Di Balik Sebuah Payung

Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuat kulitku hampir terbakar, jemuran pun sekejap kering. Bau asap-asap polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara bising kendaraan yang lalu lalang di hadapanku, membuat suasana bertambah pengap dan panas. Aku hanya bisa melihat orang-orang itu di dalam mobil dengan AC yang membuat mereka sejuk, berbeda dengan diriku anak laki-laki dengan baju kumalnya berdiri di tepi jalan sambil membawa payung di genggamannya, aku hanya bisa menunggu hujan turun dan seseorang datang untuk menggunakan jasaku.

Aku hanya seorang anak berusia 12 tahun yang hanya bisa bekerja. Aku tidak seperti anak seumuranku yang waktunya habis untuk bermain dan belajar. Kehidupan itu jauh sekali dalam hari-hariku, mana bisa aku hanya memikirkan diriku sendiri sedang keluargaku kelaparan. Hanya bekerja aku dapat menyambung hidupku dan keluargaku, aku mempunyai dua adik yang masih kecil-kecil, Bapakku sebulan yang lalu telah meninggal dunia karena tertimpa beton saat bekerja, sedang Ibu sekarang sakit-sakitan.

Sekarang akulah tulang punggung keluarga. Sudah begitu banyak pekerjaan yang kulakukan dari menyemir sepatu, mengamen, menjual Koran, menjual kue sampai menjadi tukang pengelap kaca mobil sudah pernah kulakoni. Tidak mudah memang, karena terkadang tubuhku babak balur dihajar anak-anak setempat yang menganggap aku merebut wilayah mereka, dan hanya menjadi ojek payunglah sekarang yang bisa kulakukan.

Terkadang karena begitu sulitnya aku mendapatkan uang, teman-temanku seperti Rojak mengajakku untuk menegemis saja, tapi aku bukanlah orang pemalas seperti itu. Bagiku mengemis adalah pekerjaan yang gila, bergantung dengan rasa kasian orang lain terhadap kita, lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Itu ungkapan Bapakku yang masih kuingat hingga kini.

Hari ini tidak ada tanda-tanda datangnya hujan, hujan adalah guyuran air dari langit, anugerah dari Allah bagiku, karena dengan begitu aku akan mendapatkan penghasilan. Di balik payung inilah kami menaruh harapan, di balik payung inilah tempat berlindung kami dari kejamnya kehidupan.

Biasanya tempatku mencari penghasilan adalah pusat perbelanjaan di Tanjung Karang atau pinggir jalan di kota Bandar Lampung ini. Yah, walaupun tidak sesusah Jakarta, bagiku ini suatu hal yang tidak ada bedanya. Sekarang kota Bandar Lampung pun sudah cukup padat dan sesak, banyak pendatang baru datang yang didominasi dari suku Jawa.

Sudah kutawarkan pada orang-orang di sekitarku, tapi tetap saja mereka lebih memilih becak dari pada ojek payungku. Sekarang aku hanya terduduk lemas di Halte sambil menunggu orang menggunakan jasaku, karena terlalu capeknya aku menunggu cacing di perutku sampai meronta-ronta ingin diisikan makanan. Dan sudah berkali-kali ku usapkan bajuku yang kumal ke wajahku, menghilangkan keringat yang terus-menerus mengalir, tapi tetap belum ada yang menggunakan jasaku.

Kulihat bus menurunkan orang-orang di Halte, kutawarkan mereka. Belum ada, belum ada yang mau menggunakan jasaku, terkadang aku malah di caci maki karena dikiranya aku ingin mencopet mereka.
“Nak, tunggu apa kau menyediakan jasa ojek payung?” Tanya seorang Ibu berbadan dua menepuk pundakku. Aku terkaget “hah, iya Ibu. Maaf Bu, Ibu mau diantarkan kemana dengan payungku ini?” tanyaku antusias.
“Antarkan Ibu ke Toko Buku seberang yah nak…” ucap Ibu itu dengan logat lampungnya yang kental.
“Baik Bu, aku akan antarkan Ibu ke tempat tujuan dengan selamat,” jawabku ceria.

Ku antarkan ibu itu hingga ke tempat tujuannya. Di sepanjang jalan Ia bertanya padaku mengapa aku tidak sekolah, ku jelaskan alasanku mementingkan bekerja dari pada sekolah. Saat kulihat wajahnya, matanya memerah mungkin karena ceritaku terlalu menyedihkan untuknya.
“Nak, kamu tolong tunggu disina yah, sampai Ibu selesai membeli buku, nanti ibu akan membayarmu lebih.”
“Baiklah Bu”.
Begitu senang aku, Ibu berbadan dua itu mau menggunakan ojek payungku lagi dan membayarku lebih.

Ibu itu terlihat seperti Ibu pejabat, pakaiannya terlihat mencolok ditambah perhiasan emas yang menghiasinya. Penampilan Ibu itu bisa meningkatkan hasrat para perampok. Aku bisa menebak Ibu itu berasal dari suku Lampung, dari logat bicara dan penampilannya mirip sekali dengan Ibunya Rojak, orang-orang suku Lampung memang paling senang bermegah-megahan dan sangat menjunjung tinggi harga diri, ini merupakan falsafah hidup mereka bisa disebut sebagai piil pesenggiri. Jika nanti Ibu itu sudah keluar akan ku peringati dia, agar tak dirampok orang.

Kutunggu Ia sambil duduk memandang orang-orang kaya itu keluar dari pusat perbelanjaan mengahabiskan uang dangan berbagai kantung belanjaan di tangannya. Begitu mudahnya mereka menhambur-hamburkan uang. Berbeda dengan diriku untuk membeli sekantung beras pun sangat sulit kudapatkan. Tapi tetap saja memiliki banyak uang dan jabatan yang tinggi belum bisa membuat mereka puas sampai-sampai harus mengambil hak orang lain saperti para koruptor, jika difikir-fikir beban pekerjan seperti kami ini lebih melelahkan dibandingkan dengan mereka.

“Hey, Piyung sedang apa kau disini, melamun sendirian seperti anak idiot” suara Rojak mengagetkanku.
“Hey Rojak, kau telah membuat lamunanku buyar, aku disini sedang menunggu seorang pelangganku keluar dari toko Buku ini.”
“Pasti pengasilanmu tidak sebesar diriku, hanya bermodalkan baju robek yang kumal dan sebuah balutan perban aku dapat menghasilkan banyak uang hari ini. Berhentilah bekerja seperti ini Piyung, pekerjaan itu tidak menjanjikan untukmu. Lihatlah aku bisa makan Seruit kesukaanku tiap hari, sampai bisa membirakan Nyaikku tapis, yang semua orang tau, harganya mahal.” ungkap Rojak angkuh.
“Takabur sekali kau ini, kau yang seharusnya berhenti dari pekerjaanmu menjadi pengemis, meminta belas kasian orang lain untuk sebuah kebohongan seperti mu. Ingat kata Pak Ustad Anwar pengemis itu pekerjaan yang paling tidak disukai Allah. Sadarlah teman lebih baik menjual jasa dari pada menjual kemunafikkan,” Jelasku pada Rojak.
“Kau ini, bicaramu ini seperti orang yang tahu banyak hal. Tahu apa kau tentang kemunafikkan, lagipula ini pekerjaan yang halal, karena kita kan tidak memaksa seseorang memberikan uang mereka. Merekalah yang memberikannya dengan Ikhlas, karena sudah menjadi kewajiban mereka untuk memberi kepada orang miskin seperti kita Piyung…”
“Sudahlah, jika memang kau tak mau aku nasehati, aku malas berdebat dengan mu Rojak, kau saja tidak bisa membedakan halal dan haram, suatu hari kau akan mengetahui pendapat mana yang paling benar.” keras kepala Rojak membuat ku malas, jika diteruskan bisa-bisa kami bertengkar.
“Yaelah piyung, tentu akulah yang paling benar sebab aku kan seorang anak sekolahan berbeda dengan dirimu yang tidak sekolah yang tingkatannya pastilah lebih tinggi dari mu.”
Suara Rojak menghentakkanku seperti itu kah dia meremehkanku. Dengan tenang ku balas dia, “Rojak tidak ada yang mau di dunia ini punya nasib sepertiku, walau aku berhenti sekolah sekarang, bukan berarti kau bisa meremehkanku seperti itu Jak, aku juga masih belajar walau dengan buku seadanya. Sudah pergilah sana, malas sekali aku berdebat denganmu hari ini.”
Kuacuhkan Rojak, pandanganku berpaling ke arah pintu masuk Toko Buku itu. Kulihat Ibu berbadan dua itu keluar dari toko buku sambil membawa begitu banyak bungkusan buku di tangannya, kusapa dia dengan senyum dan salam, Ia membalasanya dengan senyum mengembang di pipinya.
“Hey anak muda, bantulah aku membawakan belanjaanku ini dan antarkan aku sampai ke halte lagi yah, aku tak mau calon bayiku ini kepanasan,” seru Ibu berbadan dua itu padaku.

Dengan senang hati aku membawakan belanjaanya dan mengantarkannya sampai ke halte. Sesampainya di halte, Ibu berbadan dua dengan jilbab merah jambunya menyuruhku menungguinya sampai bus datang.
Ia mengeluarkan sebuah buku dari bungkusan yang Ia genggam sambil berkata, “Anak muda, ini kuberikan sebuah buku untukmu, aku harap buku ini berguna bagimu, buku ini akan memberikan banyak ilmu tentang kehidupanmu supaya hari-harimu tidak gelap.”
“Terimakasih banyak Bu, sekarang aku tidak terlalu membutuhkan buku, yang kubutuhkan adalah uang Bu, karena tanpa Uang kami tidak akan bisa menyambung hidup, maafkan saya Bu.”
“Astaghfirullah, saya hampir lupa, ini Uangnya.” kata Ibu itu sambil mengambil uang dari dompetnya.
“Terimkasih Bu, baiklah buku ini akan kukembalikan.”
“Jangan.. jangan kau kembalikan, ini untukmu, buku ini kuberikan padamu ikhlas, aku harap buku ini selalu memotivasimu untuk terus belajar walau kau sekarang tidak sekolah lagi.” Paksa Ibu itu pada ku.

Aku terima buku itu dengan senang hati, Ibu yang asli suku lampung ini terlihat sangat menjunjung tinggi Piil pesenggiri nya terutama Nemuh nyimah atau sifat ramah tamahnya, benar-benar terlihat. Ini menambah pesonanya.
“Ah.. aku lupa memberitahu Ibu itu tentang perhiasanya, semoga dia selalu dilindungi Allah SWT.”

Kulihat buku itu baik-baik, ku baca judul bukunya “Pelajari Kegagalan untuk Setiap Langkah Menuju Impian”, tak sabar aku untuk membuka buku itu, Judul bukunya saja sudah membuat aku ingin membacanya, cover bukunya juga menarik berwarna gelap di satu sisi dan sisi yang lain berwarna putih salju dan di tengah-tengahnya ada seorang anak berjalan dari sisi kegelapan menuju sisi putihnya melalui pelangi yang Indah.

Kulangkahkan kakiku dengan cepat sambil membawa sekilo nasi dan sebatang Tempe untuk makan, sebenarnya aku juga ingin membelikan Ibu obat, tapi uangku saat ini tidak cukup. Aku hanya bisa membelikan ini saja, tapi walaupun begitu Allah sudah banyak memberikan kemudahan lewat Payung ini. Tak sabar rasanya ingin cepat sampai rumah, duduk berbarengan dengan adik-adikku dan Ibu, mereka pastilah sangat senang bisa makan nasi walau dengan tempe dan sambal, yang paling penting adalah kebersamaan dan kami tak perlu lagi menghutang pada Ibu warung.

Kuketuk pintu rumahku yang sudah terlihat bobrok karena termakan rayap. “Assalamu’alaikum.. Ibu, Rahma, Fatma, kakakmu pulang nih..” Jeritku dengan semangat.
Seorang anak berbadan mungil membukakan pintu, menjawab salamku dengan suara lembut. Dia Fatma adikku, umurnya masih 6 tahun. Dengan muka ceria dia menyambutku, Ibu dan Rahma menyambutku juga dengan hangat dan senang ketika aku membawa bahan makanan untuk di masak, kuserahkan semua bahan kepada Ibu. Ibu sangat terlihat pucat, tiap malam diam-diam aku selalu memperhatikan Ibu yang bersembunyi di dapur, karena tidak bisa tidur dengan penyakit asmanya. Dia tidak ingin melihat kami khawatir, sedih rasanya melihat Ibu seperti itu.

Tidak lama kami menunggu, masakan sudah tersedia di atas tikar lusuh, dengan senang hati dan rasa syukur kami memakannya dengan lahap walau hanya dengan secentong nasi, sepotong tempe dan sambal, rasa syukur kami pada Allah tidak akan berkurang. Saat kami lahap makanan itu, tiba-tiba tetesan air jatuh dari atas genting. Ternyata di luar hujan deras. Beginilah keadaan rumah kami, genting yang bocor dimana-mana, ruangan yang penuh sesak, dinding yang hanya terbuat dari geribik, lantai yang hanya dari tanah dan pasir, semua itu jauh sekali dari kenyamanan. Tapi kami sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, kenikmatan kami makan tidak akan bisa dinganggu hanya dengan sebuah kebocoran.

Ibuku selalu bilang, “Jangan kau palingkan wajahmu ke atas, tundukanlah selalu pandaganmu ke bawah maka kau akan selalu merasa bersyukur.” Yah.. benar aku mengerti maksudnya, saat kita melihat orang kaya maka kita akan selalu merasa kurang, tetapi ketika kita melihat orang-orang yang lebih susah dari kita, maka kita akan merasa lebih dan terus bersyukur. Akan kuingat selalu itu Ibu.

Ketika makananku sudah kuhabiskan, aku beranjak untuk mandi dan mengambil air wudhu untuk sholat maghrib di mushola. Aku akan berdoa untuk selalu di jaga rasa syukur kami pada-Nya. Walau hujan, aku tidak akan mengurungkan niatku, karena aku selalu punya payung untuk berlindung dan tentunya Allah swt. Yang Maha Melindungi.

Selesai sholat maghrib, hujan masih terus turun. Niatku dalam hati ingin melanjutkan pekerjaanku sebagai jasa ojek payung, maka bergegaslah aku menuju pusat perbelanjaan di Jalan Kartini yang memang tidak jauh dari rumahku.

Saat di jalan tiba-tiba aku tersanduk batu besar, aku terjatuh, payungku terlempar, tubuhku terlumuri lumpur semua. Rasanya tubuhku tidak bisa bangun lagi, lemas sekali. Terlihat dari kejahuan sebuah motor dengan kecepatan tinggi mendekat ke arah ku, keadaan jalan sangat sepi dan gelap, lampu di jalanan juga Cuma seadanya, “tolong.. tolong..!!!” dengan sekuat tenaga aku berteriak, aku berusaha untuk bangun, dan menghentikan motor itu, tapi rasanya tubuhku sangat sulit untuk ditegakkan kembali.

Aku tidak ingin menyerah, aku ingin bisa melihat Ibu sembuh dari sakitnya. “Ya Allah hamba mohon kepadamu jangan ambil nyawa hamba sekarang, bagaimana dengan Ibu, Rahma dan Fatmah kalau aku meninggal, akulah satu-satunya tulang punggung mereka Ya Allah,” mohonku dalam hati pada Allah.
Motor itu sudah hampir dekat, tapi sepertinya motor itu semakin kencang dan “Aaaaaaaa…!!!”

Pelan-pelan kubuka mataku. Aku merasa heran, apa yang terjadi padaku. Ibu, Rahma dan Fatmah ada di sampingku sambil mengeluarkan air mata dan seorang yang terlihat seperti dokter sedang memeriksaku, apa mungkin aku ini berada di rumah sakit. Pelan-pelan ku buka mulutku dan kutanyakan pada Ibu apa yang sebenarnya menimpaku, kenapa semua terlihat bersedih, bukannya menjawab pertanyaanku, Ibu malah keluar dari ruangan sambil menangis seperti orang yang ditinggal kekasihnya.

Tiba-tiba Adikku yang paling kecil Rahma, menjawab pertanyaanku, “Abang Piyung, Ibu menagis gara-gara tangan Abang tinggal setengah, Rahma bingung Bang, kemana tangan Abang yang setengahnya,” ucapnya polos.
“Apa.. tangan abang tinggal setengah..?” tanyaku balik sambil melihat ke arah tanganku, aku tersentak hebat dengan apa yang kulihat, tanganku yang sebelah kiri benar tinggal setengah. aku menjerit sejadi-jadinya, “Apa yang sebenarnya terjadi padaku Ya Allah, ujian ini amat besar bagiku, aku cacat sekarang, bagaimana nasib keluargaku, hanya akulah tulang punggung keluarga,” Ucapku dalam hati sambil menangis tak percaya dengan yang terjadi.

Lima hari sudah aku berada di rumah hanya diam dan pasrah atas keadaanku. Rasa putus asa selalu menyelimuti fikiranku, aku tidak mungkin mengojek payung lagi, payungku rusak parah karena kecelakaan kemarin. Keadaanku seperti ini membuat Ibu menggantikanku untuk bekerja memenuhi kebutuhan dan membayar hutang-hutang pembayaran rumah sakit ku.
Aku merasa hanya menyusahkan Ibu dan adik-adikku, padahal Ibu sedang sakit-sakitan, tapi harus bekerja keras untuk menghidupi kami dan merawatku.

Lamunanku tiba-tiba terhenti, sebuah buku terjatuh dari atas lemari, kuambil buku itu. Aku baru ingat buku itu di berikan oleh seorang Ibu berbandan dua beberapa hari yang lalu, dan aku belum sempat membacanya, kubuka buku itu lembar demi lembar.

Kuhabiskan dalam waktu semalam, kuhayati dalam-dalam kata demi kata dalam buku itu, ceritanya benar-benar mirip dengan apa yang kualami, akan tetapi di buku itu anak laki-laki lumpuh kedua kakinya, dan saat dia hampir putus asa dia justru menemukan potensinya lewat lukisan, kakinya memang lumpuh tapi tangannya tidak, Ia mencoba menggoreskan sisa-sisa cat tak terpakai di atas selembar kain, tidak disangka selembar lukisan itu membuahkan hasil, Ia bahkan bisa menyekolahkan kelima adik-adiknya hingga lulus SMA. Luar biasa, begitu besar semangtnya untuk bangkit kembali dari kegagalan. Putus asa yang selalu kufikirkan, jadi hilang. Dan digantikan dengan motivasi yang kuat sekarang.
“Tok.. tok.. tok.. Assalamu’alaikum Piyung.. Piyung..,” ketuk seseorang dari balik pintu.
“Aku Rojak Piyung, aku ngin menjengukmu. Bukakan pintu,” pinta Rojak padaku.

Kujawab salam Rojak dengan senyum dan mempersilakkannya masuk, rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat Rojak datang ke rumahku, aku takut dia memintaku hal yang aneh-aneh.
“Benar Kau ingin menjengukku, bukan ingin menghinaku kan Jak…?” tanyaku ragu.
“Ah.. jelas tidak dong, aku justru ingin memberitahu kabar gembira untukmu. Kabar gembira yang akan membantumu lepas dalam kesulitan dan kecacatan ini Piyung…” Ucapnya dengan nada menyindir.
“Baru saja kuucapkan. Kau sudah mulai menghinaku, kabar gembira apa memang..?” tanyaku heran.
“Begini yah Piyung, aku ingin mengajakmu bergabung untuk menghasilkan uang. Jika kita bergabung, tentulah kita akan mendapatkan banyak uang dengan mudah, dengan keadaan cacatmu yang sekarang, rasa kasihan orang-orang akan bertambah padamu, dan uang akan kita dapatkan tanpa harus susah-susah bekerja. Ini juga dapat membantu keuangan keluargamu Piyung, kau mau kan. Tawaran ini hanya satu kali semumur hidupmu, kau tidak boleh menyia-nyiakannya Piyung,” Jelas Rojak.
“Apa… kau ingin mengajakku bergabung untuk melakukan hal bodoh seperti itu, kau tahu kan Rojak. Aku memegang teguh perinsipku bahwa sampai mati pun tak sudi aku untuk melakukan hal serendah itu Rojak. Walau aku cacat, tapi masih bisa aku lakukan hal yang lebih bermanfaat daripada melakukan hal rendahan seperti itu. Pergi kau Jak, malas aku mendengarkan buyonanmu itu,” usir Piyung pada Rojak dengan muka memadam.
“Hey.. ada apa dengan mu, sombong sekali kau, kau fikir bisa apa kau dengan mengandalkan satu tanganmu Piyung. Oke, jika itu maumu aku tidak akan membantumu lagi Piyung.” Sentak Rojak.
“oke.. pergilah..!!!” usirku, aku kesal Rojak tidak henti-hentinya menghasutku untuk melakukan hal bodoh itu. Aku jadi merasa kasihan padanya jika orangtuanya tahu pekerjaannya ini, mungkin ia akan diusir. Aku tahu betul karakter orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi harga diri, pastilah mereka amat kecewa dengan Rojak. Aku berharap semoga Rojak di berikan petunjuk oleh-Nya.

Beberapa menit sesudah Rojak pergi, ada beberapa orang datang ke rumah sambil membawa sembako dan amplom berisikan uang, entah apa yang ingin dilakukan mereka. Mereka terus memujuk Ibuku dengan kata-kata manis, tapi beberapa detik setelah itu Ibu mengusirnya dengan menhardik mereka, “Simpan saja sembako dan uang itu, aku tidak ingin menukar keyakinanku dan imanku hanya dengan hal-hal seperti itu, Pergi dan jangan pernah kembali,” ucap Ibu kasar pada ketiga orang itu.

Aku mulai mengerti, ternyata orang-orang itu ingin menukarkan sembako dan uang itu kepada orang-orang susah seperti kami dengan agama yang mereka anut, memang sudah banyak warga di kampungku yang menjadi korban mereka, kebanyakan adalah orang miskin. Tentu saja mereka mau menukarkanya, karena mereka tidak mempunyai cukup iman untuk menghadapinya.
Dua godaan setan sudah kami hadapi hari ini dengan menolak nya, lebih baik mati kelaparan dari pada hidup dengan mempermainkan orang lain dan agama.

Aku bersyukur Ibu tidak terjerumus, aku pun akan berusaha semampuku untuk bangkit kembali, memperbaiki payungku dan membuat banyak kerajinan untuk dijual, semoga ini awal yang baik untuk mengubah nasib kami, dengan terus bermimpi dan berusaha bangun untuk mewujudkannya, aku yakin kami pasti bisa bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan ini.

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.162.232.51
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia