Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : BADIK SUMPAH DARAH

TIBA-TIBA SECARA ANEH TEMPAT TIDUR BESAR ITU BERGERAK MELUNCUR MENDEKATI WIRO. DEMIKIAN DEKATNYA HINGGA WIRO DAPAT MELIHAT JELAS KECANTIKAN WAJAH DAN KEBAGUSAN TUBUH NYI RORO MANGGUT. "KAU MASIH INGIN MENOLAK, PENDEKAR 212? AKU TAHU HATIMU BIMBANG. DI DALAM DIRIMU ADA HATI NURANI YANG DIBUNGKUS OLEH SATU HASRAT YANG TIDAK BISA KAU INGKARI. TIDURLAH DI SAMPINGKU. KITA SUDAH MENJADI SEPASANG SUAMI ISTRI. AKU SIAP MELAYANIMU." NYI RORO ULURKAN TANGANNYA. WIRO GARUK-GARUK KEPALA. DALAM HATI DIA BERKATA. "NGACOK! KAPAN NIKAHNYA AKU SAMA DIA!" "WIRO...." "MAAFKAN AKU NYI RORO. AKU SUDAH MELUPAKAN UNTUK MENDAPATKAN ILMU MERAGA SUKMA ITU. AKU AKAN BERUSAHA MENCARI CARA LAIN UNTUK MENYELAMATKAN BUNGA." NYI RORO MANGGUT TURUN DARI TEMPAT TIDUR. BERDIRI DI HADAPAN WIRO DAN PEGANG PUNDAK SI PEMUDA DENGAN KEDUA TANGANNYA. TIBA-TIBA NYI , RORO MANGGUT DEKATKAN MULUTNYA KE WAJAH SANG PENDEKAR.

ADIPATI Salatiga Jatilegowo memacu kudanya sekencang yang bisa dilakukan. Sosok Nyi Larasati tergeletak melintang di atas pangkuannya. Dalam hati orang ini merutuk tak henti-henti.

"Kurang ajar! Bagaimana kakek jahanam itu bisa mengikuti aku sampai ke sini? Kalau dia berlaku nekad terpaksa aku menghabisinya!"

Jatilegowo berpaling ke belakang. Dua prajurit yang ikut bersamanya masih belum kelihatan. Hatinya merasa tak enak.

"Jangan-jangan mereka telah menemui ajal di tangan jahanam itu," pikir sang Adipati. Dia berusaha mempercepat lari kudanya. Tapi dengan beban dua orang seperti itu sang kuda tidak mampu lagi berlari lebih cepat walau didera sekalipun.

Sebelumnya Jatilegowo punya rencana begitu berhasil mendapatkan Nyi Larasati dia akan membawa janda itu ke Salatiga. Di sana akan diadakan perhelatan pesta perkawinan sekaligus pengumuman penggabungan Kadipaten Temanggung dan Kadipaten Salatiga di bawah kekuasaannya sesuai dengan persetujuan Sri Baginda. Tapi dengan kemunculan kakek berambut biru yang tidak diduganya sama sekali, dia terpaksa merubah rencana. Kuda diarahkan ke selatan menuju Bandongan. Di desa itu dia memiliki sebuah rumah yang selama ini ditinggal kosong.

Ketika sang surya terbit di timur, kemudian bergerak naik memancarkan sinarnya yang benderang dnn mulai hangat, Jatilegowo merasa agak loga. Tak ada yang mengejarnya. Lari kudapun diperlambat. Sebelum tengahari dia memperkirakan akan sampai di Bandongan. Dugaannya tidak meleset. Sebelum mentari mencapai titik tertinggi Jatilegowo bersama janda boyongannya telah memasuki Desa Bandongan.

Rumah kosong milik Jatilegowo terletak di bibir lembah subur berpemandangan indah. Ada satu aliran air jernih tak berapa jauh dari rumah itu. Jatilegowo hentikan kudanya dekat aliran air. Binatang itu dibiarkan mereguk air segar. Dia sendiri menggendong Nyi Larasati yang masih berada dalam keadaan tertotok, melangkah menuju rumah.

Di depan pintu rumah Jatilegowo hentikan langkah. Sunyi. Sang Adipati menyeringai. Dia suka akan kesunyian seperti itu. Dengan kaki kirinya dia kemudian mendorong daun pintu yang terbuat dari papan tebal. Pintu terbuka, mengeluarkan suara berkereketan. Jatilegowo melangkah masuk. Tapi baru satu kaki menginjak lantai rumah, tiba-tiba dari dalam terdengar suara tawa mengekeh. Membuat Jatilegowo tersentak dan cepat tarik kakinya ke belakang.

"Jatilegowo! Aku sudah bilang. Dunia ini kecil dan sempit. Kau masih berlaku nekad hendak mencoba lari dariku? Mana mungkin! Mana mungkin! Ha... ha... ha!"

Kejut Jatilegowo seperti disambar petir. Dia segera melompat mundur, keluar dari dalam rumah. Dia maklum, bahaya besar mengancam di depan mata. Tubuh Nyi Larasati cepat-cepat diletakkan di satu tempat di samping sebuah batu besar. Lalu dia bergerak mendekati rumah, berhenti tujuh langkah di depan pintu yang terpentang lebar sementara dari dalam rumah masih mengumbar suara tawa bergelak.

Jatilegowo kertakkan rahang. Tinju kanan dikepalkan.

"Sarontang! Keluarlah! Katakan apa maumu!"

Berteriak Jatilegowo. Tangan kanannya ditempelkan ke pinggang kiri di mana terselip sebuah senjata sakti mandraguna. Badik Sumpah Darah senjata yang didapatnya dari seorang kakek sakti di tanah Makassar, bernama Daeng Wattansopeng. (Baca dua Episode sebelumnya yakni "Badik Sumpah Darah" dan "Mayat Persembahan")

Belum lenyap gema teriakan Jatilegowo, suara tawa di dalam rumah sirna. Lalu satu bayangan melesat ke luar pintu, melayang di udara, jungkir balik dua kali untuk kemudian turun ke bawah dnn tegak tiga langkah di hadapan Jatileciowo. Luar biasa sekali gerakan orang ini, pertanda dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sampai pada puncaknya. Dan manusia satu ini ternyata bukan lain kakek berambut biru berminyak.

"Hebat! Dulu kau memanggil aku dengan sebutan kakek Sarontang. Kini Sarontang saja! Hebat! Tapi kurang ajar! Ha... ha... ha!"

Jatilegowo mendengus.

"Perlu apa memakai segala bahasa halus dan peradatan terhadap manusia sepertimu!"

"Oo begitu?! Ha... ha... ha!" Si kakek berambut biru kembali umbar tawa panjang. "Benar rupanya lidah tidak bertulang. Hati bisa menjadi batu. Manusia bicara semaunya sesuai kebutuhan perut dan pantatnya! Ha... ha... ha!"

"Aku muak mendengar suara tawamu! Katakan bagaimana kau bisa mengikuti aku sampai ke sini?!" bentak Jatilegowo.

Sarontang menyeringai.

"Jatilegowo, apa kau lupa?! Aku yang bernama Sarontang ini sebenarnya adalah Aryo Probo, Pangeran Kerajaan Pakubuwon! Aku lebih tahu setiap jengkal seluk beluk Tanah Jawa di kawasan ini dari padamu! Selagi kau masih orok aku sudah malang melintang di daerah ini!"

"Lalu apa maumu mengikuti diriku! Kau inginkan janda muda cantik bernama Nyi Larasati ini?!" Kembali Jatilegowo membentak.

Sarontang tertawa bergelak.

"Kau tanya mengapa aku mengikuti dirimu? Aku punya sejuta alasan! Tapi tidak untuk mendapatkan janda cantik itu. Kau tahu seleraku. Kau pernah bermain cinta denganku! Apa kau lupa?!"

Mendengar ucapan terakhir si kakek Jatilegowo keluarkan suara seperti orang mau muntah. Memang jika dia ingat peristiwa terkutuk itu, rasa jijik membuat perutnya bergulung mual.

"Tua bangka mesum! Dosa bejatmu tak akan terampunkan!"

Sarontang menyeringai.

"Justru aku mengejarmu sejak kau kabur dari Tanah Makassar karena dirimu membawa dua dosa besar pengkhianatan!"

"Hehmm! Kau seperti malaikat yang hendak mengadili insan! Aku kawatir otakmu sudah sejak lama miring Sarontang!"

Diejek orang begitu rupa si kakek bukannya marah malah kembali umbar tawa panjang.

"Dosa pertamamu! Kau membunuh pemuda bernama Bontolebang yang jadi kekasihku! Kau bunuh secara keji dan mayatnya kau kirimkan padaku sebagai Mayat Persembahan! Sungguh kurang ajar dan keterlaluan! Dosa keduamu! Kau membawa kabur Badik Sumpah Darah asli. Memberikan badik palsu padaku! Dua dosa itu sudah cukup alasan bagiku untuk menguliti tubuhmu saat ini juga!"

Jatilegowo sunggingkan seringai mengejek.

"Tadi kau berlaku seperti malaikat. Kini seperti tukang potong sapi hendak menguliti diriku! Jangan bicara ngacok di hadapanku Sarontang!

Kalau mau gila pergilah ke tempat lain! Aku nasihatkan, sebaiknya kau lekas angkat kaki dari hadapanku sebelum kuhabisi! Pangeran Aryo Probo, apa kau tidak sayang tahta kerajaan yang selama ini kau inginkan? Apa kau benar-benar ingin mampus sebelum merasakan bagaimana nikmatnya jadi Raja? Bagaimana nikmatnya duduk di atas tahta Kerajaan dalam Keraton yang indah dan serba mewah? Dengan permaisuri serta dikelilingi para gundik yang canti-cantik?!"

Sarontang hanya ganda tertawa.

"Mulutmu ternyata cukup pandai menghasut. Tapi siapa mau mendengar. Hasutanmu hanya tipuan keji karena penuh racun dan bisa. Dengar Jatilegowo, aku datang untuk minta Badik Sumpah Darah asli. Serahkan padaku sekarang juga! Karena senjata itu aku perlukan untuk mendapatkan tahta Kerajaan!"

Jatilegowo menyeringai lalu gelengkan kepala.

"Aku tidak akan memberikan badik itu pada siapa pun! Juga tidak padamu! Jika kau ingin merampas tahta Kerajaan silakan kau lakukan sendiri. Aku kawatir tahta yang kau idamkan selama ini akan menjadi tahta berdarah! Kau akan menemui kematian sebelum berhasil menyentuhnya!"

"Bicara soal kematian mungkin kau yang bakal mampus duluan dariku, Jatilegowo! Kecuali kau mau menyerahkan badik itu padaku sekarang juga! Serahkan!"

"Tua bangka takabur! Kau akan kubuat mati tak berkubur!" bentak Jatilegowo. Habis berkata begitu Adipati Salatiga ini menggebrak maju, hantamkan tangan kiri kanan ke arah dada si kakek.

"Bukk... bukkk... bukkk... bukkk!"

Empat jotosan kilat, keras dan bertenaga dalam tinggi melanda dada Sarontang. Jangankan terpental atau menjerit kesakitan, bergeming sedikit pun sosok si kakek tidak. Di wajahnya sama sekali tidak membersit kerenyit kesakitan! Malah Sarontang kemudian tertawa bergelak.

Kagetlah Jatilegowo. Jotosannya tadi jangankan manusia. Tembok batu sekali pun bisa jebol hancur!

Sarontang masih umbar tawa bergelak. Tiba-tiba dia angkat tangan kanannya ke atas lalu berseru.

"Anak-anak! Bunuh manusia pengkhianat ini!"

Begitu ucapan Sarontang berakhir tiba-tiba menggemuruh suara aneh menggidikkan. Seperti raungan anjing tapi juga menyerupai lolongan manusia!

Jatilegowo tersentak kaget dan mundur dua langkah. Dia ingat peristiwa di Gunung Lompobatang. Sarontang mempunyai peliharaan manluk-mahluk aneh. Pada saat-saat tertentu mahluk-mahluk itu diberinya makan berupa burung-burung yang beterbangan di udara. Apakah dia membawa serta mahluk-mahluk peliharaannya itu ke Tanah Jawa? Jatilegowo tidak pernah melihat bagaimana bentuk mahluk-mahluk peliharaan Sarontang itu. Dia mendongak ke atas. Suara menggemuruh semakin keras. Lalu dia melihat puluhan benda aneh melesat dari langit seolah keluar dari perut matahari!

"Wuuuttt... wuuuttt!"

"Bettt... betttt!"

"Kraakk... kraaakkk!"

"Bukkk! Byaaarrr!"

Puluhan mahluk menyambar ke arah Jatilegowo. Adipati Salatiga ini cepat jatuhkan diri ke tanah lalu cepat pula bangkit berdiri. Ketika dia berhasil bangkit dan memandang ke depan, pucatlah tampang Jatilegowo.

Dua buah pohon cukup besar di depan sana berpatahan lalu tumbang ke tanah. Di samping dikir tak jauh dari aliran air, batu besar di dekat mana dia membaringkan Nyi Larasati hancur berkeping-keping. Suara raung dan lolongan kembali menderu. Di udara berlesatan puluhan mahluk menyerupai kelelawar tapi memiliki dua tangan berkuku panjang hitam seperti manusia dan kepala menyerupai srigala bertaring penuh lumuran darah!

Seumur hidup Jatilegowo tidak pernah melihat mahluk aneh dan seram seperti ini. Kelelawar bukan, manusia bukan, srigala juga bukan! Dan inilah rupanya yang disebut Sarontang sebagai anak anak peliharaannya. Yang sanggup menabas batang pohon, menghancurkan batu besar!

"Bunuh!"

Tiba-tiba Sarontang berteriak.

"Wuutt... wuuttt!"

"Beettt... beettt!"

Puluhan mahluk aneh menukik ke bawah, melesat menyambar menyerang dengan mengeluarkan suara mengerikan. Jatilegowo merunduk, sambil jatuhkan diri dia hantamkan dua tangan ke atas. Dia berhasil memukul dua mahluk aneh hingga terpental. Tapi dua mahluk itu tidak cidera sedikit pun malah meraung melolong tambah beringas. Jatilegowo sendiri ketika berusaha bangkit terkejut pucat ketika melihat bagaimana lengannya kiri kanan telah bergelimang darah, ternyata di balik lengan pakaian birunya yang robek besar, daging tangannya telah terkuak koyak, entah kena cakaran entah disambar taring mahluk-mahluk aneh.

"Bunuh!"

Kembali terdengar Sarontang berteriak.

Raung dan lolongan mahluk aneh semakin hebat. Puluhan berkelebat, menyambar ke arah Jatilegowo. Dalam takutnya Jatilegowo ikut berteriak keras. Di saat genting mengerikan begitu rupa dia ingat pada senjata sakti mandraguna yang tersisip di pinggang kirinya. Tangan kanannya yang berlumuran darah segera bergerak ke pinggang. Di lain kejap di udara siang yang terang benderang itu berkiblat sinar biru kehitaman.

"Craass... crassss... craasss!"

Raung lolongan menggelegar keras menggidikkan.

Darah berciparatan di udara.

Enam mahluk aneh jatuh berkaparan di tanah dalam keadaan terkutung-kutung, meraung sambi! meronta geliatkan tangan, melolong delikkan mata lalu melosoh diam tak berkutik lagi.

Sarontang menggerung keras saksikan enam anak-anak peliharaannya menemui kematian begitu rupa. Dalam marah yang menggelegak matanya terkesima melihat benda di tangan kanan Jatilegowo. Badik Sumpah Darah! Senjata itu bergelimang darah. Darah berasal dari luka besar di tangan Jatilegowo bercampur darah yang berasal dari pembantaian tubuh anak-anak peliharaannya!



ASAP kelabu mengepul keluar dari ubun-ubun Sarontang. Sepasang matanya berubah merah tapi tampak berkaca-kaca. Mulutnya berkomat kamit merapal sesuatu. Tiba-tiba mulut itu berteriak.

"Bunuh!"

Sunyi sesaat lalu puluhan mahluk aneh yang melayang di udara mendadak berubah menjadi besar, hampir dua kali besar semula. Dari kepala masing-masing mengepul asap kelabu seperti yang keluar dari ubun-ubun Sarontang. Kesunyian hanya sekejapan. Sesaat kemudian didahului gemuruh raung lolongan puluhan mahluk itu melesat menyerbu ke arah Jatilegowo. Meski panik setengah mati melihat apa yang terjadi tapi Jatilegowo berusaha tabahkan diri. Di tengah serbuan puluhan mahluk aneh, dua kakinya laksana menancap ke tanah. Tangan yang memegang Badik Sumpah Darah dihantamkan ke atas. Sinar biru kehitaman menderu dahsyat, membentuk lingkaran membentengi Jatilegowo dari setiap serbuan mahluk halus.

"Wuuuttt... wuttt...!"

"Bett... bettt...."

"Craasss... craasss... craasssi"

Sarontang menjerit keras ketika meiihat bagaimana anak-anak peliharaannya satu persatu terpental, jatuh ke tanah dalam keadaan mati terkutung-kutung.

"Celaka! Badik Sumpah Darah tidak bisa dibuat main!" Dada Sarontang bergetar. Selagi dia terkesima kembali mahluk-mahluk aneh peliharaannya mati berjatuhan di depan mata.

"Anak-anak! Pulang!" Sarontang akhirnya berteriak.

Lolongan dan raungan menggelegar lalu terdengar suara sayap bergelepakan. Sesaat kemudian belasan mahluk aneh yang masih hidup melesat tinggi ke udara, berputar di atas kepala Sarontang dua kali lalu melesat ke arah timur hingga akhirnya lenyap dari pemandangan. Kini di tempat itu kembali hanya tinggal Sarontang dan Jatilegowo serta Nyi Larasati yang terbujur di dekat batu besar yang telah hancur. Dalam keadaan tertotok tak bisa bergerak tak bisa bersuara janda cantik ini menyaksikan semua apa yang terjadi. Tadinya dalam hati dia berharap kakek berambut biru berminyak itu akan mampu mengalahkan Jatilegowo hingga dia punya kesempatan untuk selamat. Tetapi begitu melihat bagaimana mahluk-mahluk aneh peliharaan si kakek akhirnya terbang melarikan diri, rasa takut kembali menyelimuti diri Nyi Larasati.

"Sarontang! Kau telah menyaksikan apa yang terjadi!" Tiba-tiba Jatilegowo keluarkan ucapan. "Aku memberi kesempatan padamu untuk meninggalkan tempat ini!"

Sarontang tak segera menjawab. Dalam hati dia membatin. "Badik itu, aku harus bisa merampas dari tangannya." Lalu si kakek berkata. "Aku baru pergi dari sini kalau kau mau menyerahkan badik itu!"

"Tua bangka tak tahu diri! Diberi pengampunan malah minta mampus!"

Sarontang tak mau menunggu lebih lama. Begitu orang membentak kakek ini segera melesat ke depan. Tangan kanannya dihantamkan. Kepala digoyangkan. Lilitan tali yang terbuat dari usus manusia yang ada di keningnya melesat menyambar laksana cambuk ke arah leher Jatilegowo. Bersamaan dengan itu si kakek kirimkan serangan susulan berupa tendangan ke arah dada lawan.

Seperti diketahui Sarontang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang sudah sampai pada puncaknya. Gerakan tiga serangannya yang laksana kilat itu mau tak mau membuat Jatilegowo tersentak kaget. Cepat dia membuat gerakan mengelak sambil babatkan Badik Sumpah Darah.

Hantaman tangan serta sambaran lilitan tali berhasil dielakkan Jatilegowo. Malah badik sakti di tangan kanannya nyaris mendera paha kanan Inwan. Entah bagaimana tahu-tahu kaki kanan si knkek mendadak terangkat ke atas. Tendangan ynng tadi mengarah dada kini melabrak bahu kniinn Jatilegowo, membuat Adipati Salatiga ini terpental dan terjengkang jatuh. Sarontang tidak sia-siakan kesempatan. Selagi lawan masih terkapar di tanah begitu rupa dia lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung hawa sakti. Pukulan dahsyat ini memancarkan cahaya kelabu karena dialiri tenaga dalam tinggi. Jatilegowo tidak punya kesempatan untuk selamatkan diri.

"Jahanam keparat! Makan badikku!"

Dalam saat genting begitu rupa Jatilegowo kerahkan tenaga dalam lalu babatkan Badik Sumpah Darah. Cahaya biru kehitaman yang keluar dari badik sakti langsung berbenturan dengan sinar kelabu pukulan sakti Sarontang.

Anehnya benturan dahsyat itu tidak mengeluarkan suara letusan. Yang kelihatan hanya bunga api berpijaran lalu terdengar keluhan Sarontang. Kakek berambut biru berminyak ini terjajar ke belakang sambil satu tangan memegangi kening, sementara tangan lain diletakkan di atas dada. Tali yang melibat kening dan dipergunakan sebagai senjata untuk menyerang lawan telah berubah menjadi kepulan arang. Pada kulit kening si kakek kelihatan garis melingkar merah kehitaman seolah daging di kening itu telah ditoreh dengan besi panas. Lalu dari mulut Sarontang mengucur lelehan darah pertanda dia menderita luka dalam yang cukup parah.

"Aku tahu betul, keparat ini tidak memiliki tenaga dalam tinggi. Bagaimana dia bisa menciderai diriku di sebelah dalam. Pasti dia mendapatkan kekuatan dahsyat dari badik yang dipegangnya!' mambantin Sarontang.

"Manusia jahanam! Aku mengadu jiwa denganmu!" Berteriak Sarontang. Lalu dengan nekad kakek ini menerjang ke arah lawan sambil dua tangan membuat gerakan aneh, didorong ke depan.

"Wuss! Wusssi"

Sepuluh kuku jari tangan Sarontang mendadak mencuat panjang, memancarkan cahaya hitam. Menyambar ganas ke leher dan muka Jatilegowo. Inilah ilmu yang disebut "Sepuluh Kuku Setan." Di Tanah Bugis dan Makassar ilmu ini menjadi momok nomor satu bagi para tokoh persilatan baik golongan putih maupun hitam.

"Breett!"

Leher baju biru Jatilegowo robek besar. Kalau tidak cepat dia menarik badannya ke belakang niscaya lehernya akan amblas berbusaian disambar lima kuku hitam tangan kanan Sarontang.

Melihat serangan lima kuku tangan kanannya hampir berhasil mencelakai lawan, Sarontang lipatgandakan kekuatan dorongan serangan lima kuku tangan kiri.

Namun saat itu tiba-tiba satu cahaya biru kehitaman berkelebat ganas. Sarontang maklum apa yang dilakukan lawan. Cepat kakek ini mundur dua langkah sambil tarik serangan tangan kiri. Namun terlambat.

"Craa... crass... crass... crass... crasss!"

Sarontang melompat mundur sambil keluarkan pekik kesakitan. Lima jari tangan kanannya kepulkan asap biru. Bersamaan dengan itu hawa panas luar biasa menggerogoti tangan kirinya. Dia merasa tangan itu laksana lumer. Sarontang kucurkan keringat dingin, kerahkan tenaga menahan sakit. Ketika diperhatikan dia saksikan bagaimana lima kuku jari tangan kirinya terbabat putus. Sisa kuku yang masih menempel di ujung-ujung jari tampak hangus kehitaman dan mengepulkan asap.

Jatilegowo tertawa bergelak.

"Sarontang kakek mesum! Umurmu tak bakal lama! Racun badik akan merasuk ke dalam tubuhmu, menghancurkan pembuluh darah menjebol jantungmu! Ha... ha... ha!"

Pucatlah wajah tua Sarontang. Dia tahu Jatilegowo tidak bisa dusta. Racun Badik Sumpah Darah yang berasal dari Pohon Tuba jahat luar biasa. Sekali racun itu masuk ke dalam tubuh tidak satu mahluk hidup pun bisa bertahan.

"Jahanam!" rutuk Sarontang. Dia gerakkan tangan kanannya ke tangan kiri. Lalu kraakk! Sarontang pelintir dan tanggalkan tangan kirinya sendiri sebatas pergelangan! Kutungan tangan kiri ketika dicampakkannya ke tanah telah berubah menjadi sangat hitam. Dia masih beruntung. Walau tangan kirinya kini hancur buntung tapi racun jahat Badik Sumpah Darah tidak sampai masuk ke dalam tubuhnya!

Jatilegowo tertawa mengekeh.

"Sarontang. Kau memang bisa selamat dari racun badik, tapi kau tidak bisa selamat dari badiknya sendiri!"

Habis berkata begitu Jatilegowo melompat ke depan sambil kirimkan satu tusukan ganas. Tapi Sarontang yang sudah tahu gelagat cepat melesat ke udara. Kakek ini sengaja melesat ke atas satu pohon besar, lalu berpindah ke pohon lain dan akhirnya lenyap dari pemandangan. Jatilegowo yang tidak punya kemampuan untuk berbuat seperti itu, tak bisa melakukan pengejaran. Dia hanya menyumpah habis-habisan. Saat ini dia memang bisa membuat si kakek tak berdaya dan melarikan diri. Namun dia maklum satu saat orang tua itu akan muncul kembali untuk dapatkan Badik Sumpah Darah dan membunuh dirinya. Selama Sarontang masih hidup dia akan merasa tidak tenteram.

Untuk beberapa lamanya Jatilegowo memandang ke arah lenyapnya si kakek di atas deretan pohon-pohon sebelah sana. Kemudian dia perhatikan koyakan iuka pada dua tangan kiri kanan. Dengan badik yang dipegang di tangan kanan Jatilegowo ucapkan senjata itu ke tangan kiri. Asap biru kehitaman mengepul. Ketika asap lenyap, luka mengerikan di tangan kirinya ikut lenyap.

Jatilegowo menyeringai. Dia letakkan Badik Sumpah Darah di kening lalu cium senjata sakti mandraguna itu. Badik kemudian dipindah ke tangan kiri. Lalu seperti tadi senjata sakti mandraguna ini diusapkan ke tangan kanan yang luka parah akibat serangan mahluk-mahluk halus peliharaan Sarontang. Asap biru mengepul, begitu asap sirna, luka di tangan kanan Jatilegowo ikut lenyap. Kembali Jatilegowo letakkan badik sakti di atas kening. Sambil mencium senjata itu dia berkata. "Terima kasih badik sakti. Aku akan menjaga dirimu baik-baik. Harap kau juga mau menjaga diriku baik-baik."

Mendadak ada suara derap kaki kuda meninggalkan tempat itu. Jatilegowo tersentak kaget. Dia ingat pada Nyi Larasati. Secepat kilat dia melompat ke balik hancuran batu besar di mana tadi dia membaringkan janda itu. Seperti disambar petir begitu terkejutnya Adipati Salatiga ini ketika dapatkan sosok Nyi Larasati tak ada lagi di tempat itu.

"Jahanam! Siapa berani mati punya pekerjaan! Nyi Lara! Nyi Lara! Di mana kau?" teriak Jatilegowo. Dia memandang berkeliling. Kuda besar miliknya masih ada di tempat itu. Tadi dia mendengar suara derap kaki kuda. Berarti orang melarikan Nyi Lara menunggang kuda. Siapa? Mungkin Sarontang yang kembali lagi secara tak terduga, membawa kuda dan menculik Nyi Larasati?

"Tidak mungkin setan tua keparat itu," ujar Jatilegowo dalam hati. "Tak mungkin dia. Lalu siapa...?" Jatilegowo tak bisa menjawab. Dia hanya bisa menyumpah habis-habisan lalu melompat ke atas kudanya. Bintang ini segera dipacu ke arah lenyapnya suara derap kaki kuda tadi.



DALAM Episode sebelumnya (Tahta Janda Berdarah) diceritakan bahwa Wiro minta pertolongan Ratu Duyung untuk mempertemukannya dengan Nyi Roro Manggut. Sesuai petunjuk Kakek Segala Tahu, Nyi Roro memiliki satu-satunya ilmu kesaktian yang bisa dipergunakan Wiro untuk menolong Bunga keluar dari sekapan guci tembaga Iblis Kepala Batu Alis Empat. Ketika Wiro mengutarakan maksudnya Ratu Duyung tidak memberikan jawaban. Menyangka gadis bermata biru ini tidak mau menolongnya karena baru sembuh dan mungkin masih berada di bawah pengaruh petaka besar yang baru dialami yakni dicelakai oleh Nyi Ragil dengan ilmu Mengupas Raga hingga dadanya mengalami luka mengerikan, maka tanpa mau memaksa Wiro akhirnya tinggalkan puncak Bukit Menoreh. Agaknya dia harus berusaha sendiri mencari Nyi Roro Manggut yang konon berdiam di dasar samudera kawasan selatan. Di puncak Bukit Menoreh saat itu ada Bidadari Angin Timur dan Anggini. Bujang Gila Tapak Sakti telah pergi duluan ke Temanggung.

Tidak dinyana ternyata Ratu Duyung mengejar Wiro dan berhasil menyusul sang pendekar di satu tempat. Kepada Bidadari Angin Timur dan Anggini Ratu Duyung sebelumnya dia memberi tahu karena ada satu keperluan di Kotaraja maka dia terpaksa meninggalkan dua gadis sahabatnya itu.

"Menurutmu...." berkata Bidadari Angin Timur pada Anggini sesaat setelah Ratu Duyung tinggalkan Bukit Menoreh. "Apakah dia benar-benar pergi ke Kotaraja?"

Anggini tersenyum.

"Kau bisa menduga sendiri. Menurutmu bagaimana?" balik bertanya murid Dewa Tuak.

"Kita sama tahu," jawab Bidadari Angin Timur. "Antara Ratu Duyung dan Bunga sejak peristiwa Wiro menolong Ratu Duyung di Puri Pelebur Kutuk telah terjadi perselisihan yang tak mungkin diperbaiki. Bunga berpendapat Ratu Duyung secara licik telah memperdayai Wiro dan berhasil mendapatkan kejantanan pemuda itu. Padahal kita tahu hal tersebut sebenarnya tidak pernah kejadian. Kesembuhan Ratu Duyung dari penyakit kutukan semua karena kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam perselisihan yang masih berlarut-larut, bagaimana mungkin sekarang Ratu Duyung mau dan rela menolong Wiro membebaskan Bunga dari sekapan guci Iblis Kepala Batu?" (Mengenai peristiwa di Puri Pelebur Kutuk harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Tua Gila Dari Andalas" terdiri dari 11 Episode)

Anggini tak segera menjawab. Gadis itu berdiam diri seolah tengah memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian baru Anggini berkata.

"Dari sudut pandanganmu hal itu memang bisa seperti yang kau katakan. Tapi dari sudut pandangan Ratu Duyung sendiri, bukankah ini berarti satu kesempatan baginya untuk lebih mendekatkan diri dengan Wiro?"

"Dengan kata lain kau tidak yakin Ratu Duyung benar-benar pergi ke Kotaraja?"

Anggini menggeleng. "Dia tidak ke Kotaraja. Aku yakin saat ini Ratu Duyung tengah mengejar Pendekar 212 Wiro Sableng!"

"Lalu kita mau berbuat apa?" tanya Bidadari Angin Timur pula sambil melirik pada Anggini.

"Kau punya usul apa, sahabatku?" balik bertanya Anggini.

"Aku bisa pergi ke mana saja aku suka. Namun aku justru memikirkan dirimu."

"Memikirkan diriku?" Anggini berucap heran.

Bidadari Angin Timur mengangguk. "Dalam rimba persilatan sudah bukan rahasia lagi. Hampir semua orang mengetahui kalau gurumu Dewa Tuak ingin menjodohkan dirimu dengan Pendekar 212...."

"Ah, perkara yang satu itu tak usah kita bicarakan," kata Anggini. Selain memang tidak suka membicarakan soal perjodohannya dengan Wiro, Anggini juga maklum kalau Bidadari Angin Timur adalah salah satu dari sekian banyak gadis yang menginginkan pemuda yang dikasihinya itu.

"Kau tak ingin membicarakan perjodohanmu. Tak ingin membicarakan jalan hidupmu di kemudian hari. Itu hakmu, aku tak berani memaksa.Tapi sebagai sahabat, kalau aku boleh bertanya mengapa kau tidak suka membicarakan hal itu...."

"Mengenai perjodohanku dengan Wiro itu hanya maksud baik guruku saja. Dari pihak Wiro dan gurunya Eyang Sinto Gendeng dingin-dingin saja. Menurutmu apakah perjodohan itu bisa dipaksakan?"

"Tentu saja jodoh tidak bisa dipaksakan. Tapi bisa diatur...." jawab Bidadari Angin Timur. "Kita suka orang tak mau. Orang mau kita tak suka. Mana mungkin kejadian?"

"Nah kalau kau bisa berucap seperti itu, berarti kau sudah tahu permasalahannya. Jadi kita tak usah membicarakan berpanjang-panjang. Sekarang hanya tinggal kita berdua di puncak bukit ini. Tak lama lagi pagi segera datang. Apa yang hendak kita lakukan?" bertanya Anggini.

"Kita dimintai pertolongan mencari Pedang Naga Suci 212 oleh Wiro...." kata Bidadari Angin Timur pula.

"Betul, lalu apa yang akan kita lakukan? Ke mana kita akan pergi?" tanya Anggini.

"Sebaiknya kita tinggalkan saja bukit ini. Sambil berjalan kita bisa bicara ke mana kita akan pergi. Tapi jika aku boleh memilih, aku akan pergi ke tempat di mana kira-kira beradanya Pangeran Matahari."

"Mengapa begitu?" tanya Anggini.

"Dia biang racun dari segala malapetaka yang terjadi belakangan ini. Lalu, aku juga tidak akan pernah melupakan bahwa dialah yang telah menghamili lalu membunuh adik kembarku sendiri!" (Mengenai kematian gadis bernama Pandan Arum kisahnya dapat dibaca dalam "Kiamat Di Pangandaran" Episode terakhir dari "Wasiat Iblis" terdiri dari 8 Episode)

Bidadari Angin Timur memegang lengan Anggini. Dua gadis itu menuruni bukit sambil berpegangan tangan. Dalam hati Bidadari Angin Timur muncul selarik kegembiraan. Kini dia tahu pasti bahwa perjodohan antara Anggini dengan Wiro hanya tetap menjadi satu niat belaka, yang tak akan mungkin menjadi kenyataan. Berarti bagi Bidadari Angin Timur seorang saingan dalam memperebutkan cinta Pendekar 212, yaitu gadis bernama Anggini yang saat itu berjalan berdampingan bersamanya, tidak perlu dikhawatirkan lagi. Puti Andini yang juga mencintai Wiro telah meninggal dunia. Bunga gadis alam roh yang bagaimanapun juga sampai kiamat tak mungkin bersatu sebagai suami istri dengan Wiro. Jadi kini hanya Ratu Duyung seorang yang harus diperhatikannya.

"Sahabat, apa yang tengah kau pikirkan sambil melangkah?"

Suara Anggini mengejutkan Bidadari Angin Timur. Gadis ini tersenyum. Tapi tak menjawab.

SANG SURYA mulai condong ke barat ketika Pendekar 212 Wiro Sableng dan Ratu Duyung turun dari biduk kecil yang ditumpanginya sampai di satu muara di kawasan selatan. Kini samudera luas terbentang di hadapan mereka. Ratu Duyung memandang ke langit, memperhatikan letak matahari.

"Kita tunggu sampai sang surya masuk ke tempat tenggelamnya. Pada saat itu kita baru masuk ke dalam laut," kata Ratu Duyung.

"Kenapa tidak masuk sekarang saja?" tanya Pendekar 212.

"Ada hitungannya Wiro...."

"Hitungan? Hitungan apa?" tanya Wiro sambil garuk-garuk kepala.

"Hitungan agar kita sampai pada waktu yang tepat dan baik. Agar maksud dan tujuan bisa terlaksana dengan baik pula...."

"Aku tidak mengerti. Tapi aku menurut apa yang baik menurutmu saja," kata Wiro. Lalu dia meneruskan. "Ingat peristiwa beberapa waktu lalu ketika pertama kali kau membawaku masuk ke dalam laut di pantai selatan ini?"

Ratu Duyung tersenyum. "Apa yang masih kau ingat, Wiro?"

"Waktu itu sehabis pertempuran besar di Pangandaran. Aku naik kereta putih bersamamu. Kereta itu menuruni pantai, masuk ke dalam laut. Aku ketakutan...."

"Kau takut mati. Tapi tidak mati kan?" ujar Ratu Duyung pula sambil tersenyum.

"Sekarang kau tidak membawa kereta. Bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam laut?"

Ratu Duyung tertawa.

"Tanpa kereta kita bisa lebih cepat sampai ke tujuan. Atau mungkin kau punya usul bagaimana caranya kita bisa sampai lebih cepat?"

Pendekar 212 tertawa. Lalu gelengkan kepala.

"Wiro, satu hal harus kau ingat baik-baik," kata Ratu Duyung. "Keadaan samudera kawasan selatan saat ini, dibanding ketika dulu pertama kali kau bersamaku masuk ke sana, jauh berbeda. Dulu aku masih menjadi orang dalam yang bisa bergerak bebas ke mana aku suka. Sekarang setelah aku terlepas dari kutukan berkat pertolonganmu, aku bukan lagi orang dalam. Langkahku terbatas. Gerak gerikku akan diawasi. Jadi kita harus berlaku sangat hati-hati. Jangan sampai berbuat salah atau keliru. Begitu berada dalam air, kau harus mengerahkan Ilmu Menembus Pandang hingga daya penglihatanmu bisa lebih luas. Lalu satu hal lagi. Sebelum kita sampai ke kawasan tempat kediaman Nyi Roro Agung, di dalam air kau tidak akan bisa bicara. Jadi jangan coba-coba membuka mulut. Kecuali kalau kau Ingin perutmu kembung kemasukan air laut!"

"Semua ucapanmu akan kuperhatikan Ratu," kata Wiro pula. "Mengenai Nyi Roro Manggut yang akan kita temui itu. Apakah dia...."

"Ingat, aku bukan lagi orang dalam. Aku punya pantangan. Tidak boleh menerangkan segala sesuatu menyangkut isi samudera kawasan selatan. Mengenai Nyi Roro Manggut, kalau Nyi Roro Agung memberi izin kau akan bertemu sendiri dengan dia. Kau bisa mengajukan seribu satu pertanyaan."

"Bagaimana kalau Nyi Roro Agung tidak memberi izin?" tanya Wiro.

"Berarti kita harus menunggu sampai bulan purnama mendatang. Saat itu biasanya Nyi Roro Agung bersikap baik dan mengabulkan segala sesuatu yang dipinta."

Wiro menarik nafas dalam, menggaruk kepala. Lalu lama sekali dia memandang ke tengah laut sementara sang surya semakin condong ke barat.

"Apa yang tengah kau pikirkan? Apa yang ada dalam benakmu?" bertanya Ratu Duyung.

"Kau ingat sewaktu terjadi pertempuran antara guruku Eyang Sinto Gendeng dengan si gendut Bujang Gila Tapak Sakti di Bukit Menoreh?"

"Saat itu aku masih dalam keadaan terluka berat. Terbaring tak berdaya. Tapi apa yang terjadi sempat kusaksikan semua. Dua orang itu, apa yang terjadi dengan diri mereka. Berkelahi mau saling berbunuhan. Padahal masih satu golongan, dan selama ini ia selalu bersahabat...."

"Orang-orang berkepandaian tinggi memang terkadang suka berlaku aneh," kata Wiro. "Tapi aku yakin mereka tidak ada maksud untuk sungguhan saling membunuh."

"Lalu apa maksud pertanyaanmu tadi, apa kau ingat akan pertempuran mereka?" tanya Ratu Duyung pula.

"Aku pernah mendengar ucapan orang-orang tua. Katanya seorang guru tidak pernah mewariskan seluruh kepandaiannya pada muridnya. Menurutmu bagaimana?"

"Bukan menurutku bagaimana," jawab Ratu Duyung. "Tapi justru aku mau tahu kenapa kau bertanya seperti itu. Agaknya ada satu ganjalan dalam dirimu?"

Wiro menggaruk kepala. Memandang ke tengah laut. "Sudahlah, lupakan saja apa yang aku tanyakan tadi."

Ratu Duyung pegang tangan Wiro. "Jangan kau berkata seperti itu. Apa yang menjadi ganjalan dalam dirimu tidak akan pernah lenyap hanya dengan ucapan seperti itu. Satu ketika hal itu akan muncul kembali...."

"Hemmm.... Baiklah. Akan aku sampaikan apa yang menjadi unek-unekku. Ketika Eyang Sinto Gendeng dibuat panik oleh serangan hawa dingin Bujang Gila Tapak Sakti, guruku itu menyerang dengan dua larik sinar biru yang keluar dari sepasang matanya. Dua sinar itu seperti sepasang pedang raksasa, membabat bersilangan.

Dahsyatnya bukan kepalang. Puncak gunung karang sekali pun kalau kena dihantam pasti akan papas buntung...."

Wiro hentikan ucapannya ketika dilihatnya Ratu Duyung tersenyum.

"Ratu, mengapa kau tersenyum?"

"Aku maklum sudah. Eyang Sinto Gendeng tidak pernah mengajarkan atau memberikan ilmu itu padamu. Itu yang membuat hatimu kecewa dan menjadi ganjalan. Mungkin juga merasa dirimu tidak dipercaya untuk menguasai ilmu itu."

"Apa yang kau katakan memang benar adanya...."

"Eyang Sinto Gendeng pasti punya alasan mengapa tidak mewariskan ilmu itu. Atau belum mewariskan ilmu itu padamu."

Wiro mengangguk.

"Beliau memang pernah berkata. Aku belum pantas, belum bisa dipercaya untuk memiliki ilmu itu," kata Wiro pula. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Munculnya Sinto Gendeng")

"Kalau begitu kau tak perlu kecewa. Satu ketika ilmu luar biasa itu pasti akan diajarkannya padamu."

"Sewaktu Bujang Gila Tapak Sakti dilabrak serangan itu, dalam kejutnya pemuda gendut itu berseru menyebut ilmu yang dikeluarkan Eyang Sinto Gendeng. Sepasang Sinar Inti Roh."

"Wiro sebaiknya kau tak usah menurutkan perasaan. Bukankah ada ujar-ujar mengatakan. Jangan perasaan menipu jalan pikiran...."

Wiro tertawa. Dibelainya punggung Ratu Duyung sehingga gadis bermata biru ini merasa sejuta kebahagiaan. Dua matanya yang biru bagus dipejamkan. Dalam keadaan seperti itu dia berkata.

"Wiro, jika kau masih belum puas, mungkin aku bisa membantu."

"Kau mau meminta guruku agar mengajarkan ilmu Sepasang Sinar Inti Roh itu padaku?" tanya Wiro.

Ratu Duyung gelengkan kepala lalu berkata. "Aku juga memiliki ilmu kesaktian menyerupai ilmu Sepasang Sinar Inti Roh itu. Dua mataku bisa mengeluarkan sinar biru atau hijau, menyambar bersilang seperti sepasang pedang. Tapi dibanding dengan Sepasang Sinar Inti Roh, ilmu yang kumiliki kehebatannya mungkin tidak ada sepersepuluhnya. Kalau kau suka, aku bisa mengajarkan dan memberikan ilmu itu padamu."

"Ratu...." ujar Wiro. "Aku senang sekali mendengar ucapanmu itu. Tapi aku sudah terlalu banyak berhutang budi padamu. Kau telah memberikan beberapa ilmu kesaktian padaku. Aku tak berani menerima budi lebih banyak. Di samping itu sebenarnya aku juga telah memiliki ilmu mirip-mirip seperti yang dipunyai Eyang Wiro. Namanya ilmu Sepasang Pedang Dewa. Aku dapat dari Datuk Rao Basuluang Ameh, seorang mahluk setengah roh setengah manusia yang konon telah meninggal sekitar seratus tahun lalu. tapi jika dibanding dengan ilmu Sepasang Sinar Inti Roh milik guruku, ilmu Sepasang Pedang Dewa agaknya masih berada satu dua tingkat di bawah...."

"Wiro, jika kau bicara perihal budi, ketahuilah budi hanyalah sekedar ucapan. Dari apa yang didapatnya si penerima budi akan menanam dan mendapatkan kebaikan di kemudian hari. Sedang si pemberi budi sendiri tidak kehilangan apa-apa....

"Terima kasih Ratu, aku tak mau membebani diriku dengan terlalu banyak ketanaman budi." Kata Wiro pula sambil memegang lengan Ratu Duyung. Sang Ratu letakkan tangannya di atas tangan Wiro yang memegang lengannya.

"Wiro, aku jadi berpikir. Gurumu memiliki ilmu yang disebut Sepasang Sinar Inti Roh. Kau punya ilmu Sepasang Pedang Dewa, dan aku punya ilmu Sepasang Pedang Sinar Dasar Samudera. Tiga ilmu kesaktian itu memiliki kesamaan. Sama-sama keluar dari dalam mata. Menurutmu apakah ketiganya tidak bersumber pada ilmu yang sama? Warisan dari seorang tokoh sakti mandraguna yang sama?"

Murid Sinto Gendeng garuk-garuk kepalanya.

"Bisa jadi. Tapi siapa yang mau menyelidik?" Wiro diam sebentar lalu melanjutkan ucapannya. "Ratu Duyung, saat ini kita tengah menghadapi satu urusan besar. Aku tahu kau ada perselisihan dengan Bunga. Tetapi ketulusan hatimu menunjukkan bahwa budimu begitu luhur. Kau masih mau membantu aku untuk menyelamatkan gadis dari alam roh itu...."

Ratu Duyung diam saja. Dalam hati dia berkata. "Tak mungkin bagiku untuk mengatakan terus terang padamu Wiro. Bahwa aku menolong gadis alam roh itu semata-mata karena cinta kasihku padamu. Sebagai manusia biasa aku tidak bisa melepaskan diri dari berbagai rasa dan harapan."

Perlahan-lahan Ratu Duyung sandarkan kepalanya ke dada bidang berotot Wiro. Sang pendekar merangkul bahu Ratu Duyung, memeluknya erat-erat lalu perlahan-lahan rundukkan kepala mencium kepala gadis itu. Ratu Duyung tengadahkan wajahnya. Ketika dia menarik mesra kepala sang pendekar dan sesaat lagi bibir mereka akan saling kecup, tiba-tiba Wiro sadar. Jari-jari tangannya ditempelkan di atas bibir sang dara hingga bibir mereka tidak jadi saling bersentuhan.

"Kita tengah menghadapi urusan besar. Seperi katamu tadi jangan perasaan kita mempengaruhi pikiran."

Ratu Duyung buka sepasang matanya yang bagus yang barusan sempat dipejamkan, mendesah lirih.

"Sejak lama aku merindukan keadaan seperti Ini Wiro. Kau dan aku berdua-dua. Tapi...." Ratu Duyung menarik nafas dalam. "Aku mengerti. Kita tengah menghadapi urusan besar. Mungkin aaja penguasa kawasan ini tidak suka melihat tindak tanduk kita hingga apa yang kita harapkan dari mereka tidak kesampaian.

DI BALIK serumpunan semak belukar lebat tak jauh dari tempat Wiro dan Ratu Duyung berada, dua gadis cantik yang sejak tadi sembunyi memperhatikan Wiro dan Ratu Duyung sama-sama kelihatan jengah paras masing-masing. Keduanya lalu sama-sama menarik nafas panjang.

"Anggini, aku tak mau lebih lama berada di tempat ini. Lebih baik kita pergi sekarang juga...." Yang bicara adalah gadis berpakaian biru tipis dan tubuhnya menebar bau harum. Dia bukan lain Bidadari Angin Timur, gadis yang selama ini begitu mendalam cintanya terhadap Wiro. Dadanya terasa sesak. Sepasang matanya berkaca-kaca.

Gadis di sebelahnya yaitu Anggini, pegang tangan Bidadari Angin Timur. Dua tangan yang saling berpegangan itu sama berkeringat dan dingin.

"Aku tahu perasaanmu, sahabatku," kata Anggini yang bicara sambil memandang ke jurusan lain karena dua matanya juga tampak mulai basah. Walau dia sadar sepenuhnya bahwa perjodohannya dengan Pendekar 212 Wiro Sableng sulit akan menjadi kenyataan, namun dia tidak bisa menipu diri sendiri. Saat itu rasa cemburu menyumpal relung hatinya karena seperti Bidadari Angin Timur dia pun mengasihi Wiro.

KETIKA sang surya masuk ke titik tenggelamnya, kawasan samudera selatan mulai diselimuti kegelapan. Keheningan alam hanya ditandai oleh tiupan angin yang kini terasa agak mencucuk.

"Sudah saatnya Wiro," kata Ratu Duyung.

"Pegang lengan kiriku. Jangan lepaskan sebelum kepalamu berada tiga tombak di bawah permukaan air. Nanti aku akan memberi tanda. Kau siap?"

Wiro mengangguk. Dia merasa sedikit tegang. Ratu Duyung angkat tangan kirinya. Wiro segera pegang lengan gadis itu. Satu hawa aneh mengalir masuk ke dalam tubuh Pendekar 212. Hawa ini merambat lebih banyak di bagian dada, leher, jalan pernafasan termasuk hidung dan mulut serta mata. Inilah hawa sakti yang bisa membuat Wiro berada dalam lautan seperti dia berada di daratan.

Wiro dan Ratu Duyung melangkah bergandengan tangan di atas pasir pantai. Pecahan ombak membasahi kaki dan pakaian mereka. Saat demi saat sepasang kaki ke dua orang itu memasuki air laut semakin dalam. Ketika air laut mencapai pinggang Wiro mulai merasa dingin. Di sebelahnya Ratu Duyung tampak tenang.

Air laut naik sampai ke dada. Terus naik mencapai leher. Tak selang berapa lama kepala kedua orang itu tak kelihatan lagi, lenyap di bawah permukaan air. Di dalam air Wiro melangkah terus. Gerakannya tambah cepat. Air laut bersibak keras di kiri kanannya. Wiro mengikuti. Tangannya memegang lengan si gadis erat-erat. Kemudian dia merasakan dua kakinya tidak menginjak pasir lagi. Di sebelahnya Ratu Duyung mulai berenang. Wiro ikut berenang. Lalu sang Ratu sentakkan tangan kirinya. Itulah tanda yang dikatakan Ratu Duyung. Berarti saat itu mereka telah berada tiga tombak di bawah permukaan air laut. Wiro lepaskan pegangannya pada lengan kiri Ratu Duyung. Lalu dia sadar kalau dia belum mengerahkan Ilmu Menyusup Pandang. Segera dia keluarkan ilmu ini. Satu keanehan serta merta terasa. Keadaan yang tadi remang-remang kini menjadi lebih terang seolah dia berada di udara terbuka dalam keadaan rembang sore.



MAKIN jauh masuk ke dasar samudera air laut terasa tambah dingin. Wiro terpaksa kerahkan hawa sakti hangat ke sekujur tubuh agar gerakannya berenang tidak kaku. Saat itu dia tertinggal jauh di belakang Ratu Duyung. Di satu tempat Ratu Duyung berhenti, menunggu sampai Wiro mendekat. Gadis ini kemudian menunjuk ke arah depan. Memandang ke arah yang ditunjuk, di kejauhan Wiro melihat satu dinding batu kelabu, membujur dari kiri ke kanan. Demikian tinggi dan panjangnya dinding ini hingga tidak kelihatan bagian atas dan tak tampak ujung jari kiri maupun kanan. Lapat-lapat Wiro mendengar suara bebunyian seperti alunan gamelan.

Wiro hendak membuka mulut bertanya. Air laut langsung masuk ke dalam mulutnya. Ratu Duyung mengangkat tangan memberi tanda lalu berkata.

"Wiro, kau belum masuk ke dalam kawasan kekuasaan Nyi Roro Agung. Jadi belum mampu untuk bicara. Dengar saja apa yang aku ucapkan."

Ratu Duyung menunjuk ke arah dinding kelabu

"Itu Tembok Karang Abad. Pembatas kawasan kediaman Nyi Roro Agung dengan dunia luar. Tembok itu berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Tidak satu kekuatan dari luar pun bisa menembus tembok itu. Kita harus masuk melalui Pintu Gerbang Naga Biru. Letaknya di sebelah sana. Ikuti aku...."

Ratu Duyung berenang menyusuri pinggiran Tembok Karang Abadi ke arah barat. Makin jauh berenang keadaan semakin redup dan air laut bertambah dingin. Hawa panas yang diandalkan Wiro untuk melindungi diri dari dinginnya air laut ternyata masih bisa ditembus hingga pemuda ini berenang setengah menggigil. Melihat Wiro sering-sering tertinggal di belakang dan cara berenangnya yang tersendat-sendat Ratu Duyung segera dekati si pemuda. Telapak tangan kanannya ditempelkan ke dada Wiro lalu perlahan-lahan dia alirkan hawa sakti ke dalam tubuh sang pendekar. Tak selang berapa lama Wiro merasakan tubuhnya menjadi hangat dan pemandangannya jernih kembali. Dia angguk-anggukkan kepala pada Ratu Duyung sebagai tanda ucapan terima kasih.

Ratu Duyung kembali berenang ke arah barat. Di kejauhan Wiro melihat ada bagian dinding berbcnluk gapura tinggi. Di atas gapura bergelung patung besar seekor naga berwarna biru. Agaknya itulah Pintu Gerbang Naga Biru, pikir Wiro.

Hanya beberapa belas tombak menjelang sampai ke Pintu Gerbang Naga Biru, tiba-tiba pada Tembok Karang Abadi kelihatan dua belas titik bercahaya terang kebiruan. Titik cahaya ini makin lama makin besar dan tambah terang. Lalu selagi Wiro memperhatikan dan bertanya cahaya apa gerangan itu adanya tiba-tiba bett... bett... bett! Dua belas titik terang menembus tembok. Di lain kejap kelihatan dua belas sosok gadis berwajah cantik berambut panjang tergerai melesat dalam air dan dalam waktu singkat telah mengurung Wiro serta Ratu Duyung. Di tangan masing-masing gadis cantik tergenggam sebuah tongkat memancarkan warna biru terang.

Yang membuat murid Sinto Gendeng jadi terkesima bukan saja kecantikan wajah dua belas gadis, bukan pula rambut yang hitam tergerai lepas, bukan kehebatannya yang sanggup menembus dinding karang. Tetapi juga pakaian yang begitu minim yang melekat di tubuh dua belas gadis hingga keadaan mereka nyaris polos. Selagi Wiro terkagum-kagum begitu rupa, tiba-tiba salah seorang gadis yang memegang tongkat paling besar membentak. Agaknya dia adalah pimpinan dari rombongan gadis-gadis cantik itu.

"Siapa berani mati memasuki kawasan kekuasaan Nyi Roro Agung tanpa izin?"

Wiro garuk-garuk kepala tak bisa menjawab. Gadis yang barusan bicara melesat ke arahnya. Tongkat biru menyala disorongkan ke depan kepala Pendekar 212.

"Ah...." Gadis pembawa tongkat besar keluarkan seruan tertahan. Dia tidak menyangka orang yang berada di hadapannya ternyata seorang pemuda berwajah sangat gagah. Belasan tahun hidup di dasar samudera baru hari itu dia melihat pemuda segagah yang ada dihadapannya. Tapi ingat tugas, dia tak mau larut dalam perasaan. Kembali gadis ini membentak.

"Kau siapa? Apa keperluanmu berada di tempat ini?!"

"Nyi Kantili, aku yang membawa pemuda itu ke sini. Harap maaf kalau aku tidak sempat memintakan izin. Waktu dan kemampuanku sangat terbatas." Satu suara tiba-tiba menggema di dalam air.

Nyi Kantili dan sebelas gadis bertongkat biru menyala sama palingkan kepala ke arah kiri. Dua belas gadis ini keluarkan seruan pendek ketika mengetahui siapa yang barusan bicara.

"Ratu Duyung! Ah, kau rupanya...." ujar gadis bernama Nyi Kantili. "Kawan-kawan, berikan penghormatan pada Ratu Duyung!"

Dua belas gadis di bawah pimpinan Nyi Kantili membungkuk dalam sambil membabatkan tongkat masing-masing dua kali berturut-turut.

"Nyi Kantili dan para sahabat. Terima kasih atas penghormatan itu. Rasanya semua itu tidak perlu lagi diberikan padaku. Kita ini hidup dalam alam yang berbeda...."

"Ratu Duyung, walau bagaimanapun kau adalah yang pernah menjadi pimpinan dan sahabat kami. Kami merasa bahagia bisa bertemu lagi dengan dirimu." Nyi Kantili melirik pada Wiro lalu bertanya. "Ratu Duyung, kalau kami boleh bertanya siapakah adanya pemuda ini? Kau tadi berkata bahwa kaulah yang membawa dirinya ke sini."

"Nyi Kantili, pemuda ini bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar 212. Beberapa waktu lalu dia telah pernah datang ke kawasan kekuasaan Nyi Roro Agung namun waktu itu kami datang dari arah Pangandaran hingga kau tidak berkesempatan menemuinya karena tugasmu di wilayah ini. Jauh dari Pangandaran...."

"Hmm.... Kami memang pernah mendengar peristiwa hebat itu. Waktu itu walau tidak bisa menemui dirimu tapi kami para sahabat merasa bahagia bahwa kau berhasil lepas dari hukum kutukan...."

"Semua berkat pertolongan pemuda bernama Wiro ini," kata Ratu Duyung pula.

"Ooh, jadi dia...?" Kembali Nyi Kantili dan sebelas gadis lainnya arahkan pandangan pada wajah gagah Pendekar 212. "Ratu Duyung, harap kau suka memberi tahu maksud kehadiranmu di sini. Kami tidak bisa terlalu lama berada di luar Tembok Karang Abadi."

"Aku mengerti," jawab Ratu Duyung. "Nyi Kantili, untuk satu keperluan sangat penting pemuda sahabatku ini ingin bertemu dengan Nyi Roro Manggut. Aku minta pertolonganmu dan para sahabat untuk membawanya ke hadapan Nyi Roro Manggut. Tentunya setelah mendapat izin dari Nyi Roro Agung."

"Apa yang kau mintakan akan kami lakukan. Namun kami tak bisa mengajakmu serta...."

"Nyi Kantili, aku tahu. Sejak perubahan diriku aku tidak bisa keluar masuk kawasan kediaman Nyi Roro Agung sebebas seperti dulu lagi. Sampaikan salam hormatku pada Nyi Roro Agung dan Nyi Roro Manggut. Aku akan tetap berada di sini sampai pemuda sahabatku selesai dengan urusannya."

"Ratu Duyung, kami akan menolong sebisa yang kami lakukan. Kami merasa senang bisa bertemu denganmu. Kami harus pergi sekarang," kata Nyi Kantili.

Ratu Duyung mengangguk dan lambaikan tangan. Pada Wiro dia berkata. "Ikutlah bersama Nyi Kantili dan kawan-kawannya. Ingat, begitu kau sampai di balik Tembok Karang Abadi kau baru bisa bicara."

Wiro lambaikan tangan pada Ratu Duyung lalu bergerak mengikuti Nyi Kantili dan sebelas gadis lainnya. Kalau tadi mereka keluar dengan cara menembus Tembok Karang Abadi maka karena membawa Wiro para gadis itu melewati Pintu Gerbang Naga Biru.

Di hadapan pintu gerbang Nyi Kantili membuat gerakan-gerakan seperti menusuk, membabat dan membacok dengan tongkat besar biru bercahaya di tangan kanannya, gerakan-gerakan itu bukan gerakan sembarangan karena merupakan sembilan gerakan rahasia yang mampu membuka Pintu Gerbang Naga Biru. Selesai membuat gerakan sembilan, secara aneh pintu gerbang yang terbuat dari batu kelabu dan memiliki dua buah daun pintu mengeluarkan suara berdesir lalu bergerak membuka ke dalam.

Enam orang anak buah Nyi Kantili melesat masuk. Nyi Kantili sendiri memberi isyarat pada Wiro agar mengikuti. Sebelum bergerak Wiro berpaling pada Ratu Duyung. Setelah lambaikan tangan murid Sinto Gendeng ini segera berenang melewati pintu. Pada saat kepalanya tepat berada di bawah pintu gerbang, tiba-tiba terdengar suara menggemuruh. Air laut bergelombang menimbulkan gelembung-gelembung aneh. Pintu gerbang bergetar, mengeluarkan suara berderik. Ada sesuatu bergerak di atas sana. Ketika Nyi Kantili dan anak buahnya mendongak ke atas mereka sama mengeluarkan pekik terkejut. Patung Naga Biru besar yang melingkar di atas pintu gerbang kelihatan menggerakkan kepala dan ekornya.

"Nyi Kantili! Patung Naga Biru hidup!" seru seorang anak buah Nyi Kantili.

"Batara Tunggal! Gusti Allah Maha Kuasa!" mengucap Nyi Kantili dengan suara gemetar sementara sebelas anak buahnya menunjukkan wajah pucat. Bagaimana mungkin selama ratusan tahun patung Naga Biru yang terbuat dari batu, mendekam diam kaku membatu tiba-tiba kini bisa menggerakkan kepala dan ekor seolah hidup!"

Di tempatnya berdiri Ratu Duyung juga ikut terkejut. "Ya Tuhan, pertanda apakah ini?" mem batin sang Ratu lalu bergerak menjauh menjaga segala kemungkinan.

Di atas pintu gerbang besar Naga Biru buka mulutnya. Air menyembur dari dalam mulut disertai suara menggumuruh yang membuat Seantero tempat kembali bergetar. Lidah menjulur merah, taring mencuat mengerikan. Tiba-tiba binatang itu bergerak meluncur ke bawah.

Nyi Kantili mendorong punggung Wiro.

"Pendekar 212 lekas masuk!"

Wiro melesat melewati bagian bawah pintu gerbang. Nyi Kantili mengikuti, disusul lima gadis anak buahnya yang berada di sebelah belakang. Tapi lebih cepat dari gerakan orang-orang itu, di atas sana Naga Biru meluncur ke bawah. Air laut laksana terbelah. Tepat pada saat semua orang sudah masuk ke dalam dan pintu gerbang tertutup kembali, sosok Naga Biru telah melingkar di hadapan mereka. Badan bergelung di dasar samudera sedang kepala tegak mendongak siap hendak menerkam.

"Celaka! Bertemu Nyi Roro Manggut saja belum! Ternyata nyawaku akan amblas di tempat ini!" membatin Pendekar 212.



KITA tinggalkan dulu peristiwa hebat yang terjadi di balik Tembok Karang Abadi, di belakang Pintu gerbang Naga Biru. Kita kembali pada Adipati Jatilegowo yang tengah memacu kudanya ke arah derap kaki kuda di kejauhan. Siapa pun penunggang kuda di depan sana dia yakin adalah orang yang telah melarikan Nyi Larasati.

Pengejaran yang dilakukan Jatilegowo memasuki hutan jati di sebelah barat Tegalrejo. Di satu bebukitan sekeluarnya dari hutan jati Jatilegowo melihat orang yang dikejarnya menyusuri anak Kali Progo menuju ke selatan. Karena kenal betul seluk beluk kawasan itu, Jatilegowo menuruni bukit; mengambil jalan memotong. Tak selang berapa lama dia berhasil mendahului orang yang dikejarnya lalu menghadang di satu jalan mendaki.

"Jahanam! Tanganku .sudah gatal ingin menghajar bangsat minta mampus berani mati melarikan Nyi Larasati!" kata Jatilegowo. Tanpa turun dari kudanya lelaki tinggi besar ini keluarkan Badik Sumpah Darah. Dengan ujung senjata sakti ini dia membuat torehan dalam seputar batang sebuah pohon lalu menunggu. Tak selang berapa lama di kejauhan kelihatan seorang penunggang kuda menuruni bukit dengan cepat. Di pangkuannya melintang sosok seorang perempuan yang bukan lain Nyi Larasati adanya.

Beberapa tombak lagi penunggang kuda itu akan sampai di tempatnya berada, Jatilegowo dorong kuat-kuat bagian atas batang pohon yang telah ditorehnya. "Kraaakkk!" Pohon cukup besar itu berderak patah lalu

tumbang menggemuruh, jatuh melintang di tengah jalan. Kuda yang tengah berlari cepat di jalan menurun meringkik keras, coba hentikan larinya. Akibat berhenti mendadak dua orang yang ada di atas punggungnya mencelat mental. Nyi Larasati mencelat lebih tinggi dan lebih jauh sementara si penunggang kuda yang rupanya memiliki kepandaian cukup tinggi, walau terlempar begitu rupa namun ketika jatuh ke tanah dia masih mampu tegak di atas dua kakinya. Malah dengan sigap dia membuat gerakan kilat ke arah jatuhnya sosok Nyi Larasati. Sebelum tubuh janda yang masih dalam keadaan tertotok itu jatuh ke tanah dengan cepat orang ini membawa Nyi Larasati ke tempat yang dianggapnya aman. Namun baru bergerak empat langkah tiba-tiba satu bayangan tinggi besar berkelebat di depannya. Satu bentakan menggeledek.

"Jahanam Loh Gatra! Kau rupanya!"

Orang yang mendukung dan menyelamatkan Nyi Larasati saat itu memang adalah Loh Gatra, pemuda cakap cucu Ki Sarwo Ladoyo, sesepuh Kadipaten Temanggung.

Dalam Episode pertama (Badik Sumpah Darah) dikisahkan bagaimana Loh Gatra atas perintah kakeknya pergi ke satu bukit kapur di selatan Gunung Merbabu untuk mencari orang tua berjuluk Kakek Segala Tahu. Dari kakek ini diharapkan bisa didapat keterangan mengenai di mana beradanya Pendekar 212 Wiro Sableng. Menurut Ki Sarwo Ladoyo, Wiro adalah satu-satunya orang rimba persilatan yang bisa menolong Nyi Larasati dari maksud jahat Adipati Jatilegowo serta menyelamatkan Kadipaten Temanggung dari kehancuran.

Dalam perjalanan menuju bukit kapur Loh Gatra dihadang oleh tiga orang tak dikenal. Ketiga orang itu kemudian diketahui adalah orang-orang suruhan Adipati Jatilegowo yang berusaha menggagalkan rencana Loh Gatra untuk mencari Kakek Segala Tahu dan Pendekar 212 Wiro Sableng. Dalam keadaan terdesak hebat dan luka muncullah Wiro menyelamatkan Loh Gatra. Loh Gatra sendiri tidak tahu kalau yang telah menolongnya itu sebenarnya adalah Pendekar 212 yang tengah dicarinya.

Ketika beberapa waktu kemudian Jatilegowo dan rombongannya muncul di Kadipaten Temanggung dan memaksa Nyi Larasati untuk dijadikan istri, keributan tak dapat dihindari. Dalam kemarahan yang menggelegak Jatilegowo berlaku nekad hendak menghabisi Nyi Larasati dengan pukulan "Dua Gunung Meroboh Langit." Saat itulah Loh Gatra berkelebat menghadang. Dengan bersenjatakan sebilah keris sakti pemberian kakeknya Ki Sarwo Ladoyo yakni keris Tumbal Bekisar, Loh Gatra menyabung nyawa menyelamatkan Nyi Larasati yang diam-diam dicintainya. Namun ilmu silat Loh Gatra masih jauh di bawah tingkat ilmu silat yang dimiliki Jatilegowo. Pemuda itu tak sanggup menghadapi pukulan "Dua Gunung Meroboh Langit." bahkan kakeknya ikut kena hantaman hingga cidera berat.

Di saat-saat genting begitu rupa mucul Wiro. Sebelumnya di Kadipaten Temanggung telah lebih dulu muncul pemuda gendut Bujang Gila Tapak Sakti. Bagaimanapun hebatnya Jatilegowo, Adipati ini tak mungkin menghadapi dua pendekar yang tingkat kepandaian silat dan kesaktiannya telah menggegerkan rimba persilatan tanah Jawa itu. Tapi Jatilegowo tetap nekad. Apalagi dia tahu bahwa Wiro-lah yang telah membuat tanda bekas kecupan di leher istri mudanya. Maka Jatilegowo perintahkan pasukannya untuk menyerbu Kadipaten Temanggung.

Wiro masih mau memberi nasihat agar Jatilegowo membawa pasukannya kembali ke Salatiga. Ketika Adipati ini masih tetap keras kepala maka bersama Bujang Gila Tapak Sakti Wiro menggembosi ilmu "Dua Gunung Meroboh Langit" yang dimiliki Jatilegowo. Bahkan tidak cuma sampai di sana. Dengan ilmu "Menahan Darah Memindah Jazad" yang didapatnya di Negeri Latanahsilam, Wiro seenaknya memindahkan hidung Andipati Jatilegowo ke kening. Dalam keadaan babak belur habis-habisan serta dihina demikian rupa Jatilegowo bersama pasukannya akhirnya tinggalkan Kadipaten Temanggung.

"Pemuda jahanam! Turunkan Nyi Lara! Lalu datang berlutut di hadapanku untuk menerima kematian!"

Bentakan Jatilegowo tidak membuat takut Loh Gatra. Pemuda ini malah menjawab dengan suara tak kalah keras.

"Pelajaran dari Pendekar 212 dan Bujang Gila Tapak Sakti rupanya tidak membuatmu jera! Kau masih berkeliaran meneruskan niat kejimu! Nyi Lara tidak suka padamu! mengapa memaksa malah menculiknya! Kebejatanmu bukan cuma sampai di situ. Kau telah membunuh kakekku!"

"Pemuda keparat! Bagus kalau kau sudah tahu kalau kakekmu telah jadi bangkai! Sebentar lagi kau akan segera menyusul kakekmu itu! Kau mencampuri urusanku telah kelewat jauh. Turunkan Nyi Lara! Atau kalian berdua akan kubantai sekaligus!"

Loh Gatra tidak takut ancaman Jatilegowo terhadap dirinya. Tapi jika Nyi Larasati sampai cidera, itu yang dikawatirkannya. Karenanya pemuda ini segera baringkan tubuh Nyi Larasati di bawah sebatang pohon.

"Bagus! Sekarang datang ke hadapanku untuk menerima kematian!" kata Jatilegowo begitu Loh Gatra selesai membaringkan tubuh Nyi Lara di tanah.

Loh Gatra balikkan badan. Begitu dia menghadapi Jatilegowo di tangan kanannya pemuda ini telah menggenggam sebilah keris terbuat dari perak murni, memancarkan cahaya terang berkilauan. Inilah Keris Tumbal Bekisar, pemberian Ki Sarwo Ladoyo kakeknya. Dulu ketika bertempur melawan Jatilegowo, kalau tidak memegang senjata bertuah ini Loh Gatra niscaya menemui ajal dihantam pukulan "Dua Gunung Meroboh Langit." Loh Gatra menyaksikan sendiri bagaimana Pendekar 212 Wiro sableng dan temannya si gendut Bujang Gila Tapak Sakti memusnahkan ilmu pukulan "Dua Gunung Meroboh Langit" yang dimiliki Jatilegowo. Karena itu dia yakin kali ini dia akan dapat menghadapi Adipati Salatiga itu, menyelamatkan Nyi Larasati dan sekaligus menuntut balas atas kematian kakeknya. Si pemuda sayangnya tidak tahu, walau Jatilegowo tidak lagi memiliki ilmu pukulan maut "Dua Gunung Meroboh Langit", namun dia kini membekal sebilah senjata sakti mandraguna yang kehebatannya lebih dahsyat dari ilmu pukulan itu.

Jatilegowo sunggingkan senyum mengejek.

"Ternyata kau masih menyimpan senjata rongsokan itu! Kau mau membunuh aku dengan keris itu?! Silakan maju! Cari bagian tubuhku paling empuki"

Dengan sikap menantang tapi air muka merendahkan Jatilegowo buka dada bajunya lalu tangannya dilambaikan memberi isyarat agar Loh Gatra mendekat.

Diejek dan dianggap enteng seperti itu Loh Gatra jadi terpancing marah. Tenaga dalam dialirkan ke tangan kanan hingga pancaran cahaya Keris Tumbai Bekisar tambah terang.

"Lihat serangan!" teriak Loh Gatra. Tubuhnya melesat ke depan. Keris Tumbal Bekisar lenyap, berubah menjadi cahaya kemilau, membeset ke arah dada lalu membabat ke atas mengincar tenggorokan! Inilah jurus yang disebut "Bekisar Menyabung Gunung Menghujat Matahari".

"Loh Gatra! Jurusmu hanya pantas untuk menyerang anak kecil!" teriak Loh Jatilegawa lalu sambil tertawa bergelak dia mundur dua langkah. Begitu serangan keris lewat dia gerakkan tangan kanan untuk memukul hancur sambungan siku kanan lawan. Tapi Loh Gatra cepat merubah kedudukan kakinya, dengan tubuh dimiringkan dia kembali membabatkan Keris Tumbal Bekisar. Suara angin menggidikkan menderu dahsyat keluar dari ujung runcing dan badan keris. Kali Ini yang diarah adalah lambung Jatilegowo hingga manusia tinggi besar ini berseru kaget dan cepat melompat selamatkan perutnya.

Loh Gatra tak mau memberi kesempatan. Jurus "Bekisar Menyabung Topan" yang tadi gagal diteruskannya dengan jurus "Bekisai Menyabung Dinding Karang." Keris di tangan Loh Gatra bergetar demikian rupa hingga kelihatan seolah berubah menjadi enam buah, menderu ganas dari pinggang kiri ke arah dada kanan, begitu tidak mengenai sasaran membalik dari bahu kanan ke arah leher!

"Hebat!" teriak Jatilegowo. Dia kembangkan tangan kirinya untuk menangkis serangan maut Keris Tumbal Bekisar.

"Wuuutt!"

"Craasss!"

Keris Tumbal Bekisar menancap tepat di pertengahan telapak tangan kiri Jatilegowo. Ketika keris itu dicabut darah langsung menyembur. Anehnya walau cidera begitu rupa Jatilegowo seperti tidak merasakan apa-apa. Ingat peristiwa sewaktu dirinya diserang oleh mahluk aneh peliharaan Sarontang? Walau dua lengannya koyak besar berlumuran darah namun dia tidak merasakan apa-apa. Ini adalah berkat kesaktian Badik Sumpah Darah yang seolah telah menyatu dengan tubuhnya.

Sementara Loh Gatra terkesima melihat sikap lawan, dengan tenang Jatilegowo keluarkan Badik Sumpah Darah. Senjata ini kemudian diusapkannya ke telapak tangan kirinya. Serta merta luka bekas tusukan keris di telapak tangan itu sirna bahkan darah yang mengotori tangan Jatilegowo ikut lenyap.

"Luar biasa! Ilmu apa yang dimiliki Adipati jahanam ini!" membatin Loh Gatra. "Dia mampu menahan sakitnya luka! Badiknya mampu menyembuhkan cidera!"

Di hadapan Loh Gatra Jatilegowo tertawa mengekeh.

"Aku minta agar kau memilih bagian tubuhku paling empuk! Kau cuma menusuk telapak tanganku! Ha... ha... ha! Sekarang giliranku mencari bagian tubuhmu yang lunak! Lihat badik!"

Habis berkata begitu Jatilegowo menerjang sambil babatkan Badik Sumpah Darah. Sinar biru kehitaman berkiblat angker disertai deru menggidikkan.

Loh Gatra maklum kalau senjata di tangan lawan bukan senjata sembarangan. Dia cepat menyingkir ke kiri sambil susupkan Keris Tumbal Bekisar di arah bawah tangan lawan. Ujung keris mengarah tepat ke jantung Jatilegowo. Yang diserang menyeringai sinis dan keluarkan suara mendengus. Tiba-tiba tubuh besar Jatilegowo melesat ke atas. Tapi setengah jalan tubuh yang melayang itu menukik ke bawah. Badik Sumpah Darah membabat ganas ke arah kepala Loh Gatra.

Jurus "Bekisar Menyusup Mega" yang dilancarkan Loh Gatra ke arah jantung Jatilegowo disambut lawan dengan jurus "Badik Sakti Menebas Genta".

Sebenarnya saat itu serangan Loh Gatra maupun Jatilegowo masih bisa dielakkan oleh masing-masing pihak. Namun tidak terduga tumit kanan Loh Gatra terserandung akar pohon yang menyembul di permukaan tanah. Walau hanya

Sebentar dia kehilangan keseimbangan namun Jatilegowo tidak menyia-nyiakan kesempatan. Badik di tangan kanan Adipati Salatiga ini berkelebat ganas ke arah muka cucu Ki Sarwo Ladoyo!

Dalam keadaan seperti itu tidak ada kemungkinan bagi Loh Gatra untuk selamatkan diri dengan cara mengelak atau singkirkan dari serangan lawan yang datang cepat luar biasa. Satu-satunya jalan untuk cari selamat ialah dengan cara menangkis badik lawan dengan keris di tangan.

"Traang!"

Dua senjata sakti saling bentrokan di udara. Dua cahaya biru kehitaman dan putih berkilauan bersabung. Bunga api memercik berpijaran.

Loh Gatra keluarkan seruan tertahan. Dengan muka pucat pemuda ini melompat setengah tombak ke belakang. Ketika dia memperhatikan, dalam genggaman tangan kanannya hanya tinggal gagang dan sedikit sisa badan keris. Keris Tumbal Bekisar telah buntung dibabat Badik Sumpah Darah. Buntungannya mencelat mental entah ke mana! Selagi Loh Gatra terkesiap begitu rupa didahului bentakan menggeledek tiba-tiba Jatilegowo kembali menyerang.

Dengan mengandalkan tangan kosong tak mungkin Loh Gatra mampu menghadapi lawan. Lalu senjata apa yang akan dipergunakan? Dia tak punya senjata lain selain Keris Tumbal Bekisar yang kini telah buntung dan berubah hitam.

Untuk sedikit menghalangi serangan lawan Loh Gatra lemparkan gagang keris yang masih ada dalam genggamannya lalu secepat kilat dia melompat mematah cabang sebatang pohon kecil. Dengan cabang pohon sebagai senjata, Loh Gatra berjibaku coba menyambut serangan Jatilegowo.

Ganda tertawa Jatilegowo babatkan Badik Sumpah Darah.

"Kraakk! Kraaakk!"

Beberapa kali kena dibabat badik sakti, cabang pohon yang dijadikan senjata untuk bertahan oleh Loh Gatra habis dibabat buntung. Kini cabang itu hanya tinggal dua jengkal panjangnya!

"Celaka!" keluh Loh Gatra. Pemuda ini terpaksa melangkah mundur ketika Jatilegowo mendatanginya dengan Badik Sumpah Darah terpentang angker di tangan kanan.

"Wuuuttt!"

Serangan pertama berhasil dielakkan Loh Gatra.

"Wuttt!"

Loh Gatra masih mampu selamatkan diri dari sambaran badik berikutnya yang semakin dekat.

Ketika serangan ke tiga dilancarkan Jatilegowo, dengan berlindung di balik kuda miliknya Loh Gatra masih bisa bertahan.

"Jahanam! Jangan harap kau bisa lolos dari tanganku!" gertak Jatilegowo. Lalu saking kesalnya Adipati Salatiga ini tusukkan badik saktinya ke lambung kuda yang dijadikan tameng perlindungan oleh Loh Gatra.

Kuda besar warna coklat ini meringkik krias dua kali berturut-turut. Dua kaki depannya tersentak naik ke atas. Dari mulutnya keluar busa kuning. Sekali lagi binatang ini meringkik lalu tubuhnya terhempas ke tanah. Empat kaki melejang-lejang beberapa kali lalu akhirnya diam.

Kuda malang ini menemui ajal dengan sekujur kulit sampai ke bulunya berubah menjadi hitam akibat racun luar biasa jahat dari Badik Sumpah Darah! Racun badik yang berasal dari Pohon Tuba berusia ratusan tahun itu memang luar biasa. Kalau kuda sebesar itu saja bisa dibuat meregang nyawa demikian rupa, dapat dibayangkan bagaimana kejadiannya dengan tubuh manusia!

Pada saat kuda coklat besar miliknya roboh ke tanah Loh Gatra melompat ke balik pohon besar. Dengan cepat dia menyambar tubuh Nyi Larasati untuk dibawa lari. Namun baru sempat membungkuk, belum lagi tangannya menyentuh tubuh janda itu tiba-tiba seseorang berkelebat di sampingnya dan satu tendangan keras melanda pinggulnya.

Tak ampun lagi Loh Gatra terlempar sampai satu tombak, terguling-guling di tanah. Tulang pinggulnya sakit bukan kepalang, mungkin remuk. Ketika susah payah dia berusaha bangkit berdiri, tiba-tiba satu sosok tinggi besar melompat dihadapannya. Itulah Jatilegowo yang tegak menghunus Badik Sumpah Darah. Seringai maut bermain di mulutnya.

"Loh Gatra! Kau bakal menunggang bangkai kudamu pergi ke neraka menyusul kakekmu! Ha... ha... ha!"

"Kau mau bunuh aku! Bunuhlah! Aku tidak takut mati!" teriak Loh Gatra sambil tangan kanannya bergerak ke pinggul seperti mengurut bagian yang cidera terkena tendangan. Tapi sebenarnya tangan itu menyusup ke balik pinggang pakaian di mana terselip sebuah senjata rahasia terbuat dari besi putih berbentuk bintang. Ketika tangan itu bergerak, satu cahaya putih menderu di udara.

Jatilegowo berseru kaget dan marah sekali ketika melihat ada benda melesat ke arahnya.

"pembokong jahanam!" maki Jatilegowo. Dia cepat miringkan kepala ke kiri. Tapi tak urung saiah satu mata bintang senjata rahasia yang dilemparkan Loh Gatra masih sempat menyerempet daun telinganya sebelah kanan hingga luka dan mengucurkan darah.

Didahului bentakan marah yang sekaligus merupakan teriakan kesakitan Jatilegowo melompat sambil babatkan Badik Sumpah Darah ke arah leher Loh Gatra. Cucu Ki Sarwo Ladoyo itu tak mampu membuat gerakan menyelamatkan diri atau menangkis. Pemuda ini hanya berdiam diri seperti pasrah.

Hanya sesaat lagi ujung badik beracun akan membabat batang leher Loh Gatra tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat. Satu tangan mendorong bahu Jatilegowo hingga sosok tinggi besar Adipati Salatiga ini terjajar ke samping. Ujung badik maut lewat seujung kuku di depan leher Loh Gatra!



ADIPATI Jatilegowo berteriak marah. Sambil membabatkan Badik Sumpah Darah dia berbalik. Bayangan putih yang tadi mendorongnya cepat melompat mundur. Dua tangan dipentang ke depan. Saat itu juga udara di tempat itu terasa dingin luar biasa.

"Jahanam! Kau rupanya!" teriak Jatilegowo ketika melihat siapa yang berdiri cengengesan di depannya sambil mengipas-ngipaskan kopiah hitam ke mukanya yang bulat gembrot, merah keringatan.

"Jahanam! Kau rupanya! Sama!" Orang itu keluarkan ucapan meniru bentakan Jatilegowo lalu tertawa gelak-gelak. Suara tawanya ini membuat gelombang udara dingin seperti mencucuk. Jatilegowo kertakkan rahang berusaha bertahan. Loh Gatra terbungkuk-bungkuk, sekujur tubuh menggigil. Sementara Nyi Larasati yang terbujur kaku di bawah pohon juga merasa ada udara dingin menyelimuti hingga janda cantik ini bergeletar sekujur tubuhnya.

Di hadapan Jatilegowo saat itu berdiri seorang pemuda gemuk luar biasa, rambut gondrong. celana hitam komprang, baju terbalik dan sehelai kain sarung butut melintang di atas bahunya. Di tangan kanannya si gendut ini memegang sebuah peci hitam yang dikipas-kipaskan ke wajahnya yang keringatan. Aneh, sementara semua orang kedinginan dia sendiri kepanasan dan keringatan. Padahal udara dingin yang menyungkup seantero tempat itu adalah hasil perbuatannya!

"Gendut jahanam! Kau memang masuk dalam daftar kematian manusia-manusia keparat yang akan kubunuh! Berani datang sendiri, hingga aku tidak susah-susah mencari!"

"Bujang Gila Tapak Sakti...." ujar Loh Gatra yang mengenali siapa adanya si gendut. Dia merasa bersyukur atas kemunculan pemuda yang telah menyelamatkan dirinya dari tangan maut Jatilegowo. Dia lantas ingat bagaimana bersama Pendekar 212 Wiro Sableng dulu bukan saja Adipati Salatiga itu telah dipermainkan, malah digembosi ilmu kesaktiannya. Dan di saat itu pula Loh Gatra ingat, bukankah Pendekar 212 waktu itu secara aneh telah memindahkan hidung Jatilegowo ke keningnya? Bagaimana sekarang cacat wajahnya itu pulih dan hidungnya kembali berada di tempat semula?

Jatilegowo sendiri juga ingat, pemuda gendut inilah dulu yang mempermalukannya habis-habisan, menggembosi kesaktiannya hingga dia kehilangan ilmu pukulan hebat yang disebut "Dua Gunung Meroboh Langit." Tidak heran kalau Jatilegowo sangat mendendam dan inginkan kematian Bujang Gila Tapak Sakti sebagaimana dia juga ingin membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Eh!" seru Bujang Gila Tapak Sakti sambil menuding Jatilegowo. "Dulu kawanku memindah hidungmu ke jidat! Sekarang mengapa tampangmu bisa bagus kembali? Tukang solder mana yang pandai mendadani tampangmu?! Kalau aku bisa bertemu dia akan kuminta memindahkan kemaluan kuda yang mati itu ke atas hidungmu biar tampangmu tambah bagus!" Habis berkata begitu Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelak-gelak hingga dadanya yang gembrot dan perutnya yang buncit berayun-ayun.

Amarah Jatilegowo dihina seperti itu jadi meledak. Asap tipis mengepul dari ubun-ubunnya.

Tangannya yang memegang Badik Sumpah Darah bergetar. Tanpa banyak bicara, didahului suara menggembor keras Jatilegowo melompat ke arah si gendut. Badik sakti berkiblat di udara.

"Wah, marah dia rupanya!" Bujang Gila Tapak Sakti tertawa lebar, peci kupluk hitam di tangan kanan cepat disungkupkannya ke kepala. Lalu tangan kanannya diangkat ke atas, telapak mengembang terbuka diarahkan pada Jatilegowo.

Satu gelombang angin dingin luar biasa menggempur Adipati Salatiga itu. Sesaat tubuhnya mengambang di udara, tertahan tak bisa maju. Tapi begitu tangan kanannya membabatkan Badik Sumpah Darah ke depan dan selarik sinar biru kehitaman berkiblat, gelombang hawa dingin yang menahan gerakan serangannya serta merta terbelah buyar!

Bujang Gila Tapak Sakti berseru kaget ketika merasakan hawa dingin yang dilepasnya jebol bahkan bergerak membalik menyerangnya. Dengan cepat dia kibaskan tangan kiri. Serangan hawa dingin terpental ke samping. Baru saja dia selamat dari gelombang dahsyat miliknya sendiri tiba-tiba senjata di tangan lawan telah membeset di depan kepalanya!

"Edan!" maki Bujang Gila Tapak Sakti. Tubuhnya yang gendut luar biasa, enteng sekali melesat beberapa langkah ke belakang. Tahu bahaya dan ganasnya Badik Sumpah Darah, pemuda gendut ini cepat loloskan sarung bututnya. Dengan sarung ini dia hadapi serangan ganas senjata lawan yang datang bertubi-tubi.

Jatilegowo kerahkan seluruh tenaga dan menyerang dengan segala kecepatan yang bisa dilakukan. Sambaran angin yang keluar dari sa-rung di tangan si gendut menahan atau membuat mental setiap serangannya.

"Jahanam! Masakan hanya sehelai sarung butut dan bau sanggup mengalahkan badik saktiku!" maki Jatilegowo dalam hati. Dia kerahkan seluruh tenaga dalam, genggam badik lebih erat lalu lancarkan serangan berantai laksana curahan hujan. Udara tertutup oleh larikan sinar biru kehitaman yang sabung-menyabung mengurung sosok gendut Bujang Gila Tapak Sakti.

"Breett!"

Satu tusukan kilat selagi sarung berkelebat di udara membuat sarung itu robek besar. Bujang Gila Tapak Sakti terkesiap dan maklum kalau senjata di tangan lawannya benar-benar tidak bisa dibuat main. Maka dia berseru pada pemuda bernama Loh Gatra.

"Loh Gatra! Lekas tinggalkan tempat ini. Selamatkan Nyi Larasati!"

Mendengar teriakan si gendut, Loh Gatra segera melompat ke arah pohon. Namun gerakannya tak terduga dipotong oleh Jatilegowo. Badik Sumpah Darah kembali berkiblat, membeset udara, mencari sasaran di dada Loh Gatra. Maksud si pemuda hendak mendekati sosok Nyi Larasati yang terbaring di bawah pohon gagal. Malah dadanya tak urung hampir dikoyak sambaran senjata maut di tangan Jatilegowo.

"Edan!" kembali Bujang Gila Tapak Sakti memaki. "Senjata di tangan Adipati keparat itu harus bisa kurebut!" Lalu si gendut menerobos menghadang serangan Jatilegowo kembali dengan mempergunakan kain sarung. Dalam amarahnya Jatilegowo membabat habis-habisan. Terdengar suara bret-bret berulang kali. Robekan kain sarung bertebaran di udara. Sesaat kemudian, kain sarung di tangan si gendut hanya tinggal seukuran kecil sebesar sapu tangan!

"Hah?!" Bujang Gila Tapak Sakti pelototkan matanya yang belok. "Benar-benar edan!" Si gendut palingkan kepala ke arah Jatilegowo.

"Adipati, aku minta badik saktimu! Atau aku pecahkan kepalamu!"

"Babi gendut! Jangan cuma mengancam! Buktikan ucapanmu!" ejek Jatilegowo dengan suara lantang.

"Begitu?!" ujar Bujang Gila Tapak Sakti. Dia tanggalkan kopiah hitam kupluk di kepala, berkipas-kipas beberapa kali lalu bett! Tubuh gendutnya berkelebat lenyap dan mendadak terdengar seruan kaget Jatilegowo ketika tiba-tiba lengannya yang memegang badik dicekal orang dari samping.

Tahu bahaya Jatilegowo hantamkan tangan kirinya.

"Bukkk!"

Pukulan kilat tak terduga itu memang mengenai sasaran yakni dada gembrot Bujang Gila Tapak Sakti, tapi sebaliknya bukkk! Kening Jatilegowo juga kena dihantam pukulan tangan kanan si gendut!

Jatilegowo melintir kesakitan. Kepalanya seperti pecah. Pemandangannya berkunang gelap. Di keningnya kelihatan satu benjolan besar. Di sebelah bawah benjolan ada luka cukup besar mengucurkan darah. Walau cidera cukup berat begitu rupa tapi dia berhasil selamatkan Badik Sumpah Darah yang hendak dirampas lawan. Dengan senjata ini dia cepat usap keningnya. Benjolan besar serta luka yang mengucurkan darah serta merta lenyap.

Bujang Gila Tapak Sakti sendiri tegak setengah tertegun melihat kehebatan badik di tangan lawan. Sambil usap-usap dadanya yang kena dihajar orang dia berkata dalam hati.

"Heran, kerbau saja jika kupukul seperti itu akan pecah kepalanya. Ilmu apa yang didapat Adipati keparat itu setelah menghilang beberapa bulan. Badik di tangannya itu bukan saja merupakan senjata berbahaya tapi juga punya kemampuan pengobatan luar biasa. Aku harus berjibaku dapatkan senjata itu!"

Bujang Gila Tapak Sakti sungkupkan peci kupluknya di atas kepala. Dengan tangan kosong dia kembali menyerbu Jatilegowo. Setiap serangan yang dilancarkannya dia selalu kerahkan tenaga dalam tinggi yang membawa alur gelombang sangat dingin. Jatilegowo memang sempat dibuat terdesak beberapa jurus, namun untuk benar-benar mampu menembus pertahanan lawan sulit dilakukan Bujang Gila Tapak Sakti. Badik di tangan Jatilegowo menjadi satu kendala luar biasa. Malah memasuki jurus-jurus selanjutnya si gendut ganti terdesak. Di satu saat ketika keadaannya terdesak hebat Bujang Gila Tapak Sakti terpaksa keluarkan pukulan Dua Puncak Mahameru Murka. Dua gelombang angin luar biasa dingin yang memancarkan cahaya seputih salju menderu ke arah Jatilegowo.

Adipati Jatilegowo ini merasakan tubuhnya seperti ditindih dua gunung es. Lututnya goyah, kepalanya laksana leleh. Dia cepat kerahkan tenaga. Ketika sosoknya hampir jatuh terduduk di tanah, satu hawa hangat keluar dari dalam Badik Sumpah Darah, menjalar ke dalam tubuhnya. Pada saat kekuatannya pulih kembali, Jatilegowo melesat ke udara. Mulut keluarkan bentakan garang dan tangan kanan membabat ke atas.

"Dess! Desss!"

Dua letupan yang tidak keras tapi memijarkan cahaya berapi mencuat di udara. Jatilegowo terpental satu tombak, jatuh berlutut di tanah. Mulutnya menggumam darah. Sementara Bujang Gila Tapak Sakti terguling menggelinding. Sosok gemuk ini tiba-tiba melenting ke udara, lalu brukkk! Jatuh duduk menjelepok di tanahl Di depannya Adipati Jatilegowo usapkan badik sakti di atas dada. Seperti tidak menderita cidera apa-apa sosoknya kemudian bangkit berdiri lalu dengan Badik Sumpah Darah terhunus di tangan dia melangkah mendekati si gendut yang saat itu megap-megap berusaha mengatur jalan darah dan pernafasan.

"Jangan bunuh dia!" teriak Loh Gatra sambil memburu, berusaha menghadang Jatilegowo.

"Kalian berdua sudah ditakdirkan mampus bersama!" kertak Jatilegowo. Lalu senjata di tangan kanannya ditusukkan ke dada Loh Gatra. Pemuda ini masih mampu mengelak. Namun ketika Jatilegowo mengejar, memburunya dengan serangan kedua, Loh Gatra tak sanggup selamatkan diri. Sewaktu Jatilegowo angkat tangan kanannya dan siap menghunjamkan senjata maut itu ke tubuh si pemuda tiba-tiba satu bayangan berkelebat di balik pohon besar. Lalu terdengar suara derap kaki kuda menghambur.

"Loh Gatra! Nyi Larasati diculik orang!" teriak Bujang Gila Tapak Sakti.

Loh Gatra terkesiap kaget. Jatilegowo juga tersentak. Loh Gatra mengejar ke arah pohon, tapi dia tidak melihat apa-apa kecuali dapatkan sosok Nyi Larasati memang tak lagi di tempat itu. Jatilegowo yang sebelumnya hendak menghabisi Loh Gatra dan Bujang Gila Tapak Sakti jadi lupa rencana. Dia lebih mementingkan mengejar si penculik Nyi Larasati. Maka tanpa perdulikan kedua orang itu dia segera berkelebat mengejar ke arah lenyapnya suara derap kaki kuda.

Jatilegowo boleh dikatakan cukup mengenal seluk beluk daerah itu. Melalui jalan memotong dia mampu melakukan pengejaran dengan cepat. Namun di satu tempat tiba-tiba terdengar beberapa kali suara letusan. Tahu-tahu kawasan di mana dia berada telah tertutup kabut tebal, membuat Adipati itu tenggelam dalam kegelapan, tak sanggup melanjutkan pengejaran.

Untuk beberapa lamanya Jatilegowo terpaksa berdiam diri, tegak menunggu. Begitu kabut tebal surut dan akhirnya lenyap, pertama sekali yang dilihatnya adalah sebuah pecahan benda bulat di tanah borbentuk manggis terbelah. Jatilegowo ambil benda ini, memperhatikan dengan seksama. Dia mengenali.

"Sarontang keparat! Dia lagi! Aku pernah melihat benda ini di tempat kediamannya. Ini salah satu senjata rahasia miliknya, jahanam! Kabut Penyesat Mata." Jatilegowo menggeram marah. Pelipisnya bergerak-gerak. Dia cabut Badik Sumpah Darah yang tersisip di pinggang. Letakkan senjata sakti mandraguna ini di atas keningnya. Lalu mulutnya berucap.

"Darah Sarontang menjadi reguk minumanmu. Nyawanya menjadi hias tumbal dirimu. Bantu aku mengejar manusia jahanam itu!"

Setelah simpan kembali Badik Sumpah Darah di balik pinggangnya Jatilegowo segera tinggalkan tempat itu. Kira-kira lari sepcminuman teh ke arah timur, di satu tempat tiba-tiba dia mendengar suara orang mengerang. Ingin tahu dan ingin melihat siapa adanya oiang itu Jatilegowo menyelinap ke balik serumpunan semak belukar. Dia mendengar suara an menggericik. Semak belukar disibakkan, pertama sekali dia melihat sebuah pancuran bambu yang airnya mengucur ke sebuah telaga kecil berbatu-batu. Lalu di tepi telaga, duduk bersandar ke sebuah batu besar dilihatnya seorang nenek berdandan menor. Sepasang alis kereng hitam, gincu tebal menutupi bibir, pipi yang keriput diberi merah-merah. Nenek ini duduk sambil tiada hentinya mengerang kesakitan. Dia pegangi tangan kanannya yang buntung dengan tangan kiri. Sesekali dia mengambil sebuah batok kelapa. Dengan batok ini dia menciduk air telaga yang sejuk lalu mengguyur tangannya yang buntung.

Jatilegowo keluar dari balik semak-semak.

"Nek, siapa kau. Mengapa berada di tempat ini dan apa yang terjadi dengan dirimu. Buntung di tanganmu aku lihat masih baru...."

Sepasang mata si nenek berputar melirik. Ketika melihat yang menegur seorang lelaki tinggi besar, dengan kumis melintang berkilat menghiasi wajahnya yang jantan garang, cahaya genit membayang di mata si nenek. Dia mendehem beberapa kali lalu berkata.

"Orang gagah berkumis tebal melintang, apa matamu sudah lamur? Hari masih begini siang, terang benderang. Kau memanggil aku nenek. Buka matamu lebar-lebar."

Jatilegowo hendak tertawa bergelak. Tapi ditahannya. Dia berkata. "Aku belum buta! Yang aku lihat memang seorang tua bangka berdandan...." Jatilegowo hentikan ucapannya. "Astaga!" Dia kucak-kucak matanya berulang kali. Orang yang tadi dilihatnya sebagai nenek buntung berdandan tak karuan kini tampak berupa seorang gadis berwajah cantik jelita dan tangan sempurna, berpakaian sangat tipis hingga tembus pandang, memandang ke arahnya penuh daya tarik mengundang.

"Panas begini terik, kau barusan saja dari satu perjalanan jauh. Dari wajahmu aku bisa melihat ada satu perkara besar yang tengah kau hadapi. Untuk melepas lelah dan bertutur sapa membagi duka serta pengalaman, mengapa kau tidak duduk di sampingku?" Habis berkata begitu gadis jelita itu menggeser duduknya, sengaja memberi tempat bagi Jatilegowo.

"Rejeki besar, gadis ini ternyata tidak kalah cantiknya dengan Sri Kemuning, istri mudaku. Juga tak kalah dengan kejelitaan Nyi Larasati. Tempat begini sepi, udara begini sejuk. Hanya aku berdua dengan dia."

Jatilegowo tersenyum lebar, usap-usap dagunya. Lalu tanpa tunggu lebih lama dia duduk di samping si gadis.

"Tubuhku memang letih, aku memang dalam satu perjalanan jauh. Dan aku memang tengah menghadapi satu perkara besar. Sungguh luar biasa. Gadis semudamu ini bagaimana bisa mempunyai kepandaian menduga apa yang terjadi dan dialami seseorang seperti yang barusan kau ucapkan?"

Sang dara tersenyum manis.

"Raut air muka di wajahmu yang gagah tak bisa ditutupi. Semua orang akan bisa menduga, bukan cuma diriku." Si gadis bicara merendah, membuat Jatilegowo tambah tertarik.

"Hari begini panas, pakaian dan tubuhku kotor. Keringat kering di badan. Air telaga itu tampak begitu sejuk. Ingin sekali rasanya aku terjun dan mandi."

"Aneh," ucap si gadis.

"Apa yang aneh?" tanya Jatilegowo.

"Perasaan kita sama. Dari tadi aku ingin mandi menyejukkan diri dalam telaga. Tapi mandi sendirian apa nikmatnya? Orang gagah, apakah kau mau menemani aku mandi?"

Jatilegowo tertawa lebar. Tubuhnya mendadak terasa panas. Sang dara dilihatnya kedipkan mata. Lalu terdengar suaranya penuh manja.

"Orang gagah mohon kau mau menolong membukakan pakaianku."

Darah di tubuh Jatilegowo semakin panas dan semakin cepat mengalirnya. Lelaki ini memang sudah cukup lama tidak berdekatan dengan perempuan. Karenanya tidak tunggu lebih lama dia segera lakukan apa yang diminta si gadis. Tangannya dengan cepat melepas tali-tali kecil pengikat bajunya. Sesaat kemudian, ketika punggung dan dadanya tersingkap putih, tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Nyi Ragil, Nyi Ragil. Aku pergi tidak lama. Aku pergi mencari obat untuk menyembuhkan luka buntungan tanganmu! Tahu-tahu kau sudah bergendak dengan lelaki lain! Sungguh keterlaluan!"

Suara ucapan orang membuat si gadis yang telah terbuka setengah pakaiannya menjadi terkejut dan palingkan kepala. Saat itu juga wajah dan tubuhnya kembali berubah ke bentuk aslinya yakni sosok seorang nenek-nenek bertangan buntung!



KITA kembali dulu pada peristiwa setelah terjadi pertempuran hebat antara tokoh golongan putih dengan Nyi Ragil dan Si Muka Bangkai di Bukit Menoreh (Baca Episode sebelumnya berjudul "Tahta Janda Berdarah")

Satu sosok tinggi hitam dengan kepala ditancapi empat buah tusuk konde berlari secepat kilat dalam gelapnya malam, meninggalkan bayangan angker di sebelah belakang, seolah dirinya setan yang tengah gentayangan di malam buta. Sebelumnya di kepala itu ada lima tusuk konde. Namun satu di antaranya telah dipergunakan untuk menghantam Nyi Ragil dan Si Muka Bangkai yang melarikan diri.

"Nyi Ragil.... Kau telah membunuh saudara Tua Gila. Aku tidak akan membiarkan dirimu tenteram seumur hidup. Ke mana pun kau pergi akan kukejar."

Orang yang berlari tidak tahu sudah sejauh mana dia meninggalkan Bukit Menoreh melakukan pengejaran. Dia terperangah sendiri ketika di timur muncul cahaya terang pertanda fajar telah menyingsing. Orang ini hentikan larinya. Saat itulah dia baru sadar kalau sekujur dirinya sangat letih. Dia mendengar suara kicau burung di sekitarnya. Lalu lapat-lapat ada suara riak air. Dia melangkah ke arah suara ini hingga akhirnya menemui sebuah telaga kecil di tengah kerapatan pepohonan dan semak belukar.

"Aku capai sekali, haus... ingin mandi. Tapi apakah aku perlu mandi?! Hik.. hik... hik!" Orang yang tertawa jatuhkan dirinya di tepi telaga. Lalu dia ulurkan tangan untuk menciduk air, maksudnya mau meneguk air telaga lalu mencuci muka.

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, entah siapa yang bicara terdengar suara menggema. Suara perempuan.

"Sinto Gendeng, air telaga itu lebih suci dari dirimu yang penuh dosa. Jangan kau berani menyentuhnya. Apa lagi minum dan dipakai mandi!"

Orang di tepi telaga yang memang adalah Sinto Gendeng nenek sakti dari puncak Gunung Gede, guru Pendekar 212 Wiro Sableng tersentak kaget. Kibaskan air telaga yang sempat diciduknya lalu berdiri di tepi telaga sambil berkacak pinggang. Sepasang matanya yang berada dalam rongga cekung berputar, memandang garang seputar telaga.

"Mahluk betina yang barusan bicara! Siapa kau? Mengapa berani bicara tidak berani unjukkan diri?!"

"Kau tidak cukup pantas melihat diri kami!" Ada jawaban, juga suara perempuan. Dan tetap saja Sinto Gendeng tidak bisa mengetahui dari mana asalnya.

Nenek sakti itu mendengus.

"Kami! Huh! Jadi kalian berdua! Sama-sama tidak berani unjukkan tampang! Berarti sama-sama jelek! Mungkin kalian berdua punya wajah bopeng. Atau hidungnya gerumpung. Mungkin juga picak sebelah matanya! Hik... hik... hik!"

"Sinto Gendeng, menjauh dari telaga!"

"Kurang ajar!" Sinto Gendeng hentakkan kaki kanannya. Hentakan ini bukan gerakan biasa tapi mengandung tenaga dalam tinggi luar biasa, apalagi disertai tawa kemarahan. Tanah bergetar. Batu-batu dan tanah sekitar telaga berjatuhan ke dalam air. Pohon-pohon besar keluarkan suara berderak. Dedaunan runtuh luruh dan jatuh ke tanah.

"Manusia penuh dosa, tidak ada gunanya memamerkan kehebatan tenaga dalam di hadapan kami. Jika kami mau, tubuhmu bisa kami benamkan ke dalam tanah!"

"Oo la la!" Sinto Gendeng mendongak lalu tertawa melengking. Diam-diam matanya memandang berputar, telinga dipasang tajam. "Bicara sombong amat! Baik, aku mau tahu bagaimana caranya kalian membenamkan diriku ke dalam tanah! Tapi lebih dulu kalian berdua harus unjukkan tampang!"

Habis berkata begitu Sinto Gendeng hantamkan tangan kanannya ke arah satu pohon besar yang diperkirakan di situlah tempat dua orang yang tadi bicara mendekam.

Sinar putih berkiblat. Hawa panas menghampar. Sesaat rimba belantara sekitar telaga itu menjadi terang berderang. Lalu bummm! Wusss!

Pohon besar yang kena dihantam Pukulan Sinar Matahari tenggelam dalam kobaran api ialu kraakk! Pohon ini tumbang menggemuruh.

Dua tawa cekikikan memenuhi gemuruhnya suara pohon yang tumbang.

"Sinto Gendeng! Orang lain mungkin bisa kagum melihat kehebatan pukulan saktimu tadi. Tapi kami berdua menganggap pukulan itu tidak ada apa-apanya!"

"Saudaraku, dia minta memperlihatkan bagaimana cara kita membenamkan dirinya ke tanah. Bagaimana menurutmu?"

"Tidak ada salahnya kita penuhi permintaannya itu! Kau sudah siap?!"

"Sudah! Mari!"

Di tepi telaga Sinto Gendeng keluarkan caci maki panjang pendek. Tapi sambil memaki dia siapkan dua pukulan sakti. Pukulan pertama berupa pukulan pertahanan yakni Benteng Topan Melanda Samudera satunya pukulan Segulung Ombak Menerpa Karang. Begitu dua orang tersebut unjukkan diri maka dia akan menghantam dengan dua pukulan sakti itu. Malah diam-diam dia juga telah menyiapkan ilmu sakti Sepasang Pedang Inti Roh di kedua matanya.

Tapi dua orang yang ditunggu tidak kunjung muncul.

"Pengecut!" teriak Sinto Gendeng.

Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi berpasangan. Satu suara tinggi, satunya suara rendah. Dua-duanya suara perempuan.

"Tembang Puspita Loro," desis Sinto Gendeng mengenali nyanyian itu. Tengkuknya mendadak mengkirik. Tembang itu adalah nyanyian yang biasa dialunkan pada saat-saat terjadi kedukaan. Misal pada saat ada seseorang meninggal dunia.

Selagi Sinto Gendeng berusaha mencari-cari di mana adanya dua perempuan yang menyanyi itu tiba-tiba dia merasa ada satu hawa aneh di sekeliling tubuhnya. Sesaat kemudian satu kekuatan yang tidak kelihatan, laksana himpitan sebuah gunung, menekan dirinya ke bawah.

"Jahanam! Minta mati berani membokong licik!" Sinto Gendeng berteriak marah lalu hantamkan dua tangannya ke atas. Namun pukulan sakti Benteng Topan Melanda Samudera dan Segulung Ombak Menerpa Karang tidak mau keluar! Malah tekanan berat yang datang dari atas semakin hebat. Dua kaki Sinto Gendeng mulai bergetar lalu menekuk. Dia kerahkan tenaga dalam untuk bertahan akibatnya dess... desss! Sepasang kakinya yang hitam tinggal kulit pembalut tulang melesat ke dalam tanah!

Kejut nenek sakti ini bukan alang kepalang. Dia pukulkan dua tangannya ke udara dalam gerakan "Kipas Sakti Terbuka". Bersamaan dengan itu dia keluarkan pula Ilmu Belut Menyusup Tanah untuk bisa loloskan diri dari tanah tempat kakinya terbenam. Namun sia-sia saja. Setiap apa yang dilakukannya membuat tubuhnya semakin melesak ke dalam tanah! Kini tubuhnya telah terbenam sampai sebatas pinggul!

Sinto Gendeng keluarkan keringat dingin. Seumur hidup nenek yang tidak pernah merasa jerih ini untuk pertama kalinya merasa takut yang amat sangat. Makin jauh terbenam ke dalam tanah, makin terasa lemas sekujur tubuhnya. Suara teriakan dan makiannya yang tadi terdengar tidak berkeputusan kini lenyap. Dada si nenek turun naik. Nafasnya megap-megap.

Tekanan dari atas masih belum berhenti. Sosok Sinto Gendeng amblas sampai ke perut, lalu lebih dalam lagi sampai ke dada.

"Kalian siapa... kalian siapa? Apa dosaku sampai mengazab diriku seperti ini?" Ucapan itu keluar berkepanjangan dari mulut Sinto Gendeng.

Suara dua perempuan menyanyikan lagu Puspito Loro lenyap. Saat itulah berbarengan dengan munculnya sang surya di ufuk timur dua sosok aneh muncul di permukaan telaga. Sosok ini perwujudan dua perempuan tua berwajah sama, jernih bersih yang dari rautnya menandakan di masa mudanya mereka merupakan gadis-gadis cantik. Rambut mereka yang putih melambai-lambai ditiup angin pagi, berkilauan laksana perak. Yang luar biasanya tubuh dua perempuan tua ini, mulai dari dada sampai ke kaki berupa tubuh seekor naga berwarna putih. Sosok dua perempuan tua bertubuh naga ini seolah-olah mengapung di tepian telaga. Entah dari mana datangnya kabut mendadak muncul di permukaan air.

"Sinto Gendeng," perempuan tua di sebelah kanan keluarkan ucapan. "Kami sudah unjukkan diri. Apakah kau mengenali siapa adanya kami berdua?"

Sinto Gendeng buka matanya lebar-lebar lalu gelengkan kepala. "Aku tidak mengenali. Aku tidak tahu siapa kalian. Katakan... katakan siapa kalian."

"Kami Sepasang Naga Putih Kembar. Aku bernama Naga Nini, adikku bernama Naga Nina. Nah, kami sudah memperkenalkan diri. Apalagi yang hendak kau tanyakan."

"Kalian.... Meng... mengapa memendam diriku begini rupa. Apa dosaku dan kesalahanku...." ujar Sinto Gendeng dengan suara gemetar.

"Kalau ingin kami mengatakan, dosamu terlalu banyak Sinto Gendeng. Tapi dosamu terakhir yang ada sangkut pautnya dengan diri kami adalah pembunuhan yang kau lakukan terhadap seorang anak lelaki berusia lima belas tahun. Bernama Boma Wanareja."

"Aahhhh.... Anak itu," ujar Sinto Gendeng dengan mata berputar liar. "Aku membunuhnya secara tidak sengaja. Aku mengira dia orang yang telah membunuh Datuk Mudo Carano Ameh, orang yang kusangka adalah Tua Gila Dari Andalas. Aku tidak sengaja karena tidak tahu. Aku ketelepasan tangan dan seumur hidup aku akan menyesali perbuatanku itu!"

Sepasang Naga Putih sama-sama gelengkan kepala. Lalu seperti menyanyi tadi, sama-sama pula keduanya berucap.

"Kau tidak ketelepasan tangan Sinto. Kau juga bukan tidak sengaja. Sebelum menemui ajal anak itu sempat berteriak bahwa dia bukan pembunuh Datuk Mudo Carano Amen. Tapi karena sudah biasa gatal tangan membunuh sembarangan, kau tidak perdulikan teriakan orang. Kau menghantamnya dengan Pukulan Sinar Matahari! Sungguh keji! Pukulan sakti yang sanggup menghancur gunung itu kau pakai untuk membunuh seorang bocah tidak berdaya!"

Sinto Gendeng keiuarkan suara menggerung mendengar kata-kata Sepasang Naga Putih.

"Kalian berdua boleh saja tidak percaya. Tapi aku berani bersumpah aku tidak punya niat jahat membunuh anak itu!"

"Kematian sudah terjadi! Anak yang mati tak mungkin dibuat hidup kembali! Dosamu tak mungkin dilebur. Jadi saat ini pantas sekali kami membenamkan dirimu di tanah!" Berkata Naga Nini.

Naga Nina menyambung. "Sebenarnya kami ingin memendam tubuhmu di puncak Gunung Gede, di samping makam Boma Wanareja. Namun ketika kami datang ke sana kau tengah gentayangan ke mana-mana...."

"Aku bukan gentayangan. Aku justru tengah mengejar Nyi Ragil, pembunuh sebenarnya dari Datuk Mudo Carano Amen!" jawab Sinto Gendeng setengah berteriak..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.21
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia