Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

ANAK perempuan berumur delapan tahun itu berlari-lari kecil sambil tiada hentinya menyanyi. Di tangan kanannya tergenggam lebih dari selusin tangkai bunga yang baru dipetiknya di dalam hutan. Saat itu matahari pagi telah naik tinggi. Si anak mempercepat larinya. Dia takut kalau kalau orang tuanya mengetahui bahwa dia telah pergi ke hutan lagi. Tentu dia akan dilecut seperti kemarin.

Baru saja dia memasuki jalan kecil yang akan menuju keperkampungan, anak perempuan ini dikejutkan oleh derap kaki kuda yang banyak dan riuh sekali. Dia tak ingin mendapat celaka diterjang kaki-kaki kuda. Cepat-cepat dia menepi dan berlindung di balik sebatang pohon. Tak lama kemudian serombongan penunggang kuda lewat dengan cepat. Si anak tak tahu berapa jumlah mereka semuanya, tapi yang jelas amat banyak dan semua berpakaian serba hitam, rata-rata memelihara kumis melintang serta cambang bawuk yang lebat. Tampang-tampang mereka buas bengis. Dan masing-masing membawa sebilah golok besar di pinggang. Meski rombongan penunggang kuda itu telah berlalu jauh namun debu jalanan masih beterbangan menutupi pemandangan. Setelah debu itu sirna barulah si anak keluar dari balik pohon dan berlari sepanjangjalan menuju ke kampungnya.

Kampung itu terletak di sebuah lembah subur yang dialiri sungai kecil berair jernih. Sekeliling perkampungan terbentang sawah ladang yang luas. Saat itu padi tengah menguning hingga kemanapun mata memandang warna keemasan yang kelihatan.

Anak perempuan itu terus lari. Dia harus lewat kebun di belakang rumah agar tidak kelihatan oleh orang tuanya. Kemudian dia akan masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan bunga-bunga itu dibawah kolong tempat tidur. Kemudiannya lagi .... Jalan pikiran si kecil itu terhenti dengan serta sewaktu dari arah kampungnya terdengar suara hiruk pikuk. Suara itu bercampur aduk. Ada suara ringkikan kuda, suara teriakan orang laki-laki, pekik jerit orang-orang perempuan dan anak-anak, lalu suara beradunya senjata yang sekali-kali diseling oleh suara ringkik kuda yang membuat kecutnya hati anak perempuan itu.

Ada apakah di kampung? Begitu si anak berpikir. Hatinya yang kecut membuat larinya terhenti-henti. Satu perasaan takut memperingatkannya agar jangan pergi ke kampung, jangan pulang. Namun kaki-kaki yang kecil itu terus juga bergerak meskipun dalam langkah-langkah perlahan. Dilewatinya kebun di belakang rumah dan sampai di sebuah gubuk reyot. Gubuk ini adalah tempat ayahnya menyimpan segala barang-barang rongsokan.

Justru di sini anak tersebut menghentikan langkahnya. Sekujur tubuhnya gemetaran, parasnya yang tadi kemerahan karena berlari saat itu berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan. Dia ingin berteriak, dia ingin menangis tapi mulutnya terkancing oleh rasa takut yang amat sangat. Di samping rumah dilihatnya ayah serta kakak laki-lakinya tengah berkelahi melawan dua orang berpakaian serba hitam. Agaknya kedua orang berpakaian hitam itu tidak sanggup menghadapi ayah dan kakaknya karena dalam waktu yang singkat keduanya roboh mandi darah, Namun pada saat itu muncullah tiga orang penunggang kuda bertubuh kekar bertampang ganas. Salah seorang dari ketiganya memaki dan melompat dari punggung kuda, langsung menyerang ayahnya. Dua kawannya yang lain menyusul dan saat itu juga terjadilah perkelahian dua lawan tiga. Tiga manusia bertampang ganas itu ternyata amat tinggi ilmu silatnya karena tak berapa lama kemudian si anak mendengar jeritan ayahnya. Senjata di tangan salah seorang lawan telah membabat dada ayahnya hingga laki-laki itu tersungkur dan tak bisa bergerak lagi, diperhatikannya bagaimana kakaknya menjadi kalap oleh kematian ayahnya lalu mengamuk hebat. Tapi nasibnya juga malang karena dua senjata lawan berbarengan mampir di perut serta di pundak kakaknya. Salah seorang dari manusia-manusia jahat itu lalu membakar rumah orang tuanya. Pada saat api berkobar hebat, dari pintu belakang keluar dua orang perempuan. Mereka lari ke arah kebun. Keduanya adalah ibu dan kakak perempuan anak kecil yang berdiri disamping gubuk. Si anak hendak berteriak memanggil ibunya tapi tak jadi. Salah seorang dari tiga manusia jahat itu rupanya berhasil melihat kakak perempuan dan ibunya, lalu berseru keras dan mengejar.

"Ha-ha! Ternyata ada isinya juga rumah ini!" Mendengar seruan itu salah seorang kawannya berpaling. Begitu melihat dua orang perempuan melarikan diri dia segera ikut menyusul mengejar.

"Bagianku yang muda, Tunjung!" seru laki-laki yang paling depan. Sebentar saja dia berhasil mengejar si gadis, merangkulnya dan menciuminya dengan penuh nafsu. Gadis itu menjerit dan meronta. Ibunya coba memberikan pertolongan namun tubuhnya sendiri kemudian tenggelam dalam dekapan tangan-tangan kasar. Seperti anaknya, diapun diciumi secara buas!

"Bagus sekali perbuatan kalian!" satu bentakan terdengar. Yang membentak ternyata adalah laki-laki ketiga yang tadi telah membunuh ayah anak perempuan kecil di dekat gubuk reyot. "Aku sudah bilang setiap perempuan cantik di kampung ini menjadi milikku dan tak boleh diganggu!"

Kedua laki-laki itu berpaling, seorang diantaranya membuka mulut. "Bayunata! Sudah lebih dari selusin perempuan di kampung ini kau nyatakan milikmu! Masakan pada sobat sendiri yang dua ini masih hendak kau ambil?!"

"Heh, sejak kapan kau berani bicara membangkang terhadapku, Sawier Tunjung?!" gertak lakilaki yang bernama Bayunata. Sepasang bola matanya yang merah menyorot garang. Mau tak mau Sawer Tunjung terpaksa melepaskan rangkulannya dari tubuh padat si gadis. Begitu lepas si gadis hendak melarikan diri tapi Bayunata cepat mencengkeram bahunya, memutar tubuh gadis itu hingga paras mereka saling berhadap-hadapan dekat sekali.

"Sawer Tunjung! Ini adalah gadis yang tercantik di seluruh kampung! Dan kau hendak mengambilnya!" ujar Bayunata menyeringai dan tertawa gelak-gelak. Kawannya yang bemama Sawer Tunjung memencongkan mulut lalu meludah ke tanah.

"Kalau tidak dia biar yang ini saja untukku!" kata Sawer Tunjung seraya menunjuk pada perempuan berumur sekitar tigapuluh lima tahun yang tengah didekap oleh kawannya yang bemama Singgil Murka.

"Tidak bisa!" Singgil Murka memberi reaksi. "Ini punyaku! Sampai saat ini aku belum dapat satu perempuanpun!"

"Kalian berdua tak perlu berbantahan! Perempuan itupun harus menjadi milikku!" kata Bayunata. Memang Bayunata adalah seorang laki-laki bernafsu besar yang tak boleh melihat perempuan berwajah cantik. Semuanya ingin dimilikinya sekalipun saat itu lebih selusin dari perempuan-perempuan kampong telah diambilnya.

Singgil Murka dan Sawer Tunjung menggerutu habis-habisan. Bayunata sebaliknya malah tertawa.

"Kelak kalau aku sudah mencicipi mereka, kalian bakal mendapat bagian yang lumayan. Jadi tak perlu menggerutu!"

"Kau keterlaluan, Bayunata!" ujar Sawer Tunjung.

"Diam!" Bayunata membentak marah. "Bawa perempuan itu ke kuda dan awas kalau kau berani mengganggunya!" Bayunata kemudian berpaling pada gadis dalam dekapannya yang saat itu masih menjerit dan meronta.

"Kau ikut aku, gadis molek. Tak usah menjerit, apalagi meronta. Kau bakal hidup senang! Mari ...!"

"Tidak, lepaskan aku! Kau menusia jahanam!"

"Jangan bikin aku marah," kata Bayunata. Tapi si gadis terus meronta dan memaki.

"Kau ingin aku berbuat kasar sebelum waktunya?! Baik!" Tangan kanan Bayunata bergerak dan bret! Robeklah baju yang dipakai si gadis. Dadanya tersingkap lebar. Memuncaklah birahi Bayunata melihat dada yang padat putih itu. Dilumatnya dada itu dengan ciuman bertubi-tubi sedang dari mulutnya keluar ucapan, "Dada bagus .... dada bagus ... uh ... uh!"

"Lepaskan aku! Manusia dajal ....!"

Bayunata tertawa mengekeh dan memanggul tubuh si gadis lalu melompat ke atas kuda. Pada saat itulah anak kecil yang berdiri di samping gubuk berteriak.

"Ibu .... kakak!" Namun suara teriakannya itu sama sekali tidak keluar karena satu telapak tangan berwarna amat hitam dan berkeringatan menutup mulutnya!

"Jangan berteriak anak, jangan berteriak! Kalau mereka melihatmu, pasti kau dibunuh! Kau tahu tak satu anak kecilpun yang mereka biarkan hidup di kampung ini!"

Gadis kecil itu berpaling dan dia hampir jatuh pingsan sewaktu melihat paras orang yang menekap mulutnya. Paras itu menyeramkan sekali. Seperti paras setan-setan yang pernah diceritakan oleh kakaknya jika dia mau tidur! Paras itu cuma punya satu mata yaitu di sebelah kanan sedang mata yang kiri hanya merupakan lobang hitam yang dalam. Manusia bermuka hitam itu cekung sekali kedua pipinya sedang hidungnya melesak penyet!

"Jangan takut anak, jangan takut!" kata manusia bermuka seram. Ketika dilihatnya ketiga penunggang kuda itu sudah berlalu maka baru dilepaskannya tangannya yang menekap mulut si gadis cilik.

"Mari ikut aku, anak! Kau anak manis, tulang-tulangmu bagus. Anak perempuan yang sepertimu ini yang kucari-cari!"

‘Tidak!" si gadis cilik meronta ketakutan dan melejang-lejangkan kedua kakinya.

"Kalau kulepaskan kau mau lari ke mana, anak?!"

"Ibu ... ibu ... aku akan mengejar ibu!" jawab si anak.

"Ah ... akan mengejar ibumu dan melawan perampok-perampok jahat itu?!"

"Ya!"

Manusia bermuka hitam seram yang temyata adalah seorang nenek-nenek itu tertawa mengekeh.

"Sekecil ini kau telah menunjukkan hati jantan! Bagus! Memang calon muridku harus bersifat demikian! Dan sampai saat ini kau tidak menangis! Hebat!"

Si muka hitam lalu mendukung gadis cilik itu dan berkelebat meninggalkan tempat tersebut. Tapi satu bayangan putih memapas larinya dan satu bentakan mengumandang keras!

"Perempuan muka hitam! Anak itu sudah ditakdirkan menjadi muridku!"

Sang nenek terkejut bukan main dan menghentikan larinya.

"Bangsat! Setan alas dari mana yang berani mengumbar mulut seenaknya terhadapku?!"

DI HADAPAN si nenek yang mendukung tubuh anak kecil itu berdiri seorang kakek-kakek berpakaian putih. Kumis dan janggutnya panjang menjulai, melambai-lambai ditiup angin. Mengenali orang yang berdiri di depannya si nenek kembali membentak,

"Munding Wirya Kau rupa-rupanya yang berani-beranian bicara seenak perutmu terhadapku! Lekas menyingkir sebelum aku berobah pikiran untuk mencekik batang lehermu!"

Si kakek tertawa perlahan dan ketuk-ketukan tongkat bambu kuning yang di tangan kanannya ke tanah. Meski tombak itu besarnya tidak lebih dari sebesar jari tangan, namun hebatnya tanah yang diketuk terasa bergetar!

"Serahkan bocah itu padaku, Camperenik! Lalu pergilah dengan aman!" berkata Munding Wirya.

Si nenek yang ternyata bernama Camperenik menggembung kedua pipinya yang cekung lalu menghentakkan kaki kirinya ke tanah. Tanah itu bergetar dan melesak! Sekaligus si nenek hendak menunjukkan bahwa tenaga dalamnya tidak kalah hebat dengan tenaga dalam si kakek.

"Enak betul bicaramu! Bertahun-tahun aku berkeliling mencari calon murid yang baik.

Sesudah dapat ada yang mau memintanya! Puah! Bertempur sampai seribu juruspun aku bersedia mempertahankannya!"

"Aku tak punya waktu untuk bertempur dengan manusia macam kau. Serahkan anak itu secara baik-baik padaku agar kau tidak menyesal tujuh turunan!"

Camperenik tertawa gelak-gelak.

"Kau mengancam aku, Munding? Ya?! Puah! Kau andalkan apakah?"

"Kau harus tahu diri Camperenik. Anak itu tidak sudi ikut dengan kau, kenapa dipaksa?!"

"Lantas apa sangkut pautmu?!" tukas si nenek. "Sudahlah. Kataku serahkan anak itu. Dia sudah ditakdirkan untuk jadi muridku!"

"Langkahi dulu mayatku, baru kau boleh ambil bocah ini!" jawab Camperenik tegas dan ketus.

Munding Wirya usut-usut janggut putihnya dan geleng-gelengkan kepala.

"Otak tololmu sekeras batu nenek-nenek pikun! Anak baik-baik itu tidak pantas jadi muridmu! Turunan baik-baik tak boleh dijadikan murid orang golongan hitam macammu!"

"Menyingkir dari hadapanku kakek-kakek sialan! Kalau kau masih berani berbacot, hati-hatilah kepalamu!"

"Begini saja, Camperenik. Kita suruh saja anak perempuan itu memilih salah seorang dari kita. Kalau dia mengatakan ikut denganmu, aku akan mengalah dan kau boleh bawa dia."

Camperenik yang bermuka buruk seram tentu saja tidak mau menerima usul itu karena dia yakin si anak pasti tidak akan memilihnya.

"Dalam urusan ini tak ada segala macam janji dan usul! Lekas minggat dari hadapanku!" Munding Wirya mengusut lagi janggutnya.

"Jadi kau tak mau menyerahkan anak itu secara baik-baik?!"

"Tidak! Dan kau mau apa?!" tantang Camperenik.

"Kau akan menyesal!" desis Munding Wirya. Dia maju selangkah demi selangkah. Tiba-tiba tongkat bambu kuningnya yang kecil itu disabatkan ke depan ke arah kedua kaki Camperenik. Si nenek berteriak marah dan melompat setengah tombak. Selagi melayang di udara kaki kanannya ditendangkan ke muka. Tongkat kuning di tangan Munding Wirya cepat berputar memapas. Si nenek terkejut. Tak disangkanya gerakan lawan demikian sebat. Cepat-cepat kakinya ditarik pulang dan ganti menyerang dengan satu cengkeraman dahsyat ke muka lawan. Namun lagi-lagi dia harus membatalkan serangannya karena saat itu kembali tongkat lawan menderu memapaki tangannya!

Maklum bahwa sulit baginya untuk menyerang secara langsung, Camperenik merubah siasat. Dia mulai melepaskan pukulan-pukulan tangan kosong yang hebat dari jarak lima langkah. Kali ini si kakek terpaksa tidak bisa mengandalkan terus tongkat bambu kuningnya untuk menangkis serangan lawan. Dia musti bergerak cepat. Tubuhnya merupakan bayang-bayang putih kini, menyambar kian kemari. Tongkatnya lenyap menjadi gulungan-gulungan kuning yang menderu kian kemari menyambar ke tabuh lawan!

Pertempuran antara si kakek dan si nenek telah berjalan hampir seratus jurus. Keduanya samasama hebat, lebih-lebih si nenek muka hitam karena sambil bertempur dia masih terus mendukung anak perempuan itu di tangan kirinya. Munding Wirya tiba-tiba berteriak nyaring dan merobah permainan silatnya. Si nenek mendadak sontak merasa tekanan serangan yang hebat dan gencar. Dalam penasarannya dia berpikir ilmu silat apakah yang tengah dikeluarkan lawan, yang demikian asing dan hebat? Ketika dia tak sanggup membendung lebih lama hujan serangan Munding Wirya, Camperenik segera mencabut senjatanya dari balik pinggang. Senjatanya ini yaitu seekor ular yang telah dikeringkan menjadi tongkat dan bisa menyemburkan racun jahat. Di tangan Camperenik ular yang sudah keras kaku itu bisa dibuat demikian rupa laksana hidup dan menyambar kian kemari!

Munding Wirya sekitar dua tahun yang lalu telah pernah bertempur dengan Camperenik, karenanya dia sudah tahu kehebatan senjata lawan dan cepat-cepat menutup jalan pernafasannya. Betul saja, baru satu jurus bertempur dengan mempergunakan senjata ularnya, Camperenik tibatiba menekan badan ular dan menyemprotlah racun kuning dari mulut tongkat ular ke muka Munding Wirya.

Si nenek jadi amat penasaran melihat lawannya tidak roboh oleh semburan racun tongkat ularnya. Dengan geram dia merangsak ke depan. Dan terjadilah baku tongkat yang amat seru. Lima puluh jurus lagi berlalu. Masing-masing mengeluarkan ilmu silat simpanan. Serangan di balas serangan. Tipu daya dibalas tipu daya pula. Masing-masing mengintai kelengahan lawan.

"Camperenik!" Munding Wirya tiba-tiba berseru sewaktu pertempuran memasuki jurus ke tujuh puluh. "Apakah kau tetap tak mau menyerahkan anak perempuan itu padaku?!"

"Sekali aku bilang tidak, sampai nyawaku terbang kenerakapun aku tetap bilang tidak!" jawab si nenek seraya hantamkan tongkat ularnya ke batok kepala Munding Wirya. Si kakek miringkan tubuh dan kiblatkan tongkat bambu kuningnya.

"Trang!"

Kedua senjata itu beradu keras. Masing-masing tangan tergetar hebat dan itu adalah peraduan yang keenam puluh dua kalinya!

Masing-masing pihak melompat mundur lalu sama-sama menyerbu kembali. Dua jurus di muka Munding Wirya keluar dari kalangan pertempuran. Tongkat bambu kuningnya dimelintangkan di depan dada. Sepasang matanya menatap tajam pada Camperenik.

"Untuk penghabisan kalinya aku tanya. Kau masih belum mau menyerahkan anak itu?!"

Camperenik meludah ke tanah.

"Jilatlah ludah itu! Baru aku serahkan anak ini padamu!"

Merahlah wajah Munding Wirya. Tongkat di tangan kanannya dipindahkan ke tangan kiri. Tubuhnya dibungkukkan ke depan, sedang jari-jari tangan kanan dikepalkan. Sesaat kemudian kepalan itu mengeluarkan sinar biru pekat.

Paras Camperenik kontan berobah. Dia tahu pukulan apa yang bakal dilepaskan lawan. Dan dia tahu pula bahwa dia tak bakal sanggup menerima pukulan itu!

"Bagaimana, Camperenik?!" tanya Munding Wirya. "Serahkan anak itu atau kau akan mati konyol dilabrak pukulan buana biru ini?!"

Mulut Camperenik komat-kamit. Pelipisnya menggembung. Otaknya bekerja keras. Dia tak bakal sanggup menerima pukulan buana biru itu. Laripun percuma. Tiba-tiba dia membentak keras,

"Kau mau bunuh aku dengan pukulan itu?! Baik! Lakukanlah cepat!"

Habis berkata begitu Camperenik acungkan anak perempuan yang didukungnya di depan tubuhnya! Munding Wirya jadi kaget terkesiap. Walau bagaimanapun tak mungkin baginya untuk meneruskan melepaskan pukulan buana biru. Meski Camperenik bakal menemui kematian, tetapi anak perempuan itu sendiri pasti akan ikut mati bersama-sama si nenek!

"Keparat betul si Camperenik ini! Apa yang harus kulakukan?" maki dan pikir Munding Wirya geram.

"Ayo Munding! Kau tokh mau bikin mampus aku?! Silahkan lakukan!" Camperenik berteriak dengan sunggingkan senyum mengejek, membuat Munding Wirya tambah geram.

‘"Kalau kau tak mampu melakukannya, sebaiknya lekas angkat kaki dari hadapan tuanmu!" ejek Camperenik lagi.

Tiba-tiba satu bayangan putih melesat dari samping. Munding Wirya tersentak kaget. Camperenik mengeluarkan seruan terkejut. Dan tahu-tahu anak perempuan yang diacungkannya terbetot lepas dari pegangan kedua tangannya! Sesosok tubuh berpakaian putih sementara itu dengan sebat berlalu cepat dan lenyap.

"Kurang ajar! Edan!" jerit Camperenik marah lalu hendak mengejar. Namun dari samping satu sinar biru menderu laksana topan prahara. Nenek-nenek ini terkejut. Munding Wirya temyata telah melepaskan pukulan "buana biru" begitu si nenek bersikap lengah. Camperenik menjerit lagi dan membuang diri ke belakang. Nyawanya selamat tapi angin serangan masih sempat memapas pinggulnya membuat nenek-nenek ini roboh dan terguling pingsan! Munding Wirya tak menunggu lebih lama, segera dia angkat kaki mengejar orang yang telah merampas anak perempuan tadi dari tangan Camperenik!

Di tepi lembah Munding Wirya masih sempat melihat orang yang dikejarnya lari ke jurusan timur. Dengan mengandalkan ilmu larinya yang hebat si kakek terus mengejar. Tapi bagaimanapun diusahakannya tetap saja dia hanya bisa memperdekat jarak sampai tiga puluh langkah. Kalau saja dia tidak kawatir akan keselamatan anak yang berada di tangan si penculik, sudah sejak tadi dia melepaskan pukulan buana biru saking gemas hatinya. Sekali-kali dilihatnya si penculik berpaling ke belakang seolah-olah mengejeknya. Munding Wirya tidak ingat sudah berapa lama dia mengejar orang itu sementara matahari sudah condong ke barat dan hari hampir senja. Dan sampai saat itu dia masih belum mampu mengejar orang yang melarikan anak perempuan itu. Si penculik sendiri agaknya tidak mau melenyapkan diri dari pemandangan kedua mata Munding Wirya dan masih terus juga berpaling sekali-kali ke belakang. Ini menimbulkan tanda tanya besar di hati si orang tua. Siapakah gerangan adanya orang itu yang demikian hebat ilmu larinya?!

Tepat pada saat matahari tenggelam diufuk barat, tiba-tiba orang yang dikejar Munding Wirya lenyap dari pemandangan!

Kakek-kakek itu menghentikan larinya dan memandang berkeliling. Orang itu tak kelihatan, lenyap laksana di telan bumi di senja hari itu!

"Benar-benar edan ... !" maki Munding Wirya dalam hati. Sekali lagi diselidikinya tempat sekitar situ. Tetap dia tak menemukan apa-apa. "Mungkin belum jodohku anak itu. Tapi betulbetul aneh dan hebat. Siapakah orang yang telah melarikannya itu?"

Dengan hati kecewa Munding Wirya menggerakkan kaki melangkah meninggalkan tempat tersebut. Namun satu langkah dia bertindak tiba-tiba terdengar suara memanggil.

"Orang tua kemarilah!"

Munding Wirya terkesiap. Dia mendongak ke atas. Dan astaga! Tepat di atasnya, disebuah cabang pohon besar di bawah mana dia berdiri, duduk sesosok tubuh berpakaian putih tengah memangku anak perempuan yang hendak diambilnya jadi murid! Dengan serta merta Munding Wirya menjejakkan kedua kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat dan di lain kejap dia sudah berada di atas cabang pohon besar di mana orang yang melarikan anak perempuan itu duduk. Terkejutlah Munding Wirya ketika dia melihat bahwa orang yang menculik si anak adalah seorang perempuan tua berambut putih jarang. Pada kulit kepalanya tertancap lima buah tusuk konde. Kulitnya yang hitam kelihatan lebih hitam karena selempang kain putih yang dikenakannya, ditambah lagi oleh kegelapan senja yang datang.

"Pantas ... pantas. Engkau rupanya Sinto. Pantas saja aku tak sanggup mengejarmu!". Habis berkata begitu Munding Wirya menjura dalam-dalam.

Perempuan tua di depannya tertawa kecil sementara si anak dalam pangkuannya saat itu telah tertidur nyenyak.

"Empat puluh tahun tidak bertemu, sekarang kau muncul lagi di luaran. Sungguh satu hal yang menyenangkan," kata Munding Wirya lagi, lalu dia bertanya. "Kalau aku boleh tahu, urusan apakah yang membuat kau meninggalkan puncak gunung Gede? Kudengar kabar kau sudah bertekad untuk mengundurkan diri dari dunia yang penuh kotor ini."

"Betul ... itu betul sahabatku Munding Wirya. Setelah puluhan tahun mendekam di puncak gunung Gede tubuh tua rongsokan ini masih belum juga mau mampus! Aku kesal dan kesepian! Terpaksa iseng-iseng turun gunung melihat-lihat?"

Munding Wirya tertawa gelak-gelak. Hatinya ingin menanyakan apa sebabnya perempuan tua itu melarikan si anak perempuan, apakah hendak mengambilnya sebagai murid pula, tetapi si kakek kemudian membatalkan maksudnya karena dia kawatir perempuan tua itu akan tersinggung. Siapakah sebenarnya perempuan tua itu? Dia bukan lain Eyang Sinto Gendeng, guru pendekar 212 dari puncak gunung Gede, tokoh silat yang pernah merajai dunia persilatan selama berpuluh tahun!

Sambil mengusap kepala si anak perempuan, Sinto Gendeng berkata,

"Anak bagus. Cerdik, berani. Aku tak ingin dia jadi murid tokoh jahat golongan hitam. Karenanya kurampas dari tangan Camperenik. Ini kau ambillah!"

Legalah hati Munding Wirya. Namun demikian sebagai basa-basi dan peradatan dia berkata, "Jika kau ingin mengambilnya jadi murid, silahkan kau bawa ke gunung Gede." Sinto Gendeng tertawa,

"Aku memang mau kembali ke gunung Gede dan anak ini mempunyai susunan tubuh serta bakat bagus. Tapi sayang dalam hidupku aku sudah berjanji untuk cuma punya satu murid. Aku tak bisa mengambilnya. Kuharap kau akan mendidik dan menggemblengnya menjadi gadis pendekar yang hebat agar dapat membalaskan sakit hati atas apa yang telah menimpa orang tua dan saudara-saudaranya."

"Jadi kau juga tahu apa yang telah terjadi di kampung itu, Sinto?" Sinto Gendeng mengangguk perlahan.

"Kekotoran-kekotoran macam itu harus dilenyapkan. Dan biarlah anak ini kelak yang bakal menuntut balas!" Sinto Gendeng mengusap kepala anak perempuan itu sekali lagi lalu menyerahkannya pada Munding Wirya. Laki-laki tua ini terkejut sekali karena baru saja si anak berada dalam dukungannya, Sinto Gendeng tahu-tahu telah berkelebat lenyap dari cabang pohon. Munding Wirya gelengkan kepala dan tarik nafas panjang. "Tak dapat kuukur betapa tingginya ilmu kepandaian manusia itu!" Setelah memandang berkeliling sesaat, kakek-kakek inipun melompat turun dari cabang pohon dan lenyap dalam kegelapan malam.HUTAN Bludak merupakan hutan yang paling lebat di daerah selatan Jawa Barat. Penduduk yang diam dibeberapa desa sekitar hutan tersebut menganggapnya sebuah hutan angker yang jarang di datangi manusia. Menurut penduduk disitu, selain penuh dengan bindtang buas juga dihuni oleh berbagai macam makhluk halus. Di samping itu hutan Bludak juga merupakan sarang manusia-manusia jahat.

Di pertengahan hutan yang angker lebat itulah gerombolan rampok Bayunata mendirikan markas mereka. Rumah-rumah mereka atau lebih tepat dikatakan pondok-pondok didirikan di atas pohonpohon raksasa dalam hutan yang keseluruhannya berjumlah hampir dua puluh buah. Bayunata sengaja mendirikan pondok di atas-atas pepohonan agar jangan diganggu oleh binatangbinatang buas. Disamping itu juga untuk menjaya jika sewaktu-waktu terjadi penggrebekan oleh pasukan kerajaan Banten atau Pajajaran. Selama bertualang malang melintang memimpin gerombolan rampok bersama Singgil Murka dan Sawer Tunjung, telah dua kali Bayunata diserang oleh orang-orang kerajaan. Pertama dari Pajajaran dan yang terakhir dari Banten. Meski anak buahnya banyak yang jatuh menjadi korban, namun Bayunata dan kawan-kawannya berhasil menghalau prajurit-prajurit penyerang.

Saat itu baru saja memasuki malam. Di dalam sebuah pondok di atas pohon terdengar sedu sedan tangis dua orang perempuan. Mereka adalah Galuh Asih dan Ratih, ibu dan kakak perempuan anak perempuan kecil yang dibawa oleh Munding Wirya. Di dalam pondok itu juga terdapat lima orang perempuan yang rata-rata berparas cantik. Namun dibalik paras cantik masing-masing, jelas kelihatan sikap dengki dan bengis. Salah seorang dari kelima perempuan itu tiba-tiba berdiri dan membentak, "Kalian ibu dan anak sama-sama keblingernya! Kalian harus berterima kasih tidak dibunuh oleh Bayunata! Kalian harus bersyukur diambil jadi istri!"

Galuh Asih menyusut air matanya dan memandang tepat-tepat pada perempuan yang membentak itu, lalu berkata dengan suara pelahan tapi menusuk tajam.

"Aku dan anakku menangis karena kami bukanlah manusia-manusia macam kau dan lainlainnya! Kalian bersyukur jadi perempuan-perempuan peliharaan Bayunata itu urusan kalian. Jangan coba-coba mempengaruhi kami!"

"Ho-oo! Kau ibu dan anak mau mengandalkan apakah hendak menolak kehendak Bayunata? Lebih baik menurut saja! Kalian akan dapat uang, pakaian dan harta perhiasan!"

"Enyahlah dari tempat ini!" bentak Galuh Asih.

Perempuan yang dibentak cuma tertawa sinis.

Dikeluarkannya sebuah botol berisi cairan hitam lalu melangkah kehadapan Galuh Asih.

"Perempuan macammu ini biasanya mempunyai jalan pikiran lebih baik mati daripada jadi peliharaan seorang kepala rampok! Inil Minumlah racun ini kalau kau memang mau mati!"

Tiba-tiba pintu pondok terbuka lebar-lebar dan sesosok tubuh masuk ke dalam seraya membentak.

"Perempuan bangsat! Berani kau menyuruh Galuh Asih minum racun?!"

Perempuan itu menjerit. Tubuhnya terbanting ke lantai pondok. Di hadapannya berdiri Bayunata dengan bertolak pinggang dan mata membeliak.

"Warinah! Sudah sejak lama kudengar kau berperangai buruk! Menghasut, memfitnah bahkan main gila dengan beberapa orang anak buahku! Berdiri!"

Warinah, demikian nama perempuan itu berdiri dengan perlahan. Parasnya sepucat kertas.

"'Bawa sini botol itu!" bentak Bayunata lalu merampas botol racun dari tangan Warinah dan membuka tutupnya.

"Sekarang kau sendiri yang harus meneguk racun ini! Ayo, teguk!" perintah Bayunata.

"Ampun ... ampun Bayunata. Aku, aku tidak bermaksud ..."

"Minum cepat!" teriak Bayunata sementara empat orang perempuan lainnya kawan-kawan Warinah berdiri di satu sudut dengan ketakutan. Warinah mundur beberapa langkah.

"Minum kataku!" teriak Bayunata lagi lalu melompat dan, menjambak rambut Warinah. Racun dalam botol dituangkannya ke mulut Warinah tetapi perempuan itu lebih cepat menutup bibirnya rapat-rapat!

"Oo ... kau tak mau mampus cara begini hah?! Baik! Aku memang sudah bosan padamu, sudah muak! Lihat, kau akan mampus dengan cara yang lebih mengerikan!"

Bayunata menangkap pinggang Warinah lalu melemparkan tubuh perempuan itu keluar pintu pondok! Pondok itu terletak di atas pohon raksasa yang hampir duapuluh tombak tingginya. Di luar terdengar pekik ngeri Warinah lalu sunyi tanda tubuhnya telah menemui kematian di bawah sana!

Di dalam pondok Bayunata memandang pada empat perempuan kawan Warinah lalu membentak mereka agar meninggalkan pondok itu! Keempatnya berebutan cepat keluar dan lari sepanjang jembatan gantung kecil yang terbuat dari tali yang menyambungkan pondok itu dengan pondok lainnya. Kepala rampok Bayunata memutar tubuh dan memandang ganti berganti pada Galuh Asih dan Ratih.

"Walau bagaimanapun," katanya, "bunuh diri adalah perbuatan paling tolol!"

"Kami mernang tak ingin bunuh diri! Bebaskan kami dari tempat terkutuk ini!" menyahut Galuh Asih.

"Itu tindakan yang lebih tolol lagi!" kata Bayunata pula.

"Kau telah memiliki perempuan-perempuan peliharaan berlusin-lusin. Apakah itu belum cukup? Masih kurang? Demi Tuhan lepaskan kami!"

"Jangan sebut-sebut nama Tuhan!" teriak Bayunata marah. "Setiap ada yang menyebut Tuhan selalu saja aku ditimpa kesialan!"

"Bebaskan kami!"

"Tidak bisa! Kau harus jadi istriku! Jadi peliharaanku, tahu?! Memang aku punya lusinan perempuan di sini. Aku sudah bosan dengan mereka semua! Kau musti tahu setiap perempuan berbeda! Punya keistimewaan sendiri-sendiri!" Dan habis berkata begitu Bayunata tertawa gelakgelak. Dia melangkah ke pintu dan berteriak. Seorang anak buahnya datang dengan cepat.

"Bawa gadis itu ke pondokku! Usir perempuan-perempuan yang ada di sana dan jaga dia baikbaik! Awas kalau kau berani berbuat kurang ajar!"

Dalam keadaan menjerit-jerit Ratih dipanggil oleh anggota rampok itu. Ketika hendak dibawa pergi Galuh Asih cepat menghadang.

"Lepaskah dia! Lepaskan anakku!"

"Jangan tolol Galuh Asih!" bentak Bayunata seraya menarik lengan perempuan itu kemudian sekaligus dirangkulnya. Galuh Asih memekik dan menangis keras sewaktu anak gadisnya lenyap diluar pintu.

Bayunata menutup pintu pondok dan tegak menunggu sampai tangis Galuh Asih mereda. Bila perempuan itu tampak agak tenangan sedikit dia melangkah mendekati.

"Kau tak usah kawatir akan keselamatan diri anakmu ..."

"Pergi! Jangan dekati aku! Jangan jamah tubuhku!"

"Oh, begitu? Apakah kau mau aku memanggil sepuluh anak buahku dan menjamah sekujur tubuhmu sekaligus?!"

"Bangsat! Demi Tuhan matilah kau!" teriak Galuh Asih lalu melompat dan memukulkan kedua tinjunya kemuka Bayunata.

Dengan mudah kepala rampok hutan Bludak itu menangkap kedua lengan Galuh Asih dan dilain kejapperempuan itu sudah tenggelam dalam rangkulannya. Ciumannya bertubi-tubi. Galuh Asih melejang meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun sia-sia saja malah lambat laun tenaganya semakin mengendur dan dia tak berdaya apa-apa sewaktu Bayunata membaringkannya di atas kasur jerami kering. Kekuatan perempuan ini timbul kembali sewaktu Bayunata mulai menanggalkan pakaiannya dengan kasar. Keduanya bergumul berguling-guling dan pada akhirnya Galuh Asih kembali menyerah kehabisan daya! Dia hanya meramkan mata, tak bisa menolak sewaktu Bayunata meneduhi tubuhnya. Galuh Asih tiba-tiba menjerit keras ketika dirasakannya bulu-bulu dada kepala rampok itu menggeremangi buah dadanya. Dia menjerit sekali lagi, sekali lagi lalu pingsan di bawah tindihan tubuh laki-laki terkutuk itu!

Sepeminuman teh lewat.

Bayunata dengan tubuh keringatan dan terhuyung-huyung melangkah ke pintu. Dibukanya pintu itu. Untuk beberapa lamanya dia berdiri memandangi kegelapan. Disekanya peluh yang berciciran dikeningnya. Dia berpaling kebelakang. Galuh Asih terbujur diatas kasur jerami dalam keadaan tak berpakaian. Sepasang matanya terpejam. Dada dan perutnya jelas kelihatan turun naik. Betapa bagusnya tubuh telanjang itu dipandang demikian rupa. Dan tentu tubuh anaknya yang, masih perawan jauh lebih bagus dari itu, pikir Bayunata..

Kepala rampok hutan Bludak ini memalingkan kepalanya, kembali memandang keluar pondok. Dia kemudian berteriak memanggil dua orang tangan kanannya. Tak lama muncullah Singgil Murka dan Sawer Tunjung. Bola-bola mata kedua manusia ini membesar sewaktu mereka memandang ke dalam pondok dan melihat tubuh Galuh Asih yang terbaring telanjang diatas kasur jerami.

"Sobat-sobatku, kau lihat pemandangan di dalam sana?!" ujar Bayunata sambil menyeringai dan menunding dengan ibu jarinya. "Hari ini jangan katakan lagi aku temahak perempuan! Kalian berdua boleh perbuat apa saja sekarang terhadapnya! Tapi ... jangan main serobotan. Dia masih letih ....!" Habis berkata begitu Bayunata tertawa mengekeh lalu meninggalkan ambang pintu, meniti jembatan tali yang menuju kepondok lainnya.

Sawer Tunjung cepat-cepat melangkahkan kaki masuk ke dalam pondok. Tapi bahunya dipegang oleh Singgil Murka.

"Mau kemana Sawer? Aku tokh lebih tua darimu? Aku yang lebih dulu!"

Sawer Tunjung mengeluarkan suara menggerutu.

"Lagi-lagi soal umur kau gunakan untuk lebih dulu dapat mencicipi perempuan itu! Sekalisekali aku tokh boleh saja lebih dulu dari kau?! Aku tak ingin selalu jadi tukang cuci mangkok!"

Singgil Murka menyeringai memperlihatkan barisan gigi-giginya yang besar, hitam kotor tak pernah digosok.

"Yang sekali ini lain, sobat! Betul-betul lain!" desis Singgil Murka tanpa melepaskan bahu kawannya.

Sawer Tunjung jadi penasaran. Ditepiskannya lengan Singgil Murka dan berkata keras.

"Justru karena yang sekali ini lain maka aku yang musti lebih dulu!"

Sementara kedua kawanan rampok itu bertengkar, perlahan-lahan. Galuh Asih membuka kedua matanya. Dia sadar apa yang telah terjadi atas diri nya. Mendengar pertengkaran Singgil Murka dan Sawer Tunjung dia sadar pula apa yang bakal menimpa dirinya. Noda kotor baru saja menimpa dirinya dan kini kembali kekotoran itu akan jatuh. Galuh Asih se-olah-olah mendapat kekuatan gaib. Tidak saja perempuan ini bangkit dan berdiri tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya. Dia menjerit keras lalu secepat kilat lari ke ambang pintu.

"Hai!" Singgil Murka dan Sawer Tunjung berseru hampir bersamaan. Keduanya melompat ke pintu tapi terlambat. Tubuh Galuh Asih melayang dalam kegelapan malam. Jeritannya mengumandang mengerikan. Dan suara jeritan itu dengan serta merta berhenti sewaktu tubuh perempuan tersebut jatuh dengan keras ke tanah! Kepalanya rengkah, lehernya patah!BAYUNATA tengah meniti jembatan gantung yang terbuat dari tali-tali besar, menuju ke pondok di mana Ratih berada, dijaga oleh dua orang anak buahnya. Pada saat itulah didengarnya lengking jerit yang mengejutkan di malam pekat itu. Dia membalikkan tubuh dan samar-samar di kegelapan malam dilihatnya sesosok tubuh berambut panjang tanpa pakaian melayang jatuh dari pondok di seberang sana. Lamat-lamat terdengar suara tubuh itu terhampar di tanah lalu sunyi. Dipondok seberang sana Singgil Murka dan Sawer Tunjung berlarian keluar dan memandang ke bawah. Bayunata berteriak memanggil kedua orang itu.

"Apa yang terjadi?!" tanya Bayunata meski dia sudah dapat menduga apa yang barusan terjadi. "Perempuan itu, Bayu! Dia bunuh diri!" jawab Singgil Murka.

"Kalian biarkan dia bunuh diri hah?!"

"Kami ... kami tengah bertengkar. Dia tiba-tiba bangkit dari pembaringan dan lari sangat cepat ke pintu. Kami tidak sempat mencegahnya!" jawab Sawer Tunjung.

Geraham-geraham Bayunata berkeretakan. "Kalian memang kerbau-kerbau dogol yang tidak tahu diri! Berlalu dari hadapanku!" sentak Bayunata.

Singgil Murka dan Sawer Tunjung segera meninggalkan tempat itu. Mereka turun ke tanah untuk menyuruh urus mayat Galuh Asih dan juga mayat Warinah yang sebelumnya telah dilemparkan oleh Bayunata. Bila kedua pembantunya itu telah berlalu, Bayunata meneruskan meniti jembatan gantung dari tali menuju ke pondok di hadapannya.

"Kalian boleh pergi," kata kepala rampok ini pada dua orang anak buahnya yang mengawal dipintu.

Bila Bayunata membuka pintu pondok maka kelihatanlah gadis itu berdiri di sudut ruangan tengah menangis tersedu-sedu. Pondok itu adalah tempat kediaman Bayunata. Selain paling besar juga di dalamnya terdapat perabotan-perabotan yang serba mewah.

"Hentikan tangismu. Sekarang bukan waktunya lagi untuk menangis terus-terusan." kata Bayunata seraya menutupkan pintu pondok.

Dari sebuah rak kayu jati diambilnya dua seloki besar. Seloki-seloki itu diisinya sampai setengahnya dengan anggur harum.

"Minumlah, kau tentu haus," kata si kepala rampok dan mengacungkan seloki yang di tangan kanannya ke muka Ratih.

Si gadis memandang seloki itu seketika lalu mengambilnya dan dengan tiba-tiba anggur di dalam seloki disiramkannya ke muka Bayunata.

Kepala rampok itu undur beberapa langkah. Dia mengerenyit. Kedua matanya yang tersiram anggur terasa perih. Setelah menggosok-gosok kedua matanya itu beberapa lama sehingga rasa perihnya hilang, Bayunata duduk ke sebuah kursi. Untuk pertama kalinya dia tidak menjadi beringas marah diperlakukan seperti itu. Dipandangnya Ratih dengan kedua matanya yang merah dan perlahan-lahan diteguknya anggur dalam seloki.

"Gadis galak, kau memang pantas jadi istriku! Terangkan siapa kau punya nama."

Jawaban dari Ratih adalah bentakan keras. "Keluarkan aku dari sini! Keluarkan!" Bayunata tertawa perlahan.

"Setiap perempuan yang kubawa kemari selalu berteriak minta dikeluarkan, minta dibebaskan! Mereka harus tahu bahwa sekali mereka masuk ke sini tak mungkin keluar, tak mungkin bebas! Kecuali kalau mereka mencari jalan tolol bunuh diri!" Dan Bayunata hendak menerangkan tentang kematian Galuh Asih kepada gadis itu, tetapi maksudnya itu kemudian dibatalkan.

"Hentikan tangismu. Jangan bikin aku muak dan marah." Bayunata berkata bilamana Ratih masih dilihatnya menangis.

Sebagai jawaban Ratih melemparkan seloki di tangan kananpya. Dengan tangan kirinya Bayunata menangkap seloki itu. Ditimang-timangnya benda itu seketika lalu berkata,

"Aku berjanji tidak akan memperlakukan kau seperti perempuan lain sebelumnya. Aku tidak akan menyakitimu."

"Persetan dengan ucapanmu!" tukas Ratih. "Keluarkan aku dari sini. Juga ibuku!"

Kembali Bayunata tertawa perlahan. Seloki dikedua tangannya diletakkannya di atas sebuah meja kecil lalu melangkah mendekati Ratih. Di lain pihak si gadis cepat-cepat menjauh.

"Seorang penjahat memang tak dapat dipercaya. Tapi kau sekali ini kau musti percaya dengan ucapanku," dan Bayunata mendekat lagi. Ratih mundur lagi sampai tubuhnya tertahan oleh pondok.

"Aku tak akan menyakitimu. Siapa namamu gadis... ?"

Ratih memepet ke dinding. Tiba-tiba disampingnya dilihatnya sebuah jambangan besar dari kuningan. Tanpa pikir panjang lagi disambarnya benda itu dan dilemparkannya ke kepala Bayunata.

Melihat sikap Ratih yang keras demikian rupa meskipun dia telah menghadapinya dengan lembut, kini naiklah darah si kepala rampok. Sekali tinju saja jambangan besar itu hancur berkeping-keping.

"Tingkahmu tidak ada beda dengan kau punya ibu yang sudah mampus bunuh diri!" bentak Bayunata beringas.

Ratih kaget bukan main.

"A ... apa?! Ibuku bunuh diri ...?!" tanyanya membeliak.

"Bunuh diri dan mampus!" jawab Bayunata lalu sekali lompat saja kedua tangannya telah mencengkeram bahu Ratih. Gadis itu dilemparkannya ke tempat tidur dan ditindihnya sekaligus. Ratih berguling-guling, meronta dan menerjang untuk melepaskan tubuhnya dari rangkulan kepala penjahat itu. Namun ini hanya menghabiskan tenaganya sementara setiap kesempatan yang ada dipergunakan oleh Bayunata untuk merenggut dan merobek pakaian yang melekat di tubuh sang dara hingga dalam waktu yang sihgkat pakaian yang melekat di tubuh Ratih sudah tak karuan rupa lagi. Penuh robek dan terbuka di sana-sini!

Satu kali Bayunata berhasil menindih tubuh gadis itu. Namun dengan sisa-sisa tenaganya yang ada Ratih masih sanggup menerjangkan kaki kanan menghantam perut Bayunata. Kepala rampok itu mengeluh kesakitan. Dijambaknya rambut Ratih. Keduanya terguling dan jatuh di lantai pondok. Benturan yang keras pada belakang kepalanya dilantai membuat pemandangan Ratih berkunang-kunang dan tenaganya semakin lemah sedang jambakan Bayunata masih lengket dirambutnya dengan keras.

Ratih tahu dia tak dapat bertahan lebih lama.

Mungkin sudah menjadi takdir bahwa dirinya akan ditimpa kecemaran terkutuk begitu rupa. Air mata berderaian meleleh pipinya. Nafas Bayunata menghembus panas diwajahnya. Dirasakannya jari-jari tangan laki-laki itu membuka lilitan kain ditubuhnya. Dirasakannya tangan yang lain dari Bayunata menjalar meremas dadanya. Ratih menangis keras. Usaha terakhir yang bisa dilakukannya ialah merapatkan kedua kakinya sedapat-dapatnya. Dan inipun gagal karena Bayunata dengan mudah sekali menyibakkan kedua kakinya itu!

"Tuhan! Tolonglah hambamu ini!" Ratih memohon jauh dilubuk hatinya.

Dan pada saat itu pertolongan Tuhan benar-benar datang!

Pintu pondok tanpa suara sedikitpun tiba-tiba terbuka. Juga tanpa suara sesosok tubuh bergerak cepat masuk ke dalam. Bayunata merasakan kedua pergelangan kakinya dicengkeram. Dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, mendadak sontak tubuhnya telah dibantingkan ke lantai pondok!BAYUNATA adalah seorang kepala rampok yang berilmu tinggi. Begitu tubuhnya terbanting keras ke lantai dia sanggup bangun kembali dengan gerakan kilat seraya melepaskan satu tendangan ke arah mana sudut matanya melihat sosok bayangan putih yang barusan masuk. Yang diserang nyatanya bukan seorang yang berkepandaian rendah pula, karena tendangan kilat Bayunata berhasil dielakkannya dengan miringkan tubuh ke samping kiri. Di lain kejap kedua orang itu telah berdiri berhadap-hadapan.

"Bangsat rendah! Siapa kau?!" bentak Bayunata.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda berbadan tegap. Baju putihnya tidak dikancing hingga kelihatan dadanya yang lebar bidang. Pemuda ini berdiri bertolak pinggang. Rambutnya yang menjela bahu bergoyang-goyang ditiup angin yang berhembus dari pintu.

"Jika saja aku bertindak bukan atas nama orang lain, sudah kupecahkan kepalamu, Bayunata!" kata si pemuda.

"Kurang ajar! Kutekuk batang lehermu, bangsat haram jadah!"

Bayunata menggembor lalu berkelebat dengan sepuluh jari tangan terpentang. lniiah gerakan yang dinamakan "sepasang lengan baja meminta jiwa." Selain cepat serangan ini menimbulkan angin yang luar biasa derasnya.

Pemuda ditengah ruangan cepat-cepat menyingkir sewaktu dilihatnya sepuluh jari lawan dengan amat cepat menyambar ke batang lehernya. Namun tak terduga begitu dia berhasil mengelak, sepasang lengan lawan laksana palu godam tiba-tiba membabat ke kepala dan pinggang! Si pemuda membuang diri ke samping. Tangan kiri menekan lantai sedang kaki kanan berkelebat ke atas menendang ke arah salah satu lengan Bayunata! Ini adalah satu gerakan yang sukar dilakukan. Tetapi si pemuda bersikap seolah-olah gerakan itu adalah gerakan main-main! Ini memb'uat Bayunata penasaran setengah mati. Dia bertekad untuk membuntoh pemuda tak dikenal itu saat itu juga. Disambarnya golok besar di kaki tempat tidur. Sesaat kemudian senjata yang beratnya hampir duapuluh kati itu sudah lenyap menjadi sinar putih yang berkiblat ganas ke arah tubuh pemuda berambut gondrong!

Pemuda yang diserang amat terkejut. Belum pernah dia melihat permainan golok yang demikian hebat. Selain golok itu besar dan berat serta mendatangkan angin deras, sekali berkiblat senjata ini telah menebar tiga tabasan dan empat tusukan ke arah tujuh bagian tubuh si pemuda!

Dalam tempo yang singkat pemuda itu dibikin sibuk dan terdesak hebat. Golok lawan menyambar berputar menderu-deru. Beberapa kali hampir saja membuat dirinya celaka. Ketika dia mempunyai kesempatan si pemuda menyambar pakaian Bayunata yang tercampak di lantai. Pakaian itu diputar-putarnya dan digunakan untuk menghadapi lawan. Bayunata merasa dianggap enteng, apalagi pakaian yang tangan si pemuda adalah miliknya sendiri. Permainan goloknya diperhebat namun dia harus berhatihati karena meskipun cuma sehelai pakaian namun di tangan si pemuda benda itu berobah menjadi satu senjata yang berbahaya.

Golok Bayunata membabat ke dada, membalik memapas ke lambung kiri pemuda berambut gondrong. Di lain pihak pakaian di tangan si pemuda meluncur berputar-putar, menyusup di bawah golok lawan lalu sekali benda itu disentakkan, seluruh badan golok tahu-tahu telah terlibat!

Bayunata berseru kaget. Cepat-cepat goloknya dibetot. Tapi apa yang terjadi ialah senjatanya itu tahu-tahu sudah terlepas dari tangannya! Bayunata berteriak marah. Dia menerjang ke muka dengan melepaskan satu pukulan sakti. Namun sebelum hal itu sempat dilaksanakannya si pemuda lebih cepat menghantamkan telapak tangan kanannya ke kening kepala penjahat itu. Tak ampun lagi Bayunata terpelanting dan jatuh punggung di lantai, tak sadarkan diri! Keningnya yang bekas dipukul kelihatan berwarna hitam, di situ tertera pula tiga barisan angka berwarna putih, angka 212!

"Pergunakanlah seperai tempat tidur untuk menutup pakaianmu!" kata pemuda berambut gondrong pada Ratih.

Bila si gadis sudah menutupi tubuhnya yang hampir keseluruhannya bertelanjang bulat itu dengan kain seperai maka si pemuda berkata lagi, "Kita harus meninggalkan tempat ini."

"Kau musti membunuh manusia itu, saudara. Kau harus membunuhnya!" kata Ratih.

Si pemuda menggeleng.

"Aku dipesan untuk tidak melakukan hal itu. Kelak hari pembalasan akan tiba."

"Kalau begitu aku sendiri yang akan menabas batang lehernya!" kata Ratih. Dia membungkuk mengambil golok besar milik Bayunata. Ketika tangannya bergerak hendak melaksanakan niatnya, si pemuda mencekal lengannya.

"Belum saatnya dia harus dibunuh, saudari!"

"Kau tak berhak melarangku! Lepaskan tanganku!"

Si pemuda mengambil golok besar dari tangan Ratih, melemparkannya ke sudut kamar. "Mari ikut aku!"

"Tidak! Aku tidak percaya padamu! Kau juga manusia jahat! Pergi!" Ratih mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, hendak memukul si pemuda.

"Kau terlalu banyak cerewet!" si pemuda kehilangan kesabarannya. Ditotoknya leher gadis itu.

Dalam keadaan kaku tegang Ratih kemudian dipangulnya. Namun begitu dia sampai di ambang pintu, dua orang rampok muncul dengan golok di tangan! Dan tanpa banyak cerita keduanya terus menyerang si pemuda.

"Bagus! Kalian minta mampus, marilah lebih dekat!"

Rampok yang pertama berteriak keras. Tendangan melanda perutnya. Tubuhnya mental keluar pintu. Rampok yang kedua melengak kaget. Jika begini naga-naganya lebih baik dia angkat kaki. Namun sebelum hal itu sempat dilakukannya, rambutnya telah kena dijambak. Di lain detik terdengar kepalanya diadu dengan sanding pintu pondok yang keras. Rampok itu melosoh dijembatan gantung tanpa nyawa. Si pemuda dan Ratih sesaat kemudian telah lenyap dari tempat itu.***Bukit itu berbentuk bulat. Tepat di pertengahannya terdapat tanah yang muncung ke atas, juga berbentuk bulat. Karena bentuknya yang demikian itulah bukit tersebut kemudian dinamakan bukit Gong.

Pada tanah yang muncung dipertengahan puncak bukit Gong berdirilah sebuah bangunan kayu jati berukir-ukir amat bagus. Siapakah yang diam di tempat itu?

Sebelum kita mencari tahu siapa pemilik atau siapa penghuni pondok tersebut marilah kita ikuti perjalanan Ratih, gadis yang telah dibawa oleh pemuda berambut gondrong dari hutan Bludak yang menjadi sarang rampok Bayunata.

Sewaktu fajar menyingsing di timur, kedua orang itu berada di sebuah anak sungai berair jernih. Si pemuda menurunkan gadis yang dipanggulnya dan menyandarkannya di sebuah batu besar di tebing sungai. Begitu totokannya dilepaskan Ratih berkata dengan keras.

"Aku tidak sudi ikut dengan kau!"

"Oh?" si pemuda menggaruk kepala. "Jadi kepingin kubawa kembali ke hutan Bludak?!"

"Aku tidak percaya padamu! Kau harus antarkan aku kembali ke kampungku!" Si pemuda tertawa perlahan.

"Kalau kau mau kembali, pergilah sendiri. Aku hanya dipesan untuk menyelamatkanmu, lain tidak."

"Siapa yang memesan?"

"Seorang kakek-kakek. Adikmu berada di tempatnya."

"Kau berdusta! Kau hendak menjebakku!" kata Ratih masih tak percaya.

"Tidak disangka gadis cantik macammu ini punya hati curiga setengah mati!"

"Aku tidak pernah percaya pada laki-laki. Apalagi laki-laki dari dunia persilatan!"

"Kelak kau bakal kawin dengan laki-laki, bukan dengan perempuan!"

Merahlah paras Ratih mendengar ucapan itu. Si pemuda yang bukan lain adalah Wiro Sableng si pendekar 212 berdiri.

"Aku akan mandi di tepian sebelah sana," katanya pada Ratih. "Jika kau hendak melarikan diri, silahkan!"

Ratih tetap duduk tak bergerak di tempatnya. Diperhatikannya Wiro Sableng melangkah sepanjang tepi sungai dan menghilang di balik rerumpunan pohon pohon bambu. Walau bagaimanapun hatinya masih diselimuti kebimbangan. Pemuda itu telah menyelamatkannya dari tangan kepala rampok Bayunata di hutan Bludak. Dia tak kenal siapa pemuda itu adanya. Seorang kakek-kakek memesannya untuk menyelamatkan dirinya. Dan si pemuda menerangkan bahwa adiknya ada bersama si kakek. Siapa gerangan adanya si kakek? Dan ke mana dia hendak dibawa?

Dia tak bisa mempercayai pemuda itu begitu saja. Ratih mendengar suara orang terjun ke dalam sungai. Dia menghela nafas dalam. Ketika dia hendak berdiri barulah disadarinya bahwa saat itu tubuhnya hanya terbungkus dengan sehelai seperai. Bagaimana mungkin dia akan melarikan diri dalam keadaan begitu rupa? Dengan mengomel dalam hati dia duduk di tempat semula. Tak ada jalan lain dari pada menunggu kembalinya si pemuda dan pasrah ke mana dirinya akan dibawa. Mudah-mudahan saja pemuda berambut gondrong itu bukan manusia jahat seperti yang dicurigainya.

Tengah dia melamuni nasib dirinya, Ratih melihat semak-semak di depannya terseruak. Di lain saat dari seruakan semak belukar itu muncullah seorang pemuda. Pemuda ini bertampang cakap. Tapi gerak-geriknya menyatakan dia bukan seorang yang berotak sehat. Baju dan celana yang dipakainya terbalik. Kaki kanan dibungkus dengan kain hitam yang berbentuk kasut. Dia berdiri dengan kedua tangan diletakkan di atas kepala, memandang pada Ratih, tersenyum dan mengedip ngedipkan matanya beberapa kali, lalu tertawa lebar-lebar.

"Inilah! Inilah!" katanya sambil mengusapusap mukanya, "Inilah gadis yang kucari-cari! Amboi cantiknya! Aku telah bersumpah hanya akan kawin dengan gadis yang berpakaian aneh! Hari ini aku telah menemuinya! Amboi! Aku akan kawin! Asyiik...!"

Pada mulanya Ratih merasa takut terhadap pemuda ini. Tapi melihat sikapnya yang aneh serta edan itu hatinya jadi geli. Dan pura-pura marah dan membentak.

"Setan gila dari mana ini muncul pagi-pagi buta?!"

"Amboi! Suaramu merdu amat!" pemuda itu menyahut. "Tapi dengar dulu dengar dulu keteranganku. Aku memang gila, otak miring, sedeng sinting keblinger. Tapi aku bukan setan, bukan jin, bukan pula dedemit, juga bukan iblis. Aku manusia, sama dengan kau! Bedanya kau perempuan dan aku laki-laki. Bedanya kau berotak sehat, aku gila. Nah, kau mengerti .... ?"

Mau tak mau Ratih tertawa mendengar ucapan pemuda itu. "Aku mengerti," katanya.

Dan si pemuda tertawa senang.

"Bagus! Memang calon istri harus mengerti sifat suaminya! Amboi calon istriiiiiii ... !!"

"Pemuda! Kau boleh bicara lucu. Tapi jangan ngelantur! Siapa bilang aku calon istrimu! Siapa sudi jadi istri orang gila macammu!"

"Amboi! Aku yang bilang kau adalah calon istriku! Aku yang bilang. Sudi atau tidak itu urusan nanti. Kau mengerti?!"

"Tidak! Kali ini aku tak mau mengerti!"

"Kau harus mengerti!"

"Tidak!"

"Harus!"

"Tidak!"

"Kalau begitu kau juga gila sepertiku!" kata pemuda itu lalu tertawa panjang-panjang.

"Berlalulah dari hadapanku. Lama-lama aku jadi muak melihatmu!" kata Ratih pura-pura marah.

"Soal muak atau tidak tak usah diperbincangkan. Sekarang aku terangkan satu hal lagi. Tadi kau bilang aku setan gila yang muncul pagi-pagi butal Dengar dulu ... dengar, aku akan terangkan. Pagi adalah nama waktu. Pagi ya pagi, bukan siang bukan malam. Pagi nama waktu, bukan binatang bukan manusia, bukan makhluk hidup. Jadi pagi itu tak mungkin punya mata. Apalagi kalau matanya buta. Pagi buta ... lucu sekali! Memangnya ada pagi yang tidak buta? Pagi ya pagi. Kau mengerti?"

Kembali Ratih tertawa mendengar kata-kata pemuda sinting itu.

"Amboi kau tertawa! Kau tambah cantik kalau tertawa. Kedua pipimu jadi merah! Dan betapa nikmatnya kalau hidungku kubenamkan di kedua belah pipimu itu! Amboi!"

Kalau tadi dia tertawa tapi kini mendengar ucapan si pemuda kembali Ratih menjadi marah.

"Lancang amat mulutmu! Dasar manusia tidak berotak, bicaranya kurang ajar!"

"Kalau aku berotak sehat, masakah aku bicara begitu?" jawab si pemuda. Dia melangkah maju.

"Jangan mendekat!" sentak Ratih.

"Tidak boleh?"

"Pergilah!"

"Aku akan pergi, tapi kau musti ikut bersamaku."

"Siapa yang sudi ikut bersama kau. Orang gila ...!"

"Orang gila tidak selamanya jahat. Ayo kau ikut aku. Kau harus bertemu ayah. Beliau pasti gembira melihat calon menantunya yang begini cantik, montok dan ... "

"Pergi!" bentak Ratih. "Jangan bikin aku marah! Kalau kau tidak pergi jangan menyesal kalau..."

"Kalau ... kalau ... kalau apa?!" tanya si pemuda.

"Nanti kutampar mulutmu!"

Si pemuda tertawa lalu setengah berlari dia datang ke hadapan Ratih dan mengulurkan kepalanya. "Kau mau tampar aku? Nah tamparlah!" kata pemuda berotak miring itu.

"Plak!"

Karena kesal hatinya Ratih betul-betul menampar muka pemuda itu dengan keras. Demikian kerasnya hingga salah satu sudut bibirnya menjadi pecah dan berdarah! Melihat ini Ratih merasa menyesal dan kasihan. Tetapi sebaliknya si pemuda malah tertawa dan jingkrak-jingkrakan macam anak kecil.

"Sedap sekali tamparanmu, gadis manis! Betul-betul sedap! Kelak jika kita dikawinkan aku akan minta agar ditampari sampai seribu kali olehmu sebagai mas kawinnya! Amboi mas kawiiiiinnnn ...!"

Lagi-lagi Ratih terpaksa geli melihat tingkah laku dan ucapan pemuda itu.

"Nah, sekarang kau tertawa lagi. Berarti kau tidak betul-betul marah terhadapku! Berarti kau sebetulnya kepingin juga ikut bersamaku ...! Bukan begitu?"

"Cis! Jangan bicara ngelantur!" tukas Ratih dengan mencibirkan bibir.

Cibiran bibir itu membuat si pemuda tertawa membahak. "Kau lucu ... kau lucu! Tapi sebelum hari bertambah siang, sebaiknya kau ikut saat ini juga denganku!"

Habis berkata begitu si pemuda lantas meraih pinggang Ratih dan memanggul gadis itu dibahu kirinya. Ratih hendak menjerit memanggil Wiro, namun satu tekanan halus pada punggungnya membuat dia mendadak sontak tak bisa mengeluarkan suara barang sedikitpun! Si pemuda temyata telah menotok jalan suaranya dengan cara yang teramat lihay!

Karena tak dapat berteriak, sebagai gantinya Ratih mempergunakan kedua tangannya untuk mendambun punggung pemuda itu bertubi-tubi sepanjang jalan.

"Pukullah terus! Pukullah! Enak sekali rasanya, seperti dipijit-pijit!" kata si pemuda seraya lari dan tertawa-tawa.

Lambat laun Ratih menjadi letih sendiri dan sakit kedua tangannya. Si pemuda membawanya berlari laksana angin, dan sambil tiada hentinya tertawa!

"Kau mau bawa aku ke mana?" tanya Ratih.

"Aku sudah bilang tadi! Kau harus ketemu dengan ayahku ... "

Ratih menggigit bibir. Kalau anaknya gila begini macam, tentu bapaknya tujuh kali lebih gila dari dia, begitu si gadis memikir. Dan nasib apa pula yang bakal menimpa dirinya kelak? Diamdiam dia teringat pada Wiro Sableng. Akhirnya gadis ini meramkan mata dan pasrahkan diri pada ketentuan yang sudah ditakdirkan Tuhan.KETIKA Ratih membuka kedua matanya teryata dia sudah berada dalam hutan. Dan si pemuda masih terus berlari dengan cepat di selasela pohon-pohon yang tumbuh rapat bahkan kadangkadang dia melompati semak belukar yang tinggi dan beberapa kali pemuda itu melompat dari satu cabang pohon ke cabang lainnya membuat Ratih merasa gamang dan memejamkan matanya kembali.

"Nah kita sampai!" terdengar si pemuda berkata.

Ratih membuka kedua matanya. Di hadapannya tampak sebuah gubuk kajang beratap rumbia.

"Ayah! Lihat apa yang kubawa ini!" si pemuda berseru lalu pintu gubuk yang tertutup langsung dilabrak hingga menimbulkan suara berisik.

Seorang laki-laki berumur setengah abad yang berada di dalam pondok dan tengah menimangnimang seuntai tasbih jadi terkejut.

"Ranata! Apa-apaan kau ini?" bertanya laki-laki itu dengan suara lantang. Matanya membesar sedang kulit keningnya mengerenyit.

"Lihat apa yang kubawa ini, ayah!" kata si pemuda yang ternyata bernama Ranata. Lalu Ratih diturunkannya dari bahunya dan didudukkannya di atas tikar di hadapan ayahnya. Sang ayah bertambah heran begitu pakaian yang menutupi tubuh Ratih yang bukan lain hanya sehelai kain sepereil Dia berpaling pada anaknya dan bertanya.

"Siapa gadis ini?"

"Calon istriku! Calon menantumu!" jawab Ranata. Lalu dia tertawa gelak-gelak dan menari memutari Ratih. Sang ayah geleng-gelengkan kepala.

Sementara itu Ratih memandang berkeliling. Dari luar, gubuk itu buruk dan kecil serta kotor. Tapi bila sudah berada di dalam ternyata besar dan bagus serta amat bersih.

"Kau ada-ada saja, Rana! Kau hanya membuat susah orang tua. Gadis siapa pula yang kau culik ini?!"

"Amboi! Aku sama sekali tidak menculiknya. Pada dasarnya dia sendiri yang mau ikut aku! Silahkan tanya kalau ayah tidak percaya!"

"Betul?" tanya si ayah seraya memandang pada Ratih.

Ratih tak menjawab.

"Astaga, aku lupa membuka totokannya!" kata Ranata. Lalu dijentikkannya satu jarinya. Setiup angin halus menyambar ke punggung Ratih dan lenyaplah totokan yang membuatnya tak bisa bersuara.

"Betul kau sendiri yang bersedia ikut ke sini bersama anakku?"

"Dia dusta!" jawab Ratih. "Saya dipaksanya!"

Sang ayah menarik nafas dalam dan mendelikkan matanya pada anaknya.

"Dia yang dusta ayah! Dusta pada dirinya sendiri!" Ranata berkata. "Buktinya kalau dia tak sudi di bawa kemari, detik dia masuk di gubuk kita pasti dia angkat kaki melarikan diri! Dan itu tidak dilakukannya!"

Merahlah paras Ratih. Ranata tertawa gelak-gelak sedang ayahnya kembali geleng-gelengkan kepala.

"Siapa namamu, anak? Bagaimana kau bisa sampai di bawa kemari dan kenapa kau berpakaian aneh begini macam?" tanya laki-laki itu.

Semula Ratih menduga kalau si anak gila tentu ayahnya tujuh kali lebih gila. Tetapi nyatanya lakilaki itu amat baik dan bertanya dengan lemah lembut. Ini membuat Ratih bersedia membuka mulut memberikan jawaban.

"Nama saya Ratih, pak. Saya berada di tepi sungai tengah menunggu kawan yang mandi sewaktu anak bapak datang." Lalu Ratih menceritakan sampai dia pada akhirnya diboyong oleh Ranata ke gubuk itu.

"Kau bikin aku susah Ranata! Kawan gadis ini pasti akan datang ke mari dan marah padamu!" kata sang ayah pula.

"Itu memang sudah sewajarnya dia berlaku begitu," menyahut Ranata dengan nada keren.

"Tapi ayah jangan lupa akan sumpahku tempo hari. Yaitu bahwa aku hanya akan kawin dengan gadis yang berpakaian aneh! Dia kutemui di tepi sungai, tubuhnya terbungkus alas tempat tidur! Masakan aku akan melupakan sumpahku begitu saja?!"

Si ayah lagi-lagi menarik nafas panjang.

"Soalnya sekarang ayah harus setuju menerimanya jadi menantu! Harus setuju mengawini aku dengan dia!"

Sang ayah tertawa rawan.

"Anak orang kau larikan, lalu meminta aku mengawinimu dengan dia! Otakmu memang miring! Tapi jangan suruh aku ikut-ikutan miring! Soal kawin bukan soal mainan! Aku harus berkenalan dulu dengan orang tua gadis ini dan melamarnya secara baik-baik. Ranata, kau harus tahu diri, nak. Harus ingat manusia macam apa kau adanya! Jangan bikin malu orang tuamu yang sudah hampir masuk ke liang kubur ini ... "

Butiran-butiran air mata meleleh jatuh ke pipi laki-laki itu, membuat Ratih merasa terharu dan ditundukkannya kepalanya. Ketika dia coba mengangkat kepala dilihatnya Ranata duduk diambang pintu, memandang keluar dengan mata berkaca-kaca. "Jika kita melamar secara baik-baik, kukira tak seorangpun yang bakal mau menerima diriku jadi suami! Tak seorangpun mau mengambil aku jadi menantu ... " Air mata berderaian di pipi Ranata. Keharuan semakin mendalam di hati Ratih.

Siapakah ayah dan anak ini sebenarnya? Ratih memperhatikan lagi paras Ranata. Pemuda ini berwajah cakap. Cuma sayang pikirannya kurang sehat. Tak terasa tetesan-tetesan air matapun jatuh berderai di pipi si gadis.

"Eh amboi! Kenapa kau menangis?!" Ranata bertanya tiba-tiba seraya berdiri.

Ratih menangis bukan karena haru terhadap dua beranak itu tetapi karena ingat akan kematian ayahnya dan ibunya yang bunuh diri serta adiknya yang sampai saat ini tak tahu entah berada di mana.

"Ratih, kau boleh meninggalkan tempat ini. Berjalanlah ke arah matahari terbit dan kau akan keluar dari hutan ini tanpa kesukaran. Harap maafkan segala perbuatan anakku ..."

"Tapi ayah!" Ranata maju ke muka.

"Ranata!" desis si ayah dengan memandang tajam pada anaknya. Pandangan mata itu penuh wibawa. "Kataku jangan bikin aku susah. Gadis ini bukan jodohmu. Kelak kau bakal dapat yang lebih cocok dengan dirimu."

"Kalau begitu ... " Ranata sesenggukan, "lebih baik kau bunuhlah aku ayah!" Ranata lalu lari ke dalam kamar. Ketika keluar dia membawa sebilah pedang. Sinar terang berwarna kuning memancar sewaktu pedang itu dicabutnya dari sarungnya. Dia bersujud di depan ayahnya dan berkata, "Bunuh, bunuhlah aku ayah! Lebih baik mati dari pada kehilangan gadis itu! Amboi ... amboi!"

Dengan air mata berlinangan sang ayah mengambil pedang dan memasukkannya kembali ke dalam sarungnya.

"Senjata mustika jangan dibuat main, anakku. Dan jangan bicara segala hal kematian!"

Ranata menggerung lalu menubruk ayahnya. Kedua beranak itu menangis saling berangkulan. Air mata runtuh ke pipi Ratih. Sepeminuman teh lewat. Suasana sunyi. Ratih memandang pada kedua beranak yang kini duduk berhadapan dengan menundukkan kepala. Ayah Ranata mengangkat kepalanya sedikit. "Ratih, kau tunggu apa lagi. Pergilah ... " Untuk beberapa lamanya gadis itu masih duduk berdiam diri di tempatnya.

"Bapak!" Ratih berkata tiba-tiba, "aku sendiri sebenarnya yatim piatu. Kampung halamanku musnah dibakar orang-orang jahat. Memang ada seorang adikku, tapi entah di mana sekarang. Hidupku tak ubah sebatang kara, luntang lantung di bawa nasib. Aku hiba melihat keadaanmu di sini. Jika boleh biarlah aku tinggal untuk sementara di sini guna merawatmu sebisanya ... "

Berubahlah paras ayah Ranata. Si pemuda sendiri tiba-tiba melompat, berteriak keras, berjingkrak-jingkrak dan tertawa gembira.

"Anak, apakah kau tidak akan menyesal mengambil keputusan begitu rupa?" tanya ayah Ranata.

Ratih menggeleng dan Ranata tertawa lagi lebih gembira. Pada saat itu diambang pintu muncullah sesosuk tubuh.

"Maaf kalau kedatanganku ini mengganggu kegembiraan orang-orang di sini!" Orang yang baru datang berkata.

Semua orang berpaling."WIRO!" seru Ratih begitu dia melihat dan mengenali orang yang masuk.



"Siapa dia?!" tanya Ranata dan pada parasnya jelas kelihatan rasa cemburu. Ayah pemuda berotak miring ini diam-diam meneliti Pendekar 212 Wiro Sableng dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

"Kawanku yang sebelumnya telah kuceriterakan," sahut Ratih.

Wiro memandang pada orang tua yang duduk di hadapannya. Untuk seketika pandangan mereka saling bentrokan. Masing-masing merasakan getaran-getaran tertentu dan sama-sama menyadari bahwa orang yang di hadapan mereka bukan orang sembarangan.

"Orang muda, silahkan duduk!" berkata ayah Ranata.

"Terima kasih!" sahut Wiro. Dia menjura memberi hormat tetapi tidak duduk. "Ratih, bagaimana kau bisa berada di tempat ini ... ?"

"Aku yang membawanya, aku!" Ranata yang menjawab. Wiro mengawasi pemuda ini sesaat. Agaknya ada yang tidak beres dengan manusia yang satu ini, Wiro berpikir.

"Aku telah memutuskan untuk tinggal di sini, Wiro." berkata Ratih.

Pendekar 212 Wiro Sableng terkejut.

"Kau memutuskan untuk tinggal di sini?" tanya Wiro. "Ini adalah aneh!"

"Amboi, ini tidak aneh! Dia senang padaku, suka kasihan ayahku dan bersedia tinggal di sini. Bukan anehl Bukan aneh!"

Wiro tidak perdulikan ucapan Ranata meskipun hatinya geli melihat tingkah pemuda sinting itu.

"Bagiku adalah tetap satu keanehan," kata

Wiro sambil memandang pada orang tua di hadapannya. "Aku sedang mandi di sungai. Tahutahu gadis ini lenyap dan kutemui berada di sini. Dan tahu-tahu dia memutuskan untuk tinggal di sini padahal antara kalian sebelumnya tak saling kenal. Bukankah itu aneh kalau tidak ada apaapanya?"

Si orang tua tertawa kecil sedang Ranata terusterusan membantah bahwa itu tidak aneh.

"Murigkin aneh, mungkin juga tidak, orang muda ... "

Ranata memotong ucapan ayahnya, "Tuhan sudah menakdirkan bahwa dia akan tinggal di sini. Tuhan!"

"Aku sudah katakan, Wiro. Aku tinggal di sini atas kehendakku sendiri ... "

"Dan jangan paksa dia untuk membatalkan niatnya itul Dia calon istriku! Amboiiii! Calon istriku! Kau dengar sobat berambut gondrong ... ?" ujar Ranata pula menyambung ucapan Ratih dan sambil bicara itu wajahnya didekatkannya ke muka Wiro.

Paras Ratih kelihatan merah jengah. Sedang Wiro Sableng kerenyitkan kening. Sambil garukgaruk kepala dia memandang ganti berganti pada ketiga orang di hadapannya, dan akhirnya pendekar ini tertawa terbahak-bahak!

"Orang tua, betulkah kiranya ucapan anakmu ini?!"

"Jangan perdulikan ucapannya. Kau tentu maklum keadaan dirinya ... "

Wiro tersenyum dan anggukkan kepala.

"Nah, nah! Sekarang kuharap kau tinggalkan gubuk ini. Calon istriku perlu istirahat!" kata Ranata. Tangannya ditundingkan ke pintu. Tapi Wiro tak bergerak dari tempatnya.

"Orang tua, apapun yang terjadi di sini itu bukan urusanku. Tetapi aku telah mendapat satu tugas untuk membawa gadis ini ke satu tempat."

"Begitu ...? Siapakah yang memberi tugas dan ke mana kau akan bawa gadis ini?"

"Itu tak bisa kuterangkan," jawab Wiro.

"Aku yakin manusia gondrong ini bicara dusta!" Ranata berkata sambil bertolak pinggang.

Wiro ganda tertawa mendengar ucapan itu. "Sobat, kuharap kau bisa mengunci mulutmu sebentar. Aku bicara dengan ayahmu, bukan dengan kau..."

"Bah ... ?!" Ranata tertawa gelak-gelak. "Kau suruh aku mengunci mulut? Memangnya mulutku ini pintu? Pintu yang bisa dikunci? Bisa diselot? Bah... ! Tampangmu cukup keren sobat. Tapi siapa nyana otakmu tidak lebih lumayan dariku!" Dan kembali Ranata tertawa gelak-gelak.

Wiro penasaran dan menggerendeng dalam hati.

"Ratih, berdirilah. Kau musti ikut dengan aku!"

"Jangan paksa calon istriku!" Ranata membentak marah, dia melangkah ke hadapan Wiro dan berkacak pinggang.

Sementara itu ayah Ranata berkata pula, "Kau tak bisa memaksanya, pemuda. Kau tak punya hak untuk memaksanya!"

"Aku memang tidak, tetapi tugasku mempunyai seribu macam hak untuk melakukan apa saja untuk kebaikan gadis ini."

"Tinggal di sini sudah merupakan satu kebaikan baginya."

"Begitu? Jadi kau juga telah menganggapnya sebagai calon menantumu? Kurasa orang tua semacammu mempunyai pikiran yang jernih dan memegang tata cara serta peradatanl Gadis ini bukan seekor burung yang ditangkap di tengah rimba, lalu dikawinkan dengan burung yang sudah ada dalam kurungan!"

Merahlah paras si orang tua mendengar ucapan itu namun di bibirnya tetap tersungging seulas senyuman. Sebaliknya Ranata marah bukan main. Tinju kanannya diayunkan ke muka Wiro.

"Ranata! Tahan!" seru sang ayah.

"Biar kuberi hajaran manusia bermulut lancang ini, ayah! Agar dia tahu rasa!"

Ranata mundur. Dari mulutnya keluar ucapanucapan gusar.

"Sekarang begini saja orang muda," berkata si orang tua. "Kita buat perjanjian. Kau hadapi anakku dalam tiga jurus. Jika kau berhasil mengalahkannya, gadis itu boleh kau bawa. Sebaliknya jika kau yang kalah, Ratih tetap di sini dan kau musti berlalu dari gubukkul Bagaimana?"

"Itu perjanjian yang cukup baik. Tapi aku datang kemari bukan untuk membuat segala macam perjanjian!"

Ranata tertawa bergelak.

"Nyata sekali kepengecutanmu, manusia rambut gondrong!" kata Ranata pula.

Wiro pencongkan hidungnya.

"Jika kau hendak main-main, nantilah aku carikan seorang kawan yang kira-kira cocok menjadi lawanmu," kata Pendekar 212 pula.

"Jangan sembunyikan kepengecutanmu dengan ejekan!" kata Ranata tandas disertai dengan dengusan.

Pendekar 212 Wiro Sableng jadi terbakar dadanya. Dua kali dikatakan pengecut sudah sangat keterlaluan. Dia menunding ke pintu.

"Aku tunggu kau di luar!"

Ranata tertawa.

"Kenapa musti di luar? Ruangan ini cukup besar. Dan amboi ..., biarlah calon istriku menyaksikan sendiri bagaimana hebatnyarilmu silatku! Di samping itu ayahku akan menjadi saksi bahwa dalam pertempuran nanti kau tak akan melakukan kecurangan! Nah, kau sudah siap rambut gondrong?!"

"Silahkan mulai!" kata Wiro.

"Amboi, tamulah yang lebih dulu!" sahutRanata pula.

Wiro meneliti sikap pemuda itu. Dia sama sekali tidak memasang kuda-kuda dan sikapnya acuh tak acuh.

"Kau sudah siap?"

"Aku sudah siap dari kemarin, sobat!" kata Ranata dengan senyum sinis.

"Kalau begitu perhatikan kepalamu!" seru Wiro. Di dahului dengan suitan nyaring tubuhnya berkelebat. Tangan kanannya terpentang lurus ke depan lalu cepat kilat membabat ke arah kepala Ranata. Inilah gerakan yang dinamakan "pecut sakti menabas tugu".

"Ha ... ha Kalau cuma serangan macam ini tutup matapun aku sanggup mengelakkannya!"

teriak Ranata dan sekali dia bergerak tubuhnya berkelebat lenyap dan tahu-tahu sesaput angin menderu kepada Wiro Sableng. Pendekar 212 terkejut sekali melihat cara mengelak lawan. Tadinya dia hendak susul dengan satu serangan lain namun lagi-lagi dia dikejutkan oleh serangan balasan yang dilancarkan secara aneh bahkan hampir saja satu jotosan melabrak dadanya!

"Sekarang jurus kedua!" terdengar ayah Ranata berkata.

Jurus yang kedua ini Wiro membuka serangan dengan gerakan "membuka jendela memanah rembulan". Lengan kiri laksana tongkat baja memukul melintang dari atas ke bawah sedang tangan kanan mengirimkan satu jotosan kilat ketenggorokan lawan!

Diserang hebat begitu rupa kembali Ranata keluarkan suara tertawa mengejek. Tubuhnya lenyap lagi dari pemandangan. Di lain detik Wiro melihat satu tendangan sudah meluncur deras ke arah kepalanya sedang dua serangannya tadi secara aneh entah bagaimana bisa dielakkan dengan mudah oleh si pemuda sinting itu! Sebelum kakinya menjejak tanah yang berarti berakhirnya jurus ke dua, Wiro membentak garang. Sekaligus kedua tangannya dihantamkan ke depan mengirimkan serangan "kipas sakti terbuka".

Di hadapannya Ranata mengembangkan kedua tangannya laksana mau terbang. Lalu dengan sangat tiba-tiba sekali kedua lengan itu menyusup ke bawah. Wiro sadar meskipun serangannya bisa menghantam muka lawan namun serangan selusupan dari Ranata tak mungkin pula dihindarkannya. Pendekar 212 melompat dalam gerakan "gunung meletus batu melesat ke luar".

"Sekarang jurus terakhir!" ayah Ranata memberi tahu.

"Dan ini adalah jurus kekalahanmu, manusia gondrong!" seru Ranata. Tubuhnya merunduk.

Kepalanya diluruskan demikian rupa seperti hendak dipakai melabrak perut Wiro. Tentu saja ini sasaran yang empuk bagi Pendekar 212. Lutut kanannya diangkat sedang dari atas tangan kirinya menderu. Tidak dapat tidak salah satu dari dua serangannya itu pasti akan m ngenai sasaran!

Namun untuk kesekian kalinya Wiro dibikin terkejut dan kecewa. Lawannya setenga jalan bergerak ke samping. Dalam satu gerakan tahu-tahu jari-jari tangan kiri sudah mencengkeram ujung pakaian Wiro.

"Celaka!" keluh Wiro.

Segera Pendekar 212 keluarkan gerakan "orang gila melenggang ke awan" untuk melepaskan diri. Tapi terlambat.

"Bret!"

Pakaiannya robek.

"Buk!"

Satu tempelak menghantam bahurlya sebelah kanan. Wiro menggigit bibir menahan sakit. Dengan penasaran dia hendak menggempur lawan dengan jurus "menepuk gunung memukul bukit". Tetapi justru pada saat itu si orang tua berseru memberi tahu bahwa waktu tiga jurus telah berlalu dan berarti berakhirnya perkelahian. Mau tak mau meskipun gelora amarah menyesakkan dadanya, Pendekar 212 terpaksa menghentikan gerakannya.

"Amboi ... ! Kau kalah rambut gondrong!" kata Ranata dengan tertawa dan menari-nari.

"Yeah ... aku mengaku kalah!" sahut Wiro. Betapa perihnya mengeluarkan ucapan itu. Betapa sakitnya menelan kekalahan. Namun itu adalah satu kenyataan. Kenyataan pahit yang harus diteguknya!

"Dan dengan demikian ... " kata Ranata pula, "Ratih tetap tinggal di sini, kau silahkan angkat kaki ... "

Mulut Pendekar 212 Wiro Sableng komat-kamit. Tanpa tunggu lebih lama dia segera memutar tubuh.

"Tunggu dulu, orang muda," terdengar ayah Ranata berkata. "Mungkin ada sesuatu yang bakal kau ucapkan?"

"Ya, memang ada!" sahut Wiro tanpa berpaling.

"Katakanlah."

"Mudah-mudahan kau lekas dapat cucu!" Paras si orang tua kontan menjadi merah. Dia hendak mengatakan sesuatu tetapi Wiro Sableng sudah lenyap dari pintu sedang Ranata tertawa gelak-gelak. "Cucu! Amboi dapat cucuuuuuuuu ... !"

Siapakah sesungguhnya orang tua ini? Mengapa memiliki seorang putera yang berotak sinting seperti Ranata itu? Kita kembali pada masa sekitar delapan tahun yang silam sewaktu kerajaan Pajajaran berada dalam masa kejayaannya, sewaktu kesultanan Banten masih belum berdiri. Di antara sekian banyak para menteri istana yang menjadi pembantu Prabu Pajajaran, seorang diantaranya ialah Citrakarsa, ayah Ranata. Citrakarsa terkenal sebagai menteri yang baik, penuh tanggung jawab serta jujur. Di samping itu dia juga memiliki kepandaian silat yang tinggi. Ketika Mapatih Pajajaran meninggal dunia, Sang Prabu memutuskan untuk mengangkat Citrakarsa sebagai penggantinya. Namun sebelum pengangkatan dilaksanakan, terjadilah satu peristiwa hebat menimpa calon Mapatih itu dan keluarganya. Kedudukan Mapatih Pajajaran sesungguhnya sudah sejak lama menjadi incaran seorang menteri yang berhati jahat culas. Sewaktu didengarnya bahwa Citrakarsa hendak diangkat menjadi Mapatih Pajajaran maka disiapkannya satu rencana busuk.

Suatu hari diundangnya Citrakarsa berikut istri dan anaknya yaitu Ranata ke satu perjamuan. Makanan dan minuman yang diberikan kepada ketiga orang itu diam-diam dimasukkannya racun yang bisa membuat seseorang jatuh menderita penyakit gila yang hebat. Begitulah, sesudah pulang dari perjamuan, Citrakarsa merasakan kepalanya amat pusing. Dunia ini tampak gelap dan tak karuan. Hal yang sama juga dialami oleh istri dan anaknya. Satu hari kemudian ketiga beranak itu telah berubah ingatannya. Kotaraja Pajajaran menjadi heboh sewaktu Citrakarsa dan anak istrinya berlari-lari sepanjang jalan dalam keadaan setengah telanjang.

Apa yang terjadi atas diri menterinya itu disampaikan kepada Sang Prabu. Tabib-tabib pandai di datangkan guna mengobati penyakit Citrakarsa, tapi tiada gunanya. Malah seminggu kemudian istri Citrakarsa menemui kematian. Mati bunuh diri dengan sebilah keris yang ditusukkannya sendiri ke tenggorokannya.

Citrakarsa dan Ranata kemudian melarikan diri ke dalam hutan. Satu tahun kemudian, penyakit yang diderita Citrakarsa mulai sembuh. Ini disebabkan karena dia mempunyai ilmu yang tinggi dan kekuatan bathin yang besar. Setelah menjalankan semedi hampir selama tujuhpuluh hari, tanpa makan dan cuma minum sedikit akhirnya Citrakarsa sehat seperti semula. Hanya badannya saja kini yang kurus kering tinggal kulit pembalut tulang.

Beberapa bulan kemudian meskipun keadaan kesehatannya sudah pulih seperti sediakala tetapi Citrakarsa tidak mau kembali ke Kotaraja. Dia merasa malu untuk kembali dan berusaha menekan dendam kesumatnya terhadap Sutawija, yaitu menteri yang telah mencelakakannya. Di samping itu putera tunggalnya Ranata sampai saat itu masih belum berhasil disembuhkan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh Citrakarsa namun tetap saja Ranata menderita penyakit jiwa. Dalam keputus-asaan untuk menyembuhkan penyakit puteranya akhirnya Citrakarsa menciptakan sebuah ilmu silat aneh yang khusus diajarkannya kepada Ranata. Meski otaknya tidak sehat namun pada dasarnya Ranata adalah seorang yang cerdas. Ilmu silat yang diajarkan ayahnya berhasil dikuasainya secara sempurna dalam tempo hanya tiga tahun. Masa beberapa tahun kemudian dipergunakannya untuk memperdalam ilmu bathin, terutama ilmu tenaga dalam di samping ilmu meringankan tubuh.

Adapun ilmu silat yang diciptakan Citrakarsa berbeda dan terbalik seratus delapan puluh derajat dari ilmu silat yang ada di rimba persilatan pada masa itu. Gerakan-gerakan dan jurus-jurus yang dimainkan serba aneh dan terbalik. Itulah yang membuat hebatnya ilmu silat yang dimiliki Ranata sehingga Pendekar 212 Wiro Sableng sanggup dipercundanginya hanya dalam tempo tiga jurus!

Matahari bersinar panas membakar kulit sewaktu Wiro keluar dari hutan itu. Dengan mempergunakan ilmu larinya yang hebat pemuda ini laksana terbang menuju ke utara. Pada raut wajahnya jelas kelihatan bayangan ketegangan dan rasa penasaran yang mendalam. Dalam berlari sampai saat itu ingatannya masih tertuju pada pertempuran yang telah dilakukannya dengan pemuda gila bernama Ranata. Bertahun-tahun turun gunung, bertahun-tahun malang melintang di dunia persilatan, belasan macam musuh dan permainan silat yang telah dihadapinya. Namun baru hari ini dia dikalahkan cuma dalam tiga jurus!

"Tiga jurus! Betul-betul edan!" kata Wiro dalam hati. "Ilmu silat apakah yang dimiliki pemuda itu hingga aku demikian tololnya menerima kekalahankekalahan?! Gila!"

Sambil lari Wiro mengingat terus. Jurus pertama perkelahian dia telah membuka dengan gerakan "pecut sakti menabas tugu". Ranata dilihatnya bergerak cepat sekali dan tahu-tahu dalam satu gerakan silat yang aneh dia telah menyusupkan satu jotosan yang hampir saja menghantam dada Wiro. Dengan penasaran Wiro menghentikan larinya. Dia berdiri dan membuat gerakan "pecut sakti menabas tugu ". Gerakan ini dilakukannya dengan perlahan. Dicobanya mengingat gerakan Ranata waktu diserang itu. Seharusnya si pemuda membuat gerakan mengelak dari kiri ke samping kanan. Tapi dia ingat betul Ranata justru membuat gerakan dari samping kanan ke kiri dan lalu entah bagaimana tahu-tahu dia telah menyusupkan satu jotosan ke dada. Di sinilah keanehan gerakan Ranata.

Dengan gerakan yang juga sengaja diperlahankan, Wiro membuat gerakan "menentukan serangan yang dilancarkannya dalam jurus kedua sewaktu menghadapi Ranata. Pemuda itu membuat gerakan setengah terhuyung dan lenyap tetapi tahu-tahu tendangannya meluncur ke kepala dari satu jurusan yang sebenarnya tidak bisa dilakukan dalam ilmu silat yang wajar. Wiro merenung sejenak. Lalu membuat gerakan "kipas sakti terbuka". Pada waktu itu Ranata mengembangkan kedua tangannya laksana seekor burung besar hendak terbang. Dalam ilmu silat wajar gerakan seperti ini benar-benar satu keadaan yang amat empuk untuk diserang karena bagian dada sampai ke kaki tiada terjaga. Seharusnya Ranata membuat kuda-kuda pertahanan dengan menutupkan kedua lengannya di muka dada. Tapi justru dengan cara aneh begitu rupa Ranata berhasil merobek ujung pakaiannya dengan tangan kiri dan memukul bahunya dengan tangan kanan!

"Betul-betul edan! Ilmu silat apa yang dimiliki orang sinting itu!" kata Wiro. Digaruknya kepalanya berkali-kali. Otaknya berpikir terus. Kembali setahap demi setahap diingat dan dibayangkanrya gerakan Ranata. Hampir sepeminuman teh memeras otaknya akhirnya baru Pendekar 212 berhasil memecahkan keanehan dan kehebatan ilmu silat yang dimiliki Ranata. Dan pendekar ini jadi tertawa gelak-gelak!

Sebenarnya dasar permainan silat yang dimiliki Ranata tidak ada bedanya sama sekali dengan ilmu silat manapun. Cuma dalam gerakan-gerakan yang dipakainya, semuanya dilakukan secara terbalik hingga dengan sendirinya aneh dan sukar di duga. Dan satu-satunya cara untuk dapat menghadapi ilmu silat seperti itu ialah dengan jalan membuat gerakan-gerakan silat secara terbalik pula!***Bukit Gong. Seperti telah dituturkan sebelumnya bukit ini berbentuk bulat. Pada pertengahannya terdapat bagian tanah yang tinggi memuncung ke atas yang juga berbentuk bulat. Bentuknya yang seperti itulah yang membuat bukit itu dinamakan bukit Gong. Sebuah bangunan kayu jati berukir-ukir amat bagus berdiri di puncak bukit Gong. Inilah tempat kediamannya Munding Wirya, orang tua sakti yang telah membawa gadis cilik adik kandung Ratih. Dan ke sini pulalah Pendekar 212 Wiro Sableng menuju. Wiro sampai di bukit Gong sewaktu matahari telah jauh condong ke barat. Dia langsung masuk ke dalam dan menjura di hadapan Munding Wirya.

Di samping si orang tua saat itu duduk gadis kecil yang kelak akan menjadi muridnya.

"Mohon maafmu, orang tua. Pesan dan tugas yang kau berikan gagal kulaksanakan. Sesuatu telah terjadi," kata Wiro.

Munding Wirya meneliti paras Wiro Sableng, memperhatikan ujung pakaiannya yang robek lalu bertanya.

"Apakah yang telah terjadi?"

Wiro lalu menuturkan peristiwa yang dialaminya.

Munding Wirya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Coba terangkan ciri-ciri orang tua itu," katanya. Wiro menerangkan.

"Tak salah lagi, pasti dia adalah Citrakarsa," kata Munding Wirya. Diwajahnya menyeruak sebuah senyum kecil.

"Siapakah orang tua yang bernama Citrakarsa itu sebenarnya, juga anaknya yang berotak miring tapi berilmu lihay itu?" tanya Wiro ingin tahu.

Munding Wirya menarik nafas panjang lalu menjawab,

"Dulu dia adalah seorang menteri kerajaan Pajajaran. Berilmu tinggi, berotak cerdas, berbudi luhur, bijaksana serta jujur ... " Lalu Munding Wirya menceritakan asal usul sampai Citrakarsa bersama anaknya melarikan diri dan tinggal di dalam hutan. Mau tak mau Pendekar 212 merasa terharu juga mendengar kisah yang menyedihkan itu.

"Mungkin sekali, karena hiba terhadap orang tua itulah Ratih mengambil keputusan untuk tinggal di situ ... " kata Wiro.

"Kurasa demikian ..." menyahut Munding Wirya.

Setelah saling berdiam diri beberapa lamanya dengan berbisik-bisik Wiro kemudian menerangkan tentang kematian Ibu Ratih di hutan Bludak.

Munding Wirya mengatupkan bibirnya rapatrapat dan membelai kepala gadis kecil di sampingnya. "Kelak hari pembalasan akan tiba bagi manusiamanusia terkutuk di hutan Bludak itu... " desis Munding Wirya.

"Mungkin ada pesan atau tugas lain yang harus kulaksanakan sehubungan dengan pertemuanmu dengan guruku ...?" bertanya Wiro.

Munding Wirya menggeleng.

"Jika begitu perkenankan aku minta diri sekarang. Munding Wirya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.DENGAN terpincang-pincang Camperenik berlari menuju ke selatan. Tepat pada waktu matahari tenggelam, sampailah dia disebuah sungai dan menyusuri sungai ini ke arah muara. Waktu itu terang bulan hingga dengan mudah dia bisa melihat jalan yang ditempuhnya dan dengan mudah pula bisa lari secepatnya. Akhirnya perempuan tua renta ini sampai juga ke muara. Pada tempat pertemuan air sungai dengan air laut terdapat sebuah delta subur berbentuk pulau kecil. Di sini berdirilah sebuah bangunan bambu yang pada puncak atapnya ditancapi dengan sehelai bendera hitam bergambar kepala burung hantu berwarna kuning. Dengan berenang dan dalam keadaan basah kuyup Camperenik akhirnya berhasil sampai kebangunan tersebut. Jauh-jauh dia sudah berteriak .

"Soka! Soka ... ! Adakah kau di dalam?!"

"Buset! Tamu dari manakah yang berkaok-kaok magrib-magrib begini?!" terdengar suara menyahut. Lalu pintu bangunan terbuka dan sesosok tubuh keluar terbungkuk-bungkuk.

"Buset! Kau rupanya Camperenik! Heh, kenapa larimu pincang?!"

"Camperenik sampai di hadapan laki-laki tua itu dan langsung menangis tersedu-sedu. Air mata berderai matanya yang cuma satu dan membasahi pipinya yang cekung keriputan.

"Buset, begitu muncul tak ada hujan tak ada angin kau lantas menangis di hadapanku! Apaapaan kau ini Camperenik?!"

Teguran itu membuat tangis Camperenik semakin keras dan rawan.

"Kalau tak ada apa-apa, masakan aku menangis!" katanya.

Damar Soka, demikian hama laki-laki tua renta berbadan bongkok itu goleng-golengkan kepala, memegang bahu Camperenik lalu membimbingnya masuk. Setelah Camperenik duduk disebuah kursi bambu maka berkatalah Damar Soka.

"Nah, sekarang kau terangkanlah apa yang membuatmu sampai menangis. Juga terangkan kenapa kakimu pincang."

Untuk beberapa lamanya Camperenik tak menjawab dan masih terus menangis. Damar Soka menarik ujung pakaiannya lalu dengan sikap yang lucu seperti dua orang muda mudi tengah berkasih sayang, disekanya air mata yang membasahi pipi Camperenik dan dia berbisik.

"Hentikan tangismu, Camperenik. Hatiku tak tahan melihat kau menangis. Katakan siapa yang berbuat hingga kau sampai menangis begini rupa ..." Camperenik hentikan tangisnya.

"Sebelas tahun aku mencari-cari seorang calon murid. Ketika aku akan mendapatkannya, ketika calon murid itu sudah befada di tanganku, tahu-tahu datanglah Munding Wirya hendak merebutnya..."

"Dan dia berhasil merebut calon muridmu itu?" tanya Damar Soka seraya mengusap mukanya.

Baik muka maupun kedua tangannya berwarna kuning. Sepasang matanya besar hitam, alisnya tebal menjulai dan hidungnya tinggi bengkok. Bibirnya lebar dan tipip. Keseluruhan parasnya persis seperti burung hantu. Sudah hampir tujuh tahun Damar Soka mendekam di muara sungai. Siapa saja yang keluar masuk muara itu terutama kaum nelayan, diwajibkannya membayar pajak yang dibuatnya sendiri. Dan merekamereka yang tak mau mematuhi hal itu pasti akan mendapat celaka. Banyak orang yang mengeluh namun tak seorangpun yang berani turun tangan. Damar Soka berhati sejahat iblis. Karena itulah dia cukup pantas mendapat gelaran "Hantu Kuning".

"Tidak, bangsat tua bangka itu tak berhasil merampas calon muridku. Tetapi ketika aku dan dia tengah bertempur, sesosok bayangan yang aku tidak kenal telah menyambar calon muridku dan melarikannya. Aku hendak mengejar, namun Munding Wirya keparat itu melepaskan pukulan buana biru yang berhasil menyerempet pinggulku hingga lariku jadi pincang!" dan Camperenik menangis lagi macam anak kolokan.

"Sudahlah, nanti aku akan beri hajaran pada Munding Wirya ..." berjanji Damar Soka seraya membelai rambut Camperenik.

"Tapi calon muridku itu ... "

"Kita akan cari sampai dapat ... "

"Dan pinggulku yang sakit ini?" mengajuk Camperenik.

"Ah, aku akan mengobatinya" jawab Damar Soka. "Coba kau bukalah kainmu ... " kata lakilaki ini dengan tersenyum.

Camperenik dengan sikap malu-malu dan kegenit-genitan memperlonggar buhul kain yang melekat di tubuhnya hingga kain itu merosot sampai ke pangkal pahanya.

"Buset ... tubuhmu masih semulus dulu juga," kata Damar Soka pula sambil tertawa mengekeh meskipun sesungguhnya keadaan tubuh Camperenik telah dibalut dengan kulit-kulit loyo dan keriput!

Camperenik mencubit lengan Damar Soka. Damar Soka menangkap lengan nenek-nenek itu lalu menciuminya.

"Genit kau, Soka! Genit! Obati dulu pinggulku!" kata Camperenik pula seraya menarik

tangannya dan menjiwir telinga Damar Soka. Laki-laki tua itu tertawa mengekeh dan dengan tangan kanannya dibelainya pinggul Camperenik yang agak kebiru-biruan. Camperenik menggeliat kegelian. Darah tuanya hangat. Kulitnya yang lembek berkeriput menjadi bergetar oleh sentuhan tangan Damar Soka.

"Bagaimana rasanya sekarang?" bertanya Damar Soka setelah mengusap-usap beberapa lamanya.

"Agak mendingan ... Usaplah terus, Soka. Usaplah terus ... " bisik si nenek bermata satu penuh lirih.

Jika saat itu ada orang ketiga di situ pastilah dia akan merasa amat jijik melihat tingkah laku kedua manusia tua bangka ini. Dan Damar Soka terus juga mengusap pinggul Camperenik. Bahkan tangannya kemudian bergerak mengelus perut Camperenik hingga nenek-nenek ini menggeliat kegelian dan menundukkan kepalanya menggigit tengkuk Darnar Soka.

Damar Soka memekik kecil. Tangannya lebih berani lagi menyelusur ke bawah pusat si nenek. Carrrperenik terpekik dan meloncat dari kursinya. Kainnya merosot lepas dan jatuh ke lantai. Tanpa memperdulikan kain itu dalam keadaan setengah telanjang begitu dia lari ke dalam kamar. Hidung Damar Soka kembang kempis. Mulutnya komat kamit dan matanya yang hitam bersinarsinar. Dengan tubuh bergetar dia menyusul masuk ke dalam.

Camperehik berbaring menghadap ke dinding membelakanginya. Nafas Damar Soka memburu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.197.150.255
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia