Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Istana Pulau Es

Seri : Bu Kek Siansu #05

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Kebiasaan lama (tradisi) yang dilanggar akan menimbulkan kutuk dan malapetaka bagi si pelanggar, demikian pendapat kuno. Padahal hakekatnya, semua itu tergantung daripada kepercayaan. Bagi yang percaya mungkin saja pelanggaran akan dihubungkan dengan sebab terjadinya suatu halangan. Sebaliknya bagi yang tidak percaya, juga tidak apa-apa dan andaikata terjadi suatu halangan, hal ini dianggap terpisah dan tidak ada hubungannya dengan pelanggaran tradisi.

Betapapun juga, apa yang terjadi di Khitan, yang menimpa Kerajaan Khitan oleh semua rakyatnya dianggap sebagai kutuk para dewata oleh karena dosa besar yang telah dilakukan oleh Sang Ratu mereka! Kerajaan Khitan mengalami kemerosotan hebat sekali. Musim dingin amat lama dan hebat menimpa kerajaan ini, hasil buruan amat kurang, hasil cocok tanam buruk, penyakit menular, wabah yang aneh-aneh menimpa rakyat Khitan dan semua ini diperburuk dengan bentrokan-bentrokan, yang timbul di antara Para bangsawan sendiri yang memperebutkan kedudukan, di antara rakyat sendiri yang keadaannya amat miskin, dan perselisihan dengan suku bangsa lain karena memperebutkan air dgn daerah subur!

Semua ini adalah kutukan dewa! Demikian anggapan kaum tua di Khitan. Terkutuk oleh dewa karena pelanggaran hebat yang dilakukan oleh Sang Ratu Yalina, yaitu ibunda Raja Talibu yang sekarang menjadi Raja Khitan. Di dalam cerita MUTIARA HITAM telah diceritakan betapa Ratu Yalina itu diam-diam menjadi isteri pendekar Sakti Suling Emas, bahkan secara rahasia pula telah melahirkan dua orang bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Menurut kebiasaan lama bangsa itu, bayi kembar laki perempuan setelah dewasa harus dikawinkan, akan tetapi Ratu Yalina kembali melanggar, tidak menjodohkan kedua anaknya. Yang laki-laki, yaitu Raja Talibu sekarang ini, dijodohkan dengan Puteri Mimi puteri Panglima Khitan. Sedangkan anaknya yang perempuan, yaitu Kam Kwi Lan atau terkenal di dunia kang-ouw sebagal pendekar sakti Mutiara Hitam, menikah dengan Tang Hauw Lam murid Bu-tek Lo-jin dan kini suami isteri itu malah meninggalkan Khitan dan merantau entah ke mana.

Nah, semenjak Ratu Yalina bersama suaminya Si Pendekar Suling Emas, pergi pula meninggalkan Khitan atas kehendak Suling Emas untuk bertapa di puncak puncak Pegunungan Go-bi maka mulailah tampak hari-hari buruk menimpa Kerajaan Khitan! Hal ini bukan sekali-kali karena rajanya, yaitu Raja Talibu, kurang memperhatikan kerajaannya, atau berlaku lalim terhadap rakyatnya. Sama sekali tidak! Raja Talibu agaknya mewarisi watak ayahnya, Si Pendekar Sakti Suling Emas, hatinya tidak keras seperti watak Ibunya. Dia tenang dan sabar mencinta rakyatnya dan memerintah dengan keadilan. Akan tetapi sepandai-pandainya seorang raja, dia hanya seorang manusia juga dan apakah kekuasaan seorang manusia yang dapat dilakukan oleh seorang Raja Talibu terhadap bencana-bencana alam berupa musim dingin panjang disusul musim kering yang menghabiskan air serta tanah yang tidak berhasil menjadi subur? Apakah yang dapat ia lakukan terhadap ketamakan dan nafsu para bangsawan yang saling bermusuhan? Dia hanya dapat menggunakan kekuasaannya untuk meredakan keadaan, untuk mengadili segala perkara dengan bijaksana, namun tidak berdaya menahan lajunya kemunduran kerajaannya!

Raja Talibu dengan isterinya, Puteri Mimi yang cantik jelita, hanya mempunyai seorang anak perempuan mungil dan cantik jelita seperti ibunya, lincah nakal dan penuh keberanian seperti watak neneknya. Anak ini diberi nama Puteri Maya dan pada waktu itu telah berusia sepuluh tahun. Karena ayah bundanya adalah keturunan pendekar-pendekar yang berilmu tinggi, biarpun dia seorang puteri raja, semenjak kecil Maya suka sekali dengan ilmu silat. Raja Talibu sebagai putera pendekar Suling Emas dan Ratu Yalina yang juga memiliki ilmu silat luar biasa, tentu saja tidak melarang puterinya belajar ilmu silat. Sebaliknya ia sendiri malah menggembleng puterinya itu dengan ilmu silat tinggi sehingga Puteri Maya menjadi seorang anak perempuan yang gagah berani dan suka pergi berburu sejak kecil, malah dia mempunyai pasukan pengawal sendiri yang menemaninya pergi berburu binatang buas. Biarpun usianya baru sepuluh tahun. Puteri Maya berani menghadapi seekor biruang seorang diri saja, merobohkan binatang itu dengan anak panah atau dengan sebatang tombak panjang!

Pada suatu pagi yang cerah, Puteri Maya sudah tampak berkeliaran di dalam hutan di sebelah barat kota raja Khitan. Seperti biasa, kalau dia sedang berburu binatang di dalam hutan, dia berpakaian pria yang ringkas sehingga memudahkannya untuk bergerak di dalam hutan-hutan liar itu, apalagi jika bertemu binatang dan melakukan pengejaran atau pertempuran dengan binatang buas. Dan seperti biasa pula, pada pagi hari itu juga, Maya jauh meninggalkan para pengawalnya, hal yang selalu membuat para pengawal menjadi khawatir dan diam-diam merasa jengkel. Namun tidak pernah mereka mengeluh karena sesungguhnya para pengawal, seperti hampir semua orang di Khitan, amat sayang kepada puteri yang cantik jelita ini. Kesayangan semua orang inilah yang membuat Maya memiliki watak manja dan selalu ingin dipenuhi permintaannya!

Selagi ia menyelinap di antara pohon-pohon mengintai dan mencari binatang buruan, tiba-tiba ia dikejutkan derap kaki kuda. Hampir saja ia membentak marah karena disangkanya itu derap kaki kuda para pengawalnya. Ia marah karena suara berisik tentu saja mengganggunya, membikin takut binatang-binatang hutan yang tentu akan lari dan bersembunyi. Akan tetapi kemarahannya berubah menjadi keheranan dan ia cepat bersembunyi di balik pohon ketika melihat bahwa yang datang

bukanlah pasukan pengawalnya, melainkan pasukan pilihan ayahnya yang mengangkut perlengkapan perang!

Setelah pasukan itu lewat dan menghilang ke jurusan barat, Maya masih berdiri di tempat persembunyiannya sambil termenung heran memikirkan hal itu. Ayahnya telah beberapa hari pergi meninggalkan istana dan menurut ibunya, ayahnya sedang menyelidiki keadaan di perbatasan barat karena ada kabar bahwa bangsa Yucen sedang bergerak di sana, ada tanda-tanda bahwa bangsa itu mempunyai niat tidak baik terhadap Kerajaan Khitan dan daerahnya. Akan tetapi, mengapa ayahnya belum kembali dan sekarang malah pasukan ayahnya mengirim perbekalan perang? Apakah akan terjadi perang dengan bangsa Yucen? Ia harus pulang dan bertanya kepada ibunya. Hilanglah nafsunya untuk berburu lagi dan dia lalu berlari kembali menjumpai para pengawalnya memerintahkan mereka untuk pulang ke kota raja.

Setelah tiba di istana Maya bergegas lari memasuki kamar ibunya dan betapa kagetnya ketika ia menyaksikan ibunya sedang duduk termenung dengan muka muram dan mata merah bekas menangis. Juga tadi ia melihat bahwa para tentara telah bersiap-siap melakukan penjagaan di kota raja. Apakah yang terjadi?

Maya menubruk ibunya. "Ibunda....! Apakah yang terjadi? Mengapa pasukan Ayah membawa perlengkapan perang? Mengapa pasukan-pasukan menjaga kota raja? Mengapa Ibu berduka dan menangis?"

Puteri Mimi memeluk dan mencium muka anaknya, kemudian berkata perlahan, "Kutukan dewa....! Kutukan dewa menimpa kita....! Ah, aku pun ikut berdosa dan engkau.... Anakku, semoga para dewa melindungimu dan tidak menimpakan kemarahannya kepadamu. Engkau tidak berdosa....!" Puteri itu tak dapat menahan keluarnya air mata.

"Eh, Ibu! Ada apakah?" Maya yang berhati keras dan tabah itu mendesak ibunya, sepasang matanya bersinar-sinar penuh kemarahan karena ia ingin tahu siapa yang menyebabkan ibunya berduka. Biar dewa sekalipun akan dilawannya kalau dewa membuat ibunya berduka!

Puteri Mimi yang cantik jelita itu menghela napas. Wajahnya yang berkulit halus dan biasanya berwarna kemerahan, kini pucat dan alisnya berkerut tanda bahwa hatinya diliputi kegelisahan.

"Seharusnya Ayahmu menikah dengan Mutiara Hitam. Hal ini sudah dikehendaki para dewa semenjak mereka berdua belum lahir. Akan tetapi, ahhh.... nenekmu menghendaki lain. Ayahmu dikawinkan dengan orang lain. Tentu saja dewa menjadi marah dan sekaranglah tiba kutukannya menimpa keluarga kita." Kembali puteri ini menangis.

"Ibu, kutukan apakah itu? Apa yang terjadi?"

"Semenjak nenekmu, Ratu Yalina, meninggalkan Khitan bersama kakekmu, negara kita selalu dirundung kemalangan. Bencana alam dan perselisihan antara bangsawan mengakibatkan penderitaan, namun semua itu masih belum seberapa, masih dapat diatasi oleh kebijaksanaan ayahmu. Akan tetapi sekarang.... ahh, beberapa orang bangsawan memberontak dan bersekutu dengan suku bangsa Yucen, ada yang menyeberang kepada suku bangsa Mongol dan Mancu, ada pula yang bersekutu dengan Kerajaan Sung dan kini mereka itu mengepung kita. Ayahmu sendiri berusaha menginsyafkan mereka dan mengajak damai bangsa Yucen, namun agaknya sia-sia belaka maka jalan satu-satunya hanyalah mempertahankan Negara Khitan."

Muka Maya menjadi merah, kedua tangannya dikepalkan. "Mengapa berduka, Ibu? Kalau musuh datang kita lawan!"

Melihat sikap puterinya, di dalam tangisnya Puteri Mimi tersenyum dan merangkulnya. "Engkau mewarisi sifat-sifat nenek dan kakekmu.... akan tetapi.... musuh terlalu banyak dan terlalu kuat. Betapapun juga, benar katamu, Anakku, kita akan melawan!"

Hati Ratu ini dibesarkan oleh sikap puterinya. Ia tidak tahu bahwa pada waktu itu, bangsa Mongol sudah menjadi bangsa yang amat kuat dan bangsa ini mulai memperkembangkan sayapnya bagaikan gelombang besar datang menelan segala sesuatu yang merintang di depannya!

Benar seperti yang dikatakan Puteri Mimi kepada anaknya. Raja Khitan memang sedang berusaha keras untuk menghindarkan perang. Pelbagai usaha dilakukannya, akan tetapi para bangsawan Khitan yang memberontak itu tidak mau mendengar, dan bangsa Yucen yang bergerak dari barat itu pun tidak mau diajak damai. Melihat keadaan yang amat mendesak, bahwa perang takkan dapat dihindarkan. Raja Khitan mengadakan rapat pertemuan dengan para panglima.

"Jalan sudah buntu! Kita adalah bangsa yang besar dan biarpun selama ini kita mengalami nasib malang, namun semangat kita tak pernah padam! Kalau memang mereka menghendaki perang, apa boleh buat, kita terpaksa mengadakan perlawanan. Hanya aku menyesal sekali akan kebodohan bangsa Yucen, terutama para. bangsawan Khitan yang memberontak. Tidakkah mereka melihat datangnya bahaya hebat yang akan melanda kita semua? Bangsa Mongol jelas sekali memperlihatkan sikap hendak merajai seluruh daratan! Biarlah, kita akan mengadakan perlawanan!" Raja ini lalu mengutus pengawal untuk mendatangkan bala bantuan dari kota raja, membawa perlengkapan perang dan diam-diam ia pun menulis sepucuk surat kepada isterinya.

"Bahaya besar mengancam kemusnahan kerajaan kita, Isteriku. Akan tetapi, kalau memang para dewa menghendaki demikian, biarlah aku musnah bersama kerajaanku. Aku akan mempertahankan kerajaan yang diberikan oleh leluhur kepadaku itu dengan jiwa ragaku! Akan tetapi engkau Isteriku, dan puteri kita Maya, jangan ikut menjadi korban. Bawalah puteri kita itu ke Pegunungan Gobi, carilah ayah bundaku yang bertapa disana, minta perlindungan!" Demikian antara lain isi surat Raja ini kepada isterinya. Dan surat inilah yang membuat Puteri Mimi menangis, penuh cinta kasih dan keharuan kepada suaminya yang begitu gagah perkasa sehingga dalam menghadapi bahaya besar, tidak menyuruh dia pergi mencari pertolongan melainkan menyuruh dia dan anaknya pergi menyelamatkan diri, dan dengan sifat penuh kejantanan menghadapi bahaya seorang diri!

"Aduh, Suamiku tercinta," demikian Puteri Mimi mengeluh, "Lupakah engkau bahwa aku pun anak dan keturunan Panglima Khitan yang setiap saat siap dan rela mempertaruhkan nyawa untuk membela negara? Tidak, aku pun akan menjaga kerajaan dan merupakan benteng pertahanan terakhir. Kalau kerajaan runtuh, bukan hanya engkau, aku pun harus ikut runtuh pula! Biarlah anak kita yang akan kuusahakan agar menyingkir dan menyelamatkan diri." Diam-diam Puteri Mimipun sudah mempunyai rencana dan menantilah dia akan perkembangan dengan hati gelisah namun tetap bersikap tenang.

Perang tak dapat dihindarkan lagi. Pasukan-pasukan penjaga di garis terdepan sudah mulai bentrok dengan pasukan-pasukan musuh. Dalam keadaan seperti itu, seorang panglima tua Khitan menghadap Raja Talibu dan berkata,

"Pihak musuh amat kuat, apalagi hamba mendapat laporan dari para penyelidik bahwa dari utara, bala tentara yang besar dari Mongol telah bergerak datang. Keadaan amat terdesak mengapa sejak dahulu Paduka tidak mengirim utusan ke Go-bi-san mohon bantuan Ayah Bunda Paduka?"

Raja Talibu menggeleng kepalanya dengan sikap tegas. "Paman Panglima, kalau aku melakukan hal itu, aku akan menjadi manusia tak berguna selama hidupku! Aku menerima kerajaan dari ayah bundaku, apakah hanya untuk dinikmati saja? Apakah aku harus bersikap seperti seorang anak kecil yang menerima benda mainan dari orang tua, kemudian kalau benda itu menjadi rusak lalu kusuruh betulkan orang tuaku? Tidak, Paman, itu bukan sikap seorang pahlawan! Diserahi kerajaan bukan semata untuk menikmatinya dan bersenang-senang, melainkan diikuti pula dengan tanggung jawab! Orang tuaku telah mengundurkan diri bertapa, tidak mengecap kesenangan sedikit pun dari kerajaan, kini kerajaan terancam masa mereka yang harus susah payah pula, biarpun ayah bundaku merupakan orang-orang sakti yang sukar dicari bandingnya, akan tetapi apakah artinya dua orang saja menghadapi gelombang barisan Yucen, dan Mongol dan puluhan bahkan ratusan laksa orang jumlahnya? Kita lawan sendiri, dan persoalannya hanyalah hidup, atau mati, dan urusan itu bukanlah wewenang kita untuk menentukan!"

Panglima tua itu kagum mendengar pendirian rajanya dan bangkitlah semangatnya. Ketika Panglima ini menyampaikan pendapat raja itu kepada para perwira dan perajurit, mereka pun bersorak. menyatakan hendak mempertahankan negara sampai dengan napas terakhir!

Perang terjadi di perbatasan barat dengan dahsyatnya. Kekuatan kedua pihak berimbang sehingga banyaklah korban yang jatuh di kedua pihak. Sementara itu, barisan Mongol sudah datang makin dekat selama tiga hari setelah perang berlangsung. Dan sepak terjang barisan Mongol yang menyerbu ke selatan itu amatlah ganas seperti segerombolan harimau kelaparan. Mendengar laporan ini, kecutlah hati Raja Talibu.

Betapa bodohnya mereka, bangsa Khitan dan Yucen tidak melihat datangnya bahaya dan berperang sendiri satu kepada yang lain! Maka berangkatlah Raja ini ke medan perang, membawa gendewanya, naik ke atas kereta perang, dengan pakaian perang yang membuatnya nampak gagah perkasa. Untuk dapat membawa kereta perangnya ke tengah medan pertempuran, raja ini harus merobohkan banyak musuh dan kusirnya sudah beberapa kali diganti karena roboh binasa. Dengan gendewanya, Raja Talibu mengamuk sehingga akhirnya kereta perangnya dapat tiba di tengah medan laga, di tempat yang amat tinggi. Raja Talibu lalu meloncat di atas kereta perangnya, gendewa di tahgan kiri, topi perangnya sudah terlepas dalam, pertandingan ketika ia menuju ke tempat itu sehingga rambutnya terurai ke pundak, nampak gagah perkasa. Kemudian terdengar suaranya mengguntur seperti auman singa di padang pasir.

"Wahai seluruh bangsa Yucen dan Khitan, dengarlah kata-kataku! Kita dibikin buta oleh perang, oleh nafsu mencari kemenangan sehingga tidak peduli akan kedatangan gelombang bangsa Mongol yang akan menghancurkan kita bersama! Apakah tidak lebih baik kita bersatu sebagai dua orang saudara untuk melawan bangsa Mongol daripada kita seperti dua ekor anjing memperebutkan tulang, tidak tahu bahwa serombongan serigala sudah datang hendak menghancurkan kita setelah kita kehabisan tenaga saling berperang sendiri? Pikirlah dan cepat mengambil keputusan, mereka sudah dekat sekali."

Suara Raja Talibu ini amat nyaring dan seketika perang dihentikan, para pimpinan Yucen menjadi ragu-ragu. Memang para penyelidik mereka pun melaporkan akan datangnya gelombang dahsyat bangsa Mongol, akan tetapi karena mereka menghadapi bangsa Khitan yang sudah berada di depan hidung, tentu saja mereka tidak dapat lagi mencegah terjadinya perang dengan bangsa Khitan. Akan tetapi sekarang Raja Khitan yang gagah perkasa itu bicara sendiri dan ucapannya amat cocok dengan isi hati mereka. Raja Yucen dan pimpinannya lalu berunding dan minta waktu sehari untuk mengambil keputusan. Sementara itu perang itu dihentikan dulu.

Namun, keraguan orang-orang Yucen ini mendatangkan bencana hebat karena malam hari itu, secara tidak terduga-duga sekali, barisan Mongol sudah datang menyerbu dengan kekuatan besar. Perang hebat terjadi dan biarpun belum diadakan persetujuan, bangsa Khitan dan Yucen berjuang bahu-membahu untuk melawan barisan Mongol. Perang mati-matian itu berlangsung sampai dua hari dua malam, akan tetapi karena jumlah barisan Mongol lebih besar dan juga anggauta tentara mereka lebih kuat, biarpun pihak Mongol kehilangan banyak tentara, akhirnya barisan Khitan dan Yucen dapat terbasmi dan hanya sedikit yang dapat melarikan diri atau takluk setelah raja dan panglima-panglima mereka gugur. Raja Talibu sendiri gugur setelah tubuhnya penuh luka dan tak dapat bergerak lagi, Raja ini tewas sebagai seorang gagah perkasa, tangannya masih memegang pedang dan tubuhnya penuh luka dan mandi darahnya sendiri!

Kematian tidak dapat terhindar dari setiap orang manusia, namun banyak macam kematian, dipandang oleh mata dan dipertimbangkan oleh pikiran manusia berdasarkan kebudayaan manusia. Kematian Raja Talibu merupakan sebuah diantara kematian yang terhormat, kematian seorang jantan dan tidaklah mengecewakan dia sebagai seorang Raja Khitan, terutama sebagai putera seorang pendekar besar seperti Suling Emas dan seorang ratu besar seperti Ratu Yalina.

Andaikata ayah bunda ini melihat kematian puteranya agaknya kedukaan mereka akan terhibur oleh kebanggaan!

Sebagian para perajurit Khitan yang melarikan diri berhasil kembali ke kota raja dan gegerlah kota raja ketika mendengar berita tentang kehancuran pasukan Khitan dan gugurnya raja bersama para panglima, juga tentang bahaya penyerbuan bangsa Mongol yang sewaktuwaktu pasti akan tiba. Berita kematian Raja Talibu ini diterima oleh Ratu Mimi dengan muka pucat, akan tetapi dengan tenang sekali Ratu ini menahan tangisnya di depan para panglima dan menyatakan bahwa dia akan memimpin sendiri pertahanan kota raja. Bujukan para panglima agar supaya Ratu ini suka pergi mengungsi, diterima dengan kemarahan.

"Kalau aku melarikan diri mana aku patut menjadi ratu dari suamiku, raja gagah perkasa yang telah mengorbankan nyawanya untuk Khitan? Tidak, aku akan mempertahankan kerajaan, kalau perlu dengan tenagaku sendiri! Yang tidak berani boleh saja pergi meninggalkan Khitan!"

Maka gemparlah kota raja. Sebagian ada yang melarikan diri sehingga akhirnya tinggal Ratu Mimi dengan pasukan-pasukan yang setia. Kemudian Ratu ini mengumpulkan sepasukan pengawal, yaitu pengawal Puteri Maya, dan menyuruh mereka membawa Maya melarikan diri dan mencari kakek nenek puteri itu di Pegunungan Go-bi. Puteri Maya menangis dan berkeras tidak mau meninggalkan ibunya, akhirnya ibunya yang biasanya memanjakannya itu membentak.

"Maya! Dengarlah baik-baik! Engkau adalah keturunan Suling Emas, keturunan Ratu Yalina, keturunan Raja Talibu yang gagah perkasa. Patutkah dalam saat seperti ini engkau menangis?"

"Aku tidak mau meninggalkan Ibu. Aku pun akan membantu Ibu menghadapi musuh untuk membalas kematian Ayah!"

"Bodoh! Kalau kau tinggal di sini, engkau pun akan mati."

"Aku tidak takut mati!"

Ratu Mimi menahan tangisnya dan merangkul puterinya, menciumi sambil berkata, "Itulah soalnya. Anakku. Engkau tidak boleh mati. Kalau engkau mengorbankan nyawa di sini, siapakah kelak yang membalaskan kematian ayahmu dan ibumu?

Engkau masih kecil, tenagamu belum ada artinya untuk menghadapi musuh. Engkau pergilah kepada kakek dan nenekmu, pelajari ilmu baik-baik dan kelak engkau akan mengangkat nama ayah bundamu. Pergilah, Anakku, dan doa Ibumu selalu menyertaimu".Ucapan ini membuat Maya tak dapat membantah lagi. Biarpun dia masih kecil, namun ia cerdik dan tabah. Dengan tangis memilukan ia merangkul dan menciumi ibunya, kemudian lari keluar dan ikut bersama pasukan pengawal yang akan mengantarnya ke Go-bi-san. Setelah puterinya pergi, barulah Ratu Mimi menangis tersedu-sedu, bukan karena takut menghadapi bahaya yang mengancam dirinya, melainkan berduka karena perpisahan dengan puteri tunggalnya yang amat dicintanya.

Tiga hari kemudian, kota raja Khitan direbut pasukan Mongol. Seperti juga suaminya, Ratu Mimi berjuang dengan gigih mempertahankan kota raja bersama para panglima dan pasukan yang setia. Akan tetapi pihak musuh jauh lebih kuat sehingga akhirnya Ratu Mimi pun roboh dan gugur tak beda dengan suaminya, tangannya masih memegang pedang dan surat suaminya, dan ia tewas dengan mulut tersenyum karena pada saat terakhir ia melihat suaminya tercinta meraih dan menyambutnya penuh kasih sayang!

Pasukan Mongol membasmi Khitan, merampas wanita-wanita dan membunuh pria-pria muda, merampas harta benda dan membakar rumah-rumah, termasuk istana yang telah dirampas habis-habisan. Gegerlah Khitan, dan bagi bangsa Khitan hari itu merupakan hari kiamat dan berakhirnya Kerajaan Khitan yang selama ini kokoh kuat. Benarkah ini merupakan kutukan dewa akibat pelanggaran yang dilakukan oleh anak kembar Ratu Yalina yang seharusnya menurut kebiasaan dan kepercayaan lama harus menjadi suami isteri akan tetapi telah dilanggar dan mereka berdua itu menikah dengan orang lain? Entahlah, dan mungkin benar demikian bagi yang percaya.

Malapetaka hebat yang menimpa Kerajaan Khitan itu tidak diketahui, bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Maya yang telah melarikan diri dikawal sepasukan pengawal terdiri dari lima belas orang pengawal pilihan. Pasukan ini dipimpin oleh seorang panglima pengawal bernama Bhutan, seorang panglima muda yang tinggi besar dan berwatak bengis.

Lima belas orang pengawal ini kelihatannya melaksanakan tugasnya dengan taat, membawa keluar Maya dari kota raja yang terancam bahaya, akan tetapi sesungguhnya di dalam hati mereka terdapat perasaan tidak senang dan berduka. Betapa tidak? Keluarga mereka semua ditinggalkan di kota raja. Semua keluarga itu membutuhkan perlindungan mereka, akan tetapi mereka, lima belas orang ini tidak dapat melindungi keluarga mereka sendiri karena harus melarikan Maya. Dan mereka dapat membayangkan dengan hati perih betapa malapetaka. tentu menimpa keluarga mereka yang tidak ada pelindungnya. Duka dan sesal membuat mereka mulai mengomel sepanjang jalan dan mulai memandang kepada Puteri Maya dengan sinar mata benci. Dianggapnya puteri inilah yang menjadi sebab celakanya. Kalau mereka tidak Pergi mengawal puteri ini, tentu mereka akan dapat menyelamatkan keluarga masing-masing dengan membawa mereka lari mengungsi!

Malam pertama, ketika rombongan ini mengaso dan bersembunyi di dalam hutan, belum nampak perubahan, hanya mereka itu bersungut-sungut mengelilingi api unggun dan tidak banyak cakap. Namun pemimpin mereka, sudah merasa betapa anak buahnya tidak merasa puas. Hal ini dimengertinya baik-baik karena dia sendiri pun merasa tidak senang harus meninggalkan isterinya yang baru beberapa bulan dikawininya.

Demikian pula malam ke dua, hanya kelihatan para anak buah pasukan itu gelisah dan mulai saling berbisik-bisik. Namun semua itu pun lewat tanpa peristiwa sesuatu sehingga ketika pada keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Go-bi-san yang amat jauh, hati Bhutan sudah agak lega.

Akan tetapi, ketika pasukan ini mendengar berita dari orang-orang pelarian dari kota raja bahwa kota raja sudah diserbu musuh dan diduduki, bahwa Kerajaan Khitan kini sudah hancur dan jatuh, meledaklah rasa ketidakpuasan para anak buah pasukan pengawal, bahkan Bhutan sendiri mendengarkan cerita pengungsi itu dengan wajah pucat.

"Habis semua....!" Demikian antara lain pengungsi itu bercerita. "Mereka itu datang seperti badai mengamuk. Pasukan kita yang mempertahankan, bersama Sang Ratu, digilas habis dan tewas semua! Istana dirampok dan diduduki, rumah rakyat dibakar, semua laki-laki dewasa dibunuh dan wanita-wanita dijadikan rebutan, diperkosa seperti segerombolan serigala kelaparan melihat domba. Banyak yang tewas karena diperkosa banyak orang di pinggir-pinggir jalan, di rumah-rumah, di mana saja sehingga jerit mereka memenuhi angkasa."

"Semua wanita, katamu?" Bhutan bertanya, suaranya gemetar.

"Ya, semua! Bahkan yang tua-tua juga! yang setengah kanak-kanak juga! Semua, tidak peduli kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat jelata. Habis semua perempuan diperkosa, habis semua pria dibunuh. Yang tinggal hanya anak-anak kecil dan orang-orang tua yang berkeliaran dan kelaparan kehilangan keluarga...."

"Ibuku....! Bagaimana....?" Tiba-tiba Maya menjerit.

Orang yang bercerita itu menarik napas panjang dan menengadah ke langit.

"Sang Ratu telah gugur, akan tetapi, demi semua dewa! Setiap orang Khitan yang masih hidup akan teringat betapa ratu itu tewas dengan senjata di tangan, dengan tubuh penuh luka, tewas sebagai seorang gagah perkasa.... hebat sekali, dan agaknya semangatlah yang memimpin semua perlawanan gigih...."

"Aihhh.... ! Ibu....!" Maya menjerit dan menangis sesenggukan, memanggil-manggil ibunya.

"Diammm!" Bhutan tiba-tiba menghardiknya, membuat Maya memandang dengan muka pucat kaget dan heran sekali mengapa panglima itu berani membentaknya seperti itu. Semua pasukan memandang dengan senyum mengejek, agaknya puas hati mereka melihat pemimpin mereka kini pun memperlihatkan kebencian kepada puteri yang membuat mereka terpaksa meninggalkan keluarga mereka seperti sekumpulan domba ditinggalkan untuk menjadi mangsa serigala-serigala buas.

"Mengapa engkau menangis? Ditangisipun tiada gunanya! Ibumu telah mati! Demikian pun isteriku, ibuku, keluargaku!" Dan Panglima ini lalu menangis biarpun tidak mengeluarkan suara, hanya mengeluarkan air mata yang menetes turun di kedua pipinya. Juga para anggauta pasukan yang empat belas orang banyaknya itu semua kelihatan termangu-mangu penuh duka mengenangkan keluarga masing-masing yang tentu telah menjadi korban pula.

"Kita besok melakukan perjalanan, bukan ke Go-bi-san, akan tetapi membalas dendam kita, membakari rumah-rumah dusun yang sudah menjadi jajahan orang Mongol." demikian kata Bhutan dengan wajah bengis. Anak buahnya bersorak gembira. Biarpun mereka berduka, akan tetapi kini ada jalan untuk melampiaskan duka dan kemarahan mereka biarpun kepada dusun-dusun! Hal itu berarti mereka akan dapat memperkosa wanita-wanita seperti isteri-isteri dan keluarga mereka diperkosa, dapat membunuh orang-orang seperti keluarga mereka dibunuh, dapat merampok seperti rumah mereka dirampok!

"Akan tetapi, aku harus kalian antarkan ke tempat pertapaan kakek dan nenekku di Go-bi-san!" Maya berseru kaget dengan mata terbelalak.

Bhutan tersenyum mengejek. "Mulai sekarang tidak ada lagi yang mengharuskan aku! Engkau tidak boleh lagi memerintahku, bahkan engkau harus tunduk dan menurut segala kehendakku!" Para anak buahnya bersorak mengejek.

Maya meloncat bangun, mengepal kedua tinjunya dan memandang marah.

"Akan tetapi, apa kalian hendak memberontak? Aku adalah Puteri Maya, puteri dari Raja dan Ratu Khitan! Engkau harus taat kepadaku!"

"Ha-ha-ha, puteri yang manis! Engkau akan kujadikan pengganti isteriku! Setahun dua tahun lagi engkau akan menjadi seorang wanita yang jelita, patut menjadi isteriku. Bukankah begitu kawan-kawan?" kata Bhutan yang terhimpit kedukaan berubah menjadi bengis dan kejam. Anak buahnya bersorak menyatakan setuju.

"Keparat, kau....!" Maya maju dan mengayun tangan hendak menampar muka panglima itu, akan tetapi biarpun sejak kecil dia sudah belajar ilmu silat, namun Bhutan bukan laki-laki sembarangan, melainkan seorang panglima pengawal yang tentu saja memiliki kepandaian. Dia menangkis terus menangkap lengan kecil itu, memutar dan mendorong sehingga tubuh Maya terlempar dan roboh telentang. Terdengar suara ketawa para pasukan pengawal.

"Ha-ha-ha, engkau tidak boleh galak lagi, Nona kecil!" kata mereka.

Maya meloncat bangun lagi, akan tetapi lengannya sudah disambar oleh Bhutan dan tangan panglima ini diayun. "Plak-plak-plak-plak" kedua pipi Maya ditampari sampai menjadi merah dan terasa panas!

"Dengar kau, Maya! Ketahuilah bahwa engkau bukanlah anak Raja dan Ratu Khitan, engkau hanya diaku anak, anak angkat!"

Biarpun kedua pipinya terasa panas dan sakit-sakit dan hatinya lebih panas dan sakit lagi mendengar ucapan itu dia terbelalak kaget dan heran. "Apa.... apa, kaubilang....?"

"Duduklah dan dengar baik-baik agar kau tidak rewel lagi. Mulai sekarang, engkau harus mentaati segala perintahku karena akulah satu-satunya orang yang akan dapat menyelamatkanmu. Kerajaan Khitan sudah hancur, keluarga Raja sudah tewas semua. Engkau memang bukan anak Raja Khitan, mana mungkin Raja Khitan dapat memperoleh keturunan? Dia, telah terkutuk oleh para dewa, dan semenjak Ratu Yalina melakukan pelanggaran, keluarga Raja Khitan sudah terkutuk. Pantaslah kalau sekarang meniadi runtuh!"

"Mengapa begitu?" Air mata Maya mengucur lagi. "Ceritakanlah, Bhutan. Ceritakan apa yang telah teriadi? Ceritakan tentang keluargaku...."

"Bukan keluargamu, hanya keluarga jauh."

"Kalau begitu, ceritakan siapa aku, siapa orang tuaku!" Maya makin bingung dan karena ingin sekali mendengar penuturan panglima ini, ia sudah lupa akan kemarahannya bahwa dia tadi ditampar.

Para perajurit yang juga belum mendengar riwayat raja mereka dengan jelas, hanya mendengar berita angin saja, kini juga berkumpul dan mendengarkan penuturan Bhutan yang agaknya tahu akan riwayat itu.

"Dosa pertama dilakukan oleh Ratu Yalina." Bhutan mulai bercerita. "Ratu Yalina yang dijunjung tinggi oleh bangsa Khitan, yang pada lahirnya saja tidak pernah menikah, ternyata melakukan pelanggaran karena diam-diam melakukan hubungan cinta dengan Pendekar Suling Emas. Dari hubungan gelap, yang mendatangkan kutuk para dewa atas bangsa Khitan itu, terlahirlah anak kembar, lakilaki dan perempuan."

"Anak kembar laki-laki dan perempuan harus dijadikan suami isteri!" Seorang anggauta pasukan pengawal yang sudah berusia empat puluh tahun lebih berkata.

Bhutan mengangguk. "Mestinya demikian. Akan tetapi Ratu Yalina yang sudah melakukan dosa pertama itu, melanjutkan dengan dosa ke dua yang lebih berat lagi dan yang agaknya membuat para dewa memutuskan untuk menghancurkan Kerajaan Khitan! Anak kembar itu, yang perempuan adalah pendekar wanita Mutiara Hitam yang sekarang merantau bersama suaminya entah ke mana. Adapun yang laki-laki adalah mendiang Raja Talibu kita yang menikah dengan Ratu Mimi. Tentu saja orang-orang berdosa itu tidak bisa memperoleh keturunan. Biarpun aku tidak tahu di mana adanya Mutiara Hitam, akan tetapi aku yakin bahwa dia pun pasti tidak bisa mempunyai keturunan!"

"Tapi aku.... aku, adalah anak raja dan Ratu Khitan!" Maya berteriak.

"Heh-heh, itu adalah dugaanmu saja, anak manis!" Bhutan berkata tertawa.

"Sesungguhnya bukan demikian. Engkau adalah anak dari saudara misan Ratu Mimi, ibumu adalah puteri bangsawan rendahan yang menikah dengan seorang perwira. Ibumu mati ketika melahirkan engkau dan ayahmu sudah tewas pula dalam perang. Raja Talibu yang agaknya hendak meniadakan kutuk akan dirinya, telah mengambil engkau sebagai anak!Memang jarang ada yang tahu, akan tetapi aku tahu akan itu semua, manis!"

"Tidak....! Tidak....!" Maya menangis dan menangis terus sampai pada keesokan harinya rombongan itu melanjutkan perjalanan. Maya digandeng dan setengah diseret oleh Bhutan yang memimpin rombongannya itu melanjutkan perjalanan, bukan ke Go-bi-san, melainkan ke timur!

Dapat dibayangkan betapa hancur dan sengsara rasa hati Maya, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Kalau dia melarikan diri, selain sukar sekali karena ia selalu diawasi, juga ia akan dapat pergi ke manakah? Lebih sengsara lagi hatinya ketika terpaksa ia harus menyaksikan pasukan yang tadinya menjadi pengawalnya yang setia itu kini berubah menjadi segerombolan serigala buas yang tidak mengenal perikemanusiaan, merampok dusun-dusun yang mereka lalui, membunuh, memperkosa dan membakar rumah sambil bersorak-sorak! Dara sekecil ini dipaksa untuk menyaksikan hal-hal yang mengerikan itu, menyaksikan wanita-wanita yang menjerit-jerit diperkosa dan kemudian dibunuh. Sampai habis air mata ditumpahkan dalam tangis Maya dan dalam waktu sebulan saja ia telah berubah menjadi seorang dara cilik yang berhati keras seperti baja, ditempa oleh pengalaman-pengalaman yang pahit dan mengerikan. Kalau dahulu ia berwatak jenaka dan lincah, kini ia menjadi pendiam, jarang bicara, jarang pula makan atau tidur kalau tidak terpaksa sekali sehingga mulailah tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat, akan tetapi wajah seperti topeng mati dan sikapnya dingin melebihi salju! Tanpa disadarinya terbentuklah watak yang keras dan dingin pada jiwa dara cilik ini.

***

Pergolakan hebat yang terjadi di utara itu bukan tidak ada ekornya sama sekali, bahkan menjadi awal pergolakan hebat yang menjalar ke selatan. Pada masa itu di selatan juga terjadi pergolakan hebat, perebutan kekuasaan yang menimbulkan perang di mana-mana.

Suku bangsa Yucen tadinya adalah suku bangsa yang ditundukkan oleh Kerajaan Khitan, yaitu ketika Ratu Yalina masih memegang tampuk kerajaan. Setelah kini keadaan Khitan menjadi lemah, bangsa Yucen membalas dendam, memberontak dan dibantu pula secara diam-diam oleh Kerajaan Sung dari selatan. Di samping itu, serbuan liar dari bangsa Mongol yang mulai berkembang, membuat Khitan hancur.

Bangsa Yucen "mendapat hati" dan mendirikan wangsa baru, yaitu yang disebut Wangsa Cin. Sebentar saja Kerajaan Cin ini mendesak Kerajaan Sung dan melihat lemahnya Kerajaan Sung, menuntut agar Kerajaan Sung mengirim "upeti" setiap tahun!

Keadaan yang demikian itu menyedihkan hati seorang menteri yang setia di Kerajaan Sung. Menteri ini bernama Kam Liong dan dia bukan lain adalah putera sulung dari pendekar Sakti Suling Emas! Bahkan Menteri Kam Liong inilah yang sesungguhnya telah mewarisi kepandaian ayahnya, juga telah mewarisi senjata pusaka ayahnya yang berupa sebatang suling emas dan sebuah kipas. Kaisar amat percaya kepada Menteri Kam Liong, bukan hanya karena menteri ini! adalah putera pendekar besar Suling Emas, melainkan terutama sekali karena Menteri ini memang amat pandai dan bijaksana, juga amat setia kepada negara. Menteri Kam Liong prihatin dan berduka sekali. Pergolakan-pergolakan hebat yang terjadi amat menggelisahkan hatinya. Dia mendengar akan keadaan Khitan yang terancam hebat oleh bangsa Yucen dan Mongol. Dan celakanya, Kaisar Sung menerima uluran tangan bangsa Yucen untuk bersama-sama menyerang dan mengeroyok Kerajaan Khitan. Betapa tidak akan sedih hatinya kalau ingat bahwa Raja Khitan adalah adik tirinya sendiri? Raja Talibu di Khitan adalah putera Suling Emas pula sehingga merupakan saudara seayah dengannya, berlainan ibu. Namun, apa yang dapat ia lakukan? Dia adalah seorang Menteri Kerajaan Sung. dan adik tirinya itu adalah Raja Khitan! Dia harus bersetia kepada negaranya sendiri.

Menteri yang bijaksana ini tidak mempunyai anak. Akan tetapi dia mempunyai seorang murid yang amat disayangnya. muridnya mewarisi kepandaiannya dan berjiwa gagah perkasa pula. Muridnya itu kini pun mempunyai kedudukan tinggi di dalam kerajaan, yaitu menjadi seorang panglima muda yang diperbantukan kepadanya. Ketika pergolakan di utara terjadi dia mengatur rencana dengan muridnya itu, kemudian mengutus muridnya mengerjakan tugas penyelidikan atas persetujuan Kaisar, ke utara.

Hal yang menyedihkan hati Menteri Kam Liong yang setia, bukan hanya pergolakan di utara yang ia tahu amat pentingnya bagi perdamaian di negara Sung sendiri, akan tetapi terutama sekali melihat kelemahan Sung sebagai akibat tidak cakapnya Kaisar mengemudikan pemerintahan. Kaisar tidak memperhatikan urusan pemerintahan, hanya tenggelam dalam kesenangan. Pekerjaannya sehari-hari hanyalah menikmati rayuan para selir cantik muda yang tak terhitung banyaknya, mendengar mereka bernyanyi, melihat mereka menari-nari sambil minum arak wangi sampai mabok. Biarpun Kaisar masih ada namun sesungguhnya kekuasaan sudah beralih ke tangan selir-selir tercantik dan tersayang, dan ke tangan para pembesar thaikam (orang kebiri) yang mendampingi Kaisar dan para selir siang malam! Berkali-kali Kam Liong memperingatkan, namun Kaisar hanya teringatkan untuk waktu singkat saja, kemudian lupa lagi dan berenang dalam kesenangan seperti biasa. Peringatan yang selalu diajukan Kam Liong itu tidak ada gunanya, bahkan mendatangkan kebencian saja di hati para pembesar lainnya yang mempergunakan kelemahan Kaisar untuk mengeduk keuntungan pribadi sebanyak mungkin. Hanya karena mereka tahu bahwa Kam Liong merupakan menteri yang dipercaya oleh Kaisar, memiliki pengaruh dan kekuasaan besar, juga memiliki ilmu kepandaian yang mengerikan, maka para thaikam dan pembesar lain yang membencinya tidak berani turun tangan mengganggunya. Hal ini diketahui pula oleh Kam Liong, akan tetapi dia tidak peduli karena yang diprihatinkan selalu hanyalah keadaan negara.

Pagi hari itu, Menteri Kam Liong termenung di dalam kamar kerjanya, menghadapi teh wangi akan tetapi ia sampai lupa minum sehingga tehnya menjadi dingin. Hatinya tertekan dan ia membayangkan dengan hati penuh duka betapa keluarga adiknya. Raja Khitan terancam bahaya hebat. Dia sudah memberi nasihat kepada Kaisar agar jangan memusuhi Khitan, akan tetapi Kaisar yang dipengaruhi oleh para pembesar dan para thaikam, menjawab bahwa kesempatan baik tiba di mana Kerajaan Sung dapat mempergunakan tenaga bangsa Yucen untuk merampas kembali wilayah yang dahulu dikuasai bangsa Khitan! Dia berduka sekali, mengenangkan keadaan keluarga ayahnya yang cerai-berai itu. Ayahnya sendiri , tak pernah terjun ke dunia ramai, tekun bertapa bersama isterinya, bekas Ratu Khitan, Yalina. Adiknya yang menjadi Raja Khitan, Raja Talibu, kini terancam bahaya. Saudara kembar Raja itu, adiknya Si Mutiara Hitam Kam Kwi Lan, kini entah berada di mana karena adiknya yang seorang ini suka sekali merantau, apalagi setelah menikah dengan Tang Hauw Lam, pendekar yang suka pula merantau. Mungkin suami isteri itu kini sedang merantau ke dunia barat lewat Pegunungan Himalaya! Dia sendiri sudah terikat oleh tugasnya sebagai Menteri Kerajaan Sung yang harus ia bela sampai mati.

"Aaahhhh...." ia teringat akan tehnya, menghirup teh wangi, meletakkan lagi cangkirnya dan mengeluh. "Pantaslah Ayah lebih suka memilih tempat sunyi, mengasingkan diri dari pergaulan ramai karena sesungguhnya, makin banyak kita mengikatkan diri dengan urusan dunia, makin banyak penderitaan batin kita alami. Hemmm, aku yang tidak mempunyai turunan, apakah sebaiknya mengikuti jejak Ayah? Akan tetapi kalau demikian, apa artinya hidupku? Apa artinya aku mempelajari semua kepandaian? Bukankah semua itu dipelajari untuk dapat dipergunakan dalam dunia? Biarlah bukankah Ayah dahulu bilang bahwa penderitaan merupakan gelombang batin yang amat bernilai harganya?"

Pada saat itu, seorang pengawal datang memasuki ruangan dan memberi hormat lalu melaporkan bahwa ada seorang tamu pria muda mohon menghadap Sang Menteri.

Atas pertanyaan Menteri, Pengawal itu menjawab. "Hamba tidak mengenalnya, Taijin, akan tetapi dia mendesak untuk diperkenankan menghadap. Dia seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun, berwajah tampan dan gagah sikapnya, membawa pedang di punggung dan sikapnya seperti seorang pendekar.

"Namanya?"

"Maaf, Taijin. Ketika hamba tanyakan dia hanya mengatakan bahwa Taijin akan mengenalnya kalau sudah bertemu dan dia tidak memberitahukan namanya."

Menteri Kam Liong yang sedang kesal hatinya itu tidak bernafsu untuk menerima tamu. Ah, tentu seorang di antara mereka yang masih muda dan ingin sekali mendapatkan kedudukan di kota raja, pikirnya. Hemmm, bocah itu salah alamat kalau datang kepadanya. Kembali ia menghela napas. Betapa banyaknya keganjilan terjadi dalam pemerintahan yang kalut dan lemah ini. Pembesarpembesar tinggi mudah disuap sehingga dia yang mampu memberi suapan banyak tentu akan "ditolong" memperoleh kedudukan tinggi! Ingin ia memerintahkan pengawalnya untuk mengusir saja pemuda itu, akan tetapi tiba-tiba kemengkalan hatinya menuntut penyaluran. Biarlah, bocah itu akan kecelik dan biarlah dia menerima bocah itu. Kalau pemuda itu berani hendak "menyogok", hemmm... akan dia beri rasa! Akan dimaki-makinya, kalau perlu dibekali tamparan sebelum diusir pergi!

"Suruh dia masuk!" ia berkata pendek.

Sejenak pengawal itu memandang bingung. Masuk ke ruangan dalam? Ke kamar kerja Sang Menteri? Biasanya, apabila menerima tamu, tamu itu disuruh menanti di kamar tamu yang berada di ruangan luar!

"Cepat! Tunggu apalagi?" Menteri Kam Liong yang sedang mengkal hatinya itu membentak. Sang Pengawal terkejut, memberi hormat dan keluar, heran di dalam hatinya mengapa hari itu majikannya demikian galak, padahal biasanya, Menteri Kam Liong terkenal sebagai atasan dan majikan yang lemah lembut dan halus terhadap anak buahnya.

Menteri Kam Liong sudah mendengar langkah kaki ringan yang menuju ke kamar kerjanya dan berhenti di depan pintu. Hemm, seorang yang pandai ilmu silat, pikirnya heran. Mengapa seorang ahli silat ingin bertemu dengannya? Ingin melamar pekerjaan pengawal? Tanpa menoleh, sambil minum teh dari cangkirnya, ia berkata tenang. "Masuklah!"

Langkah kaki ringan itu memasuki kamarnya, lalu berhenti dan hening sejenak sebelum suara yang nyaring itu bertanya.

"Apakah saya berhadapan dengan Menteri Kam Liong?"

Hemm, bocah ini sama sekali tidak mempunyai suara penjilat, tidak bermuka-muka dan tidak berlebihan menghormatinya seperti biasa dilakukan orang, malah terdengar agak kurang ajar dan tidak memandang kedudukannya yang tinggi! Dengan cangkir the masih di depan mulut, Menteri Kam Liong menoleh sambil berkata.

"Siapa engkau? Katakan keperluanmu!" Akan tetapi ia terkejut ketika pandang matanya bertemu dengan laki-laki itu.

Seorang pemuda yang amat tampan dan bersikap gagah sekali, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar amat tajam. Jelas bukan seorang pemuda sembarangan! Juga wajah ini.... serasa pernah ia mengenalnya, akan tetapi ia tidak ingat di mana dan kapan. Tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah tampan itu, Menteri Kam Liong yang mulai tertarik, meletakkan cangkir tehnya di atas meja lalu memutar tubuh menghadapi pemuda itu dan mendesak, "Siapakah engkau?"

Pemuda tampan itu lalu menjura dan memberi hormat, suaranya terdengar gembira dan penuh perasaan. "Harap Twako sudi memberi maaf kalau siauwte mengganggu. Siauwte adalah Kam Han Ki...."

Menteri Kam Liong mencelat bangkit dari tempat duduknya dan gerakannya sungguh amat cepat, jauh bedanya dari sikapnya yang lemah lembut, "Han Ki...? Engkau putera mendiang Paman Kam Bu Sin yang lenyap bertahun-tahun itu....?"

Pemuda yang bernama Kam Han Ki itu mengangkat mukanya dan memandang Menteri yang disebutnya "kakak tua" itu dengan wajah berseri lalu mengangguk. "Benar, Twako. Saya adalah Kam Han Ki adik sepupu Twako sendiri."

"Ah, Adikku....! Apa saja yang telah terjadi denganmu selama bertahun-tahun ini? Ah, Adikku....!" Menteri itu melangkah maju dan merangkul pemuda itu yang cepat menjatuhkan diri berlutut dengan penuh perasaan terharu.

Duduklah, Han Ki. Duduklah. Haiii! Pelayan!" Menteri itu memanggil pelayan yang datang berlarian, lalu memerintahkan untuk mengeluarkan hidangan dan minuman.

"Twako, manakah Twaso (Kakak ipar)? Ijinkan Siauwte memberi hormat kepadanya. Dan mana keponakan-keponakan saya?"

Pemuda itu menghentikan pertanyaannya ketika melihat wajah kakak misannya itu menjadi muram. Menteri Kam Liong menghela napas dan berkata,

"Aku hidup sendiri Adikku. Twa-somu telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena penyakit berat, dan kami tidak mempunyai anak."

"Ahhh...., maaf, Twako."

"Tidak apa, Adikku. Sekarang ceritakan pengalamanmu selama belasan tahun ini. Sedikitnya tentu ada lima belas tahun engkau hilang. Ke mana saja engkau? Berita tentang dirimu yang terakhir amat mencemaskan kami sekeluarga. Engkau diculik dan dilarikan Siang-mou Sin-ni iblis betina itu!"

Han Ki mengangguk-angguk, lalu berkata, "Benar, seperti yang Twako katakan. Iblis betina Siang-mou Sin-ni membawa saya lari ke puncak Ta-liang-san di selatan." Kemudian Han Ki menceritakan pengalamannya.

Ketika berusia sebelas tahun. Kam Han Ki mengalami hal yang amat hebat. Dia adalah putera Kam Bu Sin. adik tiri Suling Emas yang bernama Kam Bu Song. Dia anak ke tiga. Kedua orang encinya yang bernama Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui telah pergi ikut bersama Kauw Bian Cinjin, paman kakek mereka untuk bertapa dan belajar ilmu di puncak Tai-liang-san (baca cerita MUTIARA HITAM).

Dalam keadaan terluka karena pukulan-pukulan beracun, Kam Han Ki yang berusia sebelas tahun itu dibawa iblis betina Siang-mou Sin-ni (Wanita Sakti Rambut Harum), menuju ke Pegunungan Ta-liang-san. Wanita iblis itu lalu mengisap darah Kam Han Ki yang dianggap mempunyai darah yang bersih dan sumsum yang murni. Akan tetapi, iblis betina ini tidak tahu bahwa Han Ki telah minum obat beracun dingin milik kakek sakti Bouw Lek Couwsu (baca cerita MUTIARA HITAM). Sehingga ketika ia menyedot darah anak itu, ia roboh terkena racun obat itu. Han Ki segera menggunakan jarum menusuk dada Si Iblis Betina sampai menembus jantungnya dan tewaslah Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi sebelum roboh tewas, iblis betina itu berhasil pula memukul Han Ki sehingga anak ini roboh pingsan dengan tulang iga patah-patah!

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawa Kam Han Ki, muncullah kakek dewa Bu Kek Siansu yang memondongnya dan membawanya pergi dari tempat itu. Dan dibawa ke sebuah guha di lembah Sungai Cin-sha dan diobati. Setelah sembuh, Bu Kek Siansu menggembleng Han Ki yang sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi itu dengan ilmu-ilmu yang tinggi. Selama dua tahun pemuda itu diajar teori-teorl ilmu silat yang hebat, kemudian disuruh berlatih sampai sempurna seorang diri di guha itu dengan pesan bahwa kalau belum sempurna tidak boleh keluar guha. Juga dia diajar cara, bersamadhi dan menghimpun sin-kang.

"Dengan dasar teori yang selama ini kuajarkan kepadamu, engkau membutuhkan waktu belasan tahun untuk menyempurnakan latihan-latihanmu, Han Ki. Setelah sempurna, baru pergilah kau ke kota raja dan carilah twakomu Kam Liong. Dialah pengganti orang tuamu dan selanjutnya, dia yang akan membimbingmu." Demikian pesan kakek dewa itu yang lalu pergi menghilang tak pernah muncul lagi.

Han Ki adalah seorang anak yang berhati keras dan berkemauan teguh.

Biarpun kadang-kadang ia merasa tersiksa sekali harus hidup menyendiri di tempat sunyi itu, namun ia terus berlatih dengan rajin sampai sepuluh tahun lamanya!

Setelah ia keluar dari guha itu, dia telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun! Dengan sebatang pedang yang sengaja ditinggalkan Bu Kek Siansu untuknya, mulailah pemuda itu terjun ke dunia ramai dan sekaligus mengguncangkan dunia kang-ouw karena kepandaiannya yang tinggi. Beberapa kali ia bertemu dengan perampok jahat, namun dengan mudah saja penjahat-penjahat itu ditaklukkannya. Namun, karena teringat akan pesan gurunya, dalam perantauannya itu akhirnya Kam Han Ki tiba di kota raja dan langsung mencari twakonya yang sebelumnya ia selidiki di kota raja dan mendengar bahwa Kam Liong telah menjadi seorang menteri!

Mendengar cerita itu, berulang kali Kam Liong menarik napas panjang.

"Aihh, Adikku, engkau sungguh beruntung sekali dapat menjadi murid Bu Kek Sian su! Apakah setelah beliau pergi meninggalkanmu, tidak pernah datang lagi menjengukmu?"

"Tidak, Twako. Suhu adalah seorang manusia yang sakti dan aneh, yang muncul dan pergi pada saat-saat yang sama sekali tidak terduga manusia. Karena saya mematuhi pesannya, maka saya datang menghadap Twako untuk menghambakan diri."

"Ahhh, Adikku yang baik. Jangan berkata demikian. Bahkan andaikata aku tahu engkau telah menjadi seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, tentu akan kucari karena pada saat ini aku sungguh membutuhkan bantuan orang yang pandai dan boleh kupercaya penuh. Adikku Han Ki, maukah engkau membantuku?"

"Tentu saja, Twako. Mulai sekarang, saya hanya menanti perintah Twako, disuruh apa saja saya akan taat. Twako saya anggap sebagai pengganti orang tua saya, demikian pula pesan Suhu Bu Kek Siansu."

"Bagus, Han Ki! Ah, betapa lega rasa hatiku dengan kedatanganmu yang sama sekali tidak pernah kumimpikan ini.... Adikku, terimalah secawan arak ini dariku untuk mengucapkan selamat datang kepadamu!" Menteri itu lalu menuangkan arak ke dalam sebuah cawan sampai penuh betul, kemudian sekali ia menggerakkan tangan, cawan yang penuh arak itu terlempar ke atas, berputar-putar cepat sekali akan tetapi araknya tidak tumpah sedikit pun!

"Terimalah, Adikku!"

"Terima kasih, Twako!" Han Ki yang maklum bahwa kakaknya sedang mengujinya, menjadi gembira. Ia mendorongkan tangan kirinya ke arah cawan yang berputaran di udara itu. Cawan menjadi miring dan isinya tumpah, akan tetapi tumpahnya langsung memasuki mulutnya sampai cawan itu menjadi kering, lalu ia menyambar cawan itu dan meletakkannya di atas meja.

"Sayang meja ini agak kotor terkena arak dan kuwah, Twako. Biarlah saya membersihkannya!" Han Ki menggebrak meja dan.... semua mangkok dan cawan beterbangan ke udara! Cepat Han Ki menyambar sebuah kain pembersih menggosok meja dengan gerakan yang cepatnya bukan main sehingga meja menjadi bersih, kemudian ia mengangkat meja itu menerima mangkok piring dan cawan yang meluncur turun, disambutnya dengan baik sehingga semua barang itu tidak ada yang tumpah, setelah itu ia meletakkan meja kembali di depannya.

"Bagus. kau hebat, Adikku!" Menteri Kam Liong girang sekali, kemudian tiba-tiba ia memegang tangan adiknya.

Kam Han Ki merasa betapa dari telapak tangan kakaknya itu keluar getaran hebat yang makin lama makin panas. Ia tahu bahwa itulah penyaluran tenaga sin-kang yang amat kuat, maka cepat ia pun mengerahkan sin-kangnya, menerima tekanan kakaknya dengan muka tidak berubah. Menteri itu merasa betapa tiba-tiba tangan adiknya yang ia pegang dan remas itu menjadi dingin seperti salju dan betapa wajah pemuda itu sama sekali tidak berubah. Ia kagum bukan main dan barulah ia merasa yakin bahwa Bu-Kek Siansu benar-benar telah berlaku murah hati kepada adiknya ini, dan yakin bahwa pemuda ini dapat membantunya meringankan beban yang amat berat terasa olehnya pada waktu itu. Akan tetapi hatinya masih belum puas mengingat betapa pentingnya tugas yang hendak ia serahkan kepada Han Ki.

"Adikku yang baik, marilah ikut bersamaku ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat)!" katanya setelah ia melepaskan tangannya. Han Ki bangkit dan mengikuti menteri itu pergi ke lian-bu-thia.

Para penjaga hanya dapat melihat dengan mata melongo saja betapa kini pemuda yang menjadi tamu itu "bertanding!" dengan hebatnya melawan Sang Menteri. Han Ki menggunakan pedangnya, sedangkan Menteri Kam Liong menggunakan sepasang senjatanya yang selama ini belum pernah terkalahkan, yaitu sebatang suling emas dan sebuah kipas.

Diam-diam Kam Han Ki kagum bukan main. Kakaknya yang sudah setengah tua itu ternyata amat hebat. Permainan suling emas dengan ilmu silat pedang Pat-sian Kiam-sut dirangkai dengan ilmu kipas Lo-hai San-hoat benar-benar lihai sekali. Pat-sian Kiam-sut (Ilmu Pedang Delapan Dewa) adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang cepat dan memiliki jurus-jurus berbahaya, kini dimainkan dengan suling yang berubah menjadi gulungan sinar emas sungguh menakjubkan.

Adapun Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan) juga hebat main, selain gagangnya dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah, juga kalau kipas dikebutkan, angin menyambar keras mengacaukan gerakan lawan.

Namun Han Ki tidak percuma melatih diri selama belasan tahun seorang diri di dalam guha tidak percuma menjadi murid Bu Kek Siansu karena ilmu pedangnya juga amat tinggi. Ilmu pedangnya mempunyai dasar gerakan Hong-in-bun-hoat yaitu gerakan ilmu silat yang dilakukan seolah-olah "menulis" huruf-huruf indah di udara, dan karena semua limu silat yang dimainkan oleh kedua kakak beradik ini berasal dari satu sumber, maka mereka dapat saling mengenal jurus lawan dan dapat mengimbanginya. Seratus jurus telah lewat dan diam-diam Menteri Kam Liong kagum dan girang sekali. Pada waktu itu, jarang ada lawan, apalagi masih begini muda, yang dapat menandinginya sampai seratus jurus tanpa terdesak sedikit pun, bahkan dalam hal tenaga sin-kang, adiknya ini malah lebih kuat daripadanya!

"Gu Toan, hebat tidak kepandaian Adikku ini?" Tiba-tiba Menteri Kam Liong berseru gembira sambil meloncat ke belakang menghentikan serangannya, menoleh kepada seorang laki-laki setengah tua yang berpunggung bongkok dan yang sejak tadi menonton dengan mata terbelalak dan mulut celangap, melongo, dengan penuh kekaguman.

Si Bongkok yang bernama Gu Toan itu membungkuk-bungkuk sehingga tubuhnya menjadi makin bongkok, mulutnya berkata. "Hebat.... hebat.... hamba belum pernah menyaksikan yang sehebat itu, Taijin...."

Diam-diam Han Ki terkejut. Seorang pelayan mengapa dapat menilai pertandingan ilmu silat tinggi yang tak dapat diikuti pandangan mata sembarangan orang? Agaknya Menteri Kam Liong maklum akan keheranan hati adiknya maka ia lalu berkata sambil menunjuk ke arah orang bongkok itu.

"Jangan pandang ringan orang ini, Han Ki. Gu Toan ini adalah pelayanku selama belasan tahun dan biarpun dia tidak langsung menjadi muridku, namun dari melihat saja dia telah dapat menguasai dasar-dasar ilmu silat yang kumainkan. Sayang dia sudah tua dan ketika kecil tidak dilatih, padahal dia memiliki bakat yang lebih besar daripada bakatku sendiri. Pula, di dunia ini sukar dicari orang yang lebih setia daripada Gu Toan!"

Gu Toan kelihatan malu-malu dan berkali-kali ia menjura. "Taijin terlalu memuji hamba, terlalu memuji hamba....!Ah, Kongcu benar-benar memiliki ilmu pedang yang tiada keduanya di dunia ini."

"Gu Toan, ketahuilah bahwa pemuda ini adalah adikku sendiri, adik sepupu yang mulai sekarang kuangkat menjadi pengawal pribadiku!"

"Ahh, selamat datang, Kongcu!" pelayan itu berseru girang dan melihat sinar matanya, Han Ki diam-diam membenarkan pendapat kakaknya. Memang pelayan bongkok ini memiliki sinar mata yang hebat, penuh kecerdikan. juga penuh kesetiaan.

Kembali kakak beradik in! duduk berdua di kamar Sang Menteri dan mulailah Menteri Kam Liong menceritakan semua urusan yang memberatkan hatinya.

"Yang memberatkan hatiku adalah dua persoalan." Menteri itu bercerita. "Pertama adalah kekuasaan suku bangsa Yucen yang makin besar. Aku merasa curiga dengan keadaan mereka, oleh karena itu diam-diam aku menyuruh muridku sendiri untuk menyelundup dan bekerja disana sebagai seorang perwira."

Han Ki tertarik sekali dan merasa kagum akan kecerdikan twakonya dan keberanian murid twakonya itu. "Akan tetapi telah beberapa lama ini dia tidak memberi kabar, bahkan aku khawatir sekali kalau-kalau terjadi sesuatu dengan kurir yang sering kali menghubungkan dia dan aku, mengirim berita-berita. Karena itu, engkau harus mewakili aku menyelidiki ke sana, Adikku. Tidak mungkin kalau aku sendiri yang pergi ke sana, karena mereka sudah mengenalku. Aku sendiri akan berangkat ke Khitan menyelidiki keadaan kakak misanmu yang menjadi Raja Khitan."

Menteri itu lalu memperkenalkan Raja Talibu yang juga merupakan putera Suling Emas sehingga Han Ki makin tertarik hatinya. Segera ia menyanggupi tugas yang dibebankan kepadanya.

Akan tetapi, karena dia diangkat sebagai pengawal Menteri Kam Liong, tentu saja dia harus diperkenalkan dengan para pembesar lain, juga bahkan dihadapkan kepada Kaisar oleh Menteri Kam Liong.

Kaisar merasa suka bertemu dengan Han Ki, kagum melihat pemuda yang lemah-lembut, tampan dan gagah perkasa itu. Apalagi ketika Kaisar mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah adik sepupu sendiri dari menterinya yang setia, kepercayaannya bertambah dan ia menerima Han Ki dengan gembira. Bahkan memberi ijin kepada pemuda itu untuk "melihat-lihat" keadaan di sekeliling istana, mengagumi taman bunga istana yang amat indah itu.

Setelah menghaturkan terima kasih, Han Ki lalu memasuki taman, meninggalkan twakonya yang masih bercakap-cakap dengan Kaisar mengenai keadaan pemerintahan. Pemuda ini kagum bukan main. Taman itu amat luas, pula amat indahnya sehingga dia merasa seolah-oleh tersesat ke alam sorga di dalam mimpi. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan bunga-bunga yang demikian banyak macamnya, serba indah, bangunan indah dalam taman dan burung-burung yang dipelihara dalam sangkar beraneka warna.

Saking tertariknya, pemuda yang selama hidupnya baru sekali itu menyaksikan tempat yang demikian indahnya, sampai lupa diri dan tidak tahu bahwa dia telah memasuki daerah terlarang, yaltu taman puteri yang terpisah dari taman umum dengan pagar bunga mawar berduri yang tinggi. Namun bagi Han Ki tentu saja pagar itu tidak berarti apa-apa. Ketika menjenguk dan melihat betapa taman di sebelah pagar itu jauh lebih indah lagi, dengan bangunan-bangunan mungil dan kolam-kolam ikan, serta sangkar-sangkar burung berkilauan agaknya terbuat daripada perak dan emas, ia mengenjot tubuhnya dan melompati pagar bunga mawar. Dia sampai berdiri bengong dan menahan napas menyaksikan segala keindahan itu. Rumput-rumput yang tumbuh di tempat ini pun bukan sembarangan, melainkan rumput yang teratur dan amat indah seperti permadani dari beludru? Seperti dalam mimpi ia berjalan terus, melangkah ke arah sekumpulan bangunan yang dicat merah. Tiba-tiba telinganya mendengar suara wanita menjerit-jerit kebingungang bahkan lalu mendengar wanita menangis? Cepat ia menyelinap di antara pohon bunga, berlompatan mendekati suara yang datangnya dari balik kelompok bangunan. Ketika ia tiba di situ dan memandang dari tempat sembunyinya di balik pohon, ia bengong, matanya tak berkedip memandang ke depan dan napasnya seolah-olah terhenti sama sekali. Kalau tadi ia kagum dan merasa dalam mimpi menyaksikan keindahan taman, kini ia terpesona menyaksikan seorang dara jelita yang kecantikannya seolah-olah membuat denyut darahnya tiba-tiba membeku? Seorang dara jelita berpakaian serba merah jambon sedang menangis di bawah pohon, dihibur oleh empat orang wanita muda cantik-cantik dan beberapa orang di antara wanita-wanita itu ada yang sibuk menjentikkan jari tangan sambil meruncingkan bibir merah dan mengeluarkan bunyi bercicit seperti burung.

"Kalau dia tidak mau kembali dan terbang pergi.... ah bagaimana?" Dara cantik yang berpakaian indah itu terisak. Perhiasan dari batu permata berbentuk burung hong yang menghias rambutnya mengangguk-angguk karena gerakan tangisnya. Empat orang yang menghiburnya itu pun cantik-cantik, akan tetapi dibandingkan dengan dara berpakaian jambon, mereka itu seperti empat ekor burung gereja di dekat seekor burung hong!

"Tenanglah, Siocia, kalau kita tidak dapat menangkapnya, nanti hamba minta bantuan tukang kebun," seorang di antara empat pelayan itu menghibur.

"Apakah tukang kebun dapat terbang? Mana bisa menangkap seekor burung? Aihhh, kalau Hongsiang (Kaisar) mengetahui, tentu tidak apa-apa, akan tetapi aku khawatir sekali terhadap kemarahan Hong-houw (Permaisuri), burung ini adalah kesayangannya." Dara itu menangis lagi.

Han Ki merasa kasihan sekali. Belum pernah ia mengalami perasaan seperti ini. Mengapa, ia tiba-tiba merasa kasihan sekali kepada dara berpakaian jambon itu? Padahal mengenalnya pun belum dan apa urusannya pun dia belum tahu. Hanya melihat dara itu berwajah demikian gelisah dan melihatnya menangis, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia memandang ke arah pohon dan tampaklah olehnya seekor burung kecil berwarna kuning yang indah sekali. Ketika melihat sangkar kosong di dekat puteri itu tahulah dia bahwa Sang Puteri itu agaknya telah membikin burung tadi terlepas dan kini merasa bingung bagaimana akan dapat menangkapnya kembali.

Terdorong oleh rasa kasihan, Han Ki menjadi nekat lalu dia melompat keluar dan berkata, "Harap Siocia tidak khawatir, saya akan menangkap burung itu!"

Dara berpakaian jambon ini terbelalak dan menahan jeritnya, sedangkan empat orang pelayan itu pun menutup mulut saking kaget dan herannya. Han Ki yang melihat sikap mereka, menjadi heran, hanya mengangkat pundak kemudian tubuhnya sudah mencelat naik ke atas pohon. Burung itu terkejut dan terbang, akan tetapi Han Ki sudah mendorongkan telapak tangannya. Angin bertiup dari telapak tangannya dan burung itu tertahan terbangnya, lalu disambarnya dengan tangan kanan dan dibawanya melompat turun.

"Nah, ini dia, Siocia, sudah dapat saya tangkap, kembali."

Dara itu girang bukan main, lupa akan keheranannya melihat munculnya seorang pemuda tampan dan seorang di antara pelayan lalu mengambil sangkar kosong dan tak lama kemudian burung itu sudah aman berada di dalam sangkar kembali. Kini barulah lima orang wanita itu memandang Han Ki dengan bengong dan tiba-tiba wajah puteri itu menjadi merah sekali, lalu ia menunduk dan membuang muka karena ia melihat sinar kagum jelas sekali terpancar keluar dari pandang mata pemuda yang tampan itu.

"Eh, orang muda, apakah kau pandai terbang?" seorang di antara empat pelayan bertanya.

"Apakah engkau tukang kebun baru?" tanya yang ke dua.

Tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah yang menunduk dari puteri itu Han Ki menggeleng kepala. "Aku tidak pandai terbang dan bukan tukang kebun."

Kini puteri itu memutar tubuh dan memandang ke arah wajah Han Ki, penuh kemarahan dan bibir yang merah itu merekah, lalu terdengar suaranya yang bagi Han Ki seperti nyanyian bidadari.

"Kalau engkau bukan tukang kebun, bagaimana engkau bisa berada di sini?"

Han Ki tak gentar menghadapi pandang mata para penjahat yang liar dan bengis, tidak berkedip menghadapi serangan pedang dan golok. Namun kini, mata yang memancar keluar dari sepasang mata indah itu membuat ia gugup dan jantungnya berdebar tidak karuan!"

"Aku.... aku...., melihat-lihat taman dan melompati pagar bunga mawar!"

"Aihh! Orang muda yang kurang ajar!" Seorang di antara para pelayan membentak. "Kau bicara seenaknya saja di depan seorang puteri Kaisar!"

Han Ki terkejut sekali, akan tetapi perasaannya sebagai seorang laki-laki yang gagah membuat ia pantang untuk bertekuk lutut, maka ia hanya menunduk dan berkata lirih.

"Maaf, maafkan saya, Siocia. Saya tidak tahu.... ah, saya bersedia dihukum karena kesalahan ini...."

Aneh sekali. Kini puteri itu tersenyum simpul, matanya mengerling wajah tampan itu, jantungnya berdebar, kemudian ia berkata, "Kalau pengawal tahu engkau masuk ke daerah terlarang ini, engkau akan dihukum mati! Karena itu, sebaiknya engkau lekas pergi dari sini

"Eh, pelayan, berikan hadiah kepadanya yang telah menangkap kembali burung yang terlepas."

"Tidak, Siocia. Saya tidak membutuhkan hadiah. Memang burung itu tentu saja ingin sekali bebas karena betapa pun indah sangkarnya, dia hidup terkurung. Lihat, bukankah dia nampak bersedih? Sungguhpun begitu, dia seekor burung yang bodoh sekali, mengapa ingin bebas...."

Sepasang alis yang kecil panjang hitam seperti dilukis itu bergerak ke atas dan kembali Han Ki merasa jantungnya tertusuk oleh sinar mata itu. "Engkau bicara aneh dan tidak karuan. Tadi kaukatakan bahwa tentu saja burung itu ingin bebas kemudian kau mencelanya sebagai burung bodoh! Apa maksudmu?" Puteri itu memandang tajam dan kembali jantungnya berdebar aneh ketika melihat lebih jelas lagi betapa wajah pemuda di depannya itu benar-benar amat tampan dan menarik hatinya.

"Dia bodoh sekali, Siocia. Kalau saya menjadi dia, saya.... saya akan merasa bahagia sekali dikurung dalam sangkar dan berada di sini selamanya!" Han Ki yang masih merasa dalam mimpi itu bicara sejujurnya menurutkan suara hatinya.

Kembali sepasang mata itu terangkat dan sepasang mata indah itu melebar. "Mengapa?"

"Karena.... karena setiap hari akan dapat melihat Siocia dan dapat bernyanyi untuk Siocia...."

"Alihhh....!" Puteri jelita itu membuang muka, wajahnya menjadi merah sekali melebihi warna bajunya, mata seperti orang bingung, bergerak-gerak pandangnya tanpa tujuan seperti mata kelinci terjebak, akan tetapi bibir yang merah dan manis itu tersenyum-senyum malu, tersipu-sipu!

"Weh-weh, kau laki-laki kurang ajar! Kau bisa dihukum mati kalau bicara seperti ini, kata seorang pelayan, juga tiga orang yang lain marah-marah. "Siapa sih engkau berani mati seperti ini?"

Han Ki menjawab tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah yang kemerahan itu dan memang dia bukan menjawab Si Pelayan melainkan berkata ditujukan kepada puteri itu. "Saya bernama Kam Han Ki, pengawal pribadi dan juga adik sepupu Menteri Kam Liong. Saya diperkenankan oleh Hongsiang untuk melihat-lihat Taman, akan tetapi telah tersesat ke sini, harap Siocia sudi memaafkan."

"Oohhh....! Kau.... kau.... adik sepupu Menteri Kam?" Puteri itu berkata lirih dan kemarahan lenyap dari pandang matanya, terganti kekaguman. Juga empat orang pelayan yang tadi marah-marah, kini tersenyum-senyum memandang nona majikan mereka. Sang Puteri dapat menangkap kerling dan senyum ini, lalu membentak.

"Mau apa kalian tersenyum-senyum?"

Empat orang pelayan itu menunduk akan tetapi tetap tersenyum dan seorang di antara mereka yang paling berani lalu berkata, "Hamba sekalian mengira bahwa dia adalah tukang kebun yang rendah, Siocia. Kiranya adik Kam-taijin, seorang pemuda bangsawan yang gagah perkasa, malah pandai terbang melebihi burung. Hemm ...."

Puteri itu tersipu-sipu akan tetapi memaksa diri menghadapi Han Ki yang masih bengong terpesona karena wajah puteri itu makin dipandang makin mempesona lalu berkata lirih.

"Kam-taihiap, sebaiknya engkau lekas pergi dari sini. Kalau ketahuan Hongsiang, selain engkau dihukum aku pun akan mendapat malu. Harap suka pergi dan.... terima kasih atas bantuanmu tadi."

Han Ki mengangguk, merasa kecewa sekali harus pergi dari depan puteri ini. Akan tetapi ia pun maklum bahwa kehadirannya di situ akan mendatangkan bencana bagi Sang Puteri, maka dia berkata, "Maaf....!" lalu membalikkan tubuhnya melangkah pergi menuju ke pagar bunga mawar dengan kedua kaki lemas. Mengapa. hatinya seperti hilang dan semangatnya kabur ke manakah? Terasa seperti tubuhnya yang lemas saja yang pergi, akan tetapi semangat, dan hatinya tertinggal di depan kaki Sang Puteri. Sampai di pagar, dia menengok. Puteri itu ternyata memandang ke arahnya dengan bengong. Sejenak dua pasang mata bertemu, bertaut seolah-olah melekat dan sukar dilepas lagi. Kemudian puteri itu menunduk.

"Maaf, Siocia. Saya Kam Han Ki telah berlaku lancang dan berdosa terhadap Siocia. Akan tetapi sudah kepalang, biarlah saya menambah dosa lagi dengan mengetahui nama Siocia. Bolehkah?"

Sunyi sejenak. Tanpa mengangkat muka puteri itu berkata lirih.

"Namaku.... Hong Kwi...."

"Terima kasih!" Han Ki berkata dengan girang dan sekali berkelebat, tubuhnya lenyap dari situ melompati pagar. Demikian cepat gerakannya sehingga, empat orang itu berseru,

"Dia.... dia menghilang. Jangan-jangan dia.... setan....!"

Puteri itu tertawa, suara tawanya seperti nyanyian burung, tanda bahwa hatinya gembira sekali. "Hushhh! Bukan menghilang! Mana ada setan di siang hari? Dia seorang Tai-hiap, seorang pendekar besar, tentu saja loncatannya cepat sekali. Dia adik Kam-taijin yang memiliki kepandaian luar biasa, tentu saja....!"

"Hebat.... Betulkah, Siocia? Hi-hihik!" para pelayan tertawa.

"Hushh! Apa ketawa? Kusuruh cambuk kau, seribu kali!" Sang Puteri menghardik.

Akan tetapi empat orang pelayan itu masih terkekeh genit dan seorang di antara mereka yang sudah dapat mengetahui rahasia hati puteri asuhan mereka itu, berkata sambil berlutut. "Hati hamba sekalian gembira sekali, Siocia, jangankan dicambuk seribu kali, biar selaksa kali hamba terima!"

Tentu saja mereka hanya bergurau karena kalau betul-betul dicambuk, jangankan selaksa kali atau seribu kali, baru dua puluh kali saja kulit-kulit tipis punggung dan pinggul mereka tentu akan pecah-pecah dan nyawa mereka melayang!

Demikianlah, semenjak saat itu, hati Han Ki tercuri oleh Puteri Hong Kwi yang cantik jelita. Puteri ini adalah puteri Kaisar dari selir yang memang terkenal cantik jelita. Dan semenjak saat itu, Han Ki selalu mencari kesempatan untuk tersesat atau lebih tepat "menyesatkan diri" ke dalam taman terlarang sehingga dalam waktu sebulan itu, beberapa kali ia "kebetulan" bertemu dengan Sung Hong Kwi, puteri selir itu yang selalu ada di taman itu. Bahkan kini puteri itu amat sering datang ke taman untuk duduk termenung sambil memandang burung kuning dalam sangkar! Kini puteri ini tidak lagi menyimpan rahasia hatinya kepada empat orang pelayannya yang tentu saja merahasiakan pertemuan antara Han Ki dan Hong Kwi.

Pada saat malam terang bulan, Hong Kwi duduk melamun di taman. Empat orang pelayan duduk tak jauh dari situ, berbisik-bisik dan tidak berani mengganggu Sang Puteri yang mereka tahu sedang murung memikirkan Han Ki yang sudah beberapa hati tidak tampak.

Hong Kwi memandang ke arah burung kuning dalam sangkar. Pikirannya melayang-layang jauh. Dia tidak melihat burung di dalam sangkar itu, melainkan wajah Han Ki! Dari bibirnya berbisik-bisik "Mungkinkah....? Akukah yang seperti burung dalam sangkar? Bagaimana mampu bebas dan terbang berdua dengan burung di luar sangkar? Ah! Kam-tai-hiap....!"

Seolah-olah mendengar jeritan hatinya, tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu Han Ki telah berdiri di hadapannya!

"Kam-taihiap....!" Hong Kwi terkejut sekali. Betapa beraninya pemuda ini! Malam-malam datang di tempat itu! Kalau ketahuan, mereka berdua bisa celaka!

Akan tetapi sikap Han Ki tidak gembira seperti biasa. Biarpun biasanya pertemuan antara mereka berdua. hanya lebih banyak pertemuan pandang mata saja daripada percakapan, namun Han Ki selalu bersikap gembira. Namun malam ini, di bawah sinar bulan, wajah yang tampan itu kelihatan muram.

"Siocia...., saya datang.... untuk berpamit...."

Dara jelita itu terkejut, mengangkat muka memandang penuh selidiki. "Berpamit....? Kam-taihiap.... mengapa? Apa yang terjadi? Engkau.... hendak pergikah?"

Pemuda itu hanya mengangguk, kemudian memandang ke arah empat orang pelayan dan berkata, "Bolehkah saya bicara berdua saja denganmu, Siocia?"

"Ahhh.... tapi.... tapi...." Ia meragu! lalu menoleh ke arah empat orang pelayannya sambil berkata lirih. "Kalian pergilah sebentar." Empat orang pelayan itu saling pandang, lalu tersenyum dan bagaikan empat ekor kupu-kupu, mereka berlarian menjauh dan bersembunyi di dalam bangunan kecil, agak jauh dari tempat itu.

"Tai-hiap, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Siocia, saya mendapat tugas dari Menteri untuk melakukan penyelidikan ke negara bangsa Yucen....!"

"Aihhh....! Bangsa yang biadab itu....!" Sang Puteri berseru kaget sekali.

"Karena itu, maka harus diselidiki keadaannya, Siocia. Demi kepentingan kerajaan ayahmu saya harus berangkat besok pagi-pagi. Karena inilah maka saya memberanikan diri menghadap Siocia untuk berpamit."

"Kam-taihiap, berapa lamakah kau pergi....?"

Han Ki menggeleng kepala. "Bagaimana saya bisa tahu, Siocia? Tergantung keadaan di sana dan.... hemmm, kalau saya sampai tidak kembali menghadap Siocia itu berarti bahwa saya tentu tewas di sana.... eh! Siocia .... ! Siocia ....!"

Han Ki cepat menubruk dan merangkul dara itu yang tiba-tiba menjadi lemas dan pingsan mendengar ucapannya itu. Dia merangkul leher dara itu penuh kasih sayang, penuh kemesraan, lalu memondongnya dan memangkunya sambil duduk di bangku tepi kolam. Ia tahu bahwa dara itu hanya pingsan karena kaget, maka perlahan-lahan ia mengurut belakang kepalanya.

Muka itu tengadah, agak pucat namun bibirnya masih merah segar. Pernapasan merasa lega sekali dan tanpa disadarinya ia menunduk mencium dahi yang putih halus itu. Sang Puteri sadar dan berteriak ketika mendapatkan dirinya dipangku dan dahinya dicium.

"Ahhh, Kam-taihiap....!" Ia merintih dan kedua lengannya merangkul leher.

"Hong Kwi.... Hong Kwi....?" Han Ki juga mengeluh, sakit hatinya karena maklum akan keadaan mereka yang seolah-olah terpisah jurang kedudukan, dan kini malah akan berpisah! Ia menjadi terharu, bercampur cinta kasih mendalam dan tanpa mereka sadari dan tanpa mereka ketahui siapa yang memulainya, muka mereka saling berdekatan dan bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman mesra, ciuman yang mereka lakukan tanpa sadar, seolah-olah ada tenaga gaib yang mendorong mereka karena selama hidup mereka belum pernah berciuman seperti itu. Tercurah seluruh kerinduan hati, seluruh keharuan, seluruh cinta kasih sehingga sambil berciuman yang seolah-olah takkan pernah terlepas lagi itu mereka terisak, naik sedu-sedan dari dada mereka, ke tengorokan.

Mereka terengah-engah, terbuai oleh gelombang asmara yang hebat, baru melepaskan ciuman setelah napas tak tertahan lagi, saling rangkul seolah-olah tak hendak melepaskan lagi.

"Hong Kwi....!"

"Koko....! Kam-koko....!"

Entah berapa lama mereka saling rangkul, entah berapa kali mereka saling berciuman. Tiada bosan-bosannya Han Ki mencium dahi, alis, mata, hidung, pipi, bibir dan leher wanita yang dicintanya, seolah-olah hendak menghisap semua itu dan menyimpannya ke dalam lubuk hatinya. Mereka lupa diri, lupa waktu,lupa keadaan.

"Siocia....!" Suara pelayan menyadarkan mereka. "Hamba mendengar suara peronda....!"

Puteri itu melepaskan diri dari atas pangkuan Han Ki, berdiri gemetar sambil memegang lengan Han Ki yang kuat. "Koko.... bagaimana dengan kita....? Ahh, Koko, jangan tinggalkan aku, bawalah aku pergi.... mari kita minggat malam ini juga...."

Han Ki menutup mulut itu dengan ciuman mesra, tidak peduli lagi bahwa perbuatannya ini kelihatan oleh pelayan yang cepat membuang muka dengan sungkan.

"Hushhh, jangan berkata demiklan, kekasihku. Jangan khawatir, aku pasti akan kembali membawa jasa dan tentang masa depan kita, harap jangan khawatir.... Twako Kam Liong tentu akan membantuku dan engkau akan dilamar secara resmi. Mengingat akan kedudukan dan jasa Menteri, kiranya pinangan itu takkan ditolak oleh Hongsiang. Nah, selamat berpisah, manisku. Itu peronda datang...." Han Ki melepaskan pelukannya dan hendak meloncat pergi.

"Koko ....! Ahh, Koko....!" Puteri itu merintih. Han Ki meloncat kemibali, memberi ciuman yang mesra sekali yang seolah-olah menghisap hati dara itu, kemudian tanpa menoleh ia sudah meloncat cepat lenyap dari situ. Untung bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang hebat sehingga munculnya peronda tidak mengakibatkan sesuatu karena peronda-peronda itu tidak melihat atau mendengar kehadiran Si Pemuda yang nekat dan berani mati karena asmara itu. Para peronda memberi hormat kepada Puteri Sung Hong Kwi yang telah menguasai hatinya dan tanpa mengeluarkan kata-kata dara itu kembali ke kamarnya diikuti empat orang pelayannya yang diam-diam saling towel saling cubit dan menutupi senyum dengan tangan mereka.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kam Han Ki berangkat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya oleh Menteri Kam Liong, yaitu menyelidiki ke kota raja bangsa Yucen untuk menyusul Khu Tek San, yaitu murid Menteri Kam Liong yang diselundupkan ke Kerajaan bangsa Yucen.

Adapun Menteri Kam Liong sendiri tak lama kemudian juga pergi seorang diri setelah mendapat perkenan Kaisar, pergi ke Khitan untuk menyelidiki kerajaan adiknya yang ia tahu terancam perang besar dengan bangsa Yucen, bahkan barisan Sung sendiri atas pimpinan panglima-panglima perbatasan yang sudah disetujui oleh Kaisar juga membantu bangsa Yucen menyerang Khitan. Ia merasa khawatir sekali, apalagi karena ia pun tahu bahwa bangsa Mongol sedang berkembang dan selalu mengintai daerah-daerah perbatasan!

***

Maya berjalan seperti kehilangan semangat bersama pasukan pengawal yang kini telah berubah menjadi perampok-perampok, menjadi serigala-serigala haus darah yang amat kejam di bawah pimpinan Bhutan. Anak perempuan yang usianya baru sepuluh atau sebelas tahun ini menderita tekanan batin yang bukan main hebatnya. Pertama-tama tentang keadaan dirinya yang ternyata bukanlah puteri Raja dan Ratu Khitan, melainkan keponakan mereka, dan bahwa ayah bundanya telah tewas. Hal ini saja sudah membuat ia berduka bukan main, sungguhpun andaikata dia benar puteri Raja dan Ratu, mereka ini pun sekarang telah tewas. Ke dua, menyaksikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan pasukan itu benar-benar mengerikan sekali. Ke tiga, memikirkan keselamatannya sendiri yang terancam malapetaka hebat.

Malam itu, gerombolan yang dipimpin Bhutan mengaso di sebuah hutan dan mereka itu berpesta-pora dan mabuk-mabukan karena baru saja mereka membasmi sebuah dusun. Di antara suara ketawa-tawa mereka terdengar jerit dan rintih wanita-wanita yang mereka culik dan mereka seret ke dalam hutan itu. Ada di antara mereka yang sekaligus membawa dua orang wanita dan mempermainkan mereka seperti seekor kucing mempermainkan dua ekor tikus. Maya tidak melihat itu semua, tidak mendengar itu semua. Sudah terlalu sering ia mendengar dan melihat hal-hal mengerikan itu sehingga biarpun kini mata dan telinganya terbuka, namun yang tampak olehnya hanya api unggun di depannya.

Diam-diam dia telah mempersiapkan diri. Di dalam perampokan-perampokan itu, ia menemukan sebuah pisau belati yang runcing dan tajam. Disembunyikannya pisau itu di balik bajunya, diselipkan di ikat pinggang sebelah dalam. Dan ia selalu mencari akal untuk melarikan diri. Mereka sedang mabok-mabokan dan memperkosa wanita rampasan. Kalau saja Bhutan malam itu tidak menjaganya, tentu ia akan dapat melarikan diri di dalam hutan yang gelap itu. Mereka sedang mabok dan sedang mengganggu para wanita. Kalau dia lari, tentu takkan ada yang tahu. Jantungnya sudah berdebar karena dia tidak melihat Bhutan yang tadi rebah-rebahan tidak jauh dari situ.

Akan tetapi harapannya membuyar ketika tiba-tiba terdengar suara ketawa Bhutan. Suara ketawa yang serak. "Ha-ha-ha, engkau kelihatan manis sekali di dekat api unggun. Kulit wajahmu kemerahan. Wahai, puteriku jelita! Engkau seperti bukan kanak-kanak lagi, heh-heh-heh!" Maya merasa muak dan mau muntah ketika muka Bhutan yang didekatkan itu mengeluarkan bau arak dan daging busuk!

Jantung Maya berdebar tegang. Ia, tahu bahwa orang yang paling dibencinya ini sedang mabok. Dari pandang mata, sikap dan ucapannya, Maya merasa bahwa ada bahaya mengancamnya, bahaya yang selama ini amat ditakutinya. Biasanya Bhutan hanya merayu dan memujinya dengan kata-kata saja, akan tetapi sekali ini agaknya dia, mempunyai niat lain.

"Pergi dan jangan ganggu aku!" Maya membentak marah.

"Ha-ha-ha, Maya yang manis! Tadinya aku hendak menunggu satu dua tahun sampai engkau lebih matang. Akan tetapi aku tidak sabar menunggu sekian lamanya dan engkau.... hemm, engkau sudah cukup matang, engkau seperti setangkai kuncup kembang yang sudah merekah, marilah, Maya manis!" Bhutan yang kini sudah berubah seperti seekor anjing kelaparan itu menangkap tangan Maya dan menarik tubuh anak perempuan itu sehingga roboh ke dalam pelukannya. Bhutan tertawa-tawa dan memondong tubuh Maya yang meronta-ronta, membawanya ke balik gerombolan pohon kembang di mana terdapat tilam rumput hijau yang lunak. Tak jauh dari situ terdapat mayat seorang wanita yang baru saja menjadi korban kebuasan Bhutan. Manusia kejam ini telah memperkosa wanita rampasan itu, kemudian membunuhnya karena wanita itu tidak memuaskan hatinya dan dalam kehausan nafsu yang bernyala-nyala, Bhutan teringat akan Maya dan kini membawa anak perempuan yang meronta-ronta itu ke situ tanpa mempedulikan mayat yang menjadi korban kebuasannya.

Sambil tertawa-tawa dan dengan nafsu makin menyala-nyala, agaknya makin terbangkit oleh perlawanan Maya yang meronta-ronta, Bhutan melempar tubuh Maya ke atas rumput di mana dara cilik itu terbanting roboh telentang, kemudian Bhutan menubruk dan menindihnya. Maya menggerakkan kepala ke kanan kiri untuk mengelakkan ciuman-ciuman Bhutan yang menjijikkan. Biarpun semenjak tadi Maya meronta-ronta dan menjerit-jerit seperti seorang yang tidak berdaya dan yang hanya bisa menjerit dan menangis, namun sesungguhnya diam-diam anak ini telah mempersiapkan seluruh urat tubuhnya dengan perhitungan seorang ahli silat. Ketika melihat lowongan, yaitu kedua tangan Bhutan menjambak rambutnya, agaknya untuk memaksa Maya agar tidak dapat menggerakkan kepala mengelak, kemudian mencium mulut gadis cilik itu penuh nafsu, saat itulah yang dinanti-nanti Maya. Ia mengatupkan mulutnya ,kuat-kuat sehingga yang dicium Bhutan hanya sepasang bibir yang bersembunyi, dan tiba-tiba tangan kanan Maya bergerak, menikamkan pisau belati tepat, ke ulu hati Bhutan dan miring ke kiri, ke arah jantung, sedangkan tangan kirinya yang kecil itu menusuk dengan jari-jari terbuka ke arah mata lawan. Biarpun Maya merasa muak dan jijik, namun dengan kekuatan hatinya ia dapat menekan perasaannya itu dan dapat melakukan serangan mendadak secara tepat sekali.

Pekik yang keluar dari mulut Bhutan merupakan raungan binatang buas yang direnggut nyawanya. Tusukan jari-jari kecil pada kedua matanya dan rasa sakit pada dadanya membuat Bhutan secara otomatis membawa tangannya ke mata dan dada. Saat yang hanya beberapa detik ini cukup bagi Maya untuk meronta. dan keluar dari tindihan tubuh Bhutan, kemudian meloncat pergi lalu berlari cepat memasuki tempat gelap. Bhutan meloncat bangun, meraung lagi, berusaha mengejar namun roboh terguling, berkelojotan dan dari kerongkongannya terdengar bunyi mengorok seperti babi disembelih. Akhirnya ia tewas tak jauh dari mayat wanita yang telah dibunuhnya.

Akan tetapi perhitungan Maya meleset. Dia tidak memperhitungkan pekik yang keluar dari mulut Bhutan ketika ia melakukan penikaman. Pekik itu menarik perhatian dan mengejutkan beberapa orang anak buah gerombolan yang berada tidak jauh dari tempat itu! Mereka kaget dan meninggalkan wanita korban mereka yang sudah setengah mati, lalu meloncat ke tempat terdengarnya suara, pekikan. Tentu saja merasa terkejut melihat tubuh Bhutan berkelojotan dan lenyapnya Maya. Mereka berteriak-teriak dan tak lama kemudian, empat belas orang bekas pengawal itu telah mengejar Maya!

Akhirnya Maya yang kelelahan dan kehabisan tenaga karena memang tubuhnya sekarang telah menjadi lemah akibat tidak terpelihara dengan baik, makan dan tidur tidak teratur, tertangkap oleh gerombolan itu di luar sebuah dusun menjelang pagi. Empat belas pasang tangan memperebutkannya, dan seorang di antara mereka cepat,berkata,

"Heh, kawan-kawan jangan bodoh!

Kalau diperebutkan begitu, dia akan mampus. Sayang sekali kalau begitu!

Lebih baik dia dirawat dan kita pelihara baik-baik. Dia dijadikan milik kita bersama. Ingat, dia bukan kembang sembarang kembang, harus diperlakukan penuh kelembutan. Ha-ha-ha!"

Mendengar ini, yang lain-lain setuju dan sambil tertawa-tawa mereka menggandeng tangan Maya yang sudah babak belur itu.

"Nah, ini ada dusun, melihat bangunan-bangunannya lumayan juga. Bocah ini masih terlalu kecil, kita pelihara dulu sampai menjadi segar dewasa. Lihat, dia sudah hampir mati kelelahan. Lebih baik kita mencari bunga di dusun itu dan berpesta-pora!" terdengar suara seorang di antara mereka. Setelah Bhutan tewas, empat belas orang itu merupakan gerombolan tanpa pimpinan yang tentu saja menjadi lebih buas seperti srigala-srigala tanpa bimbingan.

Sambil bersorak-sorak, empat belas orang itu menyerbu dusun. Dua orang penjaga di pintu pagar dusun, mereka bunuh tanpa banyak cakap lagi. Mulailah lagi perbuatan jahat dan penuh kebuasan melanda dusun itu. Penduduknya yang terkejut karena tak menyangka akan diserbu pada pagi hari itu, menjadi geger! Ada sebagian penduduk yang nekad melakukan perlawanan, namun tentu saja mereka itu bukan tandingan gerombolan bekas pasukan pengawal yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu. Mulailah terjadi pembunuhan, disusul perampokan, pembakaran dan perkosaan. Mulailah terdengar pekik-pekik mengerikan, pekik kematian dicampur dengan jerit-jerit penuh ketakutan, jerit-jerit para wanita yang diperlakukan semaunya oleh gerombolan itu. Sementara itu Maya tidak mendapat kesempatan untuk lari karena sewaktu para gerombolan menyerbu dusun, kaki tangannya dibelenggu kuat-kuat dan dia dipaksa menunggu mereka dalam keadaan tidak dapat bergerak, hanya sepasang matanya yang lebar menyaksikan semua kekejian yang terjadi di dusun itu.

Seperti biasa pula pada akhir penyerbuan sebuah dusun, para gerombolan ini menyeret wanita yang mereka pilih, ada yang sibuk mengumpulkan benda-benda berharga, ada yang minum arak sampai mabok dan di antara asap rumah-rumah yang masih menyala, mereka tertawa-tawa dan berkumpul di dekat tumpukan mayat-mayat, memandang rumah terbakar, ada yang mulai mengganggu wanita di depan mata kawan-kawannya, ada yang bernyanyi-nyanyi, menyanyikan lagu kemenangan barisan tentara Khitan. Semua ini terjadi dengan hiruk-pikuk dan Maya terpaksa harus menonton semua yang terjadi di depan mata karena ia berada di tengah-tengah antara mereka. Belenggunya sudah dilepas dan dia menjadi muak dan pening. Di belakangnya, tiga orang gerombolan sedang mengganggu tiga orang wanita yang menjerit-jerit di antara suara ketawa mereka, di depannya juga ada dan di kanan kiri, gerombolan-gerombolan itu tertawa-tawa, minum-minum dan mengamat-amati hasil rampokan mereka dengan gembira!

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda banyak sekali mendatangi dusun yang terbakar itu. Empat belas orang gerombolan bekas pengawal menjadi terkejut. Akan tetapi mereka sudah terlalu mabok, mabok oleh arak dan mabok nafsu sehingga mereka terlambat untuk mengetahui bahwa yang datang adalah pasukan musuh, pasukan bangsa Yucen yang berjumlah lima puluh orang! Tahu-tahu mereka diserbu oleh pasukan Yucen yang banyak jumlahnya itu dan terjadilah perang tanding yang berat sebelah. Biarpun gerombolan bekas pengawal ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi, namun mereka itu sudah setengah mabok dan jumlah mereka kalah banyak. Mereka melakukan perlawanan gigih dan mengamuk. Melihat kesempatan ini, Maya berusaha untuk melarikan diri. Ia meloncat, akan tetapi sebuah tamparan seorang pengawal terdekat membuat ia roboh terpelanting dan pingsan di antara tumpukan mayat!

Perang kecil yang berat sebelah itu berlangsung tidak terlalu lama. Biarpun mengorbankan beberapa orang anak buahnya, namun pasukan Yucen akhirnya berhasil membunuh empat belas orang gerombolan bekas pengawal Khitan itu. Mayat mereka malang-melintang dan bertumpuk-tumpuk di antara mayat-mayat bekas korban mereka, penduduk dusun dan wanita-wanita muda yang mereka perkosa. Sisa pasukan Yucen lalu pergi meninggalkan dusun itu yang kini berubah menjadi tempat yang mengerikan sekali. Keadaan amat sunyi, yang terdengar hanyalah api yang masih memakan atap-atap rumah. Tampak di sana-sini muncul beberapa orang penduduk yang berani datang untuk mengambil dan mengungsikan barang-barang mereka, akan tetapi tak seorang pun berani mendekati tumpukan mayat empat belas orang gerombolan yang merubah dusun itu menjadi neraka bagi penduduknya.

Tak lama kemudian, dari arah barat tampak dua orang berjalan ke arah dusun itu. Dari jauh sudah tampak bahwa mereka adalah seorang laki-laki dan seorang wanita, yang laki-laki berkulit hitam sekali dan yang wanita berkulit putih, akan tetapi tubuh wanita itu tinggi, bahkan lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan laki-laki berkulit hitam itu. Kalau dilihat dari dekat, tentu orang akan terheran-heran melihat pakaian dan wajah mereka yang berbeda jauh dari penduduk umumnya. Laki-laki itu tinggi kurus, kulitnya hitam arang, rambutnya yang keriting ditutup sorban kuning, tubuh atas tidak berbaju hanya dilibat kain kuning yang sudah dekil, tubuh bawah memakai celana hitam sampai di bawah lutut, kakinya tidak bersepatu. Sederhana sekali pakaian dan sikapnya, namun wajahnya membayangkan kewibawaan besar dengan sepasang mata yang tajam seperti mata pedang tetapi juga menyeramkan dan liar itu bergerak ke sana-sini.

Si Wanita tidak kalah anehnya. Wajahnya berbentuk seperti laki-laki itu, kening lebar, mata lebar, hidung mancung sekali dan besar, dagu runcing sehingga dia memiliki kecantikan yang aneh dan khas. Telinganya memakai hiasan cincin besar, rambutnya terurai sampai ke punggung. Tubuhnya tinggi besar, nampak kuat seperti tubuh pria namun gerak-geriknya yang lemah-lembut menandakan bahwa dia benar-benar seorang wanita. Memakai baju berlengan pendek dan celana panjang sampai ke kaki berwarna biru, akan tetapi di luar bajunya, ia memakai sutera kuning yang panjang dilibat-libatkan di tubuh. Lengan kirinya yang berkulit putih kemerahan, bukan putih kekuningan seperti kulit wanita pribumi, memakai sebuah gelang emas yang besar dan tebal. Demikian pula kedua pergelangan kakinya dihias gelang kaki terbuat dari pada emas sehingga kadang-kadang kalau kedua kaki berganti langkah, gelang-gelang itu beradu dan menimbulkan suara berdencing nyaring. Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan mereka berjalan berdampingan tanpa berkata-kata, memasuki dusun itu dan menggeleng-geleng kepala menyaksikan rumah-rumah terbakar dan mayat-mayat bertumpukan dan berserakan.

Ketika tiba di tumpukan mayat empat belas orang bekas pengawal Khitan dan wanita-wanita serta penduduk, mereka berhenti dan bicara dalam bahasa India.

"Bukankah pakaian mereka itu menunjukkan bahwa mereka, pasukan pengawal Khitan?" kata Si Wanita.

"Agaknya begitulah," jawab yang laki-laki suaranya parau dan dalam. "Manusia di mana-mana sama saja, sekali diberi kesempatan, lalu berlumba saling membunuh."

Keduanya sudah akan melangkah pergi lagi ketika tiba-tiba terdengar rintihan yang keluar dari tumpukan mayat.

"Ha! Seorang anak perempuan!" Laki-laki itu berkata dan matanya mengeluarkan sinar aneh, kedua tangannya bergerak mendorong ke depan. Angin yang kuat menyambar ke arah tumpukan mayat dan.... sebagian mayat yang bertumpuk di atas terlempar seperti daun-daun kering tertiup angin. Tampaklah kini seorang anak perempuan yang merintih tadi bangun dan berusaha melepaskan diri dari himpitan mayat-mayat. Anak ini adalah Maya yang tadi pingsan kemudian tubuhnya tertindih banyak mayat!

"Aihh! Anak siapa ini?" Wanita itu meloncat maju mendahului Si Laki-laki, gerakannya cepat sekali seperti terbang dan sekali sambar ia telah mencengkeram punggung baju Maya dengan tangan kiri dan mengangkat tubuh Maya ke atas sambil dipandangnya penuh perhatian. Lagak wanita itu seperti seorang wanita sedang memeriksa seekor kepiting yang hendak dibelinya di pasar!

"Haiii! Kesinikan anak itu! Dia milikku karena akulah yang menemukannya, ,aku yang pertama membongkar tumpukan mayat yang menimbunnya!" Laki-laki itu berseru, melangkah maju.

"Tidak!" Wanita itu memondong Maya dan meloncat menjauhi. "Aku yang lebih dulu mengambilnya. Anak ini hebat....!" ia mengelus pipi, memeriksa mata, rambut dan mulut Maya. "Anak hebat....! Ah, manis, siapakah namamu?" tanyanya dalam bahasa Han.

Biarpun dia seorang puteri Khitan, namun sejak kecil ia diajar bahasa Han di samping bahasa Khitan, maka Maya lalu menjawab, "Namaku Maya. Kalian siapakah?" Anak ini lupa akan kesengsaraannya karena heran menyaksikan dua orang aneh yang tadi bicara dalam bahsa yang tak dimengertinya, juga yang mempunyai wajah asing, hidung panjang dan pakaian yang aneh pula.

"Maya? Bagus sekali! Nama yang bagus sekali!" Wanita itu berseru girang dan menciumi kedua pipi Maya. Anak itu mencium bau kembang yang aneh, wangi namun memuakkan baginya, akan tetapi dia tidak melawan dan membiarkan mukanya dihujani ciuman oleh wanita itu. "Kau cocok denganku! Hebat! Engkau tentu suka menjadi kekasihku bukan? Maya, engkau tentu anak Khitan!" Wanita itu kini menggunakan bahasa Khitin dan Maya menjawab dalam bahasa itu juga, suaranya berubah girang. "Benar, aku adalah Puteri Maya, puteri.... Raja dan Ratu Khitan!"

"Apa....?" Laki-laki itu meloncat maju. "Puteri Khitan? Hayo, Dewi, berikan padaku anak itu. Aku yang berhak! Dia berdarah raja, dan tampaknya dia memang memiliki darah murni. Berikan!"

"Tidak!" Wanita itu memondong Maya dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya mengepal tinju, mukanya merah menentang dan matanya bersinar-sinar merah kepada laki-laki berkulit hitam itu. "Mahendra! Belum puaskan engkau dengan darah beberapa orang anak yang telah kauhisap habis? Engkau penghisap darah anak yang tiada puasnya! Tidak, anak ini adalah milikku. Engkau tidak boleh mengganggu Maya! Dia punyaku dan kalau engkau memaksa aku akan membunuhmu."

Laki-laki itu yang disebut Mahendra, tertawa bergelak sehingga ngeri hati Maya melihatnya. Muka yang hitam itu kelihatan lebih hitam lagi setelah tertawa dan nampak deretan gigi yang putih mengkilap!

"Ha-ha-ha-ha! Nila Dewi, engkau mengancamku berkali-kali seolah-olah aku ini hanya seekor semut yang mudah mati diinjak! Aku memang haus akan darah anak perempuan, akan tetapi hal itu hanyalah karena aku belum menemukan anak yang darahnya cocok untuk menyempurnakan ilmuku. Kalau aku sudah mendapatkan darah seorang anak seperti Maya ini, tentu aku selanjutnya takkan butuh darah lagi. Berikanlah, sayang. Malam nanti terang bulan, kita dapat berkasih-kasihan. Kalau ada aku di sini, masa engkau butuh belaian seorang bocah seperti itu lagi? Ha-ha-ha!"

"Mahendra, aku tidak main-main. Maya ini milikku dan habis perkara!". Nila Dewi mulai mencium-cium dan mencucup-cucup kulit leher dan pipinya. Gilakah perempuan ini, pikirnya.

"Ha-ha-ha, kalau begitu, sebaiknya kita bertanya kepada Maya agar dia yang memilih." Mahendra memandang Maya dan berkata dalam bahasa Khitan, "Eh, Maya anak manis, dengarlah. Kalau engkau memilih aku, terus terang saja aku akan mengambil darahmu untuk obat, akan kuisap habis dan engkau akan mati seketika tanpa merasa terlalu nyeri. Sebaiknya kalau engkau memilih Nila Dewi, dia akan menjadikan engkau kekasihnya untuk menuruti nafsu berahinya yang selalu berkobar tak pernah padam. Engkau akan dibelai, diperas dan perlahan-lahan engkau pun akan mati! Memilih aku berarti mati seketika tanpa banyak menderita, memilih dia berarti akan mau sekerat demi sekerat dan banyak menderita!"

"Phuaahhh, bohong!" Nila Dewi menjerit marah. "Memilih dia mati seperti seekor ayam disembelih, sedangkan memilih aku, hemmm.... akan mengalami kenikmatan dunia. Andaikata mati, mati dalam kenikmatan, bukankah itu bahagia sekali! Kau memilih aku, ya Maya? Memilih aku, anak manis?" Nila Dewi mendekatkan mukanya dan mencium bibir Maya, mengecupnya lama-lama sampai tersedak-sedak kehabisan napas baru dilepaskan. Kini Maya menjadi takut sekali, hatinya dicengkeram rasa ngeri yang hebat. Kiranya dia terjatuh kedalam tangan dua orang asing yang entah gila entah memang berwatak Seperti iblis! Kalau tahu begini, jauh lebih baik dia pingsan di bawah tumpukan mayat-mayat itu!

"Hayo pilih, pilih siapa engkau. Maya?" Laki-laki berkulit hitam itu mendesak dan melangkah maju.

Maya memandang mereka bergantian dengan mata terbelalak. Bagaimana dia bisa memilih? Keduanya sama menyeramkan dan memilih yang manapun berarti dia akan mati! Kematian di tangan laki-laki itu sudah pasti, darahnya akan disedot habis. Dia bergidik ngeri. Akan tetapi biarpun dia tidak dapat membayangkan bagaimana akan mati di tangan wanita itu, namun ia sudah membayangkan kengerian yang membuat ia bergidik dan menggigil. Dia dijadikan kekasih! Apa artinya ini?

Kedua orang itu memang bukan manusia-manusia, lumrah. Keduanya adalah saudara seperguruan, murid-murid seorang sakti di Pegunungan Himalaya. Keduanya memiliki ilmu kepandaian luar biasa dan tinggi, akan tetapi mempunyai keahlian yang khusus, yaitu membuat pedang yang ampuh. Guru mereka, bertapa di Himalaya itu memang seorang ahli membuat senjata ampuh, di samping memiliki kesaktian yang tinggi. Ketika mereka, kakak beradik seperguruan ini mulai tergoda nafsu berahi di tempat sunyi itu dan melakukan pelanggaran hubungan kelamin, gurunya marah-marah dan mengusir mereka. Mahendra dan Nila Dewi melarikan diri ke tempat asal mereka, yaitu di India Utara. Akan tetapi, di tempat ini pun mereka terkenal sebagai manusia-manusia iblis yang tidak segan melakukan pembunuhan dan perbuatan-perbuatan keji, menculik anak-anak, sehingga akhirnya mereka dimusuhi pemerintah dan kembali melarikan diri. Sekali ini mereka lari ke Nepal dan di negara ini mereka berdua, berkat kepandaian mereka yang tinggi, diangkat menjadi empu-empu pembuat pusaka kerajaan. Di tempat ini mereka dapat bertahan sampai puluhan tahun karena Raja Nepal selalu menyediakan segala kebutuhan mereka, anak-anak kecil untuk dihisap darahnya oleh Mahendra, anak-anak dan dara-dara jelita untuk dijadikan kekasih Nita Dewi yang mempunyai kesukaan aneh sekali, yaitu suka bermain cinta dengan wanita muda cantik!

Sampai berusia empat puluh tahun lebih, kedua orang saudara seperguruan ini masih menjadi kekasih, kadang-kadang bermain-main cinta dengan mesra, akan tetapi kadang-kadang bercekcok sebagai dua orang musuh besar, bahkan tidak jarang mereka bertanding mati-matian!

Akan tetapi, selalu Mahendra yang mengalah karena diam-diam Mahendra benar-benar jatuh cinta kepada adik seperguruannya ini. Karena cintanya yang besar maka dia pun tidak mengganggu kesukaan kekasihnya yang membagi cintanya dengan anak-anak perempuan cantik.

Kehidupan di Nepal membosankan dua orang manusia iblis ini. Apalagi ketika mendengar bahwa di timur terjadi pergolakan perang antar suku, mereka lalu meninggalkan Nepal untuk menonton keramaian. Di mana terjadi perang, di sana akan banyak ditemukan korban-korban mereka!

"Memilih siapa, anak manis?" Nila Dewi bertanya, suaranya halus lemah-lembut dan penuh kasih sayang sehingga sejenak Maya terpengaruh, membuat dia hampir merangkul wanita itu. Akan tetapi dia teringat dan mulailah anak yang memiliki keberanian luar biasa dan yang sudah berhasil mendinginkan hatinya yang tegang itu memutar otaknya. Kalau memilih Mahendra, berarti terus mati dan tidak ada kesempatan menyelamatkan diri. Dia harus hidup. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan dalam hidupnya! Kalau dia memilih Nila Dewi, berarti akan ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.

"Aku memilih Nila Dewi!" katanya lantang.

Nila Dewi girang sekali, sambil memondong Maya dia menari-nari berputaran. Maya merasa heran dan juga kagum karena tarian Nila Dewi sungguh indah. Tubuhnya dapat bergerak-gerak lemah-gemulai, pinggangnya meliak-liuk seperti tubuh ular dan sepasang gelang pada kakinya saling beradu menimbulkan irama seperti musik yang mengiringi tariannya!

"Anak manis! Anak baik! Kekasihku.... aihh, engkau memilih aku, hi-hik!" Nila Dewi menunduk kembali mencium mulut ,Maya, tangan kiri memondong, sedangkan jari-jari tangan kanannya menggerayangi Maya. Maya terkejut sekali dan merasa betapa semua bulu di tubuhnya bangun berdiri penuh kengerian. Sungguhpun wanita ini tidak menjijikkan seperti Bhutan, akan tetapi perbedaannya hanyalah karena Nila Dewi wanita, namun belaian-belaiannya sungguh mengerikan hatinya, memuakkan dan menimbulkan jijik dan takut.

Tiba-tiba Mahendra melompat cepat dan Maya merasa betapa belaian dan ciuman Nila Dewi berhenti, tubuh wanita itu menjadi lemas kemudian roboh bersama dia!

"Mahendra, engkau pengecut curang....!" Nila Dewi mengeluh, berusaha untuk bangkit akan tetapi roboh lagi. Mahendra tertawa-tawa, memeluk Nila Dewi dan memberi ciuman yang membuat Maya yang melihatnya membuang muka. Ketika ia memandang lagi, ternyata Nila Dewi telah duduk bersila dekat pohon, kedua lengan ditelikung ke belakang dan diikat kuat-kuat. Tahulah ia bahwa tadi selagi Nila Dewi mencium dan membelainya, penuh nafsu berahi yang menghilangkan kewaspadaannya, Mahendra telah menyerangnya dan menotok wanita itu roboh terkulai lemas dan tidak dapat melawan lagi!

Timbul rasa takutnya dan ia hendak lari. Akan tetapi, sekali sambar saja Mahendra sudah menangkapnya, kemudian menggunakan sebuah tali panjang mengikat kedua kaki dan tangannya, bahkan tali pengikat kaki yang panjang itu lalu dipergunakan oleh Mahendra untuk menggantung tubuh Maya dari cabang pohon. Tali itu diikatkan pada cabang pohon sehingga tubuh Maya tergantung menjungkir dengan kepala di bawah dan kedua tangannya terikat ke belakang punggung!

"Mahendra!" Nila Dewi yang duduk bersila di bawah pohon itu berteriak. "Kalau engkau membunuh Maya, aku bersumpah untuk membunuhmu!"

Mahendra tertawa, mengeluarkan sebuah mangkok tanah dan sebatang pisau belati yang tajam sekali dari balik baju yang melibat tubuhnya, berkata, "Nila Dewi, engkau tahu bahwa aku tidak akan membunuhnya, betapapun ingin aku menyedot habis darahnya melalui leher dengan jalan menggigit urat lehernya dan menyedot sampai tubuhnya kering, betapa ingin aku membelah kepalanya dan makan otak serta sumsumnya untuk menambah tenaga. Akan tetapi aku ingat akan kebutuhanmu. Tidak, aku tidak akan membunuhnya, maka kukeluarkan pisau dan mangkok ini. Aku hanya akan mengambil darahnya semangkok untuk kuminum, dia tidak akan mati dan engkau masih akan dapat menikmatinya. Boleh bukan?"

"Keparat kau! Iblis kau! Awas kalau sampai dia cacat!" Nila Dewi mencaci-maki.

"Tenanglah, kekasihku. Aku akan mengerjakannya dengan hati-hati sekali agar dia tidak cacad. Aku hanya menginginkan semangkok darah dan.... sedikit sumsumnya. Kalau kukerat sedikit punggungnya, kukeluarkan sumsum dari tulang punggung dan kutadah darahnya, kemudian lukanya kuobati, dia tidak akan cacad, heh-heh!"

"Jahanam sialan engkau!" Nila Dewi memaki gemas, akan tetapi hatinya lega juga karena ia tahu bahwa Mahendra tidak akan membunuh Maya.

Dapat dibayangkan betapa ngerinya hati Maya mendengar percakapan yang dilakukan dalam bahasa Khitan itu. Ia meronta-ronta seperti seekor kelinci, namun tak dapat melepaskan kedua tangannya.

"Heh-heh. merontalah kuat-kuat Anak manis. Agar darahmu lebih cepat alirannya dan lebih hangat!" Mahendra melangkah mendekati Maya dengan sikap seorang yang hendak menyembelih! Maya sudah memejamkan kedua matanya, maklum bahwa menjerit-jerit dan meronta-ronta tiada gunanya lagi. Siapa yang akan dapat menolongnya di dalam hutan ini? Tadi ia sudah menyaksikan kehebatan kedua orang manusia iblis itu, bahkan dia tadi bengong dan diam-diam kagum sekali melihat betapa laki-laki hitam itu memondong dia dan mengempit tubuh Nila Dewi lalu berlari terbang meninggalkan dusun memasuki hutan itu. Biarlah aku mati, keluhnya dalam hati karena tidak melihat harapan lagi.

"Siluman jahat, apa yang kaulakukan?" Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tahu-tahu berkelebat bayangan putih dan tak jauh dari situ berdiri seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti seorang sastrawan. Gerakannya demikian ringan sehingga ia muncul seperti setan! Seruannya itu disusul menyambarnya dua buah benda, yang sebuah menyambar ke arah kening Mahendra di antara kedua mata, yang sebuah lagi menyambar tali yang menggantung tubuh Maya.

"Harrggghhh....!" Mahendra menggereng, marah dan cepat ia melempar tubuh ke belakang. Tali yang menggantung Maya putus disambar benda yang ternyata hanyalah sebuah batu kerikil, dan tubuhnya jatuh ke bawah. Anak yang sudah pandai ilmu silat ini tentu saja dapat menyelamatkan diri dengan cara berjungkir balik dan menjatuhkan diri dengan bahu lebih dulu kemudian bergulingan. Kedua tangan dan kakinya masih terikat dan ia meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan kaki tangannya.

Sementara itu, Mahendra menyerang pendatang itu dengan pisau di tangan kanan dan mangkok tanah di tangan kiri. Gerakan-gerakan Mahendra ketika menyerang amat aneh dan cepat, juga mendatangkan angin keras yang menandakan bahwa tenaga dalam orang ini hebat sekali. Namun berkali-kali Mahendra mengeluarkan seruan kaget dan karena laki-laki itu dapat menandinginya dengan baik sekali, bahkan membalas dengan serangan pukulan ujung lengan baju yang mendatangkan hawa panas tanda sin-kang yang amat kuat!

Siapa pria setengah tua yang perkasa dan sanggup menandingi iblis dari Nepal itu? Dia bukan lain adalah Menteri Kam Liong. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Menteri Kam Liong pergi seorang diri menyelidiki keadaan di Khitan. Dapat dibayangkan betapa duka hatinya ketika mendapat berita bahwa Khitan telah hancur, dan bahwa kini Khitan telah diduduki oleh bangsa Yucen yang berhasil menghalau bangsa, Mongol. Betapa adik tirinya, Raja Talibu dan isterinya telah gugur dalam perang dan bahwa puteri mereka lenyap, melarikan diri, kabarnya menuju ke Go-bi-san mencari kakek dan neneknya. Kalau saja waktunya tidak terbatas dan dia tidak terikat kewajiban pekerjaannya, tentu dia akan menyusul ke Go-bi-san mengunjungi ayahnya, pendekar sakti Suling Emas. Akan tetapi Go-bi-san terlalu jauh dan dia harus segera kembali ke selatan berhubung dengan gawatnya keadaan sebagai akibat pergolakan di utara ini. Maka dengan hati tertekan kedukaan, Menteri Kam Liong melakukan perjalanan pulang ke selatan. Kebetulan sekali di dalam hutan itu ia melihat Mahendra yang hendak menyembelih seorang anak perempuan secara kejam sekali. Kam Liong tidak mengenal Maya, karena memang anak Raja Khitan itu tidak pernah dilihatnya. Disangkanya bahwa anak itu tentulah anak pelarian para pengungsi yang dusunnya dilanda perang.

Diam-diam Kam Liong terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa laki-laki hitam itu lihai bukan main. Terpaksa ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan barulah ia dapat mendesak lawannya. Pertandingan antara mereka berjalan seru dan cepat sekali dan karena Mahendra berkali-kali mundur dan berloncatan menjauh, makin lama dua orang yang bertanding ini makin menjahui tempat di mana Maya berusaha melepaskan ikatan kaki tangannya.

"Maya kekasihku, jangan pergi. Aku akan melindungimu." Nila Dewi berkata. lembut sambil berusaha pula membebaskan ikatan kedua tangannya. Akan tetapi totokan tadi masih membuat tubuhnya lemas dan jalan darahnya tidak lancar maka diam-diam ia memaki Mahendra dan kemudian memejamkan mata untuk memulihkan jalan darahnya. Kalau jalan darahnya sudah pulih, sekali renggut saja tentu akan putus tali pengikat tangannya. Maya agaknya mengerti pula akan hal ini, maka ia pun meronta-ronta dan berusaha mendahului nenek itu untuk melepaskan diri dan lari.

Kalau di sebelah sana tampak berkelebatnya dua bayangan orang bertanding dengan seru, di sini terjadi pula perlombaan yang tidak kalah menegangkan, yaitu Maya berlumba melawan Nila Dewi untuk lebih dulu membebaskan diri dari ikatan. Maya mengerti bahwa kalau dia kalah dalam perlumbaan ini, lenyaplah satu-satunya harapan dan kesempatan untuk melarikan, karena Mahendra yang sakti itu sedang bertanding dengan orang gagah yang menolongnya, maka tentu Nila Dewi akan membawanya lari! Untung bagi Maya bahwa Mahendra yang tentu saja memandang rendah padanya dan memastikan bahwa anak ini tidak mungkin terlepas dari tangannya tadi tidak mengikat terlalu kuat, berbeda dengan ikatan pada kedua lengan Nila Dewi. Kini Maya dengan mata terbelalak memandang ke arah Nila Dewi yang masih menghimpun tenaga untuk memulihkan jalan darah berusaha keras untuk melepaskan ikatan kedua kakinya. Akhirnya ia berhasil melepaskan kakinya dari ikatan. Ia meloncat bangun dan dengan kedua tangan masih terikat di belakang ia melarikan diri.

"Robohlah....!" Tiba-tiba terdengar suara Nila Dewi nyaring dan bagaikan didorong tenaga mujijat Maya terguling roboh! Ia cepat menengok dan melihat Nila Dewi sudah melompat berdiri. Kiranya wanita ini tadi telah menggunakan sin-kang untuk menendangnya dari jarak jauh, akan tetapi penggunaan sin-kang ini melenyapkan tenaga yang sudah mulai terkumpul, ia menjadi lemas kembali dan roboh bersandar batang pohon. Melihat ini, Maya tidak mempedulikan tubuhnya yang babak-belur, terus meloncat bangun dan lari lagi sekuatnya dengan kedua tangan masih terikat!

"Berhenti.... ahhhh, kekasihku, tega engkau meninggalkan aku....?" Nila Dewi berkata, akan tetapi tanpa menengok Maya terus lari secepatnya.

Sementara itu, pertandingan antara Kam Liong dan Mahendra masih berjalan seru. Berkali-kali pisau belati dan mangkok tanah menyambar, namun selalu Kam Liong dapat mengelak atau menangkis dengan kepretan ujung lengan bajunya. Tiba-tiba Mahendra berseru marah sekali dan menyambitkan mangkok tanah pada Kam Liong. Pendekar ini memukul kearah mangkok dengan jari tangan kiri terbuka.

"Brakkk!" Mangkok itu pecah berkeping-keping.

"Mampuslah!" Mahendra berseru dan segulung sinar kuning yang lemas menyambar ke arah kepala Kam Liong. Pendekar ini terkejut melihat betapa lawannya telah melepaskan kain yang melilit tubuh atasnya dan menggunakan kain kuning itu untuk menyerangnya dengan gerakan seperti seorang nelayan melempar jaring ikan!

Cepat ia mengelak, namun kain itu digerakkan secara lihai sehingga kembali telah melayang untuk "menjaringnya"! Kam Liong terkejut. Kiranya lawannya ini benar-benar lihai sekali menggunakan kedua tangannya. Tampak sinar kuning emas berkelebat disusul sinar putih dan dia telah memegang suling emas dan kipasnya.

"Suling Emas....!" Mahendra terkejut, meloncat ke belakang dan.... melarikan diri seperti orang ketakutan melihat setan.

Kam Liong tidak mengejar, sejenak memandang suling di tangannya dan menarik napas panjang penuh kagum. Nama ayahnya, Pendekar sakti Suling Emas, agaknya sedemikian hebatnya sehingga orang hitam aneh tadi pun mengenal senjata itu dan lari ketakutan! Ia cepat meloncat ke tempat di mana anak tadi digantung dan tidak melihat lagi bocah itu, kecuali wanita India yang masih duduk bersandar pohon dan menghimpun kekuatan dalam. Ia merasa lega. Kiranya bocah tadi cukup cerdik dan agaknya berhasil melarikan diri sewaktu penculiknya bertanding melawannya. Dia tidak mengenal dua orang India itu, tidak mempunyai permusuhan dengan mereka. Niatnya hanya menolong anak perempuan itu dan setelah anak, perempuan itu berhasil menyelamatkan diri, dia pun tidak mau mengganggu wanita India yang sedang menghimpun tenaga. Kam Liong menyimpan kedua senjatanya dan berlari pergi meninggalkan tempat itu, melanjutkan perjalanannya pulang ke kota raja di selatan.

Di dalam perjalanan pulang ini, selain berduka atas hancurnya Kerajaan Khitan dan tewasnya adik tirinya Raja Talibu, berprihatin menyaksikan perkembangan bangsa Yucen yang makin kuat juga Kam Liong merasa gelisah memikirkan hal yang selama ini selalu menjadi duri dalam daging baginya. Perjalanannya ke utara telah menghasilkan pendengaran-pendengaran yang makin menggelisahkan hatinya, yaitu tentang desas-desus bahwa di antara para pembesar yang membujuk-bujuk Kaisar untuk memusuhi Khitan, termasuk pula saudara misannya yang bernama Suma Kiat

Suma Kiat adalah putera tunggal mendiang bibinya, yaitu Kam Sian Eng, adik tiri ayahnya Suling Emas. Namun semenjak mudanya, Suma Kiat memiliki watak yang jahat dan palsu (baca cerita MUTIARA HITAM) sehingga ia seringkali bentrok, bahkan terasing dari keluarga keturunan Suling Emas yang terdiri dari para pendekar perkasa yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, mengingat bahwa Suma Kiat masih saudara misannya, Kam Liong yang berwatak budiman merasa kasihan dan berkat usahanya, akhirnya Suma Kiat dapat diterima oleh Kaisar dan menjabat pangkat panglima dalam, pasukan pertahanan pemerintah. Memang Suma Kiat bukan seorang sembarangan, melainkan memiliki ilmu kepandaian yang, amat tinggi mewarisi ilmu-ilmu mendiang ibunya yang dahulu tergolong seorang di antara datuk-datuk persilatan yang disegani. Setelah memiliki kedudukan sebagai panglima, Suma Kiat yang memang berdarah keturunan keluarga Pangeran Suma, menjadi seorang bangsawan terhormat dan disegani pula, hidup mulia dan bahagia dalam gedungnya di kota raja, Selama dia memangku jabatannya, ia bekerja dengan baik dan hal ini sebagian besar adalah karena Suma Kiat merasa takut dan segan terhadap kakak misannya, Menteri Kam Liong yang selain memiliki kedudukan lebih tinggi daripadanya, juga memiliki ilmu kepandaian lebih lihai pula.

Kini Suma Kiat telah menjadi seorang setengah tua dan hidup sebagai seorang bangsawan dalam gedungnya yang indah.

Ia telah menikah dengan seorang wanita bangsawan yang cantik dan mempunyai seorang putera. Puteranya ini bernama Suma Hoat, tampan seperti Ibunya, wataknya juga halus dan lemah-lembut seperti Ibunya. Karena semenjak kecil oleh Ibunya ia dijejali pelajaran sastra dan filsafat, diingatkan bahwa dia adalah keluarga dari pendekar besar Suling Emas, maka sifat-sifat pendekar tertanam di jiwa anak ini. Dia digembleng ilmu silat oleh ayahnya sendiri dan karena bakatnya, dia dapat mewarisi ilmu silat tinggi dari ayahnya. Namun ada satu sifat dari nenek moyangnya, yaitu keluarga Suma, yang agaknya menurun dan mengalir dalam darahnya, yaitu dia dikuasai nafsu berahi dan berwatak mata keranjang!

Selain puteranya sendiri, Suma Kiat juga mempunyai seorang murid lain yang sebetulnya adalah pelayan keluarganya, seorang pemuda yang sebaya dengan puteranya, bernama Siangkoan Lee. Anak ini mukanya buruk seperti muka kuda, pendiam dan rajin. Biarpun bakatnya tidak sebaik Suma Hoat dalam ilmu silat dan sastra namun berkat kerajinannya, dia pun memperoleh kemajuan pesat, terutama sekali dalam ilmu silat karena Siangkoan Lee ini diam-diam mempunyai cita-cita tinggi dan selalu mengumpulkan ilmu-ilmu silat tinggi untuk dipelajarinya. Berkat kerajinan dan keuletannya, akhirnya ia pun diberi pekerjaan di kantor menjadi seorang "bangsawan" kecil, tidak lagi menjadi seorang pelayan.

Banyak hal terjadi sebagai akibat perbuatan keluarga Suma ini yang memaksa Menteri Kam Liong turun tangan dan membuatnya gelisah, dan beberapa hal di antaranya terjadi beberapa tahun yang lalu ketika Suma Hoat dan Siangkoan Lee dua orang murid Suma itu, baru berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Pada suatu hari, Suma Hoat diantar oleh Siangkoan Lee pergi berburu ke hutan. Berburu binatang merupakan sebuah di antara kesukaan pemuda bangsawan ini, di samping kesukaannya mengujungi tempat-tempat hiburan untuk mendengar wanita-wanita cantik bernyanyi dan menari kemudian memilih yang tercantik di antara mereka untuk diajak bersenang-senang.

Dengan menunggang kudanya yang berbulu putih dan tinggi besar, Suma Hoat kelihatan tampan dan gagah perkasa. Pakaiannya serba indah, terbuat daripada sutera halus, rambutnya yang hitam panjang itu dihias dengan hiasan berupa seekor naga emas bertabur batu kemala, gagang pedangnya yang terbuat dari emas menghias punggungnya, wajahnya yang berkulit putih berseri-seri dengan sepasang mata lebar dan lincah pandangnya, bibirnya selalu tersenyum. Banyak wanita akan terguncang hatinya apabila melihat pemuda bangsawan yang tampan ini membalapkan kuda putihnya. Didampingi pemuda Siangkoan Lee yang buruk rupa, Suma Hoat kelihatan lebih tampan lagi.

Para wanita cantik di rumah-rumah hiburan yang semua mengenal baik Suma-kongcu (Tuan Muda Suma) ini, berkumpul di jendela loteng dan melambai-lambaikan saputangan sutera yang harum, melontarkan senyum memikat. Namun Suma Hoat hanya membalas senyuman mereka dan tidak berhenti karena memang sekali ini tidak ingin menghibur hati dengan wanita-wanita cantik itu, melainkan hendak pergi berburu binatang buas di hutan. Pula, ia sudah mulai bosan dengan wanita-wanita cantik yang akan menghibur pria manapun juga asal yang beruang itu, bosan dengan cinta yang diobral mereka, cinta kasih yang dijual.

Dua orang pemuda itu membalapkan kuda mereka keluar dari kota raja dan memasuki dusun-dusun menuju ke hutan yang besar. Di sebuah dusun mereka mendengar keluh kesah rakyat tentang gangguan seekor harimau besar yang sudah banyak mencuri kambing dan kerbau penduduk, bahkan telah membunuh dua orang anak kecil. Mendengar ini, bangkit semangat Suma Hoat untuk membunuh harimau itu.

"Kita harus dapat menangkapnya dan membunuhnya, kalau belum berhasil aku tidak mau pulang!" demikian Suma Hoat berkata kepada Siangkoan Lee, bekas pelayannya, juga yang menjadi sutenya.

"Asal saja dia berani keluar dari tempat sembunyiannya, Kongcu," jawab Siangkoan Lee yang masih menyebut "kongcu" kepada suhengnya itu, mengingat akan kedudukan mereka.

Demikianlah, kedua orang muda itu menjelajah hutan-hutan yang dikabarkan menjadi sarang sang harimau. Telah sepekan lamanya mereka mengintai, menunggu dan mencari, namun hasilnya sia-sia belaka. Harimau besar yang dicari-carinya tidak tampak, Suma Hoat menjadi penasaran sekali. Dia sampai lupa akan niatnya semula, yaitu berburu binatang. Banyak sudah selama sepekan ini dia melihat binatang-binatang hutan, namun semua itu dibiarkannya saja lewat tanpa diusik karena kini seluruh perhatiannya dicurahkan untuk mencari harimau yang telah mengganas di dusun-dusun sekeliling daerah pegunungan itu.

Berkali-kali Siangkoan Lee membujuk kongcunya untuk pulang saja, akan tetapi dengan alis berkerut, Suma Hoat yang berkemauan keras ini malah membentaknya.

"Sudah kukatakan bahwa sebelum berhasil membunuh harimau laknat itu, aku tidak mau pulang. Jangankan baru sepekan, biar selama hidupku di sini aku tetap harus mencarinya sampai dapat!"

Siangkoan Lee yang meninggalkan pekerjaan khawatir kalau-kalau dimarahi majikannya, tetapi ia tidak berani membantah lagi. Siang malam mereka mencari, bahkan kalau malam mereka pun mengintai, baru kalau sudah lelah sekali tidur di bawah pohon saja sambil membuat api unggun. Suma Hoat benar-benar mempunyai kemauan yang keras sekali dan pantang mundur sebelum niatnya terpenuhi.

Pada pagi hari yang ke sembilan, dua orang pemuda itu memasuki hutan yang paling ujung, hutan yang tidak berapa besar akan tetapi yang belum mereka datangi, berada di lereng dekat kaki bukit. Mereka berjalan kaki menuntun kuda masing-masing sambil memandang tajam mencari-cari kalau-kalau ada gerakan binatang yang mereka cari-cari.

Tiba-tiba mereka mendengar suara lapat-lapat, jerit seorang wanita di kaki bukit. Suma Hoat menoleh kepada Siangkoan koan Lee. "Adakah engkau mendengar suara di sana?"

"Siangkoan Lee mengangguk. "Seperti jerit seorang wanita."

"Benar! Kita menunggu apa lagi? Jangan-jangan harimau itu menyerang wanita!" Cepat sekali Suma Hoat sudah melompat ke atas kudanya dan membalap, diikuti oleh Siangkoan Lee.

Setelah menuruni lereng, mereka tiba di jalan umum yang datang dari timur dan dari atas sudah tampak oleh mereka sebuah kereta terguling di pinggir jalan dan beberapa orang laki-laki yang berpakaian pelayan dan pengawal malang-melintang di sekitar tempat itu. Jauh dari kereta itu tampak serombongan orang sedang mengangkuti barang-barang dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki tinggi besar yang menunggang kuda dan memangku seorang wanita yang meronta-ronta dan agaknya wanita itulah yang tadi mengeluarkan jeritan.

"Bukan harimau yang menyerangnya, Kongcu," kata Siangkoan Lee.

"Memang bukan, akan tetapi lebih jahat daripada harimau. Mereka perampok keparat yang bosan hidup! Kaubasmi anak buahnya, aku akan menolong wanita itu!"

Dua orang muda itu membedal kuda mereka dan sebentar saja mereka sudah tiba di tempat itu. Siangkoan Lee sudah meloncat turun dari kuda dan membentak

"Kalian perampok-perampok hina. Tahan dulu!"

Para anak buah perampok yang sedang tertawa-tawa mengangkuti beberapa peti berisi barang-barang berharga seperti perhiasan-perhiasan dan sutera gulungan berkayu-kayu, menjadi marah ketika melihat Siangkoan Lee, seorang pemuda yang masih hijau dan kelihatannya tidak menakutkan itu. Jumlah mereka ada sembilan orang, tentu saja mereka tidak takut.

Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dan kelihatan kuat terbukti dari bawaannya, yaitu sebuah peti yang berat sekali, melangkah maju dan melotot kepada Siangkoan Lee, kemudian membentak, "Eh, bocah bermuka buruk! Kau mau apa?"

"Jawab dulu, apakah engkau ini telah melakukan perampokan dan membunuh para pengawal dan pelayan itu?"

"Ha-ha-ha! Benar sekali! Tidak hanya pengawal dan pelayan, juga tuan besar nyonya besar telah menjadi mayat di dalam kereta! Hanya puterinya, heh-heh, cantik dan menggairahkan, menjadi bagian tai-ong kami! Kau mau bagian? Jangan main-main! Para pengawal yang kuat itu semua mampus oleh kami. Nih, terima bagianmu!" Tiba-tiba Si Tinggi Kurus itu melontarkan peti yang berat ke arah Siangkoan Lee.

Peti yang beratnya lebih dari seratus kati itu melayang ke arah Siangkoan Lee dan para anggauta gerombolan itu tertawa-tawa, yakin bahwa pemuda kerempeng itu tentu akan roboh tertimpa peti dan gepeng tubuhnya. Akan tetapi, suara ketawa mereka terhenti dan mereka melongo ketika melihat Siangkoan Lee menerima sambaran peti itu hanya dengan telapak tangannya dan Si Pemuda kurus itu melontar-lontarkan peti itu ke atas seperti seorang anak kecil mempermainkan sebuah bola karet, kemudian tangan itu mendorong maju, peti melayang ke arah, Si Tinggi Kurus dengan kekuatan dahsyat.

"Ahhh....!" Perampok tinggi kurus itu terkejut, menggunakan kedua tangan untuk menerima peti, akan tetapi tak tertahan olehnya dan dialah yang roboh terjengkang, kepalanya pecah tertimpa peti yang berat!

Para perampok yang tinggal delapan orang itu menjadi marah sekali. Mereka menurunkan bawaan masing-masing, mencabut senjata lalu menerjang Siangkoan Lee seperti serombongan srigala mengamuk. Pemuda kurus ini pun membentak keras dan mencabut sebatang golok melengkung yang amat tajam, memutar golok menghadapi pengeroyokan delapan orang itu tanpa merasa gentar sedikit pun. Ternyata olehnya bahwa para perampok itu bukanlah orang-orang biasa, melainkan penjahat-penjahat kawakan yang pandai ilmu silat dan bertenaga besar. Namun, Siangkoan Lee mainkan goloknya dengan hebat dan sebagai murid yang tekun dari Suma Kiat yang berilmu tinggi, tentu saja gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga sin-kang yang kuat.

Sementara itu, Suma Hoat membalapkan kudanya melewati para anak buah perampok yang ia serahkan kepada sutenya, terus mengejar kepala perampok yang melarikan wanita itu. Karena kepala rampok itu menjalankan kudanya perlahan sambil tertawa-tawa dan tangannya menggerayangi tubuh wanita rampasannya, sambil mencium dan kelihatan makin gembira karena wanita itu meronta-ronta, sebentar saja kuda Suma Hoat telah menyusulnya.

"Berhenti kamu keparat hina!" bentak Suma Hoat dan sekali meloncat tubuhnya sudah berdiri menghadang di depan kuda yang ditunggangi kepala perampok tinggi besar itu. Kepala perampok yang tubuhnya seperti raksasa itu membelalakkan matanya yang lebar. Kumis dan jenggotnya yang tebal bergerak-gerak, mukanya menjadi merah dan dia menjadi marah sekali.

"Heh, siapa engkau bocah yang bosan hidup?" bentaknya sambil melompat turun dan masih memondong wanita yang kini berhenti meronta dan memandang kepada Suma Hoat dengan mata terbelalak seperti seekor kelinci ketakutan, namun dari sinar matanya timbul harapan yang tadinya sudah patah.

"Serrr....!" Jantung Suma Hoat seperti berhenti berdetik tertikam sinar mata itu. Tak disangkanya dia akan melihat seorang dara yang seperti itu. Cantik jelita, manis dan berwajah seperti bidadari! Mengingat betapa tangan kasar dan kotor kepala perampok itu tadi menggerayangi tubuh Si Jelita, apalagi mengingat betapa wajah menyeramkan penuh cambang bauk itu tadi mencium muka yang begitu halus, bibir yang begitu merah segar, kemarahannya meluap dan darahnya seperti mendidih.

"Binatang rendah!" ia memaki sambil menunjuk ke arah muka kepala perampok itu. "Engkau tidak mengenal Suma-kongcu, putera Panglima Suma Kiat? Engkau telah merampok, membunuh orang dan menculik gadis terhormat. Sekarang tibalah saatnya engkau mampus di tangan Suma Hoat!"

"Heh-heh-heh! Aku Si Tangan Besi Ciu Ok mana kenal segala macam bangsawan tukang korup? Kalau engkau sudah bosan hidup, marilah!" Perampok itu melepaskan tubuh dara itu setelah menotok punggungnya membuat dara itu lemas dan rebah miring di atas rumput. "Kautunggulah sebentar, calon biniku, heh-heh! Lihat dan nikmati baik-baik betapa kakandamu membunuh tikus bermuka halus ini!"

Akan tetapi Suma Hoat sudah menerjangnya dengan hebat. Kepala perampok itu menangkis, mengandalkan kekuatan tangannya. Dia dijuluki Tiat-ciang (Si Tangan Besi) karena kedua tangannya amat kuat dan keras seperti besi, hasil latihan ilmu Tiat-ciang-kang yang latihannya menggunakan bubuk besi panas. Akan tetapi begitu ia menangkis, ia terpekik kaget karena lengannya terasa sakit dan ia terhuyung ke belakang. Kudanya kaget, meringkik dan lari.

"Kepala perampok laknat, kematianmu sudah di depan mata!" Suma Hoat yang marah sekali itu sudah menerjang lagi dengan pukulan-pukulan mautnya. Si Kepala Perampok adalah seorang ahli silat, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia tidak dapat dibandingkan dengan Suma Hoat yang memiliki ilmu silat tinggi. Ilmu silat yang dimiliki kepala perampok ini adalah ilmu silat kasar dan dia selama ini hanya mengandalkan kedua tangannya yang kuat. Namun, bertemu dengan pemuda itu, seolah-olah kedua tangannya bertemu dengan baja yang lebih keras lagi!

Setelah tiga kali menangkis dan tiga kali terhuyung dengan lengan terasa nyeri dan panas, kepala perampok itu memekik keras dan mencabut keluar senjatanya berupa sehelai rantai baja yang ujungnya dipasangi bola baja berduri. Cepat ia mengayun senjatanya menerjang lawan.

"Wuuut-wuut-wuuttt....!" Angin menyambar keras ketika bola berduri itu menyambar dan rantainya terputar-putar. Namun dengan mudah Suma Hoat mengelak dan pemuda ini enggan mencabut pedangnya setelah menyaksikan gerakan lawan yang hanya memiliki ilmu silat kasar itu. Dia menghadapi lawan yang bersenjata rantai dengan kedua tangan kosong, mengelak ke kanan kiri dengan lincahnya menanti kesempatan baik.

Dara cantik yang tertotok dan rebah miring, dapat menyaksikan pertandingan itu dan dari mulutnya yang kecil terdengar jerit-jerit tertahan kalau melihat senjata yang dahsyat itu menyambar, mengancam wajah yang halus tampan Si Pemuda penolongnya. Biarpun dara itu tidak pandai ilmu silat, akan tetapi dia merasa heran mengapa pemuda tampan itu tidak mau mencabut pedangnya yang tergantung di punggung!

"In-kong (Tuan Penolong)...., pergunakan. pedangmu....!" Akhirnya ia tidak dapat menahan kekhawatiran hatinya lagi melihat betapa nyaris kepala pemuda itu dihantam bola berduri, begitu dekat bola itu menyambar lewat di atas telinga kiri Suma Hoat. Aneh sekali, dara itu sudah lupa akan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, sebaliknya khawatir kalau-kalau pemuda itu kena pukul dan pecah kepalanya.

Mendengar suara itu, Suma Hoat tersenyum gembira. Aku harus memperlihatkan kelihaianku, pikirnya gembira seperti lazimnya seorang pemuda ingin berlagak memamerkan kepandaiannya di depan seorang dara yang menarik hatinya. Cepat ia merubah gerakannya, sekarang tubuhnya berkelebat cepat sekali sehinga Si Kepala Rampok berkali-kali berteriak kaget karena tubuh lawan seperti lenyap. Tiba-tiba Suma Hoat mendapat kesempatan baik, ketika bola berduri menyambar ia menggunakan tangannya dari samping menangkap bola itu dan sekuat tenaga ia melontarkan bola ke arah muka penyerangnya.

"Prokkk! Adduuuuhhh....!" Tubuh kepala perampok itu terjengkang dan roboh telentang dengan muka berubah menjadi onggokan daging yang remuk dan nyawanya melayang tak lama kemudian.

Dara jelita itu memejamkan mata penuh kengerian, kemudian ia menangis terisak-isak. Suma Hoat cepat berlutut dan sekali totok ia membebaskan tubuh dara itu dari pengaruh totokan Si Kepala Rampok. "Tenanglah, Nona. Bahaya telah lewat. Si Keparat laknat tewas."

Dara itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Hoat, "In-kong telah menyelamatkan nyawa saya, akan tetapi.... hu-hu-huuukkkk.... ayah bundaku telah terbunuh.... di dalam kereta....!”

Suma Hoat terkejut dan marah sekali. "Mari kita lihat, temanku sedang mem­basmi kawanan perampok, perlu bantuan­ku!" Ia lalu menyambar pinggang dara itu, dibawa meloncat ke atas punggung kudanya yang tidak lari karena kuda itu sudah terlatih baik, kemudian membalapkan kudanya ke arah pertempuran yang masih berlangsung dekat kereta.

Ternyata bahwa Siangkoan Lee dengan mudah telah merobohkan tiga orang pe­ngeroyok dengan goloknya dan kini yang lima orang masih mengeroyoknya mati­-matian. Melihat ini Suma Hoat sambil memeluk pinggang dara itu dengan le­ngan kiri, mencabut pedang dengan ta­ngan kanan, kudanya menyerbu, pedang­nya berkelebat dan terdengarlah pekik-­pekik kesakitan dan empat orang peram­pok roboh dan tewas. Siangkoan Lee berhasil merobohkan perampok terakhir dan Suma Hoat setelah menyimpan pe­dangnya lalu menurunkan tubuh dara itu. Sambil terisak-isak dara itu berlari ke arah kereta yang rebah miring, membuka pintunya dan menjerit-jerit memanggil ayah bundanya.

Suma Hoat meloncat dekat kereta. Cepat ia mengeluarkan tubuh seorang setengah tua yang terluka dadanya. Orang itu masih hidup dan cepat pemuda ini mengeluarkan obat luka yang merah warnanya, mengobati luka itu dan mem­balutnya. Ayah dara itu masih hidup biarpun terluka parah, akan tetapi ibunya telah tewas karena tusukan pedang yang menembus jantungnya!

"Terima kasih.... Kongcu.... saya Ciok Khun menghaturkan terima kasih kepa­damu...."

"Paman hendak pergi ke manakah?" Suma Hoat bertanya, hatinya seperti ditusuk-tusuk karena kasihan melihat dara itu menjerit-jerit memeluki mayat ibunya.

Dengan suara tersendat-sendat laki-laki itu bercerita. Dia tinggal di dusun Kwi-bun-an, tak jauh dari kota raja. Mereka, suami isteri itu, hendak mengan­tarkan anak dara mereka yang bernama Ciok Kim Hwa, yang hendak dljodohkan dengan putera bangsawan Thio di kota raja. Karena itulah maka mereka berke­reta membawa barang-barang berharga, dikawal oleh pasukan bangsawan Thio yang menjemput mereka dan yang ter­bunuh semua oleh para perampok.

"Siangkoan Lee, kau cepat antarkan Paman Ciok dan barang-barang serta jenazah ini ke kota raja. Biar aku yang mengawal Ciok-siocia, kata Suma Hoat. Siangkoan Lee mengangguk, maklum bahwa keadaan orang yang terluka perlu perawatan dengan cepat dan bahwa kalau Si Nona ikut dalam kereta, tentu nona itu akan berduka sekali menyaksikan jenazah ibunya. Maka ia lalu mengumpul­kan barang-barang yang berceceran, di masukkan barang-barang itu ke dalam kereta, kemudian ia mengikat kudanya di depan dua ekor kuda penarik kereta dan membalapkan kereta ke kota raja.

"Mari, Nona. Kau akan kukawal ke kota raja dan jangan khawatir, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa raga­ku."

Ucapan ini membuat wajah Si Dara Jelita menjadi merah, akan tetapi ke­dukaannya terlalu besar sehingga me­ngurangi rasa kegembiraan aneh yang menyelinap di rongga dadanya ketika ia duduk atas panggung kuda, di depan pemuda tampan yang telah menolongnya itu.

Selama hidupnya, baru pertama kali itu Suma Hoat mengalami hal yang aneh dalam hatinya. Jantungnya berdebar luar biasa sekali, rasa girang yang amat besar menyelimuti hatinya, dan di balik rasa girang ini terselip rasa sakit di hatinya ,karena dara ini hendak dikawinkan de­ngan orang lain! Kekecewaan yang amat keras dan aneh. Mengapa dia menjadi begini? Tak dapat disangkal bahwa dia selalu tertarik oleh wajah cantik jelita, akan tetapi selamanya dia tidak pernah menginginkan wanita yang menjadi milik orang lain!

"Eh, Suma Hoat, kau ini mengapa­kah?" Berulang-ulang ia bertanya kepada dirinya sendiri, tak terasa lagi menjalan­kan kudanya perlahan karena dia tidak ingin cepat tiba di kota raja, tidak ingin dirampas kenikmatan dan kebaha­giaan hatinya duduk berdua di atas kuda bersama dara yang bernama Ciok Kim Hwa ini!

Kereta yang dibalapkan Siangkoan Lee sudah jauh sekali dan sudah tidak tam­pak, juga tidak terdengar derap kaki, kuda dan roda kereta.... Suma Hoat tak dapat menahan getaran hatinya dan ia bertanya halus,

"Nona...." Ia meragu dan tidak melan­jutkan kata-katanya.

Dara itu menanti sebentar, karena lama pemuda itu tidak melanjutkan, dia menoleh dan berkata, "Ada apakah, In­kong?"

Suma Hoat memejamkan mata karena tidak kuat menyaksikan wajah yang be­gitu dekat dengannya, mencium bau ha­rum yang keluar dari rambut dan muka dara itu.

"Kenapa, In-kong?" tanya Kim Hwa yang terheran-heran melihat pemuda itu memejamkan mata.

"Jadi.... Nona akan.... menikah dengan pemuda keluarga Thio....?"

Wajah itu tiba-tiba menjadi merah sekali dan cepat dipalingkan tidak berani menentang pandang mata Suma Hoat. Sampai lama nona itu tidak menjawab dan Suma Hoat merasa betapa tubuh didepannya itu gemetar. Akhirnya ter­dengar nona itu menjawab lirih.

"Bu.... bukan pemuda, melainkan se­orang duda tua, adik dari Thio-taijin....!"

Suma Hoat mengangkat alisnya dan membelalakkan matanya. "Seorang duda tua?"

Dara itu mengangguk dan menarik napas panjang.

"Kenapa engkau mau, Nona?"

Kim Hwa mengangkat muka meman­dang. "Bagaimana saya dapat menolak kehendak orang tua, In-kong? Yang me­lamar adalah Thio-taijin untuk adiknya yang sudah mempunyai belasan orang anak, dan yang telah mempunyai banyak selir pula. Bagaimana saya dapat meno­lak....?" Kalimat terakhir itu mengandung isak dan Kim Hwa menundukkan muka, kelihatan berduka sekali.

"Ah, kasihan engkau, Nona. Seorang dara semuda Nona, cantik jelita, dipaksa menikah dengan seorang bandot tua!" Suma Hoat merasa penasaran sekali dan mendengar ucapan Suma Hoat, Kim Hwa terisak-isak menangis sesenggukan. Suma Hoat merasa makin kasihan. Dengan ge­rakan halus ia menyentuh pundak yang bergoyang-goyang itu dan berkata,

"Jangan menangis, Nona, dan jangan berputus asa. Seperti telah kukatakan tadi, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku. Kalau engkau tidak suka menikah dengan duda tua keluarga Thio itu, kautolak saja dan aku yang akan melindungimu!”

Ucapan penuh semangat ini membuat Kim Hwa menjadi terharu dan berterima kasih sekali sehingga tangisnya makin mengguguk. Ketika Suma Hoat menghi­burnya dengan mengelus rambut kepala­nya yang hitam panjang dan halus, Kim Hwa tersedu dan merebahkan kepalanya di atas dada Suma Hoat! Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, tanpa kata-kata namun keduanya yakin apa yang terjadi dengan perasaan hati masing-masing. Kuda yang mereka tunggangi berjalan perlahan seenaknya, agaknya tidak mau mengganggu majikan­nya yang sedang dilanda asmara. Jari­-jari tangan Suma Hoat yang mengelus-­elus rambut itu seolah-olah mengeluar­kan getaran yang membuat Kim Hwa memejamkan mata dengan sepasang pi­pinya, yang menjadi kemerahan.

Tiba-tiba kuda putih yang tadinya melangkah, perlahan dan tenang, meng­hentikan langkahnya hidungnya kembang-kempis, kemudian mengeluarkan suara meringkik keras dan keempat kakinya menggaruk-garuk tanah.

"Eh, Pek-ma (Kuda Putih), ada apakah?" Suma Hoat yang sedang diterbang­kan ke angkasa kemesraan itu terkejut, melepaskan belaian tangannya pada rambut Kim Hwa dan cepat menyambar kendali untuk menguasai kudanya.

Sebagai jawaban, tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan hutan itu, gerengan seekor harimau yang ber­ada di dalam gerumbulan dan yang kini keluar sambil memandang ke arah kuda.

"Celaka, In-kong....!" Kim Hwa men­jerit penuh kengerian dan kedua lengan­nya otomatis merangkul pinggang pemuda itu, tubuhnya gemetar.

"Tenanglah, Nona. Aku memang se­dang mencari-cari harimau itu. Mari kita turun dan kautunggu saja di sini sampai aku selesai membunuh pengganggu dusun-dusun ini."

Tanpa menanti jawaban, Suma Hoat sudah memondong tubuh Kim Hwa turun dari atas punggung kuda putih yang juga berdiri menggigil ketakutan. Ia menurun­kan Kim Hwa yang berdiri dengan muka pucat di dekat kuda, matanya terbelalak memandang ke arah harimau yang besar­nya luar biasa dan kepada penolongnya yang kini melangkah maju menghampiri harimau dengan senyum tenang di wajahnya yang tampan!

Suma Hoat memandang harimau yang dihampirinya itu penuh kagum. Pantas saja penduduk dusun tidak berdaya meng­hadapi pengganggu ini. Kiranya seekor harimau yang luar biasa besarnya, sebe­sar anak lembu, dengan matanya yang liar tajam dan sikapnya yang angkuh dan memandang rendah seperti sikap seorang raja besar!

"In-kong...., pedangmu.... gunakan pe­dangmu....!" Terdengar suara Kim Hwa gemetar penuh kekhawatiran. Dara ini melihat betapa penolongnya itu sudah dekat sekali dengan harimau akan tetapi masih saja bertangan kosong. Hanya orang gila saja yang melawan harimau sebesar itu dengan tangan kosong, pikir­nya, maka karena kekhawatirannya, ia memaksa diri memperingatkan. Mendengar ini Suma Hoat menoleh dan ter­senyum!

"Kim Hwa-moi, jangan khawatir. Dia ini bagiku hanyalah seekor kucing...."

"Awas.... ah, In-kong....!" Kim Hwa menjerit. Akan tetapi tanpa diperingat­kan juga, telinga Suma Hoat yang terla­tih sudah mendengar gerakan harimau itu dan dengan mudah saja ia menggerakkan tubuh ke kiri mengelak, dari tubrukan dahsyat itu. Akan tetapi harimau itu benar-benar berbeda dengan harimau-harimau biasa yang pernah ditangkap dan dibunuh Suma Hoat dengan tangan kosong. Begitu tubrukannya luput dan kakinya menyentuh tanah, tubuh harimau itu sudah membalik dengan cepat sekali, kedua kaki depan mencakar dari kanan kiri dan kaki bela­kangnya mengenjot tanah sehingga tubuh­nya kembali sudah menerkam ke arah Suma Hoat!

"In-kong....!" Suara jerit Kim Hwa mengandung isak.

Suma Hoat terkejut dan kagum me­nyaksikan ketangkasan dan kecepatan harimau yang amat besar itu. Timbul rasa sayangnya dan ia hendak mengambil kulit binatang besar ini tanpa cacad.

Ketika tubuh yang menubruknya itu me­layang ke arahnya, ia cepat menyusup ke bawah perut harimau sehingga kembali tubrukan itu luput dan sebelum harimau dapat membalik, Suma Hoat telah me­nangkap ekornya yang panjang, menge­rahkan tenaga dan.... tubuh harimau itu terangkat dan diputar-putar di atas kepa­lanya! Harimau meronta-ronta dan meng­gereng-gereng berusaha mencakar atau menggigit tangan kuat yang memegangi ekornya.

Penglihatan itu mengerikan dan menegangkan sekali. "In-konggg...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.166.214
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia