Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KI AGENG TUNGGUL KEPARAT

PANGKAL BAHALA

Hujan rintik-rintik turun sejak pagi. Teluk Burung diselimuti kabut tebal. Dalam udara yang buruk itu seorang penunggang kuda berbaju biru dan mengenakan blangkon bergerak di antara batu-batu besar yang terhampar di seantero tempat. Mukanya yang hitam boleh dikatakan bukan wajah manusia. Lebih tepat dikatakan sebagai wajah setan. Di pipi kirinya ada cacat bekas luka memanjang mulai dari ujung bibir sempai ke mata. Mata ini sendiri tampak terbujur ke luar, kelopak bawah membeliak merah dan selalu basah. Akibat cacat di pipi kiri itu mulut orang ini tertarik ke atas hingga gigi-giginya yang besar-besar menjorok ke luar!

Sebenarnya kuda coklat dan penunggangnya sudah sama-sama sangat letih saat itu. Beberapa kali kaki-kaki kuda terantuk atau terpeleset di bebatuan licin. Si penunggang sendiri dengan segala sisa kekuatan dan harapan untuk hidup mencoba membawa kudanya ke jurusan Timur, sampai di sebuah lamping bukit batu yang solah membentuk dinding panjang dari Timur ke Selatan. Di salah satu bagian dinding batu, orang ini hentikan kudanya lalu memandang berkeliling. Hujan rintik-rintik telah berhenti. Namun kabut masih kelihatan di mana-mana menutupi pemandangan. Orang ini menunggu dan berusaha untuk sabar. Ketika sang surya muncul kabut di tempat itu perlahan-lahan mulai terkikis habis. Dalam terangnya udara orang tadi kembali memperhatikan keadaan di sekitarnya. Apa yang dicarinya terlihat di kejauhan.

Tepat di pertengahan dinding batu ada satu lobang besar. Sesaat ada rasa tegang dalam diri orang ini. Setelah menabahkan hatinya dia lalu bergerak kea rah lobang tadi yang merupakan mulut sebuah goa. Di depan goa dia hentikan kudanya lalu turun dengan terhuyung-huyung. Dari kantong perbekalan yang tergantung di leher kuda dia mengambil sebuah bungkusan lalu melangkah hendak memasuki goa. Namun belum sempat kakinya menginjak mulut goa, tiba-tiba dari dalam menggelegar suara bentakan.

"Siapa yang mengantar nyawa berani datang ke tempatku tanpa diundang?!"

Manusia bermuka cacat itu terkejut. Setelah reda kejutnya dia memberanikan diri menjawab.

"Aku Ki Ageng Tunggul. Kepala desa Pasirginting. Ingin bertemu dengan orang tua sakti bernama Supit Jagal. Kabarnya beliau adalah penghuni goa ini!"

"Begitu? Katakan apa keperluanmu!" orang di dalam goa bertanya.

"Aku dating untuk mohon diambil jadi murid!"

"Bah! Maksud sintingmu membuat aku ingin melihat kau punya tampang! Lekas masuk dalam goa!"

Ki Ageng Tunggul cepat melangkah masuk. Ternyata bagian dalam goa batu itu tidak seberapa besar. Di tengah ruangan duduk seorang kakek berpakaian sangat kotor dan penuh tambalan. Rambutnya keriting macam bulu domba. Pipinya sebelah kana nada cacat bekas luka yang amat dalam. Daun telinganya sebelah kanan sumplung sedang sepasang matanya sangat sipit sehingga dia seperti sedang memejam.

"Mukamu seperti setan! Apa kau benar manusia atau makhluk jejadian?!"

"Aku manusia biasa, tak lebih tak kurang...."

Si kakek menyeringai mendengar ucapan itu. "Duduk!" bentaknya kasar.

Ki Ageng Tunggul duduk. Bungkusan yang dibawanya diletakkan di pangkuan.

"Aku memang Supit Jagal, orang yang kau cari!" berkata si kakek. "Kau bilang minta diambil jadi murid! Sudah tua bangka begini apa kau sinting?!"

" Soalnya aku terpaksa..... "

"Terpaksa ?! Siapa yang memaksa ?! " Ki Ageng Tunggul lalu menerangkan. "Tiga orang jahat berilmu tinggi hendak membunuhku"

"Kau ketakutan lalu minta dijadikan murid agar dapat ilmu ! " Supit Jagal tertawa mengekeh. "Anak manusia berwajah setan, coba kau katakan padaku mengapa tiga orang itu hendak membunuhmu ?! "

" Dulu mereka adalah kawan-kawanku. Masing-masing bernama Kunto Handoko, Lor Paregreg dan Rah Gludak. Mereka kukhianati hingga dijebloskan masuk penjara. Entah bagaimana ketiganya bisa melarikan diri. Kini mereka mencariku dengan tujuan membunuh. Aku tidak berdaya menghadapi meraka. Ketiganya memiliki kepandaian silat tinggi serta kesaktian. "

Mulut Supit Jagal sesaat tampak komat kamit. " Berkhianat sesama kawan adalah perbuatan paling keji. Kini kau tanggung sendiri akibatnya. Aku tidak bisa mengambilmu jadi murid ! Sekarang lekas minggat dari hadapanku ! "

Ki Ageng Tunggul ambil bungkusan di pangkuannya. Bungkusan ini diletakkannya di lantai goa di hadapan si kakek. Ketika bungkusan dibuka tampaklan puluhan mata uang perak dan beberapa mata uang emas serta seperangkat perhiasan. "Semua ini untukmu. Asal saja kau mau mengambilku jadi murid dan mangajarkan ilmu silat dan kesaktian," kata KI Ageng Tunggul pula. Si kakek bermata sipit tampak agak terkesiap.

"Anak manusia berwaah setan, pemberianmu membuat aku tergiur. Tapi tetap saja aku tidak akan mengambilmu jadi murid. Hanya mungkin ada cara lain untuk menolongmui. Yang jadi soal kini, apakah kau bakal sanggup memenuhi syarat yang akan kutetapkan!"

"Syarat apapun akan kulaksanakan," jawab Ki Ageng Tunggul tanpa tedeng aling-aling.

"Bagus. Pertanyaanku, apa kau bisa mengatur ketiga musuhmu itu datang kemari? Urusan selanjutnya biar aku yang membereskan!"

"Begitupun aku setuju. Yang penting mereka harus mampus semua! Harap kau mau mengatakan syarat tadi....."

"Kau harus bersumpah dulu bahwa kau betul-betul akan melaksanakan."

"Demi Tuhan saya bersumpah akan melaksanakan....."

"Tolol! Bukan demi Tuhan! Tapi demi aku! Demi Supit Jagal ! " membentak si kakek. Matanya membesar. Ia menyangka sudah melotot padahal kedua matanya itu tetap masih sipit-sipit saja.

" Demi Supit Jagal...... Aku bersumpah !" ucap Ki Ageng Tunggul.

" Bagus. Kau sudah bersumpah. Sekarang coba telan dulu benda ini ! " Supit Jagal melemparkan sebuah benda hitam ke pangkuan Ki Ageng Tunggul. Lelaki ini cepat mengambilnya.

" Benda apa ini ? "

" Telan saja ! Tak perlu banyak tanya ! " sentak Supit Jagal.

Mau tak mau Ki Ageng Tunggul segera menelan benda hitam itu yang terasa kesat di mulut dan tenggorokannya.

"Sudah kau telan?!" tanya Supit Jagal.

Ki Ageng Tunggul mengangguk. Si kakek tertawa panjang.

Kenapa kau tertawa?" tanya Ki Ageng Tunggul.

"Benda hitam yang barusan kau telan adalah racun penghancur usus!"

Pucatlah wajah hitam Ki Ageng Tunggul.

"Racun itu akan bekerja setelah dua hari dari sekarang. Jika kau berhasil melaksanakan syarat yang akan ku katakan, kau boleh kembali ke mari membawa tiga orang musuh besarmu itu. Aku akan memberikan obat penawar racun padamu. Teteapi ingat! Kalau ingkar kau akan mampus dengan usus berantakan!" Supit Jagal kembali tertawa mengekeh. Ki Ageng Tungul merasakan sekujur tubuhnya menjadi dingin.

"Sekarang akan kukatakan syarat itu!" kata Supit Jagal pula. Ki Ageng Tunggul jadi tegang. "Tepat tengah malam besok yaitu hari Kamis malam Jum'at Kliwon kau harus menggorok leher seorang bayi lalu memandikan ke kepala dan tubuhmu. Upacara ini harus kau lakukan di puncak tertinggi bukit batu ini, kira-kira seratus langkah ke arah Timur!"

Sepasang mata Ki Ageng Tunggul, terutama mata kiri yang dalam keadaan mencelet kini tampak membeliak besar. Jantungnya seperti mau copot dan nyawanya serasa terbang mendengar syarat yang dikatakan Supit Jagal tadi. "Kalau syarat itu tidak kau lakukan, jangan harap umurmu bisa lebih panjang dari dua hari!"

"Kakek, apakah syarat itu bisa diganti? Aku kawatir tidak sanggup melaksanakannya."

"Kalau begitu cepat angkat kaki dari hadapanku. Tapi tinggalkan bungkusan ini di sini!"

Ki Ageng Tunggul jadi bingung dan takut. Syarat yang harus dilakukannya sungguh sangat keji dan mengerikan. Tak sanggup dia melakukan. Namun kalau dia menolak, racun yang mengidap di perutnya akan merengut nyawanya! Tak ada pilihan lain kini. Dia terpaksa memenuhi apa yang dikatakan Supit Jagal tadi.







SUMPAH IBLIS PENUMPAH DARAHLaksana terbang kuda coklat itu berlari kencang di bawah panas terinya matahari. Dalam waktu singkat kuda dan penunggangnya sudah sampai di kaki bukit terus bergerak menuju lembah sepanjang kaki bukit. Si penunggang yang berwajah seperti setan bukan lain adalah Ki Ageng Tunggul kepala desa Pasirginting yang tengah menjalankan syarat seperti yang ditetapkan manusia iblis Supit Jagal. Lelaki ini mendongak ke langit. Matahari dilihatnya tepat di ubun-ubun kepalanya. Muka setannya langsung berubah.

"Celaka! Aku hanya punya waktu setengah harian lagi. Kalau yang kucari tidak kutemui mampuslah diriku!" Ki Ageng Tunggul membetulkan letak blangkonnya lalu kemabli memacu kudanya. Dari satu tempat ketinggian dia melihat atap-atap rumah yang terletak di sebuah desa kecil. Segera saja dia mengarahkan kudanya menuju ke sana.

Angin dari Timur bertiup kencang merontokkan daun-daun pepohonan ketika Ki Ageng Tunggul memasuki jalan teduh di mulut desa. Dia mulai memperlambat lari kudanya. Kedua matanya yang merah, satu di antaranya membeliak mengerikan, memandang liar kian kemari.Sepasang telingnya dibuka tajam-tajam. Dia berpapasan dengan beberapa penduduk desa. Orang-orang itu jelas ketakutan ketika melihat tampangnya. Mereka melangkah pergi dengan cepat. Sampai di tengah desa Ki Ageng Tunggul hentikan kudanya. Dia seperti putus asa. Tiba-tiba daun telinganya bergetar. Kedua matanya berputar ke arah kanan. Di sebelah sana, di antara beberapa pohon besar kelihatan sebuah rumah gedek. Di rumah gedek ini terdengar suara tangisan bayi. Inilah yang dicari Ki Ageng Tunggul! Tanpa menunggu lebih lama orang ini segera menghambur menuju rumah gedek itu. Begitu sampai dia langsung melompat ke pintu lalu menggedor dengan keras.

Terdengar langkah-langkah kaki di dalam rumah. Sesaat kemudian pintu terbuka. Perempuan yang menggendong seorang orok lelaki yang masih merah tersurut pucat ketika melihat tampang manusia yang berdiri di hadapannya.

Ki Ageng Tunggul memandang bayi dalam gendongan ibunya itu. Tenggorokannya turun naik dan mulutnya komat kamit. Sesaat dia bingung. Hendak mengatakan sesuatu dulu atau langsung saja merampas bayi dalam gendongan itu.

"Sam....sampeyan siapa....?" perempuan muda yang menggendong bayi bertanya dengan suara gemetar dan siap-siap hendak menutupkan pintu.

"Aku mencari suamimu."

"Dia sedang ke sawah. Nanti siang baru kembali...."

Mata Ki Ageng Tunggul menatap bayi dalam dukungan. "Ini anakmu?'

Ynag ditanya mengangguk. Tangannya bergerak lagi hendak menutup pintu. Ki Ageng Tunggul cepat manahan daun pintu.

"Dengar," katanya. "Kemarin aku sudah bicara degnan suamimu. Dia bersedia menjual bayi ini." Lalu Ki Ageng Tunggul keluarkan sebuah kantong kecil berisi uang.

Perempuan yang menggendong bayi tampak terkejut mendengar kata-kata tamu bermuka seram yang tidka dikenalnya itu. "Apa? Suamiku.....? Tidak! Aku tidak percaya! Kau pasti berdusta! Suamiku tidak bakalan mau menjual anak ini!"

"Ini ambillah...!" kata Ki Ageng Tunggul seraya mengulurkan kantong uang.

"Tidak!" dengan tangan kanannya perempuan itu mendorong pintu kuat-kuat. Tapu Ki Ageng Tunggu lebih kuat menahan.

"Kalau kau tidak mau menjual tidak apa-apa...... Berarti kau akan rugi dua kali!"

"Apa maksud sampeyan....?"

Ki Ageng Tunggul menyeringai. Sekali dia bergerak, bayi dalam dukungan si ibu berhasil dirampasnya. Secepat kilat lelaki ini lalu meloncat ke atas punggung kudanya dan menghambur lenyap.

Ibu si bayi menjerit keras. "Bayiku! Tolong! Bayiku dilarikan orang! Tolong!"

Beberapa orang tetangga berlarian keluar dari rumah masing-masing. Tapi tak seorangpun bisa berbuat sesuatu. Si ibu masih menjerit beberapa kali lalu roboh tak sadarkan diri di depan rumahnya.

Hari Kamis malam Jum'at Kliwon.

Hujan gerimis menambah dingin dan angkernya suasana malam. Kuda coklat yang ditunggangi Ki Ageng Tunggul mendaki di lereng bukit, bergerak menuju ke puncak. Dalam kegelapan malam kuda dan penunggangnya ini tidak beda seperti setan yang sedang gentayangan!

Puncak bukit batu yang hendak dicapai tingi sekali. Jalan yang menuju ke situ Sangat sulit. Beberapa kali kuda coklat itu tersandung dan hampir roboh. Lidahnya terjulur, tubuhnya basah oleh keringat bercampur air hujan. Di satu tempat binatang ini tersandung kembali. Sekali ini langsung roboh dan tak mau bangkit lagi. Kutuk serapah keluar dari mulut Ki Ageng Tunggul. Ketika jatuh tadi untung dia cepat melompat dan menyelamatkan benda yang dibawanya yaitu bukan lain sosok bayi rampasan yang dibuntal dengan sehelai kain. Sambil menggendong bayi itu Ki Ageng Tunggul melanjutkan perjalanan ke puncak bukit batu dengan jalan kaki. Gerakannya cekup sebat. Dia melompat dari satu batu ke batu lain. Tak selang berapa lama lelaki ini sampai di puncak bukit batu paling tinggi. Di sini angin terasa kencang dan dingin sekali.

Ki Ageng Tunggul memandang berkeliling. Mulutnya berkomat kamit. Di kejauhan kilat menyambar. Suasana terang sexta lalu gelap kembali. Bayi dalam buntalan kain menangis dan mengagetkan Ki Ageng Tungul. Cepat-cepat dia membuka buntalan. Sesaat tubuhnya terasa bergeletar. Mulutnya kembali komat kamit seperti merapal sesuatu. Lalu dia mendongak ke langit. Seringai iblis menyeruak di tampangnya yang angker. Bayi di tangan kirinya diangkat tinggi-tinggi ke atas. Tangisan si bayi semakin keras. Dari mulut Ki Ageng Tunggul kemudian terdengar ucapan.





"Orang sakti dalam goa!

Demi sumpah yang kupatuhi!

Bersaksi lepada langit di atas keepala!

Bersaksi pada batu di bawah kaki!

Saat ini aku Siap untuk mandi!"



Habis berseru seperti itu Ki Ageng Tunggul mencabut sebilah golok pendek dari pinggangnya. Saking tajamnya, walaupun malam sensata ini berkilauan dalam kegelapan. Seperti kemasukan setan yang haus darah golok di tangan kanan berkelebat membabat. Sungguh mengerikan. Suara tangisan bayi serta merta lenyap. Darah mengucur.

Dengan darah yang mengucur Ki Ageng Tunggul menyirami kepala, muka dan tubuhnya. Pelipisnya bergerak-gerak. Rahangnya menggembung dan gerahamnya terdengar bergemeletukan. Kedua matanya berputar liar sedang sekujur tubuhnya bergeletar.

Darah berhenti memancur tanda sudah terkuras habis. Kembali KI Ageng Tunggul mendongak ke langit dan berucap.





"Orang sakti dalam goa!

Sumpah sudah dilaksanakan!

Aku mohon diri!"



Lalu dalam keadaan basah kuyup oleh darah, keringat dan air hujan Ki Ageng Tunggul mulai menuruni bukit. Di satu tempat golok dibuang ke bawah bukit. Suara senjata ini berkerontangan dalam kesunyian malam. Ki Ageng Tunggul merasakan satu keanehan. Saat itu tubuhnya terasa ringan luar biasa hinggá dengan gerakan yang sebat dalam waktu singkat dia sudah sampai di tempat tadi dia meninggalkan kudanya.

Begitu sampai di goa, Ki Ageng Tunggul duduk dengan hormat di hadapan Supit Jagal memberitahu kalau dia sudah melaksanakan apa yang diperintahkan.

"Bagus!" kata si kakek dengan seringai iblis di mulutnya. "Sekarang kau harus mencari tiga manusia yang kau bilang mau membunuhmu itu. Bawa dia kemari! Tapi jangan lupa! Begitu urusan selesai kau harus berikan padaku dua kantong berisi uang dan harta perhiasan. Bukan cuma satu kantong! Mengerti?!"

"Aku mengerti kek."

"Nah Sekarang lekas pergi dari hadapanku!" kata Supit Jagal dengan mimik seolah jijik melihat tampang Ki Ageng Tunggul yang buruk dan seram itu.

"Aku akan pergi. Tapi sebelum munta diri mohon kakek memberikan obat pemusnah racun yang sudah kutelan dua hari lalu. Bukankah begitu sesuai perjanjian?!"

Supit Jagal usap-usap kuping kirinya yang sumplung. Lalu dia tertawa mengekeh. Ki Ageng Tunggul diam-diam jadi merinding ngeri kalau-kalau orang tua aneh ini tidak menepati janjinya. Sesaat kemudian Supit Jagal mengeluarkan sebuah benda putih dari dalam saku bajunya lalu dilemparkannya ke pangkuan Ki Ageng Tunggul. "Telan dan pergi cepat!"

Ki Ageng Tunggul segera menelan obat pemusnah yang ada dalam perutnya, steelah menjura dia cepat-cepat meninggalkan goa itu.







PERMULAAN SEBUAH DENDAMKeempat penunggang kuda berhenti di ujung dinding batu di kaki bukit yang terletak di Teluk Burung. Angin laut bertiup keras. Ombak mendebur menggelegar di pantai. Di antara deru angin dan suara deburan ombak penunggang kuda paling depan yaitu Lor Paregreg bertanya pada Ki Ageng Tunggul.

"Mana goanya?!"

"Di sebelah sana. Tepat di pertengahan dinding batu."

Lelaki bernama Rak Gludak membuka mulut. "Kawan-kawan, aku punya firasat buruk. Si Tunggul keparat ini jangan-jangan menipu kita!"

"Kalau nanti terbukti begitu, tidak akan susah memisahkan tubuh dan kepalanya!" jawab Lor Paregreg.

"Golokku masih cukup tajam!" menyahuti Kunto handoko seraya mencabut goloknya dan memutar-mutar senjata ini di depan hidungnya.

Atas perintah Lor Paregreg, Ki Ageng Tunggul kini berjalan di sebelah depan. Mereka akhirnya sampai di sebuah lobang yang merupakan mulut goa.

"Ini goanya," kata Ki Ageng Tunggul. "Peti berisi uang dan harta perhiasan itu kusembunyikan di dalam. Belum sepotongpun sempat kuambil. Kalian ambil saja semuanya, bagi tiga. Asalkan diriku diampuni." Habis berkata begitu Ki Ageng Tunggul hendak turun dari kudanya. Tapu Lor Paregreg mencegah.

"Tetap di punggung kudamu Ki Ageng!" kata Lor Paregreg seraya mendekat. Lalu dengan sangat tiba-tiba dia menusuk punggung Ki Ageng Tunggul. Kejap itu juga Ki Ageng Tunggul tak bisa bergerak lagi. Kaku tertotok! Lor Paregreg berpaling pada kedua kawannya. "Kalian berdua masuk ke dalam memeriksa goa. Aku mengunggu di sini. Beri tahu kalau peti itu memang ada di dalam!"

"Sret!"

Kunto handoko kembali cabut goloknya. Bagian tajam itu dengan gerakan cepat ditempelkan ke batang leher Ki Ageng Tunggul hingga orang bermuka setan ini merasa nyawanya seperti terbang saat itu. "Paregreg, kita sudah sampai di tempat peti itu disembunyikan. Mengapa manusia keparat ini tidak kita bereskan sekarang juga?!"

"Nyawa anjingnya soal mudah Kunto. Lebih penting kau dan Rah Gludak memeriksa dulu. Jika bengsat pengkhianat ini kita habisi dan ternyataa peti itu tidak ada dalam goa, kita bertiga tidak bakal dapat menemukan uang dan harta benda itu untuk selama-selamanya!"

"Kalian harus percaya padaku! Aku tidak menipu!" kta Ki Ageng Tunggul. "Empat perti itu ada di dalam goa! Kalian masuk saja lihat sendiri!" Diam-diam Ki Ageng Tunggul merasa ngeri sekali kalau-kalau Kunto Handoko akan menebas batang lehernya saat itu juga.

Lor Paregreg memberi isyarat pada Rah Gludak dan Kunto Handoko. Kedua orang ini melompat turun dari kuda masing-masing dan melangkah cepat menuju mulut goa. Belum sempat kaki mereka menginjak bagian dalam goa, tiba-tiba terdengar suara menderu. Bersamaan dengan itu selarik angin panas menerpa ke arah Rah Gludak dan Kunto Handoko. Kedua orang ini berseru kaget dan serentak melompat ke samping selamatkan diri. Sambaran angin menyapu, menghantam kuda yang ditungggangi Lor Paregreg. Binatang ini meringkik keras lalu roboh ke tanah dengan kepala hangus. Setelah melejang-lejang beberapa kali kuda ini akhirnya tewas.

Ketika mendengar deru angin yang keluar dari dalam goa, Lor Paregreg seudah bersiaga. Begitu angin panas menyambar keluar dan menghantam kudanya, dengan cepat dia melompat. Walau selamat tapi wajahnya tampak agak pucat.

"Ki Ageng Tunggul! Kau benar-benar menipu kami!" teriak Lor Paregreg marah. Dia melompat marah. Kedua tangannya dipentangkan menyambar leher Ki Ageng Tunggul yang berada dalam keadaan tertotok kaku di atas kudanya. Namun saat itu dari dalam goa melesat satu sosok tubuh seorang kakek berbaju tambalan berambut keriting, berkuping sumplung dan mukanya ada guratan cacat sangat dalam. Sekali orang ini mendorong kedua tangannya, Lor Paregreg terhempas ke belakang.

"Ki Ageng Tunggul, apa ini tiga manusia yang menurutmu tak layak hidup lebih lama dan harus seera disingkirkan dari muka bumi ini?!" si kakek yang bukan lain adalah Supit Jagal bertanya pada Ki Ageng Tunggul.

"Betul!" jawab Ki Ageng Tunggul cepat. "Bunuh ketiganya cepat! Aku akan memberikan satu kantong uang lagi padamu!"

Supit Jagal tertawa bergelak. "Rejekiku sedang besar-besar rupanya," katanya. Lalu sepasang matanya yang sipit menyapu tampang ketiga orang itu. "Hemmm, wajah mereka memang tidak sedap dipandang. Kehadiran mereka di muka bumi hanya mengotori saja. Mereka memang pantas disingkirkan!" masih tertawa mengekeh Supit Jagal melangkah mendekati Lor Paregreg.

"Apa kataku Paregreg!" Kunto Handoko berteriak. "Keparat ini memang menipu kita!" Lalu Kunto Handoko hantamkan satu jotosan ke perut Ki Ageng Tunggul. Namun sebelum hantaman itu mengenai sasarannya, selarik angin dahsyat menyambar dari samping. Mau tak mau Kunto Handoko terpaksa melompat cari selamat.

"Tua Bangka sialan! Kau yang harus dilenyapkan dari muka bumi ini lebih dulu!" teriak Lor Paregreg marah. Tangan kanannya mengemplang ke arah kepala si kakek. Kunto Handoko juga tidak tinggal diam. Dari jarak beberapa kaki dia lemparkan segenggam paku hitam beracun yang merupakan senjata andalannya. Rah Gludak ikut pula beraksi. Goloknya berkelebat ke arah supit Jagal.

Walau jelas tiga serangan itu merupakan serangan maut namun si kakek ganda tertawa. Didahului dengan bentakan garang dia mengangkat kedua tangannya ke atas. Rah Guldak, Lor Paregreg dan Kunto Handoko melihat dua larik sinar hitam bergulung membuntal lalu dengan kecepatan luar biasa menghantam ke arah mereka. Tentu saja ketiga oran ini berserabutan selamatkan nyawa. Namun agaknya mereka tidak punya kesempatan lagi. Sambaran dua larik sinar hitam itu lebih cepat dari gerakan mereka untuk cari selamat. Tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan dari pada menjerit menunggu ajal!

Di saat yang kritis itu tiba-tiba terdengar satu bentakan keras.

"Supit Jagal! Apa kowe sudah edan hendak membunuh murid-muridku?!"

Satu larik angin yang mengeluarkan cahaya biru menyambar. Terdengar suara letupan beberapa kali dan buyarlah asap hitam yang dilepaskan Supit Jagal tadi dan hampir membunuh Lor Paregreg, Kunto Handoko serta Rah Gludak.

Supit Jagal terkesiap. Bukan saja karena serangannya dapat dimusnahkan orang, tapi juga dia mengenali suara orang yang barusan membentak. Dia melompat satu langkah ke samping lalu berpaling. Satu bayangan hitam berkelebat turun dari tebing batu. Yang muncul ternyata seorang kakek bertubuh sangat tinggi, berkulit sangat hitam. Mata kirinya hanya merupakan rongga menganga yang mengerikan.

Supit Jagal segera mengenali orang ini yang ternyata adalah adiknya sendiri. Dia balas berteriak. "Supit Ireng! Apa-apaan kau ini?!"

"Kowe yang apa-apaan!" balas menyemprot Supti Ireng. "Kau hendak membunuh tiga muridku! Sungguh gila!"

"Bah!" Supit Jagal delikkan matanya yang sipit. "Mereka muridmu....? Kalau begitu...." Supit Jagal berpaling pada Ki Ageng Tunggul. "Kalau begitu si keparat ini hendak mengadu domba kita kakak dan adik. Bangsat kurang ajar!" Sekali lompat saja Supit Jagal sudah menjambak rambut Ki Ageng Tunggul lalu menyentakkannya dari atas kuda hingga jatuh terbanting di tanah, masih dalam keadaan tertotok. Manusia muka setan ini tempak ketakutan setengah mati.

"Guru....."

"Anjing kurap! Jangan sebut aku guru! Aku tidak pernah jadi gurumu dan kau tidak pernah jadi muridku!"

"De....dengar. Berjanjilah kau tidak akan mengap-apakan diriku. Aku berjanji untuk memberikan uang serta harta berlimpah-limpah padamu!"

"Supit Jagal, lepaskan totokannya," berkata Supit Ireng.

Supit Jagal lepaskan totokan di tubuh Ki Ageng Tunggul. Begitu totokannya lepas Ki Ageng Tunggul jatuhkan diri berlutut. "Ampuni diriku. Ampuni diriku....." kata Ki Ageng Tunggul setengah meratap sementara Supit Ireng dan Lor Paregreg melangkah ke arahnya.

Sampai di hadapan Ki Ageng Tunggul, Lor Paregreg berkata sambil memegang bahu lelaki itu. "Nyawamu akan kami ampuni. Asal saja kau mau menerangkan di mana empat peti besar berisi uang dan harta benda itu kau sembunyikan!"

"Terima kasih! Terima kasih....." kata Ki Ageng Tunggul sambil manggut-manggut berulang kali.

"Lekas katakan!" teriak Lor Paregreg.

"Peti-peti itu....aku sembunyikan, aku kubur di halaman belakang rumahku di Pasirginting," kata Ki Ageng Tunggul akhirnya menerangkan.

"Kau dusta!" bentak Kunto Handoko.

"Demi Tuhan! Aku bersumpah! Aku tidak dusta!"

"Jangan percaya keterangannya itu Paregreg!" Rah Gludak berkata.

Lor Paregreg angakt tangannya. "Sekali ini kita harus percaya kawan-kawan...."

"Betul Paregreg, sekali ini aku benar-benar tidak menipu kalian! Cincang tubuhku jika ketahuan aku berdusta!"

Lor Paregreg menyeringai. "aku percaya padamu Ki Ageng Tunggul. Nyawamu diampuni. Kau sekarang bebas pergi. Pergi ke neraka!" Kaki kanan Lor Paregereg menendang ke arah perut Ki Ageng Tunggul hingga orang ini mencelat dan terjungkal di tanah. Belum lagi dia sempat bangun, masih dalam keadaan merintih sambil pegangi perutnya yang laksana pecah, tendangan Kunto Handoko mendarat di kepalanya. Ki Ageng Tunggul terlempar ke kiri. Kepalanya serasa terbang meninggalkan tubuhnya. Hidungnya yang tepat kena tendangan melesak patah dan mengucurkan darah. Dari mulutnya terdengar suara lolong kesakitan. Rah Gludak tak mau ketinggalan. Tendangannya mematahkan tiga buah tulang-tulang iga Ki Ageng.

"Jangan....Ampuni nyawaku. Kawan-kawan....."

"Kami bukan kawan-kawanmu manusia busuk! Pengkhianat keji! Penipu keparat!" teriak Lor Paregreg. Tendangannya menghantam dada KI Ageng Tunggul hingga kembali orang ini terlempar. Karena jatuhnya tepat di hadapan Supit Jagal, maka Ki Ageng Tunggul jatuhkan dirinya seraya memohon. "Tolong....kau yang bisa menolongku dari orang-orang ini...."

"Tolong....? Baik, aku akan tolong," kata Supit Jagal sambil mengangguk-angguk dan seringai bermain di mulut. "Nah, ini pertolongan dariku!" Kaki kiri Supit Jagal melesat mengeluarkan suara berdesing.

"Bukk!"

Tendangan itu menghantam telak lambung kiri Ki Ageng Tunggul. Orang ini terpekik, mental dan roboh tergelimpang di tanah. Baru saja jatuh bergedebukan begitu rupa, yang lain ikut pula menendang. Begitu terus bergantian hingga akhirnya Ki Ageng Tunggul menemui ajal dengan muka dan kepala hancur bergelimang darah. Tulang belulangnya berpatahan!

Supit Jagal berpaling pada adiknya. "Supit Ireng, untung kau muncul pada waktunya. Kalau tidak ketiga muridmu pasti sudah kugebuk mati konyol!"

Supit Ireng tertawa pendek. Dia hendak mengatakan sesuatu menjawab ucapan kakaknya tadi. Namun tiba-tiba dia melihat ada serombongan orang muncul di depan sana. "Lihat!" serunya memberi tahu seraya menunjuk.

Semua orang berpaling pada arah yang ditunjuk. Saat itu di sebelah atas dinding batu dan sepanjang pantai Teluk Burung muncul hampir seratur perajurit bersenjata lengkap termasuk tombak dan tameng. Dari cara mengatur kedudukan jelas mereka tengah melakukan pengurungan.

"Ada keperluan apa monyet-monyet Kerajaan itu jual tampang di sini?!" ujar Supit Jagal sementara Lor Paregreg dan dua kawannya tampak gelisah sedang Supit Ireng tenang-tenang saja.

Baru Supit Jagal berucap, tiba-tiba dari lamping dinding batu sebelah kiri terdengar seruan keras.

"Lima orang di depan goa lekas menyerah! Kalian sudah terkurung!"

"Itu suara si keparat Brajaseta! Kepala Pasukan Kerajaan!: kata Lor Paregreg yang mengenali suara orang.

Rahang Supit Ireng menggembung. Matanya yang hanya satu itu seperti menyala begitu ingat bahwa Kepala Pasukan Kerajaan itulah yang tempo hari memenjarakan dan menyiksa ketiga muridnya. Dia mendongak dan berteriak.

"Brajaseta! Kalau kau punya nyali turun ke bawah sini! Jangan jual lagak dari jauh!"

Supit Ireng tutup teriakannya dengan menghantamkan tangan kanannya ke atas. Sesaat kemudian terdengar suara menggelegar. Salah satu bagian dinding batu sebelah atas hancur berantakan. Tiga orang perajurit jatuh bersama kuda tunggangan mereka. Brajaseta yang diarah sudah dulu melompat selamatkan diri. Tubuhnya jatuh ke bawah seperti bola tapi sampai di tanah kedua kakinya sampai lebih dulu. Begitu berdiri dia berteriak memberi aba-aba menyerbu. Seorang tokoh silat Istana berjuluk Si Kipas Besi ikut melompat turun sambil kebutkan kipas saktinya. Terdengar suara menderu. Debu dan pasir pantai beterbangan menutupi udara beberapa ketika.

Sewaktu udara terang kembali maka kelihatan puluhan perajurit Kerajaan bergerak cepat ke arah sasaran yaitu lima orang di depan goa. Di depan sekali berjejer lima orang Perwira Tinggi. Penyerangan dipimpin langsung oleh Brajaseta dan Si Kipas Besi.

Melihat muduh begitu banyak mulai mendekati untuk menggempur dua bersaudara Supit Jagal dan Supit Ireng masih tenang-tenang saja, malah kelihatan mereka tertawa-tawa.

Pada jarak sepuluh langkah Brajaseta kembali berseru. "Kalian sudah terkurung! Tidak mungkin meloloskan diri! Lekas menyerah kalau sayang nyawa!"

Supit Jagal dan Supit Ireng tertawa bergelak. "Menyerah? Siapa yang sayang nyawa?!" teriak Supit Ireng. Matanya yang cuma satu mulai merah tanda kemarahan mulai menguasai dirinya. "Bangsat bernama Brajaseta! Dengar baik-baik ucapanku! Kau telah memenjarakan dan menyiksa tiga orang muridku ini! Apa yang telah kau lakukan harir ini bakal kau terima balasannya berikut bunganya! Dan kau juga Kipas Besi! Berapa kau dibayar untuk menjadi cecunguk Istana?! Dosamu cukup besar. Kau layak mampus saat ini juga!" Supit Ireng melompat ke arah Brajaseta. Supit Jagal, Lor Paregreg, Kunto Handoko dan Rah Gludak tak tinggal diam. Keempatnya ikut menyongsong datangnya gempuran.

Pukulan-pukulan sakti yang dilepaskan Supit Jagal dan Supit Ireng memang luar biasa. Sekelompok para perajrit yang menyerbu roboh mati bergelimpangan. Tiga orang Perwira Tinggi yang secara nekad coba balas menghantam ikut jadi korban. Duanya lagi jadi terkesiap kalau tak mau dikatakan leleh nyalinya. Brajaseta sendiri diam-diam jadi tercekat. Dia sama sekali tidak menyangka dua tokoh silat golongan hitam itu demikian hebat kepandaiannya. Amukan kedua orang itu tak bisa dibiarkan begitu saja. Brajaseta melompat ke hadapan Supti Jagal dan Supit Ireng yang saat itu tengah mengeroyok Si Kipas Besi. Namun gerakannya dihadang oleh Lor Paregreg, Kunto Handoko dan Rah Gludak.

"Keparat! Biar kalian kubunuh lebih dulu!" bentak Brajaseta. Baru saja dia membentak begitu tiba-tiba dia mendengar seruan Si Kipas Besi. Brajaseta berusaha melirik dan sempat melihat bagaimana dua bersaudara Supit berhasil merampas kipas besi di tangan tokoh silat Istana. Lalu dengan senjata itu Supit Ireng mengepruk batok kepala Si Kipas Besi. Tokoh silat ini meraung keras dan roboh ke tanah tanpa nyawa lagi!

Brajaseta merasa seperti berada di neraka. Dia cabut pedangnya setelah terlebih dahulu melancarkan satu pukulan tangan kosong keras ke arah tiga pengurungnya. Namun gerakannya terlalu lamban akibat pengaruh menyaksikan kematian Si Kipas Besi tadi. Golok di tangan Lor Paregreg menyambar bahu kanannya lebih cepat. Darah muncrat, pedang yang digenggamnya terlepas jatuh. Bersamaan dengan itu Supit Ireng sudah melompat ke hadapannya dengan tangan terpentang siap untuk menghantam.

"Saatnya kau membayar hutang berikut bunganya Brajaseta!" teriak Supit Ireng.

"Guru!" seru Lor Paregreg. "Sebagai murid tertua biar aku yang menabas batang leher manusia satu itu!"

Supti Ireng menyeringai. "Tentu! Kau dan dua muridku lainnya bakal dapat bagian. Beri aku kesempatan hanya untuk mencungkil salah satu matanya agar tampangnya mirip-mirip aku!" Supit Ireng tertawa mengekeh. Tubuhnya berkelebat. Dua jari tangan kirinya membeset ke depan, ke arah mata kiri Brajaseta sedang tangan kanan dipentang ke depan untuk menjaga kalau-kalau Kepala Pasukan Kerajaan itu mengirimkan serangan atau berusaha menangkis. Brajaseta sendiri saat itu boleh dikatakan tidak berdaya. Darahnya terlalu banyak keluar dari luka besar di bahunya. Dia masih berusaha untuk merundukkan kepala menghindar cungkilan dua jari tangan Supit Ireng. Tapi itupun tidak ada artinya. Karena seperti kepala ular, dua jari tangan Supti Ireng bergerak mengikuti gerakan kepala Brajaseta.

Di saat menegangkan itu terjadilah hal yang luar biasa. Seolah-olah muncul dari dasar laut terdengar suara menderu dahsyat dan aneh. Teluk Burung laksana dilanda topan prahara. Pasir pantai beterbangan ke udara menutupi pemandangan. Deru ombak tertindih lenyap. Belasan perajurit yang tidak mampu bertahan jatuh terduduk behkan banyak yang berpelantingan. Dua orang Perwira Tinggi Kerajaan coba bertahan tapi keduanya akhirnya jatuh berlutut. Supit Ireng dan Supit Jagal berdiri tergontai-gontai. Saat itu suara menderu tadi semakin jelas. Laksana suara ratusan tawon mengamuk dan kini malah disertai hamparan hawa panas.

Supti Jagal cepat melompat menjauh dan bersandar ke dinding batu. Sebaliknya Supit Ireng yang sudah siap mencungkil mata kiri Brajaseta dengan nekad meneruskan serangannya.

Satu cahaya menyilaukan beriblat.

"Craass!"

Supit Ireng menjerit setingi langit. Tangan kirinya putus sebatas pergelangan! Darah mengucur deras. Sekujur tubuhnya mendadak sontak menjadi panas. Dia menjerit sekali lagi lalu jatuh terduduk di atas pasir!

Seorang pemuda berambut gondrong, mengenakan baju putih tak terkancing tegak di tengah-tengah kalangan pertempuran. Di dadanya kelihatan rajahan angka

212. Tangan kirinya berkacak pinggang sedang tangan kanan memegang sebilah kapak bermata dua yang kelihatan merah oleh darah Supit Ireng.

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng dari Gunung Gede memandang berkeliling. Pandangannya sesaat melekat pada Supit Ireng dan Supit Jagal. "Siapa di antara kalian bernama Supit Jagal?!" Murid sinto Gendeng ini ajukan pertanyaan. Baik Supit jagal maupun Supit Ireng sama sekali tidak mengetahui siapa adanya pemuda ini. Sebaliknya Brajaseta walaupun barusan telah diselamatkan nyawanya oleh Wiro namun masih mendekam dendam kesumat. Karena ulah Pendekar 212lah beberapa waktu lalu seorang tokoh silat bergelar Malaikat Tak Bernama beserta Jakaeulung muridnya berhasil meloloskan diri dari sergapan Pasukan Kerajaan. Dalam pada itu yang paling membuat Kepala Pasukan Kerajaan ini menjadi sangat sakit hati ialah Wiro pula yang menyebabkan Ning Larasati, puteri Sultan yang dicintainya sempat menghilang lalu ikut bersama Jakawulung dan menjalin cinta dengan pendekar muda ini!

Supit Jagal batuk-batuk beberapa kali. Dia menyeringai memandang pada Pendekar 212 dan berkata. "Kacungku jelek! Ada apa kau mencari majikanmu ini? Aku Supit Jagal orang yang kau cari!"

Pendekar 212 balas menyeringai. "Jadi begini tampang manusia bernama Supit Jagal. Tadinya kukira masih muda dan ganteng, Tidak tahunya mirip-mirip kodok bengkak bermata sipit! Pakaianmu bagus amat banyak tambalan. Dekil dan bau. Paling tidak kau tak pernah mandi selama dua tahun! Betul?"

Tampang hitam Supit Jagal jadi berubah merah. Sebaliknya murid Sinto Gendeng tertawa gelak-gelak.

"Bangsat bosan hidup! Katakan apa keperluanmu mencariku?! Atau kau ingin mati saat ini juga?!" hardik Supit Jagal.

"Aku mewakili seorang tua bernama Empu Pamenang dari Danau Merak Biru. Kau telah membunuh tiga orang muridnya tanpa sebab dan secara keji!"

"Hemm....begitu? jadi kau kacung Empu Pamenang rupanya. Berapa upah yang diberikan tua bangka itu padamu? Jika kau mau jadi kacungku, aku bersedia membayar dua kali lipat!"

Wiro menyengir. "Membeli baju yang bagus saja kau tidak punya. Mau membayar aku pula! Tua bangka keblinger!" ejek Wiro.

"Keparat haram jadah! Si Pamenang itu nyatanya tidak punya nyali untuk datang sendiri!"

"Orang tua itu telah memilih hidup suci. Tak mau lagi mengotori tangannya dengan darah dan nyawa. Baliau punya pntangan membunuh. Itu sebabnya aku datang mewakili beliau!"

Supit Jagal menyeringai. "Dusta kentut busuk!" makinya.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan Brajaseta. Tubuhnya jatuh menelungkup ke tanah. Di punggungnya menancap sebilah golok yang menghujam menembus sempai ke dadanya. Begitu jatuh Kepala Pasukan Kerajaan ini langsung tewas. Apa yang telah terjadi?!

Selagi perhatian semua orang tertuju pada Wiro Sableng dan Supit Jagal, kesempatan licik ini tidak disia-siakan oleh Lor Paregreg. Dengan licik, dari belakng dia menusukkan goloknya ke punggung Kepala Pasukan Kerajaan itu!

Meskipun sebenarnya tidak begitu senang terhadap Brajaseta, namun melihat kematian orang mengenaskan begitu rupa Pendekar 212 Wiro Sableng melompat sambil menyergap Lor Paregreg dengan satu tabasan. Kapak Naga Geni 212 berkiblat menyambar batok kepala Lor Paregreg. Namun saat itu pula dari samping kiri kana dua pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi menyerangnya dalam waktu yang bersamaan.

Wiro bersuit keras. Tubuhnya berkelebat lenyap. Kini yang terlihat hanya kilauan cahaya senjata mustikanya disertai deru keras dan tebaran hawa panas. Melihat guru mereka sudah mulai menyerang, Lor Paregreg, Rah Gludak dan Kunto Handoko tidak tinggal diam. Mereka ikut menyerbu mengeroyok Wiro. Murid Sinto Gendeng kini jadi dikeroyok lima orang. Mereka memiliki kepandaian tinggi namun yang paling berbahaya adalah Supit Jagal dan Supit Ireng.

Sisa-sisa pasukan Kerajaan begitu menyaksikan kematian pimpinan mereka serta merta jadi putus nyali. Di bawah pimpinan dua orang Perwira Tinggi mereka segera bersiap-siap meninggalkan tempat itu dengan membawa mayat Brajaseta yang masih ditancap golok!

Sementara itu di atas dinding batu kelihatan tiga orang berdiri menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana. Mereka adalah Empu Pamenang, Jakawulung dan Ning Larasati. Sang Empu sengaja datang untuk menyaksikan sendiri kematian musuh besarnya Supit Jagal.

"Empu, kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus segera turun tangan membantu sahabat Wiro."

Empu Pamenang mengusap dagunya dan menjawab penuh keyakinan. "Tidak perlu Jaka. Pendekar 212 bukan manusia sembarangan. Jika Kapak Naga Geni berada dalam genggamannya, tidak ada musuh yang tidak dapat dimusnahkannya!"

"Tapi satu lawan lima benar-benar perkelahian yang idak adil! Saya kawatir para pengeroyok berlaku curang!" kata Ning Larasati puteri Sultan yang jatuh cinta pada Jakawulung.

"Larasati betul sekali Empu. Biar saya membantu Wiro!" kata Jakawulung. Ketika dia hendak melompat ke bawah Empu Pamenang memegang bahunya. "Lihat apa yang terjadi di bawah sana Jaka!"

Jakawulung dan Ning Larasati sama memandang ke bawah dinding batu. Saat itu tampak dua dari lima pengeroyok roboh bersimbah darah dimakan Kapak Naga Geni 212. Mereka adalah Rah Gludak dan Kunto Handoko.

Dua jurus kemudian terdengar jeritan Supit Ireng. Darah menyembur dari luka di lehernya yang kena dibabat Kapak Naga Geni 212 hampir putus. Tubuhnya terbanting ke pasir. Menggeliat sedikit lalu diam tak berkutik lagi. Supit Jagal meraung menyaksikan apa yang terjadi dengan adiknya itu dan menyangka Supit Ireng telah tewas. Amarah membuat dia mengamuk seperti setan.

Pukulan-pukulan sakti mengandung enaga dalam tinggi dilepaskan tiada henti ke arah Wiro. Lor Paregreg, satu-satunya kawan yang masih mendampinginya saat itu berkelahi dengan setengah hati karena nyalinya sudah leleh. Manusia satu ini melolong kesakitan dan lari meninggalkan kalangan perempuran ketika senjata di tangan Wio membabat tangan kirinya sebatas bahu hingga buntung. Wiro tidak perdulikan orang itu karena yang ingin dibereskannya saat itu adalah Supit Jagal. Sebaliknya begitu Lor Paregreg melarikan diri, Ning Larasati yang punya dendam luar biasa terhadap lelaki ini. Dulu hampir saja dia jadi korban perkosaan Lor Paregreg. Larasati segera mengejar setelah lebih dulu menyambar pedang milik Jakawulung dari sarungnya.

"Manusia iblis! Kau mau lari kemana?!" bentak Ning Larasati.

Melihat si gadis menghadang dengan pedang di tanagn, Lor Paregreg berteriak ketakutan. "Jangan....jangan bunuh! Ampuni diriku...."

Pedang di tangan Ning Larasati berkelebat menabas ke arah perut Lor Paregreg. Lelaki ini melolong kesakitan, jatuh terduduk sambil pegangi perutnya yang robek besar. Ususnya menyembul keluar. Tubuhnya menggigil melihat isi perutnya sendiri yang berbusaian. Antara sadar dan tiada tubuhnya jatuh ke tanah. Pedang di tangan Larasati berkelebat sekali lagi. Kali ini menetak lehernya hingga nyaris putus!

Sehabis membunuh Lor Paregreg, Ning Larasati merasakan sekujur tubuhnya mnggigil dingin. Seumur hidup baru sekali ini dia membunuh yang namanya manusia. Untung Jakawulung da Empu Pamenang muncul di tempat itu dan menolongnya. Kalau tidak niscaya gadis ini akan terhantar pingsan di tanah.

Perkelahian antara Supit Jagal dan Pendekar 212 Wiro Sableng berjalan seru. Namun kakek bermata sipit itu mana sanggup menahan hantaman-hantaman Kapak Naga Geni 212. Setelah bertahan mati-matian selama sembilan jurus akhirnya satu tendangan yang dilepaskan Wiro secara tidak terduga membuat dirinya mencelat mental. Malang baginya tubuhnya jatuh tepat di depan Empu Pamenang. Tanpa pikir panjang orang tua ini kirimkan pula tendangan ke punggung Supit Jagal. Untuk kedua kalinya tubuh Supit Jagal mencelat, kembali melayang ke arah Wiro.Seperti sebuah bola, tubuh melayang itu disambut oleh murid Sinto Gendeng dengan tendangan kaki kanan.

"Bukkk!"

Sosok Supit Jagal mencelat ke arah laut amblas ditelan ombak. Sesaat kelihatan kedua tangannya menggapai-gapai udara kosong. Kakek jahat ini akhirnya lenyap dari pemandangan.

Empu Pamenang pejamkan kedua matanya. Terbayang murid-muridnya yang telah menemui ajal dibunuh oleh Supit Jagal. Dalam hati orang tua ini berkata. " Murid-muridku pembunuh kailan sudah menemui ajal. Sekarang kuharap kalian semua bisa beristirahat dengan tenang di alam baka...."

Ketika membuka mata kembali pandangan Empu Pamenang tertuju pada Wiro. Dia melangkah mendekati pemuda ini. "Pendekar 212. Aku sangat berterima kasih atas semua bantuanmu...."

Wiro hanya tersenyum dan garuk-garuk kepala. "Tolong menolong dalam dunia persilatan sudah lumrah Empu. Lagi pula apa yang saya lakukan bukan sesuatu yang patut dibesar-besarkan.... Kalau boleh saya mohon diri sekarang. Saya ingin melanjutkan perjalanan."

Empu Pamenang menarik nafas panjang lalu perlahan-lahan menganggukkan kepalanya. Ning Larasati mendekati seorang Perwira Tinggi yang tengah bersiap-siap membawa jenazah Brajaseta. "Jika kalian kembali ke Kotaraj, beritahu Sultan bahwa aku telah diambil murid oleh Empu Pamenang di Danau Merak Biru. Katakan agar ayahanda tidak usah kawatir. Jika aku sudah mewarisi ilmu kepandaian pasti aku akan kembali ke Istana."

Perwira Tinggi itu tak bisa menjawab apa-apa hanya menjura dalam-dalam lalu tinggalkan tempat itu.

Empu Pamenang memandang pada Jakawulung dan Ning Larasati. Dia lalu celingukan ke kiri dan ke kanan. "Eh, kemana lenyapnya pemuda itu?!"

Jakawulung dan Ning Larasati baru sadar. Memandang berkeliling Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng tak ada lagi di tempat itu. Sang Empu geleng-gelengkan kepala. Dia memegang lengan sepasang muda mudi itu lalu mengajaknya pergi dari situ.

Belasan mayat bertebaran di tepi pantai Teluk Burung. Deburan ombak dan tiupan angin terdengar aneh seolah menambah keangkeran keadaan tempat itu. Tiba-tiba kesunyian itu dirobek oleh suara derap kaki kuda. Tak lama kemudian muncullah seorang penunggang kuda berpakaian biru. Di bawah blangkon yang terletak di atas kepalanya kelihatan tampangnya yang seram. Astaga! Manusia ini memiliki wajah yang sangat sama dengan KI Ageng Tunggul Bayana alias Ki Ageng Tunggul. Keparat yang satu itu mayatnya masih terkapar di antara tebaran mayat-mayat lainnya. Bahkan orang ini juga memiliki cacat bekas luka di pipi kirinya! Kulitnya sama hitamnya dengan Ki Ageng Tungul. Aneh, bagaimana ada dua manusia begini mirip satu sama lain?

Orang ini hentikan kudanya di antara tebaran mayat. Dia memandang berkeliling. Dia tidak melihat sosok tubuh yang dicarinya. "Tunggul....?!" desisinya. Untuk memastikan dia turun dari kuda. Satu demi satu ditelitinya mayat-mayat yang berkaparan itu. Dari mulutnya kemudian terdengar suara meraung sewaktu dia menemukan mayat Ki Ageng Tunggul terkapar di tanah, terhimpit oleh sosok mayat seorang perajurit Kerajaan. Orang ini tendang mayat perajurit itu lalu jatuhkan diri sambil merangkul mayat Ki Ageng Tunggul. "Adikku, mari kita tinggalkan tempat ini. Aku akan menguburkan dirimu. Istirahatlah dengan tenang. Kalau manusia-manusia yang membunuhmu masih hidup aku akan cari mereka sampai dapat! Bahkan aku bersumpah akan membasmi semua orang yang ada sangkut pautnya dengan mereka!"

Dengan susah payah orang yang berwajah sangat mirip dengan Ki Ageng Tunggul ini mendukung tubuh Ki Ageng Tunggul dan meletakkannya di atas kuda. Sesaat kemudian dia segera tinggalkan tempat itu.

Bersamaan dengan menggelincirnya sang surya menuju ke Barat, di permukaan laut Teluk Burung tampak sesosok tubuh berusaha berenang dengan susah payah menuju ke tepi pasir. Sekujur tubuhnya penuh luka, bengkak-bengkak bahkan tulang-tulang iga serta tangannya ada yang patah. Dia berenang seperti tengah berenang dalam neraka! Keadaannya hampir sekarat ketika dia akhirnya berhasil mencapai pasir pantai lalu merangkak menjauhi ombak. Sungguh luar biasa! Manuisa ini bukan lain adalah Supit Jagal, kakek sakti yang disangka sudah menemui ajal tenggelam di dasar laut. Ternyata dia masih hidup dan berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke tepi pantai.

Di bagian lain dari pantai, di antara tebaran mayat yang berkaparan di sana sini, lapat-lapat terdengar suara erangan. Lalu ada satu sosok tubuh yang bergelimang darah tampak menggeliat dan mencoba bangkit. Manusia ini ternyata adalah Supit Ireng yang disangka telah menemui ajal akibat bacokan Kapak Maut Naga Geni 212 pada bagian lehernya. Sungguh luar biasa dia masih bisa hidup walau sebagian tubuhnya telah menjadi hangus! Samar-samar Supit Ireng melihat ada seseorang yang merangkak di atas pasir. Begitu pandangannya agak menjelas dia segera mengenali orang itu.

"Supit Jagal.... Kau masih hidup.....?" Supit Ireng berusaha berdiri. Tapi kedua lututnya goyah dan tubuhnya terbanting ke tanah, menggeletak pingsan!





SATUGubuk reyot itu terletak tak jauh dari Teluk Burung. Ruangan di dalamnya terbuka begitu saja, tak ada sekat tak ada dinding, apalagi yang disebut kamar. Sebuah obor kecil tergantung di tiang bambu, menerangi dua sosok tubuh kakek-kakek yang tergeletak di atas sebuah balai-balai kayu. Keadaan dua sosok tubuh ini sangguh mengerikan. Kakek pertama buntung kuping kirinya. Mukanya hancur mengerikan. Pakaiannya yang banyak tambalan kelihatan basah oleh air laut dan darah. Beberapa tulang iganya patah. Tidak jelas apakah manusia ini masih hidup atau sudah jadi mayat. Dia bukan lain adalah Supit Jagal, kakek sakti yang diam di sebuah goa di Teluk Burung.

Di sebelah Supit Jagal menggeletak tubuh kakek kedua yaitu Supit Ireng. Kakek bertubuh jangkung dan berkulit hitam ini kini hanya punya satu tangan yaitu tangan kanan. Tangan kirinya buntung sebatas pergelangan akibat tebasan Kapak Maut Naga Geni 212. Lengan yang buntung itu tampak menghitam hangus sampai ke siku. Selain pakaiannya yang kuyup oleh darah, di lehernya kelihatan ada sebuah luka terbuka mengerikan. Luka ini juga adalah akibat sambaran senjata mustika Pendekar 212 Wiro Sableng. Seperti kakknya, saat itu tidka jelas apakah Supit Ireng masih hidup atau sudah mati pula.

Pintu gubuk tiba-tiba terbuka disertai suara berkereketan. Seorang tua melangkah terbungkuk-bungkuk diiringi dua orang pemuda. Di depan balai-balai kayu, orang tua ini berhenti lalu berpaling pada dua pemuda. "Ini dua orang yang kuceritakan itu. Mereka kutemui di antara tebaran mayat di Teluk. Hanya mereka yang masih hidup. Coba kalian periksa keadaannya."

Dua orang pemuda memperhatikan sosok-sosok manusia yang tergeletak di atas balai-balai kayu itu dengan pandangan penuh ngeri.

"Mereka sudah jadi mayat kek. Buat apa diperiksa lagi," kata pemuda yang tegak tepat di samping orang tua itu. Namanya Kudo Aru. Dia adalah cucu pertama dari si orang tua yang disebutnya dengan panggilan kakek.

"Aku tidak sependapat!" menjawab si kakek. "Aku yakin dua manusia ini masih hidup. Mereka orang-orang sakti. Karena itu mereka sanggup bertahan hidup. Orang lain pasti sudah tewas menemui ajal!"

"Kakek Pungku," giliran pemuda yang satu membuka mulut. "Sebenarnya mengapa kau mau bersusah payah mengurusi dua orang ini? Sanak bukan saudara bukan! Biar saja mereka tergeletak di Teluk sampai jadi tengkorak digerogoti elang laut pemakan daging manusia!"

Si orang tua bernama Pungku menghela nafas dalam. "Aku sudah menduga kau bakal berkata begitu Sindak Bumi. Terus terang aku sudah lama kenal dengan yang sebelah kiri ini. Dia tinggal di sebuah goa di teluk. Dia seorang sakti mandraguna.Kalau tidak salah namanya Supit Jagal."

"Kalau dia orang sakti mengapa bisa babak belur seperti ini?" tanya Sindak Bumi.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Namun keras degaanku dia telah berkelahi melawan orang yang jauh lebih sakti. Karena kenal itu sebabnya aku menolong. Kalaupun dia sudah mati apa salahnya aku mengurusi mayatnya. Kalian hanya kuminta membantu....."

"Lalu kek, apa kau juga kenal dengan mayat yang satu ini?" bertanya Kudo Aru.

"Kalau tidak salah, dia adalah adik dari yang satu ini. Dia juga bukan manusia sembarangan. Tapi kalah perkasa dengan lawannya. Lihat saja tangannya dibikin buntung. Lehernya terluka dalam...."

"Kek, kedua orang ini sudah mati. Lebih baik mereka diseret keluar lalu dibuang ke jurang!" kata Sindak Bumi pula yang tidak mau repot.

"Aku setuju dengan Sindak! Kata Kudo Aru menyambuti.

Kakek Pungku diam sesaat. Akhirnya dia berkata. "Jika itu mau kalian apa boelh buat." Orang tua ini mengambil obor kecil yang tergantung di dinding lalu berpaling pada kedua cucunya. "Seperti mau kalian, ayo seret satu-satu mayat itu lalu kita buang ke jurang malam ini juga."

"Kek, Kakek...." kata Sindak Bumi. "Kau ini ada-ada saja. Saya tahu kau ingin berbuat baik. Tapi mengapa harus menyengsarakan diri sendiri?" Sindak berpaling pada Kudo Aru lel keduanya melangkah mendekati sosok tubuh di atas balai-balai kayu yang di sebelah kanan. Sosok Supit Ireng. Masing-masing mereka sudah siap unuk mencekal kaki Supit Ireng dan menyeretnya ke luar gubuk, terus dibawa ke jurang yang tak berapa jauh dari sana. Namun belum sempat kedua pemuda ini memegang pergelangan kaki Supit Ireng tiba-tiba menerobos masuk satu bayangan yang mengeluarkan suara deru angin.

"Hai! Siapa ini?!" seru kakek Pungku.

Orang yang masuk ternyata adalah seorang tua berambut putih yang disisir rapi dan berwajah klimis. Dia mengenakan baju hitam yang di bagian dadanya ada lukisan telapak tangan berkuku panjang dalam warna putih. Ketika Pungku dan dua cucunya memperhatikan sepasang jarinya yang memiliki kuku-kuku sangat panjang.

"Orang berambut putih,kau belum menjawab pertanyaanku. Harap jelaskan siapa dirimu dan apa keperluanmu datang ke mari," berucap Pungku.

"Siapa aku apa perdulimu. Aku ada urusan dengan dua orang ini. Aku mau memeriksa dan menanyai!"

"Eh, kau tentu tidak gila mau menanyai orang yang sudah mati!" ujar Sindak Bumi.

"Sudah! Jangan banyak mulut. Menjauh ke dinding sana! Lihat saja apa yang aku lakukan. Berani membuka mulut aku kepruk mulut kalian!" Lalu orang berkuku panjang itu melangkah ke arah balai-balai kayu.

"Hai! Kau tidak bisa berbuat sesukamu di gubukku!" seru orang tua bungkuk bernama Pungku.seraya menghalangi langkah orang.

Paras orang berpakaian hitam itu tampak berubah menyeramkan. "Jangan buat aku marah! Atau kau ingin kubuat seperti ini?!" Kakek berambut putih ini pentang tangan kanannya. Tiba-tiba tangan itu berkelebat ke arah dinding papan. Terdenga suara seperti orang menggergaji! Ketika Pungku dan dua cucunya memandang ke dinding, wajah ketiganya jadi pucat. Dinding kayu itu kelihatan berlubang dalam berbentuk guratan panjang! Orang tua ini menyeringai. "Apa kalian masih mau bicara rewel denganku?!"

"Maafkan kami," kata Sindak Bumi cepat-cepat."Kami tidak tahu kalau berhadapan dengan orang pandai. Kami memang tidak berkepentingan dengan dua mayat itu. Kau mau mengapakannya silahkan saja. Kami menunggu di luar....."

"Tak usah pakai keluar segala. Kalian boleh lihat sendiri apa yang bakal aku lakukan!"

Orang tua berambut putih rapi dan berwajah klimis itu melangkah mendekati tubuh Supit Ireng yang tergeletak di atas balai-balai kayu sebelah kanan. Dia memperhatikan keadaan orang ini beberapa lama. Tiba-tiba bret....bret! Dia merobek baju yang dikenakan Supit Ireng hingga dadanya terpentang lebar. Dengan hati-hati orang ini kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di atas dada Supit Ireng. Lalu dia mulai mengerahkan tenaga dalam yang berpusat di perut. Wajahnya yang klimis tampak menjadi kemerahan. Tubuh dan terutama kedua tangannya kelihatan bergetar. Keringat memrcik di keningnya.

Kaki kanan Supit Ireng tampak bergerak. Menyusul kaki kirinya. Perlahan-lahan kedua matanya terbuka. Merah mengerikan. Tiba-tiba tubuh Supit Ireng bergerak bangkit seperti mau duduk. Kakek Pungku dan dua cucunya tersirap ngeri dan mundur ke dinding gubuk. Tapi Supit Ireng hanya tertegak sesaat lalu tubuhnya jatuh lagi terbanting ke balai-balai kayu. Kedua matanya terpejam kembali. Dia pingsan lagi!

Kakek berambut putih geleng-gelengkan kepala. Sambil menarik nafas panjang dia lepaskan kedua tangannya dari dada Supit Ireng. "Keadaannya parah sekali......" kata orang tua ini dalam hati. "Lika di lengan dan di lehernya yang jadi penyebab. Orang lain mungkin sudah menemui ajal. Benda apa yang telah menghantamnya sampai keadaannya parah seperti ini?"

Dia melirik pada sosok Supit Jagal. "Kalau yang satu inipun tidak bisa kubuat sadar, sia-sia saja aku datang jauh-jauh ke sini....!" Lalu orang tua ini berpindah ke samping kiri balai-balai. Seperti tadi, kali ini dia juga merobnek baju yang dikenakan Supit Jagal. Dia menyeka keningnya yang basah keringatan lalu kedua telapak tangannya ditempelkan ke dada Supit Jagal. Perlahan-lahan dia mengeluarkan tenaga dalamnya menghangati peredaran darah dan sekujur tubuh Supit Jagal. Hatinya mulai cemas setelah menunggu beberapa saat tidak tampak tanda-tanda Supit Jagal akan siuman dari pingsannya.

"Celaka!" keluh orang tua berambut putih itu. Digesernya sedikit telapak tangan kanannya hinnga kini tepat berada di arah jantung Supit Jagal. Lalu dia mulai mengerahkan lagi tenaga dalamnya dengan segala daya yang dimilikinya.

Tiba-tiba terdengar suara erangan halus. Yang mengerang adalah Supit Jagal. Si orang tua kerahkan seluruh sisa tenaganya. Suara erangan itu semakin keras dan jelas.

"Air....air?"

"Ambilkan air! Cepat!" perintah orang tua rambut putih pada Pungku. Pungku memberi isyarat pada salah satu cucunya. Kudo Aru keluar dari dalam gubuk. Tak lama kemudian dia muncul lagi membawa air dalam mengkok tanah yang pecah salah satu pinggirannya. Air dalam mangkok tanah itu dikucurkan ke mulut Supit Jagal.

Orang tua berambut putih salurkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya lalu dia lepaskan tempelan dua telapak tangannya dan tertegak dengan nafas memburu. Di atas balai-balai kayu Supit Jagal tampak telah membuka mata. Pandangannya mengerikan apalagi mukanya sendiri saat itu hancur babak belur.

"Tol.....tolong. Di mana aku...." Supit Jagal berucap di antara erangannya.

Melihat hal ini si orang tua segera letakkan tangan kanannya di atas kening Supit Jagal. Kalau tadi dia mengerahkan tenaga dalam yang mengeluarkan hawa panas, kini dia ganti dengan tenaga dalam yang memancarkan hawa sejuk. Supit Jagal merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya berkurang sedikit. Pemandangannya lebuh jelas tapi tetap saja dia tidak mengenali orang tua yang tegak di sampingnya.

"Kau siapa.... DI mana aku saat ini?" tanyanya. Suaranya lebih keras dan lebih jelas.

"Siapa aku tidak penting. Paling penting adalah menyelamatkan nyawamu saat inijuga. Kau masinh ingin hidup.....?"

"Aku....." Supit Jagal merasakan lehernya seperti tercekik. Orang tua tadi cepat-cepat kerahkan lagi tanaga dalam yang mengandung hawa sejuk.

"Dengar....." Si orang tua kini berlutut di samping balai-balai kayu. Mulutnya didekatkan ke telinga kanan Supit Jagal. "Aku akan menyelamatkan nyawamu. Juga saudaramu. Tapi dengan satu perjanjian! Dengan satu syarat!"

"Keparat....." terdengar serapah Supit Jagal. "Kau menolong karena mengharapkan sesuatu! Bangsat!"

Orang tua tak dikenal berambut putih itu menyeringai. "Jaman sekarang mana ada pertolongan diberikan Cuma-Cuma. Apalagi pertolongan menyangkut nyawa!"

"Apa yang kau harapkan dariku?" tanya Supit Jagal.

"Aku yakin kau mengetahui di mana bekas sobatmu Tunggul Bayana alias Ki Ageng Tunggul menyembunyikan empat buah peti berisi uang dan harta perhiasan itu!"

"Setan alas! Jadi itu yang ingin kau ketahui....." kembali Supit Jagal merutuk. "Kau tanyakan saja pada setan dan dedemit!"

"Kau lebih sayang uang dan harta dari pada nyawamu sendiri dan nyawa saudaramu!"

"Aku tidak perlu pertolongan manusia macam kau! Aku lebih suka mampus dari pada memberi tahu!"

"Bagus sekali kalau begitu!" kata si orang tua lalu berdiri. "Selamat mampus! Sampaikan salamku pada iblis-iblis akhirat!" Lalu dia membalik dan melangkah cepat menuju pintu.

"Tunggu!" Supit Jagal memanggil.

Orang tau itu berhenti di ambang pintu dan membalik. Lalu bertanya "kau belum pasrah untuk mampus?!"

"Aku mau membuat perjanjian denganmu. Tapi jangan serakah!"

Si orang tua mendekati balai-balai kayu. "Apa perjanjianmu?" tanyanya.

"Kau selamatkan nyawaku dan nyawa saudaraku. Empat peti itu kita bagi dua. Kau dapat dua, aku dapat dua...."

Orang tua itu tampak seperti berpikir-pikir. Sesaat kemudian dia berkata. "Baik. Aku setuju. Sekarang lekas katakan di mana beradanya empat peti itu!"

"Sabar dulu. Bagaimana aku tahu kau tidak akan menipuku?" tenya Supit Jagal pula.

Si orang tua tersenyum. "Kalau kau memang tidak percaya, buat apa mengadakan perjanjian?!" tukasnya. Dia seperti hendak bergerak pergi.

Supit Jagal masih diam beberapa ketika. Akhirnya dia berkata. "Mendekatlah, aku akan beritahu...."

Si orang tua mendekat. Seperti tadi dia berlutut di samping balai-balai kayu dimana Supit Jagal tergeletak menelentang.

"Empat peti berharga itu ditanam di...."

Belum sempat Supit Jagal menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba di dalam gubuk melesat satu sosok tubuh. Sambil melesat ke dalam dia melepaskan satu pukulan jarak jauh yang ampuh. Orang tua yang sedang berlutut di samping balai-balai kayu berseru kaget. Tubuhnya terpental begitu angin pukulan menghantamnya!

"Penyerang gelap kurang ajar! Siapa kau!" teriak orang tua berambut putih sambil pegangi dadanya yang masih berdenyut sakit.

Terdengar suara tawa mengekeh.

DUADi tengah gubuk, di ujung kanan balai-balai kayu kini tampak berdiri seorang lelaki muda bertubuh tinggi tegap. Rambutnya sangat hitam, keningnya menonjol sedang dagu dan rahangnya tampak kukuh. Walaupun parasnya gagah tapi jelas membayangkan sifat sombong angkuh dan kecongkakan. Sehelai ikat kepala warna merah melintang di atas keningnya. Dia mengenakan pakaian hitam atas bawah. Dengan adanya orang ini di tempat itu, gubuk kecil itu jadi semakin sempit. Kini ada lima orangdi situ, ditambah dengan Supit Jagal dan Supit Irang yang masih tergeletak di atas balai-balai.

Kakek Pungku yang memegang obor berbisik pada dua cucunya, bertanya kalau-kalau mereka mengenali siapa adanya pemuda itu. Tapi Sindak Bumi dan Kudo Aru sama menggelengkan kepala.

"Siapa kau?!" bentak orang tua berambut putih dengan geram karena barusan telah diserang secara mendadak.

Pemuda yang ditanya mendongak lalu kembali keluarkan tawa mengekeh.

"Dunia ini terlalu luas rupanya hingga kau tidak tahu siapa tuan besarmu ini!"

"Kurang ajar! Jawab pertanyaanku, jangan bicara bertele-tele!"

"Orang tua jelek bergelar Sepuluh Cakar Setan, apakah kau tidak mengenali gambar di bajuku ini?!"

Orang tua bermbut putih terkejut mendengar orang mengenali dan menyebut namanya. Namun dia lebih terkejut lagi sewaktu melihat gambar yang terpampang di baju hitam yang dikenakan si pemuda. Yaitu gambar Gunung Merapi berwarna kebiruan dengan latar belakang sang surya berwarna merah lengkap dengan garis-garis cahaya juga berwarna merah.

"Pangeran Matahari!" seru si orang tua dengan wajah berubah. Siapa adanya orang di dunia persilatan yang tidak kenal dengan Pangeran Matahari, tokoh silat sakti madraguna yang juga dikenal dengan julukan Pendekar Segala Cerdik, Segala Akal, Segala Ilmu, Segala Licik dan Segala Congkak.

Pemuda di tengah gubuk kembali tertawa. Kepalanya yang sejak tadi mendongak kini diturunkan. Kedua matanya memandang lekat-lekat pada orang tua yang bergelar Sepuluh Cakar Setan itu.

"Aku menganggap kau tidak punya kepentingan apa-apa lagi di sini. Karenanya lekas angkat kaki dari sini!" kata Pangeran Matahari dengan suara keras membentak.

"Siapa bilang aku tidak punya kepentingan! Apa pula kepentinganmu berada di sini?!" membentak Sepuluh Cakar Setan.

"Aku datang untuk mengambil dua orang di atas balai-balai kayu iotu!" jawab Pangeran Matahari. "Itu kepentingan pertama. Kepentingan kedua ialah membunuhmu jika kau terlalu banyak tingkah di depan tuan besarmu ini!"

"Manusia sombong! Namamu memang besar. Tapi apa kau kira aku takut padamu?!" hardik Sepuluh Cakar Setan. Jari-jari tangannya tampak bergetar tanda diam-diam dia telah bersiap-siap mengerahkan tenaga dalamnya.

Hal ini bukan tidak diketahui oleh Pangeran Matahari. Sambil menyeringai dia menjawab. "Soal takut atau tidak takut tidak menjadi masalah. Yang aku ingin tanya apakah kau punya nyawa rangkap atau nyawa cadangan hingga berani-beranian menentang tuan besarmu ini?!"

"Manusia congkak! Ternyata kau juga punya maksud hendak merampas uang dan harta yang tersembunyi itu! Kau tidak lebih dari seorang maling. Pencuri!"

"Lalu apakah kau lebih baik dariku?!" bentak Pangeran Matahari. Pelipisnya tampak bergerak-gerak sedang rahangnya menggembung. Ini satu pertanda bahwa dia mulai kehilangan kesabarannya. "Dengar tua bangka buruk. Kau mau angkat kaki dari sini atau ingin mampus dalam gubuk ini?!"

Sepuluh Cakar Setan mendengus. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. "Kau akan jadi mayat lebih dulu!" katanya. Dua tangannya yang bersilang bergerak ke samping. Terdengar siuran angin. Sepuluh cahaya putih berkiblat. Sepuluh kuku panjang tiba-tiba menyambar ke arah wajah Pangeran Matahari!

Pangeran Matahari yang sudah cukup lama mendengar kehebatan Sepuluh Cakar Setan degnan sigap melompat hindarkan serangan. Begitu berhasil berkelit dia bukannya balas menyerang tapi tiba-tiba menyambar obor yang dipegang kakek Pungku. Sekali dia meniup, obor kecil itupun padam. Gubuk serta merta berada dalam keadaan gelap gulita. Lalu terdengar suara bergedebukan disusul seperti suara tulang-tulang berpatahan, dibarengi oleh suara pekik kakek rambut putih berjuluk Sepuluh Cakar Setan. Tak lama kemudian menyusul suara jebolnya dinding gubuk di sebelah belakang. Lalu sunyi.

Kakek Pungku dan dua cucunya saat itu terpuruk di sudut gubuk setengah mati ketakutan. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi karena keadaan dalam gubuk sangat gelap. Setelah menunggu beberapa saat Sindak Bumi memberanikan berbisik. "Sebaiknya lekas tinggalkan tempat ini. Melangkah hati-hati ke arah pintu...."

Perlahan-lahan kakek dan dua cucunya itu bangkit berdiri. Dalam gelap mereka berusaha mencari pintu. Kudo Aru menginjak sesuatu. Dia berbisik pada saudaranya. "Aku menginjak sesuatu. Seperti bambu obor...."

"Ambil, nyalakan cepat," menyahuti Sindak Bumi.

Kudo Aru lalu membungkuk. Benda yang diinjaknya itu memang ternyata obor yang rupanya telah dicampakkan oleh Pangeran Matahari. Benda itu segera dinyalakannya. Begitu keadaan gubuk menjadi terang, kakek dan dua cucunya itu sama-sama melengak kaget.

Kakek berambut putih bergelar Sepuluh Cakar Setan kelihatan tergelimpang di lantai gubuk. Mukanya hancur. Sepuluh jari tangannya tampak patah-patah!

"Dia sudah jadi mayat...." kata kakek Pungku.

Kudo Aru mangangkat obornya lebih tinggi. Balai-balai di atas mana sebelumnya Supit Jagal dan Supit Ireng tergeletak kini terbalik kosong melompong. Lalu di sebelah sana, dinding gubuk tampak jenol.

"Orang yang dipanggil dengan nama Pageran Matahari itu, pasti dia yang melarikan dua sosok tubuh di atas balai-balai!" kata Sindak Bumi.

"Aku kawatir akan terjadi lagi hal-hal yang mengerikan. Mari kita tinggalkan tempat celaka ini!" kata Kudo Aru. Dia memandang pada kakeknya lalu berkata. "Ini gara-garamu kek. Kalau kau tidak membawa dua orang tak dikenal itu ke sini, tidak akan terjadi segala keanehan yang mengerikan ini!"

Kakek Pungku diam saja. Dia mendahului melangkah ke luar gubuk yang nyaris porak poranda itu.

Manusia bermuka setan, kakak kembar Ki Ageng Tunggul Bayana tegak di depan makam adiknya. Saat itu matahari telah redup tanda sebentar lagi akan segera tenggelam.

"Tunggul sekarang kau bisa istirahat dengan tenang. Aku telah bersumpah untuk menuntut balas kematianmu. Semua orang yang menjadi pangkal sebab kematianmu akan menerima balasan!" Habis berkata begitu orang ini lalu mundur tiga langkah dari hadapan kuburan. Mulutnya berkomat kamit sedang kedua tangannya diletakkan di atas kepala. Sepasang matanya dipejamkan. Tiba-tiba terjadi hal yang aneh. Sekujur tubuh itu bergetar keras dan dari mulutnya terdengar suara seperti menggereng terus menerus.

"Eyang..... di alam gaib. Aku mohon kehadiranmu. Aku butuh petunjuk...." orang ini berucap.

Sayup-sayup terdengar suara seperti tiupan angin. Lalu laksana datang dari sebuah lobang yang dalam dan bergema, terdengar suara jawaban.

"Aku sudah ada di hadapanmu Tunggul, apa keperluanmu?!"

"Eyang, aku mohon petunjuk. Dari mana aku harus memulai mencari para pembunuh adikku Ki Ageng Tunggul Bayana...." Saat itu sekujur tubuhnya masih terus bergetar.

"Katakan dulu apa tujuanmu?!" tanya suara yang orangnya tak kelihatan itu.

"Dengan izinmu aku hendak menuntut balas kematian adikku, Eyang...."

"Bagus! Kau memang saudara kembar yang baik. Petunjukku, kembalilah ke Teluk Burung. Cari sebuah gubuk. Di sana kau akan menemukan jawabannya. Tapi kau harus bertindak cepat. Aku kawatir ada orang lain yang bakal mendahuluimu."

"Kalau begitu aku pergi sekarang juga Eyang...."

"Baik, kau boleh pergi. Tapi dengar dulu ucapanku. Kini kau yang mewakili rohnya di atas dunia ini. Kau layak memakai nama yang menyerupai namanya..... Kau bersedia?"

"Tentu aku bersedia Eyang..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 23.23.49.196
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia