Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DINEGERI SAKURA/JEPANG

ARTI KATA-KATA JEPANG DALAM KISAH INI:
Ninjato = Pedang khas yang biasa menjadi senjata ninja

Kusarigama = senjaja berupa rantai dengan uiung pisau bentuk ganco, ujung lain diberi bandulan besi

Tatami = alas lantai berbentuk persegi empat

Shinobi = sebutan asli untuk ninja

Shuriken = senjata rahasia yang dilemparkan, kebanyakan berbentuk bintang, ada yang beracun

shakuhachi = suling dari bambu

shamisen = instrumen musik memiliki tiga buah senar

seppuku = bunuh diri secara terhormat

Sake = minuman keras khas Jepang (sejenis anggur dari beras)

donburi = nasi dalam mangkok

gaijin = orang asing

geisha = wanita pelayan pada tempat-tempat tertentu terkadang juga menjadi penghibur)

katana = pedang panjang

ninjutsu = ilmu bela diri

hai! = Ya!, siap!, baik!

Doyo/Dojo = tempat berlatih silat (ruang tertutup)

inezumi = rajah atau tato

sensei = guru

SATUSAAT itu telah memasuki musim semi. Namun udara dingin masih terasa mencucuk dimana-mana.
Salju tipis masih tampak menyapu puncak-puncak pepohonan, juga pada kuntum-kuntum bunga Sakura Yang pucuk-pucuknya mulai mengembang.
Jauh di sebelah Timur Kioto terdapat sebuah bukit kecil.
Saat itu baru taja lewat tengah malam. Dalam gelap dan dinginnya udara tiga sosok berpakaian dan bertutup kepala serba hitam bergerak cepat menuju puncak bukit.
Di punggung masing-masing menyembul hulu ninjato.
Lalu pada pinggang mereka tergantung kusarigama.
Mereka tidak mengikuti jalan batu Yang berliku-liku melainkan mengendap dan berkelebat di balik semak belukar dan pepohonan.
Puncak bukit merupakan kawasan perumahan Perguruan Emerarudo atau Perguruan Zamrud. Ke tempat inilah agaknya tiga orang itu tengah menuju.

Di dalam salah satu ruangan pada sebuah bangunan di puncak bukit seorang lelaki berusia setengah abad duduk di lantai sedang tekun membaca sebuah kitab tebal. Kantuknya yang tadi sempat menyerang terpupus sirna oleh daya tarik kitab yang tengah dibacanya.

Orang ini mengenakan kimono tebal berwarna biru tua. Pada bagian dada kimono sebelah kanan tersulam gambar batu permata zamrud bewarna kuning terang, lengkap dengan garis-garis kilauan cahaya sekeliling permata. Orang ini adalah Noboru Kasai pimpinan tertinggi atau Ketua Utama Perguruan Emerarudo.

Saat itu terdengar perlahan suaranya membaca.

Kebersihan aurat adalah sangat penting dalam ilmu Pengobatan. Bagaimana seseorang bisa mengobati orang lain kalau tubuhnya tidak bersih.

akan tetapi di atas semua itu kebersihan jiwa atau kebersihan batin adalah yang paling utama.

Dengan batin yang bersih seseorang akan berada dalam keadaan lebih andal untuk menyalurkan hawa sakti yang dimilikinya ke dalam badan orang yang akan diobatinya. Karena itu ...

Suara Noboru Kasai membaca terhenti oleh suara pintu bergesek di belakangnya.

"Hisao ... Kaukah itu? tanya Noboru Kasai tanpa berpaling. Tak ada jawaban..

Se tttt... settt... setttt! Teppp ... tepppp ... tepppp!

Malah Ketua Perguruan Emerarudo ini mendengar suara berkelebat tiga kali berturut-turut dibarengi oleh siuran angin halus.

Noboru Kasai letakkan kitab di pangkuannya ke atas tatami. Lalu perlahan-lahan palingkan kepala.

Sepasang mata sang Ketua terbuka lebar melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu.

"Shinobi...!"

Shinobi adalah panggilan asli untuk ninja. Dan memang saat itu di dalam kamarnya tegak tiga sosok ninja, muncul dalam penampilan mereka yang angker.

Bertubuh tinggi kukuh dibungkus pakaian serba hitam mulai dari ujung kaki sampai ke kepala. Di bagian muka hanya sepasang mata mereka yang kelihatan, memandang tak berkesip ke arah Noboru Kasai dengan pandangan sedingin salju di puncak gunung Fuji.

Di belakang punggung mereka tersembul gagang ninjato yang juga dikenal sebagai katana pendek, pedang khas para ninja. Lalu seuntai rantai yang salah satu ujungnya merupakan senjata berbentuk ganco dan ujung satu lagi diberi gandulan pemberat kelihatan melilit di pinggang. Noboru Kasai perhatikan tangan ke tiga ninja ini. Masing-masing memakai shuko yaitu cakar pemanjat yang sekaligus merupakan senjata sangat berbahaya.

Dalam hati Noboru Kasai membatin "Pasti ke tiganya menerobos masuk dengan memanjat tembok. Jika tidak satu murid perguruan pun memergoki mereka, berarti ke tiganya adalah ninja-ninja dari tingkat sangat tinggi ..."

Perlahan-lahan Noboru Kasai berdiri. Sreettt! Sreetttt!

Dua kali terdengar suara berdesir ketika dua orang ninja yang berdiri dekat pintu dan di sebelah kanan Noboru Kasai mencabut ninjato pedang pendek masing-masing.

Ninja berbadan paling tinggi di sebelah tengah memberi isyarat dengan tangan kiri. Dua orang temannya yang hendak mendekati Noboru Kasai hentikan langkah. Ninja yang di tengah maju dua langkah.

"Sahabat-sahabat tak diundang. Kalian masuk secara tidak sopan ..."

Ninja di dekat pintu mendengus. Mulut dibalik penutup wajahnya berucap.

"Ninja tidak kenal sopan santun. Ninja hanya kenal darah dan nyawa!"

Daun telinga kiri Noboru Kasai bergerak.

"Hemmm.. aku tidak mengenali suaranya. Berarti dia memang ninja asli. Bukan orang dalam .. ."

"Katakan apa maksud kalian masuk ke tempatku!"

bentak Noboru Kasai. Sekilas matanya melirik ke arah lantai di sebelah kiri di mana tergeletak katana miliknya.

Ninja bertubuh paling tinggi dapat membaca apa yang ada dalam benak Ketua Perguruan Emerarudo itu. Dia cepat melangkah dan menginjak katana di lantai dengan kaki kanannya.

"Aku memberi waktu lima detik pada kalian agar segera keluar dari tempat ini!" Noboru Kasai beri peringatan.

Ke dua tangannya diturunkan ke sisi sedang sepasang kaki tegak merenggang cepat.

Apa yang terjadi kemudian berlangung sangat Ninja di sebelah tengah hunus ninjatonya. Melihat ini dua temannya segera menggebrak maju. Tiga pedang maut berkelebat ke arah Noboru Kasai. Ketua Perguruan Emerarudo ini keluarkan suara menggembor.

Dengan tangan kosong dia hadapi tiga penyerangnya.

Noboru membuat gerakan yang disebut "dewa tanah mengebor bumi." Tubuhnya menukik , jatuh ke atas lantai tatami. Tiga pedang lewat di atasnya. Lalu dia susul dengan jurus "penguasa langit membelah angkasa" Tangan kanannya menghantam ke atas disusul dengan tendangan kaki kiri kanan.

Wuuuutt! Wuuuut!

Pukulan dan tendangan kaki kiri Noboru Kasai hanya mengenai tempat kosong. Tapi bukkkk!

Tendangan kaki kanannya mampir dengan telak di dada salah seorang penyerang hingga ninja satu ini mencelat ke dinding. Dinding yang hanya terbuat dari kertas itu langsung jebol dan ninja itu sendiri terlempar ke luar. Untuk sesaat dia tak kuasa bangun, hanya mengerang sambil pegangi dada.

Dua orang ninja yang ada di dalam ruangan mendengus marah. Serangan pedang mereka membuntal-buntal ganas. .Walau Ketua Perguruan Emerarudo menyandang nama besar dan berkepandaian tinggi namun para ninja bukanlah lawan yang mudah dihadapi.

Gerakan mereka secepat setan, serangan pedang mereka seganas iblis. Apalagi saat itu Noboru Kasai bertangan kosong pula.

Setelah mengelak dua kali berturut-turut Noboru melejit ke arah kanan. Maksudnya hendak mengambil hanbo, yaitu tongkat kayu yang biasa dipakai untuk melatih murid-murid. Namun gerakannya berhasil di papas oleh ninja di sebelah kiri. Selagi dia coba menghantam penyerang ini dengan pukulan tangan kosong mengandung hawa sakti, dari samping ninja bertubuh tinggi kiblatkan ninjatonya.

Breetttttl

Bahu kimono Noboru Kasai robek besar. Dia merasakan perih pada bahu kanannya lalu ada cairan panas mengucur. Darah! Meski menderita sakit bukan main dan kemarahan mendidih namun Ketua Perguruan Emerarudo ini tampak bersikap tenang. Tapi sebaliknya dua ninja tak mau memberi kesempatan. Pedang pendek mereka kembali menggempur dengan ganas hingga Noboru Kasai terdesak ke sudut sebelah kanan.

Breeetttt!

Breetttt!

Kimono sang Ketua robek lagi. Kali ini di bagian dada dan perut. Noboru Kasai terjajar ke belakang. Dia berusaha berpegangan pada sebuah rak tapi tidak terjangkau. Selagi tubuhnya tersandar ke dinding, ninja berbadan tinggi tusukkan pedangnya ke lambung Noboru Kasai. Ketua Perguruan ini keluarkan keluhan pendek lalu roboh ke lantai. Sebagian dari badannya yaitu bagian dada ke atas berada di luar kamar.

Ninja berbadan tinggi mendatangi dengan cepat dan membungkuk seraya bertanya.

"Lekas katakan! Di laci nomor berapa kau simpan surat-surat penting Perguruan!"

Dalam keadaan sekarat Nobora Kasai membuka mulutnva. Suaranya tersendat perlahan.

"Aku ... aku seperti mengenali suaramu ... Bukan kah kau.."

"Kurang ajar!" bentak ninja bertubuh tinggi. Pedang di tangan kanannya dihunjamkan ke tenggorokan Noboru Kasai. Sebelum maut menyergap Ketua Perguruan Emerarudo itu tiba-tiba angkat tangan kanannya.

Lima jari tangannya terpentang. Tulang- tulang jari keluarkan suara berderak.

Cleeeppp!

Pedang menembus tenggorokan Noboru Kasai.

Dalam saat yang bersamaan lima ujung jari sang Ketua menghunjam di dada kiri ninja yang membunuhnya.

Pakaian hitam tebal yang dikenakan ninja tembus di lima bagian. Ninja itu sendiri terjajar ke belakang. Dadanya serasa ditusuk lima paku panas! Wajahnya di balik penutup kepala sesaat jadi pucat.

"Lima jari dewa... Jadi dia memang benar-benar memiliki ilmu kepandaian itu..!" katanya dengan mata melotot memandang pada Noboru Kasai yang sudah tak bernyawa lagi. Sambil pegangi dada kirinya ninja ini melangkah mundur. Dia memberi isyarat pada ninja yang ada di dekatnya.

"Tolong kawanmu. Lari ke tembok sebelah timur.

Tunggu aku di tempat pertemuan!" Sehabis berkata begitu ninja berbadan tinggl ini melesat ke pintu. Dia berlari cepat sepanjang lorong pendek lalu menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan sangat rahasia yang tidak sembarang orang boleh masuk ke tempat ini. Di pintu masuk ruangan berjaga-jaga seorang murid Perguruan dalam keadaan terkantuk-kantuk. Pedang di tangan ninja berkelebat menghantam pertengahan kening murid penjaga. Murid ini tak pernah tahu apa yang menyebabkan kematiannya. Tubuhnya roboh mandi darah dengan kepala hampir terbelah.

Ninja pembunuh melompat masuk ke dalam ruangan rahasia. Sesaat dia tegak tertegun. Di dalam ruangan itu ada dua buah lemari besar merapat ke dinding. Di situ terdapat dua ratus laci-laci kecil yang diberi nomor mulai dari 1 sampai 200.

"Aku tak mungkin memeriksa semua laci celaka itu! Aku harus bisa mengingat! Harus bisa!" Ninja itu lalu menarik laci-laci pada derstan angka mulai dari 150 sampai 160.

Sementara itu diluar sana ninja yang diperintahkan menolong temannya yang terluka bertindak cepat.

Sang teman rupanya menderita luka dalam yang sangat parah akibat tendangan Noboru Kasai tadi. Darah tampak mengucur dari mulutnya. Begitu tahu kawannya tak sanggup berdiri, dengan cepat di segera memanggulnya.

Akan tetapi sebelum dia sempat berkelebat pergi di sekelilingnya terdengar suara langkah-langkah kaki.

Sesaat kemudian sekitar dua puluh orang murid perguruan muncul mengurung tempat itu. Di depan sekali seorang lelaki berkimono merah darah berambut pendek berwajah beringas. Mukanya merah. Gerakannya cepat dan enteng tetapi langkah kakinya tidak tetap.

Sesekali tubuhnya tampak seperti terhuyung.

Bagaimanapun tinggi ilmu yang dimilikinya tapi ninja itu segera menyadari bahwa dia tak mungkin lolos dari sekian banyak orang yang mengurung. Apalagi si kimono merah berwajah merah beringas di sebelah depan dikenalinya adalah Shigero Momochi salah seorang dari dua Wakil Ketua Perguruan. Begitu Shigero Momochl mendekat ninja jatuhkan kawan yang dipanggulnya ke lantai. Sekali menusukkan pedangnya ke dada kawannya sendiri, ninja yang sudah terluka parah itu langsung meregang nyawa.

"Tangkap dia hidup-hidup!" teriak Shigero Momochi.

Tapi mana mungkin menangkap seorang ninja hidup-hidup. Apalagi dalam keadaan terperangkap seperti itu. Sang ninja keluarkan suara mendegus dari balik kain hitam penutup wajahnya. Dua tangan memegang gagang pedang erat-erat. Begitu kelompok anak murid Perguruan Emerarudo menyerbu dibawah pimpinan Shigero Momochi dengan berbagai macam senjata ninja ini cepat menyongsong dengan ninjatonya.

Beberapa kali terdengar suara berdentrangan beradunya senjata. Gelombang serangan anak murid Perguruan Emerarudo tidak bisa dibendung. Shigero Momochi yang masih berusaha menangkap hidup-hidup ninja itu untuk dimintai keterangan tak mampu berbuat banyak. Setelah memukul lepas pedang ditangan ninja dia hanya bisa menyaksikan bagaimana puluhan anak muridnya membantai sang ninja hingga akhirnya menemui ajal dengan keadaan tubuh hancur lumat mengerikan.

Shigero Momochi seperti mau muntah. Dia palingkan kepala, memandang ke ruangan dalam bangunan.

"Ketua Noboru Kasai ..." bisiknya. Secepat kilat dia lari masuk ke dalam rumah. Lututnya goyah ketika dia menemukan Noboru Kasai telah jadi mayat, tergeletak di atas tatami dengan tubuh bergelimang darah.

"Ketua ..." kata Shigero Momochi sambil jatuhkan diri, berlutut di samping mayat Noboru Kasai. Dia merasa seperti ingin berteriak, tapi juga ingin menangis.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara dari arah ujung lorong pendek di luar sana dimana terletak ruangan rahasia. Sambil menggenggam pedangnya Shigero Momochi cepat berdiri.

* * *

DUADi dalam ruangan rahasia ninja memeriksa deretan laci bernomor 150 sampai 160. Tapi dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Dalam hati dia memaki setengah mati.

"Aku harus ingat! Harus ingat!" katanya berulangulang.

Pada saat itu dia mendengar suara orang berlari dari ujung lorong. Sebelumnya dia juga telah mendengar suara ramai di luar ruangan tempat Noboru Kasai terbunuh.

"Orang-orang Perguruan sudah tahu apa yang terjadi ..." desis ninja. Matanya kembali memandang deretan laci-laci. Dia seperti hendak memukul kepalanya sendiri ketika tiba-tiba dia ingat.

"Laci 168 katanya setengah berseru.

Segera laci nomor 166 dibukanya. Sepasang mata ninja membesar. Apa yang dicarinya akhirnya ditemui juga. Dalam laci itu kelihatan sebuah amplop besar berwarna kuning. Secepat kilat ninja menyambar amplop itu. Lalu melompat membobol dinding kiri ruangan rahasia. Ternyata dinding ruangan ini tidak terbuat dari kertas biasa melainkan dari sejenis papan alot. Ninja terpaksa pergunakan jotosannya untuk menjebol. Baru saja dia hendak berkelebat kabur lewat lobang di dinding tiba-tiba pintu kamar rahasia terbuka.

Satu bentakan menggeledek di belakangnya.

"Jangan lari!"

Yang berteriak adalah Shigero Momochi. Wakil Ketua Perguruan ini cepat mengejar dengan pedang terhunus. Gerakannya mengejar tertahan ketika di sebelah depan ninja dilihatnya gerakkan tangan kiri. Dua buah benda berbentuk bintang melesat ke arahnya.

Shigero memaki setengah mati.

"Shuriken!" teriaknya.

Pedangnya di putar ke depan.

Trang ... trang ...!

Dua senjata rahasia bintang besi beracun yang dilepaskan ninja mental dan menancap di dinding ruangan. Begitu Shigero memandang ke depan sang ninja sudah lenyap.

"Mahluk iblis! Kau kira kau bisa lolos dari tanganku...!"

bentak Shigero Momochi lalu mengejar. Larinya tidak tetap, agak menghuyung. Sampai di taman gelap di belakang bangunan besar orang yang dikejarnya tak kelihatan lagi. Belasan murid Perguruan muncul mendatangi.

"Percuma... Ninja keparat itu berhasil melarikan diri!" kata Shigero Momochi sambil menghentakkan kakinya.

"Aku bersumpah akan membalaskan kematian Ketua. Kalian lekas mengatur hubungan dengan para Ketua Ninja! Beri tahu apa yang telah terjadi. Minta mereka menyelidik dan memberi tahu siapa anggotaanggota mereka yang terlibat kejahatan keji ini! Mereka harus berani mengakui! Kalau tidak aku bersumpah akan menumpas semua ninja di negeri ini! Sejak dulu mereka hanya menimbulkan keonaran dan bencana saja! Melakukan kejahatan hanya untuk sejumlah uang! Mahlukmahluk durjana! Pembunuh bayaran!"

"Wakil Ketua Momochi!" seorang murid Perguruan berkata sambil maju mendekati Shigero Momochi.

"Ninja bukan cuma membunuh tapi juga mencuri surat-surat penting dari ruangan rahasia.

"Aku sudah tahu! Kalian periksa surat apa yang hilang! Aku akan mengurus jenazah Ketua ..." Shigero Momochi memandang berkeliling.

"Siapa diantara kalian yang membawa minuman....?" Tak ada satupun yang menjawab.

"Kalau begitu satu orang dari kalian lekas pergi kekamarku, ambil botol sake dan antarkan padaku ..."

"Tapi Wakil Ketua Momochi ..." kata seorang murid kepala.

"Dalam keadaan seperti ini tidak sepantasnya Wakil Ketua meneguk minuman keras itu lagi ..."

"Kurang ajarl Kau memerintah aku atau bagaimana ... ?!" bentak Shigero Momochi dengan mata membelalang.

Semua murid Perguruan yang ada di situ unjukkan wajah tidak seneng. Satu persatu mereka tinggalkan tempat itu. Salah seorang dari mereka berbisik pada temannya.

"Seharusnya dia yang dibunuh ninja, bukan Ketua Noboru Kasai ... Pimpinan tak berguna, Pemabuk, pemarah ... semua yang jelek ada padanya. Mau jadi apa Perguruan kita ini kelak ... !"

"Aku kawatir setelah Ketua tiada, dia yang akan menjabat jadi Ketua. Celakalah kita semua!" sahut temannya.

"Hal itu tak mungkin terjadi. Para Dewa tak bakal merestui!" kata seorang murid Perguruan lain yang ikut mendengar percakapan dua temannya tadi.

DALAM dinginnya udara menjelang pagi itu sayup sayup terdengar suara shakuhachi ditiup dalam senandung yang menyayat hati. Tiupan seruling bambu ini diikuti dengan petikan shamisen yang menghiba-hiba.

Suara bebunyian ini datang dari serambi bangunan besar Perguruan Emerarudo di puncak bukit.

Di serambi rumah besar, di bawah penerangan lampu minyak redup, diatas tatami duduk dua orang perempuan. Seorang sudah agak lanjut, satunya masih gadis. Perempuan yang lebih tua duduk meramkan mata sambil meniup shakuchaki. Gadis di sebelahnya memetik shamisen. Masing-masing memainkan bebunyian itu penuh perasaan. Sepasang mata perempuan yang lebih tua tampak berkaca-kaca sedang si gadis tak dapat menahan larutnya kesedihan hingga air mata yang tak terbendung menetes jatuh kepipinya.

Di dalam rumah besar hampir seratus anak murid Perguruan Emerarudo tegak rangkapkan tangan di atas dada. Sikap berdiri mereka tampak gagah. Namun dari kepala-kepala yang ditundukkan serta sepasang mata.

yang dipejamkan jelas seperti dua perempuan tadi merekapun sedang tenggelam dalam rasa duka yang mendalam.

Rasa dukacita atas tewasnya Noboru Kasai Ketua Perguruan Emerarudo membuat puncak bukit itu tenggelam dalam kesedihan. Gadis pemetik shamisen tak sanggup menahan kesedihannya akhirnya berhenti memetik bebunyian itu lalu bersujud dan menangis tersedu-sedu. Perempuan peniup seruling ikut tergugah dan tiupan sakuhachinya jadi tersendat-sendat.

Menjelang malam memasuki pagi, selagi udara terang-terang tanah tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi. Tak lama kemudian seorang lelaki separuh baya berwajah gagah muncul menunggang kuda putih.

Di atas punggung kuda dia memandang seperti tidak percaya pada keadaan yang dilihatnya. Matanya menyipit ketika dia berpaling ke serambi dan melihat gadis pemetik shamisen jatuhkan diri lalu menangis keras. Orang ini melompat dari kudanya.

"Apa yang terjadi .... ?!" Dia bertanya sambil melangkah cepat melewati berisan para murid Perguruan.

Dadanya mendadak bergejolak, tapi sikap dan suaranya kelihatan lembut.

Seorang murid kepala mendatangi dan berkata.

"Wakil Ketua Hisao Matsunaga syukur kau cepat kembali. Wakil Ketua Shigero Momochi ada di dalam bangunan utama. Sudah lama menunggu ...."

"Tiupan shakuhachi dan petikan shamisen tadi. .. membawakan lagu pengantar jenazah. Katakan apa yang terjadi?!" tanya orang yang barusan turun dari kuda. Ternyata dia adalah salah seorang dari Wakil Ketua Perguruan.

"Saya tidak berani menerangkan. Lebih baik Wakil Ketua menemui Wakil Ketua Shigero Momochi saja ...."

Mendengar jawab murid kepala itu, seperti terbang Hisao Matsunaga melompat dan masuk ke dalam rumah besar. Di dalam ruangan dimana jenazah Noboru Kasai dibaringkan di atas selembar kasur tipis yang diberi alas kain wool tebal, Hisao Matsunaga jatuhkan diri berlutut. Sesaat dia menatap wajah Ketua Perguruan yang sudah jadi mayat itu. Kain putih yang menutupi tubuh jenazah tampak basah oleh darah di beberapa bagian. Lalu ke dua matanya dipejamkan.

Ketika mata itu dibuka kembali pandangan Hisao Matsunaga tertuju pada Shigero Momochi. Baru disadari nya kalau saat itu di ruangan itu terdapat juga beberapa orang pengurus dan tua-tua perguruan. Lalu seorang anak lelaki berusia empat belas tahun yang duduk dengan kepala tertunduk dekat kepala jenazah.

Wajah Hisao Matsunaga jelas menunjukkan keperihan ketika dia memperhatikan anak ini. Karena si anak adalah Akira Kasai, putera dan anak tunggal mendiang Ketua Noboru Kasai. Ibu Akira meninggal dunia pada saat anak ini dilahirkan. Sejak itu Noboru Kasai tak mengambil perempuan lain pengganti istrinya ataupun memelihara gundik. Agaknya Ketua Perguruan Emerarudo ini sengaja menjauhi kehidupan duniawi sampai akhirnya kematian datang menjemput.

Hisao Matsunaga berpaling kembali pada Shigero Momochi lalu berkata dengan suara perlahan.

"Shigero, ceritakan padaku bagaimana semua ini terjadi!"

"Kita bicara di kamar sebelah saja.." bisik Shigero.

Waktu bicara Hisao Matsunaga dapat mencium nafas Shigero yang berbau minuman keras. Perlahan-lahan dia bangkit mengikuti Shigero menuju sebuah ruangan yang terletak bersebelahan dengan ruangan dimana jenazah Ketua Perguruan disemayamkan.

"Aku tidak melihat sendiri bagaimana kejadiannya.

Ketika aku masuk ke kamar Ketua, beliau sudah menggeletak di atas tatami dalam keadaan berlumuran darah. Sudah tidak bernafas lagi ....." Lalu Shigero Momochi menuturkan apa yang diketahuinya.

"Sebelum peristiwa itu terjadi, kau berada di mana Shigero? Selama ini jangankan manusia, lalat seekorpun jika menyusup ke tempat ini pasti kau ketahui ..."

"Kau betul Hisao ..." jawab Shigero Momochi dengan wajah merah.

"Malam tadi entah mengapa nyenyak sekali tidurku.

Sampai tidak mendengar suam apa-apa. Bahkan para muridpun tidak sempat mengetahui .... !"

"Aku yakin kau pasti minum banyak lagi malam tadi. Kalau tidak, mungkin peristiwa ini bisa dihindari....

Harap maafkan aku Shigero. Bukan maksudku menyalahkanmu.

Kalau Dewa sudah menakdirkan hal ini akan terjadi, pasti terjadi tanpa bisa dihalangi. Aku sendiri merasa menyesal pergi ke Kioto walau aku kesana ditugaskan secara pribadi oleh Ketua untuk menemui seorang Shogun ...."

"Sampai saat ini aku memang belum bisa menghilangkan kebiasaan minum sake keras itu .. ."

"Kudengar kini malah kau mencampurnya dengan wiski yang dibawa pelaut-pelaut kulit putih ..." memotong Hisao Matsunaga tetap dengan suara lembut.

"Kuharap saja kau bisa mawas diri dan menghenti kan kebiasaan minum."

Tampang Shigero Momochi tampak jadi beringas.

Dia hendak menyemprotkan ucapan. Tapi dengan lembut Hisao Matsunaga berkata.

"Siapa diantara kita yang tidak suka meneguk sake. Tapi minum secara berlebihan bisa membawa hal-hal tak diingin bagi seseorang. Musibah ini kiranya bisa dijadikan hikmah ....."

Wajah Shigero Momochi nampak menjadi merah.

Sambil berdiri dia berkata. "Kalau Perguruan menganggap hal ini terjadi karena kesalahanku, aku bersedia menerima hukuman dan melakukan seppuku!"

Shigero Momochi segera hendak mencabut pedangnya.

Hisao Matsunaga cepat memegang bahu Shigero dan berkata. "Bagi kita orang-orang Jepang melakukan seppuku atau harakiri adalah kematian paling terhormat.

Tapi tidak jika kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih terhormat .. ."

"Katakan apa yang harus aku lakukan!" kata Shigero beringas.

"Bukan kau, saja Shigero. Tapi kita. Semua yang ada di Perguruan ini ..."

"Ya.. ya, katakan saja apa yang harus kita lakukan?"

"Pertama, kita harus mengurus jenazah Ketua ...."

"ltu memang menjadi kewajiban kita para pengurus dan murid Perguruanl Lalu ....?"

"Selanjutnya .kita harus menyelidik siapa pelaku pembunuhan ini...."

"Dan pelaku pencurian!" sambung Shigero Momochi.

Hisao Matsunaga tampak terkejut. "Pencurian? Apa maksudmu?'

"Ada sebuah amplop rahasia berisi surat-surat penting lenyap dari laci di ruang rahasia ...." Paras Hisao Matsunaga jadi berubah.

"Berarti ini bukan pembunuhan biasa. Pasti banyak kaitannya pada hal-hal lain yang tidak terduga ....."

"Aku sudah meminta beberapa orang untuk menghubungi para Ketua Ninja guna ikut menyelidik.

Aku juga telah bersumpah jika mereka tidak bisa memberikan jawaban atau tidak dapat membuktikan bahwa kelompok masing-masing tidak terlibat, maka aku akan menumpas semua Ninja di negeri ini sampai habis!"

"Kesetiaanmu untuk membela kematian Ketua sangat aku hargakan Shigero. Tapi kita harus hati-hati menghadapi para ninja. Jika mereka bergabung kekuatan mereka jauh lebih besar dari kita ..."

"Kita bisa memakai tangan kelompok Oda Nobunaga untuk membasmi mereka ..."

"Betul, tapi ingat ... Perguruan punya ketentuan untuk tidak terlibat dan melibatkan diri dengan orangorang Pemerintahan ..."

"Lalu mengapa kau sendiri pergi menemui Shogun, walau katamu itu atas perintah Ketua ....."

Hisao Matsunaga mengangguk pendek. "Justru hal itu diperintahkannya agar aku memberi tahu bahwa Perguruan kita menghormati pihak angkatan perang, para Jenderal, tapi tidak mau melibatkan diri dalam urusan pemerintahan ..."

"Kalau begitu kita harus punya cara sendiri untuk menghajar para ninja itu ..."

"Jika benar mereka yang membunuh Ketua..:" Shigero Momochi menatap tajam dengan matanya yang merah pada Hisao Matsunaga.

"Apa maksudmu dengan ucapan itu Hisao? Jelas mereka muncul di sini mengenakan seragam ninja.

Membawa senjata ninja. Bahkan ada dua ninja yang sudah lumat di luar sana bisa kau lihat sendiri keadaan mereka. Dan tampaknya kau hendak meragukan bahwa kematian guru bukan disebabkan oleh para ninja keparat itu!"

"Tenang Saudaraku ..." kata Hisao Matsunaga dengan suara lembut.

"Sebagai perguruan besar, tidak semua orang di luar sana suka terhadap kita. Mungkin saja memang ada yang memakai tangan ninja untuk menghancurkan kita.

Mungkin juga ada para tokoh silat kaki tangan pemerintah yang melakukannya karena tidak ingin melihat kita sebagai satu kekuatan yang membahayakan mereka ..."

"Ah, aku orang bodoh yang tidak bisa mencerna dan berpikir sepintarmu ...."

"Kau orang pandai. Otakmu cerdik. Aku tahu hal itu. Jangan terlalu merendah Shigero. Sekarang mari temani aku untuk memeriksa ruangan rahasia. Surat penting apa yang telah dicuri ninja ...."

Memeriksa 200 laci di ruangan rahasia Perguruan Emerarudo bukan pekerjaan mudah dan memakan waktu lama. Mereka memang menemui sebuah laci dalam keadaan kosong yaitu laci nomor 166. Tapi baik Hisao maupun Shigero tidak dapat memastikan surat atau benda apa yang telah lenyap dicuri dari laci tersebut.

Menjelang pagi ke dua pucuk pimpinan Perguruan tersebut keluar dari ruangan rahasia, bergabung dengan pengurus Perguruan lainnya untuk mengatur persiapan upacara perabuah jenarah Noboru Kasai.

Sementara itu beberapa tamu yang sudah diberi tahu atas musibah yang menimpa Perguruan telah mulai kelihatan berdatangan.

Kita kembali dulu pada kejadian beberapa waktu sebelumnya setelah ninja memasuki ruangan rahasia Perguruan Emerarudo, mencuri sebuah amplop kuning lalu melarikan diri setelah lebih dulu mementahkan pengejaran yang dilakukan Shigero Momochi.

Kelihatan seorang ninja melarikan diri dan menghilang bersama kepekatan malam boleh dikatakan tak dapat ditandingi oleh siapapun. Di lereng bukit sebelah Selatan ninja yang telah membunuh Ketua Perguruan Emerarudo itu menyelinap ke balik sebatang pohon besar.

dia tegak bersandar ke batang pohon. Tangan kanannya mendekap dada kirinya yang terasa mendenyut saki. Dada itulah yang sebelumnya mendapat serangan "Lima Jari Dewa" yang sempat dilakukan oleh Noboru Kasai. Dalam gelap ninja membuka pakaian hitamnya.

Jantungnya berdenyut keras ketika dilihatnya ada lima bintik hitam membekas di dada kirinya.

"Celaka ..... ! Tanda ini tidak bisa hilang sekalipun kulitku dikelupas!" Sesaat sang ninja nampak masgul.

Namun bila dia ingat pada amplop kuning itu, rasa kawatirnya segera lenyap. Dengan cepat amplop kuning dikeluarkannya dari balik pakaiannya. Bagian depan amplop ada tulisan dalam huruf kanji berbunyi : "Sangat Rahasia. Risalah Pewarisan Pimpinan Perguruan." Amplop dibalikkan. Bagian penutup amplop di sebelah belakang selain diikat dengan benang juga disegel dengan lak tebal berwarna merah.

Dengan tangan agak gemetar ninja merobek penutup amplop. Dari dalam amplop dikeluarkannya lembaran tebal kertas berwarna merah.

"Hah?!"

Sang ninja berseru kaget. Sepuluh lembar kertas merah yang barusan dikeluarkannya dari dalam amplop dibolak-baliknya.

"Aneh! Mengapa semua kertas ini kosong? Tak ada tulisan, tak ada apa-apanya! Jangan-jangan aku tertipu! Siapa yang menipu? Sang Ketua ....?" Tak mungkin .... !" Seolah-olah tak percaya ninja memeriksa kembali kertas-kertas merah itu, melihat ke dalam amplop kalau-kalau ada kertas lain yang tertinggal.

Kemudian dengan kesal amplop dan kertas merah itu diremasnya sampai lumat. Setelah itu sambil memaki panjang pendek amplop dan kertas merah itu dibantingkannya ke tanah! "Kurang ajar Benar-benar sialan!"* * *

TIGAPENDEKAR 212 Wiro Sableng tarik kerah baju tebal-nya tinggi- tinggi. Sesaat dipandanginya air sungai kecil di hadapannya yang dalam kegelapan malam seolah-olah diam tidak mengalir. Barusan dengan susah payah dia mengumpulkan beberapa potong kayu. Dalam udara lembab dan dingin begitu rupa hampir tak mungkin mendapatkan kayu kering. Dia telah menghabiskan sekotak geretan untuk membakar kayu menyalakan api.

Namun sia-sia saja. Sesekali matanya melirik ke arah sebuah batu di atas mana terbaring seekor kelinci dalam keadaan terikat keempat kakinya..

Dari saku baju tebalnya Wiro keluarkan botol kaleng berisi sake. Setelah meneguk minuman keras ini dua kali dia merasa tubuhnya menjadi hangat.

"Badanku hangat tapi perutku tetap saja keroncongan." Dia memandang lagi pada kelinci di atas batu.

"lngin sekali aku cepat-cepat merasakan bagaimana lezatnya daging kelinci Jepang. Tapi api sialan tak mau hidup ..." Apa aku harus mempergunakan senjata mustika itu hanya untuk menyalakan api?" Wiro garukgaruk kepala.

"Kelihatannya memang tak ada jalan lain ...." Murid Sinto gendeng akhirnya keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212 dari balik pakaiannya. Dia juga mengeluarkan batu hitam pasangan senjata sakti itu.

Ketika cahaya yang memancar,dari dua mata kapak menerangi tempat itu, sepasang mata yang sejak tadi mengintip dibalik kerapatan serumpunan batangbatang bambu membesar karena terkejut dan juga kagum. Dalam hati orang yang bersembunyi itu berkata.

"Belum pernah aku melihat senjata seperti itu.

Dari sinarnya saja jelas senjata itu memiliki hawa sakti luar biasa. Pasti inilah senjata yang dipakainya untuk membunuh Arashi si Nenek Badai. Pemuda dari negeri ribuan pulau itu ... Aku harus merampas senjata itu. Batu hitamnya sekalian ... !"

Di depan tumpukan kayu yang disilang-silang di tanah Wiro gosokkan keras-keras salah satu mata kapak dengan batu hitam di tangan kanannya. Bersamaan dengan itu dia kerahkan tenaga dalamnya.

Wussss!

Lidah api menyambar ke arah tumpukan kayu.

Krekkkk ... Terdengar suara berkeretakan. Kayu-kayu lembab itu berubah menjadi merah. Sesaat kemudian apipun berkobar. Ketika api padam, kayu-kayu yang tadinya basah telah berubah menjadi arang merah.

Di balik batang-batang bambu, orang yang sejak tadi mengintip berdecak dalam hati.

"Benar-benar luar biasa. Bagaimanapun aku harus dapatkan senjata itu. Batu hitamnya juga....." Lalu tanpa suara dia bergeser dari balik batang-batang bambu itu.

Wiro simpan kembali kapak sakti dan batu hitam.

Lalu dia melangkah ke arah kelinci. Binatang ini mencicit keras seolah tahu kalau dirinya sebentar lagi akan dipesiangi.

"Ya ... ya sekarang kau boleh mencicit, berteriak sesukamu. Asal saja jangan sudah masuk ke perutku kau nanti masih mencicit!"

Wiro mulai membuka ikatan pada keempat kaki binatang itu. Kalau tadi kelinci ini mencicit keras terus menerus, kini tiba-tiba diam.

"Eh, kenapa diam ... ? ujar Wiro. Dilihatnya sepasang mata kelinci itu memandang sayu dan sesekali berkedip-kedip. Telinganya bergerak-gerak, begitu juga cuping hidungnya. Dari mulutnya yang bergigi-gigi putih kecil terdengar suara desah halus.

Tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak dalam diri Pendekar 212. "Aneh, mengapa mendadak aku jadi tidak tega membunuh binatang ini ...." Wiro perhatikan lagi kelinci itu. Masih memandang padanya dengan mata sayu dan berkedip.

"Semakin kupandang semakin kasihan aku jadinya ... Ah sudahlah. Biar kulepas saja ..." Wiro membungkuk, letakkan kelinci itu di tanah lalu berkata.

"Kelinci, kau tentu punya emak, punya bapak.

Punya saudara punya teman dan hutan belantara. Kau boleh pergi. Aku tak jadi menyantanmu. Walau perutku keroncongan kurasa aku masih bisa menahan lapar..Kau bebas. Pergilah ...."

Setelah dilepas, kelinci itu tidak segera lari.

Seolah-olah berterima kasih dia berpaling ke arah Wiro, mencicit beberapa kali sambil mengedipkan kedua matanya.

"Ya ... ya.. . Pergi sana. .." kata Wiro pula.

Binatang itu mencicit lagi dan mengedip dua kali lalu membuat lompatan tinggi. Namun dia tak pernah masuk lagi ke dalam hutan, bahkan setelah melompat tak sempat lagi menginjakkan kaki-kakinya di tanah.

Sebuah benda melesat dari kegelapan, menyambar ke kepala kelinci itu. Binatang ini mencicit keras lalu jatuh terhempas ke tanah.

"Astaga!" Wiro berseru dan cepat melompat.

Kelinci diambilnya dari tanah. Sepasang mata Pendekar 212 melotot besar. Sebuah besi lancip lebih besar dari lidi . menancap tepat di kening kelinci. Pada besi ini menempel sebuah bendera berbentuk segi tiga berwarna merah. Di bagian tengah bendera, ada tulisan Kanji warna hitam berbunyi "Bendera Darah."

"Binatang malang ...." desis Wiro. "Aku segaja melepaskanmu. Sekarang ternyata ada orang jahat membunuhmu. Kalau memang nasibmu seperti ini kan lebih baik kau kupanggang dan kusantap saja tadi ..."

Wiro garuk-garuk kepalanya dengan tangan kiri. Lalu diusapnya kepala kelinci itu beberapa kali. Darah yang mengucur dari kepala kelinci mengotori jari-jari tangannya. Perlahan-lahan Wiro letakkan binatang itu di tanah lalu dia tegak kembali, memandang berkeliling.

"Orang jahat! Siapa kau yang tega-teganya membunuh kelinciku?!" Aku tahu kau masih berada di sekitar sini! Perlihatkan dirimu!"

Dalam keheningan dan dinginnya udara malam tiba-tiba terdengar suara tertawa. Suara tawa ini melengking keras tapi pendek.

"Kurang ajar ..." kertak Pendekar 212. Dia jelas mendegar suara tertawa itu. Keras dan dekat tapi anehnya dia tidak bisa mengetahui dari arah mana datangnya.

"Orang itu sepertinya memiliki ilmu memindahkan suara!" pikir Wiro.

"Hemmm .... Kau tidak berani unjukkan diri ya?!

Apa kau seorang pengecut atau mungkin tampangmu jelek seperti donburi basi?!"

Tetap hening. Kali ini sepertinya juga tak ada suara jawaban. Tapi tidak. Karena tiba-tiba jawaban yang diterima Wiro adalah melesatnya sebuah benda merah ke arah kaki kirinya. Sang pendekar cepat melompat.

Seeettttl Cleeeppp!

Breettt!

Sebuah bendera merah menancap di tanah, tepat di atas mana tadi kaki Wiro meminjak. Gerakan Wiro mengelak tadi cepat sekali. Namun sebelum menancap di tanah besi bendera masih sempat merobek ujung kaki celana putihnya!

"Bendera aneh itu lagi!" desis Wiro dengan mata mendelik.

"Si pelempar jelas sengaja mencari tantaran.

Bukan cuma mau membunuh kelinci tapi juga mau membunuh diriku!"

Sambil mundur mendekati sebuah pohon besar Wiro memandang berkeliling. Dia sengaja berdiri di depan pohon untuk mempersempit ruang serang musuh yang tersembunyi.

"Pembokong gelap! Apa kau masih tidak mau memperlihatkan diri?!" teriak Wiro.

Baru saja dia berteriak begitu tiba-tiba setttt.... setttt Dua buah Bendera Darah melesat dalam gelapnya malam den menancap di batang pohon, hanya seujung kuku jari dari telinga kiri kanan sang pendekar! Walau udara dingin tapi murid Sinto Gendeng sempat keluarkan keringat dan tengkuknya jadi merinding.

Dia sadar kalau pun dia masih berdiri di sekitar situ, cepat atau lambat dirinya bakal jadi tancapan bendera aneh itu. Walau besi bendera tidak mengandung racun tapi daya bunuhnya tidak bisa dibuat main.

Memikir sampai di situ Wiro keluarkan seruan keras.

Kedua kakinya menjejak tanah sambil kerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuhnya melesat ke atas.

Settttt .... setttt .... setttt .... sefflt!

Empat Bendera Darah dengan sebat mengikuti gerakan Wiro. Satu mengarah perut, satu mencari sasaran di basian dada dan dua menyambar ke arah kepala.

"Kurang ajar!" rutuk Pendekar 212.

"Si pembokong benar-benar inginkan nyawaku!

Siapa dia ... Kaki tangan orang-orang lembah Hozu?' (Mengenai silang sengketa Pendekar 212 dengan orangorang Lembah Hozu, ikuti serial Wiro Sableng berjudul "Pendekar Gunung Fuji")

Masih melayang di udara Wiro membuat gerakan jungkir balik. Ke dua tangannya serentak lepaskan pukulan tangan kosong yang menghamburkan angin deras.

Empat Beqaera Darah bukan saja berhasil dihindar tap!

malah dibuat mental. Tetapi murid Sinto Gendeng jadi tersentak kaget ketika melihat apa yang terjadi. Empat buah Bendera Darah yang kena hantaman pukulan tangan kosongnya tadi tiba-tiba berbalik. Dua diantaranya kelihatan robek. Empat bendera merah Empat bendera merah ini berkibar aneh. Lalu seperti didorong oleh kekuatan hebat, empat bendera itu melesat berpencaran dan kembali menyerang Wiro di empat sasaran!.

"Kurang ajar! ini bukan main-main!" Wiro Cepat melompat kebalik serumpun semak belukar. Sambil melomat dia lepaskan pukulan "Tameng Sakti Menerpa Hujan".

Dua buah Bendera Darah robek dan menancap pada rerumpunan semak belukar. Satu diantaranya malah tepat di depan hidung Pendekar 212 hingga kembali murid Sinto Gendeng keluarkan keringat dingin.

Yang dua lagi berhsrsil dihantam luruh ke tanah.

Hebatnya meski jatuh namun dua bendera ini tidak tergeletak begitu saja melainkan jatuh dengan tetap menancap di tanah!.

Di balik kerapatan batang-batang bambu di tepi sungai terdengar suara orang berdesah. Sepasang telinga Wiro menangkap suara desah itu. Tanpa Pikir panjang dia segera menghantam ke arah Pohon bambu.

Pukulan yang dilepaskannya kali ini adalah dalam jurus "segulung ombak menerpa karang." Terdengar suara seperti ombak besar bergulung di Pantai. Lalu wusss.... braaakkkk ..... ! Rumpunan batang bambu di depan sana laksana dihantam topan, hancur rambas berantakan.

"Kosong! Tak ada siapa-siapa di tempat itu!" seru Wiro dengan pandangan kaget.

Baru saja dia berseru demikian dan belum habis rasa kagetnya tiba-tiba dari atas terdengar Suara seekor berkesiuran.

"Bendera keparat!" teriak Wiro.

Tiga buah Bendera Darah melesat dengan kecepatan setan dari atas pohon besar. Membuat dia lagi-lagi dipaksa jungkir balik selamatkan diri.

Cleeppp!

Bendera Darah pertama menancap amblas ke dalam tanah.

Kraakkkk!

Bendera Darah ke dua menghantam batu kali dan menancap di batu itu!.

"Gila! Kalau benar benda itu bisa menancap di batu, kekuatannya benar-benar luar biasa! Batok kepala pasti tembus!"

Namun Wiro tidak sempat berpikir panjang. Dia merasa lututnya goyah ketika menyadari Bendera Darah ketiga menyusup di bahunya, merobek baju tebalnya lalu ada rasa sakit dikulit bahu sebelah kiri. Pertanda ada daging bahunya yang kena ditembus besi bendera.

Rasa sakit mula-mula tidak terasa karena saking cepatnya gerakan besi itu menembus. Wiro ulurkan tangan kanannya ke bahu kiri dan cabut bendera yang menancap di bahunya itu sementara baju tebalnya kelihatan merah oleh darah yang keluar dari luka.

Sambil menggenggam bendera merah yang dicabutnya dari bahu kiri Wiro mendongak ke atas. Dalam kegelapan samar-samar dilihatnya satu sosok aneh tegak di cabang terendah.

"Mahluk apa di atas pohon pikir Wiro.

"Sosoknya seperti manusia.... tapi tak jelas kepala tak kelihatan mukanya ...."

"Setan alas di atas pohon! Apa kau tak berani turun ke tanah?!"

Sosok di atas pohon keluarkan tawa melengking keras tapi pendek. Tubuhnya kemudian tampak melesat ke atas lalu berputar jungkir balik. Di lain kejap dia melompat ke bawah, menukik laksana seekor alap-alap menyambar mangsanya.

"Makan benderamu sendiri!" bentak Wiro.

Tangan kanannya yang memegang bendera merah melempar ke atas. Bendera Darah menderu ke arah Ubun-ubun kepala sosok yang saat itu melayang sebat ke bawah.

"Huh!"

Orang yang melayang turun keluarkan suara terkejut ketika melihat bendera miliknya sendiri kini dilempar orang ke arah batok kepalanya. Dalam kejutnya dia bertindak tenang sekali. Sambil miringkan tubuh ke kiri dia malah sengaja menyambut Serangan bendera dengan dada kirinya. Cleppp! Bendera itu menyusup dan lenyap di tubuhnya seolah seekor burung yang melesat masuk ke sarangnya!

Rasa heran Pendekar 212 berubah jadi terkejut besar ketika sesaat kemudian dia melihat sosok Yang tegak di hadapannya. "Gila! Seumur hidup baru sekali ini aku melihat mahluk macam begini!"* * *

EMPATDi hadapan Wiro saat itu tegak sesosok tubuh yang mulai dari kaki sampai ke kepala tertutup oleh puluhan, mungkin ratusan bendera-bendera kecil berwarna merah. Dari wajahnya hanya sepasang matanya saja yang kelihatan. Memandang tajam tak berkesip pada Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Aneh, mahluk ini terbungkus bendem kaki tangan, badan sampai kepala. Apakah dia tidakmengenakan pakaian? Tak bisa kuterka apa dia lelaki atau perempuan ...."

Diam-diam Wiro mencium seperti ada bau harum muncul di tempat itu bersamaan dengan kemunculan mahluk aneh ini.

Untuk sesaat lamanya dua orang itu hanya berdiri . tegak saling pandang tanpa bicara.

"Hemmm ..." Murid Sinto Gendeng akhirnya bergumam.

"Rupanya aku berhadapan dengan hantu penjual bendera!"

Diejek seperti itu sepasang mata orang yang bekujur tubuh dan mukanya tertutup bendera-bendera merah kelihatan membesar. Walau jelas marah namun dia tetap diam, tak membuat gerakan apa-apa.

"Tukang bendera! Kau membunuh kelinci itu, Kau juga menyerang dengan maksud membunuh. Padahal antara kita tidak ada silang sengketa. Bertemu pun baru kali ini! Bahkan tampangmu yang tersembunyi dibalik kain-kain popok merah itu tak pernah kulihat!"

Dari tenggorokan orang dl hadapan Wiro terdengar suara menggeru. Lalu dia membentak.

"Orang asing! Lagakmu sombong! Penghinaanmu keliwatan. Kau boleh menghina diriku! Tapi menghina bendera-benderaku sebagai kain popok tak dapat kuterima! Penghinaan atas Bendera Darah berarti mati!"

Wiro segara saja maklum kalau mahluk yang ada dihadapannya itu tidak bicara dengan suara aslinya tapi mempergunakan suara perut. Dia lantas ingat Akiko Bessho, murid mendiang Hiroto Yamazaki dari Gunung Fuji yang juga ahli mempergunakan ilmu suara dari perut. Wiro sendiri sempat belajar cara bicara dengan perut itu dari Akiko walaupun belum tuntas. Maka diapun rubah suaranya. kerahkan tenaga dalam ke perut dan bicara menirukan suara seperti kambing.

"Oh, jadi yang kukira kain popok itu adalah Bendera Darah! Pantas ganas amat!" Mahluk yang terbungkus bendera jadi marah dan juga kaget. Marah karena lagi-lagi Wiro menghina Bendera Darahnya.

Terkejut karena tidak menyangka pemuda asing itu juga mampu menggunakan suara perut malah meniru suara kambing!

"Dengar .... Sebelum kubunuh katakan dulu dari mana kau belajar bicara dengan suara perut itu?!"

"Eh, perlu apa kau bertanya? Aku mau belajar dari hantu atau jin atau dari siapa saia apa urusanmu?!"

"Hemmm begitu ...... Berarti kau mempercepat saat kematianmu!" Mahluk bendera gerakkan kedua tangannya.

"Tunggu dulu!" seru Pendekar 212.

"Katakan mengapa kau ingin membunuhku!"

"Sekedar untuk menebus nyawa Nenek Arashi yang kau bunuh beberapa waktu lalu ..." Wiro terkejut.

"Apa hubunganmu dengan nenek jahat itu?!" tanya Wiro.

"Kau bisa tanyakan sendiri padanya nanti di akhirat ltupun kalau kau bisa ketemu dia...!" Orang itu menjawab lalu tertawa keras.

Dua tangannya bergerak. Terdengar suara settt....

settt.... Empat kali berturut-turut. Wiro hampir tak melihat kapan orang itu mencabut bendera-bendera kecil di tubuhnya tahu-tahu empat Bendera Darah melesat ke arahnya!

Murid Eyang Sinto Gendeng berseru keras. Tubuhnya berkelebat lenyap. Bersamaan dengan itu dia menghantam ke depan dengan tangan kiri. Lepaskan pukulan "kunyuk melempar buah." Dua buah Bendera Darah mental dan robek lalu menancap di tanah. Dua lainnya terus meluncur mengejar ke arah mana perginya sasaran.

Wiro kertakkan gerahamnya ketika melihat dua Bendera Darah secara luar biasa mampu mengejar dan menyambar ke arah perut dan dadanya.

Trang .... bang .... !

Terdengar dua kali suara berdentrangan. Dua kali berturut-turut bunga api memancar terang dalam kegelapan malam.

Lalu wusss .... wusss!

Dua Bendera Darah terbakar di udara. Begitu punah dua batang besi kecil yang jadi tiang bendera luruh ke tanah. Sekali ini tak mampu menancap seperti sebelumnya!

Mahluk kendera terkesiap kaget. Dua matanya memandang tak berkesip ke arah tangan kanan Wiro dimana tergenggam batu hitam empat persegi panjang pasangan Kagsak Maut Naga Geni 212. Dengan benda inilah rupanya tadi Wiro menangkis serangan dua dari empat Bendera Darah. Wiro sendiri tidak menyangka kalau batu api itu bukan saja sanggup menangkis serangan Bendera Darah tapi waktu bentrokan tadi sekaligus membakar kain bendera!

"Batu itu. .. " Manusia bendera membatin.

"Lalu kapaknya tadi ... Aku harus mendapatkan nya! Musti!"

"Gaijn....Aku mungkin bisa melupakan pembunuhan atas diri Nenek Arashi yang kau lakukan lalu membebaskanmu dari kematian. Asal kau menerima syarat yang bakal aku katakan ..." Wiro menyeringai.

"Setan alas ini rupanya punya rencana tersembunyi ..." katanya dalam hati. Lalu,

"Tadinya aku memang sudah siap-siap menghadapi kematian. Sekarang kau bilang mau membebaskan diriku. Coba katakan apa syaratmu itu ..."

"Serahkan batu hitam itu. Juga senjata berbentuk kapak yang kau simpan di balik pakaian..."

Wiro sesaat jadi melongo. Lalu dia tertawa gelakgelak.

"Aku merasa tidak ada yang lucu. Mengapa harus tertawa segala? Kau harus bersyukur tak jadi kubunuh!" Wiro tersenyum lalu berkata.

"Memang tidak ada yang lucu. Tadinya kau kukira seorang penjua! bendera. Ternyata kau adalah seorang perampok tengik yang ingin barang orang lain!"

"Kau memutuskan untuk tidak mau menyerahkan dua barang yang kuminta itu?" nada suara manusia bendera mengandung ancaman.

"Kira-kira begitu ..." jawab Wiro seenaknya.

"Berarti kematian sudah diambang pintu. Kasihan, datang dari jauh hanya untuk mengantar nyarwa.

Mayatmu pun tak akan ada yang mengurus!"

"Kalau kau kira aku memang akan mati ditanganmu, apakah kau hendak titip salam buat Nenek Arashi di akhirat?!" ejek Wiro pula.

Manusia bendera berteriak marah. Tubuhnya berkelebat.

Tangannya kiri kanan beqerak. Sepuluh bendera yang menempel di tubuhnya berkelebat. Wiro tak tinggal diam. Batu hlam dibabatkan ke depan sedang tangan kiri lepaskan dua pukulan sakit berturut-turut.

Bummmm!

Bummmm!

Manusia bendera tampak terhuyung-huyung tapi hanya sebentar. Belasan bendera yang menempel menutupi badannya tersibak akibat pukulan Wiro tadi cepat-cepat dirapikannya. Memandang ke depan empat buah Bendera Darah dilihatnya musnah terbabakar. Dua menancap di pohon, dua lenyap dalam kegelapan malam tapi dua buah lagi walau tidak tepat berhasil menancap di tubuh lawannya!

Wiro menyeringai kesakitan. Sebuah Bendera Darah menancap menyisi pinggiran paha kirinya. Darah mengucur membasahi kaki celana putih yang dikenakannya.

Bendera Darah ke dua menyambar rusuk kanan, menyusup dekat tulang iga sebelah luar!.

"Aku masih mau memberi kesempatan agar kau berubah pikiranl Bagaimana?!" Mahluk bendera berkata.

"Mahluk edan! Biar aku kembalikan dulu dua benderamu ini!" jawab Wiro. Dengan cepat dia cabut dua bendera yang menancap di tubuhnya. Namun sebelum dia sempat melemparkan senjata itu ke arah pemiliknya tiba-tiba manusia bendera gerakkan badannya.

Terjadilah hal yang luar biasa. Tiga puluh Bendera Darah yang menempel di badannya melesat.

Dengan mengeluarkan suara menderu laksana topan menggidikkan bendera-bendera itu menyambar ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Celaka! Aku tak punya kesempatan mengelak atau menangkis!" Wiro terpaksa Iepaskan dua bendera yang dipegangnya lalu pergunakan batu api untuk menangkis sebisanya. Gerakannya untuk mencabut Kapak Maut Naga Geni 212 tidak dapat tidak tetap akan kedahuluan oleh serangan tiga puluh Bendera Darah yang menyerbu laksana topan itu!

"Ah, aku benar-benar mati di tangannya!" kata Wiro.

Dia masih berusaha jatuhkan diri walau sadar hal ini adalah sia-sia saja sementara puluhan Bendera Darah menderu ganas.

Tiba-tiba satu teriakan keras menggema dari arah sungai kecil.

"Yori! Jangan bunuh dia!" Mahluk bendera tersentak kaget.

Saal itu di pertengahan sungai kelihatan seorang gadis berkimono biru berdiri di atas sebuah perahu kecil yang meluncur dengan cepat. Sebelum ujung perahu menyentuh pinggiran sungai gadis ini sudah melesat sambil cabut sebilah katana dan siap menyerbu kirimkan tangkisan untuk membendung serangan puluhan Bendera Darah walau dia maklum bahwa tidak seluruhnya bendera-bendera maut itu bisa diruntuhkannya.

Paling tidak sebagian besar masih akan menancap di tubuh Wiro.

"Ah dia ...!" kata mahluk bendera dalam hati.

Kedua matanya bersinar seperti mau marah. Namun tiba-tiba saja dia menyentakkan kepala dan melambaikan kedua tangannya ke belakang seraya berseru. "Bendera kembali!"

Terjadilah hal yang luar biasa. Puluhan Bendera Darah yang menyerbu ke arah Wiro tiba-tiba tegak dan berkibar. Lalu secara aneh bendera-bendera ini berputar. Seolah-olah ditarik oleh kekuatan besi berani yang hebat, semua bendera melesat berbalik dan menyusup di antara puluhan bendera yang menempel di tubuh manusia bendera.

Gadis yang melompat dari atas perahu menginjakkan ke dua kakinya di tanah. Di saat yang sama manusia bendera membungkuk dalam-dalam sampai tiga kali lalu putar tubuhnya.

"Yori! Tunggu!" seru si gadis berkimono biru sambil berusaha mengejar.

Tapi si manusia bendera itu sudah lenyap di telan kegelapan malam.

Wiro menarik nafas lega dan berpaling ke kiri.

"Sahabatku nona Akiko Bessho. Syukur kau datang ... !"

"Kau tak apa-apa?" tanya gadis kimono biru sambil matanya meneliti sekujur tubuh Pendekar 212.

"Ah, kau terluka di tiga tempat. Bahu, paha, dan rusuk ...." Besi bendera itu tidak beracun. Tapi lukamu cepat harus dirawat. Lewat dari tiga hari luka itu akan membusuk ..."

"Dan aku bisa mati ...?"

Si gadis menggeleng. "Mati ya tidak. Cuma kau mungkin akan catat seumur hidup. Salah satu tangan atau kakimu bisa-bisa lumpuh ...."

"Bendera-bendera merah kurang ajar. Kau tadi kudengar menyebut nama mahluk aneh itu. Dia manusia atau apa ... ? Lelaki atau perempuan ....?"

"Maafkan aku. Aku tak bisa menerangkan siapa dirinya ... !"

"Jadi kau sebenarnya kenal Siapa dia adanya?" tanya Wiro.

"Lupakan dia, Yang jelas kau selamat Aku senang bisa bertemu kau di sini ...."

"Aku juga ... Tapi aku merasa aneh. Kita bersahabat.

Dan kau ternyata kurang percaya padaku. Tak mau menceritakan siapa adanya manusia aneh tadi.

Lalu kulihat dia seperti takut padamu dan cepat-cepat berkelebat pergi ... ."

"Sudahlah, lupakan saja mahluk yang kau anggap aneh itu," kata Akiko Bessho. Lalu dari sebuah kantong kain yang dikeluarkannya dari balik bajunya Akiko Bessho mengambil sebutir obat berwarna merah dan diberikannya pada Wiro.

"Lekas telan. Lukamu pasti sembuh dalam tempo satu hari ...." Wiro memasukkan obat itu ke dalam mulutnya. Mendadak saja dia seperti mau muntah. Obat yang dimulutnya hampir melompat keluar.

"Tolol! Kau seperti anak kecil saja! Jangan dihisap. Itu bulan gula-gula! Langsung telan!"

"Obat apa ini! Sepahit tahi setan!" teriak Wiro.

"Ngacokl Apa kau sudah pernah makan kotoran setan?!" ujar Akiko pula menahan tawa. Wiro cepat telan obat dalam mulutnya. Begitu obat pahit lewat ditenggorokannya dia menarik nafas lega.

"Terima kasih Akiko," kata Wiro.

"Coba ceritakan bagaimana kau berada di tempat ini. Bukankah kita janji bertemu bulan purnama di muka di desa Kitano di . . kaki gunung Mitaka? Kau sengaja mencariku. Kangen atau bagaimana ....?" Kata-kata Pendekar 212 itu membuat wajah Akiko Bessho menjadi bersemu merah. Wiro tertawa lebar dia menarik tangan Akiko mengajaknya duduk dekat perapian.

"Aku dalam perjalanan ke Kioto. Seorang sahabat mendiang Sensei meninggal dunia. Kematiannya tidak wajar. Dibunuh oleh ninja...:"

"Ninja..."desis Wiro.

"Aku tidak mengerti bagaimana ada manusia atau kelompok manusia seperti mereka. Melakukan apa saja demi uang! Bahkan membunuh bayi sekalipun mereka tega!"

"Mereka memang ganas dan kejam. Lebih kejam dari orang-orang Lembah Hozu yang pernah kita. hadapi dulu ...."

"Heran, mengapa Kaisarmu tidak menumpas mereka"

"Sulit. Karena orang-orang atau pejabat-pejabat tinggi sendiri banyak mempergunakan tenaga mereka.

Para samurai tak sanggup menumpas mereka. Selain kepandaian pendekar samurai jauh dibawah para ninja, juga adanya pejabat-pejabat tinggi tadi yang tetap menginginkan adanya ninja baik untuk kepentingan usaha dagang mereka, jabatan maupun keamanan."

"Sebetulnya akupun tadi dalam perjalanan menuju Kioto ...." kata Wiro pula.

"Kalau kau memang mau pergi sama-sama, tentu saja aku tidak keberatan. Tapi ada syarat! Jangan mencari perkara dan berbuat yang aneh-aneh. Aku ke sana untuk melayat, bukan untuk bersenang- senang ...." Wiro tersenyum. Sambil garuk kepala dia menjawab.

"Bagiku, bisa pergi sama-sama tidak merupakan kesenangan tersendiri..!'

"KaIau begitu ayo kita berangkat sekarang. Kioto masih cukup jauh dan kita harus jalan kaki ..."

"Bagaimana dengan ilmu pukulan matahari. Kau masih terus melatih diri?" tanya Wiro.

Akiko Bessho mengangguk. "Daya hantamku jauh lebih besar. Aku berterima kasih kau telah mengajarkan ilmu pukulan sakti itu. Lalu bagaimana dengan ilmu bicara dari Perut yang aku ajarkan padamu. Kau sudah bisa?

"Wah, aku harus banyak berlatih. Kadang-kadang Yang keluar bukan suara manusia tapi suara binatang..." jawab Wiro hingga Akiko Bessho tertawa geli.

"Sahabat gurumu yang dibunuh ninja itu, siapakah dia? " tanya Wiro sambil melangkah cepat di sa Akiko.

"Namanya Noboru Kasai. Ketua Perguruan silat Emerarudo" jawab Akiko sambil lebih mempercepat jalannya (siapa adanya gadis Jepang bernama Akiko Besso ini harap baca Serial Wiro Sableng bejudul "Pendekar Gunung Fuji").* * *

LIMADi dalam ruangan itu berkumpul para pucuk pimpinan Perguruan Emerarudo. Hisao Matsunaga duduk bersebelahan dengan Shigero Momochi. Di hadapan mereka duduk empat orang tua-tua Perguruan mengapit seorang anak lelaki berusia 14 tahun. Anak ini adalah Akira, putera tunggal mendiang Ketua Noboru Kasai.

Keheningan menggantung beberapa lamanya.

Hisao Matsunaga mengusap dadanya beberapa kali lalu terdengar dia batuk-batuk.

"Wakil Ketua, kau agak kurang sehat rupanya ... ?

tanya seorang tua sesepuh Perguruan yang duduk di hadapan Hisao.

"Mungkin masuk angin. Sehabis berjalan jauh ke Kioto dua hari lalu ..." jawab Hisao Matsunaga sambil mengusap dadanya lalu menarik nafas panjang. Dia melirik pada Shigero Momochi yang duduk seperti terkantukkantuk di sampingnya. "Orang ini pasti habis meneguk minuman keras lagi ..." kata Hisao dalam hati. Lalu dia memandang pada Akira Kasai sesaat dan berkata.

"Akira-san ...Kami sengaja mengikut sertakan kau dalam pembicaraan penting ini karena sebagai putera mendiang Ketua Perguruan kami menganggap kau harus tahu akan segala pembicaraan maupun rencana Perguruan ..."

Akira Kasai membungkuk dalam dalam lalu menjawab.

"Saya berterima kasih atas kehormatan ini!"

"Seperti kita ketahui dua hari dari sekarang jenazah Ketua Noboru Kasai akan diperabukan," kata Hisao meneruskan ucapannya tadi.

"Sesuai ketentuan Perguruan, sebelum hal itu dilakukan sudah harus ditentukan dan diumumkan siapa pengganti beliau yang akan menjabat sebagal Ketua Perguruan. Sejak puluhan tahun silam sudah ada ketentuan bahwa seorang Ketua membuat semacam surat warisan di dalam mana dia menyebutkan siapa penggantinya jika karena satu dan lain hal dia tidak lagi bisa memegang jabatan sebagal Ketua. Apapun isi surat warisan itu atau siapapun yang ditunjuk menjadi penggantl tidak ada seorangpun yang boleh membantah.

Semua harus tunduk dengan isi surat warisan. Aku dan Shigero Momochi sudah memeriksa di semua tempat termasuk Ruangan Rahasia Perguruan dan kamar pribadi mendiang Ketua. Namun surat itu tak ditemukan.

Kita semua tahu, malam itu tiga orang ninja menyerbu ke sini. Mereka bukan saja berniat membunuh Ketua tapi dari penyelidikan ternyata mereka juga mencurl surat penting itu. Walau yang dua terbunuh, satu-satunya yang melarikan dirl agaknya telah berhasil mencuri dan melarikan surat itu. Waktu kita hanya sedikit Kurang dari dua hari. Dalam waktu yang sangat singkat itu kita harus menemukan surat itu. ..!"

Shigem Momochi yang duduk seperti terkantukkantuk dikejutkan oleh pertanyaan Hisao Matsunaga.

"Shigero, apakah sudah ada kabar dari orangorang kita yang kau suruh menghubungi para Ketua Ninja ....?!" Shigero Momochi usap mukanya.

"Maafkan, aku kurang mendengar pertanyaanmu tadi Hisao ..."

"Kau kelihatan sakit atau mengantuk Shigero? Tanya Hisao berusaha menahan jengkelnya.

"Dalam urusan penting begini rupa bagaimana mungkin dia tidak acuh dan malah mengantuk?!" Seorang tua sesepuh Perguruan membuka mulut.

"Wakil Ketua Hisao Matsunaga tadi menanyakan apa sudah ada kabar dari orang-orang yang disuruh untuk menghubungi para Ketua Ninja .... ?"

"Oh itu. .." Shigero usap lagi mukanya.

"Belum ....belum" katanya sambil menggeleng.

"Mereka belum kembali. ..."

Hisao Matsunaga menarik nafas dalam.

"Kalau sampai saat terakhir jenazah diperabukan surat itu belum ditemukan dan Perguruan belum mengangkat Ketua yang baru, apa yang harus kita lakukan?"

Salah seorang tua yang duduk di sebelah Akira Kasai membungkuk lalu menjawab. "Menurut aturan, walau ini tidak pernah terjadi sebelumnya, jabatan Ketua sementara dipegang oleh istri atau putra mendiang Ketua. Karena mendiang Ketua tidak punya istri maka jabatan itu dipercayakan pada puteranya ... !" Semua mata ditujukan pada Akira Kasai.

"Aku tidak pernah melihat aturan itu secara tertulis," tiba-tiba Shigero Momochi membuka mulut.

"Dan aku merasa aturan itu tidak benar. Perguruan bukan Kerajaan dimana tahta atau pucuk pimpinan diserahkan pada seorang putera jika sang raja meninggal. Aku lebih suka jika tanggung jawab Perguruan untuk sementara berada di tangan kelompok pimpinan ..."

Sesaat keadaan di tempat itu menjadi hening.

Tiba-tiba Akira Kasai membungkuk.

"Akira-san, kau hendak mengatakan sesuatu'" tanya Hisao Matsunaga.

"Kalau diperkenankan paman Wakil Ketua..." jawab anak lelaki itu.

"Kedudukanmu sama dengan kami. Jadi kau berhak bicara," kata Hisao Matsunaga sambil senyum.

"Kau tak usah malu apalagi merasa takut.

Bicaralah ...."

Setelah membungkuk sekali lagi maka anak itupun mulai bicara.

"Maafkan saya karena baru saat ini menyampaikan apa yang saya ketahui.... ini menyangkut surat warisan atau surat penunjukan siapa yang jadi pengganti mendiang Ayah. Surat itu ada di Puri Sanzen. Disimpan oleh seorang pendeta bernama Komo. .."

Semua orang yang ada di situ tentu saja jadi terkejut karena tidak menyangka akan mendengar keterangan itu dari mulut Akira Kasai.

"Akira san ..." kata Shigero Momochi dengan nada penasaran. "Kenapa baru sekarang kau bilang? Padahal kau tahu kita semua sudah kelabakan mencari surat itu!"

"Harap maafkan. Saya tak berani bicara karena takut kesalahan dan para orang tua di sini menganggap diri saya lancang ... ." Hampir saja Shigero Momochi hendak mendamprat anak itu. Tapi Hisao Matsunaga cepat berkata.

"Bagaimana ceritanya surat itu berada di tangan pendeta Komo dan bagaimana kau mengetahui hal itu Akira-san?"

"Sekitar satu bulan lalu Ayah sendiri yang menyuruh saya mengantarkan surat itu ke Puri Sanzen dan menyerahkannya pada pendeta Komo. Agaknya Ayah seperti sudah punya firasat ada sesuatu yang bakal terjadi atas dirinya. Menurut pesan Ayah pada pendeta Komo, surat itu hanya saya yang bisa mengambil lalu menyerahkannya pada para Wakil ketua Perguruan ..." Shigero Momochi menggelengkan kepala.

"Sepertinya mendiang Ketua tidak percaya pada kita semua ... Aku merasa malu diperlakukan seperti itu..." Hisao Matsunaga batuk beberapa kali sambil usap usap dadanya. Dia berkata untuk mendinginkan suasana.

"Aku rasa mendiang Ketua melakukan hal itu tentu ada sebabnya. Buktinya, kalau dia tidak berbuat begitu surat penting tersebut pasti sudah jatuh ketangan ninja!" Walau wajahnya masih menunjukkan ketidak senangan tapi Shigero Momochi diam saja.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah seorang tua.

"Aku dan beberapa murid Perguruan akan mengantar putera mendiang ketua ke Puri Sanzen. Puri itu cukup jauh dari sini. Jika berangkat malam ini dan berhenti istirahat di beberapa tempat, baru besok petang akan kembali. Mengingat pulera Ketua tak bisa menunggang kuda maka delapan orang akan bergantian menandunya. Akira-san kau lekas bersiap-siap. Aku akan mengatur segala sesuatunya,.."

Hisao Matsunaga segera berdiri. Sebelum melangkah ke pintu dia berpaling pada Shigero Momochi.

"Shigero, selama kami pergi semua hal di perguruan menjadi tanggung jawabmu. Yang lain-lain supaya membantu termasuk menyambut para tamu yang datang melayat." Shigero Momochi diam saja.

Agaknya dia tidak suka akan ucapan Hisao tadi yang seolah-olah memerintah dan membuat dia berada dalam kedudukan lebih rendah.

AKlRA Kasai memandang pada tandu yang sebentar lagi akan membawanya ke Puri Sanzen. Saat itulah seorang anak lelaki seusia Akira dan sama-sama mengenakan kimono warna merah melangkah mendekati Akira dan menegur.

"Akira, ku dengar kau mau berangkat ke Puri Sanzen ..." Akira Kasai berpaling. Dia tertawa lebar ketika melihat siapa dihadapannya. Keno teman sebaya dan sepermainan.

"Betul Keno, aku harus pergi ..."

"Malam-malam begini? Aku kawatir ..."

"Aku ditemani paman Wakil Ketua Hisao Matsunaga. Apa yang harus dikawatirkan?Wjar Akira pula.

"Akira, aku mimpi buruk. Kau jatuh ke dalam jurang yang dasarnya penuh dengan batu-batu merah membara. Aku takut akan terjadi apa-apa dengan dirimu dalam perjalanan..!" Akira Kasai tersenyum dan pegang bahu temannya itu.

"Kau sahabat yang baik. Aku pergi cuma sebentar. Besok juga sudah kembali ... Doakan saja supaya aku selamat pergi dan kembali!"

"Bagaimana kalau aku ikut bersamamu?" tanya Keno.

"Tentu saja aku suka. Tapi paman Wakil Ketua belum tentu mau mengizinkan," jawab Akira.

"Kalau begitu sebelum ada yang melihat biar aku sembunyi duluan dalam tandu ..."

"Heh! Kau benar-benar konyol Keno ...."

"Konyol atau apapun katamu pokoknya aku harus ikut!"

"Kalau kau memaksa terserah saja. Lekas masuk ke dalam tandu,..!" kata Akira sambil memandang berkeliling takut ada yang melihat.* * *

ENAMSEBETULNYA Puri Sanzen terletak tidak terlalu jauh dari bukit dimana Perguruan Emerarudo berada. Hanya saja jalan menuju ke Puri itu sangat sulit, buruk dan berbatu-batu. Disamping itu pendakian dan penurunan datang silih berganti hingga rombongan yang dipimpin oleh Hisao Matsunaga tidak bisa bergerak cepat.

Menjelang dinihari ketika rombongan bergerak perlahan dan tertatih-tatih melewati sebuah pendakian curam, dari puncak pendakian tiba-tiba muncul tujuh sosok hitam.

"Shinobi!" kata Hisao Matsunaga dengan suara bergetar.

"Ninja!" teriak beberapa orang anggota rombongan hampir berbarengan.

"Eh, apa yang terjadi ...?" ujar Akira Kasai di dalam tandu ketika merasakan tandu yang diusung oleh empat orang anak murid Perguruan tiba-tiba diturunkan ke tanah. Lalu mendadak pula terdengar suara beradunya pedang.

Keno yang berbaring di lantai cepat berdiri dan enyingkap tabir penutup jendela kecil di dinding tandu.

Dia mengintai keluar. Suaranya bergetar ketika berpaling pada Akira dan berkata.

"Rombongan kita diserang ninja, Jumlah mereka lebih dari lima. Kelihatannya Wakil Ketua dan anak murid Perguruan berada dalam keadaan terdesak ..."

"Apa yang harus kita bkukan ....?" tanya Akira Kasai, Tangan kanannya meraba katana pendek yang tersisip di pinggang. Walau wajahnya tidak menunjukkan rasa takut tapi getaran suaranya cukup menjadi pertanda bahwa anak ini merasa sangat kawatir.

"Mimpiku jadi kenyataan. Ninja-ninja hitam itu pasti mengincar dirimu ... !"

"Mengincar diriku? Mengapa? Apa salahku ... ?'

"Aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa dirimu dalam bahaya Akira. Lekas kau menyelinap keluar. Segitu sampai di luar cepat lari ke Puri Sanzen ..."

"Apa maksudmu? Apa yang hendak kau lakukan?!" tanya Akira.

"Sudah. Waktu kita tidak banyak. Lekas pergi ..." kata Keno. Lalu dipeluknya temannya itu erat-erat!.

Akira balas memeluk sambil berkata. "Aneh kau ini Keno. Kau memelukku seperti kita akan berpisah dan tidak bertemu lagi ... !'

"Lekas pergi .... Aku mendengar suara jeritn wakil Ketua ... Dia pasti terluka. Keadaan benar-benar sangat berbahaya! Larilah! Ambil jalan rahasia yang kita temukan waktu main-main di hutan dulu. Kau ingat?!"

Akira mengangguk dengan gerakan kaku. Keno menggeser pintu dorong tandu lalu menarik lengan kawannya. Putera mendiang Noboru Kasai ini mau tak mau akhirnya keluar juga dari dalam tandu itu.

"Keno...?" ujar Akira.

Tapi Keno sudah menutup pintu dari dalam tandu.

Akira Kasai memandang berkeliling. Tempat dia berdiri berada dalam bayang-bayang gelap pohon besar hingga dirinya tersamar tidak kelihatan. Kuduknya merinding ketika melihat bagaimana murid-murid Perguruan Emerarudo bertahan mati-matian terhadap serangan yang dilancarkan oleh tujuh orang ninja.

Seorang ninja berhasil dibunuh, satunya lagi tergeletak antara sadar dan pingsan. Namun seluruh rombongan orang-orang Perguruan Emerarudo sudah bergeletakan jadi mayat, kecuali Wakil Ketua Hisao Matsunaga.Orang ini tersungkur di tepi jalan, berusaha merangkak mencapai tandu.

Akira memutar kepalanya ke arah tandu dimana Keno berada. Sepasang mata anak ini terbeliak besar.

Pintu tandu berada dalam keadaan terbuka lebar. Dari tempat gelap dia berdiri anak ini dapat melihat sosok tubuh Keno. Matanya membeliak dan jantungnya seperti hendak copot ketika melihat bagaimana tubuh Keno tersandar di tempat duduk tandu. Sebilah katana menancap di dadanya!

Kalau tak cepat dia menutup mulutnya sendiri mungkin anak ini sudah berteriak karena ngeri.

"Keno... Mimpimu ...Ternyata kau yang mendapat celaka. Seharusnya .... seharusnya aku yang menemui ajal. Keno sahabatku ... Kini aku mengerti. Kau sengaja menyuruhku pergi. Kau memilih tetap berada dalam tandu. untuk menipu ninja-ninja jahat itu. Keno ...." Akira Kasai tak kuasa membendung air matanya. Di sebelah sana dilihatnya Wakil Ketua Perguruan Emerarudo merangkak di tanah terbatuk-batuk dan pegangi dada kirinya. Tiba-tiba empat orang ninja melompat mengurungnya. Masing-masing memegang ninjato berlumuran darah!

"Ninja-ninja itu ... Mereka pasti membunuh Paman Hisao. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku menolongnya. Paman ..."

Tiba-tiba terngiang di telinga Akira ucapan Keno.

Mimpiku jadi kenyataan. Ninja-ninja hitam itu pasti mengincar dirimu...Aku merasa dirimu dalam bahaya Akira. Lekas menyelinap keluar. Begitu sampai di luar cepat lari ke Puri Sanzen..

"Ninja-ninja itu...apa mereka benar hendak membunuhku? Mengapa?!" Akira memperhatikan seorang ninja lagi berkelebat mengurung Hisao Matsunaga.

"Aku merasa diriku seperti seorang pengecut! Aku ingin menolongmu Paman Hisao. Tapi apa dayaku.

Maafkan aku Paman ...." Anak itu putar tubuhnya.

Kraaakkk!

Tak sengaja kaki kiri Akira menginjak sebatang kayu agak kering hingga mengeluarkan suara. Lima ninja berpaling ke arah kegelapan. Juga Paman Hisao Matsunaga.

Secepat kilat Akira melompat ke balik sebuah pohon besar lalu menghilang. Lima ninja berkelebat ke arah tandu lalu ke jurusan dimana tadi mereka mendengar suara berderak disertai berkelebatnya satu bayangan. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hisao Matsunaga untuk bangkit dan naik ke punggung seekor kuda lalu menggebrak binatang ini meninggalkan tempat itu. Lima ninja saling pandang.

Sesaat kemudian ke limanya serentak berkelebat ke arah lenyapnya Akira. HlSAO Matsunaga belum lama memacu kudanya ketika tiba-tiba dalam kegelapan malam dua penunggang kuda datang dari jurusan berlawanan. Karena jalan sempit dan Hisao Matsunaga agaknya tidak mau menghindar atau menepi maka dua penunggang kuda yang datang dari arah depan terpaksa bersibak dan menepi.

"Orang itu menunggang kuda seperti dikejar setan!" ujar penunggang kuda di kiri jalan. Dia berpakai an dan berikat kepala putih serla berambut gondrong.

Melirik ke kanan dia melihat sebuah jurang batu dalam kegelapan.

"Gila, sempat kaki kudaku terperosok, amblas diriku ke dalam jurang itu!"

"Wiro ..."

"Ada apa Akiko? Kau kelihatannya seperti kaget."

"Penunggang kuda yang barusan lewat. Walau gelap tapi aku masih sempat melihat wajahnya. Dia Hisao Matsunaga ..."

"Siapa manusia bernama naga itu?' tanya Wiro acuh saja.

"Salah satu dari dua Wakil mendiang Noboru Kasai, Ketua Perguruan Emerarudo yang hendak kita layati ..."

"Eh, kalau benar berarti ada urusan penting membuat dia meninggalkan perguruan ..."

"Atau tengah dikejar sesuatu ..." kata Akiko pula.

"Aku .... Harap kau tunggu disini. Aku coba mengejarnya untuk mencari tahu apa yang terjadi."

"Terserah padamu. Tapi kau harus tahu menunggu di tempat seperti ini tidak sama sedapnya dengan menunggu di rumah teh, ditemani oleh geisha ..."

"Aku tak bakal lama!" jawab Akiko lalu cepat memutar kudanya. Baru saja gadis itu lenyap Wiro mendadak mendengar suara orang berlari. Dia berpaling ke kiri. Tampak satu sosok kecil dalam kegelapan.

Sosok ini menyibak serumpunan semak belukar di kiri jalan lalu lenyap dalam celah di antara dua buah batu besar. Pendekar 212 sesaat jadi tercengang.

"Anak kecil dalam rimba belantara malam-malam begini. Eh, apa ada tuyul di Jepang ini ... ? Tapi kulihat kepalanya tidak botak..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.80.36.205
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia