Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

PEMUDA baju biru itu berdiri dengan gagahnya di puncak bukit. Angin dari timur bertiup melambai-lambaikan rambutnya yang gondrong menjela bahu. Sepasang matanya sejak tadi hampir tiada berkesip memandang lekat-lekat ke arah utara di mana berdiri dengan megahnya pintu gerbang Kotaraja.

Sudah hampir setengah hari dia berada di puncak bukit itu. Sudah jemu dan letih matanya memandang terus-terusan ke arah pintu gerbang. Namun manusia-manusia yang ditunggunya belum juga kelihatan muncul. Sebetulnya dia bisa menuruni bukit itu dan langsung memasuki Kotaraja. Tapi dia ingat pesan gurunya, di Kotaraja penuh dengan hulubalang-hulubalang Baginda, bahkan tokoh-tokoh silat kelas satu pentolan-pentolan Istana, banyak orang sakti berilmu tinggi sehingga menyelesaikan perhitungan di dalam Kotaraja sama saja mencemplungkan diri ke dalam jebakan dimana dia tak mungkin lagi akan keluar. Kalaupun ada jalan ke luar maka itu ialah jalan kepada kematian! Dia menunggu lagi. Sekali-sekali dia memandang ke jurusan lain untuk menghilangkan kejemuan dan kelesuan matanya. Kemudian bila dia memandang pada dirinya sendiri, memperhatikan tangan kirinya yang buntung sebatas siku maka disaat itu ingatlah dia akan ucapan gurunya sewaktu dia hendak meninggalkan pertapaan.

"Hari ini kuperbolehkan kau meninggalkan tempat ini, Pranajaya. Tapi kelak dikemudian hari kau musti kembali kemari untuk menuntut satu ilmu baru yang sekarang ini kugodok. Kau pergi dari sini dan musti berhasil mencari ketiga manusia yang telah membunuh kau punya bapak.... Tempo hari aku sudah pernah terangkan. Kau masih ingat siapa nama julukan ketiga manusia itu?"

"Mereka adalah Tiga Setan Darah, guru," jawab Pranajaya.

"Betul," kata sang guru.

"Ketiganya berada di Kotaraja. Sudah sejak lama kuketahui hidup di sana sabagai bergundal-bergundalnya Baginda. Tapi ingat Prana! Sekali-kali jangan selesaikan perhitunganmu dengan mereka di dalam Kotaraja. Itu barbahaya besar karena Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu yang menjadi kaki tangan Baginda..."

"Dengan bekal ilmu yang guru, wariskan serta pedang Ekasakti yang guru berikan tak satu lawanpun yang saya takutkan di atas bumi ini. Apalagi saya tahu bahwa saya berada di atas kebenaran!" Empu Blorok tersenyum dan rangkapken kedua tangannya dimuka dada.

"Aku sedang mendengar ucapan jantanmu," kata Empu Blorok pula.

"Tapi walau bagaimanapun membuat kegaduhan di dalam Kotaraja sangat berbahaya bagi keselamatan jiwamu. Di samping itu aku mengingat pula akan tugas yang hendak kuberikan padamu. Jadi Prana, ringkas kata kau musti membereskan Tiga Setan Darah di luar Kotaraja, bagaimana caranya terserah kau." Sang murid manggut-manggutkan kepalanya.

"Tadi guru menyebutkan satu tugas untukku... Mohon penjelasan lebih lanjut," kata Pranajaya.

"Bila perhitunganmu dengan Tiga Setan Darah telah selesai maka kau harus pergi ke Pulau Seribu Maut." Pranajaya tak pernah mendengar tentang pulau itu dan tidak pula tahu di mana letaknya. Maka diapun menanyakannya.

"Pulau itu," menjawab Empu Blorok, "terletak diujung timur pulau Jawa. Di situ bercokol seorang manusia bernama Bagaspati.

Dulunya dia adalah kawan baikku. Tapi kemudian mencuri sebuah senjata mustikaku dan melarikan diri. Dengan senjata mustika itu dia membuat keonaran di mana-mana dan berbuat kejahatan! Kau harus mengambil senjata muutika itu kembali dari tangannya Pranajaya. KaIau dia banyak rewel, kau tahu apa, yang musti dilakukan!"

"Baik guru," kata Pranajaya lalu tanyanya.

"Senjata apakah yang telah dicuri oleh Bagaspati itu?"

"Sebuah cambuk, Prana. Cambuk Api Angin namanya!"

"Tugas dari guru akan aku jalankan. Mohon doa restu," kata Pranajaya. Ketika dia hendak pamitan Empu Blorok berkata, "Tunggu sebentar Prana. Masih ada yang hendak kuterangkan padamu." "Soal apa guru?."

"Soal dirimu. Kau lihat tangan kirimu yang buntung itu...?" Prana memperhatikan tangan kirinya lalu mengangguk. Aneh terasa baginya kalau saat itu gurunya bicara soal tangan itu, padahal sudah sejak belasan tahun dia berada bersama Empu Blorok dan sang guru tak pernah bicara apa-apa soal tangannya yang buntung itu.

"Waktu bapakmu dibunuh," berkata Empu Blorok.

"Dia sedang tidur di atas balai-balai di sampingmu. Tiga Setan Darah menyerbu masuk dan salah seorang diantara mereka segera membacokkan sebilah pedang! Bapakmu seorang yang berilmu tinggi. Begitu dia merasakan sambaran angin senjata maut itu dia segera melompat. Dia berhasil mengelakkan bacokan pedang namun akibatnya ujung pedang terus menyambar lenganmu dan membabat putus sikumu. Kau saat itu masih orok, Prana... Bapakmu kemudian dikeroyok bertiga dan menemui ajalnya. Sebelum Tiga Setan Darah mencincangmu, kakakku Empu Krapel berhasil menyelamatkanmu dan menyerahkanmu kepadaku. Sayang kakakku itu sudah menutup mata, kalau tidak tentu dia gembira melihat kau sudah dewasa dan gagah begini!"

Pranajaya terdiam seketika. Dendam membara di lubuk hatinya. Lalu tanyanya.

"Yang manakah diantara Tiga Setan Darah yang telah membacok bapakku sewaktu beliau sedang tidur itu. Empu...?"

"Aku kurang tahu, Prana" sahut Empu Blorok.

"Keterangan kakakkku waktu membawa kau ke sini kurang jelas." Karena tak ada lagi yang akan dibicarakan maka Pranajaya berkata, "Murid minta diri, guru. Muhon, doa restumu...." Empu Blorok mengangguk. Dipandanginya muridnya itu sambil akhirnya Pranajaya hilang dikejauhan. Pranajaya memandang lagi untuk kesekian kalinya ke arah pintu gerbang Kotaraja. Suasana tidak berubah seperti tadi-tadi. Dua pengawal berdiri di sisi-sisi pintu gerbang, masing-masing memegang sebatang tombak. Tak ada yang lalu lalang. Pintu gerbang itu diselimuti kesunyian.

"Sampai berapa lama lagi aku musti menunggu?" tanya Pranajaya pada dirinya sendiri. Hatinya kesal. Sebenarnya dia tidak takut memasuki Kotaraja untuk lekas-lekas membuat perhitungan dengan Tiga Setan Darah. Malah ini adalah satu permulaaan baginya untuk menjajaki sampai di mana ketinggian ilmu silat dan kesaktiannya ysng dimilikinya serta sampai di mana pula kehebatan tokoh-tokoh silat di Kotaraja itu! Namun dia musti patuh pada pesan gurunya dan tidak boleh bertindak gegabah. Empu Blorok lebih berpemandangan luas. Dan dia musti menunggu terus. Manunggu sampai Tiga Setan Darah keluar dari pintu gerbang Kotaraja. Menurut keterangan yang didapat Pranajaya dari seorang pengawal istana yang disogoknya dengan sekeping emas, hari itu Tiga Setan Darah akan meninggalkan Kotaraja, pergi ke satu tempat di selatan untuk satu keperluan penting. Atau mungkin pengawal istana itu telah menjual keterangan dusta kepadanya? Letih berdiri akhirnya Pranajaya duduk di tanah, bersandar ke sebatang pohon. Sepasang matanya senantiasa ditujukan ke pintu gerbang Kotaraja itu.SEMENTARA itu di Kotaraja .......... Orang itu berdiri di halaman belakang istana. Dia telah menyelidik ke kandang kuda dan tiga ekor kuda yang kulit serta bulu tengkuk dan ekornya dicelup merah telah dilihatnya di dalam kandang kuda istana yang besar itu. Hatinya lega. Ini satu pertanda bahwa Tiga Setan Darah masih berada di dalam istana. Orang ini menunggu siambil membayangkan hadiah apa yang kira-kira bakal diberikan Tiga Setan darah kepadanya kelak. Dua pengawal di pintu belakang Istana menjura hormat sewaktu tiga orang berjubah merah, berambut dan bermuka yang dicat merah melewati pintu itu, melangkah cepat menuju kandang kuda. Orang laki-laki tadi segera mendekati Tiga Setan Darah. Setelah menjura dia berkata, "Bolehkah aku bicara dengan kalian...?" Tiga Setan Darah yang paling tua menghentikan langkahnya dan hendak mendamprat. Saat itu bersama dua orang kawannya dia hendak berangkat untuk satu urusan panting tapi kini ada seseorang yang mengganggu. Ini sangat menggusarkannya. Sewaktu melihat bahwa laki-laki yang berkata tadi itu adalah seorang pengawal Istana yang dikenalnya, Tiga Setan Darah tertua ini surut jugs sedikit amarahnya.



"Ada perlu apa kau?!" tanyanya kasar.

"Ada keterangan panting yang bakal kusampaiken Tiga Setan Darah."

"Hemm... Coba katakan cepat," kata Setan Darah tertua sambil mengerling pada dua orang kawannya.

"Seorang asing hendak berbuat jahat tarhadap kalian bertiga...."

"Hah... apa?!"

"Malam tadi aku tengah makan di kedai," menuturkan pegawai Istana itu. Namanya Camar Pawang.

"Lalu ada seorang asing mendekatiku dan berkata jika aku bisa kasih keterangan tentang Tiga Setan Darah dia akan memberikan hadiah sekeping emas. Aku segera maklum bahwa orang asing itu bukan bermaksud baik-baik terhadap kalian bertiga. Kuambil emas itu dan kuberikan sedikit keterangan kepadanya. Keterangan palsu!"

"Apa yang itu orang asing tanya dan apa yang kau terangkan padanya?" tanya Tiga Setan Darah kedua.

"Dia tanya kalau-kalau aku tahu bila kalian bertiga meninggalkan Istana dan keluar dari Kotaraja."

"Apa, jawabmu?" tanya Setan Darah Ketiga.

"Kuberikan keterangan dusta. Kukatakan bahwa Tiga Setan Darah hari ini akan pergi ke satu tempat di selatan untuk satu urusan penting..." Setan Darah pertama melototkan mata. Saat itu dia dan kawan-kawannya memang hendak berangkat ke satu tempat untuk menjalankan tugas Baginda, tapi bukan ke selatan melainkan ke daerah barat Kotaraja.

"Aku tidak percaya!" kata Setan Darah pertama, "Coba, mana emas itu, aku mau Iihat!" Camar Pawang mengeruk sakunya dan mengeluarkan sekeping kecil emas yang diterimanya dari orang asing itu.

Setan Darah pertama mengambil kepingan emas itu, memperhatikannya lalu sambil menimang-nimang emas itu dia bertanya,

"Bagaimana ciri-ciri orang asing itu?!"

"Dia masih muda, Tampangnya cakap, berbaju biru dan tangan kirinya buntung. Di balik baju birunya, di sebelah punggung menyembul ujung gagang pedang...."

"Hem..." Setan Darah pertama menggumam. Dia anggukanggukkan kepala beberapa kali.

"Ada lagi yang hendak kau katakan?" Camar Pawang menggeleng.

"Kalau begitu kau tunggu apa lagi?! Cepat berlalu dari hadapan kami!" bentak Setan Darah pertama. Camar Pawang mundur satu langkah dan memandang pada kepingan emas yang masih ditimang-timang Setan Darah Pertama.

"Emas itu..," kata Camar Pawang.

"Emas bapak moyangmu!" semprot Setan Darah Kedua,

"Sudah untung kau tidak kami gebuk, masih mau minta emas! Pergi!" Camar Pawang memandang pada Setan Darah Pertama. Manusia bermuka merah ini tertawa mengekeh daw membalikkan badannya sambil memasukkan kepingan emas ke dalam saku jubahnya. Camar Pawang menelan ludah. Sudah dibayangkannya dia bakal mendapat hadiah dari Tiga Setan Darah, tapi malah emas yang diterimanya dari si orang asing kini diambil oleh manusia bermuka merah itu! Camar Pawang menyumpah habis-habisan dalam hatinya dan meninggalkan tempat itu. Di depan pintu kandang kuda, Setan Darah Pertama hentikan langkah dan bertanya pada kedua orang kawannya.

"Apa pendapat kalian?" tanyanya. Setan Darah kedua mengusap dagunya lalu berkata, "Jika keterangan kunyuk kepala dua itu betul pastilah orang asing itu menunggu kita di satu tempat di daerah selatan..."

"Aku merasa heran juga," membuka mulut Setan Darah Ketiga, "seingatku kita tak pernah bikin urusan dengan seorang pemuda bertangan buntung. Apa maksud manusia itu mencari keterangan tentang kita sebenarnya?" Setan Darah Pertama merenung sejenak.

"Kalau mau, kita masih ada waktu untuk menyelidik ke selatan." Dua orang kawannya menyetujui hal itu. Ketiganya segera mengambit kudanya masingmasing.





ANGIN dari timur bertiup lagi melambai-lambaikan rambut dan lengan kiri baju biru yang dikenakan Pranajaya. Bila untuk kesekian kalinya pemuda ini memandang lagi ke arah utara maka membesilah parasnya. Air muka dan hatinya menjadi tegang. Tiga penunggang kuda kelihatan ke luar dari pintu gerbang Kotaraja. Kuda-kuda dan penunggangnya berwarna merah. Meski jauh sekali, namun melihat kepada jumlah penunggang-penunggang kuda itu dan melihat kepada warna pakaian mereka, Prana segera maklum bahwa mereka bukan lain daripada Tiga Setan Darah yang memang sedang dittunggutunggunya sejak tadi! Tiga manusia yang telah membunuh ayahnya! Waktu penantian berakhir sudah! Saat pembalasan kini tiba! Tanpa menunggu lebih lama Pranajaya segera berdiri. Kemudian sekali dia gerakkan kedua kakinya, maka pemnda ini sudah lenyap dari puncak bukit. Tubuhnya laksana angin topan berlari kencang menuruni lereng bukit ke arah liku jalan yang kelak bakal dilalui Tiga Setan Darah. Demikian cepat larinya hingga kedua kakinya laksana tak pernah menginjak bumi! ltu adalah berkat ilmu lari dan ilmu mengentengi tubuh hebat yang telah dikuasainya! Pranajaya sampai diliku jalan lebih dahulu dari Tiga Setan Darah. Pemuda ini menunggu dengan hati tegang tapi tetap tenang. Dia maklum Tiga Setan Darah manusia-manusia berilmu tinggi karenanya dia tidak boleh bertindak ceroboh. Suara derap kaki kuda terdengar semakin dekat akhirnya muncullah penunggangpenunggang kuda itu satu derni satu di tikungan jalan.

"Berhenti!" teriak Pranajaya sambil angkat tangan kanannya. Tiga Setan Darah sama-sama hentikan kuda masingmasing dan memandang menyorot pada pemuda yang berdiri di tengah jalan dihadapan mereka. Keterangan Camar Pawang tidak dusta. Benar pemuda yang diterangkan ciri-cirinya itulah yang saat ini menghadang mereka. Parasnya cakap, rambut gondrong, berpakaian biru dan tangan kirinya buntung sebatas siku sedang dibalik punggurig kelihatan menyembul gagang pedang.

"Pemuda tangan bunting!," kata Setan Darah pertama dengan suara keras.

"Apa-apaan ini?!" Pranajaya menyapu tampang-tampang ketiga manusia itu. Lalu tanyanya dengan membentak, "Kalian Tiga Setan Darah?!" Prana bertanya untuk meyakinkan.

"Sompret!" maki Setan Darah Kedua. "Siapa kau yang berani menghalangi perjalanan kami! Apa sudah bosan hidup?!"

"Aku Pranajaya!" memberitahu si pemuda. Setan Darah tertua menyeringai dan mengeluarkan suara mengekeh.

"Orang muda, kami memang Tiga Setan Darah yang terkenal itu. Ada maksud apa kau menghadang kami! Dari pegawai Istana yang kau sogok dengan sekeping emas itu kami mendapat keterangan yang kau mau cari urusan! Apa betul!" Sebelum Pranajaya menjawab, Setan Darah Ketiga sudah membuka mulut, "Orang hina! Lekas angkat kaki dari sini sebelum kupuntir kepalamu!"

"Rupanya dia tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa..!" kata Setan Darah Kedua. Pranajaya berdiri dengan sepasang kaki terkembang. Sinar di matanya semakin menyorot sedang di air mukanya membayangkan kebencian dan dendam yang meluap!

"Tiga Setan Darah! Kalian tentunya betum melupakan peristiwa beberapa belas tahun yang silam. Ingat waktu kalian mengeroyok dan membunuh secara pengecut seorang bernama Wijaya?! " Tentu saja Tiga Setan Darah terkejut. Ketiganya saling mengerling kemudian Setan Darah Ketiga menjawab, "Manusia buntung, kami masih ingat. Apa sangkut pautmu dengan peristiwa itu?!"

"Aku adalah anak orang yang kau bunuh itu!" jawab Pranajaya tanpa tedeng aling-aling.

"Oh... begitu?!," desis Setan Darah Pertama.

"Kawan-kawan!" seru Setan Darah Kedua, "tentunya pemuda buruk ini adalah bayi yang kita bacok buntung tangannya dulu itu!"

"Betul!" sahut Prana. Dia maju satu langkah.

"Yang mana diantara kalian yang membacokku?!" Setan Darah Pertama tertawa bekakakan.

"Pemuda ingusan, apakah kemunculanmu kali ini hendak menuntut balas atas kematian kau punya bapak dan karena kehilangan lengan kirimu itu?!!" Pranajaya menggeleng perlahan.

"Lahtas?!" tanya Setan Darah tertua dengan heran.

"Aku datang bukan buat menuntut balas," kata Pranajaya, "tapi untuk, meminta jiwa busuk kalian!" Tiga Setan Darah sama-sama tertawa membahak.

"Pemuda buntung," ejek Setan Darah kedua, "kau mimpi di siang bolong!" Setan Darah Pertama menimpali,

"Bapakmu Yang punya dua tangan kami bikin mampus! Kau yang punya satu mau jual tampang!" Setan Darah Ketiga tidak tinggal diam

"Mungkin kau kepingin cepat-cepat ketemu bapakmu di neraka?" tanyanya. Dan ketiga manusia bermuka merah itu tertawa lagi terbahakbahak.

"Manusia-manusia muka kepiting rebus," sentak Pranajaya dengan geram, "silahkan turun dari kuda kalian. Atau mungkin kalian mau mampus di atas kuda masing masing"?

Merahlah Tiga Setan Darah mendengar ucapan Pranajaya itu Setan Darah Pertama kebutkan lengan jarbah sebelah kanan. Serangkum sinar merah menyarnbar dahsyat ke arah Pranajaya. Pasir dan debu jalanan beterbangan saking hebatnya serangan ini. Pranajaya cepat menghindar ke samping dan begitu sinar merah lewat di sebelahnya segera pula pemuda ini hantamkan tinju kanannya ke arah Setan Darah Pertama. Satu gelombang angin yang padat dan keras menggumpal menyerang ke arah tenggorokan Setan Darah pertama. Ini adalah pukulan "angin sewu" Setan Darah pertama tidak mengelak sebaliknya tetap berdiri di tempat dan lambaikan tepi jubah sebelah kiri. Sekali pukul saja maka buyarlah angin pukulan jarak jauh Pranajaya! Tapi betapa kagetnya si muka merah ini karena begitu buyar, buyaran angin pukulan itu kembali menyerangnya. Malah kini lebih dahsyat lagi dari yang pertama tadi karena kali ini pecahan angin pukulan itu sekaligus menyerang ke arah dua belas jalan darah yang mematikan ditubuhnya! Setan Darah Pertama berseru nyaring lalu melompat tiga tombak ke udara. Laksana seekor alap-alap tubuhpya menukik ke arah Pranajaya dan sedetik kemudian kedua orang itu sudah berhadapan dalam jarak tiga langkah.

"Setan Darah Pertama, biar aku yang kermus pemuda keparat itu!," teriak Setan Darah Ketiga. Setan Darah Pertama tidak ambil perduli. Dengan ganasnya dia menyerang. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menusuk ke muka.

"Makan jariku ini, laknat!" teriaknya. Serangan ilmu jari "pencungkil karang" memang hebat dan ganas. Jangankan tulang atau daging manusia, batu karang yang atos sekalipun akan berlobang dan hancur kalau ditusuk oleh sepasang jari itu! Dan kini sepasang jari itu menyerang ke mata kiri kanan Pranajaya!

Pranajaya hanya melihat lawan menggerakkan tangan kanannya sedikit dan tahu-tahu sepasang jari lawan sudah di depan hidungnya! Pemuda ini cepat rundukkan kepala. Dia berhasii melewatkan tusukan dua jari yang berbahaya itu dan di saat yang bersamaan sekaligus pukulkan tinju kanannya ke muka! Setan Darah Pertama melihat serangannya yang mematikan tadi dapat dilewati segera pergunakan tepi telapak tangan kanannya uatuk menghantam bahu Pranajaya! Kedua orang itu sama-sama mempunyai kesempatan untuk mengelak. Namun keduanya lebih monginginkan untuk meneruskan serangan masing-masing dan menghindar secara ambilan saja. Maka dalam kejap yang bersamaan tinju kanan Pranajaya melanda dada lawan sedang tepi telapak tangan kanan Setan Darah Pertama mendarat dengan kerasnya di bahu kiri Pranajaya! Kedua orang ini sama-sama mengeluh sakit. Pranajaya terguling di tanah. Setan Darah Pertama terjajar beberapa langkah ke belakang den jatuh duduk! Mukanya pucat pasi. Dadanya sakit dan serasa melesak ke dalam membuat sesak nafasnya. Cepat-cepat manusia muka merah ini bersila di tanah dan kerahkan tenaga dalamnya serta atur jalan nafas. Diam-diam dia terkejut melihat Pranajaya dapat berdiri kembali meskipun dengan tubuh termiring-miring! Pukulan telapak tangan kanannya tadi mengandalkan lebih dari separo tenaga dalamnya, tapi si pemuda masih sanggup berdiri dan masih hidup Di lain pihak Pranajaya merasakan tuang bahunya laksana patah! Badannya miring ke kiri sewaktu berdiri. Kalau saja dia tidak memiliki kekuatan tenaga dalam yang sempurna pastilah jiwanya sudah melayang! Prana memperhatikan Setan Darah Pertama yang saat itu tegak kembali dengan pandangan mata menyorotkan maut! Manusia ini ternyata memiliki ilmu yang tinggi sekali! Pukulan jotos sewu yang disangkakannya akan merenggut nyawa lawan kiranya cuma membuat manusia muka merah itu terhampar jatuh duduk di tanah! Dua orang Setan Darah lainnya yang sudah gatal-gatal tangan mereka untuk segera turun tangan mengurung Pranajaya dari kiri kanan.

"Biar aku yang pecahkan kepala bangsat ini sendirian!" teriak Setan Darah Pertama beringas.

"Ah! Kunyuk buntung ini terlalu bagus untuk mampus ditanganmu sendirian," jawab Setan Darah Kedua.

"Biar kami bantu!" Maka tanpa menunggu lebih lama kedua orang itu segera menyerbu. Setan Darah Pertama tidak berkata apa-apa. Meski hatinya beringas tapi dia memaklumi dan melihat kenyataan sendiri bahwa pemuda rambut gondrong berbaju biru itu tidak berilmu rendah. Karenanya sewaktu dua kawannya itu menyerbu Setan Darah Pertama diam saja. Menghadapi tiga lawan tangguh begitu rupa membuat Pranajaya harus bergerak dengan cepat dan berlaku lebih hati-hati. Tubuhnya hampir lenyap dalam telikungan bayangan jubah merah ketiga lawannya. Tiada terasa lima belas jurus telah berlalu. Setan Darah Pertama mengkal bukan main.

"Kawan-kawan ternyata tikus buntung ini punya ilmu yang diandalkan juga!" dia berseru.

"Bagaimana kalau kita bentuk barisan tiga bayangan siluman?!" Setan Darah yang dua orang lainnya menyetujui. Dan pada jurus yang keenam belas itu maka ketiganya segera melancarkan serangan hebat yang dinamakan barisan tiga bayangan siluman. Setan Darah Pertama setengah merunduk. Seranganserangannya selalu mengarah bagian kedua kaki lawan sedang Setan Darah Kedua menyerang bagian tengah tubuh Prana dan Setan Darah Ketiga seperti seekor burung elang melompat ke atas, menukik ke bawah dan selalu melancarkan serangan ke bagian kepala Pranajaya. Dalam setiap saat ketiganya bisa berganti tempat dan mengambil alih kedudukan masing-masing, terutama bila salah seorang dari mereka diserang oleh lawan! Begitulah, setiap Pranajaya mengelak atau menyerang salah seorang dari mereka, maka yang dua lainnya dengan cepat sekali datang memburu mengirimkan seranganserangan maut! Lima jurus pertama setelah bertempur dengan segala kehebatan yang ada maka sedikit demi sedikit mulai kendurlah perlawanan Pranajaya. Pemuda bertangan satu itu kini bertahan mati-matian, namun tetap dia terkurung rapat dan terdesak hebat! Tiba-tiba Prana ingat pedang dipunggungnya. Dia adalah seorang pemuda berhati jantan kesatria, yang akan menghadapi lawan bertangan kosong dengan tangan kosong pula. Namun menghadapi pengeroyokan tiga musuh besar itu, di dalam keadaan yang kepepet pula, dia merasa bahwa mencabut pedangnya saat itu bukanlah suatu tindakan yang pengecut. Sambil berteriak, "Lihat pedang!" maka Pranajaya cabut pedangnya. Sedetik kemudian satu sinar putih menggebu membabat ketiga jurusan, membuat dengan serta merta buyarnya barisan tiga bayangan siluman! Sambil bersurut mundur Tiga Setan Darah memperhatikan pedang Ekasakti yang memancarkan sinar putih di tangan Pranajaya. Setan Darah Kedua berbisik pada kawan-kawannya, "Heh, pedang itu pasti senjata mustika! Kita musti dapat merampasnya !"

"Jangan pikir soal senjata itu dulu" jawab Setan Darah Pertama.

"Yang penting tangkap bangsat ini hidup-hidup. Aku ada rencana tersendiri untuk menamatkan riwayatnya. Kalian....

" Setan Darah Pertama tidak sempat mengakhiri ucapannya. Saat itu Pranajaya sudah menyerbu. Sinar putih dari pedang bertabur ganas. Ketiga manusia itu cepat menghindar dan masing-masing mereka segera cabut senjata. Setan Darah Pertama mengeluarkan sepasang tombak bermata dua. Setan Darah Kedua mengeluarkan sepasang gada sedang Setan Darah Ketiga mengeluarkan sepasang golok. Kesemua senjata ini berwarna merah dan kesemuanya merupakan senjata-senjata mustika sakti ! Percaya akan kehebatan pedang Ekasaktinya, Pranajaya teruskan menyerang ketiga lawan itu. Trang.... trang.... trang....! Tiga kali pedang putih itu beradu dengan senjata-senjata lawan. Bunga api bertebaran dan Pranajaya terkesiap kaget! Senjata-senjata lawan mempunyai kehebatan yang luar biasa. Untung saja pedang Ekasakti dipegangnya erat-erat, kalau tidak dalam bentrokan tiga kali berturut-turut tadi itu pastilah senjatanya akan terlepas! Sementara itu Tiga Setan darah sudah tegak memencar. Satu lengkingan nyaring keluar dari tenggorokan Setan Darah Kedua. Maka, tiga manusia muka merah itu dengan serta merta menyerbu ke arah Pranajaya !





PERTEMPURAN manusia tiga lawan satu itu, kecamukan enam senjata lawan satu pedang berlangsung penuh kehebatan dan mendebarkan. Sedikit saja seseorang membuat gerakan yang salah pastilah salah satu bagian tubuh mereka akan dimakan senjata. Sinar merah jubah dan senjata-senjata Tiga Setan Darah bergulung-gulung membungkus tubuh dan senjata Pranajaya. Berkali-kali pemuda ini nyaris kena tebasan golok atau tusukan tombak atau hantaman gada ketiga lawannya. Jika saja Pranajaya tidak memiliki ilmu mengentengi tubuh yang sempurna serta kegesitan yang luar biasa, sudah sejak tadi-tadi mungkin dia akan mienjadi pecundang. Prana berkelebat laksana bayang-bayang. Pedang putihnya membabat kian kemari dalam rangkaian jurus-jurus lihai yang dipelajarinya secara sempurna dari Empu Blorok. Sepuluh jurus telah berlalu. Kemudian lima jurus lagi dan Tiga Setan Darah masih belum sanggup membuktikan kehebatan nama baser mereka selama ini. Malah pada jurus keduapuluh satu, Setan Darah Ketiga berseru tertahan dan menyurut mundur! Ternyata jubah merahnya robek besar disambar ujung pedang lawan! Masih untung kulit dadanya tidak kena diserempet !

"Bedebah!" rutuk iaki-laki itu.

"Jangan harap kau bisa bernafas sampai tiga kali kejapan mata!" Dengan amarah yang meluap Setan Darah Ketiga memutar sepasang goloknya dalam jurus yang aneh dan menyerbu Pranajaya.

"lngat Setan Darah Ketiga!" teriak Setan Darah Pertama.

"Pemuda ini aku mau tangkap hidup-hidup!"

"Lebih bagus kalau dicincang lumat saja!" sahut Setan Darah Ketiga.

"Aku yang jadi pemimpin kalian!" teriak Setan Darah Pertama marah.

"Kau harus ikut apa yang ku katakan!"

Setan Darah Ketiga menindas kemarahannya sedapat-dapatnya. Menekan luapan amarah karena dia menyadari bahwa dia musti tunduk pada Setan Darah Pertama. Pertempuran seru berkecamuk lagi. Agaknya kini Tiga Setan Darah telah mengeluarkan pula jurus-jurus ilmu silat mereka yang lihai dan banyak tipu-tipu liciknya. Lima jurus berlalu maka Pranajaya mulai pula terdesak. Trang! Pranajaya tak bisa mengelakkan peraduan senjatanya dengan senjata Setan Darah Pertama. Sebelum bunga api yang bergemerlap lenyap, sebelum murid Empu Blorok itu sempat menarik senjatanya maka sepasang gada dan golok Setan Darah lain-lainnya sudah datang menjepit pedang Ekasakti di tangan Pranajaya. Prana kerahkan tenaga dalamnya. Dengan sekuat tehaga dicobanya melepaskan pedang dari jepitan enam senjata lawan! Tapi sia-sia! Pedang Ekasakti meskipun pedang mustika namun tiada berdaya di jepit oleh enam senjata mustika lawan! Pedang itu laksana lengket. Prana keluar keringat dingin. Dia tahu, tak ada jalan lain baginya kecuali melepaskan pedangnya pada gagang pedang, menyerahkan bulat-bulat senjatanya ke tangan lawan! Setan Darah Pertama tertawa mengekeh.

"Sekarang kau baru tahu siapa kami hah?!"

"Tikus buntung hendak bernyali besar beginilah jadinya!" ejek Setan Darah Ketiga. Tiba tiba, tiada terduga dengan bergantungan pada gagang pedang yang dijepit lawan, tubuh Pranajaya melesat ke muka. Kaki kanannya menendang dan karena tidak menyangka, Setan Darah Pertama tidak keburu menghindar! Setan Darah Pertama mengeluh tinggi. Tubuhnya mencelat beberapa tombak, terguling di tanah. Dua tulang iganya telah patah dilanda tendangan Pranajaya!

"Anjing buduk!" maki Setan Darah Kedua begitu melihat kawannya kena dihantam lawan. Tanpa menunggu lebih lama manusia ini segera hantamkan gagang gadanya yang di tangan kanan ke pangkal leher. Ini adalah satu totokan yang dahsyat. Karena tak keburu menghindar tak ampun lagi Pranajaya rebah ke tanah dalam keadaan tubuh kaku laksana patung! Setan Darah Pertama melangkah tertatih-tatih ke hadapan Pranajaya.

"Bagaimana lukamu?" tanya Setan Darah Kedua.

"Bangsat ini telah mematahkan dua tulang igaku," jawab Setan Darah Pertama setengah menggeram.

"Detik ini juga dia akan terima balasannya!" Habis berkata begitu Setan Darah Pertama lancarkan satu tendangan ke arah tulang rusuk Pranajaya. Pemuda ini menggelinding beberapa tombak jauhnya. Tiga tulang iganya patah! Meski tubuhnya tertotok tiada berdaya namun perasaan masih tetap ada dan mulutnya masih bisa mengeluarkan suara erangan kesakitan! Setan Darah Pertama masih belum puas.

"Ini satu lagi!" katanya dan untuk kedua kalinya.kaki kanannya mengirimkan satu tendangan. Kali ini yang jadi sasaran adalah muka Pranajaya. Pemuda ini berusaha menahan jeritan yang hendak melesat dari tenggorokannya meski bibirnya pecah, dua buah giginya patah dan hidungnya mengucurkan darah kental panas ! Setan Darah Pertama memburu lagi. Ketika dia hendak menendang sekali lagi, Setan Dareh Kedua memegang bahunya.

"Kali ini dia bisa mampus! Apa kau lupa akan rencanamu sendiri?!" Setan Darah Pertama menarik pulang kaki kanannya. Dirabanya sebentar tulang rusuknya yang patah kemudian dia berteriak,

"Setan Darah Ketiga, ambil tali!" Setan Darah Ketiga melemparkan seutas tali kepada laki-laki itu.

"Pemuda edan!" kata Setan Darah Pertama sambil belutut dihadapan Pranajaya yang saat itu megap-megap.

"Sebentar lagi kau akan rasakan bagaimana enaknya meluncur di tanah! Kalau tubuhmu kuat kau akan hidup sampai ke Kotaraja. Tapi kalau tidak, kau akan mampus di tengah jalan!" Habis berkata begitu Setan Darah Pertama segera mengikat pergelangan tangan kanan Pranajaya dengan tali. Ujung tali yang lain diikatkannya ke leher kudanya. Pranajaya keluarkan keringat dingin. Dia tahu nasib apa yang bakal diterimanya! Pemuda ini berteriak, "Setan Darah keparat! Bunuh aku sekarang juga!" Setan Darah Pertama tertawa.

"Kau memang akan mampus, kunyuk buntung!" jawab Setan Darah Pertama.

"Akan mampus, tapi dengan cara perlahan-lahan! Sepanjang jalan menuju ke ajalmu kau dapat saksikan keindahan pemandangan daerah sekitar sini! Bukankah enak mati cara begitu?!" Setan Darah Pertama naik ke atas kudanya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu dan memandang berkeliling.

"Mana pedangnya?!"

"Aku sudah ambil!" jawab Setan Darah Ketiga.

"Bagus!" Setan Darah pertama tepuk pinggul kuda merahnya dengan keras. Binatang itu meloncat ke muka siap untuk berlari kencang dan menyeret tubuh Pranajaya mulai dari liku jalan itu sampai ke Kotaraja. Namun disaat itu dari muka kelihatan berkelebat sesosok bayangan putih disertai dengan suara tertawa lantang yang bernada mengejek.

"Kekejamanmu sangat keterlaluan Tiga Setan Darah!" kata pendatang baru ini dengan membentak. Tiga Setan Darah Pertama dan kedua kawannya dengan serta merta mengehentikan kuda masing-masing. Sepasang mata Tiga Setan Darah Pertama memandang ke muka dengan menyorot. Mulutnya terkatup rapat-rapat dan kedua rahangnya mengatup menonjol!

"Cindur Rampe!" hardik Setan Darah Pertama.

"Setahuku kau ada tugas di sselatan yang harus kau jalankan! Silahkan berlalu dan jangan ikut campur urusan kami!" Cindur Rampe, seorang resi golongan hitam yang juga menjadi kaki tangan pembantu Baginda. Kekejamannya tiada banyak beda dengan Tiga Setan Darah namun antara resi ini dengan ketiga Setan Dorah sejak lama terdapat perselisihan-secara diam-diam. Perselisihan ini sebenamya adalah akibat bersaing ingin menjilat Baginda. Dalam satu pertemuan pernah Cindur Rampe menantang Tiga Setan Darah. Hampir terjadi pertempuran hebat namun tokoh-tokoh istana lainnya berhasil mencegah mereka. Namun sejak itu pula diantara mereka semakin memuncak permusuhan, laksana api dalam sekam yang sewaktu- waktu bisa meledak! Cindur Rampe mengelus-elus janggutnya yang pendek macam janggut kambing. Sambil sunggingkan senyum mengejak dia berkata, "Tentu pemuda malang itu akan kau seret ke Kotaraja. Semua orang akan melihat kekejamanmu. Kau akan dapat nama dan kira-kira berapa puluh ringgit pula kau akan dapat upah dari Baginda?!" Setan Darah Kedua penasaran sekali. Dia majukan kudanya satu langkah.

"Soal kekejaman kau tidak lebih baik dari kami resi muka kambing!" sentak Setan Darah Kedua. Cindur Rampe tertawa dingin.

"Cindur Rampe, kuharap segera berlalu. Aku muak melihat tampangmu!" menyambungi Setan Darah Ketiga. Resi itu tertawa lagi. Lalu katanya,

"Aku sendiri sudah sejak lama kepingin muntah melihat mukamu yang macam kepiting rebus!" Setan Darah Pertama kertakkan geraham.

"Cindur Rampe, agaknya kau sengaja mencari-cari perselisihan terbuka! Mungkin masih belum puas dengan pertengkaran dalam pertemuan tempo hari?!"

"Ah... rupanya kau masih belum lupakan hal itu!" kata Cindur Rampe. Dia melirik sebentar pada Pranajaya yang megap-megap hampir kehabisan nafas.

"Selama matahari masih terbit di timur, selama air sungai masih mengalir ke laut. Tiga Setan Darah tak pernah melupakan hal itu!"

"Bagus sekali jika demikian!" menyahuti Cindur Rampe.

"Kuharap di lain kesempatan kita bisa menyelesaikannya!" Setan Darah Pertama mengekeh.

"Menentang kami sama dengan menentang angin topan! Menentang Tiga Setan Darah sama dengan menentang gunung karang! Jangan terlalu pongah dan buta resi muka kambing!"

"Nama kalian memang sudah kesohor, apalagi kebejatan dan kekejaman kalian! Tapi kalau cuma cecunguk-cecungkuk macammu, sepuluh orangpun aku akan layani!" Naiklah darah Tiga Setan Darah.

"Rupanya kau mau mampus sekarang juga, resi keparat!" bentak Setan Darah Kedua. Dia melompat ke muka dan kirimkan satu serangan tangan kosong! Cindur Rampe melompati ke samping sambil tertawa.

"Jangan terlalu kesusu monyet muka merah! Ini hari aku masih ada urusan. Di lain ketika aku tak akan sungkan-sungkan lagi untuk menerabas batang lehermu dan dua kambratmu itu! Ini kukembalikan seranganmu!" Habis berkata begitu Cindur Rampe kebutkan lengan jubahnya. Selarik angin panas mengebu ke arah Setan Darah Kedua. Pukulan yang dilepaskan Cindur Rampe adalah pukulan ireng weliung yang kehebatannya sudah dimaklumi oleh Tiga Setan Darah. Karenanya Setan Darah Kedua melompat dua tombak ke atas.

"Wuss !"

Angin pukulan menghantam pohon kayu di tepi jalan. Kejap itu juga batang kayu itu hangus hitam sampai ke ranting-rantingnya!

Terkejutlah Tiga Setan Darah. Rupa-rupanya resi Cindur Rampe betul-betul inginkan jiwa mereka! Setan Darah pertama dan ketiga segera melompat dari kuda masing-masing, siap untuk mengeroyok resi itu. Tapi Cindur Rampe sudah berkelebat cepat dan meninggalkan tempat itu sambil berseru, "Sampai nanti Tiga Setan Darah. Kuharap kalian suka bersabar menunggu saat kematian kalian!"

"Anjing buduk! Jangan lari!" teriak Setan Darah Kedua. Tapi Cindur Rampe sudah lenyap dari pemandangan. Setan Darah Pertama memaki dan menyumpah nyumpah.

"Lain hari kita tak perlu kasih hati pada si muka kambing itu!," katanya. Dia melompat kembali ke atas kudanya diikuti oleh dua orang kawankawannya. Ketika kuda Setan Darah Pertama bergerak, maka tubuh Pranajaya mulai terseret. Tubuh pemuda murid Empu Blorok ini akan terseret sepanjang perjalanan menuju Kotaraja. Bila Pranajaya bernasib baik, dia akan tetap hidup sampai di Kotaraja. Jika tidak nyawanya akan lepas di tengah jalan dan dia akan menemui kematian dalam keadaan yang mengerikan. Sampai di manakah kekuatan tubuh manusia menahan siksaan yang kejam luar biasa itu?





KALI WELANGMANUK telah dua hari yang lalu mereka seberangi. Lembah Manukwilis di mana terletak Gedung Biara Pensuci Jagat telah jauh di belakang mereka. Kedua orang itu berlari dalam kecepatan yang luar biasa. Kadangkala menyeberangi kali-kali kecil, kadangkala mendaki dan menuruni bukit dan saat itu keduanya barusan saja keluar dari sebuah rimba belantara. Matahari telah sampai ke ubun-ubun mereka tatkala keduanya sampai di satu persimpangan jalan. Pemuda rambut gondrong hentikan larinya. Orang yang disampingnya juga melakukan hal yang sama. Ketika pemuda itu membalikkan badannya maka sepasang mata merekapun saling bertemu. Si pemuda mengukir senyum dibibirnya dan berkata, "Agaknya kita terpaksa berpisah di sini, Sekar." Si gadis berpakaian ringkas kuning tidak menjawab. Kedua matanya yang bening masih balas menatap pandangan si pemuda. Dan si pemuda segera bisa memaklumi. Dari sinar mata gadis itu di ketahuinya bahwa perpisahan itu merupakan satu hal yang berat bagi si gadis. Sambil tertawa si pemuda berkata, "Di lain ketika aku berharap kita bisa bertemu loagi, Sekar." Dia menjura sedikit dan berkata lagi, "Jangan lupa sampaikan salam hormatku pada gurutnu Empu Tumapel...." "Wiro..," si gadis membuka mulut untuk pertama kalinya. Suaranya perlahan, setengah berbisik. "Kau sendiri mau terus ke manakah?" tartyanya.

"Aku... ah... Manusia macamku ini pergi membawa kakinya saja. Mengembara tiada tentu tujuan."

"Mengembara adalah satu hal yang kucita-citakan sejak aku berhasil menuntut balas kematian ibu bapak dan saudarasaudaraku," kata Sekar pula.

"Tapi kau musti kembali ke tempat gurumu! Kau pernah bilang waktu di tepi sungai tempo hari. Ingat..." Sekar ingat. Dalam perjalanan mereka meninggalkan Biara Pensuci Jagat suatu malam mereka berkemah di tepi sungai yang banyak sekali ikannya. Sambil menikmati ikan panggang, mereka bicara-bicara dan Sekar telah menceritakan tentang gurunya di Goa Blabak, tentang segala hal mengenai dirinya. Malam sejuk di tepi sungai itu tak akan pernah dilupakan oleh Sekar. Semenjak hidup, semenjak turun ke dunia luar pada malam itulah dia benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah seorang gadis. Seorang gadis yang disaat itu untuk pertama kalinya merasakan betapa indahnya berada di samping seorang pemuda. Betapa romantisnya. Dan Sekar ingat sewaktu Wiro memegang dan meremas-remas jari tangannya. Waktu, Pendekar 212 itu memeluknya, merangkulnya erat-erat dan sewaktu pemuda itu melumas bibirnya dengan ciuman yang mesra, hangat menyentak-nyentakkan darahnya! Ingat pula bagaimana dia bergayut dan tak mau melepaskan tubuh si pemuda dan seperti orang mabuk anggur mereka melakukan apa yang mereka bisa lakukan. Semuanya itu kemudian berakhir tanpa penjelasan karena semua itu dimulai dengan kesadaran yang berapi-api!

"Aku bisa menunda kembali kepertapaan," kata Sekar

"Keberatan kalau aku ikut sama-sama dengan kau....?" Wiro Sableng tertawa.

"Tentu saja tidak," kata Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini meskipun hatinya tidak menyetujui hal itu.

"Tapi kau musti ingat Sekar. Mengembara dalam dunia persilatan bukan berarti berjalan-jalan melihat-lihat pemandangan! Pengembaraan di dunia persilatan adalah persoalan hidup atau mati!"

"Aku toh juga orang persilatan, Wiro."

"Betul. Namun kini belum masanya kau memulai pengembaraan. Yang penting kau musti kembali ke tempat gurumu dulu." Sekar menggeleng. Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Kemudian katanya,

"Sekar, jangan jadi anak kecil. Salah-salah kita bisa bertengkar. Aku berjanji akan menyambangimu di Goa Blabak. Nah, sekarang kau tempuh jalan yang sebelah kanan dan aku yang sebelah kiri, yang menuju ke Kotaraja."

"Aku ikut dengan kau ke Kotaraja," berkata Sekar.

"Busyet!" kata Wiro Sableng dalam hati dan digaruknya lagi kepalanya.

"Bisa berabe Sekar. Bisa berabe!," katanya pada gadis itu.

"Gadis secantikmu ini kalau masuk ke Kotaraja pasti semua mata laki-laki akan melotot! Kalau terjadi apa-apa dengan dirimu bagaimana...?!"

"Aku tidak takut," kata gadis sembilan belas tahun itu. Wiro menghela nafas dalam dan angkat bahu.

"Kotaraja penuh dengan tokoh-tokoh silat kelas satu! Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan kau..."

"Kalau kita tidak berbuat kejahatan kenapa musti takut masuk ke Kotaraja?," ujar si gadis. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi dia melangkah memasuki jalan sebalah kiri. Wiro Sableng geleng-gelengkan kepalanya. Segera dia hendak berlalu dari persimpangan jalan itu menempuh jalan sebelah kanan. Tapi hatinya menjadi bimbang. Dipandangnya punggung Sekar. Gadis itu melangkah dengan langkah tetap bahkan kini mulai berlari. Wiro Sableng akhirnya membalikkan langkah dan berlari menyusul Sekar.

PENDEKAR 212 dan Sekar baru saja keluar dari sebuah kedai sehabis mengisi perut sewaktu di jalan dihadapan mereka menderu derap kaki tiga ekor kuda merah. Tiga penunggangnya laki-laki mengenakan jubah merah, berambut panjang merah dan bermuka merah. Yang membuat kedua orang ini terkejut bukanlah karena memandang muka-muka yang aneh serta lucu itu tapi adalah sewaktu menyaksikan bagaimana dibelakang kuda yang paling depan ikut terseret sesosok tubuh laki-laki bertangan buntung! Pakaian birunya hancur robek-robek. Kulitnya mengelupas, mukanya tiada dapat dikenali lagi. Keseluruhan tubuh manusia itu bergelimang darah dan debu. Tak dapat dipastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati!

"Biadab!" desis Sekar sewaktu ketiga penunggang kuda itu berlalu.

"Aku tak bisa membiarkan kekejaman itu, Wiro!" Sekar segera hendak melompat ke muka dan mengejar. Tapi Wiro Sableng cepat memegang lengan gadis ini.

"Jangan bodoh, Sekar!" katanya.

"Kita tidak tahu siapa tiga manusia bermuka merah itu. Juga tidak kenal siapa itu laki-laki yang diseret. Mungkin laki-laki ini seorang jahat!"

"Aku tidak yakin, justru manusia-manusia muka merah itulah yang bertampang buas kejam!"

"Aku tahu, tapi jangan bertindak gegabah, Sekar. Ini Kotaraja!"

"Persetan dengan Kotaraja!" tukas si gadis.

"Sudah tak usah ngomel. Mari kita ikuti mereka!" ujar Wiro pula. Keduanya segera meninggalkan tempat itu. Tiga penunggang kuta itu memasuki sebuah gedung tua tak berapa jauh dari Istana. Laki-laki yang diseret dengan kuda tadi dibawa ke dalam. Kemudian gedung itupun sunyi senyap.

"Kita masuk ke dalam Wiro," bisik Sekar.

"Kataku jangan gegabah," kata Pendekar 212 dengan pelototkan mata. Di seberanginya jalan dan ditemuinya seorang pejalan kaki di seberang jalan itu.

"Saudara kau lihat tiga penunggang kuda tadi?" tanya Wiro. Orang itu mengangguk. Bulu tengkuknya masih meremang mengingat apa yang disaksikannya tadi.

"Siapa ketiga manusia itu?" tanya Wiro Sableng lagi.

"Mereka adalah Tiga Setan Darah."

"Tiga Setan Darah...?" ujar Wiro. Pasti itu nama julukan mereka pikir Wiro. Dan dari nama julukan ini nyatalah bahwa memang mereka bukan manusia baik-baik! Kemudian tanpa ditanya orang tadi berkata lagi.

"Mereka adalah kaki tangan pembantu-pembantu Baginda. Manusia kejam luar biasa...!"

"Kenapa Baginda memelihara setan-setan macam mereka?!" tanya Wiro.

"Untuk menjaga keamanan Istana dan Kerajaan. Tapi Baginda tidak tahu kebejatan pembantu-pembantunya itu..."

"Kenapa rakyat tidak mau kasih tahu?"

"Kalau mau mampus boleh saja!" jawab laki-laki itu.

"Kau kenal siapa itu orang yang diseret dengan kuda?" Laki-laki itu menggeleng. Wiro Sableng kembali menyeberang jalan menemui Sekar.

"Kau bicara apa dengan dia?" Wiro menerangkan dengan cepat lalu kedua orang ini segera hendak menyeberang memasuki halaman gedung tua tapi mereka segera berlindung cepat-cepat di balik sebatang pohon besar karena dari samping gedung ketiga penunggang kuda tadi kelihatan memacu kudanya masing-masing meninggalkan gedung! Begitu mereka lenyap di kejauhan, Wiro dan Sekar segera memasuki halaman gedung. Mereka menuju ke samping dan berhenti dihadapan sebuah pintu kayu. Wiro memandang berkeliling. Suasana sepi sunyi. Tanpa raguragu Pendekar 212 ulurkan tangan mendorong pmtu kayu itu. Aneh sekali! Meski pintu itu terbuat dari kayu namun Wiro tak berhasil mendorongnya dengan sekuat tenaga luar! Setelah mengerahkan seperempat dari tenaga dalamnya baru pintu kayu itu berkereketan dan terbuka sedikit demi sedikit.

Begitu daun pintu kayu itu terbuka lebar maka tiba-tiba dari hadapan mereka berdesing lima buah senjata berbentuk anak panah berwarna merah!

"Sekar! Awas!" teriak Pendekar 212. Cepat-cepat pemuda ini menarik lengan si gadis ke samping. Lima senjata rahasia berbentuk panah berdesing di atas kepala dan di muka hidung mereka. Dua dari panah merah itu menancap dibatang sebuah pohon. Sesaat kemudian batang pohon itu sampai ke cabang-cabang, ranting dan daun-daunnya menjadi merah! Nyatalah bahwa senjata-senjata ratiasia itu mengandung racun yang amat jahat! Paras Sekar berubah pucat sedang Pendekar 212 dengan leletkan lidah berkata pelahan, "Keparat betul! Tempat ini pasti penuh dengan senjata rahasia. Kita harus hati-hati Sekar." Wiro menyuruh gadis itu berdiri lebih ke samping. Kemudian dengan kaki kirinya pendekar ini menendang pintu kayu itu sekuat tenaga. Pintu bobol hancur berantakan dan pada detik itu pula selusin senjata rahasia yang sama bentuknya dengan tadi melesat di. depan mereka. Beberapa diantaranya menancap lagi dibatang pohon yang sama! Pendekar 212 menyeringai.

"Lihai juga," katanya pelahan.

"Sebaiknya kau tunggu di sini Sekar..."

"Aku ikut bersamamu!" kata Sekar tegas.

"Di dalam gedung tua ini pasti lebih banyak bahaya. Jangan jadi orang tolol!" Gadis berbaju kuning ini tidak ambil perduli ucapan si pemuda melainkan tanpa tedeng aling-aling terus masuk melewati pintu yang tadi telah ditendang bobol. Mau tak mau Wiro juga melangkah mengikuti. Seperti suasana di luar, dibagian belakang gedung itupun diselimuti kesunyian. Keseluruhan gedung tidak terpelihara. Tembok hijau berlumut. Halaman ditumbuhi semak-semak dan rumput liar.

Dengan sikap berhati-hati kedua orang ini melangkah menuju ke tangga yang berhubungan dengan pintu belakang gedung. Wiro berjalan di depan. Ketika salah satu kakinya menginjak tanah di dekat anak tangga yang terbawah tanah itu dirasakannya mencekung aneh dan lembut. Wiro cepat tarik kakinya dan melangkah mundur!

"Ada apa?" tanya Sekar dengan berbisik. Pendekar 212 tidak menjawab melainkan melangkah menghampiri sebuah pot bunga besar yang bunganya sudah mati karena tak pernah disiram. Pot bunga yang besar itu dilemparkannya ke tanah di kaki anak tangga yang tadi dipijaknya. Pada detik itu juga terdengar satu ledakan. Tanah di kaki anak tangga bermuncratan ke atas. Anak tangga terbawah hancur berkeping-keping. Wiro meraih pinggang Sekar dan menjatuhkan diri ke tanah. Tubuh mereka kotor tersembur tanah dan kepingan batu tangga!

"Gedung setan apa ini?!" rutuk Wiro sambil berdiri dan membersihkan pakaiannya. Dia berpaling pada Sekar dan berkata, "Aku sudah bilang kau tak usah ikut-ikutan ke Kotaraja. Kini kau lihat sendiri!"

"Tak usah bertengkar terus-terusan, Wiro" menyahuti murid Empu Tumapel itu.

"Kita harus cepat mencari laki-laki tangan buntung berbaju biru yang tadi dibawa ke sini!" Wiro garuk-garuk kepalanya. Dia memandang ke pintu di bagian belakang gedung itu dan berpikir-pikir bahaya apa lagi yang bakal dihadangnya bila dia menaiki anak tangga dan membuka pintu itu! Dalam dia berpikir-pikir demikian tiba-tiba dilihatnya Sekar mengirimkan satu pukulan jarak jauh ke arah pintu belakang gedung. Angin pukulan menderu dahsyat dan...

Braak!

Pintu itu pecah berantakan.

Sekar dan Wiro menunggu. Tak ada terjadi apa-apa.

"Aku tak percaya kalau pintu itu tidak menyembunyikan rahasia maut!" kata Wiro Sableng. Dijangkaunya sebuah arca kecil yang sudah puntung di dekat tangga sebelah kanan. Arca itu kemudian digelindingkannya di atas lantai yang menuju ke pintu. Begitu arca mencapai pintu, lantai di muka pintu itu terbuka, arca lenyap jatuh ke dalam sebuah lobang dan lantai kembali menutup!

"Gedung edan!" rutuk Wito Sableng.

"Kau masih punya nyali untuk masuk kedalamnya?!"

"Mengapa tidak?!" ujar Sekar.

"Aku kagum dengan keberanianmu," puji Wiro sejujurnya.

"Bersiaplah, kita melompat ke dalam lewat pintu itu. Kerahkan seluruh ilmu mengentengi tubuhmu. Lantai di dalam gedung itu bukan mustahil perangkap semua!" Kedua orang ini bersiap-siap untuk menerobos pintu yang sudah bobol. Mendadak pada saat itu pula di halaman depan terdengar derap kaki kuda. Keduanya terkejut.

"Mereka kembali!" bisik Sekar. Gadis ini segera keluarkan senjatanya yaitu besi berantai yang ujungnya diganduli bola besi berduri. Inilah senjata "Rantai Petaka Bumi" yang dahsyat. Wiro berpikir cepat. Dia mendapat satu akal lalu menggamit dan berbisik pada Sekar, "Cepat lompat ke atas genteng!" Si gadis melotot.

"Apa kau tidak punya nyali menghadapi mereka? Manusiamanusia terkutuk semacam itu harus dilenyapkan dari muka bumi, Wiro! Kalau kau takut pergilah sendiri ke loteng sana!" Wiro menggerendeng.

"Kita belum tahu siapa yang datang itu! Kalau benar mereka, dari atas genteng kita bisa mengintai bagaimana mereka masuk ke dalam gedung!" Sekar hendak mengatakan sesuatu. Tapi Wiro Sableng sudah membetot lengannya dan melompat ke atas genteng bersama-sama!

Keduanya menunggu. Suara kaki-kaki kuda berhenti sebentar, lalu terdengar lagi memasuki halaman samping.

"Bukan mereka," desis Wiro dan Sekar memalingkan kepalanya ke halaman samping.





YANG DATANG ternyata seorang penunggang kuda berkepala gundul. Sepasang matanya juling. Hidungnya sangat pesek, hampir sama rata dengan pipinya yang gembrot. Tangan dan kakinya sangat pendek sedang tubuhnya katai sekali. Yang lucunya manusia ini cuma memakai cawat, kulitnya hitam legam dan pada ketiak sebelah kirinya terkempit sebilah bambu berbentuk pikulan!

"Monyet terlepas dari mana ini?!" bisik Wiro Sableng.

"Dia bukan manusia sembarangan Wiro," desis Sekar.

"Kau kenal dia?" tanya Wiro.

"Guruku pernah bilang manusia yang berciri-ciri macam dia. Melihat pada senjata yang dikempitnya aku yakin dia mustilah Si Setan Pikulan!"

"Buset! Apa tidak ada gelaran yang lebih jelek dari Setan Pikulan itu?!" seringai Wiro. Penunggang kuda yang datang itu memang Setan Pikulan. Nama sebenarnya Munding Sura. Dia hentikan kuda di depan lobang besar di muka tangga pintu belakang. Diperhatikannya lobang itu sebentar lalu dia memandang berkeliling. Diangguk-anggukannya kepalanya. Kemudian diperhatikannya pintu belakang yang hancur sambil mengusap-usap kepalanya yang botak.

"Tiga Setan Darah!" Setan Pikulan berteriak.

"Apa kalian ada di dalam?!" Suara teriakan Setan Pikulan kerasnya bukan main, menggetarkan seantero halaman belakang gedung tua itu, menggetarkan genteng di mana Wiro dan Sekar berada.

"Tenaga dalarnnya hebat sekali," bisik Wiro pada Sekar.

"Ah, rupanya kalian tak ada di rumah!" terdengar Setan Pikulan berkata. "Sayang sekali! Sayang sekali! Ada dua orang tamu dari jauh, tuan rumah tidak ada! Sayang sekali!"

Wiro dan Sekar sama terkejut dan saling berpandangan Mereka yakin dua orang tamu yang dimaksudkan oleh manusia kate itu pastilah diri mereka sendiri. Belum habis kejut kedua orang ini di bawah terdengar bentakan Setan Pikulan.

"Cecunguk-cecunguk yang di atas genteng, lekas turun! Mataku yang juling tak bisa ditipu! Ayo turun!" Sekar segera bergerak hendak melompat turun. Tapi Wiro menarik bajunya kuningnya.

"Biar aku yang turun," kata murid Eyang Sinto Gendeng ini. Kemudian murid Eyang Sinto Gendeng ini dengan cepat melompat turun. Mata juling Si Setan Pikulan memperhatikan cara dan gerakan melompat si pemuda dan juga memperhatikan ketika sepasang kaki Wiro menginjak tanah. Telinganya yang tajam sama sekali tiada mendengar sedikit suarapun dari beradunya kaki dan tanah. Wiro Sableng menjura sewajarnya dan dengan senyum ramah dia berkata,

"Kalau aku tak salah, bukankah saat ini aku berhadapan dengan orang gagah yang dijuluki Setan Pikulan?" Setan Pikulan menyeringai.

"Rupanya matamu tajam juga orang muda. Harap beritahu siapa kau."

"Ah..., aku ini seperti yang kau katakan tadi, cuma cecunguk biasa saja..." jawab Wiro.

"Kenapa sembunyi di atas atap dan kenapa kawanmu cecunguk yang satu lagi itu tidak mau turun?!" Wiro tertawa dan berseru, "Sekar, turunlah." Sewaktu Sekar turun dan berdiri di samping Wiro Sableng maka menyeringailah Setan Pikulan.

"Ternyata seorang gadis cantik!" katanya. Dibasahinya bibirnya dengan ujung lidah sedang kedua matanya yang juling semakin juling karena memandang dekat-dekat pada paras Sekar yang cantik jelita.

"Melihat kepada tindak tandukmu pastilah kalian datang ke sini bukan dengan maksud baik. Apa lagi penghuni rumah tidak ada. Kalian tahu apa yang bakal dilakukan Tiga Setan Darah jika mereka mengetahui ada cecungkuk-cecunguk yang sembunyi dan membuat kerusuhan di rumahnya?"

"Harap jangan salah sangka Setan Pikulan. Kami ke sini sebetulnya mengejar seorang pencuri. Tapi dia lenyap entah ke mana...!" kata Wiro berdusta. Setan Pikulan tertawa mengekeh.

"Sama aku tak usah bicara dusta! Lekas terangkan siapa kalian dan apa maksud kalian ke sini!! Kalian musti tahu bahwa Tiga Setan Darah adalah kambratku dan aku berhak turun tangan menghukum kalian bila kalian ternyata bersalah!"

"Kalau kau kawannya Tiga Setan Darah, tentu kau juga seorang tokoh Istana!" ujar Wiro.

"Apa aku tokoh Istana atau bukan tak perlu tanya!." sentak Setan Pikulah.

"Lekas jawab pertanyaanku tadi!"

"Kami cecunguk!" sahut Wiro.

"Kau sendiri tadi sudah bilang!" Marahlah Setan Pikulan.

"Seharusnya kubetot putus lidahmu, pemuda hina dina!" hardik Setan Pikulan.

"Tapi dengar... kalau kau mau tinggalkan gadis cantik ini buatku, aku tak mau bikin panjang urusan. Aku tak akan laporkan pada Tiga Setan Darah bahwa kalian telah mongobrak-abrik rumahnya ini...!" Mendengar ini Sekar menjadi naik pitam.

"Biar aku betul-betul monyet sekalipun, aku tidak sudi menjadi mangsa bejatmu!" Setan Pikulan tertawa. Wiro berpikir sebentar lalu dengan ilmu menyusupkan suara dia berkata pada si gadis, "Sekar, aku ada akal. Kita tipu setan kate ini menunjukkan di mana laki-laki buntung itu disekap. Kau musti purapura marah..." Pendekar 212 memandang pada Setan Pikulan lalu berkata, "Aku akan tinggalkan gadis ini padamu. Dia memang tidak berguna. Tapi harus ada imbalannya...!"

"Wiro! Apa kau sudah gila?!" teriak Sekar pura-pura marah dan melototkan mata. Wiro tak ambil perduli.

"Bagaimana?" tanyanya pada Setan Pikulan.

"Katakan maumu!."

"Seorang kawanku telah dilarikan oleh Tiga Setan Darah dan disekap di gedung tua ini. Aku tak tahu di bagian mana. Gedung ini penuh senjata senjata rahasia dan perangkap-perangkap! Kalau kau mau menunjukkan di mana kawanku itu dan mengeluarkannya dari sini, gadis tak berguna ini kuserahkan padamu...!"

"Baik!" Setan Pikulan terima syarat itu. Untuk kesekian kalinya dibasahinya lagi bibirnya sebelah barah. Sementara itu Sekar memaki-maki Wiro Sableng tiada hentinya. Setan Pikulan melompat dari kudanya.

"Bagaimana aku yakin kalau kalian tidak menipuku?!" tanya manusia kate berkepala gundul ini.

"Kau terlalu curiga, Setan Pikulan! Kalau aku menipumu berarti aku tak bisa menyelamatkan kawanku yang disekap oleh Tiga Setan Darah." jawab Wiro Sableng.

"Betul juga," kata Setan Pikulan.

"Tapi untuk benar-benar meyakinkan biar kulakukan ini dulu..." Dan dengan satu gerakan cepat luar biasa Setan Pikulan menusukkan jari telunjuknya ke urat dipangkal leher Sekar. Saat itu juga tubuh si gadis menjadi kaku tegang tak bisa bergerak. Wiro memaki dalam hati.

"Ikut aku!" Setan Pikulan berkata. Lalu melesat memasuki pintu belakang yang tadi sudah didobrak dengan pukulan jarak jauh oleh Sekar.

"Ruangan dalam ini penuh dengan alat dan senjata rahasia. Perhatikan langkahku!" kata si kate kepala gundul. Dia melangkah enam tindak ke kanan. lalu menyusuri tepi dinding hingga akhirnya sampai dihadapan sebuah pintu berwarna hitam. Pada tepi pintu itu terdapat sebuah titik putih besar setengah kuku jari kelingking. Dengan ujung jarinya Setan Pikulan menunjuk.

"Cepat masuk!" teriak Setan Pikulan. Wiro Sableng melompat masuk ke dalam kamar itu. Begitu masuk begitu pintu di belakangnya menutup kembali. Manusia kate itu berpaling pada Wiro.

"Kau lihat pintu dinding sana?" Wiro mengangguk.

"Kalau kau melangkah sepanjang lantai ini ke sana, kau akan kejeblos masuk ke dalam liang batu! Kita harus bergerak sepanjang tepi dinding sebelah kiri! Mari..." Sambil menyusuri lantai di tepi dinding sebelah kiri Wiro Sableng bertanya,

"Mengapa Tiga Setan Darah memasang demikian banyak alat dan senjata rahasia serta perangkap di gedung tua ini?!"

"Itu tak perlu kau tanyakan. Bukan urusanmu!" sahut Setan Pikulan. Setan Pikulan membuka pintu dihadapannya. Kamar kedua itu kosong lagi. Dan dinding sebelah muka mereka kelihatan sebuah pintu lain.

"Kali ini kita musti menyusuri tepi lantai di samping kanan," kata Setan Pikulan. Wiro mengikuti tanpa banyak bicara. Kamar ketiga, keempat dan kelima dalam gedung itu kosong semua.

"Mungkin sekali kawanmu itu disekap di ruang batu karang di bawah tanah!" kata Setan Pikulan.

"Apakah kau tahu tempat itu?" tanya Wiro Sableng. Si kate merenung sejenak.

"Ikuti aku," katanya. Mereka ke luar dari kamar nomer lima itu. Di kamar nomer enam mereka berhenti. Setan Pikulan meneliti lantai kamar dengan sepasang matanya yang juling. Kemudian dia mendangak ke atas. Pada langit-langit kamar kelihatan tergantung sebuah kawat yang ujungnya diganduli lampu minyak yang besar sekali. Setan Pikulan melompat ke atas dan menarik kawat itu satu kali. Aneh sekali tiba tiba lantai di samping kanan ruangan membuka dan sebuah tangga batu kelihatan. Keduanya melangkah ke tepi liang itu. Ruang di bawah sana agak gelap hanya diterangi oleh sebuah pelita. Samar-samar Wiro Sableng melihat sesosok tubuh menggeletak di lantai ruangan. Pakaiannya tak kelihatan apa warnanya tapi tangan kirinya buntung.

"Itu kawanmu?" tanya Setan Pikulan. nBetul."

"Lekaslah turun, sebelum Tiga Setan Darah kembali ke sini kita musti tedah meninggalkan tempat ini!" Tanpa pikir panjang Wiro Sableng segera menuruni anak tangga. Begitu dia menginjakkan kaki di lantai ruangan batu karang dia terkejut sewaktu di atas didengarnya suara tertawa bergelak Setan Pikulan.

"Manusia tolol geblek! Aku tahu kau mau menipu! Sekarang kau sendiri yang masuk perangkap! Kau akan mampus di ruang batu karang itu! Mayatmu akan busuk!"

"Bedebah keparat!" teriak Wiro. Dia melompat kembali ke atas. Tapi secepat kilat Setan Pikulan melesat ke udara, menarik kawat gantungan lampu dan dengan serta merta lantai di ruangan itu tertutup kembali! Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 masuk perangkap sudah!





SETAN PIKULAN melesat dari pintu menuju ke halaman belakang gedung. Ketika dia melangkah kehadapan Sekar, gadis ini yang tubuhnya masih kaku tegang karena ditotok segera bertanya, "Mana kawanku?" Munding Sura alias Setan Pikulan tertawa buruk.

"Kalian kira aku ini kambing tolol yang bisa ditipu mentah-mentah?" ujarnya. Dia berdiri dekat-dekat dihadapan Sekar. Kepalanya cuma sampai kepinggang gadis itu.

"Dengar gadis molek," kata Setan Pilarlan seraya usap perut Sekar dengan tangan kirinya.

"Manusia kurang ajar!" maki Sekar.

"Lepaskan totokanku, cepat!" Setan Pikulan tertawa gelak-gelak.

"Gadis molek, siapa-siapa manusia yang berani menipuku pasti kukirim ke akherat! Kawanmu telah kujebloskan ke dalam ruang batu karang...!" Setan Pikulan tertawa lagi. Sekar kaget bukan main mendengar keterangan ini. Dia tahu sendiri bahwa Wiro Sableng bukan pemuda sembarangan. Ilmu Silat dan kesaktiannya tinggi sekali. Dia bahkan telah menyaksikan kehebatan pemuda itu di Biara Pensuci Jagat sewaktu bertempur melawan Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga, tapi kenapa kini dia bisa terjebak dan masuk ke dalam perangkap ruang batu? Apakah ilmu Setan Pikulan jauh tebih tinggi dari Wiro? Atau mungkin manusia kate bermuka buruk ini telah membokong dan menipu Wiro secara pengecut?

"Terhadapmu gadis molek...," berkata lagi si kate kepala gundul, dia berjingkat dan mengulurkan tangannya mengelus dagu Sekar. Gadis ini memaki habis-habisan. Setan Pikulan tertawa bergelak. Dan akhirnya Sekar meludahi muka manusia buruk itu.

"Sompret kau!" bentak Setan Pikulan. Tapi dia tidak sebenarbenarnya marah. Dengan tertawa-tawa ditariknya ujung baju kuning Sekar dan disekanya mukanya yang disembur ludah itu.

"Kalau kau tidak secantik ini pasti sudah kuremas hancur kau punya, muka! Kau kuampuni tapi musti ikut ketempatku! Untuk selanjutnya kau akan jadi perempuan peliharaanku!"

"Bedebah keparat. Lekas lepaskan totokanku kalau tidak kelak jiwamu tak akan kuampuni!" Setan Pikulan tertawa gelak-gelak.

"Kau galak sekali. Aku mau lihat apakah di tempat tidur kau juga akan segalak ini.... He... he...he...?!" Sekar memaki dan meludahi lagi muka laki-laki kate itu. Setan Pikulan tak menunggu lebih lama. Dilakukannya lagi satu totokan yang membuat mulut Sekar menjadi bungkam bisu tak bisa mengeluarkan suara lagi! Kemudian secepat kilat manusia kate itu meraih pinggang Sekar, melompat ke atas kudanya dan meninggalkan tempat itu.

SEMENTARA itu di ruang batu karang di bawah gedung kediaman Tiga Setan Darah.... Begitu Wiro Sableng melompat dan sampai di anak tangga teratas, lantai di atasnya tertutup dengan cepat! Pendekar ini memaki habis-habisan. Diterjangnya lantai di atas tangga itu dengan satu tendangan keras yang disertai aliran tenaga dalam. Jangarrkan bobol, berbekaspun tendangannya itu tidak! Penasaran sekali Wiro Sableng alirkan separoh dari tenaga dalamnya ke kaki dan untuk kedua kalinya dia menendang lagi. Lantai karang yang merupakan langit-langit ruang batu itu keras dan atosnya bukan olah-olah. Tendangan Wiro Sableng hanya senggup membuat langit-langit itu tergetar sedikit saja!

"Sialan!" gerutu Pendekar 212. Kini seluruh tenaga dalamnya dialirkan ke kaki. Dengan bentakan dahsyat pendekar ini menendang ke atas. Ruang batu itu bergoncang! Tapi bagian yang ditendang tidak mengalami perobahan sedikitpun! Wiro menghela nafas dalam. Keringat dingin mengucur dikeningnya. Penuh penasaran pemuda ini salurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan sampai tangan itu tergetar. Kedua kakinya merenggang. Dalam keadaan seperti itu, bila dia berdiri di tanah pastilah kedua kakinya akan melesak sedalam lima atau sepuluh senti. Tapi di atas lantai karang yang atos itu, hal itu tidak terjadi. Perlahan-lahan jari-jari tangan pendekar 212 menekuk membentuk tinju.

"Ciaaat!" Didahului dengan bentakan menggeledek itu Wiro Sableng pukulkan tangan kanannya ke atas. Jari-jari yang terkepal membuka. Satu gumpalan angin keras laksana batu besar bergulung-gulung dan melesat menghantam bagian atas ruangan batu didekat kepala tangga! Inilah pukulan kunyuk melempar buah! Ruang batu itu bergoncang dahsyat. Angin pukulan memantul kembali, memadamkan pelita yang terletak di lantai. Dan ruangan batu kurang itu dengan serta merta menjadi gelap gulita. Tangan di depan matapun tak kelihatan ! Wira Sableng menggerendeng, memaki diri sendiri, memaki akan ketololannya sendiri. Seharusnya dia memperhitungkan bahwa pukulannya itu tadi akan dapat memadamkan pelita di ruang batu itu. Dia berpikir-pikir untuk melepaskan pukan sinat matahari. Tapi Wiro khawatir kalau-kalau pukulannya itu juga tidak mempan dan akan membalik menghantam dirinya sendiri serta manusia yang menggeletak di ruangan itu! Sejak masuk ke dalam ruang batu karang itu baru Wiro ingat pada laki-laki bertangan buntung yang tadi hendak ditolongnya. Wiro melangkah perlahan-lahan sampai akhirnya kedua kakinya menyentuh tubuh laki-laki itu. Dia berlutut. Digoyang-goyangnya tubuh laki-laki itu. Tiada suara. Tubuh itu basah oleh keringat dan gelimangan darah. Wiro meletakkan telapak tangan kanannya di dada laki-laki itu. Lama sekali baru dia berhasil merasakan degupan jantung yang sangat halus dan pelahan! Ternyata manusia itu masih hidup. Dengan cepat Wiro Sableng salurkan tenaga dalamnya melalui dada dan pergelangan tangan kanan laki-laki itu. Seperempat jam berlalu. Masih tak ada reaksi apa-apa. Mungkin manusia itu tak ada harapan lagi untuk diselamatkan jiwanya, pikir Wiro. Tubuhnya sudah keringatan. Mengerahkan tenaga dalam selama seperempat jam tanpa terputus-putus merupakan hal yang sangat berat, kurang hati-hati salah-salah bisa membuat diri sendiri menjadi rusak di dalam! Ketika sepeminuman teh lewat maka baru terasa laki-laki itu memberikan reaksi. Tubuhnya bergerak sedikit. Kemudian terdengar suara erangannya. Erangan yang hampir tak kedengaran. Wiro kerahkan lagi tenaga dalamnya sampai tubuhnya menjadi lemas. Dia tersandar kedinding dan mengatur jalan nafas serta darahnya. Kemudian telinganya mendengar erangan laki-laki itu lebih keras. Erangan kesakitan yang mengeriken!

"Di mana aku?" lapat-lapat Wiro mendengar laki-laki itu bertanya.

"Sobat, kau sudah siuman?"

"Kau siapa...?" desis laki-laki itu.

"Apa kau bisa membuka matamu?"

"Ya, sedikit. Tapi semua gelap sekali!"

"Ya, ruangan ini memang gelap. Ruang batu karang yang tak beda dengan liang kubur! Kita sama-sama bernasib sial! Disekap di tempat terkutuk ini..."



"Kenapa kita bisa disekap di sini..... Siapa yang menjebloskan kita...?"

"Ya. Namaku Pranajaya..."

"Meski kau terkurung di sini, nasibmu sebenarnya masih untung Prana," kata Wiro. Pranajaya menghela nafas dalam.

"Kau kuat sekali. Kurasa jarang ada manusia yang sanggup bertahan dan masih hidup diseret dengsn kuda seperti kau."

"Aku... aku diseret dengan kuda...?" tanya Prana.

"Ya. Sudahlah, sebaiknya kau duduk bersila. Atur jalan nafas, aliran darah dan tenaga dalammu..." "Tidak mungkin...," desis Prana.

"Seluruh tubuhku tidak punya tenaga sedikitpun. Tulang-tulangku serasa remuk!"

"Kau begitu berbaring sajalah sementara aku mencari akal bagaimana kita bisa ke luar dari tempat terkutuk ini!" kata Pendekar 212.

"Kau masih belum menerangkan namamu," ujar Pranajaya.

"Panggil aku Wiro....."

"Kau juga seorang dari dunia persilatan?"

"Sudah, aku bilang berbaring sajalah," potong Wiro.

"Aku musti berpikir. Kita musti ke luar dari tempat celaka ini!" Pranajaya menutup mulutnya. Sekujur tubuhnya sakit tiada terkirakan. Sedikit demi sedikit dalam keadaan berbaring itu dicobanya mengatur jalan nafas, darah dan tenaga dalamnya.

"Plaak!"

Wiro memukul keningnya sendiri. Tangan kanannya mengeruk saku pakaiannya. Dari dalam saku ini diambilnya sebuah kantong kecil berisi beberapa buah pil. Diambilnya sebutir

"Aku sampai lupa Prana, ngangakan mulutmu. Telan obat ini. Seperempat jam mungkin kau bisa lebih kuatan......" Dalam gelap itu Pranajaya mengangakan mulutnya dan Wiro mencari-cari dengan tangannya mulut pemuda itu. Bila bertemu maka dimasukkannya pil itu ke dalam mulut Pranajaya.

Beberapa menit kemudian......

"Rasa sakitku agak berkurang..." kata Prana pelahan.

"Syukur......"

"Saudara Wiro bagaimana..." Pranajaya tidak meneruskan pertanyaannya. Di dalam gelap itu dirasakannya Wiro berdiri. Kemudian tubuhnya didukung den dibawa ke salah satu sudut ruangan.

"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya Pranajaya. Wiro tak menjawab. Dia melangkah ke tengah ruangan kembali. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya sebuah batu hitam yang bertuliskan angka 212 serta Kapak Maut Naga Geni 212. Senjata sakti ini memancarkan sinar yang menerangi ruang batu itu. Meski tidak cukup terang tapi Wiro dapat melihat di mana pelita yang tadi padam terletak. Mata kapak dan batu hitam diadu satu sama lain. Lidah api menyembur ke arah pelita dan pelita itupun menyala kembali. Ruang batu karang menjadi terang benderang. Kini kedua manusia itu baru bisa meneliti paras dan diri masing-masing. Paras Pranajaya mengerikan untuk dipandang. Kulit mukanya hampir keseluruhannya mengelupas, demikian juga kulit sekujur badannya. Salah satu telinganya hampir sumplung, hidung lecet. Pakaian robek-robek. Kulit kepala ada yang mengelupas dan darah, keringat serta debu membungkus tubuh Pranajaya mulai dari ujung rambut sampai ke kaki! Pendekar 212 kertakkan rahang menahan hatinya yang seperti terbakar melihat keadaan tubuh laki-laki bertangan buntung itu. Kesalahan apakah yang telah dibuatnya sampai disiksa demikian biadabnya? Wiro tak mau berpikir lebih lama. Saat itu yang musti dilakukan ialah mencari jalan ke luar. Dengan Kapak Naga Geni 212 ditangan Wiro Sableng melangkah menuju ke tangan batu paling atass. Dia memandang pada Pranajaya dan berkata, "Kalau senjataku ini tiada sanggup menghancurkan langit-langit ruangan batu karang ini berarti kita akan mampus di sini sobat." Pranajaya tak berkata apa-apa. Hatinya kecut, dan sedingin es. Wiro mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kapak Naga Geni di putar-putar di atas kepala. Senjata itu mengeluarkan angin yang deras dan suara mengaung laksana deru ribuan tawon. Angin senjata membuat api pelita mati lagi. Pada saat itu terdengar bentakan menggeledek dan di saat yang bersamaan pula terdengar suara

"buumm!"

Ruang batu bergoncang keras. Wiro terhuyung-huyung, tubuhnya dihujani oleh guguran dan puing-puing batu karang. Pranajaya terpelantihp dan terhampar di lantai ruang betu. Ketika Wiro memandang ke atas dia berseru girang, "Prana, kita berhasil!" Ternyata batu karang tebal yang atos keras yang menjadi atap ruang batu itu tiada sanggup menghadapi Kapak Naga Geni 212. Sekali Wiro menghantamkan senjata pemberian gurunya itu maka hancur leburlah atap batu karang. Lobang baser terbuka tepat di atas anak tangga paling atas. Pendekar 212 memasukkan kapaknya ke balik pinggang kemudian turun ke bawah kembali, mendukung tubuh Pranajaya dan mepinggalkan ruangan batu karang itu dengan cepat. Tapi sewaktu mereka sampai di halaman belakang, seorang penunggang kuda bermuka merah, berambut dan berjubah merah tahu-tahu muncul menghadang mereka. Setan Darah Pertama!





PADA WAKTU Setan Pikulan keluar dari pekarangan gedung tua membawa lari Sekar, maka di ujung jalan di belakangnya tiga penunggang kuda muncul. Mereka bukan lain Tiga Setan Darah yang baru saja kembali dari luar Kotaraja.

"Hai, kalau aku tak salah lihat itu si kepala gundul Setan Pikulan!" seru Setan Darah Pertama.

"Betul!" menyahut Setan Darah Kedua.

"Dia memboyong perempuan dan keluar dari rumah kita! Apa yang telah terjadi?!" Tiga Setan Darah sama memacu kuda masing-masing lebih cepat namun Setan Pikulan sudah lenyap dari pemandangan mereka sewaktu ketiganya sampai di depan pintu halaman gedung tua.

"Kalian berdua kejar manusia itu," perintah Setan Darah Pertama.

"Aku akan menyelidiki tempat kita. Pasti terjadi apaapa yang tak diingini!" Setan Darah Kedua dan Ketiga segera meninggalkan tempat itu sedang Setan Darah Pertama dengan cepat memasuki halaman gedung kediamannya. Apa yang disangkakannya ternyata betul! Pintu samping ditemuinya melompong bobol. Belasan senjata rahasia berbentuk panah bertebaran di tanah dan beberapa lainnya menancap di batang pohon Setan Darah Pertama memaki dalam hati.

"Apa ini si kate kepala gundul itu yang melakukannya?" manusia bermuka merah ini membathin.

"Kalau betul kelak aku akan kasih pelajaran pada manusia keparat itu!" Dilewatinya pintu yang telah bobol itu dan ketika sampai di halaman belakang kekagetannya bertambah-tambah sewaktu menyaksikan tanah dari anak tangga sebelah bawah pintu belakang hancur berantakan sedang pintu belakang itu sendiri juga bobol pecah!

"Setan alas! Setan alas!" maki manusia muka merah itu. Dia memandang berkeliling dan merasa heran karena dia tidak melihat arca yang seharusnya berada di halaman itu! Siapa yang melakukan ini semuanya? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan Setan Pikulan yang tadi dilihatnya ke luar dari pintu halaman, memboyong seorang perempuan?! Sudut mata Setan Darah Pertama menangkap satu gerakan. Cepat-cepat dia palingkan kepala. Sepasang mata Setan Darah Pertama melotot. Dihadapannya berdiri seorang pemuda berambut gondrong, berpakaian putih-putih. Dia tidak kenal dengan pemuda ini. Yang membuat Setan Darah Pertama begitu terkejut ialah karena pemuda ini memanggul Pranajaya yang sebelumnya telah disekapnya dalam ruang batu karang! Setan Darah Pertama berpikir cepat. Jika si pemuda asing ini adalah kawan Pranajaya dan menolong Prana keluar dari ruang batu karang, pastilah dia yang telah menghancurkan pintu samping dan pintu belakang gedung kediamannya. Dan di dalam gedung pasti pula dia telah membuat kerusakan yang lebih hebat lagi. Lantas, apa pula hubungan Setan Pikulan yang tadi dilihatnya ke luar dari halaman gedung dengan memboyong seorang perempuan?! Setan Darah Pertama jadi bingung sendiri! Matanya menatap tajam. Kalau betul pemuda belia ini yang telah membebaskan Pranajaya dari dalam ruang batu maka ini adalah hal yang sangat tak bisa dipercaya oleh Setan Darah Pertama. Untuk masuk ke dalam gedung tua saja seseorang harus melalui rintangan-rintangan senjata rahasia yang bisa membawa maut! Kalaupun dia sanggup masuk ke dalam, belum tentu dia tahu rahasia bagaimana membuka pintu ruang batu karang. Mungkin dia mempergunakan ilmu kesaktian dan membobolkan pintu ruang batu? Selama bertahun-tahun tak ada satu kekuatanpun yang sanggup mendobrak pintu ruang batu karang itu. Apalagi manusia muda bertampang dogol seperti yang saat itu berdiri memanggul tubuh Pranajaya dihadapannya. Di lain pihak Pendekar 212 Wiro Sableng memandang pula tepat-tepat kepada Setan Darah Pertama. Dia ingat manusia inilah yang telah menyeret Pranajaya tadi sepanjang jalan. Dia tenangtenang saja dan tidak perlu terkejut melihat si muka merah ini. Cuma yang diam-diam membuat dia khawatir ialah karena saat itu dia sama sekali tidak melihat Sekar! Tak ada dugaan lain selain bahwa gadis itu pasti sudah dilarikan oleh si kate Setan Pikulan!

"Pemuda asing, siapa kau?!" bentak Setan Darah Pertama dengan suara menggeledek. Sekaligus dia hendak menunjukkan bahwa dia bukan manusia sembarangan. Wiro Sableng cengar cengir seenaknya.

"Jangan cengar cengir tak karuan! Cepat beritahu siapa kau dan mengapa nyalinu begitu besar membuat keonaran di sini?!"

"Wiro....," Pranajaya berbisik.

"Manusia muka kepiting rebus ini adalah musuh besarku! Salah satu dari Tiga Setan Darah...." Wiro tertawa mendengar ucapan "kepiting rebus" itu.

"Setan alas!" sentak Setan Darah Pertama.

"Kau kira kau berhadapan dengan siapakah berani tertawa seenak perutmu?!"

"Masakah orang tertawa saja tidak boleh!" sahut Wiro Ssbleng. Darah Setan Darah Pertama naik ke kepala

"Kalau kau masih bicara bertele, nyawamu akan kukirim menghadap setan neraka!" ancam Setan Darah Pertama dan tangan kanannya dinaikkan ke atas, siap untuk melancarkan satu pukulan tangan kosong!

"Sabar... sabar sobat!" kata Wiro.

"aku adalah kawan pemuda ini. Sebagai kawan, sepantasnya aku menolong bila dia mendapat kesukaran.... Bukan begitu Tiga Setan Darah?!"

"Hemm... manusia buruk macammu rupanya sudah tahu juga berhadapan dengan siapa saat ini!" ujar Setan Darah Pertama.

"Karena kau kawan pemuda itu, terpaksa kalian berdua kuseret kembali ke ruang batu karang!"

Habis berkata demikian Setan Darah Pertama lentingkan kelima jarinya ke muka. Lima larik sinar merah menyambar ke arah lima bagian tubuh Wiro Sableng! Inilah ilmu totokan jarak jauh bernama totokan lima jari yang sangat lihai sekali! Pendekar 212 Wiro Sableng keluarkan suara bersiul. Sekali melompat ke samping, lima sinar totokan itu dapat dihindarkannya sekaligus! Ini membuat Setan Darah Pertama menjadi gusar.

"Punya sedikit ilmu saja hendak diandalkan!" ejeknya.

"Aku mau lihat sampai di mana kedikjayaanmu bocah konyol!." Serentak dengan itu Setan Darah Pertama melompat dari kudanya.

"Silahkan turunkan dulu kunyuk dibahumu itul" kata Setan Darah Pertama.

"Tiga Setan Darah, meski kau seorang bejat yang sebenarnya tidak pantas hidup di dunia ini, tapi aku tak punya permusuhan denganmu. Harap minggir beri jalan....!"

"Kentut bapak moyangmu!" teriak Setan Darah Pertama.

"Lekas turunkan pemuda itu, dalam satu jurus nyawamu pasti akan minggat dari badan!" Sebenarnya Wiro bukan tak mau baku hantam dengan manusia terkutuk ini, tapi karena dia mengkhawatirkan keselamatan Sekar dan musti mencari gadis itu maka sekali ini diusahakannya untuk menghindari pertempuran. Tapi agaknya si muka kepiting rebus tak memberi kesempatan terhadapnya. Dan ini membuat murid Eyang Sinto Gendeng itu mulai luntur pula kesabarannya.

"Iblis muka merah!" bentak Wiro Sableng.

"Untuk menghadapi kau kenapa musti susah-susah turunkan tubuh kawanku ini segala?" Mendidihlah darah Setan Darah Pertama. Seumur hidupnya tak pernah dia mendapat hinaan demikian.

"Kalau begitu kalian akan mampus sama-sama!" teriaknya lantang.

Setan Darah Pertama kebutkan kedua lengan jubahnya. Dua angiri merah yang amat dahsyat menderu ke arah Wiro Sableng. Dalam jarak dua tombak saja panasnya sudah memerihkan kulit.

"Awas Wiro, pukulan itu beracun!" membisik Pranajaya. Lalu tambahnya

"Manusia ini bukan sembarangan, ilmunya tinggi. Lebih baik kau sandarkan aku ke pohon sana....!"

"Ah, tak usah khawatir sobat..," jawab Wiro. Satu tombak dua larikan sinar merah itu menyambar kearahnya dengan membentak nyaring Pendekar 212 berkelebat. Tubuhnya lenyap dari hadapan Setan Darah Pertama. Kaget Setan Darah Pertama bukan main-main. Tak tahu dia gerakan kilat apa yang dipergunakan oleh si pemuda lawannya hingga lebih cepat dari kejapan mata pemuda itu sudah lenyap dari pemandangannya. Cepat-cepat dia membalik. Wiro dan Prana dilihatnya sudah berada di pintu samping.

"Kau mau lari ke mana bedebah?!" bentak Setan Darah Pertama dan memburu dengan cepat seraya lancarkan satu jotosan jarak jauh yang hebat. Serangan ini membuat murid Eyang Sinto Gendeng melompat ke samping lalu membalik.

"Iblis muka merah, kali ini aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Kelak di lain hari kita bakal berhadapan kembali!"

"Cuma nyawamu yang bisa pergi dari sini keparat!" teriak Setan Darah Pertama. Dia memburu lagi. Tapi langkahnya terhenti. Wiro telah melepaskan satu pukulan yang mendatangkan angin yang amat hebat, membuat pasir di halaman itu menggebu laksana kabut tebal menderu ke arah Setan Darah Pertama membuat pemandangannya tertutup. Ketika dia menerobos kabut pasir itu dengan cepat, Wiro Sableng dan Pranajaya sudah lenyap! Setan Darah Pertama menyumpah habis-habisan. Orang-orang yang berada di tengah jalan cepat-cepat menghindar ke tepi sewaktu Setan Pikulan memacu kudanya dengan kecepatan yang luar biasa. Debu beterbangan di belakang diterpa oleh keempat kaki kuda tunggangan manusia bertubuh kate itu. Seorang pejaian kaki berkata pada kawannye di tepi jalan.

"Lihat, si kate kepala gundul itu membawa seorang perempuan lagi!"

"Ya, parasnya cantik sekali!" Sahut kawannya. Diangkatnya bahunya lala berkata lagi,

"Manusia dajal itu rupa-rupanya tak pernah bosan dengan perempuan. Di gedungnya sudah belasan perempuan yang jadi peliharaannya! Kini satu lagi bakal menjadi korban kebejatan nafsunya. Kasihan perempuan itu..."

"Aku sangat menyesalkan Baginda. Beliau..." Laki-laki itu tak meneruskan kata-katanya karena di belakangnya terdengar derap kaki-kaki kuda. Keduanya berpaling.

"Ini lagi...," kata laki-laki tadi pelahan.

"Bergundal-bergundal Baginda. Mereka tidak ada beda dengan Si Setan Pikulan!" Dua penunggang kuda itu berlalu dengan cepat. Mereka bukan lain dari Setan Darah Kedua dan Ketiga yang tengah mengejar Setan Pikulan! Di sebuah gedung kecil di pinggiran Kotaraja, Munding Sura alias Setan Pikulan menghentikan kudanya.

"Ah, manisku. Kita sudah sampai!" katanya seraya mendukung Sekar dan melompat dari kudanya. Di ruang dalam tiga orang perempuan muda yang cantik-cantik tengah duduk berbicara Mereka adalah sebagian dari peliharaanpeliharaan Setan Pikulan. Ketiganya memandang pada Setan Pikulan dan perempuan yang ada dalam dukungannya. Mereka tak berkata dan tak berbuat apa-apa selain hanya memandang. Dan di dalam hati masing-masing, mereka sudah tahu apa yang bakal dialami parempuan yang dibawa Setan Pikulan itu ketika mereka melihat laki-laki itu melangkah menuju ke kamar di ujung ruangan! Kemudian pintu kamar itupun tertutuplah.

Di dalam kamar.......

Setan Pikulan menutupkan pintu dengan tumit kakinya. Dengan tertawa mengekeh-ngekeh manusia ini membaringkan Sekar di atas tempat tidur. Kemudian dia melangkah ke meja dan meneguk tuak dari dalam sebuah kendi. Minuman keras ini dengan serta merta menghangati tubuh dan menambah gelora nafsu terkutuk Setan Pikulan. Dengan memegang kendi itu di tangan dia melangkah kembali ke tempat tidur dan duduk di samping Sekar.

"Ah, parasmu yang cantik basah oleh keringat dan debu. Biar aku bersihkan.... kata Setan Pikulan. Lalu dengan tangan kirinya diusapnya kening serta pipi Sekar. Gadis ini memaki dalam hati. Hanya itu, yang bisa dilakukannya. Dia tak bisa membuka mulut ataupun menggerakkan anggota badannya karena telah ditotok. Cuma mimik mukanya yang menyatakan demikian. Setan Pikulan meneguk tuaknya kembali.

"Eh, kau tentu haus" Setan Pikulan mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu dibukanya totokan pada tubuh Sekar. Gadis itu kini bisa bicara dan mendengar tapi tubuhnya tetap kaku tak bisa digerakkan.

"Ini, minumlah, kau tentu haus manisku!"

"Manusia biadab! Lepaskan totokanku! Keluarkan aku dari sini!" teriak Sekar.

"Kau masih saja galak," desis Setan Pikulan dan mencubit dagu Sekar.

"Ini minum!," katanya. Bibir kendi didekatkannya ke bibir gadis itu. Sekar mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tapi kemudian dia mendapat akal. Dibukanya mulutnya sedikit. Tuak di dalam kendi itu diteguknya dua kali. Setan Pikulan tertawa gembira. Tapi tiba-tiba ! Tuak yang sudah diteguk tadi tiba-tiba disemburkan kembali oleh Sekar dan karena tidak diduga sama sekali oleh Setan Pikulan, laki-laki,ini tak sempat lagi menghindar! Dia berteriak kesakitan dan melemparkan kendi di tangannya ke dinding. Kendi pecah berantakan isinya membasahi lantai! Untung saja Sekar dalam keadaan ditotok sehingga dia tak bisa mengalirkan darah dan tenaga dalamnya! Jika saja semburan tuak tadi disertai dengan aliran tenaga dalam niscaya hancur dan butalah mata Setan Pikulan. Namun demikian semburan tadi sudah cukup membuat matanya sakit sekali dan untuk beberapa saat lamanya tak bisa membuka kedua matanya itu! Sambil mengeringi mukanya yang basah dan mengucakngucak kedua matanya Setan Pikulan memaki habis-habisan!

"Gadis gila! Kalau kau tidak sekurang ajar itu terhadapku pasti aku akan perlakukan kau baik-baik. Tapi kini kau akan rasakan sendiri !" Setan Pikulan mengucak lagi kedua matanya. Pemandangannya sudah terang kini. Kedua matanya yang juling memandang dengan berapi-api. Tiba-tiba dibungkukkannya kepalanya. Maka habislah seluruh tubuh Sekar diciuminya. Gadis itu menjerit tiada henti.

"Menjeritlah sampai lidahmu copot!" kata Setan P,kulan dengan tertawa mengekeh. Ciumannya datang lagi bertubi-tubi. Kemudian bukan hanya ciuman saja lagi. Sepasang tangan manusia kate ini membuat dua kali gerakan.

"Breet!"

"Breet!"

Pakaian kuning yang dikenakan Sekar robek besar. Dadanya tersingkap lebar!

"Dadamu bagus dan putih sekali!" seru Setan Pikulan seperti gila. Dan kemudian betul-betul macam orang gila muka dan bibirnya melumasi dada Sekar yang sampai saat itu masih menjerit-jerit. Sekar menjerit lagi lebih keras sewaktu sepasang tangan Setan Pikulan menggerayang meremasi dadanya !

"Braak !"

Pintu kamar terpentang lebar. Salah satu papannya pecah! Kaget Setan Pikulan bukan olah-olah! Sebelum dia berpaling, dari pintu sudah membentak satu suara .

"Munding Sura! Hentikan perbuatan kotormu itu!"





BEGITU berpaling begitu Setan Pikulan alias Munding Sura hendak mendamprat marah. Tapi sewaktu melihat siapa yang berdiri dihadapannya dia hanya mengeluarkan suara menggerendeng. Di belakang laki-laki yang masuk ke dalam kamar itu masih ada seorang lainnya. Setan Pikulan bangkit dari tempat tidur.

"Kalau tidak memandang kepada nama besar serta hubungan kita sesama tokoh-tokoh pembantu Baginda, pasti aku sudah tendang kau ke luar dari kamar ini Setan Darah Kedua!" Setan Darah Kedua tertawa bergumam. Dia rangkapkan tangan di muka dada sementara kawannya melangkah ke sampingnya. Sepasang mata Setan Darah Kedua menatap tubuh yang tergeletak di atas tempat tidur. Hatinya terkesiap juga memandangi paras cantik dengan tubuh dalam keadaan setengah telanjang itu! Seperti Setan Pikulan, diapun seorang yang suka perempuan!

"Setan Darah, lekas katakan apa maksud kedatangan kalian !"

"Sewaktu memasuki ujung jalan kau kelihatan ke luar dari tempat kediaman kami membawa perempuan itu!" kata Setan Darah Kedua. Kepalanya digoyangkannya sedikit ke arah Sekar.

"Ada perlu apa kau ke tempat kami dan siapa ini perempuan?!"

"Siapa ini perempuan bukan urusanmu!" jawab Setar Pikulan.

"Kalau kau memandang mukaku, aku juga matih mau memandang muka padamu, Setan Pikulan," kata Setan Darah Kedua.

"Kuharap kau tak usah bicara kasar!" Setan Darah Kedua tertawa dingin. Setan Darah Ketiga buka mulut,

"Melihat caramu ke luar dari gedung kami dan melarikan perempuan ini jelas sudah kau membuat apa-spa yang tak diingini d tempat kami!" Setan Pikulan meludah ke lantai.

"Aku ke sana sebetulnya untuk menyambangi kalian..."

"Itu satu kehormatan." memotong Setan Darah Kedua dengan nada sinis.

"Kalian tidak ada. Pintu samping kutemui dalam keadaan hancur. Senjata-senjata rahasia bertancapan di pohon dan bertebaran di tanah. Halaman belakang kacau balau dan pintu belakang gedung kalian juga , kutemui dalam keadaan terpentang bobol...."

"Hemmm...," gumam Setan Darah Ketiga.

"Siapa yang melakukannya?!"

"Mana aku tahu!" sahut Setan Pikulan.

"Jangan dusta Munding Sura!" sentak Setan Darah Kedua.

"Hanya beberapa orang saja yang tahu rahasia masuk ke gedung itu, diantaranya kau!"

"Jadi kau menuduh aku membuat kerusakan di gedung itu?"

"Aku tanya siapa yang melakukan, bukan menuduh!" sahut Setan Darah Kedua ketus.

"Aku sudah bilang tidak tahu! Dan sekali tidak tahu, tetap tidak tahu. Sekarang silahkan angkat kaki dari sini!"

"Baik Munding Sura. Tapi ingat..." ujar Setan Darah Ketiga.

"Bila nanti terbukti kau berbuat..."

"Tak usah mengancam sompret!" maki Setan Pikulan. Setan Darah Ketiga melangkah maju. Setan Darah Kedua menarik lengan jubahnya dan berkata pada Setan Pikulan, "Sekarang memang baru cuma ancaman. Kelak kalau kami tahu bahwa kau betul-betul telah membuat keonaran di tempat kami, ancaman itu akan menjadi kenyataan, Munding!" Munding Sura yang bergelar Setan Pikulan tertawa mencemooh!

"Dasar manusia-manusia tidak tahu diri!" katanya. "Kalian tahu, sewaktu aku datang ke sana ada dua cecunguk yang sembunyi di atas genteng! Satu diantaranya gadis ini, yang lain seorang pemuda! Aku paksa mereka turun dan paksa agar memberi keterangan. Mereka menerangkan tengah mencari seorang kawan yang kalian seret ke tempat kalian! Mereka bermakpud membebaskannya! Aku pikir kalau manusia itu adalah musuhmu maka pasti yang dua lainnya adalah kambratnya juga. Si gadis, kutotok dan kawannya kutipu kujebloskan dalam ruang batu karang di dasar gedung! Kalian dengar semua itu?! Seharusnya kalian berterima kasih padaku dan bukan mengoceth tak karuan! Sekarang berlalu dari hadapanku sebelum kesabaran habis!" Setan Darah Kedua menarik lengan baju kawannya. Keduanya sama– sama melangkah ke pintu. Tapi tiba-tiba Sekar berseru. "Setan Darah! Jangan kena ditipu oleh bangsat kepala botak ini!" Tentu saja kedua Setan Darah itu sama hentikan langkah dan balikkan badan!

"Apa yang diterangkannya semua adalah dusta!"

"Heh, begitu...?!"

"Gadis edan apa mulutmu mau kupecahkan?!" bentak Setan Pikulan.

"Berani kau bicara lagi betul-betul kupecahkan mulutmu!"

"Biarkan dia bicara, Munding Sura!" kata Setan Darah Kedua.

"Tapi kau lepaskan dulu totokanku!" kata Sekar.

"Aku akan terangkan apa yang telah diperbuatnya ditempatmu! Dan bukan itu saja, aku akan bersedia ikut dengan kalian!"

"Ah...," Setan Darah Kedua mengusap-usapkan kedua telapak tangannya satu sama lain.

"Satu usul yang baik! Memang kau telah pantas bersamaku daripada kambratku yeng kate buruk ini!" Marahlah Setan Pikulan.

"Saat ini aku tidak memandang nama besar atau mukamu lagi Setan Darah keparat! Tidak perduli meski kita sama-sama orang Istana!"

"Gadis itu sudah membuka kedok kedustaanmu!"

"Dia yang dusta! Bohong besar!"

"Dusta atau tidak tapi aku percaya omongannya. Dan aku dengar dia sendiri yang mau ikut bersamaku!" Setan Darah Kedua mengekeh. Mulut Setan Pikulan komat kamit.

"Boleh," katanya.

"Silahkan bawa gadis itu. Tapi begitu tanganmu menyentuh tubuhnya, kepalamu akan hancur lebih dulu!" Setan Darah Kedua tertawa bergelak.

"Nama besar Setan Pikulan memang sudah lama kami dengar, Tapi hendak manantang Tiga Setan Darah yang kesohor sama saja seperti biduk kecil yang hendak melawan gelombang sebesar gunung!" Kini Setan Pikulan yang tertawa mangekah.

"Orang sombong memang terlalu sering lupa diri! Kita walau bagaimanapun masih sama sama manusia. Aku bukan biduk dan kalian bukan gunung! Bicara jangan ngaco!"

"Agaknya jalan kekerasan tak bisa dihindarkun, Setan Pikulan!" kata Setan Darah Ketiga sambil usut-usut lengan jubahnya.

"Kukira demikian, Lagi pula memang sudah sejak lama aku ingin membuktlkan sampai di mana kehebatan nama Tiga Setan Darah itu. Jangan-jangan cuma bangsa kroco bau terasi saja! Apalagi sekarang cuma ada dua orang!"

"Kita akan saksikan siapa yang kroco manusia buruk!" sahut Setan Darah Kedua. Dia berpaling pada kawannya dan berkata,

"Kau lepaskan totokan gadis itu, biar aku yang kasih pelajaran pada manusia jenis kacoak ini!" Setan Darah Ketiga melompat ke arah tempat tidur. Dua jari tangannya siap untuk melepaskan totokan di tubuh Sekar, tapi dari samping Setan Pikulan tidak tinggal diam. Tubuhnya yang kate melasat ka muka satu tendangan yang dahsyat dilancarkannya ke arah tangan Setan Darah Ketiga. Tentu saja Setan Darah Ketiga tidak mau ambil risiko hancur tangannya. Cepat-cepat dia tarik pulang tangannya, menggeser kaki dan kebutkan lengan jubahnya sebelah kiri!

Selarik sinar merah menyambar ke arah selangkangan Setan Pikulan! Ini adalah satu serangan yang benar-benar mematikan! Tapi si kate kepala gundul bukan manusia kemarin. Dia membentak dan melompat ke atas. Dari atas dia kirimkan satu jotosan dan satu tendangan! Setan Darah Ketiga merunduk sementara sinar pukulannya tadi telah melanda dan menghancurkan tembok kamar! Di ruang sebelah terdengar pekikan beberapa orang perempuan! Serangan gencar Setan Pikulan menjadi batal sewaktu dari samping Setan Darah Kedua tusukkan dua jari tangannya ke rusuk. Setan Pikulan yang tahu betul kehebatan dua jari itu cepat menghindar dan sekaligus dua tangannya dipukulkan ke muka! Setan Darah Kedua cepat-cepat buang diri ke samping sewaktu melihat dua gelombang angin hitam ke luar dari jotosan-jotosan lawannya.

"Ilmu pukulan sepasang tinju hitammu tiada berguna terhadapku manusia buruk!" ejek Setan Darah Kedua. Sementara kawannya baku hantam dengan Setan Pikulan. Setan Darah Ketiga pergunakan kesempatan untuk membebaskan Sekar dari totokan. Namun kali yang kedua inipun tidak berhasil karena saat itu Setan Pikulan sudah menyambar senjatanya yang ampuh yang menyebabkan dia sampai dijuluki Si Setan Pikulan dalam dunia persilatan. Senjatanya itu bukan lain ialah sebuah pikulan dari bambu! Meskipun dari bambu tapi karena merupakan senjata sskti maka kekuatannya lebih hebat dari baja! Setan Darah Ketiga cepat-cepat buang diri ke samping sewaktu ujung pikulan menusuk ke kepalanya. Setan Darah Kedua mengomel.

"Tolol!," makinya,

"lepaskan dia dengan totokan jarak jauh!" Habis berkata begitu Setan Darah Kedua segera keluarkan sanjatanya yaitu sepasang gada. Dalam ilmu mengentengi tubuh dan tenaga dalam serta kegesitan bergerak Setan Pikulan tidak di bawah kedua Setan Darah itu, apalagi saat itu pikulan saktinya sudah berada di tangan. Namun menghadapi dua lawan yang berada dalam jarak terpisah di mana dia musti pula melindungi Sekar agar jangan sampai gadis itu berhasil dibebaskan lawan dari totokannya maka ini adalah satu hal yang cukup menyulitkan bagi Si Setan Pikulan! Setiap saat dia harus membagi serangan pada kedua lawan dan melindungi Sekar! Setan Pikulan putar senjatanya laksana titiran.Pikulan itu dimainkan dalam jurus-jurus silat toya. Angin deras dan suara mengaung memenuhi kamar itu. Namun senjata lawan yang dihadapi Setan Pikulan bukan pula senjata biasa! Bagaimanapun dia mempercepat gerakannya dan mendesak Setan Darah Kedua dengan hebat namun pada jurus kesembilan belas Setan Pikulan tak berhasil menghalangi Setan Darah Ketiga melepaskan satu pukulan tangan kosong jarak jauh yang membuat terlepasnya totokan di tubuh Sekar! Begitu bebas secepat kilat gadis itu merapikan pakaiannya.

"Saudari, kau menghindarlah ke sudut sana! Tunggu sampai kami membereskan monyet kontet ini!," kata Setan Darah Kedua. Sekar merasa syukur bahwa hasutannya termakan oleh kedua Setan Darah sehingga kini dia lepas dari totokan. Dia tahu baik Setan Pikulan maupun manusia-manusia bermuka dan berjubah merah itu tiada beda satu sama lain. Dia berpikir-pikir apakah akan masuk ke gelanggang pertempuran untuk turut mengeroyok Setan Pikulan yang telah membuat kekejian terhadapnya atau lebih baik menyingkir dulu dari situ sebelum timbul pula urusan baru dengan manusia-manusia iblis bermuka merah itu! Si gadis mengambil keputusan yang terakhir. Apa lagi dia ingat bahwa sewaktu dibawa lari oleh Setan Pikulan dari gedung kediaman Tiga Setan Darah tadi, sahabatnya Wiro Sableng masih tertinggal di sana, dikurung dalam ruang batu karang. Maka gadis ini cepat-cepat melompat ke pintu. Namun apa lacur! Bersamaan dengan itu sesosok tubuh melompat pula dari luar dan cepat berhadap-hadapan dengan Sekar diambang pintu itu !





MANUSIA ini berambut gondrong, bermuka dan berjubah merah parsis seperti yang dikenakan dua orang Setan Darah yang tengah bertempur di dalam kamar. Pasti tidak manusia ini adalah kawan dari dua Setan Darah lainnya itu pikir Sekar. Di lain pihak manusia yang berdiri diambang pintu yang memang Setan Darah Pertama adanya menduga keras bahwa Sekar adalah perempuan yang tadi terlihat dilarikan oleh Setan Pikulan dari gedungnya. Meskipun dia tertarik sekali akan kecantikan si gadis dihadapannya namun saat itu Setan Darah Pertama masih diliputi kemarahan yang meluap yaitu sesudah dia menyaksikan kerusakan-keruasakan di gedungnya serta dibikin seperti main-mairan sewaktu bertempur melawan Pendekar 212.

"Kalian tolol semua!" bantak Setan Darah Pertama sewaktu menyaksikan dua kawannya yang mengeroyok Setan Pikulan tapi mendapat tekanan-tekanan yang hebat bahkan sesungguhnya sudah mulai terdesak.

"Menghadapi si kate keling ini saja tidak mampu!" Di saat itu Setan Pikulan mengamuk dengan hebatnya. Senjatanya bersiur-siur. Dua ujung pikulan menyambar dan memapas, kadang-kadang menusuk ganas dalam jurus-jurus gencar yang penuh dengan tipu-tipu yang membahayakan keselamatan kedua Setan Darah. Mendengar bentakan Setan Darah Pertama, Setan Darah Ketiga segera cabut sepasang goloknya. Pertempuran dalam kamar itu bertambah hebat. Tapi sepasang mata Setan Darah Pertama bisa melihat bahwa kedua kambratnya itu masih berada di bawah angin, Si kate kapala gundul berkelebat ganas hampir tak kelihatan. Pikulannya menderu-deru bahkan anginnya sampai mengibarngibarkan jubah yang dipakainya! Tanpa tunggu lebih lama Setan Darah Pertama segera bergerak ke tengah ruangan. Kasempatan ini lekas dipergunakan olah Sekar untuk meninggalkan tempat itu. Tapi Setan Darah Pertama berseru.

"Hai gadis manis! Tunggu dulu! Kau mau ke mana?!" Sakar tak menyahuti malah tancap gas larikan diri tapi satu sambaran angin menyapu kedua kakinya, membuat kaki gadis itu menjadi kaku tegang dan laksana dipakukan ke lantai tak dapat bergerak lagi! Setan Darah Petema telah melepaskan totokan jarak jauh yang lihai sekali, Sekar sendiri tak tahu kalau dirinya akan diserang dari belakang begitu rupa maka kini dia terpaksa tegak di lantai tak berdaya! Dikerahkannya tenaga dalamnya ke kaki untuk membuyarkan totokan Setan Darah Pertama, tapi sia-sia belaka!

"Tahan dulu! Aku mau bicara!" Setan Darah Pertama berseru. Kedua orong kawannya segera melompat ke tepi kamar. Dengan pandangan berapi- api Setan Derah Pertama memanndang pada Setan Pikulan.

"Munding Sura kaukah yang membuat keonaran di tempatku?!" Munding Sura alias Setan Pikulan tertawa tawar.

"Kau dan dua kambratmu ini sama saja menuduh seenaknya. Kau kira....."

"Setan Darah Pertama," ujar Setan Darah Kedua.

"Kita tak perlu banyak bicara dengan kunyuk hitam ini. Kami sudah tahu memang dia sengaja mencari urusan terhadap kita, Dia telah menyelundup ke tempat kita!" Setan Pikulan tertawa lagi.

"Tentu saja nyalimu tambah besar karena satu kambratmu telah datang, lagi ke sini," katanya.

"Sebelum terlambat apakah kalian masih mau teruskan urusan gila ini?!"

"Kunyuk hitam!" hardik Setan Darah Pertama.

"Tiga Setan Darah tak pernah bikin urusan setengah-setengah! Kawan-kawan, bersiap membentuk barisan tiga bayangan siluman!." Maka Tiga Setan Darahpun segera membentuk barisan yang sangat diandalkan mereka itu. Di lain pihak Setan Pikulan yang sudah memaklumi kehebatan ilmu silat lawan-lawannya itu segera pasang kuda-kuda baru. Dan sebelum barisan tiga bayangan siluman bergerak Setan Pikulan sudah berteriak-keras dan berkelebat bersama senjatanya! Setan Darah Pertama bergeser ke samping mengelakkan sambaran senjata Setan Pikulan yang melanda ke arah pinggangnya. Manusia bermuka merah ini kemudian merunduk dengan cepat dan kirimkan serangan berantai ke arah kedua kaki lawan. Setan Darsh Ketiga melesat ke atas, menukik lagi dan laksana seekor .burung elang tiada hentinya melancarkan pukulan-pukulan maut ke kepala Setan Pikulan! Barisan tiga bayangan siluman ini memang cukup terkenal dikalangan tokoh-tokoh Kotaraja. Setan Pikulan sendiri juga sudah tahu tapi baru kali ini menyaksikannya dan disaat itu dirinya pula yang menjadi bulan-bulanan! Namun Setan Pikulan bukan pula tokoh silat kemarin. Tubuhnya berkelebat laksana bayang-bayang, menerobos dan mengelak diantara hujan serangan lawan sedang senjatanya menderu kian kemari. Kegesitan ditambah dengan keampuhan jurus-jurus silat yang dimainkannya banyak sekali menolong Setan Pikulan sehingga meski dikeroyok tiga dalam sepuluh jurus dia masih bisa bertahan bahkan dua tiga kali berturut-turut membagi serangan pada ketiga lawannya. Lambat laun Tiga Setan Darah dibikin sibuk. Barisan tiga bayangan siluman tiada berarti lagi. Ketiganya kini mulai terdesak! Setan Darah Pertama memaki dalam hati! Untung saja pertempuran itu tidak terjadi di tempat terbuka, tidak disaksikan umum! Kalau saja orang luar tahu, pasti nama besar Tiga Setan Darat akan menjadi luntur! Setan Darah Pertama keluarkan sepasang tombak bermata dua dari balik jubahnya. Melitat ini dua Setan Darah yang lain yang tadi sewaktu membentuk tiga bayangan siluman telah memasukkan senjata mereka, kini segera pula mengeluarkan senjata masing-masing kembali!

Setan Pikulan kertakkan rahang. Tiga pasang senjata di tangan musuh-musuhnya itu adalah senjata-senjata mustika sakti. Dia bersangsi apakah kini dia akan sanggup menghadapi manusiamanusia bermuka merah itu! Setan Pikulan coba memancing dengan ucapan agar musuhnya tidak bertempur secara mengeroyok. Maka dia pun berkata, "Nama Tiga Setan Darah memang tersohor! Tapi hari ini aku sendiri menyaksikan bahwa mereka cuma bangsa bunglonbunglon bernyali rendah bangsa pengecut kelas wahid! Tokoh-tokoh silat yang beraninya main keroyok!"

"Mengocehlah seenakmu manusia kontet! Sebentar lagi gadaku ini akan membuat otakmu bertaburan." hardik Setan Darah Kedua serayra putar-putarkan gadanya.

"Setan Darah Pertama, tunjukkanlah bahwa kau bukan seorang pengecut! Mari kita bertempur satu lawan satu sampai seribu jurus!" Setan Darah Pertama tertawa gelak-gelak.

"Sampai seribu jurus katamu?! Tiga juruspun kau belum tentu bisa bertahan manusia kacoak!"

"Huh! Betapa memalukan kalau dunia persilatan mengetahui bahwa Tiga Setan Darah beraninya cuma main keroyok! Persis macam anjing-anjing kurap yang mengeroyok seekor kucing yang ditakutinya!" Marahlah Setan Darah Pertama mendengar cacian anjing kurap itu. Dia berikan isyarat pada dua kawannya. Serentak dengan itu ketiganya segera menyerbu Setan Pikulan. Enam senjata laksana taburan hujan menderu mencari sasaran ditubuh Setan Pikulan. Yang dikeroyok mempertahankan diri dengan sebat. Sepuluh jurus berlalu. Keringat telah membasahi tubuh Setan Pikulan yang cuma mengenakan cawat itu! Gerakan dan putaran pikulannya semakin sebat namun sesungguhnya daya pertahanan manusia ini jurus demi jurus semakin lemah. Beberapa kali ujung-ujung pikulannya beradu dengan salah satu senjata lawan membuat senjata itu kadang-kadang hampir terlepas dan genggamannya yang licin oleh keringat!

"Ha... ha... ha...! Sampai berapa lama lagikah kau akan sanggup bertahan Munding Sura?!" Mengejak Setan Darah Pertama.

"Sampai batok kepalamu hancur oleh ujung senjataku ini!" sahut Setan Pikulan seraya tusukkan ujung pikulannya ke kepala lawan. Setan Darah Pertama sampokkan tombaknya yang ditangan kanan untuk menangkis tapi senjata lawan berputar cepat dan kini ujung yang lain menotok ke dadanya dengan sangat cepat! Setan Darah Pertama kertakkan rahang! Dia bersurut satu langkah dan dibantu oleh Setan Darah Kedua, keduanya menangkis serangan Setan Pikulan. Tiga senjata bentrokan satu sama lain mengeluarkan suara keras. Tiga tangan tergetar! Begitu senjatanya membentur senjata lawan, Setan Darah Pertama cepat pergunakan ujung tombaknya yang bermata dua untuk menjepit ujung pikulan. Dia berhasi! Segera tombak hendak diputarnya. Tapi Setan Pikulan tidak bodoh! Pikulan digerakannya dari atas ke bawah. Ujung yang lain menderu ke bawah perut Setan Darah Pertama. Di saat yang sama pula Setan Pikulan melompat ke atas karena kedua kakinya! Genap dua puluh jurus sudah! Setan Pikulan benar-benar sudah mandi keringat. Tiba-tiba dia menjerit keras. Senjatanya menyapu membuat satu lingkaran sedang dari balik cawatnya dikeluarkannya sejenis senjata rahasia berbentuk paku rebana!

"Awas paku rebana beracun!" teriak Setan Darah Pertama. Tiga Setan Darah masing-masing kebutkan lengan jubah mereka. Sinar merah yang keluar dari ujung lengan jubah itu membuat mental sembilan buah paku-paku rebana yang dilepaskan Setan Pikulan!

"Licik!" maki Setan Darah Pertama.

"Kalian kunyuk-kunyuk muka merah yang pengecut kelas wahid!" semprot Setan Pikulan. Dan kembali diputarnya senjatanya dengan sebat. Namun serangan-serangannya tiada berarti. Daya tahannya semakin kendur. Pada jurus ke duapuluh sembilan kedua ujung senjatanya sekaligus beradu dengan gada serta tombak lawan.

Di detik itu pula sepasang golok Setan Darah Ketiga membabat dari atas ke bawah hendak menetak pangkal lehernya dari dua jurusan. Tak ada cara lain yang paling baik untuk menghindarkan diri dari pada menjatuhkan badan kebawah. Dan memang inilah yang dilakukan oleh si kate Munding Sura. Sambil jatuhkan diri manusia yang berjuluk Setan Pikulan ini kirimkan satu tendangan ke arah bawah perut Setan Darah Ketiga! Setan Darah Ketiga keliwat yakin bahwa bacokan sepasang goloknya akan berhasil sehingga dia melupakan pertahanan dirinya sendiri! Kecepatan turun golok-golok itu tak dapat rnendahului kecepatan jatuhnya tubuh Setan Pikulan. Golok Setan Darah Ketiga beradu satu sarna lain sebaliknya tendangan Setan Pikulan cuma sedikit saja dapat dilaksanakannya.

"Buuk!"

Tendangan Setan Pikulan mendarat di pinggul kiri Setan Darah Ketiga. Manusia ini terpelanting beberapa tombak dan untuk beberapa lamanya tergelimpang di lantai kamar merintih kesakitan! Meski berhasil mengelakkan serangan gotok-golok maut tadi dan mernbuat Setan Darah Ketiga melingkar di lantai namun posisi Setan Pikulan sendiri di saat itu tidak menguntungkan sama sekali! Salah satu ujung pikulannya telah dijepit sepasang tombak bermata dua dan dalam keadaan tubuh masih membungkuk di lantai begitu rupa sukar bagi Setan Pikulan uratuk melepaskan jepitan senjata lawan atas senjatanya. Hanya ada dua keputusan yang harus diambil oleh Setan Pikulan. Melepaskan senjatanya atau memutar Pikulan itu sambil mengerahkan tenaga dalam! Setan Pikulan merasa lebih baik memutar senjatanya sekalipun pikulan itu akan patah daripada menyerahkan senjata tersebut mentah-mentah ke tangan lawan! Setan Pikulan gerakkan kedua tangannya !

"Kraak!"

Pikulannya benar-benar patah!

"Bedebah!" maki Setan Pikulan. Salah satu dari patahan pikulan itu dihantamkannya ke arah Setan Darah Pertama tapi dapat dielakkan. Patahan yang kedua ditusukkannya ke muka Setan Darah Kedua, namun dia keliwat kesusu! Di saat melemparkan patahan senjata yang pertama kepada Setan Darah Pertama, Setan Pikulan tak dapat mengontrol posisinya, tak dapat melihat posisi lawan lainnya. Justru diwaktu dia menyodokkan patahan pikularn maka Setan Darah Kedua lebih cepat dari itu setan Darah Kedua hantamkan ujung gadanya ke dada Setan Pikulan.

"Buuuk!!"

" Setan Pikulan mengeluh tinggi. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. tersandar ke dinding lalu melosoh duduk ke lantai, muntahkan darah segar! Mukanya menjadi pucat laksana kain kafan dan nafasnya megap-megap! Setan Darah Pertama tertawa terkekeh-kekeh. Perlahan-lahan dia melangkah mendekati Setan Pikulan.

"Ha... ha... Nyatanya memang kau cuma manusia jenis kacoak! Apakah saat ini kau masih sanggup memperlihatkan kehebatanmu huh!"

"Setan alas mampuslah!" teriak Setan Pikulan. Tangan kanannya memukul ke muka. Seberkas sinar hitam menyambar ke arah Setan Darah Pertama, membuat manusia muka merah ini memaki dan cepat-cepat menghindar ke samping. Setan Pikulan sendiri kembali muntahkan darah segar. Dengan beringas Setan Darah Pertama angkat salah satu tombaknya tinggi-tinggi, siap untuk ditancapkan ke batok kepala Setan Pikulan!

"Tunggu dulu!," Setan Darah Ketiga berseru. Penasaran Setan Darah Pertama membentak "Tunggu apa lagi, sompret!"

"Kematian yang begitu cepat terlalu bagus baginya, Setan Darah Pertama!"

"Hem, kau punya rencana apa?!"

"Kau bisa merasakan dan membayangkan bagaimana seorang jago silat yang ditakuti cacat seumur hidup, tak bisa lagi memainkan silat dan ilmu kesaktiannya?! Cacat seumur hidup! Lebih mengertikan dari kematian sobat!"

"Cepat bilang terus terang rencanamu!" tukas Setan Darah Pertama penasaran. Setan Darah Ketiga tertawa sedingin es. Dia melangkah ke hadapan Setan Pikulan yang tersandar di dinding antara sadar dan tiada.

"Inilah rencanaku Setan Darah Pertama!" seru Setan Darah Ketiga. Serentak dengan itu sepasang goloknya berkelebat.

"Craas!"

Buntunglah kedua tangan Setan Pikulan. Dacah muncrat. Setan Pikulan meraung keras lalu rubuh di lantai bermandikan darah! Setan Darah Ketiga tertawa panjang-panjang. Dia memandang pada kedua koleganya dan berkata, "Dia akan hidup terus! Tapi hidupnya akan dirongrong oleh rasa kenyerian! Dendam kesumat yang membara! Namun tak satu apapun yang akan bisa dilakukannyal Karena dia cacat selama-lamanya!" Meledaklah tawa Tiga Setan Darah itu. Setan Darah Pertama menepuk-nepuk bahu Setan Darah Ketiga.

"Betul! Betul sekali katamu! Dia tidak marnpus, tapi hidupnya lebih mengerikan dari pada benar-benar mampus! Sekarang mari kita tinggalkan tempat sialan ini! Di luar ada seorartg gadis jelita menunggu kita. Kita bawa dia ke gedung dan suruh dia membuka bajunya satu demi satu! Kalau tidak mau kita yang tolong membukanya....!"

Suara tertawa ketiga manusia itu meledak lagi di dalam kamar itu! Ketiganya menuju ke pintu! Setan Darah Pertama tanpa banyak cerita segera menotok tubuh Sekar, sehingga tubuh gadis ini kaku tegang tak bisa bergerak tak bisa buka suara! Tiba-tiba Setan Darah Kedua hentikan langkah.

"Tunggu dulu..", katanya.

"Kita semua tahu dirumah ini Setan Pikulan punya banyak, perempuan peliharaan! Cantik-cantik! Di mana mereka semua?!"

"Heh?!" Setan Darah Pertama yang memanggul tubuh Sekar kerenyitkan kening.

"Terserah kalau kau mau cari perempuan-perempuan itu Aku tetap yang ini!," kata Setan Darah Pertama pula kemudian..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.106.81
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia