Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

WULAN Srindi buka sepasang matanya yang sejak tadi dipejamkan. Tubuhnya terasa lemas, saat itu sudah tiga kali dia mendengar ada langkah-langkah kaki di depan pintu kamar, tempat di mana sekian lama dia disekap. Ini kali ke empat. Perlahan-lahan gadis murid Perguruan Silat Lawu Putih ini bangkit dari berbaringnya, duduk di tepi tempat tidur, memandang nanar ke arah pintu yang terkunci. Untung sebelum pergi manusia pocong yang membawanya ke dalam kamar itu mau berlaku baik melepaskan totokan. Tapi totokan tidak dilepas penuh, hanya dua pertiganya. Sisa tenaga yang ada hanya sekedar bisa menggerakkan tangan dan kaki. Tidak mungkin menggerakkan tenaga dalam atau menyalurkan hawa sakti, apa lagi menjebol pintu mencoba melarikan diri.

Perlahan-lahan Wulan Srindi melangkah ke pintu. Dia perhatikan keadaan pintu itu sejenak. Tidak dapat dipastikan apakah terbuat dari batu atos atau besi karena dicat putih. Pada daun pintu tepat di arah kepala ada sebuah lobang berbentuk kotak empat persegi. Tak diketahuinya lobang apa itu adanya dan apa kegunaannya. Wulan tempelkan telinga kiri ke daun pintu. Lagi-lagi dia mendengar suara langkah itu. Mungkin pengawal, pikir si gadis. Ketika untuk kesekian kalinya dia mendengar suara langkah orang, Wulan menegur. "Siapa di luar?"

Tak ada jawaban. Tapi suara kaki melangkah mendadak berhenti.

"Siapa di luar? Mengapa tidak menjawab?" Wulan mengulangi teguran.

Tiba-tiba sret! Kotak kecil di depan kepala Wulan Srindi terbuka. Si gadis mundur satu langkah, memandang memperhatikan ke arah kotak. Dia melihat satu kepala mengenakan kerudung kain putih. Dua buah mata di balik lobang kecil memandang berkilat, tak berkesip ke arahnya. Kepala itu mendekat hingga kini hanya salah satu matanya saja yang berada dalam kotak.

Wulan perhatikan kilatan yang memancar dari mata di dalam kotak. Dia merasa ada satu getaran dahsyat dan panas. Itulah cara memandang laki-laki yang gairah terhadap kecantikan dan kebagusan tubuh seorang gadis. Namun gairah itu disertai rasa takut yang membuatnya bersikap bimbang.

"Manusia pocong, kau siapa sebenarnya?"

"Gadis dalam kamar, kau tak layak bertanya," jawab orang di luar kamar.

Wulan mendengar suara keras tapi bergetar pertanda ucapannya dipengaruhi oleh sesuatu yang ada dalam hatinya.

Manusia pocong di luar kamar hendak menutup kotak di pintu.

Wulan cepat berkata.

"Tunggu!"

"Apa maumu?" "Namaku Wulan Srindi. Aku murid Perguruan Silat Lawu Putih..."

"Tak usah banyak bicara. Kami di sini tahu semua siapa dirimu adanya!" menukas manusia pocong di balik pintu kamar. Dalam hati orang ini merasa heran dan bicara sendiri. "Wakil Ketua agaknya belum memberi minuman pelupa diri pelupa ingatan pada gadis ini. Mungkin dia kelupaan atau mungkin memang disengaja? Hemmm, aku tahu mengapa gadis satu ini diperlakukan istimewa. Wakil Ketua ingin bersenang-senang. Mungkin dia merasa kurang nikmat kalau si gadis berada dalam keadaan lumpuh dan hilang ingatan."

Wulan melihat kepala berkerudung putih bergerak menjauh dari pintu.

"Tunggu, jangan pergi. Dengar dulu ucapanku. Kalau kau mau menolongku keluar dari tempat celaka ini, aku akan berikan apa saja yang kau minta."

Dibalik penutup kepala kain putih si manusia pocong menyeringai.

"Kau tak bisa membujuk diriku. Tidak siapa-pun di tempat ini bisa dibujuk. Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan. Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

Wulan Srindi terdiam. Namun di lain saat gadis ini keluarkan tawa panjang.

"Kenapa kau tertawa?" manusia pocong bertanya.

"Kukira kau satu-satunya manusia cerdik di tempat ini. Ternyata kau sama saja tololnya dengan manusia-manusia pocong lainnya!"

"Gadis kurang ajar! Jangan berani berlancang mulut di tempat ini!"

"Hemm... Ternyata benar ucapanku. Aku seorang perempuan lebih berani dari kau seorang lelaki! Buktinya kau menutupi kepala dengan kain putih. Pasti ada sesuatu yang kau takutkan!"

"Kami Barisan Manusia Pocong tidak ada satupun yang ditakuti di

dunia ini. Kecuali Yang Mulia Sang Ketua!"

"Sudah, pergi sana! Aku muak mendengar ucapanmu!"

Wulan Srindi berpura-pura mundur menjauhi kotak di pintu.

Pancingannya mengena. Manusia pocong sebaliknya kini malah

mendekatkan matanya ke lobang kotak.

"Pertolongan macam apa yang kau inginkan?" "Aku sudah katakan tadi. Keluarkan aku dari tempat ini. Dan aku akan memberikan apa saja yang kau kehendaki!"

"Kami telah mengeledah pakaianmu. Kau tidak membawa bekal apa-apa waktu masuk ke sini. Tidak memiliki barang perhiasan tidak juga uang."

"Apakah perhiasan dan uang dua hal penting berharga di dunia ini bagi seorang laki-laki sepertimu?" tanya Wulan Srindi sambil

dekatkan wajahnya ke lobang kotak.

"Apa maksudmu?" Manusia pocong di balik pintu bertanya.

Wulan Srindi tersenyum. Sambil mata setengah dipejamkan dan lidah merah basah diulurkan membelai bibir dia berkata lirih, berusaha merayu memikat.

"Aku tahu, mungkin kau sudah begitu lama berada di tempat ini. Menjalankan tugas penting dari Sang Ketua. Hingga tidak memikirkan lagi kepentingan dan kebahagiaan diri sendiri. Terkadang uang atau perhiasan, tidak ada artinya dibanding dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang kau dapat dari seorang gadis sepertiku."

"Gadis, kau bicara terlalu berani. Jangan kau coba merayu diriku..."

"Dengar, aku kini percaya. Kau tidak sama dengan manusia pocong lain yang ada di tempat ini. Tolong diriku. Keluarkan aku dari sini. Apa sulitnya bagimu? Begitu kita berada diluar, maka aku adalah milikmu. Tidak hanya sebentar, tapi selama kau membutuhkanku. Itu tanda terima kasihku padamu."

"Kau mau menipuku!"

Alis kanan Wulan Srindi mencuat ke atas. Dia tersenyum lalu berkata. "Kalau begitu, agar tidak ada yang tertipu di antara kita, pembicaraan cukup sampai di sini."

Wulan Srindi melangkah mundur menjauhi lobang di pintu.

"Apakah aku bisa mempercayai dirimu?" Manusia pocong bertanya.

"Kepercayaan harus datang dari dua belah pihak," jawab Wulan Srindi

Si manusia pocong terdiam. Seperti berpikir.

"Baik," katanya kemudian. "Kau tunggu sebentar. Ada sesuatu yang harus aku periksa. Kau tunggu sampai aku kembali."

"Jangan terlalu lama," kata Wulan Srindi.

Memang gadis itu tidak menunggu lama.

Beberapa saat kemudian si manusia pocong kembali muncul. Wulan mendengar suara berdesir. Lalu perlahan-lahan dilihatnya pintu putih terbuka.

"Lekas!" kata manusia pocong. Cepat dia menarik lengan si gadis.

Sambil melangkah Wulan Srindi coba kerahkan tenaga dalam, alirkan hawa sakti. Ternyata dia masih tidak mampu melakukan. Mau tak mau gadis ini terpaksa mengikuti saja ke mana manusia pocong itu menariknya. Orang membawanya memasuki lorong, berputar-putar demikian rupa hingga kepalanya pusing. Dia berjalan dengan tubuh terhuyung.

"Apa kau tidak bisa jalan lebih cepat?" Manusia pocong bertanya antara tidak sabaran dan rasa kawatir.

"Diriku masih setengah tertotok. Kalau kau mau melepaskan totokan di tubuhku, aku tidak akan merepotkanmu. Malah aku bisa lari mengikutimu."

"Yang menotokmu adalah Wakil Ketua. Kecuali Yang Mulia Sang Ketua dan dia sendiri, tidak ada orang lain yang mampu membebaskanmu," jawab manusia pocong. Lalu dia hentikan langkah, bungkukkan tubuhnya sedikit. Di lain saat Wulan Srindi sudah berada di atas panggulannya.

"Kau mau membawa aku ke mana?" tanya gadis murid Perguruan Silat Lawu Putih itu.

"Kau minta tolong dikeluarkan dari dalam goa. Kenapa masih bertanya?" Manusia pocong agak jengkel.

"Goa? Aku disekap dalam kamar."

"Kamar ini ada dalam goa. Goa ini memiliki seratus tiga belas lorong. Bagi orang luar tidak mudah masuk dan keluar. Sekali tersesat berarti kematian. "-

"Tapi aku harus tahu kau mau membawa aku ke mana."

"Ada satu pondokan di kawasan bukit batu. Aku akan membawamu ke sana. Sudah, jangan banyak bertanya. Dinding lorong ini punya seribu telinga!" Manusia pocong mempercepat larinya. Tak lama kemudian Wulan Srindi dapatkan dirinya telah keluar dari dalam lorong sangat panjang dan berliku. Matanya berputar mengawasi keadaan sekelilingnya. Dia berada di kawasan bukit berbatu-batu. Saat itu fajar telah menyingsing namun karena kabut mengambang di mana-mana, keadaan tampak masih gelap. Hal ini menguntungkan dua orang yang melarikan diri itu karena sosok mereka tidak mudah terlihat.

Setelah melewati gundukan batu-batu besar, manusia pocong memutar arah lari ke sebelah timur. Wulan melihat satu jalan menurun lalu ada kali kecil menghadang di ujung jalan. Orang yang memanggulnya membelok ke kanan, menyusuri kali ke arah hulu.

Melihat kali, Wulan lalu berkata. "Turunkan aku di sini saja. Aku bisa mencari jalan sendiri."

"Perjanjian kita tidak begitu," jawab manusia pocong yang memanggul si gadis dan terus saja lari.

Wulan Srindi menggigit bibir. Dia berhasil membujuk orang mengeluarkan dirinya dari dalam tempat sekapan. Bahaya pertama sudah lewat.

Kini ada bahaya berikutnya. Bagamana dia bisa membebaskan diri dari tangan manusia pocong satu ini.

"Aku mau membersihkan diri dulu di kali. Turunkan aku barang sebentar."

Manusia pocong tidak perdulikan permintaan Wulan Srindi. Dia terus saja lari.

Jalan yang ditempuh semakin sulit karena bebatuan menebar sangat banyak dan tebal berlapis lumut. Wulan Srindi maklum orang yang melarikannya itu selain memiliki tenaga dalam juga membekal ilmu meringankan tubuh cukup tinggi. Karena tidak mudah untuk lari di atas batu-batu yang diselimuti lumut licin. Selewatnya kawasan berbatu mereka memasuki satu rimba belantara kecil tapi sarat semak belukar dan pepohonan yang tumbuh sangat rapat. Di antara kerapatan pepohonan serta semak belukar itulah kemudian Wulan Srindi melihat sebuah pondok kayu tak berpintu. Salah satu dindingnya telah jebol. Dan kesinilah manusia pocong itu membawanya.

Wulan Srindi dibaringkan di lantai pondok kotor berdebu. Gadis ini cepat bangkit dan melangkah ke sudut pondok. Tadinya dia hendak bergerak ke pintu. Tapi manusia pocong itu tegak di depan pintu seolah sengaja menghadang. Sesaat orang ini tegak diam memperhatikan si gadis. Nafasnya memburu karena berlari sejauh itu sambil mendukung Wulan Srindi. Apa lagi saat itu nafsu mulai merambat membakar aliran darahnya. Dari tempatnya berdiri di dalam pondok orang ini memperhatikan keluar. Mata dan telinga dipasang tajam-tajam. Tak ada gerakan mencurigakan. Tak ada orang yang mengikuti. Dia juga tidak mendengar suara apa-apa selain hanya suara kumbang hutan menggeru bersahut-sahutan.

Manusia pocong balikkan tubuh. Wulan Srindi tahu, kini bahaya besar mengancam kehormatan dan keselamatan dirinya. Dia harus bisa menipu orang ini, paling tidak mengulur waktu.

"Kau telah menolongku. Aku berterima kasih. Sayang aku tidak bisa melihat wajahmu. Hingga kalau kelak bertemu aku mungkin tidak mengenal dirimu."

Manusia pocong keluarkan suara tertawa.

"Kau tak perlu melihat wajahku. Apa lagi mengenal siapa diriku. Budi pertolonganku berpangkal pada janji yang kau ucapkan sewaktu masih berada dalam kamar sekapan. Saatnya kau menepati janji. Saatnya aku menagih janji."

"Tapi aku ingin lebih dulu melihat wajahmu. Dan kalau kau percaya, lakukan sesuatu agar totokan di tubuhku musnah."

"Saat ini tidak ada lagi waktu untuk bicara. Yang ada waktu untuk bekerja." Habis berkata begitu manusia pocong tanggalkan jubah putihnya. Di balik jubah ternyata dia mengenakan satu pakaian ringkas berupa baju dan celana panjang hitam. Masih dengan kepala tertutup kerudung putih dia melangkah mendekati Wulan Srindi.

"Buka pakaianmu," perintah manusia pocong.

"Dengar, kita perlu bicara dulu."

"Aku sudah bilang tak ada waktu untuk bicara! Kalau kau berusaha menipu dan tidak mau menanggalkan pakaian, aku bisa melakukannya. Tapi aku akan melakukan secara kejam. Jangan berani mengingkari perjanjian yang kau buat sendiri! Ingat ucapanmu waktu di dalam kamar sekapan. Kau mengatakan mau memberi kebahagiaan dan kenikmatan padaku. Kau bilang begitu berada di luar dirimu adalah milikku selama aku membutuhkanmu! Sekarang jangan berani mencari dalih!"

"Aku tahu. Aku juga tahu kau orang baik-baik. Aku..."

"Aku akan menanggalkan semua pakaianku. Harap kau melakukan hal yang sama. Pada saat semua pakaianku sudah kutanggalkan dan kau masih tidak berbuat apa-apa, aku akan menghajarmu sampai sekarat. Aku memang lebih suka melihat dan menggauli perempuan dalam kesakitan." Lalu manusia pocong buka baju hitamnya.

"Aku mohon..."

Wulan Srindi balikkan badan ke sudut pondok. Tak berani memperhatikan ketika orang di hadapannya bergerak menanggalkan sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Diam-diam Wulan kembali berusaha mengerahkan tenaga dalam dan alirkan hawa sakti. Tetap saja dia tidak mampu memusnahkan kekuatan totokan yang masih menguasai dirinya. Totokan Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong memang luar biasa.

Tiba-tiba Wulan Srindi merasa ada tangan mencengkeram punggung pakaiannya. Lalu breeet! Pakaian itu robek sampai ke pinggang. Wulan Srindi menjerit. Dia balikkan tubuh sambil hantamkan satu pukulan. Tapi pukulan itu begitu lemah. Jangankan tenaga dalam, tenaga luarnya sajapun tidak punya daya apa-apa. Manusia pocong biarkan jotosan lemah itu mendarat di dadanya. Tidak terasa apa-apa, hanya seperti diusap.

Manusia pocong menyeringai, mendekat penuh nafsu.

"Aku mohon, jangan kau apa-apakan diriku. Aku bersedia jadi istrimu..." Wulan keluarkan ucapan, masih berusaha membujuk dan mengulur waktu.

"Kehidupan dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian tidak mengenal apa yang dinamakan istri! Percuma kau membujukku!"

Tiba-tiba tangan kanannya kembali bergerak. Kali ini menyambar ke dada si gadis. Untuk kedua kalinya Wulan Srindi memekik. Dada pakaiannya robek besar. Tapi pekikan si gadis kali ini juga dibarengi jeritan si manusia pocong. Entah apa yang terjadi tubuhnya terpental ke kiri, menghantam dinding pondok yang lapuk hingga terpentang jebol lalu terlempar ke halaman samping. Bersamaan dengan itu satu suara tawa mengekeh menggema dalam pondok. Bau harum aneh menebar menyengat hidung.

"Gluk... gluk... gluk!"

Ada suara orang menenggak minuman dengan amat lahap.

***2DALAM kagetnya Wulan Srindi pentang mata mendelik, memandang ke depan. Seorang kakek berjanggut putih menjulai dada, berpakaian selempang kain biru tegak di tengah pondok sambil tertawa gelak-gelak. Tangan kirinya memegang sebuah bumbung terbuat dari bambu. Bibir bumbung didekatkan ke mulut. Sikakek lantas buka mulutnya lebar-lebar. Tak ada benda yang mengucur dari dalam bumbung itu.

"Aku tidak mengenal kakek ini. Apakah dia barusan yang jadi sang penolongku?" membatin Wulan Srindi. Hatinya harap-harap cemas. Dalam rimba persilatan tanah Jawa seribu satu macam manusia gentayangan di mana-mana. Terkadang sulit diterka mana kawan dan mana lawan.

Si kakek goyang-goyang bumbung di atas mulutnya. Tetap saja tak ada tak ada cairan yang keluar dari dalam bumbung bambu. Si kakek memaki sendiri.

"Sial! Kenapa cepat sekali habisnya! Aku tidak memeriksa lagi. Baru tahu saat mau minum kali ini. Pasti waktu di gunung si Sinto menenggak bukan cuma satu dua teguk. Nenek geblek! Katanya tidak doyan, tapi tuakku diteguk amblas!"

Entah disengaja atau memang kebetulan, secara acuh tak acuh kakek ini lemparkan ke kiri bumbung bambu yang dipegangnya. Saat itu justru manusia pocong yang terlempar keluar pondok dalam keadaan marah besar tengah melompat masuk ke dalam pondok untuk mendamprat dan menyerang si kakek. Namun setengah jalan kepalanya keburu dihantam bumbung bambu hingga kembali dia terpental. Di balik kain putih penutup kepala, keningnya luka dan benjut besar. Darah mengucur membuat kain putih di atas kepalanya basah merah.

Seperti tidak ada kejadian apa-apa, tidak melihat dan tidak mendengar jerit kesakitan serta caci maki orang, kakek di dalam pondok ambil tabung bambu kedua yang tergantung di punggungnya. Penutup tabung di buka, dicampakkan seenaknya ke lantai. Kepala didongakkan lalu tabung diangkat tinggi-tinggi di atas mulut. Cairan bening yang menebar bau harum menyengat hidung mengucur keluar. Si kakek cepat buka mulutnya lebar-lebar.

"Gluk... gluk... gluk!"

Si kakek meneguk tuak harum yang mengucur keluar dari dalam bumbung bambu dengan lahap. Matanya sebentar mendelik, sebentar dipejamkan. Sebagian dari tuak membasahi wajahnya yang keriput, membasahi kumis dan janggut putih serta membasahi dada pakaian birunya. Tak selang berapa lama baru si kakek turunkan bumbung bambu. Mukanya kelihatan merah. Dia batuk-batuk beberapa kali lalu mengusap mulut.

"Tuak enak, benar-benar sedap. Tak salah kalau orang menyebutnya tuak kayangan. Malah kalau benar ada tuak di kayangan sana, rasanya mungkin tidak selezat tuakku ini!" Si kakek tertawa mengekeh sambil usap-usap bumbung bambu. Lalu mulutnya bicara kembali seenaknya, seolah dia hanya sendirian di tempat itu.

"Mengusap bumbungnya saja nikmatnya seperti mengusap pantat perempuan montok. Ha... ha... ha!"

Wulan Srindi yang sejak tadi memperhatikan si kakek dari sudut pendek jadi tercekat.

"Jangan-jangan kakek yang kuanggap sebagai tuan penolong ini ternyata adalah seekor bandot tua doyan tanaman muda," murid Perguruan Silat Lawu Putih itu membatin. "Anehnya lagi masakan dia tidak tahu aku ada di sini. Mungkin berpura-pura..." Si gadis semula hendak memanggil tapi kemudian memutuskan untuk diam saja sambil memperhatikan terus gerak-gerik orang tua berselempang kain biru itu.

Si kakek sangkutkan kembali bumbung tuaknya di punggung.

Dia perhatikan lantai pondok.

"Uh, kotornya. Debu tebal sampai sejempol. Tadinya aku berniat istirahat tidur-tiduran di tempat ini barang sehari dua. Kalau kotor begini siapa sudi! Uh! Malam-malam tidak mustahil tikus dan kecoak mampir di sini. Baiknya aku pergi saja..."

Si kakek betulkan letak bumbung bambu di punggung, usap-usap dada pakaiannya yang basah, membelai jenggotnya yang putih panjang dan juga basah lalu putar tubuh melangkah ke pintu pondok.

"Kek!"

Si kakek tertegun berjingkrak. Kelihatan kaget sekali. Entah kaget benaran entah cuma pura-pura. Dua kaki berhenti melangkah, bahu diputar dan kepala dipalingkan ke sudut pondok dari mana barusan dia mendengar suara orang menegur.

"Astaga naga!" si kakek pelototkan mata, usap janggutnya dan balikkan tubuh. "Luar biasa! Kukira tadi aku sendirian di tempat ini. Untung tadi aku tidak loloskan celana, dan kencing di sudut pondok sana." Si kakek geleng-geleng kepala. Lalu tertawa mengekeh. "Makin lanjut umurku, makin pikun diriku. Bagaimana mungkin sejak tadi aku tidak melihat, tidak mengetahui kalau ada seorang gadis cantik di dalam pondok ini. Tapi, ah! Pakaianmu mengapa tidak karuan begitu rupa."

Si kakek tutupkan lima jari tangan kanannya di atas dada, tapi jari-jari itu dipentang lebar hingga tetap saja dia bisa melihat jelas keadaan dada si gadis yang tersingkap.

Wulan Srindi baru sadar keadaan dada bajunya yang tersingkap lebar akibat robekan manusia pocong tadi. Cepat-cepat gadis ini rapikan pakaiannya.

"Kek kau siapa?" Wulan Srindi bertanya.

Berbarangan dengan itu si kakek juga ajukan pertanyaan.

"Gadis cantik, kau siapa?"

Dua-duanya kemudian sama tertawa. Si kakek maju selangkah, pandangi Wulan Srindi dari kepala sampai ke kaki.

"Kau orang sungguhan? Eh, kakimu nginjak lantai apa tidak? Hik... hik... hik!"

"Eh, memangnya aku ini kau lihat bagaimana Kek?"

"Pondok ini terpencil dalam rimba belantara. Di kawasan bukit batu jarang didatangi manusia. Ada seorang gadis cantik begini rupa. Bagaimana aku tidak curiga?"

"Nyatanya kau sendiri berada di sini," tukas Wulan Srindi si gadis berkulit hitam manis. "Berarti aku juga pantas merasa curiga."

"Aku muncul di sini kebetulan saja. Eh, jawab dulu kau ini orang sungguhan, bukan peri bukan dedemit hutan yang muncul menyamar jadi gadis cantik?"

Wulan Srindi tertawa lebar.

"Terkadang hantu juga bisa muncul dalam ujud seperti dirimu sekarang ini, Kek."

Si kakek angkat tangannya, digoyang-goyang seraya berkata. "Sudah, sudah! Jangan bicara segala macam hantu dan dedemit. Nanti kita berdua pada kesambet dan jadi hantu dedemit sungguhan."

"Kek, kau telah menolongku. Aku mengucapkan terima kasih." Wulan Srindi berkata sambil bungkukkan diri. Karena gerakan ini, dada pakaiannya kembali tersingkap. Si kakek mendelik menahan nafsu ketika melihat dada yang terbuka itu. Sambil usap-usap jenggotnya dia memandang ke arah pintu. Saat itu terdengar suara menggembor disertai makian keras.

"Tua bangka jahanam! Kupecahkan kepalamu!"

"Eh, siapa yang bicara?" kejut si kakek. Dia celingukan sebentar lalu berpaling ke kiri. Di saat bersamaan satu sosok berkelebat. Satu jotosan dahsyat menderu ke arah pelipis kiri si kakek. Kalau dia tidak lekas menghindar kepalanya pasti kena dihantam rengkah!

Sambil berseru kaget, orang tua yang membekal bumbung tuak di punggungnya itu cepat melompat mundur. Ketika dia hendak balas menyerang, baru disadarinya dengan siapa dia berhadapan.

"Aha! Ini baru dedemit sungguhan! Muka ditutup kain putih berdarah. Tapi mengapa tubuh sebelah bawah polos tidak pakai apa-apa! Gila betul! Apa tidak masuk angin? Pemandangan merusak mata! Kalau seorang gadis berkeadaan sepertimu pasti aku tidak menolak melihat! Tapi yang macam kamu! Wuaallah! Dedemit geblek! Pergi sana!"

Ketika orang tanpa pakaian itu berkelebat kirimkan serangan ke arah si kakek Wulan Srindi telah lebih dulu membuang muka, memandang ke jurusan lain.

Si manusia pocong dengan satu-satu pakaian yang dikenakannya saat itu hanyalah kain penutup kepala, seolah baru sadar jadi kelabakan melihat keadaan dirinya. Dia segera menyambar jubah putih miliknya yang ada di lantai. Tapi si kakek lebih dulu menarik jubah itu dengan jempol kaki kirinya, lalu dilempar lewat pintu keluar pondok.

Manusia pocong jadi kalap.

"Tua bangka jahanam!" Dia memaki.

Si manusia pocong lalu hantamkan dua tangannya sekaligus ke arah si kakek. Dua gelombang angin menderu dahsyat. Pondok bergoyang seperti mau roboh. Sebelum dua gelombang angin menyapa si kakek, manusia pocong telah melompat susul serangannya dengan kirimkan pukulan berantai, dua tangan kiri kanan sekaligus.

Kakek berselempang kain biru melihat dan merasa dua gelombang angin maut menderu ke arah dirinya. Cepat dia melompat ke atas hingga kepalanya hampir menyundul atap pondok.

"Braakk! Braakkk!"

Dinding pondok sebelah kanan hancur berantakan di hantam dua angin pukulan manusia pocong. Manusia pocong berteriak marah. Tidak Perdulikan keadaan dirinya yang tanpa pakaian sama sekali dengan nekad dia mengejar ke depan. Saat itu si kakek telah melayang turun kembali sambil dua tangannya sambuti pukulan berantai lawan.

"Bukk! Bukkk!"

Dua tangan saling memukul, saling beradu di udara mengeluarkan suara bergedebukan tiada hentinya. Satu kali si kakek gerakkan tangan kanan, memutar bumbung bambu ke depan. Ketika jotosan tangan kanan lawan datang, dengan cepat si kakek sodokkan pantat bumbung bambu ke arah serangan.

"Krakk!"

Seolah tidak mendengar suara apa-apa si kakek buka kain penutup bumbung, dongakkan kepala, buka mulut dan kucurkan tuak di dalam bumbung.

"Gluk... gluk... gluk!"

Enak saja si kakek meneguk tuak harumnya sementara di depannya si manusia pocong menjerit terbungkuk-bungkuk sambil pegangi tangan kanannya yang telah hancur mulai dari ujung lima jari sampai pengkal pergelangan!

"Orang gila! Jangan berisik di tempat ini! Pergi sana!" maki si kakek. Lalu tuak diteguknya satu kali lagi. Setelah itu tuak yang ada dalam mulut disemburkan ke arah manusia pocong.

"Cuaahhh!"

"Wusss!" Cairan tuak yang disertai aliran tenaga dalam tinggi itu laksana ratusan jarum menderu ke arah manusia pocong yang sedang menjerit-jerit kesakitan karena tangan kanannya yang hancur. Dia tak mampu berkelit, tak sanggup menangkis. Sosoknya terlempar jauh keluar pondok, terbanting di tanah. Lebih dari empat lusin lobang muncul di permukaan kulit tubuhnya yang kelihatan hancur, menyusup ke daging terus ke tulang! Dari lobang-lobang itu mengepul asap kelabu! Si manusia pocong keluarkan pekik keras, tubuhnya menggeliat beberapa kali lalu diam tak berkutik lagi. Mati!

Seumur hidup baru sekali itu Wulan Srindi melihat kematian orang akibat semburan cairan tuak. Sementara si gadis masih setengah terkesiap, si kakek melangkah keluar pondok yang sudah doyong dan siap roboh, mendekati mayat manusia pocong. Dia tarik kain putih yang menutupi kepala orang. Satu wajah tua bundar dan ada tahi lalat besar di dagu kiri tersingkap. Lama si kakek pandangi wajah itu hingga perlahan-lahan dua alis matanya yang putih mencuat ke atas. Setelah menarik nafas panjang dan geleng-geleng kepala kakek ini keluarkan ucapan. Nada suaranya menyatakan kesedihan.

"Sahabatku Ki Sepuh Dalemkawung, benarkah kau ini? Kalau tidak melihat tahi lalat di dagumu, aku mungkin masih menaruh ragu. Mengapa kau berubah jadi orang jahat? Kalau tadi-tadi aku tahu ini adalah dirimu, mungkin aku tidak akan tega membunuhmu."

Wulan Srindi tidak berani mendekati. Dari tempatnya berdiri gadis ini bertanya.

"Kek, kau kenal orang itu?"

Si kakek melangkah kembali masuk ke dalam pondok.

"Namanya Sepuh Dalemkawung. Belasan tahun lalu kami pernah bersahabat. Dia orang baik. Ilmunya tinggi. Serangan tangan kosong yang dilakukannya tadi adalah pukulan Dua Gelombang Menjebol Dinding Karang. Dia pernah berulang kali membantu Kerajaan menghancurkan kaum pemberontak di kawasan timur. Adalah aneh kalau kini dia berbuat seperti ini, berdandan seperti pocong hidup, melakukan kejahatan, terutama terhadap orang-orang perempuan. Menyedihkan sekali seorang sahabat menemui ajal mengenaskan seperti ini. Dan gilanya, aku yang membunuhnya!" Si kakek tepuk keningnya sendiri.

"Kek," ujar Wulan Srindi. "Kau tidak membunuh seorang sahabat. Yang kau bunuh adalah kejahatan." Si gadis coba menghibur.

Si kakek tersenyum tawar. Dia hendak meneguk tuak dalam bumbung tapi tak jadi, malah keluarkan ucapan penyesalan. "Ki Sepuh, kalau saja kau masih hidup dan bisa bicara, menerangkan apa sebenarnya yang terjadi, aku mungkin bisa mencari tahu siapa yang jadi biang kerok kejahatan ini."

Memandangi si kakek Wulan Srindi lalu ingat. Tahu diri kalau orang benar-benar telah menolongnya si gadis melangkah ke hadapan si kakek lalu jatuhkan diri berlutut.

"Kek, aku sangat berterima kasih. Kalau kau tidak muncul saat ini pasti aku sudah..."

Si kakek usap kepala Wulan Srindi.

"Bangunlah, tidak pantas manusia berlutut di hadapan manusia lainnya. Aku hanya tidak mengerti, bagaimana gadis cantik sepertimu bisa kesasar di tempat ini dan tadi hampir saja dikerjai makhluk terkutuk itu. Gadis, siapa namamu?" "Kek, namaku Wulan Srindi..."

"Pantas wajahmu cantik seperti bulan." Memuji si kakek.

"Aku murid Perguruan Silat Lawu Putih. Aku dan kakak seperguruan yang menjadi Ketua Perguruan, meninggalkan perguruan beberapa waktu lalu untuk menyelidiki pembunuhan atas diri guru dan bekas Ketua kami Surablandong. Kami bernasib malang. Kakak seperguruanku menemui ajal di tangan manusia pocong. Aku sendiri..."

"Manusia pocong?" tanya si kakek.

"Betul Kek. Salah satu diantaranya yang barusan kau bunuh."

"Hemm, dalam perjalanan ke sini beberapa kali aku mendengar makhluk-makhluk itu disebut orang. Aneh tapi jahat. Kabarnya mereka menculik perempuan-perempuan bunting. Apa betul?" "Betul sekali Kek..." Lalu Wulan Srindi menuturkan kisahnya, mulai dari penyamaran yang dilakukannya bersama Ketua Perguruan Silat Lawu Putih sampai akhirnya dirinya diculik.

"Aneh, buat apa? Mau diapakan perempuan-perempuan hamil itu?"

"Itu sebenarnya salah satu hal yang ingin kami selidiki." Jawab Wulan Srindi pula.

"Murid yang tengah aku cari, seperti dirimu pasti tidak dalam keadaan bunting. Tapi melihat dirimu yang juga tidak bunting hampir jadi korban bukan mustahil muridku bisa pula celaka di tangan makhluk keparat itu. Siapa manusia-manusia pocong itu sebenarnya?"

"Aku belum sempat menyelidik. Tahu-tahu sudah kena diculik."

Si kakek usap-usap janggut panjangnya.

"Hemm..." si kakek bergumam. "Turut penuturanmu jelas manusia-manusia pocong ini punya satu komplotan. Kalau yang disebut Wakil Ketua, tentu ada Ketua. Pasti pula mereka punya banyak anak buah. Lalu sarang mereka pasti dijadikan tempat penyekapan perempuan-perempuan hamil itu. Kalau katamu kau dibawa ke sini sesaat setelah fajar menyingsing, lalu sampai di sini tak selang berapa lama, berarti markas komplotan itu tidak berapa jauh dari tempat ini."

"Mungkin begitu Kek. Satu hal perlu aku beritahu sarang komplotan itu merupakan satu goa batu. Di dalamnya ada puluhan lorong aneh, panjang dan berliku-liku. Sekali tersesat masuk dan tak bisa keluar pasti menemui ajal. Menurut manusia pocong yang membawaku ke sini, lorong itu disebut Seratus Tiga Belas Lorong Kematian."

Si kakek goleng-goleng kepala.

"Makin tua umur dunia, makin banyak keanehan terjadi," kata si kakek lalu dia meneguk tuaknya beberapa kali.

"Aku harus menyelidiki tempat itu sebelum bencana semakin merajalela."

"Aku ikut bersamamu Kek." Kata Wulan Srindi pula.

Si kakek tersenyum.

"Mendekatlah ke hadapanku," kata si kakek.

Wulan Srindi mengikuti perintah. Dia melangkah ke hadapan orang tua itu. Si kakek pandangi gadis di depannya dari kepala sampai ke kaki.

"Kek, ada apa?" Si gadis menjadi risih tidak enak.

"Aku melihat ada kelainan pada gerak-gerikmu..."

"Kek, sebenarnya aku masih dalam keadaan tertotok."

"Ah, benar dugaanku. Tapi totokan yang menguasai dirimu bukan totokan sembarangan. Anehnya kau masih bisa bergerak, bisa bicara dan mampu berpikir. Membaliklah. Tahan nafas dan pejamkan mata."

"Menurut orang yang barusan kau bunuh, hanya Wakil Ketua dan Ketua manusia pocong yang bisa membebaskan diriku dari totokan ini."

"Begitu? Coba kulihat. Ayo melangkah ke sini."

Wulan Srindi ikuti perintah. Dia melangkah mendekati si kakek.

"Baliklah tubuh. Hadapkan punggungmu padaku. Tahan nafas dan pejamkan mata."

Kembali Wulan Srindi lakukan apa yang dikatakan si orang tua.

Begitu dia menahan nafas dan pejamkan mata, satu tusukan halus melanda punggungnya. Walau tusukan itu halus dan lembut tapi akibatnya membuat tubuh si gadis mencelat ke atas. Di dahului satu pekik keras, Wulan Srindi berjumpalitan di udara dan melayang turun ke bawah dengan dua kaki menginjak lantai pondok lebih dulu. Di wajahnya yang cantik bermunculan titik-titik keringat. Sesaat mukanya tampak pucat, lalu secara perlahan berdarah kembali.

"Kek, kau memusnahkan totokan di tubuhku," kata Wulan Srindi penuh kagum dan hampir tidak percaya dan berpikir. Berarti orang tua ini memiliki ilmu kesaktian paling tidak setingkat Sang Wakil Ketua barisan Manusia Pocong. Mungkin juga sama dengan tingkat kepandaian Sang Ketua sendiri. "Kek, aku mohon kau sudi memberitahu siapa dirimu adanya. Aku sangat berterima kasih. Bukan cuma berhutang budi, tapi juga nyawa dan kehormatan."

Si kakek cuma tersenyum. "Kau ini bicara apa," katanya.

"Kek, aku mohon. Harap katakan siapa dirimu adanya."

"Siapa diriku, itulah hal yang tidak penting." "Jangan begitu Kek. Bagimu tidak penting tapi bagiku sangat penting."

Si kakek tersenyum, usap-usap janggutnya. Akhirnya berkata.

"Karena aku doyan minum tuak, orang-orang lantas menyebut diriku Dswa Tuak. Ada-ada saja. Pada hal jelas aku bukan Dewa. Tapi kakek-kakek rongsokan yang sudah bau tanah!" Habis berkata begitu si orang tua tertawa mengekeh.

Terkejutlah Wulan Srindi mendengar ucapan orang. Kembali dia jatuhkan diri.

"Kek, ketika guruku Surablandong masih hidup, beliau sering menceritakan tentang kisah tokoh-tokoh rimba persilatan tanah Jawa. Salah seorang yang disebut dan diceritakan beliau adalah dirimu. Hari ini sungguh aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Lebih dari itu karena ternyata engkaulah penolongku, tokoh rimba persilatan yang selama ini kami kagumi."

"Berdiri, jangan berlutut!" Si kakek membentak.

"Tidak Kek, aku akan tetap berlutut sebelum kau memenuhi satu permintaanku."

"Permintaan? Memangnya kau mau minta apa? Ingin merasakan minum tuakku? Nanti kau mabok. Baru tau!"

Wulan Srindi angkat kepalanya, tersenyum. Lalu dengan sungguh-sungguh dia berkata.

"Aku tidak akan bangun sebelum Kakek mengiyakan bahwa kau mau mengambil aku jadi muridmu."

Dewa Tuak tertegun sesaat lalu sambil tersenyum dia berkata.

"Kau keliwat menganggap diriku sebagai orang hebat. Aku tidak punya apa-apa selain bumbung tuak ini..."

"Aku lebih baik mati berlutut di tempat ini daripada tidak jadi muridmu."

"Gadis bengal. Aku masih banyak urusan. Antaranya mencari muridku..."

"Katakan saja siapa muridmu. Aku akan mencarikannya untukmu. Asal aku dijadikan muridmu lebih dulu. Biar tidak diajarkan ilmu kepandaian apapun aku rela."

"Anak gadis, kau sendiri pasti banyak urusan. Kembalilah ke perguruanmu. Daerah sekitar sini terlalu berbahaya bagimu. Jangan kau sampai kena diculik orang untuk kedua kali."

"Tidak Kek, aku tidak akan kembali ke perguruan. Aku akan ikut ke mana kau pergi."

"Benar-benar gadis bengal!" ujar Dewa Tuak dengan suara keras tapi wajah tuanya unjukkan senyum. "Dengar, aku berjanji satu saat akan menjengukmu di Gunung Lawu."

"Dan kau akan mengambilku jadi murid. Begitu? Ujar Wulan Srindi, masih berlutut dan kepala masih ditundukkan. Sepuluh jari tangan dirangkapkan di depan dada. "Tapi Kek, berapa lama aku harus menunggu? Satu tahun? Dua tahun...?"

"Sudah, begini saja, kalau kau tidak suka kembali ke Gunung Lawu, tolong aku mencarikan seseorang," kata Dewa Tuak pula.

"Mencari seseorang? Siapa? Muridmu itu?" "Bukan. Seorang pemuda berjuluk Pendekar 212 Wiro Sableng."

Wulan Srindi terkesiap, angkat kepalanya sedikit, pandangi wajah si kakek lalu merunduk kembali.

"Aku sudah lama mendengar nama besar dan kehebatan Pendekar

212. Tapi belum pernah bertemu orangnya. Kata orang tidak mudah mencari pendekar satu itu. Lalu aku juga menyirap kabar, dia seorang pendekar mata keranjang. Punya banyak kekasih. Cantik-cantik semua..."

"Kau tidak kalah cantik dengan semua mereka itu," jawab Dewa Tuak sambil tersenyum.

Dada sang dara jadi berdebar. "Apa maksudmu, Kek?"

"Sudah, sekarang terserah padamu. Kau punya pilihan mau melakukan apa. Kembali ke Gunung Lawu atau mencari pendekar itu. Kalau mencari Wiro dan bertemu, ceritakan padanya apa yang telah terjadi dengan dirimu. Juga ceritakan pertemuan kita ini."

"Aku akan lakukan Kek. Cuma aku ada satu pertanyaan lagi..." Wulan Srindi mendengar suara si kakek bergumam. Lalu gadis ini merasakan satu usapan di kepalanya. Ketika dia mengangkat muka, Dewa Tuak tak ada lagi di dalam pondok.

***3DALAM Episode sebelumnya (Nyawa Kedua) diceritakan bahwa seorang anggota komplotan manusia pocong yang disebut Satria Pocong menemui Yang Mulia Ketua yang saat itu masih berada di halaman Rumah Tanpa Dosa. Kepada Sang Ketua dilaporkan tentang adanya seorang penyusup yang kini terperangkap dalam lorong delapan belas. Ketua Barisan Manusia Pocong memerintahkan Wakil Ketua bersama anggota pelapor untuk segera menyelidiki perkara tersebut.



Di tengah jalan Wakil Ketua memerintahkan Satria Pocong agar berangkat lebih dulu ke lorong delapan belas, menunggunya di sana dan jangan melakukan sesuatu sebelum dia datang. Wakil Ketua kemudian memasuki satu terowongan batu menuju kamar kediamannya. Di tempat inilah dia telah menyekap Wulan Srindi, gadis anak murid Perguruan Silat Lawu Putih setelah lebih dulu dua pertiga dari kekuatan yang ada dalam dirinya dilumpuhkan dengan totokan. Sebelum pergi ke lorong delapan belas dorongan nafsu yang ada dalam tubuhnya membuat dia terlebih dulu ingin bersenang-senang dengan gadis itu.

Namun Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong jadi terkejut besar ketika dapati kamar dalam keadaan kosong. Wulan Srindi lenyap.

"Tubuhnya dibawah pengaruh totokan. Pintu kamar hanya bisa dibuka dengan tombol batu rahasia. Tidak mungkin gadis itu kabur sendiri. Pasti ada yang menolong. Ada penghianat di tempat ini! Kurang ajar!" Sang Wakil Ketua gerakkan jari-jari tangan kanannya hingga mengeluarkan suara berkeretekan membentuk tinju. Tidak menunggu lebih lama dia segera melompat ke pintu lalu menghambur ke kanan. Tak lama kemudian dia telah memasuki bagian dalam mulut terowongan yang disebut 113 Lorong Kematian. Sambil lari dalam hati dia menghitung menyebut angka dan arah.

"Lima puluh kiri. Tiga puluh kanan. Empat puluh kiri. Lima puluh kanan..." Wakil Ketua sudah berulang kali melewati lorong tersebut. Namun dia tetap menghitung angka dan menyebut arah agar tidak tersesat. Sekali seseorang kesasar dalam terowongan yang memiliki 113 lorong tersebut, sulit baginya akan keluar lagi.

Ketika mencapai lorong 18, Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong hentikan lari. Di depannya menggeletak sosok putih seorang Satria Pocong. Mengerang megap-megap siap menemui ajal. Kain putih yang menutupi wajahnya tampak basah merah oleh darah. Dari bentuk sosoknya Sang Wakil Ketua mengetahui orang ini adalah Satria Pocong yang tadi disuruhnya pergi lebih dulu ke lorong 18.

Wakil Ketua berlutut di samping sosok Satria Pocong. Hidungnya mencium bau aneh. Sepasang mata mengerenyit ketika melihat kain putih yang menutupi kepala anak buahnya itu selain basah oleh darah juga dipenuhi puluhan lubang kecil.

"Aneh." ucap Wakil Ketua. Dengan tangan kiri ditariknya ke atas kain putih penutup kepala Satria Pocong. Sang Wakil Ketua langsung melengak. Lututnya goyah, tubuh tersurut ke belakang. Muka yang tersembul di balik kain putih penutup kepala tampak melepuh hangus. Di seluruh kulit muka kelihatan lobang-lobang kecil mengepulkan asap tipis. Darah menggenang di mata yang mendelik besar. Wakil Ketua pegang urat besar di leher Satria Pocong. Masih ada denyutan halus.

"Satria Pocong! Katakan apa yang terjadi!"

Bibir anggota Barisan Manusia Pocong itu bergetar. Matanya bergerak. Darah yang menggenang meleleh ke pipi. Mulutnya mengucapkan sesuatu. Namun yang keluar adalah lelehan darah.

"Kurang ajar!" rutuk Wakil Ketua. Dia memandang berkeliling. Di ujung lorong sebelah sana dia melihat satu lagi sosok putih tergelimpang. Pandangannya kembali pada Satria Pocong yang tergeletak di sampingnya. Tidak sabaran dia tekan tenggorokan orang itu hingga darah menggelegak keluar. Kau bisa bicara! Kau harus bisa bicara! Katakan apa yang terjadi!" Wakil Ketua ulangi ucapannya. Setengah berteriak.

"Grekk... hekkkk... Ka... kakek rambut put... putih. Ilmunya ting... tinggi sekal... A... aku... Hekkk!" Tenggorokan Satria Pocong keluarkan suara tercekik. Ucapannya putus. Mata nyalang tergenang darah, tak berkesip. Nyawanya keburu melayang sebelum sempat berikan keterangan lebih lanjut.

Wakil Ketua bangkit berdiri, bertolak pinggang.

Mata liar memandang ke setiap sudut terowongan yang memiliki banyak sekali lorong dan cabang-cabangnya. Sambil usap-usap tengkuknya dia berkata perlahan.

"Kakek rambut putih. Siapa manusia itu? Tidak ada orang lain di tempat ini. Orang yang menyusup? Kalau memang dia, di mana bangsat itu sekarang?" Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong memandang ke arah ujung lorong. Memperhatikan cabang-cabang lorong yang memenuhi kiri kanan lorong di mana dia berada. "Satria Pocong satu ini setahuku memiliki kepandaian silat tiga tingkat di bawahku. Kalau ada orang bisa membantainya berarti..." Wakil Ketua tidak teruskan ucapan. Dia melangkah mendekati sosok manusia pocong satu lagi yang terkapar di depan sana. Ketika dia memperhatikan kain putih penutup kepala, ada sedikit bercak darah, tidak ada lobang-lobang kecil seperti pada penutup kepala manusia pocong yang barusan meregang nyawa. Menyangka Satria Pocong satu ini masih hidup, dia segera lepaskan kain penutup kepala. Untuk kedua kalinya dia dibuat melengak kaget. Muka yang tersembul di balik kain putih penutup kepala ini memang tidak hangus tidak melepuh. Tapi mulai dari kening sampai ke pertengahan hidung muka itu rengkah. Darah pada rengkahan kepala mulai mengering. Siapa saja yang melihat pasti akan bergidik.

Suara geram menggembor keluar dari tenggorokan Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong. Tiba-tiba matanya melihat ada cairan menggenang di lantai lorong. Dia memperhatikan sesaat, lalu usapkan jari-jari tangannya di atas cairan. Terasa dingin. Sewaktu jarinya didekatkan ke hidung, dia mencium bau harum aneh.

"Seperti bau nira. Mungkin juga tuak..." Membatin Sang Wakil Ketua lalu bangkit berdiri, memandang berkeliling. "Aku berada di lorong delapan belas. Kakek rambut putih yang katanya tersesat di sekitar sini tidak kelihatan. Mungkin dia berusaha mencari jalan, lalu nyasar di lorong lain. Dia tak bakal bisa ke mana-mana. Nanti saja kucari. Sekarang aku harus mengejar jahanam yang melarikan diri itu." Sang Wakil Ketua segera berkelebat tinggalkan tempat itu.

TAK berapa lama setelah Dewa Tuak tinggalkan dirinya Wulan Srindi keluar dari dalam pondok. Walau memikir nasihat si kakek agar dia kembali ke Perguruan di Gunung Lawu ada benarnya, namun gadis ini memilih menyelidik ke mana perginya orang tua aneh berkepandaian tinggi yang telah menolongnya itu. Berat dugaannya Dewa Tuak akan menyelidik sarang komplotan Barisan Manusia Pocong. Maka dia segera tinggalkan rimba belantara kecil, lari ke arah bukit batu.

Seperti yang diduga Wulan Srindi, Dewa Tuak memang menyelidiki kawasan bukit batu di sebelah barat rimba belantara. Kakek berkepandaian tinggi dengan pengalaman selangit ini setelah memutari bukit batu beberapa lama akhirnya menemui goa yang jadi mulut terowongan sarang kediaman manusia pocong. Tanpa ragu kakek ini segera masuk ke dalam goa. Di luar goa Wulan Srindi mendekam di balik sebuah batu besar. Dia tak berani terus mengikuti Dewa Tuak masuk ke dalam goa. Sebelumnya sewaktu diculik Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong dia telah menyaksikan sendiri keadaan lorong di dalam bukit batu. Dalam kebimbangannya akhirnya gadis ini memilih untuk tetap sembunyi di balik batu. Siapa tahu si kakek akan muncul keluar kembali.

Lama sekali dia mendekam di belakang batu besar tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih. Dari bentuk sosoknya Wulan Srindi segera mengenali manusia pocong itu adalah Wakil Ketua yang sebelumnya telah menculik dirinya. Wulan cepat merunduk, bergerak lebih jauh ke balik batu besar.

DI LUAR 113 lorong Kematian hari telah lama terang. Matahari pagi mengusir sebagian kabut yang banyak menggantung di kawasan bukit berbatu sehingga dengan matanya yang tajam cukup mudah bagi Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong melihat jejak-jejak kaki di bebatuan berlumut.

"Orang lari di atas batu berlumut, membawa beban tubuh manusia. Tidak terpeleset, berarti si pengkhianat memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi. Aku belum bisa menduga siapa dia adanya. Tapi aku sudah bisa menduga ke mana dia membawa gadis itu. Jalan ini mengarah ke pondok kayu di dalam rimba."

Wakil Ketua lari laksana bayangan setan. Tak selang berapa lama dia sudah melihat bangunan di balik pepohonan dan semak belukar lebat itu. Lima puluh langkah dari pondok kayu dia hentikan lari, memperhatikan. Pondok itu tampak doyong berat, siap roboh. Salah satu dindingnya terpentang jebol. Ketika dia memperhatikan halaman kiri di samping dinding yang jebol, kagetnya bukan alang kepalang. Dia melihat satu sosok lelaki tanpa pakaian menggeletak di tanah. Kain putih penutup kepala tercampak di dekatnya. Dua kali lompatan saja Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong ini sudah sampai di samping sosok tak berpakaian itu.

Ki Sepuh Daiemkawung!" ucap kaget Wakil Ketua dan suaranya setengah tercekik ketika dia mengenali wajah orang yang tergelimpangan di tanah itu. Ada benjut dan luka besar di kening. Lalu di bagian tubuh dia melihat puluhan lobang mengerikan pada kulit dan daging yang melepuh hangus.

Jahanam! Kau rupanya yang jadi pengkhianat. Tua bangka tak tahu diri! Masih suka gadis yang pantas jadi cucunya!" maki Wakil Ketua tanpa merasa kalau sebenarnya diapun punya maksud keji dan mesum terhadap Wulan Srindi. Kaki kirinya bergerak. Tubuh Ki Sepuh Daiemkawung terpental sampai dua tombak.

"Bangsat pengkhianat ini melarikan Wulan Srindi. Tapi gadis itu sendiri entah berada di mana. Apakah dia sudah sempat menodai gadis itu lalu membunuhnya. Kemudian membuang mayatnya di tempat lain? Di sekitar sini banyak jurang dalam. Lalu siapa yang membunuh Dalemkawung? Kakek rambut putih yang disebutkan Satria Pocong dalam lorong?" Sang Wakil Ketua terus berpikir. "Dalemkawung tidak mungkin telah menodai gadis itu. Tidak secepat itu."

Wakil Ketua melompat ke dalam pondok yang hampir roboh. Di sini dia hanya menemui seperangkat pakaian hitam, jubah dan kain putih penutup kepala.

Sambil pegang dagunya Wakil Ketua membatin. "Mungkin si keparat Dalemkawung belum sempat menodai gadis itu. Keburu dibunuh..." Wakil Ketua membatin seolah menghibur diri sendiri. Manusia pocong ini kemudian putar kepala, memperhatikan bagian dalam pondok. Pandangannya membentur sebuah bumbung bambu. Benda ini segera diambil. Ketika diperhatikan dan dibolak balik, ada cairan yang keluar. Wakil Ketua dekatkan hidungnya ke mulut bumbung.

"Cairan ini sama baunya dengan cairan dalam lorong. Tuak! Berarti orang yang membunuh Dalemkawung adalah orang yang sama yang membunuh dua Satria Pocong di dalam lorong! Bangsat itu katanya tersesat sekitar lorong delapan belas. Aku harus segera ke sana. Sekali dia masuk ke dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian, pasti tidak bisa keluar selamatkan diri! Sial, tak ada kesempatan bagiku mencari gadis itu."

Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong benar-benar marah besar. Gadis cantik yang sudah jadi miliknya lenyap entah ke mana karena pengkhianatan Ki Sepuh Dalemkawung. Tiga orang anak buahnya dibunuh orang! Setiap anggota Barisan Manusia Pocong bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang pilihan yang harus memiliki kepandaian silat tinggi, Kesaktian serta tenaga dalam yang dapat diandalkan. Itu sebabnya mereka dijuluki Satria Pocong. Tidak mudah membunuh salah seorang dari mereka. Dan kalau sampai tiga orang sekaligus tewas seperti yang terjadi, pastilah si pembunuh seorang berkepandaian sangat tinggi.

"Kalau memang ada kakek berambut putih menyusup masuk dan jadi pembunuh liga Satria Pocong, pasti dia berkepandaian tinggi. Jangan-jangan dia seorang tokoh rimba persilatan." Begitu Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong membatin sambil lari memasuki 113 Lorong Kematian. Dia harus berlaku waspada. Mata dipentang tajam, telinga dipasang. Bukan mustahil kakek rambut putih itu mendadak muncul di depannya.

Di balik batu besar, Wulan Srindi yang masih berada dalam kebimbangan apakah akan masuk ke dalam goa batu jadi bertambah bimbang ketika dilihatnya Wakil Ketua memasuki mulut goa. Kalau dia menyusul masuk lalu tertangkap untuk kedua kalinya, pasti dia tak akan bisa selamatkan diri lagi untuk selama-lamanya.

LORONG 21 memiliki 7 anak lorong. Di dalam anak lorong ke 5 Dewa Tuak duduk menjelepok sambil mengusap-usap bumbung bambu yang terletak di pangkuannya.

"Sarang manusia pocong. Aku berada dalam sarang manusia pocong..." Si kakek berucap. "Tiga anggota mereka sudah kubunuh. Tentu masih banyak yang lainnya. Tadi salah seorang dari mereka berhasil kabur. Pasti melapor pada atasannya. Sebentar lagi ada yang akan muncul di tempat ini. Lorong celaka, bagaimana aku bisa keluar dari sini? Semua lorong bentuknya sama. Bagaimana mungkin ada tempat jahanam seperti ini?!" Dewa Tuak geleng-geleng kepala. Tadi setelah menghabisi dua orang manusia pocong yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya dia berusaha kembali ke mulut goa. Keluar dari lorong 18 dia kesasar memasuki cabang-cabang lorong atau menemui lorong buntu. Akhirnya dalam keadaan letih kakek ini dudukkan diri di lantai cabang lorong ke 5 dari lorong utama 21.

"Aku harus mencari jalan keluar! Tolol sekali kalau aku sampai mampus di tempat celaka begini rupa!"

Sebelum berdiri Dewa Tuak angkat bumbung bambunya. Dari beratnya bumbung dia tahu kalau tuak di dalamnya hanya tinggal setengah.

"Cuma satu bumbung tuak kini yang kumiliki. Isinya hanya tinggal setengah. Edan, di mana aku bisa mendapatkan bahan untuk membuat tuak baru!" Penutup bumbung dibuka. Bumbung ditempelkan ke bibir. Biasanya tuak yang mencurah akan ditenggak dengan lahap. Karena tinggal sedikit kali ini si kakek terpaksa berhemat-hemat.

Baru sedikit tuak harum itu memasuki tenggorokannya tiba-tiba satu benda melesat dan menancap di pantat bumbung. Dewa Tuak sampai tercekik saking kagetnya. Dengan mata mendelik dia turunkan bumbung. Sepasang mata tambah membelalak ketika melihat benda apa yang menancap di ujung bumbung bambu. Sebuah bendera kecil berbentuk segi tiga. Berwarna merah dan basah. Bendera Darah!

***4WALAU kaget terkesiap melihat bendera aneh menancap di ujung bumbung bambu, di lain saat Dewa Tuak keluarkan suara tawa mengekeh.

"Siapa pula yang mau-mauan bercanda di tempat gila seperti ini!" katanya sambil bangkit berdiri. Tapi begitu berdiri tegak lurus, masih memegang bumbung tuak di tangan kiri tahu-tahu di depannya sudah berdiri satu sosok berjubah dan bertutup kepala putih.

"Aha! Sampean rupanya Manusia pocong yang katanya doyan menculik perempuan-perempuan bunting! Sayang aku tidak bisa melihat tampangmu. Hingga sulit kuduga apa kau ini lelaki, perempuan atau makhluk banci-bancian!"

"Tua bangka sinting!" bentak manusia pocong di hadapan Dewa Tuak. Suaranya keras, membuat gema panjang di Seantero lorong dan menggetarkan lantai batu. Getaran itu menjalar masuk pada dua kaki Dewa Tuak, namun lenyap sebelum mencapai ketinggian lutut. "Jangan berani bicara kurang ajar sembarangan di hadapanku!"

Meski kaget mendengar dahsyatnya bentakan orang Dewa Tuak menyeringai. Diam-diam tadi dia sudah mengukur kehebatan tenaga dalam manusia pocong yang memancar dalam suara bentakannya. Memang jarang-jarang ada orang memiliki tingkat tenaga dalam setinggi yang dimiliki makhluk serba putih ini. Namun si kakek tidak merasa khawatir. Tingkat tenaga daiam orang masih berada di bawahnya. Maka enak saja sambil letakkan bumbung bambu di bahu kiri dia keluarkan ucapan.

"Manusia pocong, kau tentunya punya jabatan tinggi di tempat ini. Makanya bisa bicara sombong dan membentak segala. Usiaku bisa tiga kali usiamu! Kau pantas memanggil aku Eyang. Ayo lekas menghormat, cium tanganku dan minta maaf pada Eyangmu ini!" Habis berucap Dewa Tuak ulurkan tangannya minta disalami. Tapi sikapnya jelas mengejek karena telunjuk jari tangan sengaja digerakkan dikedat-kedut seperti orang memainkan benang layangan sementara dari mulutnya yang kempot menyembur tawa menge-keh.

Di balik kain penutup kepala, sepasang mata manusia pocong mendelik besar. Rahangnya menggembung. Gerahamnya ber-gemeletakan. Tapi agaknya dia bisa mengendalikan kemarahan. Sambil berkacak pinggang dan decakan lidah beberapa kali, dia berkata.

"Aku suka pada manusia-manusia pemberani. Tapi sayang kau tidak bisa mengukur diri. Tidak sadar berada di mana!"

"Ah, begitu...?" Dewa Tuak berpura-pura kaget. Dia memandang seputar lorong. "Kurasa aku belum buta. Di tempat ini aku hanya melihat dinding-dinding batu. Lorong-lorong tak karuan. Lalu melihat dirimu! Apa hebatnya? Eh, coba beritahu Eyangmu ini! Memangnya tempat ini tempat apa?"

"Tua bangka sinting! Ketahuilah. Kau berada dalam Seratus Tiga Belas Lorong Kematian. Siapa masuk tidak bisa keluar lagi! Mati di tempat ini! Kecuali Yang Mulia Ketua memberi pengampunan! Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang wajib dicintai!"

"Eh, apakah Ketuamu seorang perempuan hingga hanya dia seorang wajib dicintai?!" Dewa Tuak menyeletuk ucapan orang.

"Dasar kakek sinting! Ketua kami jelas seorang laki-laki!"

"Nah, nah! Kalau kau mencintai Ketuamu yang laki-laki berarti kau sebangsa makhluk yang suka pada makhluk sejenis! Ha... ha... ha! Dan kalau kau punya seorang Ketua, berarti kau hanya salah seekor cecunguknya saja! Ha... ha... ha!"

Saat itu meledaklah amarah Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong. Tadinya dia masih ingin menanyakan untuk memastikan apa benar kakek ini yang telah membunuh tiga Satria Pocong. Dia juga ingin mengorek keterangan di mana Wulan Srindi berada. Namun ledakan amarah membuat dia jadi kalap dan serta merta melompat kirimkan serangan maut ke arah Dewa Tuak. Tangan kanan menderu ganas mencari sasaran di batok kepala si kakek. Memang sinting apa yang dilakukan si kakek dalam menghadapi serangan maut itu. Dewa Tuak mundur satu langkah. Tangan kiri putar bumbung bambu di bahu, kepala setengah menengadah dipalingkan ke kiri.

"Gluk... gluk... gluk!"

Dewa Tuak teguk tuak dalam bumbung tiga kali berturut-turut lalu bersurut mundur sambil rundukkan kepala namun mulutnya tiba-tiba menyembur!

"Wusss!"

Tuak dalam mulut Dewa Tuak menderu ke arah dada Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong.

"Tuak setan!" maki Wakil Ketua. Dia serta merta ingat pada cairan yang sebelumnya ditemui di dalam lorong dan pondok kayu. Secepat kilat Wakil Ketua melompat mundur selamatkan diri. Sambil melompat dia kibaskan tangan kanannya hingga menebar gelombang angin. Dengan kibasan tangan kanan yang disertai kekuatan tenaga dalam itu Wakil Ketua berusaha menangkis serangan sekaligus menggebuk. Angin kibasan tangannya sanggup membuat sosok Dewa Tuak goyang terhuyung namun dia sendiri berseru kaget ketika dapatkan lengan kanan jubah putihnya kepulkan asap. Ketika diperhatikan lengan jubah itu telah dipenuhi belasan lobang-lobang kecil. Lalu begitu dia singsingkan lengan jubah, tampak beberapa bagian kulit lengannya merah melepuh! Asap mengepul dari empat buah lobang kecil di permukaan kulit. Dinginkan kuduk manusia pocong ini. Namun amarah yang membakar dirinya serta rasa tanggung jawab akan pengamanan kawasan 113 Lorong Kematian membuat dia tidak mau menyerah begitu saja. Didahului suara menggereng Wakil Ketua angkat dua tangan ke depan.

Dewa Tuak tersentak kaget ketika melihat bagaimana sepasang tangan lawan mendadak berubah lebih panjang dan lebih besar. Lima jari tangan mencuat membentuk kuku-kuku binatang lalu dalam keadaan dikepalkan, dua tangan serentak menghantam ke depan. Dua larik cahaya merah tipis membayangi gerakan.

"Ilmu pukulan apa yang hendak dilancarkan jahanam ini?" membatin Dewa Tuak dan berlaku waspada.

Masih beberapa jengkal di sebelah depan angin dua jotosan manusia pocong telah terasa menyambar dingin, menggetarkan dada. Lapisan cahaya merah tampak semakin terang. Tidak mau berlaku ayal Dewa Tuak cepat singkirkan diri ke samping sambil sodokkan ujung bumbung bambu yang masih ditancapi bendera kecil berbentuk segitiga.

"Braakkk! Byaar!"

"Settt! Cleepp!"

Dua mulut sama keluarkan seruan kaget.

Yang pertama seruan yang keluar dari mulut Dewa Tuak ketika dua jotosan lawan yang lewat menghantam dinding batu lorong di sampingnya hingga terbongkar, membentuk dua lobang besar hangus kehitaman!

Seruan kedua keluar dari mulut wakil Ketua. Sewaktu kakek lawannya menyodokkan ujung bumbung bambu ke arah dada dia berhasil berkelit dengan mudah. Namun tidak diduga, Bendera Darah yang menancap di ujung bambu mendadak melesat ke arah kepalanya. Saat itu kedudukan Wakil Ketua sudah memepet ke dinding lorong batu sebelah kiri. Dia hanya mampu merunduk dan geserkan kepalanya sedikit. Bendera Darah menancap di kain putih penutup kepala, di sisi kening sebelah kanan. Masih untung bendera itu tidak menancap di matanya. Hanya menyusup di kain putih, menggores sedikit pelipis kanan.

Masih dalam keadaan terperangah Wakil Ketua lihat si kakek tenggak tuak dalam bumbung. Lalu sekali berkelebat tahu-tahu bagian bawah bumbung bambu telah menghantam ke arah dada, menyambar membalik ke kepala lalu membabat menggebuk ke arah leher. Luar biasa sekali. Seumur hidup belum pernah Wakil Ketua barisan Manusia Pocong ini melihat serangan berantai begitu cepat dan ganas. Tiga serangan laksana kilat dan ditujukan pada kepala serta dua bagian tubuh mematikan!

Walau mendapat serangan dahsyat begitu rupa namun Wakil Ketua dengan gerakan-gerakan tak kalah cepat masih mampu menghindar selamatkan diri. Namun ada satu hal yang ditakutkannya yakni kalau si kakek kembali lancarkan serangan dengan semburan tuak. Sebelum hal itu kejadian dia cepat angkat tangan kiri. Tangan ini bergetar keras pertanda Sang Wakil Ketua tengah alirkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Namun entah mengapa dia batalkan niat. Dengan cepat dia putar tubuh lalu berkelebat memasuki lobang di samping kiri.

"Makhluk setan! Sampean mau kabur ke mana!" Teriak Dewa Tuak. Kakek ini cepat mengejar. Namun dilorong yang dimasukinya dia tidak melihat bayangan manusia pocong itu. Dewa Tuak mengejar ke lorong sebelah kanan. Kosong. Lari lagi memasuki lorong di samping kiri depan. 0-rang yang dikejar tak kelihatan akhirnya si kakek tersesat memasuki lorong 22 pada anak lorong ke 3.

"Sial! Aku kesasar lagi! Lorong celaka! Bagaimana bisa begini! Banyak sekali lika-likunya!" rutuk Dewa Tuak lalu sandarkan punggungnya ke dinding lorong. "Bangsat itu kabur. Pasti memberitahu Ketuanya. Sebentar lagi mereka pasti datang. Lebih baik aku istirahat kumpulkan tenaga." Lalu enak saja orang tua ini baringkan tubuhnya di lantai batu. Bumbung bambu di letakkan di atas perut. Sesaat kemudian terdengar suara dengkurnya memenuhi lorong.

DI DALAM Ruang Kayu Hitam Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong memandang tak berkesip ke arah Wakil Ketua yang barusan saja datang melapor apa yang telah terjadi. Pelipisnya bergerak-gerak, rahang menggembung terkatup.

"Tiga Satria Pocong tewas terbunuh. Berarti kita hanya tinggal memiliki tujuh Satria Pocong. Yang Mulia Ketua, saya punya kewajiban untuk mencari pengganti. Bukan cuma tiga tapi lebih banyak lagi."

"Yang saat ini aku pikirkan bukan cuma mengganti anggota yang terbunuh. Tapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana menangani kakek tua yang kini berada dalam lorong. Aku merasa pasti dia masuk ke sini bukan karena tersesat. Tapi membekal satu maksud. Menyelidiki kita! Dan semua kejadian ini berpangkal pada nafsu bejatmu ingin meniduri gadis bernama Wulan Srindi itu..."

"Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Saya rasa antara si kakek janggut putih dan gadis anak murid Perguruan Lawu Putih itu tidak ada hubungan apa-apa." Menjawab Wakil Ketua.

"Picik! Sungguh tolol! Apa kau tidak melihat rentetan kenyataan yang terjadi?!" semprot Yang Mulia Ketua dengan suara beringas. "Pertama gadis itu diculik Dalemkaeung. Dibawa kabur ke pondok di rimba belantara. Di situ kau menemui mayat Dalemkawung, tapi si gadis tidak kelihatan. Si pembunuh juga tidak ada. Tapi tahu-tahu kakek itu muncul di dalam lorong. Apa kau tidak berpikir bagaimana kakek jahanam itu tahu jalan ke sini, lalu bisa masuk ke dalam lorong kalau tidak diberitahu oleh Wulan Srindi?!"

"Maafkan saya Yang Mulia Ketua. Saya kira ucapan Yang Mulia Ketua benar adanya.

"Bukan cuma kamu kira! Tapi memang begitu kenyataannya! Tolol!" Membentak Sang Ketua. "Sekarang aku ingin kejelasan. Terangkan sekali lagi ciri-ciri kakek janggut putih itu!"

"Bukan cuma janggutnya yang putih, rambut dan kumisnya juga putih. Berpakaian selempang kain biru. Membawa satu bumbung bambu berisi tuak. Tadinya mungkin dua. Yang satu saya temukan di dalam pondok dalam keadaan hancur. Tuak minumannya itu sekaligus merupakan senjata berbahaya." Wakil Ketua lalu singkapkan lengan jubah tangan kanan. Memperlihatkan kulit lengannya yang melepuh serta beberapa lobang luka. "Yang Mulia Ketua bisa saksikan sendiri lengan saya. Ini akibat semburan tuak kakek itu."

"Mengapa kau tidak pergunakan senjata andalanmu?" Tiba-tiba Sang Ketua bertanya.

"Tadinya memang saya sudah siap melakukan. Tapi saya punya pikiran lain. Harap Yang Mulia Ketua memberi maaf kalau saya lancang punya rencana." Menerangkan Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong.

"Apa yang ada di otakmu?"

"Kakek itu memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi sekali. Tuaknya luar biasa berbahaya. Bukankah kita membutuhkan orang-orang semacam dia walau dia telah membunuh tiga anggota kita?"

Yang Mulia Ketua tidak menjawab. Sambil rangkapkan tangan di depan dada dia melangkah mundar-mandir di dalam Ruang Kayu Hitam.

"Selain itu Yang Mulia Ketua, saatnya kita menguji kesetiaan dan kehebatan Yang Mulia Sri Paduka Ratu."

Ketua Barisan Manusia Pocong hentikan langkah, menatap ke arah Sang Wakil Ketua lalu berkata. "Sekali ini aku memuji kecerdasan otakmu! Aku akan menemui Yang Mulia Sri Paduka Ratu di Rumah Tanpa Dosa. Apakah kau sudah memasang genta di depan tempat kediamannya?"

"Saya sudah memerintahkan dua orang anggota untuk melakukan. Saat ini pasti sudah terpasang," jawab Wakil Ketua.

"Kau segera masuk ke dalam lorong. Berjaga-jaga di sekitar Lorong Dua Puluh Lima. Kita bakal mendapat satu tangkapan besar! Kau tahu siapa adanya kakek itu?"

Wakil Ketua gelengkan kepala.

"Kakek berjanggut putih, yang selalu membawa bumbung tuak ke mana-mana adalah salah satu dedengkot rimba persilatan. Dia dikenal dengan julukan Dewa Tuak. Kalau bisa membuatnya berada di barisan kita banyak hal bakal dapat kita lakukan. Antara lain memancing tokoh rimba persilatan lainnya, termasuk Pendekar 212 Wiro Sableng!"

"Dewa Tuak..." ucap Wakil Ketua sambil usap-usap lengan kanannya yang cidera. "Aku pernah mendengar nama tokoh rimba persilatan itu. Kalau dia bisa dibekuk dan dijadikan anggota Barisan Manusia Pocong, semakin mudah bagiku untuk membalaskan dendam kesumat terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng."

5KETUA Barisan Manusia Pocong berdiri di hadapan bangunan panggung berbentuk bulat. Keseluruhan bangunan terbuat dari kayu termasuk atap yang terbuat dari ijuk dicat warna putih. Pada bagian depan, di bawah atap, dekat tangga setengah lingkaran menuju bagian atas bangunan, terdapat sebuah genta yang talinya menjulai ke bawah, hampir menyentuh tanah. Inilah yang disebut Rumah Tanpa Dosa, berada dalam satu lembah kecil, jauh di utara Telaga Sarangan. Sebagaimana sunyinya lembah, begitu pula senyap keheningan menyelimuti rumah panggung ini.

Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong berdiri di depan Rumah Tanpa Dosa, dekat tangga. Sesaat dia memperhatikan keadaan bangunan. Delapan jendela dan satu pintu dalam keadaan tertutup. Yang Mulia Ketua ulurkan tangan menjangkau tali yang menjulai dekat tangga kayu. Perlahan-lahan tali itu disentakkan, tiga kali berturut-turut. Suara genta menggema di seantero lembah, lama baru menghilang. Tidak terjadi apa-apa. Pintu ataupun jendela tidak bergerak, tidak satupun yang terbuka.

Untuk kedua kalinya Sang Ketua sentakkan tali genta. Kembali suara genta mengumandang, bergaung keras dan panjang. Dari balik kain putih penutup kepala sepasang mata Sang Ketua memperhatikan ke arah atas. Tetap saja tak kelihatan ada gerakan.

Tangan yang memegang tali genta bergerak. Hendak menarik tali itu untuk ke tiga kalinya. Tapi mendadak Sang Ketua batalkan niat. Dua kaki dihentakkan ke tanah. Saat itu juga tubuhnya melesat ke atas, melewati tangga kayu berbentuk setengah lingkaran. Namun begitu dua kaki menginjak lantai atas rumah panggung putih, mendadak ada hawa aneh menjalar dan menyengat kakinya. Bersamaan dengan itu satu gelombang angin, entah dari mana datangnya mendadak menderu menghantam dadanya. Membuat Sang Ketua terlempar. Dalam kejutnya manusia pocong ini keluarkan seruan keras. Sewaktu terpental dan melayang di udara, dia masih bisa menguasai diri. Berjungkir balik dua kali lalu melayang turun ke bawah. Walau dua kaki masih bisa menyentuh tanah namun kelihatan lututnya agak goyah. Sang Ketua memandang berkeliling. Untung tak ada siapa-siapa di tempat itu. Kalau sampai ada anggota Barisan Manusia Pocong melihatnya terpental begitu rupa wibawanya bisa jatuh. Tidak ada hujan tidak ada angin bagaimana dia bisa tunggang langgang seperti itu. Orang lantas akan mempertanyakan sampai di mana sebenarnya tingkat kepandaiannya.

"Rumah Tanpa Dosa..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.121.93
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia