Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DADU SETAN

"SAUDARA WIE, APA YANG TERJADI? APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAPKU?!" TANYA LOAN NIO NIKOUW. TANGAN KIRI MENUTUP PADA PAKAIAN YANG TERSINGKAP. TANGAN KANAN MERABA KE PUNGGUNG. "DIMANA PEDANGKU?" TIBA-TIBA ADA SESEORANG MUNCUL DI MULUT GOA. "LOAN NIO. BANGSAT BERAMBUT GONDRONG ITU BARUSAN HENDAK MEMPERKOSAMU UNTUNG AKU DATANG. DIA PULA YANG TELAH MENCURI PEDANG NAGA MERAH MILIKMU..." "SAUDARAWIEI BENAR ...BENAR?!" "BENAR APA NIO?" "KAU HENDAK MEMPERKOSAKU! KAU MENCURI PEDANG NAGA MERAH!" ‘NIONIO, AKU BELUM GILA MELAKUKAN HAL BEJAT ITU PASTI BANGSAT MUKA TENGKORAK INI MENGARANG CERITA MENGUMBAR MULUT FITNAH!" "SAUDARA WIE. AKU TIDAK MENYANGKA BEGITU BEJAT BUDI PEKERTIMU! AKU MENGIRA KAU SEORANG SAHABAT YANG BISA DIMINTA TOLONG! TERNYATA KAU IBLIS TERKUTUK!" "NIONIO. DENGAR DULU KETERANGANKU..."UCAP WIRO."AKU TIDAK BUTUH KETERANGAN. AKU INGIN MEMBUNUHMU SAAT INI JUGA"



1PENDEKAR 212 Wiro Sableng beberapa kali mempercepat larinya. Namun nenek rambut kelabu tetap saja terpaut dua tombak di sebelah depan.

"Luar biasa. Ilmu lari apa yang dimiliki mahlukjejadian ini. Aku tak mampu mendekati." ucap Wiro dalam hati.

Setelah berlari cukup jauh. di satu jalan berbatu-batu dan menurun serta dipenuhi pohon cemara hutan, dari arah depan muncul nenek kedua, kembaran nenek yang tengah diikuti Wiro.

"Hahu ha-hu."

Nenek yang muncul keluarkan ucapan gagu sambil tangan kiri menunjuk-nunjuk kc jalan berliku-liku di bawah sana.

"Ha-hu ha-hu." Nenek satunya keluarkan suara sama. Dia memberi tanda pada Wiro lalu ikuti saudara kembarnya. Wiro segera pula membuntuti dua nenek kembar Eyang Sepuh Kembar Tilu, seorang nenek sakti yang tempo hari tewas di tangan pembunuh misterius (Baca episode sebelumnya berjudul "Dadu setan".) Dari nenek itu Wiro malah kebagian pekerjaan Sebelum mati si nenek minta agar sang pendekar mencari siapa pembunuhnya.



Makin ke bawah jalan yang ditempuh semakin terjal. Batu-batu besar menghadang di setiap sudut Dua nenek kembar enak saja melompat, melayang dan melesat Jubah kuning mereka tampak berkibar-kibar ditiup angin dan keluarkan suara berkasiuran saking cepatnya mereka berkelebat Wiro ketinggalan jauh di belakang. Dia hendak berteriak agar dua nenek jangan lari terlalu cepat Namun urungkan niat karena tiba-tiba dia mendengar sayup-sayup suara tiupan seruling.

Dua nenek kembar saat itu sudah lebih dahulu hentikan lari dan berlindung dibalik satu batu cadas besar. Begitu Wiro mendekat keduanya menunjuk ke arah kelaunan. Mulut mereka hendak keluarkan suara ha-hu ha-hu tapi Wiro cepat memberi tanda agar dua nenek ini jangan bersuara.

DI arah yang ditunjuk, sekitar dua puluh tombak di bawah sana terdapat sebuah situ atau telaga yang airnya sangat jernih, memiliki dua warna. Yaitu biru dan hijau. Warna Ini bukan lain adalah pantulan dari pepohonan serta tanam-tanaman yang tumbuh di sekeliling telaga.

Di tepi telaga sebelah timur, tepat arah jatuhnya cahaya sang surya siang hari itu, terapung sebuah rakit bambu. Di atas rakit Ini ada bagian yang menyerupai kursi panjang. Di atas kursi bambu inilah tampak duduk seorang perempuan berpakaian merah berkembang kecil-kecil biru dan kuning. Asyik meniup seruling berwarna putih dan dari jauh kelihatan berkilauan terkena cahaya matahari. Karena agak jauh Wiro tidak dapat memperhatikan jelas, apalagi melihat wajah orang. Selain Itu di bawah topi biru yang dikenakan wajah perempuan ini tertutup untaian manik-manik merah yang menjulai sampai ke bawah dagu. DI punggungnya tergantung sebilah pedang bersarung merah dan selembar papan seluncur.

Tiupan seruling perempuan berbaju merah di atas rakit mengalun lembut namun sanggup menimbul kan buiatan-bulatan riok tak berkoputusan di permukaan air telaga serta mendatangkan getaran halus pada aliran darah Pendekar 212. Pengaruh tiupan seruling membuat dua nenek kembar saling pandang dan mengusap muka berulang kali.

"Perempuan baju merah itu memiliki hawa sakti dan tenaga dalam tinggi..." ucap Wiro perlahan.

Salah seorang nenek kembar menggerak-gerakkan tangan kanan ke atas ka bawah sementara tangan kiri mengacungkan jempol.

"Ya, ya. Aku mengerti. Kau hendak mengatakan orang Itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat" kata Wiro pula. "Kalian berdua tunggu di sini. Aku akan turun menemui perempuan itu." Wiro dongakkan kepala, menarik nafas dalam-dalam melalui hidung. Saat itu dia mencium bau harum semerbak. Rasa-rasanya dia pernah mencium bau harum seperti ini sebelumnya. Wiro memandang pada dua nenek kembar.

"Aku yakin dia yang telah menolong diriku sewaktu dilibat pohon beringin jejadian ujud sialan Ki Beringin Reksal Tubuhnya menebar bau harum yang sama.

Dua nenek sama-sama mengangguk. Yang satu memberi tanda dengan gerakan tangan agar Wiro berlaku hati-hati. Baru saja Wiro keluar dari gundukan batu cadas, suara tiupan seruling mendadak berhenti. Wiro tahan gerakannya. Mata menatap tajam ke arah orang di atas rakit. Si baju merah Ini sama sekali tidak menggerakkan tubuh atau kepala.

"Dia tidak memandang berkeliling. Tapi dari tubuh dan kepala yang tidak bergerak sama sekali agaknya dia sudah tahu aku ada di sini." Pikir Wiro. Sang pendekar menunggu.

Perempuan di atas rakit kembali meniup sulingnya. Wiro cepat berkelebat di antara batu-batu besar hingga akhirnya sampai di tepi sebelah selatan telaga. Dari sini dia segera hendak lari ke arah timur. Namun lagi-lagi gerakan pendekar 212 tertahan. Kali ini bukan oleh gerak-gerik perempuan di atas rakit namun karena berkelebatnya satu bayangan biru dari balik sebuah batu besar antara tempat dia berada dan rakit di tepi telaga. Wiro cepat menyelinap ke balik semak belukar lebat

"Loan Nio! Akhirnya kutemui juga kau!" Satu suara seruan menggelegar di seantero telaga.

Menatap ke arah timur Wiro melihat seorang berpakaian ringkas serba biru berdiri di tepi telaga, hanya terpisah satu tombak dengan rakit. Hebatnya, orang berambut hitam lebat panjang dan dijalin ke belakang ini memiliki wajah berbentuk tengkorak. Di balik punggungnya tersembul gagang sebilah pedang. Dari bentuk pakaian, Wiro mengetahui bahwa siapapun adanya dia adalah seorang pendekar silat berasal dari daratan Tiongkok.

Perempuan di atas rakit tampak terkejut Tapi agaknya dia bisa menguasai diri. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Suling perak diselipkan pada selendang yang terbelit di pinggangnya yang ramping.

Ingin melihat lebih jelas dan juga ingin tahu apa yang dibicarakan kedua orang itu, Wiro bergerak mendekat. Namun dia hanya bisa garuk kepala karena dua orang tersebut bicara dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Bahasa Tionggoan.

"Ong Cun. bagaimana kau bisa berada di tempat ini?" Perempuan di atas rakit bertanya.

‘Loan Nio, aku sudah lama menyirap kabar bahwa kau akan berangkat ke tanah Jawa ini. Setelah mencari tahu dari teman-teman pulau dan kota mana yang kau tuju, aku berangkat mendahului." Orang bermuka tengkorak menjawab.

"Kau pergi sejauh ini. Apakah tidak hanya membuang waktu percuma?"

"Aku sudah berbulat tekad bahkan bersumpah. Aku akan mencarimu sampai dapat. Aku akan mengikutimu kemana kau pergi."

"Untuk apa?" tanya perempuan yang dipanggil dengan nama Loan Nio dan bukan lain adalah seorang paderi perempuan yang di Tionggoan selatan dikenal dengan nama Kiang Loan Nio Nikouw.

"Loan Nio, jangan kau berkura-kura dalam perahu. Berpura-pura tidak tahu. Tiga tahun lebih aku mengikutimu. Aku tidak akan berhenti mengejarmu sebelum kau menyatakan diri mau menerima tali perjodohan denganku."

Habis berkata begitu lelaki berpakaian biru yang rambutnya dikepang dan berwajah tengkorak ini melompat ke atas rakit. Gerakkannya enteng, tubuhnya seringan kapas. Rakit yang dijejaki tidak bergoyang barang sedikitpun.

"Ong Cun, kau sudah tahu. Aku sudah menjadi seorang paderi.

Jangan..."

"Loan Nio, itu dalihmu dari dulu. Lalu apakah seorang Paderi tidak boleh nikah?"

"Memang tidak ada larangan. Tapi aku telah memutuskan dan memilih menjauhi segala urusan keduniaan."

Liok Ong Cun tertawa bergelak.

"Kau berdusta. Kau menipu dirimu sendiri. Kedatanganmu kemari jelas-jelas adalah untuk urusan dunia. Apa kau kira aku tidak tahu sangkut pautmu dengan benda yang kau cari? Dua buah dadu yang oleh orang-orang di daratan Tiongkok sudah dianggap sebagai dadu setan dan harus dimusnahkan? Apa kau kira aku tidak tahu kau telah memperalat beberapa tokoh kang ouw. Dan semua mereka telah menemui kematian secara sia-sial Bun Pek Cuan, Siauw Chie, Hek Chiu Mo!"

Walau agak kaget bahwa orang dihadapannya tahu banyak tentang perjalanannya ke tanah Jawa namun paderi perempuan itu bersikap tenang dan menjawab.

"Aku hanya menjalankan tugas dari Wakil Ketua Siauw Lim-pai."

"Aku tahu tugas itu. Tapi sambil menyelam kau sekaligus minum air. Sambil menjalankan tugas kau kesini adalah untuk mencari kekasihmu di masa kanak-kanak dulu. Bukan begitu?! Jangan kau kira aku tidak tahu riwayat dirimu sejak kau baru lahir sampai saat ini!"

Wajah paderi perempuan yang tertutup di balik cadar untaian manik-manik tampak bersemu kemerahan.

"Ong Cun, aku tidak mau bicara lagi denganmu. Pergilah. Aku ingin sendirian di tempat ini."

"Menunggu kedatangan kekasihmu?!" ucap LiokOng Cun penuh mengejek. "Loan Nio, dengar baik-baik. Aku tidak akan bergerak setapakpun. Sebelum kau menerima ikatan perjodohan!"

"Ong Cun. kau juga denga rbaik-baik dan masukkan ke dalam otakmu!" jawab Loan Nio Nikow jadi sengit "Antara kita selama ini tidak ada hubungan apa-apa. Antara kita tidak akan ada hubungan apapun di masa mendatang!"

Wajah tengkorak Uok Ong Cun mengelam kaku. "Dari pada teganya kau berkata begitu, lebih baik kau bunuh saja diriku saat ini juga !"

"Srettt"

Liok Ong Cun yang di Tionggoan dijuluki Ko Lo Khek alias Pendekar Muka Tengkorak cabut pedang yang tergantung di punggung, jatuhkan diri setengah berlutut, pedang yang memancarkan sinar hijau diletakkan di atas rakit, kepala diulur, siap untuk dipenggal, pasrah menerima kematian!

Akan tetapi paderi perempuan itu tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Dengan suara perlahan dia berkata.

"Ong Cun, kau telah sesat terlalu jauh. Bukan aku sendiri gadis di dunia ini. Kau bisa mencari yang lain. Yang lebih baik dari diriku. Sarungkan pedangmu kembali. Pedang sakti seperti Ceng Coa Kiam milikmu itu tidak boleh dipakai sembarangan (Ceng Coa Kiam = Pedang Ular Hijau).



"Aku hanya menginginkan dirimu seorang. Kau tahu hal itu Loan Nio. Mengapa kau begitu angkuh tidak mau menerima diriku? Mengapa hatimu sekeras batu? Mengapa kau seolah tidak punya perasaan sama sekali!" Liok Ong Cun masih tetap dalam keadaan setengah berlutut dan kepala dimajukan.

"Sudah, aku tidak mau bicara lagi. Aku sarankan agar kau memencilkan diri di satu tempat Bertapa atau bersemadi. Semoga kau diberi kesadaran oleh Thian." (Thian=Tuhan)



"Loan Nio, kita sama-sama kembali saja ke Tionggoan. Mengapa membuang waktu di negeri orang."

"Ong Cun, kau tahu, aku ada urusan di negeri ini. Jika kau Ingin pulang, pulanglah duluan. Kurasakan itu lebih baik bagimu..."

"Loan Nio, jika kau tetap tidak mau memberi jalan dan juga tidak mau menghabisi diriku maka jangan salahkan kalau aku berbuat nekat Aku merasa lebih baik kita mati bersama saja!"

Selesai keluarkan ucapan Pendekar Muka Tengkorak alias Liok Ong Cun ambil pedang hijau yang tergeletak di atas rakit bambu. Lalu didahului satu teriakan dahsyat dia kiblatkan pedang demikian rupa hingga menyambar deras di depan rumbai manik-manik yang menjadi cadar Kiang Loan Nio Nikouw. Jelas yang diincar adalah kepala atau leher sang Nikouw dan jelas pula dia benar-benar hendak menghabisi paderi perempuan yang sangat dicintainya itu.

"Ong Cun! Apa yang kau lakukan ini? Apa kau sudah gila?!"

Loan Nio Nikouw cepat cabut seruting perak yang terselip di pinggang.

"Tringg!"

Terdengar suara berdering ketika mata pedang hijau saling beradu dengan suling perak. Bunga api memercik hijaudan pubh berkilau. Kiang Loan Nio Nikouw merasa suling perak dan tangan kanannya bergetar. Walau menyadari suling itu bukan tandingan pedang sakti Ceng Coa Kiam milik lawan, namun dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh tenaga dalam serta gerakan yang sangat cepat paderi perempuan itu masih sanggup menghadapi gempuran gencar Liok Ong Cun, malah dua kakinya tidak bergeser sedikitpun dari tempat injakan semula! Ini menjadi bukti bahwa sebenarnya tingkat kepandaian sang paderi berada di atas orang yang nekad hendak membunuhnya.

"Loan Nio! Aku memang sudah gila! Tergila-gila padamu! Aku akan membunuhmu. Setelah itu aku akan bunuh diri! Tidak berjodoh di dunia tidak jadi apa, tapi di alam akhirat kita bisa bersatu!"2Makin sulit bagi Liok Ong Cun menembus pertahanan lawan yang hanya mengandalkan sebuah suling perak, semakin beringas lelaki muka tengkorak ini menghujani sang paderi dengan bacokan, tusukan serta babatan pedang. Setelah serangan menghabisi jurus ke sembilan dan tidak menghasilkan apa-apa, maka didahului satu teriakan dahsyat Liok Ong Cun kiblatkan pedang Ceng Coa Kiam dalam jurus andalannya bernama Thian Yau Te Soan atau Langit Goyang Bumi Berputar. Loan Nio Nikouw melihat pedang di tangan Ong Cun menggeletar seperti ular melesat. Dua kakinya yang menginjak lantai rakit terasa bergoyang kesemutan sementara di sebelah atas kepalanya terasa pening. "Breett!" Ujung pedang berhasil menyambar bahu kiri baju merah Loan Nio Nikouw hingga paderi ini terpekik dan untuk pertama kalinya dia melompat di atas rakit lalu melesat ke daratan. Dengan sigap Ong Cun mengejar. Pedang Ceng Coa Kiam kembali menggempur. Kali ini dalam jurus Jay Hong Toh Te atau Pelangi Melengkung Ke Bumi Pedang sakti di tangan Liok Ong Cun menderu deras dan membuat cahaya hijau setengah lingkaran. Benar-benar laksana pelangi jatuh ke bumi sangat berbahaya bagi keselamatan Loan Nio Nikouw yang saat itu masih mengandalkan suling perak dalam menghadapi lawan. Sebenarnya untuk melindungi diri paderi ini ingin mencabut pedang di punggung. Namun diamerasa khawatir. Pedang Naga Merah bukan senjata sembarangan. Sekali keluar dari sarungnya Liok Ong Cun bisa celaka.

Khawatir si baju merah akan mendapat celaka, Wiro tidak tunggu lebih lama. Namun sebelum dia melesat dua nenek kembar Eyang Sepuh Kembar Tilu mendahului bergerak. Keduanya memberi isyarat pada Wiro dengan gerakan tangan mereka yang akan menolong paderi perempuan itu.

Selesai memberi isyarat dua nenek melesat ke udara. Di depan sana tahu-tahu Liok Ong Cun merasakan dua bahunya ditahan dan ditekan orang lalu tubuhnya tertarik ke belakang hampir terjengkang hingga serangan Jay Hong Toh Te atau Pelangi Melengkung Ke Bumi hanya menderu membabat udara kosong. Saat itu Loan Nio Nikouw yang tengah berpikir-pikir apakah akan mencabut pedang sakti atau tidak tampak terkejut melihat kemunculan dua nenek kembar aneh yang menelikung Liok Ong Cun dari belakang.

"Bangsat rendah! Siapa berani berlaku kurang ajar"

Liok Ong Cun berteriak marah dan hantamkan dua sikut tangannya ke belakang.

"Bukk! Bukk!"

"Ha-hu Ha-hu!"

Dua nenek lepaskan cekalan. Dilabrak sikutan keras tadi keduanya seperti tidak merasakan padahal sikut kiri kanan Liok Ong Cun mendarat di tubuh mereka dengan telak. Jangankan tubuh manusia, tembokpun bisa jebol. Liok Ong Cun tidak tahu kalau yang jadi lawannya saat itu adalah dua nenek kembar jejadian. Begitu cekalan pada bahunya terlepas Pendekar Tengkorak segera berbalik dan kiblatkan Ceng Coa Kiam dalam jurus Cia Yan Hoan Sim atau Burung Walet membalik Diri. Pedang ular hijau membabat di udara. Dua nenek keluarkan suara ha-hu ha-hu, cepat selamatkan diri dengan melompat ke atas namun ujung pedang masih sempat membabat robek ujung jubah kuning nenek kembar sebelah kiril

Liok Ong Cun tak habis pikir siapa adanya dua nenek yang membokong dari belakang itu. Kawan-kawan baru atau kaki tangan Loan Nio?l

"Ha-hu ha-hu!"

Dua nenek tampak marah. Terutama yang jubahnya robek. Keduanya menggerung keras lalu sama-sama dorongkan dua tangan ke bawah.

"Wuut! Wuut!"

"Wurrl Byaarr!"

Empat gelombang angin menghantam ke bawah. Tanah di tepi telaga terbongkar, air di pingir telaga muncrat ke atas. Liok Ong cun berteriak keras. Pandangannya tertutup oleh hamburan tanah dan cipratan air telaga. Dalam keadaan seperti itu dia merasa empat tangan bergerak di seputar tubuhnya sebelah atas. Lalu!

"Breett ..Ibreet!..Breettt!"

Terdengar suara robekan pakaian berulang kali.

"Kurang ajar! Apa yang kalian lakukanl teriak Liok Ong Cun. Pedang dibabatkan ke atas, ditusukan ke depan, lalu dibacokan ke samping. Namun dia hanya menghantam tempat kosong. Sementara di lain kejap dia merasa tubuhnya didorong keras ke depan hingga terjerembab di tanah, belum sempat bergerak bangkit, dia merasa celana birunya diloloskan orang!"

"Ha-hu... ha-hu! Hik... hik,.. hik!"

Begitu cipratan air telaga dan hamburan tanah lenyap. Liok Ong Cun berteriak kaget dan juga marahi Dia dapatkan dirinya dalam keadaan polos, hanya tinggal mengenakan celana dalam putih! Dihadapannya dua nenek kembar berjubah kuning tertawa ha-hi ha-hi sambil menunjuk-nunjuk ke arah bagian bawah perut si muka tengkorak.

‘Tua bangka setan alas!" maki Liok Ong Cun dalam bahasa Cina yang tentu saja tidak dimengerti dua nenek. "Kucincang kalian!"

Liok Ong Cun melompat sambil ayunkan pedang Ceng Coa Kiam. Pedang bergeletar hebat Dua nenek melihat seperti ada setengah lusin ular menyerang ke arah mereka!

"Ha-hu Ha-hu" Nenek di sebelah kanan kibaskan tangan ke atas menangkis serangan lawan sementara tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke arah celana kolor yang masih tersisa di tubuh Liok Ong Cun. Nenek satunya yang mengerti maksud kawannya segera jatuhkan diri ke tanah, dua tangan menyambar ke arah kolor putih.

Sadar apa yang hendak dilakukan orang, dirinya akan ditelanjangi dengan cepat Liok Ong Cun jatuhkan diri ke tanah, sambar sarung pedang yang tadi jatuh bersama robekan baju lalu gelindingkan tubuh menjauh setelah sebelumnya kirim satu tendangan yang tidak mengenai sasaran.

Tua bangka kurang ajar! Kalian akan menerima balasanku!" Liok Ong Cun memandang berkeliling mencari Loan Nio Nikouw. Tapi paderi ini sudah sembunyi di balik sebuah pohon besar karena jengah melihat keadaan Liok Ong Cun yang nyaris bugil!

"Loan Nio! Jika aku tidak bisa mendapatkan dirimu, jika aku tidak bisa menghabisi dirimu! Aku akan membunuh semua lelaki yang berani mendekatimu!"

Habis berkata begitu sambil pegangi kolornya yang kedodoran awut-awutan Liok Ong Cun tinggalkan telaga sambil mulutnya memaki panjang pendek.

‘Ha-hu ha-hu! Hik...hik...hik!"

Dua nenek kembar tertawa terpingkal-pingkal lalu lari ke balik semak belukar menemui Wiro. Yang satu menunjuk-nunjuk ke arah pohon besar.

"Aku tahu, gadis berpakaian merah ada di balik pohon itu. Ayo kita menemuinya ke sana."

Wiro dan dua nenek lantas berkelebat ke balik pohon besar. Loan Nio Nikouw agak terkejut ketika dapatkan dirinya didatangi dan berhadapan dengan si pemuda gondrong serta dua nenek kembar. Namun sadar kalau dua nenek itu tadi telah menolongnya walau dia sebenarnya sudah siap keluarkan pedang Ang Liong Kiam yang akan sanggup menghadapi gempuran lawan, sang Nikouw cepat menjura dalam-dalam di hadapan dua nenek.

"Terima kasih. Orang tua berdua telah menolong saya. Mengapa Melakukan itu?

"Ha-hu ha-hu..." Dua nenek dan juga Wiro sama-sama terkejut Walau ucapannya tidak fasih betul dan bahasanya agak kaku namun ternyata gadis berpakaian merah ini bisa bicara bahasa setempat. Pendekar 212 garuk-garuk kepala beberapa kali.

"Nona, kami yakin kau bukan orang sini. Kalau tidak salah menduga kau adalah orang dari negeri seberang, daratan Tiongkok. Menakjubkan kau bisa bahasa kami." Wiro berkata sambil matanya coba mengintai ke balik untaian tirai manik-manik yang menutupi wajah orang. Tapi untaian manik-manik itu sangat rapat hingga matanya tidak dapat menembus. Dia hendak terapkan ilmmenembus pandang tapi tidak bisa. Aneh ! Apakah orang ini memiliki hawa sakti yang punya daya tolak luar biasa?

"Tidak ada hal menakjubkan. Lagi kecil sampai usia tujuh tahun saya tinggal di sini. DI satu kota bernama Semarang..."

"Ah, begitu?" ujar Wiro.

"Ha-hu ha-hu!" Dua nenek kembar menimbrung.

Di balik cadar manik si baju merah tersenyum lalu bertanya pada Wiro.

"Dua nenek hebat Ini, Apakah dia pellharaanmu. Naluri saya mengatakan dia bukan manusia serupa kita. Apakah dia sebangsa jin yang saya dengar sangat banyak keberadaannya dinegeri inl?"

"Ha-hu ha-hu." Dua nenek goyang-goyangkan tangan tapi dengan wajah tersenyum.

"Mereka sahabatku. Mereka baik terhadap siapa saja. Mereka kelihatan sangat senang mengenalmu."

"Terima kasih, terima kasih." Loan Nio Nikouw menjura.

"Saya rasa dua kawanmu Ini agak keterlaluan mempermalukan orang tadi sampai bugil begitu rupa..."

"Ha-hu ha-hu." Dua nenek membuat gerakan tangan berulang kali.

"Apa yang hendak dikatakan dua sahabatmu Itu?" tanya si baju merah.

"Mereka ingin mengatakan, kalau tidak ditelanjangi orang Itu tidak akan mau angkat kaki dari sini."

Loan Nio Nikouw tertawa.

"Cerdik juga dua nenek kembar Itu. Membuat lawan kabur tanpa mencederai..."

"Mereka masih berbaik hati. Kalau sampai kolor orang itu ikut dicopot, wah..." Wiro dan dua nenek tertawa gelak-gelak.

Dua nenek balas monjura lalu tertawa ha-ho hi-hil. Yang satu sambil memegang lengan kembarannya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan lalu tangan dijalankan ke kiri.

"Kalian mau pergi? Silahkan saja Aku juga berterima kasih kalian telah menolong Nona ini." Kata Wiro yang mengerti maksud isyarat si nenek.

Dua nenek keluarkan suara ha-hu ha-hu, yang satu kedip-kedipkan mata, yang satu lagi runcingkan bibir lalu digerak-gerakkan hingga mengeluarkan suara seperti orang mengecup. Kemudian sambil tertawa ha-ha hl-hi keduanya tinggalkan tempat Itu dan lenyap dalam sekejapan mata.

"Luar biasa Imu kesaktian mereka," memuji Loan Nio Nikouw.

"Nona, bagaimana kau jauh-jauh dari daratan Tiongkok bisa sampai di sini. Lalu siapa pula lelaki muka tengkorak tadi?"

"Jangan panggil saya nona. Panggil saya Loan Nio Nikouw. Saya seorang paderi."

"Ah..." Wiro kembali garuk kepala. Tidak menyangka kalau saat itu dia berhadapan dengan seorang paderi perempuan. Walau belum melihat wajah, namun dari raut tubuh serta suara Wiro merasa pasti si paderi berbaju merah ini seorang gadis remaja. Masih begini muda. sudah jadi paderi.

"Satu kehormatan besar bisa berkenalan dongan seorang paderi. Lidah saya agak susah menyebut nama paderi. Apa boleh saya memanggil paderi dengan sebutan Nionio saja?"

Loan Nio Nikouw terdiam sejenak Lalu tertawa lepas.

"Seumur hidup belum pernah orang memanggil saya Nionio. Itu nama punya lucu. Tapi enak juga didengar." Kembali paderi itu tertawa.

"Nionio, lelaki muka tengkorak tadi, aku lihat dia sangat beringas ingin membunuhmu. Apakah kau dan dia memang saling bermusuhan?"

"Ini soal sangat pribadl. Saya tidak akan menceritakan sebelum tahu siapa dirimu adanya." Jawab Loan Nio Nikouw.

Wiro menjawab sambil menggaruk kepala.

"Namaku Wiro."

‘Wiro?" Loan Nio Nikouw mengingat-ingat, lalu di balik tirai manik-manik wajahnya menunjukkan keterkejutan. Kakinya malah tersurut setu langkah.

"Ada apa? Apakah namaku satu hal yang menakutkan bagimu?" tanya pendekar 212.

"Seorang tokoh perguruan di Tionggoan pernah memberi tahu tentang dirimu. Kau dikatakan sebagai seseorang yang punya She Wie dan nama Lo Sab Leng'

Karuan saja Wiro jadi tertawa gelak-gelak mendengar namanya disebut seperti nama orang Cina.

"Lebih lanjut tokoh itu minta agar saya mencarimu dalam menyelesaikan semua urusan di negeri ini Saya seperti menerima satu berkah besar. Belum mencari orangnya sudah datang sendiri."

"Nionio, siapa gerangan tokoh yang kau maksudkan itu?

"Dia Wakil Ketua perguruan besar Siauw Lim. Katanya beberapa waktu lalu kau pernah berada di Tionggoan."

"Luar biasa Aku sungguh mendapat kehormatan sangat besar. Namun aku tidak bisa mengatakan apakah aku punya kemampuan untuk membantumu." Kata Pendekar 212 pula.

"Paderi Nionio, sekarang apa kau sudah mau menerangkan sangkut paut silang sengketa dirimu dengan lelaki muka tengkorak tadi?"

"Lelaki itu bernama Liok Ong Cun. Saya mengenalnya lebih dari sepuluh tahun. Sejak kami sama-sama jadi murid Siauw Lim. Dia pernah berulang kali bilang bahwa dia mencintai saya dan ingin mengambil saya jadi istri. Saya tidak begitu perduli semua dia punya ucapan dan keinginan. Saya menganggap dia tidak lebih dan seorang kakak seperguruan. Kemudian saya meninggalkan Siauw Lim dan memutuskan jadi paderi. Dia terus mengikuti kemana saya pergi. Bahkan sampai kesini. Tadi dia berlaku nekad mau bunuh saya. Kalau saya mati dia lantas akan bunuh diri.'

"Nionio. ucapannya mungkin saja hanya tiupan untuk meluluskan permintaannya. Tapi satu hal, kau harus berhati-hati. Cinta yang berubah jadi kebencian bisa menimbulkan dendam amat mengerikan."

Kiang Loan Nio Nikouw terdiam Dalam dirinya dia menyadari apa yang dikatakan pemuda gondrong yang baru dikenalnya itu benar adanya dan bisa menjadi kenyataan. Malah tadi dia telah menyaksikan sendiri kenekatan Liok Ong Cun."Tadi dia mengancam akan membunuh siapa saja saja laki-laki yang berani mendekati diriku."

"Berarti termasuk aku," kata Wiro sambii garuk kepala "Nionio, aku lihat Liok Ong Cun menutupi wajahnya dengan topeng tengkorak..."

"Dia pernah bersumpah tidak akan melepas topeng itu sebelum saya bersedia jadi istrinya."

"Apa kau juga akan menceritakan tujuan perjalananmu ke tanah Jawa ini? Kau tahu. kedatanganmu di tanah Jawa pada saat suasana di kawasan barat Ini sedang tidak aman. Pembunuhan penuh misteri terjadi dimana-mana. Diantara para korban adalah beberapa orang dari daratan Tiongkok."

"Saya sudah tahu..." kata paderi perempuan itu.

"Apa orang-orang itu ada sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Semua mereka yang tewas itu adalah orang suruhan dan kepercayaan saya."

Wiro tak menyangka dan jadi ternganga mendengar ucapan sang paderi

Loan Nio Nikouw lanjutkan ucapan. "Saya harus menyelidiki siapa pelaku pembunuh orang-orang itu."

"Itu bukan pekerjaan mudah. Bisa-bisa membahayakan keselamatan dirimu sendiri, Nionio."

"Saya tahu. Tapi itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai murid Siauw Lim..."

"Jadi perguruan Siauw Lim yang memberikan tugas padamu?"

Loan Nio Nikouw anggukan kepala.

"Masih ada satu tugas lain yang harus saya lakukan. Saya tidak tahu harus memulai dari mana walau ada beberapa petunjuk yang bisa dipergunakan untuk menyelidik."

"Tugas apa?" Wiro bertanya ingin tahu. Semula dia menyangka paderi perempuan itu tidak akan memberi tahu. Ternyata Nionio Nikouw malah bercerita.

"Saya ditugaskan untuk menemukan dan membawa pulang ke Siauw Lim dua buah benda mustika berupa sepasang dadu dari gading, dulunya dadu ini adalah milik seorang keturunan Dinasti Ming. Karena dua dadu telah disalah gunakan dan menimbulkan malapetaka dimana-mana maka Raja meminta Siauw Lim untuk menyimpannya secara rahasia. Namun sekitar tiga tahun silam dua buah dadu itu lenyap dari tempat penyimpanan. Walau Siauw Lim geger namun berita tidak sampai bocor ke luar. Dua buah dadu berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Karena bencana yang ditimbulkannya dua buah dadu itu disebut dadu setan. Kabarnya dua buah dadu itu sekarang berada di tanah Jawa ini. Orang-orang suruhan saya mungkin telah berhasil melacak keberadaan dua buah dadu itu. Namun mereka keburu menemui ajal sebelum mendapatkanya.Saat inl saya seperti menghadapi jalan buntu. Ada satu kekuatan besar di negeri Ini yang tidak Ingin dua buah dadu kembali ke Tionggoan."

Wiro Ingat pertemuannya beberapa waktu lalu dengan Eyang Sepuh Kambaran Tilu. Sebelum meregang nyawa nenek yang punya dua kembaran jejadian Ini meminta agar Wiro menolong mencari siapa pembunuhnya dan mendapatkan kembali dua buah dadu Wiro juga ingat cerita perajurit Jumena yang ditemuinya di sebuah Jurang di daerah perbatasan. Saat Itu Jumana menceritakan tentang dua buah dadu yang menjadi sebab kematian Pengemis Muka Bopeng di tangan Eyang Sepuh Kembar Tilu yang menyaru sebagal Raden Kumatesakti (Baca Episode sebelumnya berjudul "Dadu Setan")



"Dua buah dadu, bisa menimbulkan malapetaka. Sungguh luar biasa. Nionio, apakah dua buah dadu Itu merupakan senjata mustika hingga diperebutkan orang, Sampai-sampal mengorbankan nyawa?"

"Dua buah dadu Itu memang merupakan senjata mustika atau senjata rahasia. Di Tionggoan kami menyebutnya piauw. Bilamana dipakai untuk menyerang lawan, setelah lawan menemui ajal, dadu akan berbalik kembali pada pemiliknya.'

"Hebat" ucap Wiro kagum.

"Namun bukan itu yang merisaukan para tetua di Siauw Lim. Dua buah dadu Itu blaa dipergunakan untuk mengeruk kekayaan orang lain. Harta setlnggl gunungpun bisa ludas."

"Bagaimana mungkin?" Wiro setengah tak percaya.

"Melalui judi. Orang yang memiliki dadu bisa mengatur angka dadu yang akan keluar hanya dengan menyebut dalam hati serta memperhatikan dengan mata."

Wiro garuk-garuk kepala lalu mengangguk-angguk.

Dari balik tirai manik-manik yang menutupi wajahnya, Loan Nio Nikouw perhatikan wajah Pendekar 212. Dalam hati paderi perempuan Ini berkata. "Aku menduga, orang ini mengetahui sesuatu. Tapi dia tidak mau bicara. Apakah aku memang bisa mempercayainya seperti yang dikatakan Wakil Ketua Siauw Lim? Orang bisa saja berubah. Dulu dia orang baik, sekarang mungkin sudah jadi jahat Mungkin pula dia ikut terlibat dengan urusan dadu setan itu. Berarti bisa jadi dia yang membunuh Bun Pek Cuan, Siauw Cie dan Hek Chiu Mo. Apa yang harus aku lakukan. Padahal masih ada satu urusan penting menyangkut pedang mustika milikku dengan senjata sakti konon berupa kapak yang menjadi miliknya. Tapi saat ini aku tidak melihat dia mombekal senjata itu."

"Saudara Wie"

Wiro tersenyum mendengar dirinya dipanggil seperti itu.

"Apa yang saat ini ada dalam pikiranmu?" tanya Loan Nio Nikouw.

"Nionio, aku pasti tewas ketika melawan manusia pohon bernama Ki Beringin Reksa itu kalau kau tidak menolongku."

‘Bagaimana kau bisa berkata bahwa aku yang menolongmu. Padahal kita baru saja kali ini bertemu."

Wiro tertawa. "Kau sengaja menyembunyikan kenyataan. Aku menghargai kebesaran jiwa dan kerendahan hatimu." Wiro melirik ke arah gagang pedang berbentuk kepala naga yang tersembul di balik punggung sang paderi. Wiro terkesiap sesaat Untuk pertama kali dia menyadari ukiran kepala naga yang jadi gagang pedang sang paderi bentuknya sama dengan kepala naga gagang Naga Geni 212 miliknya.

"Saudara Wie, kau yakin aku menolongmu?"

"Saat itu aku melihat satu bayangan merah berkelebat disertai berkiblatnya cahaya merah. Aku yakin bayangan merah itu adalah dirimu yang mengenakan pakaian merah. Lalu cahaya merah adalah cahaya pedang sakti yang kau bekal di punggung. Pasti dengan pedang sakti itu kau telah membabat putus tangan Ki Beringin Reksa. Selain itu aku mencium dan mengenali satu bau harum. Bau tubuh dan pakaianmu. Nionio. saat kau menolongku kita belum saling mengenai. Mengapa mau turun tangan menghadang bahaya menyelamatkan diriku?"

‘Apakah untuk menolong seseorang yang terancam jiwanya kita harus banyak berpikir? Sebelum selesai berpikir bisa-bisa orang yang mau ditolong sudah mati duluan."

Wiro tertawa lebar.

"Selain itu, hal tolong menolong bukankah hukum yang tidak tertulis didalam limbah persilatan?"

"Kau benar Nionio. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu."

Loan Nio Nikouw hanya tersenyum dibalik cadar manik-manik yang menutupi wajahnya.

"Nionio, kalau saja ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membalas budi baik dan hutang nyawaku..."

"Saya menolong bukan mengharapkan pamrih. Tapi jika ada kesudian, harap saudara Wie mau menemui saya ditempat kediaman Adipati Brebes, lusa tengah malam."

Wiro agak heran mendengar ucapan sang paderi.

"Adipati Brebes? kau mengenal Adipati Itu!"

"Saat ini dia satu-satunya orang yang bisa memberi petunjuk dalam mencari dua buah dadu itu. Apakah Saudara Wie bersedia datang ? Saya memerlukan seorang teman untuk menemani sewaktu menemui Adipati itu."

Wiro mengangguk.

Tunggu saya didepan pintu gerbang gedung kadipaten. Saya akan datang tepat pada pertengahan malam."

"Mengapa harus pada pertengahan malam? Bukan siang hari?" tanya pendekar 212 pula.

Itu permintaan Adipati Brebes. Saya hanya bisa mengikuti. saya orang asing. Mungkin Adipati tidak mau ada orang luar yang tahu saya mengunjunginya."

Wiro anggukkan kepala.

"Saudara Wle, saya harus pergi sekarang. Saya ada keperluan lain. Kita bertemu di tampatyang saya katakan tadi."

"Nionio, tunggu dulu. Bagaimana kau bisa mengenal Adipati Brebes padahal kau belum lama berada di sini."

Pertanyaan Wiro itu menimbulkan sedikit rasa curiga dalam diri Loan Nio Nikouw. Apa perlunya pemuda gondrong Ini menanyakan hal itu.

"Jangan-jangan dia tengah menyelidiki diriku" pikir sang paderi.

"Jika kau tidak mau memberi tahu tidak jadi apa." Ucap Wiro ketika dilihatnya orang hanya berdiam diri tak mau menjawab.

Loan Nio Nikouw ambil papan seluncur yang tergantung di punggungnya. Papan ini dijatuhkan ke dalam telaga, diinjak dengan kaki kanan. Begitu sang paderi celupkan kaki kiri ke dalam air dan dikibaskan ke belakang, papan seluncur melesat ke depan. Hanya dua kali menggerakkan kaki kiri, Loan Nio Nikouw sudah berada di tepi barat telaga, naik ke darat dan lenyap dari pemandangan.3Udara malam terasa dingin sementara angin bertiup kencang. Langit kelihatan gelap kelam. Tak ada bulan tak ada bintang. Mungkin tak lama lagi akan turun hujan. Gedung besar kediaman Adipati Brebes tampak sunyi. Hanya ada sebuah lampu kecil menyala di langkan depan. Pintu gerbang tertutup rapat Tak kelihatan seorang pengawalpun di tempat Itu. Bagi Kiang Loan Nio Nikouw yang menunggang kuda, tidak Sulit mencarl gedung kediaman Adipati Brebes. Begitu sampai di depan pintu gerbang, entah dari mana datangnya, tahu-tahu lima perajurit bersenjata tombak telah mengurung. Walau mengurung sikap mereka menunjukan rasa hormat Mereka memegang tombak dengan ujung lancip di arahkan ke tanah. "Tamu berkuda, apakah kami berhadapan dengan paderi dari Tionggoan?" Salah seorang dari lima perajurit bertanya. "Saya memang paderi dari Tionggoan. Nama saya Kang Loan Nio." Jawab penunggang kuda. Pada saat itu pintu gerbang terbuka. DI pertengahan pintu berdiri seorang berjubah biru yang mata kanan ditutup sehelai kain tebal berwarna hitam. Dua tangan dirangkap di atas dada, sepasang kaki yang tajam masih bisa melihat Dua kaki yang tersembul dari bagian bawah jubah biru orang bermata satu ini bukan kaki manusia biasa, melainkan berbentuk kaki kuda lengkap dengan ladam besinya. "Henimm... kehadiran orang aneh Ini membuat aku tidak enak," ucap Loan Nio Nikouw dalam hati.

"Harap tamu terhormat menunjukkan tanda pengenal." Si picak berkata.

Masih duduk di atas kuda, Loan Nio Nikouw gerakkan tangan kanan ke punggung.

"Srett!"

Satu cahaya merah menerangi tempat di sekitar pintu gerbang. Itulah cahaya Ang Liong Kiam atau Pedang Naga Merah yang barusan dicabut sang Paderi perempuan dari sarung di belakang punggung. Lelaki picak di ambang pintu gerbang menatap penuh kagum dengan mata kiri.

"Ini rupanya pedang sakti yang dikatakan Adipati. Sebentar lagi senjata itu akan menjadi milikku." Si mata satu sunggingkan senyum dan anggukkan kepala. Setelah membungkuk, dia melangkah ke kiri dan berkata.

"Paderi dari Tionggoan, atas nama Adipati Brebes aku mengucapkan selamat datang. Adipati telah menunggu. Tak usah turun dari kuda. Silahkan mengikuti."

Kiang Loan Nio Nikouw sarungkan senjatanya kembali. Dia memandang berkeliling lalu berkata. "Saya menunggu seorang teman. Kami akan menghadap Adipati berdua. Apakah bisa menunggu barang sebentar?"

"Turut apa yang aku tahu, paderi dari Tionggoan hanya akan menemui Adipati seorang diri."

Kian Loan Nio Nikouw kembali memandang berkeliling. Dia merasa kecewa karena tidak melihat Wiro di tempatitu. Untuk mengulur waktu dia bertanya. "Apakah Adipati sudah siap dan berkenan menerima saya?"

"Adipati orang yang tepat janji. Karena itu jangan membuat dia tidak enak karena terlalu lama menunggu."

"Apakah sebelum ini tidak ada tamu lain yang datang?"

"Tamu siapa maksud paderi?" balikbertanya si jubah biru mata satu.

"Seorang pemuda berambut panjang sepundak."

Si mata satu gelengkan kepala. "Tidak ada tamu lain. Malam ini Adipati hanya berkenan menerima kedatangan satu orang tamu yaitu Paderi dari Tionggoan. Pemuda yang paderi maksudkan itu, apakah dia punya nama. Mungkin punya gelar?"

"Namanya Wie Lo Sab Leng. Bergelar Pendekar Kapak Naga Geni Dua Satu Dua."

Tampang si mata satu jadi berubah. Namun dia cepat-cepat tertawa untuk menghilangkan bayangan rasa terkejut dimukanya.

"Paderi, aku yakin pemuda yang kau maksudkan itu adalah Wiro Sableng. Sekarang sebaiknya paderi segera masuk."

"Kalau saya boleh bertanya, saya berhadapan dengan siapa?" Loan Nio Nikouw bertanya.

"Namaku Sentot Balangnipa. Aku Kepala Pengawal gedung Kadipaten." Seperti dituturkan dalam episode sebelumnya (Dadu Setan) Ki Sentot Balangnipa adalah salah seorang tokoh rimba persilatan yang melindungi Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga yang terletak secara tersembunyi di bawah Bukit Batu Seruling. Mata kanannya amblas ditembus Kujang Emas Kiai Pasundan milik Rayi Jantrayang kepala Pasukan Kadipaten Losari Kini mata kanan yang buta itu ditutup dengan kain tebal hitam.



Begitu mengetahui siapa adanya orang di hadapannya Loan Nio Nikouw segera rundukkan badan memberi hormat

"Paderi dari Tionggoan, kau ingin menghadap Adipati atau tidak. Jika Ingin harap segera masuk. Jika kau beri ama-tama di sini Jangan salahkan kalau aku terpaksa menutup pintu gerbang."

Loan Nio Nikouw maklum dia tidak bisa mengulur waktu karena lelaki di depannya tampakmulai tidak senang. Sebelum menggerakkan kudanya, paderi ini kembali memandang berkeliling Wiro yang diharapkan akan muncul tetap tidak kelihatan.

"Apa yang terjadi? Apa pemuda itu mendapat halangan atau dia memang sengaja mendustai diriku...?" membatin sang paderi.

Pintu gerbang tertutup begitu Loan Nio Nikouw masuk ke halaman gedung Kadipaten. Dia tidak tahu sampai dimana kehebatan lelaki mata picak mengaku bernama Sentot Balangnipa ini. Namun dan keadaan dua kakinya yang menyerupai kaki kuda, sikap serta gerak-gerik, sang paderi segera memaklumi orang ini memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Di depan tangga gedung Kadipaten, Sentot Balangnipa hentikan langkah lalu balikan badan.

"Paderi, kau boleh turun dari kuda. Ada yang akan mengurus binatang itu. Solanjutnyasllahkan mengikuti."

Loan Nio Nikouw turun dari kuda lalu menaiki tangga depan gedung Kadipaten. DI depannya si jubah biru bermata satu melangkah enteng di atas lantai babi pualam tanpa suara, padahal dua kakinya dilapis ladam besi. Setiap ruangan yang dilalui dalam keadaan redup karena hanya diterangi oleh lampu minyak kecil. Di satu tempat yang merupakan ruangan luas Ki Sentot Balangnlpa hentikan langkah. Kaki kanan dlketukan tiga kail ke lantai batu pualam. Serta merta enam buah lampu minyak besar di tempat Itu menyala. Keadaan Jadi terang benderang. Ki Sentot melirik ke samping memperhatikan tubuh elok Loon Nio Nikouw di sampingnya.

"Sayang wajahnya tertutup untaian manik-manik. Aku yakin wajahnya pasti cantik sekali. Bau tubuhnya yang harum hemmmm..."ucap Ki Sentot Balangnipa dalam hati.

Loan Mo Nikouw memandang berkeliling.Temyata ruangan Itu memiliki tiang-tiang kayu berukir serta empat dinding yang dipahat sangat indah. DI dinding sebelah depan ada sebuah pintu kayu berukir dengan gambar seorang perompuan muda tanpa pakaian menunggang kuda.

Kembali Ki Sentot Balangnlpa hentakkan kaki kanan tiga kali ke lantai.

Pintu kayu berukir bergeser ke samping. Sesaat kemudian dari dnlam ruangan keluar seorang lelaki bertubuh kukuh, mengenakan blangkon biru dan jas tutup hitam. Berewok serta kumisnya tebal sekali.

Inilah Raden Mas Karta Sumlnta, Adipati Brebes.

Sang Adipati tartawa lebar lalu rundukkan kepala sedikit dan berkata. "Paderi Loan Nio, sungguh satu kehormatan besar kau bersedia memenuhi janji datang ke gedungku."

"Adipati, saya mengucapkan terima kasih karena Adipati! telah sudi menyediakan waktu menerima kedatangan saya." Jawab Loan Nio Nikouw sambil membalas penghormatan orang dengan membungkukkan badan. Lalu dia menyambung ucapannya. "Saya maklum Adipati tidak punya banyak waktu Apakah kita bisa bicara di sini?"

"Jangan khawatir. Untuk Paderi Loan Nio saya akan meluangkan waktu luas. Tidak usah terburu-buru. Mari kita berbincang-bincang di dalam."

"Adipati Brebes mompersilahkan tamunya masuk ke dalam ruangan. Dia memberi isyarat pada Ki Sento tBalangnipa yang segera tinggalkan tempat itu.

"Adipati, ada sesuatu yang hendak saya sampaikan." Kata Sentot Balangnipa. Maksudnya hendak memberi tahu bahwa tamu paderi perempuan dari Tionggoan itu punya hubungan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun Adipati menjawab setengah berbisik.

"Nanti saja. Pada saatnya harap kau bersiap-siap untuk mengambil pedang milik sang paderi."

Ki Sentot Balangnipa mengangguk lalu tinggalkan tempat itu.

Perlahan-lahan pintu kayu berukir gambar perempuan telanjang menunggang kuda menutup kembali.

Ruang dimana Loan Nio Nikouw berada ternyata sebuah ruangan yang sangat bagus. Lantai tertutup permadani dari Turki. Empat dinding memiliki warna dasar biru muda dinhiasi lukisan pemandangan yang saling sambung antara dinding satu dengan dinding lainnya. Loan Nio Nikouw belum pernah melihat lukisan begini indah dan seolah hidup sehingga merasa berada di satu alam terbuka penuh kesegaran.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja dan dua kursi terbuat dari kayu jati berukir burung pada bagian sandaran dan tangan kursi kiri kanan. Di atas meja ada sebuah piala kaca serta dua buah seloki besar yang juga terbuat dari kaca. Adipati Brebes mempersilahkan tamunya duduk.

Entah mengapa saat itu Loan Nio Nikouw merasa hatinya kurang tenteram. Karena itu setelah duduk di kursi paderi ini langsung bicara pada maksud kedatangannya.

"Adipati, saya tidak ingin mengganggu Adipati terlalu lama. Ijinkan saya bicara pada pokok persoalan. Saya sudah menerima keterangan dari penghubung kita bahwa Adipati mengetahui dimana beradanya dua buah dadu gading yang berasal dari Tiongkok itu."

"Paderi Loan Nio waktu kita cukup banyak. Mengapa terburu-buru? Lagi pula bukankah sepatutnya saya menjamu Paderi lebih dulu?" Habis berkata begitu Adipati Brebes Karta Suminta menuangkan minuman dalam piala ke dalam dua buah cangkir kaca.

"Minuman ini tidak ada di Tiongkok. Terbuat dari jahe yang ditumbuk halus, diberi air yang sudah dimasak ditambah madu dari negeri Arab. Jika diminum hangat-hangat akan membuat tubuh terasa segar, otak jernih, pandangan menjadi terang serta hati lega. Ha_ ha... ha... Silahkan Paderi mencicipi..."

Loan Nio Nikouw tampak sedikit bimbang. "Saya tidak haus katanya.

"Tidak baik menampik. Atau mungkin Paderi menaruh curiga akan sesuatu...?"

Adipati Brebes ambil seloki di hadapannya lalu meneguk minuman di dalam seloki itu sampai habis. Wajahnya kelihatan merah dan keringat memercik di kening. Pelipis kiri kanan tampak bergerak-gerak.

"Tidak ada apa-apa dalam minuman ini. Tidak ada racun" kata Adipati pula lalu tertawa lebar.

Karena merasa tidak enak. Loan Nio Nikouw akhirnya ulurkan tangan mengambil seloki di atas meja. Sebelum meneguk, minuman itu diciumnya terlebih dulu. Terendus bau sedap harum dan hangat Sang paderi hanya meneguk seperlima dari isi seloki kaca lalu letakkan seloki di atas meja.

"Adipati, kembali pada pertanyaan saya tadi. Benar Adipati mengetahui dimana beradanya dua buah dadu gading Itu?"

Adipati Brebes terlebih dulu usap kumis dan janggut lebatnya baru menjawab.

"Memang betul. Saya mengetahui. Tapi mengetahui keberadaan dua buah dadu bukan berarti saya telah memilikinya-."

"Saya mengerti. Saya juga maklum kalau Adipati bisa menolong saya untuk mendapatkan dua buah dadu itu."

"Saya sudah menyuruh dua orang kepercayaan saya untuk mengawasi tempat dimana dua buah dadu itu berada. Pagi nanti sebelum fajar menyingsing kita bersama-sama mendatangi tempat itu. Sementara itu kita masih punya banyak waktu untuk bercakap-cakap bertukar pengalaman. Selain itu ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Namun jika Paderi Loan Nio mungkin merasa letih dan ingin beristirahat, saya sudah menyediakan kamar tersendiri sambil menunggu datangnya pagi."

Loan Nio Nikouw kedipkan kedua matanya beberapa kali. Dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja dia merasa mengantuk. Tubuhnya terasa panas. Aliran darah mengencang sementara jantungnya berdetak lebih cepat Paderi ini mulai merasa curiga.

"Terima kasih, saya tidak letih..."

"Mengantuk mungkin?"

‘Tidak juga. Tapi..." Sang Paderi menguap. Cepat-cepat dia tutupkan tangan kanan ke mulut Sepasang matanya berair. Kepala terasa berat tersentak ke depan. "Maafkan saya. Beberapa hari ini saya memang kurang tidur»" Loan Nio Nikouw menguap kembali. Bersamaan dengan itu kepala dan tubuhnya terkulai ke kursi.

Adipati Karta Suminta tersenyum. Perlahan-lahan dia berdiri, melangkah ke dinding. Saat itu juga bagian tengah dinding yang berseberangan bergerak turun ke lantai ruangan, membentuk sebuah tempat tidur besar berkasur tebal, terbungkus seperai lembut

Gelegak nafsu membersit jelas di wajah yang menyeringai. Adipati Karta Suminta mendatangi sosok yang terkulai tak sadarkan diri di kursi kayu jati. Kemudian diambilnya pedang dan papan seluncur yang ada di punggung paderi Loan Nio, diletakkan di atas meja. Lalu tubuh Loan Nio Nikouw didukung, dibaringkan di aias tempat tidur. Lalu Adipati ini membuka pakaiannya. Dengan hanya mengenakan celana dalam dia kemudian berbaring disamping Loan Nio Nikouw. Topi biru yang bersambung dengan untaian manik-manik merah ditanggalkan dari kepala sang Paderi.

Untuk beberapa saat lelaki ini terkesiap sewaktu melihat ternyata sang Paden berkepala licin gundul. Walau tidak memiliki rambut namun wajah sang Paderi tampak cantik jelita. Alis lengkung bak bulan sabit bibir merah seperti delima merekah. Adipati Brebes ciumi kepala gundul dan wajah cantik harum itu berulang kali.

Sambil tertawa lebar dan pandang wajah serta kepala Loan Nio Nikouw Adipati Karta Suminta usap-usap janggutnya yang lebat

"Seumur hidup baru kal in aku melihat gadis botak secantik ini. Ha... ha... ha . Penga.aman baru! Aku akan meniduri gadis botak!" Karta Suminta melirik ke bagian bawah pinggang Paderi Loan Nio. "Apakah...apakah.Ha...ha...ha! "Dengan penuh nafsu dia kembali menciumi wajah dan kepala gundul Paderi dari Tionggoan itu berkali-kali.

Dua tangan Adipati Karta Suminta kemudian bergerak menyingkap dada pakaian sang Paderi. Di balik pakaian luar warna merah berkembang-kembang biru dan kuning itu ada selapis pakaian dalam. Pakaian dalam ini begitu tipis sehingga sang Adipati dapat melihat jelas dada Loan Nio Nikouw. Sepasang matanya membesar. Seumur hidup baru kali ini dia melihat dada begitu bagus, putih dan mulus. Penuh gelegak nafsu lelaki ini sapukan wajahnya dengan gemas ke dada Loan Nio Nikouw.

"Braakk!"

Tiba-tiba atap ruangan jebol. Sesosok tubuh melayang turun. Bersamaan dengan itu satu tendangan menderu ke arah kepala Adipati Brebes yang tengah melampiaskan nafsunya itu sementara Loan Nio Nikouw masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.4Dalam gelapnya malam Pendekar 212 Wiro Sableng hentikan lari. Dia membungkuk untuk mengencangkan ikatan kasut di kaki kanan. Sebenarnya ini adalah satu kepura-puraan belaka. Sejak tadi dia mengetahui ada seseorang berlari menguntit dirinya. Sambil membungkuk Wiro memperhatikan ke belakang. Gelap sunyi. Tak tampak seorangpun. "Cepat juga setan itu sembunyi" pikir Wiro ‘Tapi aku akan segera mengetahui siapa orangnya." Wiro lanjutkan lari ke arah utara menuju Kadipaten Brebes. Malam itu sesuai perjanjian tepat tengah malam dia akan menemui Kang Loan Nio Nikouw di pintu gerbang gedung kediaman Adipati Brebes. Semula Wiro mengira orang yang menguntitnya adalah sang Paderi sendiri. Namun setelah ditunggu beberapa lama orang yang membuntuti itu takkunjung menyusul atau unjukkan diri. Wiro jadi curiga. Di satu tempat dia berkelebat ke balik serumpunan semak belukar lalu melompat naik ke sebuah pohon bercabang rendah berdaun rimbun. Sunyi, tak ada suara tak ada gerakan. Namun tak selang berapa lama sang penguntit muncul juga. Wiro tak percaya pada penglihatannya. Orang yang mengikuti itu ternyata pemuda berpakaian biru bermuka tengkorak dari Tionggoan yang bukan lain adalah Liok Ong Cun alias Pendekar Muka Tengkorak Ko Lo Khek. Wiro segera ingatakan penjelasan Nio Nikouw bahwa pendekar murid Siauw Lim ini pernah keluarkan ancaman akan membunuh setiap lelaki yang mendekati dirinya.

Wiro maklum sudah. Liok Ong Cun sengaja menguntit dengan membekal maksud jahat

"Sejak tadi dia sengaja tidak mau unjukkan diri. Pasti karena ingin mengetahui lebih dulu kemana tujuanku." Pikir Wiro. "Mungkin juga dia sudah tahu kalau aku akan menemui paderi perempuan yang digilainya itu."

Wiro menatap ke langit. Tengah malam, waktu perjanjian dengan Loan Nio Nikouw hampir tiba Jika mengurusi manusia satu ini bisa-bisa dia terlambat sampai di gedung kediaman Adipati Tapi kalau tidak diurusi tetap saja LiokOng Cun akan jadi penghalang. Wiro tidak mau kalau orang itu tahu kemana dia pergi dan bertemu dengan sang paderi. Wiro memutuskan untuk segera saja turun dari atas cabang pohon. Tapi belum sempat hal itu dilakukan satu cahaya hijau tiba-tiba memancar di bawah sana. Di lain saat satu sosok biru melesat ke udara lalu cahaya hijau berkiblat ke arah pohon dimana Wiro berada.

"Craass...craass!"

Luar biasa! Dalam waktu singkatdaun pohon dibalik mana Wiro berada tertebas luruh dan melayang jatuh ke tanah. Setengah bagian dari pohon menjadi gundul! Keberadaan sosok Wiro di atas pohon yang tadi terlindung kini terlihat jelas. Sosok biru melesat ke tanah. Di bawah sana Liok Ong Cun berdiri dengan dua kaki merenggang sementara sebilah pedang hijau dimelintangkan di depan dada. Mulutnya mengumbar tawa bergelak.

"Manusia di atas pohon! Mengapa masih belum turuni Apa baru mau turun kalau kutabas dulu batang lehermu dengan Ceng Coa Kiam?»"

Walau Pendekar 212 tidak mengerti apa yang diucapkan orang karena Liok Ong Cun bicara dalam bahasa Cina tapi Wiro maklum kalau pemuda bertopeng muka tengkorak itu bicara dan mengejek dirinya. Tidak tunggu lebih lama Wiro segera melompat turun. Sebaliknya selagi Wiro melayang di udara Liok Ong Cun melompat ke atas. Pedang sakti di tangan kanannya membabat ganas, menebar cahaya hijau dalam jurus angker bernama Jai Hong Toh Te atau Pelangi Melengkung Ke Bumi.

Cahaya hijau setengah lingkaran berkiblat menabas menyamping dari atas ke bawah, disertai suara bersuit ganas. Yang diincar adalah kepala dan tubuh Pendekar 212.

Sebelumnya Wiro telah melihat jurus serangan ini yaitu ketika Liok Ong Cun menghadapi Nionio Nikouw. Digempur serangan hebat saat itu sang paderi tidak sampai celaka karena keburu ditolong dua nenek kembar jejadian. Wiro tak mau berlaku ayal. Dengan cepat dia berkelebat ke samping sambil tangan kiri lepaskan pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan.

Selarik angin deras melabrak Liok Ong Cun. Gerakan tubuh pendekar Tionggoan muka tengkorak ini menjadi goyang dan tertahan sedikit namun tangan kanannya yang memegang pedang masih mampu menyusup ke depan.

"BrettT

Ujung Pedang Ular HIjau merobek lengan kanan baju putih Wiro.

Wiro berseru kaget dan memaki dalam hati.

"Gila! Gebrakan pedangnya cepat sekali.Tenaga dalamnya juga tinggi. Pukulan saktiku tidak membuatnya mental!"

Begitu menjejakkan kaki di tanah, Liok Ong Cun kembali menyerbu. Seperti tadi gerakannya luar biasa cepat Wiro sambut serangan lawan dengan tawa bergelak lalu membuat gerakan aneh. Dia keluarkan ilmu silat Orang Gila yang didapatnya dari kakek sakti bernama Tua Gila.

LiokOng Cun kerenyitkan kening sewaktu melihat sosok lawan bergerak perlahan, terhuyung ke kiri dan ke kanan, bergerak seperti mau terjerembab sementara dua tangan menggapai ke atas dan ke samping Kepala mendongak dan mulut terus mengumbar tawa. Gerakan Wiro yang perlahan seolah berlaku ayal ini membuat Liok Ong Cun jadi penasaran. Dasar ilmu pedangnya adalah gerakan cepatsementara lawan melayani dengan gerakan perlahan. Dia merasa dalam waktu dua jurus saja dia akan mampu membacok kepala atau menabas tubuh Wiro!

Liok Ong Cun menyerbu dengan jurus Yau Te Soan alias Langit Bergoyang Bumi Berputar. Pedang sakti warna hijau di tangannya melesat menggeletar laksana ular menyambar.

"Heee.„" Wiro mencibir. Kepala dimiringkan, dua lutut ditekuk. Pedang hijau menderu ganas setengah jengkal di depan kening Pendekar 212!

"Setan! Aku mau lihat apa kau mampu menghindar dari jurus maut ini!" teriak Liok Ong Cun yang jadi marah karena selain diejek serangannya tadi berhasil dihindari lawan. Untuk kesekian kalinya Pedang Ular Hijau membabat berkesiuran ke arah pinggang namun tiba-tiba serangan berubah menjadi satu tusukan. Luar biasa! Tidak gampang merubah babatan menjadi tusukan. Apa lagi serangan itu dilakukan dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi!

Itulah salah satu jurus andalan ilmu pedang LiokOng Cun yang disebut Cip Hian JayHon atau Tiba-tiba Muncul Pelangi.

Kaget Pendekar 212 bukan alang kepalang. Senjata lawan tahu-tahu sudah menusuk ke arah dadanya. Tepat pada saat ujung pedang menyentuh pakaiannya, tubuh Wiro tiba-tiba meliuk ke kiri dan rebah ke belakang. Bersamaan dengan itu dua tangannya membuat gerakan seperti orang bertepuk. Badan pedang hijau terjepit diantara dua telapak tangan Wiro Ketika tubuh Wiro jatuh punggung, senjata lawan yang ikut Tertarik menancap menghujam di tanah.

LiokOng Cun berseru kaget

"Bagaimana mungkin!" teriaknya heran. Di Tionggoan, tingkat kepandaian menarik pedang dengan dua telapak tangan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh para tetua Siauw Lim Apakah pemuda berambut gondrong ini lebih hebatdari tokoh Siauw Lim?!

Rasa kaget membuat Liok Ong Cun bedaku lengah. Dia tak Sempat menghindar ketika dari bawah kaki kiri Wiro melesat ke atas, kirimkan tendangan yang dengan telakmenghajar bahu kanannya. LiokOng Cun berteriak kesakitan, memaki habis-habisan. Wiro melompat bangkit Diam-diam dia merasa kagum.Orang lain jika ditendang seperti itu pasti sudah remuk tulang bahunya.Tapi Liok Ong Cun berteriak kesakitan lalu usap-usap bahu kanannya.

"Antara kita tidak ada permusuhan. Mengapa kau hendak membunuhku? Cemburu giia?!"

Liok Ong Cun yang tidak mengerti ucapan Wiro keluarkan kutuk serapah yang tidak di mengerti Wiro. Tindakan pemuda muka tengkorak ini ternyata tidak sampai hanya memaki. Tapi sambil melangkah kehadapan lawannya dia lalu meludahi, muka Wiro.

Dihina orang seperti itu membuat darah pendekar 212 jadi menggelegak. Ubun-ubunnya terasa panas. Seumur hidup belum pernah dia diperlakukan orang seperti itu. Dibarengi teriakan penuh amarah Wiro menerjang. Kalau tadi ketika mengeluarkan ilmu silat orang gila gerakan Wiro begitu lamban seperti orang mabok, kini tubuhnya seolah berubah menjadi bayang-bayang, dua tangannya lenyap dari pemandangan!

Belum pernah Liok Ong Cun menghadapi lawan yang punya kemampuan ilmu silat tangan kosong begini hebat dengan cepat dia membuat gerakan perlawanan, lancarkan jurus-jurus pertahanan yang sesekali diseling serangan-serangan kilat dengan mengandalkan ketinggian tenaga dalam serta kecepatan gerak. Beberapa kali dua tangan mereka saling bersilang dan beradu sampai mengeluarkan suara keras. Setiap terjadi bentrokan tangan, Wiro terpental satu langkah, sebaliknya Liok Cun hanya mengeluh kesakitan. Mengira dia memiliki tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh yang lebih andal dari lawan, pendekar dari Tionggoan ini terus merangsak Namun dia salah menafsir. Saat itu Pendekar 2l2 telah keluarkan Ilmu silat yang bersumber pada Kitab Putih Wasiat Dewa yang didapatnya dari Datuk Rao Basaluang Ameh. Dari enam jurus pukulan inti yang mendasari ilmu silat langka itu Wiro hanya mengeluarkan tiga jurus saja yakni Tangan Dewa Menghantam Air Bah, Tangan Dewa Menghantam Api dan Tangan Dewa Menghantam Matahari.

LiokOng cun memang luar biasa Dia sanggup mengelakkan dua jurus pertama serangan lawan yang menghantam ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Namun jurus ketiga yang bernama Tangan Dewa Menghantam Matahari tidak sanggup dia hindari. Pemuda ini menjerit keras ketika jotosan tangan kanan Wiro mendarat telak di wajahnya.

"Kraak!"

Tulang hidung remuk. Bibir pecah. Darah mengucur, menggerung kesakitan dan megap-megap karena sulit bernafas Liok Ong Cun terhuyung mundur. Tiba-tiba orang ini berteriak keras seperti kemasukan setan. Darah menyembur dari hidung dan mulut Tubuh jatuh punggung tergelimpang di tanah. Sepasang mata mendelik.

"Mati apa pingsan?" pikir Wiro memperhatikan.

Sosok Liok Ong Cun tak bergerak.

Wiro menatap ke langit Dia ingat janji pertemuannya dengan Nionio Nikouw.

"Celakai Aku sudah terlambat!" ucap Wiro. Tanpa perdulikan Liok Ong Cun lagi Wiro segera berputar badan tinggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah berlari tiba-tiba sosok Liok Ong Cun yang tergeletak tak bergerak di tanah melesat bangkit Mata tetap mendelik. Muka tengkoraknya berlumuran darah Tangan kanan dipentang ke depan.

"Kreeekk!"

Lima kuku jari tangan kanan Liok Ong Cun tiba-tiba mencuat panjang, runcing dan hitam. Wiro tersentak kaget ketika mendadak di belakangnya ada suara sambaran angin. Dengan cepat dia berbalik namun terlambat

"Breett!"

Lima kuku jari tangan kanan Liok Ong Cun merobek pakaian Wiro, membuat lima guratan luka di punggungnya.

"Keparat kurang ajar!"

Wiro berteriak marah. Balikkan tubuh sambil tangan kanan menghantam.

"Brukkk!"

Liok Ong Cun menggerung keras. Tubuhnya terlempar sampai dua tombak. Tertantang di tanah megap-megap. Mulut kucurkan darah segar. Perutnyayang terkena jotosan mengalami luka dalam yang parah. Wiro melompat menghampiri. Dalam marahnya murid Sinto Gendeng ini cabut Pedang Ular Hijau yang sampai saat itu masih menancap di tanah. Pedang ini kemudian dihunjamkan ke arah tubuh LiokOng Cun yang tidak berdaya. Sesaat lagi ujung pedang akan menembus perut pendekar Tionggoan itu, Wiro berubah pikiran.

"Craass!"

Pedang Ular Hijau ditancapkannya ke tanah di antara dua pangkal paha Liok Ong Cun.

"Bunuh! Aku tidak takut matil ucap Liok Ong Cun.

"Keparat! silahkan kau mau omong apa. Tadi kau meludahi Mukaku. Sekarang terima balasannya!"

Wiro selorotkan celananya ke bawah. Lalu serr! Air kencingnya mancur membasahi m uka orang. Sebagian masuk ke datam mulut Liok Ong Cun hingga pemuda ini keluarkan suara menggorok, sulit bernafas. Mau tak mau giek, gtek, glek, akhirnya dia terpaksa menelan air kencing yang menggenang didalam mulutnya!

"Manusia jahanam.'" rutuk Liok Ong Cun. "Aku bersumpah mengorek jantungmu mencincang tubuhmu!"5Ketika Wiro sampai di depan gedung kediaman Adipati Brebes, pintu gerbang dalam keadaan terkunci dan suasana serba sunyi.

"Sial, gara-gara pemuda sinting tadi aku jadi terlambat Paderi itu tidak kelihatan. Apa dia sudah masuk ke dalam gedung?"

Wiro naik ke sebatang pohon yang salah satu cabangnya menjulal ke arah tembok gedung Kadipaten. Untuk beberapa lama dia mendekam memperhatikan keadaan. Seperti di luar, halaman dalam gedung Kadipaten juga tampak sunyi. Tak kelihatan seorang pengawalpun. Gedung besar tempat kediaman Adipati Brebes itu bagian depannya terselubung kegelapan. Tak ada satupun lampu menyala. Wiro merasa tidak enak. Jika seorang tuan rumah menunggu kedatangan tamu penting, adalah aneh rumahnya berada dalam keadaan gelap seperti itu.

Dari cabang pohon Wiro melompat ke atas tembok lalu melayang turun kehalaman dalam. Belum lama dia menginjakkan kaki di tanah tiba-tiba terdengar orang berteriak.

"Ada orang menyusup di halaman dalam!"

Saat itu juga tiga orang pengawal bersenjata tombak dan satu mencekal golok berkelebat dalam gelap mengurung Pendekar 212.

"Aku bukan penyusup! Aku mencari seorang teman yang malam ini menemui Adipati Brebes. Temanku itu seorang paderi perempuan dari negeri Cina!" Wiro menjelaskan.

Empat orang pengawal Gedung Kadipaten mana mau perduli.

"Menyerah atau kami akan membunuhmu saat ini juga!" salah seorang pengawal membentak.

"Antarkan aku menghadap Adipati!" Kata Wiro pula.

Empat pengawal takmenyahufj. Yang menjawab tombak dan golok.

Tiga mata tombak menusuk ke arah dada, perut dan pinggang sementara golok besar berkelebatmengincar kepala.

"Sial!" Wiro memaki jengkel. Dia bergerak cepat Tangan dan kaki berkelebat Dua pengawal terjengkang pingsan begitu tendangan dan kepalan Wiro menghantam mereka. Pengawal ke tiga yang memegang golok keluarkan keluhan pendek lalu tertegun kaku tak mampu bergerak atau bersuara karena urat besar di leher kanannya telah ditotok.

Pengawal ke empat yang memegang tombak rupanya memiliki ilmu silat paling tinggi. Tombak di tangannya dibolang-baling, menderu kian kemari.

"Kunyuk gondrong! Amblas perutmu! Jebol ususmu!" Teriak pengawal ini sambil kirimkan satu tusukan kilat ke perut Wiro. Dia begitu yakin serangannya akan menemui sasaran. Dia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa.

Wiro mundur satu langkah. Tangan kiri melesat ke depan. Si pengawal kaget bukan main sewaktu tombaknya dicengkeram lalu dibetot lepas. Dia cepat menerjang. Namun gagang tombak keburu mengemplang kepalanya Tak ampun lagi orang ini roboh pingsan ke tanah.

Wiro tinggalkan empat pengawal yang bergelimpangan di halaman gedung. Dia segera hendak berkelebatmenuju pintu depan. Namun tidak sengaja matanya melihat ada seseorang mendekam di atas salah satu wuwungan gedung.

"Kalau dia pengawal, mengapa berada di atas atap. Kalau dia paderi perempuan itu mengapa bertamu di atas wuwungan." Pikir Wiro.

Bangunan gedung Kadipaten memiliki beberapa wuwungan.

Wiro melesat ke wuwungan paling rendah lalu melompat ke wuwungan yang lebih tinggi. Tak lama kemudian dia sudah berada di atas wuwungan dimana orang yang tadi dilihatnya dari bawah berada. Orang ini berpakaian jubah biru gelap. Saat itu dia tengah mengintip ke dalam bangunan lewat sebuah genteng yang sengaja dibuka. Demikian asyiknya dia mengintip hingga tidak tahu kalau ada orang lain naik ke atas atap. Juga tidak mendengar teriakan-teriakan di bawah sana. Tanpa suara Wiro dekati si jubah biru. Wiro tepuk bahu orang ini lalu berkata."

"Sobat, kalau ada pemandangan bagus jangan dilihat sendiri. Bagi-bagilah..."

Kejut si jubah biru yang adalah Ki Sentot Balangnipa bukan alang kepalang. Cepat dia palingkan kepala.

"Keparat! Siapa kau?!" Ki Sentot Balangnipa membentak. Dia memang sudah sering mendengar nama dan kehebatan Pendekar 212 Wiro Sableng namun belum pernah melihat sendiri orangnya.

Melihat tampang orang yang menyerupai muka kuda, Pendekar 212 menyeringai "Eh, matamu ternyata cuma satu. Masih saja doyan mengintipi Minggir sana, aku mau lihat apa yang sedang kau intip!"

Wiro dorong bahu si jubah biru dengan pantatnya. Orang ini menggembor marah. Tubuh dibungkukkan, kaki kiri menendang. Gerakannya cepat sekali.

"Wutt!"

Wiro tersentak kaget Bukan karena mendapat serangan mendadak begitu rupa, tapi ketika melihat keadaan kaki kiri orang itu yang berbentuk kaki kuda lengkap dengan ladam besinyal Wiro jatuhkan diri sama rata dengan atap bangunan. Tendangan si jubah biru masih menyapu rambut di kepalanya. Sebelum sempat orang menarik kakinya Wiro cepat menjotos.

"Bukkk!"

Ki Sentot Balangnipa keluarkan gerung kesakitan. Tubuh melintir akibat jotosan yang melanda pangkal pahanya. Tampangnya berubah seperti kepala kuda. Dari bagian atas atap dia gulingkan diri, berusaha merangkul sosok Pendekar 212. Wiro maklum lawan hendak mengajak jatuh bersama. Dengan cepatdia membuang diri ke samping kiri sambil tangan kanan melepas satu pukulan tangan kosong. Ki Sentot Balangnipa kebutkan lengan jubah sebelah kanan dua kali berturut-turut

Wiro terkejut Kebutan lengan jubah lawan bukan saja mem-buyarkan pukulan tangan kosongnya tadi tapi dia juga merasakan tubuhnya laksana didorong sebuah batu besar. Karena kedudukan dua kakinya berada pada atap yang miring, dia tak mungkin bertahan. Wiro kerahkan tenaga dalam untuk melindungi diri. Bersamaan dengan itu dia pergunakan ilmu meringankan tubuh untuk cepat-cepat melompat ke atas.

Ki Sentot Balangnipa berusaha mengejar sambil melepas serangan tangan kosong mengandalkan tenaga dalam tinggi. Namun dia tidakmelihat lawan. Sebelum dia mengetahui dimana Wiro berada tiba-tiba punggungnya dihajar satu tendangan keras. Tak ampun lagi orang ini mencelat mental, menggelinding di atas atap, terus melayang ke bawah.

Ki Sentot Balangnipa memang tangguh. Walau punggung cidera berat namun dia masih sanggup membuat gerakan jungkir balik di udara dan jatuh dengan dua kaki menginjak tanah lebih dulu.

Wiro tidak perdulikan lagi orang itu. Dia cepat merangkak ke atas dan mengintai ke dalam gedung lewat genteng yang terbuka dimana tadi Ki Sentot Balangnipa melakukan pengintipan.

"Jahanam kurang ajar!" Wiro memaki goram. Apa yang disaksikan membuat dia marah besar. Di bawah sana, di atas sebuah ranjang seorang lelaki bertubuh besar tengah menanggalkan pakaian seorang perempuan muda berkulit sangat putih. Melihat wajah dengan kepala gundul semula Wiro hampir tidak mengenali perempuan itu. Namun dari wama pakaian serta sebilah pedang bergagang kepala naga yang terletak di atas meja, Wiro sadar peiempuan itu bukan lain adalah Nionio Nikouwl

"Aneh. mengapa paderi itu diam saja?!" Pikir Pendekar 212.

"Pasti ada yang tidak beres! Mungkin dia telah kena tolok!"

"Braakkk!"

Wiro tendang hancur atap bangunan lalu melesat turun ke dalam ruangan. Di udara dia berjungkir balik satu kali. Begitu melayang turun kaki kanannya menendang ganas ke arah kepala Adipati Brebes yang tengah berbuat mesum terhadap Nionio Nikouw.

Pada saat atap jebol, Adipati Karta Suminta sadar sesuatu terjadi diluar gedung. Telebih lagi ketika ada sambaran angin di sampingnya. Secepat kilat Adipati ini jatuhkan diri di atas tubuh Nionio Nikouw lalu menarik tubuh paderi Itu menggelinding ke lantai. Begitu bangkit berdiri sosok sang paderi dipergunakan sebagai tameng melindungi diri. Pakaian merahnya tersingkap lebar di sebelah depan.

"Bangsat gondrong! Siapa kau!" Bentak Adipati Karta Suminta.

"Manusia bejat! Lepaskan perempuan itu atau kuhancurkan kepalamu!" Teriak Wiro lalu melangkah cepat mendekati.

"Berhentil Jika berani mendekat kupatahkan leher paderi ini!"

Adipati Brebes balas mengancam dan saat itu juga tangan kanannya yang berjari besar mencengkeram batang leher Kiang Loan Nio Nikouw.

"Aku tidak perduli kau mau apakan paderi itu! Yang aku Inginkan adalah nyawa busukmu!" Wiro melompat

Termakan ucapan Wiro Adipati Brebes dorong tubuh sang paderi ke depan. Sebelum tubuh itu tersungkur di lantai Wiro cepat merangkulnya. Di saat yang sama Adipati Brebes berkelebat ke meja kayu jati di tengah ruangan, menyambal Pedang Naga Merah dan sekaligus sreet.. Menghunus senjata milik Nionio Nikouw Ini. Cahaya merah memancar di ruangan itu.

"Kurang ajar..." rutuk Pendekar 212. Dia cepat memanggul tubuh paderi Nionio. melangkah ke kanan ke arah pintu ruangan.

"Kalian berdua akan mampus percuma di tempat ini!" teriak Adipati Brebes marah besar. Sekali melompat pedang di tangan kanannya menderu dahsyat Wiro cepat menyingkir. Cahaya merah disertai hawa dingin menggldikan memapas satu jengkal di depan hidung Wiro. Kalau dia tidak cepat memutar diri sambil bersurut dua langkah, pasti kaki Nionio Nikouw yang terjuntai akan kena dibabat putus oleh Pedang Naga Merah miliknya sendiri!

"Manusia setan!"

Baru saja Wiro memaki, Adipati Brebes sudah menyerbu kembali. Cahaya merah bertabur menggidikkan dalam ruangan. Di saat itu pula tiba-tiba dari atap yang jebol melayang turun satu sosok berpakaian biru yang bukan lain adalah Ki Sentot Balangnipa.

"Ki Sentot Bantu aku membunuh dua orang ini!"

"Dua orang ini Adipati?!" Ki Sentot Balangnipa terkejut "Bukankah-perempuan Cina itu perlu dibiarkan hidup? Si gondrong jahanam ini yang musti dicincang!"

"Kau benar" ucap Adipati Karta Suminta seolah baru sadar bahwa dia masih ingin melampiaskan nafsu bejatnya atas diri Nionio Nikouw. "Hati-hati Ki Sentot! Jangan sampai gadis itu terluka Sang Adipati pentang tangan yang memegang pedang lalu menyerbu. Ki Sentot Balangnipa goyangkan dua bahu, keluarkan suara meringkik seperti kuda.

Saat itu juga tahu-tahu dia sudah memegang sepasang tali kekang kuda yang merupakan senjata andalannya. Dengan dua senjata ini dia bisa membelah batu, membabat putus tubuh manusia, juga mampu menjirat mengikat atau menggantung orangl

Wiro melihat bahaya mengancam begitu rupa tidak mau berlama-lama. Ketika Adipati Brebes menerjang dengan Ang Liong Kiam dan Ki Sentot Balangnipa menyabatkan dua buah tali kekang yang jadi senjatanya, Pendekar 212 Wiro Sableng segera angkat tangan kanan. Begitu tangan memancarkan cahaya perak menyilaukan Wiro memu kul ke arah Adipati Karta Suminta.

"Pukulan Sinar Matahari Adipati lekas menyingkir!" teriak Ki Sentot Balangnipa yang telah sering mendengar kehebatan ilmu pukulan sakti itu. Habis berteriak dia cepat-cepat jatuhkan diri ke lantai dan berguling menjauh, berlindung dibalik ranjang besar.

"Wuss!"

Cahaya putih berkiblat Hawa panas menghampar.

Adipati Karta Suminta menjerit keras. Tubuhnya terpental ke dinding. Sesaat tubuh itu seolah menempel lalu jatuh ke lantai dalam keadaan gosong hitam, mengepul bau sangit daging terpanggang!

Asap tebal memenuhi ruangan.

Di luar terdengar suara banyak orang berlarian mendatangi para pengawal. Dari atas genteng ada seorang melompat turun Pasti seorang yang punya kepandaian tinggi.

Ki Sentot Balangnipa walau sebagian jubah birunya hangus masih untung tidak mengalami cidera. Hanya matanya terasa perih dan nafas menyesak. Didahului suara meringkik keras dia hantamkan dua tali kekang kuda ke tengah mangan dimana tadi Wiro berada. Namun saat itu Pendekar 212 sudah lenyap dari ruangan itu. Pintu kamar tampak hancur berantakan!"

"Pengawal jangan biarkan bangsat gondomg itu kaburi Kejar!" teriak Ki Sentot Balangnipa.******Wiro menambahkan beberapa potong kayu kering di atas Onggok perapian yang hampir padam. Goa dimana dia berada kembali menjadi terang benderang. Wiro menatap sosok paderi Nionio yang sampai saatitu masih terbaring tak sadarkan diri. Wajah cantik dengan kepala gundul. Sang pendekar jadi tersenyum sendiri. Dia tidak pernah menduga kalau Nionio Nikouw berkepala gundul.Meski tanpa rambut namun kecantikan Nionio Nikouw tetap memukau.

"Aneh rasanya, lucu, ada perempuan cantik berkepala botak. Baru sekali ini aku melihat" Sambil senyum-senyum Wiro usap-usap kepala gundul sang paderi. Tidak sampai disitu, dasar jahil dia dekatkan mulurnya ke kepala Nionio Nikouw lalu menjilat kepala botak itu!" Weehh, asin!" Wiro tertawa sendiri. Sebelumnya Wiro telah memeriksa keadaan diri paderi itu. Tak

ada tanda-tanda bekas totokan di tubuh Nionio Nikouw. Dari bibirnya yang agak kebiruan Wiro menduga Nionio Nikouw tak sadarkan diri akibat keracunan.

"Pasti ini pekerjaan Adipati keparat itu..." kata Wiro dalam hati. Karena itu dia segera menotok beberapa jalan darah di tubuh Nionio Nikouw agar racun tidak tembus ke dalam jantung dan masuk ke otak. Sampai menjelang pagi paderi itu masih belum sadar. Wiro jadi gelisah. Tiba-tiba dia ingat pada Kitab Seribu Pengobatan yang ada daiam sebuah kantong kain dan disimpan di balik pakaiannya. Wiro segera hendak mengeluarkan kitab itu untuk mencari tahu cara pengobatan yang bisa dilakukan guna menolong Nionio Nikouw.

Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya berjudul "Api Di Puncak Merapi"' dengan bantuan mahluk alam gaib yang diberinya nama Purnama, kitab tersebut berhasil didapatkan Wiro. Dalam kisah ini sebenarnya Wiro dalam perjalanan menuju puncak Gunung Gede untuk menyimpan kitab tersebut di satu tempat yang aman karena seperti diketahui pondok kedamaian Sinto Gendeng telah roboh berentakan sewaktu terjadi perkelahian antara si nenek dengan Tua Gila. Kemudian Sinto Gendeng menghancurkan sendiri pondok itu hingga musnah sama rata dengan tanah. (Baca serial Wiro Sableng dalam Episode "Nyi Bodong")



Belum sempat Wiro mengeluarkan Kitab Seribu Pengobatan tiba-tiba dia melihat kaki kiri Nionio Nikouw bergerak. Wiro cepat simpan Kitab Seribu Pengobatan ke balik pakaian. Dia pegang urat besar di atas tumit kiri sang paderi. Terasa hangat tanda jalan darahnya mulai lancar. Wiro lalu alirkan hawa sakti ke dalam tubuh Nionio Nikouw lewat pegangan pada pergelangan tangan kanan. Sesaat kemudian keluar suara mendesah halus dan mulut Nionio Nikouw. Menyusul perlahan-lahan membukanya kedua matanya.

"Saudara Wio..." Kata-kata itu terucap sambil mata menatap sayu Pendekar 212. Lalu Nionio Nikouw perhatikan tangannya yang dipegang Wiro. Kemudian melirik ke atas, memandang ke kiri dan ke kanan lalu menatap ke arah perapian dan akhirnya kembali memandang Wiro. "Saudara Wie, kita berada dimana? Paderi itu tarik tangannya yang dipegang Wiro. Ketika dia memperhatikan dirinya kejutnya bukan olah-olah. Wajahnya mendadak sontak menjadi bersurut menjadi merah. Nionio Nikouw serta meria bangun dan duduk lalu tersurut menjauhi Wiro sampai punggungnya menyentuh dinding goa.

"Saudara Wie, apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan terhadapku?! tanya Loan Nio Nikouw. Tangan kiri menutup dada pakaian yang tersingkap, tangan kanan meraba ke punggung.

Karena Wiro tak segera menjawab paderi perempuan itu bangkit berdiri. Sepasang matanya membesar, memandang tak berkesip ke arah Wiro.

"Dimana pedangku?!"

Tiba-tiba ada seseorang m uncul di mulut goa. Orang yang

datang ini keluarkan ucapan.

"Loan Nio. bangsat berambut gondrong ini barusan hendak memperkosamu. Untung aku datang. Dia pula yang telah mencuri Pedang Naga Merah milikmu. Senjata itu disembunyikannya di satu tempat Kau saksikan sendiri apa yang telah dilakukannya terhadapku!"

Orang yang bicara melangkah masuk sehingga wajah dan sosoknya kelihatan jelas diterangi nyala perapian.

Kiang Loan Nio Nikouw menjerit keras. Wiro tidak tahu apa yang diucapkan orang di mulut goa karena dia berkata dalam bahasa Cina. Namun melihat keadaan sang paderi yang mendadak tampak marah besar seperti mau menerkamnya Wiro yakin orang di mulut goa telah mengatakan sesuatu yang dahsyat! Tanpa berpaling, dari suaranya saja Wiro sudah mengenali. Orang itu bukan lain adalah LiokOng Cun.

"Saudara Wie! Benar... benar?!"

"Benar apa Nionio?"

"Kau hendak memperkosaku! Kau mencuri Pedang Naga Merah!"

"Nionio, aku belum gila melakukan hal bejat itul Pasti bangsat muka tengkorak ini mengarang cerita mengumbar mulut fitnah! dia hendak menarik perhatianmu!

"Loan Nio, apapun yang dikatakannya jangan percayai Demi cintaku padamu aku akan membunuhnya saat ini juga! Apakah kau tidak akan membantuku menghajar orang yang hendak mencelakai dirimu ini?!" Liok Ong Cun cepat keluarkan ucapan karena merasa orang tengah berusaha membela diri.

Selesai berucap Liok Ong Cun cabut pedangnya.

Loan Nio Nikouw meraba ke pinggang, mencari suling perak. Tapi benda itu tak berhasil ditemukan. Dia mengusap muka meraba kepala dan jadi terpekik ketika menyadari bahwa topi sekaligus cadar yang menutupi kepala serta wajahnya tak ada lagi! Dengan cepat paderi ini robek ujung bawah kiri kanan pakaian merahnya. Robekan kain yang cukup lebar Ini dijadikannya destar penutup kepala serta cadar pelindung wajah. Dengan mata menyorot Loan Nio Nikouw memandang ke arah Pendekar 212.

"Saudara Wie. aku tidak menyangka begitu bejat budi pekertimu! Aku mengira kau seorang sahabat yang bisa dimintai tolong! Ternyata kau iblis terkutuk!"

"Nionio, dengar dulu keteranganku..." ucap Wiro.

"Aku tak butuh keterangan. Aku ingin membunuhmu saat ini juga!" Loan Nio Nikouw berteriak keras lalu menerjang. Walau cuma mengandalkan tangan kosong namun dengan ilmunya yang tinggi dua tangan bisa seganas senjata tajam atau pentungan besi!

"Celaka Kenapa bisa jadi begini?!" ucap Pendekar 212 Dia cepat rundukkan kepala. Pukulan Loan Nio Nikouw menghantam dinding goa. Dinding berupa batu keras itu hancur, bolong besari "Gila!" Wiro kembali memaki. Sementara dari kanan Liok Ong Cun putar tangannya yang memegang pedang.

"Wuttt!" Pedang Ular Hijau menyambar. Cahaya hijau berkiblat Wiro jatuhkan diri ke lantai goa sambil dua tangannya menyambar dua kayu perapian. Kayu di tangan kiri dilempar ke arah Nionio Nikouw hingga paderi perempuan ini terpaksa tahan serangan yang hendak dilancarkannya. Walau cuma kayu tapi karena dialiri tenaga dalam, setelah tidak mengenai sasaran kayu itu menancap di dinding goa. Dengan kayu berapi di tangan kanan Wiro kemudian menyerang Liok Ong Cun. Pendekat dari Tionggoan ini mendengus. Sekali pedangnya membabat kayu api di tangan Wiro buntung.

"Kalau tidak kuhabisi manusia satu ini bisa membuat urusan panjang tak karuan di kemudian hari!" Berpikir sampai di situ Wiro siap melepas Pukulan Sinar Malahan. Namun entah mengapa dia mengganti dengan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera. Dia kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya. Angin dahsyat menggebu-gebu.

Liok Ong Cun berteriak marah ketika melihat serangannya menjadi buyar. Sambil membolang balingkan pedang membentengi diri dia melompatmeneijang Wiro. Wiro sambut dengan dorongkan tangan kanan.

"Wusss!"

Liok Ong Cun terjengkang di tanah Pedang Ular hijau nyaris terlepas. Wiro melompat di atas tubuhnya, melesat keluar goa. Uok Ong Cun berusaha membabat kaki Wiro namun dadanya keburu sesak. Lalu pemuda Tionggoan ini semburkan darah kental. Dia termasuk hebat Orang lain yang terkena hantaman pukulan Benteng Topan Melanda Samudera berkekuatan tenaga dalam penuh pasti sudah remuk sekujur tubuhnya.

"Manusia pengecut! Kau bisa lari sekarang! Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia!" teriak Kiang Loan Nio Nikouw.

"Paderi Nionio! Jangan menuduh aku pengecut!" Di kegelapan malam diluar goa terdengar suara Wiro menyahuti teriakan sang paderi. "Aku terpaksa pergi karena kau lebih percaya pada pemuda busuk muka tengkorak itu dari pada diriku! Jika kau ingin tahu apa yang terjadi pergilah menyelidik ke Gedung Kadipaten Brebes! Aku telah membunuh Adipati Karta Suminta demi menyelamatkan dirimu dari perbuatan kejinya!"

"Dusta!" teriak Loan Nio Nikouw. Dalam keadaan masih marah dia berkelebat hendak mengejar. Tapi Liok Ong Cun mencegah.

"Manusia satu itu sangat berbahaya. Biarkan dia pergi: Oia tidak akan iolos dari tanganku. Demi dirimu aku bersumpah akan menabas lehemyal Loan Nio, mungkin ini saatyang baik bagi kita untuk bicara"

Mengingat dan merasa orang telah menolong dirinya, walaupun tidak suka pada pemuda itu namun akhirnya Loan Nio Nikouw masuk kembali ke dalam goa dan duduk di lantai.

"Ong Cun, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Tapi tunggu..." Sang paderi perhatikan wajah Liok Ong Cun yang masih ada noda-noda darah di bagian bawah hidung dan sekitar bibir. "Aku melihatnodadarah di wajahmu. Suaramu sengau seperti ada yang mengganjal di hidungmu. Sesuatu terjadi atas dirimu sebelum kau berada di tempat ini..."

Liok Ong Cun jatuhkan diri ke lantai goa, duduk bersimpuh lalu mengarang cerita.6LOAN NIO," Liok Ong Cun mulai dengan kebohongannya. "Kau tahu bagaimana besarnya cintaku padamu. Sampai-sampai aku rela bunuh diri bahkan diluar sadarku aku bicara kasar padamu. Bukan itu saja, aku sampai ingin mati berdua bersamamu. Untuk semua itu aku sangatmenyesal dan mohon maafmu. Aku tahu kau sudi dan mau memaafkan diriku..." ‘Teruskan bicaramu. Yang sudah berlalu aku tidak keliwat memikir. Yang aku ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Benar pemuda berambut gondrong itu hendak merusak kehormatanku?" "Kau mungkin tidak percaya. Lihat wajahku Loan Nio. Bibirku pecah, tulang hidung patah. Aku menderita luka di dalam. Itu yang telah terjadi dengan diriku sebelum memergoki manusia keparat itu melakukan perbuatan keji atas dirimu di goa ini. Sejak peristiwa di telaga, aku selalu memata-matainya. Bukankah aku pernah mengeluarkan ucapan akan membunuh siapa saja lelaki yang berani mendekatimu? Malam tadi aku mencegatnya di satu tempat Dia langsung menyerangku. Aku harus mengakui dia memiliki ilmu silat dan kesaktian sangat tinggi. Ilmu pedangku tidak berdaya. Kekuatan tenaga dalam dan hawa saktiku tidak mampu menandinginya. Aku dihajar begini rupa. Tidak apa. Cepat atau lambat dia akan menerima balasan dariku! Selain itu dia berkelahi secara licik. Oia menghajarku lalu kabur begitu saja. Ada satu hal yang membuatku sangat sakithati. Kau tahu apa yang dikatakannya sebelum pergi?"

"Mana aku tahu. Memangnya dia bicara apa?" tanya Loan Nio Nikouw pula.

"Katanya aku tak bakal mendapatkan dirimu karena kau telah tergila-gila padanya. Kau akan menjadi miliknya. Kalau sudah dapat kau akan ditelantarkan lalu ditinggalkanl Dia akan mempermainkan dirimu secara kejil Dia berkata aku tidak akan mendapatkan dirimu sebagai seorang gadis utuh karena dia akan menodai dirimu lebih dulu. Aku akan mendapat sisanya!"

"Kurang ajar sekali!" Loan Nio Nikouw jadi terbakar amarahnya. "Tidak ada seorangpun lelaki yang bisa mem-perlakukan aku seperti itu." Sang paderi menatap wajah tengkorak pemuda di hadapannya beberapa lama. Membuat Liok Ong Cun merasa tidak enak. "Ong Cun, aku percaya pada ceritamu tentang perkelahianmu dengan pemuda itu. Namun aku merasa heran. Setahuku kau tidak mengerti bahasa orang disini. Bagaimana kau tahu semua kata-kata yang diucapkan pemuda itu lalu menceritakannya padaku?"

Di balik topeng wajah LiokOng Cun menjadi sangat merah. Dia tampak salah tingkah tapi masih bisa berdalih.

"Aku memang tidak mengerti bahasa yang diucapkannya. Tapi dari gerak gerik serta sikapnya aku tahu apa yang dibicarakannya."

"Kau hebat sekali. Aku tidak tahu kau punya kepandaian mengartikan ucapan orang dari gerak geriknya." kata Loan Nio Nikouw sambil tersenyum, entah memuji entah mengejek.

"Selama aku masih hidup, dia tidak bakal dapat mencelakai dirimu. Aku bersumpah akan melindungimu setiap saat"

Loan Nio Nikouw tidak perduli ucapan Ong Cun. Selain itu, melihat bagaimana Pendekar 212 Wiro Sableng telah menggebuk pemuda muka tengkorak ini, jelas Ong Cun terlalu takabur.

"Ong Cun, bagaimana kejadiannya kau sampai di goa in dan memergoki pemuda itu hendak menodai diriku?" tanya Loan Nio Nikouw. "Setelah aku dipecundangi secara licik aku bertekad menuntut balas. Begitu dia pergi aku mencari jejaknya. Aku berhasil menemui pemuda terkutuk itu di goa ini. Tapi pada saat dia hendak merusak kehormatanmu..."

"Ong Cun, ketahuilah. Malam ini aku dan pemuda itu sebenarnya telah berjanji akan bertemu di depan gedung kediaman Adipati Brebes. Aku minta dia menemaniku menghadapi Adipati. Dia tidak muncul dalam waktu yang dijanjikan. Sekarang aku tahu. Dia tidak datang memenuhi janji karena berkelahi denganmu."

"Loan Nio, sungguh aku tak menduga kau mempercayai musang berbulu ayam itu! Kenyataannya kau lihat sendiri apa yang sekarang terjadi. Mengapa kau mau-maunya membuat janji dengan pemuda terkutuk itu..."

Aku hanya menurut petunjuk Wakil Ketua Siauw Lim. Jika sampai di negeri ini harus mencarinya untuk dimintai tolong Sebelumnya aku sama sekali tidak menaruh curiga padanya Tapi jika dia memang orang jahat aku bisa saja berubah pikiran."

"Loan Nio, kau bukan cuma harus berubah pikiran. Tapi harus menjauhi pemuda itu! Bahkan tidak salah kalau kau membunuhnya! Wakil Ketua tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu. Dia jauh di Tionggoan sana. Apa yang dia tahu tentang' orang-orang di sini. Kau harus berhati-hati Loan Nio. Mulai sekarang kemana-mana kita harus bersama-sama. Aku punya tanggung jawab menjaga keselamatanmu."

Loan Nio Nikouw terdiam beberapa lama. Kemudian dia berucap. "Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa berada dalam goa ini. Pada hal seingatku saat itu aku berada di gedung Adipati di Brebes.

"Loan Nio, nada bicaramu seperti membela pemuda itu. Ketika aku sampai di goa ini, aku memergoki pemuda itu tengah menanggalkan pakaianmu. Aku langsung menyerangnya dengan pukulan Lima Kuku Akhirat Apa kau tidak melihat punggung pakaiannya yang robek dan lima guratan luka pada kulit tubuhnya?!"

"Aku memang melihat.." jawab Loan Nio Nikouw. Namun dalam hati dia berkata "Jka kau memang memergoki, mengapa susah-susah mengeluarkan Ilmu Lima Kuku Akhirat segala. Bukankah kau membekal pedang sakti? Mengapa tidak langsung membacok kepalanya dengan Pedang Ular Hijau? Sekali bacok kepala pemuda itu pasti terbelahl Apa lagi kau menyerang dari belakang."

Dari luka guratan di punggung Wiro, Loan Nio Nikouw bisa menduga kalau Liok Ong Cun menyerang pemuda itu dari arah belakang.

"Seharusnya racun kuku jariku sudah membuat dia mampus saat ini. Tapi entah itmu kebal setan apa yang dimilikinya hingga dia sanggup bertahan, tidak menemui ajal!"

"Ong Cun... Jika pemuda itu hendak memperkosaku di tempat ini, bagaimana kejadiannya topiku tak ada di sini. Juga kain putih penutup bagian dalam dadaku tidak kutemui. Selendang ikat pinggangku lenyap. Lalu papan seluncurku juga hilang."

"Loan Nio, aku menduga pemuda itu sebelumnya hendak merusak kehormatanmu di tempat lain. Namun kemudian dia memutuskan membawamu ke goa ini. Mungkin di sini lebih aman. Mungkin juga topi dan kain penutup dadamu serta selendang jatuh di tengah jalan. Loan Nio, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri apa yang hendak dilakukannya. Apakah kau tidak mempercayai diriku?"

Loan Nio Nikouw bukannya menjawab malah bertanya. "Pedang Naga Merah milikku apa juga jatuh di jalan?"

"Pasti dia yang telah mencurinya! Senjata itu agaknya disembunyikan di satu tempat" Ong Cun menatap wajah paderi cantik di hadapannya lalu berkata. "Loan Nio, air mukamu menunjukkan kau tidak mempercayai keteranganku. Apa yang diteriakkan pemuda itu tadi padamu sebelum kabur?"

"Ong Cun, aku percaya padamu. Namun ada beberapa kejadian yang membingungkan..."

"Kau hendak diperkosa orang yang kau sangka baik. Tentu saja kau jadi bingung. Loan Nio."

"Bukan, bukan Itu maksudku" jawab Loan Nio Nikouw. "Sebelumnya aku masuk seorang diri ke dalam Gedung Kadipaten. Aku bertemu dengan Adipati Karta Suminta. Dia pejabat tinggi dan penguasa di daerah ini. Kami bicara lalu aku tak ingat lagi. Sesuatu pasti terjadi atas diriku. Adipati itu menyuguhkan sejenis minuman..."

Berarti pemuda jahat itu menghadangmu setelah kau keluar dari Gedung Kadipaten. Ketika kau lengah bisa saja dia menotokmu. Aku tidakyakin seorang pejabat mau berbuat keji terhadap dirimu. Atau bisa saja begini. Pemuda itu berkomplot dengan Adipati untuk mencelakaimu. Lalu membawamu ke goa ini dan mengaku justru dia yang menyelamatkan dirimu. Maksudnya jelas agar kau merasa berhutang budi dan kehormatan lalu pasrah menyerahkan diri padanya!"

Loan Nio Nikouw terdiam.

"Satu bukti lagi bahwa pemuda itu orang jahat, mengapa dia melarikan diri begitu saja? Dia takut belangnya akan ketahuan. Selain itu dia merasa tak sanggup menghadapi kita berdua. Aku tadi mengadu nyawa untukmenyeiamatkan dirimu. Sampai saat ini agaknya kau masih lebih mempercayai dia dari pada diriku. Aku benar-benar merasa kecewa, Loan Nio. Loan Nio, dengar. Jika sekali lagi aku berhadapan dengan pemuda itu aku akan mengeluarkan ilmu Manusia Bangkai. Aku dendam sampai mati pada pemuda keparat satu ibu. Kau tahu, sebelum kabur dia mengencingi mukaku!"

Wajah Loan Nio Nikouw berubah. Kejutnya bukan alang kepalang. Bukan karena cerita Ong Cun bahwa mukanya telah dikencingi Wiro. Melainkan karena mendengar ilmu yang disebut pemuda bertopeng muka tengkorak itu. Ilmu Manusia Bangkai adalah satu ilmu setengah sihir yang sangat berbahaya. Ilmu ini dimiliki oleh seorang tokoh sesat dari Gobi Pay berjuluk Pak San Kwi Ong yang berarti Raja Setan Gunung Utara. Orang yang memiliki ilmu ini tubuhnya akan berubah menjadi bangkai hidup berbau busuk luar biasa. Siapa saja lawan yang terkena sentuhannya, bagian tubuhnya akan membusuk. Dalam waktu beberapa hari kebusukan itu akan menjalar ke seluruh tubuh sampai ke kepala dan kaki. Tak ada yang sanggup menyembuhkan. Berarti jangan harap korban bisa bertahan hidup.

"Aku tidak pernah mendengar kabar kapan pemuda ini mempelajari ilmu sesat itu. Pasti setelah aku meninggalkan Siauw Lim beberapa waktu lalu. Turut kabar yang aku dengar Pak San Kwi Ong punya kelainan badaniah. Dia hanya bernafsu pada sesama jenis. Apa Ong Cun telah menyerahkan dirinya untuk mendapatkan ilmu itu? Mengerikan, menjijikanl Dan manusia macam ini yang minta nikah dengankul Semoga Thian menjauhkan aku darinya." (Thian=Tuhan).



Perlahan-lahan Loan Nio Nikouw bangkit berdiri. Banyak hal yang membuat pikirannya kacau. Banyak ha! yang harus segera dilakukannya.

"Loan Nio, kau mau kemana?" tanya LiokOng Cun.

"Urusanku di Gedung Kadipaten belum selesai. Aku akan kembali ke sana..."

"Kau barusan saja menemui bahaya. Hampir celaka. Dan sekarang berkata hendak kembali ke Kadipaten. Lebih baik kita sama-sama tinggalkan tempat ini. Loan Nio, tak ada yang lebih baik dari pada kembali ke Tionggoan. Kita menikah di sana."

"Manusia satu ini benar-benar keras kepala," kata Loan Nio Nikouw dalam hati. Lalu dia berucap. "Kau mungkin lupa. Aku pernah menerangkan ada tugas yang harus aku laksanakan dari Wakil Ketua Siauw Lim. Aku akan pulang bila semua tugasku selesai. Lagi pula aku harus menemukan Ang Liong Kiam kembali. Senjata itu sama nilainya dengan nyawaku. Aku juga harus mencari topi. selendang serta papan seluncurku. Suling perakku!"

"Aku bosan mendengar ceritamu itu. Tugas... tugas! Kalaupun kau berhasil dalam tugasmu Siauw Lim tidak akan menjadikanmu pahlawan besar."

"Dalam menjalankan tugas apapun, dari siapapun aku tidak pemah memikir akan jadi pahlawan." Kata Loan Nio Nikouw pula. Lalu dia meneruskan. "Kalau kau bosan, tak usah kau dengar semua ucapanku."

"Loan Nio, mengapa kau jadi begitu keras kepala. Aku ingin menyelamatkanmu dari bencana. Ah, aku khawatir. Jangan-jangan kau telah tertarik pada pemuda berambut gondrong itu."

Di balik kain merah penutup muka, wajah Loan Nio Nikouw menjadi merah oleh ucapan pemuda muka tengkorak. Tanpa banyak bicara lagi dia segera tinggalkan tempat itu. Liok Ong Cun sesaat tertegun Lalu berteriak keras dan memukul dinding goa dengan tangan kanan hingga hancur berantakan.

"Gadis itu sudah tergerak hatinya padaku. Tapi kini setan gondrong keparat itu yang jadi ganjalan. Jangan-jangan Loan Nio sudah kena guna-gunanya. Aku banyak mendengar cerita. Negeri ini penuh dengan seribu satu macam ilmu guna-guna Ilmu pelet!" Habis memukul dan memaki Liok Ong Cun keluar dari goa. Dia masih sempat melihat bayangan Loan Nio Nikouw lalu mengajar ke arah larinya paderi itu.*****KETIKA Wiro kembali ke Gedung Kadipaten Brebes, malam hampir sampai di penghujungnya. Keadaan gedung terang benderang. Lampu menyala dimana-mana Di bagian dalam dan luar gedung terlihat banyak orang. Di pintu gerbang selusin perajurit pengawal berjaga-jaga. Di halaman dalam belasan pengawal tampakmundar-mandir. Di luar tembok pagar halaman hampirduapuiuh pengawal melakukan penjagaan. Wiro berpikir mencari akal bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam tanpa menarik perhatian atau dicurigai. Dia punya dua tujuan kembali ke gedung itu. Pertama untuk mencari dan mendapatkan kembali Pedang Naga Merah, topi serta suling perakmilik Nionio Nikouw. Kedua menyelidik keterlibatan Adipati Brebes dalam kematian Eyang Sepuh Kembar Tilu. Loan Nio Nikouw pernah cerita bahwa dia ingin menemui Adipati Brebes untuk mencari tahu keberadaan dua buah dadu mustika. Paderi ini mengatakan bahwa saat itu Adipati Karta Suminta satu-satunya sumber petunjuk keberadaan dua buah dadu. Sementara itu sebelum menemui ajal Eyang Sepuh Kembar Tilu minta Wiro agar mendapatkan dua buah dadu itu.

Di kamar dimana sang Adipati hendak menggagahi Loan Nio Nikouw Wiro sempat melihat sehelai jas hitam terletak di atas kursi. Wiro keluarkan kancing baju besar yang diberikan Eyang Kembar Tilu padanya. Menimang-nimang kancing itu beberapa lama lau memasukkannya kembali ke balik pakaiannya.

"Jika kancing ini tanggai dari jas milik Adipati Brebes, berarti dia yang membunuh nenek aneh itu. Ku yang perlu kuselidiki..."

Selagi berpikir-pikir seorang pengawal lewat di depan Wiro, tengah melangkah ke arah pintu gerbang, membekal sebilah tombak, Wiro mengukur-ukur. Pengawal ini memiliki ukuran badan menyerupai dirinya.

"Celana dan bajunya pasti muat," ucap Wiro dalam hati. Lalu dia mendekati sang pengawal.

"Pengawal, ada orang dibunuh dibalik semak belukar sana"

Si pengawal hentikan langkah, menatap Wiro sejurus lalu memandang ke arah semak belukar di kejauhan yang ditunjuk Wiro.

"Kau siapa? Siapa yang dibunuh?" Pengawal bertanya.

"Saya Ngamino, petani dari Dukuh Turi. Yang dibunuh sepertinya seorang perajurit Kadipaten," jawab Wiro.

"Hah!" Sang pengawal kaget" Lekas antarkan aku kesana"

"Ba... baik. Tapi kaujalan lebih dulu. Aku takut Perajurit Itu mati dengan lidah mencelet dan mata mendelik..." Wiro berkata sambil mendorong punggung si pengawal.

"Hah?!" Si pengawal melangkah cepat ke arah semak belukar. Wiro mengikuti dari belakang. Sampai di balik semak belukar si pengawal memeriksa lalu berpaling pada Wiro. ‘Tak ada mayat! Tak ada siapa-siapa di tempat ini!"

"Memang tak ada siapa-siapa di sini!" jawab Wiro sambil menyengir.

"Kurang ajari Aku sedang bertugas dan kau mempermainkan aku" Si pengawal marah sekali lalu angkat tombaknya.

‘Tidak, aku tidakmempermainkanmu. Aku cuma mau pinjam pakaianmu"

"Setan alas!"

Makian si pengawal terputus. Totokan yang dihujamkan Wiro ke pangkal lehernya sebelah kiri membuat pengawal itu langsung kaku dan gagu. Wiro tarik orang ini ke balik samak belukar.7DENGAN menyamar sebagai perajurit Kadipaten, mengenakan pakaian pengawai curian di atas pakaian putihnya, membawa tombak Wiro melewati pintu gerbang Gedung Kadi paten tanpa kesulitan. Rambutnya yang panjang digulung lalu ditutupi topi besar. Saat itu menjelang pagi. Udara terang-terang tanah. Di dalam gedung orang banyak sekali. Di sebuah ruangan besar jenasah Adipati Karta Suminta dibaringkan dlatas ranjang besar kasur tebal diselimuti kain sutera halus. Beberapa orang laki dan perempuan duduk bersimpuh mengelilingi ranjang. Yang lelaki unjukkan wajah sedih, yang perempuan menangis. Mereka adalah kerabat dekat mendiang Adipati Karta Suminta. Wiro melangkah sepanjang sisi dinding mangan. Dia berusaha mencari dimana letak kamar tidur Adipati Karta Suminta. Setelah berputar-putar cukup lama akhirnya Wiro berhasil juga menemukan kamar itu. DI depan pintu kamar ada seorang pelayan perempuan gemuk pendek menunggui. Seorang pengawal bicara dengan pelayan perempuan itu lalu pergi. Wiro segera mendekati si pelayan. "Saya ditugaskan memeriksa kamar tidur Adipati. Mungkin pembunuh Adipati masuk kt sini dan meninggalkan tanda-tanda yang bisa dijadikan pengusutan. Saya merasa tidak enak kalau memasuki kamar tanpa ada yang menyaksikan. Saya tidak mungkin meminta izin istri Adipati yang sedang berduka." Pelayan perempuan bertubuh gemuk pendek itu perhatikan Wiro beberapa lama.

"He... Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Sang pelayan keluarkan ucapan. Suaranya bernada heran tapi juga ada rasa curiga.

Wiro tersenyum. "Saya pengawal baru di sini. Baru datang kemarin dari Slawi."

"Walau baru adalah aneh kalau disitu tidak tahu bahwa Adipati Karta Suminta tidak punya istri..."

"Ah..." Wiro tertawa. "Terjebak aku" katanya dalam hati. "Soal atasanku punya istri atau tidak, atau punya istri banyak, apakah saya harus bertanya padanya atau menggunjingkan dengan orang lain? Mbok, saya masih banyak tugas lain. Saya minta diizinkan masuk sekarang juga-."

Si pelayan akhirnya membuka pintu kamar. Sebelum masuk Wiro pura-pura bertanya. "Simbok tidak ikutmasuk?"

Pelayan menggeleng. "Aku menunggu di luar saja..." katanya.

Wiro mengangguk. "Aku tidak lama."

Begitu Wiro masuk pelayan gemuk pendek ini segera beranjak pergi. Dia melangkah cepat ke bagian depan gedung, menemui seseorang.

Di dalam kamar yang diperiksa Wiro adalah sebuah lemari pakaian besar. Di dalam lemari ini dia melihat enam buah jas tutup tergantung rapi. Wiro cepat memeriksa kancing setiap jas. Ternyata kancing-kancing jas tutup itu lengkap semua. Tak ada yang hilang atau tanggal. Wiro keluarkan dari saku pakaiannya kancing baju yang didapat dari Eyang Sepuh Kembar Tilu. Salah satu jas tutup yang ada dalam lemari itu memiliki kancing yang sama bentuk serta warnanya Tapi semua kancing-kancing jas tutup itu lengkap, tak ada yang tanggal.

"Mungkin saja kancingnya sudah diganti," pikir Wiro. "Mungkin juga memang bukan dia pembunuh nenek aneh itu." Wiro hendak menutup pintu lemari pakaian. Namun dia ingat sesuatu. Jas tutup berkancing sama dengan yang ada padanya diperiksa ke dua sakunya. Dalam salah satu saku Wiro menemukan sebuah kantong kecil, terbuat dari kain berwarna hitam. Kantong ini kosong, tak berisi apa-apa Wiro menimang-nimang kantong itu sambil berpikir-pikir, akhirnya kantong kain hitam dimasukan ke dalam saku pakaian. Lalu dia cepat-cepat melangkah ke pintu. Namun begitu pintu dibuka langkah Wiro serta merta tertahan, dihadapannya berdiri dua orang dengan sikap menghadang. Orang pertama, berdiri di sebelah kanan adalah si muka kuda jubah biru mata satu Ki SentotBalangnipa. Orang ini menyeringai lalu keluarkan ucapan.

"Menyamar jadi pengawail Kau kira kami ini orang-orang tolol?!" Pemuda keparat! Pembunuh Adipati Karta Suminta! Lancangnya kau memasuki kamar mendiang Adipati. Apa yang kau lakukan di dalam sana?!"

Wiro melirik pada sebilah pedang bersarung yang dipegang Ki Sentot Balangnipa. Dia segera mengenali. Pedang Itu adalah Ang Liong Kiam milik Nionio Nikouw. Di pinggang Ki Sentot tersisip sebuah suling perak. Benda ini juga adalah milik sang paderi. Wiro menyeringai. Sadar kalau orang sudah mengenali siapa dirinya Wiro tanggalkan topi besar di kepala. Topi ini dilemparkannya ke arah wajah W Sentot Balangnipa.

"Jahanam!" Sambil berteriak marah W Sentot Balangnipa cepatmenghindar.

"Aku ke dalam kamar mencari senjata itu. Ternyata ada padamu!" Wiro tudingkan tombak yang dipegangnya ke arah pedang di tangan Ki Sentot Balangnipa.

"Mulut busuk dusta Kau kira aku tidak tahu spa yang kau lakukan di dalam sana Aku mengintip semua perbuatanmu lewat atap kamar!"

"Matamu cuma satu Tapi masih doyan mengintipi Sebelumnya kau asyikasyikan mengintip Adipati yang hendak merusak kehormatan gadis pemilik pedang itu! Tadi kau mengintip akui Kucing beranakpun bisa-bisa kau Intipi Ha... ha... ha!" Wiro tertawa gelak-gelak.

Orang di samping Ki Sentot Balangnlpa kerenyitkan kening, rangkapkan dua tangan di atas dada. Lalu Ikutan tertawa. Suara tawanya perlahan saja namun Wiro merasa lantai yang dipijaknya bergetar. Wiro tidak tahu siapa adanya orang satu ini yang agaknya memiliki tenaga dalam dan hawa sakti tinggi.

Sementara itu Ki Sentot Balangnipa sendiri tampak mengetam merah tampangnya. Rahang menggembung, mata kirimendelik besar. Tangan kiri yang memegang sarung pedang diangkat ke atas. Tangan kanan bergerak mencabut

"Srett!"

Pedang sakti keluar dari sarungnya. Cahaya merah langsung bertabur. Orang banyak yang ada di tempat itu segera menjauh. Belasan pengawal menutup semua jalan keluar.

Orang kedua yang berdiri di samping Ki SentotBalangnipa adalah kakek bertubuh kurus tinggi. Sepasang daun telinganya sangat lebar, mengingatkan Wiro pada daun telinga sobatnya, si kakek berjuluk Setan Ngompol. Orang ini mengenakan jubah hitam gombrang menjela lantai. Rambut panjang kasar seperti ijuk berwarna biru. Sepasang alis juga berwarna biru sementara dua bola mata berwarna kelabu pekat

"Pendekar Dua Satu dua! Kau boleh menyandang nama besar dan punya nyali setinggi langit Apa tidak mengerti kalau kau cuma punya satu nyawa?!" Orang yang tidak dikenal Wiro itu membuka mulut sambil goleng-goleng kepala. Namanya Walang Gambir. Dalam rimba persilatan tanah Jawa dia dikenai dengan julukan Kobra Bini.

Wiro menggaruk kepala. Sambil senyum cengengesan dia berkata "Orang gilapun tahu kalau setiap manusia cuma punya satu nyawa. Mungkin kau satu-satunya manusia yang punya nyawa satu setengah?!"

Ki SentotBalangnipa menyeringai. Pedang Naga Merah dimelintang di depan dada..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.188.116
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia