Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Si Tangan Sakti

Seri : Bu Kek Siansu #16

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Kaisar Kian Liong adalah seorang di antara para kaisar Kerajaan Ceng atau Mancu yang paling terkenal. Dia bijaksana dan pandai walaupun, se­perti sebagian besar para kaisar dan to­koh-tokoh besar dunia, dia memiliki pula sebuah kelemahan, yaitu mata keranjang terhadap wanita. Dalam pemerintahannya selama enam puluh tahun (1736-1796) kerajaannya mendapatkan banyak kemaju­an sehingga namanya tercatat dengan tinta emas dalam buku sejarah. Tentu saja tentang semua pengalamannya se­bagai laki-laki mata keranjang, sejak masih menjadi pangeran, sengaja tidak dicatat karena hal itu akan menjadi noda saja dalam sejarah raja-raja yang selalu diagungkan.

Ketika kaisar ini masih muda, masih menjadi seorang pangeran, dia dikenal pula sebagai seorang pangeran yang pan­dai bergaul, yang suka bergaul dengan rakyat jelata, bahkan mendekati tokoh­-tokoh dunia persilatan sehingga namanya populer dan disuka, disebut Pangeran Bijaksana, Pangeran Mulia dan sebagai­nya.

Ketika dia masih pangeran, pada suatu hari dia melihat seorang wanita muda yang teramat cantik manis berkunjung ke istana bagian puteri, mengunjungi kakak perempuannya. Teringatlah dia bahwa wanita itu adalah Fu Heng, isteri dari Pangeran Kian Tong yang menjadi kakak tirinya karena berlainan ibu. Kalau dia merupakan putera permaisuri dan Pange­ran Mahkota, Pangeran Kian Tong ha­nya puteri selir. Pangeran Kian Tong baru beberapa bulan menikah dan wanita cantik itulah isterinya, yang kini ber­kunjung kepada Puteri Can Kim, kakak­nya yang memang menjadi sahabat baik isteri Pangeran Kian Tong itu.

Semenjak bertemu dengan kakak ipar­nya yang bernama Fu Heng itu, Pangeran Kian Liong menjadi tergila-gila. Biarpun dia dapat memperoleh gadis mana saja yang dikehendakinya, namun pada waktu itu, hanya bayangan kakak iparnya yang nampak di depan mata, siang malam! Tidur tak nyenyak, makan tak enak, begitulah keadaan pangeran putera mah­kota itu. Hal ini segera diketahui oleh pembantunya yang setia, juga pelayannya, seorang thaikam (laki-laki kebiri) ber­nama Siauw Hok Cu.

“Pangeran, apakah yang mengganggu pikiran Paduka? Harap beritahukan ke­pada hamba, dan hamba yang akan melaksanakan segala perintah Paduka untuk dapat memenuhi segala kehendak Pa­duka.” kata thaikam itu.

Pangeran Kian Liong yang sedang rebahan itu bangkit duduk, memandang kepada pelayannya yang setia dan meng­hela napas panjang. “Hok Cu, engkau tidak tahu betapa hatiku merana karena rindu kepada seorang wanita.....”

Siauw Hok Cu tertawa, akan tetapi menutupi mulutnya dengan sikap sopan. “Sungguh lucu ucapan Paduka ini. Wanita mana di dunia ini yang tidak akan lari ke dalam pelukan Paduka kalau Paduka membuka lengan dan memanggilnya? Katakanlah, wanita mana yang Paduka rindukan, dan hamba akan segera men­jemputnya dan mengajaknya ke sini.”

Akan tetapi pangeran itu tidak ber­gembira oleh kesanggupan pelayannya, bahkan menghela napas lagi. “Ah, engkau tidak tahu siapa wanita yang kurindukan itu, Hok Cu. Sekali ini, biar engkau pun tidak akan mampu menolongku dan aku akan mati tenggelam ke dalam kerinduan­ku yang begini menghimpit. Aaaiiihhh....!”

“Katakanlah, Pangeran. Wanita mana yang Paduka kehendaki? Biar ia puteri raja muda sekalipun, hamba sanggup melaksanakannya untuk Paduka!” kata Siauw Hok Cu penuh semangat.

“Kalau saja ucapanmu itu benar, Hok Cu. Akan tetapi sudahlah, lupakan saja, biarkan aku merana sendiri karena eng­kau tidak mungkin akan dapat membantuku sekali ini....”

“Katakanlah siapa wanita itu, Pange­ran. Hamba bersumpah, kalau tidak bisa mendapatkan, nyawa hamba gantinya!” kata pula thaikam itu dengan penasaran.

“Benarkah?” Kini dalam mata pange­ran itu bernyala sebuah harapan baru. “Nah, dengarlah. Wanita yang kurindukan itu adalah Nyonya Fu.”

“Nyonya Fu....?” tanya thaikam itu, tidak mengerti.

“Nyonya muda Fu Heng, kakak iparku, isteri Pangeran Kian Tong, pengantin baru itu!”

“Ya Tuhan....!” Wajah thaikam itu berubah pucat dan matanya terbelalak. “Tapi beliau adalah kakak ipar Paduka sendiri!”

Pangeran Kian Liong tersenyum pa­hit. “Benar, akan tetapi ia pun seorang wanita, bukan? Wanita yang amat cantik, amat manis, amat mulus, dan bagaimana dengan janjimu untuk mengganti dengan nyawamu, Hok Cu?”

Thaikam itu cepat mengangguk-ang­gukkan kepalanya sampai dahinya mem­bentur lantai. “Akan hamba laksanakan, Peduka jangan khawatir, akan hamba carikan jalan!”

Tentu saja pangeran itu merasa gembira sekali. Pembantu utama yang menjadi pelayan pribadinya ini memang cerdik dan banyak akalnya. Biarpun di situ tidak terdapat orang lain, mereka berbisik-bisik ketika thiankam Siauw Hok Cu mengatur siasatnya.

Kurang lebih sepekan kemudian, sebuah kereta berhenti di halaman istana bagian putri dan wanita cantik Fu Heng turun dari kereta. Seorang dayang segera menyambutnya. Dayang itu mengaku sebagai pelayan pribadi Puteri Can Kim yang mengutusnya untuk menyambut Fu Heng.

“Puteri sedang menghadap Permaisuri dan hamba diutus menyambut Paduka,” katanya.

Wanita itu tersenyum dan bibirnya merekah dalam senyum manis sekali. “Terima kasih,” katanya sambil menggunakan saputangan untuk menghapus keringat yang membasahi lehernya. “Aihh, betapa panas hawanya,” ia mengeluh.

“Sang puteri tadi memerintahkan hamba untuk mengantar Paduka menanti di istana pondok merah di taman, di sana lebih sejuk dan hamba telah mempersiapkan bak mandi untuk Paduka agar Paduka merasa segar kembali setelah melakukan perjalanan dengan kereta dari tempat tinggal Paduka sampai ke sini.”

“Oohhh, terima kasih. Sang puteri sungguh baik hati sekali!” kata nyonya muda yang usianya baru sembilan belas tahun itu dengan gembira. Memang pondok merah di taman merupakan bangunan mungil indah dan saudara suaminya seringkali mengajak ia bersenang-senang di tempat itu. Nyonya muda itu lalu dikawal oleh beberapa dayang menuju ke ruang depan, kemudian rombongan itu memasuki taman dan pergi ke sebuah pondok cat merah yang indah mungil.

Tak lama kemudian, Nyonya muda itu telah mandi dengan air bunga yang harum, dilayani oleh para dayang dan setelah puas membersihkan tubuh dengan air yang sejuk segar, si cantik ini duduk di depan cermin, membereskan rambutnya yang panjang, hitam dan terurai lepas. Ia merasa nyaman sekali dan bersenandung kecil di depan cermin, menga­gumi kecantikan diri sendiri. Dengan pa­kaian kimono sutera yang diberikan da­yang kepadanya, ia dapat melihat bayangan tubuhnya di cermin. Ia tidak sadar bahwa para dayang telah meninggalkan­nya dan bahwa ia kini seorang diri saja di dalam kamar yang indah dan lengkap itu. Kalau ia sedang bermain di istana, atas undangan Puteri Can Kim seperti sekarang ini, ia merasa amat gembira dan lupa akan kedukaan hatinya. Setelah ia menikah dengan Pangeran Kian Tong, wanita ini merasa kecewa dan menyesal sekali, membuat ia menahan kesedihan­nya. Suaminya itu ternyata berwajah buruk, sikapnya kasar dan sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Ia merasa menyesal kenapa orang tuanya menjodoh­kan ia dengan seorang laki-laki seperti itu dan merasa menyesal mengapa se­belumnya ia tidak lebih dulu melihat calon suaminya. Malam pertama merupa­kan pengalaman yang membuat ia meng­gigil ngeri kalau mengenangnya kembali. Di sini, tempat yang nyaman ini, jauh dari suaminya, ia merasa aman dan juga gembira.

Tiba-tiba wajah yang cantik itu men­jadi tegang, mata itu terbelalak meman­dang ke dalam cermin, mulutnya yang berbibir merah basah itu terbuka dan sisir itu terlepas dari tangannya. Ke­mudian, setelah melihat jelas bahwa pria yang muncul dari ambang pintu itu adalah Pangeran Mahkota, wajahnya berubah merah sekali dan tergopoh kedua tangan­nya mencoba untuk merapatkan kimono suteranya yang tipis. Makin dirapatkan, kain sutera itu semakin menonjolkan lekuk lengkung tubuhnya.

Fu Heng memutar tubuh di atas bang­kunya, menghadapi pangeran yang berdiri memandang dengan kedua mata terpesona. “Pangeran.... mohon Paduka pergi.... pergilah atau saya akan menjerit....” katanya gagap.

Akan tetapi Pangeran Kian Liong bahkan menjatuhkan dirinya berlutut dengan sebelah kaki, mencabut pedangnya dan berkata sambil menempelkan pedang terhunus di lehernya sendiri. “Kalau engkau tidak mau menemaniku, menolak untuk menerima cintaku, biarlah aku membunuh diri di depan kakimu!”

Melihat pangeran mahkota itu bersikap dan berkata seperti itu, wajah yang cantik jelita itu menjadi pucat sekali. Kalau putera mahkota mati membunuh diri di depan kakinya, berarti bahaya maut bagi dirinya! Pula, pemuda yang tampan sekali ini adalah calon kaisar, merupakan orang ke dua setelah kaisar yang paling berkuasa. Mungkin tidak lama lagi pria ini akan menjadi kaisar!

“Harap.... Paduka.... jangan lakukan itu....” katanya berbisik.

Pangeran itu mengangkat muka dan memandang, sinar matanya bercahaya, wajahnya berseri. “Jadi engkau mau....?”

Wanita itu kini menundukkan muka, kedua pipinya merah sekali, juga sampai ke lehernya, membuat ia nampak se­makin cantik. Biarpun mukanya menunduk,masih nampak ia menahan senyum ter­sipu dan kepalanya mengangguk perlahan.

Pangeran Kian Liong menahan diri­nya agar tidak bersorak. Dia bangkit berdiri, menutupkan daun pintu, lalu memondong tubuh wanita itu dari atas bangku, membawanya ke pembaringan.

Samua ini tentu saja hasil siasat yang telah diatur oleh pembantunya, yaitu thaikam Siauw Hok Cu. Para dayang adalah kaki tangannya yang telah disuap.

Ketika akhirnya pangeran mahkota melepaskan kekasihnya keluar dari dalam pondok merah, Siauw Hok Cu sengaja menghampiri dua orang itu dan bersikap seperti orang yang terkejut sekali.

“Pangeran....! Nyonya muda....! Apa yang Paduka berdua lakukan ini? Kalau Pangeran Kian Tong mengetahui...., ham­ba sendiri juga akan celaka. Seisi istana akan mengetahui peristiwa ini....!”

Pangeran Kian Liong diam saja, akan tetapi nyonya muda itu dengan muka merah sekali, dan dengan tubuh gemetar dan kedua kaki menggigil segera berkata. “Ah, harap jangan beritahukan siapapun....” Ia memandang kepada thaikam itu, lalu menoleh kepada pangeran mahkota dengan sikap bingung, matanya yang jeli dan masih redup seperti orang mengantuk itu nampak ketakutan seperti mata kelinci bertemu harimau.

Pangeran Kian Liong pura-pura tidak tahu dan diam saja, membiarkan pem­bantunya melanjutkan siasatnya. “Baik, nyonya muda. Hamba tidak memberitahu kepada siapapun juga, tetapi hanya de­ngan satu syarat dan agar nyonya muda dapat berjanji untuk memenuhi syarat itu.”

Dengan ketakutan nyonya muda itu bertanya, suaranya gemetar dan bibirnya menggigil. “Apa.... syaratnya....?”

“Syaratnya adalah bahwa setiap kali Pangeran Mahkota merindukan Paduka dan memanggil, Paduka harus segera datang melayaninya. Maukah Paduka berjanji?” kata Siauw Hok Cu.

Kembali Fu Heng, wanita cantik itu, tersipu, akan tetapi sinar matanya nam­pak lega dan ia pun kini berkata lirih dengan suara mantap dan tidak lagi gemetar. “Aku berjanji!”

Setelah Kian Liong pergi meninggal­kan pondok, barulah para dayang ber­munculan. Akan tetapi mereka itu pura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi dan mereka segera mengantar nyonya muda itu keluar ketika ia menyatakan hendak pulang.

Sebetulnya, tidak perlu Siauw Hok Cu menggunakan siasat pemerasan atau an­caman itu. Tanpa ancaman sekalipun, Fu Heng akan dengan suka rela, bahkan dengan bergembira, menyambut setiap ajakan Pangeran Kian Liong. Setelah merasakan curahan kasih sayang pangeran mahkota yang tampan, halus lembut, romantis dan berpengalaman itu, ia pun menjadi tergila-gila dan makin tidak suka melayani suaminya.

Demikianlah, hubungan gelap itu ber­kelanjutan dan dengan bantuan Siauw Hok Cu, pertemuan rahasia selalu terjadi antara Pangeran Kian Liong dan kakak iparnya. Di rumahnya, Fu Heng semakin jarang mau melayani suaminya.

Hubungan gelap itu membuahkan kan­dungan dan nyonya muda Fu Heng me­lahirkan seorang putera yang tentu saja bagi umum, bahkan bagi keluarganya, merupakan putera dari Pangeran Kian Tong. Akan tetapi dua orang kekasih itu yakin bahwa anak itu adalah keturunan Pangeran Kian Liong dari hasil hubungan rahasia mereka.

Hubungan rahasia antara mereka itu pun terputus setelah Fu Heng mengandung dan melahirkan anak. Dan rahasia itu tertutup rapat sampai pangeran mahkota menjadi kaisar. Anak laki-laki itu diberi nama Cia Yan atau Pangeran Cia Yan, dan mengingat bahwa anak itu adalah darahnya sendiri, ketika dia sudah men­jadi kaisar, Pangeran yang menjadi Kai­sar Kian Liong itu minta persetujuan kakaknya, yaitu Pangeran Kian Tong, untuk mengangkat Cia Yan sebagai pu­teranya. Tentu saja Pangeran Kian Tong setuju dan merasa girang dan bangga sekali karena dengan demikian, derajat Cia Yan akan naik beberapa kali lipat. Dari putera seorang pangeran menjadi putera kaisar!

Kini Kaisar Kian Liong telah menjadi seorang kakek yang tua. Usianya sudah tujuh puluh tujuh tahun. Pangeran Cia Yan, puteranya hasil hubungan dengan kakak iparnya itu, juga sudah berusia lima puluh tahun lebih, dan pangeran ini mempunyai pula seorang putera yang diberi nama Pangeran Cia Sun yang kini berusia dua puluh dua tahun.

Agaknya pangeran muda ini mewarisi sifat-sifat kakeknya, yaitu Kaisar Kian Liong. Bagi umum, tentu saja kaisar itu merupakan paman ayahnya, akan tetapi sesungguhnya adalah kakeknya yang aseli, ayah kandung ayahnya! Maka tidak meng­herankan kalau dia mewarisi sifat dan wajah kakeknya. Pangeran Cia Bun ini tampan, lembut, pandai dan romantis seperti kakeknya! Bahkan lebih dari itu, dia berbakat baik dalam ilmu silat, juga suka sekali mempelajari ilmu silat. Di istana terdapat banyak jagoan-jagoan yang memiliki ilmu kepandaian silat ting­kat tinggi dan sebagai seorang pangeran, mudah saja dia mendapatkan guru-guru yang pandai. Kini, dalam usia dua puluh dua tahun, Cia Sun merupakan seorang pangeran yang tampan, gagah, sastrawan, seniman dan sekaligus ahli silat yang tangguh.

Pada suatu hari, timbul keinginan hati Pangeran Cia Sun untuk pergi meninggalkan lingkungan istana ayahnya, pergi berkelana dengan bebas, tanpa pengawal, tanpa acara, tanpa upacara. Jiwa pe­tualangannya memberontak dan dia ingin terbebas daripada semua ikatan peraturan kebangsawanannya yang dianggap amat mengikat. Ketika dia menghadap ayah ibunya untuk minta perkenan mereka ke dua orang tuanya ini tentu saja merasa khawatir, terutama sekali ibunya.

“Cia Sun, engkau hendak pergi ke mana? Kurang apakah di sini? Semua ada, segala keperluanmu tersedia, segala keinginanmu akan terkabul. Kenapa hen­dak merantau dan bersusah payah?” kata ibunya.

Cia Sun tersenyum kepada ibunya. Dia tahu bahwa ibunya amat menyayangi dan memanjakannya. “Ibu, ada sesuatu yang kurang di sini, yaitu kebebasan dari segala macam peraturan. Aku ingin me­rasakan seperti seekor burung rajawali yang terbang melayang di udara, bebas dan pergi ke manapun sekehendak hatinya. Jangan ibu khawatir, aku tidak akan pergi selamanya, hanya ingin merantau kurang lebih setahun untuk menambah pengetahuan, meluaskan pengetahuan melalui pengalaman.”

“Tapi, di luar sana banyak terdapat orang jahat, Nak.” kata pula ibunya, lupa bahwa puteranya adalah seorang ahli silat yang tangguh, bukan lagi seorang anak kecil yang lemah dan membutuhkan perlindungannya.

“Aku dapat menjaga diri, Ibu. Bahkan kalau ada penjahat, menjadi kewajibanku untuk membasminya agar negara menjadi aman dan kehidupan rakyat tidak akan terganggu.”

“Cia Sun, aku mengerti keinginan hatimu dan aku pun tidak berkeberatan,” kata ayahnya. “Akan tetapi ingatlah, ada satu hal yang penting harus kauketahui, yaitu bahwa engkau tidak boleh meng­ikatkan diri dengan seorang wanita lain. Engkau sudah kuusulkan untuk berjodoh dengan Si Bangau Merah!”

“Apa? Anakku akan dijodohkan dengan burung bangau merah?” isteri Pangeran Cia Yan berseru, matanya terbelalak memandang kepada suaminya dengan heran dan takut kalau-kalau suaminya mendadak menjadi sinting!

Ayah dan anak itu tertawa bergelak mendengar pertanyaan wanita itu.

“Jangan khawatir, aku belum gila. Masa anakku akan dijodohkan dengan burung bangau? Yang kumaksudkan dengan Si Bangau Merah adalah seorang gadis pendekar yang berjuluk Si Bangau Merah, puteri dari pendekar sakti Bangau Putih.”

“Ihhh! Kenapa serba bangau? Apakah tidak keliru menjodohkan anak kita de­ngan gadis dari keluarga itu? Jangan­-jangan mukanya seperti bangau.”

Kembali ayah dan anak itu tertawa. “Ibu jangan khawatir, aku sudah men­dengar akan nama besar Pendekar Ba­ngau Putih, dan juga telah mendengar bahwa Si Bangau Merah adalah seorang pendekar wanita yang hebat, bukan saja berkepandaian tinggi akan tetapi juga cantik jelita.” Lalu dia berkata kepada ayahnya. “Ayah, bukan saya menolak atas usul ayah. Akan tetapi, di antara saya dan gadis itu belum pernah bertemu muka, belum pernah berkenalan, bagai­mana begitu saja kami dapat dijodohkan? Saya yakin bahwa seorang gadis seperti Si Bangau Merah, tidak akan mau di­jodohkan dengan seorang laki-laki yang belum pernah dilihatnya. Saya sendiri pun ragu-ragu apakah saya akan merasa co­cok dengan gadis itu.”

Ayahnya tersenyum. “Pendekar Bangau Putih atau yang bernama Tan Sin Hong adalah seorang pendekar budiman dan aku mengenalnya dengan baik. Karena itulah maka pernah aku mengusulkan kepadanya agar anaknya dijodohkan de­ngan anakku. Dia tidak menolak, dan juga belum menerima begitu saja karena itu baru merupakan usul, bukan suatu pinangan resmi. Akan tetapi, akan baha­gialah hatiku kalau akhirnya aku dapat berbesan dengan Tan-taihiap (pendekar besar Tan), maka aku pesan kepadamu agar dalam perantauanmu ini engkau ti­dak terikat oleh gadis lain.”

“Baiklah, Ayah. Aku memang suka bergaul dengan wanita, akan tetapi un­tuk menentukan jodoh, aku harus me­milih-milih dan tidak mau sembarangan saja.”

Beberapa hari kemudian, berangkatlah Cia Sun meninggalkan rumah keluarganya yang berupa sebuah gedung istana yang indah dan mewah. Dia membawa buntalan pakaian, bekal uang, dan tidak ketinggal­an sebatang pedang yang dimasukkan buntalan pakaian. Dia sendiri mengenakan pakaian seorang sastrawan yang tidak begitu mewah. Ketika dia keluar dari rumah lalu meninggalkan kota raja, orang yang melihatnya di jalan tentu tidak menduga bahwa dia adalah seorang pa­ngeran, cucu kaisar! Dia kelihatan se­bagai seorang pemuda sastrawan yang melakukan perjalanan, dari keluarga sedang saja, wajahnya tampan dan sikapnya lembut. Cia Sun memang tampan seperti Kaisar Kian Liong di waktu mudanya. Tubuhnya sedang dan tegap, wajahnya yang bulat bentuknya itu berkulit putih bersih sehingga alisnya yang lebat dan hitam nampak semakin jelas. Sepasang matanya tajam bersinar, hidungnya agak besar dan mulutnya selalu terhias se­nyum.

***

Siapakah yang dimaksudkan Pangeran Cia Sun ketika dia bicara tentang ke­luarga “bangau” itu? Pendekar Bangau Putih adalah Tan Sin Hong seorang pendekar sakti yang tinggal di kota Ta-tung sebelah barat kota raja. Tan Sin Hong berusia empat puluh satu tahun, dan dia seorang yang sederhana sehingga tidak akan ada yang menduga bahwa dialah yang berjuluk Pendekar Bangau Putih! Pakaiannya serba putih, dan pendekar budiman yang sikapnya ramah dan lembut ini memang memiliki ilmu kepandaian hebat. Dia mewarisi ilmu-ilmu dari orang-orang sakti yang berada di istana Gurun Pasir. Mendiang tiga orang gurunya, ya­itu Wan Tek Hoat, Kao Kok Cu, dan Wan Ceng, telah merangkai sebuah ilmu gabungan mereka bertiga yang diberi nama Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih). Tan Sin Hong telah menguasai ilmu ini dengan sempurna, dan sukarlah mencari lawan yang akan mampu menga­lahkan ilmunya itu. Selain itu, juga dia memiliki sebatang pedang pusaka yang ampuh, yaitu Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Arwah)!

Isterinya juga seorang pendekar wa­nita yang amat lihai, bernama Kao Hong Li, berusia empat puluh tahun namun masih nampak cantik, ramping dan ce­katan seperti seorang gadis saja. Wajah­nya bulat telur dan matanya lebar. Kao Hong Li ini merupakan keturunan aseli dari Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir, karena ayahnya adalah keturunan Gurun Pasir bernama Kao Cin Liong sedangkan ibunya keturunan Pulau Es ber­nama Suma Hui. Dapat dibayangkan be­tapa lihainya wanita ini.

Adapun puteri mereka, anak tunggal bernama Tan Sian Li. Gadis inilah yang di juluki Si Bangau Merah, karena ia menguasai ilmu silat Bangau Merah gubahan ayahnya, disesuaikan dengan kesukaannya memakai pakaian serba merah. Ilmu silat itu masih bersumber dari ilmu Pek-ho Sin-kun, dan setelah diadakan perubahan yang lebih sesuai dimainkan wanita, ma­ka diberi nama Ang-ho-sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah). Oleh karena itu, seperti ayahnya, maka julukan Si Bangau Merah sungguh tepat bagi Sian Li. Gadis berusia delapan belas tahun ini cantik jelita, wajahnya bulat telur seperti wajah ibunya, kulitnya putih mulus kemerahan, matanya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum agak meng­ejek, dihias lesung pipi di kanan kiri. Manis sekali. Wataknya lincah jenaka dan galak seperti ibunya, pemikirannya men­dalam dan cerdik seperti ayahnya. Dalam hal ilmu silat, gadis ini tentu saja lihai bukan main. Ia telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya dan ibunya, bahkan ia per­nah digembleng oleh kakaknya Suma Ceng Liong dan isterinya Kam Bi Eng, yaitu paman dari ibunya, selama lima tahun. Maka lengkaplah ilmu-ilmu dari tingkat tinggi yang dikuasai gadis berpakaian merah ini. Ilmu-ilmu dari Pulau Es, dari Gurun Pasir, dan dari Lembah Naga Siluman yang diwarisinya dari Kam Bi Eng isteri Suma Cin Liong! Semua itu masih ditambah lagi dengan ilmu peng­obatan yang ia pelajari dari Yok-sian Lo­-kai (Pengemis Tua Dewa Obat). Sian Li seolah-olah memiliki segala-galanya. Wa­jah cantik, ilmu kepandaian tinggi, dari keluarga para pendekar! Mau apa lagi?

Akan tetapi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah kekurangan sesuatu dalam hidupnya! Kita dapat me­nyelidiki keadaan setiap orang manusia. Seorang kaisar sekalipun pasti tidak da­pat berbahagia sepenuhnya, tidak dapat puas selengkapnya. Ada saja kekurangan­nya yang membuat seorang manusia ke­cewa dan tidak puas dengan keadaan dirinya. Orang miskin mengira bahwa orang kaya-raya hidup berbahagia dengan hartanya. Orang bodoh mengira bahwa orang terpelajar pandai hidup berbahagia dengan kepandaiannya. Orang biasa me­ngira bahwa orang berkedudukan tinggi hidup berbahagia dengan kedudukkannya. Namun, kalau kita melihat kenyataanya, lebih banyak terdapat orang kaya-raya mengalami banyak kepusingan karena hartanya, orang terpelajar menjadi ang­kuh dan congkak karena kependaiannya, orang berkedudukan tinggi menjadi pusing karena kedudukannya. Ini menunjukkan bahwa kita manusia sebagian besar menjadi boneka-boneka yang dipermainkan nafsu daya rendah. Ulah nafsu membuat kita selalu mengejar sesuatu yang tidak kita miliki, membuat kita selalu tidak puas dengan keadaan yang ada, menjang­kau yang tidak ada. Nafsu mendorong kita mengejar sesuatu, kalau terdapat apa yang kita kejar, nafsu bukan mereda melainkan makin mengganas, mengejar yang lain lagi, sedangkan yang sudah terdapat menjadi hamba, mendatangkan bosan. Demikianlah terus-menerus. Hidup merupakan pengejaran sesuatu yang kita anggap akan dapat membahagiakan, sehingga sampai mati pun kita tidak dapat mengalami kebahagiaan yang selalu di­kejar-kejar dan selalu berpindah ke se­suatu yang belum kita peroleh! Kalau sekali saat tidak ada lagi pengejaran, baru ada kemungkinan kita menemukan behwa kebahagiaan adanya bukan di se­berang sana, bukan di masa depan, me­lainkan di saat ini!

Demikian pula dengan Sian Li. Gedis jelita ini, walau setiap hari nampak lin­cah gembira dan rajin memperdalam ilmu silat Ang-ho Bin-kun di bawah bimbingan ayahnya, namun kalau sudah ber­ada di kamarnya di malam hari, ia se­ringkali duduk termenung di atas pembaringannya. Bahkan kadang ia hampir menangis. Sukar baginya untuk melupakan seorang pria yang menjadi idaman hati­nya sejak ia masih kanak-kanak! Pria yang kini telah berusia dua puluh enam tahun itu bernama Yo Han. Dia dapat dibilang suhengnya sendiri, karena ketika kecilnya Yo Han mengaku suhu dan subo kepada ayah ibunya, walaupun ketika itu Yo Han hanya mempelajari teori ilmu silat ayah ibunya belaka, tidak mau me­latih diri dengan ilmu silat. Akan tetapi kemudian mereka saling berpisah ketika ia berusia empat tahun dan suhengnya itu berusia dua belas tahun, perpisahan yang pernah membuat ia setiap hari rewel dan menangis.

Kemudian lewat tiga belas tahun, setelah ia menjadi seorang gadis remaja dan Yo Han menjadi pemuda dewasa, mereka saling berjumpa. Dan telah ter­jadi perubahan besar dalam diri Yo Han. Kalau dahulu, di waktu kecil dia tidak suka berlatih silat karena katanya ilmu silat hanya mendatangkan kekerasan dan permusuhan, kini dia telah menjadi se­orang pendekar sakti yang amat lihai, bahkan yang dikenal orang-orang di wila­yah barat sebagai Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti)! Dan mereka saling mengenal dalam pertemuan yang mengharukan dan juga amat menggembira­kan hati Sian Li. Sejak kecil ia menya­yang Yo Han, dan kini setelah menjelang dewasa dan melihat bahwa Yo Han telah menjadi seorang pendekar budiman yang amat mengagumkan, tidaklah mengheran­kan kalau ia jatuh cinta. Walaupun ia dan Yo Han tidak pernah saling menyata­kan isi hati yang mencinta, namun keduanya dapat merasakan dalam hati masing-masing bahwa mereka saling men­cinta.

Setelah bertemu dengan Yo Han, Sian Li pulang diantar oleh Yo Han dan kedua orang tua Sian Li juga menyambut Yo Han dengan gembira dan kagum melihat pemuda yang di waktu kecilnya tidak suka berlatih silat itu kini telah men­jadi seorang pendekar lihai. Namun, me­lihat keakraban hubungan antara puteri mereka dan Yo Han, suami isteri pen­dekar itu merasa khawatir. Mereka ber­dua tidak setuju kalau sampai puteri mereka saling jatuh cinta dengan Yo Han, tidak setuju kalau puteri mereka menjadi jodoh pemuda itu. Mereka tidak dapat melupakan bahwa biarpun ayah kandung Yo Han seorang pemuda petani yang jujur dan baik namun mendiang ibu kandungnya adalah sorang wanita tokoh sesat yang dahulu terkenal sebagai iblis betina dengan julukan Bi Kwi (Setan Cantik). Mereka merasa khawatir kalau-kalau Yo Han mewarisi watak ibunya yang tersesat. Itulah sebabnya maka suami isteri ini terang-terangan menyatakan kepada Yo Han bahwa Sian Li akan dijodohkan dengan Pangeran Cia Sun dari kota raja! Keterangan itu memukul hati Yo Han dan pemuda itu pun, untuk ke dua kalinya, meninggalkan keluarga Tan demi menjauhkan diri dan tidak meng­ganggu Sian Li!

Demikianlah, kadang-kadang, kalau teringat kepada Yo Han, Sian Li merasa rindu dan bersedih. Akan tetapi ayah ibunya menghiburnya dan mengatakan bahwa ayah ibunya akan mengajak ia pergi ke kota raja, untuk membantu Yo Han yang bertugas mencari adik misan­nya yang hilang diculik orang sejak ber­usia tiga tahun! Adik misan Yo Han itu bernama Sim Hui Eng, puteri dari suami isteri pendekar Sim Houw dan Can Bi Lan. Suami isteri pendekar yang me­miliki ilmu kepandaian tinggi itu pun tidak berhasil menemukan kembali puteri mereka yang telah hilang selama dua puluh tahun! Dan sekarang pergi untuk mencoba membantu bibinya me­nemukan kembali puterinya yang hilang itu. Tentu saja Sian Li terhibur karena hendak diajak mencari Sim Hui Eng, bukan untuk menemukan gadis yang sama sekali belum pernah dikenalnya itu, melainkan karena ada harapan untuk berjumpa kembali dengan Yo Han!

Sebelum itu, Sian Li diharuskan mem­perdalam ilmu silatnya dan selama se­tahun, ia melatih diri dengan amat te­kun, menguasai ilmu silat Ang-ho-sin-­kun yang sengaja dirangkai ayahnya un­tuk dirinya. Tidak begitu sukar bagi Sian Li untuk menguasai ilmu ini, karena sebelumnya ia telah menguasai ilmu silat Pek-ho-sin-kun yang merupakan dasar dari Ang-ho-sin-kun.

Pada pagi hari itu, untuk yang ter­akhir kalinya Sian Li berlatih, ditunggui ayah dan ibunya sendiri. Ia bersilat me­mainkan Ang-ho-sin-kun. Demikian lincah gerakannya sehingga kadang-kadang tu­buhnya tidak nampak dan yang kelihatan hanya bayangan merah yang berkelebatan cepat. Kadang-kadang kalau ia melakukan gerakan yang lambat, maka ia kelihatan seperti seorang penari yang pandai me­narikan tari bangau yang indah. Ada gerakan burung bangau menyisir bulu, burung bangau berjemur dan burung bangau mengembangkan kedua sayap. Indah sekali gerakannya itu, akan tetapi di balik keindahan dan kelembutan ini ter­simpan kekuatan dahsyat yang mengejut­kan lawan yang kuat sekalipun.

Setelah selesai bersilat, Sian Li meng­hentikan gerakannya dan napasnya tidak memburu, hanya di leher dan dahinya saja agak basah oleh keringat. Ibunya segera menghampiri puterinya, memper­gunakan sebuah handuk untuk mengusap keringat dari leher dan dahi puterinya tercinta.

“Bagus, gerakanmu sudah bagus, tidak ada lagi kulihat lowongan yang lemah!” Ayahnya memuji.

“Kepandaianmu kini lengkap dan lu­mayan, aku sendiri tidak akan mampu menandingimu,” kata ibunya dengan bang­ga dan ibu ini mencium kedua pipi puteri­nya.

“Kalau begitu kapan kita berangkat, Ayah?” Sian Li bertanya, wajahnya berseri gembira, matanya bersinar-sinar. Sin Hong sendiri kagum melihat puterinya. Isterinya adalah seorang wanita cantik, akan tetapi puteri mereka ini lebih can­tik lagi. Apalagi dalam pakaian serba merah begitu. Hati pemuda mana yang takkan terpikat? Pangeran Cia Sun pasti akan jatuh cinta kalau bertemu dengan Sian Li.

Tan Sin Hong tertawa. “Ha-ha-ha, berangkat ke mana?” Dia menggoda, tentu saja tahu bahwa puterinya menagih janji.

“Aih, apakah Ayah sudah melupakan janjinya sendiri? Bukankah setahun yang lalu Ayah menjanjikan kepadaku untuk pergi mencari puteri paman Sim Houw, dimulai dari kota raja?”

“Ayahmu hanya menggodamu, Sian Li. Kita berangkat besok pagi-pagi, kami sudah bersiap dan berkemas,” kata Kao Hong Li.

Mendengar ucapan ibunya ini, Sian Li bersorak gembira. “Kalau begitu, aku pun akan berkemas, ibu!” dan gadis itu ber­lari ke kamarnya dengan sikap gembira bukan main.

Ayah dan ibu itu memandang ke arah puteri mereka dan tersenyum bahagia. “Dia sudah dewasa akan tetapi kadang-kadang masih kekanakan.” kata Tan Sin Hong.

“Usianya sudah delapan belas tahun, tentu saja sudah dewasa,” kata Kao Hong Li.

“Sekali ini kita akan mempertemukan ia dengan Pangeran Cia Sun. Kita ma­tangkan urusan ini dengan keluarga Pa­ngeran Cia Yan.”

“Mudah-mudahan mereka berjodoh.” kata isterinya, akan tetapi di dalam hatinya Kao Hong Li tidak yakin benar. Ia mengenal benar watak puterinya, Sian Li yang lincah gembira itu memiliki pendirian yang sekeras baja. Kalau puteri­nya itu tidak setuju untuk dijodohkan dengan seseorang, biar dengan pangeran sekalipun, tidak akan ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu memaksanya. Aken tetapi tentu saja ia tidak mau merisaukan hati suaminya dengan pen­dapat hatinya ini dan hanya disimpannya saja.

Keluarga ini membuat persiapan, dan pada keesokan harinya pagi-pagi berang­katlah mereka bertiga menuju ke kota raja, menggunakan sebuah kareta yang ditarik dua ekor kuda.

Akan tetapi Sian Li melihat bahwa setelah tiba di perempatan, kereta yang mestinya berbelok ke utara menuju ke kota raja tidak dibelokkan ayahnya dan terus menuju ke timur. “He, apakah Ayah tidak salah jalan? Kota raja berada di sana!” katanya menuding ke kiri.

“Kita pergi ke dusun Hong-cun lebih dulu. Lupakah engkau akan perayaan ulang tahun paman Suma Ceng Liong?” kata ibunya.

Sian Li terbelalak, lalu berseru gem­bira. “Aih, kenapa Ayah dan Ibu tidak memberitahukan lebih dahulu? Aku sam­pai lupa! Tentu saja Kakek Suma Ceng Liong akan merayakan ulang tahunnya yang ke enam puluh, dan perayaan itu dipergunakan pula untuk mengumpulkan semua anggauta keluarga Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Gunung Naga!” Teringat akan itu, Sian Li gembira bukan main. Tidak saja ia akan dapat bertemu dengan kakek Suma Ceng Liong dan is­terinya, Kam Bi Eng, dua orang tua yang pernah menggemblengnya selama lima tahun, dan bertemu pula dengan para anggauta tiga keluarga besar, akan tetapi terutama sekali karena adanya kemung­kinan ia berjumpa dengan Yo Han di sana!

Tan Sin Hong dan isterinya tertawa. Mereka memang ingin mengadakan kejutan maka tidak mengingatkan puteri me­reka tentang itu dan benar saja, kini gadis itu gembira bukan main.

Perjalanan yang cukup jauh itu me­reka lakukan dengan santai, seperti orang sedang pesiar sehingga tidak terasa lelah dan di sepanjang perjalanan mereka me­nikmati alam, berhenti di kota-kota yang ramai. Waktunya masih banyak dan biar­pun dengan santai, mereka tidak akan terlambat.

***

“Berhenti....!” Teriakan itu lantang sekali dan tiga belas orang yang meng­hadang dan menghentikan kereta itu nampak bengis dan dari sikap, pakaian dan wajah mereka dapat diduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang sudah biasa memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan.

Melihat ada belasan orang menghadang di jalan pegunungan yang sunyi itu, Tan Sin Hong yang memegang kendali kuda, menghentikan dua ekor kuda itu dan ke­reta pun berhenti.

Kao Hong Li dan Tan Sian Li men­jenguk dari jendela kereta dan dua orang wanita ini saling pandang. Mereka bah­kan merasa heran melihat keberanian gerombolan itu yang berani menghadang mereka!

“Biarkan aku menghadapi mereka, Ibu. Ayah, jangan turun tangan, biar aku menghajar orang-orang jahat itu!”

Ayahnya tersenyum dan mengangguk. “Ingat, jangan sembarangan membunuh orang, Sian Li.”

“Jangan khawatir, Ayah. Aku tidak pernah melupakan semua nasihatmu, aku tidak akan membunuh mereka, hanya menghajar biar mereka jera!”

Sian Li turun dari atas kereta, se­ngaja tidak memperlihatkan kepandaian­nya, turun dengan biasa saja seperti seorang gadis yang lemah. Ketika ada seorang gadis berpakaian serba merah turun dari kereta yang mereka hadang, dan gadis itu cantik jelita, tidak memegang senjata dan nampak lemah de­ngan langkahnya yang lembut mengham­piri mereka, para perampok itu terheran-­heran. Pemimpin mereka, seorang yang mukanya hitam dan tubuhnya seperti rak­sasa, segera melangkah maju menghadapi Sian Li, matanya memandang dengan melotot, seperti harimau kelaparan me­lihat datangnya seekor kelinci yang ber­daging gemuk dan lunak.

“Aduh-aduh.... kiranya penumpang kereta adalah seorang bidadari merah yang cantik rupawan....” kata raksasa muka hitam itu. “Hari ini aku Hek-bin-gu (Kerbau Muka Hitam) bertemu bida­dari, sungguh beruntung!” Mendengar ucapan si raksasa muka hitam itu, dua belas orang anak buahnya yang rata-rata juga kasar dan bengis, tertawa-tawa dan semua mata memandang kepada Sian Li seolah-olah hendak melahapnya.

Sian Li sengaja tersenyum semanisnya sehingga lesung pipi bermunculan di ka­nan kiri mulutnya. Wajahnya menjadi demikian manis sehingga tiga belas orang kasar itu tak dapat menahan air liur dan mereka menelan ludah, membuat kala­menjing di kerongkongan mereka ber­gerak naik turun.

“Kalian ini belasan orang menghadang perjalananku, ada urusan apakah?” tanya­nya, bersikap polos dan tidak mengerti.

Si muka hitam menoleh kepada ka­wan-kawannya. “Haiii, dengar, kawan­-kawan. Kita ini menghadang kereta bi­dadari ini mau apa? Hayo jawab, mau apa, ya? Ha-ha-ha-ha-ha!” Kembali me­reka semua tertawa bergelak. Sian Li mengernyitkan hidungnya karena dari mulut tiga belas orang yang terbuka lebar itu keluar bau yang tidak sedap. Agaknya sebagian dari mereka telah minum banyak arak keras sepagi itu.

“Kalau kalian tidak mempunyai urusan denganku, mundurlah dan jangan meng­halang jalan, keretaku akan lewat.” kata pula Sian Li.

Hek-bin-gu melangkah makin dekat. “Nona manis, tadinya kukira kereta ini tumpangi pembesar Mancu dan kalau demikian halnya, tentu keretanya kami rampas, orang-orangnya kami bunuh. Akan tetapi, karena engkau yang menjadi penumpang, biarlah kami sambut sebagai tamu agung dan mari engkau bersamaku bersenang-senang di puncak bukit.”

Sian Li mengerutkan alisnya, akan tetapi kemarahan hatinya ia tutupi de­ngan wataknya yang jenaka. “Hei, bukan­kah engkau ini kerbau, kerbau yang hitam pula mukanya? Bagaimana aku dapat bergaul dengan kerbau, apalagi yang hitam mukanya? Baru berdekatan saja, baunya sudah membuat aku hampir mun­tah. Menggelindinglah kalian pergi. Kali­an ini perampok-perampok busuk, jangan mencoba untuk menakut-nakuti aku.”

Tentu saja sikap ini mengejutkan dan mengherankan tiga belas orang perampok itu. Nona ini kelihatan lembut dan le­mah, akan tetapi kenapa begini tenang dan jelas sedikit pun tidak merasa takut menghadapi mereka? Hek-bin-gu bukan orang bodoh. Maka dia pun sudah dapat menduga bahwa agaknya nona cantik ini mempunyai andalan maka sikapnya demi­kian tabah. Biarpun demikian dia geli melihat sikap itu.

“Aih, Nona. Engkau tidak takut, ber­arti engkau berani melawanku?”

“Kenapa tidak berani? Orang macam engkau ini hanya bisa menakuti-nakuti anak kecil saja!”

Hek-bin-gu masih memandang ren­dah. Dia menanggalkan kancing bajunya, memperlihatkan dada dan lengan yang berotot. “Lihat, tubuhku empat kali lebih besar dan kuat daripadamu, bagaimana engkau akan mampu melawan aku?”

“Hemmm, betapapun besarnya sebuah gentong, kalau kosong bunyinya saja nya­ring akan tetapi tidak ada gunanya.”

Kini Hek-bin-gu mulai marah. “Mari kita bertaruh! Kalau engkau dapat ber­tahan melawanku selama sepuluh jurus biarlah kubiarkan keretamu lewat. Kalau sebelum itu engkau dapat kuringkus, eng­kau harus mau menjadi isteriku!”

Sian Li tersenyum. “Begitukah? Bagai­mana kalau sebelum sepuluh jurus engkau yang roboh?”

Si muka hitam tidak menjawab me­lainkan tertawa, diikuti dua belas orang kawannya. Mereka agaknya merasa geli membayangkan hal yang mereka anggap tidak mungkin terjadi itu.

“Ha-ha-ha-ha-ha, Toako kami ini ka­lah olehmu, nona manis? Mungkin dalam pertandingan bentuk lain, ha-ha-ha!” ter­dengar suara mereka dalam kelakar yang bermaksud mesum.

“Nona, kalau sampai aku Hek-bin­-gu kalah sebelum sepuluh jurus olehmu, aku akan berlutut di depan kakimu!” kata si muka hitam.

“Bagus! Mulailah dan bersiaplah untuk berlutut menciumi tanah yang terkena tahi kudaku!” kata Sian Li, sama sekali tidak marah mendengar kelakar tadi karena memang ia tidak menangkap arti­nya. Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, tentu saja mengerti akan mak­na kelakar mesum itu, akan tetapi me­reka pun ingin melihat sepak terjang puteri tersayang mereka.

Hek-bin-gu melangkah maju semakin dekat dan bertambah muaklah rasa hati Sian Li karena bau yang penguk dan masam segera menerpa hidungnya. Ia menahan napas dan si kerbau muka hi­tam itu mengeluarkan bentakan nyaring, kedua lengannya yang besar panjang itu dikembangkan, jari-jari kedua tangan terbuka dan dia menerkam bagaikan se­ekor beruang menerkam mangsanya. Ten­tu saja dia mengira bahwa sekali terkam dia akan mampu menangkap dan men­dekap gadis yang menggemaskan hatinya itu.

“Wuuuuuttttt....” Terkamannya me­ngenai tempat kosong dan hanya nampak bayangan merah berkelebat, tahu-tahu gadis itu telah lenyap dari depannya.

“Hahhh....?” Dia memutar tubuh de­ngan cepat, akan tetap mukanya disam­but sepatu.

“Plakkk!”

“Auhhhppp....!” Tubuhnya yang gem­pal itu terjengkang dan terbanting keras! Dua belas orang kawannya ternganga. Mereka tadi hanya melihat betapa gadis itu meloncat dengan kecepatan luar biasa ke atas, bagaikan seekor burung saja melayang di atas kepala Hek-bin-gu dan tiba di belakang raksasa muka hitam itu, pada saat Hek-bin-gu memutar tubuh, gadis itu telah meloncat ke atas lagi dan kakinya menyambut muka lawan dengan gerakan seekor burung bangau kalau akan hinggap di cabang pohon, dengan sebelah kaki lebih dahulu. Sebelah kaki itulah yang menyambut muka Hek-bin-gu, seolah muka itu hendak dijadikan landasan mendarat!

Hek-bin-gu mempunyai tubuh yang kuat dan kulitnya keras seperti kulit buaya, maka karena Sian Li hanya me­nendang biasa tanpa mengerahkan sin-kang, dia pun begitu terbanting sudah cepat meloncat bangkit lagi. Sejenak dia ter­belalak, akan tetapi mukanya menjadi semakin hitam. Baru satu gebrakan saja, belum sejurus penuh, dia sudah terjeng­kang! Dia bukan manusia yang berani mengakui kelemahannya, maka dengan lebih ganas dia sudah menerjang lagi, kini menggunakan kedua tangan untuk mencengkeram. Entah apa jadinya kulit dan daging lunak seorang gadis kalau terkena cengkeraman sepuluh jari tangan yang membentuk cakar itu. Se­belah mata kiri Hek-bin-gu lebih hitam daripada kulit mukanya dan agak mem­bengkak karena mata itu tadi kebagian sisi sepatu yang menonjol.

“Haiiittttt....!” Dia membentak de­ngan gaya seorang ahli silat atau jagoan yang pilih tanding.

“Wuuusssss....!” kembali dia kehilang­an lawan dan hanya melihat bayangan merah berkelebat. Cengkeramannya luput dan dia melihat bayangan itu berada di sebelah kanannya. Cepat kakinya yang kiri melayang sambil memutar tubuhnya sehingga dia sudah mengirim tendangan ke arah tubuh Sian Li. Kakinya panjang dan besar, dan tendangan itu mengandung kekuatan otot yang besar.

Kembali tendangan itu luput dan se­belum kaki itu turun, Sian Li sudah me­loncat ke depan, kakinya yang kanan bergerak menendang dan dari bawah kaki itu mendorong pinggul lawan. Karena pada saat itu kaki kiri Hek-bin-gu se­dang melayang ke atas, maka ketika tubuhnya didorong kaki dari belakang, tanpa dapat dicegahnya lagi kaki kanan­nya ikut pula terangkat ke atas.

“Bluggggg....!” Seperti kerbau jatuh dari atas, tubuhnya menghantam tanah dengan pinggul terlebih dahulu dan debu pun beterbangan. Biarpun tubuhnya kebal, namun sekali ini Hek-bin-gu meringis kesakitan. Seperti patah-patah tulang punggungnya terbawah ketika berat badan­nya membuat tubuh itu menghantam tanah dengan kerasnya. Dan sekali lagi teman-temannya terbelalak, hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Bagai­mana mungkin gadis itu dalam dua gebrakan telah membuat orang terkuat diantara mereka dua kali terbanting jatuh?

Hek-bin-gu bukan sekadar heran saja, akan tetapi dia lebih merasa penasaran dan marah, tetap tidak mau meng­akui bahwa dia kalah jauh dibandingkan lawannya. Sambil menggereng dia me­lupakan rasa nyeri di pinggulnya dia sudah bangkit kembali, menghampiri Sian Li. Tanpa disadarinya, jalannya agak terseok seperti kerbau pincang kaki bela­kangnya.

“Bocah setan, aku akan memukul pecah kepalamu!” Setelah berkata demi­kian, Hek-bin-gu menerjang dan menye­rang. Sekali ini, dia bukan sekedar me­nubruk dan mencengkeram seperti dua kali serangan pertama, melainkan me­nyerang dengan jurus-jurus ilmu silat, memukul dan menendang.

Akan tetapi, begitu kepalan tangan kanannya yang besarnya tidak kalah oleh besarnya kepala Sian Li itu menyambar ke arah kepala Sian Li, gadis itu meng­elak ke samping. Hek-bin-gu menyusulkan hantaman yang diseling tendangan, akan tetapi sekali lagi tubuh itu lenyap menjadi bayangan merah yang meluncur ke atas. Dia cepat mengangkat muka ke atas, siap menyambut tubuh yang meloncat ke atasnya itu, akan tetapi kem­bali dia kalah cepat. Kedua kaki Sian Li bergerak.

“Plak! Desss....!” Tubuh Hek-bin-gu terpelanting keras dan sekali ini, hidung­nya bercucuran darah karena bukit hi­dungnya patah oleh tendangan kaki kiri Sian Li, sedangkan tendangan kaki kanan yang mengenai bawah telinga membuat dia tadi terpelanting dan terjungkal, dan membuat kepalanya nanar dan ketika dia merangkak bangun, dia melihat bumi di sekelilingnya berputar! Sekarang tahulah dia bahwa kalau dilanjutkan, dia akan semakin celaka, maka dalam keadaan masih pening dia berteriak kepada kawan­-kawannya untuk mengeroyok!

Gerombolan itu kini menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang amat lihai walaupun kelihatan le­mah lembut, maka mereka pun tidak malu-malu untuk mencabut senjata me­reka dan mengepung gadis itu dengan bersenjata golok, ruyung atau pedang! Sinar senjata mereka berkilauan ketika tertimpa sinar matahari pagi. Melihat ini, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li tetap tenang-tenang saja, menonton akan tetapi turun dari kereta. Mereka berdua tahu bahwa puteri mereka hanya ber­hadapan dengan orang-orang kasar yang nampaknya saja bengis dan ganas, akan tetapi hanya gentong-gentong kosong yang tidak berisi apa-apa kecuali nafsu angkara murka. Mereka yakin bahwa puteri mereka akan mampu menghadapi pengeroyokan mereka.

Sian Li tersenyum mengejek dan memandang kepada Hek-bin-gu yang masih mencoba untuk bangun sambil merangkak. Karena dia belum dapat bangkit berdiri, hanya bisa merangkak, maka kini julukan­nya itu tepat sekali. Dia memang seperti seekor kerbau yang berjalan dengan em­pat buah kakinya.

“Hemmm, sudah kuduga bahwa engkau memang hanya seekor kerbau. Tentu saja engkau tidak akan memegang janji. Tapi aku akan memaksamu memenuhi janjimu berlutut dan mencium tahi kuda!” Tiba-­tiba tubuhnya meloncat dan melewati kepala orang-orang yang mengepungnya.

Dua belas orang itu terkejut dan cepat mengejar, akan tetapi Sian Li telah tiba di belakang Hek-bin-gu. Kakinya me­nendang dan tubuh itu pun terdorong dan terbanting jatuh tepat di atas seonggok tahi kuda penarik kereta. Karena jatuh­nya telungkup dan tahi kuda itu masih baru dan masih hangat, maka mukanya tepat menimpa tahi kuda itu. Tentu saja, biarpun dia masih nanar dan pening, Hek-bin-gu muntah-muntah dan menyumpah-nyumpah, menggunakan kedua tangan untuk membersihkan mukanya dari ko­toran itu. Akan tetapi dia mengeluh kesakitan ketika tangannya menggaruk batang hidungnya yang patah. Bau ko­toran itu yang memasuki mulut dan hi­dungnya tidak hanya membuat dia mun­tah-muntah, akan tetapi juga megap-­megap karena sulit bernapas.

Dua belas orang anak buahnya men­jadi marah sekali dan sambil berteriak-­teriak mereka menyerbu, mengeroyok Sian Li seperti segerombolan anjing sri­gala mengepung seekor singa betina.

Sian Li sudah mengeluarkan sebatang suling yang disepuh emas dari ikat ping­gangnya. Suling itu kecil saja, hanya sebesar ibu jari kaki, dan panjangnya tidak melebihi panjang lengan Sian Li dari siku ke ujung jari tangan. Suling itu pemberian Kam Bi Eng isteri kakek Su­ma Ceng Liong. Kemudian, begitu suling­nya digerakkan menghadapi pengeroyokan dua belas orang itu, nampak gulungan sinar emas yang mengeluarkan suara aneh, seperti orang bermain musik de­ngan suling, akan tetapi gulungan sinar emas itu menyambar-nyambar seperti seekor naga. Itulah ilmu pedang Liong-­siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) yang merupakan gabungan dari ilmu Kim­-siauw-kiam (Ilmu Pedang Naga Siluman)! Bukan main hebatnya ilmu ini. Ketika dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar yang menyambar-nyambar ke arah para pengeroyoknya, terdengar teriakan­-teriakan berturut-turut dan dua belas orang itu pun roboh satu demi satu. Ada yang tertotok lumpuh, ada yang terkena tendangan, ada yang patah tulang, ada yang babak belur karena terbanting. Tidak sampai dua menit, dua belas orang itu sudah roboh semua!

Melihat ini, Hek-bin-gu yang sudah dapat bangkit berdiri, tanpa mengenal malu lagi lalu menyeret tubuhnya melari­kan diri, diikuti oleh dua belas orang temannya yang saling bantu, lari terbirit-­birit dan terpincang-pincang, dengan muka ketakutan seperti dikejar setan.

Sian Li tertawa geli lalu menghampiri ayah ibunya. Kao Hong Li tersenyum, teringat akan kesukaannya mempermain­kan orang-orang jahat di waktu mudanya. Akan tetapi puterinya ini lebih bengal dan ugal-ugalan lagi. Sedangkan Sin Hong mengerutkan alisnya memandang kepada puterinya.

“Kenapa, Ayah?” tanya Sian Li. “Ke­napa Ayah tidak gembira melihat aku menghajar gerombolan jahat itu?”

“Hemmm, memang baik sekali engkau menghajar mereka tanpa membunuh me­reka atau melukai berat. Akan tetapi engkau terlalu mempermainkan dan meng­hina orang. Yang kaulakukan terhadap Hek-bin-gu tadi agak keterlaluan. Kenapa tidak kaurobohkan saja dia dalam satu dua jurus agar dia tidak dapat melawan lagi?”

“Ayah, dia dan kawan-kawannya yang menghinaku, bukan aku. Memang baru puas hatiku kalau sudah mempermainkan mereka yang jahat itu agar mereka jera untuk menghina orang lagi.”

“Sudahlah,” kata Kao Hong Li karena tidak ingin melihat suaminya memarahi puteri mereka. “Sian Li kadang masih kekanak-kanakan. Eh, Sian Li, kenapa engkau tadi mempergunakan dan memaikan Liong-siauw Kiam-sut, bukankah hendak menguji ilmu silat Ang-ho Sin-kun? Dan kulihat engkau tidak pernah menggunakan tangan untuk menangkis atau merobohkan lawan.”

“Aih, apakah Ibu tidak tahu? Mereka bagitu kotor! Baunya saja membuat aku pening, seolah-olah aku tadi dikeroyok oleh belasan babi! Aku jijik untuk menggunakan tangan, maka aku hanya menggunakan kaki dan ketika mereka menggunakan senjata, aku memilih menggunakan sulingku. Kalau aku melawan dengan Ang-ho Sin-kun aku terpaksa menggunakan kedua tangan, dan kedua tanganku tentu akan bersentuhan dengan mereka. Ihh, aku tidak mau!”

Kembali Sin Hong mengerutkan alisnya. “Sian Li, sungguh tidak baik mempunyai watak setinggi itu. Jangan terlalu memandang rendah orang lain. Mereka pun manusia, walaupun mereka sedang sesat, kalau tanganmu kotor, bukankah dapat dicuci? Yang tidak mengerti tentu akan mengira engaku bertingkah dan banyak lagak.”

Ditegur ayahnya, Sian Li hanya cemberut akan tetapi tidak berani membantah. Ibunya yang melerai. “Aihhh, sudahlah. Engkau tidak tahu akan perasaan wanita. Kalau wanita merasa jijik, biar berdekatan pun sudah tidak suka, apalagi sampai bersentuhan. Jangan terlalu salahkan Sian Li. Orang-orang itu memang menjemukan!”

Sin Hong menghela napas panjang. Dia dapat memaafkan isterinya yang terlalu memanjakan dan membela Sian Li. Bagaimanapun juga Sian Li merupakan anak tunggal, tumpuan segala harapan dan penampung segala kasih sayang Kao Hong Li. Pula, memang orang-orang tadi merupakan gerombolan yang ganas dan mengingat akan kata-kata mereka yang mesum saja sudah cukup untuk membuat isterinya itu membunuh mereka!

“Mari kita lanjutkan perjalanan.” akhir­nya Sin Hong berkata. Mereka naik kem­bali ke atas kereta dan Sin Hong men­jalankan kereta menuju ke timur.

Menjelang tengah hari, mereka berhenti di lereng bukit berikutnya. Matahari amat panasnya dan mereka berhenti di bawah sebatang pohon besar yang teduh. Karena hari telah siang, Hong Li segera membuat api unggun untuk memasak daging dan roti kering yang mereka bawa sebagai bekal. Sin Hong sendiri beristira­hat, melenggut di dalam kereta, mem­biarkan isteri dan puterinya mempersiap­kan makan siang. Di tempat teduh itu, membuat orang mudah mengantuk di­hembus angin semilir, dan perut pun mudah terasa lapar, apalagi setelah melakukan perjalanan setengah hari di dae­rah yang berbukit dan lengang itu.

Setelah masakan siap, mereka pun makan siang dengan makanan sederhana. Mereka minum air teh dan anggur yang mereka bawa, makan roti dan daging kering yang sudah dimasak dengan sayur asin. Tiga orang ini memang anggauta keluarga pendekar yang biasa bertualang, maka makan seperti itu malah terasa nyaman dan lezat.

Pada waktu mereka membersihkan segalanya dan sudah kembali naik kereta untuk melanjutkan perjalanan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari arah belakang. Mereka menengok dan tak lama kemudian nampaklah belasan orang menunggang kuda, membalapkan kuda ke arah mereka.

Sian Li mengepal tinju. “Kalau buaya­-buaya itu yang datang mengejar, sekali ini akan kubasmi mereka!”

“Bersabarlah, Sian Li. Sabar pangkal ketenangan dan tenang modal kewaspada­an.” kata ayahnya. Mereka menanti sam­bil duduk di dalam kereta.

Setelah rombongan berkuda itu dekat, terdengar mereka berteriak-teriak dan benar saja seperti dugaan Sian Li, yang muncul adalah Hek-bin-gu bersama belas­an orang anak buahnya tadi, akan tetapi sekali ini ditambah dengan tiga orang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tidak kelihatan bengis, akan tetapi berwibawa. Mereka tidak tinggi besar dan bengis seperti Hek-bin-gu dan kawan­-kawannya, bahkan ketiganya agak kurus, akan tetapi pedang yang tergantung di pinggang mereka mendatangkan kesan bahwa mereka adalah ahli-ahli pedang yang tidak boleh disamakan dengan Hek-­bin-gu dan kawan-kawannya.

“Bocah setan, keluarlah dari kereta untuk menerima pembalasan kami!” Hek-­bin-gu berteriak sambil mengamangkan tinjunya ke arah kereta.

Tiga orang laki-laki setengah tua itu dengan gerakan ringan meloncat turun dari atas kuda masing-masing yang se­gera dituntun anak buah gerombolan. Mereka berdiri berjajar dengan tegak, menghadap ke arah kereta.

“Siapakah Nona yang telah melukai anak buah kami? Silakan keluar, kami Tiat-liong Sam-heng-te (Tiga Saudara Naga Besi) tidak menerima begitu saja anak buah kami diperhina orang!” kata seorang di antara mereka yang tertua dan kumisnya kecil berjuntai ke bawah.

Sian Li meloncat turun dari atas kereta, menghadapi mereka. “Akulah yang menghajar mereka! Kalian mau apa?” bentaknya.

Melihat seorang gadis berpakaian merah yang usianya sekitar delapan belas tahun itu, tiga orang ini terheran-heran. Bocah ini yang telah menghajar Hek-­bin-gu dan dua belas orang anak buah­nya? Sukar dipercaya.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan di dekat nona baju merah itu telah berdiri seorang wanita lain yang cantik, usianya sekitar empat puluh tahun. Ia adalah Kao Hong Li yang berkata kepada puterinya. “Biarkan aku yang menghadapi mereka!”

“Tidak perlu, ibu, aku sendiri cukup menghajar mereka kalau mereka hendak membela gerombolan serigala itu.”

Kembali nampak bayangan berkelebat, bayangan putih dan Sin Hong telah ber­ada di dekat isterinya. “Kalian mundur­lah, biar sekarang ini aku sendiri yang melayani mereka!”

Ketika melihat Sin Hong, tiga orang itu terbelalak dan wajah mereka berubah pucat sekali. Si kumis kecil panjang de­ngan suara gemetar dan gagap bertanya, “Engkau.... engkau.... Pek-ho-eng (Pen­dekar Bangau Putih)....?”

Sin Hong tersenyum. “Benar, aku yang disebut Pendekar Bangau Putih....”

“Dan aku Pendekar Wanita Bangau Merah!” kata Sian Li dengan sikap me­nantang dan bertolak pinggang.

Sin Hong memandang puterinya. “Me­reka ini adalah isteri dan puteriku. Si­apakah Sam-wi (Anda Bertiga)? Dan apa­kah Sam-wi hendak membela gerombolan perampok itu?”

Tiga orang itu dengan muka pucat kini mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk sampai dalam menghormat kepada Pendekar Bangau Putih dan anak isterinya. “Mohon Taihiap sudi memaafkan kami yang bermata buta tidak tahu bahwa Taihiap bertiga yang lewat di sini. Kami hanya men­dengar laporan dari anak buah kami. Mereka memang bersalah dan patut di­hajar!”

Setelah berkata demikian, tiga orang itu membalikkan tubuh menghadapi tiga belas orang anak buah itu dengan sikap marah sekali. Tiga belas orang yang tadi sudah babak belur oleh Sian Li, kini sudah turun dari atas kuda, siap menikmati bagaimana pimpinan mereka membalaskan penghinaan yang mereka derita dari nona baju merah.

“Bagus, ya? Kalian sungguh membuat kami malu. Kalian berani mengganggu Pendekar Bangau Putih, isteri beliau, dan puteri beliau Si Bangau Merah. Kalian tidak pantas hidup!” setelah berkata de­mikian, si kumis itu bersama dua orang ­saudaranya bergerak menerjang dan menghajar anak buah mereka sendiri dengan pukulan dan tendangan sampai tiga belas orang itu jatuh bangun dan mengerang kesakitan. Sungguh mereka tidak pernah menyangka sama sekali bahwa laporan mereka bukan membalaskan dendam me­reka, bahkan membuat mereka ditambahi hajaran dari tiga orang pemimpin me­reka. Yang paling parah dihajar adalah Hek-bin-gu. Si kumis itu memukuli dan menendanginya sampai dia muntah-muntah darah dan roboh pingsan. Dua belas orang yang lain juga dihajar setengah mati dan agaknya makin malu mereka, Tiat-liong Sam-heng-te itu tidak akan menghentikan amukan mereka terhadap anak buah sen­diri sampai tiga belas orang itu mati konyol.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan Sin Hong telah berada di de­kat mereka sambil membentak. “Hentikan pukulan!”

Tiga orang itu menghentikan siksaan mereka dan mereka berdiri berjajar, membungkuk-bungkuk dengan hormat dan jerih kepada Sin Hong. Tan Sin Hong berkata dengan nada suara keren. “Kalian bertiga menghajar anak buah kalian karena kalian melihat bahwa mereka mengganggu kami. Coba kalau yang diganggu bukan kami melainkan orang lain, tentu kalian sudah turun tangan membalaskan kekalahan mereka. Tidak perlu kalian membunuh mereka karena kalian juga tidak lebih baik daripada mereka.”

“Ayah, pemimpin sama dengan guru. Kalau muridnya jahat, gurunya tentu lebih jahat lagi!” kata Sian Li. “Biar kuhajar mereka bertiga!”

“Benar juga kata-katamu, Sian Li. Akan tetapi bagianmu sudah cukup. Biar aku yang akan menghajar mereka agar bertaubat. Nah, Tiat-liong Sam-heng-­te, majulah kalian bertiga melawanku untuk membela anak buah kalian. Itu lebih jantan dan lebih bertanggungjawab daripada menghukum mereka padahal mereka adalah anak buah kalian sendiri!”

“Kami.... kami tidak berani!” kata tiga orang itu dengan muka semakin pucat. Tidaklah begitu mengherankan kalau tiga orang ini ketakutan setengah mati menghadapi Pendekar Bangau Putih. Tiga orang ini adalah sisa anak buah perkumpulan Tiat-liong-pang. Mereka ingat benar betapa pendiri Tiat-liong-­pang sendiri yang berjuluk Siangkoan Lohan (Laki-laki Tua Siangkoan) yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, tewas di tangan Si Bangau Putih ini, bahkan pu­teranya yang bernama Siangkoan Liong juga tewas di tangan pendekar ini. Pen­diri Tiat-liong-pang itu bersama putera­nya memiliki tingkat yang sepuluh kali lebih tinggi dari tingkat mereka, dan ayah dan anak itu tewas di tangan pen­dekar ini. Bagaimana mereka akan berani melawan Si Bangau Putih?

“Kalau kalian tidak berani melawan suamiku, biarlah melawan aku saja!” kata Kao Hong Li.

“Tidak, Ibu. Biar aku saja yang meng­hadapi mereka. Heiii, kalian yang julukan­nya demikian hebat, Tiga Saudara Naga Besi! Pilihlah seorang di antara kami bertiga. Kami tidak maju bertiga, hanya seorang dari kami yang maju. Nah, pilih­lah, siapa yang akan kalian lawan? Kalau kalian dapat mengalahkan seorang di antara kami, sudah saja, kalian boleh pergi membawa anak buah kalian.”

“Kami.... kami tidak berani....” Me­reka masih segan dan jerih terhadap Si Bangau Putih.

“Berani atau tidak kalian harus maju, atau.... kalian akan kuhajar begitu saja agar ikut merasakan penderitaan anak buah kalian!” kata pula Sian Li.

Tiga orang itu saling pandang. Agak­nya mereka sudah tersudut dan tidak dapat menghindarkan diri lagi. Mereka tahu bahwa melawan Si Bangau Putih sama saja dengan bunuh diri. Tinggal isteri dan puteri pendekar itu. Bagai­manapun juga, tentu isterinya lebih pan­dai daripada puterinya, walaupun berjuluk Si Bangau Merah dan telah merobohkan tiga belas orang anak buah mereka. Kira­nya kalau mengeroyok gadis remaja ini, tentu mereka masih sanggup bertahan, dan siapa tahu dapat menang sehingga mereka dapat keluar dengan tidak ter­lalu kehilangan muka.

“Baiklah kalau Lihiap memaksa, kami bertiga yang bodoh dan lemah mohon petunjuk Nona.” kata si kumis. Mereka bertiga memasang kuda-kuda dan tidak berani mencabut pedang karena kalau bertanding menggunakan pedang, kalau kalah tentu akibatnya akan lebih parah bagi mereka daripada kalau bertanding dengan tangan kosong. Pula, tidak per­cuma mereka menjadi bekas anggauta Tiat-liong-pang (Perkumpulan Naga Besi) karena mereka telah menguasai ilmu kekebalan dari Tiat-liong-pang yang mem­buat mereka berani menggunakan julukan Naga Besi. Betapapun kuatnya, tangan gadis remaja itu mustahil akan mampu menembus kekebalan mereka.

Sian Li tersenyum kepada ayah dan ibunya dan suami isteri itu terpaksa mengalah. Mereka mundur mendekati kereta dan berdiri di dekat kereta se­perti tadi ketika menyaksikan puteri mereka berlaga melawan pengeroyokan Hek-bin-gu dan dua belas orang anak buahnya. Akan tetapi sekarang mereka lebih waspada karena mereka dapat men­duga bahwa tiga orang laki-laki setengah tua itu sama sekali tidak boleh disama­kan dengan tiga belas orang anak buah­nya.

Melihat betapa tiga orang calon la­wan itu tidak mencabut senjata, Sian Li tersenyum. Kini ia mendapat kesempatan untuk mencoba ilmunya yang khas untuk dirinya, yaitu Ang-ho Sin-kun. Tidak ada orang ke dua di dunia ini yang menguasai ilmu silat ini. Ayahnya sendiri yang me­rangkai ilmu ini, dan hanya ia seoranglah yang mempelajarinya. Kepada tiga laki-laki ini ia tidak mempunyai rasa muak yang berlebihan seperti terhadap tiga belas orang anak buah mereka tadi, karena tiga orang kakek ini selain ber­sikap halus, juga kelihatan bersih.

“Kalian mulailah, aku sudah siap sia­ga.” katanya dan ia pun memasang kuda-­kuda dengan kaki kiri ditekuk lututnya dan diangkat ke atas melekat kaki kanan yang berdiri tegak, kedua tangan di ping­gang dengan siku ditarik ke belakang, kepala menghadap ke depan dengan leher dijulurkan. Inilah sikap seekor burung bangau yang sedang berdiri, nampaknya melenggut atau mengantuk, namun se­dikit pun tidak bergerak seperti arca dan sepasang mata itu tidak pernah melewat­kan sesuatu dan dalam keadaan seperti itu, kalau ada ikan lewat dan menyangka kakinya yang kanan itu hanya sepotong kayu maka paruh itu akan meluncur ke dalam air dan tanpa dapat dihindarkan lagi ikan itu akan ditangkapnya!

Karena Sian Li seorang gadis yang berwajah cantik dan jenaka, dan mulut­nya tersenyum-senyum, sepasang matanya melirik ke arah tiga orang itu se­perti mata bangau mengintai gerakan tiga ekor ikan, maka ia nampak lucu.

Tiat-liong Sam-heng-te sudah tahu bahwa gadis ini lihai sekali, maka mere­ka pun tidak memandang rendah pasangan kuda-kuda yang nampak lucu dan tidak mereka kenal itu. Mereka lalu berpencar dan maju menghampiri Sian Li dari de­pan, kanan dan kiri. Kemudian, setelah si kumis mengeluarkan bentakan nyaring sebagai tanda dimulainya serangan mere­ka, tubuh mereka bergerak cepat dan mereka sudah melancarkan serangan yang cukup dahsyat ke arah tubuh Sian Li dari tiga jurusan. Enam buah lengan meluncur dan enam buah tangan menyerang gadis itu dari depan, kanan, kiri, atas dan bawah!

Kini Sian Li memainkan ilmu silat Ang-ho Sin-kun sepenuhnya. Tubuhnya mengelak ke kanan dengan lompatan seperti lompatan burung bangau sehingga serangan orang di sebelah kiri dan depan luput, dan serangan orang yang berada di kanannya, ia sambut dengan tangkisan lengannya.

“Duk-dukkk!” Penyerang itu terkejut setengah mati karena begitu lengannya ditangkis oleh lengan Sian Li, dia merasa betapa lengannya tergetar hebat. Dari kedua lengan yang tertangkis itu timbul getaran yang membuat isi dadanya juga terguncang sehingga dia cepat melangkah mundur. Kiranya gadis ini memiliki te­naga sin-kang yang amat hebat! Dua orang pengeroyok lain yang tadi hanya memukul tangan kosong, sudah berloncatan dan menyerang lagi dari kanan kiri, sedangkan orang ke tiga juga menyerang dari arah belakang. Sian Li bersikap tenang akan tetapi dengan gerakan yang gesit dan kuat, ia berkelebatan di antara tiga orang pengeroyoknya. Tubuhnya ba­gaikan bayangan saja, tak pernah dapat disentuh tiga orang pengeroyoknya yang mengerahkan seluruh tenaga dan kepandai­an mereka untuk mengalahkan gadis ber­pakaian merah itu. Warna pakaian gadis itu yang serba merah memudahkan mere­ka mengikuti ke mana tubuh gadis itu berkelebat, akan tetapi juga membuat tiga orang lawannya bingung, akan tetapi juga setiap kali tangan gadis itu me­nangkis, mereka merasa betapa lengan mereka tergetar sampai ke pundak.

Sekali ini Sian Li yang hendak meng­uji ilmunya yang baru saja ia kuasai dengan baik, tidak main-main lagi dan dengan gerakan yang indah dan lincah namun yang mengandung tenaga dahsyat, ia melayani penyerangan tiga orang itu. Begitu ia mengubah daya tahan menjadi daya serang, maka berturut-turut ia me­robohkan Tiat-liong Sam-heng-te dengan totokan, tamparan dan tendangan. Tidak sampai sepuluh jurus ia menyerang dan tiga orang pengeroyok itu sudah roboh.

Tiat-liong Sam-heng-te terkejut bukan main. Mereka memang sudah mengetahui bahwa Pendekar Bangau Putih adalah se­orang pendekar sakti, dan mereka gentar menghadapinya. Akan tetapi baru seka­rang mereka membuktikan sendiri bahwa puteri pendekar itu pun seorang yang amat tangguh.

“Kami mengaku kalah....” kata me­reka dan mereka bangkit sambil menyeringai kesakitan.

“Mulai sekarang, kalian dan anak buah kalian jangan suka mengganggu pejalan yang lewat di sini. Untung kalian ber­temu dengan kami, kalau bertemu dengan pendekar lain, mungkin kalian semua kini sudah tak bernyawa lagi.” kata Tan Sin Hong yang merasa girang dan puas me­lihat kemajuan puterinya.

Tiat-liong Sam-heng-te memberi hor­mat dan si kumis berkata, “Taihiap, kami tidak pernah mengganggu pelancong atau pedagang, tidak mau mengganggu rakyat. Kami hanya merampok pejabat Mancu yang lewat di sini.”

“Tidak semua pejabat merupakan orang jahat yang patut diganggu,” kata Sin Hong. “Pula, pekerjaan merampok me­rupakan kejahatan, tidak peduli siapapun yang kalian rampok. Lebih baik kembali ke jalan benar dan bekerja mencari naf­kah tanpa mengganggu orang lain.”

“Akan tetapi, Taihiap.... kami tidak rela melihat tanah air dan bangsa kita dijajah orang Mancu dan....”

“Tidak perlu berlagak patriot dan pe­juang!” Sin Hong membentak. “Kalau kalian patriot dan pejuang, kalian tidak akan melakukan perampokan! Jangan menggunakan kedok pejuang untuk me­nyembunyikan kejahatan kalian. Pejuang sejati tidak akan berbuat jahat!”

Tiga orang itu menundukkan muka, tidak berani bicara lagi. “Sudahlah, perlu apa bicara dengan orang-orang seperti ini? Mari kita melanjutkan perjalanan.” kata Kao Hong Li kepada suaminya. Mereka naik kembali ke dalam kereta dan kendaraan itu pun bergerak cepat meninggalkan belasan orang itu yang merasa lega karena biarpun mereka ba­bak belur, namun tidak ada di antara mereka yang terbunuh. Dari mulut mere­ka tersebar berita tentang kehebatan Si Bangau Merah.

***

Dusun Hong-cun yang terletak di lembah Sungai Kuning, di luar kota Cin-an Propinsi Shantung adalah sebuah dusun yang tidak besar akan tetapi jauh lebih rapi dan bersih dibandingkan dusun-dusun lain. Penduduk dusun itu bekerja sebagai nelayan merangkap petani dan kehidupan mereka walaupun sederhana, namun cu­kup makmur. Sungai Kuning tidak pernah kekurangan ikan, dan lembah sungai itu memang memiliki tanah yang subur.

Pagi hari itu, suasana dusun Hong-­cun berbeda dari biasanya. Suasananya meriah dan ini merupakan tanda bahwa di dusun itu terdapat sebuah keluarga yang sedang mengadakan pesta meraya­kan sesuatu. Di dusun yang penduduknya tidak terlalu padat, setiap kali ada se­buah keluarga mengadakan pesta meraya­kan sesuatu, maka suasana meriahnya meliputi seluruh dusun, seolah pesta itu merupakan pestanya orang sedusun. Apa­lagi yang sedang berpesta adalah keluar­ga Suma Ceng Liong! Biarpun di dusun itu sudah ada kepala dusun dan stafnya, namun Suma Ceng Liong dianggap se­bagai sesepuh dusun itu, walaupun dia tidak tinggal di situ sejak kecil. Semua orang tahu belaka bahwa dia adalah se­orang pendekar sakti yang tinggal di dusun sunyi itu menjauhi keramaian dan hidup tenteram bersama isterinya, Kam Bi Eng yang juga seorang pendekar wa­nita sakti. Suami isteri pendekar ini di­hormati dan disayang seluruh penduduk dusun Hong-cun, karena mereka suka menolong, baik dengan pengobatan atau membantu orang yang sedang dilanda kekurangan walaupun mereka sendiri bukan orang kaya raya. Di samping itu, seluruh penduduk dusun maklum bahwa mereka dapat hidup tenang dan tenteram di dusun Hong-cun, tak pernah ada pen­jahat manapun berani datang mengganggu, hanya karena nama besar pendekar Suma Ceng Liong dan isterinya.

Siapa berani mengganggu pendekar ini yang merupakan keturunan langsung dari Pendekar Super Sakti dari Istana Pulau Es? Suma Ceng Liong adalah cucu mendiang Suma Han si Pendekar Super Sakti. Adapun isterinya juga bukan orang sem­barangan pula. Kam Bi Eng adalah puteri pendekar sakti Kam Hong, ahli ilmu silat suling emas dan terkenal dengan Kim­-siauw-kiam (Pedang Naga Siluman).

Mereka hanya mempunyai anak tung­gal, seorang perempuan bernama Suma Lian yang kini telah ikut suaminya dan tinggal di Ping-san, sebelah selatan Pao-ting. Suami Suma Lian bernama Gu Hong Beng, seorang ahli silat pula, murid Su­ma Ciang Bun.

Kini, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng tinggal berdua saja di dusun Hong­-cun. Tadinya mereka ditemani seorang murid bernama Liem Sian Lun yang se­olah menjadi anak angkat mereka pula. Namun sayang, murid mereka itu telah tewas dalam pertempuran ketika Liem Sian Lun bersama Tan Sian Li sebagai suheng dan sumoi, melakukan perjalanan ke Bhutan dan terlibat dalam pertempur­an antara para pemberontak Tibet de­ngan pasukan Tibet. Mereka yang tadinya hidup berdua dan merasa kesepian se­telah puteri mereka menikah dan pergi mengikuti suaminya, lalu muncul Liem Sian Lun yang kemudian menjadi tumpu­an kasih sayang, dan tiba-tiba saja, pemuda itu tewas dalam pertempuran di luar pengetahuan mereka. Di sinilah nam­pak benar kekuasaan Tuhan yang mutlak atas kehidupan manusia. Betapapun pan­dai seseorang, kalau Tuhan tidak meng­hendaki, orang itu tidak mampu melak­sanakan sesuatu sesuai yang dikehendaki­nya. Manusia berwenang mengatur, na­mun yang berwenang menentukan hanya­lah kekuasaan Tuhan! Manusia hanya wajib berikhtiar, berusaha untuk berbuat sebaiknya dalam segala hal. Kematian Liem Sian Lun yang mendatangkan duka di hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merupakan keputusan Tuhan. Ke­lahiran dan kematian sepenuhnya berada dalam kekuasaan Tuhan, merupakan rahasia Tuhan, merupakan hasil ciptaan Tuhan. Sepandai-pandainya manusia, ha­nya mampu menelusuri dan mempelajari proses terjadinya penciptaan itu, mem­bantu dan memperlancar proses itu. Kita harus menyadari bahwa kita ini adalah hasil ciptaan Tuhan, bahwa kita berada di dunia ini adalah karena kehendak Tu­han, bukan karena kehendak kita. Tuhan telah menyertakan kepada kita segala macam perlengkapan yang serba sempur­na, dari tubuh yang lengkap sampai hati dan akal pikiran. Tentu agar kita men­jadi hasil ciptaan yang baik, yang ber­guna bagi kelancaran pekerjaan Tuhan.

Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap orang umat-Nya. Baik sesuatu itu dianggap menyenangkan atau pun menyusahkan bagi hati yang sudah bergelimang nafsu yang selalu ingin se­nang, namun kita boleh yakin bahwa segala hal yang menimpa diri kita dalam kehidupan ini sudah dikehendaki Tuhan dan merupakan yang terbaik bagi kita. Entah hal itu berupa hukuman ataupun anugerah sebagai pemetikan hasil dari pohon yang kita tanam sendiri melalui perbuatan yang lalu, maupun berupa ujian dan cobaan. Demikian besar kemurahan Tuhan kepada kita sehingga kita ber­wenang untuk memilih. Untuk menentu­kan sendiri langkah hidup kita dan bertanggungjawab atas langkah-langkah itu.

Pesta apakah yang pada pagi hari ini dirayakan keluarga Suma Ceng Liong yang kini hanya tinggal berdua di dalam rumah besar di dusun Hong-cun itu? Pesta perayaan ulang tahun yang ke enam puluh dari Suma Ceng Liong. Pes­ta sekali ini merupakan pesta yang khu­sus diadakan untuk “mengumpulkan tulang­-tulang berserakan”, istilah yang dipakai Suma Ceng Liong untuk mengartikan bahwa pesta itu diadakan untuk mengum­pulkan para anggauta keluarga yang ter­pisah di mana-mana seperti tulang-tulang berserakan. Dan mereka berdua memang memiliki rangkaian anggauta keluarga yang besar, terdiri dari keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir dan keluarga Lembah Naga Siluman! Tiga buah keluar­ga pendekar yang amat terkenal di dunia persilatan. Bukan hanya keluarga hubung­an darah, akan tetapi juga saudara se­perguruan.

Tentu saja yang lebih dahulu datang adalah puteri mereka sendiri, yaitu Suma Lian dan suaminya, Gu Hong Beng. Suma Lian sudah berusia empat puluh tahun dan suaminya berusia empat puluh lima tahun, akan tetapi mereka tidak dikaruniai seorang pun anak. Kenyataan ini pun menjadi bukti kekuasaan Tuhan. Suami isteri ini adalah pendekar-pendekar yang sehat, bahkan dapat dikatakan sehat lahir batin, dan pandai. Namun, betapapun mereka berikhtiar, dengan minum ber­macam obat, karena agaknya Tuhan tidak menghendaki, namun ikhtiar mereka ga­gal dan setelah dua puluh tahun mereka menikah dan belum juga memperoleh anak, keduanya tidak lagi mengharapkan dan menerima kenyataan karena agaknya tadir Tuhan menghendaki bahwa mereka tidak mendapatkan keturunan.

Kemudian berturut-turut datanglah para tamu yang merupakan para ang­gauta tiga keluarga besar. Pertama urut­an tamu dari keluarga Pulau Es adalah kakek Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui. Pendekar tua ini sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun dan isterinya enam puluh tujuh tahun, kemudian Suma Ciang Bun yang berusia enam puluh lima tahun bersama isterinya, Gangga Dewi yang berusia enam puluh satu tahun tiba dari Bhutan. Nyonya Gak yang bernama Souw Hui Lan, isteri mendiang saudara kembar Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, juga merupakan anggauta keluarga Pulau Es. Nyonya yang berusia lima puluh tujuh tahun ini datang bersama puteranya, Gak Ciang Hun yang berusia dua puluh sembilan tahun. Kemudian Tan Sin Hong bersama isterinya, Kao Hong Li, dan puteri mereka, Tan Sian Li, datang dan gadis ini mendapat sambutan hangat dari kakek Suma Ceng Liong dan nenek Kam Bi Eng, karena gadis ini merupakan cucu keponakan akan tetapi juga murid mere­ka selama lima tahun.

Dari fihak keluarga Istana Gurun Pasir diwakili oleh kakek Kao Cin Liong, kemudian Can Bi Lan yang kini datang bersama suaminya, Sim Houw. Keluarga Gurun Pasir memang hanya tinggal Kao Cin Liong dan sumoinya, yaitu Can Bi Lan yang dulu menjadi murid ayahnya. Can Bi Lan kini berusia empat puluh lima tahun dan suaminya, Sim Houw, sudah berusia enam puluh tahun. Tidak ada lagi anggauta keluarga Gurun Pasir, bahkan yang masih adapun sudah menikah dengan anggauta keluarga yang lain seperti Kao Cin Liong menikah dengan Suma Hui anggauta keluarga Pulau Es. Can Bi Lan menikah dengan Sim Houw anggauta keluarga Lembah Naga Siluman.

Anggauta keluarga Lembah Naga Silu­man yang hadir tentu saja diwakili nyo­nya rumah, Kam Bi Eng, karena ibunya, yaitu nenek Bu Ci Sian isteri mendiang Kam Hong tidak hadir. Nenek itu tidak mau meninggalkan makam suaminya dan bertekad untuk menunggui makam itu sampai hayat meninggalkan badan. Ke­mudian muncul pula Cu Kun Tek dan isterinya, Pouw Li Sian. Suami isteri ini sudah berusia empat puluh lima tahun dan tiga puluh sembilan tahun. Mereka datang bersama puteri mereka yang ber­nama Cu Kim Giok, seorang gadis manis berusia delapan belas tahun. Tentu saja, sebagai puteri ayah dan ibu pendekar, Cu Kim Giok ini menjadi seorang gadis pendekar yang lihai.

Ada pula belasan orang yang pernah menerima bimbingan para tokoh itu se­hingga dapat dianggap sebagai murid, datang pula menghadiri pesta perayaan ulang tahun yang khusus untuk keluarga itu. Suasana amat meriah pagi hari itu dan sungguh ini merupakan suatu per­temuan yang menggembirakan dan juga luar biasa. Demikian banyaknya pendekar-­pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan hebat. Masing-masing dari mereka pernah menggemparkan dunia persilatan dengan kepandaian mereka, dan masing-masing memiliki ilmu andalan sendiri yang dahsyat.

Satu demi satu, para anggauta keluar­ga itu memberi selamat kepada Suma Ceng Liong yang merayakan hari ulang tahunnya, dan banyak pula yang mem­beri hadiah tanda mata yang aneh dan berharga. Ketika sedikitnya dua puluh orang penduduk dusun yang mewakili seluruh penduduk datang pula menghadiri, tentu saja Suma Ceng Liong menyambut mereka dengan gembira. Mereka datang mewakili para penduduk, tentu saja tidak enak kalau harus ditolak, walaupun pesta itu diadakan khusus untuk mengumpulkan anggauta keluarga. Mereka mendapatkan tempat sekelompok di samping, sedang­kan para anggauta keluarga itu segera terlibat dalam percakapan hangat karena pertemuan itu merupakan pula pertemuan istimewa setelah bertahun-tahun mereka yang tadinya akrab saling berpisah. Sua­sana menjadi gembira dan hiruk-pikuk seperti pasar karena mereka saling ber­cakap-cakap satu kepada yang lain de­ngan suara gembira, apalagi para wanita­nya. Suma Lian ketika bertemu dengan Pouw Li Sian saling rangkul bahkan sam­pai menangis saking terharu dan gembira hati mereka. Kedua orang wanita ini ketika kecil pernah menjadi saudara se­perguruan, dibimbing oleh mendiang Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng, ayah dari mendiang dua orang saudara kembar Gak. Semenjak kedua orang wanita ini menikah, sembilan belas tahun yang lalu, mereka tidak pernah saling jumpa.

“Li Sian....!”

“Su-ci (Kakak Seperguruan) Lian!” Keduanya bertangisan dan ketika Suma Lian diperkenalkan kepada puteri sumoi­nya yang bernama Cu Kim Giok, ia me­rangkul gadis itu dan mencium kedua pipinya.

“Aih, aku sudah mempunyai keponakan sebesar dan secantik ini!” katanya dengan wajah berseri gembira. Kalau saja per­temuan ini terjadi beberapa tahun yang lalu, tentu Suma Lian akan menangis karena sedih melihat sumoinya sudah mempunyai anak sebesar itu sedangkan ia sendiri tidak mempunyai anak. Akan tetapi sekarang ia dan suaminya telah dapat menerima kenyataan dan keadaan sebagai kehendak Tuhan dan pertemuan ini tidak membangkitkan rasa kecewa, iri atau sedih, melainkan mendatangkan keharuan dan kegembiraan. Sebaliknya, Li Sian yang tahu bahwa sucinya tidak mempunyai anak, juga bersikap bijaksana dan tidak mau bicara tentang anak.

Pertemuan itu mendatangkan banyak kenangan bagi semua anggauta keluarga dan terdengar teriakan-teriakan gembira karena banyak di antara mereka yang mendapatkan kejutan mendengar mereka saling menceritakan keadaan dan penga­laman masing-masing selama mereka saling berpisah. Sungguh merupakan pesta yang meriah dan penuh kegembiraan, suatu pertemuan besar yang amat ber­hasil.

Sian Li juga bergembira dapat ber­temu dan berkenalan dengan para ang­gauta keluarga yang selama ini hanya ia dengar nama besarnya saja dari ayah ibunya. Akan tetapi ada satu hal yang membuat ia merasa amat kecewa di dalam hatinya, yaitu bahwa Yo Han ti­dak nampak di situ. Akan tetapi ia ada­lah seorang gadis yang amat cerdik. Diam-diam ia mendekati Sim Houw dan Can Bi Lan yang sedang bercakap-cakap dengan tuan dan nyonya rumah, yaitu Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Antara Pendekar Suling Naga Sim Houw dan Kam Bi Eng terdapat hubungan yang dekat. Sim Houw adalah murid mendiang Kam Hong, ayah Kam Bi Eng. Maka, Kam Bi Eng masih terhitung sumoi (adik seperguruan) Sim Houw. Ketika empat orang itu melihat Sian Li menghampiri, mereka lalu menyambut dan mempersila­kan gadis yang lincah jenaka dan pe­ramah ini duduk bersama mereka.

“Paman Sim Houw, bagaimana kabar­nya dengan puterimu? Apakah Paman dan Bibi sudah menemukan jejak enci Sim Hui Eng yang lenyap sejak masih kanak­-kanak itu?”

Pertanyaan ini diajukan dengan sikap sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Mendengar pertanyaan itu, Sim Houw dan Can Bi Lan saling pandang dengan alis berkerut dan Sim Houw menghela napas panjang.

“Sian Li, terima kasih atas perhatian­mu. Akan tetapi kami berdua sudah tidak mengharapkan lagi akan dapat menemu­kan anak kami.”

“Aihhh! Paman dan Bibi sama sekali tidak boleh putus harapan!” Sian Li men­cela.

Can Bi Lan berkata. “Kami tidak putus harapan, Sian Li. Akan tetapi ingat­lah anak kami itu sudah hilang selama dua puluh tahun! Andaikata kami dapat bertemu dengannya sekalipun, kami tidak akan dapat mengenalinya lagi. Kami tidak menyesal karena agaknya Thian (Tuhan) telah menghendaki demikian. Yang kami sesalkan hanya bahwa kami tidak dapat yakin apakah ia masih hidup ataukah sudah mati. Kami hanya dapat mendoakan agar kalau ia masih hidup, ia akan hidup berbahagia, dan kalau ia su­dah mati, semoga mendapat tempat yang layak.”

Biarpun ucapan ini dikeluarkan tidak dengan suara sedih, namun Sian Li dapat menangkap kedukaan yang amat men­dalam, yang membuatnya terharu dan tidak mampu berkata-kata lagi. Tadinya ia bermaksud mendekati mereka dan memancing perihal lenyapnya Sim Hui Eng untuk mencari keterangan tentang Yo Han. Tidak tahunya pertanyaannya itu telah membuka kembali luka di hati ayah dan ibu itu!

Suma Ceng Liong segera berkata. “Aihhh, kita manusia memang merupakan mahluk-mahluk yang lemah dan tidak berdaya. Dalam keadaan seperti ini, satu-­satunya hal yang dapat kita lakukan setelah segala ikhtiar kita gagal, hanya­lah berdoa dan menyerahkan kepada ke­kuasaan Tuhan! Tidak ada hal yang mustahil bagi kekuasaan Tuhan. Segala apa pun dapat saja terjadi kalau Tuhan menghendaki. Oleh karena itu, sikap putus harapan secara tidak langsung merupakan sikap yang kurang yakin akan kekuasaan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, bukan tidak mungkin suatu saat kalian akan dapat bertemu kembali dengan puteri kalian.”

“Sim-suheng, apa yang dikatakan sua­miku memang benar sekali. Justeru ka­rena kalian belum melihat bukti dan kenyataan bahwa puteri kalian telah meninggal dunia, hal itu berarti bahwa mungkin sekali ia masih hidup. Dan kalau ia masih hidup, bukan mustahil sekali waktu kita akan dapat bertemu dengan­nya.” kata Kam Bi Eng.

“Nah, benar bukan apa yang kukata­kan tadi, Paman dan Bibi!” seru Sian Li, mendapat “angin” dan mendapat kesem­patan untuk menyampaikan niat hatinya, yaitu bicara tentang Yo Han. “Tidak perlu putus harapan, apalagi sekarang ada Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti) yang berusaha mencari puteri kali­an itu!”

“Sin-ciang Tai-hiap?” Mereka ber­empat berseru heran.

“Aih, Paman dan Bibi, juga Kakek dan Nenek lupa akan Si Tangan Sakti Yo Han? Percayalah, sekali Han-koko turun tangan, aku yakin enci Hui Eng pasti akan dapat ditemukan!” Sian Li berkata dengan bangga.

Kini teringatlah mereka semua. “Aih, Sian Li! Bagaimana engkau dapat begitu yakin bahwa Yo Han akan dapat me­nemukan puteri mereka yang hilang su­dah dua puluh tahun itu?” Suma Ceng Liong mencela, menganggap gadis itu terlalu yakin akan hal yang amat sulit dilaksanakan itu. Kalau tidak ada ke­murahan Tuhan, tidak ada mujijat Tuhan, bagaimana dapat menemukannya kembali?

“Ahhh, Kakek tidak percaya? Menurut ayah dan ibu, Han-koko memang memiliki sesuatu yang mujijat, semacam indera ke enam. Ketika aku masih kecil dan aku diculik oleh Ang I Moli, ayah dan ibu sendiri tidak berhasil mencarinya. Akan tetapi Han-koko yang baru berusia belas­an tahun tahu-tahu muncul di depan penculik itu dan minta agar aku dikem­balikan kepada ayah ibu dan dia sendiri menyerahkan diri menjadi gantinya.”

“Hemmm, pernah aku mendengar ayah ibumu bercerita tentang itu, akan tetapi tadinya kusangka bahwa hal itu hanya kebetulan saja.” kata Suma Ceng Liong.

“Bukan kebetulan,” bantah Sian Li. “Memang Han-koko mempunyai kelebihan dari orang lain. Dia memang aneh sekali. Di waktu kecilnya, dia sama sekali tidak mau berlatih silat, membuat ayah dan ibu sampai marah dan kecewa. Selama menjadi murid ayah dan ibu, dia hanya mempelajari teorinya saja akan tetapi tidak suka berlatih silat. Bahkan dia membenci ilmu silat. Katanya dahulu, dia menganggap ilmu silat sebagai suatu bentuk kekerasan yang membuat orang menjadi jahat, suka bermusuhan dan suka membunuh. Ketika kecil dia tidak mau belajar silat, tapi setelah dewasa, tahu-­tahu dia menjadi Sin-ciang Tai-hiap. Apakah itu tidak aneh? Tapi, kenapa dia tidak datang sekarang? Apakah dia tidak dikirimi undangan?”

Suma Ceng Liong tertawa. “Kami tidak melupakan dia karena dia adalah murid orang tuamu. Akan tetapi tidak ada seorang pun mengetahui di mana dia sekarang. Bagaimana kami dapat mengi­rim undangan?”

“Betul juga....” kata Sian Li. “Akan tetapi dia dahulu sudah tahu akan pe­rayaan ini. Kenapa dia tidak muncul dan di mana dia sekarang?” pertanyaan ini ditujukan kepada diri sendiri karena tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya.

Pada saat itu, semua orang yang duduknya agak di depan, menengok ke luar sehingga menarik perhatian mereka yang berada di sebelah dalam. Tak lama kemudian, semua orang, termasuk Suma Ceng Liong dan isterinya, juga Sian Li, ikut pula memandang ke luar. Memang ada yang menarik di luar pekarangan sana. Para penduduk yang ikut menonton di luar nampak memberi jalan kepada serombongan orang yang datang. Ada selosin orang laki-laki yang bertubuh kokoh kuat berpakaian seragam abu-abu dan empat orang gadis cantik mengena­kan pakaian dengan warna menyolok. Ada yang serba kuning, serba biru, serba hitam dan serba putih. Empat orang gadis ini berjalan di kanan kiri sebuah joli tertutup tirai yang dipikul empat orang laki-laki anggauta pasukan yang selosin dan berpakaian abu-abu itu. Joli berada di tengah-tengah, seolah-olah dikawal selosin orang laki-laki dan empat orang gadis itu. Orang yang berjalan paling depan memegang sebuah tombak yang ujungnya dipasangi sehelai bendera. Dasar bendera itu berwarna kuning polos dan di tengahnya ada huruf BENG (TE­RANG) dari benang sutera merah yang indah dan gagah. Tanpa ragu, dengan langkah tegap, rombongan itu memasuki pekarangan dan berhenti di depan tangga ruangan depan yang dipenuhi tamu. Se­mua orang memandang dengan heran karena tidak ada yang mengenal dari mana dan siapa rombongan itu. Bendera itu pun tidak mereka kenal. Hanya Kao Cin Liong, orang tertua di antara mereka­ semua, yang memandang dengan alis berkerut dan dia pun menghampiri tuan rumah, lalu berbisik kepada Suma Ceng Liong. Suma Hui juga mengikuti suami­nya dan mendekati adiknya.

“Hanya ada sebuah partai yang kira­nya dapat memakai tanda bendera se­perti itu, yaitu Pao-beng-pai (Partai Pembela Terang).”

“Akan tetapi partai itu tidak pernah terdengar lagi sekarang,” kata Suma Hui.

“Pao-beng-pai? Partai macam apakah itu?” tanya Suma Ceng Liong kepada cihunya (kakak iparnya), yaitu suami dari encinya yang dahulu pernah menjadi pang­lima perang dan memiliki banyak sekali pengalaman.

“Pao-beng-pai itu partai yang ber­usaha untuk menegakkan kembali Keraja­an Beng yang sudah jatuh dengan pem­berontakan terhadap pemerintah yang sekarang.” kata Kao Cin Liong.

Mereka berhenti bicara dan pada saat itu, seorang di antara para anggauta pasukan berpakaian abu-abu itu berteriak lantang. “Kami utusan dari Pao-beng­-pai mohon bertemu dengan pimpinan dari keluarga Pulau Es, keluarga Gurun Pasir, dan keluarga Lembah Naga Siluman yang kini sedang berkumpul di sini!”

Semua orang terkejut mendengar ini. Suma Ceng Liong lalu minta kepada suami encinya, yaitu Kao Cin Liong se­bagai orang tertua yang berada di situ, untuk mewakili seluruh keluarga dan menerima pengunjung yang baru datang. Karena jelas bahwa rombongan itu ingin bertemu dengan pimpinan ketiga keluar­ga, bukan dengan tuan rumah, Kao Cin Liong yang menjadi orang tertua di situ, tidak keberatan untuk mewakili seluruh keluarga. Di dalam hatinya dia merasa heran sekali. Mau apa orang-orang Pao­-beng-pai ini mencari mereka? Kalau hendak mencari gara-gara, mungkin orang­-orang Pao-beng-pai itu sudah gila. Siapa­kah di dunia ini begitu gila mencari per­kara dengan para pendekar dari tiga keluarga besar yang saat itu berkumpul di situ?

Kakek yang sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun itu melangkah maju ke depan rombongan itu. Para anggauta pasukan kecil yang berada di depan membuat gerakan menyibak ke kanan kiri sehingga kakek itu kini berhadapan dengan joli yang tirainya masih tertutup. Semua orang memandang dari belakang kakek Kao Cin Liong dan suasana menjadi he­ning sekali karena semua orang memper­hatikan.

“Kami sedang berkumpul di sini meng­adakan pertemuan keluarga dan kami tidak mempunyai pimpinan. Karena aku kebetulan yang tertua, maka para ang­gauta keluarga kami minta agar aku mewakili mereka. Nah, apakah yang di­kehendaki Pao-beng-pai dengan kunjungan tiba-tiba dan tanpa diundang ini? Di an­tara kami tidak ada yang mempunyai urusan dengan Pao-beng-pai.” Suara ka­kek itu cukup berwibawa walaupun sikapnya tenang sekali. Bahkan dua belas orang anggauta pasukan yang tadinya nampak keren dan kokoh kuat itu kini nampak gentar menghadapi sikap kakek itu yang demikian tenang, berwibawa dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Tadinya mereka mengira bahwa setiap orang di dunia persilatan akan menjadi jerih melihat bendera tanda pengenal partai mereka. Siapa tahu kakek ini ber­sikap seolah mereka hanya sebagai peng­ganggu biasa saja yang tidak dikenal!

Seperti anak-anak ayam yang mencari perlindungan kepada induknya, mereka semua memandang ke arah joli dan si pemegang bendera segera berkata dengan suara lantang, jelas dimaksudkan agar didengar oleh semua orang karena kalau hanya ditujukan kepada penumpang joli, tidak perlu dia berteriak selantang itu.

“Nona yang mulia! Pihak tuan rumah telah datang menyambut, silakan Nona yang mulia keluar untuk bicara dengan dia!”

Tentu saja semua orang menjadi se­makin tertarik. Siapakah yang mereka sebut sebagai nona yang mulia itu? De­ngan penuh perhatian mereka semua kini memandang ke arah joli yang sejak tadi tidak bergerak, dan yang oleh para pe­mikulnya sudah diturunkan ke atas tanah. Tirai itu pun sejak tadi tidak pernah bergoyang. Ketika empat orang peng­gotong joli tadi menurunkannya, nampak­nya begitu ringan seolah penumpang joli itu teramat ringan, ataukah empat orang pemanggul itu yang amat kuat?

Kini tirai dari sutera hijau itu ber­goyang sedikit dan agaknya ini merupa­kan isyarat bagi empat orang gadis pen­damping joli untuk cepat menghampiri depan joli. Mereka menyingkap tirai itu dan ketika melakukan ini, mereka ber­empat membungkuk sampai dalam dan yang berpakaian kuning berkata penuh hormat. “Silakan, Siocia (Nona Muda)!”

Semua orang memandang dan ternyata yang duduk di joli itu adalah seorang wanita muda yang cantik dan bersikap agung. Gadis ini mengenakan pakaian berkembang dan cerah, dan ia nampak anggun dan cantik. Ia duduk dengan te­gak seperti seorang puteri atau seorang ratu dan sedikit pun tidak merasa gen­tar atau canggung walaupun banyak pa­sang mata yang tajam dan mencorong mengamatinya. Usianya sukar diketahui dengan pasti karena pembawaannya me­nunjukkan bahwa ia bukan remaja lagi, cukup dewasa dan tentu sudah ada dua puluh tahun. Rambutnya yang digelung tinggi di atas kepala, dan rambut itu dihias sebuah tiara kecil yang berkilauan karena terhias intan permata. Matanya yang tajam seolah dapat menembus dan menjenguk isi dada orang. Akan tetapi kecantikannya itu amat dingin. Keanggun­annya mengandung keangkuhan. Dingin dan angkuh ini nampak di sudut-sudut bibirnya yang tersenyum sinis. Tangan kirinya memegang sebuah hud-tim (kebut­an) yang biasa dipegang seorang pendeta atau pertapa, kebutan pengusir lalat dan nyamuk. Akan tetapi kebutan ini indah, dengan gagang terbuat daripada emas dan kebutan itu sendiri terbuat dari be­nang yang mengkilap, entah benang apa, berwarna kemerahan seperti ternoda darah.

Setelah menyapu ruangan itu dengan lirikan matanya yang tajam, ia kini me­mandang kepada Kao Cin Liong dan bi­birnya bergerak, senyumnya semakin merekah dan semakin sinis. Lalu kakinya melangkah turun dari joli, dengan gerak­an sopan seperti seorang puteri yang menjaga setiap gerakan agar nampak anggun dan sopan. Setelah ia turun dari joli dan berdiri berhadapan dengan Kao Cin Liong, nampak tubuhnya yang ram­ping, dengan pinggang yang kecil seperti pinggang lebah hitam, dan pinggulnya yang besar menonjol. Ia berdiri dengan tegak dan anggun seperti seorang ratu dihadap para hulubalangnya.

“Kiranya Jenderal Kao Cin Liong yang menjadi wakil.” katanya, suaranya lembut akan tetapi terasa begitu dingin dan datar tanpa nada dan irama. Seperti igauan orang dalam mimpi!

Namun, kalimat pendek ini mengejut­kan semua orang, terutama sekali kakek itu. Bagaimana gadis yang sama sekali tidak dikenalnya ini tahu bahwa dia per­nah menjadi panglima?

“Hemmm, sekarang tidak lagi menjadi jenderal, Nona. Siapakah Nona?” Kakek ini sudah merasa kalah penampilan, kare­na gadis itu sudah mengenal namanya akan tetapi dia sama sekali belum me­ngenalnya, bahkan bertemu pun baru sekali ini.

“Aku biasa dipanggil Siocia (Nona), tak pernah memiliki nama. Biarpun se­karang engkau bukan lagi jenderal, akan tetapi engkau pernah menjadi panglima Kerajaan Mancu, bukan?” Jelas sekali bagi para anggauta keluarga besar yang berkumpul di situ bahwa ketika meng­ucapkan kata Mancu, gadis itu nampak menghina sekali. Mereka pun tidak me­rasa heran karena biarpun belum pernah berurusan dengan orang-orang Pao-beng­-pai yang selalu bergerak secara rahasia, mereka pernah mendengar bahwa partai itu adalah partai yang menentang peme­rintah Mancu.

“Sudahlah, tidak perlu kita memper­soalkan apakah aku pernah menjadi pang­lima, juga apakah Nona mempunyai nama atau tidak. Yang penting sekarang, apa maksud kedatangan Nona sebagai utusan Pao-beng-pai? Seperti kami katakan tadi, kami tidak pernah mempunyai urusan dengan Pao-beng-pai, maka apa maksud kunjungan Nona ini?” kata kakek Kao Cin Liong dengan suara yang tetap te­nang penuh kesabaran. Sebagian anggauta keluarga itu sudah ada yang melotot dan marah, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani mengganggu kakek Kao Cin Liong yang mewakili mereka.

Gadis itu menggerakkan tangan kiri­nya dan ujung kebutannya bergerak se­olah ia mengusir lalat yang datang men­dekatinya, lalu kembali senyumnya mekar penuh ejekan. “Apa maksud kunjunganku? Panglima Kao Cin Liong, sudah lama sekali Pao-beng-pai mendengar bahwa tiga keluarga besar Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga memiliki banyak pendekar yang pandai, yang tidak me­mandang sebelah mata kepada kelompok dan aliran lain di dunia persilatan. Juga bahwa ketiga keluarga itu berwatak ting­gi hati, suka mencampuri urusan aliran lain, tidak segan menggunakan kepandai­an mengalahkan kelompok lain, dan yang lebih tidak menyenangkan lagi, mereka menjadi antek-antek bangsa Mancu yang berarti membantu kekuasaan para pen­jajah. Nah, karena itulah Pao-beng-pai ingin sekali membuktikan sendiri apakah berita tentang kegagahan mereka itu benar, atau hanya omong kosong saja.”

Mendengar ucapan itu, Kao Hong Li dan Tan Sian Li sudah bergerak maju sambil mengepal tinju, akan tetapi Tan Sin Hong yang sejak tadi sudah waspada melihat keadaan isteri dan puterinya, yang dia tahu keduanya memiliki watak keras dan galak, cepat menangkap lengan mereka dan memberi isyarat dengan ge­leng kepala.

“Ayah mewakili kita semua, jangan diganggu,” bisiknya. Kao Hong Li ter­ingat, demikian pula Sian Li maka ibu dan anak ini menahan kemarahannya dalam hati. Sebagai pihak pemilik rumah yang kedatangan tamu, tidak pantas ka­lau mereka maju mengganggu Kao Cin Liong yang mewakili mereka semua.

Kakek Kao Cin Liong tersenyum me­mandang ucapan gadis yang berani itu. Diam-diam dia terheran dan terkejut. Bagaimana seorang gadis semuda ini berani mengeluarkan kata-kata keras mencela tiga keluarga besar, padahal para anggauta keluarga lengkap berada di situ? Biar semua datuk persilatan di dunia kang-ouw, para datuk sesat sekali­pun tidak mungkin akan berani senekat itu! Andaikata Pao-beng-pai mengirim seluruh pimpinan berikut anak buahnya sekalipun, menghadapi seluruh keluarga ini mereka akan sama dengan ombak samudera ganas yang menghantam bukit karang, akan hancur lebur dengan sendiri­nya. Apakah gadis ini miring otaknya, ataukah sudah bosan hidup dan mencari cara membunuh diri yang dapat dianggap gagah? Dia mengelus jenggotnya yang sudah putih semua.

“Bu-beng Sio-cia (Nona Tanpa Nama), kalau Pao-beng-pai ingin membuktikan sendiri berita tentangan kegagahan ke­luarga kami, lalu apa yang kaukehendaki dengan kunjungan ini?”

“Aku mewakili Pao-beng-pai sepenuh­nya, dan atas nama Pao-beng-pai aku menantang tokoh yang paling tinggi ilmu kepandainnya dari ketiga keluarga untuk mengadu kepandaian. Aku tahu, bahwa aku mendatangi gua penuh singa dan naga, dan kalian semua bisa maju dan membunuhku. Akan tetapi hal itu hanya akan membuktikan bahwa kalian hanyalah para pengecut, bukan orang gagah....”

“Tutup mulutmu yang busuk, iblis betina tanpa nama!” Tiba-tiba Kao Hong Li yang terkenal galak itu sudah melon­cat maju ke depan wanita itu. “Berani engkau mengeluarkan kata-kata menghina ayahku dan seluruh keluarga kami? Bocah sombong macam engkau hendak menantang kami? Majulah, aku yang akan me­wakili semua keluarga untuk menghajar­mu!”

Gadis muda itu tersenyum mengejek, lalu mengeluarkan dengus dari hidung, memandang rendah. “Engkau ini puteri Panglima Kao Cin Liong? Tentu engkau yang bernama Kao Hong Li. Bibi muda, kepandaianmu masih terlalu rendah. Kenapa tidak menyuruh suamimu saja, Si Bangau Putih Tan Sin Hong ini, untuk mewakilimu? Aku ingin bertanding de­ngan tokoh paling tangguh dari tiga ke­luarga besar, bukan dengan orang yang ilmu kepandaiannya masih tanggung­-tanggung.”

Kembali semua orang terheran. Wa­nita muda ini agaknya mengenal para anggauta tiga keluarga besar itu. Tidak salah lagi, pikir mereka, tentu gadis sombong itu sebelumnya telah mempela­jari keadaan mereka, wajah dan nama mereka, dan mungkin sekali mendapat keterangan jelas tentang ilmu yang me­reka miliki masing-masing. Sikap gadis itu telah membakar hati para pendekar wanita yang berada di tempat itu.

“Biarkan aku saja yang menghadapi­nya!” terdengar bentakan nyaring dan nampak bayangan berkelebat ketika Can Bi Lan meloncat ke dekat Kao Hong Li.

Gadis itu memandang penuh perhatian. “Hemmm, engkau tentu yang bernama Can Bi Lan berjuluk Siauw-kwi (Setan Kecil). Sebaiknya kalau suamimu yang maju, bukan engkau. Kulihat suamimu Pendekar Suling Naga Sim Houw juga berada di sini. Kalau dia barulah ada harganya untuk melawan aku!”

“Wah, bocah sombong, agaknya otak­mu tidak waras!” terdengar bentakan dan tubuh Kam Bi Eng berkelebat cepat men­dekati gadis itu. “Hayo engkau cepat menggelinding pergi dari sini, atau aku yang akan menghancurkan mulutmu yang lancang!”

Gadis itu memandang kepada Kam Bi Eng penuh perhatian, lalu menoleh dan memandang kepada Suma Ceng Liong. “Bagus, bibi Kam Bi Eng keturunan ke­luarga Suling Emas dan Naga Siluman! Lebih baik lagi kalau suamimu yang maju karena sudah lama aku mendengar nama besar Suma Ceng Liong, keturunan lang­sung dari Pendekar Sakti Pulau Es!”

“Ibu, biarkan aku yang menghajarnya!” Suma Lian meloncat dekat pula dengan mata mencorong marah.

“Tidak, sebaiknya aku saja yang meng­hadapinya!” terdengar teriakan yang di­barengi berkelebatnya bayangan merah dan Sian Li sudah pula berada di situ. Nyonya Gak atau Souw Hui Lian, Suma Hui, yang sudah tua, bahkan juga Gangga Dewi dan para murid perempuan yang hadir di situ, semua maju, mempersiap­kan diri untuk melawan tamu yang kurang ajar itu.

Gadis itu kini tertawa. Tawanya lepas dan tidak menutupi mulutnya sehingga nampak deretan giginya yang rapi dan bersih. “Ha-ha-ha, agaknya para pendekar wanita tiga keluarga besar masih me­miliki semangat dan galak-galak. Akan tetapi aku tetap menghendaki orang ter­kuat yang maju menandingiku karena aku hanya akan menantang seorang saja, kecuali tentu saja kalau kalian hendak mengeroyokku.”

“Jahanam sombong, sambutlah serang­anku!” Suma Lian sudah menerjang de­ngan dahsyat ke arah gadis itu. Ia tidak dapat menahan kemarahannya lagi, maka begitu berteriak memberi tanda penye­rangan, ia sudah menyerang dengan to­tokan jari tangannya. Terdengar suara bersuitan ketika tangannya bergerak, menunjukkan betapa kuatnya tangan yang melakukan serangan totokan itu. Itulah ilmu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang amat lihai.

“Hemmm, bagus!” Gadis itu berseru lembut dan tiba-tiba saja tubuhnya me­lesat cepat bagaikan kilat dan ia sudah melayang ke belakang, ke tempat ter­buka yang lebih luas sambil tadi meng­hindarkan diri dari totokan maut. “Di sini lebih luas, mari kita main-main sebentar. Engkau tentu yang bernama Suma Lian, bukan? Namamu cukup terkenal, pantas untuk menjadi lawanku. Mari!”

Suma Lian yang berusia empat puluh tahun itu adalah puteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Selain telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya, juga bersama Pouw Li Sian ia pernah digembleng oleh Bu Beng Lo-kai atau Gak Bun Beng. Agaknya di antara semua anggauta ke­luarga wanita yang hadir di situ pada saat itu, Suma Lian merupakan orang yang paling tangguh. Si Bangau Merah Tan Sian Li pun masih belum setinggi ia tingkat kepandaiannya dan agaknya hal ini diketahui pula oleh gadis tamu yang aneh itu maka ia suka menerima Suma Lian menjadi lawannya.

Suma Lian meloncat ke depan gadis itu dan semua orang memandang dengan hati tegang dan penuh perhatian karena biar gadis itu tidak mau memperkenalkan nama dan mengaku tidak bernama, na­mun dari gerakan silatnya, para pendekar itu ingin mengenal alirannya. Mereka tahu bahwa Pao-beng-pai merupakan partai pemberontak yang menentang pe­merintah seperti halnya Thian-li-pang, Pat-kwa-pai, Pek-lian-kauw dan yang lain, akan tetapi Pao-beng-pai bukan perkumpulan silat maka para tokohnya memiliki ilmu silat dari bermacam aliran.

Dua orang wanita itu kini saling berhadapan dalam keadaan siap siaga. Suma Lian, dalam usia empat puluh ta­hun, masih nampak cantik dan ramping, dan selama ini ia tidak pernah bosan untuk berlatih silat bersama suaminya. Karena ia pun seorang pendekar wanita yang berpengalaman, ia dapat menduga bahwa gadis yang bersikap sombong be­rani menentang para anggauta tiga ke­luarga besar, tentu mempunyai kepandai­an yang dapat diandalkan. Oleh karena itu, ia pun bersikap hati-hati dan diam­-diam ia pun sudah mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) ke dalam kedua lengannya.

Gadis itu bersikap tenang, kini tidak mengeluarkan kata-kata lagi, matanya mencorong memandang lawan, mulutnya masih tersenyum dingin dan sinis, namun jelas nampak bahwa ia pun tidak berani main-main. Agaknya ia memang telah memperoleh keterangan yang cukup me­ngenai para anggauta keluarga, dan ia maklum bahwa yang dihadapinya adalah pendekar wanita anggauta keluarga Pulau Es yang amat tangguh.

Gadis itu bersikap tenang sekali. Me­lihat lawan bertangan kosong, ia pun melemparkan kebutannya kepada gadis baju kuning yang tadi mengawalnya. Ke­butan itu meluncur bagaikan anak panah ke arah gadis baju kuning, mengejutkan semua orang karena seolah-olah gadis itu menyerang pembantunya sendiri! Akan tetapi, gadis baju kuning dengan tenang namun sigap menjulurkan tangan dan ia sudah berhasil menjepit gagang kebutan itu dengan jari telunjuk dan jari tengah! Diam-diam para pendekar menjadi se­makin heran. Kalau si baju kuning itu, yang agaknya hanya merupakan pelayan, memiliki kemampuan seperti itu, mudah diduga bahwa nona majikannya tentu jauh lebih lihai. Gadis itu kini membetulkan ikat sabuk sutera di pinggangnya, meng­gulung kedua lengan baju sampai ke siku sehingga nampak kedua lengannya yang kecil panjang dan berkulit halus.

“Suma Lian, aku sudah siap. Keluar­kan semua kepandaianmu!” Gadis itu menantang.

“Iblis betina sombong, engkau yang datang, engkau yang menantang, engkau pula yang boleh bergerak lebih dulu!” Suma Lian membentak dengan pasangan kuda-kuda tegak dengan kedua lengan menyilang di depan dada, sepasang mata­nya mencorong di antara kedua tangan yang dibuka jari-jarinya.

“Awas, aku mulai menyerang, ha-ha-hi-hi-hi....!” Gadis itu tertawa dan suara tawanya makin lama semakin meninggi. Dua belas orang pengawalnya dan empat orang pelayan wanitanya mengambil se­suatu dan menyumbat sepasang telinga masing-masing dengan benda kecil itu.

Suma Lian terkejut ketika merasakan getaran yang amat kuat menyusup ke dalam tubuhnya. Tahulah keturunan ke­luarga Pulau Es ini bahwa gadis itu bu­kan sekedar tertawa, melainkan telah melakukan penyerangan seperti yang di­katakan tadi, penyerangan melalui getar­an suara tawa! Ilmu macam ini, meng­gunakan getaran suara untuk menyerang lawan, merupakan ilmu yang hanya mampu dilakukan oleh orang yang telah memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat. Suma Lian sendiri adalah puteri Suma Ceng Liong, keturunan Pulau Es yang selain lihai ilmu silatnya, juga memiliki ilmu sihir dari nenek moyangnya. Tentu saja Suma Lian sudah pernah mempela­jari ilmu ini dan menguasai kekuatan sihir. Maka, menghadapi serangan lawan melalui getaran suara tawa, ia cepat mengerahkan tenaga melindungi diri dan “menutup” pendengarannya dari dalam, memandang gadis yang tertawa itu de­ngan senyum mengejek. Para anggauta keluarga para pendekar yang hadir di situ, juga mengerahkan sin-kang dan mereka semua mampu menangkis getaran suara tawa itu. Akan tetapi, belasan orang tetangga yang masih hadir sebagai tamu, tersiksa sekali. Mereka mencoba untuk menutupi telinga dengan kedua ta­ngan, namun agaknya getaran itu me­nembus tangan yang menutupi telinga dan di antara mereka sudah ada yang terjungkal pingsan. Melihat ini, Suma Lian membentak dengan suara lantang penuh wibawa, mengerahkan kekuatan sihirnya.

“Iblis betina, hentikan tawamu yang tidak ada gunanya itu!”

Dan suara tawa itu pun terhenti. Si gadis nampak kaget dan maklum bahwa tawanya tidak mempengaruhi lawan mau­pun para anggauta keluarga lainnya, ha­nya merobohkan orang-orang yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga itu.

“Kamu anak kecil sombong! Kaukira dengan sedikit ilmu hitam itu engkau akan dapat menakut-nakuti kami?” ben­tak Suma Lian dan nyonya ini pun mem­balas dengan serangan tamparan tangan kiri. Terdengar bunyi angin menyambar dahsyat dan gadis itu cepat mengelak, lalu membalas dengan pukulan ke arah dada Suma Lian. Pukulan ini dielakkan pula oleh Suma Lian dan segera terjadi perkelahian seru antara kedua orang wanita cantik itu.

Semua pendekar menonton dengan penuh keheranan. Mereka semua tahu betapa lihainya Suma Lian. Wanita ini sudah mempelajari banyak ilmu silat yang tinggi dan dahsyat. Ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es ditambah ilmu-ilmu dari Lembah Naga Siluman. Dan tidak tanggung-tanggung Suma Lian mengeluar­kan ilmu-ilmu itu. Ia sudah mengeluarkan beberapa jurus dari ilmu silat Hong-in Bun-hoat (Silat Sastra Angin dan Awan), Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti), bahkan menggunakan ilmu totokan Coa-kut-ci dan Toat-beng-ci (Jari Penembus Tulang dan Jari Pencabut Nyawa) namun aneh­nya, gadis itu seolah-olah mengenal se­mua jurus itu dan mampu mengelak atau menangkis. Ketika para pendekar mem­perhatikan dasar gerakan yang dipergunakan gadis cantik wakil Pao-beng-pai itu, mereka merasa heran. Gerakan silat gadis itu sukar dikenal dasarnya karena mengandung dasar banyak macam aliran silat. Yang jelas kekokohan kuda-kuda Siauw-lim-pai terdapat di situ, juga ke­lincahan gerakan silat Bu-tong-pai. Akan tetapi, gerakan kedua tangan ketika mengelak dan balas menyerang, jelas bukan dari kedua aliran itu, dan cara penyerangan yang tiba-tiba dan licik ber­bahaya itu menunjukkan adanya pengaruh ilmu dari golongan sesat! Namun, ter­nyata gadis itu lihai bukan main. Ilmu silatnya yang campuran sukar dikenal, dan agaknya sedikit banyak ia telah me­ngenal jurus-jurus silat yang diperguna­kan Suma Lian untuk menyerangnya se­hingga ia mampu mengelak atau menang­kis dengan tepat. Sementara itu, dalam hal tenaga sin-kang dan keringanan tubuh, ia tidak berada di bawah tingkat Suma Lian! Hal ini saja sudah amat mengagum­kan dan mengherankan hati para pen­dekar yang berada di situ.

Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong dan Suma Ceng Liong, dan juga Pendekar Suling Naga Sim Houw, tiga orang di antara para pendekar yang memiliki ilmu kepandaian paling tinggi di antara me­reka semua, diam-diam merasa heran dan terkejut. Pada jaman itu, kiranya sukar mencari seorang gadis muda yang akan mampu menandingi ilmu kepandaian Suma Lian. Bahkan Tan Sian Li yang disebut Si Bangau Merah oleh semua anggauta keluarga, yang dikagumi sebagai anggauta keluarga termuda yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, agaknya masih belum dapat menandingi Suma Lian. Akan tetapi, gadis muda yang hanya dikenal sebagai Nona Tanpa Nama itu bukan saja mampu menandingi, bahkan kini mulai mendesak Suma Lian dengan ilmu silat yang aneh. Ia melakukan dorongan-dorong­an atau pukulan jarak jauh yang amat dahsyat, yang mendatangkan angin seperti gelombang samudra sedang membadai. Suma Lian mengerahkan tenaga dari Pulau Es untuk menahan dorongan-dorong­an itu, namun agaknya ia masih kalah kuat sedikit sehingga setiap kali terjadi bentrokan tenaga sakti, jelas bahwa pa­sangan kuda-kuda kaki Suma Lian ter­geser ke belakang sedikit, sedangkan kuda-kuda kaki gadis cantik itu masih tetap teguh.

“Haiiiiittttt....!” Tiba-tiba gadis itu menyerang lagi dengan kedua tangan didorongkan, akan tetapi kini ia meng­ubah kuda-kuda kakinya dan menekuk kedua lutut sehingga tubuhnya merendah seperti berjongkok, pinggulnya yang besar menonjol dan hampir menyentuh tanah. Gerakan ini aneh sekali, akan tetapi dari kedua tangannya menyambar angin dah­syat ke arah perut Suma Lian.

Suma Lian yang sudah cukup penga­laman itu dapat mengenal serangan dah­syat yang berbahaya. Akan tetapi kalau ia mengelak terus, hal itu akan mem­buktikan bahwa ia tidak berani mengadu tenaga dan membuat ia nampak terdesak. Maka, wanita yang keras hati dan pem­berani itu tidak mau mengalah. Ia pun mengerahkan tenaga gabungan dari Te­naga Sakti Inti Api dan Tenaga Sakti Inti Salju dari Pulau Es. Biarpun kepandaian­nya dalam pengerahan sin-kang ini belum setingkat ayahnya, namun dibandingkan tokoh-tokoh wanita keturunan keluarga Pulau Es, Suma Lian sudah merupakan yang terkuat. Ia mengerahkan tenaga ga­bungan itu dan menyambut serangan lawannya dengan dorongan kedua tangan­nya pula.

Benturan dahsyat antara dua tenaga sakti tak dapat dihindarkan pula. Tidak nampak oleh mata memang, dan dua pa­sang tangan itu terpisah tidak kurang dari dua meter, namun keduanya seperti mendorong dinding yang kokoh kuat. Tu­buh Suma Lian nampak terguncang, sedangkan gadis itu masih tak bergerak, bahkan bibirnya mengembangkan senyum mengejek. Keduanya tak pernah mengen­durkan tenaga, dan sebentar saja nampak betapa Suma Lian berkeringat dan dari kepalanya mengepul uap.

Melihat ini, semua orang merasa te­gang dan khawatir. Sebagai ahli-ahli silat tinggi, mereka maklum bahwa adu tenaga sin-kang itu sudah mencapai titik yang gawat. Seorang di antara mereka akan terancam maut, dan agaknya Suma Lian yang berada di fihak terancam. Akan tetapi mereka tidak berani turun tangan melerai, karena hal itu bahkan amat berbahaya bagi kedua orang wanita per­kasa yang sedang mengadu tenaga itu.

Akan tetapi, seorang yang memiliki tingkat lebih tinggi seperti Suma Ceng Liong, melihat bahaya maut mengancam puterinya, segera meloncat ke depan, mengerahkan tenaga dan menggunakan kedua tangannya untuk melerai.

Kakek perkasa berusia enam puluh tahun ini menggunakan gerakan yang disebut Mendorong Bukit Kanan Kiri, kedua tangannya dikembangkan dan di­dorongkan dari samping ke arah tengah-­tengah di antara dua orang wanita yang sedang mengadu tenaga sin-kang itu.

Bagaikan angin badai meniup dua batang pohon yang kokoh, tenaga itu membuat kedua orang yang sedang bertanding itu terdorong dan kehilangan keseimbangan. Tenaga mereka yang tadi saling tekan itu terlepas, dan akibatnya Suma Lian terpelanting dan gadis itu terdorong ke belakang. Suma Lian cepat menggulingkan tubuhnya dan ia dapat meloncat bangun dengan muka agak pu­cat dan napas terengah, sedangkan gadis itu ketika terdorong ke belakang, mem­buat gerakan jungkir-balik yang indah sampai tiga kali, baru tubuhnya melayang turun dan berdiri tegak. Suma Lian ter­bebas dari ancaman bahaya, namun dari akibat dorongan kekuatan sin-kang Suma Ceng Liong yang melerai, semua orang tahu bahwa dalam adu tenaga sakti tadi, Suma Lian berada di pihak yang ter­desak.

Gadis itu menatap wajah Suma Ceng Liong dengan sinar mata mencorong, kulit wajahnya memerah karena marah, mulutnya tersenyum sinis dan tangan kanan bertolak pinggang, telunjuk tangan kiri diluruskan menuding ke arah muka pendekar itu.

“Pendekar besar Suma Ceng Liong tidak malu melakukan pengeroyokan?” Ia berkata mengejek.

Di waktu mudanya, Suma Ceng Liong adalah seorang yang lincah gembira dan bahkan agak ugal-ugalan. Akan tetapi kini dia sudah berusia enam puluh tahun tentu saja tidak seperti dahulu, walaupun dia masih berwatak gembira. Melihat sikap gadis itu yang menuduhnya melaku­kan pengeroyokan dia hanya tersenyum.

“Bu-beng Sio-cia, aku tidak melaku­kan pengeroyokan, hanya melerai. Puteri kami Suma Lian sudah kalah olehmu. Nah, sekarang engkau mau apa lagi? Masih penasaran dan ingin menantang seorang di antara kami?” Biarpun kata­-kata itu membuat pengakuan akan kekalahan Suma Lian, namun juga mengan­dung penawaran kalau-kalau gadis itu masih mau menantang lagi, dan semua orang juga tahu bahwa menghadapi Suma Lian, gadis itu hanya lebih unggul sedikit. Jelas kalau melawan Suma Ceng Liong atau lain tokoh yang setingkat, ia tidak akan mampu menang.

“Seperti kukatakan tadi, aku datang mewakili Pao-beng-pai untuk membukti­kan kehebatan nama besar para pendekar tiga keluarga Pulau Es, Lembah Naga, dan Gurun Pasir. Aku hanya bertanding satu kali saja, kecuali kalau kalian hen­dak mengeroyokku! Aku hanya ingin meninggalkan pesan bahwa Pao-beng-pai adalah perkumpulan para patriot yang tidak rela melihat tanah air dan bangsa dijajah oleh orang-orang biadab Mancu. Sebaliknya, tiga keluarga besar kalian hanya terdiri dari antek dan penjilat penjajah asing! Selamat tinggal!” Gadis itu membalikkan tubuh, dengan sikap angkuh sekali hendak memasuki jolinya, sedangkan dua belas orang laki-laki dan empat orang gadis cantik sudah siap di kanan kiri joli seperti pasukan pengawal.

Ia pun menerima kembali kebutan­nya dari tangan gadis pakaian kuning yang menyerahkan kebutan itu sambil memberi hormat. Sikap gadis itu tiada ubahnya seorang puteri istana, se­dangkan para pengikutnya amat menghor­matinya.

Sejak tadi, Tan Sian Li sudah ter­bakar hatinya. Kalau saja tidak ditahan ayah ibunya, sudah sejak tadi sebelum Suma Lian maju, ia sendiri sudah me­nerjang gadis itu. Kini, mendengar ucap­an gadis itu yang dianggapnya amat menghina tiga keluarga besar, mana mungkin Sian Li mampu menahan diri? Dadanya seperti meledak rasanya, dan sebelum ayah ibunya melarangnya, ia sudah meloncat ke atas dan bagaikan seekor burung bangau merah, tubuhnya meluncur ke arah gadis depan joli itu dan mulutnya membentak garang, “Iblis betina sombong! Sambut serang­anku!”

Akan tetapi gadis itu memberi isyarat dan empat orang gadis cantik yang men­jadi pengawalnya itulah yang menyambut Sian Li. Mereka berempat maju bersama dan tangan mereka menyambut dorongan tangan Sian Li dari atas.

“Dukkk!” Sian Li terpaksa berjungkir balik untuk mematahkan daya dorongan tenaga empat orang yang digabung itu, dan ia pun melayang turun. Hatinya semakin panas. Gadis sombong itu menyu­ruh empat orang pelayan mewakilinya, seolah-olah gadis itu menganggap ia tidak cukup berharga untuk menjadi lawannya!

“Jangan mengganggu nona kami yang mulia!” kata si baju kuning yang agaknya merupakan pemimpin dari mereka ber­empat. Mereka sudah mengepung Sian Li dan menghadang Sian Li, melindungi nona mereka. Melihat ini, Sian Li marah bu­kan main.

“Minggir! Apakah kalian sudah bosan hidup?” bentak Sian Li galak.

“Sian Li, jangan membunuh orang!” Ayahnya memperingatkan.

Tiba-tiba gadis cantik di depan joli itu tertawa renyah. Suara tawanya merdu sehingga nampak aneh dan mengerikan karena suara tawa seperti itu sepatutnya dikeluarkan oleh wajah yang ramah dan periang, bukan oleh wajah yang biarpun cantik namun dingin itu.

“Heh-heh-heh, ingin kulihat apakah engkau mampu membunuh empat orang pelayanku?”

Ditantang seperti itu, Sian Li mem­bentak, “Iblis betina, engkau boleh se­kalian maju mengeroyokku, akan kuroboh­kan kalian semua!” Setelah berteriak demikian, Sian Li menerjang ke depan, disambut oleh empat orang gadis pelayan yang berpakaian menyolok masing-masing mewakili satu warna itu.

Setelah bergebrak, barulah Sian Li dan semua pendekar mengetahui bahwa empat orang gadis pelayan itu bukanlah pelayan biasa saja, melainkan empat orang yang telah menguasai ilmu silat tinggi dan menjadi lawan yang amat tangguh! Mereka itu, terutama sekali si baju kuning, memiliki gerakan yang cepat seperti empat ekor burung walet, dan rata-rata memiliki sin-kang yang cukup kuat.

Ternyata gadis tanpa nama wakil Pao-­beng-pai itu tidak membual ketika me­nertawakan Sian Li. Empat orang pela­yannya memang lihai bukan main. Me­reka adalah gadis-gadis berbakat yang agaknya telah digembleng secara khusus. Hal ini tidaklah aneh karena mereka berempat adalah empat orang pilihan dari pasukan wanita Pao-beng-pai, me­wakili empat dari tujuh kelompok warna yang ada.

Diam-diam Sian Li juga terkejut dan merasa kecelik. Tadi ia memang meman­dang rendah kepada empat orang pelayan itu, walaupun ia tidak berani memandang rendah kepada gadis cantik Pao-beng-­pai yang tadi ia lihat sendiri mampu menandingi bibinya, Suma Lian. Kini, ia sendiri merasa repot ketika empat orang pengeroyoknya, bergerak cepat sehingga nampak mereka itu menjadi empat macam bayangan dengan warna menyilaukan mata berkelebatan di sekeliling dirinya. Mereka pun melakukan serangan bertubi-­tubi secara teratur sekali, bergiliran dan setiap kali Sian Li membalas serangan mereka, kalau mereka tidak mampu mengelak, maka mereka mempersatukan tenaga untuk menangkisnya! Dengan de­mikian, serangan Sian Li selalu gagal dan ia pun dihujani serangan yang membuat ia cukup repot. Dan yang lebih menyakit­kan hatinya, suara tawa merdu itu sering terdengar olah gadis Pao-beng-pai itu memperhatikan jalannya pertandingan dan menertawakannya!

Panaslah rasa hati Sian Li. Kalau sejak tadi ia belum mampu mendesak empat orang pengeroyoknya dan memperoleh kemenangan, hal itu adalah kare­na peringatan ayahnya agar ia tidak membunuh orang. Maka, ia pun menahan diri, menahan sebagian tenaganya dan tidak pula mengeluarkan semua kepandai­annya. Kini, mendengar suara tawa itu, tiba-tiba ia mengubah gerakannya dan mulai memainkan ilmu andalannya, yaitu Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Me­rah). Tubuhnya melayang ke atas dan bagaikan seekor burung bangau, ia me­nyambar turun dan menyerang empat orang pengeroyoknya dengan gerakan indah, seindah gerakan burung bangau dan karena pakaiannya serba merah, maka memang tepat sekali ia dijuluki Si Bangau Merah kalau memainkan ilmu itu. Ilmu yang amat indah gerakannya ini mengandung kekuatan dahsyat dan kini empat orang pelayan wanita Pao-beng-pai itu nampak terkejut. Mereka ber­usaha menahan diri dengan menggabung­kan tenaga, namun tetap saja mereka kalah kuat dan empat orang itu pun terpelanting seperti diserang angin badai dan mereka terbanting roboh. Mereka tidak tewas, tidak pula terluka parah, akan tetapi dari sudut bibir mereka nampak darah, tanda bahwa mereka telah menderita luka-luka dalam walaupun tidak parah. Hal ini adalah karena tadi Sian Li masih menahan tenaganya, meng­ingat akan pesan ayahnya tadi.

Dengan senyum mengejek kini Sian Li menghadapi gadis Pao-beng-pai dan me­nantangnya. “Iblis betina, sekarang eng­kau majulah kalau memang engkau me­miliki keberanian!”

Gadis itu mendengus. “Huh, aku sudah satu kali bertanding, cukuplah. Lain kali masih banyak waktu untuk memberi ha­jaran kepada bocah sombong macam kamu!” Setelah berkata demikian, gadis itu memasuki joli dan memberi isyarat kepada para pengawalnya. Empat orang pemikul joli segera mengangkat joli itu dan pergi dari situ dikawal oleh delapan orang pria yang lain bersama empat orang pelayan wanita yang terluka berat setelah tadi kalah oleh Sian Li.

“Heiii, tunggu kau iblis betina!” Sian Li hendak mengejar.

“Sian Li, tahan....!” Sin Hong ber­seru dan gadis itu terpaksa menahan diri dan tidak jadi mengejar, membiarkan rombongan itu pergi dengan cepatnya. Karena merasa kecewa dan penasaran, ia pun menoleh untuk memandang kepada ayahnya. Semua orang juga memandang ke arah rombongan yang menjauh. Ketika ia menengok memandang ayahnya itulah Sian Li melihat wajah Suma Lian yang pucat dan agak kehijauan. Sebagai se­orang ahli pengobatan, murid Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) pertapa di bukit Liong-san, sekali pandang saja Sian Li terkejut.

“Bibi Suma Lian, engkau keracun­an....!” katanya sambil menghampiri wanita perkasa itu. Semua orang menengok dan memandang, terkejut melihat wajah Suma Lian. Akan tetapi Suma Lian tidak merasakan sesuatu.

“Celaka, ini tentu akibat adu tenaga dengan gadis tadi!” kata Suma Ceng Liong.

“Biar kukejar gadis itu untuk minta obat pemunah racunnya!” kata Gu Hong Beng yang mengkhawatirkan keadaan is­terinya.

“Jangan!” cegah Suma Lian, maklum bahwa kalau ia sendiri tidak mampu menandingi gadis itu, apalagi suaminya yang tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi darinya.

“Harap Bibi jangan khawatir, aku dapat mengobati Bibi.” kata Sian Li se­telah ia memegang nadi tangan Suma Lian. “Mari kita ke kamar, Ibu, aku min­ta Ibu suka membantu dan memperkuat tenaga sin-kangku.” katanya kepada ibu­nya, Kao Hong Li. Tiga orang wanita ini lalu memasuki rumah, masuk ke kamar.

Setelah membuka baju atasnya, Suma Lian duduk bersila di atas pembaringan dan Sian Li bersila di belakangnya, ber­sama ibunya. Atas petunjuk Sian Li, ibu­nya membantunya dengan menempelkan tangan di punggung Suma Lian, bersama anaknya mengerahkan sin-kang dan me­nyalurkan ke dalam tubuh Suma Lian. Setelah beberapa lama getaran tenaga ibu dan anak ini menyusup ke dalam tubuh Suma Lian melalui punggungnya, Sian Li berbisik lirih. “Bibi, gerakkan kedua lenganmu melakukan jurus Sepasang Tangan Menyangga Langit, kerahkan te­naga sin-kang keluar melalui telapak kedua tangan Bibi.”

Suma Lian yang merasa betapa hawa yang hangat dan kuat memasuki tubuhnya melalui punggung, segera mengikuti petunjuk Sian Li. Ia menggerakkan kedua lengannya dan mendorong ke atas dengan kedua telapak tangan terbuka. Ada angin pukulan yang keluar dari kedua telapak tangannya. Sampai tiga kali, atas anjuran Sian Li, ia melakukan gerakan itu dan Sian Li menghentikan penyaluran tenaga­nya, minta ibunya melepaskan tangan­nya pula.

Ketika Kao Hong Li memandang ke arah wajah Suma Lian, ia girang sekali melihat wajah itu tidak lagi pucat ke­hijauan, melainkan sudah kembali ke­merahan. Akan tetapi sepasang alis Suma Lian berkerut karena sekarang ia me­rasakan sedikit kenyerian pada dadanya. Ketika ia memberitahukan ini kepada Sian Li, gadis itu tersenyum.

“Itulah bekas pengaruh hawa beracun, Bibi. Akan tetapi sekarang hawa beracun itu sudah keluar dan bahaya sudah lewat. Kalau Bibi menelan tiga butir pil ini, tentu rasa nyeri itu akan lenyap.” Sian Li mengeluarkan sebuah botol dan meng­ambil tiga butir pil dari dalam botol, menyerahkannya kepada Suma Lian yang tanpa ragu segera menelannya.

“Hebat, obatmu manjur sekali, Sian Li.” katanya tak lama kemudian sambil merangkul Sian Li.

“Mari kita keluar, mereka semua tentu sedang menanti dengan khawatir, Bibi.” kata Sian Li.

Semua orang bergembira melihat Su­ma Lian keluar dari kamar dalam keada­an sehat dan sudah sembuh. Mereka me­muji ilmu pengobatan Sian Li yang man­jur. Sebetulnya, hampir semua di antara mereka akan mampu menyembuhkan Su­ma Lian yang tidak terluka parah. Akan tetapi cara yang mereka pergunakan hanya cara seorang ahli silat, bukan cara seorang ahli pengobatan seperti Sian Li. Cara seorang ahli silat dapat dikata hanya ngawur, mengandalkan kekuatan sin-kang untuk mengusir racun dalam tubuh orang yang terluka. Hal ini bahkan kadang dapat membahayakan si penderita.

Pesta ulang tahun itu dilanjutkan, dan para tetangga yang menjadi tamu juga merasa lega bahwa gangguan rombongan gadis cantik tadi dapat diatasi. Suasana menjadi gembira kembali. Akan tetapi setelah pesta selesai dan para tamu me­ninggalkan tempat itu, keluarga itu sen­diri masih berkumpul dan mereka membicarakan gadis wakil Pao-beng-pai yang lihai tadi.

Mereka semua merasa heran dan pe­nasaran mengapa Pao-beng-pai, yang selama ini tidak pernah ada urusan de­ngan mereka, kini tiba-tiba memperlihat­kan sikap memusuhi mereka.

Melihat semua anggauta tiga keluarga besar merasa penasaran, Kao Cin Liong mengangkat kedua tangan minta agar mereka semua diam. Kemudian dia ber­kata. “Mungkin aku dapat menerangkan mengapa Pao-beng-pai bersikap seperti itu.”

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, dan Kao Cin Liong lalu menceritakan dugaannya. “Sesuai dengan namanya, Pao-beng-pai (Partai Pendukung Terang) muncul setelah Kerajaan Beng jatuh dan kekuasaan diganti oleh Keraja­an Ceng, yaitu pemerintah yang sekarang. Seperti yang kuketahui dan dengar, mula-mula Pao-beng-pai terdiri dari para pa­triot, orang-orang gagah yang tidak rela melihat tanah air dan bangsa dijajah oleh bangsa Mancu yang mendirikan Dinasti Ceng sekarang ini. Mereka berjuang un­tuk mendirikan kembali Kerajaan Beng, dan berusaha untuk memberontak dan menjatuhkan pemerintah Ceng. Pada mulanya, gerakan ini dipimpin oleh orang-­oreng pandai, bekas keluarga kaisar Ke­rajaan Beng dan para pejabatnya. Namun, berkali-kali gerakan itu gagal dan di­hancurkan oleh pasukan pemerintah Ceng yang jauh lebih kuat. Akhirnya, tidak terdengar lagi gerakan Pao-beng-pai dan dianggap bahwa partai itu telah hancur dan telah mati.”

“Akan tetapi kenapa sekarang muncul lagi Pao-beng-pai yang memusuhi kita?” tanya Suma Hui, isterinya dan semua orang mengangguk karena pertanyaan itu muncul pula dalam hati mereka.

“Aku sendiri baru tahu sekarang, akan tetapi sikap mereka itu agaknya mudah diduga. Kita semua tahu bahwa tiga keluarga kita selalu merupakan golongan yang menentang para penjahat atau go­longan sesat. Kalau sekarang Pao-beng-­pai memusuhi kita, padahal dahulu, ketika masih dipimpin para patriot Heng tidak, hal ini berarti bahwa sekarang Pao-beng-pai bangkit kembali dipimpin oleh golongan sesat. Dan ada kemungkin­an lain melihat betapa gadis tadi me­maki kita sebagai antek pemerintah pen­jajah Mancu, yaitu bahwa di samping memiliki pimpinan dari golongsn sesat, juga Pao-beng-pai yang sekarang masih menentang pemerintah Mancu dan mere­ka menganggap kita sebagai musuh, bu­kan hanya karena kita menentang go­longan sesat, akan tetapi juga karena tak dapat disangkal lagi, keluarga kita per­nah membantu pemerintah Kerajaan Ceng.” Kao Cin Liong berhenti dan meng­hela napas panjang.

“Akan tetapi, di antara kita sekarang tidak ada yang membantu pemerintah!” Gak Ciang Hun berseru penasaran.

“Memang benar, akan tetapi kita harus mengakui bahwa keluarga kita pernah terlibat dengan pemerintah Mancu sekarang ini. Kita tahu bahwa pendiri keluarga Pulau Es, yaitu mendiang kakek Suma Han, walaupun tidak pernah mem­bantu pemerintah Mancu, namun beliau menikah dengan puteri Mancu sehingga keturunan beliau sekarang ini berdarah campuran dan masih dapat dikata ke­turunan ibu Mancu. Kenyataan ini agak­nya yang membuat keluarga Pulau Es dianggap sebagai antek Mancu oleh Pao­-beng-pai.”

Mereka yang merasa sebagai keturun­an keluarga Pulau Es, saling pandang dan tidak dapat membantah kenyataan itu, walaupun dalam hati mereka merasa penasaran. Biarpun nenek mereka seorang puteri Mancu, namun mereka tidak per­nah membantu pemerintah penjajah Man­cu!

“Sekarang tentang keluarga Gurun Pasir,” kata pula Kao Cin Liong me­lanjutkan. “Memang keluarga Gurun Pasir tidak ada pula yang membantu Kerajaan Ceng sekarang ini, akan tetapi dahulu, ketika aku masih muda, aku pernah men­jadi seorang panglima Kerajaan Mancu. Hal yang membuat aku sampai kini me­rasa menyesal walaupun tugasku dahulu meredakan pemberontakan di daerah perbatasan yang dilakukan oleh suku­-suku bangsa lain. Akan tetapi, kemudian aku menyadari tidak baiknya pekerjaan­ku itu dan aku mengundurkan diri. Se­menjak itu, tidak ada lagi keturunan kita yang bekerja pada pemerintah Mancu. Tentu saja kita selalu menentang golong­an sesat, dan mungkin sekali inilah yang menyebabkan Pao-beng-pai memusuhi kita.”

“Pendapat paman Kao Cin Liong me­mang masuk di akal,” kini Cu Kun Tek berkata. Pendekar yang tinggi besar dan gagah ini dahulu berwatak keras sekali, akan tetapi sekarang, setelah dia men­jadi suami Pouw Li Sian dan usianya juga sudah empat puluh lima tahun, dia bersikap tenang. “Akan tetapi mengapa pula Pao-beng-pai tadi menyinggung ke­luarga kami?”

Kao Cin Liong memandang kepada pendekar dari Lembah Naga Siluman itu lalu berkata. “Keluarga Lembah Naga Siluman memang tidak pernah ada yang membantu pemerintah Ceng, akan tetapi anggauta keluarga ini memiliki kaitan dan hubungan yang erat melalui pernikahan dan perguruan dengan keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir, juga selain itu, para anggauta keluarga Lem­bah Naga Siluman juga selalu menentang golongan sesat. Tidak mengherankan ka­lau dimasukkan dalam daftar musuh oleh Pao-beng-pai.”

“Kalau begitu, Pao-beng-pai hanyalah perkumpulan penjahat yang memakai kedok perjuangan, seperti halnya Pek­-lian-kauw dan lain-lain!” kata Kao Hong Li.

Ayahnya menghela napas panjang. “Ini baru dugaan saja, belum ada buktinya. Melihat gadis tadi, ia seperti bukan se­orang penjahat, akan tetapi jelas bahwa ilmu silatnya lihai dan ia tentu murid orang-orang yang pandai, yang agaknya sedikit banyak telah meneliti keadaan ilmu keluarga kita semua.”

Demikianlah, para pendekar itu ramai membicarakan Pao-beng-pai yang berani mati membikin kacau pesta mereka. Para pendekar yang muda merasa penasaran, akan tetapi mereka yang lebih tua ber­sikap tenang, bahkan menasihati yang muda agar tidak tergesa mengambil tindakan.

“Sebaiknya kalau kita bersikap was­pada saja dan tidak mengambil tindakan sendiri-sendiri,” kata Sim Houw yang selalu bersikap tenang itu. “Bagaimana­pun juga, kalau Pao-beng-pai melakukan gerakan memusuhi pemerintah Ceng hal itu bukan urusan kita. Kalau kita me­musuhi mereka, dapat saja mereka me­nuduh bahwa kita benar-benar membela pemerintah. Hal ini tentu akan menda­tangkan heboh di dunia persilatan. Sudah untung tadi tidak terjadi hal yang lebih hebat dan kita sudah mampu memper­lihatkan bahwa kita tidak boleh dibuat permainan oleh mereka. Kalau mereka tetap memusuhi kita, tentu saja harus kita hadapi. Akan tetapi kalau mereka tidak lagi memusuhi kita, kita lupakan saja apa yang tadi terjadi dan meng­anggap itu hanya ulah kesombongan seorang gadis Pao-beng-pai yang tidak tahu diri.”

Para tokoh tua membenarkan pen­dapat Sim Houw. Akan tetapi isterinya, Can Bi Lan, mengerutkan alisnya dan ia pun mengeluarkan pendapatnya. “Aku melihat dari sikap gadis tadi bahwa ia amat membenci keluarga kita. Hal ini kurasakan amat janggal. Biarpun ia ber­sikap sombong, hal itu kurasa karena kebenciannya kepada kita. Akan tetapi ia tidak seperti golongan sesat pada umum­nya, bahkan sepak terjangnya teratur dan para anak buahnya demikian sopan dan hormat kepadanya seolah ia seorang pu­teri kerajaan saja. Karena kebenciannya yang meluap itulah kukira ia sengaja mendatangi pesta ini. Melihat tingkat kepandaiannya yang sudah cukup tinggi, tidak mungkin ia begitu tolol untuk me­nantang kita selagi semua anggauta ke­luarga kita berkumpul. Tentu keberanian­nya terdorong kebencian yang amat be­sar.”

“Atau mungkin juga ia sengaja diutus oleh Pao-beng-pai untuk melakukan pe­nyelidikan sampai di mana kekuatan ki­ta.” kata Kam Hi Eng, isteri Suma Ceng Liong.

Demikianlah, para anggauta tiga ke­luarga besar itu sampai jauh malam mem­bicarakan gadis Pao-beng-pai itu, men­duga-duga dan merasa heran karena pe­ristiwa itu memang amat aneh dan men­curigakan. Kalau ada pihak golongan sesat datang memusuhi seorang dua orang di antara mereka, hal itu tidaklah aneh karena memang mereka selalu menentang kejahatan. Akan tetapi, seorang gadis muda berani mendatangi dan menantang seluruh anggauta tiga keluarga besar selagi mereka berkumpul, sungguh ini hanya dapat dilakukan oleh seorang gila yang tentu saja tidak lagi mengenal apa artinya takut. Dan gadis itu bersikap demikian tenangnya! Gadis itu merasa yakin bahwa orang-orang gagah dari ke­tiga keluarga itu sudah pasti tidak akan mengeroyoknya, dan agaknya kunjungan­nya itu telah direncanakan dengan perhitungan yang masak. Memang, andaikata yang menghadapi gadis tadi Suma Ceng Liong atau Sim Houw, atau Tan Sin Hong, tiga orang tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tentu gadis itu tidak akan menang, akan tetapi siapapun di antara tiga orang pendekar ini sudah pasti pula tidak akan mau melukai apa­lagi membunuh seorang gadia muda yang menjadi lawan mereka. Hal ini agaknya sudah diperhitungkan oleh gadis Pao-beng-­pai itu maka ia berani menantang se­demikian nekatnya.

Sampai jauh malam baru para ang­gauta tiga keluarga besar itu beristirahat di kamar masing-masing yang sudah di­persiapkan oleh Suma Ceng Liong dan isterinya.

Pada keesokan harinya, terjadi lagi keributan di rumah yang penuh dengan tamu yang bermalam di situ. Keributan itu terjadi ketika Kao Hong Li mencari puterinya ke sana sini dan bertanya-tanya dengan wajah khawatir apakah ada di antara para anggauta keluarga yang me­lihat gadis itu. Namun, tak seorang pun melihatnya dan Kao Hong Li menjatuh­kan diri dengan lemas di atas kursi, wajahnya muram dan khawatir sekali. Tan Sin Hong menghiburnya.

“Sudahlah, anak kita bukan lagi anak kecil yang perlu diasuh. Ia sudah dewasa, dan ia pun sudah memiliki ilmu kepandai­an yang cukup untuk menjaga diri sen­diri..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.158.25.146
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia