Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

MATAHARI belum lama tenggelam. Namun pulau kecil di pantai barat pesisir Andalas itu telah ter-bungkus kegelapan. Kesunyian yang mencengkam dibayang-bayangi oleh deru angin laut dan debur ombak yang memecah di pasir pulau. Sesekali kunang-kunang be-terbangan di udara, sesaat menjadi titik-titik terang yang tak ada artinya lalu menghilang lenyap dan kembali ke-gelapan kelam menghantui.

Sesosok tubuh berjalan terbungkuk-bungkuk dalam ke-gelapan. Gerakan kedua kakinya enteng dan hampir tidak terdengar. Namun binatangbinatang melata yang ber-telinga tajam dan ada disekitar situ masih dapat men-dengar gerakan langkah kaki orang ini lalu cepat-cepat melarikan diri menjauh.

Di samping serumpun pohon bakau orang ini hentikan langkahnya. Telinganya dipasang tajamtajam. Kedua mata-nya memandang tak berkesip ke muka. Di depannya dalam kegelapan dia melihat, ada mata air kecil jernih, yang mem-bentuk sebuah parit dangkal. Dia mengikuti parit itu ke arah seberang sana hingga pandangan matanya tertumbuk pada akar sebuah pohon yang sangat besar.

Lama orang ini menatap pohon besar yang tegak menyeramkan sejarak dua puluh langkah dari tempatnya berdiri. Matanya memandang ke arah batang pohon yang besarnya lebih dari tiga pemelukan tangan manusia itu. Lalu dia menyeringai dan gelengkan kepala. Dari mulutnya terdengar ucapan perlahan.

"Di saat orang hendak melakukan kebaikan, menjenguk sahabat yang berpulang, masih saja ada makhluk-makhluk lain hendak berbuat kejahatan."

Orang ini kembali memandang ke arah pohon, lalu dia berseru. "Manusia dibalik pohon! Apa maksudmu sengaja sembunyi disitul Hendak menghadang dan membokong?!"

Tak ada sahutan.

Angin laut bertiup kencang. Semak-semak dan daun-daun pepohonan terdengar bergemerisik. Seekor kadal hutan melintas cepat di depan kaki orang yang tegak dekat mata air.

"Ah, dia tak mau menjawab..." kata orang yang barusan bicara. "Kalau begitu terpaksa aku harus meneruskan langkah." Dengan tangan kanannya dia mematahkan sebuah ranting kecil di samping. Lalu bertongkatkan ranting ini, orang itu meneruskan langkahnya. Melompati parit kecil di depannya. Sesaat kemudian dia telah sampai di hadapan pohon besar. Sosok tubuhnya masih saja tetap terbungkuk-bungkuk seperti tadi. Namun sepasang mata dan telinganya dipasang benar-benar.

Satu langkah dia akan melewati pohon besar, tiba-tiba laksana setan keluar dari sarangnya satu bayangan putih melompat keluar dari balik pohorl. Sebuah benda ber-bentuk tombak yang memiliki dua mata menderu ke arah kepalanya!

"Membokong adalah pekerjaan pengecut!" seru orang yang diserang. tangan kanannya yang memegang ranting digerakkan dengan sebat ke atas. Orang ini tahu sekali bahwa ranting yang dipegangnya tidak akan menang melawan tombak besi yang menghantam ke arahnya. Karena itu dia sengaja tidak mau menangkis tetapi ber-usaha memukul lengan yang memegang tombak bermata dua itu.

Si penyerang gelap rupanya tahu apa yang hendak di-perbuat lawan. Sambil menggeser kakinya dan miringkan tubuh ke kanan, tombaknya yang tadi mengemplang kini ditusukkan ke dada. Tak ada jalan lain. Mau tak mau yang diserang sekarang terpaksa pergunakan rantingnya untuk menangkis. Ranting kecil itu menyelusup ke depan, masuk di antara dua mata tombak.

Orang memegang tombak terkejut ketika merasakan bagaimana tombak besinya laksana ditahan satu kekuatan dahsyat membuatnya tidak mampu untuk mendorong walau sudah kerahkan seluruh tenaganya. Dengan nekad kalau tadi dia hanya andalkan tenaga luar, orang ini kerah-kan tenaga dalam lalu sambil mendorong dia keluarkan bentakan keras.

Kraaakkkk!

Ranting kayu berderak patah. Tapi tongkat bermata dua terpelanting ke kiri, nyaris terlepas. Si pemilik tombak mundur tiga langkah, matanya memandang ke depan, coba menembus kegelapan untuk dapat melihat wajah orang yang gagal diserangnya itu. Tapi sia-sia saja. kegelapan malam begitu pekat sehingga walau berada cukup dekat dia tidak bisa melihat wajah orang itu, apalagi mengenali-nya.

Maka diapun bertanya membentak. "Siapa di situ?!"

Jawaban yang didapatnya justru bentakan pula. "Kau yang menghadang dan menyerang! Aku yang lebih layak menanyakan siapa dirimu!"

Orang dibalik pohon keluarkan suara mendengus.

"Aku Kiyai Surah Ungu dari Banten! Katakan siapa diri-mu?!"

"Kiyai Surah Ungu dari Banten...?" mengulang orang yang masih memegang patahan ranting. "Ah... ah... ah! Bukankah kau orangnya yang bergelar Pangeran Tanpa Mahkota, yang menjauhkan diri dari Kesultanan karena tidak suka dengan kehidupan Keraton yang menurutmu menjijikkan?"

Dalam gelap berubahlah paras orang dibalik pohon. Rasa terkejut membuat dia mengeluarkan seruan tertahan.

"Kau telah mengetahui siapa diriku, lalu kau sendiri siapa adanya?!" tanya Kiyai Surah Ungu.

"Aku belum mau memberi tahu sebelum aku men-dengar apa keperluanmu jauh-jauh datang ke pulau terpencil ini!"

"Kau keliwat mendesak. Tapi tak jadi apa karena kau ada di atas angin. Aku kemari untuk melayat seorang kawan yang kabarnya meninggal beberapa waktu lalu dan dimakamkan di pulau ini! Nah aku sudah mengatakan yang sebetulnya padamu, sekarang giliranmu memberi tahu siapa dirimu dan apa pula keperluanmu gentayangan di tempat ini!"

Orang yang ditanya tertawa pendek. "Belum.... Belum Kiyai. Aku belum akan menjawab pertanyaanmu. Masih ads pertanyaan-pertanyaan lain yang perlu kuajukan.... ‘

"Kau membuat aku jadi jengkel dan marah! Apa kau kira diriku ini seorang pesakitan yang tengah diperiksa dan perlu ditanyai segala-galanya?!"

"Jangan cepat jengkel, apalagi marah Kiyai Surah Ungu. Di malam yang gelap begini dimana kita tidak dapat melihat wajah satu sama lain, tipu menipu bisa saja terjadi!"

"Apa maksudmu dengan kata-kata itu?!" tanya Kiyai Surah Ungu.

""Lupakan saja ucapanku tadi. Aku ingin tahu siapa sahabat yang kau katakan meninggal dan dimakamkan di pulau ini..."

"Kau pasti kenal. Dia seorang tokoh silat nomor satu di kawasan Andalas ini, Pernah membuat nama besar dan menggegerkan seantero tanah Jawa beberapa puluh tahun lalu. Dia pernah menyandang gelar Pendekar Gila Patah Hati. Adapula yang memberinya julukan Iblis Gila Pencabut Jiwa. Namun di kalangan golongan putih dia lebih dikenal dengan panggilan Si Tua Gila. Nah sekarang apakah kau sudah puas atau masih hendak merahasiakan dirimu sendiri?!"

"Ah, rupanya kita mempunyai tujuan yang sama!"

Kiyai Surah Ungu merasa heran. Tujuan yang sama belum tentu berarti hati yang sama! ""Katakan apa maksudmu...?"

"Aku merasa kau ikuti sejak aku menjejakkan kaki di pulau ini. Kecurigaan membuatku sengaja menghadangmu di balik pohon ini. "

"Begitu...?" Orang itu batuk-batuk beberapa kali.

"Kita ternyata adalah dua sahabat lama yang puluhan tahun tak pernah bertemul"

Kiyai Surah Ungu maju dua langkah.

"Aku memang rasa-rasa pernah mendengar suaramu. Rasa-rasa mengenali. Tapi...Ah! Otakku sudah agak pikun. Sulit bagiku menerka kalau kau tidak segera memberi tahu slapa dirimul"

"Aku Ramadi Watampone dari Bugis!"

"Astaga! Betul kiranya aku berhadapan dengan kawan sendiri! Bukankah kau yang di timur dikenal dengan nama besar Pendekar Badik Emas?!"

Orang yang mengaku bernama Ramadi Watampone tertawa perlahan. "Ulah manusia memang banyak, aku kebagian menerima ulah dalam bentuk gelar seperti itu!"

Kiyai Surah Ungu sisipkan tombak pendeknya di pinggang. Dia menyalami Ramadi Watampone. Kedua orang ini kemudian malah saling berangkulan.

"Puluhan tahun tidak bertemu. Sekali bertemu di tempat gelap di pulau terpencil begini! Siapa yang tidak saling curiga!" kata Kiyai dari Banten itu. "Nah, kukira kehadiranmu disini tentulah juga untuk melayat sahabat yang mendahului kita."

"Kau betul Kiyai Surah. Hanya sayang, kita sama-sama tidak sempat melihat wajah Tua Gila penghabisan kali sebelum dikubur..."

"Ada baiknya kita segera sama-sama menuju ke makam sahabat kita itu. Biar aku berjalan duluan..."

"Kalau begitu aku mengikuti dari belakang," kata Ramadi Watampone.

Dalam gelap kedua orang yang sama-sama berusia hampir tujuh puluh tahun itu berjalan beriringan menuju bagian pulau sebelah timur. Tak berapa lama kemudian mereka keluar dari kerapatan pepohonan dan sampai pada sebuah lapangan kecil yang dikelitingi oleh batu-batu karang runcing diseling oleh batu-batu cadas membentuk dinding setengah lingkaran.

Karena tempat ini agak terbuka maka kepekatan malam masih bisa ditembus pandangan mata. Di ujung depan, di sebelah tengah lapangan tampak dua gundukan tanah kuburan yang masih merah.

Dari dua makam itu hanya satu yang memiliki batu nisan.

Kiyai Surah Ungu dan Ramadi Watampone melangkah ke arah makam namun di tengah lapangan langkah kedua orang ini mendadak tertahan. Ada dua sosok tubuh meng-geletak tak berapa jauh dari makam. Ketika diperiksa keduanya ternyata tidak bernyawa lagi. Wajah mereka ter-tutup darah yang mulai mengering. Pada kening masing-masing kelihatan sebuah lobang sebesar kuku ibu jari. Dari lobang inilah darah sebelumnya mengucur.

"Kiyai Surah... Kau mengenali siapa adanya mayat-mayat ini?!"

Yang ditanya menggeleng. Malah balik bertanya "Kau...?"

"Tak pernah kulihat wajah keduanya sebelumnya. Tapi dari dandanan mereka pasti yang seorang dari dunia per-silatan dan satu lagi yang masih menggenggam keris seperti orang bangsawan. Mungkin juga pejabat dari sebuah kerajaan..."

Kiyai Surah mengambil keris dari genggaman mayat. Meneliti badan dan hulu senjata itu lalu berkata, "Gagang keris menunjukkan senjata ini berasal dari Istana Gading di selatan..."

"Kita menghadapi satu peristiwa pembunuhan, Kiyai!" kata Ramadi Watampone alias Pendekar Badik Emas.

"Itulah yang ada dibenakku..." jawab Kiayi Surah Ungu seraya memandang berkeliling. Hanya pepohonan dan batu-batu cadas serta batu-batu karang yang tampak menghitam dalam kegelapan.

"Sulit, dipercaya, pada saat kita hendak menyambangi makam seorang sahabat, tahu-tahu dihadapkan pada peristiwa seperti ini. Siapa yang dibunuh dan siapa yang membunuh?'

Ramadi Watampone memegang tubuh salah satu mayat lalu berkata, "Meski darah di mukanya mulai mengering tapi tubuhnya masih agak hangat. Pertanda orang ini belum lama menemui kematian..."

"Jangan-jangan pembunuhnya masih berada di sekitar sini... " ujar Kiyai Surah lalu memandang berkeliling sekali lagi. Kemudian dia berpaling pada Ramadi dan berkata, "Sahabatku, ingat waktu kukatakan padamu ada sese-orang yang mengikutiku sejak aku menjejakkan kaki di pulau ini? Aku tadinya menduga kau yang menguntit. Sekarang aku punya dugaan lain. Mungkin sekali pem-bunuh itulah yang mengikutiku...!"

***



Untuk beberapa lamanya kedua orang tua itu sama-sama jongkok dan saling pandang dengan perasaan tidak enak. "Aku punya firasat ada orang lain tengah memperhatikan gerak gerik kita saat ini..." berbisik Kiayi Surah Ungu.

Ramadi Watampone jadi merasa tidak enak mendengar kata-kata itu. Tengkuknya seperti dihembus angin dingin. Setelah berdiam sesaat dia lalu berkata, "Apapun yang terjadi di tempat ini harus kita lupakan dulu. Maksud utama kita kemari adalah untuk berziarah melihat makam sahabat kita Tua Gila. Mari kita ke makam sana ..."

"Tunggu dulu sahabat," berkata Kiyai Surah seraya me-megang lengan Ramadi. "Kalau kita berada di makam, punggung kita harus membelakangi dinding batu-batu cadas dan batu-batu karang. Dengan begitu kita tak mungkin dibokong orang. Siapapun yang hendak mem-bunuh kita pasti akan muncul di arah depan..."

"Kau betul. Kita harus berhati-hati..." kata Ramadi pula. "Sebaiknya melangkah mundur."

Kedua orang itu kemudian mendekati dua buah makam dan melangkah mundur dalarn gelap. Begitu sampai keduanya mengambil kedudukan di belakang batu nisan. Mereka memperhatikan keadaan sekeliling beberapa saat.

"Aneh..." kata Ramadi Watampone. "Mengapa ada dua makam di tempat ini?"

"Keanehan itu sudah kupertanyakan dalam hati sejak pertama kali aku melihat dua makam ini tadi," menyahuti Kiyai Surah Ungu. "Yang satu ada nisannya. Terbuat dari batu hitam. Di sini digurat nama Tua Gila. Tapi makam satu di sebelahnya ini sama sekali tidak memiliki batu nisan..."

"Apakah sahabat kita Tua Gila mempunyai istri?" tanya Ramadi Watampone.

Kiayl Surah menggeleng. "Setahuku kakek-kakek itu tak pernah punya istri... Kalaupun ini makam istrinya, lalu mengapa tidak ada batu nisannya?"

"Hemmm, sulit diduga makam siapa yang satu ini," berkata Pendekar Badik Emas.

"Ada satu keanehan lagi..." ujar Kiyai Surah.

"Apa?"

"Kedua kuburan ini sama-sama masih merah tanahnya. Berarti siapapun yang dimakamkan di dua kubur ini waktunya tidak berbeda banyak ..."

"Kau benar," kata Ramadi dan hatinya merasa tidak enak. lalu setengah berbisik dia bertanya: "Apakah kau mencium bau sesuatu...?"

Kiayi Surah Ungu menatap Ramadi sesaat lalu meng-hirup udara malam dalam-dalam, coba membaui sesuatu yang dimaksudkan Ramadi Watampone.

"Memang ada bau sesuatu. Tapi sulit kuterka bau apa..." kata sang Kiayi kemudian. "Bau apa yang tercium oleh hidungmu, Pendekar Badik Emas?"

"Seperti bau asap..." jawab Ramadi pula. "Baunya ada tapi bentuknya tidak kelihatan."

"Sudahlah. Mari kita membaca doa dan apa saja untuk almarhum sahabat kita Tua Gila. Mudahmudahan dia di-berikan tempat yang paling baik oleh Yang Maha Kuasa."

Ramadi mengangguk. Kedua orang tua itu lalu mem-baca berbagai surat suci dan memanjatkan doa panjang bag! Tua Gila. Menjelang dini hari baru mereka selesai. Ramadi Watampone memandang pada sang Kiyai lalu ber-tanya apa yang akan mereka lakukan sekarang.

"Sesudah menengok makam Tua Gila sebenarnya kita bisa saja segera meninggalkan pulau ini. Tetapi tidak pantas rasanya kalau kita tidak mengurusi jenazah kedua orang ini..." berkata Kiyai Surah.

"Kalau begitu kita terpaksa menunggu sampai pagi."

"Kita tidak punya peralatan cukup untuk menggali kubur dan menanam jenazah mereka. Aku punya cara yang lebih gampang. Kita memanggul masing-masing seorang dari keduanya. Membawanya ke atas perahu. Lalu membuang-nya di tengah lautan. Itu lebih balk dari pada meninggalkan mereka membusuk atau dirusak binatang di tempat ini."

Baru saja Kiyai Surah berkata begitu tiba-tiba dikejauh-an terdengar suara raungan anjing, panjang meng-gidikkan.

Kiyai Surah merapatkan kerah jubahnya. "Aneh... Di pulau seperti ini ada anjing..:" katanya.

"Makin lama berada di pulau ini semakin tidak enak perasaanku," berucap Ramadi Watampone berterus-terang. "Kita berangkat sekarang?"

Kiyai Surah mengangguk.

Kedua orang itu lalu membungkuk, untuk memanggul masing-masing satu jenazah. Namun belum sempat mereka menyentuh tubuh-tubuh tak bernyawa itu tiba-tiba keduanya merasa ada seseorang bergerak di belakang mereka.

Kiyai Surah dan Ramadi Watampone segera membalik. Keduanya sama melengak kaget. Hanya delapan langkah di hadapan mereka tegak sesosok tubuh tinggi besar. Selain pakaian warna kuning yang dikenakannya, orang ini juga bermantel hitam dalam sebatas lutut. Wajahnya ter-lindung oleh kepekatan malam hingga tak bisa dikenali. Di kepalanya bertengger sebuah topi tinggi

"Hati-hati... Mungkin sekali kita tengah berhadapan dengan pembunuh kedua orang itu, Ramadi ..." bisik Kiyai Surah.

"Aku malah memastikan orang di depan kita ini pem-bunuh kedua orang ini," sahut Ramadi Watampone. Lalu tangannya digeser ke letak dimana senjatanya terselip yaitu sebilah badik berbadan dan bergagang emas.

Kiyai Surah Ungu melakukan hal yang sama. Berjaga-jaga dengan mendekatkan tangan kanannya pada tombak bermata dua yang tersisip di pinggangnya.

"Kalian mau bawa ke mana dua mayat itu?!" Tiba-tiba sosok yang tegak di depan sana bertanya.

Suaranya garang dan keras.

"Kami bermaksud mengurus jenazah-jenazah ini. Mem-buangnya di tengah laut," menjawab Kiyai Surah.

"Kalian tidak akan sempat melakukan itu!" Orang tinggi besar berkata.

"Kenapa tidak?!" tanya Ramadi Watampone.

"Karena kutuk telah jatuh terhadap siapa saja yang menjejakkan kaki di pulau ini. terhadap siapa saja yang Menziarahi makam Tua Gila! Dalam beberapa saat kalian berdua akan menemui kematian seperti kedua orang itu!"

Terkejutlah Kiyal Surah dan Pendekar Badik Emas.

"Jadi kau yang membunuh kedua orang itu?!" tanya Kiyai Surah puia. Tangannya telah memegang batang tombak erat-erat.

"Kamu sudah tahu kenapa bertanya?!"

"Katakan siapa kau adanya!" tanya Ramadi.

"Kalian tak layak bertanya! Manusia-manusia sahabat Tua Gila sudah kusumpah untuk mati di tempat inil Di depan makam Tua Gila sendiri!"

"Kita tidak bersilang sengketa, mengapa menginginkan jiwa kami?!" tanya Kiyai Surah.

Si tinggi tertawa pendek. "Kematian memang tidak selalu disebabkan oleh silang sengketa. Tetapi Tua Gila telah menanam bahala dan silang sengketa beberapa tahun yang silam. Dan aku telah bersumpah siapa saja sahabat Tua Gila yang muncul di sini akan kuhabisi nyawa-nya. Termasuk kalian berdua!"

Sehabis berkata begitu orang tinggi besar itu melompat ke depan. Kedua tangannya membuat gerakan aneh dan menimbulkan angin deras. Kedua kakinya yang melompat menimbulkan getaran sewaktu menjejak di tanah.

Kiyai Surah dan Ramadi yang sejak tadi memang sudah berjaga-jaga cepat menghindar ke samping. Dari kiri kanan mereka lalu balas menyerang.

Tapi angin yang menyambar dari kedua tangan orang tinggi besar itu membuat dua orang tua ini terhuyung-huyung.

Pendekar Badik Emas dan Kiyai Surah Ungu serta merta kerahkan seluruh tenaga dalam yang mereka miliki lalu menghantam secara bersamaan.

Orang yang diserang jadi terkejut juga. Dari mulutnya keluar suara seperti menggereng. Kernbali kedua tangan-nya bergerak untuk menangkis serangan kedua lawannya.

Bukkk!

Bukkk!

Terdengar dua kali suara bergedebuk begitu tangan masing-masing beradu keras. Kiyai Surah Ungu terpental empat langkah. Lengannya seperti dihantam potongan besi. Paras sang Kiyai berubah pucat. Pendekar Badik Emas mengalami hal yang sama. Tubuhnya mencelat tiga langkah dan dari mulutnya terdengar seruan kesakitan.

Si tinggi besar tertawa bergelak.

"Aku senang melihat manusia-manusia seperti kalian. Walau ilmu kepandaian cuma sejengkal tapi berani me-nantang!"

Bukan main panasnya hati Kiayi Surah Ungu dan Pendekar Badik Emas. Mereka telah mendalami ilmu silat, tenaga dalam bahkan kesaktian selama bertahun-tahun.

Dalam dunia persilatan mereka dihormati dan menjadi dua tokoh yang disegani. Kini seorang tak dikenal enak saja mengejek kepandaian mereka!

"Manusia sombong! Lekas beri tahu siapa kau sebenar-nya?!" membentak Ramadi Watampone alias Pendekar Badik Emas.

Yang dibentak malah tertawa.

"Bukankah kau manusianya yang bergelar Pendekar Badik Emas dan kawanmu itu Si Pangeran Tanpa Mahkota?"

Kiyai Surah Ungu dan Ramadi Watampone sama-sama terkesiap mendengar kata-kata itu. Dan si tinggi besar me-lanjutkan kata-katanya.

"Memandang nama besar kalian, aku memberi ke-longgaran memperpanjang sedikit seat kematian kalian. Kalian berdua kupersilahkan mengeluarkan senjata masing-masing. Perlihatkan Tombak Dwi Sula-mu Kiyai Surah Ungu. Dan kau Pendekar Badik Emas, bukankah kau datang dari jauh? Sangat sayang kalau aku sampai tidak melihat senjata mustikamu. Tunjukkan padaku kehebatan badik emasmu!"

Dua orang tua kembali terkesiap karena orang yang tidak mereka kenal itu ternyata tahu banyak tentang diri mereka, termasuk senjata-senjata yang mereka miliki. Namun merasa diejek dan dianggap remeh bahkan ditantang maka baik Kiyai Surah maupun Pendekar Badik Emas ini tidak merasa sungkan lagi.

Keduanya keluarkan senjata masing-masing. Sesaat kemudian sebilah badik emas sudah tergenggam di tangan Ramadi Watampone yang bergelar Pendekar Badik Emas sedang sebatang tombak bermata dua tampak menyilang di depan dada Kiayi Surah Ungu yang dijuluki Pangeran Tanpa Mahkota.

"Bagus...! Kalian boleh maju berbarengan!"

Dua orang tua itu menunggu sesaat. Ketika si tinggi besar tidak tampak mengeluarkan senjatanya maka kedua orang itupun serta merta menyerbu. Badik emas berkiblat menaburkan sinar kekuning-kuningan dalam kegelapan malam. Tombak Dwi Sula menderu mencari sasaran di tenggorokan lawan.

Serangan dua tokoh silat kelas tinggi itu bukan serangan main-main. Siapapun lawan pastilah nyawanya akan sangat terancam jika diserang demikian rupa. Tapi lagi-lagi si tinggi besar keluarkan suara tertawa. Lalu dia gerakkan tangannya kiri kanan.

Dua benda hitam sebesar ujung jari kelingking ber-bentuk bulat melesat dalam kegelapan malam. Baik Kiyai Surah Ungu maupun Ramadi Watampone hanya men-dengar suara berdesing tapi tidak melihat bendanya.

Ketika mereka kemudian menyadari ada benda yang melesat ke arah mereka, Kiyai Surah sapukan tombak ber-mata duanya ke atas. Ramadi Watampone babatkan badik-nya di udara. Namun gerakan kedua orang ini sudah sangat terlambat.

Di lain kejap terdengar jeritan mereka merobek kegelapan malam hampir bersamaan.

Tubuh kedua jago tua ini terkapar di tanah di hadapan dua buah makam. Satu di belakang makam Tua Gila, satunya di belakang makam tanpa nisan! Keduanya menemui ajal dengan mata membeliak!

Di kening masing-masing tampak sebuah lubang mengerikan sebesar ujung ibu jari tangan. Dari lubang ini mengalir keluar darah yang segera saja membasahi wajah dan mata mereka!

Begitu kedua orang itu meregang nyawa sosok tinggi tadi menyelinap dan lenyap di celah antara batu karang dan batu cadasl Tak lama kemudian dikejauhan kembali ter-dengar suara panjang lolongan anjing.

Angin malam bertiup tambah keras dan tambah dingin. Ombak di pantai pulau berdebar semakin keras.

***PUNCAK Gunung Singgalang disaput awan kelabu sejak pagi. Semakin lama awan kelabu ini semakin tebal dan akhirnya membuat suasana mendung menutupi daerah luas sekitar gunung. Namun sampai siang hujan tak kunjung turun.

Di lereng barat Gunung Singgalang, seorang tua duduk termenung di ruang depan rumah kayu berkolong tinggi. Di halaman seorang lelaki tengah asyik membakar seekor ikan besar sambil menyanyi dan sekali-kali melirik ke arah orang tua di atas rumah. Bau sedap ikan panggang ini menebar kemana-mana.

Orang yang membakar ikan untuk kesekian kalinya me-mandang ke arah orang tua di atas rumah. Dalam hatinya dia berkata, "Kasihan orang tua Itu. Sulit diduga sudah berapa tahun uslanya. Kelihatannya dia sudah pasrah untuk meninggalkan dunia. Tapi Yang Kuasa masih belum Jugs mengutus mataikat maut..."

Bagi orang yang baru pertama kali melihat orang tua di atas rumah, mungkin bisa serasa terbang nyawanya oleh rasa takut. Tapi si pembakar ikan yang sudah bertahun-tahun tinggal bersamanya menjadi kawan dan pembantu, tidak lagi merasa ngeri melihat wajah itu.

Wajah dan keadaan tubuh orang tua tersebut memang menyeramkan untuk dipandang. Mukanya pucat berkerut dan sangat cekung. Kedua matanya hanya merupakan sepasang rongga besar yang menggidikan. Salah satu telinganya sumplung. Dimulutnya tak sepotong gigipun bersisa. Kedua tangannya kiri kanan buntung sebatas per-gelangan.

"Saringgih...." tiba-tiba terdengar suara orang tua itu. Halus melengking.

"Ambo Nyanyuk..." menyahuti lelaki yang membakar Man. Dia berhenti mengipas bara api pemanggang ikan.

"Akan lamakah pekerjaanmu itu selesai?"

"Ah, Nyanyuk sudah lapar sekali rupanya!" Orang tua bermata seperti setan gelengkan kepala.

"Aku belum ingin makan Saringgih. Ada sesuatu yang aku pikirkan."

"Ah, pantas sejak tadi ambo lihat Nyanyuk duduk termenung- menung:

"Aku merasa kita harus segera meninggalkan Gunung Singgalang ini."

Singgih tercenung mendengar ucapan orang tua itu. Kipas bambu diletakkannya di tanah lalu die melangkah ke dekat tangga. "Angan-angan apa yang ada di pikiran Nyanyuk?"

"Nyanyuk Amber tidak pernah berangan-angan. Aku mendapat firasat yang tidak enak. Juga ada isyarat mimpi yang kuterima malam tadi..." Jawab orang tua itu sementara angin meniup-niup rambutnya yang putih jarang.

"Kalau begitu ceritakanlah pada ambo mimpi Nyanyuk itu," kata Saringgih lalu menaiki tangga dan duduk di hadapan orang tua bernama Nyanyuk Amber.

"Malam tadi aku mimpi melihat udara hitam kelam di pantai pulau ini. Paginya ketika aku terjaga entah mengapa aku tiba-tiba saja teringat pada seorang sahabat lama yang tinggal di sebuah pulau di barat Andalas. Aku berpikir, jangan-jangan ada sesuatu terjadi atas dirinya. Usianya lebih tua dariku. Sudah sakit-sakitan. Sejak beberapa tahun berselang aku tidak pernah mendengar kabar berita-nya. Kau sendiri sudah beberapa lama tidak pernah turun gunung untuk menyirap kabar dan segala kejadian yang ada di luaran. Aku khawatir kalau-kalau sesuatu terjadi atas dirinya..."

"Jalan pikiran Nyanyuk selama ini biasanya tidak pernah meleset," kata Saringgih. "Jadi akan berangkatkah kita hari ini, Nyanyuk?"

"Tidak... Tidak hari ini Saringgih, Tapi sekarang!"

"Sekarang Nyanyuk? Ah, kenapa secepat itu?"

"Kau tahu perjsianan ke sana sangat jauh. Kau harus membawaku melalul perjalanan darat paling tidak selama dua hari: Lalu mengarungi laut hari. Kalau keberangkatan ditunda-tunda, kapan akan sampainya di sana Saringgih?'

"Kalau begitu Nyanyuk bilang, ambo hanya mengikut saja. Tapi biar saya selesaikan panggangan ikan Itu. Kita makan dulu baru berangkat. Begitu kan Nyanyuk?"

"Tidak, tidak begitu Saringgih. Ikan bakarmu sudah cukup matang. Bungkus dan kita makan di perjalanan..."

Saringgih ternganga, garuk-garuk kepala namun akhir-nya hanya bisa mengangkat bahu.

"Selesal kau membungkus ikan itu, siapkan jubah hitamku Saringgih," terdengar Nyanyuk Amber berkata.

"Jubah hitam katamu Nyanyuk?"

"Kau sudah dengar dan aku tidak perlu mengatakannya sampai dua kaIi!"

"Agaknya kita akan menghadapi urusan besar lagi kali ini Nyanyuk?" tanya Saringgih.

"Betul. Urusan besar. Mungkin sangat besar dalam hidupku. Karenanya kau juga kupinta menyiapkan diri dengan kerismu yang bernama Pusaka Dewa itu..."

"Balk Nyanyuk, saya akan membungkus ikan bakar itu. Menyiapkan baju hitammu dan membekal keris Pusako Dewa." Lalu Saringgih bergegas menuruni tangga. Dengan selembar daun pisang dibungkusnya ikan besar yang barusan dibakarnya.

Lalu dia naik atas rumah, masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sebilah keris. Setelah Itu dia masuk ke dalam kamar Tdyanyuk Amber dan mengambil sehelai baju hitam lengan panjang terbuat dari kain sangat tebai. Baju yang berupa jubah pendekar ini dikenakannya ke tubuh Nyanyuk Amber.

Pada bagian bahu kiri kanan baju hitam ini terdapat se-buah saku. Dan pada masing-masing saku tersisip selusin senjata berbentuk anak panah kecil sepanjang seterrgah jengkal, terbuat dari perak putih.

"Kau sudah siap Saringgih?"

"Siap Nyanyuk?"

"Tak ada yang ketinggalan?"

Saringgih berpikir sejenak lalu menjawab. "Rasanya tidak ada Nyanyuk."

"Bagus kalau begitu. Jangan lupa ikan bakarmu. Bisa-bisa kita kelaparan di tengah jalan."

Saringgih mengangguk lalu jongkok di hadapan orang tua yang sejak tadi duduk saja di lantai. Ketika si pem-bantu ini mendukung Nyanyuk Amber di punggungnya kelihatanlah kini keadaan tubuhnya di sebelah sepasang tangan buntung tetapi kedua kakinyapun juga bunting!

Siapakah sebenarnya orang tua yang memiliki banyak cacat ini?

Nyanyuk Amber adalah salah satu dari beberapa tokoh silat tingkat tinggi yang paling disegani di pulau Andalas. Dia memiliki seorang murid yang kemudian dijuluki Raja Rencong Dari Utara. Celakanya sang murid tergoda oleh nafsu hendak menguasai dunia persilatan. Cara yang ditempuhnya adalah sesat dan keji yaitu mengundang semua tokoh persilatan di pulau Andalas untuk datang ke tempat kediamannya, lalu membunuh mereka secara masal!

Sebagaf seorang guru tentu saja Nyanyuk Amber meng-halangi maksud jahat muridnya itu. Ternyata kesetanan Raja Rencong sudah sedemikian jauhnya sehingga dia kemudlan tega membuat buta kedua mata Nyanyuk Amber, memotong tangan dan kaki orang tua itu. Meskipun dalam usia tua dan tidak berdaya seperti itu, namun kemudian Nyanyuk Amber bersama-sama Pendekar 212 Wiro Sableng berhasil menumpas dan menamatkan riwayat Raja Rencong Dad Utara. (Baca serial Wiro Sableng berjudul Raja Rencong Dari Utara).

Setelah dua hari menempuh perjalanan darat akhirnya Saringgih dan Nyanyuk Amber sampai di pantal barat pulau Andalas. Saringgih segera mencarl perahu yang bisa meng-angkut mereka ke tempat tujuan yaitu sebuah pulau tak jauh dari pesisir barat. Tapi ternyata tak ada seorang pemilik perahupun yang mau mengantarkan mereka.

"Aneh!" kata Nyanyuk Amber. "Apakah mereka takut melihat tampangku atau mungkin pemilik perahu itu sudah kebanyakan uang sehingga tak mau lagi bekerja. Saringgih, kau tahu mengapa mereka tidak mau mengantarkan kita ke pulau?"

"Mereka tidak mau mengatakan, Nyanyuk. Tapi dari gelagat ambo kira orang-orang itu merasa kawatir..." jawab Saringgih.

"Apa yang mereka kawatirkan? Temui salah seorang dari mereka. Katakan kita akan membayar dua kali lipat."

"Ambo justru menjanjikan bayaran tiga kali lipat Nyanyuk. Tapi semua mereka tetap menggeleng."

"Kalau begitu kita sewa perahu saja dan. Kau terpaksa jadi tukang kayuh,"

"Ambo tak keberatan Nyanyuk. Cuma disewapun mereka tidak mau!"

"Kapuyuak!" mengomel Nyanyuk Amber. "Apa pun alasan mereka kali ini?"

"Salah seorang memberitahu, ada empat kawan mereka yang telah menyewakan perahu. Tujuan para penyewa itu sama dengan tujuan kita yaitu ke pulau. Tapi sampal hari ini keempat penyewa itu tak pernah kembali. Perahu mereka itu lenyap! Orangorang di pantai menduga keras ada malapetaka yang telah menimpa keempat penyewa perahu itu!"

Nyanyuk Amber yang didudukkan Saringgih di bawah se-batang pohon tampak termenung sambil mengusap-usap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis putih.

"Mereka tak mau mengantar, Mereka juga tak mau kita sewa perahu mereka. Sudah, kalau begitu kita beli saja satu! Habis perkaral Bukankah kau cukup membawa uang, Saringgih?"

"Kira-kira begitu. Tapi seandainya tidak cukup bagai-mana Nyanyuk?"

"Mudah saja! Gadaikan keris Pusako Dewa milikmu!" sahut Nyanyuk Amber.

"Apa...? Ini bukan senjata sembarangan Nyanyuk. Tapi senjata pusaka tujuh turunan. Dan Nyanyuk sendiri sudah ikut menambahkan tuahnya!"

"Kita dalam kesulitan Saringgih. Kau boleh pilih. Gadai-kan keris itu atau kau gadaikan kepalamu..." habis berkata begitu Nysnyuk Amber tertawa terkekeh-kekeh hingga kelihatan gusinya yang tidak bergigi sama sekali.

Saringgih geleng-geleng kepala. Dia menggaruk seluruh saku pakaiannya, mengambii semua uang yang dibawanya Ialu menghitung.

"Mudah-mudahan uang ini cukup. Dari pada menggadai-kan keris atau kepala! Bagusnya si tua ini saja yang di-gadaikan! Tapi... siapa pula yang mau menerima kepala setan itu...!" kata Saringgih mengomel sendirian.

"Kepala si tua siapa yang kau maksudkan itu Saringgih?" Rupanya ucapan pembantunya tadi terdengar oleh Nyanyuk Amber.

"Ah, tidak. Anu Nyanyuk. Bukan kepala siapa-siapa. Tapi kepala ambo yang dibawa..." jawab Saringgih lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu sambil tersenyum-senyum.

***Menjelang matahari tenggelam perahu yang di-dayung Saringgih sampal di pulau tujuan. Di bagian air lout yang dangkal pembantu itu melompat turun lalu mendorong perahu ke pasir pantai.

"Kita sudah sampai Nyanyuk... "

"Aku tahu. Apa yang kau lihat sekitar tempat ini, Saringgih?"

Si pembantu memandang berkeliling. "Laut, pantai, sang surya yang hendak tenggelam, pepohonan, batu-batu karang..."

"Hanya itu...?!" ujar Nyanyuk Amber. "Kedua mataku tidak melihat karena buta. Tapi kau tidak melihat sesuatu yang penting dan kau tidak buta! Jangan tolol Saringgih! Buka matamu lebar-lebar!"

Saringgih memandang lagi berkeliling. "Ah, orang tua ini memang benar, mengapa aku sampai tidak melihatnya tadi," kata pembantu itu dalam hati. "Saya memang melihat sesuatu Nyanyuk. Ada tiga... Tidak... Bukan tiga tapi ada empat buah perahu kecil jauh di sebelah sana..."

Nyanyuk Amber usap-usap dagunya. "Ada empat perahu di pantai sini. Berarti keempat penyewa perahu itu memang telah sampal di sini. Tapi tak pernah kembali ke pulau besar. Mereka raib secara aneh."

"Kita perlu berhati-hati Nyanyuk..."

"Betul. Karena itu buka matamu lebar-lebar. Apakah kau ada melihat jejak-jejak kaki di pasir pantai?"

"Tak dapat saya pastikan Nyanyuk. Kita harus me-nyelidiki ke dekat empat perahu itu..."

"Dukung aku ke sana!"

Saringgih lalu mendukung Nyanyuk Amber di punggung-nya melangkah ke tempat empat perahu yang berada di tempat pasir pulau.

"Nah sekarang katakan apa yang kau lihat!"

"Ada empat perahu di bagian pulau ini, Nyanyuk. Yang dua di depan kita, dua lainnya tak jauh di sebelah sana."

"Berarti, dua perahu yang pertama datang bersamaan. Dua perahu lainnya berbeda waktu... Apa lagi Saringgih?"

"Di atas pasir memang kelihatan ada legukan-legukan. Tapi tidak begitu jelas apakah bekas jejak manusia atau jejak kaki binatang..."

Nyanyuk Amber mengangguk. Dia mendongak ke langit beberapa saat. Hidungnya menghirup udara laut dalam-dalam. Tercium udara yang mengandung garam. Namun indera yang tajam dari orang tua ini juga membaui sesuatu. Dia berpaling ke deretan pohon-pohon lalu barkata, "Kita masuk ke dalam pulau Saringgih. Melangkah saja lurus-lurus ke depan. Jangan membelok. Jangan berhenti sebelum aku memberi tanda..."

"Tidakkah sebaiknya kita makan dulu di sini Nyanyuk? Persediaan makanan kita masih banyak..."

"Pikiranmu tidak lain ke perut saja Saringgih. Dasar gadang lambuang! kau boleh makan sambil mendukung-ku!" kata Nyanyuk Amber pula.

Makin jauh mereka masuk ke dalam pulau kecil itu semakin berkurang kencangnya tiupan angin laut. Udara pun tidak mengandung garam lagi. Namun ada sesuatu yang mencucuk liang hidung dan rongga pernafasan kedua orang itu.

"Kau mencium bau sesuatu Saringgih?" bertanya Nyanyuk Amber.

"Betul Nyanyuk. Bau busuk... " jawab si pembantu. Saat itu sebenarnya dia sudah keletihan mendukung orang tua itu di punggungnya tapi dia tak berani mengatakan.

"Bau busuk yang berasal dari apa menurutmu Saring-gih?" bertanya lagi Nyanyuk Amber.

"Sulit diterka, Nyanyuk. Mungkin itu berasal dari bang-kai binatang..."

"Kau betul," berkata Nyanyuk Amber. "Itu memang bau bangkai binatang. Binatang berkaki dua!"

"Maksud Nyanyuk...?"

"Maksudku adalah bau bangkai manusia! Kau tahu, bangkai manusia adalah yang paling busuk dari segala bangkai yang ada di dunia ini!"

Saringgih hentikan langkahnya.

"Jangan-jangan itu adalah bangkai orang-orang yang menyewa perahu..."

"Kukira begitu. Jalan terus Saringgih. Kita akan segera melihat sesuatu. Agaknya hari mulai gelap. Buka matamu lebar-lebar. Jangan sampai terserandung. Aku tak mau ter-sungkur ke tanah karena ketololanmu!"

Saringgih melangkah terus sambil mendukung si orang tua di punggungnya. Dia melewati sebuah mata air jernih dan sejuk. Tenggorokannya yang kering membuat dia ingin sekali berhenti sebentar, meneguk air membasahi rangkungan dan juga membasahi mukanya yang saat itu terasa tebal akibat seharian penuh disapu angin laut.

"Jalan terus Saringgih! Kalau aku tidak bilang berhenti, jangan berani berhenti!"

Terdengar suara Nyanyuk Amber dekat telinga Saring-gih. Pembantu ini diam-diam mengomel dalam hati. "Orang tua ini seperti bisa membaca apa yang ada dalam benak-ku!"

Melanjutkan perjalanan di sela-sela pepohonan dan semak belukar sekitar seratus langkah lebih di mana bau busuk tercium semakin santar sementara keadaan tambah gelap, mendadak sontak Saringgih hentikan langkahnya. Orang tua yang dipunggungnya hampir terlepas dari pegangannya.

"Saringgih! Kau berhenti melangkah tanpa perintahku! Dadamu berdebar keras. Kedua lututmu terasa goyah. Kudukmu terasa dingin. Apa yang kau lihat di depan matamu?!" Nyanyuk Amber cepat ajukan pertanyaan.

Saat itu memang Saringgih merasakan jantungnya ber-debar keras, sepasang lutut goyah dan tengkuk, merinding dingin sedang sepasang matanya membeliak kasar. Dia hendak menjawab namun sesaat lidahnya terasa kelu.

"Cepat katakan apa yang kau lihat Saringgih! Keselamatan kita di tempat asing ini banyak tergantung dari cepat lambatnya kau memberi tahu aku!"

"Nyanyuk... di depan kita ada lapangan kecil..."

"Kantuik! Persetan dengan tanah lapang itu! Pasti ada hal lain yang lebih penting dari tanah lapang sialan itu!"

"Kau... kau benar Nyanyuk. Di ujung lapangan ada dua buah kuburan. Satu pakai batu nisan hitam, satunya tidak. Tapi... di samping kiri dan kanan kedua makam itu ada masing-masing lima tiang kayu. Pada empat tiang, dua di kiri dua di kanan terikat sesosok mayat. Rusak, busuk, mulai berbelatungan..."

"Ada yang kau kenali diantara keempat mayat itu?"

"Sulit Nyanyuk. Wajah mereka tertutup darah mengering dan sudah sangat rusak..:"

"Melangkah lebih dekat. Perhatikan apa yang me-nyebabkan kematian mereka. Diracun, ditusuk senjata tajam atau terkena pukulan sakti..."

Sambil mendukung Nyanyuk Amber, Saringgih me-langkah lebih dekat ke arah kedua makam. Dibukanya matanya besar-besar. Selain sulit untuk meneliti sebab kematian keempat orang diikat tegak ketiang kayu itu, juga saat itu hari bertambah gelap.

"Keempat orang ini agaknya menemui kematian dalam cara yang sama Nyanyuk. Muka mereka bersimbah darah..."

"Berarti sebab musabab kematian ada pada bagian kepala. Ayo kau perhatikan lagi lebih teliti..."

Untuk bisa melihat lebih jelas terpaksa Saringgih maju lagi dua langkah padahal saat itu perutnya sudah mau meledak muntah dan hidungnya tak sanggup lagi didera bau busuk yang luar biasa.

"Nyanyuk... Ambo melihat ada lobang kecil sebesar ujung jari pada setiap kening mayat..." kata Saringgih ketika pada akhirnya dia melihat lobang-lobang aneh dalam ukuran dan bentuk yang bersamaan pada kening masing-masing mayat!

"Bagus Saringgih. Sekarang coba kau perhatikan ciri-ciri keempat orang itu, termasuk pakaiannya lalu katakan padaku. Siapa tahu aku bisa menduga siapa-siapa mereka yang menemui ajal secara aneh di pulau ini!"

"Sulit diberi tahu Nyanyuk. Soalnya keempat mayat sudah sangat rusak. Pakaian merekapun sudah tidak karuan lagi. Tapi, ambo melihat ada tiga buah senjata ter-geletak di tanah. Kelihatannya bukan senjata-senjata sembarangan."

"Coba kau ceritakan senjata apa yang kau lihat itu!"

"Yang di sebelah kanan terletak di depan kaki mayat, berupa sebuah tombak pendek bermata dua..." menerangkan Saringgih.

"Tongkat pendek bermata dua... Hemmmmmm." ber-guman Nyanyuk Amber. "Bagian bawah tempat pegangan-nya dilapisi kulit..."

"Betul Nyanyuk..."

"Itu adalah Tombak Dwi Sula dari Banten! Berarti mayat di depan senjata ini adalah mayat Kiyai Surah Ungu! Seorang Pangeran Banten yang menyingkir dari keraton!"

Nyanyuk Amber terdiam sesaat lalu, "Ceritakan tentang senjata yang kedua..." katanya.

"Sebilah badik Nyanyuk. Berwarna kuning legam. Mungkin terbuat dari emas..."

"Kuning sampai ke hulunya?" tanya Nyanyuk Amber.

Ketika Saringgih membenarkan, wajah tua cekung itu nampak menjadi kelam. "Pendekar Badik Emas dari Bugis ternyata telah jadi korban pula," kata si orang tua perlahan. "Lalu apa senjata yang ke tiga Saringgih?"

"Sebilah keris bergagang gading..."

"Hemm... Tak bisa kuduga siapa pemiliknya. Tapi senjata ini biasanya merupakan senjata andalan orang-orang penting Istana Gading di pesisir selatan! Sulit diduga apa sebenarnya yang terjadi di pulau ini. Saringgih, tadi kau bilang ada dua makam di ujung lapangan."

"Benar Nyanyuk..."

"Satu ada batu nisan hitam. Satunya tanpa nisan..."

"Betul Nyanyuk."

"Apa yang tertulis pada makam yang ada batu nisan-nya?" bertanya lagi Nyanyuk Amber.

Saringgih majukan kepalanya sedikit untuk dapat mem-baca guratan pada batu nisan. "Disini hanya tertulis Tua Gila. Tak ada tulisan lain ..."

"Ada... bagiku itu sudah cukup. Ternyata benar telah ter-jadi sesuatu atas diri sabahatku. Tua Gila aku tidak menyangka kau bakal mendahuluiku..." Untuk beberapa lamanya Nyanyuk Amber termenung larut dalam kesedih-an.

"Tak ada tanda-tanda pada makam yang katamu tidak bernisan itu, Saringgih?" Si orang tua kemudian ajukan per-tanyaan.

"Sama sekali tidak ada. Namun seperti kuburannya Tua Gila, kubur satu inipun tanahnya masih merah..."

"Aneh. Siapa yang dikubur disamping kuburnya Tua Gila? Istrinya...? Setahuku dia tidak beristri! Muridnya? Hemmm...? Aku memang pernah mendengar Tua Gila mengambil seorang murid. Tapi masih sangat kecil. Paling tidak usia muridnya itu baru sekitar enam tahun. Lalu di mana anak itu? Di dalam kubur yang satu ini...? Saringgih, kubur tanpa nisan itu apakah sama besar dengan makam Tua Gila? Atau lebih kecil?"

"Sama besar Nyanyuk..." sahut Saringgih.

"Berarti ini makam orang gede! Ah, sulit kuduga siapa yang dikubur disini..." kata Nyanyuk Amber lalu setelah diam sesaat orang tua ini berkata.

"Saringgih kau ambil obat pelawan bau pusuk yang ada dalam saku baju celanaku sebelah kanan. Teteskan cairan yang ada di dalamnya ke kaki setiap mayat. Setelah itu kembalikan obat itu padaku..."

Si pembantu merogoh saku kanan Nyanyuk Amber. Di saku ini ditemuinya sebuah botol kecil. Botol ini berisi cairan berwarna coklat.

"Kau pergi teteskan obat itu. Tapi lebih dahulu dudukkan aku di depan makam Tua Gila. Aku ingin mengheningkan cipta dan berdoa..."

"Nyanyuk terus terang sejak menginjakkan kaki di pulau ini hatiku merasa tidak enak. Begitu selesai Nyanyuk berdoa sebaiknya lekas-lekas saja kita tinggalkan tempat ini."

Nyanyuk Amber tidak berkata apa-apa. Saringgih me-nundukkan mukanya di depan makam Tua Gila lalu melangkah mendekati mayat- mayat yang diikat di tiang. Dengan tengkuk merinding ketakutan setengah mati dan sambil menekap hidung pembantu ini teteskan cairan di dalam botol masing-masing satu tetes ke setiap kaki mayat yang membusuk itu.

Begitu cairan menyentuh kaki mayat, terdengar letupan.... Lalu mengepul asap coklat yang perlahan-lahan naik ke atas menutupi sosok mayat. Sesaat kemudian asap itu menipis dan akhirnya lenyap sama sekali. Bersamaan dengan lenyapnya asap coklat, bau busuk yang mengham-par di tempat itupun sirna perlahan-lahan.

"Obat aneh..." kata Saringgih dalam hati sambil menutup botol kecil itu kembaii. Pembantu ini tahu bahwa walaupun mempunyai daya pemusnah bau busuk yang ampuh namun kekuatan obat itu hanya mampu bertahan selama satu hari satu malam. Setelah itu bau busuk pasti akan muncul kembali.

Setelah pembantunya memasukkan botol obat kembali itu dalam saku celananya, Nyanyuk Amber mulai berdoa untuk arwah Tua Gila. Dalam berdoa seperti itu dia tiba-tiba mencium bau sesuatu. Bau asap rokok. Meskipun hatinya kini menjadi tidak tenang namun orang tua ini meneruskan juga membaca doa sampai selesai. Begitu selesai dia ber-tanya. "Saringgih...! Aku tahu kau tidak merokok. Tetapi aneh, aku mencium bau asap di tempat ini..."

"Ambo juga menciumnya Nyanyuk," menyahuti si pem-bantu sambil memandang berkeliling.

Tengkuknya terasa lebih dingin.

"Aku merasa ada mahluk bernafas disekitar tempat ini." kata Nyanyuk Amber yang membuat Saringgih tambah me-rinding. "Aku juga mendengar ada suara ketukarr-ketukan sangat halus. Seolah-olah datang dari perut pulau..."

"Nyanyuk, bukankah lebih baik kita segera pergi saja dari sini?" kata Saringgih pula.

"Diam Saringgih... Aku mendengar ada suara sesuatu di kejauhan... Seperti suara langkahlangkah kaki!"

Tiba-tiba kedua orang itu sama-sama tercekat. Saring-gih malah sampai tersentak saking kagetnya. Suara raungan anjing memecah kesunyian. Panjang dan meng-gidikkan.

"Suara anjing di pulau sekecil ini. Sungguh aneh..." kata Nyanyuk Amber seraya memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.

"Nyanyuk..." kata Saringgih dengan suara bergetar. "Ambo bisa kencing di celana kalau masih terus berada di tempat ini..."

"Kita akan segera pergi. Tapi tunggu sampai aku me-mastikan bahwa yang kudengar sebelum raungan anjing tadi adalah benar-benar suara kaki manusia..."

Kalau saja bukan orang tua itu yang harus dijaga dan diikuti ucapannya mungkin saat itu Saringgih sudah me-lompat dan lari meninggalkan tempat itu.

"Tak ada suara apa-apa Nyanyuk. Pastilah...! Mungkin suara desau angin laut atau gemerisik pepohonan yang tadi kau dengar... Bukan suara langkah kaki..."

"Aneh, aku seperti yakin itu adalah suara langkah kaki. Telapaknya bergerak sangat perlahan. Disengaja agar di-miringkan. Telinganya dipasang baik-baik."

Saringgih kembali memandang berkeliling. Pertama sekali ke arah pepohonan dan semak belukar dari jurusan mana tadi mereka datang. Tak kelihatan apa-apa. Lalu pembantu ini mengalihkan pandangannya ke arah batu-batu cadas hitam dan batu-batu karang tinggi yang mem-bentuk dinding setengah lingkaran di sebelah kiri. Tepat ketika dia memandang di sebuah celah antara dua batu karang tinggi mendadak dia melihat bayangan hitam besar bergerak.

"Nyanyuk..." suara pembantu flu tersendat dan tercekat.

"Ada apa Saringgih?"

"Ambo melihat sesuatu. Ada sosok bayangan besar di celah batu karang di kiri kita ...."

"Itu bayangan batu-batu karang saja agaknya Saringglh. Kenapa kau musti merasa takut?"

"Tidak Nyanyuk. Bayangan batu pasti diam. Tapi bayangan yang saya lihat bergerak perlahan-lahan!

Nyanyuk! Ada orang tinggi besar melangkah keluar dari celah batu karang!" seru Saringgih dengan muka pucat.

***Nyanyuk Amber meskipun terkejut mendengar ucapan pembantunya itu namun tetap berlaku tenang dan berkata. "Jangan takut. Tenang saja. Lekas beri tahu aku ciri-ciri orang itu... Kalau dia memang manusia, bukannya setan!"

Kedua mata Saringgih terpentang lebar kearah celah batu karang. Bayangan besar pada batu bergerak terus.

Perlahan tapi pasti. Lalu bayangan itu lenyap dan kini sebagal gantinya muncul sesosok tubuh tinggi besar. Orang ini berewokan, mengenakan baju kuning serta sehelai mantel panjang berwarna hitam. Di kepalanya ada sebuah topi tinggi.

"Apa yang kau lihat Saringgih... Lekas katakan padaku!" desis Nyanyuk Amber. Dengan suara tersendat-sendat pembantu itu segera mengatakan ciri-ciri orang tinggi besar yang melangkah mendatangi itu. Dalam takutnya Saringgih melangkah ke dekat Nyanyuk Amber. tiba-tiba sosok di depan sana keluarkan suara membentak garang dan keras.

"Jangan ada yang berani bergerak!"

Gerak langkah Saringgih tertahan.

"Si... siapa kau...?" Saringgih beranikan diri bertanya walau suaranya gagap.

"Budak! Kau tak layak bertanya!" si tinggi besar mem-bentak. Tujuh langkah dari hadapan makam dia berhenti. Lalu dia berpaling pada Nyanyuk Amber yang masih duduk bersila di kaki makam Tua Gita. "Kakek buta! Apakah kau sudah selesai berdoa?!"

Ditanya sekasar itu Nyanyuk Amber batuk-batuk be-berapa kali lalu balik bertanya, "Siapa tanya siapa?!"

"Kurang ajar! Aku tuan rumah di pulau ini! Aku yang layak bertanya!"

"Hemm, aku tidak tahu kalau kau tuan rumah di pulau ini. Setahuku sahabatku Tua Gila yang tinggal di sini..."

"Jadi... Tua Gila sahabatmu, hah? Apakah kacungmu ini tidak mengatakan bahwa di sini ada makam Tuan Gila yang menyatakan bahwa sahabatmu itu sudah mampus dan dikubur?!"

Nyanyuk Amber sunggingkan senyum. "Sebagai tuan rumah rupanya kau tidak pandai bicara sopan dan lunak..."

"Pertu apa bicara dengan manusia-manusia yang sebentar lagi akan jadi bangkai!" sentak si tinggi besar. Dia bergerak maju satu langkah.

Nyanyuk Amber tertawa mengekeh. Sebaliknya Saring-gih menyumpah dalam hati. "Gila!! Dalam keadaan seperti ini dia masih bisa tertawa seenaknya!"

"Semua manusia pasti akan jadi bangkai. Itu sudah ketentuan Tuhan. Tapi bukan berarti manusia bisa mendahului Tuhan, mencabut nyawa manusia sesamanya! Cakapmu yang sombong menyatakan bahwa kaulah yang telah membunuh keempat orang itu, lalu mayatnya kau ikat di tiang!"

"Ha ...ha...ha! Matamu buta tapi banyak melihat! Apakah kau sadar kalau sebentar lagi jumlah mayat akan ber-tambah menjadi enam? Kau dan kacungmu itu lalu akan kuikat ke tiang-tiang kayu sana!"

"Bagus kau telah memberi tahu!" sahut Nyanyuk Amber seenaknya. "Tua bangka sepertiku memang tidak berguna lagi hidup di dunia. Tubuhku sudah karatan. Lalu apa yang ditakutkan menemui kematian?!"

Mendengar ucapan Nyanyuk Amber itu kembali Saring-gih menyumpah dalam hati. "Kau tidak takut mati! Tapi aku masih kepingin hidup!"

"Kalau kau memang sudah siap untuk mati berarti aku tidak terlalu susah payah membunuhmu!" kata orang tinggi besar bertopi dan bermantel hitam.

"Tidak... Kau tidak akan susah membunuh tua bangka sepertiku. Hanya saja sebelum mati aku kepingin tahu mengapa kau menginginkan nyawaku? Juga nyawa ke-empat orang yang kau bunuh terdahu!u!"

"Jawabnya mudah dan singkat! Kutuk telah jatuh bahwa semua sahabat Tua Gila yang menginjakkan kakinya di tempat ini akan menemui kematian! Mati di tanganku!"

"Ah... Kau ini malaikat maut jadi-jadian rupanya!" ujar Nyanyuk Amber. "Tapi hari ini kau berhadapan dengan aku raja diraja segala malaikat jadi-jadian! Lekas berlutut di hadapanku, terangkan siapa dirimu. Minta ampun dan bunuh diri!"

Merah padam wajah si tinggi besar bermantel hitam itu. Tangan kanannya dipukulkan ke arah Nyanyuk Amber. Serangkum angin menderu menghajar orang tua itu. Saringgih berseru memberi ingat.

Orang tua bermata buta, bertangan dan berkaki buntung itu gerakkan bahu kanannya. Gerakan ini menyentakkan lengan panjang jubah yang dikenakannya. Dari ujung lengan jubah itu melesat keluar satu gelombang angin yang mengeluarkan suara bersiuran. Dua angin dahsyat saling tabrak di udara.

Saringgih melihat bagaimana bentrokan angin pukulan mengandung tenaga dalam tinggi itu membuat Nyanyuk Amber terbanting jatuh punggung di tanah. Sebaliknya orang bermantel hitam terjajar jauh ke belakang dan tersandar ke dinding karang.

"Kurang ajar! Tingkat tenaga dalam tua bangka buruk itu tidak rendah. Kalau tidak segera kuhantam dengan pukulan melumpuhkan, bisa-bisa aku mendapat celaka se-belum menghabisi nyawanya!"

Orang ini lalu menanggalkan mantelnya. Saringgih yang saat itu sudah melompat ke dekat Nyanyuk Amber segera memberitahu apa yang dilihatnya.

"Saringgih, kau menjauhlah. Cari perlindungan di balik pohon atau batu..."

"L.ebih baik Nyanyuk saya dukung dan larikan dari sini saat ini juga!" kata Saringgih.

"Kalau kau mau selamat ikuti ucapanku!" si orang tua membentak halus. Mendengar itu Saringgih tak berlaku ayal lagi. Dia melompat ke balik sebuah pohon.

Tepat pada saat dia sampai dibaJik pohon, di depan sana orang bertubuh tinggi besar kebutkan mantel hitamnya. Terdengarnya suara menggemuruh laksana ads tanah longsor. Bersamaan dengan itu satu gelombang angin laksana hantaman topan menghampar ganas me-nebar hawa panas. Batu pasir berhamburan. Semak belukar rambas. Tanah bergetar dan daun-daun pepohon-an jatuh luruh, batang dan cabang-cabangnya berderak-derak!

Nyanyuk Amber berseru keras. Dia kerahkan tenaga dalam penuh lalu goyangkan bahunya kiri kanan. Dua gelombang angin melesat menyongsong gemuruh angin lawan. Namun sambaran angin yang keluar dari mantel hitam lawan ternyata lebih dahsyat, membuat orang tua cacat ini tak bisa bertahan. Dengan tubuh mandi keringat karena berusaha menahan serangan lawan akhirnya Nyanyuk Amber terdorong lalu terseret mental beberapa jauh.

Nyanyuk Amber kini dapat membaca keadaan.

Dia segera berteriak pada pembantunya.

"Saringgih! Lekas lari ke perahu!"

"Nyanyuk! Kau sendiri bagaimana... Ambo akan dukung kau. Kita lari sama-sama!" kata pembantu yang setia itu.

Sambil berguling-guling si orang tua berteriak. "Lakukan apa yang aku bilang! Tunggu aku diperahu!"

Mendengar ini Saringgih segera tancap diri, lari sekencang yang bisa dilakukannya menuju perahu di tepi pantai.

Ketika melihat lawan tersapu jauh oleh pukulan angin mantel hitamnya, si tinggi besar gerakkan tangannya ke sebuah kantong di pinggang kiri. Ketika tangan itu digerak-kan ke depan, melesatlah dua buah benda hitam sebesar ujung jari kelingking. Dalam gelapnya malam senjata rahasia berwarna hitam ini sulit untuk dapat dilihat. Tapi telinga Nyanyuk Amber sudah dapat mendengar ada se-suatu yang melesat ke arahnya dalam kegelapan malam.

Pada saat tubuhnya dihantam angin dahsyat tadi dan menyadari bahwa dirinya tak bisa bertahan, begitu tubuh-nya kena disapu, dengan cerdik orang tua ini lipat tubuh-nya lalu gulingkan dirinya ke belakang. Tangan dan kakinya yang buntung membuat tubuhnya bisa mengkerut menjadi bulat laksana sebuah bola. Hal ini membuat daya gulingnya jadi berlipat ganda. Selagi dia bergulingan itulah dia men-dengar ada benda melesat ke arah kepalanya!

Nyanyuk Amber tundukkan kepalanya ke bahu kanan. Mulutnya menarik sebatang senjata rahasia berbentuk anak panah kecil yang tersisip di saku jubah pendek yang dikenakannya. Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam-nya ke tenggorokan, orang tua ini meniup keras-keras.

Anak panah perak itu melesat dalam kegelapan malam, memapas ke arah datangnya suara berdesing. Sesaat kemudian terdengar suara berdentingan. Anak panah Nyanyuk Amber berhasil menghantam benda bulat yang menyambar di udara. Walaupun anak panah perak itu patah berantakan namun benda yang dihantamnya mental jauh hingga si orang tua selamat dari hantaman senjata rahasia lawan yang diarahkan ke keningnya! Nyanyuk Amber dengan cepat terus menggulingkan dirinya sehingga akhirnya dia sampai di tepi pasir.

Dengan mengeluarkan suara menggereng geram si tinggi besar mengejar. Dia mengeruk lagi kantong di pinggang kirinya lalu sambil lari dia hantamkan senjata rahasianya. Untuk kedua kalinya pula Nyanyuk Amber me-nangkis dengan panah peraknya. Namun sekali ini tangkisannya meleset. Senjata rahasia lawan berdesing ke arah kepalanya. Dalam saat yang sangat berbahaya itu bahu Nyanyuk Amber menyerempet gundukan batu. Dengan cepat orang tua ini memutar tubuhnya lalu jatuh-kan diri di balik gundukan batu itu. Dia selamat. Senjata rahasia lawan Iewat seujung kuku di atas kepalanya! Tanpa menunggu lebih lama lagi orang tua ini kembali gulingkan diri di atas pasir.

Saringgih yang menunggu di atas perahu berteriak keras.

"Nyanyuk! Ambo di sini!"

Teriakan ini sudah cukup bagi Nyanyuk Amber untuk mengetahui arah di mana pembantunya berada. Orang tua ini lipat tubuhnya lebih dalam. Lalu tubuh itu melenting dan mencelat di udara, jatuh tepat diatas perahu. Seringgih serta merta mendayung perahu itu cepat-cepat ke tengah lautan.

Orang tinggi besar menggeram keras. Dia berusaha iari mengejar masuk ke dalam laut sampai tubuhnya teng-gelam sebatas pinggang. Namun perahu yang dikayuh Saringgih telah jauh ditengah. Dengan geram orang ini masih berusaha melepaskan lagi satu senjata rahasia. Namun senjata rahasianya itu hanya sempat menghantam bagian belakang perahu dan menancap di kayu perahu itu.

Kembali orang ini menggeram.

"Kakek cacat itu ternyata memiliki kepandaian hebat.

Baru dia seorang yang sanggup menangkis serangan senjata rahasiaku! Aku belum pernah melihatnya sebelum-nya. Tapi dari ciri-cirinya... Jangan-jangan dia adalah Nyanyuk Amber, tokoh silat dari puncak Singgalang, bekas guru Raja Rencong Dari Utara! Kurang ajar! Mengapa tadi aku tidak menghantamnya dengan lima senjata rahasia sekaligus! Kalau dia berani muncul lagi, tak akan kuberi ampun bangsat tua itu!" Lalu sambil mengepalkan kedua tinjunya orang ini memutar tubuh dan lenyap dalam ke-gelapan malam.

Sementara itu di atas perahu.

"Manusia itu luar biasa... Serangahnya ganas memati-kan! Hampir saja aku benar-benar hendak dibuatnya jadi bangkai!" kata Nyanyuk Amber seraya berusaha duduk sementara perahu meluncur denan cepat. "Kita sudah cukup jauh ke tengah. Manusia itu pasti tidak dapat lagi melihat kita. Sekarang putar arah perahu ini, Saringgih!"

Tentu saja si pembantu menjadi heran.

"Di putar kemana Nyanyuk? Bukankah kita kembali ke pulau besar?"

"Tidak. Kita kembali ke pulau itu!"

Saringgih tersentak kaget dan hentikan mendayung perahu.

"Ambo yang salah dengar atau Nyanyuk yang salah ucap?!"

"Kau tidak salah dengar! Aku tidak salah ucap! Kita kembali ke pulau menyelinap lewat arah selatan pada bagian yang berbatu-batu barang..."

"Nyanyuk! Kau barusan saja lepas dari maut! Sekarang malah hendak kembali ke tempat cilaka itu!"

"Saringgih tugasku menyelidiki kematian sahabatku Tua Gila. Aku merasa ada sesuatu yang aneh di balik kematian-nya itu. Jika kau takut kembali ke pulau, antarkan saja aku sampai di pantai selatan. Biar aku naik ke pulau seorang diri. Kau boleh kembali ke Gunung Singgalang!"

Saringgih jadi merasa tidak enak mendengar kata-kata itu. maka diapun menyahuti. "Nyanyuk, kita pergi sama-sama. Pulangpun harus sama-sama..."

***Karena pulau itu tidak terlalu besar maka dalam waktu tak selang berapa lama perahu yang dikayuh Saringgih telah sampai di bagian barat yaitu bagian yang pantainya penuh dengan batu-batu karang tinggi diseling batu-batu cadas hitam. Saat itu tengah terjadi pasang naik sehingga mereka bisa masuk jauh ke daratan.

Angin laut menerpa bebatuan di sepanjang pantai me-nimbulkan suara aneh di telinga Saringgih.

"Ceritakan padaku keadaan di sekitar sini." kata Nyanyuk Amber begitu dia merasa perahu mulai meluncur perlahan.

"Air laut sedang pasang naik Nyanyuk. kita bisa masuk terus ke pedalaman pulau. Pesisir di sini penuh dengan batu-batu karang menjulang tinggi serta batu-batu cadas hitam..."

"Bagus, berarti kita sampai di arah yang tepat. Di bagian belakang kawasan makam Tua Gila. Kau harus menyem-bunyikan perahu ini. Cari tempat yang baik untuk kita. Dan jangan meninggalkan jejak atau tanda-tanda sedikitpun!"

Di celah batu-batu besar hitam Saringgih menghentikan perahunya, lalu dia mendukung Nyanyuk Amber turun ke darat.

"Nyanyuk, ambo melihat ada lengkungan dalam salah satu dinding karang. Mungkin sekali goa..."

"Bawa dan tinggalkan aku disana. Lalu kau lekas cari tempat yang baik untuk menyembunyikan perahu." kata Nyanyuk Amber pula.

Saringgih mendukung orang tua itu menuju lengkungan batu. Ternyata lengkungan itu bukan sebuah goa melain-kan lengkungan biasa saja namun cukup besar untuk mereka berdua.

Sebelum Saringgih pergi mencari tempat untuk me-nyembunyikan perahu Nyanyuk Amber meminta agar pem-bantunya itu mencari ranting-ranting dan semak belukar sebanyak mungkin untuk menutupi bagian terbuka ruangan batu yang akan mereka jadikan tempat ber-sembunyi sekaligus guna menghalangi kerasnya tiupan angin dari laut.

"Nyanyuk, apa kita benar-benar akan menuju makam Tua Gila malam ini juga?" bertanya Saringgih sambil menancapkan ranting-ranting, serta belukar di depan legukan batu karang.

"Aku sudah memikirkan hal itu kembali. Malam ini kita tetap di sini saja. Kau tentu letih, perlu istirahat dan tidur," jawab Nyanyuk Amber, "Besok saja, kalau matahari telah terbit kita kembali ke lapangan yang ada dua makam itu..."

Paginya ketika matahari muncul dan pasang telah turun ternyata tempat mereka berada cukup jauh dari pantai. Dari situ mereka dapat melihat pantai dengan jelas. Se-baliknya seseorang yang datang dari arah pantai agak sulit melihat mereka karena ada sebuah batu karang cukup tinggi menghalangi pemandangan.

"Nyanyuk, kau ingin ambo mencari ikan dan membakar-nya untuk sarapan pagi?" bertanya Saringgih.

"Jangan jadi orang tolol! Aku tak ingin mahluk yang katanya kini menguasai pulau ini melihatmu. Membakar ikan sama saja mengundang kedatangan mahluk celaka itu kemari!"

Saringgih terdiam menyadari ketololannya sendiri. Dalam hati dia berkata " Alamat akan kosong perutku pagi ini."

"Ada hal lebih penting yang harus kita lakukan..."

"Hal apa Nyanyuk?"

"Dukung aku ke tempat kau menyembunyikan perahu."

Begitu sampai di tempat perahu disembunyikan, yaitu dibalik sebuah batu karang lancip orang tua itu minta di-turunkan lalu pada pembantunya dia berkata.

"Malam tadi salah sebuah senjata rahasia yang di-lemparkan ke arah kita mengenai bagian belakang perahu. Senjata rahasia itu pasti masih menancap disana. Coba kau periksa!"

Saringgih melakukan apa yang diperintahkan Nyanyuk Amber. Sesaat kemudian terdengar pembantu ini berkata. "Kau betul Nyanyuk. Ada bagian kayu perahu yang ber-lobang tetapi tidak sampai tembus. Sebuah benda bulat menancap di dalamnya. Ambo sudah berusaha men-cungkil, tapi sulit sekali..."

"Kalau kau cungkil dengan mulut atau jari tanganmu tentu saja sulit, Saringgih. Pergunakan ujung kerismu!"

"Nyanyuk, keris Pusako Dewa milikku bukan senjata sembarangan. Masakan dipakai untuk mencungkil..."

Nyanyuk Amber cepat memotong kata-kata pembantu-nya itu. "Benda yang hendak kau cungkil juga bukan senjata sembarangan Saringgih! Paling tidak senjata seperti itu telah menewaskan empat tokoh yang kau lihat telah jadi mayat itu! Bahkan nyaris membunuhku! Keluar-kan kerismu dan cungkil senjata rahasia itu dengan hati-hati!"

Saringgih tak bisa berkata apa-apa lagi. Dikeluarkannya keris pusaka yang terselip di pinggangnya lalu dengan ujung senjata ini dia mulai mencungkil benda yang me-nancap di kayu belakang perahu. Setelah beberapa lama terdengar suara pembantu itu berkata.

"Ambo berhasil mencungkil senjata rahasia ini, Nyanyuk! Bentuknya seperti kelereng..."

"Kelereng...?" mengulang Nyanyuk Amber.

Dengan tangan gemetar si pembantu menggenggamnya lalu memegang-megang benda bulat itu dengan ujung jarinya. Benda bulat terasa licin dan besarnya seujung jari kelingking.

"Hemmm..." Nyanyuk Amber bergumam, Otaknya be-kerja keras untuk menerka senjata rahasia yang dikatakan Saringgih itu. Lalu dia bertanya. "Saringgih, katakan pada-ku apa warna benda bulat yang besarnya lebih kecil dari kelereng ini?"

"Hitam legam. Mengeluarkan sinar redup menggidik-kan!" sahut Saringgih.

Paras orang tua bermata buta itu berubah.

"Mutiara Setan..." desisnya. "Pasti ini Mutiara Setan! Senjata ini tidak beracun. Tetapi sekali menancap di tubuh manusia dia akan bergerak menutup jalan darah, me-nembus dan menghancurkan urat-urat besar hingga korban tak mungkin ditolong. Apalagi kalau sampai me-nembus kepala. Korban pasti akan mati seketika! Itulah yang terjadi dengan empat tokoh silat yang sekarang telah menjadi mayat!"

"Nyanyuk, kalau kau sudah tahu nama senjata rahasia itu berarti kau juga tahu siapa pemiliknya," berkata Saringgih.

Si orang tua mengangguk. "Kita harus hati-hati. Sangat hati-hati. Manusia yang kita hadapi saat ini sejahat iblis selicik setan!"

"Siapa orangnya. Nyanyuk?" tanya Saringgih ingin tahu.

"Nanti saja kau lihat sendiri. Kita berangkat sekarang!"

Walaupun masih ingin berlama-lama di tempat itu namun Saringgih tak bisa membantah, Dia jongkok di hadapan si orang tua..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.92.141.211
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia