Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Suling Naga

Seri : Bu Kek Siansu #13

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Penilaian, dalam bentuk apapun juga, tentu dipengaruhi suka dan tidak suka dari si penilai. Dan perasaan suka atau tidak suka ini timbul dari perhitungan rugi untung. Kalau si pe­nilai merasa dirugikan, lahir maupun batin, oleh yang dinilainya, maka perasaan tidak suka karena dirugikan ini yang akan menentukan penilaiannya, tentu saja hasil penilaian itu adalah buruk. Sebaliknya, kalau merasa diuntungkan lahir maupun batin, timbul perasaan suka dan hasil penilainnya tentu baik. Penilaian menimbulkan dua sifat atau keadaan yang berlawanan, yaitu baik atau buruk. Tentu saja baik atau buruk itu bukan sifat aseli yang dinilai, melainkan timbul karena keadaan hati si penilai sendiri.

Agaknya belum pemah ada kaisar atau orang biasa siapapun juga yang dinilai baik oleh orang seluruh dunia. Kaisar Kian Liong, seperti dapat dilihat dalam catatan sejarah, adalah seorang kaisar yang terkenal berhasil dalam memajukan kebesaran pemerintahannya. Namun, diapun menjadi bahan penilaian rakyat dan karena itu, tentu saja diapun memperoleh pendukung dan juga memperoleh penentang. Seperti dalam pemerintahan kaisar-kaisar terdahulu, dalam pemerintahan Kian Liong inipun tidak luput dari pemberontakan-pembe­rontakan, baik besar maupun kecil. Akan tetapi, Kaisar Kian Liong selalu bertindak tegas dalam menghadapi pemberontakan-pemberontakan itu dan karena dalam pemerintahannya terdapat ba­nyak panglima-panglima yang tangguh dan pandai, dengan balatentara yang cukup besar, maka dia selalu berhasil memadamkan api-api pembe­rontakan yang terjadi di sana-sini.

Pemberontakan yang hebat terjadi di daerah Yunan barat daya. Bangsa Birma bersekutu dengan para pemberontak di Propinsi Yunan. Pasukan besar Bangsa Birma memasuki Propinsi Yunan bagian barat daya, menyeberangi Sungai Nu-kiang, bahkan bergerak sampai di tepi Sungai Lan-cang (Mekong).

Tentu saja Kaisar Kian Liong tidak mendiamkan bangsa tetangga itu mengganggu wilayah Yunan dan dia segera mengirimkan panglima-panglima perangnya, memimpin pasukan besar untuk menghalau para pengganggu dari Birma itu dan menumpas pemberontakan di Yunan. Kembali terjadi perang!

Perang adalah suatu peristiwa yang amat jahat dan buruk dalam dunia ini. Puneak kebuasan manusia menuruti nafsu mengejar kesenangan. Perang merupakan perluasan dan pembiakan nafsu kotor dalam diri yang mengejar kesenangan dengan cara apapun juga dan setiap orang atau benda yang dianggap menjadi penghalang usahanya me­ngejar kesenangan itu akan dihaneurkan, dibinasa­kan. Perang adalah permainan beberapa gelintir manusia yang kebetulan saja memperoleh kesem­patan untuk duduk di tingkat paling atas, menjadi apa yang dinamakan pemimpin-pemimpin bangsa atau golongan atau kelompok, dalam usaha mereka untuk meneapai kedudukan paling tinggi dan kesenangan. Dan siapakah yang menjadi korban kalau bukan rakyat jelata? Para perajurit yang telah digembleng menjadi alat-alat membunuh atau dibunuh itupun sebagian dari rakyat yang menjadi korban ulah beberapa gelintir manusia yang berambisi itu.

Perang itu kejam! Manusia-manusia dirobah untuk menjadi srigala-srigala dan harimau-hari­mau yang haus darah, menjadi orang-orang yang teramat kejam karena ketakutan, yang berdaya upaya untuk membunuh lebih dulu sebelum ter­bunuh, pembunuh berdarah dingin yang disanjung-sanjung dan dipuji-puji oleh mereka yang memperalatnya. Di dalam perang berlakulah hu­kum rimba. Siapa kuat dia menang, siapa menang dia pasti benar dan berkuasa atas yang kalah. Bukan ini saja, akan tetapi di dalam perang juga timbul kejahatan-kejahatan yang diumbar karena desakan nafsu yang paling sesat. Para perajurit yang digembleng untuk melakukan kekerasan itu tentu saja berwatak keras. Bahaya-bahaya dan aneaman-aneaman dalam perang membuat mereka berwatak keras dan kadang-kadang malah buas.

Ada pula akibat sampingan yang amat menye­dihkan. Adanya perang membuat banyak daerah tak bertuan, hukum yang ada hanya hukum rimba dan kesempatan ini dipergunakan oleh gerombol­an-gerombolan yang biasa melakukan perbuatan jahat untuk merajalela. Rakyat pula yang menjadi korban. Tempat atau daerah-daerah yang dilanda perang membuat rakyat jelata ketakutan dan lari­lah mereka pontang-panting, cerai-berai dan kacau balau meninggalkan dusun atau kota mereka yang mereka tinggali selama ini, sejak mereka kecil. Terpaksa mereka melarikan diri demi meneari keselamatan, meninggalkan segala yang mereka sayang dan cinta, menuju ke tempat yang belum mereka ketahui atau kenal, memasuki nasib baru yang suram penuh rasa takut dan tanpa adanya ketentuan. Mereka ini adalah rakyat jelata pula.

Pasukan perajurit, yang merupakan sebagian rakyat pula, dipaksa oleh para penguasa untuk menjadi bidak-bidak catur yang dimainkan oleh para penguasa kedua pihak yang saling berten­tangan atau berebut kemenangan. Mereka, para perajurit itulah yang akan gugur tanpa dikenal.

Kalau menang? Beberapa orang penguasa itulah yang akan menikmati hasil sepenuhnya, dan para perajurit yang mempertaruhkan nyawa dalam arti kata seluas-luasnya itu sudah cukup kalau diberi pujian dan sekedar hadiah atau kenaikan pangkat. Bagaimana kalau kalah? Perajurit-perajurit itu mempertahankan sampai titik darah terakhir, mati konyol atau tertawan, tersiksa, terbunuh, sedang­kan para penguasa yang hanya beberapa gelintir orang itu kalau terbuka kesempatan akan cepateepat melarikan diri, menyelamatkan diri beserta keluarganya, tidak lupa membawa barang-barang berharga. Mereka akan mengungsi ke negara lain sebagai orang-orang yang kaya raya! Hal ini bukan dongeng, melainkan kenyataan yang dapat kita saksikan, baik dengan menengok ke belakang melalui sejarah maupun melihat keadaan sekarang di mana timbul perang yang keji itu.

Keluarga kecil itu terdiri dari suami isteri dan seorang anak perempuan. Ayah itu berusia ham­pir empatpuluh tahun, sang ibu berusia tigapuluh­an tahun dan masih nampak cantik, sedangkan anak perempuan itu berusia kurang lebih sepuluh tahun. Mereka berhasil menyeberangi Sungai Lan-­cang dengan sebuah perahu nelayan kecil. Mereka adalah penduduk di sebelah barat sungai itu. Karena pasukan-pasukan Birma sudah tiba di dae­rah itu, maka mereka melarikan diri mengungsi ke timur. Akan tetapi mereka mendengar pula betapa pasukan Kerajaan Maneu tidak kalah buasnya de­ngan pasukan Birma atau pasukan pemberontak. Ternak peliharaan para penduduk desa habis disi­kat mereka, segala barang berharga dirampas dan banyak pula wanita-wanita diganggu untuk me­lampiaskan nafsu mereka yang datang dengan dalih “melindungi rakyat dari aneaman pemberontakan dan pasukan Birma.” Rakyat dihadapkan dua api yang sama-sama panas membakar.

“Ibu, aku capai sekali....” Anak perempuan itu mengeluh setelah perahu yang mereka pergu­nakan untuk menyeberangi Sungai Lan-cang itu hampir tiba di tepi bagian timur. Anak yang usia­nya kurang lebih sepuluh tahun itu agak pucat dan nampak lelah sekali. Pakaiannya seperti biasa anak petani dan wajahnya yang ditutupi sebagian rambut panjang kusut itu memiliki garis-garis yang cantik manis, terutama sekali mulutnya yang kecil dengan hiasan lesung pipit di kanan kirinya.

Ibu muda ini merangkulnya, meneoba untuk tersenyum walaupun ada garis-garis kegelisahan dan kelelahan di sekitar matanya. Ibu yang usia­nya tigapuluhan tahun ini bertubuh montok, de­ngan kulitnya yang putih dan rambutnya yang panjang hitam, walaupun pakaiannya sederhana namun nampak cantik dan manis.

“Kuatkanlah dirimu, Bi Lan, kita menderita kecapaian untuk meneari keselamatan.” Ibu itu lalu mengusap air mata anaknya dan memijati kedua kaki anaknya yang nampak membengkak. Selama sepekan mereka berjalan terus, hampir tak pernah beristirahat. Bahkan makanpun sambil berjalan dan boleh dibilang tidur sambil berjalan pula. Untung bagi mereka, ketika melarikan diri dari dusun mereka dan menyusup-nyusup keluar masuk hutan, naik turun bukit, mereka tidak pernah bertemu dengan gerombolan, hanya bertemu dengan orang-orang yang lari ke sana ke mari menyelamatkan diri dari aneaman perang. Akhirnya mereka tiba di tepi Sungai Lan-cang dan berhasil menemukan seorang nelayan tua yang mau menyeberangkan mereka.

“Tenanglah, anakku. Setibanya di seberang itu, kita dapat mengaso untuk menghilangkan lelah. Setelah tiba di seberang, baru kita aman dan se­lanjutnya dapat meneruskan perjalanan seenaknya, kata si ayah menghibur. Ayah ini dengan hati terharu dan duka melihat keadaan mereka yang benar-benar sengsara. Bukan saja kaki isteri dan anaknya luka-luka dan bengkak- bengkak, juga persediaan makan tinggal satu dua hari lagi, se­dangkan mereka hanya membawa bekal uang yang kiranya hanya cukup untuk dibelikan makanan selama paling lama sebulan. Setelah itu, bagai­mana ? Ngeri dia membayangkan. Belum tahu ke mana tujuan pelarian mereka, belum tahu bagai­mana harus mendapatkan penghasilan, dan tidak mempunyai rumah atau tanah, dengan pakaian hanya tiga empat setel saja. Akan tetapi semua itu soal nanti. Yang penting sekarang adalah berada di tempat yang aman! Dan di seberang sungai itulah tempat aman!

Akan tetapi, itu hanya harapan saja. Di jaman seperti itu, tempat manakah yang dapat dianggan aman? Baik di dalam kota, maupun dusun, di atas bukit atau di tengah hutan sekalipun, selama tem­pat itu masih didatangi orang, maka keamanan diripun tidak terjamin lagi. Kejahatan tidak me­milih tempat, karena kejahatan muneul dari dalam batin, dan selama ada manusia, maka perbuatan jahatpun terjadilah.

Dengan ucapan terima kasih, keluarga yang terdiri dari tiga orang itu meninggalkan nelayan tua yang juga cepat-cepat menengahkan lagi pe­rahunya ke sungai karena bagi nelayan ini, tempat yang paling aman adalah di tengah sungai, di mana dia hanya bergaul dengan perahu, dengan kemudi, dengan dayung, kail, jala dan ikan-ikan. Dan Can Kiong bersama isteri dan puteri tunggalnya, Can Bi Lan, melanjutkan perjalanan memasuki hutan di tepi sungai itu.

Setelah tiba di sebuah pohon besar di mana terdapat petak rumput, tempat yang teduh dan nyaman, barulah Cau Kiong mengajak anak isterinya berhenti. Isterinya yang sudah hampir merasa lumpuh kedua kakinya lalu menjatuhkan diri du­duk di atas rumput tebal sambil menghela napas panjang karena lega. Puterinya, Bi Lan, segera menjatuhkan diri rebah di atas rumput, berbantal paha ibunya dan dalam waktu sebentar saja anak yang sudah hampir pingsan kelelahan inipun pu­laslah.

Bi Lan tidak tahu berapa lama ia tertidur. Ti­ba-tiba tubuhnya terguneang dan terdengar suara riuh. Ia cepat membuka matanya dan ternyata ia telah rebah di atas tanah, tidak lagi berbantal paha ibunya karena ibunya sudah bangkit berdiri sambil berteriak-teriak ketakutan. Ketika ia melihat, ternyata mereka telah dikepung oleh be­lasan orang yang berpakaian seragam namun compang-camping, dengan jenggot kasar dan pan­dang mata liar! Belasan orang itu semua meme­gang senjata golok yang mengkilap tajam. Yang amat mengejutkan hati Bi Lan adalah ketika ia melihat ayahnya sedang mati- matian melawan dua orang di antara mereka yang menyerang ayahnya dengan golok. Ayahnya berusaha mengelak ke sana-sini, namun diiringi suara ketawa belasan orang itu, akhirnya dua orang itu dapat mempermainkan ayahnya dengan menyarangkan golok mereka, mala-mula hanya menyerempet saja, merobek-robek pakaian dan kulit, kemudian makin dalam dan akhirnya Ayahnya, yang terus melawan mati-matian, roboh terguling dalam ke­adaan mandi darah. Dua batang golok itu masih terus mengejarnya dan menghujankan bacokan sampai tubuh ayahnya hanya menjadi onggokan daging merah berlumur darah!

Selagi terjadi pembantaian itu, ibunya menje­rit-jerit, apa lagi ketika melihat Ayahnya mandi darah dan terguling. Ibu ini hendak lari menubruk suaminya, akan tetapi tiba-tiba seorang laki-laki yang bercambang bauk, paling tinggi besar di an­tara mereka, dengan muka hitam totol-totol buruk sekali, menyambar tubuh ibunya dari belakang, kedua tangannya meremas-remas dan muka pe­nuh brewokan itu meneiumi muka ibunya. Wanita itu berteriak-teriak, meronta-ronta dan bahkan memukul dan meneakar, akan tetapi dengan hanya satu tangan saja, dua pergelangan tangan wanita itu ditangkap dan tubuhnya lalu dipanggul. Semua orang tertawa-tawa melihat wanita yang dipang­gul itu menggerak-gerakkan kedua kaki dan ping­gul, meronta-ronta dan menjerit-jerit. Mereka bicara dalam bahasa asing karena memang mereka adalah Bangsa Birma, sisa pasukan yang terpukul mundur dan tercecer berkeliaran di dalam hutan.

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus, yang mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, akan tetapi yang mempunyai sepasang mata tajam dan liar penuh kebengisan dan kekejaman, berkata sesuatu kepada si tinggi besar yang memanggul wanita itu. Si tinggi besar ter­tawa dan terkekeh ketika si tinggi kurus menuding ke arah Bi Lan yang masih duduk di atas tanah dengan muka pucat dan tubuh menggigil ketakut­an. Anak ini tadi ikut menjerit-jerit dan menutupi mukanya ketika ayahnya dibantai, kemudian melihat ibunya ditangkap, iapun menangis dan berteriak-teriak. Hampir ia pingsan melihat se­mua itu dan kini ia hanya bisa duduk dengan mata terbelalak seperti seekor kelenci tersudut dan ter­kurung oleh segerombolan srigala.

Si tinggi kurus muka pucat itu dengan beberapa langkah saja sudah mendekati Bi Lan dan sebelum tahu apa yang terjadi, rambut Bi Lan yang panjang itu sekali dijambaknya dan sekali sentakan saja membuat gadis cilik itu tubuhnya melayang ke atas dan kepalanya terasa sakit karena rambutnya di­jambak dan disentakkan ke atas. Ia menjerit dan tubuhnya sudah dipondong, oleh si tinggi kurus. Bi Lan menjerit dan meronta-ronta sekuat tenaga.

“Lepaskan anakku....! jangan ganggu anakku, ohhh.... bunuhlah aku, tapi jangan ganggu anakku....!” Ibu itu menjerit-jerit ketika melihat anaknya ditangkap pula. Akan te­tapi orang-orang kasar itu hanya tertawa bergelak dan Bi Lan dibawa pergi oleh si tingggi kurus. Bi Lan meronta-ronta, akan tetapi mana mungkin ia dapat melepaskan diri? Ia dibawa semakin jauh dan ia kini tidak melihat ibunya lagi, hanya mendengar jerit tangis ibunya yang makin lama makin jauh kemudian tidak terdengar lagi.

Kini baru Bi Lan teringat akan nasib dirinya sendiri setelah ia jauh dari ayah ibunya. Tadi ia lupa akan keadaan diri sendiri karena melihat mereka dan kini baru ia tahu bahwa dirinya dibawa pergi menjauh dari pada yang lain oleh si tinggi kurus bermuka pucat. Rasa takut membuat ia menangis sesenggukan dan tidak berteriak-teriak lagi, tidak meronta lagi.

Ketika tiba di tengah hutan, di dekat sebuah sumber air di mana tumbuh rumput tebal di bawah pohon-pohon rindang, si tinggi kurus itu melempar turun Bi Lan ke atas rumput. Anak itu terbanting perlahan dan karena rumput itu tebal dan lunak, ia tidak terlalu menderita nyeri.

Akan tetapi, Bi Lan segera bangkit duduk. Tubuhnya masih lemas karena kelelahan, ditambah lagi dengan kengerian yang dilihatnya, dan rasa takut yang amat sangat, membuat ia seperti lumpuh. Kini, dengan muka pucat, dengan mata merah basah, dengan rambut kusut dan tubuh panas dingin, ia memandang kepada laki-laki yang ­berdiri amat tingginya di depannya itu dengan sinar mata liar ketakutan. Ia melihat wajah yang pucat kurus itu menyeringai mata yang buas dan bengis itu ditujukan kepadanya.

“Nah, begitulah, anak manis. Diam saja dan jangan menangis. Aku paling benci kalau mendengar anak menangis. Nah, begitulah, jangan membikin aku marah.” Laki-laki itu lalu menanggalkan bajunya, lalu duduk di depan Bi Lan. Anak perempuan ini melihat betapa kulit dadanya yang kurus itu, kulit yang hanya membungkus tulang, cacat dengan guratan-guratan panjang bekas luka. Mengerikan sekali dan gadis itu semakin ketakutan. Apa lagi melihat laki-laki itu menjulurkan tangan dan jari-jari yang kecil panjang itu menyentuh dan mengusap pipinya, lalu tangan itu mengusap rambutnya.

“Kembalikan.... kembalikan aku.... kepada ibuku....” Akhirnya Bi Lan mampu juga bicara karena melihat laki-laki itu tak bersikap kasar kepadanya.

Baru sekali ini nampak laki-laki itu tertawa dan hampir Bi Lan jatuh pingsan sakig takut dan seremnya. Laki-laki kurus ini sejak tadi diam saja dan sikapnya itu penuh dengan kebengisan, akan tetapi kalau ia diam, masih baiklah. Akan tetapi kini dia tertawa dan suasana menjadi menyeramkan. Dia tertawa tanpa disertai bibir dan matanya. Mulutnya seperti diam saja akan tetapi dari kerongkongannya terdengar kekeh lirih yang amat mengerikan, pantasnya iblis yang bisa tertawa seperti itu.

Dan kini laki-laki itu, masih terkekeh, mencengkeram baju Bi Lan dan sekali renggut,terdengar kain robek dan baju itu pun terlepas dari pundak dan lengan Bi Lan! Tentu saja Bi Lan terkejut setengah mati dan ia pun menjerit dan menangis.

“Ehh! Aku paling benci....“ Laki-laki itu berteriak dan tangan kirinya menampar.

“Plakkk....!” Rasa nyeri membuat Bi Lan yang terpelanting ke atas rumput itu seketika menghentikan tangisnya. Nyeri dan kaget bukan main. Tamparan pada pipinya itu membuat pandang matanya berkunang dan ujung bibirnya berdarah. Ketika ia membuka matanya lagi, tahu-tahu laki-laki itu telah menyambar tubuhnya, dipangkunya dan laki-laki itu lalu menciumi bibirnya yang berdarah. Bagaikan seekor srigala, laki-laki itu menjilati bibir sendiri yang berlepotan darah yang keluar dari bibir Bi Lan yang pecah, lalu menciumi lagi dengan buasnya, bukan mencium, melainkan lebih mirip hendak menghisap darah yang keluar itu sampai habis dari tubuh Bi Lan. Tentu saja Bi Lan semakin ketakutan dan kesakitan, meronta-ronta tanpa dapat mengeluarkan suara karena mulutnya tertutup mulut pria itu. Ia muak dan takut, matanya terbelalak dan ia masih belum mengerti mengapa orang itu melakukan hal seperti itu kepada dirinya.

Keadaan orang tinggi kurus itu seperti mabok. Memang, orang yang membiarkan dirinya dikuasai nafsu, tiada bedanya dengan orang mabok. Makin dibiarkan nafsu menguasai diri semakin parah pula maboknya itu sehingga ia lupa segala-galanya, yang teringat hanyalah bagaimana caranya untuk dapat melampiaskan nafsunya secepat mungkin dan sepuas mungkin. Orang yang dikuasai oleh nafsu berahi seperti orang tinggi kurus itu, yang memang menjadi hamba dari nafsu berahinya dan membiasakan diri untuk tunduk kepada nafsu ini, tidak lagi melihat apakah perbuatannya dalam melampiaskan nafsunya itu sudah tepat dan benar. Dia lupa bahwa yang dicengkeramnya adalah seorang anak kecil berusia sepuluh tahun, bukan seorang wanita yang sudah dewasa dan sudah layak dijadikan pemuas nafsu berahinya. Dia tidak peduli lagi, yang penting baginya adalah bagaimana nafsunya dapat cepat tersalurkan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan diri Bi Lan itu, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa-tawa. Suara ketawa itu terdengar aneh dan halus, akan tetapi menusuk anak telinga sehingga si tinggi kurus yang sedang menciuminya, atau seperti hendak memakannya dengan lahapnya itu, tiba-tiba mengangkat muka yang dibenamkannya pada leher anak perempuan itu dan menoleh. Dia terkejut sekali melihatmunculnya tiga orang yang tahu-tahu telah berada di situ. Karena dua orang itu bukan anak buahnya, dia pun menjadi marah dan sekali dorong, dia telah membuat tubuh Bi Lan yang dipangkunya itu terlempar sampai dua meter lebih di depannya, bergulingan di atas rumput. Kemudian dengan sikap beringas karena merasa kesenangannya terganggu, dia meloncat ke atas seperti seekor harimau dan menghadapi tiga orang itu dengan dada dibusungkan. Akan tetapi karena memang tubuhnya kerempeng, biarpun dadanya dibusungkan, tetap saja nampak tidak gagah dan tidak menakutkan, malah lucu karena dadanya itu makin kelihatan kerempengnya.

Tiga orang itu memang aneh sekali keadaan­nya. Tiga orang kakek yang buruk rupa dan aneh, bahkan lucu dan agak menyeramkan. Usia mereka tentu tidak kurang dari enampuluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi sekali, hampir satu setengah orang biasa dan seperti biasa orang yang memiliki tubuh tinggi, dia condong untuk merendahkan tubuhnya sehingga agak membungkuk dan kedua pundaknyapun terlipat ke dalam atau ke depan. Orang tinggi ini bertulang besar namun agak kurus, kulitnya penuh keriput kehitaman. Mukanya seperti muka kuda, agak meruncing ke depan dan kedua matanya yang berjauhan itu seperti menjuling kalau memandang ke depan dan sudah terbiasa untuk melihat dengan mata melirik sehingga mukanya selalu tidak lurus menghadapi benda-benda yang dipandangnya. Hidungnya juga mancung dan mulutnya meruncing. Mukanya yang lucu sekali, apa lagi di tambah dengan telinga yang berdaun lebar dan panjang seperti telinga keledai. Matanya yang menjuling itu seringkali disipitkan karena dia memang kurang awas. Kedua lengannya panjang sekali sampai ergantung ke tepi lutut, seperti lengan kera saja. Pakaiannya serba hitam yang menambah keburukannya, dengan sepatu hitam pula yang dilapisi dengan baja. Kedua kakinya juga panjang-panjang dan agak bengkok seperti punggungnya pula. Orang yang buruk rupa ini sama sekali bukan orang yang biasa saja, bahkan keburukannya itu menambah ketenarannya di du­nia kaum sesat karena orang ini adalah Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki kesaktian luar biasa, juga memiliki kekejaman yang hanya dapat disamakan dengan raja iblis sendiri. Akan tetapi, selama puluhan tahun ini dia tidak pernah keluar dan baru sekarang nampak di hutan itu, suatu hal yang kebetulan saja nampaknya.

Orang yang kedua tidak kalah anehnya. Orangnya bulat seperti bal. Tingginya hanya tiga perempat orang biasa dan karena dia amat gemuk, terutama sekali perutnya yang gendut seperti bola, maka dia kelihatan bulat seperti sebuah gentung yang mempunyai kaki dan tangan. Mukanya yang bulat itu nampak cerah selalu karena dia memiliki mulut yang tidak dapat ditutup rapat, selalu terbuka sehingga nampaknya selalu tersenyum atau tertawa ramah. Orang ini memang segala-galanya serba bulat. Matanya, hidungnya, mulutnya yang lebar bahkan telinganya juga bundar bentuknya. Lengan dan kakinya juga gemuk bulat, apalagi pinggul dan perutnya. Pendeknya, manusia bundar ini memang lucu sekali kelihatan dari samping atau belakang. Akan tetapi jangan lihat dari depan karena kalau melihat sinar matanya dan kalau ter­senyum, baru nampak sesuatu yang mengerikan membayang dari sinar mata dan senyumnya. Kalau dia diam saja malah mulutnya kelihatan tersenyum ramah, akan tetapi kalau dia tertawa atau tersenyum, sungguh mukanya seketika berubah seperti muka iblis! Dan matanya itu mengeluarkan sinar mencorong yang seperti bukan mata manusia lagi, melainkan mata srigala buas atau mata harimau di tempat gelap. Dia ini pun seorang yang luar biasa sekali, selain sakti juga pada puluhan tahun yang lalu amat terkenal dengan julukan Im-kan Kwi (Iblis Akhirat).

Orang ke tiga lebih menakutkan lagi. Tubuhnya hanya kulit membungkus tulang saja, agaknya­ sama sekali tidak berdaging lagi, apa lagi bergajih. Seperti tengkorak dan rangka terbungkus kulit, juga mukanya pucat seperti mayat. Bahkan kalau berjalan kadang-kadang mengeluarkan suara ber­kerotokan seolah-olah tulang-tulang saling beradu! Hanya sepasang matanya saja yang nampak hidup, bahkan mata ini mencorong menakutkan. Orang ini sama dengan yang dua orang pertama, amat terkenal pada puluhan tahun yang lalu dengan julukan Iblis Mayat Hidup.

Karena tiga orang ini selalu saling bantu dari bekerja sama, maka mereka bertiga itu dikenal di dunia kaum sesat sebagai Sam Kwi. {Tiga Iblis). Kurang lebih duapuluh tahun yang lalu, Sam Kwi ini pernah mencoba kepandaian Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. dan melalui perkelahian yang amat sengit, di mana Pandekar Super Sakti d ke­royok oleh mereka bertiga, akhirnya Sam Kwi dapat dikalahkan dan masing-masing menderita kekalahan yang cukup parah. Karena tadinya mereka menyombongkan diri, merasa bahwa dengan maju bertiga, mereka dapat mengalahkan siapapun juga, dan bersumbar di depan Pendekar Super Sakti bahwa kalau mereka bertiga kalah mereka takkan muncul lagi di dunia persilatan, maka setelah dii­kalahkan, mereka bertiga lalu pergi menyembu­nyikan diri bertapa. Mereka merasa malu dan juga penasaran. Oleh karena itu, mereka mengasingkan diri jauh ke puncak yang terpencil dari Pegunung­an Thai-san, di mana mereka bertapa dan memperdalam ilmu mereka, ditemani seorang murid yang pandai.

Setelah merasa bahwa ilmu mereka mencapai tingkat yang tinggi, dan mendengar betapa negara kacau oleh pemberontakan-pemberontakan, tiga orang itu akhirnya turun gunung dan pergi ke timur. Pada hari itu, tanpa disengaja mereka tiba di hutan yang sunyi di sebelah timur Sungai Lan-cang dan melihat seorang laki-laki tinggi kurus sedang mempermainkan dan agaknya hendak mem­perkosa seorang anak perempuan yang masih kecil.

Perbuatan seperti itu tentu saja tidak ada arti­nya bagi tiga orang datuk sesat yang pernah me­lakukan segala macam kejahatan seperti iblis itu, bahkan dianggap sebagai suatu perbuatan yang tidak ada artinya dan memalukan, hanya pantas dilakukan oleh bajingan kecil saja. Maka, tadinya mereka hanya tersenyum-senyum melihat tingkah laku laki-laki tinggi kurus itu dan membiarkannya saja. Akan tetapi ketika pada suatu ketika anak perempuan itu mengangkat mukanya yang pucat dan tiga orang kakek itu melihat anak itu, tiba-tiba mereka bertiga melangkah maju dan ketiganya merasa amat tertatik. Pandang mata mereka yang tajam melihat bakat terpendam yang amat hebat dalam diri anak perempuan itu! Tentu saja Hek-kwi-ong tidak dapat melihat jelas, hanya melihat betapa anak perempuan itu sama sekali tidak ber­teriak minta tolong walaupun berusaha dan meronta untuk melawan dan hal ini saja dianggapnya sebagai suatu keberanian luar biasa.

“Wah, anak itu bagus sekali!” kata Im-kan­-kwi.

“Benar. lebih bagus dari pada murid kita,” sambung. Iblis Mayat Hidup. “Dan ia pemberani dan tabah,” kata pula Raja Iblis Hitam tidak mau ketinggalan karena hal ini sama saja mengakui bahwa matanya lamur!

“Sayang daging lunak dan lezat itu dimakan anjing kotor,” kata Iblis Akhirat.

Ketiganya lalu mengeluarkan suara ketawa dan tubuh mereka melesat seperti terbang saja, dalam sekejap mata tiba di dekat si tinggi kurus yang sedang menciumi anak itu. Suara ketawa inilah yang mengejutkan perajurit Birma tinggi kurus itu dan dia mendorong pergi Bi Lan kemudian meloncat bangun dengan marah.

“Keparat busuk, kalian ini tiga orang tua bang­ka sudah bosan hidup, berani menggangguku!” bentak si tinggi kurus sambil mengamangkan go­loknya ke arah tiga orang kakek itu.

Iblis Akhirat yang lebih suka bicara dari pada dua orang kawannya, kini tertawa bergelak dan se­ketika prajurit Birma tinggi kurus itu tercengang dan bergidik. Setelah tertawa, kakek yang keli­hatannya ramah itu menjadi begitu menakutkan mukanya. Seperti setan!

“Ha-ha-ha-hah! Cucuku, siapakah eng­kau?” Iblis Akhirat bertanya, suaranya tentu saja memandang rendah sekali.

Melihat sikap tiga orang ini, si tinggi kurus yang juga bukan seorang yang hijau atau bodoh, dapat menduga bahwa tentu tiga orang kakek ini bukan orang sembarangan sehingga sikap dan ke­adaannya demikian aneh. Akan tetapi dia tidak takut, dan dia ingin mendatangkan-kesan dan wi­bawa kepada tiga orang ini untuk menggertak mereka, maka jawabnya dengan angkuh, “Aku adalah perwira pasukan Birma yang jaya!” Pada waktu itu, semua orang tahu bahwa pasukan Birma bersekutu dengan pasukan pemberontak, dan se­mua orang takut kepada pasukan Birma ini.

Akan tetapi, Iblis Akhirat itu agaknya sama sekali tidak takut. “Apa? Dari bahasamu, jelas kamu ini bukan orang asing, bukan orang Birma, akan tetapi pekerjaanmu sebagai perwira pasukan Birma. Wah, kalau begitu engkau ini adalah see­kor cacing busuk, seorang pengkhianat, ya? Kami paling benci deh melihat pengkhianat!”

“Anjing penjilat busuk!” kata Raja Iblis Hitam.

“Srigala masih lebih baik dari pada kamu!” bentak pula Iblis Mayat Hidup.

Tentu saja si tinggi kurus menjadi marah bu­kan main mendengar ucapan mereka. Dia sama sekali tidak tahu bahwa biarpun Sam Kwi merupakan iblis-iblis yang merajai dunia kaum sesat dan tidak segan melakukan kejahatan macam apa-­pun juga, akan tetapi mereka itu pada dasarnya merupakan orang-orang yang membenci pemerintahan Mancu dan karena itu tentu saja mem­benci negara Birma yang berani masuk dan mengganggu wilayah Yunan, dan lebih benci lagi terhadap orang-orang yang berkhianat membantu kekuasaan asing untuk memerangi bangsa sendiri.

“Keparat, kalian memang sudah bosan hidup!” bentak si tinggi kurus dan dengan goloknya dia menerjang maju dan membacok ke arah kepala Iblis Akhirat yang berada paling dekat di depan­nya. Golok yang mengkilap itu menyambar ganas, kuat dan cepat ke arah kepala Iblis Akhirat yang botak. Akan tetapi si gendut itu sama sekali tidak mengelak dan agaknya bahkan tidak tahu bahwa kepalanya terancam senjata tajam yang akan dapat membelah kepalanya yang bundar dan botak itu menjadi dua!

“Singggg.... krakkk!”

Perwira Birma yang sebenarnya berbangsa Cina itu mengeluarkan suara teriakan kaget dan ta­ngannya terpaksa melepaskan gagang golok karena goloknya menimpa kepala yang kerasnya seperti baja, membuat golok itu rompal dan rusak dan saking kerasnya pertemuan antara golok dan ke­pala, tangannya tergetar hebat dan menjadi seperti lumpuh sehingga terpaksa gagang golok terlepas dan dia sendiri terhuyung ke belakang! Barulah dia kaget dan takut. Kiranya kakek yang diserang­nya itu adalah seorang sakti! Sudah banyak dia mendengar tentang orang sakti, dan kini, melawan seorang saja, baru sekali bacok goloknya malah rompal dan terlepas, apa lagi harus melawan tiga orang yang demikian saktinya. Dasar wataknya yang kejam itu terdorong oleh sifat pengecut dan penakut, begitu tahu bahwa dengan kekuatan dan kekuasaannya dia tidak akan menang menghadapi tiga orang ini, tanpa banyak pikir lagi dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Iblis Akhirat. Tubuhnya menggigil dan suaranya gemetar ketika dia berkata dengan suara mengandung penuh rasa takut.

“Harap sam-wi locianpwe (tiga orang tua sakti) sudi mengampuni nyawa hamba....”

“Uhhih, memuakkan!” Iblis Akhirat berseru sambil menggerakkan hidungnya yang bulat seperti orang mendengus bau busuk. Lalu dia menoleh kepada dua orang temannya. “Kita apakan saja tikus ini?”

“Kita bantai saja!” kata Raja Iblis Hitam.

“Siksa dia!” kata pula Iblis Mayat Hidup.

“Ampun.... ampun.... Si tinggi kurus itu mengeluh ketakutan.

“Desss....!” Tiba-tiba Iblis Akhirat menggerakkan kakinya dan kaki kanan yang pendek itu sudah menendang. Tubuh yang ber­lutut itu terlempar ke atas, tinggi sekali, sampai ada lima tombak tingginya. Si tinggi kurus berte­riak kesakitan dan ketakutan. Ketika tubuhnya melayang turun, dia disambut oleh tendangan Raja Iblis Hitam.

“Desss....!” Kembali tubuhnya terlempar ke atas, kini tendangan itu lebih keras lagi. Akan tetapi seperti juga tendangan Iblis Akhirat tadi, tendangan ini mengenai pangkal pahanya dan tidak mematikan, hanya menimbulkan rasa nyeri dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke atas. Kembali si tinggi kurus berteriak ketakutan ketika tubuhnya melayang turun.

“Dukkk....!” Sekali lagi tubuhnya mence­lat ke atas ketika Iblis Mayat Hidup memperoleh giliran menyambut tubuhnya dengan tendangan. Agaknya tiga orang kakek ini tidak mau cepat membunuh korban mereka dan mereka seperti bermain bola, menendangi tubuh itu sampai berkali-kali terlempar ke atas.

Baru setelah si tinggi kurus tidak mengeluh, mereka membiarkan tubuh itu terjatuh ke atas tanah.

“Brukkk....” Si tinggi kurus terbanting keras dan tidak mengeluh lagi karena sudah pingsan.

“Byurrr....!” Tubuh itu terbaring ke kubangan air yang tidak dalam, akan tetapi cukup membenamkan tubuh yang jatuh miring itu. Begitu mukanya terbenam ke dalam air yang amat dingin, si tinggi kurus sadar kembali dan gelagapan bangkit dari genangan air. Dia segera teringat akan ancaman mengerikan dari tiga orang kakek itu yang kini berdiri melihat kepadanya sambil menyeringai. Rasa takut mendatangkan tenaga dalam tubuhnya yang ngilu dan nyeri semua it, lalu dia melompat dan melarikan diri.

“Ho-ho-ho, berani melarikan diri?” tiba-tiba Iblis Akhirat berseru dan sekali tubuhnya yang bulat bergerak, seperti sebuah bola yang menggelinding, cepat sekali dia mengejar dan tahu-tahu rambut kepala si tinggi kurus yang terurai karena terlepas dari lindungan topi pasukan dan ikatan rambut ketika dijadikan bulan-bulan ten­dangan tadi, sudah dijambaknya dan tubuh itu diseretnya seperti seorang anak kecil menyeret sebuah benda permainannya.

“Ampun, locianpwe.... ampun!” Si tinggi kurus merintih ketakutan.

“Brukkk....!”Kakek gendut itu membanting tubuh korbannya ke atas tanah dan mereka bertiga mengepungnya, seperti tiga orang anak yang sedang bermain-main dengan gembira.

“Ha-ha-ha, kau suka bermain dengan golok dan tadi mengetuk kepalaku dengan golokmu? Hemmm, coba sampai di mana ketajaman golok rompalmu!” Kakek gendut itu mengambil golok rompal milik si tinggi kurus yang memandang dengan pucat sekali dan mata terbelalak.

“Iblis Hitam dan Mayat Hidup,” kata Iblis Akhirat kepada dua orang temannya. “Aku telah melatih semacam ilmu yang menarik sekali. Dari jauh, dengan golok ini, aku mampu mengambil daun telinga kiri tikus ini. Kalian mau lihat?”

“Apa sukarnya itu?” Iblis Mayat Hidup mendengus.

“Golok ini kubikin terbang mengambil daun telinga dan membawanya kembali ke tempat aku berdiri.” Sambung si gendut.

“Ah, masih harus dibuktikan itu!” kata Raja Iblis Hitam tak percaya.

Tentu saja kedua orang datuk iblis itu tahu dan bahkan pandai menyerang lawan dengan golok terbang, yaitu hui-to atau golok yang disambitkan. Akan tetapi membuat golok itu mengambil daun telinga dan membawanya kembali ke tuannya, sungguh mustahil!

“Ha-ha-ha, kalian lihat baik-baik,” kata kakek gendut sambil meloncat menjauhi korban­nya sampai sejauh limabelas meter. Dia lalu menggunakan jari-jari kedua tangannya menekuk golok itu menjadi sebuah benda melengkung seperti gendewa patah tengahnya, dan beberapa kali ditimangnya di tangan kiri, lalu dibenarkan te­kukannya, Setelah merasa puas dan menganggap bahwa bentuk senjatanya itu sudah sempurna, dia lalu mengukur jarak dengan matanya. Si tinggi kurus hanya memandang dengan muka pucat se­kali, tidak tahu apa yang akan menimpa dirinya.

“Terbanglah!” Tiba-tiba Iblis Akhirat menggerakkan lengan kanannya yang pendek dan benda melengkung terbuat dari golok tadi meelayang cepat ke arah si tinggi kurus, dengan berputar-putar aneh.

“Cratt....! Auhhh....” Tiba-tiba si tinggi kurus berteriak dan menutupi telinga kirinya yang berdarah. Kiranya daun telinga kirinya sudah putus disambar benda terbang tadi dan hebatnya, daun telinga itu seperti menempel pada benda itu yang kini terbang terus, kembali kepada Iblis Akhirat! Kakek gendut ini bergelak dan menerima kembali senjata aneh itu yang dilemparkannya ke atas tanah bersama daun telinga itu.

“Bagus....!” Dua orang kakek yang men­jadi temannya memuji.

“Kalau hanya buntung sebelah menjadi kurang patut.” Tiba-tiba Raja Iblis Hitam berkata dan sebelum si tinggi kurus tahu maksudnya, tiba-tiba si tinggi besar seperti raksasa itu sudah menjulur­kan tangannya. Lengannya yang panjang itu ter­julur dan betapa takutnya hati si tinggi kurus melihat betapa lengan yang dijulurkan itu terus mulur semakin panjang mengejarnya. Dia terkejut dan ketakutan, bangkit berdiri dan dengan tangan memegangi bagian telinga kiri yang buntung, dia mencoba lari.

“Krakkk.... aduhhhh....!” Tubuh si tinggi kurus terpelanting dan dia bergulingan ke atas tanah, kini sebelah tangannya menutupi teli­nga kanan yang sudah tidak berdaun lagi karena tadi, jari-jari tangan yang diulurkan panjang itu tahu-tahu sudah meremas daun telinga itu se­hingga hancur dan buntung!

“Heh-heh-heh-heh, ilmu memanjangkan le­nganmu itu bagus sekali untuk melakukan penco­petan di pasar. Iblis Hitam!” Iblis Akhirat terkekeh kagum. Tidak mudah menguasai ilmu membuat anggauta tubuh dapat mulur seperti itu.

“Kedua tangannya menyembunyikan hasil pertunjukan kalian, biar kusingkirkan!” kata Iblis Mayat Hidup yang melangkah maju menghampiri si tinggi kurus yang kini sudah ketakutan setengah mati. Melihat betapa kakek yang seperti mayat hidup itu menghampirinya, dia melupakan rasa nyeri pada kedua telinganya dan diapun cepat bangkit berdiri dan lari sekuatnya!

“Tak-tuk-krok-krok....!” Terdengar suara berkerotokan dan itulah suara tubuh Iblis Mayat Hidup yang lari berloncatan mengejar. Gerakannya cepat sekali dan tahu-tahu iblis ini sudah berdiri menghadang di depan si tinggi kurus yang tentu saja terbelalak kaget melihat iblis itu telah berada di depannya. Dia membalikkan diri dan berlari ke lain jurusan, akan tetapi terdengar pula suara berkeretokan dan tahu-tahu iblis itu sudah menghadang pula di depannya.Beberapa kali dia membalik sampai akhirnya dia digiring kembali ke tempat tadi.

“Ampun.... ampun....!” katanya mengangkat kedua tangan ke atas, melepaskan pinggir kepala yang tadi ditutupinya. Nampak kedua telinga itu tidak bardaun lagi dan hanya merupakan sebuah lubang berlumuran darah.

“Wuuuuut.... krakkkkk!” Tangan Iblis Mayat Hidup bergerak menyambar ke arah dua pundak si tinggi kurus dengan cepat bukan main dan ta­hu-tahu nampak darah menyembur dari kedua pundak si tinggi kurus itu ketika lengannya tahu-tahu sudah buntung disambar jari-jari tangan kurus dari Iblis Mayat Hidup! Dengan babatan jari-jari tangan saja tengkorak hidup itu mampu membikin buntung dua lengan sehatas pundak. Sungguh merupakan ilmu yang amat luar biasa dan keke­jaman yang mencapai puncaknya.

“Ha-ha-ha, bagus!” teriak Iblis Akhirat.

“Bagus sekali!” Raja Iblis Hitam juga memuji.

Akan tetapi si tinggi kurus hanya dapat men­jerit dan diapun roboh pingsan. Darah bercucuran dari kedua pundak yang sudah tidak berlengan lagi itu.

“Heh-heh, dia tidak boleh mati dulu!” Iblis Akhirat berkata dan cepat dia meloncat ke dekat tubuh yang pingsan itu, sedangkan Iblis Mayat Hidup memutar-mutar kedua lengan yang dipa­tahkannya itu seperti seorang anak kecil main-main, lalu melemparkan dua lengan itu jauh sekali ke dalam jurang. Si gendut itu mengeluarkan se­buah botol dan menuangkan isi botol yang berupa cairan hitam, ke atas luka di kedua pundak dan juga di kedua telinga. Obat ini manjur bukan main, cepat kerjanya karena seketika darah berhenti mengalir. Dengan beberapa tekanan pada jalan darah, si tinggi kurus disadarkan kembali oleh Iblis Akhirat.

Si tinggi kurus itu begitu sadar, merintih-rintih karena merasakan nyeri yang amat hebat menusuk sampai ke ulu hati. Ketika dia melihat bahwa dua lengannya telah lenyap, dia mengeluh dan dengan susah payah dia dapat bangkit duduk, memandang ke arah tiga orang kakek itu. Tahulah dia bahwa minta ampun tidak ada gunanya, maka diapun menggigit bibir menahan nyeri lalu berkata, “Kalian bunuh sajalah aku!” Dia memang tidak dapat melihat jalan keluar lain kecuali mati dengan cepat.

Sementara itu, sejak tadi Bi Lan yang sudah bangkit duduk di atas rumput dan mengenakan kembali bajunya yang tadi direnggut lepas dan robek, dan nonton semua peristiwa itu dengan mata terbelalak dan muka pucat. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan tontonan yang demikian mengerikan. Seluruh tubuhnya menjadi panas dingin dan ia merasa ngeri sekali. Bukan main hebatnya pengalaman yang dihadapi gadis cilik ini secara beruntun. Mula-mula melihat ayahnya terbunuh oleh perampok, lalu melihat ibunya diculik, dan ia sendiri dilarikan si tinggi kurus yang melakukan hal-hal tak senonoh terhadap dirinya, perlakuan yang belm dimengertinya benar akan tetapi yang membuat ia hampir gila karena ngeri, muak dan takut. Kemudian, munculnya tiga orang kakek aneh yang menyiksa si tinggi kurus itu membuat ia mencapai ketegangan yang sudah tiba pada puncaknya. Agaknya pemandangan menegangkan dan mengerikan yang bertubi-tubi menghantam perasaan Bi Lan emmbuat gadis cilik itu terbiasa dan kini, biarpun ia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat, mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara apapun, akan tetapi ia tidak takut lagi, bahkan mulai menggunakan pikirannya. Jelas baginya bahwa tiga orang kakek itu telah menyelamatkannya, bahwa tiga orang kakek yang aneh itu tentu orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi akan tetapi juga memiliki kekejaman yang luar biasa. Dan ia tentu tidak akan terlepas dari tangan tiga orang kakek itu, dan ia harus pandai membawa diri, demikian pikirnya. Ia tidak boleh cengeng, tidak boleh bingung, harus dapat mempergunakan akalnya karena tidak ada orang lain di dunia ini yang akan dapat diharapkan menolongnya kecuali dirinya sendiri. Bahkan, disamping kengerian, timbul pula rasa senang dan puas melihat betapa si tinggi kurus itu mengalami penyiksaan yang demikian mengerikan.

“Wah, ilmu kiam–ciang (tangan pedang) yang kaukuasaisudah hebat sekali, Mayat Hidup. Bagaimana pendapatmu, Iblis Hitam? Apa kau mampu menandinginya dalam hal kehebatan kiam-ciang itu?” kata si Iblis Akhirat kepada Hek-kwi-ong.

Raksasa hitam itu menggeleng kepala. “Aku tidak mampu sehebat dia.”

“Heh-heh, akupun demikian. Akan tetapi, kita berdua pernah melatihnya. Coba kita lihat, apakah orang pengecut dan pengkhianat seperti dia ini mampu hidup tanpa lengan tanpa kaki,” kata pula Iblis Akhirat yang melangkah maju mendekati si tinggi kurus yang sudah buntung kedua lengannya. Hek-kwi-ong si Raja Iblis Hitam mengangguk dan menghampiri pula. Tiba-tiba mereka berdua menggerakkan tangan seperti yang dilakukan oleh Iblis Mayat Hidup tadi, tangan mereka membacok, masing-masing ke arah kaki kanan dan kaki kiri si tinggi kurus.

“Krokk! Krokk!” Si tinggi kurus kembali menjerit dan tubuhnya roboh, kedua kakinya, se­batas paha, buntung oleh bacokan tangan dua orang kakek itu! Kembali darah muncrat dan Im-kan Kwi si Iblis Akhirat yang gendut itu kembali mempergunakan obat cairan yang cepat menghentikan cucuran darah.

Ketika Im-kan Kwi mengurut jalan darah dan si tinggi kurus itu siuman kembali, tentu saja dia tidak mampu bangkit lagi. Tubuhnya hanya tinggal kepala dan badan, tanpa kaki tanpa lengan tanpa daun telinga, nampak menyedihkan sekali. Dia hanya merintih-rintih dan tergolek ke kanan kiri, mendesis-desis kesakitan. Dia tidak akan mati karena darahnya tidak bercucuran keluar, akau tetapi hidupnya takkan berguna lagi. Dan kalau tidak ditolong orang lain, tentu dia akhirnya akan tewas kelaparan atau diterkam binatang buas kalau dibiarkan di tempat itu.

Kini tiga orang kakek itu agaknya sudah bosan mempermainkan si tinggi kurus, dan mereka lalu menghampiri Bi Lan. Akan tetapi anak perempuan ini tidak takut. Ia bahkan bangkit berdiri, memandang tiga orang kakek itu dengan sinar matanya yang jernih. Mukanya masih pucat, akan tetapi tidak terbayang ketakutan pada muka yang manis itu.

“Tiga orang kakek buruk, setelah kalian membunuh bangsat itu, apakah juga akan membunuh aku? Tapi jangan siksa aku seperti dia.”

Tiga orang kakek itu saling pandang. Lalu Iblis Akhirat yang gendut terkekeh, Raja iblis Hitam yang seperti raksasa itu tersenyum lebar dan Mayat Hidup menyeringai aneh.

“Ha-ha-ha-ha, anak baik. Kami suka pada­mu. tidak akan membunuhmu, akan tetapi kami ingin mengambilmu sabagai murid. Bagaimana, maukah kau menjadi murid kami? Mau tidak mau harus mau!” Dan dalam suara kakek gendut itu terdengar suara mengancam!

Akan tetapi Bi Lan tetap tenang. Anak ini tadi sudah memutar otaknya dan mengambil keputusan bahwa ia harus dapat mempergunakan kepandaian tiga orang kakek ini untuk menolong ibunya dan membalas dendam!

“Tentu saja aku mau, akan tetapi kalian juga harus memenuhi permintaanku lebih dulu!”

Tiga orang kakek itu kembali saling pandang dan tersenyum girang. Mereka suka kepada anak yang berani dan anak perempuan ini cukup berani, bahkan berani menyebut mereka “tiga kakek bu­ruk”, sebutan yang menggembirakan hati mereka!

“Permintaan apa?” tanya Iblis Mayat Hidup yang biasanya jarang sekali bicara.

“Pertama, kalian harus menolong ibuku. Ke dua, kalian harus membunuh gerombolan penjahat yang tadi membunuh ayah dan menculik ibu.”

“Ha-ha-ha, penmintaan yang mudah saja. Coba, ceritakan siapa namamu dan apa yang ter­jadi dengan ayah ibumu,” kata Iblis Akhirat, biarpun tertawa-tawa, akan tetapi hatinya menjadi tak senang karena iri hati mendengar anak itu menyebut-nyebut ayah ibunya. Apapun yang terjadi, kalau ayah dan ibu anak itu masih ada, harus mereka bunuh dulu sebelum mengambil anak ini menjadi murid, pikirnya. Pikiran yang luar biasa kotor dan jahatnya!

“Namaku Can Bi Lan, aku bersama ayah dan ibu sedang melakukan perjalanan mengungsi dari sebelah barat Sungai Nu Kiang. Ketika kami me­nyeberang Sungai Lan-cang, di tepi sungai sebe­lah timur kami dikepung oleh belasan orang perampok itu dan Ayah yang melakukan perlawan­an mereka bunuh, ibu diculik dan aku dilarikan oleh si keparat itu. Nah, kalau kalian mau meno­long ibu dan membunuh belasan orang akupun mau menjadi murid kalian.”

“Baik, baik, mari kita pergi!” kata iblis Akhirat. “Hek-kwi, kau yang tinggi besar dan kuat gen­donglah Bi Lan murid kita ini.”

Hek-kwi-ong Si Raja Iblis Hitam itu mende­ngus, lalu tangannya yang besar itu dijulurkan ke arah Bi Lan. Gadis ini merasa ngeri melihat lengan yang panjang itu dapat mulur ke arahnya, akan tetapi ia menahan rasa takutnya dan diam saja ketika tiba-tiba tangan itu menangkap tangannya dan sekali disentakkan tubuhnya melayang ke atas dan tiba di punggung kakek raksasa hitam itu! Mereka bertiga lalu melangkah pergi dengan amat cepatnya, meninggalkan si tinggi kurus yang kini tidak tinggi lagi, hanya merupakan kepala dan badan yang bergelimang di rumput yang ber­lepotan darah. Dia mengeluarkan suara dari tenggorokannya, entah tawa ataupun tangis. Peristiwa yang amat hebat menimpa dirinya, membuat si tinggi kurus ini menjadi gila saking takutnya.

***

“Brakkkkkk....!” Pintu pondok kecil di tengah hutan yang tertutup rapat itu jebol, mengejutkan seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya bercambang bauk, juga bertotol-totol hitam buruk yang sedang rebah dengan dada te­lanjang, hanya mengenakan celana dalam yang tipis. Siang itu hawanya panas dan laki-laki inipun berkeringat. Bau arak yang keras tercium ketika pintu itu jebol, dan melihat wajah laki-laki buruk rupa itu yang kemerahan, juga matanya liar, bau arak yang keluar dari mulutnya, jelas menunjukkan bahwa dia terlalu banyak minum arak.

“Ibu....!” Bi Lan menjerit ketika melihat ibunya tergantung di dalam kamar itu. Wanita yang malang ini tergantung dalam keadaan telan­jang bulat, dengan kepala di bawah dan kaki terikat pada tali yang digantungkan di tihang melin­tang di atas. Melihat tubuh telanjang itu sama sekali tidak bergerak, dan melihat mata yang ter­buka akan tetapi tanpa sinar itu, mudah saja bagi. tiga orang kakek Sam Kwi untuk ,menduga bahwa wanita itu sudah tewas, seperti juga mayat laki-laki yang menjadi ayah Bi Lan yang menggeletak di luar dengan tubuh hancur oleh senjata tajam. Tiga orang Sam Kwi bernapas lega. Ayah ibu anak ini sudah mati. Bagus! Mereka tadi mempergu­nakan ilmu kepandaian mereka untuk mengejar gerombolan itu dan melihat mereka semua berada di dalam hutan itu. Anak buah pasukan Birma yang berubah menjadi gerombolan jahat itu nampak tidur-tiduran di bawah pohon. Guci-guci arak berserakan dan agaknya mereka baru saja makan minum dan kini tertidur setelah puas kekenyang­an. Apa lagi dalam keadaan mabok dan tidur, andaikata mereka dalam keadaan sadar dan tidak tidur sekalipun, amat mudah bagi tiga orang kakek itu untuk mendatangi pondok itu tanpa mereka ketahui. Melihat bahwa ayah anak itu sudah te­was di tempat perampokan, mereka bertiga lalu melakukan pengejaran dan jelas nampak jejak kaki mereka sampai di tengah hutan itu. Dan karena ibu anak itu tidak ada, mereka dapat menduga bahwa tentu wanita itu dibawa ke dalam pondok kecil itu, maka mereka langsung saja mendobrak daun pintu sampai jebol. Dan benar saja, wanita itu berada di dalam kamar, akan tetapi agaknya sudah tidak bernyawa lagi setelah mungkin di­perkosa beramai-ramai lalu digantung karena mungkin wanita itu melawan.

Si tinggi besar brewokan yang menjadi kepala pasukan, seorang Birma yang biasa hidup dalam kekerasan, terkejut bukan main. Baru saja dia memuaskan diri memperkosa dan menyiksa wanita itu sampai mati, lalu dia makan dan minum-mi­numan sampai mabok dan merebahkan diri untuk tidur. Kini, kaget melihat jebolnya daun pintu dan melihat tiga orang kakek yang aneh, seorang di antaranya menggendong anak perempuan yang tadi dilarikan oleh pembantunya, dia mencium bahaya. Cepat dia bergerak kepada anak buahnya dan menyambarkan golok besarnya, menerjang ke depan, membabat ke arah Iblis Mayat Hidup yang paling menyeramkan dan berdiri paling dekat.Akan tetapi, rangka terbungkus kulit itu dapat bergerak cepat bukan main. Golok itu menyambar seperti mengenai sasarannya membabat pinggang, akan tetapi tiba-tiba saja tubuh kurus kering itu lenyap dan ternyata sudah mengelak ke samping dan pada saat itu si tengkorak hidup menggerak­kan tangannya yang kurus.

“Tukkk!” Hanya perlahan saja jari tangan Iblis Mayat Hidup menyentuh lengan yang memegang golok, akan tetapi seketika golok terlepas dan le­ngan itupun lumpuh dan berobah menghitam ka­rena di sebelah dalamnya, beberapa otot besar putus dan darah mengalir liar membuat lengan nampak hitam! Bukan kepalang rasa nyeri pada lengan kanan itu, membuat si brewok berteriak­teriak, akan tetapi kembali tangan kurus itu me­nyambar, sekali ini leher si brewok yang disentuh dan seketika si brewok roboh, suara mengorok keluar dari lehernya, mukanya berobah hitam dan dia berkelojatan dalam sekarat. Dia tewas tak bergerak lagi ketika anak buahnya yang belasan orang banyaknya itu sudah datang menyerbu de­ngan golok di tangan. Melihat betapa pemimpin mereka sudah roboh dengan muka berwarna hi­tam, tak bergerak lagi, belasan orang kasar itu menjadi marah sekali. Langsung mereka menerjang tiga orang kakek itu dengan golok mereka. Tiga orang kakek itu melangkah keluar dari pondok. Perkelahian yang aneh, lucu dan tidak seim­bangpun terjadilah.

Sepasang lengan Raja Iblis Hitam itu mulur dan tanpa memperdulikan golok-golok itu, kedua tangannya menangkapi lawan, membanting, me­lontarkan tinggi ke atas dan mambiarkan tubuh lawan itu terbanting keras, menangkap dua kepala dan mengadu dua kepala itu. Si gendut Iblis Akhirat sambil menyeringai aneh dan menye­ramkan, membiarkan golok-golok itu mengenai kepala botaknya atau lengannya, dan hanya kedua kakinya saja yang pendek-pendek dan besar-besar itu bergerak cepat ke kanan kiri dan setiap orang yang terkena tendangannya tentu terlempar, ter­banting roboh dan tidak dapat bangkit kembali. Iblis Mayat Hidup lebih mengerikan lagi. Dengan tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan, dia membagi-bagi pukulan dan setiap kali tangannya menyentuh tubuh lawan, karena sen­tuhan perlahan itu tidak pantas dinamakan pukulan, lawan roboh dengan bagian badan yang disent­uh berobah kehitaman! Dalam waktu singkat saja, belasan orang itu roboh semua dan tidak seorang­pun dapat bangkit atau bergerak lagi karena me­reka telah tewas. Kepala-kepala pecah berantakan sampai otak dan darah berceceran, tulang-tulang berkerotokan ketika patah-patah bahkan ada kulityang robek-robek dan mayat yang ternoda hitam-hitam mengerikan.

“Ha-ha-ha-ha! Bi Lan murid yang baik, apakah kini engkau telah puas? Lihat, semua musuhmu telah kami bunuh,” kata Iblis Akhirat kepada Bi Lan. Gadis cilik itu melorot turun dari gendongan Raja iblis Hitam dan iapun mematuki pondok, sejenak berdiri memandang mayat ibunya yang tergantung dengan tubuh terbalik. Pada bagian tubuh tertentu dari ibunya nampak lula-luka guratan senjata tajam. Ingin ia menjerit, akan tetapi batinnya mengalami guncangan hebat se­hingga ia tidak lagi dapat menangis.

“Ibumu sudah mati,” tiba-tiba terdeugar suara orang dan ketika gadis cilik itu menengok, yang bicara adalah Iblis Mayat Hidup. Dua kakek lain­nya juga sudah berdiri di belakangnya. Gadis cilik ini tidak tahu betapa tiga orang kakek itu meman­dang ke arah mayat ibunya dengan hati girang, bukan hanya karena gadis cilik itu kini sudah ter­lepas dari semua ikatan keluarga, juga karena mereka bertiga itu kagum akan cara gerombolan itu menyiksa wanita ibu Bi Lan!

“Ha-ha-ha, Bi Lan. Kami telah memenuhi permintaanmu, sekarang berlututlah dan angkat kami sebagai gurumu dan menyebut suhu,” kata Iblis Akhirat.

“Nanti dulu,” gadis cilik itu berkata. “Sebelum itu kuminta agar kalian suka mengubur jenazah ibuku, juga jenazah ayahku, dikubur bersama da­lam satu lubang di tempat ini.”

Tiga orang kakek itu saling pandang. “Wah, apa-apaan ini!”” Raja Iblis Hitam mengeluh.

“Ada-ada saja!” Iblis Mayat Hidup menyam­bung. Jelas bahwa keduanya merasa tidak senang dengan pekerjaan itu.

“Apa gunanya?” Si gendut Iblis Akhirat ber­seru. “Biarkan saja begitu, akhirnya juga akan habis sendiri.”

“Tidak!” Bi Lan berseru. “Kalau kalian tidak mau, biar aku sendiri yang akan melakukan pe­nguburan itu. Mereka harus dikubur agar jenazah mereka tidak dimakan binatang buas!”

“Hemm, apa kaukira di dalam tanah tidak ada binatang buasnya? Kulit dagingnya akan digero­goti tikus dan cacing-cacing sampai habis!”

Mendengar ucapan si gendut itu, Bi Lan bergi­dik. “Biarlah, mereka hancur dikubur dan kalau kalian tidak mau, akan kulakukan sendiri dan aku tidak akan sudi menjadi murid kalian.”

Tiga orang kakek itu saling pandang dan menggaruk-garuk kepala. Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat disertai suara berkerotokan dan Iblis Mayat Hidup sudah lenyap dari tempat itu. Tak lama kemudian dia datang kembali membawa mayat Can Kiong, ayah Bi Lan yang sudah penuh luka itu. Dan tanpa banyak ca­kap lagi, tiga orang kakek itu lalu menggali se­buah lubang besar. Cepat sekali pekerjaan ini dilakukan oleh tiga orang sakti itu, memperguna­kan golok-golok para korban amukan mereka tadi. Setelah mengubur dua orang suami isteri itu dan menutupi lubang dengan tanah, kemudian atas permintaan Bi Lan mereka menaruh sebuah batu bundar sebesar gajah di tempat kuburan, mereka lalu berdiri berjajar dan menuntut agar Bi Lan suka menjadi murid mereka dan memberi hormat seperti layaknya seorang yang mengangkat guru.

Kini Bi Lan tidak ragu-ragu lagi. Kalau bukan tiga orang kakek aneh ini, siapa lagi manusia di dunia ini yang memperdulikannya? Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki tiga orang itu, memberi hormat dengan sungguh-sungguh.

“Suhu.... suhu.... suhu....!” kata­nya setiap kali ia menyembah di depan kaki seorang kakek. Tiga orang itu girang bukan main.

“Muridku yang baik!” kata Raja Iblis Hitam dan tiba-tiba Bi Lan merasa tubuhnya melayang jauh tinggi di udara. Anak itu tentu saja terkejut bukan main, sama sekali tidak menyangka bahwa raksasa hitam yang menjadi seorang di antara gu­runya itu akan melakukan hal seperti itu, melem­parkan tubuhnya tingi ke udara! Ia teringat betapa tadi suhunya yang ini melempar-lemparkan tubuh lawan ke atas dan tubuh itu terbanting jatuh dengan kepala pecah berantakan. Tentu saja ingatan ini mendatangkan rasa takut yang hebat dalam batinnya yang sehari itu sudah mengalami guncangan-guncangan luar biasa. Akan tetapi justeru guncangan-guncangan hebat itu membuat Bi Lan kehilangan rasa takut, atau andaikata ada rasa takut, ia berani menghadapinya dan mendatangkan suatu kenekatan besar. Maka, betapapa ngerinya, ia mengatupkan bibirnya yang kecil dan tidak mau mengeluarkan suara yang membayangkan ketakutan!

Ketika tubuhnya melayang turun berputaran tangan Iblis Akhirat sudah menyambutnya dan kembali ia dilemparkan ke atas oleh kakek itu yang terkekeh senang. Ketika merasa betapa tubuhnya tidak terbanting melainkan disambut hendak di lemparkan lagi ke atas, mengertilah Bi Lan bahwa tiga orang gurunya itu bermain-main atau mungkin hendak menguji ketabahannya. Hal ini membesarkan hatinya. Ia akan memperlihatkan kepada tiga orang kakek aneh itu bahwa ia tidak takut! Maka, ketika untuk kedua kalinya tubuhnya terlempar ke atas, ia mengeluarkan suara ketawa cekikikan sebagai tanda bahwa iapun senang dilempar-lemparkan seperti itu.

Akan tetapi terdengar suara Iblis Mayat Hidup mencela. “Apa ketawa-ketawa! Dalam setiap keadaan, engkau harus belajar karena setiap peristiwa mengandung bahan baik untuk dipelajari!

Dan ketika tubuhnya meluncur turun, ia disambut pula oleh kakek kurus kering itu dan dilontarkan pula ke atas. Bi Lan menghentikan ketawanya, takut kalau ketiga orang gurunya marah. Gila, pikirnya, dlempar-lempar ke udara seperti itu dapat mempelajari apakah?

Lalu teringatlah ia betapa kalau meluncur lagi ke bawah, tuhuhnya berputaran tidak karuan. Mengapa ia tidak mau belajar agar luncurannya itu nyaman dengan kaki di bawah dan kepala di atas ? Bukankah kalau ia terpaksa terbanting ke atas tanah, akibatnya tidak begitu parah kalau kakinya lebih dulu dari pada kepalanya? Mulai­lah ia menggerak-gerakkan kaki tangannya, me­ngatur keseimbangan agar tubuhnya tidak jung­kir balik atau berputaran. Agaknya tiga orang gurunya girang melihat ini, dan begitu ia meluncur turun, ia disambut lagi bergantian untuk dilon­tarkan pula ke atas. Akhirnya setelah puluhan kali dilontarkan ke atas, Bi Lan berhasil mengatur luncuran tubuhnya sehingga kakinya selalu me­luncur di bawah, kedua tangan dikembangkan dan kedua kaki dipentang seperti orang menunggang kuda. Melihat ini, tiga orang gurunya bergantian memberi petunjuk, bagaimana harus mengatur tangan atau kaki, bagaimana harus mengatur napas dan gerakan-gerakan lain. Bi Lan yang tahu bahwa tiga orang gurunya ini adalah orang-orang aneh dan begitu ia mengangkat mereka se­bagai guru, langsung saja mereka itu menguji dan memberi pelajaran yang begitu aneh! Maka iapun memperhatikan dengan tekun dan tanpa mengenal lelah ia terus berusaha, walaupnn tubuhnya yang memang sudah amat lelah, apa lagi baru saja mengalami hal-hal yang amat hebat itu, terasa sakit-sakit. Bahkan ia menahan rasa lapar dan kantuknya sampai akirnya ia tertidur selagi tubuhnya dilemparkan lagi ke atas oleh Iblis Mayat Hidup.

Melihat betapa murid mereka itu meluncur turun dengan tubuh lunglai, tiga orang kakek itu terkejut setengah mati, khawatir kalau-kalau mu­rid mereka yang masih lemah dan amat lelah itu tidak kuat dan mati di udara! Mereka menyam­butnya dan legalah hati mereka melihat bahwa murid mereka itu hanya tertidur pulas! Meledak­lah suara ketawa mereka dan hati mereka puas dan bangga. Dilempar-lemparkan seperti itu, murid mereka ini malah bisa tidur nyenyak, dan itu di­anggap oleh mereka sebagai tanda nyali yang amat besar, ketabahan yang jarang dimiliki seorang anak kecil, apa lagi anak perempuan.

Tiga orang Sam Kwi itu lalu meninggalkan hutan itu menuju ke timur. Mereka melakukan per­jalanan cepat sekali, mengambil jalan melalui bukit-bukit dan rawa-rawa, melalui sungai dan hutan yang liar, yang jarang didatangi manusia.

Mereka mengambil jalan memotong, menerjang jalan yang betapa sukar sekalipun, dengan kepandaian mereka yang tidak lumrah manusia. Kalau mereka melalui perjalanan yang amat sukar, yang tidak dapat dilalui manusia biasa, mereka mondong Bi Lan bergantian, akan tetapi kalau melalui jalan biasa sambil menikmati pemandangan alam, mereka membiarkan Bi Lan berjalan kaki di belakang mereka. Dasar orang-orang aneh, kadang-kadang mereka meninggalkan Bi Lan begitu saja, membuat gadis cilik itu berlari-larian sete­ngah mati mengejar mereka dan kalau Bi Lan sudah hampir putus asa karena tidak mampu mengejar dan guru-gurunya lenyap, barulah me­reka muncul! Dan di sepanjang perjalanan, mereka melatih Bi Lan dengan dasar-dasar ilmu silat, dan menggemblengnya dengan latihan-latihan untuk menghimpun tenaga sin-kang.

Ada kalanya tiga orang itu berebut untuk melatih Bi Lan yang ternyata memiliki bakat yang hebat, tepat seperti dugaan mereka. Setiap pela­jaran yang diberikan guru-gurunya, dapat di­tangkap dengan mudah oleh Bi Lan dan hanya dalam latihan sajalah gadis cilik itu perlu memperoleh tekanan.

Dan gadis cilik itupun cerdik bukan main. Segera ia dapat merasakan betapa tiga orang guru­nya yang aneh itu amat menyayanginya, bahkan berlumba dalam menyayangnya. Hal ini dipergu­nakannya sebagai senjata untuk menguasai tiga orang kakek itu!

Pada suatu hari, tiga orang kakek itu terlibat dalam ketegangan dan perbantahan ketika mereka akan mulai menurunkan ilmu silat tinggi kepada murid mereka. Mereka memperebutkan, ilmu silat siapakah yarig harus diutamakan sebagai dasar.

“Siapa yang mampu menandingi ilmuku Hek­-wan Si-pat-ciang (Ilmu Silat Delapanbelas Jurus Lutung Hitam)?” bentak Raja Iblis Hitam. “Aku akan mengajarkan ilmu lebih dulu kepada Bi Lan!”

“Ha-ha-ha, sombongnya. Apa artinya pukul­an-pukulanmu bagi, orang yang memiliki kekebal­an seperti ilmuku Kulit Baja? Sebaiknya Bi Lan kulatih lebih dulu dalam ilmu tendanganku yang tiada bandingan, yaitu Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin). Dan untuk kematang­annya, ia perlu memiliki dasar tenaga sin-kang yang amat kuat seperti aku,” bantah Iblis Akhirat.

“Ah, tidak! Seorang wanita seperti Bi Lan ha­rus memiki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) seperti aku sebagai dasar, sambil mempelajari ilmu silatku Hun-kin Tok-ciang (Tangan Beracun Memutuskan Otot)!” bentak Iblis Mayat Hidup.

Tiga orang kakek itu tidak mau saling mengalah. Di atas padang rumput yang sunyi di sebuah lereng bukit itu, mereka ngotot tidak mau saling dan akhirnya mereka menentukan bah­wa harus diuji lebih dulu ilmu siapa yang paling kuat dan dialah yang berhak memberi bimbingan pertama kali kepada Bi Lan. Dan terjadilah per­kelahian di antara mereka! Bukan perkelahian sembarangan, bukan sekedar adu otot dan adu ilmu melainkan perkelahian sungguh-sungguh dengan serangan-serangan mematikan. Bukan main hebatnya serang-menyerang yang terjadi di antara mereka bertiga dan karena memang tingkat mereka seimbang, tentu saja sukarlah bagi seorang di antara mereka untuk memperoleh ke­unggulan. Kalau ada seorang di antara mereka yang nampaknya memperoleh angin dari orang ke dua, orang ke tiga lalu turun tangan mendesak sehingga yang tadinya nampak memperoleh angin sebaliknya terdesak kembali. Dan perkelahian itu bukan hanya mempergunakan ilmu pukulan biasa, melainkan mempergunakan sin-kang yang membuat tempat di sekitarnya dilanda angnin pukulan yang bersiutan dan berdesingan. Juga mereka saling mengerahkan khi-kang, mengeluarkan bentakan-bentakan melengking nyaring.

Bi Lan yang berdiri menjauh dan merasa dilu­pakan oleh tiga orang gurunya, merupakan satu-satunya penonton dan satu-satunya orang yang paling menderita di antara mereka. Angin pukulan yang dahsyat dan menyambar-nyambar itu tadi telah membuat ia jatuh bangun dan terguling-­guling seperti sehelai daun kering dilanda badai dan ia yang cerdik cepat menggerakkan tubuhnya bergulingan di atas padang rumput sampai agak jauh. Akan tetapi, setelah angin pukulan tidak mampu meraihnya karena jauh, suara-suara yang mengandung tenaga khi-kang itu menyiksanya. Anak itu merasa betapa suara itu menusuk-nusuk anak telinganya dan biarpun ia sudah menutupi kedua telinga dengan kedua tangan, tetap saja suara itu membuat isi perutnya jungkir balik dan menyiksanya dengan hebat.

“Sudahlah, biar kalian bunuh saja aku!” Akhirnya ia berteriak dan berlari ke tengah medan perkelaihian, berloncatan dan dengan nekat terjun di antara mereka bertiga. Tiga orang kakek yang lihai itu tentu saja dapat melihat munculnya mu­rid mereka yang meloncat ke tengah medan per­kelahian. Kalau orang lain yang berbuat demikian, tentu mereka bertiga akan menjatuhkan pukulan maut sehingga tubuh orang yang berani meng­ganggu mereka itu akan hancur lebur. Akan tetapi melihat bahwa yang datang adalah Bi Lan, keti­ganya tiba-tiba saja menghentikan gerakan me­reka, masing-masing menarik diri dan mundur, berdiri dengan tubuh berkeringat dan tak berge­rak seperti patung, tidak tahu harus berbuat apa.

“Kenapa suhu semua berhenti? Hayo teruskan perkelahian itu!” kata Bi Lan dengan suara marah.

“Ah, berbahaya untukmu. Menyingkirlah, Bi Lan, agar kami melanjutkan untuk menentukan siapa yang berhak lebih dulu mengajarmu.” Iblis Akhirat berkata.

“Tidak perlu teecu menyingkir. Sejak tadi teecu sudah tersiksa. Biarlah kalau teecu mati juga, menemani, seorang atau dua orang di antara suhu yang akhirnya tentu akan kalah dan mati pula!“

Baru mereka tahu bahwa Bi Lan marah karena perkelahian mereka tadi. “Kami.... kami ber­kelahi memperebutkan hak mengajarmu lebih du­lu. “Kembali Iblis Akhirat berkata memberi keterangan.

“Teecu (murid) telah mengangkat suhu bertiga menjadi guru semua, kenapa mesti berebutan la­gi? Kenapa suhu bertiga tidak memberi pelajaran bersama saja?” Ia berhenti sebentar untuk melihat tarikan muka mereka, lalu melanjutkan, “Kalau suhu bertiga berebutan dan berkelahi lagi, teecu tidak akan mau belajar dari yang paling menang!”

Mendengar ancaman dari murid yang mereka tahu amat keras hatinya ini, tiga orang kakek itu saling pandang. “Bergabung....?” Raja Iblis Hitam berkata bingung.

“Ilmu ketiga orang disatukan?” Iblis Mayat Hidup menyambung ragu.

“Wah, mengapa tidak? Kita ajarkan bersama ilmu-ilmu kita dan karena ilmu-ilmu itu amat tinggi, tentu sukar baginya untuk menerima semua.

“Justeru karena menerima setengah-setengah inilah maka ia akan dapat menggabung ilmu-ilmu itu menjadi satu ilmu yang tentu hebat karena me­ngandung dasar dan kelihaian ilmu kita masing-masing!”

“Bagus!” kata Raja Iblis Hitam girang.

“Tepat sekali!” kata pula Iblis Mayat Hidup.

“Sama sekali tidak bagus dan tidak tepat! Tiba-tiba terdengar suara merdu seorang wanita. Bi Lan terkejut dan merasa heran ada orang be­rani mencampuri percakapan tiga orang gurunya. Ketika ia menengok, ia melihat seorang wanita yang usianya sekitar duapuluh lima tahun, berpa­kaian rapi dan mewah, berwajah cantik sekali dengan sinar mata yang tajam. Kecantikannya aneh mengandung hawa dingin, akan tetapi ada kecabulan membayang dalam senyum dan ker­lingnya. Hati Bi Lan merasa khawatir sekali. “Wanita ini sudah bosan hidup, pikirnya. Ia sudah mulai mengenal watak tiga orang gurunya yang aneh dan kadang-kadang amat kejam, apa lagi setelah ia mendengar julukan guru-gurunya yang memperkenalkan diri sebagai Sam Kwi dengan julukan yang serem-serem itu. Ia malah dapat menduga bahwa gurunya adalah orang-orang yang amat kejam dan jahat, akan tetapi yang amat baik kepadanya karena sayang kepadanya. Karena takut kalau-kalau tiga orang gurunya itu menurunkan tangan secara tiba-tiba membunuh gadis itu, Bi Lan mendahului, meloncat dan menghadap tiga orang gurunya.

“Suhu sekalian harus dapat memaafkan cici ini!” teriaknya.

Akan tetapi kini terjadi hal yang amat mengherankan hati Bi Lan. Iblis Akhirat yang gendut pendek itu berteriak kegirangan, “Aha, Bwi-kwi (Iblis Cantik), kau baru muncul? Waah, aku sudah kangen sekali padamu! Dan si gendut langsung memeluk pinggang wanita cantik itu dan menariknya. Anehnya, gadis itu tersenyum lalu meren­dahkan kepalanya dan kakek gendut itu lalu mencium mulutnya dengan bernapsu sekali sampai mengeluarkan bunyi “ceplok!”. Tentu saja Bi Lan menjadi bengong melihat ini, apa lagi melihat dua orang suhunya yang lain juga menghampiri gadis itu, Raja Iblis Hitam mengelus rambut ga­dis itu, dan si Iblis Mayat Hidup mencolek da­danya! Dan gadis cantk itu hanya tersenyum manis saja, sama sekali tidak marah.

“Suhu, siapakah bocah itu?” gadis itu bertanya dan kini tahulah Bi Lan bahwa gadis itu adalah murid tiga orang suhunya.

“Ha-ha-ha-ha, ia adalah murid kami yang baru. Bakatnya bagus sekali, melebihimu, Bi-kwi. Namanya Can Bi Lan, heh-heh, dua orang murid kami semua cantik-cantik. Kami menyebutmu Bi­-kwi, biarlah mulai sekarang Bi Lan kami sebut Siauw-kwi (Iblis Cantik). Ha-ha!”

Tiba-tiba sepasang mata yang indah dan ber­sinar tajam itu berkilat memandang ke arah Bi Lan. “Murid suhu? Hemm, sejak dahulu murid suhu bertiga hanya aku, dan setiap ada orang be­rani merobah keadaan ini harus dibunuh. Anak ini pun harus kubunuh!” Berkata demikian, tiba-tiba saja wanita itu menggerakkan tangan kanannya dan lengan kanan yang montok itu tiba-tiba mulur panjang dan dua jari yang mungil menotok ke arah dada Bi Lan! Akan tetapi, biar baru beberapa bulan lamanya, Bi Lan sudah me­nerima latihan-latihan dasar dari tiga orang sakti, maka begitu ada tangan menyerangnya, gadis cilik itu mampu melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik dengan sigapnya.

“Ehh....! Ia malah sudah-belajar dari su­hu!” bentak Bi-kwi dan iapun menyerang lagi, kini kakinya melangkah ke depan. Akan tetapi tiba-tiba pinggangnya dipeluk dari belakang oleh Raja Iblis Hitam, dan kedua tangannya dipegang masing-masing oleh Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup.

“Hemm, suhu bertiga menghalangi? Berarti suhu bertiga tidak lagi cinta kepadaku!”

“Ehh? Tenang.... sabar, sabar....! Kami sudah menjelajah dunia ramai dan melihat perobahan-perobahan hebat terjadi di dunia pwersilatan . Engkau seorang diri tidak akan kuat menghadapi mereka, oleh karena itu kami sengaja memilih Bi Lan untuk menjadi murid kedua. Apa salahnya itu?”

“Hanya murid?” Gadis cantik itu menegaskan.

“Heh-heh, cemburu? Hanya murid karena bagi kami sebagai laki-laki, engkau seorang sudah lebih dari cukup dan memuaskan. Nah, maukah engkau berbaik dengan Bi Lan? tanya Iblis Akhirat.

Bi-kwi mengangguk. “Baiklah, tadipun ia sudah berusaha menolongku. Tidak apa mengam­puni nyawa anjingnya. Akan tetapi kalau kelak ada tanda-tanda bahwa suhu bertiga.... hemm, aku pasti akan membunuhnya.“

Bi Lan mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa sebenarnya maksud percakapan aneh itu dan iapun masih tertegun menyaksikan adegan aneh ketika gadis cantik itu menerima ciuman Iblis Akhirat dan belaian-belaian dua orang suhunya yang lain. Akan tetapi ia tahu bahwa gadis itu berbahaya bukan main, dan agaknya tidak kalah jahatnya dibandingkan dengan tiga orang kakek itu. Ia harus berhati-hati menghadapi gadis ini, pikirnya.

“Ha-ha-ha, bagus sekali. Bi Lan, lekas berte­rima kasih kepada sucimu (kakak seperguruanmu) yang baru saja mengembalikan nyawamu,” kata Iblis Akhirat. Sam Kwi kelihatan gembira sekali dengan pertemuan itu dan Bi Lan, walaupun hatinya tidak senang, namun anak ini mempergunakan kecerdikannya. Ia tahu bahwa gadis ini mempunyai kekuasaan atas tiga orang gurunya agaknya tiga orang gurunyapun tidak akan dapat menyelamatkannya atau menjamin keselamatannya kalau sampai ia dimusuhi gadis ini. Sebaiknya ia bersiasat dan menyenangkan hati gadis ini sebelum mengenal benar keadaannya. Maka iapun lalu bangkit dan menjura kepada gadis itu, berkata dengan suara manis dan tersenyum. Ia, oleh tiga orang gurunya, diingatkan betapa manisnya kala tersenvum, betapa timibul sepasang lesung pipit kanan kiri mulutnya.

“Suci yang cantik dan gagah perkasa, aku menghaturkan terima kasih kepadamu.”

Gadis cantik itu menjebikan bibirnya. “Huh, baiknya engkau tadi berusaha melindungiku dari kemarahan suhu, kalau tidak. Baiklah, kalau selanjutnya engkau tunduk dan taat kepadaku, mulai saat ini engkau adalah sumoiku.”

“Terima kasih, suci.”

“Bi-kwi, kenapa tadi engkau mengatakan bahwa pendapat kami untuk menggabungkan ilmu dan diajarkan kepada Siauw-kwi tidak betul dan tidak tepat?” Iblis Akhirat bertanya sambil menggandeng tangan wanita cantik itu dengan sikap yang kangen sekali.

“Tentu saja tidak tepat, karena di sini ada aku yang dapat mewakili suhu bertiga untuk mengajarkan ilmu-ilmu kita kepada sumoi. Kalau seorang anak kecil seperti sumoi itu sekaligus menerima pelajaran dari suhu bertiga, mana kuat menerimanya? Serahkan saja kepadaku dan suhu bertiga tidak perlu susah-susah.”

Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum gembira. “Ha-ha, lihat, betapa berun­tnngnya kita bertiga mempunyai seorang murid seperti Bi-kwi,” kata Iblis Akhirat.

“Bi-kwi, bagaimana dengan tugasmu tiba-tiba Raja Iblis Hitam bertanya, dan Bi Lan merasa heran mendengar suara kakek raksasa hitam ini. Biasanya dia pendiam dan kalau bersuara terde­ngar keras, parau dan bengis, akan tetapi kini su­aranya terdengar lembut dan mengandung keme­sraan.

Gadis yang disebut Bi-kwi (Iblis Cantik) itu sebenarnya bernama Ciong Siu Kwi yang sejak berusia lima tahun sudah menjadi murid Sam Kwi. Seperti juga Bi Lan, Siu Kwi atau yang kini dise­but Bi-kwi ini yatim piatu. Ayah ibunya dibunuh oleh Sam Kwi sendiri yang ingin menguasai anak ini dengan bebas. Memang pada mulanya, Sam Kwi mengambil murid ini hanya untuk menurun­kan ilmu karena melihat bakat baik pada diri Siu Kwi, juga agar anak ini dapat menemani mereka dalam persembunyian dan pertapaan mereka di puncak pegunungan Thai-san. Akan tetapi, makin dewasa, Bi-kwi atau Siu Kwi ini makin nampak watak aselinya, watak yang genit dan cabul, di samping wajahnya yang cantik. Gadis ini mem­pelajari ilmu-ilmu tinggi, akan tetapi juga mela­yani Sam Kwi, mencuci pakaian, memasak dan segala macam kebutuhan tiga orang kakek itu. Setelah ia berusia hampir delapanbelas tahun, tiga orang kakek itu tidak tahan melihat kegenitannya. Mulailah mereka bertiga itu, tertarik sebagai pria terhadap wanita kepada murid sendiri dan mulai­lah terjadi hubungan perjinaan antara ketiga Sam Kwi dengan murid tunggal mereka itu! Luar biasa­nya, gadis yang sejak kecil hidup di tempat pengasingan di Thai-san itu, menyambut tiga orang kakek buruk rupa yang menjadi suhunya itu de­ngan tangan dan hati terbuka! Dan sejak berusia delapanbelas tahun itulah, Siu Kwi menjadi murid dan merangkap kekasih Sam Kwi dan mulai pula ia menguasai tiga orang kakek itu yang namanya saja guru-gurunya, akan tetapi dalam banyak hal mereka bertiga itu tunduk dan taat kepada Siu Kwi!

Mendengar pertanyaan Hek-kwi-ong tentang tugasnya tadi Siu Kwi melepaskan tangan Iblis Akhirat, dan mengerutkan alisnya, kemudian ia duduk di atas sebuah batu yang bersih. Tiga orang kakek itupun duduk di depannya dan Bi Lan yang ingin mendengarkan juga duduk di dekat Siu Kwi.

Gadis ini menarik napas panjang beberapa kali, lalu berkata dengan suara jengkel.

“Dua urusan yang suhu serahkan kepadaku itu semua gagal! Yang pertama mengenai Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, ternyata telah tewas belasan tahun yang lalu!”

“Wah, sialan!” Raja Iblis Hitam berseru kece­wa sambil mengepal tangannya yang besar.

“Pengecut! Mampus lebih dulu!” Iblis Mayat Hidup juga berseru kecewa.

“Ha-ha, biarlah dia mampus, kelak di akhirat kita masih dapat mencarinya untuk membuat per­hitungan!” kata Iblis Akhirat yang lalu meman­dang Siu Kwi. “Dan bagaimana dengan urusan yang lain?”

“Urusan Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) lebih menjengkelkan lagi. Dengan susah payah selama berbulan-bulan aku mencari kakek Pek-bin Lo-sian (Dewa Tua Muka Putih) di sekitar Pegunungan Himalaya dan belum kutemukan jejaknya. Akan tetapi, akhirnya dari para pertapa aku mendengar bahwa kakek tua bangka itupun sudah meninggal dunia.”

“Dan pusakanya?” Raja Iblis Hitam memotong.

“Itulah yang menjengkelkan hatiku. Menurut keterangan para pertapa yang mengenal Pek-bin Lo-sian, sebelum kakek itu meninggal dunia, me­reka sering kali melihat kakek itu berbincang-bincang dengan seorang pendekar sakti dan menurut mereka, sangat boleh jadi kakek itu mewariskan Liong-siauw-kiam kepada pendekar itu.”

“Wah-wah, siapa pendekar jahanam itu?” bentak Iblis Akhirat dengan marah.

“Mereka tidak tahu, akan tetapi, dalam penyelidikanku selanjutnya, ada sebuah berita yang amat menarik, yaitu munculnya seorang pendekar yang dijuluki Pendekar Suling Naga yang kabarnya membawa senjata sebatang suling naga....“

“Itulah orangnya!” bentak Iblis Mayat Hidup. “Di mana dia?”

Gadis itu menggerakkan pundaknya. “Menurut penyelidikanku, pendekar yang ber­juluk Pendekar Suling Naga itu merantau ke selatan, dan karena aku ingin mendengar keputusan suhu dalam hal ini, maka aku lalu mencari suhu untuk melapor.”

Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat yang biasa menjadi juru bahasa me­reka, berkata, “Tugasmu menjadi semakin berat, Bi-kwi. Pendekar Super Sakti sudah mati, akan tetapi keturunan Suma tentu masih banyak berke­liaran. Karena itu kita harus berusaha membasmi semua keturunan Suma Han si Pendekar Super Sakti yang pernah membuat kami bertiga harus menyembuyikan diri selama puluhan tahun. Akan tetapi, di samping itu juga kita harus mencari orang yang menguasai Pedang Suling Naga untuk me­rampasnya. Tak mungkin tugas-tugas berat itu kaupikul sendiri. Maka, sebaiknya kita melatih Siauw-kwi ini sampai pandai agar kelak dapat membantumu menunaikan tugas-tugas itu. Kami sendiri sudah terlalu tua untuk berkeliaran men­cari orang.”

Bi-kwi menoleh ke arah Bi Lan dan menge­rutkan alisnya. Ia adalah seorang cerdik. Mewakili suhu-suhunya bermusuhan dengan keturunan Pendekar Super Sakti adalah tugas yang amat berat dan tidak menarik hatinya. Ia sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti adalah seorang tokoh besar yang amat tinggi ilmu kesaktiannya dan sukar dilawan. Bahkan tiga orang gurunya yang pernah mengeroyok pendekar itupun tidak mampu menang. Tentu keturunannya juga amat lihai dan bagaimana kalau keturunannya itu banyak ju­mlahnya? Dan urusan balas dendam guru-gu­runya karena pernah dikalahkan ini, tidak ada apa-apanya yang menarik hatinya karena tidak ada yang menguntungkan. Sebaliknya, mencari pusaka Suling Naga itu lebih menarik baginya. Kanena itu, meughadapi dua tugas ini memang sebaiknya kalau ia ditemani orang yang dapat dipercaya, dan agaknya Bi Lan inilah orangnya.

“Hemm, aku meragukan apakah anak ini akan sanggup. Siauw-kwi, sanggupkah engkau mem­bantuku kelak dalam dua urusan itu?”

Bi Lan sejak tadi mendengarkan dan kini ia menghadap ketiga orang suhunya. “Urusan suhu dengan keluarga Pendekar Super Sakti itu mudah teecu mengerti. karena tentu urusan dendam pribadi yang melibatkan keluarga Pendekar Super Sakti yang sudah mati. Akan tetapi urusan ke dua, teecu kurang jelas. Apakah pusaka Suling Naga itu dan mengapa dijadikan rebutan?”

“Ha-ha-ha, engkau memang anak cerdik yang ingin memasuki suatu urusan tidak secara mem­buta. Baiklah, akan kuceritakan padamu menganai pusaka itu.”

Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat yang bertubuh pendek bundar itu lalu dengan ringkas bercerita tentang pusaka yang dinamakan Pedang Suling Naga itu. Benda pusaka itu telah ribuan tahun usianya, terbuat dari pada semacam kayu yang tumbuh di Pegunungan Himalava, dan kayu itu diukir dan dibuat menjadi sebuah suling yang amat indah oleh seorang abi di Pegunungan Hi­malaya kurang lebih seribu tahun yang lalu. Benda itu lalu direndam dalam obat-obatan rahasia yang membuat kayu itu menjadi keras membaja, bahkan kabarnya lebih keras dari pada baja. Pusaka yang indah itu, yang dapat ditiup sebagai sebatang suling yang suaranya merdu, juga dapat dipegang sebagai sebatang pedang, kepala naga menjadi gagang dan badan serta ekornya menjadi pedangnya. Ukiran naga itu sedemikian hidupnya, sepasang mata di bagian kepalanya dibuat dari batu permata se­hingga nampak bernyala dan hidup sekali. Selama ratusan tahun, benda itu menjadi pusaka dan menjadi lambang, kekuasaan raja-raja Khitan.

Sampai akhirnya, di jaman Kaisar Jenghis Khan, raja Mongol ini dalam penyerbuannya ke barat berhasil merampas benda itu dan karena amat ka­gum dan suka, benda itu menjadi pusaka kesa­yangan Kaisar Jenghis Khan. Akan tetapi pada suatu hari, pusaka itu lenyap dari dalam gudang pusaka. Kaisar Jenghis Khan marah sekali akan tetapi urusan itu dirahasiakan karena kaisar akan merasa malu kalau terdengar rakyat bahwa pusaka yang paling disayang itu dapat lenyap begitu saja dari dalam gudang pusaka. Saking marahnya, Kaisar Jenghis Khan menghukum mati tigapuluh orang pengawal dan pelayan yang dicurigai! Dan semenjak saat itu, pusaka Suling Naga dianggap lenyap dan tak pernah dapat ditemukan kembali walaupun Kaisar Jenghis Khan telah mengeluarkan banyak sekali biaya dan mengerahkan banyak orangnya untuk mencarinya.

“Sebenarnya yang mencuri benda pusaka itu adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di pegunungan sebelah utara. Benda itu menjadi kebanggaannya karena tentu saja orang yang mampu mencuri benda dari gudang pusaka Kaisar Jenghis Khan adalah seorang yang sakti. Benda itu turun temurun menjadi milik murid-murid keturunannya dan akhirnya jatuh ke tangan suhu dan susiok kami yang bertapa di Pegunungan Hima­laya. Ketika suhu meninggal dunia, pusaka itu oleh suhu diserahkan kepada susiok Pek-bin Lo-sian yang bertapa di Pegunungan Himalaya. Kami memintanya, akan tetapi susiok mengatakan bahwa pusaka itu tidak pantas menjadi milik kami. Ten­tu saja kami berusaha merampasnya, akan tetapi susiok Pek-bin Lo-sian terlalu tangguh bagi kami. Tidak ada lain jalan kecuali menanti sampai kakek yang sudah tua renta ini mampus. Akan tetapi, sungguh tak terduga sekali halnya kami dikalahkan oleh Pendekar Super Sakti sehingga kami terpaksa mengundurkan diri bertapa sampai duapuluh tahun dan ketika kami mengutus Bi-kwi, ternyata kakek tak tahu malu itu telah mampus dan mewariskan pusaka itu kepada orang lain!”

Iblis Akhirat menghentikan ceritanya dan tiga orang kakek itu nampak beringas dan marah sekali.

“Bagaimana, Siauw-kwi, maukah engkau membantu sucimu dalam mencari pusaka itu dan membalas dendam terhadap keturunan Suma?” tiba-tiba Iblis Mayat Hidup bertanya.

Cerita itu amat menarik hati Bi Lan. Bagaima­napun juga, tiga orang suhunya memang berhak mendapatkan kembali pusaka itu dan pendekar yang menerimanya dari Pek-bin Lo-sian tidak berhak. “Baik, suhu. Teecu akan belajar giat agar kelak mampu membantu suci.”

Mereka berlima lalu meninggalkan tempat itu, kembali ke puncak Pegunungan Thai-san. Di se­panjang perjalanan, dengan hati kaget dan heran, juga muak, Bi Lan melihat betapa tiga orang gu­runya itu mengadakan hubungan amat mesra dengan sucinya. Ia belum begitu mengerti tentang hubungan perjinaan seperti itu, akan tetapi nalu­rinya membuat ia selalu membuang muka dan menyingkir kalau melihat pertunjukan tak tahu malu di sepanjang perjalanan itu. Karena perbu­atan ini saja, diam-diam Bi Lan merasa amat tidak suka kepada sucinya dan kepada tiga orang suhu­nya, walaupun dengan cerdik ia dapat menyem­bunyikan perasaan ini di lubuk hatinya.

Demikianlah, setelah tiba di puncak Pegu­nungan Thai-san, di tempat terpencil sunyi, Bi-kwi atau Su Kwi mulai melatih sumoinya dengau ilmu silat. Akan tetapi, dasar orang yang licik, curang dan juga hatinya diliputi penuh kebencian, Bi-kwi yang tidak rela kalau ada orang kelak lebih pandai atau setidaknya mengimbangi kepandaian­nya, ia melatih dengan cara yang kadang-kadang dibalikkan, dengan harapan agar sumoinya tentu mewarisi ilmu yang keliru cara melatihnya men­jadi ilmu sesat yang akan membahayakan sumoi itu sendiri. Ilmu bersamadhi dan menghimpun tenaga sin-kang misalnya, kalau dilatih dengan cara yang keliru, amat membahayakan, dapat membuat orang menjadi menderita luka dalam, atau dapat membikin orang menjadi gila, atau bahkan mati keracunan!

***

Kita tinggalkan dulu Bi Lan, anak berusia hampir sebelas tahun yang kini sedang digembleng secara keliru oleh Bi-kwi atau Siu Kwi itu, di tempat terasing, satu di antara puncak Thai-san dan mari kita menengok peristiwa yang terjadi di lain tempat, jauh dari Thai-san.

Peristiwa pemberontakan yang berkembang di perang saudara antara para pemberontak dan pasukan pemerintah, yang dicampuri pula oleh pasukan asing Birma yang bersekutu dengan para pemberontak, membuat seluruh negeri menjadi tidak aman. Karena pemerintah pusat mencurah­kan perhatian terhadap pemberontakan pemberontakan itu, maka pengurusan keamanan di dae­rah-daerah tidak terlalu diawasi. Hal ini membuat para pembesar setempat seolah-olah menjadi raja yang berdaulat, tidak ada yang menentang, tidak ada yang mengawasi. Akan tetapi, juga tidak ada yang melindungi dan pembesar-pembesar itu ha­nya mengandalkan pasukan keamanan setempat. Oleh karena inilah, maka para penjahatpun muncul dan merajalela di wilayah masing-masing, meng­ganggu rakvat jelata. Mungkin karena mempunyai kepentingan yang sama dan keduanya mengganggu dan menentang rakyat jelata, banyak terjadi persekongkolan antara para gerombolan penjahat yang kuat dan para pembesar setempat. Tidaklah mengherankan apabila ada sebagian rakyat bang­kit melawan penjahat- penjahat itu, mereka akan berhadapan dengan pasukan keamanan yang akan menentang mereka dan membantu para penjahat! Ada kalanya, agar perbuatan mereka tidak me nyolok, petugas keamanan menangkapi para penjahat dan juga rakyat yang menentang penjahat! Beberapa hari kemudian, para penjahat yang di tangkapi itu telah berkeliaran kembali melakukan kejahatan mereka, sedangkan orang-orang yang ditangkap ketika melawan penjahat itu tetap di tahan, bahkan dihukum dengan tuduhan pemberontak! Dalam keadaan negara kacau seperti ini terjadilah apa yang dinamakan “pagar makan tanaman”, para petugas keamanan yang seharusnya menjaga keamanan hidup rakyat, sebaliknya malah membuat kehidupan rakyat menjadi tidak aman! Kalau petugas keamanan sudah bersekongkol dengan penjahat, dapat dipastikan bahwa keadaan pemerintahannya lemah, dan yang celaka adalah rakyat jelata pula.

Keadaan semacam itupun melanda kota kecil Siang-nam yang terletak tidak jauh dari kota besar Siang-tan, di Propinsi Hunan. Kepala daerah kota Siang-nam seperti boneka saja. Hanya pa­kaian dan kursinya saja yang menandakan dia seorang kepala daerah, akan tetapi sikap dan perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pemimpin. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Bong-ciangkun, komandan pasukan keamanan kota Siang-nam. Dan di atas Bong-ciangkun ini, sebagai penguasa yang tidak terlihat, adalah kepala penjahat yang menguasai seluruh Siang­-nam dan daerahnya. Selalu terjadi persekutuan antara kepala penjahat dan Bong-ciangkun dalam menghadapi perkara apapun dan Bong-ciangkun lalu tunduk karena kepala penjahat itu memberi sogokan yang berlebihan, yang membuat komand­an itu menjadi kaya raya. Lebih celaka lagi, Bong-ciangkun terkenal sebagai seorang pria congkak, menyombongkan kedudukannya, bengis dan yang paling buruk, mata keranjang dan selalu ingin mendapatkan wanita mana saja yang menarik hatinya! Dia dikenal sebagai srigala kota Siang­-nam dan semua penduduk merasa takut kepadan­ya.

Pada suatu pagi, di antara orang-orang yang sibuk pergi ke pasar, ada yang hendak berjualan dan ada pula yang hendak berbelanja, nampak se­orang wanita bersama seorang anak laki-laki berjalan menuju ke pasar. Ibu dan anak ini ma­sing-masing membawa keranjang berisi telur. Mereka memelihara banyak ayam di rumah dan kini mereka hendak menjual hasilnya ke pasar. Biasanya, yang menjual telur adalah suami wanita itu, akan tetapi pada pagi hari itu, si suami rebah pembaringan karena masuk angin dan walaupun enggan keluar rumah dalam suasana kacau seperti itu, terpaksa si isteri mengajak putera tunggalnya untuk menemaninya membawa telur dan menjualnya ke pasar.

Wanita itu berwajah lumayan, dengan kulit kuning bersih sehingga usianya yang sudah tigapuluh tahun itu belum menghilangkan daya tarik­nya yang memikat.

Puteranya, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun, juga wajahnya mirip ibunya sehingga dia nampak tampan dan bersih, wajahnya cerah. Anak ini bernama Gu Hong Beng, dan ayahnya yang sedang sakit itu bernama Gu Hok, seorang tukang kayu yang pan­dai. Selain memiliki penghasilan sebagai tukang kau, juga isterinya dibantu oleh putera mereka memelihara atau beternak ayam yang hasilnya ­lumayan pula. Kehidupan mereka yang tidak kaya akan tetapi juga tidak miskin itu cukup bahagia, dengan seorang putera yang baik dan penurut, rajin bekerja membantu ibunya merawat ayam, bahkan sudah dapat melakukan beberapa peker­jaan tukang kayu yang ringan-ringan.

Karena semua pedagang di pasar tahu bahwa telur dari ternak ayam milik tukang kayu itu se­lalu baru dan segar, maka dengan mudah mereka dapat menjual semua telur mereka di pasar dan dengan wajah berseri keduanya membawa uang hasil penjualan itu untuk berbelanja keperluan bumbu-bumbu masakan dan bahan-bahan makanan. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan agar semua orang minggir dan memberi jalan kepada seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan berperut gendut sekali. Mukanya buruk hitam dan kulitnya tebal dengan mata lebar bundar yang memandang penuh keangkuhan. Dia berjalan dengan dada dibusungkan, akan tetapi karena perutnya yang luar biasa gendutnya, yang makin membusung adalah perutnya itu. Pakaian­nya indah dan gagah, pakaian seorang perwira dengan pedang besar panjang tergantung di ping­gang kiri. Kepalanya terhias topi perwira Mancu yang memakai hiasan bulu. Dengan langkah di­buat-buat perwira yang bukan lain adalah Bong-ciangkun ini menoleh ke kanan kiri, sikapnya sombong sekali ketika dia memandangi orang-orang di dalam pasar.

Sudah diketahui umum bahwa kaum wanita amat lemah terhadap harta, kedudukan dan nama kehormatan. Oleh karena itu, biar melihat bentuk perut dan mukanya laki-laki yang bernama Bong-ciangkun ini sama sekali tidak dapat dibilang ganteng atau menarik, namun kedudukannya, pangkatnya, pakaiannya yang gagah, kehormatan­nya dan hartanya tentu sekali membuat banyak wanita di pasar itu berlumba untuk bergaya dan menarik hati sang perwira dengan berbagai gaya. Ada yang suaranya tiba-tiba saja meninggi dan nyaring, ada yang tiba-tiba menjadi genit sekali, terkekeh, ada yang matanya lalu menjadi lincah mengerling tajam, ada yang senyum-senyum ma­nis, ada pula yang memperbaiki letak rambut dan merapikan pakaian. Akan tetapi, Bong-ciangkun hanya mengangkat hidung memandang rendah.

Empat orang perajurit pengawal yang berada di depan perwira itu untuk membuka jalan bersi­kap kasar sekali. Ada beberapa orang laki-laki yang memukul keranjang, karena kurang cekatan menyingkir, ditendang keranjangnya sehingga isi­nya berantakan.

“Minggir! Minggir! Komandan kami akan lewat!” Demikian mereka membentak-bentak.

Pada saat mereka tiba dekat dengan Gu Hong Beng dan ibunya yang sedang berbelanja, empat orang pengawal itu membentak-bentak dan men­dorong-dorong. Seorang kakek tua kena dorong dan terhuyung menabrak ibu Hong Beng. Wanita ini menahan jerit, terjatuh dan kacang yang dibelinya dan dipondongnya tadi terlepas, bungkusan­nya pecah dan kacang itupun berserakan di atas tanah.

“Ahhh kacangku....!” Ibu muda ini cepat berjongkok dan mengumpulkan kacang yang tumpah-tumpah itu.

Tiba-tiba ada orang memegang lengannya dan ia ditarik dengan lembut ke atas. Nyonya itu ter­paksa bangkit dan menoleh. Terkejutlah ia ketika melihat bahwa yang menariknya itu adalah seo­rang laki-laki tinggi besar berpakaian perwira yang kelihatannya galak dan bengis. Akan tetapi pada saat itu, laki-laki tinggi besar yang bukan lain adalah Bong-ciangkun itu menyeringai, mak­sudnya untuk tersenyum manis akan tetapi hasil­nya sama sekali tidak manis bahkan menyeringai menakutkan.

“Nyonya yang manis, harap jangan kaget dan takut. Maafkan pengawalku bersikap kasar se­hingga kacangmu tumpah. Marilah engkau ikut denganku, nyonya, dan aku akan mengganti kerugianmu sepuluh kali lipat.”

Tentu saja wajah wanita itu menjadi merah sekali. Ia pernah mendengar tentang perwira yang bernama Bong-ciangkun ini dan jantungnya ber­debar tegang dan takut. Ia lalu menggandeng tangan Hong Beng dan berkata kepada anaknya itu, “Hong Beng, mari kita pulang tanpa menoleh ia menggandeng dan menarik tangan anaknya untuk diajak pergi.

Akan tetapi kembali lengannya dipegang orang dan kini pegangannya itu agak keras membuat ia merasa nyeri.

“Nyonya, aku adaiah Bong-ciangkun. Jangan takut, aku suka sekali padamu. Engkau manis, mari ikut denganku sebentar. Engkau akan senang, marilah.... Bong-ciangkun menarik lengan itu dan senyumnya melebar, matanya yang besar bundar itu berkedip-kedip penuh kegenitan dan kekurangajaran.

Nyonya Gu Hok menarik dan merenggutkan tengannya sampai terlepas dari pegangan perwira itu. “Tidak, biarkan kami pulang....!” kata­nya lirih.

“Ah, itu anakmukah, nyonya? Ajaklah dia, aku akan menjamu kalian dengan hidangan yang lezat. Marilah, dan nanti pulangnya akan kuantar dengan kereta.” Kembali Bong-ciangkun membujuk de­ngan sikap ramah

“Tidak...., terima kasih, ciangkun, akan tetapi kami mau pulang, sudah siang....”

“Marilah, nyonya. Apakah engkau akan meno­lak uluran tangan dan undanganku?” Kembali perwira itu memegang lengan wanita yang tidak mampu melepaskan tanyannya lagi.

“Lepaskan ibuku....!” Tiba-tiba Hong Beng berseru dan dia membantu ibunya menarik tangannya dari pegangan perwira itu. Kalau sang perwira menghendaki, tentu mereka berdua tidak mampu melepaskan tangan itu, akan tetapi meli­hat betapa banyaknya orang di pasar menyaksikan peristiwa itu, dia terpaksa melepaskan pegangan­nya. Mukanya menjadi semakin hitam. Dia merasa malu sekali! Ada wanita berani menolaknya! Bah­kan terang-terangan didepan begitu hanyak orang. Dia tentu akan menjadi bahan tertawaan orang sepasar! Dan kalau dia bertindak di situ juga, dia merasa malu karena banyak orang menyaksikan dan bagaimanapun dia adalah seorang pembesar, komandan pasakan keamanan. Maka, dengan uring-uringan dia lalu mengajak para pengawal­nya keluar dari pasar dan terus pulang.

Setibanya di rumah, Bong-ciangkun menjadi semakin penasaran ketika mendengar bahwa nyo­nya manis tadi adalah isteri tukang kayu Gu Hok. Hanya isteri tukang kayu! Dan berani menolak­nya! Padahal, isteri orang orang yang lebih kaya dan lebih tinggi kedudukannya sekalipun akan masuk ke dalam pelukannya dengan suka rela!

Dia lalu menghubungi Coa Pit hiu, kepala pen­jahat yang menguasai dunia hitam di daerah Siang-nam. Setelah mengadakan pertemuan dan menceritakan perasaan hatinya yang tergila-gila kepada isteri Gu Hok dan merasa penasaran karena ditolak mentah-mentah oleh wanita itu di tengah pasar sehingga diketahui banyak orang, Coa Pit Hu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha!” Pria berusia empatpuluhan yang bertubuh tinggi kurus, bermuka pucat dan matanya sipit, hidungnya lebar dan pesek. “Untuk urusan kecil seperti itu, kenapa ciangkun menjadi marah-marah? Kalau pada waktu kemarin itu ciangkun menyuruh pengawal menangkapnya dan menyeretnya ke sini, siapa yang akan melarang dan siapa berani menghalangi tindakan ciangkun?”

“Ah, enak saja! Di depan begitu banyak orang, bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Tentu tidak enak dan tidak baik. Sekarang, bantulah aku bagaimana baiknya agar aku dapat menebus rasa malu itu. Wanita itu menarik sekali, kaupun tentu akan setuju kalau sudah melihatnya!”

“Ha-ha, bunga simpanan dalam taman yang dipelihara tentu saja cantik menarik. Jangan kha­watir, sekarangpun aku dapat menculiknya, kalau suaminya ribut-ribut akan kubunuh saja!”

“Jangan!” Bong-ciangkun mencegah. “Peris­tiwa di pasar itu telah diketahui banyak orang. Kalau sekarang isterinya diculik, tentu semua orang akan menuduh aku. Sebaliknya diambil ja­lan halus agar wanita itu mau datang ke sini de­ngan suka rela, dan akan lebih menyenangkan lagi kalau ia mau melayani aku dengan suka rela. Aku sudah bosan dengan cara paksaan dan perkosaan.”

“Beres!” Kepala penjahat itu membual. “Ciangkun katakan tadi bahwa wanita itu mem­punyai seorang anak laki-laki? Nah, anak buahku akan menculik anak itu, kemudian kami akan minta kepada ibu anak itu datang sendiri menjemput anaknya ke sini. Nah, bukankah dengan ditang­kapnya anak itu, si ibu akan dengan suka rela melayani segala hasrat ciangkun? Ha-ha-ha!”

Komandan itu tartawa bergelak dengan hati senang, sampai perutnya bergoyang-goyang naik turun dan ke kanan kiri. “Bagus, bagus! Laksana­kanlah dan hadiah-hadiahnya sudah menanti un­tuk anak buahmu.”

“Aih, kenapa ciangkun berkata demikian? Bi­arlah wanita itu merupakan hadiah dari kami untuk ciangkun! Malam ini juga ia tentu akan datang menyembah-nyembah kaki ciangkun dan minta diajak tidur. Sebagai tebusan nyawa anaknya, ha-ha-ha!” Mereka berdua tertawa-tawa dan Coa Pit Hu, kepala penjahat itu, segera berpamit untuk mempersiapkan rencananya.

Siang hari itu, Cu Hak dan isterinya menjadi gelisah sekali ketika mendengar dari beberapa orang anak tetangga bahwa Hong Beng yang se­dang bermain-main dengan mereka, tiba-tiba ditangkap oleh empat orang laki-laki yang tidak dikenal, mulutnya disumbat dan dibawa lari oleh mereka!

“Hong Beng diculik penjahat!” demikian Gu Hok berpendapat dengan muka pucat, merasa he­ran sekali. “Mengapa? Kita adalah keluarga mis­kin, perlu apa orang menculik anak kita?”

Isterinya juga merasa khawatir sekali dan sedikitpun tidak menghubungkan diculiknya anaknya itu dengan peristiwa pagi tadi di dalam pasar. Ia tidak menceritakan peristiwa itu kepada suaminya karena merasa tidak enak, takut suaminya akan marah dan ia tahu bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu terhadap kekurangajaran seorang perwira seperti Bong-ciangkun.

Apa yang harus kita lakukan? Ke mana kita harus mencari anak kita?” Dengan wajah pucat ibu yang kehilangan anaknya itu mengeluh.

Selagi ayah dan ibu ini kebingungan, seorang petani yang menjadi tetangga mereka tergopoh datang memberi tahu bahwa selagi bekerja di ladang, dia didampingi seorang laki-laki tinggi kurus bermata sipit yang mengatakan bahwa kalau keluarga Gu Hok menghendaki anaknya kembali dengan selamat, mereka harus menyediakan uang tebusan seratus tail perak dan yang mengantar uang itu untuk menebus anaknya haruslah ibu anak itu sendiri. Tidak boleh dikawali orang dan tidak boleh diantarkan orang lain atau ditemani orang lain. Kalau melanggar, anak itu akan dibu­nuh! Uang itu harus diantar malam nanti di tanah kuburan yang berada di tepi kota, tempat yang amat sunyi!

Tentu saja suami isteri itu menjadi kebingung­an. “Celaka!” kata Gu Hok. “Orang miskin se­perti kita mana mampu menyediakan uang seratus tail perak?”

Akan tetapi sambil menangis isterinya membu­juk-bujuknya agar mengumpulkan uang dari manapun juga. “Biarpun tidak cukup seratus tail, cari dan kumpulkanlah uang itu, aku akan memo­hon kepada mereka agar suka meringankan beban itu, dan kalau anak kita sudah dikembalikan, biar­lah kita cari kekurangan itu sedapat kita.”

Karena khawatir akan keselamatan anaknya. Gu Hok lalu mencari pinjaman ke sana-sini dan akhirnya dia dapat mengumpulkan uang sebanyak duapuluh tail perak. Isterinya, lalu membungkus uang itu dengan kain dan segera pergi meninggalkan rumah. Suaminya khawatir dan hendak menemaninya, akan tetapi isterinya melarang dengan keras.

“Suamiku, anak kita terancam nyawanya, ja­ngan main-main,” katanya. “Bukankah mereka itu hanya menginginkan aku sendiri yang mengantarkan uang? Tentu mereka curiga, takut kalau engkau membawa kawan-kawan dan menggerebek. Biarlah aku yang mengantarkan dan aku akan mohon kasihan kepada mereka.”

“Tapi, apakah tidak berbahaya kalau engkau pergi sendiri? Malam-malam begini ke kuburan yang begitu sunyi?” Suaminya meragu.

“Jangankan ke kuburan, biar ke neraka aku bersedia kalau untuk menyelamatkan anakku!”

Terpaksa Gu Hok membiarkan isterinya pergi sendiri dan dia menanti di rumah dengan hati tidak karuan rasanya. Melarang isterinya pergi, berarti dia menaruh nyawa anak tunggalnya dalam baha­ya, sedangkan membiarkan isterinya pergi, mem­buat hatinya merasa khawatir dan tidak enak sekali. Juga dia tidak berani secara diam-diam membayangi isterinya karena dia mengerti bahwa penjahat-penjahat itu amat berbahaya dan tentu akan tahu kalau dia mengintai. Hal ini bukan hanya dapat membahayakan keselamatan anaknya yang berada dalam cengkeraman penjahat, melainkan juga membahayakan isterinya karena mereka merasa dikhianati.

Dengan perasaan serem ketika memasuki ku­buran yang gelap itu, nyonya Gu Hok memberani­kan hatinya demi anaknya, dan ia menoleh ke kanan kiri di tempat yang amat sunyi itu. Tiba-tiba ia terkejut dan hampir menjerit ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang tinggi kurus dari belakang sebuah batu kuburan. Kalau saja ia tidak tahu sebelumnya bahwa tentu ada orangnya gerombolan penjahat yang menyambutnya, tentu ia sudah menjerit ketakutan dan menyangka setan.

“Apakah engkau nyonya Gu Hok?” tanya laki-laki tinggi kurus itu.

“Be.... benar.... aku ibu dari anakku Hong Beng.... aku.... aku mohon kepada­mu, di mana anakku?”

“Engkau datang sendirian saja?” tanya suara itu dengan galak.

“Benar....“

“Membawa uang itu?”

“Ampunkan aku kami tidak mampu mengumpulkan uang seratus tail dan hanya berhasil terkumpul duapuluh tail saja....”

“Hemm, mana bisa....?”

Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan dirinya ber­lutut. “Ampunkan kami, ampunkan anak kami, aku mohon kepadamu, bebaskanlah anakku dan aku berjanji bahwa kekurangannya kuanggap hu­tang dan kelak akan kubayar dengan cicilan....“

“Wah, mana bisa?”

“Aku mohon kepadamu, kasihanilah kami....“

“Begini, nyonya. Kalau pembayarannya kurang, aku tidak dapat memutuskan. Engkau harus minta sendiri kepada pimpinan kami.”

“Mana dia? Aku akan mohon kepadanya, dan mana anakku?”

“Anakmu dalam keadaan sehat, bersama pimpi­nan kami. Mari kita ke sana dan kau boleh bicara sendiri dengan dia dan mengambil anakmu.

Tentu saja nyonya itu merasa girang sekali dan dengan penuh harapan disertai kecemasan, iapun mengikuti laki-laki tinggi kurus itu pergi ke sebu­ah rumah yang agak terpencil, sebuah rumah pondok kecil. Ia terus mengikuti ketika laki-laki tinggi kurus itu memasuki rumah dari pintu bela­kang dan hatinya gentar bukan main melihat belasan orang laki-laki yang bersenjata tajam berada di sekitar rumah pondok itu. Setahunya, pondok ini adalah rumah milik pembesar yang jarang di­pakai, dan ia tidak mengerti mengapa ia dibawa ke pondok milik pembesar.

Dan ketika ia bersama orang tinggi kurus itu memasuki sebuah kamar yang besar, dan pene­rangan yang besar menerangi seluruh kamar itu, membuat ia dengan jelas dapat melihat laki-laki tinggi besar yang duduk di situ sambil menyeringai, jantungnya seperti ditusuk rasanya. Laki-laki itu bukan lain adalah Bong-ciangkun, laki-laki muka hitam berperut gendut yang matanya besar itu, yang pagi tadi mengganggunya di tengah pasar!

“Ibuuu....”

“Hong Beng, anakku....!” Ibu itu berteriak girang melihat anaknya berada pula di sudut ka­mar. Akan tetapi ketika ia hendak lari mengham­piri, pergelangan tangannya dicengkeram oleh si tinggi kurus.

“Jangan bergerak....!”

“Ibu....!” Hong Beng meloncat dan berlari menghampiri ibunya, merangkul ibunya dan si tinggi kurus tidak mampu mencegah ibu dan anak itu saling rangkul. Wanita itu berlutut dan berangkulan dengan anaknya, si ibu menangis akan tetapi Hong Beng tidak menangis, melainkan me­mandang ke arah si tinggi kurus dan perwira bre­wokan itu dengan sirar mata berapi-api.

“Kalian telah meculikku, sekarang membawa ibuku ke sini. Sebetulnya kalian ini orang-orang jahat mau apakah?” Tadi ketika ibunya belum dibawa ke situ, Hong Beng memperlihatkan sikap takut-takut, akan tetapi kini melihat ibunya juga diculik, kemarahannya meluap dan dia melupakan rasa takutnya.

“Plakkk....” Sebuah tamparan dari si tinggi kurus membuat Hong Beng terpelanting dan ibunya menjerit.

“Anak lancang, apa kau bosan hidup?” Si ting­gi kurus membentak anak yang kini merangkak bangun dengan pipi kiri merah membiru dan agak membengkak itu. Akan tetapi sebelum anak itu dapat bergerak, si tinggi kurus sudah meloncat dan sekali pegang sudah mencengkeram tengkuk anak itu sehingga tidak mampu bergerak lagi.

“Jangan.... jangan pukul anakku.... ah, jangan bunuh anakku.... ini, tai-ciangkun, aku sudah membawa uangnya, tetapi kurang.... kami hanya mampu mengumpulkan duapuluh tail saja.... ampunkanlah kami dan anakku, ke­kurangannya akan kucicil....“ Wanita itu bicara dengan air mata bercucuran dan mengeluarkan buntalan berisi uang duapuluh tail perak. Ia ber­lutut di depan kaki perwira Bong yang tersenyum menyeringai karena setelah berdekatan, ternyata­lah olehnya bahwa wanita ini memang mulus dan manis sekali.

“Nyonya, kalau saja sikapmu di pasar tadi tidak kasar dan lunak seperti sekarang ini, tentu aku ti­dak perlu membawa anakmu ke sini. Sekarang, bagaimana? Engkau pilih anakmu mati di depan­mu ataukah melayani aku dan menyenangkan ha­tiku?” Perwira brewok itu mengajukan pertanyaan ini tanpa malu-malu, di depan Hong Beng yang belum mengerti apa yang dimaksudkan laki-laki buruk rupa itu dan didepan si tinggi kurus Coa Pit Hu yang hanya menyeringai. Kedua lengan Hong Beng masih ditelikungnya ke belakang sehingga anak ini tidak mampu meronta.

Dapat dibayangkan betapa kaget, takut dan bingungnya hati ibu Hong Beng mendengar ucapan itu. Tak disangkanya samsa sekali bahwa ke situ­lah tujuan perwira ini menculik anaknya, yaitu untuk memaksanya melayani perjinaan dengan penwira itu. Tentu saja ia tidak sudi! Akan tetapi melihat puteranya dalam cengkeraman si tinggi kurus, ia tidak berani menolak secara kasar dan hendak mencari jalan lain.

“Tai-ciangkun, ampunkanlah aku, ampunkan anakku....” Ia berlutut sambil menangis. “Kami akan berusaha sedapat mungkin untuk me­menuhi tuntutan seratus tail itu.... asal anakku dibebaskan.... aku mau bekerja keras, aku mau melakukan apa saja demi keselamataan anakku.... akan tetapi........ ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.166.214
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia