Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Hujan turun menggila malam itu. Bunyi derunya menegakkan bulu roma. Apalagi angin bertiup kencang, memukul daun pepohonan, menambah seramnya pendengaran. Sesekali kilat menyambar seperti hendak membelah bumi di malam gelap gulita itu. Kemudian menggelegar suara guntur. Bumi bergoncang seperti mau amblas, langit seolah-olah hendak runtuh!Nyanyian itu dinyanyikan berulang kali oleh Ratu Mesum. Dan WiroBanyu Abang banyu yang sejukAir terjun Banyu Abang terletak di gunung berapi yang telah mati.

"Hujan keparat!" maki pemuda berpakaian putih yang lari di bawah

hujan lebat itu. Sekujur tubuh dan pakaiannya basah kuyup. Karenanya

dia tak merasa perlu lagi mencari tempat untuk berteduh. Lagi pula di

mana akan ditemukan tempat berlindung di dalam rimba belantara lebat

itu. Daun-daun pepohonan besar tidak kuasa membendung curahan air

hujan. Kilat menyambar, membuat orang ini terkejut. Sesaat wajahnya

tampak jelas dalam terangnya sambaran kilat. Kembali dia menyumpah

dalam hati. Baru saja menyumpah geledek kembali menggelegar.

"Benar-benar gila!" makinya kembali.



Mendadak orang ini hentikan larinya. Lapat-lapat, di kejauhan sepasang

telinganya yang tajam luar biasa mendengar suara aneh. Suara hiruk

pikuk seperti teriakan manusia. Dia pejamkan kedua matanya dan

mendongak ke langit.

"Setan atau ibliskah yang menjerit di malam gila ini?" tanyanya pada diri sendiri.



"Kalau memang itu jeritan manusia mengapa mereka menjerit. Dan manusia

macam mana pula yang hujan lebat begini, berada dalam rimba belantara

pada malam buta.....?" Orang ini tidak menyadari, dia sendiri secara aneh

berada di tempat itu!

Dia membalikkan tubuh, lalu lari ke jurusan

datangnya suara jeritan yang sangat ramai itu. Beberapa pohon kecil

yang melintang di hadapannya dihantamnya dengan tangan kiri atau tangan

kanan.

"Krak.....! Krak.....!"

Batang-batang pohon itu patah bertumbangan!



Makin cepat dia berlari makin keras suara jeritan itu tanda dia semakin

dekat ke sumber suara. Mendadak suara jeritan lenyap. Orang yang tadi

berlari hentikan gerakannya, memandang berkeliling, lalu menatap tajam

ke samping kanan. Samarsamar dalam gelapnya malam dan lebatnya curahan

air hujan, sekitar sepuluh tombak dari tempatnya berdiri dia melihat

sesosok tubuh tegak berkacak pinggang di bawah hujan lebat. Hati-hati

sekali, hampir tidak mengeluarkan suara pemuda tadi menyelinap di balik

pepohonan dan semak belukar, berusaha mendekati sosok tubuh yang ada di

depannya. Ketika hanya tinggal empat tombak saja lagi dari orang yang

tegak berkacak pinggang itu, tiba-tiba orang itu keluarkan suara

tertawa bergelak. Lelaki berpakaian putih yang coba mengintai tersentak

kaget dan cepat-cepat berlindung ke balik sebatang pohon. Dari sini dia

meneruskan pengintaiannya. Orang yang tertawa bergelak sambil bertolak

pinggang itu mengenakan pakaian serba hitam yang basah kuyup. Rambutnya

terjurah panjang, semula disangka soerang perempuan. Tapi setelah jelas

kelihatan raut wajahnya ternyata dia seorang lelaki bermuka cekung,

berjanggut dan berkumis lebat. Pada masing-masing lengannya terdapat

tiga buah gelang akar bahar.

Kilat menyambar dan! Orang yang

mengintai dari balik pohon merasakan jantungnya seperti copot!

Betapakan tidak. Ketika rimba belantara itu menjadi terang benderang

sekilas, pada saat itulah dia menyaksikan puluhan tubuh manusia

berkaparan di tanah, di atas semak belukar, di antara pohon-pohon.

Semua tergelimpang tak bergerak. Kepala atau wajah masing-masing telah

hancur mengerikan. Rambut dan potongan-potongan kepala serta otak

berhamburan di manamana. Air hujan yang tergenang tampak merah

kehitaman.

"Pembunuhan masal! Siapa yang melakukannya?!" membatin

pemuda yang mengintai. Tubuhnya terasa dingin sekali, sepasang lututnya

terasa goyah. Selama hidupnya dia telah melihat kematian, pembunuhan

bahkan dia juga telah berulang kali melakukan pembunuhan. Tapi kematian

orang seperti itu dengan kepala atau muka hancur, benar-benar satu hal

luar biasa. Dari pakaian yang dikenakan manusiamanusia malang itu, dari

tombak, pedang dan perisai yang bergelimpangan di selasela tubuh

manusia, jelas yang menemui kematian itu adalah serombongan pasukan.

Entah pasukan dari kadipaten atau keraton mana.

Di tengah tumpukan

mayat itu, orang yang tertawa semakin keras tawanya. Sambil tertawa

kepalanya yang berambut panjang digoyang-goyangkan hingga air hujan

yang membasahi rambutnya berdesing melesat, menghantam pohon-pohon dan

dedaunan. Orang yang bersembunyi di balik pohon melengak kaget ketika

menyaksikan begaimana tetesan-tetesan air hujan yang dilesatkan rambut

itu menghantam rontok kulit pohon di hadapannya dan meninggalkan lobang

dalam pada batang pohon!

"Dua puluh sembilan hari menguntit dan

mengurung!" Tiba-tiba orang berpakaian hitam berambut panjang itu

hentikan tawa dan keluarkan ucapan. "Semua berakhir pada kematian!

Manusia-manusia tolol! Pangeran kalian hanya menyuruh kalian mengantar

nyawa di dalam rimba belantara ini! Ha....ha.....ha...."

Orang di tengah

gelimpangan mayat itu kemudian tampak tundukkan kepala. Seperti tengah

memperhatikan sesuatu yang ada di tangan kanannya. Lalu kembali dia

tertawa gelak-gelak. Mendadak suara tawanya lenyap, tubuhnya diputar ke

kiri. Tangan kanannya diangkat ke depan, sama rata dengan bahu. Dari

jari telunjuknya yang diacungkan lurus ke muka tiba-tiba melesat tiga

cahaya putih. Dua cahaya sebesar batang lidi, satunya lagi sebesar

batang padi. Ketiga cahaya putih itu mengeluarkan suara seperti

lengkingan seruling yang ditiup pada nada tinggi dengan kekuatan tiupan

dahsyat.

"Siut....siut....siut! Brak!"

Batang pohon di depan hidung pemuda yang mengintai hancur lebur. Pohon besar itu roboh dengan suara bergemuruh!



"Keparat setan alas!" maki lelaki berpakaian putih yang sembunyi di

balik pohon besar itu. "Bangsat berjangut itu tahu kalau aku mengintai

di sini! Gila, ilmu pukulan sakti apa yang dilepaskannya itu!" Secepat

kilat orang itu jatuhkan diri ke tanah, menyusup ke dalam semak belukar

lalu melompat satu tombak ke samping kanan dan berguling. Sepasang

telinganya kembali mendengar suara melengking. Tanda orang berpakaian

hitam itu melepaskan lagi pukulan yang memancarkan tiga garis cahaya

putih itu. Setumpuk semak belukar rambas, sebatang pohon lagi hancur

dan tumbang. Tapi pemuda yang tadi berhasil menyelamatkan diri saat itu

sudah berada jauh di tempat yang cukup aman, yakni melesat ke atas dan

bersembunyi di atas cabang pohon, di antara kerimbunan daun-daun.

Ternyata manusia yang menyerangnya tidak mengetahui kalau kini dia ada

di atas pohon. Sebaliknya dari atas pohon dia dapat melihat jelas gerak

gerik orang di bawah sana. Sesaat lelaki di atas pohon ini

berpikir-pikir, apakah dia akan membalas serangan maut tadi dengan

pukulan sakti yang dimilikinya. Tetapi setelah menimbang akhirnya dia

memutuskan untuk menunda.

Di bawah pohon orang tadi kembali tertawa

gelak-gelak. Lalu berteriak "Ada yang lolos rupanya! Tidak apa.... Biar

dia lari dan memberitahu pada pangerannya! Ha.....ha.....ha.....!" Suara tawa

itu sirap. Orang di atas pohon memutuskan inilah saatnya dia harus

melepaskan pukulan untuk melumpuhkan orang di bawah sana. Tetapi.

Astaga! Ketika memandang lagi ke bawah sambil siapkan pukulan, orang

berambut panjang berpakaian hitam itu sudah lenyap entah ke mana!

"Sialan! Aku terlambat!" maki pemuda di atas pohon.



Setelah meneliti keadaan di bawah pohon sekali lagi sementara hujan

lebat masih terus turu maka diapun melompat turun. Ketika masih

melayang di udara itulah mendadak telinganya mendengar suara seperti

tiupan seruling. Tiga larik cahaya putih yang sangat terang menyilaukan

berkiblat, menyambar ke arahnya.

"Celaka! Bangsat itu belum pergi

rupanya. Dan kini dia kembali menyerangku!" Orang yang melompat turun

terkejut dan memaki. Secepat kilat dia jungkir balik di udara lalu

membuang diri ke samping kanan. Namun sambaran tiga cahaya datangnya

cepat luar biasa. Berkiblat deras dan menghantam perutnya dengan telak.

Orang ini keluarkan seruan keras, mencelat ke atas lalu jatuh ke tanah,

di antara gelimpangan mayat-mayat dan genangan air hujan campur darah!



"Ha...ha....ha....!" Terdengar tawa bergelak dari belakang batang pohon

besar. "Pengintai tolol! Kalau saja kau tadi terus lari tentu tak akan

mampus percuma! Sayang! Kini tak ada yang akan memberi laporan pada

sang pangeran! Ha...ha....ha....!"

Suara tawa lwnyap. Keadaan di tempat

itu kini hanya dihantui oleh deru air hujan, desau angin dan gemerisik

daun-daun pepohonan. Tak selang berapa lama, sosok tubuh yang tadi

dihantam tiga larik sinar dan terhempas ke tanah, perlahan-lahan tapak

bergerak bahkan kini coba berdiri sambil pegangi perutnya. Ternyata

manusia satu ini tidak mati. Dia tidak sampai menjadi korban tiga larik

sinar maut yang dilepaskan oleh orang berpakaian serba hitam tadi.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Jangankan tubuh manusia. Btang pohon

yang besar dan keras hancur tumbang berantakan oleh hantaman sinar itu.



Pemuda itu pegangi pakaiannya di bagian perut yang tampak bolong besar.

Bagian tepi yang bolong itu seperti hangus terbakar berwarna kehitaman.

Pada bagian pakaian yang berlubang itu tampak tersembul sebuah benda

putih yang berkilauan setiap sinar kilat menyambar terang. Mukanya yang

tadi pucat seperti kain kafan berangsur-angsur berdarah kembali dan

dari mulutnya pemdua ini tak henti-hentinya memaki. Dia pegangi benda

putih berkilat yang tersembul di depan perutnya, garukgaruk kepalanya

dengan tangan yang lain lalu cepat menyelinap ke balik semak belukar.

Ada rasa kawatir kalau-kalau orang yang tadi menyerangnya masih berada

di tempat itu atau muncul kembali.

"Kapak ini telah menyelamatkan

nyawaku....." kata lelaki berakaian putih yang kini pakaiannya penuh

lumpur bercampur darah. Tengkuknya masih terasa dingin. Bukan oleh

karena dinginnya udara atau dinginnya air hujan, tapi karena baru saja

menyadari, kalau senjata mustikanya itu tidak tersisip melindungi

perutnya, pastilah perutnya akan bobol amblas dihantam sinar ganas

tadi. Dia segera pula menyadari bahwa senjatanya itu memiliki keampuhan

yang tinggi dan tak sanggup dihantam pukulan sinar aneh dan mematikan

itu.

Ketika dipastikannya keadaaan di tempat itu benar-benar telah

aman maka diapun segera keluar dari balik rerimbunan semak belukar. Dia

coba meneliti sekian puluh mayat yang terkapar mengerikan.

"Pasukan

yang malang..... Pangeran dari mana yang mengutus kalian mencari mati di

tempat ini....?" Orang itu geleng-geleng kepala. "Tak habis pikir

bagaimana orang berjanggut tadi sanggup membunuh puluhan manusia ini.

dengan sinar mautnya itu.....? Sinar maut hebat luar biasa, tapi ganas

mengerikan..... Heh, apa yang harus aku lakukan? Tolol!" Orang itu memaki

dirinya sendiri. Lalu menjaab pertanyaan sendiri. "Yang paling baik aku

harus pergi dari sini. Rimba belantara ini lebih seram dari neraka!

Tempat celaka apa ini! Gila!"

Maka diapun bergerak pergi. Namun baru dua kali menindak melangkahi mayat-mayat di tanah, mendadak terdengar bentakan garang.

"Berhenti!"





Bangsat! Siapa pula yang membentak! Setan rimba belantara?! Eh,

mungkin orang berjanggut tadi.....?!" Dengan sikap waspada dan

mengerahkan tenaga dalam ke tangan kanan siap untuk mengahantam, dia

memandang ke arah kegelapan dari mana suara bentakan tadi datang. Dia

melihat sesosok tubuh dalam kegelapan. Lalu sosok tubuh kedua. Ketiga

....keempat. Ketika dia memandang berkeliling, ternyata dia telah

dikurung oleh enam orang berbadan besar. Masing-masing memegang

kelewang panjang.

"Siapa kalian?!" Lelaki berpakaian serba putih balik membentak.

"Randu Ireng! Dua kali bulan pernama kami menguntitmu! Sekarang tak mungkin lepas!" terdengar jawaban dari kegelapan.

"Randu Ireng....?" Desis orang yang dikurung. "Siapa yang kalian maksudkan....."

Terdengar suara batuk-batuk di sebelah kanan, menyusul suara berkata

"Kami tahu kelicikanmu. Kau bisa menyamar seribu kali dalam semalam.

Tapi kami berenam tak mungkin kau tipu!"

"Gila! Malam-malam buta, hujan lebat begini rupa dan disaksikan puluhan mayat celaka kalian ini bicara apa sebenarnya?!"

"Dengar Randu Ireng...."

"Setan alas! Namaku bukan Randu Ireng....!" Hardik orang yang dikurung.

Keluar jawaban. "Terserah kau mau memakai nama apa. Tapi yang jelas kau

sudah kami kurung. Tak mungkin lolos walaupun kau bisa merubah diri

menjadi seekor tuma! Kawan-kawan, apakah kalian lihat benda itu di jari

telunjuk kanannya.....?"

Lima suara menyahut.

"Kami tidak melihatnya!"

"Dia a pasti menyembunyikannya di balik pakaiannya!"

"Keparat! Benda apa yang dimaksudkan enam jahanam gila ini?" ujar

pemuda yang dikurung lalu meneliti jari telunjuk tangannya sendiri.

Jari telunjuk tangan kanan itu memang tidak ada apa-apanya. Mengapa

orang-orang itu sengaja memperhatikan jari telunjuk tangan kanannya?

Siapa mereka sebenarnya dan siapa pula orang bernama Randu Ireng itu?

Selagi dia bertanya-tanya seperti itu, kembali orang yang tegak di

hadapannya dalam kegelapan membuka suara sementara hujan masih terus

turun walau sekarang mulai mereda.

"Radu Ireng! Serahkan cincin itu pada kami!"

"Betul! Serahkan lekas. Dan kami akan mengampuni selembar nyawamu!" Orang di samping kiri ikut bersuara.

Pemuda yang tegak di antara tebaran mayat kembali memaki dalam hati.

Kemudian dia tertawa gelak-gelak. Namun hatinya tetap saja jengkel.

"Kalian orang-orang gila kesasar! Buka telinga kalian baik-baik dan

dengar ucapanku. Aku bukan Randu Ireng! Aku tidak tahu menahu, tidak

mengerti cincin apa yang kalian minta. Aku sama sekali tidak memiliki

cinicn, atau kalung atau gelang. Ha...ha....ha....!"

"Dusta!"

"Bohong besar!"

"Rupanya dia tidak sayang nyawa!"

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita bantai saja!"

Enam sosok tubuh bergerak maju, mendekar dan memperapat pengurungan.

Enam batang kelewang panjang tergenggam erat dalan enam tangan kukuh,

melintang di depan dada.

Sejarak lima langkah, keenam orang itu

berhenti. Orang yang dikurung memandangi wajah mereka satu persatu. Tak

seroangpun yang dikenalnya.

"Kami masih memberi kesempatan terakhir!" kata orang di samping kanan.

"Lekas serahkan cincin itu!"

"Cincin apa?!" tanya lelaki yang pakaiannya basah kuyup, penuh belepotan lumpur dan darah.

"Jangan pura-pura tidak tahu!"

"Cincin apa lagi kalau bukan Cincin Kepala Ular Kobra Baja!" jawab orang yang tepat berdiri di depan lelaki tadi.

Kini berubahlah paras pemuda ini. dia pernah mendengar tentang benda

itu, tapi tak pernah melihatnya. Cincin baja yang merupakan senjata

mustika ganas. Tibatiba dia ingat pada orang berpakaian serba hitam

yang tadi menyerangnya.

"Kalau begitu....." desisnya.

"Kalau begitu apa?!" ucapannya langsung dipotong.

"Kalau begitu orang berjanggut dan berkumis lebat tadi yang kalian maksudkan....."

"Jangan coba mengalihkan pembicaraan. Siapa yang kau maksud dengan manusia berjanggut dan berkumis itu?!"

"Manusia yang membunuh puluhan perajurit ini! Kalau dia tidak memiliki

senjata ampuh luar biasa mana mungkin dia sanggup membunuh lawan

sebegini banyak...."

"Dusta! Bukankah kau sendiri yang telah membunuh

balatentara dari Demak ini? Dan tentunya dengan mempergunakan cincin

keramat itu!"

"Aku tidak memiliki benda itu. bahkan aku sendiri

tadi diserang bangsat itu. lihat pakaianku yang hangus dan berlubang

besar di bagian perut ini....."

Enam orang di depannya menyeringai

mengejek. Tak percaya tentunya. Yang di samping kiri berkata. "Kalau

diserang dengan cincin sakti itu, saat ini kau bukan manusia lagi. Tapi

sudah jadi bangkai dengan perut bobol!"

"Mungkin! Tapi...... Ah,

percuma saja aku menerangkan. Kalian tentu tak akan percaya....." kata

pemuda yang tegak di antara tebaran mayat. Dia merasa tak perlu

menjelaskan bahwa senjata sakti yang dimilikinya telah menyelamatkannya

dari hantaman tiga cahaya putih yang melesat keluar dari jari telunjuk

orang berpakaian serba hitam itu.

"Ayo, mana cincin itu. Lekas serahkan!"

"Aku tak mau lagi bicara dengan kalian orang-orang gila! Aku bukan

Randu Ireng. Aku tidak memiliki benda yang kalian cari! Sekarang beri

jalan, kau mau lewat. Aku mau pergi dari tempat celaka ini!"

"Ragamu boleh pergi tapi nyawamu tinggalkan di sini!"

Enam kelewang. Bergerak naik ke atas.

"Kau akan mampus percuma! Cincin itu akan kami ambil dari tubuhmu yang tercincang!"

Orang yang terkurung dan hendak dibantai menyeringai lalu keluarkan

suara bersiul. Tangan kanannya bergerak ke pinggang. Enam lelaki

bertubuh besar dan bermuka garang serentak mundur dua langkah ketika

menyaksikan senjata berbentuk kapak yang memiliki dua buah mata

terlihat tergenggam di tangan kanan orang yang mereka sangka Randu

Ireng itu. yang membuat mereka jadi terkesiap ialah melihat sinar

menggetarkan yang keluar dari badan dan mata kapak, padahal keadaan di

situ gelap sama sekali tak ada kilatan sinar yang memantul ke permukaan

kapak.

"Siapa kau sebenarnya?!" Salah seorang dari enam pengurung bertanya.

"Kau pasti tuli! Tadi-tadi aku sudah bilang aku ini bukan Randu Ireng!"

"Kalau begitu coba katakan siapa kau adanya!"

"Kau tidak perlu tahu!"

"Jika tak berani memperkenalkan diri berarti kau memang Randu Ireng!"

"Kentut busuk!"

"Senjata apa yang ada di tanganmu itu?!"

"Kapak Naga Geni 212!"

Enam pengurung tersentak kaget. Mereka saling pandang.

"Kalau begitu kau adalah pendekar muda Wiro Sableng, murid Sinto Gendeng nenek sakti dari Gunung Gede!"

Orang yang memegang kapak tidak menjawab meskipun apa yang diucapkan orang di depannya memang benar adanya.

"Kalau begitu kami telah salah sangka. Harap dimaafkan keteledoran ini.

hanya saja, apakah kau dapat menjelaskan apa yang terjadi di tempat

ini.....?"

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, orang yang tadi hendak

dikeroyok sebenarnya ingin lekas-lekas meninggalkan tempat itu. Namun

diam-diam diapun ingin mengetahui siapa adanya manusia bernama Randu

Ireng dan apa sebenarnya cincin baja berkepala ular itu.

"Aku bersedia menerangkan apa yang kulihat di sini walaupun tak banyak, tapi harap kalian mau mengatakan siapa kalian adanya...."

"Kami berenam kakak beradik. Aku yang tertua. Namaku Sebrang Lor. Kami dikenal dengan julukan Enam Kelewang Maut...."

Wiro Sableng kernyitkan kening. Kapak Naga Geni 212 disisipkannya

kembali ke pinggang lalu berkata "Setahuku kalian adalah para pendekar

dari golongan putih. Tapi gerak gerik kalian malam ini tidka beda

dengan bangsa gerombolan rampok atau rombongan maling. Tidak disangka

kalian selama ini disenangi ternyata bertindak tanduk memalukan...."

"Kami mengakui telah kesalahan tangan," kata Sebrang Lor. "Semua

terjadi karena kejengkelan kami sudah sampai di puncaknya. Kami telah

menguntit manusia bernama Randu Ireng itu hampir selama enam puluh

hari. Malam ini ternyata kami menemui kegagalan lagi..... Nah, apakah kau

mau menerangkan apa yang kau ketahui....?"

Wiro menjelaskan tidak

banyak. Mulai dari dia mendengarkan suara jeritanjeritan, sampai dia

mendapat serangan, lalu lenyapnya si penyerang yakni lelaki berpakaian

serba hitam, berjanggut dan berkumis.

"Mungkin manusia yang menyerangku itulah Randu Ireng, orang yang kalian cari......"

"Barangkali..... Manusia bernama Randu Ireng ini sebenarnya dia tidak

memiliki kepandaian silat tinggi, apalagi ilmu kesaktian. Namun ada

satu kehebatannya. Yaitu dapat menyamar secara lihay dan cepat. Lalu

karena cincin keramat itu berada di tangannya, maka tak ada satu

orangpun yang mampu mengahadapinya. Jangankan satu orang, seluruh

pasukan kerajaan sanggup dihancurkannya dengan benda keramat itu...... "

"Kau berulang kali menyebut cincin. Benda bagaimanakah sebenarnya cincin itu.....?"

Sebrang Lor lalu memberi penuturan.

Dua belas tahun silam, seorang nelayan muda yang diam di sebuah desa di

pantai selatan bermimpi. Dalam mimpinya itu dia bertemu dengan sesosok

mahluk tinggi besar berjubah putih yang berjalan tanpa menjejak bumi.

Wajah mahluk ini seram sekali. Memiliki sepasang kuping panjang mencuat

ke atas, berambut gondrong dan bermata cekung dengan sepasang bola mata

putih sedang bagian mayang seharusnya putih tampak sangat merah seperti

api. Bagian hidungnya hanya merupakan sebuah lobang menjijikkan.

Bibirnya mencuat oleh barisan gigi yang besar serta bertaring panjang.

Semua gigi ini tampak basah oleh cairan berwarna merah darah. Lidahnya

juga panjang dan selalu terjulur. Mahluk ini menuding dengan jari

tangannya yang ternyata hanya merupakan tulang belulang tapi berkuku

panjang.

"Nelayan muda....." kata mahluk dalam mimpi itu. suaranya

membahana, bumi seolah-olah bergetar. "Besok malam kau harus turun ke

laut!"

"Mana mungkin." Sahut nelayan itu ketakutan. "Sudah sejak

seminggu ini hujan turun terus setiap malam. Tak mungkin menangkap ikan

dalam hujan dan angin kencang......"

"Aku memerintahkan kau turun ke laut bukan untuk menangkap ikan!"

"La.....lalu.....?"

Mahluk itu menyeringai. Saat demi saat tubuhnya tampak bertambah besar

dan tinggi. Ketika si nelayan mendongak mahluk itu sudah stinggi pohon

kelapa!

"Turun ke laut. Kayuh perahumu ke pulau Pangiri dan

berhenti di sebelah timur, kira-kira seratus kayuhan dari pulau. Kau

sama sekali tidak boleh membawa jala. Hanya membawa sebuah pancingan

dan umpan tunggal seekor ikan teri basah. Lemparkan kalimu ke dalam

laut dan tunggu sampai ada yang menyentuh. Jika sudah terasa ada

sentuhan, sentak kail itu dan kau akan mendapatkan seekor ikan aneh

berwarna hitam. Ikan itu kau belah perutnya. Di dalam perut ikan akan

kau temui sebuah cincin terbuat dari baja putih, berbentuk kepala ular

kobra. Jika cincin itu kau kenakan di jari telunjukmu lalu jarimu kau

acungkan ke depan sambil menggigit bibirmu sebelah bawah maka tiga

cahaya putih menyilaukan akan melesat keluar dari sepasang mata dan

mulut cincin kepala ular. Tapi cahaya halus itu merupakan kekuatan

dahsyat yang sanggup menghancurkan gunung dan rimba belantara. Kau

boleh menyimpan dan memiliki cincin itu sampai aku datang lagi memberi

petunjuk lebih lanjut. Cincin itu sekali-kali tak boleh kau jual.

Karena selain merupakan warisan, tujuh kerajaan dikumpulkan bersama tak

sanggup membayar nilainya! Kau dengar itu nelayan muda......?"

"Kudengar tapi....."

"Tidak ada tetapi-tetapian. Besok malam turun ke laut. Ada satu hal

harus kau ingat. Setelah cincin kau dapatkan dari perut ikan, bakar

ikan itu sampai hancur dan cemplungkan abu serta tulang belulangnya ke

dalam laut. Jika kau sampai melupakan hal itu maka penjaga dan pemilik

lau selatan akan menelanmu lumat-lumat. Kau tahu siapa penjaga dan

penguasa laut selatan itu.....?"

"Tahu..... Nyi Roro Kidul....."

"Hemmm....." Mahluk setan dalam mimpi menyeringai. Lalu sosoknya lenyap.

Begitu mimpinya berakhir, nelayan muda itu terbangun dari tidurnya lalu

terduduk di tepi balai-balai. Sesaat dia duduk termangu. Apakah akan

dibangunkannya istrinya dan menceritakan mimpinya pada perempuan yang

tengah hamil muda itu? Akhirnya setelah menganggap mimpi itu hanya

mimpi biasa saja yang bisa terjadi pada diri setiap orang, nelayan itu

kembali tidur. Keesokan harinya dia memang teringat kembali pada mimpi

itu, namun karena tak mau memperdulikan maka menjelang siang segera

saja dilupakannya. Dan pada malan harinya dia sama sekali tidak turun

ke laut melainkan merangkuli tubuh mulus istrinya dan tertidur sambil

berpelukan.

Lewat tengah malam dama kenyenyakan tidur mendadak

mahluk berjubah putih berwajah setan itu muncul kembali. Kedua matanya

berapi-api, taringnya mencuat, lidahnya terjulur dan meneteskan cairan

merah darah. Lima jari tangannya menggapai ke depan seperti hendak

merobek muka nelayan muda itu, membuat si nelayan menjerit dalam

tidurnya hingga istrinya terbangun dan mengguncang tubuhnya.

"Ada apa......?" tanya sang istri. "Kau bermimpi......?'

"Entahlah..... Mungkin. Tapi aku tak ingat mimpi apa..... Ah sudahlah.

Tidur saja kembali. Besok aku harus bangun pagi-pagi. Sudah janji

dengan paklikmu untuk membantunya mengolah ladang....."

Kedua suami istri itu tidur kembali.

Hampir menjelang pagi nelayan muda tadi mimpi lagi. Mahluk setan itu

muncul lagi. Kali ini wajahnya tampak tambah mengerikan. Dengan penuh

amarah mahluk ini bertanya "Malam ini sesuai perintahku kau harus turun

ke laut. Mengapa tidak kau laksanakan.....?"

"Aku....aku lup.....lupa....." jawab si nelayan.

"Dengar, aku memberi kesempatan sekali lagi padamu. Kesempatan

terakhir. Malam besok kau turun ke laut. Jika tidak kau laksanakan maka

anakmu kelak akan lahir cacat. Wajahnya akan seburuk wajahku...." Habis

berkata begitu mahluk berwajah setan itupun lenyap. Kembali si nelayan

terbangun dan tak dapat tidur sampai keesokan paginya. Sepanjang hari

sampai sore dia lebih banyak duduk melamun sambil menghisap rokok,

duduk di bawah cucuran atap pondoknya dan memandang ke tengah laut

sementara hujan turun gerimis. Ada rasa takut dan ngeri kini dalam hati

nelayan ini. takut kalau dia tidak mengikuti perintah mahluk seram itu,

kelak anaknya lahir benar-benar akan cacat. Akhirnya malam itu,

meskipun istrinya bertanya tak kunjung henti mengapa dia menyiapkan

perahu dan turun ke laut, nelayan itu meninggalkan tepi pantai. Para

tetangganya juga tampak keheranan menyaksikan. Tanpa peduli dia

mengayuhkan perahunya ke tengah laut. Pulau Pangiri cukup jauh. Ombak

agak besar dan hujan rintik-rintik yang turun saat itu setiap saat bisa

berubah menjadi hujan besar lalu kalau sudah begitu badaipun datang

menyongsong!

Makin jauh ke tengah laut ombak terasa makin besar dan

laut menjadi ganas. Perahu kecil itu laksana sebuah sabut yang

dipermainkan dan dihantam gelombang tiada henti. Air laut memenuhi

lantai perahu dan harus cepat ditimba keluar kalau tak mau tenggelam.

Rasa takut menyamaki diri nelayan muda itu. Dia mulai berpikirpikir

apakah tidak sebaiknya kembali saja sebelum dia tenggelam di lanun

ombak dan mati jadi santapan ikan-ikan buas. Namun rasa takut melihat

kenyataan kalau anaknya benar-benar lahir cacat kemudian hari, membuat

nelayan ini lebih baik meneruskan merancah laut menuju pulau Pangiri.

Hampir menjelang tengah malam, dalam keadaan basah kuyup dan tubuh

letih kehabisan tenaga akhirnya dia sampai juga ke pulau tujuan. Sesuai

pesan mahluk setan itu dia hentikan perahu sekitar seratus kayuhan dari

pulau Pangiri. Anehnya saat itu laut di tempat dia berhenti tampak

tenang sekali, tak ada ombak apalagi gelombang. Sedang hujanpun

tiba-tiba saja berhenti. Dengan tanagn gemetar nelayan itu mengambil

kailnya lalu memasang umpan pada mata kali yakni seekor teri basah.

Lalu kail dilemparkannya ke dalam laut. Tali pancingan diulur sampai

habis. Dan dia menunggu dengan hati berdebar.

Nelayan muda itu tidak tahu entah sudah berapa lama dia duduk di

atas perahunya memegangi pancing. Tapi sampai tubuhnya jadi tambah

letih dan tanagnnya pegal serta matanya terkantuk-kantuk masih belum

terasa ikan atau apapun yang menyentuh mata kailnya. Dia mulai berpikir

mungkin mimpi yang dialaminya itu benar-benar hanya mimpi biasa atau

mimpi gila! Dia memutuskan untuk menunggu beberapa lama lagi dan

berusaha mempersabar diri. Jika sampai sekian lama tak ada juga terjadi

apaapa maka dia akan kembali pulang. Tak lama kemudian selagi

kesabarannya hampir habis dan dia siap untuk pulang saja, mendadak

nelayan ini merasakan sesuatu menyambar mata kailnya, keras sekali.

Secepat kilat kayu pancingannya disentakkan lalu dibetot ke atas dengan

hati berdebar.

Seekor ikan berbentuk aneh berwarna hitam yang tak pernah dilihatnya

sebelumnya menggelepar di mata kailnya. Cepat ikan ini dijatuhkannya ke

dalam perahu, ditangkapnya dengan tangan kiri agar jangan sampai

mencemplung lagi ke dalam laut. Diperhatikan dekat-dekat, binatang ini

memiliki kepala yang seram. Kedua matanya menonjol lebar, ada sebentuk

taring yang menonjol keluar. Lalu pada bagian atas depan di antara

kedua mata terdapat lobang aneh. Di kedua sisi kiri kanan di bawah mata

terdapat sirip tebal yang mencuat ke atas. Kepala ikan hitam ini

mengingatkan nelayan itu pada kepala dan wajah mahluk seram dalam

mimpinya. Jangan-jangan binatang ini penjelmaan mahluk itu.

Ingat apa yang kemudian harus dilakukannya maka dari balik pinggang

celananya dikeluarkannya sebilah pisau. Dengan tangan gemetar

ditorehnya perut ikan itu. aneh, ternyata badan ikan itu atos sekali.

Dengan susah payah bahkan sampai keringatan baru dia akhirnya dapat

memotong bagian perutnya. Dengan ujung pisau dikoreknya isi perut

binatang itu. Di antara isi perut yang berbusaian terlihat sebuah benda

putih. Ternyata sebentuk cincin dengan ukiran kepala ular sendok.

Tangannya gemetar ketika menyentuh cincin itu. Sesuatu yang aneh

tiba-tiba terjadi. Si nelayan merasakan tubuhnya menjadi sangat enteng.

Pemandangannya menjadi tajam dan pendengarannyapun demikian pula.

Cepat-cepat cincin itu dimasukkannya ke dalam saku celana dan saku itu

diikatnya dengan seutas tali.

Sesuai perintah dalam mimpi, ikan

hitam itu dibakarnya sampai hancur. Sisa pembakarannya dibuangnya ke

dalam laut. Saat itu tiba-tiba kilat menyambar, guntur menggelegar dan

hujan lebat turun. Laut mengganas, ombak menggila. Ketakutan nelayan

itu segera kayuh perahunya meninggalkan tempat tersebut. Menjelang pagi

dia sampai ke pantai. Di pantai dilihatnya istrinya sudah menunggu

dengan cemas. Beberapa tetangga dan teman-temannya ikut menjemput ke

pantai. Mereka semula heran ketika melihat perahu miliki nelayan muda

muda itu penuh dengan ikan-ikan besar. Padahal si nelayan sama sekali

tidak membawa jala. Tentu saja semuanya bertanya bagaimana dia bisa

melakukan hal itu. Menangkap ikan demikian banyaknya! Selain itu

bukankah udara sangat buruk dan hujan lebat turun terus menerus

sepanjang malam? Yang lain memperbincangkan keberaniannya pergi melaut

seorang diri. Nelayan itu sama sekali tak bisa menjawab apa-apa. Dia

juga merasa heran bagaimana tahu-tahu dalam perahunya ada sekian banyak

ikan? Tanpa berniat untuk memunggah isi perahunya, nelayan itu memegang

lengan istrinya langsung mengajaknya pulang ke rumah.

Selama tiga

hari tiga malam nelayan itu jatuh sakit. Diserang demam panas yang

membuatnya mengigau dan meracau sepanjang saat. Hari keempat baru

sakitnya lenyap dan sepanjang hari dia duduk di depan rumah, memandang

jauh ke tengah laut. Cincin baja putih berkepala ular yang ada dalam

saku pakaiannya senantiasa digenggamnya erat-erat. Dia menjenguk ke

dalam rumah. Istrinya sibuk di belakang. Dia menoleh ke kiri dan ke

kanan, memandang berkeliling. Takut ada seseorang atau istrinya

tiba-tiba muncul. Setelah pasti dia hanya sendirian maka cincin ular

kobra itu dimasukkannya ke jari telunjuk tangan kanannya. Jari ini

diacungkannya lurus-lurus ke depan. Lalu dicobanya menggigit bibirnya

sebelah bawah. Mendadak terdengar suara bersuit, seperti suara

seruling, kencang dan menusuk liang telinga. Suara aneh itu disusul

dengan melesatnya tiga cahaya putih, dua kecil, satu agak besar. Cahaya

ini menyambar ujung atap rumahnya. Langsung atap rumah itu hancur

berantakan. Membuat bukan saja si nelayan menjadi terkejut dan pucat

wajahnya tapi sang istri yang sedang bekerja di belakang bergegas lari

ke depan rumah untuk melihar apa yang terjadi.

Sore harinya dengan

alasan hendak memeriksa perahu, nelaayn itu meninggalkan rumah.

Diam-diam dia pergi ke bukit yang terletak tak jauh di selatan

perkampungan. Di hadapan sebuah pohon besar dia berhenti dan

mengeluarkan cincin kepala ular kobra itu. Cincin dimasukkannya ke jari

telunjuk. Jari ini diluruskannya, diarahkan ke batang pohon besar.

Bersamaaan dengan itu digigitnya bibinya. Terdengar suara bersuit. Tiga

cahaya putih berkiblat. Cahaya ini mengahantam batang pohon. Batang

yang dua kali pemeluk manusia itu hancur berantakan dan pohon tumbang

dengan suara gemuruh. Nelayan itu melompat ketakutan saking rasa tidak

percayanya. Dengan perasaan campur aduk, setangah berlari nelayan itu

menuruni bukit. Di tengah jalan dilihatnya sebuah batu gunung besar

hitam. Dia ingin mencoba dan membuktikan keampuhan cincin sakti itu

kembali. Cincin dikeluarkannya dipakainya lagi pada jari telunjuk.

Ketika diacungkan ke arah batu sambil menggigit bibir, melengking suara

seruling lalu sinar yang melesat keluar menghancur leburkan batu besar

itu

Sejak dia memiliki cincin sakti tersebut si nelayan menunjukkan

perubahan sikap. Hampir setiap hari dia selalu mengurung diri dalam

rumah atau duduk termenung di bawah atap memandang ke tengah laut.

Perubahan dirinya ini bukan saja mengherankan istrinya, tetapi juga

para tetangga dan kawan-kawan. Namun sampai sebegitu jauh tak

seorangpun mengetahui apa sebenarnya telah terjadi dengan dirinya,

termasuk istrinya.

Pada masa itu umumnya kampung-kampung nelayan

dan desa-desa di sekitar pantai banyak yang berada dalam keadaan tidak

aman. Para perompak atau bajak laut, jika tidak mendapatkan hasil

jarahan di laut banyak yang turun ke darat melakukan perampokan,

merampas harta benda penduduk termasuk bahan makanan serta melakukan

penculikan. Kampung di mana nelayan muda tadi tinggal tak bebas dari

bencana itu. Sejak setahun belakangan ini sudah dua kali bajak laut

mendarat melakukan perampokan, perampasan penculikan dan pembunuhan.

Sore itu, menjelang malam hujan baru saja mulai berhenti setelah turun

seharian. Laut tampak tenang tak seorangpun nelayanpun berani turun

menangkap ikan. Menurut pengalaman meskipun laut tampak tenang namun

sewaktu-waktu udara atau cuaca bisa berubah mendadak. Selewatnya tengah

malam kampung yang diselimuti kesunyian dan dibungkus udara dingin

berembun yang mengandung garam itu tiba-tiba diramaikan oleh suara

kentongan. Mula-mula suara kentongan ini terdengar dari pantai sebelah

timur. Lalu merambat ke barat dan bersahut-sahutan dengan kentongan di

dalam kampung sampai ke kaki bukit. Di mana-mana terdengar

teriakan-teriakan "Perompak.....perompak!"

"Bajak laut datang! Bajak laut datang!"

"Semua orang lekas lari! Tinggalkan rumah kalian!"

"Selamatkan diri!"

Serta merta kampung nelayan itu menjadi hiruk pikuk. Orang-orang

perempuan berpekikan. Anak-anak bertangisan. Orang-orang lelaki segera

mengumpulkan anak istri mereka dan melarikannya ke tempat yang aman

jauh di balik bukit. Beberapa pemuda bersenjatakan golok, kelewang dan

tombak berkumpul membentuk barisan pertahanan, siap berjibaku. Tapi

kepala kampung segera menemui mereka.

"Tak ada gunanya melawan

perompak itu. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari kita! Di samping itu

mereka banyak memilki senjata-senjata hebat. Mungkin juga meriam besar!

Kalian semua ikut kami menyelamatkan diri!"

Salah seorang pemuda

menjawab. "Kami tahu mereka lebih banyak. Tapi kami tidak takut! Kami

rela mati demi kampung halaman.kalau bajak itu tidak diberi perlawanan,

mereka akan selalu datang mengganggu!"

"Soal perlawanan kita bicarakan nanti! Sekarang lekas angkat kaki dari sini! Tak ada artinya jadi pahlawan sia-sia....!"

Baru saja kepala kampung itu berkata begitu, dari tengah laut tampak

kilatan api. Sesaat kemudian didahului oleh letusan menggelegar sebuah

benda bulat bercahaya melayang menuju perkampungan.

"Mereka menembakkan meriam!" teriak kepala kampung. "Lekas menyingkir!"

"Bajak laut keparat! Dari mana mereka mendapatkan senjata pemusnah itu!"

maki seorang pemuda. Tapi saat itu nyalinya sudah lumer dan buru-buru

dia melarikan diri mengikuti kawan-kawannya yang telah menyingkir lebih

dahulu bersama kepala kampung. Di tengah laut tampak sebuah kapal kayu

besar menurunkan lebih dari selusin perahu kecil yang masing-masing

berisi empat sampai lima orang. Bajak laut itu serentak mulai mengayuh

menuju pantai perkampungan nelayan yang kini telah sunyi senyap

ditinggalkan seluruh penduduknya.

Soma, nelayan muda itu memegang lengan istrinya erat-erat.

Perempuan yang hamil muda ini tak bisa berlari cepat karena takut

jabang bayi dalam kandungannya mengalami cidera. Sekali dia terjatuh

bayi itu bisa cacat. Hal itu juga yang dikhawatirkan Soma. Karenanya

mereka tertinggal jauh dari penduduk kampung yang telah lari lebih

dulu. Pada saat mencapai kaki bukit mendadak Soma ingat akan cincin

sakti baja putih berkapal ular sendok yang ada dalam saku celananya.

Jika cincin itu sanggup menghancurkan batang kayu dan batu besar,

berarti terlalu mudah baginya untuk menghantam lumat tubuh manusia.

Selintas pikiran muncul dalam benak Soma.

Maka diapun berkata pada istrinya. "Istriku, aku akan antarkan kau

sampai ke balik bukit itu bergabung dengan orang-orang sekampung....."

"Lalu, kau sendiri hendak ke mana.....?" tanya sang istri heran.

"Aku akan kembali ke kampung....."

"Kembali ke kampung? Perompak-perompak itu akan membunuhmu!"

"Aku harus kembali. Ada sesuatu yang akan kulakuan. Aku berjanji akan

menemuimu lagi dalam waktu cepat. Kau tak usah kawatir....."

"Tentu saja aku sangat kawatir. Apa yang hendak kau lakukan, Kakak Soma?"

"Tidak.....tidak apa-apa. Aku hanya sebentar."

Sang istri tetap tak mau ditinggal. Sebaliknya Soma bersikeras untuk

kembali. Begitu sampai di bali bukit, nelayan muda ini tinggalkan

istrinya. Telinganya seperti tidak perduli akan jeritan sang istri yang

tiada henti memanggil.

Ketika Soma sampai di kampungnya kembali

dilihatnya puluhan bajak tengah menjarah isi rumah penduduk. Mereka

membawa apa saja yang dianggap berharga termasuk ternak. Bajak-bajak

laut ini tampaknya marah sekali tidak menemukan seorang pendudukpun di

perkampungan itu. Padahal sebelumnya mereka sudah berniat untuk

menculik anak gadis dan istri orang. Kemarahan kini ditumpahkan pada

rumah-rumah penduduk yang segera mereka bakar dan hancurkan.

Soma

bersembunyi di balik sebtang pohon yang bagian bawahnya penuh dengan

semak belukar. Cincin baja putih dikeluarkan dari saku dan cepat

dikenakan ke telunjuk tangan kanan. Perompak yang terdekat berada

sekitar delapan tombak di seberangnya, tengah melangkah sambil

menggiring seekor kambing. Soma kertakkan rahang. Dia tahu betul

kambing itu adalah kambing mertuanya. Nelayan muda ini gigit bibir

sebelah bawah. Suara seperti seruling melengking tinggi. Tiga cahaya

putih melesat dari cincin baja berkepala ular kobra itu. anggota bajak

yang tengah menggiring kambing tidak sempat mengetahui apa yang terjadi

dalam dirinya. Tubuhnya terbanting ke tanah. Dia mati tanpa

mengeluarkan jeritan dengan kepala hancur. Kambing yang barusan

dicurinya mengembik tiada henti dan lari dalam kegelapan malam.

Nelayan muda itu tegak dengan lutut goyah tubuh gemetar serta tengkuk

dingin. Keringat mericik di keningnya. Wajahnya seputih kertas. Seumur

hidup dia tak pernah membunuh manusia. Malam itu dia melakukannya. Dan

dia menyaksikan kematian perompak itu begitu mengerikan. Semula hendak

ditinggalkannya tempat itu dan lari ke bukit saking takutnya. Namun

ketika di bagian lain dia menyaksikan para anggota bajak menghancurkan

dan membakar rumah-rumah penduduk, darahnya terbakar kembali. Soma

menyelinap dalam kegelapan. Dua bajak ditemuinya dekat surau kampung,

siap membakar bangunan itu. Soma angkat tangan kanannya, diacungkan

lurus-lurus ke arah punggung bajak yang siap melemparkan obor ke atap

surau yang terbuat dari rumbia. Soma gigit bibirnya. Dan suara seruling

melengking. Tiga cahaya putih berkiblat. Bajak itu keluarkan pekikan

maut. Tubuhnya terpental menghantam dinding surau lalu terkapar di

tanah tak berkutik lagi. Bajak yang satu lagi tentu saja kaget bukan

kepalang.

"Hai! Kau kenapa?!" tanyanya berseru lalu membungkuk

meneliti keadaan kawannya ini. Mukanya kontan mengerenyit ngeri ketika

melihat punggung kawannya yang berlobang hancur dan darah menyembur!

Dia berdiri kembali sambil memandang berkeliling. Pada saat itulah ada

tiga larik cahaya putih menyilaukan menderu ke arahnya. Cepat dia

melompat ke samping, tapi terlambat. Cahaya itu menghantam lebih cepat,

tepat pada keningnya. Separuh kepalanya sebelah atas hancur. Tubuhnya

tergelimpang tanpa nyawa!

Tiga orang kawannya yang kemudian muncul

di tempat itu sangat terkejut serta merta melakukan pemeriksaan. Salah

seorang menyuruh kawannya memberi tahu pemimpin mereka.

"Dia

dibokong dari belakang. Punggungnya hancur! Tapi lukanya aneh. Ini

bukan seperti bekas tusukan pisau atau pedang. Mungkin ditusuk dengan

tombak besar.....gila! Siapa yang melakukan."

Bajak yang satu berdiri

dengan muka tegang. Tiba-tiba dia mendengar suara aneh. Seperti tiupan

suling yang sangat nyaring. Dia berpaling ke kiri, arah datangnya suara

itu. Justru saat itu pula tiga larik sinar putih menghantam perutnya.

Anggota bajak ini menjerit dan terlipat ke depan. Perutnya ambrol.

Darah dan usus memberurai keluar. Kawannya yang satu lagi berteriak

tegang dan melompat. Dia melihat jelas ada cahaya putih yang menyambar,

menghantam perut kawannya. Namun dia tidak tahu pasti cahaya apa. Dia

memandang ke arah kegelapan. Rasa takut menggerayangi dirinya. Serta

merta dia putar tubuh tinggalkan tempat itu. Namun dia baru lari tiga

langkah ketika suara seruling kembali menggema dan sinar putih

menghantam pinggangnya sampai putus!

Soma kepalkan tangan kirinya.

Lima bajak laut yang ganas-ganas telah dibunuhnya. Seperti kesetanan

dia menyelinap ke jurusan lain untuk mencari anggotaanggota bajak

lainnya. Siap untuk membunuh mereka dengan kekuatan sakti cincin baja

ular kobra yang ada di jari telunjuk tangan kanannya.

Ketika Boga Damar, pemimpin bajak laut sampai di tempat tersebut bersama dua orang anak buahnya, membeliak matanya.

"Mereka..... Gila! Mereka mati.... Mereka dibunuh!" teriaknya marah.

Baru saja dia berteriak, di kejauhan terdengar jeritan beberapa kali berturutturut.

"Hai! Ada cahaya putih berkelebat di sebelah sana!" seru salah seorang bajak.

"Mungkin sambaran petir.....!" kawannya menduga.

"Jangan ngacok!" sentak Boga Damar, marah dalam keterkejutannya. "Malam

ini memang mendung, tapi tak ada hujan yang akan turun. Lagi pula mana

ada petir tanpa geledek?!"

Si anak buah terdiam tak berani menyahuti. Namun dalam hatinya tetap saja dia heran dan bertanya-tanya.

"Dengar..... Ada jeritan lagi! Susul menyusul!" kata bajak satunya lagi.

"Setan alas! Apa yang sebenarnya terjadi!" Boga Damar mendadak menjadi

tegang. Dia memberi isyarat agar dua anak buahnya mengikuti. Ketiganya

meninggalkan empat bajak yang telah menemui kematian itu tanpa

melakukan pemeriksaan. Mereka lari ke jurusan timur kampung, dari arah

mana jeritan-jeritan itu tadi terdengar dan cahaya-cahaya aneh tampak

berkiblat. Sampai di sebuah lapangan kecil di mana para anggota bajak

mengumpulkan barang-barang jarahannya sebelum diangkat ke atas kapal,

Boga Damar menyaksikan pemandangan yang sangat mengejutkan dan hampir

tak dapat dipercayainya. Bulu kuduknya merinding. Sembilan anak buahnya

menggeletak malang melintang di tanah. Mereka menemui ajal dengan salah

satu bagian tubuh atau kepala hancur. Lalu dua orang lagi terlihat mati

dengan cara sama dekat reruntuhan sebuah rumah. Empat lainnya di bawah

pohon dan dua lagi di antara tumpukan barang-barang rampasan.

Rahang menggelembung, pelipis bergerak-gerak dan kedua tangan terkepal

serta merta mendelik Boga Damar membentak. "Siapa yang melakukan ini

semua? Apa yang sebenarnya terjadi?!"

Tentu saja tak seorangpun anak buahnya dapat memberikan jawaban.

"Ada yang tak beres di tempat ini.....!" sentaknya lagi.

"Mungkin......mungkin ada setan atau jin......!"

"Aku tak percaya segala macam setan ataupun jin!" memotong kepala bajak ketika anak buahnya coba membuka mulut.

"Tapi Boga, kau tahu sendiri. Tak seorang pendudukpun kelihatan di tempat ini. atau mungkin seorang sakti....."

"Kalau memang ada akan kupatahkan batang lehernya!" tukas Boga Damar garang.

Mendadak terdengar suara melengking.

"Hai! Tiupan seruling itu!" seru salah seorang bajak. "Tadi kudengar

berulang kali sebelum disusul jeritan. Ada cahaya menyambar ke mari......!"

bajak itu cepat melompat ke samping. Tiga larik sinar putih melesat dan

di belakang sana seorang perompak tubuhnya terpental jauh lalu

tergelimpang mati dengan dada berlubang hancur!

Boga Damar dan yang

lain-lainnya lari memburu namun gerakan mereka tertahan dan semuanya

terpaksa selamatkan diri cerai berai ketika sinar puih aneh kembali

berkiblat dan dua orang di antara mereka terdengar menjerit lalu roboh

tergelimpang. Satu menemui ajal dengan leher hampir putus, satunya lagi

merintih sesaat sambil pegangi perutnya yang memburai lalu kaku tak

bergerak lagi!

"Bangsat! Siapa yang melancarkan serangan gelap

ini!" rutuk Boga Damar sambil bertiarap. Namun mulutnya serta merta

terkancing dan lidahnya menjadi kaku ketika anak buahnya yang ikut

bertiarap di sebelah kanannya kembali menemui kematian dengan cara

mengerikan, batok kepala hancur disambar tiga larik sinar putih

mengerikan itu!

Boga Damar adalah seorang kepala bajak berhati

ganas dan tidak kenal takut. Membunuh manusia sama mudahnya baginya

dengan membalikkan telapak tangan. Berbagai lawan telah dihadapinya

tanpa rasa takut. Tapi saat itu rasa takutnya tak dapat lagi

dikendalikan. Dia tidak tahu dengan lawan atau kekuatan apa sebenarnya

dia tengah berhadapan. Dan musuh tanpa kelihatan seperti itu, mana

mungkin dia menghadapinya.

"Kalian semua lari ke perahu!" kata Boga

Damar masih tetap tiarap. "Kembali ke kapal! Bawa barang rampasan yang

bisa dibawa! Lekas!"

Enam anggota bajak yang tadi sama-sama

bertiarap di tanah cepat berdiri. Namun dua di antaranya segera roboh

kembali ketika sinar putih aneh tiba-tiba muncul lagi dan menyambar

tubuh mereka. Yang empat terus kabur sementara Boga Damar yang melihat

kejadian itu dan semula hendak merangkak bangun cepat jatuhkan diri

lalu berguling beberapa kali sampai akhirnya dia dapat berlindung di

balik reruntuhan rumah. Dari sini dia memandang tajam menembus

kegelapan di arah sederetan pohon waru di ujung timur lapangan. Suara

lengkingan aneh seperti seruling serta sambaran cahaya putih yang

menyebar maut itu datangnya dari balik deretan pohon-pohon waru itu.

Kepala bajak ini hunus golok besarnya lalu berkelebat cepat ke balik

rumah-rumah penduduk, melompat ke arah semak belukar hingga akhirnya

dia sampai ke dekat pepohonan waru. Sejak saat dia mulai melakukan

penyelinapan itu sampai akhirnya mencapai deretan pohon-pohon waru lima

anak buahnya telah menemui ajal pula dihantam tiga larik sinar maut.

"Ini pasti biang keparatnya!" serapah Boga Damar ketika dia melihat

sesosok tubuh tegak di balik pohon waru paling ujung kanan sambil

mengangkat tangan dan acungkan jari telunjuk. Dari jari telunjuk inilah

kepala bajak itu mendengar ada suara seruling aneh melengking menusuk

telinga yang disusul oleh semburan tiga larik sinar terang. Lalu di

kajauhan sana terdengar suara anak buahnya menjerit meregang nyawa.

Dengan golok besar di tangan, Boga Damar melompati orang yang tengah

melakukan pembataian itu. Goloknya berdesing, langsung menyambar batang

leher!

Seperti diketahui Soma adalah seorang nelayan yang sama

sekali tidak memiliki ilmu kepandaian silat apalagi kesaktian dan

tenaga dalam. Namun dengan adanya cincin keramat baja putih erbentuk

kepala ular kobra atau ular sendok itu maka dia berubah menjadi seorang

luar biasa. Matanya dan pendengarannya menjadi sangat tajam. Karenanya,

sebelum Boga Damar membabatkan goloknya, Soma telah mendengar

kedatangan kepala bajak itu. Cepat dia membalikkan tubuh lalu jatuhkan

diri ke tanah ketika golok menyambar, mengenai tempat kosong dan

menghantam pohon waru hingga batang pohon ini hampir terbabat putus.

"Bangsat! Manusia atau jin! Kau tak akan bisa lolos dari golokku!"

teriak Boga Damar. Dia menyergap ke arah Soma. Golok besarnya meluncur

lebih dulu.

Senjata ini seperti buntut ikan yang menggelepar,

bergetar kian ke mari seolah-olah berubah menjadi banyak. Jelas kepala

bajak laut ini sengaja mengeluarkan kepandaiannya memainkan golok

karena ingin mencincang Soma saat itu juga. Melihat golok datang

menderu sedemikian rupa, kecut juga hati nelayan muda itu. tetapi

cincin keramat yang ada dalam jari telunjuknya membuat Soma percaya

diri sendiri dan tidak memandang sebelah mata pada lawan. Ujung golok

hanya tinggal tiga jengkal dari kepala Soma ketika nelayan ini acungkan

jari telunjuknya ke arah Boga Damar, lalu menggigit bibirnya kuat-kuat.

Boga Damar seperti mendengar angin puting beliung melabrak kedua

telinganya. Selagi serangan goloknya mengendur karena terkejut dan

terpengaruh oleh bunyi yang nyaring tadi, saat itu pula tiga sinar

halus menyilaukan datan menyambar dari depan. Boga Damar tahu betul,

sinar aneh inilah yang telah membunuh lebih dari dua lusin anak

buahnya. Maka kepala bajak ini lemparkan goloknya ke arah dada Soma. Di

saat yang sama serentak dia menghantam dengan tangan kiri.

Ternyata

golok Boga Damar tidak cukup ampuh. Senjata ini terpental berantakan

disambar tiga larik sinar putih. Lalu sebelum pukulan tangan kirinya

sempat mengenai Soma, tiga sinar yang keluar dari dua mata dan mulur

cincin ular kobra menghantam mukanya dengan telak. Kepala bajak ini

hanya sempat keluarkan pekik pendek. Tubuhnya mental ke balakang.

Ketika tergelimpang di tanah, tubuh itu tampak tanpa kepala lagi!

Puluhan anggota bajak yang masih hidup menjadi gempar ketika mengetahui

pimpinan mereka telah menemui ajal. Enam orang di antara mereka dengan

marah dan kalap, emmegang berbagai macam senjata segera mengurung dan

menyerbu Soma. Namun mereka semuah hanya menjadi sasaran empuk sambaran

tiga larik sinar putih, mati bergelimpangan dengan badan dan kepala

hancur!

Melihat hal ini anggota bajak yang masih hidup menjadi

lumer nyali masingmasing dan mereka bersirebut cepat lari ke pantai

memasuki perahu-perahu kecil. Soma yang sudah sejak lama mendendam oleh

keganasan para bajak itu mengejar sampai ke tepi pasir. Dari sini,

dengan sinar putih yang keluar dari cincin baja keramat itu

dihancurkannya satu persatu perahu-perahu itu hingga tak ada satupun

yang tinggal utuh. Para bajak terjun berhamburan ke dalam laut. Namun

mereka tidak menemukan selamat karena sinar putih yang datang

menghantam mereka semua terjengkang mati dalam air!

Ketika Soma kembali ke balik bukit di ujung kampung, istrinya masih

menangis ditemani oleh kepala kampung bersama istrinya. Begitu Soma

datang sang istri langsung memeluknya.

"Soma......! Dari mana kau?!" Kepala kampung nelayan bertanya.

"Sa.....saya barusan dari kampung kita....."

"Kau mencari mampus Soma! Masih untung kau bisa kembali selamat. Apa yang kau lakukan di tempat itu.....?!"

"Melihat perampok itu mati terbunuh."

"Mati dibunuh? Jangan melantur Soma! Siapa yang membunuh mereka.....?"

"Saya tidak tahu....." sahut Soma sementara penduduk kampung nelayan itu

semakin banyak mengelilingi Soma dan kepala kampung, mereka ikut

mendengarkan pembicaraan. "Perahu-perahu mereka hancur. Saya lihat juga

banyak bajak itu yang menemui ajal di laut. Kapal kayu milik mereka

melarikan diri dengan sisa-sisa bajak yang tidak seberapa jumlahnya....."

Kepala kampung memandang berkeliling pada penduduk yang mengungsi itu.

semua jelas menunjukkan rasa tidak percaya. Soma memegang tangan

istrinya. Lalu berkata "Jika kalian tidak percaya, lihat saja ke

kampung. Mayat-mayat perompak itu harus disingkirkan sebelum menjadi

busuk. Aku dan istriku akan kembali ke kampung...."

Sesaat setelah Soma dan istrinya pergi, kepala kampung kembali memandang berkeliling. "Bagaimana menurut kalian....?" Tanyanya.

"Kami rasa Soma tidak berdusta....." seorang nelayan menjawab. "Kalau

bajak masih gentayangan di kampung kita masakan ia mau kembali bersama

istrinya...."

"Kalau begitu...." Kepala Kampung itu berpikir-pikir

sejenak. "Kita kembali. Aku dan lima orang di atara kalian pergi lebih

dahulu. Yang lain-lain mengikuti agak jauh di belakang. Hingga kalau

terjadi apa-apa yang di belakang bisa cepat menyelamatkan diri...."

Ketika kepala kampung dan lima orang penduduk yang kemudian disusul

oleh seluruh pengungsi itu sampai dan kembali ke kampung mereka, selain

sedih melihat rumah mereka banyak yang dirusak serta dibakari sedang

harta benda juga banyak rusak dan hanyut di laut, penduduk juga heran

bercampur gembira menyaksikan puluhan anggota bajak menemui

kematiannya. Gembira karena kini manusia-manusia jahat penimbul

malapetaka itu mendapat balasan dan ganjaran. Heran karena sulit

menerka siapa yang telah melakukan itu semua. Membunuh sekian banyak

anggota bajak laut bahkan pemimpinnya sendiri. Lalu menghancurkan

belasan perahu. Di antara penduduk ada yang menaruh wasangka bahwa

Somalah yang melakukan itu semua. Tetapi tentu saja lebih banyak yang

tidak bisa mempercayainya. Soma, seoerang nelayan muda yang masih harus

banyak belajar tentang bagaimana menangkap ikan dengan segala

kesederhanaannya itu, mana mungkin dia mampu melakukann itu. Seorang

diri pula? Ilmu silat dan kesaktian apa yang pernah dimilikinya?

Sewaktu ditanyai dan didesak terus menerus Soma akhirnya menjawab.

"Ketika saya kembali ke kampung, pemimpin bajak dan anak buahnya itu

sudah bergelimpangan mati. Saya tidak tahu siapa yang membunuh mereka.

Mungkin Tuhan telah mengirimkan uluran tanganNya untuk menolong kita

yang selama ini selalu ditimpa bencana...."

Adapun Soma sendiri sejak

kejadian itu hampir selalu mengurung diri dalam rumah. Cincin keramat

baja putih senantiasa disimpannya dalam saku celanaya dan diikatnya

erat-erat. Setiap saat peristiwa mala itu seolah-olah terbayang terus

di ruang kepalanya, membuatnya sulit tidur dan sukar makan. Membunuh

sekian puluh manusia menimbulkan kegoncangan hebat dalam jiwa nelayan

muda ini. Dia lebih banyak bermenung dan jarang bicara dengan istrinya

sendiri, apalagi dengan para tetangga.

Perobahan sikap tabiat Soma

ini tentu saja membuat heran sang istri dan juga tetangga-tetangga.

Hingga mau tak mau kembali penduduk kampung berkesimpulan bahwa pasti

ada hubungan tertentu antara Soma dengan peristiwa yang menggemparkan

malam itu. Peristiwa tersebut akhirnya tersiar pula ke desa-desa dan

kampung-kampung terdekat. Banyak di antara penduduk yang sengaja datang

untuk melihat sendiri sisasisa kejadian itu. dan karena desas-desus

yang dipergunjingkan selalu membawabawa nama Soma maka tentu saja

banyak orang datang mengunjunginya. Lama-lama hal ini membuat nelayan

itu merasa sangat terganggu. Selain itu dia khawatir rahasianya akan

terbongkar. Maka setiap hari dia lebih banyak mengucilkan diri ke dalam

rimba belantara di balik bukit. Menjelang malam dia baru kembali ke

rumah. Apa yang telah terjadi di kampung nelayan itu sampai pula ke

telinga seorang abdi dalam keraton yang dia di Bantul. Bersama beberapa

orang sahabatnya abdi dalem ini mendatangi kampung nelayan guna mencari

keterangan lebih jelas. Atas saran penduduk mereka juga berusaha

menemui Soma, tapi nelayan ini telah lebih dulu melenyapkan diri ke

tempat persembunyiannya dalam hutan.

Selama berada dalam tempat

persembunyiannya di hutan, setiap saat Soma merenung. Dengan memiliki

cincin keramat dan sakti itu kini dia telah menjadi seorang

berkepandaian tinggi, berkemampuan luar biasa. Kepandaian dan

kemampuan seperti itu mungkin tak satu orang lainpun memilikinya. Bukan

saja para adipati atau tumenggung, atau patih kerajaan, bahkan Sultan

sendiripun mungkin tidak mempunyai kehebatan seperti itu. Kemudian

memikir kalau dia jadi nelayan terus menerus, apa yang bakal didapatnya

dalam masa hidup mendatang? Apa salahnya kalau dia kini berusaha

mencari kedudukan di kotaraja, menjadi pasukan pengawal raja atau

kepala pengawal istana. Atau mungkin juga kepala balatentara kerajaan?

Jadi tumenggung atau adipati atau mapatih kerajaan? Membayangkan

kedudukan yang tinggi itu serta kemampuan luar biasa yang dimilikinya,

bulatlah tekad Soma untuk pergi ke kotaraja. Di sana dia kenal seorang

tumenggung yang ketika ayahnya masih hidup mempunyai hubungan baik

dengan sang tumenggung. Malam harinya begitu sampai di rumah Soma

segeramengatakan pada istrinya bahwa besok dia akan berangkat ke

ktoaraja. Apa tujuannya sama sekali tidak diceritakannya pada perempuan

itu. Tentu saja sang istri terheran-heran mendengar maksud suaminya.

Namun menyadari bahwa Soma tak bisa dicegah maka sang istri hanya bisa

meminta agar Soma lekas kembali. Yang penting kalau dia melahirkan

beberapa bulan di muka Soma harus ada di sampingnya. Soma berjanji akan

kembali sebelum istrinya melahirkan.

Tumenggung Cokro Buwono tentu

saja gembira mendapat kunjungan anak bekas sahabatnya di masa muda.

Namun dia jadi terkejut ketika mendengar permintaan Soma agar dia

membantu mendapatkan pekerjaan sebagai kepala pengawal istana di

kotaraja.

"Soma," kata sang tumenggung. "Hidup dan bekerja sebagai

nelayan hampir tidak ada bedanya dengan seorang anggota pasukan

keraton. Malah bagiku yang sudah tua ini jika harus memilih, aku akan

lebih suka jadi soerang nelayan. Hidup lebih tenang, dekat dengan alam

ciptaan Tuhan dan tidak memiliki tanggung jawab yang besar....."

Ketika Soma mendesak agar Cokro Buwono membantunya mendapatkan

kedudukan yang diinginkannya itu, sebenarnya tumenggung ini ingin

mengatakan bahwa untuk jadi kepala pengawal, jangankan kepala pengawal,

kepala regu pengawal sajapun sangat berat ujiannya. Dan dia tahu

sebagai seorang nelayan di sebuah kampung pantai selatan Soma tidak

memiliki kepandaian apa-apa yang dapat dijadikan dasar keprajuritan.

Dan jadi kepala pengawal bukan main-main karena harus mempertanggung

jawabkan keselamatan raja beserta keluarganya.

"Jika kau memang

sudah tidak suka jadi nelayan, dan ingin merubah jalan hidup, aku bisa

memberikan pekerjaan padamu di sini Soma. Asalkan jangan jadi

perajurit....."

"Terima kasih tumenggung. Saya tak ingin cari

pekerjaan lain, selain jabatan seorang perwira di istana. Kalau

tumenggung tak bisa menolong tak jadi apa. Hanya bisakah tumenggung

membuat sepucuk surat untuk memperkenalkan saya pada mapatih

kerajaan.....?"

Tentu saja Cokro Buwono tidak mau meluluskan

permintaan Soma itu. dia tahu siapa adanya Soma dan tak mau mendapat

malu mengirimkan soerang pemuda yang mungkin bisa dianggap "kurang

waras" menemui patih kerajaan.

"Kau pulang sajalah Soma. Aku akan

memikirkan permintaanmu itu dan memberi tahu kalau memang ada

kemungkinan satu jabatan bagimu dalam lingkungan istana...." Kata Cokro

Buwono akhirnya.

"Saya tahu....." kata Soma dengan nada kecewa sambil tundukkan kepala.

"Saya memang tidak memiliki kepandaian apa-apa untuk jadi bekal seorang

perajurit. Tetapi jika saja tumenggung dapat memberikan satu ujian,

niscaya saya akan dapat melakukannya...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.92.186.20
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia