When The Caterpillar Fly

“Hidup. Sesuatu yang harus kujalani karena paksaan waktu yang terus mendorongku maju.”
- Reina

Raja langit perlahan-lahan mulai keluar dari persembunyiannya. Menciptakan gradasi warna sisa langit malam dipadu dengan sinar merah kekuningannya yang sangat indah dan selalu memberi kesan kagum bagi setiap orang yang melihatnya. Namun sayang, hanya segelintir orang saja yang benar-benar memahami betapa indah dan berharganya peristiwa harian itu.
Kuhembuskan napas perlahan. “Baiklah, lembaran baru untuk permainan kejam ini telah dimulai” Gumamku. Ya! Permainan kejam sang waktu yang terus memaksa maju tanpa pernah memikirkan keadaanku. Sudah bertahun-tahun aku hidup di dunia tapi sampai saat ini aku masih belum mengerti apa itu waktu dan makna kehidupan.

Hidup. Apa itu hidup? Untuk apa aku hidup? Apa yang akan aku kejar dalam hidup ini? Semua seperti gelap. Seakan-akan hidupku tak bertujuan, tak bercita cita. Semua berlari menuju cita citanya sedangkan aku hanya terdiam melihat mereka berlari dengan semangatnya demi cita-cita mereka tersebut. Entahlah. Aku tak mempunyai hal yang istimewa dalam hidup ini. Aku merasa hidup ini hanya garis datar yang entah akan berjalan kemana. Walaupun kita harus bersyukur atas semua yang diberikanNya, tapi aku selama ini hanya menjalani apa yang di depan dan apa yang ada. Aku tak tahu nanti akan menjadi apa. Intinya dalam hidup ini aku hanya mempunyai satu kata yaitu “jalan”. Aku akan terus berjalan walaupun aku tak tahu harus ke mana. Dan aku akan terus berjalan sampai aku memecahkan misteri dalam permainan waktu dan kehidupan ini.

Kulirik jam dinding yang menempel manis di tembok kamar. Tepat pukul 05.00, aku beranjak dari dudukku dan melangkah keluar kamar.
“Rei, tumben udah bangun?” Tanya Bunda saat aku memasuki dapur.
“Ya” Jawabku singkat. Sebenarnya dari semalam aku masih terjaga hingga pagi ini. Entahlah. Mata dan pikiranku sangat tidak bisa berkompromi dengan tubuhku yang lelah. Dan pikiranku masih saja dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tak tahu kapan akan mendapatkan jawabannya.
“Baguslah, jadi bunda nggak perlu susah payah membangunkanmu” Tambah beliau.
Aku meneguk segelas air yang baru saja kuambil. Kemudian kulangkahkan kaki menuju kamar mandi.

*****

Aku berjalan dengan langkah gontai. Aku bosan dengan semua ini. Dengan aktivitas monoton yang memakan waktu sangat lama. Ya, sekolah. Tidak ada yang spesial dari sekolah. Hanya itu-itu saja yang terjadi. Kalau bukan karena sekolah merupakan kewajiban setiap penduduk di negara ini dan tuntutan dari orang sekitarku, pasti aku lebih memilih melakukan hal-hal lainnya yang dapat mempermudahkanku dalam memecahkan misteri permainan kejam kehidupan ini.

Kulangkahkan kaki memasuki kelas dan langsung menuju bangkuku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas, pandangan yang masih sama dari hari-hari sebelumnya. Beberapa teman berkumpul membicarakan urusan mereka, beberapa lagi mengerjakan PR dan beberapa bangku masih tak berpenghuni.
“Rei, tumben datang pagi?” Tanya Terry sambil meletakkan tasnya.
“Kemajuan bukan?” Tanyaku balik.
“Iya juga ya” Jawabnya sambil melangkah mendekati beberapa temanku yang sedang berkumpul.

Pelajaran hari ini seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Guru menerangkan di depan dan murid mendengarkan di bangku masing-masing. Hal yang sangat sering terjadi. Mengapa para guru tidak mencoba metode pembelajaran yang lebih menarik? Seperti belajar dalam sebuah permainan atau apa saja yang menyenangkan. Bukankah belajar yang baik adalah belajar dalam kondisi senang? Bukan dalam kondisi bosan dan mengantuk?

“Anak-anak ini ada penyuluhan dari mahasiswi psikologi UNAIR. Ibu harap kalian mendengarkan dengan baik” Ucap Bu Har –Guru BK-
“Pagi semuanya” Sapa 2 orang tersebut
“Pagi…” Balas teman sekelasku kompak. Bersamaan dengan itu Bu Har berjalan keluar kelas.
“Perkenalkan nama saya Diana dan ini teman saya Sandra” Ucap ramah salah satu mahasiswa yang mengaku mempunyai nama Diana.
“Kami kesini hanya untuk memberi sedikit informasi tentang ilmu psikologi kepada kalian sekaligus kami meminta bantuannya untuk penelitian kami” Mbak Diana berhenti sejenak. “Kalian sudah SMA, pasti sudah mempunyai pandangan untuk ke depannya bukan” Tambahnya dengan nada menggantung seperti bertanya, tapi menurutku itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. “Cita-citamu apa?” Tambahnya sambil menunjuk.
Aku menoleh ke belakang, kanan, kiri tapi semua mata tertuju padaku. Ya, dia bertanya kepadaku. “mm… nggak tau” Jawabku polos. Sontak semua temanku tertawa.
“Kamu tidak mempunyai cita-cita? Baiklah apa yang kamu sukai?” Tanyanya lagi
“mmm.. entahlah”
“Waduh! Generasi macam apa ini hal yang disukai saja tidak tahu bahkan cita-cita pun juga tidak punya”
Aku hanya diam mendengar ucapannya.
“Baiklah, bagaimana dengan kamu?” Tanyanya kepada Hanny – salah satu teman kelasku -
“Dokter” Jawabnya mantap
“Wah, bagus! Mengapa kamu memilih dokter?”
“Karena profesi dokter sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia dan menurutku penghasilan seorang dokter sangat lumayan”
Kuhembuskan napas perlahan. Mayoritas masyarakat termasuk Ayah menganggap dokter adalah pekerjaan yang sangat mapan. Tapi sukses tidak hanya dokter saja bukan? Banyak pekerjaan lain yang bisa menjamin. Dan bukan hanya dokter saja yang dibutuhkan negara ini. Banyak profesi sederhana yang sebenarnya sangat berpengaruh penting.
“Kalau kamu nanti akan melanjutkan ke perguruan tinggi mana?” Tanya Mbak Diana kepada Jonas
“Antara UGM atau UNAIR”
“Mau ngambil apa?”
“Hukum mbak”
“Hebat!” Ucap Mbak Diana kagum

Mengapa semua mempunyai tujuan dan cita-cita? Apa tujuan dan cita-citaku? Apakah hidupku terlalu suram sampai-sampai tidak jelas seperti ini? Pertanyaan yang sama lagi-lagi berkelibat di otakku. Kualihkan pandangan ke jendela. Mataku menangkap bayangan burung-burung kecil berterbangan di langit. Begitu bebasnya. Apa burung juga memiliki tujuan? Apa burung juga tahu kemana ia akan terbang?

*****

Kuhempaskan tubuhku di salah satu bangku yang tersedia di taman ini. Kulihat sebuah keluarga yang sedang bercengkerama dengan hangatnya. Namun tak jauh terlihat seorang anak laki-laki duduk melamun dengan sebuah buku di genggamannya. Tiba-tiba ada keinginan dalam diriku untuk menghampiri anak tersebut.
“Hai, kamu ke sini sama siapa?” Tanyaku ketika berada di hadapan anak itu.
Namun ia hanya diam. Menatapku dengan pandangan bingung dan heran.
“Kenalkan aku Reina, nama kamu siapa?” Tambahku dengan nada ramah
Matanya menelusuriku dari kepala sampai ujung sepatu dengan wajah kebingungan dan mulutnya masih terkunci.
“Jangan takut, aku orang baik-baik kok. Aku sama sekali nggak mempunyai niatan jahat” Ucapku lagi meyakinkan
“Kakak pulang sekolah?” Kalimat pertama yang terlontar dari mulut kecilnya.
“Iya, nama kamu siapa?”
“Kakak nggak langsung pulang? Nggak dimarahi sama Mamanya kakak?”
Aku menghela napas. Dasar anak ini, aku bertanya A tapi jawaban yang keluar dari mulutnya Z. ‘Sabar Reina’ Batinku
“Nggak, kan kakak udah besar” Jawabku sambil mengambil duduk di sebelahnya
“Oh, enak ya!”
“Nama kamu siapa?”
“Nama kakak Reina? Namaku Fiko” Jawabnya sambil mengulurkan tangan.
Kuanggukan kepala sambil membalas uluran tangannya. “Kamu sendirian?” Tanyaku
“Seperti yang kakak lihat, memangnya kakak melihat ada orang lain di sebelahku selain kakak?”
“Iya juga ya” Jawabku sambil menggaruk kulit kepalaku yang tidak gatal. Pasti aku terlihat sangat bodoh di depan bocah ini. “Kamu sekolah dimana?” Tanyaku lagi untuk mengurangi kecanggungan di antara kami.
“Aku nggak sekolah”
“Kenapa?”
“Nggak dibolehin Mama sama Papa, padahal aku sangat ingin sekolah. Aku ingin sekolah tinggi sampai aku bisa menjadi arsitek. Aku akan membangun tempat yang rindang. Kota ini terlalu luas jika hanya diisi dengan bangunan megah.” Jawab Fiko
Apa? Anak yang masih berumur sekitar 10 – 11 tahun ini sudah mempunyai cita-cita? ‘Reina betapa suram hidupmu’ satu kalimat yang tiba-tiba terlintas diotakku.
“Mengapa kamu ingin menjadi arsitek dan membangun tempat seperti itu?”
“Aku kasihan melihat orang-orang. Lihat orang itu!” Jawabnya sambil menunjuk seorang ibu yang berjalan di trotoar dengan menggenggam payung agar terlindung dari sengatan matahari. “Kakak lihat kan, Ibu itu memakai payung padahal payung kan untuk melindungi kita dari hujan tapi siang ini matahari sedang bersinar dengan semangatnya. Pasti Ibu itu nggak tahan dengan panas yang menyengat ini. Kita butuh tempat rindang yang lebih ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi suhu yang panas ini” Ia menghela napas sejenak. “Aku akan membuat bangunan seperti mall yang ramah lingkungan dengan tidak memakai kaca untuk lapisan dinding luarnya tapi diganti dengan tumbuhan dan akan terdapat berbagai macam tumbuhan di sana jadi nggak perlu AC. Selain itu biaya membuatnya pasti nggak terlalu mahal dan banyak banget keuntungan lainnya. Coba kakak bayangkan kalau semua mall di kota ini seperti itu! Pasti kota kita akan jadi lebih indah dan sejuk” Jelas Fiko panjang lebar dengan mata berbinar.
“Keren!” Gumamku tiba-tiba. Aku memandang kagum wajah polos dihadapanku ini. Alasan yang sangat sederhana tapi dapat membuatnya memiliki cita-cita luar biasa.
“Apa yang keren Kak?”
“Ide kamu, aku nggak nyangka anak seumuran kamu punya pemikiran seperti itu. Aku yang berumur 17 tahun aja nggak punya cita-cita. Aku iri sama kamu”
“Kakak nggak punya cita-cita? Nggak mungkin!”
“Tapi aku serius. Gimana caranya kamu tau cita-citamu itu?”
“Aku juga nggak tau, tiba-tiba aku ingin jadi arsitek saat Papa sama Mama mengajakku keliling kota” Jawabnya polos
“Pasti orangtuamu bangga mempunyai anak seperti kamu, Fiko”
“Tapi kayaknya cita-citaku nggak akan terwujud”
“Lo memangnya kenapa?”
“Karena Papa sama Mama nggak ngijinin aku sekolah lagi” Jawabnya. Raut mukanya tiba-tiba berubah menjadi sedih.
Mengapa orangtua Fiko tidak mengijinkannya sekolah? Apakah tidak ada biaya? Kupandangi anak laki-laki di hadapanku ini. Menurutku dari segi penampilan pakaian yang dikenakan sangat layak.
“Fikooo…!” Teriak seseorang dari kejauhan.
“Kak Ari!” Balas Fiko sambil berlari menuju lelaki yang memanggilnya.
“Kamu dari mana aja? Kakak nyariin kamu kemana-mana” Ucap lelaki itu. Tiba-tiba matanya mengarah padaku. “Siapa kamu?” Tanyanya dengan nada dingin.
“Itu kak Reina, dia teman baruku” Jawab Fiko.
“Iya, kenalkan aku Reina” Ucapku sambil mengulurkan tangan.
“Fiko, lain kali jangan mudah dekat dengan orang asing” Kata lelaki yang seingatku bernama Ari itu tanpa membalas uluran tanganku.
“Sudahlah ayo kita pulang! Kamu harus istirahat” Tambah Ari sambil menggenggam tangan Fiko dan melangkah menjauh.
“Tunggu!” Cegahku.
Lelaki itu menghentikan langkahnya. “Apa?”
“Kalau aku boleh tahu, mengapa Fiko nggak diijinkan sekolah?”
Ari mengalihkan pandangan ke wajah adiknya. “Fiko, lain kali jangan menceritakan urusan pribadi ke orang asing” Ucapnya. Fiko hanya mengangguk.
“Bukan urusanmu” Jawab Ari sambil mengalihkan pandangan ke arahku. Kemudian Ari dan Fiko melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.
Ada apa dengan lelaki itu? Aku hanya bertanya baik-baik tapi ia seperti tidak ramah denganku. Apakah wajahku terlalu memberi kesan kriminal bagi setiap orang yang pertama kali melihatku?

*****

Malam yang menyenangkan, tanpa PR dan tanpa ulangan harian. Seandainya saja setiap hari seperti ini pasti semua pelajar tidak akan mengeluh. Untuk mengisi waktu luang, kutekan tombol power laptopku. Beberapa menit kemudian munculah gambar langit angkasa yang tak lain adalah wallpaper laptopku. Kugeser dan kuklik mouse beberapa kali dan kini wallpaper tersebut telah berubah menjadi lembar kerja yang penuh dengan beberapa tulisan.

Ya inilah duniaku, lebih tepatnya dunia keduaku. Sebenarnya aku suka menulis. Menulis apapun yang ada dipikiranku. Kutuangkan semua imajinasiku dalam kata-kata. Entah itu fiktif ataupun nonfiktif. Hanya dengan menulis aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa kegundahan yang selalu menyelimutiku di dunia sesungguhnya. Kugerakkan 10 jari yang kupunya untuk menekan pelan beberapa abjad yang tersedia pada keyboard. Membentuk rangkaian kalimat panjang. Dan hanya beberapa menit saja, aku sudah tenggelam dalam imajinasiku sendiri.

Beberapa jam kemudian kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi beberapa paragraf yang memenuhi 8 halaman. Kubaca ulang tulisan tersebut dari awal. Ada perasaan yang menyeruak dalam diriku. Perasaan senang yang tak terdefinisikan. Tapi, tidak ada yang mengetahui tentang dunia kedua ini termasuk kedua orangtuaku. Menurutku, Ayah dan Bunda tidak akan menyetujui jika anak perempuannya ini menjadi penulis. Karena mereka berimpian agar aku menjadi orang yang bergelut dalam bidang kesehatan. Tapi jauh dalam diriku tak ada niatan untuk terjun ke bidang tersebut, aku tidak tertarik dengan hal itu. Itulah salah satu faktor mengapa sampai sekarang aku masih bingung dengan tujuanku kelak.

Kuhempaskan tubuhku ke sandaran kursi. Kutatap langit-langit kamar yang hanya berwarna putih polos. Tiba-tiba aku teringat Fiko. Pertemuan singkat dengannya tadi siang membuatku tergugah untuk mencari tujuan dan cita-citaku. Impian si bocah polos itu sangat luar biasa. Arsitek? Aku kurang mengerti dengan profesi itu. Dengan rasa penasaran kuklik ikon yang bertuliskan ‘google’ kemudian kuketik kata kunci ‘arsitek’ di kolom pencarian.

Muncul beberapa pilihan artikel. Ada satu judul artikel yang menarik perhatianku. Setelah kubuka, ternyata sebuah blog yang menceritakan tentang perubahan hidup seorang mahasiswa arsitektur. Aku sangat terkejut membaca tulisan dalam blog tersebut. Dituliskan bahwa si penulis merasa menyesal telah memilih jurusan arsitektur, perubahan pola makan dan jam tidur si penulis yang mengarah ke penurunan serta penulis juga menuliskan bahwa kehidupan arsitek tidak seperti yang diasumsikan oleh masyarakat selama ini karena hanya 10 % dari arsitek di negara ini yang termasuk dalam IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dan 90% lainnya ada yang membuka usaha sendiri, ada yang beralih profesi namun masih berhubungan dengan ilmu arsitektur dan sebagian memilih pekerjaan yang menyimpang dari arsitektur bahkan ada juga yang menjadi pengangguran.

Setelah membaca blog tersebut nyaliku menciyut. Begitu susahkah menjadi arsitek? Bukankah arsitek pekerjaan yang hanya mengandalkan perhitungan dan kemampuan menggambar? Begitu kerasnya persaingan di luar sana. Semoga saja Fiko tetap semangat demi impian arsiteknya itu dan aku yakin kelak ia akan menjadi arsitek sukses.

*****

“Bagaimana kuliahmu?” Tanya Ayah kepada Kak Artan ketika semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan.
“Baik Yah, lagi banyak-banyaknya tugas dari dosen” Jawab kakakku satu-satunya itu.
“Belajar yang rajin, kuliah ini menentukan untuk profesimu kelak” Ingat Ayah.
“Iya. Oh ya minggu ini aku akan ada turnamen futsal ” Balas Kak Artan.
“Kamu jangan terlalu fokus ke futsal nanti kuliahnya mogok kan repot” Tambah Bunda.
“Futsal cuma untuk hobi aja kok Bun, prioritas utama tetap jadi pengacara”
“Pokoknya Ayah sama Bunda nggak mau dengar berita aneh-aneh tentang kuliahmu”
“Siap, kalian tenang aja!”

Aku menghembuskan napas berat. Masih terlalu pagi untuk membahas cita-cita, bukan? Apa tidak ada topik lain untuk perbincangan di meja makan ini? Kak Artan selalu bisa membuat Ayah dan Bunda bangga. Kakakku itu mahasiswa hukum di salah satu universitas ternama di kota ini dan ia bercita-cita menjadi pengacara terkenal. Apa sih enaknya debat di pengadilan demi klien?
“Kalau kamu bagaiman Rei? Sudah tau mau kuliah jurusan apa?” Tanya Ayah tiba-tiba kepadaku
“mmm… nggak tau Yah” Jawabku pelan
“Gimana toh kamu ini? Kamu sudah kelas 2 SMA, Reina” Balas Ayah dengan logat Jawa yang sangat kental
“Masih belum ada yang pas”
“Jurusan apa yang pas untuk anak yang tidak bercita-cita?” Tanya Ayah dengan nada merendahkan
Aku jengah mendengar pertanyaan itu.
“Sastra” Jawabku pelan
“Sastra? Mau jadi opo kamu? Jurusan Bahasa di SMA aja di hapus” Balas Ayah kemudian meneguk teh hangat yang ada di genggamannya. “Oh ya kemarin anak teman Ayah yang jurusan kedokteran itu sudah memasuki semester akhir dan sekarang lagi sibuk-sibuknya ngurus skripsi” Tambah beliau
Aku menghembuskan napas pelan. ‘Itu kan anak teman Ayah bukan aku’ Batinku
“Gimana kalau Ayah kenalkan sama kamu? Biar bisa bertukar pengalaman?” Tanya Ayah
“Terserah” Ucapku pasrah “Aku harus berangkat sekarang, ada tugas yang belum selesai” Tambahku sambil beranjak dari kursi.
“Gimana mau masuk kedokteran kalau tugas aja masih nyontek?” Sindir Kak Artan
Tapi telingaku sudah cukup kebal mendengar sindiran-sindiran seperti itu. Setelah mencium tangan Ayah dan Bunda, aku langsung melangkah menuju pintu tanpa menggubris sindiran Kak Artan.

Kulajukan motor kesayanganku melawan hiruk pikuk Kota Pahlawan ini. 15 menit kemudian aku sudah memasuki gerbang yang tak asing bagiku. Sekolah sekolah dan sekolah. Ya, rutinitas yang diwajibkan namun belum tentu menjamin masa depan kita kelak.

*****

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Serba putih. Sekarang aku berada di rumah sakit. Kalau saja bukan karena Bunda yang mengajakku menjenguk salah satu teman arisannya, pasti sekarang aku masih menikmati mimpi indah di kasur empukku.
Aku mengikuti langkah Bunda menelusuri lorong demi lorong di rumah sakit ini. “Bun, kita tanya aja!” Usulku.
“Kayaknya belok sini” Ucap Bunda.
“Sus, kamar mawar dimana ya?” Tanyaku kepada seorang suster yang kebetulan lewat tanpa menghiraukan ucapan Bunda.
“Oh, belok kiri trus lurus aja. Kamar mawar ada di sebelah kanan” Jawab Suster tersebut.
“Makasih Sus” Balasku sambil tersenyum.
“Oh iya belok kiri, Bunda ingat sekarang” Tambah Bunda dengan nada seolah-olah tahu.
Aku menghela napas perlahan.
“Rei, habis ini luruskan?”
“Katanya Bunda udah ingat?” Pancingku.
“Ya, Bunda kan cuma memastikan biar nggak nyasar” Balas Bunda mengelak.
‘Bunda… Bunda…’ Batinku

Tak lama ketemulah kamar Mawar yang kami cari-cari dan tanpa membuang waktu lagi Bunda langsung masuk ke dalam. Terlihat seorang wanita setengah baya terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya. Wanita itu tersenyum kecil saat mengetahui kami datang dan Bunda berusaha memeluk sahabatnya tersebut. Sangat mengharukan. Karena tidak ingin mengganggu, kuputuskan untuk keluar sekaligus mencari angin.

Kakiku terhenti saat melewati taman tengah rumah sakit tersebut. Mataku menangkap sosok yang tak asing. Kumajukan langkah mendekati sosok tersebut.
“Fiko” Panggilku pelan.
Refleks ia menoleh ke arahku dan tersenyum. “Kak Reina? Ngapain kakak ke sini?”
“Iya, hanya mengantar Bunda menjenguk temannya. Kamu sendiri ngapain di…” Pertanyaanku terhenti saat aku menyadari bahwa Fiko mengenakan pakaian yang sama seperti yang dikenakan teman Bunda tadi. “Kamu sakit?”
“Aku nggak tau. Yang kutahu hampir setiap Minggu aku harus ke rumah sakit” Jawabnya polos
Aku memandangnya dengan tatapan prihatin.
“Kak Reina, aku senang bisa mengenal kakak” Tambahnya tiba-tiba
“Aku juga beruntung bisa bertemu anak sehebat kamu” Balasku sambil tersenyum
“Aku iri sama kakak. Kakak bisa sekolah sampai setinggi yang kakak mau. Sedangkan aku hanya sekolah sampai kelas 4 SD”
Kutatap lekat sepasang mata di hadapanku ini, aku melihat keputusasaan dibalik manik hitamnya. Tak kutemukan binar mata yang kutangkap saat pertama bertemu dengannya. Sepasang mata itu kini beralih, memandang rerumputan hijau yang sedikit menari terkena sapuan pelan angin.
“Kenapa kamu iri sama aku? Walaupun aku sekolah sampai SMA tapi aku nggak sehebat kamu. Kamu anak terhebat yang pernah aku temui” Ucapku sambil mengusap pelan puncak kepala Fiko. “Kalau sudah sembuh aku yakin orangtuamu pasti ngijinin kamu sekolah” Tambahku
“Semoga aja” Jawabnya pelan dengan mata menerawang jauh entah kemana.
“Kamu harus makan yang banyak terus minum obat teratur biar cepat sembuh dan sekolah lagi”
Ia hanya diam. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya kini.
“Kemarin aku nggak sengaja dengar percakapan Papa dan Dokter Hadi. Katanya semua semakin parah dan umurku nggak lama lagi” Kalimat yang terlontar dari mulut kecil itu
Aku terkejut mendengarnya. Penyakit apa yang diderita Fiko? Apakah separah itu?
“Apakah aku akan mati?” Tanyanya polos
“Fiko, yang tahu umur kita cuma Tuhan, dokter kan cuma manusia biasa sama seperti kita” Balasku sambil menatap wajah polos di sampingku itu.
“Aku berdoa agar Tuhan memberiku umur panjang sampai aku bisa membuat Mama, Papa dan Kak Ari bangga”
“Amin, pasti Tuhan mendengarkan doa anak hebat seperti kamu”
Tiba-tiba Fiko mendongakkan kepalanya. Menghadap langit yang berwarna biru bercampur dengan abu-abu gelap. Aku pun mengikutinya. Kemana matahari siang ini? Mengapa ia bersembunyi di balik awan gelap?
“mmmhh” Napas Fiko tiba-tiba tersengal-sengal
“Fiko kamu kenapa?” Tanyaku gugup
Tapi mulutnya tak mengeluarkan satu kata pun. Wajahnya semakin pucat. Dan napasnya semakin tidak beraturan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya berteriak minta tolong dengan sekencang-kencangnya. Untung saja, tak lama beberapa suster datang dan langsung membawa Fiko.

Aku hanya berdiri di balik tembok tak jauh dari ruang tempat Fiko dirawat. Aku tidak mempunyai keberanian untuk bertatapan langsung dengan keluarga Fiko. Aku takut. Apa ini semua salahku? Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan itu.
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” Tanya Mama Fiko dengan air mata masih mengalir di pipinya.
Dokter itu hanya terdiam.

*****

Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 03.00 pagi. Kemudian aku beranjak dari tempat tidur menuju meja belajar. Kubuka jendela yang berada di sebelah kanan meja belajar. Angin malam berhembus pelan. Kurasakan gesekan angin yang tercipta di kulitku, sangat dingin. Tapi hal itu tak membuatku untuk berpikiran kembali ke tempat tidur. Kutatap langit malam, tak ada bintang yang bertebaran. Aku tak tahu mengapa banyak orang menganggap bintang itu indah. Bintang hanya pelengkap langit. Meskipun tanpa pelengkap tersebut, langit tetap terang dengan cahaya bulan yang lebih indah.

Dengan mata masih menatap langit malam, pikiranku mengingat kejadian 1 minggu yang lalu. Fiko. Mengapa ia harus pergi menghadapNya secepat ini? Mengapa Tuhan mengambil anak yang memiliki cita-cita jelas seperti Fiko? Tapi mengapa Tuhan justru membiarkan anak tidak jelas sepertiku untuk hidup lebih lama? Mengapa aku diberi umur panjang sedangkan Fiko tidak? Mengapa harus dia yang mengidap lupus, Tuhan? Apa benar Tuhan tidak adil?

Tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang di dekat jendela. Kupu-kupu cantik itu terbang dengan bebasnya. Menurut banyak orang kupu-kupu adalah hewan yang memiliki metamorfosis yang sangat mengagumkan. Dari telur kecil berubah menjadi ulat. Ulat yang menjijikkan, tak dianggap dan tak ada satupun orang yang ingin tersentuh olehnya. Namun beberapa hari kemudian ulat tersebut bersembunyi membentuk kepompong. Menurutku, di dalam kepompong ulat merenung mencari cara agar dapat di anggap dan tidak diremehkan oleh dunia. Sehingga ulat berubah menjadi kupu-kupu cantik yang selalu dikagumi banyak orang.

Kuhembuskan napas perlahan. Seandainya saja Fiko diberi waktu lebih lama lagi, aku yakin ia akan menjadi kupu-kupu cantik itu. Sebuah pikiran konyol tiba-tiba melintas di otakku. Tidak mungkin. Tapi apa salahnya aku mencoba? Mencoba untuk menjadi kupu-kupu tersebut. Senyum kecil tercetak dibibir ini. Sekarang aku tahu.
“Rei… Rei… Ayo bangun! Nanti kamu terlambat!”
“Iya, 5 menit lagi” Jawabku
“Ayo cepat bangun!!”
Dengan mata yang masih enggan untuk dibuka aku melangkah menuju kamar mandi. Dan 10 menit kemudian aku sudah menyantap nasi goreng buatan Bunda.
“Rei, kamu semalam ngapain aja toh? Kok sampai tidur di meja belajar?” Tanya Bunda.
“Kamu belajar sampai larut malam?” Tambah Kak Artan dengan nada terkejut.
“Nggak, ada hal yang lebih penting kulakukan daripada belajar” Jawabku mantap sambil memasukkan sesuap nasi goreng ke mulut.
“Heh sembrono kamu! Belajar itu yang paling penting” Balas Ayah
Aku hanya membalas dengan senyuman.

*****

2023

“Ketika ulat mengepakkan sayap dan terbang tinggi dengan indahnya.”
- Artan

“Ya pemirsa, dapat kita saksikan betapa ramainya suasana di sini. Semua orang tidak sabar untuk mengetahui siapa otak di balik proyek yang luar biasa ini” Ucap salah satu reporter sambil menghadap kamera.
Yang dikatakan reporter tersebut memang benar. Di sini sangat ramai bahkan para polisi harus turun tangan agar tidak terjadi kemacetan. Hari ini memang hari yang bersejarah untuk kota kelahiranku ini. Tidak hanya walikota yang hadir tapi juga gubernur bahkan presiden ikut menyempatkan diri demi acara ini.
“Ya semuanya harap tenang!” Ucap pemandu acara “Baiklah untuk menyingkat waktu inilah orang yang kita tunggu-tunggu!!” Tambahnya
Tiba-tiba seorang wanita keluar dengan senyum lebar tercetak di bibirnya. Sangat cantik. Sontak semua orang bertepuk tangan dengan tatapan kagum.
“Reina Deanessa!!!”
Aku masih terpaku dengan wanita yang berdiri tepat di depan pita itu. Wanita itu Reina, adik kandungku. Ya, Reina adalah otak dari semua ini. Kulirik Ayah dan Bunda, tanpa sadar mereka meneteskan air mata. Air mata itu adalah rasa bangga mereka yang tak sanggup diungkapkan.
“Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabarokatu, selamat pagi semuannya! Sebelumnya perkenalkan saya Reina Deanessa. Sebenarnya saya tidak berperan penting dalam pembangunan FI-Green Mall ini. Dan ide ini bukanlah ide saya” Ucap Reina. Sontak semua orang terkejut, termasuk aku.
“Perlu diketahui saya hanya dalang dibalik proyek pembangunan FI-Green Mall ini dan saya tidak sendiri, saya bersama banyak pihak. Tapi otak di balik ini semuanya adalah teman kecil saya, Fiko. Ia adalah anak dengan pemikiran yang sangat luar biasa. Ide ini keluar begitu saja dari mulutnya dan ini adalah cita-cita hidupnya. Hanya saja takdir berkata lain, Fiko meninggal di usia 11 tahun karena penyakit lupus yang dideritanya. Ia mengajarkan saya akan pentingnya cita-cita dan tujuan dalam hidup. Sejak saat itu saya menemukan tujuan hidup saya yaitu mewujudkan cita-cita Fiko. Ya, mewujudkan cita-cita orang lain bukan hal yang buruk bukan? Dan dari ia juga, saya memahami akan cara menghargai waktu dan makna kehidupan. Waktu memang akan terasa menyebalkan jika kita hanya melihatnya dari sebelah mata, tapi coba kita buka mata lebar-lebar. Apa patut kita menyalakan waktu? Yang salah bukanlah waktu, tapi kita sendiri. Kita yang kurang memahami waktu. Andaikan saja kita bisa merasakan betapa berharganya hembusan napas yang keluar setiap detiknya, pasti kita akan dapat menghargai waktu. Sedangkan makna kehidupan yang saya temukan adalah hidup bukanlah hal yang patut disia-siakan. Lakukan yang terbaik dalam hidup ini. Ingat! Kita bukan kucing yang mempunyai 9 nyawa. Kita hanya diberi satu kesempatan untuk hidup. Renungkanlah apa yang kalian inginkan kemudian tentukan tujuan hidup kalian. Hidup ini akan terasa lebih mudah jika kita mempunyai tujuan”
Tepuk tangan terdengar dari semua sudut. Reina memang sangat membanggakan. Aku tidak menyangka adik kecilku itu telah tumbuh menjadi orang hebat.
“Oh ya saya hampir lupa, kata FI dalam nama FI-Green ini adalah singkatan dari Fiko Inggada. Saya sengaja menyelipkan nama Fiko agar semua orang tahu bahwa Fiko lah yang paling berperan dalam pembangunan Mall ramah lingkungan ini” Tambah Reina “Saya atas nama Fiko meyatakan bahwa Mall ini resmi dibuka!” Teriak Reina sambil memotong bagian tengah pita.

Lagi-lagi hanya tepuk tangan yang terdengar. Sepertinya sebentar lagi adik perempuanku ini akan menjadi arsitek sukses dan terkenal. Reina membalas beberapa uluran tangan yang ditujukan padanya sebagai tanda ucapan selamat. Tak lama Reina berlari ke arahku. Tidak, lebih tepatnya ia berlari memeluk Ayah dan Bunda.
“Kamu hebat!” ucap Ayah sambil menghapus buliran yang membasahi pipinya
“Aku bangga sama kamu Rei” Tambahku. Kemudian Reina memelukku erat.
“Terima kasih Kak” Balasnya
“Reina..” Panggil seseorang tiba-tiba
Adikku hanya memandang orang yang kini di depannya itu dengan tatapan bingung.
“Mungkin kamu lupa, tapi aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga” Tambah orang itu lagi
“Terima kasih? Untuk apa?” Balas Reina semakin bingung
“Karena kamu telah merealisasikan impian adikku satu-satunya” Jawab orang itu
Ekspresi Reina tiba-tiba berubah. Ia terkejut. “Ari?” Ucap Reina pelan
Lelaki itu hanya tersenyum. Senyuman penuh arti.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.20.147.6
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia