nomor1.com
  Home | Multi-Post | Web Hosting | Brainwave | Inspiration Ref: iklanda321  
 
Kumpulan Cerita Inspirasi & Motivasi

    Mikhail dan Keluarga Simon

    Dongeng Rakyat Rusia

    Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena.

    Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

    Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Kata Matrena pada suaminya, "Simon, tagihlah hutang orang-orang yang tempo hari kita buatkan sepatu. Siapa tahu mereka kini punya uang."

    Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi sungguh sial, tak satu pun yang membayar. Hanya ada seorang janda yang memberinya 20 kopek (kopek uang receh Rusia). Dengan sedih Simon pulang. "Batallah rencana kami mempunyai mantel baru", pikirnya. Di warung, Simon minum vodka untuk menghangatkan badannya yang kedinginan dengan uang 20 kopek tadi.

    Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan. Simon ketakutan, "Siapakah dia ? Setankah ? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

    Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU ? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA ?" Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar.

    Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel terluarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan- pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

    Sesampainya di rumah, Matrena sudah menunggu. Ia marah sekali karena melihat Simon tidak membawa mantel baru, apalagi ketika dilihatnya Simon membawa seorang pria asing. Dia nyerocos marah-marah, "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya ? Astaga ! Kau bau vodka. Teganya kau mabuk menghabiskan uang yang seharusnya kaubelikan mantel !!"

    Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu penjelasanku. Aku tidak mabuk, aku hanya minum vodka sedikit untuk mengusir hawa dingin. Adapun orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang". "Bohong !! Aku tak percaya.... sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu ! Malam ini aku tak akan menyiapkan makan malam. Cari saja makan sendiri ! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala !! Usir saja dia !!"

    "Astaga, Matrena ! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit cinta kasih Tuhan ??" Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba.

    Tanpa mengomel lagi disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu ? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja? Apakah seseorang telah merampokmu ?"

    Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."

    "Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu", demikian Simon menjawab. "Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."

    "Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".

    Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu ? Kita ini miskin. Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan ? Kita bisa terlibat kesulitan", Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon. Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada penyelenggaraan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini. Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".

    Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

    Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari dari desa-desa yang penduduknya kaya. Usaha Simon menjadi maju. Ia tidak lagi miskin.

    Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini. Namun mereka juga terus bertanya- tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

    Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, kudengar kau dan pembantumu pandai membuat sepatu. Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan !! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati; ini kulit yang sangat mahal!"

    Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Orang kaya yang melihatnya membentak, "Hei, tukang sepatu, awas jangan mengejekku, ya !! Bukan hanya majikanmu yang kumasukkan penjara kalau sepatuku jebol sebelum setahun. Kau juga takkan lolos dariku !!"

    Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu. Setelah harga disepakati, orang itu pun pergi pulang. Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Biar aku mengerjakan pesanan lain saja. Kau berkonsentrasi menyelesaikan pesanan ini. Hati- hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."

    Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kaubuat sepatu anak-anak ? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar ? Aduh, bagaimana ini ? Celaka, kita bisa masuk penjara karena....", belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja". "Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

    Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

    Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang. Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu. Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang ?" Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini. Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."

    "Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", Matrena berkata.

    Mendengar itu, Mikhail tidak lagi gelisah. Ia berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya.

    Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."

    Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini ? Mengapa selama di sini kau hanya tersenyum tiga kali, dan mengapa tubuhmu sekarang bercahaya ?" Mikhail menjawab sambil terus tersenyum,

    "Sebenarnya aku adalah salah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu meskipun toh akhirnya kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggapNya kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, 'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:

    PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA.

    KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA.

    KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA.

    "Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut di belakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, 'Tidakkah di hatimu ada sedikit cinta kasih Tuhan??' Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama: YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH CINTA KASIH TUHAN"

    "Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua: MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"

    "Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Aku menyangsikan apakah si kembar dapat hidup tanpa ayah ibunya padahal mereka masih bayi. Tapi ternyata ada seorang ibu lain yang mau merawat dan mengasihi mereka seperti anak kandung sendiri. Tadi Matrena berkata, 'Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya'.

    Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga: MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA. Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Kini aku harus kembali. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup."

    Seiring dengan itu, tubuh Mikhail terangkat dan tubuhnya makin bercahaya. Mikhail kembali ke surga.





    KIRIM/POST KE WALL ANDA ATAU TEMAN-TEMAN:

    Untuk memilih beberapa teman sekaligus, tekan tombol CTRL
    sambil menekan tombol kanan mouse.
    Jumlah yang dipilih:
    0 orang.

 


FREE LOGIN
Via Facebook

Kunjungan Terkini:
Benz Bridgestones
SILVER
Nizar Raden Mangku I
Raden Mangku Igamo
EMERALD
Deni Yanto
www.sandrawisata.co.
EMERALD
Dirk Abraham
SILVER
Mamank Bhoenksoe
SILVER
Prasetyo Budi
nomor1.com/praseb478
DIAMOND
Euro VS Dollar
Blog/Website Anda
GOLD
Yeni Rianto
http://www.facebook.
PLATINUM
Dheawi Marpaung
SILVER
Taufik Hidayat
pisangkipas.wordpres
PLATINUM
Faidza Ahmad Faudzi
BlogEfauzi.blogspot.
GOLD
Aprisal Nansar
SILVER
Agus Supriyanto
SILVER
Meiliana Hosana
SILVER
Warjo Yunus
waryun109
GOLD
Yan Abdullah
GOLDEN GATE
GOLD
Zyzy Wahyuni
SILVER
Marodhenk Dhenk
SILVER
Erlan Oktriandi
Website / Blog
GOLD
Gomes Marthen
Blog
GOLD
Mega Megi Shopp
SILVER
Cahya Aca
SILVER
Mora Tumanggor P
' PENABUR UANG.COM '
GOLD
Moxx Herlambang
www.nomor1.com/moxh9
EMERALD
Av Ve
Website replika prib
TRIPLE DIAMOND
Faiz Klink
SILVER
Achmad Farrozy
SILVER
Edy Franjaya
Blog/Website Anda
GOLD
Bunda Ikram
SILVER
Anita Sasuwuhe
SILVER
Ritma Ratri
http://5bintang.biz/
DIAMOND
Deo Supriyanto
SILVER
Mbah Juan
mbahjua333
GOLD
WinZhu MizzHuann
SILVER
Samsul Maarif
http://www.fx7pro.co
EMERALD
Yonas Muanley Yonas
Blog/Website Anda
GOLD
Abdul Karim
http://www.nomor1.co
GOLD
Yusrizal Marhalim
SILVER
Renald SoejatiKiu
SILVER
Syam Sulbahri
SILVER
Galih Syifa'ulinnas
SILVER
Yuniardi Permana Jsi
JSS Tripler
GOLD
Philemon Ginting
SILVER
Klara Elia Queenizme
SILVER
Selfi Nurhendrayani
SILVER
Adisyahputra Solin
SILVER
Tori Cool
SILVER
Cicilia Wong
SILVER
Sofyan Communicatyo
SILVER
Mannen Simanjuntak
Blog/Website Anda
GOLD
Asnawi Dahlan
http://www.nomor1.co
DIAMOND
Fian TheKing
SILVER
Ernika Jenna Simanju
SILVER
Bujangkelana Aan
nomor1.com/bujaa5689
GOLD
Matsyah Jak Ye
SILVER
Beautè De È-Store
SILVER
Herry Johanes
SILVER
Nafisah Albarokah
SILVER
Wie Jayanto Tri
jabonjawa.com
GOLD
Hendri Dunant Cobain
http://henc1524.blog
GOLD
Indra Yuana Yan
nomor1.com/indrya401
GOLD
Uzy Wantz
SILVER
Qisfi Wirhan Qw
SILVER
Sofianto Nababan
SILVER
Moehith Masykoer
SILVER
Zelly Sabrina Renata
SILVER
Ade Suhaemi Grf
SILVER
Yantu Yasa
yantyas983
GOLD
Sun Sun Munggaran
SILVER
Syams Doank
SILVER
Jhon Louis
SILVER
Lenny Kristina
SILVER
Seinarui Josei
SILVER
Didik Dika Cell
Blog/Website Anda
GOLD
Agus Sholeh
http://www.agush4291
GOLD
Ki Zulkifli Putra Ka
SILVER
Imam Juansyah
nomor1.com/imajua842
GOLD
John Al Tanjunge
Blog/www.nomor 1.com
GOLD
عدي بخاري ت
http://www.adibukhar
GOLD
KiKi Brh
Kikibr
PLATINUM
Anna Wijaya
SILVER
Adi Surya Abdillah
SILVER
Nahidlul Afkar
Blog/Website Anda
GOLD
Fery Maulana
SILVER
ギン セイシロ
SILVER
Diwan Sasa
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Syamsul Arif Mazza
KOPI BCA
DIAMOND
Subur Wijaya Rafael
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Arvan Naval
SILVER
Fatur Rahman Az
SILVER
MeeLa V AzLah
Jamila Mustika
GOLD
Deddy Nout Deadd
SILVER
Habib Gandi Mana
SILVER
Yohan Wenas
Website / Blog
GOLD
Maria Pahlewi Suryan
nomor1.com/marisur38
PLATINUM
Addy Gayo
www.nomor1.com/addga
PLATINUM
Abah Tito Chicarito
SILVER
Sukhri Atjeh
SILVER
Romi Lion
SILVER
Dasa Nugraha
Blog/Website Anda
GOLD
Supriatna Apep
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Go Andy
SILVER
Doni Haryono
SILVER
Alex Eka Putra
Blog/Website Anda
GOLD
Amos Neolaka
Blog/Website Anda
GOLD
Eman Felani
GREAT SUCCES
DIAMOND
Mettha Wati
SILVER
Dhea Febryanni
SILVER
Hasanudin Amien
SILVER
Ahmad Henriu Deadi
Blog//www.nomor1.com
EMERALD
Nelly Sulvina
SILVER
Alive Continous
SILVER
Riki Murod
SILVER
Salam Sukses
Rahasia Website Pemu
PLATINUM
Askari Sinatra
nomor1.com/askarsin2
GOLD
Nurazmina Wahdiyani
Blog/Website Anda
GOLD
Visit-Me Zaenulcom
ad3cash
DIAMOND
Ryan Oka Gepe
SILVER
Tati Sri Hartati
SILVER
Gerson Pandie
SILVER
Azwar Asyek
Blog/Website Anda
PLATINUM
Elizabeth Kindra
SILVER
Raisyaina Syarefah
Blog/Website Anda
GOLD
Atien Lubis
SILVER
Jamilaton Niesa
SILVER
Angela Laurentia
SILVER
Arl Be Perfect
Snack Super Kaya
GOLD
Jessie Mannuela
SILVER
Wiwin Win
SILVER
Andy Wen D-Gamersz
SILVER
Liber Sibarani
SILVER
Tri Roni Marpaung
SILVER
Syahrial Anak Medan
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Desy N Koto
SILVER
Bob Ardian
Blog/Website Anda
DIAMOND
Albert Wae
SILVER
Lindung Harianja
SILVER
Satusatulima Apee
SILVER
Midori Lumi
SILVER
Karyanto Hubu
Blog/Website Anda
PLATINUM
Lusy Noviani Lo
SILVER
Denie Bule
Blog/Website Anda
GOLD
Ramli Panji
SILVER
Rilan Manullang
SILVER
Zen Wenkzie Menkze
Blog/Website Anda
GOLD
Lio No
SILVER
Hadi Widjaya
aryozbiz.web.id
GOLD
Rully Salahudin
SILVER
Yuli Sulistio
SILVER
Dinar Renata
SILVER
Julius Budi Hartono
SILVER
 
© www.Nomor1.com - email: admin@nomor1.com   Terms of Use   Privacy Policy