Hanya ini Yang Ku Punya

Di dalam Qs Al Hujarat, 11 disebutkan bahwa memperolok olok orang lain termasuk perbuatan zalim, seharusnya mereka tahu, tapi sayang mereka yang sekolah di sini tidak pernah mau tahu, bagi mereka aku adalah objek yang bisa memuaskan tawa mereka”.

“Ha.. ha ha.. ayo cepat kunci, kunci pintunya ki”, “Ya tenang.. tenang, beress gak bisa keluar sekarang dia Ben, ha.. ha”, suara ribut ribut di luar toilet itu benar-benar menggangguku, tapi aku langsung sadar jangan-jangan, “hai jangan di kunci pintunya berikan kuncinya, Beni, luki”. Teriakku dari dalam toilet. “Selamat bermalam di toilet Yu, ha.. ha. haa rasakan dasar cupu”. Sial ternyata ini sudah mereka rencanakan dari tadi, pantas saja dua kamar toilet yang lain tertutup sedang toilet yang di tengah kosong, jadi mereka sudah merencanakannya dari tadi, pantas kunci pintunya tidak ada, sial. “hai tolong.. tolong buka pintu nya”. Teriakku putus asa, Rasanya aku ingin menangis, ini sudah yang kesekian kalinya Beni dan geng nya mengerjai ku, aku masih ingat dua hari yang lalu saat jam istirahat, mereka ber empat, Beni, Luki, Adit dan Rino memegangi tubuh ku ramai-ramai, lalu menyeretku keruangan GSG sekolah kami dan disana mereka hampir menelanjangi ku tepat di depan anak-anak Cheerleaders, untung waktu itu pak Anto, tukang kebun di sekolahku ada di dekat situ dan beliau berhasil menggagalkan rencana mereka, rasanya ingin aku melawan mereka, tapi aku sadar aku bukan lah tandingan mereka ber empat, dengan bodi ceking, kulit pucat, tampang culun dengan kaca mata minus, plus sifatku yang pendiam dan kutu buku, aku adalah sasaran empuk Bullying di sekolah ini. “Tolong.. tolong buka”. teriakku, sambil menarik narik engsel pintu sekuat tenaga, jelas aku tidak ingin bermalam di toilet ini, apalagi ada rumor, toilet ini angker kalau malam. “sebentar. Sebentar bapak buka pintunya” sahut seseorang dengan suara berat dari luar toilet, suara yang cukup kukenal, yah itu suara pak Anto, “pak tolong buka pintunya pak” sahutku lagi, “sabar Yu, pak Anto sedang berusaha membuka pintu”, sahut suara seorang cewek di luar, suara itu bukankah itu? “Lia itu kamu ya?”. Cklekk, akhirnya Pak Anto berhasil membuka pintu toilet, seketika itu juga aku menghambur keluar dan menarik napas sedalam dalamya, fuihh rasanya lega sekali, “Kenapa nak Wahyu sampai terkunci di sini?’ Tanya Pak Anto, “Beni pak, sahutku, Beni dan temannya yang mengunci saya dari luar”. “Kamu gak pa-pa kan Yu, emang dasar si Beni itu, harus di laporin ke BP Yu” sahut Lia. “jangan Ia kamu lupa ya kalo aku ngadu, kamu lupa kejadian sebulan yang lalu?” sahutku dengan nada cemas, “Sudah nak Wahyu sekarang pulang saja, sekarang jam sekolah sudah selesai, nak Wahyu istirahat saja di rumah”. ”terima kasih Pak. Kamu juga Lia terimakasih udah nolongin aku”.

Kenapa mereka selalu melakukan ini kepadaku, kenapa harus selalu aku, ini tidak adil, apa mereka pikir karena mereka punya kelebihan lantas mereka berpikir bisa memperlakukan aku se’enaknya. Pikiran ku terus berkecamuk, aku semakin resah memikirkan semua, “Wahyu makan dulu, sudah malam,” teriak ibuku dari luar kamar, tanpa menjawab aku langsung ngloyor ke luar kamar menuju ruang makan. Di meja makan telah menunggu ibuku, sebenarnya aku adalah anak bungsu di keluarga ini, tapi kami sekarang hanya tinggal berdua, sedang Ayah dan kakakku, mereka telah meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu, selama ini ibu lah yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan kami berdua, walaupun masih ada sedikit bantuan dari tunjangan PNS ayah. “Kamu ada masalah Yu? dari tadi kelihatan lesu.” Tanya ibu, “Tidak, tidak ada”, sahutku, aku selama ini memang tidak pernah bercerita pada ibu tentang masalah ku di sekolah, karena aku tidak ingin semakin membebani beliau, aku bahkan melarang Lia bercerita tentang Bullying anak-anak sekolah ke pada ibu. “kalau ada masalah kamu cerita ke ibu”, kata ibu lagi, aku hanya mengganguk malas sambil melanjutkan makan. Selesai makan malam aku bantu ibu membereskan meja makan dan kembali ke kamar. Seperti biasa untuk menenangkan pikiranku aku memainkan Theme for Sonata nya Mozart dengan gitar akustik milikku, yah inilah pelarianku jika aku lagi suntuk, mainkan gitar sesuai hati, aku punya dua gitar satu akustik dan satu lagi elektrik, sebenarnya, keduanya adalah warisan dari Alm kakaku Anton, dia pula yang mengajari cara bermain gitar dan memaksaku membaca berbagai buku teori gitar yang awalnya rumit bagiku, aku sangat mengagumi cara dia bermain gitar, maklum dia memang berbakat, kami bahkan pernah berencana mendirikan band jika skill gitarku sudah mumpuni, sayang semua itu kini tinggal mimpi. Aku juga suka memainkan Komposisi Padmasana milik BucketHead, jika sedang galau. Jari-jari ku mulai menari di atas Fret gitar dengan cepat sambil ku nikmati iramanya, tak lama Hp ku berbunyi, “Yu, kamu gk pa2, sabar ya, PR math nya udah selsai?”, tulis Lia di SMS nya, “santai, aku gk p2. PR nanti aku kerjain habis shlt shubuh, sprt biasa,Tnx”. Balasku, Lia cewek hitam manis berambut pendek lurus sebahu, dia adalah teman sekelasku, aku selalu heran, karena saat yang lain berlomba ingin menertawaiku, dia justru melawan arus dengan tetap setia menjadi temanku, “Kamu cowok baik”, singkat, tapi itulah jawaban yang selalu keluar dari mulutnya jika ku mintai alasan kenapa dia mau berteman denganku. Rasa kantuk mulai menyerang mataku, biasanya setelah bermain gitar, perasaanku sedikit lega, sehingga aku bisa tidur dengan tenang.

“Pagi Yu”, Sapa Lia, “Yeah”, sahutku malas, jujur melihat senyum Lia di pagi hari, rasanya seperti di guyur air es di tengah gurun yang tandus, karena memang, setiap pagi aku sama sekali tidak punya semangat untuk melangkahkan kaki ke sekolah, untuk apa, paling nanti waktu istirahat dan seterusnya akan selalu ada ejekan-ejekan dan perbuatan anak–anak yang membuatku sakit, aku selalu dalam keadaan tertekan, tapi aku sadar sekolah sangatlah penting untuk masa depan ku, jadi meski seperti berada di tengah medan ranjau, aku selalu menguatkan langkah kaki ku, “udah selesai PR kamu Yu?” Tanya Wondo, teman sebangku ku, dia juga selalu menyemangati aku, dan selalu berkata Sabar Yu, tapi kami kurang akrab di luar kelas karena dia punya genk sendiri, dan mayoritas teman-temannya menolak ku. “Udah Ndo”. “Pagi, anak-anak” ucap pak waluyo, guru matematika saat memasuki kelas.

“lempar ke sini, cepat lempar kesini”, teriak Irfan, temannya, Anton, “Ha.. ha.. haa” suara riuh tawa menggema di selurh kantin sekolah ku yang tidak begitu luas, Irfan adalah anak kelas 2E, salah satu penghobi Bullying, terhadap ku, dan dia masih berafiliasi dengan genknya Beni, “Ha.. Ha.. ayo cupu, ambil; sepatu mu kalo bisa,” aku berusaha mengejar mereka, “kembalikan” teriakku, aku benar-benar merasa seperti se ekor domba yang di giring kesana kemari oleh anjing – anjing gembala, bener-benar mirip orang bodoh, GUBBRAAK!!. “sudah cukuppp!!”, “kalian kembalikan sepatunya sekarang jugaaa!!” Lia tiba-tiba menggebrak meja dan bertriak sekencang-kencangnya, kontan saja semua yang ada di kantin terdiam seketika, “sudah puas kalian..!!”, “Puass, mempermainkan orang!! Irfan kembalikan sepatu Wahyu sekarang.” Teriaknya, akan tetapi Irfan malah dengan santai melempar sepatu ku ke atas pohon dekat kantin, “Oke, tuh ambil sendiri, kita juga udah capek, yuk cabut”. “dasar cupu, di belain cewek lagi, Ha.. haa. haa” ejek Rino yang mengikuti Irfan cabut. Aku hanya bisa memandangi sepatuku dari bawah pohon, bukan meratapi sepatuku yang nyangkut di atas pohon tapi meratapi nasibku, “Why?”. “Kamu nggak pa-pa Yu?” Tanya Lia. “Harusnya aku tadi diam di kelas, harus nya aku tadi tadi nggak kemana-mana, kenapa aku mau aja kamu ajak ke kantin.” Aku berusaha melempari sepatuku yang nyangkut di pohon dengahn batu, tapi percuma, posisnya terlalu tinggi dan aku sendiri melempar dengan emosi yang nggak karuan. “maafkan aku Yu.” Sesal Lia. “Wahyu, makan dulu, ibu sudah siapin makanan di meja”, “Ya bu”,sahutku, “kamu ada masalah Yu, kenapa mukamau muram?”,“gak ada masalah, biasanya mukaku juga seperti ini”, sahutku sekenanya. “oh ya ini ibu ada sesuatu buat kamu Yu, mungkin kamu tertarik”, ibu menyodorkan sebuah pamflet kecil bergambar gitar yang agak kucel kepadaku, “ibu sebenarnya tidak tahu itu apa, tapi ibu ingat kamu kan suka gitar jadi ibu ambil saja selebaran itu, kayaknya itu punya orang yang tertinggal di warung ibu tadi”. Sambil tiduran ku nyalakan tape compo yang di dalamnya ada kaset album Cristal Planetnya Satriani, penasaran dengan isi pamflet tadi aku mulai membuka pamflet itu, “Komunitas Gitaris Surabaya Presented SURABAYA GUITAR COMPETITION 3rd July s/d 10 july 2011”. Judul pamflet tesebut. Rupanya ini pamflet kompetisi untuk para gitaris di Kota ini, ku bolak –balik isi pamflet itu, syarat nya tidak terlalu sulit sih, Cuma membayar biaya pendaftaran dan admin beberapa puluh ribu, mengambil beberapa perlengkapan di panitia dan sudah pasti, harus jago main gitar. Tiba –tiba aku merasa sedikit agak aneh, jantungku berdegub, seolah-olah aku merasa tertantang untuk ikut kompetisi ini, tapi burur-buru ku urungkan niatku, aku ingat siapa aku ini, aku ini kan bahan olok-olokan dan ejekan di sekolah, apalagi kalau harus tampil di atas panggung, di tonton banyak orang lagi, ah nggak, nggak, pikirku, sambil melipat lagi pamflet itu, aku mulai mengambil gitar elektrik pasang jack ke gitar efek dan ampli dan larut memainkan gitarku. “Wahyu, ada temanmu di luar”, tegur ibu, “sebentar bu”, “sudah biar ibu saja yang mengepel dapur, kamu temuin dulu temanmu sana”. Aku lalu bergegas ke luar rumah. “pagi Wahyu. sorry ya ganggu kamu, habis aku ada perlu sich”. Sapa seorang cewek dari luar pagar. “Eh Lia, tumben kamu main ke rumah, sebentar kubuka dulu pagarnya”. Aku lalu bergegas membukakan pagar, dalam hati aku merasa sangat senang ada teman yang mau main kerumah, apa lagi dia adalah Lia, cewek manis yang selama ini sangat perhatian padaku. “ayo masuk Lia”, “enggak deh, aku duduk diluar aja, tanx”, kami berdua lalu duduk di teras rumah, jujur saja aku sedikit gugup meskipun kita sudah sering bersama, tapi itu kan di sekolah, dan jujur dengan pakaian kasual seperti ini Lia makin manis, tapi aku berusaha bersikap wajar. “rumah kamu nyaman yach Yu, sejuk banget”. Ucap Lia sambil melihat suasana sekeliling teras rumahku. “oh terima kasih”, sahutku pendek, “emang kalau hari mingu begini, kamu ngapain aja Yu?”, “emhh, paling bantu bersih-bersih rumah, lalu bantu ibu nyiapin barang-barang yang mau di bawa kewarung”, “wah kamu hebat, aku aja kalau minggu paling puas-puasin tidur ha.. ha.. ha”. Lia tertawa, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, sangat menyenangkan melihat di ceria. “kamu juga ikut ke warung?”, “oh nggak,aku jaga rumah aja”. “lho terus kamu di rumah ngapain?”. “paling main gitar sepuasnya”. ”oh ya kamu bisa main gitar?”,aku menggangguk sambil tesenyum. ”emmhh”, “aku mau di ajarin, ya, kapan–kapan ajarin aku main gitar yahh, yahh”, Lia tampak antusias, dan pura-pura memelas padaku. “emmm. Oke”, jawabku sambil tertawa kecil,yahh aku tak percaya aku bisa tertawa, setelah sekian lama di penuhi rasa galau dan muram, akhirnya aku bisa merasa lega dan aku, aku bisa tertawa meskipun itu tawa kecil, “terima kasih Lia”, batinku. “oh ya Wahyu, aku sebenarnya mau pinjem buku catatan fisika kamu, kemaren soalnya aku ketinggalan kelas, bolehkan?”. “oh iya boleh, kebetulan catatanku lengkap”. jawabku. “tanx ya, oh tolong sekalian kamu beri tanda catatan dari hari selasa sampai jumat ya. sorry ngrepotin hi.. hi.,biar aku nggak bingung”,”gak masalah, bentar ya kuambilkan”. Minggu yang cerah itu kami habiskan untuk ngobrol sampai siang, sebelum akhirnya Lia pamit pulang, “kapan-kapan main lagi ya”, ucapku. “ok, Yu,” sahutnya singkat sambil tersenyum, tidak aku serius, aku harap kamu benar-benar mau main lagi ke rumahku. Batinku.

Hari yang sama dengan hari yang lain, pagi yang sama seperti pagi yang kemaren, seperti biasa semangatku benar benar sulit di ajak kompromi, gravitasi bumi sepertinya bekerja puluhan kali lebih kuat pada kakiku, rasanya berat melangkahkan mereka ke sekolah, aku juga berharap angkutan umum yang aku naiki mogok di jalan atau sekalian kecelakaan, jadi aku punya alasan untuk absen, tapi semuanya berjalan lancar, toh akhirnya aku sampai juga di gerbang sekolah, dan sekali lagi aku harus mensugesti diri. “sekolah ini depan masa depan kamu Wahyu, never say give up”. “Yu istirahat nanti, ikut aku ke GSG yuk.” Ajak Wondo. “nggak ndo, aku mau ke perpus nanti,” aku terpaksa berbohong, karena aku berencana tidak akan kemana-mana, lebih baik aku di dalam kelas seharian daripada harus berhadapan dengan Beni dan genknya lagi. “kamu nggak pingin lihat anak Cherleaders yang cantik-cantik itu latihan?”, “nggak Ndo”. Sahutku singkat, “ya wis, tak tinggal ya!”, sahutnya sambil bergegas ke luar kelas. “Hai Wahyu”, sahut Lia tiba-tiba, “tanx ya bukunya kemaren, tapi masih aku pinjam, soalnya belum semua aku salin hi.. hi”, “oh gak masalah, pelajaran fisika baru hari rabu besok, jadi kamu kembalikan rabu tahun depan juga gak masalah”, jawabku sambil tersenyum. “wah kamu nyindir atau bercanda?”, sahutnya. Aku hanya tersenyum, tapi aku sangat senang, dia adalah salah satu alasan kenapa aku masih kuat bersekolah di sini, Lia selalu bisa merubah hari ku yang muram menjadi cerah. “oh ya, ini Yu aku mau balikin ini”, aku melihat pamflet biru yang sepertinya ku kenal, “dari mana kamu dapat ini?”. tanyaku, “lho ini kan yang kamu pakai pembatas buku fisika kamu yang aku pinjam kemaren”, jawab Lia, ah aku baru sadar, saat itu aku memang terburu buru karena sangat pingin ngobrol lagi dengan Lia di teras rumah, jadi aku mencari pembatas sedapatnya, ternyata tanpa sadar aku memakai pamflet itu. “jadi kamu mau ikut kompetisi gitar?”, tanya Lia, “Ah nggak kok, pamflet itu nemu di jalan”, “tapi kamu kan bisa main gitar, sebaiknya kamu ikut aja, aku pasti support kamu seratus persen”, ujarnya bersemangat. “Ya nggak tau, aku kan belum pernah tampil didepan orang banyak, bisa di ejek habis nanti”, “ayo semangat dong, jangan nyerah, masa belum perang sudah nyerah, ikut yah.. yah, ikut yah”. “nggak nggak, sudah jangan di bahas lagi ya,” “KRRINGG, KRINNG: terdengra bel tanda istirahat berakhir, “nanti kita bahas lagi, pokoknya aku mau kamu fight,Ok!!”. Aku cuma bisa diam sambil tesenyum, kenapa dia semangat sekali.

“Halo, assalamualaikum, ini Lia?”, “wa’alaikum sallam, Wahyu ya, tumben, ada apa?”, sahut suara di seberang. “Tolong kamu jawab jujur”, “Aduh kok tegang benget, ada apa Yu?”. ”kemaren sore aku di telpon sama panitia kompetisi gitaris, aku kan tidak pernah daftar?”. “Terus, memangnya kenapa?”. “Ya aku mau Tanya apa kamu yang… ”. “kalo iya emang kenapa?”. potongmya sinis. “Kamu ini ada di rumah kan?”. “Ya, lagi santai, kan tanggal merah”. Segera kututup telpon dan aku pun bergegas menuju rumah Lia, aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa dia tega. Rumah Lia sebenarnya tidak jauh, Cuma berjarak 5 Kilo dari rumahku dan sebenarnya aku baru satu kali main ke rumahnya, tapi karena rutenya mudah, sampai sekarang aku masih hapal, cukup naik bemo 1 kali dan turun pas di depan gerbang perumahannya, dan jarak antara gerbang perumahan dengan rumahnya sekitar 90an meter, nggak terlalu jauh jadi bisa di tempuh sambil jalan kaki, sebenarnya ada beberapa abang becak yang ngetem di situ tapi dari pada bayar lebih baik jalan kaki, lebih irit pikirku. ”Assalamualaikum”. Yah, aku sekarang ada di depan rumah berpagar hijau, rumah Lia. “Assalamualakum”. ucapku sekali lagi. “wa’alaikum sallam”. Balas suara dari dalam rumah, suara nya aku kenal, sesaat kemudian pintu rumah pun terbuka, dan sosok cewek dengan kaos pink dan rok biru selutut menyembul dari balik pintu. ”Eh Wahyu”. Sepertinya dia agak kaget, dia segera berlari kecil kearah pagar, dan membukakan selot pagar. ”Masuk Yu”. Aku yang agak dongkol sebenarnya punya rencana memasang wajah masam plus bête di depannya, tapi tiba tiba buyar setelah melihatnya, Lia memang manis, sangat sangat manis kalau pakai baju kasual. “Mau duduk di dalam atau di teras?”. “Di teras aja Ia’, sejuk”, “sebentar ya kuambilkan minum, mau minum apa Yu, sirup atau… ”. “gak usah repot, air putih saja”, potong ku. Sesaat kemudian Lia muncul dengan dua gelas dan sebotol air dingin. “Tumben ada cowok cupu berani apel kerumah cewek hi.. hi”. guraunya. “ya, puas.. puas”. sahutku sambil tersenyum. “Langsung saja, sebenarnya aku mau tanya, kenapa daftarin aku ke kompetisi itu, aku sudah bilang aku nggak mau”. “memang kenapa Yu? kamu takut?”. ”ya bukannya begitu, tapi.. ”. “Tapi apa Yu, kamu minder karena belum pernah tampil didepan orang banyak?”. potong nya. “Atau kamu takut karena kamu adalah bahan ejekan di sekolah, iya?”. ”Tung.. tunggu dulu Ia’, aku kesini mau protes, tapi kenapa kok kamu yang nyolot? protesku. “Ya biarin, sesekali kamu perlu di marahin”. “kamu tau Yu, jika kamu terus menerus menuruti rasa minder kamu, kamu tidak akan berkembang Yu”. “Kamu tidak boleh terus terusan sembunyi dengan alasan sering di ejek lah, belum pengalamanlah, kamu harus berani Yu”. “Jika kamu ingin di akui orang lain kamu harus tunjukan pada mereka, tunjukkan kalau kamu pantas di hargai dan di hormati”. Sahutnya lagi, dan entah kenapa aku Cuma bisa diam tertunduk seperti narapidana teroris yang hanya diam mendengar dakwaan hakim di pengadilan. “Kamu tahu nggak, kenapa selama ini aku tetap ingin berteman denganmu dan tidak ikut ikutan yang lain?”. tiba-tiba nada bicara Lia menurun dan dia mnundukkan muka, tapi justru pertanyaan inilah yang sangat ingin aku dengar darinya, sudah sangat lama sekali malah aku menuggu jawabannya. “Kenapa?”. tanyaku. penasaran. “Karena aku sangat kagum dengan kamu Yu”. “Kagum?”. Tanyaku heran. “Yah”, tiba-tiba dia menatapku dengan sorot mata tajam, seolah olah sangat ingin meyakinkanku terhadap suatu hal. “Karena menurutku kamu adalah seorang yang luar biasa, kamu kuat Wahyu”. Aku semakin tidak mengerti maksud ucapannya. “kamu tahu Wahyu, kamu adalah objek bullying di sekolah kita, kamu sering di ejek dan di kerjain habis-habisan, tapi kamu masih bisa bertahan”, “kamu masih kuat Yu, buktinya kamu masih tetap datang kesekolah, dan kamu tetap menjadi sepuluh besar di kelas kita, sepertinya kamu sama sekali tidak terpengaruh dengan semua itu”. Aku hanya menunduk mendengar pengakuannya, Lia kagum padaku!!. “Aku sering ngebayangin, seandainya aku adalah kamu, aku sudah tidak tahu lagi apa aku sanggup menghadapi semua nya?”. “Jangankan prestasi bagus, mungkin aku malah tidak berani ke sekolah, tidak, tidak bukan itu saja, mungkin aku bahkan tidak berani ke luar rumah dan Cuma bisa menangis seharian di kamar ku”. “Aku sering berpikir kalau kamu itu luar biasa Wahyu, Jujur kamu adalah sumber inspirasi ku”. “Aku?”. Sahutku lirih. “Yah, kamu, kamu itu sumber semangatku, tiap kali aku malas belajar atau malas ke sekolah, aku selalu berkata kepada diriku, “Ayo Lia kamu pasti bisa, Wahyu aja bisa, masa kamu nggak”, gitu”. Kami pun tertawa bersama mendengar pengakuannya itu, lalu sama- sama terdiam selama beberapa saat. “Tapi kamu harus tau Lia, yang ikut kompetisi itu pasti para gitaris yang berpengalaman”. “Wahyu, Please, jangan kecewain aku, jangan rusak image yang aku bangun tentang dirimu, aku mau kamu tetap semangat”. Aku masih terdiam. “Aku ingin Wahyu yang selama ini menjadi sumber semangatku adalah orang yang kuat dan tidak mudah menyerah, Ok”. Ucapnya lagi berusaha meyakinkanku. Aku berpikir sekali lagi, mungkin dia ada benarnya juga, kenapa aku harus takut? mungkin sudah saatnya bagi ku untuk berontak dan melakukan sebuah pembuktian, bahwa eksistensiku layak di akui, aku layak… layakk di akui. Sepanjang sore aku hanya tiduran di kamar, di temani alunan musik Steve Vai yang keluar dari tape compo tua milikku, entah sudah berapa kali ku bolak balik pamflet kecil warna biru itu, 3 July itu kan tiga hari lagi, apa aku yakin, aku bangkit dari tidur dan kuambil gitar electric warna hitam merk Ibanez warisan dari kakaku, kuperiksa satu persatu mulai dari tremolo, pickup, sampai mur baut yang ada di body gitar itu, masih bagus pikirku, tuningnya juga pas, tampaknya gitar ini siap tempur, gitar itu aku dekap sambil tiduran, sementara pikiranku sibuk meyakinkan diri sendiri, membulatkan tekad, sampai aku terlelap.

Wah ramai juga, pikirku, sepulang dari sekolah, Lia memang sengaja mengajakku untuk langsung menuju ke Mall tempat pendaftaran kompetisi gitaris, semua peserta kompetisi memang di wajibkan untuk registrasi ulang tetang keikutsertaan mereka di kompetisi tersebut dan juga untuk mengambil perlengkapan untuk kompetisi dan pemberitahuan syarat-syarat bagi peserta kompetisi. “Namanya siapa mas?”. Tanya seorang pria di balik meja pendaftaran, “Wahyu laksana”. Jawabku. “kwitansi pendaftaran nya di bawa mas?”. Tanya nya lagi. “Ini mas”. Lia menyodorkan secarik kertas tanda pembayaran kearah pria itu. “kamu dapat apa aja Yu?” Tanya Lia, tapi aku tidak menjawab nya karena masih sibuk dengan form registrasi yang harus ku isi. Setelah proses registrasi, Lia mengajakku mampir di salah satu resto cepat saji di Mall itu. “Lia aku gak bawa duit banyak, sebaiknya kita jangan makan di sini, pasti mahal nih”. “Sudah tenang aku yang traktir”. Jawab nya santai. ”maaf ya sudah ngrepoti, jadi berapa biaya pendaftarannnya? nanti aku ganti”. ”Kan sudah kubilang aku yang traktir, pokoknya kamu santai aja”. “Tapi aku pasti akan membayar hutangku sama kamu”. Sahutku lagi. “emmh kamu tuh ya, ok, kalau kamu mau bayar hutang berarti kamu harus tampil bagus saat tampil nanti, Deal!!”. “gitu yah, he.. he.. ok, deal!”. “Oh ya, tadi pertanyaanku belum dijawab, tadi dapat apa aja?”. “Oh, ini ada kaus, terus tanda peserta, sama 2 buah CD, yang satu isinya lagu dari 5 gitaris yang harus ku pilih salah satu, sedang kan CD satunya lagi, lagu instrument bebas, untuk di improve peserta masing-masing”. ”ehm. aku yakin kamu pasti bisa, Semangat!!”. Ucapnya sambil mengepalkan tangan mirip orang demo, kami berdua pun tertawa bersama. “Nanti malam aku mau ngomong ke Ibu, beliau kan belum tahu, sekalian minta doanya”. “Hi.. hi.. maaf Yu, tapi sebenarnya ibu kamu itu sudah tau koq”. ”Lho tau dari mana?”. Tanya ku heran. ”aku”, sahutnya singkat. ”jadi ceritanya, kemaren lusa aku sempat telpon kamu, tapi berhubung Hp kamu gak diangkat, jadi aku telpon kerumah kamu”. Lia memotong penbicaraannya dan menyedot minuman ringan dingin di hadapannya sambil makan kentang goreng,”Jadi aku telpon nomor rumah kamu dan yang ngangkat ternyata ibu kamu”. Terus”. sahutku. “Ya katanya kamu tidur jadi aku ngobrol sama ibu kamu, dan dari situ aku tanya-tanya tentang hobi gitar kamu”, “Tanya apa aja?”, “ya gitu deh, intinya ibu kamu bilang kamu jago banget, jadi sekalian aku minta pendapat ibu kalo aku daftarin aja kamu ikut kompetyisi gitar”. “terus, ibu ku bilang apa?”. Tanya ku penasaran. “Yah intinya beliau support banget”. “Heh gitu yah, konspirasi”. Sahutku. “Jadi kamu nanti tinggal minta doanya aja Yu”. Kami terdiam sejenak, tak terasa hidangan fast food di depan kami sudah tandas. “oh ya Ia’, nanti sebelum pulang aku mampir dulu ke rumahmu, mau pinjem CD player, bolehkan?”. “Boleh.. boleh.. tapi jangan di rusakin yach, he.. he”. Kami berdua pun meninggalkan Mall itu, jujur dalam hati aku benar-benar senang, mungkin hari ini adalah hari yang terindah, setidaknya dari hari-hari yang telah kulalui, terlepas tadi pagi aku sempat jadi korban si Beni dan genknya lagi plus ocehan sinis dari Reni dan teman-teman ceweknya, tapi aku sudah tidak peduli lagi pada mereka semua, benakku kini di sibukkan pada sesuatu yang akan kuhadapi dua hari lagi, yah, dua hari lagi aku akan menghadapi salah satu tantangan besar dalam hidupku, lagi pula sekarang aku juga sedang sibuk menerka-nerka kejadian yang baru saja kualami, kami makan berdua, aku dan Lia, apakah tadi itu kencan?.

“DRRRTT, DRRRRT”. Hp ku bergetar, “Hai, Wahyu, god luck ya, aku ada d sini ma Ibu, support k’mu, oh ya, kmren aku jga ksh info k tmn2 skul kita, jadi bnyak yg datng, ada jga Beni & the genk, kyknya mrka gk prcaya, tpi it’s ok, do the best you can, semangattt!!”. Ternyata sms dari Lia. Segera aku menghela nafas panjang, jadi Lia kasih tau ke anak-anak sekolah, termasuk Beni dan genk nya, tiba-tiba bibirku tersenyum simpul, meski jantung ku berdegup kencang, sekali lagi aku menghela nafas dan melakukan senam jari untuk pemanasan dan mengilangkan rasa nervous, “Tenang Wahyu, relaxs, kamu pasti bisa, I’am the one”. Aku mencoba menenangkan pikiran ku, jarakku dengan panggung tinggal dua nomor lagi, sesuai dengan nomor urutku 15, riuh tepuk tangan penonton, tawa, ejekan dan senyum sinis terhadap peserta-peserta yang nervous atau yang tempo nya gak pas dan tuning fals semakin ramai tedengar, aku tahu mungkin saja jari ku terpleset, tapi aku yakin itu tidak akan terjadi, komposisi Blue milik Yngwie J Malmstein yang jadi salah satu lagu wajib, adalah salah satu lagu yang paling sering aku ulik dan aku kuasai, aku sudah hapal seratus persen diluar kepala, sedang untuk komposisi improvisasi, aku tinggal memainkan tekhnik tapping dan pull of milik Edie Van Hellen dengan Harmonic scale, seperti yang sudah aku latih kemaren dan hasilnya keren, yeah ini simple dan mudah, harusnya aku bisa, Demi Ibu yang selama ini selalu ikhlas menjadi tulang punggung keluarga, juga demi Alm Ayah dan kak Anto, seandainya mereka ada disini, tapi aku yakin mereka pasti tahu bahwa aku ada disini, bukankah orang yang adadi alam sana bisa melihat kita yang masih hidup, aku Yakin mereka berdua terutama kak Anto sekarang pasti tersenyum bangga melihat adiknya, kak aku disini dengan membawa gitar kesayanganmu doa kan aku, juga Lia, selama ini dia yang membuat hariku bersinar, ini semua aku lakukan juga demi dia, teman setiaku yang menganggapku sosok kuat dan istimewa di matanya, atau mungkin kujadikan saja dia teman sehidup sematiku. Hemm… aku pun tersenyum, “ide bagus”. Terima kasih Lia. Dan yang lebih penting adalah aku ingin menunjukkan pada orang-orang yang selama ini menganggapku hanya sebagai lelucon dan pecundang, hanya menjadikanku objek ejekan dan bahan candaan mereka, mungkin hanya ini cara yang paling pas bagiku untuk melakukan perlawanan pada mereka semua, aku akan membuat mereka mengakui existensi diriku, yah, dengan skill dan bakat bermain gitar, karena memang hanya ini yang ku punya. Selanjutnya sang MC pun berteriak lantang. “Untuk peserta berikutnya dengan nomer urut 15. Wahyu Laksana, silakan naik ke stage, give the best you can yeaahh…”. Sejenak kemudian riuh tepuk penonton pun terdengar, “Ayoo Wahyu, My guitar heerooo..!!”. sayup sayup aku mengenal suara teriakan itu, Lia.. Dan akupun melangkah kan kaki dengan keyakinan penuh kearah Stage. Hem., tiba-tiba aku teringat film “Ksatria Bergitarnya” Rhoma Irama, dia membawa gitar ke mana-mana sambil naik kuda, ehhmm, hey!! aku dan skill gitarku lebih keren seratus kali dari orang itu “Ok Wahyu this is it, time to rock‘em up!!” gumamku.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.27
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia