nomor1.com
  Home | Multi-Post | Web Hosting | Brainwave | Inspiration Ref: iklanda321  
 
Kumpulan Cerita Inspirasi & Motivasi

    Tukang Arloji - Sebuah Cerita Dari Jerman

    Di Jerman tinggal seorang tukang Arloji. Namanya Herman Josep. Dia tinggal di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu ada sebuah bangku kerja, sebuah lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat piring dan gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya. Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak barang berharga lain di kamarnya.

    Di jendela kaca kamar itu Herman menaruh sebuah jam dinding paling untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat.Herman adalah seorang tukang arloji yang miskin. Pakaiannya compang-camping.

    Tetapi dia baik hati. Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak Herman biasa diminta memperbaiki. Herman tak pernah minta satu sen pun untuk itu. "Belilah makanan yang enak untuk anakmu atau tabunglah uang itu untuk hari Natal." Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

    Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke kathedral dan meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus. Setiap orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada

    Yesus. Orang-orang bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepadaNya Ia akan mengulurkan tanganNya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu.

    Tentu saja ini legenda. Belum pernah terjadi Bayi Yesus dalam pelukan Maria mengulurkan tangan menerima bingkisan Natal untukNya. Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan yang paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai.

    Anak-anak juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik pada Yesus di Hari Natal. Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan tangan menerima pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan pergi ke Gereja untuk berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang terindah. Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk berbakti dan menonton. Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: "Kau tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal buat Yesus?" Pernah satu kali panitia Natal bertanya: "Herman! Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari kau saja selalu bawa." Herman menjawab:"Tunggulah, satu ketika saya akan bawa bingkisan saya."

    Tapi sedihnya, tukang arloji ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya dijual dengan harga murah. Kadang-kadang ia memberikan gratis pada orang yang benar-benar perlu. Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia

    bekerja untuk bingkisan natal itu. Tidak satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan

    tetangganya. Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude berumur 31 tahun bingkisan itu belum juga selesai. Herman membuat sebuah jam dinding. Mungkin yang paling indah dan belum pernah ada.

    Setiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dst diukir dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu. Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus membantu memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadian Natal itu membuat dia tidak punya cukup waktu untuk buat arloji dan menjualnya. Kadang Herman tidur dengan perut kosong.

    Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya makin tanbah cantik. Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di samping palungan yang didalamnya terbaring bayi Yesus. Di keliling palungan itu ada Yusuf serta tiga

    orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat. Kalau jam dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan Yesus dan terdengar lagu Gloria in excelsis Deo.

    "Lihat ini!" kata Herman pada Trude. "Ini berarti bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pada hari Minggu atau hari raya tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita setiap detik."

    Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas. Ia menaruh benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-orang yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah menduga bahwa ini pasti

    bingkisan Natal dari Herman.

    Hari Natal sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil pakaiannya yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu. Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia memberikan uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di depan rumahnya.

    Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya. Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel itu. Waktu dia buka pintu

    Trude masuk sambil menangis. "Ada apa?, tanyaHerman"

    "Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS. Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya pakai untuk bayar dokter.

    Anak-anak sudah menunggu hadiah Natal. Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?"

    Herman tersenyum. "Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk beli mainan anak-anak. Pulanglah."

    Herman ambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam tangan yang unik. Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka tidak berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pegawai bilang arloji itu kuno. Akhirnya

    ia pergi ke rumah walikota. "Tuan, saya butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Kalau tuan mau ambil arloji ini."

    Pak walikota tertawa. "Saya mau beli arloji tetapi bukan yang ini. Saya mau jam dindng yang ada dijendela kaca rumahmu. Berapapun harganya saya siap." "Tidak mungkin tuan. Benda itu tidak saya jual." "Apa? Bagi saya

    semua mungkin. Pergilah sekarang. Satu jam lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat uang 1000 dolar."

    "Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. "Tidak mungkin! Saya mau jual semua yang saya punya. Tapi jam dinding itu tidak. Itu untuk Yesus." Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali. Baru saja Herman masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak agar pintu dibuka. Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1000 dolar diberikan pada Herman.

    Tetapi Herman tidak menerima uang itu. "Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu," teriak Herman sedih.

    Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang tadi. Pada waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh manusia. Tiap orang membawa bingkisan di tangan. "Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi" kata Herman sedih. "Saya akan buat lagi satu yang lebih cantik." Herman bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam lemari. Ia tersenyum dan meraih apel itu. "Inilah satu-satunya yang saya punya, makanan saya pada hari natal.

    Saya akan berikan ini pada Yesus. Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong." Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung

    Maria memangku bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal. Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu.

    Rupanya pak walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus. Herman masuk. Ia melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas.

    "Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual.

    Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!" Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk. Ia tidak

    berani memandang orang sekeliling. Matanya ditutup Tangan yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan. Jarak altar masih jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke altar. Sekarang kakinya

    menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan apa-apa. Ada tujuh anak tangga. "Dapatkah saya sampai ke altar itu?" Herman mulai menghitung. Satu! Dua!

    Tiga! Empat! lalu ia terantuk dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata: "memalukan!"

    Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: "Huuuu.!"

    Herman naik setapak lagi. Tangga keenam. Comelan dan ejekan orang-orang berhenti.

    Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang hadir.

    "Mujizat! Sebuah mujizat!" Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan tangannya dan mengucapkan doa.

    Herman, tukang arloji yang miskin ini menaiki anak tangga yang terakhir. Ia mengangkat wajahnya. Dengan heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya.

    Air mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang paling indah dalam hidupnya.





    KIRIM/POST KE WALL ANDA ATAU TEMAN-TEMAN:

    Untuk memilih beberapa teman sekaligus, tekan tombol CTRL
    sambil menekan tombol kanan mouse.
    Jumlah yang dipilih:
    0 orang.

 


FREE LOGIN
Via Facebook

Kunjungan Terkini:
Mora Tumanggor P
' PENABUR UANG.COM '
GOLD
Nymbrot Juer
SILVER
Ameq Keag
SILVER
Shelly Christie
SILVER
Andrriie Cchyank Nda
Blog/Website Anda
GOLD
Brigitta Eleonora
SILVER
Imam Saikhoni
SILVER
Alex Thu SG
SILVER
Ismail Karim
SILVER
Dimaz W Sejati
SILVER
Si Popon
SILVER
Abdul Karim
http://www.nomor1.co
GOLD
Kayos Suryapranata
SILVER
Mancia Gamalama
SILVER
Arl Be Perfect
Snack Super Kaya
GOLD
Eman Felani
GREAT SUCCES
DIAMOND
Didik Dika Cell
Blog/Website Anda
GOLD
Salam Sukses
Rahasia Website Pemu
PLATINUM
Ainul Arifin
( Edit Website/Blog Anda )
DIAMOND
Indra Yuana Yan
nomor1.com/indrya401
GOLD
Shobeq Van Houten
Blog/Website Anda
EMERALD
Visit-Me Zaenulcom
ad3cash
DIAMOND
Nizar Raden Mangku I
Raden Mangku Igamo
EMERALD
Dody Simson
SILVER
Imam Zuhdi
H. IMAM ZUHDI
DOUBLE DIAMOND
Azharafif Syahbani
SILVER
Ferik Phoenix
SILVER
KiKi Brh
Kikibr
PLATINUM
Rudy Rudy Se
SILVER
Rheinhold Jp Lengkon
Blog/Website Anda
GOLD
John Al Tanjunge
Blog/www.nomor 1.com
GOLD
Dicky Afriadi
SILVER
Mang Asep
Saung Mang Asep
GOLD
Soenoto Singo Dimedj
nomor1.com/soenod321
GOLD
Syafruddin Syaf
( Edit Website/Blog Anda )
DIAMOND
Denie Bule
Blog/Website Anda
GOLD
Zaneta Zhafrah
SILVER
Amos Neolaka
Blog/Website Anda
GOLD
Asnawi Dahlan
http://www.nomor1.co
DIAMOND
Raflea Doank
SILVER
Maria Pahlewi Suryan
nomor1.com/marisur38
PLATINUM
Poetra Key
SILVER
KhamDani Aquaculturi
SILVER
Khumaini Jailani
SILVER
Zen Wenkzie Menkze
Blog/Website Anda
GOLD
Alexander Nafa
SILVER
Richard Wu
SILVER
Elza Xu
SILVER
Arsy Meraih Mimpi
SILVER
Igeth Mogan Sie
SILVER
Peri Hia
SILVER
Sekihiro Takayuki An
SILVER
Usman Darussalam
nomor1.com/usmadar36
GOLD
Muzakkir Ayman
SILVER
Ariesta Toulouz
SILVER
Nahdah Hn
Blog/Website Anda
GOLD
Yeni Ghea
SILVER
Marta Junia
SILVER
Taufik Hidayat
pisangkipas.wordpres
PLATINUM
Erlan Oktriandi
Website / Blog
GOLD
Sara Sainfalak
SILVER
Aryo Nich
SILVER
Matius Patton
SILVER
Karyanto Hubu
Blog/Website Anda
PLATINUM
Yuliana DianTirtasar
SILVER
Siti Manilet
Blog/Website Anda
GOLD
Andri Axl Widjaya
SILVER
Nur Hayaty
SILVER
Adventus Batara
SILVER
Hans Kalangit
Blog/Website Anda
EMERALD
Meyke Sembeng
SILVER
Napit Napitupulu
nomor1/napin1243
GOLD
Eldrick Leonard
SILVER
Ferdian Syah
SILVER
Besler Pasaribu
SILVER
Munawi van Muneeoow
SILVER
Muhammad Rusdi Aries
SILVER
Nur Laila Dengo
SILVER
Warjo Yunus
waryun109
GOLD
Timothy Rssara
www.nomor1.com/timrs
GOLD
Redemptus Soekandar
SILVER
Suarno Casmana
Blog/Website Anda
TRIPLE DIAMOND
Maskuachmad JP
SILVER
Pekanbaru BelanjaNet
( Edit Website/Blog Anda )
DIAMOND
Agustine Panca
( Edit Website/Blog Anda )
DIAMOND
Lisa Ya Saya
SILVER
Thin Thin Tan
SILVER
Thalia Cantiq
( Edit Website/Blog Anda )
DIAMOND
Tri Haryono
SILVER
Dev Yan
nomor1.com/devyan530
GOLD
Cmt Ayah Zauzza
SILVER
Santo Cupe Hiroshima
SILVER
Hendra Manullang Jr
SILVER
David Muchtar
SILVER
Alex Eka Putra
Blog/Website Anda
GOLD
Sofidahri Nst
Blog/Website Anda
PLATINUM
Yudi Masjud
SILVER
Agus Sholeh
http://www.agush4291
GOLD
Nasirudin Udin
Blog/Website Anda
GOLD
Mangihut Martin Turn
SILVER
Faidza Ahmad Faudzi
BlogEfauzi.blogspot.
GOLD
Endah Nathalia
SILVER
Av Ve
Website replika prib
TRIPLE DIAMOND
Janks Doank
SILVER
Herry Haryadi
SILVER
Gladiez Ingn Dcinta
SILVER
Lijanti Veronica Pur
SILVER
Hakim Sargi
SILVER
Sulli Se
SILVER
Eko Amboro Putro
nomor1.com/ekop7409
GOLD
Benny Suhanda
SILVER
Sanusi Dbs
SILVER
Dewi Amaliyah Saif
SILVER
Sarosih Refreshing L
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Prasetyo Budi
nomor1.com/praseb478
DIAMOND
Yan Abdullah
GOLDEN GATE
GOLD
Yohan Wenas
Website / Blog
GOLD
Victor Rao
SILVER
Andris Masengi
SILVER
Nads Firdian
SILVER
Lestari Reza Widyast
SILVER
Kelinci Sonny
SILVER
Echa Kunemara
SILVER
Chi Noeldie
SILVER
Karolus Hera
Blog/Website Anda
GOLD
Ipvnkisme Cassanova
SILVER
Dhienzlupphwie Siibe
SILVER
Akhmad Sulasi
Kursus Wartawan Indo
GOLD
Jen Nie
SILVER
Leo Randa-Sebaztian
SILVER
Anto Indo Speedliner
( Edit Website/Blog Anda )
DIAMOND
Syamsul Arif Mazza
KOPI BCA
DIAMOND
Andi Saragih Garingg
SILVER
Wie Jayanto Tri
jabonjawa.com
GOLD
Jimmy Ricardo
SILVER
Otong Baud
SILVER
Andi Sukamto
Blog/Website Anda
GOLD
Nopen Cici'z
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Gomes Marthen
Blog
GOLD
Rio Delano Putra Sik
SILVER
Tri Narni
Blog/Website Anda
GOLD
Heddy Nellyana Sitor
SILVER
Ady Ijonk
SILVER
Arizal Muko
Blog/Website Anda
DIAMOND
Pandang Silalahi
SILVER
Rini Wiratni Hutagal
SILVER
Daiman Gig Michael
SILVER
A.m. Widjayanto
SILVER
Median Bangapadang
SILVER
Supriatna Apep
( Edit Website/Blog Anda )
GOLD
Dwi Susetyono
SILVER
Hartanto Lumban Tobi
SILVER
Jerry Mokalu
Blog/Website Anda
GOLD
Irawan Indra
SILVER
Nia Cellalumauitu
SILVER
Yandri Drims Moningk
SILVER
Putry Trysnasari
SILVER
Mohammad Shoiful Muc
SILVER
Zuli Rochim
SILVER
 
© www.Nomor1.com - email: admin@nomor1.com   Terms of Use   Privacy Policy