Warna-Warni Hujan

Jika merah adalah cinta dan kuning adalah persahabatan, maka Jingga adalah kebahagiaan.

Kudengar di luar hujan turun begitu deras seolah menggambarkan kecemasannya akan takdirku. Seolah ikut merasakan segala kegalauan dan kesedihan yang tengah kurasakan. Seolah ingin berkata, “Jingga, tak usah kau lara begitu, lihatlah pelangi yang akan datang setelah aku pergi.” Ah sudahlah, selalu saja begitu pikiranku. Terlalu banyak berfantasi. Entah kenapa, setelah kejadian tragis itu, aku semakin sering berfantasi, berimajinasi atau lebih parah berhalusinasi. Terlebih ketika hujan deras mengguyur seisi kota. Ya, memang benar sepertinya hujan berperan penting dalam membangkitkan kenangan dan hujan menciptakan lagu indah bagi orang tertentu yang memiliki daya fantasi tinggi. Mungkin aku termasuk salah satu orang itu. Atau, mungkin saja aku hampir tak waras. Entahlah. Aku sendiri takut jika aku menjadi gila. Gila karena emosi yang meletup-letup. Gila karena depresi tak terkendali. Ah, lupakan!

Kau ingat? Saat itu hujan deras mengguyur kota. Kita terjebak di kampus setelah sibuk dengan rutinitas kegiatan jurusan yang kita adakan. Tak sadar hanya tinggal aku dan kau yang masih ada di ruang HIMA (Himpunan Mahasiswa). Aku duduk di dekat pintu, memegang ponselku erat sambil terus melihat-lihat barangkali ada sms atau telpon yang masuk. Aku begitu gelisah menunggu Gemilang datang. Aku sungguh tak suka sendirian bila hujan deras turun.

Tanpa sengaja, pandanganku beralih ke pojok ruang HIMA yang berukuran sedang, mungkin sekitar 4 x 4 m. Aku lihat kau menyandarkan tubuhmu di dinding. Matamu terpejam dan kedua tanganmu kau letakkan di depan dada. “Dia tampak lelah, mungkin karena capek ngurusin kegiatan yang dia pimpin.” Ujarku dalam hati. Tapi, aku menyadari beberapa hal saat itu. Pertama, aku baru menyadari bahwa kau memang seorang yang berjiwa kepemimpinan tinggi. Selain karena tanggung jawab dan disiplinmu yang tinggi, kharismamu pun terlihat seperti seorang pemimpin. Lalu, aku pun menyadari bahwa kau memang sosok lelaki sempurna yang diidam-idamkan para wanita. “Hei, kemana saja aku!” pikirku saat itu. Dan yang terakhir, aku menyadari bahwa baru pertama kalinya aku hanya berdua satu ruangan denganmu dalam jarak yang cukup dekat. Ada perasaan aneh menjalar tubuhku. Serasa geli hatiku, tapi sedikit ngilu. Ah, aku tak tau apa-apa saat itu. Yang kupikir mungkin karena kau seorang ketua HIMA jurusan kita saat itu, dan aku cuma anggotamu.

“Kenapa belum pulang Ngga?” ujarmu kalem sambil tetap memejamkan mata, membuyarkan pikiranku, menyadarkan aku yang tengah memikirkanmu saat itu.
“ah ya, aku boss?” salting aku rasanya saat itu.
“Memangnya ada yang lain selain kita berdua disini?” kau tersenyum dan matamu masih tetap terpejam. Aku melihat kau sungguh tampan saat itu.
“Emmh, aku memang sudah ingin pulang sejak sebelum hujan tadi. Tapi, Gemilang masih belum juga datang, entah kemana dia.” Keluhku sambil melihat kembali ponselku. Perlu kuceritakan. Gemilang sudah menjadi sahabatku sejak kecil. Seperti adikku sendiri. Dia begitu lembut, baik dan sangat melindungiku. Semua teman-temanku hampir mengenalnya. Walaupun aku dan Gemilang beda tingkatan – dia satu tingkat lebih muda dibanding aku – kami selalu pulang dan pergi bersama sejak kecil. Bukan saja karena kami sahabat, tapi memang tidak ada yang mau berteman dekat denganku dari dulu. Entah kenapa.

Kau melangkah mendekat ke pintu, duduk di sampingku. “Kau tampak gelisah sejak tadi? Kau takut?” Kau melihatku, aku pun melihatmu. Mata kita beradu. Hatiku berdesir halus kala melihat binar matamu.
“A a aku tak suka sendirian saat hujan deras boss. Orang-orang yang ku sayang selalu pergi meninggalkanku di saat hujan deras turun. Ibu, kakak dan adikku meninggal akibat kecelakaan misterius saat hujan deras turun. Sepertinya aku hampir membenci hujan. Aku tak mau berdamai dengannya”
“Lingga. Namaku Lingga.” Tegasmu sambil menyunggingkan senyum kecil. “Hujan takkan menerkammu. Bukan hujan yang membawa mereka pergi, tapi itu memang telah ada dalam catatanNYA. Hujan itu berkah dan indah. Percayalah.” Senyummu merekah semakin manis, membuatku betah melihatmu lama-lama.

Lalu setelah beberapa lama kita berpandangan, tiba-tiba kau bangkit dan menarik tanganku. Kau membawaku menuju hujan yang cukup deras saat itu. Aku terpaku sejenak, menyaksikan tingkah anehmu. Seorang Lingga yang disegani banyak mahasiswa berlaku demikian padaku.

Aku hanya berjalan pasrah mengikuti langkah kakimu. Kita berjalan di bawah guyuran hujan yang begitu deras. Aku hanya memandang wajahmu yang nampak begitu menikmati setiap tetesan air yang penuh berkah itu. Kau sangat tampan. Sangat mempesona. Entah kenapa kau begitu menikmati hujan kali itu, dan entah kenapa aku tak merasa benci pada hujan saat itu.

Kau tahu, sejak saat itu aku kembali menyukai hujan. Sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa ayah, ibu dan adikku terjadi, aku sangat mencintai hujan. Aku tak pernah membiarkan hujan berlalu begitu saja. Aku selalu menikmati setiap tetesan air yang merelakan dirinya jatuh ke bumi itu. Membiarkan ia membasahi setiap jengkal tubuhku. Sungguh suatu nikmat yang tiada tara. Ya, walaupun ayah selalu memarahiku sehabis itu.
Namun, setelah kecelakaan itu terjadi, aku tak menyukainya lagi. Hampir membencinya kalau boleh bilang begitu. Betapa tidak, dia begitu kejam membiarkan ketiga orang yang paling kusayangi itu meninggalkanku seorang diri. Entah apa penyebab pastinya, tapi aku tetap menyalahkan hujan atas kejadian tragis itu. Irrational bukan? Tapi memang seperti itu kenyataannya.
Yah, seperti saat ini. Aku ingin kembali menyalahkannya. Kau menyadarinya Lingga? Dia membiarkan kembali orang yang kusayang meninggalkanku. Dia membiarkanmu meninggalkan aku. Setelah kau mengajarkanku kembali menyukai hujan, kau mengajarkan aku tentang hidup ini hingga mengajarkan aku untuk mencintai dan dicintai, kau pergi di tengah hujan. Dan bersamaan dengan itu, duniaku jadi gelap.

“Jingga..” Sebuah suara menyadarkanku, membuatku menghentikan putaran slide kehidupan yang telah kulalui itu. Aku hafal betul seseorang yang memiliki suara itu. Gemilang.
Dia membuka pintu kamar dimana aku duduk sendiri saat ini. Terdengar suara langkah kakinya menghampiriku, duduk tepat di sampingku. Aku masih terdiam.
“Kamu masih belum makan Jingga?” Tanyanya sambil mengusap lembut rambutku. Aku masih terdiam.
“Makanlah barang sedikit saja. Tubuhmu semakin kurus. Nanti kau sakit.” Gemilang membujukku. Digenggamnya tanganku. “Sakit? Yang benar saja, aku sudah begitu sakit saat ini.” Batinku menggerutu. Air mataku meleleh tak tertahankan lagi. Namun, aku masih saja terdiam.
Gemilang bangkit dari duduknya, aku rasa kini ia sedang duduk di hadapanku. “Kenapa kamu nangis? Maaf kalau aku terus memaksamu untuk makan. Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu. Sudah dua hari ini kamu gak makan atau minum apapun. Bahkan kamu hanya duduk terdiam di kamar ini. Itu menyedihkan Ngga.”
Air mataku terus mengalir tanpa henti.
“Tolong, jangan seperti ini. Ucapkan sesuatu, walaupun itu cuma satu kata. Atau lakukan sesuatu. Marah, menjerit atau memukulku lebih baik daripada sekedar diam.” Ujarnya sambil menghapus air mataku. Lalu dia diam untuk beberapa lama. Suasana di kamar ini begitu hening.
“Ayah, ibu dan juga adikmu tak kan suka melihat keadaanmu saat ini. Dan juga… Lingga.” Gemilang bangkit dari tempatnya, lalu kudengar langkah kakinya menjauh.
“Aku ingin melihat mayatnya Lingga.” Akhirnya aku membuka mulut.
Gemilang berlalu tanpa berujar sepatah kata pun. Aku tahu, ia bingung harus bagaimana mengomentari perkataanku itu. Aku tahu mayatmu sudah dikuburkan kemarin, Lingga. Dan sekalipun belum dikuburkan, aku tetap tak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya. Duniaku gelap sekarang. Setitik cahayapun sudah tak bisa lagi kulihat. Ini adalah bukti bahwa hujan memang telah merenggut kembali kebahagiaanku.

Aku tak bisa lupa kejadian dua hari yang lalu. Hujan turun deras saat itu. Aku di perjalanan hendak ke rumahmu, Lingga. Ingin memberikan kejutan untuk 1st anniversary kita. Namun, aku begitu terkejut ketika sesampainya di depan rumahmu, begitu banyak orang berkerumun di sana. Mereka berlarian mencari air untuk sekedar menghentikan kobaran api yang telah menjalar di seluruh ruang rumahmu. Padahal saat itu guyuran hujan yang deras cukup bisa memadamkan dahsyatnya api saat itu. Tapi, lihatlah Lingga? Dia sama sekali tak melakukannya.

Saat itu, kakiku lumpuh seketika, badanku mati rasa. Aku bingung dan juga takut. Aku hanya diam melihat pemandangan yang maha dahsyat itu. Sungguh, aku takut. Lalu, aku terpikirkan akan dirimu.
“Lingga.. Lingga.. Dimana Lingga?” Aku menanyakan keberadaanmu pada orang-orang yang berkerumun di sana.
“Dia masih di dalam neng, sepertinya dia terjebak di sana. Dia sedang tertidur sewaktu ibu dan bapaknya pergi tadi.” Aku semakin takut dan bingung. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu. Rumahmu yang sederhana menjadikan api mudah sekali menjalar ke seluruh penjuru ruangan di dalamnya. Aku takut. Aku tak bisa berpikir apa-apa lagi saat itu. Yang kupikirkan hanya bagaimana agar kau bisa keluar dengan selamat dari sana.
“Neng jangan neng. Bahaya neng. Jangaaan!” Terdengar suara orang-orang menahanku untuk masuk ke rumahmu. Tapi, aku tak mengindahkannya. Hanya kau yang kupikirkan saat itu.

Entah bagaimana caranya aku sudah sampai di dalam kamarmu. Kulihat kau sedang teronggok lemas di sudut kiri kamarmu. Api di mana-mana. Aku meraihmu. Mencoba membangunkanmu. Namun, kekuatan api tak mampu aku lawan. Sebuah lemari kayu kecil di kamarmu menimpaku. Dan gelap. Aku tak tahu lagi kejadian setelah itu. Yang aku tahu, aku sudah berada di kamar rumah sakit ini. Namun, sampai saat ini aku tak mengerti kenapa api begitu hebat menyulut di rumahmu. Darimanakah asalnya? Ah, entahlah.

Ini hari ketujuh setelah kejadian yang merenggut nyawamu Lingga. Aku masih di rumah sakit ini. Masih sendiri. Gemilang, entah kemana dia. Sepertinya dia marah atas perlakuanku waktu hari itu. Aku membutuhkan Gemilang saat ini, Lingga.
Kau tahu Lingga? Hari ini aku akan dioperasi. Kata dokter, ada seseorang yang mau berbaik hati mendonorkan retinanya untukku. Dan dia mengirimkan surat untukku. Sayang, aku tidak bisa membacanya saat ini. Seharusnya Gemilang yang membacakannya untukku. Tapi, dia masih marah padaku. Entahlah.

Operasi selesai dilakukan sekitar empat jam yang lalu. Entah berapa lama para dokter itu melakukan operasi itu. Satu jam lebih barangkali. Duniaku kini kembali bercahaya, Lingga. Aku bahagia sekarang meski awalnya aku sungguh takut kalau-kalau operasi ini tidak berhasil.
Tapi, dimana Gemilang? Seharusnya dia menemaniku menjalani operasi tadi, meskipun hanya berada di luar ruang operasi. Dan juga, seharusnya dia ada di sampingku tadi, seharusnya dia orang yang pertama aku lihat saat mataku bisa kembali melihat. Tapi, dimana dia? Apa kau tahu, Lingga?
Oh iya, aku teringat akan pendonor itu. Aku ingat surat yang dia berikan untukku.

Lalu, kuambil sepucuk surat berwarna kuning yang tergeletak di atas lemari di samping tempat tidurku. Kubuka perlahan. Kubaca dengan seksama.

Jingga yang kucintai,
Saat kau membaca surat ini, aku pasti sudah tak di sampingmu lagi. Maaf, aku pergi tanpa pamit. Maaf pula, bila tak ada yang memberitahumu akan kepergianku. Bukan, bukan maksudku meninggalkanmu. Tapi, ini kulakukan sebagai penebus rasa bersalahku yang mungkin tak akan pernah bisa tertebus walau hanya sedikit.
Aku sangat mencintaimu, Jingga. Sangat. Melebihi apapun di dunia ini. Melebihi diriku sendiri. Dan aku mencintaimu seperti seorang pria mencintai seorang wanita. Bukan sebagai sahabat ataupun adik. Kau tak pernah tahu itu bukan?
Karena cinta itu pula aku melakukan segalanya Ngga. Melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidaklah normal. Tapi, itu semua kulakukan karena aku menginginkan kebersamaan kita yang kekal.
Kau ingat? Orangtuamu selalu melarang kita berhubungan terlalu dekat saat usiamu menginjak 17 tahun. Tak pantas katanya. Karena itu, kusingkirkan mereka karena telah berusaha menjauhkanmu dariku. Agar kau bisa tinggal di rumahku bersama dengan ibuku yang kesepian. Bukan, bukan hujan yang membiarkan mereka meninggalkanmu, tapi aku.
Lalu, kau tahu kenapa sejak dulu teman-temanmu tidak mau bersahabat denganmu? Itu karena aku yang melarang mereka dan mengancam agar mereka tak mendekatimu. Aku hanya ingin akulah satu-satunya tempat berlindungmu yang paling nyaman. Itu saja.
Dan terakhir, aku marah sekali, amat sangat marah, ketika kau mulai dekat dengan Lingga. Aku geram. Tapi, aku belum bisa melakukan apa-apa selama satu tahun kau berhubungan dengannya. Hingga tiba akhirnya aku kembali menjauhkanmu dari orang yang kau sayang. Kebakaran di rumah Lingga pada malam itu, akulah penyebabnya. Aku yang menaruh bensin di rumah Lingga. Aku pula yang menyalakan api di sana saat ia terlelap. Tapi, aku sungguh tak tahu kalau kau akan datang ke sana. Sekali lagi, kau mungkin menyalahkan hujan saat itu. Tapi, itu salah Ngga. Akulah yang melakukannya. Aku yang menyebabkan api menyulut sedemikian besarnya.
Aku sangat sedih saat tahu kau mencoba menyelamatkan Lingga. Aku ingin memarahimu. Tapi tak bisa. Aku semakin sedih saat senyummu hilang setelah hari itu. Saat kau tak lagi mau berbagi denganku. Saat matamu tak bisa melihat. Saat kehilanganmu akan Lingga begitu demikian besarnya. Aku sungguh sakit.
Karena itu, kuputuskan untuk mendonorkan retinaku untuk kedua mata indahmu itu. Aku benci melihat semua kesedihanmu itu. Tapi, aku tak bisa memusnahkan kau. Lebih baik, kubunuh diriku sendiri agar terbebas dari semua perasaan itu. Aku akan menyusul semua orang yang telah kukorbankan demi tetap bersamamu.
Aku tak memintamu untuk memaafkanku. Tapi, aku mohon tinggallah bersama ibuku dan jadilah anaknya. Aku mohon. Satu hal yang perlu kau tahu, hujan bukanlah penyebab kepergian semua orang yang kau sayang. Tak perlu lagi kau membenci hujan.
Maafkan aku Jingga.
Gemilang

Pandanganku sudah kabur karena air mata yang mengalir semakin deras. Sedih, kecewa dan marah berkecamuk jadi satu. Aku tak tahu kalau Gemilang itu sakit, Lingga. Aku tak tahu kenapa dia tega melakukan semua itu. Aku ingin menjerit. Kepalaku sakit membayangkan semua yang telah terjadi itu, membayangkan hari-hari yang akan kulalui di kemudian hari. Bagaimana ini semua terjadi kepadaku? Kepalaku semakin sakit. Dan gelap.

Di sana, di tepi pantai itu, aku melihatmu Lingga. Kau nampak tampan sekali dengan pakaian putihmu. Kau tersenyum kepadaku, sungguh manis. Lalu, ayah, ibu dan adikku menghampirimu dengan wajah berseri. Menyusul kemudian Gemilang, lelaki jahat itu berdiri membalikkan badan, tampak sedih. Kenapa kalian bersama dia? Kalian tak marah pada Gemilang? Bukankah dia telah membunuh kalian?
Ibuku mendekat dan membisikkan sesuatu seraya mengelus-elus kepalaku, “Pada hakikatnya, kita mati karena kehendak Alloh sayang. Adapun Gemilang hanya sebagai penyebab perantara kematian kami yang mengenaskan itu. Dia telah dan akan mendapatkan balasan yang setimpal untuk yang dia lakukan itu. Tak usah lagi kau marah atau menaruh kebencian padanya. Itu hanya akan menghambat kehidupanmu. Berjalanlah terus nak, jadilah yang lebih baik lagi. Alloh tak suka jika kau tak menjadikan ini semua sebagai pembelajaran. Tinggalah bersama ibu Gemilang. Jadilah anak yang baik untuknya. Itu akan membahagiakan kami di sini. Dan, jangan pernah lagi kau membenci hujan. Hujan itu indah sayang, nikmatilah setiap tetesannya. Dan kau akan bahagia.”

Aku terbangun. Pipiku basah. Mimpi itu, serasa benar-benar nyata. Pertanda apakah itu semua? Apa aku harus merelakan semua yang terjadi itu? Apa aku harus berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi? Apa aku harus memaafkan Gemilang dan memenuhi permohonan terakhirnya? Apa aku tak boleh lagi membenci hujan? Apa lagi? Entahlah, aku bingung. Yang kuinginkan saat ini adalah menenangkan diri. Sungguh, aku takut. Aku takut gila memikirkan semua itu.

Lalu, kulihat dari balik jendela tetesan-tetesan air jatuh ke bumi, membasahi seantero kota. Semakin lama, tetesan air itu semakin deras. Mereka seakan memanggil-manggil namaku. Dan tanpa disadari, aku sudah berada di luar, di tengah guyuran air yang begitu deras. Entah kenapa, tak ada rasa takut ataupun benci padanya. Seluruh tubuhku serasa tersengat listrik saat tetesan demi tetesan membasahi tiap jengkal tubuhku, merasuk ke pori-pori, bersatu dengan aliran darah dan denyut jantungku.
Ada perasaan aneh yang kurasakan saat ini. Ringan. Sungguh ringan. Semua perasaan yang tadi meluluhlantakkan hatiku seperti terbang dan hilang seketika. Tak ada lagi kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. Yang ada hanya kedamaian. Sungguh sulit untuk kulukiskan.

Inikah awal dari hidupku yang baru dimana aku harus melerakan setiap putaran kehidupan yang telah kulalui? Sama seperti mereka, tetesan-tetesan air yang merelakan dirinya jatuh ke bumi demi untuk memenuhi titah-Nya. Mereka yang dinamakan hujan.
Ya, aku tahu sekarang. Hujan turun atas titah-Nya, tak hanya datang dan pergi tanpa ada guna. Tapi, ia memberi berkah untuk semua makhluk. Begitupun hidupku, tak hanya tentang suka dan tak suka, sayang dan benci. Tapi lebih dari itu, aku harus berguna bagi orang lain.
Terima kasih Ya Alloh, telah menciptakan hujan yang memberikan warna dalam hidupku, tak hanya hitam dan putih. Dan hujan akan selalu jadi inspirasiku untuk memberikan warna pada dunia, lewat tulisan-tulisanku. Kini, aku akan memulai semuanya dari awal. Menjadi Jingga yang lebih baik, menjadi anak dari seorang ibu yang putranya akan selalu jadi bagian hidupku. Dia yang memberikan kegelapan di masa laluku dan memberikan terang di masa depanku.
Dan kau Lingga, tenanglah di sana bersama ayah, ibu dan adikku. Aku akan bahagia di sini.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.156.36.82
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia