Mati Dalam Angan (Part 1)

Aku berjalan di antara bebatuan ini. Bebatuan yang berfungsi menahan deburan ganasnya ombak yang bisa mengikis pantai. Angin laut berteriak ribut di telingaku seolah tidak menginginkanku datang ke wilayah khusus mereka. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku tetap berjalan hingga ujung terjauh dari bebatuan ini. Sampai ke tempat mercusuar berada, begitu tiba aku duduk di bawahnya dan menatap jauh lautan biru.

Kegiatan itu sering kulakukan jika pikiran sedang suntuk, atau bisa juga karena perasaan yang tidak dapat kumengerti. Namun kali ini aku datang bukan karena kedua alasan tersebut. Aku datang karena sedang ingin merenung, memikirkan sesuatu yang bisa terjadi padaku kapan saja yaitu kematian. Ya, kematian. Sesuatu yang bisa datang kapan saja tanpa permisi atau pemberitahuan. Sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap insan bernyawa, dan sesuatu yang akan membuat sebagian dari kita merasakan kecemasan yang luar biasa karena tidak ingin mengalaminya. Tapi bagaimanapun kita menolak kematian, dia akan tetap mendatangi kita tanpa pandang bulu. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap dan benar-benar ikhlas saat kematian datang? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab secara pasti.

Aku menghela napas panjang, berusaha menyegarkan pikiran. Kusandarkan badanku pada tiang mercusuar dan memandang langit biru. Ada sekitar 10 ekor burung camar di sana, sedang terbang kesana-kemari seolah tanpa tujuan. Seandainya bisa aku ingin bertanya pada kawanan camar itu tentang bagaimana mereka memandang dan menjalani hidup. Pernahkan mereka merasa stres karena takut kehabisan ikan di laut? Bisa juga karena rekan atau pasangannya mati dimangsa hewan yang lebih kuat? Apa yang mereka rasakan saat sesuatu yang tidak mengenakkan menimpa mereka? Bisakah mereka ikhlas menerimanya? Atau menuntut pada keadaan dan menyesalkan mengapa Sang Pencipta tidak memberikan kemampuan yang lebih kuat agar hidup mereka terjamin? Entahlah, semua pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah terjawab, karena bagaimana mungkin aku bisa mengerti bahasa mereka yang di telingaku hanya terdengar seperti “Koak… koak…” saja. Kembali kuhela napas panjang dan memandang jauh ke laut biru.

Aku masih berusaha memecahkan masalah kematian ini. Otakku terus kupekerjakan agar solusi bisa keluar dengan segera, namun ternyata tidak semudah perkiraan. Untuk menghasilkan sebuah solusi diperlukan pengolahan data secara berkala dan bisa saja memakan waktu yang cukup lama, akhirnya aku menyerah. Mungkin saat ini masih terlalu berat bagiku untuk bisa memahaminya secara langsung. Segera kupikirkan cara lain dan kutemukan. Aku akan mencoba cara itu, cara yang diajarkan guruku untuk bisa mengerti jalan pikiran orang lain tanpa harus mengalaminya, cukup membayangkan secara nyata apa yang ingin kurasakan. Walau aku tidak tahu apa ini akan berhasil atau tidak, tapi tidak ada salahnya kucoba. Kupejamkan mata beberapa menit untuk meresapi diri, lalu kembali memandang laut biru sejauh mungkin. Aku melompat terjun ke laut dan berlari cepat di atas air menjauhi tempatku berada tadi. Aku terus berlari hingga tanpa terasa makin jauh dari garis pantai. Aku berlari makin jauh, jauh, dan terus menjauh sampai aku berada di sebuah kapal.

“Semua bersiap!!! Kita akan segera tiba di garis pantai!!!” teriak kapten Ade M. W. Dari kapal terdepan melalui pengeras suara.
Hatiku terasa makin kecut mendengarnya. Entah mengapa rasanya aku tidak ingin segera sampai di pantai. Bila perlu aku tidak usah berada di atas kapal ini, tapi tidak mungkin. Aku seorang prajurit yang berarti harus menuruti semua perintah atasan tanpa boleh melawan. Jika itu terjadi nyawaku sudah dipastikan akan segera hilang, karena dianggap pemberontak. Maka di sinilah aku berada sekarang, di atas kapal nomor 12 bersama para prajurit lain yang mungkin juga merasakan ketegangan mencekam ini.
“Kita hampir sampai!!! Siapkan diri kalian!!! Tuhan menyertai kita!!!” Suara kapten Ade M. W. kembali terdengar.
Ketegangan makin terasa begitu menusuk. Bayangan setiap prajurit seperti menyatu membentuk sebuah atmosfir kematian yang menaungi kami. Deburan ombak yang ganas makin membuat perasaan tak menentu. Apa yang akan terjadi di pantai nanti? Mungkinkah kami akan selamat begitu tiba di garis pantai? Dari informasi yang kami dapat, tentara musuh memasang banyak senjata untuk menghalau setiap kapal yang datang, dan tugas kami adalah memusnahkan mereka agar pasukan selanjutnya dapat membangun sebuah pangkalan di sana. Ini terasa sedikit tidak adil bagiku, mungkin juga bagi semua. Bila memang kenyataannya banyak senjata yang menyambut kita begitu tiba nanti, mengapa pimpinan perang Adam L. tidak mengirim angkatan udara saja untuk melakukan pembersihan? Mangapa malah mengirim kami angkatan darat? Padahal kemungkinan keberhasilan misi ini lebih tepat jika dilakukan angkatan udara dibanding kami yang memiliki keterbatasan ruang gerak. Tapi tidak ada gunanya lagi menyesalinya sekarang, karena di sinilah aku saat ini bersama prajurit lain yang mungkin saja hanya akan menghantarkan nyawa begitu sampai.

Sssuuusss… duaaaarrr…!!! aku tersadar dari lamunan saat mendengar suara itu. Suara meriam yang diarahkan musuh kepada kami secara bertubi-tubi. Dengan ini sudah jelas, kami sampai di pantai dan akan segera bertempur. Aku memegang senjataku dengan erat, berusaha mempersiapkan semuanya dari sekarang. Kutingkatkan konsentrasi dan kewaspadaan sampai titik maksimal hingga tidak memperdulikan muntahan teman di sebelah dan belakang yang mengenai bajuku. Secara perlahan namun pasti kapal mulai berhenti melaju, lalu dengan cepat pintu dibuka dan… Ratatatatatatattt… Ribuan peluru langsung menghujani kami, bahkan sebelum kami sempat menarik napas penuh untuk mengisi paru-paru. Seketika aku merasa pening dan menegang. Rasa dingin tiba-tiba menusuk hingga membuatku merasa melayang hilang kesadaran. Bahkan kini kulihat segalanya tiba-tiba melambat. Aku bisa melihat teman-temanku jatuh satu persatu karena badannya tertembus peluru, dan aku juga bisa melihat desingan peluru itu yang beterbangan dimana-mana seolah mencari mangsanya. Sudah kuduga, inilah yang akan terjadi. Kami datang ke sini hanya untuk menghantarkan nyawa, tanpa bisa melakukan perlawanan. Kulihat dengan samar tubuh teman-temanku yang tergeletak kaku, mereka sudah tidak bernyawa. Begitu juga aku, pasti telah tertembak juga dan akan segera menyusul semuanya. Selamat tinggal ayah, ibu, dan teman-teman. Aku tidak akan bertemu kalian lagi. Aku tidak akan bisa melihat lagi semua yang kuingin lihat. Sampai di sini saja kehidupanku berjalan. Aku mati. Kupejamkan mata dan melemaskan semua anggota tubuhku untuk jatuh tenang berkumpul bersama mayat teman-teman lain. Namun saat tubuhku hampir menyentuh dasar kapal, tiba-tiba kurasakan tangan kuat yang menarik kerah bajuku dengan cepat. Aku tidak melakukan reaksi apa-apa saat kurasakan tubuhku tertarik melayang entah kemana, karena pastilah itu tangan malaikat maut. Aku sudah mati dan tidak perlu memikirkan apa-apa lagi.

Byuuurrrsss…!!! Aku sadar dan tersentak kaget saat merasakan air asin ada dimana-mana. Apa ini? Apakah aku tenggelam? Bukankah aku sudah mati? Mengapa masih bisa merasakan air laut? Seketika paru-paruku terasa sesak butuh udara, aku gelagapan tidak tahu apa yang harus kulakukan. Otakku terasa beku hingga tidak mampu mencerna semua ini dengan cepat, tapi instingku mengatakan bahwa aku harus berenang menuju permukaan. Maka segera kulakukan itu, begitu kepalaku muncul dari dalam air, paru-paruku langsung menyedot oksigen sebanyak mungkin dan saat itulah segalanya kembali normal. Ternyata aku masih hidup!
“Hei kau, mengapa tadi diam saja di kapal dan tidak segera keluar? Merepotkan aku saja!” kata suara itu sambil memukul keras punggungku. Aku menoleh ke sumber suara, ternyata kapten Ade M. W.
“M.. maaf kapten, kupikir tadi aku sudah mati. Aku merasakan semuanya seolah hilang.” Aku berusaha menggambarkan singkat yang kurasakan tadi.
“Kau hanya mengalami trauma kematian. Itu akibat ketakutan yang berlebihan.” Jelas kapten Ade.
“Ya, aku memang sangat takut dan tegang tadi. Oh iya, apakah anda yang menarikku dari kapal? Bukannya anda berada di kapal 1 di depan sana? Mengapa bisa ada di tengah sini, di kapal 12?” tanyaku heran saat menyadari kejanggalan ini. Jarak dari kapal 1 dan 12 sekitar 100 meter.
“Kau salah satu penembak jitu, aku memerlukanmu untuk misi ini. Penembak jitu yang lain hampir semuanya tewas. Jadi kau sangat penting!” kata kapten Ade. Tapi bukan itu maksud dari pertanyaanku.
“Maaf kapten, bukan itu maksudku. Aku heran bagaimana anda bisa berada di area kapal 12 ini dengan cepat sedangkan anda memimpin di depan sana sebe…”
“Sudahlah jangan bahas itu sekarang!” kapten Ade memotong pembicaraanku, lalu meneriakkan perintah “Kita harus maju ke depan! Semuanya maju ke depan cari perlindungan di antara palang besi!!! Cepat!!! Cepaat!!!”

Kami segera bergerak secepat mungkin menuju palang-palang besi yang sudah ada di pantai ini jauh hari sebelum kami datang. Teriakan, jeritan, erangan, serta hawa kematian mewarnai perjuangan kami menuju tempat yang diperintahkan tadi. Hujan bom dan peluru juga seolah menjadi teman setia yang tidak pernah berhenti menghampiri walau sesaat. Sesekali peluru itu melewati kepala kami dengan ganasnya, atau bagi yang tidak beruntung bisa saja menembus bagian tubuhnya hingga tewas. Semakin kami melangkah semakin berkurang jumlah kami, seolah di setiap langkah itu ada kematian yang sudah menunggu. Saat kami tiba di palang besi, jumlah kami tidak lebih dari setengah prajurit keseluruhan. Kami berlindung berhimpitan di antara palang besi yang tersebar sepanjang pantai sambil menunggu perintah selanjutnya.
“Sekarang bagaimana?” tanyaku pada rekan di sebelah. Sempat kulirik nama di bajunya, Jaja J.
“Aku tidak tau, tunggu perintah kapten Ade!” kata Jaja.
“Lantas dimana dia sekarang? Kapten kita tidak tertembak kan?” tanyaku lagi, lalu melihat sekeliling mencari kapten Ade dan kutemukan berada tidak jauh dari tempatku. Sekitar 10 meter arah kanan. Dia berlindung sendirian. “Itu, Kapten Ade sedang berlindung di sana” aku memberi tahu Jaja, dia langsung melihat ke arah yang kutunjuk.
“Baik, aku akan bertanya padanya” kata Jaja mantap. Tadinya kupikir Jaja akan menuju tempat kapten Ade berlindung, ternyata bukan. Dia berteriak sekencangnya untuk menanyakan perintah selanjutnya. Tapi itu wajar, 10 meter adalah jarak yang cukup jauh dalam keadaan dihujani peluru seperti ini.
“Kapteeen!!! Kapten Ade!!! ” Jaja berteriak sekuat tenaga. Kulihat Kapten Ade tidak menoleh sedikitpun. Harusnya dia bisa mendengar teriakan Jaja walau keadaan sangat bising.
“Kaaaapteeeennn!!!” Jaja kembali berteriak menggunakan seluruh tenaganya tapi Kapten Ade tidak juga menoleh. Mungkinkah dia tuli karena kebisingan ini? Sedangkan prajurit yang berjarak 15 meter dari tempat kami saja mendengar teriakan Jaja dan menoleh ke arah kami. Sungguh aneh.
“Sial, ternyata memang harus menggunakan cara yang disarankan oleh Kapten Yudi dan wakilnya Ian” Jaja bergumam sendiri.
“Hah? Apa maksudmu?” aku tidak mengerti maksud Jaja.
“Nanti saja kujelaskan. Sekarang tolong ambilkan rumah keong yang ada di dekatmu itu. Berikan padaku!” pinta Jaja.
“Untuk apa?” aku makin heran.
“Sudahlah ambil saja, cepat!!” desak Jaja. Aku tidak bertanya lagi dan segera mengambilnya. Rumah keong ini cukup besar, sebesar batu bata.
“Nih..” aku memberikan rumah keong itu pada Jaja.
“Geser sedikit!” kata Jaja. Aku menurut.
Kuperhatikan teman seperjuanganku itu. Dia menggenggam erat rumah keong tersebut, menciumnya, lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah Kapten Ade dan tepat mengenai tubuhnya. Lalu ajaib, Kapten Ade langsung menoleh ke arah kami seketika itu juga. Padahal aku yakin, sekuat apapun lemparan Jaja, tidak akan begitu terasa dibanding teriakan kerasnya sebelum ini.
“Aku diberi tau oleh Kapten Yudi dan wakilnya Ian bahwa Kapten Ade seringkali melamun tanpa sebab. Jadi bila sudah tiga kali dipanggil dia tidak menoleh juga, harus dilempar dengan benda apa saja. Ternyata itu benar!” jelas Jaja panjang. Aku tersenyum singkat mendengar itu. Sungguh konyol.
“Kapteenn!!! Perintah, Kapten!!! Sekarang kita kemana!!?” Jaja kembali berteriak.
“Kalian lihat lubang pasir dekat kawat berduri di sana!!? Itu tujuan kita sekarang!!! Dari sana kita akan menyerang mereka!!! Cepat bergerak!!! Sampaikan perintahku pada semua!!!” perintah Kapten Ade.

Kami kembali bergerak menantang peluru setelah mendapat perintah itu. Jarak lubang pasir yang dimaksud sekitar 50 meter dari kumpulan palang besi tempat kami berlindung tadi. Cukup jauh, namun dengan usaha gigih akhirnya kami satu persatu sampai di tempat itu. Jumlah kami kini tidak sampai 150 orang dari 500 prajurit awal. Sungguh mengenaskan, ini seperti misi bunuh diri.
“Dengar semuanya, sekarang kita sudah ada pada jarak tembak!!! Cepat siapkan senjata kalian!!!” perintah Kapten Ade, dan kami semua segera mempersiapkan senjata masing-masing. “Tetap waspada!!! Walau di sini sudah lebih aman, bukan berarti tidak akan ada senjata yang sampai kemari!!!” lanjut Kapten Ade.
“Kapan kita akan menyerang, kapten?” tanya seorang prajurit.
“Sebentar aku sedang memantau situasi” kata Kapten Ade, kami diam sebentar. Peluru serta bom masih menderu-deru membelah angin di atas kepala kami. “Oke, kalian lihat tembok di sana itu? Jika kita berhasil menembak musuh di sebelah kiri, kita akan mendapatkan tempat aman.”
Kami memperhatikan tempat yang dimaksud Kapten Ade. Memang benar disana aman jika regu tembak di kiri itu dimusnahkan. Tapi bagaimana caranya? Untuk bisa menyerang mereka maka kami harus maju lagi dari tempat ini, dan itu sama saja membuang nyawa bila gagal. Namun berdiam diri saja di lubang ini tidak akan menghasilkan apa-apa, hanya akan memperburuk keadaan.
“Lalu, bagaimana cara kita memusnahkan regu tembak di kiri itu kapten?” aku bertanya memberanikan diri.
“Caranya adalah kau!” jawab Kapten Ade singkat. Aku terkejut setengah mati, apa maksudnya caranya adalah aku. “Ya, kau adalah penembak jitu. Lebih efektif mengeluarkan satu tembakan tepat daripada seribu tembakan tidak bermakna. Kau akan membidik dari sudut kiri dekat tembok itu, ditemani oleh lima orang prajurit yang akan memberikan tembakan perlindungan. Kau harus menembak cepat dan tepat atau kita tidak akan pernah menyelesaikan misi ini.” jelas Kapten Ade panjang.
Aku terdiam mendengar penjelasan kapten. Berbagai bayangan tidak beralasan berkecambuk dalam benakku. Bagaimana mungkin aku bisa membidik cepat jika diburu oleh waktu dan kematian yang mengintai. Tidak perlu menunggu sampai aku mendekati sudut kiri dekat tembok itu, begitu keluar dari lubang ini saja peluru yang haus nyawa itu akan segera mengincarku. Tapi benar apa yang dikatakan Kapten Ade, bila regu tembak di kiri itu tidak segera dibereskan, maka kami akan semakin terdesak.

“Kau siap?” Kapten Ade memastikan. Aku segera tersadar dari lamunan.
“Y..ya siap kapten” kataku memberanikan diri.
“Jangan gugup, tenang saja! kau pasti bisa!!” kapten menyemangatiku, aku mengangguk mantap “Baiklah. Jaja, Febri, Tresno, Arip dan Ragil kalian akan membantu Andi membereskan regu tembak itu. Sekarang dengar rencananya! Aku akan keluar dari lubang ini untuk menarik perhatian mereka. Saat itu kalian berenam segera menuju tembok di sana. Setelahnya Tim Jaja akan keluar dari balik tembok memberikan tebakan perlindungan untuk Andi, lalu Andi akan menembak musuh yang membawa senjata MG-42. Paham?” jelas Kapten Ade panjang, kami mengangguk takzim.

Aku sebanarnya sedikit kaget mendengar rencananya, terutama di bagian Kapten Ade akan menarik perhatian regu tembak. Tidak kusangka Kapten Ade orang yang sangat berani mengambil resiko.
“Oke, kalian siap?” tanya Kapten Ade.
“Sebentar kapten, ada yang ingin kutanyakan” Jaja menyela.
“Apa? Cepatlah kita tidak banyak waktu” kata Kapten Ade.
“Begini kapten, ada yang kurang dari rencana anda. Seandainya Andi berhasil menembak musuh yang memegang MG-42, di situ masih ada orang lain yang bisa menggantikannya. Percuma jika hanya menembak satu orang sedangkan yang lain masih hidup. Iya kan?” Jaja berusaha kritis.
“Tidak usah risaukan itu, tugas kalian hanya untuk memberhentikan tembakan sesaat. Sisanya aku yang urus” Kapten Ade meyakinkan.
“Tapi kapten bagai…”
“Sudah, lakukan saja perintahku!!!” potong Kapten Ade. Jaja menurut. “Sekarang kalian bersiap, dalam hitungan tiga. Kita langsung bergerak” lanjut Kapten Ade. Kami berenam langsung ambil posisi. “1… 2… 3… Yak”

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.246.116
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia