Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Desa Kenconowengi yang malam itu sebelumnya tenggelam dalam udara sejuk dan kesunyi-senyapan mendadak saja berubah menjadi hingar bingar. Di sebelah utara tampak kobaran api membakar dua buah rumah. Di sebelah timur terdengar pekik jerit orang-orang yang ketakutan. Lalu ada suara derap kaki kuda. Terdengar suara kentongan bersahutan beberapa kali lalu senyap. Di jurusan lain terengar teriakan-teriakan orang sambil berlarian bercampur aduk dengan jeit tangis anak-anak dan orang-orang perempuan.

"Lari! Lari! Gerombolan Warok Ijo menyerbu! Selamatkan diri ke lembah! Lari...!"

Derap kaki kuda datang menyerbu. Dua bilah golok panjang berkelebat. Dua orang penduduk yang barusan berteriak roboh ke tanah. Darah muncrat dari tubuh keduanya. Yang pertama langsung meregang nyawa dangan leher hampir putus. Kawannya yang terkapar di sebelahnya, sesaat masih tampak menggeliat sambil pegangi dadanya yang robek besar, lalu diam tak berkutik lagi tanda nyawanyapun sudah putus.

Gender Kumboro, kepala desa Kenconowengi yang tengah terbaring sakit diserang demam panas, dengan susah payah turun dari ranjang ketika dua orang petugas desa masuk memberi tahu apa yang terjadi.

"Gerombolan ganas itu.....," berucap Gender Kumboro sambil bersandar ke dinding, "sudah lama aku mendengar sepak terjang biadab mereka. Ternyata akhirnya meraka datang juga mengganas di desa kita ini...!"

Dengan terhuyung-huyung kepala desa yang hidup sendirian tanpa anak sejak istrinya meninggal dua puluh tahun lalu itu, melangkah mengambil parang yang tergantung di dinding kamar, lalu melangkah keluar.

"Kepala desa! Apa yang hendak kau lakukan?!" bertanya salah seorang anak buahnya.

Tanap berpaling Gender Kumboro menjawab "Kalian berdua bantu penduduk mengungsi. Selamatkan anak-anak dan orang-orang perempuan. Aku akan menghadang gerombolan biadab itu!"

"Jangan lakukan itu! Mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang! Tiga orang petugas desa sudah mereka bunuh! Dan kau sedang sakit pula!"

Gender Kumboro terus melangkah ke pintu seraya berkata "Aku merasa lebih baik mati di tangan gerombolan itu daripada mati karena sakit di atas tempat tidur!" Walaupun saat itu tubuhnya terasa panas, tapi kepala desa ini mendadak merasakan ada satu kekuatan di dalam dirinya yang memberinya semangat untuk melakukan niatnya.

Dua orang petugas desa tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka lari ke arah barisan penduduk yang tengah mengungsi menuju lembah sementara beberapa buah rumah lagi tampak dibakar oleh gerombolan penjahat Warok Ijo.

Di satu kelokan jalan, Gender Kumboro berpapasan dengan dua orang penunggang kuda berpakaian dan bertutup kepala serba hitam. Mereka tampak membawa buntalan besar berisi harta benda hasil rampokan.

"Ini dua diantara bangsat-bangsat durjana itu....," kata Gender Kumboro menggeram. Cepat dia menyelinap di balik serumpunan pohon bambu di tepi jalan. Ketika penunggang kuda pertama lewat, Gender Kumboro serta merta membabatkan parangnya.

Terdengar jeritan keras si penunggang kuda ketika parang merobek perutnya. Tubuhnya terpelanting ke kiri lalu jatuh ke tanah. Kuda tunggangannya meringkik keras dan menghambur kabur dalam kegelapan malam.

Penunggang kuda kedua tersentak kaget dan hentikan kudanya. Tangan kanannya segera menghunus golok lalu sambil membentak dia melompat ke tanah.

"Bangsat dari mana yang berani membokong anak buah Warok I..."

Belum selesai ucapannya itu, sebuah parang berkelebat di depan kepalanya. Anggota gerombolan Warok Ijo ini angkat tangan kanan, menangkis dengan goloknya.

"Trang!

Dua senjata beradu dalam kegelapan malam. Gender Kumboro merasakan tangannya pedas kesemutan. Gagang parang hampir terlepas dari gengggamannya. Cepat-cepat kepala desa ini mengatur kedua kakinya agar tidak terhuyung limbung. Justru saat itu orang berpakaian serba hitam di depannya keluarkan suara memaki dan menusukkan senjatanya ke arah perut Gender Kumboro. Orang tua yang dalam keadaan sakit panas ini melompat ke kiri. Dia berhasil mengelakkan tusukan lawan lalu secepat kilat membacok ke arah leher anggota gerombolan itu.

Akan tetapi lawannya bertindak lebih cepat lagi. Begitu tusukannya luput, goloknya dibabatkan membalik, langsung membacok ke arah barisan tulang iga kanan Gender Kumboro.

Kepala desa itu menjerit. Tubuhnya di sebelah kanan luka besar. Dua tulang iganya nyaris putus. Parangnya tercampak ke tanah. Dia sendiri langsung roboh.

Menyangka orang sudah mati, gerombolan rampok itu melompat ke punggung kudanya kembali dan tinggalkan tempat itu tanpa mempedulikan kawannya yang tergeletak dekat rumpun bambu dalam keadaan sekarat.

Gender Kumboro kumpulkan sisa-sisa tenaganya yang ada dan dengan susah payah dia berusaha berdiri. Sesaat dia tertegak nanar sambil berpegangan pada batang bambu. Lalu dengan darah masih mengucur dari lukanya kepala desa ini melangkah tertatih-tatih. Belum jauh dia melangkah sosok tubuhnya yang kehabisan darah dan tenaga itu jatuh tergelimpang. Di saat yang sama seorang penduduk yang tengah berlari melewati tempat itu dan mengenali kepala desanya segera mendatangi unntuk memberikan pertolongan. Tapi Gender Kumboro yang sadar bahwa nyawanya tak akan lama segera berkata terputus-putus.

"Ja...jangan perdulikan diriku. Lekas kau te...temui Jarotomo. H...hanya pemuda yang da...dapat menyelamatkan desa dan pen...penduduk. Ha...hanya dia yang.... yang mampu menghadapi ger...gerombolan Warok Ijo..."

"Tapi bagaimana pun kau harus kuselamatkan lebih dahulu kepala desa!"

"Jangan tolol! Cari Jarotomo! Pemuda itu baru saja mewa...mewarisi ilmu... ilmu kesaktian dari Ratu Kemukus. Hanya di...dia yang mampu menghadapi gerombolan Warok Ijo. Lekas pergi....Cari dia!"

Habis berkata begitu kepala Gender Kumboro terkulai. Sadar dia tidak bisa menolong lagi, penduduk tadi segera tinggalkan tempat itu dan lari sekencang yang bisa dilakukannya menuju ke selatan, melewati kebun kelapa. Dan di ujung kebun itu tampak sebuah gubuk kecil dalam kegelapan malam.

"Jarot! Jarotomo! Kau ada di rumah?!"

Tak ada jawaban. Tapi orang ini mendengar suara mendengkur di dalam gubuk. Tidak sabaran dia mendorong pintu kuat-kuat lalu masuk ke dalam gubuk.

Sesaat setelah matanya terbiasa dengan kegelapan di tempat itu, orang ini melihat pemuda yang dicarinya di sudut sebelah dalam, terbaring tidur dengan mengeluarkan suara mengorok.

"Jarot! Bangun! Desa kita diserbu gerombolan Warok Ijo! Jarot ayo bangun!"

Pemuda yang sedang tidur tampak menggeliat lalu membuka matanya.

"Apa-apaan ini....?!"

"Jarot! Desa kita diserbu gerombolan Warok Ijo. Mereka merampok dan membunuh! Menurut kepala desa hanya kau yang mampu menghadapi penjahat-penjahat itu!"

"Mana kepala desa....?"

"Dia sudah mati dibunuh gerombolan! Ayo bangun Jarot! Pergunakan ilmu yang kau dapat dari Ratu Kemukus!"

Pemuda bernama Jarotomo segera berdiri. Dia mengusap muka dan rambutnya yang gondrong berulang kali. Sesaat dia memandang orang di depannya dengan ragu.

"Apakah....apakah ilmu yang kudapat dari sang Ratu benar-benar bisa dipakai mengahadapi orang-orang jahat itu....?" katanya seolah-olah bertanya pada diri sendiri.

"Lekas Jarot! Kau harus mencegah mereka. Kalau tidak akan banyak lagi korban yang mereka bunuh! Akan banyak harta penduduk yang mereka jarah!" Lalu orang itu menarik lengan Jarotomo.

Ketika Jarotomo sampai di desa, tiga orang anggota Warok Ijo tampak tengah menggiring beberapa ekor lembu. Lalu di arah lain seorang penjahat memanggul tubuh seorang gadis tanggung yang menjerit dan meronta-ronta coba melepaskan diri. Jarotomo kepalkan kedua tangannya. Dadanya berdebar. Sepasang matanya memandang ke arah empat penjahat yang bertampang garang itu. Mereka semua membekal golok sedang dia hanya bertangan kosong.

"Ilmu Ratu Kemukus.... Apakah aku sanggup menghadapi menusia-manusia jahat ini dengan ilmuku itu...?" Sesaat Jarotomo merasa ragu. Lalu didenarnya orang di sebelahnya berkata.

"Ayo! Apa yang kau tunggu Jarot! Hajar mereka! Bunuh mereka!"

Jarotomo mengigit bibirnya sendiri. Tiga penjahat yang menggiring lembu-lembu hasil rampokan lewat di depannya. Pemuda itu seperti tidak acuh bahkan tidak bergerak. Namun kepalanya berpaling ke jurusan penjahat yang memanggul anak gadis orang. Tiba-tiba Jarotomo berteriak.

"Manusia bangsat! Lepaskan gadis itu!" Lalu Jarotomo lari mengejar.

Anggota gerombolan yang mengetahui kalau ada orang berteriak dan mengejarnya menoleh ke belakang. "Eh, ada juga penduduk yang punya nyali berani mengejar!" pikir anggota gerombolan ini. Dia hentikan langkahnya kemudian tegak menunggu. Ketika Jarotomo sampai di hadapannya dia lalu membentak.

"Apa maumu pemuda tolol?! Ingin mampus berani meneriaki dan mengejarku?!"

Sesaat Jarotomo terkesiap. Gerombolan yang menculik anak gadis orang itu ternyata memiliki tampang seangker setan. Mukanya yang hitam itu memiliki satu mata, serta cacat bekas tikaman senjata tajam di pipinya sebelah kanan. Kumis dan cambang bawuknya meanggas. Tergetar juga hati Jarotomo. Belum pernah dia melihat manusia seseram yang di hadapannya itu.

Melihat orang terkesiap, anggota gerombolan Warok Ijo bermaa satu tertawa bergelak.

"Baru melihat tampangku saja kau sudah kencing di celana. Pergi sana!" Penjahat ini hantamkan kaki kanannya menendang perut Jarotomo.

Yang ditendang langsung terpental dan jatuh ke tanah. Tapi anehnya Jarotomo sama sekali tidak merasa sakit! "Aku kebal pukulan!" desis si pemuda sambil pegangi perutnya seperti tidak percaya. Cepat dia berdiri dan menghadang penjahat yang siap hendak tinggalkan tempat itu. Yang dihadang tentu saja terkejut karena menyangka pemuda itu paling tidak telah jatuh pingsan dihantam tendangannya itu.

"Keparat! Kau benar-benar minta mampus!"

Dengan tangan kanannya si muka setan itu cabut golok. Begitu senjata keluar dari sarung, golok itu langsung dibabatkannya ke pinggang Jarotomo. Si pemuda yang tidak menyangka bakal diserang begitu rupa terlambat berkelit selamatkan diri. Mata golok menghantam pinggang kirinya dengan deras.

Buukkk!

Tubuh Jarotomo terbanting ke kanan. Bajunya robek dimakan mata golok. Tapi tubuhnya sedikitpun tidak luka! Melihat dirinya ternyata juga tidak mempan hantaman senjata tajam berkat ilmu yang didapatnya dari Ratu Kemukus, keberanian pemuda itu jadi berkobar. Selagi anggota rombongan Warok Ijo tertegun tidak percaya melihat si pemuda tidak mempan dibacok, Jarotomo sudah meloncatinya dan melayangkan jotosan tepat ke satu-satunya mata yang masih utuh, yaitu mata kanannya.

Anggota gerombolan ini meraung kesakitan. Gadis yang dipanggulnya diturunkan lalu dengan golok di tangan dia menyerbu Jarotomo. Senjata itu berkelebat kian kemari. Jarotomo yang memang tidak memiliki kepandaian silat sulit untuk dapat mengelak. Beberapa kali golok lawan menghantam tubuhnya dengan suara bergedubukan. Namun seperti tadi tidak satu bacokan atau tusukanpun yang mempu melukai kulitnya.

"Eh, pemuda setan alas ini punya ilmu apa sampai golok tidak mempan?!" ujar anggota gerombolan sulit untuk percaya, lalu hentikan serangannya dan melompat mundur dengan nafas mengengah. Tengkuknya mulai terasa dingin oleh rasa takut sedang mata kanannnya yang lebam tak mampu membeliak.

"Anak muda! Siapa kau?!"

Jarotomo tidak menjawab. Tangan kanannya dihantamkan ke arah tenggorokan lawan. Anggota rampok itu kembali babatkan goloknya. Lagi-lagi terdengar suara bergedebuk, dan seperti tadi tangan itupuntak mempan dibacok!

Sadar kalau pemuda di hadapannya itu memiliki ilmu kepandaian luar biasa, anggota gerombolan Warok Ijo itu jadi putus nyalinya. Tanpa tunggu lebih lama dia segera putar tubuh untuk melarikan diri. Namun Jarotomo sempat mencekal leher pakaian penjahat ini lalu ditariknya kuat-kuat hingga orang ini tersungkur ke tanah. Sebelum dia sempat bangkit, Jarotomo injak lehernya keras-keras. Terdengar suara berderak. Anggota gerombolan itu mati dengan lidah terjulur!

Jarotomo cepat melangkah mendekati gadis yang tadi diculik. Gadis ini kini terbaring ketakutan dekat kandang itik. Mukanya pucat pasi. Namun belum sempat mendekati lebih dekat tiba-tiba tiga orang berkelebat mengurung si pemuda. Lalu tendangan menghajar pinggulnya disusul satu jotosan melanda pipinya. Jarotomo langsung terkapar di tanah!

"Kawan-kawan ayo cincang pemuda keparat ini! Dia telah membunuh teman kita Kaimin!" satu suara keras terdengar. Kemudian tiga batang golok berkelebat mencari sasaran di tiga bagian tubuh Jarotomo yaitu kepala, leher dan dada.

Buukkk!

Buukkk!

Buukkk!

Terdengar suara bergedebukan tiga kali sewaktu tiga bilah golok besar dan tajam itu mendarat di kepala, leher serta tubuh Jarotomo. Namun seperti kehebatan yang ditunjukkan pemuda ini sebelumnya, tak satupun hantaman golok para penjahat mampu melukai dirinya, hanya pakaiannya saja di bagian punggung yang tampak robek.

Tiga pasang mata anggota gerombolan Warok Ijo terbeliak besar. Salah seorang dari penjahat itu cepat berbisik pada teman di sebelahnya.

"Manusia ini punya kepandaian tinggi. Dia kebal senjata tajam dan pukulan...." salah seorang anggota gerombolan berbisik.

"Apa yang harus kita lakukan?" temannya bertanya.

"Kalian berdua tetap di sini. Jangan bngsat ini sampai lolos. Aku akan memberi tahu Warok Ijo kita menemukan kesulitan!" Orang yang berbisik cepat berkelebat tanpa menunggu jawaban temannya. Dengan golok tergenggam erat di tangan, dua anggota gerombolan Warok Ijo itu memperhatikan Jarotomo perlahan-perlahan berdiri. Hendak menyerang mereka merasa ragu. Tetapi sewaktu Jarotomo maju menerjang, mau tak mau keduanya pergunakan golok untuk menghantam.

Dua bacokan menghantam tubuhnya. Jarotomo merangsak terus. Karena mulai ketakutan dua penyerang maelangkah mundur.

"Ayo bacok terus! Mengapa berhenti dan mundur?!" ejek Jarotomo.

"Anak muda! Kalau kau mau mengajarkan kepandaianmu pada Warok Ijo, pemimpin kami itu pasti mengambilmu menjadi wakilnya!" salah seorang anggota gerombolan berkata.

"Ha... ha... ha!" terdengar suara tawa bergelak. "Aku mau lihat tampang orang yang hendak kalian jadikan wakilku itu! Anak muda berambut gondrong! Putar tubuhmu! Lihat kemari!"



Perlahan-lahan Jarotomo putar tubuhnya. Lima langkah di hadapannya, di atas seekor kuda coklat, dikelilingi oleh enam lelaki berwajah ganas yang juga menunggang kuda dilihatnya seorang lelaki berpakaian serba hijau berwajah dan berkepala aneh. Kepalanya botak plontos dan berwarna hijau samapi ke mukanya yang bermata sipit.

"Hemm, ini rupanya kepala gerobolan yang dipanggil dengan sebutan Warok Ijo itu...," kata Jaratomo dalam hati.

"Ha... ha! Jadi ini tampangnya tikus cecurut bau pesing yang sesumbar hendak menjadi wakilku! Ha... ha... ha!" Warok Ijo tertawa mengekeh. Barisan gigi-giginya besar dan hitam. Sambil usap dagunya yang ditumbuhi janggut lebat, Warok Ijo bertanya "Gondrong! Kau yang barusan membunuh Kimin anak buahku?!"

"Aku tidak membunuhnya!" jawab Jarotomo seenaknya.

"Lantas...?!" Warok Ijo mengerenyitkan kening mendengar jawabanitu.

"Dia sendiri yang minta mampus! Kalian semua juga ingin mencari mati!"

Sepasang mata sipit Warok Ijo membesar sedikit. Lalu terdengar kembali suara tawanya berkekehan.

"Anak muda bau tengik! Lagak bicaramu seperti raja diraja dunia persilatan! Aku mau lihat apa betul kau tidak mempan senjata tidak mempan pukulan!"

Habis berkata begitu Warok Ijo berkata pada anak buah di sebelahnya. "Berikan belati besarmu padaku!"

Anak buah Warok Ijo segera cabut sebilah belati besar yang tersisip di pinggangnya lalu diserahkan pada Warok Ijo. Kepala gerombolan ini menimang-nimang pisau besar itu beberapa saat, kedua matanya memandang tak berkesip ke arah Jarotomo. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar teriakan keras.

"Hiaattt!!!"

Belati di tangan Wiro Ijo melesat di udara. Dalam jarak hanya terpisah lima langkah, senjata itu menderu ke arah batang leher Jarotomo. Bagian tajamnya tepat menghantam leher pemuda itu, seperti hendak menancap. Tapi tidak! Belati besar itu terpental begitu mengenai leher si pemuda lalu jatuh ke tanah!

Paras hijau sang Wark berubah. "Ilmu kebal apa yang dimilki setan ini!" gumam Warok Ijo. Pelipisnya bergerak-gerak. Rahangnya menggembung. "Kebal senjata dan pukulan belum tentu kebal pukulan sakti beracun! Akan aku lihat sampai di mana kehebatan ilmu kebalnya!"

"Anak muda! Janganbergerak dari tempatmu! Aku mau lihat apakah kau juga sanggup menerima pukulan saktiku!"

Warok Ijo angkat tangan kanannya ke atas perlahan-lahan. Mulutnya berkomat-kamit tanda dia tengah merapal aji kesaktian. Seperti wajahnya, tangan kanannya mulai dari ujung jari sampai pergelangan kelihatan berubah menjadi sangat hijau.

"Mampus!" teriak Warok Ijo dan tangan kanannya dihantamkan ke depan.Ada angin deras menggebu disertai berkiblatnya sinar hijau.

Seperti ada petir menyambar, begitulah terdengar letupan keras sewaktu pukulan sakti dan beracun "kelabang ijo" yang dilepaskan sang warok menghantam dada Jarotomo dangan tepat! Dua ekor kuda meringkik. Dua jeritan merobek kegelapan malam dan dua sosok tubuh erjungkal jatuh dari punggung kuda!

Pemuda desa itu keluarkan seruan keras ketika tubuhnya laksana dibantingkan amblas ke tanah! Dadanya terasa bergetar. Pakaiannya di bagian dada tampak robek besar dan berwarna kehijauan. Dia sendiri tak kurang suatu apa. Begitu debaran dadanya lenyap, perlahan-lahan dia tegak berdiri sambil memandang menyeringai ke arah Warok Ijo.

Kepala gerombolan itu jadi leleh nyalinya. Bukan saja karena menyaksikan sendiri bagaimana ilmu kesaktiannya yang sangat diandalkan tidak mampu menciderai pemuda berambut gondrong itu, tetapi lebih dari itu sinar pukulannya yang mengandung racun jahat beitu menghantam tubuh si pemuda, mental membalik dan menyambar dua orang anak buahnya hingga terpental dari punggung kuda dan menemui ajalnya secara mengerikan! Tubuh mereka kelihatan hijau kehitaman dan mengebulkan asap!

"Anak-anak! Keroyok dan cincang cacing tanah ini sampai lumat!" teriak Warok Ijo. Lalu dia sendiri cepat memutar kudanya dan tinggalkan tempat itu. Melihat pimpinan mereka kabur seperti itu, beberapa anak buah Warok Ijo yang ada di situ serta merta mengikuti apa yang dilakukan sang Warok. Tanpa pikir panjang merekapun menggebrak kuda dan tinggalkan tempat itu. Namun dua orang masih sempat ditarik kakinya oleh Jarotomo hingga jatuh terbanting di tanah. Sebelum keduanya sempat bangun Jarot sudah menghantam kedua penjahat itu dengan sebatang golok yang dipungutnya dari tanah.

Di sarangnya di tengah sebuah rimba belantara, pada suatu pagi dua hari setelah penyerbuan ke desa Kenconowengi, Warok Ijo tampak duduk di depan rumah kayunya ditemani seorang anak buah kepercayaannya. Di hadapan mereka, di atas sebuah meja kayu kasar ada dua cangkir besar kopi hangat dan beberapa butir ubi rebus.

"Aku masih tak habis pikir penyerbuan sial ke Kenconowengi itu......." berkata Warok Ijo.

"Ah, Warok masih saja mengingat-ingat kejadian itu," menyahuti anak buah Warok Ijo bernama Tunggoro.

"Mengapa tidak?! Belum pernah anak buahku menemui kematian begitu banyak!"

"Tapi hasil jarahan kita juga banyak.....!"

"Kau mau mengatakan bahwa nyawa teman-temanmu sama nilainya dengan sapi-sapi buduk dan harta serta uang yang berhasil dirampas itu, Tunggoro!"

"Tentu saja tidak warok. Sepertimu. Aku dan teman-teman tentu saja merasa kehilangan mereka.....!" jawab Tunggoro pula tak berani menantang.

"Kematian teman-temanmu itu harus dibayar dengan nyawa dan darh pemuda berambut gondrong itu! Kau ingat siapa nama pemuda itu, Tunggoro?!"

"Jarotomo, namanya Jarotomo warok...."

Warok Ijo pegang bahu anak buahnya itu lalu berkata "Selidiki bangsat itu. Menyamarlah dan pergi ke Kenconowengi. Siapapun adanya pemuda keparat itu, aku ingin mematahkan batang lehernya dengan tanganku sendiri!"

"Akan saya lakukan warok. Beri saya waktu satu minggu......"

"Sati minggu?! Aku tidak menyuruh kau pergi berjalan-jalan Tunggoro! Kau sudah harus kembali dalam tempo tiga hari!" Kau dengar itu Tunggoro....?!"

"Saya dengar warok. Saya minta diri sekarang juga," jawab Tunggoro. Lalu orang ini meneguk kopi hangatnya sampai habis. Sebelum pergi diambilnya dua buah ubi rebus.

Warok Ijo berdiri dari kursi kayu yang didudukinnya. Sambil memukul-mukul tinju kanannya ke telapak tangan kiri kepala gerombolan rampok ini tiada hentinya menggeram.

"Awas kau Jarotomo! Akan kau rasakan pembalasan Warok Ijo! Akan kupuntir kepalamu sampai tanggal!"

Warok Ijo meludah beberapa kali lalu masuk ke dalam rumah, langsung menuju sebuah kamar. Di situ tampak seorang perempuan muda bertubuh putih sintal tengah duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambut.

"Perempuan tolol!" hardik Warok Ijo seraya menutup pintu kamar. "Sudah berapa kali aku bilang! Jika aku masuk ke dalam kamar ini, aku tidak suka melihat kau berpakaian! Lekas tanggalkan baju dan kainmu!'

"Maafkan saya Warok," jawab perempuan muda itu sambil cepat-cepat membuka bajunya. "Saya tidak tahu kalau pagi ini giliran saya lagi. Dua hari yang lalu warok baru saja kemari...."

"Soal giliran itu menurut kemauanku! Bukan menurut perhitunganmu!" jawab Warok Ijo. Tak sabaran menunggu perempuan itu membuka pakaiannya, Warok Ijo langsung saja membetot dan merobek baju yang belum sempat ditanggalkan seluruhnya.

Di rumah kayu di tengah hutan itu, ada empat bauh kamar. Di dalamnya masing-masing kamar ada seorang perempuan muda yang harus selalu siap melayani Warok Ijo setiap saat yang diingininya.



Selama enam hari enam malam bukit itu diselimuti kesunyian. Lalu malam ketujuh yakni setiap malam Jum'at keadaan berubah sama sekali. Puluhan orang lelaki nampak naik ke atas bukit sejak matahari tenggelam. Hanya ada satu jalan masuk menuju ke atas bukit dan pada ujung jalan masuk ini selalu ada empat orang lelaki bertubuh tinggi besar, berpakaian merah-merah dan bertampang galak. Mereka mengutip sejumlah uang tertentu pada setiap pengunjung dan setiap orang yang datang harus memperlihatkan sebuah kertas berisi tanda-tanda rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh ke empat penjaga pintu masuk itu.

Seorang pemuda berpakaian putih, berambut gondrong sambil bersiul-siul kecil melangkah menuju pintu masuk.

"Pemuda gondrong muka tolol! Jangan petantang-petenteng jual lagak di sini! Mana kertas pengenalmu?!" salah seorang penjaga membentak.

"Kertas pengenal? Aku belum punya!" jawab si gondrong.

"Jadi kau baru perama ini datang kemari!"

"Betul!"

"Kau bermaksud bersenang-senang saja atau meminta ilmu?!"

"Dua-duanya!"

"Kalau begitu lekas bayar dua keping perak!"

"Waw mahal amat! Bagaimana kalau aku tawar satu keping saja sobat!"

"Aku bukan sobatmu! Bayar dua keping atau angkat kaki dari sini! Masih banyak orang lain yang punya duit yang harus kami layani!"

"Tunggu, bagaimana aku bayar satu keping dulu, sisanya kalau aku kembali kemari!"

Kawan penjaga pintu yang sejak tadi memperhatikan, dengan jengkel maju ke hadapan pemuda itu dan mendorong dadanya. "Tidak ada awar menawar! Ikuti aturan atau minggat dari sini! Kami tidak perlu manusia kera semacam kau!"

Si gondrong menyeringai. Sambil garuk-garuk kepala dia keluarkan dua keping perak dari saku pakaiannya lalu menyerahkan benda itu pada penjaga jalan masuk seraya berkata " Kalian jangan galak-galak. Kalau memang harus bayar dua keping perak, ya ambillah ini!"

Dua keping perak itu dimasukkan ke dalam sebuahkantong lain yang masih baru. Habis memasukkan uang pemuda itu buru-buru hendak melangkah. Tapi bahunya dipegang oleh penjaga lain.

"Apa kau sudah tahu segala aturan di bukit Kemukus ini, anak muda?!"

"Belum. Tolong terangkan apa aturannya...."

"Pertama, ambil dulu lembaran kertas biru ini. Di sini ada dua macam kertas. Warna merah berarti kamu hanya boleh bersenang-senang. Warna biru tanda bahwa selain mencari hiburan tamu juga punya niat khusus yaitu mendapatkan ilmu dari Ratu. Untuk pemegang kertas warna biru harus datang sebanyak dua puluh satu kali malam Jum'at. Pada malam pertama datang, kau harus mencari pasangan yang kau sukai. Lalu setiap malam-malam selanjutnya kau harus selalu menemui dan tidur dengan perempuan yang sama. Sekali saja kau tidak berhasil menemui perempuan itu, atau tertarik dengan perempuan lain maka niatmu jadi batal dan harus diulang dari mula.

Kalau kau selesai menuruti aturan sampai malam ke dua puluh, maka pada malam ke dua puluh satu seelah kau meniduri pasanganmu, kau harus pergi mandi di air pancuran di atas bukit. Setelah itu kau menunggu sampai ada seseorang mengantarkanmu menemui Ratu di Istana kediamannya! Nah ambil kertas ini!

Si penjaga menyerahkan selembar kertas biru pada pemuda gondrong itu seraya berkata "Setiap kau habis meniduri pasanganmu, perempuan itu akan memberi tanda pada kertas ini. Jangan lupa hal itu anak muda!"

Si gondrong mengangguk. Dia hendak melangkah pergi. Tapi kembali bahunya dipegang orang. Kali ini oleh penjaga yang lain.

"Ada satu aturan di bukit Kemukus ini, anak muda! Aturan yang harus kau ingat baik-baik...."

"Hemm.....Aturan apalagi?!" si pemuda tampak mulai kesal.

"Jangan berani berbuat yang bukan-bukan di kawasan bukit Kemukus. Apalagi sampai melakukan keonaran. Lalu jika kau selalu masuk lewat jalan ini, tetap datang dan kembali lewat jalan ini. Jangan coba-coba mencari jalan masuk atau keluar sendiri seenaknya. Kau dengar anak muda?!"

Si gondrong mengengguk. "Bagaimana kalau aku melanggar segala aturan itu...?"

"Jawabnya sederhana saja anak muda," shut si penjaga. "Tubuhmu akan jadi umpan santapan anjing-anjing hutan raksasa peliharaan Ratu...."

"Ah, hebat dan seram kedengarannya!" ujar si gondrong.

"Memang! Sudah lebih dari enam puluh lelaki konyol disantap anjing-anjing hutan itu!" kaa si penjaga pula lalu tertawa mengekeh dan mendorong si pemuda agar segera berlalu.

Baru empat langkah berjalan, muncul penjaga yang keempat.

"Nah apa lagi ini....?!" tanya tamu muda itu.

"Demi keamanan. Aku bertugas mencatat nama setiap tamu. Lekas katakan siapa namamu!" Penjaga itu keluarkan secarik kertas lebar dan pegang sebatang alat tulis.

"Namaku Wiro....," menerangkan si pemuda.

Si penjaga mencatat lalu berkata "Ada banyak Wiro di kolong langit ini. Terangkan dari mana asalmu!"

"Aku dari pekuburan Kalimangi...."

"Jangan bergurau!" si penjaga merasa dipermainkan.

"Siapa bergurau! Aku memang tinggal dekat pekuburan itu. Ayahku kuncen di sana!"

"Hemmm, begitu?!"

"Begitu!"

Setelah mencatat, penjaa itu mempersilahkan si pemuda memasuki jalan yang menuju ke atas bukit. Si pemuda yang ternyata adalah Pendekar 212 Wiro Sableng melangkah tersenyum-senyum. "Galak tapi tolol. Apa tidak tahu kalau tidak ad pekuburan Kalimengi di dunia ini! Kalimengi justru nama tempat pelesiran di pantai selatan!"

Semakin tingi ke atas bukit semakin dingin terasa udara. Dalam jarak belasan tombak terdapat sebuah obor untuk menerangi jalan kecil yang mendaki itu. Sepanjang jalan terdengar suara binatang malam dan lapat-lapat di kejauhan terdengar suara salakan anjing.

"Pasti itu salakan anjing-anjing hutan peliharaan sang Ratu...." Membatin Wiro.

Sampai di bagian atas bukit, kadaannya berubah sekali. Sebuah tempat berukuran puluhan bahkan mungkin ratusan tombak persegi diterangi dengan obor serta lampu-lampu lampion. Puluhan perempuan yang rata-rata masih muda-muda bertebaran di mana-mana. Ada yang duduk-duduk berkelompok-kelompok menunggu tamu yang akan mengambilnya. Ada yang berjalan-jalan berkawan-kawan. Bau wewangian menebar hampir di seluruh pelosok, termasuk wewangian yang dipakai oleh orang-orang perempuan itu.

Wiro melangkah pelahan-lahan sambil memandang berkeliling. Di satu tempat ketinggian dilihatnya ada sebuah pancuran bambu. Dua orang lelaki dalam keadaan telanjang bulat tampak tengah mandi di bawah pancuran itu. Wiro berjalan terus. Hampir di setiap sudut dilihatnya bangunan-bangunan kecil tanpa atap berdinding setinggi bahu. Murid Sinto Gendeng yang ingin tahu mendekati salah satu bangunan ini. Dari arah bangunan terdengar suara perempuan tertawa cekikikan. Penuh rasa ingin tahu Wiro menjenguk ke balik dinding kajang.

Astaga! Yang dilihatnya adalah sepasang lelaki dan perempuan tanpa pakaian saling tindih menindih. Pendekar 212 cepat-cepat tarik kepalanya sambil menggaruk rambut.

"Edan! Kalau tidak datang sendiri tidak percaya aku tempat maksiat seperti ini benar-benar ada di dunia ini!" Wiro memandang berkeliling. Paling tidak ada sekitar tiga puluh bangunan mesum tersebar di tempat itu!

Di kejauhan, di puncak bukit bagian paling atas kelihatan sebuah bangunan aneh dengan atap tinggi lancip. Bagian bawah bangunan tampak gelap tapi di sebelah atas kelihatan ada nyal teang.

"Bangunan itu.... Apakah itu Istana Ratu Kemukus....?" Menduga Wiro Sableng.

Ketika Wiro hendak melangkah pergi satu tangan yang hangat memegang lengannya. Bau harum menyambar hidungnya. Wiro berpaling.

Seorang perempuan muda berwajah bulat dengan tahi lalat kecil di pipi kirinya tersenyum padanya. Dada kebaya birunya sangat terbuka ingga bagian atas payudaranya yang putih dan menggembung terlihat jelas.

"Kau masih belum menemui pasanganmu, pemuda tampan?" perempuan cantik itu menegur lalu kedipkan mata kirinya antara genit dan manja.

"Hem.... Aku barusan datang. Masih melihat-lihat dulu...." Jawab Wiro.

"Masih melihat-lihat. Waktu berjalan dengan cepat di Bukit Kemukus ini. Kau haus menemukan pasanganmu dengan cepat...."

"Aku baru sekali ini kemari..."

"Ah, nasib baik bagiku.....!" kata perempuan itu lalu memeluk tubuh Pendekar 212 kencang-kencang hingga dadanya yang besar menempel hangat di dada sang pendekar. "Ambil aku sebagai pasanganmu. Kau pasti tidak akan kecewa..... Kalau kau suka, pada malam-malam tertentu selain malam Jum'at kita bisa bertemu di satu tempat di kota.....Aku suka padamu. Tubuhmu tampak kukuh. Kau pasti kuat....."

Wiro tersenyum.

"Kau memegang kertas merah atau biru.....?"

"Biru......," jawab Wiro.

"Ah, Ratu pasti akan senang bertemu dengan pemuda setampan ini. Namaku Sawitri. Kau mau mengambilku sebagai pasananmu bukan......?"

Wiro tak bisa menjawab.

"Jangan khawatir. Langananku setiap malam Jum'at hanya tiga orang. Aku bersedia mengambil dan melayanimu pertama kali. Ayo mari kita cari tempat yang kosong..."

"Tunggu, aku ingin melihat-lihat bukit ini lebih dulu...."

"Ah, ucapan itu seharusnya aku dengar dari orang-orang tua yang mulai uzur. Mereka selalu begitu. Terlalu banyak bicara dan melihat-lihat. Tak pernah langsung ke tujuan. Hik.... Hik... hik!"

"Kau mau mengantarkan aku melihat-lihat perbukitan ini....?" tanya Wiro.

"Baiklah. Tapi bisa terlalu lama. Tiga langgananku bisa mati kedinginan menungguku....."



Sambil berangkulan Wiro dan Sawitri melangkah melihat-lihat suasana di bukit Kemukus. Setiap langkah yang mereka buat saling berselisih jalan dengan pasangan-pasangan lain yang juga saling berpelukan, lalu satu demi satu memisahkan diri memasuki bangunan-bangunan kecil tanpa atap berdinding kajang.

"Sorga dunia yang sulit dipercaya....." kata Wiro sambil memeluk lebih erat perempuan di sebelahnya. Sawitri balas merangkul.

"Sorga dunia yang kau katakan itu bisa berubah menjadi neraka dunia."

"Eh, maksudmu?" bertanya Pendekar 212.

"Lihat ke depan....."

Wiro mengikuti apa yang dikatakn Sawitri. Di sebelah depan seorang penunggang kuda berpakaian merah tampak menyeret sosok tubuh seorang lelaki. Seluruh tubuh dan mukanya terkelupas berkelukuran. Agaknya orang ini sudah lama mati. Karena sama sekali tidak terdengar rintihan.

"Apa yang terjadi.....? tanya Wiro. Mengapa orang itu dibunuh secara kejam begitu rupa?!"

"Dia pasti tamu yang membuat kesalahan. Mungkin sekali dia berganti-ganti pasangan melanggar peraturan. Kau baru melihat sekali ini. Aku sudah belasan kali..." Penunggang kuda dan orang yang diseret lewat di depan Wiro dan Sawitri.

"Manusia malang. Ingin sorga dapatkan neraka!" ujar Sawitri.

"Aku tidak mengerti . Untuk kesalahan seperti itu saja apa dia memang layak dibunuh secara biadab seperti itu?"

Perempuan yang dipeluk Wiro tertawa pendek. "Hukum Ratu keras sekali. Bahkan sudah begitu masih saja ada yang berani melanggar....."

"Ratu....... Siapa sebenarnya ratumu itu?"

Sawitri hentikan langkah dan memandang lekat-lekat ke wajah Pendekar 212.

"Eh, ada apa? Caramu memandangku aneh sekali. Seperti aku ini punya tiga mata, dua hidung dan empat telinga!" ujar Wiro pula.

"Tujuanmu kemari.....Apakah hendk menyelidiki ratu kami?!"

Wiro cepat gelengkan kepala. "Aku hanya bertanya. Namanya begitu dihormati. Hukumnya ditakuti. Kawasan bukit Kemukus ini tidak beda seperti satu Kerajaan!"

"Aku tidak suka mendengar ucapanmu itu. Kalau ada yang sempat mendengar, kau bakal dapat susah...." Kata Sawitri pula. "Sebaiknya kita pergi mencari tempat yang kosong saja. Malam semakin dingin. Tiga langgananku pasti sudah mencari-cari...."

"Sebentar Sawitri," ujar Wiro seraya memegang lengan perempuan itu. Lalu dia menunjuk ke arah bangunan beratap lancip di puncak bukit yang saat itu setengah tertutup oleh kabut malam. "Bangunan itu...... Siapa yang tinggal di sana....?"

"Itu adalah Istana tempat kediaman ratu. Apa yang ada di benakmu?"

"Aku ingin sekali datang ke sana. Bertemu dangan ratu dan...."

Kau memegang kertas biru. Berarti pada akhir kunjunganmu ke sini yaitu malam Jum'at yang kedua puluh satu kau akan bertemu dengan ratu. Penjaga di jalan masuk pasti sudah menerangkan padamu. Mengapa tiba-tiba saja kini kau berkata ingin bertemu dengan ratu?"

"Ah, itu kalau bisa. Kalau tidak akupun sanggup bersabar sampai dua puluh satu minggu. Mari, antarkan aku lebih dekat ke istana ratumu itu."

"Aku tidak mau. Jika kau tidak ingin mencari tempat, sebaiknya aku pergi menemui tiga langgananku. Dan kau harus menunggu samapi sekitar dini hari..."

"Tidak. Kau harus mengantarku sedekat mungkin dengan istana itu!" sahut Wiro. Lalu ditariknya tangan Sawitri. Mau tak mau perempuan itu terpaksa mengikut. Keduanya mendaki jalan menanjak. Kira-kira dua puluh tombak dari pagar bangunan, di balik serumpunan semak belukar, Sawitri berhenti.

"Aku hanya mengantarmu sampai di sini. Kau bunuhpun aku tak akan mau maju satu langkah sekalipun! Ini sudah termasuk daerah terlarang. Kalau ada penjaga yang melihat celakalah kita......." Sawitri menunjuk pada sebuah papan besar yang bertuliskan "Kawasan Terlarang. Dilarang Berada Di sini Bagi Siapapun"

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi.

"Lekas sembunyi!" bisik Sawitri. Dia menarik lengan Wiro. Kedua orang ini cepat merunduk di balik semak belukar. Dua penunggang kuda berpakaian merah lewat dengan cepat. Salah seorang diantaranya hentikan kudanya tak jauh dari semak belukar dimana Wiro dan Sawitri mendekam. Kawannya berbalik mendatangi.

"Kau pasti tidak melihat bayangan orang di sekitar tempat ini?" bertanya penungggang kuda pada kawannya yang mendatangi.

"Kukira kau salah penglihatansejak di bawah tadi. Mari kita teruskan perondaan ke arah timur bukit!"

Begitu kedua petugas bukti Kemukus berlalu, Sawitri menarik nafas lega. "Hampir celaka. Kalau mereka sampai melihat kita di daerah terlarang ini, celakalah kita berdua. Ayo cepat tinggalkan tempa ini......"

Mengendap-endap kedua orang iu bergerak menuruni bukit. Tapi baru jalan beberapa langkah tiba-tiba dari arah bangunan beratap lancip terdengar suara salakan anjing riuh sekali.

Wiro menarik Sawitri ke balik sebatang pohon besar dan memandang ke arah istana ratu.

"Apa yang terjadi....?" Tanya Pendekar 212

"Anjing-anjing itu mengejar seseorang. Demi Tuhan, aku harap bukan kita yang mereka kejar!" sahut Sawitri dengan suara gemetar.

Sesaat kemudian tampak empat ekor anjing raksasa berlari sambil menggonggong, mengejar seorang lelaki yang berusaha menyelamatkan diri melompati pagar istana Ratu Kemukus. Namun sebelum mencapai pagar, empat anjing itu telah berhasil mengejarnya. Tak ada jalan lain. Orang yang dikejar tampak mencabut sebilah golok lalu membacok anjing pertama yang menyerangnya.

Namun binatang yang bertubuh hampir sebesar harimau itu bukan lawan manusia sekalipun bersenjata. Apalagi ada empat ekor anjing yang harus dihadapi. Orang bergolok hanya sempat keluarkan suara raungan menggidikkan sebelum tubuhnya dicabik-cabik!

"Manusia tolol!" desis Sawitri.

"Siapa yang tolol?!" bertanya Pendekar 212.

"Orang yang barusan dicabik anjing-anjing hutan penjaga ratu! Dia pasti nekad mencoba bertemu dengan ratu tanpa izin...."

"Dia tentunya punya alasan mengapa ingin menemui ratu."

"Alasan apalagi kalau bukan bermaksud dijadikan lelaki penghibur ratu. Ada semacam sayembara yang dibuat oleh Ratu Kemukus. Siapa saja laki-laki yang sanggup masuk ke dalam istana ratu, dirinya akan dijadikan teman dan penghibur ratu seumur hidup. Kabarnya sudah puluhan jago dan orang berkepandaian tinggi mencoba. Namun mereka tidak sanggup melewati empat anjing hutan itu. Nah, apakah kau juga mau nekad.....?"

Wiro garuk-garuk kepalanya. Lalu bersama Sawitri dia segera tinggalkan tempat itu sambil memaki.

"Gila! Tempat ini benar-benar gila! Aku tak mengerti bagaimana perempuan sepertimu betah berada di tempat ini!"

"Aku dan teman-teman memang tidak betah. Tapi untuk lari sama saja mencari mati. Kami semua sudah pasrah!" menyahuti Sawitri.

Mereka sampai di hadapan sebuah bangunan tanpa atap yang berada dalam keadaan kosong. Sawitri langsung menarik Wiro Sableng masuk ke dalam bangunan itu. Begitu sampai di dalam perempuan muda bertubuh sintal dan putih ini terus saja membuka baju dan angkin yang membelit pinggangnya. Murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede jadi terperangah ketika dilain kejap dia dapatkan Sawitri sudah dalam keadaan tidak berpakaian lagi. Lalu enak saja perempuan ini menelentangkan tubuhnya di atas hamparan baju dan kain panjangnya.

Hai! Tunggu apa lagi?! Sudah hampir tangah malam. Tiga orang langgananku masih menunggu. Ayo cepatlah. Tanggalkan pakaianmu...."

"Hemm....." Wiro bergumam dan garuk kepala. "Tadinya aku memang sangat berhasrat padamu Sawitri. Tapi begitu menyaksikan empat ekor anjing raksasa tadi mencabik-cabik tubuh lelaki itu, nafsuku jadi lenyap! Percuma saja. Malam Jum'at depan saja aku kemari lagi. Sekarang biar aku pulang saja....."

Sawitri tampak jengkel. Dengan gemas dia berdiri dan memeluk Pendekar 212. Dia merasakan ada sesuatu yang menyembul di pinggang pemuda itu. Senjata!

Wiro keluarkan satu kepingan kecil perak lalu menyelipkannya di belahan payudara Sawitri. "Ini untukmu sekarang beri tanda pada kertas biru ini....." Wiro keluarkan kertas biru yang didapatnya dari penjaga di jalan masuk.

"Kau tidak meniduriku. Bagaimana mungkin aku memberi tanda?" Sawitri menolak.

"Kalau begitu biar kuambil kembali perak itu...." Wiro pura-pura hendak mengambil kembali kepingan perak yang masih tersepit di celah antara payudara Sawitri.

"Belum pernah aku menerima tamu seanehmu! Kertas biru itu pertanda bahwa kau datang untuk bersenag-senang dan meminta ilmu. Sekarang tidurpun tidak malah memberi aku hadiah. Lalu kau minta aku memberi tanda pada kertas itu seolah-olah kau sudah meniduriku! Katakan apa sebenarnya maksud kedatanganmu ke bukit Kemukus ini?"

"Kau seperti curiga saja terhadapku....."

"Kami anak buah ratu bukit Kemukus wajib menjaga keamanan di kawasan ini!" jawab Sawitri tegas.

Wiro garuk-garuk kepalanya.

"Kau tak perlu curiga padaku Sawitri. Ketahuilah, aku seorang pemuda yang tengah mencario pasangan hidup.....," berdusta Pendekar 212. "Kurasa aku ingin memilihmu jadi istriku. Itu jika kau suka....."

Paras Sawitri berubah. Tubuhnya yang telanjang kembali ditempelkannya pada Wiro. Dia menengadah bertanya tak percaya "Betulkah kata-katamu itu?"

"Jika tiba saatnya, tidak mudah meminta izin tratumu, bukan.....?"

"Aku tak tahu. Hal seperti ini belum pernah kejadian..... Mengapa kau tidak mau kulayani saat ini....?"

"Seorang calon suami yang baik tidak mau melakukan hubungan sebelum nikah secara resmi" ujar Wiro gombal.

"Tapi aku bukan perempuan baik-baik. Aku hanya seorang pelacur hina. Walaupun karena dipaksa...." Ujar Sawitri pula dengan suara sayu pertanda hatinya mulai tersentuh dengan ucapan-ucapan sang pemuda.

"Aku tidak mempermasalahkan masa lalumu Sawitri," bisik Wiro. Aku juga rela kau menjalankan tugasmu sebagaimana biasa. Aku harap kau bisa bersabar sampai malam Jum'at yang kedua puluh satu"

Perempuan muda itu mengangguk. Wiro memungut pakaian yang bercampakan di lantai lalu menyuruh Sawitri mengenakannya. Selesai perempuan itu berpakaian Wiro menyodorkan kembali kertas biru itu. Kali ini Sawitri tidak menolak. Dia mencabut sebuah benda kecil berbentuk paku hitam dari sanggulnya. Dengan benda ini dia membuat tulisan aneh di kertas biru sebelah atas.

Terima kasih. Aku akan menemuimu lagi malam Jum'at depan," kata Wiro seraya melipat lembaran kertas biru dan menyimpannya di saku baju putihnya. "Aku pergi sekarang...."

"Tunggu!" Sawitri memegang lengan pemuda itu. Ada tanda lain yan harus kuberikan sebagai tanda kau telah meniduriku." Dari balik bajunya Sawitri mengeluarkan sebuah tabung kecil terbuat dari bambu. Ketika penutup tabung itu dibuka, menghamburlah bau harum yang sangat tajam. Cairan wangi yang ada dalam tabung bambu itu dioleskan Sawitri ke pakaian Pendekar 212.

"Nah, kau boleh pergi sekarang. Tanda-tandamu sudah lengkap. Tak ada petugas ratu yang akan menahanmu!"

"Kau calon istri yang baik!" ujar Wiro sambil mengedipkan mata lalu mencium belahan dada Sawitri hingga perempuan ini menggelinyang kegelian.



Warok ijio mengusap wajahnya yang berwarna hijau, menyedot roko kawung besarnya dalam-dalam. Setelah menghembuskan asapnya jauh-jauh dia baru berpaling pada anak buahnya yang berdiri di hadapannya.

"Ceritakan bagaimana hasi penyelidikanmu Tunggoro!"

"Saya menyamar masuk ke desa Kenconowengi. Berpura-pura sebagai pedagang keliling. Bahkan sempat berhadapan muka dengan Jarotomo...."

"Hebat!" memuji Warok Ijo. "Teruska ceritamu...."

"Pemuda itu ternyata sudah diangkat menjadi kepala desa, menggantikan kepala desa yang kita bunuh tempo hari!"

"Hemmm besar juga rejekinya anak muda itu. Tapi kematiannya akan jadi tambah dekat. Apa kau berhasil menyelidiki ilmu kebal yang dimilikinya?"

"Saya berhasil Warok. Ternyata dia mendapatkan kepandaian itu dari Ratu Bukit Kemukus..."

Warok Ijo terkesiap sesaat. Dicampakkannya rokok kawung yang dipegangnya lalu berdiri dan mundar-mandir beberapa kali sambil tiada hentinya memegangi kepalanya yang botak dan berwarna hijau itu.

"Ratu Bukit Kemukus! Apakah cerita isapan jempol itu benar-benar ada?! Apa bukit maksiat yang jadi wilayah kekuasaan perempuan mesum dan dipanggil dengan sebutan Ratu Kemukus itu betul-betul ada?!"

"Saya coba menyelidikinya Warok. Tapi tak punya waktu banyak karena harus kembali cepat-cepat kemari sesuai perintah Warok. Hanya ada satu petunjuk yang saya dapat dari seorang alim di desa itu yatiu bahwa segala ilmu yang diberikan oleh Ratu Bukit Kemukus bersifat tipuan belaka. Hanya bisa bertahan selama dua puluh satu hari. Setelah itu ilmunya akan hilang sendirinya...."

Warok Ijo menatap Tunggoro beberapa ketika lalu bertanya "Kau tahu sudah berapa lama Jarotomo memiliki ilmu kebal itu....?"

"Saya tidak tahu Warok. Tapi dugaan saya paling lama baru beberapa hari sebelum kita menjarah desa itu"

Warok Ijo coba menghitung-hitung. "Kalau begitu, paling lama bangsat itu masih akan menguasai ilmu kebalnya sampai satu minggu dimuka. Setelah itu....." Warok Ijo sapukan jari telunjuknya di atas leher sebagai tanda penyembelihan! Lalu dia tertawa gelak-gelak.

"Tunggoro, minggu muka kau dan adikmu Tunggiri ikut aku. Kita akan menyelinap ke tempat kediaman kepala desa. Kalian akan saksikan apa yang akan kulakukan terhadap bangsat bernama Jarotomo itu!

Tiga ekor kuda yang dipacu kencang hampir saja melabrak Pendekar 212 Wiro Sableng yang tengah berjalan memasuki desa Kenconowengi. Pendekar ini memaki habis-habisan.

"Malam-malam buta begini, tiga orang menunggang kuda seperti dikejar setan. Aku menaruh curiga. Jangan-jangan mereka orang-orang yang hendak berbuat kejahatan.....Apa salahnya kalau aku coba menguntit....."

Berpikir sampai disitu, Wiro segera kerahkan ilmu lari "kaki angin" yang didapatnya dari sang guru Eyang Sinto Gendeng di puncak Gunung Gede. Meskipun tak mungkin baginya untuk lari menyamai kecepatan kuda namun tiga penunggang kuda itu masih sanggup dikuntitnya dari jarak tertentu dan tak akan lepas dari pengejarannya.

Ternyata orang-orang itu menuju ke pinggiran desa sebelah timur, melewati perkebunan kelapa hingga akhirnya sampai di sebuah gubuk.

"Ini rumah keparat itu?!" tanya penunggang kuda sebelah depan yang bukan lain adalah Warok Ijo.

Tunggoro mengengguk.

"Jebol pintu depannya, suruh Jarotomo keluar. Jika dia tidak mau keluar bakar gubuk itu!"

Tunggoro memberi isyarat pada adiknya yaitu Tunggiri agar mengikuti. Adik kakak ini begitu turun dari kudanya segera melangkah cepat mendekati gubuk yang dari luar tampak sunyi dan gelap.

"Jarotomo! Kepala desa Kenconowengi kepaat! Lekas keluar! Kami orang-orang Warok Ijo ingin bicara denganmu!" berteriak Tunggoro.

Tak ada yang menjawab. Tak ada suara apapun dari dalam gubuk. Tunggoro berpaling pada Warok Ijo. Sang Warok anggukkan kepala. Melihat anggukan ini Tunggoro langsung menendang pintu gubuk sehingga hancur berantakan. Bersama adiknya dia menyelidiki ke dalam. Tak selang berapa lama Tunggiri muncul di pintu, memberi tanda pada Warok Ijo bahwa orang yang mereka cari tidak ada di gubuk itu.

"Bakar gubuk busuk itu!" berteriak Warok Ijo.

Tunggiri yang memang sudah menyiapkan sebuah obor segera menyalakan obor itu lalu melemparkannya ke atas atap gubuk. Karena atap gubuk terbuat dari rumbia yang sudah sangat kering dan lapuk, maka dalam sekejap saja gubuk kecil itu sudah dilamun api. Dalam waktu singkat bangunan itu telah berubah jadi reruntuhan hitam yang nyaris hampir rata dengan tanah!.

"Bagus! Sekarang keparat itu akan keleleran di jalan-jalan. Akan lebih mudah bagi kita menemukannya! Anak-anak tinggalkan tempat ini!" berseru Warok Ijo. Tunggoro dan Tunggiri segera melangkah kembali ke kuda masing-masing, namun sebelum keduanya sempat naik ke atas kuda masing-masing, satu suara menegur dari kegelapan.

"Kalian telah membakar gubukku! Apa kalian sangka bisa pergi seenaknya?! Tinggalkan lengan kanan masing-masing di tempat ini!"

Tunggoro dan adiknya tersentak kaget, cepat berpaling ke kiri. Sesosok tubuh melangkah keluar dari gelap bayangan pohon. Ternyata adalah Jarotomo, pemuda berambut gondrong yang kini jadi kepala desa Kenconowengi.

Melihat siapa yang muncul ini Warok Ijo segera melompat turun dari kudanya.

"Jadi inilah kepala desa Kenconowengi yang baru! Luar biasa. Masih beini muda, berilmu tinggi tapi nyawa hanya tinggal sejengkal! Ha... ha... ha....! Kau tahu, kami sengja membakar gubuk busuk itu karena tidak pantas untuk tempat kediaman seorang kepala desa sepertimu! Kami akan memberikan tempat kediaman baru bagimu Jarotomo! Yaitu liang kubur!" Warok Ijo dan dua anak buahnya tertawa gelak-gelak.

"Pelajaranku tempo hari rupanya masih belum cukup. Majulah lebih dekat jika ingin pelajaran tambahan!" berkata Jarotomo penuh percaya diri.

Warok Ijo meludah ke tanah.

"Pemuda takabur! Sudah mau mampus masih bicara sombong!" Warok Ijo yang masih menyangsikan apakah ilmu kebal pemuda itu benarpbenar sudah lenyap karena telah lewat dua puluh satu hari tidak mau turun tangan lebih dahulu. Karena itu dia memberi isyarat pada kedua anak buahnya agar segera menyerang Jarotomo.

Tunggoro dan Tunggiri, sesuai dengan yang telah diatur sebelumnya melancarkan serangan dengan mengandalkan tangan kosong. Dua adik kakak ini menghantam dangan jotosan tangan kanan, satu mengarah ke muka pemuda yang baru saja diangkat jadi kepala desa itu sedang saunya lagi menggebuk ke arah perut.

Jarotomo menyeringai. Dia tegak tak bergerak penuh percaya diri akan ilmu kebal yang dimilikinya, sengaja menunggu datangnya serangan.

Buukkk!

Buukkk!

Dua jotosan mendarat di sasaran masing-masing dengan telak! Terjadilah hal yang tidak dapat dipercaya oleh Jarotomo. Pemuda ini menjerit kesakitan. Kepalanya terbanting ke belakang begitu jotosan Tunggoro mendarat di pipi kanannya. Selagi terjajar, perutnya sudah dilabrak tinju Tunggiri hingga kalau tadi tubuhnya terhuyung ke belakang, kini malah terlipat ke depan!

Rasa sakit dua jotosan itu mungkin masih sanggup ditahan oleh Jarotomo walaupun dia sempat keluarkan suara jeritan. Namun yang membuatnya jadi kucurkan keringat dingin adalah mendapatkan kenyataan bahwa ilmu kebalnya tidak bekrja hingga muka dan perutnya berhasil dihantam lawan!

Tidak percaya kalau ilmu kebalnya memang tidak ada lagi, Jarotomo melompat ke depan mendahului menyerang lawan. Yang diarahnya adalah Tunggiri. Kepalannya mendesing ke arah kepala anak buah Warok Ijo tiu. Namun setengah jalan serangannya itu dapat ditangkis, malah kini untuk ke iga kalinya jotosan balasan menyodok ulu hatinya hingga Jarotomo keluarkan suara seperi orang muntah dan kembali tubuhnya terjajar!

Pucatlah paras Jarotomo.

"Celaka! Apa yang terjadi dengan diriku?! Mengapa ilmu kebalku tidak bekerja?! Aku tidak merasa melanggar pantangan!"

Di hadapannya Tunggoro dan Tunggiri sudah siap untuk menyerbu. Saat itu Warok Ijo telah melompat turun dari kudanya seraya berkata "Anak-anak! Mundur! Biar aku yang membereskan cecurut satu ini!"

Sreet!

Belum apa-apa Warok Ijo sudah cabut goloknya, pertanda bahwa dia memang ingin membunuh Jarotomo secepat yang bisa dilakukannya!



Warok Ijo melangkah maju mendekati pemuda yang bakal dijadikan mangsa

golok besarnya sementara Jarotomo mundur dengan ketakutan. Pemuda ini sudah bersiap-siap utnuk melarikan diri. Namun belum sempat dia memutar tubuh, kepala gerombolan itu sudah menggerakkan tangan kanannya. Golok besar berkelebat ke arah pinggang.

Jarotomo berteriak "Jangan! Jangan bunuh aku! Aku mohon ampunmu Warok Ijo!"

Rupanya Warok Ijo kini sengaja hendak mempermaikna calon korbannya lebih dahulu. Sambil menyeringai dia berkaa "Manusia jagoan! Ayo perlihatkan kehebatan ilmumu pada Warok Ijo! Kenapa takut?! Bukankah kau punya ilmu kebal?!"

"Ampun Warok! Aku tidak puinya ilmu apa-apa.....!"

Warok Ijo tertawa mengekeh. "Kalau kau memang minta ampun ulurkan ke dua tanganmu dan berlututlah di hadapanku!"

Percaya bahwa orang memang hendak mengampuninya, dengan tubuh menggigil dan kuyup oleh keringat dingin, Jarotomo jauhkan diri berlutut lalu ulurkan kedua tangan seperti sikap orang sendang menyembah.

"Bagus! Ini pengampunan unutkmu!"

Crass!

Jarotomo menjerit setinggi langit ketika pergelangan tangan kanannya dibabat putus. Darah menyembur dari kutungan tangan itu! Warok Ijo tertawa gelak-gelak.

"Ulurkan tangamu satu lagi Jarotomo!"

"Tidak! Jangan Warok! Jangan.....!"

"Kalau kautak mau berikan tangan, lehermu gantinya! Pembalasanku tidak tanggung-tanggung! Kau telah membunuh beberpa anak buahku!" ujar Warok Ijo. Rahangnya mengggembung. Goloknya kini dibabatkan ke arah batang leher Jarotomo. Pemuda tak berdaya ini coba mengelakkan sambaran golok dengan jatuhkan diri ke tanah. Dia berhasil lolos dari sambaran senjata kepala gerombolan itu, namun beitu jatuhnya di tanah tendangan kaki kanan sang Warok menghantam bahunya. Terdengar suara kraak tanda patahnya tulang bahu kepala desa Kenconowengi itu.

Jarotomo terkapar dan menggerung kesakitan. Dia tak bisa berbuat apapun ketika kemudian Warok Ijo mendatangi dan menginjak dadanya. Dia melihat ujung golok ditusukkan dengan deras ke arah perutnya. Jarotomo hanya mampu menjerit. Lalu crass!

Golok di tangan Warok Ijo menembus perut. Tapi bukan perut Jarotomo. Melainkan perut sesosok tubuh yang tiba-tiba saja melayang dari arah kegelapan seperti dilemparkan. Lalu terdengar suara jeritan. Jeritan itu adalah jeritan Tunggoro!

Di atas tubuh Jarotomo kini menggeletak membelintang sosok tubuh Tunggoro. Perutnya ambrol, darah mengucur dan ususnya melembung keluar! Jaroomo menjerit ngeri ketika darah anggota rampok itu panas dan amis membasahi tubuhnya yang terhimpit di sebelah bawah. Akan Warok Ijo sendiri kagetnya bukan olah-olah! "Bansat keparat! Apa yang terjadi ini!" teriaknya memaki. "Tunggoro! Kau.....!"

Warok Ijo tarik tangan kiri Tunggoro hingga orang itu kini terbujur di tanah. Tunggiri saat itu telah menubruk kakaknya dan keluarkan teriakan tegang!

"Warok! Kenapa kau membunuh anak buah sendiri?! Mengapa kau bunuh kakakku?!" Tunggiri berteriak dan tampak kalap. Dia melompat hendak mencekik Warok Ijo.Kepala gerombolan ini tentu saja jadi naik pitam dan hantamkan gagang goloknya ke kepala Tunggiri hingga anak buahnya ini melintir dan roboh ke tanah.

"Tunggoro!" bentak Warok Ijo. "Sebelum kau mampus lekas katakan mengapa kau berusaha menolong pemuda keparat itu hingga tubuhmu yang tertambus golokku!"

"A.. aku...... Aduh! A..... aku bukan men.....menolong. Seseorang melemparkanku ke arahmu. Tep.... Tepat pada saat kau men..... menusukkan golok. Aku...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.99
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia