Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

PROLOG

SUARA beradunya berbagai macam senjata, suara bentakan garang ganas yang menggeledek di berbagai penjuru, suara pekik jerit kematiansera suara mereka yang merintih dalam keadaan terluka parah dan menjelang meregang nyawa, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana maut yang menggidikkan!

Di mana-mana darah membanjir! Di mana-mana bertebaran sosok-sosok tubuh tanpa nyawa! Bau anyir darah memegapkan nafas, menggerindingkan bulu roma! Pertempuran itu berjalan terus, korban semakin banyak yang bergelimpangan, mati dalam cara berbagai rupa. Ada yang terbabat putus batang lehernya. Ada yang robek besar perutnya sampai ususnya menjela-jela. Kepala yang hampir terbelah, kepala yang pecah, dada yang tertancap tombak. Kutungan-kutungan tangan serta kaki!

Di dalam istana keadaan lebih mengerikan lagi. Mereka yang masih setia dan berjuang mempertahnkan tahta kerajaan, yang tak mau menyerah kepada kaum pemberontak meski jumlah mereka semakin sedikit, terpaksa menemui kematian, gugur dimakan senjata lawan!

Istana yang pagi tadi masih diliputi suasana ketenangan dan keindahan, kini tak beda seperti suasana dalam neraka! Mayat dn darah kelihatan di mana-mana. Pekik jerit kematian tiada kunung henti. Perabotan istana yang serba mewah porak poranda. Pihak yang bertahan semakin terdesak. Agaknya dalam waktu sebentar lagi mereka akan tersapu rata dengan lantai yang dulu licin berkilat tapi kini dibanjiri oleh darah!

"Wira Sidolepen dan Braja Paksi, menyerahlah!," teriak seorang laki-laki berbadan kekar dan berkumis melintang. Seperti kedua orang yang dibentaknya itu diapun mengenakan pakaian perwira kerajaan.

Bradja Paksi kepala balatentara Banten menggerang dan balas membentak. "Bangsat pemberontak! Meski nyawaku lepas dari tubuh, terhadapmu aku tak akan menyerah!"

Parit Wulung laki-laki yang berkumis melintang itu tertawa bergelak. Sebelumnya dia adalah perwira pembantu atau wakil kepala balatentara Banten tapi yang hari itu telah tersesat dan memberontak terhadap kerajaan !

"Mengingat hubungan kita sebagai ipar, aku masih mau tawarkan keselamatan buat roh busukmu! Tapi jika kau sendiri yang hendaki kematian, jangan menyesal!"

Parit Wulung menerjang ke muka. Pedangnya menyambar mengirimkan satu serangan yang cepat dan dahsyat. Tapi dengan sebat Bradja Paksi menangkis dengan Pedangnya pula.

"Trang!"

Bunga api berkilauan.

Tangan Parit Wulung tergetar hebat. Dia mundur selangkah namun lawan menyusuli dengan dua rangkai serangan berantai yang membuat gembong pemberontak ini terdesak ke tiang besar di ujung kanan. Sebagai kepala Balatentara Banten maka ilmu silat dan kesaktian Bradja Paksi lebih tinggi dari wakilnya yang memberontak itu. Bagaimanapun cepat dan sebatnya Parit Wulung putar pedang tetap saja dia tak bisa ke luar dari serangan-serangan lawan, apalagi ketika dengan kalap Bradja Paksi sertai serangan-serangan pedangnya dengan pukulan-pukulan tangan kosong. Namun itu tak berjalan lama.

Seorang berbadan kate, berselempang kain putih yang kulit mukanya sangat hitam dan berkilat serta berambut awut-awutan berkelebat ke muka. Tampangnya seperti singa.

"Parit Wulung! Biar aku yang bereskan bangsat ini!"

Melihat siapa yang berkata itu maka Parit Wulung dengan tidak menunggu lebih lama segera ke luar dari kalangan pertempuran. "Resi Singo Ireng, rnemang dia pantas sekali untuk jadi korbanmu! Cepat rampaslah nyawanya!"

Manusia muka hitam berbadan kate yang bernama Resi Singo Ireng tertawa buruk. Tangan kanannya dihantamkan ke muka. Secarik sinar putih melesat ke arah kepala balatentara Banten.

Bradja Paksi lompat tiga tombak ke atas. "Bergundal pemberontak!". makinya. "Nyawamu di ujung pedangku!," Bradja Paksi menukik ke bawah. Pedangnya berkelebat cepat sekali.

"Bret !"

Robeklah pakaian putih Singo Ireng !

Maka marahlah Resi ini. "Manusia hina dina!. Kalau kau punya Tuhan berteriaklah menyebut nama Tuhanmu! Ajalmu hanya sampai di sini!".

Tangan kiri Singo Ireng terangkat tinggi-tinggi ke atas dan kini berwarna hitam legam.

"Bradja Paksi awas! Itu pukulan wesi item!," terdangar teriakan seseorang yang tengah bertempur dengan segala kehebatannya dekat pintu besar yang menuju ke ruang tengah istana. Umurnya sudah agak lanjut namun gerakannya benar-benar tangguh dan. enteng gesit mengagumkan! Dia adalah Wira Sidolepen, Patih Kerajaan Banten !

Terkejutlah Bradja Paksi mendangar teriakan peringatan itu. Seluruh tenaga dalam segera dikerahkan. Pada saat tangan kiri Resi Singo Ireng turun cepat ke bawah maka sinar hitam menyambar ke muka. Dan di saat itu pula Bradja Paksi melompat ke samping, putar pedang dan hantamkan tangan kiri ke depan.

Namun meskipun berilmu tinggi, untuk saat itu Bradja Paksi masih belum sanggup menerima pukulan wesi item lawan. Tubuhnya mencelat kena disambar sinar hitam, terlempar ke dinding istana lalu terhampar di lantai penuh darah tanpa bisa berkutik lagi. Sekujur pakaian dan tubuhnya hangus hitam!

Resi singo Ireng tertawa senang menjijikkan untuk dipandang!

Melihat kematian Bradja Paksi maka kalaplah patih Wira Sidolepen. Sekali dia menerjang, tiga prajurit pemberontak yang menyerangnya berpelantingan dengan tubuh patah-patah! Sebagai patih kerajaan, tingkat kepandaian Wira Sidolepen memang sudah sempurna dan hampir setingkat dengan Singo Ireng. Gesit sekali maka tubuhnya sudah berada di hadapan Resi itu.

"Ha... ha... kau juga mau antarkan nyawa, Wira Sidolepen..."

"Tak perlu banyak mulut. Terima ini...!" hardik sang patih. Pedangnya bergulung dengan sebat. Putaran pedang mengeluarkan angin bersiuran yang melanda tubuh Resi Singo Ireng. Terkejutlah Resi ini. Cepat-cepat dia gerakkan badan berkelit. Tahu bahwa tingkat kepandaian lawan tidak berada di bawahnya rnaka pagi-pagi Singo Ireng segera keluarkan pukulan "wesi ireng"-nya.

Melihat lawan keluarkan ilmu yang ampuh itu, Wira Sidolepen segera pindahkan pedang ke tangan kiri. Mulutnya komat kamit dan jari tangannya mendadak sontak berubah rnenjadi putih berkilau. Inilah ilmu pukulan "mutiara penabur nyawa!" Parit Wulung yang tahu kehebatan ilmu pukulan ini segera pergunakan ilmu menyusupkan suara memberi peringatan pada Singo Ireng.

"Awas, itu pukulan mutiara penabur nyawa, Resi Singo Ireng !"

Mendengar ini maka sang Resi lipat gandakan tenaga dalamnya. Dua bentakan nyaring sama-sama terdangar menggeledek dari mulut Singo Ireng dan Wira Sidolepen. Sinar hitam dan sinar putih berkiblat saling papas.

"Akh...."

Tubuh patih itu terlempar keras ke tiang istana. Sampai di lantai tubuhnya berkelojotan seketika lalu diam tak bergerak tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan tubuh.

Sambil gosok-gosok tangan kirinya. Singo Ireng putar kepala ke pintu di sampingnya. Di situ melangkah ke arahnya seorang berselempang kain biru. Mukanya coreng moreng berbelang tiga yaitu hitam, kuning dan merah. Rambutnya tersisir licin-lincin ke belakang. Inilah dia Resi Macan Seta, kakak kandung Resi Singo Ireng. Kalau Singo Ireng memiliki tampang seperti singa maka kakaknya sesuai dengan namanya, memiliki tampang persis seperti macan!

"Kau tak bakal kuat menerima pukulan mutiara penabur nyawa itu Singo Ireng, sekalipun kau pergunakan ilmu wesi item! Sekurang-kurangnya kau akan terluka di dalam

Singo Ireng tertawa buruk! Dia tak berkata apaapa karena maklum bahwa ucapan kakaknya itu adalah betul. Dan diam-diam dia bersyukur karena Macan Seta telah menolongnya dengan pukulan "sinar surya tenggelam" tadi!

–== 0O0 == –PADA abad ke 15, Kerajaan Demak diperintah oleh Baginda Trenggono. Di bawah Trenggono maka Demak mencapai puncak kejayaannya. Di masa itu pula adik perempuan Trenggono kawin dengan Fatahillah.

Untuk meluaskan daerah perdagangan serta kekuasaan Demak maka Trenggono merasa perlu untuk menduduki Banten. Maka pada tahun 1527, di bawah pimpinan Fatahillah menyerbulah balatentara Demak. Banten jatuh, pelabuhan Sunda Kelapa diduduki dan sebagai wakil Demak memerintahlah Fatahillah di Banten. Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan bahwa Fatahillah bertindak sebagai wakil Trenggono atau wakil kerajaan Demak karena luas lingkup kekuasaan serta pengaruh Fatahillah tak ubahnya seperti Raja. Disamping itu, terlepas dari Demak, Fatahillah membentuk balatentara tersendiri. Nama Fatahillah menjadi besar dan dihormati. Namun demikian kesetiaannya terhadap kerajaan induk yaitu Demak tetap seperti sediakala.

Sultan Hasanuddin dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan Banten dibantu oleh penasihat utama seorang tua bijaksana bernama Mangkubumi Mitra serta patih Wira Sidolepen. Disamping itu bantuan kepala balatentara Banten yang bernama Bradja Paksi patut pula disebutkan karena segala sesuatu yang bersangkutan dengan keamanan dan keselamatan kerajaan terletak pada tanggung jawabnya sepenuhnya. Apalagi mengingat pada masa itu sering kali terjadi bentrokan-bentrokan dengan pihak Pajajaran. Bradja Paksi tadinya adalah seorang prajurit biasa di kerajaan Demak. Tapi karena keberanian, kejujuran dan kepandaiannya maka dia menjadi orang kesayangan Fatahillah. Ketika Fatahillah pindah ke Banten, Bradja Paksi ikut serta. Kemudian dia diangkat jadi kepala balatentara Banten. Pangkat itu terus dijabatnya sampai pada suatu hari di mana dia terpaksa mengorbankan jiwanya sendiri untuk keselamatan kerajaan dan demi kesetiaan pengabdiannya pada atasan!

Saat itu belum lagi satu bulan Hasanuddin yang muda belia dinobatkan sebagai Sultan atau Raja Banten. Baik patih Wira Sidolepen, maupun penasihat tua Mangkubumi Mitra serta kepala balatentara Bradja Paksi, ataupun Sultan sendiri, mereka tak satupun yang tahu kalau di batang tubuh kerajaan saat itu terdapat musuh dalam selimut yang berbahaya, yang bergerak secara diam-diam!

Dan siapa yang akan menyangka kalau musuh dalam selimut itu adalah Parit Wulung, perwira yang menjadi wakil langsung dari kepala balatentara kerajaan! Hubungan Parit Wulung dengan Bradja Paksi bukan saja sebagai bawahan dengan atasan, tetapi juga sebagai ipar karena adik perempuan Bradja Paksi kawin dengan Parit Wulung.

Tapi Parit Wulung telah tersesat. Lupa dia bahwa jabatan yang dipangkunya itu adalah berkat diangkat atas kebijaksanaan Bradja Paksi. Lupa dia bahwa kerajaan yang telah memberi pangkat kedudukan serta kehormatan dan kehidupan mewah. Nafsu hendak berkuasa sendiri, nafsu hendak duduk ditakhta kerajaan sebagai Raja telah merangsang segenap hati dari jiwa raganya!

Dalam mencapai usahanya merebut takhta Kesultanan Banten itu sudah barang tentu dia tak bisa bergerak sendiri. Disamping itu dia tahu pula bahwa untuk mencari pengikut-pengikut dari kalangan pihak dalam yaitu perwira-perwira dan menteri-menteri istana tidak mungkin karena semua perwira dan menteri, apalagi patih Wira Sidolepen sangatlah setianya kepada Kerajaan dan Sultan Hasanuddin. Karenanya maka perwira pengkhianat itupun mencari sekutu di luar Banten. Peluang yang sangat baik dilihatnya datang dari kerajaan tetangga yaitu Pajajaran. Beberapa perwira Pajajaran secara diam-diam ditemuinya dan perwira-perwira itu sesudah diberikan janji yang muluk-muluk bersedia mengirimkan ratusan prajurit untuk membantu pemberontakan bila saatnya sudah tiba kelak.

Ratusan prajurit masih belum dirasa mencukupi bagi Parit Wulung. Pengkhianat ini kemudian mendatangi seorang sakti yaitu Resi Singo Ireng yang berdiam di pantai selatan. Resi ini bukan saja mau membantu maksud busuk Parit Wulung karena dijanjikan akan dilimpahkan harta kekayaan yang tiada terkira banyaknya, tapi juga mengikut sertakan kakak kandungnya yang juga seorang Resi yaitu Resi Matjan Seta. Matjan Seta diam di Teluk Keletawar. Tokoh silat ini baru saja membentuk satu partai silat yang dinamainya Partai Api Selatan. Meski keduanya adalah Resi namun mereka telah terperangkap oleh kesenangan duniawi sehingga masuk ke datam golongan hitam!

Pada hari yang telah ditentukan maka pecahlah pemberontakan menggulingkan kerajaan itu! Ratusan pasukan dari Pajajaran menyerbu. Pertempuran hebat terjadi di seantero Kotaraja dan yang paling hebat adalah sekitar halaman istana.

Sebentar saja kaum pemberontak sudah membobolkan pertahanan Banten. Istana dikepung, prajurit-prajurit pemberontak di bawah pimpinan Parit Wulung, Singo Ireng dan Matjan Seta menyerbu ke dalam istana. Menteri-menteri dan orang-orang cerdik pandai yang terkurung dan tak dapat diselamatkan semuanya menemui ajal dipancung secara kejam. Kepala balatentara Banten, patih Wira Sidolepen dan beberapa orang penting lainnya turut serta menjadi korban keganasan kaum pemberontak itu !

Banten jatuh sebelum hari rembang petang. Prajurit-prajurit Banten yang masih hidup dan terpaksa menyerah bersama-sama rakyat disuruh membersihkan semua mayat-mayat yang bergeletakan di setiap pelosok. Sedangkan di satu ruangan dalam istana Banten terjadi pertemuan panting. Pertemuan penting ini diketuai oleh Parit Wulung. Yang hadir ialah Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta, Karma Dipa dan Djuanasuta. Kedua orang terakhir ini adalah penrwira-perwira Pajajaran sekutu Parit Wulung !

"Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta dan saudara-saudara Karma Dipa, Djuapasuta. Kalian lihat sendiri, berkat kerjasama kita maka apa yang kita rencanakan telah berhasil. Kini Banten adalah milik kita bersama. Namun ada beberapa hal yang mengecewakan dilaporkan oleh seorang perwira penghubung pihak kita. Sultan Hasanuddin lenyap tak diketahui ke mana perginya. Kemungkinan besar bersama penasihat tua Mangkubumi Mitra karena orang tua inipun tak diketahui di mana dia berada saat ini...".

Sampai di situ maka Karma Dipa buka suara. "Kalau mereka hendak melarikan diri dari Banten adalah mustahil. Seluruh perbatasan dijaga ketat oleh prajurit-prajurit kita!"

"Itu betul sekali," jawab Parit Wulung. "Disamping orang-orang kita terus melakukan penyelidikan atas jejak kedua orang itu maka kita juga telah menangkap tiga orang yang diduga keras mengetahui di mana bersembunyinya Sultan!"

Parit Wulung bertepuk tiga kali. Pintu ruangan perundingan terbuka. Seorang pengawal masuk. "Bawa ke sini Said Ulon !," kata Parit Wulung pada pengawal itu.

Pengawal ke luar dengan cepat. Sesaat kemudian masuk lagi bersama seorang kawannya membawa seorang laki-laki tua berambut putih. Dialah Said Ulon, kepala rumah tangga istana. Kedua pengawal ke luar lagi.

"Said Ulon, kau tahu dimana Sultan sembunyi, bukan?!" ujar Parit Wulung.

Orang tua itu memandang ke muka sebentar. Hatinya geram sekali melihat tampang Parit Wulung. Dua orang anaknya telah menjadi korban akibat pemberontakan manusia itu. Seperti hendak ditelannya bulat-bulat tubuh Parit Wulung saat ini. Kedua tangannya berusaha melepaskan ikatan tali tapi tak berhasil.

Melihat ini Parit Wulung segera berkata. "Jangan khawatir, kau akan kulepaskan dan kujamin keselamatanmu bila memberi keterangan di mana Sultan berada...!"

"Ya... memang aku tahu..." berkata Said Ulon.

"Haaaa..." Parit Wulung tertawa lebar. "Di mana?," tanyanya.

Orang tua itu maju ke hadapan Parit Wulung. "Di sini," katanya. Dan habis mengucapkan perkataan itu maka diludahinya muka Parit Wulung!

"Jahanam hina dina!" suara Parit Wulung menggeledek.

"Sret!" Pedangnya dicabut dan "cras!" maka putuslah leher Said Ulon. Kepalanya menggelinding di lantai tepat di muka pintu. Darah muncrat membasahi permadani yang menutupi sebagian dari lantai ruangan !

Resi Matjan Seta tertawa mengekeh melihat peristiwa itu.

Karma Dipa berkata dengan suara datar. "Seharusnya kita tak perlu membunuh sekaligus manusia itu, Parit Wulung. Kita bisa siksa dia sampai mengaku di mana adanya Sultan Hasanuddin!"

Parit Wulung tak menjawab. Noda darah dipedangnya disapukannya kepakaian Said Ulon lalu dimasukkannya ke dalam sarungnya kembali. Kemudian Parit Wulung bertepuk lagi tiga kali.

Pintu terbuka. Pengawal yang masuk tergagau melihat adanya kepala manusia di muka pintu. "Bawa masuk tukang kuda itu!" kata Parit Wulung.

Tak lama kemudian pengawal membawa masuk seorang pemuda bermuka pucat pasi. Baik Parit Wulung maupun pemuda ini sebelumnya sudah saling mengenal.

"Siman Tjonet, kau lihat mayat dan kepala di lantai itu?!"

Siman Tjonet si tukang urus kuda-kuda milik istana mengangguk.

"Tentunya kau tak ingin bernasib demikian, bukan? Nah coba terangkan di mana Sultan bersembunyi...!"

"Aku tak tahu...".

"Ah kau musti tahu. Mungkin sekali Sultan telah melarikan diri bersama beberapa orang dengan menunggangi kuda. Betul..."

"Aku tidak tahu..," jawab Siman Tjonet lagi seperti tadi.

Maka. marahlah Parit Wulung. "Dangar Siman...," desisnya. "Aku tahu bahwa beberapa bulan di muka kau akan kawin. Kalau kau tetap ingin merasakan kenikmatan perkawinanmu itu, cepat beri tahu di mana Sultan berada..."

"Kalau kau kasih keterangan...," menyambung Djuanasuta, "kami akan berikan uang serta perhiasan! Kau akan beruntung seumur hidup..."

"Aku tidak tahu..."

"Betul-betul tidak tahu...?!"

"Kalaupun tahu aku tidak akan kasih keterangan pada bergundal pemberontak dan pengkhianat macam kau!"

Parit Wulung tertawa buruk. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanannya bersitekan pada hulu pedang. "Jangan jadi orang tolol Siman Tjonet!" berkata Karma Dipa sementara Resi Matjan Seta dan adiknya asyik-asyik makan buah anggur yang terhidang di atas meja. "Bicaralah, kau akan selamat dan jadi orang kaya!"

Siman Tjonet diam saja.

"Agaknya kau lebih suka mati daripada hidup senang. Siman...?" tanya Parit Wulung.

"Disangkanya kalau dia mati akan masuk surga dan ketemu bidadari!" berkata Resi Matjan Seta sambil tertawa dan mengunyah buah anggur dalam mulutnya.

"Aku masuk surga atau tidak itu bukan urusan kalian! Sebaliknya kalian semua kelak akan menjadi puntung api neraka!" jawab Siman Tjonet dengan beraninya.

"Wah... kau benar-benar tidak takut mati, anak muda. Tapi bagaimana kalau sebelum mati aku siksa kau lebih dahulu, heh?!"

"Kalian boleh siksa aku tapi di mana Sultan berada tetap kalian tak bisa tahu!"

"He... he... he..," Resi Matjan Seta berdiri dari duduknya. Mulutnya masih mengunyah buah anggur. Dia melangkah ke hadapan Siman Tjonet, Tangan kanannya diletakkannya di atas kepala pemuda itu.

"Manusia bermuka setan, pergi!" hardik Siman Tjonet. Pemuda ini pergunakan kaki kanannya untuk menendang tulang kering Resi Matjan Seta. Tapi aneh! Kedua kakinya terasa sangat berat dan sukar digerakkan. Sementara itu kepalanya yang dipegang terasa panas bukan main. Disamping panas kepalanya juga terasa seperti dicucuki oleh ratusan jarum! Dari kepala rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh si pemuda.

Pemuda ini merintih kesakitan. Bila rasa sakit tak tertahankan lagi maka mulailah dia menjerit-jerit setinggi langit. Betapa mengerikan suara jeritan itu terdangarnya. Peluh dingin membasahi seluruh tubuh Siman Tjonet.

"Masih belum mau bicara?!" bentak Parit Wulung.

"Pengkhianat terkutuk! Pembalasan akan datang untuk kalian semua!".

"Bikin mampus dia Resi Matjan Seta!," perintah Parit Wulung.

Sang Resi mengekeh, telapak tangannya semakin keras menekan batok kepala pemuda tukang kuda. Asap mengepul dari telapak tangan laki-laki sakti itu.

Jeritan Siman Tjonet terdangar semakin keras dan berubah menjadi suara erangan. Dari telinga, dari mata dan dari lubang hidung serta mulutnya mengalir darah kental. Kedua lututnya terlipat dan sesaat kemudian tubuh pemuda itu terhempas ke lantai, nyawanya lepas! Resi Matjan Seta mengekeh lagi!

Dan Parit Wulung bertepuk lagi. Maka tawanan yang ketigapun dibawa masuklah. Tawanan ini ternyata seorang perempuan muda berparas rupawan.

Begitu dia masuk ke, ruangan itu maka menjeritlah dia. Kedua tangannya yang tidak terikat dipakai untuk menutupi muka dan matanya. Kengerian membuat tubuhnya gemetar ketika menyaksikan kepala dan tubuh Said Ulon serta tubuh pemuda tukang kuda!

Resi Singo Ireng menunda anggur yang hendak disuapkannya ke dalam mulut. Matanya menjalari si perempuan muda mulai dari ujung rambut sampai ke kaki.

"Ah... ah... ah...! Yang satu ini tak boleh dibunuh, Parit Wulung. Dia cukup pantas untuk jadi peliharaanku!," kata Resi bertampang singa itu.

Parit Wulung tak ambil perhatian ucapan itu. Dia berkata pada si perempuan muda. "Suri Intan, kau tak usah khawatir atau takut. Tidak ada yang akan menyakiti kau..."

"Aku tak percaya pada kalian! Keluarkan aku dari sini!," teriak perempuan itu. Suri Intan adalah istri Braja Paksi kepala balatentara Banten yarig telah gugur dalam mempertahankan kerajaan. Karena adik Bradja Paksi kawin dengan si pemberontak Parit Wu-lung maka dengan sendirinya antara Parit Wulung dengan Suri Intan terdapat hubungan keluarga yang dekat.

Parit Wulung coba tersenyum mendangar ucapan perempuan itu. "Suri, apakah kau tahu di mana Sultan Hasanuddin bersembunyi? Juga penasihat tua Mangkubumi Mitra...?!"

Si perempuan tiada peduli dengan pertanyaan itu. "Keluarkan aku dari sini!" teriaknya.

"Dewiku manis...!"kata Singo Ireng mengetengahi. "Kau akan ke luar dari sini, aku yang akan bawa kau dan kita berdua akan senang-senang di tempatku di pantai utara. Tapi apa salahnya sebelum pergi kau suka kasih penuturan apa yang kau ketahui mengenai Sultan..."

"Aku tidak tahu apa-apa mengenai Sultan. Yang aku tahu ialah bahwa kalian semua manusia-manusia pengkhianat terkutuk! Balasan Tuhan akan datang kelak atas diri kalian!"

"Ah... ah... ah! Bicaramu hebat sekali manisku...!" kata Singo Ireng. Dia berdiri dari kursinya. Sambil melangkah mendekati Suri Intan dia meneruskan. "Aku suka pada peremppan-perempuan yang pandai bicara...". Dia berdiri dua langkah di hadapan Suri Intan. Bola matanya berkilat-kilat memandangi perempuan berparas rupawan itu lalu dia berpaling pada Parit Wulung. "Aku yakin betul," katanya pada Parit Wulung. "perempuan ini pasti tidak dusta dengan keterangannya. Dia tak tahu apa-apa tentang Sultan. Parit Wulung, biar aku minta diri saja siang-siang untuk membawa dia ke kamar sebelah.... he... he... he...!"

"Singo Ireng! Jangan ribut soal lampiaskan nafsu saja. Kita harus cari dulu Sultan Hasanuddin sampai dapat...!" Yang bicara ini adalah Matjan Seta, kakak Singo Ireng.

"Ladalah..," menyahuti Singo Ireng. "Itu urusan kalian. Aku sudah letih. Tubuhku pegal-pegal. Perempuan ini pasti lihay sekali memijit. Bukankah begitu dewiku...?" Dan Singo Ireng mencubit dagu Suri Intan.

"Tua bangka hidung belang!" memaki Suri Intan. Tangannya bergerak hendak mencakar muka Singo Ireng. Tapi sekali cekal saja maka perempuan itu sudah tak bisa berdaya lagi!

"Lepaskan aku, lepaskan!," Suri Intan meronta sekuat tenaga. Entah cekalan Singo Ireng yang kemudian agak kurang ketat, entah karena rontakan Suri Intan yang memang sangat keras maka perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cekalan Singo Ireng. Ke-mudian secepat kilat dia lari ke pintu. Tapi nyatanya pintu dikunci dari luar oleh pengawal. Dalam bingung dan ketakutan sementara itu Suri melihat Singo Ireng mendatanginya dengan menyeringai dan bola mata berkilat-kilat sedang hidung kembang kempis.

"Singo Ireng! Biarkan dulu perempuan itu!" bentak Matjan Seta.

"Sudah diam sajalah Seta!," menggerendang Singo Ireng. "Sekarang kau terlalu banyak ribut, nanti kalau aku lagi asyik kau dobrak pintu kamar dan minta diberi bagian! Puh...!"

Singo Ireng maju ke muka dan ulurkan tangan. "Jangah jamah aku!," teriak Suri Intan. Dia lari seputar ruangan dan Singo Ireng mengejarnya. Mengejar dengan tertawa terkekeh-kekeh. "Manisku, kenapa musti main kucing-kucingan? Tampangku memang buruk. Tapi nantilah, kalau kau sudah rasakan bagaimana pandainya aku di atas tempat tidur, kau akan ketagihan... ha... ha... ha...!"

Suri Intan semakin kepepet ke sudut ruangan.Tiba-tiba terjadilah hal yang tidak diduga oleh Singo Ireng dan siapapun yang ada di ruangan itu.

Suri Intan melompat ke samping, membenturkan kepalanya ke dinding ruangan! Semua orang yang ada di ruangan itu sudah biasa dengan segala macam pemandangan maut, sudah biasa melihat kematian manusia. Tapi mendangar suara beradunya kepala perempuan itu dengan dinding yang keras, menyaksikan bagaimana kemudian Suri lntan terkapar di lantai dengan kepala rengkah berlumuran darah, semuanya sama menjadi merinding bulu tengkuknya! Suasana di ruangan itu seperti di pekuburan sunyinya!

Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh suara Matjan Seta. "Aku bilang apa, Singo Ireng! Kau lihat sendiri sekarang. Apa kau masih bernafsu terhadap perempuan itu?!"

Singo Ireng tak menjawab. Diputarnya badannya. Dia duduk kembali ke tempatnya. Dan seperti tak ada apa-apa dia mulai lagi mengunyah buah anggur yang terhidang di atas meja!

Sesudah para pengawal diperintahkan menyeret ketiga mayat itu maka Parit Wulung melanjutkan pertemuan dengan membuka pembicaraan.

"Kurasa mengenai Sultan tak perlu kita bicarakan panjang lebar. Cepat atau lambat orang-orang kita akan segera menangkapnya. Tapi apa yang menjadi pikiranku ialah lenyapnya keris pusaka kerajaan Tumbal yang menjadi syahnya kedudukanku sebagai seorang Raja, nanti!"

"Keris itu pasti dibawa kabur oleh Sultan Hasanuddin!" kata Resi Matjan Seta pula.

"Mungkin, tapi mungkin pula dicuri atau dilarikan oleh seorang lain!"

Singo Ireng mengetengahi. "Tanpa keris Tumbal Wilayuda itupun tak akan seorang yang bisa menolak penobatanmu sebagai Raja Banten, Parit Wulung! Kecuali kalau mereka mau terima nasib digerogoti cacing di liang kubur!"

"Soal itu aku tak khawatir. Tapi dalam hal ini kita berhadapan dengan rakyat. Rakyat hanya akan mengakui aku sebagai raja, bila keris Tumbal Wilayuda ada di tanganku!"

"Kenapa ambil pusing dengan rakyat?," tukas Singo Ireng. Mereka mau terima atau tidak, mereka mau mampus sekalipun, kita tak perlu ambil peduli! Rakyat tidak lebih dari domba-domba yang bisa kita halau sesuka hati !"

"Tapi, disamping itu keris Tumbal Wilayuda adalah satu senjata sakti dan keramat...," ujar Parit Wulung.

"Sakti aku percaya, tapi kalau dikatakan keramat itu adalah takhyul!," menyahut Singo Ireng. Parit Wulung tak berkata apa-apa namun dalam hati dia merasa tidak senang. Maka berkatalah dia. "Aku minta pada kalian, terutama Resi Matjan Seta dan Singo Ireng untuk mencari Sultan dan menemukan keris Tumbal Wilayuda itu sampai dapat!"

Singo Ireng mengunyah anggurnya lambat-lambat lalu berkata. "Ini tak termasuk dalam hitungan kita Parit Wulung. Tempo hari kau hanya minta aku dan kakakku membantu pemberontakan sampai terlaksana. Kini Banten sudah jatuh dan berada di tangamu, perjanjian kita beres dan kami sudah saatnya menerima balas jasa!"

"Mengenai soal balas jasa Resi berdua tak usah cemas, kalian berdua boleh membawa segala harta kekayaan apa saja dari Banten ini sebanyak yang kalian bisa bawa. Tapi bila kalian bersedia pula membantu mencari dan menangkap Sultan serta menemukan keris pusaka Tumbal kerajaan itu, maka bagian kalian tentu akan lipat ganda !"

Singo Ireng manggut-manggut. "Baiklah," katanya. "Soal harta aku tidak begitu temahak. Tapi setiap perempuan cantik di Banten ini adalah milikku!"

–== 0O0 == –HARI itu adalah hari kedua sesudah jatuhnya takhta kerajaan Banten ke dalam tangan kaum pemberontak pimpinan Parit Wulung. Suasana di Kotaraja yang sehari sebeIumnya senantiasa diliputi kepanikan kini mulai mereda. Namun di mana-mana kelihatan berkeliaran tentara-tentara pemberontak sedang di setiap tempat yang dianggap penting terutama di sepanjang perbatasan senantiasa dijaga ketat oleh tentara.

Pagi itu, pagi ketiga dari berkuasanya kaum pemberontak kelihatanlah dua orang berjalan kaki. Yang satu sudah tua dan terbungkuk-bungkuk. Yang satu lagi masih muda. Keduanya mengenakan pakaian bertambal-tambal serta kotor. Kulit badan dan muka merekapun coreng moreng dan rambut awut-awutan. Dari keadaan kedua orang ini, sepintas lalu saja orang segera berkesimpulan bahwa mereka adalah pengemis-pengemis. Dan setiap orang yang memapasi mereka tentu saja tak akan mau ambil peduli! Namun siapa nyana kalau kedua orang ini adalah dua orang penting yang tengah dicari oleh Parit Wulung dan pentolan-pentolan pemberontak lainnya!

Yang tua adalah penasehat istana yaitu Mangkubumi Mintra sedang yang masah sangat muda tiada lain daripada Sultan Banten sendiri yakni Hasanuddin! Sewaktu maletusnya pemberontakan, sewaktu istana sudah dikepung, dengan melalui jalan rahasia kedua orang ini telah berhasil menyelamatkan diri. Dan bukan keselamatan mereka saja yang penting, tapi keduanya juga berhasil menyelamatkan keris pusaka tumbal kerajaan yaitu keris Tumbal Wilayuda, keris yang menjadi lambang dan ketentuan bahwa siapa pemiliknya maka dialah pewaris syah dari takhta kerajaan Banten. Dan juga keris inilah yang pula dicari-cari oleh Parit Wulung bersama pemberontak-pemberontak lainnya! Masing-masing mereka sama membawa buntalan kecil. Sebenarnya baik Mangkubumi Mintra maupun Sultan Hasanuddin adalah orang-orang yang berkepandaian silat dan kelas tinggi. Namun menghadapi sekian banyak pemberontakan dan demi untuk menyelamatkan keris tumbal kerajaan, keduanya memutuskan dengan terpaksa dan berat hati untuk mengundurkan diri.

Demikianlah, dengan menyamar kedua orang itu meninggalkan Kotaraja. Matahari pagi masih belum sanggup memupuskan butiran-butiran embun di daun-daun, namun panasnya terasa sudah memerihkan kulit kedua orang itu. Mereka berhasil melewati pintu gerbang Kotaraja tanpa halangan sesuatu apa meski pintu gerbang itu dijaga ketat oleh duapuluh orang prajurit.

Si orang tua Mangkubumi Mintra menarik nafas lega demikian juga Sultan. Namun penasehat tua ini kemudian berkata dengan perlahan. "Kita masih jauh dari selamat, Sultan. Cuma satu pesanku, bila terjadi apa-apa yang tak diingini kau lekaslah menghindar dan lari ke tempat keluarganya Wirya Pranata di Ujung Kulon...."

Si pemuda anggukkan kepala. Namun pada parasnya kelihatan sekelumit rasa jengah yang memerahkan kedua pipinya yang kotor itu. lni suatu pertanda bahwa ada sesuatu hubungan antara dia dengan keluarga Wirya Pranata di Ujung Kulon itu.

Pemuda atau Sultan menghela nafas lagi. "Mudah-mudahan saja kita bisa terus selamat, bapak Mangkubumi," katanya.

"Memang itulah yang kita harapkan. Semoga Tuhan melindungi kita". Mereka mendekati perbatasan kini. Di sepanjang perbatasan dijumpai prajurit yang mengawal semakin banyak. Keduanya diperiksa oleh beberapa orang prajurit. Bungkusan masing-masing digeledah. Untunglah Sultan Hasanuddin telah menyembunyikan keris Tumbal Wilayuda di dalam lipatan pakaiannya yang dikenakannya saat itu ! Dan kedua orang inipun selamat pula dari pemeriksaan. Mereka bergegas menjauhi perbatasan.

"Aman sekarang..." kata Sultan Hasanuddin. Tapi baru saja dia habis berkata begitu maka muncullah serombongan pasukan berkuda. Pimpinan rombongan, seorang perwira pemberontak lambaikan tangan memberi isyarat berhenti pada anak-anak buahnya. Perwira ini membawa kudanya ke hadapan kedua orang tersebut."

"Pengemis-pengemis hina dina!," bentak perwira itu. "Apa kalian lihat dua orang pelarian melintas di sini? Keduanya adalah Mangkubumi Mintra penasihat istana dan Sultan Hasanuddin". Sambil bertanya begitu mata sang perwira menyorot meneliti kedua orang di hadapannya.

Si orang tua menjawab . "Tak satu orangpun yang kami lihat, Yang mulia..."

Jawaban yang hormat dan mempergunakan tutur kata yang halus tinggi dari si orang tua mencurigakan sang perwira. Biasanya pengemis-pengemis macam mereka bicara dalam bahasa rendahan. Maka, terbitlah sekelumit kecurigaan di hati perwira itu. "Kami akan geledah kalian!" katanya,

"Ah..., kami hanya pengemis-pengemis yang hina dan terlantar. Apa untungnya menggeledah kami?"

"Memang tak perlu menggeledah manusia-manusia ini raden," berkata seorang prajurit yang berada di samping sang perwira. "Hanya akan mengotorkan tangan saja! Bau mereka sangat menusuk hidung!"

Si perwira memang menganggap betul katakata bawahannya itu. Tapi bila sepasang matanya yang tajam melihat bagaimana telapak dan jari-jari tangan kedua orang yang dihadapannya sangat halus, bukan seperti tapak dan jari-jari tangan yang biasa dilihatnya pada diri pengemis-pengemis maka memerintahlah dia. "Tangkap manusia-manusia hina dina ini!"

Mangkubumi Mintra yang tahu bahwa penyamamaran mereka pasti akan terbuka, tanpa membuang waktu segera maju ke muka dan berkata "Kalian keterlaluan, manusia-manusia macam kamipun masih hendak kalian ganggu!" Bentakan ini, adalah juga terdorong rasa dendam kesumat terhadap kaum pemberontak.

"Kurang ajar kau berani bicara kasar terhadapku huh!" dengus perwira itu dan segera hunus pedangnya sementara setengah lusin bawahannya segera mengurung mereka.

Mangkubumi Mintra tidak tinggal diam. Dari balik pakaian pengemisnya dikeluarkannya sebilah pedang.

"Hemm... bagus! Sekarang lebih jelas siapa kau adanya kunyuk tua hina-dina!"

Perwira itu tetakkan pedangnya ke kepala Mangkubumi Mintra. Si orang tua membentak nyaring dan mundur beberapa langkah sementara enam prajurit lainnya begitu cabut pedang masing-masing segera pula menyerbu.

Mangkubumi Mintra putar pedang dengan deras. Sinar pedang bergulung-gulung. Trang... trang... trang... trang Terdengar suara beradunya pedang susul menyusul! Waktu pedangnya beradu dengan pedang prajurit-prajurit, Mangkubumi Mintra tak terasa suatu apa, tapi ketika membentur senjata sang perwira maka terkejutlah orang tua itu. Tangannya tergetar keras. dan panas! Mangkubumi Mintra mengeluh. Nyatanya sang perwira mempunyai kepandai-an tingkat atas!

Maka berserulah Mangkubumi Mintra pada Su1tan Hasanuddin. "Sultan larilah selamatkan diri. Biar aku yang hadapi bergundal-bergundal pemberontak ini!"

"Tidak!" jawab Sultan Hasanuddin. "Mati hihidup kita berdua, bapak!"

"Jangan bodoh Sultan! Lari kataku!". Si orang tua putar pedangnya lebih sebat. Seorang lawan yang mengurung menjerit keras dan melompat nanar dengan dada robek dimakan ujung pedang!

"Keparat!," maki perwira pemberontak. Dia melompat dari kudanya. Sambil melompat, laksana seekor alap-alap dia mengirimkan serangan ganas.

Pedangnya menderu memepas ke arah batang leher Mangkubumi Mintra. Di saat itu si orang tua sedang menangkis serangan seorang prajurit. Tangkisan ini terpaksa dibatalkannya dengan melompat dan sebagai gantinya pedangnya diputar untuk menangkis pedang si perwira! Tapi si perwira rupanya memiliki ilmu pedang dari Cabang Pantai Selatan yang terkenal tangguh karena dengan tak terduga dan sangat cepat sekali serangan yang tadi merupakan satu tebasan dengan tiba-tiba sekali berubah menjadi satu tusukan tajam dan cepat!

Si perwira tertawa mengekeh. Itulah jurus mematikan dari ilmu pedang yang dianutnya, yang dinamakan jurus "menabas gunung menusuk bukit!"

Tentu saja tangkisan Mangkubumi Mintra tidak mempunyai arti apa-apa. Orang tua ini cepat rubah posisi senjatanya namun sia-sia karena ujung pedang lawan lebih dahulu menghunjam di dadanya! Maka terdengarlah keluhan mengerikan dari tenggorokan orang tua malang itu.

Di saat itu, Sultan Hasanuddin sudah berhasil ke luar dari kurungan prajurit-prajurit pemberontak dan meskipun hatinya berat namun dia terpaksa melarikan diri, bukan saja untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi juga menyelamatkan keris pusaka Tumbal Wilayuda demi untuk menegakkan kembali kelak Kerajaan Banten! Namun sewaktu telinga mendengar keluhan Mangkubumi Mintra, Sultan hentikan lari dan putar badan. Maka naik pitamlah dia ketika me-nyaksikan bagaimana orang tua itu tersungkur di tanah bermandikan darah.

"Pemberontak-pemberontak durjana! Aku mengadu jiwa dengan kalian!," seru Sultan Hasanuddin. Dia menyerbu ke muka namun belum lagi dia melancarkan serangan maka terdengarlah suara mengaung seperti suara tawon. Enam benda putih aneh dan berbentuk bintang yang berkilauan melesat deras ke arah pemberontak-pemberontak. Lima prajurit pem-berontak coba hindarkan diri atau menangkis benda itu namun tiada ampun! Kelimanya menjerit keras, rebah ke tanah, kelojotan seketika lalu kaku tegang tiada nyawa!

Perwira pemberontak dalam terkejutnya dan dengan kepandaiannya yang lebih tinggi pergunakan pedang untuk memapaki benda bintang berkilau itu.

"Trang !"

Tampang perwira itu menjadi pucat. Pedangnya memang bisa membuat mental benda maut yang menyerangnya namun senjatanya sendiri putung dua dihantam benda tersebut !

Baik sang perwira maupun Sultan Hasanuddin serentak putar kepala ke arah atas pohon besar dari arah mana datangnya senjata-senjata rahasia tadi.

"Iblis keparat di atas pohon turunlah! Jangan sembunyikan diri!," bentak sang perwira.

Sebagai jawaban terdengar suara tertawa bergelak kemudian sesosok tubuh dengan entengnya melayang turun ke tanah dari atas pohon besar itu. Nyatanya dia adalah seorang pemuda bertampang keren dan berambut gondrong. Umurnya mungkin tiada banyak beda dengan Sultan sendiri. Saat itu bajunya tiada terkancing dan angin yang bertiup agak kencang menyibak-nyibakkan baju putihnya sehingga jelaslah kelihatan angka 212 tertera di dada kanannya Pendekar 212.

Melihat si pemuda ini menghadapinya dengan tertawa mengejek demikian rupa maka membentaklah perwira tadi. "Rupanya kau masih belum tahu dengan siapa berhadapan! Masih belum tahu apa akibat campur tanganmu dalam uru..." Ucapan sang perwira cuma sampai di situ. Hampir tak kelihatan Pendekar 212 telah gerakkan tangan dan lemparkan bintang 212 ke arah perwira pemberontak yang sedang bicara itu. Maka "heggg," terdengarlah suara tercekik dari rangkungan si perwira ketika senjata rahasia 212 dengan tepatnya masuk ke dalam mulut. Senjata rahasia itu lenyap dan darah segera muncrat ke luar dari mulut sang perwira. Nasibnya kemudian tidak beda dengan nasib bawahannya yang terdahulu!

Sultan Hasanuddin segera dekati Pendekar 212. "Saudara, kau telah tolong. Aku..."

Pendekar 212 memberi isyarat. Dia melangkah cepat dan membungkuk di hadapan Mangkubumi Mintra. Ternyata orang tua itu masih bernafas satu-satu. Mulutnya bergerak-gerak.

"Sultan... mungkin dia mau bicara padamu," memberi tahu Pendekar 212 atau Wiro Sableng. Mendengar itu Sultan Hasanuddin segera pula berlutut di samping tubuh si orang tua Mangkubumi Mintra dengan sisa-sisa tenaga yang ada buka kedua matanya yang berbinar-binar. Bila pandangannya menyentuh paras Sultan Hasanuddin maka tersenyumlah dia.

"Sultan, kau tak apa-apa...?"

"Tidak bapak...". Sultan membelai rambut orang tua itu dan menyeka keringat di keningnya. Keringat dan kening itu sangat dingin seperti es.

"Syukurlah..," desis Mangkubumi Mintra. "Aku yakin di bawahmu Kerajaan Banten yang syah akan bisa ditegakkan kembali..."

Sultan Hasanuddin mengangguk. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi karena dilihatnya orang tua itu memalingkan kepalanya kepada pemuda yang telah menolongnya.

"Pendekar muda... aku gembira kau datang. Lebih gembira lagi karena kau telah berhasil menyelamatkan Sultan. Tuhan kelak akan membalas jasamu yang besar ini..." Orang tua itu terhenti bicaranya sejenak. Agaknya dia tengah mengumpulkan tenaga baru dari sisa-sisa tenaganya yang terakhir. Lalu mulutnya terbuka kembali.

"Yang pasti adalah, bila takhta Banten telah kembali pada pemiliknya yang syah, maka Kerajaan dan rakyat Banten tak akan melupakan pertolongan atau jasamu ini..."

Pendekar 212 coba tersenyum. Dia tahu bahwa keadaan orang tua itu tak mungkin lagi untuk ditolong. Maka berkatalah dia. "Menyesal orang tua, aku tak bisa berbuat sesuatu apa dengan lukamu..."

"Ah diriku yang sudah rongsokan ini tak perlu diambil peduli. Aku gembira menemui kematian dengan cara begini rupa... Gembira karena di saat menjelang kematian ini aku telah dapat melihat sinar terang bahwa Banten pasti akan kembali kepada pewarisnya yang syah..."

Mangkubumi memutar matanya pada Sultan Hasanuddin. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu namun malaekat maut meminta nyawanya lebih dahulu. Air mata menggenang di kedua mata Sultan Hasanuddin. Digigitnya bibir sendiri untuk menahan keluarnya suara isakan.

Tiba-tiba kening Pendekar 212 kelihatan mengerenyit. Kepalanya diputar ke jurusan timur. "Ada apa...?" tanya Sultan yang saat itu masih belum mendengar suara apa-apa.

"Cecunguk-cecunguk pemberontak itu kurasa..." ujar Pendekar 212.

Beberapa ketika kemudian barulah Sultan mendengar suara derap kaki kuda yang banyak sekali, mendatangi ke arah di mana mereka berada saat itu. Disusul beberapa saat lagi maka diantara pohon-pohon dan semak-semak belukar tinggi kelihatanlah kira-kira dua puluh prajurit pemberontak yang dipimpin oleh seorang berselempang kain putih bermuka sangat hitam dan berambut gondrong acak-acakan. "Sultan, tinggalkan tempat ini cepat!"

"Tidak bisa sobat! Mangkubumi Mintra terbujur begini rupa dan adalah pengecut sekali meninggalkan kau seorang diri. Apalagi kau adalah tuan penolongku !," membantah Sultan ketika dia diminta pergi. "Ini bukan soal pengecut Sultan! Yang penting adalah keselamatan dirimu dan keselamatan keris Tumbal Wilayuda yang ada di tanganmu."

Tentu saja Sultan Hasanuddin menjadi kaget mendengar ucapan Pendekar 212. Sewaktu pertama kali pemuda itu memanggilnya dengan sebutan "Sultan" dia telah terkejut dan kini bahkan dia mengetahui pula bahwa keris Tumbal Wilayuda berada di tangannya!

Sementara itu rombongan penunggang-penunggang kuda semakin dekat. Wiro Sableng atau Pendekar 212 berkata lagi. "Pergilah cepat sebelum terlambat! Soal jenazah orang tua ini aku yang akan urus. Selama gunung masih hijau, kelak kita akan bertemu kembali!"

Mendengar itu dan lagi memang tak ada lain hal yang bisa diperbuatnya maka Sultan Hasanuddin segera tinggalkan tempat itu.

Begitu dia lenyap di balik semak-semak maka dua puluh prajurit pemberontak di bawah pimpinan si muka hitam sampai di tempat itu. Dia memberi isyarat. Prajurit-prajurit menyebar. Dan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 kini terkurung di tengah lingkaran dua puluh prajurit bersenjata lengkap, di bawah pimpinan seorang tokoh silat yang kosen!–== 0O0 == –

DIKURUNG begitu rupa Pendekar 212 tetap tenang-tenang saja seperti saat itu cuma dua sendirian saja berada di situ. Si muka hitam yang tak lain Resi Singo Ireng kaki tangan Parit Wulung adanya, menyapu tebaran-tebaran mayat di hadapannya dengan pandangan sedingin salju. Yang agak mengherankan Resi muka hitam ini ialah mengapa di antara mayat-mayat pasukan Parit Wulung juga terdapat mayat Mangkubumi Mintra. Tak mungkin si pemuda rambut gondrong itu yang telah menebar mayat kecuali jika dia mempunyai dendam kesumat terhadap kedua belah pihak yaitu pihak pasukan dan Mangkubumi Mintra. Disamping itu dengan adanya mayat si orang tua tergeletak di situ, pastilah sebelumnya Sultan Hasanuddin juga berada di situ! Singo lreng memang berpikiran tajam. Melihat kepada pakaian Mangkubumi Mintra tahulah dia bahwa penasihat istana itu berusaha melarikan diri dari Banten dengan menyamar sebagai pengemis!

"Mana Sultan?" bertanya Singo Ireng derrgan suara lantang kasar.

Pendekar 212 tidak menjawab. Malahan dia memandang seperti tiada melihat apa-apa berada-disekelilingnya saat itu! Dia menengadah ke atas memperhatikan matahari yang menaik tinggi.

Melihat sikap yang sangat menghina ini, apa lagi di hadapan sekian banyaknya prajurit tentu saja Resi Singa Ireng menjadi sangat penasaran serta malu. Mukanya yang hitam kelihatan semakin tambah hitam. "Bocah gondrong! Apa kau tuli atau gagu? Orang bertanya tidak dijawab?!"

Pendekar 212 masih tidak menyahut. Malah kini jari-jari tangan kirinya mencungkil-cungkil tepi lubang hidungnya kemudian dia berbangkis dua kali berturut-turut!

"Keparat!" bentak Singo Ireng dengan-suara menggeledek.

"Eeeeh... kau memaki pada siapakah?!" bertanya Pendekar 212 sambil putar kepala seperti baru saat itu disadarinya bahwa dia tidak berada sendirian di tempat itu!

"Prajurit-prajurit! Tangkap bocah edan ini perintah Resi Singo Ireng dengan geramnya.

Maka dua puluh prajurit pemberontak melompat turun dari kuda masing-masing, hunus senjata dan bergerak cepat mendekati Pendekar 212.

"Bergundal pemberontak," berseru Wiro Sableng atau Pendekar 212. "Kalau kau ingin tangkap aku mengapa tidak turun tangan sendiri?!"

Di saat itu dua puluh prajurit sudah menyerbu untuk menangkap Pendekar 212.

"Kalian kunyuk-kunyuk pemberontak hanya datang minta digebuk!" ujar Pendekar 212 dengan tersenyum. Tapi bila senyumnya itu putus maka mengumandanglah bentakan dahsyat.

Lima prajurit yang paling dekat dan hendak turun tangan menangkapnya terpelanting dan bergetimpangan di tanah tiada nyawa lagi!

Tersiraplah darah Resi Singo Ireng! Tiada disangkanya pemuda gondrong bertampang bodoh itu mempunyai kehebatan demikian rupa! Maka berserulah dia! "Tak perlu budak hina dina ini ditangkap hidup-hidup. Cincang di tempat!"

Maka lima belas senjata tajam berkiblat ke arah Pendekar 212.

"Heiyaaah !"

Tubuh Siro Sableng mencelat tiga tombak ke atas, Seluruh serangan senjata lawan lewat di bawah kakinya. Detik senjata-senjata itu menderu memapas angin kosong maka detik itu pula dengan kecepatan yang hampir tak sanggup disaksikan oleh mata Pendekar 212 menukik ke bawah merampas pedang salah seorang prajurit. Dan ketika pedang itu menderu laksana kitiran maka lima prajurit meregang nyawa mandi darah, dua lainnya luka parah!

Dalam kejutnya menyaksikan gebrakan yang dahsyat itu Resi Singo Ireng melihat satu bayangan berkelebat ke arahnya. Dia tarik tali kekang kuda dengan cepat. Namun sebelum binatang tunggangannya itu sempat bergerak, tubuh kuda ini sudah angsrok ke tanah! Keempat kakinya terbabat putus. Binatang ini berguling di tanah melejang-lejangkan kakinya yang buntung dan meringkik tiada henti! Untung saja Resi yang kosen ini Cepat menyadari apa yang terjadi sehingga lekas-lekas dia melompat ke samping dan berdiri dengan muka kelam membesi, mata menyorot!

Pendekar 212 tertawa gelak-gelak sementara prajurit-prajurit yang masih hidup dengan nyali menciut segera menjauhi ini pemuda yang dianggap mereka sangat berbahaya.

"Pemuda gondrong! Kehebatanmu cukup untuk dikagumi! Tapi bila kau tahu dengan siapa saat ini berhadapan, maka lekaslah berlutut minta ampun!" berkata Singo Ireng.

"Uh! Sama manusia jelek macam kau buat apa perlu takut!". ujar Wiro Sableng dan tawanya semakin menjadi-jadi!

"Ah... kalau begitu kau sebutkanlah nama! Terhadap manusia-manusia yang punya sedikit ilmu, aku tidak begitu senang jika membunuhnya tanpa tahu namanya terlebih dahulu!"

"Kalau butuh namaku aku tak keberatan. Majulah biar kutulis dijidatmu!" kata Wiro Sableng pula sambil acungkan jari telunjuk!

Menggeramlah sang Resi bermuka hitam itu. Selama dunia terbentang, selama malang melintang dalam dunia persilatan, baru hari itulah dia dihina dan direndahkan terus-terusan oleh seseorang! Oleh seorang yang berusia jauh lebih muda dari padanya. Dari balik pakaian Resi ini keluarkan sebuah senjata berbentuk aneh yaitu sebuah besi panjang yang ujungnya berbentuk Iingkaran.

"Kalau kau punya senjata pusaka, sebaiknya lekas keluarkan supaya mampus tidak rnenyesal!"

"Tak perlu banyak cerewet!" semprot Pendekar 212. "Majulah! Senjataku cukup pedang butut milik cecungukmu yang sudah mampus itu!"

Resi Singo Ireng yang berbadan kate ini segera maju dan hamburkan serangan dahsyat. Senjata anehnya mengeluarkan suara menderu, menimbulkan angin yang deras dan tajam. Ujung senjata yang berbentuk lingkaran itu berubah laksana ratusan banyaknya! Searang lawan yang berilmu tanggung dan bermata tidak awas akan sulit membedakan mana lingkaran senjata yang asli dan mana yang bukan. Dalam lawan kebingungan maka senjata itu akan menyeruak lewat kepalanya dan sekali putar saja pastilah patah dan putus batang leher dibuatnya! Inilah kehebatan senjata sang Resi dari pantai selatan itu!

Namun yang dihadapi Singo Ireng dihari itu bukanlah seorang lawan berilmu tanggung, bukan seorang pemuda yang hanya mengenal sejurus dua ilmu silat! Begitu senjata lawan membadai menghampiri kepalanya, Wiro Sableng cepat merunduk dan selinapkan satu tusukan deras kearah perut sang Resi!

Kaget Singo Ireng bukan olah-olah! Cepat dia undur dua langkah dan papasi pertengahan senjata lawan dengan tongkat besi lingkarannya.

"Trang" !

Dua senjata beradu

Karena senjata ditangan Singo Ireng adalah senjata mustika sedang pedang ditangan Wiro hanya pedang biasa maka patahlah pedang itu! Tapi sebaliknya Singo Ireng merasakan bagaimana tangannya tergetar hebat dan panas pada bentrokan itu! Maklumlah dia bahwa pemuda itu mempunyai tingkat tenaga dalam yang hebat sekali! Karenanya sang Resi tanpa memberi peluang segera lancarkan serangan-serangan dahsyat! Sengaja dikeluarkannya jurus-jurus yang hebat yaitu jurus "memetik bunga membelah buah" lalu disusul dengan jurus "delapan gunung meletus gegap gempita"! Diserang dengan dua jurus ini berikut pecahan-pecahannya yang tak kalah dahsyat maka Pendekar 212 menjadi repot juga.

Namun bila dia sudah mempercepat gerakannya, bila suara siulan sudah menggema melesat dari sela bibirnya maka kelihatanlah kini bagaimana Resi Singo Ireng menjadi terdesak. Meski terdesak, Resi ini dengan segala kelihayannya sanggup pertahankan diri sampai sepuluh jurus dimuka!

"Manusia bermuka jelek! Permainan silatmu baleh juga. Tapi apa kau sanggup menerima pukulanku ini?!" tanya Pendekar 212. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas, kedua mata dipejam. Kemudian kedua tangan itu mulai berputar-putar dengan sebat! Maka menggemuruhlah suara angin. Debu dan pasir beterbangan, membuat gelap pemandangan!

"Pukulan angin puyuh!" seru Resi Singo Ireng sambil bersurut mundur. Mulutnya komat kamit membaca aji penangkis. Kedua kakinya melesak kedalam tanah sampai dua dim! Tubuhnya tergetar hebat. Pakaian putih serta rambutnya yang awut-awutan berkibar-kibar!

Tiba-tiba Pendekar 212 Wiro Sableng hantamkan kedua tangannya kemuka. Tubuh Singo Ireng mencelat kebelakang sampai lima tombak. Ketika dia berdiri maka tubuhnya terbungkuk tertatih-tatih, hidungnya kembang kempis tanda nafasnya memburu tak teratur. Nyatalah bahwa Resi kosen ini telah menderita luka parah didalam akibat pukulan Wiro Sableng tadi. Senjatanya mental entah kemana! Wiro tertawa mengekeh.

Sebaliknya lawannya menggeram laksana harimau terluka. Mulut terkatup rapat-rapat, rahang bertonjolan, pelipis bergerak-gerak sedang mata menyorot merah!

"Pemuda, hari ini aku Resi Singo Ireng biarlah mengadu jiwa pada kau!". Sang Resi angkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Detik demi detik tangannya itu menjadi hitam legam. Tangan ini bergetar karena seluruh tenaga dalamnya dipusatkan kesitu!

Wiro Sableng tertawa mengejek. "Rupanya kau sengaja mau bunuh diri manusia kate bertampang jelek! Dalam keadaan terluka di dalam, melancarkan pukulan demikian rupa kau akan konyol sendiri!".

Singo Ireng memang memaklumi hal itu. Tapi dia sudah kepalang tanggung, sudah teramat malu dan sudah meluap amarahnya! "Aku mati tapi kau juga mampus ditanganku, keparat!" bentaknya.. Maka tangan kirinyapun turun kebawah dengan cepat. Selarik sinar hitam yang menggidikkan menyambar kearah Pendekar 212! Itulah ilmu pukulan "wesi item" yang telah membinasakan Braja Paksi, kepala balatentara Banten!

Pendekar 212 melompat ke atas sampai enam tombak. Angin pukulan "wesi item" terasa panas seperti mau melumerkan kedua kakinya. Pendekar ini gigit bibir menahan perih lalu 1ancarkan serangan balasan yaitu pukulan yang tak asing lagi. "kunyuk melempar buah"!

Di seberang sana tubuh Resi Singo Ireng kelihatan jungkir balik kemudian jatuh duduk di tanah dan muntah darah, lalu rebah tiada sadarkan diri!

Sebenarnya pukulan "kunyuk melempar buah" itu belum tentu akan mencelakai sang Resi. Namun karena dalam keadaan terluka di dalam dia telah rnelancarkan pukulan yang keras dengan mengandalkan seluruh tenaga dalam maka dia rasa sendiri akibatnya. Masih untung nyawanya tidak terbang!

Wiro Sableng tertawa mengekeh. Dia melangkah mendekati tubuh Resi itu. Prajurit-prajurit yang masih hidup, yang dedikkan mata melihat bagaimana jago mereka dibikin babak belur demikian rupa segera bersurut menjauh.

"Resi muka arang!," kata Pendekar 212. "Kau tanya siapa aku. Inilah kutuliskan aku punya nama!". Dan habis berkata demikian pendekar ini segera guratkan angka 212 dikulit kening yang hitam dari Singo Ireng. Kemudian nendekar ini berdiri kembali. "Kerak-kerak pemberontak!," katanya pada perajurit-perajurit yang masih hidup. "Kalian boleh menggotong manusia bermuka pantat kuali ini ke Kotaraja! Jika hari ini aku tiada cabut nyawanya dan nyawa kalian, maka di lain hari bila bertemu kembali jangan harap aku akan lepaskan nyawa kalian! Sampaikan ini padanya bila dia sudah siuman!". Dan sesudah bicara demikian Wiro Sableng segera tinggalkan tempat itu dengan membawa mayat Mangkubumi Mintra.–== 0O0 == –

DENGAN hati penuh duka sedih mengenang kematian Mangkubumi Mintra yang sengaja korbankan nyawa untuk selamatkan dirinya, Sultan Hasanuddin berlari sepanjang tepi rimba belantara dikaki bukit. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Dan ini bukan saja menambah besarnya dendam kesumat di hati Sultan terhadap Parit Wulung dan benggolan-benggolan pemberontak lainnya tapi juga mempertebal tekatnya bahwa di suatu ketika dia pasti akan kembali ke Banten dan membangun Kerajaan Banten yang syah!

Menjelang senja dia mencapai sebuah kota kecil yang terletak di timur Banten. Kota ini bernama Asoka. Dulunya hanya merupakan pangkalan-pangkalan pemberhentian para pedagang dari pelbagai penjuru sekitar situ. Kemudian pedagang-pedagang itu banyak yang mendirikan gudang-gudang untuk barang-barang dagangannya, kemudiannya lagi mereka juga mendirikan rumah-rumah sehangga lambat laun dari pangkalan dagang maka berobahlah Asoka menjadi sebuah kota. Sebagai kota dagang tentu saja sepanjang hari Asoka selalu sibuk. Kesibukan dan keramaian ini terus berlangsung sampai jauh malam.

Sehabis mendapatkan sebuah penginapan, Sultan mengelilingi kota melihat-lihat keramaian dan mengisi perut disatu kedai. Ketika bulan sabit di atas langit tertutup oleh awan tebal berwarna gelap maka Sultanpun kembali kepenginapannya. Matanya yang tajam segera melihat adanya ketidakberesan dalam kamar dimana dia menginap. Seperai agak kusut bantal-bantal tidak terletak ditempatnya semula sedang bungkusan kecil yang berisi beberapa potong pakaian serta sejumlah uang yang diletakkannya di kolong tempat tidur nyata sekali bekas dibuka dan digeledah orang. Namun tidak sepotong barang-barangnyapun yang hilang!

Sultan merasa masygul. Dia memandang berkeliling. Di dinding sebelah sana terdapat sebuah jendela. Jendela itu masih tetap sebagaimana tadi ditinggalkannya. Tak ada tanda-tanda bekas pengrusakan. Siapa gerangan yang telah masuk ke dalam kamar dan melakukan penggeledahan? Mungkin seseorang, mungkin beberapa orang? Kalau dia atau mereka itu dari golongan si tangan panjang atau pencuri, mengapa tidak sepotong barang dan tak sepeser uangnyapun yang hilang? Kekhawatiran Sultan Hasanuddin semakin besar karena dia ber-kesimpulan bahwa siapapun manusianya yang telah memasuki kamarnya pastilah untuk mencari dan mencuri keris pusaka Tumbal Wilayuda!

Sultan Hasanuddin merasa bersyukur karena sewaktu pergi tadi dia telah membawa keris tumbal kerajaan itu. Kalau tidak pastilah senjata itu sudah lenyap dilarikan orang!

Malam itu Sultan sengaja tidur dengan mematikan lampu minyak di dalam kamarnya. Matanya hampir terpicing ketika lapat-lapat sepasang telinganya mendengar suara gemerisik di atas loteng bangunan. Suara itu pasti sekali bukan suara kucing. Sultan pasang telinganya lebih tajam. Suara gemerisik tadi lenyap dan kini dia hanya mendengar suara rintik-rintik hujan gerimis di luar sana. Perlahan-lahan Sultan pejamkan matanya kembali. Tapi ketika hampir pulas matanya itu terpicing, suara gemerisik tadi didengarnya kembali. Kali ini Sultan bangun dari pembaringan dan melangkah kesudut kamar. Dia menunggu dengan tangan kanan menempel erat-erat dihulu pedang.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka! Sultan terkejut. Dia ingat betul bahwa pintu kamar itu telah dikuncinya tadi, bagaimana kini bisa terbuka semudah itu tanpa suara dan siapakah yang nlembukanya?! Sultan tak menunggu lebih lama. Sesosok tubuh manusia yang sangat pendek masuk mengendap-endap ke dalam. Manusia ini memakai jubah panjang. Karena tubuhnya yang kate maka jubahnya menjela-jela sampai kelantai. Tiba-tiba orang itu putar tubuh ke kiri dan melompat. Sebuah benda besar ditangannya yaitu sebilah golok empat persegi panjang menderu ke arah dimana Sultan berdiri. Sultan sendiri yang saat itu memang sudah siap siaga cabut pedangnya dengan cepat dan menangkis!

"Trang"!

Bunga api memercik. Karena kamar itu gelap maka sinar percikan bunga api menjadi terang sekali dan menerangi kedua muka manusia yang berada disitu. Keduanya saling meneliti paras lawan masing-masing!

Terkesiaplah Sultan Hasanuddin ketika melihat bagaimana wajah manusia yang dihadapinya itu seramnya bukan main. Rambutnya kaku berdiri laksana ijuk. Manusia ini memelihara berewok yang meranggas lebat. Alisnya tebal, sepasang matanya besar merah. Bibirnya sumbing dan dua buah giginya yang besar tersembul keluar. Manusia ini boleh di-katakan tiada mernpunyai hidung karena daging hidungnya sama rata dengan pipinya yang cekung! Dan bau badannya yang busuk sangat menusuk hidung!

"Manusia buruk! Jika kau tidak tinggalkan kamar ini dengan cepat, jangan menyesal bila kukirim ke akhirat!" ancam Sultan.

Manusia bermuka seram itu tertawa dingin.

Dia hembuskan nafasnya yang busuk kemuka. Sultan tutup jalan nafas di hidung dan untuk kedua kalinya pergunakan pedang guna menangkis serangan lawan. Tapi kali ini keadaan tidak seperti tadi Iagi. Meski Sultan sanggup menangkis senjata lawan namun pedangnya sendiri terlepas mental, tangannya tergetar hebat. Tiba-tiba satu tangan mendorongnya hingga dia terbanting dengan keras ke dinding!

Ketika dia imbangi diri kembali, kaget Sultan tiada kepalang. Matanya membeliak menyaksikan bagaimana keris Tumbal Wilajuda kini sudah berada di tangan manusia bermuka seram itu!

"Maling hina dina! Kembalikan kerisku!" teriak Sultan.

Simuka buruk hamburkan tertawa mengekeh. "Masih untung aku hanya minta kerismu ini, dan bukan nyawamu!". Habis berkata begini manusia muka seram itu sekali gerakkan badan tubuhnya menerjang ke muka mendobrak jendela untuk kemudian lenyap lewat jendela yang ambruk itu dikegelapan malam!

"Pencuri terkutuk!". Sultan melesat pula ke luar jendela. Dia masih sempat melihat bayangan pencuri itu di balik sebuah gudang tua dan segera mengejar ke situ. Kejar mengejar itu berjalan hanya sebentar saja karena sejurus kemudian si pencuri lenyap seperti gaib ditelan bumi!

Sultan berdiri gemas memandang berkeliling. Ke mana dia harus mengejar dan mencari si pencuri di malam buta begini? Apakah manusia tangan panjang itu bukan salah seorang pula dari kaki tangan Parit Wulung?!

Tengah kebingungan begitu rupa tiba-tiba Sultan menangkap suara bentakan-bentakan orang yang tengah berkelahi. Cepat Sultan lari ke balik sebuah bengkel kuda dan dalam kegelapan dilihatnyalah dua manusia tengah bertempur dengan hebat. Salah seorang tiada lain dari pada si pencuri yang tengah dicari-carinya sedang orang yang kedua sesudah diperhatikan dengan teliti ternyata dia adalah pemuda rambut gondrong yang pagi tadi telah menolongnya di perbatasan.

"Sobat! Serahkan pencuri terkutuk ini padaku!" seru Sultan.

"Ah... selamat jumpa Sultan," menjawab si rambut gondrong alias Pendekar 212.

"Tak perlu kotorkan tangan pada manusia bau bangkai ini...!"

"Dia mencuri kerisku, sobat!" memberi tahu Sultan.

"Aku tahu. Biar aku yang ringkus dia!"

Begitu mendengar si pemuda yang menyerangnya memanggil "Sultan" ‘terhadap laki-laki yang datang itu terkejutlah si mulut sumbing. Dibalik terkejut hatinya juga senang. "Ha... ha... jadi saat ini aku berhadapan dengan Sultan dan tukang pukulnya? Bagus! Kerisnya aku sudah dapat, kini Sultannya sendiri datang antarkan diri untuk ditangkap hidup-hidup. Pasti aku mendapat hadiah berlipat ganda dari Parit Wulung..."

"Hem... jadi betul dugaanku bahwa kau kaki tangannya bangsat pemberontak itu huh?! Terima pukulanku ini, pencuri hina dina!"

Sultan lepaskan tiga pukulan sekaligus! Tapi yang diserang ganda tertawa dan kebutkan lengan pakaiannya yang bertambal-tambal. Serangkum angin dahsyat rnenyerang ke arah Sultan. Namun angin pukulan itu buyar di tengah jalan, kena dihantam angin pukulan lain yang datang dari samping!

Si muka seram menggerong. "Agaknya malam ini Pengemis Bibir Sumbing musti rampas dua jiwa sekaligus!".

Sultan tersurut sewaktu mendengar manusia kate itu kenalkan diri. Pendekar 212 sendiri juga terkejut. Nama Pengemis Bibir Sumbing memang sudah sejak lama terkenal sepanjang pesisir Jawa Barat. Bersama dua orang lainnya maka Pengemis Bibir Sumbing dikenal sebagai pemegang pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam! Tiba-tiba Pengemis Bibir Sumbing lemparkan golok besarnya ke arah Pendekar 212. Senjata ini dengan mudah bisa dielakkan. Begitu habis lemparkan golok, Pengemis Bibir Sumbing acungkan kedua tangan datar-datar ke muka dengan telapak tangan menghadap ke atas.

"Telapak tangan minta sedekah nyawa!," seru Pendekar 212 begitu dia kenali pukulan yang bakal dilancarkan lawan.

"Sultan mundurlah!," serunya kemudian memperingatkan.

Tapi disaat itu Pengemis Bibir Sumbing sudah mencelat ke muka dan membagi-bagi serangan telapak tangannya pada Pendekar 212 dan Sultan!

Tahu bahwa pukulan lawan sangat berbahaya maka Pendekar 212 segera hantamkan tangan kanannya ke muka. Gelombang angin deras memukul ke arah Pengemis Bibir Sumbing. Meski tubuhnya sendiri kemudian terpelanting sampai tiga tombak oleh serangan lawan namun Pengemis Bibir Sumbing sebelumnya masih sanggup hantamkan telapak tangannya ke dada Sultan!

Sultan Hasanuddin mengetuh tinggi. Tubuhnya bergoncang, dadanya seperti melesak. Terbungkuk-bungkuk dia berbatuk. Darah segar menyembur!

Pendekar 212 bersuit keras! Tubuhnya lenyap pada detik Pengemis Bibir Sumbing coba lepaskan pukulan "telapak tangan minta sedekah nyawa" untuk kedua kalinya.

"Sultan, cepat telan pil ini!" teriak Wiro Sableng.

Sultan Hasanuddin sambuti pil yang dilemparkan Pendekar 212 lalu menelannya dengan cepat Kemudian segera duduk bersila mengatur jalan darah serta pernafasan, juga alirkan tenaga dalam kebagian yang terluka.

Disaat Wiro Sableng berkelabat maka lenyaplah tubuhnya dari penglihatan Pengemis Bibir Sumbing. Karena hanya terdengar suaranya saja, maka Pengemis Bibir Sumbing kembali lancarkan pukulan ganas dua kali berturut-turut ke arah suara lawan. Tapi Pendekar 212 tidak bodoh dan Pengemis Bibir Sumbing salah perhitungan. .

"Plaak"!

Pengemis Bibir Sumbing terpental empat tombak ke belakang. Kepalanya serasa pecah sedang kulit keningnya laksana terbakar! Dan pada kulit keningnya itu kini kelihatan tiga buah angka 212! Pengemis Bibir Sumbing meluap amarahnya. Tanpa hiraukan rasa sakitnya pada keningnya dia menerpa kemuka kirimkan lima pukulan empat tendangan! Pendekar 212 mendengus dan bersiul nyaring. Tangan kanan menghantam ke muka. Angin pukulan menderu, menyusup di antara serangan lawan!

Untuk kedua kalinya Pengemis Bibir Sumbing terpental. Kali ini sampai delapan tombak dan kali ini terus terguling ke tanah dengan mulut memuntah darah! Tamatlah riwayatnya! Sultan yang menyaksikan pertempuran hebat itu dalam sakitnya leletkan lidah penuh kagum!

Pendekar 212 mendekati mayat Pengemis Bibir Sumbing, memgambil keris Tumbal Wilayuda lalu menyerahkan kemhali pada Sultan.

"Keris pusaka bagus! Karena senjata ini banyak yang ingini sebaiknya disimpan lebih hati-hati, Sultan".

Sultan menghela nafas panjang. "Terima kasih," katanya. "Dua kali kau telah menolongku sahabat. Siapakah engkau?"

"Namaku Wiro Sableng," jawab Pendekar 212. "Kalau aku boleh kasih nasihat, baiknya kau tak usah kembali kepenginapan, tapi segera teruskan perjalanan".

"Mengapa begitu?" tanya Sultan.

"Terlalu banyak manusia-manusia macam Pengemis Bibir Sumbing ini yang mencarimu dan inginkan keris Tumbal Wilayuda".

Sultan merenung sejurus. "Terima kasih atas nasihatmu, sahabat! Karena kau telah berbuat baik kepadaku, perbuatan baik yang tak bakal kulupakan sebagai budi besarmu, bagaimana kalau aku tawarkan agar ikut bersamaku meneruskan perjalanan?"

"Ah... itu satu kehormatan besar bisa seiring denganmu, Sultan" jawab Pendekar 212 ramah. "Tapi harap maafkan.. Aku masih banyak urusan. Namun demikian, aku berjanji tidak akan berada jauh dari padamu..."

"Kalau begitu baiklah, aku tidak memaksa'," ujar Sultan. Dari balik pakaian samarannya yang bertambal-tambal dikeluarkannya sebuah benda yang bercahaya. Diserahkannya benda itu kepada Pendekar 212 tapi sang pendekar tak berani menyambutinya.

"Sobat, terimalah!" kata Sultan pula.

"Benda apakah ini Sultan?"

"Terimalah dulu".

Wiro menerimanya.

Benda itu ternyata sebuah bintang bersudut delapan yang terbuat dari emas dan di tengah-tengahnya dihiasi dengan sebutir berlian yang berkilauan. "Benda itu adalah bintang utama Kerajaan Banten, yang diserahkan kepada siapa saja yang telah membuat jasa terhadap Raja dan rakyat Banten, Wiro..."

"Ah... mana aku pantas terima hadiah ini Sultan?" kata Wiro Sableng pula dengan ke-rendahan.

Tapi sultan memaksakan juga agar Pendekar 212 menerima anugerah itu. Wiro menyimpan benda tersebut baik-baik dibalik pakaiannya. "Terima kasih," katanya.

"Lalu karena penyamaraanmu sebagai pengemis sudah diketahui oleh golongan rampok dan penjahat, sebaiknya ditukar saja, Sultan"

"Aku memang sudah merencana begitu" kata Sultan pula.

Sekali lagi mereka saling ucapkan terima kasih. Pendekar 212 menjura minta diri dan keduanyapun berpisahlah.–== 0O0 == –

KELUARGA Wirja Pranata adalah keluarga bangsawan besar di Ujung Kulon. Selagi muda antara Wirja Pranata dan Fatahillah terdapat jalinan persahabatan yang erat sehingga di suatu ketika kedua sahabat itu berjanji bahwa bila mereka nanti salah satu memiliki anak laki--laki dan anak perempuan, dikemudian hari kelak keduanya akan dijodohkan.

Puteri bangsawan Wirja Pranata yaitu Anjarsari memang sudah lama tahu bahwa dirinya dijodohkan dengan Raja Banten. Namun sampai sebegitu jauh belum pernah sekalipun dia bertemu muka dengan calon suaminya itu. Dan ketika Sultan Hasanuddin muncul di sore hari itu maka terkejutlah bangsawan Wirja Pranata.

"Sultan, apakah yang telah terjadi ? Mengapa datang tanpa pengiring dan dalam pakaian begini rupa?"

Sultan Hasanuddin menggigit bibir menahan gelora hatinya. Sesudah apa yang menggejolaki hatinya berkurang maka mulailah dia beri penuturan.

Hal itu mengejutkan seluruh keluarga bangsawan Wirja Pranata, termasuk Anjarsari yang curi mendengar penuturan itu dari balik dinding kamar tidurnya.

Beberapa lamanya kesunyian menyeling. Bangsawan Wirja Pranata dan isterinya duduk termanggu tanpa bisa berkata apa-apa. Sultan sendiri juga terdiam beberapa Iamanya. Ketika Sultan dipersilahkan kebelakang untuk membersihkan diri maka diamdiam Anjarsari mencuri intip dari sela pintu. Hatinya berdebar dan darahnya berdebur-debur. Ah, nyatanya Sultan yang bakal suaminya itu seorang pemuda yang berparas gagah berkulit kuning halus, hampir sehalus kulit perempuan! Hatinya berbunga-bunga. Kapan ayah atau ibunya akan menyuruhnya keluar dan berkenalan dengan Sultan? Dan mengingat ini dada si gadis semakin menggemuruh. Ketika dia menghadap ke kaca maka jelaslah kelihatan bagaimana parasnya ke merah-merahan!

Ketika senja berlalu dan hari beralih menjadi malam maka barulah Anjarsari disuruh keluar oleh ibunya. Pertemuan dengan Sultan benar-benar membuat lututnya gemetar, tapi juga membuat hatinya mekar. Gadis ini tundukkan kepala, parasnya bersemu merah. Sultan sendiri juga tundukkan kepala. Apa yang dikatakan ayahnya bahwa calon isterinya adalah seorang gadis cantik sekarang menjadi kenyataan. Diam-diam pemuda ini melirik dengan sudut matanya.

Bangsawan Wirja Pranata berbatuk-batuk. Lalu bertanyalah dia pada calon mantunya itu . "Apakah rencana Sultan selanjutnya?"

"Saya merencanakan untuk pergi ke. Demak dan minta bantuan pasukan serta persenjataap selengkapnya....."

"Itu tepat sekali," kata Wirja Pranata. "Tapi mengingat Demak masih jauh dari sini dan Sultan membawa keris pusaka pula maka sebaiknya Sultan jangan pergi seorang diri"

Ucapan calon mertuanya itu memang dirasa betul sekali oleh Sultan. Dan diam-diam dia teringat pada Wiro Sableng, si pemuda sakti yang telah dua kali menolongnya. Kalau pemuda itu berada bersamanya saat itu tentu dia tak usah khawatir bahaya apapun.

Sebagai orang tua yang tahu di hati anak muda dan juga pernah muda, tak lama kemudian Wirja Pranata bersama isterinya mengundurkan diri ke dalam kamar. Maka kini tinggallah kedua orang itu. Suasana lain sekali jadinya kini. Suasana itu sungguh tidak enak, tapi tidak enak yang enak! Rasa begini rupa baik oleh Anjarsari maupun oleh Sultan sendiri tak pernah dialaminya sebelumnya. Cuma sudut-sudut mata mereka saja yang sekali-sekali mencuri pandang. Ketika Anjarsari melirik untuk kesekian kalinya maka pada detik itu pula Sultan mengerling. Beradulah dua kerlingan mata itu! Anjarsari cepat-cepat menundukkan kepalanya menyembunyikan paras yang semu kemerahan!

Kesunyian masih juga berjalan terus sampai beberapa lamanya. Tiada satupun yang berani untuk membuka pembicaraan. Sultan sendiri merasa tenggorokannya seperti tersekat, lidahnya seperti kelu dan mulutnya terkancing!

Namun pada akhirnya Sultan Hasanuddin membuka mulutnya juga. "Kalau tiada terjadi pengkhianatan Parit Wulung, mungkin sampai hari ini belum ada kesempatan bagi kita untuk bertemu, Sari..."

"Ya... hemm..., saya sangat terkejut meindengar berita buruk itu, kakak," berkata Anjar-sari agak gugup. Kemudian. "Apakah kakak akan segera berangkat ke Demak...?"

Sultan mengangguk.

"Memang lebih cepat lebih baik. Ramanda di Cirebon sudah mendapat tahu peristiwa di Banten...?"

"Mudah-mudahan sudah karena ada kukirimkan seorang utusan ke sana". Kemudian untuk menghilangkan pembicaraan yang berjalan kaku itu maka Sultan mengajak Anjarsari keluar rumah. Di luar ternyata malam itu berpemandangan indah. Bulan purnama empat belas hari bersinar terang, bintang-bintang bertaburan di langit yang biru cerah. Banyak dan sering sudah kedua remaja itu melihat bulan purnama pada malam-malam terang bulan sebelumnya namun bagi mereka tiada seindah malam itu.

Di samping gedung besar bangsawan Wirja Pranata terdapat sebuah taman kecil. Di dalam taman terletak satu bangku panjang. Kedua remaja ini melangkah seiring ke bangku itu. Mendadak Sultan putar kepalanya ketika sepasang telinganya yang tajam dalam kesunyian itu mendengar suara bergeresek di atas genting. Sesosok bayangan hitam kelihatan berkelebat ialu lenyap di bagian atap gedung yang lain. Meski demikian cepat lenyapnya namun Sultan masih sempat melihat bahwa di tangan kirinya sosok tubuh hitam itu memegang sebuah benda yang berbentuk keris.

"Celaka!" kata Sultan dalam hati. Dia berseru dengan keras. "Berhenti!" Tapi bayangan sosok tubuh tadi sudah sejak lama lenyap. Ketika disusul kehalaman samping juga tak kelihatan lagi. Dalam kebingungannya Sultan sampai lupakan Anjarsari. Dia lari masuk ke dalam gedung, terus ke kamar dan melihat bagaimana kasur pembaringan berada dalam keadaan tak karuan. Ketika ditariknya kasur itu di bagian kepala tempat tidur, maka keris Tumbal Wilayuda yang sebelumnya disimpannya di sana, kini sudah tiada lagi! Lenyap! Dan pastilah sosok tubuh yang melarikan diri tadi yang telah mencurinya!

"Pencuri keparat!" maki Sultan. Dia lari lagi keluar. Ketika sampai di halaman samping terkejutlah dia. Anjarsari tak ada lagi di dalam taman! Lenyap!

"Anjar!" memanggil Sultan. "Anjarsari!" serunya lagi. Tapi tiada jawaban!

Maka di malam itu hebohlah seisi gedung bangsawan Wirja Pranata. Sultan sendiri sesudah memberikan penuturan, singkat segera berkelebat meninggalkan gedung. Keris Tumbal Wilayuda lenyap! Tapi kekhawatirannya lebih lagi terhadap Anjarsari yang hilang secara aneh itu. Maka dia memutuskan menyelidiki lenyapnya Anjarsari lebih dahulu lalu baru mencari jejak si pencuri keris Tumbal Wilayuda!

Sesaat sesudah kepergian Sultan, Wirja Pranata berkelabat pula ke arah yang berlawanan.

Malam dingin dan angin agak kencang bertiupnya. Wirja Pranata adalah seorang bangsawan yang "mempunyai isi" juga. Dalam waktu yang singkat dengan ilmu larinya yang sempurna dia telah sampai di luar kota. Karena daerah luar kota merupakan daerah pesawangan datar di tambah bulan bersinar terang maka dengan mudah di ujung pesawangan Wirja Pranata dapat melihat dua sosok tubuh manusia tengah berlari kencang. Yang di belakang sebat sekali larinya dan dalam waktu yang singkat berhasil menyusul yang di muka. Kemudian kelihatan terjadi pertempuran! Tanpa menunggu lebih lama bangsawan Wirja Pranata segera lari ke sana. Dia sampai ketika pertempuran tengah berjalan hebat-hebatnya. Kedua orang yang bertempur adalah seorang pemuda berambut gondrong berpakaian putih. Gerakannya gesit sekali dan menimbulkan angin bersiuran. Lawannya adalah seorang laki-laki jangkung kurus bermuka sangat seram berpakaian hitam. Salah satu matanya sangat besar sedang yang lain hanya merupakan sebuah rongga hitam cekung yang sangat menggidikkan. Gerakannya juga tak kalah hebat dari lawannya. Pakaiannya bertambal-tambal.

"Berhenti!" seru Wirja Pranata.

Tapi yang bertempur tidak ambil perduli. Yang bermuka seram malahan lancarkan empat serangan dahsyat yang menimbulkan angin tajam dan panas!

Pemuda rambut gondrong berseru nyaring, lompatkan diri ke udara lalu menukik lagi seraya hantamkan tangan kanan ke muka. Angin laksana badai menderu menyerang si muka seram.

"Pukulan kunyuk melempar buah!," seru si muka seram kaget. Buru-buru dia kebatkan lengan pakaian hitamnya. Tapi tubuhnya terduduk di tanah karena angin pukulan lawan nyatanya lebih dahsyat. Pemuda rambut gondrong sendiri tersurut ke belakang beberapa langkah, dadanya terasa sakit.

"Manusia muka setan ini ilmunya tinggi sekali dan berbahaya!," membatin si pemuda.

Sebaliknya si muka setan yang tahu bahwa lawannya adalah seorang yang sangat tangguh segera berseru pada Wirja Pranata. "Sobat! Kenapa diam saja?! Bukankah kedatanganmu kemari untuk mencari pencuri keris? Inilah bangsat malingnya! Ayo tunggu apa lagi, mari kita labrak!"

Si pemuda tertawa dingin. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Ketika tangan itu turun, segelombang angin menggebubu menyerang tubuh si muka setan dari atas ke bawah! Manusia ini segera kebutkan kedua ujung lengan bajunya. Pemuda gondrong sampai melesak kedua kakinya sedalam dua senti ke tanah sedang si muka setan terguling di tanah tapi cepat bangun lagi!

Diam-diam si pemuda rambut gondrong terkejut.

Pukulan yang dilancarkan tadi bukan sembarang dan mempergunakan hampir sepertiga tenaga dalamnya tapi lawan ternyata tidak apa-apa malahan bisa bangkit kembali!

"Wirja Pranata!" berseru si muka setan. "Kalau kau inginkan keris kembali lekas bantu aku meringkus maling busuk ini! Apa kau tidak lihat pinggangnya menggembung? Keris itu disembunyikannya di sana!"

"Orang tolol!," maki si pemuda. "Kenapa terpengaruh omongan manusia muka setan ini?! -Dialah Yang mencuri keris Tumbal Wilayuda!"

Wirja Pranata jadi bingung. Tapi karena sudah terlanjur maka dia teruskan juga serangannya. Pernuda rambut gondrong tiada hentinya memaki.

"Bangsawan Wirja Pranata, sebaiknya mundurlah! Jangan sampai tertipu maling yang berteriak pencuri ini!"

Meski terkejut karena si gondrong ketahui nmaanya namun Wirja Pranata terus juga lancarkan serangan-serangan. Si rambut gondrong menggereng. Tiba-tiba bersuit keras. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas dan diputar-putar. Dia menghadap tepat-tepat pada manusia muka setan. Dan manusia ini terkejut sekali "Pukulan angin puyuh!," serunya, dengan wajah tegang. Cepat-cepat dia keruk kantong baju hitamnya, lompat empat tombak dan begitu tangannya keluar dari saku maka melesatlah lima benda bersinar hitam ke arah si pemuda.

"Paku Darah Hitam!," seru Wirja Pranata ombil surut kebelakang. Hatinya meragu akan siapa sebenarnya manusia muka seram itu.

"Hemm... jadi kau anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam?" gertak pemuda rambut gondrong. Sekali dia hantamkan tangan kanan ke muka maka luruhlah paku-paku biru itu ke tanah! Ketika dia hendak menyerang kembali si muka setan sudah lenyap!–== 0O0 == –DENGAN sangat penasaran Pendekar 212 putar tubuh. "Kalau kau tidak bertindak gegabah pasti pencuri keparat itu sudah kena diringkus!".

Memang meski hatinya bimbang tapi Wirja Pranata sendiri juga meragu terhadap diri Wiro Sableng. "Kau siapa?!" tanyanya.

"Sudah, saat ini bukan tempatnya untuk bertanya jawab!". Pendekar 212 segera berkelebat ke arah larinya si muka setan yang diduganya adalah seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Namun dibelakangnya terdengar suara berseru.

"Tunggu! Berhenti dulu!"

Karena tahu yang berseru adalah Wirja Pranata maka Wiro tidak ambil perduli melainkan lari terus. Namun sesaat kemudian berdesing sejumlah senjata rahasia menyerang ke arahnya. Dengan beringas Pendekar 212 putar tubuh dan kebutkan tangan. Senjata-senjata rahasia itu berpelantingan. Dan pada ketika itu pula Wirja Pranata sudah berdiri dihadapannya.

"Jika kau orang baik-baik mengapa tidak berani sebutkan nama terangkan diri?! Pastilah kau bangsanya kaki tangan gotongan hitam!".

Wiro Sableng jadi betul-betul penasaran kini. "Manusia tidak tahu diri! Tidak tahu membedakan mana yang putih dan mana yang hitam! Tidak tahu dirinya tengah ditolong, malah mencap orang seenaknya! Kalau bukan mengingat bahwa kau calon mertuanya Sultan, aku sudah tampar kau punya mulut! Sekarang pergilah!". Wiro gerakkan kedua tangannya. Dan tahu-tahu terdoronglah tubuh Wirja Pranata ke belakang sampai empat tombak! Wirja Pranata rupanya menjadi kalap. Melihat pemuda rambut gondrong itu hendak angkat kaki kembali maka segera dia hunus keris dan dengan cepat kirimkan lima tusukan sekaligus!

"Manusia geblek," maki Pendekar 212 dalam hati sambil hindarkan diri dengan cepat.

Di lain saat maka tiba-tiba muncullah satu bayangan manusia.

"Tahan!"

Kedua orang yang bertempur, yang sama-sama mengenali suara pendatang baru itu segera hentikan pertempuran.

Pendekar 212 putar kepala pada si pendatang lalu berkata. "Sultan, semangat calon mertuamu memang hebat! Nyalinya besar tapi sayang pikirannya keliwat pendek!".

Merahlah paras Wirja Pranata tapi dia juga heran mengetahui bahwa si rambut gondrong mengenali Sultan Hasanuddin. Sultan kemudian memperkenalkan kedua orang itu. Barulah saat itu Wiro menjura hormat.

Dengan batuk-batuk Wirja Pranata bertanya pada Sultan. "Bagaimana dengan Anjarsari, apakah berhasil ditemui...?"

Sultan menundukkan paras kecewa lalu gelengkan kepala dengan pelahan.

"Terkutuk! Terkutuk!," maki Wirja Pranata dalam hati. Kedua tangannya terkepal membentuk tinju. Tentu saja laki-laki ini sangat mengkhawatirkan keselamatan diri anak gadisnya itu.

Dalam pada itu Pendekar 212 mengetengahi. "Bapak Wirja, kau kembalilah ke Ujung Kulon. Kami berdua segera akan mengejar bangsat pencuri itu,"

"Aku turut bersama kalian!" kata Wirja Pranata dengan hati keras.

"Bapak," ujar Sultan, "saya tahu bagaimana perasaan dan kecemasan hati Bapak terhadap keselamatan Anjarsari. Sayapun lebih kawatir lagi. Tapi percayalah, bersama sahabat ini saya pasti akan dapat mencari Anjarsari dan menemukan keris Tumbal Wilayuda serta membekuk bangsat-bangsat pencuri itu!".

"Kalau kau berkata begitu, baiklah". Wirja Pranata akhirnya mengalah. Maka sesudah itu Wiro Sableng dan Sultan Hasanuddinpun berlalu dengan cepat.

Ketika hari pagi kedua orang itu masih juga belum berhasil meneemui jejak pencuri yang mereka cari. Dengan perasaan lesu mereka sampai ke sebuah kota bernama Parangwilis. Seperti Asoka maka Parangwilis adalah juga sebuah kota dagang yang besar. Bau makanan yang harum menghambur keluar dari sebuah warung nasi. Kedua orang inipun masuklah ke dalam warung tersebut. Karena rambutnya yang gondrong dan potongan tubuh yang kekar dari Wiro Sableng serta tampang yang gagah dari Sultan Hasanuddin maka kedua orang ini tentu saja menarik perhatian isi warung. Tapi tanpa acuh Wiro dan Sultan terus saja menyantap makanan mereka.

Mendadak suasana dalam warung nasi itu menjadi sunyi hening laksana dipekuburan! Wiro Sableng dan Sultan segera merasakan perubahan ini. Sultan putar kepala memandang berkeliling sedang Wiro Sableng putar bola matanya memandang cepat ke beberapa jurus.

Dari pintu muka warung masuk seorang berpakaian kotor compang camping dan bertambal-tambal. Dari pintu belakang dua orang lagi, kemudian dari jendela di samping kiri kanan masing-masing dua orang lainnya! Muka-muka mereka rata-rata menunjukkan kebengisan, rambut kusut masai, kumis serta janggut kasar meranggas!

Beberapa orang tamu yang sedang makan dalam warung, melihat gelagat yang tidak baik ini segera jauhkan diri ke pojok. Sultan dan Pendekar 212 karena merasa tidak ada sangkut paut apa-apa dengan kesepuluh manusia itu tanpa ambil perduli terus menyantap hidangan mereka.

Tiba-tiba salah seorang yang datang dari pintu depan hantamkan tangan kananya ke muka. Angin deras melanda meja makan di hadapan Wiro serta Sutan. Meja kayu yang besar dan berat itu tak ampun lagi mental melabrak dinding warung. Piring serta gelas di atasnya berpelantingan pecah! Namun di saat itu pula baik Pendekar 212 maupun Sultan telah me-lompat ke samping dan berdiri saling memunggungi !

Serentak dengan itu maka sepuluh manusia yang berpakaian compang-camping sudah mengurung keduanya dengan rapat.

"Berhari-hari dicari baru kini kutemui!," kata laki-laki yang tadi melabrak meja dengan pukulannya yang hebat.

"Kalian siapa?," tanya Sultan sambil bersiap sedia menjaga segala kemungkinan. Di belakang di dengarnya Wiro Sableng mulai bersiul-siul seenaknya.

Orang tadi mengekeh. Gigi-giginya hitam dan di sudut bibirnya terselip segumpal susur tembakau. "Kami adalah anggota-anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!," jawab orang itu.

Terkejutlah Sultan. "Kami berdua tidak merasa punya silang sengketa dengan kalian, mengapa datang mengganggu?"

Anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu mengekeh lagi. "Jangan jual bacot mengatakan tiada silang-sengketa. Salah seorang dari kalian telah membunuh pemimpin kami Pengemis Bibir Sumbing!"

"Oh, jadi kalian anak-anak buahnya manusia jahat itu? Setiap manusia jahat akan menemui ajalnya secara buruk! Kalian pergilah semua!"

Anggota Pengemis Darah Hitam semburkan susurnya ke muka Sultan. Meski cuma susur tapi bahayanya besar sekali karena mengandung tenaga dalam! Dengan cepat Sultan hantamkan tangan kanannya ke depan, maka mentallah susur itu.

Sebagian dari air susur menjiprat ke muka beberapa orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam termasuk laki-laki yang telah menyemburkan susur itu tadi! Maka marahlah dia! Dan segera membentak!

"Tangkap Sultan hidup-hidup! Yang gondrong itu cincang sampai lumat!"

Sembilan pengemis yang diberi komando segera menyerbu ke muka. Tubuh Sultan dan Wiro Sableng lenyap. Hanya suara tertawa Pendekar 212 ini saja yang terdengar. Dan sesaat kemudian terdengarlah suara . "bluk . . . . bluk .... bluk ... bluk . . ."

Empat anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam mencelat dan menggeletak di tanah tanpa nyawa! Sekali lagi Pendekar 212 berkelebat dan dua lawan lagi mental ke luar kedai!

Melihat ini pengemis yang tadi berikan komando segera keluarkan senjatanya berupa sebuah cambuk yang berwarna hitam. Melihat ini maka tiga anggota lainnya yang masih hidup segera pula keluarkan cambuk masing-masing. Dan sesaat kemudian maka laksana hujan menggeletarlah cambuk-cambuk itu ke arah Wiro Sableng dan Sultan. Suasana tiada ubah seperti halilintar. Kedai itu seakan-akan hendak hancur Iuluh tenggelam oleh suara cambuk! Dan di saat itu tak ada satu tamu lainpun yang masih. berani berada di dalam warung sedang pemilik warung sendiri sudah kabur entah ke mana!

Sultan melompat ke samping kiri untuk hindarkan cambuk salah seorang lawan. Begitu terhindar segera dia kirimkan serangan balasan namun dua cambuk lainnya tahu-tahu sudah melibat kedua tangannya! Bagaimanapun dicoba oleh Sultan untuk lepaskan diri namun sia-sia saja.

Di tain pihak Pendekar 212 coba keluarkan diri dari hantaman-hantaman cambuk dua orang lawannya yang datang laksana hujan! Tapi memang permainan cambuk empat anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ini hebat sekali. Sementara Sultan di sebelah sana sudah kena diringkus dan di seret ke pintu muka. Pendekar 212 dibikin sibuk dan kepepet ke bagian belakang warung.

Geram sekali Wiro Sableng lompat tiga tombak ke atas lalu menukik ke bawah seraya membagi serangan tangan kiri kanan kepada dua orang lawannya.

Angin pukulan Pendekar 212 membuat kedua orang itu hanya terdorong seketika karena kebutan cambuknya yang begitu dahsyat sanggup membendung hampir sebagian besar angin pukulan Wiro !

Dengan penasaran Pendekar 212 begitu sampai ke tanah kembali segera menyambar sebuah bangku panjang. Dengan bangku panjang sebagai senjatanya maka mengamuklah Pendekar 212. Cambuk hitam anggota Pengemis Dara.h Hitam betul-betul luar biasa. Senjata keduanya mendera bangku hitam beberapa kali. Dan hancurlah bangku hitam itu !

Wiro Sableng menggerung. Kedua tangannya bergetar dan dinaikkan tinggi-tinggi ke atas.

"Wut! Wutt.....!"

Warung nasi itu berderak derik! Kedua lawan coba putar dan pecutkan cambuk mereka lebih deras lagi namun angin yang menyambar dari lengan Pendekar 212 tak sanggup lagi mereka tahan. Laksana topan kedua orang itu bermentalan kian ke mari. Cambuk mereka terlepas dan tiba-tiba. "krraakkk !" Warung nasi itupun robohlah!

Sesaat kemudian bangunan ini ambruk, maka Pendekar 212 sudah melabrak dinding dan lolos ke luar. Dua orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam yang tadi sudah konyol tersambar pukulan "angin puyuh" Pendekar 212 tertimbun mentahmentah!

Di luar warung yang rubuh, Pendekar 212 bingung sendiri karena melihat Sultan bersama dua orang anggota Pengemis Darah Hitam sudah lenyap. Dia segera minta beberapa keterangan pada orang-orang di luar kemana lenyapnya ketiga orang itu.

"Kawanmu kena diringkus dan dilarikan ke jurusan sana," kata seseorang sambil menunjuk ke ujung jalan. Maka tanpa membuang waktu Wiro Sableng segera mengejar ke arah yang ditunjukkan.–== 0O0 == –PADA masa itu di Jawa Barat telah sejak lama berdiri sebuah perkumpulan yang bernama Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Anggotanya terdiri dari pengemis-pengemis yang tersebar di seluruh pelosok dan di setiap kota. Setiap anggota perkumpulan mempunyai sebuah pecut hitam dan rata-rara memiliki ilmu silat yang tinggi. Tentu saja karena hampir setiap tempat dan daerah anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ada maka segala sesuatu peristiwa besar dan rahasia dengan, sendirinya diketahui oleh mereka. Demikian juga dengan peristiwa jatuhnya Banten ke tangan pemberontak dan lenyapnya Sultan serta keris Tumbal Wilayuda. Yang terakhir sekali mereka juga mengetahui hubungan Sultan dengan Andjarsari. Maka pucuk Pimpinan Perkumpulan segera menyebar anak-anak buahnya untuk mendapatkan keris Tumbal Wilayuda mencari Sultan serta menculik Andjarsari!

Demikian besarnya hasrat mereka untuk berhasil dalam rencana tersebut maka sampai-sampai salah seorang dari pucuk pimpinan yang terdiri dari tiga pengemis berkepandaian tinggi, memutuskan untuk turun tangan. Pucuk pimpinan yang seorang ini ialah Pengemis Bibir Sumbing! Sebagaimana yang telah dituturkan sebelumnya, ketika Sultan bermalam di satu penginapan maka Pengemis Bibir Sumbing telah mendatanginya dan hampir berhasil membawa kabur keris Tumbal Wilayuda jika saja saat itu Pendekar 212 tidak muncul memberikan bantuan. Bukan saja Pengemis Bibir Sumbing tiada berhasil dengan niatnya untuk mencuri keris pusaka tumbal kerajaan tapi dia juga terpaksa serahkan jiwa! Dibanding dengan dua pucuk pimpinan lainnya yaitu Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang maka memang kepandaian Pengemis Bibir Sumbing jauh lebih rendah sehingga setelah bertempur beberapa gebrakan secara hebat maka akhirnya Pengemis Bibir Sumbing menemui ajalnya di tangan Pendekar 212.

Namun bahaya yang mengancam Sultan serta keris pusaka itu tidak sampai di sana saja. Ketika Sultan bermalam di rumah Wirya Pranata, seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam telah berhasil melarikan keris tersebut selagi Sultan berada di taman dengan calon istrinya Andjarsari! Dan Andjarsari sendiri kemudian juga telah diculik pula oleh salah seorang anggota lain Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!

Adapun markas atau sarang Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu, terletak di dalam hutan belantara Riungslaksa. Maka ke sanalah anggota-anggota perkumpulan yang telah berhasil membawa orang yang mereka culik dan keris yang berhasil dicuri. Selama beberapa hari itu kedua pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam menanti-nanti juga akan hasil pekerjaan anggota-anggota mereka.

"Ah, lama betul sekali ini anggota-anggota kita menjalankan tugasnya...," berkata Pengemis Mata Buta. Tubuhnya tinggi kurus macam tonggak. Pipinya cekung, rambutnya panjang tergerai macam perempuan, sedang kedua matanya hanya merupakan dua buah rongga dalam yang hitam sehingga dapat dibayangkan betapa mengerikannya wajah manusia ini!

"Ya... lama sekali," jawab Pengemis Kaki Pincang seraya menghela nafas dalam. Di sela bibirnya terselip sebuah pipa yang bau tembakaunya busuk sekali! Manusia ini bermuka licin dan berkulit sangat pucat laksana mayat! Kaki kanannya pincang. "Bahkan Pengemis Bibir Sumbingpun tidak kelihatan mata hidungnya sampai saat ini!"

"Pengemis Bibir Sumbing macam orang yang tidak percaya saja dengan anggota-anggota kita sampai-sampai mau turun tangan sendiri..."

"Ah.., dia memang dari dulu begitu sifatnya," kata Pengemis Kaki Pincang pula.

"Saudara Pengemis Mata Buta, apakah menurutmu..."

Belum habis bicara Pengemis Kaki Pincang maka di luar terdengar seruan. "Para Ketua, lihat apa yang aku bawa!"

Dan sesaat kemudian muncullah seorang anggota Perkumpulan yang berbadan tegap kekar. Dibahunya terpanggul sesosok tubuh perempuan muda. Sosok tubuh perempuan ini bukan lain Andjarsari, dibaring.kannya di atas lantai di hadapan kaki kedua pucuk pjmpinan Perkumpulan. Saat itu Andjarsari tak dapat bergerak dan juga tidak sadarkan diri karena telah di-totok.

Tentu saja sangat gembira hati kedua Ketua Perkumpulan itu.

"Jasamu kepada Perkumpulan cukup besar Lah Simpong," kata Pengemis Kaki Pincang seraja gosok-gosok kedua telapak tangannya.

Cuping hidung anggota Perkumpulan yang bernama Lah Simpong kelihatan membesar dan bergerak-gerak tanda suka cita hatinya.

"Percayalah, para Ketua," kata Lah Simpong pula. "Dengan berhasilnya gadis ini kita tawan, Sultan pasti akan datang ke sini dan kita dengan mudah bisa meringkusnya."

"Betul sekali!" kata Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang hampir berbarengan.

Lah Simpong yang dulunya adalah seorang peminta-minta di kota Menes basahkan bibir dengan ujung lidah, "Para ketua," katanya "Apa aku boleh terima uang jasa sekai-ang...?!"

"Tentu...!" jawab pengemis Kaki Pincang. Dari balik pinggang dikeluarkannya sebuah kantong kulit dan ditemparkannya ke hadapan Lah Simpong. Benda itu jatuh dengan mengeluarkan suara berdering di muka kaki Lah Simpong. Dengan. menyeringai gembira maka Lah Simpong segera membungkuk dan mengambil kantong uang itu. Dan pada saat itu pulalah di luar terdengar seruan seseorang. "Apa artinya hasil yang dibawa Lah Simpong dibandingkan dengan apa yang kami bawa ini wahai Para Ketua Perkumpulan?!"

Dua sosok tubuh mencelat masuk lewat jendela. Ketika mendarat dilantai sedikitpun kaki mereka tiada mengeluarkan suara! Baik Pengemis Kaki Pincang maupun Pengemis Mata Buta yang meskipun buta tapi mempunyai perasaan dan pendengaran yang tajam luar biasa sama-sama bergembira.

"Siapa yang kalian bawa itu?" tanya Pengemis Mata Buta.

"Sultan! Sultan!" kata Pengemis Kaki Pincang sambil melompat dari kursinya.

Pengemis Mata Buta tertawa girang. Dari balik sabuknya dia keluarkan dua buah kantong kulit yang besar. "Ini terima!" katanya. Dua orang anggota Pengemis Darah Hitam tadi segera menyambutinya. Mereka menjura girang lalu mau putar diri dari situ namun seseorang yang melompat masuk lewat pintu muka mengejutkan mereka!

"Aha... bawaanku memang bukan manusia bernyawa! Bawaanku juga tidak besar cuma kecil sekal ! Tapi justru apa yang kubawa ini merupakan satu tanda bahwa siapa pemiliknya adalah mempunyai hak untuk menjadi raja di Banten!"

Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang meloncat dari kursi masing-masing !

"Mata Picak! Apakah kau berhasil mencuri keris Tumbal Wilayuda?!" seru Pengemis Mata Buta dengan nada gembira.

Anggota Perkumpulan yang bermata buta sebelah dan bertampang angker itu tertawa mengekeh. Nama sebenarnya tak satu anggota atau pemimpin perkumpulan yang tahu. Karena itu dia dipanggil dengan gelaran Mata Picak. Di bandingkan dengan Pengemis Bibir Sumbing maka kepandaian Mata Picak tiga tingkat lebih tinggi, ditambah lagi bahwa dia mempunyai keistimewaan tersendiri yaitu mempunyai senjata rahasia paku beracun! Kepandaiannya ini juga diturunkannya kepada anggota perkumpulan termasuk para pucuk pimpinan sehingga lambat laun senjata rahasia itupun disebut "paku darah hitam," sesuai dengan nama perkumpulan mereka. Dengan ketinggian ilmu silat ditambah dengan kelihayannya memainkan senjata rahasia "paku darah hitam" maka sebenarnya Mata Picak adalah lebih tepat untuk menjadi pimpinan perkumpulan daripada Pengemis Bibir Sumbing. Namun Pengemis Bibir Sumbing sudah be-lasan tahun memasuki Perkumpulan bahkan dialah yang mula-mula mempunyai prakarsa untuk mendirikan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu!

"Kita pesta tuak malam ini!" seru Pengentis Mata Buta.

"Pesta tuak dan anggur!," menimpali Pengemis Kaki Pincang.

Kedua pimpinan Perkumpulan itu sama-sama mengeluarkan sebuah kantung uang dan melemparkannya ke hadapan Mata Picak. Memang inilah yang ditunggu-tunggu oleh si Mata Picak. Dengan segera kedua kantung uang itu disambutinya. Dia menjura. Belum lagi sempat dia berdiri tegak dari menjuranya itu maka dari pintu muka masuklah seorang anggota Per-kumpulan. Mukanya tak kalah bengis angker, namun di saat itu tampang itu kelihatan sedikit pucat, lesu dan kuyu!

Pengemis Kaki Pincang kerutkan kening melihat anggotanya ini. Tak biasanya Kuntawana berparas semurung itu. Maka bertanyalah dia. "Kabar apakah yang agaknya kau bawa dari luar rimba, Kutawana?!"

"Hemm... Kutawana juga sudah kembali?" ujar Pengemis Mata Buta.

Anggota yang baru datang itu menjura. Dihelanya nafas panjang lalu berkatalah dia . "Aku membawa kabar buruk, para Ketua..."

"Kabar buruk bagaimana?" tanya Pengemis Kaki Pincang sementara yang lain-lainnya juga tujukan perhatian terhadap Kuntawarna.

"Kemarin aku memasuki kota Asoka. Kota itu tengah berada dalam kegemparan karena menemukan sesosok mayat di belakang bengkel kuda Ketika aku menyeruak diantara orang banyak ternyata mayat itu adalah mayat Ketua Pengemis Bibir Surnbing!"

Terkejutlah semua orang.

"Ada keanehan dalam cara matinya...".

"Keanehan bagaimana maksudmu?!" tanya Pengemis Mata Buta.

Kulit keningnya hitam, dadanya biru. Sedang pada kulit kening yang hitam itu tertera tiga buah angka. Angka 212!"

Terjadilah perubahan pada air muka pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki Pincang memandang pada pengemis Mata Buta. Pengemis Mata Buta sendiri di saat itu merenung. "Bagaimana pendapatmu, Ketua Pengemis Mata Buta?" bertanya Pengemis Kaki Pincang.

Sejurus lamanya barulah menjawab Pengemis Mata Buta itu. Nada suaranya kentara berubah sekali kali ini. "Sesudah hampir empat puluh tahun menghilang tak tentu rimbanya, ternyata dia muncul kem-bali. Dia adalah momok yang menakutkan bagi tokoh-tokoh silat golongan hitam macam kita ini, Ketua Kaki Pincang. Pastilah dia muncul untuk kembali menghancurkan golongan kita seperti empat puluh tahun yang lalu itu..."

"Maksudmu Pendekar 212 Kapak Maut Naga Geni si Sinto Gendeng itu...?!" tanya Pengemis Kaki Pincang.

"Siapa lagi!"

"Ah... kalau dia memang muncul untuk maksud yang seperti masa lampau, dia salah perhitungah! Dunia persilatan dulu tidak sama dengan dunia persitatan masa sekarang! Golongan hitam banyak maju pesat, banyak mempunyai tokoh-tokoh kosen serta lihay dan sakti! Sinto Gendeng boleh datang kemari. Dan itu berarti dia antarkan nyawa sendiri!"

Pengemis Mata Buta menarik nafas dalam, "Kita tak bisa menganggap enteng momok perempuan itu, Ketua Kaki Pincang," kata Pengemis Mata Buta pula. "Ketahuilah, kedua mataku yang buta ini, dialah yang telah mengoreknya dulu...".

Kagetlah Pengemis Kaki Pincang. Matanya mendelik dan dipandanginya paras rekannya itu. Akhirnya dia memandang ke jurusan lain karena merinding juga kuduknya memandang lama-lama pada rongga rongga mata yang menggidikkan itu!

Suasana hening seketika. Dan keheningan itu dipecahkan oleh bentakan Pengemis Mata Buta. "Kuntawana, apa yang kau telah lakukan terhadap mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing...?!"

Terkejutlah Kuntawana.

"Jawab! Apa sesudah kau temui lantas kau tinggal begitu saja....?!"

"Ketua... di saat itu mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing dikerumuni oleh banyak orang. Di antaranya beberapa prajurit kerajaan. Tak mungkin bagiku..."

"Tutup mulut! Kesalahanmu besar! Kau dipecat sebagai anggota Perkumpulan!"

Muka Kuntawana menjadi pucat. "Ketua..."

"Diam! Lekas angkat kaki dari sini!"

"Para Ketua...".

"Diam! Berlalulah sebelum amarahku lebih memuncak!" bentak Pengemis Mata Buta.

Kuntawana menyuruh mundur. "Aku bersedia kembali ke Asoka untuk mengambil mayat Ketua Bibir Sumbing..."

"Tak perlu," jawab Pengemis Mata Buta tetap keras. "Aku bisa suruh anggota yang lain!".

Maka membesilah paras Kuntawana. "Baik, aku akan pergi tapi serahkan dulu uang jasaku". "Kurang ajar! Kau berani bicara seenaknya demikian rupa?! Ini bagianmu!".

Pengemis Mata Buta kebutkan lengan jubah hitamnya. Satu gelombang angin dahsyat melanda ke arah Kuntawana. Terkejutlah Kuntawana. Dia tahu betul pukulan yang dilancarkan oleh si Mata Buta itu. Pukulan "seribu topan!"! Dengan cepat Kuntawana melompat ke atas namun dia tak bisa melompat tinggi karena bangunan di mana mereka berada mempunyai loteng yang rendah!

"Celaka, mampuslah aku!" kata Kuntawana di dalam hati.

Namun pada detik yang berbahaya itu dari jendela samping satu larikan sinar merah menyambar memapaki angin pukulan seribu topan dan kejapan itu juga buyarlah pukulan Pengemis Mata Buta dan selamatlah Kuntawana!

Pengemis Mata Buta seorang yang mempunyai perasaan luar biasa. Sepasang telinganya bukan saja tajam tapi juga merupakan sebagai sepasang mata baginya.

Dia menoleh ke jendela. "Keparat yang suka ikut campur urusan orang, coba perlihatkan diri!" bentaknya.

Di diluar terdengar suara tertawa bergelak. Sesaat kemudian sesosok tubuh berjubah merah dan berkerundung kain merah dengan gerakan yang sangat sebat dan enteng sudah menjejakkan kaki di lantai ruangan!

"Iblis Pencabut Sukma!" teriak Pengemis Kaki Pincang berbarengan dengan anggota-anggota Perkumpulan lainnya! Wajah mereka mengkerut tegang!–== 0O0 == –

ORANG berkerundung merah keluarkan suara tertawa mengekeh kembali. Pengemis Mata Buta rangkapkan kedua tangannya di muka dada. "Kiranya lblis Pencabut Sukma! Pantas keras dan hebat angin pukulannya! Tapi gerangan apakah yang membuat kau datang ke sini serta mencampuri urusan Perkumpulan kami?!"

Laki-laki berkerundung yang merupakan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma lagi-lagi tertawa mengekeh. "Ketua-ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam, kuharap tanpa banyak bicara segeralah serahkan Keris Tumbal Wilayuda, Sultan Hasanuddin dan gadis itu kepadaku....!".

"Eh... ini suatu hal yang tidak kami sangka! Rupanya kau juga inginkan semua itu heh...?"

"Hidung kerbau!," maki Iblis Pencabut Sukma. "Aku bilang jangan banyak bicara! Serahkan cepat! Atau seluruh Perkumpulanmu akan kulabrak?!"

"Ah.... Kalau tak salah kita ini masih sama-sama satu golongan. Kenapa harus bikin persoalan begini rupa? Semua manusia berhak memang memiliki keris dan kedua manusia yang kau katakan itu! Dan pihakku telah perhasil menguasainya, kau terlambat. Itu adalah salahmu sen....."

"Katakan saja kau tak mau menyerahkan apa yang aku minta!," memotong lblis Pencabut Sukma.

"Untuk mendapatkan semua itu pihakku sampai korbankan salah seorang ketuanya! Sekarang kau seenaknya meminta! Aturan macam mana yang kau pakai?!" kata Pengemis Kaki Pincang.

"Kaki Pincang kau menentukan kematianmu sendiri dengan bicara macam begitu..!" Pengemis Kaki Pincang tertawa tawar. "Orang lain mungkin takut pada kau! Tapi aku Pengemis Kaki Pincang boleh dicoba nyalinya!". lblis Pencabut Sukma tertawa gelak-gelak. Kedua kakinya merenggang. "Dalam satu jurus kau akan konyol ke akherat Pengemis Kaki Pincang!"

"Coba saja, aku mau lihat!" kata Pengemis Kaki Pincang dengan tertawa menghina. Sementara itu telinganya mendengar suara rekannya si Mata Buta yang disampaikan dengan ilmu menyusupkan suara. "Ketua Kaki Pincang, hati-hatilah. Manusia ini berbahaya....".

Ketika Iblis Pencabut Sukma angkat tangan kanan ke atas, dan ketika Pengemis Kaki Pincang pusatkan tenaga dalamnya ke tangan kiri tiba-tiba Kuntawana melompat antara tengah-tengah kedua Orang itu.

"Manusia sontoloyo! Kau juga minta dikirim keakhirat?!" bentak Iblis Pencabut Sukma. Kuntawana menghadap pada Pengemis Mata Buta dan Kaki Pincang..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.44.176
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia