Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETAKA GUNDIK JELITA

KUTO GEDE sudah jauh di belakang mereka. Malam tambah gelap dan dinginnya udara semakin mencucuk. Di langit sebelah tenggara tampak kilat menyambar beberapa kali.

"Turunkan aku di sini!" teriak gadis di atas panggulan bahu kanan Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Tenang sajalah dan jangan banyak bicara. Berhenti di tempat ini masih cukup besar bahayanya. Bukan mustahil orang-orang kerajaan membuntuti kita!"

"Aku tidak takut pada mereka!" sahut Nawang Suri. Dia adalah gadis yang baru saja diselamatkan Wiro Sableng ketika pecah perkelahian hebat di istana di awal malam. Di atas bahu sang pendekar, dara itu berada dalam keadaan tertotok sementara tangan kanannya patah dan mendenyut sakit tiada henti. Tapi sebagai seorang gadis nekad dan keras hati tak sedikit pun rintih kesakitan ketuar dari mulutnya. Melihat si pemuda terus melarikannya, Nawang Suri berkata:

"Jika kau tak mau menurunkan aku di sini, bawa aku ke lembah Maturwangi di selatan!"

"Eh, kenapa kau minta dibawa ke sana?" bertanya Wiro.

Semula Nawang Suri tak mau menjawab. Ketika ditanya beberapa kali akhirnya dia menerangkan:

"Aku harus menemui pasukanku di situ. Paling tidak sebelum mereka bergerak. Aku akan kembali ke Kota-raja dan memimpin penyerbuan. Meskipun raja keparat itu sudah kubunuh, tapi sebelum tahta berada di tanganku belum puas hatiku!" Mendengar kata-kata Nawang Suri, Wiro Sableng hentikan larinya. Sang dara didudukkannya pada akar sebatang pohon besar.

"Lepaskan totokanku!" meminta Nawang Suri. Wiro Sableng gelengkan kepala. Dia duduk menjelepok di tanah di hadapan sang dara. Untuk beberapa saat sepasang mata mereka saling memandang tak berkedip.

"Seumur hidup baru kali ini aku menemui gadis nekad sepertimu!" kata Wiro pula. Ucapan itu membuat sang dara jadi panas hatinya dan menjawab dengan suara keras.

"Aku bukan manusia nekad! Apa yang aku lakukan adalah demi keadilan! Demi kedua orang tuaku yang mereka bunuh! Demi tahta kerajaan yang mereka rampas! Demi masa depan negeri di mana aku dilahirkan. Dan kau jangan coba menghalangi!"

"Siapa bilang aku menghalangi!" sahut Wiro sambil garuk kepala.

"Kau sudah membunuh raja! Apa itu tidak cukup?!"

"Memang tidak cukup!

Tujuan utamaku adalah tahta kerajaan!"

"Mungkin itu memang belum jadi rejekimu

"Ini bukan soal rejeki atau apa! Tapi soal hak..."

"Dalam kehidupan di dunia ini, soal hak sama tipisnya dengan hembusan angin malam.

"Jangan bersyair di depanku!" bentak Nawang Suri. Wiro menyeringai kecut. Dan berkata:

"Dalam keadaan terluka begini, tangan patah, kau hendak menyerbu Kuto Gede. Sia-sia saja. Apakah kau memiliki pasukan yang kuat serta panglima perang yang tangguh?"

"Aku dan orang-orangku memiliki semangat..."

"Gadis nekad! Semangat saja tidak cukup untuk memenangkan peperangan.

"Pemuda tolol macammu mana tahu soal perang! Sebagai puteri raja aku telah diberi pelajaran dan latihan untuk perang!"

"Tapi kau bukan mau perang!" kata Wiro dengan pandangan mengejek.

"Maksudmu aku ini mau apa?"

"Mau bunuh diri!" Kalau saja tubuhnya tidak kaku karena totokan mungkin Nawang Suri sudah memukuli atau menampar Wiro Sableng saat itu.

"Bunuh diri atau apapun aku tak takut mati..."

"Jika kau tetap keras kepala biar kutinggal saja kau sendirian di sini!" kata Wiro seraya berdiri dan pura-pura hendak pergi.

"Kau boleh pergi! Tapi lepaskan dulu totokan di tubuhku!"

"Aku tak akan melakukan hal itu. Kudengar banyak binatang buas sekitar sini. Biar kau dijadikan mangsa mereka!" Lalu Wiro melangkah.

"Hai! Jangan tinggalkan aku!" seru Nawang Suri. Kecut juga hatinya.

"Nah, nah... Kau harus begitu. Harus mengikuti apa yang aku bilang.

"Tapi kau bukan ayah atau majikanku! Jangan anggap budi pertolonganmu membuat dirimu merasa berkuasa atas diriku!" kembali Nawang Suri keluarkan ucapan keras.

"Apa untungku menguasaimu...?"

"Kalau tidak ada maksud sesuatu mengapa kau melarikan diriku?"

"Eh... eh! Aku bukan melarikanmu. Apa yang kulakukan adalah menolongmu. Heran, bicaramu mengapa ngacok melulu dan Wiro hentikan kata-katanya. Disambarnya tubuh Nawang Suri lalu digotongnya ke balik serumpunan semak belukar lebat. Keduanya menelungkup sama rata dengan tanah.

"Jangan keluarkan suara" bisik Wiro yang mendengar suara orang mendekat. Baru saja pendekar itu selesai bicara, dua tubuh tampak berkelebat dalam kegelapan dan berhenti sejarak beberapa langkah dari pohon besar di mana mereka sebelumnya berada.

"Heran!" terdengar salah seorang pendatang berkata pada temannya. Dia mengenakan pakaian biru berikat pinggang putih. Di tangan kanannya ada sebilah golok besar. Wiro maupun Nawang Suri segera mengenali orang ini dari suara dan pakaiannya yakni bukan lain Ki Rawe Jembor, hulubalang pertama keraton Kuto Gede.

"Aku yakin sekali mereka pasti kabur ke jurusan ini. Tapi mengapa kita tidak menemukan keduanya?! Pemuda itu tak mungkin bisa lari cepat dengan membawa beban sosok tubuh gadis pemberontak!" Kawannya terdengar menarik nafas panjang lalu mengusap-usap pipinya yang cekung. Dia adalah Imo Gantra, hulubalang kedua.

"Bagiku sama sekali tidak mengherankan. Pemuda itu bukan manusia sembarangan. Sosok tubuh manusia bagaimanapun beratnya bisa saja seperti sekantong kapas baginya. Sebaiknya kita kembali ke istana. Aku kawatir keadaan di sana tambah ricuh. Terus terang aku tak perdaya pada si tua bangka Wulung Kerso. Keris Mustiko Geni ada di tangannya!"

"Kita sama pendapat. Kakek itu bisa saja melakukan sesuatu. Ketika kita berangkat mengejar kulihat dia menyelinap masuk ke dalam istana.

"Ya, akupun melihat. Gerakannya agak mencurigakan".

"Ah, manusia satu itu pun sudah kuketahui belangnya. Ketika Sri Baginda masih hidup dia tak lebih dari seorang penjilat nomer satu! Dimas Imo Gantra, mari kita kembali!" Kedua tokoh silat istana itu berkelebat dan lenyap dalam kegelapan malam. Di balik rerumputan semak belukar Wiro membantu Nawang Suri duduk di tanah. Begitu duduk sang dara langsung bertanya setengah mendamprat.

"Kenapa tidak kau hantam kedua bangsat itu?" Wiro geleng-gelengkan kepala dan menjawab:

"Aku tak punya permusuhan dengan mereka."

"Gila!"

"Eh, siapa yang gila...?" tanya Wiro melotot tapi mulutnya menyunggingkan senyum.

"Kowe!" sahut Nawang Suri setengah berteriak. Wiro tertegun sesaat lalu tertawa gelak-gelak.

"Hanya orang gila yang masih bisa ketawa dalam keadaan seperti ini...!" menyentak Nawang Suri dengan pandangan mata dan air muka sangat jengkel.

"Sudahlah, sekarang katakan apa maumu?"

"Antarkan aku ke lembah Maturwangi! Aku harus bergabung dengan pasukanku sebelum terlambat!"

"Benakmu masih saja dipenuhi oleh kehendak balas dendam dan pertumpahan darah. Apakah tidak cukup semua itu lunas dengan kematian raja yang tanganmu sendiri membunuhnya?!"

"Tidak!", jawab Nawang Suri.

"Nawang Suri, kalau kau hanya mendasarkan jalan hidupmu pada balas dendam dan darah, kau akan celaka!"

"Biar, aku memang sudah celaka!" suara sang dara tersendat lalu terdengar sesunggukannya.

"Eh, tidak kusangka dara dengan hati sekeras batu sepertimu ternyata pandai juga menangis..." ujar Wiro Sableng menggoda.

"Pemuda edan! Aku bersumpah menampar mulutmu seratus kali!"

"Sumpah edan!" tukas Wiro. Lalu dia beringsut mendekati, hingga tubuh dan wajahnya hampir bersentuhan dengan gadis itu.

"Jangan berlaku kurang ajar! Apa yang hendak kau perbuat?!"

"Pertama, aku akan menolong mengobati lengan kananmu yang patah. Setelah itu totokanmu akan kulepaskan. Setelah itu... terserah padamu. Kau mau ke lembah Maturwangi atau ke lembah sontoloyo silakan pergi!"

"Lalu dengan gerakan cepat—yang membuat Nawang Suri terpekik—Wiro Sableng merobek ujung kain yang dikenakan sang dara. Dia mematahkan sebatang ranting besar, meletakkan batang kayu ini pada bagian lengan yang patah lalu mengikatnya dengan sobekan kain.

"Beres..." ujar Wiro. Lalu tangannya bergerak mengurut bagian bahu dekat pangkal leher Nawang Suri beberapa kali mengurut gadis itu merasakan totokan yang membuat tubuhnya kaku tegang menjadi sirna.

"Nah, kau sudah bebas sekarang," kata Wiro. Lalu diangsurkannya wajahnya dekat- dekat ke hadapan sang dara.

"Pemuda gila! Apa maumu...?"

"Eh, bukankah tadi kau hendak menamparku seratus kali? Mengapa tidak segera kau lakukan?!" Nawang Suri hampir menjerit saking gemasnya. Tangan kirinya sudah diangkatnya siap untuk menampar. Namun tamparan itu tidak dilakukan. Entah mengapa hatinya tak kuasa untuk melakukan hal itu.

"Aku benci padamu. Tapi aku tak bisa menamparmu!" berkata Nawang Suri sambil berdiri dan membalikkan tubuh membelakangi Wiro.

"Benci itu ada dua arti..." terdengar suara sang pendekar.

"Benar-benar benci atau benar- benar cinta. Nah yang mana yang kau pilih...?"

"Kau ternyata bukan saja sableng tapi juga ceriwis! Siapa yang cinta padamu!" Habis berkata begitu Nawang Suri dorong dada si pemuda lalu dengan gerakan cepat dia tinggalkan tempat tersebut. Tinggal kini Pendekar 212 yang tegak tertegun sambil garuk garuk kepala. Akan diikutinyakah gadis itu? Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Kuto Gede saja.

2Dari rumah penduduk di tepi desa, Nawang Sari mencuri seekor kuda. Dengan seekor kuda itu dia bergerak ke arah selatan. Dia memacu bintang itu seperti dikejar setan, karena memang dia harus sampai di lembah sebelum tengah malam. Namun gadis itu terperangah ketika sampai di lembah Maturwangi yang dia dapati hanya bekas-bekas perkemahan. Pasukan yang sebelumnya dia ketahuai berkumpul di sana tak ada lagi disitu.

"Celaka, aku terlambat. Apakah Empu Soka Panaran berada di antara mereka...?" Nawang Suri berpikir sesaat.

"Aku harus kembali ke Kotaraja..." katanya dalam hati mengambil keputusan.

Lalu kuda yang sudah letih itu diputar dan dibedalnya menuju ke utara. Sebelum masuk ke Kuto Gede dia harus kembali ke rumah Empu Soka Panaran untuk berganti pakaian. Dia akan bergabung dengan pasukan yang akan menyerbu istana, lalu mencari dan mendapatkan kembali Keris Mustiko Geni lambang tahta Kerajaan. Sebelum kita ikuti perjalanan Nawang Suri kembali menuju Kotaraja, marilah kita kembali dulu pada kejadian beberapa waktu sebelumnya. Sejak kerajaan ditumbangkan dan tahta kerajaan dirampas, Nawang Suri yang sesungguhnya adalah putri kerajaan yang berkuasa diselamatkan dan di pelihara oleh Empu Andiko Pamesworo. Mereka bersembunyia di sebuah pondok kayu di hutan dekat teluk yang sangat sepi. Di tempat itu sang Empu menurukan seluruh kepandaian silat dan kesaktian yang dimiliknya kepada Nawang Sari sehingga pada umur 19 jadilah dia dara yang memiliki kepandaian tinggi. Di samping itu secara diam-diam Empu Andiko Pamesworo menyusun perebutan kekuasaan.

Dengan mengandalkan kecantikan Nawang Suri, diatur untuk mendekati orang-orang penting istana. Begitu mereka terjebak, riwayat masing-masing akan segera dihabisi. Sasaran paling utama dan paling penting tentunya adalah Sri Baginda sendiri. Dengan berbekal sebilah keris sakti bernama Mustiko Geni, Nawang Suri menyamar sebagai lelaki dan meninggalkan pondok Empu Andiko. Tak lama setelah dia pergi tiga orang tokoh silat istana muncul di situ dan berhasil membunuh sang empu. Di pihak penyerbu, satu orang menemui ajal. Dua lainnya yakni Gagak Celeng dan Buto Celeng berusaha mengejar sang dara dan berhasil menghadangnya di daerah pesawahan. Dengan keris sakti di tangan Nawang Suri menewaskan Gagak Celeng. Tapi pada saat itu muncul seorang tokoh silat istana lainnya yang berkepandaian tinggi bernama Sindu Kalasan, dikenal dengan julukan Datuk Tongkat Dari Selatan. Sang Datuk berhasil membuat mental keris di tangan Nawang Suri.

Penyamarannya terbuka.

Nyawanya terancam.

Saat itulah muncul Pendekar 212 Wiro Sableng menolong dan menyelamatkan Nawang Suri. Keris Mustiko Geni sempat pula terhindar dari rampasan Datuk Tongkat. Sikap dan gerak-gerik Wiro yang seperti orang kurang waras itu membuat Nawang Suri tidak mempercayainya. Dara itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kuto Gede.

Sesuai dengan petunjuk Empu Andiko dia akhirnya sampai ke tempat kediaman Empu Soka Panaran yang tinggal di pinggiran Kuto Gede dan menyamar sebagai juru ukir barang- barang perak dengan memakai nama Gama Manyar. Bersama Soka Panaran rencana dimatangkan. Sementara itu sisa-sisa balatentara kerajaan lama dikumpul dan disiapkan untuk sewaktu-waktu menyerbu Kota raja. Orang yang pertama menjadi korban adalah Pangeran Onto Wiryo, Kepala Pasukan Kota Gede. Nawang Suri berhasil membunuhnya di sebuah telaga sepi. Ketika jenazah sang Pangeran dibaringkan di istana. Empu Soka Panaran dan Nawang Suri sengaja datang melayat. Perangkap mereka mengena. Sri Baginda terpikat melihat kecantikan dan kemulusan tubuh sang dara. Maka dia meminta patih Wulung Kerso untuk mengatur agar gadis itu bisa di jadikannya gundik. Hal itu berlangsung begitu cepat, sama sekali tidak diduga oleh Empu Soka Panaran. Maka diatur gerak cepat.

Sementera Nawang Suri dibawa ke istana malam harinya, sang Empu ke luar kota untuk menyipakan pasukan penyerbu. Celakanya kemunculan Nawang Suri di Istana terlihat oleh Datuk Tongkat yang saat itu tengah berkelahi melawan sejumlah pasukan dang perwira kerajaan, dipimpin oleh tokoh hulubalang tingkat satu yakni Ki Rawa Jembor dan Imo Gatra. Akibat tipu muslihat Nawang Suri, Datuk Tongkat dituduh sebagai penghianat yang berserikat dengan kaum pemberontak. Sadar kalau rahasia dirinya sudah terbuka sementara Datuk Tongkat menemui ajal di tangan para pengeroyoknya, Nawang Suri melihat tak ada jalan lain dari pada harus membunuh Sri Baginda saat itu juga. Begitulah, ketika Seri Baginda yang tergila-gila padanya menyongsong kedatangannya di tangga istana Nawang Suri mencabut Keris Mustiko Geni dan menikam Sri Baginda hingga tewas saat itu juga! Istana heboh. Kini Nawang Suri menjadi bulan-bulanan, ditangkap hidup atau mati sedang Keris Mustiko Geni yang terlepas mental akibat hantaman senjata Ki Rawe Jembor berhasil dirampas oleh Patih Wulung Kerso. Dalam keadaan terdesak dan tangan kanan patah, Nawang Suri lagi-lagi diselamatkan oleh Pendekar 212 Wiro Sableng.

Untuk jelasnya kisah di atas baca serial Wiro Sableng berjudul Petaka Gundik Jelita.

Kita kembali ke istana di kota Gede. Beberapa orang perwira termasuk kepada Pasukan Kotaraja yakni Cokro Ningrat segera menggotong jenazah Sri Baginda, membawanya ke dalam istana. Namun Cokro Ningrat tampak memisahkan diri ketika melihat patih Wulung Kerso bergegas masuk ke ruangan lain sambil membawa Keris Mustiko Geni. Dengan cepat Kepala Pasukan ini mengikuti si orang tua. Kejadian yang serba cepat ini masih sempat terlihat oleh K i Rawe Jembor. Sebenarnya dia hendak mengajak kambratnya Imo Gantra untuk mengintili kedua orang tersebut. Namun saat itu Imo Gantra telah lari bergegas ke pintu gerbang istana untuk mengejar Pendekar 212 Wiro Sableng yang membawa lari Nawang Suri. Karena menangkap gadis pemberontak itu lebih penting akhirnya Ki Rawe Jembor mengikuti Imo Gantra mengejar pendekar yang kabur bersama boyongannya.

Patih Wulung Kerso memasuki ruangan khusus di mana disimpan barang-barang dan senjata-senjata pusaka istana. Di situ dia mencari sarung keris yang dapat dipergunakan untuk rumah Keris Mustiko Geni yang telanjang dan masih berlumuran darah Sri Baginda. Karena di situ memang banyak disimpan berbagai macam keris, dalam waktu cepat sang patih telah mendapatkan sarung yang cocok untuk Mustiko Geni. Tanpa membersihkan darah di badan keris, Wulung Kerso menyarungkan senjata sakti itu. Lalu menyimpannya baik-baik di balik pakaiannya.

"Paman Patih Wulung Kerso, apakah yang kau perbuat di sini?" Patih Wulung Kerso tersentak kaget. Ketika membalik dilihatnya Raden Cokro Ningrat tegak di ambang pintu ruangan dengan pandangan mata penuh selidik.

"Raden Cokro, bukankah seharusnya kau menolong Sri Baginda?"

"Orang yang sudah mati tak mungkin lagi ditolong. Saya lihat tadi Paman Patih membawa Keris Mustiko Geni..... Wulung Kerso merasa tidak enak. Namun dia maklum, ketika berhasil menangkap Mustiko Geni yang terlepas dari tangan Nawang Suri, puluhan mata menyaksikannya. Jadi hampir semua orang tahu kalau senjata mustika lambang tahta Kerajaan itu ada padanya. Dalam gugupnya patih Wulung Kerso sekaligus coba menempelak.

"Raden, tak seharusnya kau berada dalam ruangan ini. Tugasmu di luar sana. Bukankah mata-mata kita memberi tahu bahwa ada serombongan pasukan tak dikenal bergerak menuju Kuto Gede. Pasti mereka pasukan pemberontak yang datang untuk menyerbu. Atas nama kerajaan kuminta agar Raden segera mengatur bala tentara untuk menghadapi kaum pemberontak yang muncul setiap saat..." Raden Cokro Ningrat tersenyum penuh arti.

"Soal pasukan musuh, pasukan pemberontak, apapun namanya tak usah dikhawatirkan. Jika mereka berani muncul pasti lebur. Saya ingin tahu kau kemanakan Keris Mustiko Geni itu, paman patih?"

"Ada kusimpan baik-baik. Kau tak usah khawatir..."

"Mengapa paman yang harus menyimpan senjata itu? Jika ada musuh menyelinap dan merampasnya bisa berbahaya. Berikan keris itu padaku. Aku bisa menyimpannya di tempat yang aman......" Patih Wulung Kerso tersenyum tawar mendengar kata-kata Kepala Pasukan Kerajaan itu.

"Kau tak usah kawatir Raden Cokro. Aku tahu bagaimana cara menyimpannya. Senjata itu tak akan muncul sebelum Raja baru diangkat!"

"Dengar paman patih," kata Cokro Ningrat pula.

"Saya tahu dengan kepandaian yang paman miliki, paman bisa menyimpan dan menjaga keris sakti itu baik-baik. Tapi jangan lupa. Istana penuh dengan musuh dalam selimut. Kaki tangan musuh berkeliaran di mana-mana. Keselamatan paman dan senjata itu bisa terancam... Saya tetap meminta agar Mustiko Geni diserahkan pada saya....."

"Hal itu tak bisa ku-kabulkan Raden Cokro. Mustiko Geni tetap kusimpan sampai ada Raja baru yang diangkat dan duduk di kursi besar sana....." Raden Cokro Ningrat rupanya tidak senang. Namun dengan cerdik mulutnya tetap menyunggingkan senyum. Dia melangkah mendekati sebuah patung terbuat dari batu. Sambil mengusap-usap kaki patung dia berkata :

"Baiklah, kalau paman menganggap mampu menjaga Mustiko Geni, tak ada salahnya paman yang menyimpan.....". Lalu Kepala Pasukan Kotaraja itu bersikap hendak berlalu. Namun tiba-tiba cepat sekali tangan kanannya menangkap kaki patung batu. Benda itu dihantamkan sekeras-kerasnya ke kepala Patih Wulung Kerso. Orang tua itu tersungkur ke lantai. Tangan kanannya menggapai ke depan sementara kepala dan mukanya berlumuran darah mengerikan.

"Keparat terkutuk. Kau... kau nyatanya juga seorang musuh dalam selimut..." Dari balik pakaiannya patih tua ini keluarkan Mustiko Geni lalu dia merangkak mendekati Cokro Ningrat. Keris yang memancarkan sinar merah itu ditikamkannya ke arah Cokro. Namun sasaran terpisah jauh. Dia hanya menusuk angin dan kembali tersungkur. Saat itu kembali Cokro Ningrat menghantamkan patung batu ke kepala Patih Wulung Kerso. Dalam keadaan terluka parah di kepala, patih yang juga memiliki kepandaian silat dan kekuatan itu ternyata tidak mau menyerah begitu saja. Sambil merundukkan kepala menghindarkan hantaman patung batu, Wulung Kerso memukul ke depan. Jotosannya tepat menghantam lambung Cokro Ningrat. Meskipun tidak begitu telak dan keras akibat luka yang dideritanya namun jotosan tersebut cukup membuat Kepala Pasukan itu terhenyak ke belakan dengan perut mual dan dada terasa sesak sakit. Patih Wulung Kerso maju merangsak. Kini dia kerahkan seluruh tenaga dalam yang ada lalu menyergap dengan dua tangan terpentang. Namun Keris Mustiko Geni yang ada di tangan kanannya hanya mampu merobek pakaian kebesaran Raden Cokro Ningrat. Diam-diam Kepala Pasuka Kerajaan ini merasakan tekuknya jadi dingin. Sempat senjata sakti itu menggores kulit dadanya, nyawanya tak akan tertolong! Darah yang membasahi kepala dan muka Wulung Kerso menutup pemandangan kedua matanya. Berulang kali dia mengusap wajah dan ini tentu saja merupakan kesempatan baik bagi Cokro Ningrat. Selagi pemandangan patih tua itu terhalang secepat kilat Cokro Ningrat gebukkan patung batu di tangannya ke tubuh Wulung Kerso. Tepat menghantam bahu kiri hingga orang tua ini terkapar di lantai ruangan. Dari mulut Wulung Kerso keluar suara

rintihan. Patih ini masih berusaha bangkit sambil mengacungkan Keris Mustoko Geni yang memancarkan sinar merah angker itu. Namun darah yang terlalu banyak tertumpah membuat Wulung Kerso kehilangan tenaga. Lututnya goyah, pemandangannya semakin kabur, tenaganya semakin sirna. Ketika patung batu menghajar keningnya, dia tak punya daya lagi untuk mengelak. Tubuhnya roboh ke lantai, darah dan cairan otak berceceran. Keris Mustoko Geni terlepas dari genggamanya dan tercampak di lantai. Raden Cokro Ningrat cepat mengambil senjata Mustika itu, memasukkannya ke dalam sarung yang ditariknya dari pinggang Wulung Kerso, lalu meninggalkan mangan itu. Pintu kamar sengaja dikuncinya dari luar. Ketika dia sampai di bagian depan istana, Kepala Pasukan Kerajaan ini terkejut Serombongan pasukan berjumlah sekitar tiga ratus orang tampak berada di seberang sana, siap menyerbu. Ada tiga orang berkuda yang bertindak sebagai pimpinan. Dua masih muda dan tak dikenal sedang yang seorang lagi dikenalnya sebagai Manyar Gantra, orang tua yang diketahui sebagai juru ukur barang-barang perak.

"Pemberontak keparat! Datang juga mereka akhirnya!" serapah Cokro Ningrat. Pada beberapa orang perwira yang ada di situ dia segera berteriak memberi perintah. Sejumlah pasukan segera dihimpun dengan cepat untuk menyambut serangan. Namun karena pasukan yang ada di situ hanya merupakan pengawal istana, jumlah mereka dengan sendirinya lebih sedikit. Hal ini membuat serangan pasukan pemberontak tidak tertahankan.

"Kurang ajar!" kertak Cokro Ningrat. Seorang perwira ditariknya ke balik pilar istana.

"Cepat datangkan pasukan bantuan dari timur dan selatan. Paling tidak jumlah kita harus dua kali lebih besar dari pemberontak jahanam itu!"

"Siap Raden!" jawab si perwira lalu tinggalkan tempat itu. Memandang berkeliling Raden Cokro menjadi beringas. Dia tak melihat seorang pun tokoh silat istana ada di tempat itu. Karena tak dapat menunggu lebih lama. Kepala Pasukan ini segera menuruni tangga istana menyongsong serbuan pasukan dengan sebilah pedang di tangan kanan. Ketika dia sampai di pertengahan taman istana, dua penunggang kuda yang bertindak sebagai pimpinan pasukan penyerbu menghadangnya.

"Bangsat pemberontak! Kalian mencari mampus!" teriak Cokro Ningrat.

"Cokro Ningrat anjing pengkhianat! Darah rakyat yang pernah kau tumpahkan harus kau ganti dengan darahmu sendiri!" Balas berteriak salah seorang penunggang kuda. Sekali goloknya diayunkan, senjata itu membabat ke arah kepala Cokro Ningrat.





3Tampaknya lelaki muda yang menyerang Kepala Pasukan itu memang memiliki kepandaian. Namun dibandingkan dengan kepandaian yang dimiliki Raden Cokro Ningrat, meskipun dia menggempur bersama seorang kawanya, agak sulit baginya untuk merobohkan Kepala Pasukan itu. Hal itu menjadi kenyataan sewaktu pedang Cokro Ningrat membacok kura tunggangan mereka hingga kuda-kuda itu merangkak liar. Membuat keduanya terpaksa melompat ke tanah. Perkelahian dua lawan satu ini berlangsung sekitar empat jurus. Di jurus kelima, lelaki di sebelah kanan menemui ajal oleh tusukan pedang Cokro Ningrat yang tepat menembus dada kirinya. Jurus berikutnya lelaki kedua menyusul roboh akibat bacokan pedang tepat pada pangkal lehernya.

"Bangsat pemberontak! Kalian mundur kalau tidak mau mampus percuma! Letakkan senjata dan menyerah!" teriak Cokro Ningrat. Tapi pasukan penyerbu yang tidak kenal rasa takut itu merangsak terus. Puluhan di antara mereka sudah mendekati tangga istana sementara puluhan prajurit di kedua belah pihak tampak berkaparan di taman dan tangga istana. Saat itulah serombongan pasukan kerajaan yang berjumlah hampir dua ratus orang muncul dari kiri kanan. Serta-merta gerakan penyerbu tertahan. Se-mangat balatentara Kerajaan yang tadi melemah kini pulih kembali. Raden Cokro terdengar kembali berteriak.

"Jika kalian tidak menyerah kalian akan mampus percuma! Kalian sudah terkurung!"

"Cokro Ningrat! Mulut besarmu sudah saatnya ditutup!" Terdengar suara membentak. Satu bayangan putih berkelebat. Angin serangan membuat Kepala Pasukan ini tergetar dan cepat bertindak mundur, memandang ke depan dia melihat orang itu itu tegak dengan sebatang tongkat besi kuning melintang di dada.

"Gama Manyar! Tidak sangka nyatanya kau adalah seorang gembong pemberontak!" bentak Raden Cokro ketika mengenali siapa adanya orang tua di hadapannya. Si orang tua menyeringai. Wajahnya tetap dingin sedang sepasang matanya tidak berkedip.

"Namaku bukan Gama Manyar. Akulah yang dikenal dengan nama Empu Soka Panaran!" berkata orang tua itu dengan suara lantang lalu wut... wut! Tongkat besi kuning di tangannya diputar di depan dada. Sesaat sosok tubuhnya hanya berupa baying-bayang kuning yang terbungkus oleh putaran tongkat kuning yang amat cepat.

Raden Cokro Ningrat terkejut. Tapi dia tidak mau memperlihatkan perubahan pada air mukanya. Siapa yang tak kenal Empu Soka Panaran? Di masa Kerajaan lama dia dalah seorang ahli pembuat barang-barang ukiran istana. Tapi lebih penting dari itu dikabarkan orang tua ini memiliki kepandaian silat tinggi dan kesaktian mengagumkan.

"Kau terkejut setelah mengetahui siapa aku? Takut...?! Lalu mengapa tak lekas menyerah?!" mengejek Empu Soka Panaran.

"Tua bangka rakus kekuasaan! Kau sengaja mengorbankan orang-orang tak berdosa untuk mencapai tujuan kotor!" Soka Panaran tertawa mengekeh.

"Buka matamu lebar-lebar, pasang telingamu baik-baik dan tanyai hati sanubarimu! Siapa di antara kita yang kotor! Siapa di antara kita yang telah menumpahkan darah rakyat untuk merebut tahta kerajaan? Kau dan rajamu yang sudah mampus itu dan ratusan pengkhianat lainnya yang gila kekuasaan! Dulu kau hanya perwira kelas picisan! Tapi kau bersedia mengkhianati rajamu yang syah hanya untuk mendapatkan kedudukan Kepala Pasukan! Apakah kau sudah senang dan baik-baik saja dalam jabatanmu yang penuh lumuran darah itu...?" Merah padam wajah Raden Cokro dan berdesing panas telinganya mendengar kata-kata Empu Soka Panaran itu.

"Tua bangka sinting! Ajal sudah di depan mata masih saja bicara tak karuan!" Habis membentak begitu Cokro Ningrat menyerang dengan pedangnya. Sementara itu pasukan Kerajaan yang datang semakin banyak. Puluha prajurit dan beberapa perwira mengelilingi kalangan pertempuran antara pemimpin mereka melawan Empu Soka Panaran. Mereka maklum orang tua itu memiliki kepandaian tinggi karenanya perlu berjaga-jaga agar jangan sampai lolos kalau seandainya Kepala Pasukan mereka mengalami cidera atau sampai tumbang di tangan orang tua itu. Ternyata memang Empu Soka Panaran bukan tandingan Kepala Pasukan Kerajaan itu. Setelah menggempur habis-habisan selama enam jurus tanpa membawa hasil, kini Cokro Ningrat mendapat serangan balik yang gencar. Tongkat besi kuning di tangan sang empu menderu laksana titiran, menekan dan mengemplang, menggebuk dan menusuk, membuat Kepala Pasukan itu terdesak dan berseru keras sewaktu akhirnya pedang di tangannya dihantam mental oleh pukulan keras ujung tongkat. Raden Cokro Ningrat melompat mundur. Tapi lebih cepat tongkat lawan datang mengejar ke arah kepala. Masih untung Cokro Ningrat sempat membuang diri ke samping kalau tidak kepalanya sudah remuk dihantam tongkat. Meskipun selamat namun ujung senjata lawan menoreh pelipis dan pipi kanannya hingga mendatangkan gorensan luka yang cukup dalam dan mengucurkan darah. Melihat pimpinan mereka cidera, beberapa perwira segera bertindak maju. Menyaksikan hal ini Empu Soka Panaran cepat berteriak mengejek.

"Bagus! Kalian bangsa pengkhianat memang berjiwa pengecut! Silakan bantu pimpinan kalian agar tidak mampus lebih cepat!" Merasa malu Cokro Ningrat berteriak pada orang-orangnya.

"Semua mundur! Menghadapi tikus tua macam ini aku tak butuh bantuan kalian!" Lalu dari balik pakaiannya Kepala Pasukan Kerajaan itu cabut Keris Mustiko Geni. Sinar merah berkiblat dalam gelapnya malam di taman istana itu. Terkejutlah Empu Soka Panaran alias Gama Manyar. Bagaimana Keris sakti lambang tahta Kerajaan itu berada di tangan Cokro Ningrat. Sejak tadi hatinya memang sudah cemas karena tidak melihat Nawang Suri. Di mana gadis itu setelah dia diketahui berhasil membunuh Sri Baginda? 'Tikus tua! Majulah! Bukankah kau ingin mati lebih cepat?" membentak Cokro Ningrat.

"Pengkhianat busuk! Rajamu sudah tewas! Keris itu bukan milikmu! Lekas serahkan padaku...!"

"Ha... ha...! Kau takut menemui kematian di tangan senjata sakti ini?!" ejek Cokro Ningrat.

"Hidupku hanya sekali! Nyawa hanya satu dan aku tidak takutkan mati!" Hardik Empu Soka Panaran. Wut!. Sinar kuning berkiblat ketika tongkat besinya diputar sebat. Cokro Ningrat yakin sekali akan keampuhan keris Mustiko Geni. Dia menyongson sambaran tongkat lawan. Trang...!! Kliing...!! Empu Soka Panaran berseru kaget dan melompat mundur. Tongkat besi kuningnya putung sewaktu keris sakti itu membabat hampir sepertiga dari panjangnya! Tangannya bergetar dan terasa panas.

"Ah, senjata sakti itu... Mengapa bisa berada di tangan musuh..." keluh Empu Soka Panaran dalam hati. Dia sadar apapun senjata yang dimilikinya tak bakal sanggup menghadapi Keris Mustiko Geni. Berarti dia harus mengerahkan kemampuan tenaga luar dalam dan akal untuk menghadapi lawan.

"Tua bangka pemberontak!" Cokro Ningrat berkata sambil acungkan Keris Mustiko Geni tinggi-tinggi ke atas.

"Jika kau bersedia menyerah maka kau akan digantung secara terhormat! Tapi jika terus melawan, tubuhmu akan gosong oleh keris sakti ini!"

"Aku lebih suka mati di ujung Mustiko Geni!" jawab Soka Panaran tegas. Tongkatnya yang hanya tinggal dua pertiga panjang semula meluncur ke depan tapi cepat ditarik ketika keris Mustiko Geni digunakan lawan untuk menangkis. Serangan tongkat yang tadi berupa tusukan kini berubah menjadi sabetan kea rah pinggang dan lagi-lagi berbahaya setelah Mustiko Geni dipakai untuk menangkis. Gerakan yang serba cepat membuat Cokro Ningrat menjadi kewalahan. Tapi orang ini cukup cerdik. Dia tak mau tenaga ikut bergera cepat dalam menghadapi lawan. Yang dilakukan adalah tegak di kalangan pertempuran dan melindungi diri dari setiap serangan dengan Keris Mustiko Geni. Lalu pada setiap kesempatan yang ada dia kirimkan serangan balasan. Setelah berkelahi lebih dari dua puluh jurus, nafas Empu Soka Panaran mulai tersengal. Meskipun dia sanggup untuk terus berkelahi sampai seratus jurus amun kekuatan serangannya akan mengendur. Hal ini disadari sepenuhnya oleh orang tua itu. Maka dia pun merubah sasaran serangan. Kalau tadi dia berusaha menghantam tubuh, kepala atau bagian badan lain dari Cokro Ningrat maka kini serangannya dipusatkan pada tangan kanan lawan. Apapun yang terjadi dia harus dapat membuat Cokro Ningrat melepaskan Keris Mustiko Geni dari genggamannya, celakanya apa yang ada dalam benak si orang tua, diketahui pula oleh lawan! Kini tampak Cokro Ningrat merobah sasaran serangan. Kalau sebelumnya dia berusaha menghancurkan senjata lawan maka kini begitu berhasil mengelakkan satu serangan dia langsung tusukkan keris ke arah bagian tubuh lawan. Dia tak perlu memilih bagian tubuh lawan. Karena sekali Keris Mustiko Geni dapat menoreh kulit atau daging lawan, dalam beberapa saat hawa ganas yang ada pada senjata itu akan menewaskannya. Pada jurus ke enam puluh dua Empu Soka Panaran mulai lamban gerakannya. Beberapa kali Keris Mustiko Geni hampir mendarat di tubuhnya. Keadaannya sangat terdesak. Nyawanya tak tertolong lagi. Pasukan yang datang menyerbu bersamanya, melihat kejadian ini jadi leleh semangat mereka. Semua hanya tinggal menunggu saja. Jika si orang tua tewas di tangan Kepala Pasukan Kerajaan itu maka mereka yang hidup hanya ada satu pilihan. Menyerah atau melarikan diri! Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba seekor kuda menerjang masuk ke dalam» kalangan pertempuran sambil meringkik keras. Dua orang prajurit tergelimpang roboh kena terjangan kaki depan. Seorang perwira tersungkur ke samping. Satu perwira lagi berseru kaget ketika pedang yang sejak tadi dicekalnya tahu-tahu dibetot lepas. Dalam suasana yang bertambah kacau terdengar seruan.

"Empu Soka Panaran! Mari kita musnahkan manusia-manusia perampok tahta dan pengkhianat busuk!" Sekali lagi terdengar ringkik kuda. Dari atas punggung binatang ini tampak menyambar sebilah pedang, berkiblat kea rah leher Cokro Ningrat. Masih untung kepala pasukan ini dalam kejutnya untuk melompat mundur. Begitu selamat dari tebasa pedang dengan beringas dia menusukkan keris Mustiko Geni ke arah penunggang kuda. Namun dari samping Empu Soka Panaran datang membabatkan tongkat besi kuningnya hingga Cokro Ningrat sekali lagi terpaksa melompat mencari selamat. Saat itulah satu tendangan bersarang di bahu kirinya, membuat Cokro Ningrat hamper roboh ke tanah kalau tidak di Bantu dua orang perwira. Memandang ke depan Cokro Ningrat segera mengenali siapa adanya penunggang kuda itu. Bukan lain Nawang Suri, puteri raja terdahulu. Gadis ini tampak mengenakan pakaian ringkas dan ikat kepala warna merah.

"Bagus! Aku tak perlu susah payah mencarimu! Kau ternyata datang sendiri untuk menyerahkan nyawa!" kertak Cokro Ningrat. Dia memberi isyarat pada para pembantunya. Dua perwira yang barusan menolongnya bersama- sama tujuh prajurit segera mengurung Nawang Suri yang masih tetap berada di punggung kuda. Tangan kanan yang patah terbalut kain sedang tangan kiri memegang pedang rampasan. Meskipun kehadiran Nawang Suri menyelamatkan dirinya dari serangan lawan, namun Empu Soka Panaran merasa sangat kawatir. Dia melihat sendiri keadaan Nawang Sari yang cedera tangan kanan dan hanya mengandalkan tangan kiri. Sementara itu jumlah pasukan kerajaan semakin banyak. Sulita bagi mereka untuk memenangkan pertempuran. Bagi sang empu sendiri kematian tidaklah menakutkan. Tapi kiri dia justru mengkhawatirkan keselamatan putri junjungannya itu!.

"Den Ayu! Keadaan sangat berbahaya! Tinggalkan tempat ini! Selamatkan dirimu! berseru Empu Soka Panaran.

"Tidak!" sahut Nawang Suri tegas dan tanpa takut.

"Bukankah kita sudah memilih mati dari pada hidup dinista?!" Cokro Ningrat tertawa bergolak.

"Kalau sudah masuk ke sarang harimau mana mungkin keluar dengan selamat?!

Bersiaplah menerima kematian!" Tangan kanannya bergerak. Sinar merah Keris Mustiko Geni berkiblat ke arah sang empu sementara Nawang Suri harus menghadapi serbuan dua perwira dan tujuh prajurit.



4"Bunuh dulu kudanya!" teriak salah seorang perwira. Lebih dari selusin prajurit datang menyerbu. Sementara dua pimpinan mereka melayani Nawang Suri. Prajurit-prajurit itu memusatkan serangan pada kuda tunggangan sang dara. Tombak dan pedang serta kelewang berserabutan. Bagaimanapun Nawang Suri berusaha menyelamatkan kudanya namun akhirnya binatang itu roboh bergelimang darah, penuh luka

"Bangsat rendah! Mampus kalian semua!" teriak Nawang Suri. Dia melompat dari punggung kuda sebelum binatang ini tergelimpang di halaman istana. Pedangnya diputar deras. Dua prajurit menjerit dan roboh mandi darah. Dua perwira cepat berteriak memberi aba- aba. Sepuluh prajurit lagi datang membantu. Kini ada delapan belas prajurit dan dua perwira mengurung Nawang Suri. Dengan pedang di tangan kiri gadis ini terus mengamuk. Di jurusan lain Cokro Ningrat menggempur Empu Soka Panaran habis-habisan. Orang tua yang kehabisan tenaga ini tak mampu berbuat banyak. Beberapa kali tongkat besi kuningnya buntung di babat keris Mustiko Geni hingga potongan kecil yang masih tersisa di tangannya tak ada gunanya lagi lalu di lempar kearah Cokro Ningrat. Dengan mudah Kepala Pasukan itu mengelakkan lemparan besi itu meskipun potongan tongkat ini melesat dan menancap di leher seorang perwira yang mengeroyok Nawang Suri, yang membuatnya tak ampun lagi roboh ke tanah dan menemui ajal saat itu juga!. Perwira yang kedua terkejur dan tercekat melihat kematian kawannya yang berlaku lengah. Hal ini harus dibayarnya dengan mahal. Pedang di tangan kiri Nawang Suri menghujam di perutnya tanpa dapat dielakkan! Karena kehilangan dua pemimpin mereka sekaligus, belasan prajurit yang mengeroyok Nawang SUri menjadi leleh nyali mereka. Hal ini diketahui benar oleh sang dara hingga dia dapat menebar serangan maut dengan leluasa. Sebelum prajurit-prajurit kerajaan menjadi korban keganasan pedang sang dara lebih banyak, dari arah pintu gerbang istana, dua orang kakek tampak berkelebat dalam kegelapan. Dalam waktu singkat keduanya telah berada di hadapan Nawang Suri. Gerakan kedua kakek ini membuat sang dara seperti terdorong tembok keras sehingga dia terpaksa melompat mundur dan memandang dengan beringa kearah dua pendatang ini. Nawang Suri segera mengenali mereka yakni bukan lain adalah Ki Rawe Jembor dan Imo Gatra, dua hulubalang utama istana.

"Hemmm... kalian rupanya! Apa sudah siap untuk mampus?!" mengejek Nawang Suri sementara sepasang matanya bergerak liar memperhatikan gerakan belasan prajurit yang kini mengurungnya dengan rapat. Imo Gantra tertawa buruk. Ki Rawe Jembor memandang dingin tak berkesip.

"Gadis tolol!" mengejek Imo Gantra.

"Setelah lolos ditolong pendekar sableng itu, kau malah kembali muncul mencari kematian!"

"Akan kita lihat siapa yang mampus duluan, kau atau aku!" sahut Nawang Suri.

"Pasti kau! Bukankah kad ingin lekas-lekas menyusul kedua orang tuamu...?!" mengejek Imo Gantra. Mendengar orang tuanya disebut-sebut, Nawang Suri menjerit marah. Tubuhnya berkelebat ke depan. Pedang di tangan kirinya menyambar deras ke kepala Hulubalang Istana nomor dua itu. Saat itu keadaan pihak penyerbu boleh dikatakan sudah kritis. Empu Soka Panaran yang sudah tak berdaya apa-apa lagi hanya tinggal menunggu kematian di ujung Keris Mustiko Geni. Bala tentara yang tadi hampir tidak tertahankan dan sempat naik ke tangga istana kini terpukul dan didesak mundur sampai ke pintu gerbang istana meninggalkan korban tewas bergeletakan di berbagai penjuru. Dan nasib Nawang Suri jelas tidak menguntungkan. Dengan tangan kanan patah, hanya dengan mengandalkan pedang di tangan kiri sulit baginya untuk menghadapi dua tokoh silat istana yang berkepandaian tinggi yakni Imo Gatra dan Ki Rawe Jembor. Meskipun kedua kakek itu tidak memegang senjata namun dalam beberapa jurus saja sudah berhasil mendesak sang dara. Dalam satu gebrakan hebat Nawang Suri bertindak kenat yaitu menerima gebukan tangan Ki Rawe Jembor asalkan dapat menusuk mati Imo Gatra dengan pedang di tangan kirinya. Buk! Jotosan Ki Rawe Jembor bersarang tepat di dada sang dara. Sebaliknya tusukan pedang yang diharapkan akan menewaskan Imo Gantra ternyata menemui kegagalan karena sambil menjotos dengan tangan kanan, Ki Rawe Jembor pergunakan tangan kiri untuk mendorong Imo Gantra hingga kakek satu ini selamat dari kematian! Nawang Suri terhuyung-huyung ke belakang. Pedangnya terlepas dari tangan kiri dan terjatuh ke tanah. Kedua tangannya kini dipergunakan untuk mendekap dadanya yang sakit bukan kepalang. Tulang dadanya serasa melesak. Iga-iganya seperti remuk berantakan. Darah mengucur di sela bibirnya. Perlahan- lahan tapi pasti dara ini akhirnya jatuh terduduk di tanah. Saat itulah dilihatnya di kejauhan, Empu Soka menemui ajal, tewas di tangan Raden Cokro Ningrat. Tewas terkena tikaman Keris Mustiko Geni. Senjata mustiko sakti lambang kerajaan yang hendak dibelanya tapi justru dia sendiri yang menemui kematian di ujung keris itu. Tubuh Empu Soka Panaran tergelimpang tak bergerak lagi. Kulitnya tampak menghitam hangus!

"Bagus! Pemberontak tua sudah mampus! Sekarang giliran gadis tolol ini menemui ajalnya!" teriak Ki Rawe Jembor. Sekali lompat saja dia sudah berada di hadapan Nawang Suri yang terduduk di tanah tak berdaya. Kakek ini angkat kaki kanannya dan kirimkan tendangan maut ke arah kepala sang dara. Meskipun saat itu pemandangannya menjadi kabur namun Nawang Suri masih sempat melihat datangnya bahaya maut. Sambil jatuhkan diri ke tanah gadis ini angkat tangan kanannya yang terbalut patah untuk menangkis. Terdengar jeritannya ketika tendangan K i Rawe Jembor mematahkan tulang lengan itu untuk kedua kalinya. Nawang Suri terguling di tanah beberapa kali. Gulingan tubuhnya terhenti ketika satu kaki menahan dadanya. Kaki yang menginjak ini tidak beda dengan batu besar hingga dadanya yang sakit semakin terasa sakit seperti remuk berantakan. Dia tak kuasa lagi menjerit. Nafasnya pun hanya tinggal satu-satu. Dia memandang ke langit gelap. Lalu pada orang yang menginjak tubuhnya. Ternyata orang ini adalah Cakra Ningrat. Kepala Pasukan Kerajaan yang barusan membunuh Empu Soka Panaran.

"Keparat! Pengkhianat busuk! Tunggu apa lagi? Bunuh aku saat ini juga!" Suara sang dara bergetar. Perlahan, tapi karena di tempat itu mendadak menjadi sunyi sementara pasukan penyerbu telah melarikan diri, maka suara yang perlahan itu masih dapat terdengar jelas.

"Mati cepat-cepat saat ini terlalu enak bagimu! Kau akan kami gantung di tanah lapang! Biar semua orang menyaksikan hukuman yang layak bagi setiap pemberontak!" berkata Cokro Ningrat.

"Dia sudah minta mati. Kenapa menunggu- nunggu? Bunuh saja saat ini juga. Habis perkara. Semua urusan beres sudah!" Yang bicara adalah Ki Rawe Jembor. Raden Cokro Ningrat menyeringai mendengar ucapan itu. Dia melirik pada Imo Gantra seakan minta pendapat. Imo Gantra yang mengerti maksud lirikan Kepala Pasukan Kerajaan itu anggukkan kepala tanda setuju. Maka tanpa pikir panjang lagi Raden Cokro Ningrat membungkuk dan tusukkan keris Mustiko Geni lurus-lurus kea rah leher Nawang Suri. Saat itulah terdengar satu suitan nyaring. Disusul dengan deru angin laksana topan prahara datang menyambar dari langit malam

yang gelap. Semua orang yang ada di tempat itu merasakan tubuh masing-masing bergetar. Pakaian dan rambut mereka berkibar-kibar. Sekali lagi terdengar suitan keras dan tubuh Cokro Ningrat tiba-tiba terpental. Keris Mustiko Geni hampir terlepas dari tangannya. Dengan sigap Kepala Pasukan ini jatuhkan diri ke tanah sambil babatkan keris sakti ke depan. Sinar merah berkiblat. Dia selamat dan bangkit dengan cepat tapi bahu kanannya tampak bengkak besar. Seseorang telah melepaskan tendangan kilat. Masih untung tendangan itu meleset.

"Keparat! Dia lagi!" terdengar teriakan Imo Gantra.

"Kali ini tak ada ampun bagimu pendekar sinting!" menyusul suara bentakan Ki Rawe Jembor. Memandang ke depan Raden Cokro Ningrat melihat seorang pemuda berambut gondrong sebahu berikat kepala kain putih tegak dengan kaki merenggang. Kedua tangannya dirangkapkan di depan dada. Baju putihnya tidak dikancingkan. Pada dadanya yang berotot tampak tersebul barisan tiga angka yang telah menggetarkan rimba persilatan.

"Pendekar 212..." desis Cokro Ningrat. Lidah nya terasa kelu, tengkuknya seperti disiram embun pagi!

"Aku sudah memberi peringatan pada semua Kalian di sini. Jangan berani mengganggu gadis ini! Ternyata kalian mengabaikan peringatan itu..." Ki Rawe Jembor tampak geram mendengar kata-kata Pendekar 212 Wiro Sableng yang jelas-jelas menantang dan sekaligus merendahkan dirinya dan kawan-kawan. Dia maju satu langkah dan membuka mulut dengan suara lantang.

"Manusia sableng! Kau sendiri rupanya juga lupa akan peringatanku. Kami telah melepaskan kau dan gadis itu sore tadi. Kini kalian datang lagi membuat keonaran. Bahkan membunuh orang-orang kami. Bukankah sudah kukatakan bahwa pembalasan kami lebih kejam dari siksa neraka...?!"

"Soal siksa neraka mana aku tahu. Kukira kaupun tidak tahu! Kalau aku kepingin tahu apakah kau bisa menunjukkan jalan ke neraka?!" Habis berkata begitu Wiro Sableng lalu umbar tawa bergelak. Karena suara tawanya disertai kekuatan tenaga dalam yang tinggi maka semua orang yang ada di sana merasakan telinga masing-masing mengiang memekakkan sedang jantung seperti berguncang! Wiro melangkah mendekati Nawang Suri.

"Sahabat, kau tak apa-apa...?" Pendekar ini menegur. Dalam hatinya sang dara memaki panjang

pendek.

"Aku sudah hampir mampus dikatakan tidak apa-apa! Pemuda edan! Benar-benar sableng!" Walaupun dalam hati memaki, namun entah mengapa gadis yang tadi sudah nekad dan siap menerima kematian, kini muncul harapan untuk hidup kembali. Dan dia diam saja ketika pemuda itu memegang tubuhnya lalu mengangkat dan meletakkannya di bahu, seperti sebelumnya ketika dia memberi pertolongan. Wiro memandang berkeliling. Saat itu terdengar Ki Rawe Jembor berkata.

"Jangan harap kali ini kami memberi ampunan dan membiarkan kalian berdua pergi hidup-hidup!"

"Begitu...?" tukas Wiro.

"Kita akan lihat. Siapa berani bergerak dia akan mati duluan!" Lalu murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini gerakkan tangan kanannya ke pinggang di mana tersisip Kapak Maut Naga Geni 212. Imo Gantra tegak tak bergerak. Dia sudah melihat keganasan Kapak Naga Geni 212 itu. Ki Rawe Jembor diam meragu. Tapi Raden Cokro Ningrat yang memegang Keris Mustiko Geni di tangan kanan, merasa tidak ada yang perlu ditakutkan. Maka dia pun menyerbu dengan satu tusukan ke arah kepala Wiro Sableng.

"Manusia tolol!" teriak Wiro. Tubuhnya dirun-dukkan. Keris Mustiko Geni menukik mengikuti gerakannya, membeset dan menyusup di antara rambutnya yang gondrong. Nawang Suri terpekik dan semburkan darah dari mulutnya. Gadis ini sungguh luar biasa. Orang lain menderita luka seperti itu mungkin sudah pingsan. Gerakan tangan Wiro untuk mencabut Kapak Naga Geni 212 terhalang oleh serangan tangan kosong Imo Gantra dan Ki Rawe Jembor yang datang dari kiri kanan. Dan terjadilah satu pemandangan yang luar biasa. Dengan masih memanggul tubuh Nawang Suri di bahu kanannya, mustahil bagi murid Sinto Gendeng itu untuk selamatkan diri dari dua serangan tangan kosong dan satu tikaman keris yang disusulkan oleh Raden Cokro Ningrat. Tanpa perdulikan keadaan sang dara, Wiro lemparkan tubuh Nawang Suri ke udara. Tangan kanannya menyikut ke arah jotosan Imo Gantra yang datang dari sebelah kanan sedang tangan kiri menghantam ke depan, memukul ke arah lambung Ki Rawe Jembor. Untuk Cokro Ningrat, dengan miringkan tubuh ke samping kiri Wiro lesatkan kaki kanannya, mtmendang ke bawah perut lawan. Selagi Cokro Ningrat melompat mundur selamatkan selangkangannya dan Imo Gantra terpekik karena tiga jari tangannya yang dipakai menjotos menjadi bengkak waktu beradu keras dengan sikut Wiro sementarei Ki Rawe Jembor terhenyak ke belakang dimakan tinju kiri, maka Pendekar 212 Wiro Sableng berkelebat untuk menangkap sosok tubuh Nawang Suri, langsung memanggulnya kembali di bahu kanan! Para prajurit kerajaan yang menyaksikan kejadian itu mau tak mau sama leletkan lidah dan berdecak kagum. Sesaat mereka terlupa bahwa pendekar yang mereka kagumi itu adalah musuh besar mereka! Selagi Imo Gantra si kakek muka cekung masih merintih kesakitan, Ki Rawe Jembor telah berhasil memulihkan rasa sakit pada bagian tubuh yang kena dijotos Wiro. Kakek ini tampak selusupkan tangan kanannya ke pinggang. Di lain kejap dia telah menggenggam sebilah tombak pendek bermata tiga terbuat dari perak berkilat. Dari samping kanan Cokro Ningrat tampak bersiap-siap dengan Keris Mustiko Geni. Puluhan prajurit dan beberapa orang perwira telah mengambil posisi mengurung. Imo Gantra kemudian tampak pula meloloskan senjatanya dari balik pakaian biru, yakni sebilah rantai besi pendek yang ujungnya diganduli lima keping mata pisau. Kehebatan senjata ini terletak pada kepingan pisau yang bisa menyerang serentak sekaligus pada satu sasaran atau menebar menghantam lima sasaran! Melihat kenyataan ini Wiro Sableng jadi menggerendeng. Ternyata orang-orang itu tidak mungkin diajak berdamai. Maka sekali dia menggerakkan tangan Kapak Naga Geni 212 sudah berada dalam genggamannya. Sinar perak bertabur menyilaukan dalam gelapnya malam.

"Kalian semua memang minta mampus! Majulah serentak agar lekas kupesiangi!" teriak Wiro. Tombak bermata tiga menderu. Sinar putih menyambar. Rantai besi berpisau lima mata bersiuran di udara. Lalu sinar merah menabur hawa panas berkiblat ketika Keris Mustiko Geni ikut masuk ke dalam kalangan pertempuran. Wiro maklum, apapun kehebatan senjata di tangan dua kakek berkepandaian tinggi itu, namun Keris Mustiko Geni tetap merupakan senjata paling berbahaya yang harus diperhatikannya. Pendekar 212 sapukan Kapak Naga Geni di depan dada. Suara seperti ribuan tawon mengamuk terdengar menderu disertai kilauan sinar putih. Tiga seruan tertahan terdengar hampir berbarengan sementara puluhan prajurit dan beberapa perwira yang ada di dekat kalangan pertempuran menyingkir dengan perasaan ngeri. Ki Rawe Jembor, Cokro Ningrat dan Imo Gantra sama melompat mundur. Rantai besi berpisau lima bergoyang-goyang. Tombak bermata tiga bergetar keras ketika terkena hantaman angin kapak sakti. Hanya Keris Mustiko Geni yang tampak masih membersitkan sinar merah angker. Satu pertanda ijahwa senjata ini memiliki keampuhan luar biasa dan dapat diandalkan menghadapi Kapak Nage Geni 212. Melihat tiga lawannya jelas bergeming menghadapi senjatanya, Wiro Sableng melangkah mundur menjauh. Dia memutuskan untuk mundur segera meninggalkan tempat itu karena hati kecilnya tetap tak mau menumpahkan darah atas orang-orang kerjaan. Tetapi celakanya ata perinta Cokro Ningrat, puluhan prajurit dan beberapa perwira bergerak merapatkan kurungan sementara itu Kepala Pasukan Kerajaan ini telah memberi isyarat pada dua hulubalang istana. Bersama Imo Gatra dan Ki Rawe Jembor, dia kembali menyerbu Wiro Sableng. Kali ini ketiganya menyusun taktik yakni walaupun tampak bergerak berbarengan namun serangan tidak dilancarkan secara bersamaan. Yang menghantam pertama adalah Ki Rawe Jembor dengan tombak berkepala tiganya. Ketika Wiro menangkis dengan kapaknya, orang tua ini cepat melompat mundur, begitu hantaman kapak lewat Imo Gantra meloncat ke depan sambil hantamkan rantai besi bergandul lima pisau berkilat. Sekali lagi Pendekar 212 babatkan kapaknya untuk menghantam serangan kedua ini. Seperti tadi Ki Rawe Jembor, Imo Gantra pun cepat melompat mundur. Di saat itulah Cokro Ningrat masuk ke dalam kalangan dengan menyusupkan satu tusukan ganas ke arah dada Wiro Sableng. Sebenarnya serangan Cokro Ningrat mempunyai dua sasaran. Pertama memang dada wiro, namun jika terpaksa meleset maka ujung keris akan terus ditikamkannya ke kepala Nawang Suri yang terkulai di atas bahu pendekar dari Gunung Gede itu!



5"Wong edan!" maki Pendekar 212. Terpaksa dia lepaskan pegangannya pada tubuh Nawang Suri dan pergunakan tangan kiri untuk melepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Tinju kiri dihantamkan lurus-lurus ke depan ke arah Cokro Ningrat. Begitu lengan membentuk garis lurus lima jari terkembang membuka. Serangkum angin dahsyat menggebu. Kepala Pasukan Kerajaan itu merasakan seperti ada batu besar yang menggelinding menghantam ke arah tubuhnya. Kalau tadi dia hendak nekad menruskan tusukan ke arah kepala Nawang Suri, kini dalam keadaan tubuh hampir terseret dia terpaksa menarik pulang tusukannya, melompat ke samping menghindari angin pukulan. Selagi Cokro Ningrat mengusap dadanya yang terasa sakit dan sesak, di belakang sana terdengar pekik jerit menggemparkan. Enam prajurit dan seorang perwira yang terkena hantaman pukulan kunyuk melempar buah mencelat bermentalan. Ketika tubuh masing-masing tergelimpang di dekat tembok depan halaman istana, empat orang diantaranya sudah tidak bernafas lagi. Dua lainnya merintih berkelojotan, siap menyusul empat kawannya, sementara si perwira terduduk sambil memuntahkan darah kental Kejadian yang menggemparkan ini membuat Imo Gantra dan Ki Rawe Jembor naik darah. Keduanya berseru keras. Kekuatan serangan tombak dan lima pisau berantai mereka lipat gandakan dengan pengerahan tenaga dalam penuh hingga lima pisau tampak berpijar terang dalam gelapnya malam sedang tombak tiga mata mengeluarkan deru angin dingin menggetarkan. Ketika Wiro dengan kertakkan rahang memutar Kapak Naga Geni untuk menangkis dua serangan yang datang, celakanya Nawang Suri yang dari atas bahu Wiro melihat si pemuda berada dalam keadaan terdesak tiba- tiba hantamkan tangan kirinya ke arah Ki Rawe Jembor, padahal saat itu dari samping lima pisau di ujung rantai Imo Gantra membabat sebat tepat membelintang di arah pertengahan lengan Nawang Suri yang memukul! Pendekar 212 sadar meskipun dia dapat menangkis tusukan tombak Ki Rawe Jembor namun ke dudukannya tidak memungkinkan menolong Nawang Suri dari senjata Imo Gatra. Karena tak ingin gadis itu mendapat celaka mau tak mau Wiro Sableng mengambil keputusan menghamtam lima pisau terlebih dahulu, baru selamatkan diri sendiri dari tombak tiga mata. Namun baru saja dia menggerakkan kapak ke arah senjata di tangan Imo Gantra, Cokro Ningrat kembali masuk ke dalam kalangan pertempuran dengan tikaman Keris Mustiko Geni ke arah dadanya. Pendekar 212 Wiro Sableng benar-benar menghadapi kesulitan yang membahayakan jiwanya! Ki Rawe Jembor keluarkan suara tertawa ber-gelak.

"Pendekar sableng! Akhirnya kau harus tinggalkan nyawamu di sini!" kata hulubalang istana itu karena sudah yakin betul pemuda itu akan menemui kematian dihantam tusukan tombaknya atau tikaman Keris Mustiko Geni. Wiro yang masih tetap ingin menyelamatkan gadis di atas panggulannya, meski sadar nyawa terancam tapi tetap saja menyahuti dengan nada menantang.

"Mana mau aku mati sendirian! Salah satu dari kalian harus ikut bersama!" Lalu Kapak Naga Geni 212 dibabatkan ke atas. Tapi tombak di tangan Ki Rawe Jembor sudah menusuk dekat sekali ke wajah pendekar ini. Di saat yang menegangkan di mana Wiro sudah siap mempertaruhkan jiwanya tiba-tiba murid Sinto Gendeng merasakan ada yang berkelebat di belakangnya. Serentak dengan itu tubuh Nawang Suri yang ada di bahunya tertarik ke atas tanpa dia mampu menahannya. Mengira ada musuh ke empat yang muncul dan bermaksud menangkap Nawang Suri hidup-hidup, Wiro berusaha menendang seperti seekor kuda menlenjangkan kaki belakangnya.

Justru saat itu terdengar suara seseorang seperti ngiangan nyamuk di telinganya.

"Anak muda! Biar gadis ini kuselamatkan lebih dulu. Kutunggu kau di Goa Selarong!" Begitu suara mengiang lenyap, mendadak bertabur angin deras. Keris Mustiko Geni melesat di samping perut Wiro. Lima pisau Imo Gantra yang seharusnya membabat lengan Nawang Suri kini menderu hanya seujung ibu jari di depan hidung Pendekar 212 dan senjata ini hancur berantakan dihantam Kapak Naga Geni 212. Akan tetapi tusukan tombak tiga mata yang sudah demikian dekatnya, meskipun agak tergontai-gontai oleh tiupan angin deras tadi, tetap saja salah satu matanya sempat mengiris pipi kanan pemuda itu. Dengan pipi mencucurkan darah Wiro melompat menjauhi tiga pengeroyoknya. Dia menoleh cepat ke belakang, tapi tak melihat lagi sosok tubuh Nawang Suri ataupun orang yang tadi muncul menarik gadis itu dari bahunya. Di samping kanan terdengar teriakan Cokro Ningrat.

"Kejar bangsat penculik berpakaian hitam itu!" Hampir dua lusin prajurit dipimpin oleh tiga orang kepala regu dan dua orang perwira bergerak cepat, berlari ke arah lenyapnya Nawang Suri. Sesaat kemudian di kejauhan, dalam kegelapan malam terdengar pekik jerit kematian. Dari sekian banyak yang melakukan pengejaran, dua orang kembali ke halaman istana. Yang pertama seorang kepala regu, datang terseok-seok karena salah satu tulang kakinya tampak remuk hancur. Yang satu lagi perwira berwajah penuh darah karena sebuah matanya tampak pecah!

"Kurang ajar! Aku harus mengejar bangsat itu!" kertak Imo Gantra marah dan bertindak hendak mengejar meskipun tangannya masih terasa sakit dan panas akibat bentrokan senjata dengan Kapak Naga Geni 212 tadi. Ki Rawe Jembor cepat memegang bahu kawannya ini dan berbisik.

"Jangan dimas. Kalau lebih dibutuhkan di sini. Aku tidak bermaksud merendahkanmu tapi manusia berpakaian hitam itu memiliki kepandaian seperti dewa!"

"Aku tidak takut! Mana ada manusia seperti dewa di dunia ini!" tukas Imo Gantra.

"Kataku jangan dimas!" Ki Rawe Jembor Akhirnya membentak.

"Kau tahu siapa orang berpakaian hitam itu?!" Mesti jengkel penasaran tapi Imo Gatra menjawab dengan menggelengkan kepala.

"Dia adalah Resi Mandra Gotama, sesepuh kerajaan terdahulu. Mendengar keterangan itu Imo Gantra berubah parasnya dan menatap tajam pada Ki. Rawe Jembor.

"Kangmas Jembor. Ternyata manusia itu masih hidup. Ini sangat berbahaya bagi kita semua. Sebaiknya segera menyusun rencana menumpasnya habis-habisan..."

"Soal itu lain kali saja kita bicarakan. Saat ini yang penting adalah menamatkan riwayat pemuda sableng satu ini!" Wiro yang diam-diam mendengarkan pembiaraan kedua orang itu tampak garuk- garuk kepala. Setelah mengusap darah yang keluar dari luka di pipi kanan dia mengangkat tangan kiri seraya berkata.

"Orang yang kalian ingin tangkap atau bunuh sudah tak ada. Kurasa akupun tak ada urusan lagi di tempat celaka ini. Beri jalan, aku mau pergi..." Cokro Ningrat dan dua kakek hulubalang istana saling berpandangan sejenak lalu tertawa gelak-gelak.

"Enak saja bicaramu! Cepat atau lambat kami akan menangkap gadis pemberontak itu. Tapi yang jelas saat ini kau kami bunuh lebih dulu!" berkata Raden Mas Cokro Ningrat.

"Memang, kunyuk satu ini harus dibereskan dulu!" ujar Imo Gantra. Dia penasaran sekali karena senjata rantai berpisau lima miliknya musnah di hantam kappa Naga Geni 212. Meskipun diancam begitu Wiro Sableng hanya menyeringai. Dia lepaskan pukulan angin puyuh dengan tangan kiri. Pukulan ini sengaja dihantamkan ke tanah di depannya. Tanah halaman istana berlobang besar. Bongkahan tanah dan pasir beterbangan ke udara menutup pemandangan.

"Keparat! Jangan biarkan dia lolos!" teriak Imo Gantra. Tapi orang-orang di situ tak dapat melihat Wiro. Selagi pemandangan tertutup begitu rupa Wiro cepat berkelebat, namun di pintu gerbang halaman puluhan prajurit coba menghadangnya. Ketika Wiro berlagak hendak menghantam dengan Kapak Naga Geni 212, semuanya langsung buyar ketakutan. Tapi dari sebelah belakang Imo Gantra tampak mengejar. Sambil lari dia kelihatan mengerukkan tangan kanan ke dalam sebuah kantong yang tersembunyi di balik bahu pakaiannya. Ketika dia memukulkan tangannya ke depan maka berhamburanlah lebih dari selusin senjata rahasia berbentuk paku hitam. Benda-benda ini melesat di udara hampir tanpa suara dan mengandung racun sangat jahat. Meskipun senjata rahasia itu tidak mengeluarkan suara namun pendengaran Pendekar 212 Wiro Sableng tak dapat ditipu. Dia putar Kapak Naga Geni di belakang kepala. Terdengar suara berdentringan. Seluruh paku maut itu hancur dan luruh ke tanah, beberapa di antaranya sempat menerpa anggota pasukan yang ada di dekat situ. Meskipun mereka tidak terluka parah, tapi racun senjata rahasia yang jahat membuat merasakan nyeri di seluruh peredaran darah lalu akhirnya menemui ajal setelah terlebih dahulu menjerit-jerit Karen tak kuat menahan rasa sakit. Sewaktu tadi menghantam luruh serangan paku hitam yang dilepaskan Imo Gantra dengan Kapak Maut Naga Geni 212, Wiro sekaligus menekan sebuah tombol rahasia pada bagian hulu kapak yang berbentuk kepala naga. Serta- merta dari lubang-lubang pada gagang kapak yang berjumlah enam buah mencuat keluar enam buah jarum halus yang meskipun malam masih pekat kelam tapi jarum-jarum itu memancarkan sinar berkilauan. Keenamnya menyambar ke arah Imo Gantra.

"Dimas awas senjata rahasia!" teriak Ki Rawe Jembor memberi ingat. Dia lepaskan pukulan tangan kosong. Imo Gantra sendiri cepat membuang diri ke samping namun kasip. Hanya tiga jarum yang berhasil dibuat mental oleh pukulan Ki Rawe Jembor, tiga lainnya sudah keburu menyusup di bahu kiri, pinggang kiri dan perut Imo Gantra. Kakek bermuka cekung ini merintih membeliak. Tubuhnya sebelah kiri langsung lumpuh sedang perutnya seperti ada besi menyala di sebelah dalam. Sebelum Imo Gantra tersungkur jatuh, Ki Rawe Jembor cepat mendekap tubuh kawannya itu lalu berteriak agar beberapa orang menolong menggotong Imo Gatra ke dalam istana. Ketika dia memandang berkeliling Ki Rowo Jembor tidak melihat lagi Raden Cokro Ningrat di tempat itu. Jelas Kepala Pasukan Kerajaan itu mengejar Wiro Sableng. Lalu kemana dia lenyap bengitu saja ?



6WIRO SABLENG tidak tahu di mana letaknya Goa Selarong. Tapi dia ingat bahwa anta ra Muntilan dan kaki barat laut Gunung Merapi ada sebuah lembah batu kapur bernama Selarong. Kemungkinan besar itulah tempat yang disebutkan oleh orang yang telah melarikan dan menyelamatkan Nawang Suri. Resi Mandra Botama. Ini satu nama yang tak pernah didengar Wiro sebelumnya. Sayang tadi dia tak sempat melihat wajah ataupun sosok tubuh orang itu. Gerakannya begitu cepat. Sudah lenyap sebelum dia sempat membalik. Hanya ada satu hal yang sangat pasti tentang orang itu. Yakni dia memiliki kepandaian tinggi sekali. Orang-orang atau para tokoh silat istana kelihatannya agak gentar terhadapnya. Benarkah dia sesepuh kerajaan lama seperti yang disebut-sebut Ki Rawe Jembor ketika berbisik-bisik dengan Imo Gantra dan sempat terdengar oleh Wiro? Berarti sang resi mempunyai hubungan sangat dekat dengan Nawang Suri. Tidak mengherankan kalau dia muncul menyelamatkan gadis itu. Tetapi apakah maksud sang resi menunggunya di Goa Selarong? Wiro berlari tidak terlalu cepat. Sambil lari dia berusaha mengobati luka pada pipinya dengan obat bubuk yang selalu di bawanya.

Agaknya tombak Ki Rawe Jembor meskipun tampak angker ternyata tidak mengandung racun jahat. Kalau tidak pada saat itu dia pasti telah keracunan. Tapi untuk lebih meyakinkan pendekar itu menelan sebutir obat lalu mempercepat larinya menuju kearah timur. Menjelang tengah hari keesokannya Wiro sampai di lembah batu kapur Selarong. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah batu- batu kapur berwarna putih. Di beberapa bagian batu-batu itu telah berubah coklat kehitaman di makan waktu. Tak ada bangunan, tak ada pepohonan. Apalagi menemukan sebuah goa. Wiro menarik nafas kesal. Kepalanya digaruk berulang kali.

"Gila! Di mana aku bisa menemukan goa di daerah begini rupa. Jangan-jangan orang itu hanya berdusta. Tapi dia bicara dengan ilmu luar biasa hingga orang lain tak dapat mendengar. Berarti pesannya memang ditujukan padaku. Jelas dia tak bermaksud mempermainkan..." Wiro memandang lagi berkeliling. Tenggorokannya terasa kering. Bajunya basah oleh keringat dan perutnya terasa keroncongan.

"Gila!" kata pendekar ini lagi. Lalu mendongak ke langit. Sinar matahari menyilaukan mata. Batu kapur yang dipijaknya terasa panas membakar telapak kaki. Akhirnya pemuda ini mendapat akal. Dari pada susah-susah mencari mengapa tidak berteriak saja? Maka Wiro pun kerahkan tenaga dalamnya dan berteriak keras-keras.

"Resi Mandra Botama! Aku Wiro, orang yang kau suruh datang! Harap beri petunjuk di mana kau berada!" Suara teriakan Wiro membahana di lembah batu kapur itu. Bergema panjang berulang-ulang membuat sang pendekar merasa ngeri sendiri mendengarnya. Tak ada jawaban. Siliran angin pun tidak terdengar. Wiro berteriak sekali lagi. Sekali lagi,terus berulang-ulang. Tetap saja tak ada jawaban, tak ada sesuatu pun yang bergerak.

"Sialan!" maki pemuda ini. Dia memutuskan menunggu selama sepeminuman teh di tempat itu. Jika tetap tak ada seseorang yang muncul dia akan berteriak lagi. Dan jika masih tak ada tanda-tanda orang yang dicarinya berada di situ maka lebih baik dia pergi saja. Suatu ketika seekor burung tampak terbang di udara. Berputar-putar beberapa kali di atas lembah batu kapur. Tiba-tiba binatang itu menukik laksana sebuah anak panah, menghujam ke pertengahan lembah dan lenyap tak kelihatan lagi.

"Aneh..." membatin Wiro.

"Bagaimana burung itu bisa lenyap seperti ditelan bumi? Mungkin..." Wiro Melompat dari duduknya. Lalu pendekar ini lari ke pertengahan lembah, ke arah mana tadi dilihatnya burung menukik turun dari udara dan lenyap. Sesaat ketika dia sampai di tempat di mana sebelumnya dengan pasti tampak burung menukik lenyap, Wiro. jadi garuk-garuk kepala dan memaki. Di situ memang terdapat sebuah lobang. Tapi hanya lobang kecil cukup untuk satu ekor dua ekor burung. Dan burung tadi memang ada dalam lobang itu. Binatang ini segera terbang ke udara ketika Wiro datang lebih dekat. Jengkel dan kesal Wiro memandang berkeliling. Lobang kecil di tanah batu kapur itu ditendangnya. Tiba-tiba tiga buah lobang seukuran tubuh manusia menganga aneh di kiri kanan Wiro. Tiga sosok tubuh melesat keluar. Ternyata ketiganya adalah anak-anak kecil, satu perempuan dua lelaki. Ketiganya berusia sekitar tujuh sampai delapan tahun. Masing-masing berpakaian seperti prajurit-prajurit kerajaan, membawa tombak dan perisai. Tombak dan perisai itu adalah yang biasa dipergunakan oleh prajurit-prajurit kerajaan dalam ukuran sebenarnya hingga tampak terlalu besar bagi ketiga anak itu. Tapi anehnya ketiganya tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan membawa tombak panjang dan perisai besar itu.

"Kalian bertiga keluar dari dalam tanah! Kalian ini bangsa tikus, cacing tanah atau manusia benar ?!" bertanya Wiro keheranan. Anak perempuan di samping kanan tampak membesarkan bola matanya.

"Tua bangka tidak tahu peradatan!" Anak perem–puan itu membentak.

"Sebagai tamu kau tak layak bertanya tapi justru harus memperkenalkan diri!"

"Aha... Ini baru hebat!" seru Wiro lalu dia berlutut hingga kepalanya sama tinggi dengan si anak perempuan. Setengah melucu Wiro berkata:

"Nah, sekarang kita sama-sama tinggi kawan! Bagaimana pendapatmu?" Anak perempuan itu tidak menjawab apalagi tertawa. Matanya memandang tak berkesip pada Wiro. Mulutnya terbuka sedikit. Terdengar suaranya mendesis.

"Tamu sinting. Apakah sudah siap untuk menerima kematian?"

"Heh...?" Wiro berpaling dan jadi terkejut ketika dapatkan anak lelaki yang satu sudah tegak di samping kanannya dengan ujung tombak hampir melekat di batang lehernya!

"Gila! Bagaimana aku tidak sempat melihat gerakannya dan tahu-tahu kini sudah membokong?"

"Tamu sinting! Coba lihat sebelah kiri!" Si anak perempuan berkata. Wiro berpaling. Astaga! Anak lelaki kedua ternyata juga sudah menodongkan ujung tombak besarnya ke batang leher bagian kiri!

"Hai! Apa-apaan ini?!" tanya Wiro Sableng. Dia menggerakkan tangan untuk menggaruk

kepala. Namun dari kiri kanan, dua perisai atau tameng besar dihimpitkan ke tubuhnya hingga dia tidak bisa bergerak. Benar-benar mengherankan. Bagaimana dua anak kecil begitu rupa memiliki kekuatan demikian hingga dia terjepit di tengah-tengah. Semula hendak dicobanya meloloskan diri dengan kekerasan adu kekuatan. Namun Wiro tak tega kalau dua anak lelaki itu sampai cidera. Maka dia pun hanya diam dan berteriak bertanya. Anak perempuan di depannya menunjuk tepat-tepat dengan jari kelingking kiri. Demikian dekatnya hingga hidung Wiro Sableng hampir tersentuh.

"Lekas katakan siapa namamu. Datang dari mana dan apa kepentinganmu datang ke lembah ini!"

"Gadis cilik, lagakmu hebat sekali. Tapi baik aku akan menjawab pertanyaanmu!" sahut Wiro sambil menyengir.

"Namaku Wiro Sableng! Aku barusan datang dari Kuto Gede. Aku datang kemari untuk mencari Goa Selarong. Aku haus dan juga lapar! Nah, apa laporanku bisa diterima?!"

"Soal kau haus atau lapar bukan urusan krmi! Lekas katakan mengapa kau mencari Goa Selarong?" Anak perempuan itu bertanya. Suaranya keras dan tegas. Tampaknya dia memang tidak main-main.

"Seseorang menyuruhku datang ke goa itu," menjelaskan Wiro.

"Seseorang siapa? Setan? Hantu... Tuyul? Rampok atau pengemis?" bertanya lagi si anak perempuan yang membuat Pendekar 212 mengulum senyum menahan tawa.

"Orang itu bernama Resi Mandra Botama..."

"Ada apa kau mencari resi itu? Urusan baik atau urusan jahat?"

"Mana aku tahu. Sang resi sendiri yang meminta aku datang." Berdasarkan pertanyaan terakhir yang diajukan gadis kecil itu Wiro segera maklum bahwa daerah sekitar situ, walaupun dia masih belum melihat adanya goa, pastilah daerah kediaman orang yang telah menyelamatkan dan melarikan Nawang Suri. Hatinya puas dan kini dia akan mempermainkan dan mengganggu ketiga anak kecil itu. Tertama si gadis yang di depannya. Maka diapun berkata

"Mengenai urusanku dengan sang resi kau anak-anak ingusan tak perlu tahu. Tapi aku ada membawa tiga permainan dan tiga kotak gula-gula. Pasti mainan dan gula-gula itu bukan untuk kalian!" Tiga anak itu saling pandang sesaat. Wiro menyeringai.

"Kami harus menggeledah tubuhmu!" Si gadis tiba-tiba memutuskan.

"Boleh saja!" sahut Wiro.

"Tapi buat apa susah-susah. Biar kutanggalkan seluruh pakaianku. Kalau aku sudah telanjang baru kalian puas!"

"Dan aku juga membawa tiga ekor tikus besar. Kotor dan bau! Ketiganya pantas untuk kalian. Seorang satu!"

"Ih...!" Kini ketiga bocah itu sama-sama menunjukkan sikap jijik.

"Katakan, apakah kalian tahu di mana Goa Selarong? Di mana aku bisa menemukan Resi Mandra Botama?"

"Kau membawa barang busuk dan kotor. Maksud kedatanganmu terselubung tanda membawa itikad yang tidak baik. Lekas pergi dari sini!"

"Begitu? Baiklah. Tapi sebelum pergi aku akan lepaskan tiga ekor tikus besar busuk dan kotor itu. Biar kalian digigitnya satu persatu!"

"Ternyata maksudmu memang jahat! Biar kau kami bunuh saat ini juga!" Habis berkata begitu si gadis memberi isyarat pada dua kawannya. Dua anak lelaki yang ada di kiri kanan Wiro segera tusukkan tombak masing-masing ke leher pendekar itu. Saat itulah Wiro kerahkan tenaga. Tangan kiri kanan mendorong keras ke samping, menekan tameng yang menjepitnya. Kedua anak lelaki itu mencelat mental. Tapi mereka tidak jatuh atau terguling di tanah. Begitu terpental, keduanya tampak jungkir balik, mendarat di tanah dengan kedua kaki lebih dulu lalu langsung menyerbu. Si anak gadis cilik tak tinggal diam. Dia pun telah menerkam dengan satu tusukan tombak ke perut Wiro Sableng

"Hebat!" seru Wiro memuji polos karena kagum melihat gerakan ketiga anak itu. Ternyata gerakan mereka bukan gerakan asal saja. Tapi jelas gerakan jurus-jurus ilmu silat. Meskipun gerakan tersebut belum disertai kekuatan tenaga dalam, namun jika berlku lengah sedikit saja dapat menimbulkan bahaya. Wiro sendiri yang semula hendak melayani secara asal-asalan kini harus bertindak hati- hati. Pertama dia tidak ingin mendapat cidera , apalagi tertusuk tombak. Kedua, jika menghadapi secara sungguhan dan membalasnya dengan kekerasan, mana tega dia melukai tiga bocah yang bersikap tegas tapi tetap bersikap dengan segala kelucuannya sebagai anak-anak. Setelah mengelak kian kemari akhirnya Wiro dapat akal. Cara terbaik menghadapi ketiga lawan cilik ini ialah menotok mereka terlebih dahulu. Maka Wiro pun mempercepat gerakannya. Namun seolah-olah tahu apa yang ada dalam benak pendekar tersebut, ketiga bocah itu pergunakan tameng di tangan kiri masing-masing untuk melindungi diri. Karena jengkel akhirnya Wiro memutuskan untuk menghancurkan tameng kayu berlapis besi tipis itu. Hanya saja sebelum hal itu sempat dilakukannya tiba-tiba terdengar suara keluar dari tiga lobang di tanah batu kapur.

"Prajurit-prajuritku! Cukup sudah sambutan yang kalian berikan. Antarkan tamu itu kedepanku!" Serta-merta tiga anak kecil itu melompat keluar dari kalangan pertempuran. Ketiganya tegak membentuk barisan dan menjura kepada Wiro Sableng.

"Ah! Pertunjukan atau sandiwara apa lagi yang hendak kalian lakukan!" ujar Wiro sambil usap-usap luka di pipinya. Si gadis kecil menjawab mewakili kawan-kawannya.

"Junjungan kami ternyata bersedia menemui paman raden. Silahkan mengikuti kami....." Wiro Sableng karuan saja jadi tertawa terbahak ketika dirinya dipanggil dengan sebutan paman raden. Sementara itu dua bocah lelaki telah menyelinap masuk dan lenyap ke dalam dua lobang di kiri kanan. Si gadis kecil menunjuk ke lobang yang di tengah seraya berkata dengan sikap hormat:

"Silahkan paman raden. Kita masuk lewat lobang itu..."

"Lewat lobang sekecil itu? Dan masuk ke mana?" tanya Wiro heran.

"Lobangnya tidak kecil!" jawab si gadis.

"Lihat!" Lalu dengan ujung tombaknya pinggiran lobang ditusuk-tusuk berulang kali hingga lobang itu menjadi besar dan dapat dimasuki ukuran dua orang dewasa sekaligus. Ketika melihat Wiro masih tegak terheran-heran si gadis berkata:

"Bukankah paman raden hendak bertemu junjungan kami. Resi Mandra Bo- tama? Nah, mau menunggu apa lagi?"

"Hemmm... Jadi kau dan dua kawanmu tadi itu adalah prajurit-prajurit sang resi." Wiro manggut-manggut.

"Baiklah. Aku percaya padamu." Lalu tanpa ragu-ragu pemuda ini melompat turun ke dalam lobang. Begitu kakinya menginjak tanah lobang, tubuhnya langsung merosot meluncur. Ternyata bagian dalam lobang itu seperti sebuah tabung peluncur yang bagian bawah dinding- dindingnya keras dan licin. Karen gelap Wiro tidak dapat melihat apa-apa. Dia mendengar, gadis kecil telah ikut meluncur di belakangnya. Terowongan di bawah tanah itu cukup panjang. Beberapa saat kemudian Wiro melihat sinar terang di bawah sana. Tak lama setelah itu tubuhnya meluncur melewati sebuah pintu aneh lalu merosot terjun memasuki sebuah ruangan besar berwarna putih yang diterangi banyak lampu minyak. Begitu dia masuk ke dalam ruangan itu, disusul oleh gadis cilik tadi, pintu di belakangnya terhempas keras dan menutup.



7DUA ANAK lelak menyerang Wiro ternyata sudah berada dalam ruangan itu, duduk bersila dihadapan seorang kakek bermuka kelimis lonjong dengan janggut pendek di dagunya. Orang tua ini mengenakan pakaian hitam, berikat kepala dan berikat pinggang kain putih. Meski sudah lanjut tapi rambutnya yang panjang masih berwarna hitam. Kakek ini duduk bersila diatas sehelai tikar kulit harimau yang kepalanya telah dikeringkan dan menghadap ke arah Wiro dengan mulut menganga. Di belakangnya tampak sebuah pembaringan dimana tampak terbujur sesosok tubuh yang bukan lain adalah tubuh Nawang Suri. Gadis cilik dibelakang Wiro cepat melangkah ke hadapan si orang tua dan duduk bersila disamping dua kawannya.

"Junjungan, tamu sudah kami antar kehadapanmu. Apakah kami tetap berada di ruangan ini atau menunggu di taman..."

"Taman...?" Wiro memandang heran berkeliling. Dimana pula ada taman di ruangan dibawa h tanah itu? Dan dia tidak melihat pentu lain selain tiga pintu yang berhubungan dengan tiga terowongan jalan masuk tadi. Sang junjungan menganggukkan kepala pada gadis cilik itu tetapi sepasang matanya tetap mengarah pada Pendekar 212 Wiro Sableng. Pandangan mata itu begitu tajam dan sangat berwibawa, membuat pendekar kita merasa risih.

"Kalian tetap berada disini sampai urusan kita dengan tamu ini selesai. Harap kalian pindah duduk ke sebelah kanan. Beri tempat pada tamu kita untuk duduk dihadapanku. Tiga anak itu beringsut ke bagian kanan ruangan. Lalu kakek berpakaian hitam memberi isyarat pada Wiro agar dia pindah duduk lebih dekat kehadapannya. Meski merasa tidak enak, Wiro menurut saja dan berkata:

"Nah orang tua. Siapapun kau adanya, saya sudah datang memenuhi permintaanmu. Harap terang kan segala maksud." Orang tua itu tersenyum. Tapi hanya sedikit dan sekejap saja. Sesaat kemudian wajahnya kembali serius.

"Kurasa aku tak perlu memperkenalkan diri lagi. Kau sudah tahu pasti siapa diriku dari pembicaraan kasak kusuk orang-orang kerajaan itu. Juga penjelasan dan perajurit-perajuritku di luar lobang..."

"Saya tahu kau adalah Resi Mandra Botama. Tak lebih dari itu." Menjawab Wiro. Si orang tua mengangguk. Lalu tanpa diminta dia menjelaskan

"Dulu aku adalah pendamping dan penasihat raja. Dan raja saat itu adalah ayah Nawang Suri, gadis yang telah beberapa kali kau selamatkan. Untuk semua perbuatanmu itu aku mengucapkan banyak terima kasih. Kelak hari ini juga akan kubalas semua jerih payahmu...."

"Ah, apapun yang saya lakukan tidak ada niat untuk minta balas jasa..." jawab Wiro. Dia memanjangkan leher memandang ke arah pembaringan.

"Gadis itu...bagaimana keadaannya?"

"Tangannya yang patah sudah dibalut Luka dalam bekas pukulan sudah diobati. Paling tidak membutuhkan waktu setengah bulan untuk menyembuhkan luka dalam itu dan tiga bulan untuk menyambung kembali tulang lengan yang patah...Kini dia tertidur nyenyak".

"Kasihan dia. Saya sudah berkali-kali menasihatkan agar jangan berlaku nekad..."

"Gadis itu tidak nekad!" memotong Resi Mandra Botama.

"Apa yang diperlihatkannya adalah satu keberanian sejati, jiwa satria membela hak dan demi kewajiban!." Wiro terdiam. Dia tak mau berdebat soal urusan orang-orang ini. Jalan pikiran mereka jelas berbeda. Setelah berpikir sejenak dia baru berkata memberi pendapat.

"Saya tidak ingin mencampuri urusan kalian, apalagi yang menyangkut kerajaan. Hanya saja kalau saya boleh memberikan pendapat, dan harap maaf kalau pendapat saya keliru, apapun yang hendak kalian lakukan harus di piker masak-masak. Keadaan di luar sana sudah sangat jauh berbeda. Kalian berjuang, tapi perjuangan kalian akan sia-sia karena kalian tidak ada beda dengan sebuah perahu kecil menyongsong badai gelombang yang dahsyat. Mengapa persoalan hidup tidak di lupakan saja dan memilih jalan hidup yang tenang tentram ?" Orang tua itu tersenyum lagi. Tapi segera pula wajahnya menunjukkan keseriusan kembali.

"Pendapatmu mungkin benar. Tapi jangan lupa badai gelombang yang bagaimanapun besarnya suatu saat pasti akan reda. Dan saat itulah yang kami tunggu untuk bergerak kembali..."

"Berarti pertumpahan darah tak akan pernah berhenti!" ujar Wiro pula.

"Itu memang sudah aturan kehidupan di dunia..." menyahuti sang resi. Wiro menggeleng.

"Kenapa kau menggeleng?"

"Manusia hadir di dunia ini untuk mengatur dunia. Bukan dunia yang harus mengaturnya!" Resi Mandra Botama terdiam tapi bibirnya bergetar.

"Resi, sebaiknya urusan itu tidak usah kita bica-kan karena hanya akan mengundang perdebatan yang tak putus-putusnya. Jika jalan pikiranmu kau anggap betul, tak ada yang

melarangmu untuk melakukan apa saja. Tentunya segala akibat dan tanggung jawab berada di pundakmu. Sekarang mungkin kau lebih baik menerangkan mengapa meminta saya datang ke goa ini...."

"Pertama, seperti kukatakan tadi untuk mengu capkan rasa terima kasih karena kau telah menolong puteri raja kami Nawang Suri. Namun ada hal yang lebih penting lagi. Apakah kau bersedia kawin dengan gadis itu?" Wiro Sableng melengak kaget dan ternganga mendengar ucapan itu.

"Kau terkejut anak muda?" tanya si orang tua..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.197.150.255
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia