Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

GEROBAK sapi itu bergerak perlahan. Yang menjadi kusirnya seorang lelaki tua berjanggut dan berambut putih duduk tenang-tenang saja karena dia memang tidak terburu-buru. Di sampingnya duduk seorang dara. Rambutnya yang hitam pendek dikuncir ke atas hingga wajahnya yang jelita tampak lucu. Gadis ini adalah anak tunggal si orang tua berjanggut putih. Dara ini memang ber-sifat riang ceria. Sepanjang perjalanan dia selalu menyanyi kecil sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya yang memegang sebuah tongkat bambu. Melihat pakaian ringkas warna putih yang dikenakan ayah dan anak ini jelas keduanya adalah orang-orang persilatan.

"Mintari anakku," berkata lelaki tua di atas gerobak pada anak gadisnya. "Kalau sampai di tempat pertemuan para tokoh silat di Selatan nanti, jangan sekali-kali kau berlaku sembrono. Kau duduk saja di sampingku. Jangan bicara kalau tidak diminta. Ingat, di situ juga ada Datuk Alam Rajo Di Langit, tokoh silat dari tanah Minang yang akan membawamu ke Pulau Andalas. Semua ilmu ke-pandaianku sudah kuwariskan padamu. Selanjutnya Datuk Alam yang akan membawamu ke tanah Minang dan menggemblengmu di sana. Ingat juga, Datuk itu adalah orang tua yang sangat saleh. Karena itu selama di sana jangan sekali-kali kau meninggalkan sembahyang."

Gadis bernama Mintari itu sesaat terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Tak lama kemudian kembali dia menyanyi-nyanyi sambil membolang-balingkan tongkat bambunya.

"Anakku, apakah kau tidak akan mengatakan sesuatu?"

bertanya sang ayah.

Mintari hentikan nyanyiannya, "Saya ada satu per-tanyaan ayah," ucapnya.

"Katakanlah anakku."

"Setahu saya di tanah Jawa ini terdapat banyak sekali tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi. Tidak terhitung pula orang-orang sakti. Lalu mengapa ayah menginginkan saya pergi jauh-jauh ke negeri Minang mengikuti Datuk Alam Rajo kalau hanya untuk menempa ilmu silat dan kesakti-an?"

Sang ayah tersenyum mendengar ucapan anak gadis-nya itu. Setelah mendehem beberapa kali diapun men-jawab. "Pernahkah kau mendengar ujar-ujar yang mengata-kan: Jauh berjalan banyak yang dilihat. Menuntut ilmu kalau perlu sampai di Negeri Cina. Memang ayah tahu tidak sedikit orang pandai di tanah Jawa ini. Tapi tanah Minang juga dikenal gudang segala ilmu. Di sana kau dapat pula mendalami ilmu agama. Dan mengenai Datuk Alam Rajo jangan kau anggap enteng dia..."

"Harap maafkan, saya tidak menganggap enteng orang tua satu itu ayah. Jangan ayah salah sangka."

"Lalu mengapa kau kelihatannya tidak suka pergi bersamanya?"

"Karena sebenarnya saya ingin dekat dengan ayah," jawab Mintari.

Sang ayah tertawa. "Kau bukan anak kecil lagi. Umurmu sudah sembilan belas tahun kalau ayah tidak salah ingat. Ayah melepasmu dengan segala keikhlasan."

"Saya tahu ayah," kata Mintari pula. Lalu dipegangnya tangan ayahnya seraya berkata. "Kalau saya tidak ada, siapa yang mengurus ayah?"

Ucapan anak gadisnya itu membuat hati si orang tua tersentuh. Memang sejak ibu Mintari meninggal dunia enam tahun yang lalu, anak gadisnya itulah yang mengurus dirinya. Setelah diam sesaat orang tua ini berkata. "Kalau kau pergi dan sanggup mengurus diri sendiri, masakan aku tua bangka begini tidak sanggup berbuat yang sama...?"

Baru saja ayah Mintari berkata begitu tiba-tiba ter-dengar suara tawa mengekeh menyusul ucapan lantang.

"Kau betul Ki Pamilin! Orang tua sepertimu harus dapat mengurus diri sendiri! Hari ini aku mau lihat apakah kau benar-benar bisa mengurus diri sendiri!"

Ayah dan anak itu sama-sama terkejut dan memandang berkeliling.

"Ayah, ada suara tapi tak kelihatan orangnya!" bisik Mintari.

Ki Pamilin, ayah Mintari berusaha bersikap tenang tapi waspada. Dia tahu kalau ada seorang berkepandaian tinggi berada di tempat itu. Manusia yang muncul seperti itu biasa-nya tidak membawa niat baik.

"Tenang saja Mintari. Tak ada yang perlu ditakutkan." balas berbisik Ki Pamilin.

Tiba-tiba ada suara angin berdesir disertai berkelebat-nya satu bayangan. Tahu-tahu sepuluh langkah di tengah jalan di hadapan mereka tegak berdiri seorang berpakaian dan berdestar serba biru. Bajunya tidak berkancing hingga dadanya yang bidang berotot tersingkap lebar. Ki Pamilin hentikan gerobak sapinya.

Yang tegak menghadang di tengah jalan itu ternyata seorang pemuda berparas gagah. Hal ini membuat hati si orang tua agak tenteram sedikit. Lain halnya dengan Mintari. Gadis ini tidak suka melihat perjalanannya dihadang oleh seorang tak dikenal yang bersikap sombong.

"Anak muda, siapakah dirimu. Apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Ki Pamilin.

"Aku sudah lama mendengar nama besarmu yang menyandang gelar Pendekar Tangan Baja. Hari ini aku ingin menjajaki sampai dimana kehebatan sepasang tanganmu. Buktikan bahwa kau memang orang tua yang bisa meng-urus diri sendiri!" Habis berkata begitu pemuda ini meman-dang pada Mintari. Sepasang bola matanya membesar dan membersitkan sinar aneh. Hati Ki Pamilin mendadak sontak jadi berdebar. Pengalaman hidup membuat dia mengenali arti cahaya yang keluar dari kedua mata pemuda itu.

"Anak muda, hidup bukan mencari lantai terjungkat. Ilmu kepandaian bukan untuk membuat silang sengketa."

"Orang tua, kata-katamu enak di dengar. Apakah itu berarti kau tidak punya nyali untuk melayaniku barang sejurus dua jurus?"

Mintari yang sudah sejak tadi merasa jengkel melihat tingkah dan mendengar ucapan-ucapan pemuda itu membuka mulut bersuara keras.

"Kami masih ada keperluan yang lebih penting! Mana punya waktu melayani pemuda sombong sepertimu!"

Pemuda di tengah jalan tertawa gelak-gelak. Ditanggal-kannya destar birunya. Lalu destar ini, dikipas-kipaskannya. Saat itu sinar matahari memancar terik dan udara memang panas.

"Adik, suaramu merdu dan wajahmu secantik bidadari. Bolehkah aku tahu namamu? Tadipun aku sebetulnya sudah kagum mendengar suara nyanyianmu."

Mintari keluarkan suara mendengus dari hidungnya. "Ketepilah. Kami mau lewat!"

"Adik cantik, percakapan kita bisa diteruskan kemudian. Aku ingin mendengar jawaban ayahmu. Apakah dia se-orang pengecut?"

"Ayahku bukan seorang pengecut! Dia hanya tidak mau mengotori tangan melayani kadal hutan macammu!" jawab Mintari.

Mendengar kata-kata itu kembali pemuda di tengah jalan tertawa bergelak. Tetapi dalam tertawa sepasang matanya tampak seperti dikobari api. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat lenyap lalu terdengar suara brett!

Mintari terpekik. Ki Pamilin berteriak keras. Orang tua ini marah sekali. Langsung dia melompat turun dari atas gerobak. Tangan kanannya menghantam ke arah dada si pemuda. Yang diserang sunggingkan senyum mengejek dan angkat tangan ngan kirinya untuk menangkis.

Buuukk!

Ki Pamilin yang memang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Tangan Baja terjajar dua langkah ke belakang. Lengan kanannya mendenyut sakit dan tampak merah. Wajah orang tua ini jadi berubah. Sebagai seorang tokoh silat yang disegani bukan sembarang orang bisa membuat-nya terjajar seperti itu.

"Pemuda kurang ajar! Siapa kau sebenarnya, dan apa maumu?!" sentak Ki Pamilin.

Si pemuda kenakan destarnya kembali. Sambil ber-kacak pinggang dia berkata. "Namaku Kamandaka. Orang mengenalku dengan panggilan Pendekar Tangan Halilin-tar!"

Mendengar nama dan gelar itu kembali paras Ki Pamilin berubah. Dia sempat mundur satu langkah. Yang terpikir saat itu adalah keselamatan anak gadisnya.

Di depannya pemuda yang mengaku bernama Kaman-daka bergelar Pendekar Tangan Halilintar lagi-lagi sung-gingkan senyum sinis.

"Pendekar Tangan Baja berhadapan dengan Pendekar Tangan Halilintar! Bukan ini satu pertemuan yang luar biasa?!"

***2DI ATAS gerobak Mintari rapatkan baju putihnya yang robek akibat tarikan kurang ajar Kamandaka. Dengan tubuh gemetar oleh amarah gadis ini me-lompat dari gerobak itu. Dia bermaksud hendak menyerang si pemuda. Tetapi hatinya jadi bimbang ketika melihat bagaimana ayahnya yang memiliki kepandaian begitu tinggi tampak terjajar dalam bentrokan pukulan Tadi.

"Orang muda, kalau kau benar Kamandaka manusia terkutuk yang dicari-cari di tujuh penjuru angin itu, maka ketahuilah hari ini hari terakhir bagimu melihat dunia!"

"Ha ...ha! Ternyata kau bukan seekor macan kertas. Kalau kau memang punya nyali mari kita teruskan berbincang-bincang dengan tangan dan kaki. Namun sebelumnya aku ingin memastikan dulu agar anak gadismu ini tidak pergi ke mana-mana!" Habis berkata begitu Kamandaka melompat ke hadapan Mintari dan menyergap dengan satu totokan.

Dari samping Ki Pamilin datang menyambar dengan pukulan ke arah kepala Kamandaka hingga pemuda ini tidak sempat meneruskan totokannya ke tubuh si gadis. Serangan yang dilancarkan Ki Pamilin mengandung tenaga dalam tinggi, mengeluarkan suara bersiur menggidikkan. Namun dengan tenang Kamandaka mengelak. Gerakannya mengelak tampak aneh. Tubuhnya berputar membelakangi lawan. Lalu tiba-tiba kaki kanannya mencelat ke atas seperti tendangan seekor kuda. Kalau Ki Pamilin tidak bertindak waspada tendangan dahsyat itu pasti akan menghantam rahang kanannya!

Tendangan yang melesat itu kini mendarat pada kayu besar yang jadi tambatan sapi penarik. Terdengar suara berderak. Kayu itu pecah berantakan mengejutkan sapi penarik gerobak. Binatang ini sempat lari beberapa belas langkah lalu berhenti dekat kelokan jalan sambil tiada henti mengibas-kibaskan ekornya.

Dengan rahang menggembung Ki Pamilin lancarkan serangan. Tubuhnya seperti merunduk. Kedua tangannya diulurkan ke depan. Kamandaka melihat bagaimana sepasang tangan itu kini berubah menjadi keputih-putihan.

"Ah, kau mengeluarkan ilmu kesaktian Tangan Baja!" seru Kamandaka. Memang inilah yang ditunggu-tunggunya. Sudah sejak lama dia mencari-cari orang tua bergelar Pendekar Tangan Baja ini hanya sekedar untuk menjajal ilmu kepandaiannya. Kini bukan saja dia menemul orang yang dicarinya, malah orang ini muncul membawa serta anak gadisnya yang cantik jelita.

Kamandaka menunggu dengan kedua kaki di-renggangkan. Sepasang lengan di silang di depan dada. Ketika kedua lengan ini saling digosokkan maka kelihatan jelas warnanya berubah menjadi hitam. Diam-diam Ki Pamilin menjadi terkesiap jnga melihat hal ini. Sejak lama dia sudah mendengar akan kehebatan dan keganasan Pendekar Tangan Halilintar. Dan selama ini belum ada satu lawan atau seorang tokoh silatpun yang mampu menghadapi pukulan halilintar itu. Karenanya si orang tua memutuskan untuk menggempur Kamandaka lebih dulu.

Didahului dengan satu bentakan keras Ki Pamilin dorong-kan kedua tangannya. Dorongan ini perlahan saja. Tetapi apa yang terjadi sungguh dahsyat!

Dari kedua tangan Ki Pamilin seperti menyembur keluar dua jalur sinar putih. Inilah sinar baja yang mengandung hawa panas. Meskipun hanya berbentuk sinar tetapi ke-kuatan dan kerasnya tidak beda seperti batangan baja!

Wus!

Wus!

Dua sinar menyambar ke arah kepala dan dada Kamandaka.

"Bagus!" Seru si pemuda memuji tapi sebenarnya dia jelas hendak mengejek dan memandang rendah lawan. Begitu dua sinar baja menderu ke depan Kamandaka melompat ke samping. Dari samping dia dorongkan telapak tangan kanannya.

Dua sinar baja laksana dua batangan terdorong ke samping. Menghantam sebatang pohon jati. Pohonini laksana ditembus tombak raksasa, berderak patah lalu tumbang dengan suara menggemuruh.

Ki Pamilin merasakan dadanya seperti terbakar karena geram tetapi bersamaan dengan itu tengkuknya menjadi dingin. Selama ini belum pernah dia langsung menyerang musuh dengan pukulan Tangan Baja kalau bukan musuh yang benar-benar tangguh. Sekali dia mengeluarkan se-rangan tersebut tak pernah ada lawan yang mampu menghindar dari kematian. Kini dia telah melakukan hal itu dan ternyata lawan dengan mudah dapat menghindarinya!

"Luar biasa, dari mana anak semuda ini punya kepandaian begini hebat!" kata Ki Pamilin dalam hati. Diam-diam dia merasa malu. Selama ini dia telah menyandang nama besar sebagai Pendekar Tangan Baja dalam dunia persilatan. Ter-nyata hari ini dia tersandung oleh seorang yang usianya hanya sepertiga usianya! Dengan cepat Ki Pamilin membalik. Kalau tadi dia hanya mengerahkan setengah bagian tenaga datam yang dimiliki-nya, kini dia mengalirkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua lengannya hingga sepasang tangannya menjadi ber-kilat.

"Bagus!" Kamandaka memuji. "Kalau sudah seluruh tenaga dalammu kau kerahkan, tunggu apa lagi! Ayo hantamlah!"

"Pemuda ini sombong sekali. Kudengar kejahatan yang dilakukannya setinggi langit sedalam lautan! Kalau aku tidak membunuhnya hari ini biar aku mengucilkan diri dari dunia persilatan untuk selama-lamanya!" Lalu dengan rahang terkatup rapat Ki Pamilin dorongkan kedua tangannya ke arah Kamandaka. Kini dua larik sinar baja yang melesat keluar dari kedua tanangan orang tua itu tampak lebih besar dan lebih menyilaukan. Hawa panas ikut menyambart

Ketika Ki Pamilin mengalirkan tenaga dalamnya pada kedua tangan, diam-diam Kamandaka telah pula mengatur hawa sakti yang berpusat di perutnya, lalu menyalurkannya pada kedua tangannya. Sambil menyalurkan hawa sakti Kamandaka menyilangkan kedua lengannya di depan dada lalu naik ke atas di depan kepala. Kedua tangan pemuda ini tampak berubah menjadi hitam. Tiba-tiba dua lengan yang bersilang itu membuka lalu dihantamkan ke depan. Terdengar suara meledak seperti suara halilintar membelah langit. Tanah bergoncang. Pepohonan berderak-derak seperti hendak tumbang. Satu gelombang sinar hitam menggebubu ke depan.

Dua sinar baja pukulan sakti Ki Pamilin laksana teng-gelam ditelan gelombang hitam yang dahsyat itu. Orang tua ini tersentak kaget. Tubuhnya terdorong keras. Dia ber-usaha bertahan sambil dorongkan lagi kedua tangannya dan merapal aji kesaktian lain untuk memperkuat diri.

Kamandaka tertawa mengekeh.

"Keluarkan seluruh ilmumu Pendekar Tangan Baja!" katanya. Lalu kedua lengannya yang masih ada di depan kepala disilangkan kembali. Saat itu juga terdengar suara ledakan dahsyat. Langit laksana hendak runtuh. Tanah seperti terbongkar. Ki Pamilin lenyap dalam buntalan sinar hitam. Lalu terdengar suara orang tua itu menjerit.

Tubuh orang tua itu terlempar sampai satu tombak. Mukanya tampak putih laksana kain kafan tapi anehnya perlahan-lahan berubah menjadi hitam, pertanda bahwa pukulan sakti yang dilepaskan Kamandaka selain dialas dengan kekuatan tenaga dalam luar biasa juga mengan-dung racun sangat jahat.

"Ayah!"

Mintari terpekik melihat apa yang terjadi dengan ayah-nya. Gadis ini memburu. Kamandaka cepat ulurkan tangan menyambar pinggang si gadis.

"Manusia jahanam!" teriak Mintari. Dia berbalik dan tongkat bambu di tangan kanannya dihunjamkan ke perut Kamandaka. Baju biru Kamandaka tampak berlobang besar. Tetapi hebatnya perutnya tidak cidera sedikitpun. Malah Mintari merasa ada satu dorongan keras ketika ujung tongkat menyentuh perut pemuda itu yang membuat tangannya bergetar.

"Gadis hebat!" seru Kamandaka. "Tunjukan kehebatan-mu kalau nanti kau berada dalam pelukanku!"

Mendidih amarah Mintari mendengar kata-kata itu. Dia membalik dan kini tongkatnya menusuk kuat-kuat ke mulut si pemuda. Sekali ini Kamandaka tidak mau berlaku ayal lagi. Perutnya bisa kebal dan sanggup menahan tusukan tongkat bambu ataupun senjata tajam. Tetapi pada kedua matanya sama sekali tidak ada kekebalan. Selain itu dia tahu bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi berkat gemblengan ayahnya.

Kamandaka cepat menggeser kedua kakinya sambil miringkan kepalanya ke kiri. Bersamaan dengan itu tangan kanannya melesat ke atas menangkap ujung tongkat. Begitu ujung tongkat berada dalam genggamannya, Kamandaka dengan cepat menariknya. Karena tidak sempat melepaskan tongkat itu maka Mintari ikut tertarik ke depan. Sebelum dia bisa berbuat sesuatu apa tahu-tahu dia sudah berada dalam pelukan Kamandaka. Malah satu ciuman si pemuda sempat menyambar pipinya!

"Jahanam kurang ajarl" Makian itu disertai gerakan mencakar ke muka Kamandaka. Tapi Mintari kalah cepat. Kamandaka lebih cepat menotok jalan darahnya hingga tubuh si gadis kaku tak bisa bergerak lagi. Hanya suaranya saja terdengar memaki tak putus-putusnya.

Sambil tertawa-tawa Kamandaka memanggul tubuh Mintari. Salah satu tangannya mengelus-elus tubuh bagian bawah belakang gadis itu sehingga semakin keras kutuk serapah keluar dari mulut Mintari.

"Sekarang kau memaki diriku. Tapi lihat sebentar lagi kau akan tergila-gila padaku. Berpisah sesaatpun kau tak akan mau!" berkata Kamandaka sambil membawa Mintari ke arah gerobak sapi. Tubuh gadis ini dibaringkannya di lantai gerobak sebelah belakang.

Dari dalam mulut Ki Pamilin tampak banyak darah mengalir. Nafasnya sesak dan dari tenggorokannya ter-dengar suara seperti ayam dipotong. Samar-samar dia melihat Kamandaka memanggul tubuh Mintari ke arah gerobak.

"Ya Tuhan, tolong anakku. Selamatkan dia..." orang tua ini hanya bisa memohon dalam hati. Tangannya coba diangkat untuk melepaskan pukulan ke arah si pemuda. Tetapi kekuatannya sudah punah. Pemandangannya ber-tambah gelap. Pada saat jantungnya berhenti berdetak, nyawanyapun lepas meninggalkan jazad.

Di atas gerobak Kamandaka berlutut di samping tubuh Mintari. Mulutnya menyeringai, nafasnya menderu diburu nafsu. Tangan kanannya bergerak. Terdengar suara pakai-an robek beberapa kali.

"Manusia jahanaml Iblis! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Mintari.

"Nanti juga akan kulepaskani Sekarang biar kita bersenang-senang dulu!"

"Lebih baik kau bunuh diriku!" teriak Mintari lalu dia menjerit berulang kali.

Suara jeritan gadis yang terancam kehonmatannya itu bukan membuat hiba apalagi takut dalam diri Kamandaka. Malah pemuda ini semakin bernafsu. Dibukanya baju dan celana birunya. Kedua tangannya meraba kian kemari. Ketika dia siap untuk melakukan kebejatan itu tiba-tiba di belakangnya terdengar suara derap kaki kuda. Kamandaka menoleh ke belakang.

Dua orang penunggang kuda berseragam perajurit Kerajaan mendatangi dengan cepat. Melihat ada gerobak berhenti di tengah jalan dan ada suara perempuan men-jerit dari atas gerobak itu, kedua perajurit ini hentikan kuda masing-masing di samping gerobak.

Tentu saja keduanya terkejut melihat pemandangan di dalam gerobak terbuka itu.

"Hail Perbuatan gila apa yang kau lakukan ini?!" salah seorang perajurit membentak.

"Siang bolong! Di tengah jalan1" Perajurit yang satu lagi ikut menghardik.

Melihat munculnya dua orang perajurit Kerajaan ini Mintari merasa dirinya pasti akan mendapat pertolongan. Maka diapun berkata. "Tolong. Tolong selamatkan diriku dari manusia durjana ini!"

Dua perajurit pandangi wajah cantik dan tubuh mulus yang menggeletak di atas gerobak itu. Mau tak mau keduanya jadi tercekat dan terangsang. Yang satu berulang kali membasahi bibirnya dengan ujung lidah. Sedang yang satu lagi memandang dengan mata tak berkesip. Yang ter-akhir ini berpaling pada Kamandaka.

"Kau tahu kalau kau telah membuat satu kesalahan besar yang bisa membuat kepalamu dijirat tali gantungan?"

Kamandaka diam saja. Dia sudah merasa kalau kedua perajurit itu mulai dikobari nafsu. Benar saja karena yang satu kemudian berkata.

"Sobat, jika kau mau membagi-bagi rejeki besar ini pada kami berdua, kami tidak akan menangkapmu atau mem-buat perkara!"

Kamandaka menyeringai. "Kalau kalian memang berminat aku bersedia memenuhi permintaan kalian. Malah kalau mau kalian boleh bersenang-senang lebih dulu. Naiklah ke atas gerobak ini. Aku mengalah tidak jadi apa."

Mendengar kata-kata Kamandaka itu, dua perajurit tadi tanpa tunggu lebih lama segera turun dari kuda dan siap naik ke atas kereta.

"Hus! Tunggu dulu!" kata Kamandaka. "Sebelum naik lebih baik kalian tanggalkan dulu semua pakaian yang melekat di tubuh kalian Gerobak ini sempit. Akan sulit membuka pakaian di sini!"

"Kau benar!" kata salah seorang perajurit. Lalu tanpa malu-malu dia segera menanggalkan pakaiannya. Kawan-nya tidak mau ketinggalan, segera pula melakukan hal yang sama.

"Nah sekarang kalian sudah siap! Ayo lekas naik ke atas gerobak. Aku biar menunggu di dekat pohon sana sambil berjaga jaga," kata Kamandaka pula.

Dua orang perajurit yang tanpa pakaian itu naik ke atas gerobak. Namun belum sempat kaki mereka menginjak lantai kereta, kedua tangan Kamandaka bergerak me-mukul. Terdengar suara bergedebuk dua kali. Kedua perajurit itu keluarkan jeritan hampir berbarengan. Tubuh mereka terbanting ke tanah. Keduanya mengerang seketika lalu tak berkutik lagi. Mereka mati dengan muka remuk.

Kamandaka meludah ke tanah. Dia berpaling pada Mintari yang tergeletak dengan muka pucat. Kembali gadis ini memekik keras. Namun sekali ini tak ada sesuatupun yang bisa menghalangi perbuatan terkutuk Kamandaka

***3DI LAMPING bukit Pendekar 212 Wiro Sableng hentikan larinya. Sejenak dia tegak berdiam diri lalu memandang ke bawah bukit. Lapat-lapat dia men-dengar suara ringkikan kuda jauh dibawah sana. Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini dapat mem-bedakan mana ringkikan kuda biasa dan mana yang tidak biasa. Segera dia menuruni bukit ke arah terdengarnya suara ringkikan kuda itu. Dia sengaja mengambil jalan me-mintas walau harus menempuh bagian bukit yang dirapati pepohonan serta semak belukar. Ketika akhirnya Pendekar ini sampai di kaki bukit, dia menemui sebuah jalan dan me-lihat ada bekasbekas jejak roda di tanah.

Wiro ikuti jejak-jejak roda itu. Belum lama berjalan langkahnya mendadak terhenti. Di kejauhan, dekat jalan yang menikung tampak sebuah gerobak sapi. Di samping kiri gerobak kelihatan dua sosok mayat dengan kepala pecah dan tubuh telanjang bulat. Dua helai pakaian seragam perajurit kelihatan tercampak di tanah. Tak jauh dari situ ada dua ekor kuda. Salah seekor diantaranya meringkik tiada henti. Wiro meneruskan langkahnya. Dia melihat sosok tubuh ke tiga, menggeletak dekat sebatang pohon yang tumbang. Sang pendekar kerenyitkan kening dan garuk-garuk kepalanya. Sosok tubuh ketiga ini tak bisa dikenali. Sekujur badan dan pakaiannya berwarna hitam seolah-olah baru saja keluar dari lumpur jelaga.

"Ini bukan warna hitam biasa. Orang ini menemui ajal akibat racun jahat..." membatin murid Sinto Gendeng. Saat itulah dia mendengar suara erangan halus. Dia berpaling ke arah gerobak sapi, tadi gerobak itu dilewatinya begitu saja. Suara erangan itu justru datang dari arah gerobak. Wiro cepat mendekati gerobak, melompat ke atasnya. Kedua kaki Pendekar 212 laksana dipantek ke lantai gerobak. Matanya hampir terpejam tak kuasa memandang.

"Tolong... tolong..." Gadis yang meoggeletak di lantai gerobak keluarkan suara kelu. Kedua matanya hanya membuka sedikit. Sekujur tubuhnya terutama di bagian leher dan dada penuh dengan luka-luka bekas gigitan.

Sambil membalikkan tubuh Wiro membuka bajunya. Dengan pakaian ini ditutupnya tubuh Mintari. Tapi baju itu tidak dapat menutupi sekujur tubuh gadis yang malang itu. Wiro memandang seputar gerobak. Ada sebuah buntalan di bawah tempat duduk kereta sebelah depan. Ketika di-periksanya dia menemukan sehelai kain warna kuning yang cukup lebar. Dengan kain ini ditutupinya tubuh gadis itu sedang bajunya dipakainya kernbali. Lalu Wiro mem-bawa gerobak itu ke tempat yang teduh.

"Saudari, dapat kau menceritakan apa yang terjadi?" Jawaban yang keluar dari mulut Mintari adalah jeritan keras. Lalu gadis ini menangis tersengguk-sengguk. Dalam hati Pendekar 212 sudah dapat menduga nasib buruk apa yang telah menimpa gadis ini. Namun yang jadi pertanyaan apa sangkut paut kedua perajurit Kerajaan yang mati telanjang serta seorang yang tewas dengan tubuh hitam itu.

"Ayah... Tolong... Ayah..."

Wiro kerenyitkan kening. Diperhatikannya lagi keadaan tubuh gadis yang menggeletak di Iantai gerobak itu. Baru dia menyadari kalau tubuh itu berada dalam keadaan ter-totok. Wiro membungkuk untuk lepaskan totokan itu.

"Kau...kau siapa...?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Mintari. Untuk pertama kali si gadis tiba-tiba merasa takut.

"Jangan takut. Aku kebetulan lewat di tempat ini. Aku berusaha menolongmu..."

Mintari membuka kedua matanya lebih lebar. Peman-dangannya masih meremang. Dia tak dapat melihat jelas wajah orang yang berlutut di sampingnya. Kemudian di-rasakannya ada sentuhan pada bagian tubuhnya yang membuat dia bisa menggerakkan kedua tangan dan kaki-nya kembali.

Begitu menyadari totokannya telah lepas, Mintari ber-usaha melompat berdiri. Tapi terhuyung-huyung dia hampir jatuh. Wiro cepat memegang tangannya dan menutupkan kain kuning kembali ke tubuh Mintari lalu menyandarkan gadis itu ke pinggiran gerobak. Mintari memandang dengan mata membeliak padanya.

"Tenanglah, kau tak usah takut. Aku bukan orang jahat," kata Wiro meyakinkan si gadis.

"Ayah..." Mintari memandang berkeliling. Wiro mengikuti pandangannya.

"Ayahmu ada di sini?" tanya Wiro.

"Ayah...Manusia itu pasti sudah membunuh ayah..." Kemudian gadis ini melihat tubuh hitam yang menggeletak dekat pohon. Satu jeritan keluar dari mulutnya. Tubuhnya tampak seperti kejang. Wiro berusaha menenangkan gadis itu. Di sudut depan gerobak dia melihat sebuah bumbung bambu. Ketika dibukanya ternyata berisi air. Air dalam bumbung ini segera diminumkannya pada Mintari. Dengan susah payah si gadis berusaha meneguk air itu. Sehabis minum dia kelihatan agak tenangan.

"Sekarang kau bisa mengatakan apa yang terjadi?" tanya Wiro.

Mintari tak menjawab. Kain kuning dibungkuskannya erat-erat ke tubuhnya lalu dia berusaha turun dari atas gerobak. Terhuyung-huyung dia melangkah mendekati se-sosok tubuh hitam dekat pohon. Wiro melangkah di sampingnya. Di depan tubuh hitam itu Mintari hentikan langkahnya. Matanya memperhatikan tidak berkesip. Kemudian dilihatnya cincin berbatu yang melingkar di jari manis tangan kanan. Meskipun sudah hangus namun dia masih bisa mengenali cincin itu.

"Ayah!" jerit Mintari. Kedua kakinya goyah dan tubuhnya langsung jatuh. Wiro cepat memegang gadis ini sebelum terbanting ke tanah.

***Hari itu hari kelima di bulan lima, suatu pertemuan rahasia diadakan di sebuah rumah tua di kaki Bukit Sedayu di kawasan Selatan. Yang bertindak sebagai tuan rumah adalah Raden Bintang, bekas Tumenggung yang telah lama mengundurkan diri dari segala macam urusan Kerajaan. Dalam dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Rantai Bayangan. Lelaki berusia enam puluh tahun ini konon memiliki sebuah senjata aneh. Jika dia membaca mantera maka di tangan kanan atau tangan kirinya kelihatan muncul dan tergenggam sebuah rantai besi berwarna hitam. Rantai ini kelihatan seperti bayangan. Tapi jika di-pakai untuk, memukul atau menggebuk maka sasarannya bisa patah atau hancur remuk seperti terkena hantaman rantai sungguhan.

Di tempat kediamannya pagi itu telah berkumpul hampir dua puluh orang tokoh dunia persilatan di Jawa Tengah, Timur dan dari Barat. Bahkan salah seorang tamu datang jauh-jauh dari Pulau Andalas. Dia adalah seorang kakek berdestar dan berpakaian serba hitam. Kedua kaki dan pergelangan tangannya dilingkari gelang akar bahar. Dialah Datuk Alam Rajo Di Langit seorang tokoh silat yang telah punya rencana untuk membawa Mintari ke tempat ke-diamannya guna digembleng dengan berbagai ilmu ke-pandaian, silat serta kesaktian dan juga ilmu agama.

Saat itu masih ada beberapa tokoh silat yang belum muncul. Sementara menunggu acara resmi dibuka pada siang hari tepat maka para tamu mengobrol berbagai macam hal sambil menikmati minuman dan juadah yang dihidangkan. Sesekali terdengar suara gelak tertawa.

Dalam pertemuan itu akan dibicarakan beberapa hal. Namun ada satu hal penting yang akan diperbincangkan secara amat rahasia.

Dua orang tamu lagi datang. Setelah menyalami tuan rumah keduanya mengambil tempat duduk diantara para hadirin. Menjelang tengah hari Raden Bintang berdiri dari kursinya. Setelah mendehem beberapa kali dia berkata.

"Saudara-saudara sekaum persilatan. Saya melihat masih ada dua kursi yang kosong. Karena waktu kita sempit sedang yang akan dibicarakan dalam perternuan ini bukan cuma satu mata acara, lalu mengingat bahwa Saudara-saudara tentu harus kembali ke tempat asal masing-masing. Bagaimana kalau saya meminta agar acara pertemuan dimulai saja secara resmi. Mudah-mudahan dua tamu yang belum datang akan segera muncul di tempat ini."

"Saya rasa kami semua setuju," menjawab salah se-orang dari yang hadir. Yang lain-lainnya sama mengiyakan.

"Terima kasih. Kalau begitu acara bisa segera kita mulai," kata Raden Bintang pula dengan senyum gembira dan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain.

Raden Bintang mengambil sebuah palu kayu yang ter-letak di atas meja. Ketika dia hendak mengetukkan palu ini sebagai tanda dimulainya acara tiba-tiba terdengar suara bergemeratak. Raden Bintang berpaling ke halaman diikuti oleh para hadirin. Sebuah gerobak sapi tampak memasuki halaman dengan cepat. Kusirnya seorang pemuda be-rambut gondrong berpakaian dan berikat kepala putih.

"Kita kedatangan tamu. Tapi bukan yang diundang," kata Raden Bintang. "Di antara yang hadir apakah ada yang mengenalinya?"

Tidak seorang hadirinpun memberikan jawaban.

Pemuda berambut gondrong turun dari gerobak. Sesaat dia memandang agak bimbang pada orang-orang yang ada di dalam rumah besar itu.

Namun akhirnya dia melangkah juga. Di tangga atas bangunan dia berhenti dan memberi penghormatan dengan menundukkan kepala.

"Maafkan saya mengganggu. Apakah di sini pertemuan para tokoh silat dari tiga kawasan Pulau Jawa?"

"Sebutkan dulu siapa dirimu anak muda, baru ajukan pertanyaan," kata Raden Bintang.

"Saya Wiro Sableng. Saya datang membawa surat dari Eyang Sinto Gendeng. Beliau tidak bisa datang karena ada halangan."

Semua yang hadir di tempat itu termasuk Raden Bintang alias Rantai Bayangan sama-sama terkejut men-dengar nama yang disebutkan.

"Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!" semua orang menyebut gelar itu dalam hati masing-masing. Mereka tentu saja sudah lama mendengar nama besar Pendekar 212 yang berulang kali membuat kegegeran dalam dunia persilatan. Dikagumi para tokoh silat golongan putih, ditakuti oleh mereka dari golongan hitam dan para pen-jahat. Selama ini Pendekar 212 mereka anggap selalu muncul dan menghilang secara misterius, jarang me-nampakkan diri secara langsung di depan para tokoh silat. Kabarnya bertampang tolol, kadang-kadang suka kurang ajar tetapi berhati polos: Semua yang hadir tidak menduga kalau Pendekar 212 masih begitu muda dan sangat sederhana.

Wiro menyerahkan surat titipan gurunya kepada Raden Bintang. Tuan rumah bermaksud segera membacanya namun urung ketika mendengar Pendekar 212 berkata. "Maafkan saya, ada yang lebih penting dari surat itu. Seseorang di atas gerobak membutuhkan pertolongan. Di atas gerobak juga ada sesosok mayat."

Semua yang hadir di situ tentu saja menjadi kaget. Be-berapa di antaranya segera berdiri dan keluar dari rumah besar mengikuti Pendekar 212 yang melangkah menuju gerobak.

Mereka yang ikut mendekati gerobak menjadi terkejut ketika menyaksikan apa yang ada di dalam gerobak itu. Wiro mengangkat tubuh Mintari yang berada dalam keada-an lemah, terbungkus dengan kain kuning.

"Gadis ini butuh istirahat dan perawatan. Saya mohon disediakan kamar untuknya..." kata Wiro lalu melangkah kembali ke arah rumah besar sambil mendukung Mintari.

Seorang berpakaian hitam menyeruak diantara orang banyak. Lalu terdengar suaranya seperti harimau meng-gereng disusul seruan keras.

"Mintari! Apa yang terjadi denganmu Nak?!"

Wiro hentikan langkah dan berpaling. Yang lain-lain ikut menoleh. Yang tadi berseru ternyata adalah Datuk Alam Rajo Di Langit. Dia mengenali gadis yang berada dalam dukungan Pendekar 212 itu.

"Datuk," ujar Raden Bintang. "Kau mengenali gadis ini?"

"Namanya Mintari. Dia calon muridku! Atas persetujuan ayahnya Ki Pamilin yang bergelar Pendekar Tangan Baja aku akan membawanya ke Pulau Andalas! Sungguh tidak disangka kalau saat ini aku menemuinya dalam keadaan begini. Di mana ayahnya?!"

"Ya dimana Ki Pamilin? Dia salah seorang tokoh silat yang kita undang!" kata Raden Bintang pula.

"Tokoh silat itu telah jadi korban pembunuhan biadab!"

Orang banyak yang ada di tempat itu termasuk tuan rumah Raden Bintang menjadi geger. Lalu suasana hening beberapa saat lamanya. Dan semua mata kini ditujukan pada Pendekar 212 Wiro Sableng yang barusan memberi keterangan.

Wiro menggoyangkan kepalanya ke arah gerobak. Dua kali lompat saja Raden Bintang sudah sampai di samping gerobak. Matanya membeliak melihat sosok tubuh hitam yang menggeletak mengerikan di atas lantai gerobak.

"Hanya ada satu manusia yang bisa membuat seorang menemui ajal seperti ini. Yaitu murid murtad Ketua Partai Semeru Raya di Timur Orangnya bernama Kamandaka bergelar Pendekar Tangan Halilintar!"

"Benar, menurut penuturan gadis ini memang orang itu yang membunuh ayahnya," kata Wiro pula.

Kembali tempat itu dilanda kegemparan.

Salah seorang dari mereka berkata. "Justru acara kita paling penting dalam pertemuan ini adalah untuk mem-bicarakan manusia terkutuk itu! Belum sempat berunding kini sudah jatuh lagi satu korban baru!"

"Dan anak gadis Ki Pamilin ini pasti sudah..." Orang yang bicara tidak tega meneruskan ucapannya.

Seseorang memberi Isyarat agar Wiro mengikutinya. Mintari dibawa masuk ke dalam sebuah kamar. Dua orang perempuan separuh baya yang sebenarnya adalah juru masak untuk menyediakan makanan dalam pertemuan itu masuk ke dalam kamar guna merawat Mintari.

Atas permintaan Raden Bintang, Wiro kemudian me-nuturkan apa yang diketahuinya yakni mulai ketika pertama kali dia menemui para korban sampai pada pen-jelasan yang disampaikan Mintari sebelum jatuh pingsan.

Mau tak mau acara pertemuan hari itu ditunda sampai jenazah Ki Pamilin diurus dan dimakamkan di halaman belakang rumah besar. Menjelang sore semua orang ber-kumpul kembali di dalam rumah. Raden Bintang berpaling pada Pendekar 212.

"Saya sudah membaca surat Eyang Sinto Gendeng. Saya dan tentu semua orang yang ada disini merasa menyesal tokoh sakti dari Jawa Barat itu tidak bisa hadir. Karenanya dengan segala kehormatan kami mengundang Pendekar 212 untuk mewakilinya."

Kalau sudah begini sikap urakan Wiro jadi keluar. Dia masih berdiri tapi kini garuk-garuk kepala. "Maafkan saya," katanya. "Kalau tidak salah isi surat itu hanya mengatakan bahwa Eyang tidak bisa datang. Beliau tidak memberi wewenang pada saya untuk bertindak sebagai wakil pada pertemuan para tokoh ini."

"Pendekar 212 walau Eyang Sinto Gendeng memang tidak menuliskan bahwa kau boleh mewakilinya, tapi kami semua yang hadir di sini sama menyetujui dan tak ada yang keberatan," Kata tuan rumah pula.

Kembali Pendekar 212 menggaruk kepala. "Mohon maaf. Saya merasa tidak punya bobot untuk tegak sama tinggi dan duduk sama rendah dengan semua orang pandai yang ada di sini. Izinkan saya minta diri..."

Raden Bintang merasa agak tersinggung. Maka diapun cepat berkata ketika dilihatnya Wiro hendak membalik. "Pertemuan ini sangat penting. Kita akan membicarakan tindakan yang harus diambil terhadap Kamandaka murid Partai Semeru Raya itu! Jika dibiarkan semakin banyak korban yang jatuh. Kau menyaksikan sendiri bagaimana kejinya dia membunuh Ki Pamilin dan merusak kehormat-an anak gadis orang tua itu. Menghabisi nyawa dua perajurit Kerajaan. Bahkan belasan tokoh silat sebelumnya telah dihabisinya. Apakah kau ingin berlepas tangan saja...?"

Kalau tadi Raden Bintan yang merasa agak tersinggung, kini sebaliknya Pendekar 212 Wiro Sableng yang merasa tersinggung dan dipojokkan.

"Kalau saya tidak ikut dalam perternuan ini bersama para tokoh yang saya hormati, bukan berarti saya hanya bertopang dagu berlepas tangan. Guru saya Eyang Sinto Gendeng mengajarkan bahwa pada saat-saat penting ada kalanya seseorang harus lebih banyak bertindak dari pada banyak bicara. Kamandaka sudah berbuat jahat menebar maut dan kebejatan sejak beberapa bulan lalu. Apa yang telah dilakukan orang-orang persilatan? Saya minta diri..."

Wiro membalikkan badannya dan melangkah cepat meninggalkan rumah besar itu tanpa melihat bagaimana paras Raden Bintang menjadi kemerahan akibat kata-kata yang diucapkannya tadi. Sambil melangkah Pendekar 212 Wiro Sableng menggerendeng. "Pertemuan... pertemuan! Berunding, bicara tak habis-habisnya. Seharusnya sudah sejak dulu-dulu mereka melakukan tindakan nyata, bukan cuma bicara!"

Baru saja Wiro mengomel seperti itu di sebelahnya ter-dengar satu suara. "Kau betul anak muda! Urusan kapiran macam begini tidak bakal beres kalau cuma dibicarakan di belakang meja sambil minum-minum dan makan-makan. Aku ikut bersamamu!"

Wiro berpaling. Orang yang melangkah di sampingnya ternyata adalah orang tua berpakaian serba hitam dan memakai gelang bahar pada kaki dan tangannya. Dia bukan lain adalah Datuk Alam Rajo di Langit. Tokoh silat dari Andalas yang sebelumnya punya rencana membawa Mintari ke tempat kediamannya.

"Orang tua, kau mau ikut aku ke mana?" bertanya Wiro sambil terus melangkah.

"Mencari pemuda keparat bernama Kamandaka itu tentu!"

"Siapa bilang aku saat ini pergi mencarinya?"

Datuk Alam Rajo Di Langit jadi terkesima dan hentikan langkahnya. Di depannya Wiro kembali berkata. "Saat ini bukankah lebih penting bagimu merawat calon muridmu itu? Persoalan Kamandaka biar serahkan saja pada para tokoh silat di Tanah Jawa ini."

Ingat pada Mintari Datuk Alam Rajo Di Langit jadi bimbang. Lalu perlahan dia berkata. "Memang sebaiknya aku lebih memperhatikan keadaan calon muridku itu." Di-pegangnya bahu Pendekar 212 lalu orang tua ini balikkan tubuh, kembali menuju rumah besar tempat pertemuan.

Ketika dia sampai di tempat itu kembali ternyata semua orang yang ada di situ tengah dilanda kegemparan.

Terheran-heran Datuk Alam Rajo Di Langit bertanya. "Apa yang terjadi? Banyak orang bermuka pucat kulihat. Kegemparan apa yang ada di sinil"

Seseorang menjawab. "Gadis malang bernama Mintari itu lenyap di culik orang!"

"Hah?!" Datuk Alam Rajo Di Langit terbeliak.Dia langsung melompat masuk ke dalam rumah, terus menuju kamar di mana Mintari dirawat. Yang ditemuinya di kamar itu hanya dua orang perempuan separuh baya yang se-belumnya diperintahkan merawat Mintari. Kedua perempu-an ini tertegak di sudut kamar dengan muka pucat!

Datuk Alam Rajo Di Langit dekati kedua perempuan itu. "Lekas ceritakan apa yang terjadi!" bentaknya keras dan tidak sabaran.

Dengan suara gemetar salah seorang dari dua perempuan itu berkata. "Saya tengah membasuh muka dan tubuh gadis itu. Teman saya ini baru saja meletakkan sehelai sapu tangan di keningnya yang panas. Tiba-tiba jendela di sebelah sana terpentang lebar. Lalu ada sese-orang masuk seperti bayangan. Dia berkelebat ke atas tempat tidur. Tubuh gadis itu dipanggulnya. Lalu dia meng-hilang lewat jendela."

"Kalian mengenali siapa orangnya?" Raden Bintang ajukan pertanyaan.

"Gerakannya cepat. Tapi kalau saya tidak salah tangkap dia adalah seorang nenek kurus berkulit hitam. Di kepala-nya ada tusuk kundai..."

Datuk Alam Rajo Di Langit berpaling pada Raden Bintang. Yang lain-lainnya juga berlaku demikian. Saling pandang dan saling menduga.

"Bisa saja tidak mungkin," kata Raden Bintang perlahan. "Namun manusia dengan ciri-ciri seperti itu hanva ada satu. Sinto Gendeng dari Gunung Gede di Jawab Barat. Guru Pendekar Kapak Maut Naga Geni 2l2!"

"Lekas kita selidiki ke luar!" teriak Datuk Alam Rajo Di Langit. "Yang lain-lainnya coba mengejar pemuda murid Sinto Gendeng tadi!"

Semua tetamu yang ada di tempat itu segera berbagi menjadi dua rombongan. Satu menyelidiki kemana lenyap-nya Mintari bersama nenek penculik. Satu rombongan lagi mengejar Pendekar 212 Wiro Sableng.

Namun kedua orang itu telah raib tak dapat lagi dikejar.

***4DALAM sebuah rumah kayu di puncak Gunung Semeru lima orang duduk bicara mengelilingl sebuah meja bulat. Dari sikap dan air muka mereka jelas mereka tengah membicarakan satu masalah yang penting.

Kelima orang itu masing-masing adalah Gamar Seno-patri, Ketua Partai Semeru Raya yang menyandang gelar Dewa Tapak Sakti. Sang Ketua berusia hampir 70 tahun tapi keadaan tubuh dan wajahnya seperti baru ber-usia 50 tahun. Rambutnya baru sedikit yang berwarna putih. Dia digelari seperti itu karena kedua telapak tangannya ber-warna biru, mengandung kesaktian langka di mana dua tangan itu sanggup meremukkan benda sekeras apapun.

Orang ke dua adalah Ageng Seto, Ketua Cabang Partai wilayah Utara. Di sebelahnya duduk Ageng Sembodo yang merupakan adik Ageng Seto dan menjabat sebagai Ketua Cabang Partai wilayah Selatan. Ageng Sembodo adalah orang paling muda di antara ke lima orang itu, berusia 35 tahun dan memiliki wajah gagah.

Lelaki ketiga adalah Ketua Cabang Partai wilayah Timur, bernama Ki Rono Bayu, berusia 76 tahun, jadi lebih tua dari sang Ketua Partai Semeru.

Orang ke empat yaitu Rana Tumalaya, dipercayakan sebagai Ketua Cabang Partai wilayah Barat.

Setelah mengusap wajahnya beberapa kali, Ketua Partai Semeru Raya berkata. "Memang sulit dipercaya kalau tidak dilihat sendiri. Kamandaka, pemuda yang jadi murid harapan masa depan Partai, dikenal cakap gagah, berjiwa penuh kesatria dan memiliki iman yang tinggi. Kini diketahui telah menebar angkara murka keji di rimba per-silatan. Dosanya makin hari makin menggunung. Kalau ingatannya tidak terganggu, tidak mungkin dia melakukan semua itu. Atau mungkin dia memiliki semacam ilmu yang diamalkan secara sesat?"

"Mungkin sekali begitu Ketua," menyahuti Ki Rono Bayu. "Lima orang anak murid Partai Cabang Timur sempat menemui Kamandaka di sekitar Karanganyar, tak jauh dari kaki sebelah barat Gunung Karangpandan. Karena se-belumnya sudah saling mengenal maka para murid saya tidak sungkan-sungkan menasihati agar Kamandaka kembali ke jalan benar dan segera menghadap Ketua Partai untuk minta ampun. Namun apa yang mereka terima sungguh mengenaskan. Empat orang murid partai dibunuh dengan tangan kosong. Yang satu sempat melarikan did. Dia memberi tahu bahwa Kamandaka telah memiliki satu ilmu kesaktian baru yaitu berupa pukulan Tangan Halili-ntar. Itu pula konon gelar yang dipakainya kini dalam dunia persilatan."

"Tangan Halilintar!" desis Gamar Senopatri. "Dari mana anak itu mendapatkan ilmu kesaktian itu. Apa yang telah membuatnya berubah menjadi setan? Membunuh bahkan memperkosa!" Ketua Partai Semeru Raya ini geleng-geleng-kan kepala sambil memegangi kalung baja putih dengan perhiasan berbentuk kepala singa. Sepasang mata singa ini diberi batu delima merah sehingga kelihatan berkilau- kilau seperti memantulkan bara api.

"Seorang pemuka agama di selatan mengetahui tempat kediaman Kamandaka. Agaknya sudah saatnya kita harus turun tangan..." berucap Ketua Cabang Partai wilayah Selatan yaitu Ageng Sembodo.

Gamar Senopatri alias Dewa Tapak Sakti usapusapkan kedua telapak tangannya yang biru satu sama lain. "Memang sudah saatnya. Biar aku sendiri yang akan menemui anak itu. Membawanya kemari untuk bertobat dan menebus segala dosa. Kalau dia tidak mau akan ku-bunuh di tempat!"

Baru saja Ketua Partai Semeru Raya itu berkata demikian, tiba-tiba, ada suara menyahuti.

"Ki sanak benar! Murid murtad itu memang patut di-bunuh. Dipancung kepalanya, dicincang sekujur tubuhnya!"

Terdengar angin bersiur. Lampu minyak yang tergantung di atas meja bergoyang-goyang. Ke lima y orang yang ada di ruangan itu cepat berdiri. Mereka berpaling ke kanan.

Di ambang pintu tegak seorang kakek berdestar dan berpakaian serba hitam. Pergelangan tangan dan kakinya dilingkari gelang akar bahar. Tampangnya sekeras batu karang dan pandangan matanya seperti api menyambar. Dia adalah Datuk Alam Rajo Di Langit, tokoh silat dari Andalas yang beberapa hari lalu menghadiri pertemuan para tokoh silat di Selatan.

"Tamu terhormat dari mana yang datang tidak memberi salam?" tegur Ketua Partai Semeru Raya sekaligus menyindir.

Datuk Alam Rajo Di Langit parasnya tidak berubah sedikitpun oleh teguran itu. Kedua matanya menyapu dengan cepat satu demi satu enam orang yang ada di ruangan itu.

"Yang mana di antara kalian Ketua Partai Semeru Raya?"

Gamar Senopatri mendehem beberapa kali sebelum menjawab. Dari pakaian sang tamu dia segera maklum kalau orang itu datang dari seberang.

"Tamu dari seberang rupanya datang mencari saya. Saya Ketua Partai Semeru Raya. Nama saya Gamar Senopatri. Siapakah kiranya ki sanak?"

"Jadi kau rupanya guru Kamandaka. Pemuda bejat yang gentayangan malam melintang menebar maut, menculik dan memperkosa!"

Paras Ketua Partai Semeru Raya jadi berubah. Empat Ketua Cabang tampak tegang. Selama ini belum ada orang yang datang membawa persoalan menyangkut diri Kaman-daka.

"Saya memang guru Kamandaka," kata Gamar Seno-patri. "Terangkan dulu siapa ki sanak dan apa maksud kedatangan jauh-jauh ke sini?"

"Setahuku kau diundang dalam pertemuan para tokoh silat di Selatan. Mengapa tidak muncul atau mengirim wakil?"

"Akh, ki sanak rupanya utusan para tokoh silat dalam pertemuan itu."

"Siapa bilang begitu? Aku datang mauku sendiri!" sahut Datuk Alam Rajo Di Langit.

"Kalau begitu silahkan duduk. Mari kita bicara secara baik-baik."

Datuk Alam mendengus. "Siapa sudi duduk dengan kalian orang-orang yang tidak bertanggung jawab?!"

Lima orang disekitar meja tampak marah. Yang empat masih bisa menahan diri tapi yang paling muda yaitu Ageng Sembodo langsung membentak.

"Apa maksud ucapanmu orang tua berpakaian hitam?! Datang tidak tahu juntrungan! Bicara tidak karuanl Jangan salah kalau orang macammu bisa digebuk!"

Datuk Alam menyeringai. "Orang muda, di negeriku manusia bermulut enteng sepertimu sudah lama disingkir-kan! Kalian orang-orang Partai Semeru hanya bisa bicara tapi tidak pernah bertindak! Sahabatku Ki Pamilin bergelar Pendekar Tangan Baja dibunuh oleh Kamandaka secara keji! Anak gadisnya yang bakal menjadi calon muridku diperkosa! Aku datang membawa kabar buruk itu agar kalian segera berbuat sesuatu! Dan tadi kau bilang aku datang tanpa juntrungan! Bicara tidak karuan! Orang sepertimu seharusnya dirobek mulutnya!"

Para lima orang Ketua Partai Semeru Raya tampak berubah. Ageng Sembodo mengelam wajahnya.

"Kenapa kalian jadi diam semua? Apa sudah disambat hantu bisu?!" sentak Datuk Alam Rajo Di Langit. Dia menunjuk tepat-tepat pada Ketua Partai Semeru Raya. "Kalau dalam waktu satu bulan kau tidak bisa menangkap muridmu dan menghukumnya dengan hukuman mati, aku akan muncul lagi di tempat ini. Saat itu seluruh puncak Semeru akan aku obrak-abrikl Nyawa kalian tidak ada harganya lagi bagiku! Ingat baik-baik!"

Datuk Alam Rajo Di Langit membalikan tubuh hendak pergi. Tapi Gamar Senopatri cepat berkata.

"Ki Sanak harap mau berlaku hormat sedikit. Walau marah dan dendam membara jadi satu, tapi kita orang-orang tua tentu bisa berkepala dingin. Silakan duduk dulu agar kita bisa bicara baik-baik."

Habis berkata begitu Ketua Partai Semeru Raya ini angkat tangan kanannya yang berwarna biru. Satu ke-kuatan yang tidak terlihat bergerak ke arah sebuah kursi kayu. Kursi ini tampak terangkat. Lalu perlahan-lahan seperti melayang bergerak mendekati Datuk Alam Rajo Di Langit dan turun di sampingnya.

"Silakan duduk, ki sanak!" kata Gamar Senopatri. Dia memberi isyarat pada empat Ketua Cabang. Bersama-sama mereka kemudian duduk di kursi masing-masing.

Sesaat Datuk Alam tampak menunjukkan sikap bimbang. Namun kemudian akhirnya dia duduk juga di kursi itu dan diam-diam mengetahui kalau Ketua Partai Semeru Raya sengaja memamerkan kehebatan tenaga dalamnya. Kakek ini membatin. "Hemmm.... Mulutnya bicara manis tetapi ada segumpal kesombongan di dalam hatinya."

"Nah sekarang kita bisa bicara panjang lebar mengenai muridku si Kamandaka itu," kata Ketua Partai Semeru Raya pula.

"Ah, waktuku sempit. Lagi pula aku sudah memperingat-kan kalian agar segera turun tangan mencari dan me-nangkap Kamandaka."

"Urusan kami dengan Kamandaka adalah urusan guru dengan murid. "Urusan dalam Partai. Jadi harap ki sanak tidak keliwat mendesak..."

Sepasang mata Datuk Alam Rajo Di Langit mendelik. "Mungkin apa yang ki sanak bilang betul adanya. Tetapi apa kata ki sanak menyangkut pembunuhan, penculikkan dan perkosaan, yang dilakukan oleh Kamandaka? Apa itu bisa dianggap sebagai urusan dalam? Ingat ki sanak. Seluruh tokoh rimba persilatan tidak menganggap hal itu urusan dalam Partai atau hanya sekedar urusan guru dengan murid!"

Gamar Senopatri dan empat Ketua Partai tak bisa ber-kata apa-apa.

"Ada hal lain yang aku rasa kurang sedap. Masakan tuan rumah selaku Ketua Partai Semeru Raya yang begini besar tega-teganya memberikan kursi reyot pada tamu yang datang dari jauh."

Setelah berkata begitu Datuk Alam Rajo Di Langit segera berdiri dan tinggalkan ruangan itu.

Gamar Senopatri dan empat orang Ketua Cabang Partai tentu saja heran mendengar ucapan Datuk Alam Rajo Di Langit itu. Mereka segera memburu ke pintu tapi sang Datuk Alam Rajo Di Langit sudah lenyap. Padahal puncak Semeru di kawasan itu merupakan pedataran yang agak luas.

"Gerakannya luar biasa cepat," kata Gamar Senopatri mengagumi. "Sayang dia sama sekali belum mengatakan siapa dirinya." Lalu Ketua Partai Semeru Raya ini berpaling ke arah kursi yang tadi sempat diduduki tamunya.

"Apa yang tidak beres dengan kursi ini? Kursi begini kokoh dikatakan reyot!" berkata Ageng Sembodo. Lalu kursi kayu itu dipegangnya pada bagian sandaran dan diangkat-nya. Terjadi hal yang aneh. Sambungan kayu-kayu kursi tiba-tiba bertanggalan dan jatuh ke lantai hingga Ageng Sembodo kini hanya memegang bagian sandarannya sajal

"Manusia luar biasa!" mau tak mau pujian itu keluar dari mulut sang Ketua Partai. Lalu sambungnya. "Sebaiknya kita teruskan pembicaraan."

Kelima orang itu kembali duduk mengitari meja bundar.

"Sembodo, tadi kau mengatakan ada orang yang tahu letak tempat kediaman Kamandaka," Gamar Senopatri membuka pembicaraan.

"Benar Ketua. Di sebuah goa di pantai Selatan. Sulitnya goa ini terletak dibawah laut. Jadi sulit untuk memasuki-nya. Kalau tidak salah goa itu bernama goa Kranggan."

"Kalau begitu besok kau dan aku berangkat ke sana."

"Tunggu dulu Ketua," kata Ki Rono Bayu begitu men-dengar kata-kata pimpinannya. "Soal maksud Ketua untuk turun tangan sendiri tidak kami ragukan. Namun harap Ketua jangan tergesa-gesa turun tangan sendiri. Beri dulu kesempatan pada kami untuk mendatangi kediaman Kamandaka. Jika bertemu akan kami seret dia ke hadapan Ketua."

"Saya setuju pendapat Ki Rono Bayu itu," kata Rana Tumalaya. Ke empat orang Ketua Cabang Partai sama menyetujui hingga sang Ketua tidak bisa berbuat apa-apa lagi: Maka diputuskan bahwa Ageng Sembodo dan Ki Rono Bayu akan berangkat ke Selatan besok pagi. Namun se-belum pertemuan dibubarkan, Ageng Seto mengajukan sebuah usul.

"Setahu saya Kamandaka punya hubungan dekat dengan murid Partai yang bernama Kintani. Bagaimana kalau kita manfaatkan kedekatan hubungan itu. Kita minta bantuan gadis itu untuk membujuk Kamandaka agar mau menyerahkan diri dan ikut secara baik-baik ke puncak Semeru ini."

"Itu pemikiran yang baik," kata Rana Tumalaya. "Entah bagaimana pendapat yang lain-lain."

"Saya tidak setuju. Perjalanan ke Selatan cukup jauh dan sulit. Melibatkan Kintani terlalu berbahaya." Yang bicara adalah Ageng Sembodo.

Ketua Partai mengusap dagunya. Dia tidak mau me-mandang ke arah Ageng Sembodo. Tetapi Ketua Cabang Partai yang muda ini sekilas dilihatnya mengalami pe-rubahan air muka. Gamar Senopatri dan juga semua orang yang ada di situ secara diam-diam mengetahui ada semacam perlombaan antara Kamandaka dan Ageng Sembodo untuk memperebutkan Kintani. Ternyata Kaman-daka lebih mendapat tempat di hati si gadis. Sejak Kamandaka meninggalkan pucak Semeru lalu berbuat se-gala macam kejahatan di rimba persilatan, Kintani nampak sangat terguncang. Sebaliknya Ageng Sembodo merasa bahwa kesempatan baginya untuk mendapatkan gadis itu jadi terbuka lebar. Bagaimanapun sang Ketua Partai pasti tidak akan merelakan Kintani berhubungan lagi dengan Kamandaka, apalagi merestui keduanya sebagai suami istri.

"Bagaimana pendapat Ketua?" bertanya Rana Tuma-laya.

"Apa yang dikatakan Ageng Sembodo memang benar. Perjalanan ke Selatan jauh dan sulit. Namun mengapa tidak kita pergunakan kesempatan ini untuk memberikan tambahan gemblengan pada Kintani?" Gamar Senopatri alias Dewa Tapak Sakti memandang pada para Ketua Cabang satu persatu. Karena tidak ada yang bicara maka diapun mengambil keputusan. "Panggil Kintani, saya akan bicara padanya."

Sebenarnya Ageng Sembodo hendak berkata dan ber-usaha mencegah maksud membawa serta Kintani itu. Dia kawatir pertemuan si gadis dengan pemuda yang dicintai-nya itu akan membawa akibat yang justru malah membuat suasana tambah keruh. Tetapi melihat pada air muka Ketua Partai, Ageng Sembodo memilih lebih baik dia diam saja. Malah dia diam-diam ingin memanfaatkan perjalanan itu untuk lebih mendekatkan diri dengan Kintani.

***5BUKIT Selarong hampir tak pernah didatangi orang.

Selain lerengnya yang terjal dan penuh dengan

bebatuan, pohon-pohon disitu tumbuh sangat rapat. Kabarnya di sekitar situ juga sering terlihat binatang-binatang buas seperti harimau dan srigala hutan.

Namun siang itu terlihat kelebatan tubuh seseorang yang dengan cepat mendaki bukit, melompat dari batu satu ke batu lainnya, menyelinap sebat diantara pepohonan. Dia ternyata seorang nenek kurus tinggi berkulit sangat hitam. Muka dan matanya cekung. Alisnya putih. Di kepalanya yang ditumbuhi rambut jarang berwarna putih ada lima buah tusuk kundai perak. Dari ciri-ciri yang disebutkan ini jelas si nenek adalah Eyang Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 dari Gunung Gede.

Si nenek mendekati bukit Slarong sambil memanggul sosok tubuh Mintari yang terbungkus kain berwarna kuning. Jadi dialah yang telah menculik gadis itu sewaktu berada di tempat kediaman Raden Bintang, tokoh silat yang bergelar Rantai Bayangan.

Semakin tinggi ke atas bukit semakin dingin terasa udara. Mintari perlahan-lahan sadar dari pingsannya. Begitu siuman gadis ini langsung menjerit. Pertama karena ingat akan apa yang ketika menyaksikan angkernya wajah si nenek yang memanggul melarikannya.

"Gadis sialan!" Sebagaimana biasa Sinto Gendeng enak saja memaki. "Jeritanmu mengejutkanku! Untung aku tidak latah dan melemparkanmu ke bawah bukit!'

"Nen... nenek. Kau siapa...?" tanya Mintari.

"Diam sajalah! Nanti kalau sudah sampai di tempat tujuan baru kau boleh bertanya panjang lebar! Tidak baik bicara di jalanan. Kalau setan mendengar dan ikut bicara baru tahu rasa kau. Hik...hik...hik...!" Si nenek tertawa cekikikan.

Mintari jengkel ada takutpun ada. Hendak menutup mulut dia merasa kawatir. Maka diapun bertanya kembali. "Kau ini sebetulnya mau bawa aku kemana Nek?"

"Anak setan!" si nenek gebuk pantat Mintari. "Kalau aku bilang diam, jangan berani membuka mulut!"

Akhirnya terpaksa gadis itu berdiam diri.

Di salah satu lereng bukit Slarong terdapat sebuah telaga kecil berair jernih. Kesinilah Sinto Gendeng mem-bawa Mintari. Di salah satu tepian telaga terdapat sebuah gundukan batu berbentuk goa. Eyang Sinto Gendeng ber-henti di depan goa dan menurunkan Mintari. Dari kepitan-nya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang ternyata isinya adalah sehelai baju dan celana putih.

"Nenek...."

"Lekas kau pakai pakaian itu. Kalau sudah baru nanti kita bicara!" Sinto Gendeng memotong ucapan Mintari.

Mau tak mau gadis itu melakukan juga apa yang dikata-kan si nenek. Selesai berpakaian dia tegak memperhatikan si nenek yang melangkah kakinya ke dalam air telaga. Tiba-tiba Eyang Sinto Gendeng hentikan langkahnya, berpaling memandang Mintari.

"Nah sekarang kau boleh omong. Bicara dan tanya apa saja yang kau mau. Tapi ingat jangan lama dan panjang lebar. Aku tidak punya waktu banyak. Aku manusia yang lebih banyak berbuat dari pada bicara ngulon-ngidul! Ayo buka mulutmu!"

"Nek... seingat saya, sebelum jatuh pingsan seorang pemuda menolong saya...." Apa yang telah dialaminya terbayang kembali di pelupuk mata Mintari. Gadis ini menangis keras dan jatuhkan diri berlutut di tepi telaga.

"Saya dirusak secara keji. Ayah saya dibunuh. Apa guna-nya lagi hidup ini...!" Mintari menjerit. Lalu tampak dia melompat. Dengan nekad gadis ini berlari cepat ke dinding batu di samping goa, siap untuk membenturkan kepalanya!

"Anak tolol!" teriak Eyang Sinto Gendeng marah. Sekali dia berkelebat dia sampai lebih dulu di depan dinding batu. Tangan kanannya yang kurus diangkat. Telapak tangannya menangkap kening Mintari hingga kepala gadis itu tidak sampai membentur dinding batu!

Si nenek gerakkan tangan kanannya. Mintari terbanting ke tepi telaga, menangis keras-keras.

"Itulah kelemahan perempuan! Cis! Memalukan!" kata Sinto Gendeng. "Biasanya hanya menangis, putus asa lalu bertindak nekadl Apa kau tidak punya hati untuk merasa dan otak untuk berpikir? Kalau punya hati untuk merasa dan otak untuk berpikir? Kalau kau mampus apa yang akan kau dapat? Sorga tidak neraka pasti! Karena ter-kutuklah orang-orang yang mati bunuh diri!"

Mintari mengusap air matanya. Dia memandang pada si nenek yang telah menyelamatkan jiwanya. "Maafkan saya Nek. Pikiran saya benar-benar kalut. Saya tidak sanggup menahan sengsara yang amat berat ini. Tolong beri tahu siapa nenek ini adanya. Mengapa membawa saya ke tempat ini?"

Mulut Eyang Sinto Gendeng tampak komat-kamit.

"Pemuda yang menolongmu itu adalah muridku. Nama-nya Wiro Sableng. Aku gurunya bernama Sinto Gendeng...!"

Mintari terkesiap mendengar si nenek menyebut nama-nama aneh itu. Sableng dan Gendeng! "Ah, aku ber-hadapan dengan seorang nenek kurang waras rupanya. Tapi aku yakin manusia seorang nenek kepandaian tinggi. Aku ingat cerita guru tentang seorang nenek sakti yang diam di puncak Gunung Gede. Jangan-jangan dia ini orang-nya. Murid itu pasti Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!"

"Kau mau tanya apa lagi?!" Sinto Gendeng memandang dengan mata dibesarkan pada Mintari.

Si gadis lantas menjawab.

"Turut cerita yang pernah saya dengar dari guru, apakah nenek orang sakti yang diam di puncak Gunung Gede dan murid nenek itu bukankah yang dijuluki orang sebagai Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?"

"Bagus, otakmu tajam juga. Kalau kau sudah tahu aku tidak perlu lagi menjawab pertanyaanmu. Aku bisa mulai..."

"Tunggu dulu Nek. Saya ingin tahu sebab apa Nenek membawa saya kemari," kata Mintari pula.

"Anak tolol! Justru hal itu yang hendak aku terangkan padamu!" berkata Eyang Sinto Gendeng dengan wajah merengut.

"Maafkan kalau saya keliwat mendesak. Tapi per-temuan dengan seorang tokoh besar dunia persilatan se-perti Nenek sungguh membuat saya senang...."

"Dasar anak tolol! Aku membawamu kemari bukan untuk bersenang-senang!"

Melihat Eyang Sinto Gendeng seperti marah, Mintari cepat berkata. "Maafkan Nek. Maksud saya...."

"Sudah! Kau dengan saja apa yang aku bilang. Jawab apa yang aku tanya. Mengerti.... "

"Saya mengerti Nek...."

"Panggil aku Eyang!"

"Baik Nek eh Eyang "

"Kau tahu siapa yang membunuh Ayahmu?"

"Tahu Eyang."

"Tahu siapa? Sebutkan orangnya."

"Kamandaka. Dia murid sesat dan murtad Ketua Partai Semeru Raya. Bergelar Tangan Halilintar."

‘"Kau tahu siapa yang merusak kehormatanmu?"

"Manusia terkutuk yang sama Eyang. Kemahakah itu!"

"Jadi kau sudah tahu dengan jelas," kata Sinto Gendeng. "Lantas apakah aku tidak ingin membalaskan sakit hati kematian Ayahmu serta perlakukan keji yang di-lakukan Kamandaka terhadapmu?"

"Itu memang tersurat dalam benak dan tergurat dalam hati saya Eyang. Tapi manusia itu kepandaiannya tinggi, sekali. Ayah saja mati ditangannya."

"Anak tolol! Kalau Ayahmu tidak mampu apa berarti kau juga tidak mampu?!"

"Saya sudah mencoba Eyang tapi gagal." Jawab Mintari.

"Satu saat jika kau bertemu lagi dengan Kamandaka, kau tak akan gagal. Itu sebabnya aku membawamu kemari. Ada satu ilmu pukulan yang harus kau pelajari untuk dapat mempercudangi Kamandala."

"Astaga, rupanya Eyang hendak mengambil saya jadi murid!" seru Mintari lalu buru-buru jatuhkan diri berlutut.

Si nenek tertawa.

"Siapa bilang aku mengambilmu jadi murid? Muridku cukup satu. Si pemuda sableng bernama Wiro itu!"

Paras Mintari berobah.

"Seperti kukatakan tadi, kau akan kuberi pelajaran menguasai satu ilmu pukulan sakti. Pukulan Sinar Matahari...!"

"Saya pernah mendengar kehebaran pukulan sakti yang menggegerkan dunia persilatan itu," kata Mintari pula.

Di hadapannya Eyang Sinto Gendeng tegak dengan kedua kaki dikembangkan. Tangan kanannya diangkat per-lahan-lahan. Mintari melihat bagaimana tangan itu sampai sebatas lengan berubah menjadi putih seperti perak ber-kilauan. Tiba-tiba si nenek menghantam ke depan. Ter-dengar suara menderu dahsyat disertai berkiblatnya sinar terang benderang dan hawa panas menghampar. Menyusul suara menggelegar.

Di depan sana dinding batu yang keras hancur berantakan. Mintari sampai leletkan lidah melihat kehebat-an pukulan sakti itu. Padahal Eyang Sinto Gendeng baru kerahkan sepertiga saja dari tenaga dalamnya!

"Pukulan Sinar Matahari..." kata Sinto Gendeng pada dirinya sendiri. "Hebat luar biasa! Tapi tidak mampu mengalahkan kehebatan Pukukan Halilintar Kamandaka...! Gila! Edan betul!" Paras cekung Sinto Gendeng menunjuk-kan rasa kecewa yang mendalam.

"Eyang..." kata Mintari. "Kalau pukulan Sinar Matahari tidak mampu mengalahkan Pukulan Halilintar Kamandaka, lalu mengapa Eyang hendak mengajarkannya juga pada saya?"

Si nenek menyeringai. "Aku tahu dan aku tidak bodoh! Ilmu pukulan Sinar Matahari yang akan kuajarkan padamu akan kuberi satu tambahan kekuatan hingga bisa menyelusup menggepur ambalas pukulan sakti Kamandaka. Namun harus kau ketahui, ilmu pukulan itu hanya bisa kau kuasai selama tida puluh hari dan hanya bisa kau pergunakan satu kali saja. Setelah tiga puluh hari ilmu tersebut akan lenyap. Berarti dalam waktu tiga puluh hari kau harus dapat menemukan Kamandaka!"

Sesaat Mintari terkesiap mendengar kata-kata Sinto Gendeng itu. lalu akhirnya terdengar dia berkata. "Terima kasih Eyang. Saya akan pelajari ilmu pukulan itu baik-baik."

"Berdiri di depankul" kata Eyang Sinto Gendeng. "Aku mau jajal sampai di mana tingkat tenaga dalammul"

Mintari tegak dua langkah di hadapan Eyang Sinto Gendeng. "Kepalkan tangan kananmu, ulurkan tepat-tepat ke hadapanku!"

Kembali si gadis melakukan apa yang dikatakan si nenek. Sinto Gendeng sendiri melakukan hal yang sama tapi dengan tangan kiri. Kedua tangan mereka yang terkepal saling bersentuhan. "Tekan yang kuat!" kata Sinto Gendeng.

Mintari menekankan tangan kanannya ke depan!"

"Bagus! Sekarang kerahkan seluruh tenaga dalam!"

Mintari segera kerahkan tenaga dalamnya. Tubuhnya sampai ke lengan yang diacungkan tampak bergetar keras. Eyang Slnto Gendeng menunggu sampai seluruh kekuatan tenaga dalamsi gadis terhimpun di kepalan tangan kanannya. Ketika hal itu tercapi baru nenek sakti ini mengerahkan tenaga dalamnya. Dia mulai dengan seper-sepuluh bagian. Naik dua persepuluh. Ketika mencapai tingkat seperempatnya, di hadapannya Mintari nampak goyang kedua lututnya. Di kening gadis ini memercik keringat. Pakaiannya juga basah oleh keringat. Eyang Sinto putar kepalan tangan kirinya ke samping kiri. Saat itu pula terdengar suara jeritan Mintari. Gadis ini terpental enam langkah, jatuh masuk ke dalam telaga. Mukanya tampak seputih kertas!

Dengan cepat Mintari berenang ke tepi telaga. Di hadapan Sinto Gendeng dia berkata. "Maafkan saya mengecewakan Eyang."

"Tidak jadi apa. tapi kau perlu meningkatkan tenaga dalammu sampai paling tidak dua kali dari yang sekarang ini. Kalau kau tidak mampu melakukannya berarti seumur hidup kau tidak bakal dapat membuat perhitungan dengan Kamandaka!"

"Jika Eyang mau membimbing, saya akan berusaha keras untuk meningkatkan tenaga dalam saya..."

"Kau butuh waktu paling sedikit dua bulan. Kau harus sungguh-sungguh!"

"Saya akan sungguh-sungguh Eyang. Saya berjanji!"

Sinto Gendeng menyeringai. "Berjanji lebih bagus dari pada bersumpah! Berapa banyak saja manusia yang ber-sumpah palsu!"

"Terima kasih Eyang. Kau memberi saya kesempatan..."

"Sudah, lupakan segala macam peradatan. Kita mulai sekarang juga. Duduk bersila di depan mulut goa sana. Letakkan kedua tanganmu di atas ujung paha dekat lutut. Lalu kerahkan tenaga dalammu dari perut. Tapi jangan di-alirkan. Tetap di perut dan tahan!"

***6TIGA penunggang kuda itu berhenti di tepi pantai. Mereka adalah Ki Rono Bayu, Ketua Cabang Partai Semeru raya wilayah Timur. Lalu Ageng Sembodo, Ketua Cabang wilayah Selatan dan yang ketiga seorang gadis berkulit putih. Dia mengenakan pakaian ringkas putih dan mengenakan ikat kepala. Wajahnya yang cantik ke-merahan disengat sinar matahari. Gadis ini adalah anak murid Partai yang bernama Kintani.

"Dimana letak goa Kranggan itu?" bertanya Ki Rono Bayu tidak sabaran.

Ageng Sembodo tidak segera menjawab. Dia me-mandang ke tengah laut tetapi pandangannya kosong. Dia tengah membayangkan pembicaraannya dengan Kintani malam tadi.

Waktu itu mereka berkemah dan membuat api unggun di pinggir sebuah anak sungai. Ki Rono Bayu sudah tertidur karena keletihan.

Ageng Sembodo dan Kintani tidak segera bisa tidur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ageng Sembodo untuk mendekati si gadis. Dia memulai pembicaraan dengan ber-tanya bagaimana perkembangan ilmu silat serta tenaga dalam si gadis. Kintani menjawab ada kemajuan tetapi tidak banyak.

"Kau harus rajin berlatih Kintani. Ketua sangat meng-harapkan kau menjadi salah seorang murid Partal yang bisa diandalkan," kata Ageng Sembodo pula. Lalu dia ber-tanya. "Apakah kau masih mengngat-ingat Kamandaka?"

"Dia saudara seperguruan, saudara se Partai. Tentu saja tidak ada yang lupa padanya."

Ageng Sembodo tersenyum. "Kau hanya mengingatinya sebagai saudara seperguruan dan saudara se-Partai?"

"Maksud Ketua Cabang apa?" tanya Kintani.

"Panggil saja namaku."

"Baik. Lalu maksud Ageng Sembodo apa?"

"Aku tahu, semua orang tahu kalau kau ada hubungan khusus dengan pemuda itu. Kalian saling mencinta."

Kintani diam saja walau wajahnya tampak bersemu merah.

"Setelah dia kini menempuh hidup sesat, murtad, apa-kah kau masih mencintainya Kintani?"

"Saya yakin ada sesuatu yang menyebabkan dia jadi begitu. Saya tahu dia orang baik. Kalau saya bertemu dia, hal itu yang perlu saya tanyakan lebih dulu."

"Justru jika kita bertemu dengan dia, kita tidak punya waktu banyak untuk bicara soal lain. Dirinya dikejar dosa dan hukum. Ingat hal itu Kintani. Dia bukan anak murid Partai lagi. Sekali kita menemuinya dia akan kita seret ke hadapan Ketua. Jika dia menolak. Ketua sudah berpesan dan memberi wewenang untuk membunuhnya di tempat. Kalaupun dia bisa dihadapkan pada Ketua Partai, umurnya tak akan lama. Dia akan dijatuhi hukuman mati1"

Si gadis diam kembali.

"Dari sekarang kau harus mulai melupakannya Kintani. Kalau tidak kau akan hanyut dalam derita batin."

Kintani masih berdiam diri.

Ageng Sembodo menggeser duduknya. Dipegangnya tangan Kintani seraya berkata. "Kau pasti tahu Kintani. Sejak lama aku mencintaimu. Jika kau sudi, masa depan yang baik akan menanti kita. Ketua Partai pasti merestui hubungan kita."

Ageng Sembodo menunggu sambil menatap paras si gadis di sebelahnya.

"Apa jawabmu Kintani?"

Tak ada jawaban.

"Aku percaya kau juga menaruh perasaan yang sarna terhadapku. Hanya halangan diri Kamandaka yang mem-buatmu tidak bisa menerima kenyataan itu. Bukankah demikian....?"

"Saya tidak tahu Ageng..." sahut Kintani.

Ageng Sembodo mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis. Sesaat lagi hidungnya akan mencium dan menyen-tuh pipi Kintani, gadis ini jauhkan kepalanya dan lepaskan jari-jari tangannya dari pegangan Ageng Sembodo.

"Saya letih. Saya mengantuk. Besok kita harus melanjut-kan perjalanan jauh. Sebaiknya kita tidur saja..."

"Kau pergilah tidur. Aku akan berjaga-jaga sambil me-mandangi wajahmu yang cantik..." jawab Ageng Sembodo.

Ki Rono Bayu memandang pada Ageng Sembodo dengan perasaan heran. Dalam hati dia membatin. "Aku bertanya dia tak menjawab. Matanya tertuju ke arah laut. Apa yang ada dalam benak orang ini?"

"Ageng Sembodo, aku bertanya apa kau tidak men-dengar?"

Ageng Sembodo seperti kaget. Dia berpaling pada orang tua itu seraya berkata. "Maafkan saya. Mohon per-tanyaannya diulangi."

"Saya tadi bertanya dimana letak goa Kranggan sarang Kamandaka itu?" Suara Ki Rono Bayu jelas terdengar jengkel.

"Ah... Goa itu rasanya berada di sekitar tempat ini Ki Rono. Untuk pastinya kita harus menemui seseorang yang tahu betul letak pastinya. Ikuti saya..."

Ki Rono Bayu dan Kintani mengikuti Ageng Sembodo yang memacu kudanya menyusuri pantai ke arah timur. Di saw tempat dia membelok ke kiri memasuki sebuah perkampungan nelayan. Di ujung perkampungan Ageng Sembodo hentikan kudanya di depan sebuah rumah yang saat itu dikeillingi oleh orang banyak. Bau busuk menebar dari dalam rumah.

"Ini rumahnya," kata Ageng Sembodo pada Ki Rono Bayu. "Tapi heran, ada apa orang berkerumun di sini?" Ageng Sembodo turun dari kudanya dan bertanya pada salah seorang yang ada di tempat itu. "Betul ini rumah Suro Ampel?"

Orang yang ditanya mengangguk dan memandang pada Ageng Sembodo serta Ki Rono Bayu dan Kintani. Orang-orang di sekitar situ juga sama memperhatikan mereka.

"Saudara ini siapa? Apakah bermaksud menemui Suro Ampel pemuka agama di kampung ini?" tanya orang yang tadi menganggukkan kepalanya.

"Betul," sahut Ageng Sembodo. "Ada apa orang banyak berkerumun di sekitar sini?" tanyanya kemudian.

"Ada hal-hal yang tidak biasa. Sudah dua hari Suro Ampel tidak keluar dari dalam rumahnya. Sejak pagi tadi ada bau busuk keluar dari dalam rumah. Kami penduduk kampung menaruh curiga. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan diri Suro Ampel. Kami tengah berunding untuk menjebol pintu rumahnya dan memeriksa ke dalam..."

Ageng Sembodo tidak menunggu orang itu mengakhiri ucapannya. Dia melompat ke hadapan pintu rumah. Sekali tendang saja pintu yang terbuat dari papan itu jebol hancur berantakan. Bersamaan dengan Itu bau busuk yang menjijikkan keluar lebih santar dari dalam rumah.

Ada beberapa orang yang ikut masuk ke dalam rumah. Mereka langsung hentikan langkah ketika sampai di bagian tengah rumah. Di antara kegelapan tampak menggeletak sesosok tubuh di lantai. Mukanya tidak bisa dikenali karena sudah hancur dan membusuk. Sosok tubuh yang sudah jadi mayat inilah yang mengeluarkan bau busuk.

Meski mukanya hancur namun dari bentuk tubuh serta pakaian yang melekat di tubuh mayat Ageng Sembodo segera tahu mayat itu adalah mayat Suro Ampel, orang yang dicarinya dan yang tahu letak pasti goa Kranggan. Tanpa menunggu lebih lama Ketua Cabang Partai Semeru wilayah Selatan ini segera keluar dari tempat itu. Di luar diceritakannya apa yang ditemuinya di dalam.

"Tak ada jalan lain. Kita harus menunggu sampai besok pagi. Besok, kalau pasang surut terjadi, saya rasa saya bisa mengenali dimana letak goa itu."

Ki Rono Bayu hanya bisa angkat bahu dengan kesal sedang Kintani menghela nafas panjang. Perjalanan itu begitu jauh dan meletihkan. Lalu dia tidak dapat mem-bayangkan apa yang bakal terjadi.

"Apa pendapatmu Ageng?" tanya Ki Rono Bayu.

"Apa lagi. Suro Ampel pasti korban keganasan Kaman-daka."

"Apa dosa manusia itu?" tanya Kintani.

"Kamandaka tidak ingin dia memberi tahu letak goa Kranggan yang jadi sarangnya," jawab Ageng Sembodo.

Pantai Selatan luar biasa indahnya ketika sang, surya menyembul, mulai menerangi bumi dengan sinarnya yang merah kuning kemilau. Air laut berubah laksana hamparan permadani emas yang bergoyang- goyang.

Di tepi pasir Ageng Sembodo tegak bertolak pinggang. Matanya tak berkesip memandang ke arah gundukan batu yang menyembul dipermukaan air laUt yang kini men-dangkal dalam keadaan pasang surut. Sore kemarin gundukan batu itu tidak kelihatan karena pasang naik menutupinya. Dia berpaling pada Ki Rono Bayu dan Kintani, lalu berkata.

"Lihat, itu satu-satunya gundukan batu yang menyembul di permukaan laut. Pasti disitu letak goa Kranggan!"

KI Rono Bayu tertawa mendengar ucapan Ageng Sem-bodo itu. "Gundukan batu itu tidak lebih dari gundukan batu biasa. Mana mungkin ada goa di situ!"

"Kita tunggu saja sampai beberapa saat lagi. Akan kita lihat kalau air laut sudah sampai ke dasar batu," kata Ageng Sembodo yang merasa dicemoohkan.

Ketiga orang itu menunggu. Makin tinggi matahari naik, makin dalam air laut turun. Akhirnya sebuah lobang kelihatan dibawah gundukan batu.

Lobang ini setinggi orang membungkuk dan lebarnya hanya cukup untuk sesosok tubuh manusia.

"Lihat! Itu pasti goanya!" kata Ageng Sembodo.

Setengah berlari dia menghampirl lobang itu dan mengintai ke dalam. Bagian dalam lobang diselimuti kegelapan. Cahaya matahari hanya sedikit sekali mampu menerangi dari arah yang berlawanan dengan mulut lobang. Bagian dalam lobang tampak merupakan suatu penurunan. Air laut di dalamnya tertahan oleh sanding batu yang menutupi setengah dari lobang.

Ki Rono Bayu membungkuk dan mengintai ke dalam. Dia merasakan sesuatu menyapu wajah dan tubuhnya.

"Ada angin berhembus dari dalam lobang!" kata orang tua ini. "Pertanda di dalam sana ada ruangan yang ber-hubungan dengan udara luar. Tapi jelas bukan udara laut..."

"Bagaimana Ki Rono mengetahui udara di sana bukan udara laut?" tanya Ageng Sembodo pula.

"Udara laut saat ini masih dingin dan mengandung garam. Sedang udara yang kucium terasa hangat dan ber-bau embun..."

"Berarti lobang ini berhubungan dengan darattan!" kata Ageng Sembodo.

"Kau benar. Tapi dimana dan bagaimana berhubungan-nya perlu kita selidiki." Ki Rono Bayu berpaling pada Kinanti.

"Kinanti, kau tunggu di tempat ini. Jangan ke mana-mana. Aku dan Ageng Sembodo akan memasuki goa dan menyelidiki."

Kinanti mengangguk. "Hati-hatilah dan jangan terlalu lama di dalam sana. Saya merasa tidak tenang ditinggal sendirian."

Sebenarnya Ageng Sembodo juga tidak senang dengan tindakan Ki Rono Bayu yang mengatur agar mereka berdua masuk sedang Kinanti ditinggal sendirian. Dengan meng-gerendeng dalam hati Ageng Sembodo masuk juga ke dalam lobang membungkuk-bungkuk, diikuti oleh Ki Rono Bayu di sebelah belakang. Hanya beberapa saat setelah kedua orang itu memasuki lobang, di balik gundukan batu sebelah kanan tanpa diketahui Kintani bergerak sesosok tubuh tanpa suara.

Begitu hanya tinggal tiga langkah dari Kintani orang ini melompat dan menyergap si gadis. Dalam kejutnya dara murid Partai Semeru Raya itu hendak berteriak tetapi mulutnya disekap hingga dia tidak bisa keluarkan suara sedikitpun. Bahkan nafasnya tertahan membuat dadanya sesak turun naik.

Untungnya Kintani tidak hilang akal. Kedua siku tangannya dihantamkan ke belakang.

Bukkkk!

Bukkkk!

Dua siku mendarat dengan keras di tubuh orang yang menyergapnya. Namun Kintani merasa seperti meng-hantam kapas! Pukulan-pukulannya itu sama sekali tidak membuat orang yang menyergapnya bergeming sedikitpun. Bahkan sambil menyeringai orang itu berbisik..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.138.120
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia