Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Jodoh Rajawali

Seri : Bu Kek Siansu #10

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Kaisar pertama yang bertahta di Kerajaan Ceng-tiauw, yaitu kera­jaan penjajah Mancu yang menguasai Tiongkok, merupakan kaisar yang sampai puluhan tahun dapat mempertahankan kedudukannya, mengatasi banyak pem­berontakan dan perebutan kekuasaan. Kaisar tua ini mulai bertahta dalam tahun 1663 dan dapat mempertahankan kedudukannya ini selama lima puluh sem­bilan tahun!

Pada awal tahun 1700 terjadilah pem­berontakan dua orang pangeran kakak beradik, yaitu Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong, adik-adik tiri kaisar pertama itu, ialah Kaisar Kang Hsi. Dua orang pangeran yang men­coba untuk berkhianat terhadap kaisar itu melakukan pemberontakan yang nya­ris menggulingkan kedudukan kaisar, atau sedikitnya telah menggegerkan kota raja. Akan tetapi akhirnya berkat bantuan para menteri dan panglima yang setia, apalagi karena bantuan Puteri Milana yang terkenal gagah perkasa dan pandai, pemberontakan itu dapat digagalkan, bahkan dua orang pangeran pengkhianat itu dapat ditewaskan.

Akan tetapi, pemberontakan ini de­ngan segala akibatnya menggores hati kaisar yang sudah tua itu, karena, per­tama dia merasa kecewa dan terkejut melihat kenyataan betapa dua orang adik tiri yang dipercayanya itu betul-betul melakukan pemberontakan terhadapnya. Ke dua, melihat bahwa dia terpaksa membiarkan dua orang adiknya itu tewas. Dan ke tiga, perpecahan-perpecahan yang diakibatkan oleh pemberontakan itu di­antara ponggawa dan pembantunya.

Lima tahun telah lewat sejak pem­berontakan itu dapat ditumpas. Namun, biarpun pemberontakan telah dipadamkan dan dua orang pangeran tua itu telah tewas, peristiwa yang mengakibatkan perpecahan di kalangan atas, dan meng­akibatkan timbulnya sikap curiga-mencurigai di antara mereka, mempunyai pengaruh besar terhadap para pembesar atasan yang mempengaruhi pula para anak buah mereka dan terasa pula ke­tegangan-ketegangan yang timbul di an­tara kelompok satu dan kelompok lain sehingga rakyat pun merasa gelisah.

Peristiwa itu banyak mengurangi ke­daulatan dan wibawa Kaisar Kang Hsi. Kaisar tua itu tidak kuat lagi mengen­dalikan kemudi pemerintahannya yang dilanda gelombang perpecahan itu. Ba­nyak raja-raja muda, gubernur-gubernur dan panglima-panglima komandan barisan di perbatasan yang menguasai daerah propinsi yang jauh letaknya dari kota raja, sedikit demi sedikit dan secara halus tidak menyolok mulai memisahkan diri dari pusat. Mereka itu masing-masing menyusun kekuatan dan berusaha meng­atur daerah kekuasaan masing-masing seperti seorang raja. Semua hasil pe­mungutan pajak dan lain-lain mereka simpan sendiri, dan kalau pun sebagai basa-basi mereka masih mengirimkan hasil daerah mereka ke kota raja, maka yang dikirim itu tidak ada artinya di­bandingkan dengan hasil yang masuk.

Tentu saja tidak semua pembesar bersikap demikian. Banyak pula yang semenjak semula berpihak kepada kaisar, masih merupakan pembesar yang setia. Oleh karena itu timbullah pertentangan diam-diam antara para pembesar dan pertentangan ini tentu saja menimbulkan keadaan yang kacau dan tidak aman. Biarpun dari pusat sendiri tidak atau belum ada tindakan apa-apa, namun an­tara para pembesar yang setia kepada kaisar dan yang hendak memisahkan diri, terdapat pertentangan baik secara sem­bunyi-sembunyi maupun secara terang­-terangan sehingga sering pula terjadi pertempuran-pertempuran kecil antara pembesar yang mempertahankan daerah kekuasaannya masing-masing hanya kare­na urusan perairan, urusan perdagangan dan lain-lain.

Semua bentuk permusuhan, baik di­mulai dari permusuhan perorangan sampai kepada perang dunia, adalah pencetusan dari sifat mementingkan diri pribadi dan manusia. Sifat mementingkan diri pribadi ini yang didorong oleh keinginan menge­jar kesenangan, menimbulkan ambisi-­ambisi pribadi dan dalam pengejaran ambisi-ambisi pribadi inilah terjadi ke­kerasan, saling menjegal, saling me­robohkan dan saling membunuh demi mencapai ambisi pribadi. Kalau hanya begitu saja kiranya masih mending, akan tetapi yang lebih celaka lagi adalah ke­nyataan bahwa di dalam pengejaran am­bisi pribadi itu, dalam menghadapi sa­ingan, mereka tidak segan-segan untuk mempergunakan tenaga orang lain, bahkan tidak segan-segan mengorbankan orang-orang lain yang tak terhitung ba­nyaknya, dengan menggunakan kedok perjuangan dan sebagainya yang muluk-­muluk untuk menutupi dasar perbuatan mereka yang sesungguhnya, yaitu demi kepentingan diri mereka sendiri! Hal seperti ini merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia, kenyataan yang ter­jadi berulang-ulang selama ribuan tahun lamanya, namun sampai kini pun masih ada saja manusia yang berhati srigala bermuka domba, mengorbankan banyak orang demi tercapainya cita-cita atau ambisi mereka dan menggunakan slogan­-slogan muluk, dan anehnya masih banyak pula orang-orang yang begitu bodohnya, mudah saja diperalat oleh beberapa ge­lintir orang dengan umpan slogan muluk­-muluk.

Demikianlah, daerah-daerah yang ber­batasan antara propinsi, bahkan antar karesidenan atau kabupaten, sering kali terjadi kekacauan dan permusuhan karena perpecahan itu. Dan siapakah yang men­derita? Lagi-lagi rakyat jelata. Di waktu perang terlanda oleh kejamnya peperang­an, dirampok dan dibakar. Di waktu da­mai terlanda kejamnya para pembesar atau penguasa yang korup. Demikianlah nasib rakyat kecil yang tidak berdaya. Akibat pertentangan-pertentangan antara pembesar yang memperebutkan kebenaran mereka sendiri itu tentu saja melalaikan penjagaan dan muncullah segala macam orang yang biasa mempergunakan ke­kacauan untuk mengail di air keruh,yaitu kaum maling, rampok, bajak dan sebagainya. Hal seperti ini tentu saja mendatangkan perasaan prihatin dalam hati para pembesar yang berjiwa pah­lawan, yang berjiwa pemimpin dan yang benar-benar mementingkan kehidupan rakyat jelata.

Akan tetapi, Kaisar Kang Hsi yang sudah tua itu sama sekali tidak menya­darinya. Bahkan kematian dua orang adlk tirinya itu, pemberontakan mereka itu membuat dia merasa tidak suka kepada orang-orang yang menentang dua orang adiknya yang memberontak itu, karena dianggapnya bahwa merekalah yang mem­buat dua orang pangeran itu tidak suka dan memberontak. Mulailah kaisar ini menyingkirkan orang-orang yang tidak disukainya ini, orang-orang yang dengan gigih menentang dua orang pangeran pemberontak. Sikap kaisar seperti ini tentu saja mengakibatkan terpecahnya para pembantu yang dekat dengannya, yaitu mereka yang prihatin melihat ulah kaisar, dan mereka yang menggunakan kesempatan ini untuk menjilat. Penjilatan ini pun hanya merupakan percerminan dari keinginan menyenangkan diri pribadi yang ingin mencari kedudukan, dan pen­jilatan itu hanya merupakan “cara” mere­ka untuk dapat mencapai ambisi mereka. Mulailah bermunculan “jari-jari maut” dan “bibir-bibir berbisa” yang tunjuk sana-sini, bisik sana-sini untuk menjatuhkan fitnah kepada orang-orang yang dibenci.

Melihat keadaan ini, para pembesar yang setia kepada negara mulai melaku­kan gerakan halus, diam-diam mereka mencalonkan seorang kaisar baru untuk menggantikan kaisar yang lalim itu. Me­reka ini tidak rela melihat pemerintah dan rakyat dirusak oleh ulah kaisar tua yang agaknya sudah pikun.

Akan tetapi, orang yang paling me­rasa sengsara hatinya adalah seorang panglima besar yang merupakan orang paling tinggi pangkatnya di dalam ang­katan perang Kerajaan Ceng-tiauw. Orang ini bukan lain adalah Jenderal Kao Liang, yang diangkat menjadi panglima besar setelah pemberontakan itu dapat ditum­pasnya. Akan tetapi, melihat sepak ter­jang kaisar, Jenderal Kao yang jujur itu tidak rela dan tidak dapat diam saja. Pada suatu hari, dengan terang-terangan dia menghadap kaisar dan memperingat­kan kalsar akan penyelewengannya.

Aklbatnya hebat! Karena marah, ter­utama karena suara-suara hasutan dari kanan kiri, kaisar yang tidak berani menghukum panglima terkenal ltu se­cara berterang, lalu menggunakan siasat halus. Jenderal Kao di “pensiun”! Jen­deral Kao diberhentlkan dengan hormat dan dipersilakan untuk “beristirahat” menikmati hari tua dan diberi bekal banyak harta benda oleh kaisar.

Sungguh kaisar tua itu telah linglung. Dia sama sekali tidak tahu bahwa peng­hentian Jenderal Kao ini membuat para panglima dan gubernur yang berkuasa di propinsi-propinsi yang berjauhan, yang menganggap diri sendiri sebagai raja-­raja, bersorak kegirangan dan menjadi lega hati mereka. Betapa tidak? Jenderal Kao seoranglah yang mereka takuti se­hingga mereka masih belum berani me­misahkan diri secara berterang. Mereka merasa ngeri kalau membayangkan be­tapa Jenderal Kao yang galak dan pandai itu membawa pasukan menghukum mere­ka. Akan tetapi kini Jenderal Kao sudah dihentikan dari jabatannya, sudah dipen­siun dan menjadi rakyat biasa! Jenderal Kao tanpa pasukan bukan merupakan tokoh yang menakutkan lagi.

Malam itu bulan purnama tersenyum cerah di angkasa. Tiada awan nampak menghalangi sinar bulan yang lembut dan bulan yang bundar itu seperti sebuah bola emas tergantung di langit biru. Malam hening dan sejuk sungguhpun tiada angin menggerakkan daun-daun pohon yang mengapit lorong di dalam hutan itu. Dan celah-celah daun, sinar bulan me­nerobos dan menerangi lorong yang di­tilami daun-daun kering yang lunak dan agak lembab di malam itu.

Malam sudah agak larut, akan tetapi di lorong itu masih ada serombongan orang yang bergegas jalan tanpa berkata-­kata, di tengah-tengah mereka terdapat beberapa orang yang memikul tandu-tandu. Kalau datang dari jurusan ini, lorong melalui hutan itu merupakan jalan satu-­satunya yang terdekat untuk memasuki daerah Kang-lam. Melihat orang-orang yang berjalan di depan dan di belakang rombongan tandu itu berpakaian seragam, dan selalu siap memegang golok dan tombak,, mudah diduga bahwa rombongan itu tentulah rombongan pembesar dan mereka itu tentu pasukan pengawal.

Dugaan ini memang tidak keliru ka­rena rombongan itu adalah rombongan Jenderal Kao Liang dan keluarganya. Setelah dipensiun dan dihentikan dari jabatannya, jenderal ini maklum bahwa dia tidak berdaya lagi untuk bertindak sebagai jenderal, maka dia lalu mengum­pulkan semua harta miliknya, dan meng­ajak keluarganya untuk menlnggalkan kota raja, kembali ke tempat kelahiran­nya atau tempat kampung halamannya, yaltu di daerah Kang-lam. Dan ingin mendinginkan hati dan pikirannya yang panas, kemudian baru hendak memutus­kan apa yang dapat ia lakukan untuk negara dan bangsanya dalam keadaan seperti itu.

Tiba-tiba tirai penutup tandu yang paling depan tersingkap dan terdengarlah suara yang berat dan penuh wibawa, yang ditujukan kepada seorang bertubuh tinggi kurus yang memakai pedang di pinggangnya, yaitu kepala pengawal yang jumlahnya dua losin orang itu.

“Kepala pengawal! Kita berhenti se­bentar di sini agar para pemikul tandu dapat beristirahat.”

Kepala pengawal itu sambil masih berjalan mengiringkan tandu itu mem­bungkuk dan berkata, nada suaranya sung­guh-sungguh, “Yang Mulia, tidakkah lebih baik kalau kita melanjutkan perjalanan sampai kita keluar dari hutan ini baru beristirahat? Di dalam hutan begini ke­adaannya amat berbahaya karena bahaya dapat muncul dari mana-mana tanpa kita ketahui, tersembunyi di balik pohon-­pohon dan semak-semak, berbeda kalau berada di tempat terbuka di mana kita dapat menghadapi ancaman bahaya se­cara terbuka. Daerah ini terkenal sebagai daerah yang sering diganggu oleh pe­nyamun-penyamun yang berkepandaian tinggi.”

“Hemmm.... siapakah yang kaumak­sudkan dengan penyamun-penyamun ber­kepandaian tinggi? Mana ada penyamun berkepandaian tinggi kalau mereka itu bukan bekas orang-orangnya Tambolon? Ataukah dari golongan lain? Bukankah kabarnya mereka semua sudah dihalau dan dibasmi oleh Pendekar Super Sakti dan kedua anak dan mantunya, Puteri Milana dan pendekar sakti Gak Bun Beng?”

“Paduka belum mengetahui perkem­bangan yang terjadi di dunia hitam selama satu dua tahun ini. Di daerah ini pernah terjadi bentrokan-bentrokan hebat antara dua golongan hitam, yaitu golong­an perampok Gunung Cemara di sebelah selatan lembah melawan golongan bajak di timur lembah, di sepanjang Sungai Huang-ho.”

“Hemmm, sungguh menarik ceritamu. Lalu bagaimana akhir pertempuran di antara mereka?” tanya orang tua ber­suara berat dan berwibawa itu yang bu­kan lain adalah Jenderal Kao Liang sen­diri.

Pertempuran itu hebat dan makan banyak korban di antara kedua fihak, akan tetapi setelah muncul seorang Pen­dekar berambut putih yang sangat lihai dan melerai di antara mereka, pertem­puran segera berhenti dan berakhir.”

“Pendekar rambut putih? Ho-ho, itu­lah Pendekar Super Sakti!” Jenderal Kao Liang berseru sambil tertawa girang.

“Bukan, Yang Mulia. Bukan beliau. Pendekar itu masih sangat muda, dan kakinya utuh, tidak buntung sebelah se­perti kaki Pendekar Siluman”

“Ehhhhh? Bukan Pendekar Siluman?” Jenderal Kao makin terheran dan ingin sekali tahu.

“Benar, bukan Pendekar Siluman. Akan tetapi karena kepandaiannya juga hebat luar biasa seperti bukan manusia, apalagi rambutnya juga putih terurai bagaikan benang perak seperti rambut Pendekar Siluman, maka orang menamakan dia Pendekar Siluman Kecil.”

“Hemmm.... sungguh luar biasa. Ba­gaimana mukanya, apakah wajahnya tam­pan ataukah buruk mengerikan?”

“Itulah yang aneh, Yang Mulia. Orang tidak pernah bisa melihat wajahnya de­ngan jelas karena sebagian dari mukanya tertutup oleh rambutnya yang terurai itu, dan gerakannya amat cepat saperti meng­hilang saja.”

Jenderal Kao mengangguk-angguk, lalu menarik napas panjang seperti orang termenung. “Bukan main! Memang di dunia ini banyak orang-orang muda yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan watak yang aneh-aneh.”

“Benar, Tuanku. Bahkan putera sulung Paduka sendiri memiliki kepandaian yang amat hebat dan kabarnya tidak kalah dibandingkan dengan Majikan Pulau Es, Pendekar Siluman itu sendiri.”

“Hemmm.... agaknya begitulah. Akan tetapi sayang dia tidak berada di sini. Sudahlah, kau hentikan perjalanan ini,jangan takut, kita tetap beristirahat di sini. Sejak dahulu aku tidak pernah ber­musuhan dengan golongan sesat secara pribadi, maka perlu apa kita mengkha­watirkan gangguan mereka?”

Kepala pengawal itu tidak berani membantah lagi dan dia pun maklum akan kelihaian jenderal tua ini, apalagi di dalam rombongan itu terdapat pula dua orang puteranya yang biarpun tidak sepandai putera sulung Jenderal itu, na­mun juga bukanlah orang-orang lemah. Selain itu, dia sendiri pun mempunyai dua losin anak buah yang cukup kuat, maka perlu apa mereka takut beristira­hat di dalam hutan ini? Dia lalu meng­angkat tangan kanan ke atas, mengeluar­kan aba-aba yang cukup nyaring sehingga terdengar oleh semua anak buahnya, “Berhentiiiii....! Kita beristirahat di si­ni....!”

Rombongan itu berhenti dan para pemikul tandu menjadi lega hatinya ka­rena memang mereeka sudah merasa lelah sekali, membutuhkan peristirahatan yang cukup untuk mengumpulkan kembali tenaga mereka. Para pengawal lalu ber­gerak memenuhi perintah kepala pengawal, ada yang mencari kayu-kayu kering dan ada yang membuat api unggun, ada pula yang mulai menyedu air dan sebagian dari mereka melakukan tugas menjaga di sekitar tempat itu. Mereka adalah pe­ngawal-pengawal yang terlatih dan semua bekerja sesuai dengan tugas mereka yang telah dibagi-bagi oleh kepala pengawal.

Jenderal Kao Liang turun dari atas tandunya yang telah diletakkan di atas tanah. Jenderal ini usianya sudah hampir enam puluh tahun, akan tetapi berdirinya tegak, dengan dadanya yang bidang itu menonjol ke depan, perutnya besar akan tetapi kokoh, rambutnya sudah setengah putih, dan biarpun dia kini bukan seorang panglima lagi, namun dari sikapnya jelas dapat dilihat bahwa dia adalah seorang yang biasa mengatur banyak orang, me­miliki wibawa dan ketegasan. Kini jenderal itu duduk di atas sebuah batu besar. Bulan purnama yang sinarnya gemi­lang itu sudah berada di atas kepala, sebagian sinarnya menerobos di antara daun-daun pohon menimpa tempat yang dijadikan peristirahatan rombongan ini. Dua orang pemuda yang berwajah tampan dan bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah berdiri di belakang bekas jenderal ini. Yang seorang berusia dua puluh satu tahun, bernama Kao Kok Tiong, putera ke dua dari jenderal itu, sedangkan pe­muda yang ke dua berusia delapan belas tahun, bernama Kao Kok Han, putera ke tiga atau bungsu dari Jenderal Kao Li­ang. Agaknya dua orang putera ini mak­lum pula bahwa tempat itu mencurigakan dan berbahaya, maka mereka siap di dekat ayah mereka untuk sewaktu-waktu membantu apabila tenaga mereka diper­lukan. Sedangkan para keluarga wanita dan anak-anak yang ikut di dalam rom­bongan itu tetap berada di dalam tandu-­tandu yang dikumpulkan di tempat terbuka di antara pohon-pohon di tengah­-tengah tempat itu dan terlindung oleh para pengawal yang melakukan penjagaan di sebelah tempat peristirahatan itu. Segera api unggun bernyala besar, me­nerangi dan menghangatkan tempat itu,juga mengusir nyamuk yang mulai be­terbangan menyerang mereka.

Kepala pengawal tinggi itu meng­hampiri Jenderal Kao, memberi hormat dan berkata, “Karena perbekalan air habis, saya mohon perkenan Paduka un­tuk mencari air bersih.”

Jenderal Kao mengangguk. “Pergilah.”

Kepala pengawal bersama lima orang anak buahnya yang membawa guci-guci tempat air, segera pergi meninggalkan tempat itu memasuki hutan untuk men­cari air jernih dengan bantuan sinar bu­lan purnama yang masih terang tidak terhalang awan sedikit pun. Para penga­wal lainnya, sambil berjaga-jaga, me­lepaskan lelah dan duduk di tempat pen­jagaan masing-masing mengelilingi tem­pat itu sambil membuat api unggun sendiri.”

“Ayah, silahkan minum.” Kao Kok Tiong mengeluarkan tempat airnya dan memberikan kepada ayahnya.

“Kok Han, kaulihat apakah ibumu baik-baik saja, dan beri ibumu minum dan tawarkan kalau-kalau dia lapar dan ingin makan atau ingin sesuatu,” kata Jenderal Kao Liang sambil menerima tempat minum puteranya yang ke dua, minum beberapa teguk dan mengembali­kannya kepada Kok Tiong. Sedangkan Kok Han lalu menghampiri tandu ibunya dan kelihatan dia bicara dengan nyonya tua di dalam tandu, kemudian pemuda ini pun memeriksa tandu-tandu lain.

Jenderal Kao Liang ditemani dua orang puteranya lalu duduk melepaskan lelah di dekat api unggun, wajah jenderal itu muram karena dia teringat akan ke­adaan dirinya. Negara sedang kacau, ter­jadi perpecahan dan pertentangan di­antara para kaki tangan pemerintah, dan dia, yang sesungguhnya amat dibutuhkan di saat negara menghadapi bayangan ancaman pemberontakan, dia malah di­hentikan! Dia mengerti bahwa penghenti­annya itu adalah fitnah atau hasil bujuk­an mulut beracun kepada kaisar. Akan tetapi kaisar sendiri yang memutuskan itu, tentu saja dia tidak berdaya dan tidak berani atau lebih tepat, tidak mau membantah. Dia adalah seorang jenderal yang setia, yang rela mempertaruhkan jiwa raganya demi negara. Maka baginya, kehilangan kedudukan itu bukan apa-apa. Dia sama sekali tidak mementingkan diri pribadi, akan tetapi dia merasa prihatin melihat betapa kedudukan kerajaan amat lemah dan bahaya mengancam dari setiap penjuru. Jenderal Kao Liang mengepal tinjunya yang besar dan keras. Biarpun dia sudah bukan panglima lagi, akan tetapi dia tidak akan membiarkan para pengkhianat memberontak. Kalau terjadi hal itu, dia akan membantu negara dan akan membersihkan para pemberontak! Demikian tekad hatinya. Akan tetapi dia harus menyelamatkan keeluarganya dulu, membawa mereka ke kampung halaman­nya di mana mereka akan hidup tente­ram. Setelah itu, dia akan bebas berbuat apa saja, dan dia akan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di kota raja.

“Ayah, sungguh mengherankan sekali, mengapa Cio-ciangkun belum juga kem­bali dari mencari air,” tiba-tiba Kok Tiong berkata dan memandang ke kanan kiri dengan alis berkerut karena pemuda ini merasa tidak enak hati. Sudah hampir setengah jam kepala pengawal she Cio itu pergi mencari air bersama lima orang anak buahnya, namun belum juga kem­bali.

“Mungkin sukar mencari air di sini,” kata Jenderal Kao Liang.

“Akan tetapi, belum lama tadi rom­bongan kita melewati sebuah sumber air, dan untuk pergi mengambil air ke sana makan waktu sebentar saja,” bantah Kok Tlong.

“Hemmm, kalau begitu suruh wakilnya pergi menyusu!”

Kok Tiong lalu mencari wakil kepala pengawal dan wakil ini segera mengajak dua orang anak buahnya untuk pergi menyusul atau mencari komandan Cio yang sejak tadi pergi mencari air. Kok Tiong yang sudah mulai bercuriga itu menanti dengan hati tegang. Sampai setengah jam kemudian, wakil itu pun belum juga kembali, demikian pula Cio­ ciangkun belum juga kembali.

“Ayah, saya khawatir terjadi sesuatu dengan mereka,” Kok Tiong berkata dan kini Jenderal Kao juga mulai merasa curiga. “Biar saya pergi membawa pasu­kan pengawal untuk mencari mereka.”

Jenderal Kao Liang mengerutkan alis­nya dan menggeleng kepala. “Jangan! Kalau benar ada terjadi sesuatu yang tidak beres, jelas bahwa fihak sana hen­dak memecah belah kita. Agaknya selagi kita bersatu mereka tidak berani turun tangan, maka kalau kau pergi membawa pasukan, berarti siasat mereka untuk memecah kekuatan kita berhasil.”

Kok Tiong mengangguk-angguk, diam-­diam kagum akan kecepatan pikiran ayahnya dalam menghadapi keadaan yang mencurigakan itu. “Lalu bagaimana baik­nya, Ayah? Ibu juga sudah menaruh cu­riga dan tadi sudah beberapa kali me­nanyakan mengapa pengawal-pengawal yang pergi mencari air belum juga kem­bali.”

“Sebaiknya kita melanjutkan perjalan­an saja, selain untuk keluar dari hutan ini, juga agar ibumu tidak menjadi gelisah. Siapkan semua pasukan pengawal,dan kauwakili Cio-ciangkun.”

Kok Tiong, dibantu oleh Kok Han adiknya, cepat melakukan perintah ayah­nya dan tak lama kemudian berangkat­lah rombongan itu dikawal oleh pasukan pengawal yang kini berkurang dengan sembilan orang jumlahnya. Malam sudah agak larut, sudah hampir tengah malam, bulan sudah berada di atas kepala dan tak lama kemudian rombongan ini sudah mulai tiba di pinggir hutan karena pohon-­pohon sudah mulai jarang. Cuaca makin terang karena pohon-pohon tidak seba­nyak tadi, kanan kiri lorong tidak se­lebat tadi. Akan tetapi karena peristiwa menghilangnya sembilan orang itu membuat semua orang merasa curiga dan te­gang, mereka melakukan perjalanan de­ngan diam-diam dan suasana menjadi sunyi bukan main, yang terdengar hanya daun-daun kering terinjak kaki dan napas pemikul tandu.

Tiba-tiba semua orang terkejut dan Jenderal Kao cepat membuka tirai tan­dunya dan mengulurkan tangan ke luar sambli berseru, “Berhenti....!”

Tanpa komando sekalipun, semua orang memang sudah berhenti dengan kaget karena mereka semua mendengar suara hiruk-pikuk, teriakan-teriakan bi­sing seperti suara banyak orang sedang bertempur di luar hutan itu. Jenderal Kao Liang sudah meloncat ke luar dari tandunya dan memberi isyarat dengan tangan agar semua pasukan pengawal berkumpul, mengelilingi tandu-tandu yang dikumpulkan di situ dan siap siaga. Se­mua pengawal mencabut golok masing-­masing dan berjaga-jaga dengan hati pe­nuh ketegangan. Akan tetapi tentu saja mereka tidak merasa takut, karena di situ terdapat Jendera Kao Liang dan dua orang puteranya. Bagi para pengawal itu, lebih baik langsung menghadapi musuh daripada keadaan penuh rahasia seperti lenyapnya sembilan orang kawan mereka tadi.

“Ayah, biar saya pergi menyelidiki.” kata Kok Tiong.

“Saya akan menemani Tiong-ko,” kata pula Kok Han.

Jenderal Kao Liang menggeleng ke­palanya. “Jangan, kita tunggu saja di sini. Kita sudah kehilangan sembilan orang pembantu, sebaiknya kita bersatu menghadapi musuh. Biarkan mereka me­nyerang, kita siap saja menyambut, akan tetapi lebih dulu biar aku yang bicara dengan pemimpin musuh.”

Dua orang pemuda itu tidak mem­bantah, akan tetapi menanti di situ sam­bil mendengarkan suara pertempuran yang tidak kelihatan itu menegangkan hati juga. Di dalam hati Jenderal Kao Liang sendiri, timbul berbagai pertanya­an. Dia merasa yakin bahwa pertempuran yang terjadi di luar hutan itu tentu ada hubungannya dengan lenyapnya Cio-ciang­kun dan delapan orang anak buahnya, akan tetapi apa yang terjadi sesungguh­nya dia tidak dapat memastikan. Apakah pertempuran di luar hutan itu hanya merupakan pancingan belaka? Apakah memang ada golongan hitam yang meng­incar rombongannya? Sebagai seorang bekas panglima besar yang pensiun dan kini menuju ke kampung halamannya, tentu saja rombongannya membawa harta benda yang cukup banyak. Mungkin saja ada golongan hitam yang memang meng­incar dan hendak merampas harta yang dibawa rombongannya. Ataukah Cio ciangkun dan anak buahnya yang meng­hilang itu mungkin berkhianat dan ber­sekongkol dengan golongan hitam? Mere­ka itu telah menjadi korban dan tewas oleh golongan hitam, ataukah diam-diam bersekongkol dengan mereka? Dan siapa yang bertempur di luar hutan itu?

Tiba-tiba saja, seperti terdengar tadi, suara hiruk-pikuk pertempuran itu ber­henti. Berhenti sama sekali dan tidak terdengar suara sedikit pun. Suasana kembali menjadi sunyi. Bahkan terasa jauh lebih sunyi daripada tadi sebelum ada suara pertempuran. Kini sunyi yang menyeramkan. Beberapa orang pengawal menggigil, sebagian karena dingin hawa malam itu, sebagian besar pula karena merasa seram. Memang amat menyeram­kan kesunyian tiba-tiba itu setelah tadi mereka dicekam ketegangan suara per­tempuran di luar hutan. Jenderal Kao menanti sejenak, khawatir kalau-kalau fihak musuh memang sengaja memancing dan hendak menjebak. Akan tetapi sam­pai lama tidak terdengar suara apa pun dan kini daun-daun mulai berkelisik kare­na mulai tengah malam itu angin meng­gugah daun-daun pohon yang tadinya tidur.

Setelah ternyata benar-benar tidak terdengar lagi suara, Jenderal Kao lalu memanggil Kok Han, puteranya yang bungsu, “Kok Han, kaubawa sepuluh orang perajurit pengawal dan selidiki di luar hutan depan itu. Akan tetapi jangan melibatkan diri dalam pertempuran. Ka­lau ada penyerangan, tarik kembali pa­sukanmu ke sini.”

“Baik, Ayah.” Kok Han lalu mengajak sepuluh orang pengawal, berindap keluar dari tempat itu menuju ke tempat dari mana tadi terdengar suara pertempuran, yaitu di sebelah depan. Jenderal Kao Li­ang tidak mengutus puteranya yang leblh besar karena penjagaan di situ lebih penting diperkuat daripada rombongan penyelidik itu.

Kao Kok Han membawa sepuluh orang pengawal keluar dari hutan dan tak lama kemudian tibalah dia di tempat pertem­puran tadi, di luar hutan. Akan tetapi tidak kelihatan seorang pun manusia di situ. Yang ada hanya bekas-bekas per­tempuran yang agaknya memang hebat dan seru. Beberapa batang pohon roboh dan darah berceceran di mana-mana, akan tetapi tidak ada sebuah pun mayat tampak di situ. Sungguh mengherankan sekali, seolah-olah yang melakukan per­tempuran tadi bukan manusia, melainkan setan-setan dan siluman-siluman peng­huni hutan dan yang kini semua telah menghilang kembali.

Setelah memeriksa dengan teliti, Kok Han lalu mengajak pasukan kecil itu kembali ke dalam hutan menghadap ayah­nya. Jenderal Kao Liang juga merasa terheran-heran mendengar pelaporan puteranya itu.

“Tidak ada mayat sebuah pun? Jangan-­jangan itu hanya pancingan dan jebak­an, kata Jenderal Kao Liang sangsi.

“Akan tetapi jelas ada tanda-tanda bekas pertempuran hebat, Ayah,” Kok Han berkata. “Darah berceceran di mana­-mana dan senjata-senjata golok dan pe­dang berserakan di sekitar tempat itu, bahkan ada pohon-pohon yang tumbang. Melihat bekas-bekasnya, tentu itu me­rupakan haslil kerja seorang yang me­miliki ilmu kepandaian hebat.”

Suasana menjadi makin tegang, akan tetapi Jenderal Kao Liang segera meng­hentikan dugaan-dugaan di dalam hati semua pengawal itu dengan kata-kata yang nyaring dan tegas, “Apapun yang terjadi, harap tenang dan menanti ko­mando. Sekarang kita melanjutkan per­jalanan, tidak perlu tergesa-gesa dan semua pengawal harap waspada dan siap siaga.

Rombongan bergerak lagi dan kini Jenderal Kao Liang sendiri tidak naik tandu melainkan ikut berjalan kaki, bah­kan berada di bagian paling depan ber­sama Kao Kok Han, sedangkan Kao Kok Tiong menjaga di bagian belakang me­lindungi rombongan itu.

Tidak terjadi sesuatu sampai rom­bongan ini tiba di tempat pertempuran yang tadi telah diselidiki oleh Kok Han. Jenderal Kao Liang yang mengkhawatir­kan adanya jebakan, mengangkat tangan­nya dan rombongan itu pun berhenti lagi. Tempat pertempuran ini sudah berada di luar hutan, di tempat terbuka sehingga dapat menampung sinar bulan sepenuh­nya. Semua orang memandang ke kanan kiri ke arah batang-batang pohon dan semak-semak belukar, semua mata ter­belalak mencari-cari sesuatu, semua teli­nga memperhatikan setiap suara yang mungkin terdengar.

Tiba-tiba semua orang menengok ke kiri karena mereka mendengar sesuatu. Juga para wanita dan anak-anak yang menyingkap tirai tandu mengintai, me­nengok ke kiri dan terdengarlah jerit-­jerit tertahan dari para wanita dan anak-­anak itu ketika mereka melihat seorang yang berlumuran darah merangkak keluar dari semak-semak!

“Dia.... Hun Kai....!” Tiba-tiba se­orang di antara para pengawal berseru ketika dia mengenal wajah yang berlumuran darah itu.

Jenderal Kao yang kini juga mengenal seorang di antara para pengawal yang lenyap tadi, cepat memandang pe­nuh selidik ke arah belakang orang itu, kemudian dengan langkah lebar dia meng­hampiri orang yang sudah terguling di atas rumput itu, lalu berjongkok dan bertanya, “Apa yang telah terjadi?”

“....Yang Mulia.... hati-hatilah.... ada.... seorang akan.... membunuh se­luruh.... rombongan.... i.... ni.... aughhh....!” Dia terkulai dan tewas di saat itu juga.

Semua orang mendengar ucapan itu dan banyak wajah menjadi pucat seke­tika. Para wanita menjadi panik dan memeluk anak-anak mereka, para penga­wal dengan geram memutar tubuh me­mandang ke empat penjuru. Jenderal Kao Liang berdiri dan berkata, suaranya lan­tang, “Jangan takut dan panik. Tenang­lah! Apapun yang terjadi, kita masih hidup dan selamat, dan tidak seekor setan pun yang akan dapat dengan mudah membunuh kita selama aku masih berdiri di sini!” Jelas bahwa jenderal tua ini menjadi marah sekali dan dia menduga bahwa semua pengawal tadi tentu tewas. Sayang bahwa pengawal yang bemama Hun Kai itu tewas sebelum dapat men­ceritakan dengan jelas apa yang terjadi.

“Paman.... Paman Hun Kai.... ceri­takanlah, di mana adanya teman-teman yang lain?” Kok Han mengguncang­-guncang tubuh pengawal itu, berusaha untuk menyadarkannya agar pengawal itu dapat menceritakan sejelasnya. Akan tetapi tubuh yang diguncang-guncang itu terkulai lemas dan tidak dapat memberi jawaban.

“Sudah, Kok Han, tidak ada gunanya lagi. Dia sudah mati,” kata Jenderal Kao Liang. “Hayo cepat gali lubang kuburan untuk dia!” perintahnya dan kini para pengawal cepat menggali lubang kemudi­an mengubur mayat itu. Setelah itu, Jenderal Kao Liang memerintahkan agar rombongan melanjutkan perjalanan. Kini jumlah pengawal hanya tinggal enam belas orang saja, dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dan dua orang pute­ranya.

Adapun jumlah tandu semuanya ada enam buah yang memuat isteri dari Jen­deral Kao Liang, isteri dari Kao Kok Tiong, bibinya, yaitu adik perempuan Nyonya Jenderal yang sudah menjadi janda bersama dua orang anaknya, laki­-laki dan perempuan yang sudah remaja, kemudian dua orang anak Kok Tiong sendiri, dan dua orang inang pengasuh perempuan. Tandu bekas tempat Jenderal Kao Liang dibiarkan kosong dan masih dipikul oleh dua orang pemikul tandu. Jadi bersama dengan enam belas orang pengawal, masih ada dua puluh empat orang pemikul tandu karena tandu-tandu yang memuat orang dipikul oleh empat orang.

Setelah malam lewat dan tidak ter­jadi sesuatu, Jenderal Kao memerintah­kan rombongannya berhenti di kaki bukit untuk beristirahat dan menggunakan kesempatan itu untuk tidur secara bergilir­an. Sampai matahari naik tinggi mereka mengaso dan setelah mereka semua ma­kan, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki bukit yang cukup sukar. Lorong kecil pendakian itu diapit-apit tebing tinggi dan batu kapur.

Ketika rombongan membelok di atas lorong yang tertutup tebing tinggi di kedua tepinya itu, merupakan tempat yang amat berbahaya, tiba-tiba mereka berhenti lagi dan suasana mulai tegang. Lorong itu tertutup oleh sebatang balok besar sekali yang melintang di jalan! Kembali hati mereka menjadi tegang karena jelaslah bahwa balok besar itu tidak mungkin bisa berada di situ tanpa ada yang menaruhnya, dan melihat balok itu melintang menghalang jalan, jelaslah bahwa itu tentu perbuatan mereka yang hendak menentang rombongan atau se­tidaknya mempunyai niat buruk. Jelas bahwa gerombolan orang jahat sudah mulai memperlihatkan gerakan dan tentu sebentar lagi akan muncul. Semua orang siap siaga dan Jenderal Kao Liang sen­diri sudah meraba gagang pedangnya. 8ahkan Kok Tiong dan Kok Han sudah mencabut pedang masing-masing dan ber­dri di kanan kiri ayah mereka.

Akan tetapi, semua ketegangan urat syaraf itu temyata sia-sia belaka, karena ditunggu sampai lama sekali, tidak ada terjadi sesuatu. Sampai capai rasanya mata mereka karena jarang berkedip me­mandang ke kanan kiri, depan belakang dan atas bawah, namun tidak terdengar sesuatu dan tidak nampak sesuatu yang bergerak. Hati mereka menjadi kesal juga, akan tetapi diam-diam mereka bersyukur bahwa tidak ada musuh datang menyerbu. Karena kalau hal itu terjadi, sungguh amat berbahaya. Tempat itu sangat ber­bahaya dan tidak menguntungkan bagi mereka untuk menghadapi musuh. Berada di lorong yang diapit-apit dinding batu tinggi terjal itu, mereka amat lemah dan andaikata ada beberapa orang musuh melempar-lemparkan batu dari atas te­bing, mereka akan tak berdaya dan akan terkubur hidup-hidup.

Setelah jelas ternyata bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada musuh akan menyerbu, Jenderal Kao Liang se­gera memerintahkan sepuluh orang pe­mikul joli yang bertubuh kuat-kuat untuk menyingkirkan balok besar yang melintang di tengah jalan itu. Pekerjaan itu dilakukan tanpa ada kesukaran apa-apa, dan karena tidak ada tempat untuk mem­buang balok itu, maka sepuluh orang tukang pikul tandu itu lalu meletakkan balok perintang itu di tepi lorong. Ke­mudian rombongan itu melanjutkan per­jalanan dengan hati-hati.

Akan tetapi belum ada sepuluh lang­kah mereka bergerak, tiba-tiba dua orang pemikul tandu kosong berteriak aneh dan roboh, disusul oleh teriakan-teriakan delapan orang pemikul tandu lain yang juga terguling roboh dan menyebabkan orang-orang yang naik tandu itu pun ber­teriak-teriak kaget dan kesakitan. Jen­deral Kao Liang cepat meloncat men­dekati dan dengan mata melotot dia me­lihat betapa sepuluh orang ini adalah se­puluh orang yang tadi menyingkirkan balok besar. Kini tangan mereka mem­bengkak, tubuh mereka kejang dan ber­kelojotan, tak lama kemudian mereka itu terkulai mati dengan tubuh di jalari warna hitam dari tangan sampai ke muka me­reka.

“Jangan pegang....!” Jenderal Kao membentak kepada para pengawal, pe­mikul tandu, dan dua orang puteranya ketika mereka ini mendekat. “Mereka keracunan!”

Keadaan menjadi makin panik dan dua orang putera jenderal itu segera me­nolong dua orang inang pengasuh yang tandunya terbalik. Kemudian dengan mu­ka merah padam saking marahnya, Jen­deral Kao Liang mengajak dua orang puteranya untuk naik ke atas tebing. Jenderal yang sudah tua masih gagah sekali dan dengan mudahnya dia mendaki tebing yang amat terjal itu, diikuti oleh Kok Tiong dan Kok Han yang harus me­ngerahkan ginkang mereka untuk dapat mengikuti ayahnya mendaki tempat yang amat berbahaya itu. Gerakan mereka cepat dan gesit, dan mereka itu terus mendaki naik, diikuti oleh pandangan mata mereka yang merasa gelisah dan tegang dari bawah.

Setelah tiba di atas tebing di bukit itu, Jenderal Kao Liang dan putera-­puteranya melihat ke kanan kiri dan tampaklah oleh mereka seorang laki-laki yang kelihatan masih muda sedang duduk di atas sebongkah batu besar, membela­kangi mereka, tidak jauh dari tempat itu dan mereka mendengar betapa laki-laki yang masih muda itu sedang bersenan­dung, senandung yang terdengar me­nyedihkan seperti orang berkeluh-kesah, sambil berdongak memandang awan ber­arak di angkasa.

Karena di tempat itu sunyi tidak ada orang lain kecuali orang muda yang ber­senandung itu, Jenderal Kao Liang tidak merasa syak lagi bahwa tentu inilah orangnya yang mengganggu rombongan­nya, maka dia lalu cepat menghampiri, diikuti oleh Kok Tiong dan Kok Han. Akan tetapi agaknya orang itu merasa atau mendengar kedatangan mereka. Dia menoleh sehingga nampak separuh muka­nya, kemudian orang itu bangkit, meng­hentikan senandungnya dan melangkah perlahan menjauhkan diri. Tentu saja Jenderal Kao dan dua orang puteranya meloncat dan cepat melakukan pengejar­an. Mereka bertiga menggunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar dan menangkap orang itu.

Akan tetapi, sungguh aneh bukan main! Kelihatannya saja orang itu me­langkah perlahan-lahan, akan tetapi me­reka bertiga tidak pernah dapat men­dekatinya. Hal ini membuat Jenderal Kao menjadi penasaran sekali, penasaran dan marah. Tahulah dia bahwa pasti orang itu yang mengganggunya, atau setidaknya tentu merupakan seorang di antara ge­rombolan yang mengganggu rombonganya. Maka dia mempercepat larinya me­ngejar dengan geram. Akan tetapi, begitu jarak mereka mulai berdekatan dan me­reka mulai dapat menyusul, tiba-tiba orang itu menggerakkan tubuhnya dan sebuah loncatan yang mentakjubkan hati Jenderal Kao dilakukan orang itu. Tubuh­nya melayang seperti seekor burung ter­bang melayang saja dan sekali melompat sudah meninggalkan mereka, kemudian berjalan lagi dengan tenangnya.

Orang itu naik turun tebing dan akhirnya lenyap ke dalam hutan di depan. Jenderal Kao Liang terkejut bukan main, kalau dikehendaki, orang itu dengan mu­dah saja dapat melenyapkan diri sejak tadi, akan tetapi kenapa agaknya sengaja memancing mereka untuk mengikuti sam­pai jauh? Celaka, terlalu ini pancingan yang dalam ilmu perang disebut “meman­cing” harimau meninggalkan sarangnya”. Dia dan dua orang puteranya sengaja dipancing meninggalkan rombongannya yang kini hanya dilindungi oleh para pengawal yang sudah kehilangan kepalanya.

“Cukup! Tidak perlu mengejar terus. Mari kita cepat-cepat kembali!” Jenderal Kao Liang yang merasa curiga dan kha­watir itu berkata kepada dua orang puteranya. Mereka bergegas kembali ke tempat tadi, di mana rombongan mereka tadi mereka tinggalkan. Ketika mereka akhirnya dapat menuruni tebing terjal dan tiba di tempat tadi, dari atas jan­tung mereka sudah berdebar keras penuh kekhawatiran dan ketegangan, setelah tiba di tempat itu, mereka memandang dengan mata terbelalak dan kedua ta­ngannya mengepal tinju, kumis dan jenggotnya seolah-olah berdiri saklng marahnya. Dua orang puteranya juga terbelalak, menoleh ke kanan kiri, kemudian meman­dang kepada ayah mereka dengan sinar mata bingung dan gelisah.

Betapa mereka tidak akan bingung dan gelisah? Semua tandu telah lenyap dari situ, tandu-tandu yang membuat Nyonya Kao Liang, Nyonya Kao Kok Tiong, bibi mereka, anak-anak Kok Tiong, anak-anak bibi mereka, dan dua inang pengasuh, serta harta benda mereka se­mua telah lenyap. Dan di tempat itu menggeletak berserakan mayat-mayat para pengawal mereka, dan para tukang pikul tandu-tandu itu. Tidak ada seorang pun diantara mereka itu yang masih hidup, semua telah tewas dalam keadaan mengerikan!

“Keparat....! Bedebah....!” Jenderal Kao Liang memaki-maki, kemudian dia menjambak rambutnya sendiri penuh pe­nyesalan. “Bodoh kau! Tolol kau!” Dia memaki diri sendiri, kemudian menjatuh­kan dirinya di atas tanah sambil ber­topang dagu. Betapa dia tidak akan menyesal? Jenderal Kao Liang telah ber­puluh tahun berkecimpung di dalam bi­dang kemiliteran, entah sudah berapa ratus kali menghadapi lawan-lawan tang­guh dan lihai, sudah biasa bersiasat dan mengadu kepintaran dengan fihak lawan. Dia merupakan seorang ahli siasat yang biasa mengatur puluhan, bahkan ratusan ribu perajurit di medan perang. Dia di­takuti dan disegani oleh musuh di me­dan perang karena kemahirannya bersiasat. Akan tetapi kini, menghadapi per­jalanan rombongan keluarganya, meng­hadapi gangguan seperti itu saja dia telah terkecoh dan dipermainkan orang secara habis-habisan, sampai seluruh anak buah pengawalnya tewas semua dan se­luruh anggauta keluarganya diculik orang, semua harta benda yang dibawanya di­curi orang. Dan dia tidak tahu bagai­mana hal itu dilakukan, tidak tahu pula siapa yang melakukannya dan ke mana keluarganya dibawa pergi. Sungguh me­malukan dan menggemaskan sekalil

“Ayah....!” Tiba-tiba terdengar Kok Han memanggilnya.

Jenderal Kao menoleh dan dia melihat puteranya yang bungsu itu sedang jongkok di depan sesosok di antara ma­yat-mayat yang berserakan di situ. Me­lihat sikap puteranya, dan kini Kok Tiong juga lari menghampiri adiknya, Jenderal Kao lalu bangkit dan menghampiri tem­pat itu.

Jenderal Kao Liang juga terheran­-heran ketika dia melihat mayat yang di­tunjuk oleh puteranya itu. Mayat seorang wanita! Bukan anggauta keluarganya, dan tentu saja bukan seorang diantara para pengawal. Mayat wanita yang menindih seorang laki-laki, kedua tangan wanita itu mencekik leher laki-laki itu, demikian hebatnya sampai kuku-kuku tangan wa­nita itu terbenam ke dalam leher! Akan tetapi, tangan laki-laki itu memegang golok kecil dan agaknya ketika wanita itu mencekiknya, laki-laki itu berhasil menghujamkan golok kecil itu ke lambung si wanita sampai masuk dalam se­kali. Terang bahwa mereka tadi bertem­pur dan keduanya tewas dalam pertem­puran ini.

“Sungguh aneh....” Jenderal Kao Liang berkata. “Aku tidak pernah melihat wa­nita ini.... dan entah siapa pula laki-­laki di bawahnya itu.” Dengan ujung se­patunya, Jenderal Kao Liang membalik­kan tubuh wanita itu sehingga terpisah dari mayat laki-laki yang ditindihnya. Tampaklah kini seorang laki-laki yang berpakaian seperti seorang petani, se­orang yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, gagah perkasa dan bertubuh kokoh kuat, sedangkan wanita itu ber­wajah kejam dan usianya sudah tiga pu­luh tahun lebih.

“Heee! Bukankah dia ini.... seperti.... seperti Hok-ciangkun!” Tiba-tiba Kok Tiong berseru heran.

Jenderal Kao Liang mengangguk. “Sungguh aneh! Dia memang Hok-ciang­kun, pengawal istana kepercayaan Kaisar. Kenapa dia sampai berada dl sini? Siapa pula wanita ini? Terang bahwa dia ber­kelahi dengan Hok-ciangkun, akan tetapi kenapa? Dan mengapa pula Hok-ciangkun berpakaian menyamar seperti petani?”

Jenderal Kao dan dua orang putera­nya menjadi bingung. Siapakah orang-orang yang telah memusuhi mereka? Kenapa mereka membunuh para pengawal dan menculik wanita-wanita dan anak­-anak? Dan kenapa pula agaknya terjadi perkelahian antara mereka sendiri? Jenderal Kao dan dua orang puteranya lalu mulai memeriksa dan makin heranlah mereka bertiga ketika melihat bahwa temyata di antara mayat-mayat itu ter­dapat pula mayat-mayat yang tidak me­reka kenal di antara tumpukan mayat-­mayat pengawal mereka sendiri dan tu­kang-tukang pikul tandu.

“Kita harus mencari keluarga kita!” Jenderal Kao mengepal tinju. “Aku harus bisa berhadapan dengan pengecut-pengecut itu!” Dia marah sekali, akan tetapi ke mana dia harus mencari? Lorong itu berbatu sehingga sukar mencari jejak mere­ka yang membawa pergi tandu-tandu itu.

“Apa ini....?” Jenderal Kao Liang membungkuk dan dengan hati-hati me­meriksa sebuah benda putih mangkilap yang terletak di dekat mayat si wanita tadi. Teringat akan racun hebat yang agaknya dilumurkan pada balok, Jenderal Kao Liang memeriksa dengan teliti se­belum mengambilnya. Setelah yakin bah­wa benda itu tidak beracun, dia meng­ambil dan mengamat-amatinya. Benda itu bentuknya bulat seperti sebuah lencana. Di tengah-tengahnya terlukis seekor bu­rung garuda berwarna hitam sedang me­mentang sayap dan di bawah gambaran burung itu terdapat dua buah huruf yang berbunyi “BHOK TIN” (Pasukan Kayu). Lencana itu sangat indah buatannya, dari perak murni. Milik siapakah lencana ini? Wanita itukah? Apa artinya lencana ini? Jenderal Kao tidak dapat memecahkan rahasia ini dan dia mengantongi lencana perak itu, lalu berkata kepada kedua orang puteranya yang tentu saja merasa bingung dan berduka sekali, “Mari kita berusaha mencari mereka!”

Dua orang muda itu hanya mengang­guk lesu dan mereka segera berjalan cepat untuk ke luar dari jalan bertebing tinggi itu. Akan tetapi ketika mereka tiba di jalan tikungan dan sudah ke luar dari lorong bertebing, mereka dikejutkan oleh penglihatan yang mengerikan. Di jalan itu bertebaran mayat-mayat orang yang memenuhi jalan, banyak sekali jum­lahnya, kurang lebih ada seratus buah mayat! Seperti dalam perang kecil saja.

Jenderal Kao berhenti dan meman­dang ke sekeliling dan alisnya yang tebal itu berkerut. Dia tidak merasa ngeri melihat ini. Sudah biasa dia menyaksikan pemandangan seperti ini di medan pe­rang, bahkan pernah melihat puluhan ribu mayat berserakan. Akan tetapi rasa hati­nya tidak seperti sekali ini karena se­karang, keluarganya yang langsung ter­libat.

Mereka lalu memeriksa mayat-mayat itu dan di antara mayat-mayat itu ter­dapat beberapa mayat wanita yang me­makai seragam hitam dengan gambar cacahan (tatoo) berbentuk burung garuda di telapak tangan mereka.

“Heiii! Ini seperti penjaga gardu di depan gerbang istana!” teriak Kok Tiong sambil menuding sebuah mayat yang menggeletak miring dengan kepala pecah.”Dan ini juga! Itu ada pula pengawal Hok-ciangkun!”

“Jelaslah sudah bahwa ada pasukan pengawal istana bertempur di sini. Akan tetapi mengapa pasukan pengawal istana berkeliaran di sini? Apakah tugas mere­ka? Dan sungguh aneh, mengapa mereka tidak memakai pakaian seragam dan menyamar sebagai orang-orang biasa? Peristiwa apakah yang menyebabkan Kai­sar mengerahkan pasukan-pasukan penga­wal istana ke tempat ini?” Jenderal Kao berkata perlahan seperti bertanya-tanya kepada diri sendiri, sedangkan dua orang puteranya juga ikut memikirkan perta­nyaan ayahnya itu. Sungguhpun mereka tidak dapat mencari alasan-alasan dan sebab-sebabnya, akan tetapi di dalam hati mereka timbul dugaan bahwa adanya pasukan-pasukan pengawal istana di tempat itu tentu ada hubungannya de­ngan berangkatnya rombongan keluarga mereka meninggalkan kota raja menuju ke kampung halaman mereka.

Suasana tempat itu sungguh mengeri­kan. Matahari sudah condong ke barat, beberapa saat lagi senja akan tiba. Me­reka bertiga duduk kecapaian di atas batu di antara. mayat-mayat yang ber­serakan. Mereka merasa lelah sekali, lelah lahir batin. Mereka menghadapi misteri yang tak dapat mereka pecahkan. Keanehan-keanehan yang terjadi bertubi-­tubi ditambah lenyapnya keluarga mereka membuat pikiran Jenderal Kao Liang yang biasa tenang dan cerdik itu menjadi keruh. Jenderal yang gagah perkasa itu kelihatan lebih tua sepuluh tahun dari keadaan biasanya karena tekanan batin yang hebat, karena kekhawatiran akan keselamatan isteri dan keluarganya. Ingin mereka itu mengejar dan kalau perlu berkelahi mati-matian untuk melindungi keluarga mereka, akan tetapi mereka tidak tahu harus mencari ke mana. Me­reka tidak tahu siapa penculiknya, di mana tempatnya, bahkan tidak tahu pula mengapa keluarga mereka diculik. Kalau mereka itu menghendaki harta benda, tentu hanya harta benda saja yang di­rampas, tidak perlu menculik keluarga mereka. Kalau mereka itu musuh yang mendendam, tentu keluarga mereka sudah dibunuh seperti halnya para pengawal,dan tidak diculik seperti sekarang ini.

Mungkinkah pemuda aneh yang lihai dan yang bersenandung sedih itu yang melakukan penculikan? Ah, tidak mung­kin. Karena mereka bertiga cepat-cepat menghentikan pengejaran dan kembali ke tempat rombongan. Kalau bukan pemuda itu, siapa? Apakah wanita-wanita yang bertanda cacahan burung garuda di ta­ngan mereka? Akan tetapi mereka itu agaknya bertempur mati-matian dengan rombongan Hok-ciangkun, pasukan penga­wal istana yang menyamar itu. Apakah anak buah si pemuda lihai? Mungkin begitu, dan kalau begitu agaknya ada tiga rombongan bertindak pada waktu itu. Demikianlah Jenderal Kao memutar-­mutar otaknya yang sudah penat. Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan di benaknya yang bertubi-tubi.

Suasana menjadi sunyi sepi, dan men­jadi kebalikan dari pikiran mereka yang ramai dengan pertanyaan-pertanyaan dan dugaan-dugaan yang menggelisahkan. Tiba-tiba terdengar suara suling meng­alun memecah kesunyian dan menghenti­kan lamunan mereka yang penuh kegeli­sahan itu. Suara suling itu menggetar-­getar halus, penuh perasaan, dan suara suling seperti itu hanya dapat ditiup oleh peniup yang mencurahkan seluruh pera­saan hatinya terhadap tiupannya. Hawa yang keluar dari mulutnya agaknya lang­sung keluar dari hatinya sehingga ketika menyelinap di dalam tabung bambu su­ling itu mencipta suara yang mengalun penuh perasaan, melagukan irama lagu sedih, lagu seorang yang patah hati, gagal dalam asmara, atau seorang yang merasa kerinduan hebat terhadap seorang kekasih yang pergi meninggalkannya. Tentu saja jiwa dari lagu ini terasa oleh Jenderal Kao Liang dan kedua orang puteranya yang sedang merana ditinggal­kan oleh keluarga mereka yang tidak mereka ketahui bagaimana nasibnya, di­tinggalkan oleh orang-orang yang mereka kasihi. Terutama sekali Kok Tiong yang teringat kepada isteri dan dua orang anaknya yang masih kecil sehingga orang muda ini cepat membuang muka membelakangi ayahnya agar Si Ayah tidak sampai melihat dua titik air mata.

Di antara pengaruh suara suling yang ditiup penuh perasaan itu, Jenderal Kao Liang segera cepat menyadari keadaan. Lagu yang ditiup suling itu adalah lagu sedih, kiranya mudah diduga siapa pe­niupnya. Siapa lagi kalau bukan pemuda yang tadi pun bersenandung lagu sedih? Tentu Si Pemuda lihai tadi. Dan siapa tahu, boleh jadi pemuda itu yang menjadi biang keladi semua peristiwa ini, atau setidaknya, pemuda aneh itu tentu tahu­-menahu akan peristiwa yang menimpa keluarganya ini.

Dengan muka merah dan mengepal tinjunya, Jenderal Kao Liang bangkit berdiri lalu melangkah pergi dengan ce­pat menuju ke arah suara suling diikuti oleh dua orang puteranya yang sudah mencabut pedang masing-masing. Akan tetapi sungguh aneh, suara suling itu amat luar biasa, begitu dldekati seolah­-olah berpindah tempat. Mereke bertiga terus mengejar, akan tetapi mereka ber­putaran dan belum juga dapat melihat pemain atau peniupnya. Setelah berputar­an sampai beberapa kali, akhirnya Jen­deral Kao Liang menjadi naik darah, sungguhpun dia masih dapat menahan kemarahannya. Akan tetapi Kok Han yang masih muda belia itu tak dapat menahan kemarahannya dan berteriaklah dia menantang, sungguhpun dia tahu pula betapa lihai si peniup suling itu.

“Heeeiiiii....! Keluarlah engkau peniup suling sialan! Jangan main sembunyi-­sembunyi kalau engkau memang jantan! Ayo, keluarlah dan lawanlah aku, engkau akan mampus kalau tidak kaukembalikan keluarga kami!”

“Sssttttt....!” Jenderal Kao mencegah puteranya akan tetapi tantangan telah dikeluarkan dan mereka kini berdiam, memperhatikan semua penjuru. Suara su­ling tiba-tiba berhenti keadaan menjadi makin sunyi mencekam dan menyeram­kan. Lalu terdengar suara orang menguap panjang dan disusul suara langkah kaki orang tersaruk-saruk.

Selagi tiga orang ayah dan anak itu saling pandang, terdengar suara orang bergumam, “Hahhhhh perutku lapar dan kakiku capai. Sebentar lagi malam tiba dan aku belum beristirahat barang sekejap pun. Lebih baik mencari warung di depan, makan bubur hangat, mandi air sejuk lalu tidur mendengkur!”

Jenderal Kao dan dua orang putera­nya cepat meloncat dan mencari ke arah datangnya suara itu. Dari jauh kelihatan berkelebatnya seorang dengan cepat. Bajunya yang putih itu tampak menyolok dengan cuaca yang sudah mulai suram karena senja. telah tiba. Sebentar saja bayangan itu berkelebat dan lenyap, seperti setan menghilang saja.

“Kejar!” Jenderal Kao Liang berbisik dan ketiganya lalu mengerahkan ginkang, meloncat lalu berlari mengejar secepat mungkin. Jenderal itu merasa yakin bah­wa orang di depan tadi tentu tahu akan segala peristiwa yang terjadi, maka dia tidak mau kehilangan orang itu.

Akan tetapi, bayangan itu telah le­nyap dan mereka mengejar sampai ma­lam tiba, belum juga dapat menyusul. Tentu saja ketiganya merasa mendongkol dan malam itu berbeda dengan malam tadi. Awan mendung berkumpul di langit sehingga keadaan menjadi gelap pekat, sedangkan mereka tidak mengenal jalan. Maka terpaksa mereka menghentikan pengejaran sia-sia itu dan melewatkan malam di tepi jalan di kaki bukit yang sunyi, membuat api unggun dan semalam suntuk mereka tidak dapat tidur, menan­ti datangnya fajar untuk melanjutkan pe­ngejaran dan pencarian mereka.

“Orang itu agaknya sengaja menyebut tentang sebuah warung di depan. Biar dia memancing sekalipun, kita harus pergi mengejarnya dan mencari warung itu!” demikian Jenderal Kao berkata.

Ketika fajar mulai menyingsing dan cuaca tidak begitu gelap lagi, ketiganya sudah meninggalkan api unggun yang sudah tidak bernyala, tinggal berasap saja dan mereka bergegas menuju ke depan melanjutkan perjalanan semalam yang terganggu oleh kegelapan malam. Ketika mereka mulai bertemu dengan para petani yang menuju ke sawah, tiga orang ayah dan anak ini mempercepat langkah kaki mereka, tidak mempeduli­kan pandang mata para petani yang ter­heran-heran melihat mereka berjalan cepat itu. Di mana ada petani tentu ada dusun, pikir Jenderal Kao Liang dan dia melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat.

Benar saja dugaan mereka. Akhirnya tibalah mereka di sebuah dusun. Matahari pagi dengan cerah dan riangnya menyi­nari sebuah warung makan di dusun itu dengan hati berdebar Jenderal Kao meng­ajak anak-anaknya memasuki warung. Akan tetapi, warung itu masih sunyi dan belum ada pengunjungnya, maka duduklah mereka dengan hati kecewa. Jenderal Kao memesan bubur hangat tiga mang­kok yang dilayani oleh pemilik warung dengan ramahnya.

“Kami mencari seorang teman, dia masih muda dan berpakaian putih. Apa­kah dia sudah tiba di sini? Malam tadi atau tadi? Katanya dia ingin makan bu­bur panas” kata Jenderal Kao kepada pemilik warung secara sambil lalu.

Akan tetapi sungguh tidak disangka, mendengar pertanyaan ini wajah Si pemilik warung menjadi berseri. “Aih, tentu Tuan maksudkan Suma-kongcu (Tuan Muda Suma)! Memang dia sering makan di sini, dan baru saja dia pergi, setelah makan bubur panas. Lihat, mangkoknya juga masih di meja itu, belum saya bersih­kan!”

Ketiganya cepat bangkit. “Di mana dia? Ke mana perginys?” Jenderal Kao bertanya, suaranya keras, mengejutkan pemilik warung.

“Eh mana saya tahu? Tadi saya lihat ke jurusan selatan sana”

Tukang warung itu menjadi bengong ketika tiga orang itu berkelebat dan lari pergi meninggalkan warungnya.

“Eh, ini bubur pesanan....!”

Akan tetapi Jenderal Kao dan anak­-anaknya sudah pergi jauh dan pemilik warung itu hanya menggeleng kepala. “Suma-kongcu orang aneh, teman-teman­nya pun aneh bukan main!”

Sementara itu, Jenderal Kao Liang sambil berjalan cepat bersama dua orang puteranya menuju ke selatan, berkata dengan desis terheran-heran, “Suma-kong­cu!? Tidak banyak orang di dunia ini yang ber-she Suma dan memiliki kepan­daian tinggi! Siapa lagi kalau bukan keluarga Suma, Majikan Pulau Es, Pendekar Super Sakti? Dan setahuku, ada dua orang Suma-kongcu! Akan tetapi, mengapa menculik keluarga kita? Bukankah kita bersahabat erat seperti keluarga sendiri dengan mereka?” Jenderal Kao menduga­-duga dengan hati penasaran.

“Itu kan dahulu, Ayah!” kata Kok Tiong dengan suaranya mengandung ke­gemasan. “Dahulu ketika Ayah masih terpakai oleh Kaisar. Akan tetapi se­karang? Keadaan Ayah seperti juga di­singkirkan oleh Kaisar, sungguhpun se­bagai basa-basinya Ayah disuruh istirahat dan dipensiun, diberi harta benda sebagai bekal. Lihat saja betapa pasukan penga­wal istana bermunculan di sini, seolah­-olah menghadang perjalanan kita. Siapa tahu, tidak mustahil kalau Kaisar mengkhawatirkan keadaan Ayah, takut Ayah akan menimbulkan huru-hara. Menurut pendapat saya, agaknya Kaisar memang berusaha untuk membasmi, keluarga kita agar aman, karena Ayah adalah seorang yang tidak boleh dipandang ringan. Hemmm, tidak salah lagi, demikianlah keadaannya! Maka, Hok-ciangkun yang memimpin pasukan pengawal menyamar sebagal petani, tentu diutus oleh Kaisar untuk membasmi kita. Akan tetapi me­reka tahu, keluarga kita bukanlah ke­luarga sembarangan. Apalagi ada Kok Cu koko, maka Kaisar tentu telah minta pertolongan keluarga Pulau Es, keluarga Suma. Bukankah keluarga Suma masih termasuk keluarga Kaisar juga? Bukankah Pendekar Super Sakti, Paman Suma Han adalah cucu mantu dari Kaisar?”

“Ehhhhh....?” Jenderal Kao Liang berteriak dan menghentikan langkahnya.

Kalau dalam keadaan biasa, tentu kata­ kata Kok Tiong itu akan cukup membuat dia turun tangan menampar mulut pu­teranya yang berani berkata demikian, mencela kaisar, menuduh yang bukan-bukan, bahkan berani mencurigai keluarga Pulau Es. Akan tetapi dia tidak jadi menggerakkan tangan, karena kata-kata itu membangkitkan kecurigaannya pula dan dia termenung.

Suma-kongcu, kata tukang warung itu. Tentu kalau bukan Suma Kian Lee, ya Suma Kian Bu, seorang di antara dua putera Majikan Pulau Es.

Majikan Pulau Es adalah Suma Han yang terkenal sebagai Pendekar Pulau Super Sakti bagi yang memujanya dan Pendekar Siluman bagi yang membencinya, dan Suma Han ini menikah dengan Puteri Nirahai sebagai isteri pertama, Puteri Nirahai cuku kaisar! Ucapak Kok Tiong tadi biarpun agaknya tidak masuk di akal mengingat akan watak keluarga Pulau Es yang sakti dan budiman, namun beralasan juga. Jenderal ini tahu bahwa di dalam pergolakan politik kerajaan, segala hal dapat saja terjadi. Buktinya, dua orang Pangeran Liong yang menjadi adik-adik tiri kaisar sendiri, memberon­tak karena politik, karena pengejaran ambisi pribadi. Siapa tahu, kaisar benar-­benar menganggap dia berbahaya dan hendak menumpas keluarganya. Dan siapa tahu, mungkin pandangan putera Pendekar Super Sakti yang sudah dipengaruhi politik juga berubah terhadap dirlnya!

“Akan tetapi....!” bantahnya dengan suara meragu, bantahan yang timbul langsung dari suara hatinya, “Andaikata demikian halnya, mengapa mesti meng­ambil cara berbelit-belit? Andaikata benar Kaisar menghendaki nyawaku, cu­kup beliau memerintahkan perajurit untuk menangkap aku dan menjatuhkan hukum­an mati. Mengapa harus memakai cara penuh rahasia ini, dengan bermacam muslihat? Aku siap untuk menyerahkan nyawaku kalau diminta oleh Kaisar, de­mi negara!”

“Saya kira persoalannya tidak se­mudah itu, Ayah. Kalau Kaisar melaku­kan hal itu terhadap Ayah, tentu beliau akan banyak menerima celaan dan ten­tangan. Tentu beliau tidak ingin per­buatan beliau itu diketahui oleh umum. Rakyat jelata dan semua pembesar tahu belaka siapa Ayah, dan betapa besar jasa Ayah terhadap negara dan bangsa. Agak­nya Kaisar ingin agar kita sekeluarga seolah-olah terbasmi oleh penyamun atau, oleh golongan hltam dan hal ini pun bukan tak boleh jadi, mengingat betapa Ayah sudah banyak melakukan pembersih­an terhadap mereka.”

Mendengar ucapan puteranya yang ke dua itu, Jenderal Kao Liang mengangguk-­angguk dan tiba-tiba hatinya menjadi berduka sekali. Dia mengepal tinjunya, giginya mengeluarkan bunyi berkerotan. “Ini tentu hasil dari fitnah dan hasutan para pengkhianat yang hendak melemah­kan kerajaan! Sri Baginda Kaisar telah tertipu!”

Kok Tiong menarik napas panjang. “Lihat, betapa patriotnya jiwa Ayah, bah­kan di waktu keluarga sendiri terancam bahaya maut, Ayah masih mementingkan kerajaan.”

Jenderal Kao termenung, sadar akan kebenaran ucapan puteranya dan dia ter­ingat lagi akan keadaan keluarganya. “Akan tetapi kalau memang benar duga­anmu itu, semoga saja, kuminta kepada Thian, Kaisar tidak sampai tertipu se­dalam itu, andaikata benar demikian, mengapa keluarga kita tidak dibunuh saja? Kenapa diculik mereka itu? Di mana adanya ibumu, isterimu, anak-anak­mu?”

“Itulah yang amat membingungkan, Ayah. Menghilangnya kepala pengawal, dan mayatnya pun tidak kita lihat, lalu disusul pertempuran di luar hutan antara orang-orang yang tidak kita kenal, yang kabur semua ketika kita dekati. Kemudi­an bentrokan antara tiga kekuatan di dalam celah itu, antara pasukan kita, wanita-wanita berlencana dan bercacah lukisan garuda serta orang-orangnya Hok-­ciangkun. Mereka itu mati semua, tiga rombongan yang saling bertempur itu, akan tetapi keluarga kita dapat melari­kan diri. Agaknya tidak mungkin pula kalau dibawa oleh sisa orang-orangnya Hok-ciangkun, karena kalau benar dugaan kita, Hok-ciangkun tentu bertugas untuk membasmi dan membunuh keluarga kita. Dan kalau harus diculik dulu, tentu terlalu merepotkan. Pula, kalau dibunuh di tempat itu, malah menimbulkan kesan seolah-olah dibasmi penyamun. Lalu ke mana mereka itu? Siapa yang menculik mereka, kalau memang benar diculik? Dan mengapa pula? Benar-benar saya menjadi bingung, Ayah.”

“Agaknya oleh orang-orang yang ber­cacah lukisan garuda di tangannya itu. Kita belum tahu jumlah dan kekuatan mereka, belum mengenal pula siapa me­reka,” kata Kok Han.

“Kurasa tidak mungkin, Han-te. Se­perti kau lihat, Suma-kongcu yang lihai itu masih ada. Kalau dia, seperti kurasa begitu, ditugaskan oleh Kaisar untuk membantu pasukan Hok-ciangkun, melihat keluarga kita dibawa oleh wanita-wanita garuda itu, tentu dia akan turun tangan, tak mungkin dia diam saja tugas Hok­ciangkun digagalkan oleh wanita-wanita garuda itu. Kaulihat juga, dialah satu-­satunya orang yang masih hidup di tempat tadi. Agaknya rombongan para wanita garuda itu dibunuhnya pula semua.”

“Tapi, kalau benar begitu ke mana perginya ibu dan lain-lain? Kenapa dia tidak membunuh kita juga setelah dia melihat kita bertiga tadi? Aihhh, bingung aku setelah mendengar dugaan-dugaanmu Koko.!”

“Sudahlah,” Jenderal Kao menyela. “Tidak peduli itu semua, yang penting, kita harus dapat membekuk pemuda gila itu dan semuanya akan menjadi terang. Mari kita kejar dan cari dia!”

Kembali tiga orang yang sedang di­cekam kegelisahan karena kehilangan keluarga itu melanjutkan pencarian me­reka, keluar dari dusun menuju ke sela­tan. Mereka tiba di tepi sebatang sungai yang cukup besar yang menjadl cabang Sungai Huang-ho. Terhalang oleh sungai ini, Jenderal Kao termangu-mangu. Be­narkah pengejaran mereka? Apakah Su­ma-kongcu lewat ke sini?

Selagi dia bingung dan tidak tahu harus melanjutkan pengejaran ke mana, tiba-tiba mereka melihat sebuah perahu meluncur di tengah sungai dan dengan cepatnya perahu itu meluncur ke ping­gir, ke arah di mana mereka berdiri. Seorang bertubuh tinggi kurus mendayung perahu itu dan benar-benar luar biasa tenaganya karena kekuatan mendayungnya mampu melawan arus sungai yang cukup kencang di bagian yang menikung itu.

Perahu itu bercat hitam, di ujungnya berkibar sebuah bendera kecil hitam pula. Dengan tangkas, orang tinggi kurus itu melemparkan sehelai tali yang dengan tepatnya mengait akar pohon di tepi sungai, kemudian, dalam jarak yang ma­sih ada empat tombak jauhnya, sekali menggerakkan kakinya orang tinggi kurus itu telah meloncat ke darat. Jenderal Kao Liang terkejut dan diam-diam dia memuji. Ginkang yang luar biasa!

Akan tetapi, sebelum Si Tinggi Kurus itu mengeluarkan suara, dan dia sedang memandang kepada Jenderal Kao bertiga sambil menyeringai, dari dalam perahu terdengar suara yang tinggi nyaring me­lengking, “Inikah ikan-ikan itu, Hoa-gu? Mana yang lain-lain? Kelihatan ikan-ikan ini sudah kehilangan sisik-sisik dan sirip-­siripnya, untuk apa lagi? Tidak ada gu­nanya. Mungkin kita sudah didahului ne­layan-nelayan lain!” Ucapan,, itu seolah­-olah percakapan nelayan, akan tetapi Jenderal Kao Liang yang memliiki ba­nyak pengalaman itu maklum bahwa maksudnya bukan demikian. Pembicara itu menganggap mereka bertiga seperti ikan­ikan yang sudah kehilangan sisiknya, ar­tinya orang-orang yang sudah tidak mem­punyai apa-apa yang berharga. Dan se­butan terhadap Si Tinggi Kurus itu pun aneh. Hoa-gu, berarti Kerbau Belang dan Si Tinggi Kurus itu kulit muka dan le­hernya belang-belang, agaknya menderita penyakit panu yang sudah menahun dan sudah tak dapat disembuhkan lagi. Akan tetapi, biasanya orang-orang yang meng­gunakan julukan aneh-aneh memiliki ke­pandaian yang aneh pula, apalagi tadi Si Tinggi Kurus sudah mendemonstrasikan ginkang yang hebat. Maka dia berhati­hati dan memberi isyarat kepada dua orang puteranya agar berhati-hati.

“Hemmm, tidak salah lagi, agaknya wanita itu yang sudah mendahului kita, Khiu-pangcu!” kata Si Tinggi Kurus sam­bil menoleh ke arah perahu. Jenderal Kao makin waspada. Orang di dalam perahu itu dipanggil pangcu, tentu se­orang ketua dari perkumpulan golongan hitam.

“Ahhh, itu salahku sendiri, Hoa-gu­ji! Kenapa kau tidak becus mengalahkan perempuan itu kemarin. Tapi lebih baik kautanyakan mereka, kemana larinya wanita-wanita itu, agar kita dapat me­ngejar dan mencegat mereka sebelum mereka kembali ke sarang mereka!”

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat. Jenderal Kao Liang menjadi kaget ketika tahu-tahu bayangan yang mencelat dari dalam perahu itu telah berdiri di depannya dan ternyata orangnya tidak sebe­rapa, hanya seorang kakek tua yang ber­tubuh pendek kecil dan kelihatan lemah. Agaknya dengan sekali tamparan tangannya yang kuat, tubuh si kecil tua itu akan remuk! Akan tetapi tentu saja Jen­deral Kao tidak setolol itu dan dia tahu bahwa si kecil ini malah lebih berbahaya daripada Si Tinggi Kurus!

Jenderal Kao pura-pura tidak me­ngerti akan arti percakapan mereka tadi, maka dia mengangkat tangan memberi hormat sambil berkata, “Harap maafkan, kami ingin sekali bertanya kepada Ji­-wi, apakah Ji-wi ada melihat seorang pemuda berpakaian putih lewat di sini? Kami sedang mencarinya.”

Kakek kecil itu tertawa dan melang­kah maju. “He-he, kami tidak melihat orang lain di sini, dan bukankah engkau ini Jenderal Kao Liang yang sudah ditendang keluar dari kota raja? He-he­he!” Kata-kata dan sikap kakek ini meng­hina sekali.

Kok Han sudah melangkah maju hen­dak mendamprat, akan tetapi ayahnya melarangnya dan Jenderal Kao Liang dengan tenang menjawab, “Aku adalah Kao Liang, tepat seperti dugaanmu, so­bat. Siapakah engkau, kudengar kau di­sebut pangcu. Engkau ketua dari perkum­pulan apakah?”

“He-he, aku orang she Khiu hanya ketua yang ke dua, mewakili Twako (Ka­kak) untuk mengambil hartamu yang kau­bawa dari kota raja. He-he, jenderal bekas, lekas kaukatakan, di mana harta­mu itu dan siapa yang membawanya?”

“Iblis hina dan busuk!” Kok Han tak dapat menahan kemarahannya lagi men­dengar ayahnya dihina seperti itu dan dia sudah menerjang ke depan dengan pedangnya, menusuk kakek kecil itu dengan jurus maut Tit-ci-thian-lam (Menuding ke Arah Selatan), pedangnya langsung meluncur ke, arah ulu hati kakek itu dengan kecepatan kilat sehingga nampak sinar berkelebat menyilaukan mata.

“He-he, bocah, kau boleh juga!” Ka­kek kecil itu terkekeh, miringkan tubuh­nya dan jari tangannya menyentil.

“Tringgggg....!”

“Ahhhhh!” Kao Kok Han berseru ka­get dan cepat dia meloncat ke belakang mengikuti ke mana pedangnya terpental karena pedang yang kena disentil oleh kuku jari tangan kakek itu hampir saja terlepas dari pegangannya.

“Iblis tua bangka!” teriak Kok Tiong yang menjadi marah dan orang muda ini pun telah menyerang dengan pedangnya dengan hebat. Namun dengan mudahnya kakek kecil itu mengelak, kemudian ka­kinya yang pendek kecil itu mengelak, hampir saja mencium lambung Kok Tiong kalau saja dari samping Jenderal Kao Liang tidak cepat menangkis dengan tangan kirinya.

“Dukkkkk!”

Jenderal Kao Liang merasa betapa lengannya yang bertemu dengan kaki itu merasa nyeri dan kesemutan, maka dia terkejut sekali, maklum bahwa kakek itu benar-benar amat lihai.

“He-he-he! Kiranya bekas Jenderal Kao masih belum kehilangan kepandaian­nya! Akan tetapi seorang jenderal tanpa pasukan, mau bisa apakah?” Kakek kecil itu mengejek dan kini Jenderal Kao Liang menjadi marah sekali.

“Engkau tentu seorang pangcu dari golongan perampok busuk!” teriaknya. “Biarpun aku tidak memegang jabatan apa-apa, sudah menjadi kewajibanku un­tuk membebaskan rakyat dari gangguan­mu!”

Jenderal itu sudah meloloskan pe­dangnya yang panjang, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia menerjang dengan gerakan yang amat kuat dan cepat. Ka­kek kecil ini pun tidak berani meman­dang rendah, cepat dia rnengelak dan balas menyerang, akan tetapi dia masih saja terkekeh dan menghadapi jenderal tua ini dengan tangan kosong belaka.

Kok Tiong dan Kok Han menerjang maju, akan tetapi mereka dihadang oleh kakek tinggi kurus yang sudah memegang sebatang dayung. Melihat ini, dua orang muda itu cepat memutar pedang mereka dan menyerang. Si Tinggi Kurus me­mutar dayungnya pula menangkis.

“Cringgggg! Tranggggg....!” Bunga api berpijar dan dua orang muda itu mak­lum bahwa selain kakek tinggi kurus ini bertenaga besar, juga dayungnya itu ter­nyata bukan dayung kayu seperti biasa, melainkan dayung baja yang amat kuat pula.

Terjadilah pertempuran hebat dan seru di tepi sungai itu. Jenderal Kao Liang memang seorang yang memilikl tenaga besar sekali, akan tetapi ilmu silatnya biarpun cukup tinggi, masih tl­dak selihai ilmu perangnya. Dia memutar pedangnya dengan cepat dan kuat sampai terdengar suara berdesingan dan pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung. Akan tetapi ternyata kakek kecil itu memiliki gin­kang yang luar biasa, tubuhnya berkele­batan, kadang-kadang seperti lenyap dari pandang mata Jenderal Kao sehingga membuat jenderal tua ini terkejut dan juga bingung. Betapapun juga, kakek kecil yang memandang rendah dan ber­sikap sombong itu, yang menghadapi Jenderal Kao Liang dengan tangan ko­song belaka, juga tidak mudah meroboh­kan Sang Jenderal yang tubuhnya terlindung oleh sinar pedangnya.

Lima puluh jurus telah lewat dan Jenderal Kao Liang masih terus me­nyerang lawannya dengan kemarahan yang berkobar-kobar. Dia maklum bahwa lawannya ini sedikit banyak tahu akan semua peristiwa yang menimpa keluarga­nya, maka ingin dia merobohkan lawan ini, kalau bisa tidak sampai membunuh­nya agar dia dapat memaksanya meng­aku. Akan tetapi, tubuh lawan ini terlalu cepat bergerak.

“He-he-he, jenderal yang tidak ter­pakai! Kau masih berani melawan terus?” Kakek kecil itu mengejek dan kini dia berdiri dekat sekali dengan tepi sungai, membelakangi sungai.

Melihat ini, Jenderal Kao Liang yang menjadi marah sekali melihat kesempatan baik. Lawannya sudah berada di tepi sungai, tidak ada jalan untuk mengelak lagi, maka dia lalu mengeluarkan gereng­an seperti seekor harimau, pedangnya menusuk dengan kuat sekali ke arah dada lawan itu. Akan tetapi, tiba-tiba Si ka­kek kecil itu lenyap. Demikian cepat gerakannya ketika menjatuhkan diri se­hingga tidak kelihatan oleh Jenderal Kao. Tahu-tahu kakek kecil itu dari bawah menangkap lengan tangan Jenderal Kao yang memegang pedang dan secepat itu pula kakinya dua kali bergerak menen­dang. ke arah lutut Jenderal Kao. Jen­deral ini berseru kaget, kedua kakinya terasa lumpuh dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, kakek kecil itu telah me­nyentak tangannya, menariknya ke atas membuatnya terlempar ke atas, me­lampaui kepala kakek kecil itu dan ter­lempar ke tengah sungai!

“Byuuuuurrr....!” Tubuh yang tinggi besar itu menimpa air yang muncrat tinggi. Jenderal yang kehilangan pedang­nya itu mencoba untuk berenang akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia men­dapat kenyataan betapa dua buah kakinya belum dapat digerakkan, masih setengah lumpuh oleh totokan ujung sepatu kakek kecil itu. Terpaksa dia hanya mengguna­kan kedua tangannya untuk digerakkan menahan agar tubuhnya tidak tenggelam dan kini tubuhnya dibawa hanyut, ter­seret oleh arus sungai yang kuat.

“Ayahhhhh....!” Kok Tiong berseru kaget sekali. Akan tetapi dia dan adik­nya masih belum mampu mengalahkan lawan yang memegang dayung, bahkan mereka terancam oleh sinar dayung yang berkelebatan. Kiranya orang yang ber­juluk Kerbau Belang ini kuat sekali, dan kadang-kadang dari tenggorokannya ke­luar suara seperti seekor kerbau marah dan tiap kali terdengar suara ini, tenaga yang menggerakkan dayungnya menjadi berlipat ganda kuatnya, membuat dua orang saudara Kao ltu kewalahan. Na­mun dengan kerja sama yang rapi, mere­ka berdua masih dapat saling melindungi dan menahan amukan kakek tinggi kurus yang memutar dayungnya secara istimewa.

“He-he-he, Hoa-gu-ji, engkau benar­-benar mengecewakan. Masa menghadapi dua ekor ikan kecil saja masih belum mampu menangkapnya?” Kakek kecil yang telah berhasil melontarkan tubuh Jenderal Kao Liang ke tengah sungai itu tertawa, tubuhnya berkelebat dan dengan cepat sekali, menggunakan kesempatan selagi dua orang saudara Kao itu me­nangkis dayung dengan pedang mereka, dia menotok jalan darah kin-ceng-hiat di pundak kiri mereka sehingga tanpa dapat dihindarkan lagi, Kok Tiong dan Kok Han mengeluh dan roboh lemas.

Hoa-gu-ji menggerakkan dayungnya ke arah kepala mereka.

“Wuuuuutttttt.... plakkk!” Dayung itu terpental, bertemu dengan telapak tangan Si kakek kecil. “Gilakah kau, Hoa-gu­ji? Kita membutuhkan mereka, mengapa hendak kaubunuh?”

Hoa-gu-ji cemberut dan dia teringat, maka cepat dia mengambil tali dari pe­rahu dan mengikat kedua tangan Kok Tiong dan Kok Han. Dia tadi marah se­kali karena merasa malu bahwa dia tidak mampu merobohkan dua orang musuh itu, maka dalam kemarahannya hampir dia membunuh mereka. “Maafkan, Pangcu, hampir saya lupa,” katanya setelah meng­ikat mereka dan melemparkan tubuh me­reka ke atas perahu.

Tak lama kemudian, perahu yang kini membawa dua orang tawanan itu sudah meluncur lagi ke tengah sungai mengikuti arus. “Hayo katakan, di mana adanya harta benda Ayah kalian! Kalau tidak mau mengaku, terpaksa kalian akan kami jadikan makanan ikan di sungai ini!” Kakek kecil itu membentak.

“Persetan dengan kamu, iblis tua bangka!” bentak Kok Han dengan marah, sedikit pun juga tidak takut atau jerih menghadapi ancaman kakek kecil itu. Akan tetapi, Kok Tiong yang lebih cer­dik tidak ingin mati konyol begitu saja. Tidak, mereka berdua harus hidup, apa­lagi sekarang setelah ayah mereka pun lenyap, hanyut ditelan air sungai. Mere­ka harus mencari keluarga mereka lebih dulu dan tidak boleh mati begitu saja.

“Pangcu, engkau telah keliru me­nyerang orang,” katanya tenang. “Ayah kami memang membawa harta benda, akan tetapi kemarin kami telah diserbu orang-orang yang tidak kami ketahui siapa, keluarga kami ditawan dan harta benda itu pun ikut pula terbawa. Kami bertiga sedang mencari mereka ketika bertemu dengan engkau di tepi sungai.”

“Wah, celaka, benar-benar ada orang mendahului kita, Hoa-gu-ji. Orang muda, ceritakan semua dengan jelas.”

Kao Kok Tiong lalu menceritakan semua peristiwa yang menimpanya, tentu saja tanpa menceritakan dugaannya ten­tang utusan kaisar dan tentang keluarga Suma. Kakek kecil itu mendengarkan dengan alis berkerut dan dia menarik napas panjang. “Celaka, siapa lagi kalau bukan perempuan-perempuan iblis garuda hitam itu? Hoa-gu-ji, hayo cepat kita ke hilir, kita harus dapat mencari mereka!”

Perahu meluncur makin cepat karena kini selain digerakkan oleh kekuatan arus air, juga dlbantu oleh kekuatan dayung yang digerakkan oleh Hoa-gu-ji. Dua orang saudara Kao yang rebah di atas perahu dengan kedua tangan terbelenggu, merasa miris juga melihat perahu me­luncur demikian cepatnya, apalagi karena mereka memang tidak biasa bermain di air. Diam-diam mereka mengkhawatirkan keadaan ayah mereka yang tadi mereka lihat terlempar ke air dalam keadaan masih hidup dan berusaha berenang na­mun terseret oleh arus air.

Khiu-pangcu dan Hoa-gu-jin kini ke­lihatan bersikap waspada dan siap siaga di atas perahu ketika perahu itu me­lewati sebuah hutan yang liar dan hebat. Mendadak tampak sinar berkelebat di­ikuti suara berdesing dan tahu-tahu se­batang anak panah menancap di kepala perahu. Anak panah itu ditempeli sebuah lencana perak bergambar garuda hitam dan di bawahnya terdapat dua buah hu­ruf berbunyi SUI TIN (Pasukan Air). Me­lihat ini dari tempat ia rebah, Kok Tiong dan Kok Han teringat akan len­cana yang mereka dapatkan di dekat ma­yat wanita berpakaian hitam karena me­mang sama gambar dan bentuknya, hanya lencana yang mereka temukan itu memakai huruf Pasukan Kayu, sedangkan yang menempel di anak panah ini huruf-­hurufnya berbunyi Pasukan Air.

Khiu-pangcu terkekeh, lalu mencabut anak panah itu dan melemparkannya ke sungai.

“Singgggg....!” Cepat sekali anak panah itu meluncur seperti terlepas dari gendewa dan anak panah itu menancap di batu karang di tepi sungai, masuk sampai sepertiganya ke dalam batu karang itu. Hal ini saja membuktikan betapa hebat sinkang dari kakek kecil itu, kekuatan lemparannya tadi jauh lebih kuat daripada kalau anak panah itu meluncur dari se­batang gendewa!

Kini kakek kecil ltu bangkit berdiri di atas kepala perahu, kakinya terpentang lebar dan kedua lengannya bertolak ping­gang, lalu terdengar suaranya yang tinggi melengking nyaring, bergema di dalam hutan di seberang sungai, “Haiiiii....! Kenapa hanya pimpinan Pasukan Air saja yang keluar menyambutku? Mana ke­empat pasukan yang lain? Hayo keluar­lah kalian menyambut Khiu-pangcu yang sudah datang ke sini! Malam kemarin kepala Pasukan Kayu telah berani meng­hina seorang anggauta kami, hayo suruh dia keluar pula kalau berani!”

Siapakah pelempar anak panah yang menancap di perahu itu? Dan siapakah mereka yang memakai lencana garuda hitam itu? Mereka itu adalah anggauta-­anggauta dari perkumpulan Hek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Hitam) yang ber­pusat di puncak Gunung Cemara. Perkumpulan ini terdiri dari wanita-wanita yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi, dan tangan mereka semua dicacah gambar burung garuda. Di antara mereka dibagi menjadi pasukan-pasukan yang diberi nama Pasukan Api, Pasukan Air, Pasukan Tanah, Pasukan Besi dan Pasukan Kayu, masing-masing memiliki keistimewaan sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu di seberang sungai, “Kakek som­bong, jangan tekebur, kau!” Dan munculiah seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh tahun dari balik semak-­semak, seorang wanita yang pakaiannya serba hitam dan yang memegang se­pasang pedang. “Tidak perlu saudara­-saudara kami maju, cukup kami saja yang akan melawanmu dan akan membunuhmu, kecuali kalau kauserahkan ta­wananmu itu kepadaku, kami akan mem­bebaskan engkau!”

“He-he-he-he, perempuan cantik suara­nya nyaring!” Kakek kecil itu tertawa dan perahu lalu didayungnya ke pinggir. Kakek tinggi kurus mengikat perahu di tepi, kemudian bersama Khiu-pangcu dia lalu meloncat ke darat, dengan sikap angkuh dan tersenyum simpul.

“He-heh-heh, Nona cantik. Engkau tentu kepala dari Pasukan Air, bukan? Percuma saja kau membahayakan kulitmu yang halus, lebih baik suruh semua pasu­kan maju mengeroyok aku.”

Wanita itu menudingkan pedang kiri­nya ke arah muka kakek kecil sedangkan pedang kanannya melintang di depan dada, sambil berkata, “Khiu-pangcu, ja­ngan kau sombong. Saat ini aku Kim-­hi Nio-cu (Nona Ikan Emas) yang ber­tugas dan berjaga di sini, maka cepat kauserahkan tawananmu itu kepadaku sebelum terpaksa aku turun tangan meng­gunakan kekerasan.”

“Ha-ha-he-heh, sungguh gagah! Mari, mari, Nona manis, mari kita main-main sebentar, hendak kulihat sampai di mana kehebatanmu!” Khiu-pangcu lalu meraba pinggangnya dan tampak sinar hitam berkelebat ketika dia telah meloloskan sabuk atau ikat pinggangnya yang pan­jang dan ternyata dapat dipergunakan sebagai senjata cambuk yang ada gagang­nya dan yang ujungnya bercabang-cabang itu.

“Kau bosan hidup!” Wanita cantik yang berjuluk Nona Ikan Emas itu mem­bentak, pedangnya berkelebatan dan da­lam gebrakan pertama, sepasang pedang­nya telah menyambar-nyambar dan men­jadi dua gulungan sinar yang menyilaukan mata. Gerakan nona ini cepat sekali dan agaknya dia memiliki ginkang yang amat hebat, sehingga dia menjadi lawan yang sama cepatnya dengan kakek kecil itu. Akan tetapi, Khiu-pangcu tertawa meng­ejek dan begitu dia menggerakkan cam­buknya, terdengar suara bersuitan me­nyakitkan telinga, diselingi ledakan-ledakan kecil dan setiap ledakan itu mengaki­batkan mengepulnya sedikit asap putih, tanda bahwa gerakan cambuk itu me­mang kuat sekali.

Kim-hi Nio-cu menyerang ganas, se­pasang pedangnya merupakan sepasang cengkeraman maut yang mengintai nyawa, akan tetapi dua gulungan sinar pe­dang itu selalu terbendung dan terpental kalau bertemu dengan lingkaran hitam dari cambuk di tangan Khiu-pangcu, bah­kan sering kali terdengar ledakan-ledakan kecil di atas kepala si Nona Ikan Emas, membuat wanita itu kadang-kadang menjerit kaget dan disusul suara tertawa mengejek dari Khiu-pangcu.

Tiba-tiba Kim-hi Nio-cu mengeluar­kan suara bersuit dan munculiah lima orang wanita anak buahnya yang semua memegang pedang di tangan. Akan te­tapi, kini Hoa-gu-ji tertawa dan meng­hadang dengan dayungnya yang panjang, dan begitu lima orang wanita itu maju menyerbu, dayungnya diputar dan li­ma orang wanita itu tertahan gerak­annya tidak dapat membantu Kim-hi Nio-cu yang terpaksa melayani sam­baran-sambaran cambuk yang amat lihai dari Khui-pangcu itu.

Tak lama kemudian, ketika Kim-hi Nio-cu sudah terdesak hebat, demikian pula lima orang anak buahnya, terdengar suitan dari jauh dan munculiah seorang wanita lain yang usianya juga tiga puluh tahunan, yang cantik tidak kalah dengan Kim-hi Nio-cu, bahkan kulitnya lebih putih sehingga pakaian hitam itu mem­buat wajahnya putih halus seperti salju. wanita ini bersenjatakan sebatang golok kecil lebar yang mengeluarkan sinar ge­merlapan. Inilah kepala dari Pasukan Tanah.

“Adik Liong-li, bantulah aku!” teriak kepala Pasukan Air dengan girang.

Tanpa diminta untuk kedua kalinya, wanita cantik yang disebut Liong-li itu segera menerjang maju dengan goloknya membantu Kim-hi Nio-cu mengeroyok Khiu-pangcu sambil berkata, “Kiranya Khiu-pangcu, Si tua bangka keparat!”

“He-he-he, cantik.... cantik....!” Gu­nung Cemara sarang bidadari, sebetulnya menjadi sumber kenikmatan dan kesenang­an, sayang malah menjadi sumber ke­jahatan dan kekacauan! He-he-he!” Khiu­-pangcu masih sempat tertawa ketika dia mengelak dari sambaran sinar kilat dari golok di tangan Liong-li.

Pertempuran menjadi makin hebat, akan tetapi ternyata bahwa tingkat ke­pandaian dua orang wanita itu masih kalah jauh dibandingkan dengan tingkat kepandaian Khiu-pangcu. Lewat lima puluh jurus, sinar hitam dari cambuknya mengurung dan menghimpit, membuat dua orang wanita itu mandi keringat dan tak lama kemudian, Khiu-pangcu berhasil merobohkan mereka dengan totokan­totokannya yang lihai. Juga Si Tinggi Kurus Hoa-gu-ji berhasil merobohkan lima orang pengeroyoknya yang cepat meloncat ke air, menyelam dan lenyap.

“He-he-he, percayakah kalian se­karang?” Khiu-pangcu tertawa mengejek, menyimpan sabuknya dan memandang dua orang wanita yang roboh terlentang dan tak dapat bergerak karena tubuhnya lum­puh, hanya mata mereka memandang de­ngan mendelik marah kepada kakek kecil itu. “Seharusnya kalian mengajak semua saudara kalian ke sini baru bisa agak seimbang melawan aku. Nah, sekarang katakan, di mana adanya harta rampok­kan milik keluarga Jenderal Kao itu? Katakan sebenarnya, kalau tidak kalian akan kubunuh, kemudian akan kutantang ketua kalian biar peristiwa dua tahun yang lalu terulang kembali. Sayang, ke­tika itu muncul Pendekar Siluman Kecil sehingga pertempuran terhenti dan nyawa Perkumpulan Hek-eng-pang selamat.”

“Bedebah tua bangka! Siapa takut mati? Mau bunuh lekas bunuh, akan ada teman-teman kami yang membalaskan kematian kami, yang akan melumatkan perkumpulanmu dan meratakan sarang kalian dengan bumi. Hayo, bunuhlah!” Kim-hi Nio-cu menantang.

“Tua bangka gila, namaku bukan Liong-li kalau aku takut mampus!” Ke­pala Pasukan Tanah juga menantang dengan pandang mata menghina.

Khiu-pangcu menggaruk-garuk kepala­nya. “Wah, wah, hebat sekali. Hoa-gu­ji, kalau anak buah kita tidak setabah mereka ini, sungguh kita harus merasa malu.”

“Ji-pangcu (Ketua Ke Dua), boleh jadi mereka tidak takut mati, akan tetapi apakah Pangcu lupa bahwa ada sesuatu yang lebih ditakuti wanita daripada ma­ut?” Hoa-gu-ji berkata sambil tertawa menyeringai, memperlihatkan gigi yang sudah keropok dan kuning dekil.

“Hah? Ohhh.... he-he-hea.... kau memang cerdik!” Khiu-pangcu berkata dan sambil tertawa-tawa dia lalu ber­jongkok mendekati tubuh Kim-hi Nio­cu, menggunakan kedua tangan meng­gerayangi tubuh wanita cantik itu sambil mulai melepas-lepaskan pakaiannya. Se­dangkan Hoa-gu-ji dengan lagak men­jemukan juga menggerayangi tubuh Liong-li dan melepaskan kancing-kancing baju wanita cantik itu.

Kim-hi Nio-cu dan Liong-li menjerit.

“Tua bangka! Apa yang kaulakukan ini? Lepaskan aku!” Kim-hi Nio-cu berteriak.

“Keparat tak tahu malu, lepaskan aku!” Liong-li juga menjerit-jerit, akan tetapi karena tak dapat bergerak, maka dia hanya terbelalak penuh kengerian.

“He-he-he, hendak kulihat, kau lebih suka dicemarkan atau berterus terang!” Khiu-pangcu mengejek dan sudah mulai menanggalkan pakaian luar Kim-hi Nio­-cu sehingga mulai nampaklah bentuk tubuhnya yang padat membayang di balik pakaian dalamnya yang tipis, dan nampak pula kulitnya yang putih halus dan menggairahkan itu.

“Jangan....! Kami.... akan berterus terang....!” Akhirnya Kim-hi Nio-cu ber­teriak dengan suara lemah, tanda bahwa dia tidak mempunyai semangat untuk melawan lagi. Menghadapi kematian dia masih tabah, akan tetapi kalau harus dihina lebih dulu oleh kakek yang menjijikkan ini, benar-benar hebat dan dia tidak sanggup menghadapinya. “Akan tetapi kau harus berjanji demi keduduk­anmu bahwa kalau kami mengaku terus terang, kau tidak akan men­cemarkan kehormatan kami.”

Khiu-pangcu bangkit berdiri. “He-he­-he.... siapa sih yang masih haus akan tubuh perempuan muda? Aku sudah mu­ak!”

“Tapi.... dia.... dia ini....!” Liong-li menjerit. Hoa-gu-ji yang agaknya sudah bangkit berahinya itu mulai meraba celana dalam berwarna hitam yang amat kontras dengan paha yang putih mulus dari Liong-li.

“Hoa-gu-ji, kau benar-benar seperti kerbau! Hayo mundur!” Khiu-pangcu membentak dan kakek tinggi kurus itu tersentak kaget, lalu bangkit dan mundur dengan muka merah menarik napas menahan nafsu berahinya yang berkobar dan jelas dia amat kecewa.

“Nah, ceritakanlah!” Khiu-pangcu menghardik kepada Kim-hi Nio-cu.

“Harap.... bebaskan dulu kami.... bicara begini tidak enak....”

“Huhhh, dasar perempuan. Cerewet amat!” Khiu-pangcu mengomel, akan tetapi tetap saja tangannya bergerak dua kali dan dua orang wanita muda cantik itu dapat bergerak, lalu cepat-cepat mereka memakai kembali pakaian luar mereka yang sudah ditanggalkan oleh dua orang kakek itu. Setelah, itu, barulah Kim-hi Nio-cu bercerita dengan suara lirih, karena sesungguhnya dia terpaksa mengalah.

“Kami belum mendapatkan harta Jenderal Kao. Kami bertemu dan bentrok dengan pesukan asing yang lihai, bahkan adik kami kepala Pasukan Kayu telah tewas ketika bertanding dengan pemimpin pasukan asing itu. Karena kami belum mendapatkan harta itu, maka kami me­ngejar Jenderal Kao dan dua orang pu­teranya yang kautawan itu untuk me­nanyakan di mana adanya harta benda mereka yang tadinya mereka bawa dalam rombongan mereka dari kota raja.”

“Aih, begitukah? Kalau begitu kita semua telah dipermainkan oleh keluarga Kao itu!” Khiu-pangcu berkata marah. “Hoa-gu-ji, seret mereka keluar dari perahu dan bawa ke sini!”

Hoa-gu-ji yang masih kecewa itu kini dengan kasar menyeret tubuh Kok Tiong dan Kok Han keluar dari perahu dan me­lemparkan tubuh mereka yang terbeleng­gu itu ke atas tanah di depan kaki Khiu­-pangcu. Dua orang muda itu mengguling­kan tubuh agar terlentang dan dapat melihat orang-orang yang menawannya. Mereka melihat dua orang wanita cantik itu dan menduga-duga siapa adanya me­reka.

“Hayo katakan yang sebenarnya, di mana kalian menyembunyikan harta Ayah kalian yang tadinya kalian bawa dalam rombongan itu! Kalau tidak, jangan mengatakan Khiu-pangcu berlaku kejam, kalian tentu akan kusiksa di sini!” Khiu­pangcu membentak marah karena dia merasa dipermainkan.

Kok Han memandang dengan mata melotot. “Sudah kukatakan padamu, ter­serah kamu percaya atau tidak!” Pemuda ini membentak juga. “Mau siksa, mau bunuh, siapa sih yang takut?”

Kok Tiong cepat berkata, “Pangcu, kami adalah putera-putera seorang besar dan keluarga kami semenjak puluhan tahun terkenal sebagai keluarga pahlawan yang pantang untuk membohong, apalagi memberatkan harta benda! Sudah kami katakan bahwa kami tidak tahu siapa yang merampas harta kami, siapa pula yang menculik keluarga kami.”

“Hemmm, agaknya kalian perlu diberi rasa sedikit. Bocah-bocah keras kepala, biarpun kalian putera-putera bekas Jen­deral Kao Liang, akan tetapi agaknya kalian belum mengenal siapa aku, ya? Dan kalian belum mendengar tentang senjata rahasiaku Touw-kut-tok-ciam (Jarum Beracun Penembus Tulang)! Apa­kah kalian mau merasakannya?”

“Khiu-pangcu, kami kira mereka ini tidak berbohong. Perlu apa menggunakan jarum beracunmu yang mengerikan itu?” Tiba-tiba Kim-hi Nio-cu mencela kakek itu.

“Ha-ha-he-he, agaknya kau sayang melihat ketampanan mereka, ya? Hoh ho, biar kalian juga melihat betapa he­batnya jarum Touw-kut-tok-ciam dari Khiu-pangcu, agar lain kali kalian bocah-­bocah tidak berani kurang ajar melawan aku!”

Akan tetapi tiba-tiba kakek ini tidak melanjutkan tangannya yartg hendak me­rogoh saku mengeluarkan jarum beracun­nya, karena pada saat itu terdengar su­ara orang bersenandung, Ialu lewatlah seorang pemuda berpakaian abu-abu di tempat itu. Dua orang putera Jenderal Kao yang terlentang melihat pemuda ini dan hampir saja mereka mengira bahwa yang lewat itu adalah Suma-kongcu yang mereka cari-cari, karena suara itu ham­pir sama dengan suara senandung yang mereka dengar di atas tebing kemarin dulu. Akan tetapi orang ini pakaiannya abu-abu, tidak putih-putih, dan ketika mereka berdua memandang wajah itu, mereka tahu bahwa orang ini bukanlah Suma Kian Lee atau Suma Kian Bu yang pernah mereka lihat dan mereka kenal.

Pemuda berpakaian abu-abu itu meng­hentikan senandungnya dan bahkan ber­henti melangkah, lalu menghampiri me­reka dengan wajah heran. “Eh, ada ter­jadi apakah di sini? Mengapa kalian ber­dua tiduran di tanah yang kotor? Eh, bukankah kalian ini putera-putera Jenderal Kao Liang?” Pemuda itu laiu me­noleh dan memandang bergantian kepada dua orang wanita Garuda Hitam dan ke­pada Khiu-pangcu dan Hoa-gu-ji, kemudi­an dia mengerutkan alisnya dan menegur. “Heiii, kenapa kalian menawan dua orang putera Jenderal Kao Liang ini? Ehem, tentu kalian mengincar harta benda me­reka, bukan? Tolol, mereka itu adalah keluarga yang gagah perkasa dan bersih, harta benda mereka bukanlah hasil ko­rupsi. Sama sekali bukan, melainkan har­ta yang bersih, hasil dari jerih payah dan keringat mereka sendiri. Ho-ho, kalian memang tolol, karena kalian sudah ter­lambat semua, harta itu telah berada pada Suma-kongcu.”

“Eh, bocah lancang, kau tahu apa?” Khiu-pangcu membentak marah, tangan­nya melayang. Dalam kemarahannya ka­rena dia tidak dipandang sebelah mata oleh pemuda ini, yang bahkan memakinya tolol, di dalam tamparan itu Khiu-pangcu mengerahkan sinkangnya sehingga tam­paran itu mengandung tenaga yang amat kuat, yang bahkan cukup kuat untuk menghancurkan batu karang, apalagi ke­pala pemuda yang kelihatan lemah itu.

“Wuuuuuttt.... plakkkkk.... aughhh....!”

Sungguh mengherankan sekali. Pemuda itu agaknya dengan acuh tak acuh, de­ngan gerakan sembarangan saja, meng­angkat tangan menyambut tamparan itu sehingga dua tangan itu bertemu, dan akibatnya, Khiu-pangcu terhuyung ke be­lakang memegangi tangannya dan me­niup-niupnya karena terasa panas seperti dibakar!

“Bangsat cilik keparat!” Kakek itu marah sekali dan memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia sudah menerjang dengan kedua tangannya di­gerakkan, yang kiri menotok ke arah tengah-tengah antara mata dan yang kanan mencengkeram ke arah pusar pe­muda berpakaian abu-abu itu. Jelas be­tapa marahnya Khiu-pangcu karena, serangan yang dilakukannya ini adalah se­rangan maut yang amat hebat, yang sukar dihadapi oleh yang tangguh sekali­pun, apalagi oleh orang muda tidak ternama yang berpakaian sederhana seperti seorang pemuda gunung biasa itu.

“Wuuuttttt, plak-plak, desssss....!” Dan semua orang terbelalak melihat Khiu­-pangcu roboh terjengkang.

“Blukkk!” Pantat yang tipis dari Khiu­-pangcu terbanting ke atas tanah, debu mengebul dan kakek kecil itu meringis kesakitan, juga keheranan.

“Siuuuuuttttt....!” Sebatang dayung panjang meluncur dan menghantam ke arah kepala pemuda berpakaian abu-abu itu. Itu adalah penyerangan yang dilaku­kan oleh Hoa-gu-ji, yang menjadi marah melihat betapa ketuanya sampai dua kali dibikin malu oleh pemuda itu. Hantaman dayungnya itu amat kuat, mengandung tenaga ratusan kati dan akan menghancur­kan batu karang kalau mengenainya. Akan tetapi, tanpa menoleh pemuda itu mengangkat tangan kirinya menangkis, gerakan tangannya jelas menunjukkan bahwa sekali ini dia mengerahkan te­naganya.

“Krakkk!” Dayung itu bertemu dengan lengan tangan pemuda itu dan patah! Hoa-gu-ji melongo, akan tetapi dia ter­kejut sekali karena pemuda itu sudah menyambar sepotong dayung yang patah tadi dan memukulkannya ke arah kepala­nya. Pukulan sembarangan saja, seperti seorang yang memukul seekor anjing. Hoa-gu-ji cepat mengangkat sisa potong­an dayung, menangkis sambil mengerah­kan tenaganya.

“Bukkk!” Sungguh aneh, biarpun di­tangkis, tetap saja potongan dayung itu mengenai punggungnya dan robohlah Hoa­gu-ji, mulutnya memuntahkan darah se­gar dan dia sibuk berusaha untuk meng­elus punggung dengan kedua tangan, me­lalui atas dan bawah pundak sambil me­ngerang kesakitan.

Kalau saja dia tidak begitu marah, tentu Khiu-pangcu sudah dapat mengerti bahwa pemuda itu bukan orang semba­rangan, bahkan memiliki kepandaian yang amat hebatnya. Akan tetapi kemarahannya membuat dia seolah-olah menjadi buta. Dengan teriakan nyaring tangannya bergerak dan beberapa sinar putih me­luncur ke arah pemuda itu dan menye­rang beberapa bagian tubuh yang ber­bahaya, di tenggorokan, ulu hati, dan pusar. Itulah tiga batang jarum Touw­-kut-tok-ciam yang amat berbahaya, yang menyambar dari jarak dekat. Serangan tiba-tiba itu sama sekali tidak dapat dihindarkan lagi oleh pemuda itu, kecuali dua, yaitu yang menyambar ke arah teng­gorokan dan pusar. Kedua tangannya bergerak menangkap dua batang jarum itu dengan menjepitnya antara jari te­ngah dan telunjuk, sedangkan jarum yang meluncur ke arah dadanya, dia terima begitu saja.

“Cappp!” Jarum itu menancap di baju­nya dan kedua orang putera Jenderal Kao sudah terbelalak ngeri, apalagi dua orang wanita Garuda Hitam yang sudah mengenal kehebatan jarum beracun itu. Tentu pemuda lihai itu akan celaka kare­na dadanya telah termakan oleh sebatang jarum yang amat berbahaya itu. Akan tetapi sungguh luar biasa sekali. Pemuda berbaju abu-abu itu seperti tidak merasa­kan sama sekali, malah sambil tersenyum mengejek dia berkata, “Orang sinting! Kau makanlah sendiri jarum-jarummu!” Dan tangannya yang menjepit jarum-­jarum itu meluncur ke bawah, ke arah Khiu-pangcu! Kakek itu berusaha me­loncat dan mengelak, akan tetapi dia roboh kembali karena dua batang jarumnya telah menancap di kedua betis kaki­nya, menembus tulang! Dia terkejut se­kali, tergopoh-gopoh dia mengeluarkan sebungkus obat dan cepat-cepat dia menelan empat butir pil hitam, mencabut dua batang jaram itu dan menggosokkan obat pada bekas luka tertusuk jarumnya sendiri. Dia selamat dari bahaya maut, akan tetapi tetap saja dia mengaduh­-aduh karena rasa yang menusuk-nusuk tulang akibat bekerjanya racun jarum itu. Pemuda itu dengan sikap tidak peduli lalu mencabut jarum yang menancap di baju dadanya, melemparkan jarum itu jauh ke tengah sungai. Kiranya yang tertembus jarum hanya bajunya dan agaknya kulitnya tidak tertembus, bukti­nya dia tidak merasakan apa-apa. Sung­guh seorang pemuda yang berkepandaian luar biasa sekali.

“Pergilah kalian!” kata pemuda itu kepada dua orang kakek yang telah di­robohkan itu. “Cepat, kalau tidak ter­paksa aku akan membunuh kalian!”

Tergopoh-gopoh Hoa-gu-ji yang pung­gungnya masih sakit itu memanggul Khiu­pangcu yang tidak dapat berdiri, lalu dengan susah payah memasuki perahu dan mendayung perahu ke tengah sungai. Mereka ketakutan dan bahkan tidak be­rani bertanya siapa adanya pemuda baju abu-abu yang amat lihai itu.

Pemuda berpakaian abu-abu itu lalu membungkuk, kedua tangannya bergerak dan dengan amat mudahnya seperti me­mutus benang-benang saja, dia telah menggunakan jari-jari tangannya untuk mematahkan belenggu kaki tangan dua orang saudara Kao. Mereka itu bangkit berdiri dan menjura untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi pemuda baju abu-abu itu menggerakkan tangan, agak­nya tidak senang melihat orang meng­haturkan terima kasih dan ia berkata, “Sudahlah, kalau kalian ingin mencari kembali harta yang hilang, kalian cari saja Suma-kongcu. Yang lain-lainnya aku tidak tahu.”

Dua orang saudara Kao itu meng­angguk, mereka masih merasa tegang dan kagum, juga terheran-heran memandang pemuda yang luar biasa ini. Akan tetapi pemuda itu tidak lagi mempedulikan mereka, malah menoleh kepada Kim­hi Nio-cu dan Liong-li sambil berkata, “Kalian pun boleh pergi, jangan meng­ganggu dua orang pemuda ini. Laporkan kepada ketua kalian bahwa aku ingin menemuinya.” Setelah berkata demikian, pemuda baju abu-abu itu lalu membalik­kan tubuhnya dan pergi dari situ sambil bersenandung.

“Maaf, Taihiap! Bagaimana kami akan melapor ketua tanpa mengetahui nama Taihiap?” Kim-hi Nio-cu berseru dengan sikap hormat.

Pemuda itu menoleh dan tersenyum. Wajahnya tampan sekali ketika tersenyum, mengusir kemuraman yang membayangi wajah itu. “Katakan saja kepada ketua­mu bahwa aku biasa membunuh dengan jari-jari tanganku ini, tentu dia akan mengenalku. Nah, aku pergi!” Baru saja dia berkata demikian, tubuhnya sudah berkelebat dan lenyap! Dua orang wanita yang lihai itu menjulurkan lidah penuh rasa kagum , dan ngeri, kemudian mereka pun pergi setelah melirik ke arah dua orang putera Jenderal Kao yang masih berdiri terlongong di tepi sungai.

“Eh, Nona, harap tunggu dulu!” Tiba-­tiba Kok Tiong berseru ketika dia me­lihat dua orang wanita itu pergi mening­galkan tempat itu tanpa bicara apa-apa.

Kim-hi Nio-cu dan Liong-li berhenti, membalikkan tubuh dan tersenyum manis. Dua orang pemuda putera Jenderal Kao itu gagah dan tampan, tentu saja hati mereka tertarik, akan tetapi teringat akan pesan pemuda berbaju abu-abu, mereka berdua merasa ngeri dan tidak berani mengganggu sedikit pun.

“Ada apakah, Kongcu?” Kim-hi Nio­cu berkata sambil tersenyum manis, matanya yang jernih memandang tanpa me­nyembunyikan rasa kagumnya.

“Kami dapat menduga bahwa Nona berdua tentulah anggauta-anggauta per­kumpulan yang amat terkenal di daerah ini. Akan tetapi kami tidak tahu, Nona berdua dari golongan apakah? Kami men­dengar bahwa ada dua golongan di dae­rah ini, dan Nona ini dari Gunung Ce­mara ataukah dari seberang lembah?”

Kim-hi Nio-cu tertawa kecil. “Dua orang tua tadilah yang datang dari lem­bah,” jawabnya dengan suara merdu. “Mereka itu adalah tokoh-tokoh Huang­ho Kui-liong-pang (Perkumpulan Naga Setan dari Huang-ho), sedangkan kami adalah kepala-kepala pasukan dari perkumpulan Hek-eng-pang dari Gunung Cemara.

“Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat, Nona. Kiranya Ji-wi (Anda Ber­dua) adalah kepala-kepala pasukan dari perkumpulan besar Hek-eng-pang. Akan tetapi, Nona tentu tahu ke mana pergi­nya para wanita dan anak-anak, yaitu keluarga kami?”

Kim-hi Nio-cu memainkan matanya, mengerling tajam penuh daya tarik, ke­mudian sambil meremas-remas jari ta­ngannya, sikapnya seperti seorang dara tujuh belas tahun saja, dia berkata, “Sa­ya tidak bisa bicara banyak. Hoa-gu-­ji itu bentrok dengan adik kami, kepala Pasukan Kayu di luar hutan malam ke­marin untuk memperebutkan harta, ke­luarga kalian. Hoa-gu-ji kalah, lalu pergi. Kalian adalah bagian kami. Akan tetapi muncul pasukan asing di tebing ketika kami hendak turun tangan, terjadi perang dan kami menang, sungguhpun kepala Pasukan Kayu, adik kami itu tewas. Sa­yangnya, harta itu telah dirampas oleh seorang pemuda tampan yang luar biasa sekali, demikian menurut keterangan keluarga kalian, katanya pemuda yang merampas harta itu adalah seorang pe­muda berpakaian putih-putih.”

Kok Tiong bertukar pandang dengan Kok Han, keduanya menduga bahwa tentu itulah Suma-kongcu seperti yang disebut-­sebut oleh tukang warung bubur hangat dan oleh pemuda berpakaian abu-abu yang lihai tadi. “Kalau begitu, ke mana­kah perginya keluarga kami?” tanya Kao Kok Han dengan suara penasaran.

Kembali Kim-hi Nio-cu memainkan matanya, mengerling tajam dan tersenyum manis penuh daya tarik. “Hi-hikkk.... Ji-­wi Kongcu yang baik, asal Ji-wi (Anda Berdua) dapat menemukan harta benda itu, yang katanya dibawa oleh pemuda yang bernama Suma-kongcu, dan menyerahkan harta itu kepada kami, hemm.... selain kami akan berterima kasih sekali, akan menjamu Ji-wi sebagai tamu-tamu kehormatan dan tamu-tamu agung, juga kami akan mengatakannya di mana mereka itu. Bagaimana? Nah, Ji-wi carilah pencuri itu sampai dapat, dan kami menanti di puncak Gunung Cemara. Sampai jumpa, Ji-wi Kongcu yang tampan, kami pergi dulu. Marilah, Adik Liong-li!” Kim-hi Nio-cu meng­gandeng tangan Liong-li, kemudian sam­bil tertawa-tawa dan dengan lenggang yang memikat, kedua orang wanita can­tik yang nyaris diperkosa oleh dua orang kakek tadi, meninggalkan dua orang putera Jenderal Kao yang berdiri bengong dan bingung.

Tentu timbul pertanyaan di hati para pembaca budiman. Siapakah pemuda ber­pakaian abu-abu yang sederhana, tampan dan amat lihai itu? Bagi para pembaca cerita Kisah Sepasang Rajawali, pemuda ini bukanlah seorang asing karena dia merupakan seorang diantara tokoh-tokoh besar cerita itu. Dia bernama Ang Tek Hoat! Pemuda ini adalah putera yang tidak sah dari mendiang Wan Keng In dan Ang Siok Bi. Ibunya itu, Ang Siok Bi, ketika masih gadis telah diperkosa oleh Wan Keng In dan mengandung. Dialah anaknya dan karena dia bukan anak sah dari Wan Keng In, maka ibunya memberi she ibunya dan she itu tetap terus dipakainya. Setelah melalui per­jalanan hidup yang berliku-liku, yang di­tuturkan secara menarik dan menegang­kan dalam cerita Kisah Sepasang Raja­wali, akhirnya Ang Tek Hoat diaku se­bagai seorang pahlawan di negara Bhutan dan ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi, seorang puteri yang cantik jelita dan berbudi mulia, yang akhirnya jatuh cinta kepada Ang Tok Hoat, biarpun pe­muda ini pernah menjadi seorang yang sejahat-jahat dan sekejam-kejamnya.

Mengingat bahwa ayah kandung Tek Hoat yang bernama Wan Keng In adalah anak tiri dari Pendekar Super Sakti Ma­jikan Pulau Es, maka Tek Hoat terhitung keluarga Pulau Es yang terkenal, karena dia masih cucu tiri dari Pendekar Super Sakti. Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan betapa Ang Tek Hoat telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dari dua orang datuk Pulau Neraka, dan kini dia memiliki ilmu ke­pandaian yang amat hebat dan sukar memperoleh tandingan.

Akan tetapi mengapa pemuda perkasa yang telah ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi, yang diaku sebagai pah­lawan negara Bhutan karena pembelaan­nya ketika negara itu diserang oleh mu­suh-musuh, kini berkeliaran di lembah Sungai Huang-ho seorang diri? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita mengikutinya sejenak semenjak empat tahun yang lalu, ketika dia terpaksa meninggalkan negara Bhutan.

Seperti telah dituturkan di dalam bagian terakhir dari cerita Kisah Sepa­sang Rajawali, Ang Tek Hoat telah di­tunangkan dengan Puteri Syanti Dewi dan tinggal di Bhutan sebagai seorang pah­lawan yang diangkat menjadi panglima. Dia telah menjadi seorang panglima mu­da yang terhormat, bahkan terkenal se­bagai calon mantu raja, tunangan Puteri Syanti Dewi yang dipuja-puja oleh rakyat Bhutan. Hari pernikahan mereka hanya tinggal menanti keputusan raja saja, yang masih menangguhkannya meng­ingat bahwa Bhutan baru saja mengalami perang dan bahwa baru saja Puteri Syan­ti Dewi kembali ke istana Bhutan setelah beberapa tahun lenyap (baca cerita Ki­sah Sepasang Rajawali).

Akan tetapi, tidak ada kesenangan yang kekal bagi manusia yang hidup di dunia ini. Di mana terdapat kesenangan, di situ pasti terdapat pula kesusahan. Susah dan senang, puas dan kecewa, suka dan duka, agaknya merupakan pasangan­-pasangan yang tak dapat dipisahkan yang menghias kehidupan manusia. Kesenangan yang dinikmati oleh Ang Tek Hoat pun ternyata tidak kekal adanya. Terjadi hal yang sama sekali tidak disangka-sangka­nya.

Beberapa bulan sudah Ang Tek Hoat tinggal di Bhutan, di sebuah gedung kecil yang amat megah dan indah, sebuah bangunan istana yang tidak jauh dari istana raja. Hampir setiap hari dia da­pat bertemu dan bercakap-cakap dengan kekasihnya, yaitu Puteri Syanti Dewi, dan dalam beberapa bulan saja, tubuh Tek Hoat kelihatan segar, sehat dan agak gemuk. Akan tetapi diam-diam dia mulai tidak kerasan, karena kehidupan yang di­alaminya sehari-hari terlalu enak, terlalu menganggur dan membuatnya malas. Dia sudah biasa hidup merantau, sudah biasa menghadapi hal-hal yang menegangkan, yang memerlukan kecerdikan dan ketangkasannya untuk menghadapinya. Kini, dia tinggal di istana indah, tidak ada kerjaan apa-apa kecuali kadang-kadang meng­hadiri sidang di dalam istana, membica­rakan urusan kenegaraan yang tidak be­gitu dimengerti dan dipedulikannya. Jiwa petualangan di dalam dirinya meronta dan membuat dia tidak kerasan. Namun perasaan ini tentu saja ditahan-tahannya, demi cintanya terhadap Syanti Dewi.

Hari masih pagi sekali dan baru saja Tek Hoat mandi pagi dan bertukar pakai­an ketika seorang pengawal menghadap­nya dan melapor bahwa terjadi keributan di luar pintu gerbang istana karena ada seorang wanita yang memaksa hendak bertemu dengan Panglima Ang!

“Siapakah dia?” tanya Tek Hoat de­ngan alis berkerut, akan tetapi hatinya berdebar girang karena baru sekarang terjadi hal yang menegangkan, berbeda dari biasanya yang lewat dengan aman dan mulus tanpa peristiwa berarti.

“Dia tidak mau mengaku namanya, hanya mengatakan bahwa dia harus ber­temu dengan Panglima Ang. Ketika di cegah, dia malah merobohkan dua orang perajurit pengawal dan karena dia meng­aku kenal baik dengan Paduka, maka para komandan jaga tidak berani lancang turun tangan dan menyuruh hamba da­tang melapor.

Tek Hoat lalu bergegas meninggalkan gedungnya dan pergi ke pintu gerbang di mana para perajurit sedang menghadapi seorang wanita yang marah-marah. Jan­tungnya berdebar keras ketika mendengar suara wanita itu, cepat dia lari meng­hampiri dan menguak para perajurit, melangkah ke depan wanita itu.

“Tek Hoat !”

“Ibu....!”

Semua orang melongo ketika melihat betapa panglima baru mereka itu ber­pelukan dengan wanita galak tadi. Kira­nya wanita yang pakaiannya kusut dan kotor, yang galak dan angkuh itu adalah ibu dari panglima besar mereka, ibu dari calon mantu raja mereka, ibu dari tunangan Puteri Syanti Dewi mereka! Tan­pa banyak cakap lagi karena di situ ter­dapat banyak orang, Tek Hoat lalu meng­gandeng ibunya, diajak ke istananya.

Setelah tiba di istana, kembali wanita itu yang bukan lain adalah Ang Siok Bi, memeluk puteranya sambil menangis sesenggukan. “Terlalu kau.... Tek Hoat, kau sampai bertahun-tahun tiada berita, aku sampai susah payah, sengsara mencari-carimu kiranya engkau men­jadi seorang besar di negara asing ini hu-hu-huuuh....”

“Sudahlah, Ibu. Harap kau suka am­punkan aku. Aku mengalami banyak liku-­liku dalam hidup, bahkan sampai terseret arus hidup ke tempat ini, dan baru saja hidupku teratur maka aku belum sempat menengok ibu di puncak Bukit Angsa. Sudahlah, ibu harap jangan menangis.”

Setelah rasa penasaran dan keharuan hatinya mereda, Ang Siok Bi lalu men­dengarkan penuturan puteranya, semenjak Tek Hoat meninggalkan lembah Huang­ho sampai dia menjadi panglima besar di Bhutan. Tentu saja semua itu dituturkan­nya secara singkat dan hanya garis-garis besarnya saja.

“Dan aku memperoleh kenyataan yang pahit, Ibu, yaitu bahwa musuh kita bu­kanlah Gak Bun Beng “

“Hemmm, aku juga sudah tahu!” tukas ibunya. “Dan sekarang, setelah engkau enak-enak saja di sini sedangkan musuh ibumu masih enak-enak hidup dan engkau belum membalaskan dendam dan sakit hati ibumu? Anak macam apa eng­kau ini? Mau enak-enak saja di sini menjadi panglima?”

Tek Hoat terkejut. “Ibu! Bukankah Ibu sendiri sudah tahu bahwa Paman Gak Bun Beng bukanlah musuh Ibu? Hampir saja aku berdosa besar dengan memusuhi Pa­man Gak Bun Beng yang ternyata adalah seorang pendekar budiman yang berbudi mulia, sama sekali bukan musuh kita, dan Ibu tentu sudah tahu pula bahwa musuh kita itu telah tewas.”

“Maksudmu ?”

“Wan Keng In itu.... Ayah.... kan­dungku.... Si keparat jahanam yang mem­perkosa Ibu...., ahhh, mengapa dahulu Ibu menceritakan yang bukan-bukan ke­padaku? Kiranya Wan Keng In yang mem­perkosa Ibu, akan tetapi dia menggunakan nama Gak Bun Beng sehingga Ibu mengira Gak Bun Beng yang menjadi Ayah kandungku dan Ibu membohongiku dengan cerita lain agar aku membunuh.... Ayah kandungku. Sekarang, syukur bukan Paman Gak yang berdosa, dan orang yang berdosa, she Wan itu dia telah mati. Habislah sudah riwayat busuk itu, Ibu.”

“Siapa bilang habis? Aku, Ibumu, ti­dak akan merasa puas sebelum dapat membalas dendam yang kutanggung selama hidupmu ini.”

“Maksud Ibu?”

“Wan Keng In si keparat sudah mati, akan tetapi Ibunya masih ada! lbu kan­dung keparat itu masih hidup!”

“Ihhhhh....!” Tek Hoat berseru kaget dan membelalakkan matanya. “Ibu tahu siapa Ibu Wan Keng In Itu?”

Ang Siok Bi mengangguk. “Dia ber­nama Lulu, dia adalah isteri ke dua dari Majikan Pulau Es.

“Dan Majikan Pulau Es adalah Pen­dekar Super Sakti dan isterinya yang ke dua itu adalah Nenekku! Ibu, betapa mungkin kita harus membalas kepada Nenek yang tidak berdosa apa-apa itu!”

“Tidak peduli! Wan Keng ln sudah mampus, maka Ibunya, wanita yang mengandung dan melahirkan manusia iblis itu harus kita bunuh! Dan engkau sebagai anakku harus membantu Ibumu!”

“Ibu....!” Tek Hoat menutupi muka dengan kedua tangannya, mukanya men­jadi pucat sekali.

Ang Siok Bi meloncat berdiri, lalu menyergap anaknya, memegang pundak­nya dan mengguncangnya keras-keras. “Apa? Kau.... kau takut? Kau jerih menghadapi keluarga Pulau Es? Baik, Ibumu akan pergi sendiri!”

“Ibu, jangan....! Bukan begitu mak­sudku. Akan tetapi aku.... aku telah menerima kebaikan Sri Baginda di Bhu­tan ini, aku....”

“Kau sudah mabuk kemewahan? Tugas hidupmu paling utama, membalas dendam Ibumu paling perlu, setelah itu terserah kau mau hidup bagaimana, aku tidak peduli lagi.”

“Bukan itu, Ibu, akan tetapi aku.... aku telah bertunangan dengan puteri Raja Bhutan, dengan Puteri Syanti Dewi.”

“Huh, lain kemewahan lagi!”

“Jangan Ibu berkata demikian,” Tek­ Hoat berkata dengan nada agak keras karena dia merasa tersinggung. “Ketahui­lah, Ibu. Biarpun Syanti Dewi itu puteri raja, akan tetapi aku cinta padanya dan dia cinta padaku. Kami sudah saling mencinta dan dia adalah seorang gadis yang berbudi dan amat baik. Aku akan menikah dengan dia karena cinta, bukan karena dia puteri raja.”

Ang Siok Bi mengangguk-angguk tak sabar. Baiklah, baiklah, kau cinta pada­nya, dan dia cinta padamu. Karena itu, kau boleh menikah dengan dia sekarang juga, lalu kaubawa dia pulang ke Bukit Angsa. Dia bukan menjadi halangan bagi kita untuk membalas ibu si keparat Wan Keng In!”

“Akan tetapi tidak mungkin itu, Ibu!” Tek Hoat berkeras menolak.

“Tidak mungkin katamu? Mengapa?”

“Terlalu banyak hal-hal yang mem­buat aku tidak mungkin melakukan per­mintaanmu itu.”

“Huh! Begitu? Coba katakan, apa hal­-hal itu?”

“Pertama, tidak mungkin Sri Baginda membolehkan puterinya kubawa pergi dari sini karena beliau amat mencinta puteri­nya. Ke dua, aku telah diangkat menjadi panglima dan tenagaku dibutuhkan di Ke­rajaan Bhutan ini, dan karena aku telah berhutang budi terpaksa harus kulakukan. Ke tiga tidak mungkin aku memusuhi keluaraga Pulau Es.

“Ehhhhh? Kau.... kau takut?”

Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang. Biarpun mereka itu amat sakti, aku tidak takut. Aku hanya segan, karena mereka itu adalah keluarga pendekar yang sakti dan budi­man, dan aku.... aku bahkan bangga dapat menyebut Pendekar Super Sakti sebagai Kakek tiriku.”

“Cih! Pengecut!”

“Ibu....!”

“Engkau anakku, engkau harus me­nurut kepada Ibumu!”

“Maaf, Ibu. Akan tetaipi tidak mung­kin, aku malah mohon agar Ibu suka tinggal di sini bersamaku, hidup tenteram dan damai sampai hari akhir. Ibu, meng­apa Ibu mendendam kepada keluarga Pulau Es, padahal yang berdosa telah meninggal? Ibu, kumohon padamu jangan....”

“Cukup!” Ang Siok Bi bangkit berdiri. Pada saat itu, seorang pelayan wanita datang membawa cangkir-cangkir dan poci teh, akan tetapi sekali menggerak­kan kaki, Ang Siok Bi menendang sehing­ga baki itu terlempar, cangkir-cangkir dan poci pecah, air teh berhamburan, si pelayan menjerit dan lari masuk. “Aku tidak sudi minum air tehmu! Kau anak durhaka! Kau anak tidak berbakti, kau anak terkutuk! Baik, aku akan pergi dari sini, kembali ke Bukit Angsa dan lebih baik aku mati kelaparan di sana daripada hidup bermewah di sini bersama anak durhaka!” Ang Siok Bi marah sekali dan dia lari keluar.

“Ibu....!” Tek Hoat berteriak akan tetapi ibunya tidak mempedulikan­nya sehingga pemuda yang gagah perkasa ini menjatuhka diri di atas kursi dengan muka pucat sekali. Tak disangkanya akan terjadi peristiwa seperti itu dan dia me­nyesal, menyesal sekali, akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?

Tek Hoat tidak tahu bahwa semenjak dia diangkat menjadi panglima dan men­jadi calon mantu Raja Bhutan, di sam­ping banyak yang menerimanya dengan girang, ada pula yang menerimanya de­ngan hati penuh iri dan penasaran. Puteri raja yang mereka puja-puja dan agungkan itu hendak dikawinkan dengan seorang asing dari timur? Seorang yang bukan keturunan bangsawan pula, bahkan kabar­nya seorang petualang! senang ini, terdapat seorang panglima muda bernama Mohinta, putera dari pang­lima pertama Kerajaan Bhutan, panglima tua Sangita. Panglima muda Mohinta ini sudah lama menaruh harapan akan dapat diambil mantu oleh raja. Dia adalah teman bermain Syanti Dewi di waktu kecil dan diam-diam dia jatuh cinta ke­pada puteri itu, apalagi ketika puteri itu kembali ke Bhutan dan dia melihat be­tapa puteri itu kini demikian cantik je­litanya. Diam-diam dia merasa cemburu dan iri hati, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berbuat apa-apa, hanya me­nanti saat-saat yang baik untuk memper­tahankan dan memperjuangkan kepenting­an dirinya, menanti kesempatan untuk “menjatuhkan” saingannya yang dia tahu amat sakti itu.

Dan pada hari itu, tibalah kesempatan yang dinanti-nantinya itu, yang dianggap­nya sebagai anugerah dewata. Ketika mata-matanya memberi tahu tentang munculnya seorang wanita kasar yang mengaku “ibu” dari Panglima Ang Tek Hoat, Panglima Mohinta segera mendengar tentang perselisihan antara Tek Hoat dan ibunya, dan dia segera men­cegat ketika mendengar bahwa ibu Tek Hoat pergi dengan marah.

Ang Siok Bi masih marah-marah ke­tika dia dihadang oleh seorang Panglima Bhutan yang muda dan tampan, yang memberi hormat dengan sikap amat menghormat kepadanya, kemudian pang­lima muda itu berkata, “Harap Toanio suka bersabar dulu. Saya adalah Mohinta, sahabat baik dari putera Toanio dan saya selalu siap untuk menolong, terutama kepada Toanio sebagai Ibu sahabat saya.”

“Huh, aku tidak mempunyai urusan dengan sahabat-sahabat anakku yang dur­haka itu!” Ang Siok Bi hendak melangkah terus, akan tetapi Mohinta kembali men­jura dan berkata dalam bahasa Han yang fasih.

“Toanio, bukankah Toanio menghendaki agar putera Toanio itu dapat kembali ke timur bersama Toanio? Kalau hanya be­gitu, mengapa repot-repot? Saya dapat menolong Toanio”

Ang Siok Bi yang sudah hampir putus asa itu memandang tajam penuh selidik, lalu bertanya ragu, “Benarkah? Aku se­bagai Ibunya sudah tidak dapat membujuknya, apalagi engkau yang hanya sahabatnya.”

“Toanio, ada peribahasa di negeri kami yang menyatakan bahwa apabila kekuatan tak berhasil menolong kita, kita harus menggunakan akal, dan bahwa kita dapat mengatasi kekerasan dengan ke­lunakan. Saya tahu mengapa Saudara Tek Hoat tidak dapat meninggalkan Bhu­tan, tidak lain karena adanya Puteri Syanti Dewi. Dan ketahuilah bahwa se­sungguhnya, Sri Baginda tidak begitu berkenan hatinya mengambil mantu pu­tera Toanio. Maka, apabila Sri Baginda mendengar sesuatu tentang diri Saudara Tek Hoat, yang tidak berkenan di hati­nya, besar harapannya pertunangan itu akan dibatalkan dan tentu Saudara Tek Hoat akan suka pergi bersama Toanio kalau tidak ada lagi pengikatannya de­ngan puteri raja.”

“Hemmm, kalau memang Raja Bhutan tidak suka kepada anakku, kenapa akan diambil mantu?” Ang Siok Bi bertanya marah.

“Sri Baginda hanya memandang ke­pada keluarga Suma, Majikan Pulau Es yang kabarnya masih keluarga Kaisar. Karena putera Toanio kabarnya masih keluarga Majikan Pulau Es, dengan sen­dirinya putera Toanio masih berdarah keluarga Kaisar, maka Sri Baginda mau menerimanya. Kalau halnya tidak demi­kian, tentu pertunangan itu akan dibatal­kan.”

Wajah wanita itu berseri dan dia cepat berkata, “Kalau begitu, biar aku bertemu dengan raja!”

Memang cerdik sekali Panglima Mo­hinta. Tadi dia mendengar dari mata-­matanya tentang perselisihan Tek Hoat dengan ibunya, melalui pelayan dalam istana Tek Hoat, dan dia tahu pula ten­tang percakapan antara ibu dan anak me­ngenai keluarga Pulau Es. Oleh karena itu, dia sengaja mengemukakan hal ke­luarga itu kepada Ang Siok Bi. Dan wa­nita ini memang sama sekali tidak peduli tentang kedudukan puteranya, atau tentang raja dan puterinya. Yang penting baginya adalah dapat mengajak puteranya untuk kembali ke timur dan membantu­nya membalas dendam kepada Wan Keng In, atau lebih tepat, kepada ibu Wan Keng In, yaitu Nyonya Suma di Pulau Es!

Berkat bantuan dan usaha Mohinta, akhirnya Ang Siok Bi berhasil pula di­hadapkan kepada Raja Bhutan. Raja ini sudah mengerutkan alisnya dan hatinya merasa tidak senang ketika melihat wanita setengah tua yang biarpun can­tik dan gagah, namun kasar dan tidak hormat itu, yang gerak-geriknya jelas membayangkan kekerasan dan kekasaran, sama sekali tidak patut menjadi besannya! Wanita dusun ini adalah ibu calon mantu­nya!

Akan tetapai sebagai basa-basi, dia mempersilakan nyonya itu untuk duduk, kemudian berkata, “Kami mendengar bahwa Nyonya adalah Ibu kandung dari Panglima Ang Tek Hoat, dan mohon menghadap kami. Benarkah itu dan siapa­kah nama Nyonya?”

“Nama saya Ang Siok Bi, tinggal di Bukit Angsa, di lembah Sungai Huang­ho,” jawab Ang Siok Bi.

“Hemmm, kalau Nyonya she Ang, kenapa putera Nyonya she Ang juga. Siapakah Ayah Panglima Ang Tek Hoat? Bukankah Ayahnya masih keluarga dengan Majikan Pulau Es yang terkenal itu?”

Tiba-tiba Ang Siok Bi berkata dengan suara keras, “Persetan dengan keluarga Pulau Es! Anakku tidak mempunyai ayah!”

Raja makin terkejut dan makin tidak senang. Apa maksud Nyonya?”

“Dengarlah, Sri Baginda! Ada seorang anggauta luar keluarga Pulau Es yang bernama Wan Keng In, dan manusia ja­hanam itu telah memperkosa saya ketika saya masih gadis, dan saya mengandung lalu melahirkan Tek Hoat itulah. Maka dia adalah anak saya sendiri, tidak mempunyai ayah yang sah. Saya mempunyai dendam sakit hati sebesar gunung, se­dalam lautan, seluas langit terhadap keluarga Wan Keng In itu, dan saya ti­dak rela kalau putera saya dikurung di sini, karena saya harus mengajaknya untuk membalas dendam. Maka, saya mohon kepada Sri Baginda untuk membebaskan putera saya itu!”

“Cukup....! Pengawal, suruh dia per­gi....!” Sri Baginda menjadi marah sekali dan dia memerintahkan pengawal untuk mengusir Ang Siok Bi. Wanita ini tidak melawan dan dia hanya memandang de­ngan mata mendelik kepada Panglima Mohinta, kemudian dia keluar dari istana, bahkan terus digiring oleh pasukan pe­ngawal, keluar dari daerah Kerajaan Bhutan, kembali ke timur.

Pada hari itu juga, Tek Hoat meneri­ma panggilan dari raja. Ketika pemuda ini keluar dari istananya, dia terheran-­heran melihat banyaknya pengawal di sekitar istananya, dan di istana raja pun terdapat banyak pasukan, seolah-olah kerajaan menghadapi perang! Tergesa-­gesa dia memasuki istana dan tiba di ruang persidangan, di mana dia melihat raja sudah duduk dihadap oleh para panglima dan pejabat tinggi dan juga di tem­pat ini terjaga oleh pasukan-pasukan pengawal dengan ketat. Cepat dia mem­beri hormat dengan berlutut dan dengan suara kaku Sri Baginda lalu menyuruh dia duduk.

“Hamba terkejut sekali mendengar panggilan tiba-tiba ini dan melihat per­siapan-persiapan. Ada terjadi hal penting apakah, hendaknya Paduka memberi tahu kepada hamba dan hamba yang akan menghalau semua bahaya!” Tek Hoat ber­kata, akan tetapi hatinya merasa tegang karena dia melihat betapa pandang mata semua panglima dan pejabat ditujukan kepadanya dengan tak senang.

“Ang Tek Hoat, kami memanggilmu untuk mendapat keterangan sejelasnya dan sejujurnya darimu,” Sri Baginda ber­kata. “Maukah engkau menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur?”

“Hamba siap untuk menjawab semua pertanyaan dengan sejujurnya,” jawab Tek Hoat dengan hati tidak enak.

“Pertama, benarkah engkau masih ada sangkutan keluarga dengan keluarga Pu­lau Es seperti yang dikabarkan orang dan bagaimanakah sangkutan keluarga itu?”

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Hemm, apakah artinya pertanyaan aneh ini? Apa hubungannya dengan keadaan dirinya? Akan tetapi dengan tenang dia men­jawab, “Memang benar demikian, Sri Baginda. Isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti adalah Nenek hamba, dan Majikan Pulau Es itu sendiri adalah Ka­kek tiri hamba.”

“Siapakah nama Ayah kandungmu?”

Tek Hoat terkejut. Tak disangkanya akan ditanya sampai begini melit tentang keluarganya. “Ayah hamba bernama Wan Keng In, putera dari Nenek hamba itu.”

“Kalau Ayahmu she Wan, kenapa eng­kau she Ang?”

Kembali Tek Hoat terkejut dan me­rasa tidak enak sekali. Akan tetapi dia sudah berjanji akan menjawab sejujurnya! Dan andaikata yang bertanya ini bukan raja, calon ayah mertuanya, tentu dia sudah marah sekali.

“Itu adalah kehendak Ibu hamba yang bernama Ang Siok Bi.”

Kini Raja Bhutan memandang tajam, tubuhnya agak mendekat dan suaranya terdengar lantang, “Ang Tek Hoat, pernahkah Ibumu menikah dengan Ayahmu ltu? Siapakah Ayahmu yang sah?”

Kalau ada petir menyambar, kiranya Tek Hoat tidak akan terkejut seperti pada saat mendengar dua pertanyaan itu. Dia marah sekali, mukanya menjadi me­rah dan matanya mengeluarkan sinar berapi. Semua petugas dan pengawal yang menjaga di situ menjadi gentar dan siap siaga kalau-kalau panglima muda yang ditakuti itu akan mengamuk. Akan tetapi Tek Hoat lalu berkata, suaranya menahan kemarahannya, “Hamba tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Itu adalah urusan hamba pribadi dan siapapun tidak dapat memaksa hamba untuk menjawabnya.”

Raja Bhutan menggebrak meja di depannya. “Brakkk! Ang Tek Hoat! Kami tahu bahwa engkau telah berjasa bagi negara ini, kami tahu pula bahwa antara engkau dan puteri kami terdapat perasa­an cinta kasih. Akan tetapi, apakah itu cukup untuk mengangkatmu sebagai calon mantu kerajaan? Riwayatmu tidak terang dan agaknya tidak bersih, maka engkau pun harus mengerti betapa sulitnya bagi kami untuk mempunyai seorang mantu dan panglima yang tidak jelas riwayat hidup dan keturunannya. Bagaimana kami akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari negara-negara tetangga? Hal itu akan menyeret kami dan keharuman na­ma keluarga kerajaan kami ke dalam lumpur!”

Makin merah wajah Ang Tek Hoat. Kalau dia tidak ingat kepada Syanti De­wi, tentu dia sudah mengamuk dan mem­bunuh raja serta semua yang melindungi­nya. Akan tetapi dia masih ingat dan dapat membayangkan betapa akan ber­duka dan hancur rasa hati kekasihnya itu kalau dia melakukan hal itu. Pula, semua penderitaan hidupnya selama ini membuat dia makin kuat dan tahan menerima pukulan-pukulan batin yang hebat ini, dan dia dapat merasakan pula kebenaran bagi fihak keluarga raja. Maka perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan berkata tenang.

“Sri Baginda, sebagai seorang laki­-laki hamba sudah biasa menerima segala sesuatu secara terang-terangan. Harap saja Paduka juga berlaku terang-terangan menyatakan niat hati Paduka kepada hamba. Kalau sudah menjadi kenyataan bahwa hamba bukanlah keturunan ningrat, bukan pula keturunan orang terpelajar atau pun kaya, lalu bagaimana kehendak Paduka?”

“Ikatan jodoh dengan puteriku harus batal! Kami tidak mungkin mengambil mantu seorang seperti engkau, Ang Tek Hoat. Dan jasamu terhadap negara Bhu­tan pun tidak dapat dibalas dengan peng­angkatan sebagai panglima. Engkau bukan bangsa kami dan jasa-jasamu itu akan kami balas dengan anugerah berupa harta benda yang boleh kaubawa pulang ke negerimu!”

Rasanya seperti hampir meledak dada Ang Tek Hoat. “Sri Baginda! Ini sudah keterlaluan! Siapa yang menghendaki balas jasa? Siapa yang menghendaki pang­kat? Siapa pula yang menghendaki ke­dudukan sebagai mantu raja yang ter­hormat? Hamba mencinta Puteri Syanti Dewi, hal itu sudah jelas, akan tetapi yang hamba cinta adalah pribadinya sebagai manusia, bukan kedudukannya se­bagai puteri kerajaan! Hamba pun tidak membutuhkan pangkat ini!” Dengan ge­mas Tek Hoat merenggut hiasan kepala dan melemparkannya ke atas lantai, lalu mencopot-copoti semua tanda pangkat dan melemparkannya ke atas lantai. “Mu­lai saat ini hamba bukan lagi Panglima Bhutan, bukan lagi hamba Bhutan dan hamba pun tidak mengharapkan balas jasa sejemput batu sekali pun!”

Setelah berkata demikian, dengan muka merah dan dada panas Tek Hoat melangkah keluar persidangan, mengang­kat dadanya dan siap untuk mengamuk apabila ada yang turun tangan. Akan tetapi untung, di antara para panglima dan pengawal, tidak ada yang mau turun tangan sehingga dengan leluasa, Ang Tek Hoat keluar dari istana itu. Ketika dia hendak mengunjungi Syanti Dewi, dia melihat betapa Istana di mana puteri itu tinggal terkurung rapat oleh pasukan yang jumlahnya ada seribu orang! Tahu­lah dia bahwa raja tidak menghendaki dia berjumpa dengan kekasihnya itu, dia tahu pula bahwa mengamuk seorang diri menghadapi bala tentara senegara me­rupakan hal yang bodoh dan tidak mung­kin. Pula, kalau keluarganya tidak meng­hendaki, apa perlunya dia memaksa­-maksa? Dia hanya akan membuat Syanti Dewi menjadi sengsara dan berduka saja.

“Syanti Dewi, selamat tinggal....!” Dia berbisik, lalu pergilah Ang Tek Hoat dari istana itu, bahkan terus keluar, dari negara Bhutan pada hari itu juga. Diam-­diam dia merasa berduka karena terpaksa harus meninggalkan kekasihnya, mening­galkan Syanti Dewi yang dicintanya se­penuh jiwa raganya. Dan dia tahu bahwa hal ini terjadi karena gara-gara ibunya. Siapa lagi kalau bukan ibunya yang men­jadi biang keladi semua peristiwa yang menimpanya ini? Sungguh terlalu! Ibunya sendiri pun agaknya tidak ingin melihat dia hidup bahagia di samping Syanti De­wi! Dengan hati penasaran Ang Tek Hoat mulai dengan perjalanannya kembali ke timur.

Perjalanan yang amat menyedihkan. Makin jauh dia menuju ke timur, makin merana rasa hatinya yang direnggutkan dari kekasihnya yang tercinta. Sering kali, di waktu beristirahat, dia terme­nung seperti arca, dengan muka pucat dan wajah muram, dengan rambut awut­-awutan dan pakaian kusut mengenangkan wajah Syanti Dewi dan dia merasa be­tapa hatinya perih sekali. Kadang-kadang, kalau rasa rindunya terhadap Syanti Dewi sudah tak tertahankan lagi, dia bersenan­dung, maksudnya untuk melupakannya, akan tetapi yang terdengar hanyalah senandung sedih penuh duka, sebagai pengganti tangis yang diharamkannya.

Akhirnya setelah melakukan perjalan­an yang jauh dan lama, juga merupakan perjalanan paling pahit dan paling me­nyedihkan bagi Tek Hoat, sampailah pe­muda itu di puncak Bukit Angsa, di lem­bah Sungai Huang-ho. Dari jauh dia su­dah melihat pondok ibunya di puncak itu, pondok yang menjadi kampung halaman­nya, tempat dia bermain-main di waktu kecil. Ada rasa hati menyentuh perasaan­nya, akan tetapi kembali dia teringat akan kedukaan hatinya terpisah dari Syanti Dewi yang agaknya disebabkan oleh ibunya, maka lenyaplah perasaan haru itu, terganti rasa penasaran. Dia mempercepat langkahnya. Dia harus ber­temu ibunya, harus menegur ibunya. Ibu­nya tidak berhak merusak hidupnya, me­rusak kebahagiaannya!

“Ma (Ibu)....!” Dia memanggil ketika dia tiba di depan pintu pondok yang tertutup.

Tidak ada jawaban. “Ibu....!” Dia me­manggil lagi, kini dia mendorong pintu pondok. Bau yang tidak enak menyambut­nya, membuatnya terhuyung mundur dan membuatnya waspada. Bau yang seperti racun, atau bau seperti bangkai busuk! Ditendangnya daun pintu terbuka. Gelap di dalam karena memang matahari sudah condong ke barat, dan di dalam pondok itu tidak memperoleh sinar lagi. Dia tidak berani sembarangan masuk dan dengan memutar dia menghampirl jende­la kamar di sebelah barat rumah kecil itu. Daun jendela juga tertutup. Ditolak­nya dari luar. Daun jendela terbuka dan Tek Hoat cepat mengelak karena begitu daun jendela terbuka, dari dalam me­nyambar jarum-jarum beracun berwarna hitam. Dia cepat memandang ke dalam. Kini ada sinar matahari senja menyorot masuk melalui lubang jendela. Jantungnya berdebar tidak karuan karena dari luar tadi dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya seperti berhenti berdenyut, kemudian berdebar-debar. Setelah dia tiba di depan pembaringan kayu itu, jelas tampak olehnya benda yang membuat jantungnya berhenti berdenyut tadi. Rang­ka manusia! Rangka manusia yang ter­bungkus pakaian, pakaian ibunya seperti ketika datang mengunjunginya di Bhutan! Rambut ibunya yang berada di dekat tengkorak itu, dengan sanggul yang masih dikenalnya dan ada hiasan rambut berupa kembang teratai emas milik ibunya! Dia bergidik.

“Ibuuuuu....! Mula-mula dia berbisik, lalu disambung dengan teriakan panjang.

“lbuuuuuu....!” Dia tidak syak lagi. Rangka itu adalah rangka ibunya yang telah tewas. Mati sakit? Ataukah mati ter­bunuh? Timbul kecurigaan di hati Tek Hoat. Tidak mungkin sakit. Baru saja ibunya bisa melakukan perjalanan ke Bhutan, perjalanan yang demikian sukar dan jauh. Ibunya sehat ketika itu, sehat dan masih kuat. Teringat dia akan jarum­-jarum ibunya. Dia memeriksa jendela dan melihat alat rahasia yang melontarkan jarum-jarum itu. Agaknya sebelum mati, ibunya memasang alat itu pada daun jendela, untuk menyerang dan menjebak lawan yang membuka jendela. Jelas bah­wa ibunya telah bersiap-siap menanti kedatangan musuh gelap. Pedang ibunya juga terhunus dan terletak di atas meja dalam kamar. Akan tetapi ibunya telah tewas, menjadi rangka yang tidak rebah lurus di atas pembaringan, melainkan miring dan agak melingkar. Bukan tubuh yang tertidur.

Tek Hoat memeriksa lagi dan pandang matanya tertarik oleh coret-coret di kayu pembaringan, huruf-huruf kecil. Tulisan ibunya! Dia kenal betul tulisan ibunya, sungguhpun tulisan ltu dilakukan dengan menggunakan benda runcing, mungkin jarum yang digores-goreskan. Dia cepat memasang lilin yang masih ada di sudut meja, dan mendekatkan lilin bernyala itu pada pinggir Pembaringan, di mana terdapat tulisan itu.

“Tiga malam aku tidak tidur, menanti serangan si pengecut laknat. Kalau ada puteraku di sini, engkau akan mampus....”

Agaknya tulisan itu akan menuliskan lanjutannya, mungkin akan menyebutkan nama musuh yang ditunggu-tunggu ibu­nya, akan tetapi coretan itu hanya me­rupakan coretan dari atas ke bawah, agaknya pada saat itu musuh datang me­nyerang ibunya. Dan melihat jendela ma­sih dipasangi alat rahasia, tentu musuh itu bukan datang dari jendela, melainkan dari pintu depan, atau boleh jadi juga dari atas genteng! Akan tetapi siapa?

Tek Hoat berlutut, tak dapat ditahan lagi beberapa tetes air mata membasahi pipinya. Baru sekarang dia dapat me­nangis, biarpun hanya beberapa tetes air mata. Dia teringat akan ibunya, akan penderitaan ibunya sejak masih gadis, sejak diperkosa orang! Semenjak saat yang laknat itu, ibunya hidup menderita tekanan batin. Pantas saja ibunya me­nanggung dendam yang tak pernah ter­balas itu, dan tak pernah dapat melupa­kan dendamnya, mula-mula kepada Gak Bun Beng karena disangka orang itulah pemerkosanya, kemudian kepada Wan Keng In dan karena Wan Keng In sudah mati, maka dendamnya beralih kepada keluarga Wan Keng In, kepada keluarga Pulau Es dan terutama kepada ibu kandung Wan Keng In. Salahkah sikap ibunya itu? Tidak, tidak! Kehidupan ibunya telah rusak oleh peristiwa pemerkosaan itu dan ibunya hanya dapat bertahan hidup untuk membalas dendam! Dan setelah tahu bah­wa dendamnya sukar dibalas karena dia berhadapan dengan keluarga Pulau Es yang sakti, ibunya jauh-jauh datang ke Bhutan, mencarinya untuk minta bantu­annya. Dan dia telah menolaknya!

“Ibu.... ahhh, Ibu, ampunkan anakmu.... ini!” Dia meratap dan merasa menye­sal sekali. Mengapa justeru kepada ke­luarga Pulau Es ibunya menaruh dendam?

Betapa mungkin dia memusuhi keluarga yang bijaksana itu? Teringat dia akan semua pengalamannya. Mereka semua itu, Gak Bun Beng, Milana, Suma Kian Lee, Suma Kian Bu, Pendekar Super Sakti, mereka semua adalah orang-orang yang bijaksana, budiman dan sakti. Yang ber­dosa terhadap ibunya hanyalah Wan Keng In, putera tiri Pendekar Super Sakti, sedangkan keluarga itu sama sekali tidak tahu apa-apa!

Dan ibunya yang belum berkesempat­an membalas dendam itu kini telah ter­bunuh oleh orang lain! Entah siapa yang membunuh ibunya. Inilah musuhnya! Ini­lah orang yang harus dicarinya, bukan keluarga Pulau Es! Akan tetapi ke mana dia harus mencar!? Kepada siapa dia harus bertanya? Ibunya telah tewas, te­lah menjadi rangka yang mengerikan.

Dengan hati penuh duka Tek Hoat lalu menggali lubang di puncak itu dan mengubur sisa-sisa jenazah ibunya, ber­ikut semua milik ibunya, kecuali pedang dan hiasan rambut teratai emas itu. Se­telah dia mengubur sisa jenazah ibunya dan berkabung tiga hari, lamanya, mulailah dia mencari-cari dan berkeliaran di sepanjang lembah Sungai Huang-ho, di sekitar daerah itu untuk mencari jejak ibunya, mencari jejak pembunuh ibunya.

Demikianlah riwayat Ang Tek Hoat semenjak dia berpisah dari Syanti Dewi, empat tahun yang lalu! Kini dia hidup seorang diri di lembah Sungai Huang­ho sampai pada hari itu dia bertemu dengan dua putera Jenderal Kao Liang, yaitu Kao Kok Tiong dan Kao Kok Han dan dapat menolong dua orang pemuda itu dari bencana.

***

Kita mengikuti pengalaman Jenderal Kao Liang, jenderal tua yang terlempar ke tengah sungai dan hanyut terbawa arus sungai yang kuat itu. Sampai lama jenderal itu terseret arus karena kedua kakinya tak dapat dia gerakkan, dan kalau hanya dengan kekuatan kedua tangan saja dia tidak mampu berenang ke tepi. Padahal air sungai itu makin lama makin kuat arusnya dan makin melebar, sampai akhirnya air itu tiba di Sungai Huang-ho yang amat luas.

Akan tetapi, betapapun nyawa sudah tergantung di sehelai rambut umpamanya, kalau memang belum tiba saatnya dia mati, orang akan dapat terhindar dari maut. Demikian pula, dengan Jenderal Kao Liang. Dia sudah pasrah karena tidak berdaya, pula ditambah dengan himpitan batin yang amat berat karena dia selain memikirkan keluarganya yang hilang, juga mengkhawatirkan keselamat­an dua orang puteranya yang harus meng­hadapi musuh amat lihai itu. Dalam ke­adaan setengah pingsan itu tiba-tiba ada bintang penolong berupa seorang nelayan yang sedang mendayung perahunya, hen­dak berangkat mencari ikan.

Nelayan ini terkejut ketika melihat orang hanyut, maka cepat-cepat dia me­nolong Jenderal Kao yang hampir pingsan itu, dinaikkan dengan susah payah ke dalam perahunya. Begitu tubuhnya ter­guling ke dalam perahu, Jenderal Kao Liang pingsan. Nelayan itu cepat men­dayung perahunya ke pinggir, kemudian dengan bantuan teman-temannya dia membawa jenderal itu pulang ke rumahnya di dalam sebuah dusun kecil di tepi Sungai Huang-ho.

Jenderal Kao jatuh sakit, menderita demam dan sampai dua hari dia tidak ingat apa-apa, dalam keadaan tidak sa­dar. Nelayan itu bersama isterinya me­rawatnya dengan teliti dan akhirnya, pada hari ke tiga, jenderal itu dapat bangun, dari pembaringan dan dia meng­haturkan terima kasih kepada nelayan itu. Tanpa ragu-ragu lagi jenderal ini berlutut dan menghormati nelayan dan isterinya yang setengah tua itu sehingga si nelayan sederhana sibuk membangun­kan Jenderal Kao Liang yang disangkanya seorang kota yang celaka di sungai itu.

Jenderal Kao Liang diam-diam merasa kagum akan perjalanan hidupnya. Dahulu dia adalah seorang jenderal besar, se­orang panglima perang Kerajaan Ceng yang dihormati orang seluruh negeri. Kini, dia berlutut menghaturkan terima kasih kepada seorang nelayan melarat dan dirawat di dalam gubuknya yang miskin! Bahkan kini dia dijamu dengan makanan yang amat sederhana dan barulah dia tahu betapa miskinnya keadaan hidup seorang nelayan. Hatinya terharu bukan main. Dibandingkan dengan makanan se­hari-hari yang dia berikan kepada anjing peliharaannya dahulu saja, makanan ne­layan ini masih lebih sederhana! Betapa orang-orang besar di atas seperti buta, tidak melihat keadaan rakyat jelata yang begini miskin. Orang-orang besar itu, para pembesar, para hartawan, orang­orang kota, hidup berlebih-lebihan, se­dangkan mereka itu sama sekali tidak pernah tahu atau tidak mau tahu bahwa ada manusia-manusia sebangsa yang hidup begini miskin dan kekurangan. Dan toh orang-orang itu, pembesar-pembesar, para hartawan-hartawan, dan orang-orang kota itu membanggakan diri sebagai orang­orang yang beradab, orang-orang yang berkebudayaan, orang-orang yang ber-Tuhan, yang berperikemanusiaan! Betapa palsu dan munafiknya semua itu, ter­masuk dia dahulu!

Setelah sehat benar, pada keesokan harinya Jenderal Kao lalu berpamit, menghaturkan terima kasih dan mening­galkan dusun itu. Dia kini mengambil keputusan untuk pergi ke utara, untuk mencari putera sulungnya, yaitu Kao Kok Cu yang memiliki kepandaian hebat, menjadi seorang sakti yang menjauhi keduniawian, hidup berbahagia di tempat sunyi bersama isterinya yang tercinta. Putera sulungnya itu terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai Naga Sakti Gu­run Pasir, murid dari manusia dewa Si Dewa Bongkok Bu Beng Lojin dari Gurun pasir Go-bi! Kiranya hanya puteranya itu saja yang akan sanggup menolong keluar­ganya dan dia harus pergi ke sana kare­na untuk menyelidiki seorang diri, jen­deral tua ini tidak sanggup lagi. Kembali dia terheran-heran betapa kehidupannya telah berubah sama sekali. Sebelum ta­hun lalu, sebagai seorang panglima be­sar, dia dapat mengerahkan laksaan pera­jurit untuk mencari keluarganya! Bahkan, tidak ada hal yang tak dapat dia laku­kan. Akan tetapi sekarang dia hanyalah seorang tua yang mulai lemah, yang menderita tekanan batin dan merasa tidak berdaya!

Akan tetapi baru saja dia keluar dari dusun di tepi Sungai Huang-ho itu, dari jauh dia melihat dua orang laki-laki ber­jalan mendatangi dan setelah dekat, dia terkejut dan girang bukan main.

“Kok Tiong! Kok Han....!” Dia ber­teriak sambil berlari ke depan.

“Ayahhhhh....!” Dua orang muda itu pun sudah mengenal ayah mereka dan mereka pun berlari-lari. Pertemuan itu sungguh menggirangkan hati mereka ber­tiga dan mereka segera duduk di tepi jalan sambil saling menceritakan penga­laman mereka. Ketika Jenderal Kao men­dengar penuturan dua orang puteranya tentang pemuda berpakaian abu-abu yang amat lihai, dan betapa pemuda itu me­nyatakan kepada dua orang wanita Ga­ruda Hitam bahwa dia biasa membunuh orang dengan jari tangannya, dia me­nepuk pahanya. “Aihhh! Dia itu tentu Si Jari Maut! “

“Siapa, Ayah?”.Kok Tiong dan adiknya bertanya.

“Siapa lagi kalau bukan dia! Dia tentu Ang Tek Hoat, pemuda yang memang memiliki kepandaian hebat, yang telah membunuh Tambolon dan kaki tangannya. Akan tetapi, bukankah dia diangkat men­jadi Panglima Bhutan dan menikah de­ngan Puteri Syanti Dewi di Bhutan? Mengapa dia muncul di sini? Sungguh aneh”

“Menurut dia, yang merampas harta benda kita adalah Suma-kongcu, Ayah. Jelaslah sekarang, tepat seperti dugaanku bahwa tentu Suma-kongcu dipergunakan oleh Kaisar untuk mencelakakan kita,” kata Kok Tiong.

“Hemm....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.188.116
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia