Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : BIDADARI DUA MUSIM

Dewi Dua Musim berjongkok di samping kepala pemuda yang dipantek di atas papan."Cabut lebih dulu paku kayu yang ada di dalam mulutnya...." Ucapan itu terngiang lagi di telinganya. Si gadis ulurkan tangan kiri kanan. Gerakan dua tangan membuat mulut si pemuda terbuka. Begitu dia melihat ke dalam mulut Dewi Dua Musim tercekat. Ternyata di dalam mulut pemuda itu memang ada satu paku kayu, menancap ke bagian dalam tenggorokan yang digenangi darah. Dewi Dua Musim geleng-geleng kepala.

"Jahat sekali!" Katanya dalam hati. Lalu dengan cepat tangan kanan dimasukkan ke dalam mulut. Begitu paku kayu ditarik, darah menyembur.



SATU

SETELAH didera musim kemarau lebih dari setengah tahun, ketika akhirnya hujan turun cukup lebat pagi itu penduduk di kawasan kering tanah Jawa terutama di bagian tengah dan timur merasa lega dan gembira. Banyak diantara mereka, yang umumnya para petani pemilik ladang dan sawah memanjatkan puji syukur kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan berbagai cara baik dalam upacara adat maupun bentuk keagamaan. Di laut utara dan selatan para nelayan tidak kalah rasa syukur dan gembira mereka. Karena pada akhir musim kemarau yang memasuki musim penghujan.

Ikan di laut muncul dalam jumlah lebih banyak dari biasanya dan tentu saja ini merupakan rahmat serta rezeki berlimpah dari Yang Maha Kuasa.

Hari ke lima setelah hujan pertama kali turun, para petani mulai ramai ke sawah untuk menanam bibit padi. Pemilik ladang mulai mencangkul tanah guna persiapan menanam berbagai macam tanaman yang dapat dipanen dalam waktu singkat anakanak terlihat riuh di kali dan sungai, berenang dan bermain-main sambil memandikan kerbau.

Pagi itu, di lereng Bukit Menoreh sebelah timur, tak jauh dari kaki Gunung Gajah, seorang gadis belia duduk di bawah sebatang pohon, asyik menatap pemandangan indah yang terhampar di hadapannya. Di kejauhan Gunung Gajah menjulang biru kehijauan. Di kaki gunung petak-petak sawah yang sebelumnya merupakan tanah gersang kini basah berlumpur, ramai oleh petani. Mereka bekerja penuh semangat sambil sesekali tertawa berseloroh. Ada yang memperbaiki pematang sawah, ada yang membongkar saluran air yang tersumbat.

Kerbau-kerbau pembajak tanah terlihat mundar-mandir hampir di setiap petak sawah. Beberapa petani yang mampu bekerja cepat malah sudah mulai menyemai menebar bibit padi.

Di kejauhan, dari arah timur Kali Progo membelintang biru seolah seekor ular panjang membelah bumi. Sesekali alunan arusnya tampak berkilau oleh pantulan sinar matahari yang tidak terlalu terik.

Hanya beberapa tombak dari lereng bukit di mana gadis berpakaian biru duduk menikmati pemandangan indah, ada satu jalan tanah yang cukup lebar, sejajar dengan Bukit Menoreh.

Akibat hujan, tanah yang tadinya keras gersang ini, sekarang berubah menjadi gembur becek.

Jalan tanah ini merupakan salah satu dari jalan utama yang menghubungi Kotaraja dengan kawasan di sebelah barat.

Mulai dari Godeyan dan Gamping sampai ke Renteng, terus ke Sibolong dan Girimulyo, terus lagi ke Borobudur. Di sebelah selatan slmpangan jalan tanah menuju ke Sedayu, Argosari dan berakhir di Wates.

Siapakah gerangan gadis yang duduk sendirian di lereng Bukit Menoreh itu? Dari pakaian birunya yang sederhana serta kasut kulit kasar yang menyarungi dua kaki, sulit untuk menduga apakah dia seorang yang berasal dari desa atau penduduk Kotaraja! Wajahnya sama sekali tidak dipalut dandanan namun kecantikan alami yang dimilikinya mengagumkan untuk dipandang. Sepasang mata bulat jernih.

Bagian putih tampak bening, bola mata hitam pekat membuat mata Ku seolah berkilat. Ini menambah pesona pada kecantikan raut wajahnya. Lalu mengapa dia berada seorang diri di lereng bukit itu? Apa benar hanya untuk menyaksikan keindahan alam yang terpampang di hadapannya? Terlalu berbahaya bagi seorang gadis sebelia dia berada seorang diri di tempat sunyi seperti itu. Karena sejak beberapa waktu belakangan im daerah itu merupakan salah satu tempat orang jahat seperti begal dan rampok berkeliaran. Sesekali si gadis memandang ke arah ujung jalan di sebelah selatan, sambit telinga dipasang. Agaknya ada yang tengah ditunggunya.

Sayup-sayup di kejauhan tiba-tiba terdengar suara derap kaki-kaki kuda, sekali-sekali ditingkah suara binatang itu meringkik. Kalau saja tanah jalanan tidak berubah becek derap kaki kuda niscaya akan terdengar lebih keras. Diantara suara derap kaki kuda terdengar suara aneh berkepanjangan. Suara ini seperti sebuah benda yang bergerak menggeser tanah jalanan.

Sepasang mata gadis berpakaian biru membesar tak berkesip. Dua alis hitam lengkung bergerak naik lalu mata itu menatap ke arah kiri lereng bukit. Pandangan ditukik ke bawah, ke arah jalanan tanah. Dari balik kerapatan pepohonan dia bisa melihat ada dua ekor kuda dipacu ke jurusan utara Gunung Gajah.

"Aku bisa melihat dua ekor kuda dan penunggangnya.

Tapi aku tidak bisa melihat benda yang mengeluarkan suara berkepanjangan. Apakah orang yang kutunggu sudah datang? Seharusnya ada penunggang kuda ke tiga."

Gadis berpakaian biru membatin dalam hati. Lalu dia berdiri. Gerakannya anggun dan penuh kelembutan. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan satu kotak kayu kecil. Ketika dibuka isi kotak itu ternyata adalah berbagai alat untuk menghias diri. Mulai dari pupur merah muda, kayu penebal alis dan kayu merah berujung lembut untuk pemoles bibir. Pada bagian belakang penutup kotak menempel sebuah cermin kecil.

Sambil memperhatikan ke dalam cermin, gadis itu bukannya mulai menghias wajah, tapi malah tertawa. Ketika mulutnya terbuka tampaklah barisan gigi yang putih berkilau bak mutiara serta lidah merah basah.

‘Mengapa aku masih merasa diri seperti gadis desa yang baru menanjak dewasa? Apakah aku masih memerlukan cara berhias kuno mempergunakan segala macam peralatan tolol ini? Aih, sungguh bodohnya diri ini."

Kotak kayu kecil ditutup kembali. Lalu tangan kanan diayun satu kali dan wuttt! Kotak kayu dilempar ke udara! Kotak ini kemudian menyangsrang jatuh di serumpunan semak belukar.

Di jalan tanah di bawah lereng bukit, dua penunggang kuda mulai nampak semakin jelas namun benda yang mengeluarkan suara geseran dengan tanah masih belum diketahui. Gadis di lereng bukit dongakkan kepala. Sepasang mata yang jernih menatap ke langit. Telapak tangan kanan dikembang. Perlahan-lahan telapak tangan di usap ke wajah.

mulai dari kening sampai ke dagu. Begitu tangan diturunkan kelihatanlah wajah si gadis yang tadi cantik alami tidak berdandan kini telah berubah jauh lebih cantik. Kulit wajah kelihatan merah segar, sepasang alis melengkung bagus lebih hitam dan bibir merah merekah. Dia telah menghias diri secara gaib. Tidak sampai di situ. Sehelai kain biru diikat di kening.

rambut diacak lalu digerai lepas. Kini kecantikannya seolah bertambah. Sungguh sangat mempesona.

Di kaki bukil, kembali terdengar suara kuda meringkik.

Gadis cantik berpakaian biru tidak menunggu lebih lama. Sekali dia menggerakkan dua kaki, tubuhnya melesat ke udara lalu seperti seekor burung tubuh itu menukik melayang ke bawah.

sepasang kaki menjejak enteng di cabang satu pohon besar yang tumbuh di tepi jalan tanah yang akan dilalui dua penunggang kuda Semua gerakan yang dilakukan gadis itu sungguh Indah, seolah dia tengah menari di udara cerah. Selain itu jelas sudah, gadis cantik Ini bukan orang sembarangan.

Paling tidak dia mempunyai ilmu kesaktian yang membuatnya mampu bergerak cepat dan gesit serta ilmu meringankan tubuh pada tingkatan yang bukan sembarang orang bisa memiliki.

Ketika si gadis alihkan pandangan ke ujung jalan, ke arah dua kuda dan penunggangnya saat itulah untuk pertama kali dia melihat benda apa yang mengeluarkan suara bunyi menggeser tanah berkepanjangan.

Sepasang alis mata si gadis langsung berjingkat naik!

Bibir yang merah merenggang terperangah. Kepala digeleng beberapa kali.

Penunggang kuda di sebelah depan bertubuh gemuk gempal, mengejakan pakaian dan belangkon hitam. Pada bagian depan belangkon tersemat hiasan bintang dalam lingkaran, terbuat dari kuningan berkilat. Tampang garang tertutup kumis dan berewok meranggas tebal.

Penunggang kuda kedua berpakaian dan mengenakan belangkon yang sama. Walau kumisnya kecil saja dan hanya dagunya yang ditumbuhi jenggot kasar namun tampangnya tampak angker. Apa lagi di wajah sebelah kiri ada codet bekas luka.memanjang mulai dari mata sampai pertengahan pipi. Cacat ini membuat kelopak mata kirinya mencuat merah mengerikan. Sambil menunggang kuda orang ini mencekal seutas tambang yang ujungnya diikat ke leher kuda. Ujung tambang yang lain terikat pada sebatang balok yang menjadi salah satu landasan tiga buah papan. Di atas papan terkapar sosok seorang lelaki, tubuh dan pakaiannya penuh lumuran darah. Wajah tak jelas karena dipenuhi darah yang mengucur dari luka di kening.Dua tangan orang ini terpentang ke atas. Telapak tangan kiri kanan dipantek ke papan dengan potongan bambu yang dibuat seperti paku besar. Dua kakinya juga dipantek dengan potongan bambu. Darah mengucur dari luka pantekan. Tak dapat dipastikan apakah orang itu masih hidup atau sudah menjadi mayat.

"Yang datang bukan orang-orang yang aku tunggu"

Gadis cantik di atas pohon berucap perlahan. Walau hatinya kecewa besar namun wajahnya tetap tenang, malah dia sama sekali tidak unjukkan rasa ngeri melihat orang yang dipantek di atas papan yang diseret kuda! Di dalam hati dia berkata.

"Kasihan, dosa kesalahan apa yang dibuat orang itu hingga diperlakukan begitu rupa. Dalam kehidupan yang katanya beradab ini mengapa masih ada kekejaman begini rupa...."

Beberapa tombak lagi dua kuda dan penunggangnya akan sampai di bawah pohon besar, gadis di atas cabang pohon membuat gerakan enteng, melayang turun sambil berseru.

"Dua kerabat berbclangkon hitami Mohon berhenti barang sebentar. Ada yang akan aku tanyakan!"DUADUA ekor kuda yang tengah berlari kencang meringkik keras.

Dua penunggang berusaha menghentikan lari kuda masingmasing dengan menarik tali kekang kuat-kuat hingga binatang itu berjingkrak dan sepasang kaki depan naik ke atas. Di atas punggung kuda, dua orang penunggangnya hampir saja mencelat jatuh kalau tidak cepat-cepat memagut leher tunggangan mereka yang larinya akhirnya bisa dihentikan dengan susah payah. Celakanya kuda kedua, walau bisa berhenti namun papan yang ditarik terus meluncur deras di tanah becek lalu menghantam dua kaki belakangnya "Kraakk!Kraaak!"

Dua kaki belakang kuda patah. Didahului suara meringkik keras binatang ini ambruk ke tanah, melempar penunggangnya. Rupanya sang penunggang orang berilmu juga karena dengan gerakan enteng dia tidak sampai jatuh terbanting di tanah becek. Sepasang kaki menyentuh dan menginjak tanah lebih dulu. Papan di atas mana orang yang dipantek tergeletak melesat satu tombak ke udara lalu jatuh ke tanah, berpatahan di beberapa bagian namun sosok di atasnya tetap terpentang tak bergerak.

Lelaki gemuk bermuka berewokan di sebelah depan hendak mendamprat marah, namun ketika melihat siapa yang berdiri di tengah jalan, amarahnya langsung saja menjadi surut. Sebaliknya kawan di sebelah belakang yang kaki kudanya patah dan masih tergeletak di tanah tidak bisa membendung amarah. Dia membentak garang.

"Perempuan jahanam! Kau mematahkan dua kaki kudaku! Aku akan menghajarmu!" Habis membentak si codet ini melompat ke hadapan gadis berpakaian biru sementara temannya si gendut sudah melompat turun ke tanah.

Si gadis tenang saja, tidak beranjak dari tempatnya.

Malah sambil mengangkat tangan dia berkata dengan suara lembut.

"Aih! Maafkan, bukan aku yang mematah dua kaki kuda itu. Tapi papan yang kau seret sepanjang jalan. Tapi memang aku mengaku salah karena aku yang membuat gara-gara kuda kalian terkejut ketakutan. Sekarang biar aku perbaiki dua kaki kudamu."

"Memperbaiki dua kaki kudaku? Gelo! Kau kira dua kaki kudaku bisa diperbaiki seperti memperbaiki ladam besi?" Dua kaki kuda itu patah tahu!. Bagaimana kau mau memperbaiki?

Wong edan" Lelaki bermuka codet, berkumis dan berjanggut kasar berkata setengah berteriak.

"Maksudku, aku akan mengembalikan keadaan dua kaki kudamu seperti semula..." Jawab si gadis sambil tersenyum.

"Apa?!" Lelaki berwajah codet menghardik merasa dipermainkan.

Tanpa perdulikan kemarahan orang si gadis dekati kuda yang tergeletak di tanah. Binatang ini meringkik keras. Kepala dan dua kaki depan berusaha ditegakkan namun tubuhnya kembali roboh. Selanjutnya binatang ini hanya bisa melejanglejang dan meringkik berulang kali.

"Sahabatku kuda bagus, tak usah takut. Tenang... tenang saja. Memang tadi gara-garaku dua kakimu jadi patah. Sekarang biar aku menyembuhkan." Si gadis usap-usap tengkuk kuda dan bagian kening antara kedua matanya.

Kuda yang tergeletak di tanah becek dan tadi bersikap liar karena rasa sakit luar biasa pada kedua kakinya yang patah, mendadak berubah jinak dan diam. Kepala dijulur lalu ditidurkan di tanah. Sepasang mata setengah terpejam.

"Kudaku mati!' Teriak si codet dengan mata mendelik, tampang beringas.

Gadis cantik tersenyum lalu berkata. "Kudamu tidak mati.

Dia mendengar apa yang aku ucapkan dan pasrah untuk mendapat kesembuhan. Semoga Yang Maha Pengasih menolong sahabatku ini."

Sambil berkata si gadis berjongkok di samping kuda yang rebah. Dua tangan diulur. Tangan kiri memegang kaki belakang sebelah kanan lalu tangan kanan mengusap mengurut-urut kaki itu tiga kali berturut-turut sambil mulut meniup. Hal yang sama dilakukan dengan kaki kiri belakang si kuda. Selesai mengurut si gadis tepuk pinggul kuda sambil berseru.

"Kuda bagus! Ayo berdiri, Kau sudah sembuh!"

Ajaib!

Begitu ditepuk walau agak terhuyung-huyung tapi kuda yang patah dua kaki belakangnya itu mampu berdiri kembali!

Dua lelaki berpakaian dan berbelangkon hitam samasama terkejut dan saling pandang terheran-heran. Walau menyaksikan dengan mata kepala sendiri tapi masih tak bisa percaya. Bagaimana mungkin! Dua kaki kuda yang patah disembuhkan hanya dengan cara mengusap mengurut sambil meniup! Kedua orang ini palingkan kepala, menatap ke arah si gadis. Memperhatikan mulai dari kepala sampai ke kaki.

Sementara itu kuda yang barusan ditolong kini berdiri menggeser-geserkan moncongnya ke bahu si gadis sambil keluarkan suara menggeru perlahan. Agaknya dengan cara itu binatang ini ingin menyampaikan rasa terima kasihnya.

Si gadis tersenyum. Dia balas membelai tengkuk dan kepala kuda sambil berkata. "Kau kuda yang mendapat berkah.

tahu mengucapkan rasa terima kasih walau kau hanyalah seekor binatang.Tapi banyak yang namanya anak manusia tidak tahu berterima kasih setelah menerima berkah dari Yang Maha Kuasa...."

Lelaki codet yang tadi marah besar dekati temannya dan berbisik.

"Kita harus hati-hati. Gadis itu bisa saja Lelembut Bukit Menoreh atau seorang penyihir jahat yang tengah berkeliaran mencari mangsa!"

Betum habis kejut ke dua lelaki itu, di depan mereka si gadis membuka mulut berkata.

"Dua kerabat harap lupakan apa yang terjadi. Sekarang apakah aku boleh mengajukan barang satu-dua pertanyaan?"

Dua telaki kembali saling pandang. Si codet yang masih penasaran lalu berkata dengan nada kasar.

"Katakan dulu siapa dirimu! Mengapa berani menghadang kami orang-orang Pangeran Banowo yang tengah mengurus satu perkara besar!"

"Aih! Jadi kerabat berdua adalah orang-orang Pangeran Banowo. Bukankah Pangeran itu dikabarkan adalah calon Adipati Magelang? Salam hormatku untuk kalian berdua." Si gadis lalu membungkuk, menjura memberi penghormatan pada kedua orang di hadapannya.

Lelaki gemuk menatap dengan pandangan penuh selidik.

Lalu bertanya. "Bagamana kau tahu kalau Pangeran Banowo akan menjadi Adipati Magelang. Hal itu adalah masih merupakan rahasia Kerajaan."

"Maaf kalau aku bicara ceroboh Tapi kabar rahasia yang disebar angin, mana ada manusia yang bisa menekap mencegahnya."

Si gemuk terdiam tapi temannya si codet sudah membentak lagi.

"Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa kau, apa punya nama dan datang dari mana! Mengapa berada di tempat terpencil ini! Apa keperluanmu!" Lalu pada temannya yang bertubuh gemuk si codet berbisik. "Aku curiga, jangan-jangan gadis tak dikenal Ini sebenarnya tengah menghadang kita.

Jangan-jangan dia ada sangkut paut dengan orang yang kita pantek di atas papan!"

Si gemuk berewok yang agak lebih sabaran balas berbisik. "Aku malah menduga jangan-jangan dia kaki tangan suruhan Klingkit Jenung. Sudah, kau diam dulu. Gadis secantik Ini jangan diperlakukan sembarangan. Apa kau tidak melihat dia punya ilmu kepandaian? Biar aku yang bicara."

"He...he!" Si codet menyeringai. "Aku tahu maksud dibalik bicara bagusmu! Kau mulai suka pada gadis itu kan?!"

"Sudah! Diam saja!" Si gendut lalu berkata pada gadis di depannya. "Ning Ayu Cantik," begitu si gendut memanggil si gadis. "Sebelumnya biar kami memperkenalkan diri lebih dulu.

Aku bernama Lor Randuwali. Sahabatku ini Seno Kalamurti.

Tadi kau memanggil kami dengan sebutan kerabat. Kau juga telah menunjukkan itikad baik menolong kaki kuda yang patah.

Sekarang harap kau mau memberi tahu apa yang ditanyakan temanku tadi."

"Hemmm ..." Si gadis bergumam. "Tidak ada sulitnya menjawab pertanyaan sahabatmu itu. Sebagai manusia tentu saja aku punya nama. Tapi aku lupa siapa namaku sebenarnya.."

"Geto. Mana ada orang lupa sama nama sendiri!" Si codet Seno Kalamurti memotong ucapan si gadis dengan bentakan.

Yang dibentak cuma tersenyum. "Aku tidak berdusta.

Sungguhan aku lupa siapa nama yang diberikan kedua orang tuaku ketika aku dilahirkan. Sejak beberapa waktu lalu orangorang memanggil aku dengan nama Dewi. Nah, itulah namaku Kerabat berdua boleh memanggil aku dengan nama itu."

Pelipis Seno Kalamurti bergerak-gerak. Rahang menggembung. "Dew....Dewi apa! Kau seperti menyembunyikan sesuatu. Di dunia ini ada banyak perempuan bernama Dewi!

Kau Dewi apa?! Dewi Lelembut! Dewi Gandaruwo atau Dewi Hantu Laut?!"

Gadis di hadapan kedua lelaki berpakaian dan berbelangkon serba hitam itu masih juga tersenyum. "Aih...."

katanya. "Kurasa diriku ini tidak jelek-jelek amat. Masakan tega aku diberi nama Dewi Lelembut, Dewi Gandaruwo, Dewi Hantu Laut "

Seno Kalamurti kembali mau menghardik. Tapi Lor Randuwali cepat memberi isyarat agar si codet itu tidak membuka mulut lagi.

Maka diapun berkata. "Harap maafkan sahabatku ini. Dia memang suka berangasan tapi sebenarnya hatinya baik. Hanya saja apa yang dikatakannya tadi betul adanya. Nama Dewi banyak sekali. Apa hanya sesingkat itu nama yang kau miliki? Pasti ada tambahannya."

"Orang-orang memanggilku Dewi Dua Musim."

Lor Randuwali dan Seno Kalamurti terperangah, sama-sama saling pandang. "Terus terang, belum pernah aku mendengar nama seaneh namamu. Apa artinya itu. Mengapa kau disebut Dewi Dua Musim?"

Si gadis mengangkat bahu. "Aku tidak pernah menanyakan pada orang-orang itu mengapa mereka memanggilku Dewi Dua Musim..."

"Randu," Seno Kalamurti berbisik. "Kurasa gadis Ini tengah mempermainkan kita. Sebaiknya kita bereskan saja. Terakhir sekali aku meniduri perempuan empat bulan silam. Masih ada cukup waktu sebelum kita meneruskan perjalanan ke Magelang. Si cantik ini rupanya memang sudah jadi rejeki kita.

Tidak mustahil dia memang sengaja mengantar diri. Hemmm..."TIGALOR RANDUWALI meski memang tertarik pada kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Dewi Dua Musim, saat itu tidak acuhkan ucapan temannya. Dia tidak mau bertindak ceroboh karena diam-diam sudah merasa kalau gadis tak dikenal itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Pada si gadis dia berkata.

"Sekarang jelaskan mengapa kau berada di tempat sunyi di lereng Bukit Menoreh ini. Dari apa yang telah kau lakukan, kami menduga kau sepertinya sengaja menghadang perjalanan kami."

Si gadis gelengkan kepala. "Aku tidak ada niatan jahat. Apa lagi maksud menghadang orang-orang gagah seperti kerabat berdua. Seperti kataku tadi aku hanya ingin mengajukan barang satu-dua pertanyaan."

"Begitu? Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Lor Randuwali.

"Ketika kerabat berdua dalam perjalanan menuju ke sini, apakah pernah berpapasan atau melewati tiga orang penunggang kuda berpakaian serta berbelangkon hitam seperti kerabat berdua? Bedanya mereka tidak mencantel hiasan bintang dalam lingkaran seperti yang ada pada belangkon kerabat berdua..."

Lor Randuwali mengingat-ingat lalu berpaling pada si codet. Kedua orang Ini kemudian sama gelengkan kepala.

"Selama perjalanan sampai ke sini kami tidak berpapasan atau melewati siapapun...."

"Kerabat berdua tidak keliru? Tiga orang yang aku tanyakan itu, dua diantara mereka masih muda-muda. Orang ketiga seorang kakek berwajah aneh. Dua telinganya terletak di kening, mulut berada di leher..."

"Pasti setan, bukan manusiai" Ucap Seno Kalamurti.

"Betul kerabat berdua tidak melihat ke tiga orang itu?" Si gadis ingin meyakinkan.

"Tidak, kami tidak pernah menemui mereka dalam perjalanan." Jawab Lor Randuwali.

"Aku tahu kerabat berdua telah berkata jujur. Untuk itu aku sangat berterima kasih." Si gadis yang mengaku bernama Dewi Dua Musim alihkan pandangan pada sosok yang tergeletak di atas papan. Lalu bertanya. "Siapa orang itu? Dosa kesalahan apa yang telah dilakukannya hingga mengalami nasib seperti itu."

"Siapa orang ini, apa dosa dan kesalahannya adalah urusan kami! Kau tidak layak bertanya!" Yang menjawab adalah Seno Kalamurti.

"Kerabat berdua, apakah...apakah kalian berdua yang memperlakukannya seperti itu?"

"Apa perdulimu!" Bentak Seno Kalamurti.

"Kasihan dia. Aku ingin sekali menolongnya"

"Dewi Dua Musiml Siapapun namamu! Jangan sekali-kali berani berkata seperti itu!" Seno Kalamurti berkata sambil delikkan mata.

"Manusia menolong sesama adalah hal biasa. Memangnya mengapa aku tidak boleh menolong orang itu?"

"Kau mulai berani kurang ajari" Seno Kalamurti melangkah mendekati si gadis. "Sebaiknya kau bersiap-siap ikut bersama kami ke Magelang!" Lalu enak saja tangan kanannya diulurkan menyentuh dagu si gadis.

Dewi Dua Musim tenang-tenang saja diperlakukan seperti itu. Dia sama sekali tidak berusaha menghindar hingga tangan Seno Kalamurti benar-benar menyentuh dan mengusap dagunya. Si codet ini letakkan tangannya yang bekas mengusap di depan hidung lalu menyedot dalam-dalam. Dia mencium bau harum sekali. Melihat orang tidak marah, malah seperti sengaja memasang diri Seno Kalamurti jadi lebih berani dan tambah kurang ajar. Kembali dia ulurkan tangan kanan.

Kali ini diarahkan ke dada si gadis.

Hanya seujung kuku tangan itu akan menyentuh dada Dewi Dua Musim tiba-tiba dari samping Lor Randuwali bertindak cepat mencekal tangan temannya itu.

Seno Kalamurti berpaling.

"Randu! Apa yang kau lakukan! Lepaskan tanganku! Nanti kau juga bakal dapat bagian!"

"Urusan kita belum selesai Mengapa mencari urusan baru!

Lekas ikut aku pergi dari sini. Magelang masih cukup jauh dari sini! Jangan kita sampai kemalaman dijalan."

"Randu....Randu. Rupanya kau mau jadi malaikat penolong!" Seno Kalamurti merasa tidak senang.

"Manusia berhati malaikat itulah berkah Yang Maha Pengasih.

Kerabat Seno Kalamurti. sebaiknya kau Ikuti kata-kata Lor Randuwali. Cepat pergi dari sini. Teruskan perjalanan kalian ke Magelang. Tapi tinggalkan orang yang tergeletak di atas papan!"

"Apa?!" Seno Kalamurti berteriak marah.

"Dewi Dua Musim, kau tidak tahu siapa adanya orang yang dipantek di atas papan itu. Siksa dan hukuman yang diterimanya baru sebagian. Kesengsaraannya baru berakhir kalau sebelum matahari tenggelam nanti dia digantung di alun-alun Kadipaten Magelang."

Dewi Dua Musim rangkapkan dua tangan di atas dada.

"Kalau begitu mengapa kerabat berdua tidak mau memberi tahu siapa adanya orang itu? Aku sejak tadi bertanya apa dosa dan kesalahannya. Tapi kalian tidak menjawab."

"Saat ini kami tidak bisa memberi tahu. Kalau kau mau tahu riwayatnya silahkan ikut kami ke Magelang. Setelah dia digantung, orang banyak akan memberi tahu semua apa yang kau tanyakan."

"Lor Randuwali, perlu apa susah-susah membawa gadis ini jauh-jauh ke Magelang. Di dekat tikungan sungai di bawah sana ada sebuah pondok. Kita bawa dia ke sana!" Habis berkata begitu Seno Kalamurti gerakkan dua telunjuk tangan kanan hendak menotok urat besar di pangkal leher Dewi Dua Musim.

Totokan mendarat telak di pangkal leher. Seharusnya totokan membuat si gadis saat itu juga menjadi kaku tak bisa bergerak tak mampu bersuara. Namun apa yang terjadi justru kebalikannya. Dua ujung jari Seno Kalamurti yang menotok terus saja menempel di pangkal leher si gadis. Tak bisa digerakkan apa lagi ditarik lepas. Selarik cahaya putih keluar dari pangkal leher yang ditotok, mengalir ke dalam dua jari, menjalar sepanjang tangan kanan, masuk ke dalam tubuh Seno Kalamurti. Ketika cahaya putih merambas memasuki rongga pernafasan, Seno Kalamurti menjerit keras. Tubuh mencelat mental, mulut menyembur darah segar. Si codet ini kemudian tergeletak tertelentang di tanah becek, megap-megap. Kaki dan tangan melejang-lejang. Belangkon hitam lepas dari kepala berguling jatuh ke tanah. Tangan kanan, kaki kanan dan mata kanan menggembung merah.

Melihat apa yang terjadi dengan temannya itu Lor Randuwali merasa ngeri dan cepat menolong. Namun semua usaha yang dilakukan tidak mampu membuat memulihkan keadaan Seno Kalamurti. Lelaki ini terus saja megap-megap dan kejang-kejang.

"Kerabat Lor Randuwali, bawa sahabatmu pergi dari sini.

Begitu sampai di Magelang masukkan benda ini ke dalam mulutnya, suruh dia menelan. Segala cidera di tubuhnya luar dalam akan segera slma.Semoga pelajaran dariku ada manfaat bagi dirinya."

Lor Randuwali perhatikan benda putih berkilat seujung jari yang ada di telapak tangan kanan Dewi Dua Musim.

"Cepat ambillah dan pergi dari sini."

"Dewi, aku....Mengapa...." Lor Randuwali bingung ada.

takut juga ada. Menatap wajah cantik si gadis dia merasa ada sambaran hawa aneh keluar dari sepasang matanya yang berkilat, membuat hatinya bergetar.

Namun rasa amarah melihat temannya diperlakukan seporti itu segera muncul menindih rasa bingung dan takut.

Sambil berdiri dia berkata. "Sekarang aku yakin. Kau pasti orangnya Klingkit Jenung Hanya orang itu yang punya ilmu Membalik Hawa Sakti Menembus Jalan Darah?"

"Aih, kerabat Lor Randuwali. kau seharusnya bersyukur pada Yang Maha Kuasa yang telah mendatangkan musim penghujan. Kalau saja saat ini masih musim panas pasti keadaannya akan sangat mengenaskan bagimu dan sahabatmu itu."

"Apa maksudmu?." Hardik Lor Randuwali.

"Maksudku sederhana sekali " Jawab Dewi Dua Musim. Lalu kaki kanannya dihentakkan ke tanah becek. Lor Randuwuli tersentak kaget ketika merasa ada geteran aneh di dalam tanah di bawah kedua kakinya. Belum habis kagetnya tiba-tiba Dewi Dua Musim angkat tangan kiri. Tangan diayun ke udara begitu rupa. Wuttt! Tubuh gendut Lor Randuwuli melesat ke udara lalu entah bagaimana tahu-tahu melayang turun dan jatuh duduk di punggung kuda miliknya walau menghadap ke belakang! Dewi Dua Musim ulurkan tangan menepuk pinggul kuda. Binatang itu meringkik lalu menghambur ke depan. Lor Randuwali berteriak-teriak sambil berusaha berbalik menahan tali kekang menghentikan kuda. Namun apapun yang dilakukannya binatang itu terus saja lari seperti dikejar setan.

Kepala lelaki gemuk ini berdenyut pening. Pandangan mata berkunang dan semua tampak seperti terbalik. Seumur hidup baru sekali itu dia menunggang kuda menghadap ke belakang!

"Tolong! Tolong! Kuda jahanam berhenti berian!" Teriak Lor Randuwali menyumpah-nyumpah. Tapi kuda tunggangannya malah berlari semakin kencang!EMPATDEWI Dua Musim melangkah menghampiri Seno Kalamurti yang sampai saat itu masih megap-megap dan melejanglejangkan kaki serta tangan. Benda putih berkilat seujung jari dimasukkannya ke dalam mulut si codet yang menganga.

dengan tangan kiri dia memijat tenggorokan orang. Hekkk! benda putih berkilat masuk ke dalam tenggorokan si codet. lalu dengan tangan kiri dia mencekal kerah pakaian orang itu. Sekali tangan mengayun tubuh Seno Kalamurti terlempar jatuh menelungkup di atas punggung kuda miliknya. Si gadis lepaskan tambang yang bergulung di leher kuda.

"Susul sahabatmu! Semoga kau akan mendapat kesembuhan begitu sampai di Magelang. Kau beruntung saat ini musim penghujan!"

Dewi Dua Musim kemudian tepuk pinggul kuda. Seperti halnya dengan kuda Lor Randuwali, binatang ini mengangkat dua kaki ke atas, meringkik satu kali lalu menghambur lari. Sambil memperhatikan, dalam hati Dewi Dua Musim membatin. "Tiga orang yang kutunggu, dimana mereka. Mengapa tidak muncul?"

Ingat pada orang yang tergeletak dalam keadaan dipantek di atas papan, si gadis cepat balikkan tubuh. Dia lebih dulu memotes selembar daun keladi liar di tepi jalan lalu mendekati orang itu Sambil menyibak rambut serta menyeka darah yang mencelemongi wajah orang dia berkata.

"Manusia malang, apakah aku mengenalmu?"

Wajah yang tadi tertutup darah kini terlihat jelas. Ternyata orang ini seorang pemuda berwajah tampan. Di keningnya ada luka.

"Aih. wajahnya tampan sekali. Aku tak mengenali siapa pemuda ini adanya. Mengapa dua orang Pangeran Banowo tega-teganya memperlakukan dia begini kejami"

Dewi Dua Musim tarik nafas dalam. Sepasang mata tampak berkaca-kaca. Dia seolah turut merasakan kesengsaraan orang. Telapak tangan kiri diletakkan di atas kening si pemuda.

"Untung keningmu tidak panas. Berarti tak ada racun mengindap!"

Perlahan-lahan telapak tangan kiri diletakkan di atas dada si pemuda. Si gadis tidak merasakan adanya detak jantung.

Hati-hati telinganya sebelah kanan ganti ditaruh di atas dada.

"Aihl Dia masih hidup. Aku dapat mendengar detak jantungnya walau perlahan sekali. Mungkin mulai sekarat Aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak mati!"

Dengan cepat Dewi Dua Musim letakkan dua tangan di atas dada pemuda itu lalu perlahan-lahan alirkan hawa sakti dengan dorongan tenaga dalam tinggi. Sampai wajah dan tubuhnya berkeringat, dia tidak mampu membuat sadar si pemuda.

"Kasihan, apakah aku harus meninggalkannya dalam keadaan sengsara seperti ini? Kalau saja saat ini musim panas aku tak akan perduli."

Sepasang mata Dewi Dua Musim perhatikan empat buah paku kayu yang memantek dua tangan dan dua kaki si pemuda.

"Aku harus mencabut paku kayu itu. Mungkin bisa mengurangi penderitaannya disaat sekarat."

Si gadis membungkuk. Dia mulai dengan paku kayu yang memantek telapak tangan kanan si pemuda. Sebenarnya hanya dengan mengandalkan tenaga luar dia akan mampu mencabut paku kayu itu. Tapi sampai dia memaksa dengan mengerahkan tenaga dalam sekalipun, paku kayu tidak dapat dicabut! Si gadis berpindah pada paku kayu yang menancap di tangan kiri. Hal yang sama terjadi. Paku kayu tidak mampu disentak dicabut Begitu juga ketika dicoba menarik paku kayu yang menancap di kedua kaki orang.

"Aih. sungguh aneh. Ilmu jahat apa yang dipakai orang memantek pomuda malang ini. Mengapa aku tidak mampu mencabut satupun dari empat paku kayu itul Bagaimana aku harus menolong pemuda ini." Si gadis melangkah mundar mandir di jalan becek.

Tiba-tiba mengiang satu suara di telinga Dewi Dua Musim.

"Musim hujan telah tiba. Segala kesejukan menaungi diri manusia, mulai dan pikiran sampai ke dalam aliran darah.

masuk ke dalam kalbu dan menyentuh perasaan hati. Gadis berpakaian biru. kau tidak akan mampu menyelamatkan pemuda itu kalau tidak dapat mencabut empat paku kayu yang memantek bagian tubuhnya ke papan. Jangan mempergunakan kekuatan untuk menghancur papan baru melepas paku karena dengan cara begitu paku tetap akan menancap di dua tangan dan dua kaki. Cabutlah lebih dulu paku kayu yang ada di dalam mulutnya. Kalau itu sudah kau lakukan mudah-mudahan Yang Maha Kuasa menolongmu dan pemuda itu selamat dari kematian."

Dewi Dua Musim terkesiap. Dia memandang berkeliling, mengusap telinga kiri yang tadi mendengar suara mengiang itu lalu keluarkan ucapan, bertanya.

"Orang pandai siapa yang bicara?"

Yang menjawab hanya sapuan suara angin yang membuat gemerisik daun-daun pepohonan di tepi jalan tanah.

Si gadis bertanya sekali lagi. "Orang pandai, dengan segala hormatku harap unjukkan diri atau beri tahu siapa kau adanya."

Tetap saja tidak ada jawaban. Tidak ada suara mengiang susulan.

"Orang pandai, rupanya kau tidak mau diganggu.

Baiklah, aku akan ikuti petunjukmu. Aku berterima kasih padamu...."

Dewi Dua Musim berjongkok di samping kepala pemuda yang dipantek di atas papan. "Cabut lebih dulu paku kayu yang ada di dalam mulutnya" Ucapan itu terngiang lagi di telinganya. Si gadis ulurkan tangan kiri kanan. Tangan yang satu menarik dagu orang ke bawah, tangan lain mendorong bagian mulut ke atas. Gerakan dua tangan membuat mulut si pemuda terbuka. Melihat ke dalam mulut Dewi Dua Musim tercekat. Ternyata di dalam mulut pemuda itu memang ada satu paku kayu. menancap ke bagian dalam tenggorokan yang

digenangi darah. Dewi Dua Musim geleng-geleng kepala.

"Jahat sekali!" Katanya dalam hati. Lalu dengan cepat tangan kanan dimasukkan ke dalam mulut. Begitu paku kayu ditarik, darah menyembur dari mulut si pemuda. Untung tidak sampai menodai tangan atau pakaian Dewi Dua Musim. Paku Kayu ditancap ke tanah. Kini perhatian Dewi Dua Musim tertuju pada empat buah paku kayu yang memantek dua tangan dan dua kaki si pemuda. Hatinya agak berdebar ketika tangan diulur untuk menarik paku yang menancap di tangan kanan. Ada rasa kawatir kalau-kalau usahanya kali ini mencabut paku itu akan gagal seperti tadi. Namun kenyataannya paku yang menancap di telapak tangan kanan itu dengan mudah bisa ditarik lepas.

Begitu juga dengan tiga paku kayu lainnya.

Begitu empat paku yang memantek dirinya ke papan lepas, sosok pemuda yang sejak tadi diam tak berkutik tibatiba keluarkan suara mengerang lalu dua tangan bergerak ke samping, bersitekan ke tanah dan luar biasa sekali. Orang yang disangka sudah akan menemui ajal itu tiba-tiba bergerak bangun, duduk bersila di atas papan. Sepasang mata yang sejak tadi terpejam perlahan-lahan terbuka, menatap tepat dan langsung ke arah wajah cantik di depannya. Tidak pernah sebelumnya dia melihat gadis luar biasa cantik seperti yang berada di hadapannya saat itu.

Perlahan si pemuda berucap."Seharusnya aku sudah mati. Apakah saat ini aku melihat bidadari alam barzah. Diakah yang telah menyelamatkan diriku....?" Suara si pemuda agak parau sember karena ada luka di dalam mulutnya. Sesekali tampak dia seperti menelan ludah.

Mendengar ucapan si pemuda Dewi Dua Musim hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa. Si pemuda kembali berucap.

"Gusti Allah Yang Maha Kuasa Maha Pengasih memberkatimu. Siapapun kau adanya, aku tahu kau adalah orang yang dikirimkan Gusti Allah untuk menolongku." Dalam keadaan masih bersila pemuda itu lalu rundukkan tubuh hingga keningnya menyentuh tanah.

Dewi Dua Musim tersipu-sipu.

"Aih, jangan berkata dan bersikap begitu. Jika kau memang tahu kuasaNya Gusti Allah maka berterima kasihlah padaNya.

Bukan padaku! Ayo lekas bangkit. Aku bukan mahluk yang pantas untuk disembah!"

Si pemuda luruskan tubuh kembali.

"Siapapun kau adanya, aku tidak akan melupakan budi pertolonganmu. Aku berharap kelak dikemudian hari Gusti Allah memberi kesempatan padaku untuk membalas budi besarmu.

Kalau sampai tidak bisa membalas budi maka itu merupakan hutang besar yang akan aku bawa sampai ke liang kubur."

"Aih. di antara kita tidak ada hutang piutang!" Berkata Dewi Dua Musim.

"Kalau begitu mohon aku bertanya, siapa gerangan sahabat ini? Aku sendiri bernama Panji Ateleng. berasal dari satu desa kecil di timur Kuto Gede."

Di dalam hati Dewi Dua Musim berkata. "Pemuda ini baik sekali sikap dan tutur katanya. Padahal aku yakin saat ini dia masih menahan sakit amat sangat akibat luka di dua tangan dan dua kaki serta di dalam mulut. Kalau tidak memiliki ilmu tinggi mana mungkin dia berkeadaan seperti ini."

"Kerabat Panji Ateleng aku tidak tahu siapa namaku.

Tapi orang-orang memanggilku dengan sebutan Dewi Dua Musim."

Si pemuda tatap sebentar wajah cantik di depannya.

Walau merasa heran mendengar nama itu namun dia unjukkan senyum. "Namamu bagus dan indah didengar. Walau kehadiranmu pastilah atas kehendak Gusti Allah, tapi tetap saja aku ingin mengetahui bagaimana kau sampai berada di tempat sunyi ini."

"Aku tengah menunggu kedatangan tiga orang sahabat.

Mereka seharusnya sudah melintas di jalan di kaki bukit ini.

Tapi mereka tidak datang. Yang muncul justru dua penunggang kuda yang mengaku bernama Seno Kalamurti dan Lor Randuwali.

Yang bernama Seno Kalamurti menyeretmu dengan kudanya dalam keadaan kau dipantek di atas papan."

"Dua manusia biadab itul Pasti mereka sudah kabur dari sini!" Kata si pemuda pula "Aku yang memaksa mereka pergi. Ah, apakah aku telah bertindak salah?"

Panji Ateleng terdiam sesaat lalu menjawab.

"Tidak, kau tidak salah. Mungkin memang sudah begitu kejadiannya. Lagi pula bagiku kelak tidak sulit mencari mereka.

Jika bertemu aku akan membunuh keduanya."

"Aih, manusia adalah ciptaan Gusti Allah. Gusti Allah pula yang memberikan nyawa kepada manusia. Maka tidaklah layak jika ada manusia membunuh manusia lain. Karena nyawa seseorang bukan milik seseorang lainnya."LIMAPANJI Ateleng terpana mendengar ucapan si gadis "Aih maafkan kalau aku bicara seperti seorang juru dakwah saja," si gadis berkata sambil senyum-senyum. Lalu dia mengalihkan pembicaraan. "Kedua orang itu mengaku sebagai orangorangnya Pangeran Banowo."

"Mereka bicara begitu?" Si pemuda menelan ludah tanda luka di mulutnya kembali terasa mencucuk sakit. Dewi Dua Musim mengangguk.

"Sombong tapi tolol! Membuka rahasia sendiri! Jika Pangeran Banowo tahu pasti mereka berdua akan digorok habis!"

"Sebenarnya siapakah mereka?"

"Keduanya memang anak buah Pangeran Banowo."

"Lalu mengapa mereka memperlakukanmu sekejam itu.

Tangan dan kakimu dipantek ke papan. Mulutmu ditancap dengan paku kayu..."

"Sebenarnya bukan mereka yang memantek diriku di atas papan ini. Ada seorang lain yang punya ilmu hitam. Kedua orang itu hanya jadi bergundal-bergundal suruhan. Mereka ditugaskan membawaku ke alun-alun Kadipaten Magelang.

Rencananya aku akan digantung di sana. Selama dalam perjalanan mereka juga sempat menganiaya diriku secara kejam..."

"Aih, kau mau digantung! Memangnya kau salah apa?!" Si gadis berkata sambil geleng-geleng kepala.

"Penderitaan yang aku alami belum seberapa." Panji Ateleng teruskan kisahnya. "Atas perintah Pangeran Banowo mereka juga telah membunuh kakak perempuanku Cemani secara keji. Padahal Cemani adalah istri Pangeran itu sendiri. Luar biasa biadab"

Sepasang bola mata hitam Dewi Dua Musim tampak membesar dan berkilat lalu meredup sayu seolah merasakan penderitaan batin si pemuda.

"Musim hujan... seharusnya hati setiap manusia berada dalam kesejukan...."

"Sahabat, apa maksudmu?" Tanya Panji Ateleng ketika mendengar ucapan Dewi Dua Musim.

"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya tidak mengerti mengapa mereka berbuat kejam padamu dan kakak perempuanmu.

Mungkin....mungkin mereka berdua layak menerima hukuman berat.."

"Dewi Dua Musim, kelak akan aku ceritakan padamu asal usul semua kejadian. Sekarang biar aku mengobati luka-luka pada tangan dan kaki serta mulutku lebih dulu. Sakitnya tidak

tertahankan lagi..."

"Seharusnya sudah sejak tadi hal itu kau lakukan. Kalau kau mau aku bisa membantu..." Si gadis bergerak mendekati.

"Terima kasih. Biar aku mengobati diriku sendiri," jawab Panji Ateleng pula.

Habis berkata begitu pemuda yang masih duduk bersila di atas papan menjumput tanah becek jalanan di sampingnya.

Tanah liat itu dipoleskan ke atas lubang luka bekas tancapan kayu pada telapak tangan dan pergelangan kaki. Setelah merapal sesuatu dia lalu meniup empat kali berturut-turut yaitu ke arah dua telapak tangan dan dua pergelangan kaki. Tanah basah berubah kering. Berubah lagi menjadi debu yang begitu ditiup serta merta berterbangan ke udara. Wajah cantik Dewi Dua Musim tampak kagum ketika melihat lubang luka bekas tancapan paku kayu di dua tangan dan dua kaki lenyap tak berbekas.

"Ilmu Penyakit Berasal Dari Manusia. Penyembuhan Datang Dari Alam. Kuasa Gusti Allah sungguh luar biasa..."

Berucap Dewi Dua Musim menyebut nama ilmu yang dipergunakan Panji Ateleng untuk mengobati luka parahnya.

Seolah tidak mendengar apa yang diucapkan si gadis.

Panji Ateleng untuk kelima kalinya menjumput tanah becek.

Kali ini tanah jalanan itu dimasukkan ke dalam mulut. Setelah menunggu sesaat si pemuda dongakkan kepala lalu meniup.

Dari dalam mulut menyembur keluar debu coklat. Disusul semburan darah merah kehitaman. Setelah debu lenyap di udara Panji Ateleng terbatuk-batuk beberapa kali. Mukanya yang pucat kini tampak berdarah kembali. Ketika bicara suaranya tidak lagi parau sember. Sepasang mata menatap lekat-lekat ke arah gadis di hadapannya.

"Sahabat Dewi Dua Musim, bagaimana kau bisa tahu nama ilmu yang aku pergunakan untuk mengobati luka tancapan paku?"

Dewi Dua Musim tampak agak terkejut mendengar pertanyaan yang tidak disangka itu. Namun dengan tersenyum dia menjawab.

"Aku hanya mendengar, tidak pernah melihat sendiri. Ketika kau mempergunakan tanah untuk menyembuhkan luka, aku hanya menduga dan asal bicara. Apakah aku keliru berucap?"

Panji Ateleng hanya diam. Mata masih menatap tak berkesip. Lalu dia berkata.

"Kau cantik. Sikap dan bicaramu lembut. Hatimu pasti begitu juga. Penuh welas asih. Aku tahu, kau pasti bukan gadis sembarangan."

"Aih. kau keliwat memuji. Maksudmu apa....?" Dewi Dua Musim tersipu-sipu.

"Melihat dirimu, aku jadi ingat pada adikku. Sikap dan caranya bicara sama sepertimu. Hanya sayang dia meninggal dunia sewaktu berusia enam belas tahun...."

"Kasihan, rupanya kau telah kehilangan banyak orang terdekat dan kau sayangi...."

Panji Ateleng menarik nafas dalam. Dua matanya memperhatikan tangan si gadis kiri kanan. Lalu mata digosokgosok.

Dia seperti melihat sesuatu. Merasa diperhatikan secara berlebihan Dewi Dua Musim bertanya. "Mengapa, ada apa dengan kedua tanganku?"

"Tidak, tidak apa-apa," jawab Panji Ateleng walau saat itu sebenarnya dia berdusta karena dia tadi memang telah melihat satu keanehan pada tangan kiri kanan si gadis.

Dewi Dua Musim bangkit berdiri. Panji Ateleng juga melakukan hal yang sama. Keduanya sama-sama tegak dan saling pandang dalam jarak hanya terpisah satu langkah. Panji Ateleng dapat mencium bau harum badan dan pakaian si gadis.

"Bau harum yang menyejukkan hati. Seumur hidup aku tidak akan melupakan bau gadis ini...." Panji Ateleng membatin dalam hati.

"Kerabat Panji Ateieng, ada apa. Ada sesuatu dalam benak atau hatimu?" Tiba-tiba Dewi Dua Musim bertanya.

"Tidak...." Si pemuda tampak agak kelagapan karena tidak menyangka orang bisa menduga-duga apa yang barusan diucapkan dalam hati "Kerabat Panji Ateleng, aku harus mencari tiga orang yang tidak muncul itu. Aku terpaksa meninggalkanmu. Kuharap kau baik-baik saja. Apakah kau akan pergi ke Magelang?"

"Aku akan ke Kotaraja," jawab Panji Ateleng. Lalu pemuda ini bertanya. "Apakah aku masih dapat berjumpa denganmu?"

Dengan tersenyum si gadis menjawab. "Selama langit masih biru dan gunung masih hijau. Selama air sungai masih mengalir ke laut dan selama sang surya masih terbit di timur, uatu ketika kita pasti bertemu lagi."

"Ucapanmu indah dan menyejukkan hati...."

"Itu karena saat ini sudah musim penghujan..."

"Nah. kau lagi-lagi menyebut itu. Bagaimana kalau saat ini bukan musim penghujan.Musim panas misalnya?"

Dewi Dua Musim tertawa. Barisan giginya tampak bagus putih dan rata. Panji Ateleng mendekat dan berkata.

"Sebelum kita berpisah aku akan memberikan sesuatu padamu. Bukan saja sebagai tanda kenang-kenangan tapi juga sebagai tanda terima kasih."

"Aih, kenapa kau mau repot-repot Aku tidak minta segala balas budi. Aih, memangnya kau mau memberikan apa?" Dewi Dua Musim berkata sambil bersurat satu langkah.

Panji Ateleng luruskan dua jari tangan kanannya. Lalu tukkk! Dia menotok tangan di bagian siku kiri sebelah dalam Ketika tangan itu ditarik, diantara dua jari menempel sebuah benda bulat merah sebesar ujung jari kelingking.

"Ini Mutiara Merah, pemberian almarhumah ibuku. Ambil dan simpan baik-baik. Jangan sampai ada orang lain tahu kau memiliki benda ini.

Pangeran Banowo sangat menginginkan Mutiara Merah ini. Dia mau mempertaruhkan apa saja untuk mendapatkannya. termasuk membunuh"

"Aih, aku tidak berani menerima pemberianmu. Mutiara Merah, mungkin hanya ini satu-satunya di dunia...." Kata Dewi Dua Musim pula.

"Aku mohon dengan sangat dan segala hormat." Panji Ateleng letakkan Mutiara Merah di atas telapak tangan kanan yang dikembang. "Ambillah..."

Dewi Dua Musim tckap mulutnya yang berbibir merah bagus dengan tangan kanan. Mata berbinar-binar melihat kebaikan hati orang. Namun kemudian kepalanya digelengkan.

"Kerabat Panji Ateleng.Mutlara Merah pasti benda langka. Aku yakin hanya ini satu-satunya di dunia. Pasti bukan benda sembarangan. Aku...aku tidak berani menerima kebaikanmu...."

"Aku memohon, sangat memohon. Karap kau mau menerima. Pemberian dari seorang sahabat yang pernah kau selamatkan nyawanya. Hatiku akan sangat perih jika kau tidak mau mengambilnya."

Dewi Dua Musim agaknya merasa terenyuh mendengar ucapan si pemuda Akhirnya tangan kanan itu diulurkan juga untuk mengambil Mutiara Merah. Setelah memperhatikan sebentar si gadis berkata. "Kau tadi kulihat menyimpan Mutiara Merah ini di dalam tangan, pada lipatan siku sebelah dalam.

Apa aku juga boleh menyimpannya di tempat yang sama?"

Panji Ateleng terkejut mendengar ucapan si gadis.

Namun dia bisa sembunyikan perasaan dan raut wajah dengan cepat tersenyum lalu menjawab. "Tentu, tentu saja kau boleh menyimpannya di tempat kau suka. Asal aman."

Dewi Dua Musim luruskan tangan kirinya. Mutiara Merah diletakkan di atas lipatan siku sebetah dalam. Lalu dengan tangan kanan benda itu ditekan.

"Blesss!"

Mutiara Merah masuk ke dalam tangan Dewi Dua Musim.

Kejut Panji Ateleng bukan alang-kepalang. Namun dia pandai menyembunyikan perasaan, malah memuji. "Kau gadis hebat. Aku kagum padamu."

"Aih, aku hanya meniru apa yang kau lakukan!" Jawab si gadis lalu tertawa renyah dan sekali memutar tubuh serta menggerakkan kaki dia sudah berada di tikungan jalan tanah di kaki Bukit Menoreh sebelah selatan.

Di satu tempat gadis ini hentikan larinya lalu berteriak sambil lambaikan tangan kiri.

"Hai1 Terima kasih untuk Mutiara Merah. Aku akan menjaganya baik-baik! Jangan lupa mengobati luka di keningmu!"

Panji Ateleng tersenyum dan batas melambaikan tangan.

Untuk beberapa lama dia masih berdiri di tempatnya.

memandang ke arah lenyapnya Dewi Dua Musim sambil meraba luka di keningnya. Dalam hati dia tidak habis pikir, siapa sebenarnya gadis cantik berpakaian biru itu.ENAMPANJl Ateleng memandang ke arah Kali Progo di kejauhan di bawah sana. Pandangan kemudian dialihkan pada pesawahan oimana para petani tampak sibuk bekerja. Dalam hati pemuda ini bicara sendiri.

"Kalau gadis itu seorang dari rimba persilatan, mengapa selama ini aku tidak pernah mendengar namanya. Dia mengaku lupa nama adalah aneh seseorang lupa nama sendiri. Tapi melihat pertemuan dalam keadaan dinku dipantek orang, wajar saja kalau dia sengaja sembunyikan jati diri. Juga masih wajar kalau seandainya dia menaruh curiga Lalu dia memperkenalkan diri sebagai Dewi Dua Musim. Kalau itu merupakan gelar atau julukan, cukup aneh terdengarnya. Beberapa kali dia menyebut musim penghujan Apa maksudnya....?"

Si pemuda usap-usap tangan kirinya yang sebelumnya ditancap paku kayu. Lalu dia ingat dan membatin kembali.

"Gadis itu memasukkan Mutiara Merah yang aku berikan ke dalam tangannya. Setahuku di dunia ini hanya ada dua orang yang mampu melakukan hal itu. Guru dan aku sendiri. Ternyata gadis itu juga bisa melakukan hal yang sama. Dari mana dia belajar ilmu kesaktian itu. Apakah guru pernah memberikan ilmu itu kepadanya atau kepada seorang lain yang kemudian meneruskan pada gadis itu?"

Panji Ateleng perhatikan paku kayu yang menancap dan empat lainnya yang tergeletak di tanah. "Dia mampu mencabut lima paku kayu itu. Walau tidak sadar diri, aku yakin mulutku dalam keadaan terkancing.

Bagaimana dia bisa tahu kalau ada paku kayu menancap dalam mulutku?

Paku Kayu Pengunci. Tanpa mencabut paku satu itu apapun yang dilakukan empat paku kayu lainnya tak mungkin bisa dicabut! Kalau tidak ada perkara besar di Kotaraja rasanya saat ini aku ingin sekati mengikuti gadis itu."

Di langit sang surya mulai memancarkan sinarnya yang terik. Panji Ateleng masih mengingat-ingat.

"Dua tangan gadis itu. Tak sengaja ketika memperhatikan aku melihat samar-samar ada gambar matahari di tangan kanan.

Di tangan kiri ada gambar seperti air mengalir. Dewi Dua Musim memiliki beberapa keanehan..."

Panji Ateleng memandang lagi ke arah kejauhan, ke jurusan lenyapnya Dewi Dua Musim. Pemuda ini kemudian tertawa sendiri. "Terus terang belum pernah aku melihat gadis secantik dia. Heh, apakah aku sudah tertarik pada sang Dewi Dua Musim itu?"

Si pemuda membalikkan badan ketika tiba-tiba di belakangnya terdengar suara kaki kuda mendatangi. Di kejauhan tampak tiga ekor kuda berlari cepat ke arahnya. Dua ekor berwarna coklat. yang ketiga berwarna hitam pekat berkilat.

Dua ekor kuda coklat masing-masing ditunggangi dua orang lelaki mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan belangkon yang juga berwarna hitam. Kuda hitam sama sekali tidak ada penunggangnya.

Mengira rombongan tiga kuda itu akan melewatinya Panji Ateleng segera menepi memberi jalan. Ternyata tiga ekor kuda itu mendadak berhenti beberapa langkah di hadapannya.

Dua penunggang kuda yang masih muda-muda, sebaya dengan Panji Ateleng memperhatikan keadaan di lereng Bukit Menoreh, lalu melihat ke jalan tanah becek yang banyak bekas kaki kuda. kaki manusia dan guratan aneh sepanjang jalan becek. Mereka juga melihat lima paku kayu. Satu menancap di tanah, empat lainnya tergeletak di jalan becek.

"Paku kayu itu...." bisik salah seorang penunggang kuda pada temannya. "Bukan paku kayu biasa. Kau lihat papan di sebelah sana? Kau lihat guratan di sepanjang jalan? Ada noda darah di tanah becek. Ada noda darah di wajah dan pakaian pemuda itu. Sesuatu yang hebat agaknya telah terjadi di sini."

Sambil bicara si penunggang kuda melirik ke arah Panji Ateleng. "Aku kawatir sesuatu telah terjadi dengan gadis itu."

Menjawab pemuda yang satunya. "Untuk meyakinkan coba kita periksa dulu dengan Ilmu Di Dalam Udara Ada Raga."

Dua orang pemuda ini kemudian mendongak dan menghirup udara dalam-dalam seperti tengah membaui sesuatu.

Penunggang di sebelah kanan berkata pada temannya. "Aku sudah mencium baunya. Kau....?"

"Aku juga sudah. Dia pasti berada di tempat ini sebelumnya."

Pandangan dua penunggang kuda kemudian ditujukan pada Panji Ateleng. Mereka tundukkan badan memberi penghormatan. Salah seorang diantaranya berkata.

"Ki Sanak di tepi jalan, maaf kalau kami mengganggu perjalananmu. Kami ada perjanjian dengan seseorang untu bertemu di tempat ini.

Karena ada halangan kami datang terlambat. Tapi kami tahu sebelumnya orang itu berada di tempat ini. Karena Ki Sanak telah lebih dulu berada di tempat ini. apakah Ki Sanak melihat seseorang di sini? Seorang gadis berpakaian biru."

Walau dua orang penunggang kuda yang masih mudamuda itu menunjukkan sikap baik dan sopan, namun Panji Ateleng tidak segera menjawab. Bisa saja keduanya menanyakan orang yang dicari membekal maksud jahat terhadap orang yang mereka tanya yaitu Dewi Dua Musim. Maka dia balik bertanya.

"Kalau boleh tahu keperluan apa Ki Sanak berdua menanyakan orang itu?"

Dibalik bertanya seperti itu. dua penunggang kuda serta merta maklum kalau memang Panji Ateleng telah bertemu atau melihat orang yang mereka cari.

"Kami berdua ada urusan penting. Sayang kami tidak bisa menjelaskan. Dari ucapan Ki Sanak cukup memberi tahu pada kami kalau gadis itu sebelumnya memang berada di sini.

Kalau dengan alasan tertentu Ki Sanak tidak mau menerangkan tidak menjadi apa. Kami mencari gadis itu bukan dengan niat tidak baik." Penunggang kuda yang bicara berpating pada temannya. "Kita melanjutkan perjalanan saja atau menunggu Ajengan Manggala Wanengpati?"

Teman yang ditanya berpikir sejenak lalu menjawab. "Kita terus saja. Kurasa gadis itu masih berada di kawasan ini.

Hembusan angin memberi petunjuk padaku dia meninggalkan tempat ini ke arah selatan Bukit Menoreh."

Dua orang pemuda kemudian tundukkan kepala memberi hormat pada Panji Ateleng, siap untuk meninggalkan tempat itu.

Setelah tahu dua pemuda tidak membekal niat jahat, Panji Ateleng cepat berkata. "Ki Sanak berdua tunggu dulu!"

Dua orang pemuda yang siap menarik tali kekang dan menarik kuda ke tiga serta merta hentikan gerakan.

Salah seorang dari dua penunggang kuda berkata.

Agaknya Ki sanak berubah pikiran. Mau memberi tahu?"

"Gadis yang Ki Sanak cari itu apakah dia bernama Dewi Dua Musim?" Bertanya Panji Ateleng.

"Benar!" Dua penunggang kuda menjawab berbarangan.

"Tadi dia memang ada di sini. Dia menerangkan tengah menunggu kedatangan tiga orang sahabat. Karena yang ditunggu tidak muncul dia kemudian pergi begitu saja..."

"Ahh...." Salah seorang pemuda penunggang kuda tarik nafas panjang. ‘Ki Sanak tahu dia pergi atau menuju kemana?" Panji Ateleng menggeleng.

"Mungkin Ki Sanak sempat bercakap-cakap dengan gadis itu.

Kalau boleh kami tahu apa saja yang telah dibicarakannya dengan Ki Sanak?"

"Dia tidak banyak bercerita.Hanya memberi tahu tentang tiga orang yang ditunggunya. Dia juga tidak mengatakan siapa orang-orang itu."

"Hanya itu?" Tanya salah seorang penunggang kuda.

"Hanya itu." Jawab Panji Ateleng. Dia tidak mau menceritakan kejadian yang dialaminya termasuk pertolongan yang diberikan Dewi Dua Musim.

Dua penunggang kuda melirik pada papan serta tebaran paku kayu di tanah. Salah seorang kemudian bertanya. Ki Sanak sendiri apakah kebetulan saja berada di tempat ini?"

"Aku dalam perjalanan ke Kotaraja.' jawab Panji Ateleng.

"Ki Sanak tinggal di Kotaraja?"

"Aku tinggal di desa kecil tak jauh dan Kuto Gede."

"Kami melihat noda darah di wajah dan pakaian Ki Sanak Apa yang telah Ki Sanak alami?" Penunggang kuda di sampir kanan bertanya. Sementara teman di sebelahnya kembali memperhatikan keadaan di tempat itu.

Panji Ateleng yang merasa didesak orang menjawab dengan tenang tapi suaranya mantap.

"Ki Sanak berdua jika kalian menarah curiga telah terjadi sesuatu antara aku dengan gadis yang dicari, kecurigaan kalian tidak beralasan. Dewi Dua Musim gadis baik. Dia memiliki kepandaian tinggi, berhati tulus ."

"Bagaimana Ki Sanak tahu gadis itu berkepandaian tinggi.

Apakah Ki Sanak sempat menjajalnya atau bertarung dengan dia?" Memotong pemuda di atas kuda sebelah kiri Kawannya menyambung "Lagi pula yang kami tanyakan bukan apa yang terjadi antara Ki Sanak dengan Dewi Dua Musim Tapi mengapa ada noda darah di wajah serta pakaian Ki Sanak

"Maaf. aku tidak bisa memberi jawaban. Yang pasti aku tidak berbuat satu kejahatan di tempat ini"

"Mungkin di tempat lain?!" Lagi-lagi pemuda berkuda di samping kanan yang bicara menempelak Panji Ateleng tersenyum. Dia membungkuk memberi penghormatan.

"Ki Sanak berdua aku masih ada kepentingan lain. Aku senang telah bertemu dan berkenalan dengan kalian..."

Pemuda berkuda di sebelah kiri berbisik pada temannya.

"Aku merasa curiga. Jangan jangan telah terjadi perkelahian antara dia dengan Dewi Dua Musim Pemuda ini berhasil mencelakainya. Bukan mustahil membunuh gadis itu!"

"Mencelakai mungkin bisa jadi Tapi untuk membunuhnya apapun kepandaian yang dimiliki pemuda ini dia tidak akan mampu melakukan hal itu terhadap Dewi Dua Musim." Jawab sang teman.

"Mungkin kita perlu memeriksa dan menahannya agar tidak pergi dulu?"

"Itu yang akan aku lakukan Sekalian menjajal sampai dimana ilmu kanuragan dan mungkin juga kesaktiannya!"

Dua pemuda di atas kuda dengan gerakan enteng melompat turun dari punggung kuda masing-masing. Sesaat kemudian mereka sudah berada di hadapan Panji Ateleng. Satu di sebelah kin satu di samping kanan "Ki Sanak, kami terpaksa tidak mengizinkanmu meninggalkan tempat ini. Paling tidak sampai ada kejelasan apa yang terjadi dengan Dewi Dua Musim."

"Memangnya apa yang terjadi dengan gadis itu. Sebenarnya kalian ini siapa dan apa yang ada dalam benak serta hati kalian?!"

Panji Ateleng mulai bersuara keras walau wajahnya tetap tidak menunjukkan kemarahan.

Pemuda berbelangkon hitam di samping kanan memberi isyarat dengan anggukan kepala pada sang teman. Si teman langsung bergerak. Sekali berkelebat dia sudah kirimkan serangan menotok ke dada kiri Panji Ateleng. Serangan ini sangat berbahaya karena kalau yang diserang hanya memiliki kepandaian sedang-sedang saja. totokan bisa sekaligus merusak jantung!

"Ki Sanak! Kau bertindak kelirul Tidak ada silang sengketa di antara kita. Mengapa menyerangku?!" Panji Ateleng berseru sambil condongkan tubuh ke kanan hingga serangan lewat hanya setengah jengkal di depan dada.

Dapatkan serangan kilatnya tidak mengenal sasaran, pemuda yang menyerang jadi beringas. Sekali berkelebat jotosan tangan kanannya menderu ke arah wajah Panji Ateleng. Panji Ateleng angkat tangan kanan ke atas dengan telapak terkembang. Begitu bukkk! Kepalan lawan menempel di telapak tangan, lima jari dengan cepat mencengkeram.

Sambil menahan sakit pemuda berpakaian hitam coba lepaskan cekalan Panji Ateleng. Tapi semakin dipaksa semakin seolah terasa remuk tangan kanannya!

Panji Ateleng dorongkan tangan kanan. Walau mendorong perlahan namun si pemuda berbelangkon hitam terjajar sampai tiga langkah. Bukannya sadar kalau tenaga luarnya berada di bawah tenaga luar lawan, pemuda itu malah menjadi nekad.Didahutui bentakan garang dia kembali menerjang. Kali ini dua tangannya menderu bergantian. Menjotos laksana kilat dan kelihatan berubah menjadi banyak sekali. Sambil memukul dua kaki bergerak ke depan mendekati Panji Ateleng. Namun sampai tubuhnya keringatan semua pukulannya mengenai tempat kosong. Kemudian disadarinya Panji Ateleng tidak ada lagi di hadapannya.

"Ki Sanak, aku ada di sini. Apa kau akan terus-terusan memukul angin?!"

Pemuda yang menyerang berhenti memukul, cepat berbalik.

Mukanya merah mengetam merasa dipermainkan. Dia melihat Panji Ateleng telah berdiri di bawah pohon besar di tepi jalan sambil rangkapkan dua tangan di depan dada dan tersenyum.

Panas hati si pemuda bukan alang kepalang. Kalau tadi semua serangan yang dilancarkan hanya mengandalkan tenaga luar maka kini dalam marahnya dia segera keluarkan tenaga dalam dan hawa sakti. Sekali tangan kanan memukul, bukan saja tangan itu berubah panjang, tapi juga mengeluarkan selarik

sinar hitam, menyambar ke arah Panji Ateleng! "Ki Sanak, tahan serangan! Mengapa kau jadi nekad!" Panji Ateleng berseru.

Tapi lawan tidak perdufi. Malah lipat gandakan tenaga dalamnya hingga sinar pukulan yang keluar dari tangan kanannya memancar lebih hitam, ganas dan angker!

"Wuuttt!"TUJUHWALAU orang menyerang dengan serangan ganas pertanda berniat mencelakainya. Panji Ateleng tetap tenang. Dalam ketenangan dia melesat dua tombak ke udara.

•Wusss! Braaakk!"

Sinar hitam pukulan lawan lewat di bawah kaki Panji Ateleng, menghantam pertengahan batang pohon hingga berderak patah dan tumbang bergemuruh! Jelas orang hendak menghabisi dirinya, sambil melayang turun Panji Ateleng berteriak.

"Ki Sanak! Ilmu kesaktian mu tinggi sekali Aku mengaku kalah. Katakan apa yang kau inginkan dariku?!"

Di bawah sana pemuda yang diteriaki tidak menjawab malah semakin garang. Selagi lawan dilihatnya masih mengambang di udara, untuk kedua kalinya dia lancarkan pukulan sakti. Kembali larikan sinar hitam pekat dan angker berkiblat menghantam ke arah Panji Ateleng.

Kali ini Panji Ateleng tidak mau lagi mengambil sikap mengalah terus-terusan. Di udara dia membuat gerakan jungkir balik setengah lingkaran. Selagi sinar pukulan lawan menderu ke atas, Panji Ateleng tahu-tahu sudah turun ke tanah dan kirimkan tendangan ke lekukan lutut sebelah belakang kaki kanan pemuda berbelangkon hitam. Lutut tertekuk. Si pemuda terhuyung ke belakang. Sewaktu dia coba mengimbangi tubuh Panji Ateleng tendang bagian belakang lutut kirinya. Tak ampun lagi pemuda itu langsung jatuh tertelentang di tanah becek.

Merasa malu dan sekaligus marah, pemuda itu menyumpah habis dan cepat berusaha berdiri. Namun dua kakinya terasa sangat berat seolah diganduli batu besar.tak mampu digerakkan apa lagi untuk berdiri bangun.

"Manusia keparat! Apa yang kau lakukan!" Teriak pemuda berbetangkon hitam.

"Ki Sanak, tenanglah. Kau tak apa-apa. Mari kutolong bangun!" Kata Panji Ateleng pula. Dia melangkah mendekati pemuda yang tertelentang di tanah sambil mengulurkan tangan.

Maksudnya memang hendak menolong. Namun saat itu melihat kawannya diperlakukan seperti itu, pemuda satunya tidak tunggu lebih lama segera menerjang. Gerakannya luar biasa cepat. Tahu-tahu jotosan tangan kanannya sudah menderu ke arah pipi kanan Panji Ateleng.

Dari suara deru pukulan orang Panji Ateleng maklum kalau pemuda ini memiliki kepandaian lebih tinggi dari yang satunya. Panji Ateleng menghindar dengan mundur satu langkah sambil tarik kepala ke belakang. "Wuttt!"

Pukulan orang lewat di depan hidung Panji Ateleng.

Tapi begitu lewat lima jari yang mengepal tiba-tiba membuka. "Wusss!"

Kepulan asap kuning menyambar ke arah wajah Panji Ateleng. Bau aneh menerpa. Walau mampu menjauh namun pemuda dari Kuto Gede ini sempat menghirup asap kuning.

"Racun Wesi Kuningi" Ucap Panji Ateleng cepat menahan nafas dan meniup kuat-kuat ke depan. Sebagian asap kuning bisa disembur namun sebagian lagi sudah masuk ke jalan pernafasannya. Saat itu juga pemuda ini merasa dadanya sesak, nafas menyengat dan pemandangan berkunang.

Melihat lawan daiam keadaan limbung pemuda berbelangkon hitam yang tadi melancarkan serangan asap beracun cepat menyerbu. Kali ini dia menggempur dengan pukulan berantai yang disebut Sepasang Ular Sendok Keluar Dari Goa.Dari sela-sela jari yang mengepal menyembur asap hijau menebar bau amis mendahului datangnya pukulan.

Rupanya pemuda satu ini punya keahlian dalam ilmu pukulan mengandung racun jahat.

Tahu bahaya besar yang dihadapinya, dalam keadaan tubuh menghuyung akibat serangan racun asap pertama, Panji Ateleng rundukkan tubuh, dua tangan di kembang ke depan lalu didorong ke arah lawan.

Asap hijau menerpa membalik ke arah pemuda berbelangkon hitam, membuat orang ini tersentak kaget dan cepat melompat mundur. Begitu selamat dari senjata makan tuan, si pemuda menerjang ke depan sambil lancarkan satu tendangan ke arah kepala Panji Ateleng. Saat itu Panji Ateleng sendiri terduduk di tanah. Wajah tampak kekuningan dan dua mata terpejam. Mulut komat kamit merapal mantera perlindungan Dia hendak menggerakkan tangan untuk menotok urat besar di pangkal leher berusaha agar bisa menyemburkan sisa Racun Wesi Kuning yang masih mendekam ketika tendangan kaki kanan pemuda berbelangkon hitam datang laksana geledek!

"Pecah kepalamu!" Teriak si penyerang.

Hanya sekejapan lagi tendangan maut itu akan menghantam hancur kepala Panji Ateleng tiba-tiba tanah di tengah jalan yang becek terbelah. Dari dalam tanah menyusul suara orang berteriak.

"Sora Warangan! Sewaktu aku muda sepertimu saat ini, pasti aku juga ingin membunuh pemuda itu! Tahan seranganmu!"

Pemuda berbelangkon hitam bernama Sora Warangan dan tengah melancarkan tendangan maut ke kepala Panji Ateleng tersentak kaget mengenali suara orang yang berteriak, dia cepat tahan tendangan.

Dari dalam belahan tanah kemudian mencuat keluar satu tubuh manusia yang kemudian jatuh bergedebuk di di tanah becek. Orang ini mengenakan pakaian bagus, seperti pakaian yang biasa dikenakan pejabat tinggi Kerajaan Mataram.

Wajahnya yang berkumis tebal tampak benjat benjut, rambut riap-riapan. Di sela bibir mengucur lelehan darah, turun sampai ke dagu yang ditumbuhi janggut tebal. Baik pakaian maupun muka dan kedua tangannya penuh tertutup tanah merah. Dua tangan orang ini menggapai-gapai lalu disusun di atas kepala sambil mulut keluarkan suara mengerang dan meratap.

"Ampun, Ajengan Manggala Wanengpati ampuni selembar nyawaku!" Habis meratap dia semburkan ludah bercampur darah dan tanah.

Panji Ateleng yang berdiri di tepi jalan terkejut ketika mengenali siapa adanya orang berpakaian bagus yang tengah minta-minta ampun.

"Perwira Tinggi Kerajaan Cakra Baskara! Apa yang terjadi dengan dirinya? Siapa yang melemparnya keluar dari dalam belahan tanah! Dia meratap minta ampun pada seorang bernama Ajengan Manggala Wanengpati. Mana orangnya?! Manggala Wanengpati. bukankah dia kakek hebat sahabat sekaligus murid Kiai Manding Saroka dari Pulau Madura?"

Saat itu dari dalam belahan tanah melesat orang kedua mengenakan belangkon dan jubah hitam legam. Seperti orang pertama yang meratap minta ampun, orang Ini wajah dan pakaian serta tangan dan kakinya juga penuh dengan tanah merah becek. Namun dengan sekali menggoyang aurat, semua tanah yang menempel rontok lenyap seketika membuat ujud orang Ini jadi terlihat jelas!DELAPANORANG kedua yang keluar dari dalam tanah adalah seorang kakek tinggi kurus, mengenakan jubah hitam. Di kepala bertengger sebuah belangkon hitam digelung dengan ikatan kain putih berbahan sutera halus. Dari bawah belangkon sebelah belakang menjulai rambut putih sepunggung. Walau tidak memelihara kumis, janggut atau berewok namun wajah kelimis si kakek menampilkan ujud monyeramkanl Dua daun telinga yang seharusnya berada di samping kepala terletak di kening kiri kanan. Lalu mulut yang semestinya terletak di bawah hidung berada di tenggorokan di bawah dagu! Agaknya kakek berwajah aneh inilah yang telah melempar Perwira Tinggi Kerajaan Cakra Baskara dari dalam tanah dan saat itu tengah meratap meminta ampun.SIAPAKAH si kakek aneh berjubah dan berbelangkon hitam berikat kepala kain sutera putih? Dulunya sebelum menjadi Ajengan atau pemuka agama dia adalah seorang berkepandaian tinggi baik ilmu silat maupun kesaktian.

Diketahui bernama Manggala Wanengpati, dijuluki Iblis Hitam Kepala Putih. Julukan itu diberikan orang karena dia selalu mengenakan jubah hitam sedang di atas kepala yang mengenakan belangkon hitam pada bagian di atas kening selalu melilit kain putih terbuat dari sutera.

Dengan ilmu yang dimilikinya Manggala Wanengpati mengembara ke berbagai penjuru tanah Jawa bahkan sampai ke tanah seberang termasuk pulau Madura, Bali dan Andalas, Sesekali dia pernah pula muncul di negeri Bugis serta tanah Dayak. Dalam pengembaraannya dia banyak mempelajari berbagai ilmu kesaktian langka dari tempat-tempat yang dia datangi pada para tokoh yang ditemui. Namun di masa mudanya Manggala Wanengpati telah berbuat banyak kejahatan. Mulai dari menjadi kepala rampok sampai mempermainkan perempuan termasuk menculik istri dan anak gadis orang. Dalam menjalankan kejahatan, perkara membunuh adalah soal kecil baginya, seenak dan semudah dia membalikkan telapak tangan saja.

Menurut riwayat yang kemudian diketahui banyak tokoh rimba persilatan dan tokoh agama di tanah Jawa dan Madura, ketika memasuki usia hampir tujuh puluh tahun, Manggala Wanengpati yang masih saja terus berbuat maksiat dan kejahatan suatu ketika bertemu dengan seorang Kiai berasal dari Sumenep di Pulau Madura, bernama Kiai Manding Saroka.

Seperti biasa, jika bertemu dengan orang berkepandaian tinggi Manggala Wanengpati selalu ingin menjajal.

Saat itu sang Kiai berada di tempat kediamannya di tepi Kali Saroka yang indah pemandangan dan sejuk hawanya.

Kedatangan sang tamu disambut Kiai Manding Saroka dengan segala hormat. Niat Manggala Wanengpati menantangnya bertarung saling uji ilmu kepandaian hingga salah satu dari mereka menemui kematian. tidak dilayani, ditolak secara halus oleh sang Kiai. Malah dengan tenang Kiai Manding Saroka mengambil sebuah bantalan dan Kitab Suci Al Qur'an, duduk bersila di lantai panggung rumah kediamannya. Bantal diletakkan di atas pangkuan lalu Kitab Suci ditaruh diatas bantal.Sesaat kemudian terdengar suara sang Kiai mulai membaca melantunkan ayat-ayat suci dengan suara lembut Siapa saja yang mendengar suara sang Kiai mengaji pastilah akan merasa kesejukan di dalam kalbu. Namun tidak demikian dengan Manggala Wanengpati yang jahat, sombong, keras kepala keras hati. Dia merasa tersinggung. Sambil borkacak pinggang dia membentak.

Mulut aneh yang berada di tenggorokan di bawah bahu terbuka.

"Kiai Manding Sarokal Jika kau tidak segera menghentikan bacaan dan meletakkan Kitab Suci itu, jangan salahkan kalau aku akan segera menyerangmu. Jika kau sanggup menghadapi tiga jurus saja dari seranganku, aku menganggap kau pantas menjadi guruku!"

Kiai Manding Saroka hentikan bacaannya, kepala diangkat sedikit, menatap Manggala Wanengpati lalu mulut berucap.

‘Bahwasanya jika seorang hamba telah melakukan kejahatan selama umur dikandung badan. Seumpama dosadosanya tak terhitung sebanyak busah di lautan. Lalu pada suatu ketika dia meminta ampun dan bertobat, maka Allah Maha Pengasih Maha Penyayang akan menerima tobatnya."

"Kiai kurang ajar! Aku menantangmu menerima tiga jurus seranganku! Bukan mau mendengar dakwah!" Teriak Manggala Wanengpati dengan suara lantang mata mendelik.

Kiai Manding Saroka menjawab bentakan orang dengan tersenyum. Mata dikedip lembut Lalu kembali dia berkata.

"Ketika seseorang telah melakukan kejahatan dan berbuat begitu banyak dosa sepanjang hidupnya, lalu dia menghadapi sakratal maut sengsara kematian. Lalu dia memohon ampun dan tobat kepada Allah, maka baginya tobat tidak berlaku lagi. Sesungguhnya dia sudah ditunggu siksaan yang teramat pedih."

Amarah Manggala Wanengpati meledak. Sekali lompat saja dia sudah lepaskan tendangan kaki kanan dahsyat ke arah kepala Kiai Manding Saroka. Ini adalah jurus pertama dari ilmu silat luar yang dinamakan "Tiga Iblis Hitam Membuncah Laut Selatan"! Karena tendangan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi dan hawa sakti maka serangan itu memancarkan cahaya hitam pekat.

Diserang dengan tendangan maut begitu rupa Kiai Manding Saroka meneruskan bacaannya namun di saat itu dua tangan digerakkan untuk mengangkat Kitab Suci Al Qur'an dari atas

bantal. Begitu Kitab Suci naik ke atas, tiba-tiba sekali bantal yang ada di pangkuan sang Kiai melesat ke udara, melindungi kepala Kiai Manding Saroka.

"Desss!"

Tendangan maut Manggala Wanengpati menghantam bantal, menyelamatkan kepala Kiai Manding. Walau kakinya hanya merasa menendang benda lembut seperti kapas namun tak urung kakek berjuluk Iblis Hitam Kepala Putih terhuyung ke belakang, hampir saja jatuh duduk di lantai rumah kalau tidak cepat mengimbangi diri.

Seharusnya apa yang terjadi menyadarkan Manggala Wanengpati. Kiai Manding Saroka hanya mempergunakan sebuah bantal untuk menghadapinya, tidak turun tangan langsung. Tapi karena mata hati dan pikiran jernih sudah tertutup. Manggala Wanengpati malah menggelegak amarahnya. Dia kembali menyerang sang Kiai. Serangannya ternyata bukan hanya tiga jurus tapi sudah tujuh jurus. Seluruh tujuh jurus, semua serangan itu ditahan oleh bantal milik sang Kiai! Hebatnya setiap serangan yang dilancarkan Manggala Wanengpati dan mampu menghancurkan tubuh besar seekor gajah atau batu.namun bantal yang dihantam sedikitpun tidak rusak, robek apa lagi sampai berbusaian kapuk di dalamnya.

Dengan hidung kembang kempis, tangan dan kaki merah bengkak, pada akhir jurus ke tujuh Manggala Wanengpati hentikan serangan. Dia berdiri tegak dengan mata laksana dikobari api. Tangan kanan diangkat perlahan sejajar dada.

Rahang menggembung. Sesaat kemudian tangan kanan itu berubah menjadi hitam legam.

Kiai Manding Saroka maklum kalau orang hendak menghantamnya dengan satu pukulan sakti sangat jahat Maka sambil menutup Kitab Suci dan mendekapnya di dada, orang tua ini berkata.

"Saudaraku Manggala Wanengpati, sudah saatnya kau harus dimandikan. Tubuh, otak dan hatimu perlu dibersihkan!

Mudah-mudahan kau mendapat pengampunan dari Yang Maha Kuasa juga mau mengembalikan dua telinga serta mulutmu ke tempat semestinya! Yang penting kau bisa insaf dan kembali ke jalan yang benar."

"Kiai keparat! Terima kematianmu!"

Manggala Wanengpati hantamkan tangan kanannya yang telah berubah hitam berkilat ke arah Kiai Manding Saroka. Sang Kiai jentikkan dua jari tangan kanan. Saat itu juga bantal yang mengapung di udara melesat menutupi wajah Manggala Wanengpati. Selagi kakek ini kelagapan, bantal mendorong kepalanya hingga tubuhnya terjajar ke belakang lalu melabrak terali bambu di ujung langkan rumah. Terali roboh, tubuh Manggala Wanengpati tercebur masuk ke dalam kali.

Kiai Manding Saroka berdiri, lalu melangkah ke tepi langkan memperhatikan ke dalam kali. Kepala atau tubuh Manggala Wanengpati tidak muncul padahal dia tahu dorongan bantal tidak membuat kakek Itu pingsan dan Manggala juga pandai berenang. Di salah satu bagian kali Kiai Manding melihat ada pusaran air yang terus berputar. Arus air kali tidak mampu melenyapkan pusaran itu. Sang Kiai tersenyum dan anggukanggukkan kepala.

"Manggala Wanengpati, semoga Gusti Allah memberkatimu."

Tiga hari setelah terceburnya Manggala Wanengpati ke dalam Kali Saroka, suatu malam sambil menunggu kedatangan saat shotat Isa Kiai Manding Saroka mengaji di langkan rumah

panggung, diterangi cahaya sebuah obor kecil. Tiba-tiba dia mendengar suara keras kecipuk air di antara suara arus kali.

Sesaat kemudian sesosok tubuh melesat dan berdiri di hadapannya dalam keadaan basah kuyup.

Yang muncul bukan lain adalah Manggala Wanengpati.

Kakek ini berdiri dengan tubuh menggigil. Belangkon hitam dan ikatan kain putih tak ada lagi di kepala. Jubah hitam masih utuh walau robek kecil di beberapa bagian. Dua telinga masih terletak di kening kiri kanan dan mulut juga masih tetap di tenggorokan di bawah dagu. Yang berubah pada diri kakek ini adalah kulitnya telah menjadi putih bersih dan pandangan matanya walau agak sedikit bengkak tampak jernih.

"Alhamdulillah. Mandi tiga hari tiga malam sahabat Manggala Wanengpati sudah selesai. Gusti Allah benar-benar telah memberkatimu." Berkata Kiai Manding Saroka.

Tidak memberikan jawaban Manggala Wanengpati langsung jatuhkan diri bersujud di lantai rumah panggung.

Hening beberapa lamanya. Kemudian terdengar suara kakek itu berucap.

"Kiai Manding Saroka, aku Manggala Wanengpati mengaku salah. Aku mohon ampun atas semua dosa dan segala kesalahanku. Aku juga ingin bertobat pada Gusti Allah atas semua dosa kesalahanku di masa lampau. Di sisa hidupku ini aku ingin menjadi orang baik-baik dan taat beragama. Aku membutuhkan bimbingan Kiai."

Kiai Manding Saroka gembira sekati mendengar ucapan Manggala Wanengpati. Setelah meletakkan bantal dan Kitab Suci di atas sebuah meja kecil, orang tua ini memegang bahu Manggala Wanengpati lalu menyuruhnya berdiri. Sambil memegang bahu Kiai Manding salurkan hawa hangat ke tubuh Manggala hingga kakek ini tidak menggigil lagi kedinginan.

Hawa hangat itu memberi kekuatan hingga Manggala mampu mengembalikan tenaga dalam dan mengatur hawa sakti di tubuhnya.

"Saudaraku, tidak ada sesuatu yang teramat indah selain niat baik yang diucapkan dengan segala ketulusan. Tidak ada berkah yang besar dan menyejukkan hati selain berkah dari Yang Maha Kuasa." Kiai Manding Saroka lalu memeluk tubuh basah kuyup itu dengan perasaan penuh haru.

Menurut cerita selanjutnya Manggala Wanengpati menetap di tempat kediaman sang Kiai selama beberapa hari. Di sini dia menerima berbagai amalan. Konon kemudian atas nasihat sang Kiai, Manggala Wanengpati berangkat ke tanah suci Mekkah.

Ketika sepuluh bulan kemudian dia kembali ke tanah Jawa, walau penampilannya tidak berubah yaitu tetap mengenakan jubah dan belangkon hitam serta ikat kepala putih namun kakek ini telah menjadi seorang baik dan alim. Beberapa bulan dia menetap di tempat kediaman Kiai Manding Saroka untuk menimba ilmu keagamaan. Orang kemudian memanggilnya dengan sebutan Ajengan yang berarti seorang pemuka agama. Sewaktu Kiai Manding Saroka menanyakan apakah dia ingin mempelajari beberapa ilmu kesaktian, Manggala menggeleng dan memberi tahu dia lebih membutuhkan ajaran agama dari sang Kiai.

Selama berada di tempat kediamannya di tepi Kali Saroka, Kiai Manding tidak pernah menanyakan pada Manggala Wanengpati apa yang terjadi dengan dirinya hingga dia memiliki sepasang telinga dan mulut yang tidak pada tempatnya. Walau boleh dikatakan Manggala Wanengpati sudah sebagai muridnya namun sang Kiai kawatir, kalau bertanya akan menyinggung perasaan Manggala. Sebaliknya Manggala Wanengpati sendiri tidak pula mengungkapkan hal-hal yang menyangkut dirinya di masa lalu. Dia menaruh kawatir kalau sang Kiai sebenarnya sudah banyak tahu mengenai dirinya atau bisa pula Kiai Manding Saroka tidak suka mendengar riwayat masa lalunya.KEMBALI ke kaki Bukit Menoreh.

Melihat orang kedua yang muncul dari belahan tanah yang saat itu telah menutup kembali, pemuda bernama Sora Warangan cepat membungkuk dalam dan berkata.

"Gurul Ajengan Kalau Ajengan tidak muncul niscaya saya telah membuat dosa besar karena membunuh pemuda itu.

Maafkan saya karena telah berbuat khilaf"

Tidak mengacuhkan ucapan orang. Ajengan Manggala Wanengpati melangkah mendekati pemuda satunya yang sampai saat itu masih tergeletak di tanah jalan becek dan dari tadi setengah mati berusaha bangun tapi tidak mampu karena Panji Ateleng telah menggelandutl kedua kakinya dengan Ilmu sepemberat batu!

"Wayan Dekik!" Bentak Ajengan Manggala. "Apa yang kau lakukan di sini?! Mengapa tidur di tengah jalan becek?!"

"Ajengan, Guru, say..„saya_."

Sambil gelengkan kepala tapi mata melirik ke arah Panji Ateleng, Ajengan Manggala Wanengpati gebrakkan kaki kanan ke tanah. Tubuh pemuda bernama Wayan Dekik yang tergeletak menggeliat-geliat di tanah terlempar ke udara. Anehnya tubuh pemuda itu kemudian tertegak dan tersandar di sebatang pohon di tepi jalan. Dia tidak jatuh, juga tidak lagi merasa kedua kakinya berat seperti tadi. Malah dia bisa melangkah!SEMBILANPANJI Ateleng yang memperhatikan apa yang terjadi membatin dalam hati. "Kakek aneh berkuping di kening, bermulut di leher itul Dia bukan saja membuat muridnya sanggup berdiri tapi sekaligus melenyapkan Ilmu Seberat Gunung Mengunci Bumi yang aku terapkanl Pemuda itu tadi memanggilnya dengan sebutan Ajengan. Siapa lagi orang sakti aneh berpakaian hitam, belangkon hitam, ditambah ikat kepala sutera putih, kalau bukan Ajengan Manggala Wanengpati yang dulu menurut guru pernah dijuluki orang-orang rimba persilatan sebagai Hantu Hitam Kepala Pulih."

Di bawah pohon Wayan Dekik tampak ketakutan. Buru-buru pemuda ini susun dua tangan di atas kepala. "Guru, Ajengan, saya mohon maafmu. Saya mengaku kalau berbuat salah...."

"Bukan kalau tapi kau dan Sora Warangan memang telah berbuat kesalahan besar!"

Kembali Wayan Dekik susun dua tangan di atas kepalasementara pemuda bernama Sora Warangan hanya tegak dengan tundukkan kepala.

"Kalian berdua masih ingin membunuh pemuda itu?" Tanya Manggala Wanengpati sambil menunjuk dengan ibu jari tangan kanan ke arah Panji Ateleng.

Dua pemuda berpakaian hitam-hitam saling pandang, gelengkan kepala lalu menunduk. Dalam hati mereka merasa heran kenapa sang guru bertanya begitu. Apakah Ajengan mengenal orang yang tadi hendak mereka bunuh itu?

"Kalian sudah kuberi pelajaran bahwa membunuh sesama manusia tanpa alasan yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan adalah dosa sangat besar di hadapan Gusti Allah..."

"Saya mohon maaf Ajengan, Guru...." kata Wayan Dekik.

"Saya juga." berkata Sora Warangan.

"Kalian tahu siapa pemuda ini?!" Manggala Wanengpati masih membentak.

Dua anak murid yang ditanya menatap ke arah Panji Ateleng lalu sama-sama menggeleng.

"Dia adalah Panji Ateleng! Adik ipar Pangeran Banowo.

Orang paling penting di Istana Kerajaan Mataram! Masih sedarah dengan Sri Baginda Raja Mataram!"

Wayan Dekik dan Sora Warangan terkejut. Muka mereka berubah pucat. Buru-buru keduanya melangkah ke hadapan Panji Ateleng, membungkuk dan meminta maaf berulang kali.

Panji Ateleng balas tundukkan kepala Saat itu Panji Ateleng sebenarnya merasa terkejut karena tidak menyangka Ajengan Manggala Wanengpati mengetahui nama dan siapa dirinya berkata.

"Saudara berdua, aku juga minta maaf. Sungguh tidak pantas apa yang telah aku lakukan pada kalian."

Panji Ateleng kemudian menemui Manggala Wanengpati.

Tangan si kakek disalami dan dicium.

"Ajengan yang saya hormati, sesungguhnya dua murid Ajengan tidak bersalah. Kami bertiga orang-orang muda selalu menuruti kata hati dan aliran darah panas yang tidak pada tempatnya. Lagi pula dua murid Ajengan itu bertindak untuk satu kepentingan yang baik. Dia hanya ingin tahu keselamatan seorang gadis bernama Dewi Dua Musim. Saya minta maaf pada Ajengan..-"

Manggala Wanengpati tersenyum. Dalam hati dia berkata.

"Dia pandai menyejukkan hatiku. Seharusnya anak ini cocok jadi muridku." Lalu sambil memegang bahu Panji Ateleng sang Ajengan berkata.

"Anak muda, dalam hidup ini kau harus selalu pertahankan ketulusan hati. Walau aku tahu beban hidupmu sungguh sangat berat"

"Terima kasih Ajengan memperhatikan saya."

Manggala Wanengpati tepuk-tepuk perlahan bahu Panji Ateleng sambil diam-diam kerahkan Ilmu Dua Gunung Menahan Langit. Ilmu ini hampir sama dengan Ilmu Seberat Gunung Mengunci Bumi yang dimiliki Panji Ateleng. Lawan yang kena serangan akan menjadi kaku berat kedua kakinya hingga tak mampu bergerak apa lagi melangkah. Bedanya ilmu yang dimiliki sang Ajengan dikeluarkan melalui tangan sedang ilmu Panji Ateleng keluar dari kaki.

"Dess! Dess!"

Ajengan Manggala Wanengpati merasa seperti memukul bantalan karet Tangannya yang ditepukkan ke bahu Panji Ateleng terpental lembut ke atas. Kakek ini tersenyum. "Anak baik....anak hebat!" Katanya dalam hati. Lalu dia perhatikan lima buah benda. satu menancap empat lainnya tergeletak di tanah.

"Hemmm, rupanya ada sesuatu terjadi di tempat ini." Kata sang Ajengan dalam hati lalu mengambil dan memperhatikan salah satu dari empat benda yang ada di tanah.

"Paku Kayu Iblis Jati Roban. Tidak beracun tapi orang yang tertusuk jika tidak memiliki tenaga dalam cukupan, darahnya akan tersedot dan bisa menemui ajal dalam waktu satu hari jika paku tidak segera dicabuti"

Manggala Wanengpati kembali menemui Panji Ateleng.

"Anak muda, ada darah di paku kayu ini. Apakah ini darahmu?"

"Benar Ajengan..." Jawab Panji Ateleng tak berani berdusta.

"Sesuatu yang hebat telah terjadi atas dirimu?"

"Benar Ajengan..."

"Ada orang memantek tangan dan kakimu dengan paku kayu ini. Satu paku dipantek dalam mulutmu...."

"Itu juga benar Ajengan...."

"Apa Suro Gledek yang melakukan?"

Pertanyaan sang Ajengan kali ini membuat Panji Ateleng terkejut.

"Betul sekali Ajengan. Bagaimana Ajengan bisa mengetahui?"

"Karena hanya ada satu orang yang memiliki Paku Iblis seperti ini. Warok hutan Roban yang bernama Suro Gledek"

Jawab Ajengan Manggala Wanengpati. "Sudah saatnya aku arus membuat tobat manusia satu itu."

"Ajengan kenal Warok itu?"

"Bukan cuma kcnat. Aku juga tahu dlmana sarangnya Karena dulu dia adalah bekas anak buahku...."

"Ah...." Panji Ateleng tercengang tak menyangka.

"Ajengan, sebenarnya Warok Suro Gledek hanya suruhan orang...."

"Begitu?" Ajengan Manggala Wanengpati kerenyitkan kening. "Siapa orangnya?"

"Maaf Ajengan. Saat ini saya belum bisa mwnberi tahu."

Ajengan Manggala Wanengpati terdiam sebentar, kemudian berkata. "Tidak jadi apa kau tidak mau memberi tahu.

Di dunia ini memang banyak rahasia. Kalau semua orang tahu namanya bukan rahasia lagi." Lalu sang Ajengan menyambung ucapan. "Soal Warok Suro Giedek biar aku yang mengurusi."

Lalu Ajengan Manggala Wanengpati pegang dan perhatikan tangan Panji Ateleng kiri kanan. Mata juga melirik pada kedua kaki pemuda itu. "Hanya ada tanda bintik kecil. Berarti kalau bukan dia sendiri yang melakukan, ada seseorang yang telah menerapkan ilmu kesaktian mengobati luka pantekan tanpa bekas!"

"Anak muda," kata Manggala Wanengpati kemudian sambil memegang bahu Panji Ateleng. Turut keteranganmu tadi. mungkin dugaanku keliru, apakah kau bertemu seorang gadis mengenakan pakaian biru di tempat ini."

"Yang bernama Dewi Dua Musim?"

"Ah, rupanya dia telah memperkenalkan diri padamu."

"Benar Ajengan.saya memang bertemu dengan dia.

Justru dialah yang telah menyelamatkan saya. Dia yang mencabut empat paku yang memantek dua tangan dan dua kaki saya serta satu lagi di dalam mulut...."

Ajengan Manggala Wanengpati angguk-anggukkan kepala. "Apakah dia juga yang menutup dan menyembuhkan luka bekas pantekan di mulut serta dua tangan dan kakimu?"

"Tidak Ajengan. Kalau lima luka itu saya sendiri yang menyembuhkan walau Dewi Dua Musim berniat membantu."

Ajengan Menggala Wanengpati berpaling pada kedua muridnya.

"Kalian dengar dan perhatikan baik-baik. Kalian menaruh curiga dan berniat membunuh pemuda ini karena melihat ada noda darah di pakaian dan wajahnya. Kalian menyangka dia telah mencelakai Dewi Dua Musim. Padahal darah yang ada di tubuh, wajah dan pakaiannya adalah darahnya sendiri. Darah yang keluar dan luka akibat siksaan orang!"

Sora Warangan dan Wayan Dekik sama rundukkan kepala. Wayan Dekik berkata. "Kami mengerti Ajengan. Kami berdua minta maaf." Lalu bersama Sora Warangan dia mendatangi Panji Ateleng. Sambil membungkuk keduanya berkata. "Kami minta maaf."

"Kita bertiga sudah jadi sahabat. Malah bisa dikatakan sudah menjadi saudara. Aku juga minta maaf." Jawab Panji Ateleng seraya memegang bahu dua pemuda di hadapannya.

Saat itu Ajengan Manggala Wanengpati kembali perhatikan dua tangan dan kaki Panji Ateleng. "Hemmm...."

Ajengan Manggala Wanengpati usap dagunya. "Anak muda, untuk menyembuhkan luka bekas pantekan kau mempergunakan Ilmu Penyakit Datang Dari Manusia.

Penyembuhan Datang Dari Alam. Batu?'

Panji Ateleng terkejut mendengar ucap pertanyaan sang Ajengan. Tapi dia juga merasa kagum. Ternyata kakek bertelinga dan bermulut aneh ini bukan cuma memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi tapi juga punya pengetahuan luas tentang segala macam ilmu yang dimiliki orang lain. Satu ilmu yang termasuk langka dalam rimba persilatan pada masa itu Sebenarnya Panji Ateleng hendak bertanya bagaimana atau dari mana si kakek bisa tahu ilmu yang dipergunakan untuk menyembuhkan dirinya. Namun sang Ajengan dilihatnya tertawa dan lebih dulu berkata.

"Panji Ateleng, di masa muda aku pernah terluka parah akibat tusukan delapan anak panah yang menancap di tubuhku.llmu itu juga yang menyembuhkan diriku."

Mendengar ucapan orang Panji Ateteng langsung bertanya. "Rupanya Ajengan juga memiliki ilmu itu....?"

Panji Ateleng tidak lanjutkan ucapan karena saat itu dilihatnya Ajengan Manggala Wanengpati tertawa lebar.

"Gurumu Toh Bagus Kamandipa adalah sahabatku paling baik tapi paling konyol. Tapi justru kekonyolannnya aku paling suka.

Ha...hal Untung kau kulihat tidak konyol seperti dia." Ajengan Manggala Wanengpati tertawa gelak-gelak.

"Gurumu satu-satunya tokoh rimba persilatan yang tidak pernah aku tantang untuk bertarung lalu aku peras ilmu kesaktiannya. Ha...ha...ha! Dia orang baik. Aku sangat menghormatinya. Cukup lama kami tidak pernah bertemu.

Apakah dia baik dan sehat-sehat saja di tempat kediamannya di pantai selatan?"

"Beliau baik-baik dan sehat-sehat Terima kasih Ajengan memperhatikan guru. Hanya saja sejak beberapa waktu lalu beliau tidak lagi menetap di pantai selatan, tapi telah mendirikan sebuah gubuk di salah satu lereng Gunung Merapi"...."

"Si konyol itu rupanya sudah bosan dengan hawa panas, angin dan bau garam air laut Kini mencari kesejukan di Gunung Merapi. Bagus begitu. Agaknya dia sengaja bersejuk-sejuk agar bisa awet muda! Ha...ha...ha!"

Panji Ateleng Ikut tertawa mendengar seloroh si kakek lalu berkata.

"Kalau bertemu guru, nanti akan saya beii tahu pertemuan kita ini."

"Bagus, memang harus begitu. Sampaikan salam hormatku padanya. Sekarang aku masih ada satu pertanyaan. Ketika kau bertemu dengan Dewi Dua Musim, apa saja ceritanya padamu?"

"Dia tidak bicara banyak. Saya ingat dia mengatakan kalau berada di tempat ini karena ada janji bertemu dengan tiga orang. Tapi yang ditunggu tidak datang. Kemudian dia malah bertemu dengan dua penunggang kuda yang menyeret saya di atas papan dalam keadaan dipantek."

"Ketika berpisah, gadis itu tidak mengatakan mau pergi kemana?" Panji Ateleng menggeleng.

"Yang ditunggu Dewi Dua Musim adalah aku dan dua muridku. Tapi Perwira Tinggi jahanam itu membuat masalah, menimbulkan halangan hingga kami terlambat datang ke sini!"

Panji Ateleng sebenarnya ingin bertanya apa yang telah dilakukan Perwira Tinggi itu. Namun hal tersebut tidak dilakukan karena dia paling tidak suka mengetahui atau mencampuri urusan orang lain.

Ajengan Manggala Wanengpati usap bibirnya yang terletak di tenggorokan lalu palingkan tubuh, melangkah mendekati lelaki berpakaian bagus tapi berselomotan tanah yang saat itu masih duduk menjelepok di tanah. Melihat dirinya didatangi langsung orang ini susun sepuluh jari di atas kepala dan seperti tadi kembali meratap.

"Ajengan, mohon ampuni selembar nyawaku. Aku mengaku sangat bersalah. Sangat berdosa...."

"Diam" Bentak Manggala Wanengpati. Dia berpaling pada dua muridnya Sora Warangan dan Wayan Dekik.

"Menurut kalian apakah Perwira Tinggi licik perlu dibunuh dihabisi?!"

Dua murid saling pandang karena tak berani menjawab.

"Aku bertanya! Mengapa kalian tiba-tiba jadi gagu!"

"Ajengan, Guru, bukankah tadi menurut Ajengan membunuh adalah satu dosa besar...." Wayan Dekik beranikan membuka mulut.

"Betul! Kecuali ada alasan yang tepat!" Hardik Manggala Wanengpati.

"Kalau begitu biar saya membunuh Perwira Tinggi ini!"

Sora Warangan berkata seraya melangkah mendekati orang yang duduk di tanah. Orang ini langsung saja menggerung keras lalu jatuhkan diri, kening sampai menyentuh tanah jalanan

yang becek.

"Ajengan, saya benar-benar minta ampun. Saya bertobat tidak akan berbuat jahat lagi kepada siapapun. Ajengan...."

Ajengan Manggala Wanengpati memberi isyarat pada Sora Warangan agar tidak melangkah lebih dekat lalu menepuk bahu si Perwira Tinggi.

"Cakra Baskaral Berdiri di hadapanku!"

Mendengar bentakan sang Ajengan Perwira Tinggi bernama Cakra Baskara yang masih bersujud di tanah cepat-cepat berdiri.

"Cakra Baskaral Nasib dirimu masih baik! Muridku tidak akan membunuhmu. Aku juga tidak walau kau hampir mencelakai nyawa kami bertiga dan menghalangi urusan besar yang tengah kami jalankan. Tapi hukuman tetap berlaku atas dirimu. Kau tidak kulepas begitu saja!"

Mendengar ucapan sang Ajengan, mengira dia tetap akan mendapat hukuman borat, kembali si Perwira Tinggi menggerung ketakutan dan menyembah-nyembah.

Ajengan Manggala Wanengpati tidak acuhkan Perwira itu. Dia malah tegak membelakangi tapi sepasang mata melirik ke atas satu pohon besar di depannya. Pada salah satu cabang pohon sejak tadi dia sudah melihat ada satu sarang tawon besar. Tanpa membalikkan diri kakek ini cekal leher pakaian si Perwira lalu sekati menyentak Perwira Tinggi Kerajaan Mataram itu melesat ke udara. Kepala membentur sarang tawon hingga sarang tawon menjadi remuk, tubuh jatuh membentang di atas cabang tepat di bawah sarang tawon.

Dari dalam sarang tawon yang hancur menderu keluar ratusan tawon besar yang langsung menyerang Cakra Baskara!

Perwira ini melolong menjerit-jerit. Sebentar saja muka dan tubuhnya sebelah atas telah bengkak matang merah akibat antukan tawon. Karena tidak tahan, dari cabang pohon dia terjun ke tanah. Tapi ratusan tawon tetap mengikuti mengejarnya. Sambil terus menjerit-jerit kesakitan Cakra Baskara lari lintang pukang menuruni kaki Bukit Menoreh..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.156.67.122
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia