Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

SATU

Dalam rimba belantara di kaki Gunung Labatu Hitam yang biasanya diselimuti kesunyian sekali ini terdengar suara aneh berkepanjangan. Seperti ada seseorang yang tengah mengucapkan atau merapal jampi-jampi tak berkeputusan. "Kau mendengar suara itu wahai tiga saudaraku?" bertanya sosok tinggi besar berewokan yang dua kakinya terbungkus batu besar berbentuk bola. Orang ini adalah Lakasipo, bekas Kepala negeri Latanahsilam yang kemudian dikenal dengan julukan Bola-Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu.

Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya, berkat pertolongan Hantu Tangan Empat maka Wiro dan Naga Kuning serta si kakek berjuluk Setan Ngompol sosok tubuhnya berhasil dirubah menjadi lebih besar walau belum mencapai sebesar sosok orang-orang di Negeri Latanahsilam. Karena itulah jika sedang mengadakan perjalanan jauh Lakasipo selalu membawa ke tiga saudara angkatnya itu dengan cara menyelipkan mereka di balik sabuk besar yang melilit pinggangnya.

"Kedengarannya seperti orang membaca mantera panjang..." berkata Wiro menyahuti ucapan Lakasipo tadi.

"Mungkin dia orang yang kita cari. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab," ikut bicara Setan Ngompol.

"Mungkin juga itu adalah suara hantu atau jin rimba yang sedang mengigau!" ucap Naga Kuning.

"Bocah sialan!" maki Setan Ngompol. "Jangan bicara yang membuat aku kaget dan kepingin beser!" Kakek ini cepat tekap bagian bawah perutnya sementara Naga Kuning usap-usap mulutnya menahan geli.

"Sebaiknya kita turun dari kuda. Menyelidik ke jurusan datangnya suara itu. Siapa tahu yang bersuara seperti orang membaca mantera adalah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab yang kita cari."

"Berarti penjelasan yang diberikan Tringgiling Liang Batu tidak dusta. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab itu benar-benar berada di kawasan kaki gunung ini." (Mengenai riwayat Tringgiling Liang Batu harap baca serial Wiro Sableng berjudul Hantu Jatilandak).

Lakasipo berpikir sejenak. Lalu dia anggukkan kepala. Diusapnya kuduk Laekakienam, kuda hitam besar berkaki enam yang memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Lalu dia turun dari punggung tunggangannya itu. "Laekakienam, jangan kemana-mana. Tunggu di sini sampai kami kembali!"

Kuda berkaki enam kedipkan dua matanya yang merah lalu menjilat tangan Lakasipo.

"Lakasipo, kau hams pergunakan kesaktianmu agar langkah kaki batumu tidak mengeluarkan suara dan menggetarkan tanah. Aku khawatir orang yang meracau akan mendengar lalu melenyapkan diri sebelum kita sampai ke tempatnya." berkata Wiro.

"Hal itu sudah kupikirkan," jawab Lakasipo. Dia mulai melangkah ke jurusan datangnya suara orang meracau. Tanpa mempergunakan ilmu meringankan tubuh dan mengandalkan tenaga dalam, setiap langkah yang dibuat Lakasipo akan mengeluarkan suara duk-duk-duk dan menggetarkan tanah yang dipijaknya. Tapi kali ini setelah dia mengeluarkan kesaktian maka setiap langkah yang dibuatnya selain cepat juga tidak mengeluarkan suara atau menggetarkan tanah. Berjalan kira-kira lima puluh tombak memasuki rimba belantara yang pepohonan serta semak belukarnya semakin rapat, suara orang yang seperti merapal mantera itu semakin keras tanda orangnya semakin dekat. Lakasipo melangkah terus. Setan Ngompol yang diam-diam merasa tegang tambah keras memegang dan menekan bagian bawah perutnya.

"Aku mendengar suara sesuatu!" Wiro berseru.

Baru saja seruannya itu berakhir tiba-tiba terdengar suara menggemuruh di belakang mereka disertai rambasnya semak belukar dan tumbangnya beberapa pohon. Lakasipo cepat berkelebat ke balik sebatang pohon besar. Sesaat kemudian hanya tiga tombak di depan mereka meluncur menggelinding sebuah benda aneh berwarna kuning. Semak belukar rambas bermentalan. Sebatang pohon yang cukup besar patah lalu tumbang menggemuruh. Di lain kejap benda yang bergulung tadi lenyap di balik kerapatan pepohonan sementara di tanah makhluk yang menggelinding meninggalkan jejak berupa puluhan lubang-lubang dalam sebesar jari kelingking.

"Makhluk a pa yang barusan lewat itu!" ujar Setan Ngompol yang sudah basah bagian bawah perutnya,

"Manusia bukan, binatang juga rasanya bukan!" menjawab Naga Kuning.

"Aku mencium baunya ketika barusan lewat. Sepertinya bau itu pernah kucium sebelumnya..." berucap Lakasipo.

Wiro garuk-garuk kepala sambil pandangi lo-bang-lobang di tanah lalu perhatikan batang pohon di sebelah kiri yang kulitnya retak-retak seperti digurat benda tajam. Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini lalu berkata. "Aku menduga jangan-jangan yang barusan lewat adalah makhluk berduri dari Rimba Lahitamkelam yang bernama Hantu Jatilandak itu!",

"Wahai! Dugaanmu tidak salah Wiro. Bau yang kukatakan tadi memang bau tubuhnya!" kata Lakasipo pula.

"Mungkin dugaan kalian tidak salah. Tetapi ketika kita meninggalkan pulau kediamannya jelas Hantu Jatilandak tidak kemana-mana. Lagi pula perlu apa dia gentayangan ke tempat ini?" berkata Naga Kuning.

"Tidakkah kalian memperhatikan sesuatu?" Tiba-tiba si kakek Setan Ngompol berkata.

"Apa maksudmu Kek?" tanya Lakasipo.

"Suara orang meracau saat ini tidak terdengar lagi! Lenyap!" jawab Setan Ngompol.

"Berarti kita bisa-bisa kehilangan jejak mencarinya!" kata Lakasipo. Baru saja dia berucap beg it u tiba-tiba di kejauhan terdengar suara bentakan-bentakan.

"Sesuatu terjadi di dalam hutan sana! Lakasipo! Ayo cepat melangkah ke jurusan itu!"

Mendengar kata-kata Wiro segera saja Lakasipo melangkah cepat memasuki rimba belantara ke arah terdengarnya suara-suara bentakan. Dia lupa mengeluarkan kesaktiannya. Akibatnya setiap langkah yang dibuatnya mengeluarkan suara duk-duk-duk dan tanah yang terpijak selain amblas juga menimbulkan getaran keras. Memasuki rimba sejauh tiga puluh langkah, di satu tempat Lakasipo berhenti. Matanya mendelik besar. Tidak percaya akan apa yang disaksikannya. Wiro, Naga Kuning dan juga Setan Ngompol tak kalah heran dan kejut masing-masing.

Di hadapan ke empat orang itu, di satu bagian rimba belantara yang pohon-pohonnya bertumbangan tegak sesosok tubuh kuning tinggi kurus. Sekujur badannya, makhluk yang hanya mengenakan sehelai cawat terbuat dari kulit kayu ini ditumbuhi duri-duri panjang berwarna coklat, mulai dari ubun-ubun sampai ke kaki.

"Kau benar Wiro," bisik Setan Ngompol. "Makhluk yang tadi menggelinding melewati kita memang Hantu Jatilandak. Kini dia berada di tempat ini!"

Kalau Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol sesaat masih pandangi sosok yang ditumbuhi duri-duri panjang dan runcing itu maka lain halnya dengan Lakasipo. Dua mata lelaki ini membeliak besar melihat kuda kaki enam miliknya yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di tempat itu. Binatang ini tegak diam tidak berkesip tidak bergerak seolah kena sirap. Lalu di atas punggung binatang ini duduk bersila seorang kakek mengenakan celana hitam terbuat dari kulit kayu. Bagian tubuhnya yang tidak tertutup yakni tangan, dada dan juga kulit mukanya, lalu sepasang kaki penuh dengan totol-totol hitam, dan coklat seperti bulu macan tutul.

"Lakasipo," berkata Wiro. "Bagaimana kudamu tahu-tahu bisa berada di tempat ini dan dijadikan tunggangan oleh kakek aneh itu?!"

"Wahai! Justru itu yang jadi tanda tanya besar dalam benakku!" jawab Lakasipo dan matanya masih terus membeliak. "Sesuatu yang hebat telah terjadi! Kakek yang bertubuh seperti macan tutul itu pasti memiliki kepandaian luar biasa. Laekakienam kulihat seperti kena sirap dan berada di bawah kekuasaannya!

"Kau tahu siapa makhluk tua bangka yang duduk di atas Laekakienam itu?" Naga Kuning bertanya.

"Tak pernah kulihat makhluk ini sebelumnya. Aku hanya bisa menduga. Pernah kudengar tentang seorang kakek berjuluk Hantu Seratus Tutul! Jangan-jangan dia orangnya. Setahuku dia bukan orang baik-baik. Sama jahatnya dengan Hantu Muka .Dua!"

"Kita harus berhati-hati Lakasipo," kata Wiro. "Kelihatannya dia sudah sengaja mencari lantaran dengan menguasai Laekakienam seperti itu!"

Seolah tidak perdulikan kehadiran Lakasipo dan tiga manusia cebol yang terikat di pinggangnya, makhluk yang tubuhnya seperti macan tutul di atas kuda hit am berkaki enam memandang tak berkesip pada Hantu Jatilandak. Lalu orang ini dongakkan kepala dan dari mulutnya keluar suara meracau panjang seperti orang merapal mantera atau jampi-jampi. Sesaat kemudian perlahan-lahan kepalanya yang tadi mendongak diturunkan, mulutnya masih terus meracau sedang dua matanya menatap tajam ke a rah Hantu Jatilandak. Tiba-tiba racauannya putus. Dari mulutnya menyembur bentakan keras.

"Hantu Jatilandak! Takdir telah jatuh atas dirimu! Pada hari pertama kau meninggalkan pulau kediamanmu maka hari itu pula kau akan menemui kematian! Aku akan menguliti tubuhmu! Aku memerlukan kulitmu yang berduri itu untuk kujadikan sehelai mantel sakti!"

"Gila! Enak saja tua bangka bertubuh seperti macan tutul itu hendak menguliti si Jatilandak!" kata Naga Kuning.

Orang diatas kuda hitam kaki enam lalu gerakkan tangannya kiri kanan ke pinggang. Sesaat kemudian dua pisau berbentuk arit kecil tampak berkilauan dalam genggamannya.

Melihat Hantu Jatilandak hanya berdiam diri dan tidak menanggapi ucapannya, orang di atas kuda hitam kembali membentak.

"Hantu Jatilandak! Kau diam saja! Agaknya kau memang sudah siap untuk ku pesiangi saat ini juga!"

Kuping lebar Hantu Jatilandak tiba-tiba bergerak mencuat kaku ke atas. Duri-duri di kepalanya berjingkrak kaku. Hantu Jatilandak meludah ke tanah. Ludahnya berwarna kuning. Dari tenggorokannya terdengar suara menggereng. Lalu mulutnya menyeringai, disusul keluarnya suara ucapan.

"Kakekku Tringgiling Liang Batu pernah bertutur. Negeri Latanahsilam penuh keanehan. Di dalam keanehan itu ada orang-orang menginginkan kematian orang lain seolah dirinya sendiri punya lebih dari satu nyawa dan tidak takut menerima balasan! Wahai makhluk bertubuh macan tutul yang duduk di atas punggung kuda milik orang lain, apakah benar kata kakekku itu bahwa kau punya dua nyawa?! Hingga kalau kau kubunuh kau masih punya nyawa cadangan?!"

Menggembunglah rahang kakek di atas kuda hitam berkaki enam. Dua matanya membeliak menyorotkan sinar kematian. Tiba-tiba dia keluarkan teriakan dahsyat. Tubuhnya lenyap dari punggung kuda, melesat ke arah pohon kayu di sebelah kanan. Dua tangannya bergerak. Dua pisau yang dipegangnya berkelebat berkilauan cepat sekali. Sesaat kemudian ketika dia kembali melesat duduk di atas punggung kuda, batang pohon di sebelah kanan kelihatan gundul memutih. Gulungan kulit kayu yang sebelumnya membungkus pohon itu kini terhampar di kaki pohon!

Kalau Lakasipo, Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol terbeliak besar melihat apa yang dilakukan Hantu Seratus Tutul, bahkan Setan Ngompol sudah kembali kucurkan air kencing maka Hantu Jatilandak tetap tenang saja malah meludah ke tanah.

"Lakasipo," kata Pendekar 212. "Untung bukan kudamu yang dijadikannya contoh dikuliti!"

Di atas punggung kuda hitam berkaki enam Hantu Seratus Tutul tertawa gelak-gelak.

"Hantu Jatilandak! Kau saksikan sendiri bagaimana aku menguliti pohon besar itu! Untuk menguliti tubuhmu waktu yang ku perlukan hanya sepertiga dari waktu menguliti pohon itu! Wahai! Bersiaplah Jatilandak! Selagi pisauku masih tajam, kau tidak akan merasa sakit sedikitpun! Kau akan menemui ajal senikmat bayi yang tidur nyenyak! Ha... ha... ha!"

Habis berkata dan tertawa seperti itu Hantu Seratus Tutul melesat dari atas punggung Laekakienam. Berkelebat ke arah Hantu Jatilandak dan tahu-tahu dua pisau berbentuk arit kecil di tangannya kiri kanan telah berkiblat ke arah kepala Hantu Jatilandak. Rupanya dia hendak menguliti cucu Tringgiling Liang Batu ini dari kepala lebih dulu!

Hantu Jatilandak tentu saja tidak tinggal diam. Sepasang matanya sorotkan sinar kuning. Tangan kirinya dikibaskan ke depan. Dua belas duri panjang dan lancip laksana paku-paku besi melesat ke arah selusin sasaran di kepala dan tubuh Hantu Seratus Tutul.

Hantu Seratus Tutul tertawa bergelak. Dia gerakkan dua tangannya yang memegang pisau. Dua larik sinar putih bertabur!

*

* *DUAraasss! Craaasss!" Dua duri yang melesat ke arah kepala berhasil dibabat putus oleh sepasang pisau berbentuk arit. Dengan membungkuk dan melompat ke samping kiri Hantu Seratus Tutul berhasil mengelakkan delapan sambaran duri landak. Begitu serangan tidak mengenai sasaran secara aneh delapan duri ini berputar membalik dan kembali menancap ke tempatnya semula yakni di tangan kiri Hantu Jatilandak. Sisa dua duri ternyata tidak sempat dielakkan si kakek. Walau tidak sampai menancap di tubuhnya namun duri-duri itu masih sempat menyerempet bahu kiri dan ping-gang kanan mengakibatkan luka yang mengucurkan darah. C

Dari mulut Hantu Seratus Tutul melesat suara gerengan marah. Demikian hebatnya suara gerengan ini hingga menggetarkan seantero tempat. Bersamaan dengan itu wajah si kakek mendadak sontak berubah menjadi tampang seekor macan tutul benaran. Daun telinganya yang lebar berjingkrak. Taring runcing mengerikan mencuat di sudut-sudut mulut. Di bagian bawah tubuhnya muncul ekor panjang yang menyentak-nyentak kian kemari. Lalu "cleeep... cleeppp!" Dari ujung-ujung jari tangan dan kakinya mencuat keluar kuku-kuku panjang, hitam runcing mengerikan. Si kakek kini telah berubah menjadi seekor macan tutul jejadian. Membuat Lakasipo, Wire-dan Naga Kuning tak bergeming ngeri. Setan Ngompol tak usah ditanya lagi. Saat itu juga ia sudah terkencing-kencing karena kaget dan ngeri!

Hantu Jatilandak sesaat terkesiap melihat perubahan sosok dan wajah lawannya. Dalam hati dia yakin bahwa musuh memang berniat hendak menguliti membunuhnya. Dia meludah ke tanah lalu berkata. "Wahai! Baru hari ini aku meninggalkan hutan Lahitamkelam. Tak kenal orang tak pernah punya musuh maupun seteru. Mengapa kau ingin mencelakai diriku? Mengapa kau inginkan jiwa dan ragaku?! Siapa kau sebenarnya?!"

"Aku Hantu Seratus Tutul! Sudah kubilang hari ini adalah hari takdir kematianmu! Jadi tidak perlu berbanyak tanya!" Habis berkata begitu Hantu Seratus Tutul kembali keluarkan gerengan keras. Lalu tubuhnya berkelebat ke depan. Dua pisau siap menguliti tubuh Hantu Jatilandak sedang kuku-kuku jari mencari kesempatan merobek-robek!

Hantu Jatilandak meludah ke tanah. Duri-duri di muka dan kepalanya berjingkrak kaku. Dari sepasang matanya tiba-tiba berkiblat dua larik sinar kuning. Menghantam ke arah dada dan perut Hantu Seratus Tutul!

"Lakasipo!" Wiro berteriak. "Bagaimanapun Hantu Jatilandak telah menjadi sahabat kita! Kita harus menolongnya! Apa lagi kau tadi mengatakan Hantu Seratus Tutul sama jahatnya dengan Hantu Muka Dua! Ayo bantu Hantu Jatilandak! Tunggu apa lagi?!"

"Kurasa Hantu Jatilandak tidak akan kalah. Apa lagi Hantu Seratus Tutul sudah terluka. Sebentar lagi racun duri landak akan membuatnya kelojotan. Tapi...."

"Dua pisau di tangan macan jejadian itu mungkin bukan apa-apa bagi Hantu Jatilandak. Tapi kuku-kuku tangan serta kakinya pasti sangat berbahaya. Mengandung racun jahat mematikan! Kalau kita tidak lekas menolong Hantu Jatilandak, dia akan segera menemui kematian. Lalu lawan akan menguliti tubuhnya!."

"Ucapan Wiro ada benarnya!" kata Setan Ngompol pula. "Tapi kalau kau mau berniat membantu Hantu Jatilandak, lebih dulu harap kau menurunkan aku ke tanah agar bisa mencari tempat aman!" Lalu setelah menggeliat beberapa kali kakek ini berhasil lepaskan diri dari sabuk di pinggang Lakasipo. Sambil terkencing-kencing dia lari mencari perlindungan di balik sebatang pohon besar. Wiro dan Naga Kuning yang juga maklum besarnya bahaya jika mereka masih terikat di balik sabuk melakukan hai yang sama. Keduanya melompat turun lalu bergabung dengan Setan Ngompol.

Melihat tiga saudara angkatnya telah melepaskan diri dan lari ke balik pohon, tanpa tunggu lebih lama Lakasipo segera melompat ke kalangan pertempuran sambil lepaskan tendangan yang disebut Kaki Roh Penghantar Maut. Dari batu hitam yang membungkus kakinya, didahului kepulan asap hitam maka menyambarlah satu gelombang angin yang amat dahsyat!

Hantu Seratus Tutul tersentak kaget ketika dapatkan sekujur tubuhnya seolah tertahan oleh satu tembok baja yang tidak kelihatan. Ketika dia coba memaksa, tubuhnya bergoncang keras. Dengan menggereng penuh amarah makhluk satu ini melesat dua tombak ke udara. Gelombang angin yang tadi berusaha ditahannya lewat deras di bawah kakinya lalu "braakkkk!" Satu pohon yang ada di belakangnya berderak patah dan tumbang menggemuruh!

Hantu Seratus Tutul jungkir balik dan cepat melayang turun. Begitu injakkan kaki dia membentak garang. "Ada setan alas berkaki batu dari mana yang. berani ikut campur urusan orang lain!" Hantu Seratus Tutul delikkan matanya. Tiba-tiba dia berseru. "Wahai! Kalau tidak salah penglihatanku, kalau tidak meleset dugaanku, bukankah kau manusianya yang bernama Lakasipo bergelar Hantu Kaki Batu?!"

"Kalau kau sudah tahu lalu kau mau apa?!" Balik membentak Lakasipo.

"Kenapa kau tahu-tahu muncul dan membantu manusia bertubuh landak itu?!" tanya Hantu Seratus Tutul.

"Hantu Jatilandak adalah sahabatku! Sebagai sahabat aku tidak ingin dia dicelakai orang di depan mataku!"

"Ah, memang sudah kudengar. Ternyata Hantu Kaki Batu seorang berbudi tinggi berhati luhur! Tetapi mungkin kau tidak tahu wahai Hantu Kaki Batu. Antara kau dan aku ada hubungan yang lebih kuat dari tali persahabatan. Antara kita ada kaitan hubungan darah!"

Terkejutlah Lakasipo mendengar kata-kata Hantu Seratus Tutul itu. Sesaat dia tegak termangu dan bertanya-tanya. "Bertemu baru kali ini. Dia bilang ada hubungan darah antara aku dengan dirinya. Apakah bisa kupercaya?"

"Hantu Seratus Tutul! Jika ucapanmu benar maka sebagai orang bersaudara harap kau menghabisi niat jahatmu terhadap Hantu Jatilandak sampai di sini!"

"Wahai Lakasipo! Berat nian permintaanmu! Aku sudah terlanjur bersumpah untuk membunuh Hantu Jatilandak dan menjadikan kulitnya sebagai mantel sakti!"

"Kuharap kau suka melupakan sumpahmu itu dan pergilah dari sini dengan aman!"

Hantu Seratus Tutul gelengkan kepala. "Tidak mungkin! Sumpah sudah terucap! Tak mungkin ditarik kembali!"

"Biasanya orang bersumpah dengan orang lain. Dengan siapa kau bersumpah? Siapa yang menyuruhmu?!" bentak Hantu Jatilandak.

"Kau tak perlu tahu! Kau tak layak bertanya!" jawab Hantu Seratus Tutul.

"Kalau begitu kutuk sumpah akan menelan dirimu sendiri!" kata Hantu Jatilandak lalu meludah ke tanah. Dari dua matanya kembali muncul sinar kuning menggidikkan. Dia maju satu langkah. Lakasipo cepat menengahi sambil berseru. Tapi dua orang itu agaknya tak bisa dicegah lagi. Pada saat keduanya sama-sama melesat hendak saling menyerang dan Lakasipo bermaksud hantamkan kakinya kembali ke arah Hantu Seratus Tutul, mendadak ada suara teriakan perempuan berkumandang di dalam rimba belantara itu.

"Kalian tiga makhluk menyedihkan. Mengapa mencari mati padahal masih ada kehidupan? Sebelum kalian sama menemui ajal dalam ketololan bisakah kalian menjawab beberapa pertanyaanku lebih dahulu?!"

Suara teriakan itu terdengar keras namun ada serangkum nada kelembutan pertanda orangnya memiliki rasa welas asih yang tinggi. Selain itu suara teriakan tadi datangnya dari kejauhan di sebelah timur rimba. Namun belum lagi gemanya lenyap sosok orang yang berteriak sudah muncul di tempat itu, tegak di atas batang pohon besar yang tumbang, delapan langkah di belakang Hantu Seratus Tutul.

"Astaga! Kalau bukan bidadari pasti yang muncul ini adalah Peri paling cantik di negeri Latanahsilam!" kata Setan Ngompol dari balik potion dengan sepasang mata dibuka lebar-lebar. Naga Kuning leletkan lidah. Murid Sinto Gendeng sendiri diam-diam harus mengakui bahwa perempuan yang tegak di atas batang pohon itu memang lebih cantik dari Luhjelita ataupun Peri Bunda, maupun Peri Angsa Putih. Namun dibalik kecantikan itu dia melihat adanya satu bayangan aneh yang saat itu tidak bisa ditebaknya apakah bayangan itu sesuatu yang baik atau sesuatu yang jahat atau hanya satu ganjalan yang terpendam di lubuk hati.

Hal yang sama terjadi juga dengan Hantu Jatilandak dan Lakasipo. Ke dua orang ini sesaat jadi tegak terdiam. Sama-sama mengagumi kecantikan si gadis yang bertubuh tinggi semampai, ramping dan mengenakan sehelai kulit kayu berwarna biru sebagai pakaiannya. Di keningnya ada sebuah kembang tanjung berwarna kuning. Rambutnya hitam berkilat, tergerai jatuh sampai di pinggangnya yang langsing. Bibirnya tiada henti mengulas senyum.

Karena dia satu-satunya yang tegak membelakangi gadis cantik di batang pohon maka Hantu Seratus Tutul segera balikkan diri. Kalau makhluk ini ikut-ikutan terpesona melihat kecantikan gadis itu sebaliknya si gadis kerenyitkan wajahnya ketika melihat tampang Hantu Seratus Tutul yang merupakan tampang macan tutul bahkan lengkap dengan ekornya segala!

"Gadis cantik! Wahai! Siapa kau?! Apakah tidak menyadari besarnya bahaya berada di tempat ini?!". "Apa lagi kalau kau sampai berani ikut campur urusan kami! Menyingkirlah! Cari tempat yang aman sampai aku menyelesaikan mempesiangi dua orang itu! Begitu urusanku selesai kau akan kubawa ke satu tempat yang disebut Istana Kebahagiaan! Di sana kita bisa bersenang-senang. Untuk gadis secantikmu apa saja yang kau inginkan pasti menjadi kenyataan!" Hantu Seratus Tutul julurkan lidah membasahi bibir dan kedip-kedipkan mata.

*

* *TIGAsemula semua orang yang ada di tempat itu sama menyangka si gad is akan menjadi marah mendengar ucapan yang tidak senonoh itu. Nyatanya dia malah tersenyum lalu tertawa berderai. "

Gadis aneh! Jelas manusia makhluk berupa macan jejadian itu bicara kotor, dia malah tertawa seolah senang!" kata Setan Ngompol.

"Suara tawanya terdengar merdu menyejukkan hati! Ah, aku bisa-bisa jadi jatuh cinta padanya!" kata Naga Kuning.

"Bocah amis tidak tahu diri!" semprot Setan Ngompol. "Kencing saja belum lempang! Bicara jatuh cinta segala!"

Naga Kuning jadi panas. "Tapi Kek! Kalau memilih diantara kita berdua, gadis itu pasti memilih aku! Tidak mungkin dia memilih kau yang sudah reyot dimakan rayap dan bau pesing!"

"Naga Kuning, agaknya kau lupa pada gadis bernama Luhkimkim yang kau gila-gilai itu," Wiro ikut bicara.

"Hik... hik!" Setan Ngompol tertawa. "Gadis cilik ingusan itu saja kau masih belum mampu mendapatkan, sekarang mau jatuh cinta pada si jelita itu! Hik... hik! Tapi siapa tahu nasibmu bagus bocah! Kau diambilnya untuk jadi ganjalan tempat ketidurannya! Hik... hik... hik!"

"Kakek brengsek! Kelak akan ku buktikan gadis berpakaian biru itu lebih menyukai diriku ketimbang dirimu! Lihat saja nanti!" kata Naga Kuning dengan muka bersungut-sungut.

Gadis yang tegak di atas tumbangan batang pohon hentikan tawanya. Sepasang mat any a yang bening bagus menatap Hantu Seratus Tutul. Lalu dia berucap. Suaranya lembut.

"Senang hatiku diajak ke Istana Kebahagiaan. Pasti banyak hal-hal luar biasa yang membahagiakan bakal kutemui di sana. Makhluk bermuka macan, baru bertemu kau sudah bersikap baik terhadapku. Ah, sungguh hatiku sudah bahagia walau belum sampai ke Istana Kebahagiaan yang kau katakan itu. Hanya saja wahai makhluk bermuka macan. Apakah kau terlebih dulu sudi menjawab beberapa pertanyaanku?"

"Jangankan beberapa, seribu atau sejuta pertanyaanmu pun akan kujawab. Tetapi wahai gadis cantik bermata bagus. Biaraku menyelesaikan urusan dulu dengan dua cecunguk ini. Nanti kita bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk saling bertanya jawab...."

"Wahai, begitu tegakah hatimu menyuruh aku menunggu? Lagi pula aku tidak kuat melihat kalau nanti dirimu sampai celaka di tengah ke dua orang itu"

"Aku tidak akan celaka. Mereka berdua yang bakal menemui kematian!" kata Hantu Seratus Tutul sambil busungkan dada. "Tetapi baiklah, orang secantikmu tidak boleh dibiarkan menunggu terlalu lama. Apa lagi di tempat seperti ini. Silahkan, pertanyaan apa yang hendak kau ajukan wahai gadis cantik? Tapi wahai! Bolehkah aku bertanya dulu siapa gerangan namamu?"

"Namaku Luhcinta," jawab si gadis.

Di balik pohon Naga Kuning langsung berkata. "Kalian dengar! Namanya saja Luhcinta! Ah, aku benar-benar jatuh cinta!"

"Bocah geblek!" kembali Setan Ngompol menyemprot."

"Wahai, orangnya cantik namanya pun bagus!" memuji Hantu Seratus Tutul. "Aku sendiri dikenal orang dengan panggilan Hantu Seratus Tutul...."

Si gadis tertawa merdu. "Namamu pun bagus! Cocok dengan keadaanmu!"

Hantu Seratus Tutul tertawa lebar. Hidung macan nya mengembang. "Sekarang kau boleh menyampaikan apa yang hendak kau tanyakan padaku wahai Luhcinta."

"Pertanyaan pertama, apakah kau pernah mengetahui seorang lelaki bernama Latampi?"

Begitu ditanya begitu Hantu Seratus Tutul gelengkan kepala.

"Sayang kau tak bisa menjawab pertanyaan pertama. Aku beralih pada pertanyaan ke dua. Apakah kali pernah mendengar riwayat seorang perempuan bernama Luhpiranti..."

"Luhpiranti.... Luhpiranti...." Hantu Seratus Tutul menyebut nama itu berulang-ulang sambil pukul-pukul keningnya. "Rasa-rasanya aku memang pernah mendengar mama itu. Tapi lupa entah di mana dan kapan. Ah...."

"Pertanyaan ketiga mungkin bisa menjadi petunjuk padamu. Pernah kau mendengar seorang bernama Hantu Penjunjung Roh?"

"Pertanyaanmu yang satu ini bisa kujawab!" kata Hantu Seratus Tutul pula sambil menyeringai. "Dia adalah seorang nenek sakti yang tak punya tempat kediaman. Selalu mengembara...."

"Hanya itu yang kau ketahui?"

"Ada satu hal. Nenek sakti itu tidak bakalan panjang umurnya!"

"Wahai! Mengapa kau bisa berkata begitu?" tanya gadis bernama Luhcinta.

"Karena aku akan membunuhnya!" jawab Hantu Seratus Tutul sambil busungkan dada.

"Mengapa kau hendak membunuhnya?" tanya Luhcinta lagi.

"Karena dia tidak tunduk padaku. Tidak mau tunduk pada pimpinan tertinggi Istana Kebahagiaan!"

"Siapa gerangan pimpinan tertinggi Istana Kebahagiaan yang kau maksudkan itu?" Luhcinta memburu terus dengan pertanyaan beruntun. Setiap bertanya senyum tidak pupus dari bibirnya yang bagus.

"Hal itu tidak bisa ku terangkan saat ini," jawab Hantu Seratus Tutul.

"Mengapa tidak bisa?"

"Karena belum saatnya!"

"Kalau begitu, kapan saatnya kau bisa memberi tahu?!" tanya gadis di atas batang kayu pula.

"Tergantung keadaan. Yang pasti kalau kita sudah sampai di Istana Kebahagiaan nanti."

Luhcinta tersenyum. "Aku kecewa padamu wahai Hantu Seratus Tutul. Dua pertanyaanku yang pertama tidak bisa kau jawab. Pertanyaan ke tiga hanya kau jawab sedikit, malah membuatku jadi bingung. Wahai walau hatiku suka tapi kurasa tak ada gunanya aku ikut bersamamu ke Istana Kebahagiaan itu. Ha rap maafkan, aku tidak akan mau bicara lagi denganmu. Tak ingin aku bertanya lagi! Pergilah dari sini! Dengan begitu kau bisa menghindari malapetaka mati terbunuh di tempat ini."

"Wahai Luhcinta...!" seru Hantu Seratus Tutul.

Namun si gadis tidak perdulikan dirinya lagi. Dia melompat dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Hantu Jatilandak.

"Makhluk aneh berkulit kuning bertubuh seperti landak! Wahai, apakah kau mempunyai nama? Mungkinkah kau bisa memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku tadi?"

Hantu Jatilandak tundukkan kepalanya sedikit seolah memberi hormat lalu menjawab. "Aku biasa dipanggil dengan nama Hantu Jatilandak. Mengenai semua pertanyaanmu tadi, harap maafmu. Aku baru saja meninggalkan rimba dan pulau kediamanku. Segala sesuatu yang terjadi di dunia luar tidak pernah kuketahui. Jadi tidak mungkin aku menjawab atau memberi keterangan."

"Hemm.... Ternyata kau berhati polos dan jujur. Aku tak ingin lagi bicara denganmu tapi kau boleh tetap berada di sini." Luhcinta berpaling ke arah Hantu Seratus Tutul. "Wahai, kau masih berada di sini. Apa tidak mendengar ucapanku tadi? Tinggalkan tempat ini. Agar tidak mendapat celaka."

"Gadis, walau kau cantik dan baik budi perilaku tapi jangan terus-terusan berucap yang membuat aku jadi tidak sabaran! Tidak ada seorangpun di tempat ini yang boleh mengatur diriku!"

Luhcinta tersenyum. "Begitu...?" Gadis ini lalu memandang pada Lakasipo. Setelah menatap sejurus dia berkata. "Orang gagah, dalam rasa sukaku melihatmu aku merasakan agaknya ada satu ganjalan besar di hati sanubarimu dalam menghadapi kehidupan ini. Aku turut merasa prihatin. Kalau saja aku bisa menolong pasti aku akan lakukan. Namun demikian, apakah kau menyadari bahwa dalam kehidupanmu yang malang kau seharusnya bersyukur bahwa ada beberapa perempuan cantik diam-diam mencintaimu?"

Paras Lakasipo jadi berubah kemerahan.

"Orang gagah berkaki batu, apakah kau pernah mendengar ujar-ujar: Syukurilah hidup sebelum datang kematian. Syukurilah cinta kasih sebelum berubah menjadi kebencian."

"Ujar-ujar itu indah dan bagus sekali," kata Lakasipo. "Artinya dalam dan banyak sekali maknanya bagiku, Akan kuingat baik-baik. Dan aku sangat berterima kasih kau telah member! tahu ujar-ujar itu padaku."

Gadis bernama Luhcinta tersenyum. "Sekarang kalau kau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku tad?!"

"Mengenai orang lelaki bernama Latampi. Puluhan tahun silam dia pernah tinggal di salah satu pelosok terpencil Negeri Latanahsilam. Kemudian dia meninggalkan negeri, mengembara mencari ilmu. Kudengar dia menemukan seorang guru sakti dan berhasil mendapatkan berbagai ilmu yang aneh-aneh. Namun dia lenyap begitu saja."

Ketika mendengar ucapan Lakasipo itu walau bibirnya merekah senyum namun sepasang mata bening gadis bernama Luhcinta kelihatan membesar bercahaya.

"Apakah menurutmu dia sudah meninggal dunia wahai orang gagah berkaki batu?" tanya Luhcinta. Sepasang matanya yang tadi membesar bagus kini mengecil sayu seolah takut mendengar jawaban yang mengkhawatirkan.

"Tidak pernah kudengar kabar kematian dirinya. Pada masa itu ada kejadian orang-orang gagah di Negeri Latanahsilam memiliki kemampuan meninggalkan negeri ini seperti yang terjadi dengan Hantu Balak Anam. Dia lenyap dan pindah ke alam lain yang seribu dua ratus tahun lebih dahulu dari alam di sini. Namun sulit diketahui ataupun dibuktikan apakah Latampi juga ikut melenyapkan diri meninggalkan Negeri Latanahsilam, pergi ke dunia lain itu."

"Apakah orang bernama Hantu Balak Anam itu pernah muncul kembali di negeri ini? Atau mungkin ada yang mengetahui hal ihwalnya?" tanya Luhcinta.

Lakasipo tak segera menjawab. Dia melirik pada Wiro dan kawan-kawannya sesaat. Si gadis ikut memandang ke arah yang dilirik Lakasipo. Tapi dia tidak dapat melihat Wiro, Naga Kuning ataupun Setan Ngompol karena terhalang oleh pohon besar. Lalu didengarnya ucapan Lakasipo. "Hantu Balak Anam tak pernah datang lagi ke Latanahsilam. Juga tak banyak diketahui hal ihwalnya di negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu."

"Keteranganmu tidak terlalu lengkap tapi sudah cukup membuat hatiku lega karena ada satu kenyataan dan kebenaran yang kini bisa kupastikan. Apakah kau juga bisa memberi tahu tentang perempuan bernama Luhpiranti?"

"Kalau aku tidak salah menduga Luhpiranti adalah istri dari Latampi. Perempuan ini juga lenyap bersama lenyapnya Latampi. Sampai pada satu ketika ditemukan sesosok mayat perempuan di dalam satu rimba belantara. Mayat itu sudah demikian rusaknya. Nyaris tinggal tulang belulang Walau banyak yang menduga tapi sulit membuktikan itu adalah jenazah Luhpiranti yang menemui kematian entah karena dibunuh entah bunuh diri...."

Wajah Luhcinta kelihatan seperti membeku. Sepasang matanya seolah berubah menjadi batu dan menatap Lakasipo tanpa berkesip. Membuat lelaki ini merasakan munculnya getaran aneh dalam dadanya.

"Lelaki berkaki batu, apakah kau bisa memberi petunjuk untuk membuktikan bahwa Luhpiranti adalah benar-benar istri Latampi?"

Lakasipo merenung sejenak. "Ke dua orang tua mereka kabarnya sudah tiada. Sanak kerabat dekat mereka juga tak punya. Namun...."

"Namun apa wahai orang gagah berkaki batu?" Pertanyaan si gadis terdengar lembut tetapi juga bernada penuh harapan.

"Ada seorang yang sekarang masih hidup dan menjadi saksi upacara perkawinan mereka di Bukit Batu Kawin puluhan tahun silam...."

"Katakan siapa orangnya dan di mana aku bisa menemuinya!" kata Luhcinta seraya maju mendekat hingga jaraknya dengan Lakasipo kini hanya terpisah satu langkah.

Berada sedekat itu Lakasipo pandangi wajah cantik di depannya penuh rasa kagum. Debaran dalam dadanya semakin bergejolak. Dalam hati dia berkata. "Tak pernah aku melihat gadis secantik ini. Hatiku berdebar. Detak jantungku mengeras. Wahai perasaan apakah yang menggelora dalam diriku terhadap gadis ini?"

"Orang gagah berkaki batu. Apakah kau tidak ingin memberi tahu siapa adanya orang yang bisa memberi petunjuk kesaksian bahwa Luhpiranti benar-benar adalah istri Latampi?"

"Orang itu adalah nenek bernama Lamahila. Nenek yang biasa menjadi pimpinan upacara adat perkawinan bagi semua orang di Latanahsilam."

"Apakah nenek itu masih ada di Latanahsilam saat ini?"

Lakasipo anggukkan kepala.

"Semua keteranganmu sangat besar artinya bagiku wahai orang gagah berkaki batu. Siapa gerangan namamu?" "

"Aku bernama Lakasipo. Orang-orang menjuluki Hantu Kaki Batu."

Luhcinta mengangguk-angguk beberapa kali lalu dia ulurkan tangannya memegang tangan Lakasipo. "Lakasipo, aku sangat berterima kasih atas semua keteranganmu. Tapi aku akan lebih berterima kasih jika kau bisa men jawab pertanyaanku yang terakhir..."

"Kau ingin menanyakan tentang nenek sakti bernama Hantu Penjunjung Roh itu...?"

Luhcinta tersenyum lebar. "Tadinya memang hendak ku tanyakan. Tapi semua jawabanmu telah bisa kucerna hingga lebih baik aku menanyakan hal lain yang lebih penting. Kau pernah mendengar seorang bernama Lajundai?"

"Kenapa kau menanyakan orang itu?!" Yang bertanya adalah Hantu Seratus tutul.

Luhcinta tersenyum dan berpaling. Lalu gadis ini geleng-gelengkan kepala.

"Hantu Seratus Tutul, bukankah aku sudah memintamu agar pergi dari sini?"

"Kau tidak bisa mengatur Hantu Seratus Tutul! Kau yang harus tunduk padaku Luhcinta!"

Si gadis tersenyum. "Dari pertanyaanmu agaknya kau tahu siapa dart di mana beradanya orang bernama Lajundai itu."

"Aku akan memberi tahu jika kau bersedia ikut aku ke istana Kebahagiaan!" jawab Hantu Seratus Tutul.

"Kalau beg it u kau pergilah duluan ke istana yang kau sebutkan itu. Aku menyusul kemudian!"

"Luhcinta! Aku memang suka padamu! Kecantikan dan tubuhmu yang bagus menggairahkan darahku! Tapi jangan bersikap keras kepala berani membantah! Aku tidak segan-segan menguliti tubuhmu seperti yang akan kulakukan terhadap Hantu Jatilandak!"

"Aku sedih mendengar kata-katamu itu. Bukankah sesama manusia saling bersaudara? Mengapa kalian mengandalkan hidup pada amarah dan angkara murka? Padahal cinta dan kasih sayang jauh lebih baik bagi semua orang...."

Kalau semua orang terkesiap mendengar kata-kata si gadis maka Hantu Seratus Tutul tertawa gelak-gelak. "Angkara murka sangat cocok buat orang-orang ini. Cinta kasih paling cocok untuk kita berdua. Bukankah begitu gadis cantik Luhcinta?! Ha... ha... ha!"

"Ah, aku salah menduga hatimu," berucap si gadis. Lagi-lagi sambil tersenyum. "Cinta kasih yang ada dalam dirimu ternyata sesuatu yang kotor dan keji. Tidak cocok untukku. Bahkan tidak untuk binatang sekalipun...."

Merahlah tampang macan Hantu Seratus Tutul. Tenggorokannya turun naik dan keluarkan suara menggembor. Didahului teriakan yang lebih merupakan gerengan keras manusia yang mewujudkan dirinya sebagai macan tutul jejadian ini menyergap ke depan. Dua pisau di tangannya kiri kanan berkiblat ganas. Salah satu kakinya menendang ke perut Luhcinta!.

*

* *EMPATGadis yang diserang tidak tinggal diam. Sekali dia jejakkan sepasang kakinya ke tanah, tubuhnya melesat dua tombak. Lalu dari atas dia membuat gerakan menggeliat seperti seorang penari. Dua tangannya didorongkan perlahan ke bawah. Melihat gerakan si gadis yang lemah-lemah saja apa lagi disertai senyum dikulum, Hantu Seratus Tutul ikut melesat ke atas. Dua pisau di tangannya kembali berkelebat. Tapi setengah jalan tiba-tiba satu gelombang angin yang sangat sejuk menerpa batok kepala, ke dua bahu dan dadanya. Tak ampun lagi Hantu Seratus Tutul terbanting ke tanah. Kalau tidak cepat berjungkir balik pasti dia akan jatuh duduk terhenyak atau muka berkelukuran lebih dulu!

"Gadis binal! Kau membuatku marah!" teriak Hantu Seratus Tutul. Tangannya kembali berkelebat ke atas. Namun di saat yang sama tubuhnya membuat gerakan aneh. Dua kakinya melesat dan ini ternyata serangan sebenarnya sedang gerakan dua tangan tadi hanya tipuan saja.

"Sreettt!"

Luhcinta terpekik. Ujung pakaian kulit kayunya robek tersambar kuku-kuku runcing kaki kanan Hantu Seratus Tutul. Untung kulit kakinya tidak ikut tersambar.

"Wahai Hantu Seratus Tutul. Tidak ada rasa hiba di hatimu terhadap kaum perempuan sepertiku. Atau mungkin kau makhluk yang tidak punya hati? Tidak punya perasaan? Tidak punya rasa kasihan?"

"Aku akan menangkapmu hidup-hidup. Akan ku-bawa kau ke Istana Kebahagiaan! Di situ kau bakal tahu apa yang aku punya untukmu! Ha... ha... ha!" Hantu Seratus Tutul lalu kembali lancarkan serangan.

Melihat kejadian ini Lakasipo dan Hantu Jatilandak tak tinggal diam. Keduanya melompat memapasi serangan Hantu Seratus Tutul. Maka terjadilah perkelahian seru tiga lawan satu.

Bagaimanapun hebat dan tingginya ilmu kepandaian Hantu Seratus Tutul namun dikeroyok tiga seperti itu dia menjadi kelabakan dan lama-lama terdesak hebat.

"Kurang ajar! Kalau aku tidak segera merat selamatkan diri nyawaku bisa kapiran!" Hantu Seratus Tutul memaki sendiri dalam hati. Dia lepaskan dua jotosan yang mengeluarkan sepuluh larik sinar coklat. Bersamaan dengan itu kuku-kuku jari kakinya mencakar ke tanah. Begitu dua kakinya ditarik keluar maka tanah dan pasir beterbangan ke udara menutupi pemandangan.

"Hantu keparat! Jangan lari!" teriak Hantu Jatilandak. Dua larik sinar kuning melesat dari matanya. Namun terlambat. Hantu Seratus Tutul telah lenyap dari tempat itu. Di tanah yang tadi dicakar dua kakinya kini kelihatan dua buah lobang besar.

"Makhluk satu ini sungguh tidak punya rasa welas asih dan berbahaya!" kata Luhcinta lalu alihkan pandangannya pada Lakasipo dan Hantu Jatilandak. "Kalau kalian berdua tidak membantu pasti aku sudah celaka. Aku mengucapkan terima kasih pada kalian berdua...."

"Ketahuilah wahai Luhcinta," kata Lakasipo. "Manusia tadi hanya satu saja dari sekian banyak orang-orang berhati culas, jahat dan keji!"

"Ah, betapa aku harus berhati-hati menjaga diri..." kata Luhcinta pula seraya tersenyum.

"Ilmu kepandaianmu mengagumkan. Gerakanmu selembut penari tetapi mengandung tenaga dalam luar biasa. Kalau aku boleh bertanya siapa kau ini sebenarnya dan siapa gerangan gurumu?"

Luhcinta tersenyum. Dalam hati dia memuji ketajaman mata Lakasipo. .Namun dengan merendah dia berkata. "Aku hanya seorang gadis tolol kesasar di Negeri Latanahsilam ini. Lagi pula kalau kuberi tahu siapa diriku, mungkin banyak kesulitan yang akan menghadang walau datangnya bukan dari kalian. Karenanya biarlah saat ini -Siapa adanya diriku tetap menjadi rahasia. Lakasipo, apakah kau bisa memberi tambahan keterangan mengenai orang bernama Lajundai itu?"

"Manusia satu itu tidak kuketahui siapa dia adanya. Tak pernah kudengar nama itu sebelumnya. Maafkan sekali ini aku tidak dapat membantu. Tapi dari ucapan-ucapan Hantu .Seratus Tutul tadi jelas dia tahu banyak tentang orang itu..."

Luhcinta mengangguk. Tiba-tiba gadis ini mendengar suara orang berucap halus dari balik batang potion besar.

"Lakasipo, aku tadi ikut menyimak pembicaraan-Agaknya mengenai orang bernama Lajundai itu ada sangkut pautnya dengan Istana Kebahagiaan yang disebut-sebut Hantu Seratus Tutul. Itu sebabnya dia menggantung keterangan dengan mengajak gadis berpakaian biru itu ke Istana Kebahagiaan,..."

"Hai! Aku tak melihat orangnya. Tapi aku mendengar suaranya. Halus dan kecil! Lakasipo! Siapa gerangan yang barusan bicara?" Si gadis melirik ke arah pohon besar.

"Wahai.... Aku lupa memberi tahu. Aku punya tiga orang saudara angkat. Salah satu diantaranya adalah yang barusan bicara."

"Kau punya tiga saudara angkat! Sungguh beruntung! Bolehkah aku melihat siapa mereka adanya? Suara yang tadi bicara terdengar aneh di telingaku."

"Saudara-saudaraku, kalian bertiga keluarlah. Ada gadis cantik hendak melihat kalian!" berseru Lakasipo.

Wiro langsung mendorong Setan Ngompol hingga kakek ini terjerembab jatuh dan terkencing-kencing. Sambil senyum-senyum dan satu tangan menekap bagian bawah perutnya si kakek bangkit berdiri. "Orang-orang memanggilku Si Setan Ngompol!"

"Setan Ngompol? Nama yang aneh? Mengapa orang menyebutmu seperti itu wahai kakek cebol?" bertanya Luhcinta.

"Anu... sebabnya...." Si kakek kelagapan tak bisa menjawab.

Naga Kuning langsung saja nyerocos. "Anunya punya penyakit...."

"Anunya.... Apa anunya itu?" tanya Luhcinta yang membuat Lakasipo menutup mulut menahan ketawa sedang Wiro dan Naga Kuning sudah keburu meledak tawa masing-masing.

"Saluran kencing si kakek sudah tidak punya perasaan welas asih!" jawab Naga Kuning. "Kaget sedikit saja langsung beser! Hik... hik... hik! Jangan dekat-dekat dengan dia. Bau pesing! Hik... hik... hik!"

Si Setan Ngompol merengut lalu beser lagi. Luhcinta tertawa lebar dan berkata. "Justru kakek itu masih beruntung. Kalau dia masih bisa kencing berarti masih ada saluran welas asih. Yang repotkan kalau dia tidak bisa kencing sama sekali! Salurannya tersumbat!"

"Mampet!" kata Wiro.

"Buntu!" ujar Naga Kuning hingga semua orang yang ada di situ kembali tertawa.

"Lakasipo, saudara angkatmu ini sungguh lucu. Sudah kakek tapi tingginya hanya selutut. Pakaiannya juga aneh. Apa yang lain-lainnya juga sama tingginya? berkata Luhcinta.

Dari balik pohon menyusul keluar Naga Kuning. Bocah ini lambaikan tangannya pada Luhcinta. "Banyak sudah aku melihat gadis cantik di Negeri Latanahsilam ini. Tapi tidak ada yang secantikmu. Bahkan Peri sekalipun kalah cantik dengan dirimu!"

Luhcinta tertawa lebar. "Kau pandai memuji. Tapi aku tahu pujianmu bukan dibuat-buat atau sekedar untuk mencari perhatian. Aku suka padamu walau kau agak genit. Hik... hik... hik!" Luhcinta menunggu sesaat. Lalu dia memandang pada Lakasipo. "Katamu kau punya tiga saudara angkat. Yang muncul cuma dua. Mana satunya lagi?"

"Wiro, mengapa kau masih sembunyi di balik pohon? Ayo lekas keluar perkenalkan diri!" berseru Lakasipo.

Tapi Pendekar 212 Wiro Sableng tidak juga keluar dari balik pohon. Terpaksa Lakasipo ulurkan kepalanya.

"Hai apa yang kau lakukan!" tanya Lakasipo ketika dilihatnya Wiro sibuk membetulkan pakaiannya."

"Ssttt...! Jangan keras-keras!" kata Wiro dari bawah pohon sambil membetulkan celananya yang melorot ke bawah karena putus tali pengikatnya. Ternyata waktu dia tadi mendorong Setan Ngompol, kakek itu menarik celananya hingga tali pengikatnya putus. Kini Wiro jadi kelabakan membenahi diri agar bisa menyambung tali celananya lebih dulu. Tapi setiap disambung selalu lepas. Tidak sabar Lakasipo mendorong Wiro dari balik pohon. Terbungkuk-bungkuk sambil satu tangan memegangi pinggang celana dan satunya lagi garuk-garuk kepala Wiro terpaksa keluar dari balik pohon.

"Gadis cantik Luhcinta maafkan aku. Ada aral yang melintang hingga keadaanku jadi seperti ini! Namaku Wiro...."

"Kalau bicara dua tangan harus lepas menghormat!" kata Naga Kuning pula. Lalu dengan jahilnya dia tarik tangan kiri Wiro yang memegangi pinggang celana. Kalau tidak lekas Wiro jatuhkan diri ke tanah pasti auratnya sebelah bawah akan tersingkap tak karuan.

"Anak setan kurang ajar! Apa yang kau lakukan padaku!" sentak Wiro sementara semua orang yang ada di situ termasuk Hantu Jatilandak dan Luhcinta tertawa terpingkal-pingkal.

"Walah!" Setan Ngompol menimpali. "Kalaupun tersingkap seberapa besarnya anumu? Kecil pitit saja pakai disembunyikan segala. Pasti tidak kelihatan oleh gadis itu! Hik... hik...hik!"

Sambil pegangi celananya, kali ini dengan dua tangan sekaligus Wiro bangkit berdiri. "Awas kau berani jahil lagi!" kata wiro sambil delikkan mata pada naga kuning. Lalu dia mendongkak memandang ke arah Luhcinta. "Bolehkah aku menayakan sesuatu?"

"Hei.... Apa yang hendak kau tanyakan wahai anak muda yang tingginya selutut?" Sambil berkata Luhcinta perhatikan sosok Pendekar 212. Pandangannya mendekat dan membesar hingga sesaat kemudian seluruh wajah Wiro berada dalam ruang tatapan matanya. Inilah salah satu kesaktian yang dimiliki si gadis. Yaitu mampu mendekatkan pandangan matanya hingga benda yang jauh atau kecil bisa besar dalam penglihatannya. Berdebarlah dada si gadis ketika melihat bahwa sosok kecil si pemuda ternyata memiliki Wajah yang gagah walau gerak-gerik dan mimiknya kelihatah konyol.

"Wiro, orang menunggu pertanyaanmu!" berkata Lakasipo mengingatkan Wiro yang masih belum juga mengajukan pertanyaan dan masih sibuk dengan celananya yang tanggal talinya.

"Anu, begini..... Namamu itu...."

"Ya, ada apa dengan namaku?" tanya si gadis.

"Namamu bagus tapi aneh. Mengapa kau diberi nama Luhcinta? Siapa yang memberi nama...."

"Pertanyaan tolol! Kata Naga Kuning Mencela. "Orang mau bernama apa, apa pedulimu Wiro. Siapa yang memberi namanya begitu apa urusanmu?"

Wiro jadi garuk-garuk kepala walau hatinya jengkel mendengar ucapan Naga Kuning itu. "Gadis berpakaian biru, kalau kau tidak suka harap tak usah menjawab pertanyaanku tadi." kata wiro.

"Aku akan menjawab," menyahuti Luhcinta dengan tersenyum. Namun sekali ini ada sesuatu yang membayangi senyumnya itu. "Tapi dengan satu syarat. Setelah kujawab kau tidak akan mengajukan pertanyaan susulan."

"Syaratmu kusetujui," jawab Wiro tanpa pikir panjang.

"Siapa yang memberi nama bukan ayah atau ibuku. Tapi seorang nenek yang kuanggap sekaligus pengganti ayah dan ibuku. Mengapa nenek itu memberiku nama Luhcinta itu adalah karena dia mempunyai satu pandangan hidup dimana segala-galanya harus berdasarkan cinta kasih. Hanya dengan cinta kasih manusia akan menemui kebahagiaan sejati dalam hidupnya...."

Wiro hendak membuka mulut tapi Luhcinta cepat mengingatkan. "Hai, ingat syarat perjanjian kita! Kau tidak akan mengajukan pertanyaan susulan!"

Wiro garuk-garuk kepala. "Aku... aku tidak bermaksud bertanya. Tapi hanya sekedar bicara memberi tahu jalan pikiranku...."

"Kalau begitu silahkan kau bicara," kata Luhcinta pula.

"Sewaktu kau masih bayi mungkin nenekmu sudah melihat bahwa kelak kau akan menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Kau akan menjadi gadis kecintaan puluhan bahkan mungkin ratusan pemuda, Sebaliknya kau sendiri akan menyadari bahwa kelak hanya ada satu lelaki yang kau cintai...."

Wiro tidak teruskan ucapannya. Dalam hati Pendekar 212 berkata. "Wajah gadis itu mendadak berubah. Dia menatap diriku aneh. Tidak... bukan aneh!

Ada kemesraan dalam sinar bening sepasang matanya."

Untuk beberapa lamanya tempat itu menjadi sunyi. Tak ada yang bicara tak ada yang bergerak. Akhirnya Luhcinta berkata memecah kesunyian.

"Lakasipo, semua sahabat yang ada di sini. Pertemuan dengan kalian memberi banyak kejelasan pada beberapa hal yang selama ini masih samar dalam diriku. Ucapan-ucapan kalian banyak yang baik untuk dijadikan bahan renungan. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan kalian semua. Kalau saja ada kesempatan aku ingin sekali bertemu lagi dengan kalian...."

"Luhcinta..." menegur Setan Ngompol. "Memangnya kau mau kemana?"

"Aku terpaksa meninggalkan kalian saat ini juga. Ada urusan besar yang harus kukerjakan...,"

"Kalau kami bisa membantu..." kata Wiro.

Luhcinta tersenyum. Sekilas kembali Wiro melihat bagaimana gadis itu menatapnya dengan mesra. "Terima kasih. Aku percaya ketulusan hati kalian semua. Tap! urusan ini harus aku selesaikan sendiri. Selamat tinggal para sahabat...."

Luhcinta hendak putar tubuhnya.

"Tunggu dulu!" Tiba-tiba Wiro berseru. Ketika Luhcinta memandang padanya Wiro teruskan ucapannya. "Saat ini kami dalam perjalanan mencari seorang sakti bernama Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Siapa tahu dia bisa memberi penjelasan tentang hal-hal yang masih gelap bagimu."

"Terima kasih kau mengingatkan pada orang sakti itu. Sebelumnya guruku juga telah memberi tahu. Jika ada kesempatan mencari orang tua itu mungkin besar manfaatnya. Namun saat ini aku belum bisa melakukan hat itu. Masih ada urusan lebih besar, lebih pelik dan penting yang harus aku selesaikan. Aku terpaksa mendahului kalian meninggalkan tempat ini. Namun sebelum pergi ada satu hal ingin kutanyakan padamu Lakasipo. Mengenai saudara-saudara angkatmu itu. Keadaan mereka tidak beda dengan dirimu. Hanya saja, mengapa sosok mereka begitu kecil...?"

Lakasipo hendak menjawab tapi memandang dulu pada Wiro. "Tak ada salahnya. Katakan saja padanya." ujar Wiro.

"Luhcinta, tiga saudara angkatku ini sebenarnya bukan penduduk Negeri Latanahsilam. Mereka datang tersesat dari negeri yang seribu dua ratus tahun mendatang.... Keadaan sosok mereka yang begini kecil menimbulkan kesulitan. Kalau kau melihat sebelumnya mereka tidak lebih dari sejari kelingking. Saat ini, kami tengah berusaha mencari satu batu sakti agar mereka bisa kembali ke negeri mereka. Kalau batu itu tidak ditemukan maka kami harus mencari tahu siapa adanya orang pandai yang sanggup membuat mereka bisa menjadi besar seperti kita...:"

"Ah, sungguh kasihan kalian bertiga..." kata Luhcinta seraya menatap sayu pada Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol. "Kalau saja aku bisa menolong...."

"Terima kasih kau memperhatikan kami," kata Wiro. "Kau sendiri juga punya urusan lebih besar. Jangan memikirkan kami...."

Luhcinta tersenyum. Walau sekilas kembali dia menatap mesra ke arah Wiro. "Para sahabat, aku pergi sekarang." Sekali berkelebat gadis cantik bertubuh tinggi dan ramping itupun lenyap dari tempat itu. Setan Ngompol dan Naga Kuning jatuhkan diri ke tanah.

"Sukar dipercaya ada gadis secantik itu..." kata Lakasipo sambil terus memandang ke arah lenyapnya Luhcinta. Di sebelahnya Hantu Jatilandak juga tampak tegak termangu.

"Jangan-jangan kita semua sudah pada jatuh cinta pada gadis itu!" kata Naga Kuning perlahan.

Lakasipo akhirnya alihkan pandangan pada Hantu Jatilandak. "Sahabatku, kau meninggalkan pulau dan tahu-tahu berada dalam rimba belantara ini. Tentu ada satu urusan besar dan penting yang tengah kau telusuri."

"Kau benar Hantu Kaki Batu. Tak lama setelah kau dan tiga sobat ini meninggalkan pulau aku bersikeras pada kakekku Tringgiling Liang Batu agar dia mengizinkan diriku pergi untuk menyelidik asal usulku. Menurut kakek, ayahku masih hidup. Bernama Lahambalang sedang ibu yang katanya bernama Luhmintari kabarnya sudah meninggal. Aku akan berusaha mencari makamnya. Kalau kalian tidak keberatan, aku ingin ikut bersama kalian mencari orang sakti bernama Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab itu. Siapa tahu dia bisa menolong menyingkapkan tabir gelap asal usul diriku. Tapi jika kalian keberatan aku terpaksa menempuh jalan sendiri di negeri yang serba asing bagiku ini."

"Hantu Jatilandak. Kau sahabat kami. Kau boleh ikut kemana kami pergi..." kata Wiro.

Hantu Jatilandak membungkuk lalu tersenyum. "Terima kasih..." katanya. Lalu tiba-tiba tangannya berkelebat menangkap sosok Wiro. Sekali tangan itu bergerak maka Wiro terlempar ke udara setinggi sepuluh tombak lebih.

"Hai! Apa yang kau lakukan ini?!" teriak Pendekar 212. Bukan saja dia gamang ketakutan tapi juga khawatir kalau Hantu Jatilandak berniat jahat terhadapnya. Sebaliknya Hantu Jatilandak sambil tertawa-tawa ulurkan tangannya menangkap tubuh Wiro kembali. (Mengenai riwayat Hantu Jatilandak harap baca serial Wiro Sableng berjudul Hantu Jatilandak).

*

* *LIMASinar terik sang surya menyambut Luhcinta begitu gadis ini keluar dari rimba belantara. Di satu daerah berbatu-batu yang tanahnya mendaki gadis itu perlambat jarinya. Sayup-sayup dia mendengar suara air mengucur di sebelah depan. Rasa haus tiba-tiba saja membuat tenggorokannya seperti kering. Tepat di puncak pendakian Luhcinta hentikan langkah. Memperhatikan ke bawah dia melihat satu pemandangan sangat indah.

Di hadapannya terbentang sebuah lembah subur. Sisi sebelah kanan ditumbuhi berbagai bunga-bungaan yang sedang berkembang. Sebaliknya sisi sebelah kiri tertutup kawasan berumput di selang-seling bebatuan besar. Di sela-sela batu-batu itu ada satu aliran air menuju dasar lembah. Di dasar lembah, air ditampung oleh sebuah telaga dangkal sebelum mengalir lagi melalui celah-celah batu ke bagian yang lebih rendah.

Pemandangan itu membuat Luhcinta ingat akan lembah tempat kediaman gurunya dimana dia digembleng selama bertahun-tahun hingga menjadi seorang gadis memiliki kepandaian tinggi. Hanya saja Luhcinta hams mengakui bahwa lembah yang kini terbentang di hadapannya jauh lebih indah dari lembah tempat kediaman sang guru. Dengan melompat dari satu batu ke batu lainnya Luhcinta menuruni lembah menuju telaga dangkal di bawah sana. Udara di lembah terasa sejuk membuat rasa hausnya berkurang. Begitu sampai di telaga jernih, si gadis celupkan kaki, masukkan ke dua tangannya ke dalam air lalu membasahi mukanya. Setelah itu ditampungnya curahan air yang mengucur di celah-celah batu dan meneguk sepuasnya.

Air telaga yang sejuk dan bersih membuat wajah Luhcinta memerah segar. Namun di balik semua kecantikan dan kesegaran wajah itu masih terlihat satu bayangan adanya ganjalan berat di lubuk hati si gadis. Hal inilah yang terlihat dan terbaca oleh Pendekar 212 sewaktu sebelumnya bertemu dengan Luhcinta di dalam rimba belantara siang tadi.

Semula ada keinginannya hendak mandi di dalam telaga itu. Namun entah mengapa niatnya diurungkan lalu dia duduk di satu tempat yang bersih, bersandar ke sebuah batu besar. Angin lembah bertiup sejuk. Membuat sepasang mata Luhcinta menjadi berat. Dalam keadaan terkantuk-kantuk gadis ini ingat akan nasib dirinya. Berulang kali Luhcinta menarik nafas panjang. Lalu terbayang wajah sang guru yang pada akhirnya membuat dia ingat akan riwayat dirinya sebagaimana dituturkan oleh si nenek.

*

* *Sore itu hujan turuh lebat sekali. Cuaca gelap sesekali diterangi oleh sambaran petir. Guntur menggelegar menambah mencekamnya suasana. Dalam keadaan seperti itu kelihatan sosok seorang nenek berjalan basah kuyup terseok-seok. Di tangan kanannya dia memegang sebatang tongkat terbuat dari bambu kuning yang besarnya sepergelangan lengan dan panjang kurang dari sepuluh jengkal.

Sambil melangkah si nenek tiada hentinya keluarkan suara nyanyian. Selain itu tangannya yang memegang tongkat tak bisa, diam. Sebentar-sebentar tangan itu digerakkan untuk memukul rambas semak belukar yang menghalangi jalannya. Bahkan beberapa kali tongkat itu diayun menggebuk batang-batang pohon hingga patah bertumbangan.

Hujan lebat begini rupa

Tubuh reyot seharusnya berada di dalam goa

Membaca doa sambil hidupkan pendupa

Agar sisa hidup bisa mengurangi segala dosa.Hujan gila begini rupa

Cuaca gelap menutup pandangan mata

Seharusnya tubuh reyot ini berada di dalam goa

Tapi mengapa suara hati mengajak bicaraTua bangka di dalam goa!

Keluarlah membawa langkah!

Berjalan ke arah utara!

Akan kau Temui sesuatu menusuk mata!Tua bangka reot di dalam goa!

Keluarlah ayunkan langkah!

Pada saat sesuatu tertumbuk mata!

Itulah artinya awal perkaraKenyataan di depan mata

Jangan lari cari selamat

Tanggung jawab di atas kepala

Agar selamat seluruh ummatTiba-tiba si nenek jatuhkan dirinya, duduk menjelepok di tanah becek, mendongak ke langit lalu tundukkan kepala menatap tanah di hadapannya.

"Aneh berbilang aneh. Wahai aku yang tua ini bagaimana bisa berada di tempat ini. Di bawah curahan hujan lebat, udara gelap dan dingin. Aneh dan gila! Aku bisa menyanyi.... Astaga... apa yang kuucapkan tadi dalam nyanyianku? Gila! Aku tak ingat! Aku tak ingat lagi...!"

Tiba-tiba si nenek sentakkan kepalanya. Seperti tadi dia mendongak ke langit. Hujan membasahi mukanya yang keriput. Cuping hidungnya tampak bergerak-gerak. "Aku mencium sesuatu. Bau busuk..., Sangat busuk...." Si nenek palingkan kepalanya ke arah kiri, menatap dengan sepasang mata menyorot ke arah rimba belantara di kejauhan. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Lalu melangkah ke arah sumber bau d! dalam. rimba belantara. Saat itu tidak ada suara apa lagi nyanyian keluar dari mulutnya.

"Aneh, tadi aku bisa menyanyi. Sanggup keluarkan suara.... Sekarang mengapa mulutku terkancing bungkam seribu bahasa. Dan bau itu... semakin menusuk..."

Si nenek ayun-ayunkan tongkatnya kian kemari hingga mengeluarkan suara menderu-deru. Di satu tempat dia hentikan langkah. Matanya berputar-putar. Telinganya sebelah kiri dielus-elus berulang kali, "Aku belum tuli. tapi yang kudengar itu jelas suara tangisan bayi! Ada bayi menangis di dalam hutan!"

Dengan langkah-langkah cepat si nenek lanjutkan perjalanan. Belum terlalu jauh dia berjalan, di bawah sebatang pohon yang tak seberapa tinggi tiba-tiba nenek ini hentikan langkahnya, Dua kakinya yang kurus seolah ditancap ke tanah becek. Matanya mendelik. Mulutnya menganga pencong!

"Demi segala Peri, demi semua Dewa dan para roh yang ada di langit dan di bumi! Wahai mataku tidak lamur apa lagi buta! Betulkah apa yang kulihat ini?!"

Di atas sana, pada cabang paling rendah pohon di hadapan si nenek, tergantung satu sosok tubuh perempuan. Seutas tambang menjirat lehernya yang mulai membusuk. Di dada perempuan ini ada sebuah kantong terbuat dari jerami. Kantong itu bergerak-gerak seolah ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Curahan air hujan yang mengguyur sekujur tubuh mayat tergantung itu mengucur deras ke bawah,, melewati kaki dan jatuh ke tanah.

Si nenek seperti beku kaku, memandang melotot, berusaha, memperhatikan wajah perempuan yang tergantung itu. Dia tersentak ketika tiba-tiba dari dalam kantong jerami melesat suara tangis bayi. Si nenek tersadar.

"Ada orok di dalam kantong itu! Wahai!" Si nenek terlonjak. Kaki kiri dibanting ke tanah. Saat itu juga tubuhnya melayang ke atas. Tongkat di tangan kanan berkelebat. "Craasss!" Tali yang mengikat kantong jerami ke tubuh mayat putus. Mayat tergantung bergoyang-goyang. Di lain kejap si nenek sudah menjejakkan kakinya kembali di tanah. Di bawah pohon besar kantong jerami diletakkannya di tanah. Lalu dengan tangan gemetar dia buka kantong itu.

"Demi para Dewa penguasa alam! Sungguh tak dapat kupercaya!" Perempuan tua itu keluarkan suara lalu jatuhkan diri berlutut. Dari dalam kantong jerami dia keluarkan satu sosok kecil yang menangis keras dan ternyata adalah satu bayi perempuan!

"Wahai anak! Berkah apa yang diturunkan para Dewa hingga aku menemuimu di tempat ini? Melihat keadaanmu usiamu belum lagi dua bulan! Siapa perempuan yang tergantung di pohon itu? Ibumu...? Kasihan.... Berapa lama kau sudah tergantung di atas pohon wahai anak? Ah, bagaimana ini? Akan kubawa kemana dirimu? Akan kuapakan engkau wahai anak? Semoga para Dewa member! petunjuk! Wahai...!" Saat itu entah bagaimana si nenek tiba-tiba ingat kembali pada bait-bait nyanyian yang tadi dibawakannya. "Tidak bisa tidak, ini semua pasti petunjuk dan tuntutan para Dewa...." Si nenek membatin. Diusapnya pipi dan kepala si bayi. Lalu dengan hati-hati dimasukkannya ke dalam kantong jerami kembali. Saat itulah dia melihat ada sebuah benda kecil di dalam kantong. Ketika diperhatikan ternyata sebuah batu merah berukir bentuk bunga mawar yang biasa dijadikan hiasan rambut perempuan. Si nenek masukkan batu merah itu ke dalam kantong kembali. Perlahan-lahan dia berdiri. Bayi di dalam kantong didekapnya erat-erat di tangan kiri. Sesaat sebelum berlalu dia memandang ke cabang pohon, tempat mayat tergantung."

"Wahai perempuan malang di atas pohon. Jazadmu telah membusuk tapi rohmu masih utuh dan bisa melihat serta mendengar. Jika bayi ini adalah anakmu, aku akan membawanya, bukan mengambil bukan mencuri. Aku membawanya dengan satu tanggung jawab. Akan memeliharanya. Akan mengasihinya seperti anak dan cucu sendiri. Wahai roh perempuan di atas pohon, aku pergi sekarang. Relakan bayi ini berada di tanganku dan jangan kau ikuti kemana kami pergi...."

Gadis cantik berpakaian kulit kayu yang diberi jelaga warna biru tegak di atas batu besar di tengah a lira n sungai kecil yang mengalir di pertengahan Lembah Laekatakhijau. Di keningnya, tepat di pertengahan menempel sekuntum kecil bunga tanjung berwarna kuning. Di sekitarnya ratusan bahkan mungkin ribuan ekor katak hijau yang ukurannya mulai sebesar ibu jari sampai sebesar kelapa tanpa kulit mendekam tak bergerak tetapi mata binatang-binatang ini memandang tak berkesip ke arah sang dara.

"Luhcinta!" Tiba-tiba ada seruan keras. Datangnya dari atas sebuah pohon besar yang tumbuh menjulang di tepi sungai sebelah kiri. Di atas salah satu cabang pohon ini kelihatan duduk seorang nenek menampilkan satu hal yang luar biasa. Si nenek duduk di satu cabang kecil yang seekor kucing saja jika berada di atasnya akan merunduk jatuh ke bawah! Nyatanya si nenek duduk enak-enakan malah sambil enjot-enjotkan tubuhnya. Dan cabang itu sama sekali tidak patah. Kalau dia tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, tidak mungkin si nenek mampu berbuat seperti itu. Lalu hal kedua yang mungkin bisa membuat orang lain menyaksikan dengan tengkuk merinding ialah keadaan si nenek yang duduk dengan sekujur tubuh digelayuti ratusan katak hijau! Demikian banyak dan rapatnya binatang ini menempel di kepala dan tubuh si nenek hingga hanya sepasang mata, lobang hidung dan mulut si nenek saja yang tidak tertutup katak-katak hijau itu!

Mendengar si nenek berseru menyebut namanya gadis di atas batu mendongak dan palingkan kepala sedikit.

"Apa kau sudah siap?!"

"Saya siap wahai Nenek Lembah Laekatakhijau!" Suara si gadis nyaring tetapi tidak terasa adanya sesuatu yang menggelegar yang disertai hawa kekerasan.

"Ingat Luhcinta! Kau boleh bertahan, boleh balas menyerang. Tapi tidak satupun katak-katak itu boleh cidera, apa lagi matt! Sesama makhluk hidup adalah bersaudara. Kecuali kalau takdir mengatakan Iain! Kau hanya boleh mengandalkan tangan kosong! Sumber kekuatanmu adalah cinta dan kasih sayang!"

"Saya ingat Nek! Saya perhatikan!"

Nenek di atas pohon yang disebut dengan nama Nenek Lembah Laekatakhijau acungkan tongkat bambu kuning di tangan kanannya lalu dari mulutnya keluar satu suitan keras. Mendengar suitan itu ratusan katak yang ada di seantero tempat, termasuk yang sejak tadi menempel di tubuh si nenek melesat ke udara, menyerbu gadis tinggi semampai di atas batu di tengah sungai. Walaupun yang menyerang cuma kodok tapi gigitan dan cakarannya cukup berbahaya. Apa lagi jumlahnya demikian banyak, Bisa-bisa sekujur sosok si gadis hanya tinggal tulang-belulang sementara kulit dan dagingnya hancur dan ludes digeragot!

Anehnya gadis di atas batu di tengah sungai perlihatkan wajah penuh senyum lalu dua tangannya dikembangkan ke depan, dua telapak terbuka. Gerakan tangannya, dorongan dua telapak tangan dengan jari-jari yang bergerak tiada henti serta geseran sepasang kaki berbetis putih dan bagus, nyaris merupakan gerakan seorang penari yang penuh kelembutan. Dari dua telapak tangan yang terbuka dan mengandung tenaga dalam tinggi keluar tiupan angin yang sama sekali tidak keras, tidak beda tiupan angin lembah di pagi hari penuh kelembutan.

"Kalian semua sahabat-sahabatku. Tidurlah...!"

Terjadilah hal yang aneh, sukar dipercaya. Siuran angin lembut yang keluar dari dua telapak tengah si gadis membuat ratusan katak melayang jatuh secara perlahan-lahan. Di atas batu, di dalam air atau di tanah. Ada juga yang menyangsrang di semak belukar atau jatuh di atas pohon. Semuanya diam tak berg era k. Sepasang mata mereka terkatup. Semua binatang itu berada dalam keheningan alias benar-benar tidur!

Ternyata ada beberapa ekor katak yang berhasil lolos, menyelusup dan hinggap di tubuh si gadis. "Ah, kalian anak-anak nakal! Tidurlah!" Si gadis usap kepala katak-katak itu. Semuanya masih menempel di tubuhnya tapi begitu diusap langsung diam tertidur. Satu demi satu sang dara ambil binatang-binatang itu lalu meletakkannya di atas batu.

Di atas cabang pohon Nenek Lembah Laekatakhijau tertawa terkekeh-kekeh sambil uncang-uncang ke dua kakinya yang hanya tinggal kulit pembalut tulang.

"Bagus... bagus! Tidak seekor pun katakku yang terluka. Tapi menyuruh mereka tidur terus-terusan tidak baik! Luhcinta! Lekas kau bangunkan mereka!"

"Akan saya bangunkan Nek!" jawab si gadis lagi-lagi dengan senyum menghias wajah. Lalu dia bertepuk tiga kali dan berteriak nyaring. "Wahai para sahabat! Hari sudah siang! Lekas bangun!"

Suara mengorek terdengar di mana-mana. Semua katak yang tadi diam tidur kini gerakkan kepala, kedipkan mata lalu melesat kian kemari. Puluhan di antaranya kembali hinggap di sekujur kepala dan muka si nenek!

"Bocah-bocah nakal! Kalian pergilah dulu bermain-main sambil mencari makan. Aku perlu membicarakan sesuatu dengan Luhcinta!" Mendengar ucapan si nenek puluhan katak yang menempel di kepala dan badannya segera melesat pergi. Si nenek sendiri melompat turun dari cabang pohon. Dia memberi tanda pada si gadis lalu melangkah terbungkuk-bungkuk memasuki sebuah goa.

*

* *ENAMSi nenek pandangi wajah gadis cantik di hadapannya dengan sepasang mata berkaca-kaca. Yang dipandang sendiri saat itu berulang kali mengusap air mata yang meluncur jatuh ke pipinya seolah tak mau berhenti. "

Wahai Nenek pemelihara dan tempat saya berlindung selama berbilang tahun. Mengapa baru pada saat saya hendak kau lepas pergi kau menuturkan riwayat hidup saya. Mengapa tidak dari dulu-dulu kau ceritakan pada saya...."

Wajah perempuan tua itu tampak tambah rawan. Bagaimanapun dia berusaha namun air mata akhirnya tumpah juga ke pipinya yang keriput. Dengan tangan kirinya dibelainya rambut si gadis.

"Wahai cucuku Luhcinta. Jangan kau bersalah duga berburuk sangka. Tidak ada maksud yang tidak baik dari semua apa yang kulakukan. Jika riwayatmu kuceritakan sejak kau masih kecil, maka berarti aku telah memberikan satu ganjalan pahit dalam jalan kehidupanmu. Dalam keadaan pikiran dan hatimu saling tumpang tindih dilanda ganjalan itu, tidak mungkin aku akan mendidik dan menempamu menjadi seorang gadis lembut sekaligus berkepandaian tinggi seperti sekarang ini. Aku sengaja memberikan nama Luhcinta padamu, karena hanya cinta kasihlah yang membuat manusia bisa tabah dan selamat menghadapi kehidupan dunia. Hanya dengan cinta kasihlah manusia bisa hidup bahagia. Dicintai dan saling mencinta. Banyak manusia, mengira bahwa kekuatan yang dahsyat adalah kekuasaan atau kesaktian. Padahal kekuatan paling dahsyat di antara, langit dan bumi adalah, cinta kasih! Kelak kau akan, membuktikannya sendiri wahai cucuku Luhcinta. Aku juga sengaja memilih saat yang tepat hari ini. Saat kau akan kulepas pergi ke dunia luar. Inilah saat yang paling tepat bagimu untuk menyelidiki asal usul dirimu. Aku telah menceritakan ciri-ciri dan wajah perempuan yang tergantung di dalam hutan itu. Mungkin itu tidak terlalu, dapat menolong. Tapi ada sesuatu yang bisa kau andalkan dalam penyelidikanmu wahai cucuku...."

Si nenek lalu keluarkan sebuah benda berwarna merah. Ketika si gadis memperhatikan ternyata adalah sebuah batu merah yang diukir demikian rupa membentuk setangkai bunga mawar. Dia pernah melihat benda seperti ini sebelumnya yang biasa dijadikan hiasan pada ikatan rambut.

"Mawar merah ukiran batu ini, kutemukan, dalam kantong jerami tempat kau terbungkus. Aku yakin benda ini dapat kau pergunakan sebagai bahan petunjuk menelusuri asal usulmu. Mungkin sekali ini adalah milik perempuan yang tergantung itu. Ibumu. Dia sengaja meletakkan di dalam kantong jerami dengan satu maksud tertentu. Ambil lah wahai Luhcinta...."

Si gadis mengambil bunga mawar dari batu itu. Memperhatikan dan mengusap-usapnya beberapa lama lalu perlahan-lahan mendekatkannya ke hidung dan menciumnya. Saat itu terjadilah satu keajaiban. Di depan Luhcinta muncul satu bayangan biru yang makin lama makin jelas dan akhirnya membentuk sosok perempuan separuh baya berwajah cantik. Di kepalanya ada sebuah mahkota kecil bertabur batu permata. Pakaiannya terbuat dari gulungan sutera biru yang panjang sekali seolah-olah bergulung sampai ke langit. Saat itu juga tempat tersebut dipenuhi oleh bau harum semerbak. Hidung si nenek tampak kembang kempis. Dia dapat mencium bau harum itu tetapi tidak melihat sosok perempuan cantik berpakaian biru yang barusan seolah turun dari langit.

Walau hatinya tergoncang melihat keanehan ini namun Luhcinta berhasil tabahkan diri. Dengan mengulas senyum di bibir dia berkata. "Wahai perempuan cantik bermahkota! Siapa gerangan kau adanya?"

"Aku adalah Peri Bunda dari Negeri Atas Langit. Kedatanganku untuk memberi petunjuk. Jika kau tinggalkan lembah ini pergilah ke arah matahari terbit. Pada pagi hari ke dua setelah kau berada di perjalanan kau akan mendapatkan petunjuk yang kelak bakal menyingkapkan asal usul dirimu. Namun ingat baik-baik wahai gadis bernama Luhcinta. Apapun kelak yang bakal kau dapat dan ketahui dari petunjuk itu janganlah kau berpaling rasa dan duga, janganlah hatimu berontak membara bahwa tidak ada keadilan di dunia ini, bahwa cinta kasih hanya satu hal yang palsu belaka bahkan keji dan kotor. Ingat baik-baik wahai Luhcinta. Tabahkan hatimu! Jangan goyang dalam pikiran, jangan goyah di lubuk hati.... Kalau gurumu menanamkan cinta kasih dalam dirimu maka ketahuilah cinta kasih adalah sesuatu yang utuh, satu kekuatan yang ada kalanya tak bisa dibagi tapi seringkali bisa diberikan untuk semua makhluk dan berkahnya bisa untuk semua orang. Ingat baik-baik petuah gurumu dan camkan apa yang barusan aku katakan. Selamat tinggal Luhcinta...."

"Wahai Peri... Tunggu dulu! Saya ingin bertanya!" Luhcinta memburu ke mulut goa. Tapi sosok Peri Bunda telah sirna.

"Cucuku Luhcinta. Kau berlaku aneh. Kulihat kau bicara sendirian. Lalu lari ke pintu seolah mengejar seseorang. Apa yang terjadi? Kau barusan bicara dengan siapa?"

Teguran sang guru membuat Luhcinta palingkan diri. "Nek, apa kau tidak melihat...?"

"Melihat apa?"

"Seorang perempuan cantik barusan berada dalam goa ini. Dia mengaku bernama Peri Bunda...."

"Peri Bunda?" Nenek Lembah Laekatakhijau terkejut.

"Kau tidak mengigau tidak bergurau Luhcinta?"

"Mana saya berani berlaku begitu Nek...."

"Ceritakan apa yang terjadi! Katakan apa yang diucapkan Peri itu padamu!"

Begitu mendengar penuturan Luhcinta, si nenek pegang kepala murid yang sudah dianggap seperti anak atau cucunya sendiri itu seraya berkata. "Luhcinta, kau telah mendapat berkah dari sang Peri. Kau telah diberi petunjuk. Lakukan apa yang dikatakannya.. .." ";

"Akan saya lakukan Nek," jawab Luhcinta.

*

* *Terbitnya Sang Surya pada hari ke dua perjalanannya setelah meninggalkan Lembah Laekatakhijau menimbulkan rasa tegang di diri Luhcinta. Seperti yang dikatakan Peri Bunda, hari itu dia akan menemukan petunjuk yang akan menyingkapkan tabir rahasia asal usulnya. Namun kedatangan pagi kali ini justru memunculkan setumpuk pertanyaan dalam hatinya. Apa yang akan terjadi? Siapa yang akan memberi petunjuk? Di mana? Saat itu Luhcinta berada di kaki bukit yang dikelilingi sawah luas. Sejauh mata memandang hanya padi yang masih hijau yang kelihatan. Belum kelihatan seorang petani pun berada di sawah. Luhcinta berdiri di dekat sebuah dangau. Memandang ke langit bersih, memperhatikan serombongan burung terbang ke arah selatan.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba ada sambaran angin. Luhcinta cepat berpaling. Satu bayangan berkelebat tahu-tahu satu sosok telah berdiri berkacak pinggang di atas dangau! Sebagai murid nenek sakti di Lembah Laekatak hijau, Luhcinta telah digembleng menjadi seorang gadis lembut tapi berhati tabah. Walau baru beberapa hari saja berada di dunia luar yang serba asing baginya namun kemampuan bersikap waspada membuat dia tidak merasa takut akan hal apapun. Akan tetapi saat itu si gadis merasakan tengkuknya dingin dan lututnya bergetar. Seumur hidup belum pernah dia melihat manusia memiliki dua muka di satu kepala. Dan saat itu, kejadian aneh itulah yang dialaminya!

Di atas dangau tegak bertolak pinggang seorang pemuda sangat gagah yang mukanya ada dua, satu depan satu di belakang. Wajah di sebelah depan bersih kuning sedang Wajah di sebelah belakang hitam berkilat. Dua wajah itu memandang lekat-lekat ke arah Luhcinta, mulut menyeringai, dua mata bergerak tak bisa diam.

"Makhluk aneh apakah ini adanya. Guru tak pernah menceritakan padaku. Mukanya dua, satu putih satu hitam. Bola matanya berbentuk segitiga. Keseluruhan wajahnya walau tersenyum tidak membersitkan kelembutan, malah tidak ada bayangan cinta kasih. Aku harus berhati-hati...."

"Gadis cantik berpakain biru. Pagi hari berada di tengah sawah. Dari dandanan dan gerak gerikmu jelas kau orang asing di Latanahsilam ini. Seandainya engkau tersesat biarlah aku menunjukkan arah jalan yang benar. Kemana tujuanmu wahai gadis yang menghias keningnya dengan sekuntum bunga tanjung? Bolehkah aku bertanya siapa gerangan namamu?"

Luhcinta memandang dengan tersenyum membuat orang di atas dangau yang bukan lain adalah Hantu Muka Dua tambah berkobar hasrat kejinya. Seperti diketahui Hantu Muka Dua memiliki kemampuan merubah-rubah dua wajah di kepalanya. Jika dua wajahnya muncul dalam rupa pemuda gagah maka itu berarti dia terangsang untuk bercinta.

Sambil memandang, otak Luhcinta bekerja. Dalam hati dia membatin. "Hemm..." Makhluk bermuka dua ini muncul seperti kilat yang berubah menjadi bayang-bayang. Pertanda dia memiliki kepandaian tinggi. Wajah, sikap dan cara bicaranya seolah tulus tapi aku mencium tak ada cinta kasih dibalik semua itu. Pertanyaannya banyak sekali seperti dia tengah menyelidik. Makhluk satu ini tak bisa kupercaya, tetapi jika aku hadapi dengan tenang dan kebaikan hati mungkin aku bisa memanfaatkannya. Mungkin dialah petunjuk yang diberikan Peri Bunda. Orang yang akan menyingkap tabir asal-usul diriku"

Luhcinta kembali tersenyum. "Pemuda gagah, aku Luhcinta sungguh kagum padamu. Kurasa di jagat raya ini hanya kaulah satu-satunya manusia yang memiliki dua wajah di satu kepala. Jika aku boleh bertanya siapa gerangan kau adanya. Mungkin aku bisa minta bantuanmu menjawab beberapa pertanyaan..."

Hantu Muka Dua balas senyuman si gadis dengan tawa lebar. "Aku dikenal dengan panggilan Hantu Muka Dua. Sebagai orang asing kau tentu tidak tahu siapa diriku, Tetapi kau telah berlaku tepat. Jika meminta bantuan akulah orang satu-satunya yang bisa menolongmu. Apa lagi kalau hanya bantuan berupa menjawab pertanyaan...."

"Wahai Hantu Muka Dua, apakah kau pernah mendengar riwayat seorang perempuan yang menemui ajal, bunuh diri dengan cara menggantung diri di sebuah rimba belantara. Kejadiannya sudah cukup lama, berbilang tahun yang silam...."

Empat alis Hantu Muka Dua di dua wajahnya menjungkat ke atas. Satu pertanda bagi Luhcinta bahwa makhluk itu mengetahui sesuatu tentang kejadian yang ditanyakannya. Terlebih ketika dilihatnya empat mata aneh Hantu Muka Dua menatapnya lekat-lekat.

"Wahai.... Aku ingat sekarang. Wajah gadis ini sama nian dengan wajah perempuan itu.... Ah! Mungkinkah?!" Kata-kata itu menyeruak dalam hati Hantu Muka Dua. "Wahai gadis bernama Luhcinta, memang pernah aku mendengar kejadian itu. Peristiwanya telah lama sekali. Mengapa kau bertanyakan hal itu. Apa dirimu ada sangkut paut dengan peristiwa itu?"

"Seseorang mengatakan diriku memang punya hubungan darah dengan perempuan yang mati menggantung diri itu...." menerangkan Luhcinta.

"Melihat kepada usiamu, kau tentulah anak perempuan yang malang itu."

Luhcinta tersurut satu langkah. "Bagaimana kau bisa menduga seperti itu?"

Hantu Muka Dua melompat turun dari atas dangau. "Dengar wahai gadis cantik. Dirimu rupanya menyimpan satu rahasia hidup maha besar. Aku Hantu Muka Dua kebetulan banyak tahu tentang riwayat perempuan tergantung itu. Tapi di sini bukan tempat yang tepat untuk menuturkan semuanya padamu. Ha rap kau suka ikut aku ke tempat kediamanku. Talk jauh dari sini. Di situ aku akan terangkan semuanya padamu. Aku yakin kau memang adalah anak perempuan yang bunuh diri itu!"

"Hantu Muka Dua, kau baik sekali. Bagaimana kalau semua riwayat yang kau ketahui kau ceritakan saja langsung di sini? Budimu pasti tidak akan kulupakan."

Hantu Muka Dua menyeringai. "Aku merasa kau tidak percaya pada diriku. Sosokku memang menakutkan. Kepalaku memiliki dua wajah yang mengerikan. Mana ada manusia yang mau menganggap aku orang baik-baik...."

"Aku percaya padamu wahai Hantu Muka Dua. Buruk rupa seseorang bukan jaminan bahwa dia tidak memiliki perilaku yang baik. Bukan jaminan bahwa dia tidak mempunyai cinta kasih..,."

"Dengar wahai Luhcinta," Perempuan yang mati tergantung itu adalah Luhpiranti. Dia memiliki seorang suami bernama Latampi. Apa kau masih tidak percaya bahwa aku benar-benar mengetahui kejadian hebat di masa lalu itu?"

"Luhpiranti.... Latampi...." Si gadis mengulang menyebut nama-nama itu. "Guru sendiri tidak pernah tahu siapa nama ayah dan ibuku...." Luhcinta menatap Hantu Muka Dua sejurus lalu berkata. "Aku percaya padamu wahai Hantu Muka Dua. Aku bersedia ikut ke tempat kediamanmu...."

"Kau gadis berotak jernih. Kita berangkat sekarang!" kata Hantu Muka Dua sambil menyeringai lebar dan usap-usap telapak tangannya satu dengan lainnya.



TUJUHSeperti pernah dituturkan sebelumnya (baca Serial Wiro Sableng berjudul Peri Angsa Putih) diketahui bahwa Hantu Muka Dua memiliki sat u tern pat kediaman rahasia terletak di bawah Telaga Lasituhitam. Pada kejadian dia membawa Luhcinta ke tempat itu belum ada ruangan yang disebut Ruangan Obor Tunggal yaitu ruang penyiksaan terkutuk bagi perempuan-perempuan yang dibencinya. Yang ada barulah Ruang Dua Belas Obor yakni satu ruangan batu diterangi dua belas obor dan menjadi tempat ketiduran Hantu Muka Dua.

Hantu Muka Dua langsung membawa murid Nenek Lembah Laekatakhijau itu ke dalam Ruang Dua Belas Obor. Saat itu di dalam ruangan terdapat tiga orang gadis yang rata-rata berpakaian seronok nyaris bugil. Pemandangan ini membuat Luhcinta serta merta menjadi tidak enak, khawatir serta curiga. Apa lagi di situ tidak ada bangku atau kursi. Yang ada hanya sebuah batu besar dialasi anyaman rumput kering dan dijadikan ranjang tempat tidur. Walaupun hatinya tidak enak namun Luhcinta tetap saja memoles senyum di bibirnya yang bagus.

"Jangan perhatikan mereka wahai Luhcinta. Tiga gadis ini adalah pembantu yang mengurus dan menjaga tempat kediamanku jika aku pergi." Lalu pada tiga gadis di dalam ruangan Hantu Muka Dua segera berkata. "Lekas kalian memberi hormat pada tamuku! Kalau sudah memberi hormat segera siapkan hidangan dan minuman. Kami lapar! Setelah itu kalian Semua boleh pergi! Kami haus! Berikan minuman lebih dulu!"

Tiga gadis di dalam Ruang Dua Belas Obor segera berdiri lalu menjura memberi hormat pada Luhcinta. Sebelum sempat si gadis membalas penghormatan itu ketiganya telah meninggalkan ruangan.

"Wahai Hantu Muka Dua, kita telah berada di tempat kediamanmu. Apakah kau bisa segera mulai memberi keterangan tentang orang-orang bernama Latampi dan Luhpiranti itu...?"

"Luhcinta gadis cantik dan cerdik! Mengapa terburu-buru. Kau perlu istirahat barang sebentar. Lagi pula apa salahnya menunggu sampai pembantuku datang membawakan minuman untuk kita...."

"Kalau begitu katamu aku menurut saja. Tetapi begitu kau selesai minum harap kau suka memberi keterangan...."

"Jangan khawatir wahai Luhcinta. Sejuta keterangan akan kuberikan padamu walaupun mulutku harus bicara sampai pagi besok dan pagi besoknya lagi.... Lelaki mana yang tidak mau bertutur cakap dengan gadis secantikmu walau tidak tidur sekalipun sampai berhari-hari...."

Luhcinta tersenyum. Salah satu dari tiga gadis tadi muncul dan masuk ke dalam Ruang Dua Belas Obor. Dia membawa satu nampan kayu di atas mana terletak dua cangkir tanah berisi minuman yang mengepulkan asap dan bau enak segar. Dua gelas tanah itu diletakkannya di atas ranjang batu. Ketika Luhcinta memandang kepadanya gadis ini kedipkan matanya tiga kali berturut-turut.

"Wahai, apa arti kedipan mata gadis itu..." pikir Luhcinta.

"Lekas keluar kau dari sini!" Hantu Muka Dua membentak. Gadis pembawa minuman serta merta menghambur pergi. Sambil tersenyum Hantu Muka Dua kemudian berkata pada Luhcinta. "Ini minumanmu, teguk sampai habis. Kau tentu haus dan letih...." Hantu Muka Dua lalu ambil salah satu gelas tanah dan memberikannya pada Luhcinta. Dia sendiri mengambil gelas kedua langsung meneguk isinya sampai habis. Dua pasang matanya kelihatan membersitkan sinar aneh. Dua wajahnya kelihatan merah..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.158.55.5
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia