Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA

"Aku tahu keris pusaka itu ada padamu!" kata Wiro. "Otakmu culas! Mulutmu busuk! Kalau kau menuduh aku memiliki keris itu, silahkan ambil sendiri!" kata Damar Wulung. Tiba-tiba Sutri Kaliangan melompat ke hadapan Damar Wulung. "Atas nama Kerajaan aku harap kau menyerahkan Keris Naga Kopek padaku!" Damar Wulung tertawa bergelak "Ini satu lagi gadis sesat kena tipu daya Pendekar Sableng! Aku menghormati dirimu sebagai Puteri Patih Kerajaan. Jika kau mau berlaku adil, mengapa tidak menangkap Wiro yang jelas-jelas adalah buronan Kerajaan?!" "Aku tidak mau tahu hal dia buronan atau bukan. Serahkan Keris Naga Kopek padaku!" bentak Sutri. "Ha....ha! Rupanya kau termasuk di barisan para gadis cantik yang jatuh cinta pada Pendekar Geblek itu!" "Sreett!" Sutri Kaliangan keluarkan pedangnya dari dalam sarung.



SATU

Puncak Gunung Gede tampak berdiri gagah dan indah, hijau kebiruan di bawah siraman sinar sang surya. Walau sinar itu cukup terik tapi di atas gunung udara terasa sejuk. Dari puncak gunung kemanapun mata diarahkan, terbentang pemandangan yang indah. Namun semua keindahan itu tidak terlihat, bahkan tidak terasa oleh tiga orang gadis cantik yang saat itu di arah timur puncak gunung.

Di satu pedataran, tak jauh dari sebuah pondok kayu, tiga orang gadis duduk bersimpuh mengelilingi sebuah kubur. Hanya beberapa tombak di sebelah kiri terlihat pula sebuah makam yang masih merah tanahnya, ditancapi papan nisan bertuliskan :

"DI SINI BERISTIRAHAT UNTUK SELAMANYA PENDEKAR 212 WIRO SABLENG."Tiga gadis seperti tenggelam dalam kesedihan tapi juga dendam amarah. Sebelumnya rombongan mereka berjumlah empat orang. Mereka dalam perjalanan ke Gunung Gede untuk menyelidik makam ketiga dalam usaha mencari Pendekar 212 Wiro Sableng yang mereka cintai. Di satu tempat hujan lebat turun menghalangi. Rombongan terpaksa berhenti. Menjelang dini hari sewaktu hujan reda dan mereka siap melanjutkan perjalanan mendaki gunung, mendadak diketahui bahwa salah satu dari mereka yakni gadis jelita dari Andalas, cucu Tuga Gila yang dikenal dengan nama Puti Andini, bergelar Dewi Payung Tujuh lenyap tak diketahui ke mana perginya.

Tiga gadis yakni Bidadari Angin Timur, Ratu Duyung dan Anggini mencari habis-habisan, bahkan kemudian menunggu sambil mengharap Puti Andini akan muncul. Tapi sampai sang mentari menyembulkan diri gadis itu tak kunjung datang. Tak mungkin menunggu dalam ketidak pastian, tak ada waktu menanti lebih lama, akhirnya tiga gadis melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede tanpa Puti Andini.

Di arah timur puncak gunung, Bidadari Angin Timur dan kawan-kawannya menemukan pondok kediaman Eyang Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro Sableng. Pondok kosong. Dari keadaan luar dan bagian dalam jelas pondok itu tak pernah dihuni sejak lama. Tiga gadis melanjutkan penyelidikan. Di satu pedataran tak jauh dari pondok kayu mereka menemukan sebuah makam bertanah merah. Inilah makam ketiga yang tengah mereka cari dan selidiki. Namun mereka bukan cuma menemukan makam jahanam itu, tetapi juga satu pemdangan yang sangat keji menusuk mata. Tiga gadis sempat menjerit keras, jatuh berlutut, bertangisan. Kalau saja mereka bukan gadis-gadis gagah yang memiliki kepandaian tinggi, dalam keadaan seperti itu pasti telah roboh pingsan!

Di belakang kepala makam yang ada papan nisannya, menancap sebuah tiang besar. Di tiang inilah sosok kawan mereka Puti Andini, berada dalam keadaan terikat. Pakaiannya penuh robek, bagian tubuhnya yang tersingkap penuh luka. Darah di mana-mana, mulai dari kepala sampai kaki. Puti Andini mereka temukan dalam keadaan tak bernyawa lagi. Jenazah gadis malang itu segera diturunkan dari tiang, diurus sebisanya lalu dikuburkan di salah satu bagian halaman.

Kesunyian mencekam. Sesekali terdengar suara siuran angin dan daun-daun atau reranting yang bergesek.

Untuk beberapa lamanya tiga orang gadis itu duduk bersimpuh di depan tanah merah makam Puti Andini. Tak ada yang bicara sampai akhirnya Anggini membuka mulut. Suaranya bergetar.

"Sahabatku Puti Andini. Aku bersumpah untuk mencari siapa yang telah berlaku keji terhadapmu. Aku bersumpah membalaskan sakit hati kematianmu."

Ratu Duyung ulurkan tangan kanannya. Memegang tanah makam lalu berkata "Aku Ratu Duyung, ikut bersumpah untuk membalaskan dendnam kematian sahabat Puti Andini."

"Membalaskan sakit hati dendam kesumat sahabat kita memang merupakan satu kewajiban. Namun kita tidak boleh larut terlalu lama." Berkata Bidadari Angin Timur. Matanya kelihatan bengkak dan merah. Rambutnya yang pirang acak-acakan. Pakaian kotor penuh tanah. Dua temannya tidak lebih baik dari keadaannya. "Kita harus melakukan sesuatu!"

Bidadari Angin Timur berdiri, berpaling ke arah makam yang ada papan nisannya lalu berkata "Saatnya kita menyelidik. Saatnya kita membongkar makam itu. Siapkan peralatan! Apa saja! Kayu, potongan bambu, pecahan batu!"

Ratu Duyung dan Anggini segera pula berdiri.

"Tidakkah kita lebih baik menunggu, siapa tahu Eyang Sinto Gendeng pemilik kawasan ini muncul? Hingga kelak nanti kita tidak dituduh berlaku gegabah melakukan sesuatu tanpa ijin di tempatnya?" yang berkata adalah Ratu Duyung sambil berpaling pada Anggini seolah minta pertimbangan atas ucapannya tadi.

"Maksudmu baik, tapi jangan lupa. Waktu kita tidak banyak," menyahuti Bidadari Angin Timur. "Selain itu salah seorang dari kita telah jadi korban. Dan kita telah menguburkannya di tempat ini tanpa ada kemungkinan untuk meminta ijin pada pemilik kawasan ini. Kemudian, bukan mustahil, malah aku yakin saat ini diri kita juga tengah diintai bahaya! Kalau lambat bertindak kita semua bisa celaka! Selain itu kita harus segera mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Pendekar 212. Walau nenek muka seram bernama Gondoruwo Patah Hati itu bilang telah bertemu dengan Wiro yang menyatakan bahwa pendekar itu masih hidup, tapi itu tidak boleh menghambat kita untuk menghentikan penyelidikan." Habis berkata begitu Bidadari Angin Timur melangkah mendekati makam berpapan nisan, yakni makam ketiga dari serangkaian kejadian aneh yang dialami para gadis cantik itu sejak beberapa waktu belakangan ini.

"Kawan-kawan, apakah kalian ada menaruh duga siapa kiranya manusia durjana yang telah membunuh Puti Andini?" Anggini, murid Dewa Tuak yang oleh sang guru pernah ingin dijodohkan dengan Wiro keluarkan ucapan.

"Sebelum dibunuh, Puti Andini telah diperlakukan secara mesum....."kata Anggini dengan suara perlahan. "Aku ingin sekali mengetahui siapa manusia laknat terkutuk itu!"

Bidadari Angin Timur mendongak, pejamkan mata. Dia ingat keterangan Puti Andini apa yang telah diucapkan dan dilakukan Damar Wulung atas dirinya sewaktu mereka berada di kuil. Gadis ini usap rambutnya yang pirang, membuka matanya kembali lalu berkata.

"Dugaan bisa banyak. Tapi aku menaruh wasangka, pemuda bernama Damar Wulung itulah yang telah melakukan kekejian ini. mungkin sekali dia masih penasaran karena tidak berhasil mencelakai Ratu Duyung. Malam tadi agaknya dia tidak memilih-milih. Siapa saja yang didapat itu yang dicelakainya. Dan Puti Andini bernasib malang. Dia yang jadi korban!" Bidadari Angin Timur menghela nafas panjang. "Sudah, kita tak perlu banyak bicara. Saatnya membongkar makam!"

"Tunggu! Ada satu hal ingin kukatakan!" Ratu Duyung tiba-tiba berkata.

"Apa?" Bidadari Angin Timur dan Anggini bertanya hampir berbarengan.

"Sewaktu jenazah Puti Andini kita urus dan kita kebumikan, aku sempat memeriksa. Bukankah sahabat kita ini membekal sebilah pedang mustika sakti?"

"Benar!" Bidadari Angin Timur membenarkan ucapan Ratu Duyung.

"Tapi senjata itu tidak ada padanya....." berucap Ratu Duyung.

Bidadari Angin Timur terdiam, tidak menunjukkan rasa terkejut. Ini membuat heran dua gadis lainnya. Namun keganjilan itu segera tersingkap sewaktu dara berambut pirang itu berkata "Terus terang, aku sendiri sebenarnya juga memeriksa jenazah Puti Andini. Kau benar Ratu Duyung. Pedang Naga Suci 212 tidak ada pada Puti Andini."

"Berarti ada yang mencuri!" ujar Anggini.

"Aku yakin sekali si pencuri adalah juga si pembunuh Puti Andini. Benar-benar biadab! Sangat kurang ajar!"

Bidadari Angin Timur kepalkan tinjunya. Diam sesaat dalam geram tiba-tiba Bidadari Angin Timur berkata "Aku ingat sesuatu. Pedang sakti itu, bukankah senjata itu mempunyai satu keanehan? Tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya. Konon hanya seorang gadis yang masih suci yang bisa memegang senjata itu. Lalu si pemegang juga harus tidak memiliki niat jahat. Ingat peristiwa beberapa waktu lalu? Eyang Sinto Gendeng pernah hendak menguasai Pedang Naga Suci 212. Tapi telapak tangannya yang memegang pedang hangus melepuh!"

"Kalau begitu yang mencuri senjata tersebut adalah seorang gadis!" kata Anggini. Pandangan matanya ditujukan berganti-ganti pada Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung.

Melihat cara memandang Anggini, Bidadari Angin Timur merasa tidak enak lalu berkata "Sahabatku Anggini, jangan menduga yang bukan-bukan. Aku tidak mencuri pedang sakti itu!"

"Aku juga tidak!" berkata Ratu Duyung.

"Demikian pula aku!" ujar Anggini. Sambil tersenyum dia bertanya "Lalu siapa yang mengambilnya?"

Tak ada yang menjawab.

Anggini membuka mulut kembali. "Mungkin aku keliru. Tapi salah satu di antara kita telah mengambil pedang itu. Bukankah senjata sakti itu berbentuk gulungan seperti gulungan ikat pinggang. Jadi mudah saja menyembunyikannya."

Wajah Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung menjadi merah. Dengan menahan amarah Bidadari Angin Timur berkata "Anggini, ucapanmu sungguh lancang! Dalam keadaan seperti ini jangan sampai terjadi perpecahan di antara kita. Kau seolah menuduh salah satu dari kami berdua yang mencuri sementara kau sendiri suci dari perbuatan mencuri!"

Anggini tersenyum. Dipegangnya tangan Bidadari Angin Timur seraya berkata "Maafkan ucapanku. Tidak ada maksud di hatiku menuduh kalian....."

"Aku tetap yakin sipencuri adalah orang yang membunuh Puti Andini," kata Bidadari Angin Timur. "Besar kemungkinan dia seorang perempuan yang masih suci. Tapi saat ini untuk sementara kita lupakan dulu pedang mustika itu. Kita harus segera membongkar makam ketiga ini."

Tanpa banyak bicara lagi di bawah pimpinan Bidadari Angin Timur, dengan peralatan seadanya, antara lain nisan papan bahkan tak jarang mempergunakan tangan mereka yang halus, tiga gadis itu segera membongkar makam ketiga. Ini bukan pekerjaan gampang, tapi dibanding dengan menggali kubur untuk Puti Andini tadi, membongkar makam terasa lebih gampang dan lebih cepat. Apa lagi mereka mempergunakan tenaga biasa maka dalam waktu singkat makam telah terbongkar sampai sepertiga kedalamannya. Semakin dalam digali, semakin mencekam perasaan ketiga gadis itu. Apa yang bakal mereka temukan di dalam makam ketiga ini? Apa lagi-lagi hanya secarik surat yang memberitahu bahwa mereka ditunggu di makam keempat?

Mendadak Anggini hentikan gerakan tangannya menggali makam. Tubuhnya ditarik ke belakang. Matanya membesar.

"Ada apa?" bisik Ratu Duyung tegang.

"Aku merasa tanah makam bergerak. Ada sesuatu yang hidup di dalam kubur ini!" jawab Anggini dengan berbisik pula.

"Kalau begitu hati-hati. Siapkan tenaga dalam," mengingatkan Ratu Duyung.

"Ratu, coba kau kerahkan Ilmu Menembus Pandang. Kau pasti bisa melihat benda apa yang mendekam di dalam makam ini," bisik Bidadari Angin Timur.

Mendengar ucapan itu Ratu Duyung segera alirkan tenaga dalamnya ke mata. Mata dikedipkan dua kali. Samar-samar Ratu Duyung melihat sesuatu. Dia lipat gandakan aliran tenaga dalam ke mata. Begitu penglihatannya lebih jelas gadis ini jadi tercekat. Dia tidak bisa percaya. Maka dia kerahkan ilmu kesaktian yang disebut Menyirap Detak Jantung. Dengan ilmu ini Ratu Duyung sanggup merasakan detak jantung seseorang di kejauhan. "Kalau mahluk di dalam makam itu memang mahluk hidup, pasti aku akan merasakan detak jantungnya. Kecuali dia setan jejadian....." Ratu Duyung tahan nafas, pasang telinga. Sesaat kemudian dia merasakan ada debaran di dadanya. Lalu telinganya menangkap suara detakan jantung. Datangnya dari dalam makam! Serta merta Ratu Duyung berteriak.

"Cepat keluar dari kubur! Ada mahluk hidup di dalam sana!"

Sambil berteriak Ratu Duyung melesat ke atas. Berbarengan dengan itu dia cepat menarik tangan kiri Anggini dan mendorong Bidadari Angin Timur ke kanan.





DUAPerempuan tua yang duduk di depan lampu minyak itu memandang dengan muka masam pada pemuda di hadapannya. Mulut komat-kamit. Dari dalam mulut itu dikeluarkannya segumpal susur. Mulutnya dipencongkan sesaat sebelum dia bertanya. Melihat susur itu si pemuda jadi ingat akan gurunya. Sang guru paling doyan mempermainkan susur sirih dan tembakau di dalam mulutnya. Kini entah di mana gurunya itu berada. Mungkin sudah saatnya dia menyambangi di tempat kediamannya.

"Anak muda," berucap perempuan tua di hadapan si pemuda. "Aku belum pernah melihat tampangmu sebelumnya. Kau bukan penduduk sini. Kau menyusahkan orang saja. Ada keperluan apa malam-malam begini mengganggu diriku? Apakah kau tidak bisa menunggu sampai besok pagi?"

Pemuda di hadapannya menggaruk rambut lalu tersenyum. "Maafkan aku Nek. Aku datang dari jauh. Waktuku sempit. Mohon jangan marah dulu....."

Karena orang bersikap sopan dan bicara halus, perempuan tua itu kendur rasa jengkelnya. Susurnya hendak dimasukkan ke dalam mulut kembali tapi tak jadi. "Ah, aku tadi bicara agak kasar. Jangan-jangan kau datang minta tolong karena istrimu hendak melahirkan. Betul begitu?!"

Si pemuda tersentak lalu tertawa bergelak.

"Huss! Malam-malam bagini tertawa seenaknya! Kau mau mengundang setan lewat kesasar masuk ke rumahku?!"

"Nek, namaku Wiro. Aku belum punya istri! Tak ada perempuan yang hamil atau bunting! Aku datang untuk keperluan lain. Aku tahu kau memang dukun beranak. Tapi kata orang kau yang bernama Nyi Supi juga pengurus jenazah di kawasan sini. Jenazah orang-orang perempuan."

"Hemmm..... Mataku masih ngantuk. Aku mau meneruskan tidur. Bilang cepat apa keperluanmu. Apa kau datang membawa jenazah untuk aku urusi?"

"Nek, Nyi Supi, kau masih ingat peristiwa kematian Kinasih, istri Raden Mas Sura Kalimarta juru ukir Keraton? Aku mendapat keterangan kau yang mengurus dan memandikan jenazah perempuan itu."

Muka keriput si nenek berubah mendengar disebutkan dua nama itu. "Aku tak mau mengingat-ingat kedua orang yang sudah mati itu. Apalagi Kinasih. Mengerikan sekali! Seumur hidup aku belum pernah mengurus dan memandikan jenazah seperti jenazah perempuan malang itu." Nyi Supi diam sesaat lalu bertanya "Eh, apakah kau punya hubungan saudara dengan kedua orang itu?"

Wiro menggeleng.

"Lalu kenapa tanya-tanya?" Nyi Supi kelihatan heran.

"Nyi Supi, coba kau ingat. Apa betul di kening jenazah Kinasih ada guratan angka 212?"

"Aku tidak mau mengingat-ingat lagi. Seram sekali! Sejak peristiwa itu aku sering kedatangan mimpi buruk....."

"Tolong nek, aku butuh keteranganmu. Benar ada guratan 212 di kening istri juru ukir Keraton itu?"

Nyi Supi akhirnya anggukkan kepala. "Kematian yang aneh. Tega-teganya ada orang membuat guratan seperti itu. Entah apa maksud dan artinya. Tapi bagiku itu tidak terlalu seram. Dibanding....."

"Dibanding apa?" tanya Wiro ketika si nenek hentikan ucapannya.

"Terlalu ngeri......."

"Tak usah takut Nek. Ceritakan saja," ujar Wiro.

"Sekujur tubuh Kinasih. Penuh luka-luka terkuak. Bukan bekas sayatan atau tusukan senjata tajam. Tapi luka-luka bekas gigitan. Terutama di bagian dada. Salah satu putting susunya hampir tanggal. Darah di mana-mana. Waktu memandikan aku benar-benar tidak tega....."

"Gigitan itu, menurutmu apakah gigitan manusia atau binatang buas?" tanya Wiro pula.

"Ya pasti gigitan manusia! Gigitan orang yang merusak kehormatannya. Masakan binatang bisa menggigit dan menggurat angka! Kau ini bagaimana? Tanyanya seperti orang tolol saja!"

Wiro tertawa.

"Terima kasih Nek, aku berterima kasih kau mau memberi keterangan. Kini aku baru percaya kalau di kening mayat Kinasih memang ada guratan tiga angka. Tadinya aku mengira cuma cerita yang dibuat-buat belaka. Terima kasih Nek. Aku tidak akan mengganggumu lebih lama. Aku minta diri...."

"Hemmmm....." Nyi Supi bergumam. "Sudah pergi sana. Aku mau meneruskan tidur....."

Wiro tersenyum. Dia usap-usap pipi peot si nenek seraya berkata. "Teruskan tidurmu Nek. Semoga kali ini mimpimu bagus-bagus." Wiro melangkah pergi.

Entah usapan tadi entah karena hal lain, yang jelas si nenek tiba-tiba ingat sesuatu.

"Wiro, tunggu," Nyi Supi memanggil.

Murid Sinto Gendeng hentikan langkah, memutar tubuh.

"Ya, Nek. Ada apa?"

Nyi Supi lambaikan tangan, memberi isyarat aga Wiro lebih mendekat. Begitu Wiro sampai di hadapannya perempuan tua ini berkata "Ada satu hal perlu kuceritakan. Mungkin ada artinya bagimu. Ketika jenazah Kinasih aku mandikan, tangan kanannya dalam keadaan mengepal. Karena sudah kaku, susah untuk diluruskan, apa lagi dibuka. Tapi karena di celah-celah jarinya yang mengepal kulihat ada benda seperti secarik kain hitam, aku jadi berpikir. Jangan-jangan benda dalam genggaman Kinasih itu ada sangkut pautnya dengan kematian dirinya. Dibantu seorang teman aku berhasil membuka genggaman jari-jari tangan kanan Kinasih. Benar, benda yang digenggamannya itu ternyata adalah secarik robekan kain hitam. Nah itu saja yang aku ingin sampaikan padamu....."

Wiro terdiam. Berpikir-pikir.

"Nyi Supi, robekan kain hitam itu, apakah kau masih menyimpannya?"

"Ah, kejadiannya sudah cukup lama. Aku tak ingat lagi. Tapi mungkin masih ada. Tolong bawakan lampu minyak itu ke dalam....."

Di ruang dalam, di bawah penerangan lampu minyak yang dibawa oleh Wiro, Nyi Supi memeriksa di beberapa tempat. Dia tidak menemukan benda yang dicarinya.

"Mungkin kau menyimpan di kamar tidurmu," kata Wiro.

"Tidak, benda seperti itu tidak akan pernah kusimpan di kamar tidurku!" Si nenek pejamkan mata seolah berpikir. "Di sumur!" tiba-tiba si nenek berseru. "Robekan kain itu semula kusimpan di balik setagen. Ketika mau mandi di sumur setagem kulepas. Kain hitam tercampak, kupungut lalu kusempilkan..... Anak muda, ayo ikut aku ke sumur."

Benar apa yang dikatakan Nyi Supi, robekan kain itu memang disempilkan di atas bambu melintang dinding kajang pelindung tempat mandi. Kain itu diserahkannya pada Wiro. Ketika Wiro memperhatikan, kain itu ternyata tidak cuma berwarna hitam. Tapi ada warna-warna lain yakni biru dan garis-garis merah.

"Nyi Supi, kukira robekan kain ini tidak ada gunanya bagimu. Atau kau masih mau menyimpannya?"

"Buat apa?" uajr si nenek. Wiro masukkan robekan kain itu ke balik pakaiannya. "Sekali lagi terima kasih Nek. Aku minta diri....." Nyi Supi menjawab dengan menguap lebar.

Hari masih pagi. Gedung Kepatihan nampak sunyi. Sejak Patih Selo Kaliangan sakit berat beberapa waktu lalu suasana di Gedung Kepatihan sepi-sepi saja. Beberapa orang tabib dan ahli pengobatan kabarnya telah berdatangan berusaha mengobati sang patih. Namun sebegitu jauh keadaannya belum menunjukkan kesembuhan. Racun yang mengidap di dalam tubuhnya baru sedikit bisa dikeluarkan. Di atas pembaringan Patih Kerajaan itu tergolek lumpuh. Tubuhnya yang tadinya besar tegap kelihatan kurus. Untungnya dia masih mampu membuka mulut untuk berkata-kata walaupun dengan suara tidak terlalu keras.

Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Makam Ketiga) terjadi penyergapan untuk kesekian kalinya oleh orang-orang Kerajaan terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng. Penyergapan itu dipimpin sendiri pleh Patih Selo Kaliangan, dibantu oleh beberapa tokoh silat Istana berkepandaian tinggi, sementara Pendekar 212 didampingi oleh nenek sakti sahabat barunya berjuluk Gondoruwo Patah Hati.

Penyergapan bukan saja gagal tetapi Patih Selo Kaliangan malah ditimpa celaka besar. Gondoruwo Patah Hati berhasil menangkap salah satu dari dua ular yang jadi senjata tokoh silat berjuluk Setan Bertongkat Ular. Binatang berbisa ini kemudian dimasukkan ke dalam celana Patih Kerajaan. Akibatnya patukan ular berbisa yang bersarang satu jengkal di bawah pusarnya, sang Patih keracunan berat. Sekujur tubuhnya diserang demam panas. Beberapa hari kemudian dia jatuh lumpuh. Beberapa orang pandai telah berusaha menolong memberikan pengobatan. Namun sang Patih masih jauh dari kepulihan. Konon, jika penyakitnya terlambat diobati, walau kelumpuhannya bisa disembuhkan namun dia akan menderita penyakit lemah syahwat seumur hidup. Sejak peristiwa itu Pendekar 212 Wiro Sableng dan Gondoruwo Patah Hati dinyatakan sebagai buronan, harus ditangkap hidup atau mati. Sementara Setan Bertongkat Ular karena takur melenyapkan diri entah ke mana.

Di dalam kamar saat itu Patih dan pelayan tengah menunggu beberapa pelayan lain yang setiap pagi datang untuk membersihkan dan memandikan patih Selo Kaliangan. Tapi lain yang ditunggu lain yang muncul. Dua orang pengawal yang biasa berjaga-jaga di depan pintu laksana dilabrak topan mencelat masuk ke dalam kamar, bergelundungan di lantai, mencoba bangkit, tapi tak mampu dan hanya melingkar di lantai sambil mengerang kesakitan. Yang satu pegangi perut, sedang temannya menekap hidung dan mulutnya yang berdarah.

Belum habis kejut Patih Kerajaan dan pelayan di dalam kamar, tiba-tiba seorang pemuda berpakaian serba putih, berambut gondrong berkelebat masuk dan tahu-tahu sudah berdiri di samping ketiduran Patih Kerajaan.

Mata membelalak Patih Selo Kaliangan serta merta mengenali siapa adanya orang yang tegak di sampng tempat tidurnya. Langsung mulutnya berteriak.

"Kau! Buronan jahanam! Berani mati masuk ke tempat ini! Pelayan! Panggil pasukan! Tangkap orang ini! pengawal!"

Pelayan di sudut kamar yang sejak tadi sudah terlonjak kaget dan bangkit berdiri tanpa tunggu lebih lama segera lari ke pintu. Namun baru tiga langkah bergerak tubuhnya mendadak kaku. Satu totokan jarak jauh yang menusuk punggungnya membuat dia tertegun tak bergerak dan tak bersuara di samping pintu.

Amarah besar membuat tubuh Patih Selo Kaliangan menggigil. Dia berusaha bangkit, mencoba menggerakkan tangan untuk menghantam. Tapi sia-sia saja. Kelumpuhan membuat dia tetap terhenyak di atas tempat tidur. Tak ada hal lain yang bisa diperbuat Patih Kerajaan ini selain mulai berteriak minta pertolongan. Namun suara teriakannya lenyap begitu sehelai sapu tangan kotor miliknya sendiri disumpalkan pemuda berambut gondrong ke mulutnya.

Enak saja si gondrong ini duduk di tepi ranjang lalu berkata "Patih Selo Kaliangan, aku Wiro Sableng datang menemuimu untuk membuat perjanjian. Aku akan menawarkan penyembuhan atas dirimu jika kau mau memberi tahu di mana aku bisa menemukan Iblis Kepala Batu Alis Empat alias Iblis Kepala Batu Pemasung Roh. Dia telah menculik sahabatku, seorang gadis bernama Bunga dan memasukkannya ke dalam sebuah guci. Jika kau mau menolong hingga aku bisa membebaskan sahabatku itu, aku berjanji akan mengobati penyakitmu."

Habis berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng melepaskan sapu tangan yang disumpalkannya ke mulut Patih Kerajaan. "Kau sudah mendengar apa yang aku ucapkan. Aku ingin mendengar jawabanmu!"

"Manusia jahanam! Aku lebih baik menerima kematian sekarang juga dari pada membuat perjanjian denganmu! Umurmu tidak akan lama! Orang-orangku akan segera menangkapmu. Tiang gantungan sudah lama menunggumu!"

Murid Sinto Gendeng menyeringai.

"Orang mati saja kalau bisa bicara kepingin hidup lagi. Kau yang masih hidup malah buru-buru minta mati! Kau lupa bahwa penyakitmu akan membawa kesengsaraan seumur hidup sebelum ajalmu benar-benar datang. Aku kawatir kau tak sanggup menanggung kesengsaraan. Kau bisa jadi gila! Kasihan. Tapi kalau itu pilihanmu, apa boleh buat!"

"Pembunuh terkutuk! Pencuri keris pusaka Kerajaan! Aku tidak takut mati! Aku akan mati tanpa penyesalan asalkan lebih dulu menyaksikan mayatmu kaku di tiang gantungan!"

"Patih, aku bukan pembunuh seperti yang kau tuduhkan! Aku juga bukan pencuri Keris Kiai Naga Kopek!"

Saking marahnya mendengar ucapan Wiro, Patih Selo Kaliangan membuang ludah. "Siapa percaya ucapan manusia bejat sepertimu! Kau tahu, bukan cuma dirimu yang bakal menerima hukuman berat! Kerajaan telah memutuskan untuk meminta pertanggung jawaban gurumu si Sinto Gendeng!"

Wiro terkejut mendengar ucapan Patih Selo Kaliangan itu. "Pada waktunya aku akan memberikan bukti-bukti padamu siapa sebenarnya pembunuh Kinasih dan suaminya si juru ukir. Juga siapa yang telah menjarah Keris Pusaka Keraton. Tapi satu hal aku tidak suka! Guruku Eyang Sinto Gendeng tidak ada sangkut pautnya dengan semua kejadian ini. Jika orang-orang Kerajaan sampai berani menyentuh selembar rambutnya, pembalasanku tidak tanggung-tanggung. Gedung Kepatihan ini akan kusama ratakan dengan tanah. Kalau perlu gedung bangunan Istana juga akan kubuat amblas sampai ke perut bumi!"

"Manusia sombong terkutuk! Beraninya kau mengancam!" maki Patih Selo Kaliangan. Lalu dia berteriak. "Pengawal!"

Wiro berdiri. Selagi berpikir apa yang hendak dilakukannya untuk memaksa Patih Kerajaan tiba-tiba satu bayangan kuning berkelebat. Ada angin dahsyat menyambar menebar hawa dingin. Tak mau berlaku ayal Wiro segera melompat hindarkan diri. Ketika memandang ke depan kagetlah murid Sinto Gendeng. Yang barusan menyerangnya ternyata seorang dara berwajah cantik, berambut sangat hitam di gulung di atas kepala. Di pinggangnya dara ini membekal sebilah pedang yang sarungnya berukir, ditabur batu-batu aneka warna.





TIGASetelah pandangi dara cantik itu sesaat Wiro berseru "Aha! Tidak disangka Patih Kerajaan punya pengawal seorang gadis cantik! Dara jelita siapa namamu?!"

"Ayah! Siapa pemuda gondrong lancang kurang ajar ini?!" Gadis berpakaian kuning bertanya. Ternyata dia adalah puteri Patih Selo Kaliangan.

"Sutri! Hati-hati! Pemuda itu adalah Wiro Sableng, buronan Kerajaan! Lekas panggil pengawal! Siapkan pasukan! Kurung gedung Kepatihan! Jangan sampai lolos. Dia harus ditangkap hidup atau mati!" Patih Selo Kaliangan berteriak.

Sepasang mata gadis jelita membelalak. Wajahnya berubah. Tangan kanannya langsung bergerak ke pinggang menghunus pedang. Melihat hal itu, Selo Kaliangan yang tahu kalau Wiro bukan tandingan puterinya kembali berteriak agar Sutri segera meninggalkan tempat itu, memanggil para pengawal. Tetapi setelah sirap kagetnya mengetahui siapa adanya pemuda di hadapannya itu, Sutri bukannya pergi malah membentak.

"Jadi ini manusia kurang ajar yang mencelakai ayahku! Bagus! Kau datang sengaja mencari mati! Biar tanganku sendiri menjatuhkan hukuman! Lihat pedang!"

Baru selesai berucap satu sinar putih sudah bertabur di depan hidung Pendekar

212. Itulah kilapan cahaya pedang baja putih di tangan puteri sang Patih.

Dari sambaran angin sewaktu pertama kali gadis ini memasuki ruangan Pendekar 212 maklum kalau puteri Patih Kerajaan itu memiliki ilmu meringankan tubuh cukup tinggi serta tenaga dalam yang dapat diandalkan. Kini dalam jurus pertama serangan pedangnya si gadis seolah hendak membelah kepalanya mulai dari ubun-ubun sampai ke dagu! Benar-benar serangan pertama yang mematikan!

Wiro cepat bergerak hindarkan serangan lawan.

"Wuuuutttt!"

Pedang baja putih melanda tempat kosong. Membuat Sutri terkejut besar. Serangan pertama yang dilancarkannya tadi itu dia sengaja mengeluarkan jurus ketiga dari ilmu pedangnya yang disebut "Membelah Rembulan Di Puncak Langit." Jarang lawan bisa selamat dengan mudah. Tapi ternyata Wiro enak saja bisa menghindar padahal untuk mendalami jurus ketiga itu dia telah menghabiskan waktu lebih dari satu tahun!

Didahului jeritan melengking keras, Sutri kembali menggebrak. Pedangnya berubah menjadi taburan cahaya putih dan tebaran hawa dingin. Tubuh Pendekar 212 tenggelam dalam buntalan cahaya putih. Pakaian dan rambutnya berkibar-kibar terkena sambaran senjata lawan. Melihat kehebatan serangan lawan, apalagi si gadis kelihatannya begitu nekad, murid Sinto Gendeng tak mau berlaku ayal. Tapi melihat kecantikan sang dara muncul niat untuk mempermainkan.

Setelah lima jurus Wiro di desak habis-habisan bahkan ujung lengan kiri bajunya sempat dimakan pedang lawan, Wiro mulai bergerak aneh. Tubuhnya melompat kian kemari. Setiap lompatan selalu dilakukannya melintasi tempat tidur Patih Kerajaan terbaring. Hal ini dianggap kurang ajar dan keterlaluan oleh Sutri apa lagi oleh Patih Kerajaan. Ayah dan anak memaki habis-habisan.

Sutri mengamuk. Pedangnya menderu laksana air bah. Mengejar ke mana saja Wiro berkelebat. Tapi dia harus bertindak hati-hati agar tiap tusukan atau bacokan senjatanya tidak salah arah hingga bisa mencelakai ayahnya sendiri.

Gilanya, dalam melompat menghindarkan serangan pedang, tak jarang Wiro mengangkat kaki atau tangan Patih Selo Kaliangan, dipergunakan untuk menangkis serangan pedang. Sutri yang tidak mau ayahnya celaka tentu saja terpaksa menarik atau menahan serangan, penuh geram berteriak memaki.

"Pengecut tengik!" teriak Surti marah. "Jangan pergunakan tubuh ayahku sebagai tameng penangkis!"

Wiro tertawa bergelak. Lalu menyambar sebilah tombak pajangan di sudut kamar.

"Aku mengikuti apa maumu!" kata Wiro seraya menyeringai dan mengacungkan tombak.

Sutri kertakkan rahang. Tanpa banyak bicara dia melompat. Tangan kanan diputar dan pedang baja putih kembali bertabur. Wiro pergunakan tombak untuk menangkis.

"Trang! Trang! Trang!"

Tiga kali terdengar suara berdentrangan.

Wiro keluarkan seruan tertahan. Tombak di tangannya kini tinggal kutungan sepanjang dua jengkal. Ujung sebelah atas putus tiga kali dibabat pedang baja putih di tangan Sutri!

"Hebat! Ilmu pedangmu sungguh luar biasa!" Pendekar 212 memuji. "Sayang aku tidak punya banyak waktu melayanimu!"

"Buronan terkutuk! Kau mau lari ke mana!" bentak Sutri ketika melihat Wiro enak saja melangkah ke arah pintu. Karenanya bagitu sang pendekar lewat di hadapannya pedang di tanan kanannya langsung dibabatkan ke pinggang sang pendekar.

"Ah! Putus pinggangku!" seru Wiro seolah kaget ketakutan. Tapi sambil menyeringai. Tubuhnya meliuk ke samping. Tangan kanan cepat mencekal pergelangan si gadis, diputar demikian rupa hingga pedang terlepas dari cekalan Sutri. Lalu settt! Pedang baja putih itu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya!

Patih Kerajaan seperti tidak percaya melihat apa yang terjadi. Untuk mempelajari ilmu pedang itu puterinya digemlbleng oleh dua tokoh silat terkenal dan memakan waktu lebih dari lima tahun. Kini sang puteri hanya dijadikan bulanan main-mainan oleh buronan terhukum mati itu!

Sutri sendiri hendak menggerung saking marah dan malunya. Di hadapannya Pendekar 212 enak saja menyeringai dan berucap.

"Gadis cantik sepertimu jangan terlalu nekad main pedang!" Konyolnya habis berkata begitu Wiro lantas mencolek dagu si gadis.

Patih Kerajaan berteriak marah.

"Lancang kurang ajar!" teriak Sutri Kaliangan.

"Bukkk!" satu jotosan melanda perut Wiro.

Sakitnya lumayan. Tapi bukannya mengeluh kesakitan murid Sinto gendeng malah ulurkan tangan kanan mengusap pipi Sutri Kaliangan.

"Kurang ajar!"

"Bukkkk!"

Untuk kedua kalinya pukulan keras mendarat di perut Wiro. Pemuda ini menyeringai dan kembali tangannya menjaili mengusap wajah si gadis.

Marah besar Sutri kembali hendak menjotos perut pemuda itu untuk ketiga kalinya. Tapi kawatir pipinya bakal diusap lagi, pukulan ke arah perut dibatalkan, diganti kini dengan jotosan keras ke arah wajah Pendekar 212. Jotosan kali ini mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam. Jangankan kepala Wiro, kepala seekor kerbaupun bisa amblas!

Wiro tertawa bergelak. Sebelum pukulan si gadis mendarat di mukanya, dengan cepat dia merunduk, mencolek pinggang Sutri. Selagi gadis ini terpekik marah dan kegelian lalu memaki panjang pendek, sambil senyum-senyum murid Sinto Gendeng berkelebat ke pintu.

Tapi gerakan Pendekar 212 tertahan. Senyum lenyap dari mulutnya. Di ambang pintu beberapa orang bertampang garang menutup jalan.

"Ah, mereka lagi!" ujar Wiro sambil menggaruk kepala. "Kalau mereka menyerbu dan aku bertahan di kamar ini, tipis harapanku untuk lolos." Melirik ke samping dilihatnya Sutri telah menghunus pedang bajanya kembali. Wiro garuk kepala sekali lagi. Tiba-tiba dia melompat ke kepala tempat tidur Patih Selo Kaliangan.

"Jahanam kurang ajar! Apa yang kau lakukan?!" Patih Kerajaan berteriak. Sutri memburu. Namun gadis ini dan juga semua orang yang ada di depan pintu kamar terpaksa menyingkir ketika Wiro mengangkat bagian kepala tempat tidur di mana Patih Kerajaan terbaring, lalu mendorong tempat tidur itu menerobos kurungan orang-orang di pintu.

Di luar kamar Wiro lepaskan ujung kepala tempat tidur yang dipegangnya hingga tempat tidur itu terbanting keras ke bawah. Selagi Sutri berusaha menahan tubuh ayahnya agar tidak jatuh terbanting ke lantai, Wiro pergunakan kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Namun lima orang berkelebat cepat dan mengurungnya dengan rapat.

Kelima orang ini merupakan musuh lama karena mereka bukan lain adalah dedengkot tokoh silat Kerajaan yakni Hantu Muka Licin Bukit Tidar, Jalak Kumboro alias Pendekar Keris Kembar, lalu Tumenggung Cokro Pambudi. Orang keempat adalah Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara dan yang kelima Ki Sepuh Item. Wiro mengira Iblis Kepala Batu Alis Empat juga berada di situ, ternyata momok yang telah memasung Bunga itu tak kelihatan.

Ki Sepuh Item berdiri paling dekat. Kakek tinggi kerempeng berkulit hitam gosong ini memandang penuh geram pada Pendekar 212. Dendamnya terhadap Wiro memang bukan alang kepalang. Bukan saja karena nyawanya hampir dilalap oleh Wiro sewaktu terjadi perkelahian hebat di puncak bukit the Karangmojo tempo hari, tapi juga karena Wirolah yang telah menamatkan riwayat muridnya dengan ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah. Dirinya sendiri kalau tidak ditolong oleh Adisaka pasti akan mengalami kematian mengerikan dengan cara yang sama. (baca Episode "Gondoruwo Patah Hati")

"Kalian berlima, tua bangka tidak tahu diri! Masih berani unjukkan diri jual tampang! Rupanya kalian memang musti digebuk sampai benar-benar tahu rasa!"

Ki Sepuh Item unjukkan wajah garang lalu bersama Hantu Muka Licin dia keluarkan suara tawa bergelak.

"Nyawa sudah di ujung tenggorokan! Masih saja bersikap sombong kurang ajar!" memaki Hantu Muka Licin.

"Para tokoh!" tiba-tiba Patih Selo Kaliangan berteriak. "Tidak perlu bicara bertutur cakap dengan pemuda buronan jahana itu! bunuh dia sekarang juga!"

Lima tokoh silat berkepandaian tinggi segera bergeak, menebar mengatur kedudukan untuk menyerang. Sutri, puteri sang Patih tak tinggal diam. Dia melompat ke samping Si Bisu, pedang baja putih melintang di depan dada.

"Bunuh!" teriak Patih Selo Kaliangan tidak sabaran.





EMPATTongkat tulang putih berlubang di tangan Ki Sepuh Item menderu ke depan, mengeluarkan suara bising merobek gendang-gendang telinga serta semburan angin dingin laksana tusukan jarum yang tidak kelihatan! Kalau tangan kanan melancarkan serangan dengan tongkat tulang putih yang berbahaya, tak kalah bahayanya si kakek muka gosong ini juga pergunakan tangan kirinya. Di tangan ini dia memiliki ilmu yang disebut Kaca Hantu. Konon tangan ini diisi sejenis susuk. Jika tenaga dalam dikerahkan maka telapak tangan akan mengeluarkan sinar berkiblat. Bila lawan terkena serangan sinar, pandangannya akan menjadi gelap buta kesilauan. Wiro sebelumnya sudah pernah menghadapi Ki Sepuh Item serta merta angkat tangan kirinya untuk melindungi mata dari ulmu Kaca Hantu itu.

Serangan yang datang berbarengan dengan hantaman tongkat dan silaunya Kaca Hantu adalah sambaran pedang baja putih di tangan Sutri Kaliangan. Gadis ini menyerbu tak kepalang tanggung. Lancarkan dua tusukan dan satu kali bacokan dalam gebrakan pertama.

Orang ketiga yang ikut menghujani Pendekar 212 dengan serangan adalah Keris Kembar Jalak Kumboro. Waktu terjadi perkelahian besar di puncak bukit teh tempo hari dia telah kehilangan satu dari dua kerisnya sementara salah satu tangannya mengalami cidera berat. Saat itu dengan tangan masih dibalut dia menyerang Wiro mempergunakan keris dan sebilah senjata berbentuk kelewang pendek yang memancarkan sinar redup kehitaman pertanda senjata ini mengidap racun jahat.

Tumenggung Cokro Pambudi sebenarnya tidak punya silang sengketa apa-apa dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun tokoh istana ini ingin berbuat pahala membalaskan sakit hati Patih dan menjalankan perintah. Di samping itu dia merasa bertanggung jawab atas lolosnya pemuda yang mencuri keris pusaka Kiai Naga Kopek. Jika dia bisa ikut membekuk Pendekar 212 paling tidak rasa kecewa Sri Baginda terhadapnya bisa berkurang. Senjata yang dipergunakan sang Tumenggung adalah sebilah golok panjang berbetuk segi empat.

Si Bisu Pencabu Nyawa Tanpa Suara, kakek aneh yang hidungnya dicanteli anting-anting, berkepala botak warna kuning keluarkan suara haha-huhu. Setelah itu dengan gerakan kilat tapi tanpa keluarkan suara sama sekali dia melompat memasuki kalangan pertempuran. Kakek ini tidak membekal senjata. Yang jadi andalannya adalah sepuluh kuku jari kakinya yang berwarna hitam panjang. Belasan lawan berkepandaian tinggi telah menjadi korban keganasan sepuluh kuku jari kakinya itu. karena dia mempergunakan kuku jari kaki sebagai senjata, maka gerakan silatnya tampak aneh tapi sangat berbahaya. Dia lebih banyak bergerak setengah tinggi badan, merunduk bahkan kadang-kadang berguling di tanah. Setiap serangan tidak mengeluarkan suara atau siuran angin sedikitpun. Tahu-tahu korban sudah bersimbah darah, tubuh atau muka robek besar disambar kuku jari kaki!

Orang keenam, yang paling dahsyat melancarkan serangan adalah Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Dendamnya terhadap Wiro tak akan habis-habis seumur hidup. Bukan saja karena telah dipermalukan yaitu ditelanjangi di depan orang banyak tapi juga karena penasaran tak sanggup menghabisi Wiro dengan Jarum Perontok Syaraf. Seperti diceritakan sebelumnya Bunga, gadis cantik dari alam roh telah menyelamatkan Pendekar 212 dari racun jarum maut itu. (baca Episode "Roh Dalam Keraton")

Dalam Episode "Gondoruwo Patah Hati" diceritakan bagaimana senjata paling diandalkan oleh Hantu Muka Licin yakni rumbai-rumbai ikat pinggang kuning yang sanggup melesatkan jarum beracun telah dimusnahkan oleh Pendekar Kipas Pelangi. Sementara dia masih belum mendapat senjata pengganti yang bisa diandalkan maka Hantu Muka Licin Bukit Tidar pergunakan kesaktian dua ujung lengan jubahnya yang bisa mengeluarkan asap kelabu mengandung racun tak kalah jahatnya dengan racun Jarum Perontok Syaraf. Sebelumnya ilmu serangan asap ini juga telah dibuat tak berdaya oleh Pendekar Kipas Pelangi. Saat ini Pendekar 212 hanya seorang diri hingga Hantu Muka Licin Bukit Tidar merasa yakin dia dan kawan-kawan kali ini akan sanggup menghabisi Wiro. Memang dalam keadaan seperti itu sulit dibayangkan bagaimana murid Sinto Gendeng akan mampu menghadapi enam serangan maut yang datang berseribut cepat untuk membantainya!

Serangan lawan yang lebih dulu sampai adalah hantaman asap kelabu beracun yang keluar dari ujung lengan jubah Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Wiro begitu mencium bau yang tidak enak segera menutup jalan pernafasannya.

Enam penyerang keluarkan seruan tertahan ketika mereka menyangka serangan masing-masing akan mencapai sasaran tiba-tiba ada cahaya terang menyilaukan berkiblat disertai suara gaungan dahsyat yang menggetarkan seantero tempat!

"Awas! Kapak Maut Naga Geni 212!" Seseorang berteriak memberitahu.

"Bukkk!" Orang yang barusan berteriak menjerit keras begitu satu jotosan tangan kiri melanda dadanya. Darah menyembur dari mulutnya dan sosoknya terpental lalu terjengkang di lantai. Orang ini adalah Tumenggung Cokro Pambudi yang sebelumnya telah menyerbu Wiro dengan satu bacokan golok, tapi berhasil dielakkan dan dia sendiri harus menerima hantaman jotosan tangan kiri di bagian dadanya.

Bersamaan dengan itu ada hawa panas melanda dan trang-trang! Dua bentrokan senjata terjadi di udara. Dua mulut terpekik keras. Satu sosok mencelat menjauhkan diri, mengerang pendek, tersandar ke dinding bangunan.

"Bunuh! Habisi pemuda keparat itu!" Patih Selo Kaliangan berteriak dari samping pilar besar di mana dia disandarkan oleh puterinya.

Saat iu Sutri telah keluar dari kalangan pertempuran dengan muka pucat pasi. Pedang baja masih tergenggam di tangannya tapi sudah buntung dan bagian yang masih berada dalam pegangannya kelihatan hitam hangus mengepulkan asap!

Orang kedua di pihak Kerajaan yang bernasib malang lagi-lagi adalah Pendekar Keris kembar Jalak Kumboro. Kerisnya yang tinggal satu mental hancur entah kemana sedang kelewang pendek masih berada dalam pegangannya tapi seperti pedang baja Sutri, senjata itu kelihatan buntung dan hangus hitam mengeluarkan asap. Jalak Kumboro sendiri tegak terhuyung-huyung dengan muka pucat, berusaha mengatur jalan darahnya yang menjadi kacau akibat kejut dan rasa ngeri yang amat sangat!

Di bagian lain Pendekar 212 Wiro Sableng tampak tegak tersandar ke dinding bangunan. Celananya robek besar di bagian paha dan ada noda darah pertanda di balik robekan ada luka cukup parah. Tubuh Wiro kelihatan bergetar seperti orang menggigil. Rahangnya menggembung dan keningnya mengerenyit menahan sakit. Apa yang terjadi?

Ketika enam serangan datang menerjang dirinya, Wiro bergerak cepat mencabut kapak sakti dan pergunakan tangan kiri untuk menghantam. Dia berhasil membuat mental Tumenggung Cokro Pambudi dengan jotosan telak di dada, membabat putus pedang baja putih di tangan Sutri lalu menghancurkan kelewang dan keris di tangan Sepasang Keris Kembar. Selain itu Wiro juga berhasil selamatkan kepalanya dari pukulan tongkat tulang putih di tangan Ki Sepuh Item yang dihantamkan ke kepalanya. Namun bagaimanapun cepat dan hebatnya gerak Pendekar 212 menghadapi serangan enam orang lawan, tetap saja dia kebobolan.

Setelah melindungi matanya dari sambaran Kaca Hantu Ki Sepuh Item yang menyilaukan, menggebrak tiga lawan, Wiro tidak mampu menghindarkan diri dari serangan aneh yang dilancarkan Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Dia hanya sempat bergerak mundur setengah langkah sebelum lima kuku hitam jari kaki kanan kakek berkepala kuning botak ini menggurat robek paha celananya, membuat koyakan luka pada kedua pahanya. Darah langsung mengucur. Racun kuku mulai bekerja, membuat tubuhnya panas tapi dia sendiri merasa dingin menggigil.

Sadar bahaya yang dihadapinya, Wiro melompat menjauhi enam lawan. Dia bersandar ke dinding bangunan, menotok dua urat besar pangkal paha kiri kanan.

Patih Selo Kaliangan kembali berteriak. Saat itu adalah kesempatan paling baik untuk menghabisi Pendekar 212.

"Hantu Muka Licin, Ki Sepuh Item, Bisu Pencabut Nyawa! Habisi pemuda itu!"

Seperti sang Patih, tiga orang yang diteriaki itu sama menyadari memang saat itulah kesempatan paling baik untuk membunuh Pendekar 212. Ketiganya serta merta menggebrak maju. Wiro yang sudah maklum bahaya besar yang mengancamnya, pindahkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke tangan kiri. Dengan tangan kanan dia lalu lepaskan pukulan Sinar Matahari, mengerahkan hempir seluruh kekuatan tenaga dalamnya!

Ledakan dahsyat menggelegar. Beberapa bagian bangunan Kepatiha, termasuk sebagian kamar tidur Patih Selo Kaliangan ambruk. Asap menggebubu, hawa panas menebar membakar. Ketika asap lenyap, debu hilang dan pemandangan terang kelmbali, kelihatan beberapa orang berkaparan di lantai di depan kamar.

Yang pertama tentu saja sang Patih sendiri. Dia tergeletak di lantai. Pakaian merahnya hangus. Tak jauh dari situ terkapar Ki Sepuh Item, mengerang menggeliat-geliat. Kulitnya yang hitam kelihatan semakin hitam. Rambut, kumis dan janggutnya yang tadinya putih kini berubah menjadi hitam. Dari mulutnya keluar suara erangan halus. Matanya setengah terpejam.

Hanya beberapa langkah di samping Ki Sepuh Item, berlutut sosok Hantu Muka Licin Bukit Tidar. Mulut berkomat kamit. Jubah kelabunya hangus di bagian bahu kiri sampai ke pinggang. Mukanya pucat. Untuk beberapa lama dia berlutut tak bergeark, mengatur jalan darah dan hawa sakti dalam tubuhnya sambil matanya mengawasi ke arah Pendekar 212.

Tumenggung Cokro Pambudi tergeletak tidak sadarkan diri dekat tangga menuju ke taman. Sementara Sutri masih bisa selamatkan diri karena ketika ledakan dahsyat terjadi dia terlindung di balik satu tiang besar. Walau kemudian tiang ini roboh, si gadis masih bisa melompat selamtkan diri.

Yang paling malang lagi-lagi adalah Pendekar Keris Kembar Jalak Kumboro. Orang ini berada paling dekat dengan pusat ledakan. Tubuhnya melesat ke atas, kepala menghantam langit-langit bangunan tepat pada sanding batu yang keras. Ketika tubuhnya jatuh ke lantai dia tak berkutik lagi. Nyawanya lepas, kepala pecah!

Yang masih bertahan dan kelihatannya tidak mengalami cidera apa-apa adalah kakek botak bisu Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara. Sambil keluarkan suara haha-huhu dia gulingkan tubuhnya ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang saat itu terduduk bersila di lantai. Di sebelah bawah pakaiannya berlepotan darah. Di bagian atas kelihatan beberapa robekan. Darah mengucur dari sela bibir dan liang telinganya.

Dadanya mendenyut sakit! Dia bersyukur tadi ketika melancarkan pukulan Sinar Matahari dia mengerahkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Hingga ketika lawan sama-sama menghantam dengan gempuran tenaga dalam, dia masih bisa bertahan walau saat itu rasanya nyawanya entah berada di mana. Dalam keadaaan seperti itu dia melihat Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara berguling ke arahnya sambil membabatkan kaki kanannya yang berkuku panjang.

Wiro ingin sekali pergunakan kapak saktinya untuk membabat kaki lawan. Namun dia memilih lebih baik menghindar dan mempergunakan kecerdikan karena saat itu beberapa lawan sudah mulai bangkit, bergerak ke arahnya.

Wiro jatuhkan diri ke lantai. Kaki kanan Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara menderu di atas punggungnya. Selagi kakek botak kepala kuning itu bergulingan Wiro melompat ke arah Sutri. Dengan satu gerakan cepat gadis ini ditotoknya lalu dipanggul di bahu kiri. Kapak Naga Geni 212 ditempelkan ke leher putri Patih Kerajaan itu.

"Jahanam berani mati! Lepaskan puteri Patih Kerajaan!" teriak Ki Sepuh Item.

Wiro meludah ke lantai. Ludahnya bercampur darah.

"Siapa yang inginkan gadis ini silahkan maju! Satu langkah ada yang berani bergerak kepala gadis ini akan menggelinding di lantai!"

Pendekar 212 mengancam.

Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara dan Hantu Muka Licin tidak perduli. Keduanya siap hendak menyerbu. Tapi patih Selo Kaliangan berteriak. Bagaimanapun dia tidak ingin melihat puteri kesayangannya menemui kematian di tangan Wiro.

"Tahan serangan! Buronan jahanam! Berani kau melukai puteriku....."

"Patih Kerajaan, aku sudah memberitahu bukan aku pembunuh Kinasih dan suaminya. Juga bukan aku yang mencuri Keris Kiai Naga Kopek!"

"Tapi kau telah membunuh beberapa tokoh silat Istana! Buktinya kau lihat sendiri saat ini! Pendekar Keris Kembar Jalak Kumboro menemui ajal akibat keganasanmu!"

"Siapapun para tokoh silat Istana yang menemui ajalnya, itu semua menjadi tanggung jawabmu! Mereka terlalu tolol untuk mau mengikuti perintahmu yang keliru!" menukas Wiro. "Patih Selo Kaliangan, aku akan membawa anak gadismu! Dia akan aku jadikan jaminan sampai kau memberitahu di mana sarang kediaman Iblis Kepala Batu Pemasung Roh!"

Habis berkata begitu Wiro putar tubuhnya, melangkah menuruni tangga lalu berkelebat ke arah pintu gerbang sebelah timur gedung Kepatihan. Tak ada yang bergerak apa lagi mencegah. Patih Selo Kaliangan hanya bisa kepalkan dua tinjunya berulang kali.

"Patih, seharusnya kau biarkan kami menghajar pemuda buronan itu!" kata Ki Sepuh Item.

Patih Selo Kaliangan terdiam, lalu gelengkan kepala. "Keselamatan anakku lebih dari segala-galanya!"

"Apa dengan membiarkan dirinya diboyong begitu rupa, kau merasa yakin anak gadismu akan benar-benar selamat?" ujar Hantu Muka Licin Bukit Tidar. "Bagaimana kalau murid Sinto Gendeng keparat itu menggagahi anakmu? Memperkosanya?!"

Berubahlah wajah Patih Selo Kaliangan. Diremas-remasnya rambutnya sendiri. "Hantu Muka Licin ....." kata sang Patih dengan suara bergetar."Kumpulkan semua tokoh silat yang ada! Kejar jahanam penculik puteriku itu! Aku ingin melihat dia kaku di tiang gantungan sebelum matahari tenggelam!" kata sang Patih setengah berteriak.

"Jangan kawatir, perintah Patih akan kami lakukan!" kata Hantu Muka Licin. "Kami bukan cuma mengejar pemuda itu seorang. Tapi juga buronan satunya. Nenek keparat berjuluk Gondoruwo Patah Hati!"





LIMAPendekar 212 Wiro Sableng memperlambat larinya, memasang telinga lalu menyelinap ke balik satu pohon besar. Sutri, puteri Patih Kerajaan yang ada di panggulan bahu kirinya seperti tidur karena di tengah jalan Wiro telah membungkam jalan suara gadis itu agar tidak berteriak-teriak.

Sejak beberapa lama meninggalkan Kotaraja, berlari ke arah timur Wiro merasa ada yang mengikutinya di sebelah belakang. Dia yakin saat itu para tokoh silat Kerajaan atas perintah Patih Selo Kaliangan akan melakukan pengejaran. Tapi orang yang mengikutinya saat itu agaknya bukan tokoh silat Istana. Dia seorang diri dan caranya mengikuti terasa aneh. Dekat di sebelah belakang tapi tidak mau menunjukkan diri.

Di satu tempat yang penuh ditumbuhi pohon-pohon besar Wiro menyelinap ke balik sebuah pohon, menunggu dan mengintai siapa adanya si penguntit. Lama ditunggu orang itu tak kunjung muncul. Padahal tadi jelas berada tak berapa jauh di belakangnya. Selagi Wiro berpikir apakah di akan terus menunggu, menyelidik atau meninggalkan saja tempat itu tiba-tiba terdengar suara tertawa mengekeh.

"Pendekar 212 Wiro Sableng, hendak kau apakan gadis culikan itu?!"

Wiro terkejut. Dia seperti mengenali suara yang barusan menegur. Tapi belum yakin benar. "Siapa yang barusan bertanya. Harap unjukkan diri."

Kembali ada suara tawa mengekeh. Lalu ada sambaran angin halus di atas kepalanya. Wiro cepat mendongak. Satu sosok berpakaian serba hitam melayang turun dari atas pohon besar.

"Ning Intan Lestari! Hah! Kau rupanya yang menguntit diriku!" kata Wiro. Dia merasa gembira karena sejak pertemuannya tempo hari yaitu ketika si nenek membantu menyelamatkannya dari sergapan orang-orang Kerajaan, dia memang ingin sekali bertemu lagi dengan nenek ini. (baca Episode "Makam Ketiga")

Nenek berambut kelabu bermuka seram yag berdiri di hadapan Wiro menyeringai. "Aku jadi malu sendiri mendengar kau menyebut nama asliku!" berucap si nenek. Lalu dia geleng-gelengkan kepala. "Sulit kupercaya. Tidak kusangka murid Sinto Gendeng yang tersohor alim itu kiranya suka juga menculik gadis cantik! Hendak kau apakan anak gadis orang?!" Si nenek yang lebih dikenal dengan julukan Gondoruwo Patah Hati berkata lalu tertawa cekikikan.

"Aku bukan pemuda alim Nek. Tapi aku tidak punya maksud jahat terhadap gadis ini!" jawab Wiro.

"Amboi! Amboi!" Gondoruwo Patah Hati berucap dan lagi-lagi keluarkan tawa mengikik. "Seorang pemuda menculik gadis jelita di siang bolong! Berucap tiada niat jahat! Tapi kalau setan mendekam di dalam dada, turun ke bawah perut, siapa bisa menduga apa yang akan terjadi?!"

"Nek, kau tahu siapa adanya gadis ini?" tanya Wiro.

"Tentu saja aku tahu. Karena aku sudah menguntitmu sejak kau kabur dari Kotaraja! Gadis itu adalah puteri Patih Selo Kaliangan. Kau membuat urusan tambah jadi kapiran anak muda! Perlu apa kau menculik gadis itu?"

Wiro garuk-garuk kepalanya. Ketika dia hendak bicara si nenek berikan isyarat dengan gerakan tangan.

"Aku mendengar suara derap kaki kuda di kejauhan. Orang-orang Kerajaan pasti tengah melakukan pengejaran. Tidak aman berlama-lama di tempat ini. Mari ikuti aku. Ada satu tempat baik untuk bersembunyi." Dalam gelapnya malam.

Gondoruwo Patah Hati berkelebat ke arah barat. Wiro mengikuti. Kali ini dia tidak bisa berlari terlalu cepat karena dua kakinya yang luka terasa sakit dan nafasnya cepat sesak akibat pengaruh racun kuku kaki Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara yang masih mengendap dalam aliran darahnya.

Hanya beberapa saat Wiro dan Gondoruwo Patah Hati meninggalkan kawasan berpohon besar itu, serombongan pasukan berkuda dari Kotaraja melintas dengan cepat. Di depan sekali kelihatan Ki Sepuh Item dan si botak berjuluk Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara.

Tempat yang dikatakan Gondoruwo Patah Hati itu adalah sebuah tebing batu berbentuk cegukan dalam tikungan sebuah sungai, tersembunyi di balik kerimbunan pohon-pohon bambu. Wiro membaringkan Sutri di tanah yang kering. Si gadis yang tidak bisa bicara tak bisa bergerak hanya bisa memandang Wiro dengan sorotan mata garang.

"Aku perhatikan gerak-gerikmu tidak seperti biasa. Kau terluka......" si nenek bertanya sambil memandang bagian paha celana Wiro.

Pendekar 212 mengangguk.

"Apa yang terjadi?'

"Aku dikeroyok habis-habisan ketika mendatangi Patih Selo Kaliangan di gedung Kepatihan. Salah seorang pengeroyok, kakek botak berjuluk Si Bisu Pencabut Nyawa Tanpa Suara berhasil melukai dua pahaku dengan kuku kakinya.

"Kuku itu beracun......"

"Aku tahu. Aku telah menotok aliran darahku, menghentikan aliran racun. Tapi rasa sakit pada luka belum lenyap. Tubuhku terasa dingin, padahal kalau dipegang rasanya panas......"

"Kau mencari penyakit. Perlu apa kau jual tampang masuk ke gedung Kepatihan?!" tanya si nenek.

"Siapa yang jual tampang?!" jawab Wiro agak kesal tapi kemudian tertawa lebar. "Ingat ceritaku tempo hari? Tentang gadis sahabatku yang dipasung dimasukkan ke dalam guci oleh Iblis Kepala Batu? Aku butuh keterangan mengenai mahluk keparat itu. Patih Kerajaan pasti tahu di mana beradanya."

"Anak muda, kadang-kadang kau cerdik, kadang-kadang malah bodoh! Apa kau kira Patih Kerajaan akan mau begitu saja memberitahu kepadamu di mana beradanya orang yang kau cari! Padahal sang Patih mendendam setengah mati terhadapmu, terhadap kita berdua."

"Aku katakan padanya, jika dia memberitahu dan aku bisa menyelamatkan sahabatku, aku akan menolong mengobati penyakit yang dideritanya."

"Lagakmu! Racun ular berbisa yang mendekam dalam tubuh Patih itu sulit obatnya......"

"Aku tahu Nek, tapi dengan petunjuk Tuhan aku yakin bisa menolong. Asal sang Patih juga mau menolongku."

Si nenek tertawa. "Kau benar-benar tolol! Apa kau kira Patih itu mau memberitahu di mana beradanya orang yang kau cari? Pasti tidak! Lantas kau malah menculik puterinya untuk dijadikan jaminan!"

"Bukan itu saja alasanku. Aku terpaksa menculik gadis itu agar bisa lolos dari gedung Kepatihan," menerangkan Wiro "Selain itu ada satu hal penting telah kuberitahu pada Patih Kerajaan yaitu bahwa aku bukan pembunuh Kinasih dan suaminya. Aku juga bukan orang yang mencuri keris pusaka keraton Keris Kiai Naga Kopek. Bila tiba saatnya akan kubuktikan pada Patih itu siapa orang-orang yang bertanggung jawab atas semua kejadian itu."

Gondoruwo Patah Hati terdiam. Dia teringat pada pertemuannya dengan Adisaka, muridnya yang sesat, yang selama ini gentayangan melakukan berbagai kejahatan dengan memakai nama Damar Wulung. Sebenarnya saat itu dia ingin memberitahu pada Wiro bahwa dia telah bertemu dengan Damar Wulung dan bahwa Damar Wulung adalah muridnya. Bahwa dia telah punya niat untuk menghukum sang murid, namun Adisaka alias Damar Wulung sempat melarikan diri. Entah mengapa mulutnya tak sampai berucap dan suara hatinya tidak pula keluar. Keterangan itu tidak disampaikannya kepada Wiro. Si nenek mengusap wajahnya, menyembunyikan perasaan.

"Apa kau telah bertemu dengan bocah bernama Naga Kuning?" Gondoruwo Patah Hati alihkan pembicaraan.

Wiro menggeleng. "Kau sendiri, apakah sudah bertemu dengan Adisaka, muridmu itu?"

Gondoruwo Patah Hati terdiam. Hatinya bimbang, apa akan diberitahu atau tidak. Seperti Wiro akhirnya dia juga gelengkan kepala.

Wiro keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212 dari balik pakaian. Setelah mengerahkan tenaga dalamnya, senjata sakti itu diletakkan di atas kedua pahanya yang terluka. Seperti diketahui Kapak Maut Naga Geni 212 merupakan senjata sakti mandraguna yang memiliki kemampuan untuk memusnahkan racun jahat.

Wiro merasa ada hawa panas menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Menyusul muncul aliran hawa dingin. Gondoruwo Patah Hati melihat apa yang terjadi di hadapannya. Mula-mula sekujur tubuh Wiro tampak bergetar. Lalu tubuh itu basah oleh keringat. Dua mata kapak sakti yang tadinya putih berkilat kini menjadi redup kehitam-hitaman. Racun jahat dalam tubuh Pendekar 212 telah berpindah, tersedot masuk ke dalam dua mata kapak sakti. Getaran di tubuh Wiro berkurang. Dengan tangan kanannya Wiro mengangkat Kapak Naga Geni 212 lalu merapal sesuatu. Ketika dia meniup, cahaya hitam redup yang melekat di mata kapak serta merta lenyap.

"Senjata luar biasa!" si nenek memuji kagum. Dari balik pakaian hitamnya dia mengeluarkan dua butir benda putih. Diberikannya kepada Wiro. "Telan. Lukamu pasti sembuh dalam waktu satu hari....."

"Terima kasih Nek," kata Wiro. Dia tidak segera menelan obat itu. tapi memperhatikannya beberapa ketika. "Obat apa ini, Nek? Tahi kambing?"

"Tahi kambing moyangmu! Tahi kambing mana ada yang putih!"

"Oo, mungkin ini tahi onta!" kata Wiro pula. Dia tertawa gelak-gelak lalu dua butir obat itu dimasukkannya ke dalam mulut.

Gondoruwo Patah Hati melirik pada sosok Sutri yang tergolek di tanah. Lalu dia berpaling pada Wiro. "Walau tempat ini aman, kita tidak bisa terus-terusan berada di sini. Apa yang hendak kau lakukan?"

Wiro merenung memikir jawab. Dia memandang seputar cegukan tebing batu. Begitu pandangannya sampai pada sosok Sutri, pemuda ini berucap "Aku akan membebaskan puteri Patih Kerajaan itu. Aku rasa tak ada guna aku menahannya lebih lama. Dia tidak ada sangkut paut dengan semua yang terjadi. Tidak adil kalau aku menyengsarakannya."

Sejak tadi Sutri yang berada dalam keadaan tak bisa bergerak tak bisa bersuara telah mendengar semua percakapan Wiro dan nenek muka setan. Dia tidak mengira bakal mendengar ucapan seperti yang tadi dikeluarkan Wiro. Kalau sebelumnya dia merasa sangat benci dan marah terhadap pemuda ini, kini perasaan itu sedikit demi sedikit menjadi pupus.

Gondoruwo Patah Hati mengangguk-angguk. "Itu perbuatan ksatria. Kau masih bisa mencari cara lain untuk menolong sahabatmu gadis dari alam roh itu. sekarang ada satu hal yang ingin kuberitahu kepadamu. Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan empat orang gadis kekasihmu!"

"Nek, kau jangan bergurau! Aku tidak punya kekasih. Apa lagi sampai empat orang!" ujar Wiro sambil garuk-garuk kepala. Dia lunjurkan kedua kakinya. Luka pada dua pahanya masih belum kering namun rasa sakit telah jauh berkurang.

Gondoruwo Patah Hati tertawa cekikikan. "Jangan berpura-pura. Kau tidak senang rahasiamu diketahui puteri Patih itu hah? Walah, jangan-jangan benar dugaanku. Kau telah berubah pikiran. Jatuh cinta pada gadis yang kau culik itu?! Lalu berpura-pura jadi pemuda baik-baik, belum punya kekasih! Hik.....hik.....hik!" Si nenek memandang ke arah Sutri. "Hemmmmm...... Aku tidak menyalahkan kalau kau kecantol pada puteri Patih ini. Wajahnya cantik, rambut hitam, tubuh bagus mulus. Hik...hik....hik!"

Wajah Sutri Kaliangan menjadi merah mendengar kata-kata nenek muka setan itu sementara Wiro tertawa gelak-gelak sambil garuk-garuk kepala.

"Kau tak percaya aku bertemu dengan empat gadis cantik kekasihmu?"

"Katakan, siapa saja mereka itu Nek," jawab Wiro.

"Yang pertama seorang dara berbadan wangi semerbak, berambut pirang. Namanya Bidadari Angin Timur. Nah.....nah, kulihat dua matamu menjadi besar!" Si nenek tertawa cekikikan lalu tempelkan telapak tangan kirinya ke dada Wiro. "Nah, nah! Jantungmu berdebar lebih keras! Hik...hik....hik! Gadis kedua bermata biru. Pakai mahkota kecil di kepalanya. Pakaiannya ketat, tubuhnya bagus. Dia dikenal dengan sebutan Ratu Duyung! Yang ketiga, berkulit putih berbadan montok. Gadis ini kabarnya sudah dijodohkan dengan dirimu. Namanya Anggini, cucu Dewa Tuak. Kekasihmu yang keempat bernama Puti Andini, cantik tanpa dandanan, dikenal dengan julukan Dewi Payung Tujuh!"

Wiro ternganga. Garuk kepala lantas bertanya. "Di..... dimana kau bertemu dengan mereka, Nek?

"Nah, apa kataku! Kini kau tak dapat lagi menyembunyikan perasaan! Hik...hik....hik!"

Gondoruwo Patah Hati lalu menuturkan kisah pertemuannya dengan empat gadis itu. Dimulai dengan kejadian diculiknya Ratu Duyung. (baca Episode sebelumnya berjudul "Makam Ketiga")

"Ah tidak kusangka kau telah berjada besar menyelamatkan Ratu Duyung dari malapetaka keji. Nek, apa kau sempat mengetahui siapa manusia terkutuk yang melakukan perbuatan keji itu?"

Gondoruwo Patah Hati berdusta. Dia gelengkan kepala. "Orang itu berhasil melarikan diri. Kepandaiannya tinggi. Sayang aku tidak bisa meringkusnya...." Si nenek ucapkan kedustaan itu dengan perasaan hati penuh ganjalan.

"Mengenai empat gadis itu, kau tahu di mana mereka sekarang berada? Mungkin mereka memberitahu atau mengatakan sesuatu?" Wiro bertanya.

"Setahuku mereka tengah dalam perjalanan menuju Gunung Gede."

Wiro terkejut mendengar jawaban si nenek. "Menuju Gunung Gede? Ada apa di sana? Apakah Eyang Guru sakit. Atau....."

"Wiro, turut apa yang aku dengar, empat gadis itu telah berusaha keras mencarimu sejak dua tahun silam. Belakangan ini terjadi satu peristiwa besar. Mereka menyirap kabar bahwa kau telah menemui kematian. Anehnya jenazahmu dimakamkan di tiga tempat. Pada dua makam pertama mereka tidak menemukan apa-apa. Kecuali surat-surat aneh...." Si nenek lalu menuturkan apa yang diketahuinya tentang Makam Setan Pertama dan Makam Setan Kedua. "Makam Setan Ketiga ada di puncak Gunung Gede. Itu sebabnya empat gadis tadi berangkat ke sana....."

"Aneh, siapa yang menyebar kabar kalau aku sudah mati? Dikubur di salah satu makam. Tapi kepergianku ke Negeri Latanahsilam selama dua tahun memang bisa menimbulkan berbagai prasangka. Ada orang yang sengaja memanfaatkan hal ini....." Wiro membatin, menggaruk kepala lalu bertanya.

"Kau tidak memberitahu bahwa kita pernah bertemu, yang menyatakan bahwa diriku masih hidup?" tanya Wiro

"Aku memberitahu. Tapi mungkin mereka tidak sepenuhnya percaya pada ucapan nenek muka setan sepertiku ini."

"Aku punya dugaan ada seseorang mengatur semua ini. Aku punya firasat mereka berempat dalam bahaya!"

Wiro berdiri. Dia mengerenyit karena gerakan yang tiba-tiba membuat dua pahanya yang luka terasa sakit.

"Nek, aku terpaksa meninggalkanmu. Aku harus segera ke Gunung Gede."

Si nenek berkomat kamit. Wiro mendekati sosok Sutri. Dia membungkuk lalu berkata "Maafkan kalau aku telah menyusahkanmu. Kau boleh kembali ke Kotaraja. Walau ada urusan besar antara aku dengan ayahmu, harap tidak ada dendam di antara kita. Karena yang membuat ayahmu celaka bukan diriku, bukan juga nenek itu. tapi seekor ular berbisa! Ular itu milik tokoh silat Istana berjuluk Setan Bertongkat Ular. Orang itu melenyapkan diri begitu saja." Wiro tersenyum lalu jari-jari tangannya bergerak meleaps totokan di tubuh si gadis. Begitu totokannya lepas Sutri Kaliangan melompat bangkit. Tangan kanannya bekerja.

"Bukkkk!"

Wiro terpental, jatuh terjengkang di tanah. Jotosan tangankanan Sutri Kaliangan bersarang telak di dadanya. Sakitnya bukan main namun sang pendekar masih bisa tersenyum sambil usap-usap dadanya. Wiro merangkak di tanah, berpegangan pada kaki Gondoruwo Patah Hati yang ada di hadapannya lalu mencoba bangkit berdiri. Sambil bergerak bangkit tangannya menarik sedikit bagian bawah pakaian hitam si nenek. Seperti dulu, dia melihat sepasang betis yang putih, mulus dan bagus. Bukan layaknya betis seorang nenek seusia Gondoruwo Patah Hati. Ini adalah satu keanehan yang menjadi tanda tanya besar bagi Wiro namun dalam keadaan seperti itu tidak mungkin diungkapkannya.

Terbungkuk-bungkuk Wiro berkata pada Sutri yang tadi menjotos dadanya. "Terima kasih. Aku telah menerima hukuman darimu. Apa cukup sebegitu saja atau masih ada tambahan yang lain?"

Paras cantik puteri Patih Kerajaan itu mengelam merah. Dia maju dua langkah. Tangan kanan terkepal namun pukulan tidak dilayangkan. Wiro menunggu. Si gadis tetap tidak bergerak.

"Kau gadis baik!" Wiro memuji. "Aku harap kau bisa mengerti. Silang sengketa antara aku, maksudku aku dan nenek ini dengan ayahmu adalah satu kesalah pahaman besar dari pihak Kerajaan. Aku tidak membunuh Kinasih dan suaminya. Aku juga tidak mencuri Keris Kiai Naga Kopek. Mudah-mudahan dalam waktu dekat aku bisa mengungkapkan siapa yang betanggung jawab atas semua kejadian itu." Wiro berpaling pada Gondoruwo Patah Hati. "Nek, aku terpaksa meninggalkanmu. Terima kasih obat tahi ontamu tadi! Mudah-mudahan mujarab!"

Si nenek muka setan tertawa mengekeh.

"Tunggu!"

Tba-tiba Sutri Kaliangan berteriak. Wiro yang sudah berada di luar cegukan tebing batu hentikan langkahnya dan berpaling. Sekali melompat puteri Patih Selo Kaliangan itu telah berada di hadapan sang pendekar. Tangan kanannya yang masih membentuk tinju terpentang di depan dada.

"Ada apa? Kau belum puas menggebukku?" tanya murid Sinto Gendeng sambil berlaku waspada.

"Aku hanya mau memberitahu," berucap si gadis dengan suara perlahan. "Tempat kediaman Iblis Kepala Batu Alis Empat di sebuah pohon besar, di dekat air terjun Jurangmungkung......"

Tentu saja Pendekar 212 WS tercengang tidak mengira si gadis akan mengeluarkan ucapan seperti itu. Kalau ayahnya, Patih Kerajaan tidak mau memberitahu mengapa kini tiba-tiba sang puteri memberitahu? Sebelumnya si gadis begitu nekad hendak membunuhnya. Kini malah menunjukkan itikad baik seperti itu. benar-benar sulit dipercaya. Wiro garuk-garuk kepala lalu tersenyum.

"Kau pasti menduga aku menipu atau menjebakmu. Terserah, mau percaya atau tidak. Aku hanya menginginkan kesembuhan ayahku!" Sutri Kaliangan rupanya bisa menerka ketidak percayaan dalam diri Wiro. Si gadis balikkan badan.

"Tunggu! Tentu saja aku percaya pada keteranganmu dan aku mengucapkan terima kasih," kata Wiro. "Tapi air terjun Jurangmungkung yang kau katakan itu baru sekali ini aku mendengar. Di mana letaknya.....?' tanya Wiro. Dia hanya berpura-pura karena sebenarnya dia sudah tahu di mana letak air terjun Jurangmungkung itu. Wiro hanya ingin menguji karena bukan mustahil si gadis memang hendak menipu dirinya. Sebelumnya Sutri marah besar dan ingin membunuhnya. Kini mengapa sang dara berubah pikiran dan bersikap baik padanya.

"Tempat itu tidak jauh dari Mojogedang, arah timur laut Karanganyar." Menerangkan Sutri.

"Terima kasih. Kalau aku boleh tanya mengapa kau memberitahu? Padahal ayahmu sebelumnya tak mau mengatakan."

"Apa pertanyaan itu perlu kujawab?" balik bertanya putri Patih itu. "Malah kini aku menagih janji. Bukankah kau berkata pada ayahku akan mengobatinya jika diberitahu tempat kediaman Iblis Kepala Batu?'

"Janji akan kupenuhi. Namun ada beberapa urusan penting yang harus aku selesaikan. Ayahmu sanggup bertahan cukup lama....."

"Kalau dia menemui kematian sebelum kau sempat menolongnya, berarti kau punya hutang nyawa. Yang cuma bisa kau lunasi dengan nyawamu sendiri...."

Wiro menggaruk kepala lalu berkata "Baik. Baik. Nenek jelek menjadi saksi ucapanku. Biar nyawaku tebusan nyawa ayahmu jika dia sampai menemui kematian."

"Sialan. Enak saja kau bicara bilang aku nenek jelek!" kata Gondoruwo Patah Hati sambil bersungut-sungut.

Wiro tertawa. "Nek, apa kau lupa. Dulu aku pernah bilang. Wajahmu mungkin seperti setan tapi hatimu lebih baik dari bidadari." Si nenek membuang muka, memendang ke jurusan lain. Tapi Wiro tahu kalau si nenek berbunga-bunga hatinya dikatakan sebaik bidadari. "Nek, aku pergi dulu. Kalau aku bertemu Naga Kuning, aku akan beritahu kau mencarinya...."

Gondoruwo Patah Hati jadi kaget. "Aku tidak mencarinya. Aku......"

"Kalau begitu, bagaimana jika aku bertemu Rana Suwarte, akan kukatakan padanya kau kangen daningin bertemu!"

"Kupecahkan batok kepalamu jika berani melakukan itu!" kata GP setengah berteriak.

Tangan kanannya yang berkuku panjang diangsurkan ke depan seolah mau mencakar si pemuda. Wiro cepat menghindar lalu sambil tertawa bergelak dia tinggalkan tempat itu. Seperti diketahui Rana Suwarte adalah kakek yang hendak dijodohkan dengan dirinya oleh ayah angkatnya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Tinggal berdua dengan Sutri, Gondoruwo Patah Hati tatap wajah si gadis sambil hatinya bertanya-tanya, apakah gadis ini tahu kalau dialah yang memasukkan ular berbisa ke dalam celana Patih Kerajaan hingga ayah si gadis kini menderita sakit berat.

Tiba-tiba Sutri berkata. "Aku tahu, kau yang menjadi biang sebab sakitnya ayahku. Saat ini ingin sekali aku membunuhmu! Tapi aku masih bisa bersabar. Tapi kalau Pendekar 212 WS tidak menepati janji, tidak mampu menyembuhkan penyakit ayahku, setelah dia maka kau akan ikut menerima kematian."

Si nenek runcingkan mulutnya lalu bertanya. "Mengapa kau mau bersikap baik dan sabar padaku? Apa karena kau telah jatuh hati pada pemuda sahabatku tadi?'

"Mulutmu lancang sekali!" Sutri membentak dengan wajah merah.

Gondoruwo Patah Hati tertawa. "Aku pernah muda sepertimu. Aku tahu betul rasa hati orang muda. Tidak ada yang melarang seorang gadis menyukai seorang pemuda. Tapi dalam hal diriku, kau punya empat saingan berat. Empat gadis yang mencintai Pendekar 212 semua cantik-cantik!" Si nenek tertawa panjang lalu tinggalkan tempat itu.

"Tua bangka geblek. Dari julukannya saja aku tahu dia memendam banyak kepahitan di masa mudanya. Pasti gara-gara urusan cinta! Mungkin dengan orang bernama Rana Suwarte itu. Rana Suwarte adalah kakek yang iktu bergabung dengan pasukan Kerajaan dalam mencari Wiro dan nenek muka setan itu." Sutri memandang berkeliling. Apa yang akan dilakukannya? Ke mana dia akan pergi? Kembali ke gedung Kepatihan? Atau diam-diam mengiktui Wiro? Setelah bimbang sebentar akhirnya Sutri memilih kembali ke Kotaraja. Bagaimanapun juga gadis ini mengawatirkan sakit ayahnya.



ENAMKembali ke puncak Gunung Gede. Di dalam liang makam ketiga yang baru setengahnya mereka gali, sambil berteriak memperingatkan bahwa ada mahluk hidup di dalam makam, Ratu Duyung melesat ke atas. Tangan kiri Anggini ditariknya sedang dengan tangan kanan sosok Bidadari Angin Timur didorongnya kuat-kuat.

Apa yang kemudian terjadi sungguh tidak terduga dan mengejutkan. Makam itu bergetar lalu tanah yang belum tergali muncrat ke atas. Bersamaan dengan itu dua tangan menyembul dari dalam liang kubur, mencuat ke udara, menghantam keras.

Dari tangan sebelah kanan menderu sinar kuning, hitam dan merah. Tangan sebelah kiri tidak memancarkan cahaya, namun deru sambaran angin keras dan dingin. Karena berada paling bawah di dalam kuburan maka dua pukulan itu dengan sendirinya menyambar ke arah sosok Anggini.

"Anggini awas!" tariak Ratu Duyung. dia lipat gandakan tenaga untuk menarik lengan Anggini. Anggini sendiri cepat kerahkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, mengayunkan tubuh melesat ke atas. Namun bagaimanapun kuatnya tarikan Ratu Duyung, bagaimanapun cepatnya Anggini melompat selamatkan diri ke atas, dia hanya mampu menyelamatkan diri dari pukulan sebelah kanan yang memancarkan cahaya merah, kuning dan hitam.

"Bukkk!"

Satu jeritan merobek udara.

Tubuh Anggini mencelat sampai dua tombak. Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur yang berhasil keluar selamatkan diri dari dalam makam sama-sama terpekik. Dua gadis ini serta merta menyambuti tubuh Anggini hingga tidak terbating ke tanah. Wajah cantik cucu Dewa Tuak itu kelihatan pucat. Matanya setengah terpejam kuyu. Dari dela bibirnya mengucur darah.

Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung cepat menggotong Anggini lalu membaringkan gadis itu di samping pondok kayu. Mereka berusaha menolong namun perhatian keduanya terpecah oleh suara tawa bergelak dari arah makam ketiga. Ketika mereka sama palingkan kepala ke arah makam itu, tiba-tiba satu sosok melesat keluar. Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung memandang terbeliak.

Orang yang keluar dari dalam liang makam itu mengenakan baju dan celana hitam. Di sebelah atas dia mengenakan sehelai mantel berwarna hitam. Keningnya diikat dengan sehelai kain merah. Ketika dia berdiri dengan kaki merenggang dan berkacak pinggang, di dada pakaiannya kelihatan gambar gunung berwarna biru dengan latar belakang matahari warna merah serta garis-garis pancaran sinar yang juga berwarna merah.

"Pangeran Matahari!" Dua gadis keluarkan ucapan hampir berbarengan.

"Tapi....." ujar Bidadari Angin Timur kemudian sambil memegang lengan Ratu Duyung. Sepasang matanya terus memandangi si mantel hitam tak berkesip.

"Tapi wajahnya bukan wajah Pangeran Matahari!" kembali Bidadari Angin Timur keluarkan suara. "Orang ini mempunyai ilmu bisa mendekam di dalam tanah. Setahuku Pangeran Matahari tidak memiliki ilmu itu."

"Aneh. Tapi siapapun dia adanya, dia pasti bangsat yang berada di belakang semua kejadian ini. Sejak dari makam pertama, makam kedua dan kini makam ketiga. Jelas dia memang ounya rencana jahat. Untuk mencelakai kita!"

"Tapi mengapa kita? Kita tidak ada permusuhan dengannya!" ujar Bidadari Angin Timur.

"Musuh besarnya memang Pendekar 212. Tapi otak jahatnya punya seribu akal. Bukankah keparat satu ini yang dijuluki Pangeran Segala Cerdik, Segala Akal, Segala Ilmu, Segala Licik, Segala Congkak?!"

"Jahanam betul!" rutuk Bidadari Angin Timur. "Aku akan menemui bangsat itu. Membuat perhitungan dengannya! Lekas tolong Anggini. Totok jalan darahnya. Dia cidera berat di sekitar dada. Nyawanya dalam bahaya. Kalau tidak lekas ditolong kita bisa-bisa kehilangan dirinya."

"Aku akan menolong sebisaku. Kau hadapi orang itu. Hati-hati." Ratu Duyung merasa kawatir. Jika orang itu benar Pangeran Matahari, sanggupkah Bidadari Angin Timur menghadapnya?

Bidadari Angin Timur mengangguk. Sekali melesat, gadis ini sudah berdiri tujuh langkah di hadapan orang bermantel hitam yang tegak di tepi makam ketiga.

"Manusia keparat! Siapa kau?!" bentak Bidadari Angin Timur.

Yang ditanya pandangi wajah cantik jelita di hadapannya sesaat lalu mendongak danmenghirup udara dalam-dalam. "Hemmmm..... Tubuh memancarkan bau wangi. Rambut pirang, wajah jelita. Kau tidak mengenali diriku. Tapi aku tahu siapa dirimu. Bukankah kau dara jelita yang tersohor di delapan penjuru angin itu? Yang bernama Bidadari Angin Timur?"

Bidadari Angin Timur terkejut ketika mengetahui orang mengenali dirinya. "Jadi kau biang racun jahanam di balik munculnya tiga makam setan! Manusia keparat! Apa maksudmu melakukan semua itu?! Apa kau terlalu pengecut memperkenalkan diri?! Ingat, kau telah mencelakai temanku! Aku tidak segan-segan membunuhmu!"

Orang bermantel hitam tertawa gelak-gelak.

"Gadis cantik, yang namanya Bidadari itu selalu bersifat welas asih dan lemah lembut. Tapi kau mengapa begini galak dan malah mengancam hendak membunuhku? Ah, ingin sekali aku tahu bagaimana nikmatnya mati di tangan seorang bidadari! Ha....ha......ha!". Habis tertawa orang bermantel lalu meramkan mata, pasang dada seolah menunggu minta digebuk.

"Jahanam! Kau minta mati! Aku berikan kematian padamu!" teriak Bidadari Angin Timur. Gadis ini salurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan.

Seperti diketahui Bidadari Angin Timur memiliki gerakan luar biasa cepatnya. Hampir tidak kelihatan tangan kanan yang sudah diisi tenaga dalam penuh itu, yang sanggup menjebol tembok tebal menghancurkan batu besar melesat ke arah muka orang bermantel hitam.

Yang diserang tenang-tenang saja, malah sambil tertawa bergelak dan bertolak pinggang dia sengaja menanti datangnya hantaman Bidadari Angin Timur!

Hanya satu jengkal lagi jotosan Bidadari Angin Timur akan menghancurkan mukanya, tiba-tiba orang bermantel tekuk sepasang lutut, rundukkan kepala dan dua tangannya dipukulkan ke depan. Satu mengarah dada, satu mencari sasaran di perut Bidadari Angin Timur.

"Pukulan Dua Singa Berebut Matahari! Murid jahanam! Kau pernah punya niat membunuhku! Aku tidak rela kau pergunakan ilmu itu!"

Satu seruan keras menggeledek di puncak gunung. Satu auman menggelegar dahsyat lalu satu bayangan merah berkelebat. Dua larik angin menderu, satu mendorong Bidadari Angin Timur hingga terjajar jauh ke kiri satunya lagi membuat orang bermantel hitam tersurut tiga langkah. Bidadari Angin Timur selamat dari dua pukulan maut, berdiri setengah tertegun dengan muka pucat. Memandang ke depan dia melihat satu mahluk aneh berdiri di antara dia dengan orang bermantel hitam. Mahluk ini memiliki tubuh tinggi besar seperti manusia. Tapi kepalanya tertutup rambut merah berjingkrak. Ketika Bidadari sempat melihat sepasang matanya, gadis ini jadi merinding. Mata itu memiliki bola mata pipih berwarna kelabu, seperti mata binatang! Bidadari Angin Timur tak dapat memastikan apakah mahluk ini manusia betulan atau manusia seetengah binatang, menyerupai singa?

"Pangeran Miring! Kaukah ini?!" Tiba-tiba mahluk menyerupai singa menegur. Tapi kemudian wajahnya menunjukkan bayangan rasa heran. Dalam hati dia berkata "Sosok dan pakaiannya memang dia. Tapi mengapa wajahnya berubah? Mungkinkah dia....."

Orang bermantel hitam tampak kaget tapi hanya sebentar. Dia layangkan pandangan dingin, rahang menggembung.

"Kau tidak menjawab berarti kau memang Pangeran Miring yang kabur dari jurang di Teluk Penanjung! Akhirnya kutemui juga kau! Jangan harap bisa lolos! Saat ini juga kau harus ikut aku ke Teluk!"

Orang yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Miring keluarkan suara mendengus. Lalu meludah ke tanah.

"Singo Abang! Kau datang mencari mati! Aku akan tamatkan riwayatmu dengan ilmu yang kau ajarkan padaku! Terima kematianmu!" Begitu ucapannya selesai orang bermantel hitam langsung hantamkan dua tangannya ke depan. Seperti tadi menyerang Bidadari Angin Timur, kembali dia keluarkan pukulan Dua Singa Berebut Matahari. Hanya kali ini pukulan maut tersebut dilancarkan dengan tenaga dalam lebih dahsyat!

Mahluk berambut merah yang diserang keluarkan suara mengaum. Lalu balas memukul. Pada saat itu pula satu bayangan putih melesat di udara. Menyusul satu bentakan.

"Apa yang terjadi di tempat ini?! Siapa berani berlaku kurang ajar mengotori puncak Gunung Gede tempat kediaman Eyang Sinto Gendeng?!"

Begitu bentakan lenyap satu gelombang angin dahsyat topan prahara melabrak tempat itu. Lalu bummm! Tiga tenaga dalam tinggi saling bentrokan. Puncak Gunung Gede laksana mau meledak. Pasir dan debu beterbangan ke udara. Daun-daun pepohonan luruh ke tanah. Terdengar suara mengaum. Ada yag berteriak kaget. Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung keluarkan seruan tertahan.

Dalam gelapnya pemandangan akibat tebaran debu dan pasir terdengar suara mengaum lalu bentakan garang.

"Pangeran Miring! Kau mau kabur ke mana!"

Satu bayangan merah berkelebat di dekat Ratu Duyung. Satu suara berucap. "Berikan obat ini pada gadis yang cidera." Suara lenyap, bayangan merah ikut lenyap.

Samar-samar kelihatan dua sosok berkelebat ke arah timur. Ketika udara terang kembali ternyata orang yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Miring dan sosok mahluk setengah manusia setengah singa yang tadi ada di tempat itu kini lenyap tak kelihatan lagi! Yang ada di depan sana adalah sosok seorang pemuda gagah berambut gondrong, berpakaian putih kotor, mengenakan celana robek besar di bagian paha. Dadanya tampak turun naik akibat bentrokan tenaga dalam yang hebat.

"Wiro!" Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur sama-sama berseru. Sama-sama tak percaya pada pemandangan mereka karena siapa menduga Pendekar 212 akan muncul di tempat itu.





TUJUHPendekar 212 WS melompat mendekati Bidadari Angin Timur. "Wiro, aku seperti tak percaya......" kata si gadis. Ada rasa haru dalam kegembiraan hatinya. Saat itu ingin sekali dia memeluk orang yang selama ini dirinduinya. Kalau saja di tempat itu tidak ada Ratu Duyung dan Anggini tidak dalam keadaan cidera berat mungkin dia sudah melakukan hal itu. paling tidak memegangi tangan si pemuda.

Murid Sinto Gendeng tersenyum. Dipegangnya bahu Bidadari Angin Timur. Sentuhan tangan itu bagi si gadis merupakan satu kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Diremasnya jari-jari tangan Wiro yang memegang bahunya. "Aku.... Maksudku kami mencarimu di mana-mana. Kami mencarimu hampir di setengah tanah Jawa. Kami mendatangi dua makam aneh. Ini makam ketiga......"

"Aku sudah mendengar cerita tentang dua makam itu. Agaknya aku datang terlambat." Wiro memandang ke arah Ratu Duyung yang saat itu pura-pura menyibukkan diri menolong Anggini yang tergeletak di tanah. Sebenarnya hatinya tak sanggup menahan cemburu ketika melihat Wiro memegang bahu Bidadari Angin Timur dan Bidadari Angin Timur memegang jari-jari tangan pemuda itu. Dirinya merasa seperti tidak diacuhkan, seolah dia tidak ada di tempat itu. Murid Sinto Gendeng memaklumi perasaan Ratu Duyung.

Wiro turunkan tangannya dari bahu Bidadari Angin Timur. Diikuti si gadis dia melangkah cepat ke tempat Anggini tergeletak.

"Ratu Duyung," tegur Wiro. Dibelainya rambut gadis itu lalu duduk di sebelahnya. Kini Bidadari Angin Timur yang dirayapi rasa cemburu. "Anggini...." Wiro pegang lengan Anggini. Masih terasa denyutan nadinya walau agak lemah. Dua mata Anggini terbuka sedikit. Samar-samar dia melihat wajah sang pendekar. Ada rasa tak percaya. Dua mata terbuka membesar.

"Wiro....." hanya ucapan perlahan menyebut nama si pemuda yang keluar dari mulut Anggini. Lalu kepala cucu Dewa Tuak ini terkulai. Matanya terkatup. Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung berseru kaget karena menyangka Anggini telah menghembuskan nafas terakhir. Dan gadis ini merangkuli tubuh Anggini. Ratu Duyung mulai sesenggukan.

"Tak perlu kawatir. Dia cuma pingsan," kata Wiro yang masih memegang dan merasakan denyutan di lengan Anggini. Wiro lalu memeriksa keadaan Anggini dengan cepat. Ketika dia menyingkapkan sedikit pakaian si gadis di bagian dada kelihatan tanda merah kebiruan. "Dia menderita luka dalam cukup parah." Wiro segera menotok beberapa jalan darah di tubuh Anggini lalu kerahkan hawa sakti, dialirkan ke dalam tubuh si gadis. "Apa yang terjadi?!" tanya Wiro kemudian.

Ratu Duyung memandang pada Bidadari Angin Timur, memberi tanda dengan anggukan kepala agar Bidadari Angin Timur saja yang memberi keterangan. Bidadari Angin Timur lalu menuturkan semua kejadian sejak mereka mulai menjejakkan kaki di tempat itu.

Wiro merasakan dadanya sesak. Matanya memandang terbeliak ke arah kubur di seberang sana. "Puti Andini......" katanya serak. "Puti Andini.....mati? Ya Tuhan. Apa yang terjadi? Siapa yang membunuhnya?" Wiro berdiri, tinggalkan tiga gadis itu, melangkah menuju makam di mana Puti Andini dikubur. Dia pegangi tanah merah kuburan. Matanya dipejamkan. Sekujur tubuh bergetar.

"Tuhan, umur manusia memang kuasaMu. Tetapi aku tidak rela Puti Andini menemui kematian seperti ini. Aku bersumpah akan menghancurkan kepala manusia yang melakukan perbuatan keji biadab ini! Puti Andini...... Ah....." Saat itu semua peristiwa yang dialaminya di pelupuk mata Pendekar 212 WS. Sepasang mata sang pendekar kelihatan berkaca-kaca. "Puti Andini, aku banyak sekali berhutang budi padamu. Bahkan berhutang nyawa. Belum sempat aku membayar semua itu, kini kau telah tiada. Ya Tuhan, dia gadis baik..... Mengapa kau panggil dia secepat ini......?'

Bidadari Angin Timur dan Ratu Duyung sama berlinang air mata mendengar desah ucapan Pendekar 212. Wiro berpaling pada kedua gadis itu. Suaranya serak.

"Katakan siapa yang membunuh Puti Andini? Kalian tahu siapa orangnya?'

"Kami tidak dapat memastikan," jawab Bidadari Angin Timur. "Tapi ada dugaan pelakunya adalah orang yang sebelumnya mendekam dalam makam ketiga."

"Siapa?! Siapa orangnya? Bagaimana ciri-cirinya?!" tanya Wiro.

"Dia berpakaian serba hitam. Mengenakan mantel hitam. Ada ikat kepala kain merah di keningnya....." menjelaskan Ratu Duyung.

"Di dada bajunya ada gambar gunung biru dan matahari merah," menambahkan Bidadari Angin Timur.

"Apa?!" Wiro tersentak kaget sampai terlonjak berdiri. Dua matanya terbeliak, tak berkesip pandangi dua gadis di depannya. "Hanya ada satu manusia yang mengenakan pakaian seperti itu. Si jahanam Pangeran Matahari!" Wiro berkata setengah berteriak. Dua tangan dikepalkan dan dua kakinya tiba-tiba melesak ke dalam tanah sampai mata kaki! "Aku akan mencari jahanam itu sampai ke neraka sekalipun!"

"Wiro," kata Bidadari Angin Timur. "Tadinya aku dan Ratu Duyung memang mengira orang itu adalah Pangeran Matahari. Tapi cuma pakaiannya saja yang sama. Wajahnya bukan wajah Pangeran Matahari ....."

"Apa?! Mana mungkin orang dengan ciri-ciri pakaian seperti itu bukan Pangeran Matahari. Aku tahu dia masih hidup! Aku menemuinya di Teluk Penanjung beberapa waktu lalu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.199.178
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia