Sehari Sebagai Patriot

Aku aku berada dalam ruangan luas dengan dinding serba putih. Keanggunannya sebagai sebuah bangunan kokoh masih tampak walaupun catnya kusam dan sudah mengelupas. Langit-langitnya yang tinggi seputih kertas yang sedang aku dekap. Detikan jam dinding merayap meniti waktu. Jemariku mengeras karena sudah terlalu lama mengetuk-ngetuk meja. Hatiku bertanya mengapa aku harus terdampar dalam ruangan kelas ini. Lima huruf alphabet yang terdepan bergaung dari getaran pita suara teman-temanku. Aku tarikan ujung pensilku melingkari salah satu huruf itu dengan terpaksa sementara kepalaku masih menempel di punggung meja. Biar saja aku menderita penyakit miopi. Aku tak peduli. Telingaku terlalu jenuh untuk mendengarkannya. Pelajaran Bahasa Indonesia yang membosankan hingga mulutku terus mengepul layaknya kereta lokomotif.
“Kalau menguap ditutup mulutnya,” ucap Vita terganggu.
“Biar saja,” ucapku keras kepala.

Sementara Guru bahasa Indonesia yang aku juluki Pak Santa Klaus terus mendongeng dengan suara mendayu-ndayu, aku asyik memperhatikan gelagat semua temanku di kelas. Vita yang asyik mendengar MP4 yang kemarin baru dipamerkannya, Ridho yang asyik dengan komik Naruto edisi terbaru membuatku mupeng ingin ikut membaca, dan Feri yang sedang asyik nge-game di belakang. Ternyata semua temanku juga mengacuhkan Pak Santa Klaus itu sama sepertiku. Pak Santa Klaus yang sudah jelas tahu bahwa kami tak memperhatikannya tetap mengoceh soal no. 5 tentang sejarah perkembangan Bahasa Indonesia dan segala thethek bengeknya. Ternyata temanku mengucapkan lima huruf alphabet yang terdepan hanya sebagai kamuflase. Dalam hatiku kecilku timbul juga rasa kasihan pada Pak Santa Klaus yang sejak tadi mengoceh dengan suara bariton. Aku mengalihkan pandanganku ke tiga jendela besar yang berjejer di samping. Jendela yang besar, kokoh dan sakral. Angin yang berderai masuk, menghembuskan bau kolonial yang kental dengan kekejamannya. Jendela itu adalah saksi buta dari masa penderitaan di kala perjuangan sebelum kemerdekaan.

Seharusnya aku merasa beruntung karena aku tidak dilahirkan pada masa itu. Masa yang penuh rintihan tangis saat tubuh bergelimpangan dapat kita temukan di setiap jengkal tanah. Masa dimana pelajar sebayaku harus meninggalkan bangku sekolah untuk memegang bambu runcing membantu perang kemerdekaan. Satu kata merdeka adalah hal yang lebih dari cukup dalam impian mereka. Sekarang 61 tahun peristiwa itu telah berlalu. Pembangunan berjalan di segala bidang termasuk pendidikan. Sebuah bidang yang harus aku dalami lebih dari 9 tahun untuk meraih masa depan yang cerah. Untuk menggantikan darah yang terkucur, ribuan nyawa yang telah gugur dan air mata yang menetes. Sekarang aku hanya perlu membuka mata dan mendengarkan untuk melanjutkan jasa pahlawan sebagai seorang pelajar. Tapi tidak, sekarang aku terlalu malas.

Dari tiga jendela besar yang menjuntai aku menengok gemerisik daun yang bersentuhan. Deru kendaraan yang berlari di atas aspal. Aku lebih memilih untuk tetap menempelkan kepala di atas punggung meja sembari memejamkan mataku.

Matahari bersinar condong ke barat, cahayanya terbias dalam bayangan miring. Kepalaku masih menempel di atas punggung meja yang kasar. Kelopak mataku mekar dalam sore yang kusam. Aku mengusap mataku yang masih berkunang-kunang. Aku tersadar ternyata aku masih berada dalam ruangan kelas. Bodohnya aku!!! tertidur hingga mereka meninggalkanku dalam ruangan kelas yang sepi.
“DUER… DUERR,”
“Suara apa itu?” bisikku panik dalam hati. Lantai yang aku pijak bergetar membuat kakiku goyah. “Apakah sedang ada teroris?” ucapku panik sebagai reaksi pertama karena terlalu sering menonton berita di TV. Sungguh, suara itu bergaung laksana auman maut yang siap menerkam. Aku bangkit dan melangkah keluar ruangan.
Aku terpaku menatap dunia berbeda di luar ruangan.
Dimana aku sekarang? Ini bukan halaman sekolahku. Bangunannya memang sama tapi tidak sekuno ini. Tidak ada konblok yang membalut tanah, catnya bernuansa sephia dan terlihat kusam. Aku juga tidak menemukan teman-teman sebayaku. Semua orang berlari panik sembari menggenggam sebuah bambu runcing. Dentuman keras yang aku kira bom ternyata adalah sebuah meriam kuno yang sama sekali tidak karatan. Mataku tercekal saat melihat remaja sebayaku berpakaian mirip Eyang di kala muda.
“ASTAGA!!!” Apa aku masih berada dalam alam mimpi? atau Aku yang memang kuper tidak mendengar kalau sekolahku ditunjuk sebagai tempat syuting pembuatan film kemerdekaan?
“HEI KAU SEDANG APA!? Cepat sembunyi!!!” teriak remaja sebayaku dengan ikat kepala merah putih. Aku panik. Aku putuskan untuk mengambil langkah seribu masuk kembali ke dalam kelas. Tanganku bergetar hebat saat menutup daun pintu. Sekujur tubuhku menggigil. Aku meringkuk ketakutan di bawah meja dengan telinga yang aku tutup rapat-rapat. Semua terasa nyata hingga beribu pertanyaan menghujam otakku.

“DUER…DUER!!!” Suara itu masih bergaung membuat bulu kudukku merinding. Ada teriakkan pilu yang mengiringi dentuman keras itu. Aku takut. Pikiranku terlalu kacau untuk mencerna semua yang telah aku alami. Di luar banyak remaja sebayaku yang sedang berjuang tapi aku malah meringkuk di sini. Aku bangkit memutuskan untuk melihat keadaan. Aku naik ke atas meja dan mengintip situasi di luar dari celah jendela. Jendela-yang-sama-dengan-yang-aku lihat-di-kelas-tadi. Air mataku menetes dengan sendirinya saat aku menatap keadaan di luar. Sungguh pengecut!!! aku terpaku di sini tanpa melakukan apapun.

Banyak tubuh yang tergolek lemah bersimbah darah. Batangan bambu tersebar dalam genggaman tangan mati. Banyak insan yang telah menghembuskan nafas terakhir tapi belum sempat menutup mata. Rona merah senja semerah cairan anyir yang terkucur.

Malam menjelang tanpa cahaya. Tak ada penerangan kecuali sinar redup dari bulan sabit di angkasa. Bintang-bintang pun terlalu sombong untuk bersinar. Kedua tanganku penuh darah yang bau anyirnya sudah merebak ke seluruh ruangan. Aku lupa dengan ketakutanku pada cairan yang aku sebut darah. Aku mencoba mempraktekan ilmu PMR yang aku dapat di sekolah semampuku. Aku balut luka mereka yang menganga lebar dengan kain seadanya. Hatiku miris saat melihat ada beberapa luka dihinggapi lalat. Sapaan angin lembut masuk dari jendela tanpa daun. Tubuh bergelimpangan memenuhi ruangan kecil dan pengap. Mereka terlalu letih untuk beradu dengan pekatnya malam. Kami terpaksa bermalam dalam lorong ini karena takut musuh akan menyerang kami tiba-tiba. Aku silangkan kedua tanganku saat udara malam yang dingin mulai membalut ruangan. Aku sandarkan punggungku pada sebuah tiang kayu besar. Dalam setiap detik yang berjalan, selalu aku dengarkan ada suara orang yang merintih. Rintihan kelu akan kerinduan besar pada sebuah kebebasan. Aku selalu berharap ini hanya mimpi tapi ini adalah kenyataan. Andai saat itu aku tahu bahwa perjuangan menuju kemerdekaan itu sekeras ini. Aku menyesal karena aku telah menyia-nyiakannya dengan malas belajar. Dalam keheningan malam aku meratapi penyesalanku pada diriku sendiri.

Seseorang berjalan mendekat dan duduk tepat di sampingku. Sepertinya ia adalah seseorang yang berteriak padaku siang tadi. Ia menarik sebuah nafas panjang yang lebih mirip sebuah dengusan. Matanya menerawang menatap langit malam yang penuh gumpalan awan. Aku dapat melihat pancaran sinar kesedihan sekaligus dendam dalam matanya.
Aku terdiam dalam hening. “Kau sangat membenci mereka?” tanyaku ragu.
“Tentu. Mereka yang telah memenggal kepala ayahku di depan semua orang karena ayahku terlalu setia pada kata merdeka. Mereka juga telah membawa Ibu dan kakak perempuanku pergi entah kemana.” ucapnya dengan nada sedih.
“Setiap kali aku bertanya mengapa ayah terlalu setia pada kemerdekaan ia tidak menjawab. Ia tersenyum dan mengatakan jika aku seturut pada jalannya pasti aku akan tahu,”
“Apa sekarang kau sudah tahu?” tanyaku.
“Belum. Tapi jika kita menang besok, pasti kita akan tahu,” jawabnya.
“Biar nyawamu melayang,” balasku.
“Ya, biar pun nyawaku melayang” jawabnya sembari tersenyum penuh arti ke arahku. “Nyawa adalah sebuah semut kecil dibandingkan arti dari sebuah kemerdekaan. Bendera merah putih akan tegak berdiri di langit biru dan angin kebebasan akan berderai, itu adalah impian terbesarku” ucapnya bersemangat.
“Kau tahu, lebih baik mati daripada terjerat dalam tangan penjajah,”
“Mengapa?” tanyaku ingin tahu.
“Mereka akan menyiksa kita dengan siksaan terkeji yang pernah ada jika kita tak mau membeberkan rahasia. Mungkin punggung kita akan disapa dengan cambuk bergerigi tajam tapi itu belum seberapa dibandingkan jeratan bambu tajam yang akan meremukan jari kita tapi itu juga belum seberapa dibandingkan dengan penggalan maut seperti yang dialami ayahku” ucapnya miris.
Aku tercengang saat mendengarkan ceritanya.
“Ngomong-ngomong, bukankah kamu yang terpaku sore tadi tanpa senjata,” tanyanya curiga.
“I…iya,” jawabku terbata.
“Aku Farid, siapa namamu?” tanyanya sembari menyodorkan tangannya kearahku.
“Buma,” jawabku sembari membalas uluran tangannya.
“Sebaiknya kau tidur, masih banyak yang harus kita lakukan besok,”

Aku membaringkan tubuhku di atas lantai dingin tanpa alas. Dalam keheningan malam aku merenungkan tentang semua yang terjadi. Apa artinya semua ini? Aku mencoba memejamkan mata tapi aku terus terjaga. Farid masih duduk menerawang ke langit, mungkin ia rindu pada keluarganya. Aku jadi teringat akan keluargaku di rumah, masih dapatkah aku berjumpa dengan mereka? Farid mengeluarkan sebuah seruling bambu dan kemudian meniupkannya. Nada-nadanya mengalun sendu terlarut dalam misteri malam. Sebuah lagu yang menyiratkan kerinduan besar akan sebuah kebebasan. Suasana sendu menyelimuti malam. Sekarang aku mulai tahu arti kata perjuangan.

Bola raksasa terbit dari ufuk timur. Sinarnya menyiratkan warna kuning keemasan yang merajai pagi. Aku masih terlalu mengantuk untuk menyadari, APA yang telah aku alami. Kelopak mataku terpaksa mekar karena cahaya putih yang menyilaukan. Aku terkejut. Semua badan renta yang bergelimpangan di sisi kiri dan kananku telah tiada. Saat aku keluar ternyata mereka sudah maju bertempur walaupun dalam keadaan terluka. Suasana di luar sama kacau dengan keadaan kemarin. Aku berlari mengambil bambu runcing dan bergabung dalam pertempuran yang mulai memanas.

“DUER…DUERR.” Dentuman meriam seakan menjadi sangkakala genderang peperangan. Kubu musuh jauh lebih banyak dibandingkan kami yang hanya segelintir orang. Entah mengapa ada suatu dorongan besar yang mengobarkan keberanianku. Tanpa ragu aku mengayunkan bambu runcing hingga menusuk punggung seseorang musuh dari belakang. Darah merahnya memancar hingga ke tanah. Ia roboh. Senapan dalam tangan matinya aku rebut. Baru pertama kali ini aku menjadi seorang pembunuh. Aku ingat akan semboyan terkenal peperangan. Dalam peperangan kita harus membunuh atau kita yang akan mati. Aku arahkan senapan ke arah musuh dan menembakannya membabi-buta hingga satu persatu dari mereka tergolek lemah.

Gemerisik daun yang teduh menaungi peperangan semerah neraka. Mataku menangkap sosok Farid yang susah nekad berlari ke atas gedung dengan membawa bendera merah-putih. Ada seseorang dengan seragam musuh yang mengarahkan senapan padanya padahal ia hanya membawa sebatang bambu runcing. Pandanganku teralih pada seorang musuh lain yang mengarahkan senapannya padaku, tapi aku lebih cepat 1 detik darinya. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Nyawaku atau bendera merah putih itu berkibar di langit. Akhirnya aku tembakan peluru terakhirku mengarah pada seorang musuh yang sedang membidikkan pelurunya ke arah Farid sementara aku merasakan sebuah benda kecil nan dingin yang menembus dada kiriku. Aku merasa ada ribuan semut yang melubangi dadaku. Berjuta rasa yang aku rasakan, sakit, perih, pilu, sekaligus bangga. Cairan yang mengucur semerah bendera merah putih yang berkibar di atas gedung putih itu. Badanku serasa terbang laksana kain merah-putih yang berderai. Aku menarik kerutan senyum untuk terakhir kalinya saat melihat Farid melambai-lambaikan bendera merah-putih.

Malaikat putih menari dalam gemerisik daun yang bersentuhan. Cahaya sucinya membumbung ke arah bola agung di langit. Sangkakala senja menabuh peperangan merah. Darah yang tercecer tidaklah seperih tadi. Bendera merah-putih berkibar tegak di langit angkasa biru seakan memberiku senyuman. Kebebasan yang berderai telah bergema ke seluruh penjuru. Benar kata orang, nyawa ini tidaklah berarti dibandingkan sebuah kemerdekaan. Bunga yang gugur akan terpahat dalam sejarah masa lalu. Badan renta ini akan terbang bersama angin kebebasan.

Aku bertanya apakah aku sudah berada di surga sekarang. Tidak, tempat ini terlalu riuh untuk di katakan sebuah surga. Aku mengusap kelopak mataku hingga aku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarku. Ini di dalam kelas. Ruangan kelas yang penuh temanku sama seperti sediakala. Pandangan mata mereka hanya mengarah padaku yang tertangkap basah tidur di kelas. Tapi aku telah mengalami mimpi yang aneh sekaligus hebat. Mimpi yang ingin aku ceritakan pada dunia tentang apa yang telah aku lakukan. Tapi mimpi tetaplah mimpi, aku malangkah ke depan kelas untuk menerima hukuman karena aku telah tidur di kelas. Hukuman ini lebih baik daripada harus menjalani lagi perjalanan menderita menuju kemerdekaan. Akan aku hargai perjuangan mereka mulai dari sekarang.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.39
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia