Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA

TUBUH SI NENEK BERGETAR KERAS, BASAH OLEH KERINGAT. RACAU DARI MULUTNYA SEMAKIN KERAS PERTANDA APAPUN YANG TENGAH DILAKUKAN PEREMPUAN TUA INI AKAN SEGERA MENCAPAI PUNCAKNYA. DALAM KEADAAN SEPERTI ITU MENDADAK DI UDARA PAGI TERDENGAR SUARA BERDESING. SATU BENDA HITAM MELESAT SEPERTI JATUH DARI LANGIT, MELAYANG TURUN DAN BLUKK! JATUH TEPAT DI PANGKUAN SI NENEK. SUARA RACAU SI NENEK LENYAP, BERGANTI DENGAN JERITAN KERAS. TUBUHNYA TERHENYAK JATUH KE BATU BESAR, LALU TERGULING KE BAWAH DAN TERJENGKANG DI TANAH. DI PANGKUANNYA SAAT ITU, SEOLAH LENGKET, MELINGKAR SOSOK SEORANG ANAK LELAKI BERUSIA SEKITAR DUA BELAS TAHUN, BERPAKAIAN HITAM, BERAMBUT JABRIK. "BOCAH JAHANAM! KAU YANG JADI GARA-GARA! KUBUNUH KAU!".



PERAPIAN telah lama padam. Dinginnya udara men-jelang pagi itu terasa semakin mencucuk. Di samping perapian tergolek bergelung sosok seorang pemuda berpakaian biru. Tampaknya dia tertidur pulas, tak perduli embun mulai membasahi pakaian dan tubuhnya. Kenyenyakan tidur si pemuda tidak berlangsung lama. Beberapa saat berselang kelopak matanya yang terpejam kelihatan bergerak-gerak. Telinga kiri yang lebih dekat ke tanah mendengar satu suara di kejauhan, membuat dia terjaga. Sepasang mata itu membuka makin lebar. Si pemuda bangkit, duduk, memasang telinga.

"Derap kaki kuda. Dipacu sangat kencang ke arah sini. Firasatku mengatakan bakal terjadi satu kejadian buruk. Sebaiknya aku berlaku waspada, berjaga-jaga...." Pemuda berambut licin, berkumis kecil rapi ini meman-dang berkeliling. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Sesaat dia memandang ke arah datangnya suara derap kaki kuda. Lalu dengan satu gerakan luar biasa cepatnya, laksana hembusan angin tubuhnya melesat ke atas cabang satu pohon besar. Mendekam dalam gelap di balik kerimbunan ranting dan dedaunan, menunggu.

Si pemuda tidak menunggu lama. Suara kaki kuda yang tadi dipacu kencang datang mendekat tapi berubah perlahan. Lalu dari dalam kegelapan muncul kepala seekor kuda hitam. Menyusul kelihatan penunggangnya. Ternyata di atas punggung binatang itu bukan cuma satu orang, melainkan ada dua penunggang.

Orang pertama adalah kakek mengenakan jubah kelabu penuh renda kuning. Di pinggangnya melilit seutas tali kuning, dihias rumbai-rumbai pada kedua ujungnya. Kakek yang mulutnya selalu komat kamit ini memutar kudanya beberapa kali mengelilingi perapian. Sepasang mata berputar, memperhatikan tajam keadaan sekitarnya.

"Apinya memang padam. Tapi aku masih merasa ada hawa panas. Berarti di tempat ini sebelumnya ada orang. Lalu menghilang kemana?" Si kakek memandang ber-keliling. Semula dia hendak berhenti sekedar istirahat di tempat itu. Namun niatnya dibatalkan. Rasa tidak enak menyamaki hatinya.

Di depan sosok si kakek, di atas punggung kuda kelihatan orang kedua. Orang ini tidak duduk seperti keadaannya kakek itu tetapi menggeletak menelungkup. Dan dia adalah seorang perempuan. Sesekali tangan kiri si kakek kelihatan mengusap tubuh perempuan itu sambil berkomat-kamit dan menyeringai.

Di atas pohon besar, pemuda berpakaian biru memperhatikan sambil membatin. "Aku tidak melihat wajahnya, tapi dari keadaan tubuhnya perempuan itu masih muda. Menelungkup di atas kuda, mungkin pingsan atau ditotok. Melihat cara si kakek mengelus tubuh perempuan itu agaknya ada yang tidak beres. Jangan-jangan...." Setelah memperhatikan sekelilingnya sekali lagi, kakek berjubah kelabu memutuskan meninggalkan tempat itu. Tali kekang disentakkan. Kuda tunggangan menghambur ke depan, menembus kegelapan malam.

Di atas pohon pemuda berpakaian biru usap-usap dagu sambil berpikir. "Belakangan ini aku banyak menyirap kabar menggemparkan. Terutama beberapa kejadian di Kotaraja. Orang tua tadi, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Tapi melihat kepada ciri-cirinya besar kemungkinan dialah tokoh silat Keraton, momok cabang atas yang dijuluki Hantu Muka Licin Bukit Tidar.

Wajahnya kulihat biasa-biasa saja, mengapa sampai punya gelar aneh seperti itu? Dia memboyong seorang perempuan muda. Mungkin perempuan culikan Aku sudah mendengar lama, ada beberapa tokoh silat Istana punya sifat keji. Suka berbuat mesum. Ada baiknya aku mengikuti kakek itu. Siapa tahu dia pernah bertemu atau melihat saudara yang tengah aku cari."

Memikir sampai di situ pemuda di atas pohon lalu berkelebat ke cabang sebelah bawah, melayang turun ke tanah. Sesaat kemudian laksana terbang dia lari ke arah lenyapnya kakek penunggang kuda hitam. Kl BALANGNIPA alias Hantu Muka Licin Bukit Tidar mempunyai sebuah pondok di Prambangan. Pondok ini terletak tak jauh dari tikungan Kali Oyo, di satu kawasan ditumbuhi pohon-pohon besar rapat serta tertutup oleh semak belukar lebat. Ke pondok inilah si kakek membawa perempuan boyongannya yang bukan lain adalah Kinasih, istri mendiang Raden Mas Sura Kalimarta juru ukir Keraton yang mati dibunuh oleh seorang pemuda mengaku bernama Bagus Srubud. Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Tiga Makam Setan) Kinasih sendiri akhirnya jatuh hati pada pemuda itu dan selama beberapa hari bersenang-senang di dalam sebuah goa.



Pondok di tikungan Kali Oyo itu walau lama tidak dikunjungi dan tidak terpelihara namun keadaannya cukup bersih. Hantu Muka Licin Bukit Tidar baringkan tubuh Kinasih di atas sebuah ranjang kayu beralaskan tikar jerami. Sambil pandangi sosok Kinasih, si kakek duduk di tepi ranjang, komat kami menyeringai.

"Wajah ayu, tubuh bagus. Rejeki besar. Sayang masih pingsan. Membuat aku tidak sabar. Aku harus melakukan sesuatu agar dia siuman...." Hantu Muka Licin usap tubuh Kinasih mulai dari kening sampai ke kaki. Usapannya berhenti di kaki kiri Kinasih. Tiba-tiba jari-jari tangannya memencet urat besar di atas tumit kiri Kinasih. Begitu dipencet jalan darahnya, Kinasih menggeliat dan keluarkan suara keluhan panjang. Matanya terbuka. Dia masih belum melihat sosok si kakek. Pandangannya lurus ke atas ke arah atap pondok.

"Di mana aku..." bisik Kinasih. Kepalanya diputar ke kanan. Satu pekikan keluar dari mulutnya begitu melihat Hantu Muka Licin. Dia rasa-rasa pernah melihat orang tua ini sebelumnya, tapi karena ingatannya belum pulih benar dia tidak tahu kapan atau dimana. Kinasih bergerak bangkit, beringsut ke sudut ranjang.

"Orang tua, siapa kau? Aku berada di mana?"

Hantu Muka Licin menjawab pertanyaan Kinasih dengan tawa mengekeh. "Aku suamimu sendiri, apa tidak mengenali? Saat ini kita berada di pondok milikku. Pondok buruk memang, tapi kita berdua bisa menjadikan tempat ini satu sorga dunia! Ha... ha...ha...!"

Kagetlah Kinasih mendengar ucapan itu. Wajahnya serta merta menjadi pucat. "Orang tua, beraninya kau mengaku suamiku. Kalau otakmu tidak miring pasti...."

Gelak Hantu Muka Licin kembali meledak. "Kau tidak mengakui aku sebagai suamimu? Ha... ha...! Apakah aku lebih buruk dari mendiang suamimu si Sura Kalimarta? Dia hanya seorang juru ukir Keraton. Aku tokoh silat pejabat Istana! Dia tidak memiliki kejantanan sebagai suami! Aku lebih jantan dari seekor kuda liar! Ha... ha... ha! Kinasih.... Kau tidak mau menganggap aku sebagai suami tidak jadi apa. Anggap saja aku kekasihmu! Ha... ha... ha!"

"Orang tua gila!" Kinasih melompat turun dari ranjang kayu, berusaha lari ke arah pintu. Tapi pinggangnya dengan cepat dirangkul Hantu Muka Licin. Tubuhnya kemudian dilemparkan kembali ke atas ranjang.

"Dengar, aku menyelamatkan kau dari tangan Momok Dempet Tunggul Gono. Kau pantas berterima kasih dengan cara melayani aku sebagai suami, sebagai kekasih!"

Ucapan Hantu Muka Licin memulihkan ingatan Kinasih.

Malam tadi, dia bersama Wiro berada di depan makam suaminya di satu pekuburan di pinggiran Kotaraja. Lalu muncul kakek berjubah kelabu ini bersama seorang bertubuh tinggi seram dikenal dengan nama Tunggul Gono dan membawa sejumlah pasukan. Mereka menuduh, Wirolah yang telah membunuh suaminya. Dia bingung antara percaya dan tidak. Lalu terjadi pertempuran.

Wiro menghancurkan tangan kiri Tunggul Gono. Wiro sendiri kemudian roboh di tangan kakek berjubah kelabu ini. Lalu si kakek menyambar tubuhnya, menaikkannya ke atas kuda. Di atas kuda Kinasih berusaha membebaskan diri tapi sia-sia belaka. Malah karena kehabisan tenaga perempuan ini akhirnya jatuh pingsan.

Kinasih serta merta sadar bahwa dirinya dalam bahaya. Kakek satu ini punya maksud jahat terkutuk atas dirinya. Kata-kata si kakek bahwa dia telah menyelamatkan dirinya dari tangan Tunggul Gono hanya omong kosong belaka karena sebenarnya dia sendiri sudah punya maksud keji.

"Orang tua, jika kau benar-benar tokoh silat pejabat Istana, kau harus menolongku. Membawa aku kembali ke Kotaraja...."

"Itu soal mudah, bisa aku lakukan kemudian. Jangankan ke Kotaraja, ke bulan pun kau akan kuantarkan. Ha... ha... ha!"

Tiba-tiba Hantu Muka Licin melompat naik ke atas ranjang. Kinasih terpekik. Kaki kanannya didorongkan ke dada Hantu Muka Licin. Dua tangan si kakek dapat memegang kaki itu di bagian paha. Ketika dua tangannya direnggutkan ke bawah, kain panjang yang dikenakan Kinasih robek besar, melorot turun.

Kinasih kembali menjerit. Cepat tutup auratnya yang tersingkap. Sebaliknya Hantu Muka Licin berkomat-kamit, mengekeh panjang. Dua tangannya kembali bergerak. Kinasih jatuh tertelentang di atas ranjang kayu.

Kinasih berusaha melawan. Tapi Hantu Muka Licin kuat sekali. Apalagi saat itu setan nafsu turut membantu memberi kekuatan padanya. Sebentar saja Kinasih sudah terkapar di atas ranjang dalam keadaan tidak berdaya.

Hantu Muka Licin tertawa panjang. Dengan cepat dia tanggalkan jubah kelabunya.

Di atas atap pondok, pemuda baju biru berkumis kecil yang sejak tadi mendekam mengintip apa yang terjadi, tanpa tunggu lebih lama segera saja hendak menjebol atap dan melesat turun ke dalam pondok. Namun tidak terduga mendahului gerakannya tiba-tiba terdengar suara bentakan.

"Tua bangka keparat! Kalau mencari' kesenangan jangan serakah sendiri saja!"

Bersamaan dengan itu dinding pondok sebelah kanan jebol. Sesosok tubuh melesat masuk. Di lain kejap ranjang kayu di atas mana Hantu Muka Licin siap-siap hendak menindih tubuh Kinasih mencelat ke atas, hancur berantakan. Kinasih menjerit keras. Hantu Muka Licin keluarkan kutuk serapah. Sementara Kinasih jatuh terkapar di lantai, si kakek membuat gerakan jungkir balik. Sambil melesat ke sudut pondok dia lepaskan satu pukulan tangan kosong ke arah sosok yang barusan masuk ke dalam pondok dengan cara menjebol dinding! Tapi serangannya luput karena yang dihantam ternyata mampu berkelit gesit. Lalu di dalam pondok terdengar suara tawa mengekeh disertai menebarnya bau yang tidak sedap.

Di atas atap, pemuda baju biru memperhatikan terheran-heran. "Makhluk aneh, mata lebar kuping terbalik! Dia ini mau menolong atau ikut minta bagian?!"

* * *

2JAHANAM kurang ajar!" membentak Hantu Muka Licin begitu mengenali siapa adanya orang di dalam pondok. "Bukankah kau cecunguk mengaku berjuluk Setan Ngompol, yang mengencingi sumur sumber air mandi Sri Baginda?! Dijebloskan dalam penjara! Mengapa bisa lolos?!"

Orang yang muncul di dalam pondok memang Si Setan Ngompol yang belum lama berselang diselamatkan oleh Wiro dan gadis cantik dari alam roh bernama Suci alias Bunga.

"Bagus kau masih mengenali siapa diriku. Sekarang ayo kau lepaskan perempuan itu! Jangan sampai aku sewot mengencingi mukamu!"

"Benar-benar kurang ajar berani mati! Baru jadi setan kecil sudah berani mencari perkara dengan aku hantu besar!"

"Ha... ha! Apamu yang besar? Anumu? Kejahatanmu? Atau nafsu terkutukmu?!"

"Tua bangka tak tahu diri! Tampang dan badan tidak karuan! Kau muncul mau minta bagian rupanya! Baik, ini bagian untukmu!" Selesai membentak Hantu Muka Licin cepat loloskan tali kuning yang melilit di pinggang. Begitu tali diputar, menggaung bunyi dahsyat disertai berkiblat-nya cahaya kuning berbentuk lingkaran, memapas laksana senjata tajam ke arah Setan Ngompol. Kinasih menjerit, jatuhkan diri ke lantai. Setan Ngompol tercekat dan langsung kucurkan air kencing.

"Braakk!"

Empat dinding pondok hancur. Pondok itu sendiri seperti diangkat angin puting beliung, melesat ke udara lalu hancur berantakan!

Tubuh Kinasih ikut terlempar ke udara lalu melayang jatuh dengan kepala lebih dulu. Perempuan ini menjerit keras. Sesaat lagi kepalanya akan remuk menumbuk tanah tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat menyam-bar tubuhnya. Di lain saat Kinasih merasakan dirinya seperti dibawa terbang lalu di satu tempat yang aman perlahan-lahan diturunkan ke tanah di belakang pohon besar. Semula perempuan muda ini hendak menjerit lagi, tetapi ketika melihat siapa yang menolongnya hatinya menjadi lega malah diam-diam merasa senang.

"Kau... kau siapa...?" Kinasih bertanya pada pemuda gagah berpakaian biru, berambut licin dan memelihara kumis hitam rapi yang barusan menyelamatkannya.

"Namaku Adimesa. Kau tak usah takut. Tetap berada di balik pohon ini...."

"Kau mau kemana?" tanya Kinasih sambil memegang lengan si pemuda.

"Kakek mata jereng berkuping terbalik yang menolongmu tadi. Ilmunya memang tinggi tapi dia bakal menemui kesulitan menghadapi lawannya. Aku harus menolongnya."

"Buat apa ditolong. Dia bisa saja sama bejatnya dengan jahanam berjubah kelabu itu...."

"Akan kita lihat nanti. Kau tunggu di sini," jawab Adimesa.

Hancurnya pondok membuat perkelahian antara Hantu Muka Licin dan Setan Ngompol kini berlangsung di tempat terbuka sementara langit di ufuk timur mulai kelihatan terang pertanda fajar sebentar lagi akan menyingsing.

Saat itu Hantu Muka Licin tengah melakukan serangan gencar. Cahaya kuning yang memancar dan tali ikat pinggangnya yang merupakan senjata andalan mengurung Setan Ngompol. Yang diserang berkelebat gesit, sambil balas menghantam dengan pukulan-pukulan sakti sementara kencingnya terus memancar tak berkeputusan, muncrat kemana-mana bahkan ada yang menyiprat ke wajah Hantu Muka Licin, membuat orang ini menjadi marah besar dan lancarkan serangan habis-habisan.

Walau terdesak hebat namun Setan Ngompol tidak mau kalah. Dia bertahan mati-matian. Serangan-serangan balasannya datang tidak terduga dan cepat sekali. Bahkan beberapa kali dia berhasil menyusup menembus lingkaran cahaya kuning lalu menghantamkan jotosan ke dada dan perut lawan!

Hantu Muka Licin kertakkan rahang. Mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantera. Tiba-tiba dia membentak garang. Lingkaran sinar kuning yang mengurung Setan Ngompol menebar hawa dingin. Bersamaan dengan itu Setan Ngompol merasakan dirinya tergulung, tersedot masuk ke dalam putaran cahaya kuning yang dengan cepat menciut segera aneh!

Setan Ngompol berseru keras. Dia berusaha loloskan diri dari sedotan cahaya kuning dengan cara melesat ke atas. Dari atas lalu lancarkan dua serangan maut. Yang pertama berupa tendangan dalam jurus Setan Ngompol Mengencingi Pusara.

Serangan ke dua berupa pukulan tangan kosong dalam jurus Setan Ngompol Mengencingi Bumi. Angin dahsyat disertai semburan air kencing menebar bau pesing menderu ke arah Hantu Muka Licin.

" Keparat!" rutuk Hantu Muka Licin. Kakek ini lipat gandakan tenaga dalamnya ketika melihat bagaimana lawan sanggup menembus lingkaran cahaya kuning. Tangan kanan digerakkan secara aneh sedang mulut berteriak "Sedot!"

Saat itu juga Setan Ngompol keluarkan seruan tertahan. Air kencingnya mengucur deras. Dia rasakan tendangannya hampir menyentuh batok kepala la wan.Tapi entah mengapa tiba-tiba seperti ada tembok gaib menahan kakinya. Lalu cepat sekali tubuhnya seperti ditarik masuk ke dalam lingkaran, terseret ke bawah. Jika dia tadi mampu keluar dari sedotan sinar kuning kali ini seolah tak punya daya sosoknya menggapai-gapai kian kemari. Kalau dia sampai masuk ke dalam inti atau pusaran lingkaran cahaya kuning, sekujur sosok kakek bermata jereng ini akan remuk seperti dijepit batu besar!

" Kau mau menghancurkan tubuhku! Aku tidak takut mati!" teriak Setan Ngompol.

Pemuda berpakaian biru yang menyaksikan kejadian itu geleng-geleng kepala. " Kakek edan, apa betul dia tidak takut mati?!"

Masih dalam keadaan melayang, tersedot ke bawah tiba-tiba Setan Ngompol selorotkan celana bututnya di sebelah depan. Lalu serrrrrrr!

Hantu Muka Licin berteriak marah melihat apa yang dilakukan lawan. Terlebih karena pipi dan bahu kirinya sempat terkena guyuran air kencing Setan Ngompol. Setan Ngompol tertawa tergelak, berusaha melayang turun sambil jauhkan diri dari lawan.

Memaki panjang pendek Hantu Muka Licin usap wajahnya dengan tangan kiri. Saat itu juga wajah itu berubah licin. Hidung, mata dan mulut lenyap entah kemana! Suara tawa Setan Ngompol mendadak sirap! Si kakek mata jereng terkesiap kaget melihat perubahan pada wajah lawannya. Kesempatan seperti inilah yang ditunggu Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Dengan cepat dia kibaskan tali kuning di tangan kanan. Saat itu juga enam puluh jarum putih menderu berkilauan dalam gelapnya udara, menghambur ke arah enam puluh titik darah di muka dan tubuh Setan Ngompol.

Selama ini tidak satu musuhpun sanggup menyelamat-kan diri dari jarum maut bernama Jarum Perontok Syaraf itu. Dalam waktu satu hari satu malam nyawanya tidak akan ketolongan akibat racun jahat yang ada di jarum. Kalaupun korban bisa bertahan hidup, atau mampu mencabut jarum-jarum itu, maka bekas tusukan pada kulit dan daging akan membusuk. Dia akan menjadi cacat mengerikan dan menjijikkan seumur hidup! Pendekar 212 Wiro Sableng telah mengalami hal ini. Untung saja dia masih sempat diselamatkan oleh Bunga, gadis dari alam roh yang juga dikenal dengan nama Suci. Bunga bukan saja mencabut puluhan jarum yang menancap di tubuh pemuda yang dikasihinya itu, tapi sekaligus memusnahkan racun yang mendekam di permukaan kulit dan daging tubuh Wiro hingga dia terhindar dari kebusukan.

Setan Ngompol sadar kesalahan yang dibuatnya. Dalam keadaan seperti itu dia tidak bisa berbuat suatu apapun. Mata terbelalak, mulut keluarkan seruan putus asa. Dia masih coba mengangkat tangan untuk melepaskan pukulan tangan kosong berkekuatan tenaga dalam penuh. Namun terlambat. Kecuali ada keajaiban, kakek satu ini tidak akan tertolong.

Hanya sesaat singkat puluhan jarum akan menancap di muka dan tubuh Setan Ngompol, tiba-tiba berkelebat satu bayangan biru disertai suara srett... srett! Tujuh warna aneh memancar di udara yang masih gelap. Membentuk tameng setengah lingkaran.

"Sett... s'ettt!"

Puluhan jarum terbendung di udara, menancap di satu permukaan yang masih belum jelas apa adanya.

Hantu Muka Licin berseru kaget ketika dapatkan dirinya terdorong keras hingga terjajar dua langkah ke belakang. Dadanya mendenyut sakit dan jalan darahnya jadi tidak karuan. Dia coba bertahan, lututnya goyah. Kalau tidak cepat dia mengimbangi diri niscaya jatuh terhenyak di tanah. Setelah mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan, masih untung dia hanya jatuh berlutut.

Malu dan marah berkecamuk di dalam diri si kakek. Wajahnya yang tadi licin serta merta kembali ke asalnya.

Dua matanya membeliak besar ketika melihat bagaimana rumbai-rumbai pada dua ujung tali yang jadi senjata andalannya saat itu telah gugus berputusan. Ketika dia menggerakkan tali, kakek ini keluarkan seruan tertahan. Seperti terbakar dan berubah jadi debu, tali kuning itu rontok jatuh ke tanah. Dengan mata menyorot si kakek memandang ke depan. Hatinya menyumpah habis-habisan.

Di hadapannya, hanya dua langkah di depan kakek berjuluk Setan Ngompol, tegak seorang pemuda berpakaian biru. Rambutnya disisir rapi ke belakang, licin berkilat karena memakai sejenis minyak. Di atas bibirnya menghias kumis kecil rapi. Pembawaannya sangat tenang. Di tangan kirinya pemuda berwajah gagah ini memegang sebuah benda yang ternyata adalah sehelai kipas tujuh lipatan. Masing-masing lipatan berwarna berbeda, sesuai dengan warna pelangi. Melihat kipas di tangan si pemuda berubahlah wajah Hantu Muka Licin.

3PENDEKAR Kipas Pelangi," ucap Hantu Muka Licin dengan suara perlahan tercekat.

"Kalau tidak salah, bukankah saat ini aku berhadapan dengan seorang tokoh besar rimba persilatan, bernama Ki Balangnipa, berjuluk Hantu Muka Licin Bukit Tidar."

Hantu Muka Licin keluarkan suara bergumam. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. "Kalau memang sudah tahu siapa diriku, mengapa berani mencampuri urusan orang?!" Berucap Hantu Muka Licin.

Pendekar Kipas Pelangi tersenyum lalu membuka mulut menjawab ucapan orang.

"Ki Balangnipa, ketahuilah di dunia ini pada dasarnya tidak ada satu orangpun suka mencampuri urusan orang lain. Tapi kalau yang namanya urusan menyangkut kejahatan keji seperti perbuatan mesum yang hendak kau lakukan terhadap perempuan muda itu, rasanya tidak ada satu orang pun di rimba persilatan yang mau berpangku tangan begitu saja."

"Sombong sekali bicaramu. Membuat aku muak! Jangan mengira dengan kepandaianmu kau telah merasa jadi tokoh paling hebat dalam rimba persilatan."

Si pemuda hanya tersenyum tenang mendengar kata-kata itu. Dia dekatkan kipas di tangan kiri ke wajahnya. Dia pandangi sesaat enam puluh jarum putih yang me-nancap di permukaan kipas itu. Lalu mulutnya meniup. Enam puluh jarum serta merta luruh berjatuhan, amblas masuk ke dalam tanah. Sesaat tengkuk Hantu Muka Licin terasa dingin menyaksikan kejadian itu. Tapi dia menjaga agar tidak terjadi perubahan pada wajahnya. Setan Ngompol yang ikut menyaksikan tahu betul. Kalau pemuda baju biru itu mau, puluhan jarum yang menancap dikipas bisa dihantamkannya kembali pada si pemilik.

"Pendekar Kipas Pelangi!" si kakek tiba-tiba membentak. "Kau boleh merasa punya ilmu tinggi! Tapi jangan me-nyombongkan kepandaian di depanku! Jauh sebelum kau dilahirkan ibumu ke dunia, aku sudah malang melintang di rimba persilatan!"

Tiba-tiba terdengar orang tertawa bergelak. Yang tertawa adalah kakek mata jereng Setan Ngompol. "Bicara ngelantur boleh saja. Tapi mengapa membawa Ibu orang! Menyebut-nyebut soal lahir segala! Mengapa tidak menyebut dukun beranaknya sekalian?! Atau mungkin kau punya kepandaian seperti dukun beranak. Buktinya tadi kau hendak menanggalkan pakaian perempuan cantik itu! Apakah dia mau beranak? Aneh, hamil tidak, bunting juga tidak! Bagaimana bisa beranak? Ha... ha... ha... ha!"

"Tua bangka sinting!" maki Hantu Muka Licin pada Setan Ngompol. "Kalau urusanku dengan pemuda ini selesai, aku akan carikan tempat paling baik untukmu di neraka!"

"Walah!" Setan Ngompol berseru dan melompat berdiri sambil kucurkan kencing. "Aku baru tahu kalau kau ini mandor neraka rupanya! Ha... ha... ha!"

Tak dapat menahan amarahnya Hantu Muka Licin melompat ke arah Setan Ngompol sambil melepas satu pukulan tangan kosong. Namun dari samping ada deru angin menahan gerakannya. Ternyata dengan menggerak-kan kipas saktinya, tanpa membukanya, Adimesa berhasil mementahkan serangan Iblis Muka Licin.

"Pemuda setan!" kutuk Hantu Muka Licin. "Kau sudah bertindak terlalu jauh! Namamu sejak dua tahun belakangan ini memang telah menggegerkan rimba per-silatan tanah Jawa. Sayangnya hal itu telah membuat dirimu menjadi sombong! Padahal sifat sombong, memandang rendah orang lain hanya satu jengkal dari liang kubur!"

Pendekar Kipas Pelangi cuma tersenyum mendengar ucapan itu. Sikapnya tenang, sama sekali tidak tampak rasa amarah. Masih tersenyum dia berkata. "Aku tidak menyangka, juga tidak tahu bagaimana caranya kau menghitung jarak antara kesombongan dengan liang kubur. Lagipula, siapa yang bersifat sombong merendahkan?!"

"Sahabatku muda, tuan penolong, aku tahu cara kakek muka pantat itu menghitung jarak antara kesombongan dengan liang kubur!" Si Setan Ngompol membuka mulut.

Pendekar Kipas Pelangi palingkan kepala ke arah Setan Ngompol. Sepasang alisnya naik ke atas. Lalu tersenyum dan anggukkan kepala. "Orang tua, mohon aku diberitahu rahasia bagaimana dia mengukur jarak antara kesombongan dengan liang kubur."

"Mudah saja," jawab kakek mata jereng. "Dia pasti mengukur dengan mempergunakan tali kuningnya. Tapi sekarang talinya sudah jadi bubuk, berarti dia tidak bisa menghitung lagi! Kalau dia mau, paling-paling dia bisa mengukur mempergunakan anunya. Tapi melihat potongan badannya aku kira-kira anunya cuma pendek, tidak sampai setengah jengkal!" Habis berkata si Setan Ngompol tertawa mengekeh lalu terkencing-kencing.

Tampang Hantu Muka Licin kelihatan merah mengelam. Sekujur tubuhnya bergetar.

"Benar, aku kira kau benar Kek," menyahut Pendekar Kipas Pelangi menimpali canda ejek Setan Ngompol. "Sekarang mohon kau memberitahu, mengapa tadi kau menyebut kakek itu dengan sebutan kakek muka pantat."

"Gampang saja jawabnya!" sahut Setan Ngompol sambil senyum-senyum. Dia bisa merubah wajahnya jadi licin, tak ada mata, tak punya hidung, tak punya mulut. Pantat juga tidak punya mata, tidak punya mulut, tidak punya hidung! Jadi pantat dan mukanya sama kan? Ha... ha... ha!"

Meledaklah amarah Hantu Muka Licin Bukit Tidar.

Sekali bergerak saja dia sudah melompat ke hadapan Setan Ngompol. Gerakannya luar biasa cepat.

Setan Ngompol tak tinggal diam, cepat angkat dua tangannya, satu siap menangkis satunya menggempur. Tapi saat itu Pendekar. Kipas Pelangi telah mendahului. Dia berkelebat memotong gerakan Hantu Muka Licin sekaligus membuat Setan Ngompol menahan gerakan dua tangannya.

Hantu Muka Licin jadi mengkelap. Dari tenggorokannya keluar suara menggembor. Tangan kanan bergerak mengebut lengan jubah. Dari ujung lengan jubah itu menyambar asap berwarna kelabu, menebar bau aneh. Dari bau itu Pendekar Kipas Pelangi maklum kalau asap itu mengandung racun sangat berbahaya. Cepat dia tutup jalan nafas dan bersamaan dengan itu tangan kirinya yang memegang kipas digerakkan.

"Srett!"

Kipas mengembang. Tujuh warna pelangi menyambar. Asap kelabu beracun berbalik menghantam ke arah wajah Hantu Muka Licin . Kakek ini berteriak kaget, berusaha menghindar tapi sebagian asap beracun telah memasuki saluran pernafasannya. Raungan dahsyat melesat dari mulut Hantu Muka Licin. Mukanya mendadak berubah biru. Sosoknya lunglai, rubuh ke tanah.

"Celaka! Nyawaku bisa-bisa amblas!" keluh Hantu Muka Licin dengan tengkuk dingin muka keringatan. Susah payah dia memasukkan tangan kanan ke balik jubah, mengeluarkan sebuah tabung kecil terbuat dari bambu. Penutup tabung dibukanya. Benda berbentuk butir-butiran hitam yang ada di dalam tabung dituang ke dalam mulut, ditelan dengan cepat. Sesaat dia terkapar di tanah, tak bergerak. Mata membeliak menatap langit yang mulai terang. Tiba-tiba kakek ini bangkit berdiri. Tubuh tertekuk. Mulut terbuka lebar-lebar, matanya mendelik. Lalu dari mulutnya menyembur muntah keluar cairan biru kehitam-an. Itulah racun asap yang tadi sempat dihisapnya. Dia masih untung bertindak cepat menelan obat penangkal hingga lolos dari kematian!

Berdiri terhuyung-huyung Hantu Muka Licin menunjuk tepat-tepat ke arah Pendekar Kipas Pelangi.

"Manusia jahanam! Kau tunggu pembalasanku!" Masih terhuyung-huyung Hantu Muka Licin putar tubuhnya lalu seperti orang mabok dia lari meninggalkan tempat itu.

Begitu Hantu Muka Licin lenyap. Setan Ngompol segera mendekati Pendekar Kipas Pelangi sementara Kinasih dengan agak ragu-ragu melangkah keluar dari balik pohon besar.

"Pendekar gagah, aku tua bangka bau pesing yang biasa dipanggil orang dengan sebutan Setan Ngompol menghaturkan banyak terimakasih padamu. Jika tadi kau tidak menolong, saat ini pasti diriku sudah jadi bangkai tak berguna, ditancapi puluhan jarum celaka!"

Pendekar Kipas Pelangi tersenyum. Sebelumnya dia tidak pernah mendengar nama kakek ini. Tapi diam-diam maklum kalau manusia aneh satu ini bukan orang sembarangan.

Sesaat mata Pendekar Kipas Pelangi seperti mengawasi si kakek, lalu melirik ke arah Kinasih yang melangkah mendatangi, kembali lagi memandangi Setan Ngompol.

"Kek, tadi waktu kau menjebol dinding dan menghambur masuk ke dalam pondok, aku mendengar kau berucap seperti minta bagian ingin mendapatkan perempuan itu."

"Anak muda, pandangan matamu seolah mencurigai diriku," kata Setan Ngompol. "Aku tidak menyalahkan dirimu. Apa yang aku ucapkan itu hanya senda gurau saja. Aku memang suka bergurau, mulutku bisa bicara jahil seenaknya. Tapi kita sama-sama lelaki...."

"Maksudmu Kek?"

"Maksudku lelaki itu tua atau muda sama saja. Sama-sama suka melihat wajah cantik dan tubuh mulus! Apakah kemudian di dalam hatinya muncul maksud keji dan mesum, itu persoalan lain...."

"Kau sendiri apa termasuk yang persoalan lain itu?" tanya Pendekar Kipas Pelangi sambil tersenyum.

Setan Ngompol tertawa gelak-gelak. Lalu goleng-goleng kepala. "Pendekar gagah, aku sekali lagi mengucapkan terima kasih. Aku tidak bakal melupakan budi perto-longanmu. Aku mohon pamit...."

"Tunggu dulu Kek," kata Pendekar Kipas Pelangi pula. "Ada beberapa pertanyaan ingin kusampaikan padamu." Saat itu Kinasih sudah berada di dekat ke dua orang itu. Dia memilih tegak di samping si pemuda dan mem-perhatikan Setan Ngompol tak habis heran. Dalam hati dia membatin.

"Aneh, bagaimana ada manusia seperti ini. Mata jereng, muka jelek, kuping terbalik, pakaian lusuh compang camping, bau pesing kencing melulu!"

"Apa yang hendak kau tanyakan, anak muda?"

"Pertama, bagaimana kau bisa terpesat ke tempat ini?"

Setan Ngompol tertawa lebar. "Jika aku bertanyakan hal yang sama padamu, mungkin jawaban kita tidak berbeda. Aku berada di satu tempat tak jauh dari sini ketika kakek mesum itu lewat memacu kuda membawa perempuan. Tadinya aku mengikuti hanya karena ingin tahu saja. Ternyata keingintahuanku harus kubayar mahal. Bahkan jiwaku hampir amblas!"

Setan Ngompol tidak mau menceritakan perihal bahwa dia sebenarnya belum lama terpesat dari Negeri Latanahsilam dan sejak berpisah dengan Pendekar 212 Wiro Sableng dia tengah mencari bocah aneh bernama Naga Kuning. Siapa saja yang diceritakan tentang riwayat Negeri Latanahsilam pasti tidak akan mem-percayai. Bisa-bisa dia dianggap sinting. "Pertanyaanku ke dua," kata Pendekar Kipas Pelangi pula. "Apakah kau pernah mendengar seorang pemuda bernama Adisakal"

"Adisaka.... Adisaka...." Setan Ngompol garuk-garuk kepalanya. Hampir terlanjur mengatakan bahwa selama Ini dia berada di satu tempat disebut Negeri latanahsilam. Untung dia cepat menyadari lalu menggelengkan kepala. "Tidak pernah aku mendengar orang dengan nama itu. Bagaimana ciri-ciri orang yang kau cari Itu?"

Adimesa menarik nafas dalam. "Itulah sulitnya, aku tidak tahu ciri-cirinya...."

"Aneh, kau mencari orang. Tapi tidak tahu ciri-cirinya."

"Sebenarnya, dia kakakku. Tapi kami berpisah belasan tahun lalu. Sejak kami masih kecil. Bertahun-tahun aku berusaha mencarinya. Sampai sekarang tidak berhasil...."

"Ah, kau agaknya punya kisah hidup yang hebat. Dengar anak muda, kau telah menolongku. Aku berjanji akan balas menolongmu, mencari keterangan tentang kakakmu itu."

"Terima kasih Kek."

"Sebelum pergi bolehkah aku mengetahui siapa namamu sebenarnya?" tanya Setan Ngompol.

"Namaku Adimesa."

Ketika hendak melangkah pergi Setan Ngompol melirik pada Kinasih lalu berkata. "Ternyata aku tidak punya maksud menjahilimu ‘kan? Ha... ha... ha!"

Kinasih cuma diam tersenyum.

Sesaat setelah si kakek pergi dan malam perlahan-lahan memasuki pagi, Kinasih berkata. "Seperti kakek aneh tadi itu, aku juga ingin menyampaikan rasa terima kasih. Kau...."

"Tak usah ucapkan itu," kata Adimesa. "Lebih baik kau ceritakan siapa dirimu, mengapa sampai dibawa lari ke pondok itu oleh Hantu Muka Licin."

Dengan singkat Kinasih menuturkan malapetaka yang dialaminya. Mulai dari saat dia diculik oleh lelaki bernama Bagus Srubud sampai kemudian ditolong oleh Pendekar 212 Wiro Sableng.

Adimesa terkejut mendengar Kinasih menyebut nama itu. "Jadi kau ditolong oleh Pendekar 212 Wiro Sableng? Dimana-pendekar itu sekarang?"

"Dia ditangkap oleh orang-orang berkepandaian tinggi dari Keraton," jawab Kinasih. Lalu perempuan ini bertanya. "Kau pernah tahu orang bernama Bagus Srubud yang tadi aku ceritakan? Mungkin tahu dimana aku harus mencarinya?"

Adimesa menggeleng. "Orang seperti itu terlalu berbahaya kalau kau cari. Lupakan dia. Walau orangnya nyata tapi nama itu kurasa tak pernah ada. Kejahatan yang dilakukannya atas dirimu pasti akan mendapat hukuman dari Yang Maha Kuasa. Sekarang yang penting kau harus segera kembali ke Kotaraja."

Di tempat itu mereka menemukan kuda hitam bekas tunggangan Hantu Muka Licin yang ditinggal begitu saja. Sebenarnya Kinasih ingin sekali diantar pulang ke Kotaraja oleh Pendekar Kipas Pelangi. Tetapi sang pemuda tidak menawarkan. Kinasih sendiri merasa sungkan untuk meminta. Padahal diam-diam sebenarnya hatinya tertarik pada pemuda bertubuh tegap berwajah gagah ini. Dia merasa menyesal telah menceritakan riwayat dirinya. Kini Adimesa tentu menganggapnya sebagai seorang perempuan rendah.

"Kalau saja tadi aku tidak terlanjur bicara berterus terang padanya, mungkin dia akan suka mengantar aku ke Kotaraja," kata Kinasih dalam hati.

Sebelum berpisah Adimesa bertanya pada Kinasih. "Menurutmu apakah tuduhan orang-orang Keraton bahwa Pendekar 212 yang membunuh suamimu, bisa dipercaya?"

"Sulit aku menjawab. Sampai saat ini aku masih bingung menyangkut hal yang satu itu...."

Adimesa menepuk pinggul kuda tunggangan Kinasih. Binatang itu segera melangkah pergi membawa penunggangnya menuju Kotaraja. Namun naasnya perempuan muda ini tidak pernah sampai di Kotaraja dalam keadaan hidup.

Siang di hari yang sama Kotaraja kembali dilanda kegemparan. Kinasih pertama kali ditemukan para pengawal di pintu gerbang timur, tertelungkup melintang di atas punggung kuda. Dua mata membeliak, wajah menunjukkan bayangan rasa takut amat sangat. Di keningnya ada guratan angka 212. Jari-jari tangan kanannya tergenggam kencang. Tubuhnya masih hangat, pertanda belum lama menemui ajal.

* * *4HUJAN lebat turun sejak malam menjelang pagi. Pedataran rendah di hilir Kali Lanang mulai digenangi air. Kalau hujan tak segera berhenti, hamparan sawah subur yang padinya siap dituai akan dilanda banjir, para petani akan menderita kerugian datar. Rupanya alam tidak mau menyengsarakan ummat, apalagi yang namanya rakyat kecil. Sebelum fajar menyingsing hujan mulai berhenti. Banjir yang ditakutkan tidak terjadi.

Di satu tempat ketinggian di hulu Kali Lanang, hawa dingin dan kabut tipis menutupi pemandangan. Samar-samar di bawah bayangan gelap pohon beringin besar hanya tiga tombak dari pinggiran kali, satu sosok berjubah hitam duduk tak bergerak di atas sebuah batu besar Sosok ini ternyata adalah seorang perempuan tua renta bermuka seram seperti setan.

Saat itu sebenarnya udara dingin bukan kepalang. Jangankan seorang nenek, orang mudapun pasti akan menggigil kedinginan. Tetapi disinilah letak keanehan. Walau udara mencucuk dingin luar biasa, tanah kali sekitar pohon beringin besar mengeluarkan hawa panas. Hawa panas yang bersentuhan dengan udara dingin menimbulkan uap hangat. Uap hangat ini bukan saja menyelimuti udara di pinggiran kali itu, tetapi juga membungkus batu besar, terus menyelimuti tubuh si nenek yang duduk di atasnya, hingga sosok orang tua berwajah seram itu kelihatan seperti mengepulkan asap putih, mulai dari kepala sampai ke kaki sementara sepasang matanya terpejam rapat.

Bersamaan dengan terangnya langit di sebelah timur tanda fajar telah menyingsing, dari mulut si nenek keluar suara meracau aneh. Mula-mula perlahan saja, kemudian berubah keras. Sekujur tubuhnya bergetar. Uap putih mengepul semakin banyak. Secara aneh sosok si nenek yang tadi duduk di atas batu perlahan-lahan bergerak ke atas lalu berhenti mengapung satu jengkal di atas batu. Jelas sudah si nenek tengah mengerahkan kesaktian dalam semedinya. Jika dia tidak memiliki tenaga dalam luar biasa, tidak mungkin tubuhnya mengapung seperti itu.

Di atas kepala, rambutnya yang kelabu awut-awutan naik tegak lurus ke atas, seolah berubah menjadi ijuk kaku. Sesaat kemudian jubah hitam yang membungkus tubuh nenek ini bergerak membuka, seolah ada tangan gaib yang menanggalkan. Pundak kiri kanan si nenek tersingkap. Aneh, pundak itu kelihatan putih dan bagus. Jubah merosot lagi ke bawah, menyembulkan dada. Untuk seorang nenek berusia hampir delapan puluh tahun seperti dia, dada itu seharusnya hanya tinggal daging tipis pembalut tulang. Tapi luar biasanya, nenek satu ini masih memiliki dada bagus dan putih. Jubah hitam merosot lagi, menyingkapkan perut, tertahan sebentar di pangkuannya lalu jatuh ke atas batu. Sosok tubuh si nenek kini hanya terlindung kepulan uap putih. Suara gumam racau yang keluar dari mulutnya terdengar semakin keras. Sementara dua mata masih tetap terpejam.

Menyusul terjadi satu keanehan lagi. Dua tangan si nenek tampak bergetar hebat. Getaran itu menjalar sampai ke ujung-ujung jarinya yang berkuku putih panjang. Lalu di sebelah pundak kiri kanan ada cahaya aneh berwarna merah. Cahaya ini bergerak ke bawah sepanjang dua lengan, memasuki dua telapak tangan terus ke arah sepuluh jari. Perlahan-lahan sepuluh kuku berwarna putih berubah menjadi merah. Makin merah, makin merah seolah sepuluh kuku itu telah menjadi bara menyala.

Tubuh si nenek bergetar keras, basah oleh keringat. Racau dari mulutnya semakin keras pertanda apapun yang tengah dilakukan perempuan tua ini akan segera mancapai puncaknya.

Dalam keadaan seperti itu mendadak di udara pagi terdangar suara berdesing. Satu benda hitam melesat seperti jatuh dari langit, melayang turun dan blukkk! Jatuh tepat di pangkuan si nenek.

Suara racau si nenek lenyap, berganti dengan jeritan keras. Tubuhnya terhenyak jatuh ke batu besar, lalu terguling ke bawah dan terjengkang di tanah. Si nenek menjerit lagi ketika dia mengangkat dua tangan, dia melihat warna merah bara api di sepuluh kukunya telah lenyap! Di pangkuannya saat itu, seolah lengket, melingkar sosok seorang anak lelaki berusia sekitar dua belas tahun, berpakaian hitam berambut jabrik. Anak ini sendiri keluarkan seruan tertahan, kaget karena tidak menyangka akan jatuh begitu rupa di atas pangkuan seseorang. Padahal sebelumnya, dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan dia sudah pasrah bahwa tubuhnya akan hancur remuk jatuh menghantam tanah atau batu.

Si nenek memekik panjang. "Habis! Hancur! Gagal sudah!" Sepasang matanya mendelik besar memandangi anak lelaki di depannya. "Bocah jahanam! Kau yang jadi gara-gara! Kubunuh kau!"

Tangan si nenek menjambak rambut jabrik si bocah lalu anak itu dibantingkannya ke tanah. Si bocah menjerit kesakitan.

"Remuk... walah.... Remuk tubuhku..." si bocah mengeluh, menggeliat di tanah lalu berusaha bangkit.

"Bocah setan! Bukan cuma tubuhmu! Nyawamu juga akan kubikin remuk!" Si nenek membentak, marah luar biasa. Sekali dia melompat kaki kanannya menghantam ke arah kepala si bocah.

"Nek, tunggu!" si bocah berteriak sambil tutupkan dua tangannya di atas kepala tapi matanya memperhatikan nakal. "Kalau memang mau membunuhku, jangan telanjang begitu rupa. Nanti setan akhirat jadi bingung mau mengirimku ke mana. Ke sorga atau ke neraka!"

Si nenek hendak menghardik marah tapi sadar kalau saat itu dia memang tidak mengenakan apapun.

"Hah?!"

Si nenek batalkan tendangannya. Dua tangan sibuk repot berusaha menutupi aurat yang telanjang. Dia ingat pada jubah hitamnya. Pakaian itu tergeletak di atas batu. Disambarnya lalu cepat dikenakan. Ketika dia selesai berpakaian dilihatnya bocah berpakaian hitam tadi tidak ada lagi di tempatnya semula.

"Kurang ajar! Lari kemana bocah setan itu! Sampai dimana, sampai kapanpun akan kucari! Akan kupecahkan batok kepalanya!"

Saking marahnya si nenek gerakkan kaki kanan.

"Braakkk!"

Batu hitam di pinggir kali yang tadi jadi tempat duduk-nya hancur berkeping-keping. Di atas pohon beringin anak berusia dua belas tahun yang mendekam di balik kerimbunan dedaunan delikkan mata, mulut ternganga.

"Makhluk aneh. Tampang berbentuk nenek muka setan. Tapi mengapa memiliki tubuh begitu bagus dan mulus? Tapi gila! Batu saja hancur oleh tendangannya. Apalagi kepalaku! Siapa gerangan adanya nenek ini? Sebelum celaka di tangannya lebih baik aku cepat-cepat menyingkir dari sini."

Baru saja anak itu berucap dalam hati, seolah tahu kalau orang yang dicarinya sembunyi di atas pohon, si Nenek tiba-tiba dongakkan kepala lalu pukulkan tangan kanannya. Dari tangan dan ujung jubah hitam menderu lalu gelombang angin luar biasa derasnya. Saat itu juga seluruh daun pohon di balik mana anak berpakaian hitam sembunyi rontok luruh ke tanah. Si anak jadi terlihat jelas, tegak sempoyongan di salah satu cabang, muka pucat pasi. Tubuhnya terasa kaku. Sambaran angin yang tadi dihantamkan nenek muka setan di bawah sana mempengaruhi jalan darahnya.

Sadar kalau orang sudah melihatnya serta sulit bergerak cepat untuk melarikan diri, anak ini nekad melompat ke bawah. Dua kali jungkir balik tak karuan akhirnya dia mampu juga menjejak tanah, tegak terbungkuk-bungkuk di depan si nenek sambil pegangi kepala, takut akan kena gebuk atau ditendang lagi.

"Nek, kalau kau memang mau membunuhku, aku tidak punya daya untuk selamatkan diri. Tapi aku mau tahu dulu apa dosa kesalahanku hingga kau mau menghabisi nyawaku."

"Bocah setan! Dosa kesalahanmu setinggi langit sedalam laut!" bentak si nenek.

"Walah, begitu amat Nek? Harap kau mau memberitahu yang salah apaku, yang dosa apaku?"

"Jahanam! Empat puluh hari empat puluh malam aku melakukan samadi! Tidak perduli hujan, tidak perduli panas. Makan tidak minum juga tidak! Hampir rampung ilmu yang aku dalami tahu-tahu kau merusak semuanya! Jahanam betul!"

Si nenek menggembor keras lalu menyergap. Tangannya kembali menjambak rambut jabrik si bocah. Ketika dia hendak membantingkan anak itu tak sengaja sepasang matanya bentrokan dengan dua bola mata si bocah. Ada sekilas cahaya aneh di mata anak itu membuat darah si nenek tersirap. Lalu dibalik wajah si bocah, dia seperti melihat satu wajah lain yang menyebabkan dadanya berdebar keras.

"Kurang ajar, ada apa dengan anak ini. Matanya menyorotkan ketakutan. Tapi dibalik bayang ketakutan Itu aku melihat satu bayangan lain. Hatiku... mengapa hatiku tiba-tiba bergetar?"

"Bocah setan! Siapa kau adanya! Mengapa berani mengusik semediku, menjatuhkan diri ke pangkuanku!

Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang mengirimmu ke Banyuanget ini?! Pasti kakek keparat itu!"

"Maaf Nek, jangan kau salah mengira. Tidak ada yang mengirimku ke sini! Aku tidak ada niat mengusik semedi-mu, apa lagi sengaja menjatuhkan diri kepangkuanmu...."

"Jangan dusta! Kau memang punya niat jahat dan niat cabul!" Si nenek perkencang jambakannya lalu meng-angkat tubuh si anak tinggi-tinggi, siap untuk dibanting-kan.

"Nek... aku... aku tidak tahu apa maksudmu...." "Jangan dusta! Kau sengaja muncul untuk mengusik semediku hingga aku gagal mendapatkan ilmu itu! Lalu kau juga sengaja menunggu sampai seluruh pakaian di tubuhku tanggal. Baru dijatuhkan diri di pangkuanku!"

"Nak, semua terjadi serba tidak sengaja. Aku...."

Tangan si nenek bergerak, siap membantingkan anak yang dljambaknya. Tapi si anak cepat berseru. "Tahan, tunggu dulu Nek! Beri kesempatan untuk menerangkan.."

"Nyawamu hanya tinggal beberapa kejapan mata! Apa yang hendak kau katakan?!"

"Kalau aku ceritakan bagaimana asal usulnya aku sampai melesat dari langit, melayang jatuh ke pang-kuanmu, pasti kau tidak percaya. Sumpah Nek, aku tidak sengaja jatuh ke pangkuanmu! Juga sumpah aku tidak punya niat cabul terhadapmu!"

"Siapa percaya mulut dan segala sumpahmu! Siapa namamu? Siapa menyuruhmu menggagalkan semediku?!" bentak si nenek.

"Namaku Naga Kuning, Nek. Tidak ada yang menyuruhku. Aku memang terlempar dari langit. Nasib apes jatuh di pangkuanmu pada saat kau dalam keadaan bugil. Nek, dengar Nek. Terus terang aku kagum padamu. Mukamu lebih jelek dari setan, tapi keadaan tubuhmu tidak kalah bagusnya dengan tubuh janda kembang...."

"Jahanam kurang ajar! Sekarang mampuslah!"

"Nek, aku mohon...."

"Mohonlah pada setan!"

Tangan si nenek sudah siap membanting. Tiba-tiba terjadi keanehan. Rambut si bocah mendadak berubah sangat licin seperti dilumuri minyak. Ketika si nenek hendak memperkencang jambakannya, cekatannya malah lolos. Si bocah jatuhkan diri ke tanah.

"Ternyata kau punya ilmu kepandaian! Bagus! Coba rasakan dulu tendanganku ini!"

Kaki kanan si nenek menderu tapi. Namun tendangan-nya luput. Anak yang jadi sasaran membuat gerakan lebih cepat, membuang diri ke kiri lalu bergulingan di tanah ke arah pohon beringin. Si nenek mengejar. Tapi anak itu menghilang seperti ditelan bumi.

"Kemana lenyapnya bocah kurang ajar itu?!" Si nenek memandang berkeliling, memperhatikan ke atas pohon beringin. Tapi Naga Kuning kali ini benar-benar lenyap. Si nenek usap wajah setannya, menarik nafas panjang berulang kali, lalu melangkah ke pinggir kali dan duduk merenung.

"Bocah kurang ajar bernama Naga Kuning itu. Mungkinkah dia...? Mustahil. Puluhan tahun telah berlalu. Aku tidak pernah mendengar riwayatnya lagi. Aku tak pernah mengharapkan dirinya lagi. Sakit hati, kekecewaan besar. Semua itu yang aku dapat darinya sebagai balas kebaikan hatiku padanya. Kalaupun yang tadi itu memang dia mengapa ujudnya seperti itu? Kalau dia masih hidup, usianya sudah di atas seratus tahun. Tidak mungkin. Namun, sejak dua purnama belakangan ini mengapa aku selalu terkenang pada dirinya?"

Si nenek memandangi arus Kali Lanang yang deras akibat curahan hujan lebat malam menjelang pagi tadi. Dia kembali mengingat-ingat. "Sewaktu rambutnya kujambak, rambut itu tiba-tiba menjadi licin. Anak itu memiliki ilmu meloloskan diri dengan menjadikan rambutnya licin. Memang di tanah Jawa ini banyak Ilmu aneh yang membuat orang bisa jadi licin. Ilmu Belut Putih, Ilmu Pelicin Raga dan sebagainya. Tapi sepanjang pengetahuanku hanya ada satu ilmu sejenis itu yang hebat luar biasa. Ilmu itu disebut Ilmu Ikan Paus Putih. Dan dimiliki oleh kakek sakti setengah manusia setengah roh yang adalah ayah angkatku sendiri. Kiai Gede Tapa Pamungkas. Apakah anak itu ada sangkut pautnya dengan Kiai? Setahuku Kiai tidak pernah mengangkat murid. Tapi selama puluhan tahun aku berpisah dengan ayah angkatku itu, mungkin saja terjadi hal-hal yang aku tidak ketahui. Hai! Tololnya aku! Anak itu paling banyak berusia dua belas tahun. Mana mungkin dia sudah ada puluhan tahun silam? Mana mungkin dia bisa menguasai ilmu kesaktian tinggi dalam usia seperti dia?" Si nenek muka setan menghela nafas panjang berulang kali. Dia hendak bergerak bangkit. Mendadak dia mendengar suara orang berlari. Suara itu demikian halusnya seolah yang berlari tidak menginjak tanah. Si nenek menoleh. Satu bayangan berkelebat di belakangnya. Tahu-tahu seorang pemuda berpakaian biru, berkumis rapi berwajah tampan muncul, tegak berdiri beberapa langkah di hadapannya.

"Nek," pemuda itu menyapa sambil membungkukkan badan memberi hormat. "Maafkan kalau aku mengganggu ketenteramanmu, aku kebetulan lewat, melihatmu ada di sini, ingin menanyakan sesuatu...."

"Anak muda aku sedang tidak enak hati. Salah-salah lehermu bisa kupatahkan! Lekas minggat dari hadapanku!"

Pemuda berbaju biru yang bukan lain adalah Adimesa alias Pendekar Kipas Pelangi pandangi si nenek dengan wajah tenang lalu tersenyum. "Tampaknya nenek ber-wajah seram ini bukan manusia sembarangan. Tanda-tanda di sekitar sini menunjukkan agaknya sebelumnya terjadi satu perkelahian di tempat ini. Ada hancuran batu, ada pohon beringin yang gundul sebagian daunnya. Dari pada mencari urusan tak karuan memang lebih baik aku menyingkir dari tempat ini."

"Nek, terima kasih kau telah memberi ingat. Silahkan meneruskan bersunyi diri. Sekali lagi maaf kalau aku telah mengganggu" Pendekar Kipas Pelangi membungkuk lalu tinggalkan tempat itu.

Si nenek sesaat seperti tak acuh. Kemudian dia menoleh memperhatikan. "Anak muda itu bersikap tenang, bersifat polos. Tapi dia datang dengan berlari. Cepat tapi tanpa suara. Tahu-tahu muncul di hadapanku. Pasti dia mem-bekal ilmu tidak rendah. Ada baiknya kalau aku ketahui apa yang hendak ditanyakannya."

"Anak muda! Tunggu!" si nenek berseru.

Pendekar Kipas Pelangi hentikan langkah tapi hanya diam berdiri, tidak mau mendekati si nenek. Sebaliknya si nenek kini yang bangkit berdiri dan menyampari pemuda itu.

"Apa yang hendak kau tanyakan padaku?"

Si pemuda memandang wajah setan si nenek, lalu ter-senyum. "Terima kasih, kau mau memberi kesempatan," katanya. "Tidak jauh dari sini, sebelumnya aku melihat ada sebuah benda melayang di udara. Aku berusaha meng-ikuti. Benda itu melesat ke arah sekitar sini lalu lenyap. Aku berusaha mencarinya tapi tidak berhasil. Mungkin kau melihat sesuatu Nek?"

Si nenek diam sebentar. Dalam hati dia membatin. "Jangan-jangan bocah kurang ajar tadi yang dicari pemuda ini. Bukan mustahil dia sahabat anak bernama Naga Kuning itu."

"Benda yang melayang di udara itu, apakah manusia, batu, kayu, binatang atau apa?!" si nenek ajukan pertanyaan.

Pendekar Kipas Pelangi tersenyum. "Benda itu melesat cepat sekali. Seperti jatuh dari langit. Aku sulit menduga. Namun besar kemungkinan benda itu adalah sosok manusia...."

"Kau pasti gila! Mana ada manusia bisa jatuh melayang dari langit lalu lenyap. Dan kau muncul di sini bertanya padaku! Benar-benar edan!"

"Nek, belakangan ini memang banyak hal gila dan edan terjadi dalam rimba persilatan. Bahkan kegilaan dan keedanan itu merambat sampai ke Kotaraja. Kalau kita tidak menyiasati dan berjaga-jaga, kita bisa ikut-ikutan gila dan edan."

"Kau salah satu diantaranya yang sudah jadi gila dan edan!" tukas si nenek. "Heh, apa seorang bocah bernama Naga Kuning ada sangkut pautnya dengan dirimu? Mungkin dia orang yang tengah kau cari?"

"Naga Kuning?" Pendekar Kipas Pelangi gelengkan kepala. "Tak pernah aku mengenal bocah dengan nama itu."

"Kalau begitu jangan berdiri lebih lama di depanku! Pergilah sebelum aku merasa terusik...."

"Nenek aneh," kata Pendekar Kipas Pelangi dalam hati. Namun dengan tersenyum dia bungkukkan diri lalu melangkah pergi.

Tak lama setelah Pendekar Kipas Pelangi pergi, si nenek ingat sesuatu. Dia mengejar ke arah lenyapnya pemuda itu. Tapi yang dikejar tak kelihatan lagi.

"Tololnya aku. Seharusnya aku tanya siapa adanya pemuda itu. Siapa namanya!" Si nenek geleng-gelengkan kepala. Sekali berkelebat dia lenyap dari tempat itu.

Belum jauh berlari Pendekar Kipas Pelangi juga ingat sesuatu. Dia segera memutar larinya, kembali ke tepi kali. Namun di tempat itu orang yang dicarinya tak kelihatan lagi. Si pemuda usap-usap dagunya. "Seharusnya tadi aku tanyakan siapa adanya nenek itu. Mungkin dia tahu perihal Adisaka, kakakku. Tapi yah.... Sudahlah."

5MATAHARI hampir tenggelam ketika Naga Kuning sampai di tepi selatan Telaga Gajahmungkur. Anak ini menatap dengan mata sayu. Dia teringat pada peristiwa beberapa waktu lalu ketika kehancuran melanda segala sesuatu yang ada di dasar telaga.

Perlahan-lahan Naga Kuning mendudukkan diri di tepian telaga. Mula-mula dia merasa ragu, tapi apa boleh buat. Dia menginginkan keterangan yang sangat dibutuhkannya itu. Satu-satunya yang bisa memberikan penjelasan adalah penguasa Telaga Gajahmungkur yang merupakan makhluk alam gaib dikenal dengan nama Kiai Gede Tapa Pamungkas. (Baca serial Wiro Sableng yang berjudul "Wasiat Iblis" dst. terdiri dari 11 episode)



"Peristiwanya sudah lama sekali. Aku tidak bisa memastikan, sejak isi telaga porak poranda, apakah Kiai masih suka datang ke tempat ini?"

Naga Kuning rangkapkan dua tangan di depan dada. Setelah memperhatikan sekitar telaga, anak ini pejamkan ke dua matanya, pendengaran terhadap alam luar ditutup. Sosoknya tidak bergerak. Dia telah berubah seolah patung. Menjelang tengah malam hujan gerimis turun. Udara menebar bau aneh, seperti bau kemenyan dibakar. Kepala Naga Kuning bergoyang, sekali ke kiri, sekali ke kanan. Bau kemenyan menyirap masuk ke jalan pernafas-an, mendekam di dada.

Sesaat kemudian mulut anak itu tampak bergerak. Lalu terdengar suaranya berucap perlahan. "Kiai Gede Tapa Pamungkas, saya mohon, datanglah menampakkan diri. Ada satu masalah besar yang ingin saya tanyakan padamu. Saya tahu kau berada jauh di telaga tiga warna puncak Gunung Gede. Tapi dengan ilmu kesaktianmu, dengan redho Gusti Allah, tidak sulit bagimu untuk bisa muncul di telaga Gajahmungkur ini. Jika engkau men-dengar permintaan saya ini Kiai, saya mohon kau mau mengabulkan...."

Sunyi, sesekali terdengar gemerisik dedaunan tertiup angin. Sesekali terdengar riak air telaga disapu hembusan angin.

"Kiai, jika engkau mendengar harap kau mau mengabul-kan permintaan saya...." Kembali Naga Kuning berucap.

Masih sunyi. Namun laksana sebilah pedang raksasa tiba-tiba dari atas langit yang mulai gelap, menyabung kilat disertai gelegar yang menggoncang tanah. Sesaat cahaya terang menyilaukan menghantam permukaan telaga, tembus sampai ke dasar. Air telaga mencuat ke atas belasan tombak, berubah menjadi panas. Ketika air telaga panas ini jatuh kembali ke permukaan telaga yang dingin, terdengar suara mendesis panjang menggidikkan.

Di tepi telaga Naga Kuning kelihatan terhuyung-huyung. Mulutnya komat kamit. Kalau dia tidak mengerahkan segala kekuatan luar dan dalam, niscaya sejak tadi-tadi tubuhnya sudah terbanting ke tanah.

Naga Kuning merasakan ada angin aneh menyapu wajah dan permukaan kulit tubuhnya, membuat anak ini merinding. Dengan hati berdebar dia buka dua mata-nya yang sejak tadi dipejamkan. Mula-mula dia tidak melihat apa-apa. Kemudian ada hamparan kabut putih di tengah telaga. Kabut ini perlahan-lahan bergerak ke tepi telaga, di arah mana Naga Kuning duduk bersila. Semakin dekat ke tepi telaga semakin jelas bahwa kabut itu membentuk sosok seorang tua, tegak mengawang di atas permukaan air telaga.

Naga Kuning membuka matanya lebih besar. Tak berkedip dia memandang pada makhluk di atas telaga.

Makhluk ini berupa seorang tua berselempang kain putih. Wajahnya tertutup oleh rambut panjang, kumis dan janggut warna putih.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas, saya sangat bersyukur dan berterima kasih Kiai mau datang," ucap Naga Kuning lalu masih dalam keadaan bersila dia membungkuk dalam-dalam.

"Anak manusia bernama Gunung, menjalani hidup sebagai Pangeran terbuang, yang aku kenal dengan gelar julukan Kiai Paus Samudera Biru, yang sehari-hari dipanggil dengan nama Naga Kuning alias Naga Cilik, alias Naga Kecil. Mungkin kau lupa bahwa aku sebenarnya tidak pernah ingin bertemu lagi denganmu?"

"Kiai. maafkan saya. Saya tidak lupa. Sejak rangkaian peristiwa tempo hari, sampai Telaga Gajahmungkur dilanda musibah besar, saya tahu, tidak pantas lagi bagi Kiai untuk menemui saya. Namun, sekali lagi dengan seribu maaf, saya mohon, ada satu hal yang perlu saya tanyakan pada Kiai...."

"Naga Kuning, aku sudah muak dengan segala urusan. Permintaanmu hanya mengusik ketenanganku di alam roh...."Naga Kuning terdiam. Lalu dengan suara perlahan sedih anak ini berkata. "Kalau Kiai memang tidak lagi mau mencampuri urusan dunia, kalau memang saya telah mengusik ketenangan Kiai di alam roh, saya mohon maaf. Apa yang hendak saya tanyakan pada Kiai biarlah tetap menjadi ganjalan dalam diri saya seumur-umur...."

Sosok orang tua berselempang kain putih itu kini ganti terdiam. Dua matanya yang bening tapi tajam menatap wajah Naga Kuning beberapa ketika lalu muncul sekelumit senyum, membuat Naga Kuning merasa lega.

"Naga Kuning, sebelum kita meneruskan bicara, harap perlihatkan dulu dirimu yang sebenarnya. Dunia masa kini penuh dengan berbagai ilmu aneh. Di dalam keanehan itu banyak sekali manusia yang memanfaatkan ilmu untuk menipu. Kau yang duduk bersila di hadapanku, bisa saja bukan Naga Kuning sebenarnya. Jadi harap kau perlihat-kan dulu padaku ujudmu yang sebenarnya...."

Naga Kuning membungkuk dalam, lalu perlahan lahan bangkit berdiri. Dua telapak tangan disatukan, diletakkan di atas dada, di arah jantung seperti lazimnya orang melakukan sholat. Suasana sunyi menyelimuti kawasan telaga. Perlahan-lahan sosok anak bernama Naga Kuning itu terlihat samar-samar seolah terbungkus kabut. Begitu kabut lenyap yang tegak di tepi telaga itu kini bukan lagi sosok seorang anak lelaki berpakaian hitam, melainkan sosok seorang tua berambut, berjanggut dan berkumis kelabu. Sepasang alis matanya putih panjang menjulai ke bawah. Pakaiannya sehelai kain hitam, melilit di bagian pinggang ke bawah,menyelempang di atas perut dan dada.

"Kiai Paus Samudera Biru," berucap Kiai Gede Tapa Pamungkas. "Aku sudah melihat ujudmu sebenarnya. Kini tidak ada kebimbangan dalam diriku siapa kau adanya."

Orang tua berselempang kain hitam membungkuk. Begitu tubuhnya diluruskan, ujudnya berubah ke bentuk seorang bocah bernama Naga Kuning. Anak ini kemudian kembali duduk bersila di tanah di tepi telaga.

"Naga Kuning, sekarang sampaikan apa yang hendak kau tanyakan. Ingat, waktuku tidak lama." Kiai Gede Tapa Pamungkas berkata.

"Maafkan saya Kiai. Saya tidak ingin mengganggu Kiai berlama-lama. Karenanya bolehkah saya menerangkan sesuatu lalu mengajukan satu dua pertanyaan?"

"Aku menyirap rasa, lama sekali kau tidak berada di negeri ini. Begitu muncul kau ingin bertemu denganku...."

"Kiai betul. Saya dengan dua orang kawan secara tidak sengaja terpesat masuk ke dalam negeri aneh Latanahsilam yang seribu dua ratus tahun berada sebelum tanah Jawa ini. Hanya Kuasa Gusti Allah yang memungkinkan saya dan kawan-kawan kembali ke tanah Jawa ini."

"Siapa dua orang kawanmu itu?" tanya makhluk di atas telaga yang dipanggil dengan sebutan Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Yang pertama Pendekar 212 Wiro Sableng...."

"Murid Sinto Weni alias Sinto Gendeng, murid si perempuan sinting itu! Aku tidak bergembira mendengar pendekar itu menjadi sahabatmu. Naga Kuning. Gurunya adalah muridku. Sejak Sinto Gendeng menguasai Kapak Maut Naga Geni 212 dan menyembunyikan Pedang Naga Suci 212, berbagai kejadian yang membuat aku marah telah dilakukannya. Untung Pedang Naga Suci sekarang sudah berada di tangan pewaris yang berjodoh yakni Puti Andini." (Baca "Wasiat Malaikat", Episode ke 9 dari rangkaian 11 Episode "Wasiat Iblis" dst.)



Naga Kuning diam saja. Tak berani menanggapi ucapan sang Kiai. Lalu terdengar Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya. "Siapa temanmu yang kedua?"

"Kakek sakti berjuluk Setan Ngompol...."

Kiai Gede Tapak Pamungkas mendesah panjang mendengar jawaban Naga Kuning bocah yang selama bertahun-tahun pernah menjadi orang kepercayaannya itu. "Setan Ngompol! Kau mungkin lupa, tapi aku tidak akan pernah melupakan. Bukankah manusia satu itu yang masuk ke dalam Telaga Gajahmungkur, membawa dan menebar air larangan hingga telaga dan isinya laksana dijungkir balikkan? Dan orang seperti itulah yang menjadi temanmu! Sungguh aku menyesal muncul di hadapanmu saat ini. Naga Kuning!"

"Saya mohon beribu maaf. Kiai. Saya...."

"Sudah! Sekarang ajukan saja pertanyaanmu."

Naga Kuning membungkuk dalam-dalam lalu berkata. "Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang perempuan tua yang saya tidak kenal siapa dia adanya." Lalu Naga Kuning menuturkan riwayatnya jatuh ke pangkuan seorang nenek yang duduk bersemedi dalam keadaan telanjang di tepi Kali Lanang. "Walau saya tidak pernah melihat nenek ini sebelumnya namun dari suaranya saya seperti mengenali siapa dirinya. Ketika ingatan itu muncul dan saya sadar, saya kembali ke tempat pertemuan. Tapi nenek itu tak ada lagi di tepi kali. Saya punya dugaan, dan saya berharap tidak keliru. Perempuan tua itu adalah puteri angkat Kiai sendiri, yang bernama Ning Intan Lestari...."

"Ning Intan Lestari...." Kiai Gede Tapa Pamungkas menyebut nama itu dengan suara perlahan. Di wajahnya nampak kesedihan mendalam.

"Kau menyebut Ning Intan Lestari sebagai anakku. Naga Kuning, agaknya sampai saat ini rasa tanggung jawab atas kejadian di masa silam masih belum muncul dalam dirimu."

"Kiai...." Naga Kuning hendak mengatakan sesuatu. Kalau perlu mengembangkan kembali riwayat di masa silam dimana dia lebih banyak kejatuhan dosa kesalahan.

"Sudah, apa yang hendak kau tanyakan?"

"Pertama apakah Ning Intan Lestari masih hidup. Saya memang berharap dia masih hidup. Pertanyaan kedua, mungkin Kiai mengetahui bahwa perempuan tua yang suaranya sama dengan suara Ning Intan Lestari itu memang Ning Intan Lestari, adanya?"

"Bagaimana ciri-ciri perempuan tua yang kau temui di tapi Kali Lanang itu?" bertanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Mukanya seram, lebih seram dari setan. Rambut kelabu. Berpakaian jubah hitam...."

"Menurutmu, kira-kira berapa usianya?"

"Antara delapan sampai sembilan puluh tahun. Namun saya melihat keanehan pada tubuhnya...." Naga Kuning tidak meneruskan ucapannya.

"Keanehan apa?"

"Saya tidak berani menceritakan. Pertanyaan saya, mungkinkah nenek itu puteri angkat Kiai yang bernama Ning Intan Lestari?'

Kiai Gede Tapa Pamungkas tidak menjawab, melainkan memandang lekat-lekat ke wajah bocah yang duduk bersila di tepi telaga itu. Dia menunggu, mengharapkan jawaban.

"Naga Kuning," sang Kiai akhirnya berkata. "Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Mungkin nenek itu memang puteri angkatku, mungkin juga tidak. Untuk memastikan, hanya kau sendirilah yang harus melakukan penyelidik-an. Jika kemudian kau mengetahui bahwa nenek itu bukan Ning Intan Lestari, urusan cukup cuma sampai disitu. Tapi jika dia memang Ning Intan Lestari, aku ingin tahu apa tindakanmu selanjutnya?"

Naga Kuning tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia terdiam beberapa lamanya. Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. Agaknya dia tidak mau memaksa dan merasa tidak perlu menunggu jawaban si bocah.

"Naga Kuning, usiamu sebenarnya sekitar seratus dua puluh tahun. Kematangan hati dan pikiranmu apakah masih perlu dipertanyakan? Apapun persoalan yang terjadi antara kau dengan puteri angkatku adalah menjadi tanggung jawab kalian berdua. Berarti kalian berdua pula yang harus menyelesaikan...."

Naga Kuning terdiam.

"Kau mengerti maksud kata-kataku, Naga Kuning?"

Si bocah mengangguk, lalu membungkuk dalam-dalam seraya berkata. "Saya mengerti Kiai. Maafkan kalau saya sudah membuat Kiai merasa terganggu. Saya merasa bersyukur Kiai tidak marah terhadap saya...."

"Kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah. Apapun masalahnya. Ingat hal itu baik-baik Kiai Paus Samudera Biru...."

Wajah Naga Kuning tampak kemerah-merahan mendengar Kiai Gede Tapa Pamungkas menyebut gelarnya. Dia merasa seperti tidak layak menyandang gelar itu.

"Naga Kuning, pernahkah kau mendengar seorang nenek berilmu tinggi dipanggil dengan sebutan Gondoruwo Patah Hati"

Naga Kuning menggeleng.

"Carilah nenek itu. Kelak kau akan menemukan sesuatu," kata Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

"Saya akan mencari nenek itu. Terima kasih atas petunjuk Kiai. Kalau saya boleh bertanya, apakah Gundoruwo Patah Hati itu...."

Tiba-tiba dari langit menyambar kilat. Sekejapan kawasan telaga menjadi terang benderang. Air telaga bergejolak muncrat. Lalu segala sesuatunya sirap sunyi kembali. Sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas tak kelihatan lagi, lenyap dari permukaan telaga.

Lama Naga Kuning termenung di tepi telaga itu. "Kalau nenek itu memang Ning Intan Lestari adanya, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Mengapa wajahnya menjadi buruk, seram mengerikan seperti itu. Lalu kemana aku harus mencari dia? Setelah dua tahun terpesat ke Negeri Latanahsilam, tanah Jawa seolah asing bagiku. Siapa pula sebenarnya nenek bernama Gondoruwo Patah Hati itu? Mengapa Kiai menyuruhku mencarinya. " Naga Kuning menghela nafas dalam lalu bangkit berdiri. Gerakannya berubah menjadi lompatan terkejut ketika dekat sekali di belakangnya tiba-tiba terdengar suara tertawa keras, panjang menyeramkan.

Naga Kuning cepat membalik. Anak ini keluarkan seruan tertahan ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Orang ini berjubah hitam, berambut putih, tegak membelakanginya. Tangan kanan buntung. Di daun telinga sebelah kanan belakang ada tahi lalat

merah sebesar ujung jari kelingking. "Orang ini, aku rasa-rasa pernah melihat sebelumnya," kata Naga Kuning dalam hati.

* *

6TIBA-TIBA si jubah hitam yang tegak membelakang itu keluarkan suara tertawa melengking panjang. Lalu dibalikkannya tubuhnya hingga kini berhadap-hadapan dengan Naga Kuning. Orang ini ternyata adalah nenek berjubah hijau tua. Rambut putih panjang riap-riapan. Muka hancur. Mata kiri hanya tinggal rongga besar menyeramkan sedang mata kanan terbujur keluar seperti mau melompat tanggai. Luar biasanya di keningnya menempel potongan tangan kanan miliknya sendiri.

"Luhjahilio...." Naga Kuning tergagau. Lututnya bergetar. (Mengenai nenek seram Luhjahilio yang merupakan salah satu dari Sepasang Hantu Bercinta, silahkan baca riwayat Wiro Sableng di Negeri Latanahsilam "Rahasia Patung Menangis", "Rahasia Mawar Beracun" dsb.) "Bagaimana bangkai butut Latanahsilam ini bisa berada di tempat ini? Apakah dia Ikut terlempar ke tanah Jawa dari negeri seribu dua ratus tahun silam?"



Si nenek berwajah lebih hebat dari setan ini mendongak ke langit lalu tertawa panjang. "Gelapnya udara malam, lama tidak bertemu, ternyata kau masih mengenali diriku. Hik... hik... hik! Anak keparat! Mana dua temanmu si Wiro dan si Setan Ngompol? Selama di Negeri Latanahsilam kalian bertiga telah membuat aku dan kekasihku banyak susah! Dulu aku tidak sempat membunuhmu! Mungkin kau memang harus menemui ajal di negeri sendiri! Hik... hik... hik!"

Mula-mula Naga Kuning memang agak kecut juga melihat kemunculan tidak terduga Luhjahilio. Ternyata keseraman wajah nenek satu ini lebih hebat dari nenek yang ditemuinya di tepi Kali Lanang. Tapi setelah menenangkan diri dan keberaniannya muncul, anak ini segera menyahuti ucapan orang.

"Nenek muka setan! Kau muncul cuma sendirian. Mana kekasihmu si Lajahilio?! Kau ini datang di tanah Jawa ada yang mengundang, atau sekedar pesiar atau diam-diam mengikuti si Setan Ngompol? Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta pada kakek bau pesing sahabatku itu!"

Luhjahilio kembali tertawa. Bola mata kanannya yang tergantung di pipi bergerak-gerak turun naik.

"Wahai! Kau memang pandai bergurau! Aku mau lihat apakah kau masih bisa bergurau kalau sudah jadi mayat!"

"Wahai!" Naga Kuning meniru ucapan si nenek. "Ini bukan di Latanahsilam lagi, bicara memakai wahai segala! Jauh-jauh datang ke tanah Jawa kau cuma merusak pemandangan. Lebih baik kembali pulang ke kampungmu sebelum kawanan anjing pasar menggerogoti dirimu!"

Wajah Luhjahilio tampak mengkerut. "Tidak heran!" katanya. "Di negeri orang kau kurang ajar. Di negeri sendiri pasti lebih kurang ajar! Kau tidak mau memberi tahu dimana dua sahabatmu itu berada?"

"Kalau sadar kau berada di negeri orang pandai-pandai membawa diri! Baru muncul sudah membawa niat jahat hendak membunuh!" Luhjahilio tertawa lagi. Tiba-tiba melompat. Tangan kirinya menyambar

"Breettt!"

Naga Kuning berseru kaget. Serangan yang dilancarkan Luhjahilio bukan saja tidak terduga tapi juga sangat cepat. Untung dia masih punya kesempatan bergerak surut dua langkah. Kalau tidak, bukan Cuma pakaian hitamnya yang robek disambar jari-jari tangan berkuku panjang si nenek, daging dan tulang dadanya bisa ikutan jebol. Naga Kuning merasa heran. Semasa di Negeri Latanahsilam Luhjahilio bersama pasangannya, Luhjahilio, memang memiliki ilmu tinggi. Namun bila dibanding dengan para tokoh lainnya, sepasang kakek nenek ini belum termasuk di jajaran atas. Kini mengapa gerakannya begitu cepat luar biasa hingga dia tidak mampu mengelak menyelamatkan diri? "Jangan-jangan makhluk ini penjelmaan Gondoruwo Patah Hati yang dikatakan Kiai Gede Tapa Pamungkas..." pikir Naga Kuning.

"Nenek jelek! Jauh-jauh datang ke tanah Jawa cuma untuk mengantar nyawa!" teriak Naga Kuning. Lalu anak Ini membalas serangan si nenek. Didahului jeritan keras tubuh Naga Kuning melesat, melepas pukulan Naga Murka Merobek Langit.

Luhjahilio hadapi serangan orang dengan tertawa memandang enteng. Dia sengaja menyongsong datang-nya serangan dengan balas memukulkan tangan kiri. Agaknya si nenek ingin menjajal sampai dimana kehebat-an kekuatan lawan.

Kaget Luhjahilio bukan alang kepalang ketika bukkk! Lengan kirinya beradu keras dengan lengan kanan Naga Kuning. Si nenek terlempar sampai empat langkah. Muka setannya mengkerut kesakitan. Sebaliknya Naga Kuning sendiri terpental tiga langkah, termonyong-monyong meniup lengan kanannya yang bengkak membiru.

Mengira kekuatan tenaga dalamnya masih jauh lebih tinggi dari Naga Kuning, sambil membentak garang Luhjahilio kembali menyerbu.

Menghadapi serangan kedua ini. Naga Kuning melesat ke atas hampir setinggi satu tombak. Lalu sambil melayang turun dia hantamkan kaki kanannya dalam jurus Naga Murka Menjebol Bumi. Yang di arah adalah kepala lawan.

Si nenek tertawa cekikikan. Kepalanya dijauhkan ke belakang. Ketika kaki Naga Kuning lewat di depan keningnya, tidak disangka-sangka tangan kanannya yang menempel di kening bisa bergerak mencekal pergelangan kaki Naga Kuning.

Sebenarnya cekalan ini tidak ada bahayanya. Yang berbahaya adalah serangan susulan tangan kiri yang sengaja dihantamkan ke selangkangan Naga Kuning.

"Nenek cabul! Kau bukannya berkelahi! Tapi sengaja hendak memegang barangku!" teriak Naga Kuning. Dia kerahkan tenaga dalam ke kaki kanan yang kena dicekal. Luhjahilio berseru kaget ketika kaki yang dipegangnya terasa menjadi sangat berat. Demikian beratnya hingga kepala dan tubuhnya tertekan hebat. Mau tak mau dia terpaksa lepaskan cekalan pada kaki kanan si bocah. Begitu kakinya lepas, dengan kaki yang sama Naga Kuning hantam pipi si nenek.

Luhjahilio meraung kesakitan. Tubuhnya terlempar jauh. Kepalanya seperti pecah. Pemandangan gelap. Untuk beberapa saat lamanya dia terkapar di tanah sambil pegangi pipi kanan yang bengkak membiru dengan tangan kiri. Tampangnya semakin seram tidak karuan.

Naga Kuning tegak berkacak pingang di hadapan Luhjahilio. "Nenek jelek! Apa kau masih betah tinggal di tanah Jawa ini? Atau mungkin bisa kubantu melemparkanmu ke langit agar kembali ke negeri asalmu?!"

"Makhluk jahanam! Aku belum kalah!" teriak Luhjahilio. Tubuhnya yang terkapar di tanah tiba-tiba bergulingan, mengeluarkan suara bergemuruh seolah-olah gelondongan batang kayu raksasa menggelinding.

"Bagus, kau datang sendiri mencari tendangan!" seru Naga Kuning. Anak ini menunggu sampai sosok Luhjahilio hanya tinggal dua langkah dari hadapannya baru dia mengangkat kaki kanan menendang.

Luhjahilio keluarkan pekikan keras. Bersamaan dengan itu tubuhnya yang masih menggelinding di tanah berputar. Dua kaki membabat laksana gunting. Naga Kuning menendang. Dua kaki lawan membuka. Lalu menutup kembali dengan cepat.

Naga Kuning berteriak kaget ketika dapatkan kaki kanannya tahu-tahu sudah berada dalam jepitan dua kaki Luhjahilio. Dia berusaha menyentakkan kaki, tapi tak berhasil lolos. Jepitan dua kaki si nenek terasa panas dan seperti hendak menggergaji putus tulang keringnya.

Tidak menunggu lebih lama Naga Kuning hantamkan dua tangan sambil keluarkan aji Ikan Paus Putih untuk melicinkan kakinya yang dijepit lawan.

Luhjahilio berteriak keras ketika melihat dua larik sinar hitam, dekat sekali menyambar ke arahnya. Nenek dari Negeri Latanahsilam ini kebutkan lengan jubah sebelah kiri. Satu gelombang angin luar biasa deras menangkis dua pukulan sakti Naga Murka Menjebol Bumi yang dilepaskan Naga Kuning.

"Desss!"

"Desss!"

Naga Kuning keluarkan keluhan pendek. Meski dia berhasil meloloskan diri, namun tubuhnya terpental ke atas setinggi dua tombak, dadanya mendenyut sakit, aliran darahnya kacau balau. Tubuhnya kemudian terbanting ke tanah. Untuk sesaat lamanya anak ini terkapar tak bergerak. Tubuh luluh lantak, pemandangan gelap berkunang!

Sebaliknya Luhjahilio terhenyak amblas di tanah sedalam satu jengkal. Mulut kembang kempis susah bernafas. Dua tulang iganya patah. Darah meleleh dari mulutnya. Namun sungguh hebat nenek muka setan ini. Sesaat setelah menggapai-gapai dia berhasil keluar dari dalam lobang. Mata kanan guntal-gantil melotot. Begitu melihat Naga Kuning terkapar tak bergerak, niat hendak membunuh kembali berkobar dan memberi kekuatan. Dua kali bergerak dia sudah melompat ke hadapan Naga Kuning. Kaki kanannya menendang, yang di arah tepat ubun-ubun batok kepala si bocah. Sekali ini Naga Kuning benar-benar akan menemui kematian dengan kepala pecah. Kecuali kalau Naga Hantu Langit Ke Tujuh, ilmu kesaktian yang mendekam di dadanya memunculkan diri menolongnya. Tetapi hal ini mungkin tidak akan terjadi karena saat itu Naga Kuning sendiri berada dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan. Bahkan dia tidak tahu bahaya maut yang datang mengancamnya.

Sesaat lagi kepala Naga Kuning akan remuk dihantam tendangan Luhjahilio, tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat.

"Luhjahilio! Jangan kau bunuh anak itu!"

"Setan keparat! Siapa berani campur urusanku!" teriak Luhjahilio marah. Tanpa perduli dia teruskan tendangannya.

Saat itulah menerpa satu gelombang angin luar biasa kerasnya, membuat Luhjahilio terhuyung-huyung beberapa langkah lalu jatuh terduduk di tanah. Si nenek meraung keras, bukan karena kesakitan tapi karena marah besar.

"Makhluk kurang ajar! Siapa kau?!" bentak si nenek lalu terhuyung-huyung bangkit berdiri. Saat itu Naga Kuning mulai siuman dan berusaha tegak. Masih kurang Jelas, dia melihat satu sosok tinggi besar samar-samar berdiri di hadapannya.

*

* *7ORANG tinggi besar yang berdiri di hadapan Naga Kuning mengenakan jubah putih menjela tanah. Di atas kepalanya, bertengger sebuah songkok atau tudung tinggi dilapisi kain hitam. Bukan saja kepalanya yang tertutup kain hitam tapi sebagian wajahnya juga terlindung hingga sulit untuk dikenali.

"Makhluk jahanam bersongkok hitam! Siapa kau?!" teriak Luhjahilio marah. Kali ini sambil membentak dia melompat ke hadapan si tinggi besar. Tangan kanannya bergerak cepat luar biasa menyambar tudung di kepala orang. Naga Kuning sudah memastikan, tudung dan kain hitam yang menyembunyikan wajah orang berjubah putih pasti akan kena dijambret. Kepala dan wajah orang itu segera tersingkap.

Namun tenang saja, si tinggi besar undurkan kaki kanan satu langkah. Sambil merunduk dan jauhkan kepalanya ke belakang dia kebutkan lengan kanan jubah putihnya.

Luhjahilio bukan saja gagal menyingkap wajah orang, tapi dia sendiri terpental satu tombak dan hampir terjengkang di tanah kalau tidak lekas mengimbangi diri. Saat itulah si nenek kembali merasakan sakit dua tulang iganya yang patah akibat hantaman Naga Kuning. Luhjahilio tegak terbungkuk sambil pegangi dada, memandang geram dengan matanya yang cuma satu ke arah makhluk berjubah putih bertudung hitam.

"Luhjahilio..." si jubah putih menegur, "Siapa aku tidak penting. Lekas menyingkir dari sini. Serahkan bocah ini padaku!"

Rahang Luhjahilio menggembung. Si nenek mana mau pergi dari situ. Namun dia sadar kalau orang berjubah memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari dirinya. Maka sekedar mengalah nenek ini melesat ke satu cabang pohon, mendekam di sana memperhatikan apa yang bakal terjadi. Lebih dari itu dia ingin tahu ada urusan apa antara si jubah putih dengan Naga Kuning. Lalu juga ingin tahu siapa adanya si tinggi besar bersongkok hitam ini.

Seperti si nenek Luhjahilio, Naga Kuning juga tidak mengetahui siapa adanya orang berjubah di hadapannya saat itu. Tapi dia dapat mencium bahaya besar. Siapapun adanya adanya orang ini, agaknya dia membekal dendam kesumat jauh lebih besar terhadap dirinya dibanding dengan dendam kesumat yang bersarang dalam diri Luhjahilio.

"Anak setan!" si tinggi besar membentak. Suaranya membahana, menggetarkan tanah, membuat Naga Kuning tersentak.

"Bapak setan!" Naga Kuning tiba-tiba membalas, menyahuti bentakan orang.

Si tinggi besar menggeram. Tangan kanannya digerakkan. Naga Kuning berseru kaget. Di atas pohon Luhjahilio juga terkesiap. Tangan kanan yang bergerak itu mendadak berubah besar dan panjang. Belum sempat bergerak tahu-tahu pinggang Naga Kuning sudah dicekal lalu dicengkeram dengan keras. Si bocah keluarkan suara seperti mau muntah. Lidahnya terjulur. Isi perutnya seolah mau terbongkar keluar. "Anak setan! Kau dengar baik-baik! Isi perutmu akan kujebol keluar, lalu kusumpalkan ke mulutmu biar kau makan sendiri! Kecuali kau mau menyelesaikan satu perkara!"

"Per... perkara apa...?" tanya Naga Kuning dengan muka pucat, lidah terjulur dan perut seperti mau pecah. "A... aku tidak kenal siapa kau. Bagaimana mungkin ada perkara di antara kita?!" Diam-diam Naga Kuning segera keluarkan "Ilmu Ikan Paus Putih" untuk melicinkan tubuh agar bisa meloloskan diri.

Si tinggi besar bersongkok hitam kembali keluarkan suara menggeram. "Kau boleh keluarkan semua ilmu kesaktian yang kau miliki! Ilmu pelicin tubuhmu tidak mempan terhadap cekalanku! Kau boleh membuktikan!"

Si tinggi besar cengkeramkan lima jari tangan kanannya yang besar-besar. Naga Kuning mengeluh kesakitan. Cairan bening bercampur darah keluar dari mulutnya. Dia telah mengeluarkan ilmu kesaktian pelicin tubuh, tapi aneh kali ini dia tidak mampu melepaskan diri! Tidak pikir lebih panjang anak ini hantamkan tangan kanannya, ke atas. Yang diarahnya adalah dagu si tinggi besar. Yang dilancarkannya adalah pukulan "Naga Murka Merobek Langit."

Si tinggi besar tertawa mengekeh. Sekali tangan kirinya bergerak, lengan kanan Naga Kuning sudah berada dalam cekalannya. Anak ini mengeluh kesakitan. Cekalan lawan seperti cengkeraman besi yang hendak menghancurkan tulang-tulangnya. Tidak ada jalan lain, kalau orang memang hendak membunuhnya, harapannya hanya tinggal pada kemunculan "Naga Hantu Langit Ke Tujuh," makhluk jejadian berbentuk Naga Kuning yang menjadi pelindungnya dan berada dalam tubuhnya. Tetapi sang makhluk tidak keluar karena saat itu orang berjubah putih memang belum berniat untuk membunuhnya!

"Bapak setan! Katakan, perkara apa yang ada di antara kita.'!" Naga Kuning ajukan pertanyaan lalu berteriak. Dia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit cengkeraman lima jari raksasa yang menghunjam di perutnya.

Wajah yang terlindung dibalik kain hitam menggembung merah. Sebelum menjawab pertanyaan Naga Kuning, kembali dia cengkeramkan lima jari tangan kanannya ke pinggang si anak hingga Naga Kuning menggeliat melintir dan menjerit kesakitan.

"Anak setan! Kau pasang telingamu baik-baik! Aku akan katakan perkara apa yang ada di antara kita!" Si tinggi besar berjubah putih berucap. "Beberapa waktu lalu...."

Belum sempat orang ini menyelesaikan ucapannya tiba-tiba terdengar kuda meringkik. Di lain kejap satu bayangan hitam melesat di udara lalu bukkk! Satu hantaman keras melanda punggung orang berjubah putih. Bayangan hitam ini sesaat mengapung di udara lalu berkelebat, berbalik ke tempat dari arah mana tadi dia melesat. Kembali terdengar suara kuda meringkik.

Sosok si tinggi besar terlempar ke depan. Cekalannya pada pinggang Naga Kuning terlepas. Begitu lolos si bocah segera mencari tempat aman sambil memasang mata. Dia melengak kaget tapi juga gembira ketika melihat siapa yang barusan menolongnya. Orang itu duduk tak bergerak di atas punggung seekor kuda putih. Dia bukan lain nenek muka setan berambut kelabu berjubah hitam yang beberapa waktu lalu pernah ditemuinya di tepi Kali Lanang dan ingin dicarinya. Naga Kuning coba tersenyum dan lambaikan tangan pada si nenek. Tapi si nenek muka setan ini seolah tidak perduli. Pandangannya di arahkan pada orang tinggi besar yang kepala dan mukanya tertutup tudung berkain hitam.

"Makhluk yang sembunyikan muka di balik tudung! Perkara apa yang membuat kau sampai menyiksa anak itu?!" Si nenek muka setan bertanya.

Si tinggi besar menggeram. "Ada hubungan apa kau dengan anak setan itu hingga turun tangan menyelamatkannya?!"

Nenek berjubah hitam mendengus. "Kau menyebut bocah itu anak setan. Kau boleh memanggil aku dengan sebutan ibu setan! Hik... hik... hik!"

Orang bertudung hitam tertawa bergelak. "Rupanya kau ibu dari anak setan itu! Baik, jika perkara memang tidak bisa diselesaikan, tidak ada salahnya aku menghabisi anak dan ibu setan sekaligus! Kau ibunya setan biar aku singkirkan lebih dulu!"

Si nenek balas gelak orang dengan tawa panjang. "Puluhan tahun malang melintang di tanah Jawa. Baru hari ini bertemu tikus comberan tak dikenal berujud makhluk berjubah putih bertudung hitam sepertimu! Harap kau suka memperkenalkan diri siapa kau adanya sebelum nyawamu kukirim ke akhirat!"

"Nenek muka setan! Kalau kau memang tahu seluk beluk akhirat, silahkan nanti tanya sendiri pada penjaga akhirat siapa aku adanya! Sekarang biar tubuhmu kuremukkan lebih dulu!"

Habis berkata begitu si jubah putih gerakkan tangan kanannya. Seperti tadi tangan itu mendadak sontak berubah besar dan panjang, melesat ke arah pinggang si nenek yang masih berada di atas punggung kuda putih."Ilmu tipuan iblis tidak laku di hadapanku!" seru si nenek muka setan. Lalu tangan kirinya dikibaskan ke samping.

"Bukkk!"

"Breett"

Dua tangan bentrokan keras di udara disertai suara robeknya pakaian.

Orang berjubah putih terpental lima langkah. Tubuh terbungkuk, muka di balik tudung hitam mengerenyit menahan sakit dan mata membelalak ketika melihat bagaimana ujung lengan jubahnya sebelah kanan robek besar akibat sambaran kuku-kuku jari nenek muka setan. Dua robekan kecil jubah putihnya masih menyangkut di ujung-ujung kuku tangan kanan nenek muka setan.

Dari balik robekan ujung lengan yang menyingkapkan tangannya dia melihat bagaimana daging dan kulit lengannya menggembung bengkak berwarna hitam kebiruan.

Di atas pohon Luhjahilio yang menyaksikan kejadian itu sempat terkesiap. Dia tidak menyangka kalau nenek muka setan di bawah sana memiliki tenaga dalam begitu tinggi. Kalau si tudung hitam saja bisa dibuatnya men-tal berarti dirinya tidak ada arti apa-apa jika sampai berhadapan dengan nenek itu. Niatnya untuk mengetahui perkara yang menyangkut si tudung hitam dan anak bernama Naga Kuning serta keinginannya mengetahui siapa adanya orang tinggi besar bertudung hitam itu terpaksa ditunda dulu. Yang penting lebih baik dia cari selamat. Karenanya sebelum terjadi apa-apa Luhjahilio segera saja melompat dari cabang pohon tempatnya mendekam ke cabang pohon di sampingnya lalu lenyap dalam kegelapan malam. Si nenek berjubah hitam walau sempat terjajar dua langkah namun masih bisa keluarkan tawa mengekeh.

"Makhluk bersongkok hitam! Sayang sekali, aku tidak berkesempatan menemui malaikat di akhirat untuk menanyakan siapa dirimu adanya. Biar kau saja yang mewakili aku, berangkat duluan ke akhirat!"

Habis berkata begitu nenek muka setan yang sampai saat itu masih tetap duduk di atas punggung kuda putihnya jentikkan lima jari tangannya. Dari ujung-ujung kukunya yang panjang runcing memancar lima larik sinar hitam menggidikkan.

"Setan tua! Jangan sonbong! Siapa takutkan dirimu!" teriak orang bersongkok hitam. Dia cepat gerakkan tangan kanan. Dari telapak tangan kanannya melesat keluar satu cahaya, bergulung besar lalu memecah menjadi tujuh. Dua menyambar ke arah kepala si nenek, lima menghantam ke jurusan badan.

"Hebat!" teriak nenek muka setan. Seolah memuji tapi sebenarnya tidak karena saat itu juga dia melompat ke atas, berdiri di punggung kuda dan putar pergelangan tangan kanannya. Lima sinar hitam yang menyembur dari kuku-kuku jarinya berputar demikian rupa, langsung menyambar tujuh larik sinar putih serangan lawan.

"Bummm! Bummm! Bummmm!"

Tiga letusan keras menggelegar, menggoncang udara malam. Orang tinggi besar keluarkan seruan keras, cepat-cepat melompat mundur sambil dua tangannya dipergunakan untuk memadamkan api yang berkobar membakar jubah putihnya di tiga bagian!

Nenek muka setan walau mendelik tapi tidak tampakkan wajah kaget apalagi takut ketika melihat bagaimana ujung lengan jubah sebelah kiri telah berubah menjadi bubuk hitam alias hangus!

"Nenek celaka ini! Aku tidak bisa menandinginya! Lebih baik mengurut dada bersabar diri..." membatin orang tinggi besar. Dia lalu berpaling pada Naga Kuning. "Anak Setan! Hari ini kau selamat karena ada ibu setan menolongmu! Tapi kau tak akan kubiarkan lama! Aku akan muncul mencarimu kembali!"

Habis berkata begitu orang ini serta merta berkelebat hendak tinggalkan tempat itu. Namun nenek berkuda putih cepat menghadang. Naga Kuning tak tinggal diam. Anak ini segera pula melompat ke hadapan si tinggi besar. Melihat gelagat tidak baik orang ini cepat mengambil sebuah benda yang disembunyikan di balik songkok hitamnya lalu dibantingkan ke tanah. Terdengar satu letusan keras menusuk telinga disusul menggebubunya asap hitam pekat menutupi pemandangan.

"Setan alas! Kau mau lari kemana!" terdengar bentakan nenek muka setan. Dia menghantam dengan tangan kanan. Tapi terlambat.

Ketika asap hitam surut dan lenyap dan udara terang kembali. Naga Kuning terkejut. Bukan saja si tinggi besar berjubah putih tak ada lagi di tempat itu, tetapi si nenek muka setan juga ikut lenyap bersama kuda putihnya!

"Nenek muka setan itu, dia barusan menolongku.

Lantas mengapa melenyapkan diri begitu saja? Dia seperti tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Tapi apa itu sebab sebenarnya dia menghilang? Mungkin dia tidak ingin menemuiku." Naga Kuning merenung cukup lama. Namun tetap saja dia tidak bisa memecahkan teka-teki keanehan nenek yang telah menolongnya. "Aku harus mencarinya. Untuk sementara aku terpaksa menunda mencari Wiro dan Setan Ngompol."

*

* *8BUKIT kecil itu terletak tak jauh dari Karangmojo. Di bawah siraman sinar rembulan empat belas hari puncak bukit yang ditumbuhi pohon teh tampak indah. Di sebuah gubuk berbentuk dangau, dua orang asyik bercakap-cakap.

"Wiro, kalau tidak mendengar kau sendiri yang bercerita, rasanya sulit dipercaya bagaimana kau dan teman-temanmu terpesat ke negeri seribu dua ratus tahun silam."

"Memang begitu adanya. Nyata tapi sukar dipercaya. Itu sebabnya, ketika Setan Ngompol ditangkap, dia tidak mungkin menceritakan bahwa dirinya terlempar dari langit, jatuh masuk ke dalam sumur sumber air mandi raja. Siapa yang mau percaya? Masih untung kuasa Tuhan bisa mengembalikan kami ke tanah Jawa ini. Kalau tidak...." Wiro garuk-garuk kepala. "Aku sudah bertemu dengan Setan Ngompol. Bagaimana kejadiannya dengan anak konyol bernama Naga Kuning belum kuketahui. Aku perlu menyelidik, apakah dia ikut terlempar kembali ke tanah Jawa. Kalau sampai tertinggal di Latanah silam, kasihan anak itu."

"Apakah kau tidak berniat mencari beberapa orang yang telah lama berpisah denganmu?" Bunga bertanya.

"Siapa?"

"Ada empat orang. Cantik-cantik...."

Wiro tertawa karena sudah dapat menduga kemana maksud pertanyaan Bunga. Apalagi sebelumnya gadis alam roh itu telah menceritakan bagaimana Anggini, Ratu Duyung, Puti Andini, dan Bidadari Angin Timur berusaha mencarinya, sampai-sampai menemukan dua makam setan. Semua gara-gara ada berita bahwa dirinya telah meninggal dunia setahun silam. Kemungkinan di kubur di salah satu dari tiga tempat yakni Pekuburan Banyubiru, dekat Candi Kopeng dan terakhir Puncak Gunung Gede. Empat gadis cantik telah menyelidik di dua tempat pertama, yang mereka temukan ternyata adalah makam-makam setan. Jenazah atau tulang belulang Wiro tidak ditemukan. Tentu saja karena sampai saat itu dia masih hidup, masih bernafas.

"Apa yang kau pikirkan Wiro?" bertanya Bunga.



"Empat gadis yang kau sebutkan tadi..." jawab Pendekar 212 Wiro Sableng. "Mereka sahabat-sahabat baikku." kata Wiro polos. "Aku banyak berhutang budi bahkan nyawa terhadap mereka. Seperti diriku, mereka adalah manusia-manusia makhluk Tuhan yang tidak lepas dari berbagai perasaan. Mendengar ceritamu, aku bertanya-tanya siapa adanya orang yang mempermainkan mereka dengan membuat makam-makam setan itu...."

Bunga tersenyum. "Kau pandai mengalihkan pembicaraan."

Wiro pegang lengan gadis itu. "Terus terang, aku khawatir akan keselamatan mereka. Dua kali mereka dijebak dengan makam setan. Pada makam ke tiga jangan-jangan muncul bahaya tidak terduga...."

"Kau mungkin bisa menduga siapa biang racun yang melakukan semua itu?" tanya Bunga.

"Aku pasti akan menyelidik. Saat ini memang ada beberapa dugaan. Kau pernah mendengar seorang pemuda bernama Bagus Srubud?"

Bunga menggeleng. "Siapa dia?"

"Pemuda keji yang memperdaya Kinasih, istri mendiang juru ukir Keraton. Mungkin nama itu palsu belaka...." Wiro menggaruk kepala lalu melanjutkan. "Kau tahu, di dunia ini mungkin aku satu-satunya manusia yang tidak disukai oleh banyak orang. Aku banyak musuh."

"Kau bicara seolah menyesali diri, Wiro. Padahal kenyataan yang kau hadapi adalah tantangan rimba persilatan, yang harus dihadapi oleh setiap pendekar pembela kebenaran."

Wiro memandang ke langit, menatap ke arah rembulan bundar bercahaya terang sejuk. "Kalau saja orang tuaku tidak menemui ajal di tangan Ranaweleng, aku tidak akan pernah diambil murid oleh Eyang Sinto Gendeng, aku tidak akan menjadi pendekar geblek macam ini...."

"Jangan bicara seperti itu Wiro. Segala sesuatu dalam kehidupan kita, sejak kita dilahirkan, malah sejak kita masih berbentuk janin, keadaan dan takdir diri kita telah ditentukan oleh Gusti Allah. Mengumpat diri sendiri sama saja dengan mengumpat semua kehendak Allah...."

"Aku paling takut pada Tuhan," kata Wiro. "Tapi mengapa aku kebagian segala macam hal yang sulit-sulit, penuh tantangan, darah dan nyawa...."

Bunga usap kepala Pendekar 212 lalu berkata..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.158.214.111
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia