Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : HALILINTAR DI SINGOSARIBAB IKuda bernama Grudo yang ditunggangi Pendekar 212 dan Raden Ayu Gayatri bergerak tidak terlalu cepat. Sebentar lagi mereka akan keluar dari kawasan hutan belantara an langsung menuju pinggiran Timur Kotapraja. Disitu Wiro akan melepaskan putri bungsu Prabu Singosari itu. Walau dia akan terlepas dari beban berat menjaga keselamatan sang dara namun perpisahan membuat hatinya agak haru.

Saat itu menjelang dini hari. Udara masih gelap dan hawa terasa dingin.

Mendekati dua buah pohon besar yang terletak mengapit kira-kira dua tombak di depan jalan yang mereka tempuh murid Eyang Sinto Gendeng perlambat langkah Grudo. Dia memandang tak berkesip ke arah dua pohon besar di kiri kanan jalan.

"Ada apa," bisik Gayatri bertanya.

"Saya punya firasat tidak enak. Mungkin sekali ada seorang yang sembunyi di balik pohon menghadang kita," jawab Wiro.

"Gandita?"

"Mungkin, tapi bisa juga orang lain. Atau Gandita bersama orang lain."

"Kalau begitu kita ambil jalan lain saja," mengusulkan Gayatri.

Wiro mengangguk. Dia menarik tali kekang Grudo. Namun belum sempat dia memutar kuda itu tiba-tiba di belakangnya terdengar suara desiran angin disertai berkelebatnya satu bayangan hitam. Bersamaan dengan itu Gayatri yang duduk di belakang Wiro terdengar menjerit.

Wiro membalik. Dan terkejut besar. Gayatri tak ada lagi di belakangnya!

Pendekar 212 melompat dari atas kuda. Begitu menjejak tanah dia langsung alirkan tenaga dalam ke tangan kanan. Tapi dia tidak melihat bayangan siapapun. Tiba-tiba terdengar suara kaleng berkerontangan dalam kegelapan malam. Suara kerontangan lenyap, menyusul terdengar suara tawa bergelak di samping kiri. Wiro cepat berpaling ke arah itu. Tiga tombak di hadapannya, dekat serumpun semak belukar dilihatnya Gandita bertolak pinggang.

"Bangsat! Kau menculik..."

"Apa kau lihat kawanmu itu ada bersamaku?" ujar Gandita dengan seringai mengejek.

Aneh, bangsat ini tampak biasa-biasa saja. Padahal sebelumnya dia jelas menderita luka dalam parah! Pikir wiro. Pasti sesuatu terjadi dengan dirinya. Mungkin ada orang pandai luar biasa yang menolong dan mengobatinya.

Gandita tak bergerak di tempatnya, juga tidak menunjukkan tanda-tanda hendak menyerang. Dengan senyum mengejek dia berkata.

"Kau masih ingin mencari temanmu yang berkumis tapi punya suara seperti perempuan itu?! Lihat apa yang terjadi di balik pohon besar sebelah kanan sana!"

Sesaat Wiro agak bimbang. Namun ketika dia menangkap suara seperti orang sedang berkelahi dari arah pohon besar yang disebutkan Gandita maka murid Eyang Sinto Gendeng segera berkelebat ke balik pohon itu.

Begitu sampai di balik pohon besar murid Eyang Sinto Gendeng jadi terkejut menyaksikan apa yang terjadi.

Di situ dilihatnya seorang kakek berkulit hitam dengan rambut di gelung ke atas dan bertubuh tinggi dengan tampang kuyu sedih tengah mengepit tubuh Gayatri di tangan kirinya. Orang tua berpakaian selempang kain putih ini keluarkan suara seperti orang menangis sesenggukan terus menerus.

Astaga! Manusia ini adalah Dewa Sedih, kakak Dewa Ketawa, pentolan kaki tangan pemberontak! Celaka! Membatin Wiro. Jangan-jangan dia yang telah mengobati Gandita!

Gayatri sendiri yang saat itu berada dalam keadaan tak berdaya, tertotok dan dikepit erat oleh kakek berkulit hitam.

Sambil mengepit Gayatri si kakek berkelahi menghadapi seorang lawan dan dari mulutnya masih saja terus terdengar suara seperti menangis.

Yang dihadapi Dewa Sedih saat itu adalah seorang kakek aneh memakai caping lebar di kepalanya. Dia memanggul sebuah buntalan besar. Di tangan kirinya dia memegang sebuah tongkat kayu sedang di tangan kanannya ada sebuah kaleng rombeng berisi batu-batu kerikil. Setiap saat kaleng rombeng ini digoyang-goyangkannya sehingga mengeluarkan suara berkerontangan. Tangan kirinya yang memegang tongkat bergerak kian kemari dalam gerakan aneh yang ternyata adalah serangan-serangan ganas yang mengurung kakek hitam.

Bagaimanapun kakek hitam ini berusaha bertahan dan mencoba membalas namun serangan tongakt itu sulit ditembusnya.

Masih untung dia belum sempat kena gebuk atau tertusuk ujung tongkat. Yang sungguh luar biasanya lagi ialah bahwa kakek bercaping lebar dan berpakaian compangcamping seperti pengemis itu ternyata kedua matanya tidak memiliki bagian hitam barang sedikitpun. Sepasang mata kakek aneh ini putih semua dan tentu saja ini berarti bahwa dia sebenarnya tidak dapat melihat alias buta!

"Kakek Segala Tahu!" seru Pendekar 212 ketika dia mengenali siapa adanya kakek buta itu.

"Husss! Jangan berisik! Biar aku memberi pelajaran pada tua bangka cengeng yang hendak menculik temanmu ini! Jika dia tidak mau melepaskan temanmu itu, terpaksa aku menghentikan tangisnya! Menghentikan tangisnya berarti menghentikan jalan nafasnya!" berkata si kakek buta lalu kembali dia goyang-goyangkan kaleng rombengnya sambil tertawa mengekeh.

"Ah benar dugaanku..." kakek hitam yang mengepit Gayatri membatin sambil terus saja sesenggukan. "Memang dia rupanya. Tapi mengapa ilmunya setinggi ini. Aku hanya tahu dia sebagai seorang pengemis yang pandai meramal. Ternyata aku tidak sanggup keluar dari kurungan tongkatnya! Sudah kepalang! Lebih baik mati daripada menerima malu besar!"

Kakek hitam itu menggerung keras. Saat itu ujung tongkat menyambar ke mukanya lalu membabat pakaiannya. Breeet! Dada pakaiannya robek besar.

"Itu peringatan pertama dan terakhir!" kata Kakek Segala Tahu. "Kalau kau masih belum mau melepaskan orang itu, kali berikutnya tongkatku akan menyatai tenggorokanmu!"

"Kau yang bakal mampus duluan pengemis busuk!" teriak kakek hitam lalu kembali menggerung. "Baiknya lekas kau beri tahu nama atau gelarmu agar setan-setan rimba belantara ini mengantarmu dengan senang ke rimba kematian!"

Kakek bermata buta berpakaian seperti pengemis hanya sunggingkan tawa mengejek. Kakek hitam jadi naik darah. Dia menggerung keras. Tangan kanannya dipukulkan ke depan. Terjadilah satu keanehan dari telapak tangan kakek hitam itu berputar keluar bola api yang langsung melesat ke arah kakek buta!

"Kakek Segala Tahu! Awas! Lawan menyerangmu dengan bola api!" berteriak Wiro. Tangan kanannya sendiri sudah siap diangkat siap untuk memberi pertolongan.

Tapi Kakek Segala Tahu tetap tenang-tenang saja malah masih tertawa-tawa.

Wuss!

Bola api menyambar. Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya lalu membungkuk. Tapi gerakannya agak terlambat. Bola api menyambar ganas menghantam caping lebarnya. Caping ini langsung terbakar dibuntal bola api dan terpental jauh. Paras Kakek Segala Tahu jadi berubah. Sebaliknya di depannya kakek hitam malah menangis keras-keras. Mungkin begitu caranya dia menyatakan rasa puas melihat serangannya berhasil walaupun yang menyambar dan membakar caping lawan.

" Dalam dunia persilatan hanya ada satu manusia yang bersenjatakan bola api! Kau pasti adalah Dewa Sedih!"

Kakek hitam dongakkan kepala dan menggerung pilu sekali. "Kau sudah tahu siapa aku. Akupun sudah tahu siapa kau! Kita orang-orang persilatan akan saling berbunuhan!

Salah satu dari kita akan menemui kematian. Betapa menyedihkan...Dewa Bathara kasihani pengemis malang ini..." lalu orang tua ini yang sebenarnya memang adalah Dewa Sedih menangis sejadi-jadinya.

"Manusia edan!" maki Wiro dalam hati. "Kakek Segala Tahu, biar aku yang memberi pelajaran pada tua bangka cengeng ini!"

"Tetap di tempatmu Pendekar 212! Jangan campuri urusan kami dua tua bangka keblinger!" Kakek Segala Tahu membentak, membuat Wiro terpaksa hentikan gerakan.

Hatinya berkebat-kebit apakah kakek buta ini sanggup menghadapi Dewa Sedih yang punya senjata berupa bola api yang dahsyat itu. Selama ini Wiro hanya mengenal Kakek Segala Tahu sebagai seorang jago ramal tiada duanya. Sekarang dia menyaksikan sendiri bahwa kakek itu ternyata memiliki ilmu silat yang bukan sembarangan. Dengan tongkat bututnya dia sanggup membuat Dewa Sedih tidak berdaya. Tapi apakah tongkat buruk itu bisa menghadapi bola api?! Selain hal itu yang dikhawatirkan Wiro adalah keselamatan Gayatri yang saat itu masih berada di kepitan tangan kiri Dewa Sedih.

Kakek Segala Tahu mendongak ke langit yang mulai kelihatan terang tanda sebentar lagi pagi akan tiba. Tangan kanannya digoyang-goyangkan. Kaleng rombeng itu mengeluarkan suara berisik memekakkan telinga. Tangan kirinya mengetuk-ngetukkan tongkat kayunya ke tanah.

"Dewa Cengeng!" Kakek Segala Tahu sengaja menyebut nama Dewa Sedih menjadi Dewa Cengeng. "Aku bertanya untuk penghabisan kali! Kau mau serahkan pemuda yang hendak kau culik atau tidak!"

Suara gerung tangis Dewa Sedih terdengar perlahan. Lalu dia berucap. "Malang benar nasibmu pengemis jelek. Rupanya bukan hanya matamu yang buta, telingamupun sudah tuli. Orang dalam kepitanku ini kau katakan pemuda. Padahal jelas dia menjerit mengeluarkan suara perempuan!"

Wiro merasakan wajahnya menjadi pucat dan kuduknya menjadi dingin. Kakek hitam itu ternyata sudah mengetahui bahwa orang yang tengah diculiknya itu adalah seorang perempuan. Apakah dia juga sudah mengetahui siapa adanya orang itu?!

Gayatri harus cepat dirampas. Aku harus ikut turun tangan. Persetan sekalipun Kakek Segala Tahu akan marah besar padaku!

Begitu Wiro bertekad dalam hati. Dia segera alirkan tenaga dalam ke tangan kanan. Kalau tidak dapat merampas Gayatri tanpa menciderai,membunuh kakek cengeng inipun aku tak perduli. Apalagi dia berkomplot dengan pemberontak bernama Gandita itu! Namun gerakannya lagi-lagi berhenti ketika didengarnya Dewa Sedih berkata.

"Kau inginkan pemuda banci ini, pengemis buruk? Boleh saja. Akan kuberikan padamu tapi telan dulu bola apiku ini!"

Habis berkata begitu Dewa Sedih kembali mengisak-isak lalu tangan kanannya dipukulkan ke depan.

Dari telapak tangannya untuk kedua kalinya melesat keluar bola api, menderu deras ke arah mulut Kakek Segala Tahu!

"Ah makanan enak! Aku suka sekali!" Kakek Segala Tahu berucap keras. Lalu buka mulutnya lebar-lebar seperti siap untuk benar-benar menegak bola api yang disuruh telan itu. Sedang tangan kanannya menggoyang-goyangkan kaleng rombegnya.

Pinggulnya digoyang-goyangkan seperti menari tapi tentu saja maksudnya mengejek lawan.

Sudah gila tua bangka ini rupanya! Maki Wiro menyaksikan kelakuan Kakek Segala Tahu. Serangan maut dihadapinya seperti itu! Mau tak mau murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini segera angkat tangannya, hendak menghantam bola api dengan pukulan "Dewa topan menggusur gunung"

***BAB II"Makanan Enak! Aku suka sekali!" kembali terdengar Kakek Segala Tahu berucap. "Cuma sayang aku sedang berpuasa!"

Lalu mendahului gerakan Pendekar 212 Wiro Sableng, Kakek Segala Tahu gerakkan tangan kirinya. Tongkat kayu butut melesat ke atas. Ujung tongkat menusuk bola api.

Seperti menusuk bola sungguhan, bola api itu tampak tidak bergerak lagi seolah ditancap mati. Si kakek goyangkan tangannya sedikit. Bola api itu berputar seperti titiran.

"Sayang aku sedang berpuasa, kau saja yang makan kue enak ini!" seru Kakek Segala Tahu. Lalu sekali tangan kirinya bergerak, bola api itu menderu, melesat ke arah kepala Dewa Sedih.

Kakek berkulit hitam itu berseru keras lalu meratap dalam kagetnya. Dia tak pernah menyangka senjata yang sangat diandalkannya bisa dikembalikan untuk menyerang dirinya sedemikian rupa. Sambil menangis Dewa Sedih cepat jatuhkan diri cari selamat. Pada saat itulah tongkat di tangan kiri Kakek Segala Tahu berkelebat menggebuk bahu kirinya. Kali ini Dewa Sedih keluarkan jerit kesakitan.

Tulang bahunya serasa hancur. Tubuhnya terbanting ke tanah.

Kempitannya pada tubuh Gayatri terlepas. Melihat hal ini Wiro cepat pergunakan kesempatan menyambar tubuh puteri bungsu Prabu Singosari itu dan membawanya ke tempat yang aman.

Dewa Sedih mencoba bangun dan mulai menangis lagi. Namun saat itu ujung tongkat kayu di tangan Kakek Segala Tahu sudah menusuk tenggorokannya.

"Menangis sepuas hatimu! Manusia biang kerok sepertimu tidak layak hidup lebih lama!"

Tampang kakek muka hitam itu menjadi pucat.

Keringat mengucur di keningnya. Tapi dasar manusia aneh dalam ketakutan seperti itu dia masih saja terus menangis. Sebenarnya Kakek Segala Tahu hanya bermaksud menggertak. Dia tidak punya keinginan untuk membunuh Dewa Sedih.

Pandangan hidupnya ilmu silat dan segala macam ilmu kesaktian adalah untuk melindungi diri sendiri, keluarga dan sahabat, bukan untuk membunuh orang, apapun alasannya. Soal bunuh membunuh biar serahkan saja pada orang lain.

Sebaliknya merasa dirinya tidak mungkin akan selamat dari kematian Dewa Sedih hanya bisa pasrah. Dia mulai meratap memilukan. Menyaksikan kejadian itu Wiro hanya bisa garuk-garuk kepala. Lalu dia ingat pada keadaan Gayatri. Totokan yang membuat kaku sekujur tubuh gadis ini segera dilepaskannya.

Tiba-tiba dari samping kiri pondok kayu berkelebat satu bayangan besar disertai mengumandangnya suara tawa bergelak disusul suara seruan.

"Jangan bunuh saudaraku!"

Selarik angin menyambar.

Wuttt!

Kakek Segala Tahu merasakan tangan kirinya bergetar. Tongkat yang ditusukkannya ke leher Dewa Sedih bergoyang-goyang. Semula dia berusaha mengerahkan tenaga untuk bertahan. Tapi memikir tak ada gunanya maka dia kendurkan pegangannya dan tongkat itu terpelanting kiri namun tak sampai lepas dari pegangannya.

Di hadapan Kakek Segala Tahu kini berdiri seorang bertubuh gemuk luar biasa, mengenakan baju dan celana yang kesempitan. Sepasang matanya sipit hampir berbentuk garis, rambutnya disanggul ke atas. Dari mulutnya tiada hentinya keluar suara tertawa gelak-gelak.

Gayatri yang tegak disamping Wiro dan sudah bebas dari totokan pegang lengan Pendekar 212 dan berbisik.

"Manusia-manusia apa sebenarnya yang ada di depan kita ini? Sebaiknya kita lekas pergi saja dari sini."

Keadaan tidak berbahaya seperti tadi lagi Raden Ayu. Kalau tadi memang saya yang menginginkan agar kau cepat pergi, kini tak ada yang perlu dikhawatirkan. Orang gendut seperti kerbau bunting itu adalah Dewa Ketawa. Kalau aku tidak salah dia adalah adik dari kakek hitam berjuluk Dewa Sedih itu..."

"Kalau begitu kita ketambahan seorang musuh."

"Tidak. Walau bersaudara tapi Dewa Sedih dan Dewa Ketawa tidak sehaluan.

Dewa Ketawa selalu berpihak pada orang persilatan golongan putih..."

"Sungguh tidak masuk akal. Bagaimana ada manusia-manusia aneh seperti mereka itu!"

"Dunia persilatan justru menjadi ramai oleh manusia-manusia semacam mereka...Kita lihat saja apa yang akan terjadi."

Mengenali siapa yangdatang Kakek Segala Tahu bermata buta itu tampak gelenggelengkan kepala. Dia goyang-goyangkan kaleng rombengnya dan ketuk-ketukkan tongkat bututnya ke tanah.

"Tertawa sepanjang hari. Berbobot sebesar sapi. Siapa lagi kalau bukan Dewa Ketawa? Ha..ha..ha! Kalau sudah tahu apa yang terjadi mengapa tidak meminta kakakmu si Dewa Sedih agar segera meninggalkan tempat ini?"

Dewa Ketawa puaskan dulu gelaknya lalu mengangguk-angguk, kemudian berpaling pada kakaknya.

"Kau sudah dengar ucapan orang! Sudah untung kau masih bisa bernafas saat ini.

Ayo lekas minggat dari sini!"

Sepasang mata Dewa Sedih tampak melotot memandang pada adiknya. Namun sesaat kemudian terdengar kembali isak tangisnya. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri sambil pegangi bahu kirinya yang mendenyut sakit akibat pukulan tongkat Kakek Segala Tahu tadi.

"Kau tidak pernah berubah," Dewa Ketawa teruskan omelannya. "Masih saja melibatkan "Masih saja melibatkan diri dengan orang-orang tidak baik. Apa untungmu bergabung dengan orang-orang yang berniat jahat terhadap Singosari?!"

"Urusanmu urusanmu. Urusanku urusanku!" jawab Dewa Sedih. Dia melangkah mendapatkan Gandita.

Dewa Ketawa mengekeh mendengar ucapan kakaknya itu. Dia menyahuti dengan suara keras. "Bagus kalau begitu ucapanmu! Lain hari, jangan harap aku akan menolongmu!"

"Aku tidak perlu segala macam pertolongan adik durhaka sepertimu!" teriak Dewa Sedih lalu kembali terdengar suara isak tangisnya. "Kita pasti akan bertemu lagi. Kau akan menyesal! Pasti menyesal!"

Dewa Ketawa mencibir. "Tua bangka tolol! Sudah bau tanah masih mau melantur!" Si gendut ini perhatikan kepergian kakaknya bersama Gandita lalu berpaling pada Kakek Segala Tahu. Dia mulai tertawa.

"Sahabatku pengemis yang turun dari Kahyangan, apa kabarmu?"

Kakek Segala Tahu tersenyum. "Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu? Kau kelihatan agak langsingan!"

Mendengar ucapan itu meledak tawa Dewa Ketawa hingga kedua matanya berair.

"Selama tiga bulan ini beratku telah bertambah dua puluh kilo. Bagaimana kau bisa mengatakan aku agak langsing?! Ha..ha..ha..!" Dewa tertawa lalu melirik ke arah Wiro.

"Kampret Gondrong!" katanya menyebut Wiro dengan panggilan mengejek seenaknya itu. "Selamat bertemu kembali dengan orang yang kau juluki Kerbau Bunting!"

Gayatri menutup mulutnya agar suara tertawanya tidak membersit keluar. Wiro garuk-garuk kepala tapi cepat menjawab, "Aku si Kampret Gondrong baik-baik saja.

Kukira kau sudah beranak Kerbau Bunting, rupanya belum!"

Dewa Tertawa kembali meledak tawanya. Kakek Segala Tahu dan Gayatri ikut tertawa gelak-gelak.

"Kalau aku beranak, siapa yang akan menolong! Tidak ada dukun beranak di tempat ini!" kata Dewa Ketawa pula.

Kembali tempat ini menjadi riuh oleh suara tertawa.

Kakek Segala Tahu mengangkat tongkatnya dan meletakkan benda ini di atas bahu Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Anak muda, kau selalu saja mencari-cari penyakit!" berkata si kakek "Saya tidak bermaksud berbuat begitu. Penyakit apakah yang kau maksudkan Kakek Segala Tahu?"

Si kakek ketuk-ketukkan tongkatnya ke bahu Wiro sedang tangan kanannya menggoyang-goyangkan kaleng rombeng.

"Kau tahu penyakit apa yang aku maksudkan Wiro. Yang jelas saat ini kau berada berdua-duaan di dalam hutan bersama seorang puteri Kerajaan Singosari!"

"Astaga!" Wiro melengak.

Dewa Ketawapun tampak keheranan. Siapa yang dimaksud kakek buta itu dengan puteri Keraton Singosari? Dia hanya melihat seorang pemuda berkumis tipis disamping Wiro.

"Kakek Segala Tahu, bagaimana kau...?"

Gayatri sendiri tidak kalah kagetnya. Diam-diam dia mulai merasa gelisah. Dia hendak membisikkan sesuatu pada Wiro tapi tak jadi karena saat itu terdengar kakek buta berkata.

"Tak usah teruskan pertanyaanmu itu. Aku mencium bau harum semerbak dari pakaian dan tubuh orang yang tegak di sampingmu. Wewangian seperti itu hanya dimiliki oleh permaisuri atau puteri-puteri Keraton Singosari! Apa salah dugaanku?"

"Kau..kau betul," jawab Wiro sambil garuk-garuk kepala. Bertemu dengan Kakek Segala Tahu belum tentu bisa sekali dalam tiga tahun. Maka murid Sinto Gendeng cepat berkata.

"Kek, selagi kau ada di sini, aku mohon petunjukmu..."

"Petunjuk mengenai hubunganmu dengan gadis Keraton ini?" tanya Kakek Segala Tahu lalu tertawa mengekeh. Dewa Ketawa ikut-ikutan tertawa. "Jangan mimpi kau bakal berjodoh dengannya, Pendekar 212!"

Paras Wiro dan wajah samaran Gayatri tampak kemerah-merahan. Wiro cepat berkata. "Maksudku bukan itu kek. Aku ingin kau meramal tentang Singosari di masa mendatang. Hal ini kutanyakan karena saat ini ada komplotan jahat yang hendak memberontak dan merebut tahta kerajaan dari tangan Sang Prabu.

"Kalau itu yang kau tanyakan sulit bagiku untuk menjawab," sahut Kakek Segala Tahu sambil mendongak lalu goyang-goyangkan kaleng rombeng berisi batu di tangan kanannya.

Wiro tahu orang tua bermata putih dan buta itu berdusta. Dipegannya tangan Kakek Segala Tahu. Sebelum dia berkata si kakek berpaling ke arah Gayatri lalu berkata.

"Sebentar lagi pagi akan datang. Apakah kau tidak bakal mengalami kesulitan jika kembali ke Keraton kesiangan?"

Ucapan Kakek Segala Tahu itu membuat Gayatri sadar. Dia memandang ke Timur. Langit di ufuk sana tampak mulai benderang. Puteri bungsu Prabu Singosari ini memandang pada Wiro. Mungkin banyak yang ingin dikatakannya tapi dia hanya mengucapkan: "Jika kau ingin menemui saya di Keraton, carilah seorang abdi tua bernama Damar..." Habis berkata Gayatri tinggalkan tempat itu. Dia menemukan kudanya tak jauh dari situ lalu bersama tunggangannya ini berlalu dengan cepat.

"Nah, gadis itu sudah pergi. Sekarang baru aku bisa leluasa meramal. Aku tadi tidak ingin dia mendengar ramalanku," kata Kakek Segala Tahu. "Rupanya dia sangat menyukaimu Pendekar 212..."

"Lupakan dulu gadis itu. Ucapkan ramalanmu," kata Wiro.

"Ya, ya...Aku juga ingin mendengar," kata Dewa Ketawa lalu mengekeh panjang.

Mulut Kakek Segala Tahu tampak komat-kamit. Dengan ujung tongkatnya dia menggurat tanah di depannya membuat gambar segitiga.

"Akan kucoba meramal. Benar tidaknya ramalanku hanya kenyataan nanti yang kelak akan membuktikan. Terus terang ini Cuma ramalan seorang tua bangka tolol. Jadi jangan terlalu percaya!"

Dewa Ketawa tertawa gelak-gelak mendengar ucapan orang tua itu. Kakek Segala Tahu memulai ramalannya.

Kaleng rombeng di tangan kanannya digoyang keras-keras. "Kejadian pertama.

Akan terjadi perang saudara antara Singosari dengan orang-orang Kediri. Singosari runtuh tapi bukan tidak bisa diselamatkan. Seoarang kesatria akan muncul menyelamatkan tahta baru." Ujung tongkat di tangan kiri Kakek Segala Tahu bergeser ke ujung segitiga sebelah kanan bawah. "Kejadian kedua. Akan datang balatentara dari utara menyerbu tanah Jawa. Siapa yang dapat mempergunakan kesempatan dalam kekalutan akan mendapat pahala besar. Akan muncul lagi seorang kesatria baru. Dia bakal mendapat bantuan dari kesatria pertama tadi."

Kakek Segala Tahu kembali goyang-goyangkan kaleng bututnya. Lalu ujung tongkat ditekankan ke arah ujung segitiga sebelah atas. "Aku melihat sinar terang, tapi tidak terlalu terang. Sinar ini bukan sinar matahari, juga bukan sinar rembulan atau cahaya bintang-bintang. Ada tujuh warna bertabur memanjang. Mungkin ini yang dinamakan pelangi. Ingat pelangi selalu muncul setelah hujan turun dan reda. Berarti ada cahaya harapan memayungi bekas bumi Singosari..." Kakek Segala Tahu mengakhiri ramalannya. Dia batuk-batuk beberapa kali lalu menggoyang-goyangkan kalengnya.

"Terima kasih kau telah mau meramal. Hanya saja ada yang kurang jelas. Kek, dapatkah kau menerangkan mengenai balatentara dari Utara dan cahaya pelangi itu..." Kakek Segala Tahu mendongak lalu gelengkan kepalanya.

"Sayang waktuku terbatas. Aku harus pergi sebelum siang datang. Pendekar 212 ada satu hal yang perlu aku sampaikan padamu. Betapapun sukanya Puteri Raja itu terhadapmu, jangan kau berani bermain cinta. Karena bagaimanapun kalian tidak berjodoh..."

Wiro garuk-garuk kepala. Dewa Ketawa tertawa gelak-gelak. Terdengar suara kaleng berkerontangan. Ketika memandang ke depan astaga! Kakek Segala Tahu tidak ada lagi di tempatnya. Hanya suara kaleng rombengnya yang terdengar di kejauhan.

Dewa Ketawa menepuk bahu Pendekar 212. "Kampret Gondrong! Aku juga harus pergi sekarang. Ingat pesan orang tua tadi. Kampret sepertimu jangan bercinta dengan Puteri Raja! Ha..ha..ha..!"

"Kerbau Bunting sialan!" maki Wiro tapi hanya dikeluarkannya dalam hati.

Dewa Ketawa masukkandua jari tangan kirinya ke dalam mulut. Lalu terdengar suara siutan nyaring sekali. Sambil terkekeh-kekeh dia memandang seekor keledai yang keluardari balik semak-semak.

"Tungganganku sudah datang. Aku harus pergi sekarang. Lain kali kita ngobrol lagi Kampret Gondrong! Ha..ha..ha..!"

Dewa Ketawa melompat ke punggung keledai kecil itu. Binatang ini melenguh pendek lalu melangkah cepat. Seperti yang pernah disaksikannya sebelumnya Wiro melihat Dewa Ketawa hanya menumpang duduk di atas punggung keledai sementara kedua kakinya yang menjejak tanah melangkah cepat mengikuti langkah keledai.

***BAB IIIMalam itu hujan turun lebat sekali. Di bawah curahan hujan deras dan dinginnya udara seorang penunggang kuda nampak memacu tunggangannya memasuki Singosari dari pintu gerbang Utara. Busur dan kantong anak panah tersandang di bahunya. Sebilah golok panjang tergantung pada ikat pinggang besar yang dikenakannya. Bahu kirinya dibalut kain tebal untuk menutupi luka besar yang masih mengeluarkan darah. Ternyata dia adalah seorang anggota pasukan Singosari berpangkat setinggi di bawah kepala pasukan.

Luka di bahu kirinya membuat tubuhnya panas dingin. Tapi perajurit ini berusaha menguatkan diri. Apapun yang kemudian terjadi atas dirinya dia tidak perduli. Yang penting dia harus menyampaikan berita besar itu pada Patih Kerajaan. Seharusnya dia melapor pada atasan tertinggi yaitu Panglima Perang Argajaya. Namun karena kediaman sang Panglima terletak jauh di selatan sedangkan Patih Raganatha diam di kawasan kraton yang lebih dekat sementara lukanya cukup parah, maka prajurit itu memutuskan menghubungi Patih Kerajaan lebih dulu. Tetapi para pengawal di gedung Kepatihan tidak satupun yang berani membangunkan Raganatha. Perajurit itu disarankan agar melapor pada Panglima Argajaya saja.

Udara mulai terang-terang tanah ketika akhirnya prajurit itu sampai di tempat kediaman Panglima Pasukan Singosari. Dia harus menunggu lama sampai seorang pengawal keluar menanyakan keperluannya.

"Serombongan pasukan menyerang balatentara Singosari di Welirang... Perajurit kita banyak yang menemui ajal akibat serangan mendadak ini. Kepala pasukan berusaha bertahan. Aku diutus untuk melapor serta minta bala bantuan."

"Tunggu di sini. Aku akan beritahu Panglima Argajaya," kata pengawal itu.

Tak selang berapa lama Panglima Balatentara Singosari itu muncul di hadapan si prajurit. Prajurit ini segera menghatur hormat.

"Saya Kijangat, Wakil Kepala Pasukan wilayah Porong di utara. Saya dikirim Kepala Pasukan untuk menghadap dan melapor."

"Pengawal mengatakan ada pasukan tak dikenal menyerang pasukanmu. Betul?"

Kijangat mengangguk. "Jumlah mereka cukup banyak sedang kekuatan kita di wilayah itu terbatas. Saat ini pasukan Singosari pasti berada dalam bahaya besar. Kepala Pasukan minta saya mendapatkan bantuan dengan segera."

"Kalian tahu kira-kira pasukan dari mana yang berani menyerbu bala tentara Singosari itu?" tanya Panglima Argajaya.

"Besar dugaan mereka adalah orang-orang Kediri..."

"Orang-orang Kediri berani melakukan itu? Pasti Adikatwang yang punya pekerjaan! Keparat!" Argajaya tampak berang besar.

"Ada satu hal lagi Panglima," kata Kijagat.

"Apa?"

" Dalam rombongan penyerbu itu bercampur pula orang-orang Madura..."

Paras Panglima Argajaya yang tadi sudah merah kini jadi tambah merah mengelam. "Aku harus segera bertindak!" katanya. "Tapi lukamu perlu diobati."

Argajaya berteriak memanggil pengawal. Begitu pengawal muncul dia berkata. "Rawat lukanya. Kalau sudah biarkan dia istirahat di salah satu kamar belakang."

Dalam keadaan letih karena perjalanan jauh dan karena banyak darah yang keluar Kijangat dipapah oleh dua orang pengawal. Tapi dua pengawal ini ternyata tidak melakukan seperti apa yang diperintahkan Argajaya. Kijangat dinaikkan ke atas sebuah gerobak lalu dilarikan menuju ke Selatan. Pengawal yang satu bertindak sebagai kusir gerobak sementara satunya lagi menduduki punggung Kijangat yang dipaksa menelungkup di lantai kereta.

"Hai! Kalian mau bawa kemana aku?!" teriak Kijangat. "Kalian diperintahkan untuk mengobati lukaku!"

"Tutup mulutmu atau kubunuh kau saat ini juga!" bentak pengawal yang menduduki punggung Kijangat hingga orang ini tidak berkutik. Sebilah golok pendek disilangkannya di batang leher Kijangat.

Gerobak meluncur kencang di atas jalan tanah berbatu-batu menuju arah Selatan Tumapel ibukota Singosari.

Di satu tempat yang sunyi dan ditumbuhi pepohonan lebat, pengawal di sebelah depan hentikan gerobak. Dia memandang berkeliling. Keadaan di tempat itu sunyi senyap. Udara pagi masih terasa dingin. Mereka berada di bibir timur Lembah Bulan Sabit. Keadaan di situ diselimuti kesunyian.

"Kurasa ini tempat yang baik," berbisik pengawal yang mengemudikan gerobak.

Dia memberi isyarat dengan anggukan kepala. Kawannya di sebelah belakang serta merta angkat tangan kanannya yang memegang golok. Lalu sekuat tenaga senjata itu dihunjamkannya ke punggung Kijangat.

Wakil Kepala Pasukan wilayah Porong itu meraung keras. Kepalanya mendongak sesaat lalu terbanting ke atas lantai gerobak. Darah mengucur membasahi punggung pakaiannya. Kedua kaki dan tangannya mengejang beberapa kali lalu diam tak berkutik lagi. Dua pengawal menurunkan tubuh Kijangat dari atas gerobak. Lalu tubuh itu mereka lemparkan ke lembah.

Tak lama setelah gerobak bersama dua pengawal itu berlalu, dari pusat Lembah Bulan Sabit sayup-sayup terdengar suara orang bersiul menyanyikan lagu tak menentu.

Mendadak suara siulan itu berhenti. Menyusul terdengar satu seruan.

"Astaga! Binatang atau manusia yang melingkar di semak belukar itu!"

Orang yang bersiul menggaruk kepalanya. Dia bukan lain adalah Pendekar 212 Wiro Sableng yang tengah meninggalkan Lembah Bulan Sabit setelah pertemuan dengan Gayatri, Dewa Ketawa, dan Kakek Segala Tahu. Wiro mendekati dengan cepat sosok yang terbaring di tanah dengan pakaian penuh lumuran darah. Orang ini berseragam prajurit Singosari. Sosok ini adalah Kijangat yang sebelumnya telah ditusuk oleh pengawal Panglima Argajaya. Wiro memeriksa keadaan prajurit yang malang itu. "Masih hidup. Tapi tak bakal lama," pikir Wiro. Bibir Kijangat tampak bergetar.

Dari sela bibir itu terdengar suara mengerang. Murid Eyang Sinto Gendeng segera alirkan tenaga dalam untuk memberi kekuatan pada orang yang tengah sekarat itu.

"Prajurit Singosari, katakan apa yang terjadi," Wiro menekan dada Kijangat dengan telapak tangan kanannya. Mulut Kijangat terbuka sedikit. Namun bukan suara yang keluar melainkan lelehan darah. Wiro lipat gandakan tenaga dalamnya. Sepasang mata Kijangat membuka, hanya putihya yang kelihatan.

Pas..pasukan musuh me.. menyerang di Utara..." Kijangat berucap dengan susah payah. "Aku...aku melapor pad Panglima...Dua peng.. pengawalnya membawaku ke sini.

Aku..aku ditusuk... Pengawal itu sengaja... membunuhku. Beritahu Patih. Penyerang adalah orang-orang Kediri...orang-orang Madura. Aku..." Kijangat megap-megap.

"Beritahu siapa namamu!" ujar Wiro.

"Aku...aku Kijangat. Aku..." kata-kata Kijangat terputus. Nyawanya lepas. Wiro menghela napas panjang. Dia ingat ramalan Kakek Segala Tahu.

"Agaknya ramalan orang tua itu akan segera menjadi kenyataan," kata Wiro dalam hati.

***Bagi Wiro yang merasa dirinya tidak lebih sebagai seorang buronan tidak mungki untuk menemui Patih Singosari guna melaporkan apa yang diketahuinya. Sesuai dengan petunjuk Gayatri, pagi itu dia berusaha untuk menyelinap di sekitar Keraton, mencari seorang abdi tua bernama Damar.

Namun anehnya setiap orang yang ditanya mengatakan tidak ada orang bernama Damar. Selagi kebingungan tiba-tiba ada seorang anak lelaki mendatangi dan sengaja menabraknya.

Wiro yang sedang bingung hendak mendamprat anak itu. Tapi si anak berkata tanpa berpaling, "Ikuti saya. Saya tahu orang bernama Damar itu."

Wiro cepat ikuti si anak. Dia dibawa ke tembok belakang Keraton, menuju sederetan kandang kuda. Seorang lelaki tua bertubuh katai tampak tengah memaku ladam kaki kiri belakang seekor kuda besar. Anak tadi menunjuk pada orang tua katai itu lalu cepat-cepat bertindak pergi.

Murid Sinto Gendeng dekati orang tua bertubuh katai yang tengah memperbaiki ladam di kaki seekor kuda. Abdi yang tingginya hanya sepinggang Wiro menatap Pendekar 212 dengan pandangan dingin.

"Apa keperluanmu?" tanya orang tua katai ini. Ternyata suaranya besar sekali.

"Saya mencari seorang bernama Damar," jawab Wiro.

"Dari mana kau tahu nama itu?" tanya lagi si katai.

Wiro jadi ragu untuk menjawab.

"Orang bertanya apakah kau tuli?!"

"Puteri bungsu Sang Prabu yang memberi tahu nama itu," Wiro akhirnya menjawab.

"Namamu sendiri siapa?!"

Dalam hati Wiro mulai mendumal. Si katai tua ini banyak sekali tanyanya. Tapi karena perlu maka diapun menjawab juga. "Saya Wiro. Sahabat Raden Ayu Gayatri."

Si katai menyeringai sinis. "Puteri Gayatri mana punya sahabat orang sepertimu!"

Habis berkata begitu acuh tak acuh si katai membalikkan tubuh. Dia mengambil sebuah ladam besi dari dalam sebuah kotak kayu. Tangan kanannya yang memegang ladam itu bergerak meremas. Kraaakkk! Ladam besi patah tiga!

Selagi Wiro mengagumi kehebatan orang ini, tiba-tiba si katai melemparkan tiga besi potongan ladam tadi ke arahnya.

Tiga potongan besi itu menderu ke arah kepala, dada, dan perut Pendekar 212.

Kaget murid Sinto Gendeng bukan kepalang. Cepat dia menghantam lepaskan pukulan sakti Tameng sakti menerpa hujan. Tiga kepingan ladam maut mental. Dua menancap di atap kandang kuda, satu lagi menancap di tembok belakang Keraton. Angin pukulan sakti itu terus menggebubu menyapu ke arah si katai. Dengan cekatan orang tua ini melompat ke samping. Di lain kejap dia telah duduk seenaknya di atas punggung seekor kuda. Wajahnya masih sedingin tadi walau kini tampak senyumnya yang sinis.

Ketika Wiro hendak menghantam dengan pukulan tangan kosong berikutnya, si katai cepat mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Tahan!" katanya. "Sekarang aku baru percaya kau pemuda yang bernama Wiro, sahabat Raden Ayu Gayatri. Aku mendengar kehebatanmu darinya. Karena itu aku perlu menguji lebih dahulu. Kau mampu melumpuhkan seranganku. Hanya orang yang berkepandaian setinggi puncak Gunung Semeru yang dapat melakukan hal itu!"

"Orang tua, siapa kau sebenarnya?!" tanya Wiro.

Orang tua itu tidak menjawab. Dia membuat gerakan ringan dan sekali berkelebat kini dia sudah berdiri di atas punggung kuda. Tangan kanannya diulurkan ke atas atap.

Wiro melihat ada sebuah bungkusan di atap kandang kuda itu.

Orang tua ini mengambil bungkusan itu, membukanya lalu melemparkan isinya pada Wiro.

"Tukar pakaianmu dengan itu!" kata si katai.

Wiro perhatikan apa yang barusan dilemparkan orang tua katai itu. Ternyata seperangkat pakaian prajurit Singosari.

"Kalau kau ingin menemui Raden Ayu Gayatri, lekas kenakan pakaian itu. Aku tak punya waktu lama."

Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya.

"Kau pasti sudah lama tidak mandi. Sejak tadi kulihat sudah beberapa kali kau menggaruk-garuk kepala!"

"Kurang ajar! Sialan!" maki Wiro dalam hati.

***BAB IVPatih Raganatha yang ditemani Pendeta Mayana untuk beberapa saat seperti tidak bisa percaya atas apa yang barusan disampaikan Raden Ayu Gayatri.

"Kami akan sampaikan berita ini pada Panglima Argajaya agar dia segera melakukan tindakan," kata Patih Raganatha.

"Saya lebih suka kalau Paman Patih langsung menyampaikan pada Sang Prabu," kata Raden Ayu Gayatri.

"Jika itu keinginan Raden Ayu akan kami laksanakan," jawab Pendeta Mayana.

"Lalu bagaiman dengan Panglima Argajaya? Apakah tidak dilakukan pengusutan atas dirinya?"

Patih Raganatha tersenyum. "Kita tidak tahu pasti apakah memang dia yang menyuruh bunuh prajurit yang datang dari Porong itu. Atau kedua pengawalnya itu yang sebenarnya telah menjadi kaki tangan orang-orang Kediri."

"Kalau begitu kedua pengawal itu harus ditangkap, diperiksa!"

Patih Raganatha mengangguk. "Serahkan semua urusan ini pada kami berdua."

Patih Raganatha dan Pendeta Mayana mengantarkan Gayatri sampai di pintu. Di situ berdiri seorang prajurit bertubuh tegap yang tadi ikut datang mengantar puteri Sang Prabu itu dan menunggu di luar.

"Raden Ayu," tiba-tiba Patih Raganatha ingat sesuatu.

"Dari siapa sebenarnya Raden Ayu mendapat berita penyerangan itu. Bukankah prajurit yang datang melaporkannya mati dibunuh?"

Gayatri tak bisa menjawab. Dia berpaling pada prajurit yang tegak di samping pintu.

"Maafkan saya," kata prajurit itu setelah menghaturkan sembah hormat. "Pagi tadi kebetulan saya melakukan perondaan di Lembah Bulan Sabit. Saya yang menemukan prajurit itu. Dalam keadaan sekarat dia masih sempat menceritakan apa yang terjadi di Utara."

Patih Raganatha menatap paras prajurit itu sesaat.

"Jika kau yang menemukan prajurit itu, selayaknya kau melapor pada Panglima, bukan pada Raden Ayu Gayatri..."

Pendeta Mayana melirik ke arah Gayatri. Dia melihat perubahan pada wajah puteri sang Prabu ini ketika mendengar kata-kata Patih Raganatha.

"Terus terang..." kata prajurit itu. "Seharusnya memang saya melapor pada Panglima atau Kepala Pasukan dipindahkan. Tetapi setelah saya tahu ada yang tidak beres dengan kematian prajurit itu maka saya merasa khawatir dan berpikir lebih baik melapor pada Paduka Patih saja. Dalam perjalanan ke sini saya berpapasan dengan Raden Ayu. Saya ceritakan padanya kejadian itu. Kami bersama-sama kemudian menghadap Paduka Patih."

Patih Raganatha mengangguk-angguk tapi kedua matanya tetap mengawasi prajurit itu.

"Paman Patih, ingat. Kerajaan dalam bahaya besar. Sebaiknya segera saja menemui Ayahanda," kata Gayatri memotong karena mulai merasa tidak enak. Dia membalikkan diri dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Si prajurit melangkah di sampingnya.

"Tunggu!" tiba-tiba Patih Ragantha berseru dan memburu. Dia memotong jalan si prajurit dan menghadang di depannya. Pendeta Mayana bergegas menyusul. "Aku merasa pernah melihatmu sebelumnya," kata Patih Raganatha.

Tangannya diulurkan menarik rambut prajurit yang tergelung di atas kepala.

Ketika ikatan rambut itu terbuka dan rambut si prajurit menjulai gondrong sebahu, ingatan Patih Raganatha pulih penuh. Dia mengenali siapa adanya prajurit itu.

"Kau...! Aku sudah duga dan curiga! Kau ternyata buronan bernama Wiro itu!

Serahkan dirimu!"

"Paman Patih! Siapa dia tidak penting!" Gayatri keluarkan suara keras seraya menyeruak lalu tegak diantara Wiro dan Patih Raganatha. "Yang lebih penting adalah menyelamatkan Kerajaan dari kaum penyerbu Kediri dan Madura!"

Paras Patih Singosari itu nampak membesi. "Manusia satu ini tak kalah pentingnya Raden Ayu. Saya harus menangkapnya saat ini juga!"

Di saat itu pula Wiro tiba-tiba mendengar suara mengiang di telinga kirinya.

Seseorang mengirimkan suara tanpa berucap kepadanya, "Anak muda, lekas kau lakukan sesuatu sebelum Patih Raganatha menangkapmu."

Wiro maklum, yang mengirimkan ucapan itu adalah Pendeta Mayana, kekasih gurunya di masa muda. Saat itu pula dilihatnya Patih Raganatha melompat ke hadapannya.

Kedua tangannya diulurkan ke depan dan Wiro melihat kedua tangan itu berubah panjang sekali, bercabang-cabang seperti gurita.

"Astaga!" Pendeta Mayana terkejut melihat apa yang dilakukan Patih Raganatha.

"Mapatih mengeluarkan ilmu Seratus gurita mengamuk. Murid Sinto Gendeng itu tak mungkin bisa lolos!"

Diam-diam dari belakang dalam gerakan yang tidak kelihatan dan terlindung di balik pakaiannya, Pendeta Mayana mengangkat tangan kanannya lalu menariknya ke belakang.

Gerakan Patih Raganatha mendadak seperti tertahan. Dalam kejutnya Patih Kerajaan ini lipat gandakan tenaga dalamnya.

Justru saat itu dari depan Wiro mendahului dengan mendorongkan tangan kiri ke arah dada, mengirimkan pukulan tangan kosong kunyuk melempar buah. Raganatha merasa seperti ada batu besar yang menghantam dadanya. Dia cepat berkelit ke samping.

Namun angin pukulan Wiro masih sempat menabrak bahunya. Patih Singosari ini terpuntir keras dan terbanting ke lantai. Dua tangannya yang tadi berubah panjang bercabang-cabang lenyap dan kembali ke bentuknya semula. Ketika dia mencoba bangkit dengan mengerenyit kesakitan ditolong oleh Pendeta Mayana, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng sudah tidak ada lagi di tempat itu.

Patih Ragantha memandang tak berkesip pada Raden Ayu Gayatri. Kalau saja bukan puteri sang Prabu yang dihadapinya mungkin saat itu sudah ditamparnya. Dia menoleh ke arah Pendeta Mayana, pandangan matanya tampak beringas.

Ah, dia tahu kalau aku tadi menahan gerakannya, membatin sang Pendeta. Lalu dia cepat berkata: "Mapatih, kita harus segera menghadap Sang Prabu."

"Biarkan saya sendiri yang menghadap Sang Prabu," kata Patih Raganatha. Lalu dengan bergegas ditinggalkannya tempat itu. Pendeta Mayana dan Gayatri hanya bisa saling pandang untuk beberapa saat lamanya. Sang Pendeta kemudian berkata. "Raden Ayu, seperti Raden Ayu, saya merasa yakin bahwa saat ini Singosari benar-benar berada dalam bahaya besar. Saya akan menghubungi Damar. Hati-hatilah bicara dan bertindak.

Bukan mustahil dalam Keraton ini ada musuh dalam selimut."

Raden Ayu Gayatri mengangguk.

Ketika Patih Raganatha masuk ke ruangan dimana sang Prabu biasa menerima kedatangan para pejabat dan petinggi Keraton, di tempat itu ternyata sudah ada Panglima Argajaya tengah bicara dengan sang Prabu.

"Mungkin apa yang saya hendak sampaikan pada sang Prabu, sama dengan apa yang tengah dibicarakan Panglima dengan sang Prabu saat ini," kata Patih Raganatha.

Lalu dia menerangkan kabar penyerbuan orang-orang Kediri yang dibantu oleh orangorang Madura.

"Paman Patih benar," kata Panglima Argajaya.

"Saya baru saja menyampaikan laporan itu pada sang Prabu. Bahkan saya sudah mengirimkan satu kelompok kecil pasukan ke Utara."

"Satu kelompok kecil?" ujar Patih Raganatha. "Kaum penyerbu dikabarkan berjumlah cukup besar dan pasukan kita di sekitar Porong saat ini terdesak hebat."

"Ah, dari manakah sumber keterangan Paman Patih?" bertanya Argajaya.

Sesaat Patih Raganatha terdiam. Akhirnya dia memutuskan untuk bicara apa adanya. Lalu diceritakannya kedatangan Raden Ayu Gayatri bersama pemuda bernama Wiro itu.

Terkejutlah Sang Prabu mendengar keterangan Sang Patih. "Pemuda kurang ajar buronan itu berani masuk Keraton dan bersama puteriku! Paman Patih! Tugasmu menagkapnya!"

"Saya sudah melakukannya Sang Prabu. Tapi pemuda itu sempat melarikan diri.." jawab Patih Raganatha.

"Kalau memang dia yang jadi sumber keterangan, jangan-jangan kita sudah kena ditipu!" berkata Argajaya.

"Berarti tepat tindakan saya hanya mengirimkan satu pasukan kecil ke Utara"

"Saya mencium hal yang mencurigakan," menyahut Patih Raganatha. Ketika bicara dia memandang pada Sri Baginda.

"Maksud Mapatih?" tanya Sang Prabu.

"Menurut keterangan yang saya terima, prajurit yang datang dari Utara membawa laporan dan pesan, dibunuh oleh dua orang pengawal yang bertugas di tempat kediaman Panglima...Hal ini perlu diusut!"

"Secara tidak langsung Paman Patih bermaksud mengatakan bahwa saya harus dicurigai dan diusut!" Panglima Argajaya tidak dapat menyembunyikan rasa marahnya.

Suaranya bergetar.

"Saya tidak mengatakan demikian Panglima. Tapi jika keterangan itu benar, harus dicari tahu mengapa hal itu terjadi," jawab Patih Raganatha.

"Mencurigai sesama kita tidak baik," ujar Sang Prabu.

"Saya setuju dengan ucapan Sang Prabu," kata Panglima Argajaya. "Lagi pula saya sudah melakukan pengusutan sebelum Paman Patih mengemukakan. Prajurit yang datang dari Utara berada dalam keadaan luka parah. Ketika hendak diobati dia berusaha melarikan diri. Karena tidak mau menyerah, dua pengawal saya terpaksa menyerangnya. Dia memang tewas."

"Tapi mengapa mayatnya ditemukan dekat Lembah Bulan Sabit? Tidak di Tumapel?"

Panglima Argajaya tampak merah wajahnya. Lalu didengarnya Patih Kerajaan bertanya, "Bisakah saya bicara dengan dua pengawal yang Panglima sebutkan tadi?"

"Bisa saja. Tapi keduanya sudah saya kirim ke Utara bersama kelompok pasukan bantuan." jawab Argajaya pula. Lalu dia berpaling pada Sri Baginda. "Sang Prabu, kita berada di sini bukan untuk membicarakan kematian prajurit atau kecurigaan terhadap dua pengawal saya ataupun diri saya sendiri. Yang harus kita lakukan adalah menumpas kaum pemberontak itu. Saya telah mengirimkan sejumlah pasukan ke Utara. Seseorang sudah saya minta untuk melihat situasi dan kembali memberikan laporan siang ini juga.

Bagaimanapun juga saya mohon petunjuk Sang Prabu lebih lanjut."

"Kalian melaporkan adanya orang-orang Kediri dan pasukan dari Madura yang bergabung dalam pasukan penyerbu itu," berucap Sang Prabu. "Sekali lagi saya katakan tidak mungkin Adikatwang ataupun Wira Seta punya niat jahat terhadap Singosari. Saya setuju dengan tindakan Panglima hanya mengirim serombongan pasukan kecil. Yang penting seluruh pasukan disiapsiagakan untuk melindungi Tumapel.

Tapi ingat, satu lapis pasukan harus dikirim ke luar Kotapraja sebelah Utara untuk menjaga segala kemungkinan."

"Perintah Sang Prabu akan saya lakukan," kata Panglima Argajaya pula. "Jika tidak ada hal-hal lain, saya minta diri untuk menjalankan perintah."

"Kau boleh pergi Panglima. Beritahu setiap ada perkembangan baru pada saya."

"Akan saya lakukan sang Prabu." Kata Argajaya pula.

Lalu setelah melontarkan lirikan tajam ke arah Patih Raganatha diapun keluar dari ruangan itu.

"Saya rasa sayapun bisa minta diri jika diizinkan," kata Patih Singosari setelah hanya dia saja yang berada di ruang itu bersama sang Prabu.

"Tolong panggilkan Pendeta Mayana. Minta dia datang ke ruangan berdoa. Saatsaat seperti ini meminta perlindungan dari Yang Kuasa adalah sangat penting. Jika Paman Patih suka bisa ikut mengadakan upacara pemanjatan doa bersama-sama."

"Saya akan panggilkan Pendeta Mayana," kata Patih Raganatha lalu meninggalkan ruangan setelah terlebih dulu menjura hormat.

***BAB VBeberapa pengawal yang bertugas di halaman belakang Keraton meliha ada orang lari segera mengejar. Di sebelah depan sempat menghadang empat orang prajurit bersenjatakan tombak dan pedang. Namun keempatnya langsung terjengkang begitu kaki dan tangan Pendekar 212 Wiro Sableng berkelebat menghantam.

Dengan gerakan ringan apalagi setelah menerima ilmu meringankan tubuh dari Dewa Ketawa, Wiro Sableng melompati tembok belakang Kraton tanpa kesulitan. Para pengawal tak mungkin mengejar. Begitu menjejakkan kaki di jalan belakang tembok sesaat Wiro berpikir kemana dia harus pergi dan apa yang musti dilakukannya. Selagi dia berpikir begitu di depannya dilihatnya seorang nenek berjubah merah muda berbelangbelang merah tua melangkah ke arahnya. Semakin dekat perempuan tua ini mendatangi tambah jelas keanehan pada wajahnya dilihat Wiro. Nenek ini memiliki mata semerah buah saga. Telinganya dicantoli giwang panjang berwarna merah.

Tiupan angin dan langkah yang dibuatnya menyebabkan sepasang giwang itu bergoyang-goyang dan mengeluarkan suara bergemerincing. Sesekali si nenek mengulurkan lidah membasahi bibirnya. Lidah itu mengerikan sekali. Bukan saja karena panjang tetapi juga warnanya yang merah seperti api.

Di belakang rambutnya yang berwarna merah lepas riap-riapan ada secarik pita yang juga berwarna merah. Wajahnya yang angker tampak lebih mengerikan karena sepasang alisnya yang panjang menjulai ternyata juga berwarna merah pekat!

Nenek aneh ini melangkah ke arah Wiro. Begitu sampai di hadapannya baru murid Sinto Geneng ini menyadari betapa tingginya si nenek. Kepalanya hanya sampai di dada perempuan tua itu.

Si nenek mengeluarkan tangan kanannya. "Minta sedekah!" katanya kasar.

Pandangan mukanya garang dan kedua matanya membara. Ketika bicara lidahnya menjulur keluar seperti lidah api menyambar. Wiro merasa ada hawa panas keluar dari mulut dan mungkin juga dari kedua mata perempuan tua ini.

Ah, pengemis dia rupanya, kata Wiro dalam hati.

Perasaannya yang tidak enak kini menjadi lega. Namun dia tidak bisa memberikan apa-apa dan harus segera meninggalkan tempat itu sebelum ada yang mengejar.

"Harap mafkan, saya tidak punya uang," kata Wiro lalu cepat memutar diri hendak tinggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba, sama sekali tidak terduga, tangan kanan yang masih diulurkan itu meluncur ke arah dada Wiro Sableng. Pendekar ini merasakan ada hawa panas menjalari sekujur tubuhnya. Saat itu juga dia tidak bisa bergerak tidak bisa bersuara! Ternyata nenek pengemis itu telah menotoknya dengan ilmu totokan yang aneh. Semakin lama Wiro merasakan tubuhnya semakin panas!

Celaka! Keluh Pendekar 212.

Di hadapannya si nenek tertawa mengekeh. Lidahnya terjulur-julur seperti lidah api menyambar-nyambar. Kedua matanya bertambah merah. Dia membungkuk, siap memanggul tubuh Wiro. Pada saat itulah ada angin menyambar disusul oleh satu letupan halus. Segulung asap putih menggebubu menutupi jalan seluas lima tombak persegi.

Wiro merasa ada seseorang tiba-tiba memegang pinggangnya, tubuhnya dikempit lalu dibawa lari laksana melayang. Di belakangnya terdengar suara nenek memaki marah lalu ada suara menderu keras. Wiro memandang ke belakang. Dari gelungan asap putih tebal dilihatnya ada lidah api mencuat mengerikan. Lidah api ini mengejar ke arahnya.

Panas dan ganas. Orang yang mengempitnya melompat ke kiri sambil mengebutkan lengan jubah pakaiannya. Semburan lidah api tampak bergoyang-goyang.tubuh si pengempit bergetar keras hampir jatuh. Tapi lidah api berhasil dibuat mental hingga Wiro dan orang yang mengempitnya tidak sempat disambar lidah api itu. Dalam waktu beberap kejapan saja si pengempit sudah membawa Wiro jauh dan tak mungkin dikejar oleh nenek pengemis tadi.

Di satu tempat yang sunyi, orang yang mengempit menurunkan Wiro ke tanah.

Tegak berhadap-hadapan Wiro cepata memandang ke arah wajah orang yang telah menolongnya itu. Ternyata orang itu mengenakan sehelai cadar hitam untuk menutupi wajahnya. Tapi dari pakaiannya Pendekar 212 mulai menduga-duga.

Orang bercadar membuka dada pakaian Wiro lalu dari balik cadarnya dia meniupi dada yang ditotok oleh nenek pengemis tadi. Wiro merasa ada hawa hangat sejuk menembus kulit dan daging tubuhnya, terus menyusup ke seluruh peredaran darahnya.

Sesaat kemudian tubuhnya yang tadi serasa panas hingga dia kucurkan keringat sebesarbesar butir jagung kini menjadi dingin dan saat itu pula dia bisa menggerakkan kaki tangannya dan membuka suara.

"Terima kasih," ucap Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng.

"Sahabat, siapakah kau yang telah menolongku? Dan siapa nenek pengemis tadi? Mengapa dia menotok saya?"

"Dia bukan pengemis," jawab orang bercadar. "Dia adalah Dewi Maha Geni, seorang tokoh silat istana yang ilmu luar biasa tapi diragukan kesetiaannya.

Kemungkinan dia adalah kaki tangan orang-orang Kediri... Dia pasti bermaksud menculikmu. Ada dua kemungkinan mengapa dia melakukan hal itu, pertama membujukmu ikut dalam gerakan Adikatwang dan Wira Seta. Atau menyerahkan kepalamu pada orang-orang Kediri!"

Wiro terkesiap mendengar ucapan orang itu. "Kau, kau sendiri belum mengatakan siapa dirimu. Saya seperti mengenal suaramu tapi agak meragu. Bukankah kau..."

Orang di hadapan Wiro membuka cadar hitamnya. Wiro melihat satu wajah yang bersih dan mata yang bening.

"Pendeta Mayana!" seru Wiro sementara orang di hadapannya hanya tersenyum kecil. "Saya memang sudah menyangka tadi.."

"Waktuku tidak banyak. Aku perlu beberapa bantuan darimu," kata Pendeta Mayana.

"Katakanlah, matipun aku mau mengingat budi besarmu" jawab Pendekar 212 tanpa ragu-ragu.

"Tidak, bantuan itu bukan untuk pribadiku. Tapi untuk Kerajaan. Untuk Singosari," kata Pendeta Mayana pula. "Kita sudah sama tahu bahwa musuh mulai menyerbu dari Utara."

Wiro mengangguk. Sang Pendeta meneruskan. "Aku punya firasat bahwa Singosari akan jatuh. Beberapa petunjuk Dewa mengatakan begitu. Sementara Sang Prabu seperti tidak mau percaya pada kenyataan. Jika bahaya benar-benar tak dapat dihindari, aku mohon kau menyelamatkan keempat puteri sang Prabu dan dua buah pusaka Kerajaan yaitu Mahkota Narasinga dan Keris Saktipalapa. Dua benda itu adalah yang menentukan syah tidaknya seseorang menjadi Raja Singosari."

"Saya akan lakukan hal itu pendeta. Namun saya butuh petunjukmu bagaimana melakukannya."

Pendeta Mayana mengangguk. "Bila saatnya sudah tiba, aku akan tunjukkan dimana adanya kedua benda pusaka itu."

"Bagaimana caranya saya menghubungi pendeta?" tanya Wiro.

"Seorang sahabat yang akan menghubungimu. Berusahalah agar tidak jauh-jauh dari Keraton. Kalau perlu menyamar."

"Akan saya lakukan," jawab Wiro. Lalu dia bertanya.

"Siapa sahabat yang akan menghubungi saya itu?"

"Damar."

"Damar? Orang katai perawat kuda-kuda Keraton itu?"

Pendeta Mayana tersenyum. "Itu pekerjaannya sehari-hari. Tapi sebenarnya dia adalah orang kita yang disusupkan ke Keraton untuk membayangi tindak-tanduk Dewi Maha Geni. Cuma aku khawatir tingkat kepandaiannya masih berada jauh di bawah nenek bermata dan berlidah api itu. Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik..."

"Sekali lagi terima kasih saya untukmu Pendeta. Kau juga harus berhati-hati. Saya menduga Keraton telah disusupi musuh dalam selimut..."

Pendeta Mayana mengangguk segera tinggalkan tempat itu. Tiba-tiba Wiro ingat pada pesan Eyang Sinto Gendeng, gurunya. Pendeta Mayana juga tahu sekali pesan itu karena disampaikan lewat dirinya.

"Pendeta, tunggu dulu!" seru Wiro. Dia lari mengejar.

"Ada apa?" tanya Pendeta Mayana seraya hentikan larinya.

"Saya punya ganjalan dalam melakukan permintaanmu.

Ingat pesan Eyang Sinto Gendeng yang disampaikannya untukku melaluimu di pondok Lembah Bulan Sabit tempo hari?"

Pendeta Mayana tersenyum. "Aku tidak lupa hal itu. Pesan orang tua dan guru wajib diingat dan dihormati. Tetapi harus kau ketahui setiap pesan bisa saja tidak sesuai lagi dengan keadaan dan kehendak waktu. Lebih dari itu berbuat satu kebajikan untuk orang banyak apalagi Kerajaan lebih banyak hikmahnya daripada hanya mengikuti suatu pesan yang tidak dapat lagi dipertahankan. Kau mengerti maksudku?"

"Saya mengerti Pendeta," jawab Wiro.

"Apakah kau kini masih merasa ada ganjalan?"

"Tidak."

"Bagus. Kalaupun nanti gurumu marah, biar aku yang menghadapinya. Aku yang akan bertanggung jawab terhadap dirinya."

"Kalau begitu sekarang saya benar-benar merasa lega."

Pendeta Mayana mengangguk dan tinggalkan tempat itu.

***Patih Raganatha tidak berhasil menemui Pendeta Mayana. Sang Pendeta saat itu secara diam-diam hendak menemui Raden Ayu Gayatri di Kaputeran.

Di taman indah di samping Kaputeran Pendeta Mayana berpapasan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi langsing berparas cakap. Dia adalah Raden Juwana, calon menantu sang Prabu yang kelak akan dinikahkan dengan puteri sulung Tribuana Tunggadewi. Saat itu Raden Juwana tengah bercakap-cakap dengan calon istrinya yang ditemani oleh seorang pengasuh. Melihat jalan Pendeta Mayana yang begitu bergegas, Raden Juwana menegur hormat.

"Rupanya ada sesuatu yang penting hingga Pendeta tampak melangkah cepat.

Ada apakah hingga Pendeta mengambil jalan melintas menuju Kaputeran?"

"Syukur Raden ada disini. Mari kita sama-sama masuk Kaputeran. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan."

Raden Juwana dan Pendeta Mayana melangkah di depan. Tribuana mengikuti dari belakang diiringi pengasuh. Di dalam Kaputeran yang kemudian dihadiri juga oleh tiga puteri Raja lainnya termasuk puteri bungsu Gayatri, Pendeta Mayana menjelaskan tentang adanya serangan oleh musuh Kerajaan di sebelah Utara.

"Saya bukan seorang peramal. Tetapi dalam kehidupan ini segala sesuatunya dapat kita hubungkan dengan petunjuk dari Dewata. Beberapa waktu lalu ada hal aneh yang terjadi di candi Jago. Petir dahsyat menyambar di siang hari.

Getarannya terasa sampai di jantung. Ini satu pertanda dari para Dewa bahwa sesuatu akan terjadi di Singosari. Jika hal itu adalah sesuatu yang baik, kita tidak perlu membicarakannya. Tetapi bagaimana kalau kelak itu adalah pertanda akan terjadinya sesuatu yang buruk, suatu malapetaka?"

"Maksud Pendeta Mayana?" tanya Raden Juwana.

"Orang-orang Kediri dibantu oleh orang-orang Madura mengirimkan pasukan, menyerbu kedudukan pasukan kita di Utara sekitar Porong. Panglima telah mengirimkan bala bantuan namun saya merasa khawatir pihak kita akan mengalami kekalahan."

"Mana mungkin Singosari bisa dikalahkan. Kta mempunyai jumlah pasukan yang lebih besar dan terlatih. Apakah Raden Adikatwang dan Wira Seta ikut terlibat dalam gerakan penyerbuan itu?"

"Saya rasa begitu," jawab Pendeta Mayana. Lalu dipegangnya bahu Raden Juwana dan diajaknya berjalan agak menjauh dari Tribuana. "Dengar..." kata Pendeta Mayana pula. "Singosari memang punya bala tentara besar dan terlatih. Tetapi baik Panglima maupun Mapatih serta sang Prabu merasa bahaya itu tidak perlu dikhawatirkan.

Lain dari itu, saya merasa kita telah disusupi oleh musuh-musuh dalam selimut."

"Kalau Pendeta mengetahui siapa orangnya, mengapa tidak dilaporkan pada sang Sri Baginda?" ujar Raden Juwana.

"Saya dan beberapa petinggi Kerajaan berada dalam kesulitan. Sang Prabu tidak mau mendengar pandangan kami."

"Menurut Pendeta apakah keadannya gawat sekali?"

"Saat ini mungkin belum. Tapi siapa tahu apa yang terjadi besok atau lusa...?"

Saat itu seorang prajurit Kraton muncul memberi tahu bahwa Pendeta Mayana ditunggu Sang Prabu di Ruang Pemanjatan Doa.

"Kita akan bicara lagi nanti," kata Pendeta Mayana lalu tinggalkan tempat itu mengikuti prajurit tadi.

***BAB VIMalam itu Tumapel dilanda kehebohan. Deretan gudang panjang di selatan Kotaraja dilanda kebakaran. Di bagian lain hampir dua ratus ekor kuda yang ketakutan menjadi liar, mendobrak palang pembatas dan lari ke pelabagai arah sulit untuk dikejar.

Di halaman kandang kuda enam orang tidak dikenal menggeletak jadi mayat dengan kepala pecah.

Orang tua katai bernama Damar memandangi mayat itu satu per satu. Tak seorangpun yang dikenalinya.

Seharusnya tidak semua kubunuh, kata Damar dalam hati penuh penyesalan. Kini dia tidak bisa mengetahui siapa adanya keenam orang yang dengan sengaja telah melepaskan ratusan ekor kuda itu. Damar berlutut di samping salah satu mayat.

Dirabanya pakaian orang itu. Terasa tebal. Tangannya bergerak merobek dada pakaian mayat.

Ah! Orang tua katai ini melengak. Di bawah pakaian yang barusan dirobeknya terlihat sehelai pakaaian berwarna hitam bergaris-garis kuning. Itu adalah pakaian seragam prajurit Kediri! Pasti mereka juga yang telah melakukan pembakaran atas gudang senjata! Damar segera tinggalkan tempat itu, bergegas menuju gedung Kepatihan.

Sampai di depan gedung dilihatnya Patih Raganatha tegak di tangga depan, memandang ke arah timur dimana langit tampak merah terbakar.

"Mohon maafmu, Mapatih Singosari," kata Damar.

"Orang-orang Kediri berhasil menyusup dan melepas kuda-kuda milik kita. Saya berusaha mengejar binatang-binatang itu. Tapi sia-sia saja. Enam penyusup berhasil saya tewaskan..."

"Orang-orang Kediri rupanya tidak main-main," kata Patih Raganatha. Hatinya mulai merasa khawatir. Dia berpaling pada seorang pembantu kepercayaan yang tegak di sampingnya. "Apa sudah ada kabar dari Panglima mengenai keadaan di Utara?"

Yang ditanya menggeleng. "Orang saya berusaha menemui Panglima. Namun pengawal di sana mengatakan bahwa Panglima tengah melakukan pertemuan di Selatan dengan beberapa Kepala Pasukan untuk membuat persiapan berjaga-jaga melindungi Kotaraja."

"Ada beberapa keanehan!" kata Patih Kerajaan pula.

"Orang-orang Kediri menyusup begitu mudah. Ratusan kuda yang bisa diandalkan untuk perang dilepas orang! Panglima tidak ada di tempat. Lalu gudang senjata dibakar orang! Tak ada yang bisa diselamatkan! Lalu tak ada sama sekali kabar dari medan pertempuran di Utara."

"Maaf Mapatih," berkata pembantunya. "Mungkin keterangan saya sebelumnya kurang jelas. Mengenai gudang senjata yang terbakar, gudangnya memang musnah tetapi sewaktu kebakaran terjadi tidak ada sepotong tombak atau pedang ataupun tameng di dalamnya."

"Berarti gudang itu memang sudah kosong sebelum terjadi kebakaran!" sepasang mata Patih Raganatha membeliak.

"Mungkin memang begitu adanya, Mapatih," jawab si pembantu.

"Aku segera menemui sang Prabu. Beliau masih berada di Ruang Pemanjatan Doa saat ini." Patih itu berpaling pada Damar lalu berkata.

"Lakukan apa yang bisa kau lakukan. Usahakan mengembalikan kuda-kuda yang terlepas itu."

Orang tua bertubuh katai itu mengangguk dan cepat-cepat tinggalkan tempat itu.

Tapi dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Patih Raganatha melainkan mendahului Patih itu menuju Ruang Pemanjatan Doa.

Dalam Ruang Pemanjatan Doa, sang Prabu hanya ditemani oleh Pendeta Mayana.

Sang Prabu saat itu duduk di atas batu pualam putih yang mengeluarkan sinar terang dalam ruangan yang redup itu. Keadaannya seperti orang yang kurang sadar. Kedua matanya terpejam. Telapak tangan dirapatkan dan diluruskan di depan dada. Mulutnya bregerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Damar maklum sekali keadaan sang Prabu seperti itu buakn karena dia tenggelam dalam kekhusyukan doa, melainkan karena pengaruh minuman keras yang diteguknya terlalu banyak. Di atas lantai di sekitarnya bertebaran tabung-tabung dari tanah tempat minuman keras yang telah kosong.

Di sebelah belakang duduk bersila Pendeta Mayana. Ada dua tabung minuman di sampingnya yang masih berada dalam keadaan penuh karena dia sama sekali tidak menyentuhnya walaupun dalam upacara pemanjatan doa seperti itu meneguk minuman keras memang diperkenankan.

Walaupun tidak membuka mata namun Pendeta Mayana sudah tahu siapa yang datang.

"Kau membawa kabar apa Damar?"

"Orang-orang Kediri membakar gudang senjata yang sebelumnya memang sudah kosong. Mereka juga melepaskan kuda-kuda. Panglima..."

"Tunggu, saya mendengar langkah orang di luar sana. Ada yang datang,"

memotong Pendeta Mayana. Ketinggian ilmunya membuat dia mampu mendengar langkah kaki orang yang masih jauh sekalipun.

"Pasti itu Patih Raganatha," kata Damar. "Saya tidak suka dia mengetahui kita bicara di tempat ini."

"Kalau begitu lekas kita menyelinap ke balik tirai besar di sebelah kiri sana," kata Pendeta Mayana.

Kedua orang itu cepat bersembunyi ke balik tirai biru muda tebal yang ada di dinding sebela kiri ruangan. Tak lama kemudian seseorang memasuki Ruang Pemanjatan Doa.

Dia memang adalah Patih Raganatha. Sang Patih agak heran mendapatkan Sri Baginda hanya sendirian di ruangan. Apalagi dilihatnya Sang Prabu berada dalam keadaan kurang sadar. Mau tak mau dia harus bicara dengan Sang Prabu. Patih Raganatha berlutut di samping Raja. "Sang Prabu, saya Patih Raganatha datang menghadap..."

"Kau berani mengganggu Raja yang sedang melakukan upacara keagamaan?"

sepasang mata Sri Baginda membuka sedikit. Kelihatan matanya agak merah kurang tidur.

"Mohon maafmu sang Prabu. Tapi ada berita penting yang harus saya sampaikan.

Gudang senjata dibakar dan ratusan kuda dilepaskan orang. Sama sekali tidak ada kabar dari pasukan kita di Utara..."

"Semua laporan itu harus kau sampaikan pada Panglima, bukan padaku!"

"Saya tahu sang Prabu. Tapi Panglima tidak ada di Kotaraja saat ini. Dia berada di Selatan tengah berembuk dengan beberapa Kepala Pasukan untuk menyusun rencana perlindungan atas Kotaraja."

"Adalah tolol kalau dia hanya memikirkan perlindungan bagi Tumapel. Dia harus turun tangan menyerbu musuh, sebelum musuh mendekati Tumapel!"

Patih Raganatha merasa heran mendengar ucapan Rajanya itu. Sebelumnya sang Prabu sendiri yang menyetujui tindakan yang diambil Panglima yaitu hanya mengirim satu kelompok kecil pasukan ke Utara. Kini mengapa dia baru bisa berpikir lebih baik seperti ini?

"Paman Patih, apakah kau masih di sini?"

"Saya masih di sini sang Prabu. Saya mohon petunjuk sang Prabu," jawab Patih Raganatha.

"Kau kuperintahkan untuk mengambil alih tugas dan tanggung jawab Panglima Argajaya..."

"Saya siap kalau begitu perintah sang Prabu. Kita masih belum tahu sampai seberapa besar bahaya yang dihadapi Singosari. Namun untuk berjaga-jaga saya mohon sang Prabu meninggalkan tempat ini dan bersembunyi di satu tempat yang aman."

"Bersembunyi?" sang Prabu tertawa panjang.

"Raja Singosari bersembunyi hanya karena ada gangguan dari serombongan tikus-tikus Kediri dan Madura? Jangan kau hinakan Rajamu sendiri, Mapatih!"

"Maafkan saya sang Prabu. Kalau sang Prabu ada usul lain demi keselamatan sang Prabu, saya akan lakukan.."

"Usulku lekas tinggalkan tempat ini. Aku tidak akan pernah meninggalkan Ruangan Pemanjatan Doa ini apapun yang terjadi!"

"Sang Prabu, keadaan sewaktu-waktu bisa berubah genting!" kata Patih Raganatha pula.

"Keluar dari tempat ini Paman Patih, lakukan apa yang tadi kuperintahkan! Aku hanya minta agar seratus prajurit utama berjaga-jaga di luar."

Patih Raganatha menarik napas panjang. Perlahan-lahan dia berdiri, menjura hormat lalu tinggalkan tempat itu.

Di balik tirai tebal Pendeta Mayana berbisik, "Damar, saya rasa keadaan sudah mulai gawat. Saya tidak yakin Panglima Argajaya emnemui beberapa Kepala Pasukan di Selatan untuk menyusun perlindungan atas Tumapel..."

"Saya juga merasa begitu Pendeta. Jika dia hendak melindungi Kotaraja, dia harus memanggil semua Kepala Pasukan ke Kotaraja, bukannya dia yang harus pergi ke sana. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

"Kau awasi gerak-gerik Dewi Maha Geni. Temui Raden Juwana, katakan agar dia bersiap-siap mengungsikan empat puteri sang Prabu ke desa Tembang Sari dekat Kudadu di percabangan Kali Brantas." Dari balik jubahnya Pendeta Mayana mengeluarkan secarik kertas. Kertas ini diserahkannya pada Damar. "Berikan peta ini pada Raden Juwana agar dia tidak tersesat."

Damar menyimpan peta kecil itu di balik pinggang pakaiannya. "Ada hal lain lagi Pendeta?" tanya lelaki katai ini kemudian.

"Ya. Kau ingat pemuda gondrong bernama Wiro itu?"

"Saya ingat."

"Saat ini dia berada di sekitar tembok luar Keraton. Temui dia dan katakan padanya agar menyiapkan seekor kuda yang kuat, menyamar sebagai tukang rumput dan supaya menunggu di persimpangan jalan. Jangan pergi sebelum saya muncul. Nah hanya itu Damar. Cepat pergi. Sebentar lagi pagi segera datang."

"Pendeta sendiri akan berada dimana dan akan berbuat apa?" tanya Damar.

"Ada sesuatu yang akan saya lakukan. Jika sudah selesai saya akan berada di tempat ini menemani sang Prabu."

Damar tampak bimbang sebentar. Lalu dia bertanya.

"Bagaimana dengan Sri Baginda sendiri? Apakah kita tidak akan menyelamatkannya?"

"Keselamatan sang Prabu serahkan pada saya," jawab Pendeta Mayana pula.

"Kalau begitu saya minta diri sekarang."

"Pergilah. Hati-hati.."

***BAB VIIApa yang dikhawatirkan orang-orang seperti Pendeta Mayana dan Damar serta Patih Raganatha walaupun kekhawatiran sang Patih ini datangnya agak terlambat memang beralasan.

Pasukan musuh yang menyerbu di kawasan Utara jumlahnya memang tidak besar.

Tetapi mereka sempat memporak-porandakan pasukan Singosari di wilayah itu. Katika bala bantuan yang dikirim Panglima Argajaya datang, pasukan musuh berhasil dihantam hingga cerai berai di satu tempat tak jauh dari Candi Sanggariti.

Pasukan dalam jumlah besar yang kemudian dikirimkan oleh Patih Raganatha ke Utara mambentuk tembok pertahanan guna melindungi Singosari. Namun satu hal tidak pernah diduga oleh orang-orang Singosari. Serangan yang dilancarkan oleh orang-orang Kediri yang dibantu oleh orang-orang Madura di kawasan Utara itu ternyata hanyalah siasat tipu daya belaka. Selagi sebagian besar pasukan Singosari bergerak menuju Utara, secara diam-diam satu gelombang gabungan pasukan Kediri dan Madura yang luar biasa besarnya, bergerak menyusuri kaki Gunung Penanggungan sebelah timur, terus menyusup ke kaki Gunung Welirang, melewati bagian timur kaki Gunung Anjasmoro lalu mendekati Singosari dari arah Selatan. Gerakan pasukan yang besar ini telah dilakukan jauh sebelum serbuan pancingan dilakukan di Utara. Sehingga ketika pertempuran pecah di Utara, dua hari kemudian pasukan musuh di Selatan sudah berada di pintu gerbang Selatan membuat kaget pasukan Singosari yan berada di situ. Lebih mengejutkan lagi karena di kepala pasukan kelihatan memimpin panglima Perang Argajaya. Lenyapnya Sang Panglima sejak beberapa hari ini rupanya karena memang dia sudah menyusun rencana pengkhianatan, menggabungkan pasukan yang dapat ditariknya dengan pasukan Kediri-Madura yang datang dari Utara!

Saat itu matahari masih belum menyembul dari ufuk timur. Rombongan pasukan yang siap menggempur Singosari bergerak laksana gelombang air laut. Di lapis kedua barisan terdapat serombongan penabuh genderang dan peniup terompet. Mereka bertugas memberikan semangat pada seluruh balatentara.

Di barisan terdepan di belakan pasukan panah kelihatan Panglima Argajaya. Dia tidak mengenakan seragam pasukan Singosari melainkan berpakaian merah dengan ikat kepala merah. Dia dikelilingi oleh enam orang bekas Kepala Pasukan Singosari wilayah Selatan yang berhasil dibujuknya untuk ikut bergabung dengan pasukan Kediri-Madura.

Dua puluh tombak di sebelah kiri Argajaya terlihat Adipati Wira Seta didampingi pembantu utamanya yaitu pemuda berkepandaian tinggi bernama Gandita. Kedua orang ini mengenakan pakaian perang lengkap dengan senjatanya. Seperti Argajaya keduanya menunggangi kuda.

Penunggang kuda keempat yang bertindak selaku salah satu pimpinan pasukan penyerang adalah Dewa Sedih. Orang tua ini seperti biasa selalu kelihatan murung dan sesenggukan. Orang kelima yang menjadi tokoh di pihak penyerang adalah seorang perempuan tua bertubuh jangkung, mengenakan jubah merah. Saosoknya hampir tidak kelihatan karena terhalang oleh barisan berkuda yang ada di sebelah depan. Perempuan tua ini bukan lain adalah Dewi Maha Geni yang seperti Panglima Argajaya melakukan pengkhianatan, menyeberang ke pihak musuh. Yang tidak kelihatan justru adalah Raden Adikatwang, pucuk pimnpinan tertinggi pasukan musuh, yang berambisi ingin menjadi Raja di Raja penguasa Kediri dan Singosari.

Di pihak Singosari yang telah bersiap sedia menyambut serangan musuh di pintu gerbang Selatan hanya dipimpin oleh beberapa Perwira Tinggi dan Perwira Muda.

Melihat pasukan musuh dipimpin oleh empat orang kawakan itu mau tak mau pihak Singosari menjadi kendor nyali mereka. Namun apa mau dikata tugas mereka harus siap mempertahankan kerajaan dengan darah dan nyawa.

Perlahan-lahan sang surya mulai muncul di Timur.

Genderang ditabuh keras. Terompet ditiup nyaring. Inilah satu pertanda bahwa serangan segera dimulai. Laksana air bah pasukan Kediri-Madura bergerak cepat menuju pintu gerbang Selatan. Pasukan panah sudah siap merentang busur. Saat itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda berpakaian perang. Ternyata dia adalah Patih Raganatha.

Kedatangan Raganatha memberi semangat pada pasukan Kerajaan. Orang tua ini muncul di pintu gerbang, mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Argajaya. Patih Singosari ini berusaha terus maju sampai ke luar pintu gerbang. Di satu tempat dia hentikan kudanya.

Argajaya mengangkat tangan dan meneriakkan sesuatu.

Seluruh pasukan yang tengah bergerak itu berhenti dengan tiba-tiba.

"Argajaya! Aku tidak mengira serendah ini budimu terhadap Sri Baginda Prabu dan Singosari. Namun aku memberikan kesempatan. Kau masih punya waktu untuk kembali bersama pasukanmu!"

Argajaya menyeringai. Dia balas berteriak. "Patih Singosari! Saat ini tidak perlu kita bicara menyangkut segala macam budi! Aku tawarkan padamu untuk bergabung bersama kami. Atau kau akan ikut kami sama ratakan dengan bumi Singosari!"

"Pengkhianat busuk!" teriak Patih Raganatha marah. Tangan kirinya dihantamkan ke depan. Selarik angin menderu menyambar ke arah Argajaya. Selagi Panglima Singosari yang menyeberang ke pihak musuh itu menarik kudanya dan mengelak ke samping, Raganatha angkat tangan kanannya. Tangan itu berubah menjadi panjang sekali bercabang cabang. Inilah ilmu kesaktian seratus gurita amuk. Argajaya tahu betul kehebatan ilmu ini. Maka cepat-cepat dia menyingkirkan kudanya ke kiri sambil balas menghantam dengan pukulan tangan kosong. Argajaya berlaku cerdik. Yang dihantamnya adalah kuda tunggangan Patih Singosari itu.

Saat itu pula Argajaya mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas. Genderang ditabuh gegap gempita.

Terompet ditiup memekakkan telinga. Pasukan menyerbu untuk kedua kalinya.

Dan sekali ini seperti tidak ada lagi yang sanggup menahannya. Setelah menewaskan ratusan prajurit Singosari, pertahanan di pintu gerbang Selatan bobol.

Pasukan musuh membanjir. Patih Raganatha berteriak memberi semangat. Tangan kanannya kini memegang sebilah golok panjang sedang tangan kiri terus menerus melancarkan serangan seratus gurita mengamuk. Balasan prajurit lawan menjadi korbannya. Namun pasukan musuh datang laksana air bah, menggulung apa saja yang ada di hadapannya. Patih Raganatha tidak mampu mendekati Argajaya. Bahkan kini dia terpaksa mundur terus dan keselamatannya terancam.

Di tengah-tengah perang bersosoh itu terdengar teriakan Argajaya."Patih Singosari! Nyawamu akan selamat jika kau ikut dengan kami!"

Patih Raganatha menyambar sebilah tombak lalu dilemparkannya ke arah Argajaya. Karena tidak menyangka akan diserang seperti itu, walau masih bisa berkelit namun ujung tombak itu masih sempat menyambar kain merah ikatan kepalanya hingga putus!

Meskipun marah namun Argajaya tahu kalau ilmunya masih setingkat di bawah Patih Raganatha. Maka dengan cerdik dia menoleh pada Dewa Sedih.

"Dewa Sedih! Bantu aku melenyapkan tua bangka buruk ini!"

Dewa Sedih keluarkan suara terisak lalu didahului oleh suara menggerung keras tubuhnya berkelebat ke arah Raganatha. Saat itu pula Argajaya cabut golok panjang yang mencantel di ikat pinggang besarnya lalu menarik tali kekang kuda hingga binatang ini melompat mendekati Patih Raganatha. Dikeroyok dua serta merta Patih Singosari ini terdesak hebat, sekalipun ada dua Perwira Tinggi yang berusaha membantunya, Sang Patih akhirnya tewas secara mengenaskan.

Di bagian lain, ketika pasukan gabungan Kediri-Madura mulai menyerbu, sambil mengeluarkan pekik keras nenek berjubah merah yaitu Dewi Maha Geni berkelebat ke depan.

Dia bukannya menyerang pasukan Singosari namun melompati tembok tinggi.

Begitu sampai di dalam dia menggebuk kepala seorang Perwira Muda hingga rengkah dan jatuh dari kudanya. Si nenek rampas kudanya lalu menghambur menuju ke arah Timur yaitu dimana terletak kawasan Keraton.

Pagi itu kabar penyerbuan besar-besaran pasukan musuh di pintu gerbang Selatan telah sampai di Keraton Tumapel.

Di salah satu bangunan yang sangat rahasia Pendeta Mayana keluar dengan tergopoh-gopoh. Di tangannya ada dua buah kotak kayu. Yang pertama berisi Mahkota Narasinga yakni mahkota lambang dan syahnya seorang menjadi Raja Singosari.

Kotak kedua yang agak kecil dan pipih di dalamnya terdapat Keris Saktipalapa, juga merupakan salah satu benda pusaka sangat berharga, pendamping Mahkota Narasinga.

Pendeta ini mengambil jalan berputar dan muncul di sebuah pintu kecil di bagian Barat tembok Keraton. Dua orang pengawal yang bertugas di situ memberi hormat dan membiarkannya lewat. Di luar tembok Pendeta Mayana melangkah cepat menuju persimpangan jalan. Dia mengharapkan pemuda itu sudah menunggu di sana. Tetapi ketika dia sampai di persimpangan tak seorangpun dilihatnya di tempat itu. Sang Pendeta mulai khawatir. Serombongan prajurit berkuda lewat di jalan dengan cepat. Pendeta Mayana memandang berkeliling. Hatinya lega ketika di depan sana ada seorang bercaping terbungkuk-bungkuk memikul dua keranjang berisi rumput. Di belakangnya mengikuti seekor kuda coklat.

Pendeta Mayana cepat mendekati tukang pikul rumput itu. Dua buah kotak yang dibawanya dimasukkan ke dalam keranjang seraya berkata."Lekas tinggalkan Kotaraja.

Bergabung denganRaden Juwana dan empat puteri Sri Baginda di desa Tembang Sari.

Ingat, dua kotak berisi benda pusaka dalam keranjang itu adalah mati hidupnya Kerajaan Singosari. Jaga baik-baik.."

"Akan saya pertahankan dengan darah nyawasaya," jawab Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Saya harus kembali ke Keraton untuk menyelamatkan Sang Prabu," kata Pendeta Mayana lalu pergi meninggalkan Wiro.

Murid Sinto Gendeng cepat naik ke atas punggung kuda.

Tapi belum sempat dia menarik tali kekang binatang itu tiba-tiba ada bayangan merah berkelebat di depannya disertai menyambarnya hawa panas. Memandang ke depan Wiro melihat nenek berjubah merah yang pernah ditemuinya sebelumnya dan disangkanya adalah seorang pengemis. Dewi Maha Geni! Dari Pendeta Mayana Wiro sudah mendapat keterangan siapa adanya nenek bermata dan berlidah api ini.

Dia bersikap berpura-pura ramah tapi penuh waspada.

"Ah, sobatku nenek canti jelita bermata seperti Bintang Timur. Apakah kali ini kau muncul hendak mengemis lagi? Atau ingin menotokku sekali lagi?!"

Dewi Maha Geni menyeringai. Dari mulutnya keluar suara menggerendeng. Lalu perempuan tua yang sakti ini berkata dengan suara keras.

"Jangan berlaku seperti pemuda merayu janda!"

Wiro Sableng batuk-batuk beberapa kali. "Harap maafkan kelancanganku. Aku tidak tahu kalau kau seorang janda!"

Sepasang mata Dewi Maha Geni menyorot marah laksana api. Lidahnya dijulurkan membasahi bibirnya dan lagi-lagi Wiro melihat lidah itu seperti lidah api.

"Sebetulnya aku sudah bosan jadi pengemis. Tapi sekali ini tidak ada salahnya.

Lekas kau serahkan padaku keranjang berisi rumput yang kau cantelkan di leher kuda itu!"

Ah, jadi dia sudah tahu apa isi keranjang ini, membatin Wiro. Kalau perempuan tua beralis dan berambut merah ini sudah berkata begitu berarti dia tidak main-main.

Tahu betul tingkat kepandaian si nenek maka Wiro siapkan pukulan sinar matahari di tangan kiri dan tangan kanan siap mencabut Kapak Maut Naga Geni 212 yang tersisip di pinggangnya. Namun selintas pikiran muncul dalam benaknya.

Kalau dia mampu menipu nenek ini mengapa tidak dicobanya?

Daripada harus melakukan baku hantam!

"Kalau kau tidak mau serahkan keranjang itu, kau bisa ganti dengan menyerahkan jantungmu!" si nenek membentak marah.

Pendekar 212 pura-pura ketakutan tapi masih coba bergurau.

Nenek, aku tidak tahu kau senang rerumputan. Kalau kau memang doyan lalapan rumput silahkan ambil keranjang ini!" lalu dengan tangan kirinya Wiro lepaskan keranjang yang dicantelkannya pada tali di leher kuda. Namun tumit kaki kanannya yang dialiri tenaga dalam tanpa terlihat oleh Dewi Maha Geni ditusukkannya ke tulang rusuk kuda. Binatang ini meringkik kesakitan dan mengangkat kedua kaki depannya tinggitinggi.

Wiro pura-pura jungkir balik jatuh ke tanah.

Keranjang rumput yang hendak diserahkannya jatuh bergelindingan dan bertabrakan dengan keranjang rumput yang satu lagi yang masih ada di tepi jalan. Kedua keranjang itu sama-sama terguling dan sama-sama bergelindingan. Wiro mengejar dan menangkap salah satu dari dua keranjang itu.

Lalu dilemparkannya ke arah Dewi Maha Geni.

"Ini keranjang yang kau minta Nek! Ambillah!" ujar Wiro.

Nenek bermata api segera menyambuti keranjang yang dilemparkan. Merasa bahwa keranjang itu memang keranjang yang tadi berada di atas kuda maka Dewi Maha Geni cepat tinggalkan tempat itu. Setelah si nenek menghilang di kejauhan Wiro tertawa gelak-gelak. Diambilnya keranjang yang masih tergeletak di tengah jalan dan cepat-cepat dicantelkannya ke tali leher kuda. Lalu murid Eyang Sinto Gendeng ini menggebrak kuda tunggangannya. Binatang ini menghambur ke depan. Di atasnya Wiro tak henti-hentinya tertawa karena berhasil menipu nenek tadi, menyerahkan keranjang yang hanya berisi rumput, tidak berisi dua buah kotak kayu benda pusaka Keraton Singosari itu!

Kita tinggalkan dulu Pendekar 212 yang berhasil mengelabui Dewi Maha Geni.

Kita menuju ke dalam kawasan Keraton. Sesuai dengan nasihat Pendeta Mayana maka Raden Juwana mengumpulkan keempat puteri Sang Prabu. Agar tidak mencurigakan mereka dinaikkan ke atas empat kereta mayat. Sekitar seratus orang prajurit terpercaya tanpa pakaian seragam mengawal empat kereta jenazah itu. Untuk mengelabui, enam orang perempuan disewa mengikuti perjalanan. Tugas mereka adalah pura-pura menangis bila berpapasan dengan orang lain. Sehingga orang menyangka bahwa rombongan yang lewat itu adalah benar-benar rombongan duka yang membawa empat jenazah yang akan disembahyangkan di satu tempat. Di sebelah muka menunggangi kuda Raden Juwana.

Dalam rombongan terdapat si katai Damar dan empat Perwira Muda. Mereka tidak menempuh jalan umum tapi melewati perbukitan dan hutan belantara di Timur Laut Tumapel. Meskipun jarak perjalanan menjadi tambah jauh namun terasa lebih aman. Di satu tempat Raden Juwana yang merasa was-was atas keselamatan calon mertuanya yaitu Sri Baginda berbalik kembali menuju Tumapel. Dia berpesan kepada Damar dan Perwira-Perwira kepercayaan agar terus bergerak menuju Kudadu. Bila sang Prabu sudah diselamatkan dia akan segera menyusul.

Sementara itu di Ruang Pemanjatan Doa, Pendeta Mayana telah mendampingi Sang Prabu melakukan upacara keagamaan. Di luar seratus pengawal berjaga-jaga. Bagi Pendeta Mayana apalah artinya jumlah seratus prajurit itu jika nanti ribuan pasukan musuh berhasil menerobos benteng pertahanan Singosari di Selatan lalu menyerbu Keraton. Apalagi kalau orang-orang berkepandaian tinggi seperti si pengkhianat Argajaya dan Dewi Maha Geni muncul di tempat itu, pasti keselamatan nyawa Sang Prabu tidak akan tertolong.

Belum lama Pendeta Mayana berpikir seperti itu, seorang prajurit tiba-tiba masuk ke dalam memberikan laporan. Prajurit ini jatuhkan diri ke lantai, bersujud beberapa lamanya kemudian baru duduk bersila di hadapan Sang Prabu dan Pendeta Mayana dengan wajah pucat.

"Ada apa Prajurit?" tanya Pendeta Mayana sedang Sang Prabu hanya memandang dengan lirikan matanya. Raja Singosari ini masih berada dalam pengaruh minuman keras.

"Pasukan Singosari tidak sanggup mempertahankan pintu gerbang Selatan.

Balatentara musuh berhasil menjebol pintu gerbang dan saat ini tengah membanjir memasuki Kotaraja! Panglima Argajaya ternyata berpihak pada mereka dan ikut memimpin pasukan musuh!"

Pendeta Mayana mengelus dadanya sendiri. Musuh cukup cerdik. Mereka sengaja mengirimkan pasukan kecil menyerbu kawasan Utara, padahal mereka sebenarnya tengah menyelinapkan pasukan besar di bagian Selatan Tumapel!

Wajah sang Pendeta nampak muram. Sebenarnya dia sudah maklum bahwa suatu saat orang-orang Kediri di bawah pimpinan Adikatwang yang sudah dianggap Raja oleh pengikutnya, dibantu orang-orang Madura di bawah pimpinan Wira Seta akan melakukan penyerbuan. Namun dia sama sekali tidak mengira hal itu terjadi demikian cepatnya.

"Prajurit," kata Pendeta Mayana. "Lekas kembali ke induk pasukanmu..."

Prajurit itu merunduk khidmat. Lalu cepat-cepat dia tinggalkan tempat itu. Dia tidak pernah kembali ke induk pasukannya tetapi menghambur bersama kudanya menuju ke Barat yaitu ke arah Jombang. Baginya kembali ke pasukan sama saja dengan menyerahkan nyawa pada pemberontak.

Pendeta Mayana bangkit dari duduknya lalu melangkah ke tempat Prabu Kertanegara duduk pejamkan mata. Dalam keadaan biasa tidak mungkin Pendeta Mayana akan berani mengganggu sang Prabu. Namu saat itu keadaan sudah sangat gawat. Dia harus memberi tahu Prabu Kertanegara. "Sang Prabu...," kata Pendeta Mayana.

Kertanegara tetap tak bergerak dalam duduknya. Mukanya tampak merah akibat pengaruh minuman keras.

"Sang Prabu!" memanggil kembali Pendeta Mayana. Sekali ini dengan suara lebih keras. Ketika dilihatnya kedua mata Kertanegara bergerak tanda dia mendengar panggilan tadi maka Pendeta Mayana meneruskan ucapannya dengan suara keras. "Kita harus meninggalkan tempat ini dengan segera Sang Prabu! Balatentara musuh telah memasuki Tumapel..."

"Kau takut pada orang-orang Kediri dan orang-orang Madura itu, Pendeta Mayana?"

"Tidak ada yang saya takutkan di dunia ini sang Prabu, kecuali terhadap para Dewa..."

"Kalau begitu ikuti aku memuja dan berdoa pada Dewata."

"Sang Prabu, maafkan saya. Doa bisa dilakukan kemudian. Yang penting saat ini sang Prabu harus menyelamatkan diri. Ikuti saya. Saya tahu jalan rahasia yang bisa membawa kita keluar dari kawasan Keraton dan sampai di sebuah rimba belantara."

Sang Prabu berpaling, memandang menyeringai pada Pendeta Mayana.

"Lupakan apa yang ada dalam pikiranmu Pendeta Mayana. Lebih baik kau pimpin upacara berdoa ini. Kita berada di tempat suci. Para Dewa akan melindungi kita.

Balatentara musuh tidak akan dapat menyerbu ke tempat ini!

Kita punya pasukan besar dan setia serta berani. Kita punya orang gagah seperti Panglima Argajaya, Dewi Maha Geni, serta belasan Perwira."

"Panglima Argajaya telah berkhianat. Dia menyeberang ke pihak penyerbu. Dewi Maha Geni saya yakin juga melakukan hal yang sama," mejelaskan Pendeta Mayana.

Kening sang Prabu tampak mengerenyit tapi dia tidak berkata apa-apa.

"Sang Prabu, waktu kita hanya tinggal sedikit. Lekas ikuti saya...!"

"Kalau kau mau pergi, pergilah sendiri. Aku akan tetap di sini. Jangan ganggu aku lebih lama!" Sang Prabu lalu mencabut keris yang tersisip di pinggangnya dan meletakkan senjata ini di atas meja kecil di hadapannya.

Keris itu adalah senjata sakti, termasuk salah satu pusaka Kerajaan.

Dalam ke adaan sang Prabu seperti itu akan sulit bagi Pendeta Mayana untuk membujuknya. Sementara itu di luar terdengar sorak sorai gegap gempita disusul suara beradunya senjata. Pendeta Mayana mengintai dari balik kisi-kisi di dinding. Dia melihat banyak sekali pasukan musuh mengurung dan menghantam seratus prajurit yang melindungi Raja. Bagaimanapu seratus prajurit itu mempertahankan diri namun jumlah lawan banyak sekali.

Pendeta Mayana berpaling pada sang Prabu. Saat itu dilihatnya sang Prabu tengah meneguk minuman keras dari dalam sebuah tabung bambu. Tak ada jalan lain.

Sang Pendeta segera mendekati Rajanya. Begitu berdekatan dengan cepat ditariknya lalu dipanggulnya di bahu kiri.

Namun pertolongan yang dilakukan oleh Pendeta Mayana sia-sia saja. Saat itu puluhan prajurit lawan telah menyerbu masuk ke ruangan itu. Kebanyakan dari mereka segera mengenali sang Prabu dan Pendeta Mayana.

Tidak menunggu lebih lama puluhan prajurit segera memburu kedua orang itu dengan senjata masing-masing. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara membentak.

"Tahan! Raja Singosari itu punya hutang padaku! Aku yang akan menghabisinya!"

Lalu terdengar suara ringkikan kuda disusul ada suara angin menyambar dan tahu-tahu seekor kuda hitam besar sudah berada dalam ruangan itu. Di atas punggungnya duduk seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berpakaian sederhana. Rambutnya yang hitam digulung di atas kepala. Di pihak musuh, suara itu tidak asing lagi. Mereka segera batalkan serangan lalu bergerak mundur tapi tetap dalam keadaan mengurung.

Melihat tidak ada jalan untuk lari, perlahan-lahan Pendeta Mayana turunkan tubuh sang Prabu yang didukungnya. Raja Singosari ini tegak terhuyung-huyung setengah tidak sadar, bersandar ke dinding. Di hadapannya saat itu Pendeta Mayana melihat Adikatwang penguasa Gelang-Gelang di Kediri duduk di atas punggung kuda sambil memegang sebilah pedang. Di bagian lain sang Pendeta melihat Panglima Argajaya berdiri diantara para prajurit penyerbu.

"Sri Baginda yang mengakui sebagai Prabu dan Raja Singosari!" tiba-tiba suara Adikatwang menggeledek di ruangan itu. "Belasan tahun lalu kau membunuh ayahku.

Kini puteranya akan menuntut balas! Bersiaplah menerima kematianmu!"

Habis berkata keras begitu Adikatwang melompat dari kudanya. Namun gerakannya disongsong oleh Pendeta Mayana.

"Adikatwang manusia tidak berbudi!" bentak Pendeta Mayana. "Ini balasanmu terhadap Sang Prabu yang telah mengampuni jiwamu dan memberikan kedudukan tinggi di Gelang-Gelang...!"

"Pendeta Mayana! Kau tidak masuk dalam daftar manusia-manusia Singosari yang harus disingkirkan. Tapi jika kau tidak segera minggat dari hadapanku, kau akan kubunuh saat ini juga!"

Diancam seperti itu Pendeta Mayana ganti tertawa dan menjawab. "Kau bodoh!

Seharusnya kau masukkan aku dalam daftar orang-orang yang harus kau bunuh! Aku bukan pendeta yang berpantang membunuh demi menyelamatkan Singosari dan Sang Prabu Raja syah kerajaan ini!"

Pendeta Mayana tutup ucapannya dengan menghantamkan kedua tangannya ke depan sekaligus! Dua gelombang angin menderu. Adikatwang tidak berlaku ayal. Dia sudah lama tahu kalau Pendeta Mayana bukan Cuma seorang pendeta agama biasa, tetapi seorang yang memiliki kesaktian tinggi. Cepat-cepat Adikatwang menyingkir dengan melompat kek kiri. Dua gelombang angin menyambar lewat di sampingnya.

Saat itu juga terdengar pekik jerit kematian sembilan orang prajurit yang terkena hantaman pukulan Pendeta Mayana.

Adikatwang cepat berpaling pada Panglima Argajaya dan berkata: "Dimas Argajaya! Aku tak ingin mengotorkan tangan membunuh manusia satu ini! Kau bereskan dia!"

Adikatwang lalu melompat menjauhi Pendeta Mayana namun terus berkelebat ke arah Sang Prabu yang masih tegak tersandar ke dinding. Pedangnya menyambar. Pendeta Mayana berteriak marah dan coba memburu Adikatwang. Namun gerakannya dihadang oleh Argajaya yang melompat ke hadapannya dengan golok besar terhunus.

"Pengkhianat busuk terkutu!" teriak Pendeta Mayana.

Dengan tangan terpentang dia menerjang. Argajaya babatkan goloknya tapi serangannya luput. Sebaliknya serangan Pendeta Mayana pun dapat dihindari oleh Argajaya yang kemudian berteriak pada beberapa Perwira dan puluhan prajurit yang ada di sekitarnya. Pendeta Mayana tak dapat menghindarkan diri dari keroyokan begitu banyak lawan. Dengan mengandalkan tangan kosong dan pukulan-pukulan sakti dia mampu merobohkan belasan lawan. Namun lebih banyak yang datang. Selagi dia terdesak dan bertahan mati-matian di bagian lain didengarnya suara jeritan Sang Prabu.

Pendeta Mayana yang telah menderita beberapa luka di tubuhnya berpaling ke arah suara jeritan itu. Lalu terdengar Pendeta ini meraung ketika melihat apa yang terjadi.

Adikatwang tegak menyeringai memegang pedang yang berlumuran darah. Di depannya, tersandar ke dinding sang Prabu berdiri megap-megam sambil pegangi perutnya yang berlumuran darah akibat tusukan pedang Adikatwang.

"Manusia iblis! Biadab!" teriak Pendeta Mayana. Dia melompat ke arah Adikatwang dan menghantam dengan seluruh tenaga dalamnya yang ada. Namun dari samping Panglima Argajaya memotong gerakannya dengan sambaran golok besar.

Hantaman Pendeta Mayana memang berhasil membunuh seorang Perwira Kediri dan delapan prajurit musuh. Namun tangannya tidak dapat diselamatkan dari tabasan golok yang dibabatkan Argajaya. Tangan kanan itu putus. Darah memancur. Selagi Pendeta Mayana terhuyung menahan sakit, golok di tangan Argajaya bergerak menusuk lambung pendeta itu.

"Ananta!" tiba-tiba terdengar seseorang menjerit menyebut nama asli Pendeta Mayana. Lalu terdengar suara berdesing. Tiga buah benda aneh memancarkan warna berkilau melesat dalam Ruangan Pemanjatan Doa. Di lain kejap terdengar jeritan Panglima Singosari yang berkhianat itu. Sebuah senjata berupa tusuk kundai terbuat dari perak menancap di keningnya. Dua buah lainnya menancap di lehernya!

Sekujur tubuh Argajaya nampak bergetar. Dia seperti menahan rasa sakit yang luar biasa. Lalu terdengar jeritannya sekali lagi. Tubuhnya kemudian terbanting ke lantai, menggeliat beberapa kali akhirnya meregang nyawa dengan mata membeliak dan lidah mencelet. Seluruh muka dan lehernya sampai ke dada tampak berubah menjadi seputih kapur! Mengerikan untuk dipandang.

Selagi semua orang geger melihat apa yang terjadi, satu sosok berkelebat laksana bayangan. Orang ini menyambar tubuh Pendeta Mayana lalu memanggulnya. Belasan prajurit dan beberapa orang Perwira berusaha menangkap atau menghantamnya dengan senjata. Orang yang memanggul tubuh Pendeta Mayana membuat dua kali gerakan.

Enam orang prajurit roboh, seorang Perwira langsung meregang nyawa dengan kepala pecah. Lalu laksana ada kilat yang menyambar, di ruangan itu terdengar suara letusan keras disertai menghamparnya hawa panas dari suatu sinar yang menyilaukan. Ruangan Pemanjatan Doa tergoncang seperti dilanda gempa. Dinding, langit-langit dan lantai ruangan berderak.

"Lekas tinggalkan tempat ini!" terdengar teriakan Adikatwang. Lalu pimpinan pemberontak ini melompat ke arah pintu. Beberapa orang mengikutinya. Yang lain tidak sempat menyelamatkan diri. Ruangan Pemanjatan Doa itu runtuh dengan suara bergemuruh. Sekitar enam puluh orang terkubur hidup-hidup di dalamnya, belum terhitung belasan mayat termasuk jenazah Sang Prabu dan Panglima pengkhianat yaitu Argajaya.

Selamat dari tertimbun ruangan yang runtuh wajah Adikatwang nampak pucat di balik debu reruntuhan bangunan.

Dia memandang berkeliling. Namun dia tidak melihat lagi bayangan orang yang tadi melarikan tubuh Pendeta Mayana.

***BAB VIIIPendeta Mayana tahu kalau dirinya dipanggul dan dilarikan laksana kilat. Namun dia tidak tahu siapa yang melarikannya itu. Dibukanya kedua matanya. Pemandangannya berkunang dan kabur. Dia melihat wajah itu tapi sangat samar-samar. Lalu dia ingat kejadian di Ruangan Pemanjatan Doa. Saat itu dia dalam keadaan luka. Tangan kanannya buntung. Lalu perutnya ditembus golok Argajaya. Saat itu dia mendengar ada seseornag berteriak menyebut namanya. Bukan memanggilnya sebagai Pendeta atau Mayana tapi menyebut nama aslinya yaitu Ananta! Suara teriakan itu jelas suara perempuan. Jika ada seorang perempuan yang tahu nama aslinya maka hanya satu orangnya yaitu nenek sakti Sinto Gendeng alias Sinto Weni.

Dalam keadaan luka parah seperti itu Pendeta Mayana alisan Ananta Wirajaya coba mengerahkan tenaga dalamnya. Lama dan perlahan sekali akhirnya dia mampu memandang sedikit lebih jelas. Wajah itu. Wajah orang yang mendukungnya. Wajah seorang nenek berkulit hitam keriput dan cekung. Memang dia!

"Sinto Weni, betul kakukah ini yang memanggul dan melarikanku...?"

terdengar suara menjawab tersendat. "Jangan bicara dulu Ananta. Lukamu parah sekali. Aku tidak yakin bisa menyelamatkanmu..."

"Kau telah menyelamatkanku. Aku berterima kasih. Bawa aku ke tempat yang teduh Sinto. Aku ingin bicara banyak hal denganmu disana. Aku.. aku ingin mati bahagia dalam pelukanmu."

"Jangan bicara begitu Ananta! Jangan bicara lagi atau aku terpaksa menotok jalan suaramu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.224.197.251
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia