Kupu-Kupu di Dalam Hujan

Saat sebuah kasih sayang tak dapat dipisahkan, jarak dan waktu selalu memaksakannya. Ketika sebuah kasih sayang mulai pudar, jarak dan waktu juga yang selalu membuatnya kembali hidup dan datang.

Ada sebuah kisah antara kasih sayang Ibu dan seorang anak. Sebuah kisah penyesalan yang sangat mendalam di antara mereka. Sebuah air mata yang selalu terjatuh setiap saat mereka saling merindukan. Lantas apa yang mereka tangisi? Saat mereka merasa saling kehilangan, dan saat itu juga mereka merasakan betapa membutukannya mereka satu sama lain.

Aliza. Mereka biasa menyebutnya dengan panggilan tersebut. Dia adalah seorang anak berumur sepuluh tahun yang sangat menyayangi Ibunya. Tentu saja. Siapa lagi yang harus disayanginya kecuali sang Ibu? Dia seorang anak yatim. Dan dia adalah anak semata wayang Ibunya. Dia tak punya Kakak maupun Adik. Dia adalah satu-satunya yang Ibunya punya dan dia punya satu-satunya Ibu dan satu-satunya teman. Temannya yang tak lain bernama Nabila.

Kisah gelap itu berawal ketika sang Ibu sakit. Sang Ibu tak dapat bekerja seperti biasanya. Terpaksa sekali dia harus diam dan tinggal di rumah. Berhubung pekerjaannya adalah mencari kayu bakar di hutan, dia terlalu lemah untuk berangkat kerja. Namun dia masih bisa melakukan pekerjaan rumah yang kecil.

Pagi itu sang Ibu memasak jamur. Sementara Aliza masih tertidur pulas di kasur kecilnya yang sudah tak sama sekali empuk. Tiba-tiba hidung Aliza mencium sebuah bau yang harum. Tak lain dan tak bukan adalah aroma harum dari sup jamur yang Ibunya buat. Diapun segera bangun dan menghampiri sang Ibu. Dia menarik baju Ibunya berisyaratkan bahwa dia lapar dan ingin makan sup jamur. Ibunya pun tersenyum lemah dari wajahnya yang sedikit pucat.

“Kamu boleh makan Aliza. Tapi kamu sholat dulu ya, sayang. Udah sholat kita makan bareng,” Ucap Ibunya.

Alizapun mengangguk cepat. Dia segera berlari keluar dan menuju pancuran tempat biasa orang-orang mandi, mencuci dan hal-hal yang berhubungan dengan air yang ada di depan rumahnya. Karena masyarakat yang ada di sana kebanyakan miskin, jadi mereka tak mempunyai toilet sendiri. Rumah-rumah merekapun hanya terbuat dari bilik bambu.

Alizapun mulai mencopot plastik yang digunakan untuk menahan air yang keluar. Dia mulai membasuh anggota badannya satu per satu. Terasa sedikit dingin. Karena hari masih pukul lima pagi, tak heran jika Aliza merasa kedinginan.

Setelah selesai, dia segera berlari kembali menuju gubuk kumuh kecilnya. Dia langsung menyambar mukena dan segera melaksanakan sholat. Dia sudah tak sabar untuk bisa memakan sup jamurnya.

Dalam waktu tiga menit dia sudah selesai melaksanakan sholat fardhu dua raka’at itu. Dia langsung melipat mukena dan memakai jilbab. Selepasnya dia langsung berlari menuju sang Ibu.

“Ibuku, apakah supnya sudah matang?”

“Belum, sayang. Ibu sedang merebusnya. Ayo kita tunggu di meja.” Ucap Ibunya sambil sedikit menyembunyikan rasa pusing yang dia alami.

Merekapun segera duduk di depan meja. Alizapun menatap lekat-lekat wajah Ibunya.

“Aliza, Ibu punya satu pertanyaan untukmu,”

“Apa itu, Ibuku?”

“Jika kau sudah besar nanti, apa yang kau cita-citakan?” Tanya sang Ibu.

Alizapun memalingkan bola matanya menatap ke atas.

“Aku ingin menjadi seorang koki. Aku ingin nanti Ibu bisa merasakan enaknya masakanku, seperti enaknya masakan Ibu.” Ucap Aliza.

“Oh ya, Bu. Akupun ingin membuatkan Ibu sup ayam. Kita itu tak pernah makan ayam sama sekali. Jadi aku akan memasak ayam yang banyak untuk Ibu,” Ucapnya sedikit ceria.

Sang Ibupun tersenyum sambil mengeluarkan buliran hangat. Alizapun mencibir ketika melihat Ibunya mengeluarkan air mata.

“Ibu menangis? Apa yang membuat Ibu sedih?” Tanya Aliza cemas.

“Ibu hanya terharu. Belajarlah yang rajin, sayang. Ibu sudah tak sabar untuk mencicipi sup ayam lezat buatanmu,” Ucap Ibunya sambil tersenyum.

Alizapun tersenyum lebar melihat senyum Ibunya. Senyum itu pasti tak akan dilupakannya.

“Oh iya. Supnya sudah siap. Ayo kita santap,” Ucap sang Ibu.

Sang Ibupun segera mengangkat panci berisi sayur jamur. Dia segera menuangkan sup jamur ke dalam sebuah mangkuk ditambah sebuah nasi. Diapun memberikannya pada Aliza. Aliza mengernyitkan dahi.

“Mengapa hanya satu? Untuk Ibu mana?”

“Makan saja, Aliza. Biarkan Ibu tak makan juga,”

“Aku tahu mengapa Ibu tak makan. Pasti karena Nabila kan? Pasti Ibu akan memberikan sup jamur kita untuknya kan?” Tanya Aliza sedikit cepat.

Memang setiap kali Nabila datang, Ibunya selalu bertanya, apakah sudah sarapan? Dan anak itu selalu menjawab tidak. Dan makanan milik si Ibupun dia berikan pada Nabila. Padahal Nabila masih lengkap memiliki kedua orang tua. Dia juga anak tunggal. Entah apa maksudnya?

“Benarkan? Apakah Ibu tak pernah berfikir bagaimana keadaan Ibu? Jika Ibu meninggal, siapa yang akan menemaniku? Ibu tak pernah berfikir padaku! Aku sangat benci dia! Dia selalu mengambil harta kita, Bu!” Ucap Aliza sedikit meninggi.

“Aliza sayang, Ibu baik-baik saja walau tak makan. Kasihan dia, setiap ke sini dia selalu belum makan,”

“Apakah Ibu tak pernah berfikir dia berbohong? Mengapa Ibu tak pernah berfikir seperti itu. Dia anak tunggal! Dia lebih kaya daripada kita! Dia tak mungkin kelaparan! Mengapa Ibu bodoh?!”

“Plakk!”

Sebuah tamparan keras mendarat nyaman di pipi Aliza. Air matanya tampak bercucuran menerima tamparan itu.

“Kau berani sekali meninggikan suaramu di depan Ibumu! Apakah Ibu mengajarkanmu tentang itu? Mengapa Kau berani melakukan hal itu?”

Alizapun menggigit bibirnya dan berlari menjauh dari Ibunya. Dia kecewa. Tamparan itu terasa sangat sakit baginya. Sementara sang Ibu membiarkannya. Sang Ibu berfikir, bahwa dia nanti juga akan kembali. Dia tak mengejarnya. Hari ini dia sangat merasa pusing sekali. Dia menyentuh kepalanya lalu bersandar di tembok. Ada rasa menyesal di dadanya setelah menampar buah hatinya itu.

Sementara Aliza terus berlari memasuki hutan. Langkahnya entah akan dia tuju ke mana. Air matanya terus berceceran di pipinya yang lusuh. Dia berlari secepat yang dia bisa untuk membawanya jauh dari sang Ibu. Dia merasa sedikit benci pada sang Ibu. Mengapa Ibu tega menamparku? Pikirnya.

Sesudah berlari selama lima belas menit diapun terhenti. Kini pandangannya liar menatap sekitar. Dia tak sama sekali mengenal tempat yang dia injaki.

“Di mana aku? Ada orang di sini?” Gumam dia.

Diapun sedikit kembali ke jalan asalnya. Sudah satu jam dia berkeliling, namun dia tak menemukan jalan sama sekali. Air matanya kini meluap lagi. Bibir kecilnya tak sengaja berucap,

“Ibu! Ibu!” Tangisnya.

Dia terduduk di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Dia bersandar di pohon itu sambil terisak.

“Ibuuu!!!” Teriaknya.

Namun sang Ibupun tak muncul jua. Yang dia dapatkan hanyalah sebuah gema dari sudut ruangan. Air matanya semakin deras mengalir. Ia sadar perbuatannya tadi salah. Jikalau benar, Ibunya tak akan menamparnya. Tapi dia benar-benar tak ingin, jika Nabila selalu mengambil makanan Ibunya.

“Nabila memang satu-satunya temanku, Ibu. Tapi mengapa Ibu tak memikirkan diri Ibu? Jika Ibu meninggal, siapa yang aku punya? Hanya Ibu saja yang aku punya.” Isak Aliza.

Sementara sang Ibu tengah bersandar di tembok sambil menitikan setetes air mata. Dia menanti kedatangan anaknya. Namun setelah dia tunggu sekian lama, anaknya belum menampakan bayangannya juga. Dia terus menanti sampai dia ketiduran.

Aliza terus mencari jalan. Perutnya sudah keroncongan. Dari pagi dia memang belum makan. Perutnya sudah sangat tak kuat menahan lapar.

Tiba-tiba saja sebuah hujan turun membasahi area gunung. Alizapun menatap langit,

“Ya Allah, maafin Aliza. Aliza salah, Aliza pengen pulang,” Batinnya.

Diapun kembali bersandar di bawah pohon untuk menghindari hujan. Aroma tanah sudah tercium khas. Aliza masih tak henti menitikan bulir bening dari pelupuk matanya. Dia menyandarkan kepala di bawah naungan pohon besar. Lututnya di peluk oleh kedua tangannya. Kepalanya dia simpan di atas lutut.

“Ibu, apa Ibu nggak cariin Aliza? Aliza sendiri di sini, Bu. Ibu juga sendiri, ya di sana? Aliza nggak biasa jauh dari Ibu,” Ucapnya.

Diapun memejamkan matanya. Dan tepat saat itu juga dia tertidur di sana.

Ketika malam menjelang, Ibu Aliza terbangun dari tidurnya. Dia segera pergi menuju kamar, kalau-kalau Aliza sudah pulang. Seketika dia sampai, tak ada Aliza di sana. Kepalanya mulai pusing lagi. Niatnya dia ingin mencari Aliza. Namun sudah larut. Diapun berniat untuk mencari Aliza besok pagi.

Sementara Aliza, dia sedang dibuai sebuah mimpi indah. Mimpi tentang sosok Ibunya.

Dalam mimpinya dia sedang bersandar di paha sang Ibu. Sang Ibu mengelus-elus kepalanya.

“Apakah Ibu sayang Aliza?”

“Tentu saja, Ibu mana yang tak sayang pada anaknya.”

“Tapi itu ada di dalam dongeng, Bu.”

“Sekarang, apakah Aliza sayang pada Ibu?”

“Tentu saja, anak mana yang tak sayang pada Ibunya,” Ucap Aliza.

“Mengapa kau meniru perkataan Ibu?”

“Karena aku ingin menjadi Ibu. Ibu adalah Ibu terbaik di dunia.” Ucap Aliza.

Sang Ibupun tersenyum tipis.

“Apakah kau tahu kupu kupu, Aliza?”

“Ya. Kupu kupu sangat indah.”

“Dan kau tahu bagaimana sayap kupu-kupu?”

“Tahu, Ibuku. Sayap kupu kupu merupakan yang paling indah dari kupu kupu. Benar begitu bukan?”

“Dan itu adalah kita. Dua sayap kupu kupu,”

Alizapun menatap Ibunya. Sang Ibu mengelus kepalanya sambil menatap ke langit. Tiba-tiba setetes air membasahi mata Aliza. Aliza mengerjip-ngerjipkan matanya. Dia mengucek-nguceknya. Air semakin banyak turun ke matanya. Diapun membukanya lebar. Ternyata dia masih di hutan itu. Dia kehujanan. Tubuhnya basah kuyup semua. Diapun berdiri dan mencari pohon yang lebih besar untuk mencari naungan. Dia terus mencari sambil terus berlinangan. Air hujan yang menerpa tubuhnya tak dihiraukannya. Samar-samar diapun mendengar suara burung hantu.

“Apakah ada orang di sini? Tolong aku! Aku tersesat!” Teriaknya.

Dia memeluk tubuh kecilnya dengan tangan mungilnya. Tubuhnya gemetaran. Giginya sudah bertabrakan. Dia kedinginan.

Tiba-tiba suara burung hantu terdengarnya lagi. Dia melotot kaget. Dia mulai takut. Matanya liar menyapu seisi ruang. Dia mempercepat langkahnya. Rasa takut sudah menyeruak masuk melalui pori-pori tubuhnya.

“Ibu, Aliza takut. Aliza kedinginan, Bu. Aliza nyesel. Aliza pengen pulang, Bu.” Ucapnya terisak.

Diapun terduduk lesu di atas tumpukan daun yang berguguran. Air matanya turun deras sederas air hujan yang kini menimpa dirinya. Dia masih sesenggukan dan sangat menyesali perbuatannya. Seharusnya dia tak boleh kabur dari Ibunya. Kini dia mulai merasa membutuhkan Ibunya. Dia merasa seperti seekor kupu kupu tanpa sebelah sayap. Dia hanya sendirian. Dia kehilangan satu-satunya orang yang sangat disayanginya. Ibu. Dia tak tahu apakah dia bisa kembali?

Fajar mulai menyingsing. Aliza masih belum pulang ke rumahnya. Dia masih tersesat di tengah hutan belantara yang entah ada di mana. Padahal dia tak terlalu jauh berlari. Namun langkahnya tiba-tiba saja hilang arahnya.

Sementara Sang Ibu kini sedang berjalan menuju hutan untuk mencari sang anak tercinta. Dia memaksakan keadaan walau sebenarnya merasa sangat pusing dan tak berdaya.

Sementara Aliza baru terbangun dari tidurnya yang tak sama sekali nyenyak. Tidurnya yang ditemani angin malam, suara hujan, dan burung hantu yang ada di sana. Mungkin juga bersama pohon dan daun yangh berguguran di atas wajahnya. Diapun bangun dan mulai melanjutkan perjalanannya untuk bisa kembali ke rumah dan bertemu dengan sang Ibu yang sangat dicintainya. Langkahnya gontai dan lemas karena belum makan seharian. Pandangannya berkunang-kunang. Air matanya terus menetes dan menetes. Hatinya menjerit. Menjerit tanpa ada seorangpun makhluk Tuhan yang mendengarnya.

“Tolong aku! Apakah ada orang di sini? Ku mohon! Siapapun itu, tolong!” Teriaknya dengan sisa tenaga yang ada di dalam dirinya.

Diapun terduduk lagi. Lututnya begitu lemas untuk berjalan. Dia terlalu lemah dan kecil untuk hidup sendirian. Dia terlalu naif untuk terus mengintari hutan di tebing gunung ini. Bulir hangat menemani keterpuruk dan kelemahannya.

“Ibu, maafkan Aliza. Ibu, Aliza butuh Ibu.”

Di tempat lain Ibu Aliza tengah mencari sang anak. Dia sudah bertanya kepada penjaga gunung tersebut tentang Aliza. Namun mereka tak mengetahuinya.

Dia terus berjalan mencari Aliza. Langkahnya tertatih-tatih. Sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Dia mengernyitkan dahi menahan penderitaan yang kini dia hadapi.

“Ya Allah, biarkan aku bertemu dengan anakku. Aku tak mau kesakitan ini menghalangi semua pencarian ini. Aku ingin dia selamat,” Desahnya.

Dia tetap memaksakan diri mencari anaknya sambil berjalan memegangi setiap pohon yang ada. Tak boleh ada sesuatu apapun yang menghalanginya untuk mencari sang anak. Dia teramat menyayanginya.

“Aliza! Aliza!” Teriaknya di tengah keheningan hutan.

Tak ada satu suarapun yang terdengar kecuali teriakannya. Mungkin bersama suara angin sepoy yang menghembus.

“Aliza! Kamu di mana, Nak? Maafin Ibu!” Teriaknya lagi.

Namun tak ada jawaban juga.

Kini dia hanya bisa terduduk lemas di atas tanah. Bulir bening menetes perlahan. Dia tak pernah sesedih itu. Dia tak pernah jauh dari Aliza. Walaupun dia sedang bekerja, dia tak pernah secemas ini. Dia benar-benar merasa kehilangan Aliza.

Dan Aliza saat ini tengah berjalan dengan sebuah kayu yang sepuluh cm lebih pendek dari tubuhnya. Dia menggunakan tongkat itu untuk menahan berat badannya. Dia sudah lemas dan lelah. Mungkin dengan memakai tongkat itu dia sedikit tertolong.

Di sepanjang jalan dia terus menangis. Dia tak henti-henti menangisi takdir yang sedang menghinggapinya. Dia terus meratapi segala yang kini dia alami. Dia terus menyesali. Dia terus menangis.

“Tolong! Tolong!” Ucapnya lemas.

Suaranya sudah parau. Air matanya sudah hampir habis. Tenaganya sudah tak tersisa. Dia begitu sedih dan menyesal.

Diapun berniat untuk istirahat terlebih dahulu. Seperti biasanya, dia pasti istirahat di bawah naungan pohon. Diapun segera menarik nafas panjang agar lebih tenang. Seketika dia menari-narikan bola matanya, dia kaget melihat sesuatu yang amat berharga baginya.

“Jamur!” Ucapnya bahagia.

Diapun segera berlari menghampiri jamur yang ada di sekitar pohon di sebelahnya. Dia tersenyum lebar sambil mencabuti jamur-jamur yang tertanam di sana.

“Mengapa jamurnya banyak sekali? Pasti Ibu akan senang jika aku membawakan jamur yang banyak ini untuknya.” Ucap Aliza.

Diapun menyobekan bajunya dan memasukan jamur itu ke helai kain yang dia sobek. Dan salah satunya dia bawa. Lalu dia mencuci jamur itu pada genangan air bekas hujan semalam. Diapun segera memakannya tanpa memasaknya. Dia sudah terlanjur lapar. Asalkan dia bisa mengisi perutnya, dia pasti akan memakannya.

Setelah selesai memakan jamur itu, dia sedikit bertenaga. Diapun segera melanjutkan perjalanannya mencari jalan untuk kembali.

Sementara di tempat lain, Ibunya tengah berjalan terpogoh-pogoh tak kuat menahan pusing dan panas. Keringatnya sudah bercucuran bersamaan dengan air matanya. Walaupun sudah tak tahan, dia tetap bersikeras mencari si anak.

Dengan bekal sebotol air, dia terus melanjutkan perjalanannya dalam mencari sang anak. Entah sudah berapa lama dia mencari. Dia tak kunjung menemukan sang anak. Hingga sore menjelang, si Ibupun berniat untuk pulang. Tahu-tahu Aliza sudah ada di rumah.

Sesampainya di rumah, tak ditemukannya seseorangpun di sana. Hanya semangkuk sup jamur yang dia hidangkan tadi pagi kalau-kalau Aliza pulang ketika dia sedang pergi. Sup jamur itu masih seperti awal. Masih sama. Hanya mungkin sekarang sudah dingin.

Sang Ibupun segera menghempaskan diri ke kamar. Dia merasa sangat kedinginan. Diapun merasakan pening yang sangat hebat. Berhubung dia tak meminum obat sama sekali.

Diapun segera menarik selimut yang biasa Aliza pakai. Dia merasakan kehangatan yang sangat menghangatkan. Dia merasakan pelukan dan ciuman dari Aliza ketika dia akan tidur. Dia merasakan Aliza sedang memeluknya sekarang.

“Ibu, Ibu kedinginan, ya? Ibu jangan nangis, Aliza di sini sama Ibu. Walau Aliza nggak ada di samping Ibu, Aliza tetep ada di hati Ibukan?” Desah Aliza sendiri.

Ucapan itu dapat di dengar oleh Ibunya walau dari jauh. Entah apa yang bisa menyebabkan Ibunya dapat mendengar hal itu.

“Aliza, kamu di mana sayang? Ibu rindu sama kamu. Kalau kamu pulang, Ibu janji nggak bakalan nampar kamu lagi. Ibu bakalan makan tiap pagi,” Ucap Ibunya sendiri.

Aliza di tempat lain masih terus berjalan menyusuri jalan setapak yang entah di mana keberadaannya. Dia tak peduli jalan mana yang dia ambil. Yang penting dia dapat kembali.

Dia masih terus berjalan menyusuri gelapnya malam. Tangannya kuat menggenggam sewadah jamur yang telah dia gulung dan ikat sendiri dengan helai kain dari bajunya. Malam ini memang tak hujan. Namun hembusan angin malam masih setia menerpa tubuh mungilnya. Kakinya yang kecil memang sudah merasa lelah. Namun langkahnya pantang untuk istirahat dan menepi. Langkahnya masih setia mengiringi tubuh kusut Aliza untuk mencapai rumah.

Karena keadaan malam itu sangat gelap dan hening, Aliza tak dapat memandang dengan benar. Jika ada sedikit cahaya, dia bisa menatap cukup jelas.

Hingga saat dia sedang berjalan dengan tenangnya, diapun terpeleset dan terperosok ke bawah. Dia terjatuh. Dia terguling-guling di atas tumpukan daun kering. Hingga saat kepalanya mendarat dan terbentur ke sebuah pohon, dia pingsan.

“Arghh,” Aliza menggeram.

Dia terbangun dari pingsannya. Di dapatinya hari sudah siang. Kakinya tampak sakit dan bengkak. Kepalanya juga terasa sangat pusing. Dia mencoba untuk bangun. Namun dia tak bisa. Kakinya benar-benar tak bisa membuatnya berdiri.

Rasa sakit itu kian menerpanya. Air matanya mulai berlinang lagi. Kaki bengkaknya sangat membuatnya terhambat untuk segera pulang. Diapun mulai merasa lapar. Aliza teringat akan jamur yang dia bawa kemarin. Segera dia mencari-carinya. Namun tak kunjung didapatinya. Dia mulai merangkak sambil mencari-cari bungkusan jamur yang kemarin dia temukan.

“Jamurku. Di mana jamurku?” Ucapnya.

Diapun melihat sebuah bungkusan biru yang tak lain adalah bungkusan jamur itu. Namun sayang, bungkusan jamur itu tersangkut di atas.

Terpaksa dia harus merangkak ke atas menggunakan tangan dan sisa tenanganya. Dengan segala kekuatannya dia merangkak sebisa mungkin. Walau sakit di kepala dan kakinya membuatnya menderita, dia tak mungkin berhenti untuk mencapai bungkusan jamur itu. Dan dengan segala yang dia lakukan, dia sudah dapat mengambil bungkusan dan mencapai di atas. Diapun memakan dua buah jamur yang dia bawa. Sisa jamur yang ada di bungkusannya tinggal lima helai lagi. Diapun segera mencari tongkat untuk membantunya berjalan. Karena kakinya yang bengkak dan tak mampu untuk berjalan.

Jalan setapak dia telusuri lagi dengan langkah tertatih-tatih diiringi sebilah tongkat kayu yang lebih tinggi darinya.

Sementara sang Ibu sedang menyiapkan semangkuk sup jamur. Dia tak berani makan terlebih dahulu sebelum Aliza bisa makan. Dia hanya menyimpan sup jamur itu dengan semangkuk nasi yang cukup untuk makan mereka berdua.

Setelah itu sang Ibupun segera memakai jaket dan berangkat ke hutan untuk mencari Aliza lagi. Walau sakitnya semakin menjadi-jadi, dia tetap berniat pergi mencari Aliza. Tiga hari terakhir ini Aliza belum pulang-pulang juga. Si Ibu tak pernah menyerah dan masih percaya bahwa Aliza masih selamat.

Diapun segera berangkat. Wajahnya tampak makin pucat. Dari kemarin dia tak nafsu makan. Dia hanya ingin melihat Aliza makan. Dia ingin makan bersamanya. Jadi dia tak akan makan sebelum Aliza dia dapati.

Aliza masih berjalan dengan wajah yang sama-sama pucat dengan Ibunya. Entah berapa lama dia bisa bertahan. Setiap kali dia teringat Ibunya, dia selalu menitikan bulir bening dari ujung matanya. Dia selalu teringat akan kesalahannya pada Ibunya. Walaupun dia sudah ditampar oleh Ibunya, dia sadar itu kesalahannya.

Dia masih berjalan dengan berjuta rasa sakit yang menghampirinya. Sakit fisik dan sakit batin. Dia benar-benar merasa sakit. Matanya memerah karena terlalu sering menangis. Menangisi segala yang telah terjadi dalam hidupnya.

“Ibu, Aliza sayang Ibu. Ibu jangan tinggalin Aliza. Ibu, jemput Aliza di sini. Aliza udah nggak kuat jalan. Aliza udah sakit,” Desahnya.

“Brukk,”

Tubuhnya ambruk seketika. Dia masih tersadar. Namun tubuhnya sudah beku. Beku akan rasa sakit yang sedang dia hadapi. Sakit yang baru dia rasakan seumur hidupnya. Rasa sakit yang hanya dia rasakan saat ini. Dia tak pernah merasakan nestapa ini. Dia tak pernah merasa sekakit itu. Tak pernah.

Sang Ibu masih terus berkeliaran mencari sang anak. Tak pernah didapatinya bayangan sedikitpun dari Aliza. Namun semangat dalam hatinya tak pernah patah. Demi satu-satunya harta berharga dia, dia tak akan menyia-nyiakannya.

Hingga sorepun datang. Langit mulai hitam dan mendung. Tak lama dari itu, hujanpun turun dengan derasnya. Sepasang anak dan Ibu ini tak pernah mengeluh untuk saling bertemu kembali. Tak pernah berhenti untuk menemukan jalan menuju kasih sayang mereka lagi. Namun mengapa Tuhan belum menghendaki? Sudah begitu banyak nestapa yang mereka jalani. Namun tak ada juga kebahagiaan yang mereka dapati. Entah kapan Yang Maha Kuasa menghendaki.

Hujan dan angin masih menerpa dan mencoba mematahkan semangat orang tua dan anak ini. Beribu-ribu nestapa mencoba memudarkan niat pencarian mereka. Tak adapun sesuatu yang bisa membuat mereka menyerah begitu saja.

Di tengah indahnya deras suara hujan, Sang Ibu sudah tak bisa menahan segala kesakitan fisik yang menimpanya. Dia terjatuh begitu saja di sebuah jalan setapak. Dia menutupkan matanya. Rasa sakit yang ada pada dirinya mulai hilang. Entah apa yang terjadi pada dia.

Sementara si kecil Aliza masih berjalan terpogoh-pogoh. Kakinya yang bengkak sudah sedikit membaik. Namun tubuhnya benar-benar menggigil saat itu. Jilbab putih dengan sebuah gamis biru yang dia pakai sudah basah semuanya. Dia terus berjalan menyusuri jalan yang ada. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali berserah diri. Dia sudah tak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah tersesat dalam kesesatan yang nyata.

Ketika tengah berjalan, dia melihat sesuatu yang tengah tergeletak di pinggir jalan. Dia benar-benar melihat seseorang tengah terduduk lesu. Diapun segera berlari untuk memeriksa siapa orang itu. Ketika dia sudah dekat, dia kaget dan tak dapat menahan air matanya. Ya benar. Yang tengah tergeletak di sana adalah sosok Ibunya yang amat dicintainya. Diapun langsung memeluk dan menyadarkan sang Ibu.

“Ibu, ini Aliza, Bu. Ibu bangun, Bu. Bu Aliza bawa jamur yang banyak buat Ibu. Ibu bangun. Ibu jangan buat Aliza sedih, Bu. Aliza bakalan buat sup jamur buat Ibu. Walau Aliza belum bisa buatin sup ayam, Aliza mau buatin sup jamur, Bu. Mau kan, Bu?” Ucap Aliza sambil menggoyang-goyangkan sang Ibu.

Namun tak ada sedikitpun gubrisan dari sang Ibu. Sang Ibu tetap terdiam dan membungkam mulutnya. Aliza yang mulai menyadari bahwa Ibunya sudah tiada. Dia sudah pergi jauh meninggalkannya. Tubuh Ibunya sudah dingin dan hampa. Mengetahui hal itu, dia langsung mengguncang-guncangkan keras tubuh Ibunya berharap agar sang Ibu bangun lagi. Tak terasa ternyata air matanya sudah terjatuh lagi. Dia menangis sekencang-kencangnya melihat sang Ibu sudah terkulai lemah tak berdaya.

“Ibu! Ibu bangun, Ibu! Ini Aliza, Bu! Ibu! Ibu! Aliza buatin sup jamur, ya Bu! Aliza bawa jamur. Ayo, Bu!” Rintihnya.

Diapun sadar bahwa Ibunya tak akan mungkin sadar dan bangun kembali. Tak akan mungkin memeluknya kembali.

“Ibu! Maafkan Aliza, Bu! Aliza tak pernah berfikir bahwa Ibu akan pergi! Apakah Ibu tak merasa kasihan pada Aliza? Aliza akan hidup dengan siapa, Bu! Ibu! Ibu sayang Aliza kan? Aliza tahu, seberapa pun Aliza sayang Ibu, Ibu tetep lebih sayang sama Aliza, kan? Kan, Bu?” Ucap Aliza sambil memeluk Ibunya.

Diapun terus menangis merintih sambil memeluk sang Ibu. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia sudah menyesali segalanya. Dia menyesal.

“Bu, Aliza pengen ikut Ibu. Bawa aja Aliza ke manapun Ibu pergi,” Ucapnya sambil menggigil.

Entah bagaimana nantinya kehidupan Aliza. Kini dia sudah tak punya harapan lagi untuk melanjutkan kehidupannya. Selama ini dia selalu bergantung pada sang Ibu. Dia sudah tak bisa melakukan apapun tanpa Ibu di hidupnya. Dia sudah seperti kupu kupu tanpa sebelah sayap. Mungkin kehidupannya akan lebih menderita daripada tiga hari dia tersesat itu. Jika dia mati mungkin, yang bisa membuatnya lari dari nestapa dan membuatnya hilang dari malam. Jika dia mati mungkin, yang bisa membuat segala keterpurukannya hilang.

Seorang gadis itu telah merapatkan lekat-lekat matanya. Dia sudah amat kedinginan. Dia sudah tak bisa menahan dinginnya malam itu. Dan mungkin keinginannya telah bisa dia capai. Sekarang mungkin dia sudah mengikuti jejak Ibunya. Sekarang mungkin dia sudah pergi ke keabadian. Keabadian bersama Ibunya tercinta. Tapi, jika Tuhan menghendaki.

- SEKIAN -

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.217.24
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia