Sepasang Teratai Muda

Indonesia adalah negara sedang berkembang, dimana masih banyak terdapat kekayaan alam yang belum dapat diungkap keberadaannya. Juga kota-kota besar yang katanya di sana berkumpul semua orang-orang berjas dan berdasi, juga bertabur berbagai fasilitas mewah kehidupan, seperti Mall, Hotel, Perumahan, Restoran, Taman Hiburan, Diskotik, dan masih banyak yang lainnya.

Jakarta adalah Ibu kota dari Indonesia sendiri. Yang katanya, kota dimana pusat pemerintahan, politik, korupsi, dan kemewahan ada di dalamnya, termasuk juga kriminalitas dan terutama kemiskinan pastinya.

Di tengah-tengah kota Metropolitan yang sangat sibuk dan dibangga-banggakan itu, ternyata masih ada tinggal jutaan orang-orang miskin bahkan di bawah kategori miskin. Dan di sana hiduplah sepasang bersaudara Ayu, yang masih berumur 10 tahun, dan adiknya Neil, yang berumur 7 tahun.

Mereka berdua ditinggal mati kedua orangtuanya saat Ayu masih berumur 8 tahun. Yang mereka tahu orangtua mereka meninggal karena sakit keras. Kini mereka tinggal di tepi jalanan. Gubuk kecil peninggalan orangtua yang ada di kampung kumuh mereka, tempo hari sudah diratakan oleh orang-orang berjas dan berdasi yang tidak bertanggungjawab. Yang mereka dengar dari orang-orang sekitar, katanya tanah itu akan dijadikan perluasan untuk pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Lagi-lagi generasi bangsa seperti mereka harus disingkirkan oleh orang-orang berjas yang begitu tergiur dengan lembaran rupiah.

Tapi hal itu tidak membuat Ayu dan Neil cengeng. Mereka terus berusaha dan bekerja keras untuk mengisi sejengkal perut lapar mereka. Dari pagi hingga sore mereka harus menapaki kota Metropolitan itu untuk mencari botol-botol minuman bekas dan dijual pada bandar pemulung. Sehari mungkin mereka hanya mendapatkan uang sebesar sepuluh hingga lima belas ribu rupiah untuk 1 kilogram botol minuman yang sudah susah payah mereka kumpulkan. Tapi mereka tidak pernah bersungut-sungut. Uang yang mereka dapat mereka belikan untuk satu bungkus nasi dan satu plastik kecil air minum, dan mereka bagi berdua. Ketika malam tiba, mereka hanya tidur di pinggir jalan beralaskan aspal. Tubuh mereka hanya dibalut sepasang baju kumel. Dinginnya malam yang menusuk dan mencabik tiap lapisan kulit mereka, tidak lagi mereka hiraukan. Mereka hanya saling berpelukan satu sama lain ketika angin malam sudah semakin menusuk ke lapisan kulit terdalam mereka.

Suatu sore di tengah kerlip lampu jalanan dan mobil mewah yang lalu lalang, Ayu dan Neil duduk di pinggiran jalan untuk memakan satu bungkus nasi yang mereka beli dari hasil memulung sejak pagi hari.
“Kakak! Ayo cepat dibuka! Aku sudah lapar!!”
“Iya! Iya! Ini juga lagi dibuka!” kata Ayu sambil ligat membuka karet yang mengikat nasi bungkus itu.

Setelah bungkusan nasi terbuka, Ayu meletakkannya di antara mereka berdua lalu berdoa dan mengucapkan syukur atas apa yang mereka dapatkan hari itu. Setelah selesai berdoa, segera mereka mencuci sedikit tangan kanan mereka dan mulai menyuapi nasi ke dalam mulut mereka. Tapi tiba-tiba datang seorang nenek tua renta dan bungkuk menghampiri mereka.
“Nak?” kata nenek itu dengan suara yang gemetar. Segera Ayu dan Neil menghentikan rayap tangan mereka pada nasi bungkus itu.
“Ada apa, nek?” tanya Ayu pada nenek itu.
“Anu?.. Nenek lapar, sudah dua hari nenek belum makan apa-apa..”
Sejenak Ayu menatap nasi bungkus itu, kemudian tanpa ragu ia berkata..
“Kalau begitu, nenek makan saja nasi kami ini. Tadi kami sudah makan beberapa suap, kok?!” kata Ayu, sambil mendekatkan nasi bungkus itu pada nenek tua itu.
“Lagian kami sudah kenyang kok, nek!” sambung Neil.
“Aduh! Terimakasih banyak ya, nak?!” kata nenek tua itu sambil duduk di hadapan nasi bungkus itu dan mulai menyuapi nasi dengan lahap ke dalam mulutnya.

Ayu dan Neil hanya melihat nenek tua itu makan. Meski sebenarnya mereka masih sangat lapar. Tapi kemurahan hati dan rasa belas kasihan mereka, membuat mereka tidak enggan dan tidak menyesal memberikan nasi itu pada nenek tua renta dan bungkuk itu.

Beberapa saat kemudian nenek tua renta itu sudah membersihkan lembar kertas dari semua butir nasi.
“Alhamdulillah! Terimakasih banyak ya, nak? Kalau tidak karena kemurahan hati kalian, nenek pasti sudah mati kelaparan!”
“Kami senang bisa membantu nenek!” jawab Ayu dengan senyum.
Kemudian nenek itu membuka ikatan kain yang dibawanya, lalu diambilnya sehelai kain panjang yang terlihat masih bagus.
“Ini nenek berikan untuk kalian. Anggap saja sebagai rasa terimakasih nenek.”
“Tidak perlu, nek! Kami iklas, kok!” jawab Ayu.
“Tolong terimalah! Nenek akan merasa sangat menyesal jika kalian tidak mau manerimanya. Lagipula nenek masih punya satu lagi!” kata nenek itu sambil menyerahkan kain panjang itu ke tangan Ayu.
“Kalau begitu terima kasih banyak ya, nek?!”
“Sama-sama!” ucap nenek itu dengan senyum dan mulai beranjak dari situ, meninggalkan Ayu dan Neil.
Sejenak Neil menatap lembar kertas yang telah bersih itu.
“Kak? Aku masih lapar…”
“Kakak juga lapar. Tapi kita seharusnya bersyukur, karena kita masih bisa makan hari ini, meski hanya beberapa suap. Sedangkan nenek itu sudah dua hari belum makan, kita tidak tahu apakah besok dia akan dapat makan atau tidak?”
“Kakak benar!?”
“Begini saja! Kita tidur sekarang supaya laparnya tidak terasa!”
“Emm.. Iya.” angguk Neil dengan senyum.

Lalu Ayu membentangkan kain panjang pemberian nenek tua itu. Setelah itu mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas kain panjang itu. Lelah tubuh mereka, membuat mereka semakin cepat terlelap, keributan lalu lintas tak lagi mengganggu tidur mereka. Hembusan angin malam yang merobek pori-pori kulit mereka, membuat mereka semakin berpeluk erat antara satu dengan yang lainnya, setidaknya hal itu dapat menghangatkan sedikit rasa dingin pada kulit mereka.

& & &

Sore itu, seperti biasa Ayu dan Neil mencari tepi jalan yang aman untuk tempat mereka beristirahat dan menikmati sebungkus nasi hasil jerih payah mereka satu harian.

Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Ayu menemukan tempat yang nyaman dan aman. Tapi mereka harus menyeberangi jalan raya. Dengan hati-hati Ayu menggandeng tangan adiknya untuk mulai melangkah menyebrangi jalan raya. Tapi dari kejauhan Neil melihat mobil mini bus melaju dengan kencang. Sontak ia langsung menarik tangan Ayu ke pinggir, tapi sayangnya nasi itu terjatuh dan mobil mini bus itu menggilas nasi mereka.

Dengan sedih Ayu melangkah hati-hati untuk mengambil nasi bungkus yang sudah tergilas itu, dan dibawanya ke pinggir jalan.
“Yah kak?! Nasinya sudah kotor?!” ucap Neil dengan sedih.
“Maaf ya, Neil? Kakak tidak hati-hati.”

Kemudian digandengnya kembali tangan Neil sambil memegang nasi bungkus itu. Dan dengan hati-hati mereka mulai menyeberang, dan akhirnya sampai pada tepian jalan yang ada di seberang.

Kemudian duduklah sepasang bersaudara itu, sambil Ayu meletakkan nasi bungkus kotor itu di antara mereka. Dengan segera Ayu mencubili butir nasi kotor dan membuangnya, Neil pun turut membantu. Setelah dibersihkan, ternyata hampir habis setengah dari porsi yang sebelumnya. Yang tadinya cukup untuk dibagi dua, kini hanya cukup untuk satu orang saja.
“Sudah! Kamu saja yang makan?! Kakak tidak lapar, kok?!” kata Ayu menyerahkan nasi itu pada Neil. Tapi Neil yang tahu kalau Ayu sangat lapar, segera membagi dua nasi itu lalu meletakkannya di antara mereka.
“Kakak? Kakak juga harus makan! Kita cuma hidup berdua, apapun yang kita miliki harus dibagi dua. Lagian kalau kakak sakit terus pergi meninggalkan Neil… Neil akan tinggal dengan siapa lagi?”
Ayu sangat terharu dengan ucapan adiknya itu.
“Kalau begitu… Kita makan sama-sama, ya?!”

Setelah mereka selesai makan, mereka mencuci sedikit tangan kanan mereka dengan sebungkus kecil air minum yang tadi dipegang oleh Neil, kemudian mereka berbagi air minum itu. Setelah itu mereka membaringkan tubuh mereka di atas dinginnya aspal tepi jalanan dan mereka menyelimuti tubuh mereka dengan kain panjang itu.

Esok pagi sekitar jam empat pagi-pagi buta, mereka sudah bangun dari tidur mereka. Segera Ayu melipat dua kain panjang itu dan melilitkannya pada lehernya, kemudian mereka mulai berjalan menyusuri tepi jalanan untuk mulai mengumpulkan botol minuman bekas. Sesekali mereka berpencar untuk bisa mengumpulkan lebih banyak botol minuman bekas.

Matahari mulai meninggi tepat di atas kepala mereka. Teriknya matahari yang membakar kulit mereka dan panasnya aspal jalanan yang membakar telapak kaki mereka, tak menyusutkan semangat mereka untuk terus mengumpulkan botol-botol minuman bekas. Tapi ganasnya sinar manatahari membuat mereka haus.
“Kakak, aku haus?” ucap Neil sambil menatap kakaknya.
“Kakak juga haus.. Begini saja! Kita mengamen sebentar, mana tahu ada orang yang berbaik hati memberikan kita beberapa recehan?!” Usul Ayu pada Neil.
“Ya! Ya! Aku setuju?!”

Segera Ayu dan Neil berjalan mencari perempatan jalan yang terdekat, kemudian meletakkan karung tempat botol bekas mereka di pinggiran jalan. Ketika lampu merah, Ayu dan Neil turun ke jalanan dan mendatangi satu per satu kendaraan beroda empat sambil bernyanyi dan bertepuk tangan. Tapi tak satu pun dari mereka yang mau memberikan recehan.

Lampu merah berikutnya, mereka kembali turun ke jalanan. Mereka menghampiri sebuah mobil mewah, kemudian bernyanyi sambil bertepuk tangan.
“Indonesia… tanah airku… Tanah tumpah darahku… Di sanalah aku berdiri.. Jadi pandu ibuku…” Ayu dan Neil bernyanyi dengan riang.
Kemudian pengemudi mobil itu membuka kacanya…
“Hehh!! Bisa diem gak sich loe?!! Loe nyanyi lagu apaan sich?!! Kampungan banget lagu loe!! Emang loe pikir ini tujuh belasan apa?!!! Udah! Udah! Pigi loe dari mobil gue! Ntar lecet lagi!” bentak pemudi yang mengendarai mobil mewah itu, seraya menutup kembali kaca mobilnya.

Segera Ayu dan Neil meninggalkan mobil itu. Tapi kemudian ada seseorang wanita yang mengendarai sepeda motor memanggil mereka. Segera mereka menghampiri wanita itu.
“Ada yang bisa kami bantu, buk?” tanya Ayu.
“Ah, tidak?! Ini ibuk kasih sedikit uang untuk kalian?!” kata wanita itu sambil menyerahkan selembar uang limaribu.
“Tapi buk, kami tidak bisa menerimanya. Kami tidak melakukan apa-apa untuk ibuk?!”
“Ada kok? Dari tadi ibuk mendengarkan nyanyian kalian?! Ibuk senang sekali masih ada anak-anak seperti kalian yang mau menyanyikan lagu-lagu nasional. Jadi diterima, ya?!” kata wanita itu sambil menyodorkan kembali uang tersebut.
“Terimakasih banyak ya, buk?!” kata Ayu dengan wajah yang gembira sambil menerima uang itu.

Segera mereka pergi meninggalkan jalan raya dan menuju ke tepi jalan tempat mereka meletakkan karung mereka. Segera Ayu mengangkat karung itu dan menggandeng tangan Neil untuk mencari warung kecil.

Setelah menemukan warung, segera Ayu membeli dua buah aqua gelas, lalu membaginya pada Neil kemudian mereka meminumnya.
“Kakak… Neil lapar.”
“Gimana kalau kita beli kue basah tiga bungkus dan dua aqua gelas lagi?!”
“Yaa?!” ucap Neil dengan semangat.

Segera Ayu menghabiskan sisa uang itu untuk membeli tiga bungkus kue basah seharga seribu rupiah dan dua aqua gelas seharga limaratus rupiah. Lalu segera Ayu memberikan sebungkus roti pada Neil dan sebungkus lagi untuknya dan satu bungkus lagi dibaginya dua. Lalu dibaginya satu aqua gelas pada adiknya. Dan segera mereka memakannya dengan lahap.
“Kenyang!!” ucap Neil.
“Ya sudah, ayo kita lanjut nyari botol minuman?!”
“Ayo! Kalau sudah kenyang begini, rasanya mencari botol minuman bekas sampai besok pun, Neil tetap semangat?!”

Mereka kembali menyusuri tepi jalanan, tak lupa juga mereka memasukkan botol aqua gelas milik mereka tadi. Haripun semakin sore, Ayu dan Neil segera pergi menuju tempat penyerahan barang-barang bekas yang selalu mereka datangi.

Tapi setibanya di sana alangkah terkejutnya mereka melihat tempat itu bagai diamuk angin topan. Semua tempat yang terbuat dari tepas-tepas sudah dihancurkan dengan mobil-mobil berat, dan semua barang-barang bekas diangkat dengan mobil pengkeruk dan dipindah ke tempat pembuangan sampah.
Ayu dan Neil yang penasaran, segera mananyakan penyebab hal itu pada orang sekitar yang sedang lewat.
“Pak? Pak?! Kenapa tempat ini dihancurkan?!” tanya Ayu.
“Aduh dek?! Yang bapak dengar, katanya di sini mau dibangun ruko.”
“Ohh, makasih ya, pak.”

Dengan perasaan kecewa dan sedih Ayu dan Neil meninggalkan tempat itu dan mulai mencari tempat untuk mengistirahatkan tubuh mereka.

Tapi tiba-tiba rintik air hujan mulai jatuh ke permukaan tanah. Segera Ayu dan Neil mencari tempat berteduh. Dan mereka menemukan lorong buntu di antara rumah-rumah dan segera mereka menuju ujung lorong itu dan duduk menyandar ke dinding yang di atasnya kebetulan ada atap bangunan yang dilebihkan sedikit, sehingga mereka terlindung dari rintik air hujan.
Tapi beberapa saat kemudian, hujan menjadi sangat lebat, angin bertiup semakin kencang. Segera Ayu menyelimuti tubuh mereka dengan kain panjang. Tapi hujan lebat itu membuat sedikit demi sedikit air merembes kepakaian mereka. Ditambah kencangnya angin, membuat tubuh mereka menggigil. Tapi mereka menghangatkan diri dengan saling berpelukan, hingga akhirnya mereka tertidur di tengah kencangnya angin dan lebatnya hujan.

Dalam kepolosan wajah mereka yang sedang tidur seakan ingin menyampaikan sesuatu kepada semua orang..
“Kami berharap tak akan ada lagi orang-orang dan teman-teman kami, yang mengalami nasib yang sama seperti kami. Kami berharap setetes kasih dan kepedulian dari orang-orang berjas dan berdasi untuk kami kaum miskin. Kami juga berharap ibu pertiwi semakin jaya kedepannya agar orang-orang seperti kami bisa merasakan sedikit kehidupan yang layak nantinya.
Salam perdamaian untuk negriku, Indonesia.”

Akhirnya sepasang teratai muda ini tidak sanggup bertahan lebih lama dari amukan hujan dan cambukan angin yang menghantam tubuh mereka.

Dan sekali lagi, generasi bangsa harus gugur di medan pertempuran melawan kejamnya orang-orang yang menduduki kursi berputar di kota Metropolitan.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.4.231
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia