Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

INI SATU PEMANDANGAN yang mengerikan bagi siapa saja yang menyaksikan. Bagaimana tidak. Di malam buta ketika tak ada rembulan dan langit tidak pula berbintang, dibawah kepekatan yang menghitam gelap disertai hembusan angin mencucuk dingin, ditambah dengan turunnya hujan rintik-rintik, seekor kuda putih berlari kencang menuju puncak Gunung Klabat. Sambil lari binatang ini tiada hentinya keluarkan suara meringkik keras dari sela mulutnya yang berbusa.

Di atas punggung kuda putih itu membelin-tang sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Sesosok mayat seorang lelaki separuhbaya berambut panjang sebahu dengan luka bekas bacokan pada pangkal lehernya. Sebagian wajah dan leher serta dadanya dibasahi oleh darah yang masih hangat tanda orang ini belum begitu lama menemui ajalnya.

Di belakang mayat yang membelintang di atas punggung kuda itu, duduk seorang perempuan berwajah bulat, berpakaian merah. Rambutnya yang panjang tergerak lepas dan berkibar-kibar ditiup angin. Perempuan inilah yang memacu kuda itu dengan segala kemampuan yang ada. Dia menunggang kuda putih sambil air mata mengucur membasahi kedua pipinya yang merah.

Betapapun mengerikan melihat berkelebatnya tiga mahluk itu dalam kegelapan malam namun mereka bukanlah setan atau mahluk jejadian. Ketiganya tetap mahluk ciptaan Tuhan, dua dalam keadaan hidup dan satu sudah jadi mayat!

Menjelang dinihari, kuda putih itu mencapai puncak gunung yang sangat curam dan perjalanan tak mungkin diteruskan dengan menunggangi binatang itu. Menyadari hal itu, perempuan muda penunggang kuda cepat melompat turun, menarik sosok mayat lelaki lalu memanggulnya di bahu kanan. Sebelum pergi, dia memegang leher binatang itu dan berkata

"Putih! Kau tetap disini. Tunggu sampai aku kembali!"

Seperti mengerti ucapan orang, kuda putih itu meringkik keras, lalu tundukkan kepalanya, menyusup mencari rerumputan liar diantara semak belukar.

Setengah berlari perempuan muda itu memanggul mayat di bahu kanannya menuju puncak gunung sementara di timur langit mulai tampak membersitkan sinar kekuning-kuningan tanda tak lama lagi sang surya akan kembali muncul menerangi bumi Tuhan. Di puncak gunung yang temaram itu udara semakin keatas terasa dingin. Tapi perempuan yang memanggul mayat itu justru telah basah kuyup pakaian merahnya. Sekujur tubuhnya sakit dan letih bukan kepalang bahkan kedua kakinya laksana kaku dan sukar untuk diajak berlari lebih cepat. Namun kekerasan hatinyalah yang membuat perempuan itu terus bersikeras mendaki sampai ke puncak teratas Gunung Klabat. Dan tepat ketika sang surya tampak menyembul di ufuk timur, dia sampai di puncak gunung. Matanya memandang ke arah sebuah pondok kayu beratap ijuk, satu-satunya bangunan di tempat itu. Dia langsung melangkah naik ke atas langkan berlantai papan dan mengetuk pintu yang tertutup.

"Bapak Tua Walalangi, bukakan pintu. Saya datang dari jauh membawa berita buruk! Saya memerlukan bantuanmu!" Lalu perempuan itu kembali mengetuk pintu, lebih keras dari tadi.

Di dalam terdengar suara tempat tidur berderik. Disusul suara orang berdehem beberapa kali. Kemudian terdengar langkah-langkah kaki menuju ke pintu. Sesaat kemudian pintu itu terbuka dengan mengeluarkan suara berkereke-tan.

"Tamu dari mana yang muncul pagi-pagi buta begini?!" Satu suara lebih dulu terdengar baru menyusul muncul orangnya dari balik daun pintu.

Orang ini ternyata adalah seorang kakek berwajah tirus, berambut putih panjang sebahu tapi jarang, mengenakan baju lengan panjang dan celana gombrong putih.

"Saya Sulami Tangkario datang dari selatan Gunung Klabat "Tangkario. Hem... Aku pernah dekat dengan nama keluarga Tangkario. Tapi..." Si orang tua dongakkan kepalanya. Cuping hidungnya sesaat tampak mengembang.

"Hemmm... Aku mencium bau mayat..." desisnya kemudian "Bapak Tua Walalangi," perempuan yang mendukung jenazah berkata dengan heran.

"Apakah sejak tadi kau tidak melihat saya memanggul mayat di bahu kanan..." Perempuan ini memandangi wajah orang tua itu lekatlekat.

Kemudian terdengar suaranya agak tertahan : "Astaga, Bapak Tua... Kedua matamu ternyata buta! Harap maafkan orang Ternyata Bapak tua bernama Walalangi itu memang buta nyalang sepasang matanya yang berwarna kelabu. Dia mengangguk perlahan lalu ulurkan tangan meraba kepala mayat. Tangannya kemudian turun kebawah, sampai di leher berhenti beberapa ketika. Ada darah hangat dan licin terasa membasahi jari-jarinya dan dia dapat meraba luka bacokan di leher mayat.

"Siapa yang berbuat sekejam ini..." katanya dengan suara tercekat. "Kau telah mendukung mayat itu cukup jauh tentunya. Letakkan di lantai dan katakan apa kau punya hubunganmu dengan mayat yang kau bawa kemari ini!"

Sulami Tangkario perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati menurunkan mayat di bahu kanannya lalu membujurkannya di lantai langkan yang bertutupkan tikar jerami. Dia duduk bersimpuh di depan mayat, mengusap air mata yang membasahi pipinya baru menjawab pertanyaan orang tua tadi.

"Siapa yang membunuhnya saya tidak mengetahui dengan jelas, Bapak Tua. Saya hanya bisa menduga. Ketika suami saya sedang tidur, tiba-tiba sebuah golok besar secara aneh melesat, menembus langitlangit kamar, langsung menghantam pangkal lehernya. Saya berusaha mengejar si pembunuh ke atas atap setelah lebih dulu mencabut golok. Tapi siapapun pembunuhnya dia telah lebih dulu raib..."

"Jadi yang kau bawa ini adalah jenazah suamimu sendiri, Sulami?"

"Betul Bapak Tua..."

"Siapakah nama suamimu, perempuan malang?"

"Mararanta Tangkario..." Jawab Sulami.

Paras si orang tua tampak berubah. "Jadi... Mararanta. Ah, dia masih salah satu cucu-cucuku yang bertebaran di Minahasa ini... Sulami, ceritakan apa yang terjadi..."

"Saya sudah menceritakannya tadi Bapak Tua Walalangi."

"Betul. Tapi kau belum menerangkan apa latar belakang semua kejadian ini. Suamimu bukan manusia sembarangan. Seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi. Hampir mustahil kalau ada orang yang mampu membokongnya sekalipun dalam keadaan tidur. Kalau itu terjadi, berarti ada orang berkepandaian sangat tinggi yang melakukannya!"

"Sayapun menduga demikian Bapak Tua," sahut Sulami Tangkario. Lalu perempuan ini menuturkan. "Enam bulan yang lalu saya bertemu pertama kali dengan Mararanta. Waktu itu dia baru saja kembali dari tanah Jawa. Mungkin kami berjodoh lalu melangsungkan pernikahan. Setelah nikah satu bulan saya melihat ada satu kelainan dalam diri Mararanta. Dia sering bersikap seperti ketakutan. Seperti ada sesuatu atau seseorang yang selalu membayanginya. Berkali-kali saya tanya dia tidak mengaku. Namun dua minggu yang lalu akhirnya dia menceritakan bahwa di Jawa dia telah bentrokan dengan seorang pendekar berkepandaian tinggi sekali. Karena tidak mungkin menghadapinya, Mararanta akhirnya cepat-cepat kembali ke Minahasa. Namun dia merasa seperti ada seseorang atau makhluk aneh yang mengikutinya

"Suamimu menerangkan apa sebab musabab bentrokan itu dan siapa orang yang menjadi lawannya?" bertanya Bapak Tua Walalangi.

"Menurut suami saya waktu berada di Jawa dia sempat mengawini seorang gadis bernama Mlnari. Gadis itu ternyata adalah kekasih seorang pendekar berkepandaian tinggi: Namun Minari sendiri tidak menyukai pendekar itu. Itulah sebabnya dengan seizin kedua orang tuanya Minari kawin lari dengan Mararanta. Tapi Minari kemudian diculik sedang Mararanta sendiri dikejar-kejar. Dalam keadaan sangat terancam jiwanya Mararanta melarikan diri. Dia berusaha mencari Minari terlebih dahulu, ketika sia-sia akhirnya dia kembali ke Minari terlebih dahulu, ketika sia-sia akhirnya dia kembali ke Minahasa..."

Sulami terdiam sejenak. Setelah menyeka air mata yang masih mengucur dia melanjutkan. "Malam tadi, begitu saya tidak berhasil mengejar' si pembunuh, saya cepat kembali ke dalam kamar. Saya dapati Mararanta dalam keadaan sekarat. Namun sebelum menghembuskan nafas dia sempat meninggalkan pesan..."

Bapak Tua Walalangi usap dagunya yang licin lalu bertanya : "Apa pesan suamimu itu Sulami?"

"Dia minta agar jenazahnya dibawa kemari dan diperlihatkan pada Bapak Tua. Dia juga mengatakan bahwa yang membunuhnya adalah kekasih Minari. Dan katanya lagi... Dia tak akan tenteram di dalam kubur sebelum dapat membalaskan sakit hati dendam kesumat pembunuhan keji atas dirinya ini!"

Paras si orang tua kembali berubah. Kali ini lama dia berdiam seperti merenung. "Begitu katanya...? Ah, sungguh satu pesan yang berat. Tapi apa lagi yang disampaikannya sebelum meninggal?"

"Mohon maaf Bapak Tua..." kata Sulami. Dan bulu kuduknya mendadak saja jadi merinding. "Dia berkata bahwa hanya Bapak Tualah yang bisa menolongnya untuk membalaskan sakit hati itu. Dia minta agar Bapak Tua memberi kehidupan sementara padanya agar dia dapat mencari si pembunuh..."

"Ya Tuhan... Mengapa cucuku ini meninggalkan pesan berat begini macam...?" Membatin Walalangi. Lalu dia berkata: "Ketahuilah Sulami, aku bukan Tuhan bukan Malaikat. Aku tidak berkemampuan memenuhi pesanan mendiang suamimu. Apalagi memberikan kehidupan sementara seperti yang dikatakannya sebelum menghembuskan nafas..."

"Itulah yang saya tidak mengerti Bapak Tua. Jika pesannya saya abaikan dan langsung menguburkannya, saya khawatir di liang kubur keadaannya tidak tenteram seperti yang dikatakannya. Dan lebih dari itu, yang paling saya takutkan, arwahnya akan gentayangan menjadi setan penasaran, menimbulkan kegegeran dan keonaran dimanamana... Semua saya serahkan pada Bapak Tua. Hanya saya tak ingin suami saya tersiksa di alam barzah kalau sampai pesannya tidak dikabulkan..." Walalangi terduduk di depan mayat Mararanta Tangkario.

Berkali-kali orang tua ini mengusap wajahnya yang mendadak saja jadi keluarkan keringat dingin.

"Sulami... Menurutmu Mararanta meninggal karena ada sebilah golok yang secara aneh mencuat dari langit-langit kamar..."

"Betul sekali Bapak Tua."

"Apakah senjata itu ada kau bawa?"

"Saya memang membawanya Bapak Tua..." jawab Sulami Tangkario. Lalu dari balik bun-talannya dia mengeluarkan sebilah golok tanpa sarung. Sebagian dari badan golok itu terlapis oleh darah yang telah membeku. Darah suaminya! Perempuan ini serahkan senjata itu ke tangan Walalangi.

Si orang tua pergunakan sepuluh jari-jari tangannya untuk meraba badan golok dan juga gagangnya sementara wajahnya ditengadahkan dan air mukanya tampak membesi.

"Ini memang golok Jawa..." kata Walalangi sesaat kemudian.

"Dapat diketahui dari bentuk badan dan potongan gagangnya. Senjata ini mengandung racun jahat. Lebih cepat dimusnahkan lebih baik!"

Orang tua itu remaskan lima. jari tangan kanannya ke gagang golok. Gagang yang terbuat dari kayu besi itu terdengar bederak hancur! Lalu sepuluh jari tangannya bergerak di atas badan golok. Traak... traakk... tring...! Golok beracun itu hancur menjadi patah tiga. Dengan tangan kanannya Walalangi lalu melemparkan patahan golok jauh ke puncak gunung sebelah selatan.

Lalu sambil memegang kepala Sulami orang tua ini berkata:

"Mararanta cucuku. Berarti kau juga cucuku. Aku tidak berkekuatan untuk memenuhi permintaanmu dan pesan mendiang suamimu. Tapi kalau Tuhan mengizinkan biarlah aku menanggung segala dosa dan memenuhi permintaan Mararanta..."

Mendengar itu Sulami lalu jatuhkan kepalanya ke pangkuan si orang tua. Walalangi usap-usap kepala perempuan itu lalu berkata: "Ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum aku dapat memenuhi pesan suamimu itu, Sulami..."

"Mohon Bapak tua mengatakannya," ujar Sulami pula.

"Apakah kalian tinggal di dekat sungai, di dekat laut atau di dekat danau...?"

"Kami tinggal di pinggir danau Tondano, Bapak Tua..."

"Kalau begitu kembalilah ke sana. Ambil air danau Tondano, masukkan dalam tujuh tabung bambu. Siapkan juga tujuh bungkus kembang tujuh rupa. Paling lambat dalam waktu dua hari kau sudah kembali kesini membawa benda-benda itu semua..."

"Saya akan melakukannya Bapak Tua. Saya akan berangkat sekarang juga...!" kata Sulami Tangkario seraya hendak berdiri.

"Tunggu dulu cucuku..." kata si orang tua sambil memegang bahu Sulami.

"Kau belum mengatakan siapa orang Jawa berkepandaian tinggi yang menjadi lawan bentrokan suamimu itu..."

"Kalau saya tidak salah ingat, suami saya menyebut namanya sebagai Pangeran Matahari!"

"Pangeran Matahari..." mengulang Walalangi dengan suara berdesis. "Cucuku, kelihatannya kita akan menghadapi musuh yang sangat tinggi kepandaiannya. Jangan lupa berdoa agar Tuhan melindungi dan membantu kita..."

BEGITU TIGA ORANG penduduk desa itu selesai menimbun tanah kuburan, orang tua itu anggukkan kepala, menyerahkan sebuah bungkusan kecil dan berkata: "Kalian bertiga boleh pergi..."

Tiga orang itu ambil cangkul masing-masing lalu tinggalkan tempat itu. Namun sebelum berjalan lebih jauh salah seorang dari mereka berkata: "Aku berkata melihat ada keanehan pada upacara penguburan jenazah tadi!"

"Acaranya sangat sederhana. Orang tua itu melafatkan doa tiada henti sewaktu kita menimbun kubur. Apanya yang aneh...?" tanya kawannya.

"Apakah kau tidak melihat tujuh batangan bambu berisi air lalu tujuh kembang terbungkus dalam daun...? Disini ada adat kebiasaan atau upacara seperti itu!"

Orang desa ke tiga akhirnya ikut membuka mulut. "Memang aku setuju kalau ada keanehan. Bagaimana kalau kita kembali dan mengintip apa yang dilakukan orang tua dan perempuan muda itu selanjutnya...?"

Dua kawannya menyetujui. Maka tiga orang desa itu tinggalkan pacul masing-masing di suatu tempat lalu kembali menuju ke tempat pemakaman.

Sementara itu di puncak gunung. Walalangi ambil tujuh buah tabung berisi danau Tondano. Satu demi satu tabung bambu itu ditancapkannya di atas tanah makam yang merah, lurus mulai dari kepala terus ke arah kaki. Setelah itu dia menyiapkan sebuah pendupaan, membakar potongan-potongan kayu kecil dalam pendupaan dan menebar bubuk kemenyan. Seantero tempat itu kini diselimuti asap dan tebaran bau kemenyan yang harum tapi terasa mencekam.

Dengan kedua tangannya Walalangi pe-gangi ujung tabung bambu sambil mulutnya tiada henti mengucapkan kalimat-kalimat panjang yang tak jelas terdengar oleh Sulami. Selesai memegangi tabung bambu yang ke tujuh di bagian kaki kubur, Walalangi kembali ke bagian kepala. Disini dia mencelupkan tangan kanannya kedalam bambu berisi air.

Lalu tangan itu dikeluarkan dan air dicipratkannya ke atas kubur. Demikian dilakukannya sampai tujuh kali.

Selesai itu orang tua tersebut ambil bungkusan daun berisi kembang tujuh rupa. Bungkusan dibuka dan kembang di dalamnya bukan ditebar diatas makam melainkan dimasukkan ke dalam tabung bambu pertama, Demikian dilakukannya berturut-turut pada enam tabung lainnya dan enam bungkus bunga.

"Sulami..." Walalangi melangkah mendekati istri cucunya itu.

"Dengar baik-baik... Apapun yang terjadi, apapun yang kelak kau saksikan jangan sekali-kali mengeluarkan suara sedikit-pun! Jika itu sampai dilanggar, usahaku untuk memenuhi permintaan suamimu akan sia-sia belaka. Kau dengar itu Sulami...?"

Sulami menjawab dengan anggukan kepala. Lidahnya terasa terlalu tercekat untuk bisa menjawab. Walalangi memutar tubuhnya, kembali melangkah ke bagian kepala kuburan. Disini dia tegak dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi ke udara. Telapak tangan dikembangkan. Dari mulutnya keluar ucapan: "Ya Tuhan pengusaha, seluruh alam dan isinya. Tanpa kami mengutarakan lagi sesungguhnya engkau telah mengetahui apa yang kami inginkan, apa yang si mati inginkan. Kami harap kau berkenan mengabulkannya ya Tuhan. Jika permintaan dan perbuatan kami ini merupakan satu dosa besar di mataMu, mohon ampunanMu dan biarlah saya sendiri yang menanggung segala dosanya!"

Selesai mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan suara keras, lalu Walalangi meneruskan kata-katanya dengan suara perlahan seperti bergumam. Kembali Sulami Tangkario tidak dapat mendengar apa sebenarnya yang dilafalkan orang tua itu. Namun sesaat kemudian dia mendengar suara aneh dari dalam liang kubur yang baru saja ditimbun. Bulu kuduknya berdiri. Matanya tak berkedip memandang ke arah kubur suaminya. Tujuh batang bambu yang menancap di tanah merah tampak bergerak, bergoyang-goyang sehingga air yang ada di dalamnya sesekali muncrat keluar!

Ketika gerak dan goyangan itu akhirnya berhenti, dari tujuh mulut bambu kini keluar masing-masing segulung asap tipis berwarna kelabu. Tujuh gelungan asap ini saling berangkulan dan bergabung jadi satu membentuk satu gulungan asap yang besar. Ketika Sulami memperhatikan lebih lanjut terkejutlah perempuan muda ini. Gulungan asap kelabu itu sedikit demi sedikit berubah menjadi bentuk sosok tubuh manusia. Mula-mula samar-samar seperti sosok di balik kabut.

Namun lambat laun semakin jelas, semakin kentara dan akhirnya sosok itu benar-benar berbentuk tubuh manusia! Dan manusia yang muncul dari asap ini bukan lain adalah suaminya sendiri! Mararanta Tangkario!

Kalau tidak ingat pesan si orang tua mungkin saat itu Sulami telah memekik keras. Dia kancingkan mulutnya rapat-rapat malah letakkan tangan kanan di atas bibirnya agar jangan sampai mengeluarkan suara sedikitpun.

Mararanta Tangkario tegak dengan kedua tangan lurus disamping badan. Kepalanya mengarah ke tirfiur dan pandangan matanya lurus ke depan, hampir tidak berkesip. Wajahnya agak pucat dan bibirnya sedikit kebiruan. Pada lehernya tampak luka besar bekas bacokan. Darah mengotori sebagian muka, leher dan pakaiannya. Dan pakaian itu adalah pakaian yang dikenakannya ketika dia mati terbunuh!

"Mararanta... Kau dengar suaraku menyebut namamu?" Walalangi bertanya dengan suara bergetar karena hampir tak kuasa menahan gelegak dalam dadanya.

Mararanta si mayat hidup tampak mengangguk. Anggukannya perlahan dan sangat kaku.

"Ketahuilah bahwa hidupmu saat ini adalah bangkit dari alam kematian, merupakan kehidupan sementara. Bila apa yang menjadi niatmu telah tercapai, maka kau harus kembali ke puncak Gunung Klabat ini dan beristirahat untuk selama-lamanya. Tapi jika kau menyalahi tujuan-mu semula, yakni mempergunakan hidup sementaramu ini untuk maksud lain, bukan untuk kepentingan yang semula kau katakan sebelum ajalmu, maka kau tak akan pernah kembali dan berkubur disini secara wajar. Seumur dunia, sampai kiamat kau akan hidup terkatung-katung antara dua alam yakni dunia dan akhirat. Dan diantara dua alam itu kau akan tersiksa amat sangat! Karenanya lakukan apa yang kau inginkan semula, lalu kembali kemari. Kau dengar Mararanta...?"

Kembali Mararanta mengangguk.

"Bagus. Tapi aku ingin mendengar suaramu. Kau mendengar Mararanta...?"

"Sa... ya... men... de...ngar..." terdengar jawaban Mararanta Tangkario. Suaranya aneh. Seperti datang jauh dari dalam sumur angker, kaku dan lamban tanpa irama sama sekali!

"Sekarang kau boleh pergi cucuku. Pergilah ke tanah Jawa.

Lakukan apa yang kau inginkan. Balaskan sakit hatimu! Jangan menyimpang dari itu!"

Kembali si mayat hidup itu anggukkan kepala. Tampak kakinya bergerak turun dari tanah kuburan. Begitu menginjak tanah di samping kuburan, sosok tubuh Mararanta tiba-tiba saja menjadi lenyap seperti ditelan bumi. Walalangi merasakan dadanya bergoncang keras. Sulami tiba-tiba saja merasakan lututnya goyah dan perempuan ini langsung roboh ke tanah. Tiga orang penduduk desa yang mengintai di kejahuan, lari menghambur ketakutan ketika melihat sosok mayat hidup itu bergerak melangkah. Salah satu diantara mereka malah ada yang sampai terkencing-kencing!





SEPERTI MELEDEK anak rusa itu tegak memandang ke arah pemuda yang mengejarnya lalu kibas-kibaskan ekornya yang hanya sepanjang jari telunjuk. Orang yang mengejar bergerak dua langkah lalu diam. Anak rusa itu maju pula dua langkah lalu diam. Begitu dikejar kembali, dengan cekatan binatang ini melompat dan menghambur ke balik semak belukar. Tapi dia tidak terus lari. Di balik semak belukar ini dia mengintai-intai ke arah pengejarnya. Ketika orang itu datang mendekat, dia sengaja menunggu. Baru dalam jarak hanya tinggal tiga langkah lagi, anak rusa itu melompat dan lari masuk ke dalam hutan jati.

"Binatang brengsek. Aku ingin menangkapmu bukan untuk kupanggang dan kulahapi Hanya sekedar untuk jadi sahabat mainan!

Tapi kalau kau meledekku begini rupa, jangan harap aku masih mau berniat baik! Dagingmu tentu harum dan segar untuk dilahap." Maka si pengejar lalu terus masuk ke dalam hutan jati di arah lenyapnya anak rusa tadi. Namun setelah beberapa lama mencari kesana-kemari dia tak berhasil menemui binatang itu. Jangankan menemuinya, mendapatkan jejaknya sajapun tidak. Dengan kesal pemuda itu akhirnya memutuskan untuk keluar saja dari hutan itu. Namun baru saja dia memutar tubuh mendadak gerakannya tertahan. Jauh di dalam hutan, lapat-lapat dia mendengar seperti ada suara orang mengerang dan menangis.

Sesaat pemuda ini tegak tak bergerak, sipilkan kedua matanya, memandang ke arah hutan jati sebelah dalam dan memasang telinga lebih tajam.

"Jangan-jangan itu suara dedemit atau mahluk jejadian yang hendak menjebak lalu mencelakakan diriku..." berkata si pemuda dalam hati. Dia segera putar tubuh kembali. Tapi tak jadi lagi. "Suara itu sepertinya suara tangis sendu manusia sungguhan... Tak ada salahnya aku menyelidik sebentar." Lalu pemuda ini akhirnya masuk kembali ke dalam hutan jati. Langkahnya dituntun oleh suara erang bercampur tangis yang makin jauh dia masuk ke dalam hutan jati, semakin jelas suara itu terdengar. Akhirnya, setelah berjalan menembus hutan cukup jauh pemuda itu temukan sebuah rumah kecil terbuat dari papan kasar. Satu-satunya pintu dan satu-satunya jendela rumah tertutup rapat. Justru suara erang bercampur tangis itu datang dari dalam rumah!

Setelah meneliti keadaan di sekitar rumah papan dan sekelilingnya, lalu menunggu beberapa ketika, akhirnya pemuda tadi melangkah cepat menuju pintu rumah papan. Ketika didorong terdengar suara berkereketan. Pintu itu ternyata tidak dikunci.

Di dalam rumah suasana gelap redup. Sedikitnya cahaya yang merambas masuk lewat pintu yang terbuka membuat pemuda yang barusan masuk masih bisa melihat apa yang ada dalam rumah di tengah hutan belantara itu. Untuk beberapa lamanya si pemuda tegak seperti terpaku. Kedua matanya membesar tak berkesip.

"Demi Tuhan! Kejahatan apa yang terjadi di tempat ini...?!" desis si pemuda.

Di dalam rumah papan itu hanya terdapat sebuah ranjang papan yang beralaskan tikar jerami. Di atasnya terbaring sesosok tubuh seorang perempuan dengan rambut sembrawut acak-acakan. Tubuhnya mengenakan pakaian kuning muda yang nyaris tidak berbentuk lagi karena penuh robek disana sini dan tak sanggup lagi menyembunyikan auratnya yang kuning langsat. Walaupun kotor dan berada dalam keadaan sangat menderita, namun kesengsaraan itu tak dapat menyembunyikan kecantikan wajah perempuan itu.

Hampir di sekujur badannya, terutama di bagian leher, dada dan pangkal paha penuh dengan tanda-tanda merah seperti tanda gigitan. Kedua tangannya terpentang dan masing-masing ibu jari tangan itu diikat dengan-sehelai tali halus. Ujung tali yang lain diikatkan pada kaki-kaki tempat tidur. Kedua kakinya juga mengalami hal sama. Ibuibu jari kaki diikat ke kaki tempat tidur. Dan di salah satu ujung kaki perempuan ini tampaklah anak rusa yang tadi di kejar si pemuda, tegak menunduk sambil menjilati kaki kiri perempuan yang terikat di atas tempat tidur itu!

"Ah, disini kau rupanya...," berucap si pemuda. Anak rusa itu mengangkat kepalanya, memandang sebentar pada si pemuda lalu kembali meneruskan menjilati kaki kiri perempuan itu.

Kalau saja bukan dalam keadaan seperti itu, menyaksikan sosok tubuh perempuan muda yang cantik dan nyaris telanjang di atas ranjang begitu mungkin pemuda yang barusan masuk ke dalam rumah akan tergoncang juga imannya. Namun apa yang disaksikannya saat itu adalah satu kekejaman!

"Tolong... Demi Tuhan... tolong diriku! Lepaskan aku dari malapetaka ini. Tolong Rupanya perempuan yang terikat diatas ranjang menyadari kalau ada seseorang masuk ke dalam rumah.

Tanpa pikir panjang lagi pemuda itu cepat bertindak untuk memutus empat utas tali yang mengikat kedua tangan dan kaki perempuan itu. Tapi betapa terkejutnya ketika dia mendapatkan tidak sanggup memutus tali-tali itu ataupun membuka buhulnya dengan tangan kosong. Ditelitinya ke empat tali itu. Baru disadarinya kalau empat tali tersebut bukan tali-tali biasa. Maka diapun kerahkan tenaga dalam pada kedua tangannya. Lalu mencoba lagi. Tetap saja empat tali itu tak satupun yang bisa dibikin putus! Hampir kehabisan akal pemuda itu terduduk di lantai rumah sambil garuk-garuk kepala.

"Tak ada jalan lain..." si pemuda berkata. Tangan kanannya menyelusup ke balik pinggang pakaian. Sesaat kemudian sinar terang memenuhi rumah papan yang sempit itu. Empat kali sinar terang berkelebat dan empat kali terdengar suara tras... tras... trassss! Empat tali pengikatpun putus. Setelah putus baru buhul yang mengikat ibu jari kaki dan tangan bisa dibuka. Perlahan-lahan si pemuda simpan kembali senjatanya berupa kapak bermata dua ke balik pakaian!

Begitu terlepas dari ikatan tali-tali celaka itu, perempuan di atas ranjang keluarkan pekik halus, gulingkan diri ke samping hingga jatuh ke lantai. Tubuhnya tampak hampir tiada daya. Mungkin sudah lebih dari dua hari dia diikat seperti itu tanpa makan ataupun diberi minum.

Namun sepasang matanya masih memancarkan pandangan dengan sorotan tajam. Dan pandangan itu ditujukan tanpa berkedip pada pemuda yang barusan telah menolongnya.

"Pergi... pergi dari sini. Sebelum manusia durjana itu muncul..." terdengar perempuan itu berkata. Suaranya setengah berbisik.

Anak rusa yang tadi menjilati kakinya di atas tempat tidur, kini telah melompat pula dan rapatkan tubuhnya ke pinggang perempuan itu.

Pemuda yang barusan menolong memang membaui adanya bahaya di tempat itu. Namun sebelum pergi dia harus mengetahui dulu siapa adanya perempuan muda itu dan mengapa sampai berada dalam keadaan seperti itu di rumah papan di tengah rimba belantara itu.

"Saudari... Katakan siapa dirimu? Mengapa kau berada di tempat ini. Siapa yang melakukan kekejaman ini...!"

"Aku... Namaku Minari... Aku diculik sejak empat belas bulan yang lalu. Dipindah dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya... akhirnya aku di bawa ke tempat ini. Namun manusia keparat itu tidak lagi memberiku makan dan minum. Dia hanya meniduriku. Dia ingin aku mati secara perlahan-lahan... Dia manusia biadab. Ganas! Lebih ganas dari setan dan iblis! Lekas... Kita... kita harus pergi dari sini.

Keparat itu bisa muncul setiap saat... Tolong... Bawa diriku dari tempat celaka ini. Saudara tolonglah lekas..."

"Ya... Kita akan pergi. Aku akan menolongmu. Tapi katakan dulu siapa manusia biadab yang memperlakukan dirimu seperti ini?"

bertanya si pemuda lalu memegang tubuh perempuan itu dan menggendongnya.

"Manusia itu, seorang manusia berhati iblis. Dia menyebut dirinya sebagai..."

Belum lagi perempuan itu sempat mengakhiri ucapannya tiba-tiba braakkk!!

Rumah papan itu bergoyang keras. Dinding di sebelah kiri ambrol berantakan dan sesosok tubuh melesat masuk dari dinding yang hancur itu!

Perempuan dalam dukungan si pemuda menjerit keras, menyebut sebuah nama. Dia seperti berusaha hendak turun dari gendongan namun tidak mampu. Akhirnya dia hanya bisa menjerit kembali.



PEMUDA BERPAKAIAN PUTIH yang menggendong perempuan muda itu menatap dengan pandangan tercekat pada sosok tubuh yang barusan masuk menerobos dinding papan. Di hadapannya, terpisah di seberang tempat tidur tegak berdiri seorang lelaki separuh baya dengan luka menganga di pangkal lehernya. Noda darah membasahi sebagian muka, leher serta bajunya. Orang ini tegak seperti patung, memandang lurus ke depan, tanpa berkedip. Satu cara memandang yang luar biasa aneh karena si pemuda merasa pandangan mata orang itu seolah-olah menembus batok kepalanya, bahkan menembus dinding di belakangnya!

Dan mukanya yang pucat itu serta bibir yang membiru mendatangkan rasa ngeri bagi siapa saja yang memandangnya!

"Saudari...," berbisik si pemuda. "Inikah manusianya yang telah menculik dan mencelakaimu...?"

Dada Minari tampak turun naik. Dia menggeleng. Dia coba membuka mulut tapi yang keluar kembali teriakan keras. Dia berteriak menyebut nama : "Kakak Mararanta!" Perempuan itu berusaha turun tapi si pemuda masih terus menggendongnya.

"Mi... na... ri... is... tri... ku A... ku... da... tang un... tuk... mem...ba... wa... mu... per... gi... "

Orang diseberang tempat tidur keluarkan suara berkata yang aneh. Suaranya seperti datang dari jauh, laksana keluar dari sumur dalam dan kata-katanya terbata-bata kaku, seolah-olah dia memiliki lidah yang kelu. Setiap patan kata yang diucapkannya terdengar begitu lamban dan agaknya dia mengeluarkan ucapan itu dengan susah payah.

"Kakak! Bawa aku bersamamu... Tapi, kau terluka kakak Mararanta..." Perempuan dalam gendongan berkata.

"Tu... run... kan... is... tri... ku! Le... tak... kan di... tem... pat... ti...dur... La... lu... kau... ber... siap... lah... un... tuk... ma... ti!"

Si pemuda terkejut. "Saudari... jadi kau istri lelaki itu...?" tanyanya.

Minari anggukkan kepalanya berkali-kali. "Turunkan aku... Lakukan apa yang dikatakannya..." dia mampu bicara juga akhirnya.

Dengan perasaan masih sangat tercekat pemuda itu akhirnya turunkan perempuan yang digendongnya. Lalu di seberang sana dilihatnya lelaki yang dipanggil dengan nama Mararanta tadi angkat tangan kanannya. Caranya mengangkat tangan itupun aneh.

Gerakannya lurus-lurus seolah-olah dia tidak memiliki siku sedang kedua matanya tampak memancarkan sinar aneh!

"Kakak Mararanta...! Jangan...! Pemuda itu orang baik! Dia telah menolongku!" berteriak Minari ketika dilihatnya lelaki yang pernah menjadi suaminya itu hendak melancarkan serangan.

Gerakan tangan yang kaku berhenti dan sesaat tangan kanan itu masih bergantung lurus di udara. Lalu tubuh itu membungkuk kaku. Tangan kiri diulurkan. Lalu dengan cara yang aneh, tapi cepat sekali tubuh Minari yang ada di atas tempat tidur terangkat dan tahu-tahu sudah tersadar di bahu kirinya.

"Kakak... kau terluka... Kau..." Minari tak sanggup meneruskan ucapannya. Tubuhnya terlalu lemas. Dalam keadaan seperti itu perempuan muda ini akhirnya pingsan di bahu lelaki yang pernah menjadi suaminya dan kemudian terpisah sejak lebih dari setahun yang silam.

"A... ku... ti... dak... per... ca... ya... pa... da... mul Kau... te... lah...men... ce... la... kai... is... tri... ku! Kau... Kau... ha... rus... mati... di...ta... ngan... ku!"

Pemuda di seberang tempat tidur seharusnya menjadi marah dan meradang dituduh telah mencelakai Minari. Tapi anehnya pandangan mata angker lelaki di hadapannya itu membuat dirinya seperti kehilangan segala daya untuk marah atau membentak. Dengan suara bergetar dia berkata: "Saudara... Kau boleh tidak percaya padaku. Tapi kau harus percaya pada apa yang diucapkan istrimu itu. Kalau memang benar dia istrimu! Siapa kau sebenarnya...? Mengapa ada luka besar di lehermu. Gerakanmu serba kaku. Ucapanmu terputus-putus.

"A... ku... Ma... yat... Hi... dup... Gu... nung... Kla... bat!U... cap...an... is... tri... ku... ting... gal... u... cap... an... A... ku... li...hat... sen...di... ri... kau... hen... dak... me... la... ri... kan... Mi... na... ri! Kau... pas...ti... ka... ki... ta... ngan... ma... nu... sia... ke... pa... rat... ber... na...ma... Pa... nge... ran...Ma... ta... ha... ri... itu!... Ka... ta... kan... di...ma... na... dur... ja... na... i... tu... ber... a... da...!"

"Mayat Hidup Gunung Klabat? Kau menyebut dirimu begitu...?" si pemuda memandang dengan tajam mulai dari kepala sampai ke kaki lelaki di hadapannya seolah-olah baru saat itu dia melihatnya. "Apa... apa betul kau mayat hidup... Gila! Bagaimana ada mayat hidup!" Namun dalam hatinya pemuda itu merasa semakin tercekat. Wajah yang pucat tiada berdarah dan bibir yang biru itu... Memang begitulah keadaan mayat. Tapi mayat hidup! Sulit dipercaya. "Paling tidak manusia satu ini bangsa orang gendeng juga!" Begitu si pemuda membatin. Lalu, "Hai! Tadi menyebut nama Pangeran Matahari? Betul kau barusan menyebut nama Pangeran Matahari?!"

"A... ku... bi... ca... ra... Kau... men... de... ngar... Aku... ti... dak...bi... su... kau... ti... dak... tu... li..." si Mayat Hidup Gunung Klabat alias Mararanta Tangkario menjawab.

"Kita sama-sama tidak tuli dan tidak bisu. Karena itu kau dengar penjelasanku baik-baik. Aku bukan kaki tangan Pangeran Matahari.

Dimana dia berada aku tidak tahu. Akupun sudah lama mencari-cari keparat itu!"

"Kau... dus... ta... A... ku... tak... per... ca... ya... pa... da... mu...A... ku... tak... per... ca... ya... pa... da... o... rang... Ja... wa...!"

"Eh, mulutmu kurang ajar amat Mayat Hidup! Jangan menyebutnyebut nama orang Jawa segala! Istrimu sendiri juga orang Jawa!" teriak si pemuda.

"Is... tri... ku... o... rang... Ja... wa... yang... ba... ik...," jawab Mayat Hidup Gunung Klabat. Lalu tangannya membuat gerakan kaku, bergerak lurus seperti palang. Dan ketika tangan itu tepat mengarah kejurusan si pemuda, bahu kanan Mayat Hidup Gunung Klabat tampak seperti disentakkan. Lalu saat itu juga terdengar suara deru angin yang hebat. Rumah itu laksana neraka karena tiba-tiba saja seantero tempat menjadi panas luar biasa! Pemuda yang mendapat hantaman angin keras panas itu cepat-cepat jatuhkan diri ke lantai. Saat itu pula terdengar suara ledakan keras.

Rumah papan seperti dihantam topan. Hancur berantakan berkeping-keping ke udara bersama tempat tidur kayu. Sebagian dari kayu-kayu rumah itu tampak seperti hangus. Si pemuda sendiri ikut terlempar ke udara lalu jatuh tepat dibawah sebatang pohon jati tua dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beberapa bagian tubuhnya tampak luka-luka. Pakaian putihnya robek dan pipi kirinya baret! Mararanta Tangkario bersama Minari dan anak kijang lenyap dari tempat itu!



KETIKA PEMUDA YANG pingsan itu siuman dan membuka kedua matanya, pertama sekali yang dilihatnya adalah dua buah kaki yang mengenakan kasut terbuat dari kulit. Di sebelah atas dua kaki itu memakai sehelai celana hitam. Lalu di sebelah dada atas lagi tampak baju yang juga berwarna hitam. Di bagian dada baju terpampang gambar puncak gunung berwarna biru melambangkan gunung Merapi. Pada latar belakang gambar gunung berwarna biru itu tertera gambar matahari merah dengan guratan-guratan berwarna kuning melambangkan sinar matahari.

Si pemuda yang terkapar di akar pohon jati itu bukakan kedua matanya lebih lebar. Kini dia dapat melihat tampang manusia berpakaian hitam itu lebih jelas. Orang ini memiliki kening tinggi yang diikat dengan sehelai kain merah. Dagunya kukuh dan rahangnya menonjol. Keseluruhan wajahnya membersitkan kekerasan, keangkuhan atau kecongkakan. Dan dia kenali siapa adanya manusia ini!

Sebelum pemuda ini berusaha bangun, orang berpakaian hitam keluarkan suara tertawa dan cepat sekali tahu-tahu kaki kanannya sudah menginjak tenggorokan pemuda berpakaian putih yang tergelimpang di tanah!

"Kita bertemu kembali Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Dan kita sama-sama tidak menyukai pertemuan ini, bukan...?!"

Pemuda berpakaian putih yang ternyata adalah Wiro Sableng murid Eyang Sinto Gen-deng dari Gunung Gede menyumpah dalam hati:

"Bangsat ini menginjak leherku! Bagaimana aku bisa menjawab ucapannya! Sialan!"

Diam-diam dengan cepat Pendekar 212 kerahkan tenaga dalam ke tangannya kiri-kanan. Lalu seperti gunting, dia hantamkan kedua tangannya secara menyilang ke arah betis orang yang menginjak lehernya. Untuk mencegah agar orang itu tidak menghujamkan kaki dan menghancurkan lehernya, Wiro tendangkan kaki kanan ke arah selangkangan lawan!

Si baju hitam mendengus dan keluarkan ucapan mengejek:

"Bagus! Kau membuat gerakan yang tepat Pendekar 212! Kalau tidak lehermu pasti sudah kuhancurkan dan nyawamu melayang ke akhirat!"

Lalu karena diapun tak ingin kaki kanannya putus seolah-olah dibabat oleh gunting raksasa, maka orang ini jejakkan kaki kirinya dan disaat itu juga tubuhnya melesat ke udara setinggi dua tombak. Dia membuat jungkir balik di udara satu kali lalu melayang turun dengan kedua kaki menjejak tanah lebih dahulu.

Tanpa tunggu lebih lama Wiro Sableng lipat kedua lututnya lalu melompat bangun dan tegak sambil pasang kuda-kuda.

Lelaki berbaju hitam dengan gambar gunung dan matahari di dadanya menyeringai. "Hem... tak pernah aku melihat keadaanmu seburuk hari ini, Pendekar 212! Pakaianmu robek-robek seperti pakaian gembel. Kulitmu luka-luka dan pipimu baret besar! Apakah kau barusan lari terbirit-birit di kejar setan hutan jati ini? Atau ada musuh yang sempat menghajarmu babak belur...?"

Murid Sinto, Gendeng balas menyeringai. Kedua tangan dirangkapkan di depan dada.

"Pangeran Matahari! Lama tak bertemu apakah kau barusan datang dari neraka atau liang kubur?! Tubuhmu sebusuk mayat dan mulutmu sebau comberan. Kau pasti menyesal mengapa tidak membunuh musuh bebuyutanmu ini ketika tadi aku masih pingsan!"

"Mengambil nyawamu semudah aku membalikkan telapak tangan pendekar sableng! Aku memang tidak membunuhmu karena perlu beberapa keterangan...!"

"Ah, aku sudah tahu keterangan apa yang kau inginkan. Dan jawabanku adalah semudah aku membalikkan telapak tangan untuk cebok...!Ha... ha... ha...!"

Walau mukanya jadi merah oleh ejekan itu, tapi mulut Pangeran Matahari masih bisa sunggingkan seringai.

"Keterangan pertama! Ceritakan padaku bagaimana kau bisa sampai di tempat ini! Keterangan, kedua, apa yang terjadi dengan rumah papan milikku! Siapa yang membuatnya porak-poranda seperti ini. Keterangan ketiga dimana gadis berpakaian kuning yang sebelumnya terikat di atas ranjang kayu! Nah itu saja! Lekas berikan keterangan padaku!"

"Mudah saja... Mudah saja...!" sahut Pendekar 212 seraya usapusapkan telapak tangannya satu sama lain. "Keterangan pertama! Aku sampai ke mari sepembawa kedua kakiku, tapi juga karena mendengar ada yang mengerang dan menangis di dalam hutan jati ini. Ketika rumah papan kutemui dan kumasuki ternyata di dalamnya ada seorang perempuan dalam keadaan sangat menderita, terbaring di atas tempat tidur dengan dua tangan dan dua kaki terikat! Dan aku tahu Pangeran Matahari... Kau yang punya pekerjaan biadab itu!"

"Dugaanmu tepat!" sahut Pangeran Matahari lalu tertawa gelakgelak.

"Lanjutkan keteranganku sampai habis!"

"Keterangan kedua!" ujar Wiro melanjutkan. "Yang merubah rumah papanmu menjadi puing-puing tak berguna ini adalah seorang yang menyebut dirinya Mayat Hidup Gunung Klabat..."

"Mayat Hidup Gunung Klabat? Nama edan apa pula itu...? ujar Pangeran Matahari. "Jangan-jangan kau hanya mengarang..."

"Edan atau tidak, tapi aku menyaksikan makhluk itu. Ujudnya seperti manusia biasa. Ada luka besar masih menganga dan belum kering darahnya di pangkal lehernya. Dia menuduhku telah menculik dan berlaku keji terhadap perempuan yang terikat di atas tempat tidur.

Karena itu dia lalu menyerangku dengan pukulan sakti. Pukulan itu yang menghancurkan rumah papanmu... Kau tentu ingin tahu siapa nama Mayat Hidup Gunung Klabat itu bukan...? Kau pasti kenal padanya...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.167.242.107
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia