Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

DUA ORANG penunggang kuda itu menuruni lembah Batusilang dengan cepat. Di sebelah depan adalah seorang lelaki berdestar hitam, berpakaian sederhana dan berusia sekitar 40 tahun. Di belakangnya mengikuti lelaki muda berpakaian bagus yang di kepalanya ada topi tinggi berwarna merah dengan pinggiran kuning, emas, pertanda dia adalah seorang berpangkat. Dua kuda tunggangan melewati sebuah telaga kecil dan akhirnya sampai di hadapan sebuah rumah berdinding kayu beratap rumbia.

"Ini tempatnya," kata lelaki berdestar hitam seraya hentikan kudanya. Lalu dia melompat turun sementara yang satu lagi memandang berkeliling dan tetap di atas punggung kudanya. Orang berdestar melangkah menuju pintu rumah dan mendorong daun pintu yang ternyata tidak dikunci. Terdengar suara berkereketan. Orang itu masuk ke dalam. Tak lama kemudian dia keluar lagi.

"Rumah ini kosong. Dia masih belum datang rupanya."

Orang berpakaian bagus di atas kuda mengangguk. Dia memandang lagi berkeliling. "Kalau memang belum datang aku bisa menunggu, Turangga. Sekalian kita bisa istirahat. Yang aku kawatirkan dia benar-benar tidak datang. Kau tertipu, aku tertipu!"

"Saya yakin dia pasti datang Tumenggung Purboyo. Silahkan Tumenggung turun dan masuk ke dalam. Menunggu sambil istirahat."

Orang yang dipanggil dengan sebutan Tumenggung itu turun dari kudanya. Dia melangkah ke pintu hendak masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya tertahan karena saat itu di bibir lembah terdengar suara ringkik kuda. Tumnggung Purboyo dan Turangga berpaling, memandang ke arah Timur lembah Batusilang. Di kejauhan kelihatan seekor kuda putih berlari menuruni lembah. Penunggarignya seorang berpakaian ungu.

"Ia datang Tumenggung." kata Turangga gembira.

"Hemm..." bergumam Tumenggung Purboyo. Wajahnya juga tampak berseri. "Dia menepati janji. Tidak sia-sia kita meninggalkan Kotaraja jauh-jauh sampai di sini."

"Tadipun saya sudah bilang. Dia pasti datang."

"Sekali lagi aku ingatkan padamu Turangga. Jaga rahasia ini baik-baik. Tidak satu orangpun boleh tahu. Kedua orang tuaku. Orang-orang Istana, apalagi tunangan dan calon mertuaku! Kalau kejadiari ini sampai bocor, aku cuma ingin membunuh satu orang. Kau!"

Turangga menyeringai. "Saya sudah mengabdi lebih dari dua puluh tahun pada keluarga Tumenggung. Masakan saya hendak membocorkan rahasia? Dulupun saya pernah muda Tumenggung."

Penunggang kuda yang datang dari arah Timur lembah itu semakin dekat. Tumenggung Purboyo mengangkat kepalanya sedikit. "Hemm... Orangnya masih jauh. Tapi bau wewangiannya sudah tercium sampai ke sini."

Turangga ikut-ikutan menengadahkan kepala dan menghirup dalam-dalam. Memang benar. Dia juga dapat mencium wanginya tubuh orang yang datang itu. Kuda putih akhirnya sampai di depan rumah dan berhenti di hadapan kedua lelaki itu. Tumenggung Purboyo terkesiap untuk beberapa saat lamanya. "Turangga tidak berdusta. Gadis ini benar-benar luar biasa. Tak pernah aku melihat dara secantik ini. Ah, kalau saja aku belum bertunangan pasti aku tak akan ragu mengambilnya sebagai istri!" begitu Tumenggung ini membatin.

Di sana, di atas kuda putih duduk seorang dara berwajah cantik sekali. Tubuhnya yang putih mulus terbungkus oleh pakaian berwarna ungu. Rambutnya yang panjang berhias sebuah pita juga berwarna ungu. Lalu pada lehernya melingkar sehelai selendang lagi-lagi berwarna ungu. Sepasang mata sang Tumenggung tak berkesip memperhatikan dara itu mulai dari kepala sampai ke kaki. Sadar kalau dia membuat orang menunggu lama, Tumenggung Purboyo membuka topinya dan memberi penghormatan dengan menganggukkan kepala.

"Maafkan, saya sampai lupa mempersilahkan turun dan masuk ke dalam rumah."

Dara di atas kuda tersenyum. Senyumannya seperti panah asmara yang datang menyambar membuat Tumenggung Purboyo tambah blingsatan sementara Turangga tertegak sambil membasahi bibirnya dengan ujung lidah berulang kali. Lalu Turangga cepat-cepat membuka pintu sementara dara berbaju ungu turun dari kudanya dibantu oleh Tumenggung Purboyo.

"Perjalanan yang begini jauh pasti tidak menyenangkan. Ditambah dengan keadaan di sini. Rumah kayu buruk ini tidak pantas untuk seorang cantik jelita seperti... Ah, maafkan saya. Saya belum tahu namanya."

Dara itu kembali tersenyum.

"Saya datang tidak bernama. Dan akan pergi tidak bernama..."

Dalam herannya Tumenggung Purboyo cepat-cepat berkata. "Kalau begitu biar saya panggil Dewi saja? Boleh...?"

"Kalau itu memang cukup pantas mengapa tidak boleh?" Suara sang dara seindah bulu perindu, menyejukkan hati Tumenggung Purboyo tapi sekaligus juga membakar panas darah di tubuhnya. Dia mengikuti gadis itu melangkah menuju ke pintu. Di ambang pintu si gadis berhenti dan memandang ke dalam. Rumah papan itu berlantai kayu hitam dan sangat bersih. Di sebelah kiri ada sebuah meja diapit dua buah kursi. Di atas meja terdapat seperangkat tempat minum. Lalu di bagian tengah terletak sebuah ranjang dengan tilamnya yang indah dan bantal-bantal yang empuk. Semua ini telah disiapkan Turangga sehari sebelumnya.

"Maafkan kalau keadaan dan isi rumafi ini tidak berkenan di hall Dewi," kata Tumenggung Purboyo. Hidungnya mencium dalam-dalam. Bau wangi tubuh dan pakaian si gadis membuatnya ingin menerkam gadis itu saat itu juga.

"Saya suka semua yang ada di sini..." kata si gadis seraya melangkah masuk ke dalam.

"Saya gembira mendengar hal itu," kata Tumenggung Purboyo dan mengikut masuk.

Gadis berbaju ungu sesaat masih memandang sekeliling kamar lalu dia duduk di tepi ranjang. Jantung Tumenggung Purboyo seperti berhenti berdetak.

"Dewi tentu haus. Biar saya ambilkan minuman."

"Tidak usah. Saya tidak punya waktu banyak. Tapi saya berjanji akan memberikan kepuasan pada Tumenggung. Siapa tahu lain kali Tumenggung mau lagi bertemu dengan saya..."

"Melihat keadaan Dewi, terus terang tiap haripun saya ingin bertemu. Hanya saja keadaan memaksa saya harus mengatur waktu sebaik-baiknya.

"Saya mengerti," kata Dewi. "Apakah Tumenggung tidak akan menutupkan pintu?"

"Ah, saya lupa." Tumenggung Purboyo cepatcepat menutup pintu.

"Apakah pembantu Tumenggung di luar sana bisa dipercaya?"

"Dewi tak usah takut. Turangga bersedia mati jika saya suruh. Dia sangat setia..."

"Sekarang hanya kita berdua di kamar ini. Tidakkah Tumenggung hendak memeluk saya?"

tanya gadis berpakaian serba ungu. Senyumnya membuat sang Tumenggung seperti dibuai ayunan sorga. Segera saja dia melangkah ke hadapan si gadis. Kedua tangannya merangkul erat punggung gadis itu. Hidungnya menyelusur di lehernya yang putih jenjang dan harum.

"Saya tidak menyangka kalau orang yang bernama Tumenggung Purboyo ini masih begini muda dan gagah. Tadinya saya mengira pasti sudah tua renta tapi masih genit dan suka daun muda..." Si gadis terdengar tertawa perlahan. Lalu balas merangkul tubuh lelaki itu.

"Saya tidak cukup pantas untuk gadis secantik Dewi," kata Tumenggung Purboyo pula.

"Tolong bukakan pakaian saya," bisik si gadis.

Tumenggung Purboyo merasakan sekujur tubuhnya bergetar panas. Cepat-cepat kedua tangannya meluncur ke bagian depan tubuh sang dara. Tidak terlihat oleh Tumenggung Purboyo gadis itu tampak tersenyum aneh. Lalu kedua tangannya yang merangkul perlahan-lahan bergerak ke atas. Bersarnaan dengan itu terjadi perubahan aneh pada sepuluh jari tangannya yang halus bersih. Dari ujung-ujung jari mencuat keluar kuku-kuku panjang berwarna merah. Pada ujungujung kuku terdapat sebuah lobang kecil sebesar lobang jarum.

Sepuluh jari tangan itu terus bergerak ke atas, mencapai bahu dan kini bergeser ke arah leher Tumenggung Purboyo pada saat dia tengah sibuk membuka kancing-kancing pakaian ungu sang dara. Mendadak ada suara tertawa aneh menggidikkan. Gerakan tangan Tumenggung Purboyo tiba-tiba terhenti. Bukan oleh suara tawa itu. Tapi oleh sepuluh kuku panjang berlubang yang mencengkeram dan menusuk dalam di batang lehernya. Darah muncrat! Kedua mata sang Tumenggung mendelik. Dia merasa darah di sekujur tubuhnya seperti disedot. Satu jeritan keras menggeledek keluar dari mulut Tumenggmg ini. Lalu tubuhnya mendadak sontak lemas seperti tidak bertulang lagi. Ketika cengkeraman pada lehernya lepas, tubuhnya tak ampun lagi jatuh terbanting ke lantai kayu hitam!

Di luar rumah, begitu mendengar teriakan tumenggung Purboyo kagetnya Turangga bukan kepalang. Tanpa pikir panjang lagi dia segera melabrak dan menjebol pintu. Begitu pintu terpentang segera dia melompat masuk. Begitu masuk begitu kedua kakinya seperti dipantek ke lantai. Sekujur tubuhnya bergetar ketakutan. Mata melotot dan muka seputih kertas.

Di lantai di hadapannya tergeletak sosok tubuh Tumenggung Purboyo. Pada lehernya yang berlumuran darah kelihatan lobang-lobang mengerikan. Kedua matanya terbeliak. Di dekat ranjang tegak gadis cantik berbaju ungu itu yang sekarang di mata Turangga seperti telah berobah menjadi setan yang mengerikan!

Gadis itu tegak dengan baju tersingkap hingga payudaranya kelihatan menyembul. Dia berdiri sambil menyeringai dan menjilati jari-jari tangannya kanan kiri yang bersimbah darah. Wajahnya yang cantik penuh noda darah terutama di bagian mulut. Ketika menyeringai gigigiginya yang sebelumnya putih kini tampak merah oleh lapisan darah! "Ya Tuhan, apa yang terjadi! Manusia atau ibliskah yang berdiri di depanku ini?" kata Turangga dalam hati.

"Kacung Tumenggung yang setia. Apa yang kau saksikan?"

Tentu saja Turangga tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Ketika dilihatnya gadis berbaju ungu itu bergerak mendekatinya tanpa pikir panjang lagi Turangga segera putar tubuh dan menghambur ke luar kamar. Di belakangnya terdengar sang dara keluarkan suara tertawa melengking lalu melompat mengejar.

Turangga lari ke kudanya. Dia berlaku cerdik. Dia tidak lari mendaki ke arah tebing lembah yang terbuka melainkan menyusup ke bagian lembah yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar lebat yaitu di sebelah belakang rumah kayu.

"Lolos..." desis berbaju ungu. Walaupun bisa tapi dia tidak berusaha mengejar. Dia melangkah ke arah kuda putihnya. Dari mulutnya masih terdengar suara tertawa melengking tinggi mengerikan.

***MINUM air jahe hangat dan manis malam-malam dingin begitu terasa nikmat sekali. Sementara menunggu datangnya minuman itu Wiro menyantap singkong rebus. Sambil mengunyah dia memandang berkeliling. Saat itu di kedai kecil di pinggiran desa itu hanya ada tiga orang tamu. Pertama dirinya sendiri lalu seorang lelaki separuh baya yang duduk sambil mengangkat kaki seenaknya, lalu seorang tamu lagi yang duduk menunduk, mengenakan pakaian seperti jubah. Di kepalanya ada semacam kerudung hingga wajahnya tidak kelihatan.

Pemilik kedai yang merangkap pelayan datang membawakan air jahe hangat dan meletakkan minuman itu di atas meja di depan Wiro. Tak sabar menunggu dinginnya minuman Wiro menuangkan air jahe itu di atas tadah. Ketika dia hendak memegang tadah murid Eyang Sinto Gendeng ini jadi kaget. Tadah itu bergerak dan bergeser ke kiri hingga tak terpegang.

"Ah, mungkin mataku yang sudah lamur!" kata Wiro menyalahi dirinya sendiri.

Diulurkannya tangannya kembali untuk memegang tadah berisi jahe itu. Hampir tersentuh tibatiba kembali tadah itu bergerak. Kali ini berpindah ke kanan. Gerakan tadah ini berpindah cukup cepat namun air jahe di atasnya sama sekali tidak bergoyang apalagi tumpah!

Wiro mernandang berkeliling. Pandangannya kemudian tertuju pada pemilik kedai.

"Ada apa ‘Den?" tanya pemilik kedai itu melihat tamunya seperti bingung.

"Tidak. Tidak ada apa-apa..." jawab Wiro. Dia memandang lagi berkeliling.

Diperhatikannya tamu yang duduk angkat kaki di sebelahnya. Orang ini asyik menghirup kopi dan mengunyah pisang goreng. Wiro berpaling ke kanan. Tamu berkerudung itu juga tampak asyik menyantap makanannya lalu menghirup kopinya kuat-kuat hingga mengeluarkan suara.

"Brengsek! Apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini? Ada setan yang jahil mengganggu tamu?" Karena jengkel merasa dipermainkan Wiro keluarkan ucapan. "Setan konyol, aku makan dan minum membayar. Jadi jangan berani mempermainkan. Jika mau ikut minum silahkan duduk unjukkan diri. Jangan mengganggu seperti ini!"

"Eh, Raden bicara apa dan sama siapa?" tanya pemilik kedai.

Wiro garuk-garuk kepala. "Tidak... Saya tidak bicara apa-apa..." jawab Wiro.

Pemilik kedai jadi heran. "Jangan-jangan tamu satu ini otaknya kurang beres. Sejak masuk tadi dia sudah cengar-cengir cengengesan. Sebentar-sebentar garuk-garuk kepala. Kini malah ngomong sendirian!"

Wiro duduk tak berkesip memandangi tadah berisi air jahe itu. Dia melirik pada minuman dalam gelas. "Coba kupegang gelasnya. Apa bisa bergerak juga," kata pemuda ini dalam hati. Lalu tangan kanannya diulurkan. Hanya sedikit saja lagi jari-jarinya akan menyentuh badan gelas, tibatiba gelas berisi air jahe hangat itu bergerak menjauh! Berubahlah paras Pendekar 212.

"Ada orang pandai mempermainkanku. Tapi siapa...?" Dua tamu yang ada di situ jelas tidak bergerak asyik dengan makanan dan minuman masing-masing. Si pemilik kedai juga tengah mengangkat gorengan pisang dari kuali besar. "Setan... Jangan-jangan benar-benar ada setan di kedai ini!" Wiro gigit bibirnya. Dia memandang lagi pada air jahe di atas tadah. "Coba kutipu,"

katanya dalam hati. Kedua tangannya pura-pura diturunkan ke bawah. Tapi baru sampai di pinggang dengan cepat diangkatnya kembali. Sekaligus bergerak ke arah tadah di atas meja. "Biar kupecahkan sekalian!" kata Wiro dalam hati saking jengkelnya.

Namun tiba-tiba sekali tadah itu melayang ke atas mengarah muka Wiro. Air jahe hangat di atasnya menyiprat membasahi seluruh wajah sang pendekarl Mata disiram air jahe hangat tentu saja sakitnya bukan kepalang! Wiro sampai terpekik dan terlompat dari duduknya. Dua tamu di samping kirinya sampai ternganga karena kaget sedang tamu satunya lagi hanya menoleh sedikit lalu meneruskan meneguk kopinya.

"Ada apa Raden?" tanya pemilik kedai. Ketika dilihatnya muka Wiro basah dan pemuda ini menggosok-gosok kedua matanya tiada henti. Sedang di lantai tadah gelas pecah berantakan. "Ah, itulah Raden. Minuman masih panas sudah mau diminum. Mbok ya sabar ditunggu sampai dingin..."

"Mbok sabar... Mbok sabar!" gerutu Wiro dalam hati. "Mukaku serasa tebal, mataku pedas enak saja bicara mbok... mbok."

Pemilik kedai itu tidak memperhatikan Wiro karena salah satu tamunya telah berdiri dan membayar. Selesai melayani tamunya pemilik kedai bertanya. "Mau tadah baru lagi Den"

"Tidak usah!" jawab Wiro. "Biar panas-panas aku sanggup menenggak air jahe ini!" Lalu saking jengkelnya Wiro teguk air jahe dalam gelas yang masih panas. Mulutnya sampai ternganga kepedasan dan lidahnya terjulur-julur. Dari dalam sakunya dikeluarkannya uang pembayar makanan dan minuman lalu diulurkannya. Tapi orang kedai tidak mau menerimanya. Wiro jadi tambah mengkal.

"Tidak mau dibayar?" bentaknye sambil mengusap mata kirinya yang masih terasa perih.

"Anu Den..."

"Anu... anu! Anumu nanti aku guyur sama air jahe panas baru tahu! Ayo ambil uangnya!"

"Anu Den. Tidak perlu. Sudah dibayar."

"Sudah dibayar? Siapa yang membayar? Jangan main-main!" kata Wiro dengan keras.

"Itu, tamu berjubah tadi..." menjawab pemilik kedai.

Wiro berpaling ke kanan. Tamu yang duduk di situ sudah tidak ada lagi. "Berjubah dan pakai kerudung itu?"

"Betul Den."

Wiro garuk-garuk kepalanya. "Wajahnya tak sempat kulihat. Kenalpun rasanya aku tidak. Mengapa dia membayarkan makanan dan minumanku? Aneh!"

"Tamu tadi, kau kenal padanya? Sering mampir ke kedai ini?" tanya Wiro.

Orang kedai menggeleng. "Baru sekali ini saya melihatnya Den."

"Situ tadi sempat lihat wajahnya?" tanya Wiro pula.

"Hanya sekilas. Wajahnya seram amat..."

"Seram bagaimana?"

"Mukanya seperti tengkorak dan sangat hitam. Kedua matanya sangat cekung..."

"Jangan-jangan dia memang setan!" kata Wiro.

"Apa kata Raden, Setan? Puluhan tahun berjualan di sini belum pernah ada setan di sekitar sini Den. Tapi... Raden mungkin betul. Orang tadi mungkin setan... atau hantu..."

"Coba perlihatkan uang bayarannya tadi," kata Wiro.

Orang kedai keruk saku pakaiannya. Ketika tangannya diulurkan dan genggamannya dibuka, pucatlah wajahnya melihat apa yang ada ditangannya. Bukan sekeping uang logam. Tapi sebuah batu kecil!

Tubuh pemilik kedai itu kini tampak gemetaran.

Jelas dia sangat ketakutan. Dengan suara terputus-putus dia berkata. "Maafkan, saya tidak menerima tamu lagi. Saya harus menutup kedai ini cepatcepat sebelum setan tadi kembali lagi!"

Wiro geleng-geleng kepala. "Kalau begitu ambil saja uang ini. Sekalian bayaran makanan dan minuman orang berjubaah tadi. Sialan! Malah kini aku yang membayarkan! Dasar setan!"

Wiro meletakkan uangnya di atas meja lalu cepat-cepat setengah berlari dia berkelebat ke jurusan perginya orang berjubah tadi. Tak lama berlari Wiro berhasil mengejar orang berjubah itu. Tapi aneh, tinggal dalam jarak sekitar lima tombak, bagaimanapun dia mempercepat larinya mengejar tetap saja dia tidak dapat mendekati orang itu. Wiro kerahkan tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh serta ilmu larinya. Dia hanya mampu maju mendekat sekitar empat tombak setelah itu tidak mampu berbuat apa-apa lagi.

"Saudara berjubah! Hai! Tunggu dulu! Berhenti!" Wiro berteriak memanggil. Matanya memperhatikan kedua kaki orang di depannya. Ternyata kedua kaki itu menjejak tanah. Bergerak seperti melangkah tapi memiliki kecepatan seperti orang berlari! "Ah dia manusia biasa juga. Bukan setan!" kata Wiro melihat kenyataan itu.

Orang yang dipanggil acuh saja. Jangankan berhenti, berpalingpun tidak.

"Sialan!" maki Wiro dalam hati. Dia mempercepat larinya. Tetap saja dia tidak dapat memperpendek jarak. Dia mencari akal. "Biar kubuat marah dia!" Lalu kembali Wiro berteriak.

"Manusia jahat penipu! Membayar dengan batu! Mengapa pergunakan ilmu untuk menipu orang kecil!"

Orang di depan Wiro keluarkan suara tawa mengekeh. Lalu tubuhnya lenyap. Wiro hentikan lari. Memandang berkeliling. Hatinya mulai was-was. "Kalau benar tadi itu bukan manusia tapi setan, mati aku dicekiknya di tempat sunyi ini!" Lalu Wiro bersiap membentengi diri dengan pukulan sakti.

Baru saja kumandang suara tawa itu lenyap dalam kegelapan malam, tiba-tiba satu benda melayang turun dari atas cabang sebuah pohon. Wiro menyingkir namun benda yang jatuh itu cepat sekali mendekap leher dan dagunya. Dia merasa seperti ada satu sosok tubuh yang menduduki bahunya. Wiro membungkuk, berusaha membantingkan sosok tubuh yang menduduki bahu dan memagut lehernya itu. Namun tubuh itu laksana lengket jadi satu dengan tubuhnya.

"Keparat sialan!" maki Pendekar 212. Dia kerahkan tenaga dalam lalu menggebuk ke belakang. Dia sengaja lepaskan pukulan sakti dalam jurus yang bernama "dibalik gunung memukul halilintar."

***PUKULAN ukulan yang bisa menghancurkan tembok batu itu mengeluarkan suara menderu. Namun bukan saja pukulan itu tidak mengenai sasaran orang yang mendekam dibahunya, malah lengan kanannya kena ditangkap. Belum sempat Wiro, membuat gerakan susulan untuk melepaskan cekalan orang samb,il menghantam dengan tangan kiri, mendadak lengannya ditarik keras ke depan. Tubuhnya ikut terseret. Kalau dia tidak ikuti daya tarik seretan itu dan jatuhkan diri di tanah lalu bergulingan, niscaya Wiro akan terbanting dada atau muka lebih dulu mencium tanah!

Dengan cepat Wiro bangkit berdiri. Begitu berdiri satu sosok tubuh tahu-tahu sudah tegak di depannya. Serta merta dia hendak menghantam. Orang didepannya keluarkan suara tertawa mengekeh. Seperti mengenali suara tawa itu, Wiro tarik pulang tangannya yang barusan hendak memukul. Kakinya menyurut satu langkah.

"Siapa kau!" bentak Pendekar 212.

"Anak goblok! Kalau musuh beneran yang membokongmu, pasti kau sudah mampus dari tadi!" Orang di depannya menanggalkan jubah di tubuhnya. Di balik jubah itu kini kelihatan satu tubuh kurus tinggi mengenakan kebaya dalam dan panjang dekil. Wiro keluarkan seruan tertahan. Tapi dia belum pasti. Tempat itu gelap sekali. Ketika orang di hadapannya melemparkan kerudung yang menutupi wajahnya baru sang pendekar benarbenar mengenali dan berteriak.

"Eyang Sinto Gendeng!"

Ternyata orang itu adalah guru Pendekar 212 sendiri. Nenek sakti dari Gunung Gede bernama Sinto Gendeng. Wiro cepat hendak jatuhkan diri memberi penghormatan. Si nenek tertawa dan tarik pemuda itu hingga dia kembali berdiri.

"Guru, maafkan murid. Says tidak tahu kalau..."

"Anak setan! Dirimu sudah kumaafkan!"

"Jadi Eyang rupanya yang tadi mempermainkan tadah minuman di kedai itu!" Si nenek menyeringai.

"Nek, kau muncul secara mendadak lengkap dengan segala keanehanmu. Tentu ada sesuatu..."

"Nah otakmu ternyata masih jalan. Dengar, memang ads satu hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Kau sudah dengar kegegeran yang terjadi dalam rimba persilatan sejak tiga bulan terakhir ini?"

"Banyak yang terjadi Eyang. Kegegeran yang mans maksud Eyang?" tanya Wiro.

"Sompret! Kau masih bisa bertanya. Apa saja yang kau lakukan selama ini? Bertualang mencari anak perempuan orang?!" Sepasang mata Sinto Gendeng tampak berkilat-kilat. Wiro garuk-garuk kapalanya. Kalau tidak benarbenar ads satu peristiwa besar pasti gurunya tidak semarah itu. Untuk beberapa saat lamanya pemuda ini hanya bisa tertegak dengan mulut terkancing.

"Kau masih ingat kakek konyol peminum tuak yang bergelar Dewa Tuak?"

"Tentu saya ingat kakek satu Itu Eyang. Ada apa dengan dirinya. Apakah dia sudah mendahului kita?" tanya Wiro.

"Anak setan! Enak saja kau menyebut orang sudah mati!" bentak Eyang Sinto Gendeng marah.

"Orang tua itu bakal mengalami kesulitan dan malu besar. Gara-gara perbuatan murid tunggalnya. Gadis Anggini itu!"

Pares Wiro jadi berubah. "Kesulitan dan malu besar. Ah... Agaknya sesuatu sudah terjadi atas diri gadis itu. Eyang, maafkan saya ... Apakah, maksud Eyang apakah gadis itu tahu-tahu bunting?'

Hampir si nenek hendak menampar muka muridnya itu.

"Kau benar-benar anak setan! Dari mana kau punya pikiran murid Dewa Tuak bunting! Kau yang membuatnya bunting? Edan!"

"Lalu, lalu apa yang sebenarnya telah terjadi Eyang?'

"Anggini telah menjadi iblis doyan darah! Dia membunuh dimana-mana lalu menghisap darah korbannya!"

"Ya Tuhan!" mengucap Wiro. "Saya memang mendengar tentang munculnya seorang gadis yang dijuluki Betina Penghisap Darah. Saya tengah menyelidiki manusia satu itu. Murid tidak tahu kalau Betina penghisap Darah adalah Anggini, murid Dewa Tuak! Bagaimana saya bisa mempercayai hal ini?!"

"Kau tak perlu mempercayainya. Bukti-bukti sudah lebih dari cukup. Banyak orang yang mengenali dirinya. Sekarang yang kau lakukan adalah mencarinya lalu menyeretnya ke hadapan Dewa Tuak untuk menerima hukuman. Kalau sampai orang-orang rimba persilatan yang turun tangan kau tahu sendiri akibatnya. Mereka akan membunuh gadis itu sampai lumat daging dan tulang-tulangnya.

Sesaat Wiro terdiam. "Saya tidak habis pikir. Gadis yang begitu baik. Murid yang sangat cerdas dan periang. Bagaimana tahu-tahu berubah menjadi mahluk haus darah?

"Banyak hal yang bisa membuat manusia berubah. Aku akan menemui Dewa Tuak. Kau pergi mencari gadis itu..."

Wiro tegak termangu-mangu.

"Anak setan! Kau dengar ucapanku tidak?"

"Saya dengar Eyang. Saya akan mencarinya sampai dapat." Jawab Wiro.

"Tapi ingat satu hal! Jangan kau main gila!"

"Main gila bagaimana maksud Eyang?" tanya Wiro pula.

"Aku tahu gadis itu punya hati terhadapmu dan cantik. Dan kau sendiri... He... he... he...Coba katakan bagaimana perasaanmu terhadapnya!"

Wiro jadi salah tingkah.

"Saya sudah sangat lama tidak bertemu. Dia memang cantik. Saya sangat menghormat Dewa Tuak. Bagaimana mungkin..."

"Anak pandir! Selama laut masih biru dan gunung masih hijau tak ada yang tidak mungkin di dunia ini! Karena itu aku ingatkan padamu. Jika kau mengambil keputusan terhadap gadis itu jangan sampal hatimu mendua. Apalagi sampai kau sempat dirayunya. Sekali kau bisa dikuasainya berarti ajalmu sudah di mata. Kau dengar itu!"

"Saya dengar Eyang," jawab Wiro.

"Sudah! Aku pergi sekarang. Aku akan menemui tua bangka peminum tuak itu!"

"Eyang, saya ada usul..." Wiro berkata cepat ketika dilihatnya si nenek hendak berkelebat pergi.

"Kalau usulmu masuk akal coba katakana!"

"Bagaimana kalau saya yang pergi menemul Dewa Tuak dan Eyang yang mencari Anggini."

Kedua mata Sinto Gendeng membeliak seperti hendak melompat dari rongga matanya yang sangat cekung. Wajahnya yang angker seperti tengkorak itu kelihatan tambah menggidikkan.

"Usulmu usul kurang ajar!" kata si nenek. Tangannya bergerak hendak menampar muka muridnya itu.

Wiro tak berusaha menghindari tamparan itu. Dia tetap tegak tak bergerak, hanya air mukanya saja yang kelihatan tersenyum.

"Maafkan saya Eyang. Bukan maksud saya mengajari..." katanya.

Si nenek tarik tangannya, tak jadi menampar. "Sudah, pergi sana! Makin lama kau petatangpeteteng di hadapanku, makin gatal tanganku hendak menamparmu!"

"Saya pergi Eyang..." kata Wiro sambil membungkuk.

Ketika dia hendak melangkah pergi terdengar si nenek memanggil.

"Ada apa Eyang...?"

"Kau punya duit?"

"Maksud Eyang?"

"Maksudku kau punya bekal uang...?"

"Engg... ada Eyang."

"Anak sombong! kalau kau tak punya uang bilang saja! Jangan sok!" Dari balik pakaian dekilnya si nenek keluarkan sebuah kantong kecil terbuat dari kain. Kantong itu dilemparkannya ke arah Wiro. Terdengar suara berdering. Mau tak mau Wiro segera menanggapi kantong itu.

Ketika kantong berada dalam genggamannya, sang guru sudah tak ada lagi di tempat itu!

"Mulutnya konyol, tapi hatinya baik dan polos..." kata Wiro. Sambil menimang-nimang kantong berisi uang itu pendekar 212 berpikir. Apa betul Anggini murid Dewa Tuak yang cantik dan yang dikenalnya sangat baik itu tiba-tiba telah berubah menjadi makhluk doyan darah hingga dijuluki Betina Penghisap Darah? Kalau bukan gurunya yang memberi tahu, sulit baginya mempercayai. Wiro menarik nafas panjang. Malam mulai dingin. Pendekar ini akhirnya tinggalkan tempat itu.

***RIMBA belantara itu sunyi senyap, redup menggidikkan. Mencari seorang manusia di tempat seperti itu sama saja dengan mencari seekor semut di rerumputan. Setelah setengah harian berkeliaran dalam rimba akhirnya wajah seram Eyang Sinto Gendeng yang tegang menggidikkan kelihatan menyeringai. Dia mendongakkan kepala beberapa lama, mencium dalam-dalam lalu tertawa mengekeh.

"Dewa Tuak! Aku sudah dapat mencium harumnya bau tuakmu. Buat apa masih bersembunyi? Hik...hik.... hik!"

Belum habis si nenek tertawa tiba-tiba dari atas sebatang pohon besar melayang jatuh sebuah benda bulat panjang. Ternyata benda ini adalah sebuah tabung bambu sepanjang tiga kaki. Tabung bambu ini jatuh demikian rupa dengan bagian bawahnya melesat ke arah batok kepala si nenek. Jelas ini merupakan satu serangan yang mematikan!

Di dalam tabung bambu itu menebar bau sangat harum dari tuak yang memenuhi tabung sampai ujung teratas. Walau penuh tapi ketika melayang jatuh isinya tidak sedikitpun muncrat atau tumpah ke luar. Berarti orang yang melemparkan tabung bambu berisi tuak itu benar-benar memiliki kepandaian luar biasa!

"Walah! Belasan tahun tidak bertemu malah kini mau menghancurkan kepalaku! Sungguh keterlaluan!" berteriak Sinto Gendeng. Dia miringkan kepala serta bahunya sedikit. Begitu tabung lewat disampingnya segera ditangkapnya. Kepala ditengadahkan sambil menempel ujung bambu sebelah atas ke bibirnya. Lalu cegluk... cegluk si nenek meneguk tuak dalam bambu berlelehan membasahi dagu dan pakalannya.

"Ah, tuak setan ini makin nikmat saja dari tahun ke tahun! Pasti diramu dengan daun ganja!"

Sinto Gendeng teguk lagi tuak dalam bambu sampai mukanya yang menyeramkan seperti tengkorak itu kelihatan menjadi merah. Tubuhnya terasa panas dan kedua lututnya mulai bergetar.

"Gila! Masakan aku bisa mabuk hanya minum beberapa teguk minuman setan ini?!" kata si nenek. Lalu dia memandang berkeliling. "Dewa Tuak! Kalau belum juga kau menampakkan diri kupecahkan tabung bambu keparat ini!" Sinto Gendeng berteriak mengancam.

Saat itu di atas pohon meledak suara tawa bergelak.

"Tua bangka bodoh! Sudah tahu tidak tahan minuman keras mengapa kau meneguknya dengan rakus?!"

Suara itu juga datang dari atas pohon. Lalu terdengar suara dedaunan pohon berkeresek. Bersamaan dengan itu sesosok tubuh melayang turun sambil terus mengumbar suara tawa. Di lain kejab sosok tubuh itu sudah berdiri terbungkuk-bungkuk di hadapan Sinto Gendeng. Dia ternyata seorang kakek-kakek berjanggut putih sepanjang dada. Pakaiannya kain biru yang diselempangkan seperti pakaian seorang Biksu. Dipunggungnya tergantung sebuah tabung bambu berisi tuak yang bentuknya sama dengan tabung bambu yang saat itu dipegang Sinto Gendeng.

"Sinto, lama tidak bertemu ternyata kau tambah jelek saja!" si kakek yang bukan lain adalah tokoh sakti bergelar Dewa Tuak itu angkat bicara lalu tertawa mengekeh.

"Nasibmu tidak lebih baik, Dewa Tuak!" menyahuti Sinto Gendeng. "Tubuhmu semakin reot dan tampangmu tambah peot! Tua bangka sepertimu ini seharusnya sudah dijadikan umpan cacing di liang kubur! Hik...hik....hik...."

Kakek nenek tokoh dunia persilatan itu sama-sama tertawa. Si kakek hentikan tawanya lebih dulu. "Sebaiknya kau jangan terlalu banyak minum tuak kayangan itu. Aku tidak kawatir kalau kau sampai mabuk Sinto. Tapi yang aku takutkan nanti kau bisa ngompol terus-terusan tujuh hari tujuh malam!" Dewa Tuak ulurkan tangannya mengambil tabung bambu.

"Ala, minuman busuk begini saja, siapa yang mau minum terlalu banyak!" Sinto Gendeng lemparkan tabung bambu yang dipegangnya. Tabung itu melesat melintang ke arah si kakek, kedua kakinya agak tersurut sedikit. Tapi dadanya selamat dari hantaman tabung bambu miliknya sendiri.

Kalau ada orang pandai ke tiga yang menyaksikan kejadian itu, maka dia akan segera memaklumi bahwa tenaga dalam dan kepandaian si nenek tidak berada di bawah Dewa Tuak, malah mungkin sedikit lebih tinggi. Kalau sebelumnya Dewa Tuak melemparkan tabung bambu dari atas pohon dalam keadaan membujur ke bawah maka tadi si nenek melemparkan tabung bambu yang sama dalam keadaan melintang dan tuak di dalamnya sedikipun tidak tumpah!

Dewa Tuak tancapkan ujung tabung bambu sebelah bawah ke tanah, lalu dia melompat dan duduk di ujung tabung bambu sebelah atas. Begitu duduk terdengar bagian bawah perutnya berbunyi! Buuttttt! Si kakek kentut!

"Sekarang mari kita bicara. Ada keperluan apa kau mencariku Sinto?" bertanya Dewa Tuak.

"Tunggu!" Sepasang mata Sinto Gendeng melotot tak berkesip memandang Dewa Tuak.

Kakek ini seperti hendak ditelannya. "Kau barusan kentut di mulut tabung berisi tuak itu. Sebelumnya aku sudah meneguk minuman celaka itu. Apakah sebelumnya kau juga sering kentut di mulut tabung?!"

Dewa Tuak tertawa bergelak. "Apa perlu kujawab?!" katanya menyahuti.

"Kurang ajar! Kakek setan! Kau memberi aku minum tuak yang sudah kau kentuti!" Marah Sinto Gendeng bukan alang kepalang. Dia menyumpah-nyumpah sambil meludah berulang kali. Lalu tubuhnya berkelebat seraya kirimkan satu hantaman ke arah Dewa Tuak. Angin hantaman itu dahsyatnya bukan main. Dewa Tuak tahu betul kalau si nenek kini benar-benar marah. Dia cepat menyingkir sambil cepat-cepat mencabut tabung bambu menyambut serangan Sinto Gendeng. Si nenek ternyata hanya melakukan serangan tipuan. Karena begitu lawan berkelit, serangannya berubah dan kini menjarah ke arah perut Dewa Tuak.

Bukkk!

Byuuur!

Dewa Tuak terpental dan jatuh duduk di tanah, tersandar ke sebatang pohon. Sebaliknya Sinto Gendeng tegak terhuyung-huyung sambil mengusapi muka tengkoraknya yang basah kuyup oleh semburan tuak kayangan yang tadi disemburkan si kakek. Dewa Tuak tahu betul. Jika tadi si nenek benar-benar menyerangnya saat itu pasti perutnya sudah bobol dihantam pukulan dan nyawanya tak akan tertolong. Sebaliknya Sinto Gendeng juga menyadari. Kalau si kakek sungguhan membalas serangannya dengan semburan tuak, saat itu pasti mukanya sudah hancur dan nyawanya putus!

Dewa Tuak tarik nafas panjang lalu tertawa gelak-gelak. Sehabis tertawa dia teguk tuaknya dan memandang pada Sinto Gendeng. "Dua tua bangka edan bercanda dalam rimba belantara. Padahal mungkin ada satu perkara besar yang harus dihadapi!"

"Syukur kita sama-sama tahu diri!" kata Sinto Gendeng sambil terus mengeringkan mukanya yang basah kuyup. "Apa yang kau ucapkan tadi memang betul. Ada satu perkara besar yang sedang aku hadapi!"

"Ah!" Dewa Tuak menggeser duduknya hingga lebih enak bersandar ke batang pohon di belakangnya. "Katakan apa perkara besar itu sahabatku!"

"Sebelum aku menyampaikan aku ingin bertanya lebih dulu. Aku tidak melihat Anggini muridmu. Bagaimana keadaannya dan dimana dia saat ini?"

"Anak itu, dia kuharap baik-baik saja..."

"Kuharap katamu? Berarti dia tidak ada bersamamu?"

"Betul Sinto, dia pergi sekitar empat bulan lalu...."

"Kau tahu pergi ke mana?"

"Katanya ingin menyambangi beberapa sahabatnya. Siapa tahu mungkin juga dia tengah mencari muridmu yang sableng itu!"

"Tidak... Dia tidak mencari Wiro. Tapi tengah melakukan sesuatu yang telah menggegerkan rimba persilatan. Empat bulan lalu dia meninggalkanmu. Jika dihitung-hitung memang cocok waktunya dengan semua apa yang terjadi!"

"Eh, kau bicara apa ini Sinto? Apa yang telah dilakukan muridku Anggini?"

"Kau pernah mendengar manusia berjuluk Betina Penghisap Darah yang gentayangan sejak tiga bulan lalu di mana-mana? Melakukan pembunuhan lalu menghisap darah korbannya secara keji!"

"Aku memang sudah mendengar kemunculan manusia biadab itu. Lalu apa hubungan keparat itu dengan muridku Anggini?" bertanya Dewa Tuak.

"Betina Penghisap Darah ternyata adalah Anggini! Muridmu sendiri!"

Terbeliak mata Dewa Tuak. Kalau saat itu ada petir menyambar di depan hidungnya mungkin tidak akan seperti itu dia terkejut.

"Kau tidak sedang sinting Sinto?"

"Sialan! Siapa yang sinting!"

"Kau juga tidak ngaco atau bicara dusta?!"

"Edan! Aku tidak mabok! Mana mungkin ngaco dan dusta!"

"Kau tidak memfitnah?!"

"Sompret kau Dewa Tuak!"

"Lalu bagaimana kau bisa mengatakan Betina Penghisap Darah itu adalah muridku?"

"Beberapa tokoh silat mengatakan begitu. Dua diantaranya melihat sendiri. Yang terakhir seorang pembantu Tumenggung di Kotaraja menceritakan ciri-ciri Betina Penghisap Darah itu. Semua cocok dengan ciri-ciri muridmu. Wajahnya, pakaiannya. Semuanya! Nah kau mau bilang apa lagi?!"

Dewa Tuak seperti dihenyakkan ke tanah. Untuk beberapa lamanya dia duduk terdiam.

"Kalau bukan kau sendiri yang datang membawa berita ini dan mengatakannya padaku, aku tak bakalan percaya," berucap Dewa Tuak. Suaranya perlahan dan bergetar. "Apa yang terjadi dengan anak itu...?"

"Aku kawatir dia telah terperangkap dalam satu ilmu sesat. Ilmu yang mewajibkannya harus membunuh dan menghisap darah manusia. Setahuku korban-korbannya hanya orang-orang tertentu. Para bangsawan, para pejabat, tokoh-tokoh silat. Umumnya semua mereka itu masih muda-muda. Lelaki atau perempuan..."

"Gusti Allah..." Dewa Tuak mengucap. Dia memandang pada Sinto Gendeng. "Apa yang harus kulakukan Sinto? Dunia persilatan pasti mengutukku habis-habisan. Maluku hendak disembunyikan kemana?"

"Kau harus mencari anak itu. Membuatnya bertobat lalu menghukumnya. Kalau tidak kau sendiri yang turun tangan, maka pembalasan orang-orang persilatan akan sangat mengerikan. Aku tak bisa membantumu Dewa Tuak."

"Apakah dia demikian saktinya hingga tak seorangpun selama tiga bulan ini sanggup mengalahkannya?"

"Bekal ilmu silat dan kesaktian yang kau berikan padanya sudah cukup membuat dia menjadi seorang tokoh muda yang disegani. Apalagi kalau dia mendapat tambahan ilmu setan yang sulit dipercaya kehebatannya! Lihat saja, mengapa dia harus minum darah setiap korban yang dibunuhnya? Pasti itu menjadi salah satu keharusan jika dia ingin menguasai terus ilmu yang climilikinya!"

"Anggini..." Dewa Tuak menyenut nama murianya dengan nada penuh penyesalan.

Perlahan-lahan kakek ini berdiri. Dari balik pakaian birunya dikeluarkannya sebuah benda lalu dia berkata pada Sinto Gendeng.

"Sahabatku, kau menjadi saksi tunggal. Aku bersumpah akan mencari anak itu dan membunuhnya. Jika dalam tempo empat puluh hari aku tidak berhasil melakukannya atau aku sampai dikalahkannya, aku lebih baik memilih mati dari pada harus menanggung malu yang menyengsarakan!"

Habis berkata begitu Dewa Tuak masukkan benda yang dipegangnya ke dalam mulut. Sinto Gendeng hendak mencegah tapi terlambat.

"Dewa Tuak! Apa yang kau telan itu?!"

"Racun kematian!" jawab Dewa Tuak dengan tegar, "Racun itu akan bekerja pada hari ke empat puluh satu dari sekarang. Jika aku tidak berhasil mencari anak itu. Atau berhasil tapi tak sanggup meringkus dan membunuhnya, maka pada hari ke empat puluh satu aku sudah pasrah menemui kematian."

"Jangan tolol! Aku tahu kau pasti memiliki obat penangkal racun itu di balik pakaianmu. Ayo lekas kau telan obat penangkal itu!"

Dewa Tuak menggeleng.

"Aku sudah memutuskan lebih baik mati di hari ke empat puluh satu itu. Dari pada menanggung malu besar!"

"Tua bangka bodoh! Mengapa kau jadi begini tolol dan ikut-ikutan sesat?"

"Terus terang aku sudah terlalu lama hidup di dunia ini. Usiaku sudah lebih dari delapan puluh tahun. Buat apa menghabiskan sisa hidup dengan menanggung malu? Lebih baik mati berkalang tanah!"

Sinto Gendeng terdiam. Dia tidak bisa menyalahkan Dewa Tuak kalau sampai berbuat seperti itu.

"Kau sendiri apa yang hendak kau lakukan Sinto? Sebagai salah seorang sesepuh dunia persilatan yang ikut menentukan hitam putihnya masa depan dunia persilatan, apakah kau tidak akan turun tangan?"

"Aku lebih banyak memandang pada persahabatan kita. Lagi pula tua bangka sepertiku ini sepantasnya tidak boleh terlalu banyak mengurusi masalah dunia. Aku sudah minta muridku Wiro Sableng untuk mencarinya lalu membawanya padamu. Hanya itu yang bisa kulakukan..."

"Terima kasih sahabat...." kata Dewa Tuak. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Di ujung usiaku ini, sebetulnya aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan tinggal di satu tempat yang sunyi dan tenang. Namun nasibku mengatakan lain..." Dewa Tuak menarik nafas dalam. Sinto Gendeng mengangguk-angguk. "Kita memang hidup di dunia ini," katanya. "Tapi kehendak Tuhan lebih banyak menentukan dari kemauan kita sendiri!"

Dewa Tuak ambil tabung bambu yang dipangkuannya. Isi tabung itu diteguknya sampai habis. Seperti belum puas diambilnya tabung satu lagi yang tergantung di punggungnya. Lalu isi tabung inipun ditenggaknya sampai habis. Perutnya tampak melembung. Sekujur tubuh terutama mukanya kelihatan merah seperti udang rebus. Kedua matanya juga tampak merah sekali. Perlahan-lahan kakek ini berdiri.

"Kita berpisah di sini Sinto. Kalau umur sama panjang aku merasa senang dapat bertemu denganmu lagi..."

"Itu juga menjadi keinginanku. Selesaikan urusanmu dengan baik."

Dewa Tuak mengangguk. Sekali dia berkelebat dirinyapun lenyap dari tempat itu.

***ROMBONGAN orang-orang yang berburu itu memacu kuda masing-masing menuju ke Timur. Di satu tempat, sebelum memasuki hutan sasaran, Kepik Kuntolo hentikan kuda seraya mengangkat tangan memberi tanda. Pangeran Panji Kenanga dan orang-orang yang ada di belakang penunjuk jalan itu segera hentikan kuda.

"Ada apa Kepik?" tanya Pangeran Panji Kenanga seraya membetulkan letak busur dan kantong panah di pinggangnya.

"Saya mengusulkan sebaiknya kita tidak memasuki hutan ini. Tapi mencari hutan lain saja Pangeran."

"Heh?!" Pangeran Panji merasa heran mendengar ucapan pembantunya itu. "Alasan apa kau berkata begitu Kepik?"

"Saya baru ingat Pangeran. Pihak Istana telah menetapkan kawasan hutan Kemikir ini sebagai daerah berbahaya tingkat tiga."

"Daerah berbahaya tingkat tiga. Hemm...Aku baru mendengarnya. Apa yang telah terjadi? Ada bahaya apa dalam rimba belantara ini yang membuat wajahmu kulihat jadi berubah pucat!"

"Hutan Kemikir diketahui sebagai salah satu daerah gentayangannya mahluk yang dijuluki Betina Penghisap Darah!"

"Ah...! Itu rupanya yang ada dalam benakmu! Cerita isapan jempol begitu siapa yang mau percaya?" Pangeran Panji lalu tertawa gelak-gelak. Anggota rombongan lain yang terdiri dari tiga orang pengawal dan tiga orang kawan-kawan sebaya sang Pangeran ikut-ikutan tertawa. Salah seorang kawan Pangeran Panji berkata. "Akan kita lihat! Kalau benar ada mahluk itu dalam hutan sana, apakah dia sanggup menahan panah dan tombak Pangeran Panji Kenanga!"

"Kudengar..." kata salah seorang kawan sang Pangeran yang lain, "Makhluk berjuluk seram itu adalahseorang gadis cantik jelita. Nah, kita muda-muda dan gagah semua. Masakan tidak satupun yang akan ditaksirnya?"

Kembali tempat itu menjadi ramai oleh gelak tawa semua orang kecuali Kepik Kuntolo yang kelihatan tetap tegang.

"Kepik," kata Pangeran Panji Kenanga pula. "Hutan Kemikir diketahui paling banyak babi hutannya. Nah apa bukan ini hanya siasat para pejabat tertentu di Istana yang tidak mau orang lain masuk kemari dan menghabisi babi-babi hutan itu hingga mereka takut nanti tidak kebagian lagi?!"

Kepik Kuntolo tidak menjawab. Yang menyahuti malah Jaka Dolok, salah seorang pemuda sahabat sang Pangeran. "Apa yang Pangeran katakan itu mungkin benar. Sudahlah, mengapa kita harus berlama-lama di tempat ini. Biar aku yang duluan masuk ke dalam hutan. Kalau bertemu gadis jelita itu akan aku suruh dia tolong memasakkan hasil buruan kita!"

Pangeran Panji tertawa. Digebraknya kudanya mengikuti Jaka Dolok. Yang lain-lain segera pula bergerak. Kepik Kuntolo sesaat merasa bimbang. Akhirnya diapun mengikuti rombongan itu masuk ke dalam hutan.

Setelah beberapa lama jauh masuk ke dalam hutan dan masih belum menemui binatang buruan, Pangeran Panji berkata. "Aneh, pada kemana semua babi di hutan ini? Satupun tak kelihatan mata hidungnya..."

Baru saja sang Pangeran berkata begitu tibatiba lapat-lapat terdengar suara perempuan menyanyikan pantun.

Hutan Kemikir banyak babinya

Babi diburu diambil dagingnya

Kasihan babi mahluk tak berdosa

Hendak melawan tak punya daya

Kalau dibiarkan pemburu bersuka-suka

Pesta mereka tak akan pernah berhenti

Kutolong babi dari derita

Biarlah pemburu kuhukum mati"Eh, nyanyian itu seperti ditujukan pada kita?" ujar Pangeran Panji seraya memandang pada orang-orang dalam rombongannya. Yang dipandangi tenang-tenang saja malah ada yang tersenyum sementara Kepik Kuntolo tampak gelisah. "Kita harus mencari tahu siapa perempuan yang menyanyi itu."

"Suaranya merdu. Orangnya pasti ayu!" kata Jaka Dolok. "Ayo kita mencarinya."

Joko Dolok kembali memimpin rombongan memasuki hutan lebih jauh ke dalam. Kini rombongan itu bergerak ke arah datangnya suara nyanyian tadi. Kepik Kuntolo yang mati ketakutan menunggangi kudanya paling belakang. Sekali-sekali dia menoleh ke belakang, merasa seolah-olah ada orang atau pandangan mata yang mengikuti gerak gerik rombongan itu. Tujuh ekor kuda tunggangan mendadak menunjukkan sikap aneh. Binatang-binatang ini seperti tak mau melangkah maju. Dari mulut mereka keluar suara mendesis. Lalu. satu demi satu mereka mulai meringkik.

"Tenang! Tenang...!" kata Pangeran Panji menenangkan kudanya sambil mengusap leher binatang Itu. Yang lain-lain melakukan hal yang sama hingga tujuh ekor kuda tunggangan itu kembali tenang dan berhenti meringkik tetapi tetap saja tak mau bergerak. Tiba-tiba terdengar Jaka Dolok berseru sambil menunjuk ke depan dan hentikan kudanya.

"Lihat!"

Semua anggota rombongan sama hentikan kuda dan memandang ke arah yang ditunjuk. Di atas cabang terpendek sebatang pohon kelihatan duduk seorang gadis berwajah cantik sekali mengenakan pakaian ungu. Sehelai selendang yang juga berwarna ungu tergelung di lehernya. Dia duduk bersandar ke batang pohon sedang kedua kakinya dilunjurkan sepanjang cabang yang didudukinya. Suara nyanyiannya sirap dan kedua matanya memandang ke arah lain seolah tidak mau memperhatikan ke datangan rombongan Pangeran Panji. Yang mengherankan Pangeran Panji dan kawan-kawannya ialah ketika melihat di bawah cabang pohon di mana sang dara duduk, berkeliaran lebih dari selusin babi hutan dan anak-anaknya yang gemukgemuk. Binatang ini berkerumun di bawah pohon seolah-olah binatang peliharaan yang menunggu tuannya.

"Kepik Kuntolo!" kata Pangeran Panji pada penunjuk jalan. "Ini orangnya yang kau sebut Betina Penghisap Darah itu?"

"Saya... Saya tidak dapat memastikan Pangeran." jawab Kepik Kuntolo karena melihat kecantikan si gadis seperti itu hatinya tentu saja bimbang untuk memastikan bahwa gadis itu adalah mahluk jahat penghisap darah yang selama ini dikabarkan gentayangan di hutan Kemikir. Pangeran Panji tersenyum. Dia memandang pada Jaka Dolok dan berkata dengan suara perlahan.

"Memang terasa aneh kalau ada gadis secantik ini berada dalam rimba belantara. Lalu babibabi hutan itu seperti binatang peliharaannya. Berkeliaran di bawah pohon tempat dia duduk. Apa pendapatmu Jaka?"

"Saat ini yang ingin kulakukan ialah menyapa dirinya lalu berkenalan. Setelah itu... He....he... he. Kalau aku yang mendapatkannya lebih dulu jangan kalian mengiri." Jaka Dolok kedipkan matanya. Kudanya dimajukan sampai ke bawah pohon. Binatang ini tidak mau bergerak. Dengan susah payah akhirnya Jaka Dolok berhasil juga membuat kuda ini maju beberapa langkah. Kini kepala Jaka Dolok tepat berada di depan cabang pohon tempat dara berbaju ungu duduk.

"Gadis cantik di atas pohon. Namaku Jaka Dolok. Katakan siapa namamu, mengapa berada di rimba ini. Apakah babi-babi hutan ini peliharaanmu. Lalu yang paling penting apakah aku boleh berkenalan denganmu?"

Si gadis yang sejak tadi memandang ke arah kejauhan palingkan kepalanya. Dia memandang ke bawah. Jaka Dolok kini dapat melihat wajah itu sepenuhnya. Benar-benar cantik sekali hingga dia jadi terkesiap. Namun dalam terpesona begitu pemuda ini melihat ada kilatan sinar aneh pada sepasang mata sang dara.

"Hai...!" kata Jaka Dolok. Dia coba tersenyum. Tangan kanannya diulurkan ke atas hendak meraba betis si gadis yang tersembul putih dan mulus. Si gadis angkat kakinya hingga tangan Jaka Dolok hanya meraba cabang pohon.

"Para pemburu telah tiba. Saat hukuman dijatuhkan!" Gadis di atas pohon terdengar berkata.

"Eh, aku bertanya. Kau malah bicara apa?" kembali Jaka Dolok membuka mulut.

"Pertanyaanmu banyak sekali! Gerakan tanganmu tidak sopan! Pergilah!" kata gadis berpakaian ungu di atas cabang pohon. Tiba- tiba kaki kanannya borgerak cepat sekali.

Wuuut!

"Jaka awas!"teriakPanji Kenanga yang melihat apa yang terjadi dari kejauhan.

Bukkk!

Teriakan itu terlambat sebagaimana terlambatnya Jaka Dolok menghindarkan kepalanya dari tendangan kaki gadis di atas pohon. Tubuhnya terpental sewaktu kepalanya dihantam tendangan dan terkapar jatuh satu langkah dari hadapan rombongan Pangeran Panji. Tujuh ekor kuda meringkik keras. Tubuh Jaka Dolok tidak berkutik lagi. Kepalanya sebelah kanan hancur mengerikan!

"Gadis keparat! Apa yang kau lakukan terhadap temanku?!" teriak Panji Kenanga marah.

"Kau sudah melihat sendiri, mengapa masih bertanya?" menyahuti si gadis di atas pohon.

Mendengar jawaban itu kemarahan Pangeran Panji jadi menggelegak. Dicabutnya tombak besi yang tersisip di kantong pada leher kudanya. Seniata ini kemudian digebukkannya ke arah si gadis.

Traakk!

Hantaman tombak besi hanya mengenai cabang pohon hingga berderak patah. Sedang si gadis sendiri saat itu sudah melompat dari duduknya. Tubuhnya melayang ke atas. Begitu turun kakinya menendang lagi. Kali ini tombak di tangan Pangeran Panji yang jadi sasaran hingga senjata itu mental. Selagi sang Pangeran merasakan pedas pada telapak dan jari-jari tangan kanannya, dari atas tiba-tiba dara berbaju ungu itu melayang turun. Kedua tangannya meluncur ke arah batang leher Pangeran Panji.

"Pangeran awas!" teriak tiga pengawal dan dua temannya berbarengan.

"Astaga! Lihat! Sepuluh jarinya mengeluarkan kuku panjang merah!" salah seorang anggota rombongan kembali berteriak.

Saat itu Pangeran Panji telah siap mencabut golok yang tersisip di pinggangnya. Namun dia hanya sempat memegang gagang senjata ini. Sepuluh kuku merah yang ada lobang-lobangnya menancap di tenggorokannya. Tubuhnya terangkat ke atas. Pangeran Panji berteriak keras.

Matanya membeliak. Lidahnya terjulur. Darah mengucur deras dari sepuluh lobang pada lehernya yang ditembus sepuluh kuku merah. Tapi lebih banyak lagi darah yang tersedot lewat ujungujung kuku berlubang itu!

Pangeran Panji hanya mampu menggeliat-geliat beberapa saat. Tubuh itu kemudian tampak terkulai. Ketika cengkeraman dilepas, tubuh Pangeran Panji jatuh ke bawah dan menyangsang diatas serumpunan semak belukar. Untuk kesekian kalinya kuda-kuda yang ada disitu mengeluarkan suara ringkikan keras.

"Dia... dia benar-benar mahluk berjuluk Betina Penghisap Darah itu..." kata Kepik Kuntolo, dengan suara gemetar dan muka pucat. Karena tidak dapat lagi menahan rasa takutnya penunjuk jalan ini putar kudanya dan menghambur lari dari tempat itu.

Dua orang pemuda kawan Pangeran Panji yang ada dalam rombongan sebenarnya juga sudah dilanda rasa takut. Namun salah seorang dari mereka masih berusaha berteriak pada tiga orang pengawal agar segera membunuh gadis berpakaian ungu itu. Tiga pengawal segera menghunus senjata. Dua mencabut golok, satu menyiapkan tombak. Mereka melompat turun dari kuda masing-masing. Gadis berbaju ungu berdiri dengan kaki terkembang. Mulutnya dan lidahnya sibuk menjilaiti kedua tangannya yang berlumuran darah.

Dua golok dan satu tombak berkelebat. Si gadis keluarkan suara tertawa panjang. Tubuhnya berputar membelakangi ke tiga penyerang. Tiga orang pengawal menyangka gadis itu hendak melarikan diri. Tapi mereka tersentak kaget begitu laksana kilat kaki kanan lawan melesat menghantam kepala mereka satu persatu. Ketiganya mencelat dan terhempas di tanah saling tindih. Masing-masing mengeluarkan suara erangan pendek. Tangan atau kaki mereka menggeliat sesaat setelah itu ketiganya tak bergeming lagi!

Dua orang pemuda yang ada di tempat itu putus nyali mereka. Tidak tunggu lebih lama keduanya sepera memutar kuda untuk melarikan diri. Gadis berpakaian ungu tertawa melengking.

"Kalian mau lari kemana?!" teriaknya. Tubuhnya melesat ke atas cabang pohon. Tepat pada saat dua pemuda berkuda lewat di bawahnya, dia melompat turun. Kaki kanan menendang, tangan kiri memukul.

Bukkk!

Pemuda di sebelah kanan hancur dadanya dan remuk jantungnya. Darah membersit keluar dari tubuhnya yang melayang terpental. Pemuda kedua siap menerima kematian begitu jotosan tangan kanan gadis berbaju ungu menderu ke arah batok kepalanya. Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak.

"Anggini! Jangan!"

Sebutan nama itu tidak mengejutkan si gadis. Yang membuat dia kaget adalah keras dan membahananya suara teriakan tadi pertanda orang yang berteriak memiliki tenaga dalam sangat tinggi. Suara teriakan itu membuat gadis berpakaian ungu tarik pulang serangannya. Pemuda di atas kuda sadar kalau dirinya diselamatkan oleh teriakan yang tiba-tiba tadi, secepat kilat menggebrak kudanya dan lari dari tempat itu.

Seorang pemuda berpakaian dan berikat kepala putih berkelebat muncul di antara tebaran mayat. Dia memandang pada gadis berbaju ungu dengan rasa tidak percaya. Tengkuknya bergidik ketika melihat kedua tangan gadis itu berlumuran darah. Darah juga kelihatan menempel di mulut dan wajahnya

"Anggini! Kenapa kau lakukan ini semua?!"

"Siapa kau!" bentak gadis berbaju ungu. Kedua matanya memandang tak berkesip.

"Ah, kau tak mengenali diriku lagi? Aku Wiro. Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Gurumu Dewa Tuak dan guruku saling bersahabat. Kita memang sudah sangat lama tidak pemah bertemu!"

Mulut yang berlumuran darah itu kelihatan menyeringai. "Untung kau datang sekarang. Kalau tadi-tadi selagi aku masih haus pasti darahmu akan kuminum! Tapi lain kali, jika kau berani muncul lagi di hadapanku akan kuhisap seluruh darah yang ada ditubuhmu!"

Habis berkata begitu gadis berbaju ungu ini berpaling pada belasan ekor babi hutan dan anak-anaknya yang masih berkerumun di bawah pohon, Aneh, binatang-binatang itu sama sekali seperti tidak terusik oleh apa yang terjadi di tempat itu.

"Kalian sudah selamat! Pergilah!" berkata gadis berbaju ungu lalu lambaikan tangannya. Ada satu gelombang angin menyapu tubuh babi-babi hutan itu. Serentak, seperti tersadar binatangbinatang itu keluarkan suara melenguh lalu lari beriringan masuk ke dalam bagian hutan yang lebih lebat.

Si gadis melirik ke arah pemuda di sampingnya. Tubuhnya bergerak dan tahu-tahu dia sudah berkelebat dari tempat itu.

"Anggini! Tunggu!" teriak Wiro sambil mengejar.

Satu gelombang angin sedingin es menghantam Pendekar 212. Wiro berseru kaget dan cepat menyingkir. Sambaran angin dingin yang masih sempat menyapu tubuhnya sebelah kanan membuat dia menjadi kaku beberapa saat dan tidak mampu meneruskan mengejar!

***PENDEKAR 212 kerahkan tenaga dalam yang mengandung hawa panas ke bagian tubuhnya yang kaku dilanda pukulan hawa dingin tadi.

"Luar biasa!" katanya dalam hati. "Eyang mewariskan pukulan angin es padaku. Tapi untuk menundukkan musuh dengan pukulan itu membutuhkan waktu. Sebaliknya Anggini mampu melakukannya dengan sangat cepat. Dewa Tuak setahuku tidak memiliki ilmu pukulan hawa dingin seperti itu. Pasti gadis ini mempelajarinya dari orang lain!" Wiro garuk-garuk kepala. Dia menghela nafas ketika memperhatikan mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. "Heran, kenapa gadis itu berubah menjadi ganas dan jahat? Apa yang dialaminya?" Wiro melangkah mendekati mayat pengawal yang saling tumpang tindih.Kembali dia memperhatikan mayat sang Pangeran. "Yang satu ini kelihatannya bukan pemuda sembarangan." Wiro membungkuk dan menarik kalung yang masih melingkar di leher yang hancur mengerikan itu. Ketika diperhatikannya kalung itu terkejutlah murid Sinto Gendeng. Dia mengenali kalung seperti itu hanya dimiliki dan dipakai oleh putera-putera Istana.

"Pemuda satu ini pasti seorang Pangeran...." kata Wiro. "Sri Baginda tentu tidak akan tinggal diam. Anggini pasti akan dikejar sampai ke ujung dunia sekalipun. Dan Dewa Tuak akan terseretseret....

Apa yang yang sekarang harus kulakukan? Mengurusi mayat-mayat sebegini banyak? Biar setan-setan hutan saja yang mengurus mereka!" kata Wiro lalu tinggalkan tempat itu. Rasa penasaran membuat dia bergerak ke arah lenyapnya Anggini tadi. Dia mencoba untuk mengejar gadis itu walau sadar kalau saat itu si gadis sudah berada jauh.

***BERITA yang disampaikan Kepik Kuntolo dan pemuda kawan Pangeran Panji yang selamat membuat geger Istana. Sri Baginda langsung memanggil beberapa Perwira Tinggi. Dua orang tokoh silat Istana yang kebetulan sedang mengadakan pertemuan di Istana ikut mendampingi para Perwira Itu. Mereka adalah Ki Ageng Timur yang dikenal dengan gelar Si Gelang Setan dan Ki Sambar Tringpali berjuluk Si Cangklong Maut. Kedua tokoh silat Istana ini sama berusia di atas 70 tahun dan telah mengabdi lebih dari 40 tahun hingga mereka sangat disegani baik di dalam maupun di luar Istana.

Abdi Jalakdiri, pemuda teman Pangeran Panji yang berhasil lolos dari tangan Betina Penghisap Darah, melaporkan bahwa dia sempat menyaksikan munculnya seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian dan berikat kepala putih. Pemuda ini memanggil Betina Penghisap Darah dengan nama Anggini. Sedang si pemuda sempat didengarnya memperkenalkan diri sebagai Wiro. Jelas kedua orang itu saling mengenal.

"Satu bernama Anggini. Satunya lagi Wiro," mengulang Sri baginda lalu berpaling pada dua orang tokoh silat Istana. "Kalian pernah mendengar nama-nama itu?"

"Dalam dunia persilatan hanya ada satu orang bernama Wiro," kata Ki Sambar Tringgali.

Dia digelari Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Murid tunggal seorang nenek sakti di Gunung. Gede. Setahu saya dia tidak termasuk kelompok orang jahat. Tapi manusia bisa saja berubah."

"Aku minta kalian menangkap orang itu. Tangkap hidup-hidup. Seret ke hadapanku. Bunuh di tempat kalau dia melawan!"

"Akan kami lakukan Sri Baginda," kata Ki Sambar Tringgali alias Si Cangklong Maut. Lalu disedotnya cangklongnya (pipa) dalam-dalam.

"Bagaimana dengan si pembunuh sendiri. Gadis dajal berjuluk Betina Penghisap Darah itu! Namanya sudah diketahui. Anggini. Apa diantara kalian ada yang kenal atau tahu menahu tentang dirinya?"

"Saya tidak berani memastikan. Tapi dari ciri-ciri warna pakaian yang dikenakannya saya bisa menduga. Saya harap tidak meleset," menjawab Ki Ageng Timur alias Si Gelang Setan. Di pinggangnya tergantung lima buah besi pipih tajam berbentuk gelang yang menjadi andalannya dan membuat dia menyandang gelar yang angker itu. "Sri Baginda ingat pada seorang tokoh silat disegani bernama Dewa Tuak?"

"Tentu saja. Orang tua itu pernah beberapa kali membantu Kerajaan menghadapi kaum pemberontak dan para penyerang dari seberang. Apa hubungan Dewa Tuak dengan Anggini?"

"Gadis penghisap darah itu adalah murid Dewa Tuak," jawab Ki Ageng Timur.

Terkejutlah Sri Baginda mendengar hal itu. "Dunia benar-benar telah berubah!" katanya.

"Yang putih dan baik bisa berubah menjadi hitam dan jahatl Kalian harus mencari gadis itu. Memandang diri Dewa Tuak kita seharusnya tidak boleh bertindak keras. Tapi mengingat nyawa puteraku telah direnggutnya secara keji, aku perintahkan kalian mencari dan membunuh gadis itu! Kemudian cari Dewa Tuak dan perintahkan dia menghadapku!"

Atas kehendak Sri baginda tiga kelompok besar dibentuk. Kelompok pertama yang ditugaskan untuk mengambil mayat Pangeran Panji Kenanga dan kawan-kawannya serta pengawal hutan Kemikir. Kelompok ini cukup dipimpin oleh seorang Perwira Muda. Kelompok kedua dipimpin oleh Ki Ageng Timur dan Ki Sambar Tringgali. Mereka ditugaskan untuk mencari Anggini dan Pendekar 212. Dalam kelompok ini ikut serta Kepik Kuntolo si penunjuk jalan dan abdi Jalakdiri kawan Pangeran Panji. Kelompok ke tiga dikepalai oleh seorang Perwira Tinggi dengan tugas mencari Dewa Tuak.

Karena Anggini dan Pendekar 212 sebelumnya diketahui berada di hutan Kemikir maka Kelompok pertama dan kelompok kedua secara bersamaan segera berangkat menuju rimba belantara itu.

Setelah mayat-mayat yang ditemukan dalam hutan dimasukkan ke dalam beberapa peti mati, rombongan yang dipimpin Ki Sambar Tringgali dan Ki Ageng Timur segera melanjutkan perjalanan menembus lebih jauh ke dalam hutan Kemikir. Kepik Kuntolo, menunjuk jalan yang sebelumnya menemani Pangeran Panji berburu ikut dalam rombongan ini ditunjuk sebagai petunjuk jalan karena dia yang mengetahui seluk beluk hutan tersebut.

Saat itu matahari mulai menggelincir ke titik tenggelamnya. Setelah berunding beberapa ketika rombongan memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan baru berhenti kalau kegelapan benar-benar tidak memungkinkan untuk ditembus pandangan mata. Tepat ketika matahari lenyap di ufuk Barat, rombongan mendengar suara gemercik air di kejauhan.

"Kita berada dekat aliran anak sungai Opak Kemikir," menerangkan Kepik Kuntolo.

"Kalau begitu kita berkemah di dekat anak sungai itu," kata Ki Sambar Tringgali.

Kepik Kuntolo mengangguk dan meneruskan bergerak di depan rombongan. Tak berapa lama kemudian di kegelapan yang temaram kelihatan sebuah jeram pendek. Air sungai yang jatuh dari bagian atas jeram inilah yang tadi mereka dengar suara gemericiknya.

"Ah, ternyata kita sudah keduluan orang," kata Kepik Kuntolo.

"Betul, memang kelihatan ada seseorang di dekat jeram sana," berkata Ki Ageng Timur sambil menatap jauh ke arah jeram anak sungai Opak Kemikir yang mulai gelap.

"Astaga!" terdengar Abdi Jalakdiri berucap.

"Ada apa?" tanya Ki Sambar Tringgali cepat.

"Orang di dekat jeram itu! Dia adalah pemuda yang saya terangkan. Yang mengaku bernama Wiro dan memanggil gadis berpakaian ungu itu sebagai Anggini!"

"Kau tidak salah lihat anak muda?" tanya Ki Ageng Timur.

"Tidak. Itu memang dia. Saya mengenali rambutnya yang gondrong!" jawab Abdi Jalakdiri.

"Kalau begitu lekas kurung daerah sekitar jeram!" perintah Ki Ageng Timur.

Dua puluh orang perajurit yang ikut dalam rombongan itu, dibawah seorang Perwira Muda segera bergerak dalam kegelapan. Mereka sudah terlatih baik hingga dalam waktu singkat, tanpa mengeluarkan suara daerah sekitar jeram dimana pemuda berambut gondrong itu berada sudah dikurung rapat. Masing-masing perajurit mencekal golok panjang atau pedang berkeluk. Ki Ageng Timur dan Ki Sambar Tringgali melompat turun dari kuda masing-masing. Kepik Kunolo dan Abdi Jalakdiri juga turun dari tunggangan mereka. Namun kedua orang ini tetap di tempat, tidak bergerak mengikuti langkah dua tokoh silat Istana yang berjalan cepat menuju jeram anak sungai Opak Kemikir.

***PENDEKAR 212 bukan tidak tahu kalau saat itu dia tidak sendiri lagi di sekitar jeram. Semula dia menyangka gerakan-gerakan yang didengarnya didalam gelap adalah gerakan Anggini yang tengah dikejarnya dan mungkin kembali menemuinya. Namun ketika diketahuinya bahwa tidak hanya ada satu orang berada di tempat itu, melainkan lebih dari dari dua puluh orang, murid Sinto Gendeng segera bersiap-siap penuh waspada. Dia membatalkan membasuh mukanya dengan air sungai.

"Harap berikan jawaban. Apakah kami berhadapan dengan Pendekar 212 murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede?!" Satu suara menegur. Wiro berpaling. Diam-diam dia terkejut karena ternyata orang yang bertanya itu sudah berada demikian dekat dengan dia. Hanya terpisah sekitar tujuh langkah dan ternyata seorang tua berjubah kelabu, berikat pinggang merah. Pada ikat pinggangnya mencantel lima buah gelang pipih terbuat dari besi. Orang tua ini tidak sendirian.

Disampingnya tegak pula seorang tua lainnya, mengenakan baju hitam. Kedua tangan dirangkapkan di depan dada sedang dimulutnya terselip sebuah cangklong yang mengepulkan asap terus-terusan. Wiro melirik. Paling tidak sekitar dua puluh orang dilihatnya mendekam dalam gelap, mengurung tempat itu.

"Orang tua, harap beri tahu dulu siapa yang bertanya dan ada keperluan apa mengajukan pertanyaan?"

Semula Ki Ageng Timur hendak marah melihat orang tidak menjawab pertanyaannya tapi malah balik mengajukan pertanyaan. Namun kawan di sebelahnya cepat menyahuti.

"Kawanku ini bernama Ki Ageng Timur, bergelar Si Gelang Setan. Aku sendiri Ki Sambar Tringgali berjuluk Si Cangklong Maut. Kami adalah utusan Istana dengan tugas menangkap dirimu jika kau benar Pendekar 212 Wiro Sableng!"

"Saya memang bernama Wiro. Mengenai gelaran Pendekar 212 itu tidak perlu dibesar besarkan. Ada persoalan apa Istana mengutus kalian orang-orang tua yang gagah menangkap diriku? Kesalahan apa yang telah saya lakukan terhadap kerajaan?"

"Kawanmu gadis berbaju ungu bernama Anggini itu telah membunuh Pangeran Panji Kenanga, putera Sri baginda!" Terdengar jawaban dari belakang kedua orang tua itu. Yang bicara ternyata adalah Abdi Jalakdiri, sahabat Pangeran Panji.

"Hemmmm... Begitu!" Wiro garuk-garuk kepala sambil memandangi dua wajah orang tua di depannya. "Kalau memang kawanku yang membunuh Pangeran Panji, kenapa aku yang hendak kalian tangkap?"

"Satu orang berbuat jahat, kawannya patut diamankan!" sahut Ki Ageng Timur.

Wiro menyeringai. "Aturan dari mana yang menogatakan begitu Ki Ageng Timur. Jika kawanmu Ki Sambar Tringgali berbuat jahat, apakah kau mau juga ikut-ikutan ditangkap?!"

Paras Ki Ageng Timur menjadi merah dalam gelapnya malam. "Sudah! Kau jangan banyak mulut. Sebelum kami tangkap katakan dulu di mana teman perempuanmu yang telah membunuh putera Sri Baginda itu?!"

"Mana saya tahu! Sayapun sedang dalam mengejarnya!"

"Kalau kau mengejarnya, kau pasti tahu kemana dia melarikan diri!" sentak Ki Ageng Timur.

Wiro kembali menyeringai. "Saya seperti bertanya jawab dengan anak kecil. Saya tahu sahabat saya itu telah melakukan pembunuhan-pembunuhan keji. Sayapun mendapat tugas untuk menangkapnya. Tapi tidak untuk menghadapkannya pada Sri baginda, melainkan membawanya ke hadapan gurunya!"

"Kau tidak akan berhasil melakukan hal itu, Pendekar 212. Karena saat ini juga kau harus menyerahkan diri. Jika kau mau menyerah secara tanpa perlawanan, aku berjanji tidak akan ada segores lukapun diderita tubuhmu!"

"Kalau saya melawan?" tanya Wiro pada Ki Ageng Timur.

"Tubuhmu akan kami cincang sampai lumat!"

"Ah! Mengerikan sekali!" ujar Wiro sambil sunggingkan senyum dan garuk-garuk kepalanya. "Kalau kalian minta keterangan tentang sahabat saya itu, saya rasa itu adalah satu hal yang wajar.

Tapi kalau kalian menyuruh saya menyerah dan mencincang jika melawan..." Wiro hentikan ucapannya lalu tertawa gelak-gelak. "Hutan ini memang banyak hantu dan setannya. Saya kawatir kalian semua sudah pada kena kesambat hingga meracau dan hendak melakukan tindakan yang bukan-bukan!"

"Pendekar bermulut lancang!" bentak Ki Ageng Timur. "Rupanya kau memang minta dicincang!" Lalu orang tua bergelar Si Gelang Setan ini loloskan lima gelang besi pipih dari ikat pinggangnya. Tanpa banyak cerita lagi sebuah dari senjata itu dilemparkannya ke arah Pendekar 212!

Besi hitam pipih berbentuk gelang itu menoeru dalam gelapnya malam, hampir tak terlihat. Suaranya menderu seperti angin punting beliung dan mengarah ke leher Wiro.

Pendekar 212 jatuhkan diri. Karena dia berada di bagian anak sungai yang dangkal maka waktu jatuh sekaligus dia memukulkan telapak tangan kanannya ke atas air. Air sungai muncrat melesat ke arah Ki Ageng Timur. Orang tua ini tak menyangka akan diberi perlawanan seperti itu tidak sempat menghindar. Akibatnya muka dan jubah kelabunya basah terkena cipratan air. Ki Ageng Timur memaki habis-habisan. Dia mengangkat tangan kanannya. Gelang besi yang tadi tidak mengenai sasarannya secara aneh berputar membalik ke arah Wiro, kini menyerang dari belakang. Inilah kshebatan senjata gelang besi pipih itu hingga tidak percuma Ki Ageng Timur dijuluki Si Gelang Setan. Sulit bagi lawan untuk mencari selamat dari senjata anehnya ini. Selagi gelang besi pertama menderu dari belakang, Ki Ageng Timur lepaskan gelang kedua. Kini Pendekar 212 diserang dari belakang dan dari depan. Saat itu Wiro tengah bangkit berdiri. Gelang besi pertama yaitu yang datang dari belakang melesat ke arah batok kepalanya. Sedang yang di sebelah depan menyambaf ke arah perutnya.

Satu-satunya jalan bagi Wiro untuk mencari selamat adalah dengan membuang diri ke samping. Akibataya tubuhnya tercebur masuk ke dalam sungail Tapi adalah lebih baik basah kuyup dari pada ditambus gelang besi pipih itu dari belakang dan dari depan.

Begitu serangannya lagi-lagi luput, Ki Ageng Timur angkat kedua tangannya. Seperti tadi secara aneh dua gelang maut itu membalik kembali dan untuk beberapa lamanya berputar-putar diatas permukaan air. Hal ini membuat Pendekar 212 tidak bisa mengeluarkan dirinya dari dalam air sungai! Kecuali kalau dia mau ditabas oleh dua gelang pipih yang luar biasa tajamnya itu.

"Sialan!" maki Wiro. Dia kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan. Lalu dalam keadaan menelentang di dalam air dia lepaskan pukulan "Segulung ombak menerpa karang" dengan pengerahan tenaga dalem tinggi!

Byuur!

Air sungai muncrat disambar angin pukulan.

Dua buah gelang di atas permukaan air tampak bergetar keras lalu terpental. Wiro cepat melompat ke luar dari dalam air. Masih dalam keadaan setengah membungkuk dia lepaskan lagi satu pukulan tangan kosong yaitu pukulan ‘kilat menyambar puncak gunung."

Ki Ageng Timur berseru kaget ketika melihat dua buah gelang besi pipihnya sanggup dibuat mental. Tapi dia tidak kawatir karena begitu mental, dua buah gelang maut itu berputar di udara laiu melesat ke arah Wiro kembali! Yang membuat dia terkejut adalah ketika menerima pukulan kedua yang laksana petir menyambar panas ke arah dirinya. Oranq tua ini lekas melompat setinggi dua tombak untuk selamatkan diri.

Wiro sendiri terkejut bukan kepalang ketika dilihatnya dua buah senjata lawan dengan dahsyat kembali menyerang dirinya.

"Setan!" maki Wro. Terpaksa dia jatuhkan diri dan kembali tercebur ke dalam air. Tidak menunggu lebih lama murid Sinto Gendeng ini segera cabut Kapak Maut Naga Geni 212 dari pinggangnya. Begitu senjata mustika sakti ini dibabatkan ke atas, semua orang yang ada di tempat itu jadi terkejut ketika mendengar suara menderu seperti ribuan tawon mengamuk. Air sungai kembali muncrat dan kali ini membasahi hampir semua orang yang ada di tempat itu.

Traang! Traang!

Kapak Maut Naga Geni 212 membentur dua gelang maut. Wiro merasakan tangannya yang memegang kapak tergetar keras. Gagang senjata itu hampir terlepas dari tangannya. Sebaliknya dua buah gelang besi milik Ki Ageng Timur patah dua dan bermentalan di udara!

Ki Ageng Timur sendiri sampai berseru kaget saking tidak percaya melihat apa yang terjadi dengan kedua senjata yang sangat diandalkannya itu. Selama ini kalaupun ada lawan yang sanggup menangkis serangan gelang mautnya maka senjata itu hanya bisa dibuat mental tapi tidak dapat dibuat patah berantakan seperti yang kini disaksikannya , sendiri. Selain marah; tokoh silat Istana itu juga merasa malu. Maka sekaligus dia loloskan tiga gelang maut yang masih mencantel di pinggangnya. Tiga gelang ini kemudian dilemparkan ke arah Wiro yang saat itu sudah melompat ke tepi anak sungai. Suara deru tiga buah gelang maut itu laksana topan yang datang menggila dari laut.

Ternyata saat itu Wiro bukan hanya menghadapi serangan tiga buah gelang maut, tetapi Ki Sambar Tringgali rupanya telah mulai turun tangan membantu kawannya. Orang tua satu ini berpandangan tajam. Melihat apa yang barusan terjadi dia cukup sadar kalau Ki Ageng Timur tidak akan begitu mudah untuk mengalahkan Pendekar 212. Maka dia sedot cangklongnya dalam-dalam. Asap yang terkumpul di mulut dan leher serta dadanya dihembuskan ke depan, ke arah Wiro. Terjadilah hal yang luar biasa.

Asap berwarna kelabu itu bergulung membuntal-buntal, menyungkup ke arah kepalanya hingga pemandangannya tertutup padahal saat itu pula tiga buah gelang besi pipih yang dilepaskan Ki Ageng Timur melesat ke arah kepala, dada dan kakinya! Di samping itu asap ini mengeluarkan hawa aneh yang bukan saja memerihkan mata dan kulit tetapi jika sempat memasuki jalan napas akan menyerbu masuk ke dalam paru-paru dan membuat tubuh menjadi lemas dengan seketika!

Wiro yang sudah maklum kalau asap caklong orang tua berbaju hitam itu sama berbahayanya dengan serangan tiga buah gelang besi dengan cepat putar Kapak Maut Geni 212 di sekeliling tubuhnya.

Ki Ageng Timur yang tadi sudah melihat kedahsyatan senjata di tangan Pendekar 212 tentu saja tidak mau kehilangan gelang besinya yang kini hanya tinggal tiga. Segera orang tua ini angkat ke dua tangannya. Tiga buah gelang besi yang melesat di udara bergeser bertebaran hingga selamat dari sapuan Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan Wiro. Walau Wiro terhindar dari serangan gelanggelang besi itu namun asap cangklong yang dihembuskan Ki Sambar Tringgali ternyata berhasil menyusup lolos dari terpaan senjata saktinya. Matanya terasa perih. Kulit muka dan kulit tubuhnya laksana dicucuki oleh puluhan jarum-jarum halus.

"Celaka!" keluh murid Eyang Sinto Gendeng. Dia melompat menjauhi serangan asap. Namun terlambat. Walaupun hanya sedikit dia telah sempat menghirup hawa aneh asap kelabu itu. Tubuhnya mendadak terasa lemas. Dengan nekad dia kerahkan tenaga dalamnya sebaryak mungkin ke tangan kiri lalu lepaskan pukulan "sinar matahari" ke arah Ki Sambar Tringgali.

Orang tua ini berseru kaget. Karena menyangka asap cangklongnya pasti akan merobohkan lawan maka dia berlaku sedikit ayal dan wuutt! Sinar menyilaukan dan panas luar biasa menyambar ke arahnya. Ki Sambar Tringgali cabut cangklongnya dari mulut. Sambil melompat ke belakang dia pukulkan pipanya itu. Angin keras menggebubu dari mulut cangklong disertai melesatnya ratusan serpihan-serpihan tembakau bernyala. Benda-benda panas yang sanggup menembus daging tubuh dan menyusup sampai ke tulang ini musnah berantakan dihantam gelombang putih panas pukulan sinar matahari. Tangan Ki Sambar Tringgali yang memegang cangklong tergetar keras. Sambil berteriak marah orang tua itu melompat tinggi-tinggi. Dia seperti melayang di atas jalur panas pukulan sinar matahari danhantamkan kepala cangklongnya ke arah kepala Pendekar 212. Saat itu Wiro sendiri pandangannya masih terhalang oleh kepulan asap kelabu sedang tubuhnya terasa semakin lemas. Selagi dia berusaha mengatur jalan nafas dan peredaran darah saat itu pula hantaman cangklong datang. Di saat yang sama tiga buah gelang besi maut milik Ki Ageng Timur kembali gentayangan mencari sasaran di tiga bagian tubuhnya! "Celaka! Mati aku sekarang!" jerit Wiro dalam hati. Dengan sisa tenaganya yang ada diangkatnya Kapak Naga Geni 212 ke atas lalu disapukannya. Bersamaan dengan itu dia rundukkan kepala berusaha menghindari hantaman cangklong di tangan ki Sambar Tringgali.

Trang!

Sebuah dari tiga gelang besi berhasil ditangkis, dibuat mental berpatahan. Tapi yang dua lagi terus melesat ke arah kepala dan kakinya. Pada saat Wiro kehabisan daya untuk menyelamatkan jiwanya tiba-tiba dari arah belakangnya berkelebat satu bayangan ungu. Lalu terdengar suara pekik dahsyat seolah membelah gelapnya langit malam. Bersamaan dengan itu di udara melesat banyak sekali benda-benda panjang berwarna hitam disertai menebarnya bau amis. Di lain kejap terdengar jeritan Ki Ageng Timur disusul oleh leritan Ki Sambar Tringgali, menyusul pula jeritanjeritan lainnya hingga tempat itu hiruk pikuk oleh suara jeritan. Ringkikan kudapun kemudian terdeiiyar tiada henti!

Wiro jatuh terduduk di tanah. Kapak Naga Geni 212 tergeletak di pangkuannya. Kedua matanya terbuka besar-besar untuk dapat menyaksikan apa gerangan yang terjadi. Tengkuk murid Sinto Gendeng ini menjadi sedingin es ketika diketahuinya bahwa benda-benda panjang yang tadi lewat di atas kepala dan di kiri kanannya adalah ular-ular berwarna hitam sepanjang satu tombak, Binatang-binatang yang tidak diketahui dari mana datangnya ini melesat menyerang dan mematuk semua lawan-lawannya. Tak satu orangpun bisa lolos dari patukan berbisa ular-ular itu.

Ki Ageng Timur dan Ki Sambar Tringgali dipagut dan dipatuk oleh lima ekor ular. Keduanya menjerit-jerit tiada henti sam pai akhirnya roboh ke tanah dan tewas! Puluhan perajurit yang ikut dalam rombongan itu juga termasuk Kepik Kuntolo serta Abdi Jalakdiri ikut menjadi korban serangan ular. Tak satupun yang lolos dari maut yang datang secara mendadak tidak terduga ini. "Ya Tuhan, apapun yang terjadi seseorang telah menolongku!" kata Wiro. Dia berpaling ke belakang dan masih sempat melihat berkelebatnya satu sosok tubuh berpakaian ungu.

"Anggini!" seru Wiro. Namun sosok tubuh itu telah lenyap di kegelapan. Ketika Wiro memandang ke depan kembali matanya jadi mendelak. Puluhan ular yang tadi menyerbu lawanlawannya kini tidak kelihatan iagi sementara dua puluh lima mayat manusia bergeletak di hadapannya penuh mengerikan! Saking lemasnya Wiro rebahkan diri menelentang. Kapak Naga Geni 212 diletakkannya di depan hidungnya guna menyedot hawa jahat atau racun yang sempat masuk ke,dalam tubuhnya.

***SUARA-SUARA jeritan kematian yang terdengar susul menyusul serta suara ringkikan kuda yang menggetarkan rimba belantara di permulaan malam yang gelap itu membuat seorang tua berjanggut putih dan membawa dua buah tabung bambu berisi tuak terkesiap sesaat. Dia berada di pinggiran hutan Kemikir.

"Kalau tidak kuselidiki tidak puas hatiku!" kata orang tua ini dalam hati. Dia berkelebat masuk ke dalam hutan. Meskipun gelapnya hutan bukan alang kepalang, ditambah beban dua buah tabung tuak yang dibawanya, namun orang tua ini sanggup bergerak cepat diantara pepohonan dan semak belukar hingga akhirnya dia sampai di dekat jeram anak sungai Opak Kemikir.

Dalam kegelapan dilihatnya banyak sekali sosok tubuh berkaparan di tanah. Ketika dia hendak mendekati, telinganya menangkap suara hembusan angin. Orang tua ini berpaling.

Darahnya tersirap. Dia melihat berkelebat dan lenyapnya cepat sekali satu sosok tubuh. Namun meskipun hanya sesaat matanya yang tajam masih sempat mengenali sosok tubuh dan warna pakaian orang itu.

"Anggini!" seru si orang tua yang bukan lain adalah Dewa Tuak. Dia mengejar ke arah lenyapnya sosok tubuh tadi. Mengejar kira-kira hampir sepeminuman teh di dalam rimba belantara yang gelap itu akhirnya Dewa Tuak berhasil mengejar orang di depannya.

"Ah! Benar kau rupanya Anggini!" kata Dewa Tuak begitu berdiri menghadang di depan gadis berbaju ungu dengan nafas terengah-engah.

"Orang tua buruk! Kau bicara dengan siapa?" gadis di depannya membentak, membuat si orang tua tersirap. Dengan mata mendelik Dewa Tua berkata.

"Muridku, hutan ini memang gelap. Tapi mustahil kau tidak mengenali aku gurumu sendiri!'

Anggini tertawa tinggi.

"Di dunia ini memang banyak orang gila. Tapi tidak ada yang segilamu. Muncul dan mengigau mengatakan aku muridmu!. Hik... hik...hik... Pergilah, jangan membuat aku marah. Biar kuanggap saja kau sudah pikun dan matamu sudah lamur. Hingga tidak mengenali dan menganggap aku muridmu!"

Dewa Tuak jadi penasaran. Dia melangkah mendekati muridnya. Si gadis justru bersurut mundur menjauhi orang tua itu. Dalam jarak terpisah delapan langkah dia membentak. "Kalau kau berani datang lebih dekat, kuputus nyawamu!'

Dewa Tuak hentikan langkahnya.

"Anggini, apa yang terjadi denganmu muridku? Setan mana yang masuk dan menguasai dirimu!'

"Tua bangka keparat! Kau minta mati roasih belum beranjak dari hadapanku!"

"Anggini! Aku yakin ada sesuatu yang t:dak beres dalam dirimu! Di dekat jeram aku menemus puluhan manusia berkaparan jadi mayat! Pasti kau yang membunuh mereka! Kau juga yang membunuhi beberapa tokoh silat dan menghisap darahnya. Kau juga yang membunuh Tumenggung Purboyo. Di Kotaraja aku menyirap kabar kematian Pangeran Panji. Pasti kau yang punya pekerjaan!"

"Tua bangka buruk! Kalau kau sudah tahu apa yang hendak kau lakukan?!"

"Kau layak menerima hukuman atas dosa-dosa beratmu itu!"

Anggini kembali perdengarkan suara tertawa panjang.

"Orang tual Aku tidak kenal siapa kau..."

"Setan membalikkan matamu dan iblis mengacaukan otakmu!" sergah Dewa Tuak.

"Dengar tua bangka keparat! Kalau kau segera menyingkir dari hadapanku kuampuni selembar jiwa busukmu. Tapi kalau kau masih berdiri di depanku sampai hitungan ketiga, terpaksa akan kuhisap darahmu sampai habis!"

"Ah! Jadi benar rupanya apa yang aku dengar. Kau telah berubah menjadi seorang gadis iblis penghisap darah!"

"Satu!" teriak Anggini.

Dewa Tuak tidak bergerak di tempatnya.

"Dua!"

"Dewa Tuak menyeringai, masih tak beranjak.

"Tiga!" Anggini meneriakkan hitungan terakhir.

Orang tua itu mendelik dan menggembor.

Anggini berkelebat ke arah Dewa Tuak. Tangan kanannya dipukulkan. Angin sedingin es menyapu tubuh orang tua itu dan terkejutlah Dewa Tuak. Sekujur tubuhnya mendadak menjadi dingin kaku!

Cepat-cepat orang tua ini ambil salah satu bumbung bambunya dan teguk tuak di dalamnya sampai tubuhnya terasa panas dan dia bisa mengusir hawa dingin yang membungkus dirinya. Rasa kaku yang menguasai dirinya serta merta lenyap.

"Eh, tua bangka ini ternyata memiliki kepandaian tinggi..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.167.242.107
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia