Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SUARA BERADUNYA PEDANG terdengar berkepanjangan di lereng bukit Cemoro Sewu padahal hari masih gelap dan udara mencucuk dingin. Binatang hutanpun menyingkir ketakutan. Karena yang terdengar bukan hanya suara beradunya senjata tajam itu namun juga ada bentakan - bentakan serta hentakan-hentakan kaki yang menggetarkan tanah.

Siapa yang pagi-pagi buta telah saling baku hantam seolah-olah tidak ada waktu menyelesaikan urusan di siang hari?

Di antara kerasnya suara pedang beradu tiba-tiba terdengar suara tawa mengekeh. Lalu ada orang yang bicara dalam kegelapan.

"Bagus! Bagus Wilani! Sepuluh jurus kau bisa bertahan, sepuluh jurus kau balas, mendesak!

Bagus! Ilmu pedangmu sudah cukup matang! Yang penting kini adalah berlatih terus!"

"Terima kasih untuk pujian itu kakek guru! Semua itu berkat gemblengan yang kakek guru berikan!"

Ternyata di lereng bukit Cemoro Sewu itu bukan terjadi perkelahian, melainkan seorang murid dan guru tengah berlatih ilmu pedang di gelap buta menjelang dini hari!

Sang guru adalah seorang kakek berambut putih panjang. Dia mengenakan pakaian berbentuk selempang seperti pakaian seorang resi dan berwarna hitam. Gerakan tangannya memutar pedang sebat sekali. Gerakan kakinya kukuh dan ringan. Sesekali pakaian hitamnya di bagian kaki nampak tersingkap. Astaga! Ternyata kakek yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi ini hanya mempunyai satu kaki kanan. Kaki kirinya buntung sebatas lutut.

Tapi tak kalah hebatnya sang murid yaitu seorang dara berpakaian serba biru, berambut hitam dikuncir. Meski seluruh pakaiannya basah kuyup tanda dia telah mengerahkan seluruh tenaga, gerakannya berkelebat gesit sekali. Putaran pedangnya mengeluarkan angin menderu-deru, gerakan kedua kakinya tak terduga sehingga setiap bacokan atau tusukan senjatanya sulit diduga.

"Bagus! Bagus! Sekarang aku ingin melihat kau menutup serangan terakhirmu dengan jurus Rembulan Mencukur Bintang. Lakukan!"

Mendengar ucapan sang guru, gadis baju biru bernama Wilani membentak keras. Lalu tubuhnya melesat ke udara setinggi dua tombak. Ujung pedang di tangan kanan menderu ke arah sebuah cabang pohon berdaun lebat. Terdengar suara merambas beberapa kejapan mata. Ketika si gadis melompat turun kembali kelihatanlah dalam gelap bagaimana seluruh daun di cabang itu telah gundul laksana dipangkas sedang ranting-ranting besarnya sedikitpun tak ada yang rusak.

Kakek kaki buntung tertawa gembira.

"Hebat! Luar biasa Wilani!"

"Terima kasih kakek guru!" sang dara menyahuti sambil bungkukkan tubuh.

"Sekarang aku ingin menguji kehebatan senjata rahasiamu! Siapkan kantong jarummu!"

"Saya sudah siap kakek...," kata Wilani pula sesaat kemudian.

"Lihat ke arahku!" kata si kakek sambil mengangkat tangan kanannya dekat-dekat ke kepalanya sampai setinggi daun telinga. Telapak tangan dan lima jari dikembangkan. Di antara jarijari tangan yang lima itu terselip empat buah daun kecil.

"Serang empat daun yang kujepit di antara jari-jari tangan!"

"Siap guru!"

"Tunggu dulu. Ada syaratnya!" kata si kakek pula.

"Empat helai daun itu harus tembus tetapi tidak selembarpun boleh lepas dari jepitan jariku.

Bagaimana? Sanggup?!"

"Akan saya coba kek!"

"Nah hantamlah! Tapi awas! Jangan mata atau hidung atau tanganku yang kau hantam!

Hik...hik...hik!"

Wilani menggerakkan tangan kanannya ke dalam kantong. Sesaat kemudian tangan itu keluar bersama empat buah jarum halus berwarna putih. Lalu tangan itu menghantam ke depan.

Terdengar suara berdesing dalam kegelapan malam. Empat jarum halus melesat tidak kelihatan. Si kakek menunggu lalu berseru.

"Hai! Hai! Sudahkah kau melemparkan senjata rahasiamu, Wilani?!"

"Sudah kek! Harap periksa keempat daun itu!"

Kakek kaki satu turunkan tangannya dan meneliti. Keempat daun kecil yang dijepitnya di antara jari-jari tangan kanannya ternyata sudah berlubang kecil di bagian tengahnya. Melihat hal ini kembali orang tua itu tertawa mengekeh.

"Hebat! Luar biasa! Kau memang muridku yang andal!"

"Terima kasih guru. Jangan keliwat memuji!" jawab sang murid tersipu. Waktu tersipu ini ada lesung pipit muncul di kedua pipinya.

"Sekarang ujian terakhir. Aku akan menggabung ilmu meringankan tubuhmu dengan kekuatan tenaga dalam serta kepekaan perasaanmu. Kau siap?!"

"Mohon petunjukmu dulu kek. Apa yang harus aku lakukan?"

"Hemm...," si kakek melompat-lompat ke arah sebuah batu belas langkah di sebelah kanan.

Lalu dia menunjuk ke cabang sebuah pohon setinggi tiga tombak di samping muridnya. "Kau melompatlah ke ujung cabang itu dengan punggung menghadap ke batu.

Putar tubuhmu tanpa membuat cabang bergoyang dan hantam batu ini sampai hancur!"

"Wah! Susah amat kek!"

"Kalau itu saja susah, berhenti jadi muridku!" jawab si orang tua itu sambil mencibir.

Sang dara garuk-garuk kepalanya, memandang pada si kakek dan bertanya. "Sekarang kek?"

"Ya sekarang tentu! Apa menunggu sampai malam Jum'at depan!"

Belum habis si kakek berucap, tubuh Wilani kelihatan melesat ke udara. Setengah jalan sebelum mencapai cabang pohon tubuh itu berputar sehingga kini punggungnya menghadap ke arah batu yang akan menjadi sasaran. Kaki kanan menyentuh ujung cabang pohon. Kejapan itu pula Wilani putar tubuhnya seraya hantamkan tangan kanan.

Wuutt!

Terdengar deru angina laksana membelah dinginnya malam. Lalu.

Byaar!

Batu hitam di bawah sana hancur berkeping-keping.

Meledak tawa si kakek buntung. Begitu muridnya melayang turun langsung dipeluknya.

"Kau benar-benar hebat Wilani. Aku tidak akan merasa khawatir melepasmu pergi...."

"Kek, kau tahu aku sebenarnya tak ingin pergi. Tak mau berpisah denganmu sampai kapanpun. Namun..... Jalan nasibku membuat semua jadi begini...."

Si kakek lepaskan pelukannya, dia membimbing muridnya duduk di sebatang tumbangan pohon sementara di sebelah timur langit perlahan-lahan tampak mulai terang.

"Jalan nasib manusia Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan. Kita manusia hanya bisa berusaha bagaimana agar bisa melaluinya pada jalan yang lurus dan benar. Pelajaran agama yang kuberikan padamu harus menjadi pegangan hidupmu sampai mati. Lakukan apa yang diperintah Gusti Allah, jauhkan apa yang dilarang-Nya. Tetapi ada satu hal muridku. Selama kedua kaki kita masih menginjak bumi selama itu pula pertanda bahwa kita ini masih hidup di dunia. Hidup di dunia dipengaruhi oleh dua hal. Yaitu kebaikan dan kejahatan. Dunia penuh dengan hasut dan fitnah. Penuh dengan setan-setan yang gentayangan. Setan-setan yang tidak kelihatan, yang berupa mahluk-mahluk halus, tidak perlu kau khawatirkan. Yang harus kau perhatikan justru setan-setan kasar berwujud manusia. Manusia mahluk paling terpuji. Tapi karena banyak akal maka manusia juga bisa menjadi mahluk keji. Contohnya itu manusia-manusia yang telah membunuh ayahmu secara keji. Mereka lebih jahat dari iblis! Lebih busuk dari Setan!"

"Orang-orang itulah yang akan aku cari kek!" terdengar suara Wilani agak tersendat.

Si kakek tarik nafas panjang. "Dendam adalah urusan dunia yang tidak pernah habis. Itu tandanya kita hidup di dunia. Membela keluarga, apalagi membela kehormatan dan ayah sendiri sama saja dengan melakukan perang sabil. Namun muridku.... Ketahuilah, di belakang setiap dendam dapat mengendalikannya. Karena itu Wilani, jika kau membalaskan sakit hati dendam kesumat pembunuhan atas diri ayahmu, lakukanlah dengan penuh perhitungan serta keadilan.

Usahakan agar kau jangan sampai membunuh orang-orang itu, kecuali jika tak ada jalan lain atau dalam keadaan sangat terpaksa. Kau dengar kata-kataku ini, Wilani?"

"Aku dengar kek dan akan kujadikan pegangan," jawab Wilani.

"Bagus! Setelah selesai sembahyang subuh kau boleh meninggalkan Cemoro Sewu ini..."

Wilani memeluk gurunya lalu berkata. "Kek, selama dua belas tahun aku tinggal bersamamu di bukit ini, banyak hal telah kupelajari darimu. Banyak hal telah kuketahui. Namun ada satu hal yang masih gelap bagiku."

"Ah..... Hal apakah ituuridku?" tanya si kakek sambil tersenyum-senyum karena diam-diam dia sudah dapat menduga apa yang bakal ditanyakan muridnya.

"Sampai saat ini aku tidak tahu siapa nama kakek...."

Orang tua berkaki buntung itu tertawa mengekeh.

"Nama....! Itu juga salah satu urusan manusia di dunia yang fana ini! Siapa namaku apakah ada artinya bagimu?"

"Tentu saja kek! Setiap manusia pasti punya nama," jawab Wilani.

"Tapi aku tidak," ujar si kakek pula. "Kau boleh memberi nama siapa atau apa saja. Itu tidak akan merubah diriku. Seorang tua bangka reot berkaki buntung dan akan tetap seperti itu! Hik... hik...hik!"

Wilani terdiam sesaat.

"Baiklah kalau kakek tidak mau memberi tahu nama...."

"Bukan tidak mau, karena memang dari kecil bahkan dari orok tidak ada yang memberi nama padaku! Kedua orang tuaku mati tenggelam ketika terjadi banjir bandang puluhan tahun lalu. Aku dihanyutkan banjir ke dalam sebuah rimba belantara. Hidup dan dibesarkan alam seorang diri.

Hanya berteman beberapa ekor monyet dan beberapa ekor biatang buas. Untung kemudian ada seorang pencari kayu yang menemukanku dan memungutku jadi anak. Ketika usia delapan tahun aku diserahkan pada seorang pandai. Tapi orang tua angkatku itu juga alpa. Mereka tidak memberi nama apapun padaku! Hik... hik.... hik!"

"Kalau begitu boleh aku mencarikan nama untuk kakek?"

"Pasti cocok kalau kau yang mencarikannya!" jawab orang tua itu.

"Aku... Hemm... Biar kau kuberi nama Datuk Buntung Cemoro Sewu! Bagaimana?"

"Nama hebat! Aku mengucapkan terima kasih padamu Wilani. Paling tidak, kalau nanti aku mati, akan ada orang menuliskan nama itu di papan nisanku! Hik... hik... hik!" Si kakek tepuktepuk bahu muridnya.

"Kek, sebelum aku pergi, aku ingin mengulang nama-nama orang yang harus kucari itu agar tidak kesalahan tangan...."

"Bagus! Itu memang bagus! Cobalah kau menyebutkan keempatnya, lima dengan ibu tirimu itu...."

"Pertama Randulawang. Jabatan Ketua Perserikatan Silat Bintang Biru. Usia saat ini sekitar tiga puluh delapan tahun. Kedua Rea Pamungkas, jabatan Ketua Perkumpulan Silat Gading Putih merangkap anggota pengurus Perserikatan Silat Bintang Biru. Usia saat ini sekitar enam puluh tahun. Orang ketiga bernama Wirasaba, jabatan sama dengan Rea Pamungkas merangkap Ketua Perkumpulan Silat Mustika Ratu, berumur sekitar enam puluh lima tahun. Orang ke empat dikenal dengan nama Kajenar, Ketua perkumpulan Silat Elang Laut. Juga menjabat sebagai pengurus perserikatan. Umurnya paling lanjut, saat ini sekitar tujuh puluh tahun. Yang terakhir ibu tiriku sendiri bernama Juminten, usia tiga puluh tahun, sekarang adalah istri dari Randulawang."

Ternyata kau masih ingat kelima nama itu. Apa kau masih ingat wajah-wajah mereka Wilani?"

"Samar-samar, kek. Tapi jika aku bertemu dengan mereka kembali, pasti aku akan dapat mengenali...."

Si kakek mengangguk. "Ingat baik-baik muridku. Kelima manusia itu sama jahat dan liciknya. Tapi bukan berarti di luar mereka di dunia ini semua orang adalah baik. Karenanya selalu berhati-hati dalam menghadapi segala sesuatunya. Jangan lekas percaya pada seseorang yang kelihatannya begitu baik dan selalu hendak menolong. Karena di balik kebaikan dan pertolongan itu mungkin tersembunyi niat jahat dan hendak menggolong.

Sebaliknya juga jangan lekas curiga pada seorang berwajah buruk dan bersikap aneh. Karena di balik wajah dan sikap itu mungkin ada sifat baik yang tadinya sulit diterka..."

"Terima kasih atas semua nasihatmu, kek. Ijinkan aku mengambil air sembahyang untuk solat Subuh...."

Si kakek mengangguk. Sekali lagi dia memeluk murid tunggalnya itu. Ketika Wilani berlalu, orang tua yang kini mendapat nama Datuk Buntung Cemoro Sewu itu menarik nafas lega.

"Lega rasanya dada ini sekarang. Kalaupun aku mati hari ini, kepandaianku sudah ada yang mewarisi!"

* * *2MASA DUA BELAS TAHUN SEBELUM WILANI DILEPAS OLEH DATUK

BUNTUNG CEMORO SEWU....................

Perserikatan Silat Bintang Biru sedang naik daun. Namanya menjulang mengatasi belasan perguruan silat yang berdiri jauh sebelumnya. Anak murid perserikatan berjumlah ribuan orang, tersebar di delapan penjuru tanah Jawa. Semua ini berkat kepemimpinan Adi Juwono yang dijuluki Raja Tombak Delapan Penjuru Angin. Gelar ini disandangnya tidak percuma karena dia memiliki sebuah senjata pusaka yakni sebuah tombak besi berlapis emas. Dalam keadaan biasa tombak ini panjangnya hanya sekitar tiga jengkal. Tapi jika bagian-bagiannya ditarik, senjata ini bisa berubah menjadi sepuluh jengkal.

Pada mulanya Perserikatan Silat Bintang Biru didirikan dan berasal dari empat buah perguruan silat besar yaitu Perkumpulan Silat Bumi Leluhur pimpinan Randulawang, Perkumpulan Silat Gading Putih pimpinan Rae Pamungkas, lalu Perkumpulan Silat Mustika Ratu di bawah kepemimpinan Wirasaba dan yang ke empat Perkumpulan Silat Elang Laut diketuai oleh Kajenar.

Adi Juwono satu-satunya tokoh persilatan yang tidak memiliki perguruan atau perkumpulan secara resmi walaupun muridnya bertebaran dimana-mana. Dia menjadi tokoh silat tunggal yang dihormati dan disegani kawan maupun lawan. Dibandingkan dengan ilmu kepandaian para ketua empat perkumpulan silat lainnya, Adi Juwono dua tingkat lebih tinggi dari mereka. Karena itulah ketika kelimanya bergabung di bawah bendera Perserikatan Silat Bintang Biru semua pimpinan perkumpulan silat sama menyetujui untuk mengangkat Adi Juwono sebagai Ketua mereka. Empat lainnya memang jabatan sebagai Wakil Ketua dan jabatan masing-masing sebagai Ketua pada perkumpulan silat mereka tetap tidak berubah.

Kemajuan yang dicapai oleh Perserikatan tentu saja mengangkat nama dan derajat sang ketua yaitu Adi Juwono. Meskipun nama dan derajat empat wakil ketua ikut terangkat namun ada di antara mereka yang merasa iri. Apalagi ketika ada yang mengkobar-kobarkan bahwa Adi Juwono sebenarnya tidak pantas menjadi ketua karena tidak memiliki perkumpulan silat. Lalu ada yang memfitnah bahwa sang ketua sebenarnya tidak melakukan apa-apa, yang bekerja keras untuk perserikatan adalah empat wakil ketua.

Lama kelamaan, suasana ini menjadi seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa meledak. Malangnya Adi Juwono sama sekali tidak arif akan apa yang terjadi secara diam-diam di belakangnya. Hal ini karena semua orang dilihatnya bermanis muka dan berbaik turun sapa dihadapannya. Bahkan Adi Juwono sama sekali tidak mengetahui bahwa Juminten, isteri mudanya yang berusia 18 tahun yang dinikahinya setahun setelah isteri tuanya meninggal, ikut terlibat dalam komplotan keji yang kelak menimbulkan bencana bagi diri dan anak-anaknya.

* * *MALAM ITU HUJAN turun rintik-rintik. Sesosok tubuh tampak bergerak membungkukbungkuk di belakang bangunan besar lalu menyelinap mendekati kandang kuda. Di sini sosok tersebut diam sejenak, memandang berkeliling meneliti keadaan. Ketika dirasakannya aman maka cepat didorongnya pintu tempat penyimpanan jerami kering lalu menyelinap ke dalam. Orang ini duduk tak bergerak di sudut ruangan, di atas setumpuk jerami. Dia memasang kedua telinga, mendengarkan setiap bunyi yang ada di luar. Kemudian lapat-lapat dia mendengar suara kaki melangkah mendekati kandang kuda. Diam sesaat. Tak lama kemudian terdengar pintu ruangan jerami berkereketan, lalu masuklah seorang berpakaian hitam tebal yang wajahnya ditutup dengan sehelai sapu tangan besar.

"Di sini....," terdengar suara berbisik dari sudut ruangan jerami yang gelap.

Orang yang barusan masuk melangkah ke jurusan datangnya suara itu lalu menjatuhkan diri di hadapan orang yang mendekam di sudut. Nafasnya terdengar mengengah.

"Mas Randu.... Terlalu berbahaya pertemuan ini. Kalau sampai ada yang melihat...." Orang yang berusaha duduk berbisik. Ternyata suaranya adalah suara perempuan. Dan ketika dia membuka sapu tangan yang menutupi wajahnya, dalam gelap kelihatan sekilas wajahnya. Dia adalah Juminten. Isteri Ketua Perserikatan Silat Bintang Biru. Dan lelaki yang duduk di hadapannya adalah Randulawang, Wakil Ketua Perserikatan.

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan Juminten. Asal kita bicara berbisik-bisik. Semua orang berada di bangsal utama tengah mendengarkan fatwa dari guru agama yang datang dari Demak.

Suamimu juga masih belum kembali bukan?"

"Betul. Para wakil ketua sudah kuhubungi. Mereka sama menyetujui walau aku masih kurang yakin dengan si Kajenar itu. Kita hanya tinggal menyusun rencana serta hari pelaksanaannya saja.... Dan semua itu kuncinya berada di tanganmu dik Juminten."

"Di tangan saya...?" tanya perempuan berusia delapan belas tahun itu keheranan.

"Benar," sahut Randulawang seraya mendekap pipi Juminten dengan kedua telapak tangannya lalu merangkul isteri Ketua Perserikatan itu kedadanya. "Apa yang akan kau lakukan sederhana dan mudah sekali. Namun sangat menentukan..... Setelah itu kamisemua yang akan mengatur."

"Apa yang harus saya lakukan mas Randu...?"

Randulawang yang berusia dua puluh enam tahun itu tidak segera menjawab melainkan memeluk dan menciumi Juminten terlebih dulu penuh nafsu hingga perempuan itu kelagapan.

Setelah Juminten ikut terpengaruh nafsunya barulah dia membisikkan rencananya.

Juminten terkejut ketika mendengar ucapan Randulawang itu.

"Tak mungkin saya melakukan hal itu, mas Randu. Sama saja dengan mengkhianatinya.

Lagi pula saya tidak tega. Mas Adi Juwono punya anak yang masih kecil-kecil. Wilani enam tahun dan Ario Seno sepuluh tahun.... Kasihan mereka."

Randulawang tertawa perlahan. Sambil terus membakar gairah Juminten dengan rabaanrabaan tangannya dia berkata. "Mengapa musti memperdulikan kedua anak itu. Dia bukan darah dagingmu dik Juminten. Lagi pula kebahagiaan hidup apa yang kau bakal dapat dari suami yang selalu sakit-sakitan itu. Dalam usianya yang hampir enam puluh tahun dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dukun untuk berobat dari pada berada di dekatmu. Kau masih muda, perlu hiburan dan suamimu tidak mampu memberikan kebahagiaan padamu. Apa kau hendak bertahan sampai kau sendiri nati jadi nenek reot? Mas Adi bukan pasanganmu. Dia terlalu tua. Usia kalian terpaut hampir empat puluh tahun. Apa tidak gila itu namanya?!"

Juminten terdiam dan kembali luluh ketika dipeluk oleh Randulawang dan menggelinjang sewaktu hidung lelaki ini menggeser di belakang telinganya.

"Kau lebih cocok menjadi isteriku Juminten. Aku bersumpah akan mengambilmu jadi isteriku kalau rencana kita selesai. Kau akan bahagia sebagai isteri Ketua Perserikatan yang baru.

Aku bawa kau kemana aku berkunjung. Tidak seperti sekarang kau selalu ditinggal-tinggal oleh mas Adi Juwono."

"Mas Randu. Beri aku waktu untuk berpikir...," berbisik Juminten seraya tangan kanannya mengusapi dada Randulawang yang penuh ditumbuhi bulu.

"Tak ada waktu lagi Juminten. Semua harus dilakukan dengan cepat. Rencana untuk mengundangnya sudah disiapkan dua hari setelah dia kembali dari berobat. Setelah itu segala kebahagiaan akan menjadi milikmu sayangku...."

Juminten hanya bisa diam, tak mampu keluarkan ucapan untuk menjawab.

"Aku tahu...," bisik Randulawang kembali. "Walau kau tidak mengeluarkan sepatah katapun sebagai ucapan tapi aku tahu hatimu menyetujui rencana ini. Hatimu lebih dekat padaku daripada ke suamimu....."

Hidung Randulawang menyusup ke celah dada perempuan itu. Juminten menggeliat dan merangkulkan kedua tangannya ke punggung lelaki itu ketika Randulawang merebahkan tubuhnya di atas tumpukan jerami kering.* * *3SUATU MALAM YANG SEJUK sebuah kereta tampak meluncur menuju Plered. Yang menjadi sais adalah Adi Juwono sendiri, Ketua Perserikatan Silat Bintang Biru. Di sampingnya duduk Juminten. Di sebelah belakang sambil tertawa-tawa duduk Wilani dan Ario Seno, kakak beradik putera-puteri Adi Juwono dari mandiang istri pertamanya.

"Sahabat-sahabatku itu ada-ada saja," terdengar Adi Juwono berucap. "Mengundang makan malam di Plered. Katanya ada hiburan serombongan pemain gamelan dari Pajang segala...."

"Saya dengar salah seorang dari mereka berulang tahun hari ini," menyahuti Juminten.

"Siapa?" tanya suaminya.

"Mungkin mas Wirasaba."

Kereta itu meluncur terus tapi sebentar-sebentar kuda coklat yang menarik kereta nampak seperti liar dan meringkik berulang kali.

"Kuda ini tidak seperti biasanya. Meringkik terus sejak tadi...," kata Adi Juwono. Sang istri diam saja.

Di sebuah pendakian, kereta berhenti di depan sebuah bangunan kayu yang terletak di dekat sungai kecil. Siang hari pemandangan di sekitar tempat ini indah sekali. Beberapa lampu minyak besar tampak menyala menerangi bangunan itu.

Ketika Adi Juwono menolong istri dan anaknya turun dari kereta, tiga orang keluar dari bangunan. Mereka adalah Randulawang, Wirasaba dan Rae Pamungkas.

"Ada undangan istimewa malam ini rupanya!" kata Adi Juwono. "Siapa yang berulang tahun?"

"Saya mas...,"jawab Wirasaba.

"Selamat kalau begitu." Lalu Adi Juwono memeluk sahabatnya itu. Kemudian mereka beriringan menuju rumah di tepi sungai.

Di sebelah belakang Rae Pamungkas berbisik pada Randalawang. "Ketua ternyata membawa serta kedua anaknya. Ini diluar dugaan, diluar rencana. Bagaimana ini...?"

"Tak usah khawatir. Serahkan padaku...," jawab Randulawang.

"Aku tak melihat saudara tua kita mas Kajenar," kata Adi Juwono.

"Dia jadi pelayan di dalam. Sibuk menyiapkan hidangan...." Jawab Randulawang.

"Eh, kalau tak salah kalian bilang ada hiburan gamelan dari Pajang. Mana...? Mengapa sepisepi saja?"

"Itu yang mengesalkan saya mas Adi," jawab Randulawang. "Sampai saat ini mereka masih belum muncul. Kabarnya hujan lebat turun di hulu. Mungkin mereka sulit menyeberang sungai."

"Pesta ulang tahun hanya kita saja. Tidak mengundang orang-orang atau para sahabat lainnya?" tanya Adi Juwono lagi.

"Biayanya terbatas mas Adi. Jadi biar kita-kita saja...," sahut Wirasaba sambil mengulum senyum.

Rombongan itu sampai di dalam rumah dimana telah tersedia sebuah meja besar berisi berbagai macam hidangan dan minuman yang lezat-lezat. Sang ketua duduk di kepala meja sebelah kanan sedang Juminten di kepala meja di seberangnya. Anak-anak Adi Juwono duduk mengapit sang ayah. Wirasaba di samping kanan ketua, disebelah kiri Randulawang, lalu berturut-turut Rae Pamungkas dan Kajenar saling berhadapan.

Setelah mengobrol sambil sesekali tertawa bergelak yang kelihatannya begitu akrab maka santap malampun dimulai. Selesai makan masih dihidangkan beberapa penganan dan buah-buah cuci mulut. Sebelum pertemuan ditutup, Kajenar menghidangkan kopi hangat sementara dua anak tampak mulai mengantuk.

Setelah batuk-batuk beberapa kali Rae Pamungkas membuka mulut. Suaranya mula-mula agak bergetar. Namun kemudian ucapnya lancar juga.

"Mas Adi Juwono. Sambil menunggu turunnya panas kopi, mengutarakan sesuatu. Kalau ketua tidak berkeberatan...."

Adi Juwono agak heran mendengar ucapan Rae Pamungkas itu. "Ah, tentu saja. Silakan mengutarakan apa saja. Di sini mungkin kita lebih leluasa, tidak diganggu oleh kesibukan seperti di perkumpulan...."

Rae Pamungkas memandang pada ke tiga wakil ketua. Dua orang nampak duduk dengan sikap gagah, hanya Kajenar yang menundukkan kepala.

"Baik mas Adi. Saya langsung saja pada pokok masalahnya. Sejak beberapa waktu lalu kami mendapat kabar disertai bukti-bukti bahwa mas Adi ingin menyingkirkan kami dari kedudukan wakil ketua Perserikatan...."

"Astaga! Pembicaraan apa ini dimas Rae?!" tanya Adi Juwono dengan suara keras dan sepasang mata membesar. Wajahnya jelas berubah. Sang Ketua memandang berkeliling.

Randulawang dan Wirasaba menatap tak berkesip ke arahnya. Kajenar masih saja menundukkan kepala.

"Tenang mas Adi. Pembicaraan saya belum selesai," ujar Rae Pemungkas pula. "Maksud untuk menyingkirkan kami berempat bukan hanya menyangkut kedudukan kami sebagai wakil ketua, tetapi bahkan lebih jahat dari itu. Mas Adi hendak menghabisi kami semua!"

"Ini gila!" teriak Adi Juwono seraya menggebrak meja dan bangkit dari kursinya. Papan meja hancur berantakan. Makanan dan minuman tumpah berpelantingan.

"Ini tidak gila!" teriak Randulawang sambil memukul meja pula dengan tangan kanannya.

Untuk kedua kalinya meja itu jadi porak poranda. "Ini tidak gila...."

"Kalau tidak gila maka ini adalah fitnah!" teriak Adi Yuwono. "Tidak gila dan juga bukan fitnah!" sahut Randulawang seraya berdiri dari kursinya. "Rencana keji hendak membunuh kami itu secara tidak sengaja telah mas Adi ceritakan pada Juminten. Istri mas Adi sendiri!" Adi Juwono kini benar-benar membelalak.

"Aku, menceritakan maksud jahat hendak membunuh kalian pada istriku? Edan!" Kedua tangan ketua perserikatan itu tampak terkepal dan dadanya turun naik tanda ada yang menggelegak di dalam tubuhnya.

Randulawang berpaling pada Juminten lalu berkata:

"Dik Juminten, coba katakan dengan jelas rencana apa yang dikatakan mas Adi terhadap kami dan kapan dia mengatakan hal itu pada dik Juminten!"

Paras Juminten yang cantik sesaat tampak kemerahan. Tubuhnya seperti menggigil.

"Tak usah takut dik Juminten. Katakan saja apa yang dik Juminten ketahui," berkata Wirasaba.

"Waktu itu...waktu itu hari pertama bulan haji sekitar dua minggu lalu. Mas Adi entah mengapa menceritakan pada saya bahwa dia hendak menghabisi riwayat empat wakil ketua perserikatan. Katanya... selama ini mereka selalu merongrong, memfitnah dan menghabiskan harta dan uang perserikatan untuk kepentingan pribadi. Lalu...."

"Kurang ajar! Kalian semua pasti telah berkomplot mengarang cerita busuk! Busuk!!!"

Teriak Adi Juwono. Dalam marahnya ketua perserikatan itu membalikkan meja besar. Juminten menjerit. Dua anak Wilani dan Ario Seno ikut memekik lalu menangis.

"Kau yang busuk Adi Juwono!" membentak Randulawang. Dari bawah meja dikeluarkannya sebuah penggada batu. Dengan benda ini dihantamnya kepala ketua perserikatan dari belakang. Adi Juwono yang masih sempat melihat cepat merunduk sambil mengirimkan tumitnya ke perut Randulawang;

Terdengar dua kali suara bergedebuk. Yang pertama suara penggada yang meleset dari kepala dan kini menghantam punggung Adi Juwono. Yang kedua suara tumit sang ketua yang sempat melabrak perut Randulawang hingga orang ini terpental dan gadanya lepas dari tangan.

Juminten menjerit, lalu tersandar ke dinding sebelum melosoh ke lantai. Wilani dan Ario Seno sama memekik ketakutan.

Hantaman pada punggungnya yang keras bukan saja membuat tulang punggungnya remuk tapi mengakibatkan ketua perserikatan itu terbanting ke lantai. Sebelum dia sempat berdiri Wirasaba sudah mendorong kepalanya. Kembali ketua perserikatan itu terbanting ke lantai. Lalu tampak Wirasaba dan Rae Pamungkas sama-sama mencabut sembilah keris. Sedang Randulawang memungut penggada yang terjatuh dilantai. Dua keris dan satu penggada kemudian bertubi-tubi menghantam tubuh Adi Juwono. Darah membasahi lantai!

Sambil terus menjerit-jerit Wilani dan Ario Seno lari ke sudut ruangan, coba bersembunyi di balik sebuah lemari pajangan.

Rae Pamungkas cepat memberi isyarat pada Randulawang.

"Tak ada jalan lain dimas Randu. Kedua anak itu harus dihabisi. Kalau tidak bisa jadi masalah dikemudian hari!"

"Dua kurcaci itu biar aku yang membereskan! Kalian teruskan menggebuk ketua keparat itu. Pastikan betul bahwa dia benar-benar mampus baru berhenti membantai!" Habis berkata begitu Randulawang buang penggadanya lalu cabut sebilah pisau. Dia melangkah mendekati Ario Seno. Anak usia sepuluh tahun ini semakin keras jeritannya karena ketakutan. Mulutnya terbuka lebar. Saat itulah seperti telah dirasuk setan, Randulawang tusukkan pisaunya kemulut Ario Seno. Pisau menembus lidah dan tenggorokan anak ini, membabat putus sebagian dari anak lidahnya. Darah mengucur deras. Jeritan anak ini serta merta lenyap.

Belum puas Randulawang angkat tubuh Ario Seno lalu lemparkan anak ini ke dalam sungai yang mengalir di dekat bangunan.

"Beres yang satu. Sekarang tinggal satu lagi!" kata Randulawang seraya melompat ke hadapan si kecil Wilani. Anak perempuan enam tahun ini menjerit setengah mati. Pisau di tangan Randulawang membabat ke arah leher.

Sesaat lagi senjata tajam itu akan menggorok leher si kecil Wilani tiba-tiba ada angin berkesiuran. Randulawang terpekik. Sesuatu menghantam keningnya hingga luka dan mengucurkan darah. Bersamaan dengan itu pisau ditangan kanannya mental. Satu tendangan mendarat di pergelangannya. Selanjutnya dia dapatkan dirinya seperti dibanting ke dinding ruangan.

Pemandangannya agak berkunang tapi dia masih sempat melihat sesosok bayangan hitam berkelebat menyambar tubuh Wilani. Dia berteriak pada Rae Pamungkas dan Wirasaba. Dua orang yang juga melihat bayangan sosok hitam itu coba mengejar. Namun orang itu telah lenyap bersama Wilani dalam kempitannya.

Terhuyung-huyung Randulawang melangkah ke tengah ruangan. Udara malam berbau amisnya darah ini. Tiba-tiba Randulawang membalik ke arah Kajenar yang sejak tadi hanya berdiri dekat pintu ruangan dengan muka pucat dan tubuh basah keringatan.

"Manusia banci!" teriak Randulawang. "Sejak tadi kau hanya mematung di situ!"

"Jangan harap kau bakal dapat bagian Kajenar!" Ikut berteriak Rae Pamungkas.

"Aku memang tidak ingin bagian apa-apa!" jawab Kajenar yang saat itu berusia 58 tahun.

Paling tua diantara mereka semua. "Aku memang ingin jabatan lebih tinggi dan harta serta uang melimpah. Tapi bukan begini caranya! Dari dulu aku sudah tidak setuju akan maksud keji kalian!

Dan ternyata kalian melakukannya lebih biadab dari rencana gila itu!"

"Tutup mulutmu!" teriak Randulawang seraya acungkan tangannya yang memegang pisau berdarah.

"Pergi dari sini sebelum kusobek mulutmu dengan keris ini, Kajenar!" Rae Pamungkas ikut acungkan keris di tangan kanannya.

Kejenar menyeringai kecut. "Aku memang akan pergi. Aku muak melihat kebiadaban kalian.

Kalian bertiga dan juga perempuan jahanam ini boleh mendapatkan harta dan uang serta kedudukan milik dimas Adi Juwono. Tapi jangan lupa semua harta, uang dan kedudukan itu bergelimang darah!

Kelak suatu ketika hukum karma akan menimpa kalian...."

"Bangsat!"

"Anjing!"

Dua buah senjata tajam meleset ke arah Kejenar. Tapi orang itu telah menyelinap meninggalkan tempat itu. Pisau yang dilemparkan Randulawang menancap di tiang pintu sedang keris yang dilemparkan Rae Pamungkas menghunjam pada daun pintu.* * *4PADA ALIRAN SUNGAI MENJELANG muara itu banyak sekali ditemui kepiting besar yang berenang dari laut menuju mulut sungai karena perputaran air di sini lebih hangat dari sekelilingnya. Walaupun kepiting merupakan jenis ikan yang sangat disukai orang dan laku dijual dengan harga tinggi, namun tidak ada para nelayan yang berani datang mencari kepiting ke muara sungai itu. Hal ini disebabkan semua nelayan dan penduduk sekitar muara mengetahui bahwa di tempat itu diam sepasang suami istri kakek-nenek aneh.

Pagi itu langit agak mendung. Ombak bergulung besar dan kepiting dari laut ratusan banyaknya berlomba-lomba menuju muara sungai.

Di atas dua potong papan kecil, di muara sungai tampak duduk seseorang kakek dan seorang nenek sambil bernyanyi-nyanyi. Pada papan yang mereka duduki dan mengambang di atas air, penuh dengan kepiting-kepiting besar. Malah binatang yang sanggup mencabut daging tubuh itu menjalar sampai ke kaki, tubuh dan kepala dua orang tua tersebut. Tapi anehnya keduanya tenangtenang saja. Malah sambil menyanyi-nyanyi mereka mulai mengambil kepiting-kepiting itu satu demi satu, mencopot kaki-kakinya, merobek kulit badannya yang atos, lalu mengorek isi tubuhnya yang putih dan menenggaknya mentah-mentah!

"Sudah berapa kau telan?!" Si nenek bertanya. "Baru empat puluh sembilan ekor!" jawab si kakek.

"Si lamban tolol! Aku sudah mau seratus!" berkata si nenek.

"Ah, siapa sih yang tidak kenal kau bune! Nenek terakus di dunia! Hik... hik... hik!"

Di ejek begitu si nenek anteng-anteng saja dan terus melahap kepiting-kepiting yang berjalaran di sekujur kaki, badan dan kepalanya.

Seekor kepiting nakal, entah bagaimana tahu-tahu menyelinap dibalik kain panjang si nenek, terus merayap ke pangkal pahanya!

Si nenek terlompat menjerit dan singsingkan kain panjangnya tinggi-tinggi. Begitu dilihatnya kepiting satu itu segera saja dicantilnya hingga pecah berantakan. Di sini jelas terjadi dua keanehan. Pertama ketika melompat, si nenek masih di atas potongan papan yang mengambang.

Tapi papan itu sama sekali tidak terbalik dan si nenek tidak sampai kecebur ke dalam sungai.

Lalu caranya menyentil kepiting besar tadi, orang biasa mustahil sanggup membuat binatang berkulit keras itu hancur berantakan! Lalu mana ada manusia yang makan kepiting seperti itu? Dan kepiting bisa menjapit putus jari-jari manusia, binatang-binatang ini juga mengandung racun jahat yang bisa mematikan!

"Kepiting sialan! Dikiranya aku ini apa!" mengomel si nenek.

"Mungkin sejak kemarin kau kencing belum cebok bune!"

Kata si kakek lalu dia kembali tertawa cekikikan.

Selagi kedua orang tua ini asyik bersantap kepiting, tiba-tiba tardengar si kakek berseru.

"Bune! Lihat ada benda menggelundung ke arahmu!"

Si nenek berpaling ke arah yang ditunjuk. Benar. Sebuah benda tampak digulirkan arus sungai ke arahnya. Si nenek ulurkan kaki kirinya menahan benda itu. Ketika matanya memperhatikan terkejutlah perempuan tua ini.

"Astaga!"

"Apa yang astaga bune?!" bertanya si kakek.

Lalu berusaha mendekati istrinya.

"Lihat pakne! Benda ini bukan benda sembarangan! Tapi seorang anak manusia!"

Dengan ujung-ujung jari kakinya si nenek menjepit lengan kanan si anak lalu menyentakkannya ke atas. Sosok anak itu melayang ke udara, begitu jatuh segera di tangkapnya.

"Kau betul! Seorang anak manusia! Anak lelaki! Ah, siapa yang tega membuang anak ke dalam sungai?!"

"Mungkin bukan dibuang, tapi celaka hanyut!" ujar si kakek. "Serahkan bocah itu biar kuperiksa!"

Si nenek lemparkan anak yang di dapatnya dari dalam air dan si kakek cepat menangkapnya.

Mula-mula dipegangnya anak itu pada kedua kakinya lalu diangkat tinggi-tinggi hingga air kelihatan mengucur keluar dari mulutnya.

"Eh, air dalam perut anak ini bercampur darah!" seru si kakek. Lalu cepat si anak dipangkunya. Mulut si anak yang terkancing dibukanya lebar-lebar. Si kakek mengerenyit. "Ada bekas luka di lidahnya. Lidah ini hampir putus! Tenggorokannya robek! Lukanya seperti mengandung racun! Tampaknya seperti ditusuk dengan senjata tajam beracun...."

"Pakne! Dari tadi kau memeriksa dan menceloteh! Apa sudah kau pastikan anak itu masih hidup atau sudah jadi bangkai?!"

"Eh!" si kakek terkejut. "Kau betul!" Lalu buru-buru dada si anak ditekapkannya ke telinga kirinya. Kedua matanya membelalang.

"Dig-dug... dig-dug... dig-dug! Bune! Bocah ini masih hidup!" seru si kakek kemudian.

"Kalau begitu lekas bawa ke darat. Terus saja ke rumah kita! Tujuh puluh tahun kawin tidak punya anak. Mungkin bocah itu rejeki kita dari Gusti Allah!"

"Tentu! Tentu akan kubawa ke darat!" jawab si kakek. Lalu dari atas papan kecil itu si kakek menggenjot tubuhnya. Kakek tua sambil mengepit anak itu tampak melesat ke darat. Begitu mendarat di tepi sungai orang tua ini terus lari ke arah sebuah gubuk di bawah sebatang pohon besar.

Tak lama menunggu muncul istrinya. Tapi si nenek tidak datang sendirian. Dia tampak menyeret sesosok tubuh yang sudah jadi mayat! Si kakek memperhatikan tubuh yang diseret si nenek sesaat lalu berseru. "Yang sudah jadi bangkai itu tak perlu diurus dulu! Bantu aku menyelamatkan anak ini! Dia terluka dibagian mulut dari keracunan!"

Si nenek lalu ikut memeriksa. Lalu dia menghela nafas panjang. "Sulit ditolong walaupun dengan mempergunakan racun kepiting," berkata si nenek. "Kalaupun dia bisa hidup hanya ada satu dari dua pilihan. Anak ini akan gagu seumur hidup, atau gila selama hayatnya!"

"Lalu mana yang kau pilih?!" bertanya si kakek.

"Lebih baik dia jadi orang gagu daripada jadi manusia gila!" Sahut si nenek. Lalu perempuan tua ini lari kembali ke muara. Ketika kembali dia membawa lebih dari selusin kepiting besar yang mengandung racun.

"Kau buka mulutnya lebar-lebar! Aku akan kucurkan racun kepiting untuk membunuh racun senjata yang ada dalam mulutnya!"

Si kakek lalu buka mulut anak itu lebar-lebar. Istrinya cepat mengambil seekor kepiting.

Terdengar suara berderak sewaktu kepiting besar itu diremasnya. Lalu tampak cairan putih menetes dan langsung dimasukkan ke dalam mulut si anak. Begitu terus dilakukan sampai semua kepiting yang dibawanya habis diperas.

"Nyalakan api," kata si nenek. "Anak ini harus dihangati terus menerus sampai dia akhirnya siuman.

Menurut perhitungan, melihat kulitnya yang tidak berdarah serta tebalnya lumut yang melekat di badannya, paling tidak anak ini sudah satu hari satu malam dihanyutkan air sungai.

Hanya anak luar biasa yang sanggup bertahan hidup selama itu. Anak ini bukan anak sembarangan!"

"Bagaimana dengan mayat satu itu? Apa kau bisa mengenali siapa orangnya?" tanya si kakek.

Sang istri menggeleng. "Mukanya rusak berat. Seperti dicacah dengan senjata tajam. Sebagian tubuhnya remuk..."

"Menurutmu apa ada hubungan antara bocah lelaki ini dengan orang itu?"

"Hemm..." si nenek merenung. "Tidak mustahili" jawabnya kemudian.

"Kalau begitu jenazahnya tidak boleh kita buang ke sungai atau ke laut. Nanti kita kuburkan sama-sama!"

Si nenek mengangguk tanda setuju akan apa yang dikatakan suaminya. Sepasang matanya beralih kini memandangi anak yang masih pingsan itu. Tiba-tiba matanya membesar dan makin besar.

"Eh, kenapa kau bune? Seperti melihat setan sungai atau jin laut?!" menegur si kakek.

"Kita tolol dan buta! Coba kau perhatikan susunan tulang anak ini! Menurut taksiranku usianya tak lebih sepuluh tahun. Tapi ruas tulangnya sekokoh pemuda tujuh belas tahun. Dan coba kau perhatikan liku-liku susunan tulangnya! Ayo periksalah...!"

Si kakek turuti apa yang dikatakan istrinya, lalu dia berpaling memandang pada si nenek.

Tiba-tiba kedua orang ini sama-sama melompat dan saling berjingkrakan!

"Kita menemukan calon murid! Akhirnya malah datang sendiri! Bersyukurlah!" ujar si nenek.

Kedua orang tua itu sama jatuhkan diri berlutut di tanah dan menampungkan kedua tangan ke atas memanjatkan puji syukur pada Yang Maha Kuasa. Setelah itu keduanya kembali melompat dan berjingrak-jingkrak kegirangan!* * *5SESUAI PETUNJUK GURUNYA, Wilani meninggalkan bukit Cemoro Sewu dengan menyamar sebagai seorang pemuda. Setelah dua hari dua malam menempuh perjalanan akhirnya murid Datuk Buntung ini sampai di pinggiran Kotaraja ketika terjadi suatu keributan. Seekor kerbau besar bertanduk panjang runcing entah sebab apa tiba-tiba mengamuk dan lari ke tengah pasar.

Karuan saja seisi pasar jadi kacau balau. Para pedagang dan orang yang berbelanja lari sambil berteriak ketakutan. Dua orang pedagang yang bukannya lari tapi berusaha membenahi dagangannya mencelat ditanduk binatang yang seperti gila itu. Kedua pedagang itu terguling tak berkutik lagi. Satu tewas dengan usus membusai, satunya megap-megap merintih karena tulang pinggulnya sebelah kiri remuk.

Di antara kekacauan itu seorang pemuda tampak duduk berjuntai di atas sebuah cabang pohon sambil uncang-uncang kaki dan tertawa-tawa menyaksikan keributan itu. Walau orang lain menderita sengsara bahkan ada yang mati akibat amukan kerbau, tetapi pemuda ini justru tampak gembira menyaksikan kejadian itu.

"Kurang hebat ... ! Kurang seru! Ayo tanduk terus! Seruduk terus!" Pemuda di atas pohon berteriak-teriak.

Saat itu dibawah pohon kebetulan lewat Wilani dalam samaran sebagai seorang pemuda.

Dia terheran-heran melihat kerbau mengamuk, dan lebih heran lagi melihat ada orang yang gembira menyaksikan kejadian itu. Maka diapun mendongak hendak menegur. Namun dia ingat pesan gurunya. Orang susah atau senang adalah urusan pribadinya, tak perlu dicampuri. Dia berpaling ke arah kerbau yang mengamuk. Karena dia satu-satunya orang yang masih tegak di dekat pasar itu, maka sosok tubuhnya dengan sendirinya menjadi sasaran kerbau yang mengamuk. Setelah melenguh panjang binatang ini lalu berlari ke arah Wilani. Kepalanya yang bertanduk runcing menyeruduk lebih dahulu.

Pemuda di atas pohon tampak gembira dan berseru : "Bagus! Tanduk pemuda yang sedang pasang aksi itu! Patahkan pinggangnya!"

Melihat kerbau datang memburu dan hendak menanduknya, Wilani cepat selamatkan diri dengan melompat ke atas lalu bergayut pada cabang pohon dimana kebetulan pemuda yang bersorak-sorak itu duduk berjuntai. Dan jahatnya, agar Wilani melepaskan gayutnya pada cabang pohon, pemuda itu memukuli jari-jari tangan Wilani sementara di bawah sana kerbau liar sudah menunggu dengan sepasang tanduk runcingnya.

"Ah, jahat sekali pemuda ini!" membatin Wilani. Lalu dara yang menyamar sebagai seorang pemuda ini membuat dua kali putaran di cabang pohon, sesaat kemudian tubuhnya melesat jauh ke tengah pasar.

Pemuda di atas pohon menggerutu. Tetapi gerutunya berubah jadi pekikan kaget ketika tibatiba satu siuran angin menderu dan kraak! Cabang pohon yang di duduki pemuda itu patah. Tak ampun tubuhnya melayang jatuh dan sepasang tanduk runcing dibawah sana bergerak berputar mengikuti arah jatuhnya!

"Tolong .. .!" jerit si pemuda yang jatuh.

Sesaat lagi tubuh si pemuda akan ditembus dua tanduk runcing, Wilani telah lebih dahulu melompat dan masih dalam keadaan tubuh melayang di udara, gadis ini hantamkan tangan kanannya. Inilah pukulan mengandung tenaga dalam tinggi yang terakhir sekali dilatihnya bersama gurunya untuk menghancurkan batu hitam di bukit Cemoro Sewu. Apa yang terjadi kemudian membuat semua orang yang ada di tempat itu berdecak kagum, termasuk seorang pemuda berambut gondrong yang tadi melepaskan pukulan jarak jauh dan mematahkan cabang pohon sehingga menjatuhkan pemuda yang duduk di atasnya.

Kerbau jalang itu melenguh tinggi lalu tubuhnya terhuyung-huyung beberapa kali.

Kepalanya hancur. Salah satu tanduknya tanggal. Binatang ini kemudian terguling roboh. Empat kakinya melejang-lejang beberapa kali lalu akhirnya binatang ini diam kaku tanda nyawanya lepas sudah.

"Pemuda jahat! Tega-teganya membunuh kerbau gila kemasukan setan!" teriak pemuda yang jatuh dari atas pohon. Padahal dirinya baru saja diselamatkan Wilani dari celaka besar yang bisa membawa kematian.

Wilani sampai tercekat mendengar bentakan itu. "Pemuda aneh, ditolong malah mendamprat!" kata sang dara dalam hati. Lalu tanpa mengacuhkan lagi dia tinggalkan tempat itu.

"Hai tunggu dulu! Jangan pergi seenaknya! Ganti dulu kerbauku yang kau bunuh ini!" tibatiba terdengar teriakan pemuda itu.

Wilani hentikan langkahnya. Dia menatap wajah pemuda itu sesaat lalu berkata: "Oh, jadi kerbau itu milikmu? Mengapa kau tidak bisa mengurusnya baik-baik? Waktu dia mengamuk tadi, kau malah bersorak-sorak gembira. Padahal sudah banyak yang jadi korban akibat tanduknya.

Bahkan ada yang mati!"

"Betul! Bahkan ada yang mati!" satu suara menyambungi.

Wilani dan pemuda yang mengaku pemilik kerbau sama berpaling ke kiri. Disitu tegak seorang pemuda gondrong berpakaian putih, bicara cengar-cengir seenaknya.

"Hem, bertambah pula satu pemuda konyol di tempat ini...," kata Wilani dalam hati. Lalu dilihatnya si gondrong tadi melangkah mendekati bangkai kerbau.

"Hai! Siapa kau yang berani mencampuri urusan orang! Pergi! Jangan dekati kerbauku!" teriak pemuda di hadapan Wilani.

Si gondrong tak perduli. Dia terus saja melangkah.

"Binatang ini bukan mengamuk! Apalagi kemasukan setan! Mana ada sih setan yang mau masuk ke dalam sosok tubuh kerbau! Ha...ha...ha!" Pemuda gondrong tertawa bergelak. Sementara orang sepasar yang tadi lari menyelamatkan diri kini satu demi satu balik kembali dan berkerumun di tempat itu.

Si gondrong menyambung ucapannya tadi : "Saksikan! Akan kuperlihatkan pada kalian semua apa sebabnya kerbau ini tadi jadi tak karuan begitu rupa!" Dari salah satu bagian tubuh kerbau yang sudah mati itu si gondrong mencabut sebuah benda berbentuk paku kecil berwarna ungu. Benda itu kemudian diacungkannya tinggi-tinggi. "Inilah penyebabnya. Paku kecil ini dicelup dengan sejenis racun beludru yang sanggup membuat binatang atau manusia menjadi seperti gila dan mengamuk lalu akhirnya bisa mati! Pemuda ini sebelumnya telah menancapkan paku beracun ke tubuh kerbau lalu menggiringnya ke tengah pasar. Betul begitu?"

Pemuda yang diajak bicara tampak terkesiap. Namun di lain kejap dia membentak marah sekali.

"Gondrong! Siapa kau! Kau bukan orang sini! Pandai sekali kau menyebar fitnah!"

Si Gondrong tertawa lebar.

"Kalau aku suruh orang sepasar ini menggeledah pakaianmu lalu menemukan beberapa buah paku lagi dalam saku bajumu, bagaimana?!"

Pucatlah paras pemuda itu. Sambil melangkah mundur dia berteriak keras pura-pura marah.

"Pemuda gondrong! Ucapanmu berbisa. Penuh hasutan! Kau tunggu disini. Aku akan panggil pasukan untuk menangkapmu!" Habis berkata begitu pemuda tadi segera putar tubuhnya dan ambil langkah seribu.

Kini, dikelilingi oleh kerumunan orang sepasar, si gondrong tegak berhadap-hadapan dengan Wilani.

"Saudara, kau hampir saja membuat pemuda itu mati ditembus kerbau, "Wilani berucap.

"Siapa menggali tanduk lobang, dia sendiri terperosok ke dalamnya!" sahut si Gondrong dengan kata berkias.

Wilani yang baru saja meninggalkan bukit Cemoro Sewu dan tidak paham akan pepatahpetitih ataupun kata berkias tentu saja heran mendengar kata-kata si gondrong tadi. Dia memandang berkeliling. "Lobang katamu saudara? Siapa yang menggali lobang! Aku sama sekali tidak melihat lobang di sekitar sini!"

Semula si gondrong hendak tertawa mengakak. Tapi melihat wajah pemuda di depannya benar-benar serius maka diapun mulai berpikir-pikir. Sepasang matanya memandang tak berkesip ke wajah pemuda di hadapannya itu. Lalu ketika diperhatikannya bentuk pakaian maka diapun tersenyum.

Dipandangi seperti itu diam-diam Wilani menjadi jengah sampai mukanya merah. Lalu cepat-cepat dia memutar tubuh meninggalkan tempat itu. Semua orang, termasuk si gondrong jelasjelas melihat pemuda itu melangkah biasa saja. Tapi di lain kejap tahu-tahu dia sudah berada di tempat jauh!

"Hem... Dia bukan orang sembarangan...," pikir si gondrong lalu cepat-cepat mengejar.* * *6UNTUK DAPAT MENGEJAR pemuda itu si gondrong harus mengerahkan ilmu lari "kaki angin" yang dimilikinya. Itupun dia baru bisa mengejar setelah jauh di pinggir Kotaraja sebelah timur. Menyadari kalau ada orang mengikutinya, si pemuda cepat membalik dan menatap tajam.

"Ah, kau pemuda di pasar itu rupanya! Orang berilmu yang pandai mencabut paku dari tubuh kerbau!" kata Wilani yang menyamar sebagai seorang pemuda itu.

Disambut dengan kata-kata seperti itu karuan saja si gondrong seperti kelagapan. Dia menggaruk kepalanya beberapa kali.

"Aku... anu...."

"Kenapa anumu?!"

"Apa...?! Ha... ha... ha...! Anuku tidak apa-apa!"

Jawab si gondrong setelah lebih dahulu tertawa mendengar pertanyaan orang.

"Kalau anumu tak apa-apa baiklah. Sekarang katakan mengapa kau mengikutiku!"

"Hemm...," si gondrong bergumam sambil garuk-garuk kepalanya.

"Kepalamu banyak kutu rupanya! Dari tadi kulihat kau menggaruk terus!" sergah Wilani.

Saking tak bisa menjawab dan juga saking jengkelnya, pemuda berambut gondrong itu akhirnya hanya bisa tertawa bergelak sampai keluarkan air mata.

"Eh, kau ini menangis apa ketawa? Ketawa atau menangis?!" pemuda di hadapan si gondrong bertanya.

"Dengar orang muda...," si gondrong kuasai dirinya.

"Aku tertawa karena melihat kau berpakaian tidak sesuai dengan kodrat sebagaimana kau dilahirkan! Lalu aku menangis karena penyamaran yang kau lakukan dimataku hanya satu kesiasiaan saja! Ha... ha... ha...!"

Kini berobahlah paras Wilani.

"Apa maksudmu dengan ucapan itu?!" tanyanya.

Si gondrong melihat dulu berkeliling seolah-olah khawatir ada orang di sekitar situ.

Kemudian dengan suara perlahan dia berkata: "Aku tahu kau bukan pemuda betulan!

Juga bukan Banci. Tapi kau seorang gadis! Betul kan...?!"

"Mulutmu jahil dan kurang ajar sekali!" Wilani jadi marah. Tapi diam-diam dia kagum juga dengan ketajaman mata pemuda berambut gondrong itu. Selama dua hari melakukan perjalanan tak seorangpun mengetahui penyamarannya. Tapi pemuda konyol yang mengikutinya ini bagaimana bisa mengetahui?

"Harap maafmu kalau mulutku terlanjur jahil dan kurang ajar. Tapi betul kan?"

"Saudara siapa kau ini? Guruku mengatakan di dunia ini ada dua macam setan. Pertama setan yang tidak kelihatan, kedua setan kepala hitam sepertimu ini!"

"Terima kasih untuk persetananmu itu. Tapi aku bukan setan seperti tuduhanmu! Lihat, kedua kakiku masih menginjak tanah!" Lalu si gondrong ini gerak-gerakkan kedua kakinya dan goyang-goyangkan pinggulnya.

"Baiklah, apakah kau setan atau bukan tidak perlu dibicarakan panjang lebar! Katakan siapa kau adanya dan mengapa mengikutiku?!"

"Namaku Wiro Sableng...."

"Siapa?!" tanya Wilani.

"Wiro Sableng!!!" jawab Wiro.

"Ahhhh! Pemuda gila kau ini rupanya! Pantas!"

"Ternyata mulutmupun jahil dan kurang ajar!" menukas Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Sudah! Katakan saja mengapa kau mengikutiku!"

"Pertama aku kagum melihat kehebatanmu menghancurkan kepala kerbau tadi," jawab Wiro polos.

"Kagum tidak berarti harus mengintili orang!" ujar Wilani pula. "Lalu apa alasanmu selanjutnya?!"

"Itu tadi.... Penyamaranmu itu!"

"Apa anehnya aku menyamar? Siapa saja bisa dan boleh menyamar. Kau mau menyamar jadi perempuan atau jadi nenek-nenek tidak ada yang melarang! Kenapa kau usilan ingin tahu urusan orang?!"

Wiro menggaruk kepalanya. Terus terang dia jengkel oleh ucapan-ucapan yang menyudutkannya itu. Namun diam-diam dia juga merasa senang dengan sifat dan gaya bicara orang ini.

"Nah kau betul kan banyak kutu? Buktinya kau menggaruk terus. Saudara, aku nasihatkan padamu, pergi ke tempat yang banyak monyetnya dan suruh binatang-binatang itu mencari kutumu!"

"Usulmu itu akan aku pertimbangkan," sahut murid Sinto Gendeng. "Tapi ada cara yang lebih mudah. Bagaimana kalau kau saja yang mencari kutuku? Aku duduk di tanah sini. Kau jongkok di belakangku?!"

Merahlah paras Wilani sementara wiro tertawa gelak-gelak.

"Manusia bermulut lancang! Biar aku beri pelajaran padamu!" Lalu sekali kedua kakinya bergerak, Wilani sudah melompat ke hadapan Wiro dan plaak! Tangan kanannya menampar pipi kiri si pemuda. Tamparan itu cukup keras dan sempat membuat sang pendekar nanar beberapa ketika.

Menahan sakit Wiro berkata: "Ada ujar-ujar mengatakan jika kau di tampar di pipi kiri, berikan pipi kananmu! Nah silakan tampar pipi kananku!"

Habis berkata begitu lalu Wiro ajukan pipi kanannya.

Merasa ditantang Wilani angkat tangan kanannya, siap untuk menampar. Tapi setelah berpikir sejenak akhirnya dia membatalkan tamparan itu, perlahan-lahan tangannya diturunkan.

Dihadapannya Wiro tertawa gelak-gelak.

"Nah...nah...nah! Kau tidak tega kan? Terbukti kau memang perempuan! Hanya kaum perempuan yang tidak tegaan!"

"Manusia kampret! Merontokkan gigimupun aku tega!" teriak Wilani. Kalau tadi memang ada rasa kasihan setelah menampar pipi si pemuda, maka kini rasa kasihan itu berubah jadi jengkel setengah mati. Dia membuat gerakan seperti hendak melangkah pergi. Tapi tiba-tiba tubuhnya berputar dan tahu-tahu kaki kanannya sudah menderu ke mulut Wiro!

Pendekar 212 belum pernah melihat gerakan menendang yang demikian cepatnya.

Terlambat sedikit saja dia melangkah mundur, hancurlah mulutnya. Baru saja dia lolos dari tendangan ganas itu tahu-tahu lawan sudah menyerbunya kembali. Kali ini dengan pukulan tangan kosong dari jarak lima langkah.

Wuuuttt!

Angin deras menghantam ke arah dada Pendekar 212.

Pukulan yang dilepaskan Wilani adalah pukulan yang sanggup menghancurkan batu.

Murid Sinto Gendeng yang sudah makan asam garam dunia persilatan segera maklum kalau dirinya tengah diancam satu pukulan maut. Kuda-kudanya tidak memungkinkannya untuk selamatkan diri dengan melompat. Maka tidak sungkan-sungkan lagi, Wiropun menangkis dengan pukulan "dinding angin berhembus tindih menindih".

Wilani terkesiap ketika mendengar ada suara deru angin laksana puting beliung menyambar.

Pakaiannya berkibar-kibar dan tubuhnya laksana mengapung tak bisa maju sedangkan pukulannya tadi seperti membentur tembok besi!

"Ah! Pemuda ini benar-benar memiliki kepandaian yang tidak rendah!" kata Wilani dalam hati. Maka dia lipat gandakan tenaga dalamnya dan kembali menghantam.

Kini Pendekar 212 yang terkejut. Dia melihat secara perlahan-lahan tetapi pasti tubuh lawan bergerak maju menembus angin pukulan saktinya. Tubuhnya sendiri terasa bergetar dan kedua kakinya seperti disapu dan dipaksa mundur. Wiro coba bertahan tanpa menambah kekuatan tenaga dalamnya. Tetapi akibatnya keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

"Kalau kulipat gandakan tenaga dalamku dan balas menghantam, salah satu-aku atau dia pasti akan celaka!" pikir Wiro. Akhirnya didahului satu bentakan keras, Pendekar 212 melompat ke atas. Dari atas dia menghantam pertengahan angin pukulan lawan. Terdengar suara berdentum. Tanah bergetar. Lalu tampak pasir dan batu-batu kecil beterbangan. Di tanah ini ada cegukan sedalam satu jengkal!

Di bawahnya Wiro melihat Wilani hampir terjengkang. Dia sendiri merasakan kesemutan pada sekujur tangan kanannya sampai ke pangkal bahu.

"Kau hebat!" memuji Wiro.

"Pemuda sableng itu masih bisa memuji! Tapi jangan-jangan dia justru mengejekku! Eh! Dimana dia?!" Wilani memandang berkeliling ketika dapatkan Wiro tak ada lagi dihadapannya. Suara pemuda itu tadi terdengar datang dari belakang. Cepat dia membalik. Dan!

"Gila! Betul-betul kurang ajar!" memaki Wilani habis-habisan. Kedua tangannya bergerak ke arah kepalanya, memegang rambutnya yang kini tersingkap riap-riapan!

Di hadapannya Pendekar 212 Wiro Sableng tegak silangkan kaki, berkipas-kipas dengan sehelai sapu tangan lebar sambil cengar-cengir! Sapu tangan itu adalah ikat kepala yang dikenakan oleh Wilani. Yang tanpa disadari sang dara yang menyamar sebagai pemuda itu tahu-tahu sudah lepas dari kepalanya disambar Wiro Sableng!

Jengkel ada marah pun ada namun yang lebih dirasakan oleh Wilani saat itu ialah kenyataan bahwa dua belas tahun digembleng oleh Datuk Buntung Cemoro Sewu ternyata kepandaian yang dimilikinya tidak berdaya menghadapi seorang lawan yang dianggapnya berotak miring! Padahal baru dua hari dia meninggalkan tempat kediaman gurunya. Begini hebatkah dunia persilatan hingga dia seperti seekor katak dibawah tempurung?!

Wilani ingin menjerit! Tapi mulutnya terkancing. Hanya ada butiran air mata terbit di kedua matanya itu Cepat-cepat dia memutar tubuh untuk tinggalkan tempat itu. Namun belum sempat membalik tiba-tiba ada orang berseru.

"Kawan-kawan! Ternyata pemuda yang kita kejar ini seorang dara berparas jelita! Tidak disangka dan sungguh luar biasa! Niatku untuk menghajarnya biar kubatalkanl Kita tangkap saja dia hidup-hidup dan bawa ke markas! Kita bisa bersenang-senang bersamanya! Setuju?!"

"Setuju!!!" terdengar suara orang banyak menyahuti. Wilani dan juga Wiro jadi terkejut.

Ketika mereka memandang berkeliling ternyata di sekitar mereka kini terdapat lima belas orang pemuda berseragam hitam dengan ikat pinggang dan ikat kepala kain merah, enam belas dengan pemuda yang tadi berseru dan bukan lain adalah pemuda yang membuat kegaduhan di tengah pasar dengan cara menusuk seekor kerbau hingga mengamuk! Pada dada kiri baju hitam yang dikenakan ke lima belas pemuda itu terdapat gambar dua potong gading putih bersilang.

"Anak muda tak tahu diri!" Wiro mendamprat. "Kalau tadi dia tidak turun tangan menolong, kerbau yang kau buat gila itu sudah membunuhmu! Sekarang malah datang membawa rombongan untuk menangkap orang dan berani menyatakan niat kurang ajar!"

"Tutup mulutmu manusia gendeng! Jangan pasang aksi di depanku! Kau gantinya yang bakal di hajar! Lihat sekelilingmu!" bentak pemuda yang datang membawa lima belas temannya.

"Hemmm.... Jadi ini yang kau sebut pasukan itu, hah?! Kalian ini rombongan ketoprak dari mana sebenarnya?!"

Mendengar diri mereka diejek sebagai rombongan ketoprak, marahlah ke lima belas pemuda berseragam hitam-hitam itu. Pemuda yang datang membawa mereka terdengar berteriak.

"Sepuluh orang lekas hajar pemuda gondrong itu! Yang lain ikuti aku berbincang-bincang dengan gadis cantik yang menyamar sebagai lelaki itu!"* * *7PEMUDA YANG MEMBAWA rombongan kawannya lima belas orang ini melangkah ke hadapan Wilani diikuti oleh lima kawannya sementara yang sepuluh orang lagi langsung bergerak mengurung Pendekar 212 Wiro Sableng.

Di hadapan Wilani pemuda tadi tegak berkacak pinggang. Setelah senyum-senyum sebentar sambil gosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain dia berkata.

"Kalau sejak sebelumnya aku tahu kau ini seorang dara begini jelita, pasti tak akan terjadi hura-hura di pasar itu...."

"Lalu sekarang apa maksudmu?!" tanya Wilani penuh jengkel. "Hendak membuat keributan lagi?!"

Si. pemuda goyang-goyangkan tangannya. "Tidak.... Tentu saja tidak. Malah aku akan mengajakmu ke markasku di kaki bukit. Kita bisa bersenang-senang disana. Banyak makanan dan minuman. Pakaian bagus-baguspun ada untukmu. Kau tinggal pilih!"

"Markas...? Markas apa itu?!" tanya Wilani pula. Di seberang sana dia melihat sepuluh orang pemuda berpakaian serba hitam mulai menyerang Wiro Sableng.

"Ah, yang kusebut markas itu adalah sebuah rumah bagus di kaki bukit di sebelah selatan kotaraja. Kau pasti akan senang berada disitu...."

"Bagaimana kalau aku merasa tidak senang?!" tukas Wilani.

"Tidak mungkin! Tak ada gadis yang tidak senang berada di tempat itu."

"Hemmm....rupanya kau sudah biasa membawa gadis-gadis markasmu itu hah?!"

"Ah, kawan-kawan, Gadis ini belum apa-apa sudah mulai cemburu," kata si pemuda pula.

Lima orang kawannya tertawa gelak-gelak.

"Cemburu berarti cinta!" salah seorang dari mereka berkata lalu kembali mereka tertawa bergelak.

"Kalian semua gila! Tampang kalian tidak satupun yang lumayan! Kambing betina budukpun tidak bakal naksir pada kalian! Apalagi padamu!" kata Wilani seraya mencibir ke arah pemuda yang tegak di hadapannya. Yang dihina tidak marah malah tertawa mengekeh.

Diam-diam Wilani perhatikan lima pemuda berpakaian hitam di sekelilingnya. Matanya mengawasi gambar dua gading putih bersilang di dada kiri baju orang-orang itu. Dia rasa-rasa ingat sesuatu. Otaknya bekerja keras. Tapi dia tak mampu mengingat.

"Saudari, waktu kita tidak banyak. Mari ikut bersamaku...," pemuda di hadapan Wilani membuka mulut.

"Ikut kamu ke mana?!"

"Ah, jangan berpura-pura. Atau mungkin kau malu. Kalau begitu lima kawanku ini biar tak usah berjalan bersama-sama kita jika kau memang malu...."

Lalu enak saja pemuda ini ulurkan tangan hendak menarik lengan Wilani. Wilani ajukan tangan kanannya seperti hendak menuruti ajakan si pemuda. Tapi tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa si gadis tarik lengan si pemuda dan dilain kejap pemuda itu sudah terlempar ke udara.

Begitu jatuh bergedebukan di tanah langsung tertelentang dan menggerung kesakitan.

"Kurang ajar! Kau berani mencelakai putera pimpinan kami!" salah seorang pemuda berpakaian hitam berteriak marah.

"Gadis binal ini perlu diberi pelajaran!" kawannya yang lain berkata seraya maju mendekat.

Pemuda yang masih terhenyah di tanah cepat berteriak. "Awas! Jangan sakiti gadis itu!

Jangan ciderai dia! Tolong dulu aku berdiri! Gadis itu biar nanti aku yang urus!"

Lima pemuda nampak menggerutu. Tapi mereka patuh pada si pemuda yang tadi dibanting Wilani ke tanah. Dua orang segera menolongnya berdiri.

"Jelitaku, aku maafkan kelancanganmu tadi membantingku hingga tulang-tulang ini serasa remuk. Tapi berjanjilah kau akan mengurut dan memijitku begitu kita sampai di markas...."

Plaakkk!

Satu tamparan mendarat di muka si pemuda. Tak ampun lagi untuk kedua kalinya pemuda ini jatuh terbanting di tanah sambil teraduh-aduh kesakitan. Dari sela bibirnya tampak darah mengucur.

Melihat hal ini lima kawannya langsung saja menyerbu Wilani. Gerakan mereka mengeluarkan suara angin deras tanda kelimanya memiliki tenaga luar yang besar dan keras. Sesaat lagi wilani akan dihantam lima pukulan, tiba-tiba dari samping kiri melesat satu bayangan putih disertai suara aaa... uu... aa... uuu. Lalu terdengar pekik dua pengeroyok. Dua lainnya terpental sambil mengaduh kesakitan. Hanya satu yang sempat melompat mundur selamatkan diri.

Dua pemuda pertama terhuyung-huyung sambil pegangi bahu kiri. Ternyata tulang-tulang bahu mereka telah remuk kena hantam sedang wajah masing-masing tampak merah seperti orang mabok minuman keras!

"Aaa.. uuuu... Aaaaa... uuu...." Kembali terdengar suara aneh itu.

Dua pemuda yang tadi terpental dan terguling di tanah berusaha bangkit sambil pegangi perut. Anehnya muka keduanyapun tampak merah.

Satu-satunya pemuda yang tidak cidera memandang dengan paras berubah ke arah kiri dimana saat itu tampak berdiri seorang pemuda tidak dikenal. Pemuda ini berdiri dengan empat anggota badan tak bisa diam. Kedua tangannya digerak-gerakkan terus ke depan secara aneh yaitu seperti orang berenang. Kedua kakinyapun dijingkat-jingkatkan. Lalu dari mulutnya tiada henti terdengar suara "Aaaa... uuu... aaa... uuu!" dan wajahnya menunjukkan kemarahan. Wilani sendiri selain terkejut juga merasa heran melihat kemunculan pemuda aneh berpakaian lusuh yang jelasjelas telah menolongnya dari keroyokan lima pemuda tadi. Wajahnya masih menunjukkan kemarahan. Tapi dibalik air muka marah itu Wilani melihat adanya bayangan penderitaan.

"Bangsat kurang ajar! Siapa kau berani menciderai kawan-kawanku?!" teriak pemuda yang barusan kena gampar Wilani begitu berhasil berdiri.

Saat itu tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda berpakaian bagus. Usianya jelas sudah lanjut, mungkin sekitar 60 tahun tapi tampak masih gagah. Tanpa turun dari kudanya orang ini berkata. "Wiseso! Pasti kau lagi yang punya ulah membuat keributan. Sudah berapa kali aku memperingatkan agar jangan berlaku sembrono seenakmu! Apalagi sampai membawa murid-murid perguruan! Tinggalkan tempat ini! Bawa semua temanmu! Kalian bodoh semua! Tak habishabisnya membuat kegaduhan!"

Pemuda yang ternyata bernama Wiseso itu tampak ketakutan. Begitu juga lima kawannya. Tanpa banyak bicara dan tanpa menoleh lagi keenamnya segera tinggalkan tempat itu. Diikuti oleh enam orang di bagian lain. Lalu kemana yang empat lagi? Mereka semua bergeletakan di tanah dengan kepala atau muka benjut dihantam Wiro waktu mengeroyok Pendekar 212 itu tadi!

Lelaki di atas kuda memandang ke arah Wilani dan pemuda aneh yang saat itu masih saja tegak sambil menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya. Orang ini lantas berkata: "Harap kalian memaafkan kelakuan puteraku Wiseso dan kawan-kawannya serta melupakan kejadian ini...."

Habis berkata begitu orang ini membawa kudanya ke arah Wiro Sableng yang tegak masih memegangi sapu tangan besar milik Wilani.

"Anak muda, terima kasih atas pelajaran yang kau berikan pada murid-muridku. Harap maafkan mereka dan lupakan kejadian ini...." Orang di atas kuda diam sejenak seperti berpikir-pikir. Dia melirik pada Wilani dan pemuda aneh yang tadi berhasil menghantam roboh empat orang lawannya dalam gebrakan-gebrakan pendek. Lalu setelah merenung sejenak dia berkata pada Wiro. "Aku sempat menyaksikan permainan silatmu tadi. Jurus-jurusmu begitu menawan. Dengan kerendahan hati aku mengundangmu untuk datang ke perguruanku di selatan Kotaraja. Sekedar untuk bertukar pengalaman...."

Wiro tak hanya menyeringai tidak menyahut. Orang di atas kudapun tampaknya seperti tidak perlu menunggu jawab. Maka diapun berlalu setelah lebih dulu membentak pada empat pemuda yang masih bergeletak di tanah.

"Memalukan sekali! Jika kalian tidak segera bangun dan minggat dari sini, biar kaki-kaki kudaku memecahkan dada dan perut kalian!"

Lalu orang itu sentakan tali kekang kudanya. Meskipun masih dalam keadaan sakit dan nanar akibat hantaman Wiro, namun mendengar ancaman si penunggang kuda, keempat pemuda yang bertebaran di tanah buru-buru berdiri lalu dengan melangkah huyung mereka tinggalkan tempat itu.

Setelah keempat orang itu melangkah, barulah si penunggang kuda menggebrak tunggangannya meninggalkan tempat itu.

Untuk beberapa lamanya Wilani memperhatikan si penunggang kuda tanpa berkesip sampai akhirnya orang itu lenyap di kejauhan.

"Aku.... Aku rasa-rasa pernah melihat wajah orang itu. Dimana...?" Sepasang mata Wilani mendadak membesar. "Eh, jangan-jangan memang dia...," Wilani hendak bergerak namun suara "Aaaa... uuu... aaa... uuu," di sampingnya membuat dia hentikan gerakan kaki dan berpaling.

Pemuda yang tadi menolongnya kini tegak diam, memandang ke arahnya. Kedua tangannya dan kedua kakinya tidak lagi bergerak. Mungkin gerakan-gerakan yang dibuatnya tadi adalah sejenis gerakan silat aneh, pikir Wilani. Kini dalam keadaan tanpa marah dan tegak berdiam diri seperti itu Wilani dapatkan kenyataan bahwa pemuda ini memiliki wajah yang tampan.

"Aaaa... uuu...aaa... uuuu...."

"Kasihan, jangan-jangan pemuda ini tak bisa bicara. Gagu...," kata Wilani dalam hati.

"Aaaa... uuu... aa... uuu.....!"

Wiro mendatangi dan menegur si gagu. "Ki sanak, gebrakan silatmu luar biasa sekali. Aku tahu sedikit bahasa orang bisu. Maukah kau memberi tanda dengan gerakan jari-jari tangan biar aku tahu apa yang hendak kau katakan ...?"

"Aaaa... uuu... aaa.... uuu!" si pemuda gagu menjawab gerakan dan tanda.

"Ahhh...! Aku mengerti. Akan kusampaikan pada sahabatku ini...," ujar Wiro ketika akhirnya dia dapat membaca tanda-tanda jari yang dibuat pemuda gagu.

"Aaaa... uuu... aaa... uuu...!" Pemuda gagu itu tiba-tiba palingkan tubuhnya dan tinggalkan tempat itu!

"Hai... Tunggu!" seru Wilani. Tapi si gagu sudah lenyap. "Aku hendak menanyakan sesuatu padanya tapi mengapa dia pergi begitu saja...?"

"Tak usah kecewa. Barusan dia telah meninggalkan pesan lewat bahasa jari...," ujar Wiro.

"Lekas katakan apa pesannya itu?l" tanya Wilani tak sabaran.

"Pertama, kita berada di kawasan Kotaraja. Jangan bertindak sembrono. Kedua jangan ganggu rombongan orang-orang tadi karena mereka ada di bawah pengawasannya...."

"Di bawah pengawasannya? Berarti pemuda gagu itu adalah kawan dari orang-orang itu....

Tapi mengapa tadi dia menghantam empat orang di antara mereka sampai ada yang hancur lengannya?"

"Dengar dulu, penjelasanku belum selesai...," kata Wiro pula. "Katanya kalau urusannya beres dia akan menemui kita kembali...."

"Hanya itu saja pesannya?"

"Ada satu lagi. Dia ingin tahu siapa namamu."

Wilani memandang tajam ke arah Wiro. Làlu menyeringai. "Ah.... Pesan itu bukan dari dia.

Tapi kau yang mengarang!" Wiro tertawa gelak-gelak lalu garuk-garuk kepala.

"Kita bertiga brsahabat. Mengapa tidak saling tahu nama?"

Wilani tak menjawab. Dia tampak tengah berpikir-pikir.

"Eh, kau seperti orang melamun. Atau ada yang sedang kau pikirkan...?" tanya Wiro. Lalu Pendekar 212 melihat sepasang mata sang dara tiba-tiba membear. Wajahnya yang cantik berubah ganas. Kedua tangannya dikepalkan.

"Pasti dia.... Pasti dia....! Aku ingat sekarang! Tanda gading bersilang itu! Pasti!" Lalu Wilani bereriak keras membuat Wiro terkejut. Tanpa perdulikan Wiro lagi Wilani berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Hai tunggu! Kau mau kemana...?!" Wiro memanggil.

Wilani tidak tanggapi seruan orang. Terus saja lari kejurusan lenyapnya rombongan lelaki berkuda bersama pemuda-pemuda berseragam hitam tadi.* * *8SETELAH MEMPERTIMBANGKAN apakah dia akan pergi ke arah lenyapnya pemuda gagu atau mengejar ke arah lenyapnya gadis jelita itu, akhirnya Wiro memilih yang terakhir.

Hari mulai memasuki rembang petang ketika penguntitan yang dilakukan murid Eyang Sinto Gendeng itu membawanya jauh ke pinggiran Kotaraja sebelah selatan. Di depannya gadis yang diikuti tampak berdiri di hadapan pintu gerbang besar sebuah perguruan silat bernama "Perkumpulan Silat Gading Putih".

Di sebelah dalam pintu gerbang terdapat halaman luas sekali yaitu tempat berlatih para anak murid perguruan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.80.228.137
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia