Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

Sinopsis :HANTU TANGAN EMPAT PANDANGI WAJAH PERI ANGSA PUTIH SESAAT LALU BERKATA. "ADALAH ANEH! WAHAI! BIASANYA PARA PERI YANG DATANG MEMBAWA BERKAH. KINI JUSTRU ENGKAU SEBAGAI PERI YANG MEMOHON BERKAH PADA KAKEK JELEK DAN TOLOL SEPERTI DIRIKU INI!" "KEK, JANGAN KAU MERENDAH SEPERTI ITU. KALAU AKU TIDAK YAKIN KAU BISA MENOLONG TIDAK NANTI AKU DATANG KEMARI...." "BAIKLAH WAHAI CUCUKU. KATAKAN BERKAH PERTOLONGAN APA YANG HENDAK KAU MINTAKAN PADAKU?" PERI ANGSA PUTIH BUKA GULUNGAN PAKAIAN PUTIHNYA DI SEBELAH PINGGANG DI MANA WIRO DAN KAWAN-KAWANNYA BERADA. KETIGA ORANG INI KEMUDIAN DILETAKKANNYA DI ATAS RUMPUT BIRU, DI DEPAN BATU DATAR DI HADAPAN SI KAKEK. HANTU TANGAN EMPAT SAMPAI MELESAT SATU TOMBAK KE UDARA SAKING KAGETNYA MELIHAT KETIGA MAKHLUK KECIL DI ATAS RUMPUT ITU. DARI ATAS SAMBIL MEMANDANG KE BAWAH DIA BERKATA DENGAN SUARA GEMETAR. "WAHAI CUCUKU PERI ANGSA PUTIH. KATAMU KAU DATANG MEMINTA BERKAH PERTOLONGAN PADAKU. TAPI TAHUKAH ENGKAU BAHWA KAU SEBENARNYA MEMBAWA BENCANA PADAKU?"



1INDAHNYA bulan purnama dengan sinarnya yang lembut terang tidak terlihat di kawasan Telaga Lasituhitam. Air telaga tetap menghitam, suasana dicekam kesunyian dan udara terasa dingin pengap. Angin seolah tidak mau bertiup menyapu permukaan telaga dan kawasan sekitarnya.

Jauh di bawah dasar telaga, dalam sebuah ruangan diterangi dua belas obor, yang disebut Ruang Dua Belas Obor, di atas sebuah tempat ketiduran terbuat dari batu, duduk satu sosok tubuh aneh yang kepalanya memiliki dua muka. Satu di depan satunya lagi di belakang. Muka sebelah depan dan muka sebelah belakang memiliki raut serta bentuk yang sama, yaitu wajah tampan seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan. Bedanya yang di depan berkulit kuning sedang di muka sebelah belakang hitam keling.

Selain keanehan angker pada kepalanya yang bermuka dua itu, makhluk ini memiliki sepasang mata yang masing-masing bola matanya tidak berbentuk bulat melainkan berupa segi tiga berwarna hijau menggidikkan. Konon bentuk segi tiga bola matanya ini menjadi pelambang tiga sifat yang dimilikinya hingga ia dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu.

Di samping kiri dan kanan ranjang batu tempat orang bermuka dua duduk, empat orang gadis cantik bersimpuh di lantai. Mereka mengenakan pakaian dari kulit kayu namun tak ada artinya sebagai penutup aurat. Selain tipis, pakaian itu hanya terdiri dari beberapa potongan kecil yang membuat tubuh keempat gadis itu nyaris terlihat bugil.

Mahluk bermuka dua, yang punya dua pasang aneh dan angker ini, tidak sepasangpun dari mata itu memperhatikankan wajah-wajah cantik dan tubuh-tubuh elok mulus para gadis yang ada di sekitarnya. Ada dua pasang mata di sebelah belakang berputar-putar memandang ke langit-langit ruangan. Sementara dua mata disebelah depan memandang tak berkesip ke arah pekarangan. Di dua muka orang di atas ranjang batu itu jelas terlihat bayangan ketidaksabaran.

Dua mata pada muka sebelah depan sesaat membuka tambah lebar. Dari mulutnya keluar suara mengeluh "Apa yang dilakukan perempuan celaka itu! Wahai, masakan pekerjaan begitu mudah saja dia pergi berapa lama .Belum muncul sampai saat ini Apa aku harus marah lagi? Minta darah lagi?!" Dua mata sebelah depan Ini terus membelalak tak berkedip Memandang ke arah pintu masuk.

Beda lagi dengan muka ke dua yakni muka berkulit hitam legam di sebelah belakang. Mulutnya berkomat kamit. Sesaat kemudian mulutnya berucap. "Janganjangan perempuan satu itu pergunakan kesempatan kabur melarikan diri!" "Wahai! Kalau itu sampai dilakukannya!" menyahuti mulut sebelah depan. "Alamat dirinya akan menjadi penghuni Ruangan Obor Tungga!"

"Tunggu...!" mulut muka berwajah hitam keling di sebelah belakang berkata. "Tidakkah kau dengar langkahlangkah kaki halus melintas di Ruang Empat Obor. Bergerak menuju ke sini!"

Sesaat kemudian di pintu Ruang Dua Belas Obor melangkah masuk seorang gadis berwajah sangat cantik. Rambutnya yang hitam digulung di atas kepala hingga kuduknya yang putih dan ditumbuhi bulu-bulu halus tersembul memikat. Gadis ini mengenakan pakaian kulit kayu dicelup jelaga berwarna Jingga, dihias dedaunan aneka warna di bagian belakang dan dada.

"Lain yang ditunggu lain yang datang! Wahai!" Mulut sebelah belakang orang di atas ranjang batu berseru.

Wajah di bagian depan tersenyum lebar. "Luhjelita kekasihku! Wahai! Kutunggu-tunggu kau tak pernah muncul. Tidak diharap-harap kau tahu-tahu datang! Wahai! Kau membuat diriku jadi kikuk depan belakang!"

Gadis yang barusan masuk berhenti tiga langkah di samping kanan ranjang batu. Matanya yang bening bagus menyapu pada empat sosok gadis di depannya. Sepasang alis matanya perlahan-lahan naik ke atas. Mulutnya terkatup rapat-rapat.

"Ha... ha! Kau mulai cemburu!! Wahai!" Mulut sebelah depan orang bermuka dua berseru. Lalu dia tepukkan tangannya tiga kali. Melihat isyarat ini empat gadis cantik yang duduk di lantai serta merta bangkit berdiri dan tinggalkan Ruangan Dua Belas Obor.

"Kekasihku Luhjelita! Wahai! Berucaplah. Katakan padaku apa hatimu sedang senang atau tengah diselimuti kegundahan! Melihat air mukamu, apa yang selama ini kau cari dan kau rahasiakan padaku masih belum kau dapatkan! Wahai! Betulkah dugaanku?!"

Gadis berpakaian Jingga dudukkan dirinya di atas ranjang batu di samping orang bermuka dua. Lalu dengan suara perlahan lirih yang membuat darah bergejolak panas dia berkata. "Aku datang karena aku rindu sokali padamu, wahai Hantu Muka Dua...."

Orang bermuka dua yang duduk di atas tempat ketiduran batu dan dipanggil dengan nama Hantu Muka Dua tertawa bergelak.

"Wahai! Rindu adalah penyakit maha nikmat orang-orang bercinta! Akupun tak kalah rindu Luhjelita!" Mulut sebelah depan berkata lalu kepala dua muka itu bergerak hendak mencium si gadis. Tapi Luhjelita dengan sikap manja mendorong dada Hantu Muka Dua dan jauhkan kepalanya seraya berkata. "Jangan kau membakar diriku, wahai Hantu Muka Dua. Kulihat kau telah memiliki teman-teman baru. Siapa empat gadis tadi?"

Hantu Muka Dua pegang lengan Luhjelita. Mulut berwa|ah hitam di sebelah belakang berkata. "Kita sudah kenal sejak lama. Bagaimana sifatku kau sudah tahu Mengapa masih bertanya? Bukankah sudah kukatakan Wahail Boleh ada seribu gadis cantik di taklimku tapi yang terpendam dalam hatiku! Wahai! Hanyalah Luhjelita!"

"Kau pandai merayu!"

Dua mulut Hantu Muka Dua sama-sama tertawa keras Ialu yang sebelah depan berkata. "Kau yang mengajarkan segala rayuan dan kegenitan padaku! Kau yang telah menghangatkan hati dan membakar aliran darahku Sekarang wahai! Coba kau ceritakan kabar apa sa|a yang kau bawa dari luar."

"Aku mau bertanya dulu," ujar Luhjelita. "Waktu menuju ko sini aku melihat ada satu perempuan mendekam di balik semak belukar. Tak jauh dari mulut goa! Kulitnya hitam manis, kulit yang paling kau gandrungi. Wajahnya cantik dan sosok tubuhnya kencang pertanda usianya masih sangat muda. Sikapnya seperti tengah menyelidiki sesuatu dan sebentar-sebentar mendongak ke langit. Siapa dia?"

"Wahai! Kau tak perlu curiga dan tak usah cemburu," jawab mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua. "Dia adalah Luhtinti, perempuan yang kujadikan matamata!"

"Heh.... Selain kau jadikan mata-mata, lalu kau jadikan apa lagi? Kau letakkan di bawah mata kakimu heh...?"

Hantu Muka Dua tertawa lebar. "Wahai Luhjelita. Kau tahu diriku...."

"Lebih dari tahu!" jawab Luhjelita dengan wajah merengut sambil menggeser duduk menjauh. "Percuma saja kau dijuluki sebagai si Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu. Memang aku yang bodohi Sudah tahu masih bertanya!"

"Luhjelita! Wahai! Jangan merajuk. Bukankah sudah kubilang cuma kau seorang yang ada di hatiku," kata Hantu Muka Dua. "Sekarang ceritakan apa saja yang terjadi di luaran sana."

"Aku hanya akan menceritakan yang ada sangkut pautnya dengan tugas yang tengah kujalani...."

Hantu Muka Dua kembali hendak tertawa bergelak.

Tapi tak jadi. Dia berkata. "Baiklah. Wahai! Apakah kau berhasil menemui manusia bernama Latandai yang tengah mengejar ilmu di kawah Gunung Latinggimeru itu?" Luhjelita anggukkan kepala. "Latandai sekarang memakai nama Hantu Bara Kaliatus. Di kepala, sekujur dada dan perutnya penuh dengan bara menyala. Berjumlah dua ratus! Tapi sayangnya setelah kuperiksa ternyata dia hanya punya satu tahi lalat di bawah pusarnya!"

Hantu Muka Dua tak dapat menahan tawanya!

"Latandai! Manusia miskin tahi lalat! Ha... ha... ha! Tapi wahai kekasihku! Kuharap kau jangan putus asa! Cari lagi, cari lagi, dan aku akan terus membantu. Sampai akhirnya kau mendapatkan tujuh lelaki yang punya tiga tahi lalat di bawah pusarnya!"

Mulut sebelah belakang menyambut! ucapan mulut sebelah depan tadi. "Wahai Luhjelita, menurut pengintaianku dalam masa seratus tahun mendatang kau masih akan tetap muda dan cantik. Mengapa kau begitu bernafsu mengejar ilmu. Bukankah kau mencari tujuh lelaki dengan tiga tahi lalat di bawah pusarnya itu sebenarnya ingin mendapatkan ilmu awet muda sepanjang jaman?"

Sepasang mata Luhjelita membesar. "Dari mana kau tahu aku tengah mencari ilmu awet muda?!" tanya si gadis.

"Hantu Muka Dua pandai menduga. Wahai! Dan setiap dugaanku biasanya tak pernah meleset!"

Luhjelita tersenyum lalu mencibir dan berkata. "Aku tidak akan mengiyakan atau menidakkan kebenaran dugaanmu Itu wahai Hantu Muka Dua. Aku butuh bantuanmu. Siapa saja lagi yang harus kuselidiki...."

Wajah Hantu Muka Dua depan belakang tersenyum. "Sedorct nama dan orang bisa kau selidiki. Mengapa kau tidak berusaha mencari lelaki bernama Lakasipo yang kini punya dua julukan. Bola Bola Iblis dan Hantu Kaki Batu. Tapi aku punya satu pesan. Jika kau menemui lelaki itu dan berhasil menyelidiki, apapun hasil penyelidikanmu aku minta kau membunuhnya! Paling tidak mengetahui kelemahan segala ilmu yang dimilikinya!"

Luhjelita menatap wajah sebelah depan Hantu Muka Dua lalu tersenyum, membuat Hantu Muka Dua tidak sanggup menahan diri dan angsurkan kepalanya hendak mengecup bibir si gadis. Wajah mereka hampir bersentuhan tapi jari tangan kanan Luhjelita telah lebih dulu ditempelkan di atas bibir lelaki Ku hingga tak kesampaian menyentuh bibirnya.

"Wahai Hantu Muka Dua. Turut apa yang aku dengar Hantu Santet Laknat telah turun tangan melakukan hal yang sama. Kabarnya dia telah menguasai otak dan jalan pikiran Latandai. Lalu pergunakan tangan Latandai alias Hantu Bara Kaliatus untuk membunuh Lakasipo. Mengapa kau harus bersusah payah dan menyuruh aku melakukan hal itu?"

"Terus terang. Wahai! Aku tidak begitu percaya pada Hantu Santet Laknat. Nenek satu itu punya rencana terselubung. Kelihatannya dia ingin...."

"Wahai Hantu Muka Dua, aku tahu maksudmu! Kau takut Hantu Santet Laknat jatuh hati pada Lakasipo. Padahal bukankah nenek itu sejak lama jatuh hati padamu tapi kau seperti tidak pernah mengacuhkan?"

Mendengar kata-kata Luhjelita itu terjadi satu keanehan pada kepala Hantu Muka Dua. Kepalanya yang bermuka dua dan berupa wajah dua lelaki usia empat puluh tahun tiba-tiba berubah menjadi dua wajah orang tua yang air mukanya pucat putih karena terkejut. Dalam hati Hantu Muka Dua berkata. "Dari mana perempuan satu ini tahu ihwal hubunganku dengan Hantu Santet Laknat...."

Keadaan dua muka Hantu Muka Dua seperti dua orang tua bermuka pucat hanya sesaat. Di lain kejap dua mukanya kembali seperti tadi yaitu wajah dua lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, satu hitam satu putih. "Luhjelita"kekasihku! Wahai! Kalau kau sudah tahu tentang sikap Hantu Santet Laknat terhadapku, kuharap kau jangan menebar luas apa yang kau ketahui Itu. Aku menyuruhmu membunuh Lakasipo karena aku punya firasat, di masa mendatang dia akan menjadi seorang tokoh sangat berbahaya di kawasan Latanahsilam.... Maukah kau menolongku wahai kekasihku?"

Luhjelita tersenyum membuat hati Hantu Muka Dua menjadi sejuk namun sesaat kemudian darahnya kembali menggelora. Mulutnya sebelah depan berbisik.

"Berbilang waktu telah berlalu. Berbilang lagi yang akan datang. Wahai! Kapan kita bisa bersenang-senang wahai Luhjelita?"

"Saatnya akan tiba, kau harus sabar menunggu..." kata Luhjelita setengah membujuk sambil memegang lengan Hantu Muka Dua. "Selain menyelidik Lakasipo, apa tidak ada orang lain yang menurutmu pantas aku selidiki keadaan dirinya?"

"Pernah kau mendengar seorang bernama Hantu Jatilandak?" tanya Hantu Muka Dua.

"Maksudmu makhluk menghebohkan yang tinggal di kawasan Hutan Lahitamkelam? Beberapa waktu yang lalu dia telah membantai serombongan orang yang kabarnya adalah kaki tangan Hantu Lumpur Hijau yang menguasai sebagian kawasan hutan."

"Betul. Kau selidiki dia. Siapa tahu dia memiliki tiga tahi lalat di bawah pusarnya. Tapi hati-hati wahai kekasihku. Hantu Jatilandak benar-benar makhluk biadab yang sanggup membantai siapa saja dengan Ilmunya yang aneh-aneh...."

Aku akan perhatikan ucapanmu wahai Hantu Muka Dua Sekarang lzinknn aku pergi...."

Tidak sebelum aku boleh membelai dadamu dan mengecup bibirmu!" kata Hantu Muka Dua pula. Lalu dua tangannya cepat hendak merangkul. Tapi lagi-lagi Luhjelita mendahului mendorong dada lelaki itu seraya berbisik. "Kalau kau mau bersabar sedikit lagi, kelak aku akan memberikan apa saja yang kau minta...."

"Sayang aku sudah tidak sabar menunggu lebih lama!" jawab Hantu Muka Dua pula. Sementara dua mulutnya tertawa bergelak dua wajah di kepalanya mendadak berubah menjadi dua wajah anak muda yang sangat tampan. Perubahan ini menjadi pertanda bagi Luhjelita bahwa Hantu Muka Dua tengah mengalami puncak hasrat yang menggelora dan berusahamemikat dengan merubah dirinya sebagai pemuda gagah.

Bersamaan dengan terjadinya perubahan itu tiba-tiba cepat dua kaki Hantu Muka Dua bergerak ke depan dan tahu-tahu dua kaki itu telah menggelung pinggul dan pinggang Luhjelita lalu menariknya hingga hampir saja gadis itu jatuh menindih tubuh Hantu Muka Dua.

"Kau harus belajar punya kesabaran Hantu Muka Dua. Ini hadiah untuk kesabaranmu itu!" Luhjelita pergunakan tangan kanannya mencubit perut Hantu Muka Dua hingga orang ini menjerit antara kesakitan dan kegelian. Bersamaan dengan itu Luhjelita gerakkan tubuhnya ke belakang hingga rangkulan dua kaki Hantu Muka Dua terlepas.

"Luhjelita tunggu!" berseru Hantu Muka Dua. "Wahai...!" Tapi Luhjelita telah berkelebat meninggalkan Ruang Dua Belas Obor.

Hantu Muka Dua terduduk di atas ranjang batu. Dua mulutnya beberapa lama keluarkan suara menggerendeng. Lalu mulut sebelah depan berucap perlahan. "Luhjelita. Wahai! Jangan kau kira aku tak tahu apa sebenarnya yang tengah kau lakukan dan kau cari. Aku hanya pura-pura percaya bahwa kau tengah mencari ilmu awet muda. Tapi aku tahu sebenarnya kau tengah mencari satu ilmu kesaktian yang langka dan sangat hebat. Aku akan membantumu mendapatkan ilmu itu. Aku akan mengikuti saja apa maumu Luhjelita! Wahai kekasihku! Tapi begitu kau mendapatkannya aku akan merampasnya dari tanganmu! Ha... ha... ha...! Percuma aku dijuluki Hantu Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu!"

Hantu Muka Dua usap perutnya yang merah akibat cubitan Luhjelita tadi. Lalu dia singkapkan pakaiannya di bagian bawah perut. Dia menyeringai memperhatikan tiga buah tahi lalat yang menebar berdekatan tepat di bawah pusarnya.

Hantu Muka Dua bertepuk tiga kali. Empat gadis cantik yang tadi meninggalkan ruangan itu kini muncul kembali. Melihat dua muka Hantu Muka Dua yang telah berubah menjadi wajah pemuda-pemuda tampan, mereka segera maklum. Hantu yang berjuluk Si Segala Nafsu ini ingin bersenang-senang.

"Empat gadis cantik! Wahai! Apa kalian siap melayaniku?"

Empat yang ditanya anggukkan kepala lalu tanpa menunggu lebih lama sama-sama menghambur ke atas tempat tidur batu.

* *2BERSEBELAHAN dengan Ruang Dua Belas Obor terdapat sebuah ruangan batu redup suram serta bau. Hantu Muka Dua menyebut ruangan ini Ruang Obor Tunggal karena hanya diterangi sebuah obor kecil. Siapa saja yang memasuki atau melewati ruangan itu, pertama kali pasti akan merasa heran. Perasaan heran ini kemudian akan segera berubah menjadi ngeri menggidikkan.

Di lantai ruangan yang lembab dan di sana-sini diselubungi lumut, terbaring enam sosok tubuh perempuan. Empat di antaranya sudah sangat tua, hanya tinggal kulit pembalut tulang. Yang dua lagi masih muda, walau tubuh mereka kelihatan cukup segar namun wajah masing-masing pucat pasi seolah tak berdarah. Enam sosok perempuan itu terbaring menelentang. Tiga dengan mata terpejam, tiga lagi menatap ke langit-langit ruangan dengan mata nyalang mombclalak dan sangat jarang berkedip. Kalau tidak diperhatikan benar sulit mengetahui apakah enam sonok perempuan itu masih bernafas atau tidak. Selain tidak bergerak, keenamnya terbaring dengan mulut menganga.

Dari langit-langit ruangan pada waktu-waktu tertentu menetes setitik air yang langsung jatuh dan masuk ke dalam mulut keenam perempuan itu. Empat erempuan tua telah puluhan tahun berada di ruangan itu. Dua yang masih muda baru sekitar dua belas kali bulan purnama. Keadaan mereka seolah mati tidak hidup pun tidak. Tetesan-tetesan air telah memanjangkan umur mereka dalam kesengsaraan itu.

Empat perempuan tua yang ada dalam Ruang Obor Tunggal itu dulunya pernah menjadi musuh besar Hantu Muka Dua sedang dua perempuan muda adalah gadis-gadis di sebuah pemukiman di selatan Latanahsilam yang diculik untuk dijadikan budak pemuas nafsu. Berkali-kali dua gadis itu berusaha melarikan diri dan berkali-kali pula mereka bermaksud membunuh Hantu Muka Dua namun selalu gagal. Hantu Muka Dua akhirnya kehilangan kesabaran lalu menjebloskan keduanya ke Ruang Obor Tunggal. Kalau saja Hantu Muka Dua tidak mempunyai pantangan membunuh perempuan, sudah sejak lama keenam perempuan itu dihabisinya!

Di ats ranjang batu di Ruang Dua Belas Obor, Hantu Muka Dua terbujur mandi keringat. Saat itu dua wajah di kepalanya yang sebelumnya berupa wajah pemuda telah berubah kembali menjadi wajah lelaki separuh baya. Wajah sebelah depan putih sedang sebelah belakang hitam keling.

"Malam semakin laruti Wahail Mengapa orang suruhan kita masih belum kembali!" Mulut sebelah depan Hantu Muka Dua berucap.

"Mungkin saja perempuan celaka itu benar-benar telah kabur melarikan diri sejak tadi-tadi!" Menyahuti mulut bermuka hitam.

"Wahai! Jika dia berani berkhianat pertanda akan bertambah satu lagi penghuni Ruang Obor Tunggal!"

"Aku sudah berkata sebaiknya berpuas-puas dulu dengan dirinya. Tapi kau malah memberinya tugas di luar goa."

Pada saat seperti itu Hantu Muka Dua seolah-olah berubah menjadi dua orang yang berlainan tetapi memiliki satu tubuh.

"Kau betul," kata mulut sebelah depan. "Kalau dia datang akan kurendam dia sampai pagi. Ha... ha....ha...!"

"Diam! Jangan tertawa! Aku mendengar langkahlangkah kaki melintas di Ruangan Obor Tunggal!" kata mulut sebelah belakang.

Tak lama kemudian muncullah seorang gadis berkulit hitam legam berwajah ayu. Rambutnya yang hitam panjang tergerai lepas sampai ke pinggul, berkilat-kilat dan menebar bau harum karena diberi semacam minyak wangi. Tubuhnya yang padat melenggok bagus ketika melangkah memasuki Ruang Dua Belas Obor.

"Luhtinti! Wahai!" Mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua berseru. "Apa yang kau lakukan sampai berlama-lama di luar sana!"

Belum sempat perempuan muda berdada busung itu menjawab, mulut di sebelah depan menyusul membentak. "Kau tengah mencari akal hendak melarikan diri Wahail Apa benar begitu?! Wahai! Jawab!"

Perempuan yang dibentak tampak ketakutan. Lebih lebih ketika melihat dua muka di kepala Hantu Muka Dua mendadak berubah menjadi muka-muka mengerikan. Berupa dua wajah berkulit merah, dilebati kumis, janggut dan cambang bawuk. Hidung dan mulutnya membesar bengkak sedang dua matanya menggembung membeliak. Dari sela bibirnya mencuat sepasang taring. Keadaan dua wajah Hantu Muka Dua saat Itu tidak bedanya seperti wajah-wajah raksasa yang menakutkan. Perubahan muka ini satu pertanda bahwa Hantu Muka Dua berada dalam keadaan marah.

"Wahai Hantu Muka Dua," gadis bernama Luhtinti tepat berkata. Suaranya gemetar. "Saya, saya tidak bermaksud melarikan diri. Saya melakukan apa yang diperintahkan. Wahai!"

Muka di sebelah belakang menyeringai lalu mendengus. "Kau sudah melakukan perintah! Wahai! Bagus! Sekarang katakan apa yang telah kau lihat di luar sana!"

"Wahai Hantu Muka Dua, sesuai perintah saya menatap ke langit. Saya melihat memang bulan purnama telah muncul menerangi kawasan Telaga Lasituhitam...."

Mulut sebelah muka Hantu Muka Dua menggeram panjang. Taring-taringnya menyembul mengerikan. Sepasang matanya yang memiliki bola mata berbentuk segi tiga hijau membersitkan cahaya menggidikkan. Mulut sebelah belakang berucap.

"Apa kataku! Wahai! Malam ini tepat tiga puluh hari Hantu Tangan Empat kau perintahkan pergi ke dunia luar. Malam ini adalah akhir dari waktu menjalankan perintah! Dan jahanam itu tidak muncul! Wahai tidak kembali! Aku tidak tahu bagaimana hasil urusannya ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang" Muka di sebelah belakang kelihatan bertambah merah.

"Jangan-jangan ada sesuatu terjadi dengannya! Wahai, bukankah aku biasa memberi peluang sampai tujuh hari sebagai tambahan?!" ujar mulut sebelah depan.

Dua mata di sebelah belakang memandang ke langit-langit ruangan, berputar tiada henti. "Aku punya firasat Hantu Tangan Empat telah gaga! menjalankan tugas! Dia tidak bisa menemukan Batu Sakti Pembalik Waktu itu! Wahai! Aku yakin dia sudah berada di Negeri Latanahsilam! Tapi sembunyi karena wahai! Dia takut akan mendapat hajaran darimu!

"Wahai! aku menaruh percaya besar padanya! Jika dia berbuat macam-macam malah sembunyikan diri, laknat sengsara akan kujatuhkan atas dirinya!" kata mulut Hantu Muka Dua yang sebelah depan.

"Wahai Hantu Muka Dua," perempuan muda bor tubuh bagus berkulit hitam manis berkata. "Jika kau terlalu lama menunggu saya, mohon kiranya maafmul Namun ada sesuatu yang saya lihat di langit malam di luar sana dan harus saya beritahukan padamu...."

"Heh...." Mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua bergumam. Sementara itu perlahan-lahan dua mukanya yang menyeramkan dan berwarna merah berubah kembali ke bentukdua wajah lelaki usia empat puluhan.

"Katakan apa yang kau lihat! Tapi wahai! Luhtinti! Awas! Kalau kau berani mengarang cerita hanya sekedar membuat diriku senang! Kau tahu, kau lihat apa yang terjadi dengan enam orang perempuan di Ruang Obor Tunggal!"

Ruangan Obor Tunggal terletak di sebelah depan. setiap orang yang menuju atau keluar Ruang Dua Belas Obor harus melewati Ruang Obor Tunggal hingga dia pasti akan melihat kengerian yang ada di Ruang Obor Tunggal Ku.

Perempuan muda di depan tempat tidur batu menjadi pucat parasnya. Betapakan tidak. Dia tahu betul yang dimaksud Hantu Muka Dua dengan enam orang perempuan di Ruang Obor Tunggal ialah enam orang yang tengah menjalani siksaan mengerikan, dijadikan mayat hidup. Ke enamnya tergeletak menelentang di ruangan itu. Tubuh kaku tak bisa bergerak tak blsa bersuara. Mulut menganga. Dari atas langitlangit ruangan pada saat-saat tertentu jatuh menetes setitik air, masuk ke dalam mulut keenam perempuan itu. Tetesan-tetesan air itulah yang memberi kehidupan, menyelamatkan nyawa mereka. Beberapa di antara mereka ada yang telah belasan tahun berada dalam keadaan seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang sangat dlbenci oleh Hantu Muka Dua. Empat dari mereka adalah bekas musuh besarnya. Luhtinti sebenarnya tahu Hantu Muka Dua ingin membunuh mereka semua. Namun karena mempunyai pantangan membunuh perempuan maka terpaksa dia memperlakukan keenam perempuan tersebut seperti itu. Mati tidak hidup pun tak ada artinya, tersiksa sepanjang usia!

"Luhtinti! Lekas bilang apa yang katamu kau lihat di luar sana!" Tiba-tiba mulut sebelah belakang membentak hingga semua orang yang ada di situ, termasuk empat gadis yang duduk bersimpuh di samping ranjang batu tersentak kaget dan ketakutan.

"Wahai Hantu Muka Dua," ujar Luhtinti. "Saya melihat sebuah benda putih berleher tinggi, bersayap lebar melayang berputar berulang kali di atas telaga...."

"Benda putih di atas telaga. Berleher tinggi. Wahai!" ujar mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua.

Mulut sebelah depan menimpali. "Bersayap lebar. Wahai! Terbang berputar berulang kali di atas telaga! Itu adalah seekor angsa putih raksasa! Luhtinti! Apa kau lihat ada seseorang menunggang benda putih bersayap lebar yang terbang berputar-putar di atas telaga itu?!"

"Memang ada saya lihat wahai Hantu Muka Dua. Seorang berpakaian serba putih. Pakaiannya begitu panjang hingga sesaat menjela ke bumi sesaat lagi melayang tinggi seolah menembus langit. Rambutnya yang hitam panjang berkibar-kibar ditiup angin. Saya juga seperti membaui sesuatu yang harum "

Sepasang mata sebelah belakang Hantu Muka Dua menatap berputar-putar ke atas. Di sebelah depan sepasang mata lainnya mendongak tak berkedip. Lensa mata yang berbentuk segi tiga hijau kembali membersitkan sinar aneh. Lalu mulut depan dan mulut belakang sama-sama berucap.

"Peri Angsa Putih...!"

"Aku tidak takut!" Mulut belakang berteriak.

"Aku juga tidak takut!" berteriak mulut di sebelah depan. Sesaat dua muka Hantu Muka Dua kembali berubah menjadi merah dan membentuk tampangtampang raksasa. Empat taring mencuat. Namun sekali ini perubahan itu hanya sebentar. Begitu amarahnya turun, dua wajah Hantu Muka Dua berubah lagi menjadi wajah-wajah lelaki separuh baya.

Hantu Muka Dua kepal dua tangannya. "Peri satu Itu memang pernah mengancamku! Lihat saja apa yang bisa dilakukannya! Kalau dia sampai masuk ke dalam pelukanku! Hik... hik... hik! Wahai! Habis kukelupas sekujur tubuhnya dengan lidahku!"

"Taringku akan kutancapkan di bagian-bagian tubuhnya yang menonjol dan empuk!" kata mulut belakang pula lalu tertawa gelak-gelak.

"Luhtinti, aku tadinya berburuk sangka. Ternyata kau menjalankan perintah dengan baik. Wahai! Patut aku memberi hadiah kesenangan padamu!" kata Hantu Muka Dua. Yang bicara adalah mulutnya sebelah depan Lalu makhluk aneh ini usap mukanya dengan tangan kanan. Saat itu juga muka Hantu Muka Dua sebelah depan berubah menjadi muka seorang pemuda tampan.

Pemuda itu tersenyum dan lambaikan tangannya memberi isyarat agar mendekat. Namun Luhtinti tidak segera bergerak. Sekalipun jelas dia melihat wajah sebelah depan Hantu Muka Dua telah berubah menjadi wajah seorang pemuda yang cakap. Walau matanya terpesona dan hatinya tertarik akan ketampanan dua wajah lelaki muda itu namun Luhtinti merasa bimbang. Hal ini rupanya diketahui oleh Hantu Muka Dua. Maka mulut depan segera berkata.

"Wahai Luhtinti, sekarang mendekatlah. Jangan biarkan darahku menggelora sampai muncrat dari ubun-ubun!" dua tangan Hantu Muka Dua terkembang seperti siap hendak merangkul.

Perlahan-lahan Luhtinti langkahkan kakinya ke depan. Begitu sosoknya sampai di muka tempat tidur batu, Hantu Muka Dua serta merta memeluk gadis berkulit hitam manis ini penuh nafsu. Ketika dia hendak merebahkan tubuh Luhtinti di atas tempat tidur batu tiba-tiba Ruang Dua Belas Obor terasa bergetar. Di kejauhan terdengar suara menderu seperti ada air mencurah berkepanjangan.

Hantu Muka Dua lepaskan pelukannya. Luhtinti dibaringkannya di atas tempat tidur batu lalu dia turun ke lantai. "Wahai! Gerangan apa yang terjadi?!" bertanya mulut depan.

Getaran di ruangan itu semakin keras. Suara deru air mencurah terdengar semakin kencang. Lalu ada hawa panas yang perlahan-lahan seolah memanggang ruangan itu. Dinding dan langit-langit Ruang Dua Belas Obor berderik. Nyala api dua belas obor bergoyanggoyang padahal tak ada angin bertiup.

Empat perempuan cantik yang sejak tadi duduk bersimpuh di lantai tak dapat menahan rasa takut. Mereka bangkit berdiri, memandang pada Hantu Muka Dua lalu berpaling ke arah jalan keluar. Luhtinti sendiri saat itu telah turun pula dari atas tempat tidur batu, bergabung jadi satu kelompok dengan empat perempuan lainnya.

"Kalian semua tetap di sini! Jangan ada yang berani keluar! Aku akan menyelidik!" Mulut Hantu Muka Dua sebelah belakang berkata. Lalu Hantu Muka Dua cepat berkelebat meninggalkan tempat itu. Lima orang perempuan yang berada dalam ketakutan mana mau tetap berada dalam ruangan yang semakin digoncang getaran dan semakin panas itu. Kelimanya berhamburan lari menuju jalan ke luar. Luhtinti di depan sekali.3HANTU MUKA DUA melompat ke atas sebuah gundukan batu di satu tempat ketinggian di sebelah timur Telaga Lasituhitam. Begitu dia melayangkan mata, memandang ke bawah tersentaklah makhluk bermuka dua ini. Dua mata di depan dan dua mata di belakang membeliak. Di samping rasa terkejut yang amat sangat, pada dua wajah Hantu Muka Dua jelas terlihat bayangan amarah. Dua wajahnya berubah menjadi dua wajah orang tua bermuka pucat pasi. Sesaat kemudian wajah-wajah ini berubah pula menjadi dua muka raksasa berwarna merah menyeramkan. Bola-bola matanya yang berbentuk segitiga menyorotkan sinar hijau angker.

Saat itu terjadi sesuatu yang luar biasa di Telaga Lasituhitam. Di bawah penerangan rembulan, Hantu Muka Dua melihat pinggiran utara telaga yang sebelumnya dipagari batu-batu serta pohon-pohon besar kini seolah jebol. Batu-batu besar lenyap entah kemana sedang pohon-pohon bertumbangan malang melintang. Sebuah celah selebar dua puluh tombak membentuk parit besar, menurun ke bawah. Melalui parit Ini air telaga hitam mengalir deras. Suara aliran air yang menderu keras inilah yang tadi terdengar dan membuat kawasan itu bergetar hebat sampai ke Ruang Dua Belas Obor di tempat kediaman Hantu Muka Dua yang terletak tepat di bawah telaga.

"Wahai!" Hantu Muka Dua keluarkan suara tertahan. "Apa yang terjadi?! Tidak ada gempa, tidak ada topan dan hujan! Mengapa batas telaga di arah utara jebol begitu rupa!"

"Sebentar lagi telaga ini pasti akan menjadi kering Wahai!" Mulut sebelah belakang Hantu Muka Dua ikut bicara.

Baru saja Hantu Muka Dua berucap seperti itu mendadak dari arah pinggiran telaga sebelah selatan terdengar suara menggemuruh. Hantu Muka Dua palingkan kepala. Serta merta dua mulut makhluk ini berteriak keras. Dua pasang matanya membuka lebar seperti mau memberojol keluar.

"Wahai! Apa Negeri ini mau kiamat!" seru mulut Hantu Muka Dua sebelah depan.

"Aku tidak bisa bertahan lama di sini! Sebentar lagi tempat celaka ini akan jadi neraka! Jahanam betul!"

Saat itu kalau di arah utara air hitam dari telaga mengalir deras hingga dalam waktu singkat Telaga Lasituhitam nyaris kering airnya, maka dari jurusan selatan menggemuruh cairan berbentuk lahar panas! Sesekali ada lidah api mencuat ke udara disertai batubatu besar berwarna merah menggelinding dan bersama-sama cairan lahar masuk ke dalam telaga. Telaga yang barusan terkuras airnya dan hampir kering kini digenangi dan dipenuhi cairan panas berwarna merah itu. Udara serta merta menjadi panas luar biasa.

"Lahar panasi Wahai! Dari mana datangnya? !" teriak mulut Hantu Muka Dua sebelah depan.

"Lahar seperti itu hanya ada di kawah Gunung Latinggimeru!" menyahuti mulut sebelah belakang. "Pasti lahar ini datang dari sana! Tapi bagaimana hal ini bisa terjadi?! Wahai! Padahal Gunung Latinggimeru tidak meletus!"

"Lihat!" mulut Hantu Muka Dua sebelah depan berteriak seraya tangan kanannya menunjuk ke utara. "Batu-batu besar dan pohon-pohon raksasa di pinggiran telaga sebelah utara kembali muncul! Menutup lompat yang tadi jebol. Menahan cairan lahar!! Uhhh...! Panasnya tempat ini! Sebentar lagi Telaga Lasituhitam akan digenangi lahar merah mendidih! Di sini saja panasnya seperti di neraka! Apa lagi di tempat kediamanku yang terletak di bawah telaga!" Saat itu sekujur tubuh Hantu Muka Dua basah oleh keringat akibat hawa panas luar biasa yang keluar dari dalam telaga. Makin tinggi cairan lahar mendidih, makin bertambah panasnya udara.

Bisingnya deru lahar panas yang mencurah masuk ke dalam telaga tiba-tiba ditingkahi oleh suara menggemuruh dahsyat. Kawasan sekitar telaga bergetar hebat. Lahar panas di bagian tengah telaga menderu ke bawah, seolah memasuki sebuah lobang raksasa.

"Wahai!" teriak mulut Hantu Muka Dua depan belakang. Dua muka raksasanya langsung berubah menjadi dua muka kakek-kakek pucat pasi. "Dasar telaga amblas! Tempat kediamanku tertimbun lahar! Empat gadis itu! Wahai! Luhtinti! Wahai! Mati mereka semua!"

"Apa perduliku!" teriak mulut sebelah belakang. "Apa di negeri begini luas hanya ada Luhtinti dan empat gadis itu? Aku masih bisa mencari gadis-gadis cantik lainnya untuk mengumbar nafsu!"

"Kau betul!" menjawab mulut yang di depan. Lalu dua mulut itu tertawa gelak-gelak. Sungguh luar biasa. Dalam kengerian mencekam begitu rupa Hantu Muka Dua masih bisa tertawa bergelak.

Sudut mata Hantu Muka Dua melihat lima sosok tubuh bergerak mendekati tempat ketinggian itu. Melihat siapa yang datang Hantu Muka Dua pencongkan mulutnya. Mereka ternyata adalah Luhtinti dan empat gadis cantik. "Mereka lolos! Tak jadi mampus mereka rupanya! Ha... ha... ha!" Mulut sebelah belakang ber ucap dan kembali tertawa.

Saat itu dalam keadaan pakaian tidak karuan dan tubuh basah oleh keringat dan dikotori tanah, Luhtinti dan empat gadis yang berhasil keluar selamatkan diri dari Ruang Oua Belas Obor, tersungkur jatuh di kaki batu. Dada mereka yang nyaris tidak tertutup bergerak turun naik sedang wajah masing-masing pucat keringatan.

Seolah tidak perduli akan kehadiran lima gadis itu mulut Hantu Muka Dua sebelah depan berkata.

"Ini pasti ada yang punya pekerjaan! Hendak mencelakai diriku! Hendak membunuhku! Siapa bangsat haram jadahnya!"

Mulut sebelah belakang menjawab. "Aku tidak perlu bertanya, tak perlu menduga. Lihat ke langit, ke arah rembulan!"

Hantu Muka Dua dongakkan kepalanya sebelah depan, memandang ke langit. Benar saja, di arah bulan purnama tampak sebuah benda putih mengapung di udara.

Benda ini adalah seekor angsa raksasa berwarna putih. Sayapnya bergerak-gerak perlahan tapi sosok tubuhnya tetap tidak bergerak, sengaja mengapung di udara. Di atas punggung angsa raksasa bermata biru ini duduk seorang gadis berwajah cantik seolah bidadari. Pakaiannya berupa gulungan kain putih halus yang melambai-lambai di udara malam. Rambutnya panjang hitam, tergerai dalam tiupan angin. Bila diperhatikan dekat-dekat ternyata gadis ini memiliki sepasang bola mata berwarna biru.

"Peri Angsa Putih! Wahai! Jadi dia yang punya pekerjaan..." desis mulut Hantu Muka Dua sebelah depan. Sepuluh jari tangannya digerakkan hingga mengeluarkan suara berkeretatan. Lalu teriakan keras menggeledek dari mulutnya.

"Peri Angsa Putih! Wajahmu cantik! Tapi hatimu jahat! Wahai! Mengapa kau rubah Telaga Lasrtuhitam menjadi kawah panas mendidih! Padahal kau tahu Kediamanku berada di bawah telaga itu! Kau telah memusnahkan tempat kediamanku!"

Di atas punggung angsa putih, gadis cantik yang dipanggil dengan nama Peri Angsa Putih mengulum senyum. "Hantu Muka Dua! Berbilang hari berbilang minggu. Berbilang bulan berbilang tahun! Sudah berapa kali aku memberi peringatan padamu agar merubah diri dan jalan hidup! Agar merubah pekerti dan perbuatan! Tapi semua himbauan itu tidak kau dengarkan! Kau punya empat telinga! Tapi seolah tuli! KAU punya empat mata tapi seperti buta! Di usiamu yang sudah ratusan tahun ini kau masih saja berbuat Jahat. Menimbulkan bencana dan aniaya bagi orang-orang tak berdosa. Dengan.kehebatan ilmumu kau memperalat orang lain untuk menimbulkan mala petaka! Setiap tarikan nafasmu kau selalu mengagulkan nama besarmu sebagai Hantu Segala Keji, Segala Tipu Segala Nafsu! Para Dewa dan para Peri telah cukup sabar. Apa yang aku lakukan malam ini merupakan satu peringatan kecil bagimu! Aku telah melakukan atas perintah Peri Bunda, Simpul Agung Segala Peri, Peri Junjungan Dari Segala Junjungan! Mereka tidak mau melihatmu berdiam di bawah Telaga Lasrtuhitam! Karena itu mereka memerintahkan Dewa Air untuk menguras air Telaga Lasrtuhitam. Lalu Dewa Gunung diperintahkan menimbun telaga dengan lahar mendidih! Para Dewa dan Peri tidak ingin melihatmu bercokol lebih lama di tempat ini. Pergi dari sini dan jangan berani kembali ke Negeri Latanahsilam. Jika di kemudian hari kau masih belum berubah diri, maka hukuman lebih berat akan dijatuhkan para Dewa dan para Peri atas dirimu!"

"Peri Angsa Putih!" teriak Hantu Muka Dua. Yang berteriak adalah mulutnya sebelah belakang. "Di malam bulan purnama seindah ini, tidak sangka kau tegateganya menjatuhkan malapetaka atas diriku! Kau tidak sadar! Wahai! Perbuatanmu bukan saja merusak alam, tapi juga kau telah membunuh enam orang perempuan yang ada di bawah telaga! Kau bertanggung jawab atas kematian mereka!"

"Mereka berada di situ sebagai korban kebiadaban-, mu! Kalau mereka mati maka nyawa mereka adalah tanggung jawabmu! Enam nyawa akan jadi roh yang kelak akan gentayangan mencarimu!"

"Peri busuk! Pandainya kau memutar balik lidah dan ucapan!" teriak Hantu Muka Dua marah. Taring-taring di mulutnya mencuat menggidikkan. Kulit mukanya merah seperti saga dan matanya membelalang memancarkan sinar hijau. Tapi wajah yang marah beringas itu mendadak sontak berubah menjadi tenang, malah kini dihiasi senyum. Dan dua wajah Hantu Muka Dua berubah menjadi dua wajah pemuda gagah.

"Heh..." gumam Peri Angsa Putih dalam hati. "Tipu daya apa yang hendak dilancarkan makhluk terkutuk satu ini."

"Peri Angsa Putih, walau kau seorang Peri tapi aku percaya kau punya hati dan perasaan. Lebih dari itu kau punya kemauan dan hasrat...."

"Apa maksud ucapanmu Hantu Muka Dua?" tanya Peri Angsa Putih.

"Lihat dua wajahku! Pernahkah kau melihat pemuda segagah diriku saat ini?"

"Aku menilai seseorang tidak dari kegagahannya wahai Hantu Muka Dua...."

Hantu Muka Dua tersenyum. "Sebagai makhluk yang punya perasaan dan hasrat, maukah kau bercumbu denganku?"

Paras Peri Angsa Putih menjadi merah padam. Jika menurutkan amarahnya saat itu juga mau dia melabrak Hantu Muka Dua. Tapi dia sadar daiam menjalankan tugas dari Peri Bunda dia memiliki keterbatasan dalam berucap apalagi bertindak.

Bukan saja menunjukkan kemarahan, tapi di atas sana Peri Angsa Putih hanya tersenyum mendengar ucapan Hantu Muka Dua itu. "Nafsu telah membuat dirimu lebih bejat dari kutuk neraka. Nafsu terkutukmu telah menimbulkan malapetaka atas diri banyak perempuan. Yang terakhir perbuatan kejimu terhadap Luhsantlni, istri Latandai. Tapi ketahuilah wahai Hantu Muka Dua. Kelak nafsu itu sendiri yang akan membakar dan menghancur leburkan dirimu! Aku akan pergi! Jika aku menyelidik ke sini lagi dan melihat kau kembali membangun tempat kediaman di kawasan ini, hukuman lebih hebat akan menjadi bagianmu Hantu Muka Dua!"

"Wahai! Kau tak akan pernah kembali ke sini Peri Angsa Putih!" teriak Hantu Muka Dua.

"Oh ya? Wahai! Mengapa bisa begitu?" tanya Peri Angsa Putih sambil menaikkan sepasang alisnya hingga wajahnya tampak tambah cantik.

"Karena aku mengambil keputusan membunuhmu liat Ini juga!" jawab Hantu Muka Dua.

DI atas batu yang dipijaknya Hantu Muka Dua lantakkan kepalanya. Bersamaan dengan itu dua larik sinar hijau berbentuk segi tiga berkelebat ke udara. Belum lagi dua kilatan cahaya itu menemui sasarannya, Hantu Muka Dua putar lehernya. Mukanya sebelah balakang didongakkan ke udara. Lalu "set... set!" Dua kilatan sinar hijau berbentuk segi tiga panjang keluar dari dua mata Hantu Muka Dua, menderu ganas kjearah Peri Angsa Putih yang ada di ketinggian belasan tombak di udara!

"Dasar makhluk keji! Diberi pengampunan dan peringatan malah nekat menyerang! Sampai di mana ketinggian ilmumu wahai Hantu Muka Dua?!" berseru Peri Angsa Putih. Lalu dengan tangan kirinya ditepuk pinggul angsa putih yang ditungganginya seraya berkata. "Laeputih! Beri pelajaran pada makhluk tak tahu diri itu!"

Mendengar ucapan sang Peri, angsa putih bernama Laeputih keluarkan suara aneh. Lehernya memanjang lurus ke depan. Bersamaan dengar! itu dua sayapnya dikepakkan. Dua gelombang angin sedahsyat topan menggemuruh ke bawah, menyongsong empat larik sinar hijau yang menyambar dari empat bola mata Hantu Muka Dua!

Hantu Muka Dua berteriak kaget. Lima gadis yang ada di dekatnya berpekikan. Pohon-pohon sekitar tempat itu keluarkan suara berderik lalu rubuh bertumbangan. Batu besar tempat tadi Hantu Muka Dua tegak berpijak hancur bertaburan. Lima gadis terpental dan terguling-guling di tanah.

Di udara terdengar empat letusan dahsyat. Empal larik sinar hijau berubah menjadi serpihan menyala dan bertaburan kian kemari. Beberapa serpihan melesat menyambar sayap angsa putih. Binatang raksasa itu keluarkan suara menguik panjang. Di beberapa bagian sayap bulu-bulu putihnya kelihatan rontok berjatuhan. Beberapa diantaranya tampak hangus kehitaman. Binatang yang mengapung di udara ini teroleng-oleng kian kemari.

Peri Angsa Putih menjerit marah. Dia menunjuk ke bawah! Angsa putih panjangkan lehernya. Dua sayap dikepakkan. Saat itu juga binatang raksasa itu menukik cepat ke arah tepian telaga sebelah timur. 01 bawah sana sosok Hantu Muka Dua telah lenyap dalam kegelapan.

Mata biasa termasuk mata Peri Angsa Putih sekalipun tak dapat menerobos kegelapan malam. Apalagi sekitar tepian telaga sebelah timur penuh ditumbuhi semak belukar dan pohon-pohon besar. Namun mata Laeputih tak bisa ditipu. Binatang tunggangan Peri Angsa Putih ini walaupun dalam kelam masih sanggup melihat dari ketinggian puluhan tombak. Begitu melihat sosok Hantu Muka Dua yang berkelebat ka arah tenggara, Laeputih cepat mengejar. Namun sosoknya yang besar serta sayapnya yang panjang tidak memungkinkan angsa raksasa ini terbang rendah, melayang menerobos kerapatan pepohonan.

Tahu dirinya dikejar, Hantu Muka Dua percepat talinya dan sengaja memilih jalan yang gelap serta penuh pepohonan. Di satu tempat dia lari memutar maksudnya hendak menipu angsa pengejar. Tapi tak berhasil. Begitu sempat melihat bayangan sosok tubuh yang yang dikejarnya di bawah sana, Laeputih menukik lalu kuncupkan dua sayapnya. Lima tombak dari sosok Hantu Muka Dua, Laeputih gerakkan kepala dan paruhnya Sekali bergerak pinggang Hantu Muka Dua masuk ke dalam japitan paruhnya yang panjang. Begitu mulut dikatupkan tak ampun lagi tubuh Hantu Muka Dua pasti akan terkutung dua. Tapi justru saat itu Peri Angsa Putih keluarkan seruan tertahan.

"Laeputlhl Benda apayang kau jepit di mulutmu?!"

Angsa putih keluarkan suara menguik panjang.

Dalam penglihatan Peri Angsa Putih, benda yang digigit laeputih dalam mulutnya adalah batangan potongan kayu, bukan sosok Hantu Muka Dua.

"Iekas kau lepaskan batang kayu tak berguna itu Laeputih Kita harus mengejar Hantu Muka Dua. Jika terlambat bertindak pasti dia berhasil melarikan diri!"

Mendengar kata-kata Peri Angsa Putih kembali Laeputih keluarkan suara menguik pertanda dia sebenarnya tidak suka melakukan apa yang diperintahkan sang Peri namun tak berani membantah. Dari ketinggian tiga tombak Laeputih lepaskan benda yang digigit di paruhnya. Benda ini jatuh bergedebukan ditanah. Laeputih meneruskan terbang rendah dan berputar-putar. Namun sosok Hantu Muka Dua tidak kelihatan lagi.

"Wahai Laeputih! Kita kena dibodohi! Hantu Muka Dua berhasil melarikan diri!"

Laeputih menguik keras.

"Tak usah kecewa Laeputih," kata Peri cantik itu sambil usap leher tunggangannya. "Masih banyak waktu untuk menjatuhkan hukuman pada makhluk jahat itu. Putar terbangmu. Kita kembali saja, tapi terbang sekali lagi di atas telaga Lasituhitam...."

Laeputih tegakkan ekornya ke samping kiri. Angsa raksasa ini berputar di udara, kembali terbang ke arah telaga.

Di bawah sana, dalam rimba belantara yang gelap, batang kayu yang tadi dilepaskan Laeputih dari gigitannya kelihatan bergerak. Jika lebih diperhatikan ternyata benda itu bukanlah batang kayu melainkan sosok Hantu Muka Dua. Sambil bergerak bangkit Hantu Muka Dua tertawa mengekeh.

"Peri Angsa Putih, ternyata aku si Hantu Segala Tipu masih bisa memperdayaimul Ha... ha... ha! Lain saat kau akan menerima Segala Keji dan Segala Nafsu dariku!"4MATAHARI belum lama tersembul di permukaan bumi. Lakasipo tegak terheran-heran di tepi timur Telaga Lasituhitam. "Aneh... aneh... aneh!" katanya berulangulang.

"Apa yang aneh, Lakasipo?" tanya Pendekar 212 Wiro Sableng. Saat itu bersama Naga Kuning dan Si Setan Ngompol dia berada dalam sebuah jaring akar kayu yang dilekatkan ke bahu kanan Lakasipo. Bukan saja mereka bisa menghirup udara segar serta luas pemandangan tapi yang lebih penting kini mereka bisa bicara dan didengar karena dekat telinga Lakasipo.

"Wahai tiga saudaraku! Apakah kalian tidak melihat keadaan air telaga itu? Ini telaga Lasituhitam. Dulu airnya berwarna hitam. Tapi hari ini kulihat telaga ini isinya adalah lahar mendidih!"

"Mungkin saja di bawah telaga ada kawah gunung api..." kata Setan Ngompol.

"Yang jelas pagi ini kita tak bisa mandi..." kata Lakasipo yang dijuluki Bola Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu.

"Duk... duk... duk... dukkk!" Setiap langkah yang dibuat Lakasipo mengeluarkan suara keras dan menggetarkan tanah. Sekali lagi Lakasipo perhatikan keadaan di sekitarnya. Dia melihat batu-batu di tepi telaga banyak yang hancur dan seolah terbungkus lapisan hijau aneh. Lalu pohon-pohon banyak yang bertumbangan. Selagi dia menduga-duga apa yang telah

tarjadi tiba-tiba di sebelah sana kuda tunggangannya Laekakienam meringkik keras.

"Dukkk... duk... dukkk." Lakasipo melangkah mendekati kuda hitam berkaki enam Ku. Ternyata binatang ini tengah menjilati sosok seorang gadis berkulit hitam manis berwajah ayu yang tergeletak pingsan di tanah.

Di dekat sKu masih ada empat gadis lainnya. Berada dalam keadaan sama seperti yang tengah dijilati Laekakienam.

"Wahai! Tambah lagi satu keanehan di tempat ini!"

kata Lakasipo. "Lihat! Kudaku menemukan lima orang gadis cantik bergeletakan di tanah!"

"Sebenarnya aku sudah melihat dari tadi..." kata Naga Kuning pula.

"Lalu mengapa tidak kau beri tahu padaku?!" ujar Lakasipo.

"Soalnya siapa mau melewatkan pemandangan luar biasa seperti ini. Lima gadis cantik tergeletak di tanah. Dalam keadaan tubuh hampir tidak tertutup...."

Berkata Setan Ngompol sampai tertawa cekikikan dan menahan kencing.

"Kau tua bangka gatal mata! Bagaimana kalau lima gadis itu sampai tidak keburu dKolong dan menemui ajal?!"

"Kami tahu lima gadis Ku cuma pingsan," kata murid Sinto Gendeng.

"Wahai! Jelas kalian bertiga sudah bersekongkol rupanya!" Lakasipo tak mau lagi bicara. Dia dekati gadis yang berkulit hitam manis dan tengah dijilati Laelakienam. Setelah memeriksa keadaan gadis ini Lakasipo berpindah pada empat gadis lainnya. Seperti yang dikatakan Wiro kelima gadis tak dikenal itu memang berada dalam keadaan pingsan.

"Turunkan kami, biar kami bisa ikut menolong!" kata Naga Kuning.

"Bocah tengill Aku tahu yang ada di benakmu! Kau ingin melihat tubuh mereka lebih dekat. Kalau bisa mau meraba!" tukas Lakasipo.

Naga Kuning cuma bisa cemberut. Setan Ngompol tertawa lebar sedang Pendekar212Wiro Sableng garukgaruk kepala. Lalu Wiro berkata. "Lakasipo, kalau kau mengerahkan tenaga dalam lalu memijat bagian-bagian tertentu tubuh mereka, lima gadis itu pasti akan lebih cepat siuman...."

Lakasipo tidak perdulikan ucapan Wiro. Dia sibuk mencari pohon berdaun lebar. Dengan daun-daun yang kemudian dirangkai-rangkainya satu sama lain dia menutupi bagian-bagian penting tubuh kelima gadis itu. Selesai melakukan "itu baru Lakasipo berkata. "Nah Wiro. Sekarang katakan bagian tubuh mana yang kupljat agar lima gadis cantik ini segera siuman...."

"Baiknya jangan kau beri tahu," bisik Naga Kuning."Kalau dia berhasil menolong lima gadis itu, paling-paling dia yang bakal dapat puji sanjungan. Kita tetap begini saja!"

"Betul," ikut berbisik Setan Ngompol. "Biar kita saja yang melakukan."

"Kalian bocah dan kakek sama saja konyolnya!" ujar Wiro. Lalu pada Lakasipo dia memberi tahu agar lelaki Itu memijat urat besar di sebelah kiri atau kanan leher kelima gadis. Setelah mengalirkan tenaga dalamnya ka tubuh lima gadis itu, seperti yang dikatakan Wiro, Lakasipo lalu memijat urat besar di leher mereka. Situ persatu mereka sadarkan diri. Setelah memandang berkeliling, dengan terheran-heran mereka menatap Lakasipo.

"Orang gagah berkaki batu," kata gadis berkulit Hitam manis. "Bagaimana kami bisa berada di tempat ini, Kau siapa...?"

"Bagaimana kalian berada di tempat ini mana aku tau. Kailan berlima kutemukan tergeletak pingsan. Coba kalian ingat-ingat. Apa yang terjadi sebelumnya dengan kalian.... Dan kau gadis hitam manis, siapa namamu."

"Aku Luhtinti. Malam tadi aku dan empat kerabat ini berada di Ruang Dua Belas Obor di bawah Telaga Lasituhitam...." Lalu Luhtinti menceritakan apa yang masih sempat diingatnya.

"Tidak bisa tidak, semua yang terjadi ini adalah kehendak Para Dewa dan Peri," kata Lakasipo begitu selesai mendengar penuturan Luhtinti.

"Orang berkaki batu, karena kau telah menolongku, aku menghatur banyak terima kasih "

"Kami juga!" kata empat gadis berbarengan. Lalu salah satu dari mereka berkata. "Sebelumnya kami berada di bawah kekuasaan Hantu Muka Dua. Karena kini kami telah bebas dan kau sebagai tuan penolong, maka kami berempat menyerahkan diri padamu.... Terserah kami mau dibawa kemana. Selain itu mohon sudi memberi tahu siapa adanya kau tuan penolong kami."

"Apa kubilang!" kata Naga Kuning sambil menepuk tangan Wiro. "Kita yang memberi tahu cara menolong, Lakasipo yang dapat untung! Empat gadis cantik menyerahkan diri sekaligus padanya! Kita satupun tidak kebagian! Kita dilupakan begitu saja!"

"Menolong dengan mengharap pamrih tidak ada gunanya. Lagi pula jika mereka menyerahkan diri padamu, apa yang bisa kau lakukan? Masuk ke dalam lobang hidungnya? Nongkrong di tiang telinganya?!" sahut Pendekar 212. Membuat Naga Kuning dan juga Setan Ngompol terdiam.

"Namaku Lakasipo," kata Lakasipo menjawab pertanyaan Luhtinti tadi. "Luhtinti, jika benar kau dan empat gadis itu sebelumnya berada di tempat kediaman Hantu Muka Dua, kau tahu di mana orang itu kini berada se karang?"

Luhtinti menggeleng. Gadis yang empat ikut-ikutan menggeleng. "Mungkin ada satu hal yang perlu kuberitahu," kata dara ayu berkulit hitam manis ini. "Sebelum terjadinya peristiwa hebat di telaga, aku diperintahkan Hantu Muka Dua untuk menyelidiki keadaan di luar kediamannya. Apakah bulan purnama muncul malam tadi atau tidak. Ternyata purnama penuh memang kelihatan di langit tadi malam...."

"Apa perlunya Hantu Muka Dua menyelidiki hal itu? Atau ada sesuatu bersangkut paut dengan bulan purnama?"

"Aku mendengar Hantu Muka Dua menyebut-nyebut Hantu Tangan Empat. Agaknya ada satu tugas yang diberikan pada Hantu Tangan Empat. Tapi Hantu Tangan Empat tidak pernah muncul menemui Hantu Muka Dua memberi tahu hasil tugasnya...."

"Mungkin Hantu Tangan Empat gagal menjalankan lugas," kata Lakasipo.

"Kelihatannya begitu...."

Wiro dan kawan-kawannya yang ada di dalam jaring dan sejak tadi sudah gatal untuk bicara segera berseru. "Lakasipo, tanyakan padanya apa dia tahu di mana Hantu Tangan Empat berada?"

Lakasipo tidak acuhkan permintaan Wiro. Baginya ada pertanyaan lain yang lebih penting. "Wahai Luhtinti, kau mungkin mendengar dan tahu, tugas apa yang harus dilakukan Hantu Tangan Empat?"

"Aku mendengar Hantu Muka Dua menyebut-nyebut sebuah benda bernama Batu Sakti Pembalik Waktu...."

Air muka Lakasipo berubah. Tapi yang paling terkejut adalah Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol.

"Lakasipo!" seru Wiro. "Kini tersingkap Hantu Muka Dua menugaskan Hantu Tangan Empat mencari Batu Sakti Pembalik Waktu. Itu sebabnya dia masuk ke alam kami, alam seribu dua ratus tahun di muka alammu yang sekarang. Kau sudah tahu dari kami Hantu Tangan Empat tidak berhasil mendapatkan batu sakti itu. Batu itu sebelumnya ada pada Setan Ngompol. Jatuh di satu tempat, pertama sekali kami bertiga muncul di Negeri Latanahsilam ini...."

"Itu sebabnya kami minta bantuanmu mencari batu itu. Kalau sampai jatuh ke tangan Hantu Tangan Empat apalagi Hantu Muka Dua, jangan harap kami bisa kembali ke dunia kami!"

"Lakasipo, untuk sementara lupakan dulu batu itu," kata Wiro. "Tanyakan pada gadis itu apa dia tahu di mana Hantu Tangan Empat berada."

Sementara itu sejak tadi Luhtinti dan empat gadis cantik terheran-heran melihat kelakuan Lakasipo. Mereka memperhatikan sambil sesekali memandang ke arah bahu kanannya, di mana Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol berada dalam sebuah jaring.

"Lakasipo, dari tadi kami lihat kau bicara seorang diri.... Kau bicara dengan siapa sebenarnya?"

"Ya, jelas bukan dengan kami!" kata satu dari empat gadis cantik di samping Luhtinti.

"Aku mendengar suara-suara aneh halus. Benda apa yang ada di atas bahumu, wahai Lakasipo?"

"Kalau kuterangkan kalian pasti sulit percaya. Luhtinti, apakah kau atau salah satu dari kalian tahu di mana beradanya Hantu Tangan Empat?"

Baru saja Lakasipo bertanya tiba-tiba di tanah bergerak satu bayang-bayang besar.

"Siapa yang bertanyakan perihal Hantu Tangan Empat?!"5SEMUA orang yang ada di tepi telaga termasuk Wiro dan kawan-kawannya memandang ke langit. Di atas sana kelihatan seekor angsa putih besar terbang berputarputar. Makin lama makin turun ke bawah lalu di satu tempat mengapung diam di udara. Diatas punggung angsa putih ini duduk seorang gadis cantik luar biasa berpakaian gulungan kain putih. Tubuhnya menebar bau harum.

Sementara Naga Kuning dan Setan Ngompol ternganga heran, Pendekar 212 Wiro Sableng tegak tertegun di atas bahu Lakasipo. Matanya menatap sosok gadis cantik di atas punggung angsa putih.

"Harum bau tubuh dan pakaiannya mengingatkan pada Bidadari Angin Timur..." kata Wiro dalam hati. "Kecantikan dan sepasang matanya yang biru mengingatkan aku pada Ratu Duyung.... Ah, bagaimana sebenarnya perjalanan hidupku ini! Melihat semua keanehan gadis cantik di atas angsa terbang itu apa Mungkin antara dirinya ada sangkut paut dengan Ratu Duyung? Mungkin, mustahil.... Aku terbenam terlalu jauh dalam alam pikiranku. Mereka terpisah dalam jarak waktu seribu dua ratus tahun...."

"Apakah tak ada seorangpun yang mau menjawab pertanyaanku?" Gadis di atas angsa putih yang mengapung di udara kembali bertanya. Matanya yang biru Memandang tajam ke bawah. Dia menatap wajah dan sosok Lakasipo. Lalu dia juga melihat sesuatu yang tak bisa dipastikan benda apa adanya yang terletak di atas bahu Lakasipo.

Seperti tersadar dari sesuatu yang tidak diduga, Lakasipo cepat menjura lalu letakkan dua tangan yang dirapatkan di atas kepala.

"Wahai Peri Angsa Putih, Peri Junjungan dan tercantik di tujuh lapisan langit. Mohon kau sudi menerima sembah hormat saya. Kehadiranmu sungguh tidak disangka-sangka. Itu sebabnya saya sampai lupa menjawab pertanyaan. Mohon maafmu wahai Peri Angsa Putih. Saya yang rendah ini bernama Lakasipo dari Negeri Latanahsilam. Adapun hal ihwal yang menyangkut Hantu Tangan Empat dipertanyakan karena ada tiga orang saudara saya membutuhkan pertolongannya."

Sepasang mata biru Peri Angsa Putih kembali menatap wajah dan sosok Lakasipo, lalu seperti tadi pandangannya beralih pada benda yang menempel di bahu kanan lelaki itu.

Dalam hati sang Peri berkata. "Lakasipo, sudah lama aku mendengar nama dan riwayat hidupnya. Baru sekali ini aku melihat jelas keadaannya. Ternyata dia seorang lelaki berperawakan kekar, berwajah jantan dan gagah. Tidak heran ada kecemburuan terselubung di hati Hantu Muka Dua. Kalau sampai lelaki ini jatuh ke tangan si nenek Hantu Santet Laknat, heh.... Aku melihat dua kaki itu. Walau mungkin menyengsarakan dirinya namun dia memiliki sesuatu yang luar biasa.... Sangat disayangkan kalau lelaki segagah ini jatuh ke tangan Hantu Santet Laknat atau mungkin.... Aku menyirap kabar seorang gadis sakti bernama Luhjelita menginginkan dirinya. Entah untuk maksud jahat atau maksud baik. Bisa saja Luhjelita berhasil memikat hatinya dibanding dengan Hantu Santet Laknat Mungkin aku perlu menemui Peri Bunda dan berterus terang padanya...."

DI dalam jaring di atas bahu Lakasipo, kakek Setan Ngompol berbisik pada Wiro dan Naga Kuning. "Hai, apakah kalian tidak melihat sejak tadi gadis cantik di atas angsa putih itu memperhatikan diriku?"

Naga Kuning tertawa cekikikan. Wiro tekapkan tangannya ke mulut menahan tawa.

"Tua bangka edani Kalau sampai Peri itu jatuh olnta padamu, aku berani digantung kaki ke atas kepala ke bawah!"

"Aku berani disunat sekali lagi sampai habis!" kata Wiro pula.

Setan Ngompol tertawa cekikikan. "Kalaupun dia tidak suka padaku, apa kalian mengira Peri itu suka pada salah satu dari kalian? Huh!"

Di atas angsa putih Peri Angsa Putih hendak berkata. Tapi mendadak urungkan niatnya karena tiba-tiba matanya melihat ada sesosok tubuh berpakaian Jingga mendekam sembunyi di bawah sebatang pohon yang dikelilingi semak belukar lebat. "Heh.... Baru disebut sudah muncul. Ternyata dia memang benar-benar mencari Lakasipo. Luhjelita, gerangan apa maksudmu sebenarnya? Jika kau bermakaud baik mungkin kau akan mengecewakan diriku. Jika kau berniat jahat jelas-jelas itu tidak berkenan di hatiku...."

Di balik pohon besaryang dikelilingi semak belukar lebat dan terletak tak jauh dari Lakasipo berada memang mendekam sosok seorang gadis berkulit halus, berwajah cantik yang bukan lain adalah Luhjelita. Di sebelahnya mendekam pula sosok seekor kura-kura raksasa coklat bersayap yang selama ini menjadi tunggangannya. Seperti dituturkan sebelumnya Hantu Muka Dua yang menganggap gadis itu sebagai kekasihnya telah memerintahkan Luhjelita mencari dan membunuh Lakasipo. Seperti Peri Angsa Putih, selama ini Luhjelita tidak pernah bertemu muka dan melihat jelas sosok dan wajah Lakasipo. Ternyata lelaki itu memiliki wajah gagah walau sepasang kakinya berbentuk aneh, terbungkus oleh bola-bola batu.

"Kalau dia segagah ini, apakah sampai hatiku membunuhnya...?" membatin Luhjelita. "Ah! Bagaimana ini!" Luhjelita garuk-garuk rambutnya berulang kali. Lalu dia memandang ke atas. "Heh.... Peri Angsa Putih.... Sepertinya dia telah tahu kehadiranku di tempat ini. Apakah aku harus terus bersembunyi atau langsung saja menghadang Lakasipo. Tapi membunuh lelaki itu sepertinya...."

"Lakasipo...." Tiba-tiba terdengar suara Peri Angsa Putih dari atas sana. "Setahuku kau dilahirkan sebagai anak tunggal. Bagaimana sekarang kau bisa berkata punya tiga orang saudara?"

"Panjang ceritanya wahai Peri Angsa Putih. Tapi jika kau sudi mendengarkan penuturan saya...."

Peri Angsa Putih gelengkan kepala. "Tidak sekarang wahai Lakasipo. Pertolongan apa yang dibutuhkan tiga saudaramu itu?"

"Mereka ingin kembali ke dunia mereka. Dunia seribu dua ratus tahun mendatang bagi kita. Jika itu tidak mungkin, mereka ingin agar diri mereka bisa dirubah menjadi sebesar manusia di negeri Latanahsilam ini...."

"Aneh kedengarannya. Saudaramu berasal dari dunia seribu dua ratus tahun setelah dunia kita. Lalu saudaramu ingin dirubah menjadi sebesar kita. Memangnya bagaimana keadaan diri mereka...?"

"Sulit bagi saya memberi tahu wahai Peri Angsa Putih kalau tidak menerangkan dari pangkal ceritanya...."

"Beberapa waktu lalu Peri Bunda pernah menceritakan tentang makhluk aneh sebesar jari kelingking yang entah bagaimana tahu-tahu berada di dunia kita.... Merekakah yang dimaksudkan oleh Peri Bunda?"

"Saya yakin memang mereka wahai Peri Angsa Putih...." Lakasipo lalu ambil jaring akar kayu yang menempel di bahu kanannya. Wiro, Naga Kuning dan setan Ngompol diletakkannya di telapak tangan kiri lalu diperlihatkannya pada Peri Angsa Putih.

Naga Kuning langsung menjura. Setan Ngompol terbungkuk-bungkuk tekap bagian bawah perutnya. Hanya Pendekar 212 Wiro Sableng yang tetap tegak sambil rangkapkan dua tangan di depan dada.

Pari Angsa Putih tundukkan kepalanya, memantang ke bawah. "Heh.... Tiga saudaramu memang aneh-aneh wahai Lakasipo. Ada yang sikapnya tengil, ada yang bau dan ada yang bersikap mau gagah sendirl...."

"Harap maafkan mereka wahai Peri Angsa Putih. Mareka berasal dari alam dunia yang berbeda dengan kita.."

"Jika keadaan dan sikap mereka seperti ini, aku khawatir Hantu Tangan Empat tak akan mau menolong mereka," kata Peri Angsa Putih pula.

Mendengar kata-kata sang Peri hampir terlompat ucapan dari mulut Wiro bahwa Hantu Tangan Empat Mati mau menolong. Karena waktu di alam dunia mereka, dia pernah menolong kakek itu. Tapi karena tadi dirinya sudah disindir sebagai seorang yang bersikap mau gagah sendiri, murid Sinto Gendeng akhirnya memutuskan diam saja.

"Perl Angsa Putih, menurut tiga saudaraku, dan setahuku sendiri, Hantu Tangan Empat selalu bersikap baik pada semua orang. Aku yakin kakek itu mau menolong tiga saudaraku. Kalau saja Peri mau menunjukkan di mana dia berada...."

"Aku tak mungkin memberitahu tanpa ijinnya..." kata Peri Angsa Putih pula.

"Lakasipo!" teriak Wiro. "Dari ucapan Peri Angsa Putih aku yakin dia tahu di mana Hantu Tangan Empat Itu berada. Kau harus memaksanya. Ini kesempatan satu-satunya bagi kami untuk bisa kembali ke dunia kami!"

"Peri Angsa Putih, saya harap kau mau bermurah hati menolong tiga saudaraku ini...."

"Maafkan aku wahai Lakasipo. Saat Ini aku belum bisa menjanjikan apa-apa. Entah di kemudian hari...."

Wiro hentakkan kaki kanannya di atas telapak tangan Lakasipo. "Lakasipol Katakan pada Peri itu, setahuku yang namanya Peri bersifat murah hati, penuh hasrat menolong. Peri yang satu ini Peri sungguhan atau apa...?"

"Aku tak berani memaksanya wahai saudaraku...."

"Kalau begitu biar aku yang bicara dengannya! Angkat diriku lebih ke atas...."

"Jaraknya terlalu jauh Wiro...."

"Kalau begitu minta dia turun lebih dekat ke sini," kata Wiro pula.

Tapi Lakasipo mana berani memerintah Peri Angsa Putih.

Di atas punggung tunggangannya Peri Angsa Putih mendengar ucapan-ucapan Lakasipo. Dia menimbangnimbang seketika lalu ketika dia siap hendak berucap tiba-tiba dari balik semak belukar melompat sosok tubuh seorang gadis berpakaian Jingga.

"Lakasipo! Kita belum pernah bertemu muka! Apakah diriku cukup layak menemuimu untuk membicarakan satu urusan sangat penting?"

"Dukk... dukkk!"

Lakasipo sampai tersurut dua langkah saking kagetnya. Sambaran angin orang yang barusan berkelebat bukan olah-olah kerasnya pertanda dia memiliki ilmu kepandaian tinggi. Memandang ke depan Lakasipo tercekat melihat seorang gadis berpakaian Jingga, berwajah cantik dan memiliki kulit putih mulus serta rambut digulung ke atas. Potongan tubuhnya yang padat elok membuat nafas Lakasipo seolah tertahan beberapa lamanya.

"Wahai gadis berpakaian Jingga. Siapakah engkau dan urusan sangat penting apa yang kau maksudkan?" bertanya Lakasipo.

Di atas sana paras Peri Angsa Putih langsung berubah ketika melihat siapa yang muncul. "Gadis genit tukang rayu itu! Akhirnya berani juga ia memunculkan diri mendahuluiku! Kalau Lakasipo sampai terpikat dia bisa celaka... Bagaimana aku memotong pembicaraan mereka dan memberi ingat lelaki itu."

"Lakasipo!" Peri Angsa Putih berseru. "Pembicaraan kita belum selesai. Harap kau tidak membuat urusan baru dulu!"

Di atas telapak tangan Lakasipo Pendekar 212 Wiro Sableng cepat membaca keadaan. "Heh... Peri Angsa Putih seolah merasa tersisih dengan kemunculan si cantik berpakaian Jingga ini. Mungkin juga ada rasa cemburu. Mungkin aku bisa pergunakan kesempatan agar dia tidak kehilangan muka!" Habis berpikir begitu Wiro hentakkan kakinya ke telapak tangan Lakasipo lalu berteriak.

"Lakasipo! Jika kau tidak perdulikan Peri di atas sana, jangan harap ada yang mampu menolong diriku dan kawan-kawan. Kalau sampai kami tidak tertolong karena ulahmu, jangan kira kami masih mau menganggap dirimu sebagai saudara!"

Diancam seperti itu Lakasipo jadi bingung. Sementara itu didepannya Luhjelita mulai merayu dengan melontarkan senyum-senyum memikat. Malah dengan beraninya sambil memegang lengan Lakasipo gadis ini berkata. "Lakasipo, namaku Luhjelita. Aku datang untuk memberitahu kabar yang kusirap. Ada seseorang inginkan jiwamu...."

"Siapa?!" tanya Lakasipo.

"Tak bisa kukatakan di sini...."

"Jika kau bermaksud baik mengapa berahasia segala?!" sergah Lakasipo.

"Lakasipo!" Di atas sana Peri Angsa Putih berseru keras. "Jika kau tidak merasa perlu meneruskan pembicaraan denganku, aku siap pergi...."

Wiro kembali hentakkan kaki kanannya ke telapak tangan Lakasipo dan berteriak mengancam. "Lakasipo! Cukup kita bersaudara sampai di sini! Turunkan aku dan kawan-kawan ke tanah! Biar kami memilih jalan sendiri!"

"Wiro, tunggu...." Lakasipo memandang ke depan. "Luhjelita, saat ini aku...."

Gadis cantik di depan Lakasipo tersenyum manis lalu berkata. "Aku tidak akan mengganggumu. Aku tidak mau mengecewakan tiga makhluk aneh yang kau sebut saudaramu Ku. Aku akan tinggalkan tempat ini. Tapi satu hari di muka, pada saat matahari terbit kutunggu dirimu di Goa Pualam Lamerah. Kau akan menyesal seumur-umur jika tidak menemuiku..."

Tanpa menunggu jawaban Lakasipo, Luhjelita segera putar tubuh dan berkelebat tinggalkan tempat itu. Sebelum berlalu dari tepi telaga dia melirik ke atas sana dan mengulum senyum penuh arti pada Peri Angsa Putih. Dalam hati gadis ini berkata. "Peri Angsa Putih, dengan segala kecantikan dan kelebihan derajatmu jangan mengira kau bakal mendapatkan Lakasipo. Hatiku terlanjur jatuh padanya pada pandangan pertama...." Luhjelita kembali ke balik semak belukar lebat di bawah pohon besar, langsung naik ke punggung kura-kura lalu melayang terbang dan lenyap di udara.* *6DI ATAS punggung angsa putih, Peri Angsa Putih luruskan jari telunjuk tangan kanannya. Jari ini diarahkan pada telapak tangan Lakasipo di atas mana Wiro dan dua kawannya berada. Ketika jari tangan itu tergetar terjadilah satu hal yang luar biasa. Seperti tersedot tubuh Wiro melesat ke atas. Belum sempat sang pendekar sadar apa yang terjadi tahu-tahu dirinya sudah berada di atas telapak tangan kiri Peri Angsa Putih.

Untuk beberapa lamanya sepasang mata biru sang Peri menatap memperhatikan sosok Wiro yang hanya sebesar jari kelingking Ku. Melihat keadaan Wiro sedekat dan sejelas Ku, sikap Peri Angsa Putih yang semula tidak acuh kini jadi berubah.

"Wahai, rupanya orang ini masih muda belia. Rambutnya gondrong. Wajahnya cakap. Ternyata dia lebih gagah dari Lakasipo. Murah senyum. Kulitnya kuning bersih. Pandangan matanya lucu. Suka garuk-garuk kepala. Tubuhnya penuh otot Heh... ada guratan tiga angka di pertengahan dadanya. Lalu ada sebuah benda terselip di pinggang celananya. Pakaiannya walau dekil tapi bukan terbuat dari kulit kayu atau dedaunan seperti yang dimiliki orang-orang di Latanahsilam. Sikapnya seenaknya saja, malah agak kurang ajar. Terhadap diriku dia seolah menganggap sama rata saja. Tapi mengapa aku mulai tertarik padanya...?"

"Terima kasih, kau tadi telah menyelamatkan mukaku dari malu besar..." kata Peri Angsa Putih.

Hembusan nafasnya waktu bicara tadi membuat Wiro terpental hingga hampir jatuh terjungkal ke tanah. Sang Peri maklum kalau dia harus bicara perlahan di jarak sedekat itu.

"Sosok cebol, makhluk apa kau sebenarnya? Siapa dirimu? Apakah kau punya nama?"

Murid Eyang Sinto Gendeng menyeringai. "Kau boleh memanggil saya Si Cebol, Si Kontet atau Si Katai! Suka-sukamulah wahai Peri Angsa Putih...."

Peri cantik itu tertawa lebar mendengar kata-kata Pendekar 212. "Mendengar tutur bicaramu jelas kau bukan penduduk Latanahsilam, walau kau bicara coba meniru logat orang sini. Pakai wahai segala! Aneh terdengarnya. Apa benar kau berasal dari dunia seribu dua ratus tahun lebih tua dari dunia kami?"

"Saya dan kawan-kawan memang berasal dari dunia lain. Kami kesasar datang ke sini...."

"Bagaimana bisa kesasar?"

"Itu yang masih kami selidiki. Tapi saat ini yang kami inginkan adalah kembali ke dunia kami. Jika tidak mungkin, jika nasib kami harus tetap mendekam di negeri ini maka kami ingin agar sosok kami bisa dibuat sebesar sosok orang-orang yang ada di sini. Kalau tidak bahaya akan selalu mengikuti kemana kami pergi."

"Katamu kau datang kesasar ke negeri ini. Berarti sulit mencari jalan pulang. Untuk memenuhi keinginanmu menjadi sebesar kami, siapa pula yang bisa melakukannya?"

"Hanya ada satu orang. Hantu Tangan Empat!" jawab Wiro.

"Mengapa kau begitu yakin kakek satu itu bisa menolongmu?" tanya Peri Angsa Putih.

"Kami pernah bertemu dengannya di Tanah Jawa...."

"Tanah Jawa? Di mana itu?" tanya Peri Angsa Putih.

Wiro garuk-garuk kepalanya. "Negeri asai kami. Sulit bagaimana menerangkannya padamu. Waktu berada di Tanah Jawa, sosok Hantu Tangan Empat sama besarnya dengan sosok tubuh kami. Kalau dia berada di sini tentu sosoknya sama besar dengan orang-orang di sini. Berarti dia punya ilmu membesar dan mengecilkan tubuh...."

"Kau cerdik!" kata Peri Angsa Putih seperti memuji.

"Tidak, itu jalan pikiran wajar-wajar saja," jawab Wiro polos. "Peri Angsa Putih, melihat kepada wajahmu yang cantik dan tutur bicaramu yang sopan, saya tahu kau seorang Peri baik hati. Tetapi mengapa kau tidak mau menolong diriku mempertemukan dengan Hantu Tangan Empat?"

"Soalnya aku tidak tahu di mana dia berada."

Wiro tersenyum. "Tadi saya dengar kau berkata tidak mau membawa saya pada kakek itu tanpa ijinnya..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.145.108.181
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia