Kembalinya Seorang Aktivis

Catatan dari 30 Maret 2012
Siang hari disaat matahari terik membakar Kota Makassar. Tampak air turun dengan derasnya dari gas air mata petugas keamanan dan asap tebal yang membubung tinggi di angkasa dari ban bekas yang dibakar para demonstran. Seperti airmata rakyat yang menangis karena penderitaan dan kabut akan masa depan mereka yang semakin tidak jelas.

Mahasiswa lalu datang atas nama pahlawan untuk menolong, tapi pada kenyataannya jutru menorehkan luka pada sebagian masyarakat. Tak tahu lagi siapa yang akan disalahkan, mahasiswa ataukah pemerintah sepertinya sama saja. Rakyat sama-sama tidak merasa damai, tidak percaya, dan tidak nyaman lagi atas kehadirannya.
“Gulingkan Pemerintah!”
“Gulingkan Pemerintah!”
“Pemerintah anj*ng!”
“Turun… Anj*ng…!”
“Turunkan BBM… Turunkan BBM…!”
Sumpah serapah sambung menyambung dari berbagai arah, kata yang sebenarnya tak pantas diucapkan mahasiswa sebagai mahkluk bermartabat dan berilmu tinggi. Barangkali teman-teman mahasiswa lupa kalau mereka selain sebagai agent of change dan social control, mereka juga mempunyai label sebagai moral force. Tapi pada kenyataannya, tidak ada lagi bedanya antara mahasiswa, tukang becak, dan buruh dalam menyampaikan pandapat.

“Betul-betul ini mahasiswa, apa sih maunya? Bikin macet aja, mending tidur di rumah”. Kata seorang penumpang angkutan kota kesal. “Iya ya mahasiswa sekarang pada keterlaluan, harusnya kita sudah sampai kantor jam segini, eh… malah terdampar disini. Gini-gini kita juga rakyat juga kali, katanya membela rakyat yang dibilang rakyat itu yang bagaimana sih? Kayak bisak asih makan saja kalau kita ngak kerja?” Sungut penumpang yang lain. “Yang lebih para itu kemarin bu, macet sampai seharian penuh. Baru ini demo BBM, baru itu kan mobil kalau macet begini bensin banyak terbuang” Sopir angkutan kota juga ikut menimpali. Banyak lagi ocehan negatif lainnya namun aku memilih diam, meski aku juga mahasiswa. Toh relitasnya di lapangan memang begitu.

Pandangan kita tentang demonstrasi berbeda-beda, bahkan dikalangan kita sesama mahasiswa saja sudah beda-beda, apalagi untuk ‘sebagian’ rakyat yang masih awam. Teman saya yang kontra mengatakan: “Demonstrasi hanya pekerjaan sia-sia, tak lebih dari orang gila berteriak parau di bawah terik matahari.” Untuk beberapa dari kita hal ini memang tidak masuk akal. “Demonstrasi hanya membuat jalan macet dan menimbulkan anarkisme.” Tambah teman lain yang tidak setuju. Kata seorang teman lagi “demonstrasi hanyalah kebodohan, tindakan sia-sia, dan tidak ‘intelek’. Sementara di sisi lain, mereka yang setuju pada aksi demo percaya bahwa demontrasi adalah perjuangan untuk membelah kebenaran. Teman saya yang pro mengatakan “Mereka yang tidak setuju dengan aksi adalah orang pasif dan tidak memiliki kepedulian. Mereka lalu mencap kelompok kontras sebagai burjois, hedonis, arogan, dll.
Jika ditanya “siapa yang benar?”, jawabanku “hanya Tuhan yang tahu.” Karena tujuan para demonstran banyak, ada yang betul-betul untuk membela rakyat, ada yang mencari jodoh, ikut arus karena disuruh senior dan berbagai alasan lainnya. Tapi yang parah jika ikut demonstrasi karena uang (demonstran bayaran). Untuk mereka yang kontra, tergantung bagaimana alasan mereka juga, jika ingin membenarkannya.

Teriakan membahana memakakkan telinga, di antara puluhan demonstran bermata nanap saat aku lewat di depan gedung DPR. Mungkin tidak semua mengerti kenapa sebenarnya ada disitu. Seperti sebelumnya saat aku bertanya pada seorang MABA di jurusanku “Sebenarnya tujuan kamu ikut demo itu apa sih?” Terlihat dia hanya manggaruk-garuk kepala sambil tersenyum. “Ya, karena disuruh senior jadinya ikut-ikutan aja walaupun ndak mengerti sih sebenarnya ngapain teriak-teriak. Itung-itung cari pengalaman langsung di lapangan aja, demonstrasi itu kayak gimana”
Akan halnya aku yang lebih memilih untuk menjadi pengamat, karena aku bukan orang yang suka mengikuti arus jika tidak mengerti akar permasalahan. Tapi aku bukan Sok Hoe Gie seperti yang dikatakan temanku pada suatu waktu. “Kamu itu sok-sok jadi Sok Hoe Gie banget deh” Aku hanya tersenyum kecut “Yang jelas aku berbeda dengan Sok Hoe Gie, dia ikut turun langsung menjadi pengamat dalam demonstrasi sedang aku hanya melihat dari luar. Tapi aku lebih memilih menjadi Soe Hoe Gie, dibanding menjadi teman-temannya yang munafik pada akhirnya karena uang dan kekuasaan.”
“Kawan-kawan, penindasan di Indonesia sampai hari ini belum juga selesai. Kemerdekaan yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 hanyalah simbolik belaka. Kenyataannya, kita belum merdeka 100%! Kawan-kawan, kita tertindas di tanah kita sendiri. Terjajah oleh penguasa negeri kita sendiri, negara kita minyak memiliki bumi berlimpah. Tapi mereka nyata-nyata telah melakukan penindasan terhadap rakyat, kenaikan BBM akan menyengsarakan rakyat kecil. Betul tidak, kawan-kawan?!” Suara sang orator terdengar lantang saat aku lewat di fly over depan gedung DPR yang menjadi basis utama berlangsungnya aksi.
“Betuuul… betul…!” suara sang orator disambut parademonstran seperti ingin meruntuhkan langit.
“Revolusi belum selesai, kawan-kawan! Apakah kalian siap untuk sebuah revolusi?” “Siiiap!”

Memang bukan hal baru, bila masyarakat (mahasiswa) menggunakan demonstrasi sebagai cara untuk menyuarakan aspirasi mereka. Bahkan sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa demonstrasi benar-benar telah membawa pengaruh besar pada alur perjalanan bangsa Indonesia, yaitu sekitar tahun 1966 dan 1998. Namun, melihat perkembangan demonstrasi akhir-akhir ini, barangkali kita juga merasa jengah, prihatin, bahkan miris. Sebab, tak jarang demonstrasi-demonstrasi tersebut diwarnai dengan tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak, termasuk rakyat sendiri. Bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru
“Hidup Mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Hancurkan penindasan!” “Hidup…” Sambung-menyambung suara lain memekakkan telinga menyambut ucapan sang orator.” Seketika suasana berubah, asap hitam mulai menghalangi pandangan bersama teriakan-teriakan yang sudah tidak jelas lagi. Hingar bingar orang berlarian bersamaan dengan pagar besi gedung DPR diguncang-guncang demonstran.
“Ayo serang…!” Seperti zaman penjajahan saja. Ayo serang…! serang… serang…!” yang lainnya ikut berteriak sekaligus bergerak maju. Polisi yang sedari tadi berjaga segera ambil tindakan, menghalau para demonstran. Aksi saling dorong dan lempar-lemparan batu terjadi, beruntung aku sudah jauh dari lokasi meski masih terlihat jelas dari lokasi.

Aparat pun menjadi bulan-bulanan lemparan batu dan serangan mahasiswa. Barangkali teman-teman mahasiswa juga sudah lupa kalau sebenarnya aparat itu rakyat juga, mereka hanya menjalankan perintah dan tugas saja. Aparat seringkali berada pada pihak yang salah ketika terjadi peristiwa anarkis dalam demonstrasi. Dari pihak pemerintah dikatakan tidak tanggap, sedang dari mahasiswa menganggapnya sebagai momok yang menghalangi aksi mereka.
Padahal, sebagaimana kalimat iklan “prajurit juga manusia”, sehingga aparat (prajurit) harus dipahami sebagai manusia yang memiliki berbagai problem, memiliki cita-cita, bisa marah, bisa gundah, bisa menentang hal yang tidak sesuai dengan nuraninya, dan sebagainya. Apalagi pada dasarnya sebagian besar mahasiswalah yang mulai, bagaimana mungkin aparat akan diam saja ketika diserang. Sama saja kayak kita kalau diserang pasti melakukan defence mechanism.
Aku jadi ingat cerita yang pernah kubaca berjudul “prajurit jatiman”, tapi lupa siapa penulisnya.

“Kalian demonstran! Demonstrasi! Tapi kalian bukan orang susah! Sebentar lagi kalian jadi sarjana. Jadi ahli hukum pembela konglomerat busuk dan koruptor! Jadi ahli ekonomi yang menguntungkan orang kaya dan bikin miskin rakyat jelata! Jadi politikus, menipu rakyat kecil! Jadi menteri dan presiden!!! Huh!! Dulu juga mahasiswa demonstrasi-demonstrasi begini, hasilnya rakyat tetap miskin!! Demonstrannya yang kaya, jadi pengusaha, jadi macam-macam ahli-ahlian, semuanya bikin sengsara!! Sekarang begini lagi, demo-demoan lagi, jadi penguasa lagi, jadi politisi lagi, jadi menteri lagi, kaya sendiri, senang sendiri, kami tetap sengsara!!”
Memang benar, di antara teman-teman aktivis banyak yang kemudian mengisi kursi-kursi di pemerintahan dan mereka ‘aparat’ tetaplah jadi rakyat. Di demo seperti sebelumnya yang pernah mendemo. Jika sebelumnya beringas ketika pemerintah tidak mendengar dan membiarkan mereka lama-lama terpanggang matahari hal yang sama kembali dilakukan. Hal yang sama dilakukan “sebagian” aktivis tiap generasi, giliran mendapat kekuasaan mereka justru menutup mata dan telinga dan lebih parahnya lagi justru ikut-ikutan merongrong rakyat dengan korupsi.

Selepas dari kemacetan panjang dan sesampai di rumah sore itu (jumat, 30/3/13) langsung kuserbu tempat tidur saking lelahnya. Namun terlihatlayar HP ku berkedip-kedip, perlahan kupancet tombol hijau.
“Halo… assalamualaikum.”Sapaku membuka percakapan dengan suara lemah.
“Waalaikumsalam” Balasnya bersemangat.
“Tadi ikut demonstrasi ngak? Kok sampai loyo gini suaranya?” Tanyanya
“Ngak, aku ngak ikut. Aku baru sampai rumah, kejebak macet tadi. Hampir seharian di jalan”
“Bagaimana sih kamu ini gitu aja sudah mengeluh, harusnya sebagai mahasiswa kamu ikut membela rakyat dong. Kamu mahasiswa atau bukan sih?
“Ya mahasiswa lah,” Balasku sedikit emosi.
“Tugas mahasiswa bukan hanya belajar, tapi juga punya tanggung jawab moral: memperjuangkan rakyat.” Ceramah dari temanku yang “katanya” kini jadi aktivis. “Mahasiswa tak boleh terpisah dari rahim rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan (Vox Populi, Vox Dei).” Lanjutnya bersemangat.
“Ya kita memang sama-sama mahasiswa, tapi persepsi kita beda juga halnya dalam paradigma. Bagiku “jika dasar tidak kuat untuk memprotes, aku tidak mau berdiri selama berjam-jam dibawah terik matahari sambil berteriak-teriak.”
“Oh gitu ya! Terus bagaimana pandangan kamu tentang demonstrasi?” Tanyanya kini dalam suara normal
“Lepas dari fenomena ‘demonstrasi berbayar’ atau semacamnya, sejujurnya saya pikir aksi demontrasi punya niat yang baik. Tidak semua dari kita punya kepedulian terhadap sesama. Kebanyakan dari kita lebih suka ‘belajar tekun, lulus, kerja, hidup bahagia’. Itu tak salah, tapi jelas lebih tak salah lagi kita punya kepedulian sosial itu memikirkan bagaimana perasaan korban penggusuran atau dampak dari kenaikan BBM dan sebagainya. Teman-teman tidak hipokrit dengan menutup mata atas kenyataan pahit di sekeliling dan atleast teman-teman berbuat sesuatu. Jika yang kita bicarakan adalah demonstrasi, ya demontrasi adalah “cara”. Cara penyampain pendapatnya itulah yang aku tidak setuju, bayangkan ketika kita membelah rakyat yang tertindas tapi kita sendiri menindas rakyat dengan anarkisme. Jadi daripada mempertanyakan apakah saya pro atau kontra dengan demonstrasi, mungkin pertanyaan yang semestinya ditanyakan adalah: Apakah demonstrasi memang cara yang efektif untuk menuntut sebuah perubahan?
“Menurutkamu bagaimana?” Temanku balik bertanya
“Kalau menurutku demonstrasi sekarang tidak efektif lagi, buktinya kita yang katanya membela rakyat. Tapi kok rakyat justru tidak terima dengan apa yang kita lakukan dan kian tidak simpatik dengan aksi demo. Pemerintah atau rektorat juga mulai capek (atau terbiasa) mendengar aksi demo. Itu adalah masalah besar, karena syarat utama dari sebuah tuntutan atau gerakan perubahan bisa sukses adalah kalau suara tuntutan itu memang ‘cukup keras’ untuk didengar.
“Kita berhak punya persepsi masing-masing tapi menurut aku ‘kadang kita juga perlu anarkis’, anarkis juga belum tentu di dengar apalagi kalau lembek. Rakyat belum paham aja, hingga melihat kita hanya dari sisi negatifnya saja!” Katanya tegas.
Ada benarnya juga, hanyalah demonstran yang terlalu sensitif dengan apa yang salah disaat oknum pemerintah enak-enakan menikmati buah dari kesalahannya terhadap rakyat. Karena rakyat kadang belum berani menyampaikan aspirasinya” Dibenak saya lalu terbayang pemerintah yang makan enak, dimanjakan dengan kamar mandi mewah, diberi kenyamanan nomer wahid bahkan jika dalam penjara sekalipun. Memang tidak adil pemerintah sedang asik main sendiri dengan uang rakyat, lebih mirip orang autis yang sibuk sendiri. Tapi benarkah mereka sedang main? Atau mereka menyumpal kuping mereka dan menutup mata mereka? Kembali lagi “Hanya Tuhan yang tahu” mungkin kata inilah yang lebih tepat.

Demonstrasi punya banyak cerita, kudengar selentingan di kalangan teman-teman yang suka demo “cinta bersemi di kala aksi”. Di tengah-tengah perjuangan begini, masih sempat-sempatnya orang mencoba mencuri keuntungan. Dasar pecundang!” Tak bisa dipungkiri ada cerita cinta juga di lapangan saat demonstrasi, tak kalah dari cerita lovein Perth dan love in Paris.
Aku sebut saja nama temanku Arya (nama samaran), anak pensiunan polantas yang jauh-jauh ke makassar untuk menuntut ilmu.
Orang tuanya pernah berpesan, kebetulan waktu itu kami sama-sama sebagai calon mahasiswa baru yang sudah lulus tahap SNPTN: “Nak, rajin belajar disana dan jangan tinggalkan shalat serta baik-bailah selama di Makassar. Jangan kau lupakan pesan ibu dan bapak, nak.” Pesan yang sama kudapatkan dari orangtuaku, beberapa menit sebelum mobil yang kutumpangi menjemput Arya.
“Iya bu, saya akan selalu ingat nasehat ibu, saya pamit dulu bu!” Ujarnya tergesa dan naik mobil sebelum mencium tangan ibunya.
Pesan itu tak berlaku lagi untuk Arya, buku paket kuliah pun sudah berubah diganti dengan bukunya Marxis, Che Guevara, Mao Tse Tung, Jean Jacques Rousseau, dan buku-buku lain seputar revolusi. Suatu waktu dia bertanya padaku “Masih rajin pergi kuliah Vhir? Kuliah itu hanya pembodohan, jadi ngaku sah terlalu rajin-rajin amat jugalah”. Aku hanya tersenyum, bagaimanapun itulah tujuanku datang ke Makassar “untuk kuliah”. Kini dia menjadi bagian dari organisasi bernama Komite Mahasiswa Revolusioner (KMR).
Kata bundanya saat aku pulang liburan semester (2) kemarin, selama kuliah di Makassar Arya belum pernah pulkam (pulang kampung). Jika ditelpon “sibuk terus” itulah kata bundanya. Dunia pun jadi terbalik, bundanyalah yang datang menjenguk setiap bulan ke Makassar, sementara ayahnya marah besar dan menganggapnya anak durhaka.
“Nak, ibu kangen sama kamu!” Kata pertama yang diucapkan ibunya setelah berbulan-bulan tidak ketemu.
“Aku juga kangen kali, ibu. Jangan peluk-peluk disini dong bu! Malu ni diliatin banyak orang?” kata Arya risih diliatin teman-temannya yang lagi ngumpul-ngumpul di halaman depan kostnya waktu itu.
“Kau sudah lupa dengan orang tua, kamu tidak pernah pulang lagi. Kenapa, Nak?” Bundanya mencium Arya bertubi-tubi untuk melepas rasa rindu.
“Saya tidak lupa, Bunda. Hanya saja, ada tanggung jawab besar yang lebih penting.
“Apa itu, Nak?” Tanya bundanya heran
“Membela rakyat, bunda. Yah, membela rakyat adalah tugas setiap intelektual revolusioner.” Ibu Arya hanya mangut-mangut antara mengerti dan tidak mengerti, lalu mengalihkan pembicaraan.
“Kamu belum melupakan Tuhan kan nak, masih shalat kan?”
“Bunda, tidak ada waktu lagi, banyak kegiatan.” Ya kegiatan rutin Arya tiap hari adalah diskusi dan aksi. “Itu ibadah yang lebih penting, ibadah sosial.” Sambung Arya lagi, bundanya hanya mengurut dada. Tak menyangka anak kesayangannya berubah sedrastis ini.
“Jadi kau tak sholat lagi, Nak?” Kata bundanya dengan isak tangis
“Bunda, saya anggap agama itu hanya sebagai aturan konyol. Itu hanya membuat orang miskin agar tak melawan. Apa gunanya beribadah? toh Tuhan hanya diam saja melihat penderitaan rakyat akibat penindasan. ‘Suara rakyat’ itulah suara Tuhan, Bunda.”
Bunda tak kuasa lagi membendung tangisannya. Anaknya yang tercinta telah melukai hati dan meninggalkan amanatnya. Mungkin Arya lupa, kalau ibunya juga rakyat, berarti dia belum menyadari kalau sebenarnya suara ibunya saat itu adalah suara Tuhan dan dia begitu lama telah mengabaikan suara Tuhan itu. Ya tidak sesuai dengan yang Arya katakan, karena demi suara Tuhan yang lain Arya telah meninggalkan suara Tuhan ‘bundanya” sendiri.

Bram tak kuasa melihat air mata ibunya. Ia segera menjatuhkan diri ke lantai dan mencium kaki ibunya.
“Maaf bunda.., ampun… ampuni aku bunda! Saya akan ikuti pesan ibunda. Tapi, maafkanlah anakmu bunda, aku akan tetap jadi aktivis.”
“Aku tak pernah melarangmu nak, menurut ibu itu mulia nak. Hanya saja ibu menginginkan kamu tetap berjalan di jalan Tuhan dan pulang jika ada waktu nak. Ayahmu merindukanmu dan sangat kecewa melihat kamu seperti ini nak”
“Insyah Allah, bunda.” Ujar Arya panik, takut jika ibunya terus menangis
“Jangan hanya janji, nak.”
“Iya, bunda, pasti… nanti akan kulakukan.”
Tangis ibunda Arya mulai reda berganti dengan sanyuman di wajah yang mulai menua itu. Arya, sang pemberontak muda, takluk juga di bawah telapak kaki ibunya.
Kembalilah nak. Kata bunda sambil memeluk Arya.
“Aku akan kembali ibu, tapi aku akan tetap berjuang”
Demonstrasi memang kadang membuat kita terlena “menghianati diri sendiri dan teman-teman.” Contoh kecil banyak di antara teman-teman yang katanya pencinta alam, tapi saat demo malah merusak alam. Menghianati rakyat, juga dilakukan sebagian orang dengan tujuan pribadi yang terselebung. Harusnya demonstrasi tidak merubah kita jadi sangar, lupa Tuhan, lupa orang tua atau hal negatif lainnya. Demonstrasi seharusnya merubah kita menjadi lebih mulia, karena kita berjuang atas nama kemuliaan untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan.

Dalam pergerakan massa seperti demonstrasi mencari yang salah adalah hal yang sulit. Sebaiknya kita tidak langsung menggeneralisasikan kalau mahasiswa atau pemerintahlah yang salah. Sebagian dari mereka hanya sebagai alat atau korban yang tidak tahuapa-apa.

Terus siapa yang bersalah? Ya merekalah yang berbuat kesalahan. Sebagian dari pemerintah, sebagian dari aparat, dan juga sebagian dari mahasiswa. Pemerintah lebih sedikit jika dibandingkan kita untuk menampung keluhan-keluhan kita, yang salah adalah ketika mereka melanggar aturan seperti korupsi dan melakukan tindakan kriminal lainnya atau semacamnya. Aparat memang tugasnya untuk menegakkan keamanan, kita juga tidak bisa menyalahkan jika kita melakukan kesalahan dan mereka mengamankan kita, yang salah ketika mereka menerima suap dan melanggar aturan-aturan lainnya sesuai dengan kode etik mereka dan kita sebagai mahasiswa, sebagian dari kita telah melakukan kesalahan dengan memprovokasi untuk melakukan tindakan agresi atau melakukan langsung serta tindakan lain yang melanggar aturan.

Catatanku:
Sepertinya kita perlu inovasi dalam menyampaikan pendapat, sekarang bukan lagi pendapat kita yang perhatikan, tapi justru tindakan kita. Tindakan unik yang seharusnya dilakukan orang kreatif seperti kita ‘mahasiswa’, namun yang nampak justru kesangaran dan tindakan agresifitas yang menuai kecaman dari sebagian masyarakat dan pemerintah. Jika terus berkaca pada tumbangnya rezim ORLA, sepertinya sistem dulu dan situasinya sudah berbeda dalam hal ini juga, kita memerlukan inovasi. Marilah kita sama-sama melakukan hal baru yang kreatif yang belum pernah ada dari sekarang, jika ingin kita di dengar lagi…

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.156.37.123
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia