Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kisah Si Bangau Putih

Seri : Bu Kek Siansu #14

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Bagi mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tidak pernah melakukan perjalanan melintasi Tembok Besar, tentu mengira bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang oleh bang­sa Mancu tentu berhenti sampai di Tem­bok Besar itu. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. Bangsa Mancu sendiri merupakan bangsa yang tinggal jauh di utara yang amat dingin, daerah yang keras dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih terdapat daerah yang amat luas. Masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang luas, ke­mudian terdapat daerah Mongolia Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih luas. Akan tetapi, setelah melewati Tembok Besar memang daerah yang liar dan kejam, dengan tak terhitung banyak­nya bukit di antara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.

Padang pasir seperti ini memang ga­nas dan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-tulang kuda, onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan di sana-sini dapat diketahui bahwa lautan pasir itu sudah banyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi lautan pasir, dibiarkan saja berserakan, membusuk dimakan terik panas matahari, atau digerogoti anjing-anjing serigala dan binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama mengering. Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu, memang kejam, juga me­ngandung kesunyian yang mendatangkan suasana yang menyeramkan dan penuh keajaiban. Bayangkan saja betapa nme­ngerikan tersesat di lautan pasir seperti itu, di mana tidak dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir dan pasir di mana-mana, panas dan silau,tidak diketahui lagi mana utara mana selatan. Belum lagi kalau datang badai yang membuat pasir bergulung-gulung dan berombak seperti air di lautan, menelan apa saja yang menghalang di depan. Para pedagang, yang melakukan perjalanan kemudian tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan terjebak dalam lautan pasir tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan ngerinya, banyak di antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang aneh-aneh. Ada yang me­lihat air terjun dengan air yang melim­pah-limpah dan segar sejuk, akan tetapi ketika mereka menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak sungai dengan airnya yang segar, atau melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Namun, semua itu hanyalah bayangan khayal belaka, yang timbul karena besarnya keinginan hati mereka mengharapkan air, pohon dan sebagainya yang amat mereka butuh­kan itu.

Di tengah-tengah satu di antara pa­dang-padang pasir yang amat luas itu, terdapat sebuah gedung istana kuno, lengkap dengan perkebunan yang cukup luas, dengan pohon-pohon buah yang su­bur, dan sayur-sayuran, bahkan tumbuh pula gandum di ladang. Terdapat pula sumber air tak jauh dari istana kuno itu. Sungguh merupakan suatu keadaan yang ajaib, dan andaikata ada orang tersesat sampai ke daerah itu lalu melihat bangunan istana berikut perkebunannya yang subur itu, tentu dia akan mengira bahwa dia pun hanya melihat pemandangan khayal belaka.

Akan tetapi tidaklah demikian se­sungguhnya. Bangunan itu memang sebuah bangunan istana yang besar, pernah di jaman dahulu bangunan ini merupakan istana peristirahatan dari seorang raja­diraja, seorang kaisar besar yang bukan lain adalah Kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol! Akan tetapi, puluhan tahun yang lalu, istana itu dihuni oleh seorang sakti yang aneh, yang di dunia persilatan tingkat tinggi dikenal sebagai tokoh dongeng yang bernama Dewa Bong­kok. Nama Dewa Bongkok yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak kalah terkenalnya dan dianggap sebagai setengah dongeng saja, seperti halnya Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es! Setelah Dewa Bongkok meninggal dunia, kini yang menjadi penghuni istana Gurun Pasir itu adalah muridnya yang bernama Kao Kok Cu, yang di dunia persilatan dikenal sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

Nama besar Pendekar Naga Sakti ini pernah menggemparkan dunia persilatan, dan dia tidak kalah terkenalnya dibanding­kan mendiang gurunya. Kini Kao Kok Cu telah menjadi seorang kakek yang tua renta, tinggal di dalam istana kuno itu berdua saja dengan isterinya. Isterinya bukan wanita sembarangan, melainken seorang pendekar wanita yang juga per­nah menggemparkan dunia persilatan. Namanya Wan Ceng, ketika kecil pernah tinggal di Kerajaan Bhutan, jauh di barat bahkan menjadi saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan sehingga ia memperoleh nama julukan Candra Dewi. Wan Ceng juga memiliki kesaktian dan kini ia dalam usia tujuh puluh dua tahun tinggal bersama suaminya di Istana Gu­run Pasir. Mereka berdua hidup di situ tanpa pelayan hanya berdua saja, me­ngerjakan ladang dan kebun sendiri yang hasilnya jauh lebih daripada cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Sebagian besar dari waktu luang mereka diper­gunakan untuk bersamadhi dan bertapa.

Keadaan sepasang suami isteri ini tidak dapat disamakan dengan keadaan para pertapa yang sengaja mengasingkan diri dari dunia ramai, pergi bertapa de­ngan suatu pamrih tertentu. Orang pergi meninggalkan dunia ramai untuk bertapa di puncak bukit yang sunyi, di dalam gua yang sederhana, hanya mengenakan cawat saja, hanya makan seadanya, menyiksa diri menahan haus dan lapar, tentu mempunyai suatu tujuan tertentu. Tujuan inilah pamrih, dan semua pamrih, baik yang terbuka maupun terselubung, selalu tentu menjangkau suatu keadaan yang menyenangkan. Biarpun pamrih mendapat­kan keadaan yang menyenangkan ini di­perhalus dengan sebutan muluk tetap saja merupakan pamrih demi kesenangan diri. Mungkin dia akan mengatakan bahwa dia bertapa untuk mencari kebahagia­an mencari kesempurnaan hidup, mencari Tuhan, dan sebagainya lagi. Namun pencariannya itu sendiri membuktikan bahwa dia menginginkan sesuatu yang dianggap­nya akan mendatangkan kesenangan da­lam bentuk kedamaian, kebahagiaan, dan lain sebutan lagi.

Sepasang suami isteri itu tidak men­cari apa-apa. Istana Gurun Pasir itu memang milik mereka, peninggalan dari Dewa Bongkok kepada muridnya, yaitu kakek Kao Kok Cu. Mereka berdua me­mang senang tinggal di tempat sunyi itu, bukan untuk mencari sesuatu atau men­jadikan tempat yang sunyi itu sebagai pelarian dari dunia ramai. Sama sekali tidak. Mereka memang merasa senang tinggal di tempat yang penuh keheningan itu dan merasa berbahagia.

Akan tetapi, pada hari itu, Istana Gurun Pasir tidaklah setenang biasanya. Dari dalam gedung istana tua itu kini terdengar suara gelak tawa dan percakapan yang diselingi suara ketawa gembira. Kiranya suami isteri tua itu kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka. Tamu itu bukan orang asing. Dia seorang hwesio yang bernama Tiong Khi Hwesio, usianya juga sudah tujuh puluh dua tahun dan tentu saja kunjungan hwesio ini di­sambut gembira oleh kakek dan nenek itu, terutama sekali nenek itu karena hwesio ini bukan lain adalah saudara tirinya sendiri, seayah berlainan ibu. Di waktu mudanya, Tiong Khi Hwesio juga seorang pendekar sakti yang pernah meng­gemparkan dunia kang-ouw dengan julukannya yang mengerikan, yaitu Si Jari Maut! Dia menikah dengan Syanti Dewi, puteri Kerajaan Bhutan dan sampai tua dia tinggal di kerajaan kecil itu. Setelah isterinya meninggal dunia, dia hampir gila karena duka. Akan tetapi, pertemu­annya dengan seorang pendeta tua me­nyadarkannya dan mulai saat itu, Wan Tek Hoat, demikian namanya, lalu menggundul rambut kepala dan mengenakan jubah, menjadi seorang hwesio yang ber­kelana.

Mereka bertiga bercakap-cakap sambil makan sederhana dengan sayur segar yang dimasak sendiri oleh nenek Wan Ceng. Kemudian mereka bertiga keluar dari istana itu dan duduk di serambi depan sambil bercakap-cakap. Kao Kok Cu yang dahulu berjuluk Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu, biarpun usianya sudah hampir delapan puluh tahun masih nampak gagah penuh semangat. Lengan kirinya yang buntung itu tidak membuat dia kelihatan mengerikan, bahkan membuatnya nampak lebih berwibawa. Wajah­nya yang tampan membayangkan kelem­butan, sinar matanya mencorong seperti mata naga namun juga membayangkan kelembutan dan kesabaran. Melihat se­pintas lalu, takkan ada orang mengira bahwa kakek tua renta yang lengan kiri­nya buntung ini memiliki kesaktian yang amat hebat. Dua macam ilmu simpanan­nya, yaitu Sin-liong Hok-te, pasangan kuda-kuda yang membuat tubuhnya se­perti mendekam di atas tanah bagaikan seekor naga, kemudian dapat menimbul­kan tenaga dahsyat yang mujijat, dan Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, jarang dapat ditandingi di dunia persilatan. Is­terinya, nenek Wan Ceng, biarpun usianya juga sudah tua sekali, masih nampak sehat. Mukanya tidak penuh keriput dan kulit muka itu masih halus kemerahan saking sehatnya, walaupun giginya telah ompong dan rambut di kepala telah putih semua. Nenek ini pun memiliki ilmu simpanan yang khas, yaitu Ban-tok-ciang, dan kalau ia sudah mengerahkan tenaga memainkan ilmu silat ini, kedua tangan­nya mengandung selaksa racun (ban-tok) yang amat dahsyat dan berbahaya bagi lawan. Juga pedangnya, Ban-tok-kiam, merupakan pusaka yang mengerikan. Ada­pun tamu itu Tiong Khi Hwesio, biarpun sudah setua nenek itu, namun tubuhnya masih tegap, jalannya masih tegak. Ju­bahnya kuning bersih, matanya tajam berkilat dan mulutnya selalu tersenyum sinis. Kakek yang pernah berjuluk Toat­-beng-ci (Si Jari Maut) ini memiliki ber­bagai ilmu silat simpanan seperti Pat­-mo Sin-kun, Pat-sian Sin-kun, dan memiliki ilmu sin-kang (tenaga sakti) yang diberi nama Tenaga Inti Bumi. Juga pedangnya, Cui-beng-kiam, merupakan se­buah pedang pusaka yang ampuh sekali.

Sebetulnya baru beberapa bulan yang lalu, Tiong Khi Hwesio berjumpa dengan kakek dan nenek itu ketika mereka se­mua menghadiri pernikahan Pendekar Suling Naga, yang bernama Sim Houw, dengan Can Bi Lan, gadis yang pernah mendapat bimbingan ilmu silat dalam waktu singkat dari kakek dan nenek ini sehingga dapat dibilang gadis itu murid mereka. Pernikahan itu diadakan di ru­mah Pendekar Kao Cin Liong, putera tunggal suami isteri dari Istana Gurun Pasir ini. Akan tetapi karena pertemuan itu terjadi dalam sebuah pesta di mana hadir banyak tamu, mereka merasa ku­rang leluasa bercakap-cakap. Siapa kira, tahu-tahu kini hwesio tua itu muncul di istana mereka, tentu saja kakek dan nenek itu menjadi gembira bukan main.

“Tek Hoat, sungguh aku girang bukan main bahwa engkau sudi datang berkun­jung kepada kami. Pertemuan dalam usia yang amat tua ini sungguh mendatangkan kenangan ketika masih muda, dan menggembirakan sekali. Terima kasih, Tek Hoat.” Nenek itu memang selalu menye­but saudara tirinya dengan nama kecilnya saja, tidak peduli bahwa kini saudara tirinya itu telah menjadi seorang hwesio tua, seorang pendeta!

Tiong Khi Hwesio tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, bertemu dan bercakap-cakap denganmu membuat orang sama sekali lupa bahwa dia telah menjadi tua bangka, Wan Ceng. Sikap dan kata-katamu seolah-olah tak pernah berubah, aku me­lihatmu seperti melihat engkau ketika masih gadis, ha-ha-ha!”

Kao Kok Cu, juga ikut tersenyum kemudian dia yang biasa bersikap serius, berkata dengan halus namun meyakinkan, “Memang, waktu berjalan dengan cepat­nya dan tahu-tahu kita semua telah men­jadi tua, sudah masak untuk meninggal­kan dunia ini. Akan tetapi, pernahkah kita menyelidiki pada diri sendiri, ke­baikan dan kegunaan apa saja yang per­nah kita lakukan untuk mengisi kehidup­an kita yang tidak berapa panjang ini?”

Ucapan ini membuat Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio termenung sampai beberapa lamanya. Mereka terbenam dalam lamunan masing-masing. Kemudian Tiong Khi Hwesio berkata. “Omitohud Kao-taihap, ucapanmu itu menggugah semua kenangan lama dan pinceng me­lihat betapa selama hidup pinceng itu, jauh lebih banyak dukanya daripada suka­nya dan jauh lebih banyak buruknya dari­pada baiknya perbuatan pinceng. Perbuat­an buruk itu pinceng lakukan karena dorongan nafsu, sedangkan perbuatan baik pun menyembunyikan pamrih demi keuntungan diri pribadi. Omitohud, kalau dikaji benar, tidak ada baiknya perbuatan pinceng”

“Aih, jangan kau berkata demikian, Tek Hoat. Aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, engkau berjiwa pendekar yang gagah perkasa. Kalau tidak demikian, mana mungkin enci Syanti Dewi sampai tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu? Engkau terlalu merendahkan diri sendiri,” kata Wan Ceng. “Banyak sudah kegagah­an kaulakukan karena memang watakmu yang gagah perkasa, seperti seorang pen­dekar sejati, tanpa pamrih.”

“Tapi.... tapi.... kalau pinceng ingat sekarang, semua perbuatan itu pinceng lakukan demi cinta pinceng kepada men­diang isteriku, Syanti Dewi. Andaikata tidak ada Syanti Dewi, tidak ada cintaku terhadapnya.... ah, tidak tahulah aku, apa yang akan terjadi dengan diriku....“ Tiong Khi Hwesio nampak termangu.

Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Memang demikianlah keadaannya. Kita tidak pernah bebas. Perbuatan kita tidak pernah bebas daripada pamrih. Karena ikatan-ikatan maka kita selalu berbuat dengan pamrih di belakang perbuatan itu, membuat semua perbuatan kita palsu adanya. Betapapun baiknya suatu per­buatan itu menyembunyikan pamrih, ma­ka perbuatan itu adalah suatu kejahatan pula, karena perbuatan itu hanya men­jadi semacam cara untuk mendapatkan hasil yang kita kehendaki.”

Tiong Khi Hwesio juga menarik napas panjang. “Omitohud, bijaksana sekali ucapanmu itu, Kok-taihiap. Akan tetapi, bagaimana mungkin perbuatan kita tidak menyembunyikan pamrih?”

“Bukankah pamrih itu muncul dari ikatan kepada sesuatu? Ikatan inilah yang menjadi pamrih dalam perbuatan kita. Karena itu, satu-satunya kebenaran adalah kebebasan! Sebelum bebas dari semua ikatan, tak mungkin perbuatan kita be­nar, dalam arti yang sedalam-dalamnya. Kita harus berani bebas, harus berani sendirian, karena bersendirian ini merupakan kenyataan hidup. Masing-masing dari kita membawa kehidupan sendiri-sen­diri dan akan mengakhiri kehidupan ini sendiri-sendiri pula. Kita takut bersen­dirian, melihat kenyataan betapa kita ini masing-masing kosong, lemah tak berarti, maka timbullah rasa takut dan kita lalu mencari pegangan, mencari ikatan se­banyaknya agar si aku tidak kehilangan pijakan. Kita memperbanyak ikatan yang kita anggap mendatangkan kekuatan dan mendatangkan hiburan, seperti orang takut terhadap setan lalu mencari banyak teman. Padahal, ikatan-ikatan inilah pang­kal semua kesengsaraan.”

Wan Ceng yang sejak tadi mendengar­kan, mengerutkan alisnya. Sudah sering ia bercakap-cakap dengan suaminya ten­tang hal ini, dan masih juga merasa sukar untuk dapat menangkap maknanya yang tepat. Kini ada Tiong Khi Hwesio di situ, maka ia mengajukan bantahannya lagi agar dapat lebih mudah menyelidiki dan mengerti.

“Akan tetapi, kalau kita membiarkan diri bebas dari ikatan, lalu mana ada cinta? Apakah kita harus bersikap tidak peduli, apakah kita harus meniadakan kewajiban-kewajiban dan hidup dengan sikap acuh dan masa bodoh?”

Suaminya tersenyum, senyum penuh kasih yang selalu ditujukan kepada is­terinya. Sudah sering isterinya memban­tah seperti ini, dan dia tahu bahwa is­terinya masih belum mengerti benar dan kini minta dukungan Tiong Khi Hwesio terhadap sanggahan atau bantahannya itu.

“Benar sekali, Kao-taihiap, seperti apa yang dikemukakan isterimu. Agaknya, kebebasan seperti ini, seperti yang kau­katakan tadi berlawanan dengan tugas-tugas dalam kehidupan ini, seperti ke­wajiban terhadap keluarga, terhadap ma­syarakat, pemerintah dan sebagainya. Bukankah kalau sudah bebas dari segala­nya seperti itu, kita lalu menjadi acuh dan hidup seperti boneka saja?”

Kao Kok Cu tersenyum dengan penuh kesabaran. Dia tahu betapa sukarnya mempelajari hidup, betapa sukarnya mem­buka mata melihat kenyataan hidup seperti apa adanya. Dia sendiri pun baru-baru saja, dalam usia tua renta, dapat melihat kenyataan ini dengan waspada.

“Marilah kita selidiki bersama. Semua perbuatan kita merupakan pencerminan da­ri keadaan batin, bukan? Kalau batin tidak bebas, perbuatan pun tidak akan bebas dari pamrih. Oleh karena itu, dimaksud­kan dengan kebebasan di sini bukanlah kebebasan lahiriah. Lahiriah, kita tidak mungkin bebas. Kita adalah bagian dari masyarakat, bagian dari bangsa dan ne­gara dengan segala macam adat istiadat dan hukumnya. Kita secara lahiriah tidak mungkin bebas dari semua itu, dari ke­wajiban terhadap keluarga, terhadap pe­merintah, terhadap pekerjaan, terhadap teman, masyarakat dan sebagainya. Akan tetapi, haruskah batin juga terikat? Tak dapatkah secara lahiriah kita mempunyai, akan tetapi batin tidak ikut memiliki? Hanya batin yang bebas saja yang akan dapat mengenal cinta kasih, bukan cinta nafsu yang mengikat.”

Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng mendengarkan, terdiam dan seperti ter­pesona karena mereka pun dapat melihat kenyataan melalui petunjuk ini.

“Sekarang aku mulai dapat melihat,” kata Wan Ceng mengangguk-angguk. “Be­bas bukan berarti bebas semau gua, karena semau gua merupakan tindakan lahiriah, tindakan badan penuh nafsu, tindakan pikiran yang selalu ingin enak sendiri. Bebas batin mendatangkan cinta kasih, dan perbuatan yang didasari cinta kasih tentu tidak akan menyeleweng daripada kebenaran.”

“Omitohud....!” Tiong Khi Hwesio memuji sambil merangkapkan kedua ta­ngan di depan dada. “Betapa bahagianya hati pinceng, betapa beruntungnya pinceng dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah menuntun pinceng untuk datang berkunjung sehingga sempat berbincang-bincang dengan kalian berdua. Pinceng sudah mengalami sendiri akan buruknya ikatan. Pinceng terikat lahir batin dengan Syanti Dewi sehingga ketika isteriku itu meninggal dunia, pinceng seperti orang gila karena kehilang­an!”

“Ikatan selalu mendatangkan duka dan kehilangan. Yang dapat kehilangan hanya mereka yang memiliki. Kalau batin ti­dak memiliki apa-apa, bagaimana bisa kehilangan? Itulah namanya bebas batin­iah, walaupun lahiriah terikat kaki ta­ngan dan lehernya oleh segala macam kewajiban hidup.”

“Wah-wah, terima kasih!” Tiong Khi Hwesio bangkit dengan wajah cerah dan gembira sekali. “Akan tetapi, mengapa kita tenggelam ke dalam hal-hal yang begini serius? Pinceng ingin sekali me­lihat-lihat lautan pasir yang maha luas ini. Kabarnya di padang pasir sering terjadi keanehan-keanehan, nampak ke­kuasaan alam yang maha hebat. Maukah kalian mengantar pinceng melihat-lihat dan menunjukkan segala kehebatan itu kepada pinceng?”

Kao Kok Cu dan Wan Ceng juga bang­kit sambil tertawa dan mereka bertiga lalu meninggalkan istana itu, menuju ke selatan karena istana itu menghadap ke timur, ke arah Mongol dari mana Kaisar Jenghis Khan berasal.

***

Tiong Khi Hwesio kagum bukan main ketika suami isteri itu membawanya ke bagian-bagian yang luar biasa dari pa­dang pasir itu. Ada bagian di mana pasir­nya besar-besar dan agak hitam, ada pula bagian di mana pasirnya lembut sekali dengan warna putih berkilauan seperti bubuk perak. Ada yang permukaannya demikian halus seperti sutera, adapula yang membentuk keriput-keriput seperti alun samudera. Juga terdapat bagian di mana terdapat batu-batu besar berbentuk aneh-aneh karena permainan angin dan terpukul pasir-pasir yang di­terbangkan angin. Luar biasa sekali me­lihat betapa ada permukaan pasir yang tidak pernah diam, seperti air di lautan, selalu berubah bentuknya karena pasir­-pasir halus di permukaan itu terbawa angin membentuk garis-garis yang selalu berubah. Seolah-olah ada kehidupan yang tidak nampak di tempat yang teramat sunyi itu. Berkali-kali Tiong Khi Hwesio mengeluarkan suara pujian dengan penuh kagum dan heran.

Melihat kegembiraan saudara tirinya, Wan Ceng menjadi ikut gembira dan bangga. “Engkau belum melihat yang paling hebat, Tek Hoat,” katanya bangga.

“Wah? Masih ada yang lebih hebat dari ini? Bawa pinceng ke sana, pinceng ingin melihat yang paling hebat!”

“Bagian itu jauh di selatan, makan waktu perjalanan hampir satu hari, di­sebut sebagai Lautan Maut. Di sana eng­kau akan melihat badai lautan pasir, melihat pasir bagaikan air laut menderu­-deru, dengan ombak yang setinggi rumah.”

“Wah, hebat! Hayo kita ke sana!” ajak Tiong Khi Hwesio, tertarik sekali. Se­bagai seorang bekas pendekar, tentu saja keadaan bahaya merupakan tantangan yang menggairahkan hatinya.

“Di sana berbahaya sekali,” kata Kao Kok Cu. “Bahkan rombongan onta dengan orang-orang yang paling berpengalaman sekalipun menjauhi bagian itu dan lebih baik melakukan perjalanan memutar yang lebih jauh daripada harus menempuh Lautan Maut itu.”

“Akan tetapi kita bukanlah orang­-orang yang lemah seperti mereka!” kata Wan Ceng kepada suaminya. “Bukankah kita pernah beberapa kali ke sana dan mampu menahan serangan badai?”

Kao Kok Cu tersenyum kepada isteri­nya. “Ha, agaknya engkau lupa bahwa hal itu terjadi puluhan tahun yang lalu. Ke­tika itu usia kita belum lima puluh ta­hun.”

“Apa bedanya? Kita masih kuat dan bahwa kita bertiga dapat menguji diri apakah masih ada kemampuan dalam tubuh yang tua ini.”

“Cocok! Ha-ha-ha, Kao-taihiap, apa­kah engkau tidak ingin menggembirakan seorang sahabat seperti pinceng? Sebelum maut datang menjemput, pinceng ingin sekali melihat dan merasakan betapa hebatnya badai di Lautan Maut itu.”

Kao Kok Cu menarik napas panjang. “Baiklah, tentu saja kita bertiga akan dapat melindungi diri sendiri dari badai. Di sana terdapat banyak batu besar yang dapat dipergunakan sebagai tempat ber­lindung. Akan tetapi perjalanan itu tentu akan makan waktu dua hari pulang pergi dan di sana tidak terdapat makanan atau minuman apa pun. Kita harus membawa bekal.”

Mereka kembali ke istana tua dan sibuklah mereka membuat perbekalan untuk perjalanan besok. Mereka bergem­bira seperti tiga orang pemuda remaja yang membuat persiapan untuk perbekal­an perjalanan tamasya besok.

Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah berangkat meninggalkan istana gurun pasir, menuju ke selatan. Lewat tengah hari mereka tiba di bagian lautan pasir yang dimaksudkan oleh Wan Ceng. Sebelum berangkat, Kao Kok Cu memperingatkan mereka agar berhati-hati.

“Sekarang musim yang paling ganas di sana, di waktu badai sedang besarnya dengan adanya pemutaran angin dari utara ke timur.”

Dengan buntalan perbekalan di pung­gung mereka, tiga orang ini memasuki daerah Lautan Maut. Nampaknya memang tidak ada apa-apa dan Tiong Khi Hwesio mulai kecewa. Akan tetapi makin ke selatan, terasa angin semakin keras dan dibandingkan dengan pasir yang mereka injak, yang panas, angin itu terasa di­ngin sekali. Dan ketika mereka tiba di daerah yang berbatu-batu, tiba-tiba saja badai datang mengamuk. Mula-mula, dari arah barat dan utara, nampak seperti awan hitam dan debu angin tiba-tiba terhenti, akan tetapi tak lama kemudian, awan hitam dan debu yang ternyata ge­lombang pasir itu datang menerpa, di­dorong angin yang amat kuatnya.

Tiga orang gagah itu memasang kuda­-kuda dan mengerahkan tenaga melawan hantaman pasir halus yang dibawa angin. Mereka seolah-olah masuk ke dalam tirai pasir yang mendorong kuat dari depan. Makin lama, semakin kuat saja hantaman pasir dan angin dan pertama-tama Wan Ceng agak terhuyung. Cepat ia ber­pegang tangan dengan suaminya yang membantunya, dan ketika akhirnya Tiong Khi Hwesio juga terhuyung, Kao Kok Cu berteriak nyaring untuk mengatasi gemuruh suara badai pasir.

“Cepat, kita berlindung di balik batu di sana itu!” Dia menunjuk ke arah se­buah batu karang yang besar dan kokoh kuat. Memilih tempat berlindung ini pun ada bahayanya, karena kalau salah pilih, ada batu yang roboh dilanda badai se­hingga menindih dan membunuh orang­-orang yang berlindung di bawahnya.

Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio, sejak mudanya memang memiliki hati yang pantang menyerah. Oleh karena itu, ajakan Kao Kok Cu itu diterima dengan gelengan kepala, bahkan Wan Ceng sudah melepaskan pegangan tangan suaminya, memasang kuda-kuda lagi dan mengerah­kan tenaganya. Demikian pula Tiong Khi Hwesio, agaknya tidak mau kalah oleh saudara tirinya! Melihat lagak kedua orang ini, mau tidak mau Kao Kok Cu tertawa geli dan gembira dan dia pun lalu memasang kuda-kuda untuk melawan badai yang semakin kuat datangnya itu. Akan tetapi beberapa menit kemudian, Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio terpak­sa harus mengakui keunggulan badai ka­rena mereka terdorong sampai roboh bergulingan! Terpaksa mereka membiarkan diri mereka diseret, Wan Ceng berpegang­an tangan dengan Tiong Khi Hwesio dan Kao Kok Cu dengan satu tangan kanan­nya memegang tangan hwesio itu dan menyeretnya di atas pasir menuju ke balik batu besar dan barulah mereka dapat bernapas lega karena terjangan badai ditangkis oleh batu karang yang kokoh kuat itu.

Akan tetapi, kegembiraan mereka se­makin menjadi. Setelah beristirahat dan dapat mengumpulkan tenaga kembali, melihat betapa badai masih saja mem­besar Tiong Khi Hwesio lalu meloncat keluar dari balik batu karang dan kini dia bersilat menentang badai. Hebat memang kakek hwesio ini. Dia ternyata telah menggabungkan dua macam ilmu silat yang merupakan ilmu silat yang saling berlawanan, yaitu Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sin­kun (Silat Sakti Delapan Dewa)! Tidak saja dia telah mampu menggabungkan dua aliran silat yang bertentangan ini, akan tetapi juga dia mempergunakan tenaga sakti yang hebat, yaitu Tenaga Inti Bumi. Biarpun usianya sudah tujuh puluh dua tahun, namun gerakannya de­mikian gesit dan pukulan-pukulannya demikian kuat sehingga angin menderu-deru dari kaki tangannya menentang badai sehingga pasir-pasir yang diterbang­kan badai itu membuyar terkena hantam­an angin pukulan kaki tangannya! Tiong Khi Hwesio bersilat terus sampai akhir­nya dia melompat kembali ke balik batu karang dengan muka merah, keringat membasahi tubuh dan napasnya terengah­-engah, akan tetapi matanya berseri dan mulutnya tertawa gembira.

Wan Ceng tidak mau kalah. Nenek yang usianya sebaya dengan saudara tiri­nya ini, juga meloncat keluar dan ber­silat menentang badai. Ia nengeluarkan ilmu silat simpanannya, yaitu Ban-tok­-ciang dan nampak ada uap yang kadang-kadang berwarna hitam, lalu hijau atau biru, berubah lagi kemerahan dari kedua telapak tangannya. Melihat ini, diam-diam Tiong Khi Hwesio bergidik karena dia tahu betapa ampuhnya pukulan-pukul­an adik tirinya itu. Nenek ini pun bersilat sampai ia tidak kuat bertahan lagi dan terpaksa harus meloncat ke belakang batu karang dengan tubuh basah keringat dan napasnya terengah-engah.

Melihat kegembiraan dua orang itu, Kao Kok Cu ketularan. Dia pun keluar dan menentang badai, lalu bersilat, di­tonton dengan penuh rasa kagum oleh Tiong Khi Hwesio. Dia melihat betapa kakek berlengan sebelah ini bersilat se­cara aneh, dengan tubuh kadang-kadang meluncur ke depan, seperti seekor naga, namun gerakannya membawa angin pukul­an yang bercuitan dan kini dia melihat betapa di bagian depan Kao Kok Cu seolah-olah ada dinding atau perisai yang tidak nampak, terbuat dari hawa pukulan sehingga pasir yang terbang dari depan itu terhenti dan runtuh dengan sendiri­nya, seperti membentur batu karang! Dan kakek berlengan buntung yang usianya sudah tujuh puluh delapan tahun ini, bersilat paling lama dibandingkan Tiong Khi Hwesio atau Wan Ceng, akan tetapi ketika akhirnya dia menghentikan gerak­annya dan kembali ke belakang batu karang, napasnya tidak memburu dan wajahnya biasa saja walaupun napas agak memburu.

“Wah, usia tua menggerogoti dari dalam sehingga tenaga dan daya tahanku banyak berkurang,” katanya sambil meng­atur pernapasan.

“Kao-taihiap, engkau hebat!” Tiong Khi Hwesio memuji. “Engkau yang paling tua diantara kita, namun ternyata tenaga dan daya tahanmu paling kuat. Sungguh membuat aku takluk dan kagum sekali!”

Namun Kao Kok Cu tidak menjawab melainkan menuding ke arah barat. “Li­hat, bukankah itu suara onta yang datang dari arah sana?”

Dua orang itu menoleh ke arah barat, akan tetapi tidak kelihatan sesuatu, ha­nya memang mereka mendengar ada suara onta. Suaranya merintih seperti menderita.

“Onta tidak pernah merintih kecuali menghadapi kematiannya dan di mana ada binatang onta terancam maut, di situ tentu ada pula penunggangnya yang juga terancam malapetaka,” sambung Wan Ceng. “Mari kita lihat!”

Dua orang kakek itu mengangguk setuju dan mereka bertiga segera berlon­catan keluar dari balik batu karang dan berlari cepat menuju ke barat, ke arah datangnya suara tadi. Tidak terlalu lama mereka mencari karena segera mereka melihat seekor onta yang dalam keadaan sekarat, tergencet batu yang roboh me­nimpa dan menghimpitnya. Dan di dekat­nya nampak seorang wanita yang telah tewas pula, sedangkan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahun berlutut dan mengguncang-guncang tubuh wanita itu.

“Ibu.... ibu.... bangunlah, ibu.... kuatkanlah, mari kugendong ibu pergi dari sini....“ kata anak itu dengan suara pilu dan gemetar. Dia lalu dengan susah pa­yah menarik tubuh ibunya yang kedua kakinya terhimpit tubuh onta, kemudian mencoba untuk menggendongnya, akan tetapi baru beberapa langkah saja anak itu berjalan, dia disambar hantaman ba­dai dan dia pun terguling bersama mayat ibunya, bergulingan.

“Ibuuuuu....!” Anak itu berteriak, dan pada saat itu, Tiong Khi Hwesio telah menyambar tubuhnya dan dibawa melon­cat ke balik sebuah batu karang untuk berlindung dari serangan badai. Wan Ceng juga sudah menyambar mayat wanita itu dan membawanya ke tempat yang sama.

“Ibuuu....! Lepaskan ibuku, jangan ganggu ibuku....!” Tiba-tiba anak itu meronta dan saking marah dan khawatirnya, anak itu memiliki tenaga yang de­mikian hebatnya sehingga dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Tiong Khi Hwesio dan kini dia menyerang Wan Ceng yang masih memondong tubuh wa­nita yang telah mati itu. Anak laki-laki itu menubruk, tangan kirinya mendorong ke arah dada Wan Ceng, dan tangan kanannya mencoba untuk merampas tubuh wanita itu gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga yang kuat.

Wan Ceng tidak melawan, hanya me­narik tubuh atas untuk mengelak dari dorongan anak itu, dan ia membiarkan anak itu merampas tubuh mayat itu. Anak laki-laki itu kini memandang mayat itu, menghadapi tiga orang tua itu de­ngan mata terbelalak. Mata itu liar dan beringas, seperti mata seekor anak hari­mau tersudut. Dia siap melawan tiga orang itu mati-matian untuk memper­tahankan dan melindungi ibunya.

“Jangan kalian mengganggu ibuku! Akan kulawan sampai mati! Biarpun kali­an Dewa Kematian, Dewa Badai dan Dewa Padang Pasir, aku tidak takut!”

Dia menantang dan sikapnya sungguh berani, sikap seorang yang sudah nekat karena tidak melihat jalan lain.

Tiga orang tua renta itu sejenak ter­pesona, juga terharu. Mereka adalah orang-orang sakti yang sudah banyak makan garam, banyak pengalaman dan tahu saja artinya duka karena mereka pun sudah kenyang mengalami duka da­lam kehidupan mereka. Oleh karena itu, mereka dapat menduga bahwa anak ini menjadi demikian nekat dan berani kare­na terhimpit duka yang bertubi-tubi dan yang terakhir kalinya agaknya karena melihat ibunya yang tercinta tewas. Atau mungkin saking bingung, khawatir dan dukanya, dia sampai tidak sadar bahwa ibunya telah kehilangan nyawanya dan yang hendak dilindungi dan dipertahankan itu adalah sesosok mayat yang telah mulai menjadi dingin!

Dengan hati terharu penuh iba Kao Kok Cu melangkah maju. “Anak yang baik, kami bukanlah dewa atau iblis, kami adalah orang-orang biasa yang datang ingin menolongmu. Tidak ada yang akan mengganggu ibumu lagi, Nak, kare­na ibumu telah meninggal dunia. Lihat­lah baik-baik dan jangan keliru menyang­ka orang.”

Suara itu begitu halus, tenang dan sabar dan suara itu saja sudah cukup membuat anak itu percaya dan kini anak itu memandang wajah mayat yang dipeluknya. Wajah seorang wanita yang kurus pucat, dengan mata setengah ter­buka, dengan pandang kosong tanpa caha­ya sama sekali, seperti mata sebuah patung yang pernah dilihatnya. Dia meng­angkat mayat itu mendekat dan dia merendahkan mukanya sampai mukanya dekat sekali dengan muka mayat itu. Tidak bernapas lagi hidung dan mulut ibunya.

“Ibuuuuu....!” Dan untuk kedua kali­nya dia pun terjungkal bersama mayat ibunya, dan roboh pingsan di dekat ma­yat itu.

“Omitohud....!” Tiong Khi Hwesio mengeluh ketika dia melihat peristiwa ini. Kao Kok Cu menarik napas dan menggeleng-geleng kepalanya sedangkan Wan Ceng lalu mendekati anak itu, ber­lutut dan mengurut tengkuk dan dadanya.

Anak itu pun mengeluh, lalu mem­buka matanya. Dia segera mencari de­ngan pandang matanya dan ketika dia melihat tubuh ibunya menggeletak tak jauh dari situ, dia pun bangkit dan menubruk mayat ibunya sambil menangis. Akan tetapi, anak itu agaknya memang memiliki kekerasan dan ketabahan hati. Tidak lama dia menangis dan agaknya dia sudah teringat lagi akan tiga orang tua itu, maka dia lalu bangkit berdiri memandangnya, dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap mereka, agaknya sama sekali tidak peduli akan luka-luka yang diderita tubuhnya, babak belur dan lecet-lecet, juga kaki kanannya kehilang­an sepatunya dan pergelangan kaki itu menggembung besar, tanda bahwa kaki itu salah urat.

“Harap Sam-wi Locianpwe (Tiga Orang Tua Perkasa) memberi ampun kepada saya yang tadi bersikap kurang ajar. Dalam keadaan seperti ini, saya menjadi bingung dan mengira Sam-wi (Kalian Bertiga) bukan manusia “

Tiga orang itu saling pandang dan sependapat bahwa anak ini ternyata me­miliki pendidikan yang baik dan mengenal aturan. Juga, mata mereka yang tajam dapat mengenal bahwa anak ini memiliki nyali yang besar, sikap gagah dan juga bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang pendekar.

“Anak baik, sekarang belum waktunya banyak bicara. Apakah engkau hanya berdua dengan ibumu ini?” tanya Kao Kok Cu. Anak itu mengangguk.

“Kalau begitu, yang terpenting seka­rang, mari ikut bersama kami dan kami juga akan membawa jenazah ibumu agar mendapatkan penguburan yang sepatutnya di tempat kami.”

“Baik, Locianpwe dan terima kasih atas perhatian Sam-wi.” kata anak itu yang segera bangkit dan tanpa diperintah lagi dia menghampiri mayat ibunya, ber­maksud untuk memondongnya. Hal ini saja membuat tiga orang tua itu menjadi kagum. Anak ini tidak cengeng, tahu diri, cerdik dan tabah sekali.

“Biarkan pinceng yang membawa je­nazah ibumu, anak baik,” kata Tiong Khi Hwesio dan sekali kedua lengannya ber­gerak, mayat wanita itu telah dipondong­nya. Anak itu terbelalak dan merasa seperti melihat sulapan atau sihir saja. Dia hampir tidak melihat hwesio tua itu menyentuh mayat ibunya atau mengulur­kan tangan, seolah-olah mayat itu yang terbang ke dalam pondongan hwesio tua itu!

“Dan engkau pun tidak sehat benar, marilah engkau kugendong!” kata pula Kao Kok Cu dan anak itu menjadi se­makin terkejut ketika tiba-tiba saja tu­buhnya melayang naik dan tahu-tahu dia telah berada di atas punggung kakek yang lengan kirinya buntung! Hampir dia men­jerit ketakutan dan hampir kehilangan lagi kepercayaannya bahwa tiga orang itu adalah manusia. Jangan-jangan mereka ini benar-benar iblis-iblis yang hendak membawa pergi dia dan mayat ibunya!

Akan tetapi, nenek itu berkata, “Mari kita pergi!” dan kini anak itu mengalami peristiwa yang membuat dia takkan da­pat melupakannya selama hidupnya. Dia merasa dibawa terbang oleh kakek le­ngan satu dan ketika dia melirik ke ka­nan, dia melihat hwesio itu pun seperti terbang membawa mayat ibunya, sedang­kan nenek itu terbang paling depan. Ba­dai masih mengamuk hebat, namun tiga orang ini dapat berlari secepat terbang menempuh badai yang menyerang dari samping. Cepat sekali gerakan mereka dan berkali-kali dia harus memejamkan matanya saking ngeri. Dan ketika mereka keluar dari daerah badai, anak itu merasa betapa mereka berlari lebih cepat lagi. Kadang-kadang mereka itu melom­pati jurang-jurang seperti terbang, mem­buat dia merasa ngeri bukan main, dan akhirnya dia pun hanya memejamkan mata agar tidak melihat betapa tubuhnya meluncur pesat di atas pundak kakek yang terbang di atas pasir.

Setelah mereka berhenti, barulah anak itu membuka matanya dan dia pun me­nahan keinginannya untuk berteriak sa­king herannya. Dia diturunkan, lalu digandeng masuk ke dalam sebuah istana besar yang indah dan juga menyeramkan karena istana itu berdiri megah di te­ngah-tengah gurun pasir, tidak mempunyai tetangga seorang pun! Jenazah ibunya juga dibawa masuk dan nenek itu lalu merawat jenazah ibunya, diberi pakaian yang utuh, kemudian diadakan upacara sembahyang sekadarnya sehingga dia sebagai putera ibunya dapat memberi hormat dan berkabung atas kematian ibunya. Dia pun menurut saja ketika tiga orang tua itu mengusulkan agar ibunya segera dikubur pada hari itu juga. Me­reka lalu menggali lubang di kebun bela­kang dan mengubur jenazah itu tanpa peti.

Setelah penguburan selesai dan mere­ka semua kembali ke dalam istana, baru­lah anak itu yakin bahwa semua yang dialaminya bukanlah mimpi. Kemarin sore dia dibawa oleh tiga orang tua ini, bersama jenazah ibunya, dengan cara luar biasa, lari bagaikan terbang, sehingga malam-malam mereka tiba di istana ini. Hanya semalam ibunya yang telah men­jadi jenazah itu dirawat dan pada keesokan harinya, penguburan ibunya telah dilakukan dengan baik dan selesai. Kini dia telah menjadi seorang anak yang kehilangan ibu, tidak tahu berada di tempat apa, merasa berada di tempat yang aneh, bukan bagian dari dunia, ber­sama tiga orang manusia yang juga luar biasa. Apakah dia masih hidup, ataukah sudah berada di akhirat? Akan tetapi kalau dia sudah mati, tentu dia bertemu dengan ibunya. Tidak, dia masih hidup! Ibunyalah yang telah mati, dan dia berada di tempat tiga orang sakti. Sebagai pu­tera seorang ahli silat, tentu saja dia pernah mendengar tentang orang-orang tua yang sakti, akan tetapi biasanya mereka itu adalah pertapa-pertapa atau pendeta-pendeta di kuil. Dan kini, tiga orang tua itu, biarpun yang seorang ada­lah hwesio, bukan tinggal di dalam gua, melainkan di dalam sebuah istana! Demi­kianlah anak itu membolak-balik pikiran­nya sendiri ketika dia berlutut di atas lantai, di depan tiga orang yang duduk di bangku rendah sambil bersila itu. Kemudian dia teringat betapa tiga orang tua ini sudah melimpahkan kebaikan-kebaikan kepadanya. Pertama, kalau ti­dak ada mereka yang datang ketika dia diserang badai di gurun pasir itu, tentu dia sudah tewas pula bersama ibunya dan onta mereka. Ke dua, mereka pula yang membawa dia dan jenazah ibunya ke istana aneh ini dan ke tiga, mereka te­lah mengurus penguburan ibunya sampai selesai. Teringat akan semua ini, dia lalu memberi hormat kepada mereka sampai dahinya berkali-kali menyentuh lantai.

“Sam-wi Locianpwe telah menyelamat­kan saya dan telah mengurus pemakaman ibu, sungguh budi kemuliaan ini sampai mati pun saya tidak akan melupakan­nya,” demikian dia berkata berulang kali dan baru berhenti setelah kakek yang lengan kirinya buntung itu berkata de­ngan suara halus.

“Anak baik, duduklah yang benar, dan ceritakan dengan jelas bagaimana asal mulanya maka engkau bersama mendiang ibumu dapat berada di tempat berbahaya itu dan terserang badai.”

“Nanti dulu !” Tiba-tiba Wan Ceng berkata. “Siapa tahu dia menderita luka berat. Mari, majulah ke dekatku ke sini, Nak, akan kuperiksa keadaanmu.”

Mendengar ini, anak itu tidak berani membantah dan dia pun merangkak dan mendekati nenek itu. Wan Ceng cepat memeriksa dan ternyata anak itu hanya menderita lecet-lecet dan babak belur, luka di kulit saja, sedangkan pergelangan kakinya yang membengkak itu adalah karena salah urat. Dengan cepat Wan Ceng mengurut kaki itu dan membetul­kan kembali urat yang tertarik dan salah duduk, dan mengobati lecet-lecet dengan obat luka.

Nah, engkau tidak apa-apa sekarang, ceritakanlah keadaanmu,” kata Wan Ceng.

Anak itu lalu berlutut kembali se­perti tadi dan menceritakan riwayatnya.

“Nama saya Tan Sin Hong, tinggal bersama orang tua saya di kota Ban­goan di selatan Tembok Besar. Ayah saya dikenal sebagai Tan-piauwsu (pe­ngawal Tan) karena ayah saya membuka perusahaan piauw-kiok (perusahaan pengawalan barang kiriman) yang mengawal barang-barang dagangan yang dikirim dari dan keluar Tembok Besar.” Anak itu, yang bernama Tan Sin Hong, dengan lan­car lalu menceritakan semua peristiwa yang baru-baru ini menimpa keluarganya.

Pada suatu hari, Tan-piauwsu, ayah Sin Hong, menerima tugas mengawal barang-barang berharga untuk diantar ke kota Tuo-lun, sebuah kota yang terletak di daerah Mongol. Barang itu berupa sebuah peti besar terisi emas permata yang amat berharga, karena itu, Tan­-piauwsu tidak berani menyerahkan pe­ngawalannya kepada anak buahnya saja. Dia berangkat sendiri mengawal barang itu dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Tang-piauwsu, yaitu wakilnya. Sebulan kemudian, datang seorang utusan yang membawa pesan dari Tan-piauwsu agar isterinya dan puteranya menyusul ke kota Tuo-lun untuk diajak nonton keramaian tradisionil yang diadakan oleh suku bangsa campuran Mancu dan Mo­ngol yang tinggal di sana.

Biarpun perjalanan itu jauh dan me­makan waktu lama, namun Nyonya Tan dan puteranya dengan girang memenuhi pesan itu. Tang-piauwsu merasa khawatir dan dia sendiri yang rnelakukan pengawal­an, memimpin dua belas orang anggauta piauw-kiok. Berangkatlah rombongan ini keluar dari Tembok Besar menuju ke utara. Ketika mereka tiba di dekat kota Tuo-lun, di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba muncul gerombolan perampok ber­topeng. yang jumlahnya dua puluh orang lebih. Gerombolan perampok ini menye­rang dan tentu saja Tang-piauwsu memimpin anak buahnya melakukan per­lawanan. Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi gerombolan perampok itu lihai dan dua kali lebih besar jumlahnya, maka pihak pengawal terdesak dan mulai ada yang roboh. Melihat keadaan berbahaya ini, Tang-piauwsu lalu melarikan kereta yang membawa Nyonya Tan dan Sin Hong, melarikan diri dari tempat itu. Akan tetapi, setelah merobohkan semua pe­ngawal, gerombolan perampok bertopeng itu melakukan pengejaran.

Tang-piauwsu melarikan kereta tanpa tujuan dan akhirnya mereka tiba di pa­dang pasir. Melihat ada orang penduduk daerah itu yang membawa garam me­nunggang seekor onta, Tang-piauwsu lalu membeli onta itu dan menyuruh Nyonya Tan dan Sin Hong untuk melanjutkan larinya dengan menunggang onta, sedang­kan dia sendiri menanti di situ dengan pedang di tangan untuk menahan ge­rombolan perampok yang tadi mengancam hendak menawan Nyonya Tan yang masih kelihatan muda dan cantik.

Karena ketakutan, Nyonya Tan dan Sin Hong lalu menunggang onta, mem­bawa bekal seadanya saja dan onta itu pun memasuki gurun pasir! Mereka tidak lagi melihat apa yang telah terjadi se­lanjutnya dengan Tang-piauwsu.

“Karena takut ditawan gerombolan perampok yang kasar itu, yang agaknya, menurut perkiraan Tang-piauwsu, hendak menangkap ibu dan saya untuk membalas dendam kepada ayah, ibu lalu melarikan onta itu tanpa tujuan, terus memasuki gurun pasir yang luas. Akhirnya kami tidak tahu jalan lagi, di mana-mana pasir belaka dan kami membiarkan saja onta itu mengambil jalan sendiri. Entah be­rapa hari kami melakukan perjalanan seperti itu, kehabisan bekal, bahkan kan­tung air yang banyak itu pun telah ham­pir habis. Kami menderita sekali dan akhirnya kami diserang badai. Kami berlindung di balik batu karang, akan tetapi batu karang itu runtuh dan menimpa kami, dan selanjutnya.... Sam-wi, telah mengetahui.”

Setelah Sin Hong mengakhiri cerita­nya, Tiong Khi Hwesio berseru. “Omi­tohud.... permusuhan yang tiada henti­nya antara yang untung dan yang rugi! Para perampok merasa dirugikan oleh para piauwsu, banyak bentrokan terjadi antara mereka yang hendak merampok dan mereka yang hendak melindungi ba­rang kiriman!”

“Ada yang mencurigakan dalam urusan ini,” kata Kao Kok Cu, “Bagaimana se­orang piauwsu yang berpengalaman begitu sembrono untuk memanggil isteri dan puteranya menyuruh ke tempat yang demikian jauh, melalui perjalanan yang berbahaya.”

“Memang mencurigakan sekali. Dan Tang-piauwsu itu membiarkan ibu dan anak itu melintasi gurun pasir dengan binatang onta tanpa pengawalan, sungguh gegabah sekali,” kata pula Wan Ceng.

“Biarlah pinceng (saya) yang akan pergi ke Tuo-lun untuk mencari Tan-piauwsu dan memberi kabar kepadanya tentang isteri dan puteranya. Sin Hong, engkau tinggal dulu saja di sini sampai pinceng dapat menemukan ayahmu dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.”

Tan Sin Hong mengangguk, “Baik, Locianpwe, saya akan menanti berita dari hasil penyelidikan Locianpwe.” Dia merasa suka sekali di tempat yang indah itu, dan dia berhutang budi. Ingin dia membalas budi itu, walaupun hanya de­ngan membersihkan tempat itu, istana tua itu yang nampaknya tidak begitu terawat dengan baik. Apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa di istana tua itu tidak terdapat seorang pun pelayan.

Sambil menanti kembalinya Tiong Khi Hwesio, Sin Hong mendengar lebih ba­nyak dari nenek Wan Ceng tentang ista­na tua itu dan kini dia tahu bahwa peng­huni Istana Gurun Pasir itu adalah kakek dan nenek she Kao ini, sedangkan Tiong Khi Hwesio yang kini pergi mencari ayah­nya adalah seorang sahabat baik dan tamu kehormatan dari mereka.

Tiga hari kemudian, muncullah Tiong Khi Hwesio. Setelah minum air sejuk jernih yang dihidangkan oleh Sin Hong, kakek ini menarik napas panjang.

“Omitohud.... Tan Sin Hong, pinceng sekali ini terpaksa membawa berita yang tidak menyenangkan untukmu.” Dan dia pun mengelus kepala anak itu yang sudah berlutut di depannya. Anak itu memang berhati tabah. Biarpun mukanya agak pucat dan matanya membayangkan kekhawatiran, namun suaranya masih te­nang ketika dia berkata kepada hwesio tua itu.

“Locianpwe, apakah yang telah terjadi dengan ayah saya?”

Nenek Wan Ceng juga tidak sabar. “Tek Hoat, apa yang telah terjadi di sana?”

Kakek yang masih kelihatan lelah karena habis melakukan perjalanan jauh itu, mengusap peluh dari leher dan muka­nya mempergunakan sehelai saputangan lebar, kemudian menghela napas dan memandang kepada Sin Hong dengan sinar mata kasihan.

“Pinceng tiba di kota Tuo-lun dan melakukan penyelidikan. Akan tetapi ternyata bahwa Tan-piauwsu tidak per­nah sampai di kota itu....“

“Ayah....!” Sin Hong berseru dengan suara tertahan, matanya menatap wajah Tiong Khi Hwesio, penuh pertanyaan dan kekhawatiran.

“Di kota itu pinceng bertemu dengan beberapa orang sahabat baik Tan Piauwsu karena memang sudah beberapa kali Tan piauwsu mengawal barang ke kota itu. Bersama mereka pinceng lalu menyelidiki sepanjang jalan menuju ke kota itu dari selatan yang biasa diambil oleh rombong­an piauw-kok dan di sebuah hutan pinceng menemukan mereka,” Suara kakek ini menurun dan Sin Hong kembali me­natap dengan muka pucat.

“Locianpwe menemukan ayah....“ tanyanya, kini suaranya agak gemetar, jelas bahwa dia telah menduga buruk. Dan kakek itu mengangguk.

“Pinceng menemukan Tan-piauwsu dan sepuluh orang anak buahnya, semua telah tewas terbunuh.”

“Ayah....! Ibu....!” Teriakan Sin Hong ini lirih saja, seperti keluhan dan dalam keadaan berlutut dia menutupi muka dengan kedua tangannya. Tiga orang tua itu hanya memandang dan membiarkan saja. Sampai beberapa lamanya Sin Hong menutupi mukanya, tidak mengeluarkan suara tangis, akan tetapi air mata meng­alir dari celah-celah jari tangannya. Ke­mudian dia mengusap air matanya de­ngan kedua tangan, lalu dengan suara agak parau dia bertanya kepada Tiong Khi Hwesio.

“Locianpwe, siapa yang membunuh ayah?”

Tiong Khi Hwesio menggeleng kepala. “Tidak ada yang tahu dan tidak ada tan­da-tandanya. Mereka semua tewas dan agaknya dirampok karena tidak ada barang berharga lagi di sana, kecuali pa­kaian yang menempel di tubuh mereka.”

“Ah, siapa lagi kalau bukan perampok bertopeng itu? Dan yang mengirim utus­an mengundang nyonya Tan dan Sin Hong tentu juga anggauta perampok bertopeng itu yang sengaja memandang dan menjebak,” kata kakek Kao Kok Cu. “Agak­nya mereka adalah gerombolan perampok yang mendendam kepada Tan-piauwsu sehingga selain merampok, juga ingin membasmi keluarganya.”

“Aku lebih condong mencurigai Tang-piauwsu itu!” Tiba-tiba Wan Ceng ber­kata. “Mengawal barang yang amat ber­harga tentu amat dirahasiakan dan ku­kira yang mengetahui hanyalah Tan-piauw­su dan pembantunya itu. Tidak akan mengherankan kalau kelak diketahui bah­wa yang mengatur semua perampokan dan pembunuhan itu adalah Tang-piauwsu, oleh karena itu dia pula yang menyuruh nyonya Tan dan Sin Hong melarikan diri ke gurun pasir, yang berarti sama de­ngan mengirim mereka ke lembah maut.”

“Omitohud kita tidak boleh sem­barangan sangka. Urusan ini adalah urus­an Sin Hong dan biarlah dia saja yang kelak melakukan penyelidikan. Engkau tenangkan hatimu Sin Hong. Teman-teman ayahmu telah mengutus penguburan jena­zah ayahmu dan anak buahnya, dan kalau suami isteri tua penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak berkeberatan, pinceng mengusulkan agar Sin Hong tinggal di sini mempelajari ilmu dari kita bertiga.”

Suami isteri itu agak terkejut dan memandang wajah hwesio itu penuh per­hatian. “Apa alasanmu berkata demikian, Tek Hoat?” kata nenek Wan Ceng.

“Banyak peristiwa terjadi di dunia yang aneh-aneh dan biasanya kita anggap sebagai hal yang kebetulan saja. Akan tetapi, bukankah di balik peristiwa itu ada yang mengaturnya? Bukankah sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa maka terjadi hal-hal yang kelihat­an kebetulan itu? Contohnya Tan Sin Hong ini. Keluarganya tertimpa malape­taka, ibunya tewas, ayahnya tewas dan dia pun nyaris tewas. Coba lihat segala macam kebetulan yang telah terjadi!

Pertama-tama, kebetulan sekali pinceng mengunjungi kalian dan kemudian ke­betulan sekali kita bertiga bermain-main dengan badai gurun pasir! Kalau tidak kebetulan pinceng berkunjung tentu kita tidak bermain-main dengan badai dan kalau tidak kebetulan kita bermain-main dengan badai tentu kita tidak akan me­lihat Sin Hong! Dan kalau begitu, apa jadinya? Tentu dia telah tewas pula! Bukankah semua kebetulan itu seperti telah diatur oleh Thian (Tuhan)? Nah, kita jangan menolak kehendak Thian dan harus menerimanya sebagai perintahNya. Mari kita terima anak ini sebagai murid kita yang terakhir, untuk menampung peninggalan terakhir dari kita. Bagaimana pendapat kalian?”

Suami isteri itu saling pandang. Me­reka telah mewariskan ilmu-ilmu mereka kepada putera tunggal mereka yang ber­nama Kao Cin Liong dan kini tinggal di kota Pao-teng dekat kota raja, juga me­reka mengajarkan beberapa macam ilmu kepada Can Bi Lan yang kini menjadi nyonya Sim Houw. Apakah kini mereka harus mengambil seorang murid lagi ke­tika usia mereka sudah amat tua? Akan tetapi, ada benarnya juga pendapat Tiong Khi Hwesio tadi tentang peristiwa ke­betulan yang merupakan tanda kekuasaan dan kehendak Thian. Mereka mengangguk setuju dan Wan Ceng berkata sambil tersenyum.

“Tek Hoat, kalau begitu engkau juga harus tinggal di sini untuk mewariskan ilmumu kepadanya.”

“Ha-ha-ha, tentu saja! Pinceng me­mang suka sekali menghabiskan sisa usia pinceng di sini, kalau kalian tidak ber­keberatan.”

“Kenapa keberatan? Kami suka se­kali!” kata kakek Kao Kok Cu. “Akan tetapi kita tidak boleh melupakan hal yang terpenting, yaitu apakah Tan Sin Hong suka tinggal di sini sebagai murid kita?”

Sin Hong sejak tadi mendengarkan saja percakapan itu. Dia sedang teng­gelam dalam lamunan penuh duka. Ayah ibunya tewas secara mendadak dan dia tidak memiliki apa-apa lagi. Terutama sekali, dia terkesan sekali oleh percakap­an tiga orang tua itu tentang kematian ayahnya. Ayahnya dibunuh orang! Agak­nya direncanakan. Tang-piauwsu mencuri­gakan, walaupun belum ada bukti. Dan dialah yang kelak harus menyelidiki dan membuka rahasia itu, dia perlu memiliki kepandaian yang tinggi. Ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya, tidak ada artinya. Ayahnya sendiri pun tewas melawan penjahat, apa lagi dia! Kini, mendengar percakapan tiga orang tua sakti itu yang ingin mengambilnya sebagai murid, dan mendengar kakek Kao Kok Cu menyinggung apakah dia suka menjadi murid mereka atau tidak, tanpa ditanya lagi dia lalu menjatuhkan diri bertiarap di atas lantai, menyentuh lan­tai dengan dahinya berulang kali.

“Sam-wi Locianpwe, teecu (murid) Tan Sin Hong bersumpah untuk menjadi murid yang baik kalau Sam-wi sudi meng­ambil teecu sebagai murid.” Berulang-ulang dia berkata demikian.

Dengan suaranya yang lantang dan tegas kakek Kao Kok Cu berkata, “Tan Sin Hong, benarkah engkau bersedia un­tuk mematuhi semua perintah kami kalau ­engkau menjadi murid kami?”

“Teecu bersumpah untuk mentaati dan mematuhi semua petunjuk dan perintah Sam-wi Locianpwe!” kata Sin Hong de­ngan setulus hatinya.

“Dan engkau tidak akan mengeluh menghadapi latihan yang amat berat?” sambung Tiong Khi Hwesio.

“Biar sampai mati sekalipun dalam mentaati perintah, teecu tidak akan me­ngeluh.”

Tiga orang tua itu diam-diam men­jadi girang dan mulai hari itu, Tan Sin Hong tinggal di situ, bekerja keras se­bagai pelayan, membersihkan istana dan ­bekerja di kebun, melayani semua ke­butuhan tiga orang tua itu, akan tetapi sebagai imbalannya, dia pun mulai di­gembleng oleh mereka bertiga! Menjadi murid seorang saja di antara tiga orang sakti ini sudah merupakan suatu keber­untungan besar, apalagi sekaligus men­jadi murid mereka bertiga!

Sin Hong tidak menyia-nyiakan ke­sempatan yang amat baik ini dan dia pun belajar dan berlatih dengan amat tekun­nya, siang malam tak pernah berhenti kecuali kalau sedang bekerja. Bahkan da­lam melaksanakan pekerjaannya sekali pun, dia melatih diri sehingga dia mem­peroleh kemajuan pesat, kalau malam, setelah lelah berlatih, dia mencurahkan pikirannya untuk mengingat semua pelajaran yang diterimanya dari tiga orang gurunya.

Tiga orang tua renta itu maklum bahwa bagi seorang murid seperti Sin Hong, tak mungkin dapat mempelajari semua ilmu mereka bertiga, akan me­makan waktu terlalu lama. Mereka sudah tua sekali selain sudah merasa malas untuk banyak bergerak melatih ilmu si­lat, juga maklum bahwa akan sayang kalau sampai mereka mati sebelum ilmu mereka dapat diterima dengan baik oleh murid terakhir itu. Oleh karena itulah, mereka masing-masing sengaja memilih­kan ilmu-ilmu simpanan mereka saja untuk diajarkan kepada Sin Hong, setelah menggembleng pemuda itu untuk mengua­sai langkah-langkah dan gerakan-gerakan dasar dari ilmu mereka bertiga. Kao Kok Cu menurunkan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat dan biarpun muridnya tidak ber­lengan buntung, dia mengajarkan juga cara menghimpun tenaga sakti melalui Ilmu Sin-liong Hok-te. Nenek Wan Ceng juga mengajarkan Ilmu Ban-tok-ciang dan melatih pemuda itu untuk menghimpun tenaga beracun agar dapat melakukan Ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Ra­cun) dengan baik. Sementara itu Tiong Khi Hwesio menurunkan gabungan Ilmu Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun, juga melatih menghimpun tenaga sakti lewat ilmu sinkang Tenaga Inti Bumi!

Tentu saja untuk dapat menguasai ilmu-ilmu yang sakti itu, Sin Hong harus berlatih mati-matian, menggembleng diri sehingga dia tumbuh menjadi seorang pe­muda dewasa yang kurus saking bekerja keras setiap hari dan malam untuk me­nguasai ilmu-ilmu itu! Dan sejak tinggal di situ, dia hanya mau memakai pakaian serba putih untuk mengabungi ayah ibu­nya yang tewas secara menyedihkan.

Tiga tahun kemudian ketika dia ber­ada di situ mempelajari ilmu, pada suatu hari datang berkunjung seorang laki-laki gagah perkasa yang berusia lima puluh tiga tahun. Dia ini bukan lain adalah Kao Cin Liong, putera tunggal dari Kao Kok Cu dan Wan Ceng, yang datang ber­kunjung dan membujuk ayah ibunya yang telah tua itu untuk tinggal bersama dia di Pao-teng.

“Ayah dan ibu telah berusia lanjut, dan saya sekeluarga tinggal jauh di Pao­-teng, sungguh tidak enak bagi saya kalau mengingat keadaan ayah dan ibu. Sebaik­nya kalau ayah berdua tinggal bersama kami di Pao-teng agar kami dapat meng­urus semua keperluan ayah berdua,” de­mikian antara lain Kao Cin Liong membujuk orang tuanya.

Akan tetapi ayah ibunya tetap tidak mau menuruti permintaan puteranya. “Ketahuilah bahwa aku lebih suka tinggal di tempat yang sunyi ini bersama ayahmu, Cin Liong. Kami dapat mengurus diri sendiri dan andaikata kelak kami meninggal dunia, kami dapat saling mengurus atau merawat dan ada satu di an­tara kami yang mengabarimu di Pao-teng,” demikian nenek Wan Ceng ber­kata. Puteranya tidak merasa heran men­dengar ibunya sedemikian enaknya bicara tentang kematian. Dia sudah mengenal watak ibu dan ayahnya yang menganggap kematian sebagai hal yang biasa saja.

“Pula, kami sekarang mempunyai se­orang murid yang juga melayani semua keperluan kami. Inilah dia, nama­nya Tan Sin Hong.” kata Kao Kok Cu. “Juga di sini tinggal pula Tiong Khi Hwe­sio yang menambah kegembiraan kami. Tidak perlu engkau memusingkan kami tiga orang-orang tua dan biarkan kami dalam kegembiraan kami sendiri.” Dia lalu menceritakan tentang Sin Hong yang segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong yang disebutnya “suheng” (kakak seperguruan). Diam-diam Cin Liong merasa heran dan kagum akan baiknya nasib anak itu yang secara tak terduga telah menjadi murid ayah ibunya dan juga Tiong Khi Hwesio!

Kao Cin Liong tinggal selama satu minggu di istana Gurun Pasir dan setelah dia meninggalkan tempat itu, pulang ke Pao-teng, kehidupan di situ menjadi se­perti biasa lagi. Sin Hong tekun berlatih silat, dan tiga orang tua renta itu ka­dang-kadang masih suka berkeliaran di padang pasir, bahkan beberapa kali masih suka bermain-main dengan badai!

***

Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya. Kalau kita masing-masing me­nengok ke belakang, kepada kehidupan kita di masa lalu di masa kanak-kanak, di masa muda dan selanjutnya, akan nampak betapa cepatnya waktu berjalan. Bagi seorang dewasa, masa kanak-kanak yang lewat belasan tahun yang lalu, ha­nya seolah-olah baru kemarin saja. Se­mua peristiwa di masa kanak-kanak nam­pak seperti baru terjadi kemarin dan kenangan pada masa lalu ini akan mem­buat setiap orang menyadari bahwa tahu-tahu dia telah menjadi tua! Demikian pendeknya kehidupan ini, mengapa waktu yang pendek itu tidak kita isi dengan langkah-langkah yang berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain? Apa yang telah kita lakukan bagi manusia, bagi dunia, bagi Tuhan? Pertanyaan se­perti ini sudah sepatutnya kita pertanyakan kepada diri sendiri masing-masing, dan bagi mereka yang belum pernah melakukan hal yang berguna atau merasa belum pernah, marilah mulai dari saat ini juga. Langkah hidup apakah yang ber­guna? Tentu bukan langkah hidup atau perbuatan yang mengandung pamrih bagi kepentingan diri sendiri, karena langkah seperti itu hanya akan menimbulkan kon­flik atau pertentangan. Langkah hidup yang benar dan berguna hanyalah langkah atau perbuatan yang didasari oleh cinta kasih. Karena itu, mengapa tidak mem­biarkan cinta kasih bersinar menerangi batin? Bukan dengan cara memupuk cinta kasih, karena hal ini tidak mungkin. Bu­kan dengan jalan mempraktekkan cinta kasih atau mengusahakan agar kita men­jadi baik dan menjadi seorang pengasih. Sama sekali tidak mungkin. Kita hanya dapat menyingkirkan hal-hal yang me­menuhi batin kita, hal-hal yang bukan cinta kasih, bahkan yang membuat batin tertutup bagi masuknya sinar cinta kasih. Kita harus menyingkirkan kebencian, iri hati, permusuhan, dendam, ambisi pri­badi, pementingan diri dan segala macam keinginan yang didorong oleh nafsu. Ka­lau batin sudah bersih dari semua itu, tanpa kita panggil, tanpa kita cari, sinar cinta kasih akan menerangi batin, dan dalam keadaan demikian, semua perbuat­an kita akan didasari cinta kasih, berarti hidup kita berguna, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan!

Tanpa terasa lagi, sudah tujuh tahun Tan Sin Hong tinggal di Istana Gurun Pasir! Dan berkat ketekunannya, kerajin­annya yang tak mengenal lelah, dalam usia dua puluh satu tahun, berhasillah dia menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh tiga orang gurunya kepadanya.

Sementara itu, tiga orang tua yang tinggal di Istana Gurun Pasir, kini men­jadi semakin tua! Tiong Khi Hwesio su­dah berusia hampir delapan puluh tahun, demikian pula nenek Wan Ceng, sedang­kan suaminya Kao Kok Cu, telah berusia delapan puluh lima tahun! Mereka merasa betapa tenaga mereka digerogoti usia dari dalam, daya tahan mereka berkurang, hanya penggunaan otak mereka yang belum mundur, bahkan mereka menjadi semakin waspada dan pandai. Karena merasa bahwa mereka bertiga sudah mendekati akhir usia, mereka bertiga ketika habis melakukan latihan samadhi bersama, mendapat kesempatan untuk bersama-sama menciptakan suatu ilmu yang khas untuk diwariskan kepada murid mereka yang baik itu. Selama tujuh ta­hun mereka melihat betapa Sin Hong adalah seorang yang selain tekun, tabah dan juga berkemauan keras, memiliki kesetiaan dan kebaktian terhadap me­reka. Hal ini membuat mereka merasa suka dan sayang kepada Sin Hong. Mere­ka pun mulai menciptakan suatu ilmu bersama dan setelah mereka berhasil, mereka mengajarkan ilmu ini kepada Sin Hong. Ilmu ini diilhami oleh gerakan seekor burung bangau, walaupun intinya mengandung sari dari ilmu ketiga orang tua itu. Karena gerakannya, mereka mem­beri nama Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dan mengajarkannya ke­pada Sin Hong.

Akan tetapi, bukan mudah mempela­jari ilmu silat yang didasari ilmu batin yang kuat ini. Sin Hong sendiri tertegun karena kaget mendengar pesan Kao Kok Cu yang mewakili mereka bertiga. “Sin Hong, ketahuilah bahwa ilmu yang akan kami berikan kepadamu ini bukan ilmu sembarangan, melainkan ilmu perahan dari kepandaian kami bertiga. Sin-kang yang dikandung ilmu silat ini merupakan sin-kang gabungan dari kami bertiga yang akan kami salurkan kepadamu pula. Un­tuk itu, sebelumnya engkau harus tahu bahwa setelah engkau menerima saluran sin-kang dari kami lalu mempelajari Pek-ho Sin-kun sampai tamat, engkau harus menghindarkan dirimu dari semua gerak­an ilmu silat selama satu tahun penuh. Sanggupkah engkau?”

Sambil berlutut Sin Hong bertanya. “Sebelum teecu menyatakan kesanggupan teecu, ingin teecu mengerti apa yang Suhu maksudkan dengan menghindarkan diri dari semua gerakan silat itu?”

“Engkau tidak boleh bersilat walaupun menghadapi ancaman apa pun juga, dan sama sekali tidak boleh mengerahkan sin-kang. Setiap kali ada kesempatan, engkau harus bersamadhi dengan mengendurkan seluruh otot dan syaraf, meniada­kan segala kemauan dan pikiran, agar tenaga yang kami salurkan kepadamu dapat mengendap dan menyesuaikan diri dengan tubuhmu. Kalau engkau melang­garnya, engkau akan celaka oleh tenaga­mu itu sendiri. Nah, syaratnya amat berat. Sanggupkah engkau?”

Sin Hong berpikir dengan keras. Sung­guh berat syarat itu. Bagaimana dia dapat membiarkan diri kosong seperti itu selama setahun? Berlatih silat pun tidak boleh! Akan tetapi, makin sukar syarat­nya, tentu makin hebat ilmunya dan dia pun segera mengangguk.

“Teecu menerima syarat itu, Suhu. Akan tetapi teecu mohon keterangan lagi untuk dapat teecu mengerti benar dan agar tidak sampai teecu melakukan pe­langgaran kelak. Bagaimana kalau ada orang yang mengancam dan menyerang teecu?”

“Omitohud mengapa engkau di­hantui rasa khawatir, Sin Hong?” kata Tiong Khi Hwesio. ”Biarpun ada yang menyerangmu, hendak membunuhmu se­kalipun engkau tidak boleh menggerakkan ilmu silat yang akan menggerakkan pula tenaga sin-kang di tubuhmu.”

“Jadi teecu sama sekali tidak boleh membela diri walaupun teecu tidak akan menentang?”

“Tentu saja boleh berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi engkau hanya boleh menggunakan akal atau kalau ter­paksa menggunakan tenaga juga, hanya tenaga otot biasa saja, bukan tenaga sin-kang. Sudah tentu engkau dapat ter­ancam bahaya maut dengan syarat ini, akan tetapi itu sudah menjadi resikonya mempelajari ilmu yang dahsyat.” kata Wan Ceng.

“Baik, teecu menerima syarat itu!” kata Sin Hong dengan suara tegas dan penuh semangat.

Mulailah dia mempelajari Ilmu Pek-ho Sin-kun. Karena dia sudah menguasai ilmu-ilmu simpanan dari tiga orang guru­nya, maka ilmu gabungan ini dapat di­kuasainya dalam waktu pendek saja. Ke­mudian, dia disuruh duduk bersila. Ketiga orang gurunya duduk bersila pula di belakangnya. Tiong Khi Hwesio lalu me­nempelkan telapak tangan kanan ke pun­dak kanannya, Kao Kok Cu menempelkan telapak tangan di punggungnya, dan Wan Ceng menempelkan tangan di pundak kirinya. Perlahan-lahan, setelah dia di­suruh membuka dirinya tanpa melakukan perlawanan sedikit pun, Sin Hong merasa betapa hawa yang hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui tiga bagian tu­buh yang ditempel telapak tangan itu. Makin lama hawa itu menjadi semakin banyak mengalir dan menjadi semakin panas, berputar di seluruh tubuhnya, kemudian perlahan-lahan berkumpul di pusarnya. Dia tahu betapa ada hawa sakti yang luar biasa kuatnya memasuki tubuhnya, maka dia pun hanya menerima saja tanpa melawan sedikit pun. Setelah tiga orang itu menghentikan penyaluran hawa sakti itu dan ketiganya menggeser duduk mereka ke belakang, Sin Hong merasa betapa ada hawa yang kuat sekali berpusing di dalam pusarnya. Dia membalik dan berlutut menghadap ketiga orang gurunya. Mereka itu agak pucat dan terengah, namun mereka tersenyum memandang kepadanya dengan pandang mata penuh kasih sayang. Hal ini mem­buat Sin Hong terharu bukan main dan dia pun bertiarap, menyentuh lantai di depan kaki mereka dengan dahinya ber­ulang kali sambil menghaturkan terima kasih.

“Sekarang, sebaiknya engkau segera melakukan siu-lian (samadhi) di dalam kamarmu, Sin Hong. Boleh engkau melak­sanakan pekerjaanmu, akan tetapi yang penting saja dan selebihnya dari waktu­mu, pergunakan untuk samadhi. Dan ingat pesan kami bertiga.”

Sin Hong kembali menghaturkan te­rima kasih dan dia pun keluar dari ru­angan itu, memasuki kamarnya dan cepat duduk bersila dan bersamadhi mengendur­kan seluruh tubuhnya luar dalam dan membiarkan tenaga sakti yang berpusing­an di dalam pusarnya itu bergerak-gerak seperti benda hidup di dalam tubuhnya!

Seperti biasa, dengan amat tekun Sin Hong kini mempergunakan kesempatan untuk bersamadhi. Dengan girang dia mendapat kenyataan betapa keliaran tenaga sakti yang dia terima dari tiga orang gurunya itu, semakin teratur dan bergerak mengelilingi semua bagian tu­buhnya dengan lembut, tidak lagi liar seperti pada hari-hari pertama. Makin lama tenaga itu mengendap di pusarnya dan dia mendapat kenyataan betapa se­dikit ketegangan saja sudah cukup untuk membuat tenaga itu bangkit dan ber­putaran di seluruh tubuhnya. Tahulah dia akan maksud guru-gurunya yang melarang dia mengerahkan sin-kang selama satu tahun. Kalau dia mengerahkan tenaga, maka tenaga sakti yang amat besar itu akan bangkit dan mengamuk, dan tentu tubuhnya bagian dalam tidak akan mam­pu menahannya karena tenaga sakti itu masih setengah liar dan belum dapat dikendalikannya.

Keadaan seperti itu berlangsung terus selama sepuluh bulan. Kini, semenjak mereka mengajarkan ilmu gabungan ter­akhir kepada Sin Hong, tiga orang tua itu banyak menganggur dan mereka lebih banyak bersamadhi. Mereka merasa be­tapa tenaga mereka semakin berkurang, bukan karena disalurkan kepada Sin Hong, melainkan karena dimakan usia tua.

Pada suatu pagi yang cerah, istana itu nampak sunyi sekali. Empat orang penghuninya semua masih duduk bersila, melakukan samadhi pagi yang amat baik karena pada saat itu, sinar matahari pagi merupakan sesuatu yang amat baik, me­ngandung kekuatan yang dahsyat dan dengan bersamadhi, mereka dapat me­nampung kekuatan ini, kekuatan yang menghidupkan.­

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, di tempat yang sunyi itu kini didatangi serombongan orang aneh-aneh. Tidak kurang dari tujuh belas orang yang perlahan-lahan menghampiri Istana Gurun Pasir. Mereka datang dari arah selatan dan sikap mereka amat berhati-hati, bahkan seperti orang-orang yang takut­-takut, agaknya gentar karena mereka sudah mendengar akan kehebatan nama Istana Gurun Pasir ini. Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan, tentu saja mereka tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir ini adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang sakti, bahkan isterinya juga seorang nenek yang sakti.

Di halaman depan istana itu, mereka berhenti. Enam orang di antara mereka, yang agaknya menjadi pemimpin, ber­bisik-bisik seperti merundingkan sesuatu dan sikap mereka jelas membayangkan perasaan gentar. Bagi orang yang biasa menjelajahi dunia kang-ouw, akan me­ngenal enam orang ini karena mereka, adalah tokoh-tokoh besar yang terkenal di dunia persilatan. Orang pertama ada­lah seorang wanita yang usianya sudah enam puluh tujuh tahun, akan tetapi masih nampak cantik karena ia pesolek, dan pakaiannya juga serba indah, sikap­nya lemah lembut dan gerak-geriknya yang halus tidak menunjukkan bahwa ia sebenarnya adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan namanya ditakuti banyak orang di dunia persilatan. Tubuhnya tinggi ramping de­ngan pinggang yang lemas seperti batang pohon yang-liu. Inilah Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), seorang yang tidak saja memiliki ilmu pedang yang dahsyat, akan tetapi bahkan pandai pula ilmu sihir! Kini ia berdiri dengan tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang kebutan bergagang emas.

Orang ke dua adalah seorang laki­-laki berusia lima puluh dua tahun, tu­buhnya tinggi besar dan brewok. Dia juga bukan orang sembarangan karena dia terkenal sebagai seorang pencuri yang amat lihai, berjuluk Sai-cu Sin-touw (Ma­ling Sakti Muka Singa), memiliki sepasang tangan yang bergerak cepat sekali se­hingga dengan kedua tangan kosong saja dia berani menghadapi lawan tangguh yang bersenjata. Sai-cu Sin-touw ini merupakan seorang tangan kanan dan pem­bantu yang dipercaya oleh Sin-kiam Mo­-li.

Orang ke tiga seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun, juga bertubuh tinggi besar dengan perut gendut sekali seperti karung beras, mengenakan jubah kuning yang di bagian dadanya bergambar pat-kwa. Dari jubahnya ini mudah dikenal bahwa dia adalah seorang tokoh Pat-kwa-kauw (Agama Segi Delapan) yang tinggi kedudukannya. Rambutnya yang sudah putih semua itu menutupi sebagian mukanya karena riap-riapan, muka pucat kekuningan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi Ok Cin Cu, kakek pendeta ini, lihai bukan main dengan tongkatnya yang berbentuk ular dan berwarna hitam.

Orang ke empat adalah suhengnya, bernama Thian Kong Cin-jin dan dia ada­lah wakil ketua Pat-kwa-kauw cabang utara. Usianya sudah tua sekali, tujuh puluh delapan tahun, rambut dan jenggot­nya sudah putih, tubuhnya tinggi kurus namun berwibawa. Sikapnya halus lemah lembut dan dia membawa sebatang tong­kat yang setinggi tubuhnya. Dibandingkan para pendeta lainnya, Thian Kong Cin-jin ini paling lihai dan tingkat kepandai­annya bahkan seimbang dengan Sin-kiam Mo-li yang dianggap pimpinan rombongan ini.

Orang ke lima juga sudah tua, tujuh puluh lima tahun usianya. Dia adalah Thian Kek Seng-jin dan melihat jubahnya yang bergambar bunga teratai di dada­nya, dapat diketahui bahwa dia adalah seorang tokoh besar perkumpulan Pek-lian-kauw. Biarpun usianya sudah tua namun mukanya merah seperti darah, tubuhnya kurus kering dan dia memiliki sepasang mata seperti mata kucing. Dia juga membawa sebatang tongkat yang berbentuk ular berwarna hitam.

Orang ke enam dari kelompok pimpin­an ini bernama Coa-ong Seng-jin, usianya tujuh puluh dua tahun dan dia juga to­koh Pek-lian-kauw, sute (adik seperguru­an) dari Thian Kek Seng-jin. Tubuhnya kecil bongkok, mukanya buruk mirip mu­ka monyet. Akan tetapi jangan dipandang rendah kakek kecil buruk ini, karena selain ilmu silat yang cukup lihai dengan tongkat ular hidup sepanjang lima kaki, dia juga ahli atau pawang ular yang dapat memanggil ular-ular berbisa untuk membantunya menghadapi lawan!

Enam orang ini bersatu dibawah pim­pinan Sin-kiam Mo-li yang dianggap pa­ling lihai. Hanya Sin-kiam Mo-li seorang yang tidak menjadi tokoh dari suatu perkumpulan agama sedangkan lima orang itu, yang seorang adalah pembantunya, sedangkan empat yang lain adalah para pendeta Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw. Bahkan sebelas orang yang menjadi anak buah mereka adalah para anggauta Pek-lian-kauw yang pilihan dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.

Apakah maksud kedatangan tujuh belas orang itu ke Istana Gurun Pasir? Para pendeta itu terkena hasutan Sin-kiam Mo-li yang menganggap dua keluar­ga dari Pulau Es dan Istana Gurun Pasir sebagai musuh-musuh besarnya. Dan ka­rena dua perkumpulan itu, Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw juga merupakan per­kumpulan pemberontak yang banyak me­lakukan penyelewengan dan kejahatan, maka sudah seringkali, mereka bentrok dengan anggauta keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Maka, ketika dihasut dan diajak oleh Sin-kiam Mo-li untuk me­nyerbu Istana Gurun Pasir, mereka pun menyambut dengan baik walaupun mereka masih ragu-ragu dan takut-takut.

Melihat betapa para pendeta itu ke­lihatan jerih sekali setibanya di peka­rangan depan istana, Sin-kiam Mo-li, sambil berbisik-bisik, mengulangi bujukan­nya.

“Mengapa kalian tiba-tiba saja menjadi takut lagi? Sudah kukatakan berkali-kali, menurut perhitunganku, suami isteri itu telah menjadi kakek dan nenek yang tua sekali, jauh lebih tua daripada kalian semua. Tentu mereka telah menjadi ka­kek dan nenek. pikun yang akan mudah saja kita kalahkan. Apa yang perlu kita takuti? Kita semua berjumlah tujuh belas orang, dan mereka hanya berdua, seorang kakek dan seorang nenek yang mungkin sudah berpenyakitan. Dan ingat akan harta benda dan pusaka-pusaka yang tak ternilai harganya di dalam istana! Semua akan menjadi milik kita kalau sudah membunuh mereka.”

“Tapi.... tapi.... bagaimana kalau putera mereka dan para pendekar lain berada di dalam istana itu? Kita semua akan mati konyol!” bantah Ok Cin Cu, tokoh Pat-kwa-kauw itu. Keraguannya ini disetujui oleh tiga orang pendeta lainnya karena mereka mengangguk-angguk membenarkan.

“Ah, kalian kira aku sudah bodoh? Sebelum berangkat, aku sudah melaku­kan penyelidikan ke Pao-teng dan Kao Cin Liong bersama keluarganya berada di rumah. Percayalah, di dalam istana tua ini hanya ada kakek dan nenek itu, dan aku yakin kita akan mampu mengalahkan mereka. Mari....!” Sin-kiam Mo-li me­langkah maju terus menghampiri istana.

Keadaan istana yang amat sunyi itu membuat para pendeta menjadi berani dan mereka mulai percaya akan keterang­an Sin-kiam Mo-li. Istana itu memang nampak sunyi saja, seperti tidak ada penghuninya saja atau kalau pun ada, tentu tidak banyak.

Rombongan penyerbu ini sama sekali tidak pernah mimpi bahwa barang-barang yang mereka sangat inginkan itu, ter­utama kitab-kitab ilmu, tidak akan me­reka dapatkan di tempat itu. Tiga orang kakek itu, terutama Kao Kok Cu dan Wan Ceng sudah sejak lama membakar semua kitab pelajaran. Mereka berpen­dapat bahwa ilmu merupakan sesuatu yang amat berbahaya kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat. Oleh karena itu, setelah merasa bahwa mereka sudah tua dan setelah mereka mewariskan ilmu-ilmu mereka kepada murid terakhir, me­reka lalu membakar semua kitab yang ada! Juga Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya sama sekali tidak tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir biarpun su­dah tua renta namun masih amat lihai dan cerdik sehingga kedatangan mereka itu sudah sejak tadi diketahui. Oleh ka­rena itu, ketika mereka menyerbu ke serambi depan istana tua itu, tiba-tiba saja pintu depan terbuka dan mereka melihat tiga orang tua sedang duduk bersila di belakang ambang pintu depan, dengan sikap yang tenang, bahkan ter­senyum menghadapi mereka!

Melihat ini, para pendeta itu hampir berteriak kaget dan kembali nyali mereka menjadi kecil, apalagi mereka melihat kenyataan bahwa suami isteri tua penghuni Istana Gurun Pasir itu ternyata ditemani oleh seorang hwesio yang me­reka kenal sebagai Tiong Khi Hwesio yang lihai! Mereka tentu saja mengenal hwesio ini yang dahulunya adalah se­orang pendekar dengan julukan Si Jari Maut!

“Celaka,” pikir mereka. “Kiranya di samping Pendekar Naga Sakti dan isteri­nya, masih ada lagi Si Jari Maut!”

Akan tetapi, Sin-kiam Mo-li yang tadinya kaget juga melihat adanya Tiong Khi Hwesio di situ, membesarkan hati kawan-kawannya dan berkata, “Mari maju, mereka hanyalah tiga orang tua bang­ka yang sudah mau mampus!”

“Omitohud....!” Tiong Khi Hwesio berseru sambil tersenyum lebar. “Bukan­kah yang datang ini sahabat-sahabat lama, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawan dari Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw?

Sin-kiam Mo-li, sudah bertahun-tahun” engkau agaknya belum juga mau ber­tobat? Mau apakah engkau dan teman-temanmu mengunjungi tempat sunyi ini?”

Sin-kiam Mo-li memandang kepada hwesio itu dengan marah sekali. Tiong Khi Hwesio adalah musuh besarnya. Ada­lah hwesio ini yang dahulu memimpin para pendekar untuk menentang ibu ang­katnya, yaitu mendiang Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama sehingga ibu angkat­nya itu tewas (baca kisah SULING NAGA). Melihat kehadiran kakek ini di Istana Gurun Pasir, bukan saja mengejutkan hatinya, akan tetapi lebih lagi mendatang­kan kemarahan dan kebencian mendalam. Ia tidak takut karena kini hwesio itu nampak sudah demikian tua!

“Tiong Khi Hwesio, tua bangka yang mau mampus. Kebetulan engkau berada di sini sehingga kami dapat membasmi sekalian!” bentaknya.

Selama beberapa tahun ini, Wan Ceng sudah dapat memenangkan diri sendiri. Ia yang dahulunya merupakan seorang wa­nita yang gagah perkasa, galak dan keras hati, kini menjadi seorang nenek yang berhati lembut. Biarpun ia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya itu adalah tokoh-tokoh sesat yang amat ja­hat, namun tidak timbul kebencian atau kemarahan dalam hatinya. Melihat ke­nyataan ini, bukan main girangnya rasa hati Wan Ceng. Inilah ujian terakhir baginya, ujian bagi keadaan batinnya apakah benar-benar ia telah bebas dari­pada kemarahan dan kebencian. Dan ia melihat kenyataan yang menggirangkan bahwa kemunculan orang-orang jahat yang berniat buruk ini pun kini tidak dapat mengusik dan memunculkan ke­marahan atau kebencian dalam batinnya. Ia menoleh kepada suaminya dalam ba­tinnya. Ia menoleh kepada suaminya yang nampak tenang saja seolah-olah tidak menghadapi ancaman, dan kepada Tiong Khi Hwesio yang tertawa-tawa. Hatinya terharu. Sungguh Wan Tek Hoat kini telah berubah sama sekali. Dahulu pernah dijuluki Si Jari Maut yang bersikap keras tanpa mengenal ampun kepada orang jahat atau musuhnya, akan tetapi kini telah menjadi seorang hwesio yang masih tertawa-tawa biarpun diancam dan di­maki.

Kakek Kao Kok Cu yang bersikap tenang itu bangkit berdiri, diikuti oleh isterinya dan Tiong Khi Hwesio, dan berkata dengan halus namun berwibawa sekali, “Kami penghuni Istana Gurun Pasir sudah puluhan tahun tidak pernah mempunyai urusan dengan siapapun juga, dan kami pun tidak mau bermusuhan dengan Cu-wi (Kalian). Harap kalian suka tinggalkan kami yang ingin hidup aman dan damai.”

Melihat sikap Pendekar Naga Sakti yang mereka takuti demikian lunak, dan nampaknya sudah tua sekali, hati Sin-kiam Mo-li menjadi besar. “Hemmm, ingin kami melihat sampai di mana ke­benaran nama besar Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Biarpun kalian tinggal diam di sini, namun keturunan dan murid-murid kalian bersama murid keluarga Pulau Es, selalu memusuhi kami. Karena itu hari ini kami sengaja datang untuk membunuh kalian karena kami berpendapat bahwa membunuh sebatang pohon haruslah mem­bongkar akarnya dulu, baru seluruh po­honnya akan rontok.”

“Omitohud....!” Tiong Khi Hwesio berseru. “Sin-kiam Mo-li dan para sobat dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Kebetulan bahwa musuh kalian yang pa­ling besar adalah diri kalian sendiri! Tidak sadarkah kalian bahwa kalian ba­nyak mendapat tentangan adalah akibat daripada tindakan kalian sendiri? Kalau kalian mengambil jalan yang benar, tidak pernah mengganggu orang baik-baik, pasti tidak akan ada yang menentang kalian. Dari pada membunuh kami bertiga orang tua yang tidak akan ada gunanya, lebih berguna kalau kalian mawas diri dan mengubah cara hidup kalian....“

“Tutup mulutmu, hwesio busuk!” ben­tak Sin-kiam Mo-li. “Kami datang bukan untuk mendengarkan khotbah atau cera­mah. Hayo kalian bertiga keluarlah kalau memang berani, kami menunggu di luar!” Wanita ini menantang dan memberi isya­rat kepada teman-temannya untuk mun­dur sampai ke pekarangan istana yang luas. Ia memang cerdik. Kalau ia dan kawan-kawannya menyerbu ke dalam, selain ruangan tidak begitu luas sehingga sukar melakukan pengepungan dan penge­royokan, juga ia khawatir kalau-kalau istana tua itu mengandung jebakan-jebak­an dan alat rahasia yang membahayakan. Kalau berkelahi di pekarangan ini, ia dapat mengerahkan semua temannya yang berjumlah tujuh belas orang untuk mengepung dan mengeroyok tiga orang tua itu.

Tiong Khi Hwesio sambil tertawa melangkah keluar. Kao Kok Cu saling pandang dengan Wan Ceng, keduanya ter­senyum. “Suamiku, kalau Tuhan meng­hendaki, biarlah kita berpisah di dunia ini untuk bertemu di alam lain.”

Kao Kok Cu mengangguk, tersenyum dan tangan mereka saling sentuh dengan mesra, penuh perasaan kasih sayang. “Selamat berpisah, isteriku.” Mereka pun bergandeng tangan keluar mengikuti Tiong Khi Hwesio. Sejenak mereka berdua se­olah-olah merasa sedang menjadi pengan­tin, melangkah perlahan di belakang se­orang pendeta yang mengawinkan me­reka, menuju ke tempat sembahyangan!

Setelah tiga orang tua ini tiba di pekarangan, Sin-kiam Mo-li segera mem­beri isyarat kepada semua temannya dan tujuh belas orang itu lalu mengepung tiga orang kakek yang berdiri saling membelakangi membentuk segi tiga.

“Bagaimana, Kao-taihiap? Apakah kita harus melayani mereka ini?” terdengar Tiong Khi Hwesio bertanya, sambil ter­senyum dan pertanyaan itu seolah-olah hendak menguji apakah jalan pikiran sahabatnya itu sama dengan pikirannya.

“Tentu saja,” jawab Kao Kok Cu te­nang.

“Omitohud! Untuk apa?” Tiong Khi Hwesio mendesak.

“Pertama, sudah menjadi kewajiban kita untuk melindungi dan membela diri dari ancaman yang datang dari dalam maupun luar, dan ke dua, sudah menjadi kewajiban kita pula sebagai orang-orang yang pernah mempelajari ilmu untuk mencegah terjadinya kejahatan yang di­lakukan oleh orang-orang sesat,” kini yang menjawab adalah nenek Wan Ceng.

“Ha, ha, ha, bagus!” kata Tiong Khi Hwesio. “Akan tetapi, kita membela diri dan menghadapi mereka ini tanpa marah dan benci?”

“Tanpa marah dan benci!” kata kakek Kao Kok Cu dengan suara tegas.

Sementara itu, mendengarkan tiga orang tua itu bercakap-cakap seenaknya, dengan sikap acuh seolah-olah mereka sedang bercengkerama, bukan sedang dikepung dan diancam musuh, Sin-kiam Mo-li menjadi marah sekali. Ia meng­anggap tiga orang tua itu memandang rendah kepadanya dan teman-temannya, maka ia pun berteriak dengan suara lan­tang sekali.

“Serbuuuuu! Bunuh mereka....!”

Sin-kiam Mo-li sendiri sudah meng­gerakkan sepasang senjatanya, yaitu pe­dang di tangan kanan dan kebutan di ta­ngan kiri, menyerang kepada kakek Kao Kok Cu karena ia tahu bahwa Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang buntung lengan kirinya inilah yang paling tang­guh, Sai-cu Sin-touw si Maling Sakti Muka Singa sudah cepat menyusulkan serangan pula dengan kedua tangannya, membantu Sin-kiam Mo-li. Namun dengan gerakan ringan dan halus, Kao Kok Cu dapat menghindarkan serangan mereka itu dengan elakan dan kebutan ujung lengan bajunya yang kiri dan kosong.

Ok Cin Cu dan Thian Kong Cin-jin, dua orang tokoh Pat-kwa-kauw itu, se­gera menerjang Tiong Khi Hwesio dengan tongkat mereka. Tiong Khi Hwesio ber­gelak tertawa dan dia pun mencabut Cui-beng-kiam yang tadi sudah dipersiap­kannya ketika mereka bertiga bersila menyambut datangnya rombongan tamu tak diundang itu dan terjadilah perkelahi­an antara dia dan dua orang pengeroyok­nya yang lihai.

Wan Ceng juga sudah mencabut Ban-tok-kiam untuk menghadapi terjangan dua orang kakek tokoh Pek-lian-kauw yaitu Thian Kek Seng-jin yang bersenjatakan tongkat naga hitam dan Coa-ong Seng-jin yang bersenjatakan seekor ular hidup dan dua orang ini menyerang dengan ganas. Akan tetapi nenek Wan Ceng menghadapi mereka dengan tenang dan pada wajah­nya sedikit pun tidak terbayang kemarah­an, sungguh jauh bedanya dengan wataknya di waktu yang lalu.

Sebelas orang anak buah Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw yang mengepung mereka juga sudah memegang senjata masing-masing. Seorang diantara mereka mengeluarkan sebongkok hio (dupa biting), membakar ujungnya sampai membara, kemudian membagi-bagikan hio itu, ma­sing-masing mendapatkan tiga batang. Kemudian, tiga batang hio itu mereka pasang di kepala, diselipkan pada ikat kepala yang sudah mereka pakai. Ke­mudian, sebelas orang itu memakai dupa di kepalanya ini lalu berlari-lari mengeli­lingi pertempuran itu sambil membaca mantera. Kiranya, seperti yang sudah mereka rencanakan, dipimpin oleh se­orang pendeta Pek-lian-kauw, mereka membentuk sebuah barisan siluman yang mempergunakan kekuatan mantera dan ilmu hitam dari Pek-lian-kauw! Barisan yang memupuk tenaga ilmu hitam ini berlari-larian, makin lama semakin cepat mengitari pertempuran itu, kemudian tiba-tiba membalik dan demikian berkali-kali sambil membaca mantera sampai muka mereka dipenuhi keringat dan kini ada sinar aneh pada pandang mata me­reka seperti mata orang yang tidak sadar lagi, bahkan mulut mereka, yang masih berkemak-kemik itu kini mengeluarkan busa! Kiranya sebelas orang itu seperti dalam keadaan kesurupan dan mulailah mereka melakukan pengeroyokan kepada tiga orang tua dari Istana Gurun Pasir itu!

Ketika sebelas orang itu tadi berlari-lari membaca mantera, tiga orang tua sakti merasakan getaran aneh yang meng­ancam mereka, seolah-olah hendak me­lumpuhkan semangat mereka. Makin ce­pat barisan aneh itu berlari, semakin kacau pula perasaan mereka. Namun, berkat kekuatan batin yang hebat, mere­ka dapat menghalau semua pengaruh ilmu hitam itu. Bahkan ketika sebelas orang itu ikut mengeroyok, tiga orang tua ini melihat seolah-olah sebelas orang itu telah menjadi ratusan banyaknya! Namun, pengerahan sin-kang membuat mata mere­ka terbuka penuh kewaspadaan dan le­nyaplah bayangan ratusan orang tua itu, dan yang nampak tetap saja sebelas orang yang seperti gila atau kesurupan!

Akan tetapi, sepak terjang sebelas orang itu ternyata lebih hebat daripada enam orang pemimpin mereka yang lihai. Kalau enam orang pemimpin mereka hanya mengandalkan kepandaian saja, sebelas orang itu selain kepandaian pri­badi, juga mengandalkan kekuatan yang tidak lumrah manusia, dan kenekatan yang mengerikan!

Tiga orang tua yang dikeroyok itu sebentar saja terdesak hebat. Kalau di­buat perbandingan, tentu saja tingkat kepandaian kakek Kao Kok Cu yang pa­ling tinggi di antara isterinya dan hwe­sio itu, juga tingkatnya masih lebih ting­gi daripada Sin-kiam Mo-li sekalipun. Ketika dikeroyok dua oleh Sin-kiam Mo­li dan Sai-cu Sin-touw, dia masih dapat mengimbangi kekuatan mereka, bahkan membuat mereka kewalahan. Akan tetapi kini ditambah lima orang anak buah yang seperti kesurupan itu mengeroyok, kakek ini segera terdesak hebat dan beberapa kali tubuhnya sudah terkena tusukan pedang Sin-kiam Mo-li dan bacokan golok di tangan anak buah yang kesetanan itu. Namun, dengan sikap yang masih gagah dan tenang, kakek penghuni Istana Gu­run Pasir itu terus membela diri dengan gigih dan sabetan ujung lengan baju kiri­nya, ketika dia mengerahkan tenaga Sin­liong Hok-te, merobohkan dua orang anggauta pasukan yang kesetanan itu. Mereka tewas seketika dengan kepala retak! Namun, yang tiga orang lagi me­nyerang semakin nekat, juga Sin-kiam Mo-li dan Sai-cu Sin-touw memperhebat desakan mereka melihat betapa kakek berlengan tunggal itu sudah menderita luka-luka.

Keadaan nenek Wan Ceng lebih parah lagi daripada suaminya. Tingkat kepandai­annya hanya seimbang dibandingkan Coa-ong Seng-jin, bahkan masih kalah diban­dingkan tingkat Thian Kek Seng-jin, tokoh besar Pek-lian-kauw itu. Dikeroyok dua saja ia sudah repot, hanya mengandalkan pedang Ban-tok-kiam yang ampuh itu sajalah ia masih dapat melindungi diri­nya. Akan tetapi, ketika tiga orang yang kesetanan itu maju mengeroyok, ia pun tak dapat menghindarkan lagi senjata para pengeroyok sehingga menderita luka-luka, bahkan hantaman tongkat naga hitam di tangan Thian Kek Seng-jin yang mengenai pundak dekat leher membuat ia menderita luka dalam yang cukup parah. Namun, nenek ini memang hebat. Luka-luka di tubuhnya tetap saja tidak dapat membangkitkan kemarahannya. Ia me­nahan rasa nyeri dan gerakan pedangnya tetap hebat sehingga ia pun berhasil menusuk roboh Coa-ong Seng-jin dengan pedangnya. Begitu tertusuk lambungnya oleh Ban-tok-kiam, Coa-ong Seng-jin men­jerit dan roboh tak berkutik lagi, tubuh­nya berubah menjadi kehitaman karena racun yang amat hebat dari pedang Ban-tok-kiam. Melihat betapa sutenya tewas, Thian Kek Seng-jin menjadi semakin marah dan mendesak sehingga tongkatnya kem­bali berhasil menghantam betis kanan nenek Wan Ceng sehingga roboh terguling!

Tiga orang yang kesetanan itu menubruk dengan golok mereka. Namun, Wan Ceng membabat dan dua orang roboh oleh Ban-tok-kiam dan tewas seketika. Wan Ceng berhasil melompat dan segera mem­buat pedangnya menghadapi pengeroyokan Thian Kek Seng-jin yang kini hanya di­bantu oleh seorang anak buah yang masih nekat kesetanan. Namun, pengeroyokan dua orang ini cukup membuat Wan Ceng sempoyongan karena ia sudah menderita luka-luka parah.

Bagaimana dengan Tiong Khi Hwesio? Sama saja! Seperti halnya nenek Wan Ceng, tingkat kepandaian Tiong Khi Hwe­sio hanya menang sedikit dibanding Ok Cin Cu, seorang di antara pengeroyok­nya, namun dia masih kalah dibandingkan dengan Thian Kong Cin-jin. Menghadapi pengeroyokan dua orang ini saja dia sudah kewalahan, apalagi dua orang itu dibantu oleh tiga orang anak buah yang seperti orang kesurupan itu. Biarpun kadang-kadang masih terdengar suara tertawa­nya, namun tubuh hwesio tua itu berkali-kali terkena hantaman tongkat dan serempetan golok sehingga dia menderita luka-luka. Namun, tidak percuma hwesio tua ini dahulu berjuluk Si Jari Maut, dan pedang Cui-beng-kiam di tangannya ada­lah sebatang pedang pusaka dari Pulau Neraka yang amat ampuh. Maka biarpun dia menderita luka-luka pula, dia ber­hasil membabat roboh tiga orang ke­setanan itu dengan pedangnya walaupun dia pun roboh terguling karena pada saat itu, tongkat ular hitam di tangan Ok Cin Cu menghantam pahanya. Begitu roboh, sebuah tendangan kaki Thian Kong Cin-jin membuat tubuh Tiong Khi Hwesio bergulingan. Ok Cin Cu mengejar dan menubruk dengen tongkat hitamnya yang berbentuk ular. Tongkat itu menghantam ke arah kepala Tiong Khi Hwesio tanpa dapat dielakkannya lagi. Tiong Khi Hwe­sio yang sudah maklum bahwa dia tidak akan mampu bertahan lagi, menggunakan kesempatan terakhir untuk menusukkan pedang Cui-beng-kiam ke arah lawan yang menyerangnya.

“Krakkk!”

“Cappp....!”

Tiong Khi Hwesio terkulai dengan kepala retak, tewas seketika, akan tetapi juga tubuh Ok Cin Cu terguling dan tewas tak lama kemudian karena dadanya ditembus pedang Cui-beng-kiam! Thian Kong Cin-jin memandang dengan mata terbelalak, hampir tidak percaya melihat betapa hwesio itu berhasil membinasakan sutenya, juga merobohkan tiga orang anak buah pasukan iblis itu.

Pada saat yang hampir bersamaan, Wan Ceng roboh pula oleh hantaman tongkat naga di tangan Thian Kek Seng-jin, namun pada saat ia terguling karena batang lehernya patah terkena ayunan tongkat Wan Ceng melontarkan pedang Ban-tok-kiam yang mengenai perut anak buah pasukan iblis yang mengeroyoknya. Juga nenek ini, dalam pengeroyokan yang berat sebelah itu, berhasil membunuh Coa-ong Seng-jin dan tiga orang anak buah pasukan iblis.

Kakek Kao Kok Cu masih dikeroyok oleh Sin-kiam Mo-li, dan dua orang anak buah pasukan iblis karena dalam perkelahian selanjutnya tadi, Kao Kok Cu berhasil merobohkan Sai-cu Sin-touw ketika Maling Sakti ini berhasil menang­kap ujung lengan bajunya yang kosong, yaitu yang kiri. Pada saat itu, Sin-kiam Mo-li menusukkan pedangnya yang me­ngenai pundak Kao Kok Cu, namun kakek sakti ini berhasil menampar dengan ta­ngan kanannya, mengenai pelipis Sai­cu Sin-touw yang roboh dan tewas se­ketika. Pada saat tiga orang anak buah pasukan iblis menubruk, tendangan kakinya yang keras merobohkan seorang anak buah dan menewaskannya. Kini dia meng­hadapi pengeroyokan Sin-kiam Mo-li dan dua orang anak buahnya. Dia masih terus menggerakkan kedua kakinya dan sebelah tangannya untuk membela diri, namun gerakannya menjadi semakin lambat dan lemah karena banyak darah keluar dari tubuhnya yang sudah amat tua itu.

“Wuuuttttt....!” Tiba-tiba ujung kebut­an di tangan kiri Sin-kiam Mo-li me­nyambar. Kao Kok Cu menggerakkan tangan kanan menangkap kebutan dan mengerahkan tenaganya.

“Brettt....!” Bulu kebutan itu putus seluruhnya dan kini bulu-bulu yang be­racun itu berada di tangan Kao Kok Cu sedangkan yang tinggal di tangan Sin-kiam Mo-li hanya tinggal gagang emas­nya saja.

“Cappppp....!” Dalam kemarahannya, Sin-kiam Mo-li membarengi tusukan pe­dangnya yang mengenai lambung Kao Kok Cu. Kakek ini sudah kehabisan te­naga, tak mungkin lagi melindungi tubuh­nya dengan sin-kangnya, apalagi karena penyerangnya juga memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, maka pedang itu pun memasuki lambungnya.

Kao Kok Cu terhuyung dan tersenyum melirik ke arah tubuh isterinya dan tu­buh Tiong Khi Hwesio yang sudah meng­geletak tak bernyawa. Dia tiba-tiba me­nyambitkan bulu-bulu kebutan itu ke arah dua orang anak buah yang menyergapnya dari samping. Mereka itu roboh berkelojotan karena bulu-bulu itu menancap di muka dan dada mereka, sedangkan bulu kebutan itu mengandung racun yang amat kuat. Kao Kok Cu terhuyung menghampiri tempat di mana Wan Ceng roboh tadi, dan dia pun terkulai roboh di samping mayat isterinya, menghembuskan napas terakhir dengan tenang tanpa sekarat.

Sin-kiam Mo-li berdiri tertegun seper­ti dua orang temannya. Mereka termangu kagum dan juga kaget melihat kenyataan betapa hebatnya tiga orang tua, renta itu. Sudah begitu tua dan tenaganya sudah banyak berkurang, namun ternyata masih demikian hebatnya sehingga mere­ka yang datang berjumlah tujuh belas orang, kini hanya tinggal tiga orang saja yang masih hidup! Empat belas orang teman mereka telah tewas semua! Bah­kan mereka bertiga, sisa dari tujuh belas orang itu yang masih hidup, juga tidak keluar dari pertempuran itu tanpa luka! Punggung Sin-kiam Mo-li masih biru dan nyeri karena tadi sempat tercium ujung lengan baju kiri kakek Kao Kok Cu, Thian Kong Cin-jin agak terpincang karena pa­hanya tadi tercium tendangan Tiong Khi Hwesio, sedangkan Thian Kek Seng-jin juga robek bajunya dan pundaknya luka ter­kena cengkeraman tangan kiri nenek Wan Ceng!

Sin-kiam Mo-li bergidik dan menoleh kepada dua orang temannya. Mereka pun berdiri termangu dan bergidik ngeri. Selama hidup mereka, tiga orang tokoh sesat ini baru sekarang menemukan tan­ding yang demikian lihainya, padahal tiga orang itu sudah amat tua dan mereka tadi sudah mempersiapkan segalanya, mengeroyok mereka dengan tujuh belas orang, bahkan sebelas orang anak buah mereka tadi mempergunakan pasukan iblis yang mengandung tenaga ilmu hitam!

Seorang pemuda berpakaian putih muncul dari ambang pintu depan. Tiga orang itu terkejut dan sudah memegang senjata masing-masing, siap untuk me­nyerang dan memandang kepada pemuda itu penuh rasa heran dan juga gelisah. Siapa tahu, pemuda itu adalah calon lawan yang amat tangguh, pikir mereka, juga merasa heran mengapa kalau me­mang masih ada penghuni di dalam ista­na tua itu, mereka tadi tidak keluar membantu tiga orang tua yang mereka keroyok.

Akan tetapi pemuda itu, yang bukan lain adalah Tan Sin Hong, tidak mempedulikan mereka, melainkan melangkah maju perlahan-lahan, menghampiri tiga mayat orang tua itu yang rebah ber­dekatan, apalagi Kao Kok Cu dan Wan Ceng yang rebah dekat sekali dan tangan kakek itu memegang tangan si nenek. Sin Hong lalu menjatuhkan diri berlutut, tanpa menangis tanpa mencucurkan air mata, namun dengan tubuh lemas, wajah pucat dan mata sayu, dia mencium ujung kaki ketiga orang gurunya yang sudah tak bernyawa lagi! Bagaimanapun juga hatinya penuh penyesalan. Kalau saja dia tidak terikat oleh janji dan sumpahnya, bahwa selama satu tahun dia tidak boleh melakukan gerakan silat dan tidak boleh mengerahkan tenaga sakti, kalau saja dia tadi dapat membantu tiga orang gurunya melawan pengeroyokan belasan orang jahat itu, belum tentu tiga orang guru­nya tewas! Akan tetapi dia tidak boleh menurutkan perasaannya, bahkan dia dapat dengan segera melenyapkan segala penyesalan tadi. Ketika belasan orang itu datang, dia pun sudah tahu dan dialah yang memberi tahu mereka akan ke­datangan belasan orang yang mencuriga­kan tadi. Akan tetapi, tiga orang guru­nya bersikap tenang saja, bahkan lalu duduk bersila di balik pintu dan mereka memesan agar dia bersembunyi saja di dalam dan jangan memperlihatkan diri.

“Pesanku, Sin Hong, andaikata terjadi sesuatu dengan kami dan kami sampai tewas, hal yang lumrah saja bagi manusia karena ada kelahiran pasti ada kematian, maka kalau engkau mendapat kesempatan, bawalah mayat kami ke dalam istana lalu bakarlah istana ini,” demikian pesan kakek Kao Kok Cu dan mereka tidak sempat bicara lebih panjang karena belas­an orang itu telah tiba di luar pintu. Sin Hong lalu bersembunyi dan tiga orang tua itu membuka daun pintu memper­gunakan alat rahasia yang terdapat di situ.

Setelah pertempuran selesai dan dia melihat betapa tiga orang gurunya tewas, barulah Sin Hong keluar dengan hati hancur. Tak mungkin dia menyembunyi­kan diri lagi seperti pesan guru-gurunya, walaupun dia keluar hanya untuk mem­beri hormat atas kepergian ketiga orang gurunya, bukan bermaksud melawan mu­suh.

Melihat munculnya seorang pemuda berpakaian putih yang berlutut dan men­cium kaki tiga mayat kakek dan nenek penghuni Istana Gurun Pasir itu, Thian Kong Cin-jin dan Thian Kek Seng-jin yang sudah panik itu segera menggerakkan sen­jata untuk menyerangnya. Akan tewas­lah Sin Hong kalau saja Sin-kiam Mo-li tidak menggerakkan pedangnya dan meloncat melindunginya, menangkis datangnya tongkat.

“Perlahan dulu, Totiang (Bapak Pen­deta)!” kata wanita ini. Ia merasa ter­tarik melihat pemuda berpakaian putih ini, yang nampaknya halus dan mempunyai daya tarik besar itu. Sejak tadi ia mengamati dan siap menyerang pula, akan tetapi melihat sikap pemuda itu, ia melarang dua orang temannya untuk turun tangan menyerangnya. Seorang pe­muda yang usianya baru sekitar dua pu­luh tahun mempunyai wajah yang seder­hana saja, tidak dapat disebut tampan sekali, akan tetapi juga tidak buruk se­kali. Bentuk wajahnya sederhana, seperti dapat ditemui pada pemuda-pemuda biasa, akan tetapi kulitnya bersih dan pandang mata yang lembut disertai mulut yang selalu membayangkan senyum ramah itu mempunyai daya tarik yang besar. Dan bagaimanapun juga, ditemukannya seorang pemuda di istana kuno ini, Istana Gurun Pasir milik Pendekar Naga Sakti, menunjukkan bahwa pemuda ini bukan pemuda biasa!

Dua orang pendeta itu menahan tong­kat mereka dan memandang kepada Sin-kiam Mo-li dengan alis berkerut dan heran. Mengapa iblis betina ini mencegah mereka membunuh pemuda itu? Mereka sudah mengenal watak cabul Sin-kiam Mo-li, akan tetapi menurut penglihatan mereka, tidak ada apa-apanya pada pe­muda ini yang dapat menggerakkan hati wanita cabul yang mata keranjang. Kalau saja pemuda ini memiliki wajah yang tampan sekali, atau tubuh yang berotot membayangkan kejantanan, mereka masih dapat mengerti. Akan tetapi pemuda ini biasa saja, di mana-mana dapat ditemu­kan pemuda macam ini?

“Orang muda, siapakah engkau?” Sin-kiam Mo-li bertanya dengan pedang ma­sih di tangan karena sekali saja pemuda itu membuat gerakan menyerang, tentu akan didahuluinya dengan pedangnya.

Tan Sin Hong bangkit berdiri dan membalikkan tubuh menghadapi wanita yang bertanya itu. “Namaku Tan Sin Hong,” jawabnya singkat namun suaranya tetap halus, tidak memperlihatkan isi hatinya.

“Engkau masih ada hubungan apa dengan mereka bertiga itu?” tanya pula Sin-kiam Mo-li sambil menuding ke arah tiga mayat itu.

“Aku adalah pelayan mereka,” jawab pula Sin Hong, tenang saja.

Mendengar jawaban ini, Sin-kiam Mo-li bertukar pandang dengan kedua orang kawannya. Kini dua orang pendeta itu mengerti bahwa iblis betina itu tadi melarang mereka menyerang karena agak­nya hendak menanyai pemuda ini dan memang hal ini penting sebelum mereka menyerbu masuk untuk mencari harta pusaka. Pedang Ban-tok-kiam dan pedang Cui-beng-kiam tadi telah dipungut oleh Sin-kiam Mo-li dan kini kedua pedang itu telah diikatkan di pinggangnya, di kanan dan kiri!

“Selain engkau dan mereka bertiga ini, siapa lagi yang tinggal di dalam istana kuno ini sekarang?”

“Tidak ada lagi, hanya kami ber­empat,” jawab Sin Hong.

“Ketika tadi tiga orang majikanmu ini bertempur melawan kami, apakah engkau mengetahui?”

Tenang, tenanglah, bisik hati Sin Hong, kini tiba saatnya menghadapi ke­sukaran. “Aku tahu karena aku mengintai dari balik dinding itu.” Dia menuding ke arah pintu depan dari mana dia tadi keluar.

“Kenapa engkau tidak muncul dan membantu tiga orang majikanmu?” Sin-kiam Mo-li bertanya lagi, suaranya agak ketus dan sinar matanya mencorong pe­nuh selidik memandang wajah yang nam­pak tidak begitu cerdik itu.

“Aku tidak bisa berkelahi, pula per­kelahian itu bukan urusanku, mengapa aku harus membantu?” katanya perlahan.

“Akan tetapi engkau berduka melihat mereka tewas?”

“Tentu saja, mereka adalah orang-orang yang baik kepadaku.”

“Engkau benar-benar tidak bisa ber­kelahi? Tidak pandai silat?” tanya pula Sin-kiam Mo-li dengan suara mengancam.

Sin Hong menggeleng kepalanya, tan­pa menjawab.

“Jawab! Bisa berkelahi atau tidak?”

“Aku tidak bisa berkelahi,” jawaban ini tidak berbohong karena pada saat itu dia memang tidak boleh dan tidak dapat berkelahi. Baru setengah tahun lewat, masih setengah tahun lagi dia harus men­jadi orang yang lemah.

Tiba-tiba tangan kiri Sin-kiam Mo-li melayang ke arah mukanya. Tentu saja Sin Hong melihat ini dengan jelas dan kalau dia menghendaki, dengan amat mudah dia dapat menangkis atau meng­elak. Akan tetapi, dia pura-pura tidak melihatnya.

“Plakkk!” tamparan itu keras sekali dan biarpun Sin-kiam Mo-li tidak mem­pergunakan tenaga sin-kang, melainkan tenaga otot lengannya saja, namun tubuh Sin Hong terpelanting dan pipi kanannya menjadi merah kebiruan dan membengkak. Dia bangkit berdiri dan memandang ke­pada Sin-kiam Mo-li dengan mata ter­belalak.

“Kenapa engkau memukul aku?” tanya­nya, sikapnya masih tenang.

Sin-kiam Mo-li terheran-heran. Jelas bahwa pemuda ini tidak pandai silat, dan untung dia tidak menggunakan sin-kang karena kalau demikian, tentu tamparan tadi dapat membunuhnya. Akan tetapi, yang amat mengherankan adalah sikap pemuda itu. Kenapa dapat demikian te­nang? Padahal tamparan tadi keras se­kali dan pemuda lain yang tidak pandai ilmu silat tentu akan menjadi ketakutan dan mungkin menangis kesakitan dan minta ampun. Pemuda ini tenang saja, padahal pipi kanannya membengkak.

“Aku memukulmu karena engkau mem­bohong! Engkau tentu pandai silat!” ben­tak lagi Sin-kiam Mo-li dan kini kakinya melayang, menendang ke arah bagian tubuh mematikan dari pemuda itu, di bawah pusar! Tendangan itu amat cepat dan kuat, dan kalau mengenai sasaran, tentu orangnya mati seketika. Sin Hong juga melihat ini, dan kalau dia mau, tentu dia dapat pula menghindarkan diri. Namun dia sudah nekat dan pasrah saja.

“Bukkk!” Kaki wanita itu diserongkan dan bukan bagian tubuh mematikan yang kena tendangan, melainkan paha kiri Sin Hong dan untuk kedua kalinya pemuda itu terlempar dan terbanting jatuh de­ngan kerasnya! Dia merangkak bangun dengan muka agak pucat karena menahan rasa nyeri, kemudian terpincang dia menghampiri Sin-kiam Mo-li.

“Engkau sungguh kejam! Engkau me­nyiksaku, mau bunuh pun aku tidak akan dapat melawanmu. Bunuhlah kalau me­mang itu yang kaukehendaki!”

Sin-kiam Mo-li mengeluarkan seruan kagum! Pemuda ini benar-benar tidak pandai ilmu silat, akan tetapi memiliki nyali yang lebih besar daripada pemuda yang pandai ilmu silat sekali pun! Ia me­rasa kagum sekali dan tahulah ia meng­apa pemuda ini dipilih oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir untuk menjadi pelayan di situ. Memang seorang pemuda pilihan, seorang pemuda aneh yang me­miliki nyali naga! Agaknya ketabahan dan keuletannya itulah yang menjadi keaneh­annya karena sudah selayaknya kalau orang yang tinggal di tempat ini memiliki keistimewaan masing-masing.

Kembali tangan kiri Sin-kiam Mo­li bergerak dan tahu-tahu ia telah men­cengkeram tengkuk Sin Hong. Jari-jari tangan wanita itu kecil mungil, akan tetapi dapat mencengkeram bagaikan jepitan baja dan begitu ia memperkuat cengkeramannya, Sin Hong merasa ke­nyerian yang menyusup sampai ke tulang punggungnya.

“Bawa kami ke dalam istana kuno itu, dan tunjukkan di mana kamar-kamarnya. Awas kalau sampai ada yang menyerang kami dan kalau engkau berbohong, aku akan membunuhmu lebih dulu. Hayo ja­lan!” Dengan tangan kiri masih menceng­keram tengkuk Sin Hong dan tangan kanan memegang pedang, Sin-kiam Mo-li mendorong pemuda itu menuju ke pin­tu depan. Sin Hong mengeluarkan ke­ringat dingin saking nyerinya, dan ter­pincang-pincang dia melangkah. Pahanya yang tertendang tadi pun masih nyeri bukan main.

Dua orang pendeta sesat itu menye­ringai, girang bahwa mereka tadi tidak sampai membunuh pemuda ini yang ter­nyata amat berguna bagi mereka dan diam-diam mereka kagum akan kecerdik­an Sin-kiam Mo-li. Membayangkan bahwa mereka akan menemukan pusaka-pusaka berharga, terutama kitab-kitab ilmu yang tinggi dari Istana Gurun Pasir, terobatlah rasa kehilangan dan kedukaan mereka atas tewasnya sute mereka dan anak buah mereka.

Sin Hong membawa mereka memasuki seluruh kamar yang ada dan tiga orang itu Makin lama makin kecewa karena mereka tidak menemukan sesuatu seperti yang mereka harapkan semula! Yang ada hanyalah perabot-perabot rumah yang walaupun kuno, namun terlalu besar un­tuk dibawa menyeberangi gurun pasir dan juga tidak berharga. Tidak ada harta benda, tidak ada senjata pusaka kecuali kedua pedang yang dipergunakan Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio tadi, tidak ada sebuah pun kitab pelajaran ilmu silat atau sehelai pun catatan yang penting!

“Hayo tunjukkan di mana disimpannya pusaka mereka!” berkali-kali Sin-kiam Mo-li membentak dan memperkuat ceng­keramannya pada tengkuk Sin Hong. Akan tetapi pemuda itu hanya menggeleng kepalanya.

“Tidak ada apa-apa di sini kecuali semua ini....“

“Desss....!” Saking marahnya, Sin-kiam Mo-li memukul punggung pemuda itu dan Sin Hong terlempar, jatuh ber­gulingan dan pingsan!

“Bunuh saja dia! Mungkin dia sengaja menyembunyikan!” kata Thian Kong Cin-jin sambil menggerakkan tongkatnya.

Akan tetapi Thian Kek Seng-jin me­nahannya. “Jangan bunuh lebih baik siksa dia dan paksa dia mengaku!”

Dengan urutan pada punggungnya, Sin Hong sadar kembali akan tetapi begitu sadar, rambutnya dijambak dan tubuhnya diseret oleh Thian Kek Seng-jin yang bermuka merah menyeramkan dan matanya mencorong seperti mata kucing! “Hayo katakan, di mana disimpannya pusaka Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir? Dia dan isterinya adalah orang-orang sakti, tidak mungkin mereka tidak meninggal­kan pusaka!”

“Aku tidak tahu, tidak ada pusaka apa pun di sini,” jawab Sin Hong, tetap tenang dan pasrah.

“Kubunuh engkau kalau tidak mau memberi tahu di mana pusaka itu!” kata Thian Kek Seng-jin penuh ancaman.

Sin Hong menatap muka yang merah dan kurus kering itu tanpa merasa takut, dan dia menggeleng kepala. “Aku tidak tahu.”

“Tukkk!” Gagang tongkat naga hitam itu menotok lambung dan Sin Hong ter­kejut lalu meronta-ronta dan menggeliat kesakitan karena yang ditotok adalah jalan darah yang mendatangkan rasa nyeri luar biasa sekali.

“Hayo katakan, kalau tidak, akan kutambah lagi!” bentak Thian Kek Seng-jin, matanya bersinar-sinar gembira me­lihat korbannya menggeliat kesakitan. Akan tetapi terjadi keanehan pada tubuh Sin Hong. Seperti juga tadi, ketika ber­kali-kali mengalami pukulan, rasa nyeri hanya sebentar saja dan ada hawa hangat di dalam tubuhnya yang berkumpul di tempat yang sakit lalu rasa nyeri itu lenyap seketika. Itu adalah hawa sakti di tubuhnya yang bekerja dengan otomatis, berkumpul di bagian tubuh yang rusak karena serangan dari luar dan memulih­kannya kembali.

“Aku tidak tahu,” katanya lagi.

“Desss!” Tongkat itu kembali bergerak dan menyerampang kedua kaki Sin Hong, membuat tubuhnya kembali terpelanting dan bergulingan. Thian Kong Cin-jin me­nambahinya dengan tendangan sehingga tubuhnya terus menggelinding dan mem­bentur dinding. Dia pun rebah tak ber­gerak lagi, kembali pingsan!

“Jangan bunuh dulu!” Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li berseru melihat betapa dua orang pendeta itu hendak melanjutkan siksaan mereka dan agaknya hendak mem­bunuh pemuda itu karena kecewa.

“Huh, Mo-li, laki-laki macam ini saja membuatmu tergila-gila? Apanya sih yang menarik? Di setiap dusun engkau akan dapat menemukan pemuda macam ini ratusan orang banyaknya!” kata Thian Kek Seng-jin, pendeta Pek-lian-kauw yang kurus kering dan bermuka merah itu, dengan nada cemburu. Memang pendeta ini pernah diajak tidur bersama oleh Sin-kiam Mo-li, akan tetapi wanita itu tidak suka padanya dan tidak pernah lagi meng­ulang perbuatannya, padahal kakek ini kagum dan suka sekali kepada Sin-kiam Mo-li. Melihat betapa wanita itu kini melindungi seorang pemuda yang biasa saja, timbul pula rasa cemburu di hati­nya!

“Benar, dia harus dibunuh. Kalau ti­dak, kelak hanya akan mendatangkan gangguan saja,” kata pula Thian Kong Cin-jin tokoh Pat-kwa-kauw.

“Hemmm, kalian ini selalu berpikiran kotor dan menuduhku yang tidak-tidak. Pula, andaikata aku memilih dia untuk melayaniku, apa sangkutannya dengan kalian? Dia memang tidak tampan, tidak pandai ilmu silat, akan tetapi ketabahan­nya membuat aku kagum. Kalian lupa bahwa dia masih dapat kita pergunakan. Ingat saja mayat-mayat yang berserakan di luar itu, apakah kalian akan membiar­kan saja mayat sute-sute kalian dan anak buah kalian membusuk di sana? Dia ini dapat kita pergunakan tenaganya untuk menggali lubang dan mengubur mayat-mayat itu.”

“Ah, benar juga!” kata Thian Kek Seng-jin, malu kepada diri sendiri yang tadi hanya mencela karena cemburu.

“Dan engkau tidak perlu khawatir dia akan mendatangkan gangguan kelak, Thian Kong Cin-jin. Pertama, dia seorang pe­muda lemah yang tidak pandai ilmu silat, bahkan kalau dia sekarang mulai bela­jar sekalipun, sampai kita mati tua dia masih belum apa-apa. Kedua, setelah aku tidak membutuhkannya lagi, dia tentu akan kubunuh.”

Thian Kong Cin-jin mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa kalau Sin-kiam Mo-li sudah bosan dengan seorang pemuda, ma­ka pemuda itu akan dibunuhnya dan biasa­nya, dalam waktu beberapa hari saja Sin-kiam Mo-li sudah akan merasa bosan. Apalagi pemuda ini seorang laki-laki lemah. Mana dia dapat tahan melayani Sin-kiam Mo-li si iblis betina yang haus laki-laki itu?

“Nah, mulai sekarang, harap kalian jangan pedulikan pemuda ini. Dia punya­ku, budakku, jangan diganggu dan akulah yang kelak akan membunuhnya.” Berkata demikian, Sin-kiam Mo-li menghampiri Sin Hong yang masih pingsan lalu meng­urut-urut beberapa bagian tubuhnya se­hingga dia sadar kembali. Begitu sadar, Sin Hong bangkit duduk dan sedikit pun dia tidak mengeluh karena memang sama sekali tidak ada yang dirasakan nyeri. Hal ini membuat Sin-kiam Mo-li semakin kagum saja.

“Engkau tidak menderita sesuatu? Apanya yang nyeri?”

Sin Hong sendiri merasa heran. Dia telah dihujani pukulan, tendangan dan siksaan, akan tetapi sedikit pun tidak ada bekas-bekasnya lagi. “Tidak apa-apa “ katanya sambil menggeleng ke­pala. Bukan main, pikir Sin-kiam Mo­li, anak ini memiliki daya tahan yang luar biasa hebatnya! Mungkin akan dapat mendatangkan kesenangan besar baginya!

“Siapa namamu tadi?”

“Tan Sin Hong.”

Namanya juga sederhana, shenya she Tan dan terdapat banyak sekali orang she Tan, nama keluarganya amat besar.

“Sin Hong, engkau ini nekat memper­tahankan pusaka Istana Gurun Pasir, atau memang benar di sini tidak ada pusaka?” tanyanya dengan ramah dan kini, timbul dari kekagumannya, wajah perpuda itu kelihatan menarik sekali dan menimbul­kan gairahnya. Dengan gerakan lembut dan mesra diusapnya darah yang masih nampak di ujung bibir Sin Hong, dengan jari tangannya. Tentu saja hal ini mem­buat Sin Hong merasa risi bukan main, akan tetapi didiamkannya saja.

“Aku tidak mempertahankan pusaka apa pun, dan memang setahuku di sini tidak ada apa-apa.”

“Tidak ada kitab-kitab pelajaran ilmu silat?”

“Aku tidak tahu, yang kutahu hanya bahwa beberapa bulan yang lalu, mereka bertiga telah membakari banyak kitab-kitab....“

“Keparat jahanam!” seru Thian Kong Cin-jin dengan kecewa sekali.

“Sayang, sungguh sayang!” teriak pula Thian Kek Seng-jin, amat marah kepada tiga orang tua renta itu yang dianggap­nya hanya membuat dia kecele.

“Kenapa kitab-kitab pusaka dibakar?” tanya Sin-kiam Mo-li kepada pemuda itu, juga merasa amat kecewa.

Sin Hong hanya menggeleng kepala, “Aku tidak tahu,” Dia tidak berbohong karena memang dia tidak tahu mengapa suami isteri tua renta yang menjadi gu­runya itu membakari banyak kitab-kitab yang diketahuinya adalah kitab pelajaran silat.

“Pantas saja kita tidak menemukan apa-apa. Kiranya tua bangka-tua bangka laknat itu telah memusnahkan pusaka mereka!” kata pula Sin-kiam Mo-li. “Sin Hong, hayo engkau membantu kami me­ngubur mayat-mayat itu!”

Ia memegang tangan Sin Hong dan ditariknya pemuda itu keluar dari dalam istana kuno yang dianggap menyeramkan dan mengecewakan itu. Sin Hong tidak membantah dan dia mengunakan cangkul yang biasa dipakai bekerja di ladang, lalu mencangkul, membuat lubang-lubang untuk mengubur mayat-mayat itu. Dia diperintah membuat lubang biasa untuk tiga orang, yaitu untuk mayat Sai-cu Sin-touw, Ok Cin Cu, dan Coa Ong Seng-jin, kemudian se­buah lubang besar untuk sebelas orang anak buah mereka yang tewas. Karena dia tidak berani mempergunakan tenaga sin-kang dan hanya menggunakan tenaga biasa, menggunakan sebuah cangkul, ma­ka tentu suja Sin Hong harus bekerja sehari lamanya dan barulah empat belas buah muyat itu selesai dikubur.

Kemudian, dia mengangkati tiga buah mayat gurunya ke dalam istana. Melihat ini, Sin-kiam Mo-li membentak. “Apa yang akan kau lakukan itu? Biarkan saja mereka membusuk di sini, kita berangkat pergi sekarang juga dan engkau harus ikut dengan kami!”

“Terserah aku menurut saja, akan tetapi bagaimanapun juga aku harus lebih dulu membakar tiga orang mayat ini, sebelum itu, biar di bunuh sekalipun, aku tidak mau ikut!” Diam-diam Sin Hong berjudi dengan nyawanya, akan tetapi hal ini dilakukannya dengan sengaja. Dia se­orang pemuda yang cerdik sekali dan dia tahu bahwa nyawanya diselamatkan oleh wanita tua cantik ini hanya karena wa­nita ini tertarik kepadanya oleh keberani­an dan kenekatannya! Maka kini untuk memenuhi pesan guru-gurunya, dia pun memperlihatkan sikap nekat dengan ha­rapan agar wanita itu memenuhi per­mintaannya. Dan perhitungannya yang tidak ngawur ini memang tepat! Kembali Sin-kiam Mo-li memandang tajam penuh kagum. Seorang pemuda biasa, mungkin hanya pemuda petani yang bekerja se­bagai tukang kebun dan pelayan di istana kuno ini, namun memiliki keberanian dan nyali yang agaknya hanya patut dimiliki oleh para penghuni istana Gurun Pasir! Juga ia merasa tertarik sekali mendengar bahwa pelayan ini hendak membakar jenazah tiga orang sakti itu. Pantasnya keluarga mereka yang melakukan hal ini, bukan seorang pelayan biasa.

“Kenapa engkau berkeras hendak mem­bakar mayat mereka?” tanyanya.

“Karena ketika masih hidup, mereka pernah mengatakan bahwa mereka kalau sudah mati suka dibakar mayat mereka.”

“Akan tetapi untuk membakar mayat mereka, kenapa harus mayat mereka kau usung ke dalam istana?” tanya Thian Kong Cinjin yang juga merasa tertarik.

“Karena aku ingin membakar mereka di dalam istana agar istana itu pun ikut terbakar habis.”

Jawaban ini membuat tiga orang itu melongo dan Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya. Celaka, jangan-jangan pemuda yang dikaguminya ini miring otaknya!

“Kenapa hendak dibakar istana ini?” tanyanya, memandang tajam. Akan te­tapi wajah pemuda itu biasa saja.

“Mereka sudah meninggal dunia dan aku akan pergi dari sini. Kalau tidak ada yang tinggal lagi di sini dan tidak ada yang mengurusnya, tempat ini hanya akan menjadi buruk sekali dan akhirnya akan ambruk pula. Maka sebaiknya di­bakar saja. Dengan demikian, dapat membuktikan kebenaran pengakuanku bahwa tidak ada pusaka apa pun tersimpan di sini. Bukankah begitu?” Ucapan ini cerdik sekali dan tiga orang itu pun mengangguk-angguk.

“Benar sekali!” kata Thian Kek Seng-jin. “Biar dibakarnya habis, biar rata dengan tanah, biar terbasmi lenyap se­perti halnya Istana Pulau Es. Ha-ha-ha, dunia kang-ouw akan tahu bahwa Istana Gurun Pasir terbasmi lenyap dari per­mukaan bumi oleh kita bertiga. Ha-ha-ha!”

Thian Kong Cinjin juga tertawa, se­nang bahwa setidaknya mereka dapat melampiaskan kedongkolan hati karena teman-teman banyak yang mati dan me­reka tidak menemukan pusaka, dengan cara melihat istana itu terbakar habis. Sementara itu, tanpa mempedulikan apakah tiga orang itu setuju atau tidak, Sin Hong telah mengangkuti mayat ini ke dalam, meletakkan mereka di atas tiga dipan yang dipersiapkannya, kemudian dia pergi ke bagian belakang untuk meng­ambil beberapa guci minyak. Semua ge­rakannya ini diperhatikan oleh Sin-kiam Mo-li, sedangkan dua orang pendeta su­dah tidak peduli lagi, masih meneoba mencari ke sana sini barangkali menemu­kan sesuatu yang berharga untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Biarpun tubuhnya terasa lelah karena mencangkul tiada hentinya sampai sore, namun Sin Hong merasakan lagi keaneh­an betapa kelelahan itu sebentar saja lenyap dan kesegaran tubuhnya pulih kembali, seperti ketika tadi dia menderita luka-luka. Maka dengan tenang dia me­nuangkan minyak ke sudut-sudut ruangan istana itu, juga menuangkan minyak ke­pada dipan-dipan di mana tiga sosok mayat itu rebah. Setelah itu, dia pun menyalakan api dimulai dari serambi depan yang sudah dibasahi pula dengan minyak. Dia menghabiskan semua persedia­an minyak di gudang dan sebentar saja api pun berkobar besar sekali, membakar istana itu dan segala isinya.

Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Seng-jin berdiri jauh di pekarangan depan memandang ke arah api yang berkobar semakin tinggi, sedang­kan Sin Hong berdiri pula di situ seperti patung memandang ke arah api dan diam-diam hatinya menangis. Tak disangkanya bahwa dalam sehari dia kehilangan tiga orang gurunya yang amat dicintanya! Guru-gurunya dibantai orang, dibunuh dan istana diserbu tanpa dia dapat membela sedikit pun. Kalau dia tadi membela dan melawan, dia tahu bahwa akan terjadi bentrokan hebat dalam tubuhnya dan mungkin sekali dia akan tewas. Dia tidak takut menghadapi bahaya kematian itu, akan tetapi dia merasa ngeri untuk me­langgar janji dan sumpahnya terhadap tiga orang gurunya.

Setelah istana itu terbakar, barulah teringat oleh Sin-kiam Mo-li bahwa me­reka sebenarnya masih membutuhkan istana itu, setidaknya untuk satu malam. Hari telah mulai gelap dan mereka mem­bakar satu-satunya tempat untuk me­lewatkan malam dengan enak!

“Wah, celaka! Kita malam ini harus bermalam di mana?” katanya kepada dua orang temannya.

“Ha-ha-ha, perlu apa bermalam? Kita langsung saja meninggalkan neraka ini!” kata Thian Kong Cinjin.

“Benar, aku pun merasa tidak suka tinggal lebih lama di tempat ini,” sam­bung Thian Kek Seng-jin. Kedua orang kakek pendeta sesat ini sebenarnya jerih kalau-kalau pembunuhan atas diri tiga orang tua itu dan pembakaran istana itu akan mendatangkan akibat yang hebat, kalau-kalau kebakaran itu kelihatan orang dan ada kerabat Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang datang.

“Ih, mana mungkin melakukan per­jalanan melintas gurun pasir di waktu malam? Sungguh berbahaya sekali. Biar­lah malam ini kita bermalam di sini, setidaknya di kebun sana itu banyak terdapat pohon-pohon. Mari kita mencari tempat istirahat di sana,” kata Sin-kiam Mo-li dan dua orang kawannya setuju karena mereka pun mengerti betapa ba­hayanya melakukan perjalanan melintasi gurun pasir yang luas di waktu malam gelap.

Sin-kiam Mo-li menarik tangan Sin Hong diajak ke kebun di mana memang terdapat banyak pohon buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan lain yang berguna. Sin-kiam Mo-li memilih tempat di bawah sebatang pohon besar, dan ia pun tidak lagi mempedulikan dua orang temannya yang mengambil tempat istirahat di ba­wah sebatang pohon lain lagi. Rumput-rumput hijau menjadi hamparan tikar hijau yang lembut dan lunak. Sin-kiam Mo-li memandang Sin Hong yang masih berdiri menghadap ke arah istana yang masih terbakar itu.

“Sin Hong, kumpulkan kayu bakar dan daun kering. Nanti kita membuat api unggun di sini.”

Sin Hong tidak menjawab akan tetapi juga tidak membantah, lalu mengumpul­kan kayu bakar. Dia tahu bahwa akan percuma saja kalau dia melarikan diri sekarang, karena ketika melirik, wanita itu mengikuti setiap gerakannya dengan pandang mata, juga dua orang pendeta di sana itu memandang kepadanya. Setelah bahan api unggun terkumpul, dia pun berdiri lagi termenung memandang ke arah istana yang terbakar, diam-diam mengharapkan agar tiga jenazah gurunya itu akan terbakar sempurna sehingga se­muanya akan menjadi abu. Dia tidak merasa menyesal bahwa guru-gurunya telah meninggal dunia. Semua orang akhir­nya akan mati juga dan kematian tiga orang gurunya adalah kematian orang­orang yang gagah perkasa? Pernah dia mendengar mereka bertiga itu berbincang-bincang tentang kematian dan ketiganya mempunyai harapan agar dapat mati sebagai pendekar! Dan ternyata harapan mereka itu terpenuhi! Mereka mati de­ngan gagah perkasa, dikeroyok belasan orang tokoh sesat yang lihai, dan sebelum mati mereka berhasil menewaskan empat belas orang lawan! Tak perlu disesalkan kematian mereka. Yang penting sekarang harus mencari jalan untuk melarikan diri karena selama dia belum dapat melolos­kan diri dari pengawasan tiga orang ini, nyawanya tetap saja terancam maut yang mengerikan.

“Sin Hong, kenapa engkau melamun? Apakah engkau menyesal akan kematian tiga orang tua bangka itu?” tiba-tiba Sin-kiam Mo-li bertanya.

Sin Hong menggeleng kepala dan men­jawab lirih namun suaranya tegas, “Ti­dak!”

Sin-kiam Mo-li duduk di atas rumput hijau. Ia telah menurunkan tiga batang pedang itu dari pinggangnya. Pedangnya sendiri, Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam dan menaruhnya di atas rumput tak jauh dari jangkauannya. Ia melonggarkan ikat pinggangnya, bahkan melepas sepatunya untuk mengusir kelelahan akibat perke­lahian mati-matian tadi.

“Sin Hong, engkau duduklah di sini,” katanya sambil memandang penuh gairah kepada pemuda itu. Sin Hong duduk de­ngan mengangkat kedua lututnya dan itu tanpa menoleh. Sin-kiam Mo-li me­mandang kagum sekali. Pemuda ini tidak pandai ilmu silat, akan tetapi agaknya memiliki tubuh yang amat kuat daya ta­hannya. Pemuda itu tadi telah ditampar­nya, ditendang dan dipukul oleh dua orang pendeta itu, dan biarpun pukulan-pukulan itu dilakukan tanpa pengerahan sin-kang tetap saja sudah tentu akan membuat pemuda itu menderita nyeri. Dan semua itu masih ditambah lagi dengan ancaman-ancaman yang menakutkan, dan hebatnya lagi dia harus mencangkul dan mengu­bur jenazah empat belas orang tadi. Mencangkul sehari penuh. Dan kini pe­muda itu kelihatannya sama sekali tidak kelelahan!

Sin Hong sedang melamun, mencari akal bagaimana akan dapat meloloskan diri dari tiga orang ini tanpa mengguna­kan kekerasan, ketika tiba-tiba ada se­buah tangan yang kecil dengan jari-jari mungil menyentuh pundaknya dan ram­butnya, membelai dan mengusap rambutnya. Ketika dia menoleh, hidupnya men­cium keharuman pupur dan minyak, dan ternyata wajah wanita cantik kejam se­perti iblis itu telah berada dekat sekali dengan mukanya. Sin-kiam Mo-li telah duduk dekat sekali dengannya dan kini merangkul lehernya.

Sin Hong adalah seorang pemuda yang sudah dewasa, sudah dua puluh satu ta­hun usianya. Walaupun selama hidupnya dia belum pernah berhubungan dengan wanita, bahkan bergaul dekat pun belum pernah, namun tentu saja dia mengerti apa maksud wanita ini mendekatinya dan bersikap demikian mesra. Seketika wajah­nya menjadi merah dan jantungnya ber­degup kencang penuh ketegangan. Dia melihat betapa dua orang kakek iblis itu duduk tak jauh dari situ, dapat dengan mudah melihat apa yang dilakukan wa­nita ini, akan tetapi agaknya wanita ini tidak merasa sungkan atau malu lagi. Dia merasa ngeri. Manusia-manusia ma­cam apakah yang telah menawannya ini?

“Sin Hong, berapakah usiamu seka­rang?” Sin-kiam Mo-li berbisik dekat telinga pemuda itu, bahkan bibir itu lalu mengecup leher di bawah telinga. Me­remang bulu tengkuk Sin Hong ketika merasa betapa bibir basah yang menge­luarkan napas panas itu menyentuh leher­nya. Akan tetapi dia menguatkan perasa­annya dan menjawab dengan sikap dan suara biasa saja.

“Dua puluh satu tahun.”

“Aih, kalau begitu engkau sudah de­wasa, bukan anak-anak lagi. Sin Hong, pernahkah engkau mempunyai seorang pacar?” Kini kedua tangan wanita itu tanpa malu-malu membelai dan jari-jari tangan itu merayap-rayap ke seluruh bagian tubuh Sin Hong. Pemuda ini merasa ngeri bukan main ngeri dan jijik. Belaian-belaian itu lebih menyiksa bagi­nya daripada tamparan dan tendangan tadi, dan ingin sekali dia menyerang wanita iblis yang tidak tahu malu ini. Akan tetapi, janjinya terhadap tiga orang gurunya merupakan belenggu yang amat kuat dan dia pun mengerahkan kekuatan batinnya.

“Belum pernah.” jawabnya pula, sikap­nya acuh saja sehingga wanita itu men­jadi semakin bergairah. Seorang pemuda yang sudah berusia dua puluh satu, sudah dewasa dan sedang segar-segarnya, belum pernah berdekatan dengan wanita, se­orang perjaka tulen!

“Bagus sekali!” Sin-kiam Mo-li berseru girang. “Kalau begitu malam ini akan kujadikan seorang laki-laki sejati yang lengkap. Engkau layani aku dan senangkan hatiku, dan aku mungkin akan me­nyelamatkanmu, bahkan akan mengambil­mu sebagai murid dan kekasih. Hemmm, engkau mau, bukan?” Sin-kiam Mo-li merangkul dan kini bagaikan seorang ke­laparan melahap sepotong roti, wanita itu menghujankan ciuman pada muka Sin Hong di pipinya, bibirnya, matanya, hi­dungnya sampai pemuda itu gelagapan dan seluruh tubuhnya menggigil saking ngerinya! Sin Hong merasa seperti dijilati seekor harimau yang hendak mengganyang­nya.

Melihat betapa pemuda itu diam saja, tidak menanggapi tidak membalas cium­annya, akan tetapi juga tidak melawan, makin berkobar nafsu berahi dalam diri Sin-kiam Mo-li. Dirangkulnya Sin Hong dan ditariknya pemuda itu rebah di atas rumput yang lunak, jari-jari tangannya mulai membuka kancing dan menanggal­kan pakaian pemuda ini.

Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Sin Hong. Dia merasa muak, jijik dan juga ketakutan, dan bagaimanapun juga, dia adalah seorang laki-laki yang normal. Jantungnya berdebar dan api gairah mulai merayap dan hendak mem­bakar dirinya. Namun, karena batinnya memang kosong dan bersih daripada ba­yangan nafsu, maka nafsu yang muncul karena keadaan badan yang sehat itu pun tidak membuatnya mabuk. Bahkan kini ada hawa hangat yang aneh, yang me­mang berkumpul di dalam pusarnya, meng­alir ke seluruh tubuhnya dan hawa yang hangat ini membuyarkan gairah yang mulai timbul. Dia pun mendiamkan saja segala yang diperbuat oleh Sin-kiam Mo­li atas dirinya.

“Sin Hong, layanilah aku, senangkan hatiku. Sin Hong, ohhhhh !” Wanita itu merayu, merintih, mengajak dan melaku­kan segala usaha untuk membangkitkan gairah Sin Hong. Namun sia-sia belaka. Pemuda itu tetap biasa saja, sedikit pun tidak dilanda nafsu berahi. Biarpun wa­nita tak bermalu itu mengeluarkan semua kepandaiannya dalam merayu pria, biar­pun kedua tangan bahkan seluruh tubuh­nya sibuk untuk merangsang, tetap saja Sin Hong tenang dan tidak terpengaruh. Diam-diam dia merasa bersyukur sekali karena hawa yang hangat itu melindungi­nya.

“Keparat!” Tiba-tiba Sin-kiam Mo-li mengeluarkan makian ketika mendapat kenyataan betapa sikap Sin Hong biasa saja, sedikit pun tidak tersentuh gairah. “Apakah engkau tidak mau melayaniku? Apakah engkau malu-malu karena engkau masih perjaka?” Saking mendongkolnya karena nafsu berahi sudah sampai ke ubun-ubunnya akan tetapi pemuda itu sedikit pun belum tersentuh, Sin-kiam Mo-li tanpa malu-malu lagi marah-marah di depan dua orang kakek yang menjadi rekannya.

“Ha-ha-ha, Mo-li, dia seperti mayat saja? Ha-ha-ha, mungkin dia yang tolol ataukah engkau yang sudah terlalu tua!” kata Thian Kong Cinjin. Kakek ini biasanya pendiam, halus dan berwibawa, akan tetapi sekali ini dia mendongkol melihat sikap rekannya itu. Mereka benar ber­hasil membasmi Istana Gurun Pasir, akan tetapi juga kehilangan banyak anak, buah dan sutenya', Ok Cin Cu, juga tewas, dan wanita iblis itu hanya bersenang-senang saja melampiaskan nafsu berahinya, tanpa malu-malu di depannya lagi! Maka, rasa dongkol itu membuat dia kini mampu mentertawakan Sin-kiam Mo-li. Sin-kiam Mo-li memandang ke arah kakek itu dengan mata melotot. Ia marah sekali, akan tetapi ia pun maklum bahwa wakil ketua Pat-kwa-pai itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan, dan ia pun tidak ingin mencari keributan. Dengan kasar ia pun mencengkeram tubuh Sin Hong dan dibawanya lari berloncatan ke tempat lain, menjauhi dua orang kakek itu dan bersembunyi di balik semak-semak bunga di kebun itu. Ia tidak peduli mendengar suara ketawa dua orang kakek itu dan melempar tubuh Sin Hong ke atas rum­put.

“Kalau sekarang engkau tetap tidak mau melayaniku, akan kupaksa kau sam­pai mampus!” desisnya dan kembali ia membelai-belai dan merayu, bahkan kini Sin-kiam Mo-li mengerahkan kekuatan ilmu sihirnya untuk menguasai Sin Hong. Di bawah sinar api unggun kecil yang dibuatnya, Sin Hong terbelalak melihat bahwa kini Sin-kiam Mo-li nampak masih muda dan amat cantik! Kembali darah mudanya tersirap dan mulai bangkit kem­bali gairah nafsu berahi di dalam dirinya secara wajar dan normal. Sin-kiam Mo-li dapat mengetahui hal ini maka girang­nya bukan main. Ia menciumi dan me­ngecupi seluruh tubuh Sin Hong dengan mulutnya, seperti seekor ayam mematuki beras, berusaha sedapat mungkin untuk mengobarkan gairah yang mulai nampak bangkit dalam diri pemuda itu. Namun, Sin Hong mengerahkan batinnya, me­musatkan perhatiannya kepada bayangan tiga orang gurunya dan sungguh aneh. Hawa di pusarnya menjadi semakin panas dan kini bergerak mengalir keluar, ber­putaran melindungi seluruh tubuhnya dan perlahan-lahan gairah yang menguasainya tadi menjadi lemah dan semakin padam. Betapapun Sin-kiam Mo-li mengerahkan tenaga ilmu sihirnya, tetap saja kekuatan sihir itu membuyar ketika menguasai Sin Hong. Pemuda ini mengerti bahwa ke­kuatan yang diterimanya dari tiga orang gurunya itu telah bekerja dan menyela­matkannya dan dia pun merasa girang sekali. Tenaga dari Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun telah memperlihatkan kehebatan­nya, padahal dia belum mengerahkan sin-kang nya, hanya mengerahkan kekuatan batin untuk menolak pengaruh aneh tadi. Kini, wajah yang nampak muda dan can­tik sekali itu berubah menjadi seperti semula, wajah seorang wanita cantik yang mulai nampak tua.

Melihat betapa api gairah yang tadi mulai bernyala di tubuh pemuda itu men­dadak menjadi padam kembali, bukan main marahnya Sin-kiam Mo-li. Ia marah dan juga heran, dan merasa terhina! Se­lama ini, jarang ada pemuda yang ditawan­nya mampu menolak hasratnya, baik se­cara suka rela atau pun dipengaruhi sihir­nya. Akan tetapi pemuda ini, pemuda lemah yang tidak pandai silat, dapat menghadapi sihirnya dengan terang saja dan sama sekali tidak terpengaruh! Ia sungguh merasa terhina, bukan saja ia merasa ditolak seorang laki-laki, akan tetapi juga sihirnya seperti tidak manjur. Karena kecewa dan marah, sedangkan nafsu berahi telah membakar dirinya dan naik ke ubun-ubunnya, Sin-kiam Mo-li menjadi seperti gila. Ia mulai menampari Sin Hong, mencakar, menggigit, di sam­ping terus merayu sampai akhirnya tu­buh Sin Hong penuh dengan luka cakaran dan tamparan, dan akhirnya pemuda ini tidak kuat lagi dan roboh pingsan di atas rumput! Sedangkan Sin-kiam Mo-li ter­engah-engah, kelelahan dan ia pun akhir­nya tertidur dalam keadaan kehabisan tenaga dan hampir pingsan dibakar nafsu yang dikobarkannya sendiri.

Ketika Sin Hong siuman, malam sudah larut, antara tengah malam dan fajar. Dia merasa betapa hawa dingin menyusup ke dalam tulang-tulangnya melalui kulit tubuhnya yang tak tertutup pakaian, juga ada rasa perih karena luka-lukanya. Keti­ka membuka mata dan melihat bahwa dia rebah terlentang di atas rumput, dan tak jauh dari situ rebah pula tubuh Sin-kiam Mo-li yang mendengkur lirih, tahu­lah dia bahwa wanita itu telah tidur nyenyak karena kelelahan. Inilah kesem­patan baik baginya, pikir Sin Hong. Dua orang kakek itu pun tidak nampak, agak­nya tidur di bagian lain dari kebun itu dan malam itu cukup gelap, tidak ada bintang nampak di langit yang tertutup awan hitam.

Dengan hati-hati sekali Sin Hong mengambil pakaiannya yang tadi direng­gut lepas semua dari tubuhnya oleh Sin-kiam Mo-li, dan melihat dua batang pe­dang yang berada di dekat Sin-kiam Mo­-li, ingin dia mengambilnya. Akan tetapi, seperti orang yang selalu siap siaga, le­ngan kanan Sin-kiam Mo-li berada di atas pedang itu sehingga Sin Hong tidak berani melanjutkan niatnya. Apalagi, dia tidak membutuhkan pedang. Tiga orang gurunya telah menggemblengnya sedemi­kian rupa sehingga dia tidak membutuh­kan senjata pelindung diri lagi. Pula, dari para gurunya dia mendengar berhwa pedang Ban-tok-kiam dan pedang Cui-beng-kiam merupakan dua batang pedang yang amat jahat, mengandung racun yang amat ampuh dan telah minum darah dan men­cabut nyawa entah berapa ribu orang! Dia tidak ingin memiliki dua batang pedang itu dan kalau tadi timbul niatnya mengambil, hanya karena dia teringat bahwa Ban-tok-kiam milik subonya (ibu gurunya) sedangkan Cui-beng-kiam milik Tiong Khi Hwesio, seorang di antara dua gurunya yang laki-laki. Tanpa me­ngenakan pakaiannya lebih dahulu, hanya membawanya saja, Sin Hong lalu meninggalkan Sin-kiam Mo-li dan keluar dari kebun itu. Dia tahu bahwa dia harus dapat cepat pergi karena kalau sampai diketahui tiga orang iblis itu, tanpa dia dapat mempergunakan ilmu berlari cepat, kalau hanya berlari biasa saja, tentu akan segera dapat disusul, apalagi me­lalui daerah gurun pasir yang kering, tanpa adanya hutan atau bahkan tumbuh-tumbuhan untuk menyembunyikan diri.

Akan tetapi, dia mengenal benar dae­rah di sekitar gurun pasir itu dan dia tahu di mana letaknya bukit terdekat, bukit yang penuh hutan, yaitu di sebelah barat, dari situ tidak nampak karena tertutup oleh bukit-bukit gurun pasir. Orang lain yang tidak mengenal daerah itu dengan baik, seperti tiga orang jahat itu, sudah mengambil jalan ke selatan, jalan yang paling aman karena jalan ke selatan itu menuju ke daerah tanah ke­ras. Padahal, menuju ke bukit di barat itu lebih dekat dibandingkan jarak me­nuju ke selatan.

Perhitungan Sin Hong ternyata tepat. Ketika Sin-kiam Mo-li terbangun dan tidak melihat pemuda itu, tentu saja ia marah sekali. Kemarahannya semakin memuncak ketika dua orang tosu itu mentertawakannya, dan ia pun mengajak mereka untuk melakukan pengejaran. “Akan kusiksa dia, kurobek kulitnya dan kucabut jantungnya!” Wanita iblis itu mengancam dengan muka merah sekali. Pemuda itu tidak saja telah menolak untuk melayaninya, bahkan ilmu sihirnya pun tidak mempan dan kini tahu-tahu telah melakikan diri. Dan seperti diperhitungkan oleh Sin Hong, tiga orang lihai itu melakukan pengejaran secepatnya menuju ke selatan.

Tentu saja mereka tidak berhasil menyusul Sin Hong yang telah tiba di bukit sebelah barat dengan aman. Dia memasuki hutan yang memenuhi bukit itu, hutan lebat yang jarang didatangi manu­sia karena selain hutan ini amat liar, juga letaknya begitu jauh dari kota dan dusun. Ketika Sin Hong berkeliaran di dalam hutan yang memenuhi seluruh perbukitan di daerah itu, dia melihat banyak binatang hutan dan pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan maka dia pun mengambil keputusan untuk bersem­bunyi terus di dalam tempat ini sampai pertapaannya selama setahun itu lewat.

Di tempat ini, dia tidak akan mengalami gangguan manusia dan dia dapat melaksanakan tapanya dengan aman. Dia pun memilih sebuah gua untuk dijadikan tempat tinggal, dan beberapa bulan ke­mudian, dalam perantauannya menjelajahi perbukitan itu, dia hanya menemukan beberapa orang pertapa saja tinggal di tempat-tempat tersembunyi. Ada yang tinggal di dalam gua, ada yang mem­buat pondok sederhana. Mereka adalah orang-orang yang mengasingkan diri, menjauhkan diri dari kehidupan masyara­kat ramai. Ada yang bertapa untuk me­larikan diri dan pertapaan itu hanya merupakan suatu pelarian dari keadaan hidup yang serba tidak menyenangkan, ada pula yang bertapa dengan pamrih memperoleh sesuatu dari hasil pertapaan­nya, yang pada hakekatnya juga merupa­kan pelarian dari suatu keadaan yang tidak disukainya untuk mendapatkan suatu keadaan yang diharapkan dan dibayangkan akan mendatangkan kesenangan bagi diri­nya.

Sin Hong tinggal dengan aman didalam gua yang terpencil untuk menyela­matkan dirinya. Sungguh berat Ilmu Pek-ho Sin-kun yang diterimanya dari tiga orang gurunya itu, karena selama se­tahun, dia sama sekali tidak boleh me­ngerahkan sin-kang dan karena itu tentu saja dia terancam bahaya. Untung bagi­nya bahwa ketika dia menjadi tawanan Sin-kiam Mo-li, dia berhasil meloloskan diri. Kalau tidak, dia tentu akan menjadi korban kekejaman tiga orang iblis itu. Keadaannya serba salah. Melawan, ter­paksa dia mengerahkan sin-kang dan dia akan tewas pula, seperti yang dipesankan oleh tiga orang gurunya. Tidak melawan, akhirnya dia akan mereka bunuh!

Demikianlah, selama setahun Sin Hong bersembunyi di dalam hutan itu, dan memenuhi pesan tiga orang gurunya, setiap hari dia bersamadhi, melatih diri untuk menguasai hawa sakti yang ber­gelora di dalam tubuhnya sampai akhir­nya dia berhasil menguasai dan mengendalikan hawa sakti itu, dapat memper­gunakan sesuai dengan kehendaknya, bah­kan kemudian ketika dia berlatih Silat Pek-ho Sin-kun setiap gerakannya dapat mengatur tenaga sakti sesuai dengan takarannya. Kini, bahaya dari hawa sakti itu bagi dirinya sendiri lenyap dan dia pun kini menjadi seorang yang amat lihai. Pada hari terakhir dia berada di dalam hutan itu, dia berlatih Silat Pek­-ho Sin-kun dan kalau saja tiga orang gurunya dapat menyaksikannya, tentu mereka akan merasa bangga bukan main. Pemuda itu bersilat dengan tangan ko­song, gerakannya nampak perlahan saja, namun pohon-pohon di sekelilingnya se­perti dilanda angin taufan, dan di lain saat, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menggerakkan daun-daun pohon, namun ketika jari tangannya yang ter­buka menyentuh batang pohon, batang pohon itu seperti dibabat dengan pedang tajam dan tumbang! Sin Hong sendiri terkejut melihat hasil ini, juga girang namun berjanji pada diri sendiri untuk berhati-hati mempergunakan Pek-ho Sin-kun karena ternyata merupakan gabungan ilmu-ilmu yang amat ampuh dan akibat­nya dapat mengerikan bagi lawannya.­

Akhirnya dia meninggalkan perbukitan itu­ dengan pakaian compang-camping karena selama setahun dia tidak dapat berganti pakaian kecuali kadang-kadang kalau pakaiannya dicuci, dia mengenakan cawat dari kulit batang pohon.

***

Biarpun pakaiannya compang-camping, namun Sin Hong nampak gagah. Rambut­nya yang hitam panjang itu dikuncir tebal dan dikalungkan di lehernya. Baju­nya sudah penuh tambalan dan terbuka di bagian dada atas, memperlihatkan dada­nya yang bidang dan kulit dadanya yang kemerahan karena ditimpa sinar matahari yang terik. Wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun ini tidak tampan akan tetapi juga tidak buruk, namun sinar matanya lembut dan mulutnya selalu ter­senyum ramah dan dua hal inilah yang mendatangkan daya tarik dan kesejukan pada wajahnya. Bentuk tubuhnya sedang saja, namun di balik kulit itu terdapat kekuatan dahsyat yang tidak kelihatan, namun yang membuat tubuhnya kokoh seperti batu karang. Dengan memper­gunakan ilmunya berlari cepat, pemuda ini melakukan perjalanan ke selatan, melewati gurun pasir. Gurun itu sepi sekali dan ini menguntungkan Sin Hong yang dapat melakukan perjalanan secepat­nya. Kalau di situ lalu lintasnya ramai, tentu keadaannya akan menarik perhatian orang, bukan saja pakaiannya yang com­pang-camping seperti jembel, akan tetapi juga larinya yang cepat bagaikan terbang itu. Tujuan perjalanannya sudah jelas. Pertama, dia akan pergi ke Ban-goan, kota kelahirannya untuk menyelidiki ten­tang kematian ayahnya setelah lebih dulu dia menyelidiki ke Tuo-lun di mana ayah­nya tewas dalam sebuah hutan di luar kota Tuo-lun seperti yang didengarnya dari Tiong Thi Hwesio. Kemudian, se­telah urusannya selesai, dia akan ber­kunjung ke kota Pao-teng, mencari su­hengnya, yaitu Kao Cin Liong, putera tunggal suami isteri Kab Kok Cu dan Wan Ceng yang menjadi gurunya, untuk mengabarkan tentang tewasnya dua orang tua itu dan terbasminya Istana Gurun Pasir.

Karena dia mempergunakan ilmu ber­lari cepat, maka dalam beberapa hari saja dia pun sudah tiba di Tuo-lun. Dia melakukan penyelidikan dan bertanya-tanya kepada para piauwsu yang berada di kota ini. Akan tetapi, semua orang yang ditanya tidak ada yang dapat mem­beri keterangan lebih jelas daripada apa yang telah didengarnya dari Tiong Khi Hwesio, yaitu bahwa mendiang ayahnya bersama sepuluh orang anak buahnya kedapatan tewas semua di dalam hutan di selatan kota Tuo-lun itu. Dia pun segera mencari hutan itu dan pada suatu pagi, dia menemukan gundukan tanah kuburan yang cukup tinggi di dalam hu­tan. Sin Hong berdiri di depan tanah kuburan itu dan membaca tulisan yang diukir dengan kasar pada sebuah batu yang besar dan yang ditaruh di depan kuburan. Terbaca nama ayahnya sebagai piauwsu, karena bunyinya hanya “Kuburan Tan Piauwsu bersama sepuluh orang te­mannya”. Dia merasa terharu. Tentu gurunya, Tiong Khi Hwesio itu yang te­lah mengubur ayahnya, dikubur menjadi satu di tempat ini. Dia pun lalu berlutut memberi hormat kepada makam ayahnya.

Sin Hong meninggalkan hutan itu dan melanjutkan perjalanan. Dia tidak ber­hasil mendapatkan keterangan yang ber­harga di Tuo-lun. Harapannya kini tinggal penyelidikan ke kota kelahirannya di Ban-goan. Dia akan menyelidiki dan men­cari Tang-piauwsu yang dulu menjadi wakil dan pembantu utama ayahnya. Mudah-mudahan saja Tang-piauwsu ber­hasil lolos dari kejaran para perampok berkedok itu, pikirnya, karena kalau Tang-piauwsu juga tewas, sukarlah baginya untuk menyelidiki siapa gerangan para perampok itu dan siapa pula yang mem­bunuh ayah ibunya.

Pada suatu hari, tibalah dia di Tem­bok Besar, tempat penyeberangan dari para pedagang dan pengawal kalau hen­dak ke luar Tembok Besar. Matahari te­lah naik tinggi dan Sin Hong berhenti sebentar sambil menghapus keringatnya dengan ujung baju yang sudah compang-camping itu. Keadaan di situ sunyi se­kali. Hanya beberapa hari saja dalam sebulan jalan itu ramai dilalui rombongan pedagang. Kini, para pedagang hanya berani melakukan perjalanan membawa barang-barang mereka secara rombongan, dikawal oleh para piauwsu yang kuat karena akhir-akhir ini timbul banyak perampok di daerah perbatasan itu.

Sin Hong mengamati ke arah selatan dari tempat yang agak tinggi itu sambil mengenang perjalanannya bersama ibunya menyusul ayahnya di Tuo-lun, dikawal oleh Tang-piauwsu. Teringatlah dia akan pendapat nenek Wan Ceng, subonya se­telah mendengar akan semua peristiwa yang menimpa dirinya. Nenek yang cer­dik itu menyatakan kecurigaannya kepada Tang-piauwsu! Dia tidak begitu ingat lagi bagaimana sikap Tang-piauwsu terhadap keluarganya dan dia pun tidak begitu yakin akan kebenaran persangkaan subo­nya itu. Akan tetapi, bagaimanapun juga, dia akan menyelidiki dengan cermat dan hati-hati agar jangan sampai menuduh orang yang tidak bersalah.

Selagi dia termenung, tiba-tiba dia dikejutkan oleh munculnya belasan orang dari balik tembok dan batu-batu besar. Mereka itu adalah orang-orang yang ber­tampang menyeramkan, dengan sikap kasar dan tangan mereka memegang golok telanjang memandang kepadanya dengan alis berkerut dan penuh ancaman ketika mereka berloncatan menghampiri­nya. Diam-diam Sin Hong merasa girang. Mereka ini, dilihat sikapnya, tentulah se­bangsa perampok dan agaknya dia me­nemukan jejak pertama untuk bahan pe­nyelidikannya. Maka dia pun menanti dengan tenang dan memperhatikan laki-laki yang berada paling depan. Tentu dia kepalanya, pikirnya. Laki-laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan ber­kumis lebat sekali, sekepal sebelah, de­ngan jenggot pendek tebal. Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan mukanya yang sebagian bawah tertutup jenggot dan kumis itu berkulit hitam, matanya melotot lebar dan garang.

“Keparat!” Tiba-tiba kepala perampok itu menyumpah-nyumpah setelah dia ber­hadapan dengan Sin Hong, matanya yang lebar melotot memandang pemuda itu dari atas ke bawah, melihat pakaiannya yang compang-camping. “Kukira belut gemuk yang lunak dagingnya, kiranya hanya seekor cacing!”

Para anggauta perampok tertawa mendengar makian kepala perampok itu. Mereka tadi melihat munculnya seorang laki-laki dari jauh dan mereka bersem­bunyi, lalu keluar untuk menyergap ca­lon korban itu. Sudah sebulan mereka tidak memperoleh mangsa dan dalam keadaan haus mereka sudah bergembira melihat munculnya seorang calon mangsa. Siapa kita, orang itu hanyalah seorang jembel muda yang sama sekali tidak dapat diharapkan memiliki sesuatu yang berharga.

“Ha-ha-ha, cacing juga cacing kurus pula, kulitnya pun tidak ada harganya satu sen!” kata seorang di antara mereka.

“Toako, kita bunuh dan cincang saja daging dan tulangnya biar menjadi san­tapan anjing-anjing hutan!” kata seorang perampok lainnya. Dengan sikap buas dan beringas, belasan orang itu sudah maju mengepung Sin Hong dan mereka pun merasa heran mengapa pemuda itu tidak berlutut dan menangis minta ampun. Sebaliknya, pemuda itu malah tersenyum menghadapi kepala perampok itu dan kini Sin Hong berkata lembut,

“Kalian ini memang seperti anjing­-anjing hutan kelaparan, akan tetapi ke­betulan sekali kalian datang, karena aku ingin minta keterangan dari kalian. Ku­harap kalian suka memberi tahu kepada­ku apakah kalian tahu tentang gerombol­an perampok yang suka memakai kedok. Nah, katakanlah dan aku yang berterima kasih tidak akan mengganggu kalian se­lanjutnya!”

Para perampok itu saling pandang dan ada di antara mereka yang tertawa ber­gelak, merasa lucu karena sikap pemuda itu seolah-olah mengancam mereka! Akan tetapi kepala perampok itu menjadi ma­rah bukan main. Matanya semakin lebar melotot ketika dia membentak, “Cacing tanah busuk! Berani engkau membuka mulut besar? Engkau tidak tahu berhadap­an dengan siapa, keparat! Aku adalah Hek-san-coa (Ular Gunung Hitam) dan bersama kawan-kawanku, kami terkenal di seluruh Tembok Besar!”

Sin Hong tersenyum mengejek. “Ke­betulan sekali! Engkau adalah ular hitam, dan aku adalah Pek-ho (Bangau Putih) yang kelaparan, boleh si bangau makan si ular untuk membersihkan daerah ini!”

Tentu saja ucapan pemuda itu men­datangkan kemarahan besar kepada be­lasan orang itu. Pemuda jembel begini berani menentang mereka, bahkan meng­hina kepala perampok! Padahal mereka adalah gerombolan yang ditakuti semua orang dan amat terkenal bagi para pedagang dan pengawal yang suka lewat di situ.

“Toako, biarkan aku menyembelih tikus ini!” bentak mereka yang bertubuh tinggi kurus dengan mata sipit dan muka ku­ning pucat. Tanpa menanti jawaban pe­mimpinnya, si tinggi kurus ini sudah meng­gerakkan goloknya, membacok ke arah Sin Hong dengan cepat dan kuat sekali, agaknya dia hendak membuktikan ancam­annya, sekali tebas menyembelih leher pemuda yang berani menghina mereka itu.

Namun, tentu saja serangan ini ter­lampau lamban dan terlampau lemah bagi seorang pemuda gemblengan seperti Sin Hong, tiada ubahnya permainan kanak-kanak saja. Dia menundukkan kepala, membiarkan golok lewat di atas kepala­nya dan begitu dia menggerakkan tangan, jari tangannya sudah menotok ke bawah siku lengan dan begitu golok terlepas, dia sudah menyambar golok itu dia luncurkan ke bawah, akan tetapi sengaja dia balikkan sehingga punggung golok yang tidak tajam menghantam lutut si tinggi kurus.

“Takkk....! Aduuuhhhhh....!” Si ting­gi kurus terjungkal dan meloncat lagi, berloncatan dengan kaki kanan, sedang­kan kedua tangannya memegang lutut kirinya yang terasa nyeri bukan main. Saking nyerinya, dia roboh lagi, memijit-mijit tulang kering di bawah lututnya.

Tulang kering dipukul golok, biar hanya punggung golok, akan tetapi besi yang berat itu tentu saja cukup membuat tulang keringnya retak dan nyerinya sam­pai menusuk ke tulang sumsum! Sin Hong melempar golok itu ke atas tanah sampai ke gagangnya!

Terkejutlah semua perampok, terkejut dan marah. Tak mereka sangka bahwa pemuda jembel itu pandai ilmu silat, bahkan sedemikian lihainya sehingga da­lam segebrakan saja telah membuat si tinggi kurus itu roboh tak berdaya. Satu gebrakan saja! Hampir mereka tidak percaya dan menganggap bahwa hal itu hanya suatu kebetulan saja. Akan tetapi, kemarahan melihat seorang temannya terluka membuat mereka marah dan ganas seperti ikan-ikan hiu mencium darah.

“Jembel busuk, mampuslah!” teriak seorang yang gemuk pendek dengan perut gendut dan orang ini yang berdiri di be­lakang Sin Hong, sudah membacokkan goloknya dari atas ke bawah, mengarah kepala pemuda itu. Kalau terkena sasar­an itu tentu kepala itu terbelah dua dan isi kepala akan berhamburan. Namun, tanpa menoleh, hanya dengan mengandal­kan pendengarannya yang tajam, Sin Hong miringkan tubuhnya. Golok yang menjadi sinar terang itu menyambar lewat dan tangannya bergerak ketika tu­buhnya diputar membalik tanpa mengubah kedudukan kedua kaki dan di lain saat, golok itu sudah pindah tangan ka­rena pemegangnya merasa lengannya tiba-tiba menjadi lumpuh dan sebelum dia tahu apa yang telah terjadi, golok itu, dengan terbalik, menyambar kakinya.

“Takkk....! Auuuuuwww.... aduhhh.... aduhhhh....!” Dan dia pun berjingkrak­-jingkrak seperti monyet menari, kaki kanannya diangkat dan kaki kiri berlon­catan seperti halnya orang pertama, kemudian dia pun jatuh terjungkal, me­mijiti lutut kanannya yang terpukul punggung golok.

Kini para perampok itu mengeroyok Sin Hong dengan serangan golok mereka! Sin Hong kembali sudah melempar golok rampasannya setelah tadi mengetuk lutut lawan. Golok meluncur dan menancap di batu sampai ke gagangnya, kemudian dengan kedua tangan kosong dia meng­hadapi pengeroyokan para perampok itu. Hebat sekali sepak terjang Sin Hong. Tubuhnya sudah sedemikian peka sehingga seolah-olah di mana-mana tubuhnya me­miliki mata dan mampu mengelakkan setiap serangan. Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun tidak dipergunakannya karena dia tidak ingin memperlihatkan ilmu itu ka­lau tidak penting sekali. Akan tetapi ilmu-ilmu silat yang tinggi-tinggi sudah mendarah daging dengan tubuhnya maka setiap kali dia mengelak sambil menye­rang, sudah pasti yang menyerangnya berbalik roboh sambil mengaduh-aduh. Ada yang tulang kakinya retak, tulang pundaknya patah, atau lengannya terkilir. Satu demi satu mereka roboh. Tak se­orang pun tewas, akan tetapi tidak se­orang pun mampu bangkit atau ikut me­ngeroyok lagi. Sin Hong hanya berdiri di tempat tadi, tidak melangkah jauh, hanya mengubah kedudukan kuda-kuda kaki sesuai dengan serangan lawan. Dia me­nanti lawan menyerang dan menghadapi serangan sekaligus merobohkannya.

Melihat dalam sekejap mata saja lebih dari setengah jumlah orangnya ro­boh, kepala perampok itu marah bukan main. “Bocah setan, akulah lawanmu!” Melihat kepala perampok sendiri yang maju, enam orang sisa anak buah pe­rampok yang belum roboh segera mundur, memberi kesempatan kepada pemimpin mereka. Kepala perampok itu memegang sebatang golok yang besar dan tebal, nampak amat berat, tanda bahwa dia memiliki tenaga besar. Dengan mata melotot dia menghadapi Sin Hong. Kini dia tidak memandang rendah setelah melihat betapa pemuda itu dengan mudah mampu merobohkan tujuh orang anak buahnya, dan dia ingin tahu siapa adanya pemuda jembel yang lihai ini karena belum pernah dia mendengar, apalagi melihat, tentang pemuda ini.

“Bocah setan, siapakah engkau se­sungguhnya?” bentaknya.

Sin Hong tersenyum. Tidak ada guna­nya berkenalan dengan segala macam perampok seperti ini, pikirnya. “Engkau Ular Gunung Hitam, dan aku si Bangau Putih. Nah, katakan saja tentang pe­rampok yang berkedok itu, dan aku akan pergi dengan aman.

“Bangsat sombong! Jangan mengira engkau akan dapat terlepas dari hukuman golok keramatku!” Dan kepala perampok itu pun sudah memutar goloknya. Golok yang besar dan berat itu lenyap bentuk­nya, berubah menjadi gulungan sinar yang berdesing-desing mengerikan. Akan tetapi Sin Hong tetap tenang, hanya menanti kepala perampok itu melakukan serangan. Kepala perampok itu tidak segera me­nyerang karena sesungguhnya dia pun mulai merasa jerih melihat kelihaian pemuda itu, maka kini dia pun berseru kepada enam orang anak buahnya yang belum roboh. “Kepung, keroyok dan kita bunuh dia! Cincang badannya!”

Melihat betapa kini pemimpin mereka sendiri yang maju, enam orang itu pun berbesar hati dan mereka segera me­nyerang dari semua jurusan, menghujan­kan serangan golok mereka ke arah tu­buh Sin Hong. Kepala perampok itu pun ikut pula menyerang!

Kembali Sin Hong dikeroyok, sekali ini lebih hebat daripada yang tadi. Na­mun, Sin Hong tetap tenang dan bersikap menanti. Setiap kali serangan datang, dia mengelak sambil terus merobohkan pe­nyerangnya, dengan tangan, kaki atau punggung golok. Akibatnya sama saja. Yang terkena tamparan tangannya, tentu akan patah tulang pundak atau tulang iga, yang tertendang patah tulang kaki. Dalam waktu hanya beberapa menit saja, enam orang sisa anak buah itu pun sudah roboh semua. Kepala perampok yang licik itu tadi hanya menyerang dengan hati-hati untuk mengeroyok saja sehingga dia belum sampai dirobohkan. Kini, melihat betapa semua anak buahnya roboh, tanpa banyak cakap lagi dia pun membalikkan tubuh dan hendak melarikan diri! Melihat ini, Sin Hong memungut sebatang golok yang tercecer, kemudian menyambitkan golok itu.

“Ceppp....!” Kepala perampok itu mengeluh dan roboh dengan punggung ditembusi golok. Tidak seperti anak buah­nya, dia pun tewas. Sin Hong sengaja membunuhnya, karena dia berpendapat bahwa kalau kepala perampok itu tidak dibunuh, akan percuma saja menasihati anak buahnya untuk bertaubat. Kepala perampok itu tentu akan memaksa anak buahnya untuk merampok lagi dan dengan adanya kepala perampok yang ganas dan jahat, maka anaknya pun akan menjadi lebih berani.

Tiga belas anak buah perampok itu masih rebah atau duduk sambil meng­aduh-aduh kesakitan, dan wajah mereka semua berubah pucat ketika mereka me­lihat betapa pemimpin mereka tewas dan kini pemuda yang amat perkasa itu meng­hampiri mereka.

“Nah, sekarang kalian katakan padaku, siapa gerombolan perampok berkedok yang pada beberapa tahun yang lalu me­rajalela di sini, bahkan telah membunuh Tan-piauwsu dari Ban-goan, dan menye­rang pula Tang-piauwsu. Hayo ceritakan yang benar, kalau tidak, terpaksa akan kubunuh kalian semua seperti yang kulakukan kepada pemimpinmu ini!”

Para perampok itu saling pandang dengan bingung dan ketakutan, akan te­tapi seorang di antara mereka, yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, dan menderita patah tulang pundaknya, segera bangkit dan berkata kepada Sin Hong. “Harap Taihiap (Pendekar Besar) sudi memaafkan kami orang-orang kasar yang tidak mengenal orang pandai dan berani kurang ajar. Kiranya di antara kami hanya saya seorang yang tahu akan perampok-perampok berkedok yang dela­pan tahun yang lalu merampok dan mem­bunuh Tan-piauwsu dari Ban-goan karena pada waktu itu, saya kebetulan melihat­nya dari jauh.”

Bukan main girang rasa hati Sin Hong mendengar ini dan dia pun cepat meng­hampiri orang itu. “Bagus sekali! Cerita­kan bagaimana terjadinya dan siapa me­reka itu, siapa pula pemimpin mereka!”

Orang itu menarik napas panjang dan menggeleng kepala. “Sungguh menyesal sekali saya sendiri tidak mengenal mere­ka, Taihiap. Saya melihat rombongan Tan­piauwsu dihadang dan diserang oleh dua puluh orang lebih orang yang mengenakan kedok, merampas barang yang dikawalnya dan membunuh Tan-piauwsu dan kawan-kawannya. Kemudian mereka melarikan diri menunggang kuda. Hanya ada satu hal penting yang dapat saya ceritakan, yaitu sebelum penghadangan itu terjadi, saya melihat rombongan perampok itu tadinya mengenakan pakaian seperti rom­bongan piauwsu. Mereka berhenti di da­lam hutan, mengganti pakaian dan me­ngenakan kedok. Maka, saya menduga bahwa gerombolan itu agaknya hanya perampok palsu saja, Taihiap, penyamar­an dari rombongan piauwsu.”

Sin Hong mengerutkan alisnya. Agak­nya tepat dugaan mendiang subonya, pikirnya. Jangan-jangan Tang-piauwsu yang merencanakan itu, untuk merampas barang pengawalan yang berharga. Akan tetapi mengapa Tang-piauwsu sendiri kemudian dihadang perampok berkedok? Apakah itu juga hanya siasatnya saja, untuk membunuh dia dan ibunya? Benar­kah seperti yang diduga oleh subonya yang cerdik itu?

“Engkau masih ada penjelasan lain lagi?” tanyanya. Perampok itu meng­geleng kepalanya. Akan tetapi, keterang­an itu cukup penting bagi Sin Hong dan cukup banyak pula. Dia harus menyelidiki ke Ban-goan. Sin Hong teringat bahwa dia tidak mempunyai bekal, juga bahwa pakaiannya haruslah diganti, maka dia lalu berkata kepada mereka.

“Kalian sudah biasa merampok orang, sekarang aku membutuhkan uang. Berikan uang yang ada pada kalian kepadaku!”

Perampok yang memberi keterangan tadi lalu berkata, “Kami tidak mem­punyai banyak uang, Taihiap. Sedikit harta yang kami terima dari ketua kami, biasanya cepat habis untuk foya-foya. Akan tetapi saya yakin pemimpin kami itu mempunyai barang berharga.” Dia lalu menghampiri mayat kepala perampok, dan tak lama kemudian menghampiri Sin Hong sambil membawa sebuah pundi-pundi kecil terisi uang emas dan perak!

Akan tetapi Sin Hong tidak mem­butuhkan uang sebanyak itu. Sebagian dia bagi-bagikan kepada para anggauta pe­rampok sambil berkata, “Kali ini aku masih memaafkan kalian dan hanya mem­bunuh pemimpin kalian. Akan tetapi lain kali kalau aku melihat kalian masih me­rampok, terpaksa aku akan membasmi kalian. Kuharap kalian suka menyadari bahwa pekerjaan merampok itu terkutuk, dan sekali waktu kalian pasti akan me­nerima hukuman, baik dari pasukan ke­amanan, dari para pendekar atau setidak­nya, sudah pasti akan datang hukuman dari Tuhan! Bertaubatlah dan ubahlah jalan hidup kalian. Kalau kalian mau bekerja, tentu kalian akan dapat mencari makan. Nah, selamat tinggal!”

“Nanti dulu, Taihiap!” teriak orang tua yang tadi memberi keterangan. “Ka­mi ingin bertaubat dan mengubah jalan hidup kami, akan tetapi kami angin me­ngenal siapakah Taihiap?”

Sin Hong tersenyum. “Sebut saja aku si Bangau Putih.” Dan begitu dia berkele­bat, bayangannya lenyap di antara pohon-pohon dan meninggalkan orang-orang itu yang menjadi bengong saking heran dan kagum mereka. Mulai peristiwa ini se­terusnya, dunia kang-ouw mulai mengenal nama Pek Ho Enghiong (Pendekar Bangau Putih) karena memang Sin Hong jarang memperkenalkan nama sendiri dan sepak terjangnya seperti seekor burung bangau putih menyambar dan melayang-layang.

Memang dia suka mengenakan pakaian putih. Setelah dia mempunyai uang dan berkesempatan membeli pakaian, dia membeli pakaian yang sederhana, ber­warna putih dengan garis pinggir warna kuning atau biru. Dengan pakaian putih ini, makin terkenallah julukan Si Bangau Putih.

***

Kota Ban-goan tidaklah besar, akan tetapi karena kota ini merupakan kota yang menjadi awal penyeberangan ke luar Tembok Besar, maka kota ini dikunjungi banyak pedagang yang ingin membawa barang dagangannya menyeberang lewat Tembok Besar. Perusahaan piauwkiok (ekspedisi) yang mengawal barang da­gangan juga semakin subur dan sibuk. Banyak terdapat perusahaan ekspedisi atau pengawal di kota ini, dan satu di antaranya, yang terkenal dan dipercaya orang, adalah perusahaan piauwkiok yang dahulu dipimpin oleh Tan-piauwsu.

Tidak sukar bagi Sin Hong untuk me­nemukan orang yang dicarinya, yaitu Tang-piauwsu, karena Tang-piauwsu ter­nyata masih melanjutkan pekerjaan ayah­nya, melanjutkan perusahaan ekspedisi yang dahulu dipegang ayahnya, dan Sin Hong masih belum lupa akan rumah be­kas tempat tinggal orang tuanya itu. Tidak banyak perubahan pada rumah itu yang bagian depannya merupakan kantor, juga papan nama Peng An Piauwkiok (Kantor Ekspedisi Selamat) masih ter­gantung di depan kantor. Bahkan rumah itu kini nampak butut dan seolah-olah tidak terpelihara lagi. Dua orang kuli tua duduk di depan kantor, di atas bangku reyot dan melihat mereka berdua me­ngobrol sambil menghisap rokok dapat diketahui bahwa perusahaan itu sepi saja.

Sin Hong masih ingat kepada dua orang kuli tua ini Walaupun dia tidak tahu lagi siapa nama mereka. Tulang-tulang menonjol di balik kulit yang menjadi keras karena kerja berat itu menambah bayangan kemiskinan diderita dua orang ini.

Melihat seorang pemuda menghampiri kantor itu, dua orang kuli ini cepat bang­kit memberi hormat dan kegembiraan membayang di wajah mereka, kegembira­an penuh harap untuk mendapatkan pe­kerjaan yang mendatangkan hasil bagi mereka.

“Selamat pagi, Tuan Muda. Apakah Tuan Muda hendak mengirim barang yang perlu pengawalan?” tanya seorang di antara mereka penuh harapan.

Begitu mudah membaca kegembiraan penuh harapan membayang di wajah me­reka sehingga Sin Hong merasa terharu. Melihat rumah ini, bertemu dengan dua wajah tua yang tidak asing ini, men­datangkan kenangan lama dan mengingat­kan dia akan ayah ibunya yang sudah tiada. Pohon cemara itu masih tumbuh di samping rumah dan dia masih me­ngenal cabang-cabangnya yang kini se­makin besar dan tinggi, juga batu besar di bawahnya, di mana dahulu dia sering­kali bermain di atasnya. Hatinya terharu, namun wajahnya tidak membayangkan perasaan hatinya dan dia masih tersenyum ramah ketika menjawab,

“Ji-wi Lopek (Paman Tua Berdua), aku ingin bertemu dengan Tang-piauwsu.

Apakah dia berada di sini?” Dahulu, de­lapan tahun yang lalu, Tang-piauwsu merupakan pembantu utama ayahnya dan pengawal ini dahulu adalah seorang bu­jangan berusia tiga puluh tahun lebih, tidak berkeluarga dan tinggalnya mondok pula di rumah ayahnya. Tentu kini sudah berusia empat puluh tahun, dan dia ingin sekali tahu apakah pengawal itu masih tinggal di situ ataukah pindah ke rumah lain dan hanya berkantor di situ. Atau diam-diam dia gelisah, jangan-jangan Tang-piauwsu sudah tidak ada, tewas pula ketika mengawal dia dan ibunya dan kemudian dikeroyok oleh para perampok berkedok. Akan tetapi, jawaban orang itu melegakan hatinya.

“Tang-piauwsu? Tentu sa ja dia berada di sini, Kongcu. Kongcu hendak bicara tentang pesanan pengawalan? Biar saya panggilkan dia, tentu sedang berada di bagian dalam rumahnya. Akhir-akhir ini kesehatannya seringkali terganggu.” Dua orang itu lalu masuk ke dalam setelah mempersilakan Sin Hong duduk menanti di bangku yang terdapat di dalam kantor itu. Sin Hong duduk dan mengamati ke­adaan kantor itu.

Seingatnya, kantor ini dahulu lebih bersih dan lebih banyak mejanya, dan sedikitnya ada lima orang piauwsu yang duduk di situ melayani tamu. Juga ada sedikitnya lima orang kuli yang menerima barang-barang dan menyimpannya dalam gudang sebelum dikirimkan. Akan tetapi sekarang kantor itu kosong sama sekali tidak ada orangnya, dan meja yang ter­dapat di situ hanya dua, kini kosong.

Suara sepatu dari dalam membuat dia mengangkat muka memandang. Muncullah Tang-piauwsu. Dia masih ingat benar wajah itu, hanya kini nampak jauh lebih tua daripada delapan tahun yang lalu. Tubuh yang tinggi besar dari Tang Lun, demikian nama piauwsu itu, kini agak membungkuk, kumis dan jenggotnya tidak terpelihara dan biarpun usianya baru empat puluh tahun lebih sedikit rambut­nya sudah banyak bercampur uban, muka­nya memperlihatkan garis-garis pengala­man pahit yang dalam, dan yang lebih mengherankan hati Sin Hong adalah buntungnya telinga kiri piauwsu itu! Daun telinga kirinya tidak ada. Sin Hong cepat bangkit berdiri dan Tang-piauwsu yang mengira mendapat langganan baru, segera memberi hormat.

“Selamat pagi, Kongcu. Kongcu men­cari saya? Sayalah Tang-piauwsu, dan kalau Kongcu membutuhkan pengawal­....an.”

“Paman Tang, lupakah Paman kepadaku?” kata Sin Hong, suaranya agak meng­getar karena keharuan. Orang ini pernah membela dia dan ibunya dari serangan gerombolan perampok berkedok. Melihat wajah orang ini, seketika lenyaplah ke­raguannya dan dia hampir yakin bahwa dugaan mendiang subonya itu keliru.

Orang tinggi besar dan telinga kirinya buntung itu memandang kepada Sin Hong penuh perhatian dan keraguan. Betapapun dia mengingat-ingat, tetap saja dia tidak mampu mengenal pemuda itu.

“Maaf.... maafkan saya yang sudah tua dan lemah ingatan, akan tetapi si­apakah Kongcu....” katanya agak bingung.

Sin Hong tersenyum ramah sambil maju melangkah mendekati Tang Lun, kemudian berkata lembut, “Paman Tang Lun, aku adalah Sin Hong, Tan Sin Hong, sudah lupakah engkau?”

Sepasang mata itu terbelalak dan wajah itu menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah, matanya memandang penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki, kemudian dia menubruk Sin Hong dan menangis! Orang tua itu, yang ter­kenal sebagai seorang piauwsu yang ga­gah perkasa, kini merangkul Sin Hong sambil menangis terisak-isak seperti anak kecil, Sin Hong membiarkan saja karena maklum bahwa agaknya baru sekarang orang ini memperoleh kesempatan me­lepaskan semua penanggungan batinnya melalui tangis, bukan hanya pelepas derita batin, akan tetapi juga mungkin karena keharuan, kekagetan dan kegembiraan melihat Sin Hong masih hidup. Akhirnya dia dapat juga bicara. Sambil memegang kedua pundak Sin Hong, dia mendorong halus dan mengamati wajah pemuda itu dengan air mata masih bercucuran. Bu­kan air mata buaya, pikir Sin Hong dan dia masih tetap percaya akan kejujuran orang tua ini.

“Sin Hong! Tan Sin Hong ya Tuhan Yang Maha Kuasa! Siapa dapat percaya? Siapa dapat mengenalmu? Sudah bertahun-tahun aku menangisi kalian semua, ayahmu, ibumu, engkau sendiri. Siapa kira kini engkau muncul dalam keadaan selamat, masih hidup dan sudah dewasa? Ya Tuhan, apa saja yang telah terjadi denganmu, Nak? Bagaimana mungkin engkau masih dapat keluar dengan sela­mat dan di mana ibumu?”

“Nanti dulu, Paman. Aku tentu akan menceritakan semua pengalamanku se­lama ini, akan tetapi lebih dulu aku ingin mendapatkan keterangan darimu tentang segala yang telah terjadi, segala urusan mengenai keadaan ayah pada de­lapan tahun yang lalu.”

Orang itu mengangguk-angguk. “Baik, baik akan tetapi mari kita duduk, Sin Hong.” Mereka duduk berhadapan dan Tang Lun menatap wajah pemuda itu dan berkata, “Sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu dan menceritakan segala hal yang kuketahui dengan sebenarnya, terlebih dahulu aku ingin mengetahui satu hal. Jawablah, Sin Hong, katakan­lah bagaimana keadaan ibumu. Melihat betapa sepasang mata itu memandang dengan penuh selidik, penuh harap dan penuh kecemasan, Sin Hong merasa tidak tega untuk membuat orang tua itu ber­ada dalam keadaan bimbang dan gelisah.

“Paman Tang Lun, ibuku telah me­ninggal dunia, diserang badai di gurun pasir....“

“Ahhhhh....!” Tang Lun menutupi mukanya dengan kedua tangannya, kem­bali dia menangis! Sampai lama baru dia dapat bicara. “Aku yang berdosa, aku.... aku yang menyuruh engkau dan ibumu melarikan diri ke gurun pasir sehingga ibumu mendapatkan kematiannya di sana dan engkau.... ah, hanya berkat perlin­dungan Tuhan saja engkau masih dapat hidup sampai sekarang.... aih, Sin Hong, betapa aku selama ini membayangkan kengerian kalian di gurun pasir.... dan semua.... itu karena aku yang menyuruh­mu....”

Sin Hong mengerutkan alisnya. Hemm, mengapa orang ini berkata demikian? Apa benar juga dugaan mendiang subo­nya? Dia merasa tegang, akan tetapi dapat menekan perasaannya. Dia harus menyelidiki semua ini dengan bebas. Setelah orang tua itu tenang kembali, mulailah dia bertanya.

“Paman. Tang Lun, sekarang aku min­ta dengan hormat agar engkau suka men­jawab dan menceritakan seluruhnya se­cara jujur kepadaku. Aku berhak untuk mengetahui segala yang telah terjadi pada orang tuaku, bukan? Nah, pertama, ceritakanlah tentang kepergian ayah ke Tuo-lun, barang apa yang dikawalnya dan siapa menyuruhnya. Ceritakanlah dengan jelas dari awal, mulanya, Paman.”

Peristiwa yang terjadi delapan tahun yang lalu itu selalu terbayang di dalam benak Tang Lun, maka tanpa banyak mengingat lagi dia pun bercerita, dengan lancar. Pada suatu hari, demikian dia bercerita, datanglah . seorang hartawan ke kantor ekspedisi Peng An Piauwkiok itu. Hartawan itu datang bersama empat orang pelayannya, dia seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, ber­pakaian mewah sekali dan keretanya pun indah. Dia mengaku sebagai seorang har­tawan dari kota raja yang datang ke Ban-goan dengan maksud mengirimkan sebuah peti besar berisi emas permata yang harganya tidak kurang dari seratus kati emas. Hartawan itu mengaku she Lay dan selanjutnya disebut Lay-wangwe (hartawan Lay) yang katanya membuka toko rempah-rempah yang amat besar di kota raja. Karena peti itu berisi barang berharga, maka Tan-piauwsu menuntut biaya pengawalan yang besar, yaitu se­puluh kali emas atau sepersepuluh harga barang yang akan dikawalnya. Lay-wangwe sambil tertawa menyetujui dan mengata­kan bahwa dia bahkan akan menambah jumlah itu dengan hadiah lain kalau ba­rangnya itu tiba di tempat tujuan dengan selamat.

“Demikianlah Sin Hong. Karena ba­rang itu amat berharga, ayahmu tidak tega menyerahkan pengawalannya kepada anak buah. Ayahmu berangkat mengawal sendiri bersama sepuluh orang anak buahnya yang terpilih dan urusan di sini diserahkan kepadaku.” Tang-piauwsu melanjutkan keterangannya.

Sebulan kemudian setelah Tan-piauwsu mengawal kiriman berharga itu, datang utusan Tan-piauwsu yang mengabarkan bahwa dia telah tiba dengan selamat di kota Tuo-lun dan minta agar isteri dan puteranya menyusul ke Tuo-lun karena di kota itu sedang ada keramaian dan perayaan besar.

“Karena aku khawatir akan keselamat­an ibumu dan engkau, maka aku sendiri yang mengawal kalian, akan tetapi ter­nyata diperjalanan kita diserang gerombol­an berkedok itu dan selanjutnya engkau dan ibumu kusuruh menyelamatkan diri dari kejaran gerombolan dengan menunggang onta memasuki gurun pasir. Ah, peristiwa itu menghantui aku setiap malam selama ini, karena aku merasa seolah-olah aku menyuruh kalian berdua memasuki jurang kematian!”

“Nanti dulu, Paman. Siapakah orang yang mengirim berita dari ayah itu? Yang menyampaikan pesan ayah dari Tuo-lun?”

“Aku sudah mencari orang itu namun tidak berhasil. Ketika dia datang melapor itu, aku sudah merasa heran mengapa Tan-toako tidak mengutus seorang di antara para anak buahnya, melainkan seorang yang asing dan tidak kukenal. Orang itu mengatakan bahwa dia adalah anggauta rombongan piauwsu yang me­ngawal barang dari Tuo-lun ke selatan, dan Tan-toako yang sudah mengenalnya, menitipkan pesan itu untuk kita.”

“Dan engkau masih ingat orangnya? Wajahnya? Namanya?”

Tang Lun menarih napas panjang dan menggeleng kepala. “Itulah kesalahan dan kecerobohanku. Karena tidak menduga buruk, aku lupa lagi akan namanya, dan wajahnya juga wajah orang biasa sehingga aku sudah tidak ingat lagi. Akan tetapi aku merasa yakin bahwa dia adalah seorang anggauta gerombolan orang ber­kedok itu yang sengaja memancing kita melakukan perjalanan jauh itu.”

Pada saat itu, dari luar muncullah seorang laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh lima tahun, orangnya bertubuh tinggi kurus dengan muka pucat kekuningan akan tetapi sepasang matanya berkilat dan dia nampak cerdik dan ga­gah. Sebatang pedang tergantung dipung­gungnya dan pakaiannya juga pakaian seorang piauwsu. Melihat orang ini, Sin Hong segera mengenalnya. Dia adalah Ciu-piauwsu, nama lengkapnya Ciu Hok Kwi, seorang di antara piauwsu-piauwsu pembantu ayahnya. Sebaliknya, Ciu Hok Kwi tidak mengenal pemuda yang sedang bercakap-cakap dengan Tang-piauwsu itu. Disangkanya seorang tamu biasa yang hendak mengirim barang, maka dia pun acuh saja.

“Paman Ciu!” Sin Hong menegurnya. Orang itu terkejut, memandang Sin Hong penuh perhatian dan pandang matanya mengandung keheranan karena dia tidak mengenal pemuda yang menyebutnya paman itu.

“Ciu-te, apakah engkau lupa kepada­nya? Dia adalah Tan Sin Hong,” kata Tang-piauwsu.

Sepasang mata yang bersinar itu ter­belalak dan kini dia pun teringat. Kalau tadi dia seperti juga Tang-piauwsu, tidak ingat kepada Sin Hong adalah karena mereka sudah mengira bahwa Sin Hong telah tewas.

“Sin Hong....!” Ciu-piauwsu berseru dan cepat menghampiri, lalu memegang lengan pemuda itu. “Syukurlah, engkau masih selamat, masih hidup! Sungguh merupakan keajaiban! Dan bagaimana dengan ibumu?”

“Ibu telah meninggal dunia diserang badai di gurun pasir.”

“Ahhh....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.156.37.123
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia