Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SATUKuda coklat yang ditunggangi gadis jelita berpakaian biru tiba-tiba meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Si gadis cepat rangkul leher binatang itu dengan tangan kiri sementara tangan kanan mengusap-usap tengkuknya.

"Tenang Guci......tenang! Tak ada yang perlu ditakutkan!" berkata si gadis.

"Tak ada binatang buas di hutan ini. Tak ada binatang berbisa di rimba belantara ini! Ayo jalan lagi. Kita......"

Baru saja si gadis berucap begitu tiba-tiba terdengar suara bergemerisik di atas pohon di samping kirinya. Bersamaan dengan itu terdengar suara tawa bergelak, disusul suara bentakan keras lantang.

"Di rimba ini memang tak ada binatang buas! Tak ada binatang berbisa! Yang ada aku!"

Dua sosok tubuh melayang turun dari atas pohon besar. Begitu menjejak tanah langsung berkacak pinggang sambil menatap tajam pada sang dara yang berada di atas kuda. Orang di sebelah kanan memiliki tubuh ramping tinggi, berkulit hitam gelap, memelihata kumis melintang dan cambang bawuk. Pada kedua lengannya terdapat gelang bahar hitam besar. Pada lehernya tergantung kalung yang juga terbuat dari akar bahar berwarna hitam. Lelaki kedua lebih pendek, beralis tebal, mukanya cekung, kulitnya juga sangat hitam. Kedua orang ini sama mengenakan pakaian kuning dengan ikat pinggang besar berwarna merah darah.

Walau jelas dari tampang dan gerak-gerik menyatakan mereka bukan orang baik-baik, apalagi menghadang seperti itu tetapi gadis di atas kuda sama sekali tidak menunjukkan wajah cemas ataupun takut. Setelah menatap dengan pandangan dingin, dia lalu menegur.

"Huh! Kalian ini siapa?!"

"Adikku! Orang sudah bertanya, lekas jelaskan siapa adanya kita!" si tinggi ramping berkumis dan bercambang bawuk di sebelah kanan berkata.

Yang dipanggil adik tersenyum lebar. Kedip-kedipkan matanya pada sang dara lalu membuka mulut.

"Kami adalah penguasa rimba belantara ini......"

"Hebat!" sang dara berseru seperti memuji tapi pandangan kedua matanya tetap dingin dan mimiknya menunjukkan betapa dia memandang rendah pada kedua orang itu.

"Syuuuukkuuuurrr kalau di situ tahu kami hebat! Terima kasih atas pujianmu Mirasani....."

"Eh! Bagaimana kau bisa tahu namaku?!" jelas nada suara sang dara menunjukkan rasa terkejut. Tapi wajahnya tetap saja tidak mengalami peubahan.

"Siapa yang tidak tahu Mirasani. Gadis maha cantik di kawasan ini. Memilih....."

"Sudah! Lekas katakan apa mau kalian!" sang dara memotong ucapan orang dengan bentakan.

"Sabar.....sabar Mira. Apa mau kami pasti akan kami jelaskan. Hanya aku belum selesai dengan penjelasan tentang diri kami berdua," menyahut si muka cekung.

"Kami dikenal dengan julukan Sepasang Malaikat Kuning....."

"Apa? Sepasang Malaikat Kuning?!" seru sang dara lalu dia tertawa gelakgelak.

"Aku sih memang belum pernah melihat wajahnya malaikat! Tapi aku yakin betul tampang-tampang malaikat tidak seperi muka kalian! Ha...ha...ha...! Malaikat Kuning? Apa kalian yang kuning? Baju..... Ya itu betul! Kurasa gigi kalian juga kuning hah?!"

Dua orang di depan sang dara tampak kerrenyitkan kening lalu ikut-ikutan tertawa gelak-gelak. Si cekung mengangkat tangannya. Lalu pegang bahu si tinggi ramping di sampingnya seraya berkata "Ini kakakku. Namanya Tumapel Kuning. Dan yang ini...." si muka cekung tudingkan ibu jari tangan kirinya ke dadanya sendiri, "Adalah Kunapel Kuning! Dan perlu kujelaskan aku adalah calon suamimu!"

Untuk pertama kalinya terlihat wajah si gadis berubah, tapi hanya sekilas.

Pandangannya kembali dingin. "Jadi itu rupanya maksud kalian menghadangku! Ketika bulan tujuh diadakan perlombaan mencari jodoh mengapa kau tidak muncul?!"

Kunapel Kuning manggut-manggut. "Waktu itu kami ada keperluan penting! Lagi pula aku bukan bangsa pemuda-pemuda tolol yang mau direndahkan dengan segala macam perlombaan konyol itu!"

"Karena itu kau sengaja menghadangku di sini!"

"Tepat sekali Mira....."

"Jangan sebut namaku! Kau tidak pantas jadi suamiku!" bentak Mirasani.

"Hai!" Kunapel Kuning melengak sementara Tumapel hanya sungingkan seringai. "Tampangku tidak jelek. Lihat, alis mataku saja tebal! Kata orang laki-laki beralis tebal dapat menyenangi istri di atas ranjang! Ha....ha....ha....!"

"Di mataku kau tak lebih dari seekor kambing bodoh! Pergilah! Kau tidak layak jadi suamiku! Banyak pemuda yang jauh lebih keren darimu dan semua tidak kupandang sebelah mata!"

"Bisa jadi! Tapi kau belum tahu bagaimana bahagianya kalau bermesraan dengan diriku! Jangan bandingkan aku dengan pemuda-pemuda tolol itu Mira...."

"Mungkin kau pandai merayu perempuan....."

"Nah.....nah! Kalau kau sudah tahu...."

"Tapi ingat! Calon suami yang aku inginkan bukan yang punya tampang gagah atau pandai merayu! Aku hanya akan memandang kemampuannya dalam ilmu bela diri! Dan mataku melhat kau tidak memiliki kemampuan itu Katapel!"

"Sialan! Nama adikku Kunapel! Bukan Katapel!" membentak Tumapel Kuning.

"Kunapel atau Katapel sama saja! Sama jelek sama tololnya!" jawab Mirasani.

"Kau belum tahu siapa adikku! Selama tiga tahun terkahir sejak dia ikut bersamaku tak seorang lawanpun sanggup menjatuhkannya! Kalau kau berusaha menghindar berarti kau menyalahi sumpah yang selama ini kau gembar-gemborkan!"

"Terus terang sebetulnya aku memberi kesempatan pada adikmu untuk tidak berlaku sembrono dan mampu mengukur diri sendiri. Tapi kalau dia memang mau dibikin babak belur kedua tanganku inipun memang sudah gatal sejak tadi!" jawab Mirasani.

"Kalau adikku sanggup menjatuhkanmu, kau tak akan mengingkari sumpah dan kawin dengannya?!" tanya Tumapel Kuning.

"Itu sumpahku dan itu yang harus kupenuhi!" jawab Mirasani pula.

"Kalau begitu kau turunlah dari kudamu! Biar cepat urusan ini diselesaikan dan kita bisa duduk di pelaminan!" kata Kumapel Kuning pula sambil tertawa lebar. Sang dara ikut tertawa tapi tawa penuh mengejek. "Untuk mengahdapi orang sepertimu tidak perlu harus turun dari kuda! Lakukan apa maumu! Silahkan menyerang! Jika kau sanggup menjatuhkan aku ke tanah aku akan menyerahkan diri sebagai calon istrimu!"

"Menghina sekali! Terlalu menganggap rendah!" ujar Tumapel Kuning tidak senang.

"Tenang saja kakakku! Aku suka calon istri yang seperti ini! Sekali dia kujatuhkan ke tanah akan kurangkul, kupeluk dan kuciumi sekujur auratnya! Ha....ha....ha!"

Di atas kuda Mirasani mengelus-elus kuduk kuda tunggangannya, membuat agar binatang itu tetap tenang, tidak takut atau terpengaruh oleh serangan orang.

"Tenang Guci.... Jangan takut. Ikuti isyarat dan perintah yang aku berikan...."

"Mira! Lihat jurus pertama!" Tiba-tiba Kumapel Kuning berseru. Tubuhnya yang kekar melesat ke depan dalam satu lompatan di mana kaki kanan langsung melancarkan serangan tendangan. Orang ini berlaku cerdik. Yang diserangnya bukanlah kaki atau tubuh Mirasani, melainkan tulang-tulang rusuk kuda tunggangan san gdara. Menurut perhitungannya, jika tendangannya membuat amblas tulangtulang rusuk binatang itu hingga tergelimpang jatuh, dengan sendirinya Mirasani akan terbawa jatuh. Di situ dia lalu akan menubruk dan merangkul sang dara, membuatnya tak berdaya! Apa yang ada dalam benak dan rencana Kunapel Kuning memang masuk akal dan akan berhasil jika saja lawan memiliki kepandaian lebih rendah. Tapi yang kemudian terjadi adalah berlainan dari yang diharapkan si muka cekung itu. Tendangan Kunapel Kuning datang menderu deras, mengarah rusuk kiri kuda coklat bernama Guci. Di saat yang sama Mirasani tekankan tumit kirinya ke badan kuda. Binatang ini maju satu langkah ke depan dan tiba-tiba sekali kaki belakang sebelah kirinya melesat ke samping.

Kunapel Kuning berseru kage ketika melihat kaki kuda menyapu ke bawah, laksana pedang membabat ke arah betisnya! Cepat-cepat lelaki ini tarik pulang tendangannya karena begaimanapun betisnya tak akan tahan menghadapi benturan keras dengan kaki kuda. Bersamaan dengan itu tangan kanannya bergerak. Dua jari menusuk ke arah pangkal paha Guci. Ini merupakan satu totokan ganas karena bukan saja dapat membuat kaku sebagian tubuh Guci, malah bisa membuatnya lumpuh seumur hidup!

"Totokan jahat!" desis sang dara dalam hati yang rupanya juga sudah memaklumi bahaya tusukan dua jari kanan lawan. Kembali tumit kirinya bergerak menekan badan Guci dua kali berturut-turut. Kuda besar coklat itu mendadak memutar tubuhnya setengah lingkaran. Pinggul yang besar dan keras binatang itu menghantam pinggul dan bahu kanan Kunapel Kuning, membuat orang ini terbanting keras dan hampir jatuh tunggang langgang kalau tidak cepat mengimbangi diri dengan gerakan jungkir balik di udara.

Dengan wajah mengelam dan dada turun naik Kunapel Kuning berdiri di samping kakaknya. Kedua tangannya terkepal. Mulutnya bergetar dan pelipisnya menggembung.

"Kehebatan gadis ini bukan omong kosong. Tapi dia hanya menggunakan kudanya. Kekuatannya sendiri belum kujajal!" berkata Kunapel Kuning dalam hati.

Maka kini dia siap membuka jurus ketiga dengan menyerang langsung ke arah si gadis. Yang ditujunya adalah bagian pinggang Mirasani. Tetapi ketika si gadis cepat berkelit, lebih cepat lagi Kunapel Kuning merubah gerakan serangannya. Yang diincarnya kini ialah kaki kiri sang dara. Kedua tangannya melesat ke depan untuk merengut betis Mirasani dan melontarkan gadis itu dari punggung kudanya ke tanah!

Di atas kuda sang dara tusuk badan Guci dengan tumit kiri kuat-kuat hingga binatang ini meringkik lalu sabatkan kaki depan sebelah kiri ke belakang.

Bukkk!

Kunapel Kuning yang tidak menduga akan mendapat serangan berbalik seperti itu tak punya kesempatan untuk mengelak. Lelaki ini mencelat mental dan menjerit keras. Tubuhnya terhantar ke tanah, sulit bergerak ataupun bagkit karena tulang pinggulnya retak besar!

"Aku sudah memperingatkan sebelumnya!" berkata Mirasani. "Kau tidak punya tampang dan kemampuan untuk menjadi calon suamiku! Jadi jangan menyesal!"

Kunapel Kuning keluarkan suara menggereng, entah karena sakit entah karena marah. Dia berpaling pada kakaknya seolah-olah memberi isyarat agar si kakak melakukan sesuatu.

"Adikku!" ujar Tumapel Kuning, "Nasibmu sial sekali. Agaknya akulah yang berjodoh dengan gadis berbaju biru itu...."

"Sial! Kau yang sialan Tumapel!" teriak si adik. Sebelumnya tak ada rencana bahwa kakaknya itu berhasrat terhadap sang dara. Rupanya setelah melihat kecantikan Mirasani Tumapel Kuning tertarik juga dan jadi blingsatan.

"Mirasani!" berseru Tumapel Kuning. "Aku mendapat firasat bahwa kau berjodoh jadi istriku! Maksudku istri paling muda karena sampai saat ini aku sudah punya empat istri dan lebih dari setengah lusin simpanan!"

"Kau laki-laki hebat!" mulut si gadis memuji tapi air mukanya menunjukkan rasa jijik. "Apa yang terjadi dengan adikmu tidak membuka matamu! Kalau kau ingin mengambilku jadi istrimu, majulah cepat!"

"Ha....ha....! Akan kurasakan kehangatan tubuhmu jika bersentuhan!" ujar Tumapel Kuning. Dia kencangkan ikat pinggang merahnya. Lalu melangkah maju mendekat. Dia sengaja datang dari arah kepala kuda. Kedua kakinya menekan ke tanah kuat-kuat, tubuhnya melesat ke udara melewati kepala kuda. Ketika menukik turun tangan kanannya meluncur cepat ke arah dada Mirasani.

"Manusia cabul kurang ajar!" sang dara membentak marah. Pandangan matanya berkilat.

"Aku bukan manusia cabul! Pantas kalau seorang calon suami menjajaki dulu sampai di mana kencangnya tubuh calon istrinya!" menyahuti Tumapel Kuning. Dan gerakan orang ini memang luar biasa cepatnya hingga tahu-tahu ujung jarinya sudah menempel di pakaian biru sang dara. Ketika tangan itu hendak meremas, di atas punggung kuda Mirasani jatuhkan dirinya ke belakang sama rata di atas punggung kuda. Bersamaan dengan itu kaki kirinya menendang ke atas.

Tumapel Kuning rupanya sudah tahu gelagat. Tangan kanan yang tadi dipergunakannya untuk menjamah payu dara Mirasani kini dipakai sebagai tumpuan pada lutut si gadis. Begitu lutut Mirasani sempat dipegangnya maka lutut itu dipergunakan sebagai tumpuan untuk membuat lompatan ke depan, meluncur sama rata dengan tubuh Mirasani, malah dia berada di sebelah atas!

"Kurang ajar!" teriak sang dara ketika dapatkan tubuhnya hampir kena tindih oleh Tumapel Kuning. Secepat kilat kedua tinjunya dipukulkan ke atas. Satu menghantam ulu hati, satu lagi menderu ke arah dada lawan.

Bluk-bluk!

Dua jotosan keras itu tidak dapat mengenai sasarannya karena keburu tertangkap dalam telapak tangan kiri kanan Tumapel Kuning.

"Setan!" maki Mirasani. Perutnya mengumpul tenaga dalam, ketika dia menyentak ke atas tak ampun lagi tubuh Tumapel Kuning yang ada di atasnya terpental, jatuh dua tombak di sebelah kiri. Mirasani sendiri ikut jatuh merosot ke samping kiri sosok tubuh kudanya.

"Curang! Kau menggunakan tenaga dalam!" teriak Tumapel Kuning marah.

DUAMirasani tertawa dingin. "Tak ada perjanjian mempergunakan tenaga dalam atau tidak. Yang jelas kau sudah kujatuhkan! Jadi lekas angkat kaki dari sini. Bawa adikmu yang meringis seperti monyet terbakar ekor itu!"

"Aku tidak akan pergi! Apa kau lupa kalau kau adalah bakal istri mudaku yang kelima?!"

"Tolol dan keras kepala!" maki Mirasani.

Tumapel Kuning menyeringai. Kencangkan ikat pinggang lalu melangkah memutari sang dara. Mirasani menepuk pinggul kudanya. Binatang ini melangkah menjauh hingga kini dia berhadapan langsung dengan Tumapel Kuning di tengah kalangan perkelahian.

"Ayo seranglah!" teriak Mirasani.

Kembali lelaki itu menyeringai. Dia bergerak mendekat. Saat itu didengarnya adiknya berseru. "Tumapel, jika kau berhasil mengalahkan gadis itu, berikan dia padaku. Aku akan mengganti dengan apa saja yang kau minta!"

"Boleh-boleh saja Kunapel! Tapi malam pertamanya tetap bersamaku!" sahut Tumapel pula lalu dia membuka serangan yang disambut sang dara dengan cepat.

Perkelahian berkecamuk hebat. Ternyata Tumapel Kuning memiliki ilmu silat luar yang tangguh. Dalam empat jurus saja Mirasani tampak terdesak hebat. Hanya saja karena Tumapel menyadari kalau sang dara memiliki kekuatan tenaga dalam lebih tinggi maka dia tak berani melakukan bentrokan langsung. Namun dia yakin paling lambat dalam sepuluh jurus di muka dia akan berhasil merobohkan sang dara. Sebaliknya sang dara sendiri walau terdesak hebat tampak tenang-tenang saja.

Memasuki jurus kedelapan tiba-tiba terjadi perubahan total. Gempurangempuran Tumapel Kuning amblas dalam pertahanan tangguh sang dara lalu di jurus kesembilan Tumapel mulai terdesak. Serangan-serangan kaki dan tangan Mirasani merajalela membuat lelaki tinggi ramping itu harus bertahan mati-matian. Di jurus kesebelas tinju kanan Mirasani mendarat di dadanya, membuat Tumapel Kuning terjajar ke belakang dan mengeluh menahan sakit. Jurus kedua belas pelipisnya kena dihantam dari samping hingga mencucurkan darah.

"Gadis binal! Akan kutelanjangi kau di sini juga!" teriak Tumapel Kuning marah. Tangan kirinya bergerak ke balik punggung pakaian kuningnya. Sesaat kemudian sebilah golok sepanjang tiga jengkal lebih melintang berkilat di depan dadanya. "Kau pilih mati atau menyerah!"

"Begini rupanya kemampuanmu! Mengandalkan senjata menghadapi perempuan!"

"Tak ada perjanjian apakah harus dengan tangan kosong atau pakai senjata! Kalau kau punya senjata keluarkan saja!"

"Senjataku hanya ini!" jawab Mirasani seraya mengangkat tangan kanannya.

Sekilas Tumapel Kuning melihat tanda merah pada telapak tangan kanan si gadis itu. Mendadak ada rasa tidak enak ketika melihat tanda itu. Namun karena sudah ditimbun amarah maka dia langsung saja menyerbu dengan goloknya. Senjata itu mengeluarkan suara menderu-deru ketika membelah udara, menghambur serangan ke arah Mirasani.

Dara berbaju biru itu mundur beberapa langkah lalu sambil miringkan tubuh dia kirimkan tendangan terobosan ke arah lambung lawan. Tumapel Kuning membabat ke bawah. Sekali golokny menabas kaki sang dara pastilah kaki itu terputus kutung! Tapi Mirasani tidak semudah itu dipecundangi. Sejak masih berumur lima tahun gadis ini telah mendalami ilmu silat yang diramu dari tujuh perguruan terkenal di tanah jawa. Dia membuat gerakan yang menyebabkan mata golok hanya lewat seujung kuku di samping betisnya. Begitu tabasan senjata lawan least kaki yang menendang terus mencua ke atas, terdengarlah pekik Tumapel Kuning disertai suara kraakk!

Tulang ketiak lelaki tinggi ramping itu remuk dan lengan kanannya kini terkulai. Sakitnya bukan main sementara goloknya mental entah ke mana!

"Manusia-manusia tolol! Kalian sudah menerima bagian masing-masing!" kata sang dara lalu melangkah mndekati kudanya.

"Tunggu! Kita belum mengadu kekuatan tenaga dalam!" tiba-tiba terdengar seruan Kunapel Kuning. Lelaki ini telah berdiri sambil memasang kuda-kuda, siap untu menghimpun tenaga dalam di tangan kanan.

Mirasani mencibir. "Kudaku saja tak sanggup kau hadapi! Masih berani menantang!" Lalu si gadis itu melompat ke punggung Guci dan membedal kudanya meninggalkan tempat itu.

Suto Klebet duduk berhadap-hadapan dengan istrinya di ruang tengah gedung kediamannya yang besar. Dari wajah mereka jelas kedua suami istri ini sedang diselimuti rasa gundah kalau tidak mau dikatakan cemas.

Setelah berdiam diri beberapa lamanya akhirnya Rayu Komala, sang istri, membuka pembicaraan.

"Yang aku kawatir kangmas, kalau-kalau anak kita itu akan menjadi perawan tua karena ulahnya sendiri....." Karena suaminya tidak menyahuti maka Rayu Komala meneruskan ucapannya. "Aku tak habis pikir, apa sebenarnya yang menjadi tujuan Mira. Mengapa dia jadi sampai membawa sifat seperti itu. Ada satu lagi kekawatiranku. Jika muncul seorang jago silat dari golongan hitam, atau tua bangka jahat yang sanggup merobohkannya, apa jadi nasib anak itu bersuamikan orang seperti itu....."

Suto Klebet masih diam saja. Istrinya jadi merengut dan berkata "Jangan diam saja kangmas. Kita harus mencari jalan. Jangan cuma berpangku tangan......."

"Aku sama sekali tidak berpangku tangan Rayu. Akupun sebenarnya cemas. Ingat apa kata-kata perempuan tua dukun beranak yang menolongmu melahirkan Mira sembilan belas tahun lalu.....? Ketika lahir anak itu membawa tanda merah pada telapak tangan kanannya. Dukun beranak itu lalu membisikkan penjelasan bahwa kelak bayimu akan menjadi seorang pesilat ampuh, memiliki watak aneh dan kalau punya suami hanya memilih seorang yang mempunyai kepandaian lebih tinggi dari dia. Ucapan dukun beranak itu sekarang terbukti benar. Seharusnya setelah kita mendapat penjelasan itu kita tidak menyuruhnya berguru pada Ki Demang Juru Gampit. Hampir sebelas tahun orang sakti itu menggemblengnya hingga dia menjadi pendekar perempuan yang tangguh. Kita tak bisa menyalahkan Ki Demang...."

"Betul ucapanmu kangmas. Kita tak bisa menyalahkan orang tua itu. Tapi jika kita bisa bicara dengannya dan meminta pendapatnya, lalu dia memberi petunjuk pada Mira mungkin gadis itu bisa merubah segala tabiatnya. Terutama yang menyangkut perjodohan dirinya. Gadis seusia dia seharusnya sudah bersuami. Paling tidak sudah memiliki calon suami. Dan sekarang kau lihat saja kangmas. Di luar sana ada lagi dua orang pemuda yang menunggunya, berminat untuk menjajal ilmu silatnya. Bukan untuk merendahkan orang, tapi kalau anak kita sampai kawin dengan lelaki yang tidak tahu juntrungan dan keturunannya apa tidak malu. Kita turunan bangsawan, masih punya hubungan dekat dengan Keraton karena salah seorang adikku jadi garwo dalem (istri) Sultan, apa tidak malu kangmas.....?"

"Aku sudah berusaha mencari Ki Demang Juru Gampit. Tapi orang tua sakti itu lenyap entah ke mana. Mungkin dia tengah mengelana atau bertapa di satu tempat tersembunyi. Dan tentang dua pemuda yang datang itu, mengapa tidak kau katakan saja anak kita tak ada di rumah, lalu menyuruh mereka pergi?"

"Bukan Mira berulang kali menyampaikan pesan. Jika ada yang datang harus diminta menunggu sampai dia kembali walau itu bisa satu atau dua hari. Kalau kita abaikan pesannya dan dia mengetahui, kita bisa kesalahan lagi....."

Suto Klebet hanya bisa geleng-gelengkan kepala lalu kedua suami istri itu berdiam diri sampai di halaman terdengar suara derap kaki kuda.

"Mira datang....." kata Rayu Komala lalu bangkit dari kursinya. Suto Klebet mendahului menuju ruang depan.

Begitu sampai di langkan depan Mirasani segera melihat dua orang pemuda yang sejak lama berada dan menungu di situ. Pemuda pertama mengenakan pakaian hitam, berikat kepala merah, membekal sebilah keris dipinggangnya. Wajahnya cukup tampan dan potongannya menyatakan dia memang seorang ahli silat.

Pemuda kedua berkulit putih. Sikapnya tampak halus. Karena memelihara rambut panjang wajahnya hampir seperti perempuan. Dia mengenakan pakaian putih sederhana dan memegang sepotong bambu kuning sebesar ibu jari. Sudah tahu apa maksud kedatangan orang, Mira tidak terus ke dalam. Dia langsung menegur. "Siapa di antara kalian yang datang lebih dulu?"

Pemuda berkulit putih cepat berdiri dan menjura. "Namaku Suryo Kemikis. Aku datang dari selatan gunung Merapi. Anak murid perguruan silat Teratai Putih. Guruku....."

Mira mengangkat tangannya. "Aku tidak butuh keterangan panjang lebar. Aku hanya ingin tahu apakah kau mampu menghadapiku sampai sepuluh jurus! Jika aku kalah aku akan tunduk dan menjadi istrimu....."

Sepasang mata pemuda bernama Suryo Kemikis berkilat-kilat karena dua hal. Pertama karena merasa dianggap enteng menengar Mirasani menyediakan sepuluh jurus untuknya. Kedua karena melihat kenyataan bahwa gadis yang namanya tersiat ke mana-mana itu bukan saja cantik tetapi juga memiliki potongan tubuh yang menggiurkan. Betapa bahagianya kalau dapat memperistrikannya. Dan turunan bangsawan serta hartawan pula!

Ketika Mirasani mendahului melompat ke halam depan saat itulah kedua orang tuanya muncul. Ibunya langsung berseru.

"Mira..... Kau pergi dari pagi. Sebaiknya kau membersihkan diri dulu lalu makan. Kau perlu istirahat....anakku!"

"Melayani tamu dua orang ini tidak akan makan waktu lama ibu. Aku akan membuktikannya....." Lalu Mirasani melambaikan tangna, memberi isyarat pada Suryo Kemikis untuk turun ke halaman depan.

"Sebelum kita mulai.... " Suryo Kemikis berkata begitu berhadapan dengan Mirasani "apakah saya berhadapan dengan den ayu Mirasani? Saya tak mau kesalahan tangan....."

"Bagus! Sikapmu tak mau gegabah, kau memang berhadapan dengan Mirasani. Calon istrimu jika kau mampu mengalahkanku. Kulihat kau membawa tongkat bambu. Apakah kau akan bertanding mengandalkan tongkat itu....?"

Si pemuda tersenyum. "Tongkat ini hanya bawaan iseng saja den ayu. Aku akan mengadu nasib dengan tangan kosong saja." Lalu Suryo Kemikis sisipkan tongkat bambu kuningnya ke pinggang dan pasang kuda-kuda. "Mohon petunjuk, apakah saya yang mulai menyerang atau den ayu lebih dulu."

"Karena kau yang minta digebuk, maka kaulah yang harus menyerang lebih dulu!" sahut Mirasani.

Suryo Kemikis tersenyum tapi hati pemuda ini mulai terbakar karena ucapanucapan sang dara berbaju biru selalu merendahkannya. Pemdua dari kaki gunung Merapi ini telah mendalami ilmu silat selama empat belas tahun pada perguruan silat yag cukup terkenal yakni Teratai Putih. Perguruan ini merupakan pecahan dari sebuah perguruan silat yang sangat rahasia di mana kabarnya hanya orang-orang yang ada angkut pautnya dengan Keraton yang boleh berguru.

Ketika Suryo Kemikis bergerak melangkah, membuat gerakan meliuk yang indah pada pinggang sementara kedua tangannya diayun-ayunkan seperti penari maka itulah jurus pertama!

Mirasani menunggu sampai si pemuda berada cukup dekat. Lalu lengan kirinya dikibaskan, memotong gerakan lawan. Dia sengaja mencari bentrokan karena hendak menjajal kekuatan orang. Tapi Suryo Kemikis yang sudah mendengar banyak tentang kehebatan dara ini cepat menarik tangan kanan dan bersamaan dengan itu susupkan tangan kirinya dalam gerakan satu sodokan ke arah ulu hati sang dara. Mirasani yang diserang tiba-tiba memutar tubuh, bergerak satu lingkaran penuh dan wuut! Kaki kiri sang dara membabat ke atas, menghantam ke arah kepala Suryo Kemikis!

Pemuda itu tersentak kaget. Tidak menyangka daya capai kaki lawan jauh dan begitu cepat pula gerakannya. Secepat kilat dia rundukkan kepala. Kaki lawan lewat setengah jengkal dari batok kepalanya. Sambil miringkan tubuh ke kiri, selagi kaki kiri lawan masih berkelebat di udara dan seluruh berat tubuh Mirasani hanya bertumpu pada kaki kanan, Suryo Kemikis hantamkan kaki kanannya untuk menyapu kaki lawan yang menginjak tanah. Memang kalau labrakan ini mengenai sasaran, tubuh Mirasani pasti akan jatuh!

Tapi betapa terkejutnya Suryo Kemikis ketika kaki yang hendak diterjangnya itu tiba-tiba melompat ke atas. Bersamaan dengan itu tubuh sang dara ikut melesat lalu ada suara menderu di atas kepalanya. Mendongak ke atas si pemuda melihat tangan kanan lawan yang membentuk tinju menjotos deras ke arah batok kepalanya. Untuk kedua kalina Suryo Kemikis tundukkan kepala dan selamat. Namun pukulan lawan ternyata terus mengejar ke kanan dan bersarang di bahunya tanpa dia dapat mengelak lagi. Meskipun Suryo Kemikis memiliki sejenis ilmu bertahan yang disebut "Meredam Pukulan Membendung Tendangan" sehingga ketika pukulan atau tendangan lawan mengena, daya hantamnya yang keras dapat dikurangi, tetapi tetap saja pemuda ini terbanting ke kanan. Untuk mencegah agar tubuhnya tidak terbanting mencium tanah Suryo Kemikis cabut tongkat bambunya, menunjang tubuhnya dengan tongkat itu lalu berjumpalitan. Di lain kejap dia sudah tegak enam langkah di depan Mirasani. Tangan kiri memegang tongkat dengan tubuh tampak miring ke kanan. Mungkin tulang bahunya yang patah, paling tidak retak akibat hajaran sang dara tadi.

"Kau sanggup mengelakkan jurus Kincir Berputar tapi tidak mampu menghindar jurus Alu Besi Membobol Lesung!" kata Mirasani menyebutkan dua jurus yang tadi dikeluarkannya untuk menempur si pemuda. Mulutnya menyunggingkan senyum mengejek. "Saatnya kau meninggalkan tempat ini Suryo Kemikis!"

"Tidak! Aku belum kalah! Aku belum jatuh menyentuh bumi!" sahut Suryo Kemikis. "Bukankah syaratmu adalah kalau bagi siapa yang tubuhnya roboh menyentuh tanah....?!"

Mirasani tertawa pendek. "Matamu buta melihat kenyataan! Otakmu tumpul menilai keadaan! Manusia macammu memang tak layak jadi suamiku! Majulah jika kau ingin meneruskan pertandingan! Jangan ragu-ragu mempergunakan tongkat bambumu sebagai senjata!"

Ditantang begitu Suryo Kemikis jadi panas. Rahangnya menggembung. Didahului satu bentakan pemud aini menyerbu sambil putar tongkat ambunya demikian rupa hingga mengeluarkan suara menderu dan cahay kekuningan bertebar.

"Hemm....Jurus Tabir Kipas itu tak ada gunanya bagimu! Apalagi untuk merobohkanku!" ujar Mirasani.

Suryo Kemikis terkejut ketika mendengar lawan mengetahui bahkan menyebut jurus serangan yang tengah dilancarkannya. Segera dia robah jurus yang baru dilancarkan setengahnya itu. Gerakan tongkatnya kini langsung menghujam lurus ke arah kepala sang dara. Sedikit lagi akan sampai tiba-tiba tongkat itu menukik ke bawah menghujam dada!

"Jurus Gendewa Jatuh!" seru Mirasani menyebut jurus yang dimainkan lawan.

Lagi-lagi hal itu membuat Suryo Kemikis terkesiap sehingga gerakannya menyerang agak terpengaruh. Saat itulah sang dara berkelebat ke depan. Tangan kanannya berputar lurus tapi dalam gerakan agak melintir. Inilah jurus Alu Besi Membobol Lesung yang dilancarkan dalam gerakan lurus. Suryo Kemikis melihat jelas serangan itu namun sama sekali tidak berkesempatan untuk selamatkan dadanya yang jadi sasaran.

Buukk!

Terdengar keluhan tinggi disertai mentalnya tubuh Suryo Kemikis. Pemuda ini tergelimpang di dekat tangga gedung. Tak berkutik beberapa lamnya. Ketika dia mencoba bangkit dari mulutnya menyembur darah segar. Suryo Kemikis kembali tergelimpang, kali ini pingsan tak sadarkan diri lagi!





TIGAMirasani sama sekali tidak memperdulikan apa yang dialami Suryo Kemikis. Dia berpaling pada pemuda berpakaian hitam berikat kepala merah yang tegak di anak tangga gedung memandangi sang dara dengan pandangan entah kagum entah kecut.

"Giliranmu sekarang!" berseru Mirasani.

Si baju hitam melangkah tenang. Empat langkah di hadapan Mirasani dia menjura lalu berkata. "Harap maafkan kalau aku terlalu bodoh memberanikan diri mencoba nasib....."

Mirasani tersenyum kecil. "Aku senang melihat sikapmu yang merendah. Tapi kalau bicara soal nasib, ketahulah nasibmu tak bakal lebih baik dari oemuda bernama Suryo Kemikis itu!" Mirasani melangkah pulang balik sambil berkacak pinggang.

"Kuliaht kau membawa keris! Kau boleh menggunakan senjata itu menghadapiku!"

"Aku lebih suka kalau diberi petunjuk dengan tangan kosong saja....."

"Hemmmm Pemuda satu ini sopan sekali sikapnya. Hanya saying dia pasti tak bisa mengalahkanku," membatin Mirasani. Lalu dia bertanya "Siapa namamu, kau datang dari mana dan siapa guru silatmu?!"

"Namaku buruk saja den ayu. Jalak Turonggo. Aku datang dari pantai urata. Soal siapa guruku, mohon maaf, aku sudah dipesan untuk tidak menjual nama guru ke mana-mana. Lagi pula kehadiranku di sini adalah kemauanku sendiri...."

"Bagus! Kau memang orang silat sejati. Majulah!"

Meskipun agak sungkan namun pemuda bernama Jaka Turonggo ini bergerak juga melancarkan serangan pertama. Meski sikap dan tutur bicaranya sangat sopan namun serangannya ternyata ganas. Jurus pertama itu dibukanya dengan mengelilingi tubuh si gadis secara cepat lalu tiba-tiba luncurkan serangan ke arah samping kiri Mirasani. Walau tidak seperti tadi yakni cepat dapat menebak dan menyebut jurus serangan lawan, namun mata Mirasani yang tajam sudah dapat melihat keganasan serangan lawan. Di balik keganasan itu matanya yang jeli dan otaknya yang tajam sekaligus dapat pula melihat sudur kelemahan serangan si pemuda. Maka diapun keluarkan seruan tinggi dan berkelebat. Perkelahian berkecamuk hebat. Tiga jurus berlalu cepat. Memasuki jurus keempat mendadak Jalak Turonggo berseru kaget ketika dia mendaptkan keris yang sebelumnya terselip di pinggangnya lenyap! Memandang ke depan dilihatnya senjata itu sudah berada dalam genggaman tangan kiri Mirasani! Sadarlah si pemuda, jika sang dara mau pasti dia sudah dapat menyusupkan pukulan berbahaya. Maka Jalak Turonggo rapatkan kedua kakinya, membungkuk sambil merapatkan kedua belah tangan dan berkata "Terima kasih atas petunjukmu. Jelas bagiku den ayu bukan tandinganku. Aku terlalu bodoh bercita-cita mendapatkan istri sepertimu....." Pemuda itu membungkuk sekali lagi.

Mirasani tersenyum. Hatinya cukup senang meliha pemuda yang sangat sopan dan tahu diri ini. Maka dikembalikannya keris Jalak Turonggo seraya berkata. "Kau menerima kekalahan dengan hati lapang. Aku suka bersahabat denganmu. Sebagai seorang sahabat aku layak minta tolong...."

"Maksud den ayu?" tanya Jalak Turonggo.

"Tolong bawa tubuh pemuda bernama Suryo Kemikis itu dari sini....."

Jalak Turonggo sebenarnya merasa tidak senang dengan permintaan itu, namun akhirnya dia mengangguk juga lalu memanggul tubuh Suryo Kemikis yang masih pingsan dan pergi dari situ. Baru saja Jalak Turonggo lenyap di kelokan jalan dan Rayu Komala berseru memanggil anaknya agar segera masuk kedalam, Mirasani melangkah cepat ke arah sebuah arca dekat pintu gerbang halaman sebelah kiri. Di situ tampak duduk seorang pemuda berpakaian seba putih, ikat kepalanya juga putih. Rambutnya yang panjang menjela bahu. Dia duduk sambil menopangkan dagunya pada kedua tangan. Wajahnya sebetulnya gagah tapi lagaknya yang aneh membuat dia seperti seorang pemuda tolol.

"Sejak tadi aku melihat kau duduk di sini. Apa keperluanmu?!" Mirasani menegur.

Si pemuda cepat berdiri, menjura hormat, menggaruk kepalanya, tertawa lebar lalu menjawab. "Maafkan saya datang tidak memberi salam. Semua karena kagum melihat perkelahian hebat tadi....."

"Sudah, tak perlu bicara panjang lebar. Jawab saja apa yang aku tanya!" tukas Mirasani.

"Aku yang tolol ini berniat mengikuti jejak dua pemuda tadi. Siapa tahu....."

"Memang hanya orang tolol yang mau digebuk! Bersiaplah!" sahut sang dara.

Pemuda berpakaian putih itupun tegak bersiap-siap. Caranya berdiri tampak lucu. Tubuh agak miring dan kaki kanan setengah bersilang dengan kaki kiri. Sikapnya ini membuat Mirasani jadi jengkel.

"Silahkan menyerang!" hardiknya.

Si pemuda garuk kepalanya. "Tadi di situ yang berkata mau menggebuk. Biar di situ saja yang lebih dulu menyerang!"

Gusarlah Mirasani. Sekali lompat saja tubuhnya melesat ke depan lalu membalik berputar satu lingkaran dengan kaki menendang deras.

"Jurus Kincir Berputar yang bagus!" seru si gondrong menyebut jurus serangan yang dilakukan sang dara. Terkejutlah Mirasani. Dara ini langsung hentikan serangannya, bertolak pinggang dan memandang tajam pada si pemuda.

"Kau mengenali jurus yang kumainkan! Siapa kau sebenarnya?!"

"Aku pemuda tolol bernama Wiro Sableng, datang kesasar dari puncak gunung Gede di ujung barat pulau Jawa. Guruku seorang nenek benama Sinto Gendeng.... Harap dimaafkan kalau aku membuatmu tidak senang....."

"Jadi kau..... kau Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?!"

"Begitulah orang memberi gelar pada diriku yang jelek dan tolol ini!"

Berubahlah paras Mirasani. Dia pernah mendengar dari gurunya Ki Demang Juru Gampit bahwa di tanah Jawa ini ada beberapa tokoh silat yang berkepandaian sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang mengucilkan diri tidak mau dikenal, tidak mau terlalu mencampuri urusan dunia persilatan. Namun ada pula di antara mereka yang malang melintang berbuat kebajikan, menolong orang-orang yang tertindas, membasmi kejahatan. Salah satu di antaranya adalah yang dikenal bernama Wiro Sableng, seorang yang kabarnya berperangai aneh lucu dan bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Namun tidak pernah disangkanya kalau sang pendekar ternyata adalah seorang pemuda padahal sebelumnya dia menduga pendekar itu pastilah seorang yang sudah kakek tua renta!

"Hai! Kau seperti melamun! Bagaimana ini? Apakah urusan ini bisa diteruskan....?" Wiro berseru.

"Ah, hari ini mungkin hari terakhirku bertanding. Aku punya firasat tak bakal menang menghadapi pemuda ini!" Mirasani membatin. Lalu dengan menabahkan hati dia melangkah menekat. Dari jarak tiga langkah gadis ini langsung menyerbu, menhujani Pendekar 212 dengan serangan-serangan cepat dan ganas.

"Jurus Alu Besi Membobol Lesung....ah itu jurus Elang Mematuk Puncak Menara.....Eit! Jurus Ular Keluar Sarang Memagut Mangsa dan ini jurus Bintang Memagar Rembulan..... Hebat.... Semua hebat! Tapi lihat akupun bisa memainkannya! Terdengar seruan Wiro berulang kali yang membuat Mirasani kaget tidak kepalang dan lebih kaget lagi ketika dilihatnya pemuda itu memainkan jurusjurus yang dikelaurkannya hingga dirinya menjadi terdesak dan ketika satu sapuan pada salah satu kakinya membuat dia kehilangan keseimbangan, tak ampun lagi dara inipun jatuh terlentang di tanah!

Di langkan rumah Suto Klebet dan Rayu Komala terbeliak menyaksikan kejadian itu. keduanya saling pandang sesaat.

"Kangmas.....Agaknya....."

"Ya.....ya! Ini akhir dari segala-galanya. Anak kita telah menentukan pilihannya sendiri!" kata Suto Klebet menyamung ucapan istrinya lalu keduanya turun ke halaman.

Saat itu Mirasani sudah bangkit berdiri sambil merapikan pakaiannya. Wajahnya tampak kemerahan bukan karena malu dikalahan tapi karena jengah menghadapi pemuda yang kini sudah resmi menjadi calon suaminya sesuai dengan apa yang selama ini menjadi kaulnya.

"Kau tahu semua jurus-jurus seranganku! Kau sanggup memainkannya, malah meredam dalam bentuk bertahan dan kalau dipakai menyerang jauh lebih hebat dari yang kumiliki. Apakah kau pernah menjadi murid guruku Ki Demang Juru Gampit?!"

Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya lalu menggeleng. "Ki Demang Juru Gampit, gurumu itu adalah seorang tua yang bersih dan alim, hampir mendekati kesucian seorang Wali. Aku yang brandalan ini mana mungkin jadi muridnya!"

"Lalu bagaimana kau bisa tahu semua jurus-jurusku malah memainkannya dan bahkan merubuhkanku dengan jurus Meniup Pelita Mendorong Pohon!"

"Semua hanya kira-kira saja. Tak tahunya kebetulan tepat. Semua jurus itu kumainkan lain tidak karena hanya melihat saja lalu menirukan. Kalau gurumu ada di sini pasti dia melihat kekurangan jurus-jurusku itu!"

"Pemuda ini pandai, tapi dia selalu bersikap merendah. Agaknya dia sengaja menutupi kepandaiannya dengan sikap ketolol-tololan...." Begitu Mirasani berkata dalam hati. Lalu tanpa sungkan-sungkan dia memegang lengan Wiro dan membawa pemuda ini ke arah kedua orang tuanya yang turun dari langkan gedung.

Atas permintaan Wiro pernikahan dilangsungkan dua hari kemudian. Sama sekali tidka ada pesta susulan. Karenanya tidak ada tokoh persilatan termasuk Ki Demang Juru Gampit dan Eyang Sinto Gendeng. Mirasani berulang kali meminta pada suaminya aga tetap diadakan pesta besar-besaran karena sebagai istri dan juga kedua orang tuanya merasa bangga memiliki seorang suami yang merupakan pendekar terkenal dalam dunia persilatan. Tapi karena Wiro menolak dengan keras terpaksa akhirnya sama sekali tidak ada pesta ataupun selamatan diadakan, kecuali acara pernikahan yang berlangsung cepat dan sangat sederhana.EMPATKebahagiaan Mirasani sebagai seorang istri hanya berlangsung selama satu bulan. Setelah itu suaminya mulai menunjukkan tindak tanduk aneh. Berkali-kali Wiro pergi meninggalkannya tanpa pesan atau mengatakan ke mana tujuan ataupun keperluannya. Dua atau tiga minggu kemudian baru sang suami pulang. Meskipun Mira tak pernah mengadukan keadaan suaminya pada kedua orang tuanya, Suto Klebet dan Rayu Komala diam-diam sudah mengetahui apa yang berlangsung dalam rumah tangga baru itu.

Suatu malam Wiro Sableng muncul kembali setelah selama dua minggu menghilang entah ke mana. Sebelum sempat ditanya Wiro meletakkan sebuah kotak berukir di atas meja dan berkata pada istrinya "Bukalah. Semuanya untukmu Mira....."

Meskipun hatinya tak suka melihat sikap suaminya itu namun Mira membuka juga kotak kayu berukir yang terletak di meja. Begitu dibuka kelihatanlah isi kotak.

Sejumput perhiasan emas bertahta permata serta sejumlah ringgit emas!

"Dari mana kau mendapatkan ini kangmas Wiro?"

Yang ditanya tertawa lebar dan usap-usap hidung lalu garuk-garuk kepala.

"Pemberian seorang kaya raya di Tegalrojo yang kutolong," sahut Wiro. Dia menatap paras istrinya sesaat lalu berkata "Kelihatannya kau tidak suka menerima pemberian itu?"

"Tentu saja aku suka kangmas Wiro. Hanya saja sebetulnya yang aku lebih suka adalah jika kau selalu berada di rumah bersamaku. Kita masih pengatin baru. Malam-malam sering kulewati dengan sepi tanpamu. Apakah kau tidak bisa menunda segala kepergian itu....?"

"Kau tahu sendiri Mira. Aku seorang pendekar pengelana. Mana mungkin aku mengeram lama-lama di rumah...."

"Aku mengerti kangmas Wiro. Karena itu aku selalu meminta padamu agar jika kau pergi aku diajak serta....."

"Pengelanaan seperti yang kulakukan bukan pekerjaan seorang istri cantik jelita sepertimu Mira...."

"Tapi kita sama-sama orang persilatan!"

"Tidak Mira. Aku tak akan pernah mengizinkanmu ikut bersamaku. Terlalu besar bahayanya...."

"Jika itu yang kangmas cemaskan, bagaimana dengan usulku tempo hari? Membuka perguruan silat...."

"Itu usul baik. Namun tidak saat ini Mira, urusanku di luaran masih banyak."

"Jika memikirkan urusan, perguruan itu tak akan pernah jadi. Apa susahnya? Yang akan dijadikan murid hanya orang-orang tertentu. Dari Keraton Saladan Jogja..... Bahkan guruku bersedia membantu....."

"Kalau begitu biar kau saja dengan Ki Demang yang melakukannya. Aku pasti membantu......"

"Justru aku ingin menonjolkan dirimu. Siapa tahu penguasa Keraton tertarik padamu dan memberikan satu jabatan penting. Kepala Pasukan Kotaraja misalnya....."

Wiro Sableng tertawa lalu merangkul dan menciumi istrinya. "Kau istri yang baik, mau memikirkan masa depan suami, tapi Mira ketahulah, aku tidak suka segala macam jabatan di Keraton atau di Kerajaan. Aku tetap seperti ini. lelaki bernama Wiro Sableng, tolol dan gendeng, mengelana ke mana yang diinginkan, berbuat kebajikan bagi orang banyak. Dengar Mira, aku letih, ingin istrahat dan bermesraan denganmu. Aku begitu kangen. Aku akan mandi lebih dulu lalu kita naik ke atas ranjang.

Mirasani hanya bisa mengangguk.

"Besok.....pagi-pagi sekali aku harus pergi ke selatan. Kabarnya banyak terjadi kejahatan di wilayah itu. ada tokoh silat golongan hitam yang ikut membantu para penjahat....."

Peringatan seribu hari meninggalnya Tumenggung Campak Wungu dihadiri oleh banyak tetamu terutama dari pihak pejabat Keraton termasuk beberapa orang Pangeran. Di antara para tamu yang datang turut hadir hartawan Suto Klebet dan istrinya berseta puteri mereka Mirasani, istri Pendekar 212 Wiro Sableng. Malam itu Mira tampak cantik sekali, mengenakan kebaya panjang ungu gelap, kain batik tulis, sanggul berhias tusuk kundai emas dilengkapi giwang besar serta seuntai kalung emas berbetuk bunga mawar dengan sebuah permata di tengah-tengahnya.

Selama upacara selamatan berlangsung sepasang mata janda almarhum Tumenggung Campak Wungu tidak henti-hentinya mengerling pada kalung besar yang melingkar di leher Mirasani. Begitu upacara resmi selesai, sang janda mendekati Mirasani dan kedua orang tuanya, bersalam-salaman sambil bicara berbasa-basi.

Suatu saat Sularesmi, begitu nama sang janda berkata pada Mirasani "Anakku Mira sungguh bagus kalung emasmu. Di mana kau membelinya? Ah, jika kau bisa memberi tahu siapa pembuatnya tentu aku mau membuat yang seperti ini...."

Mirasani hanya tersenyum tersipu. Yang menjawab adalah ibunya "Jeng Sularesmi terlalu memuji. Kalung itu biasa-biasa saja. Suaminya yang memberikan...."

"Ah, suami Mira....." ujar Sularesmi seraya memandang berkeliling seperti mencari-cari.

"Suaminya tidak hadir jeng Sula. Harap dimaafkan. Dia masih bertugas di selatan....."

Sularesmi mengangguk-angguk mendengar penjelasan Rayu Komala itu. Dua hari kemudian, pada suatu siang, dengan mengendarai sebuah kereta, janda almarhum Tumenggung Campak Wungu muncul di rumah kediaman hartawan Suto Klebet, langsung disambut oleh Rayu Komala karena memang saat itu hanya dia sendiri yang berada di gedung besar itu.

"Tidak memberi kabar terlebih dahulu, tahu-tahu sudah datang berkunjung sungguh satu kerhormatan besar bagi saya jeng Sula...." Kata Rayu Komala seraya memeluk tamunya lalu membawanya ke ruangan tamu yang besar dan bagus.

"Apakah jeng Rayu ada baik dan sehat-sehat....?"

"Berkat doa jeng Sula. Terima kasih. Saya akan menyediakan minuman...."

"Tidak usah repot. Saya hanya sebentar jeng."

"Ah, kenapa begitu buru-buru....."

"Kedatangan saya hanya ingin menyampaikan sesuatu."

"Sesuatu mengenai apa jeng Sula?"

"Menyangkut kalung bunga mawar itu...."

"Kalung bunga mawar.....? Oooo.....maksud jeng Sula kalung yang malam selamatan itu dipakai oleh puteri saya?"

"Betul sekali."

"Ah, rupanya jeng Sula selalu mengingat-ingat perhiasan itu....."

Sularesmi tersenyum lalu berkata dengan suara lebih perlahan seolah-olah takut ada yang bakal mendengar. "Ketahuilah jeng. Kalung itu sama betul dengan kalung milik saya yang hilang dua minggu lalu....." Paras Rayu Komala serta merta berubah.

"Saya tidak mengerti maksud jeng Sularesmi."

"Dua minggu lalu rumah kediaman kami dibobol maling. Seorang penjaga terbunuh. Sekotak perhiasan dan uang emas amblas dari lemari yang dibongkar paksa. Termasuk kalung emas bunga mawar bertahta permata tunggal itu...."

"Maksud jeng Sula kalung itu...."

"Saya tidak mengatakan bahwa kalung itu adalah milik saya yang hilang. Tapi di dunia ini saya yakin hanya ada satu kalung seperti itu. jika saya boleh tahu jeng Rayu, dari mana Mirasani mendapatkan perhiasan itu? Kalau tidak salah kata jeng Rayu malam itu.... perhiasan itu pemberian suaminya, pendekar gagah bernama Wiro itu. Betul begitu....?"

Rayu Komala mengangguk. Hatinya tiba-tiba saja menjadi tidak enak di samping ada rasa malu yang membuat wajahnya menjadi merah.

"Jeng Rayu...." Kata Sularesmi. "Saya tidak menyangka apalagi menuduh yang bukan-bukan. Hanya saya ingin jeng Rayu membantu saya mencari tahu dari mana asal muasalnya perhiasan itu....."

"Menurut Mira ketika suaminya menghadiahkan perhiasan itu, suaminya menyebut perhiasan itu adalah hadiah dari hartawan di Tegalrejo yang pernah ditolongnya....."

"Tegalrejo daerah tandus. Tak ada seorang hartawanpun diam di sana!" kata Sularesmi pula.

Semakin beubah wajah Rayu Komala, semakin tidak enak hatinya.

"Jeng Rayu...." Kata Sularesmi sambil memegang lengan perempuan itu.

"Mungkin saya keliru besar. Anggap saja saya tidak pernah datang kemari. Lupakan semua pembicaraan kita barusan. Saya mohon diri...." Lalu janda Tumenggung itu cepat-cepat berdiri.

Ketika suatu malam Mirasani menuturkan peremuan Sularesmi dengan ibunya yang menyangkut kalung emas bermata berlian itu, sesaat Pendekar 212 Wiro Sableng tampak berubah wajahnya. Namun di lain kejap dia tertawa lebar dan berkata.

"Ada ujar-ujar di dunia ini Mira. Ujar-ujar itu mengatakan Jika kita tidak punya maka kita akan dihina. Tapi jika kita punya maka kita akan difitnah! Itulah agaknya yang terjadi pada diriku. Aku ingin membahagiakan istri sendiri dengan hadiah berupa perhiasan. Tapi orang lain menuduh dan memfitnah yang bukanbukan...."

"Menurut ibu, janda Tumenggung itu sama sekali tidak menuduh ataupun memfitnah...."

"Lalu apa maksudnya datang kemari dan sengaja menebarkan cerita tak masuk akal itu. Apa cuma dia yang meiliki perhiasan di dunia ini? Jelas dia hendak memecah belah rumah tangga kita. Memberi malu pada diriku! Perempuan macam apa janda Tumenggung itu!"

Mirasani terdiam beberapa lamanya. Lalu dia bekata "Ada baiknya kangmas memberi penjelasan beserta bukti-bukti pada janda Tumenggung itu mengenai asal usul perhiasan itu. kalau perlu pergi bersama hartawan yang kata kangmas menghadiahkan sekotak perhiasan dan uang itu..."

Wiro menggeleng. Tinjunya yang terkepal diletakkan di atas meja.

"Dia telah memberi malu diriku! Menghina dan merendahkan. Memberi malu pada dirimu juga! Memberi malu seisi rumah ini! Aku tidak akan menemuinya, apalagi membawa hartawan itu dan bicara padanya! Ambil kotak berisi perhiasan dan ringgit emas itu Mira! Aku akan melakukan sesuatu menurut caraku sendiri!"

"Apa yang akan kangmas lakukan?!" tanya Mirasani cemas.

"Kau tak usah kawatir istriku! Aku akan melakukan sesuatu yang dapat menghapus malu besar yang dicorengkan perempuan tak berbudi itu! Di mana kotak itu kau simpan. Ambil dan bawa kemari. Jangan ada yang kurang isinya!"

Mau tak mau Mirasani pergi juga mengambil kotak kayu yang diminta Wiro Sableng itu.

Keesokan paginya terjadi kehebohan yang menggegerkan di rumah kediaman almarhum Tumenggung Campak Wungu. Seorang pelayan menemukan Sularesmi telah jadi mayat, menggeletak di atas lantai kamar tidur. Ada bekas cekikan pada lehernya. Perempuan yang malang ini mati dengan lidah agak terjulur dan mata mendelik. Di atas lantai dekat jenazahnya tergeletak, tampak kotak kayu berukir berisi perhiasan dan ringgit emas. Pada dinding kamar yang putih bersih tertera besar-besar tiga deretan angka : 2 1 2.LIMAKi Demang Juru Gampit merapikan jubah putihnya lalu mengambil buntalan kecil yang ada di atas balai-balai. Dia berpaling pada anak lelaki berusia sekitar dua belas tahun yang duduk di sudut rumah dan berkata "Kaiman, aku pergi sekali ini cukup lama. Jaga rumah ini baik-baik dan jangan lupa berlatih terus. Jika kau rajin pasti kau akan menguasai seluruh kepandaian yang kuberikan. Seperti pandainya kakakmu yang bernama Mirasani itu...."

"Ucapan itu akan saya perhatikan kek. Sebetulnya ingin sekali saya ikut bersama kakek. Ingin bertemu dengan kakak seperguruan yang kabarnya cantik sekali itu....."

Ki Demang tersenyum. "Belum saatnya muridku. Suatu ketika kau pasti akan bertemu dengannya. Apakah kudaku sudah kau siapkan....?"

"Sudah kek. Hai....betulkan kakak Mirasani itu mempunyai seorang suami yang gagah perkasa. Memiliki ilmu silat dan kesaktian luar biasa? Bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.....?"

Ki Demang Juru Gampit mengangguk. "Begitu yang kudengar. Aku sendiri belum pernah bertemu muka. Namun nama besarnya menjulang setinggi gunung Merapi. Itulah sebabnya aku berhasrat menyambangi muridku. Bisa bertemu dengan Mirasani dan berjumpa dengan suaminya. Aku pergi sekarang Kaiman. Jaga rumah baik-baik. Jangan lupa sembahyang!"

Habis berkata begitu Ki Demang menuruni tangga kayu rumah kayu sederhana yang terletak di puncak bukit itu. langkahnya tetap dan tegap ketika menuju pohon di mana kudanya ditambatkan. Tetapi langkah ini serta merta tertahan ketika memandang ke depan dia melihat di atas kuda miliknya yang masih tertambat di pohon tampak duduk seorang pemuda berpakaian putih berikat kepala putih, berambut gondrong dan sebatang rokok terselip di sela bibirnya.

Setelah pandangi pemuda tak dikenalnya itu beberapa ketika maka Ki Demangpun menegur.

"Anak muda, enak sekali dudukmu di atas punggung kudaku. Siapakah dirimu....?"

"Apakah aku berhadapan dengan orang tua bernama Ki Demang Juru Gampit?" Pemuda yang di tanya bukannya menjawab malah balik bertanya.

Dengan sabar si orang tua menjawab "Benar. Kau tidak salah. Aku adalah Ki Demang Juru Gampit. Kau datang sengaja mencariku!"

"Aku Wiro Sableng. Bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Murid Sinto Gendeng dari gunung Gede!"

"Astaga!" kagetlah Ki Demang Juru Gampit. "Aku justru tengah bersiap-siap untuk menyambangimu dan muridku! Tahu-tahu kau muncul di sini! Sungguh senang hatiku bertemu dengan Wiro...." Meski mulutnya berkata senang tapi hati si orang tua merasa tidak senang melihat tindak tanduk dan cara bicara si pemuda yang dilihatnya tidak sopan, berbau kurang ajar.

"Turun dari kuda itu. mari masuk ke rumah agar kita bisa berbincang-bincang. Mungkin kita bisa bersama-sama menuju tempat kediaman kau dan istrimu...." Ki Demang mengundang.

Wiro cabut rokok yang terselip di sela bibirnya lalu mencampakkannya ke tanah. Sekali bergerak saja dia sudah melompat dan turun ke tanah.

"Ki Demang, aku kemari bukan untuk berbincang-bincang...."

"Kalau begitu..... Apa yang bisa kulakukan . Langsung saja sama-sama pergi saat ini?!"

Wiro gelengkan kepalanya. Sepasang matanya memandang tak berkesip pada orang tua itu. Mulutnya membuka dan meluncurlah ucapannya "Aku datang untuk membunuhmu!"

Ki Demang Juru Gampit sesaat terkesiap lalu terdengar gelak tawanya berderai.

"Ada-ada saja kau ini Wiro. Kau sadar apa yang kau ucapkan barusan? Pasti kau bergurau!"

"Mengenai urusan kematian, aku tidak pernah bergurau Ki Demang...." Jawab Wiro sambil menyeringai dan garuk-garuk kepalanya.

"Eh, orang satu ini tampaknya memang tida bergurau...." Kata Ki Demang Juru Gamp[it dalam hati. Maka diapun memancing. "Soal kematian anak manusia adalah di tangan Tuhan. Kalau hari ini memang takdirku sampai umur, aku akan menerima dengan pasrah. Hanya saja ingin kutanyakan alas an apa yang membuatmu muncul sebagai malaikat pencabut nyawa?"

Wiro tertawa bergelak. "Kalau kau tanya soal alasan, jawabannya bisa seribu satu orang tua. Apakah kau sudah bersiap untuk mati.....?"

"Aku sudah siap sejak tadi anak muda! Aku mempunyai firasat kau sebenarnya bukan...."

Sebelum Ki Demang menyelesaikan kalimatnya Pendekar 212 Wiro Sableng telah menyergapnya dengan serangan. Tak bisa berbuat lain Ki Demang Juru Gampit segera menghadapi serangan itu dengan tenang. Mula-mula dia bertahan sampai dua jurus. Pada jurus ketiga guru Mirasani ini mulai balas menyerang. Inilah yang ditunggu Wiro Sableng. Matanya yang tajam memperhatikan gerakan lawan, meredam dan meniru gerakan itu sambil menyebutkan jurus yang dikeluarkan si orang tua. Ki Demang Juru Gampit tidak kaget melihat lawan bisa menyebut dan mengenali jurus-jurus yang dimainkannya. Karena pastilah semua itu diketahui Wiro dari istrinya. Tetapi orang tua ini merasa kaget sekali ketika dilihatnya Wiro Sableng balas menyerang dengan jurus-jurus ilmu silat yang diciptakannya sendiri! Dan celakanya jurus-jurus serangan yang dilancarkan lawan ternyata lebih ganas dan disertai aliran tenaga dalam tinggi hingga orang tua itu terdesak hebat!

"Luar biasa! Tak bisa dipercaya!" kata Ki Demang Juru Gampit dalam hati.

"Terpaksaaku mengeluarkan kesaktian!" Namun orang tua ini tak mendapat kesempatan untuk mengeluarkan pukulan-pukulan saktinya karena serangan lawan datang tiada henti seperti curahan hujan!

"Jurus Alu Besi Membobol Lesung!" teriak Wiro dan tiba-tiba sekali tangan kirinya meluncur menembus pertahanan Ki Demang.

Ki Demang Juru Gampit melihat jelas datangnya serangan itu. dia menangkis dengan menghantamkan lengan ke atas. Tapi kalah cepat. Jotosan Pendekar 212 Wiro Sableng melabrak dadanya denga keras. Orang tua ini terpental, jatuh terlentang di tanah. Tulang dadanya remuk. Dua tulang iganya ikut patah!

Melihat hal ini Kaiman murid Ki Demang yang sejak tadi menyaksikan pertempuran berteriak marah dan berlari ke arah Wiro sambil mengacungkan tinju.

"Manusia jahat tak berbudi! Aku akan membalas apa yang kau lakukan terhadap guru!"

Wiro berpaling dan menyeringai.

"Bocah tolol! Jadi kau muridnya tua bangka ini! bagus! Guru dan murid akan kubunuh bersama!"

Mendengar ucapan Wiro dan melihat sorotan mata pendekar itu Ki Demang maklum apa yang bakal terjadi. Maka diapun berteriak "Kaiman! Lari.... Lekas lari! Selamatkan dirimu! Dia bukan tandinganmu!"

Sesaat anak berusia dua belas tahun itu hentikan langkahnya. Tapi bila dilihatnya darah yang mengucur di sela bibir gurunya, amarahnya memuncak kembali. Dia tidak takut terhadap Wiro. Dia rela mari bersama gurunya.

"Kaiman! Dengar ucapanku! Lari! Lekas lari!"

"Muridmu hanya akan lari ke neraka Ki Demang!" ujar Wiro. Lalu dia melompat untuk menyergap anak itu. Ki Demang Juru Gampit kumpulkan sisa kekuatannya, melompat dan menangkap salah satu kaki Wiro Sableng hingga kedua orang itu kemudian sama-sama jatuh bergulingan. Dengan satu sentakan keras Wiro lepaskan kakinya dari cengkeraman orang. Saat itu dilihatnya anak lelaki tadi tak ada lagi di situ. Dengan geram Wiro melangkah mendekati Ki Demang. Orang tua yang dalam keadaan tak berdaya itu kerahkan tenaga dalamnya. Tangannya bergetar.

Mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu. Begitu Wiro datang lebih dekat Ki Demang hantamkan tangan kanannya!

Wuut!

Angin berwarna kebiruan menderu, menghantam deras ke arah Wiro. Terasa hawa dingin menggidikkan. Pendekar 212 cepat melompat ke samping. Dari samping dia balas menghantam dengan pukulan tangan kanan. Tampak cahaya putih berkilauan. Udara panas menebar. Cahaya itu laksana tombak raksasa menderu menghantam tubuh Ki Demang.

Orang tua itu terpekik. Tubuhnya sebelah bawah hangus. Gerahamnya bergemelatakan menahan sakit.

"Pukulan Sinar Matahari...." Desisnya. Dia sudah lama mendengar kehebatan pukulan sakti itu. Siapa menduga kalau hari itu dia akhirnya menemui ajal dengan pukulan itu. Setelah mengerang panjang Ki Demang Juru Gampit tampak tak bergeming lagi. Nafasnya melayang sudah!ENAMPesantren Tunggul Kencono merupakan pesantren paling besar di Jawa Tengah pada masa itu. Ratusan muridnya bermukiMn di kaki gunung Sumbing, dekat sebuah lembah yang subur. Saat itu baru lepas Maghrib dan anak-anak murid pesantren tengah bertadarus mengaji di bangsal besar bangunan induk sambil menunggu saat sembahyang Isya.

Kiai Bangil Menggolo pimpinan pesantren duduk di tengah bangsal. Kedua matanya terpejam sedang tangan kanannya memegang tasbih. Walau dia tengah berzikir khusuk namun telinganya yang tajam senantiasa dapat mendengar bacaan murid-muridnya yang salah maka sang kiai memberi tahu kesalahan itu dan meminta si murid mengulang kajinya sampai betul.

Di antara ramainya gema suara para murid mengaji tiba-tiba terdengar suara kraak yang disusul oleh patahnya tiang bangsal di ujung kanan serta miringnya atap bangsal di bagian itu!

Suara para murid yang mengaji serta merta sirap. Semua kepala dipalingkan ke arah tiang yang patah dan semua mata ditujukan pada sosok tubuh seorang pemuda berambut gondrong, mengenakan pakaian putih yang tegak berkacak pinggang di bawah atap yang miring. Kiai Bangil Menggolo terus saja duduk bersila dan berzikir seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh atau terganggu oleh apa yang terjadi namun sebenarnya semua keadaan yang berubah itu tidak lepas dari mata hatinya.

"Apa yang terjadi....?" Sang Kiai bertanya.

"Seorang pemuda tak dikenal memukul patah tiang bangsal!" salah seorang murid menjawab.

Perlahan-lahan sepasang mata Kiai Bangil Menggolo terbuka dan langsung beradu pandang dengan pemuda berpakaian putih berambut gondrong yang tegak dekat tiang bangsal yang patah.

"Anak muda, betulkah kau yang mematahkan tiang itu?" bertanya Kiai Bangil Menggolo. Suaranya datar dan tenang.

"Memang aku yang melakukannya!" menjawab si pemuda dengan tandas, pongah dan jelas bernada menantang.

"Hemmm...." Kiai Bangil Menggolo bergumam dan angguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

"Apa salah tiang itu hingga kau memukulnya sampai patah dan merusakbangunan kediaman kami?!"

Yang ditanya menyeringai lalu menjawab "Tiang itu memang tidak punya salah! Tapi pimpinan pesantren Tunggul Kencono ini yang punya salah dan dosa besar!"

Semua anak murid pesantren terkesiap mendengar ucapan si gondrong tak dikenal itu.

Setelah mengusap janggut putihnya beberapa kali Kiai Bangil Menggolo lalu berucap "Yang namanya manusia itu tak akan pernah luput dari dosa dan kesalahan. Tapi apakah kau bisa mengatakan dosa dan kesalahanku, anak muda?"

"Kua diketahui berkomplot dengan pemberontak di daerah timur untuk merebut tahta, menghancurkan Kerajaan!" jawab si pemuda.

"Masya Allah!" berucap Kiai Bangil Menggolo. "Menuduh tanpa bukti sama saja dengan memfitnah. Selama bertahun-tahun aku tak pernah meninggalkan pesantren. Selama bertahun-tahun aku tak pernah berhubungan dengan dunia luar. Bagaimana tiba-tiba saja aku dituduh begitu keji? Berkomplot dengan kaum pemberontak!"

"Untuk menyatakan tuduhan saat ini tak perlu aku membawa segala macam bukti. Karena semua bukti sudah berada di tangan Sri Baginda!"

"Kalau begitu, apakah kau utusan Sri Baginda? Alat Negara?"

"Bukan hanya sekedar utusan Kiai! Tapi sekaligus membawa perintah untuk menghukum matimu saat ini juga!"

Mendengar kata-kata si pemuda, puluhan murid pesantren serta merta berdiri dengan sikap siap melindungi pemimpin mereka bahkan kalau perlu meringkus pamuda tak dikenal itu. Perlu diketahui pesantren Tunggul Kencono adalah pesantren di mana para murid belajar berbagai ilmu agama serta dakwah. Sama sekali tidak mengajarkan ilmu silat apalagi segala macam kesaktian. Namun demikian melihat pimpinan mereka berada dalam ancaman, para murid pesantren menjadi marah dan bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan. Melihat hal ini Kiai Bangil Menggolo cepat memberi isyarat, menyuruh muridnya tenang dan duduk kembali.

"Anak muda," kata Kiai Bangil Menggolo seraya berdiri dari duduknya. "Jika Kerajaan ingin menangkap seseorang apalagi hendak menjatuhkan hukuman, terlebih dulu orang itu dibawa kepersidangan pengadilan. Dia akan ditangkap dengan surat resmi bercap Kerajaan. Dan yang membawa surat penangkapan itu paling tidak adalah sejumlah perajurit berseragam resmi, bersenjata lengkap! Kau datang seorang diri seperti gelandangan tak tahu juntrungan. Siapa sebenarnya kau ini, anak muda?!"

Si gondrong tampakberubah wajahnya mendengar kata-kata Kiai Bangil Menggolo itu. namun kemudian dia keluarkan suara tertawa bergelak.

"Kalau ingin tahu siapa aku, dengar baik-baik Kiai! Namaku Wiro Sableng! Murid tunggal Eyang Sinto Gendeng dari puncak gunung Gede. Bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!"

Mendengar keterangan si pemuda terkejutlah Kiai Bangil Menggolo.

"Nama besarmu memang sudah lama kudengar. Akupun pernah berbincangbincang dengan gurumu dalam suatu pertemuan beberapa tahun yang silam. Aku yakin ada kekeliruan...."

"Aku yakin tidak ada kekeliruan!" memotong Wiro Sableng. "Apakah kau sudah siap untuk mati?!"

Wiro Sableng turunkan tangan kanannya yang sejak tadi bertolak pinggang.

"Kiai!" puluhan murid pesantren berseru tegang dan tanpa depat dicegah mereka sudah mengelilingi Kiai Bangil Menggolo, menghadap ke arah si pemuda dengan pandangan beringas.

"Semua mundur!" seru Kiai Bangil. "Tak ada yang perlu ditakutkan!" orang tua itu lalu mendorong murid-muridnya ke samping sambil melangkah ke arah Wiro berdiri. Saat itu tiba-tiba Wiro Sableng pukulkan tangan kanannya ke depan seraya berteriak "Kiai Bangil! Ajalmu sudah sampai! Terima pukulan Sinar Matahari ini sebagai hukumanmu!"

Sinar putih menderu dari tangan kanan Wiro. Kiai Bangil terpental dua tombak, jatuh ke lantai bangsal dalam keadaan hangus sekujur badannya! Anak murid pesantren yang puluhan orang itu berpekikan. Sebagian memburu ke arah guru mereka, sebagian lagi melompat ke arah Wiro. Tapi pemuda itu telah lenyap!TUJUHPagi cerah, langit bersih membiru, sang surya bersinar lembut. Embun masih tampak melekat di dedaunan. Dalam udara segar itu di kejauhan terdengar suara orang bersiul. Keras tetapi entah membawakan lagu apa. Tiba-tiba suara siulan itu lenyap ketika dari berbagai arah terdengar suitan keras saling bersahutan. Orang yang bersiul pertama tadi hentikanlangkahnya dan memandang berkeliling. Suara suitan terdengar lagi berulang kali, jelas saling bersahut-sahutan seperti memberi suatu tanda.

Orang yang tadi bersiul kembali memandang berkeliling. "Aneh! Suitan seperti itu biasanya tanda-tanda yang dibuat oleh orang-orang persilatan! Agaknya ada sesuatu terjadi di sekitar sini!" begitu orang ini membatin sambil menggarukgaruk kepalanya yang gondrong. Ketika suara suitan-suitan lenyap. Si gondrong siap melanjutkan perjalanan, namun langkahnya tertahan ketika tiba-tiba pula kembali terdengar suara suitan bersahut-sahutan, lebih keras tanda lebih dekat dan lebih riuh tanda lebih banyak.

"Edan! Ada apa ini! suitan itu keras menggetarkan gendang-gendang telinga! Suitan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi!" si gondrong tepuk-tepuk telinganya.

Terdengar suara bergemirisik. Si gondrong cepat membalik. Dari sebatang pohon besar melayang turun sesosok tubuh. Yang muncul ternyata seorang tua renta berjanggut putih sampai ke dada. Dia membawa dua bumbung bambu. Satu dipanggul satunya lagi ditenteng. Melihat orang tua ini si gondrong cepat-cepat menubruk dan jatuhkan diri seraya berkata "Dewa Tuak. Sungguh pertemuan yang tidak didugaduga! Ah, kau tidak seperti tambah tua! Tak pernah tambah tua! Luar biasa!"

Si orang tua tertawa tapi si gondrong melihat ada sesuatu tersembunyi di balik tawa itu.

"Pendekar 212 Wiro Sableng! Aku senang bertemu denganmu! Hanya saja keadaan hari ini tidak terlalu menggembirakan. Berdirilah...."

Si gondrong yang ternyata Pendekar 212 Wiro Sableng berdiri perlahan.

"Dewa Tuak, apakah kau sehat-sehat saja....?"

"Aku sehat dan baik," jawab si orang tua yang disebut dengan gelar Dewa Tuak itu, yang merupakan seorang tokoh silat sangat disegani. "Apakah kau juga baik-baik?"

"Aku sehat, segar bugar!" jawab Wiro seraya mengacungkan kedua tangan tinggi-tinggi dengan jari terkepal.

"Syukur kalau begitu. Tapi sehat tubuhmu tidak sehat bagi banyak orang lain. Dunia persilatan telah geger oleh tindak tandukmu!"

"Apa maksudmu Dewa Tuak....?" Wiro Sableng terkejut mendengar ucapan Dewa Tuak.

"Kau masih bisa bertanya Pendekar 212? Bertanya setelah apa yang kau lakukan, setelah segala sesuatunya terlambat karena saat ini lebih dari setengah lusin tokoh silat telah mengurung tempat ini! Siap untuk membantaimu?!"

Wiro memandang berkeliling. Astaga! Apa yang dikatakan Dewa Tuak ternyata tidak dusta. Di sekelilingnya tampak tegak tujuh orang, memandang tak berkesip ke arahnya. Beberapa di antaranya orang-orang itu dikenalnya. Yang pertama adalah seorang kakek yang mata kirinya picak. Wiro kenal sekali dengan orang tua ini yaitu Lor Gambir Seta, murid tokoh silat nomor satu Si Raja Penidur.

Yang kedua juga seorang kakek bertubuh tinggi langsing, dikenal dengan gelar Malaikat Tangan Besi Dari Puputan, merupakan tokoh paling ditakuti di kawasan timur. Orang yang ketiga seorang nenek bermata juling, mencekal arit di tangan kiri. Wiro ingat pernah bertemu dengan perempuan tua ini sebelumnya tapi lupa entah di mana. Orang keempat seorang pemuda berwajah tirus, memegang tongkat besi di tangan kiri, seorang sahabat yang dikenal Wiro dengan gelar Pendekar Besi Hitam. Yang kelima seorang lelaki bertubuh kekar bertelanjang dada bermuka angker karena penuh cambang bawuk dan guratan bekas luka di kedua pipinya. Wiro tak kenal manusia satu ini. Orang yang keenam berdiri di bawah sebatang pohon, berpakaian serba hitam.

Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup caping bambu. Tapi dari hulu golok berbentuk kepala harimau yang tersisip di pinggangnya, murid Sinto Gendeng segera mengenalnya yakni seorang tokoh silat dari kawasan barat bernama Menak Jalantra, bergelar Harimau Pemakan Jantung. Orang yang terakhir seorang nenek bermuka garang. Rambutnya putih jarang, kepalanya hampir sulah. Dia mengenakan jubah putih dekil penuh tambalan dan memegang sebuah kaleng rombeng yang sudah karatan "Pengemis Hantu...." Desis Wiro Sableng ketika mengenali nenek berwajah angker seperti hantu itu. Dia tahu betul semua orang yang ada di situ adalah tokohtokoh silat golongan putih, satu aliran dengan dirinya sendiri. Tetapi mengapa semua mereka memandang dengan air muka yang menunjukkan permusuhan. Sementara Dewa Tuak dilihatnya beberapa kali menarik nafas panjang.

"Dewa Tuak.... Ada apa ini sebenarnya?" tanya Wiro Sableng. "Aku mencium hawa pembunuhan...."

Dewa Tuak kembali menghela nafas dalam-dalam lalu membuka mulut. "Aku tak kuasa menjawab pertanyaanmu, Wiro. Biar para tokoh itu saja ang memberi tahu...."

Lor Gambir Seta maju selangkah. "Empat bulan yang lalu kau membunuh Kiai Bangil Menggolo. Orang tua itu masih keponakan guruku si Raja Penidur. Guru menugaskanku untuk meminta pertanggung jawabmu...."

"Aku membunuh Kiai Bangil Menggolo....?!" Wiro kaget besar dan gelenggelengkan kepala. Ketika dia hendak membuka mulut kembali, Malaikat Tangan Besi Dari Puputan seudah lebih dulu memotong.

"Tujuh bulan lalu kau membunuh sahabatku Ki Demang Juru Gampit! Nyawanya adalah nyawaku juga! Jika kau membunuhnya maka aku minta kau membunuhku sekalian!"

"Hai! Apa-apaan ini?! Dua orang menuduhku yang bukan-bukan.....!" seru Wiro.

Pemuda berwajah tirus maju dua langkah dan tancapkan tongkat besi hitamnya ke tanah. "Aku Pendekar Besi Hitam! Delapan bulan silam kau merampok rumah kediaman bibiku janda almarhum Tumenggung Campak Wungu! Beberapa minggu kemudian kau membunuh perempuan itu dan terang-terangan meninggalkan tanda 212 di dinding rumah!"

"Oooladalah!" Wiro garuk-garuk kepalanya dengan kedua tangan. "Tuduhan keji apalagi yang akan kuterima hari ini....?!" Murid Sinto Gendeng berpaling pada orang-orang yang belum angkat bicara.

Nenek bersenjata arit ayunkan senjatanya beberapa kali lalu bicara dengan suara membentak "Kau memperkosa dan membunuh murid tunggalku Sintorukmi! Deretan angka 212 kau torehkan di sekujur tubuhnya yang telanjang....! Aku akan menicincang tubuhmu dengan arit ini. Kenalkan diriku Arit Sakti Pencabut Raga!"

"Gusti Allah!" seru Wiro. Hampir jatuh duduk dia mendengar tuduhan itu.

"Memperkosa dan membunuh keji itu tak pernah aku lakukan. Demi Tuhan....!"

"Sumpah pendekar murtad sepertimu siapa yang mau percaya!" satu bentakan terdengar. Yang membentak adalah lelaki bertelanjang dada yang wajahnya penuh cambang bawuk dan guratan luka. "Kau membunuh adik kembarku ketika dia bersama rombongan pasukan Kerajaan mengejar dua tokoh pemberontak di selatan lima bulan lalu! Jangan berani membantah! Aku sendiri menyaksikan kejadian itu!"

"Mati aku...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.145.124.143
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia