Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

HANTU PENJUNJUNG ROH MENYERINGAI LALU KELUARKAN SUARA TAWA MELENGKING. "AKU TAK TAHU SIAPA KAU ADANYA. APA JABATANMU DI ISTANA KEBAHAGIAAN INI! DENGAR BAIK-BAIK. AKU DAN KAWAN-KAWANKU DATANG KE TEMPAT INI BUKAN UNTUK MELIHAT SAJIAN BIADAB INI! DAN KAU MAHLUK TIKUS KERDIL TIDAK LAYAK BICARA DENGANKU! SIAPA SUDI BERLUTUT DI HADAPANMU! MANA PENGUASA ISTANA KEBAHAGIAAN. AKU HANYA MAU BICARA DENGAN HANTU MUKA-DUA! PANGGIL DIA KESINI. MENGAPA MASIH BELUM MUNCUL! APA BELUM SELESAI BERSOLEK?!" SUASANA MENJADI TAMBAH GEMPAR BEGITU SEMUA ORANG MENDENGAR UCAPAN HANTU PENJUNJUNG ROH YANG KERAS LANTANG DAN BERANI KURANG AJAR ITU. DI TENGAH KEGEMPARAN ITU TIBA-TIBA HANTU SELAKSA ANGIN MEMANJAT NAIK KE ATAS KURSI PUTIH. DENGAN SUARA LANTANG DIA BERKATA. "KERABATKU HANTU PENJUNJUNG ROH, JIKA KAU TIDAK SUDI BERLUTUT BIAR AKU YANG MEWAKILKAN!" LALU ENAK SAJA NENEK INI MEMUTAR TUBUHNYA, PANTATNYA Dl SONGGENGKAN KE ARAH MIMBAR DAN BUTT PREETT! HANTU SELAKSA ANGIN PANCARKAN KENTUTNYA.

MAHLUK yang tubuhnya dikobari api itu berlari ke arah timur. Gerakannya tidak secepat seperti biasanya. Sesekali dia berhenti sambil memegangi dadanya yang remuk. Keadaannya luar biasa menggidikkan.

Tubuhnya sebelah kanan hanya berupa satu lobang besar hingga isi dada dan isi perutnya terlihat dengan jelas. Bahkan usus besarnya nyaris memberojol keluar kalau tidak terkait pada satu dari dua tulang iganya yang patah. Pada kening sebelah kiri ada satu lobang besar. Lelehan darah hitam mengering menutupi sebagian wajahnya yang angker. Lalu kaki kanannya yang sebelumnya dikobari api kini kelihatan bengkok hitam kebiruan. Mahluk ini adalah yang pernah menjadi Utusan atau Wakil Para Dewa di Negeri Latanahsilam dan dikenal dengan sebutan Lamanyala.

Sebagaimana diceritakan dalam Episode sebelumnya ("Batu Pembalik Waktu") mahluk ini bertempur habis-habisan menghadapi musuh bebuyutannya yang pernah dimakan kutukannya yakni Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu. Kemudian ketika Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan muncul di tempat itu dia kena pula di hajar tendangan si nenek pada bagian dada hingga terpental dan menggeletak di tanah dalam keadaan hampir sekarat! Masih untung bagi Lamanyala, dalam keadaan babak belur begitu rupa dia mampu melarikan diri. Namun dia tidak mengetahui sama sekali kalau dibelakangnya ada seseorang mengikutinya secara diam-diam.

Orang yang menguntit Lamanyala bukan lain adalah Hantu Tangan Empat. Sebelumnya tokoh utama rimba persilatan Negeri Latanahsilam itu telah memberikan perintah pada Lamanyala untuk mengikuti cucunya sendiri yakni Peri Angsa Putih. Hantu Tangan Empat menaruh curiga bahwa Peri Angsa Putih telah memiliki Batu Pembalik Waktu yang pernah dicarinya sampai ke Tanah Jawa atas perintah Hantu Muka Dua. Ternyata Lamanyala tidak mampu mendapatkan batu sakti itu.

"Aneh," pikir Hantu Tangan Empat sambil terus mengikuti. "Kalau dia lari, seharusnya dia kembali ke tempat kediamanku. Memberi tahu bahwa dia gagal. Tapi mengapa Lamanyala malah lari ke jurusan lain? Aku harus menguntit terus. Aku harus tahu menuju kemana mahluk satu ini! Sebenarnya aku sudah lama bercuriga. Jangan-jangan dia sengaja memperhambakan diri padaku untuk satu maksud jahat!"

Ketika sang surya condong ke barat dan di depannya kelihatan gugusan batu-batu warna kelabu, Hantu Tangan Empat mulai menyadari kemana tujuan mahluk yang diikutinya. Dia kenal betul kawasan itu karena pernah mendatanginya sebelumnya.

"Di depan kawasan berbatu-batu sana ada sebuah bukit. Di bukit itu terletak Istana Kebahagiaan, sarang Hantu Muka Dua. Agaknya kesanalah tujuan Lama nyala! Aneh, mengapa mahluk ini menuju Istana Ke bahagiaan? Apa hubungannya dengan Hantu Muka Dua? Ah! Bukan mustahil...."

Di depan sana Lamanyala menyelinap di antara batu-batu besar warna kelabu. Tak lama kemudian kelihatan atap satu bangunan besar berwarna putih, menjulang di sebuah puncak bukit. Itulah Istana Ke bahagiaan.

"Tidak salah! Lamanyala memang menuju Istana Kebahagiaan! Dia punya hubungan dengan penguasa istana!"

Baru saja Hantu Tangan Empat berucap tiba-tiba di arah barat terdengar satu suitan keras. Dari timur satu suitan lain berkumandang menyahuti suitan dari barat. Tak lama kemudian hampir selusin orang berjubah hitam berkelebat dari barat dan timur kawasan batu lalu dengan cepat menyongsong ke arah mahluk api Lamanyala. Lamanyala segera hentikan larinya.

"Mahluk Api Lamanyala!" berseru orang paling depan. Agaknya dia yang menjadi pimpinan dari rombongan orang berjubah hitam itu. "Raja Diraja telah mengetahui kedatanganmu! Kami disuruh menjemput! Lekas kau menyelinap ke balik batu besar di sebelah kanan! Apa kau tidak tahu kalau dirimu ada yang menguntit?!"

Lamanyala terkesiap kaget. Dia menoleh ke belakang. Tapi tidak melihat seseorangpun. Dalam herannya dia ikuti juga ucapan orang berjubah hitam tadi. Dengan cepat dia menyelinap ke balik batu besar kelabu di samping kanannya. Di sebelah depan sana orang berjubah hitam yang jadi pimpinan memberi Isyarat pada teman-temannya. Dua belas orang melompat ke satu batu datar lalu sama-sama menghantamkan tangan ke arah batu besar dibalik mana Hantu Tangan Empat tadi bersembunyi.

"Wuutttt!"

Dua belas sinar hitam berkiblat menghantam batu.

"Byaarrr!"

Batu besar hancur berkeping-keping. Debu dan pecahan batu menjulang ke udara menutupi pemandangan. Begitu debu dan pecahan batu surut jatuh ke tanah dua belas orang berjubah pelototkan mata.

"Kurang ajar! Si penguntit berhasil melarikan diri!"

Lamanyala keluar dari balik tempat dia berlindung, memandang ke arah mana tadi dua belas pukulan mengandung kekuatan dahsyat menghancur leburkan batu besar. Seperti orang-orang berjubah, diapun tidak melihat siapa-siapa di seberang sana.

"Kalian tadi melihat orang menguntit! Apa kalian mengenali siapa dia!"bertanya Lamanyala.

"Rambutnya putih, pakaiannya kecoklatan! Terlalu jauh untuk dikenali!"

"Rambut putih, pakaian coklat," Lamanyala mengulang dalam hati.

"Kau sendiri apakah bisa menduga siapa penguntitmu?!" Pimpinan orang-orang berjubah hitam bertanya.

"Hantu Tangan Empat, pasti dia..." kata Lamanyala dalam hati. Tapi pada yang bertanya dia berikan jawaban lain. Mahluk ini gelengkan kepala dan berkata.

"Sulit kuduga. Di negeri ini banyak sekali orang berambut putih dan berpakaian warna coklat...."

Orang-orang berjubah hitam memandang ke arah tadi mereka melihat sosok berambut putih berpakaian coklat. Yang jadi pimpinan berkata.

"Kalau begitu sekarang ikuti kami! Kami akan antarkan kau menghadap Raja Di Raja Penguasa Istana Kebahagiaan!"

Dua belas orang berjubah hitam balikkan tubuh mereka. Enam di sebelah depan, enam di bagian belakang. Lamanyala diapit di tengah-tengah. Saat itulah tiba-tiba dari balik sebuah batu besar melesai selarik sinar putih. Di lain kejap terdengar jeritan dahsyat. Dua orang berjubah hitam yang berada di barisan belakang mencelat ke udara. Ketika jatuh di tanah sosok keduanya tak berkutik lagi. Menemui ajal dengan pakaian hangus dan tubuh melepuh! Di balik batu besar Hantu Tangan Empat teriak mengekeh. "Lamanyala! Siapapun majikan atau pimpinanmu, kau pasti akan mendapat sambutan istimewa darinya! Ha... ha... ha!"HANTU Muka Dua, yang dijuluki Hantu Segala Keji Segala Tipu Segala Nafsu tegak bertolak pinggang. Kepalanya yang memiliki dua muka saat itu telah berubah menjadi muka-muka raksasa pertanda dia sedang marah besar.

"Wahai Junjungan, Raja Diraja semua Hantu di Negeri Latanahsilam ini. Mohon maafmu. Aku mengaku salah karena gagal menjalankan tugas...."

"Kau tidak usah bicara banyak! Dari keadaan dirimu saja aku sudah tahu kalau kau tidak becus menjalankan tugas rahasia! Kau telah memperhambakan diri pada Hantu Tangan Empat. Tapi kau tidak mampu mendapatkan rahasia ilmu bagaimana caranya menembus waktu, masuk ke negeri seribu dua ratus tahun mendatang!"

"Maafkan aku Hantu Muka Dua. Puluhan hari aku tak tidur-tidur mengintai kelengahan Hantu Tangan Empat. Tapi setiap aku berusaha hendak melumpuhkannya dia seperti sudah tahu dan berjaga-jaga...."

"Kau juga tidak berhasil mencuri ilmu berubah ujud membentuk empat tangan!" Bentak Hantu Muka Dua.

"Aku mengaku salah dan siap menerima hukuman!"

"Bagus! Kau masih tahu diri! Dua anak buahku menemui ajal ketika hendak membawamu kemari! Apakah kau bisa menebus nyawa mereka?!" Sepasang mata raksasa Hantu Muka Dua sebelah depan memandang berapi-api pada Lamanyala. Mahluk api itu kembali mengucapkan maaf dan ampun berulang kali.

"Lamanyala mahluk tolol! Kau tahu! Dosamu yang terbesar adalah berlaku tolol hingga Hantu Tangan Empat bisa menguntitmu sampai ke sini!"

Lamanyala terkejut. Dia tidak mengira kalau Hantu Muka Dua sudah tahu siapa orang yang tadi mengikutinya.

Hantu Muka Dua rangkapkan tangan di muka dada. Dia berpaling ke salah satu sudut ruangan besar itu dimana terletak sebuah guci tanah raksasa berbobot hampir dua ratus kati. Setelah diam sesaat Hantu Muka Dua ulurkan tangannya sebelah kanan. Telapak dibuka dan di arahkan pada guci raksasa. Begitu dia membentak dan tangan itu diangkat ke atas, guci besar dan luar biasa beratnya itu perlahan-lahan terangkat ke atas sampai tiga jengkal dari atas lantai.

"Merangkak ke bawah guci!" Hardik Hantu Muka Dua.

Walau ngeri akan hukuman apa yang bakal menimpanya Lamanyala jatuhkan diri juga ke lantai ruangan.

"Aku mohon ampunmu wahai Hantu Muka Dua. Izinkan aku kembali ke tempat kediaman Hantu Tangan Empat. Beri kesempatan sekali lagi. Aku berjanji sebelum bulan purnama muncul paling tidak salah satu dari ilmu kesaktiannya itu sudah dapat kurampas!"

"Tidak ada gunanya membual di hadapanku Lamanyala! Tak ada gunanya kau kembali ke tempat kediaman Hantu Tangan Empat. Kakek itu sudah tahu kalau kau adalah musuh dalam selimut. Pengabdi pengkhianat! Kau menghambakan diri padanya sambil menyembunyikan maksud culas!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan wahai Hantu Muka Dua?" tanya Lamanyala. Dia melirik dengan perasaan ngeri pada guci raksasa yang sampai saat itu masih menggantung di sudut ruangan. Dua wajah raksasa Hantu Muka Dua depan belakang menyeringai. Taring-taring yang lancip panjang mencuat di balik bibirnya. "Aku tahu kau masih belum bosan hidup. Jadi hukumanmu agak aku peringan sedikit!"

"Sang Junjungan! Jangan...."

"Merangkak ke bawah guci itu!" Bentak Hantu Muka Dua.

"Hantu Muka Dua, aku...."

"Kau membuat aku tidak sabaran!" Hantu Muka Dua melangkah mendekati Lamanyala. Dengan kaki kirinya dia tendang pantat mahluk api itu. Lamanyala terpental dan jatuh tepat di bawah guci besar. Hantu Muka Dua gerakkan tangan kanannya. Guci seberat dua ratus kati itu turun ke bawah langsung menggencet punggung, leher dan kepala Lamanyala.

"Kraakkk!"

Ada bagian tubuh Lamanyala yang berdetak rengkah. Entah rahang entah tulang punggungnya. Mahluk api ini berusaha meronta. Dua kakinya melejang. Dua tangannya coba menggapai. Tapi percuma saja. Dia tidak mampu melepaskan himpitan guci raksasa! Semakin dia bersikeras berusaha membebaskan diri, semakin menggencet berat guci yang menindihnya!

Hantu Muka Dua berkacak pinggang lalu tertawa bergelak.

"Kau akan tetap di situ sampai sepuluh hari sebelum hari lima belas bulan dua belas! Jika kelak aku berbelas hati, kau akan kubebaskan! Mungkin kau masih bisa kupergunakan untuk urusan-urusan tertentu!

Habis berkata begitu Hantu Muka Dua bertepuk tiga kali. Dinding batu sebelah kanan ruangan bergeser. Muncul tiga orang gadis cantik berpakaian serba minim. Ke tiga gadis ini langsung menjura.

"Siapkan Ranjang Bahagia! Hawa dalam tubuhku terasa panas membara! Aku butuh kesejukan! Aku ingin bersenang-senang dengan kalian! Lakukan mulai sekarang!"

Tiga gadis itu kembali menjura lalu goyangkan dada dan pinggul masing-masing. Pakaian minim yang membungkus tubuh ke tiganya terlepas tanggal dan jatuh ke lantai ruangan.2KITA kembali pada Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu dan Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan.

Seperti dikisahkan dalam Episode sebelumnya ("Batu Pembalik Waktu") sepasang suami istri yang saling terpisah selama puluhan tahun itu akhirnya bertemu. Keduanya berpeluk bertangisan penuh gembira tapi juga penuh haru di dalam sebuah danau kecil.

"Peluk tubuhku erat-erat Luhpingitan. Kalau tidak aku akan meluncur terbalik, kepala masuk ke dalam air, kaki mencuat di atas danau. Kau akan bingung memegangi tubuhku! Ha... ha... ha...."

"Lasedayu suamiku, derita sengsaramu akan berakhir hari ini!" kata Luhpingitan sambil memeluk erat Lasedayu dan membelai rambut putihnya yang basah kuyup. "Kau tahu, sendok sakti terbuat dari emas itu ada padaku...."

"Astaga! Apa katamu?!" Lasedayu terkejut seolah tak percaya akan pendengarannya.

"Sendok Pemasung Nasib ada padaku...." bisik Luhpingitan.

"Keterangan pemuda asing bernama Wiro Sableng itu ternyata benar. Dia pernah mengatakan hal Itu padaku! Mana sendok itu? Perlihatkan padaku."

Luhpingitan menyingkapkan pakaiannya di bagian dada. Diantara beberapa kalung yang melingkar di lehernya, salah satu diantaranya adalah sebuah sendok terbuat dari emas. Pada bagian ceguk dari sendok melekat sebuah benda berwarna merah gelap.

"Pusarku! Yang melekat di sendok itu adalah pusarku yang dulu dicukil oleh Labahala alias Hantu Muka Dua! Lekas berikan sendok itu padaku. Pusarku harus kembali ke tempat asalnya...."

Luhpingitan cepat tanggalkan kalung sendok emas dari lehernya. Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir ulurkan tangannya untuk mengambil sendok sakti. Tangan kakek ini kelihatan gemetar. Pada saat itulah mendadak terjadi satu hal tak terduga. Sebelum Lasedayu sempat menyentuh sendok emas, di dalam danau ada suara meluncur deras. Sesaat kemudian tiba-tiba air danau muncrat ke atas dan satu sosok kehitaman, licin berkilat melesat ke udara, menyambar Sendok Pemasung Nasib!

"Luhpingitan! Awas!" teriak Lasedayu memberi ingat. Sambil berteriak kakek ini pukulkan tangan kirinya. Selarik cahaya kebiruan berkiblat. Tapi dia hanya memukul tempat kosong. Pelukan Luhpingitan terlepas dari tubuhnya. Akibatnya Lasedayu terdorong ke depan, menyungsap tenggelam masuk ke dalam air, kepala ke bawah kaki ke atas!

Luhpingitan yang tahu kalau bahaya mengancam yakni ada orang hendak merampas Sendok Pemasung Nasib dengan cepat hantamkan tangan kirinya, melepas pukulan maut bernama Tombak Kuning Pengantar Mayat. Namun satu kekuatan dahsyat mendorong tubuhnya hingga dia terjajar di dalam air. Selagi nenek ini berusaha mengimbangi diri, Sendok Pemasung Nasib yang ada di tangan kanannya ditarik lepas oleh sosok hitam licin tadi! Luhpingitan berteriak keras. Kembali dia memukul. Tapi si penyambar sendok sakti telah menyelinap menyelam dan lenyap di dalam air danau!

"Celaka! Sendok sakti dirampas orang!" teriak Luhpingitan lalu butt prett! Nenek ini pancarkan keri tutnya di dalam air hingga gelembung-gelembung udara mengapung naik dan mengambang di permukaan air danau.

Luhpingitan menggerung marah. Dia berusaha mengejar namun terpaksa membatalkan niatnya karena melihat keadaan Lasedayu yang tenggelam kepala ke bahwa kaki ke atas. Dia harus menolong suaminya itu lebih dulu.

"Nasib kita buruk! Sendok Pemasung Nasib dirampas orang!" menjelaskan Luhpingitan dengan suara tersendat menahan tangis. "Aku berlaku lengah! Tolol!" Si nenek pukul-pukul kepalanya sendiri.

"Nasibku rupanya akan tetap sengsara sampai mati!" kata Lasedayu pula. "Luhpingitan, bawa aku ke tepi danau...."

Sampai di tepi danau, sepasang suami istri itu sama-sama terdiam merenung nasib. Mereka tidak tahu berapa lama berada dalam keadaan seperti itu ketika tiba-tiba ada cairan merah membusai di udara.

Darah! Bersamaan dengan itu dari dalam danau melesat satu benda hitam. Setelah melayang melintir di udara, benda ini jatuh terbanting di tepi danau, sejarak sepuluh langkah dari tempat sepasang kakek nenek berada.

"Mahluk yang merampas sendok sakti!" teriak Luhpingitan lalu serta merta melompat. Lasedayu berkelebat pula mengikuti. Begitu sampai di hadapan sosok hitam itu kaki kanan si nenek langsung menendang. Sosok hitam terpental sampai tiga tombak. Di arah jatuhnya sosok hitam itu terdengar satu jeritan. Luhpingitan dan Lasedayu langsung mendatangi. Mereka menemui ada seseorang tertindih di bawah sosok hitam itu. Orang ini ternyata adalah Si Setan Ngompol. Terkencing-kencing Setan Ngompol bangkit berdiri. Muka dan pakaiannya penuh darah berasal dari sosok hitam yang tergeletak tak berkutik lagi.

"Kaki tangan Hantu Muka Dua! Aku kenal mahluk hitam ini! Dia kaki tangan Hantu Muka Dua! Dia dikenal dengan panggilan Hantu Lintah Hitam!" teriak Lasedayu sambil menuju pada sosok hitam yang menggeletak tak bernafas lagi. "Hai! Aneh! Aku tadi melihat jelas kau menendang dadanya! Mengapa kepalanya yang hancur?!" Si kakek berseru dan berpaling pada Luhpingitan. Si nenek delikkan matanya.

"Kau benar! Aku memang menendang dadanya. Dadanya amblas remuk. Tapi mengapa kepalanya ikut rengkah?!" Luhpingitan memandang pada Setan Ngompol. "Kau yang memukul kepalanya?" Si nenek bertanya.

Si Setan Ngompol gelengkan kepala. Dia memandang ke arah danau dengan mimik cemas. "Naga Kuning.... Bocah itu! Juga Betina Bercula! Ke duanya belum keluar dari dalam air. Aku khawatir...."

"Eh, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Hantu Langit Terjungkir.

Si Setan Ngompol lalu menerangkan. "Pada saat kau dan Luhpingitan berteriak, kami bertiga sampai di tempat ini. Kami tengah kebingungan. Wiro sahabat kami dilarikan oleh Peri Angsa Putih. Kami tak tahu mau mengejar kemana. Waktu sampai di sini Naga Kuning dan Betina Bercula berada di sebelah depan. Rupanya mereka melihat jelas apa yang terjadi. Keduanya lalu melesat masuk ke dalam danau, mengejar mahluk hitam yang merampas sendok emas itu...."DI DALAM danau, Naga Kuning yang memang memiliki kepandaian luar biasa dalam hai berenang, bergerak cepat mengejar Hantu Lintah Hitam yang merampas Sendok Pemasung Nasib. Naga Kuning melihat jelas Hantu Lintah Hitam memegang sendok emas sakti di tangan kanannya. Bocah ini sampai beberapa kali berusaha merampas kembali benda itu. Namun gerakan Hantu Lintah Hitam selain gesit sekaligus licin. Padahal Naga Kuning juga telah mengeluarkan ilmu melicinkan tubuh yang disebut Ilmu IKan Paus Putih. Tetap saja anak ini tidak mampu mengambil Sendok Pemasung Nasib itu.

Setelah berenang meliuk-liuk aneh beberapa kali, Hantu Lintah Hitam melesat ke arah kiri berusaha melarikan diri. Sebelum dia berhasil mencapai tepian danau sebelah tenggara, Naga Kuning cepat mengejar dan sempat mencekal salah satu kakinya. Tak terduga mahlukyang sosoknya licin ini menarik kakinya sambil berbalik dan lancarkan tendangan dengan kakinya yang lain.

Membuat gerakan menendang di dalam air bukan satu hal yang mudah. Bukan saja karena dua kaki tidak menjejak tanah membentuk kuda-kuda yang kokoh, tapi selain itu daya gerak kaki tertahan oleh kekuatan tabir air. Adalah luar biasa kalau mahluk berbadan hitam itu mampu menendang sedahsyat seseorang berada di alam terbuka.

Naga Kuning merasa seolah dihantam batu besar ketika tendangan lawan mendarat di dadanya. Tubuhnya mencelat tiga tombak. Darah menyembur dari mulutnya. Selagi dia mengapung menahan sakit dan megap-megap Hantu Lintah Hitam cepat pergunakan kesempatan untuk melarikan diri kembali. Namun lagilagi maksudnya terhalang karena di saat bersamaan Betina Bercula alias Si Binal Bercula sampai di tempat Itu, langsung menyerangnya. Betina Bercula memang berhasil mendaratkan dua pukulan telak ke tubuh Hantu Lintah Hitam. Akan tetapi mahluk yang tubuhnya berlapis kulit hitam licin ini di dalam air memiliki kekebalan tahan pukulan. Betina Bercula seperti me mukul bantalan kasur. Bukan lawannya yang cidera tapi malah dia yang terpental terhenyak di dalam air. Selain itu dia terpaksa harus menyembulkan kepala di permukaan air untuk menarik nafas. Ketika Betina Bercula menyelam kembali, samarsamar dia melihat Hantu Lintah Hitam memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Dia tidak sempat melihat benda apa itu adanya karena di saat bersamaan Naga Kuning berkelebat di dalam air menghalangi pemandangannya. Walau cidera akibat tendangan lawan namun Naga Kuning cepat memulihkan keadaan dirinya. Di dalam air bocah aneh ini memang memiliki kemampuan lebih hebat dibanding di daratan. (Mengenai kemampuan Naga Kuning di dalam air harap baca serial Wiro Sableng dalam rangkaian episode berjudul "Liang Lahat Gajah Mungkur").

Naga Kuning gerakkan dua kakinya. Dua tangan disibakkan ke samping. Tubuhnya langsung melesat ke arah Hantu Lintah Hitam. Anak ini rupanya sudah tahu kalau tubuh lawan yang licin itu memiliki kekebalan tertentu. Maka kali ini dia tidak menyerang dengan pukulan-pukulan melainkan mencekal leher Hantu Lintah Hitam dengan lengannya. Kalau sempat lengan itu digerakkan ke belakang, tak dapat tidak tulang leher lawan akan berderak remuk.

Mahluk bernama Hantu Lintah Hitam itu tidak bodoh. Sesuai dengan namanya, Hantu Lintah Hitam memiliki kelicinan tubuh luar biasa. Dengan membuat gerakan jungkir balik dalam air sambil dua sikutnya dihantamkan ke belakang untuk lolos dari cekalan maut Naga Kuning. Begitu lolos mahluk ini kembali berusaha melarikan diri. Namun sekali ini Naga Kuning tidak mau memberi kesempatan. Dari atas tubuhnya melesat ke bawah. Tangan kanannya menghantamkan pukulan sakti bernama Naga Murka Menjebol Bumi!

Praakk!

Batok kepala Hantu Lintah Hitam rengkah. Cairan otak dan darah langsung menyembur. Naga Kuning cepat menarik lepas Sendok Pemasung Nasib yang ada di tangan kanan Hantu Lintah Hitam lalu menendang mahluk ini hingga terlempar ke atas, melesat keluar dari dalam danau dengan darah bertebaran ke mana-mana!

"Kasihan anak itu. juga Betina Bercula! Kita harus menolong mereka! Jangan-jangan Hantu Lintah Hitam telah membunuh ke duanya!" Berkata Hantu Langit Terjungkir.

"Suamiku, yang lebih penting dimana kini beradanya Sendok Pemasung Nasib! Biar aku menggeledah mayat Hantu Lintah Hitam!" kata Luhpingitan pula.

Dari arah danau terdengar suara keras riakan air. Lalu menyembul kepala Naga Kuning dan Betina Bercula. Melihat kemunculan ke dua orang ini Hantu Langit Terjungkir, Hantu Selaksa Angin dan Setan Ngompol menjadi lega. Sambil naik ke darat Naga Kuning acungkan tangan kanannya dan berseru.

"Kek, benda ini pasti sangat berharga bagimu!"

Yang diacungkan Naga Kuning bukan lain adalah sebuah sendok emas. Sendok sakti yang sanggup mengembalikan semua kesaktian Hantu Langit Terjungkir yang sebelumnya dicungkil oleh Hantu Muka Dua.

"Anak hebat! Wahai! Aku sangat berterima kasih padamu!" kata Hantu Langit Terjungkir gembira dan cepat-cepat mengambil Sendok Pemasung Nasibyang diserahkan Naga Kuning. Ketika si kakek memper hatikan sendok emas itu tengkuknya menjadi dingin. Sosoknya yang kaki ke atas kepala ke bawah langsung membumbung naik ke udara. Ini satu pertanda dia berada satu kemarahan luar biasa. Jeritan keras keluar dari mulutnya saking tak kuasa menahan geram.

"Palsu! Sendok ini palsu! Benda di cegukan sendok juga bukan daging pusarku!"

"Celaka! Gimana beradanya sendok yang asli?!" teriak Luhpingitan. Semua orang lantas ingat pada Hantu Lintah Hitam. Mereka berpaling ke arah tergeletaknya mayat orang itu. Astaga! Ternyata mayat Hantu Lintah Hitam tak ada lagi di tempatnya semula! Semua mulut keluarkan seruan tertahan!

"Mahluk jahanam itu tak mungkin hidup kembali lalu melarikan diri!" teriak Hantu Langit Terjungkir.

"Pasti ada yang melarikan mayatnya!" kata Luhpingitan lalu butt prett! Nenek ini pancarkan kentutnya.

"Kalau cuma mayat apa perlunya dilarikan segala?!" ujar Si Setan Ngompol sambil pegangi bagian bawah perutnya.

"Pasti ada sesuatu.... Pasti ada sesuatu!" kata Naga Kuning.

"Aku ingat satu hal!" kata Betina Bercula tiba-tiba.

"Waktu aku menyelam ke dalam air, aku sempat melihat mahluk itu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Mungkin sekali...."

"Bukan mungkin,! Tapi pasti!" kata Hantu Langit Terjungkir memotong. "Pasti Sendok sakti itu ditelannya?!"

"Jahanam betul! Kemana kita harus mencarinya?!"

Luhpingitan marah sekali namun begitu memandang Lasedayu hatinya jadi sedih. Matanya berkaca-kaca. Dia dapat merasakan bagaimana kecewa dan terpukulnya sang suami menghadapi hilangnya sendok emas sakti itu.

Naga Kuning sendiri saat itu terduduk di tanah. Sambil mengusap-usap dadanya yang terasa sakit bekas tendangan Hantu Lintah Hitam, anak ini memandang berkeliling. " Kalau saja si sableng itu ada di sini, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Dimana Wiro berada sekarang? Jangan-jangan keselamatannya juga terancam. Peri Angsa Putih, apa tujuanmu melarikan sahabatku itu?" Selagi merenungrenung seperti itu, selintas pikiran muncul di benak Naga Kuning. Dia bangkit berdiri, memandang pada Hantu Langit Terjungkir, lalu pada Luhpingitan.

"Naga Kuning, kau agaknya hendak mengatakan sesuatu!" ujar Luhpingitan.

"Benar, Nek," jawab si bocah. "Aku ingat ucapan kalian. Jika betul Hantu Lintah Hitam anak buah Hantu Muka Dua, maka menurutku besar kemungkinan yang melarikan mayatnya adalah Hantu Muka Dua sendiri atau orang-orang suruhannya. Sebabnya lain tidak karena Hantu Muka Dua ingin mendapatkan Sendok Pemasung Nasib yang telah ditelan mahluk itu!"

"Kalau dibelakang semua ini memang Hantu Muka Dua yang menjadi biang keladi, apa yang kau ucapkan Itu pasti benar adanya!" kata Luhpingitan pula. Lalu dia berpaling pada suaminya. "Lasedayu, kakiku sudah gatal untuk segera berangkat ke Istana Kebahagiaan. Tanganku sudah geram untuk menghancurkan sarang mahluk berjuluk Segala Keji, Segala Tipu, Segala Nafsu itu!"

"Hantu Muka Dua memang sudah saatnya di kirim ke alam roh! Tapi wahai istriku Luhpingitan, kita perlu mengatur siasat. Kalau hanya mengikuti hawa amarah dan nafsu pembalasan salah-salah kita bisa celaka. Kita sudah sama tahu kalau Hantu Muka Dua telah menyebar undangan pada semua tokoh rimba persilatan Latanahsilam untuk hadir pada satu pertemuan benar hari lima belas bulan dua belas mendatang. Bagaimana kalau saat pertemuan itu kita cari kesempatan...."

"Suamiku, sekali ini kita berbeda pendapat," jawab Luhpingitan pula. "Aku punya firasat, undangan itu adalah satu kedok jahat belaka. Hantu Muka Dua pasti mempunyai satu maksud busuk! Jadi bukankah lebih baik kita menghancurkannya mulai dari sekarang saja?"

"Kalau begitu keinginanmu, aku menurut saja,"

langsung akhirnya menyetujui maksud istrinya. Luhpingitan memandang pada Naga Kuning dan kawan-kawannya. "Bagaimana dengan kalian? Mau ikut bersama kami menuju Istana Kebahagiaan sekarang juga?"

Naga Kuning dan Betina Bercula tak segera menjawab. Setan Ngompol ditanya begitu langsung terkenang.

"Tak ada yang mau menjawab? Tak ada yang mau ikut?! Kalian orang-orang dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang selama ini terkenal keberaniannya. Ternyata hari ini kalian telah berubah jadi pengecut semua!"

"Nek, kemanapun kau mengajak kami bersedia ikut. Tapi urusan dengan Istana Kebahagiaan bukan urusan main-main. Apa lagi keadaan kakek suamimu ini belum pulih. Bukankah lebih baik semua urusan ini kita pusatkan pada mencari Sendok Pemasung Nasib itu lebih dulu?! Selain itu kami tidak tahu Wiro berada dimana." Berkata Naga Kuning.

"Tadi otakmu cerdik pandai sekali! Sekarang mengapa jadi tolol dungu?! Sendok Pemasung Nasib itu sudah pasti dibawa lari ke Istana Kebahagiaan. Apakah kau mau mencarinya ke tempat lain?"

Luhpingitan pegang pergelangan kaki Hantu Langit Terjungkir. Sepasang kakek nenek ini lalu tinggalkan tempat itu.

Naga Kuning, Setan Ngompol Si Betina Bercula saling berpandangan. Si kakek akhirnya berkata. " Hari lima belas bulan dua belas hanya tinggal sepuluh hari dari sekarang. Tak ada salahnya kita mengikuti kakek nenek itu. Kalau mencari Wiro dimana kita akan mencarinya? Mungkin kita akan menemui kesulitan. Aku yakin dia akan muncul di Istana Kebahagiaan...."

Ketika kakek itu beranjak, Naga Kuning-dan Betina Bercula akhirnya mengikuti juga.3EMPAT orang berpakaian hitam itu duduk mengelilingi perapian. Udara malam memang dingin sekali. Apalagi mereka berada di satu pedataran tinggi dan sore tadi hujan turun lebat.

"Terus terang aku tidak suka dengan apa yang kita lakukan sekarang ini. Kita telah menyalahi perintah Sang Junjungan, Raja Diraja Segala Hantu di Negeri Latanahsilam ini!" Berucap orang berpakaian hitam yang duduk bersandar ke satu gundukan batu besar, agak jauh dari perapian. Namanya Latuding.

"Kerabatku, apa yang perlu kita cemaskan. Tugas telah kita jalankan dengan baik. Apa yang dicari sudah berada di tangan kita. Mengapa perlu cepat-cepat kembali ke Istana Kebahagiaan?" Menjawab salah satu dari tiga orang yang duduk di depan perapian. Dia bertindak selaku pimpinan dalam rombongan itu dan bernama Lajohor.

"Justru begitu perintah Sang Junjungan, begitu yang harus kita lakukan! Tak ada celah sedikitpun untuk dilanggar!" Orang pertama berkata dengan nada mulai keras.

"Kerabatku Latuding, aku yang jadi pimpinan dalam rombongan mencari sendok sakti itu. Semua anggota rombongan wajib mengikuti apa yang aku perintah dan inginkan, termasuk kau! Tapi kalau kau tidak suka kita beristirahat malam ini. Kau boleh segera kembali lebih dulu ke Istana Kebahagiaan. Kau boleh mengadu apa perbuatan kami pada Sang Junjungan."

Lajohor tampak mulai kesal melihat sikap dan bicara Latuding. Dia tahu betul kalau Latuding selama ini memang punya sifat menjilat. Tak perduli akan kesulitan kawan sendiri, yang penting asal dapat nama dari Hantu Muka Dua.

Orang ke tiga bernama Lawulus mengetengahi percakapan yang menjurus perselisihan itu.

"Wahai para kerabatku. Kurasa Sang Junjungan bisa memahami mengapa kita beristirahat di tempat ini. Belasan hari kita berkeliaran mencari sendok sakti itu. Bukan cuma menghabiskan waktu. Tapi juga menguras tenaga! Tidak ada salahnya kita berkemah malam ini di sini. Besok sebelum fajar menyingsing kita lanjutkan perjalanan. Istana Kebahagiaan hanya tinggal satu hari perjalanan dari sini. Kita kembali dengan hasil besar. Masakan Sang Junjungan tidak gembira?"

"Mana ada kegembiraan kalau Sang Junjungan Raja Diraja menerima kabar kalian berempat sudah jadi bangkai!"

Sekonyong-konyong satu suara menggema dari tempat gelap di arah kiri perapian. Lalu menyusul suara tawa mengekeh. Empat orang yang duduk di depan perapian tersentak kaget dan serentak melompat.

"Siapa yang barusan bicara?! Mengapa tidak unjukkan diri?!" Orang bernama Lajohor membentak.

Dia lalu saling membagi pandang dengan tiga temannya. Kembali menggema suara tawa mengekeh. Lalu dari kegelapan muncul sesuatu, mengapung di udara, bergerak ke arah ke empat orang itu. Begitu melihat Ulapa yang muncul terkejutlah orang-orang dari Istana Kebahagiaan ini.

"Hantu Langit Terjungkir!" Dua di antara mereka berseru. Yang dua lagi segera bersiap sedia, menggerakkan tangan ke pinggang masing-masing dimana terselip sebilah parang. Walau dalam kegelapan namun masih bisa terlihat bagaimana wajah ke empat orang ini jadi berubah begitu mengenali siapa adanya orang yang muncul.

"Suamiku tidak datang sendiri! aku menemaninya!"

Tiba-tiba satu suara lain terdengar. Suara perempuan, disusul tawa cekikikan dan ditutup suara butt prett!

Satu bayangan kuning berkelebat. Di samping Hantu Langit Terjungkir kini tegak berdiri si nenek tukang kentut Hantu Selaksa Angin.

"Jika kalian mengenali suamiku, pasti juga mengenali diriku! Hik... hik! Jadi kami tidak perlu menerangkan siapa diri kami atau memberi tahu apa maksud kemunculan kami! Kami sempat mendengar pembicaraan kalian. Enak didengarnya, apa kami boleh ikut bercakap-cakap bersama kalian?"

Empat orang berpakaian hitam tak ada yang menjawab. Mereka hanya saling lirik lalu kembali mengawasi Hantu Langit Terjungkir dan Hantu Selaksa Angin.

"Suamiku," kata Hantu Selaksa Angin alias Luhpingitan.

"Mereka rupanya tidak suka bicara dengan kita. Harap dimaklumi, mereka agaknya orang-orang berpangkat tinggi! Kita ini apa dibanding mereka? Hik... hik... hik!"

"Dua kakek nenek berotak miring! Kami adalah orang-orang Istana Kebahagiaan! Kami tidak suka melihat kehadiran kalian di sini. Siapapun kalian adanya lekas tinggalkan tempatini!" Membentak Latuding.

"Hik... hik! Kau dengar suamiku?! Seperti dugaan kita mereka ternyata memang orang-orang penting! Orang-orang Istana Kebahagiaan. Tapi sayang kita dikatakannya kakek nenek otak miring. Katanya lagi dia tidak suka pada kita. Lalu kita disuruh pergi. Hik..Hik! Menurutmu apa kita harus mengikuti ucapan nya?!"

"Kita memang harus mengikuti perintah orang itu. wahai istriku. Karena mereka orang-orang Istana Kebahagiaan. Kita pergi saja. Tapi jangan lupa meminta sesuatu pada mereka...."

"Kalian ini bicara apa? Lekas pergi sebelum kami menjadi marah!" Latuding kembali menghardik.

"Kami akan pergi, kami segera pergi. Jangan khawatir wahai kerabatku. Namamu Latuding, benar? Dengar Latuding, kami segera pergi tapi sebelum angkat kaki dari sini serahkan pada kami Sendok Pemasung Nasib...." berkata Hantu Langit Terjungkir.

"Jangan bicara tak karuan?! Kau menyebut benda yang tidak kami ketahui asal usulnya!" Membentak orang berpakaian hitam di sebelah kiri Hantu Langit Terjungkir. Dia adalah Lawulus.

"Siang kemarin kalian mencuri sesosok mayat di tepi sebuah danau. Di dalam perut mayat itu ada Sendok Pemasung Nasib! Kalian pasti telah mengambil sendok itu dari perut mayat. Atau kalau belum, tak ada salahnya menyerahkan mayat langsung pada kami! Biar kami yang mengorek isi perut mayat itu! Hik... hik... hik!"

"Benar-benar kakek nenek gila! Kawan-kawan, Iekas singkirkan dua tua bangka ini!" perintah Lajohor.

Dua orang membekal parang yakni Lawulus dan seorang kawannya bernama Lasendu menghunus senjatanya. Tanpa banyak bicara lagi mereka segera menyerang Hantu Selaksa Angin dan Hantu Langit Terjungkir. Begitu yang dua ini menyerbu, dua lainnya yakni Latuding dan Lajohor segera membuat siasat. keduanya secepat kilat berkelebat, lari dan sengaja berpencar.

Dua kaki Hantu Langit Terjungkir bergerak. Dua tangan Hantu Selaksa Angin tak tinggal diam.

"Bukkk!"

"Bukkk!"

Lawulus dan Lasendu yang menyerang dengan parang menjerit keras, terpental lalu terbanting ke tanah tak berkutik lagi. Yang satu tewas dengan dada remuk akibat dimakan jotosan Luhpingitan sedang kawannya menggeletak dengan leher hampir tanggal dijepit dua kaki Hantu Langit Terjungkir.

Dua orang yang melarikan diri dan sengaja berpencar tersentak kaget hentikan lari masing-masing ketika tiga orang mendadak muncul menghadang dari kegelapan. Ketiga orang ini bukan lain adalah Naga Kuning, Betina Bercula dan Setan Ngompol.

"Kalian tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum kawanku yang cantik ini menggeledah!" Naga Kuning berkata sambil rangkapkan tangan di depan dada. Bibirnya tersenyum dan dua matanya dikedipkedipkan.

Semula dua orang berpakaian serba hitam yaitu Latuding dan Lajohor hendak membentak marah karena merasa direndahkan oleh sikap serta ucapan si bocah Naga Kuning. Tapi begitu melihat siapa yang hendak menggeledah, keduanya jadi senyum-senyum. Di Istana Kebahagiaan memang banyak gadis dan perempuan cantik. Namun semua hanya boleh melayani Hantu Muka Dua dan orang-orang tertentu saja. Kelompok pembantu seperti Lajohor dan teman-temannya jarang sekali mendapat kesenangan. Tidak heran karena saat itu darah keduanya jadi terangsang melihat si cantik genit di depan mereka.

Rupanya ke dua orang ini tidak tahu siapa adanya Betina Bercula. Selain itu kegelapan malam membuat mereka tidak bisa melihat jelas dan tidak mengetahui kalau orang berdandan menor dan berpakaian perempuan ini sebenarnya adalah seorang laki-laki!

"Ada gadis cantik hendak menggeledah, siapa berani menolak!" kata Latuding sambil senyum-senyum lalu kedipkan matanya pada Lajohor.

"Kalian orang-orang gagah dari Istana Kebahagia an. Aku bukan hanya akan menggeledah kalian berdua. Tapi setelah menggeledah kalian, kalian berdua juga boleh ganti menggeledah diriku. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki! Hik... hik... hik!"

Mendengar ucapan Si Binal Bercula itu Latuding dan Lajohor jadi semakin bernafsu.

"Malam sudah larut. Kita jangan sampai membuang waktu!" ujar Betina Bercula sambil tersenyum genit dan mematik-matik rambutnya yang keriting sebahu. Sekali tangannya kiri kanan bergerak, dua orang itu ditariknya ke tempat gelap di balik serumpunan semak belukar. Tak lama kemudian dari tempat gelap itu terdengar jeritan-jeritan kesakitan.

Lajohor dan Latuding menghambur lari dari balik semak belukar tanpa celana lagi. Ada darah meleleh di paha mereka. Keduanya berjingkrak-jingkrak sambil pegangi bagian bawah perut mereka yang bengkak merah, lecet luka dan sakit sekali setengah mati! Walau mereka sudah lenyap namun di kejauhan suara jeritan mereka masih terdengar.

Betina Bercula melangkah mendekati Naga Kuning dan sementara sambil senyum-senyum dan gosok-gosok telapak tangannya.

"Aku sudah menggeledah! Tapi Sendok Pematung Nasib itu tak ada pada mereka!" Betina Bercula memberi tahu.

"Lalu apa saja yang kau temukan?" tanya Naga Kuning.

"Apa saja yang kau lakukan?" menyambung Setan Ngompol.

"Yang kutemukan hanya dua pisang batu buruk rupa! Yang kulakukan cuma meremas. Masih untung tak kukupas kulitnya! Hik... hik... hik!" Betina Bercula tertawa cekikikan. Ketiga orang-orang itu lalu menemui Lasedayu dan Luhpingitan. Mereka semua merasa heran. Keempat orang dari Istana Kebahagiaan itu, dari pembicaraan mereka yang sempat didengar, sudah dapat dipastikan sebagai orang-orang Hantu Muka Dua yang disebar untuk mencari Sendok Pemasung Nasib. Tapi anehnya sendok emas sakti itu tidak ditemukan. Kalau masih berada di dalam perut Hantu Lintah Hitam, lalu dimana mayat mahluk itu mereka sembunyikan?

"Seharusnya kau menanyai dulu pada dua orang itu, dimana mayat Hantu Lintah Hitam berada. Bukan langsung main remas saja! Dasar kebiasaan!" kata Naga Kuning, "sekarang dua-duanya sudah kabur!"

Betina Bercula cuma tersipu-sipu.

"Kita tak perlu bertengkar. Istana Kebahagiaan hanya tinggal satu hari perjalanan dari sini. Kalau kita meneruskan perjalanan malam ini juga, paling lambat menjelang sore besok kita sudah sampai di sana," berucap Lasedayu.

Tak lama setelah rombongan dua kakek nenek meninggalkan tempat itu, diatas satu pohon besar berdaun lebat dan sangat gelap, seseorang yang sejak tadi mendekam di salah satu cabang pohon kini baru bisa merasa lega. Dia menarik satu sosok yang sudah jadi mayat dan sejak tadi digeletakannya melintang di cabang pohon di atasnya. Mayat ini bukan lain adalah mayat Hantu Lintah Hitam. Inilah satu akal yang telah diatur oleh orang-orang Istana Kebahagiaan. Setelah menunggu beberapa lamanya, bila dirasakannya aman, orang ini segera turun dari atas pohon. Mayat Hantu Lintah Hitam dipanggulnya di bahu kiri. Lalu dia lari ke arah timur, menjauhi jalan yang ditempuh rombongan Hantu Langit Terjungkir.4HANTU MUKA DUA memandang seputar ruangan besar berbentuk segi enam. Masing-masing dinding ruangan dicat dengan warna berlainan sementara atap ruangan yang menyerupai kubah diberi cat berwarna merah muda. Satu-satunya pintu masuk ke ruangan segi enam ini adalah sebuah pintu berbentuk gapura yang terletak di dinding yang berwarna merah. Empat buah hiasan berupa singa berkepala dua terbuat dari perunggu tergantung di langit-langit ruang segi enam yang terletak di lantai ke dua bangunan Istana Kebahagiaan itu. Hantu Muka Dua menamakan ruangan segi enam ini Ruang Seribu Kehormatan. Disinilah direncanakan semua tokoh undangan pertemuan besar pada hari lima belas bulan dua belas mendatang akan dipersilahkan duduk.

Wajah Hantu Muka Dua depan belakang tampak berseri-seri. Saat itu di sebelah kirinya berdiri Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Sementara di sisi kanan tegak gadis cantik bernama Luhkinki. Gadis ini adalah salah satu gadis kesayangan Hantu Muka Dua. Boleh dikatakan kemanapun Sang Raja Diraja itu berada Luhkinki selalu mendampingi sambil mengipasinya dengan sebuah kipas terbuat dari daun lebar yang selalu dibawanya kemana-mana.

"Kerabatku Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab, hari lima belas bulan dua belas masih tujuh hari dimuka. Aku gembira, kau berhasil melakukan persiapan begini baik...."

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tersenyum lebar.

"Paling lambat dua hari lagi semuanya rampung secara keseluruhan...."

"Secara keseluruhan apakah juga termasuk peralatan rahasia itu?" tanya Hantu Muka Dua.

"Termasuk peralatan rahasia itu. Semua bahan sudah diolah. Dua hari lagi aku akan menemui Sang Junjungan untuk memberikan laporan terakhir...."

"Terus terang ada beberapa hal yang masih mengganjal hati dan jalan pikiranku!" kata Hantu Muka Dua pula.

"Wahai, harap Sang Junjungan sudi memberi tahu padaku. Aku siap membantu dan menjalankan apapun yang Sang Junjungan perintahkan."

"Mengenai Batu Pembalik Waktu. Sampai saat ini tidak diketahui dimana beradanya. Terakhir sekali seorang mata-mata Istana memberi tahu bahwa telah terjadi satu peristiwa aneh di satu pedataran rumput. Dua nenek sakti yakni Hantu Penjunjung Roh dan Hantu Lembah Laekatakhijau diketahui muncul di tempat itu. Lalu di situ ditemukan bangkai seekor katak besar. Aku menaruh duga, jangan-jangan salah seorang dari dua nenek itu mengetahui perihal Batu Pembalik Waktu. Bahkan wahai! Bukan tidak mungkin salah satu dari mereka sudah memilikinya. Barangkali si Hantu Lembah Laekatakhijau itu...."

"Sang Junjungan, aku akan melakukan penyelidikan. Mudah-mudahan sebelum hari besar pertemuan aku sudah dapat memberikan laporan padamu...."

"Hal lain yang menempel dalam benakku, perihal Sendok Pemasung Nasib. Hantu Berpipa Emas sudah kuperintahkan untuk menyelidik. Kabarnya sendok emas sakti itu berada di tangan Hantu Selaksa Angin. Tapi sampai saat ini Hantu Berpipa Emas masih belum kelihatan mata hidungnya!"

"Serahkan padaku wahai Sang Junjungan. Aku akan menyelidiki perihal yang satu ini..." kata Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab pula. "Jika Sang Junjungan memberi izin, siang nanti aku akan segera berangkat. Sekalian aku akan menyelidiki perihal sahabatku Lawungu. Dia aku tinggalkan di satu tempat dalam keadaan sakit. Mudah-mudahan tidak terjadi suatu apa yang buruk atas dirinya."

Hantu Muka Dua anggukkan kepala lalu berkata.

"Aku sudah memerintahkan Lajohor untuk menyelidiki raibnya Hantu Berpipa Emas, sekaligus mencari Sendok Pemasung Nasib itu. Sebelumnya aku juga telah memerintahkan Hantu Lintah Hitam untuk melakukan hal yang sama. Aku berharap sebelum hari lima belas bulan dua belas semua ganjalan itu bisa disingkirkan. Kita harus mendapatkan Batu Pembalik Waktu dan Sendok Pemasung Nasib!"

"Percayakan padaku wahai Sang Junjungan. Aku berpikir, ada baiknya aku berangkat sekarang saja. tidak perlu menunggu sampai siang nanti...."

Saat itu tiba-tiba terdengar suara genta yang entah dari mana asalnya. Semua orang yang ada di mangan itu sama memalingkan kepala ke arah pintu di dinding merah dari mana terdengar langkah-langkah mendatangi.

Tak lama kemudian muncullah seseorang memanggul sosok yang mengenakan pakaian hitam lekat licin seolah menempel ke tubuhnya. Masih dengan memanggul sosok hitam licin itu, orang yang datang menjura memberi hormat pada Hantu Muka Dua yang saat itu tegak tak bergerak. Hanya sepasang matanya membeliak besar dan dua wajahnya yang tadi berupa wajah lelaki gagah separuh baya, kini membayangkan berubah menjadi dua wajah tua seorang kakek pucat pasi, pertanda Sang Junjungan berada dalam kaget besar.

"Lasedana!" seru Hantu Muka Dua menyebut nama lelaki yang memanggul sosok licin hitam. "Kau adalah salah seorang anggota rombongan yang kuperintahkan mencari Hantu Berpipa Emas dan menyelidik Sendok Pemasung Nasib. Yang kau panggul itu adalah Hantu Lintah Hitam. Mana Lajohor, pimpinan rombongan. Mana Latuding dan dua kawanmu lainnya?! Apa yang terjadi dengan Hantu Lintah Hitam?!"

"Junjungan, izinkan saya meletakkan tubuh yang saya panggul ini di lantai ruangan," berucap Lasedana.

"Sudah dua hari dua malam tubuh Hantu Lintah Hitam tidak lepas dari panggulan saya...."

"Letakkan dia di lantai. Aku mau tahu apa yang terjadi! Lekas kau memberi keterangan!" kata Hantu' Muka Dua pula.

Hati-hati sekali Lasedana membaringkan sosok Hantu Lintah Hitam di lantai ruangan segi enam. Dia sengaja membaringkan mayat itu menelentang. Sepasang mata Hantu Muka Dua membeliak besar. Dua wajahnya yang tadi berupa wajah dua kakek pucat kini langsung berubah menjadi dua wajah raksasa menyeramkan pertanda Sang Junjungan ini telah dilanda amarah besar. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kelihatan tampak tenang walau dua matanya mengerenyit menandakan rasa ngeri. Luhkinki yang sejak tadi mengipasi Hantu Muka Dua, terus saja mengipas walau kini kepalanya dipalingkan ke jurusan lain karena takut bergidiknya melihat sosok yang tergeletak kaku di lantai itu.

Di bacaan dada, mayat Hantu Lintah Hitam kelihatan satu cekungan dalam hampir menyerupai sebuah lobang besar. Dua tulang iganya yang patah mencuat keluar. Cidera ini adalah akibat tendangan Hantu Selaksa Angirs alias Luhpingitan. Di sebelah atas, kepala Hantu Lintah Hitam terbongkar rengkah. Darah yang telah mengering dan hitam menutupi kepalanya mulai dari ubun-ubun sampai seluruh wajahnya.

Hantu Muka Dua menggigil. "Lasedana! Cepat katakan apa yang terjadi!"

"Wahui Sang Junjungan, seperti yang kau perintahkan kami berusaha mencari jejak Hantu Berpipa Emas dan cari Sendok Pemasung Nasib. Mohon maafmu kami tidak berhasil mengetahui ataupun menyirap kabar dimana adanya Hantu Berpipa Emas. Tapi di tengah jalan kami berhasil menjajagi Hantu Lintah Hitam. Dia kami temui di sebuah danau, tengah menjalankan tugas dari Sang Junjungan. Yaitu mencari Sendok Pemasung Nasib. Di dalam danau itu saya dan kawan-kawan melihat jelas dia berhasil merampas Sendok Pemasung Nasib dari tangan Hantu Selaksa Angin. Namun ketika dia menyelam dan melarikan sendok emas muncul beberapa orang aneh. Agaknya dua diantara mereka adalah mahluk-mahluk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu. Yang satu lagi kami kenali sebagai Si Binal Bercula alias Betina Bercula. Salah seorang dari dua mahluk asing itu, yakni anak kecil berpakaian serba hitam mencebur masuk ke dalam danau. Betina Bercula ikut menyusul. Tak lama kemudian kami lihat sosok Hantu Lintah Hitam mencelat keluar dari dalam air, jatuh tergelimpang di tepi danau. Dada jebol kepala hancur! Kami belum berani bertindak. Tak lama kemudian dari dalam danau muncul anak kecil itu. Di tangannya dia memegang Sendok Pemasung Nasib lalu diserahkannya pada Hantu Langit Terjungkir. Kakek itu segera mengambil. Tapi ketika sendok diperiksa dia berteriak marah. Ternyata sendok itu bukan Sendok Pemasung Nasib yang asli. Hantu Langit Terjungkir membanting dan membuang sendok itu ke tanah. Selagi orang-orang itu berada dalam kebingungan, Lajohor memimpin gerakan mengambil mayat Hantu Lintah Hitam. Kami berhasil melarikan mayat kerabat Hantu Lintah Hitam!"

"Lalu apa yang terjadi dengan empat kawanmu?!" tanya Hantu Muka Dua.

"Maafkan saya wahai Junjungan. Lawulus dan Lasendu menemui ajal di tangan Hantu Langit Terjungkir dan Hantu Selaksa Angin. Lajohor dan Latuding berhasil melarikan diri berpencar. Tapi saya tidak tahu dimana keduanya kini berada. Mudah-mudahan mereka segera muncul di tempat ini...."

Hantu Muka Dua pandangi Lasedana dengan mata melotot dan rahang menggembung hingga orang ini jadi mengkeret ketakutan. Tiba-tiba tawa bergelak meledak keluar dari mulut Hantu Muka Dua!

"Lasedana! Kau telah melakukan satu perbuatan hebat! Satu perbuatan besar! Kau akan kuberikan satu kedudukan tinggi di Istana Kebahagiaan!"

"Terima kasih wahai Sang Junjungan," kata Lasedana jadi lega dan gembira seraya menjura hormat Hantu Muka Dua melangkah mendekati mayat Hantu Lintah Hitam masih dengan tertawa-tawa. Dia mengusap mulut raksasanya di sebelah depan lalu berkata. "Sendok Pemasung Nasib yang asli pasti ada dalam perutnya! Hantu Lintah Hitam pasti telah menyelamatkan sendok emas sakti itu dengan jalan menelannya!"

Habis berkata begitu Hantu Muka Dua gerakkan tangan kanannya.

"Sreettt!" terdengar suara berkeresetan lima kali berbarengan. Bersamaan dengan itu lima jari tangan Hantu Muka Dua berubah menjadi sangat besar dan diujung kelima jari itu mencuat kuku-kuku berwarna hitam, berbenfuk pisau runcing dan tajam!

Sebelum semua orang yang ada di tempat itu bisa menduga apa yang hendak dilakukan Hantu Muka Dua, penguasa Istana Kebahagiaan ini tiba-tiba membungkuk. Tangan kanannya bergerak laksana kilat.

"Breettt!"

Semua orang yang ada di tempat itu melengak dingin tengkuk masing-masing. Luhkinki pejamkan mata. Perutnya mendadak menjadi mual dan dia berusaha keras untuk bertahan agar mulutnya tidak menyemburkan muntah!

Perut mayat Hantu Lintah Hitam robek besar. Isi perutnya terbongkar keluar. Enak saja Hantu Muka Dua memutus usus besar mahluk yang sudah jadi mayat itu. Dari dalam usus yang kemudian jatuh menjela-jela di tanah Hantu Muka Dua menemukan dan mengambil sebuah benda memancarkan cahaya kuning yang bukan lain Sendok Pemasung Nasib adanya!

Tawa Hantu Muka Dua kembali meledak di Seantero ruangan segi enam. Sambil mengacungkan sendok emas itu ke atas dia berkata.

"Hantu Langit Terjungkir! Sendok Pemasung Nasib ada di tanganku! Seumur hidup ilmu kepandaian dan kesaktianmu tak akan dapat dikembalikan! Ha...ha... ha! Kutuk guruku Lamanyala tak akan bisa kau pupus walau seribu Dewa seribu Peri dan seribu Roh ‘ menolongmu! Ha... ha... ha!" (Mengenai hubungan mahluk api Lamanyala dengan Hantu Muka Dua harap baca Episode sebelumnya berjudul "Hantu Muka Dua").

Hantu Muka Dua berpaling pada Lasedana. "Kita perlu menghadirkan putera Hantu Lintah Hitam di tempat ini! Dia perlu mengetahui bahwa ayahnya telah berbuat satu jasa besar Harap kau segera memanggil orang itu!"

Lasedana menjura lalu tinggalkan ruangan segi enam dengan cepat Tak selang berapa lama dia kembali bersama seorang pemuda bertubuh tegap tinggi, berwajah gagah tapi berkulit sangat hitam, berkilat dan licin, menyerupai Hantu Lintah Hitam. Pemuda ini bernama Lakembangan dan adalah putera tunggal Hantu Lintah Hitam.

Sampai di hadapan Hantu Muka Dua Lakembangan segera hendak menjura. Namun pandangannya membentur sosok yang tergeletak di lantai ruangan. Pemuda ini tersurut ngeri. Tapi begitu menyadari bahwa orang itu adalah ayahnya, Lakembangan langsung menggerung dan jatuhkan diri.

"Apa yang terjadi dengan ayahku! Wahai! Siapa berbuat sekejam ini?!" Berurai air mata tapi tubuh menggeletar dan dua tangan terkepal Lakembangan bangkit berdiri. Dia memandang tak berkedip pada Lasedana, melirik pada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Sesaat dia menatap ke arah Luhkinki gadis cantik kesayangan Hantu Muka Dua. Selama ini tak satu orangpun di dalam Istana Kebahagiaan mengetahui kalau antara Lakembangan dan Luhkinki telah terjalin satu hubungan cinta. Mereka tidak berani memperhatikan kasih sayang berterus terang dan selalu berhati-hati. Karena sekali Hantu Muka Dua tahu kalau gadis kesayangannya itu bercinta dengan lelaki lain, pasti melapetaka akan jatuh! Si gadis balas menatap dengan raut wajah menyatakan kesedihan. Lalu Lakembangan berpaling pada Hantu Muka Dua, jatuhkan diri berlutut di hadapan Sang Junjungan sambil terisak menahan tangis yang sulit dibendung.

Dengan tangan kirinya Hantu Muka Dua pegang bahu si pemuda lalu berkata. "Lakembangan, aku turut sedih atas kematian ayahmu. Tapi ketahuilah. Dia mati dalam melaksanakan satu tugas besar. Dia berhasil melaksanakan tugas itu. Berarti dia berjasa besar terhadap diriku dan Istana Kebahagiaan! Dia berhasil mendapatkan Sendok Pemasung Nasib yang sangat sakti ini walau untuk itu dia harus menebus dengan nyawanya sendiri. Betapa gagahnya perbuatan ayahmu! Aku Hantu Muka Dua, Raja Diraja Segala Hantu di Negeri Latanahsilam ini tidak bisa membalas jasa dan budi besarnya. Untuk itu aku akan mengangkatmu pada satu jabatan tinggi sebagai pengganti ayahmu! Dan kau berhak menyandang julukannya yaitu Hantu Lintah Hitam!"

"Terima kasih Sang Junjungan. Terima kasih..."

kata Lakembangan dengan kepala tertunduk dan air mata jatuh bercucuran.

Diantara suara isaknya, dia kemudian bertanya dengan parau. "Sang Junjungan, mohon kau memberi tahu. Siapa yang telah membunuh ayahku begini rupa"

"Yang punya perbuatan adalah seorang nenek berjuluk Hantu Selaksa Angin dan seorang anak dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang bernama Naga Kuning...."

"Aku pernah mendengar nama ke duanya. Aku bahkan tahu dimana harus mencari nenek keparat itu! Sang Junjungan, izinkan aku mencari ke dua orang itu untuk menuntut balas!"

Hantu Muka Dua menyeringai. "Kau anak baik! Yang tahu bagaimana membalas budi orang tua! Tapi kau tak usah bersusah diri menghabiskan waktu dan tenaga mencari kedua orang itu. Tenagamu diperlukan di sini untuk menghadapi hari lima belas bulan dua belas. Kedua orang itu kelak akan muncul memenuhi undanganku. Pada saat itulah kita akan menghajar dan mengirimnya ke alam roh! Aku akan memastikan kematian mereka lebih mengerikan dari nasib yang menimpa diri ayahmu!"

Mendengar ucapan Hantu Muka Dua itu Lakembangan tak bisa berbuat apa-apa walau niatnya membalas dendam saat itu seperti hendak membakar dirinya. Pemuda ini tundukkan kepala, kepalkan dua tinjunya lalu saking geramnya dia hantamkan tangan kanannya ke dada sendiri seraya berteriak keras seolah berusaha melepas bendungan amarah!

Hantu Muka Dua berpaling pada Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. "Jangan membuang waktu. Kau boleh pergi sekarang. Cari sahabatmu bernama Lawungu. Kita butuh tenaganya di Istana ini...."

"Atas perintahmu aku berangkat wahai Sang Junjungan!" kata Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

Setelah menjura terlebih dulu dia segera tinggalkan tempat itu.

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kemudian berkata pada Lakembangan. "Lakembangan, panggil beberapa pengawal untuk membawa mayat ayahmu. Tanam di tanah tinggi sebelah selatan Istana Kebahagiaan! Jangan lupa memerintahkan beberapa pelayan membersihkan tempat ini!"

Tak lama setelah Lakembangan pergi bersama pengawal membawa jenazah Hantu Lintah Hitam, Hantu Muka Dua berkata pada Luhkinki. "Antarkan aku ke Ruang Penyimpanan Senjata Pusaka. Sendok emas ini harus segera kusimpan!"

Gadis jelita bernama Luhkinki menjura. Dia membuka lipatan kipas besar. Lalu sambil melangkah mengikuti dia mulai mengipasi Sang Junjungan. Di bagian belakang Istana Kebahagiaan ada satu tangga batu pualam putih menuju ke sebuah lorong di tingkat ke tiga bangunan. Sepanjang lorong tegak berjajar selusin pengawal berpakaian serba hitam. Enam di sisi kiri, enam lagi di sisi kanan. Dua belas pengawal ini segera membungkuk hormat begitu Hantu Muka Dua muncul di ujung lorong. Di hadapan sebuah pintu batu jauh di ujung lorong Hantu Muka Dua berhenti. Dengan tangan kanannya dia menekan pintu batu. Terdengar suara berdesir halus. Pintu batu bergeser ke samping sampai setengahnya.

"Kau tunggu di sini!" kata Sang Junjungan pada Luhkinki. Lalu seorang diri dia masuk ke dalam.

Selama ini memang tidak pernah ada orang lain yang diperbolehkan masuk ke ruang rahasia yang terletak di balik pintu batu itu. Termasuk Luhkinki walau Hantu Muka Dua sangat menyayanginya. Konon dalam ruangan ini Hantu Muka Dua menyimpan berbagai macam senjata pusaka sakti mandraguna. Kebanyakan dari senjata itu adalah hasil rampasan atau curian. Begitu Hantu Muka Dua menginjakkan kakinya di lantai ruangan penyimpanan senjata, pintu batu kembali menutup dengan sendirinya. Luhkinki menoleh ke belakang. Dua belas pengawal di ujung lorong sebelah sana semua dilihatnya berdiri tegak, tak ada yang bicara atau bergerak, juga tak ada yang memandang ke arahnya. Begitu dirasakannya aman dengan cepat gadis ini lipat kipasnya. Lalu sebelum pintu batu menutup rapat, Luhkinki selipkan ujung kipas ke celah antara pintu dan dinding batu. Dari selah kecil itu dia masih mampu melihat ke dalam ruang penyimpanan benda-benda pusaka.

Luhkinki memperhatikan bagaimana Hantu Muka Dua melangkah ke arah dinding ruangan sebelah kanan. Dinding itu merupakan petak-petak segi empat berjumlah tujuh menyamping tujuh ke bawah. Berarti ada empat puluh sembilan petak. Masing-masing petak diberi angka mulai dari angka 1 sampai 49.

Hantu Muka Dua tekankan telapak tangan kirinya ke petak berangka 21. Secara aneh batu rata petak tersebut bergerak naik ke atas. Lalu terlihat sebuah ruangan empat persegi. Hantu Muka Dua masukkan Sendok Pemasung Nasib ke dalam ruangan itu. Batu petak yang tadi naik ke atas bergerak turun kembali. Di depan pintu ruangan Luhkinki melihat jelas semua apa yang dilakukan Hantu Muka Dua. Dia mengingat-ingat nomor petak dimana tadi Hantu Muka Dua memasukkan sendok emas sakti, lalu cepat-cepat menarik ujung kipas dari celah pintu. Tanpa suara pintu batu itu bergerak perlahan lalu menutup rapat. Di dalam ruangan Hantu Muka Dua menyeringai.

Dalam hati dia berkata. "Aku suka berbuat baik pada banyak orang. Tetapi mengapa orang selalu saja berniat dan berbuat jahat terhadapku?! Luhkinki, kau adalah gadis pembantu paling aku sayangi. Tapi kau berlaku khianat. Mengintai apa yang aku lakukan di ruangan ini. Aku memang belum tahu apa yang ada di hati culas dan di otak kotormu. Tapi jangan mengira aku tidak tega menjatuhkan tangan jahat padamu!"5MALAM itu hujan turun cukup lebat. Di atas bukit batu, Istana Kebahagiaan baik di dalam maupun di sebelah luar terbungkus oleh hitamnya kegelapan. Sesekali jika kilat menyambar baru kelihatan istana itu dalam bentuknya yang putih angker. Udara dingin di luaran menembus masuk sampai ke dalam istana. Di satu sudut gelap halaman belakang Istana Kebahagiaan seseorang berpakaian hijau pekat berjalan cepat melewati sebuah gapura kecil. Dengan gerakan enteng dia melompati temboki setinggi dada lalu menyelinap ke balik sebuah patung batu berbentuk seekor singa berkepala dua.

Di balik patung singa ini rupanya telah menunggu seorang berpakaian hitam. Dari wajah serta lekuk tubuhnya jelas dia adalah seorang gadis. Di Negeri Latanahsilam gadis ini dikenal dengan nama Luhtinti. Dulunya dia merupakan seorang pembantu yang dijadikan mata-mata oleh Hantu Muka Dua. Dalam Episode berjudul "Peri Angsa Putih" diceritakan bagaimana Peri Angsa Putih mendapat perintah untuk membenam dengan lahar panas dari Gunung Latinggimeru tempat kediaman Hantu Muka Dua yang terletak di bawah Telaga Lasituhitam.

Luhtinti dan empat orang temannya berusaha melarikan diri dari malapetaka dahsyat yang dijatuhkan oleh Peri Angsa Putih itu. Dirinya dan kawankawannya kemudian ditemui dan diselamatkan oleh Lakasipo alias Hantu Kaki Batu. Luhtinti kemudian membantu Lakasipo menunjukkan jalan ke Goa Pualam Merah tempat kediaman Luhjelita. Ternyata Hantu Muka Dua datang pula ke tempat ini. Karena menganggap Luhtinti telah mengkhianati dirinya, Hantu Muka Dua menganiaya gadis itu dan mencabut seluruh rambut di kepalanya hingga Luhtinti menjadi botak. Dari peristiwa ini tidak mengherankan kalau Luhtinti membekal dendam kesumat besar terhadap Hantu Muka Dua. Namun karena ilmu kepandaian dan kesaktian Penguasa Istana Kebahagiaan itu bukan tandingannya maka tak mungkin baginya untuk melakukan balas dendam dengan kekuatannya sendiri.

Riwayat lain mengenai Luhtinti dapat pembaca ikuti dalam Episode "Hantu Santet Laknat" dimana gadis ini bertemu dengan Pendekar 212 Wiro Sableng di dalam rimba belantara Lasesatbuntu. Tak jauh dari tempat Luhtinti berdiri ada sebuah pohon besar. Di balik pohon ini kelihatan bayangan seorang berpakaian serba putih, tegak rangkapkan tangan di depan dada, sesekali memandang berkeliling penuh waspada.

"Lama sekali aku menunggu," Luhtinti keluarkan suara tapi perlahan hampir berbisik, begitu orang berpakaian hijau sampai di hadapannya. "Lihat, pakaianku sudah basah kuyup. Kau datang membawa berita baik?"

Orang yang datang mengangguk. Ternyata dia adalah Luhkinki, gadis cantik kesayangan Hantu Muka Dua.

"Aku harus berhati-hati. Kau tahu apa yang akan terjadi atas diriku kalau sampai ada yang mengetahui. Benda yang kau cari itu memang ada dalam Istana Kebahagiaan. Hantu Muka Dua mendapatkannya dua hari lewat, diambilnya dari dalam perut Hantu Lintah Hitam! Kini benda itu disimpannya di dalam ruang penyimpanan barang pusaka."

"Kau bisa mengambilnya?" tanya Luhtinti.

"Akan aku usahakan...."

"Kapan?!" Luhtinti mendesak.

"Malam ini juga. Secepatnya setelah seorang kerabat menyerahkan Bubuk Penjungkir Syaraf padaku."

Wajah Luhtinti langsung berubah mendengar Luhkinki menyebut Bubuk Penjungkir Syaraf. "Jadi Hantu Muka Dua dan orang-orangnya telah berhasil meramu racun maut itu?"

"Yang akan diberikan kerabat itu hanya dari jenis paling rendah. Tidak sampai membunuh, cukup membuat orang pingsan. Konon Hantu Muka Dua telah memberikan jenis paling rendah itu pada beberapa orang pembantunya untuk diuji coba. Aku menyirap kabar salah satu korbannya adalah seorang gadis bernama Luhcinta. Aku harus pergi sekarang. Aku khawatir kerabatku itu sudah berada di satu tempat pertemuan menungguku untuk menyerahkan bubuk itu...."

"Aku akan menunggu di sini. Apakah tempat ini amar.?"

"Cukup aman," jawab Luhkinki. Saat itulah sepasang mata gadis ini melihat bayangan orang yang tegak di balik pohon besar. "Celaka, ada orang mengintip kita. Dia sembunyi di balik pohon sana!"

"Jangan khawatir. Dia sahabat yang mengantar aku ke sini. Kami punya kepentingan sama. Menolong orang yang sama," menjelaskan Luhtinti.

Tapi Luhkinki kelihatan bimbang. "Aku jadi ragu. Jangan-jangan.... Wahai, siapa adanya sahabatmu di balik pohon itu?"

"Namanya Wiro Sableng. Dia pemuda asing yang datang dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu...."

"Wahai...! Nama hebat yang sudah kudengar sejak lama. Aku tidak ingat, apakah aku pernah melihat orangnya sebelumnya? Luhtinti, kabarnya pemuda itu tampan sekali. Apakah aku boleh melihat wajahnya?"

"Katamu kau harus cepat-cepat. Kerabat yang hendak menyerahkan bubuk itu...."

"Dia bisa menunggu. Aku ingin melihat wajah pemuda asing itu lebih dulu. Walau cuma sesaat!" bisik Luhkinki mendesak.

"Kau ini ada-ada saja!" Luhtinti jentikkan tangannya memberi tanda.

Dari balik pohon Pendekar 212 melangkah keluar.

"Ada apa?" tanya Wiro pada Luhtinti, lalu memandang ke arah Luhkinki.

"Tak ada apa-apa. Sudahlah, kau kembali saja ke balik pohon!" jawab Luhtinti.

Murid Sinto Gendeng jadi garuk-garuk kepala.

"Aneh kau ini. Tadi memberi isyarat agar aku datang.

Sekarang bilang tidak apa-apa..." Wiro memandang lagi pada Luhkinki lalu kedipkan mata kirinya. Sambil senyum-senyum dia kembali ke balik pohon besar.

"Kau sudah melihat wajahnya. Sekarang apa lagi?" berucap Luhtinti.

"Wahai, dia memang gagah. Lebih gagah dari yang aku bayangkan! Tapi agak genit!" jawab Luhkinki.

"Hati-hati, jangan kau sampai jatuh cinta padanya!"

Sambil menutup mulut menahan tawa Luhkinki tinggalkan tempat itu.DI LORONG yang menuju pintu ruang penyimpanan barang-barang pusaka hanya ada dua obor yang menyala. Pertama dijalan masuk, ke dua di samping pintu ruangan, seperti biasanya dua belas pengawal tetap ada di sepanjang lorong berjaga-jaga. Para pengawal ini serta merta memutar kepala masing-masing ke arah jalan masuk ketika mereka mendengar ada suara langkah-langkah halus mendatangi disertai munculnya bayang-bayang seseorang di dinding lorong.

"Luhkinki!" pengawal di paling ujung yang merupakan pimpinan dari selusin pengawal yang ada di tempat itu menegur. "Ada apa kau datang ke sini. Kau muncul seorang diri. Apa kau lupa aturan bahwa ruangan ini hanya bisa dimasuki jika Sang Junjungan Hantu Muka Dua ikut hadir?! Apa kau lupa ini adalah kawasan terlarang bagi siapapun?!"

"Aku tahu aturan! Aku juga sadar ini adalah kawasan terlarang! Dengar, Hantu Muka Dua sedang tidak enak badan. Sang Junjungan sendiri yang memberi perintah padaku untuk mengambil sesuatu dari dalam Ruang Penyimpan Barang Pusaka!" jawab Luhtinti.

"Kami tidak bisa mempercayai. Kami tidak akan memberi izin!" kata kepala pengawal tegas.

"Aku membawa Tanda Pengenal dari Sang Junjungan sebagai bukti aku memang sudah mendapat izin untuk berada di tempat ini!"

"Perlihatkan kepada^kami!" kata kepala pengawal pula.

Luhkinki angkat tangan kanannya sampai sama rata dengan mulutnya. Jari-jari tangannya yang sejak tadi digenggamkan perlahan-lahan dibuka. Lalu dia melangkah mendekati barisan pengawal. Pada saat lima jari membuka, mulut sang gadis meniup dua kali.

"Fuhhhh.... Fuhhhh!"

Dua rangkum asap kemerah-merahan menggebu ke arah dua belas pengawal Ruang Penyimpanan Barang Pusaka Istana Kebahagiaan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka baru berteriak ketika merasa leher masing-masing seperti tercekik dan pemandangan menjadi gelap. Kedua belas pengawal itu langsung rubuh tumpang tindih satu sama lain, bergeletakan di lantai lorong.

Sambil tekap hidungnya Luhkinki lari ke arah pintu batu di ujung lorong. Begitu sampai di depan pintu, dengan tangan kanannya gadis itu menekan bagian pintu tepat di arah mana Hantu Muka Dua dilihatnya pernah melakukan. Muncul suara berdesir halus. Perlahan-lahan pintu batu bergeser membuka. Luhkinki cepat melompat ke dalam ruangan. Langsung bergerak ke arah dinding sebelah kanan dimana terdapat petak-petak batu bernomor 1 sampai 49. Dengan tangan kanannya si gadis menekan petak berangka 21.

Dia tak menunggu lama. Seperti yang sebelumnya pernah disaksikannya, petak batu itu bergerak naik ke atas. Satu cahaya kuning menyambar dari dalam petak.

Itulah sinar Sendok Pemasung Nasib. Luhkinki cepat ambil sendok emas itu dan keluar dari ruangan. Walau hatinya lega namun rasa takut tetap saja membuat tengkuknya dingin dan tubuhnya keringatan.6HANTU Muka Dua terlonjak kaget dan marah ketika seorang pengawal menemuinya, memberi laporan apa yang terjadi di lorong Ruang Penyimpanan Barang Pusaka. Dua wajah di kepalanya langsung berubah menjadi wajah-wajah raksasa garang beringas. Diikuti beberapa pengawal dia berlari menuju lorong di bagian belakang istana itu.

Seperti yang dilaporkan Hantu Muka Dua menemukan dua belas pengawal bergeletakan di lantai lorong. Muka mereka kelihatan merah sedang bibir membiru. Menerima kabar dan melihat sendiri kejadian yang menimpa dua belas pengawal itu sudah merupakan kejutan besar bagi Sang Penguasa Istana Kebahagiaan. Rasa terkejutnya jadi berlipat ganda ketika dia melihat keadaan muka dan tubuh pengawal itu.

"Bubuk Penjungkir Syaraf! Pengawal-pengawal ini menemui ajal akibat bubuk maut itu! Kurang ajar! Bagaimana mungkin ada orang mempergunakan bubuk rahasia itu! Kurang ajar! Siapa yang punya pekerjaan! Siapa berani melakukan perbuatan gila ini di depan mata hidungku! Membunuh para pengawal dengan bubuk maut yang aku buat sendiri!"

"Pengawal!" teriak Hantu Muka Dua. "Periksa keadaan semua pengawal lorong!"

Beberapa pengawal yang datang bersama Hantu Muka Dua segera memeriksa keadaan teman-teman mereka dua belas orang itu.

"Mohon ampun Sang Junjungan! Kerabat yang dua belas orang ini tewas semua. Tak satupun yang hidup...."

Rahang dua wajah raksasa Hantu Muka Dua menggembung. Gerahamnya bergemeletakan. Sepuluh jarijari tangannya dicengkeramkan hingga mengeluarkan suara berkereketan. Dua mata raksasanya depan belakang mendadak membeliak besar ketika memperhatikan pintu batu ruang penyimpanan barang pusaka setengah terbuka. Sekali lompat saja dia sudah berada di depan pintu itu lalu dengan cepat masuk ke dalam ruangan. Di tengah ruangan langkahnya terpaku ke lantai. Petak batu nomor 21 dilihatnya berada dalam keadaan terbuka. Bagian dalam petak batu itu kosong! "Sendok Pemasung Nasib!" teriak Hantu Muka Dua menggeledek. Terhuyung-huyung, tanpa mendekati lagi dinding petak batu dia memutar tubuh, keluar dari ruangan itu. Selagi melangkah lemas di lorong dua orang pengawal mendatanginya. Hantu Muka Dua langsung membentak. Hampir saja dia menendang salah seorang dari pengawal itu. Dua pengawal jatuhkan diri. Yang di sebelah kanan cepat berkata.

"Maafkan kami Sang Junjungan. Kami ingin memberi tahu. Ternyata salah seorang dari dua belas pengawal itu masih hidup! Kawan-kawan tengah menolongnya!"

"Apa?!" Hantu Muka Dua memandang ke arah jalan masuk lorong. Dilihatnya tiga orang pengawal tengah menolong mendudukan seorang temannya yang celaka. Hantu Muka Dua cepat mendatangi. Pengawal yang duduk bersandar ke dinding lorong itu bibirnya masih tetap membiru namun wajahnya yang tadi merah kini pucat pasi, begitu juga dua tangan dan kakinya, seolah darah dalam tubuhnya telah terkuras habis! Dua matanya terpejam. Dalam amarahnya yang meluap Hantu Muka Dua mana perdulikan keadaan orang. Dia berjongkok lalu jambak rambut si pengawal.

"Jahanam! Buka matamu! Katakan siapa yang datang ke tempat ini! Siapa yang mencelakai kalian!" Bentakan dahsyat Hantu Muka Dua membuat pengawal yang cidera menggerakkan sedikit dua matanya. Tapi dia cuma bisa membuka mata sebentar lalu tertutup kembali.

"Siapa?!" teriak Hantu Muka Dua kembali. Tangannya yang menjambak bergerak, hampir saja hendak membenturkan kepala pengawal itu ke dinding batu. Mata si pengawal masih terpejam. Tapi mulutnya terbuka sedikit. "Luh... Luhkinki...."

Walau suara si pengawal perlahan sekali namun bagi Hantu Muka Dua terdengar seperti petir menyambar. Sekujur tubuhnya bergeletar. Badannya laksana diselimuti Bara.

"Jahanam! Sungguh tidak kuduga!" Hantu Muka Dua lepaskan jambakannya. Lalu melompat bangkit! "Pengawal! Cari gadis jahanam itu! Aku menunggu di Ruang Obor Tunggal!"HUJAN mulai reda ketika Luhkinki kembali menemui Luntinti di sudut gelap halaman belakang Istana Kebahagiaan.

"Aku berhasil!" kata gadis berkulit hitam manis bertubuh kencang itu seraya menyodorkan Sendok Pemasung Nasib di tangan kanannya. Begitu sendok emas berpindah tangan, diterima oleh Luhtinti, dia berkata. "Lekas tinggalkan tempat ini!"

Saat itu Wiro sudah berada di samping Luhtinti dan bertanya. "Bagaimana dengan kau? Tidak ikut beserta kami sekarang juga?"

"Seperti yang sudah diatur, aku tetap di Istana Kebahagiaan sampai hari lima belas bulan dua belas mendatang."

"Terima kasih Luhkinki. Kami akan beri tahu Hantu Langit Terjungkir dan istrinya. Betapa besar jasamu!"

Luhkinki tersenyum. Gadis ini memutar tubuh lalu berlari cepat ke arah Istana Kebahagiaan. Pada saat dia hanya tinggal beberapa tombak saja dari pintu gerbang Istana tiba-tiba menggema suara genta. Bersamaan dengan itu bangunan besar istana yang tadi ‘diselimuti kegelapan kini kelihatan terang benderang. Obor di pasang menyala hampir di setiap sudut. Dari depan dan samping Istana terlihat puluhan pengawal berlarian. Ketika mereka melihat Luhkinki, semuanya berteriak dan segera lari ke arah gadis ini.

"Lihat apa yang terjadi!" kata Pendekar 212 Wiro Sableng pada Luhtinti. Keduanya yang saat itu hendak meninggalkan tempat tersebut serta merta hentikan larinya.

"Puluhan pengawal menangkap Luhkinki. Gadis itu tidak melawan!"

"Aku harus menolongnya!" kata Wiro.

Tapi begitu dia hendak bergerak Luhtinti segera memegang tangannya. "Hantu Muka Dua rupanya sudah tahu Sendok Pemasung Nasib itu telah dicuri Luhkinki. Mahluk itu pasti marah besar! Tapi dia tidak akan membunuh Luhkinki karena dia punya pantangan membunuh perempuan...."

"Aku tahu hal itu. Walau tidak membunuh tapi penganiayaan yang akan dilakukannya terhadap gadis itu pasti tidak kepalang tanggung. Kau segera saja pergi menemui Lakasipo. Aku akan berusaha menyelamatkan gadis itu!"

"Dengar Wiro, apapun yang terjadi dengan Luhkinki gadis itu tidak akan mati. Hantu Muka Dua pasti akan memasukkannya ke dalam tempat yang disebut Ruang Obor Tunggal. Kita masih punya kesempatan menolongnya. Lagipula aku percaya Lakembangan pasti akan menolongnya!"

Wiro masih bimbang. Saat itu dari arah timur Istana Kebahagiaan tiba-tiba serombongan orang berpakaian biru lari kencang ke arah mereka.

"Pengawal Istana tingkat kedua! Mereka berkepandaian tinggi! Kehadiran kita sudah diketahui!" berucap Luhtinti. Lalu dengan cepat dia menarik tangan Wiro. Kedua orang ini lari ke arah barat. Tapi baru berlari sepuluh tombak mendadak terdengar suara suitan berulang kali. Di lain saat dari balik tiga batu besar berlesatan orang-orang berpakaian serba hitam.

"Pengawal tingkat satu," ujar Luhtinti. "Wiro! Kalau kau tak sanggup memukul hancur tiga batu besar di sebelah sana alamat kita akan menemui kesulitan besar di tempat ini!"

"Mengapa menghancurkan batu? Aku bisa menghantam langsung pada rombongan kampret-kampret istana Kebahagiaan itu!" jawab Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Kampret? Apa pula itu?! tanya Luhtinti. Lalu dia sadar. "Ah, bukan saatnya aku bertanya segala macam hal! Lekas lakukan saja apa yang aku katakan! Orangorang itu semakin dekat!"

Wiro garuk-garuk kepala tapi melakukan juga apa yang dikatakan Luhtinti. Dia gerakkan tangan kanan melepas pukulan sakti bertenaga dalam tinggi bernama Benteng Topan Melanda Samudera tiga kali berturut-turut. Angin laksana topan menderu ke arah tiga batu besar.

Tiga dentuman dahsyat menggelegar dalam kegelapan malam. Tiga batu besar hancur berubah menjadi ribuan kerikil tajam, beterbangan di udara menutup pemandangan. Pecahan-pecahan kerikil ini melesat ke berbagai penjuru. Menembus daun dan batang pepohonan bahkan menembus batu-batu besar yang ada di sekitar tempat itu.

Jeritan menggidikkan terdengar dimana-mana. Ternyata pecahan batu yang berbahaya itu menghantam rombongan pengawai Istana Kebahagiaan. Yang tertembus perutnya melolong kesakitan. Yang pecah matanya memekik setinggi langit. Yang bocor kening atau batok kepalanya menjerit tak karuan lalu tergelimpang roboh bersimbah darah! Luhtinti menariktangan Wiro. Selagi pecahan batu kerikil yang ribuan banyaknya menghalangi pemandangan para pengawal Istana Kebahagiaan, kedua orang itu pergunakan kesempatan untuk melarikan diri.

"Luhtinti, aku tadi memang menghantam tiga batu besar itu dengan pukulan mengandung tenaga dalam tinggi. Tapi menurutku tiga batu itu tak mungkin bisa hancur demikian rupa. Pasti ada sesuatu...."

"Itu bukan batu biasa Wiro," menyahuti Luhtinti sambil berlari cepat. Hantu Muka Dua sengaja membuatnya. Bagian dalam di isi semacam alat rahasia yang bisa dikendalikan dari tempat tersembunyi. Jika batu itu meledak, apa atau siapa saja yang ada di sekitarnya akan kena ditembus. Puluhan bahkan ratusan orang bisa menemui kematian. Kau menyaksikan sendiri tadi bagaimana para pengawal itu mati berkaparan ditembus kerikil pecahan batu...."

"Hantu Muka Dua benar-benar mahluk jahat luar biasa. Aku jadi ingat pada seorang berjuluk Raja Rencong. Dia tega mencabut nyawa menumpah darah puluhan tokoh silat golongan putih dan hitam hanya untuk melaksanakan niat, menjadi penguasa rimba persilatan...."

"Aku tidak tahu siapa Raja Rencong itu. Tapi aku yakin Hantu Muka Dua lebih kejam dan keji dari Raja Rencong!" (Mengenai Raja Rencong Dari Utara harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Raja Rencong Dari Utara")

"Luhtinti bagaimanapun aku tetap mengkhawatirkan keselamatan Luhkinki. Kau mengatakan Hantu Muka Dua tidak akan membunuhnya karena dia punya pantangan membunuh perempuan. Tetapi jika Hantu Muka Dua sampai menyiksa dan membuatnya cacat seumur hidup, rasanya kesengsaraan itu lebih dahsyat dari kematian. Aku harus kembali untuk menolong gadis itu...."

"Wiro! Jangan lakukan itu!" teriak Luhtinti.

Pendekar 212 gelengkan kepala. "Gadis itu telah melakukan sesuatu untuk menolong kita walau dia tahu bahaya besar menghadangnya. Kini dia justru telah ditimpa melapetaka. Kau lanjutkan perjalanan ke tempat Lakasipo menunggu. Sesuai petunjuk Luhrinjani, istri Lakasipo yang merupakan mahluk roh dari alam gaib itu, pergunakan Sendok Pemasung Nasib itu untuk memutus jala api biru yang masih menjerat dirinya. Nanti aku akan bergabung lagi dengan kalian dan teman-teman. Setelah itu kita sama-sama mencari Hantu Langit Terjungkir untuk menyerahkan sendok emas itu padanya!"

Luhtinti terdiam.

Perlu dijelaskan, seperti dikisahkan dalam Episode sebelumnya ("Batu Pembalik Waktu") setelah keluar dari Puri Kebahagiaan, Pendekar 212 Wiro Sableng berpisah dengan Hantu Raja Obat yang telah menolong Peri Bunda dari kehamilan aneh yang ternyata adalah akibat perbuatan guna-guna seseorang.

Sewaktu menuruni bukit Wiro bertemu dengan Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula Ketiga orang ini meninggalkan danau dimana mereka sebelumnya berada bersama Hantu Langit Terjungkir dan Hantu Selaksa Angin. Mereka tengah berusaha mencari Wiro yang sebelumnya dilarikan oleh Peri Angsa Putih dan dibawa ke Puri Kebahagiaan. Tanpa diketahui oleh Wiro dan kawan-kawan secara diam-diam perjalanan mereka terus diikuti oleh Peri Angsa Putih yang saat itu telah memiliki Batu Sakti Pembalik Waktu. Peri ini berada dalam kebimbangan besar apakah dia akan menyerahkan Batu Pembalik Waktu itu pada Wiro atau tetap merahasiakan dan menyimpannya agar Wiro tidak dapat kembali ke Tanah Jawa.

Satu hari perjalanan dari Puri Kebahagiaan secara tidak terduga Wiro dan rombongannya bertemu dengan Lakasipo yang masih terjerat dalam jala api biru. Saat itu Lakasipo alias Hantu Kaki Batu masih ditemani oleh istrinya yaitu Luhrinjani. Seperti diketahui Luhrinjani sebenarnya telah menemui ajal namun berkat pertolongan para Peri dan Dewa perempuan itu bisa muncul kembali dalam ujud tidak berbeda seperti manusia. Walau Luhrinjani memiliki kesaktian hebat, ternyata dia tidak mampu melepaskan Lakasipo dari jeratan jala api biru. Namun dia mengetahui bahwa salah satu benda sakti yang bisa melepaskan Lakasipo adalah sendok sakti terbuat dari emas yang dikenal dengan nama Sendok Pemasung Nasib dan selama Ini memang dicari-cari untuk menolong Hantu Langit Terjungkir.

Setelah mendapat keterangan dari Naga Kuning dan kawan-kawan bahwa Sendok Pemasung Nasib kemungkinan berada di Istana Kebahagiaan, dengan bantuan Luhtinti yang pernah tinggal di Istana Kebahagiaan, Wiro menghubungi Luhtinti. Gadis kesayangan Hantu Muka Dua ini berhasil mendapatkan sendok tersebut lalu diserahkannya pada Luhtinti. Seperti diceritakan perbuatan Luhtinti ini ternyata diketahui Oleh Hantu Muka Dua.

"Luhtinti, kau tunggu apa lagi. Pergilah sekarang juga. Hati-hati!"

Luhtinti mau membantah tapi murid Eyang Sinto Gendeng sudah memutar tubuh dan berkelebat ke arah Istana Kebahagiaan. Saat itu di seputar halaman istana yang diterangi oleh obor masih kelihatan puluhan pengawal berjaga-jaga. Luhkinki sendiri tidak tampak lagi di tempat itu.

"Gadis itu pasti sudah ditangkap. Dibawa ke Ruang Obor Tunggal. Pengawal masih banyak, cukup sulit bagiku untuk menerobos masuk tanpa ketahuan. Lagi pula aku tidak tahu dimana terletaknya ruang jahanam tempat penyiksaan orang-orang perempuan itu. Aku harus mencari akal!" Wiro terus memperhatikan sambil memutar otak dan garuk-garuk kepala.7LUHTINTI berlari sekencang yang bisa dilakukannya ke arah selatan dimana terdapat sebuah lembah teduh. Di lembah inilah Lakasipo dan Luhrinjani menunggu bersama Naga Kuning, Setan Ngompol dan Betina Bercula. Sebenarnya jarak yang hendak dicapai tidak terlalu jauh. Namun di tengah jalan Luhtinti diam-diam menyadari kalau dirinya ada yang menguntit. Karenanya gadis berotak tajam ini yang pernah menjadi mata-mata Hantu Muka Dua sengaja mengambil jalan berputar. Namun ternyata si penguntit masih tetap berada di belakangnya.

"Kalau dia bukan seorang berkepandaian tinggi pasti tidak mungkin dia selalu berada di belakangku. Lebih baik aku berhenti menghadapinya! Aku ingin tahu siapa orangnya?"

Di satu jalan mendaki Luhtinti akhirnya hentikan lari dan membalik sambil pasang kuda-kuda, siap Untuk menyerang. Suara orang bergelak tiba-tiba memenuhi tempat itu. Di lain kejap seorang berjubah Ungu muncul di hadapan si gadis.

"Lawungu!" membatin Luhtinti begitu dia mengenali siapa adanya orang di hadapannya. Seperti diketahui sebelumnya Lawungu telah ditinggalkan orang Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab di satu tempat dalam keadaan sakit. Ternyata orang berkepandaian tinggi Ini mampu menyembuhkan dirinya sendiri dengan makan obat-obatan terdiri dari berbagai macam daun dan akar tanaman.

"Gadis cantik, berlari secepat angin. Sekarang kau terkejut melihat diriku! Wahai, pertanda kau punya satu urusan penting. Bukankah begitu?"

"Apapun urusanku, apa perdulimu?!" bentak Luhtinti.

"Tentu saja aku sangat perduli. Karena bukankah kau membekal sebuah sendok emas bernama Sendok Pemasung Nasib?!"

Kejut Luhtinti bukan alang kepalang. "Bagaimana kakek ini tahu aku memiliki sendok emas sakti itu," pikir si gadis. Tak sengaja tangannya meraba ke pinggang. Astaga, dia dapatkan ternyata sendok emas yang diselipkannya di pinggang pakaian telah tersembul ujung gagangnya. Lawungu tertawa mengekeh. Sambil tudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah sendok yang terselip di pinggang dia berkata.

"Aku tahu siapa kau adanya gadis berambut aneh. Kau dulu adalah kaki tangan Hantu Muka Dua. Kau mengkhianatinya hingga kau dihajar dan rambutmu dicabutnya. Untung rambutmu masih bisa tumbuh! Ha... ha... ha!"

"Kau tahu siapa aku, aku juga tahu siapa dirimu! Dulu kau dikenal sebagai tokoh baik di negeri ini. Tapi kemudian berubah jahat. Malah bersama kerabatmu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab kau kabarnya telah bergabung dengan Hantu Muka Dua!"

"Ha... ha... ha! Kabar rupanya sangat cepat diterbangkan angin kemana-mana! Luhtinti, sendok emas di pinggangmu itu dulu aku yang miliki. Kuberikan pada Lakasipo untuk diserahkan pada Hantu Langit Terjungkir. Tapi jaman berubah dengan cepat. Orangorang yang tadinya ada di sisi yang sama kini saling bertentangan. Adalah wajar kalau kini aku meminta kembali sendok emas itu! Serahkan secara baik-baik dan kau boleh pergi dengan aman!"

Luhtinti mendengus. "Apapun yang terjadi sendok ini tidak kuserahkan pada siapapun! Apalagi padamu!"

Lawungu tertawa bergelak. "Katamu dulu aku orang baik. Sekarang berubah jahat! Sudah kepalang tanggung! Aku akan merampas sendok itu dari tanganmu. Setelah itu aku akan merampas kehormatanmu!"

"Mahluk keji kurang ajar!" teriak Luhtinti marah sekali. Gadis ini langsung menggebrak dengan satu serangan ganas. Tapi bagaimanapun Lawungu adalah salah seorang tokoh utama di Negeri Latanahsilam yang bukan tandingan Luhtinti. Setelah habis-habisan menggempur sampai tujuh jurus, Luhtinti mulai kelelahan. Gerakannya menjadi lamban. Kuda-kuda ke dua kakinya menjadi goyah, Di jurus ke sembilan satu tendangan Lawungu yang menghantam pinggulnya membuat gadis ini terpental jauh. Tulang pinggulnya retak, sakitnya bukan main dan membuat dia hanya bisa merangkak-rangkak tak sanggup berdiri lagi. Sambil tertawa bergelak Lawungu melangkah mendekati Luhtinti. Dia membungkuk hendak menyambar sendok emas yang terselip di pinggang si gadis. Namun pandangan matanya tergoda pada paha mulus yang tersingkap. Lawungu menyeringai. Basahi bibirnya dengan ujung lidah. Jari-jari tangannya diusapkan ke paha Luhtinti.

"Jahanam kurang ajar!" teriak Luhtinti. Kakinya ditendangkan ke arah selangkangan Lawungu tapi gerakannya lemah sekali hingga dengan mudah lawan menangkap. Begitu Lawungu menarik kakinya ke atas maka pakaian Luhtinti semakin lebar tersingkap.

"Ha... ha! Kulitmu ternyata mulus dan tubuhmu kencang! Mari layani dulu aku barang sebentar!" Lawungu putar pergelangan kaki Luhtinti hingga gadis ini menjerit tak berdaya. Tubuhnya lalu diseret ke balik serumpunan semak belukar. Lalu terdengar suara pakaian dirobek berulang kali.

"Manusia jahanam! Dewa akan mengutukmu!"

teriak Luhtinti ketika dilihatnya Lawungu menanggalkan jubah ungunya hingga kini hanya mengenakan celana dalam. Sambil terus menyeringai dan basahi bibirnya Lawungu membungkuk. Sesaat lagi dia hendak menggagahi gadis itu tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat dan bukk!

Satu tendangan menyambar rusuk Lawungu.

"Kraaakk!"

Tiga tulang iga Lawungu patah. Jeritan setinggi langit menyembur dari mulutnya. Tubuhnya terpental, melingkar di tanah, mengerang dan menggeliat-geliat. Ketika dia berusaha mencari tahu siapa yang barusan menendangnya kagetlah Lawungu. Dari jubah hitamnya yang dilengkapi kerudung sampai di kepala jelas orang itu adalah Pengawal Tingkat Satu Istana Kebahagiaan.

"Pengawal Istana Kebahagiaan! Aku adalah sahabat Hantu Muka Dua! Kau akan menerima hukuman berat atas apa yang kau lakukan terhadapku!"

Luhtinti cepat rapikan pakaiannya dan bangkit berdiri, bersembunyi di balik rerumpunan semak belukar dan pegang sendok emas sakti erat-erat. Gadis ini juga heran mengapa Pengawal Istana Kebahagiaan menyelamatkan, dirinya dan menghajar Lawungu. Pengawal berjubah hitam tertawa bergelak. Dia buka jubah hitamnya dan singkapkan kerudung yang menutupi kepalanya.

"Wiro!" Luhtinti keluarkan seruan tertahan ketika melihat siapa adanya orang yang tadi mengenakan jubah Pengawal Istana Kebahagiaan itu. Lawungu sendiri tak kalah kejutnya. Dua matanya sampai mendelik besar. Tahu akan bahaya yang mengancam dengan cepat dia kerahkan tenaga dalam lalu lepaskan pukulan Badai Lima Penjuru dengan tangan kanannya. Tapi Wiro yang sudah melihatgelagat kembali kirimkan satu tendangan.

"Kraaakkk!"

Pergelangan tangan Lawungu patah. Lima sinar ungu yang sempat melesat keluar dari ujung tangannya bertaburan ke udara. Kakek ini menjerit keras, kembali roboh dan terguling di tanah. Wiro ambil jubah hitam yang tadi dikenakannya lalu dilemparkannya pada Luhtinti. "Lekas pakai jubahitu!"

Luhtinti mengenakan jubah hitam dengan mata berkaca-kaca. Kalau Wiro tidak datang tepat pada waktunya pasti saat itu kehormatannya telah dirampas oleh Lawungu. Begitu selesai berpakaian Luhtinti dekati sosok kakek mesum itu lalu tendang rusuk

sebelah kirinya. Akibatnya dua tulang rusuk Lawungu kembali berpatahan. Belum puas si gadis hendak tendang kepala orang itu tapi Wiro cepat mencegah.

"Wiro, terima kasih. Kau telah menyelamatkan diri dan kehormatanku!" kata Luhtinti dengan mata basah.

Lalu dia bertanya. "Dari mana kau dapat jubah ini?"

"Kugebuk seorang pengawal Istana Kebahagiaan. Hanya dengan menyamar pakai jubah ini aku bisa masuk ke dalam Istana. Aku berhasil mengeluarkan Luhkinki dari ruang penyiksaan yang disebut Ruang Obor Tunggal. Tapi kekasihnya bernama Lakembangan tak dapat kutemukan. Kemungkinan dia telah ditangkap oleh para pengamal Istana Kebahagiaan."

"Dimana Luhkinki sekarang?" tanya Luhtinti.

"Kubaringkan di balik batu besar sana. Terpaksa kulumpuhkan karena dia menolak pergi jika tidak bersama kekasihnya. Padahal saat itu puluhan pengawal Istana Kebahagiaan telah mengurung kami." Menjelaskan Wiro.

"Luhtinti, kita harus segera menuju ke tempat Lakasipo menunggu. Begitu Lakasipo bisa kita keluarkan dari jeratan jala api iblis biru, kita harus bersiap-siap menuju Istana Kebahagiaan...."

"Kau melupakan satu hal!" kata Luhtinti pula.

"Apa?"

"Tujuan utama kita mencari Sendok Pemasung Nasib adalah untuk menolong Hantu Langit Terjungkir."

"Astaga! Kau benar! Kalau begitu kau segeralah pergi ke tempat Lakasipo menunggu. Hati-hati, jangan sampai kau dihadang orang untuk kedua kalinya. Aku akan pergi ke danau tempat Hantu Langit Terjungkir dan Hantu Selaksa Angin berada. Aku khawatir sepasang kakek nenek itu dalam putus asa mereka pergi dan menghilang begitu saja. Sesudah kau menolong Lakasipo cepat susul aku ke danau!"

"Kita harus bergerak cepat Wiro. Matahari sudah condong ke barat. Besok adalah hari lima belas bulan dua belas!" kata Luhtinti pula.

Wiro mengangguk. "Sekali lagi hati-hati!" katanya.

Sementara itu di kejauhan terdengar kumandang suara genta.

Setelah Luhtinti menemui Lakasipo, Luhrinjani, Naga Kuning, Betina Bercula dan Si Setan Ngompol. Dengan mempergunakan sendok emas sakti jala api biru yang selama ini menyekap Lakasipo dapat diputuskan hingga Lakasipo berhasil dibebaskan. Sebaliknya perjalanan Wiro ke danau tempat Hantu Langit Terjungkir dan Hantu Selaksa Angin sebelumnya berada membawa kekecewaan. Sepasang kakek nenek itu ternyata tak ada lagi di tempat itu. Saat itu hari sudah malam. Luhtinti dan kawankawannya belum juga muncul. Wiro memutuskan untuk langsung saja menuju Istana Kebahagiaan.8MAHLUK bersisik yang dikenal dengan nama Tringgiling Liang Batu berteriak menyuruh Hantu Jatilandak menghentikan larinya. Sampai-saat itu kakek dan cucu ini masih terus mengusung sosok Luhmundinglaya, nenek yang tengah sekarat dalam usaha mereka mencari Luhcinta, Hantu Penjunjung Roh dan Hantu Lembah Laekatakhijau. Saat itu mereka berada di lereng sebuah bukit batu.

"Kek! Kau kembali menyuruh aku berhenti. Kali ini ada apa lagi?!" tanya Hantu Jatilandak dengan suara menandakan kejengkelan.

"Kau jangan mengomel saja! Pergunakan otakmu untuk melihat kenyataan dan menghitung hari!" mendamprat Tringgiling Liang Batu.

"Apa maksudmu?" tanya sang cucu.

"Hari lima belas bulan dua belas hanya tinggal satu hari dari sekarang. Kita masih belum menemukan satupun dari tiga orang yang kita cari. Dan coba kau perhatikan keadaan nenek diatas usungan ini. Tubuhnya sudah sama renta dengan alas usungan. Aku tidak bisa memastikan lagi apa dia masih hidup atau sudah menemui ajal! Obat yang diberikan Hantu Raja Obat hanya sanggup menunda ajalnya sampai satu minggu. Kalau aku tidak salah menghitung ini adalah hari terakhir dia masih bisa bernafas! Celaka besar menghadang di hadapan kita!"

Hantu Jatilandak berikan isyarat. Kakek dan cucunya itu lalu turunkan usungan ke tanah. Jatilandak dekatkan telinga kirinya ke dada peremptnn tua di atas usungan.

"Aku masih mendengar detak suara jantungnya Kek!" berkata Hantu Jatilandak. "Kuharap kau tidak perlu bersusah hati. Kita sudah melakukan apa yang bisa kita lakukan. Kalau semua usaha tidak berhasil mengapa menyesali diri?"

Tiba-tiba dikejauhan terdengar suara berdengung aneh tak berkeputusan. Tringgiling Liang Batu dan Hantu Jatilandak mendongak ke langit. Saat itu sang surya telah berada di titik tertingginya.

"Tepat tengah hari. Suara aneh dari arah timur.

Suara apa gerangan?" berucap Hantu Jatilandak.

"Suara genta," jawab Tringgiling Liang Batu. "Aku yakin suara itu datang dari Istana Kebahagiaan. Pertanda Penguasa Istana telah siap menerima para tetamu yang diundang dalam upacara pertemuan besar...."

"Luar biasa. Istana Kebahagiaan sekurang-kurangnya masih setengah hari perjalanan dari sini. Tapi suara genta itu mengumandang sampai ke sini...."

Habis berkata begitu Hantu Jatilandak menatap ke arah sosok perempuan tua yang terbujur di atas tandu kayu. "Tak ada jalan lain, jika satu dari tiga orang itu tidak kita temukan, nenek ini terpaksa kita bawa ke Istana Kebahagiaan. Orang-orang yang kita cari pasti berkumpul di sana memenuhi undangan. Mudah-mudahan nenek ini bisa bertahan sampai hari lima belas bulan dua belas."

Kedua orang itu segera mengusung nenek muka jerangkong Luhmundinglaya. mereka berlari secepat yang bisa dilakukan ke arah datangnya suara genta.TAK LAMA setelah Hantu Jatilandak dan Tringgiling Liang Batu meninggalkan tempat itu, kesunyian kawasan bebatuan itu dipecahkan oleh suara bentakan-bentakan.

Di satu tempat terbuka di lereng miring bukit batu dimana pada sisi kiri menguak sebuah jurang sedalam tiga puluh tombak, seorang gadis cantik berpakaian biru tengah menempur habis-habisan seorang lelaki separuh baya berpakaian hitam. Walau kelihatan beringas marah dan serangannya merupakan seranganserangan mematikan namun anehnya gadis ini berputar sambil menangis kucurkan air mata. Lalu sesekali dari mulutnya keluar suara membentak. Lelaki yang diserang sama sekali tidak mau melawan, yang dilakukannya adalah menghindar selamatkan diri. Kalau sangat terpaksa baru dia pergunakan tangan untuk menangkis. Namun lama-lama keadaannya jadi terdesak dan bahaya maut mungkin tak dapat dihindarkannya dalam dua atau tiga jurus dimuka jika dia tetap saja mengambil sikap mengalah dan bertahan. Untuk kesekian kalinya gadis baju biru yang bukan lain adalah Luhcinta menyerang sambil membentak.

"Sudah kukatakan aku tidak sudi berayahkan manusia macam kau! Mengapa masih keras kepala mengikuti diriku?!"

Di dekat dua orang yang sedang bertempur itu dua orang nenek tampak berdiri sambil berteriak-teriak kalang kabut. Nenek yang di atas kepalanya ada gulungan asap merah berbentuk kerucut terbalik berteriak berulang kali.

"Cucuku! Hentikan seranganmu! Apa telingamu tuli tidak mendengar aku mengatakan orang ini adalah ayah kandungmu?!" Si nenek bukan lain adalah Hantu Penjunjung Roh alias Luhniknik, nenek kandung Luhcinta.

Nenek satunya tak kalah keras teriakannya. "Luh cinta! Jangan hati dan otakmu kau jadikan batu! Dengar perintah kami! Hentikan perkelahian! Dosa besar bagimu berani menyerang ayahmu! Hentikan perkelahian! Mana kasih sayang yang selama ini kuajarkan padamu sebagai dasar semua ilmu kepandaianmu? Apa kau lupa?! Luhcinta kita perlu bicara!"

"Nenek! Aku menghormati kalian! Tapi sudah kukatakan! Percuma aku mempunyai ayah seperti dia! Kalau kalian menyebut kasih sayang maka ketahuilah kasih sayang itu telah tercemar oleh perbuatan keji manusia satu ini! Dan kalau kalian tetap memaksa lebih baik kalian saksikan aku mengakhiri hidup seperti ini!"

Habis berkata begitu Luhcinta lalu hamburkan dirinya ke jurang batu. Hantu Penjunjung Roh dan Hantu Lembah Laekatakhijau berteriak kaget. Muka dua nenek ini serta merta menjadi pucat. Mereka berada di tempat agak jauh dari sisi jurang dan tidak punya kesempatan untuk menolong Luhcinta yang nekad itu.

"Luhcinta cucuku!" teriak Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh. "Jangan berlaku nekad!"

"Muridku Luhcinta! Mengapa kau berbuat tolol!"

Luhmasigi alias Hantu Lembah Laekatakhijau yang adalah guru Luhcinta ikut berseru. Ratusan katak yang bertempelan di kepala dan sekujur tubuhnya keluarkan jeritan keras.

Satu-satunya orang yang punya kesempatan dan paling dekat dengan Luhcinta saat itu adalah Si Penolong Budiman. Namun keadaannya saat itu setengah lumpuh. Sosoknya jatuh berlutut di tanah akibat terkena hantaman telak yang dilepaskan Luhcinta pada bagian dadanya. Pemandangannya berkunang-kunang dan darah kental meleleh keluar dari mulutnya!

Pada saat tidak seorangpun lagi mampu dan berkesempatan menolong Luhcinta, tiba-tiba dari arah kanan melesat satu bayangan putih. Terlambat sekejapan mata saja orang ini tidak akan sanggup menyambar pinggang Luhcinta. Si gadis berteriak keras dan berusaha meronta lepaskan diri. Namun pinggangnya sudah dicekal erat. Sesaat kemudian tubuhnya diturunkan ke tanah, disandarkan ke sebuah batu besar. Satu dada menghimpit dadanya yang menggelora penuh amarah. Begitu erat himpitan itu hingga Luhcinta dapat merasa detakan jantung orang yang menekannya itu bersatu dengan debur darah yang menggelegar di dadanya.9KETIKA Luhcinta menengadah, sepasang matanya membentur satu wajah yang tak asing lagi. Satu wajah yang selama ini sangat dirindukannya karena sejak lama hati dan kasih sayangnya tertambat pada orang ini.

"Wiro.... Kau menyelamatkan diriku. Mengapa...?" suara Luhcinta perlahan sekali karena tertindih isak tangis yang tak bisa dilepaskan.

"Bukan aku yang menolongmu Luhcinta. Tapi Gusti Allah yang Maha Kuasa," jawab Pendekar 212 Ialu jauhkan dadanya nya dari dada gadis itu.

Luhcinta pejamkan matanya. Air mata jatuh mengambang di wajahnya yang halus kemerahan. Dia tak Sanggup untuk berdiri tegak. Tubuhnya terhuyung dan Hampir jatuh kesamping kalau tidak lekas ditolong Oleh Wiro. Saat itu juga Hantu Penjunjung Roh dan Hantu Laekatakhijau mendatangi, ikut membantu. Luh Cinta senggugukkan !a!u mulai keluarkan suara menangis.

"Pemuda asing mata keranjang! Jangan sentuh Cucuku" tiba-tiba satu bentakan menggeledek, membuat Pendekar Wiro Sableng berpaling. Yang membentak adalah Hantu Penjunjung Roh. Sepasang bola matanya yang berbentuk kerucut merah melesat keluar.

" Eh apa maumu nek? Aku memegang cucumu bukan dengan niat buruk. Tapi untuk menolongnya!" Wiro menjawab dengan suara tenang.

Hantu Penjunjung Roh palingkan kepalanya pada Luhcinta lalu mengomel. "Anak tolol! Kau hampir celaka akibat nekadmu sendiri! Sekarang apa yang kau tangiskan?!" Lalu kembali nenek ini memandang kearah Wiro dan berucap. "Sebagian dari kesengsaraan hidup cucuku ini adalah akibat perbuatanmu! Walau kau telah menyelamatkan nyawanya jangan harap kami nenek dan gurunya akan melepaskan kau begitu saja! Menyingkir dari hadapanku! Jangan berani pergi sebelum aku menjatuhkan hukuman atas dirimu! pemuda asing tak tahu diri!"

Murid Eyang Sinto Gendeng sampai ternganga mendengar kata-kata Luhniknik alias Hantu Penjunjung Roh itu. Dia tak mau tinggal diam saja. Sambil garuk kepala dia menjawab.

"Nenek, tabunan asap batu di kepala mungkin membuat otakmu jadi cair hingga tak bisa berpikir wajar! Aku tidak mengharap imbalan apa-apa menolong cucumu ini! Tapi kalau kau sampai tega-teganya mendamprat diriku, sungguh aku tidak mengerti! Jika kalian tidak suka padaku memang lebih baik aku angkat kaki dari sini. Ujudmu aneh, tapi kelakuanmu ternyata jauh lebih aneh! Mungkin kau perlu mandi di tujuh telaga agar bisa waras kembali!"

Setelah berkata begitu Pendekar 212 segera putar tubuhnya hendak tinggalkan tempat itu tapi langkahnya langsung dihadang oleh Luhrnasigi aiias Hantu Lembah Laekatakhijau, guru Luhcinta.

"Kau mau kemana?! Apa kau tuli tidak mendengar peringatan nenek kerabatku ini agar tidak meninggalkan tempat ini?!" Luhmasagi membentak.

"Aku pergi kemana aku suka! Kalau kau mau ikut boleh-boleh saja. Tapi coba kau berkaca dulu di air telaga yang bening! Apa kau pantas berjalan denganku!" Habis berkata begitu Wiro tertawa gelakgelak. Luhmasigi menggereng marah. Matanya membeliak. Dari tenggorokannya keluar suara menggembor. Ratusan katak yang melekat di kepala dan tubuhnya keluarkan suara bising.

"Pemuda asing kurang ajar! Berani kau menghina diriku!" Hantu Laekatakhijau kirimkan satu jotosan ke dada murid Sinto Gendeng. Wiro cepat angkat tangan kirinya menangkis sambil mengerahkan tiga perempat tenaga dalamnya.

"Bukkk!"

Dua lengan beradu keras. Wiro mengeluh kesakitan. Terhuyung-huyung sesaat lalu jatuh duduk di tanah. Tapi dengan cepat dia bangkit berdiri. Sebaliknya Hantu Lembah Laekatakhijau menjerit keras. Tubuhnya terpental dua tombak. Dia coba mengimbangi diri tapi malah jatuh tunggang langgang tak karuan.

Melihat sahabatnya Hantu Lembah Laekatakhijau dibuat sedemikian rupa Hantu Penjunjung Roh jadi marah besar. Dua bola matanya yang berbentuk keru cut merah mencuat ke luar. Asap merah berbentuk kerucut terbalik di kepalanya naik ke atas. Sekali lagi dia membentak. Ketika dia hendak menghantam Wiro dengan dua larik cahaya aneh yang keluar dari matanya, Hantu Lembah Laekatakhijau telah bangkit berdiri dan berseru.

"Sobatku! Jangan memberi malu aku! Masakan terhadap pemuda tidak waras ini saja aku perlu dibantu! Biar aku merubah dirinya menjadi jerangkong tulang putih!" Lalu si nenek sambung seruannya dengan memberi perintah pada ratusan katak yang ada di kepala dan tubuhnya.

"Anak-anak! Lekas kalian kuliti pemuda tak tahu diri itu!"

Ratusan katak berubah beringas dan membuka mulut mereka, mengeluarkan suara bising seperti mau merobek gendang-gendang telinga. Sesaat sebelum binatang-binatang itu melesat ke arah Wiro, Luhcinta melompat dan tegak membelakangi Wiro, menghadap ke arah gurunya.

"Guru harap maafkan diriku! Aku...."

"Muridku! Apa kau hendak ikut-ikutan jadi tidak waras seperti pemuda itu?! Kau hendak membela orang yang telah mempermainkan dirimu?!"

"Guru, jangan salah sangka. Aku...."

"Jangan banyak bicara Luhcinta!" memotong Hantu Penjunjung Roh. "Kalau kau mau mati berdua pemuda ini kami tidak akan menghalangi!"

"Nek, wahai! Biarkan aku bicara dulu. Apa salah pemuda ini sampai kalian hendak menjatuhkan tangan menghukumnya?!"

Dua nenek Luhrnasigi dan Luhniknik sama-sama saling pandang pelototkan mata lalu sama-sama tertawa panjang.

"Luhniknik!" kata Luhrnasigi pula. "Otak cucumu benar-benar sudah tidak waras akibat tergila-gila pada pemuda asing ini. Dia masih mau membela pemuda yang mempermainkan cintanya. Yang berpura-pura cinta lalu meninggalkannya. Kawin dengan gadis aneh bernama Luhrembulan yang entah dari mana asal usulnya! Hik... hik..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.23.49.196
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia