Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

DEBUR OMBAK memecah di pantai dan memukul lamping batu-batu karang terdengar abadi di udara pagi yang segar cerah. Kira-kira lima ratus tombak dari pantai tampaklah berdiri sebuah bangunan besar dikelilingi tembok tinggi sepuluh tombak. Baik-bangunan maupun temboknya seluruhnya berwarna merah.

Di daerah pantai seperti itu biasanya hampir tak pernah ditumbuhi pohon-pohon lain selain pohon kelapa. Namun adalah satu kenyataan aneh karena di Iuar tembok yang mengelilingi bangunan besar tadi tumbuh berkeliling dua puluh satu pohon beringir raksasa. Bila angin bertiup dari laut, daun-daun pohon beringin bergemerisik keras, akarakar gantungnya bergoyang-goyang deras. Semua ini menimbulkan suasana yang menyeramkan. Di samping itu, setiap angin bertiup maka menebarlah bau busuk dan anyir dari jurusan bangunan berwarna merah itu.

Bila seseorang mendekati tembok dan bangunan di tepi pantai sunyi itu, pastilah dia akan terkejut dan berdiri bulu tengkuknya. Akan goyah lututnya lalu akan lekas-lekas mengambil langkah seribu. Betapakan tidak! Warna merah pada atap, tembok dan setiap sudut bangunan besar bukanlah warna cat atau kapur, tetapi darah! Lapisan darah inilah yang menjadi sumber bau busuk dan amis menjijikkan serta mengerikan, menebar di sekitar situ sampai puluhan bahkan ratusan tombak jauhnya!

Matahari pagi mulai naik. Air laut kelihatan berkilau-kilau. Darah merah di tembok dan di bangunan besar di tepi pantai berkilat-kiiat sedang bau busuk amis semaki menjadi-jadi. Kira-kira sepenanakan nasi berlalu, dari arah timur, berpapasan dengan tiupan angin laut, terdengarlah suara derap kaki-kaki kuda. Tak selang berapa lama di sebuah liku-liku jalan kecil yang terletak di antara bukit-bukit karang tinggi dan runcing tampaklah dua penunggang kuda memacu binatang tunggangan masing masing ke jurusan tembok bangunan merah.Baik bulu kuda maupun pakaian kedua penunggangnya, keseluruhannya berwarna merah basah agak bermninyak-minyak. Sengaja dibasahi ... dengan darah.

Mereka mengenakan topi berkuncir seperti tarbus, yang juga dibacahi dengan darah. Dan di bawah topitopi itu paras masing-masing teramat mengerikan untuk dipandang karena telah dipupuri dengan darah yang telah membeku!

Salah seorang dari kedua penunggang kuda itu membawa sesosok tubuh berpakaian hitam yang dimelintangkan di punqqung kuda dalam keadaan pingsan dan siapa pula orang yang menggeletak tak berdaya berpakaian hitam ini!

Kuda-kuda merah lewat di antara dua pohon beringin raksasa dan akhirnya sampai di hadapan sebuah pintu besar di tembok bangunan. Pada bagian atas pintu merah ini terdapat tiga deretan huruf-huruf yang terbuat dari tulang-tulang manusia yang telah dicat merah dan berbunyi. "Pintu Gerbang Darah"

Salah seorang dari penunggang kuda yang berhenti di hadapan pintu gerbang mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu dari mulutnya terdengar situ pekik aneh yang disusul dengan suara lantang, "Atas nama Raja Darah, bukalah pintu gerbang!"

Untuk beberapa lamanya suara pekik serta seruan marwsia itu masih mengiang-ngiang di udara pantai yang mengandung garam tanda bahwa orang itu telah mengeluarkan suara dengan disertai tenaga dalam yang tinggi.

Sesaat kemudian dari belakang "Tembok Darah" demikian nama tembok merah yang mengelilingi bangunan besar itu terdengar suara pekik balasan dan disusul oleh satu pertanyaan yang membentak keras, "Siapa yang datang!"

"Hulubalang Keempat dan Kelima!"

"Kalian habis dari mana?"

"Menjalankan tugas Raja!"

Tak lama kemudian terdengar suara berkereketan. Pintu Gerbang Darah terbuka. Bersamaan dengan itu dari bagian bawah pintu menjorok keluar sebuah jambatan kayu besi yang juga penuh dengan darah dan bertuliskan "Jembatan Darah."

Ternyata antara Pintu Gerbang Darah dan bangunan besar di seberangnya dipisahkan oleh sebuah parit selebar lima belas tombak dan dalamnya lebih dari sepuluh tombak. Parit ini dibuat sedemikian rupa mengelilingi bangunan besar, dialiri dengan air yang telah menjadi merah karena bercampur darah dan di dalamnya berenanglah ratusan ular berbisa dari berbagai jenis yang panjangnya mulai dari satu jengkal sampai lima meter! Semua orang di situ mengenal parit itu dengan sebutan "Parit Kematian."

Kedua orang yang mengaku Hulubalang tadi melewati Jembatan Darah dengan cepat dan sampai di tangga bangunan besar. Di belakang mereka Jembatan Darah masuk kembali ke tempatnya sedang Pintu Gerbang Darah menutup dengan sendirinya.

Dengan memanggul tubuh manusia berpakaian hitam itu, Hulubalang Keempat diikuti Hulubalang Kelima menaiki anak tangga bangunan besar yang pada sebelah atasnya terdapat tulisan, "ISTANA DARAH." Huruf-huruf tulisan inipun dibuat dari tulang belulang manusia yang diberi warna merah dengan darah!

Setelah melewati beberapa ruangan, kedua Hulubalang sampai di satu ruangan besar yang pada bagian tengahnya terdapat sebuah kolam yang airnya berwarna merah dan busuk. Di tengah-tengah kolam berdirilah sebuah patung raksesi dalam keadaan telanjang bulat dan dari bagian di antara kedua pangkal pahanya senantiasa memancur cairan warna merah.

Di depan sana terdapat sebuah gordeng besar yang basah oleh darah. Tetesan-tetesan darah jelas kelihatan berjatuhan ke lantai ruangan. Ruangan itu bukan saja busuk luar biasa hawanya tetapi juga pengap membuat seseorang yang tak biasa akan sesak bernafas. Namun anehnya kedua Hulubalang Darah itu tenang-tenang saja seolah-olah udara macam begitu tidak mengganggu jalan pernafasan mereka barang sedikitpun. Di hadapan "Tirai Darah" mereka berdiri dengan sikap keren, lalu membuka topi masing-masing dan menjura.

"Paduka Yang Mulia Raja Darah," kata Hulubalang Keempat. "Kami berdua Hulubalang Keempat dan Kelima, datang menghadap guna melaporkan hasil tugas yang telah dibebankan kepada kami!" Sunyi sesaat.

Lalu dari ruangan di belakang Tirai Darah terdengar satu suara laki-laki yang parau sember dan perlahan namun hebatnya suara yang parau serta perlahan ini sanggup membuat dinding-dinding ruangan berwarna merah jadi bergetar. Tirai Darah bergoyang-goyang sedang cairan merah di dalam Kolam Darah tampak bergelombang-gelombang. Nyatalah bahwa siapapun adanya manusia di belakang Tirai Darah itu memiliki tenaga dalam yang luar biasa hebatnya!

"Beri tahu hasil tugas kalian!" tiba-tiba terdengar satu suara.

Mendengar ini Hulubalang Darah Keempat membuka mulut memberi jawaban.

"Kami berdua telah berhasil menangkap hidup-hidup tokoh silat gotongan hitam daerah timur yang bergelar Sepuluh Jari Maut! Sekarang dia berada dalam keadaan pingsan dan ditotok!"

"Bagus!" memuji orang di balik Tirai Darah lalu terdengar suara kekehannya. "Jebloskan dia dalam tahanan. Gantung kaki ke atas kepala ke bawah dan nyalakan api di bawah batok kepalanya! Biar dia tahu rasa!" Ucapan itu ditutup dengan suara tertawa mengekeh seperti tadi lalu menyusul caci maki kutuk serapah aneh. "Keparat... sialan! Laknat .... haram jadah! Terkutuk ... ! Mampuslah semua! Semua...!"

Ucapan kotor itu masih terus terdengar sampai kira-kira sepeminuman teh. Bila kutuk serapah itu berhenti maka Hulubalang Darah Kelima cepat-cepat membuka mulut.

"Perintah Paduka Yang Mulia segera kami laksanakan!"

Setelah menjura hormat, kedua Hulubalang tadi beserta tawanannya segera meninggalkan tempat tersebut!

***



HULUBALANG Darah Keempat dan Kelima memasuki sebuah lorong menurun. Di kiri kanan lorong ini banyak sekali cabang cabang lorong yang kesemuanya diterangi dehgan lampu minyak. Dimana-mana kelihatan warna merah darah dan di sini udara jauh lebih pengap dan lebih busuk dari ruangan ruangan lain dalam Istana Darah.

Mereka sampai di hadapan sebuah pintu merah terbuat dari besi dan dijaga oleh dua orang Hulubalang Darah yang memiliki tampang seram bengis. Betapapun bengis gelaknya kedua pengawal pintu besi itu, namun melihat siapa yang datang keduanya segera memberi hormat.

"Atas nama Raja Darah harap kalian buka pintu Penjara Darah!" kata Hutubalang Kelima.

Kedua Hulubalang pengawal meneliti orang berbaju hitam yang dipangqil Hulubalang Keempat. Salah salah seorang dari mereka bertanya.

"Siapa dia?"

"Sepuluh Jari Maut," jawab Hulubalang Keempat dan pengawal yang bertanya ladi lalu memperhatikan sepuluh jari orang yang dipanggul. Kesepuluh jari itu berkuku panjang dan berwarna hitam legam. Sementara itu pengawal yang satu lagi dari dalam sabuknya mengeluarkan seuntai anak anak kunci. Dengan salah satu anak kunci dibukanya pintu besi lalu masuk lebih dulu sedang Hulubalang Keempat dan Kelima menyusul mengikutinya.

"Dia adalah tahanan yang keempat sampai." kata pengawal penjara sambil berjalan. Ruangan yang mereka lewati merupakan sebuah gang selebar tiga tombak dari batu karang atos yang dicat dengan darah. Pada dinding kiri kanan terdapat deretan pintu-pintu besi merah. Deretan-deretan pintu sebelah kiri diberi berangka ganjil sedang deretan sebelah kanan berangka genap. Inilah ruangan Penjara Darah yang terletak di bawah tanah dan memiliki enam puluh buah kamar tahanan.

Di depan pintu yang bertuliskan angka 24 pengawal itu berhenti dan mengeluarkan untaian anak kunci lalu membuka pintu besi. Begitu pintu terbuka dari dalam ruangan menyambarlah hawa dingin lembab yaag busuk luar biasa. Lantai dan dinding serta langit-langit ruangan tahanan merah oleh darah, sebagian masih merupakan cairan sebagian lagi telah kering membeku.

"Nyalakan lampu!" perintah Hulubalang Darah Kelima.

Pengawal segera menyalakan lampu minyak dan kamar tahanan itu kini menjadi cukup terang. Pada dinding sebelah kiri terdapat sebuah rak batu. Di atas rak ini terletak berbagai macam benda penyiksa. Pada langit-langit ruangan tampak sebuah kerekan lengkap dengan tali kawat yang besarnya dua kali ibu jari. Dengan tali kawat ini sepasang kaki tawanan diikat erat-erat lalu tubuhnya dikerek hingga kini jadi tergantung kaki ke atas kepala ke bawah.

Dari rak batu Hulubalang Kelima mengambil sebuah benda berbentuk pendupaan besi yang berisi potongan-potongan benda hitam sebentuk batu bara. Ketika disulut dengan api benda hitam ini langsung terbakar menyala.

"Kita tunggu sampai dia siuman," berkata Hulubalang Darah Keempat.

Tak berapa lama kemudian tawanan yang bergelar Sepuluh Jari Maut itu kelihatan membuka sepasang matanya perlahan-lahan. Mata itu terbuka semakin lebar sewaktu keterkejutan menguasai dirinya. Sepuluh Jari Maut melihat dunia ini terbalik. Kepalanya seperti mau karena jalan darahnya menyungsang sedang di sekelilingnya tampak tiga orang berpakaian serba merah bertampang bengis. Rongga hidungnya sementara itu disambar oleh bau busuk luar biasa.

"Di mana aku ...?" desis Sepuluh Jari Maut. Dicobanya menggerakkan anggota-anggota tubuhnya tapi tak bisa. Sekujuar tubuhnya kaku tegang, sedikitpun tak dapat digerarkkan. Sadarlah Sepuluh Jari Maut bahwa dirinya berada di bawah pengaruh totokan. Dicobanya mengalirkan tenaga dalam untuk memusnahkan totokan tersebut namun sia-sisa. Totokan yang menguasai dirinya bukan totokan sembarangan. Sepuluh Jari Maut memandang ke atas dilihatnya sebuah roda kerekan besi yang tergantung di langitlangit ruangan, diganduli kawat besar. Ujung kawat itulah yang telah mengikat kedua kakinya dan sakitnya bukan main. Dia memandang kembali pada tiga manusia berpakaian merah basah dan bau itu. Akhirnya dia ingat. Sebelumnya dia telah bertempur dengan dua di antara tiga manusia tersebut. Dalam jurus kedua puluh tiga dia terpaksa harus menerima satu jotosan keras dari lawan yang tepat mengenai pelipisnya. Selagi dia berdiri nanar dengan pandanyan berbinar-binar, musuhnya yang lain telah menotoknya hingga dia tidak berdaya. Lalu kepalanya dipukul hingga akhirnya dalam keadaan tertotok begitu rupa dia jatuh pirgsan. Nyatalah bahwa kedua musuh tak dikenalnya itu telah membawanya ke tempat tersebut dan menawannya.

Dendam dan marah memuncak dalam diri Sepuluh Jari Maut. Rahang-rahangnya menonjol bergemeletukan.

"Tempat celaka apa ini namanya....?!" Sentak Sepuluh Jeri Maut.

Hulubalang Darah Kelima dan Keempat datang mendekat. Di tampang masing-masing menyungging seringai bengis.

"Celaka bagimu, bukan bagi kami!" ujar Hulubalang Darah Kelima.

"Jahanam! Kalian mau bikin apa terhadapku? Aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kalian!"

Plaak!

Satu hantaman tamparan yang keras mendarat di pipi Sepuluh Jari Maut. Untuk beberapa lamanya dia terbuai-buai dan berputar-putar sedang pemandangannya mulai gelap.

"Tak tahu diri. Sudah hampir mampus masih berani bicara memaki!" sentak Hulubalang Darah Keempat.

"Puaah!" Sepuluh Jari Maut meludahi muka Hulubalang Darah Keempat. "Beraninya terhadap musuh yang tidak berdaya!"

"Setan alas!" teriak Hulubalang Darah Keempat. Tinju kiri kanannya menghujani muka tokah silat berbaju hitam itu. Darah mengucur dari hidung, mulut dan matanya. "Seret pendupaan itu kemari!"

Hulubalang pengawal menyeret pendupaan yang dikobari api lalu melekkannya tepat di bawah kepala Sepuluh Jari Maut.

"Tadi kau bertanya di mana kau berada," ujar Hulubalang Darah Kelima, "Ketahuilah bahwa saat ini kau telah dijebloskan ke dalam neraka dunia bernama Penjara Darah!"

Sepuluh Jari Maut kertakkan rahang. Mulutnya dikatupkan rapat-rapat menahan panasnya kobaran api yang menjilat-jilat di bawah kepalanya. Hanya seketika saja dia dapat menahan rasa sakit. Sesaat kemudian dari mulutnya mulai keluar raungan kesakitan yang menggidikkan. Di lain pihak tiga orang Hulubalang yang ada di situ tertawa gelak-gelak.

"Manusia-manusia bejat!" teriak Sepuluh Jari Maut. "Jika aku mati di tangan kalian, kelak aku akan menjelma menjadi setan dan mencekik kalian semua!"

"Kalau begitu biar kupercepat niatmu untuk jadi setan itu!" kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu kawat kerekan diulurkannya ke bawah hingga kepala tawanan itu semakin dekat dengan kobaran api dalam pendupaan besi. Rambutnya yang menjulai mulai terbakar dan menebar bau sangit di ruangan itu. Dari mulut Sepuluh Jari Maut tiada hentinya terdengar jeritan yang mengerikan hingga suaranya menjadi parau. Saat itu dirasakannya kulit kepala dan tulang tengkoraknya seperti meleleh! Kemudian nafas laki-laki ini mulai megap-megap. Darah yang keluar dari hidung, mulut, mata dan telinganya menetes-netes di atas api dalam pendupaan besi, menimbulkan suara "cees" yang tiada hentinya.

"Sudah tiba seatnya memanggil tukang-tukang darah itu," kata Hulubalang Darah Keempat pada kawannya Hulubalang Darah Kelima.

Hulubalang Darah Kelima mengangguk lalu melangkah ke pintu. Pada sanding pintu sebelah atas terdapat sebuah tombol merah. Tombol ini selalu terdapat dalam setiap kamar tahanan yang sekaligus merangkap ruang penyiksaan.

Tak lama setelah Hulubalang Darah Kelima menekan tombol itu maka masuklah dua laki-laki yang membawa ember-ember besar, masing-masing mengenakan jubah merah. Salah seorang dari mereka, yang barusan mengeluarkan sebuah pisau kecil tajam berpaling pada Hulubalang Darah Keempat dan Kelima.

"Laksanakan tugas kalian cepat!" Kata Hulubalang Darah Keempat. Lalu bersama Hulubalang Darah Kelima dia meninggalkan ruangan tersebut.

Yang tinggal di dalam ruangan tahanan itu kini adalah Hulubalang pengawal dan kedua laki-laki berjubah merah. Ember diletakkan di lantai. Orang berjubah di sisi kiri keluarkan segulung pipa karat warna merah. Dia menggoyangkan kepalanya pada kawannya yang memegang pisau. Si pemegang pisau ini segera mendekati Sepuluh Jari Maut, lalu craass ...! Dengan pisau kecil itu diputusnya urat nadi di leher Sepuluh Jari Maut. Darah menyembur. Pipa karet cepat dihubungkan dengan nadi yang putus. Darah dari tubuh Sepuluh Jari Maut mengalir melewati pipa karet terus masuk ke ember sedang Sepuluh Jari Maut sendiri saat itu megap-megap dan akhirnya meregang nyawa dengan cara mengenaskan.



LAKSANA anak-anak panah yang lepas dari busurnya, dua ekor kuda coklat itu berlari kencang membawa penunggangnya masing-masing. Penunggang kuda yang pertama adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, berpakaian biru sedang kawannya seorang dara berkulit hitam manis dan mengenakan pakaian ringkas kuning muda.

"Bisakah kita sampai sebelum malam ke tempat guru?" bertanya sang dara tanpa memalingkan kepalanya.

"Kurasa bisa. Tapi agaknya kita bakal mendapat kesiangan di tengah jalan, adikku," menjawab si pemuda.

"Halangan apa maksudmu?"

"Lihatlah ke langit ... "

Gadis itu mendongak ke atas. Seat itu baru disadarinya bahwa iangit di atas sana telah gelap oleh gumpalan-gumpaian awan hitam. Kemendungan meliputi hampir seluruh tempat.

"Kalau hanya hujan itu tidak menjadi halangan bukan?" ujar sang dara.

"Memang bukan halangan. Tapi jalan yang bakal kita tempuh, yang mendaki dan berbatu licin berlumut, serta diapit oleh jurang-jurang terjal ... Itulah halangan yang kumaksudkan."

"Mudah-mudahan saja hujan tidak turun dalam waktu cepat," kata si gadis lalu menyentakkan tali kekang kudanya. Binatang itu mendongakc ke depan dan mempercepat larinya. Pohon-pohon yang dilalui laksana terbang ke belakang.

Kira-kira sepenanakan nasi berlalu ternyata hujan belum juga turun walau angin bertiup keras menderuderu. Sewaktu si gadis mendongak lagi ke atas dilihatnya gumpalan-gumpalan awan hitam mulai pupus sekelompok demi sekelompok. Udara yang tadi mendung kini berangsur cerah.

"Nah, apa kataku! Kita beruntung. Hujan tak jadi turun," kata gadis itu pula.

Si pemuda hanya tersenyum mendengar ucapan adik seperguruannya itu, lalu berkata, "Kalau begitu kita memang bisa sampai sebelum malam turun. Berarti kau bakal bertemu dengan orang yang kau kasihi lebih cepat. Bukankah itu yang kau inginkan?"

Sang dara cemberut. Kedua pipinya kelihatan menjadi merah. Pemuda yang berkuda disampingnya tersenyum. Namun laksana direnggutkan setan demikianlah pupusnya senyuman si pemuda sewaktu di hadapan mereka tiba-tiba berkelebat dua bayangan merah dan dua sosok tubuh manusia aneh sesaat kemudian sudah berdiri menghadang di tengah jalan.

Kedua saudara seperguruan itu sama-sama terkejut bukan main dan serta merta menghentikan kuda masing-masing. Bau busuk menyambar dari tubuh para penghadang yang mengenakan pakaian merah basah sedang wajah masing-masing ditutupi oleh cairan yang setengah membeku. Salah seorang penghadang bertolak pinggang dan maju mendekati.

"Supaya tidak banyak susah, lekas kalian serahkan diri dan jangan melawan!" katanya.

"Kalian siapa dan punya maksud apa?" bertanya pemuda baju biru dengan nada tinggi dan sikap gagah.

"Kami adalah Hulubalany-Hulubalang Istana Darah!" jaweb orang yang bertolak pinggang.

"Istana Darah?!" mengulang si pemuda dengan terkejut.

Kedua Hulubalang Darah tertawa mengekeh. "Kalau sudah tahu kenapa tidak lekas turut perintah?"

"Turut perintahmu? Siapa yang sudi. Lekas minggir. Kami mau meneruskan perjalanan!" membentak gadis berbaju kuning.

"Ohoo ... galaknya!" jawab Hulubalang Darah yang menghadang dengan bertolak pinggang.

"Kami tidak punya waktu banyak untuk bicara segala pepesan kosong. Beri jalan. Kalau tidak kalian akan menyesal!" Kini pemuda baju biru berikan perlingatan.

"Pemuda sombong tekebur! Kau tak akan kuberi hidup lebih lama!" Hulubalang Darah yang tegak di sebelah kanan menerjang ke depan dengan gerakan cepat sekali.

Tak ayal si pemuda segera cabut pedang di pinggangnya. Sinar putih mencuat memapas serangan Hulubalang Darah. Tapi percuma. Di lain kejap terdengar jerit pemuda baju biru itu. Tubuhnya mencelat mental dari atas punggung kuda yang ditungganginya, sedang pedangnya ikut terlepas mental.

"Manusia rendah! Matilah!"

Satu bentakan datang dari samping yang disusul dangan sembaran pedang ke arah batang leher Hulubalang Darah. Yang diserang cukup dibikin kaget namun tidak menjadi gugup. Di Istana Darah dia adalah Hulubaiang Darah Ketujuh yang mempunyai kepandaian tidak rendah. Sekali berkelit dia berhasil mengelakkan sambaran pedang, kemudian dengan satu gerakan kilat dia berhasil memukul mental pedang di tangan lawan. Si gadis mengeluh kesakitan sambil pegangi lengannya yang menjadi merah bengkak. Hulubalang Darah Ketujuh menyeringai mengejek.

"Gadis manis sepertimu ini tidak seharusnya berlaku begitu galak terhadapku. Nah sekarang kalian mau menyerah baik-baik atau bagaimana?"

"Baik, aku akan menyerah," jawab si gadis, "tapi..." digerakkannya tangannya.

"Tapi apa?" tanya Hulubalang Darah Ketujuh.

"Makan dulu jarumku ini!" seru sang dara baju kuning dan sesaat kemudian begitu dia gerakkan tangan kanan puluhan jarum berwarna kuning melesat tanpa suara ke arah dua belas jalan darah di tubuh Hulubalang Darah Ketujuh!

"Gadis binal!" hardik Hulubalang Darah Ketujuh marah. Dikebutkannya lengan pakaiannya. Puluhan jarum yang menyerang serja merta mental dilanda angin dahsyat yang keluar dari ujung lengan pakaian itu!

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, pemuda baju biru berseru. "Mia! Larilah! Lari lekas! Biar aku yang menghadapi begundal-begundal jahat ini." Dari pertempuran yang baru berjalan beberapa gebrakan itu si pemuda sudah menyadari bahwa walau bagaimanapun tidak mungkin bagi mereka untuk menghadapi kedua lawan yang memiliki kepandaian begitu tinggi. Karenanya demi keselamatan adik seperguruannya dia bersedia korbankan nyawa.

"Tidak kangmas! Mati bersama di tempat ini adalah lebih baik daripada lari!" jawab Miani yang membuat kakak seperguruannya menjadi kaget. Gadis ini rupanya juga sudah menyadari nasib apa yang bakal dihadangnya namun sedikitpun tidak merasa gentar. Dengan sepasang tangan kosong terpentang Miani maju ke hadapan Hulubalang Darah Ketujuh,

Yang ditantang ganda tertawa dan berpaling pada temannya. "Hulubalang Sebelas, kau bereskan pemuda itu. Aku akan tangkap hidup-hidup perawan galak ini dan membawanya ke Istana!"

Hulubalang Darah Kesebelas maju ke hadapan pemuda baju biru. Pemuda ini berada dalam keadaan terluka parah di sebelah dalam akibat jotosan Hulubalang Ketujuh tadi. Namun demikian dengan sisa kekuatan yang ada dan penuh keberanian si pemuda melangkah ke hadapan Hulubalang Kesebelas. Tangan kirinya tiba-tiba melepaskan dua puluh jarum biru sedang tangan kanan diayunkan ke batok kepala lawan. Serangan ini disertai dengan satu loncatan cepat sehingga Hulubalang Kesebelas tidak berani bertindak sembrono.

Dengan berkelit ke samping dan seraya melepaskan satu pukulan tangan kosong ke udara, seranganserangan jarum biru berhasil dilewatkan oleh Hulubalang Darah Kesebelas. Untuk menghadapi serangan lawan yang kedua yaitu jotosan keras pada batok kepalanya, Hulubalang Darah Kesebelas memukulkan tangannya ke atas dengan mengandalkan setengah bagian tenaga dalamnya.

Dalam keadaan terluka begitu rupa bentrokan lengan adalah sangat berbahaya bagi pemuda baju biru. Walaupun tenaga dalamnya lebih tinggi sekalipun belum tentu keselamatan dirinya akan terjamin. Karenanya begitu lawan memukulkan lengannya ke atas, pemuda baju biru menjejak tanah dan melompat satu tombak. Bersamaan dengan itu kaki kanannya menderu ke dada lawan!

Hulubalang Darah Kesebelas tidak menyangka kalau bakal mendapat serangan hebat begitu rupa. Saat itu dia tengah memusatkan perhatian dan sebagian tenaga dalamnya untuk melakukan bentrokan lengan. Tubuhnya telah mendongak ke atas dan dalam kedudukan seperti itu cukup sulit untuk menyelamatkan dadanya dari tendangan si pemuda. Namun adalah percuma dia menjabat kedudukan Hulubalang di Istana Darah kalau serangan begitu saja dia tidak sanggup menghadapinya.

Dengan berteriak keras dahsyat Hulubalang Darah Kesebelas berkelebat. Tubuhnya hanya merupakan bayangan merah dan sebelum pemuda baju biru dapat memastikan di sebelah mana lawannya berada, tahutahu satu pukulan menghantam dadanya, tepat di bekas jotosan Hulubalang Ketujuh sebelumnya. Tak ampun lagi pemuda itu muntah darah dan tersungkur ke tanah!

"Kangmas Widura!" pekik Miani.

"Mia! Lari! Selamatkan dirimu!" seru pemuda baju biru yang bernama Widura sementara nafasnya mulai megap-megap.

Bukannya lari sebaliknya Miani malah menubruk kakak seperguruannya. Namun sebelum dia sempat berbuat suatu apa, satu totokan telah bersarang di punggungnya membuat gadis ini melosoh tak berkutik lagi. Hanya mulutnya saja yang masih bisa mengeluarkan suara memaki dan mengutuki kedua manusia berbaju merah itu.

Hulubalang Darah Ketujuh membungkuk merangkul tubuh Miani lalu memanggulnya di bahu kiri. Dia berpaling pada kawannya dan menggoyangkan kepala. "Lekas selesaikan pekerjaanmu."

Dari balik pakaiannya Hulubalang Darah Kesebeias mengeluarkan sebuah kantong karet yang pada salah satu ujungnya terdapat pipa sepanjang tiga jengkal. Setelah mengeluarkan pula sebilah pisau kecil yang amat tajam dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari maka diapun melangkah mendekati tubuh Widura yang saat itu tidak berkutik dan menggeletak di tanah tengah meregang nyawa.

Hulubalang Darah Kesebelas membungkuk. Tangannya yang memegang pisau bergerak ke pangkal leher Widura.

"Manusia biadab! Laknat terkutuk! Apa yang kau lakukan itu?!" teriak Miani sewaktu menyaksikan bagaimana Hulubalang Darah Kesebelas memutus urat nadi di leher Widura dengan pisau kecil lalu menghubungkan ujung pipa karet dengan urat nadi yang menyemburkan darah. Sesaat kemudian kantong karet itu kelihatan mulai menggembung tanda darah korban telah mengalir masuk. Hulubalang Darah Ketujuh menepuk-nepuk pinggul Miani sambil tertawa gelak-gelak.

"Gadis molek. Kau tenang sajalah. Bagusnya berhenti berteriak agar suaramu yang merdu tidak menjadi parau!"

"Kalian manusia-manusia terkutuk! Lebih kejam dan lebih buas dari binatang!" teriak Miani lalu berulang kali diludahinya muka Hulubalang Darah Ketujuh.

"Sialan! Kalau kau bukan gadis manis sudah tadi-tadi kuremas hancur mulutmu!" hardik Hulubalang Darah Ketujuh marah. Ditdriknya pakaian kuning si gadis dan disekanya mukanya yang penuh ludah.

"Seharusnya kau merasa gembira dan bangga karena darah kawanmu itu mendapat kehormatan untuk dipakai sebagai cat istana Darah!"

Tiga perempat kantong karet telah penuh dengan darah Widura. Ketika tak ada lagi darah yang mengalir masuk ke dalam kantong itu Hulubalang Darah Kesebelas mencabut pipa lalu membuhulnya. Dia berdiri dan memanggul kantong berisi darah itu.

"Atas semua hasil ini kita pasti mendapat pahala besar dari Raja," kata Hulubalang Darah Kesebelas dengan tertawa lebar.

"Yang jelas," menyahuti Hulubalang Darah Ketujuh. "Gadis manis ini akan dihadiahkan padaku. Dia menelentang di tempat tidurku sebelum keputusan Raja datang untuk mencabut nyawanya!"

Merinding bulu roma Miani mendengar ucapan ;tu. Dia berteriak keras. "Lepaskan aku! Jangan bawa ke Istana Darah! Kalian jahanam! Lepaskan aku!"

Hulubalang Darah Ketujuh cuma tersenyum. Diciumnya tengkuk gadis itu penuh nafsu lalu bersama kawannya meninggalkan tempat itu dengan cepat.

***

PAGI ITU udara sejuk nyaman dan cerah. Sekelompok awan berarak dihembus angin melewati puncak gunung Raung. Dari kawah gunung berapi itu mengepul asap putih kelabu yang kemudian menjadi satu dengan awan yang bergerak. Di salah satu lereng gunung itu terdapatlah sebuah pertapaan. Pertapaan ini merupakan sebuah goa yang bagian dalamnya dipakai sebagai tempat kediaman. Saat itu di mulut goa, di atas sebuah batu besar berwarna hitam legam dan berbentuk setengah lingkaran, duduklah seorang Brahmana berselempang kain putih. Kedua tangannya diletakkan di atas paha sedang sepasang matanya terpejam.

Nyatalah Brahmana ini tengah mengheningkan ciptarasa atau tengah bersemedi. Rambutnya yang putih menyeka bahu melambai-lambai ditiup angin pagi. Semakin naik matahari, semakin khusus Brahmana ini bersemedi.

Di lain bagian dari lereng gunung, di bawah sebuah air terjun kecil kelihatan seorang pemuda bertubuh tinggi langsing dan hanya mengenakan sehelai cawat tengah berkelebat kian kemari. Di tangan kanannya ada sepotong bambu hijau yang digerakkan demikian rupa ke berbagai jurusan hingga menimbulkan suasana menderu-deru. Demikian cepatnya gerakan itu hingga bentuk bambu itu hanya merupakan sambaran sinar hijau belaka.

Sambil melompat gesit di atas batu-batu air yang licin berlumut pemuda itu bergerak mendekati air terjun. Bambu hijau di tangan kanannya disabatkan sejarak setengah tombak dari air terjun dan brass! Air terjun muncrat jauh lalu baru mengalir lagi seperti sebelumnya! Beberapa kaii hal ini dilakukan si pemuda dan hatinya baru merasa puas.

Kemudian dia berdiri di atas ujung sebuah batu licin hanya mengandalkan sebelah kaki kiri yang dijingkatkan. Bambu hijau disabatkan pulang balik beberapa kali memapas air terjun. Ketika ditelitinya bambu itu, tak setetespun air melekat di situ. Si pemuda tersenyum gembira. Bukan saja bambu tidak basah tetapi daya dorong tenaga raksasa air terjun tak sanggup menggoyahkan kakinya yang berpijak di batu licin!

"Kepandaianku telah maju pesat!" kata pemuda ini dalam hati.

Dia hendak mencoba kembali. Namun saat itu tiba-tiba di telinganya mengiang nasehat gurunya.

"Ketinggian ilmu itu tidak ada batasnya. Karenanya seseorang tak boleh berlaku lekas puas, apalagi sombong." Pemuda bercawat itu kemudian melompat-lompat lagi di atas bebatuan dan tangannya tiada henti memainkan bambu hijau itu dalam gerakan-gerakan ilmu pedang yang mengagumkan. Kira-kira sepeminuman teh berlatih dia hentikan semua gerakannya dan duduk berjuntai di cabang sebuah pohon. Dia berlaku demikian bukan karena letih tapi karena saat itu satu pemikiran muncul di kepalanya.

"Heran, seharusnya mereka sudah tiba di pertapaan selambat-lambatnya siang kemarin. Kenapa sampai pagi ini masih belum muncul?"

Selagi dia berpikir-pikir seperti itu tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara memanggil laksana ditiupkan oleh angin dan bergema di sekitar tempat itu, apapun adanya yang bicara nyatalah dia memiliki sejenis ilmu mengirimkan suara dari jarak jauh yang hebat sekali.

"Panji kemarilah!"

Seraya melompat enteng dari cabang pohon pemuda bercawat itu membuka mulutnya dan berseru menjawab. "Saya datang Eyang!"

Laksana seekor burung terbang Panji Kenanga berlari melompati lereng berbatu-batu dan akhirnya sampai di satu jalan kecil yang menuju ke pertapaan.

Begitu sampai di hadapan Brahmana tua si pemuda menjura hormat lalu duduk bersila dan bertanya.

"Ada apa Eyang memanggil saya?"

"Kau habis berlatih ... ?"

"Betul sekali Eyang."

"Bagaimana, apakahada kemajuan kau rasakan?"

"Berkat petunjuk Eyang mudah-mudahan ada," jawab Panji Kenanga. La!u dia berdiam diri menunggu penjelasan dari gurunya mengapa dia dipanggil.

"Aku barusan selesai bersemedi, muridku," kata Brahmana tua tersebut. "Dalam semediku aku mendapat firasat bahwa sesuatu telah terjadi atas diri Widura dan Miani. Kalau tidak mustahil sampai saat ini mereka masih belum sampai di sini."

itu memang ada terpikir oleh saya, Eyang," jawab Panji Kenanga. "Karenanya mohon petunjuk Eyang lebih lanjut."

"Mereka berdua masih hijau dalam rimba persilatan, Untuk sekedar mencari pengalaman mereka ku lepas selama satu bulan. Dan nyatanya kini telah lebih waktu tersebut dan mereka belum juga kembali. Cobalah kau turun gunung dan menyelidiki keadaan sekitarnya. Kuharap saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka."

"Perintah Eyang akan saya laksanakan," kata Panji Kenanga. "Izinkan saya bersalin pakaian dulu."

Pemuda ini hendak berdiri tapi tak jadi karena gurunya dilihatnya menggerakkan tangan memberi isyarat.

"Satu hal penting kau ketahui, Panji," kata sang Brahmana. "Dalam dunia persilatan kini tengah mengamuk satu angkara murka. Angkara murka itu didalangi oleh manusia-rnanusia berkepandaian tinggi yang menyebut dirinya Hulubalang Istana Darah. Mereka berjumlah banyak namun tidak diketahui siapa yang memimpin mereka."

"Kejahatan apakah yang telah mereka lakukan Eyang?"

"Menculik dan membunuh setiap manusia berilmu."

"Alasan mereka berbuat begitu?" tanya Panji Kenanga lebih jauh.

"Sebegitu jauh belum diketahui. Namun dari apa yang kudengar setiap korban yang mereka bunuh tidak berdarah lagi dalam tubuhnya. Aku kawatir kalau-kalau kedua saudaramu telah menjadi korban manusiamanusia penghisap darah itu."

"Saya akan selidiki Eyang dan tak kembali sebelum menemukan keduanya. Mudah-mudahan tidak terjadi suatu apa dengan mereka."

Sang guru mengangguk.

Panji Kenanga berdiri dan meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia muncul kembali sudah berpakaian rapi.

"Bawalah Angin Salju dan juga kau boleh bawa tenjata ini," kata si Brahmana seraya mengeluarkan sebilah pedang bergagang gading.

Terkejutlah Panji Kenanga don buru-buru berlutut, "Eyang, apakah Eyang mempercayakan saya membawa pedang Gajah Biru ini?" tanya Panji Kenanga sewaktu melihat gurunya mengangsurkan pedang mustika itu.

"Kalau tidak percaya masakan kuserahkan," jawab sang guru kepada muridnya. "Pergunakan sebaikbaiknya, terutama dalam keadaan dirimu diancam bahaya."

"Terima kasih atas kepercayaanmu Eyang."

Dengan membungkukkan tubuh Panji kenanga menerima senjata tersebut lalu memasukkannya ke balik punggung pakaiannya.

"Sekarang saya minta diri, Eyang dan mohon doa restumu," kata Panji Kenanga. Dia menjura sampai tiga kali lalu membalikkan tubuh. Seat itu dihadapannya telah berdiri seekor kuda putih tinggi den tegap. Karena larinya yang cepat laksana angin den bulunya yang mulus putih laksana salju, oleh Brahmana binatang ini diberi nama Angin Salju. Panji Kenanga melompat ke punggung Angin Salju. Sebelum berlalu binatang yang jinak dan cerdik ini enggoyangkan kepalanya beberapa kali pada sang Brahmana, lalu meringkik tiga kali seolah-olah mengucapkan selamat tinggal mohoi diri.

***Hujan lebat mendera bumi sewaktu Panji Kenanga bersama angin Salju berada setengah hari perjalanan dari kaki gunung Raung.

"Kita harus mencari tempat berteduh sobatku." kata si pemuda pada kuda tunggangannya.

Angin Salju bukanlah seekor kuda biasa. Binatang ini tajam penca inderanya dan cerdik serta memahami apa-apa kata dan maksud majikannya. Dengan cepat dia memutar tubuh dan laksana anak panah melesat menuju segerombolan pohon-pohon yang berdaun sangat lebat. Demikian lebatnya dedaunan pohon-pohon ini hingga tak setetespun air hujan dapat menembus tanah di bawahnya.

"Matamu tajam den cepat mencari tempat berteduh yang baik," kata Panji Kenanga saraya mengelus tengkuk Angin Salju.

Binatang itu menggerak-gerakkan kedua daun telinganya tanda gembira atas pujian itu. Sementara itu hujan turun semakin lebat. Di antara deru air hujan yang laksana dicurahkan dari langit, tiba-tiba Panji Kenanga mendengar suara berdering-dering tiada hentinya. Dia memandang berkeliling. Tak seorang pun manusia yang kelihatan. Tak sesuatu benda hiduppun yang tampak. Tapi anehnya suara berdering-dering itu terdengar semakin keras.

"Apakah ada iblis atau setan yang menghuni tempat ini dan hendak menakut-nakutiku?" pikir Panji Kenanya dalam hati. Lalu turun dari kudanya.

Sebagai orang yang menguasai ilmu silat tingkat tinggi serta kesaktian dengan sendirinya Panji Kenanga memiliki pendengaran tajam. Namun sekali ini dia terpaksa berjalan hilir mudik seketika, baru dapat mengetahui sumber datangnya suara berdering-dering itu. Dan sewaktu sampai di tempat tersebut melengaklah Panji Kenanga.

Di bawah sebatang pohon berdaun lebat, duduk bersandar seorang lelaki berkepala botak bercelana tipis dan kurus hingga tulang-tulangnya kelihatan jelas bertonjolan. Setiap saat orang berkepala botak ini menggerak-gerakkan kedua tangannya melemparkan sepuluh mata uang emas ke udara, lalu menyambutnya kembali, melemparkannya lagi dan menyambutnya kembali, demikian terus menerus tiada henti. Untuk sesaat lamanya Panji Kenanga menjadi takjub. Sepuluh mata uang emas bukan satu jumlah yang sedikit. Hanya hartawan kaya raya yang punya uang sebegitu. Kemudian sepuluh mata itu dilemparkan ke udara dan bertebar demikian rupa bukan suatu hal yang mudah untuk ditangkap kembali kesepuluhsepuluhnya dengan kedua tangan tanpa ada satupun yang jatuh. Dan hal ini dilakukan berulang-ulang oleh si botak itu dengan sikap acuh tak acuh!

"Siapakah si botak ini?" pikir Panji Kenanga. Pemuda ini melangkah lebih dekat. Astaga! Terkejutlah Panji Kenanga. Betapakan tidak. Ternyata si botak bercelana komprang ini buta kedua matanya! Bagaimana dia memiliki kepandaian melempar dan menyambut sepuluh mata uang seperti itu? Benar-benar aneh. Panji Kenanga melangkah lebih dekat

***

"BAPAK, siapakah kau?" tanya Panji Kenanga menegur.

Si botak tak menjawab. Menggerakkan kepalanyapun tidak. Malah terus asyik melempar-lemparkan sepuluh mata uang emas itu ke udara. Panji Kenanga mengulang kembali pertanyaannya. Si botak tetap tak menjawab. Terus saja asyik bermain-main dengan mata uang emasnya. Memikir mungkin manusia tak dikenal ini tuli maka dia kemudian menegur lebih keras.

Aneh. Si botak tiba-tiba tertawa mengekeh:

"Hup!" seru si botak tiba-tiba. Sepuluh uang emas dilemparkannya tinggi-tinggi ke udara. Seperti daundaun kering yang dihembus angin uang-uang emas itu melayang turun perlahan-lahan, kemudian satu demi satu jatuh menempel di atas kepala botak si orang aneh, tersusun rapi. Hampir saja Panji Kenanga berseru kagum melihat hal ini. Seorang yang tidak memiliki tenaga dalam tinggi luar biasa pasti tak bakal sanggup melakukan hal itu. Bahkan dia meragu apakah gurunya bisa berbuat begitu. Si botak yang kini "bertopikan" uang emas kembali tertawa mengekeh. Tawanya tiba-tiba lenyap. Sebagai gantinya dari mulutnya kini terdengar suara nyanyian aneh:



Sejak lahir menderita buta

Sekeliling serba gelap gulitaBanyak berjalan banyak didengarDatang bertanya seorang sahabatSungguh sayang belum bisa kujawabDan sehabis menyanyi ini, orang itu kembali tertawa mengekeh sedang sepuluh keping uang emas masih terus menempel di kepalanya yang botak!

"Kalau kau tak mau menerangkan nama tak menjadi apa. Aku tak bakal mengganggu lebih lama," kata Panji Kenanga. Lalu pemuda ini memutar tubuh meskipun hatinya penuh diliputi rasa ingin tahu siapa gerangan adanya si botak aneh bermata buta ini.

"Hai! Tunggu dulu!" si botak tiba-tiba berseru. "Sebelum pergi kau dengarlah satu lagi nyanyianku."

Panji Kenanga hentikan langkah.

Si buta goyangkan kepala botaknya. Sepuluh keping uang emas yang ada di atas kepalanya melayang ke atas, disambutnya lalu dilemparkannya kembali seperti tadi sehingga mengeluarkan suara berdering. Dan suara berdering ini dengan teratur menimpali suara nyanyian yang dibawakannya.



Seorang muda datang menunggang Angin Salju

Bertanya tapi tak terjawabEntah ke mana gerangan menujuTapi apakah sudi mendengar nasihat?Berjalan terus ke utaraAkan ditemui kejahatan berdarahPembalasan memang sudah wajarTapi terlalu banyak musuh harus dihajarKalau ditemui keadaan yang mengharukanJangan sampai nafsu dendam memperdayakanPembalasan harus memakai akal pikiranAgar selamat nyawa di badan.Sepuluh keping uang emas dilemparkan tinggi-tinggi ke udara lalu seperti tadi melayang turun perlahanlahan laksana ditarik oleh suatu kekuatan gaib yang tak kelihatan, mata-mata uang tersebut mendarat satu demi satu di kepala botak si orang tua. Di lain pihak Panji Kenanga heran dan kaget bukan main. Bagaimana manusia botak buta tak dikenal ini tahu kalau dia menunggang Angin Salju. Apa arti kalau ditemui keadaan yang mengharukan? Mengapa dia disuruh berjalan ke arah utara? Setelah meragu sejenak Panji akhirnya bertanya. "Bapak yang pandai, bagaimana kau tahu nama kudaku dan sesungguhnya apa maksudmu dengan nyanyian tadi?"

Si botak mata buta menguap lebar-lebar. Disandarkannya pungung dan kepalanya ke batang pohan di belakangnya lalu tidur dengan mendengkur. Bagaimanapun Panji Kenanga berseru keras memanggil, tetap saja dia terus ngorok.

Panji Kenanga geleng-gelengkan kepala. "Manusia aneh," katanya dalam hati.

Karena saat itu hujan telah berhenti, setelah memikirkan makna nyanyian si botak tadi maka akhirnya Panji Kenanga naik ke punggung kudanya, langsung menuju ke utara. Setelah merancah jalan yang becek akibat air hujan, Panji Kenanga menemui sebuah lereng pendek berbatu-batu. Di seberang lereng tersebut, diantara pepohonan yang bertumbuhan di sana sini dilihatnya sebuah jalan kecil berliku-liku. Apa yang menarik perhatian pemuda ini adalah kekeringan yang menyelimuti daerah di seberang lereng berbatu-batu itu. Rupanya hujan tidak turun di daerah itu.

Panji Kenanga menyentakkan tali kekang. Angin Salju kembali menggerakkan keempat kakinya. Tak lama kemudian kedua makhluk itu telah menempuh jalan kecil vang sebelumnya terlihat dari atas lereng. Ada kira kira setengah peminuman teh melintasi jalan itu tiba-tiba Angin Salju tanpa diperintahkan menghentikan larinya, mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi lalu meringkik dahsyat!

"Kalau bukannya ada bahaya atau sesuatu yang luar biasa di depan sana, tentu binatang ini tak akan meringkik begini rupa," membatin Panji Kenanga, Dia melompat dari punggung Angin Salju. Diusapnya tengkuk binatang ini beberapa kali seraya berkata, "Tenang sobatku, tenang ..." Si pemuda kemudian melangkah mengikuti Angin Salju yang telah lebih dulu bergerak ke depan.

Belum lagi dua puluh langkah berjalan, Panji Kenanga mulai melihat bekas-bekas perkelahian di jalan sempit itu. Semak belukar banyak yang rambas sedang di tanah ada noda-noda hitam membeku. Pemuda ini melangkah terus. Tepat pada langkah yang keempat puluh, kedua kakinya laksana di pantek ke tanah. Mukanya berubah. Untuk seketika dia tidak dapat bergerak seperti patung.

"Widura!" serunya sesaat kemudian lalu menghambur ke muka.

Di tepi jalan tergelimpang sesosok tubuh berpakaian biru. Muka dan bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian kelihatan pucat sekali laksana kain kafan. Di sampingnya, diatas tanah tampak noda-noda hitam. Ini adalah darah yang telah membeku. Dan sosok tubuh itu adalah Widura yang telah jadi mayat. Panji Kenanga berlutut di samping jenazah adik seperguruannya. Tubuhnya bergetar. Rahangnya terkatup rapat-rapat menahan geram. Dia duduk di tanah memangku kepala Widura yang pucat tiada berdarah. Saat itulah dilihatnya urat nadi yang putus di bagian leher! Ini adaiah aneh. Luka yang terlihat di leher itu jelas bukan luka bukan luka akibat perkelahian. Lalu paras dan sekujur tubuh yang pucat pasi seperti tidak berdarah itu, apakah yang menyebabkannya?

Panji Kenanga lantas ingat pada keterangan gurunya. Yaitu bahwa dunia persilatan tengah dilanda malapetaka yang disebabkan oleh orang dari Istana Darah. Bukan mustahil manusia-manusia terkutuk itulah yang telah membunuh Widura. Tetapi tubuh yang seolah-olah kempes tanpa berdarah? Apakah mungkin disedot? Geraham Panji Kenanga bergemeletakan. Dia teringat Miani. Bagaimana dan di mana gadis itu sekarang?

Panji Kenanya memandang berkeliling dengan hati perih. Hatinya bergetar ketika pandangannya membentur gurat garet di tanah yang merupakan tulisan yang hampir pupus oleh udara. Tulisan itu tidak begitu jelas namun sedikit demi sedikit, dengan susah payah berhasil juga disambung-sambung oleh si pemuda dan ternyata berbunyi.



Kalau terjadi apa-apa dengan diriku,

yang menyebabkannya adalah manusiamanusiaterkutuk dari Istana Darah.Mereka juga bertanggung jawabatas keselamatan jiwa dan kehormatan Miani.WiduraPanji Kenanga kerenyitkan kening. Dia berpikir. Bagaimana Widura bisa meninggalkan pesan begitu? Dan kapan dibuatnya? Atau mungkin dia sudah menduga ada bahaya terlebih dahulu hingga siang-siang telah membuat tulisan begitu rupa? Tentu saja semua pertanyaan itu tak bisa dijawab oleh Panji Kenanga. Dia hanya bisa menduga-duga. Sebenarnya bagaimana dan kapankah Widura membuat tulisan di tanah yang berupa pesan itu?

Pada waktu dia pertama kali dihajar oleh Hulubalang Darah Ketujuh sehingga mental dari atas kuda dan terguling di tanah, Widura yang berotak cerdik segera memaklumi bahwa lawan-lawannya bukanlah orang sembarangan. Apalagi sesudah diketahuinya bahwa manusia berpakaian serba merah itu adalah Hulubalanghulubalang Istana Darah yang rata-rata berkepandaian sangat tinggi dan bukan tandingannya. Yakin kalau dirinya tak bisa lolos dari bahaya maut sedang untuk menyerah atau lari dia tak mau melakukannya, di samping itu menyadari pula bahwa kedua hulubalang Darah itu pasti akan menangkap Miani hidup-hidup, maka selagi tertelungkup di tanah dengan cepat diguratnya tulisan yang merupakan pesan itu dengan ujung jarinya yang dialiri tenaga dalam.

Apa yang dikerjakan oleh Widura sama sekali tidak terlihat oleh Hulubalang Darah Ketujuh karena saat itu Hulubalang Darah Ketujuh tengah sibuk menghadapi serangan pedang Miani.

"Tepat seperti apa yang diduga oleh guru," kata Panji Kenanga dalam hati. "Walau bagaimanapun aku tak akan berpangku tangan. Sekalipun menyabung nyawa ke lautan api, hutang nyawa ini harus kubalaskan. Apalagi Miani pasti berada di tangan keparat-keparat durjana itu!"

Panji Kenanga berdiri. Didukungnya jenazah adik seperguruannya dan diletakkannya di bawah satu pohon yang rindang. Di bagian lain dari pohon dengan sebisa-bisanya dia mulai menggali sebuah lobang. Lalu jenazah Widura dikuburkannya ke dalam lobang itu. Setelah ditimbun dengan tanah, makam itu ditutupnya dengan batu-batu agar tidak dikorek oleh binatang buas.

Setelah merenung sejenak di hadapan makam adik seperguruannya itu, Panji Kenanga lalu melangkah ke tempat Angin Salju tegak menunggu. Saat itu juga dia memutuskan untuk mencari di mana letak Istana Darah. Namun mendadak dia ingat kembali pada si botak bermata buta yang sebelumnya telah ditemuinya. "Manusia itu aneh," kata Panji dalam hati. "Dia sama sekali tidak mau mernberi tahu siapa dirinya. Bukan mustahil dia adalah salah seorang bergundal Istana Darah. Aku harus meyakinkan dulu siapa dia sebenarnya." Berpikir sampai di situ Panji lantas memutar kudanya.

Ketika dia kembali ke tempat dimana sebelumnya dia bertemu dengan orang aneh berkepala botak itu, didapatinya manusia ini masih duduk di bawah pohon dan tidur mendengkur. Kepingan sepuluh uang emas masih bertempelan rapi di kepalanya.

"Bapak banguniah!" kata Panji dengan suara keras. Dia berseru sampai beberapa kali tapi orang itu masih saja terus tidur lelap. Panji jadi penasaran. Tapi apa yang harus dilakukannya? Jika nyata-nyata dia tahu si botak ini benar-benar kaki tangan Istana Darah tentu dia tak perlu repot-repot pakai membangunkan segala, langsung menghajarnya. Namun karena dia belum punya bukti-bukti maka dia tak mau kesalahan turun tangan. Akhirnya dengan mengkal Panji Kenanga duduk di bawah sebatang pohon yang berhadap-hadapan dengan si botak. Ketika matahari sudah jauh condong ke barat si botak masih juga belum bangun. Bahkan ketika matahari masuk ke ufuk tenggelamnya di sebelah barat dan hari mulai gelap, si botak masih saja terus ngorok.

"Tak mungkin kutunggu lebih lama!" kata Panji Kenanga. "Dia harus dibangunkan dengan tangan atau dengan kaki!"

Si Pemuda melangkah mendekati si botak yang mendengkur di bawah pohon. Tangannya diulurkan untuk menepuk bahu orang itu. Namun sebelum tangannya menyentuh tubuh si botak satu bentakan menggeledek di seantero tempat itu.

"Ini dia bangsatnya yang kucari-cari!"

Bentakan itu disusul dengan berkelebatnya satu bayangan tubuh manusia. Panji Kenanga kaget bukan main dan cepat berpaling.

***

DI HADAPAN Panji Kenanga saat itu berdiri seorang lelaki berbadan gemuk seperti bola. Rambut dan wajahnya dicat dengan cairan berwarna biru. Kedua tangannya sebatas sikut juga berwaena biru. Manusia ini memandang buas pada si botak yang saat itu masih asyik tertidur pulas. Lalu dia memalingkan kepala pada Panji Kenanga. Dari mulutnya terdengar suara macam harimau menggereng.

"Kau tentu kambratnya Si Botak Mata Buta ini!" damprat orang bermuka biru seraya melangkah mendekati Panji Kenanga dengan kedua tangan terpentang.

"Aku tidak ada sangkut paut apa-apa dengan dia. Kenalpun tidak. Kau sendiri siapa?" bertanya Panji Kenanga.

Si gendut tidak perdulikan pertanyaan Panji malah menjawa. "Puah, kebenaran ucapanmu akan kuselidiki kemudian. Jika ternyata kau masih punya hubungan dengan bangsat gundul itu, kelak kau juga bakal menerima bagian. Sekarang minggirlah!"

Panji Kenanga melihat orang berbadan gemuk bermuka biru itu mengangkat kedua tangannya setinggi kepala. Sesaat kemudian lengannya yang berwarna biru itu tampak mengeluarkan sinar biru gelap menggidikkan.

"Minggir!" teriak si muka biru keras menggeledek dan marah karena si pemuda masih menghalang di depannya.

"Eh, kau mau bikin apa?" bertanya Panji.

"Tidak usah tanya! Lihat saja nasib yang bakal diterima si Botak. Dan kelak kau pun menerima bagianmu!"

Panji Kenanga tidak mau bergeser dari tempatnya malah berkacak pinggang. "Menyerang lawan yang sedang tidur adalah tindakan pengecut!" katanya. "Kalau mau buat perhitungan bangunkan dia lebih dulu!"

"Anak setan! Kalau begitu biarlah kau mampus bersama-sama dia kejap ini juga!"

Selesai berkata begitu si muka biru memukulkan kedua tangannya. Satu ke arah kepala si botak yang masih tidur lelap, satunya lagi ke arah Panji Kenanga.

Dua sinar biru menderu dahsyat. Mengeluarkan hawa teramat panas. Meskipun saat itu Panji Kenanga masih merasa si Botak Mata Buta adalah kaki tangan Istana Darah, namun melihat orang diserang dengan cara pengecut begitu rupa adalah bertentangan dengan jiwa kesatrianya. Pemuda ini berseru nyaring lalu berkelebat cepat ke arah pohon di mana Si Botak Mata Buta berada. Maksudnya hendak menyelamatkan orang ini. Namun dia hanya menemui tempat kosong karena lebih cepat dari gerakannya, hampir tidak kelihatan, si botak itu telah berkelebat lenyap dari pohon dimana dia tidur!

Sinar pukulan melesat di atas punggung Panji Kenanga. Pemuda ini jatuhkan diri lalu bergulingan di tanah. Di belakangnya terdengar suara braak! Pohan besar tempat si botak tadi tidur patah dan tumbang dengan mengeluarkan suara gaduh akibat dihantam pukulan si gendut bermuka biru. Hebatnya lagi baik batang pohon yang masih menancap di tanah maupun yang terlepas tumbang keseluruhannya kini kelihatan berwarna biru!

Nyatalah manusia bermuka biru itu betul-betul menginginkan kematian Panji Kenanga dan Si Botak Mata Buta. Karena begitu menyerang pertama kali dia sudah lancarkan pukulan maut yang mengandung racun mematikan!

Ketika Panji Kenanga berdiri kembali, pemuda ini melihat Si Botak Mata Buta telah berada di bawah pohon yang lain, duduk bersandar dan mengorok persis seperti sebelumnya. Bahkan sepuluh uang emaspun masih tetap ada di kepalanya yang botak! Di lain pihak si gendut muka biru menjadi gemas bukan main melihat kedua orang itu berhasil mengelakkan pukulan saktinya yang bernama "kelabang biru". Lebih-lebih Si Botak Mata Buta dianggapnya sengaja telah mempermainkannya.

"Kupecahkan kepala kalian!" teriak si muka biru garang lalu kembali menyerbu dengan dua kepalan diayunkan. Yang satu menyerang Si Botak Mats Buta, yang lainnya menghantam ke arah dada Panji Kenanga.

Murid Brahmana dari gunung Raung itu menggeser kakinya kesamping, menepis lengan lawan dengan lengan kirinya. Sewaktu masing-masing lengan saling beradu, Panji Kenanga mengigit bibir karena merasakan lengannya pedas bukan main. Di lain pihak si muka biru tak kurang kagetnya karena ternyata tenaga dorong lengan lawan sanggup menepis demikian rupa hingga bukan saja serangannya terhadap si pemuda gagal, tapi serangan yang ditujukan pada Si Botak Mats Buta pun meleset akibat tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang hampir sejauh dua langkah!

Semua itu membuat amarah si gendut ini semakin memuncak. Tiga perempat tenaga dalamnya kini disalurkan ke tangan kanan. Lengan kanannya kembali memancarkan sinar biru. Kali ini lebih biru dan gelap dari yang tadi. Panji Kenanga maklum kalau lawan kini siap-siap akan melancarkan pukulan saktinya disertai tenaga dalam yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Maka diapun tidak menunggu lebih lama dan segera menyalurkan tiga perempat tenaga dalamnya ke tangan kanan. Begitu lawan melancarkan pukulan "kelabang biru" yang mengandung racun mematikan itu, Panji Kenanga segera menyambut dengan satu pukulan yang tak kalah hebatnya, yang menebar selarik sinar putih ke abu-abuan.

Dua pukulan sakti saling bentrokan. Karena masing-masing dialiri tenaga dalam yang tinggi maka pertemua dua tenaga tersebut menimbulkan suara seperti letusan. Pohon-pohon bergoyang, tanah bergetar. Sepasang kaki si muka biru melesak sampai tiga senti ke tanah sedang kedua kaki Panji Kenanga masuk ke dalam tanah hampir setengah jengkal!

Dari sini nyatalah meski masing-masing pihak sama-sama mengandalkan tenaga dalam sebanyak tiga perempat bagian namun tingkat atau mutu kekuatan tenaga dalam yang dimiliki si muka biru lebih sempurna dari yang dikuasai Panji Kenanga. Hai ini adalah wajar karena Panji Kenanga masih terlalu muda, kurang pengalaman dan masih banyak harus berlatih sementara lawannya sudah belasan tahun malang melintang di dunia persilatan dan terus menerus melatih diri.

Panji Kenanga yang memaklumi sepenuhnya hal itu bukannya menjadi takut malah sebaliknya sudah siap-siap untuk maju kembali dengan segala keberanian yang ada meskipun saat itu dadanya terasa berdeenyut-denyut.

Si gendut muka biru diam-diam dalam hatinya terheran-heran. Pukulan sakti yang tadi dilepaskan pemuda itu beberapa tahun lewat pernah disaksikannya namun dia tak ingat lagi siapa yang memiliki ilmu pukulan tersebut. Disamping itu dia jugs tidak menyangka kalau tingkat tenaga dalam lawan akan sanggup mengimbangi tenaga dalamnya yang sudah tinggi itu.

Manusia ini tak sempat untuk berpikir panjangpanjang karena saat itu si pemuda dilihatnya sudah menerjang ke hadapannya. Maka terjadilah perkelahian tangan kosong yang seru. Si muka biru senantiasa berusaha mengadakan bentrokan lengan. Sebaliknya Panji Kenanga yangg maklum kehebatan sepasang lengan lawan dengan cerdik selalu menghindarkan terjadinya bentrokan. Dia bergerak gesit kian kemari melancarkan serangan-serangan kilat yang selalu berubah-ubah sehingga membuat si muka biru kebingungan.

Memang dalam hal meringankan tubuh dan kegesitan, si muka biru yang gemuk seperti bola itu agak sulit menandingi lawannya yang masih muda. Selama bertahun-tahun Panji Kenanga telah dididik dan melatih diri melompat-lompat di ujung batu-batu sungai yang runcing dan licin berlumut. Dan kini di tanah datar dengan sendirinya bukan satu hal yang sukar baginya untuk bergerak lebih cepat dan gesit. Sambil terus bertempur si muka biru senantiasa memperhatikan gerakan-gerakan ilmu silat lawannya. Lambat laun dia mulai dapat menduga-duga. Untuk meyakinkan dugaannya ini maka diapun membentak.

"Anak setan! Ada sangkut paut apa kau dengan si tua bangka Lokapala dari gunung Raung?!"

Panji Kenanga kaget. Namun cepat-cepat menyahuti, "Selesaikan dulu pertempuran ini, baru nanti bertanya jawab sambil minum-minum kopi!"

"Setan alas!" maki si muka biru geram sekali. Dia berteriak nyaring dan tubuhnya berkelebat lebih cepat tapi jaraknya sengaja diperjauh dari lawan hingga dia dapat melancarkan pukulan-pukulan "kelabang biru" dengan leluasa.

Menghadapi ilmu pukulan lawan yang ampuh ini membuat serangan Panji Kenanga mengendur dan beberapa jurus kemudian pemuda ini terpaksa berada di bawah angin. Si muka biru melipat gandakan kecepatan gerakannya, begitu juga tenaga dalamnya sehingga Panji Kenanga semakin terdesak. Meskipun Panji telah mengeluarkan pula pukulan-pukulan saktinya seperti yang bernama "mega putih"

namun tidak ada gunanya. Dirinya tambah lama tambah kepepet. Dan pemuda ini mulai berpikir-pikir untuk mengeluarkan pedang Gajah Biru yang diberikan gurunya. Tapi karena lawan ma'sih bertempur dengan tangan kosong, hatinya merasa bimbang untuk mengeluarkan senjata tersebut. Dalam pada itu keadaannya semakin kritis juga.

"Muka biru! Keluarkan senjatamu!" seru Panji Kenanga memancing agar lawan mengeluarkan senjata dan dengan demikian dia tidak akan merasa sungkan untuk mencabut pedangnya. Si muka biro tertawa mengejek.

"Untuk melenyapkan bocah setan macammu ini kenapa pakai senjata segala? Lihat ini jurus kematianmu!"

Ucapan itu ditutup oleh si muka biru dengan satu kelebatan tubuh yang luar biasa cepatnya. Tubuhnya lenyap dan tahu-tahu sudah berada di atas lawannya sambil mengayunkan tiriju yung laksana palu godam ke kepala Panji Kenanga, Pemuda ini menunduk seraya menghantamkan pukulan "mega putih" ke perut lawan. Tapi dia terpedaya.

Begitu Panji Kenanga bergerak memukul, si muka biru bergeser cepat ke samping. Pukulan "mega putih" mengenai tempat kosong. Di kejap yang sama si muka biru menyorongkan satu tendangan kilat ke bawah ketiak kanan Panji Kenanga.

Dalam keadaan tubuh masih terdorong ke muka karena dalam kuda-kuda memukul, Panji Kenanga sulit sekali untuk mengelakkan serangan berbahaya itu. Masih diusahakannya untuk mencegah hantaman kaki lawan dengan coba menekuk sikut memukul tulang kering si muka biru. Tetapi itupun terlambat karena saat itu ujung kaki kanan lawan sudah menyelinap di bawah lengannya!

"Celaka!" keluh Panji Kenanga dalam hati.

***

DI SAAT itu, tiba-tiba terdengar suara bergelak. Satu gelombang angin yang amat deras menderu, membuat kedua orang yang tengah berkelahi terpelanting sejauh setengah tombak!

"Tapak Biru! Kau memang terlalu banyak mencari urusan dengan orang lain!"

Panji Kenanga dan si muka biru yang ternyata bernama Tapak Biru sama-sama memalingkan kepala ke arah datangnya suara. Yang bicara ternyata adalah Si Botak Mata Buta yang saat itu telah bangun dari tidurnya tapi masih duduk di bawah pohon sambil mengucak-ucak sepasang matanya yang tidak melihat.

"Botak buta sialan! Memang kalau tidak kubunuh kau sekarang tidak tenteram rasa hatiku! Ini mampuslah!" Tapak Biru lalu memukulkan tangan kirinya ke arah pohon. Untuk kesekian kalinya pukulan kelabang biru berkelebat di situ.

"Mentang-mentang memiliki pukulan baru yang diandalkan sikapmu sombong selangit," ejek Si Botak Mata Buta. "Cuhh!" dia meludah ke tanah dan mengangkat tangan kirinya. Satu gelombang dingin bersiuran keluar dari telapak tangan orang ini dan sekaligus memusnahkan serangan yang amat diandalkan Tapak Biru! Tapak Biru sampai menyurut beberapa langkah melihat bagaimana ilmu pukulannya dibikin musnah semudah itu.

"Sialan! Tidak kusangka bangsat buta ini sudah maju kesaktiannya begitu jauh!" maki Tapak Biru dalam hati. Lalu dia berteriak, "Botak! Berdirilah. Mari kita bertempur sampai seribu jurus!"

"Baik orang gendut," jawab Si Botak Mata Buto seraya berdiri dengan sikap acuh tak acuh dan sambil tepuk-tepuk pantat celana komprangnya.

Justru di saat itu Tapak Biru sudah menerjang menyerangnya dengan satu tendangan kilat. Si Botak tertawa. "Kelicikanmu masih seperti dulu saja, gendut!" Lalu dia cepat-cepat menyingkir dan akibatnya tendangan Tapak Biru mengenai batang pohon di sampingnya hingga patah dan tumbang dan menjadi biru akibat racun kelabang biru.

Penasaran Tapak Biru membalikkan tubuhnya dan kembali lepaskan pukulan kelabang biru ke depan. Di belakangnya terdengar gelak tertawa mengejek.

"Kau toh tidak buta sepertiku, Tapak Biru. Kenapa menyerang tempat kosong?"

Secepat kilat Tapak Biru memutar tubuh dan sekali lagi lepaskan pukulan saktinya. Namun lagi-lagi dia mendengar suara tawa dari arah belakang. Si Botak Mata Buta ternyata telah mempermainkannya. Sebenarnya si buta ini tidak berada di belakangnya. Namun karena dia memiliki semacam ilmu memindahkan suara maka suaranya terdengar seperti datang dari belakang, padahal dia berada di tempat lain tak jauh dari situ!

Menyaksikan bagaimana si buta mempermainkan Tapak Biru mau tak mau Panji Kenanga merasa kagum sekali.

"Botak mata buta mengapa kau hanya berani berkelahi dengan cara pengecut begitu?!" damprat Tapak Biru marah sekali. Rahanqnya bertonjolan dan dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebuah benda bulat sepanjang dua jengkal. Ternyata adalah sebuah seruling yang terbuat dari perak. Sementara itu keadaan di tempat itu telah berubaah menjadi gelap. Apalagi di situ penuh ditumbuhi pohon-pohon berdaun rapat sekali.

"Cara berkelahi bagaimana yang kau inginkan Tapak Biru?" bertanya si buta.

"Mari kita berhadap-hadapan mengadu kekuatan batin!"

"Oh, begitu? Mengadu kekuatan batin berarti tidak mempergunakan senjata bukan heh?!"

Terkejutlah Tapak Biru sedang Panji Kenanga melengak terpaku di tempatnya. Keduanya tak habis pikir. Bagaimana orang buta ini mengetahui kalau lawannya mengeluarkan dan memegang senjata? Meskipun buta namun saat itu tidaklah terlalu sulit bagi Si Botak Mata Buta untuk mengetahui bahwa Tapak Biru telah mengeluarkan senjata. Sinar terakhir matahari yang merambas dari barat telah menimpa seruling yang terbuat dari perak. Sinarnya memantul dan memijar ke muka si botak. Sekalipun buta tapi pijaran sinar itu masih dapat dirasakan oleh urat-urat syarap di belakang matanya. Cuma tentu saja dia tidak jelas senjata apa yang ada di tangan lawan saat itu.

Tanpa perdulikan ejekan lawan Tapak Biru mementang kedua kakinya, mengalirkari tenaga dalam ke perut dan mendekatkan ujung seruling ke bibirnya. Terdengar suara seruling mengalun. Mula-mula perlahan lalu makin keras dan makin merdu. Si botak bergerak-gerak sepasang matanya yang buta. Baik dia maupun Panji Kenanga sama-sama tercekat dengan alunan suara seruling itu. Namun tanpa disadari oleh Panji Kenanga, lambat laun kepalanya menjadi pusing dan berat sedang pemandangannya mulai berbinar-binar. Lututnya goyah dan tubuhnya perlahan-lahan jatuh duduk di tanah!

Sebaliknya Si Botak Mata Buta masih juga berdiri tak bergerak di tempatnya. Keningnya mengerenyit. Ada kelainan dirasakannya pada denyutan nadinya serta aliran darahnya. Namun di mulutnya tersungging satu senyuman. Setelah menutup jalan pendengarannya diapun membuka mulut,

"Tapak Biru, sejak kapan kau memiliki suling itu? Pasti itu senjata curian heh? Bagusnya kau mengamen masuk kampung keluar kampung, pasti kau bakal mengantongi banyak uang!"

Tapak Biru tidak perdulikan ejekan lawannya. Tiupan serulingnya semakin keras dan tambah merdu.

"Ah, nyanyianmu dari itu ke itu juga Tapak Biru. Bosan telingaku mendengarnya!" kata Si Botak Mata Buta. Lalu diputarnya tangannya di udara tujuh kali berturut-turut. Pada akhir putaran tangan yang ketujuh maka terdengarlah suara menderu seperti suara angin punting beliung. Mula-mula perlahan, makin lamamakin keras hingga menelan suara tiupan seruling Tapak Biru.

Betapapun Tapak Biru memperkeras tiupan serulingnya tetap saja tak terdengar dalam bisingnya suara angin yang diciptakan Si Botak Mata Buta. Malah kini kelihatan si muka biru tubuhnya bergetar dan pakaian serta rambutnya melambai-lambai sedang Panji Kenanga yang tadi terduduk di tanah, begitu suara seruling lenyap baru dia kembali sadar diri dan cepat bangkit. Namun begitu berdiri angin punting beliung itu membuatnya terhuyung-huyung.

Pemuda ini mengerahkan tenaga dalamnya. Tetap saja tubuhnya bergetar dan lututnya sampat goyah. Cepat-cepat dia mendekati sebuah pohon dan bersandar di situ. Putus asa dan jengkel Tapak Biru hentikan tiupan seruling peraknya.

"Bangsat botak ini terlalu lihay bagiku. Di lain hari saja kelak aku bakal menyelesaikan urusan dengan dia," gerutu Tapak Biru dalam hati.

"Hai gendut pendek! Kenapa kau berhenti main suling?" tanya Si Botak Mata Buta.

"Sayang aku tak punya waktu banyak untuk melayanimu," sahut Tapak Biru berdalih. "Hari ini masih kuberi kesempatan padamu untuk bernafas beberapa lama lagi. Kelak walau bagaimana nyawa anjingmu akan kutagih untuk melunasi hutang jiwa kematian adikku!"

Si botak tertawa gelak-gelak. Patut diketahui sampai saat itu sepuluh keping uang emas masih menempel di atas batok kepalanya yang plontos.

"Kau memang pandai bersilat lidah. Tak apalah. Kau boleh pergi. Tapi berikan dulu, suling curianmu itu padaku!"

"Jangan temahak jadi manusia!" damprat Tapak Biru. "Suling ini akan kuberikan padamu jika kau sudah kubunuh. Sebagai temanmu dalam liang kubur!"

Si botak usap-usap dagunya dan berkata, "Kalau begitu kau boleh pilih Tapak Biru. Tinggalkan suling itu atau tinggalkan nyawamu!"

"Botak, jangan melantur! Hari sudah mau malam. Tak banyak waktu untuk mendengarkan celotehanmu!"

"Selesai berkata begitu Tapak Biru cepat-cepat memutar tubuh hendak berlalu. Di belakangnya terdengar si botak berseru.

"Suling atau nyawamu, gendut!"

Di kejap itu juga si botak sudah berada di hadapan Tapak Biru, menghadang larinya. Tapak Biru berkelebat ke jurusan lain. Namun lebih cepat dari itu si botak sudah menghadang pula di depannya. Sekali lagi dia melesat ke samping, sekali lagi pula si botak muncul menghadang di hadapannya. Dihalangi begitu rupa Tapak Biru jadi marah sekali tapi juga bingung melihat kehebatan lawan. Dia menerjang dengan menghujamkan suling perak ke arah kening lawan. Yang diserang begitu merasakan datangnya angin serangan ke arah kepalanya, cepat menunduk lalu menggerakkan kedua tangannya serentak. Yang kiri memukul dada Tapak Biru sedang yang kanan menyantakkan seruling perak.

Tapak Biru terpekik kesakitan. Disamping itu dia juas terkejut karena suling perak di tangan kanannya tiada lagi sedang di depannya Si Botak Mata Buta tertawa gelak-gelak.

"Masih inginkan suling ini! Ambillah!" kata si botak seraya bolang-balingkan suling perak yang kini berada dalam genggamannya.

Tapak Biru mendengus dan membantingkan kaki ke tanah lalu meninggalkan tempat itu diantar suara tertawa mengekeh si botak. Selagi Panji Kenanga menyaksikan hal itu dengan menahan tawa tiba-tiba si botak berkelebat dan tahu-tahu Panji Kenanga merasakan satu pukulan keras menghantam belakang kepalanya. Tak ampun lagi murid Brahmana Lokapala dari gunung Raung ini roboh dan pingsan!

***

KETIKA Panji Kenanga sadarkan diri didapatinya hari telah malam. Keadaan sekitarnya gelap gulita. Tiupan angin dingin sekali menusuk tulang-tulangnya. Di kejauhan sesekali terdenger suara burung hantu mambuat auasana serasa mengerikan. Perlahan-lahan pemuda ini berdiri. Dirabanya bagian belakang kepalanya yang terasa mendenyut sakit. Dia terkejut sewaktu satu bayangan putih besar bergerak di sampingnya. Ketika dia berpaling tarnyata adalah kuda kesayangannya Angin Salju. Panji tersenyum dan menarik nafas lega. Dijentikkannya tangannya memberi tanda. Binatang itu datang mendekat.

Panji Kenanga langsung naik ke punggung Angin Salju. Sambil mengusap leher kuda ini dia berkata, "Bawa aku keluar dari tempat celaka ini, sobat."

Seakan mengerti akan maksud tuannya Angin Salju melompat dan lari meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian binatang ini sudah menempuh sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah bukit. Dalam kencangnya lari Angin Salju, Panji Kananga merasakan sesuatu menggandul di leher serta memukul-mukul dadanya. Sebenamya hal itu terasa sejak tadi namun karena pemuda ini hanya memikirkan peristiwa yang barusan dialami maka hal itu tak terperhatikan olehnya.

Panji Kenanga menunduk memperhatikan dadanya. Terkejutlah pemuda ini. Tangan kanannya menyentak tali kekang kuda hingga Angin Salju dengan serta merta hentikan larinya. Pada sehelai benang yang terkalung dilehernya menggandul sebuah benda putih panjang yang bukan lain adalah seruling perak yang telah dirampas Si Botak Mata Buta dari tangan Tapak Biru.

"Bagaimana benda ini bisa tergantung pada leherku?" tanya Panji Kenanga pada diri sendiri.

Digerakkannya tangannya. Sekali renggut putuslah benang penggantung seruling. Panji menimang-nimang benda itu beberapa lama dan berpikir-pikir. Tak dapat disangsikan lagi tentu Si Botak Mate Buta yang punya kerja. Mula-mula orang aneh itu memukul kepalanya hingga pingsan. Dalam keadaan pingaan lalu dia menggantungkan seruling perak di lehernya.

"Tapi mengapa hal itu dilakukannya?" muncul lagi pertanyaan baru dalam hati si pemuda. Dan pertanyaan ini tak kunjung dapat dijawabnya.

Panji memandang ke langit. Bintang-bintang bertaburan berkelap-kelip. Bulan sabit muncul di balik sekelompok awan. Si pemuda meneliti suling perak di tangan kanannya itu. Pada waktu itulah dilihatnya segulung kertas pada ujung sebelah bawah. Segera gulungan kertas ini dicabutnya. Ketika dibuka di dalamnya ternyata ada beberapa baris tulisan yang berbunyi.:



Pembalasan harus dilakukan

Tapi akal pikiran harus diutamakanKutitipkan Suling Perak padamuBertemu pemiliknya harap serahkan.Walaupun di bawah tulisan itu tidak tertera tanda atau nama pembuat surat namun Panji Kenanga sudah bisa menduga bahwa surat itu dibuat oleh orang botak yang lihay itu. Dua kali orang itu memberi nasihat agar mempergunakan akal pikiran bila dia hendak melakukan pembalasan. Pertama dalam nyanyian pada pertemuan waktu hujan lebat dan kedua dalam surat tersebut "Kalau begitu besar kemungkinan dugaanku meleset," kata Panji dalam hati. "Agaknya dia bukan kaki tangan atau bergundal Istana Darah." Kembali Panji menimang-nimang suiing perak itu. Siapakah gerangan pemilik sebenarnya benda itu? Mengapa justru Si Botak Mata Buta menitinpkannya padanya? Akhirnya Panji menyelipkan suling tersebut di balik pinggang pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan lagi kemana Angin Salju membawanya. Tak selang berapa lama di kejauhant kelihatan kelap-kelip nyala api.

"Sobatku, larilah ke arah nyala api itu. Di sana pasti ada sebuah desa atau kampung. Kita bisa istirahat di sana malam ini," bisik Panji Kenanga.

Angin Salju mengeluarkan suara reperti melenguh tanda dia mengerti betul apa yang dimaksudkan tuannya. Dan binatang ini lebih mempercepat larinya.

***Kampung Warnasari sebenarnya tak tepat lagi disebut sebagai kampung karena jumlah rumah yang ada di situ banyak sekali. Di samping itu terdapat pula tiga buah jalan besar serta jalan-jalan kecil. Lebih tepat kiranya bilamana Warnasari dikatakan sebagai sebuah kota kecil. Malam itu Warnasari diliputi kesunyian. Namun kesunyian sekali ini jauh berbeda denqan kesunyian seperti biasanya. Kesunyian kali ini adalah kesunyian yang dipaksakan oleh keadaan. Dan keadaan itu dibuat oleh sekelompok orang-orang yang saat itu berada di kedai paling besar di Warnasari.

Dalam kedai itu suasana biasanya ramai. Suara orang-orang yang asyik mengobrol sesekali dipecahkan oleh gelak tawa berderai. Tiga orang laki-laki berpakaian serba hitam dan bertampang bengis duduk di tengah kedai. Mereka inilah yang membuat suasana tidak seperti biasanya lagi. Tak ada yang berani bicara keras apalagi tertawa.

Di atas meja di hadapan mereka terhidang segala macam makanan yang enak-enak serta minuman yang lezat-lezat. Demikian banyaknya makanan dan minuman itu hingga dua buah meja terpaksa digabung menjadi satu.

Pemilik kedai seorang laki-laki tua bemama Ki Sepuh Bawean, berdiri di sudut kedai dengan muka seputih kertas, lutut gemetar. Tiga orang pelayan berdiri disampingnya. Seperti pemilik kedai para pelayan inipun berada dalam ketakutan yang amat sangat. Sebelumnya kedai itu dipenuhi oleh selusin tamu. Namun begitu tiga manusia ini masuk, para tamu yang ada di situ cepat-cepat membayar makanan dan minuman masing-masing lalu keluar dari kedai. Bahkan ada di antara mereka yang belum sempat mencicipi makanan ataupun minuman namun karena kawatir cepat-cepat saja berlalu.

Tiga tamu berpakaian serba hitam melahap makanan di atas meja laksana singa-singa buas yang telah berhari-hari tidak makan. Di pintu belakang kedai tiga orang berseragam hitam lagi tampak berdiri sedang di pintu depan lima orang dengan pakaian yang sama tampak berjaga-jaga sambil bertolak pinggang dan menghisap rokok.

"Hai Bawean!" sentak salah seorang dari tiga laki-laki yang tengah makan dalam kedai. "Bawa ke sini satu kendi tuak baru untukku!"

Dengan tergopoh-gopoh pemilik kedai meninggalkan tempatnya kemudian muncul kembali membawa sebuah kendi berisi tuak. Minuman ini di letakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja lalu kembali ke tempatnya semula di sudut kedai menunggu perintah selanjutnya.

"Lama juga anak-anak pergi memanggil kepala kampung itu," kata salah seorang yang duduk melahap makanan. Namanya Ronggokarapan. Dia adalah kepala dari semua orang yang berpakaian serba hitam itu. Pimpinan gerombolan rampok yang paling ditakuti di daarah sekitar hulu Kali Bedadung. Dua orang yang ikut makan bersamanya adalah orang-orang kepercayaannya alias tangan kanannya yang masing-masing bernama Randuwongso dan Taliwongso. Keduanya kakak beradik.

Dulunya Randuwongso dan Taliwongso merupakan pimpinan rampok yang malang melintang sepanjang Kali Bedadung. Dalam masa yang sama di daratan Ronggokarapan bersama beberapa anak buahnya melakukan kejahatan yang serupa. Pada suatu kali terjadilah pertemuan yang tidak disangka-sangka antara duao kelompok penjahat itu. Pertempuran tak dapat dihindarkan. Namun Ronggokarapan memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua bersaudara itu. Taliwongso dan Randuwongso berhasil dikalahkannya dan sejak itu Ronggokarapan menjadi pimpinan dari gabungan dua kelompok penjahat itu. Meskipun dua bersaudara Wongso itu pada dasarnya menanam dendam kesumat terhadap Ronggokarapan namun mereka menyadari adalah mencari mati jika mereka berani melakukan sesuatu selagi ilmu kepandaian mereka jauh di bawah Ronggokarapan.

Di kejauhan terdengar derap kaki kuda.

"Itu pasti anak-anak," kata Randuwongso.

Ronggokarapan menyeringai.

"Kali ini kepala kampung itu harus dihajar habis-habisan. Biar dia tahu rasa!" kata pamimpin rampok itu lalu memandang ke pintu. Saat itu di luar kedai suara rentak kaki kuda terdengar semakin dekat. Lima anak buah rampok yang tegak di ambang pintu memandang ke ujung jalan.

Tak selang berapa lama dari tikungan di ujung jalan muncullah seekor kuda putih berikut penunggangnya. Mendekati kedai itu si penunggang memperlambat lari kudanya. Di depan kedai dilihatnya hampir seluruh kuda tertambat sedang di ambang pintu lima orang berpakaian serba hitam dan rata-rata bertampang buas tegak berjejer membuat hatinya kurang enak dan curiga.

Si penunggang kuda yang bukan lain adalah Panji Kenanga berpikir sejenak. Lalu menghentikan Angin Salju di depan kedai dan melompat turun. Perutnya sangat lapar dan memang dia musti berhenti di situ karena malam buta begini di mana pula akan mencari kedai lain yang masih buka. Dia tengah melangkah ke pintu kedai ketika salah seorang dari lima manusia yang tegak menghadang di pintu masuk menegurnya. "Orang muda, putar langkahmu. Tak satu orangpun boleh masuk ke dalam!"

Panji Kenanga berpaling don memandang muka orang itu.

"Memangnya ads apa?" tanya si pemuda.

"Tak usah banyak bacot!" sentak kawan rampok yang satu lagi. "Masih untung kau disuruh pergi baikbaik. Kalau cuma roh busukmu yang disuruh minggat sedang tubuh anjingmu tinggal di sini, baru kau tahu rasa!"

"Oh, kalau begitu itu lain ceritanya sobat," Mata Panji Kenanga seraya tersenyum. Dia sudah maklum kini dengan manusia-manusia macam apa sebenarnya dia sedang berhadapan. Acuh tak acuh dia meneruskan langkahnya menuju pintu kedai.

"Kurang ajar! Dikiranya kita ini siapa!"

Rampok yang membentak melompat ke hadapan Panji Kenanga seraya bacokkan goloknya ke kepala pemuda ini. Si pemuda cepat manyingkir. Golok yang menderu menembus udara kosong terus menghantam dinding kedai!

***

"HAI! Ada apa ribut-ribut di luar sana?!" terdengar bentakan Ronggokarapan dari dalam kedai. Kedua pembantunya segera berdiri dan melangkah ke pintu.

"Ada apa disini?!" tanya Randuwongso.

"Pemuda kurang ajar ini hendak memaksa masuk ke dalam kedai!" jawab salah seorang perampok.

"Bah, kukira ada apa. Hanya seekor monyet kesasar kalian ribut-ribut macam orang keblinger!" kata Taliwongso lalu kembali masuk ke dalam. Sementara itu sambil bertolak pinggang Randuwongso menatap si pemuda asing dan bertanya dengan kasar.

"Pemuda hina dina, kau siapa?!"

"Namaku Panji Kenanga. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak boleh masuk ke dalam kedai. Toh kedai ini bukan punya nenek moyangnya!"

"Hem..." Randuwdngso tersenyum buruk lalu berkata, "Kau tidak mengerti. Jadi mau kubikin mengerti?"

Dia berpaling pada lima orang anak buahnya yang ada di halaman kedai. "Hajar monyet alas ini sampai dia mengerti!"

Serempak dengan itu kelima orang perampok tersebut menerjang menyerang Panji Kenanga. Namun gerakan mereka terhenti karena saat itu dari dalam kedai terdengar seruan Ronggokarapan.

"Randu! Biarkan monyet alas kesasar itu masuk! Aku mau lihat tampangnya!"

Melihat orang-orang disitu tak jadi turunkan tangan jahat mengeroyoknya karena ada yang berteriak dari dalam. Panji Kenanga segera dapat menduga. Siapapun adanya orang yang barusan berseru dia pastilah pemimpin dari keseluruhan manusia-manusia jahat yang ada di tempat itu.

Panji Kenanga tersenyum pada orang-orang yang ada di sekelilingnya dan berkata, "Nah, apa kataku. Kedai ini bukan milik nenek moyang kalian, kan? Buktinya pemimpin kalian sendiri yang mengundangku masuk!" Habis berkata begitu dengan lenggang kangkung Panji Kenanga melangkah masuk ke dalam kedai. Satu hal yang tak terduga terjadi sewaktu pemuda ini baru saja masuk dua langkah ke dalam kedai. Sebuah benda melayang pesat ke arah kepalanya!

Saking cepatnya benda itu melesat Panji Kenanga tak sempat mengenali benda apa adanya namun dengan cekatan dia menundukkan kepala dan berhasil mengelakkan hantaman benda tersebut. Seseat kemudian di belakangnya terdengar suara benda tadi pecah berantakan. Pemuda ini melirik. Ternyata sebuah gelas besar yang telah dilemparkan ke kepalanya. Yang melempar adalah lelaki yang duduk mengangkat kaki di belakang meja makan di tengah kedai, bermata merah buas, bercambang bawuk dan berbibir tebal. Dialah Ronggokarapan.

"Bagus, sanggup juga kau mengelak ya?" kata si kepala rampok sambil menyeringai. "Sekarang coba elakkan yang ini!" Kedua tangannya yang bertelapak tebal dan berjari-jari besar digebrakkan ke atas meja. Hebatnya, lima buah piring berisi makanan dan tiga buah gelas di atas meja itu laksana anak panah lepas dari busurnya, melesat ke arah delapan bagian tubuh Panji Kenanga!

Kaget murid Brahmana Lokapala itu bukan main. Tidak disangkanya pemimpin rampok tergebut memiliki kepandaian begitu hebat. Dengan gesit Panji Kenanga cabut suling perak dari balik pinggangnya. Lalu terdengar suara trang-trang-trang sampai delapan kali berturut-turut. Lima buah piring dan tiga gelas berhamburan pecah ke lantai.

Kini Ronggokarapan yang ganti terkejut.

"Sobat mata merah! Ini kukembalikan seranganmu!" seru Panji Kenanga tiba-tiba. Si pemuda hantamkan kaki kanannya ke lantai kedai. Puluhan pecahan piring dan gelas yang ada di lantai, laksana daun kering dihembus angin, menderu menyambar ke arah pemimpin rampok Kali Bedadung itu!

Saking kagetnya melihat kejadian yang sebelumnya tak pernah disaksikannya itu Ronggokarapan sampai keluarkan seruan tertahan. Namun dia tahu kalau bahaya mengancam. Kedua tangannya turun dengan cepat ke bawah dan di lain kejap dia telah mengangkat meja makan besar itu ke atas untuk melindungi tubuhnya. Puluhan beling pecahan gelas dan piring menancap pada papan meja. Belasan lainnya bertebaran lewat di sampingnya. Dapat dibayangkan bagaimana kalau puluhan pecahan kaca itu menancap di kepala dan tubuh Ronggokarapan!

"Orang muda, terima kasih atas serangan balasanmu!" kata si kepala rampok keren. "Kau menang. Dan terimalah hadiah kemenanganmu ini!" terdengar suara Ronggokarapan tertawa dari balik meja. Di lain ketika tiba-tiba meja yang besar yang terbuat dari kayu jati dan beratnya tidak kurang dari tujuh puluh kati itu dilemparkannya ke arah Panji Kenanga. Meja itu menderu dahsyat laksana dihantam topan. Panji Kenanga tampak tak bergerak di tempatnya. Tiga jengkal lagi meja besar itu akan melabraknya, pemuda ini angkat kedua tangannya menangkap dua dari empat kaki meja. Lalu dengan gerakan seperti seorang main akrobat meja yang berat itu diletakkannya baik-baik ke lantai tanpa menimbulkan suara sedikitpun!

Semua mata memandang hampir tak berkedip pada pemuda itu. Keadaan dalam kedai jadi sunyi senyap. Di ujung kiri pemilik kedai berdiri dengan tubuh menggigil. Apa yang disaksikannya tadi sungguh membuatnya kagum luar biasa tetapi sekaligus juga membuatnya ketakutan. Kalau dua orang berilmu tinggi baku hantam dalam kedainya, pastilah segala perabotan yang ada di situ akan porak poranda. Bahkan bukan mustahil kedainya akan amblas roboh!

Di luar, terdengar derap kaki kuda. Tak lama kemudian tiga orang berpakaian hitam masuk ke dalam kedai menggiring seorang lelaki tua berambut putih, berpipi cekung dan melangkah terbungkuk-bungkuk. Ronggokarapan tidak acuhkan orang-orang yang masuk ini. Dia memandang tak berkedip pada Panji Kenanga. Otaknya jalan.

"Ilmunya tinggi," membatin Ronggokarapan. "Kalau tenaganya dapat kupergunakan, seumur hidup aku bakal enak ongkang-ongkang kaki ..."

Kepala rampok itu tersenyum. "Sobat muda!" katanya seraya lembaikan tangan kiri. "Antara kita tak ada saling sengketa apa-apa. Lupakan cara berkenalanku yang agak kasar tadi!" Dia lalu berpaling pada pemilik kedai dan memerintah, "Bawean, siapkan makanan dan minuman yang paling lezat dan hidangkan pada pemuda ini. Cepat!"

Tanpa banyak bicara, dengan ketakutan Ki Sepuh Bawean segera lakukan apa yang diperintahkan Rondokarpan.

"Sobatku, kau duduklah tenang-tenang di kursi sana, nanti kita bicara lagi," kata si kepala rampok.

Sementara itu Randuwongso datang melapor. "Pemimpin, anak-anak sudah membawa kepala kampung kemari."

Ronggokarapan berpaling. Dia memandang pada lelaki tua berambut putih yang berdiri dengan muka pucat pasi don gemetaran di hadapannya.

"Lawang Kuning!" kata Ronggokarapan menyebut nama Kepala kampung Warnasari itu. "Ingat apa yang kuperintahkan tempo hari?!"

Kepala kampung itu mengangguk berulang-ulang. "Jawab! Dengan mulut!" hardik Taliwongso dan tangannya bergerak menjambak rambut orang tua itu hingga dia merintih kesakitan.

"Ak . . . aku ingat Ronggo," Lawang Kuning akhirnya membuka mulut sambil mengerenyit kesakitan karena rambutnya masih dijambak keras oleh Taliwongso.

"Bagus. Kalau ingat mengapa tidak kau laksanakan!"

"Sulit Ronggo. Sulit! Orang kampung mana ada yang punya uang dan perhiasan. Kami di sini miskin semua..."

"Sulit atau tidak aku tidak perduli! Miskin atau kaya aku tidak mau tahu!" damprat Ronggokarapan.

Randuwongso ikut menghardik. "Dulu kowe bilang bersedia melaksanakan. Mengumpulkan semua harta benda perhiasan orang-orang di sini. Sekarang banyak dalihmu tua bangka!"

Penduduk di sini rata-rata punya sawah ladang. Ternak!" yang bicara kini adalah Taliwongso. "Rumah mereka bagus-bagus. Mustahil tidak punya uang dan perhiasan."

Ronggokarapan geleng-geleng kepala dan tepuk-tepuk pipi kempot Lawang Kuning. "Kalau tidak ingat persahabatan kita dulu, aku sudah pisahkan kepala dan badanmu, Lawang..."

"Justru kalau masih menganggap aku sahabat nengapa kau lakukan tindakan jahat terhadapku? Dan terhadap penduduk Warnasari yang tidak berdosa, tak punya apa-apa!" Lawang Kuning memberanikan diri menyahuti.

Kepala rampok itu tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba suara tawanya berhenti. Dan plak! Satu tamparan mendarat di muka kepala kampung tua itu. Lawang Kuning jatuh terjelapak di lantai. Pemandangannya berkunang-kunang. Pipinya sakit bukan main. Dia merasakan darah mengalir di sela bibirnya yang pecah.

"Hajar dia sampai konyol!" perintah Ronggokarapan pada anak-anak buahnya. Lalu dia duduk ke sebuah kursi.

Yang pertama sekali turun tangan adalah Randuwongso. Kaki kanannya menendang punggung kepala kampung yang masih terduduk nanar di lantai.

Bukk!

Tendangan mendarat di punggung Lawang Kuning. Orang tua ini menjerit mengenaskan. Tubuhnya mencelat menghantam dinding kedai sebelah kamar lalu tergelimpang ke lantai. Dari mulutnya terdengar suara erangan. Lalu diam. Entah pingsan entah mati.

Sesosok tubuh melompat ke hadapan Randuwongso.

"Bangsat! Kau mau apa?!" sentak Randuwongso ketika melihat ternyata Panji Kenanga yang rnenghadangnya.

"Mau mematahkan kakimu yang tadi dipakai menendang!" jawab Panji Kenanqa geram.

"Sobat, jangan jadi orang tolol," berseru Ronggokarapan. "Aku sudah punya rencana bagus untukmu. Biarkan saja tua bangka itu konyol. Tidak sekarang lusapun dia akan mampus juga!"

Panji Kenanga menyeringai. "Kalaupun orang tua ini mati, maka harus ada yang mengantarkannya ke akheratl" Lalu secepat kilat Panji Kenanga kirim kan satu jotosan ke dada Randuwongso. Yang diserang terkejut tak menyangka. Masih untung dia tidak ayal dan sempat mengelak. Perkelahian tak dapat dihindarkan lagi di dalam kedal itu.

Semula Ronggokarapan hendak membentak menyuruh hentikan perkelahian itu. Namun selintas pikiran muncul dalam benaknya. Dengan adanya perkelahian itu dia akan dapat melihat sampai di mana kehebatan pemuda asing yang menurut rencananya hendak dijadikan tangan kanannya itu. Baru berkelahi lima jurus Randuwongso sudah terdesak. Ini membuat perampok tersebut penasaran sekali. Selama ini belum ada orang lain yang dengan tangan kosong sanggup mendesaknya begitu rupa kecuali pemimpinnya.

Didahului satu bentakan garang Randuwongso berkelebat gesit mengirimkan serangan-serangan berantai selama tiga jurus berturut-turut. Tampaknya Randuwongso menjadi nekat. Panji Kenanga berlaku hati-hati. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi pemuda ini berkelebat kian kemari sehingga tak satupun serangan lawan mengenai tubuhnya. Di lain pihak setiap ada kesempatan Panji Kenanga tidak lupa untuk melancarkan serangan ba!asan yang cukup membuat Randu menjadi repot.

Setelah berlalu beberapa jurus Panji mulai melihat kelemahan-kelemahan ilmu silat lawan. Pada satu kesempatan yang paling baik murid Brahmana Lokapala itu keluarkan jurus yang disebut "sekuntum bunga menebar harum." Kedua tangannya membuat gerakan berputar, terpentang ke samping laksana kitiran. Randuwongso merundukkan kepala melihat serangan aneh itu lalu susupkan satu jotosan ke bagian bawah tubuh lawan yang lowong.

Namun rampok ini kalah cepat. Tepi telapak tangan kiri Panji Kenanga mendarat lebih dulu di kuduknya, membuat Randuwongso tersaruk ke muka hampir jatuh terjerembab di lantai kedai! Randuwongso menggeram sakit. Tengkuknya kelihatan gembung merah. Ketika dia berdiri kembali tampak miring. Sepasang bola matanya seperti bernyala-nyala. Kedua tinjunya terkepal.

"Bangsat! Kalau aku tidak dapat memuntir betang lehermu, biar aku berhenti jadi orang!"

Randuwongso sudah siap untuk menerjang Panji Kenanga. Namun saat itu dari arah pintu terdengar suara tawa bergelak. Suara tawa ini membuat semua orang seperti disirap, tertegun di tempat masing-masing.

"Yang sudah mampus kalau bisa ingin hidup kembali! Kenapa yang masih hidup kepingin berhenti jadi orang?! Kalau tidak sinting pasti sedeng!"

***

KETIKA semua orang memandang ke pintu, mereka melihat seorang pemuda berambut gondrong memasuki kedai dengan langkah seenaknya dan sambil cengar-cengir. Hebatnya lagi, di bahu kirinya dia memanggul sesosok tubuh perempuan muda berpakaian merah yang robek-robek di beberapa tempat hingga menyembulkan kulitnya yang putih mulus.

Si pemuda melangkah ke sebuah meja di sudut ruangan. Diturunkannya tubuh perempuan yang dipanggulnya lalu didudukkannya di atas kursi. Semua orang jadi terkesiap ketika menyaksikan wajah perempuan muda itu. Cantik sekali! Tapi sepasang matanya terpejam, bibirnya berwarna biru. Sedang tidur, pingsan atau tertotokkah dia, demikian setiap orang menduga-duga.

Pemuda itu memandang berkeliling. Meskipun ketika akan masuk tadi dia mengumbar tawa dan ucapan lantang namun setelah sampai di dalam dia seperti acuh tak acuh saja dengan segala apa yang terjadi di situ. Dia memandang berkeliling sekali lagi lalu menghentikan pandangannya pada orang tua bermuka pucat di seberang sana.

"Bapak, kau pemilik kedai ini?" tanya si pemuda.

Ki Sepuh Bawean mengangguk. Agak takut-takut.

"Aku perlu kain untuk menutup tubuh gadis ini. Di samping itu perutku juga keroncongan ..."

Ki Sepuh Bawean memandang pemuda itu seketika. Dalam hatinya dia berpikir apakah manusia yang satu ini orang benar atau bangsa sedang brengsek pula yang bakal menambah huru-hara di kedainya. Kemudian dia memandang pula pada gadis berbaju merah yang duduk terpejam. Pakaiannya kotor dan robek-robek. Salah satu robekannya demikian besar hingga pangkal payu daranya yang sebelah kiri kelihatan tarsembul dengan jelas.

"Pak tua, lekaslah. Aku tak punya waktu banyak makan angin di kedaimu ini. Pertolonganmu pasti tak akan kulupakan."

Ki Sepuh Bawean hendak beranjak dari tempatnya. Namun Ronggokarsrpan memberi isyarat dengan larnbaian tangan agar pemilik kedai itu tetap di tempat semula.

Sambil rnenimang-nimang sebuah paha ayam goreng Ronggokarapan bertanya, "Orang asing, kau siapa?"

"Maaf aku datang ke mari bukan untuk berbincang-bincang," jawab si pamuda lalu duduk di samping gadis baju merah yang pingsan. Tentu taja semua orang jadi terkesiap mendengar jawaban pemuda tak dikenal itu. Ronggokarapan sendiri kelihatan marah tampangnya dan duduk ternganga.

"Tambah lagi satu orang edan di kedai ini!" Taliwongso membuka mulut.

Si pemuda tak ambil perduli ucapan itu. Dia berpaling pada pemilik kedai, dan berkata lagi, "Pak, tolong berikan apa yang kuminta."

Ki Sepuh Bawean jadi serba salah dan tak tahu apa yang akan dilakukan. Jika dia memenuhi permintaan pemuda itu maka dia bakal mendapat hajaran dari Ronggokarapan dan anak anak huahnya. Sebaliknya jika dia tidak menolong, hati kecilnya merasa kasihan terhadap tamu muda tersebut yang kelihatannya memang letih, apalagi menyaksikan keadaan garlis yang duduk di kursi. Akhirnya pemilik kedai itu cuma bisa angkat bahu.

Pemuda rambut gondrong itu berdiri.

"Aku tak salahkan engkau kalau takut pada manusia itu," katanya sambil menunding dengan ibu jari tangan kiri ke arah Ronggokarapan. "Jangankan engkau, gorilapun pasti akan kabur melihatnya!"

Selama hidupnya baru kali itu Ronggokarapan dihina orang demikian rupa, apalagi di depan orang banyak dan di muka hidung anak buahnya rendiri!

Tangan kanannya menggebrak meja hingga kayu meja pecah-pecah. Dia berdiri dengan tangan kiri diletakkan di pinggang.

"Monyet gondrong! Berani menghina Ronggokarapan berarti berani menghadapi kematian!"

Si pemuda menyeringai. "Sudahlah, tak sedap bicara denganmu. Dari jauh saja bau mulutmu membuat hidungku seperti mau tanggal!"

"Bangsat rendah!" teriak kepala rampok itu. "Mampuslah!" Ronggokaraprrn menggembor. Tangan kanannya bergetar tanda ada tenaga dalam yang dialirkan ke situ. Tiba-tiba dia menghantam ke depan kirimkan satu pukulan tangan kosong. Selarik angin keras menyambar ke arah dada si pemuda. Meja dan kursi berpelantingan saking hebatnya. Bahkan beberarapa orang anak buah Rongglokarapan cepat menyingkir takut terserempet angin pukulan itu.

Yang diserang rupanya juga bukan manusia sembarangan walau masih muda dan tampangnya kelihatan tolol. Dengan satu gerakan kilat dia melompat seraya menyambar tubuh gadis yang didudukkannya di kursi. Baru saja dia berkelebat dari tempat itu, kursi kosong itu hancur berantakan kena hantaman pukulan tangan kosong Ronggokarapan. Dinding papan di belakangnya ikut pecah-pecah. Dapat dibayangkan bagaimana kalau pukulan ganas tadi mengenai tubuh si gadis yang berada dalam keadaan tidak sadar diri itu!

Baik Ronggokarapan maupun si pemuda tampaknya sama-sama terkejut. Si pemuda tidak menyangka kalau kepala rampok itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi dan benar-benar inginkan nyawanya. Sebaliknya gembong rampok Kali Bedadung itupun tidak mengira kalau si pemuda bakal sanggup mengelakkan serangannya itu bahkan sekaligus mampu menyelamatkan gadis di atas kursi!

Diam-diam Ronggokarapan menyeluh. Mengapa hari ini dia sampai menemui dua orang pemuda yang berkepandaian demikian tinggi. Urusan dengan pemuda pertama tadi belum selesai. Kini muncul satu lagi. Apakah kedua orang ini punya hubungan satu sama lain?

Tanpa mengacuhkan kepala rampok itu, sambil memanggul tubuh gadis yang tak sadarkan diri, pemuda berambut gondrong bergerak cepat menuju bagian belakang kedai.

"Hai! Kau mau kabur ke mana?!" bentak Ronggokarapan mengejar.

Di bagian belakang kedai si pemuda menemukan sehelai kain panjang tergantung. Benda ini segera disambarnya dan dipergunakan untuk menutupi tubuh gadis yang dipanggulnya. Kemudian dengan cepat dia mengumpulkan nasi serta lauk yang dapat ditemuinya di tempat itu, membungkusnya dengan daun dan keluar.

Namun di hadapannya Ronggokarapan dan tiga anak buahnya telah menghadang. Dalam keadaan seperti itu si pemuda masih saja bersikap luar biasa. Tanpa rnengacuhkan orang-orang yang ada di depannya dia berkata pada Ki Sepuh Bawean. "Terserah kau mau bilang aku pencuri. Perutku betul-betul lapar dan aku tak punya uang untuk membeli nasi serta lauk yang barusan kubungkus ini. Kain panjang inipun kupinjam dulu. Atas kebaikanmu aku ucapkan terima kasih. Budi baikmu pasti akan kuingat."

"Bangsat! Lagak bicaramu seperti pemain sandiwara keliling!" Yang membentak adalah Rongaokarapan.

Lalu tanpa banyak menunggu lagi dia tusukkan dua jari tangannya ke mata si pemuda..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.23.49.196
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia