Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KUPU-KUPU GIOK NGARAI SIANOK

SESUAI perjanjian yang dibuat para Datuk Luhak Nan Tigo sebelum berpisah di Ngarai Sianok, Datuk Kuning Nan Sabatang dari Luhak Agam dan Datuk Bandara Putih dari Luhak Limapuluh Kota selepas sholat Asar telah berada di rumah gadang kediaman Datuk Panglima Kayo di Batu Sangkar. Turut kepada gelarnya, Datuk Panglimo Kayo adalah Datuk paling kaya dibandingkan dua Datuk lainnya termasuk Datuk Marajo Sati. Tidak heran kalau rumah gadang kediamannya berdiri megah bergonjong lima. (rumah gadang: rumah besar)

Setelah apa yang terjadi di Ngarai Sianok pagi hari itu, Tiga Datuk pimpinan tiga Luhak merasa perlu dengan segera merundingkan tindakan apa yang akan mereka lakukan sesudah Datuk Marajo Sati yaitu yang menjadi Datuk Pucuk atau Datuk Pimpinan dari Tiga Datuk Luhak Nan Tigo diketahui menyimpan seorang gadis Cina cantik belia di dalam goa kediamannya di Ngarai Sianok.

Ternyata Datuk Panglimo belum sampai di rumah gadang.

"Aneh", kata Datuk Kuning Nan Sabatang. "Seharusnya Datuk Panglimo Kayo lebih dulu tiba daripada kita..."

"Mungkin ada yang dilakukannya lebih dulu sebelum pulang ke sini. Kita nantikan saja. Mudah-mudahan sebentar lagi beliau datang..." Berujar Datuk Bandara Putih.

Sementara menunggu kedatangan Datuk Panglimo Kayo, dua datuk tadi duduk bersila di lantai rumah gadang sambil bercakap-cakap dan menikmati hidangan yang disuguhkan orang rumah yaitu kopi hangat serta goreng pisang.

"Datuk Kuning Nan Sabatang, kalau benar Datuk Pucuk Marajo Sati menyimpan gadis Cina itu di dalam goanya, saya sungguh kecewa, sungguh sedih. Bagaimana mungkin Datuk Pucuk mau berbuat seperti itu. Istrinya di Koto Gadang yang kemenakan Datuk Panglimo Kayo selain cantik juga masih muda belia. Datuk juga kita ketahui taat pada agama, patuh pada adat lembaga. Apa yang kurang..."

"Saya sendiri sebenarnya juga sangat menyayangkan. Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri gadis Cina yang ditemukan dan ditangkap orang-orang itu, rasanya mana mungkin saya percaya..."

"Yang sangat terpukul pastilah saudara kita Datuk Panglimo Kayo," ucap Datuk Bandaro Putih dari Luhak Lima Puluh Kota. "Kita tahu benar riwayat bagaimana sampai Gadih Puti Seruni kawin dengan Datuk Marajo Sati.

Kalau tidak Datuk itu yang bersikeras memaksakan kehendak mungkin hal itu tidak kejadian. Kita juga tahu bagaimana kemudian ayah Puti Seruni jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia karena perkawinan itu sebenarnya tidak disetujuinya. Tapi dia seperti tidak berdaya, tidak bisa berbuat suatu apa karena Datuk Panglimo Kayo adalah mamak Puti Seruni. Kadang-kadang saya berpikir-pikir, jika tumbuh baik ya baik hasilnya. Tapi jika tumbuh keliru saya merasa kuasa seorang mamak di negeri kita ini seperti berlebihan..."

Setelah terdiam beberapa ketika Datuk Kuning Nan Sabatang mengusap wajah lalu menjawab. "Sebenarnya adat lembaga negeri kita sudah baik. Tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan. Cuma mungkin musyawarah dan kebijaksanaan yang perlu lebih mendapat tempat. Memang susah juga jadinya kalau sampai seorang mamak lebih berkuasa dari ayah nan kandung..."

"Kembali pada kejadian di Ngarai tadi pagi..." Datuk Bandaro Putih alihkan pembicaraan. "Saya mengerti jalan cerita kalau pemuda Pakih Jauhari itu memendam dendam luar biasa pada Datuk Marajo Sati hingga dia menebar cerita buruk dan bahkan menggalang penduduk di beberapa dusun untuk menyiapkan hukuman rajam atas diri Datuk Marajo Sati. Tapi ada yang tidak saya mengerti..." Datuk Bandaro putih memandang sebentar ke luar jendela baru melanjutkah. "Siapa sebenarnya gadis Cina yang disembunyikan saudara kita itu di dalam goa. Lalu mengapa ada beberapa orang tokoh di tanah Minang ini yang sama-sama kita kenal ikut bersama orang tua asing berjubah hijau dan lelaki Cina berpakaian pasukan Kerajaan Tiongkok menangkap gadis Cina itu?"

"Pandeka Langit Bumi Dari Sumanik, Tuanku Laras Muko Balang, Datuk Pancido, Niniek Panjalo..." Datuk Kuning Nan Sabatang menyebut satu persatu nama orang yang dimaksudkan Datuk Bandaro Putih. "Kita tahu memang tidak ada lantai yang terjungkat dan silang sengketa antara mereka dengan Datuk Marajo Sati. Tapi dari kejadian ini jelas mereka menunjukkan perseteruan dengan Datuk Pucuk itu. Paling tidak berada di pihak yang berseberangan. Mungkin pemuda bernama Pakih Jauhari bekas kekasih Puti Seruni itu telah berhasil membujuk mereka untuk melaksanakan niatnya membalas dendam terhadap Datuk Marajo Sati..."

"Saya meragukan hal itu," jawab Datuk Bandaro Putih. "Pemuda itu bisa membuat marah lalu membujuk penduduk dusun. Tapi untuk membujuk tokoh-tokoh berkepandaian tinggi dan berpaham seperti itu, rasanya sulit dipercaya dia mampu melakukan. Kalaupun bisa pasti ada yang diandalkannya. Imbalan besar. Uang, harta emas berlian. Pakih Jauhari mana punya semua itu..."

"Jika benar orang-orang itu mau berserikat dengan Pakih Jauhari, berarti ada satu hal lain yang diberikan atau dijanjikan si pemuda pada mereka. Bukan uang bukan harta. Tapi bisa saja berupa petunjuk, berupa keterangan sangat rahasia dan sangat berharga..."

"Menyangkut hal apa?" tanya Datuk Bandaro Putih pula.

"Gadis yang mereka tangkap itu seorang gadis Cina. Di antara mereka saya lihat ada seorang Cina berseragam pasukan Tiongkok. Mungkin orang ini yang jadi pimpinan dalam rombongan. Mereka tengah mencari si gadis. Dan Pakih Jauhari mengetahui di mana gadis itu berada lalu memberitahukan. Dia membuktikan kalau Datuk Marajo Sati benar-benar menyimpan gadis cantik di dalam goa. Dendam kesumatnya terbalaskan..."

Datuk Bandaro Putih angguk-anggukkan kepala beberapa kali.

"Gadis Cina. Perempuan asing. Tapi waktu berteriak saya dengar dia mengeluarkan ucapan bahasa orang di sini. Aneh juga. Jangan-jangan sudah berminggu-minggu berbilang-bulan Datuk Marajo Sati bersama gadis itu hingga dia sempat mengajari bahasa Minang..."

"Satu hal saya perhatikan." Ucap Datuk Kuning Nan Sabatang. "Cara bicara Datuk Marajo Sati pada kita bertiga kasar sekali. Beliau bicara beraku-aku pada kita. Padahal jelas-jelas kita bertiga jauh lebih tua dari beliau. Dan selama ini beliau tidak pernah berlaku sekasar itu baik dalam ucapan apa lagi tindakan. Agaknya Datuk Marajo Sati berada dalam beban tekanan jiwa sangat berat. Ditambah dengan amarah yang menggelegak karena menuduh kita yang datang menancapkan Bendera Tiga Luhak, membawa orang dusun, menghasut untuk merajamnya sampai mati di batang pohon..." Datuk Kuning Nan Sabatang menghela napas panjang. "Betapapun nyatanya kejadian yang kita lihat, saya punya dugaan ada satu peristiwa atau rahasia besar di balik semua kejadian ini."

"Saya juga merasa begitu," jawab Datuk Bandaro Putih lalu kembali memandang keluar jendela lalu bangkit berdiri.

"Rasanya matahari telah menurun jauh condong ke barat. Datuk Panglimo Kayo yang kita tunggu belum juga muncul. Sebentar lagi Magrib akan datang..."

Datuk Kuning Nan Sabatang berdiri pula lalu tegak di belakang jendela di samping Datuk Bandaro Putih.

"Datuk Bandaro Putih, terus terang sejak tadi hati saya merasa tidak enak. Ada firasat..."

Belum selesai Datuk dari Luhak Agam ini berucap tiba-tiba bluk!

Satu benda kuning berbelang hitam jatuh bergedebuk di halaman samping rumah gadang kediaman Datuk Panglimo Kayo tak jauh dari sebatang pohon marapalam. Dua Datuk di belakang jendela terkejut Lebih terkejut lagi ketika mereka menyaksikan benda yang jatuh itu adalah seekor harimau besar kuning belang hitam.

"Inyiek tunggangan Datuk Panglimo Kayo!" ucap dua Datuk di belakang jendela hampir berbarengan. Tidak menunggu lebih lama keduanya langsung melompati jendela, turun ke halaman. (Inyiek: di sini artinya harimau sakti)



Harimau besar yang tergeletak di tanah itu ternyata berada dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Darah setengah kering meleleh di mata, hidung dan telinga. Sebuah rantai besi putih panjang melilit tubuh serta empat kakinya yang tampak patah.

2"RANTAI Pintu Halilintar! Astaga! Bukankah benda ini potongan senjata milik Datuk Panglimo Kayo?!" Datuk Kuning Nan Sabatang berucap setengah berseru.

"Saya juga mengenali!" Menyahuti Datuk Bandaro Putih. Wajahnya yang putih jernih berubah kelam. "Lalu Datuk Panglimo Kayo sendiri berada di mana?" Datuk Luhak Limapuluh Kota ini memperhatikan sekeliling halaman.

"Ah, firasat saya tadi. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan saudara kita yang satu itu! Semoga Allah melindunginya..." Kata Datuk Kuning Nan Sabatang.

"Datuk, bantu saya melepaskan rantai agar arwah Inyiek bisa tenteram di alam gaib. Kalau Datuk Panglimo Kayo tidak apa-apa maka rantai sakti ini akan kembali kepadanya."

Dua orang Datuk dari Luhak Agam dan Luhak Limapuluh Kota itu segera berlutut di tanah, di kiri kanan sosok harimau besar. Perlahan-lahan keduanya mengangkat tangan sambil alirkan hawa sakti. Begitu terpentang tepat di depan dada, dua Datuk hantamkan dua tangan masing-masing ke arah mayat harimau yang terikat besi putih. Empat larik cahaya putih menderu.

Pada saat empat cahaya putih menyentuh tubuh dan rantai besi putih yang melilit harimau besar, satu letusan dahsyat laksana suara halilintar menggelegar di tempat itu disertai berkiblatnya cahaya putih terang benderang. Dua Datuk terpental sampai satu tombak tapi tidak cidera. Terjadi keajaiban. Sosok harimau kuning belang hitam lenyap sementara rantai besi putih melayang ke udara dan akhirnya lenyap dari pemandangan.

Di tempat itu tiba-tiba terdengar suara auman dahsyat dua kali berturut-turut. Tanah bergetar, angin dingin menyambar. Itulah auman Inyiek atau harimau sakti tunggangan Datuk Kuning Nan Sabatang dan Datuk Bandaro Putih yang ujudnya tidak kelihatan. Binatang-binatang gaib itu seolah memberi ucapan, selamat jalan pada teman mereka yang kembali ke alam gaib untuk selama-lamanya dan tak mungkin lagi muncul di bumi.

Dua Datuk bergerak bangun, tampungkan tangan masing-masing, mulut berkomat-kamit merapal doa. Sementara dari atas rumah tetangga orang muncul berlarian mendatangi untuk melihat apa yang terjadi. Mereka tidak sempat melihat harimau besar yang dililit rantai putih. Mereka hanya melihat dua Datuk yang masih berlutut di tanah berkomat-kamit merapal doa.

"Inyiek sudah bebas dari penderitaannya. Kembali ke alam gaib. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Datuk Panglimo Kayo."

Baru saja Datuk Kuning Nan Sabatang keluarkan ucapan, tiba-tiba di arah jalan tanah yang agak mendaki menuju rumah gadang terdengar suara lenguh sapi, disertai suara derak roda pedati dan gema ganto berkepanjangan, (ganto: semacam lonceng kecil terbuat dari besi yang digantung di leher jawi/ sapi penarik pedati/gerobak) Dua Datuk segera palingkan kepala. Mereka melihat sebuah pedati kecil tak beratap muncul dikelokkan jalan tanah yang mendaki, bergerak ke arah halaman rumah gadang di mana mereka berada.



"Aneh..." ucap Datuk Kuning Nan Sabatang. "Pedati berjalan, tapi mana kusirnya?"

Diikuti Datuk Bandaro Putih dan orang-orang yang ada di tempat itu Datuk Kuning Nan Sabatang mendahului menyongsong pedati. Sapi penarik pedati dihentikan. Binatang ini kembali melenguh. Ekor dikibas-kibas. Tiba-tiba dua kaki depan dilipat, menyusul dua kaki belakang. Binatang ini rebahkan diri di tanah hingga pedati yang ditariknya menungging ke depan. Tumpukan jerami kering tampak menutupi pedati. Dua Datuk yang sejak tadi merasa curiga, dibantu oleh beberapa orang yang ada di situ segera membongkar jerami kering. Sesaat kemudian semua orang yang ada di situ termasuk dua Datuk tersentak kaget. Ketika tumpukan jerami kering tersibak, di lantai pedati kelihatan terbujur sosok Datuk Panglimo Kayo yang sudah jadi mayat. Sekujur tubuh mulai dari leher sampai ke kaki dijirat rantai besi putih. Dari mata, hidung, telinga dan mulut ada lelehan darah. Dalam cengkeraman jari-jari tangan kanan Datuk Marajo Sati yang sudah kaku terdapat sehelai potongan kain panjang berwarna putih yang salah satu sisinya berjumbai-jumbai.

"Astagafirullah... Allahuakbar..." Dua Datuk mengucap berulangkah.

"Siapa yang melakukan perbuatan keji dan jahat ini?!" ucap Datuk Kuning Nan Sabatang. "Siapa yang mengirimkan jenazah Datuk Panglimo Kayo dengan pedati ke sini..."

"Datuk," bisik Datuk Bandaro Putih. "Saat ini tidak ada yang bisa ditanya. Pedati datang tidak berkusir... Lalu satu keanehan lagi, apakah ini potongan Rantai Pintu Hallintar yang tadi kita lepas dari tubuh Inyiek kini melibat di tubuh Datuk Panglimo Kayo. Rantai ini harus dibuang sebelum Datuk Panglimo Kayo dimakamkan..."

"Pemilik rantai akan mengambilnya sebelum jenazah dimandikan..." bisik Datuk Kuning Nan Sabatang yang tahu banyak riwayat senjata sakti bernama Rantai Pintu Halilintar itu.

Dibantu orang banyak Datuk Kuning Nan Sabatang dan Datuk Bandaro Putih segera menurunkan mayat Datuk Panglimo Kayo dari dalam pedati. Sebelum mayat dibawa ke dalam rumah gadang Datuk Bandaro Putih lepaskan kain putih panjang dari cengkeraman jari-jari tangan mayat. Kain itu diperhatikan sejenak. Air muka Datuk Bandaro Putih berubah. Kain diberikan pada Datuk Kuning Nan Sabatang. Setelah memeriksa dengan teliti, wajah Datuk Kuning Nan Sabatang juga tampak berubah. Suaranya bergetar ketika keluarkan ucapan.

"Saudaraku Datuk Bandaro Putih. Saya yakin sekali kain putih panjang berumbai ini adalah potongan sorban Datuk Marajo Sati. Berarti..."

"Datuk, saya benar-benar seperti melihat ayam putih terbang siang. Tapi saya tidak berani berprasangka menduga-duga. Kita berdua harus menyelidiki kejadian ini sampai terungkap panjang pendeknya, dangkal dalamnya dan putih hitamnya. Simpan baik-baik potongan sorban itu!" Kata Datuk Bandaro Putih lalu menyambung ucapannya. "Saya tidak yakin pedati tak berkusir jtu membawa mayat Datuk Panglimo Kayo jauh-jauh dari Agam. Mayat agaknya dinaikkan di satu tempat tak jauh dari Batusangkar." Sambil bicara Datuk Bandaro Putih berjalan ke arah pedati. Di sini dia melakukan pemeriksaan kembali sampai matanya membentur satu bungkusan daun yang terletak di lantai depan pedati, di bawah palang kayu tempat dudukan kusir." Ada nasi bungkus. Pasti punya orang yang tadinya duduk di atas pedati ini. Kusir pedati. Dia belum sempat menyantap makanannya. Lalu di mana kusir pedati itu sekarang? Datuk, coba kita menyelidik jalan arah ke Sungai Tarab. Pedati ini pasti datang dari jurusan itu. Tidak mungkin dari arah selatan."

Tak lama menyusuri jalan yang menuju sebuah dusun kecil bernama Sungai Tarab, dua Datuk menemukan sesosok mayat pemuda tergeletak di tengah jalan. Di keningnya ada luka besar, agak tertutup oleh darah yang mengental.

"Mungkin ini kusir pedatinya. Dia dibunuh di tempat ini, lalu pedati dilepas sendirian tidak berkusir. Mengapa? Si pembunuh takut diketahui siapa dirinya? Mungkin Pakih Jauhari yang melakukan?" Datuk Kuning Nan Sabatang berpaling pada Datuk Bandaro Putih di sampingnya.

Datuk Bandaro Putih gelengkan kepala. "Pemuda itu bagaimanapun dendam kebenciannya terhadap Datuk Panglimo Kayo mana mungkin punya kemampuan membunuh Datuk Panglimo Kayo. Ingat potongan sorban putih milik Datuk Marajo Sati yang ada dalam genggaman tangan mayat Datuk Panglimo Kayo? Itu satu pertanda atau jawaban yang sulit ditampik. Datuk

saudaraku, apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Jika jenazah sudah dikuburkan, kita segera ke

Ngarai Sianok. Saya ingin sekali menyelidiki keadaan di dalam goa kediaman Datuk Marajo Sati," jawab Datuk Kuning Nan Sabatang.

"Bagaimana dengan mayat orang ini?" tanya Datuk Bandaro Putih.

"Kita bawa ke rumah kediaman Datuk Panglimo Kayo agar diurus sekalian. Saya yakin ada orang yang mengenalinya," jawab Datuk Kuning Nan Sabatang.SESAAT sebelum jenazah Datuk Panglimo Kayo dimandikan, tiba-tiba di siang yang terang benderang itu menggelegar suara halilintar. Kilat menyambar di langit. Langit seperti hendak runtuh, bumi seolah hendak terbelah. Rumah gadang bergoncang berderak-derak. Beberapa orang berpekikan. Jenazah Datuk Panglimo Kayo yang dibaringkan di ruang tengah rumah memancarkan cahaya putih. Lalu terdengar suara berdesir disusul suara berkeretak.

Orang banyak yang ada dalam ruangan itu termasuk dua Datuk pimpinan Luhak sama-sama tercekat ketika menyaksikan bagaimana rantai putih Rantai Pintu Halilintar yang menggelung sekujur tubuh Datuk Panglimo Kayo bergerak terbuka lalu melesat ke arah pintu rumah gadang, melayang ke udara dan akhirnya lenyap dari pemandangan laksana menembus langitl

"Pemilik rantai sakti telah mengambil senjata sakti itu..." bisik Datuk Kuning Nan Sabatang sambil mengusap kuduknya yang terasa dingin.PULANGNYA Datuk Panglimo Kayo dalam keadaan sudah menjadi mayat dibawa oleh pedati tak berkusir bukan hanya menghebohkan penghuni rumah gadang kediaman Datuk Panglimo Kayo, namun, dengan cepat menjalar ke seluruh Batusangkar. Besoknya, berita kematian Datuk kaya itu telah tersebar iuas sampai ke pelosok daerah Tanah Datar. Perihal kusir pedati yang tewas, seperti yang dikatakan Datuk Kuning Nan Sabatang, beberapa pelayat mengenali orang ini. Dia adalah Magek Jamin, penduduk Sungai Tarab. Sebenarnya yang punya pedati adalah kakaknya yaitu Majo Jamin. Tapi sampai mayat Magek Jamin dikubur Majo Jamin tidak muncul. Raib tak diketahui ke mana perginya. Dua Datuk mengkhawatirkan Majo Jamin juga telah menjadi korban pembunuhan.SEPERTI yang diduga oleh Datuk Bandaro Putih dan Datuk Kuning Nan Sabatang, ketika mereka mendatangi goa di samping dinding Ngarai Sianok untuk menjajagi keberadaan Datuk Marajo Sati, goa berada dalam keadaan kosong. Yang mengejutku dua Datuk ini menemukan beberapa helai pakaian perempuan serta satu kotak kecil berisi pupur dan sepotong alat pemerah bibir.

"Kita menemukan bukti Datuk... Keberadaan seorang perempuan di dalam goa kediaman Datuk Marajo Sati ini ternyata memang satu kenyataan," kata Datuk Bandaro Putih.

"Yang jadi pertanyaan sekarang di mana Datuk itu berada?" ucap Datuk Kuning Nan Sabatang. "Sungguh aib besar bagi kita para Penghulu dan semua Datuk di Luhak Nan Tigo. Datuk Pucuk ternyata bukan saja menyimpan anak gadis, tapi juga membunuh Datuk Panglimo Kayo. Saya tidak akan kembali ke rumah di Pariangan sebelum menemukan Datuk Marajo Sati."

"Saya juga berpantang pulang ke Payakumbuh sebelum selesai urusan besar yang sangat memalukan ini," kata Datuk Bandaro Putih pula.

"Sekarang ke mana kita akan mencari saudara dan pimpinan kita yang sesat itu?" tanya Datuk Kuning Nan Sabatang.

"Saya menduga dua kemungkinan. Yang pertama Datuk Marajo Sati mengejar rombongan orang-orang yang melarikan gadis Cina itu..."

"Gadis Cina itu. Selain menjadi gadis simpanan Datuk Marajo Sati tapi siapa dia sebenarnya? Dari mana datang dan munculnya? Dia saya dengar fasih bicara bahasa orang di sini. Mengapa tokoh-tokoh berkepandaian tinggi dari tanah Jawa, dibantu para tokoh di sini bahkan ada seorang Perwira Kerajaan Tiongkok membentuk rombongan menangkapnya? Datuk, apa kemungkinan yang kedua dari dugaan Datuk..."

"Kemungkinan kedua Datuk Marajo Sati pergi ke Biaro, mendatangi rumah kediaman Pakih Jauhari. Membunuh pemuda itu..."

"Sudah seburuk dan sejahat itukah pekerti Datuk Pucuk? Masya Allah..." Datuk Kuning Nan Sabatang mengucap beberapa kali.

"Datuk, kita harus cepat-cepat menyelidik ke tempat yang Datuk katakan itu. Apa lagi yang kita tunggu...?" Datuk Bandaro Putih sudah tidak sabaran.

"Bagaimana kalau kita menyelidik ke Biaro lebih dulu. Pemuda bernama Pakih Jauhari itu perlu diselamatkan bagaimanapun buruk kelakuannya terhadap Datuk Marajo Sati. Selain itu mungkin kita bisa mendapatkan keterangan dari dia..."

"Saya mengikut apa yang Datuk katakan." Datuk Bandaro Putih lalu berseru.

"Inyiek berdua! Kami memerlukan kalian!"

Sesaat kemudian terdengar suara menderu. Lalu muncul dua sosok harimau besar kuning belang hitam. Dua Datuk segera melompat ke atas

tunggangan masing masing.3APA YANG telah terjadi dengan Datuk Panglimo Kayo yang merupakan Datuk Pimpinan Luhak Tanah Datar? Siapa yang telah membunuhnya lalu mengirim mayatnya ke rumah gadang dengan pedati tidak beratap dan tidak berkusir.

Seperti diceritakan sebelumnya dalam episode berjudul "Fitnah Berdarah Di Tanah Agam", di pedataran di atas Ngarai Sianok, selagi Pakih Jauhari dan puluhan orang menyerbu Datuk Marajo Sati dengan lemparan batu dan para Datuk Luhak Nan Tigo berusaha menghalangi serangan, secara diam-diam Ki Bonang Talang Ijo dan rombongan sampai di Ngarai Sianok. Mereka berhasil masuk ke dalam goa kediaman Datuk Marajo Sati setelah lebih dulu menjebol sebuah batu besar pen utup goa.



Chia Swi Kim yang oleh Datuk Marajo Sati diberi nama Puti Bungo Sekuntum alias Kupu Kupu Giok Ngarai Sianok, mendengar suara bergemuruh di mulut goa, mengira yang datang adalah Datuk Marajo Sati, tanpa mengubah dirinya lebih dulu keluar dari dalam ruangan rahasia di mana dia bersembunyi.

Begitu melihat siapa yang muncul dan mengenali sosok serta wajah si gadis, Perwira Muda Teng Sien langsung berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah dua bahu si gadis.

Ki Bonang Talang Ijo ikut berteriak

"Cepat tangkap gadis itu! Jangan sampai dia menggerakkan dua tangannya!"

Lalu selagi beberapa orang mencekal, dengan cepat orang tua berjubah hijau ini totok bahu kiri kanan Puti Bungo Sekuntum hingga dua tangan gadis itu menjadi lumpuh. Ini membuat dia tidak bisa bergerak dan berarti dia tidak mampu merubah diri menjadi kupu-kupu besar hidup atau berubah menjadi kupu-kupu batu giok.

Perwira Muda Teng Sien mendatangi dan bicara panjang pendek»dalam bahasa Cina. Seperti diketahui sejak roh gadis yang meninggal dunia masuk ke dalam tubuhnya, gadis Cina ini walau masih mengerti apa yang dikatakan orang namun dia tidak bisa lagi mengeluarkan ucapan dalam bahasa leluhurnya, (baca"Kupu Kupu Giok Ngarai Sianok")



Ki Bonang dan kawan-kawan cepat membawa si gadis keluar dari goa. Karena ingin mencari jalan memintas, tidak sengaja mereka melewati pedataran di atas ngarai di mana puluhan orang di bawah pimpinan Pakih Jauhari tengah menghujani Datuk Marajo Sati dengan batu. Serta merta Puti Bungo Sekuntum berteriak.

"Datuk! Tolongl Mereka menangkap saya!"

Suasana menjadi gempar!

Ketika di bawah hujan batu Datuk Marajo Sati berusaha menolong si gadis tiba-tiba Ki Bonang Talang Ijo ledakkan sebuah benda yang menebar asap hitam menutup pemandangan. Setelah-sap sirna ternyata tokoh silat dari tanah Jawa itu bersama rombongannya telah lenyap dengan memboyong serta Puti Bungo Sekuntum.

Sebelum dituturkan apa yang terjadi dengan Datuk Panglimo Kayo hingga dia terbunuh dan mayatnya dikirim ke rumah gadang di Batusangkar, kita ikuti lebih dulu apa yang dialami Datuk Marajo Sati.WALAU amarah dan kebenciannya terhadap Pakih Jauhari serta tiga Datuk Luhak Nan Tigo bukan alang kepalang namun Datuk Marajo Sati lebih mementingkan menyelamatkan gadis dari negeri Cina itu. Dia segera melakukan pengejaran dengan menggunakan Inyiek harimau tunggangannya. Tapi sampai matahari tenggelam dan malam datang dia tidak berhasil melakukan pengejaran. Seolah baru sadar Datuk Marajo Sati hentikan pengejaran. Inyiek kuning belang hitam yang tadi lari laksana terbang, melayang turun ke tanah. Datuk Marajo Sati mendengar suara sesuatu. Selain itu dia merasa tiupan angin agak keras dan dingin.

"Suara riak permukaan air dihembus angin," ucap sang Datuk dalam hati. Dia lalu melesat ke arah satu bukit batu kecil. Harimau besar mengikuti. Memandang ke bawah terkejutlah Datuk Marajo Sati. Dia melihat sebuah danau terbentang luas sementara di arah barat matahari berbentuk setengah lingkaran merah menyala siap menggelincir ke ufuk tenggelamnya. Datuk Marajo Sati segera tahu di mana dia berada saat itu. Tanpa memalingkan kepala pada harimau besar di sebelahnya sang Datuk berkata.

"Inyiek, apa yang terjadi dengan dirimu. Mengapa kau membawa diriku ke Danau Maninjau. Bukan mengejar orang-orang yang telah melarikan Puti Bungo Sekuntum?"

Harimau besar menggereng halus lalu rundukkan diri. Kepala diletakkan di atas batu. Mata menatap sayu. Melihat hal ini Datuk Marajo Sati segera berjongkok di samping binatang itu dan memeriksa dengan teliti. Mula-mula dia melihat ada lapisan cairan biru di sekitar hidung harimau. Lalu bagian putih sepasang mata binatang ini juga tampak kebiru-biruan. Ketika Datuk Marajo Sati membuka mulut harimau kelihatan gigi dan sebagian lidahnya juga berwarna kebiruan. Datuk memeriksa dua telinga harimau. Ternyata juga ada lapisan kebiru-biruan.

"Inyiek, kau telah disambar ilmu jahat bernama Santuang Panyasek. Penciumanmu menjadi tumpul, penglihatan kabur, pendengaran berubah tuli. Kau tersesat membawa aku ke tempat ini." Datuk Marajo Sati mengusap kepala Inyiek kuning. "Kau tidak perlu takut, aku tidak marah padamu. Aku tahu. Di tanah Minang ini ada beberapa orang sakti memiliki ilmu Santuang Panyasek. Tapi yang paling tinggi kepandaiannya adalah Tuanku Laras Muko Balang. Dia berada di antara orang-orang yang menculik Puti Bungo Sekuntum. Pasti dia yang telah menyirapmu dengan ilmu hitam itu. Agar kita tidak bisa melakukan pengejaran, "

Perlahan-lahan sang surya yang tinggal setengah lingkaran lenyap di kejauhan. Siang telah berganti malam. Sayup-sayup terdengar kumandang Azan. Datuk Marajo Dati, Datuk Pucuk Luhak Nan Tigo ini jatuhkan kening di atas batu. Dalam bersujud dia berkata.

"Ya Allah ya Rabbi. Tuhan Seru Sekalian Alam. Maha Melihat Maha Mengetahui. Kau tahu ya Allah. Betapa berat dan jahatnya fitnah berdarah yang telah jatuh atas diri hambaMu ini. Berikan hamba ketabahan menghadapi semua malapetaka ini. Lebih dari itu Kau lebih mengetahui ya Allah apa yang telah hamba lakukan dan apa yang tidak hamba lakukan. Jika itu merupakan satu perbuatan keliru mohon ampunan dariMu. Jika kesalahan itu harus ditebus dengan hukuman bagaimanapun beratnya akan saya terima dengan segala keikhlasan. Tapi saya mohon ya Allah. Tolong selamatkan Puti Bungo Sekuntum dari tangan orang-orang jahat yang telah melarikannya. Ulurkan tangan kuasaMu. Lindungi anak gadis itu di manapun dia berada, baik siang maupun malam. Ya Allah, kabulkanlah permintaan hambaMu yang buruk dan hina ini ya Allah."

Sehabis memanjatkan doa Datuk Marajo Sati turun ke tepi danau, mengambil air sembahyang. Ketika Datuk Marajo Sati membungkuk dan menyibak airdi tepi Danau Singkarak tiba-tiba muncul bayangan kepala dan wajah manusia. Sang Datuk tersurut satu langkah. Pakih Jauhari! Wajah pemuda yang samar di dalam air itu menyeringai lalu di kejauhan terdengar suara tawanya bergelak.

"Astagafirullah..." Datuk Marajo Sati mengucap. "Setankah yang aku lihat barusan? Setankah yang tertawa dikejauhan...?" Sang Datuk lalu membaca beberapa ayat suci, diakhiri dengan Ayat Kursi. Perlahan-lahan wajah di dalam air danau dan suara tertawa di kejauhan lenyap sirna. Datuk kembali meneruskan mengambil air wudhu. Selesai sholat, masih duduk di atas batu di atas bukit kecil di tepi danau, ditemani Inyiek, Datuk Marajo Sati berzikir. Lalu hampir semalaman suntuk dia melakukan tarak untuk

melenyapkan ilmu jahat Santuang Panyasek yang menguasai diri harimau besar tunggangannya.4KETIKA terjadi ledakan dan asap hitam meng-gebubu ke udara menutupi pemandangan, Datuk Panglimo Kayo bergerak cepat Dengan cepat dia melompat ke udara. Selagi dalam keadaan melayang dia melesat ke atas sebatang pohon besar. Dari atas pohon dia dapat melihat rombongan orang-orang yang menculik gadis Cina itu lari cepat sekali ke arah timur lalu secara tiba-tiba lenyap dari pemandangan.

"Heran, kenapa tiba-tiba menghilang tidak kelihatan?" Pikir Datuk Panglimo Kayo sambil mengusap dagu. Lalu dia berpikir lagi apakah perlu mengejar orang-orang itu atau segera saja kembali ke Batusangkar karena ada perjanjian dengan dua Datuk Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Karena hari masih pagi, akhirnya Datuk Panglimo Kayo memutuskan memanggil Inyiek harimau tunggangannya lalu melakukan pengejaran terhadap Ki Bonang Talang Ijo dan rombongan.

Untuk menghindari pengejaran yang secara pasti akan dilakukan oleh Datuk Marajo Sati, Tuanku Laras Muko Balang telah bersiap-siap dengan mengeluarkan ilmu Santuang Panyasek agar Datuk Marajo Sati dan harimau tunggangannya tidak mampu melakukan pengejaran. Akan halnya Datuk Panglimo Kayo dan Inyiek yang membawanya terbang mula-mula memang sempat dipengaruhi ilmu hitam itu. Namun karena Tuanku Laras Muko Balang hanya mengarahkan ilmu kesaktiannya pada Datuk Panglimo Kayo bersama Inyiek harimau kuning hanya terpengaruh beberapa saat.

Setelah berhasil mendapatkan Puti Bungo Sekuntum, Perwira Muda Teng Sien ingin agar gadis itu dilepaskan dari totokan hingga bisa berubah bentuk menjadi kupu-kupu batu giok dan mudah dibawa. Setelah hal itu berlangsung maka dia akan segera pergi ke pesisir timur. Di Selat Malaka dia menunggu kapal layar yang akan membawanya ke daratan Tiongkok. Tapi Ki Bonang Talang Ijo tidak menyetujui hal itu. Dia ingin gadis Cina itu disembunyikan dulu di satu tempat yang telah dipilih oleh Tuanku Laras Muko Balang dan Pandeka Bumi Langit dari Sumanik. Setelah Perwira Muda Teng Sien menyerahkan peti kedua berisi batangan emas seperti yang dijanjikan dan dibagi rata maka Puti Bungo Sekuntum baru akan diserahkan.

Teng Sien bersikeras agar semua orang mengikuti kemauannya. Karena merasa dialah yang jadi pimpinan rombongan dan membayar orang-orang itu, termasuk Niniek Panjalo dan Datuk Pancido yang datang kemudian. Sementara kata mufakat belum dicapai, rombongan tiba di satu telaga kecil tak jauh dari kaki selatan Gunung Merapi. Tuanku Laras Muko Balang dan Ki Bonang Talang Ijo meminta rombongan berhenti untuk beristirahat barang beberapa lama sambil meneruskan perundingan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Puti Bungo Sekuntum yang dipanggul Tuanku Laras didudukkan di tanah, disandarkan di batang pohon. Sampai saat itu gadis ini masih berada dalam keadaan tertotok. Perwira Teng Sien menambahkan dua totokan lagi di tubuhnya hingga bukan hanya dua tangan yang lumpuh tapi seluruh auratnya tidak bisa digerakkan. Hanya mulutnya saja yang masih bicara dan sepasang mata yang bergerak sekali-sekali.

Saat itu tengahhari tepat bang surya bersinar terik. Tiba-tiba dari arah barat, seekor harimau besar melesat laksana terbang di atas permukaan telaga. Di atasnya duduk seorang berpakaian dan berdestar hitam yang bukan lain adalah Datuk Panglimo Kayo, Datuk pemimpin Luhak Tanah Datar.

Tentu saja semua orang menjadi heran sekaligus terkejut. Yang diduga akan datang mengejar adalah Datuk Marajo Sati. Datuk Marajo Sati tidak berhasil menembus ilmu sirapan Tuanku Laras Muko Balang, tapi mengapa kini Datuk Panglimo Kayo yang datang?

"Tuanku Laras, menurutmu apa keperluan Datuk dari Batusangkar ini mengejar kita?" bertanya Datuk Pancido sambil mengusap-usap tongkat berkeluk yang terbuat dari perunggu.

"Aku tidak dapat memastikan. Di Tanah Minang kedudukannya di bawah Datuk Marajo Sati. Mungkin dia hendak membela pimpinannya. Kalau dia bertingkah macam-macam maka kedatangannya adalah mengantar nyawa. Saat ini aku sudah menanam satu rencana bagus dalam benakku!" jawab Tuanku Laras Muko Balang sambil mengusap wajahnya yang ditutupi bulu tipis, separuh berwarna hitam sebagian lagi berwarna putih. "Datuk, kecuali Perwira Muda Teng Sien dan Ki Bonang, ajak semua orang mengurung Datuk Panglimo Kayo dan Inyiek tunggangannya. Jangan sampai dua mahluk itu melangkah terlalu jauh dari telaga."

Datuk Pancido segera lakukan apa yang dikatakan Tuanku Laras. Bersama Inyiek Panjalo dan Pandeka Bumi Langit dari Sumanik dia segera mendatangi Datuk Panglimo Kayo yang baru saja menjejakkan kaki bersama harimau tunggangannya di tepi telaga. Ketiga orang ini segera menebar dan mengambil sikap mengurung.

Sementara itu Tuanku Laras cepat-cepat mendekati Ki Bonang dan Perwira Muda Teng Sien.

"Ki Bonang, turut apa yang aku dengar Datuk Panglimo Kayo memiliki satu senjata sakti luar biasa bernama Rantai Pintu Halilintar. Jika terjadi hal tidak diingini dan dia menyerang kita dengan senjata itu, kita tidak akan

sanggup menahannya. Kecuali kita memiliki penangkal..."

Kening Ki Bonang Talang Ijo berkerut.

"Lekas katakan apa penangkal itu?"

"Ada pada Perwira Muda Teng Sien. Dia selalu membawanya ke mana-mana sebagai makanan persediaan. Disimpan di dalam kaleng merah yang tergantung di pinggangnya."

"Dendeng babi? Di dalam kaleng itu yang ada hanya dendeng babi. Makanan perwira Cina itu..."

"Benar sekali Ki Bonang. Daging babi, mentah atau masak, lunak atau keras, basah atau kering, adalah pantangan senjata sakti milik Datuk Panglimo Kayo. Untuk berjaga-jaga, lekas kau minta kaleng itu pada Teng Sien. Keluarkan isinya dan lemparkan ke arah Datuk Panglimo Kayo. Walau tidak mengena tubuh atau senjatanya, dia tetap akan mengalami celaka berat!"

"Baik, akan aku lakukan!" jawab Ki Bonang Talang Ijo pula lalu dengan cepat mendekati Perwira Muda Teng Sien. Setelah bicara sebentar Perwira Kerajaan Tiongkok itu menyerahkan kaleng besar merah yang tergantung di pinggangnya. Ki Bonang mengeluarkan sebagian isi kaleng lalu memasukkan ke dalam saku kiri jubah hijaunya.

Di tepi telaga belum turun dari atas punggung harimau Datuk Panglimo Kayo sudah melihat gerakan orang yang mencurigakan. Belum lagi dia membuka suara, di hadapannya Datuk Pancido sudah mementang ucapan.

"Datuk Panglimo Kayo. Jika Datuk Marajo Sati yang kau cari, orang itu tidak ada di sini. Karenanya kami harap kau segera melanjutkan perjalanan."

Datuk Panglimo Kayo tidak segera menjawab. Dia lebih dulu menatap wajah Datuk Pancido sebentar yang barusan menegurnya, memandang nenek yang berdiri di sampingnya lalu beralih pada Pandeka Bumi Langit dari Sumanik dan selanjutnya memandang ke arah Ki Bonang Talang Ijo, Perwira Muda Teng Sien dan Tuanku Laras Muko Balang. Melirik pada gadis Cina yang bersandar di pohon. Setelah itu baru membuka mulut menjawab.

"Datuk Pancido, aku datang ke sini memang bukan mencari Datuk Marajo Sati..."

"Astaga! Rupanya jauh panggang dari api dugaan kami!" Menyahuti Datuk Pancido sambil melintangkan tongkat perunggunya di atas bahu.

"Lalu gerangan apa maksud kedatangan Datuk ke tempat kami berada saat ini?" Niniek Panjalo yang kini ajukan pertanyaan.

Datuk Panglimo Kayo menyeringai.

"Apa kalian berdua yang jadi pimpinan rombongan ini? Aku rasa tidak. Dua orang tua, aku hanya ingin bicara dengan orang yang kalian tuakan dan jadikan pemimpin. Bukan dengan kalian berdua!"

Mendengar ucapan orang dan merasa dirinya direndahkan dua kakek nenek itu keluarkan suara menggembor.

"Masing-masing kami semua di sini adalah pimpinan. Jadi kalau memang mau bicara silahkan bicara. Kalau tidak segera saja Undang hapus dari hadapan kami!" Kata Datuk Pancido pula. (Undang hapus: angkat kaki pergi)



"Datuk Pancido, kalau soal bicara usir mengusir bukan kau yang punya kuasa dan wewenang. Di Luhak Tanah Datar akulah yang jadi Datuk Penghulunya. Bagaimana kalau aku yang memerintahkan agar kau yang lindang hapus dari hadapanku karena aku tidak suka negeri ini kau jadikan tempat berbuat ulah sekehendakmu!"

Niniek Panjalo tertawa cekikikan. Di sebelahnya Pandeka Bumi Langit dari Sumanik berkata.

"Datuk Panglimo Kayo, kau bukan saja salah berucap tapi juga salah berbuat! Datuk pimpinanmu menculik dan memeram gadis di dalam goanya! Apa yang kau lakukan terhadapnya? Kau tidak berbuat apa-apa. Malah penduduk yang bertindak menjatuhkan hukuman!"

"Soal Datuk Marajo Sati bukan urusanmu! Kalau aku boleh berkata, bukankah kau juga saat ini beramai-ramai tengah menculik gadis yang sama? Hendak kalian bawa dan peram di mana?!"

Tiba-tiba Puti Bungo Sekuntum berteriak.

"Datuk berbaju hitam! Siapapun kau adanya mohon tolong diri saya! Selamatkan diri saya dari orang-orang durjana ini! Mereka... Hekk!" Teriakan si gadis hanya sampai di situ karena lehernya keburu ditotok oleh Ki Bonang Talang Ijo.

"Para sahabat! Rupanya ada yang hendak menjadi pahlawan kesiangan! Biar sama-sama kita lihat apa dia punya kemampuan untuk membebaskan gadis itu!"

Yang barusan berseru adalah Tuanku Laras Muko Balang.

Mendengar tantangan orang Datuk Panglimo Kayo jadi gusar.

"Tanah Datar adalah daerah tanggung jawab dan di bawah perlindunganku! Kalian semua pergi dari sini! Tinggalkan gadis itu!"

Ki Bonang Talang Ijo maju dua langkah. Blangkon hijau di atas kepala dibuka lalu dikipas-kipas di depan dada. Seperti diketahui belangkon kakek ini merupakan senjata ampuh yang bisa melumpuhkan lawan dari jarak jauh. Sementara itu tangan kiri dimasukkan ke dalam saku jubah di mana tersimpan beberapa potong dendeng babi.

"Datuk Panglimo Kayo, mohon maafkan para sahabatku kalau mereka bicara agak ceroboh. Kami sangat menghormati kehadiran Datuk sebagai pimpinan di Luhak Tanah Datar. Jika Datuk memang menginginkan gadis itu silahkan Datuk mengambil sendiri. Tapi kami ingin bertanya. Kalau sudah dapat hendak Datuk apakan gadis itu? Hendak disekap di dalam goa seperti yang dilakukan Datuk Marajo Sati? Setahu kami Datuk tidak punya goa kediaman. Lalu mau dibawa ke mana? Mungkin ke dasar Danau Maninjau? Itu saja yang ingin kami tanyakan... Ha... ha... ha!"

Ucapan dan tawa Ki Bonang Talang Ijo itu disambut gelak tawa pula oleh semua orang yang ada di tempat itu. Amarah Datuk Panglimo Kayo jadi naik ke kepala. Tapi dia masih bisa menahan diri.

"Orang tua, kau orang asing di sini. Bicara seenak mulut, bertindak sekehendak hati! Minta maaf padaku dan pergi dari sini bersama yang lain-lain. Niscaya kalian aku biarkan pergi dengan selamat..."

Tuanku Laras Muko Balang keluarkan suara berbatuk-batuk yang disengaja beberapa kali lalu berkata.

"Datuk Panglimo Kayo. Kau baru menjadi pimpinan di satu nagari. Tapi sikapmu pongah sekali. Seolah kau sudah menjadi penguasa di muka bumi. Sri Baginda Raja di Pagaruyungpun tidak akan berlaku seperti dirimu!"

Ki Bonang Talang Ijo pegang bahu Tuanku Laras lalu maju beberapa langkah ke hadapan Datuk Panglimo Kayo. Sesaat dia berpaling dulu pada Tuanku Laras.

"Sahabatku Tuanku Laras, bagaimanapun juga sebagai seorang tamu di negeri orang aku harus menghormati sang penguasa yang jadi pimpinan. Biarkan aku memohon maaf atas kata-kataku yang mungkin kasar..."

Lalu Ki Bonang Talang Ijo menghadap ke arah Datuk Panglimo Kayo kembali. Badan sedikit dibungkukkan. Tangan yang memegang belangkon hijau berkembang putih diayun sambil mulutnya berucap.

"Datuk Panglimo Kayo, aku Ki Bonang Talang Ijo dari Kota Gede di tanah Jawa, aku mohon..."

Ki Bonang tidak teruskan ucapan. Dari pusarnya mendesir tenaga dalam ke arah tangan yang memegang belangkon hijau. Ketika tangan kanan itu diayunkan maka wuuuttt! Selarik angin luar biasa deras menyambar ke arah Datuk pimpinan Luhak Tanah Datar! Kalau sampai tersambar maka sekujur tubuh Datuk Panglimo Kayo akan menjadi lumpuh!***5SEBAGAI Datuk pimpinan di daerah atau Luhak Tanah Datar Datuk Panglimo Kayo tentu saja bukan orang sem-barangan. Selain merupakan orang cerdik pandai, seperti para Datuk lainnya dia juga membekali diri dengan ilmu agama sekaligus ilmu silat serta kesaktian tinggi.

Walau belum pernah berhadapan dengan Ki Bonang Talang Ijo, namun Datuk Panglimo Kayo sudah dapat membaca apa arti rundukan tubuh serta sapuan belangkon. Sebelum angin melumpuhkan menyambar dirinya Datuk ini cepat melompat ke arah Niniek Panjalo. Sekali menyergap nenek bertubuh kurus Ini sudah kena dicekal batang lehernya oleh Datuk Panglimo Kayo yang bertubuh tinggi besar. Si nenek lalu gemparkan ke arah Ki Bonang Talang Ijo yang tengah melancarkan serangan membokong.

Dua orang sama-sama berteriak kaget yaitu si nenek dan Ki Bonang sementara yang lain-lain terkesiap tak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Begitu terkena sambaran angin yang keluar dari sapuan belangkon hijau, tubuh si nenek langsung lumpuh tak bisa bergerak. Hanya mulutnya saja yang masih mampu berteriak. Tubuh lumpuh Niniek Panjalo melesat menabrak Ki Bonang Talang Ijo. Dua kakek nenek ini jatuh bertindihan di tanah. Si nenek menyumpah-nyumpah tapi tak bisa berbuat apa-apa karena tidak mampu bergerak. Ki Bonang memaki panjang pendek. Dia cepat bergerak bangun. Namun sebelum sempat berdiri bangkit satu kaki berkasut kulit telah menginjak keningnya.

Si kakek dari Kuto Gede ini merasa seolah satu batu besar menindih kepalanya, siap untuk membuatnya remuk! Yang menginjak bukan lain adalah Datuk Panglimo Kayo. Semua orang hampir tidak melihat kapan Datuk bertubuh tinggi besar itu bergerak tahu-tahu dia sudah mampu menginjak kepala Ki Bonang!

"Orang gaek bernama Ki Bonang! Kau datang di negeri orang mengapa berani berbuat rusuh!" (orang gaek: orang tua)



"Datuk kurang ajar! Berani kau menginjak kepalaku!" teriak Ki Bonang Talang Ijo. Didahului satu teriakan keras dia usap sebagian wajahnya dengan tangan kiri sementara tangan kanan yang masih memegang blangkon hijau dihantamkan ke atas.

Begitu wajah diusap, seluruh kulit muka Ki Bonang Talang Ijo sampai ke mata dan telinga serta rambut berubah menjadi hijau pekat. Dari kepala yang berubah warna ini membersit keluar cahaya hijau, menjalar masuk ke kaki kanan Datuk Panglimo Kayo membuat dia merasa seperti ditusuk ribuan jarum!

Sadar bahaya besar mengancam dirinya, sebelum kaki kanan diangkat Datuk Panglimo Kayo walau gerakannya agak tertahan oleh aliran cahaya hijau namun masih sempat menghujamkan kaki ke kepala Ki Bonang.

"Kraakk! Craass!"

Ki Bonang Talang Ijo menjerit dahsyat! Keningnya sebelah kanan remuk. Mata melesak terpuruk! Tapi sungguh luar biasa! Meski cidera berat begitu rupa dia seperti tidak merasa kesakitan malah berteriak keras.

"Datuk jahanam! Aku mengadu jiwa denganmu!" Ki Bonang berteriak sambil lipat gandakan tenaga dalam ke tangan kanan yang memukulkan belangkon. Namun saat itu Datuk Panglimo Kayo sudah melompat ke udara. Bukan saja untuk selamatkan diri dari hantaman angin belangkon tapi sekaligus juga menghindari serangan beberapa orang lainnya yaitu Tuanku Laras Muko Balang, Datuk Pancido, Perwira Muda Teng Sien dan Pandeka Bumi Langit dari Sumanik.

Dengan pedang perak Al Kausar Tuanku Laras Muko Balang yang menyerbu dari arah kanan membabat ke arah dua kaki Datuik Panglimo Kayo. Dari jurusan kiri Perwira Muda Teng Sien sambil berteriak garang bacokkan golok besarnya ke arah pangkal leher. Datuk Pancido seperti kebiasaannya, menyerang dari belakang. Begitu melewati sosok lawan tongkat perunggu berkeluknya langsung dihantamkan, menderu ke arah belakang batok kepala Datuk Panglimo Kayo. Pandeka Bumi Langit ikut pula menyerbu dengan ilmu silat ganas Sitaralak.

Sementara itu walau dalam keadaan cidera parah dan muka bergelimang darah, mata hanya tinggal satu yang melihat, Ki Bonang Talang Ijo melompat ke udara setelah hantaman angin belangkonnya tidak mengenai sasaran. Blangkon diletakkan di atas kepala kembali lalu dua tangan dipentang lebar. Dari mulutnya yang kini menjadi pencong akibat matanya yang terpuruk, keluar suara menggerung keras. Saat itu juga sekujur tubuhnya dipijari sinar hijau. Di lain kejap dari tubuh itu keluar satu mahluk mengerikan berbentuk gurita hijau jejadian berlengan delapan! Ke delapan tangan ini menderu dahsyat siap menggulung melumat Datuk Panglimo Kayo.

Seumur hidup baru sekali ini Datuk Panglimo Kayo bertarung melawan musuh yang menyerang keroyokan. Selain itu belum pernah dia menghadapi tokoh-tokoh berkepandaian silat dan kesaktian tinggi seperti yang dihadapinya saat itu. Ketika salah satu ujung kaki celana hitamnya robek besar disambar pedang Al Kausar di tangan Tuanku Laras Muko Balang, sementara dua tangan gurita sudah melibat tangan kirinya, Datuk Panglimo Kayo tidakmau berlaku ayal. Didahului suara bentakan keras sambil terus melesat ke udara dia memutar tubuh seperti titiran sambil berteriak.

"Rantai Pintu Halilintar!"

Di langit mendadak menggelegar suara petir dibarengi memancarnya cahaya dua sinar terang benderang laksana dua daun pintu terbuka.

"Rrreettttttttt"

Lalu terdengar suara bergemerincing disertai berkiblatnya sinar putih dingin menggidikkan menyelubungi tubuh Datuk Panglimo Kayo. Sinar ini berasal dari sebuah senjata sakti milik sang Datuk berupa rantai besi putih sepanjang lebih sepuluh tombak.

Bersamaan dengan munculnya rantai putih, Inyiek harimau kuning belang hitam yang sejak tadi mendekam diam tiba-tiba mengaum keras dan melompat memasuki kalangan pertempuran.

"Trang... trang!"

Pedang Al Kausar di tangan Tuanku Laras Muko Balang terlepas mental. Golok besar yang dipakai membacok oleh Perwira Muda Teng Sien patah dua. Sisa golok termasuk gagang mencelat menyambar kepalanya sebelah kanan hingga daun telinganya tersambar buntung! Teng Sien menjerit setinggi langit Dua tangan menekap telinga yang buntung dan mengucurkan darah. Tubuh berputar huyung. Untuk selamatkan diri diri dari serangan rantai besi putih dia cepat-cepat menjauhi kalangan pertarungan. "Crass!"

Dua tangan gurita yang melibat tangan kiri Datuk Panglimo Kayo putus menyemburkan darah hijau mengerikan dan menjijikkan. Di samping kiri Datuk Pacindo keluarkan jeritan pendek ketika kepala, punggung dan pinggangnya hancur digebuk gulungan Rantai Pintu Halilintar. Tubuhnya terhempas ke tanah dalam keadaan hangus gosong!

Pandeka Bumi Langit dari Sumanik dengan menjatuhkan diri sama rata di tanah masih sempat selamatkan tubuh dari sambaran rantai putih.

"Ki Bonang! Lekas lemparkan barang pamungkas yang ada dalam saku jubahmu!"

Tuanku Laras Muko Balang berteriak. Dia sengaja tidak menyebut daging atau dendeng babi agar Datuk Panglimo Kayo tidak punya kesempatan melakukan sesuatu untuk selamatkan diri.6MENDENGAR teriakan Tuanku Laras, Ki Bonang hentikan serangan gurita jeja-diannya. Gurita tangan delapan lenyap tanpa bekas. Ki Bonang cepat-cepat masukkan tangan kiri ke dalam saku jubah hijau. Begitu keluar dari dalam saku, potongan-potongan daging dendeng babi yang didapatnya dari Perwira Muda Teng Sien_ segera dilempar ke arah Rantai Pintu Halilintar.

Melihat apa yang terjadi dan mencium bau menyengat dari benda yang dilemparkan ke arahnya, Datuk Panglimo Kayo berteriak kaget. Dia berusaha menghindar namun terlambat. Sekalipun potongan daging babi itu tidak mengenai Rantai Pintu Akhirat dan tubuhnya namun kekuatan pantangan penghancur yang dimiliki begitu luar biasa. Saat itu juga rantai yang terbuat dari besi putih sakti itu terputus dua di sebelah tengah. Putusan pertama sepanjang lima tombak menderu ke arah Inyiek harimau kuning belang hitam yang tengah melompat hendak menerkam Perwira Muda Teng Sien. Dengan cepat rantai putih ini melibat tubuh binatang sakti itu hingga mengeluarkan suara berkeretekan remuknya tulang belulang. Inyiek mengaum dua kali lalu jatuh terkapar di tanah, Di mata, hidung, mulut dan telinga mengucur darah.

"Mahluk iblis! Pulang ke rumah majikanmu!" Bentak Tuanku Laras Muko Balang lalu dengan kaki kanan dia tendang harimau besar hingga mencelat mental melewati telaga dan lenyap dari pemandangan dan kelak akan jatuh di halaman rumah gadang kediaman Datuk Panglimo Kayo.

Potongan rantai putih yang kedua menderu bergemerlapan ke arah Datuk Panglimo Kayo. Seperti yang terjadi dengan Inyiek, rantai ini dengan cepat menggulung sekujur tubuh sang Datuk. Terdengar kembali suara berkeretekan begitu tulang belulang Datuk Panglimo Kayo remuk. Sebelum darah mengucur keluar dari mata, hidung, mulut dan telinga, Datuk Panglimo Kayo masih sempat berseru menyebut nama Allah. Setelah itu pimpinan Luhak Tanah Datar ini tak bergerak lagi.

Walau Datuk Panglimo Kayo telah menemui ajal, namun Ki Bonang Talang Ijo masih ingin melampiaskan dendam amarahnya! Sekali dia menendang maka hancurlah kepala Datuk Panglimo Kayo sebelah kanan. Masih belum puas Ki Bonang kembali hendak menendang. Namun Tuanku Laras Muko Balang segera mencegah.

"Ki Bonang, kalau kau hancurkan seluruh mukanya, tidak lagi nanti orang yang bisa mengenali dirinya. Aku ingin melakukan sesuatu. Aku ingin menyampaikan pesan pada dua Datuk pimpinan Luhak lainnya. Agar mereka jangan berani bertindak ceroboh seperti yang dilakukan Datuk satu ini! Tetapi aku juga ingin menyesatkan jalan pikiran mereka! Biar mereka menuduh orang lain yang telah membunuh Datuk Panglimo Kayo!"

Dari balik pakaiannya Tuanku Laras lalu keluarkan sepotong robekan kain putih panjang.

Ki Bonang usap-usap mata kirinya.

"Tuanku Laras, bukankah itu potongan sorban Datuk Marajo Sati...?"

Tuanku Laras menyeringai.

"Aku gembira kau mengetahui," kata si muka belang ini. "Aku mengambilnya ketika tercampakdi tanah sewaktu dia dilempari ratusan batu di Ngarai Sianok. Sekarang apakah yang ada di dalam benakku sama dengan apa yang ada di dalam otakmu, Ki Bonang?"

Setelah berkata begitu Tuanku Laras letakkan robekan sorban Datuk Marajo Sati di atas telapak tangan kanan Datuk Panglimo Kayo. Lalu lima jari tangan yang masih belum begitu kaku dikatupkan.

"Tuanku Laras," kata Ki Bonang sambil menekap mata kanannya yang hancur dan berdenyut sakit "Aku memuji kecerdikanmu. Aku merasa dendam kesumatku sulit terbalas dengan apa yang kau lakukan. Tapi apa yang hendak Tuanku Laras lakukan selanjutnya?"

Sambil menyeringai Tuanku Laras Muko Balang menjawab.

"Mayatnya akan aku kirim ke rumah gadang kediamannya di Batusangkar. Biar gempar orang seluhak, biar geger semua manusia di tanah Minang ini!"

"Tuanku Laras, mengapa mau bersusah-susah! Biarkan saja mayat Datuk Panglimo Kayo membusuk di sini! Kalau memikir dendam kesumat rasanya aku lebih membenci manusia satu ini dari siapapun! Lihat apa yang terjadi dengan mukaku! Lihat mataku kini buta sebelah!" Habis berkata begitu Ki Bonang cepat-cepat ambil dua macam obat dari balik jubahnya. Satu berupa bubuk hitam yang segera ditebarkan di atas kening dan mata kanannya. Obat yang lain berbentuk butiran kecil bulat sebanyak tujuh buah segera hendak ditelannya. Tapi lengannya tiba-tiba dicekal oleh Tuanku Laras Muko Balang. Orang yang wajahnya tertutup bulu hitam putih ini lantas berkata dengan suara bergetar.

"Siapa saja bisa mempunyai dendam kesumat dan kebencian terhadap Datuk Panglimo Kayo! Tapi aku Tuanku Laras Muko Balang, dendam kesumatku terhadap manusia itu jauh lebih besar dari dendam orang termasuk Ki Bonang ditumpuk jadi satu! Kau dengar apa yang aku katakan itu Ki Bonang?"

"Tentu saja aku dengar Tuanku Laras. Tapi terus terang aku tidak mengerti. Ada silang sengketa apa antara dirimu dengan Tuanku Panglimo Kayo?" jawab Ki Bonang Talang Ijo lalu meneruskan dengan bertanya.

"Datuk Panglimo Kayo, manusia jahanam itu! Sepuluh tahun silam dia membunuh ayahku demi mendapatkan kedudukan sebagai pimpinan Luhak di Tanah Datar!"

"Ah, kalau begitu maafkan diriku," kata Ki Bonang pula.

Tuanku Laras lepaskan cekalannya di lengan Ki Bonang. Orang tua ini cepat-cepat telan tujuh butir obat yang sejak tadi telah digenggamnya.

Tuanku Laras Muko Balang sarungkan pedang sakti Al Kausar. Lalu senjata ini diletakkan di tanah. Ujung rantai besi putih yang melibat mayat Datuk Panglimo Kayo dicekal erat-erat.

"Ki Bonang, Pandeka Bumi Langit, ada satu hal yang perlu aku katakan pada kalian. Dan nanti harap kau beri tahu pada Perwira Teng Sien. Jika aku kembali, aku harap kalian dan Perwira Cina itu serta gadis di bawah pohon sana tetap berada di tempat ini. Jangan sekali-sekali coba melarikan diri dari sini, membawa gadis itu atau menipuku dengan cara keji lainnya. Jika hal itu terjadi maka Ki Bonang tidak akan pernah kembali ke tanah Jawa, Perwira itu tidak akan pernah pulang ke negerinya di Tiongkok dan Pandeka Bumi Langit hanya bisa pulang ke Sumanik dalam keadaan tidak bernafas lagi."

Ki Bonang menyeringai buruk. Pandeka Bumi Langit pencongkan mulut.

"Kami tidak akan mengkhianatimu! Tapi kami tidak akan mau menunggu sampai berhari-hari!" Ki Bonang akhirnya keluarkan ucapan.

"Sebelum matahari tenggelam, aku sudah kembali di sini!" jawab Tuanku Laras lalu melangkah menyeret mayat Datuk Panglimo Kayo. Dia letakkan dua kaki di aas pedang Al Kausar. Setelah merapal semacam jampai-jampai orang bermuka belang ini lalu berseru.

"Pedang sakti aku perlu bantuanmu. Bawa aku ke Sungai Tarab!"

"Wusss!"

Pedang sakti di tanah kepulkan asap putih menyilaukan. Lalu terjadilah satu keajaiban. Senjata yang terbuat dari perak murni itu melesat ke udara mengangkat tubuh Tuanku Laras yang memegang ujung rantai putih dan melibat mayat Datuk Panglimo Kayo lalu menerbangkannya ke arah tenggara.KETIKA melayang di udara mendekati Sungai Tarab, sebuah dusun kecil tak jauh dari Batu Sangkar dari udara Tuanku Laras melihat sebuah pedati tak beratap. Di sebelah depan duduk dua orang anak muda. Satu diantaranya adalah kusir pedati. Yang seorang lagi asyik menyantap nasi bungkus.

"Ini yang aku perlukan..." kata Tuanku Laras lalu dengan cepat melayang turun, menghadang di depan pedati.

Dua anak muda yang berada di depan pedati tentu saja terkejut bukan alang kepalang ketika melihat ada orang bermuka aneh turun dari langit, melayang di atas pedang dan membawa mayat bergulung besi putih lalu menghadang di tengah jalan!

Pemuda tadi yang asyik menyantap nasi bungkus tercekik seperti mau muntah ketika melihat sosok mayat yang hancur dan bergelimang darah sebagian wajahnya. Pemuda yang membawa pedati dalam kejutnya segera menahan tali kekang. Sapi penarik pedati serta merta berhenti. Dua kaki depan menggurat-gurat tanah. Binatang ini agaknya juga seperti ketakutan.

"Dua anak muda, apakah kalian akan menuju ke Batu Sangkar melalui Sungai Tarab?"

Anak muda yang tadi menyantap nasi bungkus segera berhenti. Nasi bungkus lalu dilempar ke tepi jalan. Karena ngeri dan jijik melihat muka mayat yang hancur dia tidak sanggup lagi meneruskan makan.

"Aku bertanya apakah kalian berdua tuli?" Tuanku Laras yang tidak mau membuang waktu jadi marah.

Pemuda yang barusan makan mengangguk. "Kami-kami memang hendak ke Batu Sangkar. Tentu saja kami melewati Sungai Tarab..." Lalu pemuda ini, yang bernama Majo Jamin, berbisik pada teman di sebelah yang adalah adiknya, bernama Magek Jamin. "Magek, aden rasa-rasa kenal dengan orang bermuka belang ini. Aden pernah melihatnya waktu ada pertunjukan Randai di Payakumbuh... Bukankah dia yang dijuluki Tuanku Laras Muko Balang?" (Aden: aku)



"Kalian tengah berbisik-bisik apa?!" Tuanku Laras membentak marah.

"Tidak... tidak apa-apa..."

"Jangan berani berdusta! Apa kalian mau aku jadikan mayat bergabung dengan mayat satu ini?!"

Dua pemuda jadi ketakutan setengah mati.

"Ampun Datuk... kami... tadi saya hanya memberi tahu adik saya ini kalau tidak salah saya menduga bukankah Datuk adalah Tuanku Laras..."

"Hemmmm... Jadi kalian kenal juga padaku? Siapa nama kalian?"

"Saya Majo Jamin. Adik saya Magek Jamin. Kami tinggal di selatan Sungai Tarab."

Dari saku jubahnya Tuanku Laras keluarkan dua keping uang logam lalu dilemparkan ke pangkuan dua kakak beradik. Setelah itu dia mengambil pedang yang tergeletak di tanah lalu dengan gerakan kilat melompat naik ke atas pedati kosong, hanya dipenuhi jerami kering.

"Kalian berdua bawa aku ke Batu Sangkar. Jangan berani membuka mulut kalau tidak aku tanya!"

Dalam takutnya Magek Jamin segera menjalankan pedati. Sebaliknya dalam takutnya Majo Jamin melompat dari pedati lalu melarikan diri. Namun dia lari tidak jauh. Karena begitu Tuanku Laras arahkan ujung pedang bersarung, selarik sinar putih menderu menghantam punggung Majo Jamin. Pemuda malang ini terlempar masuk ke dalam jurang sangat dalam dan menemui ajal di dasar jurang.

Melihat kakaknya dibunuh dan terlempar masuk ke dalam jurang Magek Jamin berteriak.

"Datuk...! Kau!"

Tuanku Laras tusukkan ujung sarung pedang perak ke leher kusir pedati.

"Kalau kau tidak ingin menyusul saudaramu ikuti perintahku. Cepat jalankan pedati!"

Magek Jamin menggigil ketakutan dan terpaksa mencambuk sapi penarik pedati. Tak berapa lama setelah melewati Sungai Tarab, Tuanku Laras berkata pada pemuda kusir pedati.

"Aku rasa cukup sampai di sini kau menolongku. Selanjutnya sapi penarik pedati ini sudah tahu jalan ke Batu Sangkar."

Magek Jamin pemuda kusir pedati berpaling ke belakang hendak bertanya apa maksud Tuanku Laras. Namun begitu kepala diputar keningnya dihantam dengan sarung pedang perak. Tak ampun lagi pemuda ini terbanting ke samping dan jatuh ke jalan. Tuanku Laras melompat turun dari pedati sementara sapi penarik pedati terus berjalan ke arah Batu Sangkar, membawa mayat Datuk Panglimo Kayo yang sudah ditimbun Tuanku Laras Muko Balang di bawah tumpukan jerami kering. Sesekali sapi ini melenguh, meningkahi bunyi suara ganto yang tergantung di lehernya.7SEKARANG kita ikuti apa yang terjadi dengan Pendekar 212 Wiro Sableng setelah oleh Inyiek Susu Tigo dia dilempar ke dalam telaga penuh berisi buaya sementara Malin Kapuyuak tergelimpang tertelungkup di atas cabang pohon.

Dalam episode sebelumnya (Fitnah Berdarah Di Tanah Agam) Inyiek Susu Tigo yang merupakan salah seorang tokoh utama memiliki kesaktian tinggi telah lebih dulu didatangi oleh Ki Bonang Talang Ijo, Tuanku Laras, Perwira Teng Sien, Pandeka Bumi Langit Dari Sumanik, Datuk Pancido dan NiniekPanjalov.



Ki Bonang dan kawan-kawan mengarang cerita melancarkan fitnah kalau salah seorang murid Inyiek Susu Tigo yaitu Si Kamba Pesek Tangan Manjulai telah dibunuh oleh Pendekar 212 Wiro Sableng dan sebelum dibunuh lebih dulu diperkosa. Tidak heran kalau ketika Wiro, Denok Tuba Biru dan Malin Kapuyuak datang untuk mencari Si Kamba Mancuang Tangan Manjulai, Inyiek Susu Tigo marah besar walau murid Sinto Gandeng bersumpah bahwa dia tidak membunuh murid sang Inyiek. Wiro dilempar ke dalam telaga yang ditunggui puluhan buaya besar peliharaan guru Si Kamba Pesek dan Si Kamba Mancuang. Di dalam telaga tubuh Wiro secara aneh mengambang tertelentang. Namun dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tangan atau kaki. Hanya leher dan sepasang bola mata yang masih mampu diputar sedikit ke kiri atau ke kanan. Air telaga terasa membeku dingin bukan kepalang hingga geraham Wiro bergemeletakan menahan gigilan. Dia coba mengerahkan hawa panas sakti tapi tidak berhasil. Sedikit demi sedikit dia merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku. Lidah juga mulai terasa kelu.

"Manusia bersusu tiga itu mengatakan besok begitu matahari terbit buaya-buaya jahanam itu akan menyantap diriku. Celakai Apa yang harus aku lakukan?! Rasanya aku mau berteriak minta tolong. Tapi lidahku sudah kelu. Jangankan berteriak, bersuarapun aku tidak bisa. Kalaupun aku mampu berteriak, mending kalau ada mahluk yang datang menolong sekalipun setan. Bagaimana kalau buaya-buaya itu yang tersentak lalu tidak menunggu sampai matahari terbit tapi langsung menyantap diriku sekarang juga? Oala!"

Wiro menatap ke langit di atasnya. Malah masih belum mencapai pertengahan. Berarti masih cukup

banyak waktu untuk memutar akal mencari selamat.

"Dasar nasib sial celaka! Ada ada saja urusan di negeri orang ini. Aku sudah enak-enak di tanah Jawa. Datuk Rao memanggilku. Urusan belum selesai, malah belum ketahuan apa yang harus aku lakukan. Sekarang..." Ingat pada Datuk Rao Basaluang Ameh, Wiro ingat pula pada Datuk Rao Bamato Hijau yaitu harimau sakti putih bermata hijau peliharaan sang Datuk. "Ah, sahabatku itu pasti bisa menolong." Murid Sinto Gendeng pejamkan mata. Bibir bergerak. Mulut berucap walau suaranya tidak keluar.

"Datuk Rao Bamato Hijau, sahabatku. Datanglah cepat. Aku butuh pertolonganmu. Keluarkan aku dari telaga celaka ini. Datuk Rao Bamato Hijau..."

Wiro berucap berulang kali tidak putus-putus. Tapi sampai suaranya hilang tak mampu lagi keluar dari tenggorokan Datuk Rao Bamato Hijau tidak kunjung muncul. Biasanya kalau dipanggil seperti itu, dalam waktu beberapa kejapan mata saja harimau putih sakti itu akan segera menampakkan diri.

"Heran, apa yang terjadi? Mengapa Datuk Rao Bamato Hijau tidak datang? Apakah sedang ada urusan di tempat jauh dengan Datuk Rao Basaluang Ameh..." Wiro jadi tak habis pikir.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan harimau putih sakti itu? Seperti yang diceritakan dan diakui oleh Denok Tuba Biru kepada Wiro, dia berhasil diam-diam ikut ke tanah Minang dengan bergantungan di bagian bawah tubuh harimau putih yang membawa Wiro untuk menemui Datuk Rao Basaluang Ameh. Wiro tidak mengetahui keberadaan gadis gemuk bermuka biru belang kuning karena Denok Tuba Biru mengerahkan ilmu kesaktian bernama Bayang Bayang Angin.

Walau Pendekar 212 tidak mengetahui si gadis gembrot itu ikut bersamanya, tapi harimau sakti Datuk Rao Bamato Hijau tentu saja tidak bisa ditipu. Dia tahu tubuhnya digelayuti gadis itu. Lalu mengapa binatang sakti ini diam saja? Tidak lain karena Denok Tuba Biru punya akal dan cara manjur untuk menggereng-gereng halus kedap-kedipkan sepasang mata yang hijau. Sepanjang perjalanan Denok Tuba Biru tiada hentinya mengusap-usap dan meniup-niup "Burung" Datuk Rao Bamato Hijau hingga harimau putih ini menjadi diam dan jinak dalam kenikmatannya.

Seumur hidup jadi peliharaan Datuk Rao Basaluang Ameh, harimau putih itu belum pernah merasakan kenikmatan seperti yang dialaminya. Selama beberapa hari dia mendekam di dalam alamnya namun lama-lama tidak tahan juga. Ingatannya tidak bisa lenyap dari gadis gemuk Denok Tuba Biru. Akhirnya harimau putih ini keluar dari alam gaib pergi mencari gadis bertangan ampuh yang bisa memberi kenikmatan itu. Ketika Wiro memanggil-manggilnya Datuk Rao Bamato Hijau tengah melayang di atas Danau Maninjau. Binatang sakti ini telah dapat mencium bau tubuh Denok Tuba Biru dan tahu kira-kira ke arah mana dia harus mencari gadis itu. Walau dia mendengar ngiangan suara Wiro di kedua telinganya namun dia tidak mengacuhkan. Yang lebih penting baginya saat itu adalah menemui Denok Tuba Biru sang pengusap.DI DALAM rumah di tengah telaga kini perhatian Inyiek Susu Tigo tertuju pada Denok Tuba Biru, gadis gemuk berwajah biru bergaris-garis kuning. Agaknya dia akan segera menjadi korban kemarahan Inyiek Susu Tigo berikutnya. Malin Kapuyuak yang mengetahui hal ini segera membisikkan pada Denok Tuba Biru agar cepat-cepat menghisap tiga puting susu si Inyiek. Menurut Malin Kapuyuak, dengan cara begitu maka sebagian ilmu kesaktian Inyiek Susu Tigo akan pindah ke dalam diri Denok Tuba Biru. Selain itu dia akan diangkat jadi murid.

Dalam keadaan terdesak Denok Tuba Biru ikuti saja apa yang dikatakan Malin Kapuyuak. Dengan gerakan cepat dia berhasil menghisap tiga puting susu Inyiek Susu Tigo. Tapi apa yang terjadi?

Bukan ilmu kesaktian yang didapat Denok Tuba Biru. Ternyata Inyiek Susu Tigo mempunyai kaul yaitu siapa saja perempuan yang bisa menghisap ketiga puting susunya maka akan dijadikan sebagai istri!

Ketika hal itu diucapkan Inyiek Susu Tigo dengan suara keras dan girang, kejut Denok Tuba Biru bukan alang kepalang. Dalam marahnya karena merasa ditipu gadis gemuk ini jotos muka Malin Kapuyuak hingga bibir dan hidungnya mengucurkan darah. Kaiau tidak ditolong oleh Inyiek Susu Tigo mungkin pemuda ini bisa babak belur. Oleh sang Inyiek Malin Kapuyuak yang tadinya juga hendak dihajar hanya dilempar hingga jatuh terpentang di cabang pohon. Mungkin Inyiek Susu Tigo merasa pemuda yang punya kesukaan mengintai anak gadis orang mandi di pancuran itu telah membantunya mendapatkan seorang calon istri!

Dengan susah payah Denok Tuba Biru berhasil keluar dari dalam pondok di tengah telaga lalu melarikan diri. Inyiek Susu Tigo yang konon sudah belasan tahun menunggu datangnya sang calon istri tentu saja tidak mau kehilangan Denok Tuba Biru. Dia segera menghambur keluar pondok mengejar gadis gemuk berbulu ketiak lebat itu! Selain kaulnya, mungkin pula Inyiek Susu Tigo memang suka pada sosok tubuh Denok Tuba Biru yang gemuk buntal ditambah bulu ketiak yang lebat tersembul!

Ketika Inyiek Susu Tigo melayang di atas telaga muncul seorang perempuan sambil berseru agar Inyiek Susu Tigo jangan pergi dulu karena ada yang hendak disampaikannya. Tapi Inyiek Susu Tigo yang tidak mau kehilangan Denok Tuba Biru tidak perdulikan seruan orang, padahal yang datang itu adalah Si Kamba Mancuang, muridnya yang merupakan saudara kembar Si Kamba Pesek yang telah dibunuh Ki Bonang dan kawan-kawannya. Tapi kejahatan itu difitnahkan pada Wiro sebagai pelakunya.***8UNTUK beberapa lamanya Si Kamba Mancuang berdiri di langkan rumah kayu. Dia merasa heran Inyiek tidak mengacuhkan dirinya.

"Apa dia tidak melihat, apa telinganya tidak mendengar suara seman denai? Ada urusan apa Inyiek gerangan? Lalu pemuda yang dalam bahaya itu, di mana dia berada?"

Si Kamba Mancuang dalam pikiran yang agak bingung tidak melihat kalau Wiro mengambang di permukaan telaga yang memang gelap. Namun dia dapat menyaksikan puluhan buaya yang biasanya berada di dalam telaga saat itu mendekam di seputar tepi telaga.

"Buaya-buaya peliharaan Inyiek itu. Mereka menunggu datangnya saat bersantap..." Si nenek membatin. Rupanya dia sudah tahu. Jika pada malam hari puluhan buaya tidak berada di dalam telaga, berarti besoknya akan ada manusia yang jadi santapan.

"Siapa korban kali ini?" pikir Si Kamba Mancuang. Dia kembali memperhatikan ke arah telaga. Namun belum sempat melihat sosok Wiro yang mengambang si nenek tiba-tiba seperti mendengar suara orang.

"Ada orang mengerang. Tapi sambil bercarut marut... Di arah pohon besar sana..."

Tidak menunggu lebih lama, Si Kamba Mancuang segera melesat di permukaan telaga lalu melompat ke atas pohon besar. Berdiri di cabang sebelah bawah cabang di mana Malin Kapuyuak tertelentang melintang.

"Aneh, tadi ada suara mengerang. Sekarang mengapa sunyi?!" pikir si nenek.

Tiba-tiba dia merasa ada tetesan air jatuh dari atas membasahi bahunya. Tetesan air diusap.

"Hari tidak hujan, embun belum turun secepat ini. Air apa ini? Mengapa terasa hangat?"

Si nenek dekatkan jari-jari tangannya yang mengusap air ke hidung. Langsung dia berteriak marah.

"Kurang ajar! Air kajamban!" (Air kajamban: air kencing)



Dalam marahnya Si Kamba Mancuang mendongak ke atas. Baru dia melihat sosok tubuh Malin Kapuyuak.

"Mahluk jahanam! Siapa kau? Orang apa hantu?! Mengapa di atas pohon! Kau mengencingi aku! Akan aku remas barangmu sampai hancur! Kurangajar sekali!"

Di cabang pohon sebelah atas terdengar suara mengerang disusul suara ucapan tersendat-sendat

"Nek... aku Malin Kapu... yuak. Kalau kau tidak segera menolong, perutku akan pecah. Isi perutku akan tumpah. Kau bukan hanya ketetesan air kencingku tapi juga akan kejatuhan langekku!" (langek: kotoran)



Dengan geram Si Kamba Mancuang melesat ke cabang pohon di sebelah atas. Kuduk baju Malin Kapuyuak dicekal lalu pemuda itu dibawa melayang turun. Sampai di tanah Malin Kapuyuak dilempar ke bawah pohon.

"Malin Kapuyuak! Di mana-mana kau selalu berbuat yang tidak menyenangkan orang! Kalau bukan kau sudah keremas hancur barangmu! Apa yang terjadi dengan dirimu? Mengapa berada di sini! Mana sahabatmu pemuda Jawa berambut panjang seperti perempuan itu?!"

Malin Kapuyuak duduk bersandar di batang pohon sambil memegangi perutnya yang sakit Dada turun naik, nafas tersengal. Dalam hati dia berkata, "Ala mak, si Uda itu rupanya yang membuat bingung dan mengesalkan hati nenek ini." Lalu pada Si Kamba Mancuang dia berkata.

"Bertanya satu-satu Nek. Jangan menyembur seperti Kudo taciriek!" (kudo taciriek: kuda berak)



"Plaak!" Si nenek tampar pipi Malin Kapuyuak.

"Dengar, aku sedang marah! Saudara kembarku mati dibunuh orang. Guruku tidak mengacuhkan diriku! Kau bukan saja telah berlaku kurang ajar mengencingiku, tapi sengaja berlambat-lambat menjawab pertanyaanku!"

"Sabar Nek, akan aku jawab... akan aku terangkan padamu..." Malin Kapuyuak usap pipinya yang masih terasa sakit dan panas akibat tamparan si nenek. "Aku berada di atas pohon bukan mauku! Aku dilempar Inyiek Susu Tigo, gurumu..."

"Guruku memang aneh! Tapi dia tidak mau menghajar orang sesukanya. Kau pasti punya salah! Pasti berlaku kurang ajar!"

"Tidak, maksudnya baik. Dia hendak menolongku dari gebukan seorang gapuakyang hendak dijadikan istrinya sesuai kaulannya. Tadinya... aku tidak tahu kalau gurumu punya kaulan seperti itu! Aku terlanjur..." (gapuak: gemuk)



Si Kamba Mancuang Tangan Manjulai tersentak kaget. Dia cepat memotong ucapan Malin Kapuyuak.

"Apa Inyiek... maksudmu gadis gemuk itu telah menghisap tiga susu Inyiek?" Rupanya sang murid tahu juga riwayat kaulan Inyiek Susu Tigo.

"Benarsekali... "jawabMalin Kapuyuak. "Karena tidak menyangka dan juga ketakutan setengah mati gadis gemuk itu melarikan diri. Sekarang gurumu pasti tengah mengejarnya Nek."

Si nenek geleng-geleng kepala, mulut yang bergigi dilapisi perak berkomat-kamit entah mau mengatakan apa. Dua tangan yang panjang hampir menyentuh tanah dikepalkan berulang kali. Lalu dia berucap, "Kau belum memberi tahu di mana pemuda Jawa bernama Wiro itu! Aku harus segera menemuinya. Ada orang hendak berbuat jahat terhadapnya. Mau membunuhnya!"

"Kami sudah tahu Nek..." kata Malin Kapuyuak pula.

"Apa maksudmu kami sudah tahu?!"

"Orang-orang itu adalah kakek Jawa berjubah hijau dan lima kawannya. Tadi mereka menemui Inyiek. Memfitnah bahwa sahabatku itu telah memperkosa dan membunuh saudaramu si nenek pesek..."

"Kurang ajar! Justru aku ke sini mau memberi tahu Inyiek. Tapi dia lebih suka mengejar calon istrinya itu daripada bicara sebentar dengan denai! Hai! Sahabatmu itu! Di mana dia?!"

Malin Kapuyuak monyongkan bibir sambil tangan kanan menunjuk ke arah telaga.

"Di dalam telaga sana. Kata Inyiek besok begitu matahari terbit dia akan segera menjadi mangsa puluhan buaya itu..."

"Astaga!" Si nenek terkejut dan cepat-cepat berpaling ke arah telaga. Mata dibuka lebar-lebar. Kali ini baru dia dapat melihat tutyuh Wiro yang terlentang mengapung di permukaan air telaga. "Ya Tuhan rupanya dia yang akan jadi korban pembantaian buaya peliharaan Inyiek!"

"Nek, kalau kau memang sayang pada Uda sahabatku itu, kau harus menolongnya!"

Si Kamba Mancuang tersentak kaget mendengar ucapan Malin Kapuyuak.

"Pemuda kurang ajar! Kau ini bicara apa?!" membentak Si Kamba Mancuang.

Malin Kapuyuak tertawa.

"Lantas kalau kau tidak sayang padaku, apa kau tidak mau menolongnya?"

Si nenek bantingkan kaki ke tanah.

"Aku bukan tidak mau menolong! Tapi aku tidak mampu! Kau lihat puluhan buaya itu? Jika ada yang mendekati tubuh sahabatmu, sekalipun aku murid Inyiek, buaya-buaya itu akan lebih dulu membantai orang yang mau menolong itu!"

"Kalau begitu kau bunuh saja semua buaya itu!"

"Dasar Kapuyuak! Bicara seenak perutmu sendiri!" maki Si Kamba Mancuang.

"Kita harus mencari akal Nek. Sahabatku si Uda pandeka itu harus ditolong."

"Kalau berhadapan dengan Inyiek Susu Tigo tidak ada yang namanya akal tapi kenyataan! Karena kalau kita punya satu akal dia punya seribu akal!"

"Tapi saat ini dia tidak ada di sini..."

"Kau tidak percaya pada ucapanku? Mari aku buktikan!"

Si Kamba Mancuang cekal leher baju Malin Kapuyuak lalu sambil membembeng pemuda ini ia melompat ke tepi telaga. Saat itu juga terdengar suara bergemuruh. Puluhan buaya bergerak cepat ke arah mereka. Malin Kapuyuak menjerit ketakutan. Si nenek melesat menjauhi telaga, kembali ke bawah pohon besar.

"Sekarang baru kau percayai" kata Si Kamba Mancuang pula. "Dan bukan puluhan buaya itu saja yang jadi ancaman! Tubuh sahabatmu yang terapung di atas permukaan air telaga itu walaupun bisa didekati dan disentuh tapi tidak bisa dikeluarkan dari dalam air telaga. Inyiek telah merekat pemuda itu dengan ilmu Merekat Raga Menahan Jiwa!"

"Onde Mak, cilako benar nasib sahabatku," ucap Malin Kapuyuak.

"Satu-satunya cara menyelamatkan pemuda itu adalah mencari dan menemui Inyiek Susu Tigo, minta pengampunan padanya agar dia mau melepaskan sahabatmu itu."

"Kalau memang tak ada jalan lain biar aku pergi mencari Inyiek. Pemuda Jawa itu pernah menyelamatkan jiwaku. Sekarang giliranku menyelamatkan jiwanya, kalau aku mampu. Tapi aku mau mencari ke mana? Lalu apa aku bisa menemuinya sebelum matahari terbit? Kalau bertemu apa Inyiek mau membantu?" Malin Kapuyuak nampak bingung sendiri dan cemas.

Lama si nenek terdiam merenung. Akhirnya dia berkata.

"Mungkin hanya ada dua orang yang mampu menyelamatkan pemuda itu."

"Siapa mereka Nek?"

"Yang pertama perempuan yang hendak dijadikan istri oleh Inyiek. Karena kalau dia memang menginginkan gadis itu, apapun pinta si gadis pasti akan dituruti."

"Satunya lagi siapa?" tanya Malin Kapuyuak.

"Inyiek Batino. Ratu sekalian Harimau Betina Tujuh Gunung Bertuah."

Malin Kapuyuak ingat bagaimana dia dua kali gagal ketika mencoba menjual nama Inyiek Batino untuk menakuti Ki Bonang dan kawan-kawan serta Inyiek Susu Tigo. Terbungkuk-bungkuk karena perutnya masih sakit akibat terlalu lama tertelungkup melintang di cabang pohon, pemuda ini berusaha sendiri.

"Nek, kita harus segera mencari salah seorang dari mereka...

"Inyiek Batino kurasa yang paling ampuh. Karena setahuku guruku sangat segan pada perempuan sakti berwajah harimau itu. Tapi..."

"Jangan terlalu banyak tapi Nek!" Malin Kapuyuak sudah tidak sabaran.

"Inyiek Batino tidak diketahui berada di gunung yang mana saat ini. Kita tidak mungkin mencari di tujuh gunung..."

"Nek, kalau kau bicara begitu sama saja dengan takantuik!" (takantuik: terkentut Di sini maksudnya sama saja dengan bohong)



"Mencari gadis gendut calon istri Inyiek itu rasanya lebih mungkin. Kalau kita berhasil menemuinya mungkin Inyiek juga ada di situ."

"Kalau begitu kita cari sekarang juga." Malin Kapuyuak menatap ke langit. "Menurutku saat ini sudah di pertengahan malam. Waktu kita tidak banyak sampai matahari terbit."

"Aku tahu. Ada satu cara yang bisa membantu agar kita bisa menemui gadis itu. Jika Inyiek memang sudah memilihnya untuk dijadikan istri maka sebagian hawa di dalam tubuh Inyiek sudah berpindah ke dalam tubuhnya. Membaui hawa di tubuh si gadis lebih mudah daripada membaui hawa yang ada di tubuh Inyiek."

"Sudah! Jangan bicara saja! Kita pergi sekarang Nek!"."Tunggu dulu. Masih ada satu hal lagi yang harus dilakukan," kata Si Kamba Mancuang. "Hawa di dalam tubuh si gadis berasal dari kesaktian Inyiek Susu Tigo. Kita bisa mengetahui keberadaan gadis itu kalau kita menjalani salah satu kebiasan Inyiek. Yang paling ampuh ialah meniru cara dia sering berdiri. Kaki ke atas kepala ke bawah. Aku tidak mungkin berjalan apa lagi berlari dengan cara itu. Berarti kau yang melakukan."

"Kau ini ada-ada saja Nekl Mana mungkin aku melakukan hal itu."

"Aku akan mendukungmu, kakimu kau silangkan di atas bahu dan leherku, kepalamu di sebelah bawah. Tapi aku mendukungmu di sebelah belakang..."

"Berarti mukaku akan menghadap dan menempel di lancirikmu Nek! Kau bisa enak-enak kegelian. Tapi aku! Hidungku bisa tanggal!" (Iancihk: pantat)



"Pemuda kurang ajar! Itulah kalau terlalu sering mengintip perempuan mandi. Kalau punggungmu yang beradu dengan punggungku mana mungkin mukamu malakok di pantatku!" (malakok : menempel) Kini si nenek yang jadi kesal. Lalu sekali dia bergerak tubuh Malin Kapuyuak dipentangnya kaki ke atas kepala ke bawah. Kaki kedua nenek ini bergerak pemuda itu sudah berada di belakang punggungnya. Sambil mencekal dua kaki Malin Kapuyuak Si Kamba Mancuang dengan cepat berkelebat tinggalkan tempat itu. Sambil lari dia menghirup udara berulang kali untuk menjajagi hawa Inyiek Susu Tigo yang ada di dalam tubuh Denok Tuba Biru. Dengan cara itu dia mampu mengetahui arah mana yang harus dituju. Apa lagi tadi dia sempat memperhatikan ke arah mana sang guru melesat dalam mengejar gadis gemuk itu.

"Nek, jangan kencang-kencang larinya. Kepalaku pusing! Aku bisa muntah!" berteriak Malin Kapuyuak. "Hueekkk!"9TUBUH gemuk tinggi Inyiek Susu Tigo mengeluarkan suara angin menderu. Rambut dan janggut berkibar-kibar. Sekian lama dia mengerahkan ilmu kesaktian untuk berlari cepat, tokoh silat utama di tanah Minang ini jadi heran. Dia hentikan lari sesaat lalu tinggikan kepala, mengendus udara berulangkah.

"Aneh, dari tadi aku sudah mencium baunya. Tapi mengapa masih tidak melihat ujudnya? Istriku... ilmu apa yang kau miliki hingga tega-teganya menghilang dari pandangan mataku?"

Saat itu seperti yang diperkirakan Inyiek Susu Tigo, Denok Tuba Biru yang tengah dikejar memang telah berada cukup dekat hanya sekitar dua tombak di sebelah depan. Namun karena gadis gemuk ini menerapkan Ilmu Bayang Bayang Angin maka Inyiek Susu Tigo tidak mampu melihatnya. Denok Tuba Biru walau mampu melenyapkan diri tidak kelihatan namun tetap merasa khawatir karena jarak dia dengan orang yang mengejar hanya terpaut dua sampai tiga tombak saja.

Inyiek Susu Tigo akhirnya hentikan lari. Mengusap dagu yang ditumbuhi janggut hitam lebat sambil berpikir-pikir.

"Orang Jawa ilmu kesaktiannya memang tinggi dan hebat-hebat Aku mau lihat apa dia bisa menangkal ilmuku yang satu ini."

Habis berkata begitu Inyiek Susu Tigo berjongkok di tanah. Mulut komat kamit merapal satu ajian sambil tangan membuka ikatan kain hitam yang tergulung di kepala. Gulungan kain menyerupai sorban itu digelar memanjang di atas tanah. Sambil mata dipejamkan Inyiek Susu Tigo membentak.

"Pergi!"

"Bukk!"

Inyiek Susu Tigo pukulkan telapak tangan kanan ke tanah. Kejapan itu juga gulungan kain hitam bergerak seperti ular mengangkat kepala. Disertai suara mendesir gulungan kain hitam melesat ke depan dalam kegelapan malam.

Di depan sana, sejarak sekitar dua puluh tombak tiba-tiba terdengar pekik perempuan. Itu adalah suara pekik Denok Tuba Biru. Tubuhnya yang gemuk hampir jatuh tersungkur kalau dia tidak cepat mengimbangi diri. Memandang ke bawah dia melihat satu kain hitam panjang telah melibat kedua kakinya mulai dari mata kaki sampai ke betis. Serangan ilmu yang dilancarkan Inyiek Susu Tigo telah mengena!

"Kurang ajar! Benda jahanam apa yang menjirat kakiku! Aku tidak bisa melangkah!"

Denok Tuba Biru membungkuk, berusaha membuka dan memutus gulungan kain hitam. Tapi pinggangnya seperti kaku. Dia tidak mampu membungkuk hingga dua tangannya tidak sampai menyentuh kain hitam..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.159.113.182
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia