertindak tidak pakai pikiran sehat. Sekarang sudah, kembalilah ke pertapaan gurumu sebelum hari menjadi malam..."

"Tidak!"

Wiro Sableng melangkah ke belakang Anggini. Kasihan-kasihan lucu dia merasa saat itu. Akhirnya pemuda ini berkata juga: "Ini selendangmu. Kalau kau banyak berlatih pasti kau menjadi seorang gadis yang hebat...."

Wiro lantas menyampirkan selendang ungu itu di pundak si gadis. Ketika dia memandang ke langit dilihatnya bintang-bintang sudah bermunculan dan bulan sabit kelihatan samarsamar di balik awan.

"Sudah malam...." desis pemuda ini. Kemudian dia memandang pada gadis yang berdiri di depannya dengan membelakang itu.

"Pergilah cepat, saudari. Nanti kau kemalaman di jalan...."

Anggini gelengkan kepala.

"Guruku akan marah... akan marah kalau aku kembali.... "

"Kalau begitu ya tak usah kembali saja..." ujar Wiro Sableng.

"Aku memang tak bakal kembali..." kata Anggini pula.

"Hem... dan kau mau pergi ke mana?"

"Apa urusanmu tanya-tanya?"

"Ah..." Wiro tertawa. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Kemudian dipegangnya pundak Anggini. Si gadis dengan serta merta hendak menyibakkan tangan itu. Tapi tubuhnya sudah keburu dijalari perasaan aneh yang menggelora-gelora sampai ke lubuk hatinya. Tak kuasa dia menyibakkan pegangan tangan pada bahu itu.

"Saudari, dengarlah..." kata Wiro pula. Tangannya masih memegang bahu si gadis malahan meremas-remasnya dengan lembut.

"Dalam hubungan guru dan murid walau bagaimana pun kau musti kembali ke pertapaan. Kau tak boleh tempuh jalan sehdiri. Kalau kau tak kembali malah gurumu akan marah sekali. Kau pasti akan dihukumnya!"

"Tapi bagaimana aku mungkin bisa kembali? Tidak bisa saudara.., kau tidak tahu...."

"Apa yang aku tidak tahu?" tanya Wiro. Tak mungkin bagi Anggini untuk mengatakannya dengan terus terang. Namun terluncur juga ucapan dari mulutnya:

"Kalau aku musti kembali kata guruku... aku harus bersamamu..." Wiro tertawa. Suara tertawanya menggema di daerah sepi dingin di permulaan malam itu.

"Saudari... namamu siapa?" bertanya Wiro Sableng. Dan karena tadi gadis itu diam saja diremas bahunya maka tangan Wiro kini meluncur ke pipi, membelai pipi yang masih belum kering dengan air mata itu. Rasa yang menyentak-nyentak mendebarkan dada si gadis kini tambah keras dari tadi. Lagi-lagi tak kuasa dia menyibakkan tangan yang membelaibelai itu. Ditundukkannya kepalanya.

"Siapa namamu, saudari...?" tanya Wiro lagi.

"Anggini," jawab si gadis perlahan.

"Nama bagus... nama bagus," puji Pendekar 212 dan tangannya semakin berani membelai muka Anggini.

"Dengar Anggini, orang tua macam gurumu itu memang suka bicara ngelantur. Sekarang kau kembali saja ke pertapaannya dan katakan bahwa kau tak berhasil mengejar atau menemui aku. Habis perkara. Atau kalau tidak katakan saja kau telah menemuiku dalam keadaan tak bernyawa mati di jurang Sranggreng!"

"Aku tak bisa berdusta... kalau aku berdusta dia selalu mengetahuinya!" kata Anggini pula.

"Wah berabe kalau begini!" ujar Pendekar 212 dengan garuk-garuk kepala. Dia berpikir-pikir apa yang akan diperbuatnya. Kalau ditinggalkannya gadis itu sendirian di situ, tak tega pula hatinya. Pemuda ini hela nafas panjang. Akhirnya diajaknya gadis itu duduk di sebuah batu datar. Daerah belantara di mana mereka berada saat itu serba asing baginya. Mungkin sampai ratusan tombak bahkan ribuan tombak perjalanan belum menemui rumah penduduk. Apakah dia dan gadis itu terpaksa tinggal terus di tempat itu malam ini? Angin bertiup dari celah-celah batu-batu yang meruncing memenuhi tempat itu.

"Dingin...?" bisik Pendekar 212. Anggini mengangguk. Dan tangan kiri Pendekar 212 bergerak di balik punggung si gadis untuk kemudian merangkul bahu Anggini. Suasana berubah hangat. Dan untuk beberapa lamanya mereka tiada bicara. Wiro memecah kesunyian.

"Kalau kau tak mau kembali ke pertapaan dan aku tak bisa pula meninggalkan kau sendirian maka kita terpaksa bermalam di sini. Tunggulah sebentar aku akan cari tempat yang baik...."

"Nanti sajalah....

" kata Anggini. Diletakkannya tangan kanannya di paha Pendekar 212 dan dia memandang ke angkasa.

"Langit cerah," kata Wiro.

"Kalau nanti turun hujan, memang. kita yang sialan.... !" Anggini tertawa. Manis sekali tertawa itu. Hati Pendekar 212 sejuk sekali jadinya. Dan diperketatnya rangkulannya. Kemudian dengan beraninya pendekar ini menggelitiki tengkuk si gadis dengan hidungnya.

"Jangan begitu ah...." kata Anggini menggeliat kegelian. Tapi tubuh dan tengkuknya tidak dijauhkannya. Malam itu Wiro Sableng sengaja tidak membuat, perapian. Dia khawatir kalau-kalau nyala api hanya akan mengundang datangnya hal-hal yang tidak diingini. Apalagi kalau yang datang itu adalah Dewa Tuak adanya. Meskipun dingin, meskipun mereka hanya terbaring di balik batu besar hitam itu dan beratapkan langit luas namun tubuh mereka yang berada berdekatan itu saling memberi kehangatan. Pendekar 212 ingat pada suatu malam ketika dia berada berdua-duaan di sebuah dangau di tengah sawah dengan Nilamsuri. Malam ini tak ada bedanya dengan malam yang dulu itu. Sama-sama ada seorang gadis di sampingnya. Tapi terhadap Anggini, Pendekar 212 masih punya pikiran panjang dan sehat: Meski saat itu Anggini sudah berbaring pasrahkan seluruh tubuhnya untuknya dan memang sudah hampir setiap bagian dari tubuh Anggini disentuh oteh Pendekar 212, namun untuk berbuat lebih jauh dari itu pemuda ini tidak mau. Tubuh perawan itu laksana bara hangatnya, tangannya menggapai punggung Wiro dan pahanya melejang-lejang halus. Tapi Pendekar 212 hanya merangkuli tubuh itu, hanya mengecupi bibirnya yang basah, hanya menciumi matanya yang sayu kuyu tapi menyembunyikan hasrat yang meluap itu.

* * *Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian dipalingkannya kepalanya ke samping. Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemuda itu tidak kelihatan.

"Wiro," panggilnya. Tak ada yang menyahut.

"Wiro.... !" panggilnya sekali lagi lebih keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab. Tiba-tiba ketika matanya memandang ke batu besar di samping pembaringan di mana dia dan Wiro tidur semalam terbentur olehnya tulisan. Tulisan. Anggini Maafkan kalau aku pergi tanpa pamit. Aku terpaksa meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi. Kembalilah ke tempat gurumu. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi.

Anggini merasakan dadanya menyesak. Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Tubuhnya masih terasa hangat oleh pelukan Wiro malam tadi. Seperti masih terasa jari-jari tangan pemuda itu mengelusi kulit tubuhnya. Juga kecupan-kecupan yang disertai gigitan-gigitan kecil. Terima kasih untuk segala-galanya malam tadi Anggini membaca lagi tulisan itu. Termangu dia. Diputarnya tubuhnya, parasnya ke kemerahan, ditambah lagi sentuhan sinar matahari pagi. Tak mungkin baginya untuk mengejar pemuda itu kembali. Dia tak tahu apakah Wiro pergi larut malam tadi atau dinihari, atau pagi tadi sebelum dia bangun. Gadis ini tarik nafas panjang dan dalam. Ketika dia membetulkan ikatan selendang ungunya yang di pinggang, maka pada ujung selendang itu dilihatnya sederetan angka: 212. Sekali lagi gadis ini tarik nafas dalam dan panjang. Lalu dengan langkah gontai ditinggalkannya tempat itu.

– == 0O0 == -- Kerajaan Pajajaran... Pada masa itu Kerajaan Pajajaran masih belum luas pengaruhnya di Jawa Barat. Bahkan dengan kesultanan Banten di pantai Utara masih terdapat hubungan baik, belum ada silang sengketa. Di bawah pemerintahan Prabu Kamandaka maka Kerajaan Pajajaran aman tenteram. Penduduk hidup berkecukupan. Tapi di dunia ini selalu saja ada manusia yang berbusuk hati, yang iri dan dengki. Yang tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, yang tidak suka dengan keberuntungan orang lain, yang tidak suka akan kekuasaan orang lain dan ingin meruntuhkan kekuasaan orang lain itu lalu ganti menguasainya! Saat itu satu-satunya manusia di seiuruh Pajajaran yang paling membenci Prabu Kamandaka ialah Werku Alit. Dalam tambo keturunan raja-raja Pajajaran maka Prabu Purnawijaya adalah satu-satunya raja pajajaran yang tidak mempunyai keturunan kandung dari permaisurinya. Mungkin ini sudah menjadi takdir Dewa-dewa di Kahyangan, dan ini jugalah yang menjadi pangkal sebab buntut daripada terjadinya banjir darah di Pajajaran. Ketika Prabu Purnawijaya mangkat maka tokoh-tokoh istana, ahli-ahli agama dan orangorang tua kerajaan menyepakati untuk menobatkan Kamandaka, adik kandung Prabu Purnawijaya, menjadi raja Pajajaran. Kamandaka memang seorang yang bijaksana, pandai serta berilmu tinggi, disegani dan dihormati. Memang dia telah menunjukkan bakat untuk menjadi seorang pemimpin agung. Lagi pula memang tak ada manusia lain di Pajajaran saat itu yang punya hak dan pantas untuk dinobatkan sebagai pengganti mendiang Prabu Purnawijaya. Dari seorang selirnya, Prabu Purnawijaya mempunyai seorang anak yang bernama Werku Alit. Werku Alit ini tua beberapa bulan dari Kamandaka. Ketika masih orok keduanya sama-sama disusukan pada seorang perempuan penyusu istana sehingga boleh dikatakan antara Werku Alit dan Kamandaka terjalin sudah satu pautan tali persaudaraan! Namun ketika Kamandaka dinobatkan sebagai Prabu Pajajaran timbullah dengki di hati Werku Alit. Bukankah Kamandaka hanya adik Prabu Purnawijaya; bukan anak kandungnya? Dan bukankah dia sebagai anak dari Prabu Purnawijaya, lebih mempunyai hak untuk memegang tahta kerajaan? Werku Alit dalam dengkinya, apalagi sesudah kena hasutan oleh golongangdongan tertentu yang memang tidak suka pada Kamandaka, lupa bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari selir Prabu Pumawijaya, yang sama sekali tidak punya hak untuk menjadi raja Pajajaran. Demikianlah, secara diam-diam Werku Alit meMnggalkan istana Pajajaran, mengembara menuntut ilmu dan menghubungi beberapa orang tertentu. Ketika dia kembali ke istana maka saat itu dia sudah menyusun suatu rencana besar. Yaitu untuk merebut takhta kerajaan dengan jalan kekerasan! Dengan pertempuran, dengan peperangan! Dalam pengembaraan itulah Werku Alit bertemu dengan Suranyali atau Mahesa Birawa. Tahu bahwa Mahesa Birawa seorang manusia sakti luar biasa maka Werku Alit mengambilnya sebagai tangan kanan dengan perjanjian bila kerajaan berhasil digulingkan maka Mahesa Birawa akan dijadikan Perdana Menteri! Dalam menjadi tangan kanan membantu rencana busuk Werku Alit. Mahesa Birawa mempunyai rencana sendiri, rencana dalam selimut. Jika kerajaan jatuh dan Werku Alit menang, maka Mahesa dan kawan-kawannya akan menyingkirkan Werku Alit untuk kemudian dia sendiri yang akan menampilkan diri menduduki tahta kerajaan Pajajaran

* * *Di hutan belantara di sekitar kaki Gunung Halimun kelihatan bertebaran ratusan buah kemah. Inilah pusat balatentara pemberontak yang hendak merebut tahta kerajaan Pajajaran di bawah pimpinan Werku Alit. Sementara Werku Alit kembali ke Pajajaran maka pimpinan dipegang langsung oleh tangan kanannya yaitu Mahesa Birawa. Di sini berhimpun sekitar seribu prajurit. Kebanyakan dari pasukan-pasukan ini didapat Werku Alit dan Mahesa Birawa dari Adipati-adipati kecil yang bernaung di bawah Pajajaran tapi yang kena dipengaruhi dan dihasut oleh kedua orang itu. Bahkan saat itu Mahesa Birawa masih menunggu beberapa orang Adipati lagi yang telah dihubunginya. Jika Adipati-adipati ini datang dan menyerahkan beberapa ratus prajurit tambahan maka dapatlah diatur kapan dilaksanakan penyerangan terhadap Pajajaran. Sementara waktu menunggu maka semua prajurit senantiasa dilatih perang-perangan. Para kepala-kepala pasukan diberi tambahan ilmu silat dan kesaktian yang lumayan oleh Mahesa Birawa sedang para Adipati yang saat itu sudah bergabung Mahesa Birawa menurunkan beberapa ilmu kesaktiannya. Mahesa merasa sangat menyesal sekali ketika mendapat kabar bahwa tiga orang anak buahnya yang; diam di Jatiwalu telah menemui ajal akibat bentrokan dengan anak-anak murid Perguruan Gua Sanggreng sedang Kalingundii hilang lenyap tak tentu rimbanya. Kalau saja keempat manusia itu ada di sana tentu tak usah payah-payah dia menggembleng kepala-kepala pasukan dan Adipatiadipati itu. Tapi tak apa payah sedikit. Nanti dia akan memetik hasilnya sendiri! Di dalam kemah besar yang terletak di tengah-tengah ratusan kemah di kaki Gunung Halimun itu, mengelilingi sebuah meja bulat telur maka duduklah empat orang laki-laki. Yang pertama tak lain dari Mahesa Birawa, kumis melintang dan badan semakin gemuk. Yang kedua Adipati Karangtretes yaitu Jakaluwing, bercambang bawuk lebat, potongan tubuhnya tegap kekar. Yang ketiga, yang duduk di samping kiri Mahesa Birawa ialah seorang berbadan tinggi kurus bermuka licin bernama Surablabak. Dia adalah Adipati Manganreja. Yang terakhir seorang laki-laki berbadan gemuk pendek, berkepala sulah. Sinar lampu dalam kemah membuat kepalanya itu berkilat seperti bersinar-sinar. Manusia ini bernama Lanabelong, Adipati Kendil. Di atas meja, di hadapan keempatnya terletak masing-masing segelas tuak murni dan harum. Ketiga Adipati itu telah kena dihasut oleh Mahesa Birawa dan Werku Alit untuk memberontak terhadap Pajajaran dan kepada mereka dijanjikan kedudukan sebagai Menteri kerajaan bila pemberontakan mereka berhasil kelak.

"Silahkan diteguk tuaknya, saudara-saudara Adipati," kata Mahesa Birawa pula sesudah keheningan mengungkungi kemah itu beberapa lamanya. Masing-masing kemudian meneguk tuak yang enak itu. Di malam yang dingin minum tuak memang enak menghangatkan tubuh. Jakaluwing raba cambang bawuknya. Lalu bertanya:'

"Kapan kira-kira saatnya kita akan menggempur Pajajaran, adimas Mahesa Birawa?"

"Soal penggempuran itu kangmas Jakaluwing, sebenarnya saat ini pun kita sudah sanggup melakukannya. Jumlah prajurit cukup, tenaga pimpinan rata-rata sudah berpengalaman dan dapat diandalkan. Cuma kita tak enak kalau meninggalkan saudara-saudara Warok Gluduk dan Tapak Ireng. Kedua Adipati itu telah berjanji akan bergabung dengan kita bersama beberapa ratus prajurit-prajurit mereka. Ada baiknya jika kita tunggu kedatangan mereka. Sesudah itu baru kita hubungi Raden Werku Alit untuk menentukan kapan saat yang baik untuk penyerangan...." Adipati Jakaluwing manggut-manggut.

"Begitu memang bagus," kata Lanabelong. Adipati berkepala sulah. Lalu diteguknya tuaknya.

"Di samping itu, mengingat bahwa di Pajajaran tentunya terdapat tokoh-tokoh pelindung yang berilmu tinggi maka kita musti tidak pula menyia-nyiakan bantuan yang hendak diberikan oleh Begawan Sitaraga yang diam di puncak Gunung Halimun!"

"Ah, hebat sekali kalau Begawan yang tersohor ini ikut di pihak kita!" kata Surablabak sambil pukul meja.

"Sebenarnya," kata Mahesa Birawarpula.

"Begawan Sitaraga ini mempunyai dendam kesumat yang masih belum terbalaskan terhadap toa Pajajaran yaitu kakek dari Kamandaka...."

"Kalau Begawan ini setingkat umurnya dengan kakek Kamandaka, tentu kini kira-kira sudah seratusan usianya..." kata Lanabelong.

"Kira-kira begitutah," sahut Mahesa Birawa. Kemudian laki-laki ini berseru memanggil pelayan untuk menyuruh tambah tuak di keempat gelas itu. Sesudah pelayan pergi Mahesa Birawa buka mulut kembali.

"Besok aku akan kirimkan dua orang kurir ke Pajajaran untuk menemui Raden Werku Alit. Kuminta kepadanya untuk menyebar mata-mata lebih banyak, terutama di dalam istana guna mengetahui perkembangan terakhir, terutama mencari kabar selentingan apakah gerakan kita ini bocor atau tidak....

"

"Dan jangan lupa pula untuk meneliti pertahanan Pajajaran di mana yang lemah," kata Lanabelong. Mahesa Birawa mengangguk.

"Saudara-saudara Adipati, agaknya pertemuan kita malam ini cukup. Sampai besok pagi." Keempat orang itu saling menjura kemudian satu demi satu meninggalkan kemah besar khusus untuk tempat perundingan, menuju ke kemah masing-masing.

– == 0O0 == -- Laki-laki itu berjalan di liku-liku lorong bagian belakang istana dengan menundukkan kepala. Sekali-sekali dilewatinya para pengawal. Pengawal-pengawal istana tidak menegur atau menahan laki-laki ini karena semuanya tahu bahwa laki-laki itu adalah Udayana, pembantu Prabu Kamandaka. Segala urusan rumah tangga sang Prabu dialah yang mengurusnya. Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Maut Bernyanyi Di Pajajaran Di pintu besar gedung istana sebelah belakang laki-laki ini berhenti sebentar lalu menyeberangi halaman kecil dan masuk ke pintu sebuah bangunan kecil yang bagus bentuknya. Justru di sini dua orang pengawal memalangkan tombak menghentikannya.

"Aku mau ketemu Raden Werku Alit," kata Udayana.

"Ada keperluan apa?" tanya salah seorang pengawal.

"Beliau sudah tahu."

"Tunggu di sini," Pengawal itu masuk yang seorang tetap di tempatnya. Tak lama kemudian pengawal yang masuk muncul kembali.

"Kau dipersilahkan menghadap." katanya memberi tahu. Udayana mengangguk dan memasuki pintu gedung. Di dalam sebuah kamar yang luas, Werku Alit menyambut kedatangannya. Ditepuktepuknya bahu Udayana.

"Bagaimana? Ada perkembangan baru...?" Werku Alit berbadan tinggi langsing dan me-melihara kumis panjang menjulai seperti tali, seperti raja-raja Tiongkok!

"Perkembangan baru belum ada Raden.... Cuma ada satu berita. Mungkin sedikit banyak nya ada perlunya juga saya sampaikan kepada Raden..."

"Bagus, katakanlah Udayana...."

"Rara Murni adik Kamandaka siang besok akan berangkat ke Kalijaga untuk menyambangi adik neneknya. Dia akan pergi dengan kereta dan dikawal secukupnya....

"

"Hem...." Werku Alit menggumam dan mengusut-usut kumis talinya.

"Aku belum melihat adanya hubungan keteranganmu ini dengan rencanaku. Tapi tunggu sebentar, coba kupikir...." Tangan yang tadi mengusut kumis ini memijit-mijit kening. Dan tangan itu tibatiba menepuk bahu Udayana sampai laki-laki ini terkejut.

"Aku telah melihat kegunaan keteranganmu ini Udayana. Suruh seorang mata-mata kita menghubungi Kalasrenggi. Katakan bahwa aku akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan." Udaya menjura.

"Perintah Raden akan saya jalankan," katanya lalu cepat-cepat meninggalkan kamar itu.

* * *Seluruh balatentara kerajaan Pajajaran dibagi atas lima kelompok pasukan dan tiap-tiap pasukan dibagi dua masing-masing bagian dikepalai oleh seorang yang disebut kepala prajurit, Kalasrenggi adalah salah seorang dari kepala pasukan balatentara Pajajaran. Sebagai kepala lWiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Maut Bernyanyi Di Pajajaran pasukan tentu saja dia memiliki ilmu dan pengalaman yang dapat diandalkan. Dan memang banyak orang yang mengatakan bahwa diantara lima kepala pasukan Pajajaran maka Kalasrenggi adalah yang paling tinggi ilmunya. Tapi sayang kepala pasukan ini, telah pula terseret ke dalam rencana busuk Werku Alit dan Mahesa Birawa. Telah kena bujuk dan dihasut untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Prabu Kamandaka! Siang tadi seorang suruhan Raden Werku Alit telah menemui Kalasrenggi dan menyampaikan pesan bahwa Werku Alit akan bicara dengan dia malam ini di pondok tua di luar tembok kerajaan. Maka malamnya dengan seorang diri berangkatlah Kalasrenggi ke ternpat yang ditentukan itu. Dia sampai ke pondok tua itu. Sebenarnya tak pantas disebut pondok karena sama sekali bangunan tua itu tiada mempunyai dinding dan atapnya pun sudah sebagian melompong dimakan umur. Pondok atau lebih tepat teratak itu sunyi saja. Tak seorang pun kelihatan di sana. Kalasrenggi berpikir tentu Raden Werku Alit belum sampai ke sana, maka dia pun menunggulah. Dinyalakannya sebatang rokok. Dia memandang ke angkasa. Langit kelihatan mendung. Bintang-bintang mulai tertutup awan. Bulan menghilang dan angin bertambah besar serta dingin..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.164.247
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia