Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DI NEGERI TIONGKOK/CHINA

Mungkin ini adalah malam yang paling mengerikan bagi Wiro Sableng selama dia menginjakkan kaki dalam rimba persilatan Tiongkok. Segala sesuatunya gelap, hitam memekat. Hujan turun dengan lebat, angin bertiup dingin mengeluarkan suara aneh tiada hentinya. Sekali-sekali guntur menggeledek dan di kejauhan terkadang terdengar suara lolongan liar serigala hutan.

Dalam keadaan basah kuyup Wiro berusaha mencari perlindungan. Saat itu dia berada di lereng sebuah bukit gundul, sekitar 100 lie dari tembok besar.

"Hujan gila!" memaki Wiro. Dia lari terus. Dalam kepekatan itu di kejauhan dilihatnya satu bayangan hitam sebuah bangunan. Dia tak dapat memastikan bangunan apa adanya itu, namun Wiro segera menuju ke sana. Sesaat kemudian, bila dia sampai ke tempat tersebut ternyata klenteng yang sudah tidak terpakai lagi, Wiro mendekam di bawah atap klenteng yang miring.

Hawa dingin baginya bukan apa-apa tetapi perut yang kosong keroncongan betul-betul merupakan siksaan.

Sekilas kilat menyambar. Bumi sekejapan terang lalu gelap lagi. Ketika sekali lagi kilat berkiblat tiba-tiba sepasang mata Wiro yang tajam melihat sebuah batu empat persegi yang tebalnya hampir tiga jengkal, lebar dua meter dan panjang tiga meter. Batu ini menutupi hampir separuh dari bagian depan klenteng itu.

Meskipun dia tak mengerti mengapa batu itu sampai berada di tempat tersebut, dan kelihatannya di sana, semula Wiro tak mau ambil perduli. Namun ketika sekali lagi pula kilat menyambar menerangi tempat itu. Tepat di atas batu besar itu menggeletak sebuah tengkorak kepala manusia. Sepasang matanya yang merupakan dua buah lobang besar, memandang menyorot mengerikan pada Wiro sedang mulutnya seolah-olah melontarkan seringai maut ke arah pendekar ini. Pada batu besar itu, tepat di bawah tengkorak tadi, terdapat tulisan yang agaknya dibuat dengan darah berbunyi: Liang Se-thian (Liang Akhirat).

"Gila betul! Apa-apaan ini?" membatin Wiro. Meskipun bulu kuduknya agak merinding juga, namun dia melangkah maju mendekati batu besar itu.

Tangannya diulurkan menjamah tengkorak. Batok tulang kepala itu terasa dingin. Jari-jari tangan Wiro Sableng bergetar. Wiro garuk-garuk kepala dengan tangan kiri. Tangan kanannya kemudian mengangkat tengkorak tersebut. Maksudnya hendak ditelitinya. Namun mendadak sontak kelihatan dua larik sinar hijau yang busuk membersit dari sepasang rongga mata yang seram dari tengkorak, menyambar ke muka Wiro. Dari warna dan baunya sinar tersebut Wiro serta merta dapat memastikan bahwa sinar ini mengandung semacam racun yang amat jahat. Sebenarnya dengan memiliki Kapak Naga Geni 212 yang dapat memusnahkan segala macam racun itu, Wiro Sableng tak usah kawatir. Akan tetapi saking kagetnya, pemuda ini secepat kilat meloncat sambil memaki membantingkan tengkorak itu hingga hancur berkeping-keping.

Secara tak sengaja tengkorak yang dibantingkan Wiro membentur sebuah tombol kecil yang terletak di saiah satu sudut batu besar. Dan belum lagi pemuda ini habis kejutnya tiba-tiba pula batu besar di hadapannya bergeser ke samping. Sebuah lobang gelap terbentang dan dari lobang ini tiba-tiba sekali melesat sesosok bayangan disertai mengumbarnya suara tertawa bekakakan yang amat dahsyat.

Angin kelebatan bayangan tadi demikian hebatnya hingga membuat Pendekar 212 Wiro Sableng terhuyung-huyung ke samping, Wiro cepat berpaling.

Sesosok tubuh yang berpakaian compang camping kurus kering tiada beda dengan jerangkong hidup dan di bawah rambutnya yang panjang awut-awutan terdapat wajahnya yang menyeramkan macam iblis ganas. Dia masih terus mengumbar tertawanya yang seram menggetarkan itu. Sedang sepasang matanya yang cekung memandang tidak berkedip pada Pendekar 212.

Wiro Sableng tetapkan hati mengusir rasa ngeri dan berseru, "Siapa kau?! Manusia apa bangsa setan pelayangan!"

Orang yang ditanya tidak menjawab. Malah dia mendongak dan kembali menghamburkan suara tertawanya yang lantang menyeramkan. Dia tertawa sepuas-puasnya. Dan bila tawanya itu berhenti tiba-tiba dia membuka mulut.

‘"Tiga tahun dipendam tidak membuat aku mati! Tiga tahun disekap tidak membuat aku mampus! Tiga tahun dikubur tidak menjadikan aku modar! Betapa tingginya kekuasaan Thian!"

Wiro yang tak mengerti makna kata-kata orang aneh itu jadi garuk-garuk kepala. Siapakah adanya manusia yang ada di depannya itu, kalau dia memang manusia? Apakah dia telah terkurung atau dipendam dalam liang batu itu selama tiga tahun? Tanpa makan dan minum tapi toh bisa hidup." Hanya satu hal yang dapat dipastikan oleh Wiro yakni orang bermuka hampir seperti muka tengkorak itu memiliki ilmu yang tinggi. Ini terbukti dengan angin kelebatannya waktu keluar dari liang tadi, yang telah membuat Wiro Sableng terhuyung!

"Budak! Kau kemarilah!" Tiba-tiba orang itu berseru dan melambaikan tangannya ke arah Wiro.

Aneh! Seolah-olah ada satu kekuatan gaib yang menariknya, Wiro kemudian melangkah ke hadapan orang itu. Dia memperhatikan pendekar kita dengan matanya yang cekung seram.

"Heh, kau orang asing? Bukan orang sini! Tapi sudah, aku tak perduli! Katakan siapa namamu!"

Wiro sebutkan namanya.

"Locianpwe sendiri siapakah kalau siauwte boleh tanya?"

"Saat ini kau belum layak mengetahui siapa diriku. Tapi budak, ketahuilah. Kau telah menyelamatkanku. "Ujarnya mengatakan. "hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Membawa mati budi itulah yang aku tidak sudi. Karena kau telah selamatkan jiwaku dari liang neraka keparat ini maka aku akan memberikan tiga jurus ilmu pedang!"

Wiro Sableng jadi kaget.

"Locianpwe..." katanya. "Aku tak merasa menolongmu, apalagi menyelamatkan jiwamu?"

"Tidak merasa...?" Orang aneh bermuka dan bertubuh tengkorak itu kembali tertawa gelak-gelak. "Kau telah menggeser batu besar itu hingga kini aku bebas. Tiga tahun lamanya aku disekap di liang jadah ini! Kalau tidak ada kau mungkin sampai mati aku akan mendekam terus di situ! Bukankah itu berarti kau telah menyelamatkan diriku? Menolong jiwaku!?"

"Kurasa semua itu terjadi dengan tidak Sengaja. Hari hujan dan aku tersesat kemari...."

"Sengaja atau tidak tapi tetap kau adalah tuan penolongku, budak! Nah sekarang kau bersiap-siaplah untuk menerima tiga jurus ilmu pedang dariku!"

"Aku tanya dulu, Locianpwe!" memotong Wiro.

"Tanya apa?"

"Tiga tahun dipendam di dalam liang batu ini, bagaimana Locianpwe masih bisa hidup?"

"Bukan cuma masih bisa hidup, malah menambah ilmu kesaktianku."

"Ah, itu hebat sekali! Tapi cobalah Locianpwe terangkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Manusia biasa tak bakal bisa terus hidup. Kecuali kalau Locianpwe ini sebangsa jin...!"

Sesaat orang tua bermuka tengkorak itu mendelik dan mimiknya seperti hendak menelan Wiro bulat-bulat. Tapi sesaat kemudian kembali suara tertawanya yang dahsyat terdengar.

"Terhadap orang yang telah menolong jiwaku tiada beda seolah-olah aku telah meminjam nyawamu sendiri. Karenanya apa pun yang kau bilang aku tak akan marah!"

"Ah, kau terlalu berlebih-lebihan, Locianpwe..."

"Mungkin... mungkin. Sekarang bersiaplah untuk menerima pelajaran ilmu dariku. Tapi..." Orang itu sejenak berpikir-pikir.

"Sebelum pelajaran ilmu pedang, sebaiknya lebih dulu kuberikan sepertiga iwekangku padamu!"

"Locianpwe, sebenarnya untuk satu pertolongan yang tidak sengaja itu aku tidak meminta balas jasa apa...."

"Perduli apa, toh aku memberikannya dengan sukarela."

"Walaupun begitu aku tetap tak layak menerimanya."

"Sudahlah, jangan banyak mulut. Lekas duduk bersila dan hadapkan punggungmu padaku. Aku akan buka jalan darah tay hwi hiat di bagian tubuhmu itu!"

Wiro tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti dan duduk bersila. Si muka tengkorak kemudian berlutut di belakang Wiro dan letakkan kedua telapak tangannya pada punggung pemuda ini. Sesaat kemudian Wiro merasakan punggungnya menjadi hangat. Hawa hangat itu terus mengalir menembus kulit dan daging di punggungnya, mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Sekira seperempat jam kemudian dengan butiran-butiran keringat di kening dan pakaiannya yang compang-camping basah kuyup, si orang tua itu buka kedua matanya dan berdiri. Dia menghela nafas lega.

"Berdirilah!"

Ketika berdiri Wiro merasakan betapa tubuhnya kini terasa amat mantap dan enteng. Sebagai seorang pendekar sakti mandraguna sebelumnya Wiro Sableng telah memiliki iwekang (tenaga dalam) yang amat tinggi. Ini ditambah pula dengan sepertiga bagian tenaga dalam baru dari seorang sakti misterius itu, dengan sendirinya dapat dibayangkan bagaimana hebat dan luar biasanya tenaga dalam yang sekarang dimiliki oleh Pendekar 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu.

"Sekarang kau perhatikan baik-baik. Aku akan mainkan tiga jurus ilmu pedang yang dahsyat. Sesudah itu kau menirukannya."

Orang sakti aneh itu rentangkan kedua kakinya. "Ini jurus pertama. Bernama Cip hian-jay-hong (Tiba-tiba muncul pelangi). Perhatikan baik-baik!" Kemudian, "Jurus kedua Lo han Ciang-yau (Malaikat Menundukkan Siluman)" Setelah itu, "Dan ini jurus terakhir kunamai: Kui-gok-sin-ki atau Setan Meratap Malaikat Menangis! Nah sekarang kumainkan sekali lagi satu persatu dan kau menirukannya."

Wiro manggut-manggut sambil garuk-garuk kepala dan sepasang matanya memperhatikan dengan teliti. Bila orang tua tak dikenal ini selesai memainkan jurus pertama yang disebut "Tiba-tiba Muncul Pelangi" maka Wiro pun menirukannya. Demikian seterusnya.

Si orang tua tertawa lebar dan usap-usap janggutnya yang panjang acak-acakan. "Budak, ternyata kau memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan meskipun tampangmu tolol tapi otakmu cerdas. Hanya dua kali melihat, kau sudah dapat menirukan masing-masing jurus ilmu pedang tadi tanpa salah sedikitpun! Dan dalam gelapnya cuaca begini, kau betul-betul hebatl Asal kau rajin melatih diri, pasti kau tak akan dapat dirubuhkan oleh jago pedang dari negeri mana punl"

Wiro garuk-garuk kepala.

"Nah, untuk sementara segala hutang budi kurasa sudah terbayar. Cuma hutang nyawa yang masih belum impas. Di lain hari kelak aku akan datang membayarnya berikut bunganya. Selamat tinggal budak.... "

"Locianpwe, tunggu!" Wiro berseru cepat.

"Ada apa pula, budak?!"

"Sudilah Locianpwe mengatakan siapa adanya manusia jahat yang telah mencelakakan dan memendam Locianpwe dalam liang batu itui"

"Memangnya kenapa, budak?"

"Aku akan mencarinya guna membalaskan sakit hati Locianpwe sebagai tanda terima kasih atas budi baik yang Locianpwe berikan hari ini padakul"

Si orang tua tertawa gelak-gelak. "Budak, ternyata kau seorang yang punya hati polos, budi luhur dan tahu peradatan. Tapi ketahuilah, soal dendam kesumat dengan orang yang telah menjebloskan diriku dalam liang akhirat ini biarlah tetap menjadi urusanku dan tanggung jawabku!"

"Satu pertanyaan lagi, Locianpwe," kata Wiro. Tapi astaga! Padahal kata-kata terakhir orang itu masih ternigiang di telinga Wiro, tapi sosok tubuhnya sendiri sudah berkelebat lenyap dari hadapannya. Tadi dia hendak menanyakan bagaimana selama tiga tahun terpendam di liang batu itu si orang tua masih bisa hidup. Tapi yang hendak ditanya sudah melesat pergi. Wiro melangkah mendekati lobang batu itu. Gelap. Dia berlutut dan meluruskan tangannya meraba-raba. Aneh, dinding liang itu dirasakannya basah dan berlapis semacam benda lembut. Ketika dikorek dan diteliti ternyata adalah sejenis lumut yang dapat dimakan.

"Hemm..." menggumam Wiro. Kini dia mengerti. Liang batu tersebut ditumbuhi oleh lumut dan lumut inilah yang menjadi satu-satunya makanan yang menjadi pengisi perut orang misterius tadi selama tiga tahun dipendam di situ!

Perlahan-lahan Wiro berdiri. Di luar hujan telah mulai reda. Tiba-tiba sepasang telinga Wiro yang tajam mendengar suara berdesir, di belakangnya lima pisau terbang menderu ke arah lima bagian tubuh pendekar ini. Tahu bahaya mengancam secepat kilat Wiro jatuhkan diri dan berguling ke sudut ruang ini. Lima pisau melabrak dinding, sebuah menancap, empat lainnya jatuh berkerontangan di lantai.

"Pembokong pengecut! Coba perlihatkan tampangmu!" teriak Wiro marah.

Dua sosok tubuh kemudian melesat masuk ke ruangan itu.

***

2DUA orang yang barusan melesat masuk itu bertampang garang dan seram. Rambut merah panjang awut-awutan, kumis dan janggut berangasan. Mereka mengenakan jubah hitam. Pada leher masing-masing tergantung sebuah kalung emas yang mata kalungnya merupakan kepala seekor harimau tengah mengangakan mulutnya.

"Aku tidak kenal siapa kalian! Sama sekali tidak ada permusuhan di antara kita. Kenapa kalian menyerangku?" Wiro menghardik.

Kedua orang itu tidak menjawab. Yang satu melangkah mendekati liang batu dan memandang tajam ke dalam. Sesaat kemudian dia berpaling pada kawannya dan dengan paras berubah kaget dia berseru, "Liang batu ini kosong!"

"Hah?!" sang kawan tampaknya juga kaget sekali dan dengan satu gerakan kilat tahu-tahu sudah berada di tepi lobang batu. Memandang ke bawah dilihatnya liang batu itu benar-benar kosong.

"Pasti bangsat inilah yang telah melepaskannya!"

Sesaat kedua orang itu memandang melotot pada Wiro. Salah seorang dari mereka mendengus, dan buka mulut, "Mengaku! Bukankah kau yang telah menggeser batu besar ini dan melepaskan orang yang dipendam di dalamnya?!"

Wiro Sableng paling benci pada manusia-manusia yang kasar dan galak serta memandang rendah orang lain seenak perutnya. Apalagi barusan kedua orang tak dikenal itu telah membokongnya dengan satu serangan maut. Maka pemuda ini pun menjawab.

"Datang dengan baik, berkata dengan baik, bertanya dengan baik itulah peradatan dunia kangouw!"

"Kurang ajar! Budak hina dina macammu ini hendak memberi kuliah pada kami? Apakah tidak melihat gunung Thay-san di depan mata?!"

Sebenarnya Wiro telah jengkel melihat dua manusia-manusia di hadapannya itu. Namun ditindasnya rasa jengkel itu dan sebelum dia menghajar mereka, ingin terlebih dahulu hendak dipermainkannya. Dia garuk-garuk kepala, mendelikkan mata dan kerenyitkan kening lalu memandang berkeliling celingukan.

"Gunung Thay-san, katamu heh! Aku tak mellihatnyal Kau tentu sudah keblinger sobat! Gunung Thay-san jauh dari sini. Ribuan lie, mana aku bisa melihat? Apalagi malam gelap gulita begini!"

"Bangsat gila! Berani kau mempermainkan Siang-mo-kiam! Kepalamu menggelinding detik ini juga!"

Habis membentak begitu, tak tahu kapan dia mencabut pedang, tiba-tiba saja sinar putih bertabur di depan hidung Wiro Sableng. Untung saja pendekar ini waspada dan buru-buru menyurut tiga langkah.

Kalau tidak niscaya lehernya tersambar putus dan kepalanya benar-benar dibikin menggelinding oleh pedang lawan.

"Siang mo-kiam? Sepasang Pedang Iblis?! Hem, tampang kalian memang pantas disebut iblis kesiangan!"

Di hadapan Wiro kini kedua orang berjubah hitam itu masing-masing telah mencekal sepasang pedang perak. Keduanya berputar-putar mengelilingi Wiro. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak nyaring dan detik itu juga empat bilah pedang berkiblat bersuitan menggempur empat bagian tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng!

Wiro jadi terkesima. Memandang berkeliling dia tak dapat lagi melihat kedua musuhnya. Di sekitarnya kini hanya terlihat gulungan-gulungan sinar putih yang membuntal-buntal menyelubungi dirinya. Tak satu jalan keluar pun tampak, sedang buntalan gulungan-gulungan sinar pedang musuh detik demi detik semakin menyempit. Pakaian dan rambut Wiro sampai berkibar-kibar oleh kerasnya deru angin sambaran empat pedang lawanl

"Hebat!" mengagumi Wiro dalam hati. Seumur hidupnya baru hari itu dia melihat ilmu pedang yang demikian luar biasanya.

Pendekar ini bersuit nyaring dan lepaskan satu pukulan sakti. Segulung angin menerpa ke depan memapasi sinar pedang yang bergulung-gulung.

Terdengar dua seruan tertahan dan kedua penyerang merasakan tubuh mereka terdorong, pedang masing-masing menyibak tak karuan. Mau tak mau keduanya cepat mundur. Namun serentak kemudian mereka menyerang kembali. Dan kali ini permainan pedang mereka berubah amat ganas hingga dalam waktu singkat terdengar "bret... bret...!" Dua bagian pakaian putih Pendekar 212 kena dirobek!

Wiro menggerung marah. Dia bersult nyaring dan lepaskan pukulan sakti bernama "Benteng Topan Melanda Samudera". Dia cuma kerahkan sepertiga bagian tenaga dalamnya, tetapi karena tadi sebelumnya dia telah menerima tambahan iwekang dari si orang tua misterius maka kini daya kekuatan tenaga dalam itu hebatnya bukan main.

Siang-mo-kiam terpental hampir setengah tombak.

Memikir sampai di situ maka Wiro kerahkan ginkangnya yang tinggi dan berkelebat lenyap. Sebelum kedua musuh tahu di mana dia berada tahu-tahu salah seorang dari mereka merasakan pedang di tangan kirinya terbetot lepas! Dan di lain kejap bila dia memandang ke depan dilihatnya Wiro telah berdiri dengan dua kaki terpentang dan pedang melintang di depan dada!

Saking kagetnya, kedua orang itu sesaat jadi kesima. Betapa tidak. Selama 20 tahun malang melintang dalam dunia kangouw belum ada satu lawan pun yang mampu berbuat demikian terhadap sepasang Pedang Iblis. Jangankan untuk merampas pedang, lolos dari kepungan empat bilah senjata maut itu pun tiada yang sanggup. Hari ini Sepasang Pedang Iblis atau Siang-mokiam betul-betul dibuat

mendelik mata masingmasing.

"Orang asing, siapakah kau sebenarnya?!"

Wiro ganda tertawa.

"Kalian berlututlah minta ampun di depanku, baru aku kasih tahu nama tuan besarmu ini!"

Wajah kedua orang itu tegang membesi. Mata mereka laksana dikobari api, saking marahnya. Penghinaan begini rupa tak pernah mereka terima sebelumnya.

"Anjing liar! Lekas sebutkan namamul Siang-mokiam tak pernah membunuh musuh yang tak bernama!"

Kembali Wiro perdengarkan suara tertawa. Kali ini bernada mengejek.

"Jika kau tidak mau kasih tahu nama tidak apa. Berarti kau bakal mati dengan penasaran! Sekarang beri tahu cepat ke mana perginya orang yang dipendam di dalam liang sini?!"

"Katakan dulu apa sangkut paut kalian dengan dia?!" balik bertanya Wiro.

"Budak keparat ini terlalu banyak bacot! Lebih bagus kita bereskan saja cepat-cepat dan bawa kepalanya ke hadapan Dewi sebagai pertanggungan jawab!" Habis berkata begitu salah seorang dari dua manusia berjubah itu mendahului menyerang, tapi kawannya pun kemudian menyusul pula dalam satu gerakan kilat. Kini hanya tiga pedang yang datang menggempur, tapi kehebatannya tetap tiada kepalang dan sedikit saja Wiro lengah pastilah akan terkutung-kutung bagian tubuhnya!

Di lain pihak Wiro memang sudah tunggu dan mengharapkan serangan ini. Tiga pedang bertaburan di depan matanya. Dengan tenang Wiro mainkan jurus pertama ilmu pedang yang baru diterimanya yakni "Cip-hian jay hong" atau "Tibatiba Muncul Pelangi". Pedang perak di tangannya bersuit ke udara menimbulkan sinar berkilauan hampir selebar satu tombak dan melengkung!

"Jurus Tiba-tiba Muncul Pelangi!" salah seorang dari Siang-mo-kiam berseru kaget dan melompat mundur.

Tapi "tring... tring!"

Pedang kedua orang mental patah ke udara. Yang satu terhuyung sambil pegangi dadanya yang koyak besar. Lalu tergelimpang mandi darah. Kawannya mengerang terduduk di pojok kiri ruangan sambil pegang lengan kirinya yang buntung dan berkucuran darah!

Sesaat Wiro sendiri jadi melotot, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Dia barusan telah memainkan jurus pertama dari ilmu pedang aneh yang dipelajarinya, bahkan jurus pertama itu pun belum rampung keseluruhannya dan tahu-tahu kedua lawannya telah roboh demikian rupa!

Melihat kawannya mati si jubah hitam yang lengan kirinya buntung menggembor marah. Mukanya ganas sekali.

"Keparat! Ada hubungan apa kau dengan Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun?!"

"Aku mana tahu segala macam akhiratl Sebaiknya nanti saja kau lihat sendiri bagaimana keadaan di akhirat itu!"

"Setan! Jika kau bukan muridnya tua bangka Long-sam-kun itu tak nanti kau memiliki ilmu pedang itu! Tapi jangan kira aku takut padamu! Hari ini aku mengadu jiwa denganmu! Nyawa kawanku harus kau bayar dengan nyawa anjingmu!"

Orang itu melompat. Meskipun lengannya luka parah, buntung dan masih mengucurkan darah serta cuma memegang satu pedang di tangan kanan, namtjn masih saja serangan yang dilancarkannya itu hebat berbahaya.

Wiro berkelebat ke samping dan siap membalas kembali dengan ilmu pedang yang baru di-kuasainya, namun tiba-tiba serangan itu ditariknya kembali. Dia tak ingin musuh kedua ini menemui kematian pula. Lebih penting bila dia bisa mendapatkan keterangan mengapa mereka begitu bernafsu menginginkan jiwanya dan siapakah sebenarnya Pendekar Pedang Akhirat Long-sam-kun itu, apakah orang tua yang dipendam dalam liang batu dan ditolongnya itu?

Pada saat tebasan pedang lawan lewat, Wiro kirimkan satu serangan susupan ke arah iga musuh. Namun ini cuma satu tipuan saja, karena begitu lawan berkelit dan hendak membacok ganas, Wiro sudah selundupkan kaki kanannya. Tendangannya tepat menghantam pinggul orang itu dan membuat musuh terpekik melintir dan pedangnya lepas dari genggaman.

Selagi dia terhuyung-huyung, Wiro jambak rambutnya yang merah dengan tangan kiri.

"Katakan, siapa yang menyuruhmu inginkan jiwaku?!"

"Tidak ada yang menyuruhl"

"Keparat, jangan dusta! Jika kau tak mau bicara...." Wiro Sableng pelintir kepala orang itu hingga dia merintih kesakitan. "Kau masih ingin hidup?"

"Percuma saja. Kau sudah bunuh kawanku.

Dan kalaupun aku hidup tiada gunanya."

"Kenapa tiada guna?"

"Pemimpinku akan menghukumku dengan kematian juga!"

"Hem... sekarang kau nyerocos sendiri. Ayo katakan siapa pemimpin kalian!" sentak Wiro.

"Baik, aku akan bicara. Tapi lepaskan dulu jambakanmul" jawab orang itu.

Wiro lalu lepaskan jambakannya pada rambut musuh. Namun baru saja jambakan dilepaskan, tiba-tiba sekali, di luar dugaan Wiro, orang itu angkat tangan kanannya dan "brak!" Dia berjibaku.

Kepalanya dipukul sendiri hingga rengkah! Nyawanya putus detik itu juga!

"Keparat, aku kena ditipu! Manusla tolol! Diberi hidup inginkan mampus!"

Wiro bantingkan pedang perak ke lantai. Setelah merenung sejenak dia mendekati mayat Siang-mo-kiam dan menanggalkan kalung emas berkepala harimau itu dari leher keduanya.



***

3WIRO SABLENG Sableng lenggang kangkung memasuki kota Khay-hong tanpa memperdulikan orang yang memperhatikannya. Di hadapan sebuah kedai kecil dia berhenti. Masuk ke sana didapatinya sudah ada beberapa orang tamu asyik makan bubur ayam dan meneguk teh hangat. Wiro mengambil tempat duduk dan sebagaimana biasa pandangan mata orang kemudian tertuju penuh perhatian padanya. Selesai mengisi perut Wiro bermaksud untuk melanjutkan perjalanan. Dia ingin buru-buru mencari tahu siapa adanya kedua orang berkalung emas yang semalam berniat membunuhnya di bekas reruntuhan klenteng. Karenanya, setelah membayar harga makanan dan minuman, segera dikeluarkannya kalung harimau emas dan diperlihatkannya pada pemilik kedai.

"Lopek, mungkin kau mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan kalung ini...?"

Sesaat matanya melihat kalung harimau emas yang digoyang-goyangkan Wiro di tangan kanannya, paras pemilik kedai serta merta berubah pucat pasi. Tetamu lain yang juga ada di kedai itu kelihatan menjadi ketakutan, beberapa di antaranya segera menyingkir.

"He...?" Wiro tentu saja menjadi heran.

Di hadapannya pemilik kedai jatuhkan diri berlutut dan menjura berulang kali.

"Mohon dimaafkan aku si orang tolol ini yang tidak mengetahui gunung Thay-san di depan mata."

"Lagi-lagi gunung Thay-san!" menggerutu Wiro di dalam hati.

"Ampunilah selembar jiwaku yang tiada berharga ini karena aku sebelumnya tidak mengetahui kalau tayhiap adalah anggota dari Hun-tiong Houw mo yang termasyur itu."

Habis berkata demikian pemilik kedai itu lantas keruk sakunya, mengeluarkan beberapa tail perak yang barusan diterimanya dari Wiro dan mengembalikannya pada pemuda itu seraya berkata, "Harap tayhiap sudi menerimanya kembali. Untuk segala hidangan yang tak seberapa itu masakan aku berani meminta bayaran pada tayhiap. Kehadiran tayhiap di sini sesungguhnya satu kehormatan besar bagiku...."

"Eh, lopek. Jadi aku ini tak usah membayar...?"

"Betul... betul...."

Wiro garuk-garuk kepala dan memasukkan kembali beberapa tail perak itu ke dalam pakaiannya. Diam-diam dia semakin heran.

"Jika sekiranya tayhiap ingin anggur atau arak yang baik untuk di perjalanan, aku segera akan menyediakannya...."

"Tak usah... tak usah," kata Wiro pula seraya geleng-geleng kepala. Sebenarnya Wiro ingin menanyakan apa yang dinamakan Hun-tiong Houw-mo (Siluman Harimau Dari Hun Tiong) itu. Siapa pemimpinnya dan di mana letak markasnya. Di samping itu apakah kalung harimau tersebut merupakan tanda bagi setiap anggota Hun-tiong Houw-mo. Namun tentu saja saat ini dia menjadi kebingungan karena si pemilik kedai telah menganggapnya sebagai salah seorang anggota dari Hun-tiong Houw-mo. Tampaknya nama Hun-tiong Houw-mo begitu ditakuti di Khay-hong. Dan ini berarti Hun-tiong Houw-mo bukanlah sesuatu yang baik. Setelah merenung sejenak akhirnya sambil garuk-garuk kepala Wiro putar tubuh dan tinggalkan kedai itu. Kalung emas dimasukkannya kembali ke dalam pakaiannya.

Pada saat dia keluar dari kedai, matahari telah mulai naik. Wiro memandang berkeliling di mans kira-kira dia bisa mendapatkan keterangan tentang spa yang dinamakan Hun-tiong Hauw-mo itu. Di ujung jalan sebelah kanan dilihatnya dua orang pemuda berjalan kaki ke arahnya Wiro menunggu sampai kedua orang pemuda itu sampai ke dekatnya. Namun tiba-tiba dari ujung lain sebelah kiri terdengar gemeletak roda gerobak yang ditingkah oleh derap kaki-kaki kuda berisik sekali.

Wiro berpaling ke kiri! Sebuah gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda besar lewat dengan cepatnya. Di sebelah depan duduk dua orang lelaki bermuka bengis. Di bagian belakang yang terbuka duduk pula dua lelaki yang juga bermuka ganas.

Masing-masing memanggul golok besar pada punggungnya. Di atas gerobak terdapat sebuah peti mati berwarna hitam.

Di belakang gerobak ini mengikuti seorang lelaki separuh bays berpakaian ungu. Di balik pinggang pakaiannya tersembul gagang sebilah senjata. Orang ini menunggang seekor kuda coklat. Sebenarnya tak ada yang menarik perhatian Wiro atas lewatnya rombongan pembawa peti mati ini, jika saja sepasang matanya yang tajam tidak melihat seuntai kalung emas berkepala harimau yang tergantung pada leher penunggang kuda coklat itu.

Wiro memandang berkeliling. Di seberang jaIan sana dilihatnya tertambat seekor kuda putih di depan sebuah toko kecil. Tanpa pikir panjang lagi Wiro segera lari ke seberang jalan, membuka ikatan kuda pada tiang lalu melompat ke punggung binatang ini. Baru saja dia menarik tali kekang kuda tiba-tiba dari toko keluarlah seorang dara berbaju merah. Parasnya yang jelita serta merta berubah marah.

"Pencuri kuda kurang ajar! Berhentilah jika tidak kepingin mampus!"

Namun mana Wiro mau perduli. Menoleh pun tidak. Niatnya sudah bulat untuk mengejar rombongan pembawa peti mati tadi dengan cepat.

Melihat teriakannya tidak diacuhkan, dara baju merah tadi keruk saku pakaiannya dan sesaat kemudian dua puluh jarum beracun berwarna hijau melesat menyebar, hampir tak kelihatan saking cepatnya, menderu ke arah 20 jalan darah di tubuh Wiro Sableng.

Di antara kerasnya derap kaki kuda putih yang sedang dipacunya itu, Wiro mendengar suara bersiuran di belakang punggungnya yang disertal sambaran angin halus. Sebelumnya dia sudah mendengar bentakan seorang perempuan. Semua itu sudah jelas menunjukkan bahwa dia tengah diserang dengan piauw secara ganas.

Tingkat kepandaian murid Eyang Sinto Gendeng yang tengah merantau di negeri orang itu seperti diketahui sudah mencapal tingkat tinggi. Karenanya meskipun diserang dari belakang demikian rupa, cukup tanpa menoleh dia lambaikan tangan melepas pukulan "Angin Puyuh".

20 piauw beracun yang dilemparkan dara berbaju merah serta merta mental dan luruh ke tanah. Sang dara kaget bukan kepalang. Dia menggembor marah dan melompat sampai tiga tombak ke depan untuk mengejar Wiro. Namun tentu saja dia tak dapat mengejar kuda besar yang larinya cepat luar biasa itu. Baru saja dia membuat lompatan, Wiro dan kuda putihnya sudah lenyap di balik tikungan jalan. Dara ini mengomel setengah mati. Namun apakah yang bisa dibuatnya...?

Setelah menempuh jarak lebih dari 80 lie, rombongan yang dibuntuti oleh Wiro Sableng berhenti di sebuah telaga kecil. Sebenarnya Wiro sudah gatal untuk buru-buru turun tangan terhadap rombongan tersebut. Pertama untuk menyelidiki apa sebenarnya rahasia yang ada di balik kalung emas berkepala harimau itu. Apa dan siapa sebenarnya Hun-tiong Hauw-mo itu dan di mana markasnya. Apa tujuan komplotan Siluman Harimau tersebut jika memang dia merupakan satu komplotan. Lalu apa sangkut pautnya dengan tua renta aneh yang secara tak sengaja telah ditolongnya ke luar dari Hang akhirat malam tadi. Namun karena memikir mungkin sekali rombongan pembawa peti mati itu tengah menuju ke markas Hun-tiong Hauw-mo maka Wiro mempersabar diri dan terus melakukan penguntitan secara diam-diam.

Memperhatikan peti mati di atas gerobak dari tempat persembunyiannya di balik semak-semak, Wiro jadi berpikir-pikir kembali. Apakah peti mati itu kosong atau ada isinya? Jika kosong apa gunanya dibawa demikian jauh. Kalaupun untuk penguburan jenazah, adalah terlalu mencapaikan diri harus memesan peti mati dari tempat yang amat jauh. Sebaliknya jika dalam peti mati itu memang ada jenazahnya, kenapa rombongan membawanya dengan amat tergesa-gesa? Tidak lazim sama sekali mayat diangkut begitu sembrono, di atas gerobak yang dipacu kencang terus menerus, apalagi jalan demikian buruknya.

Sementara orang-orang dalam rombongan itu beristirahat sambil meneguk arak, Wiro Sableng cuma bisa leletkan lidah membasahi bibir.

Tak lama kemudian rombongan itu dilihatnya bersiap-siap hendak berangkat kembali. Dan kembali pula Wiro bersama kuda curiannya mengikuti orang-orang itu.

Beberapa jam kemudian di ufuk barat sang surya telah mulai merosot ke titik tenggelamnya. Warnanya yang tadi putih menyilaukan dan terik kini kelihatan menjadi redup kemerah-merahan. Pada saat itulah rombongan pembawa peti mati memasuki kota Ci-bun. Mereka langsung menuju sebuah hotel. Dua orang jongos keluar menyambut kedatangan mereka. Namun keduanya serta merta tersurut langkah ke belakang dan pucat pasi wajah masing-masing. Mata mereka mendelik memandang kalung kepala harimau yang tergantung pada leher penunggang kuda berpakaian ungu. Seolah-olah kedua jongos hotel ini telah melihat setan kepala sepuluh yang mengerikan!

Orang yang dipandang dengan mimik ketakutan itu kelihatan menyeringai. Dia membuka mulut dan bicara dengan nada keras. "Untuk malam ini semua kamar hotel kami sewa. Ini hadiah dua tail perak untuk kalian. Tapi ingat! Awas jika kalian berani memberikan satu kamar saja buat siapa pun!"

Habis berkata demikian lelaki baju ungu lantas lemparkan dua tail perak pada kedua jongos. Meskipun tadi ketakutan setengah mati, namun diberi uang dua jongos hotel itu ulurkan tangan menyambut.

"Loya, apakah peti mati ini perlu diturunkan juga?" salah seorang dari empat lelaki bertampang bengis yang mengawal gerobak bermuatan peti mati bertanya begitu lelaki berpakaian serba ungu loncat turun dari atas kuda.

Yang ditanya menjawab sambil memandang sekeliling halaman hotel. "Gotong ke kamar tidurku. Kau dan tiga kawanmu harus berjaga-jaga di luar kamar. Perjalanan kita masih cukup jauh dan aku tidak ingin terjadi kesulitan mendadak."

"Perintahmu akan kami jalankan, Loya. Dan kau tak usah kawatir soal keamanan peti mati itu. Serahkan saja kepada kami Empat Golok Kematian...."

Orang itu kemudian putar tubuh dan bersama tiga kawannya dia menggotong peti mati ke kamar yang disediakan jongos hotel untuk lelaki berbaju ungu. Empat Golok Kematian adalah empat perampok berkepandaian tinggi yang sering malang melintang di daerah barat. Rata-rata memiliki tenaga dalam yang besar. Namun dari cara mereka mengangkat peti mati tersebut kentara sekali bahwa peti tersebut amat berat. Apakah sebenarnya isinya? Bahkan Empat Golok Kematian sendiri pun tidak mengetahui. Mereka cuma dibayar untuk mengawal gerobak tersebut ke satu tempat yang mereka tidak tahu. Sepanjang perjalanan antara mereka saling bisik-bisik menduga-duga apa isi peti misterius tersebut. Hendak menanyakan pada lelaki baju ungu mereka tidak berani. Mereka tahu betul salah-salah mulut dan tingkah bukan mustahil nyawa mereka imbalannya. Meskipun mereka berjumlah lebih banyak dan rata-rata berkepandaian tinggi, namun terhadap si baju ungu berkalung harimau itu mereka laksana kelinci dengan singa!

Setelah peti mati dimasukkan ke dalam kamarriya, lelaki berpakaian ungu lantas kunci pintu dan jendela kamar, memeriksa keadaan tempat itu lalu duduk bersila di lantai. Di luar kamar Empat Golok Kematian berjaga-jaga sedang di pintu halaman dua jongos hotel tegak pula melakukan penjagaan.

Seekor kelelawar menggelepar di puncak sebuah pohon, ketika dua jongos yang mengawal di pintu halaman hotel melihat seorang penunggang kuda putih mendatangi. Acuh tak acuh orang ini hendak masuk melewati pintu halaman begitu saja. Kedua jongos serta merta menahannya.

"Bukankah bangunan di dalam halaman ini sebuah rumah penginapan," penunggang kuda putih bertanya. Dia bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng.

Saat itu hari sudah gelap. Dua jongos hotel tidak begitu jelas melihat wajah penunggang kuda putih. Namun dari logat bicaranya kentara sekali kalau orang itu adalah orang asing.

"Betul dugaanmu cuwi. Tapi harap dimaafkan. Jika kau bermaksud bermalam di sini ketahuilah semua kamar hotel telah penuh."

"Penuh? Tak satu pun yang ketinggalan?"

"Tak satu pun!"

"Tapi barusan kalau aku tak salah lihat serombongan yang terdiri dari lima orang telah datang kemari. Masakan untuk mereka berlima ada, untuk aku yang sendiri tidak ada!"

"Mereka... mereka memborong semua kamar dalam hotel ini. Harap cuwi mau cari rumah penginapan yang lain."

"Tubuhku letih, perutku lapar. Aku perlu buru-buru istirahat. Harap kalian beri jalan!"

"Kami sudah bilang semua kamar penuh. Harap cuwi mengerti dan jangan kelewat memaksa?"

"Aku bisa tidur di dapur!"

"Itu tidak mungkin!"

"Kenapa tidak mungkin?" sentak Wiro lantas gebrak kudanya dan menerobos masuk ke dalam halaman. Kedua jongos hotel cepat memburu. Satu menahan tali kekang kuda putih, satu lagi menarik ekor binatang itu.

Wiro jadi jengkel. Jelas sudah ada apa-apa yang tak semestinya. "Kalian minta digebuk!" desis pendekar ini lalu melompat turun dan hadiahkan masing-masing satu tamparan pada kedua jongos tersebut.

Karena tamparan cukup keras, kedua jongos itu melolong kesakitan dan rubuh ke tanah. Wiro putar tubuh untuk melangkah ke pintu depan hotel. Baru maju dua tindak, sesosok bayangan hitam berkelebat. Satu bentakan terdengar, "Bangsat rendah dari mana yang berani mengacau di sini?!"



***4BERPALING ke kiri Wiro Sableng melihat seorang lelaki berpakaian hitam, bertubuh tegap dan punya tampang garang, berdiri mencekal sebilah golok besar.

"Siapa kau?" sentak orang ini yang bukan lain adalah seorang dari Empat Golok Kematian. Dia melirik pada dua jongos hotel yang melingkar merintih-rintih di tanah.

"Ah, kau lebih sopan sedikit dari dua kurcaci konyol in!," jawab Wiro pula.

"Aku datang ke mari untuk menyewa kamar dan menginap."

"Semua kamar sudah penuh. Kami memakalinya semua!" jawab orang itu.

Wiro garuk-garuk kepala.

"Jika sudah tahu lekas angkat kaki dari sini!"

"Yang aku belum tahu..." kata Wiro pula anteng-anteng, "Kalian cuma berlima sedang hotel ini punya hampir sepuluh kamar. Masakan penuh semua!"

"Rupanya kau perlu diajar tahu dengan ini!" orang ketiga dari Empat Golok Kematian itu jadi naik darah dan babatkan goloknya kepada Wiro Sableng. Senjata ini besar berat dan menimbulkan suara bersiuran. Wiro segera maklum kalau manusia di hadapannya ini tidak sama dengan jongos hotel tadi. Cepat dia meluncur mengelit. Ujung golok lewat satu jengkal dari dadanya.

Melihat serangannya tidak membawa hasil, orang itu menggembor marah dan membacok sebat. Tapi lagi-lagi serangannya hanya mengenai tempat kosong.

"Bangsat, jika kau punya kepandaian keluarkan senjata!" dia membentak.

Kemudian dia hanya mendengar suara orang tertawa perlahan dan memandang ke depan, Wiro Sableng dilihatnya tak ada lagi di tempat. Belum habis kagetnya tiba-tiba "duk!" Satu jotosan menghantam punggungnya. Empat Golok kematian mengeluh dan tersungkur ke depan. Dia coba mengimbangi tubuh tapi satu totokan membuat dia tak bisa bergerak ataupun buka suara! Dalam hatinya orang ketiga dari Empat Golok Kematian ini memaki dan penasaran setengah mati. Seumur hidupnya baru sekarang dia dipecundangi lawan semuda itul Siapakah adanya pemuda asing yang lihay ini?

Wiro melangkah mendekati bangunan hotel. Pintu depan tidak dikunci. Dia langsung melangkah masuk. Tapi baru masuk dua tindak, tiga senjata dilihatnya berkelebat ke arahnya. Satu menyambar ke dada, satu membabat ke muka dan satu lagi menusuk ke arah pintu.

Ganas sekali serangan tiga senjata itu. Kalau saja Wiro tidak lekas melompat ke belakang niscaya tubuhnya akan mandi darah dan nyawanya akan putus!

Baru saja Wiro menginjakkan kaki di serambi depan hotel, tiga sosok tubuh masing-masing men-cekal golok telah mengurungnya. Melihat kepada tampang dan pakaian mereka Wiro segera maklum kalau tiga manusia ini pastilah kambrat-kambrat yang satu tadi.

Saat itu bagian serambi depan hotel tiada berpenerangan. Dalam suasana gelap begitu tiga orang tersebut kembali menggempur Wiro. Serangan tiga golok mereka bukan sembarangan dan Wiro harus berhati-hati.

"Aku heran, ke mana kawan kita yang seorang," berbisik salah seorang Empat Golok Kematian pada teman di sebelahnya.

"Jangan-jangan sudah terjadi apa-apa atas dirinya."

Menduga sampai di situ ketiga orang tersebut kemudian putar golok masing-masing dengan sebat. Sampai seat itu Wiro masih mengandalkan tangan kosong dan ginkangnya. Namun serangan tiga golok makin lama makin gencar dan kurungan ketiga lawan itu semakin rapat.

"Ilmu golok kalian hebat sekalit Tahan dulu! Aku mau bicara." Wiro tiba-tiba berseru.

Tapi ketiga orang tersebut tidak mau hentikan serangan. Mereka menduga kawan mereka yang seorang telah celaka di tangan pemuda tak dikenal itu, karenanya mereka berkeputusan untuk membunuh Wiro.

"Bagusnya kau sebutkan siapa nama dan clarl mana kau datang agar kau tidak mampus penasaran," salah seorang dari Empat Golok Kematian berseru dan goloknya bersiut-siut mengirim serangan yang tidak berkeputusan.

"Kalau mengandalkan tangan kosong terus menerus aku bisa mati konyol!" kata Wiro dalam hati. Sebaliknya untuk mengeluarkan kapak saktinya saat itu dirasanya masih belum pada tempatnya. Karenanya ketika mengelakkan satu bacokan dan dua tusukan golok ketiga lawannya, dengan menjambret, patah sebatang cabang pohon yang panjangnya lebih dari satu meter dan besarnya selingkaran lengan.

Melihat lompatan yang barusan dibuat oleh Wiro, yang demikian gesit serta ringan sekali, ketiga lawannya diam-diam merasa kaget juga. Semakin jelas bagi mereka bahwa orang asing berambut gondrong itu bukan manusia sembarangan. Namun sebagai jago-jago yang memiliki ilmu silat tinggi serta pengalaman luas di dunia persilatan, tentu saja mereka tidak merasa jerih. Sebaliknya tiga manusia ini kembali menyerbu disertai dengan bentakan-bentakan dahsyat.

Semula Wiro Sableng akan sambut tiga serangan itu dengan jurus "Kipas Saku Menerpa Hujan", yakni salah satu jurus ilmu silat yang dipelajarinya dari gurunya Eyang Sinto Gendeng. Namun saat itu selintas pikiran timbul dalam benaknya. Waktu menghadapi Siang-mo kiam tempo hari dia telah mengeluarkan jurus pertama dari ilmu pedang yang diterima dari manusia aneh berjuluk Pendekar Pedang Akhirat. Hasilnya luar biasa, membuat Siang-mo kiam atau Sepasang Pedang Iblis mandi darah. Kini bukankah ada baiknya kalau dia mencoba pula jurus kedua dari ilmu silat aneh tersebut? Yaitu jurus pedang yang disebut Lo han Ciang-yau atau Malaikat Menundukkan Siluman.

Begitulah, sewaktu tiga golok besar berkiblat untuk membantainya, Wiro lantas putar cabang di tangannya dalam jurus ilmu pedang tadi. Tiga lawannya tiba-tiba melihat sesuatu menghitam di depan mereka yang disertai dengan suara bersiur yang berat. Hanya sepasang cabang kayu masakan sanggup menghadapi tiga golok besar, demikian ketiga orang dari Empat Golok Kematian itu berpendapat serta memandang rendah lawan. Namun apa yang terjadi kemudian betul-betul mereka tidak menduga.

Pertama sekali anggota Empat Golok Kematian yang di ujung kanan terpelanting hampir satu tombak, melingkar di tanah dengan kepala pecah kena hantaman cabang kayu di tangan Wiro. Dia mati tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Empat Golok Kematian yang berada di tengah masih sempat mengeluarkan suara keluhan pendek sewaktu dadanya kena dihantam cabang kayu, lalu jatuh tergelimpang di tanah, megap-megap seketika, mengeluh sekali lagi dan mati.

Yang ketiga masih untung karena hanya tulang lengannya saja yang remuk dan goloknya mental ke atas. Orang ini tanpa tunggu lebih lama segera putar badan dan ambil langkah seribu.

Sementara itu di dalam hotel sewaktu terjadi keributan...

Lelaki separuh baya yang berpakaian serba ungu dan berada dalam salah satu kamar hotel di mana Juga terletak peti mati hitam, itu menjadi kaget ketika di luar didengarnya suara ribut-ribut orang berkelahi. Setelah mengunci pintu dan jendela kamar itu serta memadamkan lampu minyak, dengan satu gerakan yang lihay dia melompat ke atas panglari. Dari sini dia membuka genteng kamar dan di lain saat dia sudah berada di atas atap hotel.

Siapakah sebenarnya orang ini. Dia bernama Tio Ki-pi, seorang tokoh silat dari propinsi Ciat kang yang dikenal dengan julukan Thian-liong-pan atau si Ruyung Naga selama delapan tahun lebih dia dikenal sebagai seorang pendekar gagah golongan putlh yang telah banyak jasanya dalam menolong manusia-manusia lemah dan tertindas. Namun sejak beberapa bulan belakangan ini Tio Ki-pi telah tersesat dan menempuh jalan salah, ikut bersekutu dengan satu komplotan manusia jahat.

Di dalam gelapnya malam, dari atas atap hotel, Tio Ki-pi dapat melihat tiga dari Empat Golok Kematian tengah mengeroyok seorang tak dikenal tak berapa jauh dari situ menggeletak sesosok tubuh yang tak dapat tidak pastilah anggota Empat Golok Kematian yang telah kena dipreteli lawan. Di bagian lain dari halaman itu dua orang jongos hotel tampak melingkar di tanah.

Segala sesuatunya kemudian begitu cepat terjadi. Sehingga belum sempat Tio Ki-pi berbuat sesuatu, berturut-turut terdengarlah suara bergedebukan, suara keluhan dan jeritan dua dari Empat Golok Kematian, dilihatnya menggeletak di tanah sedang yang ketiga lari pontang-panting sambil menjerit kesakitan.

Sepasang alis mata Tio Ki-pi naik ke atas. Sesaat mukanya kelihatan tegang. Siapakah adanya orang di bawah sana yang demikian lihay dan mengandalkan kepandaiannya untuk melakukan pembunuhan begitu rupa? Sejenak jago silat dari Ciat kang ini berpikir. Kemudian laksana seekor burung walet dia melayang turun dari atas atap hotel dan menjejakkan kakinya ditanah tanpa menimbulkan suara barang sedikit pun.

"Orang asing dari manakah yang telah menunjukkan keganasan di sini? Harap beritahukan nama dan gelar!"

Wiro kaget dan cepat berpaling. Jika sampal sepasang telinga tidak jelas menangkap kedatangan orang ini jelas dia memiliki ilmu yang lihay.

"Ah, kiranya kau...!" kata Wiro begitu dia melihat si baju ungu.

"Kau kenal aku?!" Tio Ki-pi menghardik. "Cuma kenal tampang. Siapa kau adanya aku masih belum tahu..." jawab Wiro sambil nyengir. "Manusia-manusia itu tiada permusuhan dengan kau. Kenapa kau turun tangan sekejam itu?" Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya lantas menjawab, "Mereka mencari urusan yang tak karuan. Masakan aku mau menginap di hotel ini mereka bilang semua kamar penuh. Brengsek! Lagi pula, kalau melihat tampang-tampangnya, yang dua ini serta yang tadi lari itu tampaknya bukan manusia baik-baik."

"Mereka adalah Empat Golok Kematian pembantu-pembantuku!"

"Pembantu-pembantumu...? Ah!" Wiro gelenggeleng kepala.

"Orang asing. Dari gerak-gerik cecongormu, aku yakin juga kau bukan manusia baik-baik. Ke-datanganmu kemari membawa satu maksud yang tersembunyi. Mengapa!"

Wiro tertawa. Kembali tangannya menggarukgaruk kepalanya. "Kau betul. Jika aku boleh tanya, apakah isi peti mati yang ada di dalam hotel itu hingga pembawaannya dikawal ketat demikian rupa bahkan sampai-sampai dua manusia tolol itu mau pasrahkan jiwa mereka?"

Tio Ki-pi berusaha melenyapkan perubahan air muka kekagetan atas pertanyaan Wiro yang tidak diduganya itu.

"Oh, kiranya peti mati itulah yang menjadi perhatianmu? Apakah itu menjadi urusanmu?!"

"Tentu saja bukan. Tapi kalau semua itu ada sangkut pautnya dengan kalung emas kepala harimau yang kau pakai maka itu lain pula ceritanya!"

"He, tahukah kau apa artinya kalung kepala harimau ini?" tanya Tio Ki-pi seraya pegang kalung yang tergantung di lehernya.

Dari balik pakaiannya, Wiro Sableng keluarkan salah satu kalung kepala harimau emas yang diam-bilnya dari Siang mo Kiam. Seraya menimbang-nimbang benda itu dia berkata, "Kalungmu tiada beda dengan kalungku. Bukankah begitu?"

Tio Ki-pi melengak kaget. Sepasang matanya membeliak besar. "Apakah... apakah kau juga anggota komplotan Hun-tiong Hauw-mo?"

"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?" jawab Wiro keren sambil mendongak ke langit.

Tio Ki-pi memandangi si rambut gondrong ini dari kepala sampai ke kaki. Hatinya meragu melihat potongan Wiro. Ditambah pula dengan keganasan yang dilakukannya terhadap Empat Golok Kematian. Jika dia anggota Hun-tiong Houw-mo kenapa melabrak kawan sendiri? Tapi jika dia bukan anggota komplotan itu di mana Tio Ki-pi merupakan pula salah seorang anggotanya, mengapa pemuda itu bisa memiliki kalung emas kepala harimau itu?"

"Sobat, jika kau orang sendiri, kenapa membuat keonaran melakukan pembunuhan pada orang-orang yang kubayar untuk mengawal kereta?" Tio Ki-pi ajukan pertanyaan.

"Kau tidak tahu orang bagaimana sebenarnya Empat Golok iCematian," jawab Wiro, pula. "Pim-pinan telah menyuruhku secara diam-diam untuk mengikuti perjalananmu. Ternyata Empat Golok Kematian mempunyai rencana busuk. Dia hendak membunuhmu secara membokong kemudian melarikan apa yang terdapat dalam peti mati itu!"

Tio Ki-pi seorang yang sudah berpengalaman dan tak mau lekas percaya pada orang lain.

"Jika betul pimpinan kita telah menyuruhmu, coba kau beri tahu dari mana kami berangkat dan ke mana tujuan kami?"

"Soal itu kau tak perlu memancingku. Sebaiknya kita masuk ke dalam dan istirahat. Besok pagi-pagi buta harus sudah melanjutkan perjalanan."

Acuh tak acuh Wiro kemudian melangkah menuju pintu hotel. Tapi Tio Ki-pi cepat memotong jalannya dan menahan pada Wiro dengan tangan kiri. Cara Tio Ki-pi menahan gerakan Wiro ke-lihatannya lembut perlahan saja namun memiliki tenaga yang sanggup menahan dorongan 200 kati! Tahu kalau orang hendak menjajaki kepandaiannya, tak sungkan Wiro kerahkan tenaga dalamnya dan mendorongkan dadanya ke depan. Akibatnya Tio Ki-pi terhuyung sampai tiga langkah ke belakang. Kagetnya jagoan dari Ciat kang ini bukan kepalang. "Ah, tingkat tenaga dalamnya lebih tinggi dariku," katanya membathin. Kemudian dia terbatuk-batuk beberapa kali.

"Sobat, ketahuilah tugas yang diberikan oleh pimpinan padamu merupakan satu tugas yang berat dan penuh tanggung jawab. Dunia persilatan penuh dengan orang-orang jahat dan penipu licik. Karenanya jika kau betul anggota Hun-tiong Houw-mo harap kau sudi mengucapkan sumpah perkumpulan kita!"

Menyadari kalau dia tak bakal bisa mengucapkan segala macam sumpah komplotan tersebut maka Wiro tiba-tiba berpura marah dan menghardik, "Rupanya kau tidak pandang sebelah mata kepadaku? Berani kau menguji diriku?"

Diam-diam Tio Ki-pi yakin kini kalau orang asing berambut gondrong di depannya itu bukanlah anggota Hun-tiong Houw-mo karena setiap anggota jika bertemu tapi sebelumnya belum saling kenal, diharuskan untuk menguji kebenaran keanggotaannya dengan mengucapkan sumpah perkumpulan. Namun untuk bertindak gegabah pada orang yang disadarinya lebih tinggi kepandaiannya, Tio Ki-pi tentu saja tidak mau.

"Harap sicu maafkan. Aku bukan memandang rendah terhadapmu. Semua ini adalah demi keselamatan dan pengamanan tugas!"

Wiro kertakkan rahang.

"Menyingkirlah," perintahnya. "Kelak akan kumintakan pada pimpinan agar keanggotaanmu dalam Hun-tiong Houw-mo dicabut dan atas kekurangajaranmu ini kau harus menerima hukuman."

Tio Ki-pi tertawa bergelak.

"Manusia tolol, jangan kira aku akan termakan oleh tipu busukmu! Kau bukan anggota Hun-tiong Houw-mo! Selembar nyawamu tak mungkin kubiarkan terus petantang-petenteng!"

Habis berkata begitu Tio Ki-pi yang bergelar Thian liong pian atau Ruyung Naga ini lantas meng-gembor. Kedua lututnya menekuk. Tiba-tiba tangan kanannya dipukulkan ke depan. Satu larikan besar angin panas menggebu ke arah Wiro Sableng.

Wiro membentak marah dan balas hantamkan tangan kanannya ke muka, lepaskan pukulan sakti bernama, "Benteng Topan Melanda Samudera" dengan mengandalkan sepertiga bagian tenaga dalamnya.

Meskipun pukulan itu membuat Tio Ki-pi mencelat hampir sejauh satu setengah tombak namun Wiro sendiri terhuyung-huyung. Tubuhnya laksana terpanggang hingga dia buru-buru harus melompat selamatkan diri.

Tio Ki-pi bukan alang kepalang kagetnya. Barusan dia telah melepaskan pukulan saktinya yang terhebat dan bernama Ngo-lu gui san atau Lima Petir Membelah Gunung dengan mengerahkan tiga perempat tenaga dalamnya. Selama ini boleh dikatakan tak seorang lawan pun sanggup bertahan terhadap pukulan sakti itu. Namun nyatanya musuh di hadapannya itu masih sanggup selamatkan diri!

Di lain pihak Wiro sendiri tak urung tersentak kaget pula karena ketika memperhatikan pakaiannya, baju serta celananya, kelihatan kehitam-hitaman. Hangus!

Kedua orang itu sesaat saling baku pandang untuk kemudian sama-sama bergerak meneruskan baku hantam itu!

Dalam waktu singkat kedua orang itu telah bertempur enam jurus. Dalam gelapnya malam hanya bayang-bayang pakaian mereka saja yang kelihatan. Salah seorang dari Empat Golok Kematian yang masih hidup yakni yang tadi ditotok oleh Wiro dan masih tertegun itu tidak hentinya menaruh kekaguman, melupakan sendiri nasib dirinya yang tiada berdaya saat itu.

Tingkat pengalaman dan ilmu mengentengi tubuh dari Tio Ki-pi alias Thian liong-pian tak dapat disangsikan lagi ketinggiannya. Gerakannya gesit enteng. Serangannya mematikan sedangkan tipu-tipuannya betul-betul maut. Namun menghadapi Wiro Sableng dia betul dibuat jadi gemas penasaran. Semua serangan dan tipu-tipuan lihaynya tidak menemui sasaran, yang amat menjengkelkan ialah karena dilihatnya lawan menghadapinya dengan sikap cengar-cengir mengejek.

Tio Ki-pi membentak nyaring. Ilmu silatnya mendadak berubah dan tubuhnya kini hanya laksana angin yang menyambar-nyambar kian kemari.

Diam-diam Wiro merasa kagum juga melihat kehebatan si baju ungu anggota Hun-tiong Houw-mo ini. Serta merta dia percepat pula gerakannya hingga kini mereka hanya laksana bayang-bayang yang saling berkelebatan kian ke mari dan sebentar-sebentar lenyap dari pemandangan karena saking cepatnya gerakan keduanya.

"Sobat jaga dadamu!" Wiro berseru. Secepat kilat tangan kanannya memukul ke depan dalam gerakan yang dinamakan "Kilat Menyambar Puncak Gunung".

Tentu saja Tio Ki-pi tidak mau menerima pukulan tersebut mentah-mentah. Dengan membentak dahsyat jago silat dari Ciatkang ini meningkatkan tubuh, pergunakan salah satu kakinya untuk menjejak tanah sehingga dalam keadaan miring itu tubuhnya tersurut tiga langkah ke belakang dan di lain kejap dia sudah maju pula sambil selusupkan satu tendangan kilat ke perut lawan!

Jurus yang dilancarkan oleh Tio Ki-pi tadi bernama Hek-hou-wat-sim atau Macan Hitam Menggerak Hati dan merupakan salah satu jurus yang hebat dalam ilmu silatnya. Sekali tendangannya mampir di perut lawan pastilah akan bobol serta merenggut nyawa. Namun yang dihadapi Tio Ki-pi saat itu bukanlah lawan dari tingkatan kurcaci rendah tolol, sekalipun bertampang goblok macam anak-anak!

Serangan kedua yang dilancarkan Wiro disertai teriakan peringatan tadi tak lebih hanyalah sebuah tipuan belaka. Begitu lawan bergerak mundur dan kembali menyerang, murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini serta merta susulkan serangan berikutnya yang bernama "Di balik Gunung Memukul Halilintar".

Ketika tendangannya melesat ke depan, Tio Ki-pi mendadak kehilangan lawan, serangannya mengenai tempat kosong. Kemudian sebelum dia berkesempatan mengetahui di mana Wiro berada tahu-tahu satu hantaman keras sudah melabrak punggungnya dari belakang. Demikian kerasnya hingga jago dari propinsi Ciatkang itu mencelat tiga tombak, terguling-guling di tanah. Tapi hebatnya dia cepat kembali berdiri. Buru-buru Tio Ki-pi mengambil sebutir pil. Setelah telan benda itu dan pejamkan mata serta atur jalan darah dan pernapasan, Tio Ki-pi lantas rasakan tubuhnya segar kembali meskipun dadanya agak sesak.

"Bangsat! Hari ini aku mengadu jiwa denganmu!" Tio Ki-pi menggembor marah lantas keluarkan senjata dari balik jubah ungunya. Senjata ini adalah sebuah ruyung berbentuk kepala naga terbuat dari baja putih. Di beberapa bagian dihiasi dengan duri-duri beracun. Sekali seseorang kena dihantam senjata yang beratnya hampir lima puluh kati ini tak ampun lagi pasti akan mati dalam keadaan tubuh atau kepala hancur! Dengan memiliki senjata inilah selama bertahun-tahun berkelana di dunia persilatan Tio Ki-pi sampai mendapat julukan si Ruyung Naga (Thian liong pian). Meskipun malam gelap pekat namun ruyung baja putih kelihatan berkilat di tangan Tio Ki-pi.

Sesaat Tio Ki-pi melontarkan pandangan bengis pada lawannya. Lalu tanpa banyak bicara lagi orang ini kiblatkan senjatanya.

"Wutt!"

Satu gelombang angin yang amat deras menerpa Wiro Sableng ketika ruyung baja itu membabat di depannya. Tubuhnya tergontai-gontai limbung.

Selagi dia berusaha mengimbangi diri, secepat kilat ruyung kembali membabat, Wiro cepat menyingkir namun angin yang keluar dari senjata lawan masih sanggup membuatnya terjajar dan ter-sandar ke gerobak yang berada di halaman itu.

"Sekarang mampuslah!" teriak Tio Ki-pi bernafsu dan susul dengan hantaman ruyung untuk ketiga kalinya.

"Sialan, ganas dan hebat sekali permainan ruyung kunyuk ini!" maki Wiro dalam hati. Dia jatuhkan diri seraya mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada serta perut lawan.

Hantaman ruyung baja mengenai gerobak di belakang Wiro. Kendaraan ini hancur berkeping-keping. Sebaliknya Tio Ki-pi akibat dorongan Wiro tadi terpelariting sampai tiga tombak. Dada dan perutnya seperti dipilin. Tanpa memperdulikan rasa sakit dengan nekad dan kalap Tio Ki-pi kembali menyerbu. Ruyung naganya bersiuran di udara berputar-putar laksana titiran dan mengurung Wiro Sableng dari seluruh jurusan!

Diam-diam Wiro jadi mengeluh dan keluarkan keringat dingin ketika setelah tiga jurus dia dikepung oleh serangan ruyung lawan ternyata dia tak bisa keluar dari kepungan itu sekalipun dia telah kerahkan ilmu mengentengi tubuh dan segala kegesitannya. Sebaliknya kurungan sambaransambaran ruyung semakin ganas dan tambah rapat. Sekujur tubuhnya laksana ditindih oleh dinding yang keras gerakannya makin lama makin lamban!

Tio Ki-pi yang melihat bagaimana lawan sudah tak berdaya tertawa panjang dan mengejek.

"Sekarang kau baru tahu siapa adanya Tio Ki-pi yang berjuluk Thian liong pian ini!" Sekali dia gerakkan tangan kanannya maka ruyung baja digenggamannya meluncur menghantam deras ke arah batok kepala Wiro Sableng!

Tiba-tiba sekali satu sinar putih kelihatan bertabur dibarengi dengan menderunya suara macam seribu tawon mengamuk. Sekejap kemudian terdengar suara berdentang yang keras dan memerciknya bunga api. Memperhatikan senjata mustikanya yang somplak, nyalinya kini betul-betul menjadi lumer. Memandang ke depan dilihatnya lawan memegang sebilah senjata berbentuk aneh dan baru sekali itu disaksikannya. Senjata itu bukan lain adalah Kapak Naga Geni 212, yakni sebatang kapak bermata dua, gagangnya terbuat dari gading dan memancarkan sinar kemilau menyilaukan!

Tio Ki-pi mengeluh, kenapa dalam menjalankan tugas penuh tanggung jawab itu dia musti menemui lawan yang begini tangguh. Untuk melanjutkan perkelahian berarti konyol sendiri. Tapi tak mungkin pula baginya untuk kabur dari situ dengan meninggalkan peti mati yang ada di dalam kamar hotel. Lelaki ini jadi bingung sendiri. Namun dalam bingungnya masih ada sekelumit pikiran cerdik dalam otaknya.

Tio Ki-pi tiba-tiba menjura dan sambil tersenyum dia berkata, "Hari ini benar-benar aku Tio Ki-pi manusia tak berguna ini mendapat pelajaran dari seorang yang rupanya tokoh persilatan berkepandaian tinggi. Aku menghaturkan hormat dan karena belum mengenal siapa adanya tayhiap harap sudilah memberi tahu nama dan gelaran."

"Nama dan gelarku tak perlu dipersoalkan. Yang jelas aku adalah anggota kepercayaan dari pimpinan Hun-tiong Houw-mo...."

"Tadi pun tayhiap sudah menerangkan...."

"Nah, kalau sudah tahu kenapa masih banyak tanya?" sentak Wiro. Sepasang matanya mengawasi waspada karena mungkin manusia di depannya itu akan melakukan serangan licik secara tiba-tiba.

"Maksudku cuma akan meminta petunjuk lebih lanjut dari tayhiap. Jika tayhiap betul-betul mendapat tugas mendampingiku dari pimpinan perkumpulan, baiklah kita lupakan segala apa yang barusan terjadi. Mari kita masuk ke hotel, untuk bicara lebih lanjut."

"Kunyuk ini mulutnya jadi begitu manis dan sikapnya jadi baik sekali. Aku harus hati-hati," membatin Wiro. Dia tetap tegak di tempatnya.

Tio Ki-pi yang sudah maju dua tindak berpaling, "Tunggu apa lagi? Apakah tayhiap tidak percaya padaku? Bukankah jika tayhiap mau kau dapat membunuhku dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan saja?!"

Wiro merenung sejenak.

"Tadi tayhiap bilang ingin mengetahui isi peti mati itu..." kata Tio Ki-pi pula.

Akhirnya setelah menyimpan Kapak Naga Geni 212 di balik pinggangnya, Wiro melangkah juga mengikuti Tio Ki-pi. Mereka memasuki hotel dari pintu depan. Tio Ki-pi membuka pintu lebar-lebar, begitu sampai di dalam dia mempersilahkan Wiro masuk. Baru saja Wiro berada di bawah pintu tiba-tiba Tio Ki-pi dengan cepat bantingkan daun pintu keras-keras dan terus menekannya dengan tangan kiri hingga Wiro Sableng tergencet antara ujung daun pintu dan tonggak pintu!

Wiro tahu bahaya apa yang mengancamnya dalam keadaan begitu rupa. Lebih-lebih ketika di-lihatnya Tio Ki-pi menggerakkan tangan kanan mencabut ruyung bajanya. Meskipun senjata itu sudah semplak, namun kalau sampai kena dihantam tetap saja Wiro akan menemui kematian!

"Bangsat licik!"' teriak Wiro marah sementara ruyung baja dilihatnya sudah tergenggam di tangan lawan, Wiro kerahkan tenaga dalam dan segala kekuatannya untuk melepaskan diri dari gencetan pintu. Tangan kirinya yang berada di sebelah dalam pintu tampak memutih. Dia membentak garang dan hantamkan tangan kiri memapasi pukulan deras ruyung naga lawan.

Pendekar 212 Wiro Sableng ternyata telah lepaskan pukulan "Sinar Matahari" yang terkenal ke-dahsyatannya itu.

Daun pintu dan tiangnya pecah berantakan. Tio Ki-pi sendiri meraung kesakitan. Tubuhnya terpental dan tersandar ke dinding ruangan depan hotel. Tangannya sebatas lengan hitam hangus sedang ruyung bajanya menggelinding di lantai.

Senjata ini kelihatan merah laksana digarang di atas api dan perlahan-lahan meleleh menghitam.

"Sekarang pergilah kau ke akherat, anjing busuk!" sentak Wiro dan lepaskan lagi pukulan Sinar Matahari. Namun dia kalah cepat. Sinar pukulannya hanya melabrak musnah dinding ruangan sementara musuh dengan sebat telah lebih dulu melompat melabrak jendela terus kabur dan lenyap di kegelapan malam, Wiro mengomel setengah mati dan melompat hendak mengejar. Namun kemudian dia ingat akan peti mati yang tentunya berada dalam satu kamar di hotel itu. Maka dia pun putar langkah dan mulai memeriksa kamar demi kamar.

Di salah satu kamar di tingkat bawah hotel akhirnya ditemukannya jugs peti mati itu, menghitam dan misterius dalam kegelapan. Karena di situ dilihatnya ada lampu minyak maka Wiro segera menyalakannya. Kamar itu kini menjadi terang. Wiro melangkah mendekati peti mati hitam. Setelah meneliti benda itu beberapa lamanya maka dia mulai membuka pasak-pasak sekeliling peti itu.

Setelah pasak ditanggalkan masih ada enam buah sekerup yang harus dibuka. Untuk ini Wiro pergunakan kapak saktinya mendongket sekerup tersebut.

Perlahan-lahan dan hati-hati karena tak mus:ahil benda itu dipasang alat rahasia, di atas mula-mula kelihatan tumpukan jerami kering. Hati-hati pula Wiro menyibakkan jerami ini. Di bawah jerami tampak tumpukan batu-batu bata merah. Seluruh jerami disibakkan. Diperiksa sampai ke dasar ternyata peti mati itu cuma batu bata melulu, lain tidak!

"Sial dangkalan! Apa-apaan ini," Wiro menggerutu sendirian. Dia betul-betul tak mengerti. Dia melangkah memutari peti mati itu sambil tiada henti menggaruk-garuk kepala. Kalau cuma sebuah peti mati yang berisi batu-batu bata melulu, apa perlunya sampai dikawal oleh seorang tokoh silat seperti Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian? Bahkan sampai dua dari mereka mau mengorbankan jiwa hanya karena peti mati sialan itu? Wiro jadi tak habis pikir. Digeledahnya seluruh kamar itu namun tak menemukan apa-apa yang bisa memberi petunjuk.

Tiba-tiba Wiro ingat pada salah seorang dari Empat Golok Kematian yang masih tertotok kaku di luar sana. Segera ditinggalkannya kamar itu. Tapi sampai di luar ternyata manusia yang satu ini sudah lenyap. Kembali Wiro menggerutu seorang diri.

"Kalau tidak si Tio Ki-pi itu, pasti kawannya yang satu yang telah melepaskan totokannya lalu kabur sama-sama!" Wiro menduga dalam hati. Akhirnya dalam bingungnya pendekar ini melompat ke atas kuda putih yang dicurinya dari depan sebuah toko di kota Khay-hong lalu tinggalkan tempat tersebut.

Kira-kira sejauh 20 lie memacu kuda putih itu, sepasang telinga tajam Pendekar 212 lapat-lapat menangkap suara beradunya senjata. Dihentikannya kudanya dan setelah memastikan dari arah mana datangnya suara itu, Wiro turun dari kuda dan lari menuju sumber suara. Suara beradunya senjata kini diiringi pula dengan suara gelak tertawa dua orang lelaki yang ditimpali pula oleh suara bentakan-bentakan marah seorang perempuan.

"Manusia-manusia bangsat hina dina. Kalian harus bayar kekurangajaran kalian dengan nyawa masing-masing! Mampuslah!"

Terdengar suara robekannya kain yang disusul oleh pekik perempuan. Wiro terjang semak belukar di depannya. Begitu sampai di balik semak-semak diiihatnya dua orang teiaki tengah mengeroyok se-orang dara berpakaian merah. Salah seorang dari lelaki itu, yang bersenjatakan golok besar dengan kelihayannya pergunakan ujung senjatanya untuk merobek-robek pakaian sang gadis hingga tubuhnya yang berkulit putih halus kelihatan tersingkap di mana-mana. Leiaki bergolok besar itu bukan lain adalah orang kedua dari Empat Golok Kematian yang sebelumnya telah ditotok oleh Wiro. Sedang lelaki yang satu lagi bukan lain adalah Tio Ki-pi alias Thian liong pian!

"Ha... ha! Tiada disangka malam-malam buta begini setelah ditimpa nasib sial tahu-tahu dapat rejeki begini besar," kata Empat Golok Kematian penuh nafsu sedang Tio Ki-pi terus mendesak dengan tangan kirinya tiada henti menjamahi dada dan bagian bawah perut sang dara baju merah yang berada dalam keadaan tak berdaya itu. Lelaki ini sama sekali tidak mempergunakan tangan kanannya karena ternyata tangan kanan itu sampai sebatas siku telah buntung dan ini menimbulkan tanda tanya dalam hati Wiro, apakah yang telah dilakukan manusia tersebut?

"Bangsatl Kalau tidak dapat mencincang tubuhmu lebih baik aku bunuh diri," sang dara baju merah membentak marah ketika lagi-lagi tangan kiri Tio Ki-pi menjamah bagian bawah perutnya secara kurang ajar, sedang Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian sendiri cuma ganda tertawa.

"Malam-malam buta begini apa pula yang terjadi di tempat ini?!" pikir Wiro.

Gadis jelita berpakaian merah itu putar pedangnya dengan sebat. Namun sesaat kemudian... "trang!" Golok besar orang kedua dari Empat Golok Kematian berhasil memukul mental pedang si nona. Dan saat itu juga kedua lelaki itu bersirebut cepat menubruk tubuh yang molek itu dengan penuh nafsu.

"Manusia-manusia haram jadah ini memang sudah saatnya diberi petunjuk jalan ke neraka!" kertak Wiro Sableng dengan marah. Didahului oleh satu bentakan keras dia berkelebat ke depan.

***5SEBELUM menuturkan jalannya perkelahian antara Wiro dengan Tio Ki-pi serta anggota Empat Golok Kematian yang hendak melampiaskan nafsu bejat terhadap gadis berpakaian merah, marilah kita ikuti dulu bagaimana kedua manusia brengsek itu sampai berada di tempat tersebut dan secara berbarengan mengeroyok sang dara.

Sehabis terkena pukulan "Sinar Matahari" yang dahsyat dari Wiro Sableng.

Tio Ki-pi lantas kabur dari hotel. Begitu sampai di halaman luar dilihatnya orang kedua dari Empat Golok Kematian tegak seperti patung di bawah sebatang pohon. Sebagai orang yang sudah ber-pengalaman Tio Ki-pi tahu apa yang terjadi dengan orang bayarannya itu. Segera dilepaskan totokan yang mempengaruhi Empat Golok Kematian lantas melanjutkan melarikan diri.

Bagi Empat Golok Kematian begitu bebas darI totokan tak ada hal lain yang dilakukannya dari pada ikut kabur menyusul Tio Ki-pi.

Kira-kira lari sejauh sepuluh lie, Tio Ki-pi berhenti, nafasnya mengengah-engah. Pemandangannya berkunang. Dia berpegangan pada pohon supaya tidak jatuh.

"Ada apa?" tanya Empat Golok Kematian seraya memegang pundak Tio Ki-pi. Begitu telapak tangannya menyentuh pundak lelaki itu detik itu pula disentakkannya kembali saking kagetnya.

Pundak Tio Ki-pi dirasakannya laksana bara!

"Loya, tubuhmu panas sekalil"

"Aku keracunan," desis Tio Ki-pi seraya mengangkat tangan kanannya yang hitam hangus akibat keserempet pukulan "Sinar Matahari" sewaktu terjadi perkelahian dengan Wiro di hotel tadi. Perlahan-lahan dia duduk bersila di tanah.

"Kelihatannya racun yang amat berbahaya," berkata Empat Golok Kematian.

Tio Ki-pi tidak menyahut. Setelah menelan beberapa butir pil penolak dan pemusnah racun, jago silat dari Ciatkang ini meramkan mata, atur jalan darah serta alirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Beberapa menit berlalu. Tubuh dan wajah Tio Ki-pi telah basah oleh keringat. Namun hawa panas pada tubuhnya tidak berkurang. Pucat pasilah kini wajah anggota Hun-tiong Houw-mo ini.

"Tak ada jalan lain," desisnya seraya membuka kedua mata dan menotok jalan darah pada bahu kanannya di empat bagian. Kemudian dia berpaling pada Empat Golok Kematian dan berkata, "Pinjam-kan aku golokmu."

Empat Golok Kematian maklum apa yang hendak dilakukan Tio Ki-pi. Memang cuma itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa. Goloknya dicabut dari sarung dan diserahkan pada Tio Ki-pi. Dengan menggigit bibir, Tio Ki-pi lantas tebaskan senjata itu ke tangan kanannya. Sekali tebas saja putuslah lengan kanannya yang keracunan pukulan sakti Wiro Sableng itu. Darah mengucur kemudian berhenti.

"Apa yang kita lakukan sekarang, Loya?" bertanya Empat Golok Kematian setelah beberapa lama berdiam diri.

Tio Ki-pi sendiri sebenarnya juga tidak tahu apa yang akan diperbuatnya saat itu. Untuk pergi ke markas Hun-tiong Houw-mo dan melapor apa yang telah terjadi pada pimpinan perkumpulan itu sama saja dengan mengantarkan nyawa. Sebaliknya untuk kembali ke hotel dan menyelamatkan isi peti dia tidak pula punya nyali karena sudah barang tentu Wiro masih ada di sana.

Tiba-tiba Tio Ki-pi ingat pada seorang kenalan baiknya yang berdiam kira-kira 10 lie dari tempat itu. Sang kenalan adalah salah seorang anak murid Kun lun pay yang kini hidup sebagai guru silat di Siu Kan. Dengan meminta bantuan tokoh tersebut beserta lusinan anak muridnya masakan dia tidak dapat menghajar Wiro dan sekaligus menyelamatkan peti mati tersebut. Memikir sampai di situ Tio Ki-pi mendapat semangat dan harapan besar. Dia segera berdiri.

Saat itu orang kedua dari Empat Golok Kematian berkata, "Loya, jika memang segala sesuatunya sudah dianggap selesai maka kuharap aku dapat menerima bayaran sebagaimana yang sudah ditetapkan. Aku tidak meminta semuanya, setengah pun jadilah."

Tio Ki-pi melotot dan membentak, "Saat ini bukan tempatnya untuk bicarakan soal uang! Masih hidup sudah lebih dari untung! Ayo kau ikut aku ke Siu Kan!"

Sebenarnya orang kedua Empat Golok Kematian ini sudah tak punya minat lagi untuk berurusan dengan Tio Ki-pi. Apalagi mengingat dua saudaranya sudah mati sedang yang satu lagi kabur entah ke mana. Namun untuk bentrokan dengan Tio Ki-pi sekalipun manusia ini telah cacat, Empat Golok Kematian musti pikir dua kali. Dalam pada itu Tio Ki-pi kembali membentak dengan kata-kata, "Apakah kau tidak ingin membalaskan sakit hati kematian dua saudaramu?!"

Tanpa menunggu jawaban orang di hadapannya itu karena dia tahu bahwa Empat Golok Kematian akan mengikutinya Tio Ki-pi berkelebat meninggalkan tempat tersebut. Udara malam terasa dingin. Kegelapan semakin memekat. Kedua orang tersebut laksana hantu yang gentayangan di malam buta. Belum sampai menempuh jarak 10 lie, Tio Ki-pi yang berpendengaran lebih tajam dari Empat Golok Kematian tiba-tiba hentikan lari, lalu berlindung di balik sebuah pohon besar sambil memberi isyarat pada Empat Golok Kematian.

"Ada apa?" bertanya Empat Golok Kematian.

"Seseorang mendatangi dari jurusan depan," sahut Tio Ki-pi seraya siapkan pukulan sakti di tangan kanannya. Hati-hati. "Bukan tidak mungkin si rambut gondrong yang di hotel itu!"

Beberapa detik menunggu muncullah orang yang datang dari arah depan itu. Meskipun malam gelap namun karena jarak mereka cukup dekat, baik Tio Ki-pi maupun Empat Golok Kematian segera dapat mengenali bahwa orang yang ada di hadapan mereka adalah seorang nona jelita berpakaian merah. Di balik punggungnya menyembul ujung gagang pedang.

Melihat kenyataan bahwa yang muncul adalah seorang gadis berparas cantik, Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian jadi saling pandang dan saling maklum jalan pikiran serta perasaan masing-masing.

"Di tempat sepi dan malam-malam begini Loya. Siapa yang bakal tahu. Asal saja Loya tidak menyerakahinya sendirian..." bisik Empat Golok Kematian.

Tio Ki-pi alias Thian liong-pian menyeringai. Dia memberi isyrat lalu berseru, "Nonaku manis, malam-malam begini tengah menuju ke manakah?"

"Bukankah akan lebih baik jika aku ikut menemanimu?" menimpali Empat Golok Kematian.

Keduanya kemudian tertawa gelak-gelak.

Sang nona, begitu mendengar teguran kurang ajar tersebut bukan kepalang kagetnya. Tapi dia juga marah.

"Siapa kalian? Bangsa hantu apa dedemit yang minta dihajar?"

Tio Ki-pi dan pembantunya kembali tertawa gelak-gelak.

"Nonaku yang cantik, jangan terlalu galak dan lekas marah. Kami berdua sudah barang tentu manusia biasa seperti kau. Jika kau kepingin kenal maka aku adalah Hoa seng, orang kedua dari Empat Golok Kematian. Sedang ini Loyaku bernama Tio Ki-pi bergelar Thian liong pian.... "

Sang dara tidak pernah mendengar nama Empat Golok Kematian dan juga Tio Ki-pi atau Thian liong pian. Meskipun memiliki ilmu silat yang lumayan tingginya namun karena jarang mengembara maka si nona kurang begitu kenal akan nama-nama tokoh silat dalam dunia kangouw, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. Dan karena dia seorang yang bersifat berani bahkan kadang-kadang suka nekad, kembali dia menghardik. "Tampaknya kalian bukan bangsa manusia baik-baik. Lekas menyingkir jika tidak ingin merasakan gebukanku!"

"Ah... ah... ah! Kataku juga jangan kelewat galak, nona. Coba perkenalkan dulu siapa kau adanya. Ke mana tujuanmu. Nanti kami berdua pasti bersedia mengantarkan kau..." yang bicara ini adalah Hoa seng orang kedua dari Empat Golok Kematian. Dan sehabis berkata demikian enak saja tangan kanannya mencuil dagu sang dara. Tentu saja nona baju merah ini bukan kepalang marahnya. Cepat laksana kilat tamparannya melayang menghantam muka Hoa seng dan sesaat membuat laki-laki kurang ajar ini menjadi berkunang-kunang pemandangannya.

"Seumur hidup baru kali ini aku ditampar perempuan. Tapi tak apa. Lumayan juga oleh seorang nona cantik macammu," kata Hoa seng pula sambil cengar-cengir, meringis dan tiba-tiba dilompatinya dara baju merah itu, berusaha merangkulnya dengan bernafsu. Namun saat itu juga si nona sudah menghantamkan tinjunya kepada Hoa seng, membuat lelaki ini terjajar beberapa langkah ke belakang.

"Hati-hati, sobat. Dia galak dan punya kepandaian silat yang bisa membuatmu konyol," kata Tio Ki-pi menyeletuk dan tahu-tahu tangan kirinya sudah mampir menjamah dada sang nona.

Kini gadis berbaju merah itu jadi meluap amarahnya. "Sret!" Dia cabut pedang dan begitu senjata ini keluar dari sarangnya, satu babatan dikirirrikannya ke batang leher tokoh silat propinsi Ciat kang itu.

Serangan sang nona yang demikian ganas pastilah akan membuat putus leher dan menggelindingnya kepala Tio Ki-pi bilamana orang ini terlambat sedikit saja mengelak. Namun di mata Tio Ki-pi, serangan ini hanya disambut dengan tawa mengejek. Sekali dia bergerak, ujung pedang lewat dua jengkal di samping kepalanya!

Melihat serangannya gagal, nona berbaju merah jadi semakin meluap amarahnya.

Tio Ki-pi jadi kaget dan tersurut beberapa langkah. Tidak disangka kalau sang nona memiliki kepandaian begitu rupa. Hendak disambutinya dengan pukulan sakti dia merasa bimbang karena dia tak ingin mencelakai gadis kepada siapa dia ingin melampiaskan nafsu bejatnya. Sesaat dia layani serangan lawan dengan bergerak gesit kian kemari sambil sekali-sekali menyerang dengan tangan kosong. Namun agaknya sang nona tak mau memberi kesempatan dan dengan cerdik dia sengaja mengirimkan serangan-serangan dari jurusan kanan sehingga Tio Ki-pi yang tangan kanannya buntung menjadi cukup kewalahan. Lelaki ini segera berikan isyarat pada Hoa-seng dan bekas anggota Empat Golok Kematian ini segera memasuki kalangan pertempuran setelah lebih dulu cabut golok kanannya.

Betapa pun lihaynya ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis berpakaian merah namun dikeroyok dua begitu rupa jurus demi jurus dia jadi terdesak. Bahkan kedua lawannya dengan seenaknya mem-permainkannya. Hoa seng pergunakan goloknya untuk merobek pakaian gadis itu sedang Tio Ki-pi dengan kurang ajar tiada hentinya menjamahi bagian-bagian tubuh tertentu dari si nona dan pada puncaknya Hoa seng berhasil memukul mental pedang lawannya. Dalam keadaan tak bersenjata gadis itu tentu saja betul-betul tak berdaya lagi. Kesempatan ini memang yang diharapkan oleh Tio Ki-pi serta Hoa seng. Serta merta keduanya menubruk gadis itu, siap untuk melampiaskan nafsu bejat masing-masing. Dan justru pada saat itu pula lah Wiro Sableng yang sampai di tempat kejadian itu, Wiro kertakkan rahang.

"Bangsat rendah! Kalian bedua memang layak mampus detik ini juga!"

Setelah membentak begitu rupa secepat kilat dia menerjang ke depan.

Tio Ki-pi seorang lihay yang berpendengaran tajam dan berotak cerdik. Dia laksana mendengar halilintar ketika mengenal suara Wiro Sableng. Saat itu dia tengah berguling-guling di tanah sambil merangkuli tubuh nona berpakaian merah. Meski nafsunya sudah meluap-luap namun lebih penting cari selamat. Secepat kilat dia melompat satu jotosan menyambar hanya beberapa milimeter saja clad kepalanya. Di lain ketika Tio Ki-pi sudah merapat ke balik pohon besar. Wiro lepaskan satu pukulan sakti. "Krak!" Pohon itu patah dan tumbang tapi Tio Ki-pi lenyap.

Lain halnya dengan Hoa seng. Meskipun dia juga dikagetkan oleh suara bentakan Wiro namun dia bertindak agak ayal. Baru saja dia putar kepala, mendadak sontak satu kepalan sudah menderu ke arah mukanya. Hoa seng hanya sempat keluarkan seruan pendek karena sedetik kemudian "prak!" Mukanya hancur, kepalanya rengkah. Otak dan darah berhamburan! Tamatlah riwayat orang kedua dari Empat Golok Kematian ini.

Wiro garuk-garuk kepala. Dia amat penasaran karena untuk kedua kalinya Tio Ki-pi anggota komplotan Hun-tiong Houw-mo yang misterius itu masih bisa melarikan diri. Dengan sebal dia balikkan tubuh. Tapi baru saja memutar tubuh tahu-tahu ujung sebilah pedang sudah menempel di tenggorokannya. Tentu saja pendekar kita jadi melengak kaget. Memandang ke depan ternyata sang nona yang barusan ditolongnya itulah yang telah menodongnya dengan ujung pedang tersebut!

"Heh, apa-apaan ini...!" ujar Wiro membeliak. Tapi sekali ini dia bukan membeliak kaget melainkan membeliak bergetar menyaksikan sepasang payudara sang nona yang putih membuntal padat, bersembul di robekan-robekan bajunya!

***6DARA berpakaian merah melintangkan lengan kirinya di atas dada untuk menutupi auratnya yang terbuka karena bajunya yang robek-robek besar.

"Pencuri! Jangan kira aku akan minta terima kasih padamu karena kau telah menolong jiwa dan menyelamatkan kehormatanku. Lekas katakan di mana si Putih!"

"Si Putih...? Si Putih apamu?!"

"Setan! Jangan pura-pura tolot! Si Putih kudaku! Kau telah mencurinya sewaktu kutambatkan di depart toko di Khay-hong! Katakan cepat di mana binatang itu!"

"Ah...!" Wiro ingat kini dan tertawa lebar.

"Jangan cengar-cengir tak karuanl Kalau kuda kesayanganku sampai cedera sedikit saja, apalagi kau jual, jangan harap nyawamu akan selamat! Di mana binatang itu?!"

"Sabar Nona, sabar. Jangan terlalu galak. Mari kita bicara baik-baik."

"Dengan seorang maling tengik macammu tak perlu bicara baik-baik?" jawab si nona dan ujung pedangnya masih menempel pada kulit leher Wiro Sableng. Meskipun mengatakan pemuda gondrong itu sebagai pencuri tengik namun sang dara sesungguhnya sudah mengetahui kelihayan Wiro.

Pertama sewaktu dia menangkis musnah serangan senjata rahasianya di kota Khay-hong tadi pagi. Kedua ketika barusan dia menggebuk kepala Hoa seng hingga konyol hanya dalam sekejapan mata saja! Di samping marah pada dasarnya dia agak jeri juga pada pemuda itu. Karena itulah dia tak mau ambil risiko dan tetap menodong Wiro dengan ujung pedangnya.

"Aku memang mungkin bangsa maling tengik, pencuri picisan," kata Wiro sambil senyum dan garuk-garuk kepalanya. "Namun percayalah Nona, aku mencuri kudamu karena terpaksa...."

"Jangan bicara panjang lebar!" sentak sang dara.

Wiro ganda tertawa.

"Jika kau bunuh aku, kudamu tak bakal ketemu lagi. Nah sekarang kau dengarlah dulu. Pertama aku pun tidak butuh ucapan terima kasih darimu. Aku berada di sini bukan untuk menolongmu, nona. Tapi karena memang mengejar dua bangsat itu, cuma sayang satu masih bisa lolos...." Habis berkata begitu Wiro lantas keluarkan kalung emas kepala harimau. "Coba kau perhatikan kalung ini. Tanda dari komplotan yang menamakan diri Hun-tiong Houw-mo. Manusia yang barusan kabur adalah anggota komplotan tersebut."

Nona di hadapan Wiro mendelik kaget. "Aku tak percaya! Mungkin kau sendiri yang jadi anggota perserikatan dajal itu!"

Wiro geleng-geleng kepala. "Sudahlah, susah bicara denganmu. Jika kau cari kudamu, itu di sana di belakang semak belukar...." tak perduli Wiro kemudian putar tubuhnya hendak meninggalkan sang dara. Justru si nona bergerak cepat dan ajukan pertanyaan. "Kau mau ke mana?!"

"Eh...?" Wiro garuk-garuk kepala. "Aneh, kenapa kau tanya begitu?"

"Dengar! Komplotan Hun-tiong Houw-mo telah membunuh kakak lelakiku...."

"Yang aku dengar," memotong Wiro. "... bukan hanya saudaramu saja yang jadi korban, tapi banyak. Belasan gadis-gadis kabarnya diculik, entah untuk dijadikan apa. Apakah kau kepingin diculik juga oleh komplotan itu!"

"Jangan bicara ngaco belokl" sentak sang dara jengkel. "Kalau kau mau bekerja sama denganku, aku tahu sedikit tentang komplotan itu...."

"Siapa sudi bekerjasama dengan dara segalakmu? Lagi pula kau punya kepandaian apa?!" Wiro sengaja mengejek hingga si Nona jadi penasaran banting-banting kaki. Tangan kanannya bergerak dan putuslah dua kancing baju Wiro Sableng.

"Ah... boleh juga ilmu pedangmu, Nona. Tapi aku sudah saksikan sendiri tadi. Menghadapi dua pengeroyok itu kau tak mampu berbuat apa-apa. Sekarang kau mau pinjam tanganku untuk membantumu menuntut balas kematian kakakmu pada komplotan Hun-tiong Houw-mo karena kau sadar tak bakalan mampu melakukannya sendiri. Sungguh cerdik otakmu, nona. Tapi tak usah ya...?!"

Dara itu gigit bibirnya. Sepasang matanya berapi-api. Rahangnya menggembung. Tanpa bilang apa-apa lagi dia putar tubuh dan melompat ke balik semak-semak. Begitu dilihatnya kuda putihnya segera saja dia menaiki binatang ini dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Sampai suara rintik kaki kuda putih lenyap di kejauhan barulah Wiro berlalu pula dari situ.

***Larinya Tio Ki-pi setelah lolos dari lubang jarum kematian untuk kedua kalinya dari tangan Pendekar 212 Wiro Sableng tak bedanya seperti orang lari dikejar setan kepala tujuh! Hampir 20 lie dia lari terus menerus tanpa memperdulikan ke mana arah tujuannya. Pakaian ungunya robek-robek tersangkut semak-semak. Ketika nafasnya megap-megap dan lidahnya terjulur keluar barulah lelaki ini hentikan larinya. Ternyata dia berada di satu daerah berbukit-bukit yang penuh ditumbuhi pohon-pohon kapas. Lapat-lapat didengarnya suara air yang jatuh memercik menimpa batu. Dia melangkah tertatih-tatih ke jurusan itu. Ditemuinya sebuah sungai dan air terjun kecil. Tio Ki-pi mencelupkan muka dan kepalanya dalam air yang dingin itu,

kemudian meneguk air sungai sepuas hatinya. Tubuhnya dibaringkan di tebing sungai. Memandang ke langit dia melihat susunan bintang-bintang yang menunjukkan bahwa tak lama lagi malam akan digantikan dengan pagi. Karena terlalu letih Tio Ki-pi akhirnya tertidur pulas berselimutkan udara malam yang dingin.

Tio Ki-pi terbangun oleh silaunya sinar matahari pagi yang jatuh menimpa wajahnya. Sambil mengucak-ucak mata dia duduk. Ketika hendak membasuh mukanya dengan air sungai tiba-tiba kakinya menginjak sehelai kertas. Ternyata kertas itu bukan kertas biasa, melainkan sepucuk surat yang ditujukan kepadanya.

Tio Ki-pi.

Hari ini juga kau harus segera kembali ke markas.

Tertanda

Hun-tiong Houw-mo

Surat itu ditulis dengan tinta merah dan tangan kiri Tio Ki-pi jelas kelihatan gemetaran memegang-nya. Dia tahu apa artinya kembali ke markas itu. Hukuman telah menunggunya yang bakal dijatuhkan oleh pemimpin komplotan. Jika dia melarikan diri, akan sanggupkah dia untuk melenyapkan diri selama-lamanya? Tapi dari pada mengantar diri mentah-mentah ke markas komplotan, lebih mending kabur. Jika dia sampai di satu daerah yang ratusan lie jauhnya masakan ketua Hun-tiong Houw-mo dan anggota-anggotanya akan tahu kalau dia berada di situ?!

Memikir demikian maka Tio Ki-pi lekas-lekas cuci muka dan mulutnya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke timur, menjauhi markas Hun-tiong Houw-mo yang terletak di sebelah barat. Selama dalam perjalanan itu Tio Ki-pi senantiasa merasa tak enak. Nalurinya mengatakan bahwa ada seseorang yang terus menerus menguntitnya. Dia tak dapat memastikan siapa, namun yang jelas sang penguntit bukanlah Wiro Sableng. Karena jika benar Wiro pastilah pemuda itu siang-siang sudah melabraknya.

Kadang-kadang Tio Ki-pi hentikan perjalanannya dan mengambil jalan memutardengan maksud hendak mengetahui siapa adanya penguntit tersebut. Namun tak seorang pun dilihatnya. Sekali-kali jika dia sedang berlari kencang, dia menoleh ke belakang. Tetap saja dia tak menampak siapasiapa. Diam-diam jagoan dari propinsi Ciat kang ini menjadi mengkirik juga. Dia baru merasa lega sedikit ketika memasuki sebuah kota kecil. Karena perutnya lapar langsung saja dia masuk ke dalam sebuah warung makanan. Tatkala pelayan datang menghidangkan pesanannya, sepasang mata Tio Ki-pi membeliak menyaksikan segulung kertas yang menancap di atas tumpukan nasi panas dalam mangkok.

Diambilnya gulungan kertas itu. Begitu dibuka tampaklah serentetan tulisan yang berbunyi:

Tio Ki-pi.

Apa kau kira kau bisa melarikan diri mencari selamat?!

Segera kembali ke markas atau kau akan mati dengan tubuh tercincang detik ini juga!

Atas nama Ketua,

Hun-tiong Houw-mo

Tengkuk Tio Ki-pi dingin laksana diguyur air es. Mukanya sepucat kertas.

"Siapa yang meletakkan kertas itu di sini?" bertanya Tio Ki-pi pada pelayan yang membawa hidangan.

Pelayan itu geleng-geleng kepala. "Percayalah Loya, saya hampir tak melihat siapa-siapa pun yang menancapkan kertas itu. Waktu dari dapur benda itu belum ada...."

Pastilah seorang lihay, amat lihay yang telah melakukannya. Kalau tidak masakan si pelayan sampai tidak mengetahui, demikian Tio Ki-pi membatin. Semakin gelisah dia. Dia memandang seputar ruangan. Di sudut sana duduk seorang lelaki muda berpakaian petani. Di bagian lain seorang kakek berkumis putih. Tak ada orang lain yang mencurigakannya. Tak mungkin pula kedua orang itu yang telah menancapkan gulungan surat dalam nasi.

Karena seleranya boleh dikatakan saat itu sudah tak ada lagi untuk makan, Tio Ki-pi lantas berdiri. Membayar harga makanan dan keluar dari warung. Di depan warung dia memandang berkeliling. Segala sesuatunya kelihatan biasa dan tenang-tenang saja. Lelaki ini mengeluh dalam hati.

"Tak ada jalan lain. Terpaksa kembali ke markas. Mudah-mudahan saja ketua mau memberi ampun...."

Maka Tio Ki-pi kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju ke sebelah barat, ke jurusan di mana terletak markas komplotan Hun-tiong Houwmo.

***7PADA malam gelap ketika Tio Ki-pi dan Empat Golok Kematian mengawal gerobak misterius itu, hampir bersamaan waktunya, di sebuah jalan buruk kira-kira 50 lie di selatan Khay-hong terlihat pula sebuah gerobak yang ditarik oleh dua ekor kuda hitam, dipacu cepat ke jurusan utara. Satu-satunya orang di atas gerobak ini adalah kusirnya sendiri. Adalah satu hal yang luar biasa begitu kita mengetahui bahwa kusir gerobak itu nyatanya adalah seorang nenek berambut putih berpakaian rombeng penuh tambalan. Di bagian belakang gerobak terdapat timbunan jerami kering.

Meskipun kuda-kuda penarik gerobak itu telah lari kencang sekali, namun si nenek masih saja terus mendera punggung binatang-binatang ini dengan cambuknya sehingga kedua kuda tersebut lari laksana dikejar setan.

Di sebelah depan kini kelihatan daerah pegunungan yang menghitam dalam kegelapan malam. Inilah yang dikenal dengan nama Hun-tiongsan. Memasuki daerah pegunungan yang di sanasini terdapat jurang batu dalam dan terjal, si nenek bukannya memperlambat lari gerobak, malah seperti orang kesetanan kembali dia mencambuk kuda-kuda penarik gerobak itu!

Siapakah adanya nenek-nenek yang demikian hebat dan berani luar biasa mengemudikan gerobak di jalan buruk berbahaya dan dalam gelap gulitanya malam begitu rupa? Untuk mengetahuinya mari kita ikuti saja ke mana tujuan tua bangka misterius ini.

Kira-kira dua kali peminuman teh si nenek sampai ke puncak Hun-tiong-san. Sebuah tembok menjulang hampir sepuluh tombak tingginya. Bagian atasnya ditancapi dengan tombak-tombak besi. Di salah satu bagian dari tembok ini terdapat sebuah pintu gerbang bercat kuning yang pada kiri kanannya ada dua buah arca harimau tengah mendekam terbuat dari emas murni! Meskipun belum diketahui bangunan atau apa yang ada di belakang tembok tinggi tersebut namun sudah dapat diduga kiranya puncak Hun-tiong-san inilah markas Huntiong Houw-mo atau Siluman Harimau Dari Gunung Hun- tiong!

Si nenek berambut putih hentikan gerobaknya di depan pintu gerbang kuning. Dengan gerakan cepat dan enteng dia melompat turun, lalu bergerak mendekati arca harimau emas di sebelah kiri. Salah satu jari tangannya dipergunakan hendak menekan mata arca harimau emas yang sebelah kanan. Namun sebelum itu dilakukannya tiba-tiba didengarnya suara bersiur dan ketika memandang berkeliling si nenek jadi melengak. Tiga orang kakek-kakek berpakaian paderi dilihatnya tahu-tahu sudah mengurungnya.

"Paderi dari mana yang malam-malam buta begini masih gentayangan di luaran?!" si nenek mem-bentak bengis. Sepasang matanya menyorot galak.

Paderi yang di tengah yang berambut panjang sedang dua kawannya sama-sama berkepala gundul menyeringai dan keluarkan suara tertawa. Suara tertawanya ini perlahan saja, tetapi si nenek rambut putih merasakan seolah-olah ada satu kekuatan gaib yang mendorong dadanya hingga jika saja tidak lekas-lekas teguhkan kuda-kuda kedua kakinya pastilah dia akan terhuyung-huyung beberapa langkah.

"Heh, paderi sialan ini nyatanya memiliki tenaga dalam yang bisa disalurkan lewat suara!" membathin nenek rambut putih dan melirik pada dua paderi lainnya sambil menimbang-nimbang sampai setinggi mana pula kehebatan yang dua ini.

Paderi berambut panjang mendongak ke langit, keluarkan sebuah buli-buli kecil berisi anggur dan gluk... gluk... gluk. Setelah meneguk minuman itu tiga kali berturut-turut dan menyimpan buli-buli kembali di balik jubahnya, dengan masih mendongak dia membuka mulut, berkata, "Ada ujar-ujar yang mengatakan hutang budi bayar budi hutang nyawa dibayar nyawa!"

"Heh! Kalian ini paderi-paderi gila dari mana sampai kesasar kemari?! Tahukah kalian apa artinya jika ada orang-orang luar yang berani menginjakkan kaki di puncak Hun-tiong-san ini?!"

Paderi rambut gondrong kembali tertawa sementara kedua kawannya tampak tidak sabaran.

"Kami datang kemari bukan untuk mencari segala tahu. Tapi guna menagih hutang nyawa! Beberapa waktu yang lalu kau telah membunuh seorang paderi dari Siauw Lim-si secara kejam tanpa sebab lantaran. Karenanya pantas hari ini kau mempertanggungjawabkannya!"

Nenek rambut putih mendongak dan tertawa panjang. Sambil berkacak pinggang dia berkata, "Di puncak Hun-tiong-san ini ada suatu ketentuan. Siapa-siapa orang luar yang berani naik kemari berarti mampus! Bisa datang tak bisa pulang!"

"Segala macam aturan bisa saja dibuatl Tapi yang kami perlukan adalah nyawa busukmu!" menyahuti paderi botak di sebelah kanan. Namanya Tek Bun.

Si nenek rambut putih kembali mengumbar suara tertawa. "Nyali kalian sungguh besar..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.197.150.255
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia