Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

Melihat Purnama menyerbu dengan kapak sakti Luhrembulan cepat putar Pedang Naga Suci 212 lalu dengan sebat dibabatkan ke arah lawan. Ternyata serangan Purnama hanya tipuan belaka. Karena begitu dia melihal gerakan tangan Luhrembutan yang memegang pedang. Purnama cepat rundukkan kepala Pedang Naga Suci 212 lewat di atas kepala Purnama.sempat membabat putus sejumput rambutnya yang hitam dan membuat gadis ini terpekik, Dalam keadaan sekujur tubuh terasa dingin akibat serangan pedang. Purnama masih mampu lancarkan serangan ke dua berupa babatan kapak membalik ke atas. "Purnama Jangan!" Teriak Wiro. Namun terlambat. "Craassss!!" Kapak Naga Geni 212 menyapu lebih dulu di atas dada LUHREMBULAN! Gadis alam gaib ini terpekik keras.

*****

PULAU Watu Gilang di pantai Parangkusumo. Dua bukit karang menjulang tinggi di kegelapan malam.

Pendekar 212 Wiro Sableng yang baru saja menabas putus leher Patih Kerajaan Wira Bumi mengusap kuduk yang terasa dingin mengkirik. Bulu roma merinding. Dia merasa ngeri sendiri.

"Edan, kalau dia tidak mempergunakan ilmu setan, tidak menyamar Jadi Nyi Retno Mantili untuk merampas bayi Itu, aku mungkin tidak akan membunuhnya! Aku sekarang Jadi pembunuh! Pembunuh Patih Kerajaan!

PikanUrusan lagli, Perkara lagi! Geblek! Sial."

Murid Sinto Gendang menggaruk kepala, memandang sekeliling pulau yartg diterangi belasan obor. Di pantai Parangtritis dan Parangkusumo ratusan orang berdatangan untuk merayakan malam Satu Suro.

Biasanya mereka Juga menyeberang ke pulau Watu Gilang. Namun karena ombak di laut sedang besar, sampai saat itu belum ada seorangpun yang datang.

"Waktu aku bertemu perempuan itu bersama boneka kayunya di Bantul, dia berjanji akan datang menemuiku di pantai Parangtritis pada malam Satu Suro Ini. Yang datang ternyata Wira Bumi, merubah diri Jadi Nyi Retno Mantili. Berarti yang kutemui di Bantul sejak semula memang bukan Nyi Retno Mantili yang asli. Edan! Lalu sekian lama dimana perempuan itu bersembunyi. Ah, aku tidak yakin dia sembunyi. Mungkin pergi ke satu tempat. Apa dia benar-benar marah padaku?" Wiro terdiam sejenak. Dadanya mendadak berdebar oleh rasa kawatlr ketika hatinya berucap. "Jangan-jangan Nyi Retno telah dibunuh Wira Bumi atau gendaknya yang bernama Nyai Tumbal Jiwo itu."

Kalau saja saat itu dua nenek sakti yaitu Nyai Roro Manggut dan kembaran ke tiga Eyang Sepuh Kembar Tilu masih ada bersamanya Wiro mungkin bisa bicara bertukar pendapat dan pikiran. Sayang mereka telah menyeberang ke Parangtritis untuk melihat keramaian malam Satu Suro. Wiro akhirnya pergi ke pantai, ke tempat dimana dia sebelumnya meninggalkan perahu di bagian selatan pulau.

Ketika sampai di perahu dan hendak mengambil kayu pendayung mendadak dia melihat seorang perempuan muda cantik jelita, berpakaian sangat seronok berbaring meneientang di lantai perahu. Dua tangan dan kaki dikembang, diletakkan di atas pinggiran perahu. Tubuhnya nyaris tersingkap di setlap bagian.

Betul-betul menggoda! Namun murid sinto gendeng tenang saja. Dia sudah banyak pengalaman dengan hal dan kejadian seperti Ini. Wiro tidak mengenal siapa adanya si cantik ini.

"Kau siapa?" tanya Pendekar 212, Dia berpikir jangan-jangan mahluk jejadian lagi.

Yang ditanya tersenyum. Giginya tampak rata dan putih.

"Namaku Nyi Wulas Pikan..."

"Nama bagus. Tapi aku tidak mengenalmu. Apakah kau mengenalku sebelumnya?"

"Tentu saja aku mengenalmu," jawab si cantik.

"Bahkan mulai malam ini kau telah menjadi kekasihku. Pengganti Wira Bumi yang telah kau bunuh..."

Pendekar 212 undur satu langkah. Memperhatikan lekat-lekat wajah perempuan muda yang berbaring menelentang di atas perahu sambil menggaruk kepala.

"Kepalamu gatal? Apa banyak kutunya? Mau aku carikan kutu, aku bersihkan? Mungkin rambut lain di tubuhmu Juga banyak kutunya! Hik... hik... hik." Si cantik tertawa cekikikan.

Wiro menyeringai. Lalu berkata. "Aku ingat, kau ... kau adalah perempuan yang berbuat mesum dengan Patih Kerajaan di balik semak belukar di tepi pantai..."

"Waw! Jadi kau mengintip rupanya?! hik... hik? Dengar, mengintip itu cuma bikin pusing kepala. Kau tidak mau melakukannya sendiri?"

Wiro pencongkan mulut lalu menggeleng.

"Ah, aku tahu. Kau tidak mau mendapat yang bekas. Lihat, wajahku bisa berubah-ubah. Kau tinggal mengatakan pilih yang mana."

Diiringi suara tawa panjang rupa perempuan di atas perahu berubah berulang kali. Semua menampilkan wajah-wajah cantik. Wiro sempat terperangah ketika melihat dua di antara wajah-wajah itu sangat menyerupai wajah Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur.

"Kau pasti Jejadian Nyai Tumbal Jiwo!" kata Pendekar 212.

"Lebih baik kau kembali ke ujud aslimu!" Lalu Wiro angkat tangan kanan, siap melepas pukulan. Tangan Dewa Manghantam Batu Karang. Pukulan sakti Ini dipelajari Wiro dari Kitab Putih Wasiat Dewa yang didapatnya dari Datuk Rao Basaluang Amen.

Namun sebelum pukulan itu melesat sosok perempuan cantik di atas perahu yang mengaku Nyi Wulas Pikan telah lenyap dari pemandangan. Yang terdengar hanya suara tawa cekikikan yang kemudian juga lenyap seolah masuk menghilang ke dalam laut, ditelan gemuruh ombak. Perahu yang terkena pukulan hancur berentakan berkeping-keping.

Wiro berbalik. Dia melengak kaget dan keluarkan seruan tertahan lalu menyumpah panjang pendek karena begitu berbalik kakinya menendang sesuatu.

Ternyata yang tertendang adalah sosok Wira Bumi.

Anehnya tubuh dan kepala yang sebelumnya kutung terpisah tergeletak kini dalam keadaan saling berdekatan. Mulut menganga, mata kanan mencelat!

Namun di lain kejap sosok itu kemudian lenyap dari pemandangan.

"Edan! Edan!" maki Wiro berulang kail.

"Hik... hik."

Tiba-tiba ada tawa mengiang di telinga Wiro.

"Ini aku lagi. Kekasihmu. Nyi Wulas Pikan. Setelah aku mengurus mayat Wira Bumi, apakah malam ini kita bisa bersenang-senang sampai pagi di pulau yang sepi ini? Suara tetabuhan gamelan di pantai seberang akan mengalun! percintaan kita. Bukankah Indah sekali?"

"Hik..hik!" Saking kesalnya Wiro menirukan tawa mengiang lalu memaki."Gila! Edan!"

"Gila! Edan! Yang gila dan yang edan itu yang paling enak! Kita akan sama-sama merasakan kelak! Kita berdua pasti cocok. Kalau kau sudah merasakan hemmm ... Kau tidak akan meninggalkan diriku seumur-umur! Dan aku akan setia padamu! hik ... hik ...hik!"

"Setan perempuanl Mampuslah!" teriak Wtro. Lalu tidak kepalang tanggung dia hantamkan tangan kanan melepas pukulan Sinar Matahari ke arah datangnya suara mengiang. Hawa panas menghampar. Cahaya putih menyilaukan berkiblat di Watu Gilang. Membuat terkejut dan heran semua orang yang ada di pantai Parangtritis dan Parangkusumo. Namun yang dihantam pukulan sakti itu hanya udara malam kosong. Dua belas obor hancur berantakan. Keadaan di atas pulau menjadi gelap.

"Sialan! Sialan!" maki Wiro berulang kali.

"Tidak siali Tidak sial! Kau beruntung mendapatkan diriku! Aku beruntung mendapatkan dirimu!"

Suara mengiang kembali terdengar di telinga Wiro.MASIH dalam suasana malam Satu Suro. Menjelang pagi Kota raja yang ramai dengan berbagai perayaan menyambut pergantian tahun berangsur-angsur sepi.

Sebelumnya di berbagai tempat terdapat banyak panggung hiburan. Arak-arakan yang membawa obor dan lampion berputar-putar sepanjang Jalan di dalam kota. Berbagai alat bunyi-bunyian seperti gendang, beduk kecil ditabuh, Seruling dan terompet ditiup melengking keras. Menjelang pagi suasana berangsur sepi. Sewaktu hujan rintik-rintik turun dan hawa dingin mulai membungkus Kotaraja, keadaan Jadi benar-benar sunyi. Hanya sesekali terdengar suara lolongan anjing di kejauhan.

Dalam kegelapan malam yang dipagut hawa dingin, dari arah barat tampak sebuah gerobak ditarik seekor kuda hitam bergerak memasuki Kotaraja. Luar biasanya, gerobak ini membawa sebuah peti mati dari kayu kasar, ditutup secarik kain merah. Dan ternyata gerobak ini menuju ke Gedung Kepatihan yang terletak di selatan alun-alun.KETIKA gerobak yang ditarik kuda hitam meluncur ke arah pintu gerbang yang tertutup dua pengawal penjaga pintu gerbang serta meria menghadang sambil melintangkan tombak besi berujung tajam.

Pengawal di sebelah kanan hendak membentak kusir gerobak. Namun begitu melihat sosok dan tampang kusir gerobak, mulurnya langsung terkancing dan wajahnya menjadi pucat. Pengawal yang satu lagi tertegun mendelik, juga tak mampu keluarkan suara.

Kusir gerobak ternyata adalah seorang nenek bermuka seseram setan, berambut merah panjang riap-riapan, mengenakan pakaian merah. Seluruh kulit termasuk kulit wajahnya Juga berwarna merah.

Sepasang mata yang laksana api Jadi bertarnbah seram karena dilingkari sepasang alis berwarna merah menjulai! Ketika dia menyeringai tampak daratan gigi yang hanya tinggal beberapa buah serta lidah yang basah merah.

"Buka pintu gerbang!" SI nenek memerintah dengan suara bergaung membuat dua pengawal tambah ketakutan.

Karena yang diperintah tidak bergerak dan tidak bersuara, si nenek tidak sabaran gerakkan tangan kanan. Selarik sinar merah melesat "Braaakkk"

Pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu besi tebal dan kokoh hancur berantakan. Si nenek sentakkan tali kekang kuda. Pada saat gerobak meluncur melewati pintu gerbang baru dua pengawai sadar. Keduanya berteriak keras dan berusaha menghalangi. Salah seorang dari mereka malah melompat naik ke tempat duduk kusir.

"Manusia-manusia kurang ajar! Tidak tahu diri! Apa tidak melihat aku membawa barang keramat?!"

Tangan kiri si nenek bergerak.

"Bukk"

Pengawal yang melompat ke atas kereta terpental.

Tergelimpang di tanah tak berkutik lagl.Tulang dada hancur!

Pengawai satunya melihat apa yang terjadi dengan temannya berteriak marah lalu melemparkan tombak besi ke arah si nenek. Orang yang diserang cuma menyeringai. Sekali tangannya diangkat tombak besi berhasil ditangkap lalu dilempar balik ke arah perajurit yang tadi menyerang. Perajurit pengawal hanya sempat keluarkan suara jeritan pendek lalu roboh ke tanah dengan dada ditambus tombaki.*****PAGI harinya Gedung Kepatihan geger besar.Yang pertama sekail melihat gerobak berhenti di depan gedung adalah seorang pembantu lelaki yang setiap pagi biasa menyapu membersihkan halaman.

"Aneh, pagi-pagi begini ada gerobak di depan Kepatihan. Kusirnya tidak kelihatan. Siapa yang membawa?" Pembantu ini melangkah mendekati.

Beberapa langkah di samping gerobak gerakannya terhenti ketika pandangannya membentur peti mati berselubung kain merah. Dia mencium bau aneh.

"Bau busuk... Seperti bau busuk bangkai.„." Ucap tukang sapu dalam hati. Rasa takut mendadak saja menggerayangi diri.Terlebih ketika dia memandang ke arah kiri dan melihat pintu gerbang dalam keadaan hancur berentakan. Lalu ada dua perajurit tergeletak

tak bergerak. Salah satu dengan dada ditancapi tombak. Seekor anjing tengah menjilati cairan merah di dada perajurit yang sudah jadi mayat itu.Tengkuk tukang sapu merinding dingin. Dia segera saja berteriak-teriak memanggil pengawal.

Lebih dari selusin pengawal kemudian mendatangi halaman depan Gedung Kepatihan. Empat orang lari ke arah pintu gerbang dimana dua pengawal tergeletak tewas. Sisanya mengerubungi gerobak. Bersama mereka Ikut seorang kakek berjubah gombrong hitam berkepala botak yang dicat hitam. Kakek ini adalah seorang tokoh silat golongan hitam yang menjadi salah seorang pembantu kepercayaan Patih Wira Bumi dikenal dengan nama panggilan Kloneng Hitam. Wajah si orang tua botak tampak berkerut Hatinya membatin. Dia seolah sudah tahu apa yang terjadi dan mayat siapa yang ada dalam peti mati.

"Malapetaka besar akhirnya datang juga. Kepala Pengawal Bantarangln tewas. Juga Perwira Tinggi Suko Daluh. Lalu tokoh silat Ki Wulur Jumena dan Ki LuwakIreng terbunuh. Sekarang..." Kioneng Hitam tidak teruskan ucapan hati dia berteriak pada para pengawal Kepatihan yang mengerubungi gerobak.

"Jangan diam saja! Lekas turunkan peti mati itu!"

Seorang pengawal menarik kain merah yang menyelubungi peti mati. Delapan orang kemudian dengan susah payah menurunkan peti mati ke tanah. Bau busuk semakin santar.

"Buka tutup peti mati!" perintah kakek kepala botak hitam.

Delapan pengawal yang barusan menurunkan pati mati sesaat tertegun. Wajah mereka jelas menunjukkan rasa bimbang dibalut ketakutan.

"Perajurit-perajurit pengecut!" maki Kloneng Hitam.

Kakek botak ini pergunakan kaki kiri menendang pinggiran peti mati hingga papan penutup peti mati terpental, melesat ke udara. Dalam keadaan tanpa penutup, apa yang ada di dalam peti mati terpentang jelas. Semua pengawal yang ada di sekeliling peti bersurat mundur, keluarkan saruan tertahan dan serentak menutup hidung.

Kloneng Hitam walau sudah menduga tak kurang kaget di dalam peti mati tergeletak mayat Patih Wira Bumi. Yang mengerikan kepalanya terpisah dari badan.

Mata kiri dibalut kain hitam. Mata kanan melotot mencelet. Mulut menganga. Bagian yang kutung bekas tabasan senjata tajam tampak telah membusuk. Bagian tubuh yang luka inilah yang menebar santar bau busuk.

Kloneng Hitam menyuruh para pengawal menutup peti mati kembali lalu dia masuk ke dalam Gedung Kepatihan menemui Ni Ketut Ragi, perempuan keturunan Bali yang menjadi Kepala Pelayan di Gedung Kepatihan.

"Ni Ketut, beri tahu kedua istri almarhum kanjeng Patih Kerajaan apa yang terjadi. Tapi cegah kalau mereka Ingin melihat jenazah."

Begitu tahu kalau majikannya telah meninggal dunia, Nl Ketut Ragi sambil menangis pergi menemui dua orang Istri Patih Wira Bumi yang tinggal di dua bangunan terpisah. Seperti' diketahui Wira Bumi memiliki tiga orang istri. Istri ketiga dan yang paling muda adalah Nyi Retno Mantili. Pagi Itu Juga seluruh penghuni Gedung Kepatihan dilanda kegegeran. Ratap tangis terdengar dimana-mana.

Kioneng Hitam sendiri kemudian masuk ke dalam sebuah kamar rahasia yang diketahuinya sering dipakai Wira Bumi untuk bersemadi dan bertemu serta bercinta dengan gurunya Nyai Tumbal Jiwa. Cukup lama kakek kepala botak Ini berada dalam kamar. Dia berusaha merenung dan berpikir mencari tahu siapa adanya orang yang telah membunuh Patih Wira Bumi.

"Setahuku Patih Wira Bumi baru saja mendapatkan ilmu dari seorang nenek sakti di pantai selatan. Dengan ilmu yang dimilikinya tidak mudah bagi musuh untuk menghabisinya." Kekek botak Ini terus merenung. "Aku Ingat cerita Patih Wira Bumi tentang golok besar miliknya yang pernah hilang. Mungkin dengan menjajagl dimana keberadaan senjata itu aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku harus menemui seseorang. Aku juga harus mengutus seseorang untuk melapor ke Istana"

Kioneng Hitam keluar dari kamar. Langkahnya tertahan ketika entah dari mana datangnya tahu-tahu di ambang pintu telah berdiri seorang nenek bermuka setan. Wajah, pakaian serta rambut berwarna merah menyala. Walau berkepandaian tinggi dan punya banyak pengalaman namun menghadapi nenek angker ini Kloneng Hitam bergetar juga nyalinya.

"Kakek botakl Kau telah berlaku lancangi. Memasuki kamar rahasia Patih Kerajaan tanpa Izin!" si nenek berkata. Suaranya perlahan tapi menimbulkan gaung aneh di dalam kamar.

"Kau siapa? Punya hak apa menegurku?!" Balik menjawab Kloneng Hitam.

"Kau tidak layak bertanya.Tapi biar kujawab agar kau tahu diri! Aku Nyai Tumbal Jiwo Guru Patih Kerajaan Wira Bumi!"

Kloneng Hitam tertegun sesaat talu berkata.

"Ah, aku tidak menyangka. Terima salam hormatku."

SI kakek lalu membungkuk memberi penghormatan.

Setelah berdiri lurus-lurus dia berkata.

"Aku tidak bermaksud beri ancang diri. Aku memasuki kamar dalam menjajagl kalau-kalau ada sesuatu yang bisa aku jadikan bahan untuk mencari tahu siapa pembunuh Patih Kerajaan."

"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Semua tanggung jawab ada padaku! Aku yang akan mencari pembunuh Patih Wira Bumi!"

"Aku... aku sangat berterima kasih kalau kau mau melakukan, Nyai." Kata Kloneng Hitam pula walau dalam hati dia merasa tidak enak. Sebagai tokoh silat golongan hitam sedikit banyak dia tahu mahluk macam apa adanya Nyai Tumbal Jiwo.

"Kalau kau sudah mengerti pergilah! Jangan sekali lagi berani berlaku lancang. Apa lagi masuk ke dalam kamar ini!"

"Baik Nyai." Ucapanmu akan aku ingat baik-baik!" Jawab Kloneng Hitam. Lalu cepat-cepat tinggalkan tempat itu.

Setelah Kloneng Hitam pergi, Nyai Tumbal Jiwo masuk ke dalam kamar, langsung merebahkan diri menelentang di atas ranjang. Mulutnya berucap perlahan.

"Pendekar Dua Satu Dua, kekasihku. Kalau kau ada di sini alangkah bahagianya diriku. Hanya kau seorang yang mampu menjadi pengganti Wira Bumi."

Sambil membayangkan wajah Wiro, Nyai Tumbal Jiwo tanggalkan pakaian merahnya. Bersamaan dengan Itu wajah dan tubuhnya berubah menjadi wajah dan tubuh seorang gadis cantik. Nyi Wulas Pikan!TELAGA tiga warna di puncak Gunung Gada sebelah timur tampak begitu indah. Udara terasa nyaman pagi itu. Kicau burung terdengar bersahutan di pepohonan. Di kejauhan ada suara perempuan menyanyi.Kemuning anakku

Pagi begini Indah

Udara aegar melegakan kalbu

Adakah kau mendengar begitu merdu

Suara kicau burung dipepohon

Ataukah kau masih berduka

Karena ayahmu tak kunfung Jumpa

Kemuning anakku

Jangan kau bersedihSuara nyanyian tiba-tiba terputus. Penyebabnya adalah kemunculan seorang dara berambut hitam sepinggang, mengenakan pakaian putih berkilat. Berhenti di tepi telaga wajahnya yang Jelita tampak berkerut "Jelas tadi aku mendengar suara perempuan menyanyi di arah sini. Mengapa mendadak lenyap?"

Gadis di tepi telaga memandang berkeliling. Hatinya berkata. "Aku yakin perempuan yang menyanyi masih ada di sekitar sini. Aku tidak melihat dia tapi bisa saja dia tengah memperhatikan diriku. Ah sudah, aku tidak ada urusan dengan perempuan Itu. Bisa saja dia pengamen murahan yang kesasar. Tapi, bagaimana kalau yang menyanyi tadi gadis bermata biru Itu? Apa dia sudah datang lebih dulu? Sayang aku tidak mendengar Jelas apa syair nyanyiannya."

Gadis itu akhirnya duduk berjuntai di tepi telaga.

Dia tidak perdull ujung celana putihnya masuk ke dalam air. Dan ternyata ujung kaki celana Itu memang tidak basah. Sambil menggoyang-goyang dua kaki perlahan-lahan gadis ini kerahkan tenaga dalam.Tak selang berapa lama air telaga tiga warna tampak mulai bergelombang. Gelombang-gelombang kecil ini bukan gelombang biasa karena menimbulkan getaran aneh yang terasa sampai di dasar telaga.

"Getaran sudah sampai ke dasar telaga, saatnya aku bicara." Membatin gadis yang duduk di tepi telaga.

Sepasang mata bening memandang ke permukaan, kepala disentakkan hingga Wuutt Rambut hitam panjang melesat berputar membuat ranting pohon bergoyang dan dedaunan yang luruh jatuh. Lalu mulut berbibir marah bagus berucap. Dia mempergunakan Ilmu yang disebut Menyadap Suara Batin, Ilmu yang mampu menyampaikan suara ke tempat jauh melalui angin. Suara yang disampaikan sanggup menembus tembok, melewati air.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas, saya datang dari jauh. Apakah kau sudi menemui diriku?"

Suara yang diucapkan gadis berpakaian putih itu membuat gelombang di permukaan air telaga yang tadinya kecil berubah membesar.

Si gadis menunggu. Tidak ada balasan suara kecuali suara tiupan angin yang tiba-tiba mengencang. Tidak ada yang muncul, baik dari sekitar tepi telaga maupun dari dalam telaga.

"Kiai. saya tahu kau ada di dalam telaga. Kalau saja saya bisa masuk menembus batas air saya akan langsung mendatangi dirimu. Kalau kau tidak mau menerima diriku, mungkin kau sedang bersamadi atau tengah berzikir dan memanjatkan doa pada Tuhan. Kalau begitu saya yang tidak tahu diri. Datang menganggu ketenteraman dirimu. Saya mohon maafmu Kiai. Tapi karena saya ada kepentingan, saya akan menunggumu sampai kapanpun hingga kau mau menemui diri saya."

Habis berkata begitu gadis berpakaian putih itu melesat dan duduk ke cabang pohon di tepi telaga. Sambil duduk dia memandang berkeliling, memperhatikan keadaan kalau-kalau dia bisa melihat perempuan yang tadi menyanyi. Namun setelah memperhatikan sekian lama dia tetap tidak melihat seorangpun di sekitar situ.

Tiba-tiba gadis ini mendengar suara sesuatu meluncur dari dasar telaga. Matanya dialihkan, menatap tak berkesip ke permukaan air. Sesaat kemudian air telaga tampak muncrat sampai setlnggl dua tombak.

Bersamaan dengan Ku muncullah sosok seorang kakek berpakaian selempang kain putih, berambut putih, kumis dan janggut Juga putih. Wajah klimis segar dan jernih. Luar biasanya walau keluar dari dalam telaga, baik tubuh maupun pakaiannya sama sekail tidak tidak basah.

Di pertengahan telaga sementara air telaga yang tadi muncrat kembali surut ke bawah, dengan tenang orang tua berpakaian selempang kain putih melangkah di permukaan air seolah dia berjalan di atas tanah. "Kiai" Gadis yang duduk di cabang pohon berseru gembira lalu melayang turun dan menunggu kakek berpakaian putih di tepi telaga. Begitu orang tua ini sampai di hadapannya, si gadis langsung jatuhkan diri memberi penghormatan.

"Tetamu muda berpakaian putih," sapa si orang tua yang bukan lain adalah Kiai GedeTapa Pamungkas, "berdirilah." Di dalam hati orang tua ini membatin.

"Lain yang ditunggu lain yang datang. Apakah Nyi Retno mengetahui kemunculan gadis Ini?"

Gadis berambut hitam panjang cepat berdiri.

Setelah menatap sejurus Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya.

"Apakah aku mengenal dirimu?" Si gadis menggeleng.

"lni kali pertama kita bertemu Kiai. Saya mohon maaf kalau telah mengganggu dirimu."

"Kau tidak menganggu siapapun di tempat ini. Tadi kau berkata datang dari jauh dan punya satu kepentingan." Sepasang mata Kiai Gede Tapa Pamungkas perhatikan ujung celana putih si gadis yang tidak basah meski tadi dia memasukkan dua kaki ke dalam air telaga.

"Sangat penting Kiai." Jawab si gadis.

"Katakan siapa namamu. Lalu ceritakan apa kepentinganmu."

"Kiai," di negeri asal saya, saya dipanggil dengan nama Luhrembulan. Saya datang dari negeri jauh. Saya sebenarnya adalah..."

"Aku sudah tahu, tak perlu diceritakan," potong Kiai Gede Tapa Pamungkas. Ketika dia mengerahkan tenaga dalam dan mengalirkan hawa sakti pada kedua matanya, orang tua ini melihat ujud asli si gadis yang ternyata adalah seorang nenek kurus hitam. Wajah menyerupai burung gagak. Mulut dan hidung jadi satu seperti paruh burung. Sepasang mata kecil tanpa alis.

"Syukurlah kalau Kiai sudah tahu. Saya seorang bernasib malang. Terdampar dari alam seribu dua ratus silam ke tanah Jawa ini..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas mengangguk. "Sekarang ceritakan saja maksud kedatanganmu."

"Saya mohon diberi keleluasaan untuk menunggu kedatangan seseorang di tempat ini." Jawab gadis mengaku bernama Luhrembulan."

"Siapa orangnya?" bertanya sang Kiai.

"Saya menyirap kabar orang itu akan datang kesini sebelum bulan purnama besok malam."

"Ya, katakan siapa orangnya," mengulang Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Dia seorang lelaki muda. Namanya Wiro Sableng. Di tanah Jawa dia dijuluki Pendekar Dua Satu Dua.

Bukankah dia punya hubungan sangat dekat dengan Kiai? Bukankah benar kabar yang saya sirap bahwa dia akan datang sebelum bulan purnama besok malam?"

"Semua yang kau katakan benar adanya." Jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas. "Yang aku Ingin tahu ada kepentingan apa kau mencari Wiro Sableng."

"Dia adalah suami saya." Jawab Luhrembulan yang berasal dari Latanahsilam, negeri seribu dua ratus tahun silam.

Ujung alis putih Kiai Gada Tapa Pamungkas langsung menjungkat ka atas. Sepasang mata memandang tak berkesip pada gadis cantik di hadapannya.

"Kuharap aku tidak salah mendengar. Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng adalah suamimu?"

"Benar Kiai. Kami nikah beberapa waktu lalu."

"Nikah... ?" Kiai Gede Tapa Pamungkas terdiam sejenak. "Aku memang banyak mendengar cerita macam-macam mengenai pemuda itu.Tapi kalau soal kawin baru kali ini..." Sang Kiai berucap lalu gelenggelengkan kepala.

"Tidak heran kalau Kiai tidak pernah mendengar perihal perkawinan Itu. Karena kami nikah di Latanahsiam. Negeri seribu dua ratus tahun silam..."

Kata Luhrembulan pula.

Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap lekat-lekat ke wajah gadis di hadapannya. Seolah Ingin menyelami apakah Luhrembulan berucap benar atau dusta belaka.

Tiba-tiba dari arah selatan telaga terdengar suara perempuan menyanyi.Kemuning anakku

Adakah kau mendengar

Perempuan yang katanya

datang dari negeri Jauh

Mengaku bersuamikan ayahmu

Kemuning anakku

Apa kau merasa bahagia

Punya dua Ibu

Satu kandung

Satu Ibu tiri

Kemuning anakku

Dunia memang aneh

Tapi tidak ada keanehan begini luar biasa

Selain pempuan yang mengaku telah nikah

Dengan ayahmu tercinta

Padahal ujudnyapun

Tidak karuan rupaLuhrembulan palingkan kapala ke arah selatan telaga sementara Ki Gede Tapa Pamungkas diam-diam perhatlkan wajah Si gadis yang tampak berubah begitu mendengar suara nyanyian.

"Kiai, waktu saya datang ke sini saya juga mendengar perempuan bernyanyi. Suaranya sama dengan suara yang barusan terdengar. Dalam nyanyian perempuan itu selalu menyebut nama Kemuning. Apakah Kiai mengetahui siapa perempuan itu adanya?'

Sebelum menjawab Kiai Gede Tapa Pamungkas bicara sendiri dalam hati. "Gadis Ini pandai menyembunyikan amarah ketika dirinya dihina sebagai mahluk yang ujudnya tak karuan. Dia bicara menanyakan hal lain."

"Dia muridku," akhirnya Kiai Gede Tapa Pamungkas menjelaskan pada Luhrembulan.

"Apakah saya boleh tahu siapa nama murid Kiai Itu?"

"Namanya Nyi Retno Mantili."

Paras Luhrembulan untuk kesekian kalinya tampak berubah.

"Apakah kau mengenal muridku itu?" bertanya sang Kiai.

Luhrembulan menggeleng.

"Saya tidak kenal, tapi saya tahu siapa dia dan bagaimana riwayatnya. Hanya saja saya tidak tahu kalau dia berada di sini bersama Kiai..."

"Dia datang beberapa waktu lalu bersama puterinya bernama Kemuning "

"Boneka kayu itu?"

"Kau sudah tahu," kata Kiai Gede Tapa Pamungkas sambil tersenyum.

"Kiai..." Luhrembulan berkata tetapi kemudian diam.

"Kau hendak menanyakan sesuatu? Bicara saja terus terang."

"Betul Kiai, apakah benar Pendekar Dua Satu Dua telah kawin dengan Nyi Retno Mantili?"

"Jika kau sudah tahu keadaan perempuan malang itu, apakah aku masih harus menerangkan?" balik bertanya Kiai Gede Tapa Pamungkas yang tidak mau menceritakan keadaan sebenarnya dari Nyi Retno Mantili.

Luhrembulan terdiam. Dalam diam hatinya berucap.

"Perempuan bernama Nyi Retno Itu mengatakan diriku mahluk tidak karuan ujud. Dirinya sendiri tidak waras. Mengaku pula bersuamikan Wiro. Dimana dia nikah? Siapa yang menikahkan? Punya anak diberi nama Kemuning tapi berupa boneka kayu."

"Luhrembulan, apakah kau masih ada pertanyaan?" bertanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Memang ada Kiai. Pertama apakah keberadaan Nyi Retno Mantili di tempat kediaman Kiai juga untuk menunggu kedatangan suami saya Wiro?"

Tiba-tiba melengking suara tawa panjang yang membuat Kiai Gede Tapa Pamungkas kerahkan tenaga dalam untuk melindungi telinga sementara Luhrembulan tutup dua telinga dengan telapak tangan. Air telaga tiga warna tampak bergelombang. Belum habis gema tawa tahu-tahu di samping Kiai Gede Tapa Pamungkas telah berdiri seorang perempuan cantik bertubuh kecil, mengenakan pakaian biru gelap. Dia membedong sebuah boneka kayu di atas dadanya.

"Luhrembulan, Inilah Nyi Retno Mantili muridku," berkata Kiai Gede Tapa Pamungkas memperkenalkan Nyi Retno Mantili.

"Saya telah menduga," Jawab Luhrembulan sambil coba melayangkan senyum.

Nyi Retno Mantili usap kepala boneka lalu berkata.

"Kemuning, lihat dia tersenyum padamu. Apakah kau tidak mau membalas senyumnya? Eh, mengapa kau cemberut Ah, kau tak suka padanya! Aku mengerti. Tapi ah, jangan menangis. Kemuning anak cantik, anak pintar dan cerdik. Kemuning tidak boleh menangis."

Nyi Retno keluarkan boneka kayu dari bedongan kain lalu diayun ditimang-timang sambil tiada hentinya membujuk.

"Nyi Retno, tenangkan anakmu. Ajak dia bermainmain ke tempat lain." berkata Kiai Gede Tapa Pamungkas. Orang tua ini sudah maklum kalau dua perempuan itu berlama-lama saling berhadapan maka sesuatu yang tak diingini bisa saja terjadi.

Nyi Retno Mantili gelengkan kepala.

"Kiai, saya tidak akan pergi sebelum perempuan lancang ini angkat kaki dari puncak Gunung Gede"

Dikatakan lancang Luhrembulan jadi marah.

"Aku tidak merasa berbuat lancang. Sebaliknya mulutmu yang lebih dulu jahil menghina diriku sebagai mahluk tidak karuan ujud! Apakah begitu sikap seorang murid dari Kiai besar rimba persilatan?"

Dengan ucapannya Itu Luhrembulan sekaligus menempelak Nyi Retno Mantili dan menyindir Kiai GedeTapa Pamungkas.

"Nyi Retno, pergilah bawa anakmu ke tempat lain..."

"Saya tidak akan pergi!" Jawab Nyi Retno Mantili tegas.

Kiai Gede Tapa Pamungkas berpaling pada Luhrembulan.

"Kalau begitu sebaiknya kau saja yang meninggalkan tempat Ini."

Luhrembulan tatap wajah jernih Kiai GedeTapa Pamungkas lalu sunggingkan senyum dan menjawab.

"Kiai, saya seorang tamu yang datang dari jauh. Apakah begitu peradatan dirimu, tega-teganya menyuruh tamu pergi? Lagi pula saya datang ke sini adalah untuk mencari suami. Hanya satu kebetulan saja dia punya hubungan dekat denganmu. Kalau tidak menyirap kabar dia akan muncul di sini, perlu apa saya datang ke tempat ini! Seharusnya kiai membantu diriku mempertemukan dengan Wiro itu yang oleh orang-orang semacam Kiai disebut silaturrahmi. Bukan malah mengusirku."

Wajah Kiai Gede Tapa Pamungkas tampak berubah. Namun suaranya tetap tenang.

"Luhrembulan, jangan kau salah sangka. Aku tidak mengusirmu. Jika kau ingin menunggu kedatangan Wiro, silahkan saja. Tapi cari tempat lain yang lebih baik. Jangan di sini..."

"Begitu?" ucap Luhrembulan yang di negeri Latanahsilam dikenal dengan Julukan Hantu Santet Laknat. "Baik, saya akan menghindar dari sini.Tapi bukan berarti saya akan pergi dari puncak Gunung Gede. Tidak ada satu manusiapun, baik yang punya otak maupun yang tidak waras yang boleh menghina diri saya dan menghalangi saya menemui suami saya sendiri"

Habis berkata begitu Luhrembulan guratkan ujung ibu jari kaki kanannya ke tanah.

"Reeetttt!"

Terjadilah satu hal yang hebat Asap mengepul! Tanah seputar telaga terbelah selebar dua langkah. Dari dasar belahan keluar hawa dahsyat yang mampu menyedot benda apa saja yang berada di sekitarnya.

Nyi Retno Mantili terpekik. Tubuhnya hampir tersedot masuk ke dalam belahan tanah kalau tidak lekas ditarik oleh Kiai Gada Tapa Pamungkas.

"Luhrembulan!" teriak Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Ternyata kau datang membekal niat tidak baik!" Sang Kiai rupanya mulai marah.

"Kiai" balas Luhrembulan berteriak tak kalah keras.

"Kau berlaku tidak adil! itu bukan perilaku seorang Kiai!"

"Kemuning,"tiba-tiba Nyi Retno Mantili keluarkan ucapan. "Ada orang kesasar berani menghina Eyang Sepuhmu! Mari kita bungkam mulutnya!"

Nyi Retno Mantili angkat ke atas boneka kayu di tangan kanan. Diarahkan pada Luhrembulan. Lima jari tangan memencet pinggang boneka.

Wusss.'Wusss!!"DUA LARIK cahaya putih menyilaukan melesat keluar dari sepasang mata boneka, menyambar ke arah Luhrembulan, gadis cantik dari Latanahsilam. Inilah ilmu kesaktian bernama Sepasang Cahaya Batu Kumala yang didapat Nyi Retno Mantili dari Kiai Gede Pamungkas. Selama Ini hampir tidak ada lawan yang bisa selamat. Jika kena leher akan putus laksana

dipancung. Kalau mendarat ditubuh maka tubuh akan terbelah seperti ditabas golok raksasa!

Mendapat serangan maut begitu rupa Luhrembulan hanya sunggingkan senyum. Malah mulutnya umbar ucapan mengejek.

"Perempuan tidak tahu diri! Aku mau lihat sampai dimana kehebatan Ilmu kesaktianmu!"

"Wuss...wusss"

Dua cahaya putih berkilau melesat di atas tanah yang terbelah.

"Blaaar... blaar!"

Dua cahaya putih memancar terang lalu tersedot masuk ke dalam belahan tanah! Asap mengepul menutup pemandangan. Nyi Retno Mantili memekik marah.

Luhrembulan tertawa mengejek.

"Ilmu baik dipakai untuk kejahatan mana mempan! Ilmu kesaktian hebat diberikan pada perempuan berotak miringi Apa tidak akan menimbulkan malapetaka dalam rimba persilatan?! Hik... hik... hik!"

Ketika asap sirna, kelihatan Nyi Retno Mantili tersandar ke tubuh Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Wajahnya pucat. Tangan kanan tergontai lemas memegang boneka kayu sementara sang Kiai sendiri tampak berkomat kamit melafalkan sesuatu. Ucapan Luhrembulan benar-benar merupakan tamparan hebat bagi dirinya. Di seberang sana Luhrembulan sendiri tegak sambil berkacak pinggang. Masih belum puas gadis dari negeri 1200 tahun silam ini kembali menyemprot

"Otak tidak waras! Mulut penuh menghina! Orang lain dianggap sampah! Rasakan sendiri akibatnya! Kiai! Sebaiknya kau jangan cuma memberi pelajaran Ilmu kesaktian pada perempuan sinting itu! Beri juga Ilmu budi bahasa agar tidak sombong dan bicara kurang ajari"

"Luhrembulan, ucapanmu sudah sangat keterlaluan" tegur Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan menindih amarah. "Ilmu kesaktian apapun yang kau miliki tidak membuat aku merobah keputusan! Cepat tinggalkan tempat ini! Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng tidak pernah beristrikan perempuan sepertimu!"

Luhrembulan tertawa panjang.

"Kiai! Kau akan mendengar dan melihat kenyataan! Jangan sembunyi dibalik ketakutan pada dirimu sendiri!"

"Apa maksudmu?!" bentak Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Namun Luhrembulan sudah lenyap dari tempat itu sementara tanah seputar telaga masih tetap menganga terbelah!

Kiai GedeTapa Pamungkas tarik nafas panjang dan dalam. Matanya memperhatikan tanah yang terbelah di hadapannya.

"Ilmu luar biasa. Kalau aku tidak salah murid Sinto Gandeng juga memiliki Ilmu kesaktian membelah tanah seperti Ini. Dari mana dia mendapatkan? Dari gadis bernama Luhrembulan itu? Berarti mungkinkah mereka memang sudah nikah? Tidak sembarang orang akan mau begitu saja memberikan ilmu kesaktian langka seperti ini." Sang Kiai terdiam sejurus lalu mengusap punggung Nyi Retno Mantili dan berkata.

"Nyi Retno menjauhlah sampai ke tepi telaga. Aku harus melakukan sesuatu untuk memulihkan keadaan di tempat ini."

Baru saja Kiai Gede Tapa Pamungkas berucap tibatiba dua bayangan berkelebat. Salah seorang diantaranya berseru.

"Kiai! Biar saya yang melakukan hal itu!"

DI hadapan Kiai Gede Tapa Pamungkas sesaat kemudian telah berdiri Ratu Duyung dan Purnama.

Walau gembira melihat kemunculan Ratu Duyung yang memang dipesan untuk datang, namun Kiai Gede Tapa Pamungkas agak merasa risih dengan Ikut hadirnya Purnama di tempat itu.

Dalam hati sang Kiai berkata."Yang ditunggu tidak datang. Yang datang orang lain. Untung dia sudah pergi. Yang dipesan memang datang tapi mengapa muncul bersama seseorang yang tidak aku kehendaki? Wiro sendiri, dimana dia? Apakah dia akan datang sebelum bulan purnama muncul esok malam?"

Ratu Duyung dan Purnama memberi salam lalu membungkuk hormat. Dua gadis yang datang ini kemudian sama-sama berpaling ke arah perempuan bertubuh kecil berparas cantik yang tengah mengeluselus sebuah boneka kayu. Ratu Duyung dan Purnama saling pandang. Tanpa mengeluarkan ucapan keduanya sama-sama maklum kalau perampuan di samping sang Kiai adalah Nyi Retno Mantili yang selama ini menjadi berbagai bahan berita dan punya hubungan dekat dengan Pendekar 212.

Dalam hati Purnama dan Ratu Duyung mempunyai perasaan dan suara batin yang sama.Terakhlr sekali bertemu, Wiro menunjukkan kesan segan-seganan datang menghadap Kiai Gede Tapa Pamungkas di puncak Gunung Gede. Alasannya dia harus mencari Nyi Retno Mantili untuk menyelamatkan perempuan ini dari bahaya maut yang mengancam. Juga menolong bayinya yang hendak dibunuh orang. Ternyata Nyi Retno Mantili ada di sini. Dalam keadaan aman, ceria menggendong sebuah boneka kayu. Lalu apa sebenarnya alasan Wiro tidak mau datang menemui sang Kiai?

"Takut dijodohkan dengan diriku?" Membatin Ratu Duyung.

"Jangan-jangan dia yang menyuruh Purnama untuk mengikuti diriku ke sini. Ingin mematai-mataiku. Aku memang sudah lama tahu kalau sahabatku satu ini sangat mencintai Wiro. Tapi pemuda itu apakah dia membalas cintanya? Sulit aku menduga sejauh mana mereka telah menjalin cinta. Sedalam apa mereka berbagi kasih. Kalau saja aku bisa menarik diri, menjauh darinya, mungkin itu bisa membuat dia hidup lebih tenang dan lebih bahagia. Aku maklum saat ini Wiro memiliki banyak ganjalan hati. Ada Bidadari Angin Timur. Ada Anggini. Lalu ada Bunga. Aku tak tahu siapa lagi. Jangan-jangan Nyi Retno Mantili juga bercinta dengannya. Apakah aku bisa pasrah dan menerima keadaan apa adanya?"

Melihat Ratu Duyung terdiam lama seperti ada yang direnung dipikirkan, Purnama berbisik.

"Sahabatku, ada apa? Apakah kau merasa kurang sehat. Atau ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?"

Ratu Duyung tersenyum. Belum sempat dia menjawab Kiai GedeTapa Pamungkas sudah berkata.

"Ratu Duyung, aku gembira kau datang tepat sebelum waktu yang dijanjikan. Aku mengira kau datang bersama Wiro. Nyatanya dengan seorang kawan yang aku belum kenal."

Mendengar ucapan Kiai Gede Tapa Pamungkas Purnama cepat-cepat membungkuk.

"Kiai, maafkan kalau saya tidak buru-buru memperkenalkan diri. Saya sudah lama bersahabat dengan Ratu Duyung. Nama saya Purnama. Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng yang memberikan nama itu pada saya."

Ratu Duyung palingkan kepala, pura-pura memandang ke arah telaga. Dalam hati dia berkata.

"Apa perlunya gadis dari alam gaib ini menceritakan bahwa nama itu diberikan oleh Wiro? Untuk memberi tahu pada Kiai bahwa dia memiliki hubungan sangat dekat dongan Wiro? Aku melihat Kiai kurang berkenan dengan kehadirannya. Mungkin aku telah berlaku keliru. Sebaiknya aku menolak ketika dia mengatakan ingin ikut bersamaku."

"Dia berasal dari negeri aneh. Sama dengan perempuan yang tadi mengaku sebagai suami Wiro!"

Tiba-tiba saja Nyi Retno Mantili membuka suara. Suasana mendadak berubah senyap dan kaku.

Purnama dan Ratu Duyung menatap ke arah Nyi Retno Mantili. Ratu Duyung bertanya.

"Kiai, apakah ada orang lain yang datang sebelum kami sampai ke sini?"

"Benar," jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Seorang gadis yang katanya datang dari jauh. Dia mengaku bernama Luhrembulan..."

Purnama keluarkan suara tercekat, wajah langsung berubah. Dua mata menatap sang Kiai dengan pandangan seperti tidak percaya.

Purnama pegang lengan Ratu Duyung, bicara setengah berbisik.

"Ratu, ingat peristiwa di Gedung Kadipaten Losari sewaktu kau menyelamatkan diriku dari serangan maut Raja Racun Bumi Langit?"

Ratu Duyung mengangguk.

"Luhrembulan, gadis yang dikatakan Kiai itulah yang muncul di sana dan hampir mencelakai diriku. Dia bekerja sama dengan Raja Racun Bumi Langit..." (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Sang Pembunuh").

"Aku ingat," Jawab Ratu Duyung. "Kali ini mungkin kita keduiuan. Lihat tanah yang terbelah, ini pasti pekerjaan gadis itu."

"Pasti. Hanya dia dan Wiro yang memiliki ilmu itu..."

kata Purnama sambil memperhatikan tanah terbelah yang mengelilingi telaga lalu berpaling pada Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kiai, waktu tadi saya melihat tanah terbelah Ini, saya hanya berani menduga. Tapi setelah Kiai memberi tahu ternyata dugaan saya tidak keliru."

"Kiai, ada keperluan apa Luhrembulan datang ke sini?" bertanya Ratu Duyung.

"Tidak, tidak ada keperluan apa-apa. Gadis itu hanya tersesat "Kebetulan saja dia lewat di sini." Jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Baik Ratu Duyung maupun Purnama merasa sang Kiai telah bicara tidak sejujurnya. Apa alasan Kiai Gede Tapa Pamungkas berbuat seperti itu?

"Kiai! Kenapa Kiai memberikan jawaban dusta?"

Tiba-tiba Nyi Retno Mantili keluarkan ucapan yang membuat semua orang jadi tercengang.

Purnama dan Ratu Duyung berpaling menatap Nyi Retno Mantili lalu memandang ke arah Kiai Gede Tapa Pamungkas. Wajah orang tua itu Jelas tampak berubah.

Perlahan-lahan dia coba tarsenyum.

"Ini hanya urusan kecil. Yang tidak perlu dibesarbesarkan...." Kata sang Kiai pula.

"Kiai, kalau sekail lagi Kiai bicara dusta, saya dan Kemuning akan tinggalkan tempat Ini!"

Lagi-lagi ucapan, kali ini berupa ancaman dari Nyi Retno Mantili membuat suasana di tempat itu menjadi tambah tidak enak.KIAI Gede Tapa Pamungkas usap janggut putihnya berulang kali. Sambil mengembang senyum di bibir, orang tua ini berkata.

"Nyi Retno, tetap di tempatmu. Jangan pergi kemanamana.

Aku tidak bermaksud bicara dusta. Aku tidak mau bicara sebelum apa yang aku katakan Jelas adanya. Bagaimana aku bisa percaya ucapan Luhrembulan, seseorang yang aku tidak tahu asal usul dirinya dan baru sekali aku temui!"

Sang Kiai lalu berpaling pada Purnama.

"Kau dan gadis bernama Luhrembulan itu berasal dari alam yang sama. Apa kau tahu asal usui dirinya? Dia mengaku datang ke sini untuk mencari dan menunggu Wiro yang dikatakannya sebagai suaminya. Dia mengatakan telah menikah dengan Wiro di negeri Latanah silam."

Purnama tidak segera rnenjawab. Dia memandang pada Ratu Duyung seolah minta pertimbangan.

Ratu Duyung berkata. "Ceritakan saja..„"

Sebelumnya Ratu Duyung memang telah pernah mendengar dari Purnama riwayat perkawinan Wiro dengan Luhrembulan. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Insan Tanpa Wajah").

"Baiklah Kiai, akan saya ceritakan apa yang saya ketahui!" kata Purnama pula. "Di negeri Latanahsilam Luhrembulan dikenal dengan nama Hantu Santet Laknat Penampilannya berupa seorang nenek berkulit hitam, muka seperti burung gagak. Hidung dan mulut Jadi satu seperti paruh burung. Sebenarnya dia adalah seorang gadis berparas cantik. Keadaannya seperti Itu disebabkan Jatuhnya kutuk atas nenek moyangnya yang merupakan kutuk turunan. Saya tidak tahu kutuk apa. Hanya itu asai usul Luhrembulan yang saya ketahui."

"Perempuan itu mengaku-aku Wiro sebagai suaminya. Kau pasti tahu apa yang terjadi. Kalau tidak dia tidak akan mengejar Wiro sampai ke tanah Jawa ini dan malah berani datang ke tempat Kiai di sini. Enak saja dia mengaku ayah anakku sebagai suaminya!" Yang bicara adalah Nyi Retno Mantili.

"Saya tahu, tapi urusan perkawinannya dengan Wiro bukan urusan saya. Jadi saya rasa..." Menyahuti Purnama yang langsung dipotong oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kalau hanya sekedar menceritakan aku rasa tidak ada salahnya. Agar persoalan bisa dijernihkan. Kami perlu tahu apakah benar Wiro menikah dengan Luhrembulan di negeri Latanahsilam?"

Setelah diam sejenak akhirnya Purnama bercerita juga.

"Ketika Wiro tersesat di Latanahsilam dia bertemu dengan Hantu Santet Laknat. Nenek ini jatuh cinta pada Wiro dan merubah diri menjadi seorang gadis cantik jelita. Ada kabar yang mengatakan jika dia menikahi Wiro, seorang lelaki dari alam lain maka kutuk atas dirinya akan lenyap..."

"Jadi pernikahan itu memang benar-benar terjadi? " tanya Kiai GedeTapa Pamungkas sementara Nyi Retno Mantili kelihatan mulai sesenggukan sambil menciumi boneka kayu.

"Benar Kiai," Jawab Purnama.

Nyi Retno Mantili terpekik. Ratu Duyung menatap sambil hatinya berkata. "Setahuku pikirannya tidak waras. Tapi mengapa otaknya jadi sangat jemih Jika bicara soal pernikahan Wiro?'

"Purnama, teruskan ceritamu," kata Kiai GedeTapa Pamungkas.

"Pernikahan Itu memang terjadi Kiai, tapi tidak syah. Saat itu Wiro diberi minuman yang membuat dia lupa pikiran. Dia dibawa ke sebuah bukit bernama Bukit Batu Kawin. Di sana telah menunggu seorang juru kawin bernama Lamahlia Wiro dinikahkan dengan Luhrembulan dalam keadaan tidak sadar. Saat itu muncul badai di puncak bukit. Acara perkawinan kacau. Semua orang yang ada di situ mental berpencaran..."

"Kalau begitu perkawinan atau pernikahan Wiro dengan gadis bernama Luhrembulan itu bisa dikatakan tidak pernah ada karena tidak syah" kata Kiai GedeTapa Pamungkas pula.

"Kalau tidak pernah ada, kalau tidak syah kenapa Luhrembulan sampai mencari ayah Kemuning sampai ke sinl?! Jangan-jangan perempuan itu sudah bunting!" Nyi Retno Mantili berucap dengan suara lantang lalu menggerung keras. Ketika dia hendak berkekelobat meninggalkan tempat itu, begitu sampai di depan tanah yang terbelah sosoknya nyaris tersedot. Untung Kiai Gede Tapa Pamungkas cepat menarik lengannya dan di seberang sana Ratu Duyung dorongkan dua tangan untuk menahan gerakan Nyi Retno.

"Kiai, lepaskan!" teriak Nyi Retno. "Saya dan Kemuning tidak takut mati disedot tanah celaka ini!"

"Tenang Nyi Retno, jangan turutkan hati yang panas. Tadi Purnama sudah menjelaskan bahwa pernikahan Wiro dengan Luhrembulan di Latanahsilam tidak syah."

"Saya tidak percaya pada perempuan satu ini! Saya tahu dia juga mencintai Wiro. Itu sebabnya dia ikutan datang ke sini. Padahal yang diminta datang hanya gadis bermata biru ini!"

Purnama walau diam saja mendengar ucapan Nyi Retno Mantili namun wajahnya tampak berubah dan dia melihat Ratu Duyung melirik ke arahnya. Dalam hati dia membatin.

"Perempuan tidak waras Itu cemburu padaku. Lirikan sahabatku Ratu Duyung Juga menunjukkan rasa cemburu. Apakah aku masih harus berlama-lama di tempat ini?"

Kiai Gede Tapa Pamungkas peluk Nyi Retno Mantili, membelai rambut perempuan Ini dan berusaha membujuk. Dia berbisik. "Mudah-mudahan Wiro datang sebelum esok malam. Dari dia kita bisa mendengar langsung mengenai pernikahan itu hingga kau tidak lagi ada ganjalan."

"Ganjalan akan tetap ada. Bukankah Kiai memanggil gadis bermata biru itu karena hendak membicarakan soal perjodohannya dengan Wiro?"

Kiai GedeTapa Pamungkas coba tersenyum.

"Nyi Retno, soal Jodoh seseorang ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa..."

"Saya tahu hal itu Kiai. Tapi manusia bisa saja jadi Mak Comblangnya, termasuk Kiai!"

Marah padam wajah Kiai GedeTapa Pamungkas.

Terus menerus ditempelak dengan kata-kata bagaimanapun Juga membuat hati si orang tua menjadi tidak enak.

Purnama memperhatikan tanah yang terbelah melingkari telaga. Untuk menghindari ketegangan yang saat itu terjadi dia berkata mengalihkan pembicaraan.

"Kiai, kalau Kiai mengizinkan saya bisa merapatkan kembali tanah yang terbelah ini. Hingga keadaannya seperti semula."

Kiai GedeTapa Pamungkas tatap paras Purnama sejurus lalu anggukkan kepala.

"Lakukanlah, kau dan Luhrembulan datang dari alam yang sama.Pastl kau tahu cara penangkal mengembalikan keadaan. Bumi Tuhan begini indah. Mengapa dirusak oleh tangan manusia secara semenamena?"

Purnama membungkuk meraup segenggam tanah. Tenaga dalam dan hawa sakti dialirkan ke tangan kanan yang menggenggam sementara bibir bergetar tanda dia tengah melafalkan sesuatu di dalam hati. Untuk beberapa lama sekujur tubuhnya diselubungi cahaya dan percikan-percikan menyerupai bunga api berwarna biru. Setelah cahaya dan perclkan biru lenyap dan kini hanya terlihat pada tangan kanan yang menggenggam tanah Purnama berjalan mendekati belahan tanah terdekat. Satu langkah dari tanah yang terbelah, ketika tubuhnya mulai terasa tersedot Purnama lemparkan tanah yang digenggamnya ke dalam belahan tanah.

Tanah merah yang dilempar untuk beberapa lamanya mengambang berputar-putar diselubungi cahaya biru lalu wusss! Tanah tersedot masuk ke dalam belahan.

Saat itu juga di perut bumi terdengar suara seperti lahar mendidih. Di langit muncul kilatan-kilatan aneh. Air telaga bergejolak dan bermuncratan di tujuh tempat. Di kejauhan terdengar suara perempuan mengeluarkan kutuk serapah.

"Rrrttttt!"

Asap mengepul bercampur tanah dan debu.Tanah yang terbelah melingkari telaga merapat kembali disertai suara letupan-letupan keras. Setelah itu tanah dan debu luruh ke bawah. Air telaga mengalun tenang. Keadaan di tempat itu diselimuti kesunyian.

"Purnama!"

Ratu Duyung memekik menyebut nama Purnama ketika dilihatnya gadis dari alam gaib ini terhuyunghuyung sementara darah mengucur di sudut bibirnya.

Apa yang terjadi?

Kiai GedeTapa Pamungkas cepat merangkul tubuh Purnama lalu menotok ubun-ubun gadis alam gaib ini.

"Ketika dia menutup tanah yang terbelah, ada yang membarengi dengan serangan membokong." Berucap Kiai GedeTapa Pamungkas.

"Yang berbuat jahat dugaan saya gadis bernama Luhrembulan itu," kata Ratu Duyung lalu memeluk Purnama, membaringkannya di tepi telaga. Ketika Kiai Gede Tapa Pamungkas dan Ratu Duyung sibuk menolong Purnama, kesempatan ini dipergunakan Nyi Retno Mantili untuk berkelebat meninggalkan tempat Itu.MENJELANG tengah harl mendung tebal menutupi kawasan kaki Gunung Gede. Didahului suara gelegar guntur serta kilat yang sabung menyabung tak selang berapa lama hujan turun dengan lebatnya. Keadaan tidak beda seperti menjelang malam. Dimana-mana kegelapan menyungkup dan hawa dingin menebar.

Di bawah hujan lebat seseorang berlari cepat laksana bayang-bayang menembus hujan lebat diarah timur kaki gunung. Orang ini kemudian melesat masuk ke dalam sebuah pondok bambu yang ditemuinya di tepi sungai kecil. Walaupun tidak berdinding namun karena dikelilingi pepohonan dan cuaca buruk pula, keadaan di dalam pondok agak gelap.

Orang yang barusan masuk ka dalam pondok ternyata adalah seorang gadis mengenakan pakaian ringkas hijau, berwajah cantik, rambut digulung di atas kepala Setelah mengibas-ngibaskan pakaiannya yang basah, gadis Ini buka gulungan rambut. Kepala digoyang berulang kali. Air hujan yang membasahi rambut menyiprat kemana-mana Tiba-tiba ada suara memaki.

"Perempuan setan! Enak saja kau menyipratkan air hujan. Apa matamu buta tidak melihat orang lain di dalam gubuk?!"

Gadis berbaju hijau tersentak kaget. Dia hentikan menggoyang kepala. Dia tahu orang yang barusan memaki berada di belakangnya.Tapi dia tidak segera berpaling malah lebih dulu tertawa cekikikan.

"Hik... hik! Untung kau cuma terkena cipratan air Tidak terkena tendanganku! Keadaan gelap, maklum saja kalau aku tidak melihat!"

Lalu perlahan-lahan sambil mengusap kebawah rambutnya yang basah panjang hitam gadis berbaju biru balikkan badan. Di salah satu sudut pondok dia melihat duduk mendekam di atas tumpukan jerami kering seorang gadis berpakaian serba putih.

"Manusia tidak tahu peradatan! Bukannya minta maaf malah tertawa cekikikan macam orang sinting!"

Gadis yang duduk di atas jerami kembali memaki.

"Hik... hik! Kalau cuma minta maaf apa susahnya? Tapi apa pariu? Hik... hik! Namaku Nyi Wulas Pikan! Kau siapa?"

"Persetan siapa namamu! Persetan mau tahu namaku! Kau tidak layak berteduh di tempat ini bersamaku! Lekas menyingkir dan sini!" Damprat gadis berpakaian putih.

"Hik ... hihi Sombong sekali! Apa salahnya kebetulan bertemu kita bisa jadi bersahabat" Kata Nyi Wulas Pikan yang bukan lain jejadian dari Nyai Tumbal Jiwo mahluk alam roh yang memaksa Pendekar 212 Wiro Sableng menjadi kekasihnya menggantikan Wira Bumi yang telah tewas.

"Siapa sudi bersahabat dengan perempuan jelek den tidak tahu adat sepertimu" Caci gadis berpakaian serba putih.

"Kalau tidak mau bersahabat ya sudah! Gubuk Ini masih cukup luaa untuk kita berdua. Kalau kau tak suka aku ada di sini. pergi saja berteduh di bawah pohon dekat comberan sana!"

"Jangan membuatku marah! Kau punya Ilmu kepandaian apa berani menghina diriku?" Gadis berpakaian putih yang tadi duduk, di atas jerami yang bukan lain adalah Luhrembulan bangkit berdiri. Kaki dikembang dua tangan dikepal.

Nyi Wulas Pikan tertawa gelak-gelak. Matanya memperhatikan gadis di hadapannya mulai dari rambut sampai ke kaki.

"Masih bau kencur sudah berani menantang diriku! Masih muda mau mencari mati! Apa tidak kasihan kalau nanti kekasihmu nangis gerung-gerungan!"

"Sombong sekali!" kata Luhrembulan sambil berkacak pinggang.

"Di puncak Gunung Gede sana ada seorang kakek bernama Kiai Gede Tapa Pamungkasl Konon kesaktiannya sulit dicari tandingan! Tapi menghadapi diriku dia tidak berdaya! Dan kau cacing tanah yang baru bisa ngulet mau menantangku!Tolol sekali!"

Dikatakan cacing tanah Nyi Wulas Pikan tidak marah malah tertawa cekikikan.

"Kalau kau memang mau cari urusan menantang diriku, biar kita selesaikan nanti. Sekarang aku tanya kau kenal dengan kakek sakti di puncak Gunung Gede? Apa hubunganmu dengan kakek itu! Apa keperluanmu berada di kawasan ini?"

"Sampai lidahmu terjulur, mulutmu kering dan matamu mencolot bertanya aku tidak akan menjawab!" Kata Luhrembulan dengan wajah beringas.

"Begitu? Hik...hik ... hik! Boleh juga kau!Tapi baik, aku tanya satu lagi. Setelah itu kita boleh bertarung sampai mati! Kakek di puncak gunung itu tengah menunggu kedatangan seorang pemuda bemama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar Dua Satu Dua. Apa kau berada di kawasan ini ada sangkut pautnya dengan pendekar gagah berambut gondrong itu?"

Sepasang mata Luhrembulan membesar. "Orang ini tengah menyelidik diriku. Aku harus berlaku hati-hati." Maka gadis dari Latanahsiiam ini balik bertanya. "Kau juga berada di kawasan ini. Kau menyebut-nyebut Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng! Apa hubunganmu dengan pendekar itu?"

"Dia kekasihku." Jawab Nyi Wulas Pikan terus terang penuh perasaan bangga. "Kau puas dengan jawabanku?"

Luhrembulan pencongkan mulut lalu tertawa.

"Cuma seorang kekasih. Baru kekasih! Hik..hik! Aku malah adalah istrinya!" Sepasang mata Nyi Wulas Pikan mendelik.

"Jangan berani mengada-ada" bentak mahluk alam roh ini. "Wiro belum pernah nikah, belum pernah kawin. Baik kawin dengan surat maupun dengan urat. Hik...hik! Dia masih perjaka!"

"Setan perempuan! Tahu-tahuan kau suamiku masih perjaka! Apa kau pernah berselingkuh dengan dia?!" bentak Luhrembulan penuh cemburu.

"Kami memang sudah punya rencana untuk saling berbagi kebahagiaan! Makan sepiring tidur seranjang! Hik ... hik ... hik" Nyi Wulas Pikan lalu mencibir mencemooh Luhrembulan, membuat gadis dari Latanahsiiam ini terbakar oleh amarah.

"Setan perempuan saatnya kau harus kubunuh dari pada nanti kau bergendak dengan suamiku!" Luhrembulan begitu bicara langsung menyerang dengan melancarkan dua pukulan keras. Namun ini hanyalah jurus tipuan belaka. Karena begitu Nyi Wulas Pikan gerakkan tangan menangkis, dari sepasang mata Luhrembulan menyembur dua larik sinar hitam pekat. Larikan pertama menyambar ke arah dada, larikan kedua melesat ke arah kepala! Inilah Ilmu kesaktian dari Latanahsiiam yang disebut "Dua Hantu Menembus Raga Menyedot Jiwa!"

"Wuutt...wuuttt"

Nyi Wulas Pikan menjerit keras. Sambil melompat mundur dua tangan dikibas ke atas dan kebawah seperti kipas terbuka. Dua larik sinar merah menderu disertai suara bergemuruh seperti batu raksasa menggelinding. Pukulan Angin Roh Pengantar Kematian!

"Buumm! Buummm!"

Dua dentuman dahsyat menggelegar di bawah hujan lebat begitu dua larik sinar hitam sakti yang keluar dari mata Luhrembulan bentrokan dengan dua cahaya merah pukulan Nyi Wulas Pikan Sinar hitam dan merah sama-sama buyar berantakan dengan mengeluarkan bunga api yang mencuat ke udara setinggi lima tombak.

Untuk sesaat Seantero tempat menjadi terang benderang. Pondok bambu hancur berantakan.

Luhrembulan terbanting ke tanah, terguling sampai sepuluh langkah. Pakaian putihnya selain kotor oleh becekan tanah Juga tampak berubah kemerahmerahan.

Sementara itu Nyi Wulas Pikan terkapar di tanah basah, tersandar ke batang pohon besar sejarak tiga tombak dari pondok bambu yang hancur. Wajahnya kelihatan pucat Di balik penampilan sebagai gadis cantik sesekali muncul bayangan wajah aslinya. Wajah seorang nenek keriput berkulit merah, mata merah, alis merah. Lidah merah setengah terjulur. Mahluk alam roh ini cepat melafal mantera hingga wajahnya dengan cepat kembali menjadi wajah gadis cantik, tidak berubah-rubah.

Selagi dua gadis cantik Itu terkapar tak berdaya di tempat masing-masing tiba-tiba dibawah hujan lebat berkelebat seorang perempuan berpakaian biru.

Sambil lari mulutnya keluarkan ucapan.

"Kemuning, lihat ada dua gadis cantik terkapar tak berdaya. Yang satu aku tidak kenal. Tapi yang satunya aku lebih dari kenali Dia yang datang ke tempat Kiai tadi pagi. Dia gadis bernama Luhrembulan, mengaku sebagai istri ayahmu! hik... hik! Gadis gila! Apa yang terjadi dengan dirinya!"

Yang muncul sudah dapat diterka. Bukan lain Nyi Retno Mantili bersama boneka kayunya.

Melihat kedatangan Nyi Retno Mantili, kejut Nyi Wulas Pikan bukan kepalang. Gadis jejadian dari alam roh yang aslinya adalah Nyai Tumbal Jiwo Ini kerahkan tenaga dalam, alirkan hawa sakti lalu berusaha berdiri dengan cepat "Dicari tidak bertemu. Sekarang muncul sendiri. Dia tidak mengenali diriku. Apa aku masih harus membunuh perempuan satu ini!?!" Pikir Nyi Wulas Pikan. "Aku tidak yakin dia sudah kawin dengan Wiro sebagaimana aku tidak yakin perempuan pakaian putih itu bilang Wiro adalah suaminya! Sebaiknya memang aku habisi saja dia sekarang Juga!"

Saat itu Luhrembulan juga sudah berdiri. Sakit hatinya terhadap Nyi Retno masih belum pupus. Kini perempuan berotak tidak waras Itu muncul di hadapannya.

"Nyi Retno, apa anakmu boneka kayu butut itu sudah bertemu ayahnya?!" tegur Luhrembulan mengejek.

"Kemuning! Ada perempuan sinting berani menghina dirimul Coba kau beri pelajaran ilmu kematian padanya!" Habis berkata begitu Nyi Retno Mantili angkat boneka kayu, arahkan pada Luhrembulan.

Melihat kedua orang itu siap bertarung. Nyi Wulas Pikan berubah pikiran. Dari niat hendak membunuh Nyi Retno Mantili dia memutuskan lebih baik tinggalkan tempat itu, naik ke puncak Gunung Merapi untuk mencari Pendekar 212 yang diketahuinya berencana datang menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Biar keduanya berkelahi! Biar keduanya mampus di tempat ini!" Pikir Nyai Tumbal Jiwo alias Nyi Wulas Pikan. Lalu tidak menunggu lebih lama dia berkelebat lenyap dibawah lebatnya curahan hujan.

Dihina sebagai perempuan sinting, dilecehkan hendak diberi pelajaran ilmu kernatlan, Luhrembulan mendidih amarahnya.

"Perempuan sedeng yang punya anak boneka butut dari kayu! Sebelum kau memberi pelajaran padaku, mari aku ajarkan padamu bagaimana caranya bersopan santun! Betina gila, kau perlu dirajam seumur hidup antara langit dan bumi!"

Luhrembulan tutup ucapannya dengan menjentikkan sepuluh jari tangan jari tangan kanan!

Wutt..wuuuuttt!"

Puluhan larik api biru melesat ke udara bersilangsilang, membentuk jaring luar biasa mengerikan. Jaring ini dengan kecepatan kilat kemudian menyambar ke arah Nyi Retno Mantili. Nyi Retno Mantiil sendiri sambil tertawa cekikikan pencet pinggang boneka kayu yang telah diangkat dan diarahkan pada Luhrembulan.

Sesaat lagi Ilmu kesaktian dua perempuan cantik itu siap saling membantai diri masing-rnasing tiba-tiba tiga orang berkelebat. Dua perempuan, satu lelaki.

Yang letak! berteriak keras. Suaranya menggegelar menindih deru suara hujan.

"Luhrembulan! Nyi Retno Mantili!Tahan serangan! Kalian tidak bermusuhan! Mengapa hendak saling membunuh!"GELEGAR suara teriakan orang yang memberi ingat sama sekali tidak diperdulikan baik oleh Luhrembulan maupun oleh Nyi Retno Mantili!

"Celaka!" Lelaki yang tadi berteriak kini berseru kawatir. "Nenek berdua, cepat halangi Nyi Retno. Aku akan menghadang gadis yang satunya! Hati-hati! Jangan sampai ada yang terluka"

Satu gelombang angin sedahsyat topan prahara melabrak ke arah Luhrembulen, membuat gadis ini hampir terjengkang tapi masih mampu meneruskan melancarkan serangan yang disebut Api Iblis Penjaring Roh. Sekali Nyi Retno sampai terjerat, kalaupun dia bisa lolos dari dalam jaring api maka tubuhnya akan terkutung-kutung!

Melihat Luhrembulan nekad meneruskan serangan, lelaki yang barusan melepas pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi secepat kilat menubruk gadis dari Latanahsilam Itu. Selagi keduanya bergulingan Luhrembulan hendak menusuk dada lelaki itu dengan dua jari yang diluruskan. Serangan yang dilancarkan mengarah dada kiri, bernama Lintah Penyedot Jantung. Jika mengenal sasaran korban akan menemui ajal dalam kejapan mata karena jantungnya akan pecah dan berhenti berdetak! Tetapi begitu Luhrembulan melihat wajah orang yang memeluknya, langsung dia berteriak dan balas merangkul kuat-kuat "Wiro!"

Ternyata orang yang menubruk Luhrembulan dan berusaha mencegah gadis dari Latanahsilam ini menyerang Nyi Retno Mantili adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.

DI lain bagian, tepat ketika Nyi Retno Mantili menekan pinggang boneka kayu dan dua larik cahaya putih mematikan menyembur ke arah Luhrembulan tiba-tiba dua orang nenek menyerbu. Nenek pertama memukul bagian bawah lengan kanan Nyi Retno hingga lengan Itu terpental ke atas. Nenek kedua dengan cepat merangkul pinggang Nyi Retno lalu tubuh kecil perempuan cantik ini ditariknya ke bawah. Nyi Retno dan dua nenek Jatuh bergedebukan di tanah!

"Tua bangka kurang ajari Siapa kalian!"

"Nyi Retno tenang..." nenek yang memukul lengan berkata. Nenek Ini berambut kelabu, mengenakan jubah kuning. Sepasang mata merah dan di telinganya mengenakan anting dari tulang manusia. Dia bukan lain adalah kembaran ketiga mahluk Jejadian Eyang Sepuh Kembar Tilu.

Nenek kedua yaitu Nyi Roro Manggut menyambung!.

"Kita sesama sahabat. Kau tak perlu kawatir!" Nenek ini bertubuh cebol berjubah hijau. Rambut putih awutawutan sampai ke lutut. Sepasang mata juling dan hidung pesek sama rata dengan pipi.*****BAGAIMANA Wiro dan dua nenek itu bisa sampai di kaki Gunung Gede? Seperti dituturkan dalam episode sebelumnya (Bayi Satu Suro) Nyi Roro Manggut dan kembaran ke tiga Eyang Sepuh Kembar Tilu meninggalkan Wiro sendirian di puiau Watu Gilang untuk menyaksikan keramaian perayaan malam Satu Suro di pantai Parangtritis dan Parangkusumo.

Setelah dua nenek pergi Wiro sempat bertemu dengan gadis cantik jejadian Nyai Tumbal Jiwo yang berniat menggodanya. Ketika hendak dihantam dengan pukulan Sinar Matahari mahluk jejadian itu melenyapkan diri.

Wiro memandang ka langit, memperhatikan rembulan yang hampir bulat tersembul dibalik awan. Murid Sinto Gandeng itu ingat kalau besok malam bulan purnama penuh atau purnama empat belas hari dia sudah harus menghadap Kiai Gede Tapa Pamungkas di puncak Gunung Gede.

Wiro menggaruk kepala. Bingung sendiri. Kalau dia pergi menemui sang Kiai dan benar orang tua itu hendak membicarakan perjodohannya dengan Ratu Duyung, maka dia akan menemui suasana yang membuat dirinya jadi tidak enak. Sebaliknya kalau dia tidak menemui Kiai itu, apa lagi sudah dipesan sampai dua kali oleh Eyang Sinto Gendeng maka kelak keadaannya nanti lebih tidak enak lagi.

"Nyi Roro Manggut masih membawa Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru. Batu sakti Itu bisa kupergunakan untuk pergi ke Gunung Gede secepat kiiat. Aku harus mencari dua nenek itu. Mudahmudahan mereka mau ikut bersamaku..."

Wiro menyeberang dari pulau Watu Gilang ke pantai Parangtritls. Setelah berputar-putar dan berkeliling cukup lama akhirnya menjelang pagi dia menemui Nyi Roro Manggut dan kembaran ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu di pantai Parangkusumo tengah nongkrong di depan panggung para pemain gamelan.

Nyi Roro Manggut tidak keberatan memenuhi permintaan Wiro dan nenek satunya juga mau ikutan. Dangan mengandalkan kesaktian Batu Mustika Angin Laut kencana Biru pinjaman dari Nyi Roro Kidul maka Wiro dan dua nenek berangkat ke Gunung Gede. Menjelang tengah hari ketika berada di kaki Gunung Gede Nyi Roro Manggut memberi tahu kalau dia barusan menerapkan Ilmu Menjajag Nafas Mendengar Detak Jantung.

"Ada dua orang di kaki gunung sebelah timur. Dua-duanya perempuan.Yang satu mahluk dari alam gaib." Berkata Nyi Roro Manggut.

"Bisa Jadi Purnama," ucap Wiro tapi hanya dalam hati.

"Aku punya firasat sesuatu akan terjadi di bawah sana." Kata kembaran ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu.

"Kalau begitu tidak ada salahnya kita menyelidik ke kaki gunung sebelah timur," ujar Wiro pula.

Ketika Wiro dan dua nenek sampai di tepi sungai kecil, di bawah hujan yang masih mengguyur lebat dia melihat dua perempuan muda dan cantik tengah berhadap-hadapan siap untuk bertarung dekat sebuah gubuk yang hancur berentakan. Kagetnya Wiro bukan alang kepalang begitu dia mengenali bahwa perempuan cantik berpakaian putih yang menghadap ke arahnya adalah Luhrembulan, gadis dari negeri 1200 tahun silam. Sementara yang jadi lawan dan membelakanginya adalah perampuan muda bertubuh kecil memegang boneka kayu. Nyi Retno Mantili!

Pada saat dua perempuan ini saling menyerang dengan mengerahkan Ilmu kesaktian, pada saat itu pula Wiro berteriak. Karena teriakannya tidak diperduiikan orang maka dia langsung menyergap Luhrembulan sementara dua nenek menghalangi Nyi Retno Mantili.

"Dua nenek Jelek! Siapa kalian! Mengapa menghalangikul Aku tidak mengenal kalian!"

Menghardik Nyi Retno Mantili. Dia coba menendang dan memukul, tapi aneh kaki dan tangannya terasa berat. "Kurang ajar! Apa yang kalian lakukan padaku?!" teriak Nyi Retno Mantili pada dua nenek yang hanya mesem-mesem saja.

Sementara itu di depan sana waiau dua cahaya putih yang keluar dari sepasang mata boneka kayu tidak sampai menghantam tubuh Luhrembulan, tapi sewaktu Wiro bergulingan dan berada di atas tubuh si gadis, salah satu dari dua cahaya putih yang melesat keluar dari mata boneka kayu menyambar di atas pantat celananya. Meski Jarak antara celana dan sinar cukup Jauh yaitu sekitar satu Jengkal namun breett! Saking hebatnya kekuatan cahaya putih tersebut pantat celana Wiro robek besar hingga auratnya sebelah bawah tersingkap lebar.

Selain merasa kepanasan Wiro Jadi tersentak kaget karena ketika meraba bagian bawah tubuhnya itu dia dapatkan pantatnya tidak tertutup lagi.

"Sialan!" Wiro memaki dan ketegapan sendiri. Dia cepat berdiri namun tak bisa karena tubuhnya masih dipagut kuat-kuat oleh Luhrembulan, malah sambil memeluk gadis itu juga menciuminya dan berulang kali menyebut namanya penuh mesra.

Menyaksikan apa yang dilakukan Luhrembulan terhadap Wiro, dua mata Nyi Retno Mantili terbeliak besar seperti hendak melompat keluar dari rongganya.

Sekujur tubuh bergetar. Keadaannya yang tadi tidak bisa bergerak, kini mendadak seperti dapat kekuatan berlipat ganda. Sekali menendang dua nenek yang masih memeganginya terpental.

"Kemuning.... lihat! Perempuan gila itu memeluk dan menciumi ayahmu!" Nyi Retno berucap setengah berteriak.Tangan kiri menunjuk-nunjuk, tangan kanan memegang boneka. Perempuan ini kemudian keluarkan suara menggerung panjang. "Akan kuhajar dia! Dia musti mati! Tapi...."Nyi Retno terdiam sejenak "Bagaimana kalau....jangan-jangan ayahmu memang suaminya. Kemuning, kita.... sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Hatiku kecewa, benar-benar sedih. Apakah kau begitu juga anakku?"

Sambil menangis keras, tanpa dapat dicegah oleh dua nenek Nyi Retno Mantili menghambur lari.

"Wiro! Nyi Retno kabur!" teriak Nyi Roro Manggut. Wiro terkejut. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Luhrembulan. Tapi rangkulan gadis Ini semakin kencang. Dua kakinya malah ikut disilangkan di pinggang Wiro.

"Kau mau kemana Wiro? Jangan pergi! Aku benar-benar rindu padamu! Tidakkah kau mau memelukku? Membalas ciumanku? Apa kau mau? Bukankah kita sudah jadi suami Istri?" Wiro tidak perdulikan ucapan Luhrembulan.

"Nek! Kejar! Lekas kejar Nyi Retno!" teriak Wiro.

Tapi Nyi Roro Manggut dan nenek kembaran ke tiga Eyang Sepuh Kembar TIlu justru tertawa haha-hihi asyik memperhatikan celana Wiro yang robek hingga auratnya sebelah bawah belakang terlihat jelas.

"Hik... hik! Kantong menyannya berkilat!" kata Nyi Roro Manggut

"Tapi dari sini aku melihat malah hitam seperti salak! Hik ... hik... hik!" menyahuti nenek kembar jejadian.

"Kalau sampai tersentuh gadis itu. Ihhh....aku juga mau memegang! Pasti kenyal-kenyal! Hik...hik... hik!"

kata Nyi Roro Manggut. Dua nenek kemudian sama-sama tertawa berkekehan.

Lalu kembaran ketiga Eyang Sepuh KembarTilu berkata.

"Sebaiknya kita berdua pergi saja! Kita bisa mati cemburu melihat pemuda itu dipeluk dan diciumi Luhrembulan! Apa kau tidak cemburu heh? Aku tahu kau suka pada Wiro!"

Nyi Roro Manggut senyum-senyum. Kepala mengangguk-angguk.

Lalu dia membalas ucapan orang. "Aku juga tahu kalau kau naksir pada si gondrong itu!"

Dua nenek kembali tertawa cekikikan.

"Sudah, tak perlu berdebat. Ayo kita pergi sekarang juga! Kita berpura-pura mengejar Nyi Retno Mantili." Kata nenek jejadian kembaran ke tiga sambil menariktangan Nyi Roro Manggut Nenek satu ini ikut saja tapi kemudian dia ingat sesuatu.

"Tunggu, Batu Mustika milik Nyi Roro Kidul ada pada Wiro. Aku harus mengambilnya lebih dulu!"

"Ah, jangan mencari kesempatan. Aku tahu kau bukan mau mengambil batu mustika tapi mau melihat batu kembar antik milik pemuda itu yang gelantungan bergerak lucu kian kemari! Hik... hik... hik!"DENGAN susah payah akhirnya Wiro bisa melepaskan diri dari pelukan dan duman Luhrembulan. Dia langsung duduk menjelepok ditanah untuk menutupi celana yang robek di bagian belakang sebelah bawah.

"Wiro, sekian lama aku mencarimu. Ketika aku menyirap kabar kau akan datang ke puncak Gunung Gede, aku mendahului datang ke sana. Tapi aku bertemu dengan perempuan-perempuan yang menyakitkan hatiku!"

"Luhrembulan, siapa yang kau maksudkan dengan perempuan-perempuan yang menyakitkan hati?" tanya Wiro.

"Yang pertama, si ceking yang kemana-mana membawa boneka kayu itu. Katanya ayah dari boneka itu adalah kau. Berarti kau adalah suami perempuan ceking itu yang menurut Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah muridnya, bernama Nyi Retno Mantili! Perempuan tidak tahu diri! Tidak tahu diuntung! Sudah sinting punya anak kayu, mengejek diriku pula!"

"Perempuan malang itu memang tidak waras. Setiap ucapannya tidak perlu kau ambil hati!"

Luhrembulan tersenyum ialu mencibir.

"Aku tahu otaknya memang miring sejak dia kehilangan bayi. Bukan begitu ceritanya? Tapi aneh. Orang sinting mengapa bisa bermulut ketus. Mengapa bisa merasa cemburu?! Jangan-jangan sintingnya dibuat-buat! Tapi apa urusannya dengan diriku? Perempuan sinting itu malah menyerang aku dengan dua sinar yang keluar dari sepasang mata boneka kayu. Tapi ilmu kesaktiannya itu tidak bisa melewati tanah terbelah yang telah aku gurat dengan ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah. Kalau tidak ditolong Kiai Gede perempuan itu pasti sudah amblas masuk ke dalam belahan tanah."

"Katamu Nyi Retno mengejekmu. Memangnya dia mengejekmu apa? Apakah karena soal mengejek itu kau lantas sampai mengeluarkan Ilmu kesaktian yang dahsyat itu?" tanya Wiro.

"Dia marah ketika aku memberi tahu kalau kau adalah suamiku! Bahwa kita sudah kawin di Latanahsilam."

"Tapi perkawinan itu tidak syah..." tukas Wiro.

"Syah atau tidak yang Jelas perkawinan Itu telah terjadi! Ada yang menikahkan kita yaitu nenek Lamahila dan ada seorang saksi bernama Laduliu. Apa kau lupa hal itu Wiro? Atau berpura-pura lupa?"

"Aku Ingat betul peristiwa di Bukit Batu Kawin Itu.

Ada orang yang memberikan minuman aneh padaku hingga aku tidak sadar diri. Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan hal Itu," kata Wiro pula sambil garuk-garuk kepala Dia hendak berdiri tapi begitu ingat celananya yang robek tidak jadi dan buru-buru duduk menjelepok di tanah kembali.j berdiri?" tanya Luhrembulan.

"Anu... tidak ada apa-apa Aku hanya masih ingin duduk."

"Di tanah yang becek oleh air hujan Ini?" ujar Luhrembulan.

"Aneh! Sementara aku bicara berdiri, kau duduk di tanah. Sudah aku duduk saja di depanmu." Lalu Luhrembulan duduk bersimpuh di depan Wiro.

"Wiro, apa selama ini kau tak pernah ingat diriku? Tidak pernah kangen, tidak pernah rindu?"

"Selama di Latanahsilam kau banyak berbuat baik padaku. Kau mengobati diriku ketika cidera berat Kau memberikan ilmu kesaktian hebat luar biasa padaku. Aku tidak bisa membalas semua hutang budi itu.Tentu saja aku mengingat semua kebaikanmu itu."

"Hanya mengingat kebaikannya, orangnya tidak?

Kau tidak ingat diriku, Wiro?" ujar Luhrembulan dengan suara dan wajah menunjukkan rasa sedih.

Wiro tersenyum tapi tidak menjawab.

"Wiro, aku tidak pernah merasa bahwa kau berhutang budi padaku. Aku tidak pernah membangkit minta kau membalas semua itu. Aku hanya ingin satu hal. Yaitu bahwa kau menyadari kalau kita sudah kawin, sudah nikah..." Wiro masih diam.

"Aku minta dinikahkan denganmu oleh Nenek Lamahila bukan karena apa-apa. Pertama aku memang mencintaimu dengan setulus hati. Kedua aku ingin keluar dari azab sengsara yang terjadi sejak mulai dari nenek moyangku. Wiro, ketika masih di Latanahsiiam aku pernah meratap. Aku masih ingat apa yang aku ratapkan saat itu. Wahai mahluk bermuka buruk. Puluhan tahun kau hidup dalam kutuk yang jatuh menimpa dirimu bukan karena maumu dan bukan karena kesalahanmu. Puluhan tahun kau tenggelam dalam kesesalan. Menyantet dan membunuh orang-orang tidak berdosa. Kini ketika sentuhan kasih membuka mata dan menyingkap hatimu, ketika kau mengambil keputusan bahwa kau bisa meninggalkan Jalan sesat dan memilih hidup baik, ternyata tidak ada orang yang mau menolongmu. Wahai mahluk tua berwajah buruk. Sudah takdir dirimu kau akan berada dalam keadaan sengsara begini rupa seumur bumi terbentang, selagi langit terkembang ..."(Baca serial Wiro Sableng di negeri Latanahsiam berjudul "Rahasia Perkawinan Wiro").

Luhrembulan tutup wajahnya dengan dua tangan lalu menangis sesenggukan.

"Aku tahu, tidak ada seorangpun yang mau mengerti. Apa lagi mau menolong. Aku akan tetap hidup dalam kutukan. Dalam ujud seorang nenek buruk bernama Hantu Santet Laknat"

"Luhrembulan, kau tidak lagi berada di alammu. Kau saat Ini sudah berada di alam lain. Kau berada di tanah Jawa. Kurasa semua kutukan turun temurun itu telah lenyap. Kau benar-benar telah menjadi seorang gadis cantik seperti keadaanmu saat ini."Wiro coba menghibur.

Luhrembulan tersenyum. Dia beringsut mendekati Wiro. Untuk beberapa saat wajahnya diletakkan di dada bidang pemuda itu. Lalu dia mundur menjauh kembali.

"Wiro, kau berkata begitu, aku berterima kasih.Tapi coba kau lihat sebentar ke arahku. Kau akan melihat kenyataan..."

Luhrembulan duduk tak bergerak, menatap kearah Pendekar 212 Wiro Sableng. Murid Sinto Gendeng balas memperhatikan. Dadanya berdebar ketika dia melihat, walaupun sedikit samar, sosok Luhrembulan yang tadi berupa gadis cantik berpakaian putih kini berubah menjadi nenek kurus keriput bermuka buruk seperti burung gagak, mata kecil tak beralis. Pakaian dari jerami kering. Sosok Inilah yang pernah dilihatnya sewaktu berada di Latanahsilam dulu ketika tersesat bersama Setan Ngompol dan Naga Kuning (baca serial Wiro Sableng di tanah silam mulai dari episode "Bola Bola Iblis" sampai "Istana Kebahagiaan").

"Luhrembulan, sebaiknya kau jangan mengingatingat lagi keadaan dirimu..."

"Bagaimana aku bisa melupakan hal itu, Wiro? Nasib buruk dan azab diriku mengalir dalam darah, bersatu dengan nafasku."

"Luhrembulan, tadi kau menyebut perempuanperempuan yang menyakitkan hati. Kau sudah menceritakan tentang Nyi Retno. Lalu siapa perempuan lainnya?"Wiro alihkan pembicaraan.

"Tadi di tempat Ini ada gubuk.Tapi sudah hancur berantakan. Ketika aku berteduh datang seorang gadis berpakaian hijau. Dia mengaku bernama Nyi Wulas Pikan..."

"Nyi Wulas Pikan?" Mengulang Wiro dengan suara bernada kaget. Lalu dalam hati dia membatin. "Gila, jadi mahluk alam roh satu itu sudah sampai pula di tempat Ini rupanya!"

"Kau mengenalnya?"

"Aku melihatnya pertama kali malam tadi di pantai pulau Watu Gilang," menerangkan Wiro.

"Katanya dia adalah kekasihmu..." ujar Luhrembulan pula.

Wiro menggaruk kepala.

"Gadis itu adalah jejadian dari Nyai Tumbal Jiwo.

Muridnya kubunuh. Celakanya sang murid yang bernama Wira Bumi itu adalah Patih Kerajaan dan merupakan kekasih si nenek. Dia memaksa aku jadi kekasihnya pengganti Wira Bumi."

"Aku melihat paksaan Itu sekaligus merupakan ancaman. Nyai Tumbal Jiwo bisa membuatmu menjadi buronan Kerajaan seumur-umur."

"Kurasa begitu," Jawab Wiro sambil menggaruk kepala.

"Apakah kau akan menerima atau memang sudah menjadi kekasihnya?" tanya Luhrembulan.

Wiro tertawa

"Di balik niat mesumnya itu aku yakin dia punya maksud hendak membunuhku. Rasanya tidak ada jalan lain. Aku harus membunuhnya lebih dulu. Hanya saja apakah aku bisa melakukan hal itu karena dia mahluk dari alam roh. Dia bisa bersalin rupa seratus kali dalam satu hari!"

"Kalau begitu biar aku yang mewakili dirimu membunuh nenek Itu!" kata Luhrembulan pula. Saat Ini dia tengah dalam perjalanan menuju puncak Gunung Gede. Menunggu kedatanganmu."

"Aku tidak akan ke sana. Paling tidak untuk kali Ini," jawab Pendekar 212.

Untuk beberapa lama kedua orang itu tidak ada yang bicara. Kemudian Wiro bertanya.

"Selain Nyi Retno dan Nyi Wulas Pikan, apa masih ada perempuan lain yang menyakiti hatimu?'

"Sebenarnya bukan perempuan. Dia seorang lelaki. Tapi bermulut seperti perempuan. Dia mengusirku dari puncak Gunung Gede!"

"Aku tak mengerti. Siapa lelaki itu?" tanya Wiro pula.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas! Kakek yang katanya tokoh bijaksana rimba persilatan. Tapi mulutnya seperti ember. Perilakunya terhadapku sungguh tidak adil. Dia lebih membela perempuan ceking yang punya anak boneka kayu itu. Yang diakuinya sebagai muridnya. Dia mengusirku secara halus. Aku terpaksa meninggalkan telaga tempat kediaman Kiai itu! Wiro, aku tak habis pikir mengapa Kiaimu Itu memberi ilmu kesaktian pada seorang perempuan sinting. Orang waras saja terkadang bisa menyalah gunakan Ilmu kepandaian, apa lagi yang tidak waras seperti Nyi Retno Mantili Itu."

Kurasa Kiai hanya memberikan ilmu pada Nyi Retno untuk melindungi dirinya. Sejak dia meninggalkan Gedung Ketemenggungan di Kotaraja, nyawanya terancam. Dia terpisah dengan bayinya..."

Luhrembulan tertawa mendengar kata-kata Wiro itu.

"Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?" tanya Pendekar 212.

"Dia hendak membunuhku dengan dengan ilmu kesaktian yang mengeluarkan dua larik cahaya putih dari mata boneka kayu. Pertama kali dilakukannya di tepi telaga. Di depan Kiaimu. Yang kedua kali di tempat Ini. Kau menyaksikan sendiri. Apakah yang kau maksudkan Ilmu untuk melindungi diri?" Wiro mulai resah dan gerah.

"Luhrembulan, sebenarnya aku ingin bicara lebih banyak denganmu. Tapi ada yang harus aku lakukan. Aku mungkin berubah pikiran. Mungkin aku akan menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas di tempat kediamannya."

"Aku ikut bersamamu," kata Luhrembulan pula.

Mendengar kata-kata Luhrembulan Ku Wiro cepat memutar otak.

"Sebelum menemui Kiai, aku ingin mengejar dua nenek temanku tadi. Mereka tengah berusaha mencari Nyi Retno..."

"Hemmm....begitu? Setahuku rencana pertemuanmu dengan Kiai ember Itu baru besok malam...."

"Luhrembulan, tidak baik mencerca Kiai GedeTapa Pamungkas seperti itu...!"Wiro mengingatkan.

Luhrembulan hanya tersenyum.

"Kau Ingin pergi mencari dua nenek yang mengejar Nyi Retno. Aku ada di sini. Jangankan memperhatikan diriku, perasaanpun rupanya kau sudah tidak punya lagi. Aku Ingin kita hidup bahagia berdua.Tapi kalau kau inginkan perempuan lain, dan aku tidak kuasa melihatnya, aku akan habisi perempuan itu. Aku sudah bersumpah Wiro. Dengar baik-baik sumpahku!Tidak ada seorang perempuan lainpun yang bisa memiliki dirimu, kecuali diriku yang telah menjadi Istrimu! Perempuan mana saja yang melakukan hal itu akan kubunuh"

"Kau tidak boleh bersikap seperti itu, Luhrembulan. Kau harus sadar. Kita sebenarnya tidak pernah nikah."

"Jadi begitu sikapmu terhadapku, Wiro? Kau seorang pendekar yang ingin lari dari kenyataan. Ingin menghindar dari tanggung jawab!"

"Memangnya aku punya tanggung jawab apa atas dirimu?" Wiro mulai kesal.

"Aku pernah mendengar pantun bagus berasal dari negerimu ini. Kura-kura dalam perahu. Pura-pura tidak tahu! Sudah gaharu cendana pula. Sudah tahu bertanya pula!"

Dalam kesalnya Wiro berdiri, lupa akan celananya yang robek besar di belakang sebelah bawah.

"Luhrembulan, maafkan aku. Aku harus pergi...."

"Pergilah, rohku akan mengikuti kemana kau pergi. Rohku akan membunuh perempuan siapa saja yang berani mendekatimu!"

Tiba-tiba menggema satu suara perempuan.

"Mahluk alam roh tidak tahu malu. Kau sudah tersesat di alam mimpimu! Aku akan mendekati Wiro. Aku mau lihat apakah kau mampu membunuhku!"

Luhrembulan tersentak kaget. Wiro memandang berkeliling.

"Jahanam laknat! Siapa kau! Unjukkan dirimu! Biar kubunuh saat ini juga!" teriak Luhrembulan. Mata mendelik, memandang seputar tempat.

Teriakan Luhrembulan disambut dengan tawa melengking panjang.

Saat itu hujan mulai mereda. Namun keadaan masih gelap. Di arah tepi sunga? kecil kelihatan cahaya biru serta keriap kerlip seperti kembang api. Sesaat kemudian tampak sosok perempuan cantik berambut hitam digeral lepas mendatangi dengan cepat lalu berhenti di samping Pendekar 212 Wiro Sableng.

Bukan hanya sekedar berdiri, tapi sambil merangkulkan tangan kiri ke pinggang sementara kepala disandarkan mesra ke bahu sang pendekar! Mulut melontarkan senyum mengejek.

"Kau Ingin membunuhku? Silahkan!"MAHLUK keparat! Aku sudah mengira! teriak Luhrembulan lalu dengan cepat melompat bangkit dari duduknya di tanah becek.

"Kau juga keparat!" Jawab perempuan cantik berambut panjang lepas dan mengenakan pakaian biru gelap. Kepala ditegakkan tapi tangan kiri masih merangkul pinggang Wiro membuat Luhrembulan seperti terbakar. "Aku tahu riwayat pernikahanmu! Jangan coba menipu dan menjebak Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng! Pernikahan itu tidak pernah ada! Kalaupun ada tidak syah!"

Wajah Luhrembulan berubah merah. Rahang menggembung.

"Perempuan celaka! Apa kau kira aku tidak tahu riwayat dirimu?! Di Latanahsilam kau bernama Luhmintari. Di tanah Jawa ini kau menukar nama dengan Purnama!"

"Wiro yang memberikan nama itu padaku. Apa kau keberatan?" ucap si cantik berbaju biru yang ternyata adalah Purnama. Seperti diceritakan sebelumnya Purnama bersama Ratu Duyung telah bertemu dengan Kiai GedeTapa Pamungkas di puncak gunung. Gadis ini mengetahui kalau sang Kiai merasa tidak enak melihat kehadirannya. Hal ini membuat dugaan Purnama semakin kuat bahwa Kiai Gede Tapa Pamungkas memang Ingin membicarakan perjodohan Ratu Duyung dengan Wiro. Selain menimbulkan rasa perih di hatinya, juga agar tidak menjadi sandungan yang tidak enak karena kehadirannya di situ. Purnama mengatakan Ingin melihat-lihat keindahan di sekitar puncak gunung. Padahal saat itu awan mendung mulai bertumpuk di langit. Keindahan apa yang mau dilihat?

Purnama menuruni puncak Gunung Gede. Nalurinya mengatakan sesuatu akan terjadi di bawah sana. Apa lagi ketika dia mengerahkan ilmu Nafas Sepanjang Badan. Purnama dapat merasakan bahwa ada seorang dari alam gaib di kaki gunung sana.

"Mungkin Nyai Tumbal Jiwo. Tapi mungkin juga Luhrembulan..." kata Purnama dalam hati. Ketika dia sampai di kaki gunung dalam keadaan hujan lebat, yang ditemuinya memang Luhrembulan, tengah duduk di tanah becek, berhadap-hadapan dengan Wiro.

Setelah mendengar cukup lama percakapan kedua orang itu Purnama keluar dari tempat persembunyiannya sambil keluarkan tawa panjang.

Luhrembulan menatap tajam ke arah Purnama.

"Aku tidak perduli siapa namamu sekarang! Atau siapa yang memberikan nama itu padamu! Aku cuma tahu namamu adalah Luhmintari! Riwayatmu di Latanahsilam sungguh memalukan, menjijikkan! Bukankah kau kena kutuk hingga melahirkan seorang bayi berbentuk landak?! Hik... hik! Di sini lagakmu seperti seorang Ratu saja!"

"Riwayatmu jauh lebih buruk dan menjijikkan dariku!" jawab Purnama. "Kutuk telah menjadi azab nenek moyangmu. Apakah kau pernah berkaca dan melihat keadaan ujud dirimu yang sebenarnya? Banyak orang yang kasihan padamu! Tapi kelakuan perbuatanmu membuat semua orang menjadi sangat membencimu1 Kau sendiri sejak tersesat ke tanah Jawa ini bukankah selalu membuntuti diriku dan ingin membunuhku? Terakhir sekali kau bekerja sama dengan Raja Racun Langit Bumi di Gedung Kadipaten Losari untuk melaksanakan niat kejimu!" (Baca serial Wiro Sanleng berjudul "Sang Pembunuh")

"Wahai! Jika ada orang ingin membunuhmu berarti dirimu sebenarnya jelas bukan mahluk baik-baik!

Sayangnya kau adalah mahluk tidak tahu diri hingga tidak menyadari hal itu!" Jawab ucapan Luhrembulan tak kalah pedas menyakitkan.

"Kalian berdua," Wiro yang sejak tadi diam saja coba menengahi. "Bukankah kalian datang dari negeri leluhur yang sama? Mengapa sampai di tanah Jawa ini kalian bersilang sengketa? Akan lebih baik kaiau kalian berdua akur-akur saja dan saling bersahabat Banyak kebajikan yang bisa kalian perbuat di negeri ini." Luhrembulan tertawa melengking.

"Aku?! Aku mau akur-akuran dan bersahabat dengan laknat alam roh tidak tahu diri ini!"

Luhrembulan meludah lalu menggeleng berulang kali.

Perlahan-lahan Purnama lepaskan rangkulannya di pinggang Pendekar 212.

"Selama langit terbentang bumi terkembang, kau adalah mahluk alam roh paling memuakkan di mataku!

Sebaiknya kau mencari jaian pulang kembali ke alam gaib. Atau aku harus memberi petunjuk hingga kau tidak lagi menimbulkan bencana di tanah Jawa ini?"

"Sombongnya!' maki Luhrembulan. "Sebelum kau memberi petunjuk, terima dulu yang satu ini!" Didahului pekik penuh amarah Luhrembulan menerjang ke depan.

Begitu menginjak tanah kaki kanan langsung diguratkan.

"Rrrrttttt!"

Tanah terbelah!

Dari dasar belahan menderu daya sedot kencang luar biasa. Ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah yang luar biasa ganas' Dalam waktu bersamaan dari sepasang mata menyambar dua larik sinar hitam. Ini adalah ilmu Dua Hantu Menembus Raga Menyedot Jiwa!

"Edan, gadis ini benar-benar kalap. Dia benar-benar hendak menghabisi Purnama!" ucap Wiro dalam hati.

Bahkan dirinya Juga bisa ikut tersedot ke dalam tanah yang mendadak sontak terbelah itu! Di dahului suara teriakan keras tanpa perdulikan keadaan celananya yang robek Wiro cepat melompat ke kiri sementara Purnama melesat ke kanan. Untuk selamat dari serangan dua larik sinar hitam Purnama segera lindungi diri dengan cahaya biru begemeriap lalu serentak dengan itu dia balas menghantam dengan lepaskan serangan sakti bernama Menggusur Gunung Menjungkir Langit Dua cahaya biru begemeriap melesat lalu bergabung menjadi satu membentuk bola raksasa.

"Buummm!"

"Breettt"

Letusan dahsyat menggelegar. Seantero tempat bergoncang laksana dilanda gempa besar.Tanah yang terbelah merapat kembali. Wiro, Purnama dan Luhrembulan sama-sama terlempar Jauh. Kalau Wiro kemudian terduduk di tanah dengan kuping pengang dan dada mendenyut sakit, maka Luhrembulan dan Purnama tergelimpang di tanah becek, sama-sama mengerang dan kucurkan darah kental di sela bibir.

Wiro tak berani bergerak. Memandang ke bawah matanya Jadi mendelik ketika melihat celananya kini robek bukan cuma di bagian belakang tapi akibat terpental tadi robekan menjalar lebar sampai ke bagian depan!

"Celaka! Bagaimana aku menyembunyikan anuku...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.92.186.20
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia